Browsed by
Month: November 2017

Mendidik Anak Generasi Milenial dengan CERDIK bersama So Good

Mendidik Anak Generasi Milenial dengan CERDIK bersama So Good

Suatu hari aku berkumpul dipojok ceria ’emak-emak’ saat menjemput anakku pulang sekolah. Biasanya aku jarang sekali mengikuti pembicaraan emak-emak yang berkumpul ria seperti ini. Tapi untuk kali ini aku sengaja mengikuti pembicaraannya dengan cukup lama karena topik dari pembicaraan bukanlah tentang gosip. Ya, mereka berbicara perkara anak-anak zaman now. 

“Seharian main handphone mulu si Kaka, ya adeknya ikut-ikutan jadinya”

“Iya, beda banget sama zaman kita kecil dulu ya.. Kalo kita dulu ga kayak mereka”

“Apalagi anakku, kalau udah buka youtube ga bisa dipanggil-panggil. Asik sendiri”

Terus aku ikut nyurcol, “Kok sama yah, suami aku kerjaannya dirumah ‘enemy has been slayed’ dan itu jadi bahan ejekan anakku” 😂

Bisa ditebak betapa konyolnya wajah para ibu-ibu itu mendengar kata-kataku yang ‘sok nyambung’. Hahaha..

Tapi serius, aku mengerti sekali perasaan mereka. Mengasuh anak generasi milenial seperti sekarang itu tidak gampang. Hal ini ditambah dengan situasi lingkungan perkotaan yang menuntut para ibu-ibu menjadi individualis dirumah. Apa efeknya? Ibu-ibu sekarang haus akan kewarasan dan membiarkan anaknya berlama-lama bermain gadget ‘tanpa’ didampingi olehnya.

Salahkah?

Tidak bisa dipungkiri di zaman sekarang adalah hal yang mustahil jika ingin menjauhkan total gadget dengan anak. Kenapa? Karena emaknya sendiri juga beraktivitas dengan gadget. 😂

Ya bagaimana tidak? Emak-emak zaman now ya.. Masa ga ngerti gadget alias gaptek? 😅

Emak melihat anak sakit langsung browsing. Emak kehabisan inspirasi buat masak langsung berburu resep di internet. Emak kurang piknik tapi enggak punya waktu piknik, akhirnya main sosmed. Emak kurang sosialisasi dirumah tapi tetangga pada enggak suka keluar rumah, akhirnya main WA dan BBM. Emak kekurangan duit sementara anak masih kecil-kecil, akhirnya memilih jualan online. Ya, semua aktivitas emak sekarang butuh gadget!

Sebagai rule mode pertama dari anak maka sangat tidak mungkin emak yang hidup dengan gadget menjauhkan anak dari gadget. Tidak mungkin, karena generasi dimana emak hidup sekarang adalah generasi milenial. Karena itu, apa solusi terbaik untuk anak pada generasi milenial? 

Yaitu dengan mencukupi kebutuhannya dengan CERDIK sesuai zamannya. Ya, kita tahu bahwa gadget bagi anak memiliki dampak negatif tapi ada pula dampak positif yang didapat dari gadget. Asalkan kita sebagai orang tua dapat mengawasi, membimbing serta mengajarkan nilai kebaikan dari gadget.

Jujur saja dulu aku juga anti gadget. Sewaktu anakku Farisha masih berumur 2 tahun aku sering sekali membacakannya buku cerita sebelum tidur. Buku cerita sangat membantuku untuk menidurkannya yang saat itu dalam proses menyapih. Tadinya, aku berpikir bahwa dengan membacakan buku cerita maka aku telah mencukupi kebutuhan hiburannya setiap hari. Ternyata aku salah, lambat laun aku pun lengah dengan turut menyodorkan gadget padanya.

Awalnya menyenangkan. Ia tak lagi mengganggu aktivitasku. Aku dapat mengerjakan pekerjaan rumah dengan bebas tanpa gangguannya. Namun lama kelamaan aku merasa menjadi nomor dua baginya. Ia mulai mengacuhkan panggilanku. Ia asik dengan ‘mainan’ barunya. Ia tidak perduli lagi dengan asiknya kegiatan membentuk dough roti dengan tangannya. Parahnya, ia lebih suka melihat video di youtube dibanding dibacakan dongeng olehku.

Ini salah.. Ini salah.. Pikirku. 

Saat itu aku memutuskan untuk menjauhkan gadget dari hidupku. Dia harus meniruku yang dapat survive tanpa gadget. Kebiasaan ini berhasil tapi mulai pudar saat Farisha mulai kenal arti berteman diluar. 

Ya, kupikir dengan mengajaknya bermain diluar bersama teman dia akan senang dan melupakan gadget. Ternyata sejak berteman dia malah menjadi iri dengan temannya yang asik dengan gadgetnya dan tidak memperdulikannya. Dia berkata padaku, “Ma, Farisha jua mau main hape seperti teman Farisha” 😑

Kejadian ini memberiku pembelajaran bahwa menjauhkan anak dari gadget sepenuhnya bukanlah tindakan bijak. Aku akhirnya mulai menerapkan 3 aturan dalam memberikan pinjaman gadget bagi anakku. Tiga aturan itu antara lain:

  1. Tidak membiarkan anak meminjam gadget dalam kondisi online. 
  2. Tidak boleh bermain gadget lebih dari 15 menit. 
  3. Hanya permainan edukatif yang boleh dilakukan anak dalam bermain gadget.

    Tiga aturan tersebut telah sukses aku terapkan selama ini. Sejak itu aku merasa kehidupanku normal kembali. Farisha mulai senang membantuku didapur untuk membuat kue maupun memasak, senang setiap kali aku bacakan buku cerita, dan hadiah dari sikapnya baik tersebut aku memberinya kepercayaan untuk meminjam smartphone-ku dalam waktu 15 menit sebanyak 3x sehari.

    ***

    Bicara tentang hoby anakku dalam memasak, ia paling menyukai kegiatan membentuk. Baik itu membentuk dough roti, membentuk cookies, hingga menata persentasi makanannya sendiri. Aku membiarkan imajinasinya berkembang dari kegiatan itu. Dan yang terpenting, ia bangga dengan karyanya sendiri dan dapat dengan lahap memakan hasil dari olahan tangannya.

    Namun kini Farisha sudah sekolah. Ia tidak memiliki banyak waktu didapur seperti dahulu. Ia kini memiliki lingkungan baru, teman baru dan pola hidup yang baru. Aku sebagai Ibunya pun kini memiliki rutinitas baru setiap pagi untuknya. Yaitu membuat bekal. 

    Membuat bekal itu sebenarnya mudah. Tapi membuat bekal yang terlihat menarik itu sulit. Sementara anakku sendiri sudah terbiasa dimanjakan lidahnya oleh masakanku. Aku tidak bisa membuat imajinasinya mulai pudar dengan bentuk bekal yang itu-itu saja. Ditambah lagi, aku tidak punya waktu cukup untuk menyiapkan semuanya serba sempurna dipagi hari yang sibuk.

    Akhirnya suatu malam aku memutuskan untuk membeli makanan praktis disupermarket. Kebetulan besok aku punya banyak kegiatan dan tidak ingin berlama-lama dalam membuat bekal sekolah anakku. Aku akhirnya memutuskan untuk membeli Nugget karena Farisha suka sekali dengan Nugget. Dan pilihanku jatuh pada Nugget So Good. 

    Kenapa So Good ya? Karena aku termasuk mommy yang suka pilih-pilih dalam membeli makanan. Sebenarnya merk nugget lain juga banyak. Tapi So Good ini sudah terjamin kualitasnya dan paling enak rasanya. Dan nilai plus lagi dari So Good ini adalah bentuknya bervariasi sekali. Anakku pasti suka bentuk-bentuk makanan yang lucu untuk bekalnya disekolah. 

    Aku akhirnya memilih So Good Nugget Ayam Dino Bites. So Good varian ini adalah nugget yang berbentuk dinosaurus. Aku memilihnya karena Dinosaurus adalah binatang yang hanya hidup di imajinasi Farisha dan aku ingin membuatnya terlihat nyata. Hal ini karena dia sering sekali bertanya tentang dinosaurus seolah-olah ingin benar-benar melihatnya. 

    Aku pun pulang dan langsung bertanya padanya. 

    “Farisha mau lihat Dinosaurus?” 

    “Bukannya Dinosaurus sudah musnah ma? ditabrak batu besar? ” Katanya 

    “Dinosaurus sudah musnah sayang, sekarang cuma ada fosil dinosaurus daaan Dinosaurus Goreng” Kataku

    “Dinosaurus goreng?” Farisha bertanya heran.

    Aku lalu mengeluarkan So Good Nugget Ayam Dino Bites berukuran 400 gr yang aku beli lalu membuka isinya. Dan aku terkejut, ternyata didalamnya ada hadiah kartu So Good Cerdik dengan Framenya. Wow, ini keren. Pikirku.

    Sementara aku menginstal aplikasi So Good Cerdik di Playstore, Farisha mulai memilih dinosaurus apa yang akan digoreng. Dia memilih Brontosaurus dan T-Rex untuk makan malamnya nanti. Dan menyisakan Dua T-Rex untuk bekal sekolahnya besok. Saat melihatku asik mengutak atik kartu dan smartphoneku akhirnya dia bertanya, “Apa itu ma? Mainan baru?”

    Aku tersenyum dan mengajaknya masuk kekamar. Ya, aku senang sekali malam itu. Aku punya dongeng baru untuk Farisha. Siapa kira smartphone begitu berguna untuk dongeng kita malam ini.

    Dongeng? Dengan kartu itu?

    Ya, ternyata kartu ini bukan kartu sembarangan. Kartu ini adalah kartu ajaib yang dapat berbicara dan mendongeng dengan aplikasi So Good Cerdik. Kartu ini di olah dengan teknologi Augmented Reality atau AR. Hanya dengan melakukan scan pada kartu ini di kamera smartphone maka akan terjadi keajaiban. 

    Mau tau cara lebih lanjutnya? Yuk, aku kasih tau.. 😊

    Pertama, kita harus install aplikasi So Good Cerdik di Playstore.

    Dan mari kita buka aplikasinya. 

    Pilih cerita yang tersedia. Karena aku mendapatkan seri Chika dan Chiko part 2 maka aku memilih gambar Chika dan Chiko part 2. 

    Kemudian klik mulai dan arahkan kamera smartphone pada kartu So Good Cerdik berhadiah tadi. Lalu klik mulai cerita. Dan lihatlah, smartphone juga bisa bercerita loh. Seperti aku. Tapi aku tidak bisa membuat tampilannya sekeren ini. Serius, tampilannya tiga dimensi dan tokohnya dapat bergerak. 😆

    Bisa dibayangkan betapa senangnya anakku melihat keajaiban dari aplikasi So Good Cerdik ini. Dia langsung bilang, “Lagi ma.. Lagi…”

    Dan sampai sekarang cerita ini diulang-ulang hingga tiada bosannya. Kemudian dia berbisik padaku, “Ma, nanti beli lagi ya.. Aku mau cerita yang lain juga”

    “Hihi.. Baiklah, tapi nanti minta belikan so good dengan papamu saja ya sayang..” 😝

    ***

    Bercerita bersama aplikasi So Good Cerdik membuatku tersadar. Bahwa mendidik anak generasi sekarang tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Kita harus peka dengan teknologi, bukan melarang perkembangan teknologi masuk kedalam keluarga kita. Karena teknologi yang dipergunakan secara positif maka akan menghasilkan output yang positif pula. 

    Berbagai permainan digital edukatif seperti aplikasi So Good Cerdik dengan cerita pengantar tidurnya telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anakku. Diantaranya untuk bisa berbagi, kreatif, dan tidak berprasangka buruk dengan orang lain. 

    Aku kini dapat membangun bonding lebih erat dengan anakku berkat So Good Cerdik ini. Bentuk Dinosaurus dari Nugget So Good benar-benar membangkitkan imajinasinya sehingga kami dapat bermain bersama. Setelah lelah bermain, kami menonton dongeng bersama. Benar-benar moment yang menyenangkan. 

    Keesokan harinya, Farisha langsung mengajak temannya bermain dirumah. Ya, dia semangat sekali mengajak temannya. Awalnya, temannya tidak menghiraukannya dan asik dengan gadgetnya. Namun akhirnya ia tertarik mendekat ketika melihat Farisha bermain So Good Cerdik dengan Kartu Augmented Reality milik Farisha. Saat melihat keduanya, hatiku senang. Kini Farisha mulai meniru gaya cerita sang story teller di aplikasi itu. 

    Ya, siapa tau ketika besar kamu biasa jadi pendongeng hebat berkat So Good Cerdik ya nak! 

    ***

    Pagi harinya aku membuka kulkas untuk membuatkan Farisha ‘Dinosaurus Goreng’ lagi. Namun, secara iseng aku membuka aplikasi So Good Cerdik lagi. Karena aku pernah melihat kata-kata resep pada menu utamanya. Dan benar saja, ternyata banyak resep kreasi nugget disana. Wow.. 😱

    Saat asik membaca aku baru sadar kalau bahan-bahan untuk membuatnya tidak ada dikulkas. Sepertinya aku perlu resep yang lain. Eh, sayangnya kategori resep yang sudah di unlock cuma satu. Hiks.. 

    “Baiklah, mungkin aku akan membeli So Good lagi besok” Pikirku. 

    *loh, kok emaknya jadi ikut keracunan.. 😂

    Ya, ini ceritaku saat bangkit membangun semangat mendidik anakku di generasi milenial dengan CERDIK. Mana ceritamu?

    Happy Parenting! 😊

    Review BB Cake Wardah 03 (Natural) 

    Review BB Cake Wardah 03 (Natural) 

    Halo.. Udah lama banget ya aku ga nulis. Ada kali ya satu minggu. Maklum, emak sedang dilanda gundah gelisah dalam kehidupan. *tsah.. 😌

    Ya, problematika kehidupan emak-emak itu ternyata begitu kompleks. Mulai dari mengurus anak yang mulai bosan main itu-itu saja. Suami yang pasif sehingga istrinya suka bikin drama dirumah biar rame. Sampai adegan boikot hape suami karena bosan mendengar ‘alley has been slayed’ seharian. FYI ya, kalau kamu suka cari suami cuek kayak aktor drama korea percayalah endingnya kamu juga bakal jadi cewek norak dirumah. 😂

    Hal ini juga yang mendasari emak mulai suka dandan supaya menarik perhatian suami. Soalnya aku mulai mikir asik kali ya kalau sesekali dandan model anime (yaelah.. Cosplay lg win😂). Bukan, bukan cerita dandan yang ribet ini. Ini cerita tentang bagaimana caranya supaya waktu dandan emak dirumah sangat simple dengan seribu kerempongan dirumah. Tentunya dengan hasil natural dan tidak menor. 😅

    Ya, tau ga sekarang waktu dandan aku dirumah itu simple banget. Cuma modal 5 menit doang udah lumayan keceeeh (ngaku-ngaku.. 😅). Ya, Cukup 4 langkah mudah untuk tampil cantik dan sederhana dirumah.. Yuk simak..

    1. Pakai pelembab harian

    2. Pakai lipbalm

    3. Pakai BB Cake Wardah

    4. Pakai lipstik

    Prok-prokk… 👏

    Simple amat bukan? Ini juga bisa diaplikasikan buat kepasar pagi-pagi. Cukup pakai BB Cake Wardah dan Lipstik udah lumayan keceh. 😉

    Baca juga: Tutorial make up sederhana saat menyambut Suami dengan penuh cinta

    Nah, By the way.. BB cake itu apaaaa? Ini dari wardah? Baru ya? Apa bedanya sama TWC itu? Apa? Apa? 

    Ehm, menurut informasi BB lightening cake powder adalah Bedak Padat yang mengandung banyak skin care juga didalamnya terutama oil-balancing beads dan UV light filter agents. Bedak ini mengklaim bahwa dapat membantu kulit wajah normal-berminyak tampak bebas kilap, matte, cerah alami sepanjang hari. Selain itu formula multifungsinya bekerja secara tepat untuk melembutkan, meratakan, serta mengurangi tampilan pori yang besar. 

    Jadi, kalian tau kan kenapa aku ngebet banget pengen beli ini kemarin. Soalnya ini bedak pas banget buat kebutuhan aku. Aku itu kalau memakai bedak padat pasti deh diarea hidung itu agak mengkilap kayak baru nyium minyak. Ah, pokoknya ini yang bikin aku kadang males banget pake bedak padat. Udah gitu kalau ga cocok bisa ketebelan pulaaaa. Hiks.. 😭

    Nah, FYI aku juga baru tau wardah ngeluarin BB cake ini pas ngikut Beauty Class. Saat liat packagingnya pertama kali aku langsung jatuh cinta. 😍 Ini sumpah cute banget warna dan designnya. Putih dan biru muda yang dipadu itu emang ciri khas wardah ya. Tapi untuk packaging bedak padat, BB cake ini juara lah pokoknya.. 😘

    Nah, karena kulitku ini enggak putih, enggak kuning, tapi juga enggak hitam-hitam amat maka aku pilih yang varian 03, natural. Aku senang sih karena ini pas banget buat kulit wajah aku, kelihatan menyatu banget dan ga keliatan dempul. 😘

    Tau yang bikin aku ngerasa ini produk wajib dimiliki emak-emak? Yaaa.. BB cake ini mengandung licoride extract plus Vitamin E yang bisa membantu proses pencerahan kulit wajah secara natural. Wowww.. (ini kale ya alasan kenapa akhir-akhir ini ngerasa muka rada cerahan walau bare face) 😝

    Kenapa aku bilang diawal ga perlu pake BB cream lagi kalo udah punya ini? Karena ini udah mencukupi kebutuhan aku kalau mau dandan cepet dirumah. 😂

    Serius lah, coba liat before-after aku pake ini. Pokoknya berasa udah lumayan coverage buat nutup pori dan meratakan warna kulit wajah aku.

    Maaf ya, beforenya bener2 bare face.. Ah ketauan jeleknya.. Haha

    Kalau pergi keluar rumah gimana? Masa cuma pake BB cake ini ajah?

    Nah, kalau kalian mau pergi keluar dengan durasi lebih dari satu jam aku saranin sih pake yang lengkap lah yaa.. Hehe.. Kalian bisa baca step by step tutorial make up sederhana di Beauty Class bareng Wardah kemaren. 

    Bedak ini maksimal banget kalau dipakai sesudah DD Cream Wardah dan bedak tabur. Pokoknya luar biasa banget jadinya tampilannya. Kece banget… Ga bikin kilap sama sekali walau udah 2-3 jam diluar.

    Baca juga: Review DD Cream Wardah Natural

    Sama sekali tidak terlihat perbedaan kan setelah 2 jam diluar. Mungkin ada ya tapi yang penting bebas kilap. 😘

    Overall yang aku suka dari BB Cake Wardah adalah:

    • Coverage banget
    • Benar-benar bebas kilap
    • Formulanya ringan
    • Bisa dipake tanpa BB cream dirumah
    • Packaging juara.. 😍
    • Harga terjangkau, aku beli dengan harga 55.000 yang didiskon menjadi 48.000.😘

    Nah yang aku ga suka??

    Tidak ada.. 😂

    Repurchase?? Of course!!

    Tunggu apa lagi! Yuk beli! 

    Cuss ah emak dandan lagi.. Hehe
    😊

    Yuk, Intip keseruan dari Event Gosh Birthday Bash di Duta Mall Banjarmasin 

    Yuk, Intip keseruan dari Event Gosh Birthday Bash di Duta Mall Banjarmasin 

    “Kamu nganggur win weekend ini” tanya salah seorang teman saya waktu itu.

    “Nganggur.. Tapi mau ngajakin apa hayo?” kataku balik bertanya.

    “Itu.. Gapapa nanya aja.. 😛”

    #GUBRAK

    Ya, weekend aku selama ini emang gubrak banget. Teman-teman dulu memang suka iseng bertanya “hei, week end kemana??” tapi ujung-ujungnya ya gubrak lah. Pasti di php ato ga jadi. Padahal buat emak-emak rumahan seperti saya yang namanya week end itu moment spesial yang maunya siiih.. Diabisin buat have fun supaya charging energi kewarasan emak.

    Kenapa ga jalan sama suami? *Ya, sering banget lah ditanya beginian.. Bagi kalian yang pernah nongkrong lama diblog ini mungkin tau lah ya alasannya..

    Baca juga: “Ketika Introvert menikahi Introvert pula

    Ya ya! Suami aku itu ga suka jalaaaan! Ga suka piknik dan punya dunia kotak. Titik.😑

    Andai nih dia ngajak aku jalan pasti merengek “Pulang yuuuk”. Lah, padahal loh ya anak saya anteng diajak jalan. Yang cerewet malah dia. 😑

    Ya, udah lah disyukurin aja. Hihi.. Inilah yang namanya suka duka berumah tangga.. *tsah..😂

    Jadi kalian taulah ya kenapa tiap kali ada event buat blogger, saya pasti ngacung tangan bilang, “Ikuttttt” 😅

    Kayaknya semua event blogger yang ngundang FBB aku ngikut mulu ya. Ga pernah ketinggalan satupun. *Ketauan banget kurang pikniknya.. Hahaha  

    Baca juga: “Serunya Beauty Class bareng FBB dan Wardah” 

    Kayak yang satu ini nih. Ketika FBB diundang buat meramaikan event Gosh Birthday Bash di Dutamall Banjarmasin tanggal 4 November lalu, aku yang sudah berstatus emak-emak dengan niche blog dunia emak-emak pede aja ikut nongkrong disitu. Hitung-hitung ngerasain sensasi anak muda lagi lah ya.. 😂

    Anak muda? Ya, Gosh itu kan adalah dunia fashionnya anak muda, pikirku. Dunia fashion yang dulu sempat ngiler banget liatnya waktu zaman kuliah. Kenapa? Karena gaya Gosh itu ‘Gue Banget’. Semua produk Gosh dari mulai Tas, Sneakers, Sendal itu semua stylenya aku suka. Sebenarnya sampai sekarangpun aku masih suka. *ini jenis fashion yang menolak tua kayak lipstik nude aku.. 😆

    Loh, kok nyambung ke lipstik 😑 

    Kamu kok masih pede makai begituan? Emak-emak tuh harusnyaaa… 

    Dasteran? 😛

    Mana mau aku begitu.. 😅 aku ikut event ini menyamar jadi abegeh aja. Hahaha… 

    Tebak yang mana emak2 n mana yang single? 😂 *sok muda banget


    Tau ga event gosh itu seruuu.. Ada Cosplayer, ada lomba, ada interview sama selebgram dan yang bikin pengunjung mampir terus itu adalah… Diskon 20% for All Item. Wow.. Kapan lagi? 

    Trus, aku ngapain selama itu? Ya foto-foto mereka lah.. 😂

    Kok ga ngikut jadi Cosplayer? 

    Itu..  kata suami aku.. Aku ini udah seram. Ga usah ikut Cosplayer lagi mukanya udah mirip sama Shiki on Kara No Kyoukai 😂. *cuma dia yang tau gimana aslinya nih muka kalo ga pake jilbab sambil megang pisau dapur😅

    “Apa kamu bilang? Nasi Gorengnya ga enak?”

    Sebenarnya mau banget akting begitu sambil bawa pisau dapur. Apa boleh buat aku lupa bawa mangga, eh.. Maksud aku di mall ga boleh bawa senjata tajam. 😂

    Aku pikir loh pengunjung disini bakal cuma anak muda aja. Eh ternyata banyak emak-emak ikut lomba juga disini. Yang muda mana? Kalah dong sama ‘the power of emak-emak’. Liat deh, yang menang lomba emak-emak semua. 😂

    selamat ya ibu-ibu.. 😘

    Nah, disini juga ada fashion show yang diperagakan oleh model loh. Waw, liat beginian pasti deh berasa pengen banget ngeborong produknya. Habisnya kece yah..

    Nah, terus ada sesi interview juga buat member FBB dan para selebgram. Sesi interview ini nambah pengetahuan banget buat aku yang ga terlalu update sama perkembangan fashion. Nah, yang mewakili FBB untuk interview adalah mba Antung Apriana. 

    Interview with Antung, member FBB

    Serius deh, aku baru kali ini denger interview kocak banget waktu sama selebgram. Dan kupingku langsung merah denger para selebgram ini waktu dandannya 2 jam dan ga mau pake baju yang sama buat galeri foto mereka. Ooh, begitu ya dunia selebgram.. *kejam.. 😅

    Interview with selebgram👉puput, lyla dan nurlela

    Pantes ya kece banget, kamu apa kabar win? Yang 15 menit sambil makanin anak?  Ngaku kayak abegeh lagi.. Kepedean.. Wkwkwk…

    Nah, sehabis mendengar pencerahan dari para model fashion yaitu para selebgram, aku dan teman-teman FBB langsung deh laper mata buat melihat-lihat produk-produk dari Gosh. 

    Diskon 20% itu bukan mitosss

    Produk Gosh mahal ya?

    Ya, lumayan. Hihi.. Tapi harga emang ga boong loh. Bahan dan style dari produk Gosh itu ga pasaran dan stylish banget buat kamu-kamu yang pengen bergaya harajuku maupun K-Pop Style. Jadi, masih muda dan mau banget beli produk Gosh? Yuk, nabung. 😂

    Emak-emak apa kabar?? Masih pantas memakai produk Gosh?

    Pastes kok, pantes! Jangan mau dibilang tua maaak.. Jangan mau… 😝

    Tas Gosh itu kece banget. Masih wearable banget buat emak-emak muda. 

    *cuss narik kerah baju suami.. 😈

    “Mas, tas Gosh-nya satu boleh ya…”

    Nah, itu dia cerita keseruan event Gosh Birthday Bash hari Sabtu, 4 November kemaren di Duta Mall. So, lain kali kalo Gosh ngadain moment beginian kalian jangan ketinggalan yaaa… Kapan lagi dapet diskon?? 

    Happy Shopping.. 😊

    Cara sederhana menjauhkan paham Materialisme pada Anak

    Cara sederhana menjauhkan paham Materialisme pada Anak

    source: yuk belajar parenting

    “Mama, mau beli Itu!!!!” Raung seorang anak kecil di mall sambil menarik tangan Mamanya. 

    “Tapi kan kamu sudah beli mainan, sudah main di time zone, dan sudah makan ice cream sayang?” 

    “Tapi aku belum punya yang ini Ma!!!” Raung sang anak sambil memegangi mainan di etalase. 

    ***

    Familiar dengan pemandangan diatas? Atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya? Pernahkah terbesit dipikiran anda bahwa anak anda sudah melewati masa tantrum namun kenapa masih sedemikian manja? 

    Ya, Bisa jadi paham materialisme mulai masuk kedalam pola pikir si kecil loh Bunda! 

    *tsah.. Penulis kok lebay amat gitu aja dibilang matre! Ini anak kecil loh, belum ngerti apa-apa tentang uang*

    Ya, bilang saja begitu. Terus saja anggap mereka anak kecil yang tidak akan membawa inner child nya sebagai dampak psikologisnya di masa depan. Terus saja berpikir bahwa hal diatas adalah hal wajar dengan mengatasnamakan “Biasalah.. Anak kecil” 

    Ya.. Terus saja begitu.

    Dan jangan salahkan jika suatu saat ketika ia besar maka ia akan meminta hal besar yang tiada habisnya. Lalu saat itu terjadi maka hanya ada penyesalan dalam diri kita sebagai orang tua. Kenapa sedari kecil aku tak menyadari bahwa telah membiarkan paham materialismenya berkembang? 

    Sebenarnya apa itu Materialisme?

    Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata, ia berkembang dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialis. Jadi, paham materialisme bukan soal uang saja tapi segala bentuk pemenuhan keinginan dengan ‘materi’ disebut dengan materialisme. Orang materialisme akan sangat bahagia jika semua keinginannya dapat dipenuhi dengan materi-materi tersebut. *semoga bisa dipahami ya.. 

    Jadi kenapa paham materialisme harus dicegah sejak kecil? 

    Nah, Taukah anda? Mental anak akan rusak akibat dari paham materialisme. Di negara inggris, dampak paham materialisme pada anak bahkan terus meningkat.

    Sekitar 89% orang dewasa sepakat bahwa anak generasi sekarang jauh lebih materialistis dibanding sebelumnya. Pada jangka panjang efek dari paham materialisme dapat membuat anak-anak menjadi sangat individualis, serakah, serta tidak memiliki simpati dan empati saat dewasa nanti.

    Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? Orang tuanya? Para pemasar produk komersial pada anak-anak? Televisi? Lingkungan anak? Sosial Media? 

    Tercatat keuntungan industri di Inggris dari segmen pasar anak-anak diestimasikan mencapai sebesar 30 miliar poundsterling.

    Waw.. Bukan cuma segmen pasar cewek loh yang besar! 

    Ya, menjual ‘life style’ pada anak-anak telah mengakibatkan budaya kompetisi materialisme yang akhirnya membuat anak-anak menjadi sangat individualis ketika dewasa nanti. Jadi, Apakah kita akan membiarkannya?

    Menurut pendapatku, paham materialisme pada anak adalah akar dari kehancuran generasi. Setuju? 

    Karena itu, JANGAN biarkan anak kita menjadi materialistis. Sebab, kita akan menjadi sangat repot untuk memenuhi semua keinginannya. Jika materialisme pada anak terus dibiarkan maka mental anak-anak akan menjadi rusak. 

    Ya.. Ya.. Kita memang sayang dengan anak. Tapi apakah harus menunjukkannya dengan bentuk materi? Apakah materi adalah segalanya? 

    Yuk, simak beberapa cara sederhana untuk menjauhkan paham materialisme pada anak:

    1. Ajari anak untuk hidup Hemat dan Sederhana

    Sejak kecil aku selalu teringat pada sebuah tulisan didinding kamar dan dinding kelas di Sekolah Dasar yang berbunyi,

    “Rajin pangkal Pandai, Hemat pangkal Kaya” 

    Ya, memang tulisan sederhana tapi cukup berpengaruh.  

    Waktu kecil aku dipandang sebagai “Anak Orang Kaya” di kampungku. Namun sampai sekarang pun aku tidak pernah merasa kaya. Jika aku menginginkan membeli sesuatu maka aku harus menabung. Kebiasaan ini menular dari orang tuaku dan berlaku sampai sekarang. 

    Dan aku harus berhasil menularkan kebiasaan ini kepada anakku. Bagaimana caranya? 

    Pertama aku memperkenalkannya pada nominal uang. Bagaimana wujud seribu, dua ribu dan lima ribu. Uang dua ribu rupiah adalah uang sakunya disekolah setiap hari. Dan dia boleh menghabiskannya atau menabungnya. 

    Nah, apakah dia menabungnya? 

    Tentu saja tidak.. 😂

    Saat si kecil berada dilingkungan sekolah dimana ia dihadapkan pada pergaulan dengan teman-temannya dan para penjual diluar maka sebagai Ibu aku harus memahami kebutuhannya. 

    Ya, kebutuhan bahwa ia perlu diterima pada pergaulannya. Kebutuhan mata dan perutnya. Mana bisa aku memaksanya untuk menabung keseluruhan uangnya? Yang bisa aku lakukan hanya membuatnya memilih. 

    “Buat beli susu atau mainan?” tanyaku

    “Mau beli susu tapi mau beli mainan juga” kata anakku

    “Tapi kalau begitu uang Farisha enggak cukup” 

    Source: shutterstock

    Dan drama berakhir. Ya, sesederhana itu. Caraku mengatur keuangan anakku adalah dengan membatasi uang sakunya. Karena anak seumur dia belum mengerti cara mengontrol uang yang benar. Dia bahkan tidak tau bahwa uang lima ribu itu harus ada kembaliannya jika ia hanya berbelanja dua ribu rupiah. 

    Jadi, poin pertama cara menghemat adalah “batasi uang sakunya” 

    Bagaimana cara membuatnya hidup sederhana dan bersyukur dengan kesederhanaan? Yuk, baca di point 4,5 dan 6.

    2. Sejatinya anak adalah peniru, maka jangan jadi Ibu yang materialistis

    Anak akan meniru perilaku ibunya. Maka bagaimana bisa kita mengajarkan pola hidup non konsumtif jika kita sendiri sangat konsumtif? 

    *okeh, abaikan curcolan lipstik saya sebelumnya ya.. Saya kan dapet dari endorse.. 😝 #sokbanget

    Pernah melihat anak iri jika kita membeli barang di mall sementara ia tidak membeli apa-apa? Wajarkah? Ya, wajar! Anakku juga demikian. 

    Karena itu sebisa mungkin kita harus tampil hemat setidaknya dihadapan anak kita. Belilah barang yang sesuai kebutuhan saja, bukan keinginan. Dan yang terpenting, belajarlah untuk menjadi ibu yang produktif. 

    Ibu produktif? Kerja ya? 

    Buat aku, yang dinamakan Ibu produktif itu ga harus kerja diluar. Apalagi untuk sekedar dipandang produktif oleh anak maka kita harus kerja diluar. Itu bukan solusi bijak buat aku. Hehe.. 

    Yang harus kita lakukan untuk terlihat produktif dihadapannya adalah dengan menjadi Ibu ‘Homemade’. Ya, aktifitas produktif dirumah yang dapat dilihat sikecil yaitu memasak dan mengajarinya bermain kreatif. 

    Baca juga: Kata siapa media eksplorasi anak harus mahal? 

    3. Ajari dia untuk belajar pola hidup produktif dengan kreatifitas 

    Semua Ibu tentu setuju bahwa ‘membuat mainan’ jauh lebih baik dibanding ‘membeli mainan’. Mengapa demikian? 

    Karena dengan mengajaknya membuat mainan maka kita telah menghadirkan pola pikir produktif dalam otak anak kita. Sementara dengan membeli mainan maka berarti kita telah mengajarkannya untuk berpola pikir konsumtif. Pemikiran ini akan berdampak sekali ketika ia mengambil keputusan saat dewasa nanti. 

    Tentunya kita pasti lebih suka dengan anak produktif dong dibanding anak konsumtif? 

    Dengan membuat mainan sendiri anak akan belajar ‘tantangan’ dan berpikir lebih maju. Hal ini akan berdampak positif dimasa depannya. Ia akan senang ‘membuat’ sesuatu dibanding ‘membeli’ sesuatu. Ya, penemu-penemu hebat di zaman revolusi industri dulu tidak akan pernah bisa ‘menemukan’ jika mereka tidak kreatif. 

    Ada sensasi menyenangkan tersendiri ketika anak berhasil membuat mainannya sendiri. Hal itulah yang membuatnya merasa bangga lalu bahagia. Itulah point terpenting dari kreatifitas. Ia bahagia karena bisa mengolah sesuatu bukan sekedar memiliki karena sudah membelinya. 😊

    4. Ajak dia untuk selalu menengok kebawah 

    “Si ‘anu’ saja dibelikan mainan xxx sama mamanya Ma.. Masa aku enggak?” 

    Familiar dengan kata demikian? Anak suka sekali membandingkan dirinya dengan kondisi ekonomi anak seumurnya. Jika itu terjadi, maka ajarilah dia simpati dan empati. 

    Baca juga: Empati dan Simpati, Solusi jitu untuk mengakhiri tantrum anakku

    Ya, jika anak mulai suka ‘menengok keatas’ maka suruhlah ia untuk lebih sering ‘menengok kebawah’. Perlihatkan kepada anak bahwa masih banyak anak-anak yang tidak seberuntung dirinya. Ajak dia untuk mensyukuri setiap detik kehidupannya. Dan yang terpenting ubah ‘tujuan hidupnya’. 

    Apa tujuan hidupnya? 

    Yaitu menolong mereka yang berada dibawah, bukan bersaing dengan mereka yang berada diatas. 😊

    5. Ajak dia berteman dengan golongan menengah kebawah 

    Oke, point keempat tidak akan terealisasi dengan baik jika point ini diabaikan. Setuju? 

    Ya, bagaimana bisa anak akan benar-benar merasa simpati dan empati saat teman-teman sekelilingnya hanyalah teman-teman berekonomi menengah keatas yang memiliki hoby pamer dan merendahkan yang lain. Sedikit-banyak, anak kita pasti akan tertular. 

    Karena itu, ajak dia untuk tidak pemilih dalam berteman. Jika dia berteman dengan golongan yang itu-itu saja, ada baiknya kita membuatnya membaur dengan golongan menengah kebawah. Hal ini agar rasa empatinya dapat berkembang. 

    source: kid world citizen

    6. Ajari anak pola konsumtif yang benar

    Pola konsumtif tidak sepenuhnya salah. Asal, konsumtif pada hal yang benar. Apa itu? Sedekah?

    Bagaimana mengajarkan si kecil sedekah? Apa harus secara langsung memberi uang kepada yang tidak mampu? 

    Hmm.. Tidak, Bagiku itu tidak terlalu bijak. 

    Cara mengajarkan si kecil sedekah itu simple. Yaitu, dengan berbelanja. 😅

    Ya, aku sering mengajak anakku kepasar tradisional, ketoko buku, ketoko bahan kue. Dia suka sekali mengikutiku berbelanja untuk mencari bahan memasak. Aku pun mengajarkan rule dasar saat berbelanja. 

    Pertama, jangan menawar. Apalagi kepada penjual sayur. *kalo ikan boleh lah dikit-dikit.. 😝 (emak ngirit mode on) 

    Kedua, jangan berbelanja mainan di mall. Belanja mainan hanya di pasar tradisional dan depan sekolah. 

    Ketiga, jangan berprasangka buruk dengan penjual makanan. Niatkan kita membeli untuk menolong. *anak laper saat diajak jalan? Takut makanan yang dijual orang ga higienis? Singkirkan prasangka! 😉

    Keempat, boleh banget belanja Buku. Apalagi di cuci gudang. Hehe😆 *kalo di mall sih tetep yaaa.. Ogah si emak.. Trus dibisikin “kita beli online aja ya nak” 😬

    Kelima, pamerlah saat si emak sedang sedekah. *ada kotak amal nganggur? Perlihatkan kepada anak bahwa si emak masukin uang! Pamer sama anak itu boleh banget! 

    7. Sesulit apapun, jangan keluhkan kondisi keuangan dihadapannya 

    Sedang berada di titik bawah keuangan rumah tangga? 

    Sebisa mungkin jangan pernah mengeluh dihadapan sikecil.. Kenapa? 

    Karena ia tidak mengerti apa-apa tentang uang. Ia masih dalam tahap mencari passion yang sesuai untuknya. Maka apa jadinya jika saat passionnya belum matang ia malah berpikir untuk mencari uang? 

    Ya, passionnya terbengkalai. Maka jangan salahkan jika ada beberapa anak kecil yang dulu bercita-cita jadi Guru, jadi Ilmuwan, dan lain-lain tapi ketika besar cita-citanya berubah jadi pegawai bank, menteri keuangan, pencetak uang. Nah, ga banget kan? 

    Saat cita-citanya berubah dengan tujuan hanya untuk ‘mencari banyak uang’ saat itulah kita sadar telah mendukung paham materialisme dalam dirinya. 

    Ingat bu! Uang bukan tujuan hidup! 

    8. Jangan memberikan reward berupa uang atau benda mahal yang bernilai prestise 

    “Ayo sholat, kalo sholat Mama beriin dua ribu”

    “Yeeey.. Oke Mama!”

    Sound Familiar? Atau jangan-jangan itu masa kecil kita dulu. 😅

    Oke, jangan diulangi ya!

    Kenapa? Karena reward berupa uang itu receh banget buat kebahagiaannya. Dia berhak mendapatkan hal lebih dibanding dua ribu rupiah. *bukaan.. Bukan jadi dua puluh ribu juga bu… 😑

    Kenapa tidak boleh membiasakan memberi anak uang sebagai reward?

    Karena ia akan terbiasa nantinya. Ia akan menilai segala jasa baiknya dengan uang ketika besar nanti. Ketika disuruh membantu mencuci piring, memasak, menjemur pakaian maka ia akan meminta imbalan berupa uang atau materi lainnya. Mau begini bu? Ga banget kaan? 

    Maka, sedari kecil biasakan anak untuk membantu kita dengan ikhlas. Kenapa harus ikhlas? Karena ia sayang dengan kita.. 😊

    Semoga cara-cara sederhana diatas dapat membantu ya..

    Happy Parenting.. 😊

    IBX598B146B8E64A