Browsed by
Category: Parenting

6 Hal yang perlu Emak tau sebelum ‘Belajar Parenting’ 

6 Hal yang perlu Emak tau sebelum ‘Belajar Parenting’ 

Parenting. Ya, ilmu yang mendadak penting dikala berstatus Ibu ini tiba-tiba begitu banyak diminati. Hal ini karena kita tak pernah sekalipun belajar ilmu parenting saat dibangku sekolah. Aneh mengingat ‘ternyata’ ilmu parenting begitu dibutuhkan karena status Ibu maupun Ayah yang akan melekat saat kita memiliki anak. 

Ayah? Jadi, parenting bukan tentang menjadi Ibu yang baik saja?

Ya, tentu saja bukan. Kok bisa bikin anak berdua_ dan yang harus mengerti ilmu parenting cuma Ibu? Gak adil dong begitu! *saya bukan penganut paham gender juga bukan penganut paham aliran keras parenting, catat. 

Jadi, ilmu parenting adalah ilmu yang ‘memang wajib’ diketahui oleh para emak-emak maupun bapak-bapak. Masalahnya? Masalahnya mengetahui itu ternyata tidak segampang mempraktikkannya pemirsa.. 😅

Kok bisa?

Ya, karena keadaan setiap Ibu itu unik. 

Ada Ibu yang memiliki passion memasak kemudian menjual hasil masakannya yang berefek jika kebanjiran orderan maka ketika sang anak rewel ‘terpaksa’ disuapi ‘youtube’. Teori Parenting mengatakan? Tidak boleh! Sementara? Sang Ibu kehidupan ekonominya terbilang pas-pasan dan tidak mungkin memiliki ART. 

Ada Ibu yang dalam keterpaksaan kondisi mengharuskannya bekerja diluar lalu selama setengah hari tidak bertemu dengan buah hatinya. Siapa yang mengurus? Mungkin Mertua, orang tuanya, hingga ART. Salahkah ketika kita mendapati sang pengasuh tidak sepengertian dengan kita? Sementara teori parenting mengatakan.. Bla bla bla.. 

Ada Ibu yang baru saja melahirkan kemudian karena kondisi psikologis yang belum matang serta keterkejutan dengan suasana baru membuatnya terkena babyblues. Kemudian baru saja satu tahun umur anaknya, dia hamil lagi dan melahirkan dengan kondisi psikologis baby blues yang belum sepenuhnya sembuh. Untuk membahagiakan dirinya saja ibu ini sulit. Bagaimana dia bisa mengaplikasikan teori parenting yang berkata….

Ahh.. Sudahlah.. 

Belum lagi pada zaman sekarang para orang tua terkesan gampang baper karena aktif dimedia sosial. Ya, media sosial memang terkadang membuat kita merasa minder ketika.. 

Melihat sang Ibu yang begitu perfeksionis dan anaknya sudah bisa bla bla..

Melihat anak artis dengan sejuta fasilitas dan baby sister yang selalu ada serta mama yang terkesan awet muda dengan video mesra bertema ‘Begini lohh.. Keluarga dan Mama dan Hebat itu..’ 

Sementara kita? 😢

Kenyataannya, mempraktikkan teori parenting sangat luar biasa sulit. Ada beberapa hal yang perlu ’emak tau’ sebelum membaca berbagai teori parenting agar dapat memahami maksud dari teori dengan pemahaman yang luas. Hal apa saja itu? Yuk, kita simak.. 

1. Waraskan diri sendiri sebelum belajar

Sebanyak apapun membaca teori parenting jika kondisi psikologis sang Ibu bermasalah maka percuma. Setuju? 

Ibu lelah pikiran, jarang berlibur, jarang me time, jarang bersosialisasi, kemudian ingin membaca teori parenting? Jangan! Tambah stress nanti.. 😂

Kewarasan Ibu bagaikan sebuah charge dalam aktivitasnya dirumah. Jadi, jangan pernah biarkan kondisi Ibu tidak waras ya. 

Bacalah teori parenting dikala otak sudah dapat menerima dengan baik. Jangan baca teori ketika anak disamping nangis ya. Tambah stress nanti.. 😅

2. Bukan hanya banyak membaca tapi LAKUKAN! 

Ini adalah kesalahan yang paling sering aku lakukan. Aku lebih sering membaca dibanding melakukan. Dan anehnya semakin banyak aku membaca malah semakin sedikit praktik yang aku lakukan. 

Bagiku mengetahui itu mudah. Melakukan luar biasa sulitnya. Menulis itu mudah, praktiknya? Luar biasa melelahkan.. 😥

Bagi seorang Ibu Introvert sepertiku membaca adalah sebuah ruang kebahagiaan namun tanpa sadar bahwa ‘ladang amal’ sedang bertebaran dirumah sendiri. 😅

Buat kamu yang sedang belajar parenting, ingatlah, lakukan! Bukan hanya pelajari! Membaca tentu boleh, tapi jangan sampai buku mengalihkan perhatian kita pada anak kita yang jauh membutuhkan perhatian kita. 

3. Jangan terlewat Baper ketika membaca Teori tak seirama

Harus diakui bahwa beberapa teori parenting itu terkesan kejam. Kejam? 

Ya, kejam. Kejam sama si pembaca kalau tidak sesuai. 

“Loh.. Ini ga boleh ternyata.. Aku sudah begini padahal sama anakku, gimana ya.. Gimana nanti kalau..bla bla..” 

Anehnya, jika tulisan parenting tersebut bersumber dari sosial media dan dikomentari dengan komentar seperti diatas akan ada saja Ibu-ibu yang sok perfeksionis dan menyalahkan. Ya, memang hal tersebut tidak salah. Makanya saran selanjutnya adalah jangan baper. 😂

Jika kita sudah berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi Ibu yang baik namun kenyataannya ternyata kita ‘baru tau’ kalau itu ‘salah’ maka jawabannya adalah ‘Memaafkan diri sendiri dan belajar lebih baik’. Jangan merenungi kesalahan dan baper berkepanjangan. 

4. Ambil teori yang baik dan aplikable, pahami setiap Mama punya Gaya Parenting tersendiri

Harus diakui bahwa tidak semua teori parenting ‘bersahabat’ dengan keadaan kita. 

Kita tidak bisa menyamakan keadaan mereka yang memiliki baby sister dan ART dengan diri kita. 

Kita tidak bisa menyamakan keadaan mereka yang Stay At Home Mom dan Working Mom

Kita tidak bisa menyamakan mereka yang memiliki passion berbeda dengan kita. 

We have our own style.. Mom..! 

Jadi, tidak usah melirik anak artis, anak orang kaya, anak yang ‘katanya harus homeschooling’, anak yang harus begini dan begitu supaya pintar.. 

Tidak usah melirik tulisan parenting gaya mereka dan minder dengan passion kita yang berbeda. Sekali lagi.. 

We have our own style.. Mom..! 

5. Setiap anak punya metode Parenting yang berbeda

Memiliki mama yang merupakan seorang guru TK membuatku sedikit belajar untuk tidak terlalu terpaku pada buku dan artikel parenting. 

Karena sesungguhnya dalam realitanya mendidik anak kecil itu sungguh perlu memiliki banyak ‘gaya’. Ada beberapa anak yang terlahir sensitif sehingga tidak bisa mendengar nada tinggi hingga kata ‘jangan’, dia akan menangis dan perasaan lukanya membekas. Ada pula, anak yang ketika diramahi maka akan semakin menjadi-jadi gaya berkuasanya. 

Ada beberapa anak yang masa Tantrumnya tidak pernah usai kecuali ketika sang Ibu ‘Tegas’ dan mengenalkan aturan. Ada pula anak yang sedari kecil sudah memiliki perasaan halus sehingga masa tantrumnya dapat teratasi hanya dengan menanamkan empati. 

Ya, hanya kita yang tau Metode Parenting yang benar untuk anak kita. 

6. Sebaik apapun Teori, Sabar adalah segalanya

“Ya sabar laah, namanya juga anak-anak” 

“Sabar laah, kamu dulu juga begitu” 

“Sabar dulu, nanti juga dia bisa” 

“Jangan marah begitu, ya sabar lah” 

Sabar.. Sabar… 

Ya, kalau di alibaba, tokopedia, olx, lazada, shoope, blibli, bla bla ada jualan stok sabar aku bakal ikut beli deh walau ga pake free ongkir.. 😂

Kenyataannya sabar itu sulit pemirsa.. *apalagi kalau musim PMS melanda.. Ops.. 😬

Akhir kata, sepintar apapun anda_Sudah mendalami ilmu psikologi setinggi apapun anda.. Namun, kadar kesabaran anda masih dibawah emak-emak yang lulusan SD saja, maka jangan bangga dulu.. 😂 *mukul kepala sendiri

Sekali lagi aku nanya serius ya.. Ada emak-emak yang jualan stok sabar? Aku mau beli.. 😬

Sekian artikel dari saya, semoga bermanfaat.. 😊

Sumber Gambar 

Wajarkah kehadiran Teman Imajinasi pada Anak? 

Wajarkah kehadiran Teman Imajinasi pada Anak? 

Siapa yang waktu kecil punya teman imajinasi? Angkat tangan.. 🙋

(Sepertinya cuma aku.. Hiks) 

Beberapa hari ini aku tertarik untuk sedikit belajar tentang Psikologi. Aku tertarik dengan ilmu ini sejak memiliki anak. Kau tau kenapa? Karena aku ingin memahaminya. 

Ya, anak itu spesial. Melihat caranya tumbuh dengan berbagai polahnya yang membuatku sadar bahwa ilmu memahami seharusnya aku dalami sejak dulu. Dulu aku merasa bahwa memahami anak kecil sejatinya adalah mencoba flashback dengan masa kecil kita sendiri. Yup, inner child. 

Tak semua Ibu memiliki Inner Child yang sempurna. Kadang kala Inner Child membisiki_memaksa kita menghadapi anak kita sendiri untuk sama seperti saat kita kecil. Pertanyaan selanjutnya, Apakah wajar bentuk pemaksaan itu? 

Yup, aku akui. Beberapa hari ini aku sedang mengetes imajinasi anakku sendiri. Aku ingin tau seberapa besar daya khayalnya. Apakah sama sepertiku dahulu? Atau benar-benar berbeda. 

Ini terjadi ketika pertama kali aku membiarkannya bermain sendiri. Aku melihatnya duduk bosan sambil memegangi bonekanya. Termangu. 

Aku ingat sekali bahwa sudah berapa kali aku mengajarinya tentang bagaimana pura-pura berteman dengan boneka. Bagaimana cara menganggap boneka itu adalah benda hidup. Aku mengajari hal ini karena saat itu terlintas ‘rasa bosan’ saat aku harus berjam-jam menjadi teman mainnya. Tapi didalam otak anakku hanya mengerti satu hal “boneka ini tidak hidup, mama yang menghidupkannya” 

Ini bukan anak saya ya, Saya ambil gambar ini karena bagus aja.. 😛

Jadi, ketika aku menghilangkan diri dalam permainan Farisha maka boneka itu adalah benda mati. Benar-benar mati. 

Aku mencoba mengarungi masa laluku dahulu. Aku pikir aku berbeda dengan Farisha. Dulu waktu aku seumur dia aku sudah memiliki teman imajinasi. Bukan hanya satu, tapi banyak. Seingatku ada 4 orang dan semuanya perempuan. Aku cukup ingat betapa konyolnya aku berjalan-jalan sendiri menghampiri pohon rambutan, jambu biji dan mangga sebagai perwakilan dari rumah teman-teman imajinasiku. Aku punya duniaku sendiri. 

Tapi Farisha? Dia tidak betah bermain sendiri tanpaku. Kadang dia main keluar rumah tanpa seizin dariku, lari untuk bermain bersama tetangga. Andai berbicara sendiripun dia pasti punya alasan. Berbicara dengan siput misalnya. Setidaknya bila berbicara dia ingin berbicara dengan sesuatu yang bergerak. Aku menyadari dia tidak punya ‘yang lain’ dalam hidupnya. 

Dalam memahami Tuhan pun Farisha sangat kompleks. Tidak seperti aku yang manggut-manggut saja dulu. Dulu, aku pernah bertanya dengan Mama. 

“Tuhan tu Allah kan Ma? Allah dimana?”

Mama menjawab, “Allah diatas sayang” 

Dan aku selalu mengimajinasikan bahwa Allah ada diatas awan mengawasiku. Aku tak pernah bertanya hal rumit seperti Farisha… 

“Ma, Allah dimana? ”

Aku menjawab,” Dihati Farisha sayang, kemana aja Allah ada sama Farisha”

Farisha “Berarti kalo hati Farisha dibelah keluar Allah lah?” 

Aku menjelaskan kepada Farisha tentang Hati dalam versi yang berarti adalah perasaan yang bergabung dengan ruh. Namun, Farisha tetap memahami bahwa hati adalah salah satu organ yang ada dalam perutnya. Persis seperti saat dia melihat hati dalam perut ayam dan ikan. 

Aku pun sadar bahwa Inner Child ku adalah masa penuh imajinasi, aku mudah memahami hal yang berhubungan dengan perasaan dan punya banyak khayalan. Sedangkan Farisha adalah anak yang sangat realistis. Sampai kapanpun aku mengajarinya berimajinasi_Farisha tetap suka membuka matanya dan melihat fakta. 

Akupun maklum dengan itu semua. Jika aku telaah lebih mendalam tentang inner childku_tentang kenapa aku bisa punya teman imajinasi maka hanya satu jawabannya. Yup, aku kesepian. 

Aku akui, aku memang punya Mama dan Ayah serta Kakak laki-laki dirumah yang hangat. Namun, menginjak usia 4 tahun aku mulai merindukan adanya teman perempuan seusiaku di sore hari. Aku adalah anak yang luar biasa pemalu. Saat TK aku hanya mengetek dengan Mamaku dan tak terlalu banyak punya teman_walau aku ingin sekali. 

Maka aku memutuskan menciptakan imajinasi itu sendiri. Setiap sore aku berbicara sendiri dipepohonan. Lingkunganku adalah lingkungan pedesaan yang lumayan sunyi. Tidak ada teman perempuan nyata untuk anak seumurku saat itu. Itu adalah alasan kuat untuk menciptakan teman imajinasi. 

Sampai kapan teman imajinasi ada? 

Sampai aku mempunyai teman nyata yang ‘asli’. Dan Farisha sudah memiliki teman nyata dan asli sejak seumurku waktu itu. Jelas sudah, dunia Farisha penuh dengan Teman Realistis. Tidak sepertiku. 

Dari pengamatanku, Farisha tumbuh menjadi anak yang ‘memiliki beberapa kepribadian ekstrovert’ walau kedua orang tuanya dominan introvert. Hal ini membuatku merenung bahwa mungkin saja kepribadian introvertku sebenarnya terbentuk karena faktor lingkungan. 

Karena Farisha tidak memiliki Teman Imajinasi sepertiku dulu maka jelas tulisan ini tidak akan membahas tentang perkembangan anakku. Melainkan tentang diriku sendiri dan para ibu yang anaknya sekarang memiliki teman imajinasi. 

Sebenarnya Apakah Wajar kehadiran teman Imajinasi Pada anak? Apa sebenarnya faktor yang menyebabkan hadirnya teman imajinasi?

Menurut psikolog pediatrik Dr. David Erickson, Ph.D. dari Glenrose Rehabilitation Hospital di Edmonton, Canada dan Associate Clinical Professor of Pediatrics di University of Alberta, teman imajinasi pada anak ini sering dialami oleh anak-anak karena keberadaan teman imajinasi memungkinkan mereka untuk keluar dari situasi yang tengah dijalani dan membuat realita yang sebenarnya mereka harapkan terjadi. 

Dengan memiliki teman imajinasi anak menjadi ‘pengontrol’ dalam imajinasinya. Ia dapat berekspresi sesuai kehendaknya. Berpura-pura senang, sedih, tertawa, dan pengandaian lainnya. Dengan berimajinasi anak menjadi bebas melakukan apa saja untuk mengatasi kesendiriannya. 

Bagaimana sebenarnya berbagi tipe wujud dari teman imajinasi yang diciptakan anak kita? Berikut berbagai wujud dan faktor yang melatarbelakangi imajinasi tersebut:

1. Menciptakan Teman Bermain karena merasa sendirian

Sebagian besar teman imajinasi tercipta karena rasa kesepian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak sulung cenderung memiliki teman imajinasi. Hal ini karena ia tak memiliki adik untuk diajak bermain maupun berbagi emosi.

Ini gambar lucu, aku selipin aja.. 😀

Untuk anak yang merasa kesepian wujud teman imajinasi fase pertamanya adalah berupa teman bermain. Namun tidak menutup kemungkinan ia dapat menciptakan wujud lainnya sesuai perkembangan emosi yang dimilikinya. 

Bentuk teman imajinasi berupa teman bermain ini biasanya muncul sangat sering. Karena kebutuhan anak akan teman tergolong tinggi. 


2. Menciptakan Figur Tokoh Sang Pembela karena Persaingan

Kebanyakan anak yang memiliki teman imajinasi adalah si sulung yang tidak punya adik. Namun, tidak menutup kemungkinan di tengah dan si bungsu juga memiliki teman imajinasi. Karena teman imajinasi muncul ketika realitas tidak sesuai dengan kenyataan.

Biasanya anak tengah maupun bungsu mengalami situasi ketidakpuasan karena sibling rivalry. Kemudian mereka berandai-andai memiliki kakak yang ‘begini’ maupun ‘adik’ yang begini. Mereka memunculkan tokoh imajinasi tersebut begitu saja untuk merasa dibela. 

Pada kebanyakan anak perempuan sosok Imajinasi Pembela ini sering muncul dengan sebutan ‘Ibu Peri’. Mereka mengkhayal bahwa apapun yang terjadi Ibu Peri selalu melindunginya dan mendukungnya. 

Bentuk teman imajinasi jenis ini muncul ‘saat terdesak’ karena anak membutuhkan sosok pembela agar membenarkan hatinya

3. Menciptakan Figur Jahat sebagai tantangan

Anak dengan kehidupan sempurna yang tidak kesepian dan banyak teman pun tak luput dari kebutuhan akan teman imajinasi. Hal ini dikarenakan kebutuhan emosi anak tergolong kompleks. Ia butuh tantangan.. 

Karena itu ia mengkhayal ada tokoh jahat yang sedang mengincarnya. Dan pahlawannya? Adalah dia sendiri. 

Bentuk imajinasi jenis ini biasanya tidak bertahan lama. Kemunculannya hanya sesekali saja. Kadang kala, saat anak melakukan kesalahan ia dapat menciptakan figur jahat ini sebagai pelaku sebenarnya dari kesalahannya. 

Dari beberapa alasan dan jenis Teman Imajinasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Teman Imajinasi adalah bentuk adaptasi psikologis dari rasa tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh Anak agar dapat diubah menjadi situasi yang menyenangkan.

Lalu anehkah jika anak memiliki Teman Imajinasi? 

Tentu saja Tidak! Teman Imajinasi adalah hal yang wajar. Kita harus mengakuinya. Aku_sudah mengakuinya bahwa pernah memiliki teman imajinasi dahulu. Lalu apakah aku gila karena saat kecil pernah berbicara dan tertawa dengan pohon? Haha.. Mari kita lihat faktanya.. 

Penelitian baru-baru ini memberikan jawaban bahwa teman khayalan adalah bagian yang umum terjadi dalam perkembangan pada masa anak-anak. Di Amerika Serikat pada tahun 2004 anak-anak usia pra sekolah dan orang tua mereka mengikuti sebuah penelitian yang meneliti aspek-aspek perkembangan anak, termasuk teman khayalan.

Anak-anak yang mengikuti penelitian itu dipantau kembali setelah mereka bersekolah yaitu ketika usia mereka tujuh tahun. Para peneliti terkejut mengatahui bahwa 65% anak-anak hingga usia tujuh memiliki atau pernah memiliki teman khayalan.

Seperti pada penelitian lain di Inggris dimana teman khayalan berupa mainan khusus diikut sertakan, 1800 anak mengisi kuesioner mengenai teman khayalan. 46% dari mereka mengungkapkan teman khayalan yang mereka miliki sekarang atau pernah mereka miliki, termasuk 9% yang berusia 12 tahun. 

Aku jadi ingat ketika aku membahas tentang teman khayalan ini dengan salah satu temanku. Dia berkata bahwa aku aneh karena pernah memilikinya. Dan kemudian dia berkata ‘Jangan’ ketika aku bercerita bahwa ingin mengajarkan Farisha untuk memiliki Teman Khayalan. Katanya itu akan menghambat fasenya dalam berteman. 

Kenyataannya aku merasa tidak aneh. Bagiku memiliki daya imajinasi berlebih bahkan bisa menciptakan teman khayalan semasa kecil juga bermanfaat. 

Dr. Karen Majors mewawancara anak-anak usia lima hingga sebelas tahun dan orang tua dari anak-anak yang lebih kecil. Semua anak-anak itu mengatakan bahwa teman khayalan penting bagi mereka dan mengapa mereka bergaul dengan teman khayalan.

Kesimpulan yang diambil adalah teman khayalan umumnya merupakan bagian yang sangat positif dalam kehidupan anak. Teman khayalan memberikan rasa senang, menghibur dan menemani bermain. Mereka juga baik hati dan senang menolong, pendengar yang baik dan selalu ada bila dibutuhkan. 

Perlukah anda khawatir jika anak anda memiliki teman khayalan? Jawabanku, Tidak, No Problem. 

Sebaliknya orang tua perlu tau seperti apa wujud teman khayalan si kecil. Jika berbentuk teman bermain mungkin karena dia kesepian. Jika berbentuk sang pembela berjenis Ibu Peri mungkin dia perlu dibela. Jika berbentuk musuh mungkin dia perlu tantangan. Anda harus mencoba untuk menjadi seperti teman imajinasinya sesekali. Mungkin, yang dia butuhkan sebenarnya adalah anda yang pintar berakting. 

Farisha anakku tak memiliki teman imajinasi sepertiku karena kupikir hidupnya sudah terlalu sempurna secara psikologis. Farisha memiliki teman bermain baik dilingkungan maupun disekolah. Dia anak tunggal yang tidak memiliki saingan dan memiliki Ayah yang bisa berakting sebagai musuhnya dirumah. 

Aku sewaktu kecil? Jujur saja aku memiliki semua jenis teman imajinasi diatas. 😂

Kapan kita harus khawatir? 

Keberadaan teman imajinasi adalah sesuatu yang tidak mengkhawatirkan. Namun, akan patut dikhawatirkan jika anak tetap asik dengan imajinasinya sendiri ketika berada dilingkungan sosial. Berarti teman imajinasinya berperan terlalu kuat dalam pikirannya sehingga dia tidak tertarik berteman dengan teman nyata. Kehidupan sosial anak bisa jadi bermasalah karena anak selalu menggunakan imajinasinya untuk melindungi dirinya. 

Kapan teman imajinasi hilang? 

Biasanya teman imajinasi akan hilang dengan sendirinya dalam waktu paling cepat selama enam bulan, teman imajinasi akan hilang jika anak sudah berhasil mengatasi masalah yang menjadi pemicu hadirnya teman imajinasinya ini. 

Seiring berkembang waktu anak akan mengenal sosial emosi dengan berteman secara nyata. Ia juga akan belajar kemampuan bahasa hingga kognitif sehingga secara perlahan akan menghapus kehadiran teman imajinasi karena menyadarinya bahwa itu hanya sebatas khayalannya saja.  

Bagaimana jika teman Imajinasi terus dan selalu ada? 

Jika teman imajinasi anak selalu ada bahkan hingga berumur 7 tahun maka orang tua perlu mengkhawatirkan hal ini dan mungkin perlu berkonsultasi dengan psikolog anak.

Sumber kutipan:

resourceful-parenting

meetdoctordotcom

Sumber Gambar

Tips Membuat Anak Merasa Senang di Sekolah 

Tips Membuat Anak Merasa Senang di Sekolah 

Ada beberapa Ibu yang mengalami problematika dan beberapa drama dalam menyekolahkan anaknya? 

Aku yakin pasti ada ya.. Apalagi kalau hari pertama sekolah..

Kenapa? Karena bagi anak kecil Sekolah adalah lingkungan baru. Dia belum terbiasa untuk merasa ‘nyaman’ dengan lingkungan barunya. Yang dulunya hanya mengenal Mama, Ayah, keluarga hingga tetangga dan tinggal dirumah saja. Kini ia harus berkenalan dengan dunia yang baru dan tinggal disana selama beberapa jam. 

Bagaimana sih cara menumbuhkan minat anak agar dia senang bersekolah? Agar dia mengerti bahwa si emak ga perlu masuk kelas untuk terus memperhatikannya. Bagaimana cara dia untuk bisa beradaptasi di lingkungan baru dengan teman dan guru?

Oke, terlebih dulu saya mau bercerita tentang hari pertama Farisha di sekolah. Kuharap kalian menyimaknya dan tidak bosan.. Hihi.. 

Tepat tanggal 17 Juli 2017 anakku memulai rutinitas pagi yang tidak seperti biasanya. Hari apakah itu? Ya, hari pertama sekolahnya. 

Jam 6 pagi aku sudah semangat untuk membangunkannya agar mandi. Kemudian berbaju rapi hingga sarapan. Biasanya? Tidur? Sesekali sih.. Hehe.. Tapi beberapa bulan ini dia jam segitu masih main-main diluar rumah sambil nyiram tanaman atau_lari diam-diam ketempat tetangga untuk bermain dengan temannya. 

Tentu saja dia semangat sekali di hari pertama sekolahnya. Terlebih ketika hari itu dia punya alasan tepat untuk memakai seragam, tas dan sepatu barunya. Sepertinya kecenderungan anak seumur Farisha adalah hobi show. Aku tak masalah, selama hal itu dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Masih terlalu dini bagiku untuk mengajarinya tentang konsep sederhana. 

Aku kemudian bertanya padanya, “Farisha pakai Jilbab?” 

Dia menjawab, “Mmm.. Diikat aja deh rambutnya.. Jadi cantik” 

Aku membujuknya sedikit agar kepercayaan dirinya berubah, “Pakai Jilbab cantik juga loh, Farisha kan biasanya pakai jilbab?” 

Dia terdiam. Memang beberapa hari ini dia agak malas untuk memakai jilbab. Sejak berteman dengan tetangga dan suka bermain ‘Putri Dongeng’ dia lebih suka menguncir rambutnya. Bahkan beberapa hari ini dia meminta kepadaku untuk dibelikan mahkota. 😅

Aku tak protes. Memang begitulah dunia anak kecil. Bagiku pemakaian jilbab toh ada prosesnya. Dia butuh alasan kuat dibalik itu. Bahkan ketika aku membujuknya tadi dia dengan mantap berkata ingin rambutnya dikuncir saja. 

Kamipun berangkat. Hari pertama hingga entahlah.. Aku kok rasanya ingin melihat tumbuh kembangnya terus? Tak ingin melepasnya disekolah begitu saja. 

Aku sengaja berangkat agak pagi. Kupikir sebelum semuanya lengkap datang lebih baik Farisha mencari teman dulu supaya tidak canggung. 

Benar saja, saat Farisha datang kesekolah sudah ada beberapa murid disana. Aku memutuskan untuk membujuknya berkenalan dengan 2 teman yang mirip dengannya. Mereka kakak-adik, satu di Nol Besar dan satunya di Nol Kecil. Mereka mirip sekali. Seperti kembar, kata Farisha. 

Hanya selang beberapa saat Farisha langsung akrab. Mungkin dia merasa percaya diri dengan kunciran dan jenis rambut yang sama. Kemudian upacara perkenalan pun dimulai dengan sangat lama. 

Aku sempat melihat rona wajah suntuk dan bosan Farisha saat disuruh berdiri dan memperhatikan saja ketika perkenalan guru-guru dan upacara bendera. Aku sendiri bahkan sempat mendengus kesal dalam hati, “Ibu Gurunya kok nyuruh anak baru berdiri segini lama? Pasti capek lah mereka.. Harusnya kaaan..” 

Yah begitulah.. Sampai-sampai para murid baru mulai menangis. Ada pula yang merengek tak mau jauh dari Orang tuanya. Dan Farisha? Sukses berwajah merah tanda ‘mau menangis’,  kenapa? karena bosan. 

Aku sudah sering meninggalkan Farisha agar tak melulu didekatku saja. Kadang jam 8-10 pagi aku membiarkannya bermain dengan tetangga. Malam sebelum sekolah aku bercerita kepada Farisha tentang betapa menyenangkannya sekolah. Dan dari rona wajah Farisha yang terlihat sekarang..aku tau, dia lebih suka aktivitasnya dirumah. 

Untunglah sebelum tangisannya ‘meledak’ karena dia pikir punya cukup banyak alasan untuk menangis (melihat teman sekitarnya mulai menangis)_Ibu Guru mulai mencairkan suasana dengan membagikan susu kotak. 

Wajahnya sontak berubah menjadi bahagia kembali.. Hahaha.. 😂

Kemudian saat waktu istirahat tiba, dia pun kembali berteman dengan dua teman barunya. Senang sekali. Loncat kesana kemari, main kejar-kejarkan. Sampai kemudian dia mulai gelisah menggaruk-garuk kepalanya. 

“Ma.. Kepala Farisha gatal.. ”

“Kenapa gatal?” 

“Ga tau nah gatal!! ”

“Kan Farisha sendiri yang mau rambutnya dikepang dua?” 

“Ga enak ma.. Makai kerudung aja dah besok”

Aku cekikikan, sambil bergumam “Apa ga kebalik yak?” hihihi.. 

Malamnya aku bertanya pada Farisha, “Rame ga sekolah tuh?” 

Farisha bermanggut-manggut biasa saja. Lalu kemudian bertanya, “Ma.. Kenapa Ibu Guru itu ga cerita-cerita kayak mama?” 

“Kan baru hari pertama sayang.. Farisha baru perkenalan sama teman yang baru dan kenalan sama ibu gurunya.. ”

“Tapi Farisha maunya Cerita aja.. Mainan aja..kenapa Ibu Gurunya ga nanyain Farisha?” 

“Ibu Gurunya belum kenal Farisha, makanya kalo disuruh Ibu Guru Farisha harus angkat tangan supaya Ibu Gurunya kenal”

“Tapi Ibu Gurunya nyanyi lagu Syahadat beda sama mama.. Farisha bingung.. ”

“Farisha jadi diri sendiri aja.. Ibu Guru senang loh dengar lagu syahadat versi Farisha..”

Farisha terdiam. 

“Farisha senang ga sekolah?” 

Farisha menjawab, “Farisha senang dapat teman baru..banyaak temannya” 

Aku tersenyum. Sementara ini dua teman berambut ikal yang baru ia temui telah membuatnya semangat untuk sekolah. 

Oke, aku kebanyakan opening. Langsung aja yah aku curcol tips membuat anak senang disekolah yang aku dapatkan dari pengalaman hari kedua disekolah Farisha yanh terbilang sukses besar membuatnya bersemangat. 

1. Biarkan anak menjadi dirinya sendiri

Diawal artikel aku sudah bercerita bahwa Farisha awalnya merasa percaya diri dengan menguncir rambutnya. Aku membiarkannya selama ia merasa itu adalah style-nya dan membuatnya merasa nyaman. Tapi ia akhirnya sadar sendiri bahwa ia tidak cocok seperti itu. Dia punya style sendiri yang membuatnya merasa nyaman dihari keduanya bersekolah. 

Ia memakai kerudung, dan yang penting dia senang memakainya. Merasa bahwa itu membuatnya menjadi dirinya sendiri. Karena Adaptasi bukan membuat diri menjadi bunglon dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tapi dengan konsisten terhadap style diri sendiri. 

2. Tanamkan pemikiran bahwa Sekolah adalah tempat bermain

Aku hanya bisa tersenyum setiap kali mendengar para emak membujuk anak-anaknya untuk sekolah, “Ayo Sekolah sayang masa mau dirumah aja. Sekolah itu biar belajar. Jadi bisa nulis, bisa baca, bisa bla bla bla…” 

Kesannya sekolah TK saja seperti UAN. Hihi.. Bikin si anak panas dingin dengan huruf dan angka. 

Padahal? Padahal siapa bilang TK buat belajar baca dan nulis? 

Sekolah TK sejatinya adalah tempat bermain. Bukan tempat belajar ‘kaku’ dengan media pensil, penghapus dan buku. Namanya juga Taman Kanak-kanak. Iya ga? 

Ketika membujuk anak untuk sekolah jangan katakan bahwa disana adalah tempat untuk belajar. Katakan bahwa disana adalah tempat bermain. 

“Di Sekolah Farisha nanti banyaaaak punya teman, nanti Ibu Gurunya ngajarin Farisha main sambil gambar-gambar. Farisha liat kan diluar banyak mainan? Ada Ayunan, Perosotan, Panjatan. Itu buat mainan semuaa”

Begitulah kiranya caraku membujuknya untuk menyenangi sekolah barunya. 😊

3. Bujuk anak masuk kelas dengan menanamkan pemikiran bahwa Kelas adalah tempat “Anak Ibu Guru Tampil”

 

“Terus kenapa Farisha disuruh masuk kelas? Ga mainan aja?” tanya Farisha kemudian. 

Aku menjawab, “Karena kelas itu sama kayak ‘kamar’ dirumah sayang.. Coba kalau dirumah? masa Farisha kerjaannya main diluar terus? coba.. Farisha ngapain tadi dikelas?” 

“Nyanyi.. Baca doa.. Baca Syahadat.. Nyanyi lagi.. ”

“Ia.. Sama kayak Farisha dikamar sama mama kan? Nyanyi.. Bercerita..” 

“Tapi.. Ibu Gurunya ga kayak mama”

“Sayang.. Kalau dirumah Farisha jadi anak mama.. disekolah, Farisha jadi anak Ibu Guru. Karena Farisha sudah besar dan akan teruss besar. Karena itu, Farisha harus punya Guru yang lain dan punya banyak teman supaya jadi anak berguna bagi orang banyak nanti.. Jadi, anggap aja Ibu Guru itu sama dengan Mama dirumah. Dihormati dan dituruti terus kalau bisa Farisha jadi anak kebanggaan Ibu Guru juga”

“Gimana cara jadi anak pintar kebanggaan Ibu Guru? ”

“Kalau Ibu Gurunya bertanya Farisha angkat tangaan. Kalau Farisha ga ngerti Farisha angkat tangan. Kalau nyanyi Farisha paling nyaring. Kalau berbaris Farisha paling rapi.. Ibu Guru suka dengan anak yang suka bertanya dan menjawab pertanyaan. Seperti Farisha bertanya sama Mama”

Kebanyakan anak baru sulit sekali untuk masuk kelas. Anak baru lebih suka bermain diluar dengan Mamanya. Percakapan diatas bisa dijadikan solusi. Jangan pernah menyebut kelas sebagai ‘ruang belajar’. Ingat bunda anak itu ga suka dengan kata ‘belajar’. Dia lebih senang dengan kata ‘bermain’. Bercakaplah dengan anak yang intinya mengajarkan bahwa ‘Dikelas anak menjadi anak Ibu Guru’ jelaskan padanya bahwa seiring bertambah umur anak_kewajiban sang mama kini beberapa jam dihandle oleh Ibu Guru disekolah.

Jadi, “Sudah siap jadi Anak Ibu Guru dikelas? Yuk, buktikan bahwa Anak Mama bisa membanggakan Ibu Guru dengan tampil dikelas” 

4. Cari teman karib untuk dapat bermain bersamanya

Hari pertama Farisha masuk sekolah aku sengaja berangkat agak pagi karena ingin mencarikannya teman karib. Agar saat disekolah dia tidak kesepian bermain sendiri. 

Alhamdulillah, dari menit pertama menginjak sekolah dia sudah dapat akrab dengan teman barunya. Bagi anak seumur Farisha keberadaan teman adalah salah satu aspek terpenting untuk membuatnya betah berada disekolah. Kenapa? 

Agat dia merasa tidak sendirian.. 

Semangat kebersamaan akan membuat kobaran api tersendiri pada anak untuk bersekolah. Bagaimanapun juga manusia sudah dianugerahi insting sosial bukan? 

Jangan cemas jika dengan memiliki banyak teman maka anak tidak akan memperhatikan Ibu Guru saat dikelas Bunda. 

“Asik main aja sih. Ga perhatiin Ibu Guru!”

Beri pengertian padanya bahwa saat dikelas, dia adalah anak Ibu Guru. Jika point ketiga tadi berhasil maka anak akan memahami bahwa berteman berlebihan dikelas tidak akan membuat dirinya bersinar saat tidak memperhatikan Ibu Guru. 

Well, itulah 4 tips sederhana agar anak dapat senang berada dilingkungan sekolah. Semoga dapat membantu.. 😊

Ketika Anakku bertanya “Kenapa Nabi Muhammad tidak Boleh Digambar?” 

Ketika Anakku bertanya “Kenapa Nabi Muhammad tidak Boleh Digambar?” 

“Ma, kenapa Nabi Muhammad ga ada gambarnya?” 

Glek. Tiba-tiba otakku langsung berputar menyiapkan jawaban. 

Tapi belum lagi benar susunan jawaban itu pertanyaan lainnya muncul lagi. 

“Kenapa ma, hanya Huruf aja? Kayak Allah. Memangnya Nabi Muhammad seperti apa? Seperti Allah?”

Duar. Otak saya mulai meledak. Ya ampun, mau mendongeng Nabi Muhammad untuk membuat Rule Mode diotak Anak malah si emak yang kurang pengetahuan. Jadi seperti apa Nabi Muhammad? Rupanya? Matanya? Hidungnya? Badannya dijelaskan? Aish.. Aish.. Kenapa jadi membayangkan Pangeran Arab? Tak boleh.. Tak boleh.. 

Akhirnya pertanyaan saya jawab dengan sekenanya. Sebenarnya jawabannya jauh lebih pendek dibanding ketika dia mempertanyakan tentang Allah. Dan Alhamdulillah dia tak lagi mempertanyakan detail. Sampai suatu ketika saya mendongeng Nabi Musa. 

“Jadi, kenapa Nabi Musa boleh digambar kemudian Nabi Muhammad tidak boleh. Kenapa Nabi Musa punya Mukjizat banyak dan Nabi Muhammad tidak seperti itu?”

😅

Ya, pertanyaan liar? Lebih tepatnya rasa ingin tahunya tinggi. Mungkin, ada beberapa emak-emak yang anaknya begitu manggut-manggut saja mendengar cerita Nabi sejak bayi hingga besar. Entah kenapa untuk jenis emak amatiran seperti saya tidak tertarik untuk membacakan cerita Nabi sejak Farisha bayi. 

Kenapa? Karena dia tidak mengerti. Begitu simplenya bagi saya. 

Dunia Bayi Farisha lebih sering kuisi dengan nyanyian dan cerita tentang binatang. Entah kenapa dimata anak-anak dunia binatang sungguh mengasyikkan. Farisha sangat bersemangat jika diceritakan tentang binatang. Apalagi jika buku ceritanya bergambar lucu. Baginya sangat menyenangkan jika binatang benar-benar bisa berbicara seperti itu. Tanpa sadar aku membiarkan imajinasi Farisha terlalu liar untuk berkembang. 

Aku rasa aku bukan tipikal emak-emak yang agamis. Sangat minder jika membandingkan diri dengan para emak-emak hafiz Al-Qur’an. Aku termasuk jarang mengajak Farisha untuk menghafal Surah. Belakangan aku sering mendengar kritik bahwa tak seharusnya aku mengajarkan nyanyian dan dunia binatang terlebih dahulu pada Farisha. 

Kritik itu semakin mengena dalam ketika bertemu dengan anak seumur Farisha yang sudah bisa menghafal berbagai surah dengan fasih. Sementara Farisha? Aku baru sukses mengajarkan syahadat dan Al-Fatihah. Terkadang pikiranku agak nakal dan mencela “Hafal sih, tapi apa ngerti”. Astagfirullah… 😅

Iya, tiap Ibu memang punya caranya sendiri untuk membuat anaknya belajar. Berhubung aku bukanlah seorang hafizah dan hanyalah seorang Ibu yang masih dalam pencarian yang betul dalam mencari ‘Jalan Kebenaran’ dan jelas tidak alim-alim amat. Maka mengajarkan Syahadat aja sudah sulit.. 😂

“Siapa Tuhan Farisha?”

“Allah..”

“Siapa Nabi Farisha?”

“Nabi Muhammad”

Nah kadang saya suka nanya lagi nih kalo dia jawab ga seru gitu. “Jadi kenapa mesti disembah Allahnya?” 😂

Mau tau cerita lanjutannya? Ahh panjang..entar jadi OOT artikelnya. 

Jadi, bagi saya mengajari dua syahadat itu untuk anak saya udah luar biasa susahnya. Iya, dia harus kenal sama Allah. Bagaimana sifat dan nama Allah (bukaan.. Dia ga hapal sama sifat n nama Allah.. Ga hapaaal) 😅 

Bagi emak amatiran seperti saya menumbuhkan rasa Iman adalah hal utama dalam konsep pendidikan agama si kecil. Kenapa? Ya karena bagi saya percuma juga si anak diajak hapal surah sampe se Al-Qur’an usia 5 tahun tapi Imannya masih ngambang. Percumaaa.. Eh tapi ini konsep saya loh. Ga perlu diambil hati. 

Bagaimana menumbuhkan Iman? Dari Cinta. 

Anak harus punya alasan kenapa dia harus menyembah Allah. Tunjukkan padanya bahwa Allah mencintainya dan cara berterima kasih pada-Nya melalui sholat. Ini susah. Susah sekali. 

Anak harus punya alasan kenapa dia harus mencintai Nabi Muhammad. Kenapa Nabi Muhammad menjadi Nabi terakhir. Kenapa Nabi Muhammad menjadi Nabinya walau Mukjizatnya bukanlah membelah lautan. 

Sementara otaknya yang sudah terbiasa dengan berkembang melalui imajinasi gambar harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Nabi Muhammad hanyalah Huruf Hijayah pada buku cerita. Dan inilah Nabiku. Pikirnya. 

Aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya. Wujud menyenangkan apa sebenarnya yang dia harapkan dari Nabinya. Aku berkata bahwa wujud Nabi Muhammad bisa dilihat di surga nanti. 

Dari beberapa referensi yang kubaca dan jelas aku lupa persisnya darimana Nabi Muhammad tak boleh digambar karena berbagai alasan. 

Aku menjelaskan sebagai alasan pertama kepada Farisha bahwa konon zaman dulu ada Nabi sebelum Muhammad yaitu Ibrahim dan Ismail. Nabi Ibrahim dan Ismail pernah dijadikan patung oleh masyarakat jahiliyah kemudian disembah oleh para penyembah berhala. 

Nabi Muhammad tidak mau itu terjadi. Karena itu ia melarang keras jika ada yang melukisnya ataupun membuat patung yang menyerupainya. 

Untunglah Farisha tidak bertanya lebih lanjut seperti “Terus kenapa ada foto ulama didinding rumah kita?” 

Karena jawabannya lebih panjang dan hanya bisa dicerna oleh yang mempunyai level ilmu tertentu. 😅

Penjelasan selanjutnya yang kemudian membuat Farisha manggut-manggut sambil diam dan sukses tak bertanya lagi hingga sekarang adalah jawaban yang aku karang sendiri. Ini adalah alasan kedua yang menyelesaikan masalah. 

“Farisha tau Nabi Muhammad diciptakan Allah lebih mulia? Dia sudah ditakdirkan menjadi Nabi terakhir. Nabinya orang islam seperti Farisha. Farisha tau bagaimana jadinya kita sekarang tanpa Nabi Muhammad? ”

” Jadi apa?” ucap Farisha polos. 

“Entahlah, mungkin saja jadi masyarakat jahiliyah seperti pada zaman sebelum ada nabi..”

“Jadi nabi kesinilah buat ngajarin mama?”

(Ya ampun..kamu kira emak sama nabi Muhammad seumuran) 😅

“Bukan, Mama ini diajarin mamanya mama ato neneknya Farisha terus diajarin abahnya mama terus diajarin guru-guru agama mama waktu sekolah, guru-gurunya mama belajar dengan guru-guru yang lebih tua. Karena Farisha tinggal diindonesia yang membawa islam kesini namanya Wali Songo. Nah, Farisha tinggal di Banjarmasin juga ada ulama disini yang ngajarin agama seperti Wali Songo. Itu, yang sering kita datangin dimesjid yang ada air mancurnya”

Farisha ber “Ooo” (kupikir ceritaku terlalu panjang.. Haha) 

Kemudian aku bilang “Coba kalau dulu Ga ada Nabi Muhammad gimana?” 

Farisha bilang “kan ada Nabi Musa…” 

😅

“Nabi Musa itu membimbing kaum Bani Israel supaya menyembah Allah. Tapi Bani Israel itu gak bener-bener patuh. Akhirnya cucu-cucunya tetap menyembah berhala. Karena itu, sebagai penyempurnanya Nabi Muhammad diturunkan dengan wahyu berupa Al-Qur’an”

“Terus kenapa Nabi Muhammad ga boleh digambar?”

Aku jawab “Karena Nabi Muhammad terlalu mulia untuk diduakan wujudnya sayang. Nabi Muhammad itu manusia paling sempurna yang diciptakan Allah. Zaman ketika nabi Muhammad lahir ga ada yang namanya Kamera. Yang ada hanya pelukis. Coba kalo Mama gambar muka Farisha mirip ga sama Farisha aslinya? ”

Farisha,”Mirip ma” 

(loh.. loh…) 😅

Aku: “Enggak.. Enggak mirip sayang! Karena imajinasi dan kemampuan menggambar mama terbatas diciptakan Allah.. Sangat tidak pantas jika ada orang yang mencoba melukis Nabi Muhammad karena daya imajinasi dan kemampuannya melukis pasti ga akan sama dengan Nabi Muhammad yang asli. Lagi pula seperti mama bilang tadi. Nabi Muhammad sejak dulu mengharamkan ada yang menggambar dirinya karena tak mau lukisannya dijadikan berhala. Jadi, tidak ada sama sekali lukisan Nabi Muhammad. Yang ada hanya hadist tentang fisiknya yang beredar dari para pencatat hadist ”

Farisha: “Tapi kenapa Nabi yang lain boleh digambar dibuku cerita?” 

Mama: “Sebenarnya semua nabi tidak boleh digambar Farisha. Namun, seiring berjalan waktu orang-orang yang seperti Farisha ini semakin banyak. Suka bercerita dengan media gambar. Makanya mereka bikin buku cerita bergambar. Niatnya baik, supaya anak-anak seperti Farisha menjadi senang membaca cerita Nabi. Tapi, Beberapa aliran agama lain memang bersikeras tidak mau menggambar wujud Semua Nabi, mereka cukup bercerita nabi tanpa gambar. Mama tau Farisha pasti tidak senang membaca buku biasa seperti Mama. Iya kan? Karena itu buku cerita Nabi sekarang bergambar, kecuali Nabi Muhammad”

Farisha: “Jadi Nabi Muhammad aja yang ga boleh ya Ma?” 

Mama: “Iya, karena Nabi Muhammad itu spesial, dia Nabi terakhir. Semua orang alim sepakat bahwa haram (tidak boleh) menggambar Nabi Muhammad. Mama yakin Farisha tidak butuh gambar nyata untuk membayangkan Nabi Muhammad. Cukup wujud Nabi Muhammad hanya ada pada imajinasi Farisha dan pada hati Farisha”

Farisha kemudian ber “Ooo” ringan. Berpikir sejenak kemudian memutuskan untuk diam. 

Aku menghela nafas lega. Memang pertanyaan ini sangat kontroversi sekali. Kemudian hatiku tergelitik untuk membatin lagi. 

Tapi bagaimana dia bisa benar-benar meneladani nabinya tanpa membayangkan seperti apa sebenarnya wujudnya? 

Lalu aku tersenyum seraya menatap buku Nabi Muhammad. Ya, Dengan Bercerita. 

Aku kemudian melayang pada beberapa buku kenangan yang pernah kubaca dulu. Buku tanpa gambar. Aku kemudian melayang pada masa kecilku. Teman imajinasi. 

Sungguh berimajinasi dan membayangkan cerita dipikiran kita itu lebih menyenangkan dibanding menonton film dan menyaksikan gambar mentah sekalipun. 

Karena itu aku yakin. Tulisan indah berhuruf Hijaiyah bertuliskan Muhammad sudah sangat mewakili untuk awal pelajaran Imajinasi Farisha. 

Mama hanya dapat berdoa semoga dengan bercerita Farisha dapat meneladani sifat Nabi Muhammad walau tidak ada wujud gambar seperti pada buku cerita yang biasa dia baca. 

Disclaimer: Tulisan ini ditulis oleh seorang Ibu yang berlatar belakang pendidikan agama yang terbatas. Segala jawaban atas pertanyaan anak diatas hanyalah sekedar pengetahuan umum dari Ibu yang ditulis hanya agar dapat dipahami oleh ‘anak kecil’. Diharap tulisan ini tidak menimbulkan salah paham dalam perbedaan mahzab. 

Siapa Bilang Media Eksplorasi Permainan Anak Harus Mahal? 

Siapa Bilang Media Eksplorasi Permainan Anak Harus Mahal? 

Aku salah satu ibu yang sering ditanya, “Bun.. Anaknya dikasih apa supaya anteng dirumah? Ko masih bisa masak, jualan dan nulis?”

Mendengar itu aku kadang hanya tersenyum tipis sambil nyengir. Ya, aku tau, mereka pasti mengira anakku diberi fasilitas mahal dan gadget untuk membuatnya diam. Padahal, bagiku sendiri diamnya anak itu berarti tidak beres. Rumah rapi dalam jangka waktu lama itu mustahil. Rumah berantakan itu adalah normal sekali bagiku. Mereka kan cuma tidak tau saja_Apa sebenarnya yang terjadi dirumah ini.

Ya, Aku adalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa dengan segudang aktifitas. Segala pekerjaan rumah hingga mengurus anak dan suami adalah pekerjaanku sehari-hari. Aku mengerjakan semuanya sendirian_setidaknya sampai sore hari hingga suamiku datang. Kondisi ekonomi keluarga kami masih tidak memungkinkan untuk memiliki Asisten Rumah Tangga untuk membantuku bereksplorasi dengan passion khusus apalagi untuk menyediakan fasilitas penunjang khusus untuk eksplorasi anakku, Farisha.

Tapi aku tak mau menyerah. Bagiku mendidik anak dengan mewariskannya segala kebaikan adalah salah satu misi utama. Aku tidak mau hanya karena sibuk dengan pekerjaan rumah maka aku harus mengorbankan anakku dan menyerahkan pengasuhannya hanya kepada TV dan gadget agar dia ‘diam’. Aku tak mau menyerah walau aku tidak punya Asisten Rumah Tangga apalagi Baby Sister.

Aku tau, aku bukan wonderwoman. Aku takkan bisa membagi diriku menjadi beberapa bagian untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sekaligus bermain dengan anak. Aku bukan pula ahli hipnotis yang bisa menyuruh anakku untuk diam dan membereskan semua mainannya. Aku hanyalah ibu biasa yang hobi bereksplorasi dirumah.

Hanya satu yang aku yakini dalam usia anakku yang dini. Anakku butuh sosok yang bisa ditiru olehnya. Karena itu, aku membawanya kemana saja saat aku beraktivitas. Permainannya sehari-hari adalah bagian kecil dari aktivitasku. Jadi, bila kamu bertanya apa media penunjang untuk mendidik anakku? Jawabannya hanya Aku dan aktivitasku. 

Lalu, sering juga pertanyaan ini muncul, “Bun, kenapa sih ko ga dimasukin PAUD aja anaknya? Kan kasian dirumah terus. Biar dia cepet pinter dan bisa berteman”

Hmm, mungkin ada beberapa Ibu yang menyekolahkan anaknya di PAUD pada usia dimulai dari 2 tahun dengan berbagai hal yang mendasarinya. Tapi untukku, belajar dirumah dulu adalah hal bijak untuk membentuk ikatan antara kami. Aku tentu punya misi untuk tetap meningkatkan kemampuan  sensori-motorik, komunikatif, sosial emosi, kemandirian, kognitif, serta kreatifitas anakku walau faktanya aku hanya berada dirumah dan hanya sesekali bergaul dilingkungan sekitar rumahku.

Sejatinya anak-anak suka bermain, maka untuk mengembangkan kemampuan sensori-motorik, komunikatif, sosial emosi, kemandirian, kognitif, serta kreatifitas hanya bisa dilakukan dengan bermain. Bermain dengan anak tentu tak bisa aku lakukan dengan sekedar duduk manis sembari bermain bersamanya. Tidak bisa! Karena aku juga punya banyak kegiatan dirumah yang harus aku selesaikan. Lantas, Bagaimana?

Saat aku sedang mencuci baju aku membawanya bersamaku. Dia aku masukkan kedalam baskom bersama dengan ikan-ikan mainan. Saat aku sedang membersihkan lantai dia aku biarkan bermain diatas ranjang_hingga ketika sudah agak besar dia mengerti untuk ikut membantuku membersihkan tempat tidurnya. Bagiku, asalkan aktivitas anakku aman dan nyaman maka tak ada masalah.

Tapi yang paling spesial dari semua aktivitasku dan anakku adalah saat aku sedang membuat kue. Dia begitu senang melihatku dan membantuku membuat kue. Dia selalu protes setiap kali dirinya tak ikut dibawa dalam kegiatan baking yang kulakukan. Dia bilang, “Farisha sukaa membentuk kue sama Mama”

Ya, moment membuat kue adalah cerita cintaku dengan Farisha. Kami tak perlu waktu senggang khusus untuk membeli mainan apalagi mainan berkelas dengan harga yang mahal. Kami tak perlu pergi kerestoran atau toko kue untuk membahagiakan hati kami. Kami hanya perlu tepung, telur, mentega, susu, gula dan air. Itu sudah sangat melengkapi kebahagiaan kami.

Banyak pelajaran tercipta dari membuat kue. Membuat kue ibarat pepatah “sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui”. Mencampur setiap bahan adonan, mengulen adonan roti hingga membentuk roti adalah bagian yang paling Farisha sukai. Membuat kue telah mengasah kemampuan sensori-motorik, imajinasi dan kreativitas anakku.

Sebagai Ibu, tugasku adalah membiarkan anak berkarya dengan kehendaknya sendiri. Anak berumur 4 tahun seperti Farisha mulai memiliki segudang imajinasi. Maka, bagiku tak penting bentuk Roti dan Kue harus sesuai dengan keinginanku nan elegan dan indah. Terkadang aku membiarkannya membentuk sebagian dari adonan roti dan kue keringku.

Dari kue pula Farisha sudah mengenal berbagai warna. Tak cukup hanya dengan 12 warna standar dia mulai menanyakan apa beda ungu kegelapan dan agak muda serta muda sekali. Awalnya aku bilang bahwa ungu itu satu, maksudku untuk mempersimple pemikirannya. Ternyata anakku lebih suka mengorganisir warna menurut keinginannya sendiri.

“Ini Merah, Merah Muda, Merah pink, Nah, ini Ungu, Ungu muda, terus.. Jingga sama Orange apa bedanya ma? ”

“Farisha bilangnya Jingga aja ya, jangan Orange.. Orange itu bahasa inggris bukan bahasa indonesia..”

Namun, sampai sekarang dia lebih suka menyebut orange, bukan jingga.

Proses selanjutnya dari mengenal warna adalah dia mulai suka menggambar. Menggambar dan mewarnai adalah hobi barunya. Terkadang aku dibuatnya pusing dengan permintaannya untuk mengeluarkan cat air. Dia tidak pernah puas dengan hanya bermodalkan pencil warna, crayon dan spidol. Terkadang dia bisa saja mengambil pewarna kueku dikulkas dan menuangnya kebuku gambarnya. Wajahnya puas akan hasilnya. Tinggallah aku yang panik dengan segala warna warni yang diciptakannya disekitar rumah.

Farisha anakku tak cukup puas dengan aktivitas mewarnai. Setiap siang dan malam dia mulai suka dibacakan buku cerita. Segala buku mulai menjadi bahan Eksplorasinya. Awalnya dia senang membaca semua buku bergambarnya. Lama-kelamaan dia mulai menjelajah buku Ayahnya dan bukuku. Setiap gambar sampul yang dilihatnya menarik akan langsung dilahap olehnya. Tinggallah Aku yang kewalahan menjawab semua pertanyaannya.

Dan untuk buku sendiri? Aku hanya membeli sebagian besar buku Farisha di cuci gudang. Di cuci gudang masih banyak buku bagus yang masih lengkap dengan plastiknya. Aku yakin, untuk anak-anak seperti Farisha tidak butuh buku mahal yang bermerk khusus. Dia hanya butuh pendongeng yang bisa berimajinasi.

Belakangan ini aku bahkan mulai rutin meminjam buku keperpustakaan daerah di Banjarmasin. Farisha sangat senang melihat buku baru dikamarnya. Namun bingung ketika minggu berikutnya buku itu sudah tidak ada. Aku bilang bukunya terbang ketempat anak yang lain.

Tentu tidak semua media permainan Farisha bersifat homemade. Terkadang ketika sesekali kami jalan-jalan, Farisha menarik tanganku dan menunjuk beberapa mainan ditoko mainan. Aku sebagai Ibu hanya bisa membujuknya agar tidak membelinya. Aku punya cara bijak sendiri untuk membeli mainan dengan penjual yang tepat.

Yaitu membeli dari pedagang mainan kaki lima didekat SD tempat tinggal mertuaku. Aku menanamkan empati kepada diri Farisha bahwa membeli mainan tentu boleh, tetapi bukan di mall atau toko mainan bergengsi lainnya. Cukup membelinya dari Penjual yang terlihat kasihan seperti pedagang kaki lima.

Beli mainan itu sama paman yang terlihat kasihan aja, dia punya anak dan Istri yang perlu makan. Maka, belilah mainan yang dijualnya”

Pilihan media mainan untuk Farisha biasanya jatuh pada jenis Lilin dan Clay. Aku memperbolehkannya menonton berbagai tutorial membentuk lilin dan clay di Youtube sesekali. Menurutku Youtube tak selalu berakibat negatif jika disalurkan kepada hal yang benar. Aku punya aturan sendiri agar anakku merasa aman dan nyaman dalam aktivitasnya. Yang tak kalah penting bagiku, anakku tumbuh menjadi anak yang kreatif. Lihatlah baju barbie ini, ia berhasil membuatnya sendiri.

Tak cukup hanya berimajinasi dan beraktivitas bersamaku, kini Farisha mulai mencoba mengeksplorasi lingkungannya. Mencoba mencari teman. Ini adalah fase tersulit untukku. Aku terbiasa membuatnya nyaman berada dirumah dengan segala aktivitasku. Kini aku harus menemaninya diluar rumah dan meninggalkan eksplorasiku dirumah.

Ternyata hal itu tak berlangsung lama. Anakku cenderung komunikatif dan temannya senang bergaul dengannya. Dia mulai mengajak temannya bermain dirumah kami. Akupun bersemangat membuatkan temannya berbagai cemilan untuk dimakan. Setiap hari temannya datang kerumah untuk bermain dengan anakku. Memang sesekali mereka berkelahi, tapi tak pernah lama. Beberapa jam kemudian mereka lupa dan bermain lagi. Aku sangat senang karena dengan mengenal teman, kemampuan sosial-emosinya mulai terbentuk. Kini dia tak belajar bersamaku saja. Dia mulai mengenal unsur kebersamaan hingga kompetisi.

Dan, permainan dibawah ini juga adalah salah satu permainan yang berkesan diantara Farisha dan temannya. Mereka mendirikan sandal bersama kemudian melemparnya dengan sendal lain. Siapa yang berhasil merobohkan bangunan sendal ini, dialah yang menang. Permainan yang murah meriah dan berkompetisi bukan?

Dari mengenal kompetisi, anakku tumbuh menjadi semakin mandiri. Dia tak mau kalah dengan temannya. Ketika pertama kali dia melihat temannya bisa bersepeda, dia semangat untuk bisa. Sepeda adalah benda mahal pertama yang dia dapatkan dari hadiah ulang tahunnya yang ke-3. Tentunya sepeda juga adalah hasil dari tabungan kami selama ini. Penghematan untuk anak boleh, tapi itu demi menunjang eksplorasinya lebih jauh, yaitu dengan membeli yang seharusnya.

Sepeda telah membawanya jauh bereksplorasi dengan kedua temannya. Berapa kali jatuh? Jangan ditanya. Kehujanan? Kepanasan? Sering sekali. Pernah sakit? Tentu. Sakit adalah reaksi wajar saat anak kelelahan, tertular penyakit temannya dan terkena anomali cuaca. Apalagi untuk anakku yang dulunya hanya dirumah saja kemudian tiba-tiba senang berteman dan bersepeda berkeliling komplek. Tapi aku tidak khawatir, cukup menyediakan Tempra Syrup dirumah ketika anakku mulai menunjukkan gejala demam. Kemudian esok harinya kondisinya pasti mulai membaik.

Sejak Farisha menyukai aktivitas diluar rumah dia tergila-gila mengajak Aku dan Ayahnya keluar rumah jika Ayahnya Libur. Kami pun sepakat untuk berekreasi kecil setiap seminggu sekali. Entah itu berjalan-jalan di Siring_tepi Sungai Banjarmasin, ke Kebun Binatang, hingga Outbond. Farisha senang dan menikmatinya. Yah, Bagiku asal dia merasa nyaman, maka aku hanya perlu terus menjaganya agar selalu aman.

Sejauh ini aku yakin bahwa berkata positif dengan penuh dukungan kepada setiap eksplorasi si kecil akan membawa dampak positif terhadap tumbuh kembangnya. Sejauh eksplorasi si kecil aman dan nyaman maka aku tak sungkan untuk selalu menjadi “Yes Mom”. Ya, tak perlu khawatir bilang “No” jika bersedia Tempra Syrup dirumah.

Jadi, sudah siapkah Bunda Bereksplorasi? Masih mikir Eksplorasi anak harus mahal? Loh, yang penting aman dan nyaman nomor satu Bunda. Selalu ingat sedia Tempra dirumah.. 🙂

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

sumber gambar


IBX598B146B8E64A