Browsed by
Category: Motherhood

#FBB Kolaborasi Sejak Jadi Emak-emak, Aku mulai Sensi dengan Makhluk Bernama Kucing

#FBB Kolaborasi Sejak Jadi Emak-emak, Aku mulai Sensi dengan Makhluk Bernama Kucing

“Mama tuh gak mau di rumah ada binatang peliharaan. Bulunya itu loh win.. Belum lagi bla bla bla.. “

Itulah ceramah yang sering aku dengar dahulu saat aku diam-diam memelihara kucing jalanan. Yaa.. Sejak kecil aku suka sekali dengan kucing. Sejak SD aku sering diam-diam memberi makan kucing jalanan, memeliharanya hingga membawanya kerumah. Namun mamaku selalu melarangku. Hingga suatu hari, malah mama sendiri yang meminta seekor kucing dari keluargaku. Katanya, kucing yang dipelihara lebih bersih dibanding kucing yang aku pungut dari jalanan.

Sejak itu, aku tergila-gila dengan makhluk yang bernama kucing. Aku sering membawanya ke kamarku untuk diajak tidur bersama. Setiap sore aku selalu ‘ngobrol’ dengannya. Belum lagi kalau rasa gemes ku menjadi-jadi. Aku bisa saja mencium kucingku. Serius ini.

Jadi, kali ini aku ingin bercerita tentang perkenalanku dengan kucing. Rasa cinta yang kemudian berubah menjadi benci, gemes dan jengkel. Cerita kali ini aku tulis dalam rangka ikut FBB kolaborasi dengan tema Hari Kucing Internasional yang jatuh pada Tanggal 8 Agustus kemarin.

Kalian tau? Aku punya Rhinitis Alergi

Sejak kecil aku memiliki riwayat alergi yang menurun dari ayahku. Bukan, bukan alergi gatal-gatal kulit begitu. Bukan juga alergi makanan. Aku alergi dengan debu, cuaca yang dingin dan yah… Bulu kucing.

Jika aku menyapu di pagi hari aku selalu membawa tisue di tanganku. Hidung dan mataku tidak bersahabat dengan debu plus udara di pagi hari yang dingin. Jujur, aku lebih suka mengepel lantai di hari yang panas. Walau berkeringat setidaknya hidungku aman dari mimisan yang tidak keren. Yah.. U know lah.. Sejak dulu aku menganggap cairan bening yang keluar dari hidung ini agak mirip dengan karakter ‘Bo’ di kartun crayon shinchan. Duh, tidak keren sama sekali.

Jauh lebih bagus mimisan darah yang kemudian di gendong sang pangeran.. *eyaa.. Khayalanku mulai menjadi-jadi.. 🤣

Dan Rhinitis alergi ku mencapai puncaknya jika aku sudah berhadapan dengan kucing. Jika sudah lama bermain dengan kucing mataku akan merah dan gatal, hidungku mengeluarkan cairan yang tidak keren dan rasanya luar biasa gatal.Anehnya, aku tidak jera bermain dengan kucing. Jika alergi ku kambuh aku hanya berhenti sejenak bermain dengan kucing. Kemudian membasuh muka dengan air bersih berkali-kali. Jika keadaanku sudah normal maka aku akan mengulangi kebiasaanku. Bagiku, bermain dengan kucing seperti kecanduan. Menyayangi kucing itu seperti sebuah therapi psikologis untukku. Jadi, biarpun aku alergi.. Tetap saja aku mencintai kucing lebih dari apapun.

Lalu, sejak kapan aku mulai sensi dengan kucing?

Bukan, bukan sejak menikah. Asal kalian tau saja.. Suamiku penggila kucing tingkat akut. Dan itu salah satu hal yang kusukai darinya. Karena akupun pecinta kucing garis keras.

Sejak hamil pun aku punya kecanduan dengan kucing. Aku memelihara kucing sejak TM 1 sampai TM 3. Merawat kucing sakit, membersihkan pup nya. Hingga para tetua menceramahiku bahwa kucing tidak baik bagi Ibu hamil karena yaah.. Search sendiri di google yak. Tapi aku cuek, toh kucing binatang kesayangan nabi. Itu pembenaranku. Aku bahkan sempat menulis tentang TORCH dan kucing dahulu.

Dan semuanya berubah sejak Farisha lahir..

Kalian tau? Sejak Farisha lahir aku tidak punya kucing di rumah karena kucingku dahulu sudah meninggal. Tapi bukan itu masalahnya. Toh aku punya Farisha dan dia telah mengisi seluruh waktuku. Jadi, kecanduan ku pada kucing tertutupi dengan munculnya Farisha.

Masalahnya adalah Farisha ternyata juga Rhinitis Alergi sama sepertiku

Iya, penyakit itu menurun pada anakku. Setiap cuaca dingin Farisha selalu pilek. Jika terkena debu ia langsung bersin. Dan jika bersentuhan dengan kucing.. Yah.. Itu yang terparah.

Entah kenapa aku tidak bisa melihat anakku ‘menderita’ karena kucing. Secara otomatis aku langsung menjauhkan kucing dengan Farisha. Aku ingin melindunginya. Aku tidak ingin penyakit tidak keren Farisha kambuh karena kucing. Aku tidak tega melihat matanya merah dan berair. Aku BENCI setiap kali melihat kucing mendekati anakku.

HUSH HUSH..

Seruan itu sering aku serukan setiap kali melihat kucing mendekati Farisha kecil. Bagiku, anakku jauh lebih berarti dibandingkan dengan kucing. Entah selucu apapun kucing itu. Padahal, Farisha selalu menangis setiap kali melihatku memburu kucing. Aku tau, Farisha suka sekali pada kucing. Setiap kali melihat kucing, Farisha kecil selalu berseru dengan bahasa bayi. Dia memanggil kucing dengan sebutan “Biii..” waktu itu. Tapi bagiku, kucing tersebut terlihat seperti pembawa penyakit. Yah, itulah.. Sejak menjadi Emak-emak perasaanku pada kucing berubah 180 derajat.

Kini aku mengerti perasaan mama dahulu. Kenapa mama tidak memperbolehkanku memelihara kucing.

Menumbuhkan kembali rasa cinta pada Kucing selama menjadi Emak-emak

Tapi, rasa benci itu tidak boleh kekal. Aku harus belajar mencintai. Seperti mamaku dahulu yang belajar menerima dan mencintai apa yang disukai oleh anaknya..

Maka, tepat ketika Farisha berumur 3 tahun.. keluarga kami memutuskan untuk mengadopsi kucing dari Ibu Manik, teman dosen ayah Farisha di kampus. Kucing ini berjenis Tonkiness. Matanya biru dan belangnya putih keabu-abuan. Kami memeliharanya sejak berumur 2 bulan. Kalian tau? Farisha sangat amat senang ada kucing di rumahnya. Kucing itu bernama Dusty.

Selama 2 tahun Dusty di rumah, aku pernah berteriak memarahinya beberapa kali. Bahkan pernah menangis dan meminta suamiku membuangnya. Bagaimana tidak? Kucing ini beberapa kali pup dan muntah di rumah. Sementara pekerjaan rumahku banyak. Belum lagi kalau Farisha alergi.. Rasanya itu Grrrrrrr…..

Walau suami berjanji akan mengurus segala hal tentang kucing itu tetap saja aku yang 24 jam berada di rumah. Kadang, aku bisa saja iseng memangkunya sekedar untuk bernostalgia dengan masa kecilku yang begitu menyayangi kucing. Sayangnya aku lebih sering emosi dengan kucing ini. Tapi serius, mungkin ini namanya benci tapi cinta. Masa sih setiap hari aku yang rutin memberinya makan. Bahkan aku juga yang kepasar membelikan ikan pindang khusus untuknya. Membersihkan ikannya dan membumbuinya dengan garam dan asam lalu menggorengnya. Dih, aku ini benci atau suka sih dengan kucing ini?

Ah, entahlah..

Dan emosiku semakin menjadi-jadi kala menghadapi masa birahi nya sang kucing. Bayangkan! Gorden, dinding, lemari dan perkakas lain di rumahku selalu dipipisin si Dusty. Bahkan walau sudah aku teriaki pun sempat-sempatnya si kucing nyemprot. Mengesalkan sekali. Puncaknya, pernah loh aku mengambil sapu dan mengejar kucing ini dihalaman. Jangan khayalkan kekonyolannya.

Sungguh, ini memalukan. 😣

Akupun curhat dengan Suami. Meminta agar si Dusty di kebiri saja. Mengesalkan sekali dia. Dan kalian tau apa yang dilakukan suamiku?

Dia membawa kucing baru ke rumah. 😅

Namanya Finger. Warnanya jingga dan putih. Dia kami pelihara sejak berumur 3 bulan. Kucing yang satu ini jauh lebih menyenangkan. Mungkin juga karena ia mengingatkanku pada kucing jalanan yang aku pelihara pertama kali waktu kecil. Kucing ini manja sekali. Dia selalu ingin tidur di kaki majikannya. Aku sih oke ya.. Asal Farisha tidak tidur dengannya.

Finger adalah kucing terbaik yang pernah dimiliki keluarga shezahome. Untuk ukuran kucing domestik, kucing ini memiliki bulu yang bagus. Dan dia sangat manja dengan majikannya meskipun sudah memasuki umur birahi. Suamiku berkata, “Finger bagaikan istri kedua.. “

Yaah.. Eike dipoligami sama kucing.. Genks.. Kucing laki-laki pulaa.. Wkwk..

Sayangnya Finger menghilang saat Humaira lahir. Iya.. Hilang begitu saja genks.. Entahlah kenapa itu pokoknya aku ikut sedih dan merasa kehilangan banget.

Sejak Finger hilang, si Dusty mulai suka kerumahku lagi. Tapi, Dusty yang sekarang sangat berbeda. Ia hanya pulang untuk sekedar minta makan. Selebihnya, dia hanya meninggalkan pipis dan keluar lagi untuk berpacaran. Hmm.. Dasar playboy. Karena itu, kami keluarga shezahome memutuskan untuk memelihara kucing baru di rumah.

Namanya Hatori dan Shiro. Kucing ini didapatkan dari teman kampus suamiku. Umurnya masih 2 bulan saat kami adopsi. Ini adalah kali pertama aku memelihara 2 ekor anak kucing di rumahku sendiri. Apalagi keduanya masih kecil dan tidak bisa ditaroh diluar rumah. Alhasil, cobaan pup dan pee di pagi hari selalu menguras emosi.

Sensi kepada kucing datang lagi. Yah.. Sepertinya aku benar-benar mengerti kenapa para emak-emak kadang suka benci sama kucing. Haha..

Tapi aku menghadapinya. Kadang aku ikut membersihkan kotorannya. Kadang, aku mengajak Humaira ikut bermain dengannya. Ya, asal kalian tau juga.. Humaira juga memiliki Rhinitis alergi yang menurun dariku. Tapi aku memutuskan untuk menghadapi alergi itu.

Karena konon aku percaya pada sugesti konyol para tetua, yaitu..

“Penyembuh alergi adalah menghadapi alergi itu sendiri. Bukan menghindarinya.. “

Ah, semoga saja benar. Karena bagaimanapun juga.. Sulit rasanya membenci Makhluk lucu ini..

Hadapi Mom Shaming dengan 6 Jurus Jitu Ini

Hadapi Mom Shaming dengan 6 Jurus Jitu Ini

“Wah, kok IRT aja pakai jasa ART.. Aku dulu loh..mana udah kerja..segalanya diurus sendiri di rumah habis melahirkan..”

“Aduh, anaknya kok dikasih sufor? Memang sih udah 7 bulan. Tapi sufor itu kan begini loh mom.. Bla bla..”

“Waduh, rumah kok berantakan sekali.. Padahal emaknya di rumah terus.. Masa ngurus anak n rumah aja keteteran..”

Dst dst..

Pernah mengalami hal ini? Di-nyinyirin sama emak-emak yang ngakunya nih paling sempurna. Bikin kita berasa jadi emak paling berdosa sedunia. Haha. Itu namanya adalah Tragedi Mom Shaming.

Mom Shaming ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena jika kita mengalaminya, besar kemungkinan kita akan rendah diri, tidak bersemangat bahkan juga depresi. Ya, mom shaming ini adalah salah satu pemicu Baby blues dan PPD.

Makanya, sebagai emak-emak pejuang kewarasan kita wajib tau apa saja jurus untuk melawan mom shaming ini. Nah, berikut adalah jurus-jurus yang biasa aku terapkan jika berhadapan dengan mom shaming.

1. Cuek, anggap saja pelaku Mom Shaming terkena Perfectionis Sindrom

Biasanya, Pelaku Mom Shaming adalah orang yang merasa dirinya paling sempurna sedunia dan dia selalu heran, Mengapa mama lain tak bisa seperti dirinya?

Hal yang harus kita lakukan jika bertemu mama semacam ini adalah cuek. Lalu, buat pikiran positif seperti..

Ah, mungkin mama yang satu ini lingkungannya menuntutnya untuk serba sempurna.

Ah, mungkin mama yang satu ini innerchildnya menuntut untuk selalu sempurna dan ia terbiasa dituntut sempurna sejak kecil.

Ah, mungkin mama yang satu ini kondisi ekonominya sedang down. Sehingga ia stress dan melampiaskan kesempurnaannya pada orang lain untuk mengharapkan pujian.

Pahamilah pelaku mom shaming itu juga mungkin tertular oleh lingkungannya. Jika kita tak bisa cuek dan menerima hal itu maka kita akan tertular. Apalagi jika kita sedang sensitif, besar kemungkinan kita juga menyebar aura negatif pada orang lain. Lantas, bagaimana caranya untuk menghentikan rantai mom shaming ini?

2. Fokus pada Passion Kita

Ya, selain CUEK kita juga harus FOKUS PADA PASSION KITA.Biarlah mereka bilang kita ibu pemalas yang tidak bisa memasak. Biarlah mereka bilang kita ibu yang boros karena suka travelling. Biarlah mereka bilang kita kecanduan gadget. Dikit-dikit liat hape.. Dikit-dikit senyum-senyum..

Yang penting, kita punya kesenangan yang dilakukan. Dan bentuk kesenangan itu berguna bagi orang lain. Mereka sih tau apa tentang dunia kita? Passion kita? Cara kita mencintai keluarga kita? Relationship khusus kita dengan gadget sebagai alat penghasil uang sampingan.

Oh.. U dont Know Nothing Jon Snow.. (Loh kok jadi begini? 😂)

Biarlah mereka bilang begini begitu. Yang penting, passion kita terus maju. Buktikan kepada mereka bahwa kita tuh bukan seperti yang mereka pikirkan.

3. Bentuk circle pergaulan yang satu arah dengan kita

“Tapi lingkunganku ini jelek mom.. Semuanya julid sama aku..”

Jawabannya, menjauh dari sana. Pindah ke circle pergaulan yang mendukung passionmu. Kita butuh itu. Kita butuh komunitas yang mendukung passion kita.. Suami yang memahami kita.. Teman-teman yang menggenggam tangan kita.. Fokuslah berteman dengan orang-orang yang memberikan semangat pada kita.

Mereka julid dengan Passion Memasak kita yang tidak bisa menghasilkan uang? Cari teman satu hobi.. Bersosialisasilah dengannya, bentuk bisnis bersama. Tidak bisa punya teman didunia nyata karena terlalu introvert? Buat blog memasak, cari circle yang mendukung didunia maya.

Mereka julid dengan kita yang hobi utak atik laptop dan gadget? Ngatain kita pemalas karena ini itu serba beli? Cuekin. Selama kita punya Suami yang mendukung di belakang kita dan teman komunitas yang satu hobi dengan kita.. Maka kita tidak sendirian.

Yah, yakinkan diri bahwa passion kita dihargai oleh circle pergaulan yang tepat.

4. Ingat.. Jika Pelaku Mom Shaming Ada di Status Sosial Media itu Sama Sekali Bukan Urusan Kita

Maksudnya? Apa? Maksudnya adalah.. Jika ada mama yang membuat status sok perfeksionis tentang kehidupannya.. Please JANGAN BAPER.

Misalnya:

“Menu hari ini: Sup Ikan bebas MSG.. Modal cuma 15ribu bisa buat makan satu keluarga..”

Lantas, Anda Baper karena hari itu menunya serba beli dan menghabiskan uang ratusan ribu untuk makanan yang belum tentu bebas MSG. Buat apa Baper? Itu adalah status orang. Kebahagiaan dia untuk memposting apa yang ia lakukan hari itu. Bisa saja ia melakukannya karena kurangnya apresiasi didunia nyata. Bisa saja ia melakukannya karena ia memang senang ‘pamer makanan’ dan bangga menjadi Ibu yang hemat. Dimana salahnya?

Contoh lainnya..

“Bahagianya jadi Ibu Rumah Tangga.. Bisa mengurus anak, dapur, dan berbisnis di rumah. Aku selalu takut saat bekerja dulu terutama saat menitipkan anakku pada mertua.. Bla bla.. Untuk itu aku akhirnya memutuskan resign.. Bla bla..”

Lantas, Anda yang bekerja dan menitipkan anak jadi Baper dengan status tersebut? Tidak ada gunanya. Itu adalah status mama yang butuh apresiasi. Bisa jadi ia tidak memperoleh pencapaian seperti saat bekerja dulu. Ia ingin membahagiakan diri dengan membuat status sok bahagia.

Kita tidak usah baper dengan drama-drama status mama lain di sosial media. Itu sama sekali bukan urusan kita.

Jika saja status mama lain tersebut amat sangat mengganggu solusinya sangat simple. Ada opsi unfollow, hide, mute supaya mata dan hati kita lebih terjaga. Sesimple itu. Beda halnya jika pelaku mom shaming didunia nyata.. Mau tidak mau harus bertemu setiap hari.. Bahkan serumah dengan kita.. Hihi..

Lantas, bagaimana jika pelaku mom shaming ada di komunitas sosial media? Menyerang kita secara blak blakan pada kolom komentar lalu begini dan begitu?

Aku sendiri pernah mengalami hal ini. Solusi yang kuambil adalah diamkan. Tidak usah melawan dan memperpanjang kolom komentar, terlalu keruh jadinya. Lebih baik lari kesolusi berikutnya yaitu menghibur diri sendiri.

5. Hibur Diri Sendiri dengan Cara yang Menyenangkan

Apa hiburan yang menyenangkan bagi kita? Lakukan!

Bagiku sendiri hiburan yang paling menyenangkan itu adalah menulis. Menulis kata-kata negatif maupun positif. Kenapa kata-kata negatif juga?Yah, bagaimana ya.. Sejak kecil menulis itu adalah candu buatku. Saat dibully temanku waktu kecil.. Aku menulis dibuku harianku. Mengatakan ujaran kebencian pada teman-teman yang membullyku dibuku harianku. Lantas, pada sore hari ketika mama menyuruhku untuk menyapu daun kering di halaman aku menyobek dan membakar kertas itu bersama daun-daun kering. Hatiku berkata, “Oke kita sudah berdamai.. Yang penting aku sudah menulis bahwa aku benci sekali. Besok, aku sudah berdamai dengan kalian..”

Seampuh itu the power of curhat dengan tulisan.

Makanya pada point sebelumnya aku berkata jangan baper dengan status mama lain di sosial media. Kita tidak tau bahwa mungkin saja status negatif yang ditulisnya adalah terapi bagi jiwanya. Yah, itu sih hiburan bagi mama introvert macam diriku. Menulis kata negatif untuk dapat ‘be positif’ dengan orang-orang di sekitar. Menulis kata negatif lalu menghilangkannya untuk dapat menulis kata positif yang abadi.

Mungkin, bagi mama yang lain hiburan untuk berhasil ‘cuek’ terhadap pelaku mom shaming adalah dengan traveling, membaca buku, olah raga dll. Apapun itu, lakukan mom. Make ur self Happy!

6. Anggap Pelaku Mom Shaming adalah Pelaku Pencitraan

Jujur, Ini adalah solusi yang baru saja aku temukan. Dan solusi ini terinspirasi dari akun instagram Mamambisius. Mungkin, para Mom Blogger dan Mom Influencer sudah tau dengan Akun Instagram ini. Sungguh, sejak memfollow akun instagram ini hatiku benar-benar terhibur.

Haha..Yaa.. Untuk diriku yang jujur saja pernah dikelilingi oleh pelaku mom shaming.. Aku sempat merasakan MINDER dan RENDAH DIRI tingkat akut.

Something like.. Ahh.. Apalah diriku ini cuma IRT biasa, beda sama dia yang bisa belikan ini itu buat anaknya. Perempuan kan harus mandiri secara Finansial katanya..

Ahh.. Apalah diriku ini suka masak tapi gak bisa ngebuka catering dan jualan kue. Ngurus anak aja kena babyblues sampai PPD.

Ahh.. Apalah diriku ini yang gak bisa kayak Mom A. Mom yang ngakunya gak punya ART tapi bisa Homeschooling anak-anaknya yang jumlahnya 5 orang, jarak dekat-dekat pula, bisa nulis buku pula, selalu aktif di sosial media pula. Aku? Dan instagram mamambisius ini muncul sebagai hiburan dengan kasus-kasus pencitraan versi dia. Captionnya yang menghibur membuat perutku sering sakit menahan tawa. Aku akhirnya bisa mengimajinasikan bahwa persaingan konyol antara mama mama dilingkunganku adalah terapi pencitraan semata (walau mungkin kenyataannya tidak).

Dari instagram itu aku dapat mengambil kesimpulan positif.Ah, kompetisi antar emak-emak itu konyol. Enggak usah diikuti. Cukup dibuat fun saja.Karena setiap Ibu punya cara masing-masing untuk membahagiakan keluarganya.Ibu yang baik tidak peduli pada persaingan antar mama yang membuat mom war berkepanjangan..

Ibu yang baik adalah ia yang dapat membahagiakan keluarganya dengan fokus pada kelebihannya. Ia percaya diri pada kemampuannya dan tidak minder saat melihat kelebihan Ibu yang lain.

Cause Everymom is Special.. Right?

Suka Duka Perjalanan Emak Mencari ART

Suka Duka Perjalanan Emak Mencari ART

“Udah dapet ART buat di rumah win?” Tanya Mamaku 3 hari sebelum jadwal operasi Cesar.

Dan aku hanya menjawab santai, “Sudah ma, nanti kalau winda pulang dari RS baru dia mulai kerja di rumah..”

“Serius kan kali ini beneran bisa kerja orangnya?”

“Iya ma.. Kemaren sudah winda jadiin supaya fix kerja. Trus sudah winda suruh juga supaya bilang2 kalau gak jadi karena halangan bla bla..”

Tiga hari kemudian, ketika aku sudah melahirkan.. Mama bilang lagi..

“Telpon sekarang deh ART-nya, bilang sudah melahirkan dan yakinin lagi. Entar gak jadi lagi deh..”

“Oke ma..”

Daaaaan… Setelah berpuluh kali menelpon dan tak kunjung diangkat.. Akhirnya, aku mendapat WA dari tetangga ART tersebut..

“Wah.. Mama Yati-nya (nama samaran) udah kerja di lain Win.. Aku juga baru tau kemarin diceritakan anaknya..”

“Loh, kok gak bilang-bilang saya ya mba? Bukannya kemarin sudah ada kesepakatannya?”

Dan setelah panjang lebar berbicara lewat telepon.. Akhirnya aku cuma bisa bilang, “Ya sudah lah..”

Ya sudah lah emak gak jadi punya ART pasca melahirkan.

Ya sudah lah emak kerjain segala kerjaan rumah sendirian.

Ya sudah lah suami gak bisa ambil cuti.

Ya sudah lah.. Ya sudah lah..

Why Emak Harus Punya ART?

“Kamu mau kerja ya? Kok nyari ART?”
“Ya.. kan aku bentar lagi melahirkan..”
“Mau cesar lagi? Gak mau nyoba normal?”
“Ya.. Kan jaga2 kali aja cesar lagi. Kalo cesar jelas gak bisa kerja berat2 di rumah sendirian..”

Dan si Dia pun ber ‘Ooooo…’ dan berhenti bertanya.

Ya kan, walau aku sudah berusaha untuk VBAC (Vaginal Birth After Cesar) tapi kenyataannya aku harus Cesar lagi karena posisi bayi yang mendadak melintang. Lagi pula, aku cesar gratis kok. Weee.. 😛

Baca juga: Cesar Gratis dengan BPJS? Bisa dong..

Jelas ya, untuk kesehatan jasmani dan rohani memiliki ART untuk membantuku di rumah pasca melahirkan cesar adalah list wajib buat aku. Apalagi, aku punya riwayat baby blues hingga PPD. Itulah kenapa sembilan bulan belakangan aku sangat menghemat budget untuk moment melahirkan ini. Aku bahkan tidak memakai tabungan dari penghasilan ngeblog dan ngebuzz. Demi apa? Demi punya ART dong..

Baca juga: Curhat emak mantan penderita PPD, “Begini caranya supaya istri tidak stress pasca melahirkan”

Jadi, bodo amat ah yang bilang, “IRT aja pake ART.. Aku dulu melahirkan ini itu sendirian aja.. Kasian abis duit lakinya.. N bla bla..”

Apa lo?
Gue ngelahirin Cesar gratis. Dan gajih ART itu pake tabungan Gue. *mohon maap.. Anaknya lagi emosi.. Wkwkwk..😂

Tentang Perjalanan Ketika Mencari ART

Well, sebenarnya sejak usia kandungan 6 bulan aku sudah kesana kemari mencari ART. Dari mencari kepelosok pinggiran sungai alalak Banjarmasin hingga meminta tolong kepada mertua maupun minta rekomendasi tetangga. Dan akhirnya, aku mendapatkan calon ART dari rekomendasi mertuaku.

Calon ART itu tiba-tiba datang kerumah dengan mertua. Kalian tau kan kalau mertua kerumah, menantu itu suka pencitraan. Something like.. Sok kalem.. Sok enggeh.. Haha. Jadi, ketika ART itu kerumah aku sok-sok iyes aja. Tiba-tiba aku tau kalau calon ART ini adalah keluarga jauh dari mertua dan lebih shock lagi ketika dia minta gajih yang tidak seperti rata-rata ART yang bekerja setengah hari. Ya.. Aku cuma bilang bahwa aku cuma butuh ART untuk menolongku membersihkan rumah dan mencuci baju. Gajih yang diminta benar-benar tidak sesuai dengan itu. Tapi, ya sudah lah.. Namanya sudah dicarikan, apalagi oleh mertua. Aku oke, demi menjalin hubungan baik.

Tapi, aku masih tidak bisa melepas sindrom perfeksionis yang aku miliki. Jadi suatu hari Calon ART tersebut aku suruh untuk kerumahku agar bisa latihan kerja, karena mungkin aku tidak bisa melatihnya ketika sudah melahirkan nanti. Tapi, dua minggu bulan januari berlalu dan calon ART tersebut tak kunjung datang kerumah. Akhirnya, aku jadi bertanya-tanya juga.. “Ini serius mau kerja atau enggak ya?”

Iya, aku orangnya begitu memang. Kalau Plan A tidak jelas maka harus lari ke Plan B. Diam-diam aku mencari ART via online. Dari curhat bombay di Instagram Stories hingga meminta tolong di akun lowongan perkerjaan kalselteng. Tak lupa memberitahu teman-teman di Komunitas FBB juga.

Lalu, salah seorang anggota FBB menghubungiku. Dia bilang, dia punya kontak beberapa calon ART. Dan waw, aku dapat banyak banget. Langsung say “Alhamdulillah dan berterima kasih sekali.”

Dan satu persatu kontak pun aku hubungi.

Ada pula yang menghubungiku karena melihat pengumuman di Instagram lowongan pekerjaan. Dan dari semua yang kuhubungi dan menghubungiku.. Aku tertarik dengan 2 orang. Yang pertama adalah Mahasiswi Unlam semester akhir, sedangkan yang kedua adalah seorang Ibu Rumah Tangga.

Aku pun menyuruh sang Mahasiswi untuk berkenalan sekaligus training kerja di rumah. So far, aku suka dengan attitude mahasiswi ini. Dia jilbaban, terus ketika disuruh begini begitu dia bilang “Enggeh” (bahasa sopan ‘Iya’ ala orang banjar). Walau masih mahasiswi dan kemampuan pekerjaan rumah tangganya masih biasa saja aku tak masalah. Malah salut loh, karena masih mahasiswi saja sudah mau bekerja tak pilih-pilih. Ehm, aku dulu waktu masih mahasiswi apa kabar?

Tanpa berpanjang lebar akupun langsung meminta KTP dan KTM mahasiswi tersebut lalu memotonya kemudian bilang bahwa ia mulai kerja mungkin sekitar 2 minggu lagi, karena tidak mungkin dong aku menyuruh untuk kerja dari sekarang. Sementara aku masih sibuk keluar rumah mengurus ini dan itu. The fact is.. Aku gak bisa ninggalin rumah dengan ‘orang asing’ di dalamnya.

Cukupkah pencarian ART sampai disana?

Oh tidak.. Plan A, Plan B, dan Plan C.

Plan C harus ada. Aku menghubungi Calon ART dengan latar belakang Ibu Rumah Tangga untuk training di rumahku. Aku suka dengan gaya bahasanya menghubungiku dan foto profil di WAnya juga bercadar. Kupikir dia pastilah seorang Ibu Rumah Tangga yang baik. Lalu, pada hari H aku menyuruhnya datang kerumah.

Tapi, tiba-tiba dia bilang tidak bisa datang kerumah. Dan dia bilang lagi bahwa sudah diterima bekerja di salah satu rumah makan di Banjarmasin. Aku pun ber, ‘Ooo’ sambil mengetik Alhamdulillah dan kata baik lainnya. Tapi.. Eh, kok foto profilnya tiba-tiba berubah?

Foto profilnya berubah menjadi seorang ibu dengan baju seksi dan dandanan yang lengkap sambil berselfie. Rupanya, itulah dirinya yang asli. Dan, iseng aku melihat statusnya di WA story.. Lalu, aku mengernyitkan dahi dan bilang.. “Oh, ternyata calon ART yang ini Janda”

Fix, plan C dibuang. Aku sedikit trauma dengan ART janda. Dulu, waktu masih tinggal dengan orang tua.. Sejak SD sampai SMA aku punya ART di rumah. ART mama berganti-ganti. Pengalaman demi pengalaman memilih ART sudah kenyang aku rasakan. Tapi pengalaman terburuk adalah saat memiliki ART janda. Dua kali mama mendapat ART janda untuk kerja di rumah, dan dua kali pula ART itu tidak baik. Did you know what I mean?

Yah.. Untungnya, Ayahku termasuk yang punya iman kuat dan tidak gampang tergoda.

Dan akupun bergantung pada plan A dan plan B. Sampai suatu ketika, calon ART dari mertua aku suruh datang lagi kerumah di pagi hari. Dan dia datang memang, tapi datang di sore hari. Belum lagi dia bilang bahwa bisa kerja dimulai jam9 pagi dan libur di hari minggu. Entahlah, untukku dengan bayaran yang segitu tinggi rasanya tidak sepadan. Dan disuruh training kerumah saja tidak kunjung datang atau tidak tepat waktu. So, Plan A aku buang. Setelah berdebat sepanjang hari dengan suami.. Hahahaha..

Lantas, apa ART plan B berjalan lancar? Sayangnya, tidak semudah itu ferguso.. 12 hari sebelum HPL sang mahasiswi tersebut menghubungiku dan memberitahuku bahwa tidak dapat bekerja di rumahku karena keluarganya baru saja melahirkan dan ia disuruh untuk membantu. Rasanya, kepalaku langsung pusing mendadak. Hahaha

Akhirnya, aku menghubungi kembali nomor-nomor WA calon ART yang pernah menghubungiku. Tapi, rata-rata dari mereka sudah bekerja. Dan akupun menghubungi member FBB yang memberiku nomor calon-calon ART lagi. Akhirnya, bertemulah aku dengan calon ART baru. Seorang Mahasiswi (lagi).

Aku pun juga meminta tolong di instagram lowongan pekerjaan lagi. Dan menghubungi teman diinstagram yang direct message denganku setelah membaca instagram storiesku. Ya, karena aku terlalu percaya pada plan B awalnya maka sarannya aku tolak. Lalu, aku hubungi lagi dong. Haha..

Akhirnya, setelah calon ART mahasiswi 2 datang dan training di rumah. Ada dering telpon berbunyi dan terdengarlah suara Ibu-ibu yang bertanya tentang pencarian ARTku. Bertanya dengan detail seperti domisiliku dan gajih serta detail pekerjaan yang dilakukan. Lantas, Apa kataku? Aku bilang, “Nanti saya hubungi lagi ya bu kalau jadi..”

Calon ART mahasiswi ini terlihat sangat kalem. Berjilbab dan berbaju sopan rapi. Sudah dua kali aku menyuruhnya training di rumah dan baju yang ia pakai teramat rapi. Sungguh tidak cocok untuk dibawa bekerja di rumah. Haha.. Tapi tak apa pikirku.. Namanya juga mahasiswi. Dan ketika aku meyakinkannya untuk bekerja di rumah dia terlihat sangat meyakinkan dan sayYES BANGET’. Akhirnya, aku hanya berharap padanya dan tak lagi menghubungi Ibu yang menelponku tadi.

5 hari sebelum HPL aku mendapat kabar mengejutkan. Calon ART mahasiswi 2 tersebut tidak dapat bekerja di rumahku. Lantaran ada mata kuliah siang wajib dadakan untuk mahasiswi semester akhir. Ah, entahlah ini hanya sandiwaranya atau apa.. Yang jelas, aku sangat kecewa sekali dengan mahasiswi ini. Seharusnya, ia cepat memberitahuku. Bukan mendadak begini. Sebentar lagi aku kan melahirkan. Dan aku sudah tau kalau positif Cesar karena bayi yang melintang.

Akhirnya, aku menghubungi Ibu yang menelponku beberapa hari lalu itu. Diapun membalas WA-ku dan berkata bahwa tidak dapat membantu di rumahku karena ia akhirnya berinisiatif untuk berjualan makanan dengan pemasaran online. Aku tentu say Alhamdulillah.. Tapi juga sangat putus asa. Tiba-tiba Ibu tersebut bilang bahwa tetangganya membutuhkan pekerjaan. Dan tetangganya tersebut sudah pengalaman menjadi ART. Dan esoknya ia membawa tetangganya tersebut untuk berkenalan sekaligus training di rumahku.

Namanya Yati (nama samaran) seorang Ibu berumur 50an dengan 4 orang anak. Dua diantara anaknya masih sekolah dan dia baru saja berhenti dari tempat bekerjanya yang dulu karena gajih yang dirasa kurang. Jadi, setelah melakukan perkenalan, training hingga basa basi.. Ibu ini berkata bahwa bisa menjadi ART di rumahku. Walau kendalanya adalah jarak rumah kami yang cukup jauh dan Ibu ini tidak bisa memakai kendaraan. Tapi, dia terlihat meyakinkan.

Hingga hari operasiku pun datang. Dan akhirnya, ART terakhir ini berakhir seperti pembuka tulisan ini. Yes, batal.

Segala Relasi itu baik, namun relasi terbaik adalah orang terdekat dengan kita..

Aku menghela nafas. Duh, terbayang repotnya punya newborn pasca operasi cesar dan tak ada yang membantu. Terlebih suami tidak bisa cuti. Mama yang saat itu datang menjenguk di rumah sakit pun segera menelpon beberapa temannya untuk mencarikan ART. Namun, hasilnya nihil.

Dan suamiku pun menggerutu tentu. Berkata berkali-kali kenapa aku menolak ART yang dicarikan oleh mertua. Yah, jelas saja menolak kalau sulit sekali dihubungi. ART tersebut tidak punya HP. Tetangga dekatnya pun tidak ada yang bisa dihubungi. Belum lagi permintaannya, jam kerja yang sedikit serta gajihnya. Duh, tidak bisa. Berat beb, tabungan ngeblog emak beberapa bulan habis buat sebulan ceritanya. Hahaha..

Aku pun akhirnya menghubungi tetanggaku lagi. Tetanggaku itu punya kenalan ART yang banyak di sepanjang sungai alalak. Karena beliau memakai jasa ART setiap hari. Sayangnya, setiap kali aku bertanya dan mencari dengan beliau sebulan yang lalu.. ART yang beliau sarankan tersebut selalu berhalangan dan tidak bisa. Akhirnya, aku menyerah dan memutuskan mencari ART online yang berujung nihil. Saat menghubungi lagi pun aku hanya bisa berdoa..

Daan.. Beliau menjawab, “Nanti Ibu coba carikan keluarganya Acil Ina lah Mama Icha.. Mudahan bisa..”

Hari ke-4 di rumah sakit, akhirnya akupun diperbolehkan untuk pulang. Esok harinya, Ibu tetanggaku membawakanku ART dari kampung Alalak dekat rumahku.. Keluarga dari ART yang bekerja di rumahnya. Mataku langsung berbinar dan say.. Alhamdulillah..

Lihatlah, berputar putar aku mencari ART untuk membantuku. Dari mencari dengan Ibu tetangga di sepanjang sungai alalak hingga pencarian online. Ternyata, pertolongan Allah sungguh luar biasa. Aku dijodohkan bertemu dengan ART yang rumahnya tergolong dekat, gajih yang friendly, sangat cekatan, jujur dan bisa diajak curhat (hehe).

Sungguh, aku sangat amat beruntung mendapatkan ART yang satu ini. Sebut saja namanya Ila. Yang paling aku salut dari ART ini adalah dia sangat jujur. Keluarganya memang rata-rata bekerja sebagai ART dan Masya Allah.. Memang terkenal kejujurannya. Aku bahkan tidak takut meninggalkannya berdua saja dengan bayi di rumah. Orangnya sangat ramah dan jujur. Bahkan berkali-kali suami lupa menaruh dompetnya ditempat yang seharusnya. Tapi, tidak masalah.

ART yang berumur 30an itu juga sangat cekatan. Bekerja dengan inisiatif tanpa disuruh-suruh. Bahkan, dia sangat sulit disuruh istirahat. Memakan kue pun hanya berani 1 saja, yah.. 2 sih kalau dipaksa olehku. Pokoknya dari jam 8-jam 12 siang dia hanya bekerjaa saja. Tak jarang aku menemani dan mengobrol dengannya kalau bayiku sudah tidur. Masya Allah, orangnya sangat friendly.

Dan nilai plusnya lagi. Dia bisa menghidupkan api memakai kayu bakar. Bisa disuruh memanggang ikan dong, menu kesukaan suamiku. Hahahaha..

Dari pencarian ART ini, aku belajar beberapa hal dalam mencari dan menyeleksi ART, diantaranya adalah

1. Sebelum mencari ART secara otodidak, akan lebih baik jika meminta rekomendasi dengan yang berpengalaman memiliki ART. ART yang berpengalaman tentu lebih recomended dibanding ART orang asing.
2. Lakukan Training terlebih dahulu sebelum ‘say yes’ pada ART. Kalau bisa training yang dilakukan bukan hanya masalah skill, tapi juga kejujuran. Tidak ada salahnya mencoba meletakkan uang seratus ribu disembarang tempat untuk mengetahui tingkat kejujurannya.
3. Jangan pernah lupa untuk meminta identitas asli ART. Seperti KTP atau KTM jika masih mahasiswi. Ini sangat penting kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan
4. Gajih ART sesuai dengan tingkat perekonomiannya. Hal ini untuk mengurangi kesenjangan sosial. Jangan jadi majikan yang pelit. Memasaklah dengan porsi yang berlebih untuk bisa ia bawa pulang. Well, mungkin jika kalian sudah tau sifat perekonomian di dunia shezahome maka pasti sudah tau kalau aku dan suami termasuk dalam kategori ngirit tingkat tinggi. Tapi, ingat kata-kata ini ya duhai pasutri yang suka ngirit. “Pelit buat diri sendiri itu boleh, tapi enggak boleh pelit buat orang lain..”
5. Jadilah majikan yang friendly. Bicaralah dengan ART bukan dengan gaya yang bossy. Aku sendiri sudah menganggap ART ini seperti teman. Teman bicara di rumah dan teman memasak.
6. Jika sudah tidak memerlukan ART atau ingin memberhentikannya maka usahakan untuk mencarikannya pekerjaan yang baru.

Well, untuk point 6 ini sedang berusaha aku lakukan. Akhir maret ini mungkin aku sudah tidak membutuhkan ART karena kondisi fisikku sudah sangat baik. Sebenarnya kasihan, mengingat ART ku ini perekonomiannya menyedihkan. Suaminya tidak bekerja dan ia memiliki 2 anak. Tapi bagaimana ya? Budget emak juga menipis dan job blogger sedang tidak banyak. *curhat hahaha..

Dan alangkah senangnya aku ketika Iparku juga sedang mencari ART. Karena ia sebentar lagi bekerja dan waktu cuti melahirkannya hampir selesai. Rencananya, ART ku mau bekerja disana awal april nanti.

Yes, the power of working mom. Segalanya jadi balance. Memang kehidupan emak-emak itu perlu keseimbangan. Antara IRT, working mom, Homemade mom, Instan Mom dll itu segalanya saling membutuhkan.

Semoga Kehidupan ART emak selalu baik-baik saja selepas bekerja di rumahku.

Punya pengalaman suka duka mencari ART juga? Atau pengalaman pas punya ART? Sharing yuk!

Pengalaman 2 kali Melahirkan Cesar menggunakan BPJS secara Gratis

Pengalaman 2 kali Melahirkan Cesar menggunakan BPJS secara Gratis

“Serius kamu melahirkan cesar lagi?”
“Kamu gak pengen ngelahirin normal gitu?”
“Eits.. Denger-denger sekarang ngelahirin cesar gak ditanggung BPJS lagi loh..”

Itulah kata-kata dari beberapa temanku saat mengetahui bahwa aku di-vonis cesar (lagi) oleh dokter. Di kehamilan yang kedua ini, tentu sebenarnya aku sedih sekali mendengar keputusan dokter. Pasalnya, proses melahirkan anak pertamaku pun juga melalui cesar. Besar sekali harapanku untuk bisa melakukan VBAC (Vaginal Birth After Cesar) di kehamilan kedua. Karena jarak anak pertama dan kedua 6 tahun dan terbilang sangat mungkin untuk VBAC.

Ternyata tidak semudah itu ferguso..

Kenapa sih Melahirkan Cesar?

Pada Trisemester pertama dan kedua kehamilan aku sangat percaya diri bisa melahirkan normal. Terlebih dokter kandungan langgananku juga membenarkan harapanku. Dokter bilang jarak kehamilanku yang cukup panjang dengan kehamilan kedua ini sangat memungkinkan untuk melahirkan normal karena kondisi jahitan di rahim sudah benar-benar pulih dan minim risiko dapat sobek saat melahirkan normal. Namun, dokter tetap berpesan bahwa sebaiknya berat bayi tidak lebih dari 3 kg.

Pada Usia Kandungan 38 Minggu aku memeriksa posisi bayi di puskesmas terdekat. Betapa terkejutnya diriku saat bidan memberitahuku bahwa posisi bayiku melintang. Tak ingin berlama-lama maka esok harinya aku langsung USG ke dokter kandungan untuk memastikannya. Ternyata benar, posisi bayiku melintang. Hiks_

Padahal pada Usia Kandungan 36 Minggu aku baru saja USG dan saat itu posisi kepala bayi masih dibawah. Walau beratnya sudah 2700 gr tapi aku sangat optimis bisa melahirkan normal. Saat dokter mengetahui posisi bayi yang melintang di Umur Kandungan mendekati 39 Minggu maka beliau langsung membuat surat rawat inap untuk melakukan prosedur Cesar.

He said, “Kalau bisa operasinya jangan lewat dari HPL. Takutnya nanti sudah kontraksi baru mau operasi. Sakitnya jadi 2x. Sedangkan bayinya posisi melintang dengan riwayat Cesar.”

Yah..yah..

Kalau bisa dideskripsikan bagaimana perasaanku saat itu.. Rasanya.. Sakit banget. Hiks_ Cesar lagi.. 2 kali melahirkan.. 2 kali Cesar.. 😭

Sekilas Tentang Melahirkan Anak Pertama dengan Cesar dan BPJS

Iya, betul.. Aku melahirkan anak pertama dengan Cesar tepat pada tanggal 24 Februari 2013. Tindakan Cesar dilakukan karena ketubanku pecah dan tidak ada pembukaan sama sekali. Akhirnya, setelah menunggu lama dari jam 11 malam sampai pagi harinya.. Dokter memutuskan untuk melakukan Operasi Cesar pada jam 8 pagi.

Saat itu aku menggunakan BPJS untuk proses persalinan dari awal sampai akhir. FYI, aku saat itu melahirkan di Pelaihari, tempat orang tuaku tinggal. Sedangkan kartu BPJS ku terdaftar di Banjarmasin.

Banyak yang bertanya, Apakah bisa kartu BPJS yang tidak sesuai domisili digunakan?

Jawabannya adalah BISA. Asalkan dalam kondisi Darurat. Seperti pada kasusku yang langsung dilarikan ke UGD dan dioperasi keesokan harinya. Kartu BPJS dapat digunakan karena kondisi pasien sudah darurat.

Apa saja dokumen yang diperlukan saat Darurat harus operasi Cesar? Apakah biayanya 100% gratis?

Pada pengalaman anak pertama hampir tidak ada dokumen yang diperlukan selain kartu bpjs, KTP, dan kartu keluarga. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar walau saat itu suamiku tidak ada. Cukup berkirim-kiriman gambar dokumen sudah sangat cukup untuk melengkapi persyaratan. Tapi, kartu BPJS wajib dibawa ya.

Biaya persalinan dengan Cesar saat itu adalah ‘NOL’ Rupiah. Untuk seseorang sepertiku yang baru saja merintis kehidupan tentu saja ini sangat membantu. Lumayan sekali bukan, operasi Cesar saat itu biayanya berkisar antara 15-20 juta dan aku dapat menikmatinya gratis.

Untuk biaya obat aku memutuskan untuk membeli obat diluar BPJS, jadi cukup mahal untui point ini. Aku juga menempati kamar VIP walau jatahku sebenarnya adalah kamar kelas 1. Tapi, saat itu hanya dengan membayar biaya tambahan 30 ribu sehari dapat menikmati kamar VIP. Biaya tambahan lain adalah pembelian plester anti air dll. Tidak ada biaya tambahan berupa perawatan bayi di RS saat itu. Jadi, total seluruh biaya melahirkan yang aku keluarkan sendiri menghabiskan kurang lebih 2 juta rupiah.

Sebenarnya, saat operasi Cesar itu lebih banyak sedihnya sih. You know lah ya.. Anak pertama aja Cesar.. Keduanya bisa Cesar lagi dong. Hiks_

Hal-hal yang aku lakukan saat di-vonis Cesar lagi

Walau sudah pernah operasi cesar enam tahun yang lalu tapi tetap saja aku nervous sekali. Apalagi jika mengingat rasa sakitnya itu.. Du du du.. Ampuni hamba..

Tapi, saat itu bukan hanya rasa sakit yang aku cemaskan. Tapi peraturan BPJS yang konon katanya berubah-ubah itu. Bahkan ada saja yang bilang bahwa melahirkan Cesar tidak di cover oleh BPJS lagi. What? Jadi harus keluar duit 20 juta begitu? Hiks_

Pasca divonis cesar oleh dokter, 2 kali aku berkunjung untuk memeriksa kandungan dan 3 kali aku bertanya pada dokter yang berbeda. Pertanyaan yang diulang-ulang seperti..

“Dok, ini kartu bpjs saya. Saya masuk dalam kategori kelas 1. Kira-kira biayanya gratis gak dok?”

“Gratis mba.. Tenang aja..”

“Dok, jahitannya bagaimana? Beda ya antara kelas VIP dan kelas 1? Maaf saya pernah dengar kalau BPJS kelas bawah jahitannya vertikal dan benangnya gak langsung jadi daging.. Ini bener gak dok?”

Maaf ya, aku anaknya memang kalau nanya sedetail itu.. Hahaha.. Dan dokter pun langsung tertawa sambil bilang..

“Itu Hoax bu.. Kalau saya mau kelas mana aja jahitan tetap melintang dibawah perut dan kualitas benang yang sama. Kecuali memang saat itu kondisi pasien berbeda..”

Dan..pertanyaan terakhir seperti ini pun aku tanyakan kepada dokter..

“Dok, kalau anak sudah lahir pasca operasi Cesar.. Apakah ada biaya perawatan anak yang ditanggung diluar BPJS?”

Dan dokter bilang, “Wah, kalau anaknya dijaga bidan dan perawat selama di RS plus anaknya juga ada perlu perawatan khusus kayak perlu inkubator dll mungkin ada biaya khusus diluar BPJS. Tapi, kalau enggak ya enggak ada biaya khusus. Tenang bu.. 100% GRATIS..”

Dan kata-kata finishing dari dokter tersebut membuat hatiku legaaah..

Hal lain yang aku lakukan setelah itu adalah membaca berbagai pengalaman operasi cesar dengan BPJS yang ditulis oleh para mom blogger. Cukup mengherankan bahwa pada kenyataannya memang banyak yang mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit walau sudah memakai BPJS. Namun, ada pula yang sama dengan pengalamanku Cesar pertama seperti tulisan tentang melahirkan cesar dengan BPJS yang ditulis mba Echa. Dan I believe it. Memang bisa kok 100% gratis.

Pada beberapa kasus yang lain ada beberapa mom yang ingin menaikkan kelasnya saat operasi. Seperti yang memiliki BPJS kelas 1 namun ingin naik ke VIP maka biayanya dikenakan naik satu paket (operasi, kamar, obat, perawatan bayi dsb), dan kenaikan itu berkisar antara 6-7 juta rupiah.

Lalu, bagaimana jika hanya ingin naik kelas VIP untuk operasi saja? Atau untuk kamar saja? Seperti pada pengalamanku sebelumnya yang hanya dikenai tambahan 30 ribu rupiah saja saat pindah naik ke ruang kamar VIP.. Apakah masih berlaku?

Ternyata tidak, aku sudah menanyakan hal ini berkali-kali ke BPJS center dan mereka menekankan bahwa jika ingin naik kelas dalam pelayanan menjadi ke VIP maka harus satu paket (operasi, kamar, obat, perawatan bayi dll). Tidak bisa jika hanya memilih satu saja. Jadi, tahu sendiri lah ya keputusanku.. Aku memilih untuk menjalani operasi Cesar dengan BPJS kelas 1 secara Gratis tanpa kenaikan tarif menjadi VIP. Hehe

Bagaimana melahirkan cesar dengan memanfaatkan BPJS kelas 1? Memuaskan?

Tepat pada tanggal 31 Januari jam 11.30 Operasi Cesar selesai. Aku melakukan operasi di RS terdekat dari rumahku di Banjarmasin yaitu di RS. Ansari Saleh. Saat itu Dokter yang menangani adalah Dr. Bill. Dan waw.. Ini pertama kalinya aku operasi dengan proses anestesi seperti ini. Yup, orang bilang ini adalah Bius separo badan.

Iyes, saat melahirkan anak pertama dulu aku dibius total. Hihi. Mungkin aku akan bercerita perbedaan bius total dan separo ini di lain post ya.. Kalau disini kalian akan terlalu lelah membacanya. 😅

Jujur, ini pertama kalinya aku masuk ruang operasi. Menurutku, ruang operasi itu keren. Haha. Karena sejauh ini aku cuma bisa menyaksikan ruang operasi di drama korea. Ternyata aslinya cakep. Bersih dan modern sekali. Andai aku boleh bawa HP saat operasi pasti deh ya sudah selfie dan foto-foto ruangannya.

Dokter anestesi dan Dr. Bill pun orangnya sangat menyenangkan. Saat proses anestesi aku diajak ngobrol supaya tidak tegang. Dan suntikan dipunggung yang konon rasanya sakit sekali itu… Malah enggak berasa apa-apa loh buat aku. Sampai aku nanya sama Dokter Anestesinya, “Dok, ini sudah disuntik serius?”

Dan.. Benar sih ya.. Operasi Cesar itu gak berasa sakit sama sekali. Malahan fun banget karena para dokter yang menangani malah asik ngobrol ngalur ngidul. Sempat ketawa-ketawa lagi. Dr. Bill bahkan sempat-sempatnya mengambil foto anakku yang sedang IMD. 😅

Jahitannya bagaimana? Kualitas benangnya? Vertikal atau Horizontal?

Jahitannya oke, rapi.. Tapi please kalian jangan minta fotonya ya.. Haha..

Kualitas benangnya juga oke, benang langsung jadi daging lah yaa..

Letalnya Horizontal dibawah perut of course.. Siapa bilang pasien BPJS bakal di-pilih kasihkan.. Alhamdulillah..

Aku sangat amat menikmati proses persalinan anakku yang kedua ini dibanding yang pertama. Nilai plusnya adalah aku dapat secara langsung melihat anakku yang baru lahir dan melakukan IMD. Dan saat proses penyembuhan diruang rawat inap pun aku cukup puas. Walau yah.. Memang tidak ada yang sempurna.

Untuk ruang rawat inap kelas 1, menurutku ruangannya kurang memuaskan. Satu kamar untuk dua pasien dan hanya dibatasi dengan gorden pembatas. Bisa dibayangkan betapa terganggunya aku saat ada pasien baru masuk dengan suara yang ribut sementara aku punya newborn yang susah sekali tidur. Sempat lah ya nangis-nangis sendiri nahan mulut pengen negur pasien sebelah. Haha..

Alhamdulillah pada hari ke empat pasca operasi aku akhirnya dapat berjalan sendiri dan diperbolehkan pulang. Yah cesar memang memerlukan waktu penyembuhan yang cukup lama. Apalagi jika ingin ASI Ekslusif, menahan sakit cesar sambil menyusui itu luar biasa. Tapi jika dinikmati sambil menatap mata kecil si bayi… Sungguh, cesar itu tidak sehorror itu kok.

Baca juga: Pengalaman Menyusui Pasca Operasi Cesar

Banyak hal yang perlu aku syukuri walau gagal VBAC. Ya.. Something like..

Alhamdulillah bisa ke RS dengan dandanan lengkap.. Enggak dasteran.. 😂

Alhamdulillah bisa merencanakan hari lahir seperti artis juga, walau gagal karena operasiku ditunda karena kebanyakan pasien dihari yang diinginkan.. Haha..😂

Alhamdulillah bisa melahirkan tanpa rasa sakit, walau sesudah itu sakitnya please jangan ditanya.. Haha.. 😂

Alhamdulillah.. Walau melahirkan secara Cesar 2x tapi seluruh biayanya GRATIS.

Dan Alhamdulillah.. Walau aku adalah pasien BPJS tapi aku tidak merasa dipilih-kasihkan dengan non BPJS.. Karena pelayanannya memuaskan. 😊

Oya, terkait dengan gosip tentang melahirkan Cesar tidak dapat di klaim dengan BPJS itu memang benar kok. Tapi… Dalam kondisi begini..

1. Keputusan Cesar tidak darurat, maksudnya letak bayi baik-baik saja, ibu baik-baik saja, sangat memungkinkan untuk normal. Tapi Ibu mau Cesar karena ingin tanggal lahir anaknya cantik.. Atau ingin cesar karena enggak ingin merasakan sakit saat melahirkan.. Maka tentu saja operasi Cesar dengan BPJS tidak bisa. Karena memang prosedurnya tidak semudah itu ferguso.. 😅

2. Tidak ada rujukan dari faskes 1 atau dokter kandungan yang melayani saat kehamilan. Ini sangat diperlukan kalau memang Anda ingin melahirkan cesar dengan tanggal yang direncanakan. Harus ada rujukan dari Dokter yang menyatakan bahwa Anda benar-benar harus Cesar dengan kasus yang serius.

3. Anda punya kartu BPJS, kondisi darurat SC tapi iuran bulanannya gak dibayar. Ya of course lah enggak bisa.. 😅

Jadi, gosip bahwa melahirkan Cesar tidak ditanggung BPJS itu memang benar. Kalau ingin ditanggung maka keadaannya harus benar-benar darurat atau Anda punya rujukan dari faskes 1. Nah, dalam kasusku? Jelaskan bahwa keduanya adalah dalam kondisi yang memungkinkan. Yang pertama karena darurat ketuban pecah dini, yang kedua karena rujukan dari dokter terkait posisi bayi yang melintang.

Nah, itu dia cerita pengalamanku yang 2 kali operasi Cesar..

Terus, anak ketiga Cesar lagi?

*Please, jangan nanya kapan nambah anak dulu… Hormon aku lagi enggak stabil. 😂

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Wah, judulnya.. Apakah Anda sedang baper duhai penulis shezahome?

Ya, dibilang baper sih tidak juga. Hanya saja aku menulis ini untuk menjadi pengingat kepada diriku beberapa tahun mendatang. Pengingat bagi diriku sendiri yang mungkin saja beberapa tahun mendatang otaknya tidak sewaras sekarang karena berbagai faktor. Pengingat kepada diri sendiri bahwa ketika anakku beranjak dewasa kelak.. Pasti akan banyak sekali perbedaan pendapat yang akan menimbulkan konflik diantara kami.

Tentang Menghadapi Anak yang Beranjak Dewasa

Jadi, tulisan kali ini tentang apa?

Yup, its all about the future.

Tentang khayalanku menghadapi anak yang beranjak dewasa kelak. Memang, anakku sekarang masih tergolong dalam umur anak-anak. Namun, kurasa pengalamanku dengan Mama telah mengajari segalanya.

Sebagai anak yang paling sering bertengkar dengan mama diantara 3 saudara yang lain, tentu pahit manis pertengkaran sudah sering aku lewati. Dimulai dari saling menangis, mogok makan, hingga tidak mau berteguran dengan Mama. Ya, aku mengalami semua itu pada masa remajaku. Aku pernah menjadi anak pembangkang, bahkan pernah hampir dibilang durhaka oleh Mama.

Baca juga: Surat untuk Mama, Maaf Aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga Saja

Pengalaman mengajari segalanya. Walau aku adalah anak yang paling sering berkonflik dengan Mama, namun aku juga merupakan anak yang memiliki ikatan batin terkuat dengan Mama. Ketika Mama sedih, gelisah, bingung.. Mama akan lari mengadu padaku. Seakan aku adalah solusi yang dibutuhkan. Mungkin juga sih, karena aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Jadi, feeling kami lebih terasa nyaman dan nyambung.

Berikut adalah beberapa catatan untuk diriku sendiri dimasa depan ketika menghadapi anak remaja. Maka wahai diriku.. Ingatlah bahwa pernah menulis ini..

Ingatlah Bahwa Kita Pernah Muda

Belakangan, aku sangat sering dihadapkan pada konflik orang tua vs anak remaja. Ada yang mencaci dan mengutuk kelakuan anak remajanya. Ada pula yang membiarkan kelakuan anak remaja mereka begitu saja, menuruti segala kehendak mereka dengan alasan.. “Yah, aku dulu gak bisa begitu paling enggak anak bisa merasakan manisnya masa remaja.”

Ada pula yang tidak mau mendengarkan pendapat anak remajanya. Tidak memberikannya kesempatan untuk mengemukakan pendapat dengan alasan, “Mama dulu gak pernah nyahut sama orang tua kayak kamu ini loh! Kalo nyahut pasti langsung dilempar sambel mulutnya! Kamu kok berani sekali?”

Memang, ada hadis Nabi yang berkata bahwa sebagai anak kita tidak boleh sekalipun berkata ‘Ah’ pada orang tua maupun mengeluh. Sebagai seorang anak, kita diharuskan untuk selalu menaati perintah orang tua. Tapi, ingatlah kita akan pola asuh yang dianjurkan oleh Ali.

Jadikan Anakmu Raja hingga berumur 7 tahun..
Jadikan Anakmu Tawanan dari umur 8 sampai 14 tahun..
Jadikan Anakmu TEMAN dari umur 15 sampai 21 tahun..

Artinya sebagai orang tua yang baik, saat terjadi perbedaan pendapat dengan anak kita yang sudah beranjak remaja maka kita tidak boleh melakukan pembenaran kekanak-kanakan dengan alasan, “Gak boleh menyahut pada orang tua..” apalagi mengatakan bahwa mereka adalah Anak Durhaka, Bodoh, dsb. Ingatlah, setiap perkataan orang tua itu adalah Doa.

Kita harus mengingat dan reframing dengan keadaan mereka. Ingatlah, kita pun pernah muda. Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini, adalah wajar ketika remaja merasa penasaran akan dunianya.

Adalah wajar saat remaja mengemukakan pendapat realistisnya dari ilmu yang didapatkannya.

Adalah wajar saat remaja menentang hal yang tentu saja ia rasa benar. Apalagi jika pendapat tersebut dilandasi ilmu yang benar.

Yang harus kita lakukan sebagai orang tua kekinian adalah tidak menutup diri pada perubahan lingkungan, ilmu pengetahuan, dan selalu update pada era teknologi terkini namun tidak melupakan ajaran terbaik dari yang terdahulu.

Jadilah orang tua yang berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Kenapa? Agar kita benar-benar bisa menjadi teman yang baik baginya. Tidak sekedar menyalahkan segala opini yang keluar dari mulut lugunya.

Jika Kita Ingin Memiliki Anak yang Berempati, maka Kita Harus Memiliki Empati yang Lebih Besar.

Masih segar rasanya cerita tentang tantrum yang dialami Farisha dahulu. Tantrumnya memang amat sangat singkat sehingga hampir tidak ada yang tau bahwa Farisha pernah mengalami tantrum. Bahkan, banyak yang bertanya padaku, “Bagaimana bisa mengatasi tantrum pada anak dalam waktu sesingkat itu?”

Baca juga: Empati, solusi untuk tantrum anakku

Jujur saja, aku bukan penganut menjadikan anak Raja pada fase Farisha kecil. Aku penganut mengajarkan Farisha Rasa Kasihan. Mungkin, ini terjadi karena aku sempat terkena Post Partum Depression. Sehingga aku selalu menyuruhnya memahamiku. Aku membiarkannya melihatku dalam keadaan sedih saat berdua dengannya, tak jarang menangis sendiri. Untuk hal seperti ini, tentu saja tak boleh kalian tiru.

Baca juga: Mengeluh pada Anak, Yay or Nay?

Tapi karena hal ini pula, Empati Farisha secara prematur tumbuh. Ia mulai menyukai hal-hal yang berbau kesedihan dan memahami penyebabnya. Karena itulah ia tidak mengalami tantrum seperti anak-anak pada umumnya. Hingga kini, hal yang paling disenanginya adalah Mewarnai Obyek Kesedihan dan Menggambar Air mata. Ya, aku serius.

Aku tidak menganggap hal ini sebagai kelainan. Apalagi setelah aku berusaha bangkit melawan PPD. Empatiku pada Farisha perlahan-lahan tumbuh makin dalam. Dan saat ia mengalami berbagai konflik di sekolahnya, termasuk saat ia mulai ingin menjadi seperti teman-temannya, dibully, hingga keras hati yang mendadak muncul. Aku melakukan reframing yang mendalam padanya. Aku memeluk dan membacakan buku cerita yang serupa dengan kisahnya. Memberinya sebuah pembelajaran hingga akhirnya ia paham akan jalan pikiranku.

Begitulah hal yang seharusnya kita lakukan saat perbedaan pendapat dan konflik muncul. Empati kita pada anak harus lebih besar. Agar ia menghormati dan menyenangi kita, bukan membuatnya TAKUT dengan kita.

Karena akan ada masanya si kecil tidak semanis ini lagi dan kita harus mempersiapkan mental dimulai dari sekarang..

“Nikmatilah masa-masa berdua saja dengan anakmu yang masih kecil, karena kelak suatu saat nanti ia tidak akan semanis ini lagi.”

Aku sangat menyadari masa-masa itu PASTI akan datang. Apalagi dalam pergaulan sekarang, anak-anak terasa cepat sekali berubah. Mereka cepat sekali menemukan role mode yang baru. Karena lingkungan telah berubah. Perkembangan teknologi dan komunikasi menuntutnya untuk mencari jati diri dengan cara yang lain.

Dan setiap zaman ke zaman. Mode pencarian jati diri ini mengalami perubahan. Itulah yang harus kita sadari.

Zamanku dulu saja misalnya, aku sangat tergila-gila dengan Kpop dan Boyband. Memasang poster berbagai boyband di kamar. Bernyanyi tidak karuan dikamar mandi. Malas memakai Jilbab kesana kemari. Menghabiskan uang jajan untuk warnet dan majalah. Benar-benar masa remaja yang tidak produktif. Terlalu banyak mengkhayal dan lupa dengan dunia nyata. Ada yang sama? Haha..

Tapi itu semua ada penyebabnya. Pada zamanku misalnya, aku melakukan itu semua karena ruang pergaulanku dibatasi oleh mama. Tidak boleh berteman dengan ‘si anu’, tidak boleh keluar rumah kalau bukan karena ‘ini’, tidak boleh bla bla bla. Dan percaya atau tidak dari SMA hingga kuliah aku stuk berteman dengan jenis makhluk laki-laki di dunia nyata. Aku mengalami krisis percaya diri sehingga malas sekali ikut berbagai kegiatan di dunia nyata. Jadi, aku mencari pencarian kesenangan di dunia lain dengan alasan pencarian jati diri. Dan hingga saat ini dunia maya adalah candu. Thats Why Blog dan Sosial Media adalah bentuk ekspresi yang sudah menjadi candu untukku. Kadang aku berpikir bahwa Introvert itu dibentuk bukan natural ‘dari sononya’

Lantas Apa aku harus memperlakukan Farisha dengan sama?

“Tapi efeknya baik kan win? Kamu jadi anak baik-baik hingga dewasa dan menikah karena batasan-batasan yang diberikan oleh Orang Tuamu”

Ya efeknya memang baik. Tapi baiknya kebablasan. Hihi

I mean.. Kebablasan hingga aku tidak bisa berekspresi seperti apa yang aku mau. Merasa ketinggalan dengan perkembangan teman-teman yang lain. Tidak dapat menonjolkan bakat seperti apa yang aku inginkan. Karena setiap keinginan itu muncul, pertengkaran dengan Mama adalah hal yang pasti terjadi. Dan aku sangat membenci itu.

Aku tidak ingin Farisha tumbuh seperti itu. Sebagai anak yang terlalu penurut padaku karena ‘takut’. Aku ingin ia memiliki keinginan sendiri untuk langkah kedepannya dan aku ingin menjadi teman setia yang mengiringinya. Bukan menjadikannya boneka yang pasrah dengan dalangnya. Bukan pula menjadikannya untuk penakut padaku.

Maka hei diri sendiri, tolong ingatlah janji ini. Janji di masa depan nanti.

IBX598B146B8E64A