Browsed by
Month: October 2021

Pengalaman Belajar SEO bersama Seo Moms Community

Pengalaman Belajar SEO bersama Seo Moms Community

Pernahkah kalian mendengar komunitas bernama SEO Moms Community? SEO Moms Community adalah komunitas belajar SEO yang ramah buat para emak-emak. Ya, Siapa bilang emak-emak gak bisa belajar SEO karena ribet?

Kali pertama aku mendengar SEO Moms Community adalah kala aku membaca salah satu tulisan dari teman bloggerku. Saat itu, aku hanya sekilas saja membacanya. Karena aku berpikir, toh komunitas seperti ini adalah komunitas yang hanya cocok untuk para pejuang konten di mata google. 

Aku yang saat itu hanya mengumpulkan  keinginan menulis karena butuh healing, tak merasakan adanya kebutuhan dalam menimba ilmu SEO. Karena aku merasa, yang aku dapatkan sudah cukup. 

Apa itu SEO Moms Community? 

Jadi, SEO Moms Community ini adalah kumpulan dari komunitas emak-emak yang belajar SEO. Yup, jadi bukan hanya perempuan biasa melainkan perempuan yang sudah punya double dan triple peran. 

SEO Moms Community didirikan pada tanggal 25 Januari 2020. Foundernya adalah seorang praktisi SEO yang dulu tidak begitu terkenal karena beliau bermain underground. Nama tenarnya adalah Qbenk, akun FBnya adalah Bang Q. Nama aslinya M. Sahlan. Didirikan bersama dengan co-founder seorang beauty blogger dari Surabaya. Karena sesuatu dan lain hal co-founder off. Selanjutnya praktis hanya dihandle oleh Founder dibantu oleh para Admin.

SEO Moms Community ini dibuat oleh Bang Q untuk didedikasikan kepada almarhumah ibunya. 

“Kita disini akan belajar SEO dan seluk beluknya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan insyaallah mudah dipraktekkan. Group ini saya dedikasikan untuk almarhum kedua orang tua saya. Terkhusus lagi buat emak saya yang sangat saya sayangi, yang wafat akhir November 2019 lalu.”

Qbenk-Founder SEO Moms Community

Sejak awal tahun 2021 ini, tepatnya pada ulang tahun pertamanya SEO Moms Community dibagi per wilayah. Setiap wilayah dipegang oleh seorang Koordinator. Saat ini ada 5 (lima) grup WA per wilayah yaitu:

1. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta & Jawa Tengah (DIY & Jateng), dengan Wiwin Pratiwanggini sebagai Koordinator.

2. Wilayah Jawa Timur, dengan Dewi Adikara dan Rahmah Chemist sebagai Koordinator.

3. Wilayah Sulawesi – Bali – Nusa Tenggara (Sul-Bali-Nusra), dengan Mugniar Marakarma dan Rizky Masdila sebagai Koordinator.

4. Wilayah Sumatera, dengan Arda Sitepu sebagai Koordinator.

5. Beberapa kota lain yang tidak termasuk dalam wilayah 1-2-3-4 di atas tergabung dalam SEO Moms 4, dengan Lidya Fitrian sebagai Koordinator.

Bulan Oktober adalah bulan dimana aku memberanikan diri untuk ikut belajar bersama SEO Moms Community. Saat itu, Mbak Mugniar mengirimkan pesan di instagram untuk ajakan bergabung. Aku yang merasa bulan ini agak senggang langsung tak berpikir 2 kali lagi. Langsung join begitu saja. Haha

What? Bukannya diawal tadi aku berkata bahwa belajar SEO tidak sesuai kebutuhanku? 

Ya, awalnya begitu. Tapi, tahun 2021 telah mengubah segalanya. 

Blog yang kumiliki begitu terhempas performanya. Dari urusan DA hingga Pageview yang menurun drastis. Sejujurnya, aku sih tidak begitu masalah dengan DA ya. Aku bukan blogger yang begitu mempermasalahkan nilai. Begitupun halnya nilai rapor sekolah tempo dulu (kok jadi curhat). Yang sangat membuatku sakit hati hanyalah perkara page view. Tiga artikel andalan blogku yang biasa bertahan di page one google telah terhempas ke page 5 dan aku benar-benar gak tau alasannya kenapa. 

Sampai kemudian aku berkenalan dengan para pengajar di SEO Moms Community. 

Berkenalan dengan Pengajar di SEO Moms Community

Saat awal memasuki grup chat di Whats App bernama SEO Moms basic 4, aku membayangkan kelas yang serius sekali. Sehingga, hari itu aku memasak dan makan siang lebih awal. Maklum, jam 1 siang kelas sudah dimulai. Takutnya nanti ada absensi seperti di grup belajar online anakku. Takutnya, ada yang video call mendadak. *lalu menyempatkan diri berdandan. Hahaha😌

Tapi, eh ternyata kelasnya benar-benar mendukung kondisi emak-emak. Yang mana tidak bisa fokus akan satu hal. Kelasnya dibilang sangat simple dan sederhana. Namun, efektif. Padahal, hanya dengan obrolan grup di WA saja loh. Kita bisa memantau dan belajar diwaktu senggang dan sebisa kita saja.

Pengajar SEO yang ada di SEO Moms memiliki gaya komunikasi yang santai tapi makjeb plus on point. Namanya adalah Bang Q. Nama aslinya adalah M. Sahlan. Yup, beliau adalah founder SEO Moms yang aku ceritakan diatas.

Selain fokus pada pembelajaran SEO basic, SEO Moms Community juga membuka kerjasama dengan pihak-pihak lain. Beberapa kerjasama yang sudah terjalin antara lain dengan: Qwords, SHer Stories, Niagahoster, Ruang Pulih, dan lain-lain.

SEO Moms Community setiap bulan juga mengadakan kegiatan kopdar online melalui GMeet. Sebagai sarana refresh ilmu dan lepas kangen antar member, admin dan founder.

Belajar SEO On Page bersama Seo Moms Community

Dalam SEO, ada dua teknik optimasi yang harus kita lakukan. Pertama adalah onpage dan Kedua adalah offpage

Optimasi onpage secara umum adalah melakukan optimalisasi pada web atau blog dari dalam. 

Sedang optimasi offpage umumnya melakukan optimalisasi web blog dari luar seperti link building, link wheel dll. 

Dalam pedoman webmaster, Google mengingatkan pentingnya melakukan optimalisasi blog dari dalam. Hal ini di agar algoritma google akan masuk terlebih dahulu ke blog kita dan merayapi struktur yang ada pada blog yang kita kelola

Apa saja yang harus kita benahi dalam struktur onpage blog ini?

Dari pedoman webmaster Google dapat di ambil kesimpulan bahwa ada beberapa teknik yang harus kita lakukan terkait dengan struktur seo on page, yaitu:

1. Judul blog atau title

2. Deskripsi blog

3. Deskripsi penelusuran

4. Tag no index txt

5. Struktur konten

6. Permalink

7. Tampilan dan struktur widget

8. Page speed (experience)

Dari 8 ini tentunya setiap penerapan pada blog tergantung pada platform yang kita gunakan. Dan kadang kala penerapannya diluar sana berbeda-beda dalam pemahamannya

Namun walaupun berbeda pada intinya tujuannya sama, agar blog mudah di rayapi bot dan mudah terindeks. 

Pada awal pertemuan awal, kami disuruh menginstall SEO Meta in One Click.

Menurutku, SEO Meta In One Click ini membantu sekali dalam memperbaiki struktur seo on page. Awalnya, pada bagian title dan deskripsi milikku bertanda warna merah. Setelah diperbaiki akhirnya sudah hijau seperti dibawah ini. Jujur, ini adalah ilmu baru. 

Pertemuan demi pertemuan selanjutnya adalah membahas kedelapan point yang aku utarakan diatas tadi, dari judul hingga page speed. Dan jika aku tulis semuanya disini makan sungguh akan sangat panjang ceritanya. Ehm, apakah aku harus mengajak kalian semua untuk ikutan kelas belajar SEO ini juga? Hihi. 

Sepertinya tidak mungkin aku tuliskan semua pembelajarannya karena memang sangat banyak. Tapi satu hal yang pasti kalian bisa mengikuti kelas belajar SEO ini dengan sangat santai. Kita bisa menyimak pemaparan dan jelas dalam chat WA. Kemudian ada sesi pertanyaan. Setiap minggu juga diadakan google meet. Sehingga bisa lebih jelas mengerti penerapannya. 

Hal-hal yang Kadang Aku Abaikan Perkara SEO

Karena materi pembelajaran terlalu banyak mungkin aku akan menjelaskan tentang beberapa perkara yang sangat aku abaikan sebelum mengikuti kelas SEO ini. Mungkin saja, kalian juga sama sepertiku. Beberapa hal yang aku abaikan tersebut adalah:

-Tidak meletakkan keyword pada bagian yang seharusnya

Aku sudah sering mendapatkan job dari berbagai campaign. Secara umum, aku sadar bahwa keyword harus ada pada judul dan beberapa paragraf pada artikel. Aku toh sudah merasa bahwa caraku itu benar. Buktinya, toh klien tidak pernah komplain. Toh aku juga pernah memenangkan lomba blog dari tulisan suka-suka aku itu. Yang penting, aku suka menulis. No debat. Haha. 

Eh ternyata, keyword itu idealnya selain berada pada judul dan beberapa H2, juga berada di awal paragraf. Dan seharusnya, dalam menulis blog kita mengaplikasikan skema segitiga terbalik. Yang mana inti dari tulisan berada diawal. Dan sisanya adalah curhat serta cerita sampingan. Ehm, aku? Aku sang pecinta cerita fiksi selalu meletakkan curhat dan obrolan tidak penting di awal artikel. Mungkin, bahkan hingga ribuan kata baru deh point utamanya ditulis. Haha

Gak heran kan kenapa artikel-artikel pendek dan on point selalu berada di peringkat pertama google. Dari sekarang, aku harus belajar untuk menulis dengan skema segitiga terbalik. 

-Tidak mengisi deskripsi penelusuran

Dalam menulis blog apakah kita pernah berpikir bagaimana kiranya tampilan blog kita dalam pencarian google? 

Apakah judul yang muncul sesuai dengan deskripsi tulisan di bawahnya? 

Kalau aku, sering missed sih. Meski ada beberapa yang pas. Tapi, yang pas itu biasanya sudah sekian tahun mejeng di google. Nah, yang baru ditulis ini yang sering missed. 

Karena aku sering lupa mengisi deskripsi penelusuran. Seringnya, sehabis nulis ya sudah langsung otw publish. Padahal, bagi pengguna wordpress sepertiku maka aku harusnya bisa mengisinya pada meta description.  

-Permalink yang karakter katanya banyak

Entahlah sudah sebanyak apa tulisan yang aku publikasi dengan permalink yang panjang sekali. Karena aku terbiasa menulis judul yang panjang dan sedikit lebay. Dalam WordPress panjangnya permalink mengikuti panjangnya judul jika tidak diedit. Dan aku? Selalu lupa mengeditnya. Huft

Permalink itu ternyata panjangnya cukup mengikuti keyword. Jadi, jika kita menulis tentang curhat cukup tulis point pentingnya saja dalam permalink. Misal, judul artikel kita adalah “Aku ingin marah-marah terus dan ingin lari dari rumah” mungkin, permalinknya cukup ibu-stress-curhat.

Ya, demikianlah. HAHA

-Struktur widget tema yang aku aplikasikan tidak SEO friendly

Sebelum belajar di kelas Bang Q, aku pernah minta cek up blog pada salah satu suhu blogger. Dan beliau bilang bahwa blogku memiliki thema yang tidak SEO friendly karena struktur widgetnya menyebabkan H1-H2 dan H H seterusnya tidak berurutan.

Hal itu ternyata dibenarkan saat aku mengikuti Google Meet dengan SEO Moms, memang ada beberapa thema blog yang tidak SEO friendly. Maka, aku pun ingin mengganti tema milikku. Tapi, suamiku mencegahnya. Karena katanya, thema blogku sudah aku banget. Maka, yaa.. Dia sendiri yang mengutak atik blogku agar H1 H2 dan H3 nya berurutan.

Belajar SEO untuk Mesin Pencari atau Manusia? 

Pada akhirnya, setelah belajar SEO selama sebulan. Aku kembali merenung dengan tujuanku menulis. 

Apakah aku menulis untuk mesin pencari?

Atau untuk manusia? Atau untuk diriku sendiri? 

Pada akhirnya, setelah menyimak materi demi materi dari Bang Q, akhirnya aku sadar bahwa dalam menulis blog pun mungkin sebenarnya kita memerlukan hal yang dinamakan tak henti untuk terus belajar. 

Tidak apa-apa kok kalau ketika kita menulis blog, tujuan awal kita adalah untuk healing atau untuk sekedar menyalurkan hobi. Kurasa, setiap blogger pun punya latar belakang demikian. 

Tapi, semakin waktu berjalan. Blogging tak melulu tentang hal itu bukan? Kita berkenalan dengan komunitas, kita menemukan circle yang pas untuk kita, dan kita yang awalnya menulis tanpa pamrih akhirnya tau bahwa menulis blog juga bisa dibayar. Kita berkenalan dengan AdSense serta job-job menulis berbayar. Tujuan yang awalnya menyenangkan akhirnya menjadi abu-abu karena tercemar. 

Aku sudah mengalami hal itu. Dan itu tidak apa-apa. Itu sangat manusiawi. 

Itulah yang dinamakan proses untuk bertumbuh. Dan ketika kita belajar SEO, bukan berarti tentang kita menghilangkan kesenangan menulis yang dulu. Justru, itu adalah awal kita membangun hal yang baru. 

Menulis mungkin menyenangkan. Tapi apa artinya tulisan ketika tidak ada pembaca? Bukankah dalam lubuk hati kita, kita juga menginginkan pembaca yang banyak? Memahami inti tulisan kita kemudian merasakan apa yang kita alami. Bukankah sejatinya, kita menulis untuk berbagi rasa? 

Aku mengalami titik balik ngeblog di tahun ini. Ketika algoritma google tak lagi bisa aku pahami. Page viewku turun drastis. Tak ada lagi WA nyasar yang kadang curhat panjang lebar bercerita padaku. Tak ada lagi email penyemangat. Aku merasa tujuan ngeblog ku mulai gamang dan tidak jelas. Akhirnya, apakah aku akan diam saja? Tentu tidak bukan? Aku harus belajar menemukan jalan baru. 

Yaitu dengan memahami google. 

Karena dengan mencari jalan di google, aku mungkin bisa bertemu dengan pembaca-pembaca yang menyenangkan lagi. 

Kalau teman-teman blogger yang lain bagaimana? Ehm, pasti sudah banyak sekali ya yang expert soal SEO ini. Sharing denganku yuk!

Oya, walaupun telat.. Gak lupa aku ucapkan selamat hari blogger nasional. Semoga apapun tujuan kita.. Kita bisa selalu bersemangat dalam menulis.

Pengalaman Menghilangkan Tahi Lalat dengan Laser

Pengalaman Menghilangkan Tahi Lalat dengan Laser

Pengalaman menghilangkan tahi lalat dengan laser

“Kok diilangin Tahi lalatnya mba? Sayang loh.”

Pagi itu aku mendapatkan DM di instagramku setelah malamnya ‘curhat’ tentang kondisi kulitku yang baru saja melakukan laser Tahi lalat. 

Yup, Tahi lalat yang sudah menemani kehidupanku selama 31 tahun itu kini telah menghilang. 

Tidak ada lagi ciri khas yang dulu sering dijadikan orang sebagai ‘penanda’ nama Winda yang tergolong pasaran.

Hari itu, Kamis tanggal 30 September 2021 adalah hari dimana Tahi lalat ku sudah hilang. 

Kenapa Tahi Lalatku harus dihilangkan? 

Ada yang bertanya ‘Kenapa dihilangkan’, namun tak sedikit pula yang kepo dengan bertanya, “Gimana rasanya? Dimana laser nya? Berapa biayanya?”

Tapi ya dasar aku, aku lebih suka membahas kenapa Tahi lalatnya harus dihilangkan dulu di blog ini. Haha. 

Karena, tak sedikit loh yang bilang kepadaku bahwa Tahi lalat yang kumiliki cenderung manis. Meski iya, banyak juga yang bilang bahwa itu terkesan kotor dan mengganggu. Layaknya cemoohan kakak kelasku dulu yang dengan ‘santuy’nya berkata padaku 

“Ih, pantes bau. Ada Tahi lalat lewat besar banget di muka pula.”

But, I’m okay. 

Selama 22 tahun aku hidup, aku tak pernah merasa insecure dengan Tahi lalat yang aku miliki. Karena Mama dan Abahku berkata bahwa Tahi Lalatku tergolong manis. Pun juga dengan beberapa teman di desaku dahulu. Sejujurnya, aku lebih minder dengan bulu tangan dan kakiku yang tergolong panjang. Tapi toh semakin lama aku hidup, aku semakin bisa memaklumi fisikku sendiri yang tak tergolong sempurna. 

I loved my self so much

Kemudian, aku menikah dan suamiku sendiri pernah berkata begini ketika aku tanya tentang tahi lalat.. 

“Baiknya kalau ada duit dihilangkan sih sayang. Keduanya, yang kecil juga.”

Ada perasaan sedikit kecewa sih saat itu. Karena dulu, aku mengira dia suka padaku ya karena dia juga suka fisik aku. Haha, aku memang se ‘geer’ itu. Ternyata, dia juga sebenarnya kurang suka dengan Tahi lalat yang aku miliki. Memang sih cenderung besar. Tapi kan tidak besar banget juga. Dari situ aku mulai merasa kalau ya.. Tahi lalat aku tuh gak bagus-bagus amat sebenarnya. Mungkin Mama dan Abahku bilang itu ‘manis’ ya karena pengen bikin aku percaya diri aja. 

Time Flies.. 

2021 adalah tahun dimana aku memperhatikan ada fenomena yang berbeda dari Tahi lalat yang aku miliki. Awalnya, Tahi Lalatku ini hanya bulat biasa saja. Dilihat dan semakin dilihat lagi, eh.. Kok sepertinya, bagian bawah Tahi lalat seperti meluas begitu. 

Keadaan bertambah parah ketika aku punya hobi baru. Yup, bersepeda keluar rumah. Yang membuatku kadang lupa untuk reapply sunscreen. Aku melek sunscreen sejak ngeblog karena dapat petuah dari para beauty blogger. Tapi, ya aku gak nyangka aja kalau lupa reapply sunscreen bisa bikin Tahi lalat aku jadi abnormal. 

Terus? 

Ya aku biarin. Haha. 

Aku masih berharap mendapatkan fee ngeblog yang lumayan untuk bisa melakukan tindakan laser yang setahuku tidak murah. Aku bahkan melakukan nego pada salah satu klinik yang menawarkan endorse facial untuk hanya melakukan tindakan tahi lalat. Tapi ya ternyata gak bisa. 

Sampai kemudian, bulan September datang. Aku sih berharap ada yang memberiku kado ulang tahun ke klinik gratis. Ckck. Walau kenyataannya apalah itu hanya khayalan semata. Karena ya kali aku nagih blak blakan ke suami. Aku kan bukan tipikal istri yang begitu. 

Semakin dilihat, tahi lalat itu semakin menggemaskan. Karena Humaira belakangan punya hobi megang-megang tahi lalat sebelum tidur. Maka, aku pun memutuskan untuk curhat di igs. Bahwa Tahi Lalatku mulai memunculkan tanda abnormal dan sedikit membesar. Aku jadi takut juga kalau Tahi lalatku sudah termasuk kategori yang ganas.

Akupun mulai bertanya, apakah ada yang sudi kiranya membagikan pengalaman tentang laser tahi lalat? Dan klinik mana yang kira-kira bagus dengan harga terjangkau. 

And finally.. I did it.. 

Terima kasih untuk yang sudah bersedia membagikan pengalamannya. Teruntuk Dr Mila dan acil Nisa yang sudah memberikan rekomendasi sehingga aku memberanikan diri. 

Proses menghilangkan Tahi Lalat

Sesungguhnya pertanyaan netizen ketika aku sudah selesai laser agak sedikit mengejutkan.. 

Seperti, “Di rumah sakit mana mba? Operasinya berhasil?”

Semacam habis operasi cesar saja.. 😂

Karena ya… Sungguh, sebenarnya menghilangkan Tahi lalat dengan laser itu tidak sehoror itu kok. Yang horor hanya dompetmu. 😅

Memang, ada sebagian tahi lalat yang begitu besar. Mungkin namanya bukan tahi lalat ya tapi tompel yang memerlukan prosedur operasi. Tapi, dokter berkata tahi lalatku tidak demikian. Masih bisa dihilangkan dengan laser.

Aku melakukan laser tahi lalat di klinik Dr. Vina Spkk yang ada di jalan Mulawarman Banjarmasin. Kata keluargaku yang juga pernah laser disana, konon menghilangkannya sebentar saja dan harganya terjangkau. Dan, yang membuatku membulatkan tekad ingin segera menghilangkan Tahi lalatnya adalah karena konon bekasnya juga cepat hilang. 

Aku masuk dan diperiksa sebentar. Selanjutnya, aku disuruh berbaring. Dan dokter langsung melakukan bius lokal di 2 Tahi Lalatku. 

Gimana rasanya? Ya nyeri-nyeri gitu pas dibius. Aku gak tau proses detailnya karena mataku tertutup. Yang jelas setelah yakin biusnya sudah aktif, dokter langsung action untuk menghilangkan tahi lalatnya. Aku pun tidak bisa mendeskripsikan alatnya bagaimana dll dsb. Ya karena aku gak bisa liat.. 😂

Aku cuma bisa mencium aroma gosong. Bukan gosongnya ikan yang digoreng kehitaman namun lebih ke aroma gosong karena lupa mencabut setrikaan. Atau gosong karena ada kabel listrik yang terbakar. Ya begitulah. Dan itulah aroma barbeque tahi lalat. 

Aku pikir, proses laser ini setidaknya memakan waktu 30 menit. Ternyata, 10 menit saja sudah selesai. Wow.. 

Aku gak melihat darah, juga gak melihat tahi lalatku yang lepas. Padahal, kurasa ini fase sentimental yang seharusnya aku lewati. Aku tuh pengen loh bilang begini sama tahi lalatnya.. 

“Terima kasih telah membersamai hidupku selama 31 tahun..”

Layaknya Marie Kondo yang selalu bilang demikian ketika ingin membuang barang.. “Arigatou bla bla” *begitulah 😂

Atau, aku juga pengen sebenarnya mengambil tahi lalatnya dan memasukkannya dalam wadah sebagai kenang-kenangan lalu kusimpan di ruangan khusus. Ya ampun, sesentimental itu. 

10 menit sehabis laser tahi lalat, dokter hanya memplester area tahi lalatku dan menyuruhku jangan membukanya selama 1 jam. Jadi aku gak langsung lihat hasilnya. Aku cuma disuruh untuk membeli cream obat dan membayar tagihannya. Sudah itu saja. Jadi, hanya ini yang aku bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Kalian bisa lihat biayanya kan? Yup, 1.040.000 dengan obat creamnya. 

Sepanjang jalan aku mulai sentimental. Tahi lalat itu adalah saksi bahwa dulu, pacar pertamaku pernah berkata bahwa itu adalah hal termanis yang pernah aku miliki. Wkwkwk.. (Woii.. Ember mana emberrrr) 

Tapi disisi lain, suamiku senang sekali ketika aku sudah menghilangkan tahi lalat ini. Setelah pulang, ia langsung memintaku membuka plesternya.. 

Dan.. Jeng jeng… 

APA INI????? 

((MAU VENGSAN)) 

Shock Dengan Bekas Laser Tahi Lalat yang ‘Wow’

Seumur hidup, aku tidak pernah kena cacar. Aku juga tidak pernah memiliki jerawat yang menyebabkan hyperpigmentation lebih dari 3-7 hari, hingga scar besar atau bopeng. Jadi, setelah laser tahi lalat hal yang aku rasakan adalah.. 

Ku menangissss… 

Shock sekali dengan hasilnya. Kalau tahu hasilnya semengerikan ini mungkin aku akan bertanya panjang kali lebar dengan dokternya lagi sehabis laser. Apalagi, saat melihat bercak coklat masih ada ditengahnya. Yang aku pikirkan adalah, “Ini tahi lalatnya masih ada atau enggak ya? Hiks..”

Ingin sekali besok harinya konsultasi ke klinik lagi. Akan tetapi, hal itu aku tahan setelah melihat ‘dompet’ yang mengering. Haha

Maka, yang bisa aku lakukan setelah laser tahi lalat adalah memakai cream yang diberikan padaku secara rutin. Rutin sekali. Bahkan kalau ada yang tidak tertutup sedikit saja langsung aku oles lagi. 

Sebentar-sebentar difoto, sebentar-sebentar ngaca. Dan lihatlah foto-foto hasil ke norakkanku akan prosesnya pada minggu pertama dan kedua. Haha

Makin shock ketika melihat respon Humaira melihatku.. 

“Iiiiy.. Mama iiiy.. ” Katanya sambil melihatku. 

Aku jadi makin minder. Haha. 

Bekas luka sehabis laser yang begitu dalam ini sebenarnya bisa dimaklumi kok. Memang kan tahi lalatnya tergolong besar, sehingga mungkin akarnya juga besar. Tapi aku sering bertanya juga.. Sampai kapan bopeng sedemikian besar begini? Kapan kulitku bisa kembali normal? Bisa pakai foundation lagi bla bla.. 

Kalau kehidupan normal, mungkin banyak yang bertanya dengan bekas laser tahi lalat ini. Untungnya sekarang masih pandemi dan masih diwajibkan memakai masker. 

Sungguh, masker adalah penyelamat rasa pedeku. Haha. 

Proses Menghilangkan Bekas Laser Tahi Lalat

Dari beberapa blog tentang menghilangkan tahi lalat yang aku baca.. Bekas laser tahi lalat ini akan berangsur menghilang setelah 2-3 minggu. Setelah itu, kulit baru akan tumbuh menutupinya. Kulit pink keputihan yang kemudian akan menyamai warna kulit aslinya. 

Aku membaca beberapa blogger yang menghilangkan tahi lalat ini diberikan obat dan cream yang lebih banyak. Jadi, aku mungkin gak bisa menjadikan itu patokan untuk kasus ku yang memiliki tahi lalat lebih besar dengan obat satu cream saja. Yang bisa aku lakukan hanyalah rutin memakai cream yang diresepkan dan berhenti selalu melihat kaca. Karena itu membuat tanganku gatal ingin memegang dan menggereteki permukaan kulitnya. 

Aku hanya memoto keadaan kulitku setiap hari dan seperti yang dilihat keadaan kulitku berangsur membaik bahkan diminggu pertama sehabis laser. Aku yang awalnya ingin konsultasi ulang jadi mengurungkan niat karena sepertinya, bekas kecoklatan yang ada ditengah mulai mengecil. Aku mulai menyugesti diriku sendiri bahwa titik kecoklatan itu hanyalah bekas luka, layaknya bekas luka jatuh yang menjadi kecoklatan dan mengeras untuk melindungi kulit rusak yang tumbuh. 

Memasuki minggu ketiga permukaan kulit bekas laser telah tertutup. Dan menyisakan lobak kecil. Meski begitu, tidak terlalu mengganggu kok. Karena sekali lagi.. KAN ADA MASKERRR.. PAKE MASKER DONG LAGI PANDEMI. *MENCARI PEMBENARAN.. 😂

Nah, aku sendiri sudah berani memakai concealer untuk menutupi lobak kecilnya itu. Dan hasilnya sudah lumayan. Biasanya, aku memakai concealer kalau ada moment tertentu saja. Misal, kalau suami request atau aku juga sedang ingin foto-foto. 

Pemakaian concealer juga tidak mengganggu perawatan bekas luka. Sepulang ke rumah aku langsung menghapus make up dan mengoleskan kembali krim yang diberikan oleh dokter. Selama hampir satu bulan, aku sangat merasakan perubahan signifikan dari bekas laser yang awalnya menyeramkan jadi mulai tertutup. Aku hanya perlu menutupi sedikit bagian hitam disekeliling yang belum sempurna. Selebihnya, waktu mungkin akan menyembuhkannya. 

So, menghilangkan tahi lalat dengan laser? Why not. 🙂

Gerakan Sederhana Muda Mudi untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Gerakan Sederhana Muda Mudi untuk Mitigasi Perubahan Iklim

“Ma, apakah dulu banjir memang semengerikan ini?”

Pica bertanya padaku dengan keheranan sambil melihat tayangan banjir yang terjadi di Barabai awal tahun lalu. 

“Hmm.. Gak juga Pica, dulu ya banjir juga. Tapi, gak sampai merobohkan jembatan dan menghanyutkan banyak rumah begini..”

“Kenapa bisa gitu ya ma?”

“Banyak faktor sih Pica, yang nyata terjadi itu pepohonan ditebang tanpa reboisasi. Tambang dimana-mana. Hutan udah gak kayak dulu. Manusia butuh itu tapi lupa untuk merawat lagi. Air hujan gak terserap. Dan kita belum bicara soal pemanasan global akibat itu semua. Perubahan iklim nyata terjadi akhir-akhir ini. Hiks”

“Perubahan iklim? Maksudnya besok panas hari ini hujan gitu ya Ma?”

“Bukan Pica, lebih rumit dari itu.. Yang jelas ini tanggung jawab kita bersama.”

Perubahan Iklim, Salah Siapa? 

Sebenarnya, perubahan iklim di bumi itu salah siapa? Apakah memang bumi kita sudah terlalu tua? Atau, memang kita sebagai manusia harus sedikit intropeksi diri? 

Perubahan iklim terjadi diawali dengan adanya pemanasan global yaitu kondisi dimana terjadi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang diantaranya terdiri dari karbondioksida, metana, nitrogen dsb. Sehingga membuat konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer semakin meningkat.

GMKG

Kita bisa melihat kenaikan air laut mulai berubah sehingga mengurangi wilayah permukaan pantai, bahkan suhu udara pun juga mulai meningkat. Dan bencana yang begitu membekas di awal tahun 2021 adalah peningkatan curah hujan yang menyebabkan banjir terparah di Kalimantan Selatan. Bahkan, banyak korban tanah longsor di daerah Pelaihari, kampung halamanku dahulu. Sedih sekali jika mengingat kembali. Tak cukup sampai disitu, jembatan yang bertahun-tahun kokoh pun ambruk ditengah bencana banjir. 

sumber gambar: instagram @habarbanua._

Wabah penyakit pun juga turut disebabkan oleh adanya perubahan iklim. Setelah banjir mulai surut, ramai wabah demam berdarah melanda berbagai daerah. Dampak perubahan iklim memang tidak main-main. 

Lantas, salah siapa semua ini? 

Ya.. Zaman semakin maju, manusia yang awalnya hanya butuh sandang pangan papan kini mulai meningkat kebutuhannya. Lama kelamaan, hal yang dulunya hanyalah kebutuhan sekunder meningkat menjadi kebutuhan primer. Karena zaman semakin maju, manusia tak bisa hanya diam di tempat dan ketinggalan. Maka, berbagai inovasi pun terjadi. 

Manusia butuh listrik, transportasi dll. Maka, pertambangan minyak bumi, batu bara dan penebangan hutan pun dilakukan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia. 

Perubahan iklim memang disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca. Tapi, peningkatan itu terutama berasal dari proses industrialisasi, pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan bermotor, penggundulan hutan dan perubahan tata guna lahan, bahkan hal kecil seperti penggunaan aerosol pun ikut berperan.

Sesungguhnya, tidak akan jadi masalah jika saja inovasi diiringi dengan perbaikan. Namun, kadang manusia lupa akan perbaikan. Ia hanya tertarik dengan produktifitas yang tinggi. Atas nama kebutuhan bersama dan adanya keserakahan segala hal menjadi dibenarkan. Kesalahan pun dilakukan terus menerus sehingga menyebabkan hal yang besar. Termasuk itu perubahan iklim. 

Nah, Kalau diperhatikan, kesalahan manusia tak melulu diawali oleh hal yang besar. Biasanya, kesalahan besar diawali oleh kesalahan kecil yang dimaklumi. Sebut saja hal kecil seperti membuang sampah di sungai atau pinggiran pantai. Mereka melihat, oh tidak apa-apa. Toh cuma sampah kecil. Besoknya, sampah-sampah ini bertambah banyak. 

Itu baru permasalahan sampah. Masalah yang sering terjadi di kalimantan atau tempat tinggal ku adalah permasalahan yang lebih dari itu. Setiap musim kemarau, kami harus ‘rela’ menghirup wangi asap pembakaran lahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Atas pembenaran lahan sawit yang dibutuhkan oleh banyak manusia di bumi.

Kami para warga kalimantan juga harus merelakan hutan-hutan yang digunduli demi pertambangan. Hal yang konon lebih banyak manfaatnya bagi seluruh dunia. Tapi kadang, manusia lupa akan manfaat hutan baginya. 

Dan banjir besar pun datang. Hutan kalimantan sudah rusak, tak mampu menampung air hujan.

Aku menyadari bahwa tak hanya penduduk kalimantan yang merasakan dampak dari perubahan iklim. Diluar sana, banyak daerah yang mengalami kerusakan akibat gas buang industri. Banyak pula daerah yang langitnya tak secerah langit kalimantan akibat adanya kerusakan ozon. Aku juga melihat dan membaca keluhan teman-teman yang berada diluar Kalimantan. 

Dari hal itu aku menyadari satu hal. 

Sungguh perubahan iklim adalah tanggung jawab kita bersama. 

Indonesia Mulai Sadar dan Berusaha Untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Jika dampak perubahan iklim bagi kita adalah adanya bencana alam maka bagi petani Indonesia hal ini berpengaruh pada mata pencaharian mereka. Dan tentunya, jika tidak diatasi maka sumber pangan kita suatu saat juga dapat berpengaruh. 

Dulu, petani Indonesia berpegangan pada pengetahuan lokal yang disebut pranoto mongso. Pranato mongso adalah penanggalan yang berkaitan dengan musim menurut pemahaman suku Jawa, khususnya dari kalangan petani dan nelayan. Dengan adanya pranato mongso petani jadi memiliki sedikit panduan terkait waktu tanam, jenis tanaman dan berbagai hal tentang budidaya pertanian lainnya. 

Namun perubahan iklim ini nyata. Dan petani tidak bisa berpegangan pada pranato mongso lagi. Ketika masuk waktu tanam, malah tidak bisa dilakukan karena tidak turun hujan.

Maka, Indonesia terus memperbaiki teknologi pemantauan iklim dan cuaca. Dan berkat pembaruan teknologi pemantauan, prediksi yang awalnya hanya bisa dalam jangka waktu 3, 4 hingga 10 harian berturut turut maka kini bisa dilakukan hingga tiga bulan ke depan. Indonesia kini juga bisa membangun sistem peringatan dini cuaca dan iklim mulai dari prediksi terjadinya banjir, kekeringan, hingga kemungkinan mewabahnya penyakit demam berdarah akibat perubahan iklim.

Ya, pemerintah sudah berusaha untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Pemerintah juga sudah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cara memberikan penundaan bagi yang ingin membuka lahan, restorasi lahan gambut, pembangkit listrik tenaga terbarukan, serta rehabilitasi hutan untuk tujuan sosial. Dan apakah kalian tau? Program langit biru pun sedang ramai dilakukan. Dimana program ini juga memberikan kesadaran kepada kita untuk sadar akan pentingnya memakai BBM ramah lingkungan. 

Tak cukup sampai disitu, berbagai program pun sering diadakan pemerintah. Namun, kita tidak mengetahui persis tentang itu karena tertutup informasi lainnya. Lantas, kita sebagai generasi muda dan tergolong biasa saja bisa melakukan apa sih untuk gerakan mitigasi perubahan iklim? 

Tak Melulu Tentang Hal Besar, Banyak Hal Kecil yang Dapat Kita Lakukan untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Pemanasan global mustahil untuk dihentikan 100%. Tapi, kita bisa melakukan hal kecil untuk menguranginya. Ya, hanya hal kecil. 

Apakah aku sudah bercerita diatas? Bahwa Kesalahan-kesalahan besar yang dilakukan manusia biasanya diawali oleh hal kecil dan tergolong receh. 

Contoh nyatanya adalah tanpa sadar kita membuang sampah kecil. Plastik bekas permen mungkin. Atau sekedar limbah sisa permen karet. Kecil sekali, bahkan mungkin kita tak sadar melakukannya. Tapi, sungguh kita telah berbuat salah pada bumi. Sudahkah kita meminta maaf? 

Kita pun sering menggunakan sumber daya berlebihan. Lupa mematikan lampu, menutup keran air, membuang limbah sembarangan, jajan dan jajan kemudian lupa untuk membereskan segalanya. 

Kita sudah sering mendengar tentang Zero Waste. Namun, atas nama ‘sok sibuk’ maka kita hanya mengabaikannya. Berdalih hanya orang-orang yang tak punya pekerjaan saja yang dapat melakukan itu. Lalu, kita berusaha menghemat pengeluaran hidup dengan dalih bahwa kita tak mampu. Kita merasa sakit hati ketika membeli pertamax, dompet kita menipis. Tapi tak pernah merasa sakit hati ketika mengapresiasi diri dengan setumpuk sampah jajanan online. 

Lalu, ketika bencana datang kita cenderung menyalahkan pihak lain. Merasa hanya orang lainlah yang bersalah atas semua ini. Padahal, tanpa sadar kita juga adalah penyebabnya. Kita turut menikmatinya. Menikmati hasil dari penjajahan terhadap bumi kita sendiri. 

Jika kau ingin mengubah dunia, mulailah dengan merubah dirimu sendiri. 

Maka, yuk.. Dari sekarang kita mulai berbenah diri. Mari lakukan hal-hal kecil sederhana yang bisa dilakukan untuk mitigasi perubahan iklim. 

Aku pun juga memutuskan. Mulai sekarang aku hanya akan berusaha semampuku saja. Dimulai dari merubah kebiasaan diriku sendiri. Dan tentu aku akan memulainya dengan hal yang paling aku senangi. Dimulai dari hobi. Apa saja itu? 

Saatnya Muda Mudi Bergerak untuk Mitigasi Perubahan Iklim, Begini Hal Kecil yang Aku Lakukan bersama dengan Hobi dan Kegiatan Sehari-hari

Apa kalian tau? Bahwa sudah sekitar 1 tahun ini hobiku sudah berubah. Tak lagi hanya menulis di rumah, tak lagi hanya memasak dan mencoba mengulas skincare dan make up. Aku kini sangat menyukai aktivitas bersepeda. Saking sukanya, aku melakukannya setiap hari. Jika aku tak memiliki waktu di siang hari maka aku akan melakukannya di malam hari. 

Kupikir, aku adalah tipe karakter introvert yang menyukai dunia bulat. Aku masih suka kesunyian tentu. Tapi, aku sangat menyukai pemandangan bumi ini. Aku sayang dengan bumi ini. Aku ingin mengelilinginya suatu hari nanti. Dan tentu saja aku ingin mengelilingi Indonesia terlebih dahulu. I loved Travelling! 

Berikut ini adalah hal sederhana yang aku lakukan untuk mitigasi perubahan iklim sesuai dengan hobiku:

1. Menggunakan sepeda kemanapun

Sejak pandemi, mungkin hanya sekitar 2x aku pernah keluar kota. Padahal, kalian tau? Aku sangat suka jalan-jalan. Jadi, aku mengganti hobiku dengan membeli sepeda. 

Sepeda ini benar-benar bermanfaat. Aku bisa memakainya setiap hari. Meski iya, aku memang memiliki anak 1 tahun. Jadi, kemana-mana aku harus menggendongnya. Termasuk saat bersepeda. Tapi, aku menikmatinya. 

Aku ke pasar dengan menaiki sepeda, begitupun untuk membeli hal-hal receh di supermarket. Sepeda membuatku merasa lebih mencintai bumi. Karena setidaknya aku bisa mengurangi efek dari penggunaan BBM. 

Hal kecil, tapi bermakna bagi bumi. Kalian juga bisa mencobanya. Tak melulu harus dengan bersepeda. Kalian juga bisa memulainya dengan berjalan kaki ke warung. 

2. Membawa botol minum dan makan sendiri

Saat bersepeda, aku biasanya membawa tas kecil selempang yang spacenya pas untuk membawa bekal dan botol minum. 

Mungkin terkesan begitu pelit dan hemat karena tak mau jajan di luar. Tapi, sungguh membawa bekal dan minum sendiri membuatku berhenti merasa berdosa karena membeli jajanan yang menggunakan plastik untuk membungkusnya. 

Zero waste saat jalan-jalan bagiku penting untuk diperhatikan para traveller. Karena belakangan aku sering sekali melihat sampah berserakan di tempat wisata. 

Aku ingat, sebelum pandemi aku pernah mengunjungi salah satu pantai. Saat ingin berfoto. Aku baru sadar bahwa disampingku begitu banyak sampah. Hiks sedih sekali. Kenapa para wisatawan harus membuang sampah di pinggir pantai begini? 

Zero waste saat traveling memang terlihat receh. Kita sering memikirkan bahwa mungkin ada saja petugas kebersihan yang membersihkan. Tapi, kita tidak pernah tau sampah itu mungkin saja terus tertumpuk tanpa dibersihkan. Sudahkah meminta maaf kepada bumi?

3. Jika terpaksa bepergian jauh, gunakan transportasi umum

Belakangan, bepergian dengan transportasi umum sering dipandang sebelah mata atas nama gengsi. Padahal, transportasi umum adalah solusi terbaik untuk menghemat penggunaan BBM yang dampaknya bagi bumi itu bisa menyebabkan perubahan iklim. 

Jadi, kenapa harus gengsi menggunakan transportasi umum? Selain lebih hemat, transportasi umum juga membuka pandangan kita akan dunia. Kita bisa melihat berbagai karakter orang dalam transportasi. Kita bisa terkoneksi satu sama lain. 

Aku sangat ingat perjalananku berwisata ke yogyakarta 5 tahun yang lalu. Di dalam bus, aku bisa mengenal sedikit banyak bahasa Jawa. Aku juga tidak merasakan kesunyian karena di dalamnya sungguh ramai sekali. Bahkan, sepertinya perjalanan paling bermakna itu adalah di bus, kereta api, dll. Karena kita jadi bisa melihat banyak hal. 

So, kenapa harus gengsi naik transportasi umum? Kita bisa menjaga bumi dari hal kecil begini, kita juga bisa merasakan kesenangan dari belajar arti keramaian. 

Nah, itu adalah bentuk kepedulianku kepada Bumi dalam hal hobi travelling. Tentu dalam keseharianku juga ada beberapa hal yang aku ubah. Diantaranya adalah

1. Berhenti menggunakan aerosol untuk kehidupan sehari-hari 

Penggunaan aerosol mungkin terlihat sederhana. Tapi, hal ini turut berdampak pada perubahan iklim. Maka, aku sudah lama tidak memakai aerosol dalam kehidupan sehari-hariku. Termasuk untuk disinfektan aerosol di masa pandemi begini. 

Aku lebih memilih deodorant non aerosol untuk sehari-hari, begitu pun dengan obat nyamuk hingga parfum. Dan kalian tau? Ternyata ini berefek positif pada rhinitis yang aku alami. 

Ya, aku adalah penderita rhinitis yang sering kambuh ketika mencium debu maupun merasakan dingin. Ternyata, aerosol juga pemicu rhinitis yang aku alami. 

Berhenti menggunakan aerosol memberi perubahan positif baik bagi bumi maupun bagiku. 

2. Mematikan listrik saat tidak dibutuhkan

Butuh waktu lama bagiku membiasakan diri untuk mematikan lampu sebelum tidur. Karena aku sudah terbiasa dengan suasana terang sejak kecil. Mematikan lampu membuatku tidak bisa tidur dan merasa selalu kepanasan. Tapi, suamiku mengajariku untuk terus belajar. Akhirnya terbiasa. 

Sudah lama keluarga kami menggunakan lampu hemat energi. Aku juga sudah move on menggunakan kipas angin dibandingkan AC. Selain lebih hemat, kipas angin selalu membuatku ingat untuk mengatur timer sehingga kami hanya memakainya di waktu awal ingin tidur saja. 

Kita tidak mungkin menghentikan penggunaan listrik. Sampai kapanpun listrik selalu dibutuhkan. Tapi, kita bisa mengurangi penggunaannya. 

3. Mengurangi apresiasi diri dengan belanja, lalu menggantinya dengan membeli bibit tanaman dan belajar menanamnya 

Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku lakukan baik itu ketika travelling maupun dalam kegiatan sehari-hari. Yaitu, membeli bibit tanaman dan menanamnya. 

Aku melihat banyak para traveller yang mulai membiasakan diri untuk menanam satu tanaman ketika jalan-jalan ke suatu tempat. Selain berharap dengan begitu bumi akan menjadi lebih baik ada kepercayaan tersendiri dari keberhasilan menanam saat jalan-jalan. Kata mereka, mungkin saja kita bisa diberi kesempatan kedua untuk mengunjungi tempat yang sama. Karena tanaman itu memanggil kita. Wah, sebuah kepercayaan yang sangat positif menurutku. 

Well, menjelang Sumpah Pemuda, mungkin aku harus mulai konsisten melakukan semua hal diatas untuk mencintai bumi dan mengurangi dampak perubahan iklim. Maka, aku akan membuat sumpah pemuda versi ku sendiri. Karena aku adalah #MudaMudiBumi

“Aku putri Indonesia bersumpah.. Mulai sekarang aku akan konsisten mengurangi belanja online. Dan mulai menggantinya dengan membeli bibit tanaman. Aku ingin belajar lebih serius untuk menanam tumbuhan. Terutama saat traveling. Semoga aku bisa konsisten melakukan hal positif untuk mencintai bumi seperti yang aku kemukakan diatas..”

Aswinda Utari

Nah, kalian mulai sadar juga kan akan pentingnya mengurangi dampak perubahan iklim? Yuk, sharing denganku hal apa saja yang sudah berusaha kalian lakukan #UntukmuBumiku ? Sekecil apapun itu jika dilakukan dengan konsisten dan bersama-sama maka tentu akan berdampak positif pada bumi. Yuk, #TimeforActionIndonesia ! 

Sumber referensi tulisan:

Channel Youtube InfoBMKG: https://youtu.be/29jyaPIWzFI 

dinaslh.kaltimprov.go.id

Sumber gambar:

www.canva.com

Instagram @habarbanua._

Mata Lelah dan Kabur? Jaga Kesehatan Mata dengan 5 Hal Sederhana

Mata Lelah dan Kabur? Jaga Kesehatan Mata dengan 5 Hal Sederhana

Belakangan, suamiku mengeluh hal yang tidak biasa. 

Ya, kalau biasanya setelah lelah bekerja di komputer seharian suamiku meminta pijat area pinggang. Sekarang dia cuma ingin melakukan satu hal. 

Memejamkan mata dan istirahat. 

Katanya, matanya sedikit kabur belakangan ini. Sehingga setelah bekerja, ia tidak bernafsu untuk sekedar menonton film atau memainkan gadget. 

Lantas, sebagai seorang istri aku harus bagaimana? Hiks

Risiko menjadi Programmer: Sering Mengalami Astenopia

Belakangan, aku sering bertanya tentang kondisi penglihatannya. Apakah benda dekat ini terlihat jelas? Apakah kau bisa melihat benda jauh disana? Apakah bisa membaca tulisan di novel ini? Bagaimana wajahku? Apakah sudah terlihat kerutannya? Haha

Tapi, semuanya normal. Kecuali, ia memang tidak pernah bisa membaca tulisanku yang jelek. Yah, its so normal. 🤣

Penglihatannya hanya kabur ketika ia kelelahan bekerja. Maklum, suamiku adalah seorang proggrammer yang kadang harus 12 jam memelototi komputer dengan kode-kode hitam memusingkan. Jika aku menjadi dia, mungkin saja aku akan mengalami hal yang sama. 

Secara riwayat kesehatan, kami berdua tidak memiliki keturunan mata minus ataupun permasalahan yang lain. Aku pun mulai mencari tau apa sebenarnya hal yang terjadi pada suamiku. Akhirnya, aku berkenalan pada istilah Astenopia. 

Astenopia adalah kondisi kelelahan mata atau mata lelah. Astenopia adalah kondisi umum yang terjadi saat mata kita lelah karena penggunaan yang intens. Menatap layar komputer untuk waktu yang lama atau berusaha untuk melihat dalam cahaya redup adalah penyebab umum dari astenopia. 

Gejala astenopia antara lain adalah adanya rasa lelah, kemang atau berat pada mata (mengantuk), pusing, mata merah hingga disertai dengan penglihatan yang kabur. 

Meski gejalanya hanya sesekali, tetapi jika ini dibiarkan akan berakibat fatal pada kondisi kesehatan mata. Lantas, aku harus bagaimana? 

Lima Hal yang Aku Lakukan Untuk Menjaga Kesehatan Mata

Setidaknya, ada 5 hal yang aku lakukan untuk menjaga kesehatan mata suami. Antara lain adalah:

1. Mengatur ulang Cahaya Pada Gadget

Pencahayaan yang baik saat membaca maupun menggunakan komputer itu sangat penting untuk menjaga kesehatan mata. Terlihat sepele memang tapi itu benar-benar bekerja. 

Dulu, aku juga pernah merasakan hal sama dengan suamiku. Saat itu, aku masih kuliah dan sedang sibuk mengerjakan skripsi. Aku tidak pernah memperhatikan bagaimana cahaya yang baik untuk komputer dan mata. Aku hanya menggunakan semaksimal mungkin. Ternyata itu tidak baik. Setelah aku atur ulang menjadi medium, mataku berangsur membaik. 

2. Istirahat secara rutin

Segala obat dari rasa lelah memang istirahat. Termasuk itu rasa lelah pada mata. Jadi, ketika suami sudah lelah bekerja di depan komputer.. Usahakan dia bisa rebahan dengan maksimal. Tanpa TV ataupun mainan gadget. 

Biasanya, dalam gejala astenopia ringan segalanya bisa kembali normal ketika sudah maksimal beristirahat. Tidur cukup dengan lampu yang dimatikan juga merupakan hal yang memberi kenyamanan pada mata. 

3. Mengompres Mata Lelah

Ini adalah hal receh yang biasa aku lakukan ketika aku mengalami alergi. Ya, aku memiliki riwayat rhinitis, yang mana jika sudah kambuh.. Aku bisa pilek tanpa henti disertai dengan mata yang berair. 

Ternyata, mengompres mata dengan air hangat juga bisa mengurangi kemang pada mata yang lelah. Kita bisa mendiamkan sebentar kompresnya pada mata lalu rasakan mata yang kembali nyaman dan segar. 

4. Memelihara Kebersihan Tangan

Apa hubungannya kebersihan tangan dan kesehatan mata? 

Tentu ada. 

Tanpa kita sadari, kita menyentuh wajah tak terhitung loh setiap harinya. Apalagi mengucek mata. Pasti tanpa sadar sering dilakukan. 

Oleh karena itu, kita perlu sering mencuci tangan. Karena, bisa jadi mata kita sakit dan tidak nyaman ketika ada kuman yang masuk kedalamnya. 

5. Mengonsumsi Nutrisi yang Baik untuk Mata

Vitamin A dikenal sebagai nutrisi yang baik untuk mata. Sehingga segala makanan yang mengandung vitamin A selalu diklaim sebagai kunci untuk nutrisi kesehatan mata. 

Kita selalu mengutamakan makanan wortel untuk kesehatan mata. Dongeng kelinci yang memiliki mata sehat selalu melatar belakangnya. Tapi tahukah bahwa perpaduan dari Lutein dan Zeaxanthin merupakan salah satu nutrisi terbaik bagi mata? 

Ya, perpaduan Lutein dan Zeaxanthin belakangan diketahui dapat menjaga kesehatan makula dan retina pada mata. Sehingga diklaim bahkan bisa mencegah kerusakan mata dan penyakit mata lainnya. 

Dan aku kini sudah tau bahwa kini ada nutrisi vitamin mata yang mengandung keduanya. Namanya adalah Eyevi. 

Eyevi, Nutrisi Kesehatan Mata dengan Kombinasi Rasa Bill Berry dan Red Beet

Finally, aku sudah menemukan nutrisi tambahan yang komplit untuk kesehatan mata. Eyevi yang mengandung Lutein, Zeaxanthin, Blue Green Algae, Vit B Complex, Vitamin A dan Vitamin C. 

Eyevi ini sangat enak dikonsumsi karena berbentuk sebagai minuman serbuk. Yang mana kombinasi Ekstrak Anggur, Red Beet, dan Bill Berry membuat rasanya menjadi manis dan enak. 

Suamiku sudah mencobanya dan ia sangat suka dengan rasanya. Adapun khasiat yang mulai terasa adalah mata lelah mulai berkurang. Semoga, penglihatan yang kabur saat kelelahan juga mulai berkurang. 

Aku juga sudah mencoba rasanya. Untuk sekedar menjaga kesehatan mata aku sangat menikmati rasa dan khasiatnya. Karena aku juga bekerja sebagai blogger dan konten kreator. Sehingga mah tidak mau jadi sering terpapar gadget. 

Eyevi juga sudah memiliki nomor BPOM. Jadi, jangan khawatir dengan keamanannya ya. 

Nah, itu dia pengalamanku untuk menjaga kesehatan mata. Kalau kalian bagaimana? Pernahkah mengalami gejala Astenopia? Sharing denganku yuk! 

IBX598B146B8E64A