Browsed by
Month: July 2018

Mengeluh Kepada Anak? Yay or Nay?

Mengeluh Kepada Anak? Yay or Nay?

source image: dreamtimes.com

Jadi orang tua itu harus kuat. Kita gak boleh terlihat meneteskan air mata dan mengeluh sekalipun sebenarnya kita sedih atau capek.

Familiar dengan kata-kata ini? Atau bahkan kalimat diatas merupakan salah satu prinsip kita sendiri. Bahwa sebagai ‘ibu kuat’ kita tak boleh terlihat lemah dan selalu tampil prima dihadapan suami dan anak-anak kita. Karena konon tersenyum dan dapat melayani mereka dengan setulus hati adalah syarat utama dari seorang ‘Ibu yang baik’.

Lantas, salahkah ketika kalimat keluhan itu keluar begitu saja?

“Sayang, tunggu dulu ya.. mama capek. Nanti dulu ya mama mau istirahat..”

“Sayang, maaf ya kita gak jadi beli es krim hari ini. Uang mama enggak cukup..”

“Sayang, makan telur dadar aja ya.. Ayam gorengnya habis mama belum kepasar..”

Yah, jujur saja. Kalimat-kalimat diatas hampir tiap hari aku katakan. Kalau berbicara mengenai siapa ’emak’ paling pandai mengeluh dan bermanja-manja mungkin saja aku termasuk salah satu diantaranya. Bukan hanya mengeluh pada anak, pada suamipun juga sering aku lakukan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan aku sering mengucapkan kalimat keluhan untuk suami dan anakku. Bagiku, mengeluh pada anak sih ‘Yay’.

Hei, kenapa tidak bukan? Ada beberapa dampak positif dari mengeluh kepada anak lho. Berikut ini adalah dampak positif yang aku rasakan:

1. Mengajarkan anak rasa empati

“Mama capek ya? Farisha pijitin ya..”

“Mama capek kah? Farisha gak jadi minta bikinin terong balado sama ayam ma.. Farisha makan telur dadar aja..”

Mengeluh capek? Ini adalah keluhan yang paling sering aku ungkapkan kepada anak. Konon, katanya anak itu peniru ulung. Kalau kita suka mengeluh capek maka anak juga akan beralasan ‘capek’ untuk tidak mengerjakan kewajibannya. Lalu salahkah mengeluh ‘capek’?

Baca juga: Simpati dan Empati, Solusi jitu untuk Tantrum Anakku

Tidak. Itu wajar. Ajarkan anak merasa kasihan dengan kita sebagai Ibunya untuk menumbuhkan Empatinya. Sejauh ini, tidak pernah ada yang salah dari keluhan capek. Anakku mungkin pernah meniru beberapa kali alasan ini untuk menunda kewajibannya tapi itu masih dalam proses yang wajar. Misalnya, ia mengeluh capek ketika aku suruh membereskan mainannya. Tapi itu wajar karena rumah kami sedang diserang 3 sepupu laki-lakinya. Yah, kalian tau sendiri betapa seramnya kreasi anak laki-laki dalam memporak porandakan rumah. Syukurlah anakku perempuan yang manis. 😂

Hal yang sangat aku sukai dengan keluhan capek adalah saat.., “Ma, mama capek ya? Farisha pijitin ya..”

Terasa? Tidak.

Tapi tangan mungilnya meredakan stress… Percayalah.. Haha..

2. Menerapkan secara positif pola asuh yang demoktratis

Siapa penganut pola asuh ini? Aku dong tentunya. Apa? Demokrasi haram? 😅

Jadi begini, mengeluh itu selain menumbuhkan rasa empati pada anak juga dapat membuat ia lebih terbuka dengan kita. Kita bisa menjadikannya teman dalam berkeluh kesah. Bercerita ‘hari yang melelahkan’ dalam versi kami mungkin.

Itulah yang dinamakan suka duka bersama. Ajari anak memahami keadaan kita secara perlahan. Dari berkomunikasi dengannya maka kita juga akan memahami keadaan anak dan kesulitannya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang demokratis ketika besar nanti.

3. Menghindari pola asuh permisif

source: tandaseru.id

Pernah melihat anak menjadi Raja di rumahnya sendiri hingga besar? Suka memerintah, suka bermanja-manja dan hanya mengandalkan orang tuanya saja?

Baca juga: Ajari Anak 5 hal yang tidak menyenangkan

Itu yang akan terjadi kalau kita tak pernah mengajarkan rasa empati pada diri mereka. Selalu menjadi super mom di mata mereka dan tak pernah mengeluh. Selalu bilang ‘Iya sayang’ atas segala perintah mereka. Selalu sabarrrr.. Sabarrr.. Sabarrr…

Bukan hal mustahil Anak akan menjadi raja hingga besar nanti. Fenomena ini banyak aku perhatikan di kehidupan nyata. Memang, secara islam anak kecil dididik sebagai raja. Tapi sampai kapan kita melakukannya? Apakah kita akan membuat ‘raja kecil’ kita tumbuh tanpa empati? Atau membuat ‘raja kecil’ kita menghormati orang tuanya?

4. Menjadikan anak kreatif dan mandiri

“Ma, Farisha gak jadi minta belikan Squishy. Squishy awan mahal. Farisha minta belikan lem bening aja. Farisha mau bikin Squishy awan sendiri.”

Itulah kata-kata Farisha yang terlontar polos begitu saja saat aku mengeluh 3 hari yang lalu di mall.

“Ah, mahal sekali Squishynya. Maaf ya.. Mama gak bisa beli. Duit Mama gak ada. Ya, bisa sih beli tapi Farisha gak bisa makan ayam goreng lagi.”

Rasa kasihan ternyata dapat menjadikan anak kreatif dan mandiri. Farisha menjadi ‘tidak tega’ meminta uang untuk membeli barang kesukaannya. Ia lebih memilih mengandalkan kreatifitas dari video di youtube untuk menemukan jawabannya.

Baca juga: Siapa bilang media Eksplorasi anak harus mahal?

Mengeluh pada anak dapat berdampak positif namun juga dapat berdampak negatif jika kita tak bisa mengontrol keluhan kita. Ada beberapa hal yang harus dihindarkan ketika kita mengeluh pada anak, hal itu antara lain:

1. Jangan membentak dan menangis berlebihan dihadapannya ketika ingin mengeluh

source: pinterest

Sedang dalam emosi yang tidak stabil? Marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Ingatlah jangan pernah melampiaskan hal ini di depan anak kita karena bukan rasa kasihan yang akan timbul, melainkan rasa takut.

Mengertilah batasan keluhan-keluhan wajar yang dapat diluapkan. Menjadi orang tua memang seni berpura-pura baik termasuk dalam mengungkapkan keluhan, jika tidak anak akan memasukkan keluhan mengerikan kita pada Innerchild negatifnya. Dan kita semua tau, Innerchild itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia membekas.

Baca juga: Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah?

2. Jangan lupa mengatakan ‘Maaf’ ketika kita tidak dapat menepati janji

Aku yakin, pasti kita sebagai Ibu pernah tidak dapat menepati janji lalu memoles alasannya dengan keluhan. Hal ini mungkin wajar, sangat wajar. Tapi ingatlah untuk menyisipkan kata ‘Maaf’ disela-sela alasan kita.

Mungkin jika kita tidak berkata ‘Maaf’ si kecil akan terlihat baik-baik saja. Tapi suatu hari nanti ia akan mempertanyakan hilangnya kata Maaf itu ketika moment meminta maaf tiba-tiba terjadi. Aku pernah mengalami 1-2 kali kejadian ini sehingga aku sangat mengerti dengan pola pikir anak-anak yang terlihat mengabaikan tapi sebenarnya selalu ingat dan menjadikannya peluru untuk menyerang kita suatu hari nanti.

3. Sebisa mungkin jangan mengeluhkan kondisi ekonomi secara berlebihan dihadapan anak kecil

Mengeluh tidak punya uang tentu boleh. Tapi, jangan membuat drama-drama berlebihan dihadapan anak kecil yang ‘masih meraba dan merangkai masa depannya’.

Apa yang akan terjadi jika kita selalu mengeluhkan kondisi ekonomi yang terpuruk kepada si kecil?

Itu adalah akar materialisme. Dan efeknya tidak baik.

Baca juga: Cara sederhana menjauhkan paham Materialisme pada Anak

Anak akan mengukur masa depannya dengan satu hal saja. Ada uang maka Tenang. Ia lupa bagaimana cara bahagia yang seharusnya. Tentu kita tidak ingin anak kita tumbuh dengan sekedar menjadi orang kaya saja bukan?

4. Mengeluhlah dengan permasalahan yang sesuai dengan umur anak

Terakhir, mengeluh kepada anak tentu boleh. Tapi sesuaikan segala keluhan kita dengan umurnya. Jangan menjadikan otak mereka terlalu terbebani dengan…

Drama pelakor yang sesungguhnya itu urusan tetangga, curhat kepada anak apa nyambungnya?

Drama harga beras naik, uang bulanan tidak cukup karena inflasi bla bla bla.. Please, mereka gak ngerti.

Drama kurikulum pendidikan yang bikin pusing, mereka gak tau apa-apa..

Tapi tentu berbeda cerita jika anak kita sudah besar dan dewasa. Yuk, sejak dini bentuk anak menjadi pribadi yang penuh pengertian dengan mengajarinya arti keluhan yang benar.

Karena ketika ia besar nanti, ia akan menjadi teman kita yang mendengarkan suka duka kita. 😊

Acer Day 2018 di Banjarmasin: Innovasi terbaru Laptop Acer Kekinian untuk Generasi Milenial

Acer Day 2018 di Banjarmasin: Innovasi terbaru Laptop Acer Kekinian untuk Generasi Milenial

“Hari gini perempuan gagap teknologi? Apa kata dunia?”

Siapa yang pernah dengar sindiran diatas? Yah, aku rasa semua perempuan mungkin pernah dikritik dan disindir demikian karena tidak ‘melek’ dengan perkembangan teknologi. Apalagi, untuk perempuan yang termasuk dalam generasi milenial. Sepertinya jika kita ketinggalan teknologi itu, seakan-akan berada dalam kelompok ‘kurang pergaulan’. Betul? Hihihi

Sudah bukan hal biasa, para perempuan ‘zaman now’ memanfaatkan teknologi untuk berkembang dan meningkatkan passionnya. Ada yang berprofesi sebagai pedagang online, design grafis, editor, influencer, endorser, hingga penulis dunia maya atau biasa disebut blogger. Semua profesi diatas merupakan profesi yang sangat membutuhkan teknologi. Apalagi, perempuan zaman now terkenal dengan mobilitas yang cukup tinggi sehingga sangat membutuhkan teknologi ‘kekinian’ yang mendukung profesi mereka.

Sebenarnya obrolan tentang teknologi cukup sering menghiasi percakapan di grup Female Blogger Banjarmasin-salah satu komunitas blogger yang aku geluti. Mulai dari Handphone canggih, camera canggih yang bisa mendapatkan gambar jernih dan tajam hingga Laptop pendukung untuk menunjang hoby menulis kami. Obrolan panjang ini selalu menyita perhatian dari para member. Hmm.. apalagi kalau sudah membicarakan diskon. Yah, you know what happen.. 😂

Acer Day 2018 di Intro Bistro-Tree Park Banjarmasin

Tak perlu berpikir dua kali ketika kami menerima undangan dari acer untuk event ‘Acer Day’ pada tanggal 16 Juli 2018 di Intro Bistro-Tree Park Banjarmasin. Kami para member Female Blogger Banjarmasin (FBB) langsung berebut untuk bisa mengikuti undangan dengan peserta terbatas tersebut. Yah, bagaimana tidak? Kami kan para Blogger Perempuan. Kami selalu update mengenai perkembangan teknologi. Kata siapa hanya laki-laki yang berkaca-kaca saat mendengar teknologi terbaru. Kami para perempuan juga tak kalah bersemangat apalagi saat mendengar di event ini ada diskon dan doorprize. Kami berdiri paling depan dalam hal ini. Hahaha.

Ada satu kursi panjang dibagian depan acara. Tanpa pikir panjang kami semua langsung menempatinya. Alasannya? Supaya mendapatkan cukup perhatian, dapat memperhatikan materi dengan jelas dan yah.. mungkin saja wajah kami cukup menyenangkan untuk mendapatkan doorprize. 😅

Acer day tahun ini mengusung ‘musik’ sebagai tema utama. Acer mengajak kita para generasi milenial untuk menjelajahi dunia Acer yang fun, trendy, dan innovative.

Acer Day sendiri sudah berlangsung dalam periode 16 Juli-30 September 2018 dimana pembeli juga akan mendapatkan voucher belanja (fashion brand) atau free office 365 selama 1 tahun.

Acer Day dimeriahkan lagi loh dengan program Acer Day Lucky Draw dengan hadiah utama fun trip ke luar negeri atau hiburan konser musik internasional di Singapura

“Di acer Day tahun ini, kami memanjakan seluruh pelanggan kami dengan beragam penawaran sensasional. Penawaran terbaik ditahun ini adalah Swift 3 Acer Day Edition yang didesain ekslusif dengan spesifikasi terbaik yang ditawarkan mulai dari Rp. 6 jutaan.” – Nino Wirawan, General Manager Sales Acer indonesia.

Nah, Penasaran dengan Swift 3 Acer Day Edition ini? Berikut ulasan tentang produk ini ya…

Swift 3 Acer Day Edition, Laptop Tipis Ringan Harga Mulai Rp 6 Jutaa

Apa sih yang unik dari Acer Day kali ini? Ini dia, kehadiran Swift 3 Acer Day Edition dengan tiga warna elegan dan sleek. Warna ini belum ada dipasaran sebelumnya loh, yaitu warna blue, pink, dan silver.

Nah, laptop seperti ini merupakan laptop yang sangat pas buat para generasi milenial seperti kita? Apa pasal? Karena laptop ini tipis, designnya keceh, dan ringan dibawa. Saking ‘lucuk’ nya kami berebutan loh untuk berfoto bareng si pink cantik nan ramping ini. Siapa yang dapat giliran pertama berfoto dengan laptop tipis keren ini? Pastinya aku dong. Hahaha.. 😂

Swift 3 Acer Day Edition ini dilengkapi dengan spesifikasi terbaik seperti intek Core i3, Windows 10 Home, dan 1TB HDD. Nah, dengan spesifikasi lengkap begini kalian tau harganya? Sangat kompetitif loh dipasaran, mulai Rp. 6 jutaan rupiah saja. (Cuss ya bikin mata berkaca-kaca ke para suami masing-masing..🙈)

Eh, kamu dari dari nyurcol tentang produk Acer buat cewek melulu tau.. Buat para cowok mana? Cowok generasi milenial kan ga suka pink-pink langsing sok cute begitu. Sukanya yang berbau gaming.

Hei, tenang saja kalian para lelaki milenial yang hoby gaming.. Acer juga punya inovasi terbaru lohh… Ini diaa..

Nitro 5 IntelĀ® Core™ Generasi ke-8

Rangkaian lini gaming series punya acer ini diklaim sebagai the best in class menurut performa dan harganya. Nitro 5 Intel Core Generasi ke-8 ini hadir dengan spesifikasi khusus untuk para gamers dengan harga spesial mulai dari Rp. 11 jutaan rupiah.

Tersedia juga loh varian baru Nitro 5 Core i7 dan NVIDIA Geforce GTX1060 dengan harga mulai dari Rp. 17.499.000. Menurut saya, untuk ukuran laptop gaming, inovasi terbaru ini termasuk dalam laptop gaming murah dan dapat bersaing dipasaran.

Penambahan Predator Warriors Baru

Acer Indonesia punya tambahan keluarga baru loh, yaitu Predator Warriors.

Aku suka dengan namanya.. ‘Predator’, menurutku nama ini sangat memancing rasa keingintahuan konsumen. Tidak seperti Swift 3, Predator Warrior ini memiliki body yang lumayan berbobot. Laptop ini didesain khusus agar tidak panas dan tetap oke walau sangat lama dipakai gaming.

Kenapa? Karena fungsinya dan target marketnya adalah para gamers yang ingin berlama-lama bermain game di laptopnya. So, Yes, this is special for you Gamers!

Nah, buat kamu-kamu yang mengaku generasi Milenial, udah gak zaman mencari laptop dengan spesifikasi biasa saja. Mulailah beralih ke inovasi yang lebih canggih dan trendy.

Karena perubahan itu.. Kita yang memulainya. So, tunggu apa lagi? 😊

Pembelajaran Berharga dari Buku Serial Anak Mamak – Tere Liye

Pembelajaran Berharga dari Buku Serial Anak Mamak – Tere Liye

Siapa yang tidak kenal dengan Penulis bernama Tere Liye?

Tidak kenal?

Ya.. Sebenarnya, saya juga belum berkenalan..😅

Cukup lah sok kenal karena sudah membaca beberapa bukunya. Sebut saja itu Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Hujan, Pulang, Tentang Kamu dan buku terakhir yang saya baca adalah.. Serial Anak Mamak..

Serial Anak Mamak sendiri terdiri dari 4 Buku berjudul Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia.

Kisah masing-masing bukunya adalah tentang para anak mama. Yang mana ‘Anak Mamak’ tersebut menceritakan kehidupannya masing-masing dari mulai kecil dengan latar hidup penuh nilai kesederhanaan, tantangan, cita-cita hingga kilasan epilog tentang masa depan.

Buku ini terlihat sederhana. Tapi nilai-nilai yang dapat diambil dari buku-buku ini… Sungguh Luar Biasa.

Anggap saya lebay. Tidak punya selera. Dan membandingkan dengan buku Tere yang lain yang mungkin yaah.. Lebih baik. Tapi buat emak-emak seperti saya, buku ini sungguh sangat memberikan pembelajaran. Baik itu pembelajaran sebagai Ibu maupun sebagai Anak.

Ada beberapa pembelajaran berharga dari buku ini, antara lain:

Jangan Pernah Membenci Mamak, JANGAN PERNAH

“Jangan pernah membenci mamak kau. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang tahu itu sejatinya bahwa belum sepersepuluh dari semua pengorbanan, rasa cinta serta rasa sayangnya pada kalian”

Jangan Pernah Merasa Mamak Kejam, Mamak Selalu Sayang.

Sedih rasanya jika pernah terbesit merasakan hal ini. Nyatanya aku pernah merasakan ini. Merasa bahwa seorang mama itu cerewet, suka mengomel, suka membatasi ruang gerakku. Segalanya diatur.

Namun itu adalah perasaan wajar. Sangat wajar jika pada masa anak-anak kita merasakan hal ini. Bahkan dalam masing-masing buku Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia ada bab khusus yang membahas tentang ini.

Berjudul “Kasih Sayang Mamak”

Membaca judul ini sukses membuat ku baper parah disetiap bukunya. Lihatlah, semua Mama itu sama. Orang yang terlihat kejam dimata anak-anak kita. Namun selalu memeluk dan meminta maaf kepada kita. Jangan pernah memasukkan dan memendam rasa sakit dengan segala amarah orang tua kita, memasukkannya pada innerchild negatif kita.

Ingatlah mereka tidak kejam. Mereka Sayang. Sangat sayang. Mereka marah karena terlalu menyayangi kita.

Jangan Pernah Merasa Mamak Tidak Adil

Aku baru menyadari, biarpun kita sebagai Anak Sulung, Anak Tengah, maupun Anak Bungsu sekalipun.. Ternyata rasa iri itu selalu ada.

Anak Sulung selalu merasa bahwa ia mendapat tugas paling berat. Sebagai Role Mode bagi adik-adiknya. Sebagai asisten emak. Sebagai segalanya. Sangat berisiko untuk merasa iri kepada para adik-adiknya.

Anak Tengah selalu merasa dibayang-bayangi oleh kesempurnaan kakaknya. Merasa cemburu ketika ia merasa dibandingkan. Ia mencoba menjadi Role mode kedua yang bersaing dengan Kakaknya untuk mendapatkan perhatian Orang Tua dan Adiknya.

Anak Bungsu? Ya, aku tak menyangka ternyata anak bungsu pun bisa saja merasa tidak diperlakukan adil. Anak bungsu cenderung menginginkan kekuasaan anak pertama. Yang bisa memerintah para adik-adiknya. Ia selalu merasa menjadi ‘kaum terjajah’ oleh kakak-kakaknya sendiri yang lebih dewasa.

Rasa iri itu ternyata bisa terjadi pada setiap anak. Adalah Tugas berat bagi seorang Ibu untuk ‘terlihat’ adil memperlakukan anak-anaknya.

Buku ini mengajarkanku bahwa sejatinya mama selalu sayang semua anaknya. Ia tak pernah pilih kasih. Semua anak sama. Namun job description untuk masing-masing anak memang ‘harus berbeda’.

Kalian akan sangat paham jika sudah membaca tuntas buku-buku ini.

Setiap Anak itu ‘Spesial’, biarkan mereka menjadi diri mereka sendiri

Aku sangat salut setiap kali Tere Liye menemukan Karakter utama untuk buku-bukunya. Bagiku, butuh keahlian khusus dalam menjiwai karakter pada sudut pandang orang pertama. Aku sendiri lebih merasa nyaman jika menulis karakter utama yang memiliki sifat mirip denganku. Alasannya sederhana, aku tidak punya banyak teman nyata yang bisa kujadikan ‘contoh baik’ yang membuatku terinspirasi.

Tapi lihatlah keempat karakter yang dia ciptakan pada serial anak mamak..

Pukat si Pintar

Burlian si Anak Spesial

Eliana si Pemberani

Amelia si Teguh Hati

Empat anak spesial yang punya bakat dan sifat berbeda. Tidak seperti Griffindor, Slytheryn, Revenclaw, dan Hufflepuff yang selalu turun menurun memiliki sifat sama disetiap aliran darah keluarga. (apaan sih kok nyambung ke Harry Potter? 😌)

PR besar bagi seorang ibu untuk memahami bakat dan minat pada anaknya. Sungguh PR besar.

Namun, ada satu hal yang aku garis bawahi pada hal ini, yaitu sebagai Ibu kita tidak boleh membandingkan anak satu dengan anak yang lain. Pun jika salah satu anak berprestasi, jangan terlampau membanggakannya dan menyuruh anak lain seperti anak itu pula. Karena hal inilah yang biasanya membuat anak kehilangan minat terbesarnya.

Bayangkan saja jika Mamak pada serial anak Mamak ini terlalu membanggakan Pukat si Pintar? Betapa iri anak-anak lain yang tidak sepintar pukat. Bukankah ini sering terjadi di sekitar kita? Ketika memiliki salah satu anak pintar, seorang mama sangat berpotensi untuk menyuruh anak-anak lain belajar ‘sepertinya’. Agar dapat ‘Juara’.

Penulis tidak mengungkapkan dengan detail apakah setiap anak selalu juara kelas. Seingatku, hanya Pukat dan Eliana yang merupakan juara kelas. Sementara Amelia punya bakat unik tersendiri.

Mereka berempat memiliki cita-cita yang berbeda dan mereka menyenangi jalan itu karena menyadari minatnya masing-masing.

Tugas orang tua?

Hanyalah bertanya, “Apa cita-citamu?” kemudian mendukungnya.

Bukan menyamaratakan bakat setiap anak bahwa mereka ‘harus juara kelas’.

Cause Everychild is Special..

Kesederhanaan adalah Pisau Pembelajaran Terbaik

Hal yang sangat aku sukai dari ‘Keluarga Anak-anak Mamak’ adalah mereka hidup dengan kesederhanaan namun terasa sangat bahagia. Mereka cuma punya sedikit waktu untuk nonton TV karena tidak tersedianya listrik di kampung mereka. Kehidupannya terbilang klasik. Memasak memakai kayu bakar, bermata pencaharian sebagai petani, sekolah di SD Sederhana yang hanya memiliki satu guru untuk semua kelas. Namun mereka sudah cukup bahagia dengan semua itu.

Hiburan bagi anak-anak desa adalah bermain dengan alam. Berenang di sungai, berjalan di hutan, membuat perahu otok-otok, memancing, mencari batu sungai, memetik jamur. Alangkah senangnya jika hiburan anak sekarang dapat seperti itu saja ya? Selain kita tak perlu menemaninya berlebihan dan tentunya hiburan seperti ini jauh lebih hemat. Haha

Dibalik hidup yang penuh kesederhanaan, pernahkah mereka merasa tidak adil dengan keterbatasan? Tentu pernah.

Pukat dan Burlian yang selalu protes saat dipaksa menghabiskan nasi kecap setiap hari. Eliana dan teman-teman yang merasa kecewa saat hujan semalaman merusak kelas tua mereka dan menghancurkan karya koleksi herbarium yang telah susah payah dibuat oleh mereka. Amelia yang.. Harus hancur segala kerja keras bersama teman-teman karena bencana banjir yang melanda kampung mereka.

Tapi semua keterbatasan itulah yang membuat mereka menjadi pribadi yang kuat. Pukat dan Burlian yang disuruh mamak untuk membuka lahan dan merasakan betapa sulitnya proses menanam padi hingga menjadi beras, membuat mereka begitu menghargai setiap butir nasi yang ada. Eliana yang memiliki cara baru untuk terus menunjukkan yang terbaik, keberaniannya telah mengalahkan tantangan apapun. Amelia, si teguh hati. Walaupun karyanya hancur namun ia memiliki kesabaran yang tak terbatas, ikhlas dan terus dapat move on untuk langkah kehidupan yang lebih baik.

Kesederhanaan dan keterbatasan adalah Pisau terbaik untuk melawan dunia. Ia mengembangkan kreativitas, kepedulian, dan rasa syukur.

Hal ini membuatku sangat bertanya-tanya dengan kehidupan ‘zaman now’. Apakah masih ada lingkungan sederhana yang menyenangkan? Lingkungan yang betul-betul dapat membentuk pribadi yang baik. Jikapun ada tentu mustahil akan begitu sempurna layaknya buku ini. Hei, bukankan aku sewaktu kecil juga tinggal ‘di desa’? Ah, iya. Ini mimpi. Itu buku fiksi.

Tentang Guru Terbaik

Abaikan kalimat terakhirku di bagian kesederhanaan. Aku memang sengaja menuliskannya dengan begitu janggal. Karena pada kenyataannya kesederhanaan memang pisau pembelajaran terbaik, namun hal yang benar-benar ‘mengasah pisaunya’ adalah guru terbaik.

Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia hidup dikelilingi oleh guru-guru terbaik. Siapakah mereka?

Mama yang memiliki keteguhan hati, kasih sayang tak terbatas, pemberani, dan tangkas dalam segala hal. Ayah yang selalu memberikan nasehat-nasehat terbaik dan hukuman terbaik. Pak Bin, satu-satunya guru SD di kampung untuk semua kelas yang selalu mempunyai ide cemerlang untuk setiap pembelajaran. Wak Wati, Tante Bijak yang selalu pandai menasihati dan memberikan teka-teki kebaikan. Serta Nek Kiba, Guru mengaji yang mengajarkan nilai kehidupan serta keagamaan pada jiwa anak-anak.

Mereka berempat dikelilingi oleh keluarga yang baik dan tumbuh berkembang bersama guru-guru terbaik. Alangkah senangnya.

Betapa sering kita mendapatkan guru yang suka memandang remeh kearah kita saat tak bisa mengerjakan sesuatu? Bukannya memperbaiki masalahnya, malah memperendah semangat murid dengan kata-kata sindiran.

Betapa sering kita mendapatkan guru yang hanya membanggakan murid-murid pintar? Berpaling mata pada murid yang hanya menonjol pada pelajaran kelas rendah.

Betapa sering kita mendapatkan guru yang tidak inovatif. Menyuruh menghafal dan menghafal lalu mengabaikan pemahaman yang benar.

Namun, dari semua guru yang ‘kurang’ kita sukai.. Pasti ada seseorang yang sangat mulia. Seseorang yang dititipkan Tuhan untuk benar-benar memahami kita. Pernah bertemu dengan orang itu? Aku yakin setiap orang pasti punya. Minimal satu, bukan?

Bagaimanapun Guru.. Hargailah mereka, hormati semua guru. Karena merekalah yang mengasah ilmu kita. Mengasah pisau perjuangan hidup kita kelak di masa depan

Semoga kelak anak kita dapat tumbuh dan hidup sebaik novel Fiksi ini. Buku ini memang fiksi. Tapi buku ini adalah pembuka pembelajaran terbaik bagiku..

Seorang Ibu baru yang ingin dicintai anak-anaknya..

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Pernahkah merasa bahwa kehidupan itu sejatinya tidaklah lurus?

Ia selalu menghadapkan kita pada pilihan.

Pilihan itu tidak cukup sekali.

Ia bercabang.

Lagi, lagi dan lagi.

Tiada habisnya.

Dan terkadang. Pilihan itu membuat pola tujuan kita berubah. Cita-cita yang berbelok dan terus berbelok. Sehingga kadang kita bertanya-tanya, “Masihkah aku dijalan yang benar? Sudah seberapa jauh aku dari tujuan awalku?”

“Apakah Passionku sudah sedemikian terdepresiasi?”

Ya, Pertanyaan tidak asing bagi seseorang yang telah membagikan seluruh hidupnya untuk mengabdi menjadi Ibu Rumah Tangga ‘Sejati’

Sebenarnya, Apa Passion Itu?

Seseorang berkata padaku, “Jika kau mengerjakan sesuatu selama berulang-ulang. Tiada bosannya. Bahkan ingin selalu meningkatkan kualitas dari pekerjaan itu. Kemudian, kamu senang melakukannya. Kamu bahagia untuk itu. Maka hal yang telah kau lakukan adalah Passion. Senjata yang membuatmu dapat menghadapi dunia.”

Passion adalah salah satu makanan batin untuk bertahan hidup. Passion adalah skill menyenangkan untuk menghadapi dunia.

Maka, bohong besar kalau selama manusia hidup ia tak pernah memiliki kesenangan hal yang dilakukan. Tidak punya hoby. Tidak punya bakat. Tidak punya tujuan. Bohong besar.

Seseorang yang telah kehilangan passionnya berarti ia tidak punya makanan batin untuk dirinya sendiri. Hei, benarkah itu?

Bagaimana Jika Passion kita Terkubur?

source: dream dictionary

Kadang, pilihan itu sulit. Bercabang. Membuat masalah-masalah baru. Memaksa kita untuk beradaptasi. Berubah. Berubah dan terus berubah. Syukurlah jika dari ulat menjadi kupu-kupu. Tapi bagaimana jika perubahan ulat menjadi kepompong telah memakan waktu terlalu lama? Tidur lama yang membuat kita lupa. Untuk apa sebenarnya kulit kepompong ini menyelimuti kita?

Masa Kepompong adalah Masa yang tidak bisa dihindari..

Terkuburnya Passion bagi seorang Ibu adalah masa kepompong. Masa yang bagi mereka ‘kita telah hilang’ tapi sebenarnya kita tidaklah hilang, kita hanya mengubur passion yang biasanya. Mengubah passion dan mendalami makna baru fase kehidupan bagi seorang ibu.

Yaitu, mengerti arti dari pengorbanan.

Bagaimana bisa seseorang yang dulunya ketika remaja begitu lincah kesana kemari, mengejar ini dan itu lantas kemudian menjadi ‘upik abu’ di rumahnya sendiri?

Karena ia memiliki si mungil yang membutuhkannya. Makhluk kecil yang selalu mengikutinya kemana saja. Memanggil dan menangis menyebut nama kita yang tak lagi berupa ‘nick name’ tapi…

“Mama..”

Ya, kita memang bukan diri kita yang dulu. Bukan seorang gadis yang memiliki kebebasan. Tapi kita lebih dari itu. Kepompong yang berdiam diri dalam selimutnya. Membentuk dirinya yang baru.

Karena untuk mengerti arti ‘pengorbanan’ itu tidaklah mudah.

Ya, kadang kita harus mengganti passion menjadi hal yang lebih terlihat berguna.

Menyapu, menyusui, memasak, mengepel, mencuci, lantas berbolak-balik lagi. Siklus rutinitas yang tiada habisnya. Bukan tidak mungkin passion dan kesenangan yang dulu tidak terdepresiasi.

Lalu, merugikah kita akan hal itu? Menyesalkah?

Percayalah, Perempuan adalah Makhluk Multitalenta. Hilang Satu Passion.. Tumbuh Seribu

Mama pernah berkata padaku, “Nanti kalau kamu udah jadi Mama juga baru ‘merasa’..”

Kalimat sama yang berulang-ulang bagai kaset rusak yang selalu aku abaikan maknanya ketika remaja dulu. Mama adalah penceramah nomor satu dalam hidupku. Siapa sangka kata-kata cerewetnya kini menjadi panduan dalam kehidupan rumah tanggaku.

Tidak pernah ada cerita bahwa seorang Ibu kehilangan Passion. Yang ada, seorang Ibu kehilangan dan lupa ‘tujuan yang benar’

Merasakan passion yang sedikit demi sedikit mulai terdepresiasi itu tentu pernah aku rasakan. Beberapa bulan lalu aku bahkan kesulitan untuk memasukkan pos neraca dalam CV kami. Woi, bukannya aku dulu gampang sekali membuat basic kerjaan akuntansi ini?

Aku bahkan blank saat mengurus pajak dan menyadari melupakan segala teorinya. Hei, bukannya dulu aku hapal pph sekian sekian?

Otak ’emak-emak’ ku mulai tak sengaja membuang memory akuntansi dan memasukkan memory baru. File parenting, resep masakan, metode baking, jejalan virus drama korea yang tak sengaja aku jadikan ‘me time’ dikala melipat baju dan menyetrika. Mana mungkin aku mengingat-ngingat kembali pelajaran dahulu?

Apakah akuntansi berguna untuk kebahagiaan kehidupan rumah tanggaku? Tidak sepenuhnya. Ia hanya berguna sebagai catatan pertanggungjawaban keuangan rumah tangga. Untuk memanajemen keuangan rumah tangga? Aku sang manajer bukanlah berkostum rapi bak sekretaris perusahaan. Tapi menjadi ‘Upik Abu’. Ya, profesi yang konon merupakan profesi ‘Emak Maha Benar’. 😂

Dan tanpa sengaja, profesi itu telah membuatku menjadi makhluk multitalenta.

Tidak mengapa passionku yang dulu telah menghilang, ucapkan selamat tinggal pada impian menjadi bintang kelas di kelas selama-lamanya. Itu sudah berlalu. Tidak perlu disesali, tidak perlu dikejar berlebihan. Seperlunya saja.

Passion Ada Dimana-mana. Ia Berkembang Sesuai Kebutuhan Orang yang Kita Sayangi

Jika kalian bertanya siapa orang paling ‘labil’ di dunia maka mungkin jawabannya adalah aku.

Aku tidak punya cita-cita ‘spesial’..

Dulu, ketika mama bertanya padaku apa cita-citaku aku tak bisa menjawab secara pasti apa itu sebenarnya.

Ketika mama menginginkan Anaknya berstatus sosial diatasnya maka aku memimpikan diri menjadi hal itu. Apapun itu dengan seragam yang lebih keren dibanding Guru TK. Entah itu Polwan, Dokter, ataupun yah artis mungkin. Haha

Cita-citaku selalu berubah. Suatu hari aku memutuskan memasuki jurusan akuntansi karena alasan yang simple. Ingin kaya. Ingin membahagiakan mama dengan high status dan kekayaan. Simple.

Namun suatu ketika cita-cita itu berubah (lagi) ketika aku bertemu teladan yang baru. Ya, jatuh cinta dengan salah seorang pengajar di kampusku mengingatkan dan menyadarkanku akan keinginan sejak kecil dahulu yang terkubur oleh sisi materialisme. Sejatinya cita-citaku sejak kecil ingin menjadi panutan. Ingin menjadi role mode bagi siapapun. Ingin menjadi bintang kelas selama-lamanya. Ingin menjadi Guru.

Terlalu banyak cerita tentang hal ini. Kalian bisa membaca banyak cerita tentang perjalanan hidupku pada catatan cengeng dibawah ini:

“Mama, maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga saja”

“Mengapa aku harus membenci mertuaku?”

“Sepenggal cerita tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan”

Sudah dibaca? Belum?

Jika sudah, maka tentu kalian mengerti mengapa akhirnya aku memutuskan untuk ‘Hanya Menjadi Ibu Rumah Tangga’

Bagi perempuan pilihan itu sulit, pilihan berkembang sesuai dengan keinginan untuk membahagiakan orang yang ia cintai. Seorang Ibu tidak akan memilih pilihan yang hanya membahagiakan dirinya sendiri (saja).

“I dont have Any Passion, I’m Divergent”

Aku tidak punya passion khusus. Tapi aku punya tujuan. Tujuanku adalah Membahagiakan Keluargaku. Menjadi kebanggaan mereka dan mewariskan kebaikan. Karena semuanya akan hilang. Yang tetinggal hanyalah kebaikan.

Belajar Menjadi Air, Arti Penerimaan yang Benar

Akan tiba suatu hari kau belajar arti penerimaan tertinggi dalam kehidupan. Diam jika terbawa arus, mengalir, namun tetap tenang.

Sebagian akan meremehkan hal ini. Tapi kau tetap menerima. Dipakai, dicemari, tak dianggap. Namun kau tetap diam.

Membiarkan rasa panas itu. Menguapkan semuanya. Kemudian menurunkan rasa sakit itu dalam tetes-tetes hujan.

Saat itu, kau dalam level tertinggi sebuah kebijakan. Memilih menjadi Air.

source: redbuble.com

Tentu aku belum sampai kedalam tahap itu. Namun, tidak pernah ada salahnya terus belajar. Kau tidak akan percaya dengan betapa mengerikannya egoku dahulu. Namun beberapa dari hal itu telah terkikis. Kupikir pengorbanan dan cinta seorang ibu telah merubah beberapa sifat buruk itu.

Baca juga: “Hal yang telah berubah sejak aku menjadi Ibu”

Jangan Pernah Menggenggam Dunia Dihatimu, Cukup Ditanganmu saja

Bukan sekali-dua kali aku mendengar kata-kata ini. Sering, cukup sering. Bahkan setiap kali ke pengajian Guru Juhdi pada malam jum’at di Mesjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin_beliau berkali-kali mengingatkan hal ini.

Ganggam ditangan haja. Jangan di hati. Amun ikam sampai meandak ke hati segala urusan dunia ngini, lalu ngalih.

Tidak ada hal yang lebih tidak nyaman dibanding menjadi tawanan hasrat sendiri. Mungkin, antara rasa semangat, ambisi dan kerja keras itu merupakan hal yang baik tapi jika ketiganya telah melawan arti pengorbanan dan cinta.. Masihkah ketiga rasa itu bisa disebut dengan hal positif? Mungkin, penawanan oleh hasrat ini yang dimaksud Ibnu Taimiyah.

Orang yang benar-benar terpenjara adalah yang terpenjara hatinya oleh Tuhan. Orang yang tertawan adalah tertawan hawa nafsunya. (Ibnu Qayyim, al-Wabil) – Yasmin Mogahed “Reclaim Your Heart”

Ah, jika kalian pernah membaca buku Yasmin Mogahed yang satu ini kalian pasti paham apa maksud dari kata-kataku ini. Ini adalah kutipan yang aku ambil dari salah satu bab yang sangat aku sukai. Aku menyebutnya “Tentang Burung dalam Sangkar Emas” walau judul chapter aslinya berjudul “Lolos dari Penjara Terburuk”

Aku punya cita-cita kecil yang kuharap suatu saat bisa mewujudkannya.

Disuatu hari nanti, entah kapan pun itu. Aku ingin berjalan menyusuri dunia. Bukan sekedar berfoto dan mendokumentasi perjalanan. Tapi belajar. Tak berharap kuliah untuk gelar lebih tinggi. Hanya berharap bertemu banyak orang bijak. Berguru pada semuanya.

Siapapun.. Siapapun Guru yang mungkin bisa membuatku benar-benar lolos dari Penjara Terburuk.

IBX598B146B8E64A