Andai Sampai Sekarang Aku Belum Menjadi Ibu

Andai Sampai Sekarang Aku Belum Menjadi Ibu

Pernahkah dalam fase menjadi Ibu.. kalian merasa ingin diam dan merenung sebentar? Merasa lelah sejenak lantas mengingat moment-moment sepuluh atau belasan tahun yang lalu. Mengingat bedanya kita yang dulu, dan kita yang sekarang.

Moment demikian rasanya ingin berlanjut kita khayalkan. Kala melihat pencapaian teman-teman seumur kita. Yang mungkin masih single atau mungkin sudah menikah namun belum memiliki anak. Ada yang sudah menggapai mimpinya. Ada pula yang terus haus menimba strata ilmu. Ah, rasanya.. Jika melihat itu semua.. Kenapa jalan seorang Ibu terasa lambat sekali.

Rasanya seperti lari di tempat. Meski badan merasakan lelahnya. Kalori terbakar. Bodygoals. Namun tak satu pun yang melihat dan menghargai hasilnya.

Ya, pertanyaannya sekarang.. Kenapa sejak menjadi Ibu.. Lelah itu tak terlihat hasilnya? Lalu, andaikah sampai sekarang aku belum menjadi Ibu.. Hasil itu akan terasa berbeda?

Mari sejenak mengkhayal..

Andai Setelah Lulus Kuliah Tidak Langsung Menikah

Dulu, setelah keluarga pacarku datang ke rumah. Aku kira hubungan selanjutnya hanya bergerak ke arah yang ‘lebih serius’. Aku tak paham, bahwa ‘ketika orang tua sudah berbicara serius’ artinya tahap pernikahan semakin dekat. How Childish I am.. Yang menyangka hubungan itu hanya sekedar perekat. Nyatanya kedua belah pihak sepakat untuk mempercepat hari pernikahan. Seperti sedang terjadi sesuatu saja. Jujurly, banyak orang disekitarku bergosip tentang ini bahkan hingga Farisha lahir. Padahal, ya gak tau aja kalau aku sendiri masih berpikir menikah adalah langkah yang terlalu dini saat itu.

Aku sering berandai.. Bagaimana jika hari itu aku berbicara lantang dengan nada yang berbeda. Tegas memutuskan kuliah lagi misalnya. Atau tegas bilang aku butuh waktu lebih. Aku memang tak bisa menjamin hubunganku dan pacarku akan terus baik-baik saja jika berkata demikian. Tapi, kadang aku sedikit pede jika mengingat kala itu.. Laki-laki yang suka denganku tak hanya pacarku saja. Mati satu tumbuh yang lain. Pikirku begitu pede.

Apa jadinya aku jika hari itu aku mengambil keputusan berbeda. Apakah orang tuaku acc untuk menguliahkanku lagi. Atau mereka mencak-mencak mengomeliku karena menolak pernikahan lantas membiarkanku begitu saja. Menyuram-nyuramkan langkah hidupku dll. Jujur, ketakutan beginilah yang membuatku takut menolak dahulu. Karena dahulu, keberanianku tak sekuat hari ini.

Ya, aku mengaku.. Sejak menjadi ibu.. Ada kekuatan sendiri yang lahir begitu saja. Dulu, aku tak setegas ini. Dulu.. Aku tak punya keyakinan. Langkahku dibayangi keragu-raguan. Dan entah kenapa rasanya menjadi penurut adalah satu-satunya jalan keluar. Aku sadar, sebelum menjadi ibu.. Aku bahkan tak percaya diri. Tak yakin dengan jalan yang aku pilih sendiri.

Sumber Kekuatanku Muncul Ketika Menjadi Ibu

Jujur, jika sampai sekarang aku belum menjadi ibu. Jika dulu aku memutuskan langkah yang berbeda, mungkin hidupku tak akan seperti sekarang. 

Sebelum menjadi ibu, aku pengecut. Terlalu penurut. Tak punya pendirian. Tak yakin dengan tujuan sendiri. Tapi setelah menjadi ibu, ya.. Awalnya aku seakan menjadi semakin pengecut, semakin penurut, semakin terbawa arus dengan pendapat orang lain. Membuatku berakhir menjadi ibu yang ingin serba sempurna dan anti kritik. 

But time flies. Aku yang sekarang berubah menjadi sedikit lebih berani, mulai berani berpendapat, memiliki keinginanku sendiri, punya tujuan yang jelas. Sumber kekuatanku adalah keluargaku. Anak yang aku lahirkan. Tanpa mereka, entah sudah jadi apa aku sekarang. 

Aku tak bisa mengkhayal. Berandai-andai bahwa aku bisa sukses dan punya banyak impian yang tercapai sekarang. Dengan berdiri sendirian. Khayalan itu kosong. Tak berarti. Andai sampai sekarang aku belum menjadi ibu.. Ada bagian-bagian penting yang mungkin rapuh. 

Karena sejatinya.. Akulah yang memilih jalan itu. 

Aku yang merasa meaningless saat sendirian dan kesepian. Aku yang membutuhkan arah tujuan dari orang lain untuk menyemangati hidupku. Dan dari membersamai suami. Dari membersamai anak-anakku.. Aku jadi tau, apa tujuan hidupku sendiri.

Akulah yang telah memilih menjadi Ibu diusiaku yang masih terbilang muda dan ‘tidak siap’

Aku, bisa saja menyesal. Berkata ini dan itu.

Tapi Allah, punya rencana berbeda. Dan jalan yang dipilihkan Allah adalah jalan terbaik. 

Komentar disini yuk
0 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A