Sepenggal Cerita tentang Seorang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Sepenggal Cerita tentang Seorang Ibu yang mencari Kebahagiaan

Mereka berkata bahwa Bahagia itu Sederhana.

Tapi faktanya, bagi seorang Full Time Mother yang merawat anak dan suaminya 100% mencari kebahagiaan ternyata tidaklah sesederhana itu.

Kata siapa? Aku?
Ya, tidak semua wanita bisa menjadi full time mom yang sempurna dengan perasaan bahagia. Kenapa?

Itu berat.. Kamu gak akan sanggup.. Biar aku saja.. 😂

Ternyata jadi Ibu Rumah Tangga sejati itu berat. Hanya orang-orang terpilihlah yang sanggup menjalaninya dari awal tanpa lika-liku cobaan.

Dan hari ini, aku ingin sedikit bercerita tentang perjalananku mencari kebahagiaan. Ya, Aku.. Sang Full Time Mother.

Cerita 1: Mama memang selalu benar

Keputusan menjadi Full Time Mother memang bukanlah keputusanku sejak memulai pernikahan. Awalnya aku ingin bekerja. Sangat ingin bekerja. Namun keadaan membuatku harus menjadi Ibu Rumah Tangga. Keadaan yang tak sesuai dengan harapan ini sempat membuatku depresi dan mengalami gangguan psikologis.

Baca juga: Mengenal Baby Blues dan PPD serta penanggulangannya

Aku tak mengira menjadi Ibu Rumah Tangga akan sehorror ini. Selagi remaja, aku sering memandang remeh para Ibu Rumah Tangga yang suka bergosip ria. Dan aku selalu salut dengan para Ibu yang bekerja dan dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ya, seperti Mamaku.

Mamaku, sang working mom selalu berkata bahwa jika aku menikah nanti janganlah mau jika hanya menjadi Ibu Rumah Tangga. Mama memberiku berbagai contoh untuk membuatku belajar dari kehidupan. Dia yang suaminya tak bertanggung jawab, dia yang ditinggal selingkuh suaminya dan dia yang ditinggal mati suaminya.

Merekalah segelintir contoh Ibu Rumah Tangga Sejati yang tidak sukses karena memutuskan untuk tidak bekerja.

Aku selalu menggelengkan kepala mengingat pesan Mama. Berharap dan berdoa bahwa nasibku akan jauh lebih beruntung dibanding dongeng nyata dari Mama.

Berkali-kali peringatan itu datang..

Bekerjalah.. Bekerjalah..

Kenyataannya, aku sudah sangat terikat dengan rutinitasku sebagai Ibu Rumah Tangga. Tak ada satu kegiatanpun yang bisa aku lepaskan demi mengejar karir yang sempat tertunda.

Baca juga: “Mama, Maafkan anakmu yang hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga”

Aku tak menyalahkan Mama akan sikapnya padaku. Sebaliknya, aku mulai merenungi dan mencari apa maksud dari perkataan Mama yang benar. Bahwa profesi Ibu Rumah Tangga sejati tanpa kemandirian finansial sangat mengancam kebahagiaan seorang perempuan. Tapi bagiku, si anak lugu yang baru berprofesi sebagai Ibu Muda dengan satu anak menganggap kebahagiaan dapat kuperoleh dengan menyalurkan energi positif yang kudapat dari segala proses belajarku.

Yah, kau memang benar Ma.. “Tidaklah baik jika Seorang Perempuan mengabaikan potensinya dan menyalah-artikan profesi Ibu Rumah Tangga”

Cerita 2: Aku dan Passion yang membuatku Bahagia

“Sebenarnya apa hal yang benar-benar kau sukai?”

Aku selalu bingung setiap kali pertanyaan itu datang. Sejak remaja hingga menjadi Ibu Rumah Tangga, aku tak pernah menggeluti passion secara khusus. Lebih tepatnya, aku tak pernah serius dengan passionku. Inilah kelemahan sang melankolis yang memiliki negatifnya sisi plegmatis, ia suka terbawa arus dan lengah akan potensinya sendiri.

Baca juga: 8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

Aku suka belajar dan mengenal hal-hal baru, namun memiliki masalah dengan kontrol kegelisahan-magh-dan ujian. Baru-baru ini aku mengetahui bahwa itu salah satu ciri dari agoraphobia. Ini benar, aku selalu memiliki nilai baik dalam latihan dan berakhir kacau dalam ujian. Keadaan ini sudah berlangsung sejak aku SMA. Kalian punya masalah yang sama? Sebenarnya apa itu Agoraphobia?

Agorafobia (agoraphobia) adalah jenis gangguan kecemasan di mana penderitanya akan menghindari berbagai situasi yang mungkin menyebabkan panik. Penderita mungkin tidak mau meninggalkan rumah. Saat berada di luar rumah, mereka bisa merasa terjebak atau malu yang akan memicu serangan panik.

Karena itu aku hanya dapat berkembang dalam media online. Aku memiliki hoby memasak, membaca dan belajar hal-hal baru. Aku tak pernah bisa menampilkan passionku dengan benar di dunia nyata. Sejak kuliah aku telah mengontrol agoraphobia dengan banyak bertanya dan berusaha menampilkan diri. Tapi, hal itu hanya untuk mengurangi phobiaku saja. Selebihnya, dunia maya jauh terasa lebih aman untukku.

Cerita 3: Menyalurkan Passion dengan Cara yang benar

Apakah bekerja di luar rumah adalah satu-satunya cara untuk menyalurkan passion?

Aku melirik para Ibu-Ibu teladan.

Ibu A yang hoby memasak memilih membuka katering untuk menyalurkan passionnya.

Ibu B yang hoby belajar dan mengajari memilih menjadi Guru walau dengan gajih kecil.

Ibu C yang pintar berbicara memilih belajar berdagang dan memiliki banyak koneksi.

Ibu D yang ahli Ilmu Parenting mulai membuka kelas online dan diundang sebagai pembicara seminar dimana-mana.

Apakah kita bisa meniru Ibu-ibu tersebut?

Kita bisa mencoba, namun jika kita tidak senang menjalaninya maka berarti itu bukanlah passion yang benar atau kita salah dalam cara menyalurkan passion.

Apa jadinya jika Ibu Introvert yang hoby memasak namun memiliki sisi agoraphobia belajar untuk berjualan?

Aku pernah bercerita bahwa hoby memasak yang kusalurkan dengan cara berdagang ternyata tidak membuatku bahagia. Sebaliknya, rasa panik dan mual melihat bahan memasak dalam jumlah banyak sering kurasakan. Akhirnya aku menyadari bahwa passion yang tidak disalurkan dalam cara yang benar pun tidak akan membuatku benar-benar bahagia.

Aku memutuskan untuk menyalurkan passion warna-warniku pada tulisan dan foto. Dan hal itu membuatku bahagia. Aku menyalurkan hobiku dengan menulis blog dan aktif mengelola media sosialku. Sebagian mungkin berkata bahwa hal ini sedikit ‘pamer’. Tapi, setiap orang memiliki gaya ekspresi yang berbeda bukan?

Cerita 4: Kebahagiaan dan Makna Pengorbanan Seorang Ibu

“Hidup seorang Ibu sejatinya adalah Pengorbanan”

Sebenarnya, apa makna dari pengorbanan itu sendiri? Apakah seorang Ibu harus menguras kebahagiaannya demi tercapainya kebahagiaan suami dan anak-anaknya?

Jika di jurnal dalam ilmu akuntansi maka akan tercipta pencatatan:

D: Investasi Suami dan Anak

K: Kebahagiaan Ibu

Aku tertawa membaca jurnal yang kukarang dengan sendirinya ini. Kenyataan bahwa Wanita materialistis itu ternyata memang sangat beralasan. Bagaimana tidak? Ia melakukannya untuk Investasi Suami dan Anaknya. Akan lain ceritanya jika posisi Kebahagiaan Ibu berada di Debit dengan posisi kredit adalah Kas Keluarga.

Baca juga: Hal yang menyebabkan Istri menjadi Matre

Secara rasional, Apa jadinya jika Kebahagiaan Ibu selalu berkurang untuk Investasi Suami dan Anak? Apa Jadinya jika Kebahagiaan Ibu tak pernah ditambah dengan optimalisasi passion? Apa jadinya jika Kebahagiaan Ibu tak pernah disirami dengan curahan ilmu? Apa jadinya jika Kebahagiaan Ibu tak pernah distabilkan dengan indahnya komunikasi dengan sang pencipta?

Ya, Akan tercipta Keluarga yang tidak sehat karena sumber kebahagiaan keluarga telah terdepresiasi secara berlebihan.

Seorang Ibu akan selalu berusaha membahagiakan keluarganya walaupun mungkin mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Tapi Ibu yang sesungguhnya, tak akan pernah membiarkan dirinya terdepresiasi.

Ia akan tumbuh dan berkorban dengan cara yang benar. Ia akan tumbuh bahagia bersama keluarganya.

Tulisan ini dibuat sebagai tulisan collaboration bersama Female Blogger Banjarmasin dengan tema tentang Hari Kebahagiaan International yang diperingati setiap tanggal 20 Maret yang telah dicetuskan PBB sejak 2013. Sebagai seorang Ibu maka aku membuat tulisan ini khusus untuk para Ibu yang sedang mencari kebahagiaan. Semoga ceritaku dapat menginspirasi.

Selamat Hari Bahagia

Komentar disini yuk
4 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A