Browsed by
Month: November 2018

Ujian 5 Tahun Pernikahan yang Perlu Kalian Ketahui

Ujian 5 Tahun Pernikahan yang Perlu Kalian Ketahui

source image: detik.com

Siapa bilang menikah itu mudah?

Lalu, apakah menikah itu sulit? Menderita? Tersiksa?

Menikah itu tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak sereceh dongeng-dongeng masa kecil yang menyebutkan bahwa menikah adalah akhir yang bahagia.

“Dan Mereka Hidup Bahagia Selamanya.. Tamat…”

Tidak. Tidak seperti itu.

Menikah adalah awal dari langkah yang baru. Suasana baru, lingkungan baru, tantangan baru, dan proses menuju pendewasaan diri yang lebih dari sekedar terlihat dewasa. Dengan menikah, tidak lantas hidup akan bahagia.. Selamanya..

Betapa banyak kita melihat pernikahan seumur jagung? Baru beberapa bulan, hingga hitungan minggu saja banyak yang sudah ‘bubar’. Adapula pasangan yang memutuskan untuk berpisah begitu saja meski mereka sudah memiliki anak. Lalu, dimana sebenarnya kekuatan dari pernikahan itu?

Baca juga: Pembelajaran Berharga dari Film Go Back Couple

Well, ini bukan kali pertama aku pernah bercerita tentang Pernikahan, kepribadian pasangan, hingga selak beluk jatuh bangun keluarga lainnya. Ini adalah tulisan ‘kesekian’ kalinya. Dan ini juga aku buat dalam rangka ulang tahun pernikahan yang ke-6. Lebih tepatnya, sebenarnya ulang tahun pernikahan kami sudah beberapa bulan yang lalu. Haha.

Baca juga:
Mengapa menikah muda? Apakah aku MBA?
Ketika Introvert menikahi Introvert

Banyak para senior mengingatkan, bahwa masa-masa 5 tahun pernikahan adalah masa tersulit untuk dijalani. Itu…. Benar sekali.

Ada beberapa ujian inti yang harus dilewati untuk melewati masa rentan dalam pernikahan. Ujian itu diantaranya adalah:

1. Ujian Perekonomian

source image: money.id

Percayalah, untuk ujian yang satu ini adalah tipe kelas berat. Dan ini harus dilalui meski dalam pernikahan yang tergolong ‘muda’. Bukan, muda disini bukan dalam segi umur pasangan. Tapi dari umur pernikahan. Percayalah, kalian akan merasakan ujian ini di awal-awal proses membangun rumah tangga. Ujian ekonomi adalah ujian bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Tapi beda cerita kalau kalian sudah masuk golongan ‘horang kayah’…”

Lalu, ada yang bilang, “Makanya aku gak mau menikah sebelum karir aku sukses. Karena pengeluaran aku banyak. Dan aku gak mau suami menanggung semuanya..”

Ada lagi yang bilang, “Aku gak mau nikah kalau belum punya rumah plus mobil. Apalagi tinggal di tempat mertua. Sakiiiit hati aah nanti..”

Ada lagi yang bilang, “Kita nikah aja dek. Insya Allah pasti pintu rejeki akan terbuka dan ‘bla bla'”

Lalu, apa semuanya salah? Well, aku tidak menyalahkan semua pendapat diatas. Semua punya alasan masing-masing. Entah itu karena pembelajaran hidup dari orang tuanya maupun sekitar. Entah itu karena sudah dalam perencanaan yang matang. Tapi percayalah, sebagus apapun rencana anda.. Ujian Perekonomian ini PASTI ADA.

Menikah muda, belum punya rumah, belum punya penghasilan yang cukup, lalu menumpang hidup dengan orang tua atau mertua. Banyak begini? Banyak. Yang menikah usia matang pun bahkan banyak yang begini. Bukan hanya menikah muda saja.

Memutuskan mengkredit rumah untuk nyamannya perasaan pasangan. Tapi, risikonya suami-istri harus kompak dalam mengatur budget bulanan. Bahkan, adapula sang istri yang sanggup rela membantu pemasukan bulanan dengan bekerja. Banyak begini? Banyak.

Untuk pernikahanku sendiri, ujian perekonomian adalah ujian pertama. Yah, memiliki anak yang tadinya mau ditunda adalah beban perekonomian yang tidak terduga. Aku yang awalnya ingin menjadi ‘wanita produktif’ dengan bekerja akhirnya harus merelakan diri menyerahkan beban perekonomian hanya pada tulang punggung suami yang sebenarnya… Keluarganya pun jauh membutuhkannya dibanding denganku.

Ini adalah ujian yang berat untuk awal pernikahan. Menahan beban tinggal dengan orang tua maupun mertua dimana aku tidak punya sedikitpun ‘uang jajan’ untuk memanjakan diri. Sementara anak masih kecil dan LDR dengan suami. Memang, orang tuaku tergolong kaya. Begitulah orang dengan nyamannya memandangku. Tapi tidak pernah ada yang tau beban batin yang aku pikul setiap kali aku berselisih pendapat dengan mama. Semuanya kenapa? Karena ujian ekonomi..

Baca juga: Surat Untuk Mama, “Maafkan Anakmu yang hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga Saja”

Ujian perekonomian adalah ujian yang pasti dilewati pasangan. Tak menutup kemungkinan walau pasangan berasal dari keluarga kaya. Tak menutup kemungkinan walau suami istri adalah pasangan yang mapan. Percayalah.

2. Ujian Ego masing-masing

source image: jadiberita.com

Ada pasangan yang diuji ekonominya, adapula pasangan yang diuji dengan perasaannya.

Para tetua bilang, “Menikah itu intinya harus mengalah, berkorban. Kalau sama-sama ‘keras’ maka sulit jadinya”

Ah, ini benar sekali.

Entah sudah berapa banyak pertengkaran di dalam rumah tangga kami. Dari awal hingga akhir, dari bulan ke bulan pastinya adaaaa saja yang membuat bertengkar. Dari adegan saling adu mulut sampai mengurung diri di kamar hingga update status. Haha

Tapi konon, rumah tangga tanpa pertengkaran itu tidak asik. Yah, aku mengerti maksudnya sekarang. Karena rumah tangga dengan warna warni pertengkaran itu artinya suami istri sama-sama mulai ekspresif dalam berpendapat. Dan ini penting sekali. Bandingkan dengan pasangan yang tidak seimbang. Yah.. Something like.. Yang satu ekspresif sekali.. Yang satu diaaaaam saja.

Pertengkaran adalah tahap pendewasaan ego pasangan.

Nah, kalian tahu bahwa dalam tahap pertengkaran itulah ujiannya. Dan ujian iniiii… Berat beb..

Pada puncaknya, banyak sekali pasangan yang memilih bercerai hanya karena tidak dapat memahami pasangannya. Tidak mau mengalah dalam satu dua hal dan keras pada egonya masing-masing.

3. Ujian Anak

Ujian Anak? Ujian macam apa ini?

Ujian belum punya anak? Atau ujian tidak siap memiliki anak?

Atau ujian memiliki anak laki-laki melulu..
Atau ujian memiliki anak perempuan melulu..

Atau ujian anak yang tidak sempurna? Sakit-sakitan?

Nah, banyak sekali kan ujian anak itu?

Banyak pasangan yang dianugerahi perekonomian yang cukup mapan, saling memahami satu sama lain.. Namun memiliki masalah pada Anak. Entah itu belum punya anak, kelainan pada anak, hingga problematika receh seperti.. “Kok anaknya perempuan terus?” atau “Kok laki mulu..?”

Tiap keluarga memiliki sudut masalahnya masing-masing. Dan ujian anak sungguh merupakan ujian yang cukup berat. Maka, bersyukurlah jika memiliki anak yang sempurna dan penyejuk hati kedua orang tuanya. Memiliki anak seperti ini akan mengurangi efek badai dari ujian perekonomian dan ujian ego.

Dan harus kuakui, anakku Farisha adalah salah satu dari penyejuk itu.

Saat perekonomian keluarga kami sangat turun diawal pernikahan namun kehadiran Farisha telah memberi semangat baru dalam kehidupan rumah tangga kami. Kami yang awalnya sering bertengkar dan tak mau mengalah pada ego masing-masing akhirnya luluh oleh senyum dan tangisannya. Sebuah keajaiban terjadi begitu saja. Kesuksesan karir suamiku dan rentetan hal-hal baik lainnya.

Sungguh, aku yang mengira memiliki anak usia dini adalah ujian kini mulai mengerti kenapa Tuhan mengirimkannya begitu dini pada pernikahan kami.

Karena bagi pernikahan kami, anak adalah kekuatan yang memberi akar kuat pada pondasi cinta dalam rumah tangga kami.

4. Ujian Campur Tangan Pihak ke tiga

Pihak ketiga? Apa artinya selingkuhan?

Bukan. Pihak ketiga ini bukan hanya tentang itu. Tapi luas.

Mertua campur tangan, Mama campur tangan, Ayah campur tangan, Ipar campur tangan. Aduh, ini berat beb. Jangan ditambah lagi deh sama pelakor. Haha

Makanya, dulu pernah ada salah seorang yang bilang kepadaku bahwa “Jangan pernah menikahi ‘anak mami’, sungguh berat. Kamu gak akan sanggup.”

Ternyata benar, menikahi suami yang begitu menomor satukan mamanya adalah ujian yang cukup berat buatku. Semuanya serba terbagi. Dari mulai pemasukan, kasih sayang hingga apapun. Well, sebagai menantu yang kadar ‘kekanakannya’ masih sangat labil tentu aku pernah sekali merasakan kecemburuan teramat sangat kepada mertua. Tapi, rasa cemburu itu akhirnya berefek positif pada diriku sendiri. Ya, kalian bisa membaca pengalamanku dan suka duka dengan mertua.

Baca juga: “Untuk Apa Aku Membenci Mertuaku?”

Memang ya, aku sih masih patut bersyukur sekali sebenarnya karena suamiku cenderung introvert tinggi dan kadar kemungkinan selingkuhnya rendah. Sehingga Alhamdulillah sampai sekarang memang tidak pernah mencium adanya tanda pelakor yang datang.

Lantas bagaimana kalau ujiannya itu pelakor?

Well, karena sungguh aku tak pernah berada diposisi istri yang diselingkuhin terus terang aku tidak begitu tau bagaimana solusinya. Namun, saat melihat salah satu kasus pada temanku. Aku memetik sebuah pembelajaran berharga bahwa pelakor datang saat ada celah antara keharmonisan suami-istri. Entah itu tentang komunikasi, pelayanan yang kurang, dan kebutuhan yang tidak tercukupi.

Pihak ketiga akan datang mengisi setiap lobang kosong yang ada pada ruang hampa suami maupun istri. Namun, sebenarnya lobang tersebut akan lebih nyaman rasanya bila diisi oleh komunikasi yang terbuka, pemahaman satu sama lain serta kasih sayang. Yah, itu yang aku tau selama ini. Tidak ada keluarga yang tidak pernah disinggahi oleh orang ketiga. Itu adalah salah satu ujian dan kita harus menghadapinya.

5. Ujian Penerimaan

“Ternyata suamiku itu begini, sumpah aku baru tau loh ternyata dia itu… Bla bla..”

“Dulu waktu pacaran, istriku itu begini loh, begini. Manis banget kan? Ternyata pas udah nikah.. Beuh.. Apalagi pas sudah punya anak.. Beuh…”

Pastinya kita yang sudah menikah pasti mengalami fase ini. Fase shock saat mengetahui sifat pasangan yang ternyata… Oooh.. Dia begini… Haha..

“Makanya.. Pacaran itu perlu untuk mengenal kepribadian pasangan…” Katanya..

Menurutku, hal ini bukan karena kita tidak pacaran sebelum nikah. Ada kok dan banyak kok yang menikah setelah bertahun-tahun lamanya pacaran. Nyatanya, tetap saja saat sudah menikah banyak sifat asli yang tiba-tiba muncul begitu saja. Padahal loh, sudah 7 tahun pacaran. Jadi, pacaran bukan jadi tolak ukur dan proses seleksi yang tepat untuk mengaudisi kepribadian pasangan. Haha. *lagaknya ngomong kayak yang nulis enggak pernah pacaran.. 😂

Aku pacaran? Iya, aku pacaran kok dulu. Tapi pacaran bentar langsung nikah. Wee..

Selebihnya, sebelumnya hubunganku dengan suami adalah hubungan aneh antara mahasiswi dan dosennya.

*omongan mulai ngalor ngidul

Jadi, rasa shock melihat sifat baru pasangan before n after married itu kesimpulannya adalah hal biasa. Disinilah kita harus memiliki hal ekstra untuk mempertahankan pernikahan, yaitu..

Ya.. Terima saja.. Hihi..

Selama hal itu masih dalam hal yang wajar, tidak menyakitkan dan masih banyak hal positif lainnya dibanding kekurangan yang ada. Menikah itu jangan egois, shock melihat kekurangan pasangan langsung main cerai. Du du duh.. Itu kekanakan sekali. Lebih baik update status loh. *eh

Punya pasangan yang agak lazy.. Tapi enggak pernah main-main keluar rumah dan lebih memilih main game dibanding hiburan tidak baik lainnya. Syukuri saja. Dia tipe hemat dan setia.

Punya pasangan enggak bisa masak.. Tapi dibanding mommy seumuran dengan anak lainnya dia termasuk dalam kategori paling cantik dan energik bersosialisasi. Syukuri saja. Dia tipe yang punya banyak relasi dan pandai bergaul.

Punya pasangan working holic.. Pulang kerumah jarang-jarang. Tapi rejeki selalu lancar dan tidak pernah dalam kondisi kekurangan. Syukuri saja. Suatu hari nanti, akan tiba saatnya dia lelah dan mulai mengutamakan keluarganya.

Punya pasangan bisa masak, bisa cari duit, tapi tak kunjung hamil. Syukuri saja. Mungkin ini adalah tahap ujian penerimaan tingkat tinggi. Suatu hari nanti, akan tiba saatnya kesabaran itu berbuah manis.

Ya, ini adalah contoh-contoh yang aku ambil dari kehidupan teman-teman sekelilingku.

Mereka yang terus bertahan dan menerima serta tak hentinya memberikan yang terbaik.

Karena tidak ada manusia yang sempurna. Konon, mereka ‘yang baik-baik’ akan dijodohkan dengan ‘yang baik-baik pula’. Tapi pernahkah kita bertanya, Mengapa sebagian tidak??

“Karena Tuhan mempercayai kekuatan kita yang lain.. Kekuatan menerima dan mengubah kepribadian pasangan menjadi lebih baik..”

***

Nah, itu dia ujian dalam pernikahan yang perlu kalian ketahui. Menikah itu gak mudah loh. Apalagi mempertahankan pernikahan. Itu berat beb, sungguh.

Jadi, 5 tahun pernikahan itu adalah perjuangan. Kalian punya cerita lain tentang suka-duka kehidupan pernikahan? Sharing yuk!

Cara Sederhana Untuk Mengurangi Mood Swing Pada Ibu Hamil

Cara Sederhana Untuk Mengurangi Mood Swing Pada Ibu Hamil

source image: www.pregnancyandbaby.com

Ada yang pernah merasa aneh dan sensitif saat sedang hamil?

Suasana hati bisa berubah drastis.. Sebentar-sebentar senang lalu tiba-tiba bisa menangis sendiri.

Kalau ada, kita kompak dulu yuk mak.. Hihi..

Iya, sekarang aku sedang hamil 7 bulan. Dan sejak tri semester kedua, aku mulai mengalami hal ini. Sebentar-sebentar suka tertawa dan senyum-senyum sendiri. Tapi, Sebentar-sebentar kalau ada yang ‘nyenggol’ bisa nangis-nangis sendiri. Padahal loh ya, yang nyenggol itu enggak parah-parah banget senggolannya.

Kadang nih, aku suka berpikir.. Aku agak gila apa ya? Jangan-jangan sudah masuk kasus kelainan jiwa kekinian yang bernama Bipolar itu? Idih, amit-amit.. Haha

Well, sebenarnya ini bukan kelainan jiwa kok. Namanya adalah Mood Swing. Mood Swing ini adalah hal umum yang biasa terjadi saat kehamilan dimana salah satu gejalanya adalah suasana hati yang sangat mudah naik turun atau dalam bahasa ‘kita’ nih.. Lagi bete.. Lagi gak mood.. Yah.. Begitulah..

Kenapa ya bisa terjadi hal seperti ini pada Ibu hamil, terjadinya sering loh bahkan bisa berkali-kali dalam sehari? Nah, secara biologis hal ini disebabkan karena tingkat hormon pada Ibu hamil sedang bergejolak. Karena kadar hormon estrogen dan progeateron dalam darah sedang meningkat. Sehingga nih, kalau sedang hamil itu bawaan sensitiiif aja..

Hmm sebenarnya mungkin juga sih mood swing ini disebabkan oleh psikologis. Kalian tau kan bahwa aku pernah terkena babyblues saat anak pertama dulu. Jadi, kadang aku agak sedikit takut kalau hal itu terjadi lagi. Serem banget lah soalnya kalau diingat-ingat. Karena itu, untuk mencegah babyblues datang lagi kemarin aku sudah menulis tulisan tentang cara mencegah babyblues dan post partum depression.

Baca juga: Begini Caranya agar Baby Blues dan Post Partum Depression tidak terjadi lagi

Nah, sejak menginjak Trisemester ketiga ini, aku mulai merasakan bahwa mood swing aku yang jelek ini sudah mulai berkurang. Dan berikut adalah tips dariku untuk mengurangi mood swing pada Ibu Hamil.

1. Melakukan Hobi yang Berbeda

source: uangonline.com

Well, ada yang merasa hobi yang ditekuni mulai membosankan saat hamil? Jangan dipaksakan untuk melakukan hal yang membosankan ya. Cari hal yang menyenangkan dan berbeda untuk dilakukan.

Seperti aku sekarang ini. Dulu aku hobi sekali baking dan entah kenapa sejak hamil anak kedua ini aku sama sekali tidak minat untuk menyentuh mixer, apalagi gula. Maka, aku menyalurkan energi positifku dengan menulis di instagram story. Kenapa tidak di blog? Hmm.. Selama 2 bulan kehamilan aku sempat merasakan writers block parah. Dimana aku sangat sulit berkonsentrasi dan memunculkan ide saat melihat layar putih polos. Karena itu, dengan aktif dinstagram story akhirnya aku mengembalikan mood menulisku lagi.

Biasanya, hobi lama saat hamil itu tidak hilang sepenuhnya loh. Tapi dia hanya berpindah cara melakukannya. Nah, jika sudah tidak sreg dengan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari, ada baiknya jika kita mencoba membuat hobi itu menjadi menyenangkan dengan cara yang baru.

2. Menyambung Kembali Tali Silaturahmi pada Teman Lama

Saat membaca ini, kalian pasti bingung dan bertanya, “Kenapa harus teman lama?” hihi..

Karena, teman-teman baru yang beberapa tahun ini bergaul dengan kita kadang kala terasa hambar. Apalagi saat hamil. Kadang kita butuh lingkungan baru atau terkenang dengan lingkungan yang lama. Entah itu teman sekolah, teman kuliah dsb.

Ada baiknya jika sesekali kita mengadakan reuni dengan teman lama. Mengenang kembali masa muda kita dan tertawa bersama. Moment seperti ini akan mengembalikan mood pada Ibu.

Karena ketika bayi sudah lahir nanti, kita akan sangat jarang bertemu dan melakukan hal-hal seru bersama teman kita. Maka, manfaatkanlah masa-masa kehamilan untuk melakukan hal yang menyenangkan diluar.

3. Sharing Cerita pada Sesama Ibu Hamil

Dimana-mana yang namanya perempuan itu butuh curhat.

Kenapa tidak curhat dengan suami saja?

Karena suami kan tidak hamil. Hahaha.. *jawaban maksa..

Tapi ini serius loh, curhat dengan suami dan curhat dengan sesama ibu hamil itu rasanya berbeda. Karena ibu hamil juga bisa merasakan apa yang kita rasakan maka curhat dengan sesama ibu hamil itu terasa sekali ‘feel’ – nya. Berbeda dengan curhat kepada suami yang mungkin nih.. Responnya biasa saja, apalagi buat kalian yang punya suami introvert.

Baca juga: Ketika Introvert menikahi Introvert

Intinya, carilah komunitas yang senasib dengan kita dan sharinglah pengalaman sebanyak mungkin. Hal ini sangat berguna loh. Selain dapat mengurangi mood swing, memiliki komunitas yang senasib biasanya akan banyak menambah pengetahuan kita.

4. Hindari Percaya Begitu Saja pada Artikel Hoax

source: bustle.com

Ada gak sih para Ibu Hamil yang suka berkonsultasi dengan google sebagai panduan utama?

Sedikit-sedikit khawatir, tanya google..
Sedikit-sedikit takut, tanya google..

Dengan keyword yang biasanya aneh-aneh.. Seperti..

‘Makanan yang dapat menyebabkan keguguran’

‘Efek negatif memelihara kucing bagi Ibu hamil’

‘Bayi sering menendang sebelah kiri, apakah laki-laki atau perempuan’

Nah, dengan keyword ngasal yang kita ketik di google kadang kala kita suka asal percaya dengan artikel yang kita baca. Lalu kemudian takut, panas dingin, gak bisa tidur. Yah, begini nih yang sering aku alami saat kehamilan pertama dulu. Akhirnya Mood Swing malah semakin parah.

Tapi, saat kehamilan kedua ini aku sudah kapok membaca artikel-artikel aneh apalagi yang berkaitan dengan mitos makanan yang tidak boleh dimakan Ibu hamil.

Akupun berkenalan dengan Channel Bunda di www.channelbunda.com. Nah, disana ternyata banyak sekali info tentang Ibu Hamil termasuk rekomendasi makanan yang baik untuk ibu hamil. Dan artikel yang pertama aku baca adalah tentang Manfaat Kacang Hijau yang dapat mengembalikan Mood pada ibu hamil. Wah, ini benar sekali loh. Kacang hijau bahkan bisa meringankan morning sickness pada ibu hamil karena sangat manjur mengatasi rasa mual.

5. Memanfaatkan Waktu Luang dan Liburan untuk Traveling Ringan

Mood swing parah bangettt? Itu bisa jadi karena kurang liburan loh. Bagaimanapun juga setiap orang butuh liburan untuk menghibur diri, apalagi Ibu Hamil.

Memang, ada beberapa Ibu yang tidak memiliki hobi traveling. Tapi, untuk mengatasi mood swing yang parah hal ini patut dicoba loh. Karena dengan jalan-jalan ringan maka ibu dapat bertemu dengan hal-hal yang baru sekaligus juga berolah raga ringan. Karena kadang, bisa jadi mood swing yang ibu alami karena kurang gerak di rumah.

6. Perbanyak Ibadah

Nah, terakhir.. Jangan pernah malas untuk melakukan ibadah saat hamil. Mood Swing yang naik turun bisa juga terjadi karena pertahanan spiritual kita sedang melemah. Sehingga mudah sekali terpancing amarah. Sebisa mungkin perbanyak wudhu, sholat sunah dan mengaji serta berbagai kegiatan keagamaan lain yang menyenangkan. Dengan begitu hati kita akan terasa damai dan saat melakukan hobi pun mood kita akan kembali bersemangat.

source image: arah.com

Nah, itu dia hal-hal yang aku lakukan untuk mengatasi Mood Swing saat hamil. Kalian punya masalah yang sama saat hamil? Sharing yuk!

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Obsesi Rahasia Emak Sejak Kecil

Bicara tentang cita-cita, sebenarnya aku punya banyak cita-cita sejak kecil.

Pertama, aku ingin seperti Mama. Menjadi Guru TK yang cantik dan dicintai semua muridnya.

Kedua, aku ingin seperti Bapak. Menjadi Guru Fisika yang terkenal pintar dan tau segala hal. Bapak adalah kamus ensiklopedia yang bisa bicara.

Tapi, tidak ada yang tau dengan Cita-citaku yang ketiga. Cita-cita yang aku tahan hingga kini. Sebuah obsesi yang terbilang cukup konyol untuk ukuran umur emak-emak sepertiku.

Dan Cita-cita itu adalah…

Aku Ingin Sekali Menjadi Sailor Moon…

Please jangan ‘ketawa’. Itu akan membuatku sakit hati.. (walau sebenarnya aku ingin tertawa juga.. Haha). Konyol memang, emak-emak berusia 28 tahun dan sebentar lagi punya dua anak terobsesi menjadi sailor moon itu adalah hal konyol yang benar-benar aneh. 😂

Tapi jangan terlalu jauh membayangkannya. Apalagi membayangkan diriku yang sudah hamil 6 bulan ini memakai kostum sailor moon. Sungguh, akupun masih bisa ‘berkaca’. Karena itu sudah kubilang bukan? Bahwa ini adalah obsesi rahasia.

Sejak kapan cita-cita konyol ini ada?

Tepatnya mungkin ketika aku TK. Waktu itu masih tahun 1995, aku hanya mengenal sailor moon pertama kali lewat mainan boneka kertas yang saat itu populer dengan sebutan ‘Bipian’. Saat itu, aku tidak tau nama dari tokoh bipian itu. Aku hanya senang saja melihat boneka kertas dengan wajah cantik dan baju-baju yang sangat imut.

source image: paperdoll-indonesia.blogspot.com

Aku akhirnya mengenal bahwa tokoh yang ada dalam bipianku adalah tokoh Sailor Moon. Aku sendiri tau dengan kartun Sailor Moon ketika salah seorang tetanggaku memasang antena parabola. Zaman itu, menonton TV dengan saluran non TVRI saja sudah mewah di desaku. Apalagi jika ada RCTI, Indosiar, dll. Wah, satu-satunya rumah yang memasang parabola tentunya akan diserang para anak kecil untuk menonton kartun di hari minggu.

Sialnya, kartun Sailor Moon dan Dragon Ball saat itu tayang pada jam yang sama dengan saluran TV yang berbeda. Kalau tidak salah, Sailor Moon tayang di Indosiar dan Dragon Ball tayang di RCTI. Sebagai satu diantara 10 penonton, dimana aku adalah anak perempuan satu-satunya. Tentu saja aku kalah suara. Dan akupun sering pulang kerumah dengan berderai air mata. Hahaha.

Tapi aku tak pernah putus asa dengan imajinasi ‘tokoh-tokoh cantik’ pertamaku. Aku punya bakat menggambar sejak kecil. Jadi, aku membuat gambar-gambar sailor moon di atas kertas dari hasil tiruan pada bipian. Aku mengguntingnya, membuatkannya baju dan bermain dengan 12 sailor cantik kesayanganku. Bagiku, 12 Sailor Moon adalah Para Peri Imajinasi Pertama yang senang menolongku.

Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar tau Bagaimana Cerita Sailor Moon

Lalu, bagaimana cerita kartun sailor moon itu?

Well, sebenarnya aku tidak benar-benar tau bagaimana ceritanya. Hahaha.

Diatas sudah kuceritakan bukan? Bahwa aku tidak pernah benar-benar berkesempatan menonton kartun itu di masa kecilku. Mungkin pernah, hanya kilasan saat sesi iklan kartun dragon ball tidak berbarengan dengan iklan sailor moon. Itupun sebenarnya, aku tidak terlalu paham. Hanya saja aku mengetahui inti dari kartun sailor moon itu yaitu mereka adalah pembela kebenaran yang cantik. Sudah, itu saja. Haha

Aku Hanya Terobsesi untuk Bisa Menjadi Secantik Sailor Moon

Jika kalian bertanya siapa role mode pertamaku dalam berdandan? Maka Sailor Moon adalah jawabannya.

Ya ya.. Aku sekarang memang memakai jilbab. Tolong jangan mengernyitkan dahi seserius itu. Maksudku adalah role mode pertama saat aku masih kecil, bukan sudah besar begini.

Aku adalah anak kedua dikeluargaku. Kakakku adalah laki-laki. Mama dan Bapakku hanyalah PNS biasa yang saat itu berjuang jatuh bangun dalam membangun kesejahteraan ekonomi, sehingga aku tidak punya koleksi baju perempuan seperti anak-anak perempuan pada umumnya. Ya, aku hanya mewarisi baju laki-laki punya kakakku saat aku masih kecil. Potongan rambut yang kumiliki pun seperti laki-laki. Saat itu, aku masih bingung kenapa mama mendandani anak perempuannya seperti laki-laki begitu.

Kadang, aku merasa minder dengan teman-teman TK disekolah. Mamaku punya rambut panjang dengan dandanan yang selalu komplit. Teman-temanku bilang, aku dan mamaku sama sekali tidak mirip. Aku terlihat jauh lebih mirip dengan Bapakku karena potongan rambut dan kulitku yang exotis. Dalam hati kecilku, aku selalu menahannya dan ingin sekali bertanya pada Mama, “Kenapa aku tak boleh memanjangkan rambutku?”

Aku Sang Anak Itik Jelek yang Buruk Rupa, begitulah aku memandang diriku sendiri saat masih kecil.

Sampai suatu hari aku bertemu Sailor Moon dan akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Mama tentang ‘rambutku’. Dan kalian tau apa jawaban Mama?

“Rambut kamu kalau dipanjangin Mama susah nyisir dan kepangnya..”

Ya, hanya begitu. Aku akhirnya menyadari bahwa mama punya seribu kesibukan dipagi hari. Mama yang berjualan kue, mama yang menyiapkan sarapan, mama yang menyiapkan bahan ajar di TK, mama yang memandikanku, segalanya serba mama. Lalu, kenapa aku harus protes hanya karena potongan rambutku yang seperti laki-laki?

Sailor Moon bisa mengepang rambutnya sendiri. Dan akupun sejak itu bertekad bahwa aku bisa merawat rambutku sendiri tanpa mama. Sejak aku bisa menyisir dan merawat rambutku sendiri, mama memperbolehkanku untuk memanjangkan rambutku. Dari kelas 1-6 SD, rambutku sangat jarang dipotong. Aku membiarkannya terurai atau dikepang dua layaknya Sailor Moon. Moment-moment indah itulah yang membuatku mencintai diriku sendiri sebagai perempuan.

Suatu hari, mama pernah pergi kejawa untuk ‘penataran’ dan mama bertanya padaku, “Winda mau minta belikan apa kalau pulang nanti?”

“di Jawa ada apa Ma?”

“Ada apa aja, dan harganya enggak, semahal di kalimantan..”

“Winda mau minta belikan baju Sailor Moon..” Kataku riang.

Satu Minggu kemudian, mama datang dengan wajah penuh senyuman dan memberikanku oleh-oleh. Aku langsung tak sabar membukanya. Dan… Kalian tau apa isinya?

Adalah Baju dengan Gambar Sailor Moon..

Bukan Baju yang dipakai oleh Sailor Moon..

Meski agak kecewa, aku berusaha membalas senyum Mama dengan senyuman yang tak kalah lebarnya kemudian berkata, “Makasih Mama.. Sayang Mama.. Mmmuach..”

Ya, dulu aku sama sekali tidak malu mengucapkan ‘Terima Kasih’ seekspresif itu. Hihi…

Itu adalah obsesi masa kecilku. Ingin sekali berpenampilan layaknya Sailor Moon. Ketika sudah besar, aku mulai merasakan perasaan malu dan mengenal aurat jauh lebih baik. Namun, sebagai seorang perempuan tentu saja sebenarnya kenangan keinginan itu masih ada.

“Masih Pantaskah aku memakai baju Sailor Moon di rumah saja untuk menyenangkan suamiku?”

Ya, itulah yang masih ada dipikiranku. Hahaha.

Itu adalah Obsesi Rahasia yang kini bukanlah lagi Rahasia. Dan aku senang menceritakannya.. 😊

Tulisan ini dibuat untuk #FBBCollaboration bulan November dengan tema Kartun Favorite di masa kecil.

Festival Belanja Lazada 11.11: Sebuah Kesempatan Ibu untuk Me Time dengan Belanja Online

Festival Belanja Lazada 11.11: Sebuah Kesempatan Ibu untuk Me Time dengan Belanja Online

“Yang namanya perempuan itu Hoby banget belanja. Apalagi kalau ada diskon.. Beuh..”

source image: citrust.id

Hari ‘gini’ siapa sih para perempuan yang enggak doyan belanja? Pastinya semua senang dong. Dari anak-anak, hingga remaja dan emak-emak semua pastinya senang sekali dengan aktivitas yang satu ini. Karena konon, belanja akan menghasilkan sesuatu yang baru. Dan sesuatu yang baru itu selalu membuat hidup perempuan lebih bersemangat.

Dulu, zaman hidup sebagai ‘abg’ aku selalu punya kebiasaan untuk memiliki jadwal belanja sukses dalam periode waktu satu bulan atau tiga bulan. Biasanya, aku selalu update dengan informasi diskon disekitarku dan mulai menabung sedikit demi sedikit untuk keperluan belanja tersebut. Zaman itu, internet marketing masih belum seramai sekarang. Sehingga aku selalu belanja dengan sistem rebutan dengan para remaja lainnya di mall. Hahaha, malu rasanya jika mengingatnya.

Tapi aku selalu senang dengan masa mudaku. Segala yang aku inginkan terasa mudah didapatkan. Yang namanya ‘me time’ saat masa muda itu sungguh ringan. Karena selain saat itu uang sakuku masih berlebih, waktu luangku juga sangat banyak untuk melakukan apapun yang aku inginkan.

Tapi Sekarang aku sudah ‘Emak-emak’

Iya, sekarang aku bukanlah single bebas seperti dahulu. Kini aku adalah ’emak muda’ beranak satu yang aktivitasnya berputar-putar disekitar rumah-anak-dan suami saja. Jangankan waktu untuk belanja, waktu untuk membaca dan menonton drama korea-pun kini harus aku lakukan di tengah malam yang dingin. Terlebih sekarang aku sedang hamil, sehingga sangat cepat kelelahan dan mengabaikan waktu untuk diri sendiri.

Kadang, aku selalu kangen dengan masa singleku. Bisa keluar rumah sesuka hati, bisa jajan sesuka hati, bisa menabung untuk berbelanja barang yang sudah lama aku impikan. Saat sudah menjadi emak-emak seperti ini, segalanya tidak bisa seperti dahulu lagi.

Jika ingin keluar rumah tentu tidak bisa berlama-lama, jika ingin jajan maka harus memperhitungkan pengeluaran rumah tangga, dan jikapun ingin menabung maka sudah pasti saja uang tabungan itu bukanlah untukku. Tapi untuk uang sekolah anak, keperluan dadakan, hingga keperluan untuk bayiku yang sebentar lagi akan lahir.

Aku senang sih, senang sekali melihat kebahagiaan keluargaku yang tercukupi. Apalagi saat melihat baju-baju, dan perlengkapan bayi yang baru saja kubeli. Rasanya selalu ingin senyum-senyum sendiri. Kebahagiaan seorang ibu memang sederhana, jika kasih sayangnya dapat tersalur dan diapresiasi dia sudah sangat senang.

Tapi saat aku melihat kondisi perutku, melihat isi lemariku, melihat perlengkapan skincare dan make up-ku, aku sadar sekali bahwa aku sudah sangat mengabaikan perawatanku sendiri untuk bisa tampil cantik dan optimal. Seharusnya, aku berkaca dari masa lalu bahwa baby blues yang pernah terjadi padaku adalah karena aku terlalu mengabaikan kebahagiaanku sendiri.

Bahagia Itu Sederhana, Sesederhana Diskon Lazada 11.11

“Tiada hal yang lebih membahagiakan dimata emak-emak selain melihat diskon.”

Hal inilah yang terjadi padaku ketika mengetahui Festival belanja Lazada 11.11. Hmm.. Kalian belum tahu apa itu 11.11?

11.11 artinya adalah 11 November. Ada apa dengan 11 November? Kalau 11 Januari kan kita bertemu ya.. (ini sih lagu Gigi.. Haha). Nah, 11 November ini adalah hari spesial yaitu Hari Single Day.

Terus, ngapain emak-emak seperti aku merayakan hari begini? Mau balik ke zaman single lagi?

Enggak dong. Enggak seekstrem itu juga kerinduanku pada zaman single. Sebenarnya, hal yang aku rindukan pada zaman single itu adalah Keseruan belanja dengan produk diskon untuk diriku sendiri. Haha

Iya, aku jujur saja kalau aku sudah bosan kepasar dan membeli keperluan rumah tangga saja. Bosan menawar harga lauk yang sudah mulai meroket kepada para penjual. Bosan dengan uang tabunganku yang bisa saja terpakai untuk keperluan mendadak. Sementara diriku sendiri sudah mulai terdepresiasi. Iya, aku kok sudah mau terlihat tua saja. Hiks

Makanya, kesempatan Festival Belanja 11.11 di lazada ini tidak akan aku lewatkan. Sebagai pemburu diskon dari zaman single, diskon lazada kali ini harus berhasil aku taklukkan. Sudah dipastikan bahwa promo, diskon, voucher dan penawaran-penawaran fantastis lain akan diberikan untuk pelanggan setianya. Festival ini akan jadi pesta belanja 24 jam paling ‘waw’ di hari minggu 11/11 nanti.

Ada beberapa barang yang sangat ingin aku beli saat lazada 11.11 ini, antara lain adalah:

1. Sepatu Kets

Sebenarnya, aku tipe emak-emak yang masih sangat menolak tua. Sepatu kets seperti ini biasanya senang sekali kupakai untuk jalan-jalan kemana saja, termasuk itu mengantar-jemput anak sekolah.

Sepatu kets yang aku miliki sekarang warnanya sudah mulai pudar. Dan jauh sekali tidak sebagus dahulu. Karena itu sebagai ibu muda yang sebentar lagi akan melahirkan, boleh saja sesekali menghibur hati dengan memiliki sepatu kets baru. Dan yang lebih menyenangkan, sepatu ini akan diskon di festival lazada 11.11 nanti.

2. Jam Tangan

Hmm.. Sebenarnya, aku bukan pecinta jam tangan. Namun, jam tangan kali ini mengingatkanku dengan kado ulang tahun pertama yang diberikan oleh pacarku yang sekarang menjadi suamiku. Hihi

Sekarang, jam tangan itu sudah jelek sekali. Dan aku ingin membeli versi terbarunya. Yah, kapan lagi kan ada diskon keren seperti Lazada 11.11 ini.

3. Liptint Peripera

Sejak bergaul dengan yang namanya ‘beauty blogger’ akhirnya aku harus mengakui bahwa aku sudah lama sekali terkena racun liptint yang satu ini. Tapi karena harganya terbilang mahal aku selalu mengabaikan keinginanku. Dan, kapan lagi aku bisa punya liptint kece dengan harga diskon semurah ini? Oh, Lazada 11.11.. I Cant Wait Anymore!

Nah, untuk para ‘Emak-Emak’ tidak ada salahnya bukan untuk ikut membahagiakan diri pada Festival Lazada 11.11 ini? Karena Emak yang bahagia adalah Emak yang bisa membahagiakan dirinya kemudian menularkan kebahagiaan itu pada orang disekitarnya, terutama keluarga.

So, Jangan takut Shopping! Karena Shopping selalu membahagiakan apalagi dengan diskon. 😆

Happy Shopping!

Realita dibalik Aktivitas IRT yang konon katanya ‘Enak’

Realita dibalik Aktivitas IRT yang konon katanya ‘Enak’

source image: momspresso.com

“Kamu sih enak, suaminya mapan. Jadi bisa aja milih jadi IRT. Lah, aku? Suamiku pemasukannya cuma ‘segini’ mana cukup..”

“Enak ya, bisa masak homemade tiap hari. Aku tiap hari beli mulu. Ga punya waktu..”

“Enak ya, bisa ngeblog, bisa endorse barang-barang gratis. Kalau aku gak punya waktu luang untuk itu. Pas sampai rumah ngurus kerjaan rumah lagi.. Duh, gak punya me time..”

Dst.. Dst…

***

Pastinya, kita yang sudah memutuskan menjadi IRT tulen pernah mendengar kata-kata diatas ya. Dipuji-puji ‘enak’ sama para Ibu pekerja. Dipuji ‘enak’ karena punya banyak waktu. Dipuji ‘enak’ karena bisa mendidik anak secara full time.

Biasanya, kalau aku mendengar hal begini sih… Ya.. Aku ‘Aamiiin’ in aja. “Alhamdulillah,” kataku sambil nyengir, kibas jilbab, kedip mata (pencitraan emak-emak makmur pada umumnya..😅). Padahal..

Padahal.. Padahal.. Padahal..

Menurut aku gak ada yang namanya pilihan ‘enak’. Mau jadi Ibu Rumah Tangga atau Ibu Pekerja pasti deh ya ada sisi ‘enggak enak’ nya. Iya, apalagi mamaku sendiri juga adalah Ibu Pekerja. Sedikit banyak aku tau banget kalau jadi Ibu Pekerja itu sulit, apalagi manajemen waktunya, mengelola emosi dikala kelelahan dsb.

Tapi herannya aku, kenapa jadi IRT sejati itu selalu rentan dengan sebutan ‘enak’, ‘santai’ dan ‘nganggur’. Halo..? Jadi IRT sejati itu gak seenak itu kali. Pilihan jadi ‘IRT saja’ itu gak semudah yang kalian bayangin. Apalagi nih.. Apalagi kalau pemasukan sebenarnya kurang.

Tapi adaaa aja yang ikhlas dengan kondisi seperti itu. Ada? Ada, banyak. Aku punya banyak kenalan. Kalian kira jadi IRT tulen enak? Bisa leyeh-leyeh? Nganggur?

source image: pinterest

Begini nih contoh realita yang harus dihadapi IRT tulen dengan pilihannya:

1. Harus Jadi Mak Ngirit

source image: popsugars.com

Siapa bilang pilihan menjadi IRT itu maka kerjaannya cuma leyeh-leyeh jaga anak plus belajar parenting?

Bisa jalan-jalan setiap hari sesuka hati?
Bisa pesan makan enak terus?
Bisa perawatan setiap hari?
Bisa beli apa saja yang diinginkan?

Iya, itu kalau kamu kebetulan ‘horang kayah’ . Sudah membentuk karir rumah dari sononya atau punya suami yang kerjaannya menghasilkan uang banyak.

Tapi tahukah kalian bahwa tidak sedikit Ibu yang memilih menjadi IRT saja meskipun tau bahwa bulanannya tergolong pas-pasan. Bahkan kurang.

Demi apa? Kenapa gak kerja aja?

Demi keluarga, demi anak, demi kesejahteraan suami. Karena itu pilihannya.

Karena setiap kondisi tiap Ibu itu BERBEDA.

Ketahuilah banyak Ibu yang memilih hanya menjadi Ibu Rumah Tangga saja walau keadaannya demikian. Maka, tidak heran kalau kebanyakan dari golongan Ibu-ibu yang bernasib seperti ini biasanya ‘ngirit’.

Contoh kelakuan mak ngirit:
1. Memakaikan clodi pada anak demi ngirit, lumayan selisihnya dengan memakaikan pospak setiap hari. Selisihnya bisa buat beli cemilan menyusui dan makanan lainnya.
2. Mengorbankan budget kecantikan. Saat remaja dulu, bisa jadi mak ngirit memiliki budget 200000-300000 untuk perawatan kecantikan. Tapi sejak menjadi IRT, ia hanya berani memakai 100000 untuk biaya kecantikan.
3. Selalu homemade. Ya, makanan homemade, skincare homemade, mainan anak homemade. Butuh waktu memang untuk membuatnya. Apa? IRT banyak waktu? Enggak men, apalagi IRT yang gak punya pembantu plus menyusui. Melakukan semua serba homemade itu.. Susah. Belum lagi ada saja yang nyinyir, “kok ga dijual aja kuenya?” (satu resep saja butuh waktu khusus membuatnya dan sekejap menghabiskannya, bagaimana bejualan? 😂)

Jadi, jika bertemu dengan kelakuan mak ngirit seperti diatas: males beli jajan diluar, males ngajak anak keluar karena pospak mahal, cantik udah mulai berkurang.

Please lah, jangan diejek pula emak itu:
Ngirit banget, pelit, bla bla. Kalian gak tau betapa sulitnya mengatur keuangan dengan budget pas pasan tapi selalu ingin anak dan suaminya bahagia. Terutama urusan perut dan kasih sayang.

Mak ngirit itu adalah tanda kasih sayang. Karena ia tau masa depan itu sulit.

2. Kurang Sosial

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa profesi IRT zaman now mungkin akan menjadi kurang pergaulan. Kenapa?

Kerjaannya di rumaah terus. Jarang keluar. Bahkan untuk main HP aja mungkin tidak sempat, apalagi buat yang punya bayi. Belum lagi yang kena perfeksionis sindrom dan menganggap HP barang haram. Ada loh yang begini.

Akibatnya? Stress, kurang sosial, kurang piknik. Kurang optimalisasi passion karena keluar dari lingkungan kerja.

Noh, siapa bilang enak? Tanya saja banyak kok beberapa emak pekerja yang memutuskan untuk resign malah tiba-tiba bisa kangen dengan lingkungan kerjanya. Tiba-tiba merasa kesepian, kurang teman dsb.

3. Harus Jadi Mak-Mak Serba Bisa

Derita IRT gak punya ART tapi keuangan ngepass.. Yaitu, harus jadi mak-mak serba bisa. Bisa masak, bisa jadi nanny, bisa jadi tukang bersih-bersih, bisa jadi tukang loundry. Demi apaa? Demi sejahteranya kebutuhan rumah tangga tanpa pemborosan. 😂

Kadang nih ya, kadang loh.

IRT itu bisa aja ngiri sama Ibu Pekerja. Apalagi yang punya tenaga tambahan untuk rumah tangganya. Bisa punya yang lebih untuk dirinya sendiri. Tapi eh tapi.. Malah kadang-kadang Ibu pekerja yang bilang, “Aduh, kamu enak banget. Bisa masak mulu..”

“Eh, iya… Enak.. Jadi makanan sehat terus ya..” (sambil ngelap keringet n ngupas bawang.. 😂)

5. Kami yang memilih menjadi IRT tulen, bisa jadi bukan karena ‘Suami Kami sudah Mapan’

Kalo tau begitu? Kenapa jadi IRT dong. Udah tau kecapean ngatur bulanan, udah tau agak menderita, udah tau susah.

Eh, mending sih kalo cuma begitu. Coba begini, noh.. Tau begitu kenapa Nikah Dini? Kamu MBA? Itu pilihanmu sendiri lah.. Gak usah ngeluh.. Hahaha..

(sabar mak, kalo ada yang nanya gini sabarrr.. Bawa ngulek aja.. Ngulekkk..😂)

Baca juga: Kamu MBA? Kok nikah Muda?

Kalau ditanya kenapa pilihanku jadi IRT? Gak kerja?

Karena Farisha muncul sebelum aku punya program kerja. Aduh, please jangan suruh cerita lagi ya. Udah banyak post tulisan tentang ini di blog ini. Aku sampai bosan ceritanya. Apalagi pembaca rutinnya. Makin bosan (emang ada yang rutin? Haha)

6. Enggak punya Uang Ekstra? IRT tulen harus Apa?

Apa harus pakai jurus ngirit selamanya?
Kok bisa cukup sih? Sampai bisa beli ini itu padahal pemasukan rutin bulanan cuma ‘segini’.

Itulah yang namanya keberkahan.. Beb..

Kalian mungkin tidak percaya hal ini. Dan nyinyir, “Gak mungkin segitu cukup..”

Kenyataannya? Cukup.

Sekedar cerita (lagi) bahwa pemasukan rumah tangga awalku hanya 1 juta, itu paling banyak loh. Aku pernah hanya punya jatah jajan 500rb sebulan bahkan 300rb sebulan dalam kondisi punya bayi. Tapi.. Emang sih waktu itu hidup sama mama dan mama mertua. Hahaha.. *ditamplok kulit pisang.

Itulah, awal perjalanan hidup. Mana ada yang langsung sukses, langsung punya rumah gede plus isinya dsb. Sakit dulu lah.. Sakittt… Aku bahkan sampai kena baby blues dan berlanjut ke PPD. Tapi usaha itu benar deh.. Gak pernah mengkhianati hasil.

Jadi? Aku punya usaha sampingan untuk pemasukan rumah tangga?

Enggak.

Tapi dari jungkir balik kehidupan dan ‘keikhlasan’ seorang istri itulah maka rejeki suami jadi lancar. Thats the power of Emak-emak yang kalian enggak tau. The power of Emak-emak yang kalian tuh gak liat benar-benar. Walau terlihat santai leyeh-leyeh dan punya banyak waktu.. IRT tulen sesungguhnya meluangkan hampir seluruh waktunya untuk pengorbanan.. Yang kemudian berujung pada keberkahan dan rejeki yang diturunkan lewat suaminya. Kalian mengerti hal ini? Udah, gak usah pakai ilmu logika, gak bisa nyantol. Haha

Baca juga: 10 jurus ampuh yang harus dicoba jika jatah bulanan kurang

Begitupun dengan penghasilan ngeblog dan menjadi Buzzer dadakan. Awalnya, aku ngeblog dan main instagram untuk kesenangan saja. Yah, siapa sangka bukan dengan awal yang biasa saja ini aku akhirnya bertemu dengan komunitas ngeblog yang oke dan membawaku pada berbagai job sampingan yang bisa menambah pemasukan rumah tangga. Thats the power of emak-emak yang enggak keliatan selanjutnya. Please jangan dipikir-pikir gimana ceritanya kok bisa tulisan curhat begini dapet duit? Gak usah pakai ilmu logika, pusing nanti. Haha.

***

Yah, itu dia realitas aktivitas IRT tulen yang konon dibilang ‘enak’, suami ‘mapan’ dan bisa jalan plus jajan kesana kemari. Semuanya gak langsung tiba-tiba begini. Perlu perjuangan.. Sakitttt banget awalnya. Jadi, please stop ngiri sama kesan keenakannya jadi IRT tulen. Setiap Ibu punya tantangan berbeda. Mau itu working mom atau IRT tulen.. Mereka sama-sama kerja kok. Sama-sama bisa menghasilkan kok. Sama-sama capek kok. Sama-sama bangun pagi kok.. N tidur belakangan di malam hari. Sama aja. Sama.

Apapun pilihannya, semua ditempuh seorang Ibu untuk membahagiakan orang yang disayanginya. Itulah Ibu.

IBX598B146B8E64A