Browsed by
Category: Motherhood

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Topik yang Never Ending

“Gak bosan dirumah aja? Kalau menurut saya jadi perempuan itu tuh harus mandiri minimal secara finansial karena (bla bla bla)”

“Aduh, makanya saya gak mau nitipin anak gitu. Kebayang ga sih pembantu sekarang ga bisa dipercaya. Makanya saya milih ga kerja aja karena ya (bla bla bla)”

“Waduh, enak ya melahirkan cesar. Ga sakit krn dibius.. Kalo saya kemarin nih.. (bla bla)”

“Waduh, anak umur segitu udah dikasih sufor? Gak takut anaknya nanti (bla bla). Sufor itu begini loh, begitu loh. Kalau saya dulu diusahain dong ya bisa ASI. Saya sampe (begini-begitu) supaya anak bisa ASI ekslusif. Karena begini loh, ASI itu ya (bla bla)”

“Aduh, punya anak 1 plus gak kerja aja pake ART. Orang kayah. Kalo saya sih biar punya duit ya tetep aja sayang karena kita ga tau apa yang terjadi di masa depan kan bisa aja nih nanti (bla bla)”

“Maaf ya, kalau aku suka miris liat emak-emak yang anaknya dikasih makan sosis, nuget, telor dadar. Muter itu-itu aja. Buat aku sih emak begitu namanya emak pemalas.”

“Anak umur 3 tahun udah di sekolahin. Apa sih yang ada dipikiran emaknya? Gak takut anaknya nanti kena sindrom bosen sekolah? Kata psikolog gue nih anak umur segitu itu (bla bla). Ya, kalau aku sih maunya homeschooling aja.”

“Jadi Istri plus Ibu itu harus bisa jaga penampilan. Masa baru anak satu aja badan udah gemukan. Aku nih udah anak 3 masih kurus. Ya, emang harus dijaga. Kalau siang kerjaannya molor aja gimana ga gemuk.”

“Aduh, itu vaksin belum di halalin MUI loh. Program pemerintah ada-ada aja. Coba deh kita berkaca dengan zaman dulu. Emak gue, kakek-nenek gue, itu gak ada namanya vaksin-vaksinan. Iya, sehat aja. Anak, sekarang malah gampang sakit. Udah baca artikel ini belum? Vaksin itu bikinan Yahudi. Kamu rela kalo anakmu nanti (bla bla) ”

Punya kata-kata lain yang sering kita dengar di perbincangan antar emak-emak? Gak usah disharing ya. Iya, emak udah kenyang. Serius.

Baca juga: 9 Topik Obrolan Sensitif yang dapat menyebabkan Mommy War

Makanya, teman itu Memang harus PILIH-PILIH!

source: parents magazine

Pernah punya prinsip begini.. “Berteman itu jangan pilih-pilih. Mau itu orang kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, gak pintar semua harus ditemani.. Karena kita ini makhluk sosial. Kita itu (bla bla)”

Siapa ya yang bilang begini? Iya, mungkin ini salah satu kilasan memori dari Guru PPKN dulu. Hahahaha.

Dulu, aku menelan mentah-mentah kata-kata itu. Mencoba berteman dengan siapa saja. Walau sebenarnya aku tergolong introvert namun urusan pertemanan aku baik, aku punya pemahaman polos bahwa semua manusia itu sama, semuanya harus ditemani.

Tapi pemahaman itu berubah ketika aku mulai remaja, jangan ditanya seberapa berubah ketika aku sudah menjadi emak-emak. Berubah Drastis. Buatku, yang namanya teman itu WAJIB PILIH-PILIH.

Kenapa? Noh, kalian mau temenan sama teman yang mulut plus jarinya kerjaannya nyinyir kayak diatas? Gak mau kan? Belum lagi kalau yang ngomong emak-emak yang ngakunya ‘senior’. Haduh mak, sakit banget tuh rasanya kayak ditusuk-tusuk pake tusuk sate.

Makanya, kadang aku merasa sendiri ya kalau emak-emak itu punya circle pergaulan yang ‘agak memisah’. Contoh:

Ibu Rumah Tangga sukanya temenan sama Ibu Rumah Tangga aja, Working Mom sukanya temenan sama Working Mom aja. Karena kalau ketemu obrolan mereka pasti ketitik yang paling krusial yaitu drama menitipkan anak dan topik finansial.

Ada grup khusus Emak-emak Menyusui yang kalau didalamnya muncul emak-emak curhat minumin anaknya sufor langsung diserang Ciat.. Ciat.. Seolah bilang, “Hei, tempat kamu itu bukan disini..”

Ada grup khusus anti vaksin yang kalau muncul emak-emak ‘sok sehat’ maka dia langsung ditertawakan dan dibully.

Ada grup khusus memasak. Yang didalamnya penuh dengan emak-emak homemade. Kalau ada satu biji emak yang share resep pakai vetsin atau sosis jadi dan kornet langsung diserang dan diceramahi.

Iya, karena itu jadi emak-emak wajib pilih-pilih teman plus punya ramuan ANTI BAPER dan KOMUNITAS PENDUKUNG agar bisa beradaptasi dengan kerasnya pergaulan diluar.

Ramuan Anti Baper 1: Emak harus Punya Passion yang diandalkan

Tiap orang itu punya kesenangan, namanya hoby. Adapun yang dinamakan passion yang diandalkan adalah hoby yang membuat manfaat bagi orang disekitarnya. Ingat ya, aku menggarisbawahi passion loh, buat ‘penghasilan yang dapat diandalkan’ 😝

Menurutku, adalah bohong besar ada Ibu Rumah Tangga yang kerjaannya ‘cuma bahagia’ dengan melayani anak dan suami lalu mengabaikan kondisi psikologisnya sendiri serta menolak hubungannya dengan lingkungan sosial. Eh, ada ya? Oke, jangan ajak aku berkenalan ya. ✌

Menurutku tiap ibu itu harus punya passion. Apapun itu, passion tidak harus melulu menghasilkan uang. Prinsipnya adalah kita senang melakukannya, apalagi jika orang lain merasa hal yang kita lakukan itu bermanfaat dan membantu.

Adapun emak yang ‘ngakunya’ tidak punya passion tetap seperti aku mengaku lebih mencintai dunia menulis dan ngeblog seperti ini untuk berekspresi.

Baca juga: I dont have any passion, Im divergent.

Aku menyebut aktivitas ngeblog ini sebagai ‘Ramuan Anti Baper’. Hal yang membuatku bisa lebih hidup serta dapat menutup mata dan telinga setiap kali mendengar nyinyiran diatas. Adapun emak lain mungkin akan lebih bahagia dengan passion yang lain. Tapi perlu diingat bahwa tiap emak itu beda, so teori parentingnya pun beda. Aku pernah membahas ini ditulisan sebelumnya.

Baca juga: Hal yang perlu diketahui sebelum belajar parenting

Baca juga: Gini cara emak introvert ngasuh anak, Masalah?

Ramuan Anti Baper 2: Emak harus Punya Hiburan

Apa me time buat kamu? Menulis?

Ah, tidak. Menulis tidak akan bisa dilakukan kalau otak tidak terhibur. Ya, bisa sih tapi isinya curhat semua. Hahaha.

Me time ala aku adalah menonton drakor ditemani cemilan dan susu hangat. So, dengerin nyinyiran diatas? Me time aja! Nonton drakor, jalan-jalan, baca buku, nonjok boneka. *ops

Apapun hal yang bisa menghibur… Do it Mom! Do it!

Ramuan Anti Baper 3: Emak harus punya Komunitas Pendukung

Apa passionmu?
Apakah sudah ada komunitas yang mendukung passion tersebut?
Atau selama ini kamu berada pada komunitas yang salah?
Jangan takut untuk KELUAR dari zona yang tidak nyaman. Cari komunitas yang cocok dengan kita.

Sebagai contoh, itu aku (maaf ya.. Contohnya aku lagi.. Aku lagi.. Namanya juga personal blog ya.. ✌)

source: hellomama’s.com

Sebagai makhluk hidup yang ‘suka nyampah’ dengan tulisan, baik itu berupa status jelek maupun ‘sok bijak’, aku tidak mau bergabung dengan circle mak-mak yang tidak bisa menerima sampah-sampah itu. Menyebut bahwa kerjaan blogger itu pamer dan ‘cuma’ modal tulisan. Itu adalah circle komunitas yang harus aku jauhi. Ada yang nyinyir? Block aja, delete.. selesai masalah. Berkomunitaslah dengan orang-orang yang punya satu hoby dan kesenangan dengan kita atau berteman dengan orang yang sepemahaman dengan kita. Komunitas pendukung seperti ini penting sekali loh dimiliki.

Emak Perfect itu Enggak Baik, yang Baik itu Emak yang Bahagia dan Sukses Menularkan Kebahagiaannya

Jika sudah menemukan 3 kunci ramuan anti baper maka kita sudah sampai ketitik ternyaman dunia emak-emak. Apa itu? Mencapai kesempurnaan yang hakiki? 😅

Pernahkah kita sebagai emak-emak mencoba untuk melakukan segala hal serba sempurna? Asi ekslusif, anak tak pernah tersentuh teh dan garam pada waktunya, tak pernah kenal gadget dan TV, rumah selalu bersih, makanan selalu homemade, tidak punya ART, selalu tampil cantik, bisa melakukan 4 pekerjaan dalam satu waktu termasuk sambil masak, nyuci, zumba plus liat fluktuasi saham? Lalu, uang bulanan selalu bersisa untuk ditabung.

Tapi.. Dibalik kesempurnaan itu.. Apa yang kita rasakan? Bahagiakah?

Aku (lagi lagi aku) pernah merasakan betapa buruknya terjebak dalam standar perfeksionis diatas. Puncaknya, aku merasa tidak bahagia.

Rumah selalu bersih tapi dibalik itu aku mengurung anakku dikamar, tanpa TV dan ia hanya aku hadapkan pada makanan homemade. Ia menangis. Aku cuek. Begitu teori parfectionis bicara.

Makanan selalu homemade, selalu tampil cantik. Tapi saat suami datang, bukan senyum yang aku suguhkan. Namun kelelahan, tak bisa memanjakannya. Mencoba mendapatkan pujian dengan bersisanya uang bulanan. Tanpa hiburan, tanpa family time, apalah artinya tabungan itu.

Kesempurnaan tidak membuatku bahagia.

Belajar membahagiakan diri dan sukses menularkan kebahagiaannya adalah prinsip dari terbentuknya keluarga yang bahagia. Aku sudah banyak belajar bahwa mencari puncak kesempurnaan tidak mengajarkan apapun padaku. Hanya rasa haus pujian yang tiada habisnya. Tidak bahagia, tapi Depresi.

Baca juga: Sepenggal Kisah tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan

Kenapa Perfeksionis sindrom itu Pemicu Utama Depresi dan Menular? Karena Korbannya adalah Emak-emak Sensitif dan Anak Kecil

source: thejoyoofthis.com

Apa akibat dari standar kesempurnaan yang tinggi?

Pengalaman nyata yang aku rasakan adalah.. Mengejar kesempurnaan membuatku terkena Post Partum Depression.

Yes, aku depresi. Aku mencoba memenuhi setiap standar kritik dari mulut-mulut ‘nyinyir’ yang singgah ditelingaku. Mommy War telah membentuk diriku yang sensitif ini menjadi ‘bukan diriku lagi’.

“Aku dulu uang bulanan cuma habis 800ribu loh. Kamu masa satu juta gak cukup? Anak masih satu juga..”

(Oke. Aku bisa. Aku harus serba homemade. Harus ngemil singkong tiap hari supaya ASI tetap jalan. Gak boleh nagih ini itu kesuami. Aku kan istri yang baik)

“Kalo aku jadi kamu, dari pada foto-foto makanan begini, mending jualan. Gak kerja juga, masa gak punya waktu. Jadi perempuan itu lebih enak kalau punya uang sendiri.”

(Oke, jualan. Aku bisa)

“Istri kamu kalau jalan modis banget ya. Berapa uang make upnya buat sebulan tuh? Aku dulu zaman begini begitu cuma modal bedak bayi aja..”

(Oke, bedak bayi.. Kely.. Aku juga bisa masih cantik begitu.. *kalo dasarnya udah cantik.. 😝)

Bla bla..

Bla bla..

Iya, aku dulu super sensitif. Dibilang ini manggut, itu.. Manggut. Aku depresi untuk mengejar kesempurnaan. Jikapun itu hanya terjadi pada diriku saja tidak mengapa..

Tapi aku menularkannya.

Aku membuat anakku menangis. Aku membuat suamiku marah.

Apa yang bisa dibanggakan dari menjadi ’emak yang maha sempurna’?

TIDAK ADA.

Hati-hati,

Jaga Mulut! Jaga Jari! Jaga Hati!

source: wytghana.org

Kita tidak pernah tau seberapa halus perasaan seseorang. Kita tidak pernah berteman dengan mereka yang baru kita kenal, tau masa lalu mereka. Bagaimana ‘tameng psikologis’ yang sudah terbentuk pada diri mereka. Kita melewati ‘masa lalu’ yang berbeda dengan setiap orang. Karena itu tiap orang itu unik. Tiap emak unik. Mereka tidak sama dan punya hoby yang berbeda. Dan satu lagi, perasaan mereka tidak sama.

Pernah mendengar penyakit schizophrenia? Penyakit kejiwaan ini dapat disebabkan bukan hanya karena lingkungan. Namun innerchild yang sangat negatif. Baik itu kenangan buruk dari masa kehamilan, kenangan buruk masa kecil, hingga tekanan demi tekanan yang diterima dilingkungannya.

Depresi itu menular. Dan pusatnya adalah pada kebahagiaan Ibu. Jangan pernah membuat perasaan Ibu tersakiti dengan mulut dan jari kita. Jaga hati kita agar tak selalu berprasangka negatif pada ‘ketidaksempurnaan emak-emak’. Karena bisa jadi, mereka tidak punya dan belum tau dengan ramuan anti baper.

“Kadang kita merasa mulut kita sungguhlah bijak. Ketika melihat emak-emak curhat, kita berkata ia tak bisa menjaga aib keluarganya. Lalu kita sarankan agar menutup mulutnya. Kita tidak tau, hatinya terluka. Tidak ada yang mendengarkan. Pernahkah kita sekali saja berusaha menjadi pendengar yang baik?”

“Kadang kita merasa jari kita begitu bermanfaat. Membuat status kesempurnaan dan menyakiti perasaan Ibu yang tak sempurna. Membuat kata-kata berambisi agar orang lain memiliki semangat membara, tapi kita lagi-lagi tidak tau_ kondisi setiap orang berbeda..”

“Kadang kita selalu berprasangka, ‘Apakah ini tentang aku?’, padahal dunia itu luas. Tidak melulu tentang ‘kita’. Adalah hak orang ketika ia ingin mengatakan sesuatu hal dengan ‘caranya’ . Bisa jadi, yang ia maksud sebenarnya adalah dirinya sendiri bukan? Sudah berapa banyak (aku) berkenalan dengan orang yang menulis untuk ‘memperingatkan dirinya sendiri’.”

Tersenyumlah mak, mulut dan jari dunia ini memang kejam. Tapi hati ini, sungguh masih memiliki obat. Yaitu dengan selalu berprasangka baik. Tidak mudah tentu. Tapi kita dapat berusaha.

Tertarik dengan ramuan anti baper? Let me know if it success!

Hal-Hal yang Biasa dilakukan Emak Introvert ditengah-tengah Komunitas Emak Ekstrovert

Hal-Hal yang Biasa dilakukan Emak Introvert ditengah-tengah Komunitas Emak Ekstrovert

source image: www.romper.com

Pernah enggak sih mak, merasa sunyi ditengah-tengah keramaian? Padahal, banyak para emak lain yang sedang asyik bercanda-ria disekitar kita. Tapi, kita malah merasa sendirian saja.

Tenang, jika emak pernah merasakan hal tersebut maka sebenarnya Anda tidak sendirian. Bisa jadi, Anda adalah salah satu emak berkepribadian introvert yang berbeda dari kebanyakan emak yang lain.

Aneh enggak sih hal tersebut?

Hmm.. Aku sih bilang hal itu bukanlah hal yang aneh. Ya, kita kan tidak bisa mengubah kepribadian kita yang sebenarnya merasa nyaman dengan hal itu. Memang, mungkin sebagian emak yang lain akan menganggap kita sedikit antisosial dan pilih-pilih teman. Tapi, ya.. Memang begitukan para emak intovert itu sejatinya? Hihi

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Sedikit curhat, sebenarnya aku termasuk golongan emak introvert. Yah, walau di dunia maya sebenarnya kadang tulisanku terbilang sedikit konyol (yang udah pernah baca sebagian pasti tau 😂✌). Tapi, sebenarnya di luar aku sedikit jaim (jaga image) apalagi kalau berkumpul dikomunitas yang tidak terlalu aku senangi (baca: mak-mak hoby ngerumpi).

Aku sih emaknya hoby pakai topeng. Maksudnya, walau aku enggak terlalu senang dengan komunitas tersebut tapi aku tetap berusaha bisa bergabung. Apalagi nih kalau salah satu emak tersebut anaknya akrab dengan anakku. Tapi.. Tetap ya.. sampai kapan kita bisa terus bertahan dengan alur pembicaraan yang tak sesuai dengan kita. Puncaknya, akan ada yang bernama awkward moment. Betul?

source: introvert doodles by maureen ‘marzi’ wilson

Nah, jika sudah mengalami awkward moment ditengah-tengah komunitas emak ekstrovert. Ada beberapa hal yang biasanya aku lakukan supaya tidak BT (bosen terus), hal itu antara lain adalah…

1. Sok Pinter atau Pura-pura Serius Baca Buku

Emak-emak lain pada asyik ngegosip dan pamer ala sosialita? Sementara kita berada ditengah-tengah ledakan tawa yang bagi kita sih enggak lucu-lucu amat (hahahaha). Terus ngapain? Ambil kaca mata.. Cusss.. Baca buku..

Jika pada moment kalangan abegeh. Biasanya cewek cantik lagi baca buku sendirian terlihat lebih berkelas. Nah, kira-kira apa yang terjadi kalau yang membaca buku emak-emak yang sebenarnya enggak cantik-cantik amat plus dasteran plus IRT tulen ini? Image apakah gerangan yang terpancar.. 😅

Ah, apapun image yang terpancar dimata emak-emak ekstrovert biasanya sih emak introvert cuek ajah. Bahkan, aku pernah beberapa kali bertemu dengan emak introvert parah yang dengan juteknya berkata, “Berisik..” 😅

2. Sok Pencet-pencet HP

Siapa begini?

Ngakunya introvert tapi alergi obrolan dunia nyata, lebih suka hidup di dunia maya khususnya sosmed. Di dunia nyata jutek minta ampun tapi di dunia maya kerjaannya ‘haha’ ‘hihi’ dan tidak lupa selalu menampilkan icon tanda ekspresi.. 😀😁😄😆😂

Padahal di dunia nyata mukanya (begini 😑) sambil main hp. Hahahaha

Tapi, solusi ini menjadi musibah mati gaya kalau kuota atau pulsa habis. Ada sih memang emak introvert yang bisa bertahan dengan pura-pura pencet hp, tapi aku tidak bisa begitu. Pokoknya kalau pulsa habis harus beli disini supaya tidak mati gaya.

3. Sok Foto-foto

Siapa yang pernah travelling bareng emak-emak ekstrovert yang satu pun tak ada yang cocok dengan kita?

source:lingvistov.com

Pernah ya, suatu hari aku mati gaya saat travelling bersama dengan emak-emak ekstrovert dalam rangka wisata alam membawa anak di TK. Solusinya? Ambil HP dan mari bernarsis ria foto-foto dan bikin video di alam terbuka. Maksimalkan ekspresi dan gaya untuk di-upload di dunia maya agar emak tetap eksis walaupun aslinya kurang eksis. 😅

Tapi, hiburan dokumentasi foto dan video ala emak introvert ini jadi kendala kalau baterai habis. Ya, traveling memang memakan waktu yang lama bahkan mungkin seharian kita berada diluar. Aku pernah mengalami baterai habis begini dan itu bikin aku super mati gaya dan rencana dokumentasi travellingku hancur berantakan.

Alhamdulillah, akhirnya suami mengerti. Setelah cek harga power bank yang ternyata lumayan bersahabat, akhirnya tercapai juga keinginan punya power bank sendiri. Baterai habis saat travelling bareng emak ekstrovert yang ga asik banget? Tetep menyenangkan.. 😂

4. Sok Nyuekin Anak-Anak padahaaal…

Aku pernah loh denger emak ekstrovert bilang begini, “Ah, Mama Farisha itu kerjaannya kalau di sini pencet HP mulu. Mana pernah merhatikan anaknya.”

Padahal…

Ngapain juga kita memperhatikan anak secara berlebihan? Dia temenan diikutin, dia makan serba disuapin, dia begini-begitu ditegur. Halo? Kapan anak jadi mandiri bu?

Aku tipikal yang suka membiarkan anak memang. Apalagi kalau dia asik berteman, malu dong dia kalau diperhatikan terus. Tapi, bukan berarti cuek bebek banget. Siapa sih yang tau kalau dari kejauhan aku juga sering memperhatikannya? Sesekali memoto momentnya bermain bersama dan menulisnya di sosial media maupun blog. Dan mulai tegas mengajarinya di dalam rumah. Gitu gaya emak introvert didik anak di luar wilayahnya.

Baca juga: Gini gaya emak introvert ngasuh anak, Masalah?

5. Kadang Suka (nguping) Gosip yang Menarik Perhatian

Ssst… Ini cuma aku atau ada yang sama? 😂

Emak Ekstrovert kadang kalau ngerumpi suka menarik perhatian. Bukan hanya karena gelak tawa yang memecahkan gendang telinga tapi bahan bercandanya kadang memang lucu sih. Hmm.. Bukan cuma topik bercanda, topik yang sering menarik perhatian bagiku adalah saat sudah memasuki topik rumah tangga, keuangan, cara mendidik anak di rumah.

Dalam dunia nyata, aku terkesan tidak peduli dengan hal itu. Padahal diam-diam topik perbincangan hangat ibu-ibu itu bisa menjadi bahan inspirasi dalam beberapa tulisan blogku. Ya, cukup banyak sebenarnya segi positif dari mendengarkan rumpi emak-emak.

Contoh tulisan itu antara lain:

Tips Membuat Anak Merasa Senang di sekolah

Anak Jajan itu Boleh Ga Sih?

Ajari Anak 5 Hal yang Tidak Menyenangkan

Bahkan, aku pernah ternganga diam saat menyaksikan beberapa emak sempat perang dingin karena topik-topik tertentu. Yah, karena aku sudah cukup berpengalaman merasakan hal yang sama di dunia maya maka aku juga menuliskan tentang ‘9 Topik Obrolan Sensitif yang Dapat Menyebabkan Mommy War

Jadi, tidak selamanya mendengarkan ngerumpi itu buruk kok. Asalkan kita tidak menyebarkan aib orang lain dan dapat mengambil sari kebaikan. Hehe.

Nah, emak introvert juga? Apa saja yang dilakukan saat berada dikomunitas ekstrovert? Sharing Yuk!

Dampak Positif dan Negatif Menonton Drama Korea Bagi Ibu Rumah Tangga

Dampak Positif dan Negatif Menonton Drama Korea Bagi Ibu Rumah Tangga

Drama Korea.. Hmm.. Siapa sih yang enggak tau dengan yang satu ini? Mulai dari kalangan abege, wanita karir hingga ibu rumah tangga pastinya sangat tau dengan drama korea aka drakor. Bahkan, belakangan saya baru tau bahwa ada juga loh ternyata laki-laki yang suka nonton drakor. Yah, tidak banyak sih, cuma perbandingannya mungkin 1 banding 10 (yang jelas bukan suami saya.. 😅).

Konon, virus kecanduan drakor ini bukan hanya dominan ada di kalangan cewek abege. Ya, bahkan Ibu-ibu Rumah Tangga pun suka sekali menonton drakor untuk mengisi waktu luangnya. Beberapa IRT bahkan mengaku bahwa menonton drakor merupakan me time yang sangat menyenangkan. Siapa yang begini? Hayo.. Ngaku!

Apakah menonton drama korea bagi Ibu Rumah Tangga merupakan hal yang salah? Apakah rutinitas harian tidak terabaikan karena kegiatan ini? Terakhir, seberapa besar dampak positif dibanding dampak negatifnya?

Cuss.. Kita bahas sampai tuntas disini yaaa.. 😆

Dampak Positif Menonton Drakor Bagi Ibu Rumah Tangga

Nah, sebagai emak rumahan yang mengaku senang menonton drakor sebagai salah satu rutinitas me time tentu saya sangat merasakan dampak positif dari kegiatan ini. Dampak positif itu antara lain adalah:

1. Meningkatkan Kewarasan Emak-Emak

Siapa sih yang kadang suka kehilangan kesabaran karena rutinitas rumahan yang membuat emak kadang emosi tingkat tinggi? Konon, sebutan yang terkenal untuk hal ini adalah ‘kurang waras’.. 😅

Menonton drama korea dengan berbagai selak beluk kisah yang tidak membosankan akan membuat emak rumahan terhibur dan merasa hidup kembali. Emak yang tadinya merasa kurang waras akhirnya terobati rasa bosannya dengan hiburan drama korea yang dapat memenuhi ruang emosinya dengan warna warni rasa.

Emak yang tadinya uring-uringan melihat rumah yang pekerjaannya tak kunjung habisnya.. Ngadem dulu, nonton drakor lalu bisa senyum berbunga-bunga saat masak, jangan lupa ditemani soundtrack album drakor favoritenya..😅

Emak yang tadinya kurang nuansa romantisme dari suami yang agak pasif akhirnya dapat senyum merona merah layaknya remaja lagi dan dapat menyambut suami dengan senyum ikhlas malu-malu seperti malam pertama.. Eaa

Yes, terima kasih drakor.. Kau buat kalangan emak-emak mulai waras dan berbunga-bunga.. 😂

2. Membuat Hidup Emak Lebih Berwarna

Pernah merasa hidup kadang cuma di dominasi oleh rasa yang begitu-begitu saja? Tidak ada hal baru, tidak ada tantangan. Bahkan saking suramnya hidup seakan seperti TV dengan warna hitam putih saja. Yes, How Boring?

Baca juga: Please, Aku Bosan Jadi IRT

Tapi dengan menonton drama korea emak dapat merasakan tantangan mendebarkan disetiap episodenya. Perasaan senang, sedih, kecewa, bangkit, semangat akan dapat emak rasakan ketika ‘berempati’ dengan tokoh pada drama korea. Bahkan saking empatinya, kadang sampai menangis dan ikut-ikutan merona malu. Hahahaha.. *tuh.. Banyak rasa kan hidupnya? Aseek.. 😂

3. Meniru Gaya Hidup Positif Budaya Korea

Ada enggak sih emak yang mulai suka meniru budaya korea karena saking keseringannya menonton drama korea?

Nah, saya mau sharing salah satu perubahan positif saya saat menonton drama korea. Yaitu berubah menjadi lebih manis. *digetok gayung.. 😂

Ya bagaimana tidak manis kalau semenjak menonton drama korea saya jadi suka iseng menyajikan tampilan masakan ala korea (walau kebanyakan gagal.. 😅). Selain itu, gaya mengikat rambut hingga gaya melipat pakaian pun sekarang mulai saya tiru. Menurut saya, ini perubahan positif lah. Bahkan suami saya senyum-senyum melihatnya. Hehe..

Dampak Negatif Menonton Drakor Bagi Ibu Rumah Tangga

Tapi nih tapi.. Menonton drakor itu juga banyak dampak negatifnya. Dan dampak negatif ini ternyata sangat saya rasakan ketika saya mulai ikut nimbrung percakapan antar emak-emak pecinta drakor. Apa aja dampaknya? Cuss…

1. Kecanduan yang Membuat Emak Lupa Waktu dan Mengabaikan Kegiatan Rumah Tangga

Setuju enggak sih kalau nonton drakor itu bikin emak kecanduan?

Ngakunya satu episode dulu tapi eh tapi jadinya lagi, lagi, dan lagi. Sampai mengabaikan rutinitas membacakan dongeng sebelum tidur lalu kemudian tidur tengah malam bahkan ada juga yang tidak tidur semalaman. Akhirnya, pagi harinya bangun kesiangan lalu anak disuruh bolos sekolah saja. Telpon guru ngakunya si anak sakit padahal emaknya yang teler. Ada begini? Ada.. 😂

source: brilio.net

Siang hari pada umumnya diisi dengan kegiatan hectic memasak untuk menyambut suami datang makan siang. Tapi (lagi-lagi) karena drakor maka makanan yang disajikan berakhir gosong dan kekeringan. Ada begini? Oh, adaaa…

Malam hari adalah waktu suami untuk bermanja-manja namun karena emak sedang ‘sibuk’ dengan drama yang katanya sedang hits akhirnya suami pun mengisi hiburannya dengan main ‘enemy has been slayed’.. 😂

2. Meniru Gaya Hidup yang Tidak Sesuai dengan Keadaan Dompet

source: budayametropolitan.blogspot.co.id

“Aduh, baju yang dipakai si jung jung itu aku pernah liat di sini loh.. Tapi harganya mahal”

“Masa? Ah iya.. Persis ya.. Aduh, aku jadi pengen!”

“Liat deh topi yang ini.. Unyu banget kan kayak di film bla bla punya si Min Min”

“Eh, iya.. Berapa harganya.. Omegadd”

“Eh, tau ga si Song Song itu pakai lipscrub ini supaya bibirnya ga item”

“Ah, masa.. Bukannya dia pake liptint yang ini ajah”

“Enggak bibirnya merah asli kok”

“Berapa harga lipscrubnya? Omegadd”

Ya.. Ya.. Percakapan diatas cukup familiar bukan? Kosmetik dan gaya baju trend korea kini telah merajai industri fashion wanita. Media promosi yang sangat berpengaruh salah satunya adalah dengan kekilauan drama korea. Tentu saja tidak sedikit para wanita termasuk ibu rumah tangga yang rela mengeluarkan uang berlebih untuk trend korea kekinian ini. Yang dipertanyakan, apakah keadaan dompet sudah memadai? Hehe

3. Tenggelam Dalam Dunia Khayalan dan Tak Kunjung Move On

Melanjutkan dari point no. 1, apa yang akan terjadi jika kecanduan drakor tidak segera diatasi? Yes, emak tak kunjung move on dan tetap asik hidup di dunia khayalan.

Yah, sepertinya ini poin tambahan untuk tulisan saya sebelumnya ya.. Hihihi..

Baca juga: 8 Hal Penyebab Stay At Home Mom Gagal Move On

Banyak loh, kalangan emak-emak rumahan yang kecanduan nonton drakor dan anime sehingga lupa dengan kehidupannya yang asli. Akhirnya ia lupa dengan tujuan dan list-list task to do yang seharusnya ia utamakan.

Jika sudah terjadi hal begini, lalu bagaimana?

Seret Sang Suami.. Katakanlah, “Hei Suami, mulai sekarang kalian harus jadi lelaki romantis.. Supaya istrimu tidak mencari ‘pelarian’.” 😂

4. Terancam Gagal Menjadi Role Mode yang Baik untuk Anak

source: depositphotos.com

Katanya sih mau supaya anak tumbuh baik, pinter, bertenggang rasa, sholeh, dan bla bla bla. Tapi apa jadinya kalau anak tau sang emak hobynya nonton drakor? 😂

Mungkin sang anak akan berpikir, “Oh, ternyata mama suka dengan si Min Min ini. Berarti aku nanti kalau sudah besar harus cakep begitu.”

Atau..

“Wah, kayaknya mama suka dengan style si Song Song ini. Berarti aku nanti kalau sudah besar harus cantik dan bergaya begitu juga dong.”

Atau..

“Wah, mama nonton drakor yang kemarin ya.. Ikut nonton juga ahh, mau tau lanjutannya.”

😅

Ingat mak, anak itu meniru tingkah polah kita dan kebiasaan kita. Apa yang kita sukai kemungkinan besar akan ditiru olehnya. So, sudah siap jika ketika anak besar nanti dia ingin menjadi seperti artis korea.. 🙈

Atau sama-sama penggila drama korea.. Tentukan pilihanmu..hihi..

5. Membuat Emak Terancam Puber Kedua

Ada yang begini?

Ada..

Udah gitu aja. Kayaknya enggak perlu diceritakan lebih detail. Hahahaha..

Lantas, Apakah menonton Drakor itu Salah?

Sama seperti pisau, keberadaan drakor dapat berguna namun juga dapat melukai perasaan suami.. *loh.. 😅

Menonton drakor bagiku bukanlah hal yang salah. Bahkan jika dalam drakor banyak pembelajaran berharga kehidupan yang dapat diambil, kenapa harus say no dengan keberadaan drakor?

Baca juga: Go Back Couple, Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Tapi, jangan menjadikan menonton drakor sebagai hoby namun jadikanlah ia sebagai hiburan saja. Dan yang terpenting, jangan sampai menonton drakor mendominasi jadwal harian emak. Tontonlah drakor ketika benar-benar dalam waktu yang senggang.

Seseorang berkata padaku, bahwa hoby adalah sesuatu yang paling suka kita kerjakan dan memberi manfaat bagi orang lain. Sementara hal yang tidak memberi manfaat dan sering dikerjakan adalah hiburan semu saja. Lalu, menonton drakor termasuk kedalam hal yang mana?

Banyak para wanita yang menjadikan menonton drakor sebagai hobynya yang pada akhirnya tidak membawanya kepada perubahan berarti. Hanya sekedar rasa senang yang kemudian hilang begitu saja ketika hal itu berakhir. Kita dapat melihat contoh hal ini dari para penggemar fanatik dari artis korea. Tidak sedikit loh, para penggemar yang sedih luar biasa sampai stress mendapati sang artis meninggal bunuh diri.

Menjadi Ibu apalagi Ibu Rumah Tangga sejati memang harus waras. Tapi, sampai kapan kita mengisi kebahagiaan dengan drakor saja? Yuk, cari hoby menyenangkan yang benar.

Karena hidup Ibu pun sesungguhnya penuh warna loh. Ya, kita sendiri yang dapat mewarnai hidup itu bukan drakor. 😊

Please, Aku Bosan Jadi IRT!

Please, Aku Bosan Jadi IRT!

List Harian Emak-Emak Rumahan Pada Umumnya

Senin

Bangun tidur-Masak-Nyapu-Mandiin Anak-Ngepel-Cuci Piring-Rapiin Rumah-Kepasar-Masak-Jemput Anak-Masak-Cuci Piring-Nyuci Baju-Jemur Baju-Bacakan Anak Buku Cerita-Pelukan-Ikut Bobo-Nganter Anak Ngaji-Masak-Family Time sambil Makan Malam-Cuci Piring-Family Time sambil Tiduran bareng anak suami.

Selasa

Sama kok jadwalnya kayak senin

Rabu

Sama

Kamis

SAMA

Jum’at

MASIH SAMA

Sabtu

Akhirnya suami libur, haruskah ngajak anak bolos sekolah demi jalan-jalan?

Oh enggak, katanya hari ini jadwalnya masak-masak di rumah (lagi)

Gakpapa, sabtu malam ini bisa nyetrika baju buat jalan-jalan besok. Yeay

Minggu

Finally!!

Bangun lebih pagi-Bikin sarapan spesial-Dandan Cantik…

“Sayang kayaknya ga bisa jalan hari ini deh, aku belum selesai ngerjain coding hari ini”

DUAR!
👿

Ketika Rutinitas Monoton Membuat Emak Rumahan Mulai Jenuh Dan Tak Berarti

source: nova-grid.id

Pernah melalui fase ini? Atau sedang dalam fase ini?

Pernahkah terlintas rasa iri ketika melihat para emak lainnya yang bekerja di luar sana?

Ah, Enaknya bekerja.. Punya seragam komunitas, punya semangat hidup, punya uang sendiri…

Lantas kemudian berkata, “Apalah diriku ini, punya anak satu saja masih suka depresi. Jangankan membahagiakan keluarga, membahagiakan diri saja tidak bisa”

Pernah begini? Kompakan yuk..😂

Padahal, keputusan menjadi Ibu Rumah Tangga ‘saja’ tentu sudah dipikirkan matang-matang. Seperti diriku sendiri yang ‘ngotot’ tidak mau jika anak sampai diasuh oleh mertua yang pikirannya benar-benar bertabrakan denganku. Sebagai menantu yang baik (ehm) lebih baik menghindari konflik ‘emak dulu vs sekarang’ dari pada terus-terusan memendam kejengkelan yang tidak jelas. Senang sekali ‘kengototan’ ini tidak didengar secara langsung namun terkabul begitu saja ketika suami berkata bahwa jangan sampai anak kami diasuh oleh Ibunya.

“Mama Sudah Capek Ngasuh Anak sampai 3 cucu, masa mau nambah lagi.. Ehm, Sementara Farisha kecil.. Jadi Ibu Rumah Tangga yang baik aja ya”

Setahun berlalu..

Dua tahun berlalu..

Tiga tahun berlalu..

Bukan berlalu begitu saja yang jelas ya. Kayak film aja ‘3 tahun kemudian’ berasa cuma semenit..wkwk..

Dalam tiga tahun itu tentu banyak hal yang aku alami…

Pernah nangis sendirian di kamar sambil menyusui bayi? Pernah!

Pernah marah-marah tidak jelas sampai anak takut lalu menangis dan memeluk Ayahnya saja? Pernah!

Pernah bertengkar dengan suami sampai pengen lari kerumah orang tua aja? Pernah!

Pernah merasa ijazah di lemari seakan memanggil-manggil menuntut penggunaannya? Pernah!

Pernah mencoba belajar dan membaca buku namun tidak ada satupun yang dapat melekat karena merasa ilmu telah terdepresiasi? Pernah!

Baca juga: “Baby Blues dan PPD, Aku mengalaminya”

Yah, Rutinitas monoton ini telah membuat emak mulai jenuh dan merasa tak berguna. Siapa bilang jadi Stay At Home Mom itu Menyenangkan?

Ketika Mereka Bilang, “Hei, Kamu Kurang Bersyukur!”

source: Soliha.id

“Kamu ini kurang apa? Suami kamu udah mapan kok!”

“Syukurin aja langsung punya anak, dari pada ga dapet-dapet kayak si anu dan si anu”

“Aku senang-senang aja kok jadi Ibu Rumah Tangga, kok kamu gitu sih?”

“Seorang Ibu itu ya begitu lah.. Hidup buat anak dan suaminya.. Masa mau memprioritaskan kebahagiaannya sendiri dulu sih.. Harusnya kamu bla bla bla”

Ya, itu sih kalian.. Masa mau menyama-ratakan diri kalian dengan orang lain? Memangnya kita kayak cookies satu cetakan gitu? Wkwkwk..

Bahkan cookies satu cetakan aja distribusinya beda-beda. Jalan hidupnya beda-beda, ga semuanya bisa beruntung bisa dimakan dan dibilang enak. Kadang mejeng di toko berbulan-bulan ga laku, kadang cuma di foto-foto aja tanpa dimakan, kadang di’ilerin bayi lalu dibuang emaknya..hahaha.. *malah ngelantur

Bagiku, berusaha berbakti dan merawat keluarga adalah wujud dari rasa syukur. Ketika seorang Ibu merelakan waktu mudanya yang mungkin saja dapat ia habiskan dengan memaksimalkan potensinya di luar namun ia rela melepasnya adalah wujud dari rasa penerimaan yang besar atas jalan hidupnya. Jika hal yang telah lama ia lakukan dengan berusaha senang hati mengerjakannya namun sesuatu mulai terasa salah kemudian keluhan demi keluhan mulai muncul.. Apakah itu artinya kurang bersyukur?

Apakah mengeluh berarti tidak bersyukur?

Mengeluh itu bukan butuh Ceramah Mom.. Kadang Ibu hanya butuh tempat pengaduan..

Ya, Ia hanya butuh pendengar yang bersimpati.

Karena Hidup Emak Perlu Banyak Rasa

source: dreamstime.com

Kok Berasa Familiar ya sama kalimat ini? Apa yah?

Astaga, Ini kan Iklan Good Day.. Wkwkwkkwk.. LOL

Pernah menyadari kenapa rata-rata Stay At Home Mom ini kadar kebahagiaannya lebih sedikit dari pada Mommy jenis lain? Bahkan terkadang terkesan lebih susah move on dan suka mengeluh?

Baca juga: 8 Alasan stay at home mom gagal move on

Ya, karena hidupnya itu Ga seru!

Ga ada tantangan, lurussssssss aja…

Trus ada ajah tuh yang nyinyir “Ya hidup kan emang harus kembali ke jalan yang lurus” #GUBRAK

Padahal emak-emak itu butuh loh yang namanya tantangan dan cerita hidup layaknya drama korea (loh???). Kenapa begitu? Karena dengan begitu hidupnya terasa menantang, ada jadwal harian baru yang harus dilakukan dan membuat emak bahagia dengan sesuatu yang baru itu. Enggak lurussss aja.

Lantas, Bagaimana kalau tantangan tak juga datang?

Ya ajak aja suami berantem. 😂 *LOL

Suatu hari aku pernah bertanya soal tantangan hidup ini. Hal yang membuat emak mungkin bisa move on dari rutinitasnya yang lurus-lurus saja. Seseorang pernah menjawab bahwa ia ingin memberiku tantangan. Tapi kemudian..

“Apa?” Kataku.

“Tidak Ada. Tantangan itu tidak ada. ” Katanya dengan percaya diri.

“Lalu?”

“Hanya kamu yang bisa membuat tantanganmu sendiri.”

Ya, hanya kita. Hanya kita yang tau bagaimana membuat hidup menjadi banyak rasa. Jika melakukan aktivitas yang sama setiap hari membuat kita bosan lalu kenapa tidak mulai mencoba bereksplorasi dengan hoby baru?

Tapi aku sarjana teknik, masa ujung-ujungnya bikin kue?

Tapi aku sarjana fisika, masa ujung-ujungnya jualan?

Tapi aku ini sarjana hukum loh, masa ujung-ujungnya pengen dalemin ilmu parenting?

Tapi aku sarjana akuntansi, masa mau jadi blogger? *eh

Apapun hobynya kalau ngadem di rumah aja jadinya sama aja..!

Please.. Aku mau kerja di luar ajah! Bosaaaan!

Looooh?

Apakah Bekerja Di Luar Adalah Solusi Terbaik?

Jika rumah sudah membuat emak-emak mulai tidak waras, lantas apakah bekerja di luar adalah solusi terbaik?

Hal pertama yang perlu disadari adalah Apakah ini benar-benar hal yang diinginkan ataukah hanya keinginan karena rasa bosan saja? Benarkah passion emak hanya bisa berkembang jika bekerja di luar?

Jawabannya hanya emaklah yang tau.. Hihihi..

Iya, seperti diriku yang setahun silam pernah ngotot sambil nangis bombay mau kerja di luar karena bosan di rumah. Apa yang dilakukan suamiku? Tentu saja mengelus-ngelus manja sambil menjadi pendengar yang baik lalu ikut membantu mengajukan lamaran. Namun…

Hal ini masih maju mundur. Bukan, ini bukan karena aku terlanjur tidak percaya diri dengan ilmu yang sudah lama tidak digunakan. Tapi, aku sadar bahwa passionku sebenarnya sudah melekat di rumah. Hal yang aku butuhkan sebenarnya hanyalah mengekspresikan passion ke ‘wadah’ yang benar. Karena itu, blog dan sosial media telah menjadi tuangan ekspresi untuk itu.

Jika bekerja di luar adalah solusi terbaik maka mari kita mulai menanyakan hal itu kepada para working mom. Salah satu temanku yang merupakan Ibu Pekerja sempat curhat dan mengaku iri denganku. Ia mengaku tidak punya cukup waktu untuk keluarganya karena terikat dengan kewajiban di luar yang memakan banyak waktunya. Pekerjaannya di luar tidaklah menyenangkan sesuai ekspektasinya dahulu, ia merasa stress dengan deadline demi deadline. Bahkan, ia merasa bahwa bonding antara ia dan anaknya terasa sangat tipis jika dibandingkan dengan hubungan anak dengan neneknya ataupun dengan pengasuhnya. Dibalik itu semua ia merasa sudah berusaha maksimal untuk menjadi ibu yang baik.

Di sisi lain, salah seorang temanku yang merupakan Working Mom merasa bahwa hidupnya sudah sempurna. Memiliki passion yang tersalur dengan baik serta anak yang memiliki bonding erat dengannya. Selalu menangis saat ia mulai berpisah untuk bekerja yang membuat sensasi menyenangkan baru untuk kesehariannya atas rasa rindu dan keterikatan itu. Berbeda dengan teman yang iri denganku seperti di atas, Ibu yang satu ini terus menanyakan hal sama padaku, “Apakah Tidak Bosan di rumah saja?”

Ada dua hal yang aku pelajari dari dua temanku di atas. Teman pertama bekerja tidak sesuai passionnya dan sangat terikat dengan pekerjaannya. Sementara teman kedua bekerja dengan passion sehingga ia bekerja seakan sedang ‘piknik batin’ hal ini tentu menghasilkan output kebahagiaan yang berbeda.

Sementara aku? Aku memiliki hal yang tidak dimiliki keduanya. Ya, kebebasan memilih.

Apapun Pilihannya, Seorang Ibu haruslah Bahagia

Masih berpikir ingin bekerja diluar?

Benarkah itu hal yang benar-benar Anda inginkan?

Dapatkah keluarga mendukung keinginan Anda dalam menggeluti passion di luar?

Apapun itu, setiap Ibu harus memiliki cita-cita yang membuatnya bersemangat. Jangan sampai rasa jenuh dan bosan menghalangi semangat seorang ibu. Jenuh itu pasti, bosan itu? Hanya kita yang tau persis apa solusinya.

Baca juga: Sepenggal Cerita Tentang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Pilihlah pilihan yang benar, hanya Anda yang tau hal itu. Ingatlah, seorang Ibu harus benar-benar bahagia, bukan sekedar pura-pura bahagia. 😊

9 Hal yang Menyebabkan Tulisan Emak-Emak Tak Kunjung Selesai

9 Hal yang Menyebabkan Tulisan Emak-Emak Tak Kunjung Selesai

Siapa suruh jadi Blogger Mom?

Enak? 😂

Ngakunya hoby nulis tapi punya draft yang tak kunjung publish mengendap berbulan-bulan hingga hampir setahun lamanya. Ketika draft dibuka lagi, bukannya lanjut nulis hingga finish tapi malah di tutup lagi karena bingung… Sebenarnya emak mau nulis apa lagi sih ini? 😅

Ada yang begini?

Yuk kita saling curcol kira-kira apa penyebabnya?

1. Tidak menetapkan Deadline

Siapa sih yang suka ngerjain sesuatu kalau udah mepet deadline? 🙋

Aku? Enggak.. Aku sih anak baik.. 😂

Sadar tidak? Kalau kita membuat perencanaan hingga deadline dalam mengerjakan sesuatu pastinya kegiatan kita akan terarah dengan baik, tidak terkecuali soal menulis. Nah, kalau kita tidak punya perencanaan matang dalam menulis dan tidak menetapkan deadline sudah pasti draft akan bertumpuk tidak jelas. *Iya, kayak emak satu ini.. hitung saja draft yang tak dilanjutkan tulisannya.. 😂

Sebagai golongan newbie dalam dunia blog, aku biasanya membuat jadwal sendiri dalam menulis. Meskipun jadwalnya abstrak, yang pasti dalam seminggu harus ada minimal 1 atau 2 tulisan. Nah, untuk membuat diri lebih termotivasi lagi biasanya aku mengikuti blog collab yang diselenggarakan oleh komunitas blogger. Sebenarnya akan lebih semangat lagi kalau ada event blogger yang bisa diikutin sih. *Eaaa… 😅

2. Godaan Sosial Media

Siapa sih yang suka nulis blog pake hengpong? 😂

Sudah jelas pastinya godaan melirik sosial media sangat besar. Contohnya nih…

TING..!

Tiba-tiba dapet inspirasi. Ga tau tuh inspirasi tiba-tiba suka nongol aja sendiri. Langsung cuss ambil hp sambil nulis draft. Tiba-tiba..

Teng tong.. (abaikan.. cuma grup WA biasa)

Teng tong.. (abaikan.. cuma pemberitahuan biasa)

Teng tong.. (biasalah.. Paling si anu heboh BC buat jualan..)

Teng tong.. (bentar.. Wah, ada job.. Close dulu mau ngisi entar kehabisan campaign)

Istirahat dulu.. Nanti inspirasi bisa nongol kalau liat Facebook.

Wah.. Berita apa nih? Wah.. Wah…

Koment? Gak usah deh, liat komentar orang aja..

10 menit… 20 menit… 1 jam..

“Wah udah jam segini aja?” 😱

Pas mau ngelanjutin ngedraft bilang, “eh, tadi harusnya aku nulis apa lagi?” 😂

Lalu pas udah ingat, lanjut nulis lagi.. Tapi.. Bentar.. Update status dulu..

Eaa.. 😅

Dst.. Dst.. 😂

3. Kehilangan Inspirasi karena Rutinitas Harian emak-emak

Suatu hari sang emak bertekad ingin menyelesaikan sebuah tulisan. Ia lalu mengikat kain perjuangan diatas kepalanya dan berkutat di dalam kamar bersama laptop dan cemilannya. Yah, mumpung si kecil tidur siang.. Kapan lagi sih?

30 menit kemudian…

“Mamaaaa..” 👶😭

😌😌😌

Dan sang emak pun ikut tertidur saudara-saudara… 😪

***

Di pagi hari saat sang emak sudah menyelesaikan kewajiban hariannya dan si kecil sedang sekolah, ia langsung menuju kamar dan bersiap mengetik, lalu..

Teng tong.. (eh.. WA suami)

Aku makan siang dirumah hari ini sayang.. ga jadi makan di kantor..

Gubrak.. 😌

***

Ini dia.. Malam hari..

Malam hari memang waktu terbaik untuk menulis. Semangat lagi mak!!

Tiba-tiba… Suami datang..

“Ehm.. Sayang…”

Eaaaa… 😂

to be continued

4. Kebanyakan Nonton Drakor

Sudah Emak-emak kok masih hoby nonton drakor?

Kayaknya bukan aku aja ya.. Banyak emak begini kok.. Tanya aja emak yang lain.. 😂

Katanya sih nonton drakor itu sebagian dari rutinitas me time dan benefitnya bisa menimbulkan inspirasi untuk menulis. Kalau satu episode buat sehari aja gak papa lah ya… Tapi…

Biasanya emak suka khilaf namatin drakor hingga beberapa episode dalam sehari.. 😂

Ngakunya sih kalau enggak tamat inspirasi menulis enggak datang-datang. Nyatanya?

Hayati lelah bang.. Kebanyakan inspirasi dan khayalan dari film korea.. Mau bobo dulu mimpiin oppa…

Eaaa.. *digetok gayung.. 😅

5. Baper berkepanjangan karena Traffic

“Traffic blog aku segini aja.. Ga ada peningkatan..” 😭

Ya gimana mau ada peningkatan nulis aja jarang banget.. 😅

Terus, belajar SEO apa kabar?

Fanpage berdebu apa kabar?

Mau di BW tapi BW di blog lain aja enggak ada, kamu kira udah jadi artis papan atas? 😅

Yang baca tulisanku siapa sih? Nanti-nanti aja juga nulis ga pengaruh apa-apa. Haha

Sering begini? Aku sering.. Hihi..

6. Minder melihat tulisan orang lain

Tulisan emak yang menang lomba kok bagus amat sih.. Apalah aku, reremahan rengginang di kaleng khong guan yang sudah berkarat dan diasingkan.. *eaa.. 😅

Suatu ketika si emak mau belajar dari penulis-penulis terkemuka tapi apalah daya.. Malah keranjingan membaca dan tak memulai menulis. 😂

Dan ketika mau nulis? Lah, kok jadi pengen mengutip aja? Hahaha

Gak papa.. Kumpulin kuote-kuote berkualitas dari para penulis dan jadikan semangat.

Zzzzz… 😴

7. Kurang Piknik dan Silaturahmi

Apakah emak yang kerjaannya dirumah saja bisa dapat inspirasi?

Bisa ajah. Apalagi kalau rajin baca buku..

Masa? Aku kok enggak ya.. 😂

Sebagai emak yang kadar introvertnya kadang tulen dan kadang nanggung maka yang namanya piknik dan silaturahmi itu penting sih buat aku. Karena piknik itu bisa menyejukkan pikiran dan silaturahmi membuat aku bisa bertukar pikiran dengan yang lain.

So, emak yang kurang piknik dan silaturahmi itu pasti jiwanya agak kosong sehingga inspirasi pun jarang menghampiri.

Makanya mak, piknik bareng yuk.. 😆

8. Kurang Baca Buku

Mau konsisten nulis tapi jarang membaca buku? Lupakan Impianmu..

*ambil kaca.. 😅

Soalnya sebelum kita menulis hal-hal ‘berat’ kita harus melakukan berbagai riset dulu dong dari berbagai sumber tak terkecuali buku. Kalau tidak hasil tulisannya akan didominasi curcolan tidak jelas semata. *ini siapa?

Malas baca buku? Kelaut aja.. 😂

*tapi disini adanya cuma sungai.. 🏊

9. PMS

Ah, siapa sih emak yang belum kenalan sama siklus yang satu ini? PMS adalah singkatan dari Pramenstruasi. Pastinya semua emak sudah sangat bersahabat dengan siklus ini. Memangnya kenapa kalau siklus ini menghampiri? Efeknya apa?

Yes, emak jadi punya mood labil yang aneh. Itu aku.. Hihi..

Biasanya dimulai dengan sakit kepala yang bikin emak minum obat dan berakhir dengan bed rest. Setelah sakit kepala berakhir maka mood mulai tidak stabil. Ya, itu tuh yang suka nangis enggak jelas padahal penyebabnya cuma hal kecil kemudian guling-guling di kamar, bisa juga lari-larian ala film india. Konyol bukan? 😂

Maunya sih minta diperhatiin, lalu begini begitu. Tapi…

👨:”Wah, jerawat mama kok gede banget?”

👩: … (nelen ludah.. Masuk kamar)

Baper pemirsa.. Hahahaha

Ya, itu dia 9 hal yang bikin emak-emak tak kunjung menyelesaikan tulisan versi shezahome. Kalau versi emak yang lain? Bagaimana? 😆

IBX598B146B8E64A