Belajar Mengatur Ekonomi Rumah Tangga Bagian 1 (Memahami pola ekonomi Rumah Tangga dari Sudut Pandang Akuntansi) 

Belajar Mengatur Ekonomi Rumah Tangga Bagian 1 (Memahami pola ekonomi Rumah Tangga dari Sudut Pandang Akuntansi) 

Tulisan ini bertujuan untuk memintarkan diriku (lagi). Pendidikan terakhirku adalah lulusan D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah di Politeknik Negeri Banjarmasin. Sudah sekian lama aku tak pernah membuka buku Akuntansi lagi. Aku sudah beralih profesi dari Pencatat dan penghitung menjadi Pendongeng, Koki, Guru PAUD2an dan Manager keuangan Rumah Tangga. 

Yah, kupikir profesi pendongeng rumahan ini ga keren amat. Ia membuang waktu malamku dengan bukuku dan menggantinya dengan buku anak-anak. Penontonnya cuma satu biji, pertanyaannya beruntun tiada habisnya, bukunya ga cukup satu, harus banyak minimal tiga cerita. Dan Profesi koki, cleaning service dan Guru Paud2an  telah membuang banyak waktuku disiang hari, Dan yang terparah adalah otakku kini memorinya telah tergantikan oleh cerita anak-anak, seputar parenting hingga resep makanan. Oh otakku.. 😭

Aku tak mau mengucapkan good bye begitu saja dengan memori akuntansiku. Memori dasar tentu masih tersisa sedikit disini. Mungkin aku masih bisa membuat buku besar hingga laporan keuangan. Namun, untuk Akuntansi Intermediate hingga Akuntansi Biaya (Aku rasa otakku secara otomatis sudah membuangnya ke memory tak terpakai)😂

Mungkin Akuntansi Syariah masih terdengar asing dikepala kalian. Percayalah ilmu ini benar-benar dua kali lipat lebih sulit dibanding akuntansi biasa. Terlebih dulu kau harus belajar tentang akad dalam islam. Mulai dari Murabahah (Jual Beli), Mudharabah, dan Musyarakah (Kerja Sama), hingga Ijarah (sewa). Dan masih banyak beberapa akad lainnya. Dalam akuntansi syariah pencatatan dimulai dari akad hingga berakhirnya akad dan segalanya dicatat. Pencatatan akuntansinya 2x lipat lebih panjang dibanding Akuntansi Biasa. Mungkin aku akan belajar lagi nanti sambil merefresh materiku entahlah bagaimana caranya. *menyamar masuk jadi mahasiswi lagi mungkin😂

Aku tak mungkin menulis tentang akuntansi rumah tangga seperti kalian kira tadinya. Halo bu ibu??? Siapa sih yang mau nyatat akuntansi rumah tangga? Setiap beli barang dicatet masuk kebuku besar? Situ punya waktu buat gitu? Lagian siapa juga yang mengaudit laporan keuangan rumah tangga? Suami? Hihi.. 
Oke, mari kita sama-sama flashback ke pelajaran ekonomi teelebih dahulu. Saatku menulis tentang ekonomi aku tau kalian pasti berpikir uang. Mari kita tengok sejenak ilmu tentang ekonomi sebenarnya.

Secara garis besar ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas. Kebutuhan pokok manusia? Adalah Pangan, Sandang, dan Papan. Selebihnya adalah teori kebutuhan yang mengait-ngaitkannya dengan pelengkap dan prestise? Betul? Silahkan anda coba flashback tentang teori kebutuhan manusia yang menjadi basic dalam pelajaran teori ekonomi. Jadi, masih percayakah anda kebutuhan hanya sekedar uang? 

Mungkin, anda langsung bilang: “Ya eyalah uang kan alatnya. Emang gimana bisa beli kebutuhan tanpa uang?” 

Kalo anda bilang gitu ayo kita kompak dulu bentar.. Hihi.. 😆 berarti kita sama-sama orang kota yah. Bahkan air pun disini beli, susahnya jadi orang kota. 😂

Saya bilang gini karena saya dulu mantan orang desa. Disana sayur ada, air tinggal naruh mesin disumur, mau ayam tinggal potong (gini nih enaknya berternak ayam), mau cemilan tinggal nyabut singkong dikebun, tinggal beli beras, bawang, telur dst. Bulan tua? Don’t worry lah.. Masih banyak ayam dan singkong dikebun. Maka sungguh kejam ya jika ada yang membandingkan pengeluaran orang kota dan orang desa. Hihi.. 😂

Ada lagi yang suka bandingin pengeluaran versi Full time mother dan working mother. Nah, ini kejam ga ya? Hihi.. 😂 

Maaf ya kalo ada yang merasa terzolimi dengan tulisan nyurcol saya tentang mengatur rumah tangga versi IRT ini. Bukan maksud membandingkan, ini tulisan biasa yang ku harap bisa menginspirasi IRT dan Working Mom.😊

Sebelum kita masuk kepembahasan pengeluaran mari kita bahas mengenai HUMPB. Apa itu? Harta, Utang, Modal, Pendapatan, Beban. Aku bukan mau mengajari akuntansi tetapi sungguh rugi kan jika aku yang mengerti tentang pencatatan versi akuntansi harus membahas mengenai ekonomi rumah tangga seperti arus kas biasa.

Eh, emang di rumah tangga perlu Seribet itu ya? Kamu punya catatan pembukuan hingga laporan keuangan gitu? *eh.. Ga segitunya juga kali.. Emang ini perusahaan.. 😅

Mari kita bahas tentang Harta terlebih dahulu. Apa itu Harta? Semua yang kau punya adalah harta. Apa anak dimasukkan? Kalo aku, iya.. Masukkan. Rumah, Uang bulanan, peralatan rumah, perlengkapan hingga bawang goreng itu adalah Harta. *Masih ada yang nanya dicatat segitunya? Silahkan jika anda rajin. Aku sih ogah.. 😛 

Apa itu Utang? Apa hutang perlu. Oh iya, perlu. Utang bukan cuma masalah pinjem duit buat rumah, modal kerja bla bla bla. Kalau aku lebih suka menyebutnya kewajiban. Apa kewajiban? *Masak, ngepel lantai, mainan sama anak, nyuci, nyetrika.. Dst.. Dst.. Ah jd nyurcol kan.. 😂 aduh, serius? Hihi

Modal? Modal adalah sesuatu yang bisa kita olah untuk membuat pendapatan. Modal dalam ekonomi rumah tangga adalah potensi yang dimiliki oleh suami istri serta anak. Tidak dipungkiri suami adalah seorang tulang punggung keluarga. Namun, istri yang hanya Ibu Rumah Tangga non pekerja  juga tak luput dari lingkup potensi. Lantas, bagaimana bisa istri ada hubungannya dengan pendapatan? *mungkin dy jaga lilin tiap malam, Hihi.. Kamu kira babi ngepet apa.. 😂

Pendapatan, dalam ekonomi kau terbiasa menyebutnya gajih, tapi dalam rumah tangga kau akan mengenal arti rezeki. Apa bedanya? Oh, percayalah.. Sungguh berbeda. 😊

Beban, apa yang harus kau masukkan dalam pos beban? Biaya listrik, air, makan, minum, rekreasi, hingga penyusutan kulkas, TV, Kendaraan, Komputer sampai ke… staples😂? Catat? Eh, iya terserah aja kalo kamu rajin.. 😂

Aku membuat penjabaran HUMPB untuk mengenal pola pengaturan rumah tangga. Jika mau mencatat? Terserah saja. Akuntansi adalah seni mencatat yang tiada habisnya. Aku sendiri sih ogah nyatat segitu detailnya 😂, tapi “kita perlu ‘buku catatan’ 🙋” (mimik muka n gaya nurut nickelodeon blues clues😂, ada yang tau?eh ga ada ya..)*Abaikan😅

Aku sendiri selalu punya Anggaran Belanja Mingguan, Bulanan. Kemana catatannya? Dibukukan? Eh enggak, catatannya selalu berakhir hilang dipasar, hingga dicoret2 Farisha dan dibuang😂. Aku sudah meninggalkan dunia ribet dalam mencatat. Dulu, jujur saja waktu ngekost aku punya jurnal harian yang iseng kubuat seperti jurnal umum di akuntansi. Dan jurnal yang gak banget buat dilihat itu adalah:

Biaya Parkir            Rp. xxx

      Kas                                           Rp. xxx

😂😂😂😂 Maafkan Hambamu yang terkesan medit bin pelit ini Ya Allah. Percayalah catatan itu hanya sebuah jurnal yang kucoba aplikasikan dari hasil belajarku.😅

Ilmu mengatur ekonomi rumah tangga adalah ilmu yang tiada habisnya. Jika kau hanya melihat segalanya dalam bentuk kata-kata Simple seperti “cara menghemat pengeluaran” atau “cara berbisnis rumah tangga” maka kau termasuk dalam kategori menjadikan uang sebagai satu-satunya alat yang berfungsi sebagai penggerak ekonomi dalam keluarga. 

Ekonomi bukanlah ilmu yang dipelajari untuk memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Jika kau lebih jeli, uang hanyalah alat yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian. Ekonomi adalah ilmu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang terbatas Bukan keinginan yang tiada batasnya. 

Well? Begitu saja endingnya? Wah ga rame.. Hihi.. 😅

Catatan pertama ini kutulis untuk memahami ekonomi dalam Versiku dan memahami pola pengaturan rumah tangga dari mengelola HUMPB. Jadi, ini hanya sekedar pembuka. Masih banyak catatan lain yang ingin kutulis. Mungkin ada 10 bagian tentang ekonomi rumah tangga ini. 

Aku memiliki target menulis tiap bagiannya setiap minggunya. Akan terlalu panjang dan melelahkan jika semuanya kutulis sekarang disini.  😊

Just, Wait. 

Komentari dong sista

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A