Browsed by
Category: Wadai Banjar

Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

“Wadai Untuk Apaan? Untukmu? Untukku”

“Namanya ‘Untuk’ bukan untukmu-untukku”

“Itu serius namanya ‘Untuk’ ? Siapa yang kasih nama sih?”

“Ya siapa lagi kalo bukan ‘Urang Banjar'” 😅

“Emangnya gimana sih rasanya Wadai Untuk itu?”

(Ngeliatin Wadai Untuk)

“Oalaaaah.. Ini sih namanya Roti Goreng Mbak Yuuu…”

“Coba deh rasain dulu.. Ada yang beda loh dari Roti Goreng”

????

***

Ya, itu dia kilasan cerita saat pertama kali aku memperkenalkan ‘Wadai Untuk’ dengan salah satu temanku yang bukan orang banjar. Secara spontan dia langsung bilang, “Ini sih namanya Roti Goreng”

Memang penampakan dan tekstur dari ‘Wadai Untuk’ ini mirip sekali dengan Roti Goreng hampir tidak ada bedanya. Tapi jika kalian jeli maka sebenarnya keduanya berbeda loh teman.

Untuk klasik ala urang banjar diolah dengan bahan biang yang berbeda. Rasanya lebih manis dibanding dengan roti goreng pada umumnya. Selain itu bahan yang tidak ketinggalan adalah Santan yang membuat rasanya gurih. Hmm, sepertinya hampir semua Wadai Khas Banjarmasin mengandung santan ya.

Karena rasanya lebih manis dan teksturnya lebih padat dibanding roti goreng pada umumnya maka dipastikan dalam pembuatannya memakai lebih banyak gula. Ya, urang banjar itu suka manis. Lihat saja kue khas Banjarmasin pasti mengandung banyak gula dan tidak ketinggalan si untuk ini.

Nah, karena pemakaian gula yang lebih banyak pula lah maka proses fermentasi dari untuk sedikit berbeda dibanding roti goreng. Skill baking pada umumnya sudah mengajarkan padaku bahwa fungsi gula dalam proses fermentasi adalah sebagai sumber energi bagi ragi. Gula dapat memberikan rasa manis dan warna kecoklatan (golden brown) pada roti. Jumlah gula untuk fermentasi roti normalnya adalah ± 2%. Sementara bagi pembuatan ‘Wadai Untuk’ jumlah gula diberikan 2x lipat lebih banyak.

Apa efeknya? Efek dari penambahan gula dengan kadar ragi yang sedikit adalah terganggunya proses fermentasi. Nah, masalah? Tidak, inilah yang menyebabkan ‘Wadai Untuk’ berbeda dengan Roti Goreng pada umumnya. Efek dari lebihnya penambahan gula ini adalah proses fermentasi roti berjalan lebih lama dan tekstur dari roti lebih padat dan kokoh. Berbeda dengan roti goreng umum yang empuk, maka ‘Wadai Untuk’ mempunyai tekstur lebih padat dengan daya tahan melebihi Roti Goreng pada umumnya. Warna dari wadai untuk juga lebih coklat karena banyaknya kadar gula menyebabkan proses penggorengan membuatnya cepat coklat.

Karena proses fermentasi dari ‘Wadai Untuk’ cukup lama maka biasanya Urang Banjar membuat adonan untuk di malam hari dan menggorengnya dipagi hari. Kue ini sudah umum sekali dijual dipinggiran kota Banjarmasin. Sangat sedap dimakan saat dalam keadaan panas.

Ingin tahu Resep dan Cara membuatnya? Yuk, Intip..

Wadai Untuk Khas Banjarmasin

Bahan dough:

250 gr tepung terigu protein sedang

1 btr kuning telur

1/2 sdt garam

4 sdm gula pasir

1 sdt fermipan

Santan kental secukupnya (saya pakai 20 ml kara+ sedikit air)

2 sdm margarine

Bahan Isian

Sebenarnya Wadai Untuk Klasik ala Urang Banjarmasin zaman dulu memiliki isian berupa Inti (campuran kelapa parut dan gula merah), Pisang Talas, Kacang Hijau Manis dan Kacang Tanah Manis yang dihaluskan. Tapi, karena perkembangan zaman selera orang pun mulai berubah. Untuk Banjarmasin kini telah memiliki varian isi yang lebih banyak. Nah, keluargaku sendiri lebih suka jika bahan isiannya berupa Coklat Batang, Keju Mozzarella, dan Sosis.

Cara membuat:

Pertama-tama kita harus membuat ‘anakan’ adonan untuk ini. Yah, begitulah orang bahari menyebutnya. Kalau versi emak modern sih hal ini dilakukan untuk tes ragi. Apakah ragi masih berfungsi atau tidak?

Caranya dengan mencampur 1 sdt ragi dengan 1 sdt gula dan sedikit air hangat. Kalau 10 menit kemudian raginya berbusa, berarti ini dapat dipakai. Kalau tidak? Berarti ragi sudah tak dapat dipakai. 😊

Campurkan 1 kuning telur dan gula aduk hingga gula menjadi halus. Setelah itu masukkan tepung sedikit saja. Aduk hingga rata dan masukkan larutan ragi yang diolah tadi. Aduk-aduk dan masukkan santan kental sedikit demi sedikit bergantian dengan tepung sambil terus diuleni. Lakukan hingga adonan sedikit kalis.

Terakhir, masukkan garam dan mentega. Banting-banting dengan lembut adonan hingga tidak lengket ditangan, elastis dan luwes. Terakhir, tutup adonan dengan kain dan biarkan kurang lebih 5-6 jam.

Bentuk adonan sesuai selera dan beri isian. Lumuri kembali dengan tepung lalu Biarkan 30 menit.

Goreng adonan untuk hingga coklat atau sedikit kecoklatan. Berhubung anakku tidak suka dengan penampakan kue yang terlalu coklat maka aku hanya menggorengnya hingga setengah coklat. Nah, jika sudah angkat, tiriskan dan sajikan selagi panas.

Selamat mencoba!

Happy Baking!

Resep Bubur Hintalu Karuang

Resep Bubur Hintalu Karuang

Siapa yang tidak kenal dengan makanan yang satu ini? Teksturnya kenyal dengan kuah yang manis dan kental. Rasa manis dari kuah semakin lama semakin meresap didalam bola-bola kecil didalamnya. Membuat makanan ini sangat enak dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Jika masyarakat jawa dan sekitar menyebutnya dengan nama ‘Bubur Candil’ maka kami urang banjarmasin senang menyebutnya dengan nama ‘Hintalu Karuang’.

Hintalu adalah bahasa pehuluan (Hulu Sungai) yang artinya adalah Telur. Sedangkan karuang diambil dari nama saah satu burung dengan nama ilmiah Pycnonotidae. Burung karuang dikenal suka bernyanyi. Ia tinggal dihutan dataran rendah. Badannya berwarna coklat dengan paruh berwarna putih. Uniknya, dibawah kepalanya ada jenggot sehingga sering digelari ’empuloh janggut’  oleh orang banjar.

source: wikipedia

Oke, itu sekilas dari sejarah nama dari bubur hintalu karuang. Meski bernama telur karuang akan tetapi rasanya sama sekali berbeda dengan telur. Penyebutan kata hintalu hanya karena penampakan dari bubur ini menyerupai telur burung karuang. Bulatan telur karuang diolah dari campuran tepung beras ketan dan tepung beras. Sehingga terbentuk bulatan kenyal yang sangat lezat jika dipadukan dengan kuah gula merah dan santan.

Nah, berbicara tentang gula merah maka anda harus tau bahwa kualitas gula merah dalam pengolahan bubur ini sangat mempengaruhi rasanya. Karena itu, anda harus bisa memilih gula merah berkualitas dalam pengolahan bubur ini.

Apa aku bisa memilihnya?

Tentu saja tidak.. Hihihi..😂 *lempar batu..

Gula merah yang aku pakai dalam pembuatan bubur ini adalah gula merah barabai yang sudah dikenal kualitas keasliannya. Jika menggunakan gula merah yang tidak asli biasanya akan meninggalkan rasa pahit sehingga rasa buburnya tidak sesuai dengan harapan.

source: instakalsel

Bubur Hintalu Karuang yang aku buat kali ini benar-benar enak. Tekstur kuahnya kental, manisnya pas dan tekstur hintalu karuangnya kenyal dan enak. Aku bahkan habis 2 mangkok saat menyantapnya sebagai menu sarapan dipagi hari. Dan saat sore hari buburnya sudah habis. 😂

Hmm.. Kalian tau? Daerah kalimantan selatan memang terkenal dengan jenis kue yang selalu memakai gula merah dalam pengolahannya. Sebut saja itu kelelepon, kakicak, cincin, serabi, lupis, bebingkaan gula habang dan masih banyak lainnya. Kue-kue ini sudah menjadi kuliner khas banjar yang dapat dijumpai diberbagai tempay dibanjar. Nah, Apa aku bisa membuat semua resep kue khas Banjar di blog ini? Doakan saja ya.. Hihi..

Baca juga: Resep Wadai Sasirangan Khas Banjarmasin

Baca juga: Resep Wadai Hula-Hula Khas Banjarmasin

Suatu hari ada yang bertanya padaku saat mencicipi bubur hintalu karuang yang kubuat, “Bagaimana membuat kuah bubur karuang supaya santannya tidak pecah?”

Wah, tentunya ini pakai metode khusus ya.. Mau tau caranya seperti apa? Yuk, simak resep dan cara membuatnya.. 😊

Bubur Hintalu Karuang

(untuk 7 porsi)

Bahan: 

150 gr tepung beras ketan

50 gr tepung beras putih

600 ml santan *dengan kekentalan sedang

150 gr gula merah

1 sdm gula putih

1 biji telur

150 ml air

1 sdt garam

1 helai daun pandan

1 sdm air kapur sirih

1 sdm munjung tepung beras *dicampur dengan sedikit air untuk mengentalkan kuah

Cara membuat:

Untuk membuat tekstur kuah yang tidak pecah maka kita harus memisahkan pencairan gula merah dan santan.

Pertama kita campur 150 gr gula merah, 1 sdm gula putih dan 150 ml air. Didihkan hingga gula merah mencair.

Selama menunggu gula merah mencair, mari kita membuat butiran hintalu karuang. Caranya yaitu dengan mencampurkan tepung beras ketan, tepung beras putih, air kapur sirih dan air secukupnya hingga teksturnya bisa dibentuk. Prosesnya bisa dilihat digambar dibawah ini ya..

Setelah itu, mari kita didihkan santannya dengan garam dan daun pandan. Kemudian masukkan air gula merah tadi. Terus aduk supaya santan tidak pecah. Setelah itu masukkan kocokan telur sambil terus diaduk. Lalu masukkan bulatan hintalu karuang yang dibuat. Masak hingga bulatan hintalu karuang mengapung. Terakhir, masukkan larutan tepung beras agar kuah menjadi kental.

Jika sudah mengapung seperti gambar dibawah ini maka matikan api. Biarkan bubur karuang selama 30 menit agar air santan gula merahnya meresap di bulatan hintalu karuangnya.

Abaikan sendok yang belepotan dengan tepung beras ya.. Hihi

Nah setelah 30 menit maka hintalu karuang siap disajikan. Semakin lama berendam dikuah santan guka merah maka rasa dari hintalu karuang ini semakin sedap.

Tunggu apa lagi? Hayuk dicoba!

Happy Cooking.. 😊

Resep Roti Pisang Khas Banjarmasin 

Resep Roti Pisang Khas Banjarmasin 

Mereka menyebutnya ‘Roti’ Pisang.

Ah, entahlah leluhur mana yang membuat namanya. Yang jelas sampai sekarang nama kue ini melekat erat_mendarah daging dilidah orang banjarmasin. Padahal roti yang kita kenal tidak demikian.

Rasanya sebenarnya jauh dari sebutan roti pada umumnya. Teksturnya menyerupai kue lumpur, rasanya mirip dengan gegodoh hanya saja lebih terasa lembut dan gurih karena santan. Dan dalam pembuatannya tidak memerlukan proses peragian sama sekali.

Jadi, Kenapa harus disebut roti?

Disini saya mencoba berandai-andai. Karena dari bukti sejarah tidak ditemukan asal usul nama ini. Mungkin penyebutan roti disebabkan bentuknya yang lebih rapi. Mungkin pula disebut roti karena proses pembuatannya yang ‘dipanggang secara klasik’ oleh orang banjar zaman dulu. Dan mungkin, karena saat itu trend sebutan roti sedang menjamur seiring mulai mengenalnya masyarakat akan roti, maka mereka ‘latah’ menyebut kue ini dengan sebutan ‘Roti Pisang’. 😅

*sekali lagi ini hanya pengandaian saya saja..

Kue atau dalam bahasa banjarnya disebut dengan ‘wadai’ ini didaerah kami memiliki bahan yang khas. Jika anda membaca resep-resep yang saya posting pada ‘wadai banjar’ maka anda akan mengetahui bahwa hampir semua wadai banjar terdiri dari bahan santan, gula dan telur itik.

Masyarakat banjar dikenal dengan ‘liur harat’ (memiliki selera tinggi). Dalam memilih kualitas telur saja misalnya mereka sangat jeli. Mereka tidak mau memakai jenis telur sembarangan untuk wadai yang akan mereka masak. Biasanya, telur yang dipakai adalah telur itik.

Telur itik yang sering mendapat sorotan dipasaran banjar adalah ‘intalu itik aluh-aluh’. Telur ini sangat dikenal kelezatannya. Biasanya kuning telurnya berwarna orange kemerahan. Hal ini dikarenakan itik yang bertelur adalah itik yang memiliki kualitas ternak yang baik. Mereka tidak diperbolehkan memakan jenis bama karena akan merusak kualitas dari telurnya.


Jadi, jangan heran jika berkunjung kebanjarmasin kalian pada bertanya, “Kok kuenya pecah dilidah semua?”

Karena bahannya terdiri dari kuning telur berkualitas, santan kental yang gurih dan gula murni.

Nah, bagaimana dengan wadai klasik dengan nama ‘Roti Pisang’ ini? Apakah sulit membuatnya? Yuk, intip resepnya

Roti Pisang Khas Banjarmasin

Bahan:

1 biji kuning telur itik aluh-aluh

4 biji pisang talas

200 gr tepung terigu

3 sdm gula pasir *atau sesuai selera, sy tidak suka terlalu manis

1/2 sdt garam

1/4 biji kelapa parut muda *saya pakai 1/2 kelapa parut ukuran kecil

200 ml air

Cara membuat

Pertama, campur kuning telur, garam, gula dan pisang talas yang sudah diiris. Aduk hingga rata.

Kemudian masukkan tepung terigu, lalu campurkan kelapa muda parut dan 200 ml air sambil sedikit diperas.

Aduk hingga tekstur pas dan merata.

Tuang kedalam tuangan roti pisang yang terbuat dari tembaga dan telah diolesi dengan mentega. Masak dengan api kecil dan ditutup bagian atasnya.

Balik kue jika bagian bawah sudah matang. Matikan api jika kedua sisi sudah matang.

Roti Pisang siap disajikan.

Kue ini enak sekali jika disantap selagi panas. Jika sudah dingin kelezatannya akan berkurang. Jadi, panggang seperlunya saja ya jika ingin memakannya..

Happy Cooking.. 😊

Resep Petah (Karih Daging+Lempeng Arab) aka Kebab Kampungnya Urang Banjarmasin 

Resep Petah (Karih Daging+Lempeng Arab) aka Kebab Kampungnya Urang Banjarmasin 

Halo yang ngakunya Food Blogger tapi absen nulis resep sebulan? Kamu masih hidup? 😂 

Masih kok!!

Blognya jelas masih hidup ya, yang ditanyakan content writernya ini orangnya sama ato ganti sih ya? 😅

Sama.. Ini masih tetap aku yang dulu kok.. Emak yang ngakunya punya Karakter dan Passion yang abstrack. Supaya keren sebut saja dia Divergent Mom. 😂

Siapa bilang blog ini cuma berisi resep? Kamu liat labelnya banyak kan? Kalau disuruh memilih satu jenis niche maka sebut saja blog ini Lifestyle. Tapi kalau para reader ‘ngeh‘ sama nama domainnya maka pasti pada ngerti bahwa sang penulis ini hanyalah emak rumahan yang suka menulis.

ShezaHOME bukan ShezaKITCHEN

Penulis adalah emak yang memiliki kadar introvert 60% dan ekstrovert 40%. Memiliki kadar melankolis negatif 60%, melankolis positif 20% dan sanguinis positif 20%. Memiliki cita-cita ingin menjadi pusat perhatian dikelas (means Guru). Tujuan hidupnya ingin berbagi sebisa mungkin. Maka terciptalah blog ini.

Shezahome memuat berbagai cerita kehidupan rumah tangga dan tips rumah tangga, family-parenting, resep makanan dan renungan lainnya. Yang jelas, aku masih merasa nama domain nyambung deh ya, karena di blog ini aku ga pernah menulis tentang travelling. Tidak mungkin kan rumah bisa jalan-jalan. 😂

Berbicara tentang passion. Tentu tidak lepas dari riwayat pendidikan. Penulis pernah mendalami konsep ilmu ekonomi untuk menjadi kaya dan diperingatkan Tuhan untuk meninggalkan sisi materialistis saat kuliah. Penulis mengaku lulusan akuntansi tapi sebenarnya tidak terlalu jago menghitung. Kenyataannya Ilmu ekonomi sejauh ini cuma mengajari si emak rumahan ini untuk hidup hanya dengan kebutuhan, bukan keinginan. Pernah mengaku ingin menulis perekonomian rumah tangga namun mandeg hanya pada chapter 1.

Kenapa?

Kenapa ya..?😅

Sejak memiliki anak, aku punya ketertarikan dengan ilmu parenting dan belajar psikologi. Punya banyak buku yang sudah dibaca tapi tak kunjung tertuang dengan benar. Tidak punya pengalaman kerja selain menjadi mahasiswi magang di Bank Indonesia, penyebabnya karena aku ‘terlalu laku’ dan memutuskan menikah sebelum lulus kuliah. *sok banget.. Hah😂

Ya, ampun.. Kamu mau nulis apa sebenarnya? Nyurcol ato share resep? 

😅

Jadi, kapan sebenarnya kamu punya passion dibidang memasak? 

Sebenarnya lebih tepatnya aku hoby makan, bukan hoby masak (dulunya). Aku punya penyakit asam lambung yang menuntut agar perutku tidak pernah dalam keadaan kosong. Dan skill memasak baru aku perdalam ketika aku kuliah.

Jadi anak kuliah itu harus pinter ngatur duit, Yes? Karena itu aku dulu memasak untuk menghemat uang agar sisanya bisa untuk shooping diakhir bulan  Maklum, anak abege.. 😂

Lama kelamaan aku jadi suka memasak. Entah kenapa setiap ada teman yang main ke kontrakan, aku selalu excited. Dari mulai memasak jenis cemilan seperti bakwan hingga puding orange syrup. Dan aku juga pernah berjualan nasi goreng dikampus untuk mata kuliah kewirausahaan.

Skill memasak akhirnya menjadi salah satu hal yang membanggakan di mata mertua dan calon suami. Kebetulan mertuaku memiliki usaha katering kecil-kecilan dulu. Dan selama tinggal dirumah mertua aku banyak belajar. Aku menyukai memasak. Memasak bisa membahagiakanku, dan bisa menghemat uangku tentunya. 😅

Karena itu, sebenarnya tidak pernah sehari pun aku absen memasak. Tapi masalah sebenarnya adalah aku tidak jago sama sekali skill fotografi. 😭

Selama ini foto-fotoku hanya bermodalkan cahaya dan kamera handphone Xiaomi Mi4c.  Kabar selanjutnya, sekarang aku tidak punya banyak waktu untuk memoto karena semuanya keburu lapaar kalau menungguku. Maklum, emak sekarang punya jadwal sok padat. Maksudnya waktu memoto dan memasak lebih lama memoto. Haha..

Jadilah malam hari satu-satunya waktu luang untuk menulis. Karena itu, jika kau perhatikan tulisanku bulan kemarin didominasi oleh renungan tengah malam yang terinspirasi dari berbagai sumber. Dan aku menikmatinya. Walau sadar diri termasuk dalam kategori penulis amatir dibanding para content writer yang lain. 😂

Idul Adha tiba. Aku menikmatinya dengan berlibur kepelaihari, kampung halamanku. Puas berleyeh-leyeh ria di rumah Mama, itulah arti liburan kedua bagiku, hihi. Aku pulang dan memiliki lumayan banyak stok daging yang melambai-lambai dikulkas. Meminta dieksekusi dan eksis di foto serta mejeng diblog. Tapi jujur saja, aku sedang addicted nulis hal lain. Dan akhirnya para daging aku abaikan. 😭

Untunglah Ipar saya #fika mulai mengajak collab kedua #cookingcollabfikawinda dengan tema masakan daging. Sehingga aku mulai merasa sedikit semangat buat menulis resep lagi. Fika ini juga cooking addict loh, ah.. Kalian mesti tau aku belajar skill membuat dough roti dari dia dan resep dari dia sudah tak diragukan lagi. Dalam cooking collaboration kali ini dia memasak Coto Makasar (just click n u can see) . Ahh.. Aku belum pernah sekalipun bikin ini karena suamiku lidahnya terlalu ‘banjar’. Tapi mau deh ya nyoba juga lain kali. Kebetulan stok daging masih ada. 😅

Sebenarnya olahan daging banyak. Aku bahkan terpikir untuk belajar membuat kebab. Tapi blog ini berfokus pada resep masakan banjar. Karena itu untuk kebab aku skip. Alasan lainnya adalah suamiku tidak suka kebab. Jadi masak buat siapa? Hihi

Sebagai orang banjar aku boleh dong turut berkontribusi untuk melestarikan masakan banjar walau hanya dirumah. Kalian pasti tau dengan masakan satu ini.

We call it ‘Petah’

Tetapi yang lain sering menyebutnya dengan ‘Lempeng Arab’ atau ‘Lempeng Karih’

Ya, setidaknya ini adalah versi kebab yang paling disukai dirumah kami.

Bagaimana cara membuatnya? Intip yuk!

Resep Kebab Ala Kampung urang Banjarmasin 

Bahan Tortila *lebih tepatnya bahan lempeng

200 gr tepung terigu

1 butir telur

400 ml air

2 sdm minyak goreng

1 sdt garam

Bahan Karih

200 gr Daging Sapi

200 ml santan kental

5 siung bawang merah

4 siung bawang putih

2 sdm bubuk karih

2 buah cabai merah

1 sdt asam jawa

1 cm jahe

1 cm laos

1 batang serai

1 sdt gula merah

1 sdt gula putih

1 sdt garam

Kaldu bubuk secukupnya

Minyak goreng untuk menumis

Cara membuat:

Pertama bersihkan daging dan lumuri dengan jeruk nipis. Sebagai tips, jika anda ingin daging sapi lebih cepat lunak iris agak tipis atau gunakan air nanas sambil didiamkan selama 15 menit.

Haluskan Bawang merah, bawang putih, cabai, bubuk karih dan jahe. Blender dengan menambahkan 100 ml santan agar mudah saat di blend.

Tumis bumbu yang dihaluskan. Masukkan serai dan laos yang sudah digeprek. Biarkan hingga mengeluarkan minyak dan berbau harum. Kemudian masukkan daging.

Aduk hingga daging berubah warna, lalu masukkan sisa santan sebanyak 100 ml. Karena aku tidak menggunakan nanas, aku memakai presto untuk mempercepat keempukan dan kematangan daging. Jika menggunakan panci presto harap menambahkan sedikit air.

U can see the process yaaa…. 

Taraa.. Karih sudah matang..

Sekarang kita bikin lempengnya yuk..

Sebenarnya caranya sama seperti membuat kulit pada lapisan wadai ipau dan risoles. Hanya saja lebih tebal kulitnya.

Oya, tapi aku punya tips supaya membuatnya memakan waktu singkat tanpa harus mengaduk lama hingga menghilangkan gumpalan tepungnya.

Caranya dengan memblendernya. Tapi memasukkannya harus bergantian supaya benar-benar tercampur rata dan halus.

Masukkan 100 gr tepung lalu masukkan 200 ml air dan satu butir telur. Lalu masukkan lagi 100 gr tepung dan 200 ml air. Press On blender..dan tadaa.. Sudah halus dan tercampur rata. Tinggal ditambahkan minyak dan siap didadar pada teplon.

Biasanya, kami urang banjarmasin memotong lempeng dengan dibagi 4-6 bagian dan ditaruh dipiring dengan pola segitiga yang berkeliling. Lalu ditaruh karih daging ditengahnya dan terakhir bubuhi dengan bawang goreng.

Ini enak sekali, rasa kampung tapi ga kalah mewah sama kebab!

Coba yuk!

Happy Cooking😊

Resep Wadai Sasirangan atau Sari India Pandan Ala Mama

Resep Wadai Sasirangan atau Sari India Pandan Ala Mama

Siapa yang tak kenal dengan kue satu ini? Berlapis-lapis dengan tekstur lembut dan manis sekali. Kue ini biasa hadir mewarnai pasar wadai daerah Kalimantan Selatan. Mereka menyebutnya dengan berbagai macam nama, Sari India, Lapis India, hingga terakhir Sasirangan. 

Aku sendiri mengenal kue satu ini dengan sebutan sasirangan. Sekitar tahun 2011 aku sudah sering mencicipi kue ini di rumah saat SMA, apalagi saat bulan Ramadhan. Mamaku adalah koki pertama yang membuat kue ini untukku. Aku sangat menyukainya. Kue ini laris manis dirumah kami. 

Sejak sering membuat kue ini para tetangga mulai mempertanyakan resep dengan Mama. Banyak tetangga kampungku yang merecook namun tak sesempurna olahan dari tangan Mama. Mereka hanya berkata pesimis setelahnya, “Memang kalo masalah kue itu tangan-tangannya aja yang bisa” sambil mengagumi olahan tangan Mamaku. 

Apa aku percaya mitos tangan itu? Tidak, aku tidak percaya dengan mitos tangannya. Yang kupercaya adalah membuat kue itu cuma butuh tekad, keinginan kuat. Kalau dari awal membuat kue sudah pesimis duluan “Yah, tanganku sih bisa apaa…” Ya, tentu jadinya bakal jelek. Allah sesuai prasangka hambanya. 

Meskipun aku tak memungkiri memang, olahan tangan Mama memang berbeda. Dimana? Pada suasana kuenya, penyajiannya, dan rasa cinta didalamnya. Tapi itu tetap berbeda dengan rasa pesimis dari sebagian orang yang kuceritakan tadi. Aku tetap percaya diri bahwa kue yang kubuat sekarang masuk dalam kategori BERHASIL. 

Yah, berhasil. Aku baru pertama kali membuatnya, namun sudah sangat sering melihat Mama membuat kuenya didapur. Sebenarnya sejak dulu aku suka gatal sih melihat mama bikin kue didapur. Tapi aku dan mama bukan tipe yang sama. Mama itu kalo bekerja terlalu banyak aturan. Ibarat masalah sendok n cetakan aja jadi masalah. Kalo aku? Aku enjoy.. Easy.. Suka ngerjain sesuatu tanpa ribet, suka kebersihan tapi ga ribet. Tapi Mama? Entahlah kami selalu beda pendapat masalah bersih, rapi dan benar dalam perspektif masing-masing. 

Mama selalu bilang aku agak sembrono seperti Abah. Aku? Sama sekali tak merasa begitu. Menurutku aku lumayan pembersih dan rapi_dibanding Abah. Tapi aku tak suka imajinasiku dihancur..Haha..dari dulu aku adalah anak yang penuh dengan khayalan dikepala. Aku punya pendapat rapi dalam versiku sendiri dan itu berbeda dengan versi Mama. Mama so realistis, dan Aku suka berandai-andai. 

Perbedaan cara pandang adalah alasan Mama membuatku jadi penonton yang baik didapur. Barulah ketika menikah aku melakukan evolusi pada hidupku. Aku membuktikan pada Mama bahwa dengan tangan begini-begini saja dan teknik kebersihan dan kerapian yang tak sama dengannya aku bisa kok bikin kue serupa. Sejak itu Mama mulai berbagi resep denganku. Bahkan tidak jarang Mama tertegun memakan kue buatanku yang tak pernah mama makan sebelumnya. Kemudian Mama bertanya resepnya padaku. Yeah, bagiku itu evolusi juga. 

Kue ini? Adalah bentuk rasa kangenku dengan Mama. Mama selalu membuat ini ketika bulan puasa. Dan, sudah berapa kali puasa aku tak kesana? Semoga saja bulan ini aku bisa merasakan seminggu puasa disana. Kangen sekali rasanya buka puasa dengan masakan Mama. 

Kebetulan pula hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Sepertinya sudah jenis kebiasaan aku selalu membuat kue yang ‘berlapis’ saat moment anniversary. Bagiku tiap lapisan itu mewakili perjalanan hidup rumah tangga kami. Saat Ulang tahun pernikahan ke-4 aku membuat Rainbow Cake. Kue yang merupakan pengingatku bahwa hidup yang kujalani sekarang adalah hidup penuh warna-warni_mencoba menyenangi segala jenis passion dirumah. 

Dan Kue Sasirangan ini? Adalah kue yang dibuat dengan penuh ketekunan dan konsisten. Membuat kue ini perlu kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab. Salah sedikit saja pada bagian pelapisannya maka akan berakibat tak membentuk lapisan lagi. 

Maknanya dalam hidupku dan ulang tahun pernikahan? Ya, Aku ingin mulai sekarang aku konsisten dan sabar dengan segala upaya yang aku lakukan. Tak boleh menyerah hingga tiap lapisan selesai. Harus sabar menunggu proses tiap lapis kue itu sendiri. Jangan langsung terburu-buru memotongnya. Segalanya butuh pendinginan. Membuat Kue_bagiku adalah sebuah pembelajaran. 

Oke… Aku cerewet yak nyurcol mulu.. Hahaha.. Maklum, Ibu harus mengeluarkan minimal 20000 kata perhari. Berhubung saya bukan Ibu Sosialita, bukan Ibu hoby ngerumpi dan bukan penyiar berita tentunya. Maka menulis panjang sudah menjadi terapi kewarasan buat aku. *Harap dimaklumi.. 😂

Sasirangan Pandan

Bahan:

5 butir Telur

2 gelas belimbing santan (dari 1/2 buah kelapa) 

1 gelas belimbing gula pasir

1 bungkus tepung hunkwe

3 lembar daun pandan

1/2 kaleng SKM

1 sdt Pasta Pandan

1 kotak vanili

1/2 sdt garam

Cara Membuat:

Rebus santan dan garam hingga mendidih sambil diaduk. Dinginkan

Potong dan blender daun pandan. Jika kesulitan anda bisa menambahkan santan tadi saat diblender. Kemudian saring. 

Kocok telur, vanili dan gula secara manual (dengan whisk) hingga gula larut masukkan tepung hunkwe aduk perlahan. Masukkan santan sedikit demi sedikit aduk hingga tepung tak menggumpal. Masukkan SKM dan pasta pandan, jika kurang hijau anda bisa menambahkan pewarna hijau. Kebetulan kueku agak pucat, jadi bisa ditambahkan pewarna ya supaya kelihatan hijau fresh. 

Panaskan panci kukusan. Olesi loyang dengan minyak lalu dilapis dengan kertas roti. Untuk kue ini aku memakai loyang bulat dengan diameter 25 cm. 

Kukus adonan kue sebanyak 1 sendok sayur selama 3 menit. Kemudian aduk adonan supaya tepung hunkwe tidak mengendap dibawah, tuang lagi satu sendok sayur hingga matang selama 3 menit. Lakukan hal ini berulang-ulang. Membuat kue ini butuh kesabaran ekstra. Tahap dilapisan terakhir biarkan kue dikukus selama 15-20 menit untuk memantapkan proses pematangan. 

Setelah selesai diamkan hingga sedikit dingin. Lalu masukkan kedalam kulkas. Kue ini memiliki tekstur sangat lemah sehingga membutuhkan proses pendinginan untuk dapat dipotong. 

Dan tadaaa… Kue sudah dapat dipotong. U can see ya garis-garis tipis super lembutnya. Ini bikinnya luar biasa ekstra sabar loh.. 😅

Okee…. Selamat mencoba yaa.. Kasih tau jika anda berhasil Recook resep ini.. 😊

IBX598B146B8E64A