Browsed by
Category: Marriage

Curcol Tentang Drama Love ft. Marriage And Divorce

Curcol Tentang Drama Love ft. Marriage And Divorce

Pernah gak kalian nonton drama berbau perselingkuhan tapi bawaannya slow aja? Gak mau ngegass, gak mau sumpah serapah.. Tapi rasanya kok penasaran.. XD

Hal begini yang aku rasain setelah coba icip-icip nonton drama Love ft Marriage and Divorce. Drama ini udah 2 season loh berjalan dan season 2 sudah berakhir minggu kemarin. 

Jujurly, pas nonton drama ini dari season 1 tuh agak-agak ngantuk sih. Karena dari episode 1-2 itu terlalu banyak komunikasi. Ada sih kejut-kejutnya tapi tidak membuatku penasaran sampai ingin terus menonton. 

Waktu berlalu, eh tetau udah season 2 aja. Rame banget yang ngebahas drama ini di sosmed aku. Merasa terinfluence, akhirnya aku malah ikut menonton lagi. Loncat langsung ke season 2. 🤣

Trus, ngerasa rame.. Dan lanjott. Dibarengi mengejar season 1 yang ketinggalan. Dasar aku, nonton drama suka loncat-loncat. (Kalian ada yang gini juga? ) 

Eh, tapi seru loh. Karena banyak banget pembelajaran yang aku dapet dari drama ini. Tapi, kali ini aku gak mau nulis point pembelajarannya. Gak mau sok bijak karena drama ini gak mengajak buat bijak, tapi mengajak buat belajar dari sisi-sisi yang lain.  So, aku putuskan buat curcol ringan aja deh ya mengenai drama  ini. 

Mengupas Karakter Kehidupan Suami-Istri di Love ft Marriage and Divorce

Mari dimulai dengan pengupasan karakter dan bertanya-tanya, “Sebenarnya, kehidupan pernikahan macam apa yang sedang dijalani jadi suami memilih selingkuh?”

Drama ini diawali dengan pertemanan antara Boo Hae Ryoung, Sa Pi Young dan Lee Si Eun. Mereka bertiga bekerja pada tempat yang sama. Mereka saling akrab dan senang berbagi cerita. Ketiganya punya karakter berbeda-beda pun juga suami yang berbeda profesi dan karakter. Tapi, mereka punya satu kesamaan yaitu.. 

Sama-sama mencintai pasangannya. Lantas, apa sih yang terjadi? 

Park Hae-ryoon dan Lee Si-eun

“Suamimu masih sangat gagah dan tampan. Kamu tidak khawatir ada yang menggodanya di kampus?” – Boo Hye Ryoung

“Ah, suamiku tidak seperti laki-laki kebanyakan. Dia bahkan sangat jarang minum. Apalagi ikut bermain golf seperti laki-laki pada umumnya” -Lee Si eun

“Tapi sebagai perempuan kita tidak boleh lengah. Paling tidak, kita harus merawat diri. Nanti rasa cinta pasangan bisa hilang. Aku tipe yang sekuat tenaga mempertahankan perasaan cinta itu” – Pi Young

“Kalian bisa bilang demikian karena memiliki ART di rumah. Sedangkan aku tidak seperti kalian, aku punya 2 anak dengan kondisi ekonomi berbeda. Sehingga harus menghemat uang dengan mengerjakan semua pekerjaan..” -Lee Si Eun

“Tapi Si Eun.. Kamu memang tidak pernah berdandan sejak masih muda” – Boo Hae Ryoung

“Ya, benar.. Kami tak pernah melihatmu berdandan dan berpakaian layak.. “

Lee Si Eun diam sejenak. Lalu memaksa tersenyum sambil berkata.. 

“Semakin tua usia pernikahan, rasa cinta berubah menjadi sebuah ikatan dan tanggung jawab. Kalian akan paham hal itu suatu hari nanti” -Lee Si Eun

Aku masih mengingat samar-samar percakapan 3 sahabat ini diawal drama. Saat itu, aku sudah punya hard feeling bahwa karakter Lee Si Eun pasti akan jadi karakter istri teraniaya layaknya sinetron ikan terbang. Karena biasanya, drama perselingkuhan pasti diawali oleh penyebab rata-rata begini. Yaitu, istri yang tidak bisa merawat diri. 

Tapi, dalam lubuk hatiku yang digali-gali. Aku membenarkan ucapan Lee Si Eun. 

“Semakin tua usia pernikahan, rasa cinta berubah menjadi sebuah ikatan dan tanggung jawab”

Aku selalu membenarkan hal itu. Dan aku percaya, bahwa memang ada kok tipikal lelaki yang memegang teguh komitmennya. Seberapapun memudarnya pesona kecantikan si istri. 

Tapi, lelaki memang makhluk yang didesain berbeda. Begitupun dengan Park Hae-ryoon. 

Selama puluhan tahun menikah, Park Hae Ryoon selalu berusaha menerima keadaan istrinya. Bagaimana tidak? Soalnya istrinya sempurna kok. Mandiri Finansial, pintar memasak, seorang ibu yang baik. Kekurangannya hanya satu. 

Tidak bisa merawat diri. Karena terlalu memiliki banyak kesibukan di rumah. 

Lee Si Eun merasa bahwa itu bukanlah kekurangan yang fatal. Namun sebaliknya, bagi Park Hae Ryoon.. Ia merasa sudah cukup bersabar untuk menerima hal tersebut. Masalah ‘ranjang’ bagi perempuan bukanlah hal besar. Bagi lelaki, ini penting. Apalagi jika puber kedua menyerang. Itulah awal mula petaka terjadi. 

Khilaf, Park Hae ryoon lupa dengan statusnya yang dulu. Lupa bahwa ia adalah seorang ayah dari anak-anak yang sudah besar. Ia memutuskan bercerai begitu saja. Lari mengejar perempuan yang lain. 

Pan Sa-hyeon dan Boo Hae-Ryoung

Sa hyeon lahir dari keluarga kaya. Dia anak baik-baik dari keluarga yang juga baik-baik karakternya. Ia berprofesi sebagai pengacara dan menikahi Boo Hye ryoung, seorang penyiar radio yang hits dengan program acara Cinta dan memiliki banyak penggemar. Sekilas, tidak ada kekurangan dari pasangan ini. 

Apalagi, pasangan ini memulai pernikahan dengan rasa cinta. Namun berjalan tidak semestinya. Kenapa? 

Hmm, kenapa ya? Padahal Hye ryoung sudah cantik dan bisa merawat diri. Mandiri finansial pula dan sosok yang tangguh pendiriannya. Sangat berbeda dengan Lee Si Eun. 

Konon Hye ryoung tidak mau memasak dan menyiapkan makanan. Bahkan semua masakan hasil pemberian mertuanya pernah hampir dibuang semuanya. Tidak hanya itu, Hye ryoung juga tidak mau memiliki anak. Tapi apa iya karakter begini pantas untuk dijadikan alasan selingkuh

Setelah menonton sekian season, aku baru merasa bahwa Boo Hye ryoung memiliki sifat leadership yang tidak bisa diimbangi dengan Sa hyeon. 

Hye ryoung adalah wanita cantik yang penuh dengan citra. Sa hyeon tidak menyangka bahwa dibalik citra Hye ryoung, banyak kekurangan baru yang tidak bisa diterimanya. Hye ryoung bukanlah tipe perempuan manis yang bisa dengan nyaman diajak berkomunikasi. Rasa cinta itu kian memudar dalam waktu yang terbilang cukup singkat. 

Shin Yoo-shin dan Sa Pi-Young

Bagaimana bisa pasangan yang sama-sama mencintai dan sama-sama sempurna bisa masuk dalam tragedi perselingkuhan? 

Kenapa? 

Kenapa? Why oh whaaaay? 

Sekian episode sering merasa ‘iri hati’ setiap melihat pasangan Yoo-shin dan Pi-Young. Berimajinasi kapan suamiku bisa seromantis itu. Main peluk-peluk kejutan, dikit-dikit kasih hadiah, sebelum tidur makan es krim, tak gendong kemana-mana dan mandi bareng di bak mandi.. Rasanya kok saya dan suami gak ada apa-apanya.. 😭😂 *PLAK.. Ditoyor suami.. 

Yang Laki profesinya dokter jiwa, dan yang Bini profesinya produser. Punya anak satu perempuan dan manis banget. Hidupnya super sempurnaaaaa. 

Yang Laki tanpa cela. Yang bini luar biasa. Hebat keduanya. Bukan hanya bisa berperan sebagai suami istri yang baik. Tapi juga ibu dan ayah yang baik. 

Lantas kenapa suaminya bisa selingkuh??? 

“Aku bisa maklum jika suamiku selingkuh karena aku yang tak bisa merawat diri, aku juga bisa paham dengan hye ryoung yang tidak mau punya anak. Tapi Pi Young.. Aku tidak bjsa mengerti kenapa suamimu bisa berselingkuh?” Si Eun

“Kalian tau? Laki-laki selingkuh tanpa alasan” -Pi Young

Tapi, sungguh tak ada akibat tanpa sebab. Percayakah kalian akan hukum karma? Kupikir, perselingkuhan yang terjadi dalam keluarga ini adalah teguran keras bagi Pi Young atas perlakuannya pada Ibunya selama ini. Ibu yang tidak pernah ia maafkan karena telah memisahkannya dari Ayah kandungnya. Ibu yang bersikeras bercerai karena tragedi selingkuh. Ia tak pernah memaafkan ibunya karena ia belum ‘merasakan’. Mungkin benar kiranya bahwa ‘rasa’ adalah sebuah bahasa komunikasi yang efektif. Rasa itu berbuah penyesalan yang menyakitkan.

Mengupas Karakter Para Pelakor, Apakah Pelakor Itu Jahad? 

Aku sebelum nonton LOVE Marriage vs Divorce, “Pokoknya semua pelakor tuh jahat. Ya logika aja sih, udah tau laki-lakinya dah bekeluarga masih aja gatel.”

Aku sesudah nonton LOVE Marriage vs Divorce, “Kok kagak ada sih kelakuan pelakornya yang jahat? Kok aku jadi ikutan berempati sih? Duh, konslet nih otak.” 🤣

Jadi kalau ada perselingkuhan, yang salah itu siapa? Apa iya semua salah pelakornya? Coba deh kita kupas tuntas karakter masing-masing pelakor disini:

Nam Ga Bin

Kok bisa sih artis musikal yang masih cantik diusia 40an, tergoda sama Hae ryoon. Si dosen yang sudah punya 2 anak gede? Ini yang kegatelan duluan siapa? 

Perselingkuhan terjadi ketika ada kesempatan. Sungguh hati seorang wanita dan pria itu lemah. Makanya, kalau sudah bekeluarga kagak usah deh sok-sok temenan dekat sama lawan jenis. Apalagi pake acara curhat. Yang ada nanti berempati, pelukan bilang hush hush gak papa, saling melihat mata, berbinar-binar, lalu pengen kiss. Ena ena deh.. Lanjott lanjottt… 😌

Karakter Nam Ga Bin ini sebenarnya gak jahat kok. Dia cuma kelewat polos aja gak ngerti sama dunia. Gak ngerti bahwa di dunia ini ada yang namanya anak broken home. *ini kok jadi julidin orang.. 🤣

Tapi serius, awal hubungan Nam Ga Bin sama Park Hae Ryoon itu kan karena tetiba bertemu dalam profesi. Lalu dekat, dekat dan curhat. Nam Ga Bin overall baik. Tapi, dia memutuskan lari ke Park Hae Ryoon ketika ia sedang sedih. Mana Park Hae Ryoon juga lagi ‘sedih’ melihat istri tak terawat di rumah. Jadi deh selingkuh.. 

Entah kelewat polos atau bagaimana ya si Nam Ga Bin ini, sempat emosi juga melihat cara dia ingin berbaikan dengan Lee Si Eun dengan insight polosnya. Seolah-olah menikah dengan Park Hae Ryoon tidak melukai yang lain. Gak bisa paham dengan posisi anak broken home. 

Dan aku sangat menantikan adegan Nam Ga Bin yang sadar bahwa sikapnya yang kelewat polos itu salah. Aku sangat puas dengan ending karakter Nam Ga Bin yang tersadarkan insightnya ketika kedua orang tuanya meninggal. Bagaimana cara ia meminta maaf pada Lee Si Eun. Seketika… kok jadi pengen ikut nangis.. 😭

“Aku tidak tahu kenapa aku bisa begini.. Padahal kedua orang tuaku baik dan mereka membesarkanku dengan penuh cinta.. Bagaimana bisa aku merenggut kebahagiaan keluarga lain” – Nam Ga Bin

A Mi

Gadis muda, cantik, belia, polos, lugu, ceria, baik.. 

Kok mau-maunya nekat maksa nikah sama Yoo Shin yang umurnya berbeda puluhan tahun? Kok bisa merusak kesempurnaan pernikahan orang? Nyuruh cerai segala? Kok egois banget? Kok manja banget. *Kok minta toyor.. Haha 🤣

Kalau enggak kenal sama karakter A Mi, aku yakin didunia nyata sosok begini bakal dibully dan ramai jadi bahan ghibah. 

Tapiii… Apa iya aslinya memang sejahat itu? 

Kalau aku pribadi, menilai sosok A Mi sebagai gadis lugu yang kehilangan sosok ayah di masa kecilnya. Ia merupakan anak diluar nikah yang dibesarkan ibunya tanpa sosok ayah kandungnya. Ia dibesarkan tanpa pelindung dan dipaksa untuk serba mandiri dan kuat. 

Awalnya ia tinggal di amerika, lalu datang ke korea seorang diri. Dengan pribadi yang masih lugu dan rapuh di dalam. Kemudian, bertemu dengan Yoo Shin. Sosok yang ‘tidak tegaan’ karena mungkin berkaitan dengan profesinya sebagai dokter jiwa. Keadaan yang demikian memunculkan benih-benih cinta pada A Mi. Ia pun mulai aktif mendekati Yoo Shin. 

Aku pribadi sih yakin ya.. Sebenarnya, yang dirasakan oleh A Mi bukanlah rasa cinta. Tapi rasa haus akan kasih sayang dan sosok ayah. Yoo Shin menjawab lobang kosong yang ada pada hidupnya. Dan ya.. Namanya juga lelaki.. Lelaki mana sih yang tidak tergoda dengan sosok sepolos dan secantik A Mi? Yoo Shin yang memiliki istri dan keluarga yang sempurna pun lengah dibuatnya. 

Song Won

“Heran deh aku, gemes tuh sama mertuanya Hye Ryoung. Masa anaknya selingkuh tapi mertuanya malah lebih suka sama selingkuhannya dibanding sama Hye Ryoung istri sahnya?”

Aku membaca salah satu komentar netizen di sosmed temanku. Kok aku jadi cengengesan ya. 

Kalian tau apa yang aku pikirkan? 

“Mungkin, kalau aku jadi orang tua Sa Hyeon.. Aku bakal ngelakuin hal yang sama.. ” XD

Hanya di drama korea ada adegan mertua sayang dengan pelakor. Ya, aku sih baru nonton. Entahlah kalian.. Haha. 

Ya gimana gak sayang. Kelakuan palakornya jauh lebih baik dibanding istri sahnya. *lalu aku ikut dibully netizen.. 😂

Song Won ini di mata aku baik banget. Lemah lembut, bisa berkomunikasi dengan nyaman, penyayang, bisa membawa diri. Jauh banget sama karakter Hye Ryoung. Mungkin di mata Sa Hyeon, Song Won dan Hye Ryoung itu bagai langit dan bumi. Kagak ada mirip-miripnya. Haha. 

Ih, kamu kok ngebela karakter pelakor win? Ingat loh dia pelakor! 

Iya, kenapa ya di drakor pelakornya baek banget gini.. Aku jadi kebawa empati.. 😭

Song Won bukanlah gadis muda, bahkan usianya jauh diatas Sa Hyeon. Bukan pula gadis cantik, ia tidak ada bandingannya dengan kecantikan Hye Ryoung. Bahkan dia bukan gadis lagi kok. Melainkan seorang janda. Tuh, cowok mana mana sih yang matanya keseleo mau selingkuh sama Song Won? 

Tapi, Sa Hyeon melihat Song Won tidak hanya dari luar. Tapi dari hati. 

Song Won adalah sosok wanita yang menjawabnya saat berkonsultasi tentang masalah pernikahannya. Song Won yang menyuruhnya untuk terus mengalah dengan Hye Ryoung. Kebaikan Song Won membuat Sa Hyeon jatuh hati daaan.. Selingkuh.. 

Aku : “Lagian kenapa juga sih nyari konsultan pernikahan yang cewek? Kan sudah kubilang laki-laki dan perempuan itu gak bisa saling curhat. Entar saling berempati, pelukan, kisssin lalu ena ena.. Udah lah gitu aja rumusnya pasti gak jauh-jauh” 😂

Intinya, dalam ketiga kasus perselingkuhan. Kasus Sa Hyeon dan Song Won adalah satu-satunya cerita yang bisa membuatku maklum dan mendukung perceraiannya dengan Hye Ryoung. Aku berharap sih, ending drama ini ditutup dengan kelahiran anak Song Won lalu mereka hidup bahagia. 

Tapii.. 

Ending Drama Love ft Marriage and Divorce yang bikin Bengong

Loh loh loh.. 

Ending Drama Love ft Marriage and Divorce kok gini amat?

Kenapa Sa Hyeon nikah sama A Mi sih? Mereka kenalan dimana? Kejar jodoh? Tabrakan dijalan? 

Waduh, kacau.. Kenapa Song Won malah nikah sama Pak Seo? 

Ini lagi kenapa? Kenapa Pi Young kagak balikan sama Yoo Shin? Kok malah nikah sama pacar Nam Ga Bin? 

Terus Ga Bin gimana? Bunuh diri? Mutusin gak akan pernah nikah? Atau jadi ‘gabin barandam’? *hanya rakyat banjar yang paham ini mungkin.. 🤣

Mana nih si Hye Ryoung? Lee Si Eun? Prof Park? Mereka ngapain ya? Main kelereng? 

Apa drama ini akan berlanjut ke season 3? Apakah menjadi semakin seru? Atau jadi unrasional layaknya penthouse? XD

Entahlah apa yang terjadi, tapi aku setuju dengan kata-kata Lee Si Eun.. 

“Kemarin kita bertiga duduk disini. Saling membanggakan suami kita. Tak sampai setahun, kita duduk bersama lagi.. Saling mengeluhkan masalah yang sama. Kita tidak tau bukan apa yang akan terjadi tahun berikutnya? Bisa jadi kalian berdua menikah lagi. Hidup memang penuh dengan kejutan..”

Ya.. Hidup penuh kejutan. 

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha sebisa mungkin. Tak perlu terlalu bangga dengan kehidupan sendiri. Tak perlu pula terlalu rendah diri. 

Perselingkuhan terjadi bukan karena kita yang tak bisa merawat diri, bukan pula melulu karena ketidaksempurnaan lainnya. Adanya celah dan kesempatan adalah sesuatu yang tidak bisa kita perhitungkan, sebaik apapun pasangan yang kita miliki.

-shezahome

Jadi, hal kecil apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal buruk terjadi pada pernikahan kita? 

Hal kecil versi aku: Sering-seringlah bercerita horor kepada suami. Bukan tentang hantu tentu. Tapi tentang cerita horor yang terjadi akibat perselingkuhan.. Dari anak broken home, munculnya bibit-bibit depresi, hingga kendala ekonomi. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang terjadi di masa depan. Tapi setidaknya, andai hal buruk ingin terjadi. Kita bisa berpikir dua kali untuk mencegahnya. Bukankah begitu?

Intinya, kalian yang belum nonton drama ini.. Aku sangat merekomendasikan buat ditonton bareng suami.. Haha

Kalian ada yang udah nonton juga? Curcol sini juga yuks!

Ujian 9 Tahun Pernikahan: Benarkah Komunikasi Adalah Koentji Untuk Semua Permasalahan?

Ujian 9 Tahun Pernikahan: Benarkah Komunikasi Adalah Koentji Untuk Semua Permasalahan?

“Kamu tuh udah dapet pasangan yang baek. Disyukuri, dinikmati. Kalau ada masalah dikomunikasikan. Bukan ngeluh..”

Ucapku pada diri saat itu. Kala itu, aku mengalami ujian pernikahan yang tidak biasa.

Aku selalu meyakinkan diriku bahwa dalam membangun kehidupan pernikahan setidaknya ada 5 ujian kunci pernikahan yang harus ditaklukkan. Yang pertama adalah ujian penerimaan, lalu ujian ekonomi, ujian anak, ujian orang ketiga, hingga ujian mengeluarkan ekspresi atau komunikasi. Konon, yang terakhir merupakan sebuah kunci jika kita menemui sebuah permasalahan.

Aku membenarkan hal itu. Aku belajar bahwa berkomunikasi dengan pria itu tidak sama dengan berkomunikasi dengan wanita. Pria lebih realistis, lebih to the point. Mengebelakangkan faktor emosi. Tidak suka disalah-salahkan, disindir, apalagi diomongkan dibelakang. Sementara wanita? Kadang sedikit emosional dalam berbicara. Sedikit berkaca-kaca, suka baper dan hatinya jauh lebih dominan dibanding otaknya. Sehingga dia lebih suka mengutarakan sebuah rasa alih-alih to the point dalam berbicara.

Kadang aku bertanya sendiri, apakah cuma aku yang berkomunikasi sedemikian baper? Ternyata, most of wanita memang sedemikian. Bukan cuma aku.

Lantas, kenapa Tuhan membuat pola sedemikian? Pernahkah kalian berpikir kenapa gaya komunikasi pria dan wanita itu berbeda?

Ketika Pria dan Wanita Memiliki Perbedaan Gaya Komunikasi

Sudah pernah aku mencoba berkomunikasi seperti ‘teori komunikasi’ kebanyakan. Bagus memang. Teori komunikasi sedemikian banyak bertebaran sehingga tidak membuat repot bagi wanita emosional sepertiku. Peernya hanyalah bagaimana memanipulasi ekspresi saat sedang kesal. Atau berbicara sok lembut seperti, “Aku kesal kamu begini loh, seharusnya kamu begini. Aku tuh enggak suka bla bla. Aku lebih suka kamu menolong aku begini.. La la la”

Diulang-ulang intonasinya. Entah kenapa, aku merasa sedang membunuh karakter dan ekspresiku sendiri.. ���

Ya, aku memiliki garis keturunan yang berkomunikasi mengedepankan emosi. Mamaku sendiri adalah tipikal yang sering blak-blakan hingga meledak marah-marah saat berkomunikasi tak kunjung menuai hasil. Berkaca dengan masa kecil sedemikian. Karakterku sedikit banyak akhirnya menjadi sedikit mirip dengan Mama. Kalau kelelahan suka mengomel dan mengumpat sendiri. Kalau ingin minta bantuan kadang khilaf berteriak sendiri. Hasilnya? Suami kesal mengutukku tukang sindir bla bla bla.

Karena itu aku mencoba berbagai cara skill komunikasi. Ketika emosiku sedang meledak, sebisa mungkin aku menahan keinginan verbal untuk mengutuk dan mencaci. Sebisa mungkin aku mencoba menulis untuk release. Lalu mendaur ulang tulisan menjadi sebuah nasehat untuk diri dan suami.

Tapi sifat itu tak kunjung hilang. Berkomunikasi dengan kode, tidak bisa blak-blakan saat melihat kondisi suami yang kehilangan empati. Suka menangis andai suami tak kunjung merasa bersalah atas kesalahannya. Aku berpetualang untuk menghilangkan rasa-rasa emosional sedemikian. Ternyata, itu memang tidak bisa dihilangkan. Karena, ya begitulah wanita. Dia makhluk bengkok. Tak bisa langsung diluruskan.

Kemudian aku bertanya-tanya sendiri. Mengapa wanita diciptakan sedemikian? Untuk berdampingan hidup dengan pria yang otaknya realistis dan mengesampingkan emosi? Ternyata, titik temunya.. Ada disatu titik.

Titik itu bernama Cinta.

Ternyata, Kunci Pernikahan Tak Melulu Pada Komunikasi

Sering aku mengintip curhatan para wanita pada grup-grup pernikahan yang aku ikuti. Beberapa memiliki problem yang sama denganku. Aku selalu kepo untuk mengintip kolom komentar, sekedar ingin tau apakah ada pemecahan masalah yang pas untuk kondisiku.

Tak cukup mengikuti grup curhat perempuan aku juga mengikuti ig cerminlelaki demi untuk mengetahui bagaimana sudut pandang lelaki dalam memandang sebuah permasalahan. Aku toh tidak ingin egois. Tak melulu perempuan itu benar bukan? Kadang kita sebagai perempuan juga perlu reframing sedemikian rupa dengan sudut pandang lelaki agar pemecahan masalah menjadi imbang. Kuintip caption dan kolom komentar demi mendapatkan jawaban jika permasalahannya mirip denganku. Tapi lucunya, kolom komentar pun dipenuhi dengan caci maki para kaum emak-emak. Walau sebagian ada juga jawaban yang bijak tapi kadang aku cukup tertawa geli dengan komentar-komentar lucu, saklek, tapi benar.

Setidaknya, melihat dan kepo dengan berbagai masalah diluar sana aku jadi percaya bahwa permasalahan rumah tangga itu selalu ada. Dan jawabannya selalu menjurus pada hal yang sama. Yaitu komunikasi.

Lantas apa iya komunikasi adalah jawaban dari sekian banyak pertanyaan? Lantas bagaimana dengan beberapa permasalahan yang sudah dikomunikasikan sedemikian rupa tetapi tak kunjung mendapatkan solusi?

Sebagai contoh, ada seorang istri curhat tentang sulitnya meminta uang lebih jika suatu hari ada keperluan. Entah itu biaya spp anak, biaya darurat karena mendadak ada sesuatu hingga biaya kebutuhan harian yang mendadak habis di pertengahan bulan. Sang Istri mengeluh ketidakcukupan uang bulanan. Ia mengeluh karena tau suaminya memiliki pemasukan lebih banyak dibanding yang suaminya berikan setiap bulan.

“Gimana ya cara komunikasi sama suami, dia cuma beriin aku uang 1,5 juta sebulan dengan kondisi memiliki 2 anak. Sementara aku tau pemasukannya sebanyak 5 juta. Aku tau kami juga memiliki kewajiban tiap bulan sebanyak 1 juta. Aku juga tau dia memberi sebagian kepada keluarganya. Aku sudah berusaha menambah pemasukan dengan berjualan online. Tapi tidak bisa. Kondisiku juga tidak memungkinkan untuk bekerja diluar. Bla bla bla.. Andai saja dia bisa memberikan uang tambahan setidaknya sebanyak 500ribu..”

Salah seorang netizen mengomentari, “Coba komunikasikan sama suaminya. Rinci biaya pengeluaran sebulan. Rinci kebutuhan spp anak kemudian biaya tambahan lainnya. Juga kemukakan bahwa sebagian biaya sudah dihandle oleh pemasukan mba. Tapi tetep enggak cukup bla bla.. Coba kamu ngertiin aku..”

Kemudian si pencurhat berkata, “Aku sudah sering berkata demikian. Tapi jawabannya selalu sama. Dicukup-cukupkan. Aku juga punya kewajiban sama keluargaku. Ibuku aja cukup segini buat sebulan. Masa kamu enggak bisa..”

Dan netizen pun ramai mengutuki sang suami..

“Lo harusnya nyadar diri pak, kalo gak bisa ngasih nafkah sama istri dan anak. Jangan nikahin anak orang. Urus ibu dan sodara dulu. Kasian anak orang ninggalin dunianya demi elu. Eh.. Elu malah gak ngurusin dia. Malah lebih prihatin ke mama lo.” Komentar salah seorang netizen.

Sementara itu, jika kita mencoba reframing ke kondisi suami. Mungkin saja suaminya merupakan generasi sandwich yang memiliki tanggungan berlebih. Maka, sungguh ini merupakan ujian yang berat. Satu sisi suami memiliki kewajiban pada ibunya. Satu sisi istri dan anak pun dalam kondisi kekurangan. Ditambah mungkin suami tersebut kekurangan empati pada perasaan istrinya dalam sulitnya mengelola keuangan.

Yang membuat aku heran adalah ketika membaca jawaban dari suami ketika istrinya sudah mencoba berkomunikasi. Dimana rasa empati itu? Bukankah pernikahan itu dilandasi oleh adanya rasa cinta?

Setahuku, cinta adalah perasaan yang levelnya lebih tinggi dibanding empati. 

Nah, ini baru permasalahan tentang finansial. Permasalahan rumah tangga itu beragam. Dan salah satu yang paling sering aku temui juga tentang kurangnya pengertian antara satu sama lain.

“Mindad, apakah pekerjaan rumah tangga itu sedemikian beratnya? Saya kalau pulang dari kantor malam-malam pengennya bermanja-manja dengan istri. Tapi melihat isi rumah kepala saya pusing rasanya. Mainan anak berserakan. Masakan dingin dan tak tertata di atas meja. Cucian menumpuk disana sini. Padahal istri saya enggak kerja. Melayani saya diranjang pun tidak bisa. Kadang saya datang bukannya disenyumin malah dikasih muka cemberut. Padahal, sewaktu awal nikah dia gak gitu. Tapi ketika kami sudah punya anak dia jadi 180 derajat berubah..”

Dan aku membaca caption di cermin lelaki, begitu bijak jawabannya. Tidak menyalahkan suami dan tidak pula menyalahkan istri. Dari sering kepo ke akun instagram ini setidaknya aku menjadi paham tentang sulitnya bagi lelaki untuk bisa mengerti kondisi istrinya. Karena ia memang tidak bisa merasakan tanpa melihat langsung dan menjalani secara langsung. Otak lelaki, memang didesain sedemikian rupa. Apalagi untuk lelaki yang masa kecilnya merupakan generasi home service. Apa-apa serba dilayani ibunya. Dia tidak akan mengerti bagaimana rasanya mengerjakan setumpuk pekerjaan rumah.

Raca cinta mungkin merupakan pondasi dalam sebuah pernikahan. Ketika rasa ini memudar karena berbagai permasalahan. Tak melulu jawabannya ada pada kurangnya komunikasi.

Simplenya. Sebelum berkomunikasi pastikan suami memiliki modal ‘rasa’. Atau, jungkir balik komunikasi jawabannya akan percuma saja

Mengisi Tangki Cinta dengan Bahasa Cinta Non Verbal adalah Modal Utama Berkomunikasi Verbal dengan Pasangan

“Kamu salah win, dimana-mana komunikasi itu kunci. Gimana suami bisa ngerti kalo enggak dikomunikasikan?”

“Alhamdulillah ya bund kalau suami Anda langsung nyess ngerti ketika memakai jurus komunikasi. Tapi, kadang masalah tidak sesimple itu solusinya. Tidak semua karakter suami paham akan kondisi istri walau sudah berkomunikasi. Pun sebaliknya.. Jika belum ‘merasakan’ masalah apa yang terjadi..”

“Terus gimana caranya?”

Bangun dulu rasa ‘modal’ cintanya. Agar, komunikasinya ‘berasa’.

Kenapa suamiku berubah? Kenapa istriku berubah? Padahal dulu tidak begini. Padahal dulu ia mengerti kode apapun. Sudah aku kasih kode begini. Dulu dia ngerti, sekarang enggak. Masa aku harus langsung blak-blakan? Kemarin aku langsung blak-blakan tapi suami tak kunjung merasa. Tak kunjung mengerti. Malah membuat pertengkaran yang bikin nyesek.

Pertanyaanku, sudahkah tangki cinta masing-masing pasangan diisi sebelum berkomunikasi? Sudahkah kita mencoba untuk merendahkan ego dan berusaha ikhlas dalam mencintai?

Berterima kasih walau sesedikit apapun nafkah yang ia berikan.

Meminta maaf walau tahu bahwa bukan hanya kita yang bersalah.

Maksimal mencoba mencintai untuk mengisi tangki cintanya. Agar ia mengerti apa sebenarnya maksud komunikasi yang kita utarakan.

Tangki cinta adalah modal receh komunikasi yang tanpa sadar sering tidak kita penuhi. Karena kita sering terdesak ego akan kebutuhan yang mendesak. Tentu itu manusiawi. Tapi, membangun rasa cinta sebelum berkomunikasi itu jauh lebih dibutuhkan.

Pertanyaannya, bagaimana cara membangun dan mengisi tangki cinta?

Well, hanya kamu yang tau caranya..

Mengapa dulu ia sangat mencintaimu? Karena ia melihatmu begitu ikhlas dalam mencintainya. Ciptakan rasa itu kembali. Walau seberat apapun rasanya. Kadang, itulah modal untuk membuatnya merasakan kembali rasa yang sama.

Kalian tau? Cinta itu tak melulu tentang komunikasi verbal. Jauh lebih banyak dibangun oleh hal-hal yang berbeda. Komunikasi hanyalah kunci kesekian dari sekian banyak rumus pernikahan. Cinta adalah dasarnya. Dan bahasa cinta non verbal itu jauh lebih bermakna dibanding susunan komunikasi verbal yang dilatih sedemikian rupa dengan ekspresi yang meyakinkan. Perhatianmu, bahasa tubuhmu, ekspresi mata dan bahkan mungkin masakan dan riasanmu bisa saja menambah rasa cinta. Tak melulu tentang itu mungkin. Hanya kamu yang tau.

Untuk lelaki, ketika perempuan merajuk dan mengemukakan berbagai kode. Ketahuilah ia sedang buntu dalam membangun rasa cinta milikmu. Maka, bawakanlah sedikit perhatian. Tak perlu mahal. Tak perlu susah. Semangkok bakso, seikat bunga di halaman rumah. Duh, ketahuilah.. Tangki cinta istri itu sangat mudah terisi. Dan ketika terisi, lucunya.. hilang sudah sekian masalah yang ada dibenaknya.

“Makan tuh cinta win, emangnya bisa hidup cuma dengan cinta aja!”

Well, lantas sebagai manusia yang memiliki takdir berpasangan seperti aku maka harus memulai dari mana sebagai dasar utuhnya pernikahan? Apa iya pernikahan cukup dibangun dengan finansial yang sukses dan prinsip hidup yang sejalan? Lantas kemudian ketika ada masalah kita lupa akan pentingnya memahami rasa? Lupa akan pentingnya cinta. Bukankah cinta adalah pondasi perasaan insan untuk bisa bersatu?

Well, Ini adalah sebuah tulisan receh. Yang aku tulis berdasarkan pengalaman selama 9 tahun menikah. Jika orang melihat kami seperti baik-baik saja, terlihat bahagia bahkan kehidupan ekonomi kami terlihat jauh lebih baik. Maka ketahuilah, semua ada prosesnya. Dan proses itulah yang telah menempa kami menjadi pribadi yang lebih baik dalam memahami pasangan. Karena kami sadar, cobaan hidup boleh saja bertambah. Tapi seni mengenal cinta hingga mengisi tangki cinta tak melulu dibangun oleh komunikasi. Tapi dibangun oleh rasa.

Sudahkah kalian mengenal tentang rasa?

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Pernahkah dalam hidupmu, tangan kiri dan kananmu seakan ditarik oleh dua orang cowok berbeda? 

Yang satu adalah sahabatmu, sedangkan yang satunya adalah orang yang membuatmu terpesona dalam pandangan pertama. 

Ini bukan tulisan ‘sok laku’. Tapi, ini tentang cerita sebuah pilihan. 

Dimana pilihan itu, akan mengubah jalan hidupmu. 

Tentang Petuah Mamak dalam Memilih Pasangan

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, kalau pilih pasangan carilah yang agamanya bagus. Dan derajatnya diatas kita. Supaya kelak enggak direndahkan orang..”

Tapi seiring berjalan waktu, petuah itu berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang agamanya bagus. Dan pekerjaannya tetap. Supaya kelak hidupmu enggak susah..”

Melihat gelagat anaknya tak kunjung memiliki pacar di usia semester 5 kuliah, bahkan malah jingkrak-jingkrak tidak karuan dengan berbagai boyband. Maka petuah mamak pun berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang umurnya enggak seumur sama kamu. Perempuan itu cepat tua. Kalau kamu naksir cowok kayak di TV itu. Ketika sudah punya anak kalian bakal kayak Mamak sama anaknya.. Carilah minimal yang beda umurnya 5 tahun..”

“Tapi Oppa Yunho umurnya 7 tahun diatas aku Ma.. ” Sahutku iseng.

Dan akupun ditimpluk. 

Ah, Mama saat itu belum tau saja. Biarpun keranjingan dengan boyband korea hingga tergabung dalam komunitas game. Serta terlihat sebagai anak rumahan banget. Tetapi, aku ada yang naksir kok. Uhuk. 

“Siapa yang sering ngantar kamu pulang win? Itu temen SMA kamu dulu ya?”

“Iya ma, cuma temen.”

“Lain kali ajaklah makan di rumah..”

Aku mengiyakan sambil ber ‘hehe’. Entahlah feeling Mama tajam sekali. Baru juga sekian kali temanku itu mengantarku pulang. Tapi sudah yakin dan kepedean sekali kalau temanku itu naksir aku. Heh, siapa lelaki yang berani naksir cewek yang sepanjang perjalanan banjarmasin-pelaihari topik pembicaraannya hanya tentang naruto, ninja saga, hingga boyband. Hanya lelaki sangat bodoh yang naksir dengan cewek demikian. Mama riang sekali mengira teman lelakiku itu naksir denganku. Padahal, yang kelihatannya positif naksir denganku itu adalah.. 

Asisten dosen di kampusku. Huahahha.. 

Akupun langsung mengingat petuah-petuah Mama. 

-Agamanya bagus ✅

-Pekerjaan tetap ✅

-Lebih tua 5 tahun ✅

-Bukan personil boyband ✅

Oke ma, kelak kalau suatu hari dia ‘nembak’ aku maka akan aku ceritakan bahwa dia adalah kriteria mama. 

Cinta dan Impian Lalu Kenyataan

Aku tidak tau seperti apa persisnya rasa cinta itu. Hingga kuliah, aku hanya memiliki satu sahabat lelaki yang cukup dekat denganku. Aku tidak malu menjadi ‘apa adanya’ diriku saat di depannya. Bercerita tentang game terbaru, film terbaru, album boyband terbaru, curhat bombay saat memiliki drama dengan teman. Perasaan saat itu.. Tidak ada rasa ‘berdebar’ dan gugup. Layaknya aku membicarakan sasuke atau yunho. *halah

Tapi, aku merasa sangat nyaman bersahabat dengannya. Aku toh tidak perlu merasa tidak nyaman. Berpikir kalau-kalau dia naksir aku misalnya. Hanya cowok tidak waras yang bisa naksir diriku apa adanya. Terutama kalau sudah tau tentang gilanya aku dengan boyband. Lalu betapa konyolnya wajahku ketika dijenguk saat terkena DBD dan tanpa make up satu pun. Belum mandi pula. Sungguh image itu hancur sekali. 

Tapi, dugaanku salah. Persis saat aku bilang kepada temanku bahwa aku sedang ‘kesenangan’ karena chatting dengan asisten dosen di kelasku tentang sebuah kasus di kelas dengan (mungkin) wajah bersemu dan bersemangat. Maka, malam itu dia mengatakan perasaan yang sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya. 

Aku sungguh tidak tau kalau dia memendam perasaan padaku sedemikian lama. 

Dengan pernyataan semendadak itu. Mungkin aku bagaikan ‘Princess Anna’ yang sepersekian lama baru sadar kalau Kristoff ternyata suka padanya. Tapi bedanya, aku benar-benar hanya menganggapnya teman curhat, sahabat baik, atau entahlah apa itu. Tidak ada feeling yang lebih. Hanya perasaan nyaman. Dan aku meyakinkan diriku bahwa itu.. Bukan cinta. 

Berbeda dengan saat aku bertemu dengan asisten dosenku. Penuh semangat, penuh kata-kata motivasi, penuh rasa ingin tahu.. Dan, dia membimbingku kearah jalan yang tidak pernah aku telusuri sebelumnya. 

“Aku tidak tau persis apakah orang yang bisa membuatmu bersemangat itu adalah perasaan cinta? Atau itu hanya sesaat saja..”

Tapi jalan-jalan yang ia nampakkan padaku adalah sesuatu yang realistis. Segala yang ia katakan kepadaku adalah kejujuran, tidak ada bawang di dalamnya. Dia.. Tidak menjanjikan apa-apa padaku.

Entahlah, aku hanya suka saja dengan lelaki yang berpandangan seperti Han Ji Pyong. Bukan berlayar tanpa peta. Tetapi berlayar dengan mempelajari peta, mencari peta. 

Jika Dal Mi bersemangat ketika berlayar tanpa peta.. Maka mungkin aku sebaliknya. 

Mungkin, karena sahabatku itu seumur denganku maka tujuan hidup kami sama-sama abstrak. Mimpi kami sama-sama tidak jelas. Kami masih sama-sama memiliki sisi kekanakan. Dan impian coret tulis coret tulis. Tetapi sahabatku itu selalu memiliki mimpi yang baru. Setiap dia memiliki project, dia memberitahuku seakan minta aku semangati. Dan kami selalu menyemangati satu sama lain. Menghibur satu sama lain. Ketahuilah, punya sahabat cowok itu sangat nyaman. Tidak banyak drama layaknya memiliki sahabat cewek. Setidaknya, sebelum aku tau kalau perasaan itu ternyata ada kemudian menimbulkan ketidaknyamanan. 

Apa yang aku lakukan ketika diriku yang ternyata tak laku-laku tetiba ditaksir cowok secara bersamaan?

Aku langsung merenungi perkataan Ayahku. 

Memilih Berlayar Tanpa Peta Atau Mencari Peta

I’m a Realistic Person

Banyak sahabat yang bergunjing dibelakangku bahwa aku memilih lelaki yang sekarang karena dia memiliki pekerjaan tetap. Tapi, tidak banyak yang tau hal ini bukan?

Bahwa orang yang aku pilih memiliki banyak adik, seorang sandwich generation, seorang anak yatim. PNS dengan gajih yang 50 persen bahkan lebih dipotong untuk hal-hal demikian bukanlah orang yang kokoh secara finansial. Bahkan rentan bangkrut jika suatu hari adik-adiknya juga ikut bertumpu. Terancam tidak memiliki rumah sendiri seumur hidup. Orang mengira aku memilih karena sebuah kepastian masa depan. Padahal, bukan karena itu. 

FYI, kalau boleh jujur mungkin nasib sahabatku jauh lebih baik. Dia anak tunggal, tidak ada tanggungan. Punya banyak space untuk meneruskan mimpi. Tinggal satu daerah denganku sehingga aku mungkin tak perlu berpisah dengan Mama. Bahkan aku bisa meneruskan cita-citaku. Tapi segala mimpinya mungkin tak sejalan denganku. 

Aku memutuskan untuk menjawab ‘Yes’ pada hadiah buku yang dikirimkan oleh Asisten Dosenku.. 

Buku yang surat pembuka didalamnya telah mengunggah hatiku:

…Honestly

I can not commit any promises that every letters that we engraved together are about fulled with good story. 

There can be some chapters that narate sorrow and sadness. Also, I can not promise that the end of our story that we will make it through will be has beautiful ending because.. 

.. I  realize there’s no one who is driving their own fate.. 

Akupun mengetahui latar belakang, masalah hidupnya. Mulai dari masalah finansial hingga masalah psikologis. Tapi, dia jujur padaku bahwa.. 

Dia tidak bisa menjanjikan apapun. 

Entahlah, itu adalah ‘versi bucin’ tergila yang pernah aku rasakan. Ketidakpastian.. Tantangan.. Kegilaan.. Bagiku itu adalah kejujuran yang membangun sebuah komitmen. 

Aku pun langsung teringat petuah Ayahku. 

“Win, kalau milih pasangan itu jangan yang gombal. Banyak menjanjikan macam-macam. Atau, jangan memilih yang tidak punya arah yang jelas dalam hidup. Pilihlah yang dewasa, yang realistis. Yang bisa menunjukkan padamu kalau dunia ini gak selamanya indah. Yang mengajakmu untuk berjuang bersama bukan menjanjikan padamu untuk berstatus layaknya putri raja..”

-Ayah

Aku, memilih seseorang yang tak menjanjikan sebuah kebahagiaan untukku. Tapi mengajakku untuk sadar, bahwa hidup ini bukan tentang mencari bahagia saja. Tetapi juga menghadapi ketidakbahagiaan.. Bersama. 

Win? Bukannya memilih berlayar mencari peta? 

Bukankah aku bilang mencari? Bukan tanpa peta? 

Menghadapi ketidakbahagiaan lantas mencari titik-titik perhentian adalah definisi dari mencari peta untukku.. 🙂

NB: Aku menulis tulisan ini ketika sedang bertengkar dengan suamiku. Lantas membaca lagi kata-katanya dalam buku pertama. Aku menulis ini bukan sedang untuk bernarsis ria dengan masa mudaku. Tapi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa.. Akulah yang memilih menghadapi risiko bersama. 

Iya, bersama.. 🙂 

Bedakan antara Suami Pelit dan Suami Hemat

Bedakan antara Suami Pelit dan Suami Hemat

“Sayang, kayaknya bulan ini keperluannya bakal lebih deh. Buku anak mesti dibeli karena tahun ajaran baru. Pengeluaran yang lain juga ada nih..”

“Ya dicukup-cukupkan dulu bisa gak Ma. Soalnya uang kita juga ngepas kan..”

“Tapi bukannya Papa kemarin dapet uang sampingan dari kerjaan?”

“Ya tapi kan buat Mama. Kan kasian loh adek aku juga masih sekolah.”

Sang Istri pun menunduk lantas tak sengaja meneteskan air mata. Sudah berkali-kali rasanya suaminya seperti itu. Sering sekali. Seakan ia hanyalah orang kedua yang membutuhkan nafkah darinya. Seakan hanya dia-lah yang harus berputar-putar mencari cara agar keuangan rumah tangga kami mencapai kata ‘cukup’. 

Dan kadang, Sang Istri sering bertanya pada diri sendiri.. 

“Apakah suamiku ini pelit? Atau terlalu hemat?”

Suami Terkesan Pelit, Salahkah? 

Abaikan cerita diatas. Berhentilah berimajinasi seolah-olah itu adalah cerita curhat dariku. Jujur, enggak juga sih mirip, tapi aku yakin pasti diantara pembaca disini pernah mengalami posisi yang sama. Terutama di ujian awal pernikahan. Iyakan? Nafkah lahir memang ujian sensitif.

Huft. Yup ujian pernikahan terberat memang pada tiang ekonomi. Masa ketika punya ambisi memiliki rumah sendiri, berdiri sendiri, ditambah sudah memiliki anak dengan gajih yang pas-pasan. Belum lagi soal cobaan menjadi sandwich generation. Digeronggoti sana dan sini. Lalu kemudian keadaan menjadi serba salah. Ingin bekerja, tetapi anak harus bagaimana? Tak bekerja namun keuangan tak memadai. 

Merajuk, tapi kenyataannya tidak bisa. Karena begitulah keadaannya. Lalu kemudian setan-setan mulai berbisik ramai ditelinga.. 

“Dia pelit sekali”

“Bahkan anaknya sendiri tidak penting baginya.”

“Dia lebih memilih Ibunya dibanding dirimu.”

“Harusnya dia menikah dengan Ibunya saja.”

Setan-setan itu, membuat istri yang keadaannya serba salah menjadi bertanya-tanya pula. Lalu kemudian berakhir dengan tetesan air mata. Ingin berkomunikasi takut ditekan lantas dianggap tak bisa mengatur keuangan rumah tangga. Tapi jika terus dipendam maka kapan ada jalan keluar? 

Pernahkah kalian berada diposisi demikian ketika ingin berkomunikasi tentang keadaan ekonomi? Aku? Pernah banget! 

Lalu apa yang aku lakukan? Apakah aku langsung menangis bombay dan berteriak parau dihadapan suami? Tidak. Aku mencari ‘jeda’. 

Jeda itu aku gunakan untuk mengoreksi diri. Mengekspresikan kemarahan melalui jempol-jempolku. Mengukir prasasti pada WA story yang aku atur privasinya. Berharap ada 10 dari teman dekatku yang memiliki nasib yang sama lalu memelukku. Kadang, harapanku tak muluk-muluk. Hanya ingin didengar. Itu saja. Itulah kenapa, diantara 10 kontak itu. Suamiku adalah salah satunya. Aku berharap dia bisa membaca luapan amarah itu. Aku ingin dia tau bahwa aku marah tapi aku takut marah dihadapannya. 

Saat itu setan sedang ramai sekali menari di jemariku. Mungkin mereka tertawa. Aku tidak tau apa yang ada dibenak teman-teman yang membaca status privasiku. Tapi satu hal yang jelas. Aku lega. Dan jeda itu aku ulang lagi dan lagi. Seperti menjadi candu. 

Saat waras menghinggapiku. Dan setan itu sudah lelah dan tertidur. Aku menatap nanar ke arah suamiku yang kelelahan dalam tidur malamnya. Berkata dalam hati, “Mungkin, sebenarnya dia memiliki beban yang tak kalah besar dariku.. Apakah aku yang selama ini menutup mata akan bebannya? Apakah selama ini kami saling memendam rasa karena ‘malu pada beban masing-masing’?”

Bagaimana kalau.. Memang dia tidak punya pilihan? Atau dia takut berkomunikasi? 

Dan hal yang paling aku takutkan saat itu adalah, “Bagaimana kalau ternyata aku tidak dipercayai..?”

Lalu, aku terlempar pada masa lalu. Masa saat kami masih berkenalan dulu. Aku ingat dia pernah berkata padaku.. 

“Dalam kehidupan. Kita harus punya mimpi yang tinggi. Prinsipku adalah aku harus punya mimpi setinggi bintang. Walau senjataku hanyalah tangga. Setidaknya aku punya pijakan untuk melangkah. Walau ujungnya hanyalah atap rumah atau bahkan buah mangga sekalipun. Setidaknya aku sudah menaiki tangga itu.”

Kadang aku melamun dan berpikir. Bagaimana kalau ia sedang membuat anak tangga sendiri? Namun tidak melibatkanku karena ia takut jika aku terlibat maka aku akan memberikan opsi yang tidak maksimal untuk kualitas anak tangganya? 

Jangan-jangan selama ini kami memasang senjata yang salah. 

Ia pelit dan sukar berkomunikasi untuk senjata dan tamengnya. Sedangkan aku diam dan marah untuk senjata dan tamengku sendiri. 

Hidup kami pun pernah mengalami masa-masa itu. Masa dimana kami tidak terbuka, saling curiga. Dia menganggapku tidak bisa mengatur uang karena aku tak pernah melibatkannya. Dan aku menganggapnya pelit karena dia tak pernah mengikutsertakan diriku dalam membangun anak tangganya. 

Akhirnya aku mengerti. Ini bukan perkara pelit. Ini soal saling mengerti. 

Jika Suami Pelit, Mungkin… 

Mungkin sebenarnya.. Dia sedang membangun mimpi. Maka, berusahalah masuk kedalam mimpinya itu. Libatkan dirimu. 

Rasakan bebannya, kemudian ringankan beban itu. Berusahalah memahami. Tekan ego itu, walau butuh sekalipun berusahalah untuk tetap membangun anak tangga itu. Karena pernikahan harus memiliki mimpi. Semua mimpi dilalui dari rasa susah. Ini berat. Banget. Tapi, sebisa mungkin. Berkomunikasilah. 

Jika rasa pelit itu sudah sangat berlebihan tak ada salahnya untuk mencoba jurus-jurus yang pernah aku tulis ini

Baca juga: Jurus-jurus jitu ketika budget keuangan pas pasan

Memiliki suami yang tak paham dengan pengeluaran rumah tangga itu adalah cobaan sejuta wanita. Banyak sekali wanita diluar sana yang memiliki cobaan yang sama apalagi diawal-awal pernikahan. Sesungguhnya, pelit itu tidak bisa disalahkan selama banyak unsur mimpi didalamnya. Seperti yang pernah terjadi padaku. Tapi jika karena faktor lain, mungkin jurusnya pun berbeda pula. Suami pelit itu salah. Tapi tak sepenuhnya salah. Yang bisa kita lakukan adalah meyakinkan diri dan pasangan. 

“Kita harus hemat, bukan pelit..”

Suami Hemat dan Pelit? Apa Bedanya? 

Ya beda dong marimar. 

Suami Pelit itu egois, mengesampingkan kepercayaan dan menganggap goalsnya paling benar. Sedangkan Suami Hemat itu memiliki visi dan misi di masa depan dan melakukannya disertai dengan sifat keterbukaan bersama istri sehingga jikapun ‘susah’ maka susahnya terkesan bersama. Bukan dipikul sendirian. Berjalan masing-masing. Heh, pernikahan macam apa itu. 

See? Dalam menikah itu komunikasi adalah koentji. Termasuk itu dalam hal mengkategorikan suami pelit atau hemat. Mau si Suami punya Duit segudang kek, kalau ‘enggak terbuka’ sama pemasukan dan pengeluarannya.. Maka tetep aja namanya SUAMI PELIT. Catet tuh! 

So, kembali ke pembuka artikel ini. Tentang percakapan diatas, apakah menurut kalian suami tersebut adalah suami yang pelit atau terlalu hemat? 

Suami sudah berkata pada istri bahwa uang sampingannya ia berikan pada keluarganya karena mereka juga membutuhkan. Akan tetapi, ia memberikannya begitu saja tanpa berkomunikasi terlebih dahulu pada istri. Mungkin, suami takut si istri tidak memperbolehkan tindakannya. Apakah itu salah? 

Perlu koreksi diri, apakah selama ini sebagai istri kita sering ‘mendikte’ suami ketika ia memberikan uangnya pada yang lain sehingga menyebabkan adanya ketidak-terbukaan. 

Sebaliknya, reframing diposisi istri. Ketika istri sudah ‘meminta’ itu artinya ia sedang membutuhkan. Maka, tentu saja ia berharap bisa diberi. Kalimat balasan suami sedemikian akan menyebabkan istri merasa dinomor-duakan. Kembali lagi, dalam pernikahan.. Sungguh komunikasi adalah kunci. 

Karena andai saja suami tidak gengsi berkata, “Maaf..” Karena sudah tidak jujur soal uang sampingan dsb. Lalu kemudian berusaha agar ia menunaikan kewajibannya. Maka tentu tidak akan ada konflik dan berburuk sangka dalam diam. 

Jika masalah dibiarkan dan istri selalu ‘diam’ maka suami tidak akan merasa bersalah. Maka harus dikomunikasikan. 

Ketahuilah, permasalahan ekonomi ini adalah tiang dalam kesejahteraan rumah tangga. Maka, keterbukaan adalah penawarnya. Ini bukan soal suami pelit atau hemat aja. Bukan soal ‘mengatur uang’ saja. 

Percayalah, bahkan suami boros sekalipun mungkin masih lebih baik dibanding suami hemat tapi tidak terbuka. Dalam catatan suami boros tersebut terbuka tentang keuangannya. 

So.. Suami Misua Hubby Honey diluar sana.. 

Percayailah Istrimu. Itu saja. 

Ketika Passion Menantu dan Mertua Berbeda, Haruskah ada Perselisihan?

Ketika Passion Menantu dan Mertua Berbeda, Haruskah ada Perselisihan?

“Gak boleh anak perempuan itu begitu. Nanti kalo tinggal di tempat mertua malu loh..”

“Jadi anak cewek tuh harus bisa masak, malu kalo tinggal sama mertua nanti.”

“Ish, masakan rasanya kek gini. Malu ah kalo diicip mertua.. “

***

Mertua, mertua, mertua. 

Belum juga menikah, cerita horor tentang mertua sudah sering menjadi kambing hitam kala sang single tidak becus melakukan pekerjaan. Kenapa sih ya orang suka sekali menceritakan karakter horor tentang mertua. Seolah-olah kita harus menjadi ‘seperti ini’ kalau tinggal dengan mertua. Padahal nih ya.. Kan gak semua mertua itu jahat? Ya kan! 

Selama 8 tahun berumah tangga. Sedikit banyak aku mengerti sekali kenapa hubungan mertua-menantu perempuan itu kadang sedikit rentan dengan gesekan. Kalian tau gesekan apa yang sering terjadi? 

Kalau aku amati sih. Ini bukan karena gesekan mertua horor dsb kek cerita zaman old dulu. Tapi, gesekan yang sering terjadi adalah tentang perbedaan passion dan gaya hidup karena adanya perbedaan generasi. Kalau mertua sih coba deh dicari sisi baiknya, pasti adakok. Ehm bener gak? 

Mendekati Hati Mertua, Bagaimana Caranya? 

“Mertuaku ini suka begini loh. Kalo gak bisa masak sering disindir-sindir gak bisa menghemat duit suami bla bla”

Tentunya gak sedikit dong ya yang mengalami hal demikian. Kadang karena perbedaan generasi, mertua dan menantu perempuan sering berselisih atau menyembunyikan perasaan tidak nyaman. Akibatnya, jadi malas sekali bertemu mertua. Bukan hanya itu, kalau pun bertemu rasanya takut sekali kalau salah ngomong dsb. 

Well, sambil menulis ini.. aku jadi teringat dengan film The Croods. Ada yang tau? Film ini fun banget dan rekomen buat ditonton. Latarnya di zaman prasejarah tentang sebuah keluarga croods yang tinggal di dalam gua lalu kemudian bertemu dengan Guy si manusia modern. 

Sisi menarik yang aku pelajari dalam film ini adalah cara Guy menarik perhatian Grug atau Ayah dari Epp. Well, iya.. Ini memang antara menantu laki-laki dan calon mertua laki-laki. Tapi, sungguh cara ini juga tentu berlaku untuk menantu perempuan dan mertuanya. 

Guy (si manusia modern) punya cara yang jauh berbeda untuk dapat survive dalam hidup. Dan hal ini sering mendapat penolakan dari Grug. Hal ini sangat sama jika dibandingkan dengan kita (sang menantu yang hidup di generasi milenial) dan mertua (yang hidup di generasi baby boomers). Pada akhirnya, walau Grug sering menolak cara-cara Guy.. Akan tetapi pada akhirnya Grug luluh juga. Apalagi ketika melihat anak perempuannya Epp yang bisa menengahi keduanya. 

Dari Guy, aku belajar banyak cara untuk mendekati hati mertua. Pertama, adalah dengan selalu mengikuti pola pikirnya. Kedua, adalah dengan mencoba memasuki kesamaan kebiasaan positif dalam generasinya lalu perlahan membantu dengan cara sendiri. Dan ketiga adalah dengan menghormatinya. Yah, setidaknya berpura-puralah kalau cara mertua adalah yang paling benar walaupun itu kuno dan tidak modern. 

Rumusnya adalah.. Hargai dulu. Karena setiap orang tua butuh hal itu. 

Haruskah Menyamakan Gaya Hidup dengan Mertua? 

Apakah aku sudah pernah bercerita bahwa aku pernah tinggal di rumah mertua selama 1 tahun? Oh sudah ya. Aku pernah menulis sedikit tulisan baper dahulu tentang mertua. Haha. No.. Aku tidak mau menghapusnya. Bisa menjadi pembelajaran buatku untuk move on walau ceritanya begitu amat. Hihi. 

Mertuaku hidup dalam generasi baby boomers dan sangat menjunjung tinggi caranya sendiri untuk hidup. Beliau termasuk pribadi yang keras dan tidak mau mengikuti perkembangan teknologi. Dan beliau bangga akan hal itu. 

Sewaktu tinggal dengan mertua, di hari pertama aku kaget sekali ketika beliau masih menggunakan kayu bakar untuk merebus air. Ya ampun, asapnya kemana-mana. Aku yang sejak kecil alergi dengan debu, bulu kucing, dan asap langsung bersin-bersin ketika menciumnya. Berakhir dengan kikuk meringkuk di sudut dapur. Menggaruk lantai dan bingung mengerjakan apa. Wkwk. (Oke kalimat terakhir sedikit hiperbola) 

Dan tragedi asap ini berlangsung hingga siang hari. Disiang hari mertua terbiasa membuat ikan bakar dengan menggunakan kayu bakar hingga menjadi bara. Walau mataku berbinar-binar karena alergi, aku memberanikan masuk dapur dan pura-pura lihai memasak. Ya, aku mengaku bisa memasak waktu pertama berkenalan dengan mertua. Tapi sungguh tidak tau kalau metode memasaknya sebegitunya. Hihi. 

Well, itu sedikit gambaran hidup dengan mertuaku. Bisa dibayangkan hidup setahun disana sudah begitu banyak cerita suka duka. Mertua memiliki metodenya sendiri untuk hidup. Memasak memakai kayu bakar, tidak mau menggunakan mesin cuci, tidak mau menggunakan pengering, mengepel lantai dengan cara tradisional, semua serba membuat sendiri. Tapi aku tidak mau menurutinya. Well apakah aku menantu durjana?

Aku tetap belajar padanya. Belajar untuk memanggang ikan kesukaan suamiku. Tapi, aku tetap tidak mau menuruti cara yang lain. Kenapa? Karena aku juga punya impian. Dan aku tidak mau impianku terkubur hanya karena menuruti metode mertua dalam bertahan hidup. Karena layaknya film the croods, aku memposisikan diri sebagai manusia yang hidup di generasi berbeda. Tidak mungkin bukan aku harus menuruti cara hidup generasi yang lain bukan?

Karena aku sudah pernah mencoba hidup ‘seperti mertua’ dan psikologisku berakhir bagaikan film Kim Ji Young. 🙂

Mencari Jalan Tengah dari Perbedaan dengan Mertua

Dengan prinsipku yang berubah sedemikian, apakah aku tidak pernah berselisih pendapat dengan mertua? 

Tentu saja sering. Huahaha. Satu tahun hidup satu atap loh. Dan ini termasuk ujian 5 tahun pernikahan yang terberat.

Something like, “Jangan mencuci baju dengan menumpuk 2-3 hari, Memasak ikan harus begini begitu.. Jangan begini, jangan begitu..Begini cara hidup hemat.. Bla bla “

Konflik itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Bahkan Guy dan Greg juga sering berbeda pendapat. Akan tetapi, pada akhirnya ada yang menyatukan mereka berdua. Apakah itu? 

Pertama adalah inovasi. Kedua adalah Epp. Yang dalam hidupku maka aku memerlukan jalan tengah dari suamiku. 

Aku selalu mencoba menghormati cara mertua untuk hidup termasuk dengan kearifan lokal yang dijunjung tinggi. Semuanya mengagumkan. Tapi, aku juga harus berusaha menunjukkan pada mertua bahwa ‘cara hidupku juga benar loh’.

Bahwa aku juga bisa mencari uang dengan caraku sendiri dan tidak perlu berhemat secara berlebihan. Aku juga memiliki cara sendiri untuk merawat diri, tidak terbatas pada cara tradisional saja. Aku juga bisa memasak dengan caraku sendiri, mencuci dengan caraku sendiri, mendidik anak dengan caraku. Aku menghormati cara mertua, tapi tidak bisa meniru semuanya. Karena cara waras kami berbeda. 🙂 

Untuk meyakinkan hal itu maka aku butuh ‘Epp-Ku’ atau Suamiku. Dialah jalan tengahku. 

Dan tentu saja mengatur jalan tengah pun tak semudah yang dikira loh. 

Suamiku adalah fans berat Ibunya. Apapun yang dilakukan ibunya adalah terbaik dimatanya. Awalnya, aku mencoba menjadi sebaik Ibunya untuk mengambil hatinya. Akan tetapi, seiring berjalan waktu aku harus menegaskan padanya bahwa. ‘Aku adalah aku’ dan ‘Aku tak bisa menjadi seperti Ibunya’. 

Alhamdulillah seiring waktu dia bisa mengerti hal itu. Aku selalu menerornya (menuliskan dengan lemah lembut beberapa artikel pernikahan..wkwk) agar dia paham betapa pentingnya menjaga hati istri dan impiannya. And its worked. 

Jadi, setiap ada sedikit perselisihan tentang metode hidup dengan mertua. Suami datang membela, menjelaskan caraku dengan bahasa yang sedap didengar. Sejak itu, mertua sedikit demi sedikit paham dengan diriku. Sebaliknya, melalui ‘dongeng’ suami aku juga perlahan memahami betapa baiknya sifat mertua. 

Dan yaa.. Akhirnya aku dan mertua saling mengerti kehidupan kami masing-masing. Dan kami saling menghargai passion masing-masing. 

Mertua pandai memasak, apapun yang diolah dengan tangannya selalu enak. Mungkin karena kayu bakar itu. 

Dan aku? Aku sedang mencari impianku sendiri. Yang jelas, aku tidak bisa meraihnya dengan kayu bakar. 

Dan mertua sudah memahami itu. Bahwa tanganku berbeda. 

Bahwa aku berbeda. 

Aku adalah aku. Aku tidak mau menjadi seperti mertua untuk mendapatkan kasih sayang suami. 

Suami menyayangiku, karena aku adalah aku. Bukan karena mirip dengan Ibunya atau mencoba mirip dengan Ibunya. 🙂 

Dan tentunya, mertuapun menyayangiku karena aku adalah aku..

IBX598B146B8E64A