Browsed by
Category: Motherhood

#FBB Collaboration: Surat Untuk Mama, Maafkan Aku yang Terlambat Reframing

#FBB Collaboration: Surat Untuk Mama, Maafkan Aku yang Terlambat Reframing

“Nanti kalau kamu sudah jadi Ibu.. Baru tau rasanya.. “

Itulah kalimat yang sering mama ucapkan setiap kali kami bertengkar. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Sudah diputar kebelakang.. Tapi malah masuk lagi di gendang telinga. Sampai-sampai.. Lelah mendengarnya. 

Lalu aku mendengus di dalam hati, “Nanti kalau aku jadi emak-emak.. Aku harus jadi emak yang bijak.. Yang enggak ngomong kalimat itu-itu saja setiap kali marah.. Aku bakal menjadikan anak sebagai teman lalu aku bla bla bla.. “

Begitu kiranya keluhanku di dalam hati. 

Perkenalkan, Aku adalah Anak yang Paling Sering Bertengkar dengan Mama

Aku adalah anak kedua dalam empat bersaudara. Kakakku yang pertama adalah laki-laki, berjarak 3 tahun dariku. Sementara adikku kembar.. Laki-laki juga, berjarak 8 tahun dariku. Yaa.. Aku adalah anak perempuan satu-satunya.. 

Seharusnya.. Akulah yang paling disayangi. Itulah ego yang sering muncul di kepalaku. 

Nyatanya, diantara 4 bersaudara tersebut.. Akulah yang paling sering mencari masalah dengan mama. 

Sewaktu kecil dulu.. Aku sering menangis karena selalu mendapat baju lungsuran dari kakak. Aku iri dengan teman-teman perempuanku. Aku ingin memakai baju cantik seperti mereka. Aku tidak suka terlihat seperti laki-laki. Aku bilang  pada mama, “Ma, Winda mau seperti xxxx juga. Winda mau cantik juga.. “

Aku.. Tidak tau bagaimana perasaan mama saat itu.. 

Kami hanya bertengkar. Dan berakhir saling memeluk di malam hari. 

Aku masih ingat ketika aku beranjak remaja dulu. Aku yang mengamuk saat tidak diperbolehkan ikut berkemah. Aku yang protes dengan lantang saat tidak diperbolehkan ikut acara ‘masak-masak’ di malam hari. Aku yang berdebat karena dibilang boros dan langsung membandingkan uang sakuku dengan temanku. 

Tak terhitung rasanya pembenaran demi pembenaran aku ucapkan dengan lantang dihadapan mama. Aku selalu merasa bahwa akulah yang paling menderita di dalam circle pergaulanku. Dalam circle keluargaku. 

Itu terjadi begitu saja. Perasaan insecure. 

Ketika kakakku lulus kedokteran. Ketika adikku terlihat kepintarannya. Sementara aku si anak tengah? Aku terlihat biasa saja. Tidak memiliki kelebihan. 

Ketika itu.. Setiap kali aku ingin mengembangkan diri dengan caraku.. Mama selalu mengatakan ‘jangan’ dan ‘jangan’ yang lain. Mama seakan menjadi pagar dalam kehidupanku. Membuat duniaku yang seharusnya bulat menjadi kotak. 

Saat itu.. Sungguh.. Aku tidak tahu perasaan mama.. 

Aku hanya berteriak dan membangkang… 

‘Kebebasan!’ teriakku.. 

Antara Mama dan Anak Perempuan

Perasaan paling menyenangkan yang aku rasakan hingga sekarang salah satunya adalah ketika mama bercerita.. Bahwa ia sangat menginginkan anak perempuan. 

Ya, katanya.. Saat ia hamil anak kedua ia menginginkanku. Sang anak perempuan. Bukan hanya itu.. Ayah dan kakakku juga. 

Mereka menantikan kehadiranku! 

Katanya, aku sangat lama keluar. Hampir 11 bulan. Aku yang seharusnya lahir bulan Juli malah lahir di bulan September. Mama mengeluarkanku kedunia ini penuh dengan perjuangan. Mama harus diinduksi. Konon itu rasanya sakittt sekali. Aku? Sampai sekarang aku yakin tak ada rasa sakit yang aku lalui dan bisa menyamai rasa sakit itu. 

Saat itu, kondisi ekonomi keluarga kami sangat pas-pasan. Mama dan Abah berjuang mulai nol. Aku masih ingat ketika kami memiliki rumah yang baru dulu. Kami bahkan tidak punya toilet. Jangan tanyakan bagaimana. Itu hal yang tidak nyaman diceritakan. 

Aku berlarian kesana kemari dengan memakai baju lungsuran kakakku yang laki-laki. Tidak ada perasaan kecewa saat itu. Yang aku rasakan hanya cinta dan penuh Terima kasih. 

Aku masih ingat, baju perempuan pertama yang paling berkesan. Baju Sailor Moon yang mama belikan sebagai oleh-oleh saat pergi penataran dulu. 

Aku masih ingat, boneka susan pertama di desaku dulu. Akulah yang pertama kali memilikinya. Saat itu.. Aku begitu merasa disayangi. 

Entah apa yang membuatku berkata kalimat pembandingan itu. Entah setan apa yang menggodaku untuk merasakan perasaan kurang dan kurang. Hingga aku sakiti perasaan mama… Yang saat itu sedang jatuh bangun menyejahterakan ekonomi keluargaku. 

Aku menyakiti mama sejak sekecil itu. Dengan kalimatku yang polos.. Dengan wajahku yang lugu. 

Tidak cukup sampai disitu, Aku pernah bertengkar paling mengerikan dengan mama saat hamil anak pertama dahulu. Aku yang merasa down saat fase ekonomi sedang tidak stabil. Aku yang berkata pada mama, “Memangnya siapa yang menyuruhku untuk menikah semuda ini? Siapa yang menyuruhku menunda cita-citaku? Kenapa Mama begitu egois. Aku sudah menuruti semua permintaan Mama…”

“Ma.. Aku sudah berusaha menjadi Winda versi terbaik bagi Mama..”

Aku mengeluarkan semua emosiku. Tapi, aku terlambat untuk Reframing. Aku tidak tau.. Bahwa segala keputusan mama memang selalu dilandasi oleh Kasih Sayang. 

Hei, ternyata begini rasanya menjadi Seorang Mama.. Mama dari Anak Perempuan.. 

Kini, aku mengerti segala keputusanmu Ma. Setelah melahirkan Farisha. Membesarkannya dan menyelami segala kelakuannya. Kini aku mengerti bagaimana perasaan seorang Ibu. 

Bahwa seorang Ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. 

Untuk segala pikiran kerasmu dalam mendidikku.. 

Untuk semua pagar demi pagar yang engkau berikan.. 

Aku mengerti..

Untukmu yang menghalangi mimpiku dahulu.. 

Aku memaafkanmu atas segala perlindungan kerasmu untukku.. 

Aku kini mengerti, kau lakukan itu semua karena aku adalah si Anak Spesial. Satu-satunya perempuan yang harus dilindungi.

Segala perlakuanmu padaku.. Aku sudah mengerti segala manfaatnya. 

Lihatlah anakmu yang memiliki dua anak perempuan. Masih sekecil ini saja sudah berapa aturan yang aku terapkan untuk melindunginya. Ternyata, memiliki anak perempuan tidak semudah yang dibayangkan. 

Perempuan cenderung berbicara dengan perasaan. Terkadang emosinya turut ikut andil. Jika kita sangat sering bertengkar karena itu.. Maka kini aku mengerti kenapa anakku sering menangis saat aku nasehati. Ya, dia masih kecil saja begini. Bagaimana jika sudah besar nanti? Konflik macam apa yang akan terjadi? Pagar macam apa yang harus aku berikan? Dan bisakah aku sesukses mama dalam mendidiknya nanti? 

Ah, entahlah. 

Mama, kini aku bisa memahamimu. 

Izinkan aku berterima kasih, meminta tolong dan meminta maaf padamu. 

Ya, kau kan yang mengajariku 3 kata ajaib itu? 

Terima kasih Mama

Aku memang hidup dalam lingkungan yang patriarki sekarang. Namun aku bersyukur memiliki seorang mama feminis yang selalu menjunjung tinggi tugas domestik di rumah. Atas segala pembelajaran berharga mu untukku.. Sungguh aku merasakan sekali manfaatnya sekarang. 

Lihatlah, karenamu aku bisa melakukan segalanya di rumah. Aku tidak terkejut dengan tugas domestik di rumah. Aku sudah terbiasa. Karenamu aku bisa memasak, melipat baju dengan rapi dan merawat anak-anakku dengan baik. 

Please.. Mom.. 

Tolong ma.. 

Tolong percayalah sepenuhnya pada langkah hidupku. Hanya doamu yang aku harapkan. Dan aku ingin kau bangga padaku. Walau aku satu-satunya yang bukan seorang dokter dari semua anak-anakmu.

Menjadi Ibu rumah tangga itu tidak berat ma. Lelah hanya begitu-begitu saja. Yang paling membuatku lelah adalah tidak ada apresiasi. Tidak ada kata-kata Terima Kasih atas usaha yang aku berikan di rumah. Tolong berilah aku perasaan bangga itu. Aku sungguh sangat membutuhkannya. 

Tolong lindungi aku dari orang-orang yang memandang rendah diriku. Orang-orang yang berkata bahwa aku tidak bisa apa-apa. Mereka yang sering berkata Susah-susah dikuliahkan tapi malah tidak bekerja, apa yang dikerjakan di rumah? Dan pertanyaan memojokkan lainnya. Aku tau kau sudah menerimaku dan please.. Banggakan aku di mata orang-orang tersebut. 

Maaf Ma..

Maaf karena aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga. Jauh dari cita-cita mandiri secara finansial yang engkau harapkan. 

Maaf karena tidak bisa menemanimu di rumah. Maaf karena aku harus menjauh mengikuti suamiku. 

Terakhir.. Maaf karena aku terlambat reframing perasaanmu. Sungguh, aku menyesali pertengkaran demi pertengkaran dahulu. Andai saja aku bisa berkomunikasi dengan lebih baik dahulu. Mungkin aku bisa membuatmu mengerti tentangku. Andai saja emosiku tidak menggebu-gebu.. Mungkin aku bisa menjadi Winda yang lebih baik. 

Ah, menyesal memang selalu terlambat bukan? Tapi semoga tidak ada kata terlambat untuk menyayangimu lagi.

Dariku, sang anak yang sudah berubah menjadi Ibu. 

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam FBB Collaboration dengan tema Hari Ibu

Berdamai dengan GTM? Bisa Kok!

Berdamai dengan GTM? Bisa Kok!

“Humaira.. Sedikit lagi sayang…hayuk yuk… Aaaaaa”

Kurang lebih, beginilah kegiatanku selama satu bulan ini. Dalam waktu 3 kali sehari berputar-putar di rumah sambil mengejar Humaira yang merangkak dan menyuapinya. Jangan tanya berapa jam waktuku terbuang untuk ini. Satu kali makan.. Aku harus mengorbankan satu jam lebih waktuku yang berharga. Belum lagi kalau Humaira memuntahkannya..

Belum lagi.. Setumpuk pekerjaan rumah tangga..

Belum lagi.. Harus menjemput Farisha..

Jangan lupa makan siang.. Kepasar dsb dsb…

Disitulah kewarasanku diuji…

Aaaagrrrrh!

Curhatan Mamak Stress Menghadapi Anak GTM

Sesungguhnya, memiliki anak kedua ini aku cenderung lebih santai. Easy Going aja gitu… Apalah apalah.. Gak perlu deh terlalu perfeksionis. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman anak pertama dulu. Iya, dulu aku sempat terkena babyblues..dan PPD

Bahkan, aku pernah menulis tentang baby blues secara rinci. Tak lupa juga tentang cara mengatasi babyblues. Aku dan suami sudah aware banget. Janganlah ini terulang kembali.

Dan tips mengatasi babyblues hingga PPD tersebut berhasil. Sampai Humaira berumur 8 bulan dan mulai tumbuh gigi 4 biji sekaligus.. Disanalah drama GTM (Gerakan tutup mulut) dimulai.

Humaira yang biasanya lahap makan, kini mulutnya selalu menutup. Bahkan saat tidak sedang makan sekalipun. Kalau dibuka.. Maka air liurnya berjatuhan. Kalau melihatku memegang mangkuk dan sendok dia langsung menangis di kursi makannya dan meronta ingin keluar. Saat dikeluarkan.. Ia langsung merangkak laju menghindariku.

Lalu aku menggendongnya.. Menyanyi dan menenangkannya.. Sesekali mengalihkan perhatiannya pada teethernya. Dan saat ia membuka mulut..tangan kananku langsung sigap memasukkan sesendok MPASI kemulutnya.

Jika kalian kira hanya begitu saja cerita dan solusinya.. Tentu kalian salah. MPASI itu diemut saja dimulutnya.. Tidak dikunyah.. Tidak diteguk.. Dan saat aku menyuapi air putih ia langsung sigap membuka mulutnya.. Dan keluarlah semua MPASI yang aku buat itu… huhuhu..

Jangan! Jangan dulu menyarankanku untuk ini dan itu.. Aku sedang membaca tau.. Aku googling kesana kemari. Rambutku mulai kusut dibuatnya. Huh, artikel-artikel itu sama sekali tidak membantu.. 

Santai katanya? Susui saja katanya?

Lihatlah.. Humaira tanpa makan.. Artinya dia selalu menyusu..

Jika Humaira selalu menyusu.. Maka aku yang jadinya terancam selalu lapar..

Jika Humaira selalu menyusu.. Maka aku tidak bisa bergerak bebas. Apa jadinya rumahku? Hei!

Dan jangan lupa.. Jika aku terlambat makan.. Jika aku kelaparan.. Jika pekerjaan rumah tak kunjung selesai.. Sementara isi kulkas zonk.. Maka tandukku bisa keluar kapan saja. Grrrrr..

Apah? Go Food? Ah.. tidak semudah itu ferguso.. Memangnya uang bulananku cukup jika memesan go food setiap hari?

Ah itulah.. Ekonomi dan kewarasan berumah tangga.. Dalam sekali kaitannya. Halah, jadi curcol kan emak. Hahahaha…

Drama GTM dan Demam yang berulang-ulang kayak zaman Missed Call lagi ABG

Yaelah.. Outlinemu gitu amat win.. Hahaha..

Yah, beginilah caraku menyenangkan diri sendiri. Ditengah bayi yang selalu bangun setiap malam. Kayak aku waktu zaman abege labil juga.. dimissed call cowok..kegeeran..enggak bisa bobo karena kegeeran.. Yaelah.. Malu-maluin kalau diingat.. Apalagi kalau kenyataan sekarang berbicara tuh cowok enggak ganteng kok aku geer ya? 

Oke, skip.. Aku memang agak labil orangnya. Padahal anak udah dua biji. Ckck

Jadi, Humaira itu hampir setiap jam bangun kalau lagi GTM begini. Badannya panas, giginya bengkak dan pipinya tembem (ini apaan? Sisi positifnya euy..). Hampir tiap malam aku begadang dan jangan ditanya nasib kantung mataku. Jangan ditanya ya.. Karena concealer aku cukup ampuh menutupinya… (tersenyum licik). *blog post ini sungguh ngalur ngidul..karena ditulis terjeda-jeda disela-sela sakitnya si kecil..

Demam Humaira ini cukup labil. Bentar-bentar turun..nanti naik lagi. Paling parah itu pas malam tiba sih. Sampai-sampai aku mengira mungkin saja Humaira terkena DBD. Karena cuaca juga cukup labi, bentar panas..bentar hujan pas banget timingnya buat si nyamuk khas ini.

Ketika Humaira demam parah selama 3 hari berturut-turut maka aku pun memeriksakannya ke Puskesmas. Aku langsung meminta untuk di cek darahnya. Karena hanya itu cara satu-satunya untuk mengetahui apakah ia terkena DBD atau tidak. Untungnya, hasil lab mengatakan tidak. Tapi, bukan aku dong namanya kalau langsung pulang ketika sudah mengetahui hasil lab.

Setelah berhasil bertemu dokter anak di puskesmas.. Aku langsung curhat seeeeepanjang-panjangnya.. Sebombay-bombaynya.. Tapi sungguh.. Tidak sekonyol blogpost ini.. Hahaha..

Anak GTM akut.. Mamak harus Apaaa?

Sejujurnya.. Solusi yang dikemukakan oleh Dokternya ya kurang lebih sama saja dengan artikel-artikel di google itu. Tapi, entah kenapa rasanya lebih plong saja kalau mendengar solusi tersebut secara langsung. Apalagi nih.. Apalagi sang dokter bilang begini, “Anak saya dulu juga begini.. Ya Allah mba.. Seminggu enggak mau makan.. Menyusu aja kerjaannya..”

Disitulah saya merasa senang.. Hahaha..

Mau berpelukan sambil bilang, “Senasib kita maak..!”

Lalu menari di padang ilalang.. (imajinasi yang ter-innerchild oleh film india).

Jadi, setelah sepulang dari puskesmas.. Aku mulai melakukan hal-hal yang disarankan oleh Dokter tersebut. Hal-hal itu diantaranya adalah:


Mamak tidak boleh Stress

Tekankan pada diri sendiri.. Ini adalah hal yang sangat wajar terjadi dan aku tidak sendirian. Setiap Ibu pasti melalui fase GTM. Hanya saja.. Support systemnya yang berbeda. Jangan dong ya membandingkan diri sendiri dengan Nia Ramadhani. Enggak salak to salak banget.. Hahaha..

Bahagialah menyambut proses ini. Bawalah si kecil keluar rumah jika sudah jenuh di rumah. Lakukan apa yang membuat mamak tertawa. Lakukan apa yang membuat si kecil tertawa. Kalau aku? Aku sudah mengetahui bahwa Humaira senang sekali melihatku berjoget ria. Jadi, aku selalu memutar musik anak-anak sambil (membawa sendok). Jadi kalau anak tertawaaaa… langsung seraaang!!!

Bersahabatlah dengan Teknologi

Siapa bilang anak tidak boleh terpapar gadget? Tidak boleh menonton TV? Siapa? Siapa?

Nia ramadhani? Enggak kan? (kok kesini?)

Lupakan sejenak mak.. Nasehat-nasehat pakar parenting yang seklek banget itu. Stress kalau dimasukin keotak semua. Beneran ini.

Nyatanya, para Emak tanpa ART itu butuh banget support system yang bisa menghemat budget. Dan itu adalah gadget. The Best Nanny for a Low Budget Mommy.. Hahaha..

Boleh banget kok melakukan jurus genjutsu dengan gadget. Asal jangan kelamaan. Coba tanya Uchiha Itachi apa efeknya kalau genjutsu kelamaan. Iya.. mata sharingannya berdarah. Gak mau kan begitu? Udah stress.. Mata berkantung.. Berdarah lagi.. Untung masih cakep yak! 

Aku sendiri mulai bersahabat dengan TV dan Youtube loh. Humaira suka sekali dengan nyanyian. Jadi, kalau dia senang kesenangan aku bisa banget sukses menyuapinya beberapa suapan. Dan itu bikin aku bahagiaaa banget.

Jangan bikin MPASI yang ribet-ribet

Musim anak GTM begini.. Kalau saran aku.. Janganlah bikin MPASI yang ribet-ribet. 

Udahlah itu bikinnya lama banget. Makaninnya lama banget juga lagi. Kapan euy tugas domestik emak-emak kelarrr? Kapaan? (sambil ngambil pisau dapur)

Sudahlah.. Sejak anak kedua ini aku enggak mau lagi deh jadi mommy perfeksionis kayak anak pertama dulu. Mau jadi mommy yang balance aja kehidupannya. Kadang kalau rajin ya home made. Kalau enggak rajin dan enggak ada waktu ya pakai aja MPASI instan. Toh, itu tidak apa-apa loh

Iya,berdasarkan hasil curcol dengan Dokter Anak di puskesmas kemarin aku mengetahui kalau dokter tersebut juga tim MPASI instan. Katanya, its okayyy..

Justru MPASI instan sudah tertakar nutrisinya. SDan itu lebih komplit. Tapi, kalau bisa membuat sendiri MPASI dengan nutrisi yang lengkap kenapa tidak? Intinya.. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing. 

Memang, MPASI instan itu tidak kaya rasa. Rasanya ya begitu-begitu saja.

Tapi, bisa kok diakali. Aku sendiri sering mencampur MPASI instan dengan berbagai bahan untuk cita rasanya.

Kadang, aku campur bubuk MPASI instan dengan kaldu haruan. Tergantung MPASInya juga ya. Kalau beras merah biasanya dicampur apa saja cocok. Kadang aku juga menambahkan parutan wortel dan kocokan telur yang direbus. Hasilnya jadi lebih enak.

Coba Metode BLW yang aman sesuai dengan umurnya

Sebenarnya, aku bukan penganut BLW atau Baby led Weaning yang mempercayakan makanan kepada tangan bayi sepenuhnya. Ada beberapa faktor yang membuatku tidak menganutnya. 

Yang pertama adalah BLW tidak direkomendasikan oleh IDAI maupun WHO. Sebenarnya responsive feeding lebih direkomendasikan.

Yang kedua, aku tidak sanggup melihat makanan berantakan dan terbuang. Aku sangat sanggup melihat rumah berantakan. Tapi tidak untuk makanan. Itu membuatku stress luar biasa saat melihatnya. Apa? Pakai kursi makan? Tetap saja berantakan. Pasti masih banyak yang berceceran dilantai dan tidak selamanya lantaiku bersih.

Tapi, aku kadang BLW juga sih.. Tapi BLW yang diawasi. Bagaimana itu?

Ya.. Humaira memang lebih suka memakan makanannya sendiri. Tapi dia masih sangat rentan tersedak. Karena itu aku masih memilah milih makanan yang cocok untuk tangannya. 

Untuk buah-buahan, Humaira bisa memakan pisang sendiri. Dan untuk yang lainnya aku mempercayakan pada MPASI instan lagi.

Gigi Humaira yang ingin tumbuh tidak bersahabat dengan MPASI hangat dan kental. Maka, dokter menyarankanku untuk mendinginkan MPASInya di kulkas. Aku berinisiatif untuk mengurangi kadar air MPASInya dan menaruhnya di freezer selama beberapa menit. Hasilnya? MPASI itu bisa dibentuk menjadi bulatan chewy layaknya marsmallow  yang kenyal. Alhamdulillah..Humaira suka memakannya dengan tangannya sendiri.

Jangan terlalu memaksakan porsi MPASI sesuai standar

Kadang, kalau sedang menyediakan MPASI.. Aku cuma menyajikan seperlunya saja.. Sebisanya saja.. 

Karena kalau harus sesuai standar maka status kewarasanku bisa tidak terkendali. Hahaha.. FYI, anak pertamaku si Pica dulu adalah korban kekerasan sendok MPASI. Karena aku sempat kesal dia tidak mau makan. Aku memaksanya untuk makan dan membuka mulutnya. Akhirnya.. Dia trauma.. Dan tau gak kaleyanss.. Si Pica dulu ASI ekslusif selama satu tahun. Huft.. 


Pengalaman itu terulang. Biasanya kalau sudah tidak mood makan Humaira bisa menangis kejer. Dan suaranya benar-benar menguji kewarasan. Sampai-sampai tetangga mendengar suaranya loh (Disitu kadang wajah jutek milikku dipertanyakan..). Untungnya, aku sudah bisa mengontrol emosiku. Ya sudahlah.. Suapin sebisanya saja.. 

Kadang aku memulai mempersiapkan MPASI dengan ⅓ porsinya saja. Kalau sudah habis dan dilihat mood humaira masih stabil maka aku akan menambahkannya lagi sedikit. 

Karena aku adalah tipe mamak yang anti mubazir. Jadi, kalau bubur tidak habis.. Maka pastilah ia berakhir di perutku. Jadi akan lebih baik jika mengolah MPASI seperlunya saja. 

Banyak Menyusui dan Sediakan Banyak Cemilan di rumah

Ya sudahlah.. Kalau anak GTM itu memang gentong emaknya harus selalu kenceng. Karena itu stok makanan di rumah harus tetap stabil. 

Untuk yang perekonomiannya masih labil sepertiku.. Maka membuat masakan dan cemilan homemade mungkin akan lebih baik. Karena selain hasilnya lebih banyak, juga lebih sehat, hemat dan menyenangkan suami. 

Iya, aku tim instan buat MPASI anak tapi tim homemade buat keluarga. Karena memang jauh sekali selisihnya kalau makanan serba beli. Huhu.. 

Tapi kembali lagi disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Kalau punya budget berlebih untuk membeli kenapa tidak? Perekonomian jadi lebih stabil kan jika membantu orang? 

Yang penting.. ASI selalu ada dan ibu bahagia..

Jangan Peduli Omongan Orang..

“Anaknya kok kurus.. Bukannya umurnya seumur ya sama anakku?”

“Iya nih.. Anaknya emang badannya proporsional sekali. Nurun dari emaknya mungkin.. ” *kibas alis..

Ah, inget banget sama berita yang berseliweran beberapa minggu lalu. Tentang bayi yang meninggal gara-gara digelonggong ibunya pakai air. Konon katanya, si ayah protes anaknya gak gemuk kayak kembarannya yang diasuh sama mamanya. 

Ya eya lah si Ibu emosi. Emangnya mudah bikin bayi gemuk? Apalagi genetiknya ya udah kurus.. Apalagi uang bulanan pas-pasan.. Masih ngontrak pula. Kalau kondisi ibunya sedang tidak waras.. Memperdulikan omongan orang itu bahaya loh. 

Jadi, cuek aja lah.. Menumbuhkan pikiran positif itu dimulai dengan menghindari orang-orang yang bermulut pedas. Kita punya sisi bahagia yang lain. Iyakan? Coba berkaca.. Pasti ada deh! 

Ya.. Begitulah.. GTM memang sangat menyita kesabaran. Kadang juga menguji kewarasan. Satu hal yang pasti bahwa tiap bayi punya fase GTM.. Itu pasti dan yakinlah kita tidak sendirian.

Bayi-bayi gemuk diluar sana pun pasti memiliki satu-dua masalah. Hanya saja kita tidak tau. 

GTM adalah fase dimana bonding Ibu dan Anak diuji. Peluklah ia.. Bicaralah padanya.. Abaikan sedikit pekerjaan domestik.. Bicaralah pada pasangan.. Serta tidak lupa berdoa.. 

Semoga lelah ini menjadi lillah.. Amiiin.. 

Nah.. Kalian punya pengalaman sama tentang anak GTM? Sharing yuk! 

I

#FBB Kolaborasi Sejak Jadi Emak-emak, Aku mulai Sensi dengan Makhluk Bernama Kucing

#FBB Kolaborasi Sejak Jadi Emak-emak, Aku mulai Sensi dengan Makhluk Bernama Kucing

“Mama tuh gak mau di rumah ada binatang peliharaan. Bulunya itu loh win.. Belum lagi bla bla bla.. “

Itulah ceramah yang sering aku dengar dahulu saat aku diam-diam memelihara kucing jalanan. Yaa.. Sejak kecil aku suka sekali dengan kucing. Sejak SD aku sering diam-diam memberi makan kucing jalanan, memeliharanya hingga membawanya kerumah. Namun mamaku selalu melarangku. Hingga suatu hari, malah mama sendiri yang meminta seekor kucing dari keluargaku. Katanya, kucing yang dipelihara lebih bersih dibanding kucing yang aku pungut dari jalanan.

Sejak itu, aku tergila-gila dengan makhluk yang bernama kucing. Aku sering membawanya ke kamarku untuk diajak tidur bersama. Setiap sore aku selalu ‘ngobrol’ dengannya. Belum lagi kalau rasa gemes ku menjadi-jadi. Aku bisa saja mencium kucingku. Serius ini.

Jadi, kali ini aku ingin bercerita tentang perkenalanku dengan kucing. Rasa cinta yang kemudian berubah menjadi benci, gemes dan jengkel. Cerita kali ini aku tulis dalam rangka ikut FBB kolaborasi dengan tema Hari Kucing Internasional yang jatuh pada Tanggal 8 Agustus kemarin.

Kalian tau? Aku punya Rhinitis Alergi

Sejak kecil aku memiliki riwayat alergi yang menurun dari ayahku. Bukan, bukan alergi gatal-gatal kulit begitu. Bukan juga alergi makanan. Aku alergi dengan debu, cuaca yang dingin dan yah… Bulu kucing.

Jika aku menyapu di pagi hari aku selalu membawa tisue di tanganku. Hidung dan mataku tidak bersahabat dengan debu plus udara di pagi hari yang dingin. Jujur, aku lebih suka mengepel lantai di hari yang panas. Walau berkeringat setidaknya hidungku aman dari mimisan yang tidak keren. Yah.. U know lah.. Sejak dulu aku menganggap cairan bening yang keluar dari hidung ini agak mirip dengan karakter ‘Bo’ di kartun crayon shinchan. Duh, tidak keren sama sekali.

Jauh lebih bagus mimisan darah yang kemudian di gendong sang pangeran.. *eyaa.. Khayalanku mulai menjadi-jadi.. 🤣

Dan Rhinitis alergi ku mencapai puncaknya jika aku sudah berhadapan dengan kucing. Jika sudah lama bermain dengan kucing mataku akan merah dan gatal, hidungku mengeluarkan cairan yang tidak keren dan rasanya luar biasa gatal.Anehnya, aku tidak jera bermain dengan kucing. Jika alergi ku kambuh aku hanya berhenti sejenak bermain dengan kucing. Kemudian membasuh muka dengan air bersih berkali-kali. Jika keadaanku sudah normal maka aku akan mengulangi kebiasaanku. Bagiku, bermain dengan kucing seperti kecanduan. Menyayangi kucing itu seperti sebuah therapi psikologis untukku. Jadi, biarpun aku alergi.. Tetap saja aku mencintai kucing lebih dari apapun.

Lalu, sejak kapan aku mulai sensi dengan kucing?

Bukan, bukan sejak menikah. Asal kalian tau saja.. Suamiku penggila kucing tingkat akut. Dan itu salah satu hal yang kusukai darinya. Karena akupun pecinta kucing garis keras.

Sejak hamil pun aku punya kecanduan dengan kucing. Aku memelihara kucing sejak TM 1 sampai TM 3. Merawat kucing sakit, membersihkan pup nya. Hingga para tetua menceramahiku bahwa kucing tidak baik bagi Ibu hamil karena yaah.. Search sendiri di google yak. Tapi aku cuek, toh kucing binatang kesayangan nabi. Itu pembenaranku. Aku bahkan sempat menulis tentang TORCH dan kucing dahulu.

Dan semuanya berubah sejak Farisha lahir..

Kalian tau? Sejak Farisha lahir aku tidak punya kucing di rumah karena kucingku dahulu sudah meninggal. Tapi bukan itu masalahnya. Toh aku punya Farisha dan dia telah mengisi seluruh waktuku. Jadi, kecanduan ku pada kucing tertutupi dengan munculnya Farisha.

Masalahnya adalah Farisha ternyata juga Rhinitis Alergi sama sepertiku

Iya, penyakit itu menurun pada anakku. Setiap cuaca dingin Farisha selalu pilek. Jika terkena debu ia langsung bersin. Dan jika bersentuhan dengan kucing.. Yah.. Itu yang terparah.

Entah kenapa aku tidak bisa melihat anakku ‘menderita’ karena kucing. Secara otomatis aku langsung menjauhkan kucing dengan Farisha. Aku ingin melindunginya. Aku tidak ingin penyakit tidak keren Farisha kambuh karena kucing. Aku tidak tega melihat matanya merah dan berair. Aku BENCI setiap kali melihat kucing mendekati anakku.

HUSH HUSH..

Seruan itu sering aku serukan setiap kali melihat kucing mendekati Farisha kecil. Bagiku, anakku jauh lebih berarti dibandingkan dengan kucing. Entah selucu apapun kucing itu. Padahal, Farisha selalu menangis setiap kali melihatku memburu kucing. Aku tau, Farisha suka sekali pada kucing. Setiap kali melihat kucing, Farisha kecil selalu berseru dengan bahasa bayi. Dia memanggil kucing dengan sebutan “Biii..” waktu itu. Tapi bagiku, kucing tersebut terlihat seperti pembawa penyakit. Yah, itulah.. Sejak menjadi Emak-emak perasaanku pada kucing berubah 180 derajat.

Kini aku mengerti perasaan mama dahulu. Kenapa mama tidak memperbolehkanku memelihara kucing.

Menumbuhkan kembali rasa cinta pada Kucing selama menjadi Emak-emak

Tapi, rasa benci itu tidak boleh kekal. Aku harus belajar mencintai. Seperti mamaku dahulu yang belajar menerima dan mencintai apa yang disukai oleh anaknya..

Maka, tepat ketika Farisha berumur 3 tahun.. keluarga kami memutuskan untuk mengadopsi kucing dari Ibu Manik, teman dosen ayah Farisha di kampus. Kucing ini berjenis Tonkiness. Matanya biru dan belangnya putih keabu-abuan. Kami memeliharanya sejak berumur 2 bulan. Kalian tau? Farisha sangat amat senang ada kucing di rumahnya. Kucing itu bernama Dusty.

Selama 2 tahun Dusty di rumah, aku pernah berteriak memarahinya beberapa kali. Bahkan pernah menangis dan meminta suamiku membuangnya. Bagaimana tidak? Kucing ini beberapa kali pup dan muntah di rumah. Sementara pekerjaan rumahku banyak. Belum lagi kalau Farisha alergi.. Rasanya itu Grrrrrrr…..

Walau suami berjanji akan mengurus segala hal tentang kucing itu tetap saja aku yang 24 jam berada di rumah. Kadang, aku bisa saja iseng memangkunya sekedar untuk bernostalgia dengan masa kecilku yang begitu menyayangi kucing. Sayangnya aku lebih sering emosi dengan kucing ini. Tapi serius, mungkin ini namanya benci tapi cinta. Masa sih setiap hari aku yang rutin memberinya makan. Bahkan aku juga yang kepasar membelikan ikan pindang khusus untuknya. Membersihkan ikannya dan membumbuinya dengan garam dan asam lalu menggorengnya. Dih, aku ini benci atau suka sih dengan kucing ini?

Ah, entahlah..

Dan emosiku semakin menjadi-jadi kala menghadapi masa birahi nya sang kucing. Bayangkan! Gorden, dinding, lemari dan perkakas lain di rumahku selalu dipipisin si Dusty. Bahkan walau sudah aku teriaki pun sempat-sempatnya si kucing nyemprot. Mengesalkan sekali. Puncaknya, pernah loh aku mengambil sapu dan mengejar kucing ini dihalaman. Jangan khayalkan kekonyolannya.

Sungguh, ini memalukan. 😣

Akupun curhat dengan Suami. Meminta agar si Dusty di kebiri saja. Mengesalkan sekali dia. Dan kalian tau apa yang dilakukan suamiku?

Dia membawa kucing baru ke rumah. 😅

Namanya Finger. Warnanya jingga dan putih. Dia kami pelihara sejak berumur 3 bulan. Kucing yang satu ini jauh lebih menyenangkan. Mungkin juga karena ia mengingatkanku pada kucing jalanan yang aku pelihara pertama kali waktu kecil. Kucing ini manja sekali. Dia selalu ingin tidur di kaki majikannya. Aku sih oke ya.. Asal Farisha tidak tidur dengannya.

Finger adalah kucing terbaik yang pernah dimiliki keluarga shezahome. Untuk ukuran kucing domestik, kucing ini memiliki bulu yang bagus. Dan dia sangat manja dengan majikannya meskipun sudah memasuki umur birahi. Suamiku berkata, “Finger bagaikan istri kedua.. “

Yaah.. Eike dipoligami sama kucing.. Genks.. Kucing laki-laki pulaa.. Wkwk..

Sayangnya Finger menghilang saat Humaira lahir. Iya.. Hilang begitu saja genks.. Entahlah kenapa itu pokoknya aku ikut sedih dan merasa kehilangan banget.

Sejak Finger hilang, si Dusty mulai suka kerumahku lagi. Tapi, Dusty yang sekarang sangat berbeda. Ia hanya pulang untuk sekedar minta makan. Selebihnya, dia hanya meninggalkan pipis dan keluar lagi untuk berpacaran. Hmm.. Dasar playboy. Karena itu, kami keluarga shezahome memutuskan untuk memelihara kucing baru di rumah.

Namanya Hatori dan Shiro. Kucing ini didapatkan dari teman kampus suamiku. Umurnya masih 2 bulan saat kami adopsi. Ini adalah kali pertama aku memelihara 2 ekor anak kucing di rumahku sendiri. Apalagi keduanya masih kecil dan tidak bisa ditaroh diluar rumah. Alhasil, cobaan pup dan pee di pagi hari selalu menguras emosi.

Sensi kepada kucing datang lagi. Yah.. Sepertinya aku benar-benar mengerti kenapa para emak-emak kadang suka benci sama kucing. Haha..

Tapi aku menghadapinya. Kadang aku ikut membersihkan kotorannya. Kadang, aku mengajak Humaira ikut bermain dengannya. Ya, asal kalian tau juga.. Humaira juga memiliki Rhinitis alergi yang menurun dariku. Tapi aku memutuskan untuk menghadapi alergi itu.

Karena konon aku percaya pada sugesti konyol para tetua, yaitu..

“Penyembuh alergi adalah menghadapi alergi itu sendiri. Bukan menghindarinya.. “

Ah, semoga saja benar. Karena bagaimanapun juga.. Sulit rasanya membenci Makhluk lucu ini..

Hadapi Mom Shaming dengan 6 Jurus Jitu Ini

Hadapi Mom Shaming dengan 6 Jurus Jitu Ini

“Wah, kok IRT aja pakai jasa ART.. Aku dulu loh..mana udah kerja..segalanya diurus sendiri di rumah habis melahirkan..”

“Aduh, anaknya kok dikasih sufor? Memang sih udah 7 bulan. Tapi sufor itu kan begini loh mom.. Bla bla..”

“Waduh, rumah kok berantakan sekali.. Padahal emaknya di rumah terus.. Masa ngurus anak n rumah aja keteteran..”

Dst dst..

Pernah mengalami hal ini? Di-nyinyirin sama emak-emak yang ngakunya nih paling sempurna. Bikin kita berasa jadi emak paling berdosa sedunia. Haha. Itu namanya adalah Tragedi Mom Shaming.

Mom Shaming ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena jika kita mengalaminya, besar kemungkinan kita akan rendah diri, tidak bersemangat bahkan juga depresi. Ya, mom shaming ini adalah salah satu pemicu Baby blues dan PPD.

Makanya, sebagai emak-emak pejuang kewarasan kita wajib tau apa saja jurus untuk melawan mom shaming ini. Nah, berikut adalah jurus-jurus yang biasa aku terapkan jika berhadapan dengan mom shaming.

1. Cuek, anggap saja pelaku Mom Shaming terkena Perfectionis Sindrom

Biasanya, Pelaku Mom Shaming adalah orang yang merasa dirinya paling sempurna sedunia dan dia selalu heran, Mengapa mama lain tak bisa seperti dirinya?

Hal yang harus kita lakukan jika bertemu mama semacam ini adalah cuek. Lalu, buat pikiran positif seperti..

Ah, mungkin mama yang satu ini lingkungannya menuntutnya untuk serba sempurna.

Ah, mungkin mama yang satu ini innerchildnya menuntut untuk selalu sempurna dan ia terbiasa dituntut sempurna sejak kecil.

Ah, mungkin mama yang satu ini kondisi ekonominya sedang down. Sehingga ia stress dan melampiaskan kesempurnaannya pada orang lain untuk mengharapkan pujian.

Pahamilah pelaku mom shaming itu juga mungkin tertular oleh lingkungannya. Jika kita tak bisa cuek dan menerima hal itu maka kita akan tertular. Apalagi jika kita sedang sensitif, besar kemungkinan kita juga menyebar aura negatif pada orang lain. Lantas, bagaimana caranya untuk menghentikan rantai mom shaming ini?

2. Fokus pada Passion Kita

Ya, selain CUEK kita juga harus FOKUS PADA PASSION KITA.Biarlah mereka bilang kita ibu pemalas yang tidak bisa memasak. Biarlah mereka bilang kita ibu yang boros karena suka travelling. Biarlah mereka bilang kita kecanduan gadget. Dikit-dikit liat hape.. Dikit-dikit senyum-senyum..

Yang penting, kita punya kesenangan yang dilakukan. Dan bentuk kesenangan itu berguna bagi orang lain. Mereka sih tau apa tentang dunia kita? Passion kita? Cara kita mencintai keluarga kita? Relationship khusus kita dengan gadget sebagai alat penghasil uang sampingan.

Oh.. U dont Know Nothing Jon Snow.. (Loh kok jadi begini? 😂)

Biarlah mereka bilang begini begitu. Yang penting, passion kita terus maju. Buktikan kepada mereka bahwa kita tuh bukan seperti yang mereka pikirkan.

3. Bentuk circle pergaulan yang satu arah dengan kita

“Tapi lingkunganku ini jelek mom.. Semuanya julid sama aku..”

Jawabannya, menjauh dari sana. Pindah ke circle pergaulan yang mendukung passionmu. Kita butuh itu. Kita butuh komunitas yang mendukung passion kita.. Suami yang memahami kita.. Teman-teman yang menggenggam tangan kita.. Fokuslah berteman dengan orang-orang yang memberikan semangat pada kita.

Mereka julid dengan Passion Memasak kita yang tidak bisa menghasilkan uang? Cari teman satu hobi.. Bersosialisasilah dengannya, bentuk bisnis bersama. Tidak bisa punya teman didunia nyata karena terlalu introvert? Buat blog memasak, cari circle yang mendukung didunia maya.

Mereka julid dengan kita yang hobi utak atik laptop dan gadget? Ngatain kita pemalas karena ini itu serba beli? Cuekin. Selama kita punya Suami yang mendukung di belakang kita dan teman komunitas yang satu hobi dengan kita.. Maka kita tidak sendirian.

Yah, yakinkan diri bahwa passion kita dihargai oleh circle pergaulan yang tepat.

4. Ingat.. Jika Pelaku Mom Shaming Ada di Status Sosial Media itu Sama Sekali Bukan Urusan Kita

Maksudnya? Apa? Maksudnya adalah.. Jika ada mama yang membuat status sok perfeksionis tentang kehidupannya.. Please JANGAN BAPER.

Misalnya:

“Menu hari ini: Sup Ikan bebas MSG.. Modal cuma 15ribu bisa buat makan satu keluarga..”

Lantas, Anda Baper karena hari itu menunya serba beli dan menghabiskan uang ratusan ribu untuk makanan yang belum tentu bebas MSG. Buat apa Baper? Itu adalah status orang. Kebahagiaan dia untuk memposting apa yang ia lakukan hari itu. Bisa saja ia melakukannya karena kurangnya apresiasi didunia nyata. Bisa saja ia melakukannya karena ia memang senang ‘pamer makanan’ dan bangga menjadi Ibu yang hemat. Dimana salahnya?

Contoh lainnya..

“Bahagianya jadi Ibu Rumah Tangga.. Bisa mengurus anak, dapur, dan berbisnis di rumah. Aku selalu takut saat bekerja dulu terutama saat menitipkan anakku pada mertua.. Bla bla.. Untuk itu aku akhirnya memutuskan resign.. Bla bla..”

Lantas, Anda yang bekerja dan menitipkan anak jadi Baper dengan status tersebut? Tidak ada gunanya. Itu adalah status mama yang butuh apresiasi. Bisa jadi ia tidak memperoleh pencapaian seperti saat bekerja dulu. Ia ingin membahagiakan diri dengan membuat status sok bahagia.

Kita tidak usah baper dengan drama-drama status mama lain di sosial media. Itu sama sekali bukan urusan kita.

Jika saja status mama lain tersebut amat sangat mengganggu solusinya sangat simple. Ada opsi unfollow, hide, mute supaya mata dan hati kita lebih terjaga. Sesimple itu. Beda halnya jika pelaku mom shaming didunia nyata.. Mau tidak mau harus bertemu setiap hari.. Bahkan serumah dengan kita.. Hihi..

Lantas, bagaimana jika pelaku mom shaming ada di komunitas sosial media? Menyerang kita secara blak blakan pada kolom komentar lalu begini dan begitu?

Aku sendiri pernah mengalami hal ini. Solusi yang kuambil adalah diamkan. Tidak usah melawan dan memperpanjang kolom komentar, terlalu keruh jadinya. Lebih baik lari kesolusi berikutnya yaitu menghibur diri sendiri.

5. Hibur Diri Sendiri dengan Cara yang Menyenangkan

Apa hiburan yang menyenangkan bagi kita? Lakukan!

Bagiku sendiri hiburan yang paling menyenangkan itu adalah menulis. Menulis kata-kata negatif maupun positif. Kenapa kata-kata negatif juga?Yah, bagaimana ya.. Sejak kecil menulis itu adalah candu buatku. Saat dibully temanku waktu kecil.. Aku menulis dibuku harianku. Mengatakan ujaran kebencian pada teman-teman yang membullyku dibuku harianku. Lantas, pada sore hari ketika mama menyuruhku untuk menyapu daun kering di halaman aku menyobek dan membakar kertas itu bersama daun-daun kering. Hatiku berkata, “Oke kita sudah berdamai.. Yang penting aku sudah menulis bahwa aku benci sekali. Besok, aku sudah berdamai dengan kalian..”

Seampuh itu the power of curhat dengan tulisan.

Makanya pada point sebelumnya aku berkata jangan baper dengan status mama lain di sosial media. Kita tidak tau bahwa mungkin saja status negatif yang ditulisnya adalah terapi bagi jiwanya. Yah, itu sih hiburan bagi mama introvert macam diriku. Menulis kata negatif untuk dapat ‘be positif’ dengan orang-orang di sekitar. Menulis kata negatif lalu menghilangkannya untuk dapat menulis kata positif yang abadi.

Mungkin, bagi mama yang lain hiburan untuk berhasil ‘cuek’ terhadap pelaku mom shaming adalah dengan traveling, membaca buku, olah raga dll. Apapun itu, lakukan mom. Make ur self Happy!

6. Anggap Pelaku Mom Shaming adalah Pelaku Pencitraan

Jujur, Ini adalah solusi yang baru saja aku temukan. Dan solusi ini terinspirasi dari akun instagram Mamambisius. Mungkin, para Mom Blogger dan Mom Influencer sudah tau dengan Akun Instagram ini. Sungguh, sejak memfollow akun instagram ini hatiku benar-benar terhibur.

Haha..Yaa.. Untuk diriku yang jujur saja pernah dikelilingi oleh pelaku mom shaming.. Aku sempat merasakan MINDER dan RENDAH DIRI tingkat akut.

Something like.. Ahh.. Apalah diriku ini cuma IRT biasa, beda sama dia yang bisa belikan ini itu buat anaknya. Perempuan kan harus mandiri secara Finansial katanya..

Ahh.. Apalah diriku ini suka masak tapi gak bisa ngebuka catering dan jualan kue. Ngurus anak aja kena babyblues sampai PPD.

Ahh.. Apalah diriku ini yang gak bisa kayak Mom A. Mom yang ngakunya gak punya ART tapi bisa Homeschooling anak-anaknya yang jumlahnya 5 orang, jarak dekat-dekat pula, bisa nulis buku pula, selalu aktif di sosial media pula. Aku? Dan instagram mamambisius ini muncul sebagai hiburan dengan kasus-kasus pencitraan versi dia. Captionnya yang menghibur membuat perutku sering sakit menahan tawa. Aku akhirnya bisa mengimajinasikan bahwa persaingan konyol antara mama mama dilingkunganku adalah terapi pencitraan semata (walau mungkin kenyataannya tidak).

Dari instagram itu aku dapat mengambil kesimpulan positif.Ah, kompetisi antar emak-emak itu konyol. Enggak usah diikuti. Cukup dibuat fun saja.Karena setiap Ibu punya cara masing-masing untuk membahagiakan keluarganya.Ibu yang baik tidak peduli pada persaingan antar mama yang membuat mom war berkepanjangan..

Ibu yang baik adalah ia yang dapat membahagiakan keluarganya dengan fokus pada kelebihannya. Ia percaya diri pada kemampuannya dan tidak minder saat melihat kelebihan Ibu yang lain.

Cause Everymom is Special.. Right?

Suka Duka Perjalanan Emak Mencari ART

Suka Duka Perjalanan Emak Mencari ART

“Udah dapet ART buat di rumah win?” Tanya Mamaku 3 hari sebelum jadwal operasi Cesar.

Dan aku hanya menjawab santai, “Sudah ma, nanti kalau winda pulang dari RS baru dia mulai kerja di rumah..”

“Serius kan kali ini beneran bisa kerja orangnya?”

“Iya ma.. Kemaren sudah winda jadiin supaya fix kerja. Trus sudah winda suruh juga supaya bilang2 kalau gak jadi karena halangan bla bla..”

Tiga hari kemudian, ketika aku sudah melahirkan.. Mama bilang lagi..

“Telpon sekarang deh ART-nya, bilang sudah melahirkan dan yakinin lagi. Entar gak jadi lagi deh..”

“Oke ma..”

Daaaaan… Setelah berpuluh kali menelpon dan tak kunjung diangkat.. Akhirnya, aku mendapat WA dari tetangga ART tersebut..

“Wah.. Mama Yati-nya (nama samaran) udah kerja di lain Win.. Aku juga baru tau kemarin diceritakan anaknya..”

“Loh, kok gak bilang-bilang saya ya mba? Bukannya kemarin sudah ada kesepakatannya?”

Dan setelah panjang lebar berbicara lewat telepon.. Akhirnya aku cuma bisa bilang, “Ya sudah lah..”

Ya sudah lah emak gak jadi punya ART pasca melahirkan.

Ya sudah lah emak kerjain segala kerjaan rumah sendirian.

Ya sudah lah suami gak bisa ambil cuti.

Ya sudah lah.. Ya sudah lah..

Why Emak Harus Punya ART?

“Kamu mau kerja ya? Kok nyari ART?”
“Ya.. kan aku bentar lagi melahirkan..”
“Mau cesar lagi? Gak mau nyoba normal?”
“Ya.. Kan jaga2 kali aja cesar lagi. Kalo cesar jelas gak bisa kerja berat2 di rumah sendirian..”

Dan si Dia pun ber ‘Ooooo…’ dan berhenti bertanya.

Ya kan, walau aku sudah berusaha untuk VBAC (Vaginal Birth After Cesar) tapi kenyataannya aku harus Cesar lagi karena posisi bayi yang mendadak melintang. Lagi pula, aku cesar gratis kok. Weee.. 😛

Baca juga: Cesar Gratis dengan BPJS? Bisa dong..

Jelas ya, untuk kesehatan jasmani dan rohani memiliki ART untuk membantuku di rumah pasca melahirkan cesar adalah list wajib buat aku. Apalagi, aku punya riwayat baby blues hingga PPD. Itulah kenapa sembilan bulan belakangan aku sangat menghemat budget untuk moment melahirkan ini. Aku bahkan tidak memakai tabungan dari penghasilan ngeblog dan ngebuzz. Demi apa? Demi punya ART dong..

Baca juga: Curhat emak mantan penderita PPD, “Begini caranya supaya istri tidak stress pasca melahirkan”

Jadi, bodo amat ah yang bilang, “IRT aja pake ART.. Aku dulu melahirkan ini itu sendirian aja.. Kasian abis duit lakinya.. N bla bla..”

Apa lo?
Gue ngelahirin Cesar gratis. Dan gajih ART itu pake tabungan Gue. *mohon maap.. Anaknya lagi emosi.. Wkwkwk..😂

Tentang Perjalanan Ketika Mencari ART

Well, sebenarnya sejak usia kandungan 6 bulan aku sudah kesana kemari mencari ART. Dari mencari kepelosok pinggiran sungai alalak Banjarmasin hingga meminta tolong kepada mertua maupun minta rekomendasi tetangga. Dan akhirnya, aku mendapatkan calon ART dari rekomendasi mertuaku.

Calon ART itu tiba-tiba datang kerumah dengan mertua. Kalian tau kan kalau mertua kerumah, menantu itu suka pencitraan. Something like.. Sok kalem.. Sok enggeh.. Haha. Jadi, ketika ART itu kerumah aku sok-sok iyes aja. Tiba-tiba aku tau kalau calon ART ini adalah keluarga jauh dari mertua dan lebih shock lagi ketika dia minta gajih yang tidak seperti rata-rata ART yang bekerja setengah hari. Ya.. Aku cuma bilang bahwa aku cuma butuh ART untuk menolongku membersihkan rumah dan mencuci baju. Gajih yang diminta benar-benar tidak sesuai dengan itu. Tapi, ya sudah lah.. Namanya sudah dicarikan, apalagi oleh mertua. Aku oke, demi menjalin hubungan baik.

Tapi, aku masih tidak bisa melepas sindrom perfeksionis yang aku miliki. Jadi suatu hari Calon ART tersebut aku suruh untuk kerumahku agar bisa latihan kerja, karena mungkin aku tidak bisa melatihnya ketika sudah melahirkan nanti. Tapi, dua minggu bulan januari berlalu dan calon ART tersebut tak kunjung datang kerumah. Akhirnya, aku jadi bertanya-tanya juga.. “Ini serius mau kerja atau enggak ya?”

Iya, aku orangnya begitu memang. Kalau Plan A tidak jelas maka harus lari ke Plan B. Diam-diam aku mencari ART via online. Dari curhat bombay di Instagram Stories hingga meminta tolong di akun lowongan perkerjaan kalselteng. Tak lupa memberitahu teman-teman di Komunitas FBB juga.

Lalu, salah seorang anggota FBB menghubungiku. Dia bilang, dia punya kontak beberapa calon ART. Dan waw, aku dapat banyak banget. Langsung say “Alhamdulillah dan berterima kasih sekali.”

Dan satu persatu kontak pun aku hubungi.

Ada pula yang menghubungiku karena melihat pengumuman di Instagram lowongan pekerjaan. Dan dari semua yang kuhubungi dan menghubungiku.. Aku tertarik dengan 2 orang. Yang pertama adalah Mahasiswi Unlam semester akhir, sedangkan yang kedua adalah seorang Ibu Rumah Tangga.

Aku pun menyuruh sang Mahasiswi untuk berkenalan sekaligus training kerja di rumah. So far, aku suka dengan attitude mahasiswi ini. Dia jilbaban, terus ketika disuruh begini begitu dia bilang “Enggeh” (bahasa sopan ‘Iya’ ala orang banjar). Walau masih mahasiswi dan kemampuan pekerjaan rumah tangganya masih biasa saja aku tak masalah. Malah salut loh, karena masih mahasiswi saja sudah mau bekerja tak pilih-pilih. Ehm, aku dulu waktu masih mahasiswi apa kabar?

Tanpa berpanjang lebar akupun langsung meminta KTP dan KTM mahasiswi tersebut lalu memotonya kemudian bilang bahwa ia mulai kerja mungkin sekitar 2 minggu lagi, karena tidak mungkin dong aku menyuruh untuk kerja dari sekarang. Sementara aku masih sibuk keluar rumah mengurus ini dan itu. The fact is.. Aku gak bisa ninggalin rumah dengan ‘orang asing’ di dalamnya.

Cukupkah pencarian ART sampai disana?

Oh tidak.. Plan A, Plan B, dan Plan C.

Plan C harus ada. Aku menghubungi Calon ART dengan latar belakang Ibu Rumah Tangga untuk training di rumahku. Aku suka dengan gaya bahasanya menghubungiku dan foto profil di WAnya juga bercadar. Kupikir dia pastilah seorang Ibu Rumah Tangga yang baik. Lalu, pada hari H aku menyuruhnya datang kerumah.

Tapi, tiba-tiba dia bilang tidak bisa datang kerumah. Dan dia bilang lagi bahwa sudah diterima bekerja di salah satu rumah makan di Banjarmasin. Aku pun ber, ‘Ooo’ sambil mengetik Alhamdulillah dan kata baik lainnya. Tapi.. Eh, kok foto profilnya tiba-tiba berubah?

Foto profilnya berubah menjadi seorang ibu dengan baju seksi dan dandanan yang lengkap sambil berselfie. Rupanya, itulah dirinya yang asli. Dan, iseng aku melihat statusnya di WA story.. Lalu, aku mengernyitkan dahi dan bilang.. “Oh, ternyata calon ART yang ini Janda”

Fix, plan C dibuang. Aku sedikit trauma dengan ART janda. Dulu, waktu masih tinggal dengan orang tua.. Sejak SD sampai SMA aku punya ART di rumah. ART mama berganti-ganti. Pengalaman demi pengalaman memilih ART sudah kenyang aku rasakan. Tapi pengalaman terburuk adalah saat memiliki ART janda. Dua kali mama mendapat ART janda untuk kerja di rumah, dan dua kali pula ART itu tidak baik. Did you know what I mean?

Yah.. Untungnya, Ayahku termasuk yang punya iman kuat dan tidak gampang tergoda.

Dan akupun bergantung pada plan A dan plan B. Sampai suatu ketika, calon ART dari mertua aku suruh datang lagi kerumah di pagi hari. Dan dia datang memang, tapi datang di sore hari. Belum lagi dia bilang bahwa bisa kerja dimulai jam9 pagi dan libur di hari minggu. Entahlah, untukku dengan bayaran yang segitu tinggi rasanya tidak sepadan. Dan disuruh training kerumah saja tidak kunjung datang atau tidak tepat waktu. So, Plan A aku buang. Setelah berdebat sepanjang hari dengan suami.. Hahahaha..

Lantas, apa ART plan B berjalan lancar? Sayangnya, tidak semudah itu ferguso.. 12 hari sebelum HPL sang mahasiswi tersebut menghubungiku dan memberitahuku bahwa tidak dapat bekerja di rumahku karena keluarganya baru saja melahirkan dan ia disuruh untuk membantu. Rasanya, kepalaku langsung pusing mendadak. Hahaha

Akhirnya, aku menghubungi kembali nomor-nomor WA calon ART yang pernah menghubungiku. Tapi, rata-rata dari mereka sudah bekerja. Dan akupun menghubungi member FBB yang memberiku nomor calon-calon ART lagi. Akhirnya, bertemulah aku dengan calon ART baru. Seorang Mahasiswi (lagi).

Aku pun juga meminta tolong di instagram lowongan pekerjaan lagi. Dan menghubungi teman diinstagram yang direct message denganku setelah membaca instagram storiesku. Ya, karena aku terlalu percaya pada plan B awalnya maka sarannya aku tolak. Lalu, aku hubungi lagi dong. Haha..

Akhirnya, setelah calon ART mahasiswi 2 datang dan training di rumah. Ada dering telpon berbunyi dan terdengarlah suara Ibu-ibu yang bertanya tentang pencarian ARTku. Bertanya dengan detail seperti domisiliku dan gajih serta detail pekerjaan yang dilakukan. Lantas, Apa kataku? Aku bilang, “Nanti saya hubungi lagi ya bu kalau jadi..”

Calon ART mahasiswi ini terlihat sangat kalem. Berjilbab dan berbaju sopan rapi. Sudah dua kali aku menyuruhnya training di rumah dan baju yang ia pakai teramat rapi. Sungguh tidak cocok untuk dibawa bekerja di rumah. Haha.. Tapi tak apa pikirku.. Namanya juga mahasiswi. Dan ketika aku meyakinkannya untuk bekerja di rumah dia terlihat sangat meyakinkan dan sayYES BANGET’. Akhirnya, aku hanya berharap padanya dan tak lagi menghubungi Ibu yang menelponku tadi.

5 hari sebelum HPL aku mendapat kabar mengejutkan. Calon ART mahasiswi 2 tersebut tidak dapat bekerja di rumahku. Lantaran ada mata kuliah siang wajib dadakan untuk mahasiswi semester akhir. Ah, entahlah ini hanya sandiwaranya atau apa.. Yang jelas, aku sangat kecewa sekali dengan mahasiswi ini. Seharusnya, ia cepat memberitahuku. Bukan mendadak begini. Sebentar lagi aku kan melahirkan. Dan aku sudah tau kalau positif Cesar karena bayi yang melintang.

Akhirnya, aku menghubungi Ibu yang menelponku beberapa hari lalu itu. Diapun membalas WA-ku dan berkata bahwa tidak dapat membantu di rumahku karena ia akhirnya berinisiatif untuk berjualan makanan dengan pemasaran online. Aku tentu say Alhamdulillah.. Tapi juga sangat putus asa. Tiba-tiba Ibu tersebut bilang bahwa tetangganya membutuhkan pekerjaan. Dan tetangganya tersebut sudah pengalaman menjadi ART. Dan esoknya ia membawa tetangganya tersebut untuk berkenalan sekaligus training di rumahku.

Namanya Yati (nama samaran) seorang Ibu berumur 50an dengan 4 orang anak. Dua diantara anaknya masih sekolah dan dia baru saja berhenti dari tempat bekerjanya yang dulu karena gajih yang dirasa kurang. Jadi, setelah melakukan perkenalan, training hingga basa basi.. Ibu ini berkata bahwa bisa menjadi ART di rumahku. Walau kendalanya adalah jarak rumah kami yang cukup jauh dan Ibu ini tidak bisa memakai kendaraan. Tapi, dia terlihat meyakinkan.

Hingga hari operasiku pun datang. Dan akhirnya, ART terakhir ini berakhir seperti pembuka tulisan ini. Yes, batal.

Segala Relasi itu baik, namun relasi terbaik adalah orang terdekat dengan kita..

Aku menghela nafas. Duh, terbayang repotnya punya newborn pasca operasi cesar dan tak ada yang membantu. Terlebih suami tidak bisa cuti. Mama yang saat itu datang menjenguk di rumah sakit pun segera menelpon beberapa temannya untuk mencarikan ART. Namun, hasilnya nihil.

Dan suamiku pun menggerutu tentu. Berkata berkali-kali kenapa aku menolak ART yang dicarikan oleh mertua. Yah, jelas saja menolak kalau sulit sekali dihubungi. ART tersebut tidak punya HP. Tetangga dekatnya pun tidak ada yang bisa dihubungi. Belum lagi permintaannya, jam kerja yang sedikit serta gajihnya. Duh, tidak bisa. Berat beb, tabungan ngeblog emak beberapa bulan habis buat sebulan ceritanya. Hahaha..

Aku pun akhirnya menghubungi tetanggaku lagi. Tetanggaku itu punya kenalan ART yang banyak di sepanjang sungai alalak. Karena beliau memakai jasa ART setiap hari. Sayangnya, setiap kali aku bertanya dan mencari dengan beliau sebulan yang lalu.. ART yang beliau sarankan tersebut selalu berhalangan dan tidak bisa. Akhirnya, aku menyerah dan memutuskan mencari ART online yang berujung nihil. Saat menghubungi lagi pun aku hanya bisa berdoa..

Daan.. Beliau menjawab, “Nanti Ibu coba carikan keluarganya Acil Ina lah Mama Icha.. Mudahan bisa..”

Hari ke-4 di rumah sakit, akhirnya akupun diperbolehkan untuk pulang. Esok harinya, Ibu tetanggaku membawakanku ART dari kampung Alalak dekat rumahku.. Keluarga dari ART yang bekerja di rumahnya. Mataku langsung berbinar dan say.. Alhamdulillah..

Lihatlah, berputar putar aku mencari ART untuk membantuku. Dari mencari dengan Ibu tetangga di sepanjang sungai alalak hingga pencarian online. Ternyata, pertolongan Allah sungguh luar biasa. Aku dijodohkan bertemu dengan ART yang rumahnya tergolong dekat, gajih yang friendly, sangat cekatan, jujur dan bisa diajak curhat (hehe).

Sungguh, aku sangat amat beruntung mendapatkan ART yang satu ini. Sebut saja namanya Ila. Yang paling aku salut dari ART ini adalah dia sangat jujur. Keluarganya memang rata-rata bekerja sebagai ART dan Masya Allah.. Memang terkenal kejujurannya. Aku bahkan tidak takut meninggalkannya berdua saja dengan bayi di rumah. Orangnya sangat ramah dan jujur. Bahkan berkali-kali suami lupa menaruh dompetnya ditempat yang seharusnya. Tapi, tidak masalah.

ART yang berumur 30an itu juga sangat cekatan. Bekerja dengan inisiatif tanpa disuruh-suruh. Bahkan, dia sangat sulit disuruh istirahat. Memakan kue pun hanya berani 1 saja, yah.. 2 sih kalau dipaksa olehku. Pokoknya dari jam 8-jam 12 siang dia hanya bekerjaa saja. Tak jarang aku menemani dan mengobrol dengannya kalau bayiku sudah tidur. Masya Allah, orangnya sangat friendly.

Dan nilai plusnya lagi. Dia bisa menghidupkan api memakai kayu bakar. Bisa disuruh memanggang ikan dong, menu kesukaan suamiku. Hahahaha..

Dari pencarian ART ini, aku belajar beberapa hal dalam mencari dan menyeleksi ART, diantaranya adalah

1. Sebelum mencari ART secara otodidak, akan lebih baik jika meminta rekomendasi dengan yang berpengalaman memiliki ART. ART yang berpengalaman tentu lebih recomended dibanding ART orang asing.
2. Lakukan Training terlebih dahulu sebelum ‘say yes’ pada ART. Kalau bisa training yang dilakukan bukan hanya masalah skill, tapi juga kejujuran. Tidak ada salahnya mencoba meletakkan uang seratus ribu disembarang tempat untuk mengetahui tingkat kejujurannya.
3. Jangan pernah lupa untuk meminta identitas asli ART. Seperti KTP atau KTM jika masih mahasiswi. Ini sangat penting kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan
4. Gajih ART sesuai dengan tingkat perekonomiannya. Hal ini untuk mengurangi kesenjangan sosial. Jangan jadi majikan yang pelit. Memasaklah dengan porsi yang berlebih untuk bisa ia bawa pulang. Well, mungkin jika kalian sudah tau sifat perekonomian di dunia shezahome maka pasti sudah tau kalau aku dan suami termasuk dalam kategori ngirit tingkat tinggi. Tapi, ingat kata-kata ini ya duhai pasutri yang suka ngirit. “Pelit buat diri sendiri itu boleh, tapi enggak boleh pelit buat orang lain..”
5. Jadilah majikan yang friendly. Bicaralah dengan ART bukan dengan gaya yang bossy. Aku sendiri sudah menganggap ART ini seperti teman. Teman bicara di rumah dan teman memasak.
6. Jika sudah tidak memerlukan ART atau ingin memberhentikannya maka usahakan untuk mencarikannya pekerjaan yang baru.

Well, untuk point 6 ini sedang berusaha aku lakukan. Akhir maret ini mungkin aku sudah tidak membutuhkan ART karena kondisi fisikku sudah sangat baik. Sebenarnya kasihan, mengingat ART ku ini perekonomiannya menyedihkan. Suaminya tidak bekerja dan ia memiliki 2 anak. Tapi bagaimana ya? Budget emak juga menipis dan job blogger sedang tidak banyak. *curhat hahaha..

Dan alangkah senangnya aku ketika Iparku juga sedang mencari ART. Karena ia sebentar lagi bekerja dan waktu cuti melahirkannya hampir selesai. Rencananya, ART ku mau bekerja disana awal april nanti.

Yes, the power of working mom. Segalanya jadi balance. Memang kehidupan emak-emak itu perlu keseimbangan. Antara IRT, working mom, Homemade mom, Instan Mom dll itu segalanya saling membutuhkan.

Semoga Kehidupan ART emak selalu baik-baik saja selepas bekerja di rumahku.

Punya pengalaman suka duka mencari ART juga? Atau pengalaman pas punya ART? Sharing yuk!

IBX598B146B8E64A