Browsed by
Category: Ikatan

Move On Ngeblog bersama Komunitas Female Blogger Banjarmasin

Move On Ngeblog bersama Komunitas Female Blogger Banjarmasin

I think I’m just the Only One Who have ‘Strange Hobby’.. 
But now.. I know.. I’m not Alone..

Sejak kecil aku merasa memiliki hoby yang aneh. Saat teman-temanku asik bermain dengan sesama, aku lebih suka diam di kelas sambil menghisap permen lolipopku. Salah satu temanku kemudian bertanya, “Kamu ngapain?” dan aku menjawab, “Sedang mengkhayal”

Aku tidak terlalu suka dengan keramaian. Tapi aku suka berpura-pura ramai dipikiranku sendiri. Jikapun aku butuh teman_aku hanya butuh SATU. Ya, cukup satu saja yang mengerti diriku dan paham denganku maka aku akan menjadikannya SEGALANYA.

Nyatanya, menemukan satu teman yang mengerti dirimu itu sulit. Sejak itu aku berpikir, “Aku kah yang terlalu aneh?”

Ketika Guruku bertanya mengenai Cita-cita, aku hanya bisa menjawab menjadi Guru. Namun ketika ditanya, “Apa Hobymu? ”

Aku menjawab, “Mengkhayal”

Lantas seisi kelas mentertawakanku.

Aku tidak mengerti dimana sisi lucu dari jawabanku. Itu benar, aku hoby melamun. Kadang ketika selesai membaca satu buku_aku bisa tersenyum-senyum sendiri. Kemudian aku berbaring dengan wajah berseri-seri hingga berjam-jam lamanya. Ya, sudah terlalu sering orang tuaku mengira ekspresi itu adalah ‘Jatuh Cinta’. Kenyataannya, tidak. 😂

Aku memiliki hoby aneh sejak kecil. Aku suka berimajinasi. Aku bahkan memiliki ‘sebutan lain’ dalam versiku sendiri untuk setiap teman dikelasku.

Kemudian, suatu hari hoby menulis itu muncul begitu saja ketika Sekolah Dasar. Aku suka ‘menulis’ berbagai fenomena disekitarku. Mulai dari keluhan dengan berbagai omelan mama, bertengkar dengan kakak, rasa iri dengan adik kembarku, rasa senang ketika ayah membela segala egoku hingga bully yang dilakukan teman-temanku.

Tadinya, aku menyebut buku itu sebagai buku harian. Sampai suatu hari buku itu ditemukan oleh kakakku dan dibaca ditengah-tengah anggota keluargaku. Memang, aku berharap suatu hari ada yang membaca buku harianku_tapi tidak dalam moment yang memalukan seperti itu. 😅

Aku sempat jera menulis hingga kemudian Ayahku membelikanku kado ulang tahun berupa ‘istana buku’. Ya, itu adalah kado yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kado istana buku merupakan sebuah istana kertas yang didalamnya berisi buku-buku dongeng mungil. Imajinasi liarku menjadi-jadi.

Sejak itu aku punya ide aneh yang terlintas begitu saja didalam otakku. Aku menulis cerita singkat dengan panjang tiga paragraf. Sangat jelek namun aku senang. Paragraf pertama menceritakan karakter antagonis. Paragraf kedua menceritakan kedatangan tokoh protagonis. Dan paragraf tiga aku mematikan salah satunya atau mendamaikannya. Ya, sesimple itu. 😂

Namun salah seorang teman SD ku menyukainya dan kau tau? Itulah saat pertama aku merasa memiliki ‘fans’ dan teman satu passion.. 😄

***

Kekurangan dari kepribadian melankolis-plegmatis sepertiku adalah tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri, butuh rule mode dalam kehidupan, serta memiliki perasaan yang halus. Ya, kekurangan itu telah membuatku pensiun dengan kegiatan menulis. Hal ini terjadi begitu saja ketika teman sepassionku hilang, nilai pelajaranku tidak bagus, dan aku dinilai sebagai anak kuper dilingkunganku. Setiap remaja butuh sedikit rasa penerimaan bukan? 

Aku pensiun menulis selama 5 tahun lamanya. Kemudian bersambung menulis novel ketika kelas 3 SMA_yang tidak jelas rimbanya kemana sekarang. Lalu hoby menulisku hilang total ketika kuliah. Sampai kemudian aku bertemu dengan dia yang suka menulis. Dan aku mulai melanjutkan menulis lagi. Walau bukan jenis novel tapi hanyalah catatan renungan-renungan kelabu. 

Sepertinya hoby menulisku tak pernah berkembang ke arah yang positif. Karena itulah aku akhirnya berpikir bahwa menulis tidak akan membawaku kemana-mana. Saat menikah dan memiliki anak, suamiku mendorongku untuk terus menulis. Ia membelikan diary, menyuruhku menulis di kompasiana, menyuruhku rajin membaca tapi aku mengabaikan segala ceramahnya. Aku berpikir, “Siapa yang akan menerimaku dengan tulisan? Bukankah aku lebih baik menghabiskan waktu belajar memasak, membersihkan rumah, dan bermain dengan anak?” 

Saat itu aku masih menjadi Ibu Rumah Tangga yang idealis. Menganggap semua pekerjaan rumah harus perfect dan tidak perlu me time. Kenyataannya aku menjadi ibu mengerikan dibalik gaya perfeksionisku. Aku sering kali marah tidak jelas, menangis tidak jelas dan mulai menyalahkan keluargaku atas segala punyusutan dalam diriku. Itulah saat pertama kali aku sadar telah terkena gejala post partum depression. 

Kemudian, bulan January 2017 aku memutuskan membuat blog di wordpress. Aku pikir blog akan membuat kondisi psikologisku membaik pasca beberapa tahun menjadi stay at home mom. Suamiku mendukung secara positif dan dia menekankan padaku betapa pentingnya ‘konsisten’ dalam menulis. Konsisten berarti harus menulis secara terjadwal dan sering. Minimal 3 hari sekali. 

Aku melakukannya. Menulis berbagai hal yang aku pendam selama ini. Jika kehabisan inspirasi, aku akan menulis resep masakan. Namun bulan maret 2017 aku mulai galau dalam menulis. Karena statistik blogku yang tak kunjung naik, follower yang sedikit, dan tidak ada komunitas. Ngeblog itu hanya self healing. Pikirku. 

Tapi dimana serunya ngeblog jika itu hanya berputar pada diriku sendiri saja? Bukankah inti dari ngeblog adalah berbagi? Dimana tempat berbagi? Bagaimana aku bisa move on dengan ngeblog? 


***

Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menemukan ‘seseorang yang begitu mengerti dirimu’.

Ya, itu benar.

Itulah yang terjadi saat aku bertemu dua orang perempuan ketika seminar Dancow “Katakan, IYA-BOLEH untuk mendukung eksplorasi si kecil” di Hotel Golden Tulip Banjarmasin bulan Februari lalu. Singkat cerita, disana aku diundang sebagai blogger untuk meliput acara Dancow. Aku pikir tadinya mungkin aku disana akan sendirian saja_seperti biasa. 😂

Ternyata aku bertemu dengan dua blogger perempuan lainnya. Mereka bernama Shovya dan Leha. Aku duduk berjejer dengan mereka dan mendengarkan ‘kata-kata yang tidak aku mengerti’. Sebut saja itu niche, tld, hingga monetize dan job. Ya ampun, begitu mengasyikkan-kah dunia ngeblog itu? Pikirku.

Leha, Shovya, dan Aku

Aku memutuskan untuk bertanya tentang komunitas blogger yang ada diindonesia hingga yang khusus di Kalimantan Selatan. Dan mereka antusias. Shovya adalah member dari Blogger Banua dan Leha adalah member dari Female Blogger Banjarmasin. Berhubung aku lebih suka dengan ‘komunitas khusus perempuan’ maka aku memilih bergabung di Female Blogger Banjarmasin.

Saat pertama kali bergabung hanya ada beberapa member disana. Aku pikir jelas alasannya, karena tidak banyak orang yang memiliki passion dibidang menulis. Kenyataannya, sejak aku bergabung hingga sekarang_anggota Female Blogger Banjarmasin semakin bertambah dan kami semakin serius dengan membentuk sistem kepengurusan hingga secara khusus mengelola sosial media kami.

Aku benar-benar bersyukur tergabung dalam komunitas ini. Aku pernah tergabung dalam komunitas ’emak-emak’, komunitas agamis, komunitas ‘alay’ namun tidak pernah merasa secocok dan senyaman ini. Ya, seseorang pernah berkata padaku bahwa, “Kita tidak bisa menjadikan semua orang sebagai teman kita berpijak, kita butuh beberapa topeng dibalik itu semua agar diterima. Tapi yang menerimamu apa adanya_hanyalah keluarga dan mereka yang satu passion denganmu”

Itu benar, dan akhirnya aku memutuskan untuk menjadi member Female Blogger Banjarmasin selamanya. 😂

Anggota famale blogger banjarmasin memiliki jenis niche yang berbeda untuk blog yang dikelolanya. Ada yang memiliki niche Lifestyle, Beauty, hingga Travelling. Tadinya, aku adalah satu-satunya member yang memiliki niche Food didalamnya. Namun sekarang jujur saja niche blogku memuat banyak post lain selain Food. Dan yang paling lucu itu adalah aku mulai suka menulis di label kecantikan bertema lipstik. Dan terakhir, aku sekarang mulai suka berganti-ganti BB Cream. 😂

Itulah yang terjadi ketika dalam komunitas ini banyak Beauty Bloggernya. Maklum, aku memiliki sedikit beberapa sifat plegmatis sehingga suka sedikit terbawa arus.

Tapi itu benar, selama ngeblog aku tidak pernah berpisah dengan skincare maupun make up. Jika beberapa orang berpendapat bahwa make up adalah alat untuk bernarsis ria maka bagiku sendiri make up (khususnya lipstik) merupakan alat penunjang percaya diri saat ngeblog.

Nulis aja perlu lisptik win? Kamu waras?

Katakan saja aneh, tapi inspirasiku datang selalu dari luar rumah.. Sehingga lipstik selalu menemaniku saat mencari inspirasi.. 😂

Contohnya saat aku mengunjungi anakku pada jam istirahat sekolah untuk membawakannya kue. Aku suka sekali mendengar pembicaraan emak-emak dan menjadikannya inspirasi tulisanku. Eits, tapi jangan salah. Aku tidak pernah menulis gosip secara gamblang. Aku hanya menulis dan menangkap kesimpulan agar mendapat pembelajaran. Bukankah itu yang namanya terinspirasi?

Nah, bicara soal lipstik aku punya brand favorite yang bener-bener kece soal make up. Siapa lagi kalau bukan Wardah? I’m so in love with Wardah. Mulai dari Bedak, lipstik, blush on, eye shadow semua dari wardah. Kenapa? Karena aku terlanjur jatuh cinta sama make up wardah sejak acara ‘behantaran’ saat pernikahanku dulu. Wardah merupakan make up pertama yang membuatku jatuh cinta. 😍

Baru-baru ini yang membuatku sangat luar biasa ketagihan adalah mengoleksi berbagai warna lipcream wardah. Ya, sejak pertama kali membeli Wardah Ekslusive Matte Lip Cream No. 5 (Speachless) aku akhirnya mulai mencoba warna lain. Aku sudah memiliki lipcream wardah no. 3, 4, 5 dan 10. Menurutku produk lipcream wardah ini kece banget. Warnanya pigmented dan selalu bikin aku merasa cantik saat mencari inspirasi diluar.

Dan warna yang paling menyenangkan dan membuat wajahku fresh adalah no. 05 (Speachless). Aku selalu ketagihan dengan berbagai warna nude hingga orange karena warna itu bisa ‘sedikit’ menyamarkan usiaku sebenarnya.. 😂

Lipstik adalah senjata percaya diriku dalam mencari inspirasi

***

Oke, itu sekilas cerita tentang Female Blogger Banjarmasin dan hal yang membuatku ‘teracuni’ dengan produk kecantikan hingga brand favorite aku, Wardah. 😘

Sekarang bagaimana kabar Female Blogger Banjarmasin?

Alhamdulillah, Female Blogger Banjarmasin telah berumur satu tahun dan kita sudah banyak kemajuan didepan. Tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 (06-10-2016) Female Blogger Banjarmasin berulang tahun yang pertama. Aku berharap komunitas ini akan lebih maju dan lebih bersemangat sehingga memberi keberkahan untuk setiap member dan memberi manfaat untuk setiap orang dengan tulisan. 😊

Oya, Kami sudah memiliki Struktur Organisasi yang jelas untuk kepengurusan. Siapa saja sih? Yuk, kepoin..

  • Ketua: Ruli Retno Mawarni (www.ruliretno.com)
  • Wakil Ketua: Vina Jihan Faheera (www.reistilldoll.com)
  • Sekretaris: Siti Zulaeha Barsieh (www.syunamom.com)
  • Bendahara: Rima Melaty (www.rima-angel.com)
  • PJ Sosmed: Dina Yulini Fahdina (www.dinalangkar.com)
  • Humas: Antung Apriana (www.ayanapunya.com)

Dan beberapa member lainnya. Saat ini member kami sudah mencapai 20 orang. Dikit ya? Eh banyak kok.. 😂

Soal angka itu tak masalah bukan? Yang penting kami kece dan konsisten nulis setiap bulannya dan dapat job. Hehe..

Berbicara tentang konsisten, hal yang paling membuatku bersemangat bergabung dalam komunitas Female Blogger Banjarmasin adalah kami memiliki jadwal untuk share link setiap hari selasa dan sabtu. Pada jadwal share link kami diwajibkan untuk saling blog walking. Bagaimana jika kami tidak blog walking dan ada yang terlewat meninggalkan komentar? Secara tegas sudah ada sanksi khusus untuk itu, yaitu tidak boleh mengikuti kegiatan share link selama 2 minggu. Ngomong-ngomong, aku juga pernah kena sanksi loh satu kali. Oh, semoga itu yang terakhir. 😂

Oh iya, kami sudah pernah meet up loh. Dan luar biasa menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang satu passion denganmu. Rata-rata dari kami memang pendiam tapi siapa sangka kami bisa seriang ini jika berkumpul bersama?

Meet up kedua adalah saat kami menghadiri HP Notebook Gathering Media di Swiss Bell Hotel. Ini ketiga kalinya aku meet up dengan member Female Blogger Banjarmasin. Sayangnya hanya Aku, Rima, dan Kak Pita yang hadir. Tapi tidak apa-apa, aku sangat senang sekali. 😊

Kak Pita, Aku dan Rima

Jika tidak bertemu dengan komunitas kece ini mungkin saja aku tidak bisa begini. Mungkin aku kini hanya Ibu Rumah Tangga biasa yang sangat moody ngeblog karena tidak ada pembaca, komunitas pendukung, job, dan berbagai event blogger. Mungkin kini aku hanya menggerutu dengan berbagai pekerjaan rumahku tanpa bisa move on. Tapi komunitas ini merubahku, benar-benar merubahku

Well, ulang tahun ga ada event spesial?

Ah, siapa bilang..! Ada Kok! 😆

Event spesial berikutnya dari Female Blogger Banjarmasin adalah mengadakan Beauty Class spesial dengan Wardah di Street Food Banjarmasin. Acara ini akan berlangsung pada 22 Oktober 2016. Penasaran dengan acara ini? Bagaimana sih Beauty Class bareng wardah? Tenang saja, aku pasti akan menulis pengalamanku pertama kalinya  mengikuti beauty class di blog ini. 😊

Jadi, Anda perempuan dan seorang blogger yang berdomisili dibanjarmasin? Bingung bagaimana cara move on dalam ngeblog? Tertarik ingin bergabung dengan komunitas Female Blogger Banjarmasin? Yuk, kepo’in tentang kita di instagram dan twitter kami.

Karena komunitas satu passion adalah wadah yang bisa membuatmu move on. Jadi, mari segera move on! Tunggu apa lagi!

Tentang Rumah Kenangan

Tentang Rumah Kenangan

Apa arti rumah buatmu? 

Bagiku, Rumah adalah tempat untuk pulang dimana didalamnya ada orang-orang yang menyayangimu dan menantikanmu selalu berada didalamnya. 

Bagiku, Rumah adalah tempat kehangatan. Tempat mengisi perut serta mengisi batinku dengan pelukan kasih sayang. 

Bagiku, Rumah adalah tempat berteduh. Tempat yang melindungi jasmani dan mengeluarkan semua isi hati agar selalu berada ditempat ‘teraman’. 

Hal yang dinamakan ‘rumah’ akan selalu menjadi surga dunia. Karena kenyamanan yang diciptakannya membuat seonggok telur ceplok dan kecap-pun terasa lebih enak dibanding restoran manapun. 

Tak ada yang bisa menyamai.. Bau dari kamar nyaman itu hingga prasasti didinding-dindingnya.. Terlalu banyak cerita disini. Cerita yang menyenangkan. 

Sangat munafik, jika mereka bilang “Jangan meratapi Sejarah! Bangkitlah menatap masa depan!” Karena nyatanya sejarah menyenangkan. Sejarah adalah ilusi terindah yang mengenangnya selama apapun akan terasa menyejukkan hati. 

Karena Kenangan itu beralasan kuat. Ada keluarga yang membuat rumah itu terasa seperti surga. Ya, keluarga itu. 

Ibu yang tak pernah tidak ribut denganku minimal tiga hari sekali. 

Ibu yang memelototiku setiap kali aku mulai bertindak konyol. 

Ayah yang selalu bertindak konyol dan bertentangan dengan Ibu. 

Pertengkaran ‘konyol’ yang terjadi hampir tiap hari. Kemudian terlihat tak terjadi apa-apa beberapa jam kemudian. 

Celotehan setiap anggota keluarga saat makan malam yang berujung pada protes kecil dari mulutku yang cerewet. 

Dulu aku membencinya. Sangat membencinya. 

Dan sekarang aku merindukannya..

Kadang aku menyesal kenapa aku malas sekali merawat rumah dan isinya dulu. 

Tentang mama yang selalu menggerutu bahwa aku pemalas dan tak betah dirumah. Tapi, aku sama sekali tak merasa pemalas saat itu_dibandingkan teman yang lain aku jauh lebih introvert. Aku selalu membela diri bahwa aku butuh dunia lain untuk sekedar mengakui keberadaanku. Didalam hati aku selalu menggerutu “Hei Mama, sampai kapan aku harus berada di dunia kotak?” 

Tapi akhirnya aku sadar. Bagi orang sepertiku, dunia kotak adalah sebuah surga. Rumah dan kasih sayang didalamnya takkan bisa digantikan oleh apapun. 

Beberapa tahun lalu aku adalah anak pertama yang meninggalkan rumah itu. Tak sempat sebuah bakti aku sempurnakan. Hanya sebuah restu untuk meninggalkan rumah_menuju rumah yang baru. 

Hampir satu tahun dirumah mertua dan akhirnya keluarga kecilku mendapat rezeki untuk memiliki rumah sendiri. Rumah baru untuk menjadi sebuah surga yang baru. 

Aku yang berada pada rumah baru dan sebagai pusat kehangatan dalam keluarga akhirnya mengerti kenapa Mama memperlakukanku sedikit berbeda dengan saudara-saudara laki-lakiku. 

Karena perempuan terlahir spesial..

Karena menjadi apapun perempuan. Sebagai apapun dan sekeren apa passionnya membawanya ketingkatan level kehidupan. Tetap saja! Tetap saja ia perempuan. 

Tetap saja, jantung sebuah rumah adalah perempuan didalamnya. Karena itu ia harus bisa membuat suami dan anaknya berbahagia dirumah. Itulah yang menguatkan ikatan. Perempuan terlahir lebih sensitif karena memendam banyak cinta. 

Cinta adalah alasan kenapa telur ceplok didapur Mama terasa lebih enak. 

Cinta adalah alasan kenapa kamar berprasasti itu menjadi buah tidur penyimpan kenangan. 

Cinta adalah alasan kenapa aku merindukan kemarahanmu. 

Cinta adalah alasan kenapa aku berusaha menjadi lebih baik dibanding saudaraku. 

Rumahku dahulu, adalah tempat dimana banyak cinta dilahirkan. Karena itulah aku merindukannya.. 

Selama seminggu berada disini. Dalam moment idul fitri. Betapa banyak lubang kosong pertanyaan amunisi cinta selama ini mulai menemukan jawabannya. Aku hanya butuh tertawa, bercanda dan menangis bersama dengan orang-orang yang memiliki ikatan pertama denganku. 

Mama.. 

Abah..

Dan Kakak adik cuek bebek sekalipun yang kupikir aku tak terlalu peduli dengan mereka. Nyatanya malah cukup senang melihat mereka berkumpul. 

Dan Aku memiliki ikatan baru yang kupikir cukup menyenangkan memilikinya. 

Ipar perempuan pertama dan dua keponakan dari pihak keluargaku. 

Entah bagaimana kekosongan selama ini yang Mama dan Abah rasakan selama semua anaknya terpisah. Aku sendiri tak bisa membayangkan. Rumah yang dulunya ramai itu menjadi sunyi senyap. 

Ah.. Bukankah itu yang dulu selalu kau inginkan win? Sebelum memiliki Farisha kau ingin berdua saja dengan suamimu dan merajut karirmu? Betapa memiliki anak telah mengikis semua impianmu? 

Belakangan aku merenung dan berpikir bahwa itu adalah salah satu cara-Nya untuk membuatku mengekspresikan cinta dengan benar. Level baru yang mengubah hidupku selamanya. Menjadi Ibu. 

Karena itu aku tidak boleh sedih. Meratapi betapa menyenangkan menjadi seorang anak-anak dirumah kenangan itu. Tapi aku bukanlah anak-anak lagi bukan? 

Aku sudah menjadi Ibu! Seseorang yang mandiri di rumahnya sendiri dengan keluarga baru yang dibangunnya. 

Karena itu, rumah kenangan tak pantas diratapi. Hanya sebuah kunjungan bertahap untuk menepis kerinduan. 

Karena jika ia terus diratapi. Hati kecilmu selalu berharap selalu menjadi gadis kecil. 

Dan kau sudah besar bukan? 

Untuk Apa Aku Harus Membenci Mertuaku? 

Untuk Apa Aku Harus Membenci Mertuaku? 

Mertua. Ya, satu kata yang berarti adalah mama dari suami ini adalah nama yang entah kenapa selalu berkonotasi negatif dikehidupan emak-emak. Dimulai dari cerita mertua galak, mertua sok ngatur, mertua bla bla bla. Hingga tidak jarang karena hubungan complicated antar menantu dan mertua ini maka kehidupan mereka terlihat selalu tidak damai. 

Nah, soal mertua. Kenapa pula tanaman satu ini diberi nama lidah mertua? Aku pikir tadinya cuma orang indonesaah yang menamai tanaman ini begitu kejam. Ternyata nama versi bahasa inggrisnya juga mother in law tonge. Seolah-olah lidah mertua itu diibaratkan terlihat tajam dan panjang seperti tanaman ini. 

Semua tentang mertua selalu dipandang negatif. Dulu saja ya, kalau anak cewek macam aku gini ga bisa masak mama pasti bilang “gimana nanti kamu nih kalo satu dapur sama mertua?”. Hingga hal sepele seperti duduk didepan pintu aja diledek, “kada disayangi mertua nanti” padahal kan waktu itu aku masih single yak, apa hubungannya si calon mertua ini dibawa-bawa. Hihihi. Ini pengaruh juga ke inner child dari kita tentunya. Kita sudah terlanjur menempatkan kata mertua dengan konotasi negatif dilubuk pikiran kita_bahkan jauh hari sebelum menikah. 

Kebencian kepada mertua disebabkan oleh banyak faktor namun aku meyakini faktor utama yang beranak-pinak menjadi berbagai faktor penyebab lainnya adalah adanya rasa cemburu. Apakah wajar kita cemburu kepada Mertua? Apakah wajar Mertua juga cemburu kepada kita? 

Tentu saja wajar. Cemburu sangat manusiawi. Cemburu adalah perasaan tidak nyaman dimana orang yang sangat kita sayangi menomor dua-kan kita, lebih memperhatikan yang lain. Cemburu boleh-boleh saja, sebagian lelaki suka jika kita ketahuan cemburu padanya. Namun, jika cemburu salah obyek kemudian menimbulkan perasaan iri hingga dengki maka cemburu jenis ini harus segera diobati.

Cemburu yang berasal dari perasaan ingin lebih baik dari pada obyek adalah cemburu yang positif_tidak berbahaya. Sebaliknya jika cemburu dilandasi oleh perasaan benci maka akan menciptakan monster kecil dihati kita. Semakin kita memberi makan monster tersebut, ia akan tumbuh semakin besar dan menggerogoti hati kita. Ibarat Api yang tiba-tiba memakan habis kayu bakar. 

Kebencian_apapun asalannya, adalah hal negatif. Namun sangat manusiawi jika kita pernah membenci. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara kita menghilangkan kebencian tersebut dan mengubahnya menjadi kecemburuan yang positif? 

Jujur saja, Mertua adalah orang pertama yang aku cemburui setelah aku mengenal kehidupan Rumah Tangga. Segala yang aku lakukan sejak berumah tangga tak lepas dari pengawasan mertua. Dia yang aku pikir tadinya sebagai orang kesekian dalam kehidupanku tiba-tiba saja harus aku nomor satukan. Monster dalam diriku tentu sering merasa protes. “Emang dia siapa? Mau menggantikan posisi Mama dikehidupanku.. Tiba-tiba saja jadi si nomor satu dikehidupanku” 

Oh, rupanya hadis ini yang menjadi senjata ya. “Huh” Pikirku.

Kehidupan berumah tangga sungguh proses yang tidak mudah. Hal yang pertama kali harus kau terima adalah meninggalkan rumah mama. Mengganti peran Mama yang merupakan sosok paling dicintai menjadi suami. Aku perlu beberapa kali berkonflik untuk mengakhiri dengan damai keputusanku dengan mama. Kau bisa membaca tulisanku di sini

Memutuskan untuk berbakti kepada suami dan belajar menggantikan peran Mama adalah hal yang tidak sederhana. Suami bukanlah orang nomor satu pengatur hidupku. Dibelakang layar, sang mertua bagaikan dalang wayang yang turut mengatur pergerakan suamiku, membuatku mau tak mau harus mematuhinya pula. Jadi, bila kau bertanya siapa orang nomor satu pengatur hidupku? jawabannya adalah mertua. Dan saat itulah awal kebencian itu muncul. 

Awal kebencian muncul ketika cita-citaku kandas begitu saja karena larangan mertuaku kepada suamiku untuk meninggalkannya merantau di Pelaihari. Aku sudah sangat positif ingin sekali bekerja disana, aku pikir bukanlah jarak yang jauh antara Pelaihari dan Banjarmasin. Kami masih bisa seminggu sekali menengok beliau. Namun kemudian beliau menangis ingin anaknya tetap disini saja. Aturan darinya mengontrol tujuan hidupku. Sudah jelas tentu, suamiku selalu menomor satukan mamanya. Berarti segala langkah hidupku akan selalu dibayang-bayangi olehnya_Mertuaku. Kebencianku sangat beralasan. 

Kebencian semakin bertambah subur ketika aku kemudian harus serumah dengan mertua. Saat itu anakku masih berumur 3 bulan, sering menangis dan begitulah. Aku yang saat itu mengalami Post Partum Depression hanya menginginkan satu hal “jangan atur lagi hidupku”. Apa aku mengucapkannya? Tentu saja tidak. Kebanyakan dari pelampiasanku hanya menangis. Jika tak sembuh juga kadang aku meledak dimedia sosial dan menghapus ledakan itu dipagi harinya. 

Rasa cemburu, iri dan tak suka diaturku telah menggelapkan hatiku. Sebagai Ibu dengan anak yang sering terbangun dimalam hari dan memakai popok kain untuk menghemat keuangan aku cukup kelelahan. Kadang dipagi hari aku tertidur lagi sehabis sholat subuh. Terkadang juga aku bangun telat. Siapa yang menyiapkan sarapan? Aku cuma sesekali. Kebanyakan adalah mertuaku dan iparku. Penyakit anti-sosial dan introvert tingkat akut-ku membuatku sulit beradaptasi didapur yang sudah mempunyai 2 chef andalan. Aku lebih suka dikamar. Berpura-pura terlalu sibuk dengan bayiku. 

Kegelapaan hatiku telah menghapus segala kebaikan mertuaku. Aku hanya melihat segala tentang mertua dari sisi gelap saja, sang pengatur_pikirku. Dalang Suami pikirku. Kapan aku bisa terbebas dari kontrol mertua dan berada di ruang bebasku sendiri? 

Setiap malam aku mengadu kepada suamiku. Tentang ketidaksukaanku pada Mamanya. Dia berusaha mendamaikan perasaanku. Tapi itu selalu tidak berhasil. Hatiku gelap. Aku tak bisa melihat sedikitpun kebaikan dari mertuaku. 

Setiap pagi, siang dan malam. Mertuaku selalu menyetok bayam dan katu dikulkas. Dia menyuruhku untuk selalu memakan sayur agar ASI ku lancar. Jika aku tak membuat karena malas maka mertuaku pasti membuatkannya. Sepanci penuh. Aku tak protes, memang benar Katu melancarkan ASI, tapi apa jadinya jika itu dijadikan seperti cemilan yang harus kau konsumsi setiap saat? Ya, muak. Bosan. Terlebih kondisi Ibu Menyusui sebenarnya bukan hanya butuh sayur, tapi karbohidrat. Aku sukses menjadi anak super kurus disana. 

Sejak kecil aku anti sekali berbicara dengan orang yang lebih tua. Tapi sejak berumah tangga aku harus bisa agar terlihat normal. Sayangnya pembicaraanku kadang tak selalu berjalan mulus. Alasan Pertama adalah aku amatiran dalam berbicara. Alasan Kedua, mertuaku sudah tua, perasaannya tentu mudah tersinggung jika menerima kritik. Maka, diam dan pura-pura setuju adalah pilihan terbaik.

Setiap hari Mertuaku memasak untuk suamiku. Aku yang masih menyusui kadang membantu sesekali. Aku tak terlalu suka dengan sistem dapur ala mertuaku. Setiap pagi harus memasak air dikayu bakar, kuno sekali. Padahal kompor gas sudah tersedia disana. Beliau bersikeras tentang peraturan yang satu itu walau banyak anak yang membantah. Aku sebenarnya alergi dengan bau asap. Dan kamar adalah tempat teraman dari asap. 

Semakin hari aku semakin mengerti bahwa suamiku tergila-gila dengan masakan Mamanya. Segala masakan yang dimasak oleh mertuaku selalu berhubungan dengan asap_ikan panggang, wadai bikang. Akupun diam-diam mengingat segala bahan dan cara memasak ala mertuaku didapur. Aku bertekad, aku harus bisa nanti. 

Bermalas-malasan dirumah mertua adalah hal yang dinamakan serba salah. Aku adalah anak tercanggung dalam penyesuaian dilingkungan yang baru_terlebih jika pada lingkungan itu banyak sekali orangnya. Iparku banyak dan masih berkumpul. Setiap pagi masing-masing memiiki job description tersendiri. Tinggallah aku melongo atau berpura-pura sibuk dengan bayi. 

Ketika anakku menginjak usia satu tahun 2 bulan kami memberanikan diri mengambil rumah secara kredit. Suamiku Sepertinya mengerti dengan aku yang serba salah dirumah mertua. Aku benar-benar bersyukur dapat memiliki rumah dan merenovasinya dengan uang tambahan dari pekerjaan sampingan suamiku. Aku mulai mantap untuk mengganti peran pelayan yang selama ini selalu diambil alih oleh Mertuaku. Sebenarnya, jauh dilubuk hatiku aku ingin melakukannya juga, ingin dapat pujian juga.

Aku mulai belajar memasak. Semua masakan favorit suamiku mulai aku tekuni prosesnya. Dari mulai menyalakan api tanpa minyak gas, membuat bikang, membersihkan ikan sungai hingga mencoba memberi penilaian plus pada diriku dengan mengeksplorasi skill baking. Aku terobsesi untuk melebihi Mertuaku. Aku cemburu setiap kali disebut masakan Mertuaku lebih baik dibanding masakanku. Lihatlah, tanpa disadari aku menjadikan Mertuaku sebagai Rule Mode dalam kehidupan pertama Rumah Tanggaku. 

Hubunganku dengan mertua semenjak berpisah rumah berangsur-angsur membaik. Walau Aku sebenarnya masih agak kesal jika kerumah beliau selalu bertanya “Makan apa tadi? Kalo bikin anu tu begini begini jangan begini nanti bisa begini…. Bla bla”. Sebenarnya aku sudah lumayan memperhatikan cara memasak beliau kan? Dan suamiku selalu bilang enak kok. Aku sudah berusaha melayani suamiku melebihi mertuaku. 

Hal yang lebih menyebalkan adalah jika aku sudah capek-capek menyiapkan makan untuk suamiku, tiba-tiba saja sang mertua memberi makanan untuk dimakan suamiku pula. Seolah-olah tak mau kalah denganku. Aku, dengan sifat kekanakanku sering sekali ngambek dirumah. Ngambek dengan kekalahan. Merajuk dan tak mau memasak. “Makan ditempat mama aja sudah sana” kataku. 

Butuh waktu lama untukku agar bisa memahami apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Mertuaku. Mengapa mertuaku tak henti-hentinya mencuri perhatian suamiku. Rasa Cemburu dan obsesi untuk melebihinya telah membuatku lupa. Lupa akan Bagaimana rasanya menjadi Ibu tua yang Janda. 

Suamiku, sepertinya adalah salah satu anak yang memiliki ikatan erat dengan Mamanya_melebihi saudara lainnya. Sejak Ayah suamiku meninggal, suamiku adalah salah satu anak yang mengisi kebahagiaan batin Mamanya_Mertuaku. Dan bagaimana mengisinya? 

Yaitu dengan memasak. Mertuaku memiliki passion memasak. Rasa cinta tersalur untuk orang-orang yang disayanginya melalui memasak. Menerima pujian dari Suaminya adalah hal yang paling membahagiakan. Sejak suaminya meninggal, pujian dari anaknya_lah yang diharapkan untuk membuatnya merasa senang. 

Aku kemudian menyadari bahwa semua pujian dari suamiku_semua pujian yang dilebih-lebihkannya dihadapan mertua ku sama sekali tak layak untuk aku cemburui. Pujian itu adalah salah satu bentuk rasa bakti yang ditunjukkan suamiku untuk Mamanya. Orang yang merawatnya sejak bayi, membesarkannya dan menyayanginya hingga sekarang. Ah, lantas siapa aku ini, yang selalu cemburu buta dan memasang wajah cemberut setiap kali pujian itu ada. Aku hanya orang yang baru beberapa tahun mengenal suamiku. 

… Namun ia telah memutuskan untuk hidup serumah denganku..


Aku menatap tanaman lidah mertua dibalik jendela kamarku. Tanaman dengan bentuk daun menyerupai lidah yang terkesan tajam. Yah, lidah mertua. Memang sesuatu sekali tanaman ini. Dengan namanya terdengar negatif namun ia telah menyerap udara racun yang ada disekitarku, menciptakan udara segar untuk kuhirup. Mertua memang ikatan unik yang kusyukuri karena telah merubah hidupku. 

Dari rasa Cemburu aku akhirnya belajar untuk lebih baik. 

Dari Cemburu aku memiliki cita-cita baru, ingin menjadi seperti-nya. 

Dari Cemburu aku mengenal arti cinta yang sebenarnya. 

Terima kasih telah mengenalkanku pada rasa Cemburu ‘yang benar’ Mertuaku.. 

Surat Untuk Mama, “Maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga” 

Surat Untuk Mama, “Maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga” 

Sudah lima tahun lebih ya Ma sejak aku lulus kuliah di umur 21 tahun..Kini umurku sudah hampir 27 tahun. Cucumu sekarang sudah cukup besar, umurnya sudah 4 tahun. Sebentar lagi dia akan sekolah di Taman kanak-kanak. Lihatlah, sejarah akan berulang kembali, sama seperti ketika kau menyekolahkanku waktu kecil. Kini keluarga kita sudah memiliki generasi baru. 

Kau tau, dari seluruh artis, guru, hingga semua orang yang kugemari, kau tetap nomor satu bagiku. Kau adalah Rule Mode pertamaku. Aku adalah seorang peniru yang meniru semua perilakumu. Bahkan, sedari dulu aku terobsesi untuk bisa sepertimu. Menjadi wanita yang mandiri sepenuhnya. Aku tak mau kalah darimu. 

Aku masih ingat kau selalu menyuruhku bercita-cita untuk memiliki karir diatas mu. 

“Winda mau jadi apa kalau sudah besar?”

“Jadi Guru TK kayak mama” ucapku Polos

“Kalau bisa cita-cita itu harus diatas mama, mama jadi Guru TK paling tidak anaknya jadi Guru SD, Guru SMP, Guru SMA, jadi Dosen”

Aku membenarkan kata-katamu. Aku harus bisa menjadi lebih darimu agar aku dapat membanggakanmu. Asik sekali kan jika nanti kau berkumpul diantara komunitasmu dan membanggakanku sudah bisa ini, itu. Sudah bisa berstatus sosial diatasmu, sudah bisa memperoleh uang yang lebih banyak darimu. 

Seiring berjalan waktu cita-citaku berubah-ubah. Kau bukan lagi Rule Mode bagiku. Aku terlalu capek melihatmu sibuk. Sibuk membuat Kue untuk dijual selain itu Mama juga Ibu pekerja. Terkadang Mama marah padaku tanpa sebab yang jelas. Ketika sudah ‘sedikit’ besar aku mengerti bahwa sumber kemarahanmu hanya satu. Uang. 

Kau membuat pengertian baru dalam otakku. 

“Lihat, Gajih Guru itu ya segini-segini aja.. Ga cukup untuk (bla bla) makanya mama sambil usaha jualan kue..”

Aku mulai menggaris bawahi Tujuan Hidupku. Jangan pernah menjadi Guru, nanti kau harus punya pekerjaan tambahan untuk terus menyambung hidup. Nanti hidupmu terlalu capek. Dan satu lagi, jangan pernah menikah dengan Guru pula. Nanti hidupmu bokek selamanya. 

Kau tau ma, ketika sekolah SD didekat rumah kita yang tergolong kampung aku selalu dikenal sebagai Anak Orang Kaya. 

“Lihat, Mama dan Ayahnya PNS keduanya.. Anak orang kaya dia tuh”

Nyatanya aku sama sekali tak pernah merasa jadi orang kaya. Kau bilang juga kita ini tidak kaya. Aku hidup dengan dipenuhi rasa empati padamu. Bahkan untuk membeli sesuatu yang aku benar-benar inginkan saja aku jarang meminta. Sejak SD aku rajin menabung. Untuk membenarkan pendapat teman-temanku bahwa aku orang kaya. Aku masih ingat betapa senangnya saat kau membelikan jam tangan untukku dengan menambahkan uang pada tabunganku. 

“Hidup itu harus rajin menabung, anak-anak desa itu mana tau arti sekolah hingga kuliah. Mereka cuma mau tamat SD saja. Makanya uang mama mereka cuma habis untuk jajan mereka, mereka ga punya tujuan hidup seperti mama yang ingin semua anaknya sukses”

Aku harus sukses. 

Rasa empati pada mama membuatku tumbuh menjadi pribadi lain. Impianku adalah memiliki banyak uang. Bagaimana? Belajar. Belajar untuk selalu menjadi yang terbaik dikelas. Aku memiliki Rule Mode kecil yang selalu membayang-bayangi kehidupanku. Dia adalah Kakakku. Si Pintar yang selalu Juara. 

Kau tau Ma, sejak kecil aku sudah merasa berbeda dengan kakakku. Kakak itu pintar, mama sendiri yang bercerita bahwa sejak umur 3 tahun dia sudah bisa membaca. Dia belajar otodidak dengan bertanya padamu. Aku? Sejak kecil aku tak punya ketertarikan dengan Rangkaian Huruf dan Angka. Aku lambat dalam belajar. Aku lebih suka mengkhayal sambil menggambar. Tapi apakah Gambar akan menjadi uang ketika aku sudah besar? 

Ketika aku bisa menulis untuk pertama kalinya kau tau apa yang aku lakukan? Ya, Aku menulis, menulis segala yang kubisa. Tulisan pertama ku adalah prasasti yang kutulis ditembok rumah kita. Aku masih ingat kata-katanya. 

Winda anak Mama

Wanda anak Abah

Seiring berjalan waktu aku mulai suka menulis curhat di buku tulis. Terkadang tulisanku dibaca oleh kakak dan diperlihatkan kepada Mama. Saat aku dimarahi mama, saat aku bertengkar dengan kakakku aku menuliskannya. Itu sudah menjadi semacam terapi untukku. 

Seiring berjalan waktu aku tetap hoby menulis. Aku punya buku tulis khusus untuk menuangkan imajinasi konyolku. Dibawah tulisan aku memuat gambar ilustrasi. Aku senang dengan buku cerita yang mama belikan. Aku pikir aku perlu membuat satu dengan namaku dibawahnya.

Apa Mama tau hoby konyolku itu? Kupikir Aku baru kali ini berusaha mengungkapkannya. Sejak SMP anakmu punya koleksi surat cinta gombal palsu hasil dari perwujudan agar mendapat penerimaan dari teman dan lingkungannya. Kemudian hoby menulis konyolku menghilang begitu saja seiring berjalannya aku pada dunia ekstrovert dengan teman-temanku. 

Aku selalu melirik bayangan hidup yang menghantui persainganku didalam keluarga. Kakakku. Untuk mengabadikan gengsiku padanya aku bahkan malas bertanya dengannya jika menemui kesulitan. Aku memutuskan untuk menempuh jalanku sendiri untuk memperoleh kebanggaan darimu. Jika kakakku lulus di Universitas jurusan Kedokteran, maka Aku akan menghasilkan lebih banyak uang dengan menempuh jalan pada Ilmu Akuntansi. 

Ilmu akuntansi sebenarnya adalah ilmu pelarian. Aku menyukai angka yang memiliki 0 banyak itu hanya karena aku ingin memilikinya, menjadikannya bagian hidupku untuk menyenangkanmu. Pada kenyataannya setiap malam aku hanya menulis cerita konyol hidupku lagi kemudian menulis cerita pendek konyol dan hobi sekali dengan dunia online. 

Mungkin karena nafsu ‘materialistis’ ku Tuhan tak meluluskanku pada tes STAN dan UMPTN, bahkan untuk jalur undanganpun aku tidak lulus. Aneh mengingat saat SMA aku lumayan sering juara di kelas 2 dan 3 SMA. Aku kemudian terdampar di Politeknik Negeri Banjarmasin, mendaftar di Program Studi D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah. Syariah? Lihatlah ma, Tepukan Tuhan yang pertama untuk nafsu Materialistisku. 

Sejak kuliah aku banyak berubah. Aku mulai mantap untuk memakai kerudung. Bahkan sejak awal masuk aku tak pernah ketinggalan memakai rok, diluar dunia kampuspun begitu. Dunia terdamparku di jurusan islami ini sudah menghapus sedikit demi sedikit materialistisku. Meskipun aku masih berharap sedikit penerimaan diluar lingkunganku dengan terkadang memakai jeans diluar. 

Dunia terdampar ini juga mempertemukanku dengan jodohku. Dia adalah asisten dosen dijurusanku. Seiring berjalan waktu aku pun menikah. Aku masih ingat sebelum itu kau begitu bersemangat melihat ada lelaki yang mendekatiku dengan sopan. Kau menyukainya, kau langsung menyuruhku menikah dengannya begitu tau dia ingin meneruskan S2-nya. 

Aku berpikir begitu lama untuk langkah hidup yang begitu mengejutkan ini. Aku bahkan belum lulus waktu itu, masih menyusun Tugas Akhir untuk syarat kelulusanku. Dengan berbekal sholat Istiharah aku mendapat sebuah petunjuk dan aku menurutinya. Jalan-Nya dan saranmu adalah yang terbaik bagiku. Dan akupun menikah. 

Aku masih ingat betapa bahagianya wajahmu saat itu.. Mama. Entahlah apa yang kau pikirkan. Bagiku, saat itu saat yang membingungkan. Ketika Ijab Kabul itu diucapkan pikiranku langsung berputar gelisah. Kemana aku mulai saat ini? Apa Mama akan aku tinggalkan mulai saat ini? Dimana aku nanti? Apa rumah mertua akan menjadi surga baru untukku? Dan.. Kemana pula cita-cita membahagiakan Mama dengan Uang itu? Hilang begitu saja? Ya, ampun aku bahkan belum lulus..

Ah, ada KB. Tentu saja, KB akan menyelamatkan hidupku dari ancaman belenggu Rumah Tangga yang tak aku inginkan. Siapa yang mau jadi Ibu dengan umur masih muda dan belum bekerja? Masih banyak jalan yang ingin Aku tempuh untuk membahagiakan mama. Aku mau melanjutkan kuliahku. Aku tak mau menjadi Banker, Akuntan atau pekerjaan berdasi lainnya. Aku sudah membuang jauh-jauh sisi materialistisku. Aku ingin menjadi Dosen, dia Rule Mode terakhirku. Suamiku. 

Saat lulus Kuliah aku mendengar ada penerimaan Beasiswa S2 di Politeknik Negeri Pelaihari, 2 seniorku lulus disana. Semangatku berapi-api, Aku langsung menceritakannya padamu Ma, Kau begitu senang mendengarnya. Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu “Anakku takkan berpisah jauh dariku karena bekerja disini”. Aku pun sungguh bahagia dan berpikir “Aku takkan jauh dari Mama, Aku akan bekerja disini, memperluas dan menyalurkan ilmuku disini” 

Aku dengan semangat berapi-api menulis lamaran dan CV di kampus kampungku itu. Suamiku memberi semangat. Iseng, aku bertanya padanya. 

“Terus, Kaka nanti gimana? Pindah kerja ya? ”

“Bisa juga sih, tapi lulusin S2 dulu” Katanya (dia saat itu masih dalam tahap tes masuk) 

Aku memasukkan arsip lamaranku dilemariku. Masih ada beberapa berkas yang belum lengkap. Tak lama kabar bahagia darinya datang “Aku lulus penerimaan S2 di UGM” katanya. Aku bersorak senang “Aku juga akan kuliah lagi” kataku. 

Dua bulan lebih berlalu dari tanggal pernikahan kami. Aku belum juga dapat Tamu bulanan. Dia cemas. Jangan jangan..

Ya, Aku hamil. Testpack itu membuat kami berdua shock. Terus terang menunda kehamilan adalah prioritas utama pernikahan kami. Kami masih punya banyak cita-cita bukan? Kami? Maksudku, aku. 

Belum lagi shock itu pudar. Aku masih terbayang-bayang bisa diterima dikampus Pelaihari untuk program beasiswa, kemudian aku mendengar mertuaku menangis tersedu berbicara dengan suamiku disebelah kamarku. Sudah jelas, Mertuaku tak mau Suamiku mengikutiku bekerja di pelaihari. Dia ingin anaknya ada untuknya. 

Untuk pertama kali dalam lembaran hidupku aku begitu membenci Mertuaku. Kebencianku begitu dalam ketika aku hamil. Tapi aku menahannya. Aku cemburu padanya. Aku tak ingin dekat-dekat dengannya_orang yang merampas cita-citaku. Pikirku. 

Demi menuruti hadist sahih tersebut Aku dengan rela mengalah. Tapi sekaligus merasa terkekang. Seumur hidup diriku bebas bereksplorasi. Setelah menikah keinginan terbesarku dikendalikan oleh Suami_yang tadinya setuju dengan usulku lalu dikendalikan oleh Mertua. Lalu dimana hak mama untuk turut menikmati kesuksesan anaknya? Tak adil hidup ini. Pikirku. 

Suamiku akhirnya berangkat untuk kuliahnya. Aku memutuskan tinggal untuk ‘menghemat uang’. Malu rasanya sudah menikah masih saja minta uang padamu Ma. Bahkan tinggal dirumahmu saja malu, tidak bekerja pula. Aku waktu itu adalah Wanita Hamil yang uring-uringan memikirkan masa depannya dan anaknya. Dan saat itu kau sibuk untuk persiapan resepsi kami. Ya ampun merepotkan sekali ya anakmu ini. 

Jujur saja Ma, Seandainya boleh memilih aku lebih memilih tidak usah resepsi saja. Kalaupun resepsi cukup sederhana dirumah saja. Aku tidak berharap menjadi Putri Raja dalam sehari dengan menghabiskan begitu banyak biaya. Tapi demi melihatmu berdiri bersalaman dengan para tamu sambil membanggakan anaknya. Aku rela jadi ondel-ondel sehari. Tukang rias itu bahkan bersikeras untuk memangkas habis alisku yang katanya seperti hutan ini. Aku rela Ma menangis sembilan bulan meratapi alisku yang gundul. 

Betapa sering aku merengek padamu. Mau bekerja kataku. Lihatlah anakmu yang uring-uringan pada kehamilannya ini. Tapi kau bersikeras mencegahku. Tunggu tes PNS saja, katamu. Teman-temanku mulai mendapat pekerjaan di swasta dan bank. Demi tak tahan dengan rasa iri aku memutuskan untuk berhenti bersosial media. Cukup puas dengan membuka forum Ibu Hamil dan mendapatkan banyak informasi untuk menjaga kehamilanku. 

Andai aku bisa meminta. Ingin rasanya aku menyusul suamiku keyogya. Tapi aku terlalu berempati padamu. Malu meminta uang padamu_untuk membeli tiket. Malu, sudah menikah masih menumpang makan dirumahmu, tidak memberimu apa-apa. Tapi terkadang aku merasa kesal didalam hati kenapa Mama selalu mengungkit-ungkit biaya resepsi yang 100% uang mama. Bukankah mama tau suamiku bukan orang kaya. Dia punya 4 adik yang masih sekolah dan mertuaku janda. Bukannya Mama yang terlalu mendorongku untuk menikah? Apa salahku jika kehidupan ekonomiku bergantung pada Mama? Aku tau, uang 300ribu sebulan yang diberi suamiku tak ada apa-apanya dimata Mama. Taukah Mama bahwa demi tak meminta uang padamu aku sering merelakan dunia sosialku hilang_tak ada kuota. Aku berharap kau sedikit simpati padaku saat itu, betapa banyak pasangan muda yang masih ‘diberi’ oleh orang tuanya ditahun pertama pernikahan. Aku saat itu hanya menuntut rasa bangga darimu_dari tekanan hilangnya duniaku dulu. Akhirnya akupun bertengkar dengan Mama. 

Sungguh, sebagai Anak aku menyesal terlalu sering membuatmu menangis, Ma.. Aku bahkan membuatmu menangis saat aku sendiri tak pernah bisa membanggakanmu. Aku bingung, bagaimana meminta maaf denganmu. Akhirnya pada suatu malam tangisanmu pecah kembali. Tangisan yang berisi pengakuan. Cerita kehilangan. 

“Aku merasa kau telah diambil sepenuhnya”

Kata-kata itulah yang kudengar. Ya, dengan egoisku aku membuat ceramah panjang untuk mama hingga mama menangis tanpa pernah memikirkan perasaannya. Bagaimana rasanya memiliki anak yang kau besarkan sejak kecil, menyekolahkannya hingga pintar kemudian pergi meninggalkannya begitu saja_dibawa oleh orang asing yang hanya bermodalkan cinta dan tanggung jawab semata. Aku hanya ingin bersama dekat dengan anakku dan memeluk cucu pertamaku setiap hari. 

Aku akhirnya sadar. Mama kini tak berharap uang dariku. Dia hanya ingin dekat denganku dan Mertuaku ingin anaknya/suamiku dekat dengannya. Aku dihadapkan pada pilihan sulit. Suami? Atau Mama? 

Beberapa bulan sebelum hari kelahiran anakku, Mama membawaku berjalan-jalan ketoko perlengkapan bayi. Kau membelikanku semuanya. Ya, memakai semua uangmu. Rupanya untuk itulah alasan kau terlihat cuek dengan krisis keuanganku. 

Pilihanku semakin sulit ketika Hari Melahirkan tiba. Suamiku tak bisa datang. Hanya Mama dan Ayah yang membantuku. Mama_yang paling utama dalam membantuku. Karena suatu masalah Aku terpaksa melahirkan cesar. Sungguh, malu sekali rasanya pernah membuat Mama menangis sementara Aku dibantu pi*is dan p*p oleh Mama. Mama adalah pilihan yang sulit untuk ditinggalkan. 

Memiliki anak tanpa dampingan suami membuatku terkena babyblues. Walau mama sangat membantuku namun kebahagiaan psikologis ku terganggu. Disamping itu selama 1 minggu ASI-ku tak keluar. Stress mulai menggerogotiku. Andai suamiku datang aku tak mau pulang kerumah mertua pikirku. Aku ingin dengan Mama dan suamiku saja. 

Tapi aku salah. Suamiku pulang saat anakku berusia 3 bulan dan aku tinggal di Rumah Mertua. Babyblues mulai menghantuiku. Mertuaku jauh berbeda dengan Mama. Aturan zaman bahari itu membuatku semakin stress. Ditambah dengan kolotnya pemikiran tentang peran suami dalam membantu membuatku ingin pulang.  Pulang adalah tempat dimana orang yang mengerti dan memperdulikanmu ada. Dan tempatku pulang adalah rumah mama. 

Tapi inilah kenyataan Ma. Kita memang harus berpisah_jarak. Aku sudah terikat janji sebagai seorang istri. Aku sudah meninggalkannya selama kuliah S2_aku memilih bersamamu saat hamil hingga cucumu berumur 3 bulan. Inilah saat aku harus mendampinginya. Menjadi Istri dan Ibu yang harus belajar. Aku memilih mendampinginya dan berada dirumah ini. Rumah Mertua. 

Saat Tes PNS tiba kau begitu bersemangat ma. Saat itu usia Bayiku masih 6 bulan. Aku mendaftar tes administrasi dan ternyata tidak lulus. Status D4 tak sama dengan S1. Aku tau, kau pasti sangat kecewa. Seolah-olah semua perjuanganmu untuk suksesku sia-sia. Akupun merasakan hal yang sama. 

Saat anakku berusia 1 tahun kami memberanikan diri membeli rumah_berhutang denganmu, Ma. Lihatlah betapa merepotkannya Anakmu ini. Aku tau kau ikhlas membantu. Aku butuh rumah sendiri Ma, untuk menyehatkan kondisi psikologisku_meskipun aku lebih suka jika serumah denganmu. 

Alhamdulillah, karir suamiku didunia IT terbilang sukses. Lewat berbagai pekerjaannya di web, kami akhirnya bisa merenovasi rumah kami hingga begitu besar. Lihatlah Ma. Ini pencapaian Suamiku_orang yang kujaga semangatnya dan berusaha aku sukseskan lewat pengabdianku sebagi istri. Dia tiba-tiba saja punya uang banyak untuj merenovasi rumah Ma.. Padahal tadinya dia hanya Asisten Dosen PNS saja. Kini dia sudah S2, konsultan IT pula. 

Tapi Aku masih belum bisa memberi apa-apa padamu. Uang suami memang uang istri tapi masih tak layak diberikan padamu karena untuk sehari-hari uang ini terbilang pas-pasan untuk hidup kami. Aku bahkan tak bisa menghiburmu setiap hari dengan senyuman dan ocehan cucumu. Aku sangat tertinggal_jika dibandingkan kakakku yang berprofesi sebagai Dokter dan setiap bulan memberimu uang. 

Tawaran pekerjaan beberapa kali kau tawarkan akhir-akhir ini. Iya Ma, Aku tau Anakku sudah cukup besar untuk Aku tinggalkan bekerja. Tak ada lagi alasan untukku untuk pemalas dan tak bekerja. 

Tapi aku sudah terlanjur Cinta dengan Rumah ini.. Ma.. 

Aku terlanjur menyukai kegiatan dapur yang dulu selalu aku keluhkan, aku tak bisa melepaskannya. Aku tak bisa membiarkan Suamiku tak merasakan cintaku dari makanannya. 

Aku terlanjur menyukai Kedekatanku dengan Anakku. Ada Bonding aneh yang tak bisa Aku lepaskan hingga sekarang. Saat dia memelukku dan dengan lancar dan bilang “sayaaang mama”, menciumku dan bertanya konyol padaku. Aku pikir hanya aku yang bisa menjawab segala pertanyaan konyolnya yang tanpa henti. 

Aku tertular denganmu Ma. Kau yang selalu Memasak untukku, membersihkan rumah dan merapikannya dengan sempurna, menjadi Guru TK saat aku Sekolah, selalu nampak paling cantik diantara komunitasmu, namun satu kekuranganmu Ma. Kau terlalu Capek karena mengemban semuanya seolah-olah sendirian saja. Berjuang terlalu keras untuk ekonomi keluarga. Kau terlalu super woman untuk aku tiru. 

Jika Mama merasa Ayah yang hanyalah guru tak cukup untuk memenuhi ekonomi keluarga maka Aku sebagai anak yang belajar dari kehidupanmu merasa bahwa Suamiku memiliki Passion yang lebih dibanding seorang Guru saja. Aku memutuskan untuk mendukung segala hoby suamiku dari belakang layar. Ikhlas dengan Nafkah yang terbagi bukan hanya untukku namun juga untuk Ibunya. 

Mengertilah Ma, Aku tak bisa menjadi sepertimu. Membagi diri terlalu banyak untuk menjadi tulang punggung. Aku sudah cukup mendapat pelajaran dari kehidupanku. Bahwa rezeki keluarga diperoleh dari kerja sama yang pas. Ayah mungkin adalah suami yang ideal untukmu yang merupakan wonderwoman. Tapi suamiku tak seperti Ayah_sang penolong dalam kegiatan Rumah Tangga. 

Aku tau kau takut menerima kenyataan aku tak mandiri secara finansial. Nyatanya Aku mulai berusaha Ma. Walau tak terlihat namun Aku percaya, segala yang aku lakukan sekarang adalah Investasi. Aku punya catatan Akuntansiku sendiri untuk rezeki ku. Ingat Ma, Aku ini Sarjana Sains Terapan Akuntansi Syariah. 

Percaya padaku Ma.. Cukup percaya dengan langkahku dengan tak mengatakan bahwa ini adalah langkah kepasrahan. Banggalah dengan status Ibu Rumah Tangga padaku. 

Aku memang hanya Mengurus Suamiku. Meninggalkan cita-citaku dahulu. Tapi suamiku meneruskan cita-citaku. Mengurus suamiku berarti memperjuangkan cita-citaku. 

Ditulis dengan air mata kerinduan. 

Seorang Ibu yang menemukan Rumah Baru dan menghapus kekecewaan dari orang yang selama ini menyayanginya. 



IBX598B146B8E64A