Browsed by
Category: Tentang Aku

Aku dan Teman Imajinasiku

Aku dan Teman Imajinasiku

Mereka berkata bahwa masa kecil seseorang akan mempengaruhi 50% karakternya saat dewasa. Dan hari ini, aku ingin bercerita..

Masa kecilku tak seperti kebanyakan anak pada umumnya

Bukan..

Aku bukanlah seorang tarzan yang hidup dihutan sebatang kara dan berteman dengan gorilla maupun monyet-monyet.

Bukan pula seorang anak yang hidupnya sebatang kara tanpa teman dipanti asuhan.

Bukan seperti Putri Salju yang hidup terkurung di istana karena Ibu Tiri yang jahat.

Bukan pula seperti Cinderella yang ditinggal mati Ibunya dan mulai mengkhayal memiliki Ibu Peri.

Bukan seperti itu.

Hidupku sempurna. Aku memiliki Ayah, Ibu dan seorang Kakak laki-laki yang menemaniku sejak kecil. Kami hidup di desa. Dimana saat itu tetangga yang kumiliki sangat..

Sedikit…

Kakakku adalah satu-satunya temanku. Kebanggaanku, orang yang selalu kubuntuti kemanapun ia pergi. Jikapun aku tau tentang tujuan hidup saat itu, maka jawabanku sangat sederhana.

“Aku ingin bersama Kakakku selamanya”

Namun semuanya berubah sejak aku mulai mengenal sekolah. Aku mulai mengenal teman perempuan sebaya. Kukira, di dunia ini hanyalah aku anak perempuan tercantik didunia. Seperti kata-kata yang dilontarkan kakakku.

Aku menyukai dunia sekolah saat itu. Namun aku sedikit lambat dalam proses adaptasi. Hal ini mengingat aku tak memiliki tetangga, tak pernah memiliki teman perempuan sebaya sebelumnya, dan cenderung menjadi adik yang manja. Adaptasiku semakin terhambat mengingat Mamaku adalah guru dikelasku sendiri. Sehingga aku lebih menyukai berteman dengan Mama dibanding dengan teman perempuan sebayaku. Lambat laun, aku mulai merasakan perasaan iri dari teman-temanku karena kedekatanku dengan Mama yang merupakan guru dikelas kami.

Seingatku, aku tak pernah punya teman akrab selagi TK. Aku hanya membuntut pada Mama. Hingga istirahat tiba pun aku takut untuk bermain bersama. Kurasa, tidak ada teman yang bersifat seperti Mama maupun Kakak. Ya, itulah perasaan yang kuingat sewaktu kecil dulu.

Aku tumbuh menjadi anak manja yang rindu akan teman perempuan sebaya, berharap mereka dapat bersifat sama seperti Kakak dan Mamaku..

Maka, aku mulai menciptakan Karakter itu.

source: detikhealth.com

Sejak aku sekolah, Mama mulai menyadari bahwa aku sering berbicara sendiri tanpa Kakak. Mama sering menanyakan hal aneh itu padaku namun aku hanya tersenyum-senyum malu. Aku tau bahwa lawan bicaraku bukanlah makhluk nyata. Aku hanya berimajinasi.

Fase ini beralasan. Kakakku mulai memiliki teman laki-laki dan aku pastinya juga harus memiliki teman perempuan. Namun, lingkungan tempatku tinggal tidak mendukung, begitupun dengan dunia sekolah. Lingkunganku sunyi tanpa satupun tetangga yang memiliki anak perempuan sepertiku. Aku tak pernah bergaul dengan para sepupu karena kami adalah keluarga perantauan.

Pohon-pohon disekeliling rumahku adalah tempat persinggahan imajinasiku. Pohon rambutan adalah rumah Rita, pohon jambu adalah rumah Aulia, dan pohon rambutan kering adalah rumah Gigi. Tidak perlu imajinasi lebih untuk mengkhayalkan Rita dan Aulia karena mereka adalah wujud imajinasi dari teman yang satu TK denganku. Sementara Gigi adalah teman yang kuciptakan sendiri. Dalam imajinasiku, Ia adalah tetangga baruku.

Menggenaskan? Kesepian?

Tidak, itu menyenangkan..

Jika itu tidak menyenangkan, mana mungkin aku masih mengingatnya hingga sekarang? Ya, hingga setua ini?

source: bukubiruku.com

Sewaktu kecil aku sangat hoby memanjat pohon. Tentunya pohon yang kupanjat tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon itulah yang telah kujadikan rumah imajinasi untuk setiap teman-teman imajinasiku. Aku bahkan memasukkan karakter detail dari setiap teman imajinasiku. Seperti Gigi, si cengeng yang selalu menangis. Rita, si cantik yang banyak dikagumi. Bahkan Aulia, si baik hati yang suka bermain masak-masakan. Dan aku? Aku adalah teman yang paling mereka sukai.

Aku masih mengingat saat-saat itu. Masa saat aku membawa empat pasang sandal kerumah imajinasi. Kemudian mama panik mencari sandal-sandal dirumah yang hilang. Dan aku dengan wajah tanpa dosa berkata, “Rita, Aulia dan Gigi yang pinjam Ma”

Aku juga masih mengingat saat saat lucu itu. Saat aku menghamburkan baju-bajuku. Mencari baju yang pas untuk boneka susanku. Mengkhayal bahwa salah seorang temanku baru saja melahirkan. Ya, akulah sang dewi penolong yang membantunya melahirkan.

Dan saat pujian-pujian imajinasi itu datang satu persatu dari mulut teman imajinasiku, Mama berteriak menggerutu betapa berantakan lemari pakaianku. Tapi aku tak peduli, di mata teman-teman imajinasiku saat itu aku adalah pahlawan.

Menginjak usia lima tahun imajinasiku semakin berkembang. Mungkin ini karena perubahan teman dari lingkungan nyataku di sekolah. Teman TK yang dulu sekelas denganku sudah memasuki Nol Besar. Dan aku mendapati teman-teman baru di Nol Kecil. Bagaikan senior dikelas baru, aku kini merasa lebih dihargai. Satu per satu mulai berteman denganku di dunia nyata.

Dan teman imajinasiku di rumah mulai berubah tingkatannya. Seingatku, saat itu aku pernah mengkhayal menjadi ‘Tuan Putri’ yang berteman dengan dayang-dayangnya. Maklum saja, zaman itu acara TV sedang ramai-ramainya tentang film asia. Dan setiap sore hal yang kulakukan adalah membawa selendang putih yang dapat kutemukan kemana saja dan menyelimutkannya keseluruh tubuhku. Rasanya saat itu bahagia sekali.

Khayalan terus berkembang dimasa-masa TK hingga akhirnya aku masuk sekolah SD.

SD yang menjadi pilihan orang tuaku saat itu adalah SDN Tampang. Satu-satunya SD di desaku. Lingkungan baru yang satu itu tidak terlalu aku sukai karena sekali lagi aku harus beradaptasi. Kali ini aku harus berlatih benar-benar berteman karena mama kini tak lagi bisa kubuntuti.

Aku tak menyukai lingkungan ini. Apalagi anak laki-lakinya. Anak Desa memiliki kekuatan yang menyeramkan dibanding Anak Kota terlebih dalam olah raga. Seingatku aku selalu menjadi siswi terpayah dalam hal olah raga. Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan teman-teman laki-laki. Hanya satu sampai tiga anak perempuan yang dekat denganku. Tapi, keberadaan teman imajinasiku tetaplah lebih dominan dibanding teman nyataku.

Hingga umur 7 tahun aku masih memiliki teman imajinasi dan keberadaannya masih dominan dibanding teman nyataku. Akhirnya, Mama mulai bertindak. Mama mengenalkanku dengan Yanti, teman SD yang rumahnya paling dekat denganku.

Yanti menyenangkan. Kami membuat rumah-rumahan bersama. Bermain didalamnya kemudian berjalan-jalan bersama dari siang hingga sore hari. Apakah saat itu perlahan teman imajinasiku menghilang?

Tidak..

Dengan percaya diri aku mengenalkan Teman Imajinasiku kepada Yanti.

“Aku tidak melihat mereka” protes Yanti

“Aku juga tidak, tapi menyenangkan jika kita berpura-pura melihatnya”

“Haha.. Kamu aneh win..” Katanya tertawa

“Ayolah.. Ini menyenangkan” kataku memaksa

Aku memperkenalkan rumah-rumah teman imajinasiku. Yanti hanya tertawa dan memanjat pohon itu. Aku mengajaknya pura-pura mengobrol dengan teman imajinasiku. Tapi Yanti bersikeras menghilangkan keberadaan mereka. Akhirnya, kami memutuskan untuk bermain ‘bipian’.

Apa itu bipian? Mungkin terdengar asing ya. Sebagian dari kalian mungkin menyebutnya ‘pepean’ tapi kami ‘urang banjar’ lebih senang menyebutnya bipian, yaitu mainan kertas yang berbentuk karakter wanita lengkap dengan pasangan baju-bajunya. Bagi kami, bipian bagai jenis boneka dua dimensi yang sangat menyenangkan untuk dimainkan.

Source: tokopedia

Mainan bipian sangat menyenangkan saat itu. Aku sangat ketagihan. Aku bahkan belajar menggambar lebih baik untuk dapat membuat salah satu karakter bipian. Saat itu, bipian menjadi tuangan nyata dari wujud teman imajinasiku. Ya, tadinya aku sering keluar dan memanjat pohon untuk berimajinasi. Kini, aku hanya butuh ruang kotak yang berisi kertas, pensil, spidol dan crayon. Saat itu, aku ingat dengan senyum kepuasanku dan berkata, “Lihatlah, kalian semua sudah menjadi nyata”

Aku berbeda, dan aku tetap mensyukuri itu..

Memiliki teman imajinasi adalah proses adaptasi psikologis masa kecilku. Aku mengingat hal itu sampai sekarang. Aku tak pernah merasa bahwa aku termasuk anak yang aneh karena suka tertawa sendiri dahulu. Masa kecilku bahagia dan ialah pembentuk diriku yang sekarang.

Baca juga: “Wajarkah Kehadiran Teman Imajinasi pada Anak”

Memang dampak dari teman imajinasi terbawa hingga besar. Dalam proses berteman, aku terbilang sangat pendiam dan selektif. Aku tau aku adalah karakter yang pemilih dan susah untuk dijadikan teman akrab. Saat SD hanya Yanti dan Wiwik yang menjadi teman dekatku. Seiring berjalan waktu mereka berubah. Sejak lulus SD, Yanti telah berpindah rumah dan jauh dariku. Dan sejak SMP Wiwik berubah menjadi lebih gaul dibandingkan denganku yang ‘begini-begini saja’.

Aku percaya, dalam setiap proses penciptaan Tuhan ia telah menanamkan karakter yang berbeda pada setiap manusia. Seperti aku yang lebih suka hidup diruang imajinasiku, selektif dalam berteman dan tidak suka keramaian berlebihan. Dan aku hanya berharap suatu hari dapat menemukan orang berkepribadian terbalik yang dapat merubah karakterku yang ‘parah’.

Tapi itu omong kosong. Sudah berapa banyak aku berteman dengan karakter yang berlawanan denganku? Pada akhirnya, aku hanya butuh karakter yang sama denganku untuk dapat melihat potensiku.

source: pinterest

Ialah suamiku, bukan teman imajinasiku..

Ia adalah sosok nyata dari gabungan karakter teman imajinasiku..

Ia adalah temanku sekarang dan selamanya.. 😊

Yakin kamu bukan MBA? Kok Nikah Muda? 

Yakin kamu bukan MBA? Kok Nikah Muda? 

MBA apaan ya?

Bukan, ini bukan gelar. MBA disini adalah singkatan dari Married By Accident. Sepertinya istilah ini sudah umum sekali ya, bahkan saking umumnya kalau liat anak muda kawin_sedikit banyak pasti ada aja deh yang bilang “bukan MBA kan ya, kok tiba-tiba banget?”

Apalagi nih ya.. Apalagi kalau tidak lama habis menikah tiba-tiba terdengar desas desus, “Si Anu Hamil loh”

Dan langsung deh obrolan bertambah

“Berapa bulan?”

“Katanya udah 4 bulan”

“Loh kok bisa.. Bukannya nikahnya tanggal ‘sekian’ ?”

 “Nah, makanya itu aku juga bingung” 

“Jangan jangaaan…” 

Was wes wos wushhhhh….

Kabar berlanjut hingga satu kelurahan tahu. 😅

***

Pernah mengalami hal diatas? Atau anda termasuk salah satu yang suka sekali kepo dengan pernikahan muda dengan kehamilan instan? Hmm.. Ada baiknya anda membaca kisahku dulu. 

Aku menikah diusia yang terbilang masih ‘agak’ muda, tepatnya umur 21 tahun 9 bulan. Saat itu aku masih belum selesai kuliah dan masih dalam proses mengerjakan Tugas Akhir. Kebetulan, suamiku adalah salah seorang asisten dosen dikampusku. Sehingga katakanlah kami ‘Cinlok’ aka Cinta Lokasi bukan Cilok loh ya.. 😛

Apa alasanku menikah dengan usia yang terbilang muda?

Jujur, jika berbicara urusan ‘kematangan’ maka aku adalah pribadi yang jauh dari kata dewasa dan bijak. Sehingga salah besar jika kalian mengira aku menikah karena merasa sudah pantas dan dapat berpikir dewasa. Salah pula kalian mengira jika alasan aku menikah karena merasa mapan dengan calon suami. 

Apakah karena dorongan orang tua?

Sebenarnya ini adalah salah satu faktor pemicunya. Aku adalah pribadi yang suka curhat dengan orang tua. Aku tidak terlalu tau apakah hal itu dapat dikatakan baik? Yah, mengingat aku adalah anak perempuan satu-satunya dikeluargaku sehingga Mama ku ‘agak’ overprotective terhadapku. Terlebih ketika tau ada laki-laki mulai mendekatiku dan berkunjung kerumahku. 

Yeah, Lets talk about ‘Boys’ who knew me

Rasanya agak munafik kalau aku bilang bahwa diriku orang suci yang tak mengenal status pacaran. Aku pernah pacaran, aku pernah merasakan asiknya disukai oleh lawan jenis dengan jantung berdebar, aku pernah bermimpi bahwa kisah cintaku akan romantis seperti drama korea. Yah, intinya emak pun pernah muda.

Tapi perlu digaris bawahi bahwa aku adalah pribadi pemalu yang punya sisi sedikit plegmatis. Masa SMP adalah masa kelam bagiku karena aku merasa harus ikut trend pacaran agar dihargai oleh teman-temanku. Setidaknya aku pernah memiliki 3 mantan yang sebenarnya aku tidak pernah mencintai mereka sedikitpun. Jujur saja, saat SMP aku tidak pernah merasakan debaran jantung yang disebut teman-temanku dengan Cinta.

Saat SMA aku terpisah dengan teman-temanku di SMP. Aku memulai babak baru hidup dengan teman-teman baru. Sebagian besar temanku adalah kutu komik dan anime. Hal ini membuatku ikut terbawa dengan mereka. Aku bahkan menjadi sosok yang sangat amat pendiam dikelas. Padahal, SMA adalah kali pertama aku pernah merasakan debaran itu. Tapi peduli apa? Walau sebenarnya aku tau kalau dia menyampaikan salam padaku dan bilang menyukaiku tapi aku tak pernah benar-benar jujur dengan perasaanku. Ya, aku orang seperti itu. Dan perasaan itu kubiarkan hingga tiga tahun lamanya. Aku tak pernah benar-benar berpacaran seperti remaja SMA pada umumnya. 

Saat kuliah aku memutuskan untuk berubah total. Dari segi berpakaian, cara pandang, dan komunitas. Saat itu teman-teman SMA ku sangat terkejut melihat perubahanku. Beberapa dari mereka bahkan menasehatiku, “Kalau kamu begini terus bisa jadi perawan tua win, ingat loh nikah itu sunnah nabi” 

Aku tau nasehatnya beralasan. Saat itu penampilanku berubah total. Aku mulai berani memakai jilbab dan wajahku berubah total. Sejak SMA memang teman-temanku selalu bilang bahwa wajahku terlihat sangat berbeda dengan dan tanpa jilbab. Jilbab dan wajah yang tergolong jutek membuatku tidak seperti dulu. Dahulu, walau tergolong jutek namun masih ada yang menyukaiku. Saat kuliah para lelaki yang kutemui hanya memandang remeh kearahku sambil bilang “Assalamualaikum” dengan nada meremehkan. 

Tapi peduli apa? Niatku memakai jilbab saat itu hanyalah karena ingin berubah. Aku tidak terlalu peduli selama tidak ada yang memandang remeh kearahku. Tapi itu tidak benar, aku peduli hal itu dan rasa percaya diriku mulai berkurang. Finally aku menemukan dunia baru dengan teman baruku dikuliah. Bukan dunia islami namun dunia boyband korea. 

2 tahun kehidupan kuliahku isi dengan menjadi fans fanatik korea. Aku tidak terlalu peduli tentang statement teman-temanku “Sudah punya cowok win?” 

Ah.. Mereka berlebihan. Yang suka padaku pun tak ada. Haha.. 

Aku menghabiskan hari-hari remaja berkilauku diwarnet, buku komik dan majalah. Malam harinya aku menonton video klip boyband korea kesenanganku dan drama korea. Katakanlah aku kecanduan, sangat kecanduan. Hingga langganan cowok yang pernah menelponku dimalam hari pun aku racuni dengan virus korea. Dia illfeel? Tidak, dia berusaha menyadarkanku dan aku cuek tak peduli. 

source: pinterest

Tahun berikutnya boyband korea kesenangananku bubar. Teman yang dahulu dekat denganku kini tak seakrab dulu. Aku mulai mencari pelarian lain untuk hiburan hidupku. Tak butuh waktu lama untuk move on. Salah seorang teman laki-lakiku mengajakku untuk bermain game online. Dan aku menikmatinya. Sangat menikmati dunia baruku. Dunia game online yang diminati sebagian besar cowok dengan aku satu-satunya cewek didalamnya. 

Aku sudah bilang kan? Aku bukan orang suci. Sesuci yang para lelaki telah kulewati bilang “Assalamualaikum”. Aku mulai dekat dengan beberapa cowok didunia maya karena keaktifanku bermain game online. Rasanya membosankan kalau tidak mengikuti dunia chat mereka yang ramai. Apakah aku pacaran? 

Hmm.. Entahlah.. 

Aku sangat dekat dengan Mamaku. Saking dekatnya aku selalu curhat jika ada lelaki mendekatiku. Sampai suatu ketika aku curhat dengan mama bahwa aku ingin bertemu laki-laki didunia online ku. 

“Singkat saja ma.. Cuma nonton bareng terus langsung pulang” Kataku memohon. 

“Gak Boleh! Kamu belum kenal betul orangnya.. Kemarin pernah ada kasus ‘Bla bla’.. Kamu mau begitu juga?”

Yah, seperti itu akhirnya dan sebagai anak yang taat aku pastilah menurut. Sebenarnya, saat itu Mama lebih sering menanyakan tentang temanku yang sering aku tumpangi bareng saat pulang kerumahku di pelaihari. Mama tertarik sekali dan bilang bahwa dia anak sangat baik. 

Sebenarnya, aku suka sekali jika dekat dengan laki-laki yang satu hoby denganku. Suka game dan sedikit punya jiwa ‘pujangga’. Alasan itulah yang membuatku dekat dengan salah seorang teman laki-lakiku itu. Ya, aku punya impian memiliki calon suami yang ekstrovert tapi nyatanya aku selalu dekat dengan laki-laki introvert.

Baca juga: “Pilih Lelaki Introvert atau Ekstrovert?”

Tapi perasaan suka dan lebih dari suka itu tentu berbeda. Aku lebih suka dengan laki-laki yang bisa membuatku bersemangat dan lebih dewasa. Satu lagi, seseorang yang bisa menerima dan menyukaiku dengan sebenar-benarnya. Kadang karena sifat pemilih itu aku sering dikritik temanku, “Nanti kamu perawan tua loh”

Baca juga: “8 syarat lelaki yang patut dijadikan calon suami” 

Ah peduli amat, toh cita-citaku masih panjang, Pikirku. 

Ehm, Siapa sangka saat itu asisten dosen dikampusku mulai terlibat konflik denganku karena suatu insiden dengan adik kelasku. Perlu kuceritakan lebih lanjut? Sepertinya tidak. Hehe

Chit chat panjang itu akhirnya berujung pertemuan dengan Mama 😂 

Apa yang kalian lakukan saat pertama kali kencan? Nonton bareng? Makan bareng? 

Saat kuliah aku tinggal di rumah kontrakan berdua dengan kakakku. Sesekali, Mamaku datang berkunjung untuk menjenguk kami dan membawakan makanan. Ah, siapa sangka ia kerumahku dan langsung bertemu Mama? 😂

Akhirnya, pertemuan pertama itu bagaikan meminta sebuah restu. Aku terdiam lama di samping Mama dengan wajah malu-malu. Sementara Mama? Sangat antusias, luar biasa..seakan baru menyadari bahwa “akhirnya anakku laku juga” hahaha.. 

Ya, itulah awal hubungan kami. Tidak ada teman sekelasku yang tau. Kurasa itu hal yang harus dijaga karena rasanya gak enak banget kalau suatu ketika jika nilaiku bagus maka teman-temanku akan melirik hubunganku sebagai pemanis nilaiku. 

Tapi lambat laun satu dua tiga orang mulai menyadari hubungan kami. Akhirnya, satu kelas mulai menyadarinya. Aku hanya diam dan berusaha membuat sebuah lelucon kalau hubungan kami toh juga cuma sebuah lelucon. Tapi, percaya apa mereka? Mungkin wajahku tak bisa berbohong. 

Dan lamaran itu tiba-tiba datang

“Aku mau kuliah lagi” Katanya

“Waaah.. Hebat! Mau kuliah dimana?” Kataku

“di UGM Yogya.. 2 tahun loh” 

Satu sisi aku sangat senang mendengarnya. Tapi disisi lain ada hal yang mulai menggangguku. 

Bagaimana jika dia bertemu wanita lain disana? 

Cewek Yogya cantik-cantik..

*eh, tapi kan katanya masih cantikan aku #halahgombal

Jujur, itu sedikit menggangguku. 

Pada Kamis Malam seperti biasanya aku ke Sabilal untuk mengikuti Ceramah dengan ‘Calon Mertuaku’. Akhirnya, beliau berbicara padaku.. 

“Anakku mau kuliah lagi win..” 

“Eh.. Iya ma.. Dia juga cerita kemarin” 

“Rencananya ke yogya maunya sama kamu” 

*Eeeehhh??? 😱

“Kamu mau lah kami beantaran kena tanggal 2? Kemarin aku sudah telponan sama Mama kamu” 

*EEEEEEEH.. 😱

Singkat cerita aku akhirnya memutuskan Menikah pada tanggal 2 Juni 2012. Ya, tidak banyak yang tau bahwa kami menikah. Rasanya terlalu awkward kalau aku membagi undangan pernikahan di kala teman-temanku sedang sibuk dengan Tugas Akhirnya. Belum lagi teman-temanku dikenal suka menggoda. Ah, aku tak tahan kalau harus digoda saat bertemu mereka. Aku memutuskan untuk mengundang mereka saat resepsi saja di bulan September. Saat itu kami semua sudah lulus dan aku aman dari godaan mereka. 

Akhirnya, karena keputusan bodohku itu maka gelar ‘MBA’ sempat aku sandang.. 

Siapa sangka aku langsung hamil? Saat resepsi perkawinan di bulan September aku sudah hamil 4 bulan. Walau saat itu aku terbilang masih kurus dan tidak terlihat hamil. Tapi wajah tak bisa berbohong, saat resepsi aku sangat pucat dan bahkan mual karena bau bunga melati. Beberapa orang pastilah sudah sadar kalau aku sedang hamil.

Gosip semakin panas ketika perutku semakin membesar. Orang-orang sok tau mulai menghitung hari resepsiku dengan tanggal kehamilanku tanpa memperdulikan tanggal pernikahan diundangan yang telah kusebar. Bahkan, orang yang kuundang saat pernikahan pun turut curiga dengan perhitungan kehamilanku. Bukan orang biasa melainkan keluarga dekatku sendiri.

Menyebalkan?

Banget!

Perlu diketahui kalau seminggu sebelum aku menikah itu aku baru selesai menstruasi. Dalam dunia kedokteran tanggalku menikah termasuk dalam hitungan subur. Lagipula, aku sudah berusaha menunda kehamilan dengan meminum pil kb. Siapa sangka ya aku langsung hamil? Bahkan saat aku memeriksakan diri ke Dokter Kandungan tanggal 15 Juli beliau berkata “Umur Kandungannya sudah 2 bulan mba” 

Dan betapa bodohnya aku ketika menjawab jujur saat beberapa orang bertanya padaku, “Sudah berapa bulan win?” 

Saat aku menjawab ekspresi mereka langsung bingung sambil menghitung jari. Ah, rasanya ingin lari saja sambil berkata, “Memangnya aku terlihat senakal apa sampai mereka bilang MBA?” 😝

“Harusnya jawab sebulan aja.. Polos banget sih.. ” kata suamiku

“Ah biarlah..” kataku pasrah. 

Gosip must Go On 

“Seiring berjalan waktu gosip harus menghilang” kataku tegas. 

5 bulan pasca pernikahanku gosip ramai mulai terdengar. 

Aswinda polos yang gitu-gitu ternyata nikah cepet.. Ga nyangka ya MBA.. 

Lama-kelamaan gosip mulai tak terdengar karena tertutup oleh lucunya bayiku. Aku juga mulai tak perduli lagi. Seberapa keras pun aku menjelaskan, jika memang penggosip adalah orang yang yakin dengan kata-katanya sendiri maka itu percuma. Yah, biarkan air mengalir sampai jauh hingga kelaut dan menguap.

Hei, tak perlu kau tanyakan alasanku menikah muda.. Lihatlah aku sekarang..

Aku menikah karena ingin berubah.. 

Aku menikah karena ingin menemukan semangat baru.. 

Aku menikah karena untuk menjaga diriku.. 

Aku menikah untuk menjaga dan menyenangkan hatinya.. 

Aku menikah karena yakin.. 

Yakin inilah langkah terbaikku.. 

Kalau kamu? Apa alasanmu menikah muda? 

Yuk, baca ulasan pengalaman dan alasan emak lainnya dalam tema kenapa nikah muda. Kebetulan tulisan ini adalah collaboration dari #curcolanfikawinda. Kamu bisa baca tulisan emak fika juga.. 😊

Baca juga: “Alasan kenapa nikah muda” 

Punya pengalaman yang sama tentang nikah muda? Sharing yuk! 

😊

Dear January.. Maafkan aku.. 

Dear January.. Maafkan aku.. 

Saat baru saja aku merasakan kehidupan baru diawal tahun yang menggebu-gebu, tapi siapa sangka ia akan hilang begitu cepat?

Aku tau, tak seharusnya aku mengawali 2018 dengan kesedihan. 

Aku tau tak seharusnya aku menuliskan kesedihan di Bulan Januari yang baru. 

Tapi kesedihan itu datang begitu saja menghapus semangat baruku. 

Dan jika aku tak menulisnya. Maka aku tidak bisa melangkah dengan lebih baik. 

Maka.. biarkanlah aku menulisnya…

***

30 Desember 2017 aku berloncat kegirangan melihat hasil testpack dipagi hari. Bergegas memoto hasilnya dan menanyakan keakuratannya. Yah, bagaimanapun juga aku tidak boleh kegeeran dulu dong. Siapa tau alatnya salah? Terlebih aku adalah salah satu penganut paham ‘jangan terlalu bersemangat dengan kegeeran palsu’. Namun, memang hal itu sangat membahagiakan hingga membuatku langsung memberitahu suamiku.

Bagaimana responnya?

Ibarat bertemu dengan anak kecil yang baru saja mendapat doorprize piala dan mainan. Seperti itulah ia membuat ekspresi senang melihat kelakuanku. Bertepuk tangan sambil bilang ‘Yeaay!! Hebaaat!’

Ah, begitulah suamiku. Jangan pernah mengharapkan hal romantis keluar dari mulutnya. 

Bagaimanapun juga itu moment yang menyenangkan. Terlebih saat satu-dua-tiga-empat teman-temanku meng’iya’kan keakuratannya sambil mengucapkan selamat. Aku senang sekali, sudah setahun yang lalu aku ingin hamil. 

***

Setahun lalu aku sudah memantapkan diri melepas KB. Walau sebenarnya suamiku masih ingin menundanya. Yah, aku tak tau jelas kenapa ia tidak terlalu suka dengan kehamilan. Mungkin dia trauma melihat aku dulu terkena babyblues. Takut anak berikutnya akan menimbulkan dampak psikologis yang sama untukku. Maka, walaupun aku melepas kb tapi ia bersikeras masih ingin menundanya. Kesepakatannya, kami melakukan kb alami saja. 

Bulan September dihari ulang tahunku. Akhirnya ia menyetujui proposal program hamilku. Senang rasanya. Bagaimana tidak? Farisha sekarang sudah berumur 4 tahun dan sudah sekolah. Perlahan-lahan ia menjadi anak yang mandiri. Walau ia masih tergolong menggemaskan dengan seribu pertanyaan anehnya tapi aku tau masa-masa romantis ini sebentar lagi akan hilang. Saat ia beranjak SD mungkin ia sudah tidak terlalu menggemaskan lagi. Aku butuh sosok mungil baru yang harus membuatku tetap sibuk. 

Baru kali ini aku merasakan ingin benar-benar hamil. Ironis rasanya mengingat kehamilan pertamaku terlalu banyak diisi dengan air mata karena ketidak-siapanku menjadi seorang Ibu. Aku sempat meminum pil tuntas dengan kebodohanku, saat mengetahui hamil aku bahkan mengatakan “Oh, kenapa ini terjadi terlalu cepat?” dan hingga ia lahir aku bahkan sempat berpikir begitu tak pantas bayi ini berada dipangkuanku. Namun, siapa sangka aku merindukan masa-masa itu lagi? Masa yang dulu sering kuisi dengan tangisan sambil menyusuinya? Betapa rindu dengan sosok mungil dengan bau minyak telon berada lagi dipangkuanku. Aku rindu masa-masa itu. 

Bayi baru.. Cepatlah datang.. 

September.. Oktober.. November.. 

Sayangnya promil kedua tidak selancar kehamilan anak pertama. Tadinya aku berpikir bahwa aku ini makhluk paling subur didunia. Ternyata tidak, kehamilan pertama memang sudah takdir-Nya. Begitupun yang kedua. 

***

30 Desember hatiku dipenuhi dengan perasaan berbunga-bunga. Ucapan selamat datang silih berganti. Seakan tak cukup dengan ucapan itu akhirnya pada tanggal 31 Desember 2017 aku mempublikasikan kabar gembira itu di instagram.

Katakanlah aku pamer.. Ya katakan saja.. 

Sepertinya aku memang punya sifat senang saat mempublikasikan hal yang menyenangkan. Mungkin aku harus mengakui bahwa aku punya pribadi yang agak narsis. Aku tak tau persis bagaimana membedakan benang tipis antara rasa percaya diri-semangat-bangga-sombong-narsis-hingga riya. Jadi maklumi saja jika kalian mungkin salah tafsir dengan postingan instagramku @aswindautari. Tapi serius, aku sepertinya perlu dukungan lagi dan lagi. Dan lebih utamanya, aku perlu Doa. 

Mungkin ini bawaan innerchild yang kumiliki. Sejak kecil aku tidak terlalu ekspresif dalam menggambarkan gembira-senang-sedih-kecewa. Mungkin karena lingkungan keluargaku begitu hingga terbawa keteman-temanku. Namun sejak remaja aku mulai belajar bagaimana berekspresi dengan benar. Dan ekspresi sedih adalah keahlianku. Aku hanya mengenal mengungkapkan ekspresi senang disosial media. Jadi, yah.. Katakanlah aku narsis dengan foto tersebut. 

Katakan aku terlalu ekspresif sehingga Tuhan mengujiku. 

Sebenarnya aku pun tak tau kenapa kehamilan kedua tak pantas kumiliki sekarang, Tuhan? 

***

Beberapa hari yang lalu suamiku sempat mengirimkanku sebuah artikel. Tentang betapa tidak berartinya Susu Hamil. Yah, aku mempercayainya. Toh, Kehamilan pertama dulu juga aku cuma kadang-kadang saja minum susu. Dan bayiku lahir dengan cukup besar dan sehat. 

Sudah beberapa minggu yang lalu aku batuk. Saat belum tahu dengan kehamilanku aku meminum obat batuk biasa beserta obat langganan untuk rhinitis. Namun, ketika mengetahui bahwa aku hamil maka aku berhenti meminum obat dan hanya meminum jeruk nipis dan air hangat untuk mengurangi batuk. 

Tanggal 31 Januari aku memutuskan untuk mudik ke Pelaihari, kampung halamanku. Aku bahkan berencana ingin jalan-jalan. Bagaimanapun juga aku perlu semangat baru bukan untuk mengawali tahun 2018? Aku perlu berfoto dengan keluargaku dengan background yabg menyenangkan untuk kukenang di Banjarmasin nanti. 

Senang rasanya bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar. Farisha dapat bermain dengan sepupunya Muthia sembari bertanya seribu pertanyaan dengan Neneknya. Aku bahkan menikmati kecemburuannya dengan Hanzo sepupu kecilnya saat kuasuh. Kok rasanya senang sekali membuatnya menangis begitu? 

Kami menikmati 1 Januari 2018 dirumah Mama dengan kesenangan berkumpul bersama.. 

“Sebentar lagi cucu nenek ada empaat” ucap kakakku bercanda

“Hah? Siapa hamil?” kata Mamaku. 

Aku nyengir. Memang sih, aku sengaja tidak memberi tahu Mama. Ingin surprised. Dan keceriaan keluarga kami berlanjut malam itu. 

Aku lalu merasakan perutku sedikit mengeras saat batuk berkali-kali. Aku kemudian langsung menanyakan Obat Batuk dengan Kakakku yang kebetulan adalah Dokter. Dengan sigap ia langsung memberiku Obat yang aman untuk Ibu Hamil. 

Tapi malam itu aku masih batuk. Air hangat, obat dan jeruk nipis sepertinya tidak mempan untuk batukku. Aku melihat diriku dicermin besar dikamarku. Membuka perutku sembari bergumam, “Kenapa ya.. Kok rasanya besar sekali.. Padahal baru 1 bulan” 

***

Paginya aku terbangun dan kaget melihat bercak coklat dicelanaku. 

“Kok aku M ya?” Tanyaku panik pada kakakku

“Banyak kah?” Tanyanya.. 

“Dikit sih” Kataku cemas. 

“Mungkin flek saat plasentanya melekatkan diri dirahim win,” kata Iparku, Fika

“Fika pernah begini waktu hamil?” tanyaku

“Enggak pernah sih.. Tapi katanya bisa begitu aku pernah baca di artikel” Kata Fika. 

Sinyal di kampungku sangat payah. Namun aku berusaha untuk browsing mengenai flek saat hamil. Alhamdulillah aku mendapatkan artikel yang bisa menenangkanku. Seingatku dahulu, kehamilan pertamaku juga pernah flek 2-5 hari. Tapi, itu saat aku meminum pil tuntas. 

Aku memutuskan untuk tidak memeriksa diri lebih lanjut. Dan menyenangkan hatiku dengan berjalan-jalan hingga berfoto bersama ditempat kuliner dan rekreasi Bon Sawit yang tidak jauh dari rumahku. Pulangnya aku langsung tertidur. 

Sore hari aku tidak mendapati flek keluar lagi dan aku sangat lega. Sepertinya artikel yang aku baca benar. Akhirnya, malam itu pikiranku tenang. Walau aku tak berhenti batuk malam itu padahal sudah minum obat. Aneh, mengingat biasanya obat dari Kakakku langsung manjur. 

Paginya aku dikejutkan dengan begitu banyak darah yang keluar. Ya, Darah segar. Dengan sigap kakakku langsung membawaku ke UGD. 

Pikiranku tidak karuan. Aku tau ini hal buruk. Banyak sekali darahnya. Oleh pihak UGD aku langsung diberi obat penenang Rahim. Tapi aku tidak optimis. Aku tau ini tidak baik-baik saja. 

“Kantung Hamilnya sudah Kosong Bu.. Ini Abortus Complete” Kata Dokter. 

Aku langsung terdiam. Yah, padahal begitu banyak pertanyaan yang muncul tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Karena setiap pertanyaanku diawali dengan “Kenapa?? ” 

“Ibu kecapean mungkin nih? Tahun baruan?”

Aku mengelak “Tahun baru dirumah aja Dok saya enggak jalan” *memang begitukan kenyataannya bukan? 

“Tapi pasti kecapean ini” Kata Dokter menegaskan. 

Aku mengingat aktivitasku 3 hari ini. Tidak ada sedikitpun aktivitas yang membuatku lelah. 

“Nanti seminggu lagi kontrol disini ya.. Obatnya dihabiskan” Kata Dokter lagi

“Oh iya Dok.. Nanti saya Kontrol di Rumah Sakit Banjarmasin saja, kebetulan saya tinggal di Banjarmasin” Ucapku

“Nah, iyakan.. Ibunya kecapean.. Harusnya bulan awal itu ga boleh jalan Bu.. Banjarmasin-Pelaihari itu jauh loh bu” Kata Pak Dokter membenarkan pernyataannya. 

Aku tak tau harus berkata apa, hancur rasanya. Bagaimana bisa aku dikatakan kelelahan? Aku tidak kelelahan! 

Tapi kandunganku? Ya Allah.. Aku ceroboh sekali.. Egois sekali.. 

***

Tiga hari yang lalu aku mengabarkan berita itu, namun tiga hari kemudian aku kehilangannya. 

Siapa sangka? Titipan memang tak sama.. 

Atau mungkin inilah Takdir-Nya.. 

Mungkin sesekali aku harus merasakan bagaimana perasaan kehilangan. Mungkin Ia menyuruhku untuk belajar menghargai bentuk titipan. Dan rasa kehilangan akan membuatku mampu untuk bersyukur dengan cara yang lebih baik. Manusia memang hanya bisa berharap. 

Tapi tak semua harapan akan sesuai dengan kehendak-Nya. 

La Tahzan.. 

Jangan Bersedih.. 

Karena banyak hal yang harus disyukuri dibanding ditangisi. 

Aku pulang dan mendapati anakku menemukanku dalam kondisi remuk. Ia bertanya, “Mama kenapa? Mama Sakit?”  

Aku memandang matanya dengan penuh syukur. 

Ialah Bidadariku..

Hal yang harus kujaga dan kurawat dengan baik..

Bersyukurlah masih memiliki seseorang yang dapat kau peluk..



Banjarmasin, 3 Januari 2018

Ditulis oleh Ibu yang merindukan.. 

Move On Ngeblog bersama Komunitas Female Blogger Banjarmasin

Move On Ngeblog bersama Komunitas Female Blogger Banjarmasin

I think I’m just the Only One Who have ‘Strange Hobby’.. 
But now.. I know.. I’m not Alone..

Sejak kecil aku merasa memiliki hoby yang aneh. Saat teman-temanku asik bermain dengan sesama, aku lebih suka diam di kelas sambil menghisap permen lolipopku. Salah satu temanku kemudian bertanya, “Kamu ngapain?” dan aku menjawab, “Sedang mengkhayal”

Aku tidak terlalu suka dengan keramaian. Tapi aku suka berpura-pura ramai dipikiranku sendiri. Jikapun aku butuh teman_aku hanya butuh SATU. Ya, cukup satu saja yang mengerti diriku dan paham denganku maka aku akan menjadikannya SEGALANYA.

Nyatanya, menemukan satu teman yang mengerti dirimu itu sulit. Sejak itu aku berpikir, “Aku kah yang terlalu aneh?”

Ketika Guruku bertanya mengenai Cita-cita, aku hanya bisa menjawab menjadi Guru. Namun ketika ditanya, “Apa Hobymu? ”

Aku menjawab, “Mengkhayal”

Lantas seisi kelas mentertawakanku.

Aku tidak mengerti dimana sisi lucu dari jawabanku. Itu benar, aku hoby melamun. Kadang ketika selesai membaca satu buku_aku bisa tersenyum-senyum sendiri. Kemudian aku berbaring dengan wajah berseri-seri hingga berjam-jam lamanya. Ya, sudah terlalu sering orang tuaku mengira ekspresi itu adalah ‘Jatuh Cinta’. Kenyataannya, tidak. 😂

Aku memiliki hoby aneh sejak kecil. Aku suka berimajinasi. Aku bahkan memiliki ‘sebutan lain’ dalam versiku sendiri untuk setiap teman dikelasku.

Kemudian, suatu hari hoby menulis itu muncul begitu saja ketika Sekolah Dasar. Aku suka ‘menulis’ berbagai fenomena disekitarku. Mulai dari keluhan dengan berbagai omelan mama, bertengkar dengan kakak, rasa iri dengan adik kembarku, rasa senang ketika ayah membela segala egoku hingga bully yang dilakukan teman-temanku.

Tadinya, aku menyebut buku itu sebagai buku harian. Sampai suatu hari buku itu ditemukan oleh kakakku dan dibaca ditengah-tengah anggota keluargaku. Memang, aku berharap suatu hari ada yang membaca buku harianku_tapi tidak dalam moment yang memalukan seperti itu. 😅

Aku sempat jera menulis hingga kemudian Ayahku membelikanku kado ulang tahun berupa ‘istana buku’. Ya, itu adalah kado yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kado istana buku merupakan sebuah istana kertas yang didalamnya berisi buku-buku dongeng mungil. Imajinasi liarku menjadi-jadi.

Sejak itu aku punya ide aneh yang terlintas begitu saja didalam otakku. Aku menulis cerita singkat dengan panjang tiga paragraf. Sangat jelek namun aku senang. Paragraf pertama menceritakan karakter antagonis. Paragraf kedua menceritakan kedatangan tokoh protagonis. Dan paragraf tiga aku mematikan salah satunya atau mendamaikannya. Ya, sesimple itu. 😂

Namun salah seorang teman SD ku menyukainya dan kau tau? Itulah saat pertama aku merasa memiliki ‘fans’ dan teman satu passion.. 😄

***

Kekurangan dari kepribadian melankolis-plegmatis sepertiku adalah tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri, butuh rule mode dalam kehidupan, serta memiliki perasaan yang halus. Ya, kekurangan itu telah membuatku pensiun dengan kegiatan menulis. Hal ini terjadi begitu saja ketika teman sepassionku hilang, nilai pelajaranku tidak bagus, dan aku dinilai sebagai anak kuper dilingkunganku. Setiap remaja butuh sedikit rasa penerimaan bukan? 

Aku pensiun menulis selama 5 tahun lamanya. Kemudian bersambung menulis novel ketika kelas 3 SMA_yang tidak jelas rimbanya kemana sekarang. Lalu hoby menulisku hilang total ketika kuliah. Sampai kemudian aku bertemu dengan dia yang suka menulis. Dan aku mulai melanjutkan menulis lagi. Walau bukan jenis novel tapi hanyalah catatan renungan-renungan kelabu. 

Sepertinya hoby menulisku tak pernah berkembang ke arah yang positif. Karena itulah aku akhirnya berpikir bahwa menulis tidak akan membawaku kemana-mana. Saat menikah dan memiliki anak, suamiku mendorongku untuk terus menulis. Ia membelikan diary, menyuruhku menulis di kompasiana, menyuruhku rajin membaca tapi aku mengabaikan segala ceramahnya. Aku berpikir, “Siapa yang akan menerimaku dengan tulisan? Bukankah aku lebih baik menghabiskan waktu belajar memasak, membersihkan rumah, dan bermain dengan anak?” 

Saat itu aku masih menjadi Ibu Rumah Tangga yang idealis. Menganggap semua pekerjaan rumah harus perfect dan tidak perlu me time. Kenyataannya aku menjadi ibu mengerikan dibalik gaya perfeksionisku. Aku sering kali marah tidak jelas, menangis tidak jelas dan mulai menyalahkan keluargaku atas segala punyusutan dalam diriku. Itulah saat pertama kali aku sadar telah terkena gejala post partum depression. 

Kemudian, bulan January 2017 aku memutuskan membuat blog di wordpress. Aku pikir blog akan membuat kondisi psikologisku membaik pasca beberapa tahun menjadi stay at home mom. Suamiku mendukung secara positif dan dia menekankan padaku betapa pentingnya ‘konsisten’ dalam menulis. Konsisten berarti harus menulis secara terjadwal dan sering. Minimal 3 hari sekali. 

Aku melakukannya. Menulis berbagai hal yang aku pendam selama ini. Jika kehabisan inspirasi, aku akan menulis resep masakan. Namun bulan maret 2017 aku mulai galau dalam menulis. Karena statistik blogku yang tak kunjung naik, follower yang sedikit, dan tidak ada komunitas. Ngeblog itu hanya self healing. Pikirku. 

Tapi dimana serunya ngeblog jika itu hanya berputar pada diriku sendiri saja? Bukankah inti dari ngeblog adalah berbagi? Dimana tempat berbagi? Bagaimana aku bisa move on dengan ngeblog? 


***

Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menemukan ‘seseorang yang begitu mengerti dirimu’.

Ya, itu benar.

Itulah yang terjadi saat aku bertemu dua orang perempuan ketika seminar Dancow “Katakan, IYA-BOLEH untuk mendukung eksplorasi si kecil” di Hotel Golden Tulip Banjarmasin bulan Februari lalu. Singkat cerita, disana aku diundang sebagai blogger untuk meliput acara Dancow. Aku pikir tadinya mungkin aku disana akan sendirian saja_seperti biasa. 😂

Ternyata aku bertemu dengan dua blogger perempuan lainnya. Mereka bernama Shovya dan Leha. Aku duduk berjejer dengan mereka dan mendengarkan ‘kata-kata yang tidak aku mengerti’. Sebut saja itu niche, tld, hingga monetize dan job. Ya ampun, begitu mengasyikkan-kah dunia ngeblog itu? Pikirku.

Leha, Shovya, dan Aku

Aku memutuskan untuk bertanya tentang komunitas blogger yang ada diindonesia hingga yang khusus di Kalimantan Selatan. Dan mereka antusias. Shovya adalah member dari Blogger Banua dan Leha adalah member dari Female Blogger Banjarmasin. Berhubung aku lebih suka dengan ‘komunitas khusus perempuan’ maka aku memilih bergabung di Female Blogger Banjarmasin.

Saat pertama kali bergabung hanya ada beberapa member disana. Aku pikir jelas alasannya, karena tidak banyak orang yang memiliki passion dibidang menulis. Kenyataannya, sejak aku bergabung hingga sekarang_anggota Female Blogger Banjarmasin semakin bertambah dan kami semakin serius dengan membentuk sistem kepengurusan hingga secara khusus mengelola sosial media kami.

Aku benar-benar bersyukur tergabung dalam komunitas ini. Aku pernah tergabung dalam komunitas ’emak-emak’, komunitas agamis, komunitas ‘alay’ namun tidak pernah merasa secocok dan senyaman ini. Ya, seseorang pernah berkata padaku bahwa, “Kita tidak bisa menjadikan semua orang sebagai teman kita berpijak, kita butuh beberapa topeng dibalik itu semua agar diterima. Tapi yang menerimamu apa adanya_hanyalah keluarga dan mereka yang satu passion denganmu”

Itu benar, dan akhirnya aku memutuskan untuk menjadi member Female Blogger Banjarmasin selamanya. 😂

Anggota famale blogger banjarmasin memiliki jenis niche yang berbeda untuk blog yang dikelolanya. Ada yang memiliki niche Lifestyle, Beauty, hingga Travelling. Tadinya, aku adalah satu-satunya member yang memiliki niche Food didalamnya. Namun sekarang jujur saja niche blogku memuat banyak post lain selain Food. Dan yang paling lucu itu adalah aku mulai suka menulis di label kecantikan bertema lipstik. Dan terakhir, aku sekarang mulai suka berganti-ganti BB Cream. 😂

Itulah yang terjadi ketika dalam komunitas ini banyak Beauty Bloggernya. Maklum, aku memiliki sedikit beberapa sifat plegmatis sehingga suka sedikit terbawa arus.

Tapi itu benar, selama ngeblog aku tidak pernah berpisah dengan skincare maupun make up. Jika beberapa orang berpendapat bahwa make up adalah alat untuk bernarsis ria maka bagiku sendiri make up (khususnya lipstik) merupakan alat penunjang percaya diri saat ngeblog.

Nulis aja perlu lisptik win? Kamu waras?

Katakan saja aneh, tapi inspirasiku datang selalu dari luar rumah.. Sehingga lipstik selalu menemaniku saat mencari inspirasi.. 😂

Contohnya saat aku mengunjungi anakku pada jam istirahat sekolah untuk membawakannya kue. Aku suka sekali mendengar pembicaraan emak-emak dan menjadikannya inspirasi tulisanku. Eits, tapi jangan salah. Aku tidak pernah menulis gosip secara gamblang. Aku hanya menulis dan menangkap kesimpulan agar mendapat pembelajaran. Bukankah itu yang namanya terinspirasi?

Nah, bicara soal lipstik aku punya brand favorite yang bener-bener kece soal make up. Siapa lagi kalau bukan Wardah? I’m so in love with Wardah. Mulai dari Bedak, lipstik, blush on, eye shadow semua dari wardah. Kenapa? Karena aku terlanjur jatuh cinta sama make up wardah sejak acara ‘behantaran’ saat pernikahanku dulu. Wardah merupakan make up pertama yang membuatku jatuh cinta. 😍

Baru-baru ini yang membuatku sangat luar biasa ketagihan adalah mengoleksi berbagai warna lipcream wardah. Ya, sejak pertama kali membeli Wardah Ekslusive Matte Lip Cream No. 5 (Speachless) aku akhirnya mulai mencoba warna lain. Aku sudah memiliki lipcream wardah no. 3, 4, 5 dan 10. Menurutku produk lipcream wardah ini kece banget. Warnanya pigmented dan selalu bikin aku merasa cantik saat mencari inspirasi diluar.

Dan warna yang paling menyenangkan dan membuat wajahku fresh adalah no. 05 (Speachless). Aku selalu ketagihan dengan berbagai warna nude hingga orange karena warna itu bisa ‘sedikit’ menyamarkan usiaku sebenarnya.. 😂

Lipstik adalah senjata percaya diriku dalam mencari inspirasi

***

Oke, itu sekilas cerita tentang Female Blogger Banjarmasin dan hal yang membuatku ‘teracuni’ dengan produk kecantikan hingga brand favorite aku, Wardah. 😘

Sekarang bagaimana kabar Female Blogger Banjarmasin?

Alhamdulillah, Female Blogger Banjarmasin telah berumur satu tahun dan kita sudah banyak kemajuan didepan. Tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 (06-10-2016) Female Blogger Banjarmasin berulang tahun yang pertama. Aku berharap komunitas ini akan lebih maju dan lebih bersemangat sehingga memberi keberkahan untuk setiap member dan memberi manfaat untuk setiap orang dengan tulisan. 😊

Oya, Kami sudah memiliki Struktur Organisasi yang jelas untuk kepengurusan. Siapa saja sih? Yuk, kepoin..

  • Ketua: Ruli Retno Mawarni (www.ruliretno.com)
  • Wakil Ketua: Vina Jihan Faheera (www.reistilldoll.com)
  • Sekretaris: Siti Zulaeha Barsieh (www.syunamom.com)
  • Bendahara: Rima Melaty (www.rima-angel.com)
  • PJ Sosmed: Dina Yulini Fahdina (www.dinalangkar.com)
  • Humas: Antung Apriana (www.ayanapunya.com)

Dan beberapa member lainnya. Saat ini member kami sudah mencapai 20 orang. Dikit ya? Eh banyak kok.. 😂

Soal angka itu tak masalah bukan? Yang penting kami kece dan konsisten nulis setiap bulannya dan dapat job. Hehe..

Berbicara tentang konsisten, hal yang paling membuatku bersemangat bergabung dalam komunitas Female Blogger Banjarmasin adalah kami memiliki jadwal untuk share link setiap hari selasa dan sabtu. Pada jadwal share link kami diwajibkan untuk saling blog walking. Bagaimana jika kami tidak blog walking dan ada yang terlewat meninggalkan komentar? Secara tegas sudah ada sanksi khusus untuk itu, yaitu tidak boleh mengikuti kegiatan share link selama 2 minggu. Ngomong-ngomong, aku juga pernah kena sanksi loh satu kali. Oh, semoga itu yang terakhir. 😂

Oh iya, kami sudah pernah meet up loh. Dan luar biasa menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang satu passion denganmu. Rata-rata dari kami memang pendiam tapi siapa sangka kami bisa seriang ini jika berkumpul bersama?

Meet up kedua adalah saat kami menghadiri HP Notebook Gathering Media di Swiss Bell Hotel. Ini ketiga kalinya aku meet up dengan member Female Blogger Banjarmasin. Sayangnya hanya Aku, Rima, dan Kak Pita yang hadir. Tapi tidak apa-apa, aku sangat senang sekali. 😊

Kak Pita, Aku dan Rima

Jika tidak bertemu dengan komunitas kece ini mungkin saja aku tidak bisa begini. Mungkin aku kini hanya Ibu Rumah Tangga biasa yang sangat moody ngeblog karena tidak ada pembaca, komunitas pendukung, job, dan berbagai event blogger. Mungkin kini aku hanya menggerutu dengan berbagai pekerjaan rumahku tanpa bisa move on. Tapi komunitas ini merubahku, benar-benar merubahku

Well, ulang tahun ga ada event spesial?

Ah, siapa bilang..! Ada Kok! 😆

Event spesial berikutnya dari Female Blogger Banjarmasin adalah mengadakan Beauty Class spesial dengan Wardah di Street Food Banjarmasin. Acara ini akan berlangsung pada 22 Oktober 2016. Penasaran dengan acara ini? Bagaimana sih Beauty Class bareng wardah? Tenang saja, aku pasti akan menulis pengalamanku pertama kalinya  mengikuti beauty class di blog ini. 😊

Jadi, Anda perempuan dan seorang blogger yang berdomisili dibanjarmasin? Bingung bagaimana cara move on dalam ngeblog? Tertarik ingin bergabung dengan komunitas Female Blogger Banjarmasin? Yuk, kepo’in tentang kita di instagram dan twitter kami.

Karena komunitas satu passion adalah wadah yang bisa membuatmu move on. Jadi, mari segera move on! Tunggu apa lagi!

Nostalgia masa kecil dengan “Anne of Green Gables”, Novel Klasik berusia lebih dari 100 tahun

Nostalgia masa kecil dengan “Anne of Green Gables”, Novel Klasik berusia lebih dari 100 tahun

Anne of Green Gables, novel tentang cerita kasih sayang, persahabatan dan imajinasi. Ditulis oleh Lucy M. Montgomery tahun 1908.

Ya, novel yang sudah cukup tua. Tapi aku memutuskan untuk membelinya dicuci gudang 2 minggu yang lalu saat melihat kata imajinasi dan membaca tulisan dibelakang novel tersebut. Wow, sepertinya ini bakal seru. Pikirku. 

Memang ya, jika melihat cover dari novel ini kesannya seperti kuno sekali, tidak ada unsur modern sama sekali. Aku bahkan tidak ingin membelinya sebelum benar-benar memastikan buku ini bagus dengan membaca tulisan-tulisan pertimbangan didepan dan belakang buku. Jujur saja, mengingat pengalamanku membaca novel klasik milik Ayah dulu membuatku agak selektif memilih novel klasik. 

Keinginanku untuk membelinya bertambah kuat saat melihat tulisan diatasnya “Novel klasik yang penjualannya mengalahkan Harry Potter, To Kill a Mockingbird dan Gone with the Wind“. Ya, pasti ada alasan bukan kenapa novel ini begitu laku? 

Berapa harganya? Cuma 20ribu dicuci gudang. Dan ini satu-satunya seri pertamanya yang ada disana dari serial buku Anne. Aku langsung membelinya. 

Agak terkejut ketika membuka sampul plastiknya dirumah. Astaga, alangkah tuanya umur novel ini pikirku. Benarkah ini ditulis tahun 1908, pasti didalamnya bakal kuno sekali gaya penulisannya, keluhku. 

Sempat bosan membaca novel ini hingga chapter ke-6. Saat itu aku berpikir penulisnya hanya mengandalkan karakter Anne yang imajinatif dan ekspresif dalam segala tindakan dan cara berbicaranya. Alurnya biasa-biasa saja dan tidak ada tantangan spesial, pikirku. Tapi kemudian aku memutuskan untuk terus membacanya. Kenapa? Karena karakter Anne mirip denganku dimasa kecil. Dan lama kelamaan aku mulai suka dengan sudut pandang gaya penulisnya yang menerapkan ‘pengarang serba tau’, aku sudah lama ingin belajar bagaimana cara menulis dengan gaya begini. Menurutku cara menulis Lucy memang patut diacungi jempol, apalagi untuk novel setua ini. 

Novel ini menceritakan Anne yang merupakan seorang anak Yatim-Piatu yang diadopsi oleh kakak beradik Matthew dan Marilla. Ya, ya.. Aku tau aku bukan sepertinya. Yang mirip denganku adalah imajinasinya dan segala sudut pandang caranya berpikir. Dia bahkan mengaku kepada Marilla_yang mengadopsinya bahwa ia memiliki teman imajinasi saat dipanti asuhan. Mirip sekali denganku, pikirku. 

Tentu saja Novel ini bukan tentang cerita imajinasi yang didalamnya ada tokoh imajinasi seperti Harry Potter. Sejak berumur 20an aku lebih suka membaca buku yang realistis. Seperti cerita Anne ini, ceritanya natural sekali tanpa dibuat-buat dengan konflik yang lebay seperti skenario pada sinetron di TV itu. 

Entahlah darimana sang penulis mendapatkan inspirasi tentang Anne. Apakah ini tentang masa kecilnya? Atau dia terinspirasi dari anaknya (aku ga tau juga dia punya anak atau enggak). Yang jelas pribadi Anne dalam novel ini begitu menyentuh hati. Hingga aku sebagai seorang Ibu berharap anakku akan tumbuh seimajinatif dan seekspresif Anne. 

Apa saja karakter unik Anne dalam cerita ini yang membuatku selalu terngiang dengan kisahnya dan kata-kata inspiratif didalamnya? Ini dia.. 

1. Kepolosan. Anne adalah anak yang sangat polos dan pandai berbicara atau mungkin Marilla lebih senang menyebutnya Cerewet. Salah satu contohnya adalah Ketika Anne bertanya tentang cara berdoa yang benar. Ya, Aku tau Anne bukan pemeluk agama Islam dalam novel ini. Tapi caranya bertanya tentang sebuah doa adalah pertanyaan yang benar-benar polos. Secara tidak langsung dia mengajari tentang arti doa yang tidak melulu sesuai dengan ‘buku’ dia bahkan berdoa dengan sangat lucu dan polos. Mengingatkanku akan diriku_mengingatkanku akan Farisha. Selain itu, Anne juga gadis yang gampang tersinggung saat ada seseorang yang meledek bintik-bintik diwajahnya hingga menyebut rambut merahnya ‘Wortel’. Lucu sekali, kepolosan dan kemarahan dari anak kecil ini mengingatkanku dengan diriku sendiri. 

2. Imajinasi, ya.. Anne adalah anak periang dan sangat ekspresif yang tak sungkan mengeksplorasi imajinasinya. Dia bahkan memberi nama semua tempat permainannya. Dulu, dia pernah bercerita dengan Marilla orang tua angkatnya bahwa ketika dipanti asuhan bahkan dia punya teman imajinasi. Segala Imajinasi Anne benar-benar mengingatkanku dengan masa kecilku didesa. Aku dengan kesendirianku menamai segala macam pepohonan dan memiliki setidaknya 3 teman imajinasi. Dan aku benar-benar iri melihat begitu ekspresifnya penggambaran sosok Anne bahwa ia tak sungkan mengumbar imajinasinya dimanapun. Terkadang aku berharap bisa kembali kemasa lalu dan menjadi seperti Anne.. Ya, kuharap aku memiliki Diana. Teman yang bisa menangkap segala imajinasiku dan tak menganggapku anak yang aneh. 

3. Ambisi. Novel Seri pertama Anne ini benar-benar sebuah panutan bagi kehidupan seorang anak perempuan. Mungkin nanti Aku akan bersikeras menyuruh Farisha membacanya saat dia sudah remaja. Bagiku, karakter Anne cocok untuk dijadikan Rule Mode untuk anak-anak karena ia selalu bisa membuat hidupnya berwarna dan penuh akan ambisi. Sesulit apapun pilihan didalam hidup Anne, dia selalu dapat membuat jalan yang inspiratif sebagai solusinya. 

Buku ini menonjolkan karakter unik Anne yang begitu hidup didalamnya. Aku tak heran kenapa buku ini tak lekang oleh zaman. Bagiku sekarang, buku ini lebih bagus dibanding Harry Potter. Bahkan, untuk gaya penulisannya aku jatuh cinta. Bagaimana bisa, kisah yang memiliki alur konflik biasa saja akan menjadi seindah ini? Ya, hanya Lucy yang bisa melakukannya. Ini benar-benar buku klasik yang indah dan cocok dibaca disegala zaman. 

Moral cerita Anne juga terbungkus dengan sangat rapi dan elegan. Ceritanya mengalir dengan polos dan jernih. Dan moral yang paling berkesan dalam buku ini adalah menanamkan semangat pada kasih sayang. Benar-benar buku yang sangat menginspirasi. 

Overall, aku sangat luar biasa suka dengan buku ini, mungkin aku akan mengoleksi ketujuh seri yang lain. Buku ini hampir tak memiliki kekurangan kecuali covernya yang benar-benar terlihat kuno. Aku pikir versi cover pertamanya jauh lebih baik, terlihat lebih elegan. Iya kan? 


IBX598B146B8E64A