Browsed by
Month: November 2021

Sebuah Curhat Tentang Apa Hal yang Terjadi Sama Aku

Sebuah Curhat Tentang Apa Hal yang Terjadi Sama Aku

Lama betul blogmu kosong win? Kenapa? 

Ya, salah satu temanku bertanya. Dia memang seorang silent reader. Sahabat baik yang berlangganan membaca blogku tiap minggu. Karena setiap minggu memang selalu update. 

Banyak teman yang gak tau sekian minggu ini apa yang sebenarnya aku kerjakan. Kenapa blogku gak aktif. Gak ada blogwalking atau bahkan sekedar nulis receh. 

Aku Sedang Membalut Hatiku

Mohon maaf. Maaf sekali. 

Aku sangat jarang meledak lagi di blog. Tapi sebulan belakangan hidupku benar-benar berada dalam masalah yang tak terlihat. 

Orang menatapku sebagai istri beruntung karena suamiku baru saja membangun kantor besar untuk perusahaan kami. Dibalik itu, orang gak tau apa yang terjadi dengan perusahaan kami. 

Bukan masalah ekonomi. Kerugian atau semacamnya. Aku sudah bilang bukan? Ini masalah hati. 

Izinkan aku curhat. Kalau kalian tak berkenan. Boleh saja tutup cerita ini 

Suamiku memulai usaha di bidang IT sejak kelahiran Farisha. Usaha ini bergerak dibidang pengadaan hardware hingga software. Awalnya, hanya berbentuk CV biasa. Kantornya pun tak ada. Hanya rumah uring-uringan. Pegawainya pun datang dan pergi. Pegawai tetap dan otak sesungguhnya adalah suamiku. Dia yang mengerjakan proyek berbagai software di pemerintahan. Namun, memakai CV yang diurus oleh kakaknya. 

Kakaknya cekatan dibagian administrasi dan pengurusan CV. Sementara suamiku cekatan sebagai programmer software. Kakak laki-laki nya khusus menangani hardware. Namun dalam perkembangannya, CV ini seakan menjadi milik keluargaku. Karena memang proyek software jauh lebih menjanjikan keuntungannya. 

Time flies, aku hamil Humaira. Suamiku mencoba bisnis baru dalam IT, yaitu membangun openjournaltheme. Wah, pekerjaan ini luar biasa. Klien kami bukan lagi sekedar orang-orang dalam pemerintahan. Melainkan dari berbagai negara. Atas tuntutan dari konsumen, suami tak lagi membutuhkan CV dalam perkembangan usaha barunya. Namun lebih membutuhkan badan usaha berbentuk PT. So, jadilah usaha baru suami berbentuk PT dengan 4 orang pegawai. Dua diantaranya adalah programmer handal. Satu adalah master SEO dan Adsense atau lebih tepatnya marketing online. Satunya adalah costumer service yang luar biasa. Empat tim kami sudah sangat komplit. Saking komplit nya, kami melupakan CV dan lebih fokus pada PT. Suamipun memiliki impian jangka panjang. Ia ingin membangun kantor dan mengumpulkan tenaga kerja programmer demi membangun perusahaan IT yang benar-benar sukses milik banua. Itu belum ada disini. Bukankah luar biasa jika kami memulainya? 

Masalah timbul ketika suami membangun kantor. I don’t know kenapa dia ingin membangun kantor yang letaknya hanya sekian langkah dari rumah mertua. Dua kakak perempuannya yang sudah berhenti bekerja pun mengharapkan mendapatkan ‘porsi’ pada perusahaan. Mereka ingin menggerakkan CV kembali di kantor itu. 

Awalnya, kami tidak masalah. Sungguh tak apa. Kita ingin membantu ekonomi keluarga juga bukan? 

Masalah timbul ketika ipar aku atau 2 kakak perempuan suami menuntut macam-macam pada kantor baru kami. Iparku yang pertama ingin agar suaminya bekerja disana dan bergajih tetap. Iparku yang kedua ingin agar ia ditempatkan dibagian marketing CV dan mendapatkan 60% dari proyek hardware dan software. Tak hanya itu, aku melihat mereka juga menuntut kami untuk mempekerjakan 2 saudara suami yang menganggur. 

Awalnya kami tak apa. Tapi keadaan demikian membuat kami bersengketa. Kantor kami seakan dijadikan simbol bahwa duit kami begitu banyak. Padahal, masih banyak tujuan yang ingin dicapai. Suami ingin membantu para programmer handal yang tidak berdaya. Bukan menjadikan kantor seperti kantor keluarga yang isinya adalah keluarga yang tidak memiliki skill yang dibutuhkan. 

Kedua iparku kecewa dan menganggap kami sebagai keluarga yang ingin menang sendiri. Tak berempati pada keluarga dsb. Dan iparku yang satu juga menghasut mama mertua plus ipar yang satunya lagi. Kami jadi bergerak serba salah. Kesana dikritik, kesini dikritik. Seakan tak boleh benar-benar bergerak. 

Padahal, perusahaan kami baru saja ingin maju dan bergerak. Tapi uang kas kami sudah dihutang oleh ipar, diperebutkan persenan, hingga persekutuan nepotisme. Belum juga proyek jalan. Sudah sedemikian dipelorotin oleh keluarga. Suamiku pusing, aku juga bingung harus bersikap bagaimana. Aku sudah berusaha menengahi lewat berbicara dengan mertua. Tapi, mertuaku lebih memihak ipar yang menangis paling deras perkara 60%, perkara drama kami tak berempati dsb. Padahal mereka tidak tau tentang kondisi keuangan kami, tujuan masa depan kami hingga apa value yang ingin kami bangun. Mereka tidak tau dan menuntut macam-macam. 

Aku berada pada posisi serba salah. Tapi, hari hari berlalu posisiku bukan lagi dianggap serba salah tapi bagaikan sebuah kambing hitam dalam perseteruan saudara. 

Aku Tidak Bersalah

Aku yang sehari-hari di kantor ini bagaikan seorang upik abu. Bekerja menyiapkan cemilan, membersihkan kantor, hingga support semua kebutuhan suami. Aku tak punya ART. Aku memiliki 2 anak. Dan aku selalu memasak setiap hari. 

Akhirnya 2 minggu belakangan membantu usaha suami. Aku memberdayakan skillku yang dulu. Aku tak pernah bercerita bukan? Bahwa aku adalah lulusan D4 Akuntansi Syariah. Dan aku senang dengan managemen. Selama konflik berlangsung, aku mengurus keuangan perusahaan. Aku tau belakangan keuangan tak sehat karena suami dituntut untuk selalu support keluarganya. 

Apakah kalian tau? 

Nafkahku selama sebulan sebanyak 3 juta. Dan itu sudah termasuk biaya untuk cemilan pegawai. Untuk biaya tambahan seperti anak sakit dan keperluan lainnya aku memakai uang tambahan hasil pekerjaanku sendiri. Aku blogger sekaligus influencer receh yang kadang mendapatkan fee. Aku tau setiap kali suamiku mendapatkan untung sekian tus atau sekian luh. Tapi? Aku tak pernah meminta. Karena tahu bahwa suamiku juga punya prioritas plus keluarga yang ditanggungnya. 

Sebagian istri berkata bahwa uang suami adalah uang istri. Tapi bagiku tidak demikian. Aku tau yang namanya kebutuhan itu harus dibagi rata. Aku menekan segala inginku demi kebutuhan keluarga suami. 

Kalian tau? Pernah Pica menagih minta belikan Wacom untuknya belajar menggambar. Aku menyuruh Pica untuk minta pada Ayahnya. Ayahnya menyuruhku untuk membelikan Pica memakai uangku. Aku tak apa. Disisi lain, Kakak Iparku meminta suamiku untuk membelikan laptop anaknya. Suamiku memberinya uang. 

Kalian tau? Pernah anakku sakit telinga tak tertahankan. Aku tak sempat mengurus BPJS nya. Aku mengeluarkan uang satu juta milikku. Aku menagih kok kepada suamiku. Tapi dia diam saja. Dia tau ada salah satu kakaknya yang suaminya tidak bekerja. Aku memahami hal itu. 

Yang tidak aku pahami adalah.. Kenapa mereka semua menganggapku tidak berempati? Mengapa mereka tidak tau bahwa akupun juga berusaha? 

Aku bertanya pada salah satu temanku tentang masalahku. Dia berkata padaku, “Kamu sabar sekali. Kalo aku jadi kamu. Sudah lama mungkin rumah tangga itu aku tinggal lari. Suamimu lebih memprioritaskan keluarganya dibanding kamu. Tapi kamu tetap stay layaknya pembantu. Dan ngenesnya. Kebutuhan anak pun juga kamu yang support. Keluarga suamimu tak tahu diri. Diberi hati minta jantung”

Keberadaanku di kantor sambil mengasuh anakku rupanya dijadikan buah bibir oleh masyarakat sekitar. Kebetulan, masyarakat sekitar merupakan teman ngobrol mama mertua. Mereka sepertinya mengira bahwa aku merebut kekuasaan ipar demi uang perusahaan. Padahal, tidak begitu. 

Aku bolak balik ke bank untuk mengurus rekening perusahaan. Demi support suami. Aku kesana kemari membawa Humaira yang masih 2 tahun. Ia menangis digendonganku. 

Aku pernah berkata pada mama mertua bahwa Humaira ingin aku masukkan penitipan karena aku ingin bekerja membantu suami. Mertua tidak mengizinkanku. Aku tak tau kenapa. Mungkin  uang pangkalnya itu tergolong besar. Aku mengiyakan. Toh aku bisa kerja bersama anak, sambil masak, sambil ngepel, sambil ngitung, sambil ini itu. 

Dan aku difitnah oleh masyarakat sekitar seperti itu. Menguasai perusahaan. Mengambil hak ipar bla bla. Ya Allah. 

Kalian tau? Aku nangis hampir setiap hari. Aku seakan gak bisa ngerjain apa-apa tapi semua menuntut ku untuk ON. 

Orang gak tau berapa nafkahku sebulan. Orang gak tau aku juga kerja untuk mencukupi diriku sendiri dan anak. 

Orang gak tau kemana dominannya uang suami lari. Bahkan kas kami yang seharusnya buat ini itu juga dihutang dan tak dibayar oleh ipar. 

Tapi yang jadi kambing hitam adalah aku. Seakan aku yang menyebabkan perseteruan saudara ini tak kunjung membaik. 

Ingin Lari Rasanya

Selama dua minggu berdaya, ada rasa senang karena membantu suami. Ada kebanggaan tersendiri karena kok aku bisa seemejing ini ya? Kok aku bisa semua ya? 

Luar biasa rasanya. Aku berjalan riang pagi itu. Melupakan masalah ipar dll dsb. 

Siang itu, aku membeli sayur karena ada paman sayur yang lewat di depan kantor kami. 

Tak kusangka, gak lama kemudian mama mertua datang. Menanyaiku, “Gak beli ikan peda kah? Hendra suka peda loh. Dibikin pepes enak”

Aku tersenyum dan membalas, “Hehe, gak sempat ma”

Saat itu, ada 3 orang ibu-ibu sahabat mama mertua yang ‘mengawasi’ percakapan kami. 

Betapa malunya aku.. Ketika mama mertuaku membalas demikian.. 

“Waduh, gak kerja aja kok gak sempat bikin paisan ikan. Enak banget loh idup kamu itu GAK KERJA. Masa gak bisa menyempatkan.”

Suasana langsung hening. Semua mata ibu-ibu menatapku. Aku langsung membayar dan bilang, “Ulun duluan ma”

Ada rasa sesak di dadaku. Dari sebelum subuh aku bangun. Memasak pizza untuk cemilan pegawai kantor. Mengepel kantor, menyiapkan sarapan, melayani suami, tak lupa berdandan untuk menyegarkan citra. Aku rasanya tak ada istirahat seharian karena juga harus ke bank mengurus ini itu. Belum lagi harus membawa Pica ke dokter bedah. 

Dan aku dibilang, “ENAK IDUP? GAK KERJA?”

Ya Allah. Menetes air mataku. Aku lari ke dapur mengambil piring dan pizza. Berlari keluar untuk memberikan pada ibu-ibu di luar. Menghapus citra pemalas yang baru dilontarkan mertuaku. 

Tapi mereka menatapku kosong. Seakan aku adalah biang kerok perseteruan saudara. Padahal aku tau apa? 

Aku meledak di kantor. Menangis sesenggukan. Mengomel sambil mencuci pakaian. Memarahi Humaira yang Pup. Semuanya aku marahi. 

Aku menangis di kamar sambil memeluk Humaira. Ingin rasanya kulempar uang nafkah dari suamiku dan lari ke rumah orang tuaku. Aku ingin mengadu. 

Tapi, aku juga tau. Orang tuaku kalau sedang marah sangat luar biasa. Apalagi kalau tahu anak perempuannya diperlakukan demikian. 

Aku dididik orang tuaku untuk serba bisa. Aku bisa segalanya. Dari memasak hingga bertahan finansial. Padahal, aku lahir dari keluarga yang cukup kaya. Aku menikah dan psikologis aku dijajah sedemikian. 

Cita-citaku diinjak atas nama berbakti pada mertua. 

Passion ku menulis dianggap tak berharga. Tak bekerja katanya. 

Teman, hari ini hatiku benar-benar sakit. Aku gak tau kapan bisa benar-benar sembuh. Ketika sembuh, pisau itu datang dengan sendirinya. Sembuh lagi. Pisau itu datang lagi. 

Aku rasanya ingin sekali lari dari sini. 

KISUBO: Rekomendasi Kolam Renang Kuat dan Aman Untuk Anak

KISUBO: Rekomendasi Kolam Renang Kuat dan Aman Untuk Anak

Anak lagi suka main air? Trus jadi pengen nyari kolam  untuk Anak? Jangan pilih produk sembarangan ya gaes. Karena ternyata, gak semua produk kolam anak di pasaran itu kuat dan nyaman dipakai. 

Eh, iya serius. 

Jadi, temen aku pernah beli kolam anak kan di marketplace. Kebetulan tuh kolam nongol di flash sale. Auto checkout dan jeng jeng.. 

Pas dateng ternyata kolamnya cm bisa buat sekali pake. Pasalnya, anaknya tuh aktif banget. Jadi dasar kolamnya itu agak sobek pas anaknya loncat-loncat di atasnya. Gak bisa dipakai lagi deh. Aduh, biarpun harganya murah tapi kalau ujung-ujungnya begini kan sayang juga yak. Hiks. 

Memilih Kolam Renang Aman & Nyaman untuk Anak & Keluarga

Atas dasar cerita temen aku tadi, aku tuh jadi gak mau deh beli kolam anak di market place. Liatnya udah parno duluan. Padahal, anak aku keduanya itu kalo liat kolam renang pada jingkrak-jingkrak. Langsung merengek minta beliin. 

Anak aku hobi berenang? 

Enggak sih. Cuma mereka suka main air. Mereka berdua yang waktu kecil suka nangis kalo disuruh mandi, eh pas udah gede suka banget main air. Sampai lantai kamar mandi tuh jadi licin banget karena sabun yang dipake melimpah. Langsung deh kepalaku bertanduk. Jadi, say no banget sih beliin anak kolam renang gitu. Udah lah mungkin bakal rusak, ngabisin sabun pula. Haha

Eh tapi, dasar mamak-mamak labil yang susah banget otaknya konsisten. Ketika liat ig temen aku main air di kolam anak sama anaknya kok jadi pengen. Dah gitu kolamnya kek kokoh banget gitu. Kuliat sekeluarga pada nyemplung disitu. Anaknya loncat-loncat pula. Tapi kolamnya kayak kokoh gitu. 

Kepo, akhirnya nanya juga deh. Katanya, milih kolam buat anak tuh bahannya jangan sembarangan. Pilih bahan PVC yang kualitasnya tinggi. Jadi gak masalah kalo anak-anak pada aktif diatasnya. Asal… ya jauhkanlah benda-benda tajam. Sebangsa peniti kerudung yang ditaroh sembarangan sampai tulang ikan bekas kucing makan. Eh, iya.. Kucing jangan disuruh mandi di kolam yee. Camkan tuh. 

Aku akhirnya mupeng juga kan beli kolam begini. Kasian anak-anak pada nagih jalan-jalan ke waterbom sebelum pandemi sampe sekarang belum juga bisa terealisasi. Positifnya, emak punya alasan kuat pandemi belum berakhir dan dompet emak aman. Negatifnya, eeh anak pada nelangsa sekali di rumah. Sampai baskom gede buat emak nyuci baju turut dihakimi. Mereka jadiin kolam renang mini. Pecahnya tuh baskom. Grrrrrr…

Aduh lah kenapa jadi curhat. 

Jadi, atas saran temen aku tadi aku nyari deh kolam renang yang bahannya terbuat dari PVC yang berkualitas tinggi. Dan yang terpenting harganya terjangkau. Plus enak juga dipandang. Duh, susah juga ya nyari kolam dengan kriteria demikian

Review Kolam Kisubo, Kolam Anak yang Kuat dengan Harga Bersahabat

Bertemulah aku dengan kolam kisubo di kisubo official. Saat kolamnya datang ke rumah, anak-anak pada teriak kegirangan. Langsung norak sekali sambil membawa gunting. Sinyal bahaya langsung terdeteksi. Haha

Kolam ini terbuat dari PVC yang berkualitas tinggi, Japan Quality. Hal yang pertama aku periksa saat membukanya adalah bagian bawah kolam. Waw, terasa kuat. Lebih tebal dengan permukaan yang tetap terasa halus. Aku yakin dengan kualitas demikian kolam jadi tidak mudah bocor. 

“Win, mompa kolam tuh gimana sih? Ditiup atau bisa pake pompa gymball?”

Salah seorang temanku bertanya ketika aku update status yang memperlihatkan kolam pada WA story. 

Ya, capek atuh kalo ditiup. Habislah nafas emak. Haha. 

Kalo pake pompa gymball juga susah banget lah kebayang capeknya. 

Beli kolam di Kisubo Official ini udah termasuk dengan set pompa Kisubo elektrik. Jadi tinggal colokan saja pompa nya kelistrikan dan alirkan ke kolam. Hanya memakan waktu 5 menit kolam langsung siap dipakai. 

Pompa ini juga bisa dipakai untuk mengempiskan kolam. Jadi, kita gak perlu mengeluarkan angin dari kolam secara manual. Cara pakainya juga sangat mudah. 

See? Warnanya menarik banget kan. Seperti di laut. Tinggal masukkan  saja berbagai jenis ikan. Haha. 

Warna dari kolam Kisubo ini ada 3 varian. Yaitu Pink, Biru dan Tosca. Tiga warna yang sangat cantik untuk kolam renang di rumah. Ukurannya pun tersedia dalam berbagai ukuran. Nah, untuk milik kami ini ukuran 200 x 150 x 50 cm. 

Serunya Bermain Air di Kolam Anak Kisubo

Aish.. Kamu ngapaiiin ikut nyebur ke kolam wiin? 

Seru soalnya! Haha. 

Aku lagi libur memasak makan siang. Gatal sekali rasanya ikut nyemplung dan bermain bersama anak. Aduh, anak-anakku senang sekali. Mereka berkata Terima kasih berulang-ulang. Katanya, ini lebih menyenangkan daripada di waterbom. 

Ya iya dong lebih menyenangkan. Karena sifatnya lebih privasi. Dan tentunya jauh lebih aman. Kita tak perlu mengawasi karena takut tenggelam. Anak pun senang karena bisa membawa mainan ke dalamnya dan bisa bermain gelembung sesuka hati. 

Mungkin terlihat receh, tapi kalian harus tau bahwa bermain air begini begitu banyak manfaatnya bagi masa kecil anak. 

Saat bermain air, Humaira anakku yang masih begitu terbatas dalam bicara langsung spontan berkata “Aiill”

Ini bikin aku seneng banget karena Humaira tuh kadang ngomongnya masih bahasa suka-suka dia. Mungkin karena ada rasa senang berpadu dengan rasa ingin berterima kasih dan dimengerti. Dia mulai bisa berkata benda-benda yang ada di dalam air, termasuk warna kolamnya.. 

“Inih.. Biyuuu..” Humaira berteriak riang

Pica pun tak kalah senang. Satu jam lebih di dalam kolam ia mengamati daun kecil yang jatuh dari pohon. Mengapung diatas air. Lalu, begitu Humaira melemparkan setumpuk mainan. Beberapa mainannya tenggelam. Mainan Humaira yang transparan pun berubah warna menjadi biru seperti warna kolam. Pun gelembung sabun yang ada diatas kolam terlihat bagai bola biru yang berkilauan. 

“Kenapa kita tidak coba membuat perahu kertas?” Kata Pica

“Ya, lalu kita buat rumah diatas sungai” Balasku bersemangat. 

“Wow, seperti kota Banjarmasin diatas kolam ya Ma”

Dan Humaira pun datang mengacaukan imajinasi itu dengan suara ‘Byur’

Kami tertawa bersama. Ternyata, bermain air itu seru! Aku gak nyesal sudah mempercayakan Kolam Kisubo untuk anak. 

Nah, kalian mau membeli kolam anak? Yuk, ke Kisubo Official aja! 

Pernikahan yang Sehat itu, Bagaimanakah?

Pernikahan yang Sehat itu, Bagaimanakah?

Bagaimana sih definisi pernikahan yang sehat? 

Apakah pernikahan bisa dikatakan sehat ketika suami istri terlihat kokoh finansial? 

Apakah pernikahan dikatakan tidak sehat ketika tidak kunjung memiliki anak? 

Dan apakah pernikahan bisa dikatakan sehat hanya dengan melihat senyuman? 

Pernikahan yang sehat itu bukan dilihat dari pandangan orang lain, tapi dirasakan oleh hati

Sudah berapa lama umur pernikahanmu? Sebulan? Setahun? Lima tahun? Atau sepuluh tahun? 

Jadi, sudah punya rumah? Atau mobil? Atau memprioritaskan untuk memiliki anak terlebih dahulu? 

Sadar atau tidak, sebenarnya pernikahan yang sehat itu bukan tentang seberapa banyak yang sudah kita miliki. Atau seberapa bagusnya kita di pandangan semua orang. 

Pernikahan yang sehat adalah ketika cinta itu masih tumbuh. Seburuk apapun keadaan yang ada sekarang. Pun kalau kalian merasa terpuruk secara ekonomi, jika cinta masih ada. Sungguh, sebenarnya pernikahan kalian masih dalam kategori sehat. Depresiasi secara finansial bukan berarti pernikahan kalian jauh lebih buruk dibanding yang lain. 

Pertanyaannya, bagaimana caranya menumbuhkan rasa cinta itu ketika kondisi sedang sangat sakit? Baik itu secara ekonomi maupun mental. 

Komitmen. Ingat tentang sebuah tujuan. Ingat tentang janji yang pernah terucapkan. Selama kesakitan yang timbul tidak karena orang yang kita cintai. Sungguh itu tidak apa-apa. 

Misalnya, ketika pernikahan kita sedang diuji secara ekonomi. Pernikahan kita masih dalam kategori sehat asalkan suami masih berkomitmen untuk memberikan kewajiban, sekecil apapun itu. Bahkan, pernikahan kita masih masuk dalam kategori sehat jika suami kehilangan pekerjaannya. Sejauh ia masih berusaha support dengan hidupmu. Maka, secara ekonomi pernikahan kita masih sangat berpotensi untuk sehat, untuk sembuh walaupun cobaannya berat. 

Pernikahanmu masuk dalam kategori sakit. Ketika suami kehilangan rasa tanggung jawabnya. Biarpun ia mampu secara finansial, tapi jika ia tak peduli dengan keuangan bahkan terkesan pelit hingga membanding-bandingkan dengan pengeluaran keluarga lain. Maka, toxic pernikahan sudah muncul dalam pernikahanmu. 

Secara mental, pernikahanmu masih termasuk dalam kategori sehat ketika suamimu terus mendukung dan membelamu (sejauh tindakanmu baik). Contoh, ketika kita berhadapan pada masalah dengan mertua, ipar, dsb. Pernikahanmu masih masuk dalam kategori sehat secara mental jika suamimu mendukung dan membelamu. Tapi, kalau tidak maka pernikahanmu masuk dalam kategori toxic. 

Jadi, pernikahan yang sehat bukan tentang seberapa banyak pencapaian yang telah kita peroleh selama periode pernikahan. Sudah punya rumah, punya mobil, punya anak dll dsb. Pernikahan itu sungguh akarnya adalah antara suami dan istri. Adapun jika yang lain terlihat sejahtera maka itu adalah buah dari akar yang baik. 

Pernikahan yang sehat itu simpel. Ketika kita masih bisa merasakan cinta walau begitu banyak cobaan yang datang. 

Terdengar lebay ya? Ya, tapi begitulah pengalamanku menghadapi pernikahan selama 9 tahun. 

Mengobati Toxic dalam Pernikahan

Selama 9 tahun menikah, bukan berarti cinta antara aku dan suami selalu berada dalam kategori sehat. 

Sungguh, sangat amat sering berada dalam fase toxic. Terlebih, pada awal pernikahan. 

Aku remind dulu ya. Bercerita begini bukan berarti membuka aib. Tapi, kita gak tau siapa tau diantara kalian ada yang memiliki nasib sama sepertiku. 

Masalah yang sempat tumbuh dalam pernikahanku adalah ketika kami diberikan anak. Jujur kami bukanlah pasangan yang siap memiliki anak. Aku belum siap, suamiku apalagi. But, I try.. 

Suamiku bukanlah tipe yang peka dengan peran menjadi Ayah. Terlebih, lingkungan hidupnya sangat patriarki. Sehingga, dia cuma melihat bahwa segala urusan anak, rumah, dapur, itu adalah urusanku. Dia hanya berpikir bahwa kewajiban lelaki adalah mencari nafkah. Cukup tak cukup harus cukup. Lelah tak lelah, hadapi. 

Aku sungguh tak apa menahan hal demikian. Itulah yang aku pikirkan dahulu. Toxic secara finansial sedang menjajah hidupku. Kemudian aku harus berhadapan pada toxic secara mental. Tinggal di rumah mertua, berhadapan dengan budaya baru, keluarga baru yang pandangannya berbeda. Membuatku kaku. Suami mungkin awalnya membelaku. Tapi lambat laun, aku sadar bukan mendapat porsi dominan dalam kepedulian. Ya memang tidak apa-apa. Justru seharusnya begitu bukan? Selamanya bakti anak adalah pada Ibunya. Tapi pertanyaannya, apakah iya aku harus berhadapan pada toxic secara finansial maupun mental dalam rumah mertua? 

Maka apa yang harus aku lakukan? 

Mengobati toxic dalam pernikahan salah satu cara terbaiknya adalah menumbuhkan rasa empati pada pasangan. Caranya bermacam. Mungkin para pakar pernikahan diluar sana selalu berkata bahwa komunikasi adalah kunci. Tapi, sungguh komunikasi setiap orang itu memiliki seni. Kadang, justru ketika dalam diamlah kesadaran akan empati itu datang. 

Baca juga: Tak selamanya komunikasi adalah kunci

Maka, selain mencoba mendapatkan empati dari pasangan sungguh.. Jangan pernah lepas dari doa. Bukan hanya doa pribadi. Doa orang tua adalah jurus terbaik. 

Aku merasakan sendiri. Pernah dalam fase stuck dan sangat merasa tidak dicintai. Di nomor 2,3,4kan dibanding yang lain. Merasa tidak berharga tidak berdaya. Tapi pertolongan Allah selalu datang untuk menjaga pernikahan kami. 

Pernikahan sehat juga tentang refleksi diri plus membersihkan hati

Kadang, kita sangat gampang menyadari adanya toxic yang datang dari pasangan. Tapi, sangat sulit menyadari bahwa.. Hei, jangan-jangan selama ini pikiran aku lah yang kotor? Jangan-jangan hatiku yang selama ini toxic? 

Merasa diri ‘paling’ berusaha. 

Kemudian mulai membanding-bandingkan dengan pasangan lain yang terlihat lebih. Tanpa sadar, meremehkan pasangan sendiri. Lalu merasa gelap sendiri. Gelap karena memang hati kita yang sedang kotor. Kotor oleh rasa angkuh dan iri dengki. 

Sejatinya, setiap pernikahan pasti mengalami rasa-rasa demikian. Sangat wajar sih menurutku kalau itu terjadi. Karena, akupun pernah begitu. 

Merasa diri ini saja yang paling lelah, tidak dibantu, tidak didukung, tidak dihargai. Lalu pikiran mulai berprasangka macam-macam. Apalagi kalau melihat pasangan lain yang rasanya kok ideal sekali. Aduh, panas rasanya. Iri pun datang. Hati pun semakin gelap. 

Ketika permintaan tolong tidak dihiraukan, Terima kasih jarang diucapkan. Lalu, saling gengsi meminta maaf karena merasa, “DIA KOK YANG SALAH”

Padahal, hei.. Jangan-jangan memang ‘Aku’ yang perlu diobati. 

Tidak pernah ada ujungnya yang namanya perselisihan. Jika tidak  dimulai dari saling mengoreksi diri sendiri. 

Seberapa benarnya pun diri kita. Sangat penting untuk berkaca dan mulai mengoreksi diri. Kadang, sangat gampang melihat toxic yang hadir dari pasangan. Tapi hal tersulit adalah mencari sudut gelap dalam hati kita sendiri. 

Telusuri penyebabnya dan kalau perlu mintalah pasangan untuk jujur pada kita. Apa sih kekurangan kita. 

Seni Saling Memberdayakan Pasangan, Kunci Pernikahan Sehat Mental dan Finansial

Permasalahan terbanyak dalam pernikahan adalah masalah finansial karena membuat ekonomi stuck lalu mental jadi down. Kemiskinan terstruktur pun menjadi berakar dan menurun pada generasi selanjutnya. 

Permasalahan kedua yang sering hadir juga sering diawali oleh masalah mental. Banyak ragamnya. Dari trauma innerchild yang belum tuntas dihadapi, PPD ketika memiliki anak, stress karena kehilangan passion dalam bekerja yang bukan pada bidangnya, dll dsb. 

Sebenarnya, ada jurus pamungkas untuk mengurangi masalah mental dan finansial dalam pernikahan. Kalian tau apa itu? 

Yaitu seni saling memberdayakan pasangan. 😁

Kita sering berhadapan pada statement bahwa istri harus mendukung suami dalam bekerja. Agar suami bisa optimal dengan memberdayakan dirinya.. Maka, istri sebaiknya di rumah saja untuk khusus melayani dan mengurus anak. Biarkan suami bekerja diluar. Sungguh, gak salah. Ada benernya kok. Aku pun pernah dalam sepemahaman demikian. 

Saat memiliki anak, kita berdua sepakat dengan skema demikian. Alhamdulillah, rejeki suami memang melesat maju. Kami bisa membeli rumah, mendirikan perusahaan, dll dsb. Ya, pemahaman itu sejatinya benar. 

Tapi, risiko dari hal ini adalah istri rentan stress. 

Kupikir loh, dulu itu kalau aku di rumah saja maka aku bisa menjadi Ibu yang baik. Karena punya banyak waktu untuk anak. 

Kupikir aku bisa jadi istri yang baik. Karena punya banyak waktu untuk merawat diri hingga memasak dan memanjakan suami. 

Kupikir, hidup di rumah saja akan menjadi sesempurna itu. 

Ternyata, aku stress gaes. Aku kena babyblues lalu sempat PPD. Wkwk. 

Hidup di rumah aja. Ternyata bikin value yang aku miliki jadi terdepresiasi. 

Dulu ya aku bangga banget sama diriku. Aku Aswinda Utari, anak yang lumayan disegani di kampus. Suka sekali setiap persentasi. Punya kesibukan, bisa ini bisa itu.. Bla bla.. 

Ketika di rumah aja ngurus rumah dan anak. Aku sempat ada di posisi begini.. “Eh, aku siapa? Eh aku bisa apa? Kok aku begini aja?”

Gak ada hal yang lebih sad dibanding ketika kamu kehilangan diri sendiri lalu merasa gak berdaya. Ngerasa hilang dari dunia dan kok dunia jadi sekedar black n white. Pikiran menyempit, hobinya suuzhon. Masa tergelap dalam hidup aku. 😭

Kalian tau apa solusinya? Berdayakan diri. Mulai berkaca dan temukan tujuan baru dalam hidup. Tujuan yang bikin diri sendiri jadi berdaya. 

Saat menjadi Ibu, ada 2 dunia yang rentan hilang dari kita. Yaitu Dunia sosial dan Dunia untuk diri sendiri. Dalam bahasa kerennya mungkin me time plus social time. Awalnya, aku meremehkan pentingnya 2 dunia ini untuk keseimbangan hidup. Ternyata, itu sangat penting ada. Karena ya.. Begitulah manusia. Manusia punya misi visi untuk dirinya agar bisa bahagia. Manusia juga diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial. 

Maka, kami mulai merombak ulang sistem pernikahan dalam keluarga kami. Memperbaiki skema patriarki yang sekian tahun ada dalam hidup aku. 

“Pasangan itu harus saling memberdayakan”

Jika aku mendukung suamiku dalam pekerjaannya sebagai seorang dosen dan pembisnis IT. Maka, suamiku juga harus mendukungku dalam menekuni hobi menulis. Suamiku membuatkanku blog dan memaklumiku jika sesekali aku sibuk menulis atau ada hal-hal lainnya. Thats our deal. 

Time flies, bisnis IT suami tumbuh diluar perkiraan dan kami memberanikan diri membangun kantor baru. 

Aku sering melamun melihat kantor tersebut. Ada keinginan terbesit dihatiku. Aku ingin bekerja disini. 

Kalian tau? Meski senang menulis. Sebenarnya aku adalah seorang lulusan akuntansi. Sudah 9 tahun lamanya aku tak bersinggungan lagi dengan debit kredit. Yhaa.. Kecuali saat melihat buku tabungan dll. Haha. 

Ada perasaan galau yang timbul akhir-akhir ini. Apakah kami akan berjalan saling mendukung dengan jalan yang berbeda? Atau sebaiknya, aku menempuh jalan yang sama dengan suamiku dan mendukungnya dari jarak dekat sekaligus mengoptimalkan diriku yang dulu lagi? 

Butuh penyesuaian dan belajar kembali. Tapi, mungkin saja aku bisa bukan? Mungkin saja aku bisa membantu suami sambil melakukan hal lainnya. 

Karena sesungguhnya, pasangan yang saling memberdayakan itu bagus. Tapi, pasangan yang bersatu dalam satu pekerjaan mungkin itu akan luar biasa. 

Aku melamun sambil melihat pasangan suami istri yang berjualan martabak. Kulihat mereka yang sama-sama sibuk. Tapi begitu kompak dalam kerja sama. 

Aku pun teringat dengan pasangan yang berjualan sayur di pagi hari di pasar. Yang satu melayani pembeli, dan yang satu membantu mengambilkan sayur. 

Aku melihat pasangan suami istri yang bekerja membudidayakan jamur. Sang suami tekun menanam jamur, sementara sangat istri mengolahnya menjadi berbagai masakan lantas menjualnya. 

Kemudian, aku menonton drama Korea Whats Wrong With Secretary Kim. Sungguh, sepertinya bekerja bersama pasangan mungkin akan menjadi pengalaman luar biasa dalam pernikahanku. 

*Kemudian aku membaca blogpost ini. Astaga, ngobrolnya sudah uncontrol. Maafkan curhat terselubung ini ya gaes.. Haha. 

Ya, intinya begitulah. Jika kalian ingin kunci pernikahan yang sehat mental dan finansial. Tak ada salahnya memulai dari hal ini. 

Yuk, saling memberdayakan pasangan. Dia berdaya, kamu berdaya. Pernikahan kalian punya sehat dan jaya! Aamiin. 

Asah Otak Anak Dengan Bermain Game Solitaire

Asah Otak Anak Dengan Bermain Game Solitaire

Game Solitaire atau terkenal juga dengan sebutan game kartu. Aku pernah memainkan game ini di komputer jadulku dahulu. Saking sukanya. Aku sering mempraktikkannya di dunia nyata. Permainan itu benar-benar mengasah otakku sewaktu masih anak-anak dulu. 

Time flies, aku menjadi Ibu dengan dua anak. Iseng berselancar di google. Siapa sangka aku bertemu dengan game Solitaire lagi? 

Bukan pada aplikasi di komputerku, tapi aku menemukan websitenya. Dan wow.. Ini free! 

Berkenalan dengan Web Game Solitaire, Kini Bermain Kartu Bisa Segampang Ini! 

Aku membuka web www.solitaire.org . Waw, aku menemukan Ace of Heart. Game yang waktu SMA dulu sering aku mainkan sampai bosan saat praktik komputer di sekolah. Haha. 

Ada rasa kangen ketika membuka game ini. Apalagi di web Solitaire, game ini tidak memiliki opsi hint. Sehingga dahiku berkerut-kerut berpikir. Oh astaga, berpuluh tahun tidak memainkan game ini membuatku tak bisa memecahkan bahkan satu barispun. *seketika sadar bahwa otak mulai tumpul. Huh! 

Kecewa dengan kemampuan sendiri akhirnya aku membuka game lainnya. Astaga, banyak sekali pilihan permainan kartu yang ada. Aku membuka satu demi satu. Kepalaku sukses dibuat berpikir begitu lama. 

Cobalah kalian membuka solitaire.org . Kalian akan menemukan berbagai jenis permainan kartu. Yang aku tampilkan hanya sebagian saja. Masih banyak kategori permainan kartu yang lain. Jangan khawatir, semua permainannya bisa dimainkan secara gratis. Aku sangat merekomendasikan bermain game ini untuk kalian yang sedang jenuh dengan aktivitas monoton. Game ini membuatmu bisa mengasah otak. 

Dan bukan cuma buat kamu, anakmu pun bisa bermain. Bahkan belajar. Ya, belajar. 

Asah Otak Anak Dengan Card Game Solitaire

Tahukah kalian bahwa sudah 2 bulan belakangan ini aku begitu kesal dengan Pica? Ya, anak pertamaku yang sekolah di bangku kelas 3 itu kini mulai membuat otakku panas. 

Pasalnya, mengajarinya perkalian dan pembagian sudah begitu sulit dilalui. Tetapi, alamak.. Dia sering lupa begitu saja. Apalagi ketika pelajaran baru sudah harus dikuasai. Pelajaran lama hilang seketika. Bu ibuk.. Apakah kalian ada yang senasib denganku? Hiks hiks. 

Aku pernah curhat di instagram story tentang hal ini. Dan salah seorang followerku berkata padaku bahwa anaknya sangat mirip dengan Pica. Akhirnya, dia pun memasukkan anaknya pada kelas belajar di sore hari. Dan kalian tau? Ternyata di kelas belajar pun anak hanyalah disuruh bermain. Ya, bermain! 

Bermain berulang-ulang tentang penjumlahan berulang. Sehingga, ketika diberi latihan soal perkalian.. Anak sudah hapal di luar kepala. Karena saking seringnya bermain tentang hal serupa. 

Game Solitaire menjawab masalahku. Aku menemukan game Blackjack 21 Cards yang membuat anak ambisius untuk belajar berhitung. 

“Wah, apa hubungannya game ini dengan berhitung? Terlihat seperti game biasa win?”

Mungkin itu pertanyaan yang ada dibenak kalian bukan? Karena kalau dilihat sekilas, ini seperti susunan kartu biasa saja. 

Padahal, tidak begitu. 

Dalam setiap susunan menurun pada kartu, kita harus menghitung jumlahnya agar tak lebih dari 21. FYI.. kartu King, Queen, dan J bernilai 10. Sedangkan kartu As bernilai 1. Jadi, jika lebih dari itu akan ada warning. Dan jumlah keseluruhan itu deal terbaiknya adalah 100. 

Dengan memainkan ini, anak otomatis terbiasa berhitung dengan mindset yang menyenangkan. Karena setiap game itu selalu punya tantangan level. Setiap naik level kesulitannya meningkat. 

Pica juga bisa menyimpan scorenya sendiri. Jadi, andai membuka game lagi dia bisa melanjutkan dan membandingkan dengan game sebelumnya. 

Bosan bermain Blackjack 21 Cards, Pica pun mencoba permainan Blackjack yang lain. Yaitu Blackjack Chain

Aww, permainan ini seru sekali untuk anak seumur Pica. 

Permainan ini masih tak jauh-jauh dari permainan sebelumnya. Masih berhubungan dengan angka 21. Tapi bedanya, kita disuruh untuk mencari kartu yang hasil penjumlahannya 21 dan berada pada garis atau kolom yang berdekatan. Jika jumlahnya benar maka kartunya akan hilang dan scoremu akan bertambah. Mudahnya, game ini juga memiliki opsi hint dan shuffle. Tapi, jika opsi ini digunakan maka score kita akan berkurang atau bahkan bisa minus. Sebuah pelajaran unik sih buat anak bahwa ketika ia memilih sesuatu, ia harus siap dengan konsekuensinya. 

Setelah Main Game Solitaire, Anakku Mulai bisa.. 

Menjawab hasil pembagian apa saja dari 21. Hahaha. 

Receh ya? Tapi aku senang. 

Sebenarnya, kalau dilihat mungkin seperti tak ada hubungannya dengan perkalian dan pembagian. Tapi, dengan memainkan game ini secara berulang. Skill berhitung anak akan meningkat. Dimana tentu saja berhubungan dengan perkalian ya. Karena perkalian adalah penambahan berulang. 

Anak-anak memang selalu berada dalam fase bermain. Mereka menyukai tantangan. Ah, jangankan anak-anak. Kita yang sudah tua pun demikian bukan? 

Menang dan mendapatkan apresiasi, itu adalah surga bagi anak-anak. Makanya mereka selalu suka bermain. 

Kadang, ketika sudah menyelesaikan misi.. Pica tertegun melihat nominal bonus dari game. Lantas bertanya padaku, “Ma, kalau bonusnya terkumpul itu bisa jadi duit gak ya?”

Omo, hidup tak sesederhana itu Pica. Tapi, percayalah jika kamu konsisten belajar, bermain dan berdoa dengan seimbang maka Insya Allah money will follow.. Yang penting, teruslah berusaha menjadi baik. 

Mengasah otak anak itu penting. Tapi hal yang lebih penting adalah menikmati prosesnya. 

Jadi, asah otak anak dengan bermain game Solitaire? Kenapa enggak! 

IBX598B146B8E64A