Browsed by
Month: May 2017

Resep Ketupat Kandangan, Kuliner Khas Kalimantan Selatan

Resep Ketupat Kandangan, Kuliner Khas Kalimantan Selatan

Ketupat adalah salah satu makanan khas yang ada indonesia. Setiap daerah diindonesia pasti memiliki masakan khas tersendiri dengan bahan dasar ketupat. Makanan yang terbuat dari beras ini memiliki cita rasa yang khas dan tampilan yang khas pula. Bentuknya menyerupai layang-layang. Kulitnya terbuat dari daun kelapa yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk ruang kosong didalamnya. 

Membuat ketupat tentu memakan waktu yang cukup lama. Apalagi jika anda mengerjakan dimulai dari membuat sendiri anyaman ketupatnya. Nah, ketupat kandangan ini memiliki cita rasa yang khas. Ketika dipotong bentuknya kokoh, namun ketika dihancur bulir-bulir nasi tercerai berai seakan masih berupa nasi. Ketupat jenis ini adalah ketupat yang cocok digunakan untuk Ketupat Kandangan ini. 

Ketupat kandangan sendiri selain rasa ketupatnya yang khas tekstur kuahnya juga sangat lezat karena cita rasa yang dihasilkan dari perpaduan santan, rempah dan haruan panggang. Selain itu, sambal acan khas banjar yang juga tak boleh ketinggalan dalam penyajian ketupat kandangan ini membuat cita rasa masakan ini begitu dipuja. 

Kenapa harus Ikan Haruan? Dalam bahasa indonesia Ikan Haruan dikenal dengan sebutan Ikan Gabus. Ikan ini menyerupai lele namun tak berkumis. Dagingnya lembut dan memiliki sisik, tidak seperti lele. Ikan haruan ini terkenal kaya akan albumin. Ikan ini sangat digemari oleh penduduk di kalimantan selatan. Penggunaan ikan ini pada ketupat kandangan adalah sebuah keharusan, tak bisa diganti-ganti dengan jenis ikan yang lain karena akan merubah jauh cita rasanya. 

Ikan Haruan yang dipakai untuk membuat ketupat ini harus segar dan tidak dalam keadaan mati saat dibeli. Jenis ikan sungai jika dimasak dalam jarak mati yang cukup lama akan menyebabkan hilangnya rasa manis dari ikan tersebut. Cara memasaknya pun harus dipanggang dibara api, tidak boleh dipanggang diteplon apalagi digoreng. Sudah pasti rasanya akan sangat berbeda jika tidak dipanggang dengan benar. 

Well, karena ‘keribetan’ dalam proses pengolahannya sangat sebanding dengan rasa yang didapat maka tidak heran jika warung-warung penjual ketupat kandangan ini selalu laris manis. Kuliner ketupat kandangan ini amat sangat digemari. Tapi, kenapa tidak jika kita mulai mencoba membuatnya sendiri? Selain akan lebih menyenangkan hati suami kita juga menghemat anggaran pengeluaran rumah tangga tentunya. 🙂 

Ketupat Kandangan

(untuk 4 porsi) 

Bahan:

4 buah ketupat ukuran sedang *kali ini saya membeli Ketupatnya. Mungkin lain kali akan saya share proses cara membuatnya. 

Bahan Haruan Panggang:

2 ekor ikan haruan

1 sdt garam

1 sdt asam jawa

1 cm kunyit

1 sdm air jeruk nipis

Bahan Kuah:

1/2 biji kelapa parut + 500 ml air= santan 525 ml

1 batang serai

2 lembar daun jeruk *sobek

1 cm laos *memarkan

Bumbu halus:

8 siung bawang merah

2 siung bawang putih

2 biji kemiri *sangrai

1 cm jahe

1/2 sdt ketumbar

1/2 sdt merica

1/4 sdt jintan

1/2 sdt terasi

Garam, gula dan Penyedap secukupnya. 

Pelengkap, sambal acan dan Bawang Goreng

Bahan sambal acan:

8 buah cabe rawit

2 buah cabe keriting

1 buah tomat

1 sdt terasi bakar

1 sdt gula merah

Garam dan Penyedap secukupnya

Irisan mangga muda/binjai/belimbing tunjuk sebagai penyegar. 

Cara membuat:

Bersihkan ikan haruan dan potong-potong. Lumuri dengan garam, kunyit halus, asam jawa dan jeruk nipis. Diamkan 15 menit. 

Panggang haruan dengan bara api. Jika anda kesulitan dengan memanggang pada bara api anda bisa melihat post saya sebelumnya, disini

Haluskan bumbu, cukup diulek saja agar mudah layu saat proses penumisan. 

Tumis bumbu hingga harum dan masukkan kedalam santan yang sudah mendidih. Aduk-aduk kemudian masukkan haruan panggang. 

Jika anda bingung melihat warna kuah ketupat kandangan yang agak kekuningan pada gambar saya maka jangan menambahkan kunyit. Warna kuning pada kuah dihasilkan dari bumbu tumis dan keluarnya warna kunyit pada bumbu ikan haruan yang dibakar. 

Aduk kuah, tambahkan garam, penyedap dan gula, cicipi rasa.

Membuat sambal acan:

Goreng Tomat, bawang dan lombok keriting sebentar saja kemudian Ulek semua bahan, tambahkan garam dan gula. Beri irisan mangga pada sambal agar terasa segar. *kebetulan didepan rumah lagi musim mangga😅 anda bisa mengganti bahan penyegar dengan buah binjai atau belimbing tunjuk. 

Happy Cooking 😊

Ceritaku dengan Kucing Kesayangan, Kehamilan dan TORCH

Ceritaku dengan Kucing Kesayangan, Kehamilan dan TORCH

Kucing. Ya, Dulu saat kecil aku takut sekali dengan kucing. Ketakutanku sangat beralasan, kucing pernah mencakarku. Sejak itu setiap kucing lewat aku lari ketakutan. Tapi segalanya berubah ketika aku mengenal si kuning. 

Saat itu Aku masih SD, duduk dibangku kelas 6. Aku asik memakan opor ayam buatan Ibuku di teras rumah. Makhluk itu mendekatiku dan menatapku dari jarak satu meter. Menelan-nelan liurnya seakan lapar sekali. Dengan tangan gemetar aku memberi tulang sisa opor ayamku kemudian masuk kedalan rumah dan memperhatikan kucing itu menghabiskan tulang ayam. 

Esok harinya kucing itu datang lagi kerumahku. Menunggu diteras rumah dengan wajah dan mata memelas. Aku langsung mengumpulkan segala jenis tulang dan memberikannya_lantas cepat-cepat masuk kembali kedalam rumah. Mataku tak berhenti menatap kucing itu hingga makanannya habis. 

Hari demi hari berlalu aku mulai berani memegangnya lalu menamainya si Kuning. Wajah si Kuning penuh dengan luka bekas cakaran dan sangat kotor. Aku tak membersihkannya. Aku tau Mama tak suka dengan kucing, tapi aku nekat membawanya kekamar untuk menemaniku. Sejak itulah aku menjadikan Kucing itu sebagai ‘Digimon’ ku. Ya, Saat itu aku sangat suka dengan anime Digimon. Aku menyebutnya Tailmon. 

Si Kuning adalah Kucing pertamaku kemudian digantikan dengan Usro. Usro adalah Jenis Kucing Domestik berwarna Hitam putih dan cukup besar. Mama yang memberikannya kepadaku. Menurut Mama tidak apa-apa memelihara Kucing asalkan tidak berlebihan. Jangan dibawa kekamar dan jangan ‘dicium’. Mama selalu mengingatkan padaku bahwa aku alergi. Itu benar. Aku alergi pada Debu, udara dingin dan bulu kucing. 

Tapi Aku Menyukainya

Kucing adalah jenis binatang yang entah kenapa bisa memberi Ikatan padaku. Aku membawanya kekamar, tidur dengannya bahkan jika gemas sekali aku bisa saja menciumnya. Satu-satunya hal yang tidak aku suka pada kucing adalah masa birahinya. Ia mulai suka meninggalkan jejak urine dirumah dan sering meninggalkanku. Kemudian Hilang. Itulah hal yang kebanyakan memisahkan kami. 

Usro adalah Kucing terakhir ku hingga SMA. Umurnya cukup panjang, aku memeliharanya sejak SMP kelas 1 sampai SMA kelas 3. Sebenarnya aku ingin sekali memelihara jenis kucing lain selain Usro. Tapi untuk satu ini saja Mama sudah sangat kesal setiap kali kedapatan melihatku memeluk hingga menciumnya. Mama bilang “Anak perawan jangan kebangetan sama kucing. Nanti perawan tua” 😅. Ketika memulai masa birahi fase ke-3, Usro hilang. Dan Saat kuliah aku memutuskan tidak memelihara kucing. Yah, siapa juga yang mau jadi perawan tua? 

Belum juga lulus kuliah aku memutuskan menikah dengan salah seorang asisten dosen dikampusku. Dan ternyata dia penggila kucing. Kegilaanku pada kucing mulai menampakkan bakatnya lagi ketika mendapatkan pasangan yang mendukung. Lihatlah, ada Kucing betina yang melahirkan dirumahku. Anaknya Tiga. Aku memberinya nama Choji, Junki dan Sifa.

Aku langsung Hamil ketika menikah dan Aku tergila-gila dengan kucing ‘saat itu’  

Choji dan Sifa tak berumur panjang. Hanya Junki satu-satunya yang aku pelihara dari bayi hingga besar. Bahkan saat Aku tinggal dirumah Mertua di Banjarmasin pun aku mengangkutnya dari Pelaihari. Aku membawanya tidur denganku dan suamiku. Kami sama-sama pecinta kucing. 

Junki mengalami stress karena perpindahan yang dialaminya. Dia sering diare. Akulah yang membersihkan *upnya dimana-mana. Saat itu kondisiku Hamil Trisemester pertama. 

Saat Suamiku Kuliah di Yogya, Aku kembali kepelaihari bersama dengan Junki. Junki berangsur membaik saat di Pelaihari. Tak lama kemudian entah kenapa dia seperti digigit oleh sesuatu dilehernya. Sejak saat itu dia sering muntah dan p*p sembarangan. Siapa yang membersihkan semuanya? Aku. Saat itu Aku hamil Trisemester kedua. 

Aku merawat junki dengan baik. Kondisinya berangsur membaik. Aku membawanya tidur dikamarku dengan perut yang mulai membesar. Sudah sering Mamaku bilang padaku “Hamil ga boleh dekat-dekat kucing” tapi aku cuek, paling-paling itu hanya mitos pikirku. 

Masa Birahi Junki pun tak bisa dihindarkan. Dia mulai suka keluar rumah. Aku khawatir, dia kucing rumahan. Bagaimana kalau dia memberanikan diri menyeberang jalan untuk mengejar kucing betina? Disini mobil dan kendaraan sangat laju. 

Firasatku benar. Beberapa hari kemudian aku menemukan Junki terdampar tak berdaya di pinggir jalan. Aku menangis kencang tak peduli dengan berapa umurku dan hamil besarku saat itu, sedih sekali rasanya kehilangan teman curhat dikamar. Saat itu Aku Hamil 7 bulan. 

Aku mengalihkan kesedihanku dengan dunia online. Mulai menulis thread di forum ibu hamil. Curhat tidak karuan. Sampai aku menemukan artikel tentang TORCH. 

Hidrostepalus. Penyakit kelainan janin yang bisa disebabkan oleh virus TORCH yang dibawa oleh virus Toxoplasma Gondii dari Kotoran Kucing. Ya Ampun. 

Badanku panas dingin membaca artikelnya. Penyakit ini tidak bisa dideteksi dengan USG biasa. Harus dilakukan tes TORCH, apalagi buat para pecinta kucing. Tes TORCH sebaiknya dilakukan sedini mungkin agar mencegah Hidrostepalus. Dan saat itu? Aku sudah hamil 7,5 bulan. Sudah sangat terlambat. 

Jangan berinteraksi dengan kotoran kucing secara langsung. 

Ya, ampun. Aku melakukannya dari Trisemester pertama, kedua, hingga ketiga. 

Selama satu minggu pikiranku tidak karuan. Bolak balik membuka foto USG anakku memperhatikan bentuk kepalanya.

Apakah besar? Apakah mungkin jika Hidrostepalus? Oh ya, USG tak bisa mendeteksi. Hanya tes TORCH yang bisa. Oh Astaga, mahalnya tes ini. Oh astaga, ini sudah terlambat juga untuk tes.

Aku panik, aku dilanda ketakutan. Bagaimana jika Anakku….. 

Selama satu minggu aku mencari artikel yang bisa membuatku berpikir positif. Tapi tidak ada, tak ada satupun penulis artikel tentang TORCH yang cinta dengan kucing. Tak ada yang menganggap bahwa kucing tak akan membawa virus itu. Kebanyakan hanya menyuruh untuk tes dan memvaksin kucing sebagai bentuk pencegahan. Semua tulisan di google ini membuatku gelisah. Tak bisa tidur karena dilanda ketakutan. 

Aku kemudian teringat bahwa Kucing adalah binatang kesayangan Nabi. Aku memutuskan untuk membaca cerita tentang Nabi dan Kucingnya, Moezza. Aku kemudian mendapatkan sebuah solusi konyol untuk menenangkan hatiku diesok harinya.

Solusi itu adalah membaca Doa. Haha. Aku membacakan Yasin dikuburan Kucingku. Bagi kalian mungkin itu terdengar lucu tapi bagiku itu adalah penenang hatiku. Aku berharap dengan berdoa dan yakin maka bayiku akan baik-baik saja. Bukankah selama ini aku merawat junki dan kucing-kucingku yang lain dengan penuh kasih sayang? Masa sih aku harus terkena TORCH sebagai balasan perbuatan baikku? 

Pikiranku mulai positif sejak itu. Aku memutuskan untuk berbincang dengan suami ditelpon agar pikiranku teralihkan. Aku harus yakin Bayi yang Aku kandung tidak apa-apa. 

Aku masih memberanikan diri menulis curhat diforum ibu hamil. Tak tanggung-tanggung aku menulis tentang betapa yakinnya aku bahwa kecintaanku dengan kucing tak akan berakibat buruk pada kandunganku. Hasilnya? Banyak yang nyinyir tentu. Apalagi yang bukan pecinta kucing. Hihi. Ga.. Aku ga akan baper hanya karena itu. 

Kemudian aku dikejutkan dengan thread baru bahwa ada anggota yang terkena virus TORCH beberapa minggu kemudian. Aku menelaah penyebabnya. Surprised! Dia bukan pecinta kucing. Benci banget malah. Bahkan bulu kucing sedikit saja dia anti sekali. 

Lalu kenapa dia bisa terkena virus ini? 

Ternyata dia pecinta makanan jepang. Rata-rata yang makanan disukainya memang memiliki tingkat kematangan yang low. Bahkan suka mengkonsumsi Fast Food, Telur setengah matang, dan Steak. 

Aku semakin berpikir positif dan yakin bahwa kandunganku akan baik-baik saja. 

Sebulan kemudian anakku lahir. Sempat cemas sekali dengan kelahiran cesar. Namun aku bahagia melihat anakku sehat sempurna tanpa kurang satu apapun. Bahkan dia terlihat paling besar dibanding bayi lain.

Inilah Bayi yang kukandung saat hamil itu.

Bayi yang kukandung saat aku begitu menyayangi Kucing..merawatnya saat sakit hingga membersihkan p*pnya.. 

Inilah Bayi yang kukandung saat aku berdoa dikuburan kucing..

Beginilah Hasilnya.. 

Dan sampai sekarang aku masih yakin. Kucing adalah satu-satunya hewan yang bisa memiliki Ikatan denganku. 

Untuk Apa Aku Harus Membenci Mertuaku? 

Untuk Apa Aku Harus Membenci Mertuaku? 

Mertua. Ya, satu kata yang berarti adalah mama dari suami ini adalah nama yang entah kenapa selalu berkonotasi negatif dikehidupan emak-emak. Dimulai dari cerita mertua galak, mertua sok ngatur, mertua bla bla bla. Hingga tidak jarang karena hubungan complicated antar menantu dan mertua ini maka kehidupan mereka terlihat selalu tidak damai. 

Nah, soal mertua. Kenapa pula tanaman satu ini diberi nama lidah mertua? Aku pikir tadinya cuma orang indonesaah yang menamai tanaman ini begitu kejam. Ternyata nama versi bahasa inggrisnya juga mother in law tonge. Seolah-olah lidah mertua itu diibaratkan terlihat tajam dan panjang seperti tanaman ini. 

Semua tentang mertua selalu dipandang negatif. Dulu saja ya, kalau anak cewek macam aku gini ga bisa masak mama pasti bilang “gimana nanti kamu nih kalo satu dapur sama mertua?”. Hingga hal sepele seperti duduk didepan pintu aja diledek, “kada disayangi mertua nanti” padahal kan waktu itu aku masih single yak, apa hubungannya si calon mertua ini dibawa-bawa. Hihihi. Ini pengaruh juga ke inner child dari kita tentunya. Kita sudah terlanjur menempatkan kata mertua dengan konotasi negatif dilubuk pikiran kita_bahkan jauh hari sebelum menikah. 

Kebencian kepada mertua disebabkan oleh banyak faktor namun aku meyakini faktor utama yang beranak-pinak menjadi berbagai faktor penyebab lainnya adalah adanya rasa cemburu. Apakah wajar kita cemburu kepada Mertua? Apakah wajar Mertua juga cemburu kepada kita? 

Tentu saja wajar. Cemburu sangat manusiawi. Cemburu adalah perasaan tidak nyaman dimana orang yang sangat kita sayangi menomor dua-kan kita, lebih memperhatikan yang lain. Cemburu boleh-boleh saja, sebagian lelaki suka jika kita ketahuan cemburu padanya. Namun, jika cemburu salah obyek kemudian menimbulkan perasaan iri hingga dengki maka cemburu jenis ini harus segera diobati.

Cemburu yang berasal dari perasaan ingin lebih baik dari pada obyek adalah cemburu yang positif_tidak berbahaya. Sebaliknya jika cemburu dilandasi oleh perasaan benci maka akan menciptakan monster kecil dihati kita. Semakin kita memberi makan monster tersebut, ia akan tumbuh semakin besar dan menggerogoti hati kita. Ibarat Api yang tiba-tiba memakan habis kayu bakar. 

Kebencian_apapun asalannya, adalah hal negatif. Namun sangat manusiawi jika kita pernah membenci. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara kita menghilangkan kebencian tersebut dan mengubahnya menjadi kecemburuan yang positif? 

Jujur saja, Mertua adalah orang pertama yang aku cemburui setelah aku mengenal kehidupan Rumah Tangga. Segala yang aku lakukan sejak berumah tangga tak lepas dari pengawasan mertua. Dia yang aku pikir tadinya sebagai orang kesekian dalam kehidupanku tiba-tiba saja harus aku nomor satukan. Monster dalam diriku tentu sering merasa protes. “Emang dia siapa? Mau menggantikan posisi Mama dikehidupanku.. Tiba-tiba saja jadi si nomor satu dikehidupanku” 

Oh, rupanya hadis ini yang menjadi senjata ya. “Huh” Pikirku.

Kehidupan berumah tangga sungguh proses yang tidak mudah. Hal yang pertama kali harus kau terima adalah meninggalkan rumah mama. Mengganti peran Mama yang merupakan sosok paling dicintai menjadi suami. Aku perlu beberapa kali berkonflik untuk mengakhiri dengan damai keputusanku dengan mama. Kau bisa membaca tulisanku di sini

Memutuskan untuk berbakti kepada suami dan belajar menggantikan peran Mama adalah hal yang tidak sederhana. Suami bukanlah orang nomor satu pengatur hidupku. Dibelakang layar, sang mertua bagaikan dalang wayang yang turut mengatur pergerakan suamiku, membuatku mau tak mau harus mematuhinya pula. Jadi, bila kau bertanya siapa orang nomor satu pengatur hidupku? jawabannya adalah mertua. Dan saat itulah awal kebencian itu muncul. 

Awal kebencian muncul ketika cita-citaku kandas begitu saja karena larangan mertuaku kepada suamiku untuk meninggalkannya merantau di Pelaihari. Aku sudah sangat positif ingin sekali bekerja disana, aku pikir bukanlah jarak yang jauh antara Pelaihari dan Banjarmasin. Kami masih bisa seminggu sekali menengok beliau. Namun kemudian beliau menangis ingin anaknya tetap disini saja. Aturan darinya mengontrol tujuan hidupku. Sudah jelas tentu, suamiku selalu menomor satukan mamanya. Berarti segala langkah hidupku akan selalu dibayang-bayangi olehnya_Mertuaku. Kebencianku sangat beralasan. 

Kebencian semakin bertambah subur ketika aku kemudian harus serumah dengan mertua. Saat itu anakku masih berumur 3 bulan, sering menangis dan begitulah. Aku yang saat itu mengalami Post Partum Depression hanya menginginkan satu hal “jangan atur lagi hidupku”. Apa aku mengucapkannya? Tentu saja tidak. Kebanyakan dari pelampiasanku hanya menangis. Jika tak sembuh juga kadang aku meledak dimedia sosial dan menghapus ledakan itu dipagi harinya. 

Rasa cemburu, iri dan tak suka diaturku telah menggelapkan hatiku. Sebagai Ibu dengan anak yang sering terbangun dimalam hari dan memakai popok kain untuk menghemat keuangan aku cukup kelelahan. Kadang dipagi hari aku tertidur lagi sehabis sholat subuh. Terkadang juga aku bangun telat. Siapa yang menyiapkan sarapan? Aku cuma sesekali. Kebanyakan adalah mertuaku dan iparku. Penyakit anti-sosial dan introvert tingkat akut-ku membuatku sulit beradaptasi didapur yang sudah mempunyai 2 chef andalan. Aku lebih suka dikamar. Berpura-pura terlalu sibuk dengan bayiku. 

Kegelapaan hatiku telah menghapus segala kebaikan mertuaku. Aku hanya melihat segala tentang mertua dari sisi gelap saja, sang pengatur_pikirku. Dalang Suami pikirku. Kapan aku bisa terbebas dari kontrol mertua dan berada di ruang bebasku sendiri? 

Setiap malam aku mengadu kepada suamiku. Tentang ketidaksukaanku pada Mamanya. Dia berusaha mendamaikan perasaanku. Tapi itu selalu tidak berhasil. Hatiku gelap. Aku tak bisa melihat sedikitpun kebaikan dari mertuaku. 

Setiap pagi, siang dan malam. Mertuaku selalu menyetok bayam dan katu dikulkas. Dia menyuruhku untuk selalu memakan sayur agar ASI ku lancar. Jika aku tak membuat karena malas maka mertuaku pasti membuatkannya. Sepanci penuh. Aku tak protes, memang benar Katu melancarkan ASI, tapi apa jadinya jika itu dijadikan seperti cemilan yang harus kau konsumsi setiap saat? Ya, muak. Bosan. Terlebih kondisi Ibu Menyusui sebenarnya bukan hanya butuh sayur, tapi karbohidrat. Aku sukses menjadi anak super kurus disana. 

Sejak kecil aku anti sekali berbicara dengan orang yang lebih tua. Tapi sejak berumah tangga aku harus bisa agar terlihat normal. Sayangnya pembicaraanku kadang tak selalu berjalan mulus. Alasan Pertama adalah aku amatiran dalam berbicara. Alasan Kedua, mertuaku sudah tua, perasaannya tentu mudah tersinggung jika menerima kritik. Maka, diam dan pura-pura setuju adalah pilihan terbaik.

Setiap hari Mertuaku memasak untuk suamiku. Aku yang masih menyusui kadang membantu sesekali. Aku tak terlalu suka dengan sistem dapur ala mertuaku. Setiap pagi harus memasak air dikayu bakar, kuno sekali. Padahal kompor gas sudah tersedia disana. Beliau bersikeras tentang peraturan yang satu itu walau banyak anak yang membantah. Aku sebenarnya alergi dengan bau asap. Dan kamar adalah tempat teraman dari asap. 

Semakin hari aku semakin mengerti bahwa suamiku tergila-gila dengan masakan Mamanya. Segala masakan yang dimasak oleh mertuaku selalu berhubungan dengan asap_ikan panggang, wadai bikang. Akupun diam-diam mengingat segala bahan dan cara memasak ala mertuaku didapur. Aku bertekad, aku harus bisa nanti. 

Bermalas-malasan dirumah mertua adalah hal yang dinamakan serba salah. Aku adalah anak tercanggung dalam penyesuaian dilingkungan yang baru_terlebih jika pada lingkungan itu banyak sekali orangnya. Iparku banyak dan masih berkumpul. Setiap pagi masing-masing memiiki job description tersendiri. Tinggallah aku melongo atau berpura-pura sibuk dengan bayi. 

Ketika anakku menginjak usia satu tahun 2 bulan kami memberanikan diri mengambil rumah secara kredit. Suamiku Sepertinya mengerti dengan aku yang serba salah dirumah mertua. Aku benar-benar bersyukur dapat memiliki rumah dan merenovasinya dengan uang tambahan dari pekerjaan sampingan suamiku. Aku mulai mantap untuk mengganti peran pelayan yang selama ini selalu diambil alih oleh Mertuaku. Sebenarnya, jauh dilubuk hatiku aku ingin melakukannya juga, ingin dapat pujian juga.

Aku mulai belajar memasak. Semua masakan favorit suamiku mulai aku tekuni prosesnya. Dari mulai menyalakan api tanpa minyak gas, membuat bikang, membersihkan ikan sungai hingga mencoba memberi penilaian plus pada diriku dengan mengeksplorasi skill baking. Aku terobsesi untuk melebihi Mertuaku. Aku cemburu setiap kali disebut masakan Mertuaku lebih baik dibanding masakanku. Lihatlah, tanpa disadari aku menjadikan Mertuaku sebagai Rule Mode dalam kehidupan pertama Rumah Tanggaku. 

Hubunganku dengan mertua semenjak berpisah rumah berangsur-angsur membaik. Walau Aku sebenarnya masih agak kesal jika kerumah beliau selalu bertanya “Makan apa tadi? Kalo bikin anu tu begini begini jangan begini nanti bisa begini…. Bla bla”. Sebenarnya aku sudah lumayan memperhatikan cara memasak beliau kan? Dan suamiku selalu bilang enak kok. Aku sudah berusaha melayani suamiku melebihi mertuaku. 

Hal yang lebih menyebalkan adalah jika aku sudah capek-capek menyiapkan makan untuk suamiku, tiba-tiba saja sang mertua memberi makanan untuk dimakan suamiku pula. Seolah-olah tak mau kalah denganku. Aku, dengan sifat kekanakanku sering sekali ngambek dirumah. Ngambek dengan kekalahan. Merajuk dan tak mau memasak. “Makan ditempat mama aja sudah sana” kataku. 

Butuh waktu lama untukku agar bisa memahami apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Mertuaku. Mengapa mertuaku tak henti-hentinya mencuri perhatian suamiku. Rasa Cemburu dan obsesi untuk melebihinya telah membuatku lupa. Lupa akan Bagaimana rasanya menjadi Ibu tua yang Janda. 

Suamiku, sepertinya adalah salah satu anak yang memiliki ikatan erat dengan Mamanya_melebihi saudara lainnya. Sejak Ayah suamiku meninggal, suamiku adalah salah satu anak yang mengisi kebahagiaan batin Mamanya_Mertuaku. Dan bagaimana mengisinya? 

Yaitu dengan memasak. Mertuaku memiliki passion memasak. Rasa cinta tersalur untuk orang-orang yang disayanginya melalui memasak. Menerima pujian dari Suaminya adalah hal yang paling membahagiakan. Sejak suaminya meninggal, pujian dari anaknya_lah yang diharapkan untuk membuatnya merasa senang. 

Aku kemudian menyadari bahwa semua pujian dari suamiku_semua pujian yang dilebih-lebihkannya dihadapan mertua ku sama sekali tak layak untuk aku cemburui. Pujian itu adalah salah satu bentuk rasa bakti yang ditunjukkan suamiku untuk Mamanya. Orang yang merawatnya sejak bayi, membesarkannya dan menyayanginya hingga sekarang. Ah, lantas siapa aku ini, yang selalu cemburu buta dan memasang wajah cemberut setiap kali pujian itu ada. Aku hanya orang yang baru beberapa tahun mengenal suamiku. 

… Namun ia telah memutuskan untuk hidup serumah denganku..


Aku menatap tanaman lidah mertua dibalik jendela kamarku. Tanaman dengan bentuk daun menyerupai lidah yang terkesan tajam. Yah, lidah mertua. Memang sesuatu sekali tanaman ini. Dengan namanya terdengar negatif namun ia telah menyerap udara racun yang ada disekitarku, menciptakan udara segar untuk kuhirup. Mertua memang ikatan unik yang kusyukuri karena telah merubah hidupku. 

Dari rasa Cemburu aku akhirnya belajar untuk lebih baik. 

Dari Cemburu aku memiliki cita-cita baru, ingin menjadi seperti-nya. 

Dari Cemburu aku mengenal arti cinta yang sebenarnya. 

Terima kasih telah mengenalkanku pada rasa Cemburu ‘yang benar’ Mertuaku.. 

Cara Membuat Nastar anti Melebar

Cara Membuat Nastar anti Melebar

Ada yang punya masalah sama dengan saya setiap kali membuat kue kering? Yaitu saat dipanggang bentuknya konstan berubah menjadi melebar kesamping. Sangat berbeda dengan bentuk sebelum masuk oven. 

Biasanya kasus seperti ini sering terjadi jika anda masih sangat newbie untuk membuat kue kering. Kali ini saya mau sedikit berbagi tips buat kamu-kamu yang hoby bikin kue kering agar bentuknya tak melebar lagi. Selain itu, kue nastar (yang telah sekian kali aku buat ini) juga memiliki tekstur kokoh saat dipindahkan namun cukup gurih dan lembut ketika dimakan. Penasaran bukan gimana sih bikinnya. Yuk intip rahasia dapurku dalam membuat kue nastar ini. Oya, berbagai tips disini juga aplikable buat jenis kue kering lain. 

Tips pertama yaitu gunakan Tepung terigu Protein Rendah (contoh kunci biru). Tepung jenis ini akan membuat tekstur kue lebih gurih karena protein rendah tidak mengandung gluten. Kalaupun anda tak punya jenis protein rendah anda bisa menggunakan setidaknya jenis protein sedang seperti segitiga biru. 

Tips kedua yaitu jangan menggunakan mixer. Cukup menggunakan garpu saat pencampuran bahan. Penggunaan mixer akan membuat tekstur mentega agak cair sehingga membuatnya sedikit melebar ketika dipanggang. 

Tips ketiga yaitu setelah dibentuk maka masukkan kue kedalam kulkas sebelum dioven. Lebih lama lebih baik. Ini akan mengokohkan bentuk kue kering agar tetap stabil ketika dipanggang. 

Jadi, dari pada kamu harus beli mending bikin sendiri kan? Toh kamu tetap bisa membuatnya cantik. Belajar yuk. 😊

Nastar Klasik

Bahan:

250 gr tepung terigu protein rendah

150 gr margarine (aku pakai palmia royal butter) 

50 gr gula halus

2 sdm susu bubuk

1 btr kuning telur

1/2 btr telur

Bahan isian:

Selai nanas homemade

Bahan olesan:

1 buah kuning telur 

1 sdt susu bubuk

1 sdm madu

1 sdt air

Cara membuat:

Campur Terigu dan susu bubuk. Sisihkan. 

Masukkan telur, gula halus, margarine dan kuning telur kedalam mixing bowl aduk dengan menggunakan garpu. 

Setelah cukup tercampur masukkan campuran terigu dan susu. Aduk hingga rata. Langsung bentuk. Taruh keatas loyang oven yang sudah diolesi mentega

Isi adonan dengan selai nanas hingga habis. 

Masukkan adonan yang sudah dibentuk kedalam kulkas selama minimum 15 menit. *semakin lama semakin bagus. 

Panggang dalam oven bersuhu 180 derajat. 

Ketika kue setengah matang (bagian bawah masih belum kecoklatan dan bagian atas masih agak lemah) Olesi kue dengan bahan olesan lalu panggang hingga matang. 

Surat Untuk Mama, “Maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga” 

Surat Untuk Mama, “Maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga” 

Sudah lima tahun lebih ya Ma sejak aku lulus kuliah di umur 21 tahun..Kini umurku sudah hampir 27 tahun. Cucumu sekarang sudah cukup besar, umurnya sudah 4 tahun. Sebentar lagi dia akan sekolah di Taman kanak-kanak. Lihatlah, sejarah akan berulang kembali, sama seperti ketika kau menyekolahkanku waktu kecil. Kini keluarga kita sudah memiliki generasi baru. 

Kau tau, dari seluruh artis, guru, hingga semua orang yang kugemari, kau tetap nomor satu bagiku. Kau adalah Rule Mode pertamaku. Aku adalah seorang peniru yang meniru semua perilakumu. Bahkan, sedari dulu aku terobsesi untuk bisa sepertimu. Menjadi wanita yang mandiri sepenuhnya. Aku tak mau kalah darimu. 

Aku masih ingat kau selalu menyuruhku bercita-cita untuk memiliki karir diatas mu. 

“Winda mau jadi apa kalau sudah besar?”

“Jadi Guru TK kayak mama” ucapku Polos

“Kalau bisa cita-cita itu harus diatas mama, mama jadi Guru TK paling tidak anaknya jadi Guru SD, Guru SMP, Guru SMA, jadi Dosen”

Aku membenarkan kata-katamu. Aku harus bisa menjadi lebih darimu agar aku dapat membanggakanmu. Asik sekali kan jika nanti kau berkumpul diantara komunitasmu dan membanggakanku sudah bisa ini, itu. Sudah bisa berstatus sosial diatasmu, sudah bisa memperoleh uang yang lebih banyak darimu. 

Seiring berjalan waktu cita-citaku berubah-ubah. Kau bukan lagi Rule Mode bagiku. Aku terlalu capek melihatmu sibuk. Sibuk membuat Kue untuk dijual selain itu Mama juga Ibu pekerja. Terkadang Mama marah padaku tanpa sebab yang jelas. Ketika sudah ‘sedikit’ besar aku mengerti bahwa sumber kemarahanmu hanya satu. Uang. 

Kau membuat pengertian baru dalam otakku. 

“Lihat, Gajih Guru itu ya segini-segini aja.. Ga cukup untuk (bla bla) makanya mama sambil usaha jualan kue..”

Aku mulai menggaris bawahi Tujuan Hidupku. Jangan pernah menjadi Guru, nanti kau harus punya pekerjaan tambahan untuk terus menyambung hidup. Nanti hidupmu terlalu capek. Dan satu lagi, jangan pernah menikah dengan Guru pula. Nanti hidupmu bokek selamanya. 

Kau tau ma, ketika sekolah SD didekat rumah kita yang tergolong kampung aku selalu dikenal sebagai Anak Orang Kaya. 

“Lihat, Mama dan Ayahnya PNS keduanya.. Anak orang kaya dia tuh”

Nyatanya aku sama sekali tak pernah merasa jadi orang kaya. Kau bilang juga kita ini tidak kaya. Aku hidup dengan dipenuhi rasa empati padamu. Bahkan untuk membeli sesuatu yang aku benar-benar inginkan saja aku jarang meminta. Sejak SD aku rajin menabung. Untuk membenarkan pendapat teman-temanku bahwa aku orang kaya. Aku masih ingat betapa senangnya saat kau membelikan jam tangan untukku dengan menambahkan uang pada tabunganku. 

“Hidup itu harus rajin menabung, anak-anak desa itu mana tau arti sekolah hingga kuliah. Mereka cuma mau tamat SD saja. Makanya uang mama mereka cuma habis untuk jajan mereka, mereka ga punya tujuan hidup seperti mama yang ingin semua anaknya sukses”

Aku harus sukses. 

Rasa empati pada mama membuatku tumbuh menjadi pribadi lain. Impianku adalah memiliki banyak uang. Bagaimana? Belajar. Belajar untuk selalu menjadi yang terbaik dikelas. Aku memiliki Rule Mode kecil yang selalu membayang-bayangi kehidupanku. Dia adalah Kakakku. Si Pintar yang selalu Juara. 

Kau tau Ma, sejak kecil aku sudah merasa berbeda dengan kakakku. Kakak itu pintar, mama sendiri yang bercerita bahwa sejak umur 3 tahun dia sudah bisa membaca. Dia belajar otodidak dengan bertanya padamu. Aku? Sejak kecil aku tak punya ketertarikan dengan Rangkaian Huruf dan Angka. Aku lambat dalam belajar. Aku lebih suka mengkhayal sambil menggambar. Tapi apakah Gambar akan menjadi uang ketika aku sudah besar? 

Ketika aku bisa menulis untuk pertama kalinya kau tau apa yang aku lakukan? Ya, Aku menulis, menulis segala yang kubisa. Tulisan pertama ku adalah prasasti yang kutulis ditembok rumah kita. Aku masih ingat kata-katanya. 

Winda anak Mama

Wanda anak Abah

Seiring berjalan waktu aku mulai suka menulis curhat di buku tulis. Terkadang tulisanku dibaca oleh kakak dan diperlihatkan kepada Mama. Saat aku dimarahi mama, saat aku bertengkar dengan kakakku aku menuliskannya. Itu sudah menjadi semacam terapi untukku. 

Seiring berjalan waktu aku tetap hoby menulis. Aku punya buku tulis khusus untuk menuangkan imajinasi konyolku. Dibawah tulisan aku memuat gambar ilustrasi. Aku senang dengan buku cerita yang mama belikan. Aku pikir aku perlu membuat satu dengan namaku dibawahnya.

Apa Mama tau hoby konyolku itu? Kupikir Aku baru kali ini berusaha mengungkapkannya. Sejak SMP anakmu punya koleksi surat cinta gombal palsu hasil dari perwujudan agar mendapat penerimaan dari teman dan lingkungannya. Kemudian hoby menulis konyolku menghilang begitu saja seiring berjalannya aku pada dunia ekstrovert dengan teman-temanku. 

Aku selalu melirik bayangan hidup yang menghantui persainganku didalam keluarga. Kakakku. Untuk mengabadikan gengsiku padanya aku bahkan malas bertanya dengannya jika menemui kesulitan. Aku memutuskan untuk menempuh jalanku sendiri untuk memperoleh kebanggaan darimu. Jika kakakku lulus di Universitas jurusan Kedokteran, maka Aku akan menghasilkan lebih banyak uang dengan menempuh jalan pada Ilmu Akuntansi. 

Ilmu akuntansi sebenarnya adalah ilmu pelarian. Aku menyukai angka yang memiliki 0 banyak itu hanya karena aku ingin memilikinya, menjadikannya bagian hidupku untuk menyenangkanmu. Pada kenyataannya setiap malam aku hanya menulis cerita konyol hidupku lagi kemudian menulis cerita pendek konyol dan hobi sekali dengan dunia online. 

Mungkin karena nafsu ‘materialistis’ ku Tuhan tak meluluskanku pada tes STAN dan UMPTN, bahkan untuk jalur undanganpun aku tidak lulus. Aneh mengingat saat SMA aku lumayan sering juara di kelas 2 dan 3 SMA. Aku kemudian terdampar di Politeknik Negeri Banjarmasin, mendaftar di Program Studi D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah. Syariah? Lihatlah ma, Tepukan Tuhan yang pertama untuk nafsu Materialistisku. 

Sejak kuliah aku banyak berubah. Aku mulai mantap untuk memakai kerudung. Bahkan sejak awal masuk aku tak pernah ketinggalan memakai rok, diluar dunia kampuspun begitu. Dunia terdamparku di jurusan islami ini sudah menghapus sedikit demi sedikit materialistisku. Meskipun aku masih berharap sedikit penerimaan diluar lingkunganku dengan terkadang memakai jeans diluar. 

Dunia terdampar ini juga mempertemukanku dengan jodohku. Dia adalah asisten dosen dijurusanku. Seiring berjalan waktu aku pun menikah. Aku masih ingat sebelum itu kau begitu bersemangat melihat ada lelaki yang mendekatiku dengan sopan. Kau menyukainya, kau langsung menyuruhku menikah dengannya begitu tau dia ingin meneruskan S2-nya. 

Aku berpikir begitu lama untuk langkah hidup yang begitu mengejutkan ini. Aku bahkan belum lulus waktu itu, masih menyusun Tugas Akhir untuk syarat kelulusanku. Dengan berbekal sholat Istiharah aku mendapat sebuah petunjuk dan aku menurutinya. Jalan-Nya dan saranmu adalah yang terbaik bagiku. Dan akupun menikah. 

Aku masih ingat betapa bahagianya wajahmu saat itu.. Mama. Entahlah apa yang kau pikirkan. Bagiku, saat itu saat yang membingungkan. Ketika Ijab Kabul itu diucapkan pikiranku langsung berputar gelisah. Kemana aku mulai saat ini? Apa Mama akan aku tinggalkan mulai saat ini? Dimana aku nanti? Apa rumah mertua akan menjadi surga baru untukku? Dan.. Kemana pula cita-cita membahagiakan Mama dengan Uang itu? Hilang begitu saja? Ya, ampun aku bahkan belum lulus..

Ah, ada KB. Tentu saja, KB akan menyelamatkan hidupku dari ancaman belenggu Rumah Tangga yang tak aku inginkan. Siapa yang mau jadi Ibu dengan umur masih muda dan belum bekerja? Masih banyak jalan yang ingin Aku tempuh untuk membahagiakan mama. Aku mau melanjutkan kuliahku. Aku tak mau menjadi Banker, Akuntan atau pekerjaan berdasi lainnya. Aku sudah membuang jauh-jauh sisi materialistisku. Aku ingin menjadi Dosen, dia Rule Mode terakhirku. Suamiku. 

Saat lulus Kuliah aku mendengar ada penerimaan Beasiswa S2 di Politeknik Negeri Pelaihari, 2 seniorku lulus disana. Semangatku berapi-api, Aku langsung menceritakannya padamu Ma, Kau begitu senang mendengarnya. Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu “Anakku takkan berpisah jauh dariku karena bekerja disini”. Aku pun sungguh bahagia dan berpikir “Aku takkan jauh dari Mama, Aku akan bekerja disini, memperluas dan menyalurkan ilmuku disini” 

Aku dengan semangat berapi-api menulis lamaran dan CV di kampus kampungku itu. Suamiku memberi semangat. Iseng, aku bertanya padanya. 

“Terus, Kaka nanti gimana? Pindah kerja ya? ”

“Bisa juga sih, tapi lulusin S2 dulu” Katanya (dia saat itu masih dalam tahap tes masuk) 

Aku memasukkan arsip lamaranku dilemariku. Masih ada beberapa berkas yang belum lengkap. Tak lama kabar bahagia darinya datang “Aku lulus penerimaan S2 di UGM” katanya. Aku bersorak senang “Aku juga akan kuliah lagi” kataku. 

Dua bulan lebih berlalu dari tanggal pernikahan kami. Aku belum juga dapat Tamu bulanan. Dia cemas. Jangan jangan..

Ya, Aku hamil. Testpack itu membuat kami berdua shock. Terus terang menunda kehamilan adalah prioritas utama pernikahan kami. Kami masih punya banyak cita-cita bukan? Kami? Maksudku, aku. 

Belum lagi shock itu pudar. Aku masih terbayang-bayang bisa diterima dikampus Pelaihari untuk program beasiswa, kemudian aku mendengar mertuaku menangis tersedu berbicara dengan suamiku disebelah kamarku. Sudah jelas, Mertuaku tak mau Suamiku mengikutiku bekerja di pelaihari. Dia ingin anaknya ada untuknya. 

Untuk pertama kali dalam lembaran hidupku aku begitu membenci Mertuaku. Kebencianku begitu dalam ketika aku hamil. Tapi aku menahannya. Aku cemburu padanya. Aku tak ingin dekat-dekat dengannya_orang yang merampas cita-citaku. Pikirku. 

Demi menuruti hadist sahih tersebut Aku dengan rela mengalah. Tapi sekaligus merasa terkekang. Seumur hidup diriku bebas bereksplorasi. Setelah menikah keinginan terbesarku dikendalikan oleh Suami_yang tadinya setuju dengan usulku lalu dikendalikan oleh Mertua. Lalu dimana hak mama untuk turut menikmati kesuksesan anaknya? Tak adil hidup ini. Pikirku. 

Suamiku akhirnya berangkat untuk kuliahnya. Aku memutuskan tinggal untuk ‘menghemat uang’. Malu rasanya sudah menikah masih saja minta uang padamu Ma. Bahkan tinggal dirumahmu saja malu, tidak bekerja pula. Aku waktu itu adalah Wanita Hamil yang uring-uringan memikirkan masa depannya dan anaknya. Dan saat itu kau sibuk untuk persiapan resepsi kami. Ya ampun merepotkan sekali ya anakmu ini. 

Jujur saja Ma, Seandainya boleh memilih aku lebih memilih tidak usah resepsi saja. Kalaupun resepsi cukup sederhana dirumah saja. Aku tidak berharap menjadi Putri Raja dalam sehari dengan menghabiskan begitu banyak biaya. Tapi demi melihatmu berdiri bersalaman dengan para tamu sambil membanggakan anaknya. Aku rela jadi ondel-ondel sehari. Tukang rias itu bahkan bersikeras untuk memangkas habis alisku yang katanya seperti hutan ini. Aku rela Ma menangis sembilan bulan meratapi alisku yang gundul. 

Betapa sering aku merengek padamu. Mau bekerja kataku. Lihatlah anakmu yang uring-uringan pada kehamilannya ini. Tapi kau bersikeras mencegahku. Tunggu tes PNS saja, katamu. Teman-temanku mulai mendapat pekerjaan di swasta dan bank. Demi tak tahan dengan rasa iri aku memutuskan untuk berhenti bersosial media. Cukup puas dengan membuka forum Ibu Hamil dan mendapatkan banyak informasi untuk menjaga kehamilanku. 

Andai aku bisa meminta. Ingin rasanya aku menyusul suamiku keyogya. Tapi aku terlalu berempati padamu. Malu meminta uang padamu_untuk membeli tiket. Malu, sudah menikah masih menumpang makan dirumahmu, tidak memberimu apa-apa. Tapi terkadang aku merasa kesal didalam hati kenapa Mama selalu mengungkit-ungkit biaya resepsi yang 100% uang mama. Bukankah mama tau suamiku bukan orang kaya. Dia punya 4 adik yang masih sekolah dan mertuaku janda. Bukannya Mama yang terlalu mendorongku untuk menikah? Apa salahku jika kehidupan ekonomiku bergantung pada Mama? Aku tau, uang 300ribu sebulan yang diberi suamiku tak ada apa-apanya dimata Mama. Taukah Mama bahwa demi tak meminta uang padamu aku sering merelakan dunia sosialku hilang_tak ada kuota. Aku berharap kau sedikit simpati padaku saat itu, betapa banyak pasangan muda yang masih ‘diberi’ oleh orang tuanya ditahun pertama pernikahan. Aku saat itu hanya menuntut rasa bangga darimu_dari tekanan hilangnya duniaku dulu. Akhirnya akupun bertengkar dengan Mama. 

Sungguh, sebagai Anak aku menyesal terlalu sering membuatmu menangis, Ma.. Aku bahkan membuatmu menangis saat aku sendiri tak pernah bisa membanggakanmu. Aku bingung, bagaimana meminta maaf denganmu. Akhirnya pada suatu malam tangisanmu pecah kembali. Tangisan yang berisi pengakuan. Cerita kehilangan. 

“Aku merasa kau telah diambil sepenuhnya”

Kata-kata itulah yang kudengar. Ya, dengan egoisku aku membuat ceramah panjang untuk mama hingga mama menangis tanpa pernah memikirkan perasaannya. Bagaimana rasanya memiliki anak yang kau besarkan sejak kecil, menyekolahkannya hingga pintar kemudian pergi meninggalkannya begitu saja_dibawa oleh orang asing yang hanya bermodalkan cinta dan tanggung jawab semata. Aku hanya ingin bersama dekat dengan anakku dan memeluk cucu pertamaku setiap hari. 

Aku akhirnya sadar. Mama kini tak berharap uang dariku. Dia hanya ingin dekat denganku dan Mertuaku ingin anaknya/suamiku dekat dengannya. Aku dihadapkan pada pilihan sulit. Suami? Atau Mama? 

Beberapa bulan sebelum hari kelahiran anakku, Mama membawaku berjalan-jalan ketoko perlengkapan bayi. Kau membelikanku semuanya. Ya, memakai semua uangmu. Rupanya untuk itulah alasan kau terlihat cuek dengan krisis keuanganku. 

Pilihanku semakin sulit ketika Hari Melahirkan tiba. Suamiku tak bisa datang. Hanya Mama dan Ayah yang membantuku. Mama_yang paling utama dalam membantuku. Karena suatu masalah Aku terpaksa melahirkan cesar. Sungguh, malu sekali rasanya pernah membuat Mama menangis sementara Aku dibantu pi*is dan p*p oleh Mama. Mama adalah pilihan yang sulit untuk ditinggalkan. 

Memiliki anak tanpa dampingan suami membuatku terkena babyblues. Walau mama sangat membantuku namun kebahagiaan psikologis ku terganggu. Disamping itu selama 1 minggu ASI-ku tak keluar. Stress mulai menggerogotiku. Andai suamiku datang aku tak mau pulang kerumah mertua pikirku. Aku ingin dengan Mama dan suamiku saja. 

Tapi aku salah. Suamiku pulang saat anakku berusia 3 bulan dan aku tinggal di Rumah Mertua. Babyblues mulai menghantuiku. Mertuaku jauh berbeda dengan Mama. Aturan zaman bahari itu membuatku semakin stress. Ditambah dengan kolotnya pemikiran tentang peran suami dalam membantu membuatku ingin pulang.  Pulang adalah tempat dimana orang yang mengerti dan memperdulikanmu ada. Dan tempatku pulang adalah rumah mama. 

Tapi inilah kenyataan Ma. Kita memang harus berpisah_jarak. Aku sudah terikat janji sebagai seorang istri. Aku sudah meninggalkannya selama kuliah S2_aku memilih bersamamu saat hamil hingga cucumu berumur 3 bulan. Inilah saat aku harus mendampinginya. Menjadi Istri dan Ibu yang harus belajar. Aku memilih mendampinginya dan berada dirumah ini. Rumah Mertua. 

Saat Tes PNS tiba kau begitu bersemangat ma. Saat itu usia Bayiku masih 6 bulan. Aku mendaftar tes administrasi dan ternyata tidak lulus. Status D4 tak sama dengan S1. Aku tau, kau pasti sangat kecewa. Seolah-olah semua perjuanganmu untuk suksesku sia-sia. Akupun merasakan hal yang sama. 

Saat anakku berusia 1 tahun kami memberanikan diri membeli rumah_berhutang denganmu, Ma. Lihatlah betapa merepotkannya Anakmu ini. Aku tau kau ikhlas membantu. Aku butuh rumah sendiri Ma, untuk menyehatkan kondisi psikologisku_meskipun aku lebih suka jika serumah denganmu. 

Alhamdulillah, karir suamiku didunia IT terbilang sukses. Lewat berbagai pekerjaannya di web, kami akhirnya bisa merenovasi rumah kami hingga begitu besar. Lihatlah Ma. Ini pencapaian Suamiku_orang yang kujaga semangatnya dan berusaha aku sukseskan lewat pengabdianku sebagi istri. Dia tiba-tiba saja punya uang banyak untuj merenovasi rumah Ma.. Padahal tadinya dia hanya Asisten Dosen PNS saja. Kini dia sudah S2, konsultan IT pula. 

Tapi Aku masih belum bisa memberi apa-apa padamu. Uang suami memang uang istri tapi masih tak layak diberikan padamu karena untuk sehari-hari uang ini terbilang pas-pasan untuk hidup kami. Aku bahkan tak bisa menghiburmu setiap hari dengan senyuman dan ocehan cucumu. Aku sangat tertinggal_jika dibandingkan kakakku yang berprofesi sebagai Dokter dan setiap bulan memberimu uang. 

Tawaran pekerjaan beberapa kali kau tawarkan akhir-akhir ini. Iya Ma, Aku tau Anakku sudah cukup besar untuk Aku tinggalkan bekerja. Tak ada lagi alasan untukku untuk pemalas dan tak bekerja. 

Tapi aku sudah terlanjur Cinta dengan Rumah ini.. Ma.. 

Aku terlanjur menyukai kegiatan dapur yang dulu selalu aku keluhkan, aku tak bisa melepaskannya. Aku tak bisa membiarkan Suamiku tak merasakan cintaku dari makanannya. 

Aku terlanjur menyukai Kedekatanku dengan Anakku. Ada Bonding aneh yang tak bisa Aku lepaskan hingga sekarang. Saat dia memelukku dan dengan lancar dan bilang “sayaaang mama”, menciumku dan bertanya konyol padaku. Aku pikir hanya aku yang bisa menjawab segala pertanyaan konyolnya yang tanpa henti. 

Aku tertular denganmu Ma. Kau yang selalu Memasak untukku, membersihkan rumah dan merapikannya dengan sempurna, menjadi Guru TK saat aku Sekolah, selalu nampak paling cantik diantara komunitasmu, namun satu kekuranganmu Ma. Kau terlalu Capek karena mengemban semuanya seolah-olah sendirian saja. Berjuang terlalu keras untuk ekonomi keluarga. Kau terlalu super woman untuk aku tiru. 

Jika Mama merasa Ayah yang hanyalah guru tak cukup untuk memenuhi ekonomi keluarga maka Aku sebagai anak yang belajar dari kehidupanmu merasa bahwa Suamiku memiliki Passion yang lebih dibanding seorang Guru saja. Aku memutuskan untuk mendukung segala hoby suamiku dari belakang layar. Ikhlas dengan Nafkah yang terbagi bukan hanya untukku namun juga untuk Ibunya. 

Mengertilah Ma, Aku tak bisa menjadi sepertimu. Membagi diri terlalu banyak untuk menjadi tulang punggung. Aku sudah cukup mendapat pelajaran dari kehidupanku. Bahwa rezeki keluarga diperoleh dari kerja sama yang pas. Ayah mungkin adalah suami yang ideal untukmu yang merupakan wonderwoman. Tapi suamiku tak seperti Ayah_sang penolong dalam kegiatan Rumah Tangga. 

Aku tau kau takut menerima kenyataan aku tak mandiri secara finansial. Nyatanya Aku mulai berusaha Ma. Walau tak terlihat namun Aku percaya, segala yang aku lakukan sekarang adalah Investasi. Aku punya catatan Akuntansiku sendiri untuk rezeki ku. Ingat Ma, Aku ini Sarjana Sains Terapan Akuntansi Syariah. 

Percaya padaku Ma.. Cukup percaya dengan langkahku dengan tak mengatakan bahwa ini adalah langkah kepasrahan. Banggalah dengan status Ibu Rumah Tangga padaku. 

Aku memang hanya Mengurus Suamiku. Meninggalkan cita-citaku dahulu. Tapi suamiku meneruskan cita-citaku. Mengurus suamiku berarti memperjuangkan cita-citaku. 

Ditulis dengan air mata kerinduan. 

Seorang Ibu yang menemukan Rumah Baru dan menghapus kekecewaan dari orang yang selama ini menyayanginya. 



IBX598B146B8E64A