Browsed by
Category: Marriage

Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir

Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir

“Gimana ya cara ngomong sama suami, masa aku dikasih segini aja tiap bulan? Padahal udah tau anak nambah. Udah tau biaya sekolah segini, biaya bulanan segini.. Kok masih gak ngerti aja ya.. “

Sebuah diskusi awal dari grup WAG emak-emak yang tentu saja ada aku didalamnya. Sebagai silent reader, aku hanya bisa manggut-manggut membaca chat demi chat yang mengompori maupun menyemangati Ibu tersebut. Ingin sekali rasanya ikut nimbrung. 

Writing.. Tapi delete lagi.. Writing.. Tapi delete lagi.. 

Ya ampun, aku memang gak pede sih kalau ikutan nimbrung di tengah-tengah banyak kepala begini. Akhirnya, kuputuskan untuk menyimak hingga akhir. Dan, selang seminggu berlalu.. Kuberanikan diri untuk menulis blogpost ini.. 

Bagaimana Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir? 

Jujur, selama 8 tahun umur pernikahan.. Aku sangat pernah mengalami hal yang sama dengan Ibu tersebut. Dari awal nikah yang hanya dikasih nafkah 300rb, lalu 1 juta, 2 juta, hingga 3 juta. Aku sendiri? Bukanlah seorang Ibu pekerja. Aku hanya perempuan biasa yang memilih nikah muda kemudian menjadi IRT saja. Tanpa uang sampingan_ Apalagi statement mandiri secara finansial. Ya setidaknya sebelum ngeblog dsb. 

Aku juga pernah menangis di kamar. Memikirkan bagaimana menambal uang sekolah anak. Apalagi ketika sudah ‘meminta’, bukannya uang yang aku dapatkan tapi sebuah keluhan. Seakan aku bukanlah manager keuangan yang pantas dalam rumah tangga untuk diberikan kepercayaan. 

Aku juga pernah memandang iri kepada teman-temanku. Apalagi kepada mereka yang disayang oleh suaminya, padahal mereka tidak sehemat aku dalam mengelola uang. 

Jadi, seandainya bisa.. Aku ingin memeluk Ibu yang mengeluh tersebut. Mengatakan kepadanya.. “I feel you..”

Yah, bagiku.. Tidak cukup berkata sabar kepadanya sebagai semangat. Tidak cukup pula berkata ceramah dsb. Apalagi untuk menguatkan dengan menyuruhnya memulai usaha untuk bisa mandiri secara finansial. Itu bukanlah hak yang bijak ditengah-tengah keluhan itu. 

Tapi, pengalaman 8 tahun menikah membuatku banyak belajar. Bahwa mengatasi suami yang lemah soal nafkah lahir bukanlah hal yang instan. Perlu proses panjang. 

Bahkan jujur saja, aku baru-baru ini saja mendapatkan kepercayaan untuk mengelola keuangan rumah tangga. Bayangkan apa yang terjadi padaku sebelum ini? Aku bahkan pernah menulis tulisan konyol sebagai kode lucu untuk suami. But, no respon. Hahaha

Baca juga: “10 Jurus yang Perlu Istri Ketahui Ketika Jatah Bulanan Kurang

Ah lupakan. Pada akhirnya, jurus-jurus dibawah inilah yang efektif untuk menaikkan jatah bulanan. 

1. Pahami Pola Pikir Suami, Apakah Ia Memiliki Tanggungan Lain? 

Pernah mendengar istilah sandwich generation

Yaitu ketika generasi penerus harus menanggung kebutuhan hidup generasi sebelumnya?

Itulah yang terjadi pada keuangan rumah tanggaku. 

Nafkah yang dimulai dari uang 300rb, tinggal di rumah mertua, lalu memberanikan diri membeli rumah dengan kredit, dapat jatah bulanan 1 juta dengan anak yang masih bayi.. Itulah rumah tanggaku dahulu. Thats why, dulu aku sampai terkena baby blues. Salah satu faktornya karena ekonomi. 

Tapi mau bagaimana lagi? Jika mengingat kondisi sangat tidak memungkinkan untukku bekerja diluar. Akupun juga pernah berusaha berjualan online. Tapi ya.. Begitulah.. Hiks

Dan diatas semua kondisi itu, aku tidak mungkin menyalahkan suami. Tidak mungkin pula untuk menyuruhnya mengutamakan keluarga kami. Menikah dengan suami yang merupakan anak lelaki dari seorang Ibu yang janda serta memiliki beberapa adik yang masih sekolah maka aku juga harus rela berbagi. Itulah risiko yang harus aku hadapi diawal pernikahan. 

Tanggungan-tanggungan seperti ini merupakan hal yang harus kita perhatikan. Ketika suami memberi nafkah kecil karena memiliki banyak tanggungan, maka kita harus berusaha ikhlas. Itulah ujian dalam pernikahan

“Wanita yang mendampingi lelakinya dari masa sulit akan lebih bermakna dibanding mendampingi lelakinya pada masa senang-senangnya saja.. “

2. Bersabar dan Kuat dengan Pola Hidup Sederhana untuk Memperoleh Kepercayaan

Memiliki tantangan sebagai sandwich generation berarti harus menemukan solusi untuk bisa mengatur keuangan. Pilihannya adalah apakah harus menambah pemasukan? Atau hidup super hemat dengan pemasukan apa adanya? 

Sebagian besar tentu akan menjawab menambah pemasukan. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berperan menambah pemasukan itu? Apakah suami harus memiliki usaha sampingan? Atau Istri bekerja diluar? Atau Istri bekerja di rumah saja? 

Percayalah, kami sudah mencoba berusaha menambah pemasukan pada awal-awal pernikahan. Dan Alhamdulillah, pemasukan itu dapat kami tabung sedikit demi sedikit untuk membeli uang muka rumah. Memiliki rumah sendiri adalah prioritas kami saat itu. Walau sebenarnya, sisa uang yang kami miliki karena kredit rumah ini terbilang ngepas. 

Karena itu, tidak ada pilihan lain selain mencoba bersabar dan kuat dengan pemasukan yang ngepas ini. Mau tidak mau, harus bisa mengatur budget yang ada untuk kebutuhan sebulan. Nasi dengan lauk apa adanya, menahan diri untuk tidak membeli skincare, tutup mata dengan kilauan dunia sosial. Itulah perjuangan awal menikah dengan uang yang tidak sampai 2 juta per bulan dan memiliki bayi. 

Oya, aku punya sedikit tips untuk mengatur keuangan rumah tangga dengan budget kurang dari 2 juta.

Baca juga: Tips Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga ala Shezahome

Kadang, suami itu bukannya pelit tentang nafkah lahir. Akan tetapi, memang begitulah keadaannya. 

Kadang, suami itu bukannya tidak mau jujur tentang berapa banyak ia memberi Ibu maupun saudaranya. Tapi ia takut dengan rasa cemburu Istri yang mungkin terbakar karena rasa ikhlas yang turun naik. Hiks

Dan memang sebagai Istri, kita harus sedikit sabar.. Mengikuti pola pikirnya selama beberapa saat kemudian sederhanalah dalam mengatur keuangan agar setidaknya mendapatkan kepercayaan penuh dari suami. 

Tujuan awalku dalam sabar, kuat dan sederhana ini sangat simple sebenarnya. Bukan meminta untuk uang bulanan yang diberikan lebih. 

Aku hanya meminta, “Jujurlah padaku setiap kali kamu memberikan uang pada Ibumu. Aku tidak marah. Aku hanya ingin diberikan sebuah kepercayaan.. “

“Karena aku cukup hemat, aku bisa hidup sederhana.. Akulah manager keuangan terbaik.. Bukan yang lain.”

3. Sesedikit Apapun, Cobalah untuk Berterima kasih Sebisa Mungkin

Terdengar naif ya? 

Kalau diberi uang satu juta untuk sebulan padahal itu sangat kurang.. Apakah masih harus berterima kasih? 

Harus. Itu adalah tanda kita menghargai suami. Karena tenaga suami terisi dari perasaan dihargai oleh Istrinya. 

Tugas kita sebagai istri selanjutnya adalah belajarlah berkomunikasi sedikit demi sedikit tentang perekonomian rumah tangga. Artinya, jangan malu untuk mengeluh pada suami. 

Harga beras naik? Biaya sekolah naik? Keluhkan. 

Tidak ditanggapi? Malah diceramahi karena tidak bisa mengatur uang? Marahlah sesekali. 

Kesal banget? Sampai mau curhat ke teman dan sosial media? 

Itu manusiawi. Semua orang punya masa dimana dia butuh pendengar dan penolong. Aku pun juga sering begitu. 

Tapi sekesal-kesalnya kita dengan suami perihal nafkah yang tidak cukup jangan pernah lupa untuk menghargainya. Bahkan untuk sebijik gorengan saja. Berterima kasihlah. 

“Karena bisa saja dia membelikanmu 10 gorengan. Tapi 9 lainnya ia bagikan. Ia takut memberitahumu karena dirimu tak pernah menghargainya dengan terima kasih. Hati kerasmu telah membuatnya takut dan berprasangka..”

Karena menikah itu adalah tentang saling menghargai. Bagaimana bisa kepercayaan diberikan jika menghargai saja tidak bisa? 

Turunkan ego. Hargai dulu. Kuatlah sebentar dengan rasa itu. Semoga tidak sia-sia. 

4. Milikilah Pilihan Bijak Tentang Meningkatkan Pendapatan

Mari menyambung point nomor 2 tentang opsi lain selain mencukupkan nafkah yang ada yaitu menambah pemasukan. Karena konon sebenarnya inilah jurus pamungkas dibalik ketidakcukupan nafkah. 

Pilihannya adalah, apakah suami harus memiliki usaha sampingan? Atau sebaiknya istri juga membantu secara finansial? 

Semua pilihan baik. Tapi, pilihan terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Karena tidak semua rumah tangga bisa baik-baik saja jika Ibu bekerja. Pun sebaliknya.. Tidak semua rumah tangga bisa baik-baik saja jika suami bekerja terlalu keras hingga LDR dsb. 

Aku sendiri memilih opsi untuk memaksimalkan potensi suami. Suamiku memiliki mimpi besar selain hanya menjadi dosen. Ia memiliki mimpi untuk membangun perusahaan IT dengan bakat programming yang dimilikinya. Mimpi ini sudah lama ia rancang. Tugasku? Mendampingi dan mendukungnya dari awal. Jangan tanya tentang hal yang aku korbankan demi mendukung ini. Aku mengorbankan sebagian mimpiku. But its okay. Mimpiku yang terbaik adalah mendapatkan kepercayaan dari suami. Dan menggali sedikit mimpiku dari keberhasilan suami. 

Karena itu, aku harus full dalam usaha melayani. Tapi sekali lagi.. Itu adalah pilihanku. Bukan berarti juga itu adalah pilihan yang terbaik bagi semua rumah tangga.

Intinya, dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga sangat dibutuhkan kerja sama yang seimbang. Jangan sampai suami terlalu lelah bekerja kemudian tidak mendapatkan apresiasi. Jangan pula istri terlalu lelah bekerja kemudian suami lalai dengan kewajibannya. 

5. Jangan Kebablasan dengan Pola Hidup Mandiri Secara Finansial

“Makanya wanita harus punya penghasilan sendiri. Ya buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena kadang suami itu gak paham. Dikira kebutuhan hidup cuma buat beras dan lauk.. “

“Iya, suami juga gak bakal ngerti sama pentingnya punya skincare dan make up.. “

“Ah pokoknya biarlah. Yang penting penghasilan aku cukup buat kehidupan aku dan anak.”

Yah, aku akui.. Wanita yang mandiri secara finansial itu luar biasa hebat. Aku pun juga selalu punya mimpi untuk bisa memiliki penghasilan sendiri. Apalagi, kehidupanku dikelilingi oleh wanita-wanita pekerja. Aku cukup banyak tahu hal positifnya jadi ibu pekerja. 

Tapi, kadang-kadang karena saking hebatnya.. Wanita yang memiliki penghasilan sendiri menjadi ajang ‘aji mumpung’ untuk suami meninggalkan fitrah tanggung jawabnya. Hiks.. 

Ini banyak terjadi, kita sebagai wanita kadang selalu mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri. Terlalu over empati lalu berujung kasihan dengan suami sendiri sampai tanpa disadari kita malah membiarkan suami meninggalkan fitrahnya. Lalu karena saking terbiasanya kemudian berpikir.. ‘Ya sudahlah..’

Padahal, ini bukan pola yang benar. Bagaimanapun juga suamilah yang bertanggung jawab untuk nafkah lahir keluarga. Adapun peran istri adalah mendukung suami. 

Okelah kalau uang istri dipakai untuk mendukung passion suami, menemaninya mulai jatuh hingga bangun. Tapi ingat, ketika suami sudah berhasil dengan usahanya maka tuntutlah hak kita dengan komunikasi yang benar. Jangan dibiarkan saja. Salah-salah nanti uangnya untuk istri kedua.. *etdah kok jadi ke sinetron ikan terbang. 

Intinya, kembalikan sesuatu sesuai fitrahnya. 

Suamilah yang sebenarnya bertanggung jawab untuk nafkah keluarga, jikapun istri membantu maka itu bernilai sedekah. Jangan kebablasan membiarkan demi rasa yang terbiasa. 

Karena ketika istri menjadi serba bisa tanpa bantuan suami, maka hatinya perlahan menjadi keras. Ia tak lagi lembut seperti dahulu. 

6. Berdoa.. berdoa.. berdoa! 

“Tapi sudah dikomunikasikan.. Sudah sampai nangisss rasanya. Okelah buat aku sendiri gak usah dikasih apa-apa. Tapi minimal.. Masa buat anak sendiri aja enggak mau tanggung jawab.. “

“Laki-laki ini selalu minta dihargai, bagaimana bisa dihargai kalau sama tanggung jawabnya sendiri aja lalai. Apa yang mesti dihargai?”

“Sedih rasanya ketika tau suami punya uang lebih tapi gak pernah kasih ke aku. Malah kasih kesini.. Kesitu.. Sudahlah sering denger ceramah dari Ustad dsb. Tapi mantul gitu aja.. “

Jika sudah mengalami titik kritis seperti diatas padahal sudah berusaha maksimal sekali maka… berdoalah. 

Eeeh.. Jawaban putus asa banget win? 

Iya, emang kalau sudah putus asa lari kemana lagi? Sujud kepada-Nya lah yang bisa menjawabnya. Karena… 

“Jangan pernah menganggap remeh kekuatan dari doa.. Kita tidak pernah tau bagaimana cara ajaib yang berhasil dari kekuatan ini.. “

Selama 8 tahun pernikahan, aku sebisa mungkin mengamalkan doa dari Mama. Menyisihkan waktu untuk sholat dhuha agar pintu rejeki terbuka. Dan yang lebih penting lagi, agar pintu hati suami terbuka. Karena apa gunanya banyak rejeki tapi tidak ada keterbukaan? 

Apakah dalam sekali berdoa maka akan dikabulkan? Tentu saja tidak. 

Aku sudah bilang bukan? Bahwa selama 8 tahun pernikahan.. Doaku terjawab di tahun 2020 ini saja. 

Doa-doa simple seperti.. 

“Ya Allah, semoga kalau suami pulang kerja setidaknya sesekali bawa makanan.. “

“Ya Allah, semoga suami kalo curhat ngasih tau tentang penghasilan sebenarnya dan ngasih ke siapa aja..”

Sesimple itu. Dan semuanya dikabulkan perlahan-lahan. Bahkan diberikan bonus oleh Allah berupa dicukupkannya nafkah bulanan bahkan hingga berlebih. Semuanya atas kekuatan sabar dan doa. 

Dan diakhir tulisan ini, bagi siapapun istri yang memiliki nasib yang sama cobalah untuk sedikit saja mengaplikasikan poin-poin diatas.

Teruntuk para suami yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini, pesanku hanya satu.. “Percayailah Istrimu untuk mengatur uangmu” 🙂

11 Pembelajaran Berharga Dalam Drama The World of The Married

11 Pembelajaran Berharga Dalam Drama The World of The Married

“Yang janjinya bulan puasa fokus ibadah.. Bok ya nonton drakor lagi”

Haha.. 

Hihi.. 

Huhu.. 

Ya gimana ya. Sesungguhnya bukan tema tentang perselingkuhannya yang membuatku tertarik untuk menonton. Selingkuh mah sudah merupakan hal biasa di kalangan kita bukan? Apalagi film selingkuh, poligami dsb. Ah, sudah biasa sekali. Ikan terbang saksinya. *eh

Yang membuatku tertarik untuk menonton film ini adalah tentang psikologis para pemerannya. Yang mana katanya film the world of the married ini diadaptasi dari film doctor foster. Sebenarnya, aku juga belum nonton film doctor foster. Aku hanya membaca beberapa review filmnya. Tapi, seperti biasanya versi korea selalu lebih dalam menguras emosi. Ini aku rasakan setelah menonton filmnya hingga episode ke-6. 

Konflik dalam film ini related sekali dalam kehidupan kita sehari-hari. Atau kehidupan sekitar kita. Dan semuanya dikemas dalam 1 cerita. Inilah yang membuatku setia untuk menanti setiap episodenya dihari sabtu dan minggu. 

Ada beberapa pembelajaran berharga yang dapat aku petik dari film ini. Diantaranya adalah:

1. Marriage is hard, but Divorce.. Is Really Hard Choice

Berpikirlah berulang kali sebelum membuat gugatan perceraian. Berpikirlah dalam berbagai sudut pandang. Sekalipun faktor perceraian itu karena perselingkuhan. 

Karena.. Bercerai itu benar-benar tidak mudah. Hiks.. 

Kalian mungkin terkagum-kagum dengan betapa elegan dan tenangnya Dr Ji dalam menghadapi suaminya yang selingkuh. Bahkan ketika selingkuhannya memeriksakan diri dengannya, dia sangat tenang. Tapi, ketika ada rasa dendam disana. Ketika ada tahap ia menyerang suaminya dan menuntut cerai. Disanalah konflik sebenarnya dimulai. 

Dan dari film ini aku mendapatkan bayangan. Betapa sulitnya hal yang namanya perceraian. Betapa sulitnya berstatus menjadi janda. Beratnya beban stigma masyarakat. Bahkan yang lebih berat lagi, status seorang anak yang menjadi korban perceraian dan konflik kedua orang tuanya. 

Mungkin itulah kenapa banyak yang memutuskan ‘bertahan’ walau berat.

Bertahan walaupun tau bahwa suami sendiri ‘bangsat’. 

Bertahan walaupun keputusan poligami menyertainya. 

Bertahan walaupun sakit, demi sesuap nasi. Karena tidak bisa mencukupi kebutuhan finansial. 

Tapi, bukankah Dr Ji termasuk kategori yang kokoh secara finansial? Lalu dimana masalahnya? 

Oh, tidak sesederhana itu Marimar.. Kita akan bahas hal ini di point 10.

2. Pentingnya Untuk Mengenali dan Menerima Masa lalu Pasangan Sebelum Menikah

Dr Ji dan Tae Oh. 

Kalau boleh menebak, Dr Ji berkepribadian Introvert. Sedangkan Tae Oh cenderung ekstrovert. 

Dr Ji cenderung perfeksionis, tertutup.. Berpikir jauh ke depan. Sedangkan Tae Oh cenderung berjiwa bebas dan berpikiran santai. 

Karena itu mungkin Dr Ji jatuh cinta pada Tae Oh. Karena ingin melengkapi sisi yang tidak ia miliki. 

Sementara anak mereka, Joon Young cenderung ekstrovert dan berjiwa bebas seperti ayahnya. 

Well, dibalik semua sifat itu. Mereka memiliki masa lalu kelamnya masing-masing. 

Dr Ji yang yatim piatu karena ibu dan ayahnya kecelakaan. Dan diyakini oleh masyarakat bahwa itu disengaja ibunya karena ibunya mengetahui perselingkuhan ayahnya. Sedangkan Tae Oh juga memiliki masa lalu tanpa Ayah karena perceraian. 

Dr Ji tumbuh menjadi seseorang yang tahan banting dan cenderung nyaris sempurna dalam hal apapun. Ia menularkan hal ini dalam mendidik anaknya. Sementara Tae Oh sangat dekat dengan anaknya secara emosional. Karena ia tidak ingin anaknya kehilangan sosok ayah dalam hidup. 

Salah satu penyebab konflik yang terjadi adalah belum berdamainya mereka berdua dalam masa lalu masing-masing. Sehingga anak mereka kerap menjadi korban dalam emosi dari kelamnya innerchild orang tua mereka. Aku sendiri mencium bau kemiripan drama ini dengan dokter foster sejak episode 6. Aku cenderung lebih berpandangan negatif pada kepribadian Dr Ji. Menurutku, Dr Ji dan Tae Oh sama-sama kelam. 

3. Semua Teman itu Tidak Sempurna, Mereka memiliki Topeng untuk Bertahan, dan itu Tidak Salah

Well, jujur saja aku bergabung dalam komunitas pecinta drama korea di facebook akhir-akhir ini. Simple sih tujuannya, hanya ingin tahu drama yang sedang rame saja. Hahaha.. 

Tapi isi dari grup tersebut adalah makian hingga hinaan serta spoiler dari drama ini. Dan salah satu tokoh yang paling sering dihina adalah sosok Dr. Ma yang merupakan teman dari Dr. Ji. 


“Dasar muka dua”

“Dasar makan teman sendiri”

“Didepan lain.. Dibelakang lain”

“Pantes perawan tua”

Itu kalimat-kalimat yang diungkapkan netizen pada sosok Dr Ma. Well, menurutku sendiri Dr Ma itu tidak salah loh. Dalam film ini tokoh Dr. Ma adalah sebagai mediator antara Dr. Ji dan Tae Oh. Dia ini posisinya serba salah. Aku pernah berteman dengan teman yang mirip kepribadiannya dengannya. Lantas apa aku memusuhinya hanya karena ketidakjujurannya? Oh, tentu saja tidak. 

Menurutku, sosok netral seperti ini sangat dibutuhkan dalam dua orang yang berkonflik. Sosok yang terlihat seperti agen ganda tapi peduli pada keduanya. Saran-saran yang dikemukakan Dr Ma pun menurutku adalah saran yang logis. Yang ia lakukan pun sepenuhnya adalah tindakan yang manusiawi. Persis sama dengan ambisi wanita pekerja pada umumnya. 

Mengapa dia tidak memberitahu Dr Ji bahwa Tae Oh selingkuh? Mengapa dia berusaha menjembatani keduanya? Karena keduanya adalah sahabatnya. Dan menjadi Dr Ma ini tidak mudah loh. Jadi, jika kalian bertemu dengan sosok seperti ini di dunia nyata. Please jangan judge. 

4. Marriage Just About TRUST

Menikah itu adalah tentang kepercayaan. 

Kamu percaya penuh denganku, aku percaya penuh denganmu. 

Jika kepercayaan ini mulai renggang dengan adanya kebohongan. Maka pernikahan itu telah goyang. 

Ketika Tae Oh berbohong kepada Dr Ji bahwa ia tidak selingkuh.. Sungguh ini sangat melukai perasaan. Memang jujurpun juga luka, tapi bohong? Bohong membuat lukanya sempurna. 

Begitupun dengan kehidupan tetangga Dr Ji dan Tae Oh.. Yaitu kehidupan Ye Rim dan Ji Hyuk. 

Berbohong sekali.. Dua kali.. Tiga kali.. Ye Rim masih bisa memaafkan.. 

Tapi jika sering? Luka itupun tidak bisa ditutup lagi. Akibatnya adalah hilangnya rasa kepercayaan. Dan itu menimbulkan trauma yang dalam. 

Karena itulah dalam ending drama ini, Ye Rim lebih nyaman memutuskan bercerai. Karena ia tidak bisa hidup dalam ketidakpercayaan di pernikahannya. 

Begitupun dengan kepercayaan Da Kyung yang luntur pada Tae Oh ketika ia mengetahui bahwa Tae Oh tidur dengan Mantan istrinya. 

Karena Menikah itu adalah tentang membangun kepercayaan.. Bukankah begitu? 

5. Sesulit Apapun Hubungan dengan Pasangan, Ingatlah Tentang Status Sebagai Orang Tua

Konflik dalam drama ini unik. Bahkan sempat menyerempet menjadi cerita detektif. 

Mengapa menjadi sedemikian rumit? Karena Dr Ji dan Tae Oh menyimpan dendam pada masing-masing. Dan mereka berdua lupa bahwa segala tindakan mereka telah diawasi oleh anak mereka berdua, Joon Young. Bahkan telah meninggalkan luka yang dalam padanya. 

Aku sangat amat kasihan pada sosok Joon Young dalam film ini. Dari awal perasaannya seakan diaduk-aduk oleh konflik kedua orang tuanya. Dari perceraian yang tidak ia mengerti hingga konflik kekerasan hingga kasus pembunuhan.

Tak cukup sampai disitu, ketika ia sudah menerima perceraian orang tuanya.. Hatinya kembali diombang-ambing saat melihat kedua orang tuanya tidur bersama lagi. 

Joon Young sempat sangat stress gara-gara ini. Ia bahkan mengidap kleptomania. 

Well, aku pernah tau tentang penyakit ini. Dan sejauh yang aku tau, penyakit ini muncul ketika kita kehilangan sosok yang amat berarti. Sementara teman-teman kita masih memiliki sosok itu.. 

Menurutku, Joon Young mengambil barang-barang milik teman-temannya karena ia ingin merasakan nyamannya memiliki barang hasil pemberian dari orang yang disayangi. Sedih banget kan? Seorang anak sampai harus menderita seperti ini? 

Karena itu, sebelum bertengkar dengan pasangan.. Yakinkan anak tidak mengetahui hal tersebut. Bicarakan baik-baik dengan pasangan. Jangan langsung spontan marah didepan anak. Well, bahkan update status dengan pengaturan privasi jauh lebih baik dibanding membuat trauma dihati anak. 

6. Jangan Pernah Jatuh Cinta dengan Orang yang Salah, Apalagi Berstatus Suami Orang

Semua mua mua konflik yang muter muter dan muter ini.. Enggak akan terjadi jika.. 

‘Da Kyung tidak ngotot jatuh cinta dengan suami orang’

Iya.. Andai sosok Da Kyung disini di Ctrl-Alt-Del mungkin gak ada cerita muter-muter penuh tangisan cabai begini. 

Sosok Da Kyung sendiri kukenal bukanlah sebagai pelakor yang sadis. Beuh, Da Kyung mah termasuk jenis pelakor yang baik kalau dibandingkan dengan Min Yu Ra di The Last Empress hingga Pelakornya Ikan Terbang. Bahkan, aku sendiri menilai bahwa Da Kyung bukanlah aktor antagonis disini. 

Ya ampun. Da Kyung mah perfect. Udah cantik gila, auranya positif, pembawaannya tenang dsb. Perfect banget. Kekurangannya cuma satu.. 

Itu kenapa jadi jatuh cinta sama suami orang. Ngotot lagi. Percaya aja dibilang Tae Oh kalo dia lari ke Da Kyung karena istrinya gila. Hadeuh.. 

Insting ditipu nya kurang main.. 

Eh, kok aku emosi? Ini kan cuma film? Hahaha.. 

Ya.. Inget ya.. Nonton film harus realistis juga kalii. Jangan nyerang-nyerang gak jelas ke official instagram orang. Malu-maluin.. Heu

7. Jangan Mengulang Masa Lalu, Perbaiki dan Yakinkan Generasi Selanjutnya Jauh Lebih Baik

Kalian yang mungkin memiliki masa lalu yang mirip dengan Dr Ji dan Tae Oh.. Berjuanglah agar masa depan kalian jauh lebih baik.. 

Bagaimana meyakinkan masa depan yang baik? 

Setidaknya, jangan mewariskan innerchild buruk itu pada anak. Jangan. Jangan diulangi.. Hiks.. 

Pada episode 14, aku tak terasa meneteskan air mata saat Dr Ji berjuang untuk hidup kembali karena ingat bahwa anaknya akan kehilangan Ibu jika ia bunuh diri. Masa lalunya yang buruk menyadarkannya bahwa anaknya tidak boleh memiliki nasib yang sama sepertinya. 

“Aku mungkin telah kehilangan pernikahanku. Tapi aku tidak boleh kehilangan masa depan cerah untuk anakku”

Kehidupan Dr Ji seakan berputar pada kesedihan sejak perceraian. Akan tetapi, selalu ada cahaya harapan yang bisa dibangun seorang Ibu. 

Ibu akan bercahaya jika anaknya bahagia. 

8. Hidup Perempuan Itu Harus Seimbang

Harus diakui, kehidupan Dr Ji penuh dengan ambisi. Lihat saja, ia sudah mendapatkan berbagai penghargaan. Kariernya bisa dibilang sempurna. 

Tapi, selalu ada ketidaksempurnaan dibalik kesempurnaan. 

Dr Ji yang perfeksionis, sukses hingga pintar memasak bukanlah sosok ibu yang memiliki ikatan kuat dengan anaknya. 

Terbukti bahwa diawal perceraian, anaknya lebih memilih bersama Ayahnya dibanding dengan Dr Ji. Karena anaknya merasa lebih dekat dengan Ayahnya secara emosional. Kehidupan yang dilaluinya tanpa Ayahpun mengubah perilakunya dengan drastis. 

Jadi, sebagai perempuan kita harus memilih apa? 

Karir? Cinta sempurna kepada suami? Atau Ibu yang baik kepada Anak? Atau bagaimana? 

Drama ini mengajarkanku untuk belajar bahwa kehidupan wanita setelah menikah memang harus mengutamakan suami dan anak terlebih dahulu..

Lalu bagaimana dengan karir? Karir akan mengikuti seiring dengan suksesnya hubungan dengan suami dan anak. Itulah yang aku yakini selama ini. Adapun kalian yang mungkin berbeda pendapat denganku.. Boleh saja.. 

Tapi bagiku sendiri, bangunlah karir dengan maksimal ketika masih single. Namun ketika sudah berkeluarga.. Letakkanlah karir di nomor 3. Dia tidak akan menurun. Tapi akan dibangun dengan pondasi yang penuh cinta. 

9. Puber Kedua itu Nyata, Terus Berusaha Menjadi Istri yang Baik

Ayolah, tidak setuju dengan hal ini? 

Jatuh cinta lagi itu nyata bisa terjadi pada suami siapa saja. Apalagi jelang umur 35+. Sangat mungkin laki-laki yang berstatus suami bisa jatuh cinta lagi. 

“Ya boleh sih poligami tapi harus sama janda miskin, bla bla.. Dan yang penting ada duitnya”

Ya.. Ya itu kan maunya kita.. Namanya jatuh cinta lagi itu.. Kadang tidak bisa dikontrol. Tidak bisa kita membelokkan dan mengontrolnya untuk jatuh cinta sama janda tidak laku miskin saja. Tidak semudah itu. Dan jika lengah.. Hal yang bernama perselingkuhan itu bisa saja terjadi. 

Karena itu berusahalah sebisa mungkin menjadi Istri yang baik. Yang memanjakan mata dan perut suami. Dan jangan lupa untuk sering-sering curhat suka dan duka di rumah. Supaya daya empati suami terbuka. Jadi, ketika dia melihat yang ‘kinclong-kinclong’ diluar sana.. Dia akan ingat kita.. “Kasian istriku.. ” Begitu.. Hahaha

Kata seorang Guru, tidak mungkin kita bisa mengontrol mata lelaki untuk tidak tertarik melihat gadis cantik. Karena lelaki memang sudah diciptakan sedemikan. Maka, sering-seringlah berdoa.. Supaya suami selalu ingat dengan istri di rumah, dengan anak di rumah. Bangun daya empatinya. 

Kalau daya empatinya zonk bagaimana? 

Oke, sering-seringlah bercerita horor.. 

Aku sendiri sering sekali bercerita tentang topik Istri Gila dan Anak Broken Home. Ceritanya diputar-putar. Diulas dari berbagai sudut pandang. Kadang ada yang benar, ada juga yang aku karang-karang sendiri supaya dramatis. Dan kadang aku juga ambil ide dari sinetron yang suka berlebihan. Hahaha.. Kejam memang aku.. 🤣

Tapi memang harus begitu. Jadilah istri yang berusaha maksimal. Dan terus asah daya empati suami agar ia ‘tidak tega’ untuk selingkuh. 

10. Jadi Wanita Mandiri Finansial Bukan Jaminan Untuk Bahagia

Ah.. Masa? 

Tapi kan siap-siap win, kalau suami ini itu.. Bla bla.. Kita bisa tenang aja karena ada duit. 

Well, belajar dari drama ini. Aku menyadari bahwa mandiri secara finansial pun ternyata bukan jaminan untuk bahagia. 

Meskipun ia sih.. Di ending terlihat banget susahnya hidup Tae Oh yang terbiasa melorotin istrinya. Bahkan Dr Ji yang menolong. 

Tapi terkadang.. Terkadang aja loh ya.. 

Karena wanita terlalu berpijak pada mandiri secara finansial.. Akhirnya ia lengah pada pos-pos yang lain. Bahkan pos yang wajib sekalipun. Kalau sudah begini, sebanyak apapun duit yang dipunya.. Gak akan sanggup membeli sebuah kebahagiaan. 

Did u know what I mean? 

Ya.. Begitu begitu lah.. Aku tidak akan membahas panjang lebar tentang ini. 

11. Apapun yang Terjadi.. Memaafkan, Melupakan dan Menerima adalah Hal yang Terbaik

This.. Is the best conclusion. 

Andai saja dari awal manusia itu mudah memaafkan seseorang tanpa ada dendam yang menyertainya. Mungkin hidup akan menjadi lebih mudah. 

Aku sangat suka dengan ending drama ini. Karena masing-masing dari tokohnya sudah move on. 

Sudah memaafkan, melupakan dan menerima. 

Rasanya lega sekali menonton endingnya. Dimana masing-masing sudah mendapatkan tempat yang sesuai. Termasuk Da Kyung, Ye Rim.. Daaan.. Ya.. Tae Oh. 

Dari drama ini sungguh banyak pembelajaran yang aku dapatkan tentang pernikahan. Dan pembelajaran yang sangat berharga adalah tentang memaafkan. 

Sudah menonton drama ini? Mari sharing ceritanya denganku! 

Ujian 5 Tahun Pernikahan yang Perlu Kalian Ketahui

Ujian 5 Tahun Pernikahan yang Perlu Kalian Ketahui

source image: detik.com

Siapa bilang menikah itu mudah?

Lalu, apakah menikah itu sulit? Menderita? Tersiksa?

Menikah itu tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak sereceh dongeng-dongeng masa kecil yang menyebutkan bahwa menikah adalah akhir yang bahagia.

“Dan Mereka Hidup Bahagia Selamanya.. Tamat…”

Tidak. Tidak seperti itu.

Menikah adalah awal dari langkah yang baru. Suasana baru, lingkungan baru, tantangan baru, dan proses menuju pendewasaan diri yang lebih dari sekedar terlihat dewasa. Dengan menikah, tidak lantas hidup akan bahagia.. Selamanya..

Betapa banyak kita melihat pernikahan seumur jagung? Baru beberapa bulan, hingga hitungan minggu saja banyak yang sudah ‘bubar’. Adapula pasangan yang memutuskan untuk berpisah begitu saja meski mereka sudah memiliki anak. Lalu, dimana sebenarnya kekuatan dari pernikahan itu?

Baca juga: Pembelajaran Berharga dari Film Go Back Couple

Well, ini bukan kali pertama aku pernah bercerita tentang Pernikahan, kepribadian pasangan, hingga selak beluk jatuh bangun keluarga lainnya. Ini adalah tulisan ‘kesekian’ kalinya. Dan ini juga aku buat dalam rangka ulang tahun pernikahan yang ke-6. Lebih tepatnya, sebenarnya ulang tahun pernikahan kami sudah beberapa bulan yang lalu. Haha.

Baca juga:
Mengapa menikah muda? Apakah aku MBA?
Ketika Introvert menikahi Introvert

Banyak para senior mengingatkan, bahwa masa-masa 5 tahun pernikahan adalah masa tersulit untuk dijalani. Itu…. Benar sekali.

Ada beberapa ujian inti yang harus dilewati untuk melewati masa rentan dalam pernikahan. Ujian itu diantaranya adalah:

1. Ujian Perekonomian

source image: money.id

Percayalah, untuk ujian yang satu ini adalah tipe kelas berat. Dan ini harus dilalui meski dalam pernikahan yang tergolong ‘muda’. Bukan, muda disini bukan dalam segi umur pasangan. Tapi dari umur pernikahan. Percayalah, kalian akan merasakan ujian ini di awal-awal proses membangun rumah tangga. Ujian ekonomi adalah ujian bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Tapi beda cerita kalau kalian sudah masuk golongan ‘horang kayah’…”

Lalu, ada yang bilang, “Makanya aku gak mau menikah sebelum karir aku sukses. Karena pengeluaran aku banyak. Dan aku gak mau suami menanggung semuanya..”

Ada lagi yang bilang, “Aku gak mau nikah kalau belum punya rumah plus mobil. Apalagi tinggal di tempat mertua. Sakiiiit hati aah nanti..”

Ada lagi yang bilang, “Kita nikah aja dek. Insya Allah pasti pintu rejeki akan terbuka dan ‘bla bla'”

Lalu, apa semuanya salah? Well, aku tidak menyalahkan semua pendapat diatas. Semua punya alasan masing-masing. Entah itu karena pembelajaran hidup dari orang tuanya maupun sekitar. Entah itu karena sudah dalam perencanaan yang matang. Tapi percayalah, sebagus apapun rencana anda.. Ujian Perekonomian ini PASTI ADA.

Menikah muda, belum punya rumah, belum punya penghasilan yang cukup, lalu menumpang hidup dengan orang tua atau mertua. Banyak begini? Banyak. Yang menikah usia matang pun bahkan banyak yang begini. Bukan hanya menikah muda saja.

Memutuskan mengkredit rumah untuk nyamannya perasaan pasangan. Tapi, risikonya suami-istri harus kompak dalam mengatur budget bulanan. Bahkan, adapula sang istri yang sanggup rela membantu pemasukan bulanan dengan bekerja. Banyak begini? Banyak.

Untuk pernikahanku sendiri, ujian perekonomian adalah ujian pertama. Yah, memiliki anak yang tadinya mau ditunda adalah beban perekonomian yang tidak terduga. Aku yang awalnya ingin menjadi ‘wanita produktif’ dengan bekerja akhirnya harus merelakan diri menyerahkan beban perekonomian hanya pada tulang punggung suami yang sebenarnya… Keluarganya pun jauh membutuhkannya dibanding denganku.

Ini adalah ujian yang berat untuk awal pernikahan. Menahan beban tinggal dengan orang tua maupun mertua dimana aku tidak punya sedikitpun ‘uang jajan’ untuk memanjakan diri. Sementara anak masih kecil dan LDR dengan suami. Memang, orang tuaku tergolong kaya. Begitulah orang dengan nyamannya memandangku. Tapi tidak pernah ada yang tau beban batin yang aku pikul setiap kali aku berselisih pendapat dengan mama. Semuanya kenapa? Karena ujian ekonomi..

Baca juga: Surat Untuk Mama, “Maafkan Anakmu yang hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga Saja”

Ujian perekonomian adalah ujian yang pasti dilewati pasangan. Tak menutup kemungkinan walau pasangan berasal dari keluarga kaya. Tak menutup kemungkinan walau suami istri adalah pasangan yang mapan. Percayalah.

2. Ujian Ego masing-masing

source image: jadiberita.com

Ada pasangan yang diuji ekonominya, adapula pasangan yang diuji dengan perasaannya.

Para tetua bilang, “Menikah itu intinya harus mengalah, berkorban. Kalau sama-sama ‘keras’ maka sulit jadinya”

Ah, ini benar sekali.

Entah sudah berapa banyak pertengkaran di dalam rumah tangga kami. Dari awal hingga akhir, dari bulan ke bulan pastinya adaaaa saja yang membuat bertengkar. Dari adegan saling adu mulut sampai mengurung diri di kamar hingga update status. Haha

Tapi konon, rumah tangga tanpa pertengkaran itu tidak asik. Yah, aku mengerti maksudnya sekarang. Karena rumah tangga dengan warna warni pertengkaran itu artinya suami istri sama-sama mulai ekspresif dalam berpendapat. Dan ini penting sekali. Bandingkan dengan pasangan yang tidak seimbang. Yah.. Something like.. Yang satu ekspresif sekali.. Yang satu diaaaaam saja.

Pertengkaran adalah tahap pendewasaan ego pasangan.

Nah, kalian tahu bahwa dalam tahap pertengkaran itulah ujiannya. Dan ujian iniiii… Berat beb..

Pada puncaknya, banyak sekali pasangan yang memilih bercerai hanya karena tidak dapat memahami pasangannya. Tidak mau mengalah dalam satu dua hal dan keras pada egonya masing-masing.

3. Ujian Anak

Ujian Anak? Ujian macam apa ini?

Ujian belum punya anak? Atau ujian tidak siap memiliki anak?

Atau ujian memiliki anak laki-laki melulu..
Atau ujian memiliki anak perempuan melulu..

Atau ujian anak yang tidak sempurna? Sakit-sakitan?

Nah, banyak sekali kan ujian anak itu?

Banyak pasangan yang dianugerahi perekonomian yang cukup mapan, saling memahami satu sama lain.. Namun memiliki masalah pada Anak. Entah itu belum punya anak, kelainan pada anak, hingga problematika receh seperti.. “Kok anaknya perempuan terus?” atau “Kok laki mulu..?”

Tiap keluarga memiliki sudut masalahnya masing-masing. Dan ujian anak sungguh merupakan ujian yang cukup berat. Maka, bersyukurlah jika memiliki anak yang sempurna dan penyejuk hati kedua orang tuanya. Memiliki anak seperti ini akan mengurangi efek badai dari ujian perekonomian dan ujian ego.

Dan harus kuakui, anakku Farisha adalah salah satu dari penyejuk itu.

Saat perekonomian keluarga kami sangat turun diawal pernikahan namun kehadiran Farisha telah memberi semangat baru dalam kehidupan rumah tangga kami. Kami yang awalnya sering bertengkar dan tak mau mengalah pada ego masing-masing akhirnya luluh oleh senyum dan tangisannya. Sebuah keajaiban terjadi begitu saja. Kesuksesan karir suamiku dan rentetan hal-hal baik lainnya.

Sungguh, aku yang mengira memiliki anak usia dini adalah ujian kini mulai mengerti kenapa Tuhan mengirimkannya begitu dini pada pernikahan kami.

Karena bagi pernikahan kami, anak adalah kekuatan yang memberi akar kuat pada pondasi cinta dalam rumah tangga kami.

4. Ujian Campur Tangan Pihak ke tiga

Pihak ketiga? Apa artinya selingkuhan?

Bukan. Pihak ketiga ini bukan hanya tentang itu. Tapi luas.

Mertua campur tangan, Mama campur tangan, Ayah campur tangan, Ipar campur tangan. Aduh, ini berat beb. Jangan ditambah lagi deh sama pelakor. Haha

Makanya, dulu pernah ada salah seorang yang bilang kepadaku bahwa “Jangan pernah menikahi ‘anak mami’, sungguh berat. Kamu gak akan sanggup.”

Ternyata benar, menikahi suami yang begitu menomor satukan mamanya adalah ujian yang cukup berat buatku. Semuanya serba terbagi. Dari mulai pemasukan, kasih sayang hingga apapun. Well, sebagai menantu yang kadar ‘kekanakannya’ masih sangat labil tentu aku pernah sekali merasakan kecemburuan teramat sangat kepada mertua. Tapi, rasa cemburu itu akhirnya berefek positif pada diriku sendiri. Ya, kalian bisa membaca pengalamanku dan suka duka dengan mertua.

Baca juga: “Untuk Apa Aku Membenci Mertuaku?”

Memang ya, aku sih masih patut bersyukur sekali sebenarnya karena suamiku cenderung introvert tinggi dan kadar kemungkinan selingkuhnya rendah. Sehingga Alhamdulillah sampai sekarang memang tidak pernah mencium adanya tanda pelakor yang datang.

Lantas bagaimana kalau ujiannya itu pelakor?

Well, karena sungguh aku tak pernah berada diposisi istri yang diselingkuhin terus terang aku tidak begitu tau bagaimana solusinya. Namun, saat melihat salah satu kasus pada temanku. Aku memetik sebuah pembelajaran berharga bahwa pelakor datang saat ada celah antara keharmonisan suami-istri. Entah itu tentang komunikasi, pelayanan yang kurang, dan kebutuhan yang tidak tercukupi.

Pihak ketiga akan datang mengisi setiap lobang kosong yang ada pada ruang hampa suami maupun istri. Namun, sebenarnya lobang tersebut akan lebih nyaman rasanya bila diisi oleh komunikasi yang terbuka, pemahaman satu sama lain serta kasih sayang. Yah, itu yang aku tau selama ini. Tidak ada keluarga yang tidak pernah disinggahi oleh orang ketiga. Itu adalah salah satu ujian dan kita harus menghadapinya.

5. Ujian Penerimaan

“Ternyata suamiku itu begini, sumpah aku baru tau loh ternyata dia itu… Bla bla..”

“Dulu waktu pacaran, istriku itu begini loh, begini. Manis banget kan? Ternyata pas udah nikah.. Beuh.. Apalagi pas sudah punya anak.. Beuh…”

Pastinya kita yang sudah menikah pasti mengalami fase ini. Fase shock saat mengetahui sifat pasangan yang ternyata… Oooh.. Dia begini… Haha..

“Makanya.. Pacaran itu perlu untuk mengenal kepribadian pasangan…” Katanya..

Menurutku, hal ini bukan karena kita tidak pacaran sebelum nikah. Ada kok dan banyak kok yang menikah setelah bertahun-tahun lamanya pacaran. Nyatanya, tetap saja saat sudah menikah banyak sifat asli yang tiba-tiba muncul begitu saja. Padahal loh, sudah 7 tahun pacaran. Jadi, pacaran bukan jadi tolak ukur dan proses seleksi yang tepat untuk mengaudisi kepribadian pasangan. Haha. *lagaknya ngomong kayak yang nulis enggak pernah pacaran.. 😂

Aku pacaran? Iya, aku pacaran kok dulu. Tapi pacaran bentar langsung nikah. Wee..

Selebihnya, sebelumnya hubunganku dengan suami adalah hubungan aneh antara mahasiswi dan dosennya.

*omongan mulai ngalor ngidul

Jadi, rasa shock melihat sifat baru pasangan before n after married itu kesimpulannya adalah hal biasa. Disinilah kita harus memiliki hal ekstra untuk mempertahankan pernikahan, yaitu..

Ya.. Terima saja.. Hihi..

Selama hal itu masih dalam hal yang wajar, tidak menyakitkan dan masih banyak hal positif lainnya dibanding kekurangan yang ada. Menikah itu jangan egois, shock melihat kekurangan pasangan langsung main cerai. Du du duh.. Itu kekanakan sekali. Lebih baik update status loh. *eh

Punya pasangan yang agak lazy.. Tapi enggak pernah main-main keluar rumah dan lebih memilih main game dibanding hiburan tidak baik lainnya. Syukuri saja. Dia tipe hemat dan setia.

Punya pasangan enggak bisa masak.. Tapi dibanding mommy seumuran dengan anak lainnya dia termasuk dalam kategori paling cantik dan energik bersosialisasi. Syukuri saja. Dia tipe yang punya banyak relasi dan pandai bergaul.

Punya pasangan working holic.. Pulang kerumah jarang-jarang. Tapi rejeki selalu lancar dan tidak pernah dalam kondisi kekurangan. Syukuri saja. Suatu hari nanti, akan tiba saatnya dia lelah dan mulai mengutamakan keluarganya.

Punya pasangan bisa masak, bisa cari duit, tapi tak kunjung hamil. Syukuri saja. Mungkin ini adalah tahap ujian penerimaan tingkat tinggi. Suatu hari nanti, akan tiba saatnya kesabaran itu berbuah manis.

Ya, ini adalah contoh-contoh yang aku ambil dari kehidupan teman-teman sekelilingku.

Mereka yang terus bertahan dan menerima serta tak hentinya memberikan yang terbaik.

Karena tidak ada manusia yang sempurna. Konon, mereka ‘yang baik-baik’ akan dijodohkan dengan ‘yang baik-baik pula’. Tapi pernahkah kita bertanya, Mengapa sebagian tidak??

“Karena Tuhan mempercayai kekuatan kita yang lain.. Kekuatan menerima dan mengubah kepribadian pasangan menjadi lebih baik..”

***

Nah, itu dia ujian dalam pernikahan yang perlu kalian ketahui. Menikah itu gak mudah loh. Apalagi mempertahankan pernikahan. Itu berat beb, sungguh.

Jadi, 5 tahun pernikahan itu adalah perjuangan. Kalian punya cerita lain tentang suka-duka kehidupan pernikahan? Sharing yuk!

IBX598B146B8E64A