Sebuah Curhat Tentang Apa Hal yang Terjadi Sama Aku

Sebuah Curhat Tentang Apa Hal yang Terjadi Sama Aku

Lama betul blogmu kosong win? Kenapa? 

Ya, salah satu temanku bertanya. Dia memang seorang silent reader. Sahabat baik yang berlangganan membaca blogku tiap minggu. Karena setiap minggu memang selalu update. 

Banyak teman yang gak tau sekian minggu ini apa yang sebenarnya aku kerjakan. Kenapa blogku gak aktif. Gak ada blogwalking atau bahkan sekedar nulis receh. 

Aku Sedang Membalut Hatiku

Mohon maaf. Maaf sekali. 

Aku sangat jarang meledak lagi di blog. Tapi sebulan belakangan hidupku benar-benar berada dalam masalah yang tak terlihat. 

Orang menatapku sebagai istri beruntung karena suamiku baru saja membangun kantor besar untuk perusahaan kami. Dibalik itu, orang gak tau apa yang terjadi dengan perusahaan kami. 

Bukan masalah ekonomi. Kerugian atau semacamnya. Aku sudah bilang bukan? Ini masalah hati. 

Izinkan aku curhat. Kalau kalian tak berkenan. Boleh saja tutup cerita ini 

Suamiku memulai usaha di bidang IT sejak kelahiran Farisha. Usaha ini bergerak dibidang pengadaan hardware hingga software. Awalnya, hanya berbentuk CV biasa. Kantornya pun tak ada. Hanya rumah uring-uringan. Pegawainya pun datang dan pergi. Pegawai tetap dan otak sesungguhnya adalah suamiku. Dia yang mengerjakan proyek berbagai software di pemerintahan. Namun, memakai CV yang diurus oleh kakaknya. 

Kakaknya cekatan dibagian administrasi dan pengurusan CV. Sementara suamiku cekatan sebagai programmer software. Kakak laki-laki nya khusus menangani hardware. Namun dalam perkembangannya, CV ini seakan menjadi milik keluargaku. Karena memang proyek software jauh lebih menjanjikan keuntungannya. 

Time flies, aku hamil Humaira. Suamiku mencoba bisnis baru dalam IT, yaitu membangun openjournaltheme. Wah, pekerjaan ini luar biasa. Klien kami bukan lagi sekedar orang-orang dalam pemerintahan. Melainkan dari berbagai negara. Atas tuntutan dari konsumen, suami tak lagi membutuhkan CV dalam perkembangan usaha barunya. Namun lebih membutuhkan badan usaha berbentuk PT. So, jadilah usaha baru suami berbentuk PT dengan 4 orang pegawai. Dua diantaranya adalah programmer handal. Satu adalah master SEO dan Adsense atau lebih tepatnya marketing online. Satunya adalah costumer service yang luar biasa. Empat tim kami sudah sangat komplit. Saking komplit nya, kami melupakan CV dan lebih fokus pada PT. Suamipun memiliki impian jangka panjang. Ia ingin membangun kantor dan mengumpulkan tenaga kerja programmer demi membangun perusahaan IT yang benar-benar sukses milik banua. Itu belum ada disini. Bukankah luar biasa jika kami memulainya? 

Masalah timbul ketika suami membangun kantor. I don’t know kenapa dia ingin membangun kantor yang letaknya hanya sekian langkah dari rumah mertua. Dua kakak perempuannya yang sudah berhenti bekerja pun mengharapkan mendapatkan ‘porsi’ pada perusahaan. Mereka ingin menggerakkan CV kembali di kantor itu. 

Awalnya, kami tidak masalah. Sungguh tak apa. Kita ingin membantu ekonomi keluarga juga bukan? 

Masalah timbul ketika ipar aku atau 2 kakak perempuan suami menuntut macam-macam pada kantor baru kami. Iparku yang pertama ingin agar suaminya bekerja disana dan bergajih tetap. Iparku yang kedua ingin agar ia ditempatkan dibagian marketing CV dan mendapatkan 60% dari proyek hardware dan software. Tak hanya itu, aku melihat mereka juga menuntut kami untuk mempekerjakan 2 saudara suami yang menganggur. 

Awalnya kami tak apa. Tapi keadaan demikian membuat kami bersengketa. Kantor kami seakan dijadikan simbol bahwa duit kami begitu banyak. Padahal, masih banyak tujuan yang ingin dicapai. Suami ingin membantu para programmer handal yang tidak berdaya. Bukan menjadikan kantor seperti kantor keluarga yang isinya adalah keluarga yang tidak memiliki skill yang dibutuhkan. 

Kedua iparku kecewa dan menganggap kami sebagai keluarga yang ingin menang sendiri. Tak berempati pada keluarga dsb. Dan iparku yang satu juga menghasut mama mertua plus ipar yang satunya lagi. Kami jadi bergerak serba salah. Kesana dikritik, kesini dikritik. Seakan tak boleh benar-benar bergerak. 

Padahal, perusahaan kami baru saja ingin maju dan bergerak. Tapi uang kas kami sudah dihutang oleh ipar, diperebutkan persenan, hingga persekutuan nepotisme. Belum juga proyek jalan. Sudah sedemikian dipelorotin oleh keluarga. Suamiku pusing, aku juga bingung harus bersikap bagaimana. Aku sudah berusaha menengahi lewat berbicara dengan mertua. Tapi, mertuaku lebih memihak ipar yang menangis paling deras perkara 60%, perkara drama kami tak berempati dsb. Padahal mereka tidak tau tentang kondisi keuangan kami, tujuan masa depan kami hingga apa value yang ingin kami bangun. Mereka tidak tau dan menuntut macam-macam. 

Aku berada pada posisi serba salah. Tapi, hari hari berlalu posisiku bukan lagi dianggap serba salah tapi bagaikan sebuah kambing hitam dalam perseteruan saudara. 

Aku Tidak Bersalah

Aku yang sehari-hari di kantor ini bagaikan seorang upik abu. Bekerja menyiapkan cemilan, membersihkan kantor, hingga support semua kebutuhan suami. Aku tak punya ART. Aku memiliki 2 anak. Dan aku selalu memasak setiap hari. 

Akhirnya 2 minggu belakangan membantu usaha suami. Aku memberdayakan skillku yang dulu. Aku tak pernah bercerita bukan? Bahwa aku adalah lulusan D4 Akuntansi Syariah. Dan aku senang dengan managemen. Selama konflik berlangsung, aku mengurus keuangan perusahaan. Aku tau belakangan keuangan tak sehat karena suami dituntut untuk selalu support keluarganya. 

Apakah kalian tau? 

Nafkahku selama sebulan sebanyak 3 juta. Dan itu sudah termasuk biaya untuk cemilan pegawai. Untuk biaya tambahan seperti anak sakit dan keperluan lainnya aku memakai uang tambahan hasil pekerjaanku sendiri. Aku blogger sekaligus influencer receh yang kadang mendapatkan fee. Aku tau setiap kali suamiku mendapatkan untung sekian tus atau sekian luh. Tapi? Aku tak pernah meminta. Karena tahu bahwa suamiku juga punya prioritas plus keluarga yang ditanggungnya. 

Sebagian istri berkata bahwa uang suami adalah uang istri. Tapi bagiku tidak demikian. Aku tau yang namanya kebutuhan itu harus dibagi rata. Aku menekan segala inginku demi kebutuhan keluarga suami. 

Kalian tau? Pernah Pica menagih minta belikan Wacom untuknya belajar menggambar. Aku menyuruh Pica untuk minta pada Ayahnya. Ayahnya menyuruhku untuk membelikan Pica memakai uangku. Aku tak apa. Disisi lain, Kakak Iparku meminta suamiku untuk membelikan laptop anaknya. Suamiku memberinya uang. 

Kalian tau? Pernah anakku sakit telinga tak tertahankan. Aku tak sempat mengurus BPJS nya. Aku mengeluarkan uang satu juta milikku. Aku menagih kok kepada suamiku. Tapi dia diam saja. Dia tau ada salah satu kakaknya yang suaminya tidak bekerja. Aku memahami hal itu. 

Yang tidak aku pahami adalah.. Kenapa mereka semua menganggapku tidak berempati? Mengapa mereka tidak tau bahwa akupun juga berusaha? 

Aku bertanya pada salah satu temanku tentang masalahku. Dia berkata padaku, “Kamu sabar sekali. Kalo aku jadi kamu. Sudah lama mungkin rumah tangga itu aku tinggal lari. Suamimu lebih memprioritaskan keluarganya dibanding kamu. Tapi kamu tetap stay layaknya pembantu. Dan ngenesnya. Kebutuhan anak pun juga kamu yang support. Keluarga suamimu tak tahu diri. Diberi hati minta jantung”

Keberadaanku di kantor sambil mengasuh anakku rupanya dijadikan buah bibir oleh masyarakat sekitar. Kebetulan, masyarakat sekitar merupakan teman ngobrol mama mertua. Mereka sepertinya mengira bahwa aku merebut kekuasaan ipar demi uang perusahaan. Padahal, tidak begitu. 

Aku bolak balik ke bank untuk mengurus rekening perusahaan. Demi support suami. Aku kesana kemari membawa Humaira yang masih 2 tahun. Ia menangis digendonganku. 

Aku pernah berkata pada mama mertua bahwa Humaira ingin aku masukkan penitipan karena aku ingin bekerja membantu suami. Mertua tidak mengizinkanku. Aku tak tau kenapa. Mungkin  uang pangkalnya itu tergolong besar. Aku mengiyakan. Toh aku bisa kerja bersama anak, sambil masak, sambil ngepel, sambil ngitung, sambil ini itu. 

Dan aku difitnah oleh masyarakat sekitar seperti itu. Menguasai perusahaan. Mengambil hak ipar bla bla. Ya Allah. 

Kalian tau? Aku nangis hampir setiap hari. Aku seakan gak bisa ngerjain apa-apa tapi semua menuntut ku untuk ON. 

Orang gak tau berapa nafkahku sebulan. Orang gak tau aku juga kerja untuk mencukupi diriku sendiri dan anak. 

Orang gak tau kemana dominannya uang suami lari. Bahkan kas kami yang seharusnya buat ini itu juga dihutang dan tak dibayar oleh ipar. 

Tapi yang jadi kambing hitam adalah aku. Seakan aku yang menyebabkan perseteruan saudara ini tak kunjung membaik. 

Ingin Lari Rasanya

Selama dua minggu berdaya, ada rasa senang karena membantu suami. Ada kebanggaan tersendiri karena kok aku bisa seemejing ini ya? Kok aku bisa semua ya? 

Luar biasa rasanya. Aku berjalan riang pagi itu. Melupakan masalah ipar dll dsb. 

Siang itu, aku membeli sayur karena ada paman sayur yang lewat di depan kantor kami. 

Tak kusangka, gak lama kemudian mama mertua datang. Menanyaiku, “Gak beli ikan peda kah? Hendra suka peda loh. Dibikin pepes enak”

Aku tersenyum dan membalas, “Hehe, gak sempat ma”

Saat itu, ada 3 orang ibu-ibu sahabat mama mertua yang ‘mengawasi’ percakapan kami. 

Betapa malunya aku.. Ketika mama mertuaku membalas demikian.. 

“Waduh, gak kerja aja kok gak sempat bikin paisan ikan. Enak banget loh idup kamu itu GAK KERJA. Masa gak bisa menyempatkan.”

Suasana langsung hening. Semua mata ibu-ibu menatapku. Aku langsung membayar dan bilang, “Ulun duluan ma”

Ada rasa sesak di dadaku. Dari sebelum subuh aku bangun. Memasak pizza untuk cemilan pegawai kantor. Mengepel kantor, menyiapkan sarapan, melayani suami, tak lupa berdandan untuk menyegarkan citra. Aku rasanya tak ada istirahat seharian karena juga harus ke bank mengurus ini itu. Belum lagi harus membawa Pica ke dokter bedah. 

Dan aku dibilang, “ENAK IDUP? GAK KERJA?”

Ya Allah. Menetes air mataku. Aku lari ke dapur mengambil piring dan pizza. Berlari keluar untuk memberikan pada ibu-ibu di luar. Menghapus citra pemalas yang baru dilontarkan mertuaku. 

Tapi mereka menatapku kosong. Seakan aku adalah biang kerok perseteruan saudara. Padahal aku tau apa? 

Aku meledak di kantor. Menangis sesenggukan. Mengomel sambil mencuci pakaian. Memarahi Humaira yang Pup. Semuanya aku marahi. 

Aku menangis di kamar sambil memeluk Humaira. Ingin rasanya kulempar uang nafkah dari suamiku dan lari ke rumah orang tuaku. Aku ingin mengadu. 

Tapi, aku juga tau. Orang tuaku kalau sedang marah sangat luar biasa. Apalagi kalau tahu anak perempuannya diperlakukan demikian. 

Aku dididik orang tuaku untuk serba bisa. Aku bisa segalanya. Dari memasak hingga bertahan finansial. Padahal, aku lahir dari keluarga yang cukup kaya. Aku menikah dan psikologis aku dijajah sedemikian. 

Cita-citaku diinjak atas nama berbakti pada mertua. 

Passion ku menulis dianggap tak berharga. Tak bekerja katanya. 

Teman, hari ini hatiku benar-benar sakit. Aku gak tau kapan bisa benar-benar sembuh. Ketika sembuh, pisau itu datang dengan sendirinya. Sembuh lagi. Pisau itu datang lagi. 

Aku rasanya ingin sekali lari dari sini. 

Komentari dong sista
0 Shares

4 thoughts on “Sebuah Curhat Tentang Apa Hal yang Terjadi Sama Aku

  1. Hai Winda semoga kamu kuat menghadapi semua masalah tsb. Runyam memang klo punya perush lalu keluarga ingin ikut masuk. Sejak awal harus tegas, sama sekali tidak ada anggota keluarga boleh masuk. Keuangan perush juga jangan pernah dipakai utk kepentingan pribadi. Coba konsultasi aja Wind cari konsultan perush buat cari jalan keluar, yang kuat ya 🙂 .

  2. Mbak Winda, aku hanya bisa mendoakan km yg terbaik, semoga Allah terus berikan kekuatan untuk Mbak Winda dan keluarga untuk bertahan dan mendapatkan solusi yang terbaik. It’s okay menangis, it’s okay berhenti sejenak, marah-marah, dsb. You’re really..really strong.

  3. Ya Allah, mbak kamu kuat banget!
    Semoga tulisan ini jadi healing.
    Anakku juga 2 th. Masa-masa nemplok banget. Bayangin kamu kerja sana-sini sambil Bawa anak. MasyaAllah.
    Sehat-sehat ya mbak. Semoga juga komunikasi dg suami lancar, saling Support.

  4. Ya Allah mbak Sheza 😭 Allah sedang melimpahkan kasih sayangNya kepadamu mbak, dengan pahala yang mengalir deras dari gosip2nya orang luar. Betapa mbak Sheza kuat menghadapi semua, masyaAllah 😭😭😭. Bersabarlah sedikit lagi, mbak. Kupinta pada Allah yang Maha Penyayang pada hambaNya, terutama seorang perempuan, seorang ibu yang tak mendapat haknya dari suami. Yang tetap berusaha menjaga kehormatan suami dan keluarga. Bertahanlah mbak dengan meyakini kebaikan Pencipta dan pemberi rezeki kita, akan ada hal yang sangat indah menunggu mbak Sheza di depan, yang perlu dibayar dengan kesakitan hari ini. 😭

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A