Browsed by
Category: Motherhood

Hal-Hal yang Biasa dilakukan Emak Introvert ditengah-tengah Komunitas Emak Ekstrovert

Hal-Hal yang Biasa dilakukan Emak Introvert ditengah-tengah Komunitas Emak Ekstrovert

source image: www.romper.com

Pernah enggak sih mak, merasa sunyi ditengah-tengah keramaian? Padahal, banyak para emak lain yang sedang asyik bercanda-ria disekitar kita. Tapi, kita malah merasa sendirian saja.

Tenang, jika emak pernah merasakan hal tersebut maka sebenarnya Anda tidak sendirian. Bisa jadi, Anda adalah salah satu emak berkepribadian introvert yang berbeda dari kebanyakan emak yang lain.

Aneh enggak sih hal tersebut?

Hmm.. Aku sih bilang hal itu bukanlah hal yang aneh. Ya, kita kan tidak bisa mengubah kepribadian kita yang sebenarnya merasa nyaman dengan hal itu. Memang, mungkin sebagian emak yang lain akan menganggap kita sedikit antisosial dan pilih-pilih teman. Tapi, ya.. Memang begitukan para emak intovert itu sejatinya? Hihi

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Sedikit curhat, sebenarnya aku termasuk golongan emak introvert. Yah, walau di dunia maya sebenarnya kadang tulisanku terbilang sedikit konyol (yang udah pernah baca sebagian pasti tau 😂✌). Tapi, sebenarnya di luar aku sedikit jaim (jaga image) apalagi kalau berkumpul dikomunitas yang tidak terlalu aku senangi (baca: mak-mak hoby ngerumpi).

Aku sih emaknya hoby pakai topeng. Maksudnya, walau aku enggak terlalu senang dengan komunitas tersebut tapi aku tetap berusaha bisa bergabung. Apalagi nih kalau salah satu emak tersebut anaknya akrab dengan anakku. Tapi.. Tetap ya.. sampai kapan kita bisa terus bertahan dengan alur pembicaraan yang tak sesuai dengan kita. Puncaknya, akan ada yang bernama awkward moment. Betul?

source: introvert doodles by maureen ‘marzi’ wilson

Nah, jika sudah mengalami awkward moment ditengah-tengah komunitas emak ekstrovert. Ada beberapa hal yang biasanya aku lakukan supaya tidak BT (bosen terus), hal itu antara lain adalah…

1. Sok Pinter atau Pura-pura Serius Baca Buku

Emak-emak lain pada asyik ngegosip dan pamer ala sosialita? Sementara kita berada ditengah-tengah ledakan tawa yang bagi kita sih enggak lucu-lucu amat (hahahaha). Terus ngapain? Ambil kaca mata.. Cusss.. Baca buku..

Jika pada moment kalangan abegeh. Biasanya cewek cantik lagi baca buku sendirian terlihat lebih berkelas. Nah, kira-kira apa yang terjadi kalau yang membaca buku emak-emak yang sebenarnya enggak cantik-cantik amat plus dasteran plus IRT tulen ini? Image apakah gerangan yang terpancar.. 😅

Ah, apapun image yang terpancar dimata emak-emak ekstrovert biasanya sih emak introvert cuek ajah. Bahkan, aku pernah beberapa kali bertemu dengan emak introvert parah yang dengan juteknya berkata, “Berisik..” 😅

2. Sok Pencet-pencet HP

Siapa begini?

Ngakunya introvert tapi alergi obrolan dunia nyata, lebih suka hidup di dunia maya khususnya sosmed. Di dunia nyata jutek minta ampun tapi di dunia maya kerjaannya ‘haha’ ‘hihi’ dan tidak lupa selalu menampilkan icon tanda ekspresi.. 😀😁😄😆😂

Padahal di dunia nyata mukanya (begini 😑) sambil main hp. Hahahaha

Tapi, solusi ini menjadi musibah mati gaya kalau kuota atau pulsa habis. Ada sih memang emak introvert yang bisa bertahan dengan pura-pura pencet hp, tapi aku tidak bisa begitu. Pokoknya kalau pulsa habis harus beli disini supaya tidak mati gaya.

3. Sok Foto-foto

Siapa yang pernah travelling bareng emak-emak ekstrovert yang satu pun tak ada yang cocok dengan kita?

source:lingvistov.com

Pernah ya, suatu hari aku mati gaya saat travelling bersama dengan emak-emak ekstrovert dalam rangka wisata alam membawa anak di TK. Solusinya? Ambil HP dan mari bernarsis ria foto-foto dan bikin video di alam terbuka. Maksimalkan ekspresi dan gaya untuk di-upload di dunia maya agar emak tetap eksis walaupun aslinya kurang eksis. 😅

Tapi, hiburan dokumentasi foto dan video ala emak introvert ini jadi kendala kalau baterai habis. Ya, traveling memang memakan waktu yang lama bahkan mungkin seharian kita berada diluar. Aku pernah mengalami baterai habis begini dan itu bikin aku super mati gaya dan rencana dokumentasi travellingku hancur berantakan.

Alhamdulillah, akhirnya suami mengerti. Setelah cek harga power bank yang ternyata lumayan bersahabat, akhirnya tercapai juga keinginan punya power bank sendiri. Baterai habis saat travelling bareng emak ekstrovert yang ga asik banget? Tetep menyenangkan.. 😂

4. Sok Nyuekin Anak-Anak padahaaal…

Aku pernah loh denger emak ekstrovert bilang begini, “Ah, Mama Farisha itu kerjaannya kalau di sini pencet HP mulu. Mana pernah merhatikan anaknya.”

Padahal…

Ngapain juga kita memperhatikan anak secara berlebihan? Dia temenan diikutin, dia makan serba disuapin, dia begini-begitu ditegur. Halo? Kapan anak jadi mandiri bu?

Aku tipikal yang suka membiarkan anak memang. Apalagi kalau dia asik berteman, malu dong dia kalau diperhatikan terus. Tapi, bukan berarti cuek bebek banget. Siapa sih yang tau kalau dari kejauhan aku juga sering memperhatikannya? Sesekali memoto momentnya bermain bersama dan menulisnya di sosial media maupun blog. Dan mulai tegas mengajarinya di dalam rumah. Gitu gaya emak introvert didik anak di luar wilayahnya.

Baca juga: Gini gaya emak introvert ngasuh anak, Masalah?

5. Kadang Suka (nguping) Gosip yang Menarik Perhatian

Ssst… Ini cuma aku atau ada yang sama? 😂

Emak Ekstrovert kadang kalau ngerumpi suka menarik perhatian. Bukan hanya karena gelak tawa yang memecahkan gendang telinga tapi bahan bercandanya kadang memang lucu sih. Hmm.. Bukan cuma topik bercanda, topik yang sering menarik perhatian bagiku adalah saat sudah memasuki topik rumah tangga, keuangan, cara mendidik anak di rumah.

Dalam dunia nyata, aku terkesan tidak peduli dengan hal itu. Padahal diam-diam topik perbincangan hangat ibu-ibu itu bisa menjadi bahan inspirasi dalam beberapa tulisan blogku. Ya, cukup banyak sebenarnya segi positif dari mendengarkan rumpi emak-emak.

Contoh tulisan itu antara lain:

Tips Membuat Anak Merasa Senang di sekolah

Anak Jajan itu Boleh Ga Sih?

Ajari Anak 5 Hal yang Tidak Menyenangkan

Bahkan, aku pernah ternganga diam saat menyaksikan beberapa emak sempat perang dingin karena topik-topik tertentu. Yah, karena aku sudah cukup berpengalaman merasakan hal yang sama di dunia maya maka aku juga menuliskan tentang ‘9 Topik Obrolan Sensitif yang Dapat Menyebabkan Mommy War

Jadi, tidak selamanya mendengarkan ngerumpi itu buruk kok. Asalkan kita tidak menyebarkan aib orang lain dan dapat mengambil sari kebaikan. Hehe.

Nah, emak introvert juga? Apa saja yang dilakukan saat berada dikomunitas ekstrovert? Sharing Yuk!

Dampak Positif dan Negatif Menonton Drama Korea Bagi Ibu Rumah Tangga

Dampak Positif dan Negatif Menonton Drama Korea Bagi Ibu Rumah Tangga

Drama Korea.. Hmm.. Siapa sih yang enggak tau dengan yang satu ini? Mulai dari kalangan abege, wanita karir hingga ibu rumah tangga pastinya sangat tau dengan drama korea aka drakor. Bahkan, belakangan saya baru tau bahwa ada juga loh ternyata laki-laki yang suka nonton drakor. Yah, tidak banyak sih, cuma perbandingannya mungkin 1 banding 10 (yang jelas bukan suami saya.. 😅).

Konon, virus kecanduan drakor ini bukan hanya dominan ada di kalangan cewek abege. Ya, bahkan Ibu-ibu Rumah Tangga pun suka sekali menonton drakor untuk mengisi waktu luangnya. Beberapa IRT bahkan mengaku bahwa menonton drakor merupakan me time yang sangat menyenangkan. Siapa yang begini? Hayo.. Ngaku!

Apakah menonton drama korea bagi Ibu Rumah Tangga merupakan hal yang salah? Apakah rutinitas harian tidak terabaikan karena kegiatan ini? Terakhir, seberapa besar dampak positif dibanding dampak negatifnya?

Cuss.. Kita bahas sampai tuntas disini yaaa.. 😆

Dampak Positif Menonton Drakor Bagi Ibu Rumah Tangga

Nah, sebagai emak rumahan yang mengaku senang menonton drakor sebagai salah satu rutinitas me time tentu saya sangat merasakan dampak positif dari kegiatan ini. Dampak positif itu antara lain adalah:

1. Meningkatkan Kewarasan Emak-Emak

Siapa sih yang kadang suka kehilangan kesabaran karena rutinitas rumahan yang membuat emak kadang emosi tingkat tinggi? Konon, sebutan yang terkenal untuk hal ini adalah ‘kurang waras’.. 😅

Menonton drama korea dengan berbagai selak beluk kisah yang tidak membosankan akan membuat emak rumahan terhibur dan merasa hidup kembali. Emak yang tadinya merasa kurang waras akhirnya terobati rasa bosannya dengan hiburan drama korea yang dapat memenuhi ruang emosinya dengan warna warni rasa.

Emak yang tadinya uring-uringan melihat rumah yang pekerjaannya tak kunjung habisnya.. Ngadem dulu, nonton drakor lalu bisa senyum berbunga-bunga saat masak, jangan lupa ditemani soundtrack album drakor favoritenya..😅

Emak yang tadinya kurang nuansa romantisme dari suami yang agak pasif akhirnya dapat senyum merona merah layaknya remaja lagi dan dapat menyambut suami dengan senyum ikhlas malu-malu seperti malam pertama.. Eaa

Yes, terima kasih drakor.. Kau buat kalangan emak-emak mulai waras dan berbunga-bunga.. 😂

2. Membuat Hidup Emak Lebih Berwarna

Pernah merasa hidup kadang cuma di dominasi oleh rasa yang begitu-begitu saja? Tidak ada hal baru, tidak ada tantangan. Bahkan saking suramnya hidup seakan seperti TV dengan warna hitam putih saja. Yes, How Boring?

Baca juga: Please, Aku Bosan Jadi IRT

Tapi dengan menonton drama korea emak dapat merasakan tantangan mendebarkan disetiap episodenya. Perasaan senang, sedih, kecewa, bangkit, semangat akan dapat emak rasakan ketika ‘berempati’ dengan tokoh pada drama korea. Bahkan saking empatinya, kadang sampai menangis dan ikut-ikutan merona malu. Hahahaha.. *tuh.. Banyak rasa kan hidupnya? Aseek.. 😂

3. Meniru Gaya Hidup Positif Budaya Korea

Ada enggak sih emak yang mulai suka meniru budaya korea karena saking keseringannya menonton drama korea?

Nah, saya mau sharing salah satu perubahan positif saya saat menonton drama korea. Yaitu berubah menjadi lebih manis. *digetok gayung.. 😂

Ya bagaimana tidak manis kalau semenjak menonton drama korea saya jadi suka iseng menyajikan tampilan masakan ala korea (walau kebanyakan gagal.. 😅). Selain itu, gaya mengikat rambut hingga gaya melipat pakaian pun sekarang mulai saya tiru. Menurut saya, ini perubahan positif lah. Bahkan suami saya senyum-senyum melihatnya. Hehe..

Dampak Negatif Menonton Drakor Bagi Ibu Rumah Tangga

Tapi nih tapi.. Menonton drakor itu juga banyak dampak negatifnya. Dan dampak negatif ini ternyata sangat saya rasakan ketika saya mulai ikut nimbrung percakapan antar emak-emak pecinta drakor. Apa aja dampaknya? Cuss…

1. Kecanduan yang Membuat Emak Lupa Waktu dan Mengabaikan Kegiatan Rumah Tangga

Setuju enggak sih kalau nonton drakor itu bikin emak kecanduan?

Ngakunya satu episode dulu tapi eh tapi jadinya lagi, lagi, dan lagi. Sampai mengabaikan rutinitas membacakan dongeng sebelum tidur lalu kemudian tidur tengah malam bahkan ada juga yang tidak tidur semalaman. Akhirnya, pagi harinya bangun kesiangan lalu anak disuruh bolos sekolah saja. Telpon guru ngakunya si anak sakit padahal emaknya yang teler. Ada begini? Ada.. 😂

source: brilio.net

Siang hari pada umumnya diisi dengan kegiatan hectic memasak untuk menyambut suami datang makan siang. Tapi (lagi-lagi) karena drakor maka makanan yang disajikan berakhir gosong dan kekeringan. Ada begini? Oh, adaaa…

Malam hari adalah waktu suami untuk bermanja-manja namun karena emak sedang ‘sibuk’ dengan drama yang katanya sedang hits akhirnya suami pun mengisi hiburannya dengan main ‘enemy has been slayed’.. 😂

2. Meniru Gaya Hidup yang Tidak Sesuai dengan Keadaan Dompet

source: budayametropolitan.blogspot.co.id

“Aduh, baju yang dipakai si jung jung itu aku pernah liat di sini loh.. Tapi harganya mahal”

“Masa? Ah iya.. Persis ya.. Aduh, aku jadi pengen!”

“Liat deh topi yang ini.. Unyu banget kan kayak di film bla bla punya si Min Min”

“Eh, iya.. Berapa harganya.. Omegadd”

“Eh, tau ga si Song Song itu pakai lipscrub ini supaya bibirnya ga item”

“Ah, masa.. Bukannya dia pake liptint yang ini ajah”

“Enggak bibirnya merah asli kok”

“Berapa harga lipscrubnya? Omegadd”

Ya.. Ya.. Percakapan diatas cukup familiar bukan? Kosmetik dan gaya baju trend korea kini telah merajai industri fashion wanita. Media promosi yang sangat berpengaruh salah satunya adalah dengan kekilauan drama korea. Tentu saja tidak sedikit para wanita termasuk ibu rumah tangga yang rela mengeluarkan uang berlebih untuk trend korea kekinian ini. Yang dipertanyakan, apakah keadaan dompet sudah memadai? Hehe

3. Tenggelam Dalam Dunia Khayalan dan Tak Kunjung Move On

Melanjutkan dari point no. 1, apa yang akan terjadi jika kecanduan drakor tidak segera diatasi? Yes, emak tak kunjung move on dan tetap asik hidup di dunia khayalan.

Yah, sepertinya ini poin tambahan untuk tulisan saya sebelumnya ya.. Hihihi..

Baca juga: 8 Hal Penyebab Stay At Home Mom Gagal Move On

Banyak loh, kalangan emak-emak rumahan yang kecanduan nonton drakor dan anime sehingga lupa dengan kehidupannya yang asli. Akhirnya ia lupa dengan tujuan dan list-list task to do yang seharusnya ia utamakan.

Jika sudah terjadi hal begini, lalu bagaimana?

Seret Sang Suami.. Katakanlah, “Hei Suami, mulai sekarang kalian harus jadi lelaki romantis.. Supaya istrimu tidak mencari ‘pelarian’.” 😂

4. Terancam Gagal Menjadi Role Mode yang Baik untuk Anak

source: depositphotos.com

Katanya sih mau supaya anak tumbuh baik, pinter, bertenggang rasa, sholeh, dan bla bla bla. Tapi apa jadinya kalau anak tau sang emak hobynya nonton drakor? 😂

Mungkin sang anak akan berpikir, “Oh, ternyata mama suka dengan si Min Min ini. Berarti aku nanti kalau sudah besar harus cakep begitu.”

Atau..

“Wah, kayaknya mama suka dengan style si Song Song ini. Berarti aku nanti kalau sudah besar harus cantik dan bergaya begitu juga dong.”

Atau..

“Wah, mama nonton drakor yang kemarin ya.. Ikut nonton juga ahh, mau tau lanjutannya.”

😅

Ingat mak, anak itu meniru tingkah polah kita dan kebiasaan kita. Apa yang kita sukai kemungkinan besar akan ditiru olehnya. So, sudah siap jika ketika anak besar nanti dia ingin menjadi seperti artis korea.. 🙈

Atau sama-sama penggila drama korea.. Tentukan pilihanmu..hihi..

5. Membuat Emak Terancam Puber Kedua

Ada yang begini?

Ada..

Udah gitu aja. Kayaknya enggak perlu diceritakan lebih detail. Hahahaha..

Lantas, Apakah menonton Drakor itu Salah?

Sama seperti pisau, keberadaan drakor dapat berguna namun juga dapat melukai perasaan suami.. *loh.. 😅

Menonton drakor bagiku bukanlah hal yang salah. Bahkan jika dalam drakor banyak pembelajaran berharga kehidupan yang dapat diambil, kenapa harus say no dengan keberadaan drakor?

Baca juga: Go Back Couple, Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Tapi, jangan menjadikan menonton drakor sebagai hoby namun jadikanlah ia sebagai hiburan saja. Dan yang terpenting, jangan sampai menonton drakor mendominasi jadwal harian emak. Tontonlah drakor ketika benar-benar dalam waktu yang senggang.

Seseorang berkata padaku, bahwa hoby adalah sesuatu yang paling suka kita kerjakan dan memberi manfaat bagi orang lain. Sementara hal yang tidak memberi manfaat dan sering dikerjakan adalah hiburan semu saja. Lalu, menonton drakor termasuk kedalam hal yang mana?

Banyak para wanita yang menjadikan menonton drakor sebagai hobynya yang pada akhirnya tidak membawanya kepada perubahan berarti. Hanya sekedar rasa senang yang kemudian hilang begitu saja ketika hal itu berakhir. Kita dapat melihat contoh hal ini dari para penggemar fanatik dari artis korea. Tidak sedikit loh, para penggemar yang sedih luar biasa sampai stress mendapati sang artis meninggal bunuh diri.

Menjadi Ibu apalagi Ibu Rumah Tangga sejati memang harus waras. Tapi, sampai kapan kita mengisi kebahagiaan dengan drakor saja? Yuk, cari hoby menyenangkan yang benar.

Karena hidup Ibu pun sesungguhnya penuh warna loh. Ya, kita sendiri yang dapat mewarnai hidup itu bukan drakor. 😊

Please, Aku Bosan Jadi IRT!

Please, Aku Bosan Jadi IRT!

List Harian Emak-Emak Rumahan Pada Umumnya

Senin

Bangun tidur-Masak-Nyapu-Mandiin Anak-Ngepel-Cuci Piring-Rapiin Rumah-Kepasar-Masak-Jemput Anak-Masak-Cuci Piring-Nyuci Baju-Jemur Baju-Bacakan Anak Buku Cerita-Pelukan-Ikut Bobo-Nganter Anak Ngaji-Masak-Family Time sambil Makan Malam-Cuci Piring-Family Time sambil Tiduran bareng anak suami.

Selasa

Sama kok jadwalnya kayak senin

Rabu

Sama

Kamis

SAMA

Jum’at

MASIH SAMA

Sabtu

Akhirnya suami libur, haruskah ngajak anak bolos sekolah demi jalan-jalan?

Oh enggak, katanya hari ini jadwalnya masak-masak di rumah (lagi)

Gakpapa, sabtu malam ini bisa nyetrika baju buat jalan-jalan besok. Yeay

Minggu

Finally!!

Bangun lebih pagi-Bikin sarapan spesial-Dandan Cantik…

“Sayang kayaknya ga bisa jalan hari ini deh, aku belum selesai ngerjain coding hari ini”

DUAR!
👿

Ketika Rutinitas Monoton Membuat Emak Rumahan Mulai Jenuh Dan Tak Berarti

source: nova-grid.id

Pernah melalui fase ini? Atau sedang dalam fase ini?

Pernahkah terlintas rasa iri ketika melihat para emak lainnya yang bekerja di luar sana?

Ah, Enaknya bekerja.. Punya seragam komunitas, punya semangat hidup, punya uang sendiri…

Lantas kemudian berkata, “Apalah diriku ini, punya anak satu saja masih suka depresi. Jangankan membahagiakan keluarga, membahagiakan diri saja tidak bisa”

Pernah begini? Kompakan yuk..😂

Padahal, keputusan menjadi Ibu Rumah Tangga ‘saja’ tentu sudah dipikirkan matang-matang. Seperti diriku sendiri yang ‘ngotot’ tidak mau jika anak sampai diasuh oleh mertua yang pikirannya benar-benar bertabrakan denganku. Sebagai menantu yang baik (ehm) lebih baik menghindari konflik ‘emak dulu vs sekarang’ dari pada terus-terusan memendam kejengkelan yang tidak jelas. Senang sekali ‘kengototan’ ini tidak didengar secara langsung namun terkabul begitu saja ketika suami berkata bahwa jangan sampai anak kami diasuh oleh Ibunya.

“Mama Sudah Capek Ngasuh Anak sampai 3 cucu, masa mau nambah lagi.. Ehm, Sementara Farisha kecil.. Jadi Ibu Rumah Tangga yang baik aja ya”

Setahun berlalu..

Dua tahun berlalu..

Tiga tahun berlalu..

Bukan berlalu begitu saja yang jelas ya. Kayak film aja ‘3 tahun kemudian’ berasa cuma semenit..wkwk..

Dalam tiga tahun itu tentu banyak hal yang aku alami…

Pernah nangis sendirian di kamar sambil menyusui bayi? Pernah!

Pernah marah-marah tidak jelas sampai anak takut lalu menangis dan memeluk Ayahnya saja? Pernah!

Pernah bertengkar dengan suami sampai pengen lari kerumah orang tua aja? Pernah!

Pernah merasa ijazah di lemari seakan memanggil-manggil menuntut penggunaannya? Pernah!

Pernah mencoba belajar dan membaca buku namun tidak ada satupun yang dapat melekat karena merasa ilmu telah terdepresiasi? Pernah!

Baca juga: “Baby Blues dan PPD, Aku mengalaminya”

Yah, Rutinitas monoton ini telah membuat emak mulai jenuh dan merasa tak berguna. Siapa bilang jadi Stay At Home Mom itu Menyenangkan?

Ketika Mereka Bilang, “Hei, Kamu Kurang Bersyukur!”

source: Soliha.id

“Kamu ini kurang apa? Suami kamu udah mapan kok!”

“Syukurin aja langsung punya anak, dari pada ga dapet-dapet kayak si anu dan si anu”

“Aku senang-senang aja kok jadi Ibu Rumah Tangga, kok kamu gitu sih?”

“Seorang Ibu itu ya begitu lah.. Hidup buat anak dan suaminya.. Masa mau memprioritaskan kebahagiaannya sendiri dulu sih.. Harusnya kamu bla bla bla”

Ya, itu sih kalian.. Masa mau menyama-ratakan diri kalian dengan orang lain? Memangnya kita kayak cookies satu cetakan gitu? Wkwkwk..

Bahkan cookies satu cetakan aja distribusinya beda-beda. Jalan hidupnya beda-beda, ga semuanya bisa beruntung bisa dimakan dan dibilang enak. Kadang mejeng di toko berbulan-bulan ga laku, kadang cuma di foto-foto aja tanpa dimakan, kadang di’ilerin bayi lalu dibuang emaknya..hahaha.. *malah ngelantur

Bagiku, berusaha berbakti dan merawat keluarga adalah wujud dari rasa syukur. Ketika seorang Ibu merelakan waktu mudanya yang mungkin saja dapat ia habiskan dengan memaksimalkan potensinya di luar namun ia rela melepasnya adalah wujud dari rasa penerimaan yang besar atas jalan hidupnya. Jika hal yang telah lama ia lakukan dengan berusaha senang hati mengerjakannya namun sesuatu mulai terasa salah kemudian keluhan demi keluhan mulai muncul.. Apakah itu artinya kurang bersyukur?

Apakah mengeluh berarti tidak bersyukur?

Mengeluh itu bukan butuh Ceramah Mom.. Kadang Ibu hanya butuh tempat pengaduan..

Ya, Ia hanya butuh pendengar yang bersimpati.

Karena Hidup Emak Perlu Banyak Rasa

source: dreamstime.com

Kok Berasa Familiar ya sama kalimat ini? Apa yah?

Astaga, Ini kan Iklan Good Day.. Wkwkwkkwk.. LOL

Pernah menyadari kenapa rata-rata Stay At Home Mom ini kadar kebahagiaannya lebih sedikit dari pada Mommy jenis lain? Bahkan terkadang terkesan lebih susah move on dan suka mengeluh?

Baca juga: 8 Alasan stay at home mom gagal move on

Ya, karena hidupnya itu Ga seru!

Ga ada tantangan, lurussssssss aja…

Trus ada ajah tuh yang nyinyir “Ya hidup kan emang harus kembali ke jalan yang lurus” #GUBRAK

Padahal emak-emak itu butuh loh yang namanya tantangan dan cerita hidup layaknya drama korea (loh???). Kenapa begitu? Karena dengan begitu hidupnya terasa menantang, ada jadwal harian baru yang harus dilakukan dan membuat emak bahagia dengan sesuatu yang baru itu. Enggak lurussss aja.

Lantas, Bagaimana kalau tantangan tak juga datang?

Ya ajak aja suami berantem. 😂 *LOL

Suatu hari aku pernah bertanya soal tantangan hidup ini. Hal yang membuat emak mungkin bisa move on dari rutinitasnya yang lurus-lurus saja. Seseorang pernah menjawab bahwa ia ingin memberiku tantangan. Tapi kemudian..

“Apa?” Kataku.

“Tidak Ada. Tantangan itu tidak ada. ” Katanya dengan percaya diri.

“Lalu?”

“Hanya kamu yang bisa membuat tantanganmu sendiri.”

Ya, hanya kita. Hanya kita yang tau bagaimana membuat hidup menjadi banyak rasa. Jika melakukan aktivitas yang sama setiap hari membuat kita bosan lalu kenapa tidak mulai mencoba bereksplorasi dengan hoby baru?

Tapi aku sarjana teknik, masa ujung-ujungnya bikin kue?

Tapi aku sarjana fisika, masa ujung-ujungnya jualan?

Tapi aku ini sarjana hukum loh, masa ujung-ujungnya pengen dalemin ilmu parenting?

Tapi aku sarjana akuntansi, masa mau jadi blogger? *eh

Apapun hobynya kalau ngadem di rumah aja jadinya sama aja..!

Please.. Aku mau kerja di luar ajah! Bosaaaan!

Looooh?

Apakah Bekerja Di Luar Adalah Solusi Terbaik?

Jika rumah sudah membuat emak-emak mulai tidak waras, lantas apakah bekerja di luar adalah solusi terbaik?

Hal pertama yang perlu disadari adalah Apakah ini benar-benar hal yang diinginkan ataukah hanya keinginan karena rasa bosan saja? Benarkah passion emak hanya bisa berkembang jika bekerja di luar?

Jawabannya hanya emaklah yang tau.. Hihihi..

Iya, seperti diriku yang setahun silam pernah ngotot sambil nangis bombay mau kerja di luar karena bosan di rumah. Apa yang dilakukan suamiku? Tentu saja mengelus-ngelus manja sambil menjadi pendengar yang baik lalu ikut membantu mengajukan lamaran. Namun…

Hal ini masih maju mundur. Bukan, ini bukan karena aku terlanjur tidak percaya diri dengan ilmu yang sudah lama tidak digunakan. Tapi, aku sadar bahwa passionku sebenarnya sudah melekat di rumah. Hal yang aku butuhkan sebenarnya hanyalah mengekspresikan passion ke ‘wadah’ yang benar. Karena itu, blog dan sosial media telah menjadi tuangan ekspresi untuk itu.

Jika bekerja di luar adalah solusi terbaik maka mari kita mulai menanyakan hal itu kepada para working mom. Salah satu temanku yang merupakan Ibu Pekerja sempat curhat dan mengaku iri denganku. Ia mengaku tidak punya cukup waktu untuk keluarganya karena terikat dengan kewajiban di luar yang memakan banyak waktunya. Pekerjaannya di luar tidaklah menyenangkan sesuai ekspektasinya dahulu, ia merasa stress dengan deadline demi deadline. Bahkan, ia merasa bahwa bonding antara ia dan anaknya terasa sangat tipis jika dibandingkan dengan hubungan anak dengan neneknya ataupun dengan pengasuhnya. Dibalik itu semua ia merasa sudah berusaha maksimal untuk menjadi ibu yang baik.

Di sisi lain, salah seorang temanku yang merupakan Working Mom merasa bahwa hidupnya sudah sempurna. Memiliki passion yang tersalur dengan baik serta anak yang memiliki bonding erat dengannya. Selalu menangis saat ia mulai berpisah untuk bekerja yang membuat sensasi menyenangkan baru untuk kesehariannya atas rasa rindu dan keterikatan itu. Berbeda dengan teman yang iri denganku seperti di atas, Ibu yang satu ini terus menanyakan hal sama padaku, “Apakah Tidak Bosan di rumah saja?”

Ada dua hal yang aku pelajari dari dua temanku di atas. Teman pertama bekerja tidak sesuai passionnya dan sangat terikat dengan pekerjaannya. Sementara teman kedua bekerja dengan passion sehingga ia bekerja seakan sedang ‘piknik batin’ hal ini tentu menghasilkan output kebahagiaan yang berbeda.

Sementara aku? Aku memiliki hal yang tidak dimiliki keduanya. Ya, kebebasan memilih.

Apapun Pilihannya, Seorang Ibu haruslah Bahagia

Masih berpikir ingin bekerja diluar?

Benarkah itu hal yang benar-benar Anda inginkan?

Dapatkah keluarga mendukung keinginan Anda dalam menggeluti passion di luar?

Apapun itu, setiap Ibu harus memiliki cita-cita yang membuatnya bersemangat. Jangan sampai rasa jenuh dan bosan menghalangi semangat seorang ibu. Jenuh itu pasti, bosan itu? Hanya kita yang tau persis apa solusinya.

Baca juga: Sepenggal Cerita Tentang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Pilihlah pilihan yang benar, hanya Anda yang tau hal itu. Ingatlah, seorang Ibu harus benar-benar bahagia, bukan sekedar pura-pura bahagia. 😊

9 Hal yang Menyebabkan Tulisan Emak-Emak Tak Kunjung Selesai

9 Hal yang Menyebabkan Tulisan Emak-Emak Tak Kunjung Selesai

Siapa suruh jadi Blogger Mom?

Enak? 😂

Ngakunya hoby nulis tapi punya draft yang tak kunjung publish mengendap berbulan-bulan hingga hampir setahun lamanya. Ketika draft dibuka lagi, bukannya lanjut nulis hingga finish tapi malah di tutup lagi karena bingung… Sebenarnya emak mau nulis apa lagi sih ini? 😅

Ada yang begini?

Yuk kita saling curcol kira-kira apa penyebabnya?

1. Tidak menetapkan Deadline

Siapa sih yang suka ngerjain sesuatu kalau udah mepet deadline? 🙋

Aku? Enggak.. Aku sih anak baik.. 😂

Sadar tidak? Kalau kita membuat perencanaan hingga deadline dalam mengerjakan sesuatu pastinya kegiatan kita akan terarah dengan baik, tidak terkecuali soal menulis. Nah, kalau kita tidak punya perencanaan matang dalam menulis dan tidak menetapkan deadline sudah pasti draft akan bertumpuk tidak jelas. *Iya, kayak emak satu ini.. hitung saja draft yang tak dilanjutkan tulisannya.. 😂

Sebagai golongan newbie dalam dunia blog, aku biasanya membuat jadwal sendiri dalam menulis. Meskipun jadwalnya abstrak, yang pasti dalam seminggu harus ada minimal 1 atau 2 tulisan. Nah, untuk membuat diri lebih termotivasi lagi biasanya aku mengikuti blog collab yang diselenggarakan oleh komunitas blogger. Sebenarnya akan lebih semangat lagi kalau ada event blogger yang bisa diikutin sih. *Eaaa… 😅

2. Godaan Sosial Media

Siapa sih yang suka nulis blog pake hengpong? 😂

Sudah jelas pastinya godaan melirik sosial media sangat besar. Contohnya nih…

TING..!

Tiba-tiba dapet inspirasi. Ga tau tuh inspirasi tiba-tiba suka nongol aja sendiri. Langsung cuss ambil hp sambil nulis draft. Tiba-tiba..

Teng tong.. (abaikan.. cuma grup WA biasa)

Teng tong.. (abaikan.. cuma pemberitahuan biasa)

Teng tong.. (biasalah.. Paling si anu heboh BC buat jualan..)

Teng tong.. (bentar.. Wah, ada job.. Close dulu mau ngisi entar kehabisan campaign)

Istirahat dulu.. Nanti inspirasi bisa nongol kalau liat Facebook.

Wah.. Berita apa nih? Wah.. Wah…

Koment? Gak usah deh, liat komentar orang aja..

10 menit… 20 menit… 1 jam..

“Wah udah jam segini aja?” 😱

Pas mau ngelanjutin ngedraft bilang, “eh, tadi harusnya aku nulis apa lagi?” 😂

Lalu pas udah ingat, lanjut nulis lagi.. Tapi.. Bentar.. Update status dulu..

Eaa.. 😅

Dst.. Dst.. 😂

3. Kehilangan Inspirasi karena Rutinitas Harian emak-emak

Suatu hari sang emak bertekad ingin menyelesaikan sebuah tulisan. Ia lalu mengikat kain perjuangan diatas kepalanya dan berkutat di dalam kamar bersama laptop dan cemilannya. Yah, mumpung si kecil tidur siang.. Kapan lagi sih?

30 menit kemudian…

“Mamaaaa..” 👶😭

😌😌😌

Dan sang emak pun ikut tertidur saudara-saudara… 😪

***

Di pagi hari saat sang emak sudah menyelesaikan kewajiban hariannya dan si kecil sedang sekolah, ia langsung menuju kamar dan bersiap mengetik, lalu..

Teng tong.. (eh.. WA suami)

Aku makan siang dirumah hari ini sayang.. ga jadi makan di kantor..

Gubrak.. 😌

***

Ini dia.. Malam hari..

Malam hari memang waktu terbaik untuk menulis. Semangat lagi mak!!

Tiba-tiba… Suami datang..

“Ehm.. Sayang…”

Eaaaa… 😂

to be continued

4. Kebanyakan Nonton Drakor

Sudah Emak-emak kok masih hoby nonton drakor?

Kayaknya bukan aku aja ya.. Banyak emak begini kok.. Tanya aja emak yang lain.. 😂

Katanya sih nonton drakor itu sebagian dari rutinitas me time dan benefitnya bisa menimbulkan inspirasi untuk menulis. Kalau satu episode buat sehari aja gak papa lah ya… Tapi…

Biasanya emak suka khilaf namatin drakor hingga beberapa episode dalam sehari.. 😂

Ngakunya sih kalau enggak tamat inspirasi menulis enggak datang-datang. Nyatanya?

Hayati lelah bang.. Kebanyakan inspirasi dan khayalan dari film korea.. Mau bobo dulu mimpiin oppa…

Eaaa.. *digetok gayung.. 😅

5. Baper berkepanjangan karena Traffic

“Traffic blog aku segini aja.. Ga ada peningkatan..” 😭

Ya gimana mau ada peningkatan nulis aja jarang banget.. 😅

Terus, belajar SEO apa kabar?

Fanpage berdebu apa kabar?

Mau di BW tapi BW di blog lain aja enggak ada, kamu kira udah jadi artis papan atas? 😅

Yang baca tulisanku siapa sih? Nanti-nanti aja juga nulis ga pengaruh apa-apa. Haha

Sering begini? Aku sering.. Hihi..

6. Minder melihat tulisan orang lain

Tulisan emak yang menang lomba kok bagus amat sih.. Apalah aku, reremahan rengginang di kaleng khong guan yang sudah berkarat dan diasingkan.. *eaa.. 😅

Suatu ketika si emak mau belajar dari penulis-penulis terkemuka tapi apalah daya.. Malah keranjingan membaca dan tak memulai menulis. 😂

Dan ketika mau nulis? Lah, kok jadi pengen mengutip aja? Hahaha

Gak papa.. Kumpulin kuote-kuote berkualitas dari para penulis dan jadikan semangat.

Zzzzz… 😴

7. Kurang Piknik dan Silaturahmi

Apakah emak yang kerjaannya dirumah saja bisa dapat inspirasi?

Bisa ajah. Apalagi kalau rajin baca buku..

Masa? Aku kok enggak ya.. 😂

Sebagai emak yang kadar introvertnya kadang tulen dan kadang nanggung maka yang namanya piknik dan silaturahmi itu penting sih buat aku. Karena piknik itu bisa menyejukkan pikiran dan silaturahmi membuat aku bisa bertukar pikiran dengan yang lain.

So, emak yang kurang piknik dan silaturahmi itu pasti jiwanya agak kosong sehingga inspirasi pun jarang menghampiri.

Makanya mak, piknik bareng yuk.. 😆

8. Kurang Baca Buku

Mau konsisten nulis tapi jarang membaca buku? Lupakan Impianmu..

*ambil kaca.. 😅

Soalnya sebelum kita menulis hal-hal ‘berat’ kita harus melakukan berbagai riset dulu dong dari berbagai sumber tak terkecuali buku. Kalau tidak hasil tulisannya akan didominasi curcolan tidak jelas semata. *ini siapa?

Malas baca buku? Kelaut aja.. 😂

*tapi disini adanya cuma sungai.. 🏊

9. PMS

Ah, siapa sih emak yang belum kenalan sama siklus yang satu ini? PMS adalah singkatan dari Pramenstruasi. Pastinya semua emak sudah sangat bersahabat dengan siklus ini. Memangnya kenapa kalau siklus ini menghampiri? Efeknya apa?

Yes, emak jadi punya mood labil yang aneh. Itu aku.. Hihi..

Biasanya dimulai dengan sakit kepala yang bikin emak minum obat dan berakhir dengan bed rest. Setelah sakit kepala berakhir maka mood mulai tidak stabil. Ya, itu tuh yang suka nangis enggak jelas padahal penyebabnya cuma hal kecil kemudian guling-guling di kamar, bisa juga lari-larian ala film india. Konyol bukan? 😂

Maunya sih minta diperhatiin, lalu begini begitu. Tapi…

👨:”Wah, jerawat mama kok gede banget?”

👩: … (nelen ludah.. Masuk kamar)

Baper pemirsa.. Hahahaha

Ya, itu dia 9 hal yang bikin emak-emak tak kunjung menyelesaikan tulisan versi shezahome. Kalau versi emak yang lain? Bagaimana? 😆

Sepenggal Cerita tentang Seorang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Sepenggal Cerita tentang Seorang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Mereka berkata bahwa Bahagia itu Sederhana.

Tapi faktanya, bagi seorang Full Time Mother yang merawat anak dan suaminya 100% mencari kebahagiaan ternyata tidaklah sesederhana itu.

Kata siapa? Aku?
Ya, tidak semua wanita bisa menjadi full time mom yang sempurna dengan perasaan bahagia. Kenapa?

Itu berat.. Kamu gak akan sanggup.. Biar aku saja.. 😂

Ternyata jadi Ibu Rumah Tangga sejati itu berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang sanggup menjalaninya dari awal tanpa lika-liku cobaan.

Dan hari ini, aku ingin sedikit bercerita tentang perjalananku mencari kebahagiaan. Ya, Aku.. Sang Full Time Mother.

Cerita 1: Mama memang selalu benar

Keputusan menjadi Full Time Mother memang bukanlah keputusanku sejak memulai pernikahan. Awalnya aku ingin bekerja. Sangat ingin bekerja. Namun keadaan membuatku harus menjadi Ibu Rumah Tangga. Keadaan yang tak sesuai dengan harapan ini sempat membuatku depresi dan mengalami gangguan psikologis.

Baca juga: Mengenal Baby Blues dan PPD serta penanggulangannya

Aku tak mengira menjadi Ibu Rumah Tangga akan sehorror ini. Selagi remaja, aku sering memandang remeh para Ibu Rumah Tangga yang suka bergosip ria. Dan aku selalu salut dengan para Ibu yang bekerja dan dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ya, seperti Mamaku.

Mamaku, sang working mom selalu berkata bahwa jika aku menikah nanti janganlah mau jika hanya menjadi Ibu Rumah Tangga. Mama memberiku berbagai contoh untuk membuatku belajar dari kehidupan. Dia yang suaminya tak bertanggung jawab, dia yang ditinggal selingkuh suaminya dan dia yang ditinggal mati suaminya.

Merekalah segelintir contoh Ibu Rumah Tangga Sejati yang tidak sukses karena memutuskan untuk tidak bekerja.

Aku selalu menggelengkan kepala mengingat pesan Mama. Berharap dan berdoa bahwa nasibku akan jauh lebih beruntung dibanding dongeng nyata dari Mama.

Berkali-kali peringatan itu datang..

Bekerjalah.. Bekerjalah..

Kenyataannya, aku sudah sangat terikat dengan rutinitasku sebagai Ibu Rumah Tangga. Tak ada satu kegiatanpun yang bisa aku lepaskan demi mengejar karir yang sempat tertunda.

Baca juga: “Mama, Maafkan anakmu yang hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga”

Aku tak menyalahkan Mama akan sikapnya padaku. Sebaliknya, aku mulai merenungi dan mencari apa maksud dari perkataan Mama yang benar. Bahwa profesi Ibu Rumah Tangga sejati tanpa kemandirian finansial sangat mengancam kebahagiaan seorang perempuan. Tapi bagiku, si anak lugu yang baru berprofesi sebagai Ibu Muda dengan satu anak menganggap kebahagiaan dapat kuperoleh dengan menyalurkan energi positif yang kudapat dari segala proses belajarku.

Yah, kau memang benar Ma.. “Tidaklah baik jika Seorang Perempuan mengabaikan potensinya dan menyalah-artikan profesi Ibu Rumah Tangga”

Cerita 2: Aku dan Passion yang membuatku Bahagia

“Sebenarnya apa hal yang benar-benar kau sukai?”

Aku selalu bingung setiap kali pertanyaan itu datang. Sejak remaja hingga menjadi Ibu Rumah Tangga, aku tak pernah menggeluti passion secara khusus. Lebih tepatnya, aku tak pernah serius dengan passionku. Inilah kelemahan sang melankolis yang memiliki negatifnya sisi plegmatis, ia suka terbawa arus dan lengah akan potensinya sendiri.

Baca juga: 8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

Aku suka belajar dan mengenal hal-hal baru, namun memiliki masalah dengan kontrol kegelisahan-magh-dan ujian. Baru-baru ini aku mengetahui bahwa itu salah satu ciri dari agoraphobia. Ini benar, aku selalu memiliki nilai baik dalam latihan dan berakhir kacau dalam ujian. Keadaan ini sudah berlangsung sejak aku SMA. Kalian punya masalah yang sama? Sebenarnya apa itu Agoraphobia?

Agorafobia (agoraphobia) adalah jenis gangguan kecemasan di mana penderitanya akan menghindari berbagai situasi yang mungkin menyebabkan panik. Penderita mungkin tidak mau meninggalkan rumah. Saat berada di luar rumah, mereka bisa merasa terjebak atau malu yang akan memicu serangan panik.

Karena itu aku hanya dapat berkembang dalam media online. Aku memiliki hoby memasak, membaca dan belajar hal-hal baru. Aku tak pernah bisa menampilkan passionku dengan benar di dunia nyata. Sejak kuliah aku telah mengontrol agoraphobia dengan banyak bertanya dan berusaha menampilkan diri. Tapi, hal itu hanya untuk mengurangi phobiaku saja. Selebihnya, dunia maya jauh terasa lebih aman untukku.

Cerita 3: Menyalurkan Passion dengan Cara yang benar

Apakah bekerja di luar rumah adalah satu-satunya cara untuk menyalurkan passion?

Aku melirik para Ibu-Ibu teladan.

Ibu A yang hoby memasak memilih membuka katering untuk menyalurkan passionnya.

Ibu B yang hoby belajar dan mengajari memilih menjadi Guru walau dengan gajih kecil.

Ibu C yang pintar berbicara memilih belajar berdagang dan memiliki banyak koneksi.

Ibu D yang ahli Ilmu Parenting mulai membuka kelas online dan diundang sebagai pembicara seminar dimana-mana.

Apakah kita bisa meniru Ibu-ibu tersebut?

Kita bisa mencoba, namun jika kita tidak senang menjalaninya maka berarti itu bukanlah passion yang benar atau kita salah dalam cara menyalurkan passion.

Apa jadinya jika Ibu Introvert yang hoby memasak namun memiliki sisi agoraphobia belajar untuk berjualan?

Aku pernah bercerita bahwa hoby memasak yang kusalurkan dengan cara berdagang ternyata tidak membuatku bahagia. Sebaliknya, rasa panik dan mual melihat bahan memasak dalam jumlah banyak sering kurasakan. Akhirnya aku menyadari bahwa passion yang tidak disalurkan dalam cara yang benar pun tidak akan membuatku benar-benar bahagia.

Aku memutuskan untuk menyalurkan passion warna-warniku pada tulisan dan foto. Dan hal itu membuatku bahagia. Aku menyalurkan hobiku dengan menulis blog dan aktif mengelola media sosialku. Sebagian mungkin berkata bahwa hal ini sedikit ‘pamer’. Tapi, setiap orang memiliki gaya ekspresi yang berbeda bukan?

Cerita 4: Kebahagiaan dan Makna Pengorbanan Seorang Ibu

“Hidup seorang Ibu sejatinya adalah Pengorbanan”

Sebenarnya, apa makna dari pengorbanan itu sendiri? Apakah seorang Ibu harus menguras kebahagiaannya demi tercapainya kebahagiaan suami dan anak-anaknya?

Jika di jurnal dalam ilmu akuntansi maka akan tercipta pencatatan:

D: Investasi Suami dan Anak

K: Kebahagiaan Ibu

Aku tertawa membaca jurnal yang kukarang dengan sendirinya ini. Kenyataan bahwa Wanita materialistis itu ternyata memang sangat beralasan. Bagaimana tidak? Ia melakukannya untuk Investasi Suami dan Anaknya. Akan lain ceritanya jika posisi Kebahagiaan Ibu berada di Debit dengan posisi kredit adalah Kas Keluarga.

Baca juga: Hal yang menyebabkan Istri menjadi Matre

Secara rasional, Apa jadinya jika Kebahagiaan Ibu selalu berkurang untuk Investasi Suami dan Anak? Apa Jadinya jika Kebahagiaan Ibu tak pernah ditambah dengan optimalisasi passion? Apa jadinya jika Kebahagiaan Ibu tak pernah disirami dengan curahan ilmu? Apa jadinya jika Kebahagiaan Ibu tak pernah distabilkan dengan indahnya komunikasi dengan sang pencipta?

Ya, Akan tercipta Keluarga yang tidak sehat karena sumber kebahagiaan keluarga telah terdepresiasi secara berlebihan.

Seorang Ibu akan selalu berusaha membahagiakan keluarganya walaupun mungkin mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Tapi Ibu yang sesungguhnya, tak akan pernah membiarkan dirinya terdepresiasi.

Ia akan tumbuh dan berkorban dengan cara yang benar. Ia akan tumbuh bahagia bersama keluarganya.

Tulisan ini dibuat sebagai tulisan collaboration bersama Female Blogger Banjarmasin dengan tema tentang Hari Kebahagiaan International yang diperingati setiap tanggal 20 Maret yang telah dicetuskan PBB sejak 2013. Sebagai seorang Ibu maka aku membuat tulisan ini khusus untuk para Ibu yang sedang mencari kebahagiaan. Semoga ceritaku dapat menginspirasi.

Selamat Hari Bahagia

IBX598B146B8E64A