Browsed by
Category: Motherhood

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Bicara tentang cita-cita, sebenarnya aku punya banyak cita-cita sejak kecil.

Pertama, aku ingin seperti Mama. Menjadi Guru TK yang cantik dan dicintai semua muridnya.

Kedua, aku ingin seperti Bapak. Menjadi Guru Fisika yang terkenal pintar dan tau segala hal. Bapak adalah kamus ensiklopedia yang bisa bicara.

Tapi, tidak ada yang tau dengan Cita-citaku yang ketiga. Cita-cita yang aku tahan hingga kini. Sebuah obsesi yang terbilang cukup konyol untuk ukuran umur emak-emak sepertiku.

Dan Cita-cita itu adalah…

Aku Ingin Sekali Menjadi Sailor Moon…

Please jangan ‘ketawa’. Itu akan membuatku sakit hati.. (walau sebenarnya aku ingin tertawa juga.. Haha). Konyol memang, emak-emak berusia 28 tahun dan sebentar lagi punya dua anak terobsesi menjadi sailor moon itu adalah hal konyol yang benar-benar aneh. 😂

Tapi jangan terlalu jauh membayangkannya. Apalagi membayangkan diriku yang sudah hamil 6 bulan ini memakai kostum sailor moon. Sungguh, akupun masih bisa ‘berkaca’. Karena itu sudah kubilang bukan? Bahwa ini adalah obsesi rahasia.

Sejak kapan cita-cita konyol ini ada?

Tepatnya mungkin ketika aku TK. Waktu itu masih tahun 1995, aku hanya mengenal sailor moon pertama kali lewat mainan boneka kertas yang saat itu populer dengan sebutan ‘Bipian’. Saat itu, aku tidak tau nama dari tokoh bipian itu. Aku hanya senang saja melihat boneka kertas dengan wajah cantik dan baju-baju yang sangat imut.

source image: paperdoll-indonesia.blogspot.com

Aku akhirnya mengenal bahwa tokoh yang ada dalam bipianku adalah tokoh Sailor Moon. Aku sendiri tau dengan kartun Sailor Moon ketika salah seorang tetanggaku memasang antena parabola. Zaman itu, menonton TV dengan saluran non TVRI saja sudah mewah di desaku. Apalagi jika ada RCTI, Indosiar, dll. Wah, satu-satunya rumah yang memasang parabola tentunya akan diserang para anak kecil untuk menonton kartun di hari minggu.

Sialnya, kartun Sailor Moon dan Dragon Ball saat itu tayang pada jam yang sama dengan saluran TV yang berbeda. Kalau tidak salah, Sailor Moon tayang di Indosiar dan Dragon Ball tayang di RCTI. Sebagai satu diantara 10 penonton, dimana aku adalah anak perempuan satu-satunya. Tentu saja aku kalah suara. Dan akupun sering pulang kerumah dengan berderai air mata. Hahaha.

Tapi aku tak pernah putus asa dengan imajinasi ‘tokoh-tokoh cantik’ pertamaku. Aku punya bakat menggambar sejak kecil. Jadi, aku membuat gambar-gambar sailor moon di atas kertas dari hasil tiruan pada bipian. Aku mengguntingnya, membuatkannya baju dan bermain dengan 12 sailor cantik kesayanganku. Bagiku, 12 Sailor Moon adalah Para Peri Imajinasi Pertama yang senang menolongku.

Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar tau Bagaimana Cerita Sailor Moon

Lalu, bagaimana cerita kartun sailor moon itu?

Well, sebenarnya aku tidak benar-benar tau bagaimana ceritanya. Hahaha.

Diatas sudah kuceritakan bukan? Bahwa aku tidak pernah benar-benar berkesempatan menonton kartun itu di masa kecilku. Mungkin pernah, hanya kilasan saat sesi iklan kartun dragon ball tidak berbarengan dengan iklan sailor moon. Itupun sebenarnya, aku tidak terlalu paham. Hanya saja aku mengetahui inti dari kartun sailor moon itu yaitu mereka adalah pembela kebenaran yang cantik. Sudah, itu saja. Haha

Aku Hanya Terobsesi untuk Bisa Menjadi Secantik Sailor Moon

Jika kalian bertanya siapa role mode pertamaku dalam berdandan? Maka Sailor Moon adalah jawabannya.

Ya ya.. Aku sekarang memang memakai jilbab. Tolong jangan mengernyitkan dahi seserius itu. Maksudku adalah role mode pertama saat aku masih kecil, bukan sudah besar begini.

Aku adalah anak kedua dikeluargaku. Kakakku adalah laki-laki. Mama dan Bapakku hanyalah PNS biasa yang saat itu berjuang jatuh bangun dalam membangun kesejahteraan ekonomi, sehingga aku tidak punya koleksi baju perempuan seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Ya, aku hanya mewarisi baju laki-laki punya kakakku saat aku masih kecil. Potongan rambut yang kumiliki pun seperti laki-laki. Saat itu, aku masih bingung kenapa mama mendandani anak perempuannya seperti laki-laki begitu.

Kadang, aku merasa minder dengan teman-teman TK disekolah. Mamaku punya rambut panjang dengan dandanan yang selalu komplit. Teman-temanku bilang, aku dan mamaku sama sekali tidak mirip. Aku terlihat jauh lebih mirip dengan Bapakku karena potongan rambut dan kulitku yang exotis. Dalam hati kecilku, aku selalu menahannya dan ingin sekali bertanya pada Mama, “Kenapa aku tak boleh memanjangkan rambutku?”

Aku Sang Anak Itik Jelek yang Buruk Rupa, begitulah aku memandang diriku sendiri saat masih kecil.

Sampai suatu hari aku bertemu Sailor Moon dan akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Mama tentang ‘rambutku’. Dan kalian tau apa jawaban Mama?

“Rambut kamu kalau dipanjangin Mama susah nyisir dan kepangnya..”

Ya, hanya begitu. Aku akhirnya menyadari bahwa mama punya seribu kesibukan dipagi hari. Mama yang berjualan kue, mama yang menyiapkan sarapan, mama yang menyiapkan bahan ajar di TK, mama yang memandikanku, segalanya serba mama. Lalu, kenapa aku harus protes hanya karena potongan rambutku yang seperti laki-laki?

Sailor Moon bisa mengepang rambutnya sendiri. Dan akupun sejak itu bertekad bahwa aku bisa merawat rambutku sendiri tanpa mama. Sejak aku bisa menyisir dan merawat rambutku sendiri, mama memperbolehkanku untuk memanjangkan rambutku. Dari kelas 1-6 SD, rambutku sangat jarang dipotong. Aku membiarkannya terurai atau dikepang dua layaknya Sailor Moon. Moment-moment indah itulah yang membuatku mencintai diriku sendiri sebagai perempuan.

Suatu hari, mama pernah pergi kejawa untuk ‘penataran’ dan mama bertanya padaku, “Winda mau minta belikan apa kalau pulang nanti?”

“di Jawa ada apa Ma?”

“Ada apa aja, dan harganya enggak, semahal di kalimantan..”

“Winda mau minta belikan baju Sailor Moon..” Kataku riang.

Satu Minggu kemudian, mama datang dengan wajah penuh senyuman dan memberikanku oleh-oleh. Aku langsung tak sabar membukanya. Dan… Kalian tau apa isinya?

Adalah Baju dengan Gambar Sailor Moon..

Bukan Baju yang dipakai oleh Sailor Moon..

Meski agak kecewa, aku berusaha membalas senyum Mama dengan senyuman yang tak kalah lebarnya kemudian berkata, “Makasih Mama.. Sayang Mama.. Mmmuach..”

Ya, dulu aku sama sekali tidak malu mengucapkan ‘Terima Kasih’ seekspresif itu. Hihi…

Itu adalah obsesi masa kecilku. Ingin sekali berpenampilan layaknya Sailor Moon. Ketika sudah besar, aku mulai merasakan perasaan malu dan mengenal aurat jauh lebih baik. Namun, sebagai seorang perempuan tentu saja sebenarnya kenangan keinginan itu masih ada.

“Masih Pantaskah aku memakai baju Sailor Moon di rumah saja untuk menyenangkan suamiku?”

Ya, itulah yang masih ada dipikiranku. Hahaha.

Itu adalah Obsesi Rahasia yang kini bukanlah lagi Rahasia. Dan aku senang menceritakannya.. 😊

Tulisan ini dibuat untuk #FBBCollaboration bulan November dengan tema Kartun Favorite di masa kecil.

Realita dibalik Aktivitas IRT yang konon katanya ‘Enak’

Realita dibalik Aktivitas IRT yang konon katanya ‘Enak’

source image: momspresso.com

“Kamu sih enak, suaminya mapan. Jadi bisa aja milih jadi IRT. Lah, aku? Suamiku pemasukannya cuma ‘segini’ mana cukup..”

“Enak ya, bisa masak homemade tiap hari. Aku tiap hari beli mulu. Ga punya waktu..”

“Enak ya, bisa ngeblog, bisa endorse barang-barang gratis. Kalau aku gak punya waktu luang untuk itu. Pas sampai rumah ngurus kerjaan rumah lagi.. Duh, gak punya me time..”

Dst.. Dst…

***

Pastinya, kita yang sudah memutuskan menjadi IRT tulen pernah mendengar kata-kata diatas ya. Dipuji-puji ‘enak’ sama para Ibu pekerja. Dipuji ‘enak’ karena punya banyak waktu. Dipuji ‘enak’ karena bisa mendidik anak secara full time.

Biasanya, kalau aku mendengar hal begini sih… Ya.. Aku ‘Aamiiin’ in aja. “Alhamdulillah,” kataku sambil nyengir, kibas jilbab, kedip mata (pencitraan emak-emak makmur pada umumnya..😅). Padahal..

Padahal.. Padahal.. Padahal..

Menurut aku gak ada yang namanya pilihan ‘enak’. Mau jadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu Pekerja pasti deh ya ada sisi ‘enggak enak’ nya. Iya, apalagi mamaku sendiri juga adalah Ibu Pekerja. Sedikit banyak aku tau banget kalau jadi Ibu Pekerja itu sulit, apalagi manajemen waktunya, mengelola emosi dikala kelelahan dsb.

Tapi herannya aku, kenapa jadi IRT sejati itu selalu rentan dengan sebutan ‘enak’, ‘santai’ dan ‘nganggur’. Halo..? Jadi IRT sejati itu gak seenak itu kali. Pilihan jadi ‘IRT saja’ itu gak semudah yang kalian bayangin. Apalagi nih.. Apalagi kalau pemasukan sebenarnya kurang.

Tapi adaaa aja yang ikhlas dengan kondisi seperti itu. Ada? Ada, banyak. Aku punya banyak kenalan. Kalian kira jadi IRT tulen enak? Bisa leyeh-leyeh? Nganggur?

source image: pinterest

Begini nih contoh realita yang harus dihadapi IRT tulen dengan pilihannya:

1. Harus Jadi Mak Ngirit

source image: popsugars.com

Siapa bilang pilihan menjadi IRT itu maka kerjaannya cuma leyeh-leyeh jaga anak plus belajar parenting?

Bisa jalan-jalan setiap hari sesuka hati?
Bisa pesan makan enak terus?
Bisa perawatan setiap hari?
Bisa beli apa saja yang diinginkan?

Iya, itu kalau kamu kebetulan ‘horang kayah’ . Sudah membentuk karir rumah dari sononya atau punya suami yang kerjaannya menghasilkan uang banyak.

Tapi tahukah kalian bahwa tidak sedikit Ibu yang memilih menjadi IRT saja meskipun tau bahwa bulanannya tergolong pas-pasan. Bahkan kurang.

Demi apa? Kenapa gak kerja aja?

Demi keluarga, demi anak, demi kesejahteraan suami. Karena itu pilihannya.

Karena setiap kondisi tiap Ibu itu BERBEDA.

Ketahuilah banyak Ibu yang memilih hanya menjadi Ibu Rumah Tangga saja walau keadaannya demikian. Maka, tidak heran kalau kebanyakan dari golongan Ibu-ibu yang bernasib seperti ini biasanya ‘ngirit’.

Contoh kelakuan mak ngirit:
1. Memakaikan clodi pada anak demi ngirit, lumayan selisihnya dengan memakaikan pospak setiap hari. Selisihnya bisa buat beli cemilan menyusui dan makanan lainnya.
2. Mengorbankan budget kecantikan. Saat remaja dulu, bisa jadi mak ngirit memiliki budget 200000-300000 untuk perawatan kecantikan. Tapi sejak menjadi IRT, ia hanya berani memakai 100000 untuk biaya kecantikan.
3. Selalu homemade. Ya, makanan homemade, skincare homemade, mainan anak homemade. Butuh waktu memang untuk membuatnya. Apa? IRT banyak waktu? Enggak men, apalagi IRT yang gak punya pembantu plus menyusui. Melakukan semua serba homemade itu.. Susah. Belum lagi ada saja yang nyinyir, “kok ga dijual aja kuenya?” (satu resep saja butuh waktu khusus membuatnya dan sekejap menghabiskannya, bagaimana bejualan? 😂)

Jadi, jika bertemu dengan kelakuan mak ngirit seperti diatas: males beli jajan diluar, males ngajak anak keluar karena pospak mahal, cantik udah mulai berkurang.

Please lah, jangan diejek pula emak itu:
Ngirit banget, pelit, bla bla. Kalian gak tau betapa sulitnya mengatur keuangan dengan budget pas pasan tapi selalu ingin anak dan suaminya bahagia. Terutama urusan perut dan kasih sayang.

Mak ngirit itu adalah tanda kasih sayang. Karena ia tau masa depan itu sulit.

2. Kurang Sosial

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa profesi IRT zaman now mungkin akan menjadi kurang pergaulan. Kenapa?

Kerjaannya di rumaah terus. Jarang keluar. Bahkan untuk main HP aja mungkin tidak sempat, apalagi buat yang punya bayi. Belum lagi yang kena perfeksionis sindrom dan menganggap HP barang haram. Ada loh yang begini.

Akibatnya? Stress, kurang sosial, kurang piknik. Kurang optimalisasi passion karena keluar dari lingkungan kerja.

Noh, siapa bilang enak? Tanya saja banyak kok beberapa emak pekerja yang memutuskan untuk resign malah tiba-tiba bisa kangen dengan lingkungan kerjanya. Tiba-tiba merasa kesepian, kurang teman dsb.

3. Harus Jadi Mak-Mak Serba Bisa

Derita IRT gak punya ART tapi keuangan ngepass.. Yaitu, harus jadi mak-mak serba bisa. Bisa masak, bisa jadi nanny, bisa jadi tukang bersih-bersih, bisa jadi tukang loundry. Demi apaa? Demi sejahteranya kebutuhan rumah tangga tanpa pemborosan. 😂

Kadang nih ya, kadang loh.

IRT itu bisa aja ngiri sama Ibu Pekerja. Apalagi yang punya tenaga tambahan untuk rumah tangganya. Bisa punya yang lebih untuk dirinya sendiri. Tapi eh tapi.. Malah kadang-kadang Ibu pekerja yang bilang, “Aduh, kamu enak banget. Bisa masak mulu..”

“Eh, iya… Enak.. Jadi makanan sehat terus ya..” (sambil ngelap keringet n ngupas bawang.. 😂)

5. Kami yang memilih menjadi IRT tulen, bisa jadi bukan karena ‘Suami Kami sudah Mapan’

Kalo tau begitu? Kenapa jadi IRT dong. Udah tau kecapean ngatur bulanan, udah tau agak menderita, udah tau susah.

Eh, mending sih kalo cuma begitu. Coba begini, noh.. Tau begitu kenapa Nikah Dini? Kamu MBA? Itu pilihanmu sendiri lah.. Gak usah ngeluh.. Hahaha..

(sabar mak, kalo ada yang nanya gini sabarrr.. Bawa ngulek aja.. Ngulekkk..😂)

Baca juga: Kamu MBA? Kok nikah Muda?

Kalau ditanya kenapa pilihanku jadi IRT? Gak kerja?

Karena Farisha muncul sebelum aku punya program kerja. Aduh, please jangan suruh cerita lagi ya. Udah banyak post tulisan tentang ini di blog ini. Aku sampai bosan ceritanya. Apalagi pembaca rutinnya. Makin bosan (emang ada yang rutin? Haha)

6. Enggak punya Uang Ekstra? IRT tulen harus Apa?

Apa harus pakai jurus ngirit selamanya?
Kok bisa cukup sih? Sampai bisa beli ini itu padahal pemasukan rutin bulanan cuma ‘segini’.

Itulah yang namanya keberkahan.. Beb..

Kalian mungkin tidak percaya hal ini. Dan nyinyir, “Gak mungkin segitu cukup..”

Kenyataannya? Cukup.

Sekedar cerita (lagi) bahwa pemasukan rumah tangga awalku hanya 1 juta, itu paling banyak loh. Aku pernah hanya punya jatah jajan 500rb sebulan bahkan 300rb sebulan dalam kondisi punya bayi. Tapi.. Emang sih waktu itu hidup sama mama dan mama mertua. Hahaha.. *ditamplok kulit pisang.

Itulah, awal perjalanan hidup. Mana ada yang langsung sukses, langsung punya rumah gede plus isinya dsb. Sakit dulu lah.. Sakittt… Aku bahkan sampai kena baby blues dan berlanjut ke PPD. Tapi usaha itu benar deh.. Gak pernah mengkhianati hasil.

Jadi? Aku punya usaha sampingan untuk pemasukan rumah tangga?

Enggak.

Tapi dari jungkir balik kehidupan dan ‘keikhlasan’ seorang istri itulah maka rejeki suami jadi lancar. Thats the power of Emak-emak yang kalian enggak tau. The power of Emak-emak yang kalian tuh gak liat benar-benar. Walau terlihat santai leyeh-leyeh dan punya banyak waktu.. IRT tulen sesungguhnya meluangkan hampir seluruh waktunya untuk pengorbanan.. Yang kemudian berujung pada keberkahan dan rejeki yang diturunkan lewat suaminya. Kalian mengerti hal ini? Udah, gak usah pakai ilmu logika, gak bisa nyantol. Haha

Baca juga: 10 jurus ampuh yang harus dicoba jika jatah bulanan kurang

Begitupun dengan penghasilan ngeblog dan menjadi Buzzer dadakan. Awalnya, aku ngeblog dan main instagram untuk kesenangan saja. Yah, siapa sangka bukan dengan awal yang biasa saja ini aku akhirnya bertemu dengan komunitas ngeblog yang oke dan membawaku pada berbagai job sampingan yang bisa menambah pemasukan rumah tangga. Thats the power of emak-emak yang enggak keliatan selanjutnya. Please jangan dipikir-pikir gimana ceritanya kok bisa tulisan curhat begini dapet duit? Gak usah pakai ilmu logika, pusing nanti. Haha.

***

Yah, itu dia realitas aktivitas IRT tulen yang konon dibilang ‘enak’, suami ‘mapan’ dan bisa jalan plus jajan kesana kemari. Semuanya gak langsung tiba-tiba begini. Perlu perjuangan.. Sakitttt banget awalnya. Jadi, please stop ngiri sama kesan keenakannya jadi IRT tulen. Setiap Ibu punya tantangan berbeda. Mau itu working mom atau IRT tulen.. Mereka sama-sama kerja kok. Sama-sama bisa menghasilkan kok. Sama-sama capek kok. Sama-sama bangun pagi kok.. N tidur belakangan di malam hari. Sama aja. Sama.

Apapun pilihannya, semua ditempuh seorang Ibu untuk membahagiakan orang yang disayanginya. Itulah Ibu.

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

source image: parentsmagazine.com

Tidak terasa umur kandunganku kini sudah 5 bulan saja. Perasaanku mulai girang jika mengingat awal bulan februari nanti akan lahir bayi baru sebagai pengisi kelengkapan kebahagiaan bagiku, suamiku, dan tentunya anak pertamaku Farisha. Kini, Bayi mungil didalam rahimku mulai bergerak, menendang-nendang bahkan sesekali berdenyut-denyut.. Menumbuhkan seribu rasa cinta di hatiku sebagai Ibunya.

“Tak sabar rasanya ingin melihat kehadiranmu didunia..”

Tapi..

Tapi aku mengakui, mimpi buruk itu kadang selalu datang. Mimpi dimana aku menangis di tempat tidur sambil menyusui anakku. Mimpi dimana aku meneriaki Farisha kecil dulu. Mimpi dimana aku menjadi monster, membuat seluruh keluargaku ketakutan. Mimpi dimana aku membuat Farisha menangis, menjadi gagap, dan gemetar.

Mimpi dimana aku benar-benar berada dalam posisi tersudut. Merasa tidak pantas menjadi ibu. Merasa berdosa menikah muda. Merasa berdosa langsung hamil.

Akankah aku menjadi seperti dahulu lagi jika memiliki bayi kecil_lagi?

Sungguh, aku berharap itu tidak lagi terjadi padaku.

Aku Berharap Baby Blues dan PPD Tak Pernah Singgah Pada Diriku Lagi

Memiliki bayi pernah membuatku tidak bahagia.

Saat itu Aku adalah Ibu Muda yang baru berumur 22 tahun. Aku menikah saat kuliah semester akhir dan langsung hamil. Kuakui, dulu aku tidak menginginkan bayi ini begitu dini singgah dikehidupanku. Cita-citaku masih panjang. Aku ingin bekerja, ingin mengoptimalkan passion, ingin membahagiakan orang tua.. Seperti remaja fresh graduate pada umumnya.

Tinggal di rumah Mama dengan status LDR dengan suami, merasakan betapa tidak nyamannya hidup dengan bantuan orang tua padahal dengan status menikah. Ditambah beberapa bulan kemudian membesarkan anak di pondok mertua indah dengan berbagai hal yang berkebalikan dari kehidupan remaja.. Mumbuatku stress, shock, dan ingin kembali memutar waktu. Saat itu, hal yang kuharapkan adalah ‘Menunda Waktu untuk Menjadi Ibu’

Suami yang merasa bahwa tinggal di rumah mertua tidak membuatku bahagia akhirnya memutuskan untuk membeli rumah secara kredit. Kupikir itu bagus. Namun, aku harus berhadapan dengan rintisan ekonomi yang terbilang tidak mudah. Suamiku hanyalah PNS biasa dengan gajih yang terbagi untuk Ibunya dan Saudaranya. Ditambah dengan kreditan rumah? Bisa dibayangkan berapa uang sakuku tiap bulan.

Awalnya aku berusaha sabar. Sebisa mungkin mengatur keuangan rumah tangga dengan pemasukan seadanya. Bahkan seingatku dulu, dalam sebulan aku hanya satu kali membeli pospak. Selebihnya aku memakaikan clodi untuk anakku. Aku juga tak pernah jajan diluar, aku selalu memasak. Aku tak pernah membeli perawatan berlebihan kecuali bedak mars dan pelembab serta 1 batang lipstik untuk 1 tahun. Aku mencoba bertahan. Sampai suatu hari aku mendengar ‘ceramah’ dari salah seorang anggota keluarga. Ceramah yang intinya mengklaim bahwa aku termasuk boros. Ya, hanya karena ia melihat penampilanku ‘mungkin’ terlihat bagus dibanding ’emak sudah punya anak pada umumnya’.

Mungkin sejak itu aku suka meledak-ledak. Mulai suka membentak keluargaku. Mulai suka menangis sendiri. Mulai merasa bukan Ibu yang sempurna. Ditambah menu masakanku selalu kalah dibanding masakan cicipan klasik di lidah suamiku dulu. Aku tak tahan dengan ‘nyinyiran’. Ditambah sikapku yang tak bisa membela diri dan selalu diam. Ditambah sosial mediaku yang selalu diadukan.. Membuatku tak bisa membuka diri dan mengadu dengan benar.

Semuanya meledak-ledak begitu saja.

Baca juga: Mom War dan Perfectionis Sindrom adalah Penyebab Stress pada Ibu

Suamiku kemana?

Ingat, ekonomi kami sedang merintis. Artinya, suamiku sibuk berkerja siang-malam. Ketika datang kerumah ia kelelahan dan tertidur. Tak ada lagi ruang yang benar untukku mengadu. Hanya satu ruang itu. Yaitu memarahi anakku.

Its Okay, Itu Hanya Masa Lalu

Alhamdulillah sekarang kondisi keluarga kami sudah jauh lebih baik. Farisha sudah besar dan pintar. Suamiku telah diangkat menjadi Dosen Tetap, pekerjaan sampingannya tetap berjalan, dan aku telah menyalurkan passion gado-gado yang kumiliki ke dalam blog ini. Segalanya terasa lengkap.

Aku juga telah memperbaiki kesalahan masa laluku kepada Farisha. Sejatinya, aku tau bahwa lubang itu tak akan benar-benar sembuh. Tapi aku telah membuatnya tertawa lagi dan menjadi anak ceria pada umumnya. Ia berkembang jauh lebih baik dibanding harapanku. Ia memiliki bakat spesial dan ocehan yang sangat lucu.

Baca juga: Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si Kecil dan Caraku memperbaikinya

Masa lalu telah mengajariku segalanya, bahwa untuk mencegah terjadinya Baby Blues dan Post Partum Depression maka sangat diperlukan pemahaman dari keluarga dan lingkungan sekitar. Berikut ini adalah cara-cara agar Ibu tidak stress pasca melahirkan:

1. Ajak Suami untuk Berperan dalam Membantu Kegiatan Rumah Tangga

Suami adalah Raja.

“Layani laki bujur-bujur mun handak parajakian..”

Artinya: Layani suami dengan sebenar-benarnya agar hidup penuh rejeki.

Banyak para emak yang masih tidak mengerti dalam arti pelayanan yang benar dan menguras dirinya terlalu dalam untuk serba bisa dan sempurna dalam rumah tangga. Termasuk mengerjakan segalanya serba sendiri dan meng’haram’kan suami ikut campur. Walau memiliki bayi kecil yang selalu menangis.

Aku bahkan pernah disindir saat memiliki anak pertama dulu, “jangan sampai laki membasuhi anak *ah*ra kena bini harat lawan laki.”

Artinya: Jangan sampai suami ikut membersihkan ‘pup’ anak, nanti jadi istri durhaka.

Ya, aku tinggal dilingkungan dengan omongan ketus seperti itu. Hingga anakku berumur 2 tahun, tak pernah sekalipun aku menyuruh suamiku untuk berperan dalam hal ini. Termasuk saat aku kepasar, tidak ada yg mau menggantikan popok si kecil yang basah dan bau.

Aku terlalu takut untuk terlihat minta tolong.

Hingga suatu hari aku pun tak tahan dan menumpahkan segala kekesalanku. Bagaimana tidak sukanya aku dengan pola pikir ’emak zaman old’ yang kaku. Tentang bagaimana seharusnya suami ikut membantuku, bagaimana seharusnya ia maklum dengan hasil masakanku dan bagaimana seharusnya kami membagi tugas bersama. Cukup satu malam untuk membuatnya mengerti dengan hal itu. Dan aku berpikir, “Andai sejak dulu aku curhat dan terbuka mungkin tidak akan seperti ini..”

Jangan pernah sungkan meminta bantuan kepada suami. Please, bikin anak berdua. Masa yang membesarkan cuma sendiri?

2. Jika memiliki Anak Pertama, Sedini Mungkin Ajari Ia untuk Menyayangi dan Memperhatikan Adiknya untuk menghindari Sibling Rivalry

source image: drgailgross.com

Konon, jika kita memiliki anak kedua maka anak pertama akan senang awalnya namun pada suatu moment ia akan merasakan perasaan iri dan tidak diperhatikan. Pada saat inilah anak pertama akan mulai mencari sensasi pada Ibunya agar diperhatikan kembali. Moment ini bernama Sibling Rivalry.

Sibling Rivalry akan membuat emak stress jika anak pertama tidak bisa diajak bekerja sama dalam ikut menyayangi adiknya. Biasanya pemicu utamanya adalah lingkungan sekitar juga yang membanding-bandingkan anak pertama dan kedua di depan anak pertama sendiri. Contoh:
“Wah, adek kamu putih cakep.. Kok kamu item?”
“Kayaknya adeknya mirip mamanya nih, kalo kamu mirip bapak ya.. Cantik deh adeknya..”
“Nanti kamu gak disayangi lagi deh.. Hahahaha..”

Memang, sekilas kalimat diatas mungkin maksudnya adalah ‘bercanda’. Tapi bagi anak kecil, kalimat itu cukup menyakiti hatinya dan sudah sangat cukup untuk menumbuhkan bunga-bunga rasa iri. Ah, entahlah bagaimana cara mencegah orang-orang untuk bercanda seperti ini. Ini sering terjadi dan yang repot pada akhirnya adalah emaknya sendiri. 😑

Bayangkan bagaimana repotnya kalau anak kedua menangis tapi anak pertama malah ikut menangis meminta perhatian juga? Jujur saja, ini lebih horor dari pada baby blues dengan satu anak. Untuk menghindari fase horror ini pula aku memberi jarak 5 tahun dalam kehamilan kedua. Dengan begitu aku dapat memberi pemahaman kepada anak pertama karena ia sudah sedikit besar dan bisa mengerti.

3. Hindari berteman dengan orang-orang yang ‘suka nyinyir’

Mommy War saat punya anak masih bayi? Bisa saja.

Walau disini masih terikat dengan adat kental bahwa Ibu dan bayi tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, namun adaaa saja emak-emak yang hoby menengok dan nyinyir. Haha. Bener gak?

Contoh:

“Ih, payudaranya kok kecil. Ada gak susunya tuh?”

“Kok anaknya gak diayun? Kamu kerjanya gimana? Masa disamping bayi aja?”

“Loh, gak masak kah?”

“Rumah kok berantakan, cucian aja masih berendam kamu malah tidur..”

Dst.. Dst..

Punya tetangga kepo begini? Gak usah dibukain pintu.. 😂

Punya mertua begini? Tinggal ditempat mertua? Kaburr.. 😂

Yah kok solusinya gitu amat?

Ya bagaimana lagi? Perasaan wanita itu sudah terlahir sensitif dari zaman megantropuspaleojavanikus (nama macam apa ini.. 😂) Ditambah baru melahirkan, ditambah kecapean, ditambah kelaparan.. Perasaannya itu sedang dalam mood krisis sensitif.

Pas ditengok orang sih maunya tuh orang muji-muji si bayi kek.. Malah nyinyirin emaknya.. Noh.. Kelaut aja sono kalo mau nyinyir.. 😂

Sumvah, blog macam apa ini.. Haha

4. Penuhi ‘Hak Me Time’ milik Ibu

Semua Ibu berhak bahagiaa..
Semua Ibu berhak punya pilihan. Termasuk itu menggeluti passion yang disenanginya. Betul?

Tidak sedikit para Ibu yang terkuras passionnya karena kegiatan rumah tangga, merelakan cita-citanya begitu saja demi lengkapnya kebutuhan jasmani dan rohani anggota keluarga. Hal ini sudah seharusnya? Begitulah pekerjaan wanita? Iyes, itu emak zaman old.

Emak zaman old enggak punya passion warna warni seperti emak zaman now yang terawat dengan status pendidikan tinggi. Emak zaman now akan sangat merasa berdosa jika ilmu yang telah ia miliki tidak tersalur dengan baik. Ilmu tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya dan penyaluran passion dari ilmu tersebut adalah hal yang sangat penting.

Jadi, biarpun kita sebagai ibu sudah memiliki anak bayi dan mengorbankan 90% hidupnya untuk itu.. Paling tidak, sisakan 10% hidup untuk diri kita sendiri. Sisakan kebebasan untuk memilih dan berekspresi. Itulah sederhananya makna me time produktif ala Emak Zaman Now.

Baca juga: “The Power Of Emak-emak zaman now itu BEDA”

5. Isi Sebagian Me Time dengan Menguatkan Spiritual Ibu

Jangan pernah lupa untuk menguatkan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sempatkan berdoa dan bersujud sedikit saja. Karena sudah fitrah manusia untuk menyerahkan diri dan bersujud kepada-Nya dalam bersyukur dan meminta pertolongan.

Berwudhu, beribadah dan melantunkan ayat suci adalah cara manjur untuk mengisi kesejukan dalam hati kita. Isilah sebagian me time yang kita miliki dengan hubungan kepada Sang Pencipta. Karena itu adalah kebutuhan rohani kita yang tidak bisa ditinggalkan.

6. Hindari Menjadi Ibu yang Serba Sempurna

source: the average mommy

Menjadi sempurna memang suatu kebanggaan. Rumah bersih dan rapi, makanan selalu homemade, anak tidak rewel, baju sistem setrika semua, rajin membuat bahan DIY untuk kecantikan. Tapi, saat kita memutuskan untuk menjadi serba sempurna.. Tanyakan kembali pada diri kita, sudah benarkah hal yang kita lakukan?

Ya, sudah menjadi sifat alami seorang Ibu dan Istri, jika ia sudah mencintai maka ia terbiasa untuk kebablasan melayani dan mengabaikan kewarasannya sendiri. Ditambah dengan lingkungan yang menuntut segalanya serba sempurna maka stress pada Ibu sangat rentan terjadi. Solusinya, lepas salah satu standar kesempurnaan dan lakukan ‘me time’ dengan waktu luang yang jarang ada tersebut.

Bagiku, melepas standar kesempurnaan ini sangat manjur untuk meredakan stress. Dulu, aku penganut homemade garis keras. Disamping karena faktor ekonomi, hal ini juga faktor kebiasaan dari lidah suami. Apalagi, jika berkunjung ke tempay mertua aku selalu ditanya, “Makan apa hari ini?” atau “Masak apa di rumah?”

Rasanya itu… Eeeeng…

Baca juga : Tentang Pengalaman Jatuh Bangun Belajar Memasak

Tapi sekarang? Aku masih homemade memang. Tapi aku sudah termasuk cuek saat ditanya hal-hal seperti itu. Kalau sedang malas atau tidak sempat masak karena jadwal yang tiba-tiba padat, jawab saja sejujurnya. Haha.

Karena memberi standar kesempurnaan pada setiap pekerjaan Ibu itu menyakitkan.

7. Jangan Biarkan Perut dalam Keadaan Kosong saat Menyusui

Siapa yang gampang marah saat dalam keadaan lapar?

Kurasa semua juga gampang marah ya, kecuali sedang berpuasa.. Hihi.. Tapi, jangan pernah biarkan Ibu Menyusui dalam keadaan kelaparan dan harus mengerjakan setumpuk pekerjaan tanpa adanya pasokan makanan yang ‘ready’ di rumah. Apalagi, saat sedang kelaparan begitu anggota keluarga malah meminta request makanan homemade yang susah di buat. Yaaa.. Something like.. Ikan Panggang yang dipanggang memakai kayu bakar maupun ayam geprek krispi dalam durasi setengah jam.

Rasanya itu…. Eeeeeggggh…!!!

Mengertilah Ibu Menyusui itu sangat kelaparan, ia tidak berpikir lagi untuk menyempatkan diri memasak dalam waktu yang lama. Ia bahkan senang jika mie instan saja sudah dapat hadir walau tanpa telur di kamarnya. Ya, tidak perlu yang mahal-mahal. Hanya meminta perhatian, Yes?

Syukur-syukur kalau dibawakan pizza sepulang kerja…

Rasanya itu.. Meleleh… Klepek klepek dan langsung jatuh cinta lagi..

Hahaha

8. Jangan Menutup Diri dari Komunitas

Setiap Ibu butuh ruang sosial untuk dapat tetap eksis dan merasa ‘tidak menghilang’. Karena itu, adanya komunitas sangat diperlukan buat Ibu.

Tidak perlu komunitas ngumpul-ngumpuk secara nyata. Zaman now, apalagi buat Ibu-ibu yang tinggal di komplek perkotaan sangat sulit untuk menemukan teman nyata yang ‘sreg’, betul? Ya, zaman sekarang menjadi salah satu member di Grup WA saja sudah menyenangkan loh. Apalagi jika member dari grup tersebut menyenangkan dan saling mendukung. Komunitas seperti ini sangat diperlukan untuk mengisi ruang sosial.

Kadang, saking sibuknya Ibu. Ia sampai lupa dengan kebutuhan sosialnya. Tau-tau rasanya menghilang saja. Aku pernah merasakan hal ini, rasanya sangat sulit untuk dapat bergabung kembali. Maka, sebisa mungkin sesekali bertegur sapalah walau sebatas like dan say ‘Hi’.

9. Mengeluhlah Jika itu Membuat Ibu Merasa Lega

Well, point ini masih menjadi pro dan kontra.

Konon, katanya seorang Ibu harus dapat menjaga aib keluarga. Tidak boleh mengeluh dan mengadu. Apalagi di sosial media.

Terus, kalau si Ibu ini kerjaannya di rumah saja tanpa teman curhat gimana dong? Suaminya gak ada gimana dong? Orang tuanya bukan pendengar yang baik gimana? Mertuanya suka nyinyir gimana? Lari kemana tuh Ibu? Curhat sama kucing? Gak suka kucing gimana dong?

Banyak loh, Ibu-ibu stress yang terancam bunuh diri bahkan membunuh anaknya karena menumpuk-numpuk beban kesedihan tanpa pernah curhat sekalipun.

Baca juga: Kasus-kasus Pembunuhan Anak Oleh Ibunya Sendiri karena Post Partum Depression

Curhat itu perlu. Berekspresi itu perlu. Jika kita tidak dapat menjadi pemberi solusi terbaik, setidaknya.. Jadilah pendengar yang baik. Karena pada titik jenuh dan stress seorang ibu, ia hanya butuh pelampiasan untuk mendengarkan ‘sampah’ yang wajib ia buang.

***

Aku pernah amat sangat menyesal telah membuat anakku menjadi pelampiasan ketidak-warasanku dahulu. Karena itu, semoga cara-cara yang telah kutulis ini mengingatkanku bahwa, “Jadilah seorang Ibu yang bahagia. Karena Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaannya untuk orang-orang yang ia sayangi..”

Tidak Sabar menunggumu, Anakku yang Kedua. Mama tidak menjanjikan apa-apa untuk membuatmu lebih baik nantinya.

Tapi mama berjanji akan menjadi Bahagia karena Kelahiranmu.

The Power of Emak-emak Zaman Now itu Beda

The Power of Emak-emak Zaman Now itu Beda

“Emak-emak zaman sekarang ya.. Punya anak satu aja kerjaan rumah enggak beres. Padahal kalau dibandingkan emak zaman dulu, mereka punya kerjaan lebih banyak, anak lebih banyak, tapi semua beres.. Mungkin, emak zaman sekarang kerjaannya main gadget melulu.”

Tidak sekali-dua kali aku pernah mendengarkan pernyataan ini. Dimana saja, jika ada emak yang cukup berumur disuatu ruang sosialita tentu bahan percakapan seperti ini sering melintas begitu saja. Sebagian besar membenarkan fenomena ini, namun adapula sebagian yang lain memiliki pendapatnya sendiri dan tetap berpandangan positif dengan tingkah perilaku generasi emak modern.

Tentang Perubahan Zaman dan Generasi

Aku pernah berdiskusi dengan salah satu emak modern yang membela fenomena ’emak gadget’ zaman now. Seperti dugaanku, emak yang kesehariannya tak pernah lepas dari HP tersebut mengemukakan bahwa inilah kesehariannya. Hampir 50% waktu dalam kesehariannya tak pernah lepas dari gadget dan media sosial. Jika dilihat sekilas, kita mungkin hanya bisa berkata, “Pemalas sekali, kerjaan sehari-hari ‘cuma’ megang HP.”

Baca juga: “Kenapa sih Emak Zaman Dulu Selalu Bisa”

Siapa sangka dibalik itu semua, ia adalah pembisnis online yang memiliki keuntungan besar? Bahkan melebihi keuntungan para pekerja keras diluar sana?

Ya, zaman sekarang memang berbeda dengan zaman dahulu. Sehingga kita tidak bisa membandingkan perilaku produktif emak zaman dulu dan sekarang. Dari pergantian generasi ke generasi, pandangan sosok perempuan dalam masyarakat tidak seperti dahulu lagi.

Dunia emak zaman now sudah berbeda.. Tidak melulu tentang “Dapur, Sumur, dan Kasur..”

“Kami dapat menjadi generasi berbeda yang dapat membawa perubahan positif tentang peran perempuan dan meningkatkan produktifitasnya
dengan memanfaatkan perkembangan IT dalam kehidupan sehari-hari”

Siapa yang berkata demikian? Merekalah emak-emak zaman now. Emak yang terlahir pada generasi milenial. Emak yang berpendidikan, mengerti teknologi dan pemanfaatannya dengan optimal.

Mereka tidak lagi dibumbui dengan pemikiran kolot generasi sebelumnya. Dunia mereka tidak lagi dibatasi oleh sudut-sudut kubus pemikiran yang sempit. Dunia mereka jauh lebih luas, wawasan mereka jauh lebih terbuka dan siapa sangka walau terlihat pemalas, mereka juga produktif dan punya peran lebih dalam masyarakat?

Emak harus produktif

Sejauh ini, aku terus berpikir tentang Apa sebenarnya arti produktif bagi perempuan? Apakah harus melulu tentang menghasilkan uang? Apakah harus melulu tentang terlihat menjadi pemimpin dalam komunitas sosial? Apakah harus melulu tentang pekerjaan rumah yang serba sempurna?

Ternyata tidak. Arti Produktif itu sangat sederhana.. Yaitu dapat menghasilkan. Tidak melulu tentang uang, tapi arti produktif yang sebenarnya adalah ketika potensi seorang perempuan dapat dioptimalkan untuk orang sekitarnya hingga menyebar kedunia yang luas. Tentang feedback yang dihasilkan dari itu adalah nomor 2. Ya, tentang menghasilkan uang, pengakuan, tingkat sosial dalam masyarakat akan menggiringi seiring dengan potensi yang telah dimaksimalkannya.

Baca juga: “Menjadi Generasi Perempuan yang Lebih Produktif”

Bagiku, menjadi emak produktif itu adalah keharusan. Karena aku sangat yakin bahwa setiap perempuan pasti memiliki bidang passion yang disenanginya. Passion perempuan yang tidak tersalur akan menyebabkan depresi, kehilangan tujuan hidup dan kehilangan semangat hidup. Menyalurkan passion dengan cara yang menyenangkan adalah salah satu kegiatan produktif yang dapat dilakukan.

Jika sudah menjadi emak-emak, kehilangan passion karena kegiatan rumah tangga akan menyebabkan kondisi psikologis Ibu terganggu. Aku pernah mengalaminya, aku terkena Post Partum Depression karena mengabaikan passion dan mengutamakan keluarga. Dampak penyakit psikologis ini sangat berbahaya, selain mengurangi produktifitasku penyakit ini juga berefek negatif terhadap kesehatan jiwa anakku.

Baca juga: Cerita tentang Post Partum Depression dan Mengatasi Dampak Negatifnya pada Anak

Jadi, penyaluran passion itu wajib. Produktif bagi perempuan itu wajib, apalagi yang sudah menjadi emak-emak. Karena Emak-emak yang membiarkan passionnya terbengkalai begitu saja akan terancam depresi.

Tapi, bagaimana emak dapat menyalurkan passionnya walau di rumah saja?

Emak Harus ‘Melek’ Teknologi

Zaman now, masih adakah para emak yang gaptek? Memiliki hp jadul, tidak mengerti dengan sosial media, tidak terbuka wawasannya, gampang di pengaruhi oleh informasi hoax? Dan menganggap hp adalah candu yang menyesatkan?

Tentu ada. Bahkan tidak menutup emak yang lahir pada generasi milenial juga.

Bagaimana pandanganku saat melihat hal ini? Ya, miris. Sayang sekali. Padahal, banyak kegiatan produktif yang dapat menghasilkan sesuatu dengan memanfaatkan perkembangan IT.

Aku pernah berhadapan dengan emak-emak yang memiliki pandangan kolot seperti ini. Ingin rasanya aku bangun dan menyadarkan pandangan mereka. Tapi bagaimana? Aku tidak memiliki kekuatan yang berarti selain merangkai tulisan di dunia literasi melalui blog. Sayangnya, kebanyakan emak seperti ini malas memperdalam literasi. Bahkan, membacakan buku cerita pada anak pun hanya terfokus pada cerita nabi saja.

Bagaimana caranya agar para emak zaman now bisa melek teknologi?

Lalu, aku berkenalan dengan IWITA pada event roadshow serempak di Banjarmasin. IWITA adalah singkatan dari Indonesia Women Information Technology Awareness. IWITA merupakan Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi Informasi sebagai organisasi berbadan hukum yang memiliki ‘positioning’ mencerdaskan Perempuan Indonesia melalui Teknologi Informasi.

IWITA memiliki misi penting dalam memajukan produktivitas perempuan yaitu dengan menciptakan kesadaran perempuan Indonesia akan manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dengan berbagai roadshow serempak yang telah diadakan IWITA fi berbagai kota, IWITA memberikan banyak pengetahuan dan wawasan penting untuk pengembangan produktivitas perempuan di bidang TI dan peningkatan ekonomi keluarga bagi para emak-emak zaman now.

IWITA telah berpengalaman mengadakan kegiatan sejak tahun 2009. IWITA telah banyak bekerja sama dengan berbagai stakeholders. IWITA juga didukung oleh lembaga IT terkemuka untuk peningkatan, pembelajaran, implementasi dan sosialisasi di bidang teknologi informasi bagi perempuan Indonesia.

Organisasi seperti IWITA adalah salah satu organisasi yang dapat memberikan harapan pada emak-emak zaman now. Karena, the power of emak-emak zaman now itu berbeda bukan?

Arti Produktif yang Sebenarnya

Sepemahaman dengan IWITA, sebagai perempuan yang sudah berstatus emak-emak, aku juga merasa bahwa arti produktif itu sangatlah luas. Tidak sesederhana menghasilkan uang semata. Tapi, bermula dari pengoptimalisasian passion dengan memanfaatkan teknologi kekinian.

Jujur saja, Aku mulai melek dengan teknologi sejak memiliki suami yang merupakan konsultan IT sekaligus owner dari CV share system. Aku mulai mengenal teknologi kekinian dan pemanfaatannya sejak sudah berstatus ’emak-emak’. Tiada kata terlambat untuk sebuah ilmu bukan? Karena sejak berkenalan dengan dunia IT yang lebih luas kini aku dapat menjadi emak-emak yang lebih hidup dan bersemangat.

Aku mulai bersemangat sejak suamiku membuatkanku sebuah blog. Ia berkata bahwa tulisanku dapat menjadi inspirasi bagi semua emak-emak diluar sana. Ia membantuku untuk mengoptimalisasi blog shezahome. Sehingga akhirnya, karena ketekunan ini pula akhirnya aku dapat memperoleh penghasilan tambahan dari blog. Masih tidak banyak memang, tapi ini menyenangkan.

Kegiatan nge-blogku juga didukung oleh komunitas blogger perempuan di daerahku. Namanya adalah Female Blogger of Banjarmasin (FBB). Aku memasuki komunitas ini sejak member FBB masih beranggotakan dibawah 10 orang. Seiring berjalan waktu komunitas kami mulai serius dan membentuk kepengurusan. Siapa sangka aku yang awalnya tidak pernah berorganisasi kini telah merasakan menjadi pengurus di komunitas FBB? Ya, aku pernah menjadi sekretaris FBB. Dan sekarang, aku adalah wakil ketua dari FBB.

Tidak terasa, sudah 2 tahun lamanya komunitas FBB berdiri. Para member FBB mulai bertambah banyak, tidak sesunyi dahulu lagi. Beberapa job blogger mulai datang dan membangun semangat baru bagi para membernya. Suka dan duka kami lewati. Kami juga saling bantu membantu dalam sharing pengetahuan tentang IT. Beberapa blogger senior di komunitas FBB tidak sungkan dalam membagi ilmunya.

Dalam ulang tahun FBB yang kedua, kami memiliki harapan besar pada komunitas ini. Kami ingin dunia literasi digital dapat berkembang luas. Seperti IWITA, kami ingin turut berperan dalam mengembangkan kesadaran kaum perempuan tentang pentingnya melek IT untuk produktivitasnya.

Untuk itu, IWITA memberikan dukungan penuh kepada visi dan misi FBB. Pada acara syukuran ulang tahun FBB yang ke-2, IWITA memberikan support dukungan sebagai apresiasi atas semangat FBB dalam mengembangkan literasi digital dan membangun kesadaran perempuan akan pentingnya IT.

Jadi, siapa bilang Perempuan tidak bisa Produktif walau hanya di rumah saja?

Mari mulai tunjukkan the power of Emak-emak zaman now.

Karena The Power of Emak-emak zaman now itu BEDA.

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Topik yang Never Ending

“Gak bosan dirumah aja? Kalau menurut saya jadi perempuan itu tuh harus mandiri minimal secara finansial karena (bla bla bla)”

“Aduh, makanya saya gak mau nitipin anak gitu. Kebayang ga sih pembantu sekarang ga bisa dipercaya. Makanya saya milih ga kerja aja karena ya (bla bla bla)”

“Waduh, enak ya melahirkan cesar. Ga sakit krn dibius.. Kalo saya kemarin nih.. (bla bla)”

“Waduh, anak umur segitu udah dikasih sufor? Gak takut anaknya nanti (bla bla). Sufor itu begini loh, begitu loh. Kalau saya dulu diusahain dong ya bisa ASI. Saya sampe (begini-begitu) supaya anak bisa ASI ekslusif. Karena begini loh, ASI itu ya (bla bla)”

“Aduh, punya anak 1 plus gak kerja aja pake ART. Orang kayah. Kalo saya sih biar punya duit ya tetep aja sayang karena kita ga tau apa yang terjadi di masa depan kan bisa aja nih nanti (bla bla)”

“Maaf ya, kalau aku suka miris liat emak-emak yang anaknya dikasih makan sosis, nuget, telor dadar. Muter itu-itu aja. Buat aku sih emak begitu namanya emak pemalas.”

“Anak umur 3 tahun udah di sekolahin. Apa sih yang ada dipikiran emaknya? Gak takut anaknya nanti kena sindrom bosen sekolah? Kata psikolog gue nih anak umur segitu itu (bla bla). Ya, kalau aku sih maunya homeschooling aja.”

“Jadi Istri plus Ibu itu harus bisa jaga penampilan. Masa baru anak satu aja badan udah gemukan. Aku nih udah anak 3 masih kurus. Ya, emang harus dijaga. Kalau siang kerjaannya molor aja gimana ga gemuk.”

“Aduh, itu vaksin belum di halalin MUI loh. Program pemerintah ada-ada aja. Coba deh kita berkaca dengan zaman dulu. Emak gue, kakek-nenek gue, itu gak ada namanya vaksin-vaksinan. Iya, sehat aja. Anak, sekarang malah gampang sakit. Udah baca artikel ini belum? Vaksin itu bikinan Yahudi. Kamu rela kalo anakmu nanti (bla bla) ”

Punya kata-kata lain yang sering kita dengar di perbincangan antar emak-emak? Gak usah disharing ya. Iya, emak udah kenyang. Serius.

Baca juga: 9 Topik Obrolan Sensitif yang dapat menyebabkan Mommy War

Makanya, teman itu Memang harus PILIH-PILIH!

source: parents magazine

Pernah punya prinsip begini.. “Berteman itu jangan pilih-pilih. Mau itu orang kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, gak pintar semua harus ditemani.. Karena kita ini makhluk sosial. Kita itu (bla bla)”

Siapa ya yang bilang begini? Iya, mungkin ini salah satu kilasan memori dari Guru PPKN dulu. Hahahaha.

Dulu, aku menelan mentah-mentah kata-kata itu. Mencoba berteman dengan siapa saja. Walau sebenarnya aku tergolong introvert namun urusan pertemanan aku baik, aku punya pemahaman polos bahwa semua manusia itu sama, semuanya harus ditemani.

Tapi pemahaman itu berubah ketika aku mulai remaja, jangan ditanya seberapa berubah ketika aku sudah menjadi emak-emak. Berubah Drastis. Buatku, yang namanya teman itu WAJIB PILIH-PILIH.

Kenapa? Noh, kalian mau temenan sama teman yang mulut plus jarinya kerjaannya nyinyir kayak diatas? Gak mau kan? Belum lagi kalau yang ngomong emak-emak yang ngakunya ‘senior’. Haduh mak, sakit banget tuh rasanya kayak ditusuk-tusuk pake tusuk sate.

Makanya, kadang aku merasa sendiri ya kalau emak-emak itu punya circle pergaulan yang ‘agak memisah’. Contoh:

Ibu Rumah Tangga sukanya temenan sama Ibu Rumah Tangga aja, Working Mom sukanya temenan sama Working Mom aja. Karena kalau ketemu obrolan mereka pasti ketitik yang paling krusial yaitu drama menitipkan anak dan topik finansial.

Ada grup khusus Emak-emak Menyusui yang kalau didalamnya muncul emak-emak curhat minumin anaknya sufor langsung diserang Ciat.. Ciat.. Seolah bilang, “Hei, tempat kamu itu bukan disini..”

Ada grup khusus anti vaksin yang kalau muncul emak-emak ‘sok sehat’ maka dia langsung ditertawakan dan dibully.

Ada grup khusus memasak. Yang didalamnya penuh dengan emak-emak homemade. Kalau ada satu biji emak yang share resep pakai vetsin atau sosis jadi dan kornet langsung diserang dan diceramahi.

Iya, karena itu jadi emak-emak wajib pilih-pilih teman plus punya ramuan ANTI BAPER dan KOMUNITAS PENDUKUNG agar bisa beradaptasi dengan kerasnya pergaulan diluar.

Ramuan Anti Baper 1: Emak harus Punya Passion yang diandalkan

Tiap orang itu punya kesenangan, namanya hoby. Adapun yang dinamakan passion yang diandalkan adalah hoby yang membuat manfaat bagi orang disekitarnya. Ingat ya, aku menggarisbawahi passion loh, buat ‘penghasilan yang dapat diandalkan’ 😝

Menurutku, adalah bohong besar ada Ibu Rumah Tangga yang kerjaannya ‘cuma bahagia’ dengan melayani anak dan suami lalu mengabaikan kondisi psikologisnya sendiri serta menolak hubungannya dengan lingkungan sosial. Eh, ada ya? Oke, jangan ajak aku berkenalan ya. ✌

Menurutku tiap ibu itu harus punya passion. Apapun itu, passion tidak harus melulu menghasilkan uang. Prinsipnya adalah kita senang melakukannya, apalagi jika orang lain merasa hal yang kita lakukan itu bermanfaat dan membantu.

Adapun emak yang ‘ngakunya’ tidak punya passion tetap seperti aku mengaku lebih mencintai dunia menulis dan ngeblog seperti ini untuk berekspresi.

Baca juga: I dont have any passion, Im divergent.

Aku menyebut aktivitas ngeblog ini sebagai ‘Ramuan Anti Baper’. Hal yang membuatku bisa lebih hidup serta dapat menutup mata dan telinga setiap kali mendengar nyinyiran diatas. Adapun emak lain mungkin akan lebih bahagia dengan passion yang lain. Tapi perlu diingat bahwa tiap emak itu beda, so teori parentingnya pun beda. Aku pernah membahas ini ditulisan sebelumnya.

Baca juga: Hal yang perlu diketahui sebelum belajar parenting

Baca juga: Gini cara emak introvert ngasuh anak, Masalah?

Ramuan Anti Baper 2: Emak harus Punya Hiburan

Apa me time buat kamu? Menulis?

Ah, tidak. Menulis tidak akan bisa dilakukan kalau otak tidak terhibur. Ya, bisa sih tapi isinya curhat semua. Hahaha.

Me time ala aku adalah menonton drakor ditemani cemilan dan susu hangat. So, dengerin nyinyiran diatas? Me time aja! Nonton drakor, jalan-jalan, baca buku, nonjok boneka. *ops

Apapun hal yang bisa menghibur… Do it Mom! Do it!

Ramuan Anti Baper 3: Emak harus punya Komunitas Pendukung

Apa passionmu?
Apakah sudah ada komunitas yang mendukung passion tersebut?
Atau selama ini kamu berada pada komunitas yang salah?
Jangan takut untuk KELUAR dari zona yang tidak nyaman. Cari komunitas yang cocok dengan kita.

Sebagai contoh, itu aku (maaf ya.. Contohnya aku lagi.. Aku lagi.. Namanya juga personal blog ya.. ✌)

source: hellomama’s.com

Sebagai makhluk hidup yang ‘suka nyampah’ dengan tulisan, baik itu berupa status jelek maupun ‘sok bijak’, aku tidak mau bergabung dengan circle mak-mak yang tidak bisa menerima sampah-sampah itu. Menyebut bahwa kerjaan blogger itu pamer dan ‘cuma’ modal tulisan. Itu adalah circle komunitas yang harus aku jauhi. Ada yang nyinyir? Block aja, delete.. selesai masalah. Berkomunitaslah dengan orang-orang yang punya satu hoby dan kesenangan dengan kita atau berteman dengan orang yang sepemahaman dengan kita. Komunitas pendukung seperti ini penting sekali loh dimiliki.

Emak Perfect itu Enggak Baik, yang Baik itu Emak yang Bahagia dan Sukses Menularkan Kebahagiaannya

Jika sudah menemukan 3 kunci ramuan anti baper maka kita sudah sampai ketitik ternyaman dunia emak-emak. Apa itu? Mencapai kesempurnaan yang hakiki? 😅

Pernahkah kita sebagai emak-emak mencoba untuk melakukan segala hal serba sempurna? Asi ekslusif, anak tak pernah tersentuh teh dan garam pada waktunya, tak pernah kenal gadget dan TV, rumah selalu bersih, makanan selalu homemade, tidak punya ART, selalu tampil cantik, bisa melakukan 4 pekerjaan dalam satu waktu termasuk sambil masak, nyuci, zumba plus liat fluktuasi saham? Lalu, uang bulanan selalu bersisa untuk ditabung.

Tapi.. Dibalik kesempurnaan itu.. Apa yang kita rasakan? Bahagiakah?

Aku (lagi lagi aku) pernah merasakan betapa buruknya terjebak dalam standar perfeksionis diatas. Puncaknya, aku merasa tidak bahagia.

Rumah selalu bersih tapi dibalik itu aku mengurung anakku dikamar, tanpa TV dan ia hanya aku hadapkan pada makanan homemade. Ia menangis. Aku cuek. Begitu teori parfectionis bicara.

Makanan selalu homemade, selalu tampil cantik. Tapi saat suami datang, bukan senyum yang aku suguhkan. Namun kelelahan, tak bisa memanjakannya. Mencoba mendapatkan pujian dengan bersisanya uang bulanan. Tanpa hiburan, tanpa family time, apalah artinya tabungan itu.

Kesempurnaan tidak membuatku bahagia.

Belajar membahagiakan diri dan sukses menularkan kebahagiaannya adalah prinsip dari terbentuknya keluarga yang bahagia. Aku sudah banyak belajar bahwa mencari puncak kesempurnaan tidak mengajarkan apapun padaku. Hanya rasa haus pujian yang tiada habisnya. Tidak bahagia, tapi Depresi.

Baca juga: Sepenggal Kisah tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan

Kenapa Perfeksionis sindrom itu Pemicu Utama Depresi dan Menular? Karena Korbannya adalah Emak-emak Sensitif dan Anak Kecil

source: thejoyoofthis.com

Apa akibat dari standar kesempurnaan yang tinggi?

Pengalaman nyata yang aku rasakan adalah.. Mengejar kesempurnaan membuatku terkena Post Partum Depression.

Yes, aku depresi. Aku mencoba memenuhi setiap standar kritik dari mulut-mulut ‘nyinyir’ yang singgah ditelingaku. Mommy War telah membentuk diriku yang sensitif ini menjadi ‘bukan diriku lagi’.

“Aku dulu uang bulanan cuma habis 800ribu loh. Kamu masa satu juta gak cukup? Anak masih satu juga..”

(Oke. Aku bisa. Aku harus serba homemade. Harus ngemil singkong tiap hari supaya ASI tetap jalan. Gak boleh nagih ini itu kesuami. Aku kan istri yang baik)

“Kalo aku jadi kamu, dari pada foto-foto makanan begini, mending jualan. Gak kerja juga, masa gak punya waktu. Jadi perempuan itu lebih enak kalau punya uang sendiri.”

(Oke, jualan. Aku bisa)

“Istri kamu kalau jalan modis banget ya. Berapa uang make upnya buat sebulan tuh? Aku dulu zaman begini begitu cuma modal bedak bayi aja..”

(Oke, bedak bayi.. Kely.. Aku juga bisa masih cantik begitu.. *kalo dasarnya udah cantik.. 😝)

Bla bla..

Bla bla..

Iya, aku dulu super sensitif. Dibilang ini manggut, itu.. Manggut. Aku depresi untuk mengejar kesempurnaan. Jikapun itu hanya terjadi pada diriku saja tidak mengapa..

Tapi aku menularkannya.

Aku membuat anakku menangis. Aku membuat suamiku marah.

Apa yang bisa dibanggakan dari menjadi ’emak yang maha sempurna’?

TIDAK ADA.

Hati-hati,

Jaga Mulut! Jaga Jari! Jaga Hati!

source: wytghana.org

Kita tidak pernah tau seberapa halus perasaan seseorang. Kita tidak pernah berteman dengan mereka yang baru kita kenal, tau masa lalu mereka. Bagaimana ‘tameng psikologis’ yang sudah terbentuk pada diri mereka. Kita melewati ‘masa lalu’ yang berbeda dengan setiap orang. Karena itu tiap orang itu unik. Tiap emak unik. Mereka tidak sama dan punya hoby yang berbeda. Dan satu lagi, perasaan mereka tidak sama.

Pernah mendengar penyakit schizophrenia? Penyakit kejiwaan ini dapat disebabkan bukan hanya karena lingkungan. Namun innerchild yang sangat negatif. Baik itu kenangan buruk dari masa kehamilan, kenangan buruk masa kecil, hingga tekanan demi tekanan yang diterima dilingkungannya.

Depresi itu menular. Dan pusatnya adalah pada kebahagiaan Ibu. Jangan pernah membuat perasaan Ibu tersakiti dengan mulut dan jari kita. Jaga hati kita agar tak selalu berprasangka negatif pada ‘ketidaksempurnaan emak-emak’. Karena bisa jadi, mereka tidak punya dan belum tau dengan ramuan anti baper.

“Kadang kita merasa mulut kita sungguhlah bijak. Ketika melihat emak-emak curhat, kita berkata ia tak bisa menjaga aib keluarganya. Lalu kita sarankan agar menutup mulutnya. Kita tidak tau, hatinya terluka. Tidak ada yang mendengarkan. Pernahkah kita sekali saja berusaha menjadi pendengar yang baik?”

“Kadang kita merasa jari kita begitu bermanfaat. Membuat status kesempurnaan dan menyakiti perasaan Ibu yang tak sempurna. Membuat kata-kata berambisi agar orang lain memiliki semangat membara, tapi kita lagi-lagi tidak tau_ kondisi setiap orang berbeda..”

“Kadang kita selalu berprasangka, ‘Apakah ini tentang aku?’, padahal dunia itu luas. Tidak melulu tentang ‘kita’. Adalah hak orang ketika ia ingin mengatakan sesuatu hal dengan ‘caranya’ . Bisa jadi, yang ia maksud sebenarnya adalah dirinya sendiri bukan? Sudah berapa banyak (aku) berkenalan dengan orang yang menulis untuk ‘memperingatkan dirinya sendiri’.”

Tersenyumlah mak, mulut dan jari dunia ini memang kejam. Tapi hati ini, sungguh masih memiliki obat. Yaitu dengan selalu berprasangka baik. Tidak mudah tentu. Tapi kita dapat berusaha.

Tertarik dengan ramuan anti baper? Let me know if it success!

IBX598B146B8E64A