Browsed by
Category: Tentang Aku

Self Talk: “Sudahkah Diriku Puas Untuk Dibanggakan?”

Self Talk: “Sudahkah Diriku Puas Untuk Dibanggakan?”

Apa goals penting dalam hidupmu 10 tahun yang lalu? 15 tahun yang lalu?

Kalau aku boleh ‘sedikit curhat’ tujuan hidupku saat itu sangat simple. 

Menjadi Anak Kebanggaan orang tuaku. Kalau perlu, mengalahkan saudaraku. Kalau perlu lagi, mengalahkan semua teman yang pernah membullyku. 

10 dan 15 tahun yang lalu tujuan hidupku adalah tentang bagaimana caranya agar aku menjadi manusia yang patut dibanggakan.

Dan hari ini, aku cukup sering menatap diriku sendiri di kaca sambil bertanya, “Apakah tujuan hidupku yang dulu sudah terealisasi?”

Menjadi Seorang Anak yang Bisa Dibanggakan

Jujur, tulisan ini terinspirasi dari drakor on going yang sedang aku tonton. The Good Bad Mother judulnya. Kurasa aku selalu tertarik menonton drama yang memiliki unsur baper di dalamnya. Terlebih jika itu berkaitan dengan inspirasi kehidupan, apalagi jika itu berkaitan dengan hubungan ibu dan anak. Duh, rasanya hati ini ikut merasakan sakit, senang dan sedih. 

https://www.instagram.com/p/CsIYWe4JpTW/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Hingga episode ke-10, aku sangat merasakan bagaimana rasanya berada diposisi Kang Ho, dan bagaimana rasanya berada diposisi Sang Ibu. 

Awalnya, sebagai anak tujuan hidupku simple. Membahagiakan orang tua.

Disisi lain, sebagai orang tua atas berbagai alasan di dalamnya kadang memiliki tujuan yang lumayan melenceng. Entah itu menuntut anak untuk bisa berstrata sosial di atas, mengupayakan apa yang tak bisa dicapai orang tua dahulu. Sisi ‘bad’ sebagai orang tua adalah membuat anak menjadi senjata dalam hidupnya. Dan anak biasanya akan selalu mencoba goals orang tua tersebut tercapai.

Sepertiku dan Kang Ho dalam drama The Good Bad Mother. Kang Ho yang akhirnya terobsesi untuk ‘berhasil menjadi jaksa’, padahal passionnya sebenarnya adalah Menggambar-Melukis. Demi bisa membanggakan orang tuanya. Dan membantu orang tuanya untuk mengungkap keadilan. Sebenarnya, disisi ini aku merasakan kemiripan hidupku dengan Kang Ho.

Entah sejak kapan hidup Mama begitu meterialis. Ada sisi gelap dalam hidupku yang membuat kepalaku terus terobsesi dengan uang. Pertengkaran tentang uang, tangisan tentang uang, menghemat uang, hingga membicarakan profesi yang menghasilkan banyak uang dan meningkatkan strata sosial. Alih-alih membuat anak paham akan bakatnya.. Orang tua pada generasiku terobsesi dengan profesi keren dan uang. Itu tak hanya dialami oleh orang tuaku. Aku melihat fenomena ini dialami oleh hampir semua orang tua.

“Ingin kuliah dimana setelah lulus?” Tanyaku pada temanku

“Aku mau jadi bidan”

“Aku mau jadi perawat”

Jawaban yang terasa aneh bagiku karena mereka jurusan IPS sepertiku. Namun jawaban itu terasa keren karena profesi beken pada zamanku adalah profesi yang berkecimpung di dunia kesehatan. Entah itu Dokter maupun yang berhubungan dengan uang.

“Wah, nanti kerja di dinas dong setelah lulus” Tanyaku pada temanku yang telah lulus kuliah

“Enggak, aku mau kerja di Bank”

Tidak mengherankan jika 90% teman-temanku saat sekolah memilih profesi yang itu-itu saja. Teller Bank, atau dunia kesehatan. Nah, bagaimana denganku sendiri?

Jujur sejak SMA aku sama sekali tidak memiliki minat di jurusan IPA. Tidak memiliki passion di bidang itu (kecuali biologi). Aku jauh lebih senang mengamati fenomena sosial-ekonomi, atau merenung dan membuat cerita sendiri yang baper-baper. Kadang, aku mirip seperti Kang Ho. Suka menggambar untuk menghabiskan waktu. Mungkin, jika profesi jaksa saat itu sudah ‘beken’ aku akan melirik ke profesi itu. Atau andai saja profesi ilustrator atau animator sedang beken.. Mungkin aku akan memilih itu. Zaman dulu, aku tidak terlalu terbuka dalam mindset memilih profesi. Aku hanya memikirkan 1 goal penting dalam hidupku. Bagaimana caranya agar hidupku selalu bersinggungan dengan uang? Dan tak pernah kehabisan uang? Dan membantu orang dengan uang?

Karena otakku rasanya ingin melonjak setiap kali mendengar celotehan tentang uang. Thats why, aku memilih jurusan akuntansi ketika kuliah. Sesimple itu. Alih-alih memikirkan passion, aku lebih nyaman dengan diriku sendiri saat orang tua membanggakanku bahwa aku kuliah di akuntansi dan suatu saat akan bekerja di bank atau perusahaan bonafit atau profesi lain yang bersinggungan dengan uang.

Tetap Berusaha Menjadi Anak yang Membanggakan

Keadaan seketika berubah kala aku dekat dengan asisten dosen di kampusku. Niatku dekat dengannya, jujur saja karena dia orang yang cukup unik dalam berbicara tentang impian. Karena itu aku berani berpacaran dengan orang unik plus mindset out of the box demikian. Aku ingin terus mengasah mimpi yang benar. Aku perlu tau apa mimpuku. Bukan sekedar tentang profesi untuk harga diri yang membanggakan.

Tapi, yang namanya hubungan selalu punya tujuan. Kalau tidak, hubungan itu akan melayang tidak jelas. Begitulah perkataan mama. Hubungan kami menjadi serius kala keluarga mengetahui satu sama lain. Mereka sepakat menikahkanku sebelum pacarku kuliah S2. Mama menceritakanku sekian banyak cerita horor tentang nasib anak gadis yang tak kunjung menikah saat menolak lamaran. Menceritakan itu berulang-ulang layaknya kaset rusak. Membuatku menuruti kata-kata mama. Menikah saat kuliah semester akhir. Aku bahkan baru saja ingin menyusun skripsi. Tapi, aku kekeuh ingin tetap menjadi anak yang baik. Anak yang bisa membanggakan. Jika saat itu menikah bisa membanggakan alih-alih bekerja dengan profesi keren.. Kenapa tidak?

Menikah-langsung hamil (tak terencana)-punya anak-jadi IRT. 

Awalnya rasa bangga itu masih aku rasakan kala hamil dan punya anak. Semakin anakku besar, rasa bangga itu berangsur menghilang. Mama, mama mertua, semuanya. Mulai memudar. Aku tak lagi tahu jalan mana yang perlu aku tempuh untuk memperoleh rasa bangga lagi. Memasak, berusaha berjualan kue, fokus mendidik anak. Aku sadari segala material yang dulu ingin kukejar hilang seiring aku menjadi ibu.

Alih-alih membanggakan orang tua, mertua atau suami.. Aku bahkan sering melihat diriku sendiri di kaca dengan rasa minder. Seorang Ibu yang bahkan tak mandiri finansial. Ibu yang bahkan terus terpaksa meminta uang saat mau tak mau jatah bulanan habis. Apa itu pencapaian, harga diri, kebanggaan.. Semua hilang.

Saat itulah aku sadar. Bahwa menjadi anak yang membanggakan.. Menjadi istri yang berusaha sempurna.. Menantu yang ingin selalu terlihat sama dengan mama mertuanya.. Membuat aku kehilangan apa yang berharga bagiku.

Diriku yang bahkan tak pernah mendapatkan haknya untuk keluar dan berdaya dengan benar

Menjadi Istri yang Benar = Menemukan Diri Sendiri Lewat Relasi

Memiliki anak pertama tanpa terencana, LDR, hingga kesibukan masing-masing membuat hubunganku dengan suami tak berjalan lancar. Terlebih 5 tahun pertama. Alih-alih berkomunikasi, aku lebih memilih berusaha menjadi sempurna untuk melayani. Alih-alih menanyakan kelayakan nafkah, suamiku lebih fokus membangun bisnisnya dibanding sering mengevaluasi kenapa istrinya sering menangis tak jelas. Kami adalah pasangan yang buruk dan sulit sekali belajar. Bahkan berlangsung hingga anak ke 2. Pasang surut empati dibangun atas dasar material semata. Tanpa memahami hal yang lebih jauh dibanding itu.

Aku bersyukur atas konflik yang muncul setahun yang lalu. Ledakan konflik yang membuatku marah luar biasa. Aku sempat menulis konflik itu di blog ini bahkan. Dan tentu sudah kuhapus sekarang. Konflik itu membuat suami mulai memahamiku. Meski hubunganku dengan yang lain menjadi tak baik, tapi aku bersyukur karena dari konflik itulah keluarga kami akhirnya bertumbuh dengan cara yang benar. Dulu, aku adalah pelayan di rumah ini. Di kantor yang dibangun oleh kerja keras keluarga kami. Aku menjaga kedua anakku, membuatkan cemilan untuk pegawai, membersihkan rumah, bahkan mengurus administrasi kantor. Tanpa gajih. Tulus ikhlas. Orang melihatku sebagai istri dan ibu yang sempurna. Namun di dalam aku bukanlah menjadi istri yang baik. Tapi sejak konflik itu.. Sejak kemarahan itu.. Aku berhasil menentukan prioritas yang baik: menjadi istri yang baik.

Alih-alih sempurna dalam hal melayani layaknya pembantu. Aku lebih memilih menghargai diriku sendiri lagi. Memahami lebih dalam psikologis laki-laki. Rutin workout, membeli lingerie, belajar teknik komunikasi, kembali menjadi teman komunikasi terbaik saat pacaran. Alih-alih selalu bertanya tentang mau makan apa atau ini itu. Topik komunikasi kami mulai seru. Tentang bagaimana membangun branding perusahaan kami, mengembangkan inovasi. Alih-alih bertengkar soal hemat dan irit uang belanja, kami lebih fokus untuk mengembangkan dana yang ada untuk hal produktif. Merekrut pekerja lagi, membangun project baru, menginvestasikan dana dengan aman. 

Hubungan yang baik dengan suami, membuatku kembali menemukan diriku sendiri.

Dalam setahun ini, banyak hal yang aku pelajari. Mulai dari investasi, digital marketing, design, copywriting, apply project pemerintah, belajar administrasi, pajak, belajar berkomunikasi. Perlahan aku mulai menemukan diri dalam hal yang tak bisa dijelaskan dengan sebutan profesi.

Diluar, orang mengenalku sebagai IRT biasa. Di dunia maya, orang mengenalku sebagai pembuat konten drakor. Di kantor, aku dikenal sebagai Direktur. Di dunia lain di malam hari, aku dikenal anakku sebagai guru yang galak. 

Sehingga jika ditanyakan kembali, “Sudah puaskah diriku untuk dibanggakan?”

Aku mulai tak peduli tentang apa profesiku di mata orang lain. Apalagi yang tak kenal dengan diriku. Mereka boleh saja berkata aku IRT pemalas, tidak bisa membuat pepes ikan atau penulis pembuka aib keluarga. 

Disisi lain aku juga sebenarnya kurang suka dengan orang tua yang membanggakanku berlebihan. Aku sedikit tak nyaman saat dipamerkan bahwa posisiku adalah direktur perusahaan sekarang. Bagiku, its too much. Aku tidak setinggi itu. Tapi jika itu membuat orang tuaku bahagia, aku tetap bisa nyengir bahagia. Merekalah yang terus berdoa untukku setiap hari. Mungkin mereka dulu sangat materialis dalam memandang profesi. Tapi aku bangga memiliki orang tua demikian. Merekalah yang membuatku ada di posisi sekarang.

Semakin lama, aku merasa ‘cringe’ jika ada yang membanggakan apa profesiku. Tapi jujur, saat ada yang bercerita mendalam tentang bagaimana aku berjuang di dalamnya.. Itu membuatku tersentuh. Aku yang sekarang tak peduli tentang kebanggaan di mata orang lain. Yang aku tau, hidupku hanya sekali. Aku ingin membuatnya lebih berarti.

Terima kasih untuk anakku yang lahir disaat aku tak siap.

Terima kasih untuk orang tua yang selalu mendoakanku, menyuruhku untuk menikah dini.

Terima kasih untuk konflik dalam hidupku, tanpa itu aku mungkin tak akan meledak dan bertumbuh

Terima kasih untuk suami yang akhirnya mau mendengarkanku dan menjadi support terbaik.

Terima kasih diriku, untuk puas pada dirimu sendiri. Terlepas bisa dibanggakan atau tidak.. Kamu tetaplah kamu. Sedari awal, kamu tau apa yang terbaik dalam hidupmu. 

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Bicara tentang cita-cita, sebenarnya aku punya banyak cita-cita sejak kecil.

Pertama, aku ingin seperti Mama. Menjadi Guru TK yang cantik dan dicintai semua muridnya.

Kedua, aku ingin seperti Bapak. Menjadi Guru Fisika yang terkenal pintar dan tau segala hal. Bapak adalah kamus ensiklopedia yang bisa bicara.

Tapi, tidak ada yang tau dengan Cita-citaku yang ketiga. Cita-cita yang aku tahan hingga kini. Sebuah obsesi yang terbilang cukup konyol untuk ukuran umur emak-emak sepertiku.

Dan Cita-cita itu adalah…

Aku Ingin Sekali Menjadi Sailor Moon…

Please jangan ‘ketawa’. Itu akan membuatku sakit hati.. (walau sebenarnya aku ingin tertawa juga.. Haha). Konyol memang, emak-emak berusia 28 tahun dan sebentar lagi punya dua anak terobsesi menjadi sailor moon itu adalah hal konyol yang benar-benar aneh. 😂

Tapi jangan terlalu jauh membayangkannya. Apalagi membayangkan diriku yang sudah hamil 6 bulan ini memakai kostum sailor moon. Sungguh, akupun masih bisa ‘berkaca’. Karena itu sudah kubilang bukan? Bahwa ini adalah obsesi rahasia.

Sejak kapan cita-cita konyol ini ada?

Tepatnya mungkin ketika aku TK. Waktu itu masih tahun 1995, aku hanya mengenal sailor moon pertama kali lewat mainan boneka kertas yang saat itu populer dengan sebutan ‘Bipian’. Saat itu, aku tidak tau nama dari tokoh bipian itu. Aku hanya senang saja melihat boneka kertas dengan wajah cantik dan baju-baju yang sangat imut.

source image: paperdoll-indonesia.blogspot.com

Aku akhirnya mengenal bahwa tokoh yang ada dalam bipianku adalah tokoh Sailor Moon. Aku sendiri tau dengan kartun Sailor Moon ketika salah seorang tetanggaku memasang antena parabola. Zaman itu, menonton TV dengan saluran non TVRI saja sudah mewah di desaku. Apalagi jika ada RCTI, Indosiar, dll. Wah, satu-satunya rumah yang memasang parabola tentunya akan diserang para anak kecil untuk menonton kartun di hari minggu.

Sialnya, kartun Sailor Moon dan Dragon Ball saat itu tayang pada jam yang sama dengan saluran TV yang berbeda. Kalau tidak salah, Sailor Moon tayang di Indosiar dan Dragon Ball tayang di RCTI. Sebagai satu diantara 10 penonton, dimana aku adalah anak perempuan satu-satunya. Tentu saja aku kalah suara. Dan akupun sering pulang kerumah dengan berderai air mata. Hahaha.

Tapi aku tak pernah putus asa dengan imajinasi ‘tokoh-tokoh cantik’ pertamaku. Aku punya bakat menggambar sejak kecil. Jadi, aku membuat gambar-gambar sailor moon di atas kertas dari hasil tiruan pada bipian. Aku mengguntingnya, membuatkannya baju dan bermain dengan 12 sailor cantik kesayanganku. Bagiku, 12 Sailor Moon adalah Para Peri Imajinasi Pertama yang senang menolongku.

Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar tau Bagaimana Cerita Sailor Moon

Lalu, bagaimana cerita kartun sailor moon itu?

Well, sebenarnya aku tidak benar-benar tau bagaimana ceritanya. Hahaha.

Diatas sudah kuceritakan bukan? Bahwa aku tidak pernah benar-benar berkesempatan menonton kartun itu di masa kecilku. Mungkin pernah, hanya kilasan saat sesi iklan kartun dragon ball tidak berbarengan dengan iklan sailor moon. Itupun sebenarnya, aku tidak terlalu paham. Hanya saja aku mengetahui inti dari kartun sailor moon itu yaitu mereka adalah pembela kebenaran yang cantik. Sudah, itu saja. Haha

Aku Hanya Terobsesi untuk Bisa Menjadi Secantik Sailor Moon

Jika kalian bertanya siapa role mode pertamaku dalam berdandan? Maka Sailor Moon adalah jawabannya.

Ya ya.. Aku sekarang memang memakai jilbab. Tolong jangan mengernyitkan dahi seserius itu. Maksudku adalah role mode pertama saat aku masih kecil, bukan sudah besar begini.

Aku adalah anak kedua dikeluargaku. Kakakku adalah laki-laki. Mama dan Bapakku hanyalah PNS biasa yang saat itu berjuang jatuh bangun dalam membangun kesejahteraan ekonomi, sehingga aku tidak punya koleksi baju perempuan seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Ya, aku hanya mewarisi baju laki-laki punya kakakku saat aku masih kecil. Potongan rambut yang kumiliki pun seperti laki-laki. Saat itu, aku masih bingung kenapa mama mendandani anak perempuannya seperti laki-laki begitu.

Kadang, aku merasa minder dengan teman-teman TK disekolah. Mamaku punya rambut panjang dengan dandanan yang selalu komplit. Teman-temanku bilang, aku dan mamaku sama sekali tidak mirip. Aku terlihat jauh lebih mirip dengan Bapakku karena potongan rambut dan kulitku yang exotis. Dalam hati kecilku, aku selalu menahannya dan ingin sekali bertanya pada Mama, “Kenapa aku tak boleh memanjangkan rambutku?”

Aku Sang Anak Itik Jelek yang Buruk Rupa, begitulah aku memandang diriku sendiri saat masih kecil.

Sampai suatu hari aku bertemu Sailor Moon dan akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Mama tentang ‘rambutku’. Dan kalian tau apa jawaban Mama?

“Rambut kamu kalau dipanjangin Mama susah nyisir dan kepangnya..”

Ya, hanya begitu. Aku akhirnya menyadari bahwa mama punya seribu kesibukan dipagi hari. Mama yang berjualan kue, mama yang menyiapkan sarapan, mama yang menyiapkan bahan ajar di TK, mama yang memandikanku, segalanya serba mama. Lalu, kenapa aku harus protes hanya karena potongan rambutku yang seperti laki-laki?

Sailor Moon bisa mengepang rambutnya sendiri. Dan akupun sejak itu bertekad bahwa aku bisa merawat rambutku sendiri tanpa mama. Sejak aku bisa menyisir dan merawat rambutku sendiri, mama memperbolehkanku untuk memanjangkan rambutku. Dari kelas 1-6 SD, rambutku sangat jarang dipotong. Aku membiarkannya terurai atau dikepang dua layaknya Sailor Moon. Moment-moment indah itulah yang membuatku mencintai diriku sendiri sebagai perempuan.

Suatu hari, mama pernah pergi kejawa untuk ‘penataran’ dan mama bertanya padaku, “Winda mau minta belikan apa kalau pulang nanti?”

“di Jawa ada apa Ma?”

“Ada apa aja, dan harganya enggak, semahal di kalimantan..”

“Winda mau minta belikan baju Sailor Moon..” Kataku riang.

Satu Minggu kemudian, mama datang dengan wajah penuh senyuman dan memberikanku oleh-oleh. Aku langsung tak sabar membukanya. Dan… Kalian tau apa isinya?

Adalah Baju dengan Gambar Sailor Moon..

Bukan Baju yang dipakai oleh Sailor Moon..

Meski agak kecewa, aku berusaha membalas senyum Mama dengan senyuman yang tak kalah lebarnya kemudian berkata, “Makasih Mama.. Sayang Mama.. Mmmuach..”

Ya, dulu aku sama sekali tidak malu mengucapkan ‘Terima Kasih’ seekspresif itu. Hihi…

Itu adalah obsesi masa kecilku. Ingin sekali berpenampilan layaknya Sailor Moon. Ketika sudah besar, aku mulai merasakan perasaan malu dan mengenal aurat jauh lebih baik. Namun, sebagai seorang perempuan tentu saja sebenarnya kenangan keinginan itu masih ada.

“Masih Pantaskah aku memakai baju Sailor Moon di rumah saja untuk menyenangkan suamiku?”

Ya, itulah yang masih ada dipikiranku. Hahaha.

Itu adalah Obsesi Rahasia yang kini bukanlah lagi Rahasia. Dan aku senang menceritakannya.. 😊

Tulisan ini dibuat untuk #FBBCollaboration bulan November dengan tema Kartun Favorite di masa kecil.

Aku dan Teman Imajinasiku

Aku dan Teman Imajinasiku

Mereka berkata bahwa masa kecil seseorang akan mempengaruhi 50% karakternya saat dewasa. Dan hari ini, aku ingin bercerita..

Masa kecilku tak seperti kebanyakan anak pada umumnya

Bukan..

Aku bukanlah seorang tarzan yang hidup dihutan sebatang kara dan berteman dengan gorilla maupun monyet-monyet.

Bukan pula seorang anak yang hidupnya sebatang kara tanpa teman dipanti asuhan.

Bukan seperti Putri Salju yang hidup terkurung di istana karena Ibu Tiri yang jahat.

Bukan pula seperti Cinderella yang ditinggal mati Ibunya dan mulai mengkhayal memiliki Ibu Peri.

Bukan seperti itu.

Hidupku sempurna. Aku memiliki Ayah, Ibu dan seorang Kakak laki-laki yang menemaniku sejak kecil. Kami hidup di desa. Dimana saat itu tetangga yang kumiliki sangat..

Sedikit…

Kakakku adalah satu-satunya temanku. Kebanggaanku, orang yang selalu kubuntuti kemanapun ia pergi. Jikapun aku tau tentang tujuan hidup saat itu, maka jawabanku sangat sederhana.

“Aku ingin bersama Kakakku selamanya”

Namun semuanya berubah sejak aku mulai mengenal sekolah. Aku mulai mengenal teman perempuan sebaya. Kukira, di dunia ini hanyalah aku anak perempuan tercantik didunia. Seperti kata-kata yang dilontarkan kakakku.

Aku menyukai dunia sekolah saat itu. Namun aku sedikit lambat dalam proses adaptasi. Hal ini mengingat aku tak memiliki tetangga, tak pernah memiliki teman perempuan sebaya sebelumnya, dan cenderung menjadi adik yang manja. Adaptasiku semakin terhambat mengingat Mamaku adalah guru dikelasku sendiri. Sehingga aku lebih menyukai berteman dengan Mama dibanding dengan teman perempuan sebayaku. Lambat laun, aku mulai merasakan perasaan iri dari teman-temanku karena kedekatanku dengan Mama yang merupakan guru dikelas kami.

Seingatku, aku tak pernah punya teman akrab selagi TK. Aku hanya membuntut pada Mama. Hingga istirahat tiba pun aku takut untuk bermain bersama. Kurasa, tidak ada teman yang bersifat seperti Mama maupun Kakak. Ya, itulah perasaan yang kuingat sewaktu kecil dulu.

Aku tumbuh menjadi anak manja yang rindu akan teman perempuan sebaya, berharap mereka dapat bersifat sama seperti Kakak dan Mamaku..

Maka, aku mulai menciptakan Karakter itu.

source: detikhealth.com

Sejak aku sekolah, Mama mulai menyadari bahwa aku sering berbicara sendiri tanpa Kakak. Mama sering menanyakan hal aneh itu padaku namun aku hanya tersenyum-senyum malu. Aku tau bahwa lawan bicaraku bukanlah makhluk nyata. Aku hanya berimajinasi.

Fase ini beralasan. Kakakku mulai memiliki teman laki-laki dan aku pastinya juga harus memiliki teman perempuan. Namun, lingkungan tempatku tinggal tidak mendukung, begitupun dengan dunia sekolah. Lingkunganku sunyi tanpa satupun tetangga yang memiliki anak perempuan sepertiku. Aku tak pernah bergaul dengan para sepupu karena kami adalah keluarga perantauan.

Pohon-pohon disekeliling rumahku adalah tempat persinggahan imajinasiku. Pohon rambutan adalah rumah Rita, pohon jambu adalah rumah Aulia, dan pohon rambutan kering adalah rumah Gigi. Tidak perlu imajinasi lebih untuk mengkhayalkan Rita dan Aulia karena mereka adalah wujud imajinasi dari teman yang satu TK denganku. Sementara Gigi adalah teman yang kuciptakan sendiri. Dalam imajinasiku, Ia adalah tetangga baruku.

Menggenaskan? Kesepian?

Tidak, itu menyenangkan..

Jika itu tidak menyenangkan, mana mungkin aku masih mengingatnya hingga sekarang? Ya, hingga setua ini?

source: bukubiruku.com

Sewaktu kecil aku sangat hoby memanjat pohon. Tentunya pohon yang kupanjat tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon itulah yang telah kujadikan rumah imajinasi untuk setiap teman-teman imajinasiku. Aku bahkan memasukkan karakter detail dari setiap teman imajinasiku. Seperti Gigi, si cengeng yang selalu menangis. Rita, si cantik yang banyak dikagumi. Bahkan Aulia, si baik hati yang suka bermain masak-masakan. Dan aku? Aku adalah teman yang paling mereka sukai.

Aku masih mengingat saat-saat itu. Masa saat aku membawa empat pasang sandal kerumah imajinasi. Kemudian mama panik mencari sandal-sandal dirumah yang hilang. Dan aku dengan wajah tanpa dosa berkata, “Rita, Aulia dan Gigi yang pinjam Ma”

Aku juga masih mengingat saat saat lucu itu. Saat aku menghamburkan baju-bajuku. Mencari baju yang pas untuk boneka susanku. Mengkhayal bahwa salah seorang temanku baru saja melahirkan. Ya, akulah sang dewi penolong yang membantunya melahirkan.

Dan saat pujian-pujian imajinasi itu datang satu persatu dari mulut teman imajinasiku, Mama berteriak menggerutu betapa berantakan lemari pakaianku. Tapi aku tak peduli, di mata teman-teman imajinasiku saat itu aku adalah pahlawan.

Menginjak usia lima tahun imajinasiku semakin berkembang. Mungkin ini karena perubahan teman dari lingkungan nyataku di sekolah. Teman TK yang dulu sekelas denganku sudah memasuki Nol Besar. Dan aku mendapati teman-teman baru di Nol Kecil. Bagaikan senior dikelas baru, aku kini merasa lebih dihargai. Satu per satu mulai berteman denganku di dunia nyata.

Dan teman imajinasiku di rumah mulai berubah tingkatannya. Seingatku, saat itu aku pernah mengkhayal menjadi ‘Tuan Putri’ yang berteman dengan dayang-dayangnya. Maklum saja, zaman itu acara TV sedang ramai-ramainya tentang film asia. Dan setiap sore hal yang kulakukan adalah membawa selendang putih yang dapat kutemukan kemana saja dan menyelimutkannya keseluruh tubuhku. Rasanya saat itu bahagia sekali.

Khayalan terus berkembang dimasa-masa TK hingga akhirnya aku masuk sekolah SD.

SD yang menjadi pilihan orang tuaku saat itu adalah SDN Tampang. Satu-satunya SD di desaku. Lingkungan baru yang satu itu tidak terlalu aku sukai karena sekali lagi aku harus beradaptasi. Kali ini aku harus berlatih benar-benar berteman karena mama kini tak lagi bisa kubuntuti.

Aku tak menyukai lingkungan ini. Apalagi anak laki-lakinya. Anak Desa memiliki kekuatan yang menyeramkan dibanding Anak Kota terlebih dalam olah raga. Seingatku aku selalu menjadi siswi terpayah dalam hal olah raga. Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan teman-teman laki-laki. Hanya satu sampai tiga anak perempuan yang dekat denganku. Tapi, keberadaan teman imajinasiku tetaplah lebih dominan dibanding teman nyataku.

Hingga umur 7 tahun aku masih memiliki teman imajinasi dan keberadaannya masih dominan dibanding teman nyataku. Akhirnya, Mama mulai bertindak. Mama mengenalkanku dengan Yanti, teman SD yang rumahnya paling dekat denganku.

Yanti menyenangkan. Kami membuat rumah-rumahan bersama. Bermain didalamnya kemudian berjalan-jalan bersama dari siang hingga sore hari. Apakah saat itu perlahan teman imajinasiku menghilang?

Tidak..

Dengan percaya diri aku mengenalkan Teman Imajinasiku kepada Yanti.

“Aku tidak melihat mereka” protes Yanti

“Aku juga tidak, tapi menyenangkan jika kita berpura-pura melihatnya”

“Haha.. Kamu aneh win..” Katanya tertawa

“Ayolah.. Ini menyenangkan” kataku memaksa

Aku memperkenalkan rumah-rumah teman imajinasiku. Yanti hanya tertawa dan memanjat pohon itu. Aku mengajaknya pura-pura mengobrol dengan teman imajinasiku. Tapi Yanti bersikeras menghilangkan keberadaan mereka. Akhirnya, kami memutuskan untuk bermain ‘bipian’.

Apa itu bipian? Mungkin terdengar asing ya. Sebagian dari kalian mungkin menyebutnya ‘pepean’ tapi kami ‘urang banjar’ lebih senang menyebutnya bipian, yaitu mainan kertas yang berbentuk karakter wanita lengkap dengan pasangan baju-bajunya. Bagi kami, bipian bagai jenis boneka dua dimensi yang sangat menyenangkan untuk dimainkan.

Source: tokopedia

Mainan bipian sangat menyenangkan saat itu. Aku sangat ketagihan. Aku bahkan belajar menggambar lebih baik untuk dapat membuat salah satu karakter bipian. Saat itu, bipian menjadi tuangan nyata dari wujud teman imajinasiku. Ya, tadinya aku sering keluar dan memanjat pohon untuk berimajinasi. Kini, aku hanya butuh ruang kotak yang berisi kertas, pensil, spidol dan crayon. Saat itu, aku ingat dengan senyum kepuasanku dan berkata, “Lihatlah, kalian semua sudah menjadi nyata”

Aku berbeda, dan aku tetap mensyukuri itu..

Memiliki teman imajinasi adalah proses adaptasi psikologis masa kecilku. Aku mengingat hal itu sampai sekarang. Aku tak pernah merasa bahwa aku termasuk anak yang aneh karena suka tertawa sendiri dahulu. Masa kecilku bahagia dan ialah pembentuk diriku yang sekarang.

Baca juga: “Wajarkah Kehadiran Teman Imajinasi pada Anak”

Memang dampak dari teman imajinasi terbawa hingga besar. Dalam proses berteman, aku terbilang sangat pendiam dan selektif. Aku tau aku adalah karakter yang pemilih dan susah untuk dijadikan teman akrab. Saat SD hanya Yanti dan Wiwik yang menjadi teman dekatku. Seiring berjalan waktu mereka berubah. Sejak lulus SD, Yanti telah berpindah rumah dan jauh dariku. Dan sejak SMP Wiwik berubah menjadi lebih gaul dibandingkan denganku yang ‘begini-begini saja’.

Aku percaya, dalam setiap proses penciptaan Tuhan ia telah menanamkan karakter yang berbeda pada setiap manusia. Seperti aku yang lebih suka hidup diruang imajinasiku, selektif dalam berteman dan tidak suka keramaian berlebihan. Dan aku hanya berharap suatu hari dapat menemukan orang berkepribadian terbalik yang dapat merubah karakterku yang ‘parah’.

Tapi itu omong kosong. Sudah berapa banyak aku berteman dengan karakter yang berlawanan denganku? Pada akhirnya, aku hanya butuh karakter yang sama denganku untuk dapat melihat potensiku.

source: pinterest

Ialah suamiku, bukan teman imajinasiku..

Ia adalah sosok nyata dari gabungan karakter teman imajinasiku..

Ia adalah temanku sekarang dan selamanya.. 😊

Yakin kamu bukan MBA? Kok Nikah Muda? 

Yakin kamu bukan MBA? Kok Nikah Muda? 

MBA apaan ya?

Bukan, ini bukan gelar. MBA disini adalah singkatan dari Married By Accident. Sepertinya istilah ini sudah umum sekali ya, bahkan saking umumnya kalau liat anak muda kawin_sedikit banyak pasti ada aja deh yang bilang “bukan MBA kan ya, kok tiba-tiba banget?”

Apalagi nih ya.. Apalagi kalau tidak lama habis menikah tiba-tiba terdengar desas desus, “Si Anu Hamil loh”

Dan langsung deh obrolan bertambah

“Berapa bulan?”

“Katanya udah 4 bulan”

“Loh kok bisa.. Bukannya nikahnya tanggal ‘sekian’ ?”

 “Nah, makanya itu aku juga bingung” 

“Jangan jangaaan…” 

Was wes wos wushhhhh….

Kabar berlanjut hingga satu kelurahan tahu. 😅

***

Pernah mengalami hal diatas? Atau anda termasuk salah satu yang suka sekali kepo dengan pernikahan muda dengan kehamilan instan? Hmm.. Ada baiknya anda membaca kisahku dulu. 

Aku menikah diusia yang terbilang masih ‘agak’ muda, tepatnya umur 21 tahun 9 bulan. Saat itu aku masih belum selesai kuliah dan masih dalam proses mengerjakan Tugas Akhir. Kebetulan, suamiku adalah salah seorang asisten dosen dikampusku. Sehingga katakanlah kami ‘Cinlok’ aka Cinta Lokasi bukan Cilok loh ya.. 😛

Apa alasanku menikah dengan usia yang terbilang muda?

Jujur, jika berbicara urusan ‘kematangan’ maka aku adalah pribadi yang jauh dari kata dewasa dan bijak. Sehingga salah besar jika kalian mengira aku menikah karena merasa sudah pantas dan dapat berpikir dewasa. Salah pula kalian mengira jika alasan aku menikah karena merasa mapan dengan calon suami. 

Apakah karena dorongan orang tua?

Sebenarnya ini adalah salah satu faktor pemicunya. Aku adalah pribadi yang suka curhat dengan orang tua. Aku tidak terlalu tau apakah hal itu dapat dikatakan baik? Yah, mengingat aku adalah anak perempuan satu-satunya dikeluargaku sehingga Mama ku ‘agak’ overprotective terhadapku. Terlebih ketika tau ada laki-laki mulai mendekatiku dan berkunjung kerumahku. 

Yeah, Lets talk about ‘Boys’ who knew me

Rasanya agak munafik kalau aku bilang bahwa diriku orang suci yang tak mengenal status pacaran. Aku pernah pacaran, aku pernah merasakan asiknya disukai oleh lawan jenis dengan jantung berdebar, aku pernah bermimpi bahwa kisah cintaku akan romantis seperti drama korea. Yah, intinya emak pun pernah muda.

Tapi perlu digaris bawahi bahwa aku adalah pribadi pemalu yang punya sisi sedikit plegmatis. Masa SMP adalah masa kelam bagiku karena aku merasa harus ikut trend pacaran agar dihargai oleh teman-temanku. Setidaknya aku pernah memiliki 3 mantan yang sebenarnya aku tidak pernah mencintai mereka sedikitpun. Jujur saja, saat SMP aku tidak pernah merasakan debaran jantung yang disebut teman-temanku dengan Cinta.

Saat SMA aku terpisah dengan teman-temanku di SMP. Aku memulai babak baru hidup dengan teman-teman baru. Sebagian besar temanku adalah kutu komik dan anime. Hal ini membuatku ikut terbawa dengan mereka. Aku bahkan menjadi sosok yang sangat amat pendiam dikelas. Padahal, SMA adalah kali pertama aku pernah merasakan debaran itu. Tapi peduli apa? Walau sebenarnya aku tau kalau dia menyampaikan salam padaku dan bilang menyukaiku tapi aku tak pernah benar-benar jujur dengan perasaanku. Ya, aku orang seperti itu. Dan perasaan itu kubiarkan hingga tiga tahun lamanya. Aku tak pernah benar-benar berpacaran seperti remaja SMA pada umumnya. 

Saat kuliah aku memutuskan untuk berubah total. Dari segi berpakaian, cara pandang, dan komunitas. Saat itu teman-teman SMA ku sangat terkejut melihat perubahanku. Beberapa dari mereka bahkan menasehatiku, “Kalau kamu begini terus bisa jadi perawan tua win, ingat loh nikah itu sunnah nabi” 

Aku tau nasehatnya beralasan. Saat itu penampilanku berubah total. Aku mulai berani memakai jilbab dan wajahku berubah total. Sejak SMA memang teman-temanku selalu bilang bahwa wajahku terlihat sangat berbeda dengan dan tanpa jilbab. Jilbab dan wajah yang tergolong jutek membuatku tidak seperti dulu. Dahulu, walau tergolong jutek namun masih ada yang menyukaiku. Saat kuliah para lelaki yang kutemui hanya memandang remeh kearahku sambil bilang “Assalamualaikum” dengan nada meremehkan. 

Tapi peduli apa? Niatku memakai jilbab saat itu hanyalah karena ingin berubah. Aku tidak terlalu peduli selama tidak ada yang memandang remeh kearahku. Tapi itu tidak benar, aku peduli hal itu dan rasa percaya diriku mulai berkurang. Finally aku menemukan dunia baru dengan teman baruku dikuliah. Bukan dunia islami namun dunia boyband korea. 

2 tahun kehidupan kuliahku isi dengan menjadi fans fanatik korea. Aku tidak terlalu peduli tentang statement teman-temanku “Sudah punya cowok win?” 

Ah.. Mereka berlebihan. Yang suka padaku pun tak ada. Haha.. 

Aku menghabiskan hari-hari remaja berkilauku diwarnet, buku komik dan majalah. Malam harinya aku menonton video klip boyband korea kesenanganku dan drama korea. Katakanlah aku kecanduan, sangat kecanduan. Hingga langganan cowok yang pernah menelponku dimalam hari pun aku racuni dengan virus korea. Dia illfeel? Tidak, dia berusaha menyadarkanku dan aku cuek tak peduli. 

source: pinterest

Tahun berikutnya boyband korea kesenangananku bubar. Teman yang dahulu dekat denganku kini tak seakrab dulu. Aku mulai mencari pelarian lain untuk hiburan hidupku. Tak butuh waktu lama untuk move on. Salah seorang teman laki-lakiku mengajakku untuk bermain game online. Dan aku menikmatinya. Sangat menikmati dunia baruku. Dunia game online yang diminati sebagian besar cowok dengan aku satu-satunya cewek didalamnya. 

Aku sudah bilang kan? Aku bukan orang suci. Sesuci yang para lelaki telah kulewati bilang “Assalamualaikum”. Aku mulai dekat dengan beberapa cowok didunia maya karena keaktifanku bermain game online. Rasanya membosankan kalau tidak mengikuti dunia chat mereka yang ramai. Apakah aku pacaran? 

Hmm.. Entahlah.. 

Aku sangat dekat dengan Mamaku. Saking dekatnya aku selalu curhat jika ada lelaki mendekatiku. Sampai suatu ketika aku curhat dengan mama bahwa aku ingin bertemu laki-laki didunia online ku. 

“Singkat saja ma.. Cuma nonton bareng terus langsung pulang” Kataku memohon. 

“Gak Boleh! Kamu belum kenal betul orangnya.. Kemarin pernah ada kasus ‘Bla bla’.. Kamu mau begitu juga?”

Yah, seperti itu akhirnya dan sebagai anak yang taat aku pastilah menurut. Sebenarnya, saat itu Mama lebih sering menanyakan tentang temanku yang sering aku tumpangi bareng saat pulang kerumahku di pelaihari. Mama tertarik sekali dan bilang bahwa dia anak sangat baik. 

Sebenarnya, aku suka sekali jika dekat dengan laki-laki yang satu hoby denganku. Suka game dan sedikit punya jiwa ‘pujangga’. Alasan itulah yang membuatku dekat dengan salah seorang teman laki-lakiku itu. Ya, aku punya impian memiliki calon suami yang ekstrovert tapi nyatanya aku selalu dekat dengan laki-laki introvert.

Baca juga: “Pilih Lelaki Introvert atau Ekstrovert?”

Tapi perasaan suka dan lebih dari suka itu tentu berbeda. Aku lebih suka dengan laki-laki yang bisa membuatku bersemangat dan lebih dewasa. Satu lagi, seseorang yang bisa menerima dan menyukaiku dengan sebenar-benarnya. Kadang karena sifat pemilih itu aku sering dikritik temanku, “Nanti kamu perawan tua loh”

Baca juga: “8 syarat lelaki yang patut dijadikan calon suami” 

Ah peduli amat, toh cita-citaku masih panjang, Pikirku. 

Ehm, Siapa sangka saat itu asisten dosen dikampusku mulai terlibat konflik denganku karena suatu insiden dengan adik kelasku. Perlu kuceritakan lebih lanjut? Sepertinya tidak. Hehe

Chit chat panjang itu akhirnya berujung pertemuan dengan Mama 😂 

Apa yang kalian lakukan saat pertama kali kencan? Nonton bareng? Makan bareng? 

Saat kuliah aku tinggal di rumah kontrakan berdua dengan kakakku. Sesekali, Mamaku datang berkunjung untuk menjenguk kami dan membawakan makanan. Ah, siapa sangka ia kerumahku dan langsung bertemu Mama? 😂

Akhirnya, pertemuan pertama itu bagaikan meminta sebuah restu. Aku terdiam lama di samping Mama dengan wajah malu-malu. Sementara Mama? Sangat antusias, luar biasa..seakan baru menyadari bahwa “akhirnya anakku laku juga” hahaha.. 

Ya, itulah awal hubungan kami. Tidak ada teman sekelasku yang tau. Kurasa itu hal yang harus dijaga karena rasanya gak enak banget kalau suatu ketika jika nilaiku bagus maka teman-temanku akan melirik hubunganku sebagai pemanis nilaiku. 

Tapi lambat laun satu dua tiga orang mulai menyadari hubungan kami. Akhirnya, satu kelas mulai menyadarinya. Aku hanya diam dan berusaha membuat sebuah lelucon kalau hubungan kami toh juga cuma sebuah lelucon. Tapi, percaya apa mereka? Mungkin wajahku tak bisa berbohong. 

Dan lamaran itu tiba-tiba datang

“Aku mau kuliah lagi” Katanya

“Waaah.. Hebat! Mau kuliah dimana?” Kataku

“di UGM Yogya.. 2 tahun loh” 

Satu sisi aku sangat senang mendengarnya. Tapi disisi lain ada hal yang mulai menggangguku. 

Bagaimana jika dia bertemu wanita lain disana? 

Cewek Yogya cantik-cantik..

*eh, tapi kan katanya masih cantikan aku #halahgombal

Jujur, itu sedikit menggangguku. 

Pada Kamis Malam seperti biasanya aku ke Sabilal untuk mengikuti Ceramah dengan ‘Calon Mertuaku’. Akhirnya, beliau berbicara padaku.. 

“Anakku mau kuliah lagi win..” 

“Eh.. Iya ma.. Dia juga cerita kemarin” 

“Rencananya ke yogya maunya sama kamu” 

*Eeeehhh??? 😱

“Kamu mau lah kami beantaran kena tanggal 2? Kemarin aku sudah telponan sama Mama kamu” 

*EEEEEEEH.. 😱

Singkat cerita aku akhirnya memutuskan Menikah pada tanggal 2 Juni 2012. Ya, tidak banyak yang tau bahwa kami menikah. Rasanya terlalu awkward kalau aku membagi undangan pernikahan di kala teman-temanku sedang sibuk dengan Tugas Akhirnya. Belum lagi teman-temanku dikenal suka menggoda. Ah, aku tak tahan kalau harus digoda saat bertemu mereka. Aku memutuskan untuk mengundang mereka saat resepsi saja di bulan September. Saat itu kami semua sudah lulus dan aku aman dari godaan mereka. 

Akhirnya, karena keputusan bodohku itu maka gelar ‘MBA’ sempat aku sandang.. 

Siapa sangka aku langsung hamil? Saat resepsi perkawinan di bulan September aku sudah hamil 4 bulan. Walau saat itu aku terbilang masih kurus dan tidak terlihat hamil. Tapi wajah tak bisa berbohong, saat resepsi aku sangat pucat dan bahkan mual karena bau bunga melati. Beberapa orang pastilah sudah sadar kalau aku sedang hamil.

Gosip semakin panas ketika perutku semakin membesar. Orang-orang sok tau mulai menghitung hari resepsiku dengan tanggal kehamilanku tanpa memperdulikan tanggal pernikahan diundangan yang telah kusebar. Bahkan, orang yang kuundang saat pernikahan pun turut curiga dengan perhitungan kehamilanku. Bukan orang biasa melainkan keluarga dekatku sendiri.

Menyebalkan?

Banget!

Perlu diketahui kalau seminggu sebelum aku menikah itu aku baru selesai menstruasi. Dalam dunia kedokteran tanggalku menikah termasuk dalam hitungan subur. Lagipula, aku sudah berusaha menunda kehamilan dengan meminum pil kb. Siapa sangka ya aku langsung hamil? Bahkan saat aku memeriksakan diri ke Dokter Kandungan tanggal 15 Juli beliau berkata “Umur Kandungannya sudah 2 bulan mba” 

Dan betapa bodohnya aku ketika menjawab jujur saat beberapa orang bertanya padaku, “Sudah berapa bulan win?” 

Saat aku menjawab ekspresi mereka langsung bingung sambil menghitung jari. Ah, rasanya ingin lari saja sambil berkata, “Memangnya aku terlihat senakal apa sampai mereka bilang MBA?” 😝

“Harusnya jawab sebulan aja.. Polos banget sih.. ” kata suamiku

“Ah biarlah..” kataku pasrah. 

Gosip must Go On 

“Seiring berjalan waktu gosip harus menghilang” kataku tegas. 

5 bulan pasca pernikahanku gosip ramai mulai terdengar. 

Aswinda polos yang gitu-gitu ternyata nikah cepet.. Ga nyangka ya MBA.. 

Lama-kelamaan gosip mulai tak terdengar karena tertutup oleh lucunya bayiku. Aku juga mulai tak perduli lagi. Seberapa keras pun aku menjelaskan, jika memang penggosip adalah orang yang yakin dengan kata-katanya sendiri maka itu percuma. Yah, biarkan air mengalir sampai jauh hingga kelaut dan menguap.

Hei, tak perlu kau tanyakan alasanku menikah muda.. Lihatlah aku sekarang..

Aku menikah karena ingin berubah.. 

Aku menikah karena ingin menemukan semangat baru.. 

Aku menikah karena untuk menjaga diriku.. 

Aku menikah untuk menjaga dan menyenangkan hatinya.. 

Aku menikah karena yakin.. 

Yakin inilah langkah terbaikku.. 

Kalau kamu? Apa alasanmu menikah muda? 

Yuk, baca ulasan pengalaman dan alasan emak lainnya dalam tema kenapa nikah muda. Kebetulan tulisan ini adalah collaboration dari #curcolanfikawinda. Kamu bisa baca tulisan emak fika juga.. 😊

Baca juga: “Alasan kenapa nikah muda” 

Punya pengalaman yang sama tentang nikah muda? Sharing yuk! 

😊

Dear January.. Maafkan aku.. 

Dear January.. Maafkan aku.. 

Saat baru saja aku merasakan kehidupan baru diawal tahun yang menggebu-gebu, tapi siapa sangka ia akan hilang begitu cepat?

Aku tau, tak seharusnya aku mengawali 2018 dengan kesedihan. 

Aku tau tak seharusnya aku menuliskan kesedihan di Bulan Januari yang baru. 

Tapi kesedihan itu datang begitu saja menghapus semangat baruku. 

Dan jika aku tak menulisnya. Maka aku tidak bisa melangkah dengan lebih baik. 

Maka.. biarkanlah aku menulisnya…

***

30 Desember 2017 aku berloncat kegirangan melihat hasil testpack dipagi hari. Bergegas memoto hasilnya dan menanyakan keakuratannya. Yah, bagaimanapun juga aku tidak boleh kegeeran dulu dong. Siapa tau alatnya salah? Terlebih aku adalah salah satu penganut paham ‘jangan terlalu bersemangat dengan kegeeran palsu’. Namun, memang hal itu sangat membahagiakan hingga membuatku langsung memberitahu suamiku.

Bagaimana responnya?

Ibarat bertemu dengan anak kecil yang baru saja mendapat doorprize piala dan mainan. Seperti itulah ia membuat ekspresi senang melihat kelakuanku. Bertepuk tangan sambil bilang ‘Yeaay!! Hebaaat!’

Ah, begitulah suamiku. Jangan pernah mengharapkan hal romantis keluar dari mulutnya. 

Bagaimanapun juga itu moment yang menyenangkan. Terlebih saat satu-dua-tiga-empat teman-temanku meng’iya’kan keakuratannya sambil mengucapkan selamat. Aku senang sekali, sudah setahun yang lalu aku ingin hamil. 

***

Setahun lalu aku sudah memantapkan diri melepas KB. Walau sebenarnya suamiku masih ingin menundanya. Yah, aku tak tau jelas kenapa ia tidak terlalu suka dengan kehamilan. Mungkin dia trauma melihat aku dulu terkena babyblues. Takut anak berikutnya akan menimbulkan dampak psikologis yang sama untukku. Maka, walaupun aku melepas kb tapi ia bersikeras masih ingin menundanya. Kesepakatannya, kami melakukan kb alami saja. 

Bulan September dihari ulang tahunku. Akhirnya ia menyetujui proposal program hamilku. Senang rasanya. Bagaimana tidak? Farisha sekarang sudah berumur 4 tahun dan sudah sekolah. Perlahan-lahan ia menjadi anak yang mandiri. Walau ia masih tergolong menggemaskan dengan seribu pertanyaan anehnya tapi aku tau masa-masa romantis ini sebentar lagi akan hilang. Saat ia beranjak SD mungkin ia sudah tidak terlalu menggemaskan lagi. Aku butuh sosok mungil baru yang harus membuatku tetap sibuk. 

Baru kali ini aku merasakan ingin benar-benar hamil. Ironis rasanya mengingat kehamilan pertamaku terlalu banyak diisi dengan air mata karena ketidak-siapanku menjadi seorang Ibu. Aku sempat meminum pil tuntas dengan kebodohanku, saat mengetahui hamil aku bahkan mengatakan “Oh, kenapa ini terjadi terlalu cepat?” dan hingga ia lahir aku bahkan sempat berpikir begitu tak pantas bayi ini berada dipangkuanku. Namun, siapa sangka aku merindukan masa-masa itu lagi? Masa yang dulu sering kuisi dengan tangisan sambil menyusuinya? Betapa rindu dengan sosok mungil dengan bau minyak telon berada lagi dipangkuanku. Aku rindu masa-masa itu. 

Bayi baru.. Cepatlah datang.. 

September.. Oktober.. November.. 

Sayangnya promil kedua tidak selancar kehamilan anak pertama. Tadinya aku berpikir bahwa aku ini makhluk paling subur didunia. Ternyata tidak, kehamilan pertama memang sudah takdir-Nya. Begitupun yang kedua. 

***

30 Desember hatiku dipenuhi dengan perasaan berbunga-bunga. Ucapan selamat datang silih berganti. Seakan tak cukup dengan ucapan itu akhirnya pada tanggal 31 Desember 2017 aku mempublikasikan kabar gembira itu di instagram.

Katakanlah aku pamer.. Ya katakan saja.. 

Sepertinya aku memang punya sifat senang saat mempublikasikan hal yang menyenangkan. Mungkin aku harus mengakui bahwa aku punya pribadi yang agak narsis. Aku tak tau persis bagaimana membedakan benang tipis antara rasa percaya diri-semangat-bangga-sombong-narsis-hingga riya. Jadi maklumi saja jika kalian mungkin salah tafsir dengan postingan instagramku @aswindautari. Tapi serius, aku sepertinya perlu dukungan lagi dan lagi. Dan lebih utamanya, aku perlu Doa. 

Mungkin ini bawaan innerchild yang kumiliki. Sejak kecil aku tidak terlalu ekspresif dalam menggambarkan gembira-senang-sedih-kecewa. Mungkin karena lingkungan keluargaku begitu hingga terbawa keteman-temanku. Namun sejak remaja aku mulai belajar bagaimana berekspresi dengan benar. Dan ekspresi sedih adalah keahlianku. Aku hanya mengenal mengungkapkan ekspresi senang disosial media. Jadi, yah.. Katakanlah aku narsis dengan foto tersebut. 

Katakan aku terlalu ekspresif sehingga Tuhan mengujiku. 

Sebenarnya aku pun tak tau kenapa kehamilan kedua tak pantas kumiliki sekarang, Tuhan? 

***

Beberapa hari yang lalu suamiku sempat mengirimkanku sebuah artikel. Tentang betapa tidak berartinya Susu Hamil. Yah, aku mempercayainya. Toh, Kehamilan pertama dulu juga aku cuma kadang-kadang saja minum susu. Dan bayiku lahir dengan cukup besar dan sehat. 

Sudah beberapa minggu yang lalu aku batuk. Saat belum tahu dengan kehamilanku aku meminum obat batuk biasa beserta obat langganan untuk rhinitis. Namun, ketika mengetahui bahwa aku hamil maka aku berhenti meminum obat dan hanya meminum jeruk nipis dan air hangat untuk mengurangi batuk. 

Tanggal 31 Januari aku memutuskan untuk mudik ke Pelaihari, kampung halamanku. Aku bahkan berencana ingin jalan-jalan. Bagaimanapun juga aku perlu semangat baru bukan untuk mengawali tahun 2018? Aku perlu berfoto dengan keluargaku dengan background yabg menyenangkan untuk kukenang di Banjarmasin nanti. 

Senang rasanya bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. Farisha dapat bermain dengan sepupunya Muthia sembari bertanya seribu pertanyaan dengan Neneknya. Aku bahkan menikmati kecemburuannya dengan Hanzo sepupu kecilnya saat kuasuh. Kok rasanya senang sekali membuatnya menangis begitu? 

Kami menikmati 1 Januari 2018 dirumah Mama dengan kesenangan berkumpul bersama.. 

“Sebentar lagi cucu nenek ada empaat” ucap kakakku bercanda

“Hah? Siapa hamil?” kata Mamaku. 

Aku nyengir. Memang sih, aku sengaja tidak memberi tahu Mama. Ingin surprised. Dan keceriaan keluarga kami berlanjut malam itu. 

Aku lalu merasakan perutku sedikit mengeras saat batuk berkali-kali. Aku kemudian langsung menanyakan Obat Batuk dengan Kakakku yang kebetulan adalah Dokter. Dengan sigap ia langsung memberiku Obat yang aman untuk Ibu Hamil. 

Tapi malam itu aku masih batuk. Air hangat, obat dan jeruk nipis sepertinya tidak mempan untuk batukku. Aku melihat diriku dicermin besar dikamarku. Membuka perutku sembari bergumam, “Kenapa ya.. Kok rasanya besar sekali.. Padahal baru 1 bulan” 

***

Paginya aku terbangun dan kaget melihat bercak coklat dicelanaku. 

“Kok aku M ya?” Tanyaku panik pada kakakku

“Banyak kah?” Tanyanya.. 

“Dikit sih” Kataku cemas. 

“Mungkin flek saat plasentanya melekatkan diri dirahim win,” kata Iparku, Fika

“Fika pernah begini waktu hamil?” tanyaku

“Enggak pernah sih.. Tapi katanya bisa begitu aku pernah baca di artikel” Kata Fika. 

Sinyal di kampungku sangat payah. Namun aku berusaha untuk browsing mengenai flek saat hamil. Alhamdulillah aku mendapatkan artikel yang bisa menenangkanku. Seingatku dahulu, kehamilan pertamaku juga pernah flek 2-5 hari. Tapi, itu saat aku meminum pil tuntas. 

Aku memutuskan untuk tidak memeriksa diri lebih lanjut. Dan menyenangkan hatiku dengan berjalan-jalan hingga berfoto bersama ditempat kuliner dan rekreasi Bon Sawit yang tidak jauh dari rumahku. Pulangnya aku langsung tertidur. 

Sore hari aku tidak mendapati flek keluar lagi dan aku sangat lega. Sepertinya artikel yang aku baca benar. Akhirnya, malam itu pikiranku tenang. Walau aku tak berhenti batuk malam itu padahal sudah minum obat. Aneh, mengingat biasanya obat dari Kakakku langsung manjur. 

Paginya aku dikejutkan dengan begitu banyak darah yang keluar. Ya, Darah segar. Dengan sigap kakakku langsung membawaku ke UGD. 

Pikiranku tidak karuan. Aku tau ini hal buruk. Banyak sekali darahnya. Oleh pihak UGD aku langsung diberi obat penenang Rahim. Tapi aku tidak optimis. Aku tau ini tidak baik-baik saja. 

“Kantung Hamilnya sudah Kosong Bu.. Ini Abortus Complete” Kata Dokter. 

Aku langsung terdiam. Yah, padahal begitu banyak pertanyaan yang muncul tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Karena setiap pertanyaanku diawali dengan “Kenapa?? ” 

“Ibu kecapean mungkin nih? Tahun baruan?”

Aku mengelak “Tahun baru dirumah aja Dok saya enggak jalan” *memang begitukan kenyataannya bukan? 

“Tapi pasti kecapean ini” Kata Dokter menegaskan. 

Aku mengingat aktivitasku 3 hari ini. Tidak ada sedikitpun aktivitas yang membuatku lelah. 

“Nanti seminggu lagi kontrol disini ya.. Obatnya dihabiskan” Kata Dokter lagi

“Oh iya Dok.. Nanti saya Kontrol di Rumah Sakit Banjarmasin saja, kebetulan saya tinggal di Banjarmasin” Ucapku

“Nah, iyakan.. Ibunya kecapean.. Harusnya bulan awal itu ga boleh jalan Bu.. Banjarmasin-Pelaihari itu jauh loh bu” Kata Pak Dokter membenarkan pernyataannya. 

Aku tak tau harus berkata apa, hancur rasanya. Bagaimana bisa aku dikatakan kelelahan? Aku tidak kelelahan! 

Tapi kandunganku? Ya Allah.. Aku ceroboh sekali.. Egois sekali.. 

***

Tiga hari yang lalu aku mengabarkan berita itu, namun tiga hari kemudian aku kehilangannya. 

Siapa sangka? Titipan memang tak sama.. 

Atau mungkin inilah Takdir-Nya.. 

Mungkin sesekali aku harus merasakan bagaimana perasaan kehilangan. Mungkin Ia menyuruhku untuk belajar menghargai bentuk titipan. Dan rasa kehilangan akan membuatku mampu untuk bersyukur dengan cara yang lebih baik. Manusia memang hanya bisa berharap. 

Tapi tak semua harapan akan sesuai dengan kehendak-Nya. 

La Tahzan.. 

Jangan Bersedih.. 

Karena banyak hal yang harus disyukuri dibanding ditangisi. 

Aku pulang dan mendapati anakku menemukanku dalam kondisi remuk. Ia bertanya, “Mama kenapa? Mama Sakit?”  

Aku memandang matanya dengan penuh syukur. 

Ialah Bidadariku..

Hal yang harus kujaga dan kurawat dengan baik..

Bersyukurlah masih memiliki seseorang yang dapat kau peluk..



Banjarmasin, 3 Januari 2018

Ditulis oleh Ibu yang merindukan.. 

IBX598B146B8E64A