Browsed by
Month: March 2023

5 Privileges Besar Dalam Hidup Aku

5 Privileges Besar Dalam Hidup Aku

Pernah gak kalian merasa iri dengan privilege yang dimiliki oleh orang lain?

Yang mana, hak istimewa tersebut sudah melekat padanya sejak ia dilahirkan. 

Tapi kemudian aku sering berpikir bahwa sebenarnya, setiap individu manusia itu lahir ke dunia dengan privilege besarnya masing-masing. Hanya saja, kadang kita tak menyadari hal itu.

Mengawali rasa syukur, ini adalah tulisan pertamaku di bulan ramadhan tahun ini setelah diawali dari perenungan dari malam ke malam

Penciptaan Karakter dan Kelahiran, Awal dari Privilege

Sejak dilahirkan, sebenarnya manusia sudah memiliki privilegenya masing-masing. Hal yang aku yakini bahwa sebelum dilahirkan pun sebenarnya sosok ruh kita masing-masing pun ‘special’. Mereka membawa porsi keberuntungan, rejeki, dan takdir yang special. Tugas kita sebagai manusia adalah mengemban misi dengan privilege yang kita miliki untuk semakin dekat pada-Nya. Pada Allah. Sang pencipta Privilege dasar.

Aku yakin sejak sebelum dilahirkan. Allah sudah memberi privilege rahasianya pada manusia. Selebihnya, ia menyerahkan tugas pengembangan privilege itu pada karakter utama dalam hidup kita diawal kehidupan.

Siapa?

Ibu, orang yang melahirkan kita. Ayah, orang yang mendampingi langkah hidup kita. Orang tua kita adalah karakter utama dalam kehidupan kita. 

Kita memang tak bisa memilih akan lahir pada orang tua yang seperti apa. Apakah kita terlahir kaya atau miskin. Apakah orang tua kita sabar atau tidak. Selama sekian tahun kita tinggal dan hidup mengambil value yang ditanamkan oleh orang tua kita. Maka sebenarnya. Tidaklah salah jika ada yang berkata bahwa privilege terbesar itu adalah ketika kita lahir dalam keluarga yang sempurna. Lantas bagaimana jika kita terlahir dari keluarga yang tak sempurna dan biasa saja? Bahkan mungkin terlahir dari circle kemiskinan dan amarah. 

Kembali lagi, tentang apa yang aku jabarkan diawal. Mungkin, jika kita tak begitu beruntung dalam memiliki tokoh utama. Maka Allah menolong kita dalam garisan keberuntungan, kesempatan, dan jalur rejeki. Itulah kenapa aku sering sekali melihat..

Ketika orang susah memiliki mindset yang baik dan tekun maka tingkat keberuntungannya lebih tinggi dari orang yang memiliki privilege setingkat denganku.

Bagaimana dengan privilegeku sendiri?

Aku menuliskan 5 privilege besar dalam hidupku. Untuk pengingat diri sendiri bahwa aku begitu beruntung dan begitu bersyukur pada apa yang telah Allah berikan dalam hidupku.

Privilege Pertamaku: Orang Tua yang Bervalue

Aku lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai guru. Mamaku adalah seorang guru TK, sementara ayahku adalah seorang guru SMA. Keduanya PNS. Dan Alhamdulillah secara ekonomi aku merasa berkecukupan. Aku hidup bersama 3 saudara laki-lakiku. Aku adalah seorang anak tengah dan anak perempuan satu-satunya. Privilege terbesarku dalam keluarga adalah aku tak merasa memiliki saingan dalam hal kecantikan. Kecuali dengan mama. Hihi

Orang tuaku bukanlah orang tua yang sempurna. Mamaku, mungkin seperti mama-mama anak generasi milenial lainnya. Pemarah dan menganut budaya patriarki yang ‘agak strict’ ketika aku kecil. Tapi jujur, aku tidak begitu merasa terganggu. Zaman itu, semua anak perempuan ya bermindset demikian. Keseragaman membuat kebiasaan patriarki terasa biasa saja. 

Abahku, mungkin juga seperti abah generasi sepantaranku. Yang tidak begitu memanjakan seorang ibu dan bermindset kedepan perkara menghemat fiansial. Mama sering mengomel pada abah. Perkara nafkah, perkara pekerjaan rumah. Menjadi semacam kaset rusak yang selalu diputar di kepalaku. Atas hal itu, mama begitu sering menasehatiku untuk bisa mandiri finansial. Berjaga-jaga kalau saja bertemu suami yang tak paham dengan keadaan ekonomi. “Harus mandiri finansial seperti mama, bisa merawat diri seperti mama, bisa sempurna di rumah seperti mama.”

Thats.. My Family. Sering bertengkar namun terasa hangat dan begitu bervalue.

Value positif yang aku ambil dari Mamaku adalah, mama begitu sering mengomel. Sehingga tanpa sadar, mama itu sangat transparan soal rumah tangga pada anak-anaknya. Aku jadi tau harga rata-rata lauk pauk berapa. Jadi tau bahwa mama membeli ini dan itu untuk meningkatkan usaha sampingan keluarga kami. Jadi tau, cara menghemat pengeluaran rumah tangga dan berinvestasi sejak dini. Mamaku mempraktikkan hal yang jauh lebih ekstrem dibanding hanya sekedar frugal living style. Dan gaya hidup demikian, kerja keras demikian menular mindsetnya padaku.

Thats My Biggest Privileges.

Bagaimana dengan Abahku?

Value positif yang aku ambil dari Abahku adalah, kesetaraan. 

Dulu, aku akui Abah orang yang sangat strict pada budaya patriarki. Mungkin akan selamanya demikian andai saja Mama tidak bekerja. Karena mama bekerja diluar dan memiliki waktu terbatas dan juga memiliki uang sendiri maka otomatis ‘perasaan itu’ hadir pada diri seorang perempuan. Taukan? Perasaan ingin dibantu. Perasaan bahwa pekerjaan rumah bukanlah pekerjaan perempuan semata. Perasaan bahwa sebagai pasangan harus saling menghargai dan membantu. 

Aku merasakan up n down kehidupan rumah tangga dari pertengkaran abah dan mama. Mengamati dan menjadi pendengar yang baik saat keduanya ‘curhat’. Hal yang paling banyak aku pelajari dari Abahku adalah perubahan sifatnya yang membaik saat mama merasa menjadi dominan. 

Abah adalah figur pertama yang mengajarkan padaku bahwa memasak di rumah adalah sebuah keharusan. Bukan semata karena hemat. Tapi memasak adalah wujud dari pekerjaan ‘membantu’ yang dilakukan oleh Abah. Abah punya kebiasaan selalu memasak sejak kuliah. Dan kebiasaan ini sempat mandeg saat awal menikah. Karena budaya patriarki, abah sempat menjadi pemimpin yang serba ingin dilayani dan akhirnya membuat sifat mama berubah. Obatnya? Membantu mama di dapur. Hehe. Ini adalah pelajaran penting bagiku dan awal mindsetku terbuka dalam memandang arti kesetaraan gender.

Lahir pada kondisi orang tua demikian adalah keberkahan bagiku. Aku banyak belajar dari Mama dan Abah. Sifatku menurun dari mereka. Bagaimana caraku mengomel. Bagaimana caraku curhat. Hingga bagaimana aku bertahan hidup. Orang tuaku adalah privilege terbesar yang aku miliki. Sampai sudah berumah tangga pun aku merasa peran orang tuaku begitu besar. Mereka bukanlah generasi sandwich, mereka tak pernah sekalipun menyusahkanku yang sudah berumah tangga ini. Bukan semata karena profesi mereka yang PNS. Kalian tau? Kakak dan Kedua adik kembarku kuliah di fakultas kedokteran full biaya orang tua kami. Semua tak akan sukses dibiayai jika saja Mama dan Abah tidak hemat dalam mengelola hidup kami. 

Privilege keduaku: Lahir Sebagai Perempuan

Aku adalah anak istimewa dalam keluargaku. Itulah yang aku yakini karena menjadi anak perempuan satu-satunya. 

“Paling Cantik.” Kata kedua orang tuaku. Kata-kata yang tidak akan pernah aku lupakan.

Hanya aku di dalam keluarga itu yang pernah merasakan perasaan perempuan pada umumnya seperti baper, merajuk, menangis paling sering, membeli pelembab ponds saat remaja, bingung saat ingin membeli pembalut, mencoba memakai bedak dan lipstik mama, ingin memiliki baju yang sedang trend, menangis semalaman karena kucing meninggal. Ya, hanya aku yang pernah merasakan hal demikian. Bahkan juga hanya aku yang sering bertengkar hebat dengan Mama. Plus juga, hanya aku yang selalu dijadikan tumpahan curhat orang tuaku.

Punya perasaan halus layaknya perempuan itu adalah privilegesku sebagai perempuan. Memang, sesama teman perempuan pun sering berkata bahwa aku terlalu sensitif. Tapi bagiku sendiri, sensitif dan mudah baper adalah privileges.

Aku menyukai perasaanku saat bertumbuh menjadi remaja. Perasaan ingin cantik, ingin dipuja, tersipu malu. Perasaan ingin menjadi perempuan terbaik di kelas. Kalau diingat-ingat perasaan tersebut menyenangkan. Perasaan perempuanku yang labil dan terus bertumbuh adalah sensasi sendiri yang mungkin tak akan pernah dirasakan oleh laki-laki.

Laki-laki tak akan tau seberapa halusnya rasa yang dimiliki perempuan. Bagaimana ia menimbun rasa dengan ekspresi penuh tanya. Bagaimana rasanya meledakkan bom amarah. Memendam cinta demi memenangkan rasa angkuh. Kalau dipikir-pikir, meski segala perilaku itu terlihat ‘tidak dewasa’ tapi.. Begitulah cara perempuan bertumbuh.

Yang paling tak kusangka dan tak kuduga lagi adalah rasa ketika tumbuh menjadi seorang Ibu. Semua rasa bercampur. Antara optimis dan takut. Antara sedih dan bahagia. Antara tenang dan cemas. Pernah gak memiliki perasaan yang berlawanan dan porsinya sama besar? 50 50? Ya, itulah perasaan seorang Ibu yang berproses awalnya.

Lahir menjadi perempuan membuatku banyak mengalami ‘rasa rasa’ yang mungkin tak akan bisa dipahami oleh laki-laki. Dan seninya adalah bagaimana membuat laki-laki juga merasakan ‘rasa-rasa’ demikian. Agar perasaan berlawanan yang porsinya 50 50 itu menjadi dominan keluar dalam akhlak yang baik. Kembali lagi, aku banyak belajar dari Mama.. dari Abah.. tentang ini.

Privilege ketigaku: Kesadaran – Insting Survival

Saat tumbuh remaja aku meyakini bahwa mindsetku sedikit out dibanding teman-teman seumuranku. Saat yang lain tergila-gila pada pacaran, merasakan apa itu cinta dengan melihat wajah laki-laki tampan. Aku lebih memilih ‘berpura-pura’ merasakan hal yang sama. Pribadiku memang terlihat plegmatis diluar, tapi itu hanya aku gunakan sebagai topeng. Saat SMP aku berpacaran hanya untuk status semata. Tak ada kontak semestinya. Hanya teman-temanku yang secara iseng berkirim surat atas namaku.

Saat SMA, aku sedikit merasakan rasa senang saat mengetahui ada cowok tampan yang suka padaku. Namun aku memendam rasa itu sampai tamat SMA. Masa-masa putih abu-abu yang penuh romansa saat seumuranku.. Aku alihkan menjadi masa berteman. Aku memiliki 4 teman baik saat SMA. Dua berpacaran dan satu lagi tidak. Aku fokus menemani yang tidak berpacaran. Kami kesana kemari mencari buku komik terbaru, membicarakan hal receh dan pergi les bersama. Masa putih abu-abuku terbilang sangat biasa.

Sampai ketika aku kuliah dan mengambil jurusan akuntansi syariah. Jurusan yang unik bagi sebagian orang. Namun disanalah aku lulus. Masa ini agak merasakan kelabilan yang terlambat. Dulu, aku tidak merasakan cinta yang benar pada laki-laki. Tak juga merasakan labilnya masa remaja yang ingin mencoba ini dan itu. Aku merasa labil dan histeris ketika kuliah dan berkenalan dengan boyband. Haha. Sungguh aku ingin melupakan hal itu.

Apa maksudnya bercerita ini dengan insting survival win?

Aku merasa bersyukur menjadi perempuan yang tidak pada umumnya. Saat yang lain menyukai laki-laki tampan dan mengejarnya. Aku termasuk dalam orang yang bahkan tertutup dengan rasa. Saat yang lain menyukai laki-laki karena mobil atau motor kerennya. Aku justru senang mengobrol dengan laki-laki yang antusias detail dalam bicara games dan film. Aku justru senang berhubungan komunikasi secara online dan bertarung pada games, begitulah awal mula hubunganku dengan makhluk bernama laki-laki. Bukan karena di dunia nyata aku jelek sekali. Tapi entah kenapa itu lebih menyenangkan. Pada semester 3 saat kuliah, aku baru menyadari bahwa karakter demikian bernama introvert. Ya, aku introvert. Dan menyukai cowok introvert pula..

Aku menyebut menjadi seorang introvert yang realitistis adalah insting survival yang diberikan oleh Allah. Karena insting itu pula, jodohku sekarang adalah orang yang gigih dengan mimpinya. Aku menyukai laki-laki yang punya mimpi out of the box. Bukan semata tentang menjadi dokter, semata menjadi polisi atau ini dan itu. Karena belajar dari hidupku sendiri bahwa hidup dengan keterbatasan dan setumpuk aturan itu membuat mimpi menyempit. Aku ingin membuka mimpi itu. Dan itulah awal dari perjalanan rumah tanggaku yang pasang dan surut bergantian. Hingga kini, aku meyakini bahwa semua ini tak lepas dari privilege ketiga yang diberikan Allah padaku. Terima kasih telah membentuk hidupku ya Allah.. Untuk bisa survive pada segala kondisi dan tetap memiliki mimpi ke depan.

Privilege Keempat: Keluarga Baru

Suami dan kedua anakku yang sudah selama 11 tahun bersamaku adalah keluarga baru bagiku. Semuanya hadir dalam proses yang terbilang cukup cepat bagiku. Tahun 2012 aku menikah dan tahun 2013 aku sudah dikaruniai anak. Sesuatu yang sempat menghambat mimpiku awalnya karena aku terlalu dini menjadi Ibu.. Ternyata adalah peluang rejeki baru yang ditunjukkan oleh Allah.

Pica adalah pembuka peluang bahwa bekerja tak melulu tentang diluar rumah. Bekerja tak melulu tentang uang. Definisi bekerja yang terbaik adalah saat kita menemukan sesuatu yang menyenangkan untuk dikerjakan, dan kita punya target untuk membuat pekerjaan tersebut bervalue. Jujur begitu banyak pekerjaan menyenangkan yang aku lakukan sejak menikah. Dimulai dari eksplore dapur. Mencoba berbagai resep kue dan cemilan. Mencari ciri khasku sendiri dalam eksplore bumbu. Sampai kemudian aku mendapat goals yang aku inginkan. Keluarga senang dengan masakanku. Itu adalah tangga pertama pekerjaan yang membuatku merasa berharga.

Tapi, tak semua hal berharga bisa dijadikan uang. Itu sangat conditional. Memasak bagiku misalnya. Itu bukan tentang uang. Aku pernah memang berjualan kue. Namun, tak bisa grow dalam melakukannya karena kendala over multitasking. Anakku masih kecil. Banyak yang harus disupport dan diprioritaskan. Maka, tangga kedua bagiku bukan berjualan. Namun mencari peluang lain yang menyenangkan dan cocok untukku.

Bisa dibilang blog ini adalah tangga kedua. Dulu, aku sering menulis resep masakan disini. Seiring berjalan waktu, aku sadar ternyata aku lebih suka menulis sesuatu yang berbau improvement dan family life saja. Aku juga sadar bahwa blog bukanlah pekerjaan utama. Blog memang membuat diriku yang dulu berkembang. Namun, tangga ketiga bukan melulu tentang monetisasi blog. Tangga ketiga adalah Grow bersama Pica, Grow bersama suami. Aku dulu suka sekali mendampingi Pica ikut berbagai macam lomba. Itu membuatku bersemangat. Anakku ternyata suka mewarnai dan menggambar. Suamiku suka dunia IT. Dan bagaimana bisa aku fokus pada duniaku sendiri sementara mereka butuh support? Tangga keempat bagiku adalah Start Up kami. Perusahaan IT yang kami bangun hingga sekarang.

Aku akui perusahaan ini mungkin tidak akan berkembang tanpa dukungan keluarga baru. Kelahiran Pica membuat kami memiliki klien di daerah. Kelahiran Humaira membuat kami memiliki klien di luar negeri. Semua berkembang berkat inovasi. Ide yang tumbuh dalam rumah kami. Kusadari, memiliki keluarga kecil ini adalah privileges terbesar.

Privileges Kelima: Keseimbangan

Aku mengaku sangat bersyukur memiliki orang tua yang mendukungku. Tak pernah menyusahkanku bahkan membantuku untuk kembali bernilai saat awal kehidupan pernikahan. Tapi ternyata, Allah tau bahwa hidupku tak akan seimbang dan tak akan seseru ini tanpa adanya keseimbangan. Dilain pihak, suami bukanlah memiliki orang tua sepertiku. Dan saudaranya…banyak. Banyak yang perlu dibantu.

Tapi Allah kadang mengatur rejeki dengan seimbang. Ada saja keajaiban yang tak disangka-sangka. Mungkin benar bahwa rejeki sudah memiliki jalannya masing-masing. Dan dalam kandungan rejeki itu bisa jadi terkumpul karena adanya rasa ikhlas dalam hati kita.

Tak melulu dalam hidupku semuanya terisi oleh hal menyenangkan. Terutama ketika berkeluarga. Banyak peristiwa menyedihkan yang juga terpaksa dialami. Tak melulu dalam hidupku semuanya terisi oleh orang baik. Orang baik kadang berubah. Orang jahat kadang muncul memberikan luka dan pelajaran. Thats.. Keseimbangan. Itu adalah privileges. Yang membuat roda hidupku tak berhenti. Selalu ada ujian baru untuk hati, cinta, dan finansial. Dan orang mungkin tak tau aku hidup dalam proses sedemikian.

Baca juga: Berdamai dengan bekas luka

Itulah 5 privileges besar dalam hidupku. Sebagian dari kita mungkin sering merasa bahwa privileges adalah melulu tentang uang, status sosial, relasi, jabatan. Tapi sebenarnya, kembali ke headline pertama. Bahwa Allah sudah mengatur privileges kita sendiri sejak lahir. Karakter unik, orang tua, rasa-rasa yang pernah hadir, bahkan sebenarnya orang baik dan tidak baik yang hadir itu adalah privileges. Well, mungkin ada yang protes bahwa, “Win, bukan itu loh definisi privileges” 

Iya, memang bukan. Tapi cobalah membuang definisi saklek itu sebentar. Pejamkan mata dan rasakan apa-apa saja sebenarnya hal yang kita dapatkan dalam hidup dan membuat kita sampai ditahap sekarang. Semuanya adalah takdir unik yang tercipta dari kombinasi pengalaman hidup, doa, pembentukan karakter, dan insting survival kita masing-masing.

Semua kita, sebenarnya memiliki privileges unik.

Dongeng Penggembala Domba

Dongeng Penggembala Domba

Dahulu kala..di sebuah desa.. Tinggallah seorang anak laki-laki dan orang tuanya. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Namun setiap hari mereka juga memelihara Domba. Domba-domba itu adalah milik keluarga mereka. 

Suatu hari sang anak laki-laki ditinggal oleh orang tuanya ke kota. Sang anak dititipkan beberapa domba. Mereka menyuruh sang anak agar menjaga dan memberi makan domba-domba tersebut. 

Sang anak menjaga domba itu dengan tekun.

Tapi, hingga hari ke tiga.. Orang tuanya tak kunjung datang. Maka, ia mulai merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Ketika menjaga domba, pikiran anakpun mulai jahil. Ia kemudian berteriak, “Serigalaaa… serigala.. Tolooong!”

Penduduk desa pun datang berlarian. Mereka langsung mencari keberadaan serigala disekitar anak tersebut. Sang anak senang sekali melihat respon para penduduk. Ia pun tersenyum dan berkata, “Haha.. Tidak ada serigala kok!” 

Para penduduk pun kesal. Mereka langsung pulang kerumah. 

Besoknya, Anak lelaki itu mengulangi hal yang sama, ia berteriak dengan lebih nyaring, “Serigala.. Serigala..! Astagaa tolong akuu!”

Penduduk desa awalnya tidak mau datang. Tapi karena teriakan anak itu begitu nyaring dan serius. Akhirnya mereka tidak tega. Mereka pun segera lari kearah suara anak tersebut. 

Dan betapa kesalnya mereka ketika melihat sang anak tertawa terbahak-bahak. 

Besok harinya, anak lelaki tersebut duduk tenang sambil menjaga dombanya yang sedang makan. Betapa terkejutnya ia ketika tiba-tiba melihat serigala datang ke arah domba tersebut. Sang anak pun berteriak panik, “Toloong.. Serigala.. Toloong.. Domba saya dimakan.. Tolong!”

Tapi tidak ada satupun yang datang. 

Penduduk desa sudah tidak percaya lagi dengan teriakan anak tersebut. Dan akhirnya, domba-domba pun habis dimakan serigala. 

Tamat. 

Memahami Adanya Ego Manusia Untuk ‘Mencari Perhatian hingga Mendapat Pengakuan’

Apa yang dapat dipelajari dari dongeng penggembala domba diatas? Sejak kecil, kita diajarkan bahwa moral story dalam dongeng ini adalah untuk tak pernah berdusta.

“Jangan pernah berdusta, apalagi mengulanginya. Atau orang tak akan percaya lagi pada kita.”

Ada benarnya. Dan itu terbukti bukan? Sekali, dua kali hingga tiga kali kita berdusta maka tak akan ada lagi yang percaya pada omongan kita. 

Namun, jika kita berani memandang sebuah dongeng dalam sudut pandang yang berbeda. Maka, ada satu hal yang kita lewatkan pada dongeng tersebut. Yaitu tentang..

“Mengapa penggembala domba tersebut berdusta.. Lagi dan lagi”

Aku tersadar tentang untold story pada dongeng ini saat menonton drama its okay to be not okay. Sebenarnya, penggembala domba tersebut kesepian. Demikianlah hal yang terjadi sejak ia ditinggalkan oleh orang tuanya. 

Orang yang kesepian biasanya akan melakukan 2 hal. Pertama Ia akan mencari teman agar tidak kesepian. Kedua ia mungkin ingin menarik perhatian agar ‘diperhatikan’.

Sadar gak sih, kadang kala dongeng anak gembala ini mengingatkan kita akan fenomena sekeliling kita sendiri. Betapa banyak orang-orang yang rela berdusta, melebih-lebihkan cobaan hidupnya sendiri ‘demi mendapatkan perhatian’ dan ‘demi mendapatkan pengakuan’. Banyak yang terpancing dan berempati ‘tanpa tahu keadaan yang sebenarnya’. Padahal mungkin jika kita tahu keadaan sebenarnya akan berbeda ceritanya.

Bisa jadi, jika sejak awal anak tersebut jujur pada sekitarnya bahwa orang tuanya tak kunjung datang maka orang sekitarnya akan berempati padanya. Tapi, anak-anak tak begitu paham ‘cara berkomunikasi yang benar’. Maka, dibuatlah ‘sensasi’ demi mencari perhatian..

Sebenarnya, mencari perhatian dan mendapatkan pengakuan adalah ego yang sangat wajar timbul pada manusia. Aku sendiri mengaku bahwa emosi ‘ingin mendapatkan pengakuan’ adalah emosi dominan dibanding 5 emosi seorang ibu lainnya. Sampai sekarang pun, jujur aku selalu mempertanyakan setiap langkah yang aku lakukan. Apa niatku? Apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan?

Menyadari Emosi Seapa-Adanya

Dongeng anak gembala sebenarnya so related dengan kehidupan ibu-ibu loh. 

Eh, dimana relatednya win?

Sadar gak, di era sosial media begitu marak seperti sekarang. Kita sering kali mungkin berperilaku seperti anak gembala. Mencari perhatian. Terinfluence pada konten-konten orang lain. Konten tentang keluhan menjadi IRT misalnya. Dari yang biasa saja sampai kemudian berbau menyalahkan suami. Konten-konten demikian ini, sadar gak sih bahwa peminatnya semakin banyak karena merasa senasib? Lantas satu demi satu kreator berlomba membuat pelampiasan emosi. Untuk bersuara. Yang awalnya hanya untuk ‘release’ kemudian dijadikan ajang mencari pengakuan.

Tidak salah sebenarnya. Yang dipertanyakan adalah.. Sebenarnya, apa sih niat membuat konten demikian? Ingin mengutarakan masalah atau ingin mendapatkan pengakuan? Atau ingin mencari teman senasib?

Aku bisa paham jika tujuannya ingin mencari teman senasib, karena pernah berada diposisi demikian. Setidaknya pernah dalam sekian fase demikian. Namun, setelah mendapatkan 4-5 teman senasib, aku memutuskan berhenti melakukannya. Sharing permasalahan pribadi pada umum yang tidak menemukan solusi mungkin merupakan toxic bagi sebagian orang yang tidak mengerti. Sebaliknya, ketika menemukan hikmah dalam permasalahan aku biasa menuliskannya di blog agar menjadi insight buatku dan pasangan. 

Jadi, apakah membuat konten tentang keluhan itu sesat?

Tidak. Tentu saja tidak. Semuanya tergantung dari ‘niat’. Jika niatnya untuk mencari pengakuan dari orang lain. Untuk mendapatkan perhatian.. Maka, mungkin perlu dipikirkan lagi. Tapi, jika niatnya untuk kebaikan. Merangkul ibu-ibu senasib, memberikan pemahaman pada para suami yang mindsetnya terlalu sempit tentu tak apa-apa. 

Pada kelas rangkul keluarga kita. Aku jadi paham banget bahwa mengenali emosi diri itu adalah ilmu dasar yang perlu dipahami. Jadi, ketika kita melakukan sesuatu hal.. Segala sesuatu itu harus dipertanyakan berkali-kali pada diri sendiri. Kenapa aku melakukan ini? Release Emosi? Apa dampaknya jika aku melakukan ini? Apakah aku siap dengan kritik orang lain? Apakah aku membuat ini hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa aku benar? Apakah yang aku tulis berguna atau membuat boomerang efek pada diriku sendiri?

Menyadari emosi, menerima seapaadanya, mengungkapkan dengan baik pada tempatnya, membuat konten positif untuk outputnya. Inilah yang mungkin perlu banget dikelola pada seorang Ibu.

Lantas bagaimana jika sulit sekali berkomunikasi pada suami?

Ehem, aku sering menulis hal ini loh

Berkomunikasi tak melulu kunci

Saat marah pada suami

Jika Tak Ingin Memiliki Ending Seperti Penggembala Domba

“Jangan pernah sekalipun berbohong. Sekali berbohong orang mungkin masih berempati padamu. Dua kali berbohong, orang mulai waspada pada apa yang engkau sampaikan. Tiga kali berbohong, orang tak akan percaya lagi padamu”

Ending dari dongeng itu adalah, penggembala domba tak lagi dipercayai oleh orang lain.

Alih-alih berteriak ‘serigala..serigala..’ Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh anak tersebut jika merasa kesepian. Ia mungkin tidak bisa melepas dombanya karena diamanahkan untuk terus menjaganya. Akan tetapi, penggembala masih memiliki pilihan untuk menangis dan meronta. Itu jauh lebih baik dibanding berdusta.

Berkata bahwa ia kesepian, orang tuanya tak kunjung datang, kelaparan.. Jauh lebih baik dibanding berdusta bahwa ada kedatangan serigala. 

Apa yang dilakukan pendengar jika mendengar hal ini? 

Mendengarkan. Berempati. Menolong. Atau diam saja.

Berempati dan menolong dengan membawakannya makanan dan menemaninya sejenak. Mendengarkan tangisannya dikejauhan namun tak menolong pun tak apa. Aku yakin dengan jujur tentang apa yang sedang dialami, akan jauh lebih baik dari pada mencari perhatian dengan berbohong. Kesepian, sesungguhnya bukanlah hal yang memalukan.

Ibu rumah tangga kesepian, capek, dan frustasi di rumah seorang diri itu bukanlah hal memalukan untuk dikeluhkan. Tapi akan menjadi salah jika Ibu tersebut berteriak-teriak menyalahkan orang lain. Menyalahkan cuaca, menyalahkan suami, menyalahkan Tuhan sekali lagi dengan niat ‘demi mencari perhatian’. Apalagi jika kesakitan dan risiko itu sebenarnya sudah merupakan konsekuensi dari pilihannya sendiri. Solusinya adalah memintalah pertolongan pada hal yang lebih realistis. Bukan mencari perhatian kemana-mana.

Dan sebenarnya, anak gembala memiliki pilihan kreatif untuk dilakukan pada saat kesepian.

Yaitu mencoba berteman dan memanfaatkan keadaannya untuk hal yang produktif. Berteman dengan domba, mencukur bulunya, belajar meniup seruling untuk memandu para domba, menganalisis tanaman yang dimakan oleh domba. Menerima keadaan seapaadanya…Bahwa ia sekarang sendirian, dan apa boleh buat?

Mungkin sang anak gembala tak berpikir sampai kearah demikian karena ia masih anak-anak dan belum dewasa. Maka, inti dari dongeng untuk anak-anak pun memiliki pesan demikian.

Tapi, setalah aku selesai membaca dongeng ini untuk anak-anakku.. Aku pun tersadar bahwa meski ini cerita anak-anak.. Value yang disampaikan pun bahwa sebenarnya berlaku untuk orang dewasa sepertiku. Mungkin dongeng penggembala domba ini adalah sebuah kisah nyata dengan pesan demikian untuk anak-anak. Agar anak-anak tak akan pernah berdusta.

Andai penggembala domba dalam cerita itu sudah besar sekarang, mungkin ia akan banyak belajar dari masa kecilnya. Memahami emosi yang hadir, mengelolanya dengan lebih baik, memanfaatkan kesepian untuk hal yang produktif..

Sebenarnya, andai saja tokoh-tokoh dalam dongeng diteruskan masa depannya.. Mungkin ceritanya akan terdengar lebih menarik dan lebih dewasa bukan? Bagaimana menurut kalian?

Hal-Hal Yang Perlu diperhatikan Saat Jadi Orang Tua Baru

Hal-Hal Yang Perlu diperhatikan Saat Jadi Orang Tua Baru

Ngomongin soal jadi OTB aka Orang Tua Baru. Jadi inget banget zaman aku awal ngelahirin si Pica. Tahun 2013. Dimana Juli 2012 aku nikah. Eh, Februari 2013 udah punya anak. Cepet banget gak tuh. Iya, cepet. Makanya kalau ada yang ‘curigation’ aku sih ikut bengong aja. Lah, aku sendiri aja bengong kok sampe 4 bulan kehamilan. Bingung mikir kenapa semudah dan segampang ini punya anak? Buat orang yang saat itu pengen ‘nunda’ punya anak karena ada berbagai goals yang belum tercapai.. Langsung punya anak sejak nikah itu macam tak terlukiskan sekali perasaanku.

Perasaanku masih ‘agak’ gimana saat memiliki anak pertama. Disatu sisi ada rasa semangat tak terlukiskan karena wow.. Aku jadi ibu baru diumur 22 tahun. Tapi disisi lain, macem ngerasa.. Aku bakal jadi Ibu yang baik gak ya? Jangan-jangan aku gak bisa sempurna kayak Ibu yang lain.

Setelah 10 tahun menjalani pernikahan. Dari anak pertama yang sekarang sudah berumur 10 tahun dan anak kedua yang sudah berumur 4 tahun. Aku sadar, bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat jadi orang tua baru. Nah, berikut adalah point-pointnya:

1. Pahami Prioritas, Gak Usah Terlalu Sempurna

Apa sih prioritas utama saat sudah memiliki anak? Apa iya, anak harus 24 jam bersama kita sang Ibu? Apa iya, anak harus lengket dan tak boleh berpisah dari Ibu? Apakah anak ‘harus’ memiliki standar ideal seperti pandangan orang diluar sana? Apakah ibu ‘harus’ memiliki standar ideal seperti pandangan yang lain?

Jujurly, saat ngelahirin Pica dulu aku tuh termasuk Ibu yang apa-apa pengen yang terbaik. Buat anak, buat pandangan orang disekitar aku. Karena rumusnya tuh gini. Kalau anak dapat yang terbaik, maka aku senang. Kalau aku dinilai baik oleh orang lain, aku dapat energi yang bisa buat aku semangat agar anakku jadi lebih baik.

Semuanya, berputar disitu-situ aja. Menjadikan anak yang terbaik-Dinilai orang sebagai Ibu yang baik.

Aku ngasih anakku ASI selama 2 tahun. Umur 6 bulan, aku sudah ngajarin anak buat toilet training. Umur setahun anak sudah mulai jarang pipis sembarangan. Sudah terpola dan gampang diajarkan. Umur 2 tahun anak sudah gak pernah pipis di celana lagi. Anakku juga selalu aku buatkan MPASI yang kubuat sendiri. Oya, dan aku tak jarang sekali memakaikan anakku diapers. Selalu membacakan buku sebelum tidur, cek perkembangan anak, bikin DIY bla bla bla…

Apa yang kalian lihat dari ceritaku? Ibu sempurna? Ibu yang sukses menghemat pospak? 

Sebaliknya, kadang aku berpikir bahwa aku terlalu memporsir diriku agar aku terlihat menjadi Ibu yang baik. Lantas lupa pada apa yang sebenarnya prioritas.

Bonding dengan anak, Itu prioritas. Quality time. Bukan hanya tentang membersamai anak 24 jam. Tapi juga benar-benar hadir untuk anak selama sekian waktu saja. 

Menghargai diri, Itu prioritas. Membeli skincare untuk merawat diri. Menyempatkan waktu untuk upgrade diri. Workout sebentar untuk membangkitkan semangat. Jika diri sendiri dihargai dengan baik. Maka, ia tak perlu validasi dari orang lain untuk terlihat sebagai Ibu yang baik.

Menjadi Istri yang baik, Itu prioritas. Banyak diantara wanita yang sudah berstatus sebagai Ibu mulai lupa bagaimana cara menjalin hubungan lebih baik bersama suami. Karena terlalu sibuk mengurus anak seorang diri. Padahal, kunci kerja sama dengan pasangan akan ‘unlock’ andai saja kita bisa melepas sejenak peran Ibu tersebut. Menjadi Istri yang baik sejenak, berbicara dari hati ke hati sejenak bahwa kita butuh ‘pertolongan’ loh untuk menjadi Ibu yang baik.

Ya, mengasuh anak.. Menjadi Orang Tua Baru.. Sebenarnya bukanlah peran Ibu semata. Namun peran Ayah dan Ibu. Sayang sekali jika kita berada pada sistem patriarki yang begitu mengunci peran ayah di dalamnya. Tak apa. Jadilah istri yang baik untuk bisa ‘unlock’ peran ayah. Bagaimanapun juga mengasuh anak adalah kewajiban ayah dan ibu. Bukan Ibu saja.

2. Pahami Pembagian Peran, Gak Usah Sok Multitasking ‘Sendiri’

Hal kedua yang perlu diperhatikan saat menjadi orang tua baru adalah Gak usah deh sok multitasking sendirian

Gak usah sok serba bisa. Apa-apa dikerjain sendiri. Masak, Nyuci, Bersih-bersih, gendong anak, ke pasar dll dsb. 

Sungguh, aku sih bisa memahami kalau ekonomi keluarga masih dalam keadaan kurang baik. Sehingga pilihan yang ada ya demikian. Misal, LDR dengan suami sehingga terpaksa demikian. Itu gakpapa. Semoga bisa lebih sabar dan keadaan membaik. (Percaya deh, aku dulu juga gitu. Tapi ketika keadaan membaik, ya gak gitu lagi)

Tapi, jika ekonomi telah membaik dan tidak LDR aku sedikit bertanya-tanya kenapa kita harus serba sempurna dan tak memiliki pembagian tugas? Kenapa? Patriarki yang terlalu kental kah? Atau ada masalah pada hubungan suami istri? Atau pekerjaan domestik terlalu banyak dicampuri pihak lain seperti mertua, ipar, tetangga sotoy dll..

Yang pasti, rumah tangga itu adalah tentang kerja sama suami istri. Peran Ayah dan Ibu yang sama-sama bertujuan kuat untuk membangun generasi lebih baik lagi. Orang tua baru, harus sadar bahwa memiliki anak artinya siap berbagi peran dalam pengasuhan. Okeh??

3. Pahami CINTA

Banyak ilmu baru yang aku dapat ketika ikut kelas rangkul keluarga kita. Mulai dari mengelola dan memahami emosi. Hingga menjalani peran sebagai Ibu dengan memahami hakikat dari Cinta yang sesungguhnya.

Ya, CINTA.

C.. Artinya Cari Cara Sepanjang masa

Gak ada cara terbaik yang berlaku ‘setiap masa’. Misalnya, cara aku yang cenderung sempurna dan sok multitasking sendiri dalam pengasuhan anak pertama. Tak bisa aku terapkan kembali dalam pengasuhan anak kedua. Karena saat memiliki anak kedua, aku sudah burnout sekali dengan sekian aktivitas rumah tangga. 3 tahun cukup lah meneladani pola parenting seperti anak pertama. Selebihnya aku mulai paham bahwa tak apa kok untuk menitipkan anak di daycare. Aku happy dan waras karena bisa memberdayakan diri pada hal lain. Bisa mulai pacaran kembali dengan Suami. Humaira juga happy karena mulai bisa berkumpul dengan teman sebayanya. Justru sejak dimasukkan daycare perkembangan Humaira meningkat pesat. Dan perkembangan hubungan pernikahan kami juga meningkat.

I.. Artinya Ingat Cita-cita tinggi

Sebagai orang tua baru, menurutku boleh banget kita punya impian. Boleh banget kita halu memiliki cita-cita setinggi langit pada anak kita. Yang tidak diperbolehkan itu menurutku adalah mencari pengakuan kemana-mana sampai menjadi ambisius tanpa memperdulikan keadaan anak. 

Yah, related kan sama drakor-drakor berbau parenting kayak Sky castle atau Green mothers club sampai yang terakhir Crash course in romance. Drakor-drakor itu adalah gambaran dari bagaimana ambisiusnya orang tua dapat membunuh psikis anak perlahan. Dan aku gak mau karena cita-cita tinggi, anak jadi demikian. 

Intinya kita perlu banget punya cita-cita tinggi. Punya goals dalam hidup. Tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami bagaimana cara ternyaman dan tak menyakiti untuk menggapainya.

N.. Artinya Nerima Tanpa Drama

Related dengan point I sebelumnya bahwa kita tuh perlu punya goals. Tetapi kita juga harus paham dengan keadaan anak kita sendiri. Bisakah kita menerima keadaan Anak kita Seapa-adanya?

Dulu, aku punya tetangga yang mana salah satu anak mereka tidak bisa berbicara dan menunjukkan ciri ADHD. Orang tuanya sibuk ‘menutupi’ hal tersebut. Sang anak dikurung di kamarnya sepanjang hari. Karena ‘malu’. Padahal, hal itu hanya memperburuk keadaan bukan? Andai saja keadaan anak tersebut diterima dan bahkan berusaha diobati dengan therapy mungkin keadaannya akan jauh lebih baik. 

Sebagai orang tua, kita perlu menerima apa kekurangan anak. Kita harus menyadari bahwa tidak ada anak yang terlahir sempurna di dunia ini. Tugas kita bukan turut menghakimi kekurangannya. Tapi mencari celah positif dari itu semua.

T.. Artinya Tidak Takut Salah

Pernah melakukan sekian banyak kesalahan saat membersamai anak? Tak apa.

Aku dulu pernah marah-marah luar biasa pada Pica. Bahkan sekarang pun aku akui masih sangat sering melakukannya. Meski sempat menyesal, aku kembali akrab lagi dengan anakku. Ego ku memang terlalu tinggi untuk bisa meminta maat. Tapi aku sadar, menjadi orang tua itu bukan selalu tentang lemah lembut penyayang. Ada kalanya kita harus tegas. Ada kalanya kita mengakui kesalahan kita sendiri.

Dalam hidup, aku yakin manusia punya batas kesalahan. Dan yang terburuk itu adalah berhenti mencoba mencari cara terbaik, bukan menghindari kesalahan. Teruslah cari cara terbaik, teruslah mencoba menjadi orang tua yang baik. Tanpa takut salah.

A..Artinya Asyik Main Bersama

Kenapa ya kalo bermain bersama anak 5 menit itu rasanya kayak satu jam. Tapi kalau scrool medsos, nonton drakor satu jam itu rasanya kayak 5 menit. Anyone like me? HAHA

Gakpapa kok, itu artinya bukan kita yang gak bakat nemenin anak. Tapi memang kita sedang membutuhkan waktu yang seimbang.

Setidaknya seorang Ibu itu butuh 4 keseimbangan waktu. Waktu untuk dirinya sendiri, waktu bersama pasangan, waktu bersama anak dan waktu sosial. Terbayang gak misalnya kita sudah dari pagi sampai hampir siang di dapur saja bersama anak sambil mengerjakan pekerjaan domestik. Pastinya, setelah itu kita butuh waktu untuk diri sendiri. Karena merasa sudah menemani anak ‘sambil’ nginem. Yah, padahal waktu nginem bukan termasuk dalam 4 keseimbangan waktu. Tapi mana ada seorang Ibu yang bisa diam di rumah saat anaknya butuh makan, rumahnya butuh dibersihkan dan cucian menumpuk.

Maka, tak apa kok kalau sesekali jika ekonomimu sudah membaik mulai delegasikan hal yang seharusnya bukan pekerjaanmu. Tak apa kok membeli makanan untuk makan siang sesekali, tak apa hari ini ngeloundry dulu misal, tak apa absen membersihkan rumah. Meski memang praktiknya sangat sulit. Tapi percayalah Asyik Main Bersama akan dapat dilakukan maksimal jika energi dan tangki cinta kita telah terisi dengan baik.

Aku sendiri terbiasa menyelesaikan pekerjaan domestik di pagi hari. Siang hari biasanya aku masak praktis asal sehat saja sesekali. Jadi, antara jam 8-9 pagi aku bias menyisihkan waktu untuk sholat dan workout sebentar. Sesudah itu energi akan terasa penuh dan siap bermain dengan anak.

4. Pahami Dirimu Sendiri, Maka kamu akan memahami anakmu

Saat menjadi orang tua baru, kadang kala kita melupakan siapa diri kita sendiri. Mengasuh bayi sejak umur 0 bulan sampai 2 tahun dengan dibebani setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sendirian akan membuat kita lupa siapa sebenarnya diri kita sendiri. Karena tak ada keseimbangan waktu. Karena tidak ada me time. Waktu kita kadang terbuang pada hal yang sama setiap hari.

Saranku, kalau bisa.. Kalau ada duitnya.. Janganlah jadi ibu yang demikian. Dan jangan lupa berdoa juga untuk keajaiban. Siapa tau ada yang memiliki anak saat ekonomi sedang down, percayalah doa dan usaha akan membantu hal itu. Karena aku paham rasanya. Aku bukanlah seorang Ibu yang ‘langsung’ sukses secara ekonomi.

Perlahan, cobalah kembangkan diri sendiri. Carilah celah waktu senggang yang kiranya bisa dimanfaatkan untuk menjadi diri sendiri. Mengerjakan apa yang benar-benar disenangi. Mencoba menjadi orang yang turut berkontribusi sosial. Percayalah, itu bikin bahagia. Dan jenis bahagia yang demikian berbeda dengan jenis bahagia setelah menonton drakor atau setelah workout. Bahagia yang demikian sifatnya jangka panjang. Akan terisi terus meski kita merasa lelah. Akan terisi terus meski kita merasa sedih.

Carilah bahagia yang ‘sedemikian’ dengan mulai memahami dirimu sendiri. Dengan mulai memahami potensi diri. Percaya deh, dengan mulai memahami diri sendiri perlahan kamu juga akan memahami anakmu. Karena anak sebenarnya adalah hasil copy paste orang tuanya.

Demikian 4 hal yang perlu diperhatikan saat menjadi orang tua baru. Tentunya setiap rumah tangga dan setiap perbedaan zaman mungkin tidaklah sama. Aku hanya sharing berdasarkan dengan pengalamanku saja. Pengalamanku membersamai 2 buah hatiku.

Happy Parenting

HokBen Kini Hadir di Banjarmasin

HokBen Kini Hadir di Banjarmasin

HokBen Kini hadir di Banjarmasin? Eh, serius? Bukannya HokBen itu adanya cuma di pulau Jawa doang yah?

Gak, Kalian gak salah baca. HokBen sekarang udah punya sekian banyak cabang di indonesia. HokBen di Banjarmasin sendiri merupakan gerai ke 350 dari keseluruhan gerai HokBen yang tersebar di seluruh kota di Indonesia.

Tuh, mengetahui hal demikian aja aku langsung geleng-geleng kepala. Menyadari bahwa aku ini jarang sekali jalan-jalan keluar pulau. Buktinya, aku jujur aja loh baru kali ini nyicipin HokBen yang hits sejak dulu itu. Dan sebenarnya, ada cerita kecil dibalik kenapa aku selalu stay di Banjarmasin.

Petualangan Lidah dari Masa Kecil, Dewasa, Hingga Menjadi Ibu

Aku itu adalah anak berdarah campuran. Bukan, bukan sekeren berdarah campuran penyihir+muggle (kok jadi nyambung kesini). Tapi, darah campuranku itu antara suku banjar dan suku jawa. Mamaku adalah orang banjar asli, sementara Abahku (Ayahku) adalah orang dari suku jawa. Abahku dulu merantau bekerja ke kalimantan dan bertemu Mama. Lantas, lahirlah aku. Sang darah campuran.

Bukan kenapa sih aku memperkenalkan diriku begini. Aku hanya ingin bercerita bahwa lidahku ini dahulu kala bisa dibilang 80% lebih menyukai masakan asli banjar dibanding masakan Jawa. Dulu, aku terbiasa memakan bulir nasi yang terbilang halus dan tak bersatu antara satu dan lainnya. Masyarakat banjar mengatakan nasi banjar jenis demikian dengan kata ‘karau’, tak seperti nasi jawa yang begitu pulen dan lembut saat dimakan. Nasi banjar punya ciri khas lebih bertekstur dan bagi masyarakat banjar.. Lebih mengenyangkan.

Pernah suatu hari, sewaktu aku kecil dulu.. Aku berkunjung ke tempat Mbah Kakung di Jawa Timur. Tepatnya daerah Kediri. Selama seminggu aku tidak bisa makan dengan normal hanya karena tidak cocok dengan beras jawa. Sejak itu aku memutuskan akan tetap tinggal di kalimantan. Karena konon, pulau jawa tidak menyediakan stok beras seperti jenis beras kalimantan. Horor. Akan jadi apa aku nanti jika di pulau Jawa terus? Kataku di masa kecil.

Waktu berlalu, dan berbagai jenis makanan mulai masuk ke kalimantan. Di mulai dari KFC hingga McD. Ada makanan favorit kedua setelah masakan mama untukku. Yaitu ayam goreng tepung KFC. Aku suka sekali. Kala itu aku masih sekolah SMP. Aku mulai suka membeli ayam goreng diluar. Dan tentu pasangan dari Ayam goreng itu adalah Nasi Jawa atau Nasi Pulen. Entah kenapa sejak itu aku mulai suka dengan Nasi Jawa, semakin pulen, semakin enak.

Berkenalanlah aku dengan masakan sushi ala jepang. Merasakan dan mencoba membuatnya sendiri saat sudah berstatus menjadi Ibu merupakan kebanggaan sendiri. Anak-anakku menyukai masakanku. Mereka memiliki lidah yang lebih dominan ke kuliner jepang-jawa. Mengherankan sebenarnya. Mengingat Ayahnya sendiri adalah orang banjar tulen yang bahkan sudah sedewasa itu masih saja suka nasi banjar seperti aku di waktu kecil. Hihi.

Tapi, demi menyenangkan lidah anak-anak aku mulai mencoba eksplor rasa yang mereka sukai. Anak-anakku selalu suka telur dan ayam. Asalkan keduanya ada di kulkas dan stok beras pulen masih aman maka mereka selalu senang dengan apapun masakanku. Mulai dari Chicken Katsu, Telur Gulung, Ayam Goreng Tepung, Ayam goreng rempah, hingga tempura udang.

Hingga suatu hari, Anak pertamaku Pica melihat video liburan temannya. Temannya bercerita bahwa makanan di HokBen adalah makanan terbaik dan serba ada. Pica pun bertanya padaku apakah di Banjarmasin sudah ada HokBen? Pertanyaan itu muncul setahun yang lalu dan tentu saja aku menjawab belum ada.

“Nanti kita jalan-jalan ke malang ya Ma, supaya bisa makan HokBen.” Pica menceletuk

“Enggak ah. Nunggu ada di Banjarmasin aja” Jawabku Cuek

Maklum. Anak-anak belum pernah kuajak jalan-jalan keluar pulau. Tuhan terlalu baik dalam mengabulkan doaku. Sewaktu kecil dulu aku pernah berdoa dengan polos agar bisa tinggal selamanya di kalimantan demi terus bisa makan beras kalimantan. Doanya dikabulkan hingga sekarang. 

Akhirnya HokBen Ada di Banjarmasin

Begitu baiknya Tuhan padaku, sampai-sampai kami sekeluarga tak perlu ke luar pulau untuk merasakan nikmatnya HokBen. Hari itu, tanggal 9 Maret 2023 untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana nikmatnya rasa Bento HokBen. Bagaimana tidak? HokBen telah hadir di Duta Mall Banjarmasin. Mall Tempat piknik kami sekeluarga setiap awal bulan. Xixi.

HokBen di Banjarmasin sendiri merupakan gerai ke 350 dari keseluruhan gerai HokBen yang tersebar di seluruh kota di Indonesia. Antara mimpi dan enggak, karena HokBen adalah Pelopor makanan bergaya khas Jepang yang terkenal di Indonesia. Aku bisa mengerti jika perkembangan diluar kalimantan begitu cepat, tapi tak menyangka akhirnya bisa ke Banjarmasin juga. Sebuah langkah yang bagus menurutku, karena jujur saja.. Lidah asli suku banjar pun beberapa tahun belakangan mulai berpindah jalur. 

HokBen Banjarmasin mulai beroperasi pada tanggal, 10 Maret 2023. HokBen berkomitmen untuk memanjakan lidah pelanggan dengan produk makanan bergaya khas Jepang yang lezat, berkualitas dan halal di Indonesia.

Sugiri Willim, Operational Director PT. Eka Bogainti menyatakan “Kami sangat senang di usia yang ke 38 tahun HokBen dapat memperluas jangkauan kami hingga ke Kalimantan Selatan. Lokasi ini dipilih untuk menjawab permintaan pelanggan agar HokBen bisa hadir di Kalimantan, tepatnya Kalimantan Selatan. Selain itu, kecintaan masyarakat akan berbagai kuliner nusantara mendorong kami untuk menambah ragam kuliner khususnya di Kalimantan Selatan dengan membawa makanan bergaya khas Jepang. Kami juga berharap pembukaan gerai ini bisa membantu penyerapan tenaga kerja di lokasi dimana gerai kami berada”. 

“HokBen Duta Mall Banjarmasin merupakan gerai ke dua di Pulau Kalimantan. Pada Desember 2022 kami sudah membuka gerai pertama di Kalimantan, yaitu di Kubu Raya, Pontianak. HokBen Duta Mall Banjarmasin ini menjawab harapan dan kebutuhan pelanggan HokBen diluar Pulau Jawa, khususnya Kalimantan yang selama ini membeli HokBen saat datang ke Jakarta atau di kota besar lainnya. Harapan kami, kedepannya kami bisa memperluas layanan ke lebih banyak kota di Pulau Kalimantan.” Tambah Sugiri Willim.

HokBen Duta Mal Banjarmasin terletak di Lantai Satu dengan kapasitas kursi sebanyak 76 kursi. HokBen Duta Mall Banjarmasin akan membuka layanan makan ditempat (dine in), makanan dibawa pulang (take away) dan pesan antar (delivery) serta order online melalui aplikasi yang akan menghadirkan menu menu khas HokBen seperti : Ekkado, Tori no Teba, Egg Chicken Roll, HokBen Fried Chicken, Ebi Furai, Kani Roll, Beef / Chicken Teriyaki dan Yakiniku atau Set Menu HokBen seperti Bento Special, Paket ABCD, Simple Set Teriyaki dan juga Ramen sebagai menu terbaru HokBen. Selain itu banyak juga pilihan snack and dessert di HokBen yang cocok untuk dinikmati sambil bersantai. 

Tentang HokBen

Aku baru saja mengetahui bahwa sejarah HokBen dimulai sejak tahun 1985. Jujur, tahun itu aku bahkan belum lahir. Bahkan menginjak usia 10 tahun pun aku masih belum mengenal HokBen. Pernah sesekali melihat di Televisi saat umurku belasan tahun. Tapi aku hanya mengenal maskotnya yang menurutku khas sekali. 

Ya, Maskot HokBen adalah sepasang karakter anak-anak dengan gaya gambar manga Jepang. Yaitu Taro si anak lelaki dan Hanako si anak perempuan berbaju merah. Kedua karakter ini menjadi logo sekaligus maskot HokBen. Jadi, jikalau aku melihat maskot ini yang terlintas dipikiranku adalah.. Wah, ini restoran Jepang yang hits itu.

HokBen hadir di Jakarta pada 18 April 1985, dibawah manajemen PT. Eka Bogainti, sebagai restoran siap saji bergaya Jepang di Indonesia. Sebagai merek asli Indonesia, HokBen memulai perjalanannya dari satu store di Kebon Kacang, Jakarta, kemudian tumbuh dan berkembang hingga memiliki lebih dari 350 gerai di Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan. 

Restoran HokBen tersebar di Jabodetabek, Serang, Cilegon, Karawang, Bandung, Cimahi, Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, Cirebon, Tegal, Semarang, Klaten, Purwokerto, Pekalongan, Salatiga, Cilacap, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Gresik, Jember, Malang, Denpasar, Lombok, Bandar Lampung, Palembang, Prabumulih, Medan, Binjai, Dumai, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Padang, Bukittinggi, Pontianak. Layanan HokBen terdiri dari makan di tempat (Dine-in), pesanan dibawa pulang (Take Away), HokBen Delivery melalui 1 500 505 atau melalui pesan online di www.hokben.co.id, dan HokBenApps yang tersedia di Google Playstore & Apple Store, pesanan melalui kendaraan lewat (Drive Thru), acara ulang tahun (Birthday Party), serta pesanan dalam jumlah besar (Large Order). Tahun 2020, HokBen memperkenalkan konsep HokBen Kitchen, yakni outlet yang hanya melayani pesanan dibawa pulang (take away) dan delivery.

Sebagai merek asli Indonesia HokBen telah menerima berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional seperti : Penghargaan dari HerStory Indonesia Moms Favorite Kids Brand Awards 2022 in category ‘kids Restaurant’, Indonesia Best Millenial Women Brand Choice 2021 with Great Marketing Strategy in category Fast Food dari Warta Ekonomi, Penghargaan ‘Millenials Top Brand Awards’ dari Warta Ekonomi di tahun 2019, Brand of the Year 2017 – 2018 Quick Service Restaurants Indonesia dari World Branding Awards, dan Top 3 Most Powerful Restaurant Brand in Indonesia dari Survey Brand Asia 2017 Nikkei BP Consulting, Inc cooperation with Markplus,Inc 

HokBen Sudah Bersertifikasi Halal

Penting gak sih makanan halal itu? Buat kami orang muslim tentu ini sangat penting.  Halal berasal dari kata arab ḥalāl yang artinya “diperbolehkan”. Jika makanan sudah halal berarti makanan tersebut thayyib dan layak dikonsumsi. Juga bermanfaatkah bagi kesehatan.

Aku jadi banyak tau tentang sertifikasi halal dari mengikuti perbincangan tentang Pentingnya Makanan Halal. Aku jadi banyak mengerti bahwa dalam pembuatan sertifikat halal begitu banyak detail yang harus diperhatikan. Begitu jelinya para tim sertifikasi halal dalam melihat komposisi suatu produk untuk menjamin kehalalannya. Dan jujur saat mendengar perbincangan tersebut aku menjadi semakin yakin bahwa logo halal bukan hanya tentang bisnis semata. Tetapi tentang bagaimana antara pembuat makanan dan konsumen merasakan thayyib didalamnya. Sungguh, kalau aku memiliki bisnis kuliner maka aku gak akan berpikir dua kali sih untuk membuat sertifikat halal. 

Restoran HokBen sendiri memiliki Sertifikat Halal no. 00160048830908 dari MUI dan Sertifikat Sistem Jaminan Halal No. HC182/LPPOMMUI-CVR/X/2021. Jadi, tak hanya memiliki sertifikat halal saja tapi juga memiliki sertifikat jaminan halal. Aku baru tahu kalau keduanya berbeda. Nah, tapi untuk bisnis makanan sendiri sebenarnya tak melulu harus kok memiliki sertifikat jaminan halal, Prioritasnya adalah sertifikat halal dulu.

Senangnya Nyicipin HokBen di Kota Sendiri

https://www.instagram.com/reel/Cpl2ywcJYqP/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

Merasa senang saat mengetahui HokBen Pasti Aman dan Pasti Halal. Maka, aku pun langsung kepo mencoba bento yang telah dibagikan padaku. Oh, ternyata begini ya namanya Bento yang hits kata Pica itu. Ah pantesan dia pengen nyoba sesekali. Memang sih, di Banjarmasin belum ada restoran Bento yang hits macam HokBen ini.

Hal yang pertama aku cicipin itu adalah nasinya. Ya Allah, rasanya enak sekali. Jujur, ini tuh memang jauh banget dari nasi ala banjar yang berasnya bahkan masih terlihat utuh. Haha. Tapi, tekstur dan rasanya enak. Kalau makan nasi HokBen aja tanpa lauk kayaknya aku oke aja deh. Karena nasinya itu macam nasi yang ada pada sushi, kurasa seperti memiliki campuran beras ketan di dalamnya dengan rasa yang gurih. Hmm.. Apakah nasi dorama jepang yang sering aku tonton juga memiliki rasa yang sama ya?

Terus, aku menggigit Ebi Furainya, hmmm… Kok bikinan aku gak seumami ini ya. Anak aku mesti coba nih. Karena gak hanya gurih tapi juga punya rasa yang enak. Tori No Tebanya juga enak banget. Aku baru kali ini ngerasain sayap ayam diisi begini. Seringnya sih malah maka ikan isi. Maklum, di banjarmasin rata-rata orangnya suka makan ikan.

Dan rasa yang gak boleh kalian lewatin itu adalah rasa saladnya. Ya Allah, komplit deh. Asemnya, segernya, manisnya. Kurasa, anak-anak yang awalnya gak suka sayur bakal bertekuk lutut di hadapan salad HokBen. Karena salad ini juga loh pagi ini aku iseng melihat stok wortel di kulkas. Mau bikin sendiri. Karena ngerasa kemarin kurang banyak. Hiks Hiks.

Senangnya lagi, selain menu bento ini.. Masih banyak menu lain yang belum aku coba. Aku mau nyoba ramennya. Mau banget nyoba paket lainnya. Dan semua fried menu pengen aku eksplore supaya bisa dapet inspirasi dalam mencoba masakan.

Yuhu, masih bisa deh hari ini kesana. Mumpung ada berbagai rangkaian acara promosi yang telah disiapkan untuk menyambut warga Banjarmasin tercinta. Souvenir-souvenir menarik bisa kita dapatkan dengan pembelian sejumlah tertentu, seperti Payung, Bantal, Tumbler, dan berbagai produk gratis bila membeli dalam jumlah tertentu.

Pada tanggal 10, 13 dan 16 Maret 2023, akan ada hadiah Payung HokBen untuk setiap pembelian 2 Paket Bento Special (1 & 4). Untuk tanggal 11, 14 dan 17 Maret 2023, akan ada hadiah Bantal HokBen untuk setiap pembelian 2 Bento Special (1 & 4). Lalu tanggal 12, 15 dan 18 Maret 2023 akan ada hadiah Tumbler untuk setiap pembelian 2 Bento Special (1 & 4). Pada tanggal 19 Maret 2023 FREE Voucher Makan HokBen 1 tahun senilai Rp. 800.000,- setiap transaksi minimal Rp. 200.000,- (sudah termasuk pajak).

Selain itu juga ada Lucky Dip mulai tanggal 20 Maret 2023 – 7 April 2023 berupa hadiah menarik untuk setiap transaksi minimal Rp. 200.000,- nett. Pada tanggal 10 Maret 2023 – 31 Maret 2023 setiap pembelian Paket HokBen Fried Chicken 2pcs + Nasi + TehBotol Sosro akan mendapatkan harga khusus dari Rp. 61.000,- menjadi Rp. 42.000,- (sudah termasuk pajak). 

HokBend X ReBrick

Para peduli lingkungan pasti agak bertanya-tanya nih saat melihat mika bento HokBen. Itu mikanya dibuang gitu aja ya? Atau di reuse ulang?

Kabar baik nih.. Karena HokBen berkolaborasi dengan Rebricks mengolah sampah plastik mika bekas HokBen menjadi bahan bangunan roster yang kemudian digunakan kembali di HokBen sebagai bagian dari desain interior HokBen Duta Mall Banjarmasin. 1 roster menggunakan 10 plastik mika bekas HokBen. Kalian bisa lihat kan desain roster tempat aku selfie mirror dibawah ini? Iya, itu terbuat dari mika bekas HokBen. Lucu ya, sampah bisa dijadikan desain interior.

Saat ini sudah ada 12 gerai HokBen yang menggunakan eco-roster dan HokBen sudah mengolah 17.380 plastik mika atau sekitar 150 kilogram sampah plastik mika. Wah, kalau sudah begini makan pun tak ada perasaan bersalah pada bumi ya. Keren ah, HokBen

Terima Kasih telah hadir di Banjarmasin ya HokBen. Terima kasih sudah menjadi makanan yang #PastiAmanPastiHalal. Terima kasih sudah menghadirkan makanan yang super enak. Yang bahkan bisa menggeser selera lidah banjar milikku. Dan terakhir, terima kasih atas pengelolaan sampah yang luar biasa kreatif. 

Yuk, temans.. Ke HokBen Banjarmasin juga!

Jika Ingin Istri Seperti Nikita Willy

Jika Ingin Istri Seperti Nikita Willy

Judulmu win.. Bau-baunya pengen nulis tulisan berbau ‘judgemental’ gitu ya?

Ya.. Gak juga sih..Cuma entah kenapa sih ya perbincangan tentang Nikita Willy ini seminggu ini ‘agak ramai’ di sosial mediaku. Ini awalnya, cuma dari aku yang entah kenapa ketika membuka fb tetiba muncul saja reels yang memperlihatkan Nikita Willy sedang senam. Aku sih awalnya mikir positif aja. Kebetulan aku kan sedang ‘senang workout’, jadi mungkin postingan bertema ‘serupa’ akan sering muncul di beranda karena aku juga lagi seneng-senengnya follow akun yang berbau olah raga. Jujur saja sih, aku ‘kurang kepo’ dengan berita-berita artis atau semacamnya. Justru aku tau dengan aktivitas artis kalau memang sedang ada job aja yang mengarah kesana.

Tapi semakin kesini, konten yang diarahkan kadang berupa konten tentang mamak-mamak yang membandingkan dirinya dengan Nikita Wily, atau konten tentang suami yang bertanya kenapa istrinya tak seperti Nikita Willy. Eh, kok jadi lari kesini ya? Padahal follow juga enggak. Aku malah lebih suka nonton animasi Tuk Kutuk sama Santon TV. Aduh, parah nih sosmed kadang penggiringannya sejauh ini. Dan parahnya aku juga nonton sampe abis. Haha.

Ya intinya sih. Tulisan kali ini cuma sebagai reminder aja buat aku maupun suami. Reminder bahwa jika sebenarnya hidup ini sesuai dengan apa-apa yang kita tanam. Bagitupun konsep dalam suami-istri dan sebagai orang tua.

Kualitas yang Diinginkan Suami dari Seorang Nikita Willy

Aku sering sih bertanya-tanya sambil kepo ke kolom komentar emak-emak yang terkesan anu dengan Nikita Willy. 

Pertanyaan seperti, “Ya wajar aja kan Niki begitu. Kan hidup dia dari start sampe milih pasangan beda ama kita.. Kenapa pada dibandingin ‘penderitaan’nya… Ya jelas aja beda. Kita kan dari start emang gak punya goals kayak Niki. Gak pengen jadi artis, memilih pasangan yang mungkin berbeda secara material dengannya. Secara hasil, tentu aja berbeda.”

Tapi mungkin begini.. Ada ‘beberapa suami’ yang begitu mendambakan memiliki seorang istri layaknya Nikita Willy. Yang masih ‘seger’ meski sudah memiliki anak. Bisa workout dengan keringet yang ‘tumpeh-tumpeh’ bikin ngiler. Bisa selalu terlihat sabar anggunly. Kok terasa idaman sekali ya. Mana kalau diliat terus bikin tambah pengen punya istri demikian. 

Ya mungkin memang ada suami yang berkata demikian. Memang ada, suami yang suka membanding-bandingkan kualitas istri orang dengan kualitas istrinya sendiri. Tapi, coba deh bertanya kediri kita masing-masing sebagai seorang istri.. Suami demikian mungkin saja kan cuma suami orang. Bukan suami kita sendiri. Hehe. Kadang, konten di sosial media sering mengarahkan hati kita sebagai istri untuk ‘ngegas’ sama suami kalau suami menekankan hal yang mirip-mirip.

Contoh nih ya.. Contoh aja sih..

Sudah sehari ini suami beli alat lompat tali begini. Awalnya aku kira ini ‘cambuk’. Imajinasiku.. HAHAHA

Trus suami bilang, “Bagus ini buat olah raga sambil nonton drakor. Gak perlu liat instruktur senam lagi..”

Secara logis, aku masih mikir.. “Oh iya.. Suamiku pasti mengabulkan requestku karena aku kemarin ngeluh kalau ngedrakor yang series ini gak produktif. Kemarin aku ngeluh kalau nyetrika sambil ngedrakor kan 1 jam selesai. Kadang badan gak gerak itu gak enak. Coba dibawah subtitle itu ada instruktur senam ya.. Bla bla.. Dan suami mengakali dengan membelikan ini.”

Tapiiii… Akan beda ceritanya kalau begini nih..

“Tapi aku gak bisa makenya. Gak bisa main lompat tali”

“Coba liat video Nikita Willy…”

JENG JENG JENG JENG…..

Otomatis pola pikirku yang sudah teracuni konten emak-emak akan berkata be like.. “TERUS KAMU PIKIR AKU GAK KEK NIKITA WILLY GITU.. MASIH KURANG GITU…”

((Inilah kadang awal konflik rumah tangga yang tak jelas penyebabnya dimulai))

Pertanyaannya, Apakah Pelakunya Nikita Willy atau Konten-konten panas lainnya? Atau sebenarnya.. Ya kitanya aja yang ‘kurang self kontrol’?

Menerima Kenyataan Se- Apa Adanya

Wind, seriusan jadi konflik gara-gara suami beliin alat lompat tali?

Ya enggak sih. Sempat memang terbesit pikiran demikian. Sempat banget. Jujur.. Sampe ‘sekian kali’.. Haha

Tapi aku mikirnya relax aja sih. *Untung saat itu gak lagi PMS juga..HAHA

Aku mikirnya, Ya Allah.. Baek banget suami beliin aku begini supaya bisa kayak Nikita Willy. Kenapa gak sekalian sama budget buat workout diluar juga..*Canda..canda..

“Murah banget ternyata sayang.. Cuma 18rebo..” Kata Suami

Me In Reality.. “Wah murah banget ya.. Baik banget sayang”

Me In Deep Deep Heart Terdalam.. “Terus kamu pikir cukup bikin aku kayak Nikita Willy hanya dengan modal 18ribu aja?” 

Tapi tahan, Inhale Exhale.

Pahami lagi, bahwa inilah suami yang telah aku pilih 10 tahun yang lalu. Suami yang dari kencan pertama saja sudah terlihat bahwa dia begitu ekonomis dalam membeli sekian hal. Suami yang sejak 3x pertemuan sudah jujur bahwa dia memiliki banyak tanggungan. Suami yang juga ingin aku perjuangkan mimpinya karena dia punya semangat yang tinggi sekali. 

Inilah suami yang aku pilih. Bukan suami seperti Nikita Willy. Yang dari sononya memang sudah kaya. Dan aku harus menerima seapa adanya. 

Iya mah.. Aku sebenarnya kurang tau juga awalnya dengan suami Nikita Willy itu siapa. Baru tau justru ketika melihat konten dari @emtrade_id. Oh ternyata ya.. 

Setelah selesai makan malam. Aku kemudian mengobrol dari hati ke hati dengan suami. Berawal dari membahas saham idx8 sampai ‘ehm’ iseng membuka akun emtrade_id yang aku ikuti. Aku memang selalu punya teknik khusus kalau berkomunikasi dengan suami. Karena paham suami lumayan sensitif kalau to the point. Tapi kalau diawali dengan ‘kepura-puraan’ yang tak disengaja pasti bisa paham..

“Empat orang terkaya di indonesia…. Wuah.. Coba deh sayang liat.. Ternyata salah satunya suami Nikita Willy”

Suami kemudian ikut ‘kepo’ melihat kontennya.

“Pantes aja ya..”

“Apanya ka?”

“Ya pantes aja Nikita milih.. “

Whehehe… responnya diluar kendaliku.. Padahal yang aku harapkan adalah.. “Pantes aja Niki walau udah punya anak masih sempat ini itu bla bla.. Kan cuannya juga banyak..”

Tapi aku coba berkata begini.. “Ya gitu.. Niki memilih suami yang sesuai dengan standarnya dan gak salah juga sih milih begitu. Semua punya konsekuensi masing-masing. Seperti Output Niki sekarang.. Pada banyak yang suka kan liat kualitas dia sebagai Ibu anak satu.. Masih cantik, Fresh.. Karena ternyata memang ada suami yang support dibelakangnya.. Jadi dia bisa punya baby sister, pembantu, bla bla..”

“Ya tapi disesuaikan kondisi juga kan..” Kata suami

“Iya, sesuai kondisi. Kadang banyak orang yang pengen istrinya kayak Nikita Willy tapi gak support apa-apa. Istri disuruh kerja 24 jam di rumah. Apa-apa sendiri. Pakai daster dikritik. Yang perlu kita sadari poinntnya sebenarnya adalah mulailah menerima kenyataan seapa adanya. Jika ingin memiliki istri seperti Niki maka harus sadar bahwa Suami pun setidaknya punya kualitas seperti Suami Niki..”

Suami termenung sebentar. Uhuk, mungkin perkataanku kan… Ada benernya.. Hehe..

Saling Meningkatkan Kualitas Pasangan Masing-Masing

“Dibalik suami yang sukses ada istri luar biasa dibelakangnya”

“Dibalik istri cantik terawat ada suami luar biasa dibelakangnya”

Miris terkadang kalau ada fenomena begini. Ada seorang istri yang menemani suaminya dari 0. Menderita bersama dari awal menikah. Melayani suami agar suami bisa sukses. Setelah sukses? Suami bukannya membawa istri untuk bisa mencapai kualitas sukses serupa. Tapi malah membiarkannya dibawah. Ia sibuk mencari hal baru yang lebih menyegarkan. Belum lagi melihat konten seperti Nikita Willy berseliweran, makin lah nafsunya bergoyang. Belum lagi tingkah polah keluarga suami yang mungin tak tau diri, melihat istri suami ‘tidak bersinar’ malah ikut memanasi anaknya agar kawin lagi dengan yang lebih segar. Ada yang demikian? Ada loh. Banyak.

Orang sering berkata bahwa ujian terberat seorang istri adalah ketika ekonomi suaminya diuji. Namun apa yang terjadi ketika ekonomi seorang suami itu sudah sukses? Ramai sang istri yang dikira tak bekerja itu di judge ‘begitu beruntung tanpa usaha’. Diruntuhkan harga dirinya hanya karena di rumah saja. Dilebihkan derajat suaminya agar bisa mendua. Dibiarkan istri yang awal mendampingi layu begitu saja. Saat demikian, saat istri baru menduduki kursi yang sama.. Lihatlah.. Apakah rejeki suami akan sama seperti yang dulu? Hmm..

Maka, benar halnya bahwa ketika kita sudah merasa sukses maka ingatlah siapa siapa yang mendukung kesusksesan itu. Tingkatkanlah kualitas pasangan. Istri yang lelah berjuang mendampingi suami yang dari awal tak seperti Suami Niki misalnya. Ia menikahimu jelas bukan karena silau harta. Maka, supporrtlah dia.

Jujur, meski awalnya aku agak ‘Ngeuh’ melihat alat lompat tali ini.. Aku kembali memahami pola pikir suami. Memahami apa-apa saja yang sudah ia usahakan untuk keluarga. Memasukkan Humaira ke Day Care supaya harga diriku meningkat dengan ikut bekerja. Membiarkanku masuk kantor jam 9 pagi agar bisa workout. Membiarkanku sering izin pada jam siang karena paham tugasku di rumah juga banyak. Meski suami adalah seorang CEO Start Up IT dengan 8 pegawai, tapi aku bisa berempati padanya tentang kenapa aku tak punya ART atau tentang kenapa anak pertama kami hanya masuk SD Negeri biasa. 

Rumah Tangga itu adalah Toleransi Seumur Hidup. Pahami suamimu. Pahami istrimu.

Beri apresiasi, berterima kasihlah, berilah hadiah sekecil apapun.

Siang ini, aku mencoba melompat memakai alat ini. Sejak SD aku benci lompat tali sebenarnya. Karena alat ini mengingatkanku pada teman-teman masa kecil yang membullyku. Tapi aku mulai ingin mencoba berdamai dengan alat ini. Sebenarnya, tujuanku workout lebih pada memperbaiki psikologis. Aku merasa sangat membaik secara psikis sejak workout. Berat badanku masih stay pada 50-52 dengan tinggi 160. Sudah termasuk Ideal. Tapi workout membuat mindsetku jauh lebih baik dipagi hari.

This image has an empty alt attribute; its file name is alat_lompat_tali1-1024x1024.jpg

Baiklah hei..lompat tali..

Mari belajar menjadi Nikita Willy dari level 1. 

IBX598B146B8E64A