Browsed by
Category: Motherhood

Mengeluh karena Penat, Bolehkah?

Mengeluh karena Penat, Bolehkah?

“Bolehkah seseorang mengeluh ketika merasa penat? Atau sebaiknya menutupinya dan berusaha terlihat baik-baik saja?”

Penat adalah Proses

Aku terbaring siang itu. Kala si kecil mengantuk, akupun tanpa sadar ikut mengantuk juga. Orang bilang, menyusui adalah proses yang harus dilakukan bersama dengan pekerjaan baik. Membaca surah pendek misalnya atau sekedar berdzikir. Tapi tanganku gatal memeriksa handphone untuk sekedar melakukan tugas rutin mingguan. Blogwalking dan menelusuri sosial media. Dan akhir-akhir ini, rutinitas itu membuatku mengantuk. 

Terbangun dan menyadari bahwa aku tertidur selama 2 jam. Syukurlah si kecil Humaira masih tidur. Perlahan kulakukan jurus ninjutsu baru. Gerakan berpindah tempat tanpa bunyi dan pergerakan. Sudah sering kulatih jenis ninjutsu ini. Tapi seringnya gagal dan menimbulkan bunyi ‘kreek’ dari kasur. Alhasil, Humaira menyadari dan menangis melihatku. 

Rutinitas biasa dari keseharian ibu rumah tangga biasa. Drama biasa-biasa saja bukan? 

Tapi kadang, hal beginilah yang membuatku merasa penat. Bahkan tertidur 2 jam pun merasa sangat berdosa. Lihatlah mainan yang lupa kubereskan. Lihatlah cucian yang belum dijemur. Bagaimana kalau ada tamu yang datang? 

Perulangan yang kadang terjadi setiap hari. Membuatku merasa menjadi bukan Istri yang baik. Tapi, kadang hidup harus memilih bukan? Mau jadi Ibu yang baik hari ini kah? Atau Istri yang baik kah? Kadang hari ini cantik, besoknya menjadi tidak karuan karena peran Ibu sedang dominan. Kadang masakan tertata rapi dan diri sudah cantik tapi anak terpapar gadget lama. Kadang, diri sendiri terupgrade sempurna dengan berbagai ilmu tapi suami terabaikan. 

Kadang berkata juga pada diri sendiri, “Tak bisakah punya jurus membelah diri? Atau seribu bayangan saja?”

Tapi logikaku masih jalan dengan baik. Dan aku selalu berkata pada diriku sendiri.. 

“Ini tidak akan lama. Ini hanya sementara.”

Karena penat adalah proses untuk bangkit. 

Nikmati setiap rasa penat dengan syukur. Karena makhluk tanpa rasa penat, sedih, lelah dan down itu bukanlah manusia. Manusia bisa merasakan dan bisa memanjatkan syukur. 

Manusia, selalu memiliki pilihan. 

No Pain No Gain

Dalam penat, selalu ada luka. 

Ih..sudah penat, luka pula. Apa asiknya! 

Yah.. Aku menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada ibu yang sempurna. Kecuali mungkin ibu yang bisa membelah diri atau memiliki ninjutsu hebat. Siapa aku? Amoeba bukan, ninja juga bukan. 

Tapi, bolehkan seorang ibu punya jalan ninjanya sendiri? 

Aku memutuskan untuk mengakui rasa penat itu. Membagikannya bersama suami. Melalui penat itu. Jika suatu saat luka datang dari rasa penat.. Baik itu berupa luka dari diri sendiri, suami maupun anak yang kadang terabaikan maka aku memutuskan untuk mengobati luka itu. Membuka luka dan mengobatinya. Bukan sekedar mengabaikannya dan berkata aku tidak apa-apa. 

Karena dalam setiap luka, ada perolehan. 

Aku memutuskan untuk tidak menyesali masa laluku. Diriku yang sempat terkena PPD, anakku yang terpapar oleh rasa itu, hingga pertengkaran yang pernah terjadi dengan suami. Itu hanya masa lalu. Aku sudah mendapatkan pelajarannya. Sudah memiliki harga atas itu semua. 

No pain, No gain

Mengeluh Karena Penat itu Tidak Apa-Apa.. Tetapi.. 

Kembali lagi, apakah mengeluh karena rasa penat itu tidak apa-apa? 

Apakah tidak apa-apa jika kita merasa lelah kemudian mengabaikan obatnya? Butuh tidur misalnya. Tapi kita mengabaikannya. 

Menurutku, itu salah. 

Begitupun dengan rasa penat di hati. Jika kita sedang merasa tidak baik-baik saja dengan kondisi yang ada maka apakah kita tidak boleh mengeluh? 

Boleh, mengeluh atas ketidaknyamanan maupun rasa penat itu sungguh tidak apa-apa. Tapi, mengeluh-lah sekedarnya. Dan yang lebih penting lagi, carilah jalan keluar atas rasa penat. 

Karena sesungguhnya fungsi dari mengeluh adalah membuka kesadaran. Lantas mencari ruang teduh untuk mengatasi penat itu. 

Dan carilah ruang teduh yang cocok untuk diri kita masing-masing. 

Karena setiap kita punya cara yang berbeda. 🙂 

Jadi, sudahkah Anda memiliki solusi dari rasa penat? 

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

“Sayang banget ya kalau udah tinggi-tinggi sekolah, eh ujung-ujungnya cuma jadi IRT..”

“Iya… Bukannya apa ya. Dulu kamu kan punya cita-cita jadi bla bla. Sayanglah. Kan kamu pinter..”

“Kalau punya mimpi kejarlah mimpi itu. Jangan jadikan anak sebagai alasan. Itu terlalu klise..”

Perkataan-perkataan itu, sering sekali kadang mengelilingi kehidupanku. Lalu aku bertanya pada makhluk-makhluk yang mengeluarkan statement tersebut didalam hati. 

“Memangnya.. Kalian sendiri sudah menggapai mimpi kalian yang dulu?”

Dear Diriku: Masihkah ada Mimpi yang dulu? 

Jika ditanya sebuah mimpi atau itu cita-cita atau itu rancangan masa depan maka bisa dibilang aku adalah makhluk ‘terlabil’ dalam merancang sebuah mimpi. 

Aku pernah bercita-cita menjadi Guru TK yang cantik, menjadi model yang cantik, menjadi sailor moon, menjadi detektif, hingga kemudian aku masuk kedalam lubang materialisme saat remaja. Lalu tujuan hidupku mulai abstrak. 

Saat melihat kakakku sukses kuliah di kedokteran dan dipastikan masa depannya secerah intan berlian, aku si anak biasa-biasa saja cuma punya satu mimpi saat itu. 

“Apapun yang terjadi, aku ingin lebih sukses dibanding kakakku..”

Terjunlah aku kedunia ekonomi di kampus karena berharap menjadi orang kaya dimasa depan. Tapi, bukan jurusan ekonomi akuntansi di universitas ternama, melainkan di D4 Ekonomi syariah lebih tepatnya. Aku terjatuh mental 2 kali untuk masuk di jurusan akuntansi yang kuinginkan. Mungkin keberuntunganku sudah habis, mungkin juga stoknya masih bersisa untuk dua hal..Jodoh dan rejeki. Saat itu, aku percaya pada opsi terakhir. Keberuntunganku hanya tertunda. 

Saat lulus aku bermimpi untuk sekolah lagi. Entahlah kurasa dunia kampus itu menyenangkan sehingga aku berkeinginan untuk bekerja di kampus. Apapun, asal itu di dunia pendidikan. Tapi, jodoh memanggilku dengan cepat. Ia adalah asisten dosen dikampusku sendiri. 

Orang bilang, hidup ini bukan ditentukan tentang bagaimana kita memilih sebuah pilihan. Tapi, tentang bagaimana kita melihat sebuah kesempatan. 

Aku, melihat jodohku bukanlah sebuah pilihan. Melainkan kesempatan. Aku, memilih menjadi ‘bucin’ dibanding mengejar cita-citaku. Dan aku? Menikah. 

Impianku pun labil lagi. Aku sangat puas bisa menikah layaknya putri di negeri dongeng. Pernah berperan layaknya menjadi cinderella, lalu putri salju, lalu aladin. Setidaknya, adegan disetiap dongeng itu pernah aku alami. *tentunya adegan yang biasa saja, namun imajinasiku melebih-lebihkannya. Haha. 

Aku sempat ingat dengan mimpiku dikala remaja. Sempat bersemangat lagi. Tapi kemudian, aku hamil dan harus LDR dengan suami. Tidak adanya support sistem membuat mimpi itu tertunda. Lantas, seiring berjalan waktu.. Coba tebak apakah mimpi itu masih ada? 

Masihkah aku seambisius dulu? Setelah beberapa tahun berlalu? 

I’m a realistic person.

Pernahkah kalian menonton film start up? Apakah kalian bisa paham perasaan Dal Mi? Kenapa dia lebih memilih tidak kuliah dan memakai uang neneknya untuk membuat toko baru untuk neneknya?

 

Karena itulah langkah yang bijak dimatanya. 

Dan itulah aku yang sekarang. Kuliah? Bekerja di bidang pendidikan? Its not me anymore. 

Apa boleh buat, ternyata berkorban itu candu. Termasuk mengorbankan impian. Dan tahukah? Ternyata candu itu tidak jelek. 

Ketika Mimpi Itu Menemukan Cabangnya

“Aku percaya, setiap pilihan seorang Ibu itu baik. Mau bekerja atau hanya menjadi IRT. Semuanya baik. Asalkan.. Ambisi dan Semangatnya selalu terisi. Bukan sekedar terisi karena bahagia. Tetapi terisi karena mimpi itu masih ada.” -Shezahome

Krisis pencarian jati diriku memiliki nasib seperti Do San. Segalanya abstrak. Tapi, ketika bertemu dengan jodohku maka segalanya terasa jelas jalannya. 

“Mimpiku dulu selalu sendirian. Tapi, sejak tangan itu ada. Mimpiku jadi bercabang. Dan aku menjadi bersemangat.”

Delapan tahun aku berumah tangga dari ekonomi yang down hingga bisa membantu ekonomi orang lain. Dari mendukung suami menjadi dosen, hingga mendukung suami mendirikan perusahaannya. Dan yang terpenting, aku menikmati proses itu. Tanpa kusadari, aku pun sedang membangun mimpiku sendiri. 

“Ketika manusia kehilangan impian, maka segala semangat itu hilang. Manusia harus punya mimpi untuk bersemangat hari ini.”-My Hubby. 

Aku percaya, bahwa setiap perempuan memiliki mimpinya masing-masing. Adalah tidak apa-apa jika ia bermimpi karirnya harus sedemikian. Juga tidak apa-apa jika ia merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan. Selama ‘impian rumah tangga’ selalu mendapatkan tangga teratas, kenapa tidak? Selama ibu tidak ambisius menurunkan mimpi gagalnya pada anaknya.. Kenapa tidak? Jangan takut untuk meneruskan mimpi. Dan ya, hidup harus punya mimpi. Bukan sekedar mimpi membahagiakan orang yang disayang. Tapi juga mimpi untuk merawat keinginan diri sendiri dan mengontrol batasannya. 

Mengejar Mimpi, Adakah Batasnya? 

Mengontrol batasannya? Apa maksudnya? 

Sesungguhnya, aku menulis ini terinspirasi dari film Soul. Ada yang pernah nonton? Sungguh, film ini menarik sekali. Apalagi untukmu yang sedang mengejar mimpi. 

“Ketika kecil kita memimpikan sungai, ketika remaja kita memimpikan laut, lantas.. Ketika sudah semakin tua, Laut mana lagi yang kau cari? Itu tidak ada batasnya. Carilah zona aman yang produktif. Yang membuat dirimu senang dan bisa menyenangkan.”

“Kita terlalu lelah mengejar hari esok. Merancang rencana-rencana masa depan. Hidup seakan menerka nerka sebuah kemungkinan, mencegah hal buruk terjadi di masa depan. Tapi kemudian kita lupa, lupa akan hal yang paling penting. Yaitu menikmati masa sekarang.”

Kalau pada teori ekonomi islam ada istilah, “Kebutuhan manusia terbatas, keinginan manusia yang tidak terbatas..”

Maka, mungkin dalam teori psikologis mungkin ada istilah, “Impian manusia sebaik-baiknya adalah yang merasa cukup akan apa yang sudah ia gapai. Melupakan sejenak tentang ambisi di masa depan dengan memberikan yang terbaik saat ini, waktu ini, hari ini.”

Terdengar seakan menyerah, tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Zona aman itu tidak selamanya jelek. Sejauh dalam zona aman, kita selalu bisa membahagiakan orang lain. Kadang, mimpi yang tiada batasnya itulah yang tidak baik. Saat kita tidak bisa menikmati saat ini karena terlalu berpikir untuk masa depan. 

“Ketika manusia terlalu banyak bermimpi, berambisi.. Ia menjadi egois. Ia abaikan kasih sayang dihadapannya. Ia tak kenal ‘rasa cukup’. Ketika manusia kehilangan jiwa sosialnya, lalu kehilangan kasih sayang karena mengejar mimpi maka ia tak lagi menjadi seorang manusia yang hangat. Ia layaknya seekor ikan yang tak kunjung puas dengan perairan di terumbu karang. Terus berjalan mencari laut hingga tersesat di palung hitam.”

Ya, mimpi itu harus memiliki batas. Sudah mengerti bukan tentang batas yang aku maksud? I mean, berhentilah hidup untuk perencanaan demi perencanaan yang tiada habisnya. Hidup harus seimbang. Hiduplah dengan maksimal di hari ini. Maka, di hari-hari berikutnya akan ada mimpi tak terduga. 

Aku, selalu percaya akan hal itu. 

Dan apalah yang kita kejar di dunia ini? 

Bukankah kita lahir untuk belajar, lantas berbagi kasih sayang. Lalu ‘mewariskan kebaikan’. Jika mimpi kita berlebihan dan membunuh semuanya. Cukupkan sampai disini. 

Hiduplah dengan Maksimal Hari ini Kemudian Mimpi Itu akan Datang. 

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Mengejar mimpiku dan meninggalkan hal yang seharusnya aku jalani?” Aku bertanya padanya. 

“Bukan meninggalkan. Tapi mencoba memilih opsi yang lain. Kamu mengagumkan win. Hidupmu tak seharusnya berputar antara dapur, sumur dan kasur saja..” Temanku berkata. 

“Kamu tahu? Seorang wanita ketika menikah dihadapkan pada 2 pilihan dalam membangun mimpi. Tidak ada yang salah. Yang satu membangun mimpinya sendiri. Sedangkan yang lainnya mencoba menguatkan mimpi suaminya, mendukungnya, ikut bersamanya. Meraih dahaga yang berbeda untuk menyegarkan dirinya sendiri. Kamu sungguh sangat beruntung memiliki opsi untuk mimpimu sendiri. Tapi aku? Aku berbeda. Aku tidak bisa sepertimu. Aku adalah seorang partner. Bukan lagi winda yang individualis. Apa boleh buat. Aku sudah berkenalan dengan cinta. Tetaplah hidup dengan mencintai versimu sendiri, aku hidup dengan cinta versiku sendiri. Tidak ada yang salah dalam langkah kita. Keduanya mengagumkan.”

Dan setelah bertahun kemudian. Aku bertemu dengannya lagi. Masih dalam mata yang sama. Kasus yang sama. Tapi, status yang berbeda. 🙂

Dan akhirnya, aku membenarkan kata-kata ini:

“Tidak ada yang namanya pilihan yang salah jika didasari oleh Cinta..” – 

Anne Of the Green Gables

Aku, seorang Ibu biasa. Delapan tahun aku menjalani hari-hari ‘biasa’ layaknya Ibu Rumah Tangga. Awalnya membosankan, lalu aku sempat depresi, kehilangan mimpi. Kehilangan diriku sendiri. 

Tapi, segalanya berubah sejak aku menemukan ‘jalan ninjaku’ sendiri. Menikmati hari-hariku sendiri. Tidak selalu bertumpu pada masa depan. Selalu berkata ‘tidak apa-apa’ ketika target hidupku lepas. Setidaknya, aku selalu memiliki orang yang bisa kupeluk dan aku semangati. Orang itu, telah membawaku menjadi aku yang sekarang. Dan aku tidak pernah menyesal mendukungnya dari awal. 

Ya, aku tidak menyesal. 

Jika saja dulu aku bersikeras untuk bisa mengambil beasiswa dan terikat di kampus yang memiliki jarak berbeda dengan suami. Maka besar kemungkinan aku dan dia akan LDR. Meski status ekonomi pasti sangat baik dari awal pernikahan, tetapi aku tidak bisa menjamin pernikahanku akan baik-baik saja. Atau suamiku akan baik-baik saja. Dan entahlah bagaimana dengan anakku. Aku bukanlah seseorang yang multitasking. Jika aku mengejar ambisiku, maka mungkin aku tidak akan berada di titik yang sekarang. Begitupun suamiku, tidak akan sesukses sekarang. 

Aku memilih langkah berbeda. Menjalani hidup dengan maksimal ‘di masa sekarang’. Melupakan tentang masa depan. Menekuni hobi yang abstrak. Memasak, berdandan, menulis, bercerita, belajar, mengikuti komunitas, belajar lagi. Tidak menghasilkan uang tentu. Dipandang biasa saja? Tentu saja. Hal biasa itulah yang mengubah masa depanku. 

Kini, aku bersyukur. Semua mimpiku sudah hilang. Tapi digantikan oleh mimpi yang baru. Tanggung jawab yang baru. 

Aku bersyukur mendedikasikan hidupku untuk keluargaku. Karena keluargaku telah membantuku menemukan jati diriku. Kalian tau? Aku tidak pernah berhasil menemukannya sendirian. Ketika single dulu selama 22 tahun.. Tidak pernah berhasil. 

Jadi, Haruskah seorang Ibu mengejar Mimpinya? 

Jawabannya bukan padaku, tapi pada dirimu sendiri. 

Cara kita tak selalu sama. Tapi satu hal yang sama.. 

“Hiduplah dengan maksimal hari ini”

NB: Please jangan cuma baca judul, headline, dan secuil-cuil kalimat saja lantas ehm.. komentarnya seperti menghakimi penulis seakan ‘menyerah’. Sungguh ini jauh sekali bukan tentang itu..:)

Jadi Mamak Super Galak Sejak Pandemi, Gini Solusi Recehku

Jadi Mamak Super Galak Sejak Pandemi, Gini Solusi Recehku

Jadi galak sejak pandemi? Sepertinya bukan cuma aku sih yang merasakan. Eh, ya gak sih? 

Gimana gak makin galak kalo kenyataannya pandemi ini bikin kita gak bisa keluar rumah secara normal lagi? 

Gimana gak makin galak kalo tiap hari musti ngajarin anak sendiri sambil diganggu bayi pula. Belum lagi kerjaan rumah yang tiada habisnya. Jangan lupakan pula berbagai kerjaan sampingan. 

Terus, gimana kepala gak makin keriting mikirin perekonomiannya di masa pandemi yang begitulah.. 

Dibalik pandemi corona ini. Tekanan psikologis merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Apalagi kalo sudah jadi mak emak. Kalau kitanya sendiri mulai jadi monster, gimana anaknya mau seneng plus happy belajar di rumah? 

Solusi Receh Menghilangkan Kegalakan Emak Kala Pandemi

Nah, Aku punya beberapa tips (konyol) yang mungkin bisa diaplikasikan agar monster-monster setan galak di kepala bisa sedikit freeeze dan menghilang selama pandemi ini. Cara-cara itu antara lain adalah:

Cuci Mata Belanja Online

Sejak pandemi entah kenapa jempol jariku ini suka sekali iseng membuka aplikasi market place. Mulai dari shopee, lazada, tokopedia dsb. Jempol ini otomatis bergerak seketika sambil menunggu anak mengerjakan tugas. Setidaknya, pekerjaan jadi tidak membosankan. 

Bahkan, kadang aku sering tertidur jam 1 malam hanya untuk melihat update flash sale terbaru. Duh, segitunya. 

Pertanyaannya.. Apakah aku sering shopping

Jawabannya adalah.. Tidak juga.. Haha

Aku hanya suka melihat trend harga terbaru dari berbagai brand. Aku juga senang membandingkan harga asli dan promonya. Dari seringnya memantau harga-harga tersebut, aku jadi bisa membayangkan titik BEP suatu harga dan titik yang benar-benar murah. Ini seru. Mainan barunya manager keuangan rumah tangga. 

Jadi, ketika aku menemukan harga-harga menarik di market place tersebut. Aku selalu iseng memasukkannya ke keranjang. Apakah dibeli? Oh tidak. Hanya dilirik-lirik manja. Sementara sambil dilirik-lirik, mini spongebob mulai bekerja diotakku. 

Sponge Bob 1:”Ih bagus ya?”

Sponge Bob 2: “Ih kira-kira diskonnya boongan gak ya?”

Sponge Bob 3: “Coba lihat disini dulu..” (Buka market place berbeda) 

Sponge Bob 4: “Nah kan boong”

Sponge Bob 5: “Nanti coba kalo jalan kita sekalian mampir ke toko anu. Kira-kira berapa harga aslinya kalo disini..”

Sponge Bob 6: “Jangan. Disini harganya titik rendah nih. Buruan checkout. Nih hampir habis..”

Sponge Bob 7: “Memangnya ada budgetnya?”

Yaa.. Kira-kira begitulah yang terjadi. Receh dan ketegangan yang menyenangkan. Setidaknya bisa sedikit meredakan setan squidword yang sedang galak dan ingin mendominasi otak sponge bob. Haha

Terapi Drama Korea

Mamak galak itu butuh belaian dan sentuhan. Lalu pelukan kemudian emm.. eh.. Bukaan.. Bukan itu! 

Mamak galak itu butuh drama! 

😂

Karena hidupnya terlalu ‘flat’ dan membosankan. Jadi, tidak ada salahnya terapi diri dengan menonton drama korea. Setidaknya, ada ketegangan dan campur aduk emosi agar kegalakan itu bisa diredakan. 

Iya, psikolog bilang kalau manusia itu gak bisa stuck pada jenis emosi yang itu-itu aja.

Kalau kopi Good Day bilang tuh “Karena Hidup Perlu Banyak Rasa”

Jadi, karena hidup emak sejak pandemi ini rada-rada hambar begitulah.. Maka emosi-emosi yang ada pada drama korea merupakan terapi tersendiri. 

Minggu ini film action yang dibintangi oppa nganu. 

Minggu depan film lope lope yang dibintangi oppa nganu. 

Minggu depannya lagi, film lucu yang dibintangi oppa nganu. 

((Inilah alasan kenapa tulisan shezahome jarang update pemirsa)) 

Begitulah kiranya, hidup santuy sambil makan mie instan tapi sesungguhnya ketahuilah bahwa hidup emak itu banyak drama.. 😎 *walau kenyataannya flat sekali.. 😂

Minta Tambahin Jatah Bulanan (Kalo ada yaaa.. ) 

Keranjang shopee emak udah 99+ tuh. Tambahinlah jatah bulanan.. Yah.. Yah.. *pasang mata kucing

“Aduh mamah ini. Lagi corona gini jangan belanja mulu ah kerjaannya. Banyak yang lebih susah nih hidupnya. Bla bla bla.. “

Oke. Proposal ditolak. Wkkw.. 

Jangan sedih atuh kalau proposal ditolak. Harus legowo. Intinya kalau sesungguhnya kebutuhan pokok masih cukup saja ya belajarlah untuk bersyukur. Karena istri yang tetap setia mendampingi suami saat ekonomi sedang down adalah istri yang luar biasa. 

Baca juga: Menghadapi suami yang lemah soal nafkah lahir

Memang sih tidak dipungkiri ya kalau bahagia itu butuh duit. Tapi sesungguhnya itu adalah solusi instan. Yang mana sesungguhnya serba instan itu tidak baik. 

Tidak melulu sedih, marah dan rada galak itu solusinya duit kok. Percaya deh. 

Gunakan Imajinasi Kehaluan Tingkat Tinggi

Sejak pandemi ini, aku mengatasi kejenuhan di rumah dengan kehaluan tingkat tinggi. Kehaluan ini aku ciptakan agar monster dalam diriku tidak kambuh lagi. 

Beberapa kehaluan konyol itu diantaranya adalah

Makan Mie Instan Rasa Ramen

Udah sekian lama deh rasanya enggak pernah makan diluar lagi. Kangen sekali rasanya sensasi makan bakso ketika lagi hangat-hangatnya. Ditambah dengan angin sepoi-sepoi plus jalan-jalan setelahnya. 

Karena itu, untuk mengatasi rasa kangen itu aku kadang suka sekali menonton drama berbau makanan. Kalau sudah adegan makan ramen, jajangmyeon dsb. Aku langsung berlari ke dapur. 

Bikin sendiri? 

Enggak. Mana sempat. Haha. 

Ya makan mie instan donk. Tapi, makannya sambil menonton drama makan. Setidaknya rasanya jadi 11-12 lah. Puas sendiri jadinya. Makan mie instan tapi serasa ramen berkat kehaluan.

Piknik di rumah

Beruntung sekali rasanya membelikan Humaira hadiah tenda mini di ulang tahunnya yang pertama. Karena sesungguhnya, yang mau main tenda itu bukan Humaira.. Tapi emaknya..😭🙄

Iya, jadi semenjak pandemi ini.. Keinginan piknik tak kunjung terjadi. Akhirnya, aku sering bermain di tenda bersama anak-anak. Senang banget rasanya. Memasak ayam plastik, telur plastik hingga memancing ikan plastik.. Dan konyolnya kadang Humaira bersikeras menjajalkan makanan-makanan plastik itu kemulutku. 😂

Adegan lebih konyolnya adalah Pica dan Humaira bahkan tidak tau kalau kadang tenda kecil itu aku pakai berhalu ria kala mereka sedang tidur. Memasak plastik lagi? Oh tidak, menonton vlog jalan-jalan sambil berhalu ria melengkungkan badan di tenda. Lalu tersipu malu sendirian di tenda. Hahaha.. 

Berbincang dengan Boneka

Please. Ini kehaluan yang astaga.. Luar biasa aneh. 

Tolong jangan anggap aku sedang ‘miring’ ya. 

Kehaluan ini bermula dari keseharianku yang sering berbincang dengan Humaira menggunakan boneka. Akhirnya, boneka-boneka tersebut jadi teman sehari-hari. Seakan pengganti kegiatan sosial harian, boneka-boneka tersebut aku beri nama memakai nama panggilan emak-emak di sekolahan. *Ops.. 😂🤣

Iya, kadang aku juga kangen dengan komunitas macan ternak (mamak cantik antar anak) di sekolah. Walau jarang ikut nimbrung, tapi senang saja kalau sesekali ada yang mengajak bicara. 

Dan kala malam tiba, boneka-boneka itu aku susun di rak dinding sambil berkata, “Dul, kamu besok ke sekolah pakai baju apa? Kita samaan ya.. “

😂😂😂

Nyetok Banyak Coklat di rumah

Sejak pandemi, aku membeli coklat batangan 2 bijik gede sebulan. Bagiku ini termasuk banyak dibanding bulan-bulan biasanya. 

“Wah, rajin banget bikin kue win?”

Percayalah aku tidak serajin dulu kalau urusan baking. Sepertinya aku sudah pernah curhat bukan? Kalau aku sangat bosan baking. 😂

Coklat batang aka DCC itu aku simpan dikulkas dan aku ‘cemil’ sedikit-sedikit kala ingin marah. 

Bagiku, coklat di masa pandemi sama fungsinya layaknya menghadapi dementor pada kisah Harry Potter. *halah

Pandemi ini layaknya dementor. Menghisap kebahagiaan dan rencana masa depan yang seharusnya terjadi. Jadi, menurut buku pertahanan pada ilmu hitam.. Coklat adalah pertolongan pertama jika kita tidak bisa mengeluarkan patronus. ((Ambil spatula sambil ngomong ‘expecto pratonus’))

Bagiku ini worked ya. Itulah mungkin kenapa hari kasih sayang dilambangkan dengan coklat. Ketika orang sedih, disarankan minum coklat hangat. Dulu, aku merasa saran itu sih kek strategi marketing aja. Sejak pandemi, aku benar-benar merasakan manfaat dari coklat ini. 

Curhat

Ini sih, kalo solusi-solusi diatas udah gak berhasil biasanya baru aku cari tempat curhat. 

Jangan nyari curhatan aku di blog ini. Blog ini tempat tulisan yang sudah disaring. ((disaring aja kek gini ancurnya ya..😂)) 

Jadi, biasanya aku curhat dengan teman aku. Atau bisa juga aku healing curhat dengan nulis panjang lebar di WA story. Privasi sudah aku atur sedemikian rupa. 

Kenapa sih suka curhat di status? Gak malu? 

Kenapa gak curhat sama Tuhan aja? Bla bla.. 

Gini ya.. 

Ya gitu deh solusi receh aku untuk mengurangi kegalakan. Pakar parenting bilang, kalau kita belum bisa menjadi orang tua yang sempurna.. Setidaknya, berpura-puralah menjadi orang tua sempurna di depan anak. Redamlah kemarahan itu dengan cara yang kita yakini adalah cara yang baik. Begituu.. 

Nah, kalau kalian gimana moms? Rada pengen galak juga gak sih kala pandemi ini? 

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

“Anaknya umur berapa Bu? Kok masih gak mau manggil Mama.. Kalau sudah 2 tahun begini perlu dikonsultasikan loh Bu..”

“Anak jangan digendong memakai gendongan begitu Bu, melihatnya gak nyaman. Coba saya coba gendong sebentar memakai kain ini..”

Dst dst

Apakah Itu Mom Shaming? 

Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca kata-kata diatas? 

Apakah langsung merasa baper? Lalu menjauh dan lantas marah karena tersinggung.. 

Atau senang karena merasa dipedulikan? 

Jujur, aku tipe yang agak ‘labil’ kalau disuruh menjawab soal ini. Karena aku sih tak memungkirinya, bahwa aku pernah marah dan tersinggung dengan salah satu kata-kata diatas. Tapi, aku juga pernah merasa senang karena merasa dipedulikan.

Ya.. Kadang juga berpikir sih, kok wanita se-complicated itu? Kadang baper, kadang marah tersinggung tidak jelas. Hah! 

Belakangan sering berpikir dan melamun dengan orang-orang yang sudah tidak bertegur sapa lagi denganku karena kemarahanku itu. Semakin berpikir dan berpikir.. Lalu semakin reframing lagi dan lagi.. Kok ya aku jadi sadar bahwa aku ini kadang tidak bisa membedakan antara sebuah kritik yang membangun dan mom shaming

Mom shaming adalah perilaku di mana terjadi pemberian kritik atau komentar kepada seorang ibu, yang justru membuatnya tertekan karena diucapkan dengan nada negatif. Bentuk nada negatif itu biasanya disertai dengan perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan dirinya sendiri lebih baik.

Contohnya adalah.. 

“Wah, kok anaknya minum sufor. Jadi kayak anak sapi dong. Kita kan manusia ya masa minum susu sapi. Aku nih kemarin ASI nya juga gak bisa keluar. Tapi aku terus berusaha nih gak menyerah. Kalau langsung menyerah kayak kamu bla bla.. “

“Duh, anaknya kok digendong gitu sih. Gendong tuh yang support M-Shape. Masa gendongan gini dipake. Kasian anaknya. Ngilu deh liatnya. Coba nih pake kayak punyaku. Belajar dulu bla bla.. “

Dua kalimat diatas bernada negatif juga sedikit membanggakan diri sendiri. Kalimat diatas bisa dikategorikan sebagai bentuk mom shaming. Walaupun maksudnya baik, namun cara penyampaiannya menyinggung hati. Sehingga maksud positif dari sebuah pesan menjadi tertutupi. 

Nah, kalau kalimat-kalimat seperti.. 

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

Bukanlah jenis kalimat yang bernada negatif. Karena didalamnya tidak ada kata ‘merendahkan, menekan hingga mempermalukan’. Tidak ada pula kata-kata yang memperbandingkan diri sendiri dengan orang yang dikritik. Maka, sebenarnya ini bukan termasuk jenis mom shaming. Tapi sebuah kritik positif. 

Pentingnya Kritik Positif untuk Perkembangan Hidup

“Sejak menjadi Ibu, perasaanku sensitif. Sedikit-sedikit tersinggung.. Aku jadi tidak bisa membedakan antara kritik dan nyinyir.. “

Perasaan itu pernah aku lewati setidaknya selama 3 fase kehidupanku. Yang pertama, ketika aku terkena baby blues. Kedua ketika aku tinggal di rumah mertua dan terkena PPD. Dan ketiga, ketika keuangan rumah tanggaku dalam kondisi down sekali. 

Banyak kritik positif yang singgah seakan mencoba menerangi pikiran gelapku. Namun, sebagian besar kritik positif itu tidak aku hiraukan. Aku malah ingin berbalik mencaci maki orang-orang yang mengkritikku itu. Rasanya ingin sekali aku berkata pada mereka, “Coba kamu jadi aku!”

Seiring berjalan waktu, beberapa kritik positif yang pernah singgah itu mulai aku renungi. Lalu perlahan aku aplikasikan dalam kehidupanku. 

Ternyata, kritik positif tersebut benar-benar membantu. Meski awalnya menyakitkan menghadapinya, tetapi sebuah kebenaran memang harus diaplikasikan. Kalau tidak, ya kita tidak bisa move on dalam hidup. Itulah kenapa kita kadang perlu menghadapi kepahitan untuk sebuah rasa manis. 

“Sejatinya, kritik positif bagaikan clue dalam permainan hidup. Mau naik level atau tidak? Itu adalah pilihanmu sendiri.. “

Mom shaming pun tidak selalu salah

Dulu, aku pernah menulis di blog ini bahwa sesungguhnya orang yang melakukan mom shaming adalah korban dari lingkungan yang salah. Circle hitam yang terus menerus ada sehingga tanpa sengaja bisa melukai orang lain. 

Baca juga: Tentang Memaafkan Mom Shaming

Satu hal yang aku garis bawahi adalah..

Orang yang melakukan mom shaming bukan berarti jahat. Ia hanya terperangkap dalam circle yang salah dan tidak bisa berkomunikasi. 

Yup, coba deh lihat. Kadang orang yang melakukan mom shaming itu bukanlah orang jahat kok. Tapi memang ‘gaya komunikasi’ yang ia miliki semacam itu. Baginya sih biasa saja, tapi bagi kita.. Emmmm… 

Jujur, aku hidup dikelilingi oleh lingkungan yang sopan santun sekali sejak kecil. Kalau ada kritik maupun saran pasti disampaikan dengan komunikasi yang nyaman. Kalau ada sedikit saja konflik saat komunikasi, pasti ada yang mengoreksi lebih awal. 

Saat menikah, lingkunganku jauh berubah. Aku tidak terbiasa dengan gaya bahasa yang sedikit kasar. Aku juga tidak terbiasa dengan kritik yang blak-blakan. Langsung hamil dan memiliki anak diusia tergolong muda membuatku sedikit kaget dengan suasana baru. Akhirnya, aku memutuskan menutup diriku sendiri dari komunikasi luar. 

Seiring berjalan waktu, aku sadar bahwa mom shaming yang sering singgah dikehidupanku merupakan sebuah kritik positif yang berbeda gaya bahasanya. 

Mungkin benar adanya sebuah nasehat lama itu.. 

“Jika orang tua berbicara, IYA kan saja. Sesalah apapun itu.. Suatu saat kamu akan mengerti arti kebenarannya.”

Teknik komunikasi: Dahulukan mengenal dan membaca situasi sebelum mengkritik

Dari belajar tentang menoleransi mom shaming hingga memahami dan mengaplikasikan kritik positif aku menjadi paham bahwa ada satu garis merah yang harus ditarik untuk menjadikannya pembelajaran yang berarti. 

Bahwa sebelum mengkritik seseorang, dahulukanlah mengenalnya..

Setelah sudah mengenalnya, bacalah situasi hatinya..

Pahami dan peluk hatinya..

Jika diminta bantuan, barulah beri pendapat dan kritik. 


Yup, begitulah kiranya. Setidaknya, menurutku inilah teknik komunikasi terbaik yang dapat aku simpulkan setelah sekian tahun belajar. Karena sebagus apapun kritik positif.. Kalau dilakukan tanpa membaca perasaan dan situasi maka kritik tersebut akan berakhir pada sebuah trigger permusuhan. 

Pernah mendengar istilah ‘Toxic Positivity’?

Istilah toxic positivity sendiri pernah ngetrend belakangan ini. Yaitu kondisi dimana seseorang secara terus menerus mendorong orang yang sedang tertimpa kemalangan untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan kenalannya itu atau tanpa memberi kesempatan kenalannya untuk meluapkan perasaannya.

Mungkin jenis toxic seperti inilah yang menjadikanku dulu sangat pemarah dan menutup diri. Ketika fase awal menjadi ibu baru, aku hanya ingin dimengerti oleh lingkunganku. Bahwa aku juga ingin merasa dihargai, diberikan ruang untuk berkeluh kesah dsb. Bahwa sesungguhnya, yang aku butuhkan hanya telinga. Bukan mulut untuk dikritik. 

Itulah kenapa akhir-akhir ini jika aku bertemu dengan keluhan new mom di sosial media, aku sangat amat jarang ikut berkomentar disana. Aku bahkan sangat jarang memberikan like dsb. Kecuali, dia adalah teman dekatku. Sesekali aku memberikan feel care di status tersebut. Atau malah mengomentari dengan tidak nyambung demi membuatnya tersenyum. Karena aku pernah berada di posisi tersebut. Aku tidak butuh kritik, aku hanya butuh teman pendengar. 

Tentang timing memberikan pendapat positif dan cara menyalurkan ekspresi

Berikanlah kritik positif ketika diminta. Itulah cara aman menghindari label mom shaming. 

Nah, jikapun mungkin kita sangat ingin memberikan edukasi positif terkait tentang ASI, cara menggendong, perkembangan anak, motivasi diri dsb maka akan lebih baik jika itu disharing melalui status sendiri saja dengan aturan yang bisa dibaca publik. Ets, tunggu sharing hal positif bukannya rentan jadi toxic positivity?

Manusia normal adalah manusia yang bisa berekspresi dengan bebas. Sedih punya ruang, senang punya ruang, norak punya ruang. 

Namun saranku, biasakanlah hidup memiliki privasi. Itulah inti dari sebuah ekspresi. Sejak menjadi ibu, aku akhirnya paham bahwa tidak semua orang bisa paham tentang rasa sedih, norak, positif dsb. 

Karena itu, aku mengatur privasi segala media sosialku. 

Blog adalah tempatku bercerita ketika segala pengalaman pahit dan manis telah menemukan hikmahnya. 

Facebook adalah tempatku bisa melihat perasaan teman-temanku. Tempatku mencari inspirasi. Tempatku bisa melihat video bermanfaat dari nas dkk. Ah, sereceh itu. 

Instagram adalah tempat dimana aku menebar hal positif saja. Sebuah citra singkat yang mungkin akan membuat orang berpikir kalau hidupku bahagia sekali. 

Dan WA story adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa sedih, norak, bingung, labil, alay, nyinyir dsb. Hanya kurang dari 10 orang yang bisa melihatnya. 

Wah, sepertinya tulisannya sudah sedemikian melenceng dari topik awal? 

Ah tidak juga. Karena sebenarnya ini berkaitan. Dan percayalah, segalanya akan teratur dengan baik jika kita bisa mengatur privasi. Karena awal mula dari mom shaming adalah ketika kita tidak bisa menempatkan ekspresi pada tempatnya. 🙂 

So.. kalian sendiri bagaimana moms? Lebih sering bertemu kritik positif atau mom shaming?

Perjuangan Menyusui Kedua Buah Hati Pasca Operasi Cesar

Perjuangan Menyusui Kedua Buah Hati Pasca Operasi Cesar

“Gak usah bersikeras menyusui, kamu istirahat aja memulihkan diri. Bayinya biar kami bawa pulang dulu..”

“Tapi.. Dia minum apa kalau enggak nyusu ka?” Tatapku nanar. 

“Ya minum susu formula aja. Kan banyak aja susu formula untuk bayi.. Kalau bersikeras menyusui takutnya luka cesarnya lambat sembuh.. Nanti kamu.. Bla bla “

Suamiku bergegas mengambil Humaira dari gendongan iparku kemudian menyerahkannya padaku untuk aku susui. Lantas langsung berbicara dengannya ke luar ruangan. 

Melihat itu, aku tersenyum. Aku sangat senang suamiku support padaku untuk memberikan ASI pada Humaira. Pemandangan ini langka dan sangat romantis. Apalagi mengingat saat anak pertama lahir dulu suami tidak bisa datang. Jadi saat melihat hal itu, hatiku bahagia. Sangat bahagia. 

Walau awalnya terasa sulit. Pemandangan itu membuatku kuat. Ini memang tidak mudah, tapi setidaknya kali ini aku tidak merasa berjuang sendirian. 

Menyusui pasca operasi cesar itu tidak mudah

Yup, menyusui pasca operasi cesar itu tidak mudah. Karena Ibu yang melahirkan cesar tidak bisa langsung beraktivitas normal. Duduk dan memiringkan tubuh saja tidak bisa instan. Apalagi ketika harus langsung menyusui. Duh, sungguh tantangan tersendiri. Dan kedua anakku lahir secara cesar, jadi aku memiliki kisah suka dan duka tersendiri dibalik proses menyusui. 

Aku pernah menangis tidak tahan ketika menyusui anak pertama dahulu. Dari ASI yang tidak keluar, bayi kuning hingga luka pasca operasi yang sukar sembuh, belum lagi kalau mengingat aku sempat kena babyblues. Hiks.. Pengalaman menyusui ini juga sudah aku tulis secara lengkap di blog ini. Bedanya, saat anak pertama itu rasanya sulit sekali. Tapi ketika anak kedua, energi positif itu ada. Sehingga tidak terlalu drama layaknya anak pertama. 

Dari pengalaman anak pertama dan kedua, aku sadar tentang pentingnya energi positif. Bahwa energi positif itu sangat berguna untuk menyusui sambil menahan rasa sakit. Dari menyusui sambil berusaha memiringkan tubuh pasca operasi, sambil duduk, hingga menggendongnya dan membawanya pulang ke rumah. Dan tentu saja ada beberapa tips tersendiri untuk melawan rasa sakit itu. 

Mengatasi rasa sakit menyusui pasca operasi cesar

Bagi Ibu yang melahirkan secara cesar tentu setuju sekali bahwa saat bayi mulai menghisap payudara maka jahitan cesar seakan terasa terbuka kembali, belum lagi tentang drama puting yang lecet. Kedua rasa sakit itu harus ditahan demi suksesnya MengASIhi. Dan berikut adalah beberapa tips dariku untuk mengatasi rasa sakit itu:

1. Jangan menyerah dengan rasa sakit, yakin bahwa semua Ibu bisa melewatinya

Sungguh, aku pernah ingin menyerah saja saat menyusui anak pertama dulu. Tapi, Ibuku sangat memotivasiku. Dia berkata bahwa aku kuat. Dia juga yang bercerita tentang pengalamannya menyusui adik kembarku dengan kondisi payudara yang tidak sempurna. Padahal saat itu pengobatan pasca operasi cesar tidak secanggih sekarang. Hal itu sangat memotivasiku. AKU BISA. AKU BISA. 

Ibu yang lain juga bercerita padaku tentang pengalaman mereka dalam menyusui. Entah kenapa dari cerita tersebut aku menjadi yakin bahwa aku bisa melaluinya. Walau terkadang rasanya ingin menangis setiap kali jahitan itu sakit. Apalagi ketika melihat putingku lecet keduanya. Hiks. Tapi sunggguh, selama 2 minggu akhirnya luka-luka itu sembuh. Putingku dan sayatan cesarku. 

2. Mengonsumsi makanan yang mengandung albumin

Salah satu rahasia kesembuhan luka di puting dan jahitan cesarku adalah aku sangat rajin memakan ikan haruan pasca melahirkan. Baik saat anak pertama maupun kedua. Ikan haruan ini disebut juga ikan gabus kalau di daerah jawa. Zat albumin di dalam ikan ini sangat bagus dalam penyembuhan luka. 

3. Rajin kontrol luka jahitan

Terakhir, rajin-rajinlah kontrol jahitan ke dokter. Pertama kontrol yaitu 3 hari pasca pulang dari RS, kemudian seminggu sekali hingga luka benar-benar mengering. 

Luka jahitan yang mengering tentu akan memberikan kenyamanan pada ibu untuk menyusui. 

Tapi ingat, rawatlah luka dengan tidak meninggalkan moment menyusui, karena sesungguhnya dengan menyusuilah maka rahim kita akan cepat kembali normal begitupun dengan luka cesar. 

Benarkah Ibu yang melahirkan cesar sulit untuk memberikan ASI? 

Aku pernah mengalami masa down saat menyusui anak pertama. Saat itu, ada salah satu penjenguk yang berkata padaku bahwa Ibu yang melahirkan cesar tidak bisa menyusui. Karena tidak mendapatkan rasa sakit pemancing keluarnya ASI layaknya Ibu yang melahirkan normal.

Dan sungguh, statement tersebut menguras semangatku. Apalagi saat awal menyusui Farisha payudaraku benar-benar kecil dan tidak kencang seperti Ibu lainnya. 

Aku yang minim ilmu dalam menyusui langsung merasa bersalah karena tidak bisa melahirkan normal. 

“Kalau saja ketubannya tidak pecah duluan dan ada pembukaan.. Mungkin saat ini Farisha bisa menyusu dengan nyaman dan tidak menangis terus.. ” Kataku sedih. 

Untunglah saat itu aku didampingi oleh kakakku yang merupakan seorang Dokter. Kakakku adalah salah satu pendukungku dalam menyusui Farisha. Dia berkata untuk terus menyusui, karena jika tidak.. Air susu tidak akan keluar. 

“Yang memancing air susu untuk keluar itu bukannya tentang cara melahirkannya, tapi tentang seberapa besar usaha Ibu untuk terus menyusui Bayi..”

“Dan sesungguhnya.. Bukan mulut orang yang menentukan keberhasilan menyusui. Tapi semangat mulut bayi dalam menghisap. Jika ia selalu menangis dan tak mau lepas dari payudara, artinya bukanlah ASI nya sedikit. Ia sedang menikmati ASI. Ia sedang memancing ASI untuk keluar lebih banyak.. “

Dan semua kata-kata itu benar adanya. Walau dulu Farisha sempat mengalami kuning dan penurunan berat badan akibat kurangnya ASI. Namun dalam jangka waktu 2 minggu berat badannya kembali naik, badannya mulai berisi dan astaga.. Lihatlah payudaraku yang ASI nya selalu kencang bahkan sering rembes sendiri. 

Farisha pun menjadi anak yang ‘super montok’ sehingga sering digelari ‘si endut’ oleh orang-orang. Dan saat umurnya masih 5 bulan, ada salah seorang Ibu bertanya padaku di Posyandu.. 

“Minum susu merk apa mba jadi badannya montok banget?”

“Minum ASI aja buk.. Hehe.. ” Sahutku malu. 

Ingin sekali rasanya aku meloncat riang. Apalagi jika ingat perjuangan awalnya. Dimulai dari perasaan insecure karena melahirkan cesar, dituding tidak bisa menyusui hingga… hiks.. Speechless.. 

Dan yaa.. Kedua anakku adalah anak ASI, walaupun aku melahirkan secara cesar. 🙂 

Jadi, semua Ibu bisa menyusui bayi kok. Baik itu Ibu yang melahirkan secara normal maupun cesar. 

Tips agar ASI melimpah walau pasca operasi cesar

Saat menyusui anak kedua, perjuangannya lebih menyenangkan dibanding saat anak pertama. Karena ada suami yang mendampingiku. Walau sempat melalui fase ASI seret, lidah bayi yang putih dan sebagainya akan tetapi perjuangan menyusui Humaira sukses. 

Sekarang, Humaira sudah berusia 18 bulan. Anaknya lincah dan selalu riang. Walau tidak memiliki tubuh segendut Farisha sewaktu kecil tapi berat badannya masih termasuk dalam kategori normal. Yaa.. Setiap anak berbeda bukan? Tidak gendut bukan berarti kualitas ASI nya berbeda. 

Meski sudah 18 bulan menyusui, Alhamdulillah ASI yang aku miliki tergolong cukup. Bahkan sesekali aku masih memerlukan pompa ASI untuk memerah.

Yup, meski sesekali aku meninggalkan Humaira dan Pica keluar rumah.. Aku tidak lupa untuk menyiapkan stok ASI. Karena bagiku, ASI adalah nutrisi yang terbaik. ASI bernutrisi untuk Ibu dan Bayi Istimewa. Yaa.. yakinlah kalau kita istimewa dan hebat saat memutuskan untuk memberikan ASI. 

Nah, berikut adalah beberapa tips dariku agar lancar menyusui meski pasca operasi cesar. 

1. Jangan Stress

Apapun yang sedang terjadi, jangan stress. Karena stress akan menghambat keluarnya ASI. Pikiran negatif itu akan membuat efek negatif pula ke seluruh badan. 

Karena kita adalah apa yang kita pikirkan. 

“Menyusui adalah tentang ikatan pertama Ibu dan Anak. Bangunlah ikatan itu dari sebuah keyakinan diri.. “

Lalu, bagaimana bisa muncul keyakinan jika kita sendiri stress? 

Jadi, jauhi perasaan tidak nyaman. Milikilah support system yang baik dan pikirkanlah hal yang baik-baik saja. Dan yang sangat penting lagi.. Tidak usah dengarkan apa kata orang. 🙂 

2. Selalu menyusui bayi dimanapun dan kapanpun

“Tapi, Coba lihat.. ASInya tidak keluar.. ” 

Sahutku sambil memencet putingku.

“ASI perlu isapan bayi untuk keluar maksimal, bukan ditentukan lewat pencetan dibagian puting. Apalagi ini anak pertama. Hanya isapan bayi yang efektif untuk memproduksi ASI.. ” Sahut Kakakku

Dan itu benar. Saat aku memompa ASI, sangat sedikit ASI yang bisa keluar. Tapi ketika bayi menghisap, ia bisa tertidur sambil menyusu dan bahkan sambil pipis. Bukankah itu artinya ASI nya keluar saat dihisap? 

Semakin sering kita menyusui bayi.. Maka produksi ASI juga semakin banyak. Itulah hukum kekekalan ASI.

3. Milikilah dukungan dari Suami

Nah, mari sambung kalimat pembuka tulisan ini disini. 

Yup, salah satu penguatku dalam menyusui anak kedua adalah suamiku. Sedangkan penguatku dalam menyusui anak pertama adalah Mama dan Kakakku. Karena, saat anak pertama lahir dulu suamiku tidak bisa datang hingga anakku berumur 4 bulan. 

Dan tidak dipungkiri rasanya beda sekali melahirkan didampingi suami dan tidak didampingi. Rasanya, aku seperti memiliki seseorang untuk membelaku disaat ingin menangis. Termasuk halnya membela dalam hal mempertahankan egoku untuk menyusui Humaira. 

Dukungan suami sangatlah penting. Karena setidaknya kita memiliki orang yang selalu berada dipihak kita untuk bisa menyusui. Istilah Ayah ASI pun melekat pada seorang Ayah yang terus support sang ibu untuk bisa menyusui. 

Ayah yang menemani begadang, mengganti popok, membantu di dapur, membelikan makanan lalu memberikan Ibu waktu untuk mengelola Me time.. Itulah Ayah ASI sejati. 

4. Miliki empat waktu sehat seimbang

Ibu menyusui itu harus ‘waras’. Karena itu sangat penting untuk menjaga kestabilan hatinya. Jadi, sangat penting untuk menjaga keseimbangan manajemen 4 waktu dalam hidup. 

Empat waktu itu adalah Me time, Couple Time, Family Time dan Social Time. 

Sebagai Ibu, kita harus memiliki me time agar kita dapat memelihara hobi dan passion. Me time sederhana seorang Ibu menyusui mungkin dapat dilakukan dengan menonton film, membaca buku dsb. 

Jangan lupa untuk Couple Time sesekali. Milikilah waktu bersama pasangan. Karena sebelum si kecil muncul, jangan lupa bahwa kita adalah pasangan bahagia bersama suami. 

Family time saat menyusui dapat dilakukan dengan makan bersama, nonton film bersama hingga.. Mmm.. Ganti popok bersama mungkin? Haha.. 

Social time? Yaaa.. Ini penting.. Biarkanlah sesekali Ibu menyusui keluar rumah untuk sekedar bertemu teman-temannya. Karena tidak nyaman loh kalau dunia ibu hanya berputar di rumah saja. 

Empat waktu diatas harus diatur dengan seimbang untuk kewarasan Ibu menyusui. Ibu yang waras akan menghasilkan ASI berkualitas. 

5. Banyak makan makanan bergizi, jangan takut gemuk! 

Jangan lupa untuk selalu makan makanan bergizi terutama saat menyusui. Ehm, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa banyak? 

Tentunya sampai Ibu merasa kenyang. Biarpun porsi makanan melebihi porsi sebelum menyusui, tidak usah takut gemuk. Utamakan kualitas ASI terlebih dahulu. ASI bernutrisi tercipta dari makanan yang bernutrisi bukan? Lagi pula, menyusui itu adalah diet paling efektif loh. 

Apakah harus mengonsumsi makanan tertentu? Apakah ada pantangan? 

Menurutku sendiri, Ibu menyusui jangan terlalu banyak memikirkan pantangan. Apalagi kalau harus kehilangan nutrisi lengkap ketika banyak pantangan. 

“Utamakan nutrisi lengkap, karena percuma jika banyak pantangan tetapi nutrisinya kurang.. “

Kalau tantangannya masih masuk diakal, terutama untuk menghindari reaksi alergi maka jauhi makanan alergi. Akan tetapi, jika pantangannya adalah ‘jangan makan buah nanti anak diare’ atau ‘jangan makan ikan, nanti ASI amis’ . Hmm, sebaiknya jangan dilakukan ya.. 🙂 

6. Jangan kelelahan dan tidur cukup

“Kalau anak sedang tidur, mamanya jangan ikutan tidur. Nanti kerjaan di rumah gak beres-beres.. “

Sesekali boleh sih menuruti saran diatas. Tapi ingatlah bahwa kita juga punya batasan lelah masing-masing. Ibu lain kuat kalau hanya tidur 3 jam, tapi belum tentu kita kuat. 

Boleh banget kok kalau anak tidur kita juga ikut tidur. Kurangilah standar sesekali. Apalagi ketika anak masih ASI ekslusif. 

7. Minum suplemen tambahan untuk nutrisi Ibu menyusui

Yup, multivitamin itu menurutku penting untuk mendukung nutrisi Ibu menyusui. Apalagi aku sering sekali anemia, pernah jatuh sendiri pasca menyusui, hingga yaa.. Aku itu cepet banget capek. 

Belum lagi Ibu yang menyusui itu memiliki potensi tinggi untuk terkena osteoporosis. Untuk anak pertama saja, ada salah satu gigiku yang keropos begitu saja. Makanya saat memiliki anak kedua ini aku butuh nutrisi tambahan dari multivitamin khusus untuk ibu menyusui.

Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold adalah salah satu multivitamin dan mineral yang aku konsumsi saat menyusui. Sebenarnya, untuk lebih optimal aku sarankan untuk mengonsumsi multivitamin ini sejak hamil. Karena, 1000 hari pertama anak dimulai sejak hamil. 🙂 

Mengapa Memilih Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold

Kenapa sih pilih Black Mores? Kan multivitamin banyak? Dan kalsium, asam folat, zat besi bisa dibeli? Gak perlu kan pake satu produk khusus? 

Nah, ada 3 hal yang buat aku percaya untuk pilih Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold ini, diantaranya adalah

1. Dosis disesuaikan berdasarkan kebutuhan ibu hamil & menyusui di Indonesia (tidak berlebih)

Yup, dosis Black Mores Pregnancy and Beast-Feeding Gold ini sudah diatur sedemikian rupa untuk sesuai dengan kebutuhan Ibu. Aku sendiri sangat cocok meminumnya, terlebih saat usia Humaira sudah 18 bulan ini ASI ku mulai berkurang produksinya. Multivitamin ini tidak membuat ASI terlalu banyak, tapi cukup.. Alhamdulillah. 

Dan tentu saja aku tidak tambah gendut pasca meminum multivitamin ini. Haha. Jangan khawatir, multivitamin itu tidak bikin gemuk kok. Minum sebanyak 2x sehari pada siang dan malam hari. Insya Allah nutrisi Ibu tercukupi dan ASI juga bernutrisi untuk bayi. Karena ASI bernutrisi untuk Ibu dan Bayi Istimewa bukan?

Nah, berikut adalah komposisinya:

Asam folat 200 µg, Kalium iodide 98 µg (Iodium 75 µg), Fish oil 500 mg mengandung 165 mg Omega-3 (DHA 125 mg + EPA 25 mg), Fe (II) fumarate 15.7 mg (Zat besi 5 mg), Niasin 7.5 mg, Vitamin C 30 mg, Kalsium karbonat 300 mg (Kalsium 120 mg), Zinc sulfat 20.8 mg (Zinc 7.5 mg), Magnesium oksida 49.8 mg (Magnesium 30 mg), Thiamine nitrate 500 µg (Vitamin B1 405 µg), Riboflavin (Vit B2 750 µg), Pyridoxine HCl (Vit B6 750  µg), Vit B12 1.5 µg, d-alpha tocopherol (natural Vit E 5.21 IU), Dunaliella salina cell extract soft concentrate 72 mg

2. Mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi ibu hamil dan menyusui

Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold ini adalah suplemen dengan kandungan lengkap, 17 Nutrisi Esensial di dalamnya sangat penting untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ibu menyusui sehingga dapat memberikan ASI bernutrisi untuk buah hati. Adapun 17 nutrisi esensial itu adalah:

1. Tinggi Asam Folat

Ibu hamil dan menyusui tentunya memerlukan asam folat yang tinggi bukan? Asam folat dibutuhkan untuk membantu mendukung pengembangan sel darah merah dan menyerap zat besi untuk tubuh. Dan fungsi yang jauh lebih  penting adalah karena ini termasuk vitamin untuk ibu menyusui agar bayi cerdas.

2. Tinggi Kalsium dan DHA

Kalsium merupakan kebutuhan yang penting bagi Ibu dan Bayi karena diperlukan untuk membantu pertumbahan tulang dan gigi. Selain itu juga untuk mencegah terjadinya osteoporosis pada ibu.

Yup, aku punya pengalaman tentang pengeroposan gigi pada anak pertama dulu. Karena saat anak pertama aku tidak mengonsumsi multivitamin. Ketika anak kedua ini Alhamdulillah tidak, karena faktor peningkatan ekonomi mendukung jadi bisa mengonsumsi multivitamin seperti blackmores ini. 

3. Zat Besi

Zat besi yang terkandung dalam Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold tidak menyebabkan konstipasi karena berasal dari besi fumarat. Jadi, aman dan bantu ibu jaga energi supaya tidak mudah sakit. Apalagi aku punya riwayat anemia. 

4. Omega 3/DHA dari Minyak Ikan

Omega 3/DHA ini baik untuk pertumbuhan otak & mata bayi. Dan yang paling aku suka minyak ikan ini tidak berbau dan menyebabkan mual saat dikonsumsi.

5. Vitamin dan Mineral Lainnya

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold juga mengandung vitamin dan mineral lainnya. Dan tentunya sangat dibutuhkan oleh ibu menyusui.

3. Mendukung perkembangan bayi pada masa 1000 hari pertama kehidupan

Tentu semua sudah tau bukan bahwa 1000 hari pertama itu adalah masa golden age. Dan itu tidak akan terulang lagi. 

sumber: www.blackmores.co.id

Karena itu, cukupilah nutrisi anak di masa 1000 hari pertamanya dengan ASI bernutrisi. Karena ASI itu TIDAK TERGANTIKAN. ASI menjadikan ikatan antara Ibu dan Anak kuat. Sentuhan itu, pelukan saat menyusui, proses pendekatan itu.. Luar biasa. Itulah awal dari cinta. 

ASI adalah nutrisi cinta pertama bayi saat lahir ke dunia. 

Dan sejak meminum blackmores, kandungan ASI yang aku perah akhir-akhir ini memiliki kandungan seimbang antara hindmilk dan foremilk. Menurutku, ASI berkualitas seperti itu.. kandungannya seimbang. Ah, makanya Humaira bisa tidur nyenyak sejak aku minum multivitamin ini. Semoga tumbuh kembangnya terus optimal dengan tercukupinya nutrisi di 1000 pertama kehidupannya.

World breast-feeding week 2020-ASI bernutrisi untuk bayi istimewa

Nah.. tau enggak sih sebagai bentuk wujud pemenuhan nutrisi ibu hamil dan menyusui maka Kalbe Blackmores Nutrition bekerja sama dengan Yayasan Bumi Sehat. Bumi Sehat sendiri adalah sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada penyediaan akses layanan kesehatan berkualitas, higienis, serta pengupayaan kelahiran anak secara layak.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold turut mendukung World Breastfeeding Week yang jatuh pada bulan Agustus. Untuk itu, sejak tahun 2017 Blackmores bekerja sama dengan Bumi Sehat Foundation untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui. Caranya adalah dengan membagikan 12.000 botol Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold di setiap tahunnya di klinik Bumi Sehat. Kemudian akan dibagikan lagi kepada ibu hamil dan menyusui. Wah, luar biasa bukan? 

Saat ini Klinik Bumi Sehat sudah tersebar di tiga kota, yaitu Denpasar, Aceh, dan Papua.

Terakhir, aku sangat berterima kasih pada Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold karena telah membantu mendukung ASI Bernutrisi untuk Ibu dan Bayi yang Istimewa. Berkat itu, aku bukan hanya telah merasa memberikan yang terbaik untuk anakku tetapi juga menghargai diriku sendiri sebagai seorang Ibu. Bahwa akupun butuh dukungan nutrisi yang kuat untuk hari-hari bahagiaku. 

Oya, Untuk kalian yang ingin mendapatkan produk ini caranya mudah loh. Karena tersedia di berbagai E-Commerce, seperti: Lazada, bukalapak, tokopedia dan Shopee yang bertuliskan Official Store.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: https://www.blackmores.co.id/mom-and-baby/

Atau langsung ke akun instagram @blackmoresid.

Nah, kalian punya cerita menarik juga tentang menyusui? Share denganku yuk!

Happy Breast-Feeding Mom!

IBX598B146B8E64A