Browsed by
Category: Motherhood

Pengalaman 2 kali Melahirkan Cesar menggunakan BPJS secara Gratis

Pengalaman 2 kali Melahirkan Cesar menggunakan BPJS secara Gratis

“Serius kamu melahirkan cesar lagi?”
“Kamu gak pengen ngelahirin normal gitu?”
“Eits.. Denger-denger sekarang ngelahirin cesar gak ditanggung BPJS lagi loh..”

Itulah kata-kata dari beberapa temanku saat mengetahui bahwa aku di-vonis cesar (lagi) oleh dokter. Di kehamilan yang kedua ini, tentu sebenarnya aku sedih sekali mendengar keputusan dokter. Pasalnya, proses melahirkan anak pertamaku pun juga melalui cesar. Besar sekali harapanku untuk bisa melakukan VBAC (Vaginal Birth After Cesar) di kehamilan kedua. Karena jarak anak pertama dan kedua 6 tahun dan terbilang sangat mungkin untuk VBAC.

Ternyata tidak semudah itu ferguso..

Kenapa sih Melahirkan Cesar?

Pada Trisemester pertama dan kedua kehamilan aku sangat percaya diri bisa melahirkan normal. Terlebih dokter kandungan langgananku juga membenarkan harapanku. Dokter bilang jarak kehamilanku yang cukup panjang dengan kehamilan kedua ini sangat memungkinkan untuk melahirkan normal karena kondisi jahitan di rahim sudah benar-benar pulih dan minim risiko dapat sobek saat melahirkan normal. Namun, dokter tetap berpesan bahwa sebaiknya berat bayi tidak lebih dari 3 kg.

Pada Usia Kandungan 38 Minggu aku memeriksa posisi bayi di puskesmas terdekat. Betapa terkejutnya diriku saat bidan memberitahuku bahwa posisi bayiku melintang. Tak ingin berlama-lama maka esok harinya aku langsung USG ke dokter kandungan untuk memastikannya. Ternyata benar, posisi bayiku melintang. Hiks_

Padahal pada Usia Kandungan 36 Minggu aku baru saja USG dan saat itu posisi kepala bayi masih dibawah. Walau beratnya sudah 2700 gr tapi aku sangat optimis bisa melahirkan normal. Saat dokter mengetahui posisi bayi yang melintang di Umur Kandungan mendekati 39 Minggu maka beliau langsung membuat surat rawat inap untuk melakukan prosedur Cesar.

He said, “Kalau bisa operasinya jangan lewat dari HPL. Takutnya nanti sudah kontraksi baru mau operasi. Sakitnya jadi 2x. Sedangkan bayinya posisi melintang dengan riwayat Cesar.”

Yah..yah..

Kalau bisa dideskripsikan bagaimana perasaanku saat itu.. Rasanya.. Sakit banget. Hiks_ Cesar lagi.. 2 kali melahirkan.. 2 kali Cesar.. 😭

Sekilas Tentang Melahirkan Anak Pertama dengan Cesar dan BPJS

Iya, betul.. Aku melahirkan anak pertama dengan Cesar tepat pada tanggal 24 Februari 2013. Tindakan Cesar dilakukan karena ketubanku pecah dan tidak ada pembukaan sama sekali. Akhirnya, setelah menunggu lama dari jam 11 malam sampai pagi harinya.. Dokter memutuskan untuk melakukan Operasi Cesar pada jam 8 pagi.

Saat itu aku menggunakan BPJS untuk proses persalinan dari awal sampai akhir. FYI, aku saat itu melahirkan di Pelaihari, tempat orang tuaku tinggal. Sedangkan kartu BPJS ku terdaftar di Banjarmasin.

Banyak yang bertanya, Apakah bisa kartu BPJS yang tidak sesuai domisili digunakan?

Jawabannya adalah BISA. Asalkan dalam kondisi Darurat. Seperti pada kasusku yang langsung dilarikan ke UGD dan dioperasi keesokan harinya. Kartu BPJS dapat digunakan karena kondisi pasien sudah darurat.

Apa saja dokumen yang diperlukan saat Darurat harus operasi Cesar? Apakah biayanya 100% gratis?

Pada pengalaman anak pertama hampir tidak ada dokumen yang diperlukan selain kartu bpjs, KTP, dan kartu keluarga. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar walau saat itu suamiku tidak ada. Cukup berkirim-kiriman gambar dokumen sudah sangat cukup untuk melengkapi persyaratan. Tapi, kartu BPJS wajib dibawa ya.

Biaya persalinan dengan Cesar saat itu adalah ‘NOL’ Rupiah. Untuk seseorang sepertiku yang baru saja merintis kehidupan tentu saja ini sangat membantu. Lumayan sekali bukan, operasi Cesar saat itu biayanya berkisar antara 15-20 juta dan aku dapat menikmatinya gratis.

Untuk biaya obat aku memutuskan untuk membeli obat diluar BPJS, jadi cukup mahal untui point ini. Aku juga menempati kamar VIP walau jatahku sebenarnya adalah kamar kelas 1. Tapi, saat itu hanya dengan membayar biaya tambahan 30 ribu sehari dapat menikmati kamar VIP. Biaya tambahan lain adalah pembelian plester anti air dll. Tidak ada biaya tambahan berupa perawatan bayi di RS saat itu. Jadi, total seluruh biaya melahirkan yang aku keluarkan sendiri menghabiskan kurang lebih 2 juta rupiah.

Sebenarnya, saat operasi Cesar itu lebih banyak sedihnya sih. You know lah ya.. Anak pertama aja Cesar.. Keduanya bisa Cesar lagi dong. Hiks_

Hal-hal yang aku lakukan saat di-vonis Cesar lagi

Walau sudah pernah operasi cesar enam tahun yang lalu tapi tetap saja aku nervous sekali. Apalagi jika mengingat rasa sakitnya itu.. Du du du.. Ampuni hamba..

Tapi, saat itu bukan hanya rasa sakit yang aku cemaskan. Tapi peraturan BPJS yang konon katanya berubah-ubah itu. Bahkan ada saja yang bilang bahwa melahirkan Cesar tidak di cover oleh BPJS lagi. What? Jadi harus keluar duit 20 juta begitu? Hiks_

Pasca divonis cesar oleh dokter, 2 kali aku berkunjung untuk memeriksa kandungan dan 3 kali aku bertanya pada dokter yang berbeda. Pertanyaan yang diulang-ulang seperti..

“Dok, ini kartu bpjs saya. Saya masuk dalam kategori kelas 1. Kira-kira biayanya gratis gak dok?”

“Gratis mba.. Tenang aja..”

“Dok, jahitannya bagaimana? Beda ya antara kelas VIP dan kelas 1? Maaf saya pernah dengar kalau BPJS kelas bawah jahitannya vertikal dan benangnya gak langsung jadi daging.. Ini bener gak dok?”

Maaf ya, aku anaknya memang kalau nanya sedetail itu.. Hahaha.. Dan dokter pun langsung tertawa sambil bilang..

“Itu Hoax bu.. Kalau saya mau kelas mana aja jahitan tetap melintang dibawah perut dan kualitas benang yang sama. Kecuali memang saat itu kondisi pasien berbeda..”

Dan..pertanyaan terakhir seperti ini pun aku tanyakan kepada dokter..

“Dok, kalau anak sudah lahir pasca operasi Cesar.. Apakah ada biaya perawatan anak yang ditanggung diluar BPJS?”

Dan dokter bilang, “Wah, kalau anaknya dijaga bidan dan perawat selama di RS plus anaknya juga ada perlu perawatan khusus kayak perlu inkubator dll mungkin ada biaya khusus diluar BPJS. Tapi, kalau enggak ya enggak ada biaya khusus. Tenang bu.. 100% GRATIS..”

Dan kata-kata finishing dari dokter tersebut membuat hatiku legaaah..

Hal lain yang aku lakukan setelah itu adalah membaca berbagai pengalaman operasi cesar dengan BPJS yang ditulis oleh para mom blogger. Cukup mengherankan bahwa pada kenyataannya memang banyak yang mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit walau sudah memakai BPJS. Namun, ada pula yang sama dengan pengalamanku Cesar pertama seperti tulisan tentang melahirkan cesar dengan BPJS yang ditulis mba Echa. Dan I believe it. Memang bisa kok 100% gratis.

Pada beberapa kasus yang lain ada beberapa mom yang ingin menaikkan kelasnya saat operasi. Seperti yang memiliki BPJS kelas 1 namun ingin naik ke VIP maka biayanya dikenakan naik satu paket (operasi, kamar, obat, perawatan bayi dsb), dan kenaikan itu berkisar antara 6-7 juta rupiah.

Lalu, bagaimana jika hanya ingin naik kelas VIP untuk operasi saja? Atau untuk kamar saja? Seperti pada pengalamanku sebelumnya yang hanya dikenai tambahan 30 ribu rupiah saja saat pindah naik ke ruang kamar VIP.. Apakah masih berlaku?

Ternyata tidak, aku sudah menanyakan hal ini berkali-kali ke BPJS center dan mereka menekankan bahwa jika ingin naik kelas dalam pelayanan menjadi ke VIP maka harus satu paket (operasi, kamar, obat, perawatan bayi dll). Tidak bisa jika hanya memilih satu saja. Jadi, tahu sendiri lah ya keputusanku.. Aku memilih untuk menjalani operasi Cesar dengan BPJS kelas 1 secara Gratis tanpa kenaikan tarif menjadi VIP. Hehe

Bagaimana melahirkan cesar dengan memanfaatkan BPJS kelas 1? Memuaskan?

Tepat pada tanggal 31 Januari jam 11.30 Operasi Cesar selesai. Aku melakukan operasi di RS terdekat dari rumahku di Banjarmasin yaitu di RS. Ansari Saleh. Saat itu Dokter yang menangani adalah Dr. Bill. Dan waw.. Ini pertama kalinya aku operasi dengan proses anestesi seperti ini. Yup, orang bilang ini adalah Bius separo badan.

Iyes, saat melahirkan anak pertama dulu aku dibius total. Hihi. Mungkin aku akan bercerita perbedaan bius total dan separo ini di lain post ya.. Kalau disini kalian akan terlalu lelah membacanya. 😅

Jujur, ini pertama kalinya aku masuk ruang operasi. Menurutku, ruang operasi itu keren. Haha. Karena sejauh ini aku cuma bisa menyaksikan ruang operasi di drama korea. Ternyata aslinya cakep. Bersih dan modern sekali. Andai aku boleh bawa HP saat operasi pasti deh ya sudah selfie dan foto-foto ruangannya.

Dokter anestesi dan Dr. Bill pun orangnya sangat menyenangkan. Saat proses anestesi aku diajak ngobrol supaya tidak tegang. Dan suntikan dipunggung yang konon rasanya sakit sekali itu… Malah enggak berasa apa-apa loh buat aku. Sampai aku nanya sama Dokter Anestesinya, “Dok, ini sudah disuntik serius?”

Dan.. Benar sih ya.. Operasi Cesar itu gak berasa sakit sama sekali. Malahan fun banget karena para dokter yang menangani malah asik ngobrol ngalur ngidul. Sempat ketawa-ketawa lagi. Dr. Bill bahkan sempat-sempatnya mengambil foto anakku yang sedang IMD. 😅

Jahitannya bagaimana? Kualitas benangnya? Vertikal atau Horizontal?

Jahitannya oke, rapi.. Tapi please kalian jangan minta fotonya ya.. Haha..

Kualitas benangnya juga oke, benang langsung jadi daging lah yaa..

Letalnya Horizontal dibawah perut of course.. Siapa bilang pasien BPJS bakal di-pilih kasihkan.. Alhamdulillah..

Aku sangat amat menikmati proses persalinan anakku yang kedua ini dibanding yang pertama. Nilai plusnya adalah aku dapat secara langsung melihat anakku yang baru lahir dan melakukan IMD. Dan saat proses penyembuhan diruang rawat inap pun aku cukup puas. Walau yah.. Memang tidak ada yang sempurna.

Untuk ruang rawat inap kelas 1, menurutku ruangannya kurang memuaskan. Satu kamar untuk dua pasien dan hanya dibatasi dengan gorden pembatas. Bisa dibayangkan betapa terganggunya aku saat ada pasien baru masuk dengan suara yang ribut sementara aku punya newborn yang susah sekali tidur. Sempat lah ya nangis-nangis sendiri nahan mulut pengen negur pasien sebelah. Haha..

Alhamdulillah pada hari ke empat pasca operasi aku akhirnya dapat berjalan sendiri dan diperbolehkan pulang. Yah cesar memang memerlukan waktu penyembuhan yang cukup lama. Apalagi jika ingin ASI Ekslusif, menahan sakit cesar sambil menyusui itu luar biasa. Tapi jika dinikmati sambil menatap mata kecil si bayi… Sungguh, cesar itu tidak sehorror itu kok.

Baca juga: Pengalaman Menyusui Pasca Operasi Cesar

Banyak hal yang perlu aku syukuri walau gagal VBAC. Ya.. Something like..

Alhamdulillah bisa ke RS dengan dandanan lengkap.. Enggak dasteran.. 😂

Alhamdulillah bisa merencanakan hari lahir seperti artis juga, walau gagal karena operasiku ditunda karena kebanyakan pasien dihari yang diinginkan.. Haha..😂

Alhamdulillah bisa melahirkan tanpa rasa sakit, walau sesudah itu sakitnya please jangan ditanya.. Haha.. 😂

Alhamdulillah.. Walau melahirkan secara Cesar 2x tapi seluruh biayanya GRATIS.

Dan Alhamdulillah.. Walau aku adalah pasien BPJS tapi aku tidak merasa dipilih-kasihkan dengan non BPJS.. Karena pelayanannya memuaskan. 😊

Oya, terkait dengan gosip tentang melahirkan Cesar tidak dapat di klaim dengan BPJS itu memang benar kok. Tapi… Dalam kondisi begini..

1. Keputusan Cesar tidak darurat, maksudnya letak bayi baik-baik saja, ibu baik-baik saja, sangat memungkinkan untuk normal. Tapi Ibu mau Cesar karena ingin tanggal lahir anaknya cantik.. Atau ingin cesar karena enggak ingin merasakan sakit saat melahirkan.. Maka tentu saja operasi Cesar dengan BPJS tidak bisa. Karena memang prosedurnya tidak semudah itu ferguso.. 😅

2. Tidak ada rujukan dari faskes 1 atau dokter kandungan yang melayani saat kehamilan. Ini sangat diperlukan kalau memang Anda ingin melahirkan cesar dengan tanggal yang direncanakan. Harus ada rujukan dari Dokter yang menyatakan bahwa Anda benar-benar harus Cesar dengan kasus yang serius.

3. Anda punya kartu BPJS, kondisi darurat SC tapi iuran bulanannya gak dibayar. Ya of course lah enggak bisa.. 😅

Jadi, gosip bahwa melahirkan Cesar tidak ditanggung BPJS itu memang benar. Kalau ingin ditanggung maka keadaannya harus benar-benar darurat atau Anda punya rujukan dari faskes 1. Nah, dalam kasusku? Jelaskan bahwa keduanya adalah dalam kondisi yang memungkinkan. Yang pertama karena darurat ketuban pecah dini, yang kedua karena rujukan dari dokter terkait posisi bayi yang melintang.

Nah, itu dia cerita pengalamanku yang 2 kali operasi Cesar..

Terus, anak ketiga Cesar lagi?

*Please, jangan nanya kapan nambah anak dulu… Hormon aku lagi enggak stabil. 😂

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Wah, judulnya.. Apakah Anda sedang baper duhai penulis shezahome?

Ya, dibilang baper sih tidak juga. Hanya saja aku menulis ini untuk menjadi pengingat kepada diriku beberapa tahun mendatang. Pengingat bagi diriku sendiri yang mungkin saja beberapa tahun mendatang otaknya tidak sewaras sekarang karena berbagai faktor. Pengingat kepada diri sendiri bahwa ketika anakku beranjak dewasa kelak.. Pasti akan banyak sekali perbedaan pendapat yang akan menimbulkan konflik diantara kami.

Tentang Menghadapi Anak yang Beranjak Dewasa

Jadi, tulisan kali ini tentang apa?

Yup, its all about the future.

Tentang khayalanku menghadapi anak yang beranjak dewasa kelak. Memang, anakku sekarang masih tergolong dalam umur anak-anak. Namun, kurasa pengalamanku dengan Mama telah mengajari segalanya.

Sebagai anak yang paling sering bertengkar dengan mama diantara 3 saudara yang lain, tentu pahit manis pertengkaran sudah sering aku lewati. Dimulai dari saling menangis, mogok makan, hingga tidak mau berteguran dengan Mama. Ya, aku mengalami semua itu pada masa remajaku. Aku pernah menjadi anak pembangkang, bahkan pernah hampir dibilang durhaka oleh Mama.

Baca juga: Surat untuk Mama, Maaf Aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga Saja

Pengalaman mengajari segalanya. Walau aku adalah anak yang paling sering berkonflik dengan Mama, namun aku juga merupakan anak yang memiliki ikatan batin terkuat dengan Mama. Ketika Mama sedih, gelisah, bingung.. Mama akan lari mengadu padaku. Seakan aku adalah solusi yang dibutuhkan. Mungkin juga sih, karena aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Jadi, feeling kami lebih terasa nyaman dan nyambung.

Berikut adalah beberapa catatan untuk diriku sendiri dimasa depan ketika menghadapi anak remaja. Maka wahai diriku.. Ingatlah bahwa pernah menulis ini..

Ingatlah Bahwa Kita Pernah Muda

Belakangan, aku sangat sering dihadapkan pada konflik orang tua vs anak remaja. Ada yang mencaci dan mengutuk kelakuan anak remajanya. Ada pula yang membiarkan kelakuan anak remaja mereka begitu saja, menuruti segala kehendak mereka dengan alasan.. “Yah, aku dulu gak bisa begitu paling enggak anak bisa merasakan manisnya masa remaja.”

Ada pula yang tidak mau mendengarkan pendapat anak remajanya. Tidak memberikannya kesempatan untuk mengemukakan pendapat dengan alasan, “Mama dulu gak pernah nyahut sama orang tua kayak kamu ini loh! Kalo nyahut pasti langsung dilempar sambel mulutnya! Kamu kok berani sekali?”

Memang, ada hadis Nabi yang berkata bahwa sebagai anak kita tidak boleh sekalipun berkata ‘Ah’ pada orang tua maupun mengeluh. Sebagai seorang anak, kita diharuskan untuk selalu menaati perintah orang tua. Tapi, ingatlah kita akan pola asuh yang dianjurkan oleh Ali.

Jadikan Anakmu Raja hingga berumur 7 tahun..
Jadikan Anakmu Tawanan dari umur 8 sampai 14 tahun..
Jadikan Anakmu TEMAN dari umur 15 sampai 21 tahun..

Artinya sebagai orang tua yang baik, saat terjadi perbedaan pendapat dengan anak kita yang sudah beranjak remaja maka kita tidak boleh melakukan pembenaran kekanak-kanakan dengan alasan, “Gak boleh menyahut pada orang tua..” apalagi mengatakan bahwa mereka adalah Anak Durhaka, Bodoh, dsb. Ingatlah, setiap perkataan orang tua itu adalah Doa.

Kita harus mengingat dan reframing dengan keadaan mereka. Ingatlah, kita pun pernah muda. Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini, adalah wajar ketika remaja merasa penasaran akan dunianya.

Adalah wajar saat remaja mengemukakan pendapat realistisnya dari ilmu yang didapatkannya.

Adalah wajar saat remaja menentang hal yang tentu saja ia rasa benar. Apalagi jika pendapat tersebut dilandasi ilmu yang benar.

Yang harus kita lakukan sebagai orang tua kekinian adalah tidak menutup diri pada perubahan lingkungan, ilmu pengetahuan, dan selalu update pada era teknologi terkini namun tidak melupakan ajaran terbaik dari yang terdahulu.

Jadilah orang tua yang berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Kenapa? Agar kita benar-benar bisa menjadi teman yang baik baginya. Tidak sekedar menyalahkan segala opini yang keluar dari mulut lugunya.

Jika Kita Ingin Memiliki Anak yang Berempati, maka Kita Harus Memiliki Empati yang Lebih Besar.

Masih segar rasanya cerita tentang tantrum yang dialami Farisha dahulu. Tantrumnya memang amat sangat singkat sehingga hampir tidak ada yang tau bahwa Farisha pernah mengalami tantrum. Bahkan, banyak yang bertanya padaku, “Bagaimana bisa mengatasi tantrum pada anak dalam waktu sesingkat itu?”

Baca juga: Empati, solusi untuk tantrum anakku

Jujur saja, aku bukan penganut menjadikan anak Raja pada fase Farisha kecil. Aku penganut mengajarkan Farisha Rasa Kasihan. Mungkin, ini terjadi karena aku sempat terkena Post Partum Depression. Sehingga aku selalu menyuruhnya memahamiku. Aku membiarkannya melihatku dalam keadaan sedih saat berdua dengannya, tak jarang menangis sendiri. Untuk hal seperti ini, tentu saja tak boleh kalian tiru.

Baca juga: Mengeluh pada Anak, Yay or Nay?

Tapi karena hal ini pula, Empati Farisha secara prematur tumbuh. Ia mulai menyukai hal-hal yang berbau kesedihan dan memahami penyebabnya. Karena itulah ia tidak mengalami tantrum seperti anak-anak pada umumnya. Hingga kini, hal yang paling disenanginya adalah Mewarnai Obyek Kesedihan dan Menggambar Air mata. Ya, aku serius.

Aku tidak menganggap hal ini sebagai kelainan. Apalagi setelah aku berusaha bangkit melawan PPD. Empatiku pada Farisha perlahan-lahan tumbuh makin dalam. Dan saat ia mengalami berbagai konflik di sekolahnya, termasuk saat ia mulai ingin menjadi seperti teman-temannya, dibully, hingga keras hati yang mendadak muncul. Aku melakukan reframing yang mendalam padanya. Aku memeluk dan membacakan buku cerita yang serupa dengan kisahnya. Memberinya sebuah pembelajaran hingga akhirnya ia paham akan jalan pikiranku.

Begitulah hal yang seharusnya kita lakukan saat perbedaan pendapat dan konflik muncul. Empati kita pada anak harus lebih besar. Agar ia menghormati dan menyenangi kita, bukan membuatnya TAKUT dengan kita.

Karena akan ada masanya si kecil tidak semanis ini lagi dan kita harus mempersiapkan mental dimulai dari sekarang..

“Nikmatilah masa-masa berdua saja dengan anakmu yang masih kecil, karena kelak suatu saat nanti ia tidak akan semanis ini lagi.”

Aku sangat menyadari masa-masa itu PASTI akan datang. Apalagi dalam pergaulan sekarang, anak-anak terasa cepat sekali berubah. Mereka cepat sekali menemukan role mode yang baru. Karena lingkungan telah berubah. Perkembangan teknologi dan komunikasi menuntutnya untuk mencari jati diri dengan cara yang lain.

Dan setiap zaman ke zaman. Mode pencarian jati diri ini mengalami perubahan. Itulah yang harus kita sadari.

Zamanku dulu saja misalnya, aku sangat tergila-gila dengan Kpop dan Boyband. Memasang poster berbagai boyband di kamar. Bernyanyi tidak karuan dikamar mandi. Malas memakai Jilbab kesana kemari. Menghabiskan uang jajan untuk warnet dan majalah. Benar-benar masa remaja yang tidak produktif. Terlalu banyak mengkhayal dan lupa dengan dunia nyata. Ada yang sama? Haha..

Tapi itu semua ada penyebabnya. Pada zamanku misalnya, aku melakukan itu semua karena ruang pergaulanku dibatasi oleh mama. Tidak boleh berteman dengan ‘si anu’, tidak boleh keluar rumah kalau bukan karena ‘ini’, tidak boleh bla bla bla. Dan percaya atau tidak dari SMA hingga kuliah aku stuk berteman dengan jenis makhluk laki-laki di dunia nyata. Aku mengalami krisis percaya diri sehingga malas sekali ikut berbagai kegiatan di dunia nyata. Jadi, aku mencari pencarian kesenangan di dunia lain dengan alasan pencarian jati diri. Dan hingga saat ini dunia maya adalah candu. Thats Why Blog dan Sosial Media adalah bentuk ekspresi yang sudah menjadi candu untukku. Kadang aku berpikir bahwa Introvert itu dibentuk bukan natural ‘dari sononya’

Lantas Apa aku harus memperlakukan Farisha dengan sama?

“Tapi efeknya baik kan win? Kamu jadi anak baik-baik hingga dewasa dan menikah karena batasan-batasan yang diberikan oleh Orang Tuamu”

Ya efeknya memang baik. Tapi baiknya kebablasan. Hihi

I mean.. Kebablasan hingga aku tidak bisa berekspresi seperti apa yang aku mau. Merasa ketinggalan dengan perkembangan teman-teman yang lain. Tidak dapat menonjolkan bakat seperti apa yang aku inginkan. Karena setiap keinginan itu muncul, pertengkaran dengan Mama adalah hal yang pasti terjadi. Dan aku sangat membenci itu.

Aku tidak ingin Farisha tumbuh seperti itu. Sebagai anak yang terlalu penurut padaku karena ‘takut’. Aku ingin ia memiliki keinginan sendiri untuk langkah kedepannya dan aku ingin menjadi teman setia yang mengiringinya. Bukan menjadikannya boneka yang pasrah dengan dalangnya. Bukan pula menjadikannya untuk penakut padaku.

Maka hei diri sendiri, tolong ingatlah janji ini. Janji di masa depan nanti.

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Bicara tentang cita-cita, sebenarnya aku punya banyak cita-cita sejak kecil.

Pertama, aku ingin seperti Mama. Menjadi Guru TK yang cantik dan dicintai semua muridnya.

Kedua, aku ingin seperti Bapak. Menjadi Guru Fisika yang terkenal pintar dan tau segala hal. Bapak adalah kamus ensiklopedia yang bisa bicara.

Tapi, tidak ada yang tau dengan Cita-citaku yang ketiga. Cita-cita yang aku tahan hingga kini. Sebuah obsesi yang terbilang cukup konyol untuk ukuran umur emak-emak sepertiku.

Dan Cita-cita itu adalah…

Aku Ingin Sekali Menjadi Sailor Moon…

Please jangan ‘ketawa’. Itu akan membuatku sakit hati.. (walau sebenarnya aku ingin tertawa juga.. Haha). Konyol memang, emak-emak berusia 28 tahun dan sebentar lagi punya dua anak terobsesi menjadi sailor moon itu adalah hal konyol yang benar-benar aneh. 😂

Tapi jangan terlalu jauh membayangkannya. Apalagi membayangkan diriku yang sudah hamil 6 bulan ini memakai kostum sailor moon. Sungguh, akupun masih bisa ‘berkaca’. Karena itu sudah kubilang bukan? Bahwa ini adalah obsesi rahasia.

Sejak kapan cita-cita konyol ini ada?

Tepatnya mungkin ketika aku TK. Waktu itu masih tahun 1995, aku hanya mengenal sailor moon pertama kali lewat mainan boneka kertas yang saat itu populer dengan sebutan ‘Bipian’. Saat itu, aku tidak tau nama dari tokoh bipian itu. Aku hanya senang saja melihat boneka kertas dengan wajah cantik dan baju-baju yang sangat imut.

source image: paperdoll-indonesia.blogspot.com

Aku akhirnya mengenal bahwa tokoh yang ada dalam bipianku adalah tokoh Sailor Moon. Aku sendiri tau dengan kartun Sailor Moon ketika salah seorang tetanggaku memasang antena parabola. Zaman itu, menonton TV dengan saluran non TVRI saja sudah mewah di desaku. Apalagi jika ada RCTI, Indosiar, dll. Wah, satu-satunya rumah yang memasang parabola tentunya akan diserang para anak kecil untuk menonton kartun di hari minggu.

Sialnya, kartun Sailor Moon dan Dragon Ball saat itu tayang pada jam yang sama dengan saluran TV yang berbeda. Kalau tidak salah, Sailor Moon tayang di Indosiar dan Dragon Ball tayang di RCTI. Sebagai satu diantara 10 penonton, dimana aku adalah anak perempuan satu-satunya. Tentu saja aku kalah suara. Dan akupun sering pulang kerumah dengan berderai air mata. Hahaha.

Tapi aku tak pernah putus asa dengan imajinasi ‘tokoh-tokoh cantik’ pertamaku. Aku punya bakat menggambar sejak kecil. Jadi, aku membuat gambar-gambar sailor moon di atas kertas dari hasil tiruan pada bipian. Aku mengguntingnya, membuatkannya baju dan bermain dengan 12 sailor cantik kesayanganku. Bagiku, 12 Sailor Moon adalah Para Peri Imajinasi Pertama yang senang menolongku.

Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar tau Bagaimana Cerita Sailor Moon

Lalu, bagaimana cerita kartun sailor moon itu?

Well, sebenarnya aku tidak benar-benar tau bagaimana ceritanya. Hahaha.

Diatas sudah kuceritakan bukan? Bahwa aku tidak pernah benar-benar berkesempatan menonton kartun itu di masa kecilku. Mungkin pernah, hanya kilasan saat sesi iklan kartun dragon ball tidak berbarengan dengan iklan sailor moon. Itupun sebenarnya, aku tidak terlalu paham. Hanya saja aku mengetahui inti dari kartun sailor moon itu yaitu mereka adalah pembela kebenaran yang cantik. Sudah, itu saja. Haha

Aku Hanya Terobsesi untuk Bisa Menjadi Secantik Sailor Moon

Jika kalian bertanya siapa role mode pertamaku dalam berdandan? Maka Sailor Moon adalah jawabannya.

Ya ya.. Aku sekarang memang memakai jilbab. Tolong jangan mengernyitkan dahi seserius itu. Maksudku adalah role mode pertama saat aku masih kecil, bukan sudah besar begini.

Aku adalah anak kedua dikeluargaku. Kakakku adalah laki-laki. Mama dan Bapakku hanyalah PNS biasa yang saat itu berjuang jatuh bangun dalam membangun kesejahteraan ekonomi, sehingga aku tidak punya koleksi baju perempuan seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Ya, aku hanya mewarisi baju laki-laki punya kakakku saat aku masih kecil. Potongan rambut yang kumiliki pun seperti laki-laki. Saat itu, aku masih bingung kenapa mama mendandani anak perempuannya seperti laki-laki begitu.

Kadang, aku merasa minder dengan teman-teman TK disekolah. Mamaku punya rambut panjang dengan dandanan yang selalu komplit. Teman-temanku bilang, aku dan mamaku sama sekali tidak mirip. Aku terlihat jauh lebih mirip dengan Bapakku karena potongan rambut dan kulitku yang exotis. Dalam hati kecilku, aku selalu menahannya dan ingin sekali bertanya pada Mama, “Kenapa aku tak boleh memanjangkan rambutku?”

Aku Sang Anak Itik Jelek yang Buruk Rupa, begitulah aku memandang diriku sendiri saat masih kecil.

Sampai suatu hari aku bertemu Sailor Moon dan akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Mama tentang ‘rambutku’. Dan kalian tau apa jawaban Mama?

“Rambut kamu kalau dipanjangin Mama susah nyisir dan kepangnya..”

Ya, hanya begitu. Aku akhirnya menyadari bahwa mama punya seribu kesibukan dipagi hari. Mama yang berjualan kue, mama yang menyiapkan sarapan, mama yang menyiapkan bahan ajar di TK, mama yang memandikanku, segalanya serba mama. Lalu, kenapa aku harus protes hanya karena potongan rambutku yang seperti laki-laki?

Sailor Moon bisa mengepang rambutnya sendiri. Dan akupun sejak itu bertekad bahwa aku bisa merawat rambutku sendiri tanpa mama. Sejak aku bisa menyisir dan merawat rambutku sendiri, mama memperbolehkanku untuk memanjangkan rambutku. Dari kelas 1-6 SD, rambutku sangat jarang dipotong. Aku membiarkannya terurai atau dikepang dua layaknya Sailor Moon. Moment-moment indah itulah yang membuatku mencintai diriku sendiri sebagai perempuan.

Suatu hari, mama pernah pergi kejawa untuk ‘penataran’ dan mama bertanya padaku, “Winda mau minta belikan apa kalau pulang nanti?”

“di Jawa ada apa Ma?”

“Ada apa aja, dan harganya enggak, semahal di kalimantan..”

“Winda mau minta belikan baju Sailor Moon..” Kataku riang.

Satu Minggu kemudian, mama datang dengan wajah penuh senyuman dan memberikanku oleh-oleh. Aku langsung tak sabar membukanya. Dan… Kalian tau apa isinya?

Adalah Baju dengan Gambar Sailor Moon..

Bukan Baju yang dipakai oleh Sailor Moon..

Meski agak kecewa, aku berusaha membalas senyum Mama dengan senyuman yang tak kalah lebarnya kemudian berkata, “Makasih Mama.. Sayang Mama.. Mmmuach..”

Ya, dulu aku sama sekali tidak malu mengucapkan ‘Terima Kasih’ seekspresif itu. Hihi…

Itu adalah obsesi masa kecilku. Ingin sekali berpenampilan layaknya Sailor Moon. Ketika sudah besar, aku mulai merasakan perasaan malu dan mengenal aurat jauh lebih baik. Namun, sebagai seorang perempuan tentu saja sebenarnya kenangan keinginan itu masih ada.

“Masih Pantaskah aku memakai baju Sailor Moon di rumah saja untuk menyenangkan suamiku?”

Ya, itulah yang masih ada dipikiranku. Hahaha.

Itu adalah Obsesi Rahasia yang kini bukanlah lagi Rahasia. Dan aku senang menceritakannya.. 😊

Tulisan ini dibuat untuk #FBBCollaboration bulan November dengan tema Kartun Favorite di masa kecil.

Realita dibalik Aktivitas IRT yang konon katanya ‘Enak’

Realita dibalik Aktivitas IRT yang konon katanya ‘Enak’

source image: momspresso.com

“Kamu sih enak, suaminya mapan. Jadi bisa aja milih jadi IRT. Lah, aku? Suamiku pemasukannya cuma ‘segini’ mana cukup..”

“Enak ya, bisa masak homemade tiap hari. Aku tiap hari beli mulu. Ga punya waktu..”

“Enak ya, bisa ngeblog, bisa endorse barang-barang gratis. Kalau aku gak punya waktu luang untuk itu. Pas sampai rumah ngurus kerjaan rumah lagi.. Duh, gak punya me time..”

Dst.. Dst…

***

Pastinya, kita yang sudah memutuskan menjadi IRT tulen pernah mendengar kata-kata diatas ya. Dipuji-puji ‘enak’ sama para Ibu pekerja. Dipuji ‘enak’ karena punya banyak waktu. Dipuji ‘enak’ karena bisa mendidik anak secara full time.

Biasanya, kalau aku mendengar hal begini sih… Ya.. Aku ‘Aamiiin’ in aja. “Alhamdulillah,” kataku sambil nyengir, kibas jilbab, kedip mata (pencitraan emak-emak makmur pada umumnya..😅). Padahal..

Padahal.. Padahal.. Padahal..

Menurut aku gak ada yang namanya pilihan ‘enak’. Mau jadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu Pekerja pasti deh ya ada sisi ‘enggak enak’ nya. Iya, apalagi mamaku sendiri juga adalah Ibu Pekerja. Sedikit banyak aku tau banget kalau jadi Ibu Pekerja itu sulit, apalagi manajemen waktunya, mengelola emosi dikala kelelahan dsb.

Tapi herannya aku, kenapa jadi IRT sejati itu selalu rentan dengan sebutan ‘enak’, ‘santai’ dan ‘nganggur’. Halo..? Jadi IRT sejati itu gak seenak itu kali. Pilihan jadi ‘IRT saja’ itu gak semudah yang kalian bayangin. Apalagi nih.. Apalagi kalau pemasukan sebenarnya kurang.

Tapi adaaa aja yang ikhlas dengan kondisi seperti itu. Ada? Ada, banyak. Aku punya banyak kenalan. Kalian kira jadi IRT tulen enak? Bisa leyeh-leyeh? Nganggur?

source image: pinterest

Begini nih contoh realita yang harus dihadapi IRT tulen dengan pilihannya:

1. Harus Jadi Mak Ngirit

source image: popsugars.com

Siapa bilang pilihan menjadi IRT itu maka kerjaannya cuma leyeh-leyeh jaga anak plus belajar parenting?

Bisa jalan-jalan setiap hari sesuka hati?
Bisa pesan makan enak terus?
Bisa perawatan setiap hari?
Bisa beli apa saja yang diinginkan?

Iya, itu kalau kamu kebetulan ‘horang kayah’ . Sudah membentuk karir rumah dari sononya atau punya suami yang kerjaannya menghasilkan uang banyak.

Tapi tahukah kalian bahwa tidak sedikit Ibu yang memilih menjadi IRT saja meskipun tau bahwa bulanannya tergolong pas-pasan. Bahkan kurang.

Demi apa? Kenapa gak kerja aja?

Demi keluarga, demi anak, demi kesejahteraan suami. Karena itu pilihannya.

Karena setiap kondisi tiap Ibu itu BERBEDA.

Ketahuilah banyak Ibu yang memilih hanya menjadi Ibu Rumah Tangga saja walau keadaannya demikian. Maka, tidak heran kalau kebanyakan dari golongan Ibu-ibu yang bernasib seperti ini biasanya ‘ngirit’.

Contoh kelakuan mak ngirit:
1. Memakaikan clodi pada anak demi ngirit, lumayan selisihnya dengan memakaikan pospak setiap hari. Selisihnya bisa buat beli cemilan menyusui dan makanan lainnya.
2. Mengorbankan budget kecantikan. Saat remaja dulu, bisa jadi mak ngirit memiliki budget 200000-300000 untuk perawatan kecantikan. Tapi sejak menjadi IRT, ia hanya berani memakai 100000 untuk biaya kecantikan.
3. Selalu homemade. Ya, makanan homemade, skincare homemade, mainan anak homemade. Butuh waktu memang untuk membuatnya. Apa? IRT banyak waktu? Enggak men, apalagi IRT yang gak punya pembantu plus menyusui. Melakukan semua serba homemade itu.. Susah. Belum lagi ada saja yang nyinyir, “kok ga dijual aja kuenya?” (satu resep saja butuh waktu khusus membuatnya dan sekejap menghabiskannya, bagaimana bejualan? 😂)

Jadi, jika bertemu dengan kelakuan mak ngirit seperti diatas: males beli jajan diluar, males ngajak anak keluar karena pospak mahal, cantik udah mulai berkurang.

Please lah, jangan diejek pula emak itu:
Ngirit banget, pelit, bla bla. Kalian gak tau betapa sulitnya mengatur keuangan dengan budget pas pasan tapi selalu ingin anak dan suaminya bahagia. Terutama urusan perut dan kasih sayang.

Mak ngirit itu adalah tanda kasih sayang. Karena ia tau masa depan itu sulit.

2. Kurang Sosial

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa profesi IRT zaman now mungkin akan menjadi kurang pergaulan. Kenapa?

Kerjaannya di rumaah terus. Jarang keluar. Bahkan untuk main HP aja mungkin tidak sempat, apalagi buat yang punya bayi. Belum lagi yang kena perfeksionis sindrom dan menganggap HP barang haram. Ada loh yang begini.

Akibatnya? Stress, kurang sosial, kurang piknik. Kurang optimalisasi passion karena keluar dari lingkungan kerja.

Noh, siapa bilang enak? Tanya saja banyak kok beberapa emak pekerja yang memutuskan untuk resign malah tiba-tiba bisa kangen dengan lingkungan kerjanya. Tiba-tiba merasa kesepian, kurang teman dsb.

3. Harus Jadi Mak-Mak Serba Bisa

Derita IRT gak punya ART tapi keuangan ngepass.. Yaitu, harus jadi mak-mak serba bisa. Bisa masak, bisa jadi nanny, bisa jadi tukang bersih-bersih, bisa jadi tukang loundry. Demi apaa? Demi sejahteranya kebutuhan rumah tangga tanpa pemborosan. 😂

Kadang nih ya, kadang loh.

IRT itu bisa aja ngiri sama Ibu Pekerja. Apalagi yang punya tenaga tambahan untuk rumah tangganya. Bisa punya yang lebih untuk dirinya sendiri. Tapi eh tapi.. Malah kadang-kadang Ibu pekerja yang bilang, “Aduh, kamu enak banget. Bisa masak mulu..”

“Eh, iya… Enak.. Jadi makanan sehat terus ya..” (sambil ngelap keringet n ngupas bawang.. 😂)

5. Kami yang memilih menjadi IRT tulen, bisa jadi bukan karena ‘Suami Kami sudah Mapan’

Kalo tau begitu? Kenapa jadi IRT dong. Udah tau kecapean ngatur bulanan, udah tau agak menderita, udah tau susah.

Eh, mending sih kalo cuma begitu. Coba begini, noh.. Tau begitu kenapa Nikah Dini? Kamu MBA? Itu pilihanmu sendiri lah.. Gak usah ngeluh.. Hahaha..

(sabar mak, kalo ada yang nanya gini sabarrr.. Bawa ngulek aja.. Ngulekkk..😂)

Baca juga: Kamu MBA? Kok nikah Muda?

Kalau ditanya kenapa pilihanku jadi IRT? Gak kerja?

Karena Farisha muncul sebelum aku punya program kerja. Aduh, please jangan suruh cerita lagi ya. Udah banyak post tulisan tentang ini di blog ini. Aku sampai bosan ceritanya. Apalagi pembaca rutinnya. Makin bosan (emang ada yang rutin? Haha)

6. Enggak punya Uang Ekstra? IRT tulen harus Apa?

Apa harus pakai jurus ngirit selamanya?
Kok bisa cukup sih? Sampai bisa beli ini itu padahal pemasukan rutin bulanan cuma ‘segini’.

Itulah yang namanya keberkahan.. Beb..

Kalian mungkin tidak percaya hal ini. Dan nyinyir, “Gak mungkin segitu cukup..”

Kenyataannya? Cukup.

Sekedar cerita (lagi) bahwa pemasukan rumah tangga awalku hanya 1 juta, itu paling banyak loh. Aku pernah hanya punya jatah jajan 500rb sebulan bahkan 300rb sebulan dalam kondisi punya bayi. Tapi.. Emang sih waktu itu hidup sama mama dan mama mertua. Hahaha.. *ditamplok kulit pisang.

Itulah, awal perjalanan hidup. Mana ada yang langsung sukses, langsung punya rumah gede plus isinya dsb. Sakit dulu lah.. Sakittt… Aku bahkan sampai kena baby blues dan berlanjut ke PPD. Tapi usaha itu benar deh.. Gak pernah mengkhianati hasil.

Jadi? Aku punya usaha sampingan untuk pemasukan rumah tangga?

Enggak.

Tapi dari jungkir balik kehidupan dan ‘keikhlasan’ seorang istri itulah maka rejeki suami jadi lancar. Thats the power of Emak-emak yang kalian enggak tau. The power of Emak-emak yang kalian tuh gak liat benar-benar. Walau terlihat santai leyeh-leyeh dan punya banyak waktu.. IRT tulen sesungguhnya meluangkan hampir seluruh waktunya untuk pengorbanan.. Yang kemudian berujung pada keberkahan dan rejeki yang diturunkan lewat suaminya. Kalian mengerti hal ini? Udah, gak usah pakai ilmu logika, gak bisa nyantol. Haha

Baca juga: 10 jurus ampuh yang harus dicoba jika jatah bulanan kurang

Begitupun dengan penghasilan ngeblog dan menjadi Buzzer dadakan. Awalnya, aku ngeblog dan main instagram untuk kesenangan saja. Yah, siapa sangka bukan dengan awal yang biasa saja ini aku akhirnya bertemu dengan komunitas ngeblog yang oke dan membawaku pada berbagai job sampingan yang bisa menambah pemasukan rumah tangga. Thats the power of emak-emak yang enggak keliatan selanjutnya. Please jangan dipikir-pikir gimana ceritanya kok bisa tulisan curhat begini dapet duit? Gak usah pakai ilmu logika, pusing nanti. Haha.

***

Yah, itu dia realitas aktivitas IRT tulen yang konon dibilang ‘enak’, suami ‘mapan’ dan bisa jalan plus jajan kesana kemari. Semuanya gak langsung tiba-tiba begini. Perlu perjuangan.. Sakitttt banget awalnya. Jadi, please stop ngiri sama kesan keenakannya jadi IRT tulen. Setiap Ibu punya tantangan berbeda. Mau itu working mom atau IRT tulen.. Mereka sama-sama kerja kok. Sama-sama bisa menghasilkan kok. Sama-sama capek kok. Sama-sama bangun pagi kok.. N tidur belakangan di malam hari. Sama aja. Sama.

Apapun pilihannya, semua ditempuh seorang Ibu untuk membahagiakan orang yang disayanginya. Itulah Ibu.

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

source image: parentsmagazine.com

Tidak terasa umur kandunganku kini sudah 5 bulan saja. Perasaanku mulai girang jika mengingat awal bulan februari nanti akan lahir bayi baru sebagai pengisi kelengkapan kebahagiaan bagiku, suamiku, dan tentunya anak pertamaku Farisha. Kini, Bayi mungil didalam rahimku mulai bergerak, menendang-nendang bahkan sesekali berdenyut-denyut.. Menumbuhkan seribu rasa cinta di hatiku sebagai Ibunya.

“Tak sabar rasanya ingin melihat kehadiranmu didunia..”

Tapi..

Tapi aku mengakui, mimpi buruk itu kadang selalu datang. Mimpi dimana aku menangis di tempat tidur sambil menyusui anakku. Mimpi dimana aku meneriaki Farisha kecil dulu. Mimpi dimana aku menjadi monster, membuat seluruh keluargaku ketakutan. Mimpi dimana aku membuat Farisha menangis, menjadi gagap, dan gemetar.

Mimpi dimana aku benar-benar berada dalam posisi tersudut. Merasa tidak pantas menjadi ibu. Merasa berdosa menikah muda. Merasa berdosa langsung hamil.

Akankah aku menjadi seperti dahulu lagi jika memiliki bayi kecil_lagi?

Sungguh, aku berharap itu tidak lagi terjadi padaku.

Aku Berharap Baby Blues dan PPD Tak Pernah Singgah Pada Diriku Lagi

Memiliki bayi pernah membuatku tidak bahagia.

Saat itu Aku adalah Ibu Muda yang baru berumur 22 tahun. Aku menikah saat kuliah semester akhir dan langsung hamil. Kuakui, dulu aku tidak menginginkan bayi ini begitu dini singgah dikehidupanku. Cita-citaku masih panjang. Aku ingin bekerja, ingin mengoptimalkan passion, ingin membahagiakan orang tua.. Seperti remaja fresh graduate pada umumnya.

Tinggal di rumah Mama dengan status LDR dengan suami, merasakan betapa tidak nyamannya hidup dengan bantuan orang tua padahal dengan status menikah. Ditambah beberapa bulan kemudian membesarkan anak di pondok mertua indah dengan berbagai hal yang berkebalikan dari kehidupan remaja.. Mumbuatku stress, shock, dan ingin kembali memutar waktu. Saat itu, hal yang kuharapkan adalah ‘Menunda Waktu untuk Menjadi Ibu’

Suami yang merasa bahwa tinggal di rumah mertua tidak membuatku bahagia akhirnya memutuskan untuk membeli rumah secara kredit. Kupikir itu bagus. Namun, aku harus berhadapan dengan rintisan ekonomi yang terbilang tidak mudah. Suamiku hanyalah PNS biasa dengan gajih yang terbagi untuk Ibunya dan Saudaranya. Ditambah dengan kreditan rumah? Bisa dibayangkan berapa uang sakuku tiap bulan.

Awalnya aku berusaha sabar. Sebisa mungkin mengatur keuangan rumah tangga dengan pemasukan seadanya. Bahkan seingatku dulu, dalam sebulan aku hanya satu kali membeli pospak. Selebihnya aku memakaikan clodi untuk anakku. Aku juga tak pernah jajan diluar, aku selalu memasak. Aku tak pernah membeli perawatan berlebihan kecuali bedak mars dan pelembab serta 1 batang lipstik untuk 1 tahun. Aku mencoba bertahan. Sampai suatu hari aku mendengar ‘ceramah’ dari salah seorang anggota keluarga. Ceramah yang intinya mengklaim bahwa aku termasuk boros. Ya, hanya karena ia melihat penampilanku ‘mungkin’ terlihat bagus dibanding ’emak sudah punya anak pada umumnya’.

Mungkin sejak itu aku suka meledak-ledak. Mulai suka membentak keluargaku. Mulai suka menangis sendiri. Mulai merasa bukan Ibu yang sempurna. Ditambah menu masakanku selalu kalah dibanding masakan cicipan klasik di lidah suamiku dulu. Aku tak tahan dengan ‘nyinyiran’. Ditambah sikapku yang tak bisa membela diri dan selalu diam. Ditambah sosial mediaku yang selalu diadukan.. Membuatku tak bisa membuka diri dan mengadu dengan benar.

Semuanya meledak-ledak begitu saja.

Baca juga: Mom War dan Perfectionis Sindrom adalah Penyebab Stress pada Ibu

Suamiku kemana?

Ingat, ekonomi kami sedang merintis. Artinya, suamiku sibuk berkerja siang-malam. Ketika datang kerumah ia kelelahan dan tertidur. Tak ada lagi ruang yang benar untukku mengadu. Hanya satu ruang itu. Yaitu memarahi anakku.

Its Okay, Itu Hanya Masa Lalu

Alhamdulillah sekarang kondisi keluarga kami sudah jauh lebih baik. Farisha sudah besar dan pintar. Suamiku telah diangkat menjadi Dosen Tetap, pekerjaan sampingannya tetap berjalan, dan aku telah menyalurkan passion gado-gado yang kumiliki ke dalam blog ini. Segalanya terasa lengkap.

Aku juga telah memperbaiki kesalahan masa laluku kepada Farisha. Sejatinya, aku tau bahwa lubang itu tak akan benar-benar sembuh. Tapi aku telah membuatnya tertawa lagi dan menjadi anak ceria pada umumnya. Ia berkembang jauh lebih baik dibanding harapanku. Ia memiliki bakat spesial dan ocehan yang sangat lucu.

Baca juga: Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si Kecil dan Caraku memperbaikinya

Masa lalu telah mengajariku segalanya, bahwa untuk mencegah terjadinya Baby Blues dan Post Partum Depression maka sangat diperlukan pemahaman dari keluarga dan lingkungan sekitar. Berikut ini adalah cara-cara agar Ibu tidak stress pasca melahirkan:

1. Ajak Suami untuk Berperan dalam Membantu Kegiatan Rumah Tangga

Suami adalah Raja.

“Layani laki bujur-bujur mun handak parajakian..”

Artinya: Layani suami dengan sebenar-benarnya agar hidup penuh rejeki.

Banyak para emak yang masih tidak mengerti dalam arti pelayanan yang benar dan menguras dirinya terlalu dalam untuk serba bisa dan sempurna dalam rumah tangga. Termasuk mengerjakan segalanya serba sendiri dan meng’haram’kan suami ikut campur. Walau memiliki bayi kecil yang selalu menangis.

Aku bahkan pernah disindir saat memiliki anak pertama dulu, “jangan sampai laki membasuhi anak *ah*ra kena bini harat lawan laki.”

Artinya: Jangan sampai suami ikut membersihkan ‘pup’ anak, nanti jadi istri durhaka.

Ya, aku tinggal dilingkungan dengan omongan ketus seperti itu. Hingga anakku berumur 2 tahun, tak pernah sekalipun aku menyuruh suamiku untuk berperan dalam hal ini. Termasuk saat aku kepasar, tidak ada yg mau menggantikan popok si kecil yang basah dan bau.

Aku terlalu takut untuk terlihat minta tolong.

Hingga suatu hari aku pun tak tahan dan menumpahkan segala kekesalanku. Bagaimana tidak sukanya aku dengan pola pikir ’emak zaman old’ yang kaku. Tentang bagaimana seharusnya suami ikut membantuku, bagaimana seharusnya ia maklum dengan hasil masakanku dan bagaimana seharusnya kami membagi tugas bersama. Cukup satu malam untuk membuatnya mengerti dengan hal itu. Dan aku berpikir, “Andai sejak dulu aku curhat dan terbuka mungkin tidak akan seperti ini..”

Jangan pernah sungkan meminta bantuan kepada suami. Please, bikin anak berdua. Masa yang membesarkan cuma sendiri?

2. Jika memiliki Anak Pertama, Sedini Mungkin Ajari Ia untuk Menyayangi dan Memperhatikan Adiknya untuk menghindari Sibling Rivalry

source image: drgailgross.com

Konon, jika kita memiliki anak kedua maka anak pertama akan senang awalnya namun pada suatu moment ia akan merasakan perasaan iri dan tidak diperhatikan. Pada saat inilah anak pertama akan mulai mencari sensasi pada Ibunya agar diperhatikan kembali. Moment ini bernama Sibling Rivalry.

Sibling Rivalry akan membuat emak stress jika anak pertama tidak bisa diajak bekerja sama dalam ikut menyayangi adiknya. Biasanya pemicu utamanya adalah lingkungan sekitar juga yang membanding-bandingkan anak pertama dan kedua di depan anak pertama sendiri. Contoh:
“Wah, adek kamu putih cakep.. Kok kamu item?”
“Kayaknya adeknya mirip mamanya nih, kalo kamu mirip bapak ya.. Cantik deh adeknya..”
“Nanti kamu gak disayangi lagi deh.. Hahahaha..”

Memang, sekilas kalimat diatas mungkin maksudnya adalah ‘bercanda’. Tapi bagi anak kecil, kalimat itu cukup menyakiti hatinya dan sudah sangat cukup untuk menumbuhkan bunga-bunga rasa iri. Ah, entahlah bagaimana cara mencegah orang-orang untuk bercanda seperti ini. Ini sering terjadi dan yang repot pada akhirnya adalah emaknya sendiri. 😑

Bayangkan bagaimana repotnya kalau anak kedua menangis tapi anak pertama malah ikut menangis meminta perhatian juga? Jujur saja, ini lebih horor dari pada baby blues dengan satu anak. Untuk menghindari fase horror ini pula aku memberi jarak 5 tahun dalam kehamilan kedua. Dengan begitu aku dapat memberi pemahaman kepada anak pertama karena ia sudah sedikit besar dan bisa mengerti.

3. Hindari berteman dengan orang-orang yang ‘suka nyinyir’

Mommy War saat punya anak masih bayi? Bisa saja.

Walau disini masih terikat dengan adat kental bahwa Ibu dan bayi tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, namun adaaa saja emak-emak yang hoby menengok dan nyinyir. Haha. Bener gak?

Contoh:

“Ih, payudaranya kok kecil. Ada gak susunya tuh?”

“Kok anaknya gak diayun? Kamu kerjanya gimana? Masa disamping bayi aja?”

“Loh, gak masak kah?”

“Rumah kok berantakan, cucian aja masih berendam kamu malah tidur..”

Dst.. Dst..

Punya tetangga kepo begini? Gak usah dibukain pintu.. 😂

Punya mertua begini? Tinggal ditempat mertua? Kaburr.. 😂

Yah kok solusinya gitu amat?

Ya bagaimana lagi? Perasaan wanita itu sudah terlahir sensitif dari zaman megantropuspaleojavanikus (nama macam apa ini.. 😂) Ditambah baru melahirkan, ditambah kecapean, ditambah kelaparan.. Perasaannya itu sedang dalam mood krisis sensitif.

Pas ditengok orang sih maunya tuh orang muji-muji si bayi kek.. Malah nyinyirin emaknya.. Noh.. Kelaut aja sono kalo mau nyinyir.. 😂

Sumvah, blog macam apa ini.. Haha

4. Penuhi ‘Hak Me Time’ milik Ibu

Semua Ibu berhak bahagiaa..
Semua Ibu berhak punya pilihan. Termasuk itu menggeluti passion yang disenanginya. Betul?

Tidak sedikit para Ibu yang terkuras passionnya karena kegiatan rumah tangga, merelakan cita-citanya begitu saja demi lengkapnya kebutuhan jasmani dan rohani anggota keluarga. Hal ini sudah seharusnya? Begitulah pekerjaan wanita? Iyes, itu emak zaman old.

Emak zaman old enggak punya passion warna warni seperti emak zaman now yang terawat dengan status pendidikan tinggi. Emak zaman now akan sangat merasa berdosa jika ilmu yang telah ia miliki tidak tersalur dengan baik. Ilmu tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya dan penyaluran passion dari ilmu tersebut adalah hal yang sangat penting.

Jadi, biarpun kita sebagai ibu sudah memiliki anak bayi dan mengorbankan 90% hidupnya untuk itu.. Paling tidak, sisakan 10% hidup untuk diri kita sendiri. Sisakan kebebasan untuk memilih dan berekspresi. Itulah sederhananya makna me time produktif ala Emak Zaman Now.

Baca juga: “The Power Of Emak-emak zaman now itu BEDA”

5. Isi Sebagian Me Time dengan Menguatkan Spiritual Ibu

Jangan pernah lupa untuk menguatkan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sempatkan berdoa dan bersujud sedikit saja. Karena sudah fitrah manusia untuk menyerahkan diri dan bersujud kepada-Nya dalam bersyukur dan meminta pertolongan.

Berwudhu, beribadah dan melantunkan ayat suci adalah cara manjur untuk mengisi kesejukan dalam hati kita. Isilah sebagian me time yang kita miliki dengan hubungan kepada Sang Pencipta. Karena itu adalah kebutuhan rohani kita yang tidak bisa ditinggalkan.

6. Hindari Menjadi Ibu yang Serba Sempurna

source: the average mommy

Menjadi sempurna memang suatu kebanggaan. Rumah bersih dan rapi, makanan selalu homemade, anak tidak rewel, baju sistem setrika semua, rajin membuat bahan DIY untuk kecantikan. Tapi, saat kita memutuskan untuk menjadi serba sempurna.. Tanyakan kembali pada diri kita, sudah benarkah hal yang kita lakukan?

Ya, sudah menjadi sifat alami seorang Ibu dan Istri, jika ia sudah mencintai maka ia terbiasa untuk kebablasan melayani dan mengabaikan kewarasannya sendiri. Ditambah dengan lingkungan yang menuntut segalanya serba sempurna maka stress pada Ibu sangat rentan terjadi. Solusinya, lepas salah satu standar kesempurnaan dan lakukan ‘me time’ dengan waktu luang yang jarang ada tersebut.

Bagiku, melepas standar kesempurnaan ini sangat manjur untuk meredakan stress. Dulu, aku penganut homemade garis keras. Disamping karena faktor ekonomi, hal ini juga faktor kebiasaan dari lidah suami. Apalagi, jika berkunjung ke tempay mertua aku selalu ditanya, “Makan apa hari ini?” atau “Masak apa di rumah?”

Rasanya itu… Eeeeng…

Baca juga : Tentang Pengalaman Jatuh Bangun Belajar Memasak

Tapi sekarang? Aku masih homemade memang. Tapi aku sudah termasuk cuek saat ditanya hal-hal seperti itu. Kalau sedang malas atau tidak sempat masak karena jadwal yang tiba-tiba padat, jawab saja sejujurnya. Haha.

Karena memberi standar kesempurnaan pada setiap pekerjaan Ibu itu menyakitkan.

7. Jangan Biarkan Perut dalam Keadaan Kosong saat Menyusui

Siapa yang gampang marah saat dalam keadaan lapar?

Kurasa semua juga gampang marah ya, kecuali sedang berpuasa.. Hihi.. Tapi, jangan pernah biarkan Ibu Menyusui dalam keadaan kelaparan dan harus mengerjakan setumpuk pekerjaan tanpa adanya pasokan makanan yang ‘ready’ di rumah. Apalagi, saat sedang kelaparan begitu anggota keluarga malah meminta request makanan homemade yang susah di buat. Yaaa.. Something like.. Ikan Panggang yang dipanggang memakai kayu bakar maupun ayam geprek krispi dalam durasi setengah jam.

Rasanya itu…. Eeeeeggggh…!!!

Mengertilah Ibu Menyusui itu sangat kelaparan, ia tidak berpikir lagi untuk menyempatkan diri memasak dalam waktu yang lama. Ia bahkan senang jika mie instan saja sudah dapat hadir walau tanpa telur di kamarnya. Ya, tidak perlu yang mahal-mahal. Hanya meminta perhatian, Yes?

Syukur-syukur kalau dibawakan pizza sepulang kerja…

Rasanya itu.. Meleleh… Klepek klepek dan langsung jatuh cinta lagi..

Hahaha

8. Jangan Menutup Diri dari Komunitas

Setiap Ibu butuh ruang sosial untuk dapat tetap eksis dan merasa ‘tidak menghilang’. Karena itu, adanya komunitas sangat diperlukan buat Ibu.

Tidak perlu komunitas ngumpul-ngumpuk secara nyata. Zaman now, apalagi buat Ibu-ibu yang tinggal di komplek perkotaan sangat sulit untuk menemukan teman nyata yang ‘sreg’, betul? Ya, zaman sekarang menjadi salah satu member di Grup WA saja sudah menyenangkan loh. Apalagi jika member dari grup tersebut menyenangkan dan saling mendukung. Komunitas seperti ini sangat diperlukan untuk mengisi ruang sosial.

Kadang, saking sibuknya Ibu. Ia sampai lupa dengan kebutuhan sosialnya. Tau-tau rasanya menghilang saja. Aku pernah merasakan hal ini, rasanya sangat sulit untuk dapat bergabung kembali. Maka, sebisa mungkin sesekali bertegur sapalah walau sebatas like dan say ‘Hi’.

9. Mengeluhlah Jika itu Membuat Ibu Merasa Lega

Well, point ini masih menjadi pro dan kontra.

Konon, katanya seorang Ibu harus dapat menjaga aib keluarga. Tidak boleh mengeluh dan mengadu. Apalagi di sosial media.

Terus, kalau si Ibu ini kerjaannya di rumah saja tanpa teman curhat gimana dong? Suaminya gak ada gimana dong? Orang tuanya bukan pendengar yang baik gimana? Mertuanya suka nyinyir gimana? Lari kemana tuh Ibu? Curhat sama kucing? Gak suka kucing gimana dong?

Banyak loh, Ibu-ibu stress yang terancam bunuh diri bahkan membunuh anaknya karena menumpuk-numpuk beban kesedihan tanpa pernah curhat sekalipun.

Baca juga: Kasus-kasus Pembunuhan Anak Oleh Ibunya Sendiri karena Post Partum Depression

Curhat itu perlu. Berekspresi itu perlu. Jika kita tidak dapat menjadi pemberi solusi terbaik, setidaknya.. Jadilah pendengar yang baik. Karena pada titik jenuh dan stress seorang ibu, ia hanya butuh pelampiasan untuk mendengarkan ‘sampah’ yang wajib ia buang.

***

Aku pernah amat sangat menyesal telah membuat anakku menjadi pelampiasan ketidak-warasanku dahulu. Karena itu, semoga cara-cara yang telah kutulis ini mengingatkanku bahwa, “Jadilah seorang Ibu yang bahagia. Karena Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaannya untuk orang-orang yang ia sayangi..”

Tidak Sabar menunggumu, Anakku yang Kedua. Mama tidak menjanjikan apa-apa untuk membuatmu lebih baik nantinya.

Tapi mama berjanji akan menjadi Bahagia karena Kelahiranmu.

IBX598B146B8E64A