Browsed by
Month: July 2018

Pembelajaran Berharga dari Buku Serial Anak Mamak – Tere Liye

Pembelajaran Berharga dari Buku Serial Anak Mamak – Tere Liye

Siapa yang tidak kenal dengan Penulis bernama Tere Liye?

Tidak kenal?

Ya.. Sebenarnya, saya juga belum berkenalan..😅

Cukup lah sok kenal karena sudah membaca beberapa bukunya. Sebut saja itu Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Hujan, Pulang, Tentang Kamu dan buku terakhir yang saya baca adalah.. Serial Anak Mamak..

Serial Anak Mamak sendiri terdiri dari 4 Buku berjudul Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia.

Kisah masing-masing bukunya adalah tentang para anak mama. Yang mana ‘Anak Mamak’ tersebut menceritakan kehidupannya masing-masing dari mulai kecil dengan latar hidup penuh nilai kesederhanaan, tantangan, cita-cita hingga kilasan epilog tentang masa depan.

Buku ini terlihat sederhana. Tapi nilai-nilai yang dapat diambil dari buku-buku ini… Sungguh Luar Biasa.

Anggap saya lebay. Tidak punya selera. Dan membandingkan dengan buku Tere yang lain yang mungkin yaah.. Lebih baik. Tapi buat emak-emak seperti saya, buku ini sungguh sangat memberikan pembelajaran. Baik itu pembelajaran sebagai Ibu maupun sebagai Anak.

Ada beberapa pembelajaran berharga dari buku ini, antara lain:

Jangan Pernah Membenci Mamak, JANGAN PERNAH

“Jangan pernah membenci mamak kau. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang tahu itu sejatinya bahwa belum sepersepuluh dari semua pengorbanan, rasa cinta serta rasa sayangnya pada kalian”

Jangan Pernah Merasa Mamak Kejam, Mamak Selalu Sayang.

Sedih rasanya jika pernah terbesit merasakan hal ini. Nyatanya aku pernah merasakan ini. Merasa bahwa seorang mama itu cerewet, suka mengomel, suka membatasi ruang gerakku. Segalanya diatur.

Namun itu adalah perasaan wajar. Sangat wajar jika pada masa anak-anak kita merasakan hal ini. Bahkan dalam masing-masing buku Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia ada bab khusus yang membahas tentang ini.

Berjudul “Kasih Sayang Mamak”

Membaca judul ini sukses membuat ku baper parah disetiap bukunya. Lihatlah, semua Mama itu sama. Orang yang terlihat kejam dimata anak-anak kita. Namun selalu memeluk dan meminta maaf kepada kita. Jangan pernah memasukkan dan memendam rasa sakit dengan segala amarah orang tua kita, memasukkannya pada innerchild negatif kita.

Ingatlah mereka tidak kejam. Mereka Sayang. Sangat sayang. Mereka marah karena terlalu menyayangi kita.

Jangan Pernah Merasa Mamak Tidak Adil

Aku baru menyadari, biarpun kita sebagai Anak Sulung, Anak Tengah, maupun Anak Bungsu sekalipun.. Ternyata rasa iri itu selalu ada.

Anak Sulung selalu merasa bahwa ia mendapat tugas paling berat. Sebagai Role Mode bagi adik-adiknya. Sebagai asisten emak. Sebagai segalanya. Sangat berisiko untuk merasa iri kepada para adik-adiknya.

Anak Tengah selalu merasa dibayang-bayangi oleh kesempurnaan kakaknya. Merasa cemburu ketika ia merasa dibandingkan. Ia mencoba menjadi Role mode kedua yang bersaing dengan Kakaknya untuk mendapatkan perhatian Orang Tua dan Adiknya.

Anak Bungsu? Ya, aku tak menyangka ternyata anak bungsu pun bisa saja merasa tidak diperlakukan adil. Anak bungsu cenderung menginginkan kekuasaan anak pertama. Yang bisa memerintah para adik-adiknya. Ia selalu merasa menjadi ‘kaum terjajah’ oleh kakak-kakaknya sendiri yang lebih dewasa.

Rasa iri itu ternyata bisa terjadi pada setiap anak. Adalah Tugas berat bagi seorang Ibu untuk ‘terlihat’ adil memperlakukan anak-anaknya.

Buku ini mengajarkanku bahwa sejatinya mama selalu sayang semua anaknya. Ia tak pernah pilih kasih. Semua anak sama. Namun job description untuk masing-masing anak memang ‘harus berbeda’.

Kalian akan sangat paham jika sudah membaca tuntas buku-buku ini.

Setiap Anak itu ‘Spesial’, biarkan mereka menjadi diri mereka sendiri

Aku sangat salut setiap kali Tere Liye menemukan Karakter utama untuk buku-bukunya. Bagiku, butuh keahlian khusus dalam menjiwai karakter pada sudut pandang orang pertama. Aku sendiri lebih merasa nyaman jika menulis karakter utama yang memiliki sifat mirip denganku. Alasannya sederhana, aku tidak punya banyak teman nyata yang bisa kujadikan ‘contoh baik’ yang membuatku terinspirasi.

Tapi lihatlah keempat karakter yang dia ciptakan pada serial anak mamak..

Pukat si Pintar

Burlian si Anak Spesial

Eliana si Pemberani

Amelia si Teguh Hati

Empat anak spesial yang punya bakat dan sifat berbeda. Tidak seperti Griffindor, Slytheryn, Revenclaw, dan Hufflepuff yang selalu turun menurun memiliki sifat sama disetiap aliran darah keluarga. (apaan sih kok nyambung ke Harry Potter? 😌)

PR besar bagi seorang ibu untuk memahami bakat dan minat pada anaknya. Sungguh PR besar.

Namun, ada satu hal yang aku garis bawahi pada hal ini, yaitu sebagai Ibu kita tidak boleh membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Pun jika salah satu anak berprestasi, jangan terlampau membanggakannya dan menyuruh anak lain seperti anak itu pula. Karena hal inilah yang biasanya membuat anak kehilangan minat terbesarnya.

Bayangkan saja jika Mamak pada serial anak Mamak ini terlalu membanggakan Pukat si Pintar? Betapa iri anak-anak lain yang tidak sepintar pukat. Bukankah ini sering terjadi di sekitar kita? Ketika memiliki salah satu anak pintar, seorang mama sangat berpotensi untuk menyuruh anak-anak lain belajar ‘sepertinya’. Agar dapat ‘Juara’.

Penulis tidak mengungkapkan dengan detail apakah setiap anak selalu juara kelas. Seingatku, hanya Pukat dan Eliana yang merupakan juara kelas. Sementara Amelia punya bakat unik tersendiri.

Mereka berempat memiliki cita-cita yang berbeda dan mereka menyenangi jalan itu karena menyadari minatnya masing-masing.

Tugas orang tua?

Hanyalah bertanya, “Apa cita-citamu?” kemudian mendukungnya.

Bukan menyamaratakan bakat setiap anak bahwa mereka ‘harus juara kelas’.

Cause Everychild is Special..

Kesederhanaan adalah Pisau Pembelajaran Terbaik

Hal yang sangat aku sukai dari ‘Keluarga Anak-anak Mamak’ adalah mereka hidup dengan kesederhanaan namun terasa sangat bahagia. Mereka cuma punya sedikit waktu untuk nonton TV karena tidak tersedianya listrik di kampung mereka. Kehidupannya terbilang klasik. Memasak memakai kayu bakar, bermata pencaharian sebagai petani, sekolah di SD Sederhana yang hanya memiliki satu guru untuk semua kelas. Namun mereka sudah cukup bahagia dengan semua itu.

Hiburan bagi anak-anak desa adalah bermain dengan alam. Berenang di sungai, berjalan di hutan, membuat perahu otok-otok, memancing, mencari batu sungai, memetik jamur. Alangkah senangnya jika hiburan anak sekarang dapat seperti itu saja ya? Selain kita tak perlu menemaninya berlebihan dan tentunya hiburan seperti ini jauh lebih hemat. Haha

Dibalik hidup yang penuh kesederhanaan, pernahkah mereka merasa tidak adil dengan keterbatasan? Tentu pernah.

Pukat dan Burlian yang selalu protes saat dipaksa menghabiskan nasi kecap setiap hari. Eliana dan teman-teman yang merasa kecewa saat hujan semalaman merusak kelas tua mereka dan menghancurkan karya koleksi herbarium yang telah susah payah dibuat oleh mereka. Amelia yang.. Harus hancur segala kerja keras bersama teman-teman karena bencana banjir yang melanda kampung mereka.

Tapi semua keterbatasan itulah yang membuat mereka menjadi pribadi yang kuat. Pukat dan Burlian yang disuruh mamak untuk membuka lahan dan merasakan betapa sulitnya proses menanam padi hingga menjadi beras, membuat mereka begitu menghargai setiap butir nasi yang ada. Eliana yang memiliki cara baru untuk terus menunjukkan yang terbaik, keberaniannya telah mengalahkan tantangan apapun. Amelia, si teguh hati. Walaupun karyanya hancur namun ia memiliki kesabaran yang tak terbatas, ikhlas dan terus dapat move on untuk langkah kehidupan yang lebih baik.

Kesederhanaan dan keterbatasan adalah Pisau terbaik untuk melawan dunia. Ia mengembangkan kreativitas, kepedulian, dan rasa syukur.

Hal ini membuatku sangat bertanya-tanya dengan kehidupan ‘zaman now’. Apakah masih ada lingkungan sederhana yang menyenangkan? Lingkungan yang betul-betul dapat membentuk pribadi yang baik. Jikapun ada tentu mustahil akan begitu sempurna layaknya buku ini. Hei, bukankan aku sewaktu kecil juga tinggal ‘di desa’? Ah, iya. Ini mimpi. Itu buku fiksi.

Tentang Guru Terbaik

Abaikan kalimat terakhirku di bagian kesederhanaan. Aku memang sengaja menuliskannya dengan begitu janggal. Karena pada kenyataannya kesederhanaan memang pisau pembelajaran terbaik, namun hal yang benar-benar ‘mengasah pisaunya’ adalah guru terbaik.

Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia hidup dikelilingi oleh guru-guru terbaik. Siapakah mereka?

Mama yang memiliki keteguhan hati, kasih sayang tak terbatas, pemberani, dan tangkas dalam segala hal. Ayah yang selalu memberikan nasehat-nasehat terbaik dan hukuman terbaik. Pak Bin, satu-satunya guru SD di kampung untuk semua kelas yang selalu mempunyai ide cemerlang untuk setiap pembelajaran. Wak Wati, Tante Bijak yang selalu pandai menasihati dan memberikan teka-teki kebaikan. Serta Nek Kiba, Guru mengaji yang mengajarkan nilai kehidupan serta keagamaan pada jiwa anak-anak.

Mereka berempat dikelilingi oleh keluarga yang baik dan tumbuh berkembang bersama guru-guru terbaik. Alangkah senangnya.

Betapa sering kita mendapatkan guru yang suka memandang remeh kearah kita saat tak bisa mengerjakan sesuatu? Bukannya memperbaiki masalahnya, malah memperendah semangat murid dengan kata-kata sindiran.

Betapa sering kita mendapatkan guru yang hanya membanggakan murid-murid pintar? Berpaling mata pada murid yang hanya menonjol pada pelajaran kelas rendah.

Betapa sering kita mendapatkan guru yang tidak inovatif. Menyuruh menghafal dan menghafal lalu mengabaikan pemahaman yang benar.

Namun, dari semua guru yang ‘kurang’ kita sukai.. Pasti ada seseorang yang sangat mulia. Seseorang yang dititipkan Tuhan untuk benar-benar memahami kita. Pernah bertemu dengan orang itu? Aku yakin setiap orang pasti punya. Minimal satu, bukan?

Bagaimanapun Guru.. Hargailah mereka, hormati semua guru. Karena merekalah yang mengasah ilmu kita. Mengasah pisau perjuangan hidup kita kelak di masa depan

Semoga kelak anak kita dapat tumbuh dan hidup sebaik novel Fiksi ini. Buku ini memang fiksi. Tapi buku ini adalah pembuka pembelajaran terbaik bagiku..

Seorang Ibu baru yang ingin dicintai anak-anaknya..

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Pernahkah merasa bahwa kehidupan itu sejatinya tidaklah lurus?

Ia selalu menghadapkan kita pada pilihan.

Pilihan itu tidak cukup sekali.

Ia bercabang.

Lagi, lagi dan lagi.

Tiada habisnya.

Dan terkadang. Pilihan itu membuat pola tujuan kita berubah. Cita-cita yang berbelok dan terus berbelok. Sehingga kadang kita bertanya-tanya, “Masihkah aku dijalan yang benar? Sudah seberapa jauh aku dari tujuan awalku?”

“Apakah Passionku sudah sedemikian terdepresiasi?”

Ya, Pertanyaan tidak asing bagi seseorang yang telah membagikan seluruh hidupnya untuk mengabdi menjadi Ibu Rumah Tangga ‘Sejati’

Sebenarnya, Apa Passion Itu?

Seseorang berkata padaku, “Jika kau mengerjakan sesuatu selama berulang-ulang. Tiada bosannya. Bahkan ingin selalu meningkatkan kualitas dari pekerjaan itu. Kemudian, kamu senang melakukannya. Kamu bahagia untuk itu. Maka hal yang telah kau lakukan adalah Passion. Senjata yang membuatmu dapat menghadapi dunia.”

Passion adalah salah satu makanan batin untuk bertahan hidup. Passion adalah skill menyenangkan untuk menghadapi dunia.

Maka, bohong besar kalau selama manusia hidup ia tak pernah memiliki kesenangan hal yang dilakukan. Tidak punya hoby. Tidak punya bakat. Tidak punya tujuan. Bohong besar.

Seseorang yang telah kehilangan passionnya berarti ia tidak punya makanan batin untuk dirinya sendiri. Hei, benarkah itu?

Bagaimana Jika Passion kita Terkubur?

source: dream dictionary

Kadang, pilihan itu sulit. Bercabang. Membuat masalah-masalah baru. Memaksa kita untuk beradaptasi. Berubah. Berubah dan terus berubah. Syukurlah jika dari ulat menjadi kupu-kupu. Tapi bagaimana jika perubahan ulat menjadi kepompong telah memakan waktu terlalu lama? Tidur lama yang membuat kita lupa. Untuk apa sebenarnya kulit kepompong ini menyelimuti kita?

Masa Kepompong adalah Masa yang tidak bisa dihindari..

Terkuburnya Passion bagi seorang Ibu adalah masa kepompong. Masa yang bagi mereka ‘kita telah hilang’ tapi sebenarnya kita tidaklah hilang, kita hanya mengubur passion yang biasanya. Mengubah passion dan mendalami makna baru fase kehidupan bagi seorang ibu.

Yaitu, mengerti arti dari pengorbanan.

Bagaimana bisa seseorang yang dulunya ketika remaja begitu lincah kesana kemari, mengejar ini dan itu lantas kemudian menjadi ‘upik abu’ di rumahnya sendiri?

Karena ia memiliki si mungil yang membutuhkannya. Makhluk kecil yang selalu mengikutinya kemana saja. Memanggil dan menangis menyebut nama kita yang tak lagi berupa ‘nick name’ tapi…

“Mama..”

Ya, kita memang bukan diri kita yang dulu. Bukan seorang gadis yang memiliki kebebasan. Tapi kita lebih dari itu. Kepompong yang berdiam diri dalam selimutnya. Membentuk dirinya yang baru.

Karena untuk mengerti arti ‘pengorbanan’ itu tidaklah mudah.

Ya, kadang kita harus mengganti passion menjadi hal yang lebih terlihat berguna.

Menyapu, menyusui, memasak, mengepel, mencuci, lantas berbolak-balik lagi. Siklus rutinitas yang tiada habisnya. Bukan tidak mungkin passion dan kesenangan yang dulu tidak terdepresiasi.

Lalu, merugikah kita akan hal itu? Menyesalkah?

Percayalah, Perempuan adalah Makhluk Multitalenta. Hilang Satu Passion.. Tumbuh Seribu

Mama pernah berkata padaku, “Nanti kalau kamu udah jadi Mama juga baru ‘merasa’..”

Kalimat sama yang berulang-ulang bagai kaset rusak yang selalu aku abaikan maknanya ketika remaja dulu. Mama adalah penceramah nomor satu dalam hidupku. Siapa sangka kata-kata cerewetnya kini menjadi panduan dalam kehidupan rumah tanggaku.

Tidak pernah ada cerita bahwa seorang Ibu kehilangan Passion. Yang ada, seorang Ibu kehilangan dan lupa ‘tujuan yang benar’

Merasakan passion yang sedikit demi sedikit mulai terdepresiasi itu tentu pernah aku rasakan. Beberapa bulan lalu aku bahkan kesulitan untuk memasukkan pos neraca dalam CV kami. Woi, bukannya aku dulu gampang sekali membuat basic kerjaan akuntansi ini?

Aku bahkan blank saat mengurus pajak dan menyadari melupakan segala teorinya. Hei, bukannya dulu aku hapal pph sekian sekian?

Otak ’emak-emak’ ku mulai tak sengaja membuang memory akuntansi dan memasukkan memory baru. File parenting, resep masakan, metode baking, jejalan virus drama korea yang tak sengaja aku jadikan ‘me time’ dikala melipat baju dan menyetrika. Mana mungkin aku mengingat-ngingat kembali pelajaran dahulu?

Apakah akuntansi berguna untuk kebahagiaan kehidupan rumah tanggaku? Tidak sepenuhnya. Ia hanya berguna sebagai catatan pertanggungjawaban keuangan rumah tangga. Untuk memanajemen keuangan rumah tangga? Aku sang manajer bukanlah berkostum rapi bak sekretaris perusahaan. Tapi menjadi ‘Upik Abu’. Ya, profesi yang konon merupakan profesi ‘Emak Maha Benar’. 😂

Dan tanpa sengaja, profesi itu telah membuatku menjadi makhluk multitalenta.

Tidak mengapa passionku yang dulu telah menghilang, ucapkan selamat tinggal pada impian menjadi bintang kelas di kelas selama-lamanya. Itu sudah berlalu. Tidak perlu disesali, tidak perlu dikejar berlebihan. Seperlunya saja.

Passion Ada Dimana-mana. Ia Berkembang Sesuai Kebutuhan Orang yang Kita Sayangi

Jika kalian bertanya siapa orang paling ‘labil’ di dunia maka mungkin jawabannya adalah aku.

Aku tidak punya cita-cita ‘spesial’..

Dulu, ketika mama bertanya padaku apa cita-citaku aku tak bisa menjawab secara pasti apa itu sebenarnya.

Ketika mama menginginkan Anaknya berstatus sosial diatasnya maka aku memimpikan diri menjadi hal itu. Apapun itu dengan seragam yang lebih keren dibanding Guru TK. Entah itu Polwan, Dokter, ataupun yah artis mungkin. Haha

Cita-citaku selalu berubah. Suatu hari aku memutuskan memasuki jurusan akuntansi karena alasan yang simple. Ingin kaya. Ingin membahagiakan mama dengan high status dan kekayaan. Simple.

Namun suatu ketika cita-cita itu berubah (lagi) ketika aku bertemu teladan yang baru. Ya, jatuh cinta dengan salah seorang pengajar di kampusku mengingatkan dan menyadarkanku akan keinginan sejak kecil dahulu yang terkubur oleh sisi materialisme. Sejatinya cita-citaku sejak kecil ingin menjadi panutan. Ingin menjadi role mode bagi siapapun. Ingin menjadi bintang kelas selama-lamanya. Ingin menjadi Guru.

Terlalu banyak cerita tentang hal ini. Kalian bisa membaca banyak cerita tentang perjalanan hidupku pada catatan cengeng dibawah ini:

“Mama, maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga saja”

“Mengapa aku harus membenci mertuaku?”

“Sepenggal cerita tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan”

Sudah dibaca? Belum?

Jika sudah, maka tentu kalian mengerti mengapa akhirnya aku memutuskan untuk ‘Hanya Menjadi Ibu Rumah Tangga’

Bagi perempuan pilihan itu sulit, pilihan berkembang sesuai dengan keinginan untuk membahagiakan orang yang ia cintai. Seorang Ibu tidak akan memilih pilihan yang hanya membahagiakan dirinya sendiri (saja).

“I dont have Any Passion, I’m Divergent”

Aku tidak punya passion khusus. Tapi aku punya tujuan. Tujuanku adalah Membahagiakan Keluargaku. Menjadi kebanggaan mereka dan mewariskan kebaikan. Karena semuanya akan hilang. Yang tetinggal hanyalah kebaikan.

Belajar Menjadi Air, Arti Penerimaan yang Benar

Akan tiba suatu hari kau belajar arti penerimaan tertinggi dalam kehidupan. Diam jika terbawa arus, mengalir, namun tetap tenang.

Sebagian akan meremehkan hal ini. Tapi kau tetap menerima. Dipakai, dicemari, tak dianggap. Namun kau tetap diam.

Membiarkan rasa panas itu. Menguapkan semuanya. Kemudian menurunkan rasa sakit itu dalam tetes-tetes hujan.

Saat itu, kau dalam level tertinggi sebuah kebijakan. Memilih menjadi Air.

source: redbuble.com

Tentu aku belum sampai kedalam tahap itu. Namun, tidak pernah ada salahnya terus belajar. Kau tidak akan percaya dengan betapa mengerikannya egoku dahulu. Namun beberapa dari hal itu telah terkikis. Kupikir pengorbanan dan cinta seorang ibu telah merubah beberapa sifat buruk itu.

Baca juga: “Hal yang telah berubah sejak aku menjadi Ibu”

Jangan Pernah Menggenggam Dunia Dihatimu, Cukup Ditanganmu saja

Bukan sekali-dua kali aku mendengar kata-kata ini. Sering, cukup sering. Bahkan setiap kali ke pengajian Guru Juhdi pada malam jum’at di Mesjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin_beliau berkali-kali mengingatkan hal ini.

Ganggam ditangan haja. Jangan di hati. Amun ikam sampai meandak ke hati segala urusan dunia ngini, lalu ngalih.

Tidak ada hal yang lebih tidak nyaman dibanding menjadi tawanan hasrat sendiri. Mungkin, antara rasa semangat, ambisi dan kerja keras itu merupakan hal yang baik tapi jika ketiganya telah melawan arti pengorbanan dan cinta.. Masihkah ketiga rasa itu bisa disebut dengan hal positif? Mungkin, penawanan oleh hasrat ini yang dimaksud Ibnu Taimiyah.

Orang yang benar-benar terpenjara adalah yang terpenjara hatinya oleh Tuhan. Orang yang tertawan adalah tertawan hawa nafsunya. (Ibnu Qayyim, al-Wabil) – Yasmin Mogahed “Reclaim Your Heart”

Ah, jika kalian pernah membaca buku Yasmin Mogahed yang satu ini kalian pasti paham apa maksud dari kata-kataku ini. Ini adalah kutipan yang aku ambil dari salah satu bab yang sangat aku sukai. Aku menyebutnya “Tentang Burung dalam Sangkar Emas” walau judul chapter aslinya berjudul “Lolos dari Penjara Terburuk”

Aku punya cita-cita kecil yang kuharap suatu saat bisa mewujudkannya.

Disuatu hari nanti, entah kapan pun itu. Aku ingin berjalan menyusuri dunia. Bukan sekedar berfoto dan mendokumentasi perjalanan. Tapi belajar. Tak berharap kuliah untuk gelar lebih tinggi. Hanya berharap bertemu banyak orang bijak. Berguru pada semuanya.

Siapapun.. Siapapun Guru yang mungkin bisa membuatku benar-benar lolos dari Penjara Terburuk.

IBX598B146B8E64A