Browsed by
Category: Parenting

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Wah, judulnya.. Apakah Anda sedang baper duhai penulis shezahome?

Ya, dibilang baper sih tidak juga. Hanya saja aku menulis ini untuk menjadi pengingat kepada diriku beberapa tahun mendatang. Pengingat bagi diriku sendiri yang mungkin saja beberapa tahun mendatang otaknya tidak sewaras sekarang karena berbagai faktor. Pengingat kepada diri sendiri bahwa ketika anakku beranjak dewasa kelak.. Pasti akan banyak sekali perbedaan pendapat yang akan menimbulkan konflik diantara kami.

Tentang Menghadapi Anak yang Beranjak Dewasa

Jadi, tulisan kali ini tentang apa?

Yup, its all about the future.

Tentang khayalanku menghadapi anak yang beranjak dewasa kelak. Memang, anakku sekarang masih tergolong dalam umur anak-anak. Namun, kurasa pengalamanku dengan Mama telah mengajari segalanya.

Sebagai anak yang paling sering bertengkar dengan mama diantara 3 saudara yang lain, tentu pahit manis pertengkaran sudah sering aku lewati. Dimulai dari saling menangis, mogok makan, hingga tidak mau berteguran dengan Mama. Ya, aku mengalami semua itu pada masa remajaku. Aku pernah menjadi anak pembangkang, bahkan pernah hampir dibilang durhaka oleh Mama.

Baca juga: Surat untuk Mama, Maaf Aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga Saja

Pengalaman mengajari segalanya. Walau aku adalah anak yang paling sering berkonflik dengan Mama, namun aku juga merupakan anak yang memiliki ikatan batin terkuat dengan Mama. Ketika Mama sedih, gelisah, bingung.. Mama akan lari mengadu padaku. Seakan aku adalah solusi yang dibutuhkan. Mungkin juga sih, karena aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Jadi, feeling kami lebih terasa nyaman dan nyambung.

Berikut adalah beberapa catatan untuk diriku sendiri dimasa depan ketika menghadapi anak remaja. Maka wahai diriku.. Ingatlah bahwa pernah menulis ini..

Ingatlah Bahwa Kita Pernah Muda

Belakangan, aku sangat sering dihadapkan pada konflik orang tua vs anak remaja. Ada yang mencaci dan mengutuk kelakuan anak remajanya. Ada pula yang membiarkan kelakuan anak remaja mereka begitu saja, menuruti segala kehendak mereka dengan alasan.. “Yah, aku dulu gak bisa begitu paling enggak anak bisa merasakan manisnya masa remaja.”

Ada pula yang tidak mau mendengarkan pendapat anak remajanya. Tidak memberikannya kesempatan untuk mengemukakan pendapat dengan alasan, “Mama dulu gak pernah nyahut sama orang tua kayak kamu ini loh! Kalo nyahut pasti langsung dilempar sambel mulutnya! Kamu kok berani sekali?”

Memang, ada hadis Nabi yang berkata bahwa sebagai anak kita tidak boleh sekalipun berkata ‘Ah’ pada orang tua maupun mengeluh. Sebagai seorang anak, kita diharuskan untuk selalu menaati perintah orang tua. Tapi, ingatlah kita akan pola asuh yang dianjurkan oleh Ali.

Jadikan Anakmu Raja hingga berumur 7 tahun..
Jadikan Anakmu Tawanan dari umur 8 sampai 14 tahun..
Jadikan Anakmu TEMAN dari umur 15 sampai 21 tahun..

Artinya sebagai orang tua yang baik, saat terjadi perbedaan pendapat dengan anak kita yang sudah beranjak remaja maka kita tidak boleh melakukan pembenaran kekanak-kanakan dengan alasan, “Gak boleh menyahut pada orang tua..” apalagi mengatakan bahwa mereka adalah Anak Durhaka, Bodoh, dsb. Ingatlah, setiap perkataan orang tua itu adalah Doa.

Kita harus mengingat dan reframing dengan keadaan mereka. Ingatlah, kita pun pernah muda. Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini, adalah wajar ketika remaja merasa penasaran akan dunianya.

Adalah wajar saat remaja mengemukakan pendapat realistisnya dari ilmu yang didapatkannya.

Adalah wajar saat remaja menentang hal yang tentu saja ia rasa benar. Apalagi jika pendapat tersebut dilandasi ilmu yang benar.

Yang harus kita lakukan sebagai orang tua kekinian adalah tidak menutup diri pada perubahan lingkungan, ilmu pengetahuan, dan selalu update pada era teknologi terkini namun tidak melupakan ajaran terbaik dari yang terdahulu.

Jadilah orang tua yang berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Kenapa? Agar kita benar-benar bisa menjadi teman yang baik baginya. Tidak sekedar menyalahkan segala opini yang keluar dari mulut lugunya.

Jika Kita Ingin Memiliki Anak yang Berempati, maka Kita Harus Memiliki Empati yang Lebih Besar.

Masih segar rasanya cerita tentang tantrum yang dialami Farisha dahulu. Tantrumnya memang amat sangat singkat sehingga hampir tidak ada yang tau bahwa Farisha pernah mengalami tantrum. Bahkan, banyak yang bertanya padaku, “Bagaimana bisa mengatasi tantrum pada anak dalam waktu sesingkat itu?”

Baca juga: Empati, solusi untuk tantrum anakku

Jujur saja, aku bukan penganut menjadikan anak Raja pada fase Farisha kecil. Aku penganut mengajarkan Farisha Rasa Kasihan. Mungkin, ini terjadi karena aku sempat terkena Post Partum Depression. Sehingga aku selalu menyuruhnya memahamiku. Aku membiarkannya melihatku dalam keadaan sedih saat berdua dengannya, tak jarang menangis sendiri. Untuk hal seperti ini, tentu saja tak boleh kalian tiru.

Baca juga: Mengeluh pada Anak, Yay or Nay?

Tapi karena hal ini pula, Empati Farisha secara prematur tumbuh. Ia mulai menyukai hal-hal yang berbau kesedihan dan memahami penyebabnya. Karena itulah ia tidak mengalami tantrum seperti anak-anak pada umumnya. Hingga kini, hal yang paling disenanginya adalah Mewarnai Obyek Kesedihan dan Menggambar Air mata. Ya, aku serius.

Aku tidak menganggap hal ini sebagai kelainan. Apalagi setelah aku berusaha bangkit melawan PPD. Empatiku pada Farisha perlahan-lahan tumbuh makin dalam. Dan saat ia mengalami berbagai konflik di sekolahnya, termasuk saat ia mulai ingin menjadi seperti teman-temannya, dibully, hingga keras hati yang mendadak muncul. Aku melakukan reframing yang mendalam padanya. Aku memeluk dan membacakan buku cerita yang serupa dengan kisahnya. Memberinya sebuah pembelajaran hingga akhirnya ia paham akan jalan pikiranku.

Begitulah hal yang seharusnya kita lakukan saat perbedaan pendapat dan konflik muncul. Empati kita pada anak harus lebih besar. Agar ia menghormati dan menyenangi kita, bukan membuatnya TAKUT dengan kita.

Karena akan ada masanya si kecil tidak semanis ini lagi dan kita harus mempersiapkan mental dimulai dari sekarang..

“Nikmatilah masa-masa berdua saja dengan anakmu yang masih kecil, karena kelak suatu saat nanti ia tidak akan semanis ini lagi.”

Aku sangat menyadari masa-masa itu PASTI akan datang. Apalagi dalam pergaulan sekarang, anak-anak terasa cepat sekali berubah. Mereka cepat sekali menemukan role mode yang baru. Karena lingkungan telah berubah. Perkembangan teknologi dan komunikasi menuntutnya untuk mencari jati diri dengan cara yang lain.

Dan setiap zaman ke zaman. Mode pencarian jati diri ini mengalami perubahan. Itulah yang harus kita sadari.

Zamanku dulu saja misalnya, aku sangat tergila-gila dengan Kpop dan Boyband. Memasang poster berbagai boyband di kamar. Bernyanyi tidak karuan dikamar mandi. Malas memakai Jilbab kesana kemari. Menghabiskan uang jajan untuk warnet dan majalah. Benar-benar masa remaja yang tidak produktif. Terlalu banyak mengkhayal dan lupa dengan dunia nyata. Ada yang sama? Haha..

Tapi itu semua ada penyebabnya. Pada zamanku misalnya, aku melakukan itu semua karena ruang pergaulanku dibatasi oleh mama. Tidak boleh berteman dengan ‘si anu’, tidak boleh keluar rumah kalau bukan karena ‘ini’, tidak boleh bla bla bla. Dan percaya atau tidak dari SMA hingga kuliah aku stuk berteman dengan jenis makhluk laki-laki di dunia nyata. Aku mengalami krisis percaya diri sehingga malas sekali ikut berbagai kegiatan di dunia nyata. Jadi, aku mencari pencarian kesenangan di dunia lain dengan alasan pencarian jati diri. Dan hingga saat ini dunia maya adalah candu. Thats Why Blog dan Sosial Media adalah bentuk ekspresi yang sudah menjadi candu untukku. Kadang aku berpikir bahwa Introvert itu dibentuk bukan natural ‘dari sononya’

Lantas Apa aku harus memperlakukan Farisha dengan sama?

“Tapi efeknya baik kan win? Kamu jadi anak baik-baik hingga dewasa dan menikah karena batasan-batasan yang diberikan oleh Orang Tuamu”

Ya efeknya memang baik. Tapi baiknya kebablasan. Hihi

I mean.. Kebablasan hingga aku tidak bisa berekspresi seperti apa yang aku mau. Merasa ketinggalan dengan perkembangan teman-teman yang lain. Tidak dapat menonjolkan bakat seperti apa yang aku inginkan. Karena setiap keinginan itu muncul, pertengkaran dengan Mama adalah hal yang pasti terjadi. Dan aku sangat membenci itu.

Aku tidak ingin Farisha tumbuh seperti itu. Sebagai anak yang terlalu penurut padaku karena ‘takut’. Aku ingin ia memiliki keinginan sendiri untuk langkah kedepannya dan aku ingin menjadi teman setia yang mengiringinya. Bukan menjadikannya boneka yang pasrah dengan dalangnya. Bukan pula menjadikannya untuk penakut padaku.

Maka hei diri sendiri, tolong ingatlah janji ini. Janji di masa depan nanti.

Menghadapi anak nakal pembully – [Tips Mengatasi bagian 2]

Menghadapi anak nakal pembully – [Tips Mengatasi bagian 2]

menghadapi-anak-nakal

Anak kena bully, jangan sampai bikin emak ikut stress ya… kita tidak bisa selalu mengendalikan pergaulan mereka dengan yang lain, mereka bisa saja ketemu dengan yang baik ataupun anak nakal atau yang senang menggangu. Padahal bullying masa kecil yang diterima anak bukan sesuatu hal yang patut diremehkan lho.

Penting diketahui, dampak bullying terhadap anak dapat menjadikan mereka tidak senang bergaul, cenderung menarik diri, tidak percaya diri dan takut untuk mencoba hal baru atau berekplorasi di masa mendatang. Jadi jangan dianggap hal yang biasa ya jika kita sebagai orang tua tahu bahwa anak kita menjadi korban bullying.

Nah bagaimana sih menghadapi anak nakal yang suka sekali menggangu atau membully.

Berikut akan disampaikan cara unik menangani para pembully atau anak nakal dengan gaya khas shezahome.

Ketika Pembully Menjadi Teman Terbaik

Masih ingat dengan cerita korban bullying yang dialami oleh anakku Farisha beberapa bulan yang lalu?

Apa? Tidak tau?

Kalau belum, kamu wajib baca ini terlebih dahulu: Anakku di-Bully Lagi dan Lagi, Aku harus Bagaimana?

Ada yang gemas sekali dengan tokoh Cela Disana? Bahkan pengen nguwel-nguwel?

Well, semoga cerita tentang episode Bully yang kedua ini cukup menyenangkan. Karena kali ini tokoh Cela menjadi Teman Terbaik. How Can? Simak tulisanku ya!

Dear Friends, Kenapa Kamu Mem bully ku?

Sebelum ‘julid’ dengan sang pembully, akan lebih baik kita sebagai orang tua bertanya untuk re-framing dengan si pem bully. Kenapa sih anak ini jadi suka sekali membully anakku?

Ya, itu yang aku tanyakan kepada diriku sendiri dulu. Merasa ‘kepo’ dengan lingkungan keluarga si pembully. Merasa ingin berada di posisi si pembully. Mencoba memahami pola pikirnya yang masih anak-anak. Mencoba memaklumi setiap kata-kata kasar yang keluar di mulut mungilnya.

Why oh why..

emak-tidak-perlu-stress-dengan-bully

Dalam berbagai referensi salah satunya pada penuliscilik.com, aku menyetujui bahwa faktor-faktor yag menyebabkan bully terjadi diantaranya adalah dikarenakan:

  1. Si Pembully ingin dianggap dan dikenal berkuasa, karena mereka sebetulnya orang lemah.
  2. Anak Pembully biasanya kurang perhatian dari orang sekitar dan akhirnya mencara-cari pertahtian dengan menghina, dll.
  3. Tukang Pembully biasanya pernah dibully bisa jadi pernah jadi korban kekerasan, baik di sekolah ataupun di luar sekolah.

Well, Bagaimana dengan Cela? Dan, ini yang aku temukan.

Mengenal karakter si pembully

Cela adalah anak perempuan yang sangat disayangi oleh orang tuanya. Orang tuanya adalah pekerja diluar. Mungkin, waktu untuk ‘family time’ hanya pada malam hari. Tidak ada yang salah pada latar belakang orang tuanya. Keduanya adalah pasangan yang berpendidikan.

Hanya saja, sebagai anak kedua aku merasakan hal yang sama dengan perasaan sang Pembully. Aku ingin menjadi nomor satu di rumah! Ya, karakter ini yang sangat dominan aku rasakan pada sang pembully Cela. Jadi, penyebab Cela suka membully adalah ia ingin merasa berkuasa karena di rumahnya ‘mungkin’ ia merasa selalu menjadi nomor 2 dimata orang tuanya.

Memiliki seorang kakak dengan kemunculan sibling rivalry ‘mungkin’ membuat si pembully ingin menjadi ‘lebih’ dibandingkan kakaknya. Apalagi, aku pernah mendengar ibunya berkata..

“Kalau Kakaknya Cela ini dulu waktu TK banyak dapat piala. Cela ini agak beda memang. Mungkin karena aku terlalu sering memanja, beda sama kakaknya dulu semua serba mandiri aku suruh..”

Dan akupun ber ‘Ooooo..’ sambil berpikir, “Yah, ‘mungkin’ ini cluenya. Cela yang selalu benci dengan orang yang memiliki prestasi berada diatasnya..”

Itulah kenapa pikiran anak kecil Cela selalu ingin berkata kasar dengan teman yang menyainginya. Karena ia ‘juga ingin seperti itu’.

Hai anak nakal…Seburuk Apapun Kamu, kamu tetaplah Temanku.. Teman Pertama yang Baik Padaku.

Aku mengingat-ngingat episode pertama masuk sekolah anakku dulu. Ia berteman dengan dua orang kakak adik yang sangat mirip wajahnya, seperti kembar. Dan pertemanan ini sangat awet berbulan-bulan lamanya. Tapi, suatu hari temannya tersebut tidak masuk sekolah karena sakit.

Sejak itu temannya hanya masuk satu minggu sekali bahkan hanya satu bulan sekali.

Bulan berikutnya akhirnya aku tau kalau 2 temannya tersebut pindah sekolah. Dan sejak itu Farisha merasa sendirian di kelasnya. Farisha memang anak yang cukup introvert dan selektif dalam berteman. Yah, something like..

Kalau temannya enggak tersenyum duluan kepadanya, maka dia gak mau senyum duluan.

Apabila temannya enggak ngajak berkenalan, dia gak mau kenalan duluan.

Jika enggak ngajak main, mending main sendiri, begitu di pikirannya.

Ya, anakku begitu.

Dan saat itulah, Cela hadir sebagai teman pengganti temannya yang dulu. Menggandeng tangannya, mengajaknya bermain, mengundang Farisha untuk masuk dalam Circle kelompoknya dan membuat Farisha merasa bersemangat kembali di sekolah.

Jika aku di posisi Farisha, aku sangat paham kenapa ia tidak mau melepaskan pertemanan dengan Cela. Kenapa ia hanya bisa menangis saat aku bilang, “Berhenti berteman dengan Pembully”

Karena Ikatan dengan Sang Pembully adalah Ikatan Pertemanan yang suci. Bagaimanapun juga Cela si Pembully adalah Teman yang sangat berarti bagi Farisha.

Jadi, Mari Kita Berteman Lagi..

Pada tulisan pertama episode bully yang kutulis mungkin sudah dijelaskan bahwa endingnya adalah Cela tetap berteman dengan Farisha. Karena saat Farisha tidak berteman dengan Cela maka Cela merasa sendirian.

Aku juga mengajak Farisha untuk menonjolkan pribadi baik yang dominan agar teman-temannya tidak memihak Cela saat Cela membullynya. Dan itu semua telah menghentikan episode Bully secara total diantara keduanya.

Kupikir, Farisha sejak itu tidak akan terlalu akrab lagi dengan Cela. Kupikir, Pribadi baik dominan yang aku ajarkan membuat Farisha menjadi pemimpin di circle kelompoknya yang baru. Tapi, lihatlah.. Sepertinya perkiraanku meleset.

Mereka berdua malah semakin dekat saja. Cela dan Farisha.

Aku menjadi sangat yakin dengan kedekatan mereka saat aku ikut serta dalam perjalanan outbond sekolah. Mereka duduk berdua di bus dan saling tertawa tiada habisnya. Tidak ada ledekan, tidak ada tangisan. Hanya senyum, tawa dan canda.

Well, apa sikap Cela memang sudah berubah menjadi jauh lebih baik?

Atau ia hanya berpura-pura karena Mamanya juga ikut dalam satu bus?

Tapi tawa itu ikhlas sekali, gandengan tangan itu hangat sekali. Seperti layaknya Farisha dan Sepupunya. Aku tau betul jika Farisha sudah sangat akrab dengan seseorang.

Dan sepulang dari outbond aku bertanya pada Farisha..

Ajarkan anak menghubungkannya dengan cerita yang baik

“Apa Cela sekarang jadi anak baik? Enggak pernah meledek Farisha lagi?”

“Iya ma, Baik kok Cela. Apalagi pas Pica bilang kalo kita dapat piala lomba mewarna karena kita sama-sama sabar saat mewarna…”

Dan aku pun ber’Oooooo… ‘ saat itu.. Hihi..

Jadi beberapa bulan yang lalu, Cela memenangkan piala lomba mewarna juga seperti Farisha. Ia sangat senang karena saat lomba mewarna Farisha dan Cela berdampingan. Mereka saling memberikan semangat dan bilang bahwa ‘harus sabar’ supaya dapat menang. Hasilnya, mereka berdua menjadi juara. Waw, siapa sangka?

Well, aku punya fotonya sebenarnya. Tapi aku tidak mau mempublikasikannya disini karena identitas Cela aku rahasiakan. Hihi.

Melihat cerita Farisha dan Cela, aku jadi teringat tentang contoh kebaikan misalnya seperti cerita Umar dan Nabi Muhammad. Tentang betapa bencinya dulu Umar dengan Nabi Muhammad dan Islam. Tapi lihatlah akhirnya.. Ya, semua sudah tau ceritanya bukan?

Yah.. Pelajaran kehidupan yang dapat aku ambil dari cerita Farisha dan Cela adalah…

Jangan berlebihan saat menjelek-jelekkan seseorang. Karena bisa jadi, suatu hari nanti ia akan berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Mungkin, aku harus banyak belajar dari Farisha untuk selalu berprasangka baik pada teman. Seburuk apapun perlakukan teman itu pada kita dahulu.

anak-nakal-berteman

Terima Kasih untuk pembelajaran yang sangat berharga ini.. Farisha..

Jangan lupa baca bagian pertama dari artikel ini ya di link berikut.

Dear Farisha: Terima Kasih Sudah Menjadi Anak yang Membanggakan

Dear Farisha: Terima Kasih Sudah Menjadi Anak yang Membanggakan

Setiap Ibu pastinya akan bangga sekali jika memiliki anak yang pintar, cerdas dan berprestasi. Sama sepertiku dahulu yang tak hentinya dibanggakan jika memiliki prestasi di sekolah. Entah itu memiliki nilai bagus saat ulangan dan latihan, maupun menjadi juara kelas. Aku akhirnya merasakan perasaan itu pula saat sudah memiliki anak. Kini, aku belajar dari masa laluku.. Dan mulai belajar memahami makna dari ‘Bangga’ yang sesungguhnya.

Sejak sekolah dulu, Orang tuaku selalu memberiku nasehat untuk rajin belajar supaya memiliki nilai harian yang bagus, ulangan yang bagus dan dapat juara kelas. Aku melakukan segalanya untuk membanggakan orang tuaku. Menjadi Juara Kelas dan menjadi anak pintar diatas rata-rata. Tapi, kini aku sadar bahwa pintar saja tidaklah cukup.

Bagiku, Farisha harus berbeda denganku

Sejak menjadi Ibu, aku mulai menggali pengetahuan tentang parenting. Ada beberapa hal yang janggal dengan masa kecilku. Hal itu karena masa kecilku dipenuhi dengan jejalan kemampuan kognitif saja. Aku cepat dalam hal membaca, berhitung, dan menulis namun sangat kurang dalam hal empati dan simpati, kurang tanggap dan peka terhadap lingkungan. Mungkin, masa lalu ini pula yang menyebabkan aku menjadi introvert yang sangat tulen. Ya, aku terlambat untuk mengembangkan otak kananku dan lebih mengutamakan otak kiriku. Dan aku tidak mau Farisha tumbuh menjadi anak sepertiku.

Sejak Farisha kecil, aku tidak pernah memaksakan pembelajaran kognitif padanya. Aku melakukan segala bentuk pembelajaran sambil bermain. Akupun tak pernah membatasi kesenangan dan hobinya. Bagiku, setiap anak pastilah memiliki bakat yang spesial. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah mendukung bakatnya. Bakat itulah yang nantinya akan membawanya pada kesenangan dalam menikmati hidup. Dan saat itulah aku bisa mendefinisikannya sebagai kesuksesan.

Farisha memiliki hobi mewarna. Hobi ini telah ia tekuni sejak berumur 3 tahun. Jika berhadapan dengan kertas dan pewarna, ia betah berjam-jam lamanya untuk mewarnai gambar pada kertas tersebut. Hal ini berlangsung lama hingga ia sekolah TK. Aku pun mendukung bakatnya dengan menyalurkannya pada berbagai perlombaan mewarna. Awalnya, ia selalu kalah lagi dan lagi. Tapi, anak yang tekun dan konsisten dengan hobinya tidak akan menyerah dengan kekalahan. Ia akan terus mencoba lagi dan lagi. Aku senang melihat semangatnya. Dan sampai sekarang, Farisha telah mengumpulkan 6 Piala Juara Lomba Mewarna.Empat piala diantaranya adalah Juara 1 dan Dua diantaranya adalah Juara 2 dan Juara Harapan.

Walau Farisha tergolong lambat dalam hal Kognitif, terutama menghafal namun aku Bangga padanya. Bagiku, ukuran kesuksesan bukan hanya dilihat pada pencapaian. Namun bagaimana proses yang harus dilalui dan semangatnya. Ya, untukku sekarang, Farisha dan hobinya serta prestasi yang telah ia raih adalah sebuah kesuksesan.

Tapi, Sukses Saja Tentu Tidak Cukup

Sukses dalam meraih prestasi saja menurutku tidaklah cukup. Bagiku hal yang lebih penting dibanding prestasi adalah tumbuhnya rasa empati dan simpati. Kalau anak tidak bisa menyeimbangkannya, maka ia akan menjadi orang yang sombong suatu hari nanti. Bagiku, anak akan sempurna tumbuh kembangnya jika ia menjadi anak dengan tanggap yang lengkap.

Apa itu Anak dengan tanggap yang lengkap? Artinya adalah anak cepat tanggap, punya rasa peduli dan tanggap bersosialisasi. Anak yang tumbuh dengan tanggap yang lengkap akan otomatis respon dengan lingkungan sekitarnya, ia juga punya rasa peduli dan empati kepada orang lain tentunya juga ia akan aktif dan cepat tanggap dalam bersosialisasi.

Ini adalah hal yang tidak aku miliki dahulu.

Ya, dulu aku terlalu fokus dengan perkembangan kognitif ku. Aku lebih takut jika nilai ulanganku jelek dibandingkan dengan teman akrabku yang sedang sakit. Aku takut dimarahi orang tua karena ulanganku jelek, karena itu aku lebih memilih di rumah saja dibandingkan bermain. Dan puncaknya, aku tumbuh menjadi anak yang tidak cepat tanggap dengan lingkunganku. Tentu aku tidak mau Farisha seperti itu.

Hei Farisha, Sukses Saja Tidak Cukup.. Mari Menjadi Anak Tanggap yang Lengkap Agar Ibu Bangga padamu

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana menjadikan Farisha anak tanggap yang lengkap?”

Ada Tiga Hal yang aku lakukan untuk itu, antara lain:

1. Memberikan Kasih Sayang

Setiap anak membutuhkan kasih sayang. Ini adalah akar utama. Mengapa? Karena seiring dengan kasih sayang yang kita berikan kepada anak, maka anak akan mencintai kita. Dan hal inilah yang biasanya membuat anak-anak selalu menjadikan Ibunya sebagai Rule Model pertamanya.

Kasih Sayang dan Pola Asuh yang demokratis biasanya akan membuat anak patuh dan terbuka kepada kita.Ia tidak akan sungkan bercerita apapun kepada kita. Anak yang kurang kasih sayang biasanya akan menjadi anak yang pemalu dan tertutup bahkan di rumahnya sendiri. Jika dari akar kasih sayang sudah begini, maka akan sulit membentuk ketahap selanjutnya.

Aku sendiri lebih memilih menjadi orang tua yang demokratis. Sejak Farisha kecil, aku tidak pernah memanjakannya berlebihan ataupun terlalu mengekangnya untuk begini begitu.

2. Memberikan Stimulasi

Hal terpenting selanjutnya adalah stimulasi atau rangsangan. Untuk membuat anak cepat tanggap, punya rasa peduli dan tanggap bersosialisasi, maka kita harus memberikan kebebasan bagi anak dalam bermain.

Masa sih cuma bermain?

Ahli Psikologi, Copland dan Arbeau (Santrock, 2011) menyatakan bahwa bermain memberikan kontribusi penting dalam perkembangan kognitif dan sosial emosional anak usia dini.

Oleh karena itu, kita sering mendengar bukan bahwa dunia anak-anak itu adalah bermain. Biarkan saja anak mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Secara perlahan perkembangan IQ, EQ dan SQ nya akan terbentuk.

Kalian pernah memperhatikan anak yang suka di rumah dan bermain HP saja dan anak yang suka bermain di luar? Bagaimana perkembangannya?

Ya, anak yang dirumah saja dan kurang berinteraksi baik dengan teman maupun orang tuanya biasanya akan menjadi anak yang kaku dan kurang tanggap serta canggung dalam bersosialisasi. Sementara anak yang senang bermain apalagi dengan teman-temannya memang tergolong merepotkan. Sebentar-sebentar ia menangis, belum lagi dengan kondisi area permainan yang tidak pernah rapi. Repot memang, tapi begitulah prosesnya.

Farisha sendiri suka sekali aku ajak jalan-jalan keluar. Bukan hanya menginjak mall atau area bermain edukatif, tapi aku juga sering mengajaknya berjalan-jalan menyusuri perumahan pinggiran sungai di Banjarmasin yang terbilang sangat sederhana. Aku mengajaknya untuk menanamkan rasa syukur dan empati terhadap anak-anak yang lahir tidak seberuntung dirinya.

Selain itu, aku juga tidak pernah lupa mengingatkan kepadanya untuk selalu berkata ‘Maaf’ jika melakukan kesalahan, ‘tolong’ jika ingin meminta tolong, dan ‘terima kasih’ jika diberi sesuatu oleh orang lain. Tiga kata ajaib ini jika dipraktikkan betul-betul maka akan membentuk empati yang sempurna pada si kecil.

3. Memberikan Nutrisi yang baik

Nutrisi juga berperan penting untuk menumbuhkan anak yang hebat dengan tanggap yang lengkap. Kenapa? Karena asupan nutrisi yang tidak lengkap akan mempengaruhi fisik maupun psikis anak. Nutrisi yang lengkap dan seimbang dibutuhkan untuk daya serap anak dalam menyerap informasi sehingga dapat membentuk anak cepat tanggap dalam menyalurkan emosi dan kepeduliannya.

Nah, selain memberikan Farisha makanan seimbang dengan karbohidrat, sayuran, lauk-pauk dan buah. Aku juga memberinya susu. Dan susu yang aku pilih adalah Bebelac Gold.

Kenapa harus Bebelac Gold? Karena Bebelac Gold diperkaya dengan Tinggi serat, dan dapat membantu memenuhi kebutuhan serat harian anak untuk mendukung ia agar bisa hasilkan #7KehebatanPerut sehat seperti:

1. Pencernaan Nyaman

Pencernaan nyaman membuat aktivitas Farisha menjadi lancar dan tidak terganggu.

2. Penyerapan Nutrisi

Perut yang sehat dapat membantu penyerapan nutrisi keseluruh tubuh sebagai sumber energi dan pembentuk sel. Sehingga Farisha dapat terus aktif dalam bermain diluar.

3. Pencernaan Lancar

Perut sehat membuat saluran cerna berfungsi dengan baik sehingga pola BAB si kecil jadi lebih baik. Ingat sekali dulu Farisha punya masalah beberapa kali untuk BAB, karena ada beberapa sayur dan buah yang tidak ia suka. Sehingga aku pun lalai memberinya asupan serat.

4. Perlindungan Alami

Tahukah bunda? 70% sel perlindungan tubuh alami hidup di perut yang sehat. Karena itu perut sehat ini pentinh sekali sebagai antibodi alami si kecil.

5. Tumbuh Kembang Optimal

Dengan perut yang sehat, nutrisi dapat dioptimalkan untuk tumbuh kembang si kecil.

6. Cepat Tanggap

Nah, ini dia.. Perut yang sehat itu membuat anak menjadi cepat tanggap. Karena, 100 juta sel syaraf terdapat dalam perut sehat yang membawa informasi secara tepat ke otak.

7. Suasana Hati

Pernah mengalami anak yang sangat mood swing dalam beraktivitas? Hmm.. Bisa jadi perutnya kurang sehat. Anak dengan perut yang sehat akan selalu senang dalam beraktivitas karena 90% hormon seretoni yang mengatur suasana hati ada dalam perut sehat.

Kasih Sayang, Stimulasi, dan Nutrisi adalah tiga kunci untuk membentuk anak yang berprestasi dan tanggap yang lengkap. Senang sekali rasanya jika anak kita tidak hanya sekedar pintar dan berprestasi tapi juga pandai bersosialisasi dan punya rasa peduli kepada sekitarnya. Bagiku, itulah definisi ‘Bangga’ yang sesungguhnya.

Terima Kasih Farisha, sudah membuatku belajar menjadi Ibu yang lebih baik. Aku akhirnya mengerti dengan perasaan ‘Bangga’ yang benar.

Terima Kasih Farisha, sudah menjadi anak yang membanggakan dengan prestasi dan kepedulian.

Dan terakhir, terima kasih Bebelac Gold telah mendukung Nutrisi Farisha untuk 7 kehebatan perut yang luar biasa. #GrowThemGreat

Yuk, bunda.. Ikut cobain Bebelac Gold dan share denganku ya tentang manfaat yang si kecil dapat. 😉

Punya Anak Super Kreatif dan Hobi Coret-Coret? Begini Solusinya

Punya Anak Super Kreatif dan Hobi Coret-Coret? Begini Solusinya

Apa aja sih keluhan mom ketika punya balita yang lagi aktif-aktifnya?

Rumah selalu berantakan…
Ini itu selalu bertumpahan…
Barang-barang tidak ada yang ‘waras’
Sampul buku lepas semua…
Dan terakhir yang bikin seribu emak dilema luar biasa itu adalaaah…
Coretan-coretan yang ada di dinding, di sprei hingga di properti kesayangan emak lainnya…
Dan coretan itu tidak mau hilang…
Bak prasasti bersejarah yang punya bahasa sansekerta yang menghiasi seluruh isi rumah. Hahaha

Anakku adalah salah satu balita yang aktif dulu. Dia sangat suka dengan aktivitas coret-mencoret dan berekspresi dalam warna. Saking pintarnya, biar pun spidol dan crayon-nya sudah ku simpan tapi ia tak kehabisan akal. Ya, stok pewarna makananku di dapur juga menjadi bahan eksperimennya. Hasilnya? Lantai yang warna-warni, serta tangan dan kaki yang penuh dengan pewarna. Dan yang kadang membuat aku suka kelepasan marah itu adalah pewarna itu susah sekali hilang di tangan dan kakinya.

Lantas, kalau sudah sering begini… Apakah aku harus melarangnya?

Konon Katanya, Kotor Itu Kreatif

“Waduh… Kenapa itu tangan dan kaki Farisha warna pelangi… Pasti habis ikutan mamanya bikin kue yaaa..” kata salah seorang tetanggaku saat melihat Farisha kecil bermain keluar.

Aku pun menjawab, “Hehe.. Iya.. Habis ngabisin stok pewarna emaknya di dapur. Emaknya lagi mandi.. Lah bisa-bisanya dia buka kulkas nyari macam-macam.”

Tetanggaku pun tertawa sambil berkata, “Gak papa.. Anak kecil memang harus begitu. Daripada kerjaannya diam aja sambil nonton TV. Siapa tau suatu hari dia bisa jadi pelukis hebat…”

“Iya, anaknya suka mewarnai bu.. Sudah dibeliin warnaan juga macem-macem. Tapi kayaknya kurang cukup. Berasa pewarna makanan emaknya lebih bagus kali ya… Haha..”

Salah kah anak yang suka mencoret-coret tembok dan berekspresi dengan pewarna? Tentunya tidak ya. Karena dalam umur 3-5 tahun, anak memasuki tahap eksplorasi yang luar biasa. Ia akan mencoba berbagai hal yang baru dan menarik perhatiannya. Karena itu anak kecil sangat suka berantakan, menumpah-numpahkan sesuatu dan mengubah bentuk barang waras menurut kita menjadi barang waras menurutnya. Pikiran anak sekecil itu masih sangat pure dan penuh dengan imajinasi. Jadi, melarangnya melakukan apa yang ia senangi bukanlah hal yang bijak.

Sejauh ini aku memang membiarkannya. Namun, suatu hari ketika ‘tamu istimewa’ datang ke rumah, tiba-tiba saja aku merasa amat sangat malu. Apa pasal? Ya ya.. Mereka bilang rumahku berantakan. Cat dinding yang terbilang masih baru sudah penuh dengan coretan sana sini. Parahnya lagi, tamu istimewa itu seakan membandingkan rumahku dengan rumah Mama A yang punya balita sama sepertiku namun rumahnya masih sangat rapi dan bersih, satu goresan spidol pun tidak ada di dindingnya.

Malam itu, aku tidak bisa tidur memikirkan ‘nyinyiran’ tamu istimewa itu. Akhirnya, aku putuskan untuk browsing. Aku tidak mencari pembenaran untuk argumenku bahwa kotor itu kreatif. Namun, aku mencari solusi yang lebih baik untuk keduanya. Anakku dan sang tamu istimewa.

Untunglah Aku Menemukan Crayola

Sebenarnya, aku mencari-cari jenis pewarna yang bisa dihapus malam itu. Aku tahu bahwa melarang anakku untuk mencoret-coret barang berharga bukanlah hal yang benar. Karena itu akan menghilangkan kreativitas dan imajinasinya yang berharga. Dan kedatangan tamu istimewa tersebut telah menemukan solusi yang baru. Solusi itu adalah Crayola.

Crayola adalah salah satu produk pewarna kekinian yang bersahabat dengan anak kecil dan juga tentunya ’emaknya’. Apa pasal? Karena Crayola memiliki kualitas terbaik dalam mewarnai. Dan juga, salah satu produk Crayola merupakan ‘World Most Washable’ yang artinya paling gampang dibersihkan di seluruh dunia. Ya, aku membelikan Ultra-Clean Washable Markers Color Max untuk Farisha. Produk ini sukses menyalurkan bakat coret-coretnya di dinding dan tentunya membuatku senang karena coretan itu dapat dihilangkan.

“Crayola is dedicated to helping kids of all ages unleash the power of imagination in colorfuk ways. That’s why we developed ColorMax – a variety of innovations to reinvigorate classic Crayola products with the highest quality colors available today”

Produk Crayola yang satu ini benar-benar gampang dibersihkan. Di dinding, di kain, hingga di properti berharga lainnya. Kita tinggal menghapusnya memakai lap basah atau mencuci pakaian seperti biasa dan hasil coretan itu pun akan hilang. Bagaimana dengan di tangan dan kaki? Tentu saja kita tinggal membersihkannya seperti biasa saja. Dan tadaaa.. Hasil coretan yang indah itu akan hilang.

Tidak percaya? Hmm.. Aku pernah mencoba memakai produk Crayola ini untuk menyalurkan bakat mewarnai Farisha. Aku menggambar tokoh Chibi Maruko Chan pada salah satu kerudung segi empatku yang berwarna putih. Dan.. Tinggal kucek-kucek manja saja keesokan harinya. Pewarnanya sudah luntur. Kalau di dinding jangan ditanya lagi.. Ambil tisu basah saja dan semua coretan menggunakan Crayola sudah hilang. Akhirnya, rumahku kembali normal dan waras. Hahaha.

Hingga sekarang, ketika Farisha sudah berusia 5 tahun. Produk Crayola tetap setia kugunakan.

Tetanggaku benar. Farisha punya bakat mewarnai dan berimajinasi sejak kecil. Karena itu ia senang mewarnai dan mengikuti berbagai perlombaan mewarnai di sekolahnya. Ia telah memperoleh banyak piala karena hobinya itu. Hobi apa? Hobi coret-coret dinding saat masa kecil tentunya. Haha.

Tentunya bukan hanya produk Ultra-Clean Washable Markers Color Max yang kubelikan untuk Farisha. Aku juga memiliki Colored Pencils serta crayonnya. Pewarna Crayola sukses membuat Farisha menjadi juara.

Hal lain yang aku sukai dari produk Crayola adalah produk ini Eco-Evolution.

Solar panels provide energy to produce one billion crayon and half a billion markers each year in the USA.

Using recycled plastic in our prodycts keeps hundreds of tons of plastic out of landfills each year.

A new tree is planted for every one used to make our colored pencils.

Repurchase Crayola? Tentu saja!

Di mana bisa membeli Crayola? Kalau aku biasa membeli Crayola di Shopee. Ada berbagai paket produk Crayola di sana dan sesuai dengan paket kebutuhan. Untuk mom yang punya problematika sama sepertiku jangan lupa untuk membeli Ultra Clean Washable Markers.

So moms.. Masih suka kesal dengan anak yang suka coret-coret? Jangan sampai kemarahan kita membatasi imajinasi dan kreativitasnya ya.. Karena imajinasi itu sungguh berharga.

Happy parenting!

Bakat Itu Perlu Modal, Yay Or Nay?

Bakat Itu Perlu Modal, Yay Or Nay?

Konon katanya, setiap anak itu spesial. Semua memiliki bakat masing-masing. Tidak ada istilah anak idiot apalagi anak yang tak berguna. Sesungguhnya, bakat anak akan muncul seiring dengan aktivitasnya dalam bereksplorasi. Dan tugas kita sebagai orang tua adalah memperhatikan minat terbesarnya. Jika kita sudah menemukan hal yang paling senang ia kerjakan maka ‘mungkin’ itulah bakatnya.

Kita akan sangat senang jika bakat itu mendapatkan sebuah apresiasi entah itu berupa piala kemenangan ataupun sekedar pujian dari beberapa orang. Untuk menunjang bakatnya kita sebagai orang tua menyediakan berbagai hal, baik itu berupa sarana prasarana, waktu spesial untuk mengajarinya dan lain-lain. Kadang, semua hal yang kita lakukan tidaklah cukup. Apalagi konon zaman sekarang semuanya serba DUIT. Lalu, Bagaimana mengembangkan bakat anak secara sempurna untuk orang tua yang memiliki kondisi ekonomi yang masih dalam tahap perjuangan?

Ya, ini adalah ceritaku. Tentang bagaimana aku membangun bakat pada anakku Farisha…

Tentang bagaimana kegalauan dan rasa iriku muncul saat menyadari bahwa bakat saja tidaklah cukup.

Dan mari simak cerita ini dari awal…

Tentang Anak yang Memiliki Bakat

Sejak Farisha berumur 3 tahun, aku mulai menyadari kesenangan yang ia lakukan. Ia sangat suka menyuruhku menggambar, menggangguku saat membuat kue, membentuk adonan kue menjadi karakter yang ia suka dan menghilangkan stok pewarna makanan di dapur. Dalam tahap eksplorasinya, ia sangat tertarik pada aktivitas yang menghubungkan pewarna dan bentuk. Repot memang, aku harus banyak bersabar melihat rumah yang berwarna-warni tiada habisnya. Syukurlah anakku masih tergolong patuh saat aku atur. Ia tidak pernah mencoret-coret tembok maupun kasur. Ia tetap pada area aman dalam bermain. Anakku Farisha termasuk jenis anak yang rapi dan telaten dalam mengorganisir mainannya.

Nah, sejak berumur 4 tahun ia mulai menyadari bahwa menggambar dan mewarna di kertas sudah sangat cukup untuk menuangkan imajinasinya. Maka, ia mulai memintaku menggambar, memprint, hingga membelikannya berbagai jenis pewarna. Hal ini berlangsung hingga ia berumur 4,5 tahun dan mulai sekolah di TK Nol Kecil. Ia pun sangat bersemangat jika di TK tersebut ada aktivitas mewarnai. Dan ia juga sangat senang mengikuti berbagai lomba mewarna.

Meski awalnya sering kalah, namun Farisha termasuk pribadi yang abai dengan kekalahan. Kadang aku berpikir, apa dia tidak mengerti dengan konsep menang-kalah? Haha. Ya, ia tidak peduli dengan kekalahannya. Yang ia mau adalah ia harus selalu ikut dalam setiap kompetisi. Dan akupun mengikuti kemauannya itu. Hingga 5-6 kali kekalahan, akhirnya Farisha berhasil mendapatkan juara 1 di kompetisi mewarna mengalahkan murid di TK Nol Besar pula. Alangkah bangganya aku. Dan Piala pertama itu adalah hasil memuaskan dari kerja kerasnya bagi Farisha. Piala tersebut juga merupakan awal semangat yang baru untukku.

Tentang Hal yang Membangun Bakat Anak Hingga Berkelanjutan

Sejak Piala pertama mulai dimenangkan Farisha, kemenangan demi kemenangan mulai berdatangan. Sebagai ibunya, tentu aku merasa sangat bangga. Walau berselang seling dengan kekalahan namun pada kompetisi selanjutnya Farisha terus mendapat kemenangan. Kemenangan ini membuat Farisha bersemangat.

Aku pun turut mendukung hobinya dengan membelikannya berbagai pewarna. Meski sempat bosan, namun anak yang sudah memiliki hobi hanya perlu inovasi baru untuk mengembangkan hobinya. Salah satu inovasi itu adalah colouring book yang karakternya dapat dihidupkan dengan aplikasi di smart phone.

Baca juga: Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Bakat Anakku yang hilang

Ya, jika ditanya apakah bakat anakku hanya mewarnai? Bagaimana ia bisa konsisten dengan bakatnya? Sebenarnya jawabannya adalah..

Bakat anakku tidak hanya mewarnai. Tapi itulah yang paling sering ia lakukan. Bagiku, sangat jarang sekali ada anak yang hanya menyukai aktivitas yang itu-itu saja. Jika ia bosan mewarnai itu sangat wajar. Aktivitas mewarnai butuh mood yang sempurna, kesabaran dan ketelatenan. Hal yang membuatnya bersemangat adalah inovasi baru dalam belajar dan dukungan dari orang tuanya.

Karena tidak dipungkiri ya, zaman sekarang kita sangat tau anak-anak dituntut serba bisa. Bahkan anak seumur Farisha sudah banyak sekali yang dituntut bisa mengaji dan membaca oleh orang tuanya. Padahal? Padahal mereka belum siap. Padahal mereka belum bisa. Hal ini hanyalah untuk meningkatkan status persaingan sosial bagi ‘orang tuanya’. Yah, you know lah.. Something like… “Anakku udah bisa begini begitu..bla bla…”

“Wah anakku belum..bla bla…”

Persaingan seperti ini membuat anak melupakan dunia yang ia sukai. Maka jika ingin anak konsisten pada bakatnya biarkan ia melakukan hobinya bukan memaksakannya mengikuti standar lingkungan pada umumnya.

Baca juga: “Ketika Topik Perkembangan Anak dijadikan Persaingan Sosial oleh Orang Tuanya”

Ketika Bakat Terkalahkan, Harus Apa?

Sudah 5 kali sepertinya aku membawa Farisha mengikuti kompetisi mewarna yang diadakan se-TK Banjarmasin. Saingan yang dulunya hanya se-Banjarmasin Utara saja kini mulai bertambah luas kebeberapa penjuru. Saat itulah aku menyadari bahwa… Waw.. Skill mewarna Farisha tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Anak dari TK bla bla dan bla bla..

Apa yang kulakukan?

Tentu aku mengajari Farisha lebih keras dari sebelumnya. Walau skill mewarnaiku tergolong biasa saja namun kami selalu mendapat inovasi baru setiap kali melihat tutorial mewarna di youtube. Aku sangat senang melihat Farisha terus bersemangat mengasah bakat mewarnanya. Akan tetapi…

Kekalahan selalu datang lagi dan lagi. Yah, tidak hanya sekali namun sudah 3 hingga 4 kaki berturut-turut Farisha kalah. Harus kuakui, semangatnya yang dulu tinggi sekali saat belajar kini mulai menurun kualitasnya. Farisha sangat terobsesi dalam mendapatkan piala. Dan dalam beberapa kali lomba mewarna, walau harus kuakui kualitas mewarna Farisha sudah meningkat tapi ia selalu kalah dan tidak mendapatkan piala. Farisha sering mendapatkan hadiah favorite untuk posisi ke 4-6 dengan hadiah piagam penghargaan maupun voucher. Bagiku sih itu sudah amat membanggakan. Tapi tidak baginya..

“Tapi Farisha gak pernah dapat piala lagi.. “

“Tapi kan piala Farisha sudah banyak, lihat.. Ada 8. Ini sudah banyak loh..”

Untuk membuatnya bangkit dalam kekalahan aku telah mencoba berbagai cara. Kalian bisa membaca tulisan ‘tentang caraku mengajari anak pahit manis kekalahan’ ini pada blog Kumpulan Emak Blogger.

Bakat itu Perlu Modal Gak ya?

Salah satu alasan kuat kekalahan Farisha adalah ia tidak memiliki modal seperti saingan diatasnya. Ia hanya bersekolah di sekolah TK biasa yang tidak memiliki guru khusus mewarna. Ia juga tidak mengikuti sanggar mewarna seperti anak berbakat mewarna pada umumnya. Ya, modal Farisha selama ini hanyalah semangat dariku, pewarna Faber Castell hadiah ulang tahun dari neneknya dan smartphone untuk melihat tutorial mewarna di youtube. Hanya itu.

Kenapa hanya itu saja? Kenapa kami sebagai orang tua tidak ‘memodali bakatnya’ dengan cara yang jauh lebih baik?

Karena keluarga kami masih dalam tahap ekonomi pembangunan. Yah, bagi kalian yang sering melihat instastory di instagramku @aswindautari pasti setidaknya tau betapa hematnya aku dalam mengatur pengeluaran dalam satu bulan. Sebagai ibu yang terlahir dari keluarga yang juga merintis dari awal hal ini tidaklah terlalu sulit bagiku. Bagi kami, sekolah dan pengembangan bakat memang merupakan hal yang penting. Tapi memodali bakat anak dengan mengorbankan kebutuhan primer bukanlah hal yang bijak bagi kami.

Wait, Kebutuhan primer? Apakah masalah perut? Tidak, banyak hal yang lebih diprioritaskan disamping hal itu.

Baca juga: “Cara menghemat pengeluaran rumah tangga ala shezahome”

So.. Yay or Nay?

Bakat itu perlu modal? Tentunya ‘Yay’ buat aku.

Yah, memang berbeda sekali ya anak yang rutin ikut sanggar mewarna seminggu sekali dan dimodali dengan perlengkapan mewarna yang berjut jut harganya. Selama ini kupikir aku saja sudah sangat cukup untuk mengajari Farisha dan pewarna Farisha itu kupikir sudah paling lengkap dibanding yang lain..

Ternyata tidak.. 😂

Masih banyak jenis pewarna yang lebih unggul dan harganya berkali-kali lipat lebih mahal dari lipcream emaknya..😅😅

Memang yang namanya kemenangan itu perlu modal. Yang namanya prestasi dan terkenal itu perlu modal. Ini itu perlu modal. Modal Duit.. Duit.. Duit.. So, jangan ditanya kenapa emak-emak terkadang matre. Emak matre itu buat keluarga juga loh jeng..

Lantas, kalau tidak punya modal haruskah bersedih? Kecewa? Atau mau berusaha jungkir balik supaya dapat duit dan punya modal yang cukup?

Mamaku adalah tipe yang terakhir. Berusaha jungkir balik agar modal cukup untuk menyekolahkan anak kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi, aku bukanlah tipe yang seperti itu.

Ya, kadang aku berpikir jika aku memang memiliki uang berlebih dan bekerja keras siang malam tentu saja memasukkan Farisha ke sanggar mewarna dan membelikannya pewarna mahal adalah hal yang gampang. Tapi…

Tapi aku tidak punya waktu spesial untuknya.

Tidak bisa memotong sayur sambil memperhatikannya.

Tidak bisa menulis sambil mengajarinya membaca.

Tidak bisa membuat kue sambil mengajarinya mencampur-campur pewarna.

Kadang, aku berpikir. Jika aku bekerja diluar sana dan memiliki uang banyak tidak selalu hasilnya akan seperti begini begitu. Bisa saja, awal semangat dari Farisha yang senang mewarna karena ia mencintai aktivitasku di rumah.

Jadi, bakat memang perlu modal mak.

Tapi, modal yang utama dan sangat terutama itu adalah Kehadiran kita dalam memberi semangat untuknya.

Guru berkualitas memang dapat mengajarinya skill terbaik. Tapi yang memberikan kasih sayang terbaik tentu saja orang tuanya. Dan ia sangat membutuhkan itu melebihi segalanya.

Ditulis oleh seorang Ibu yang bangga pada bakat anaknya dan hanya bisa berharap bahwa

Semoga kami orang tuanya tak pernah putus memberikan semangat untuknya..

IBX598B146B8E64A