Browsed by
Category: Parenting

Cara Sederhana Mengajarkan Anak Perkalian dan Pembagian 

Cara Sederhana Mengajarkan Anak Perkalian dan Pembagian 

“Jadi, berapa 45:9 Pica?”

((Geleng-geleng)) 

“Kok gak tau? Sudah dikurangkan belum? Dihitung jumlahnya. Dikurangkan berapa kali.. Kan kemarin sudah mama ajarin..”

“Tapi enggak kunjung 0 ma hasilnya.. Malah minus..”

Dan akupun melihat hasil pengurangan Farisha. Ya ampun, ada yang salah. Pantas saja tak kunjung mendapat hasil 0.

“Pica, makanya kan mama sudah bilang.. Pokoknya selama Pica belum berhasil memecahkan misteri perkalian.. Maka Pica juga akan kesulitan belajar pembagian.. Ketidak-telitian ini akan berulang. Terus-terusan..”

“Tapi Pica sudah paham kok sama perkalian..”

“Oh ya.. Sini mama jelaskan.. Kenapa paham tentang konsep saja belum cukup..”

Tentang caraku mengajarkan pada anak konsep dasar perkalian

PJJ ini benar-benar menguras kesabaranku. Terutama kesabaran mengajarkan Pica perkalian dan pembagian. Duh, pusing kepalaku dibuatnya. Belum lagi soal bayi yang kadang datang mengganggu. Rasanya kok mau tekan tombol OFF sebentar.

Eh iya lupa, bayi bukanlah robot. 

Tapi serius, ngajarin anak perkalian itu enggak mudah. Apalagi belum juga belajar satu minggu, tapi guru di sekolah sudah menyuruh mengirim video hapalan perkalian 1-5. Jiwa parenting perfeksionisku memberontak seketika. 

Perkalian? Menghapal? Dalam tempo waktu sesingkat ini? Sungguh ku mengutuk kejam dalam hati. Hahahaha.. 

Bukan tanpa alasan aku menggerutu. Menurutku sendiri, mengajarkan konsep tentang perkalian jauh lebih penting dibanding menghafal. Dan mengajarkan itu tidak mudah loh. Ya setidaknya tidak mudah untuk Pica. Karena aku paham kemampuannya sampai mana. Cara belajar yang pas untuknya bagaimana. I mean.. Waktu seminggu itu cuma bisa buat memberikan konsep pemahaman perkalian. Bukan buat menghapal. 

Tapi ya sudahlah. Karena ini sistem belajar kilat mari diusahakan. Langsung deh aku memutar video belajar di youtube. Menyuruh pica menonton dan mempelajarinya. Maklum, SD Pica tidak memakai sistem pembelajaran lewat zoom dsb. Jadi memang orang tua harus berinisiatif sendiri soal ini. Dan ya ampun.. Ternyata anaknya kalau disuruh nonton doang ya begitulah.. Huft

Jadi, aku akhirnya membangun konsep perkalian dari cara Pica belajar membaca dahulu. Karena Pica ini anak yang lebih mudah mengerti kalau dia belajar dengan menulis langsung. Dulu, pica belajar membaca dengan menulis huruf kapital dan hidup di ruas jarinya. Sekarang, pica belajar perkalian dengan menulis angka urutan hitungannya pada jarinya. Dan ini berhasil. 

flashback tentang cara mengajari pica membaca dahulu

Baca juga: Cara mengajari Anak membaca dengan menyenangkan

So far, dalam waktu 2 hari Pica mengerti bahwa Perkalian adalah penjumlahan berulang. Dalam waktu 4 hari pica bisa menghitung dengan teknik jari untuk memecahkan perkalian. 

Aku tersenyum lega sekali. Aku berhasil.

Lalu, aku teringat deadline menghapal perkalian Pica. Duh, bagaimana ini pikirku. 

Aku cuek. Dengan angkuhnya jiwa parentingku berkata, “Yang penting anak paham konsepnya. Ngapain sih harus menghapal?”

Dan aku tidak mempedulikan tugas itu. Aku bersikeras bahwa perkalian bukan soal menghapal tapi soal mengerti. Lagi pula, saat aku melihat standar kompetensi di buku tematik tersebut.. Tidak ada loh tentang ‘anak harus hapal perkalian, yang ada adalah anak harus paham tentang perkalian’

Menghafal perkalian? Yay or Nay?

Ternyata, di kelas cuma Pica saja yang belum hapal perkalian 1-5. Semua anak sudah menyetorkan hapalannya kepada Ibu Guru. Dan aku pun bengong. 

Berpikir.. Wah, semua teman Pica kok pintar sekali ya.. 

Akupun sedikit intropeksi diri. Aku kah yang terlalu egois atau bagaimana? 

Sambil membuka instagram, mataku pun terpaku pada sebuah video di beranda ig. Salah seorang temanku memposting hapalan perkalian anaknya. Kebetulan anaknya seumur dengan Pica. Tapi, ada yang lain dari video itu. Seakan-akan anak itu sedang membaca perkalian di depan. Bukan menghapal.

Aku pun langsung ber ‘Oooo.. ‘ 

Dan jujur saja, karena didesak aku juga terpaksa melakukan hal yang sama. Hiks.

Yup, curang. 

Aku pun menyuruh Pica membaca perkalian di depan kamera seakan-akan ia sudah hapal. Padahal tidak. 😌

Duh, jahat ya aku? 

“Tidak, aku tidak jahat. Aku ibu yang punya prinsip.. ” Kataku dalam hati

Alasanku mendorong anak agar hapal perkalian

Aku Ibu yang punya ideologi. Aku punya prinsip. Prinsipku adalah menuruti passion anak. Prinsipku adalah follow your child. Bla bla.. 

Kenyataannya segala prinsip itu ambyar ketika pelajaran pembagian tiba. 😑

Dan percakapan di awal artikel ini adalah salah satunya. 

“Tapi Pica sudah paham kok sama perkalian..”

“Oh ya.. Sini mama jelaskan.. Kenapa paham tentang konsep saja belum cukup..”

Pica sudah paham tentang konsep perkalian. Perkalian adalah penambahan yang berulang. Pica juga paham tentang konsep pembagian. Pembagian adalah pengurangan yang berulang. 

Tapi Pica tidak tahu bahwa.. 

“Kadang konsep saja tidak cukup. Karena otak bisa melakukan kecerobohan. Bagaimanapun juga hapalan itu penting.”

Dan aku pun berkata pada Pica, 

“Pica, andai saja Pica hapal perkalian 5.. Maka pica bisa dengan mudah tau hasil dari 45:9..”

“Kenapa ma?”

Karena konsep dari pembagian bukan saja tentang pengulangan berulang. Konsep singkat dari pembagian adalah ‘kebalikan dari perkalian’. 

Pica pun tertegun mendengarku. 

“45:9 adalah 5.. Karena 5×9=45.. Selama Pica tidak hapal perkalian, maka kecerobohan yang sama rentan terjadi berulang-ulang. Tapi jika Pica sudah hapal perkalian maka kecerobohan itu akan berkurang kemungkinannya.. “

“Jadi, Pica memang harus hapal perkalian ya ma?”

“Iya.. Maaf nih sepertinya kali ini Mama salah. Mungkin Guru Pica benar bahwa perkalian harus dihapal.”

“Tapi Pica paling benci menghapal..”

“Kalau begitu, Pica mau pakai konsep pengurangan berulang terus ya?”

Pica terdiam. 

“Berapa 36:4?”

Pica pun mengangkat jari-jarinya. Kemudian berkata.. 

“Susah ma.. “

“Karena itu perkalian harus dihapal.. “

Cara mengajarkan anak hapal perkalian

Jujur, aku adalah Ibu yang sangat payah dalam mengajarkan hapalan. Aku tidak sabaran. Aku termasuk tidak telaten soal ini. Aku jauh lebih memilih membacakan anak 10 buku dongeng atau menggambar dsb. 

Karena itu, saat tau bahwa perkalian harus dihapal aku seakan kembali pada masa kecilku dulu. Dimana aku terpaksa harus menghapal perkalian, kalau tidak maka tidak boleh masuk kelas. 

Tapi, itu kan dulu. Dan itu ketika sudah SD kelas 4. Setidaknya aku sudah lebih tua 2 tahun dibanding Pica saat ini. Duh, pelajaran SD zaman now ternyata lebih horor ya. Pikirku. 

Aku mencoba berpikir positif. Dulu, aku tidak punya support sistem seperti Pica. Tidak ada youtube, orang tuaku sibuk, kakakku terlalu pintar, dsb. Sedangkan Pica punya aku yang selalu mendampinginya. Jadi, ya kenapa harus menyerah? Pelajaran anak zaman sekarang memang levelnya lebih tinggi karena support sistemnya lebih mendukung. 

Jadi, sambil mengeluh kesah dengan suami akhirnya kami mencoba mengajak Pica berdiskusi. Berbekal sebuah kerja sama akhirnya Pica bisa juga perlahan menghapal perkalian. Cara-cara yang aku terapkan antara lain adalah:

Tanam Motivasi

Ini adalah tugas Abah Pica. Suatu malam Pica mendengar Abahnya bercerita bahwa dalam otak Pica, ada sebuah pohon yang tumbuh. 

Pohon itu bernama pohon pikiran – Mind Tree

Pohon pikiran terdiri dari berbagai cabang. Diantaranya ada 3 cabang besar yang bisa membangun sebuah kastil pikiran. Cabang itu bernama:

Cabang belajar

Cabang bermain

Cabang kasih sayang

Tiap cabang terdiri dari berbagai daun. Daun akan bertambah banyak seiiring banyaknya belajar, bermain dan berbagi kasih sayang. 

Akan tetapi, jika cabangnya tidak seimbang maka pohonnya akan kehilangan tujuan atau tidak berbuah. 

Buah itu bernama Passion. Passion itu akan tumbuh dari Bunga yang bernama Hobi. 

“Jika Pica terlalu sering bermain maka hanya daun dari cabang bermain yang tumbuh. Cabang belajar jika tidak dirawat akan rapuh.. Maka selamanya tidak akan sempurna berbuah. Karena buah tanpa ilmu tidak akan menghasilkan passion yang sempurna..”

Pica tertegun mendengarnya. 

“Apa yang terjadi jika bunga dan buah tumbuh karena dipaksakan abah?”

“Maka berakhirlah menjadi orang dewasa yang tumbuh hanya karena mencari uang. Pica mau kalau sudah besar hanya menjadi tukang parkir, pengisi bensin dsb? Passion akan melahirkan cita-cita yang tinggi dan bisa membantu orang sekitar menjadi apa yang ia inginkan.. “

Wah, tidak kusangka pencerahan itu menjadi motivasi bagi Pica. Pica semangat belajar perkalian. Karena ia tau bahwa tanpa ilmu maka segala hobinya tidak berarti. 

Membeli Poster dan Buku

Ini adalah tugasku. Membeli poster perkalian hingga buku. Aku menempel poster perkalian itu di samping tempat tidur Pica agar selalu ia baca sebelum tidur dan sesudah bangun tidur. 

Aku juga membeli buku perkalian di BBW, buku ini bisa menjadi latihan untuk Pica. Karena isian dari hasil perkaliannya bisa di tarik ulur sehingga hasilnya tidak kelihatan dan kelihatan. 

Sering Latihan

Selain membeli poster dan buku, Pica juga sering latihan. Menurut salah seorang temanku di instagram, latihan sangat membantu sekali. Karena anak-anak yang les di kumon pun tidak disuruh menghapal loh. Hanya sering latihan saja. 

Dan ini benar. Sering-sering memberi anak latihan sangat membantu. Setidaknya anak bisa ingat dengan pola yang sering ia kerjakan. 

Sering Mengulang hapalan

Sebelum beraktivitas seperti makan, tidur dsb aku selalu mengetes hapalan Pica. Dan Alhamdulillah hasilnya terasa sekali semingguan ini. Pica benar-benar hapal. Hiks terharu. 

Syaratnya, konsistenlah dalam menyuruh anak mengulang hapalannya.

Berikan hadiah

Untuk menghapal perkalian 2-5 saja butuh waktu 2 minggu loh. Dan itu tidak mudah bagi anak seperti Pica. Seketika aku langsung menghela nafas ketika ada tugas lagi bahwa anak harus mengirim video hapalan perkalian 6-9. Haruskah aku curang dulu? Hahaha.. 

Tapi serius, akupun akhirnya memakai jurus terakhir. Yaitu jurus hadiah. 

“Pica mau dibelikan sepatu kets warna pink kayak mama kan? Pica udah dapet nih. Tapi sebelah kiri doang. Kalau mau sebelah kanannya juga berarti Pica harus hapal perkalian 6-9” Kataku. 

Dan Pica pun bergegas ke kamar untuk menghapalnya.. Hahahaha.. 

Astaga ternyata beginilah caranya menemukan motivasi instan.. 😂

Itulah kenapa kadang mamak juga selalu semangat ketika dapat hadiah dalam menulis atau dapat endorse.. 😂

((Ternyata anak dan mama sama saja)) 

***

Well, ceritanya terlalu lebar di mengajarkan perkalian ya? Lalu bagaimana dengan pembagian win? 

Ketika Pica sudah hapal perkalian 2-5 maka secara perlahan ia juga sudah bisa pembagian. Karena pembagian adalah kebalikan dari perkalian. Jadi, intinya memang harus hapal perkalian dulu. 🙂 

Bisa sih ya pembagian dihitung dengan pengurangan berulang lalu dihitung jumlah berapa banyak proses pengurangannya. Akan tetapi, bagi anak pengurangan berulang ini rentan sekali terjadi kesalahan. Jadi memang yang terbaik adalah memahami perlahan tentang perkalian hingga menghapalnya terlebih dahulu. 

Nah, para moms sekalian punya cerita apa nih tentang suka duka ngajarin anak perkalian dan pembagian? Sharing denganku yuk! 

Tentang Anakku yang Alergi Protein Susu Sapi dan Susu Formula Soya yang Cocok Untuknya 

Tentang Anakku yang Alergi Protein Susu Sapi dan Susu Formula Soya yang Cocok Untuknya 

Bagaimana perasaanmu ketika anakmu bangun setiap malam dalam keadaan menangis kencang.

Ia muntah tak berkesudahan.

Tangannya sibuk menggaruk punggungnya. Wajah merahnya dan mata yang berair itu menatapmu seakan bertanya, “Apa yang sedang terjadi padaku Ma?”

Ya.. ini cerita tentangku dan Pica, anak pertamaku. Buah hati pertama yang menyeretku ke dalam dunia emak-emak. Anak pertama yang mengajariku arti pengorbanan. Anak yang sungguh merupakan seorang guru kecilku dalam perjalananku menuju kedewasaan. 

Pada umurnya yang ke 2 tahun, aku menghadapi masalah baru dalam perkembangannya. Masalah itu muncul ketika aku sudah sukses menyapihnya. Setiap malam, ia bangun dengan wajah merah dan mata berair. Tangannya sibuk menggaruk punggungnya. Ia tidak ingin menyusu, ia juga tidak meminta pelukan dariku. Ia seakan bertanya pada diriku, Apa yang sedang terjadi? 

Dan bodohnya aku saat itu.. Sungguh aku sendiri pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. 

Ternyata, Anakku Alergi Protein Susu Sapi

Butuh waktu lama untuk membuatku sadar tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anakku. Karena sebagai ‘mamah muda’ aku sungguh merasa segala tindakanku sudahlah sempurna. Jikapun ada yang salah pada Pica, itu pasti bukanlah kesalahanku. Begitulah egoku berkata. 

Ya, sebagai tipe ibu yang cenderung perfeksionis aku merasa tidak melakukan kesalahan. Pica selalu makan masakan rumahan yang aku buat. Tak pernah sekalipun makan makanan instan. Tak pernah pula jajan sembarangan. Apalagi aku selalu memastikan asupan serat Pica selalu seimbang. Lantas bagaimana bisa Pica sering muntah akhir-akhir ini? 

“Mungkin Ibunya makan sembarangan.. “

Suara sayup itu kadang terdengar. Dan pikiranku langsung menentang seketika sambil bergumam, “Pica aja udah gak nyusu lagi.. Bagaimana bisa pola makanku dikait-kaitkan lagi?”

Aku kemudian melirik ke bintik kecil merah yang bersarang di punggung Pica. Berpikir keras. Apakah anakku alergi? Apakah ia sepertiku waktu kecil? Yang tidak bisa makan telur ayam, seafood hingga ayam ras? 

Ah, bukankah aku sudah banyak belajar soal itu dari Mama? Sejak MPASI aku tidak pernah memberikan Pica seafood berlebihan. Pasti aku cek reaksinya. Dan ia juga tidak alergi dengan telur ayam hingga Ayam ras. Bukannya dia sudah sejak lama makan itu? 

Akupun secara iseng memeriksakan kondisi Pica ketika kebetulan check up di Posyandu. Salah seorang bidan berkata padaku, “Bisa jadi dia alergi susu. Kan alerginya kambuh sejak lepas ASI. Kalau boleh tau, Ibu pakai susu apa di rumah?”

Deg.. 

Aku pun langsung melirik kemasan susu pertumbuhan yang baru-baru ini aku beli. Sambil bergumam.. “Apakah gara-gara ini?”

Bergegas aku mencari informasi di google tentang ciri-ciri anak alergi dengan protein susu sapi. Dan dari semua ciri-cirinya.. Sebagian besar ada pada Farisha. 

Bagaimana Bisa Anakku Alergi Protein Susu Sapi? 

Ya.. Pertanyaan selanjutnya adalah.. Bagaimana bisa anakku alergi dengan susu sapi? 

Bukankah aku sendiri tidak alergi? Bukankah suamiku juga tidak? Lalu bagaimana bisa Pica alergi? 

Ternyata, bisa saja sistem kekebalan tubuh Pica langsung bereaksi ketika mengonsumsi kandungan protein yang terdapat pada susu sapi secara langsung. Padahal, aku sendiri juga mengonsumsi susu sapi. Akan tetapi ketika Pica masih ASI, tidak ada reaksi apa-apa. Itulah yang awalnya membuatku ragu. 

Ternyata bisa saja anak alergi susu sapi walau kedua orang tuanya tidak alergi. Apalagi Pica saat itu masih berusia 2 tahun sehingga sistem pencernaan dan kekebalan tubuhnya belum sempurna. 

Atas pertimbangan alergi, maka aku memutuskan untuk berhenti memberikan Pica susu pertumbuhan. Aku hanya rutin memberikannya makanan 4 sehat secara seimbang. Alhamdulillah alergi itu tidak datang lagi. 

Perjuangan Mencukupi Nutrisi Anak Alergi

Ternyata, mencukupi kebutuhan nutrisi anak itu tidak sesimple itu. Awalnya, kupikir dengan memberikan Pica makanan sehat secara seimbang saja sudah sangat cukup untuk kebutuhan nutrisinya. Ternyata aku salah. 

Di usia Pica yang sudah 3 tahun, ia sering sekali terkena radang tenggorokan. Tidak tahu kenapa. Sampai pernah suatu hari dia di opname selama 3 hari. Dan selama itu dia tidak mau makan. Disitulah hatiku terasa ‘terpotek-potek’. Hiks.. 

“Anaknya gak mau minum susu ya?”

“Kok gak dikasih susu?”

Begitulah komentar orang-orang disekelilingku sehingga akupun menjadi serba salah. 

“Adek Pica ini di rumah biasanya makanan kesukaannya apa?” Kata Dokter padaku. 

“Dia suka sekali telur dadar dok. Hampir setiap hari makan telur..” Kataku

“Apa lebih dari satu kali bu? Kalau bisa dikurangi ya Bu. Anak Ibu ada alergi. Dari sekarang harus rajin juga makan ikan sungai dan sayur ya..

Yah, aku tidak terlalu peka soal alergi pada anak ini. Dulu waktu baru disapih, Pica alergi susu sapi. Kulitnya kemerahan dan sering muntah.

Ketika berumur 3 tahun aku kadang sedikit iseng memberikannya susu sapi. Karena Pica sebenarnya suka dengan berbagai susu UHT. Dan aku senang karena bintik merah itu tidak muncul lagi. 

Akan tetapi, rhinitis alerginya kambuh sedikit lebih parah. Sehingga kadang radang tenggorokan juga sering kambuh. Biasanya diawali dengan batuk dan pilek yang tiada henti kemudian berujung tidak mau makan. Tuh kan, sedih sekali aku kalau mengingatnya. Besar kemungkinan kalau penyebab meningkatnya alergi Pica juga disebabkan oleh susu sapi. 

Untungnya, Dokter merekomendasikan kepadaku untuk memberikan susu formula soya pada Pica. Dan atas rekomendasi dokter tersebut, kini Pica rutin minum susu pertumbuhan soya. 

Ya, hingga usia Pica sudah 7 tahun seperti sekarang. Tak dipungkiri bahwa susu soya turut membersamai pertumbuhannya. Tak lupa disertai dengan makanan sehat yang mendukung untuk menghambat alerginya. Aku terus mengusahakan yang terbaik untuk Pica hingga sekarang. Karena aku tau saat inilah masa tumbuh kembang yang krusial. Ya.. Nutrisi Pica harus tercukupi, karena waktu tak bisa kembali lagi. 

Nah, Ini adalah salah satu menu makanan kesukaan Pica. Ikan patin panggang, berbagai sayur, buah dan sambal tomat. Aku hanya memberikannya telur tidak lebih dari satu setiap hari. Dan aku juga selalu rajin memantau reaksi alerginya setiap 3 bulan sekali. 

Tips untuk Ibu yang memiliki Anak Alergi Protein Susu Sapi

Nah, pastinya salah satu dari kalian ada yang memiliki permasalahan sama sepertiku bukan? Berikut tips untuk Ibu yang memiliki anak alergi susu sapi:

1. Jangan stress

Tidak usah stress loh. Karena yang namanya alergi itu wajar banget terjadi. Apalagi untuk alergi susu sapi. Konon, 2 dari 10 anak bisa mengalami alergi susu sapi. 

Intinya, kita tidak sendirian. Dan dari pada larut dengan kesedihan karena anak sangat sensitif terhadap potein susu sapi lebih baik kita hadapi permasalahannya dengan hati yang lapang. 

2. Hindari Makanan yang Mengandung Susu Sapi

Alergi susu sapi ini ada berbagai macam tingkatnya. Ada loh anak yang bahkan mengalami alergi ketika masih ASI. Dan itu terjadi karena ibunya mengonsumsi protein susu sapi. 

Untuk kasus Pica, alergi terjadi ketika ia berusia 2 tahun dan sudah berhenti ASI. Awalnya kupikir susu pertumbuhannya yang perlu diganti. Ternyata tidak, semua susu yang mengandung protein susu sapi pasti memicu sedikit alergi. Begitupun dengan makanan yang mengandung susu sapi. Seperti keju. Pica akan muntah. 

Oleh karena itu aku menghindari makanan dengan penggunaan susu sapi. Siasatnya adalah dengan membuat makanan sendiri di rumah.

3. Rutin Memantau Perkembangan Alergi Anak

Biasanya, alergi susu sapi tidak berlangsung selamanya loh. Kebanyakan hanya berlangsung hingga anak berumur 2-3 tahun saja. Jadi, jangan khawatir untuk belajar memantau perkembangan alergi anak. 

Caranya bagaimana? 

Sesekali, berilah anak makanan yang mengandung protein sapi. Kemudian amati reaksi alerginya selama 2-3 minggu. 

Ketika Pica berumur 2-3 tahun. Ia tidak tahan makan keju. Tapi, ketika sudah berusia 4 tahun hingga sekarang.. Pica sudah tidak alergi lagi dengan keju. Untuk makanan yang lain pun mulai menyusul satu per satu. Meskipun untuk meminum susu sapi alergi masih muncul. 

4. Gunakan Susu Dengan Protein Soya

Nah, ini yang aku lakukan sejak Pica umur 3 tahun. Sedikit terlambat sih tapi lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali. 

Saat ini ada berbagai macam susu formula pertumbuhan dengan protein soya. Akan tetapi tidak semua ramah di pencernaan anak dan beberapa anak tentu sedikit tidak familiar dengan rasa soya. 

Untuk susu pertumbuhan yang Pica konsumsi adalah Morinaga Chil*School Soya. 

Morinaga Chil*School Soya, Susu Formula Soya Untuk Anak 3-12 Tahun

Menurut berbagai referensi, biasanya alergi susu sapi akan hilang dengan sendirinya seiring dengan matangnya saluran pencernaan bayi (pada usia 2-3 tahun). Oleh karena itu, kadang aku juga sering melakukan challenge test dengan cara mencoba memberikan produk-produk yang mengandung susu sapi sedikit demi sedikit. 

Dulu, Pica sangat suka dengan keju. Tapi, kalau ia memakan lebih banyak pasti berujung dengan muntah. Tapi seiring berjalan waktu, alergi keju sudah memudar. Begitu pula dengan berbagai makanan lain yang mengandung susu sapi. Alerginya sudah mulai hilang. Hingga usia Pica 7 tahun, hampir tidak ada makanan yang mengandung susu sapi dapat memicu alerginya. Alhamdulillah sekali. 

Akan tetapi aku belum berani mengganti susu pertumbuhannya secara penuh. Karena mungkin sedikit trauma. Jadilah sampai sekarang Pica selalu punya persediaan susu formula soya di rumah. 

Dan susu formula soya yang Pica konsumsi adalah Morinaga Chil*School Soya. Susu formula ini tergolong sangat cocok untuk Pica karena dari dulu kandungannya sangat ramah untuk pencernaannya. Dengan kualitas protein setara susu sapi, diperkaya L-Metionin, Karnitin, Asam Amino Esensial, serta Vitamin dan Mineral.

Selain itu, MoriCare+ Zigma Triple Bifidus yang ada dalam Morinaga Chil School soya dapat mendukung:

  • Kecerdasan multi talenta

Didukung dengan nutrisi Kolin, asam lemak esensial AAL & AL (Alfa-linolenat & linolelat), dan Zat Besi.

  • Pertahanan tubuh ganda

Kombinasi Probiotik asset moricare omega dan beta (bakteri baik) dan Prebiotik GOS (makanan bakteri baik), bersinergi untuk kesehatan saluran cerna dan meningkatkan daya tahan tubuh.

  • Tumbuh kembang optimal pada anak

Kombinasi Vitamin D dan Kalsium dalam susu pertumbuhan Morinaga membantu untuk menjaga kepadatan tulang dan gigi

Yah, setidaknya sebagai ibu aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Karena waktu tak bisa kembali bukan? 

FYI, Morinaga Chil*School Soya adalah satu-satunya formula pertumbuhan dengan protein soya yang diakui BPOM dan dilengkapi dengan kandungan AA dan DHA, serta mengandung nutrisi sinbiotik (sinergi dari probiotik dan prebiotik) dengan 3 jenis Bifidobacteria. 

Tidak hanya itu, susu formula soya dari Morinaga Chil*School ini juga sangat enak. Berbeda dengan stigma susu kedelai lain yang konon sedikit ‘eneg’ rasanya. Untuk Morinaga Chil School Soya rasanya enak dan segar, karena selain memiliki rasa vanila isolat protein kedelainya juga berkualitas dan tanpa laktosa.

Morinaga Chil School memiliki kualitas protein yang setara dengan susu sapi. Yup, Bebas alergen susu sapi, jadi aman untuk dikonsumsi oleh anak yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi.

Terima Kasih Morinaga Chil School Soya, Kini Aku Bisa Menikmati Waktu dengan Pica tanpa Worry

Orang bilang.. kalau memiliki anak alergi itu pasti perasaan Sang Ibu sering cemas, terutama soal nutrisi. Dan sungguh itu benar sekali. 

Dari sering memantau reaksi makanan yang memicu alergi, mencoba secara berkala hingga sabar jika alergi tiba-tiba kumat. Apalagi jika anak mendadak sakit serius. Hati ibu mana yang tidak sedih? Hiks. 

Alhamdulillah, perjalanan menemukan nutrisi yang pas untuk anak alergi dapat menemukan jalannya. Dan tak dipungkiri itu berkat dukungan nutrisi tambahan dari Morinaga Chil School Soya. Karena bagaimanapun juga, menemukan susu pertumbuhan yang cocok untuk anak alergi itu bagaikan oasis di padang gurun. *maaf mamak sedang lebay.. 

Untuk para ibu yang bernasib sama sepertiku, saranku untukmu adalah jangan menyerah dan jangan larut dengan kesedihan. Karena anak alergi itu wajar saja kok. Apalagi alergi susu sapi. Muntah, bintik merah, dan gejala lain saat mengonsumsi susu sapi itu adalah hal yang sangat wajar. You’re not alone. 

Jadilah Ibu kuat. Karena anakmu membutuhkanmu. 

Yup, masa anak-anak hanya terjadi satu kali. Dan tidak bisa diulang. Begitupun kesempatan kita untuk membersamai anak, semuanya tidak dapat diulang. Karena itu, manfaatkanlah waktu yang ada untuk terus mendukung potensinya dengan memberikan kasih sayang, stimulasi dan nutrisi yang maksimal. 

Terima kasih Morinaga Chil*School Soya karena telah membersamai tumbuh kembang anakku Pica. Kini perasaan cemas itu sudah berkurang. Aku dapat membersamai Pica setiap hari dengan nyaman karena nutrisinya sudah tercukupi. 

Aku ingin selalu menjadi ibu yang terbaik untuk Pica. Dimulai dari sekarang. Karena waktu tak bisa kembali lagi. 

Informasi lebih lanjut cek website www.cekalergi.com dan IG @morinagaplatinum.

Belajar Berempati Dengan Guru di Masa Belajar Online 

Belajar Berempati Dengan Guru di Masa Belajar Online 

“Kok kamu nulis beginian sih di blog? Cerita tentang Sekolah Online ditulis. Udah gitu kritik Guru pula.. “

Kata-kata itu sontak dilontarkan begitu saja ketika suamiku membaca tulisan curhat di blog tentang sekolah online.

Mau baca? Ini dia : “Sekolah Negeri Masa Pandemi, Gini Amat?”

Sertakan juga kritikan kalian ya. Kalau memang aku julid disana jujur saja dan berkomentar.. 🙂 

Lalu, berulang-ulang aku membaca tulisan di blog tersebut. Berpikir keras. Apakah aku ‘mengeluh banget?’ , Apakah aku julid hanya karena menuliskan proses pembelajaran di sekolah negeri masa pandemi? Apakah aku lupa menuliskan ‘sisi baiknya?’ 

Iya, memang sejak awal blog ini berdiri rata-rata tulisannya adalah tentang curhat dan curcol ringan. Dan ciri khas aku memang selalu mengangkat masalah diawal tulisan. Biasa diawali dengan bumbu sedikit mengeluh bla bla.. Yaa.. Aku melakukan itu supaya aku bisa menulis dengan mengalir ringan. Tidak dibuat-buat dan bisa menjadi diriku sendiri. Karena tujuanku membuat blog adalah agar suaraku dapat didengar. 

Tapi, biasanya aku selalu menuliskan hal positif disela-sela dan akhir curhatanku tersebut. 

Dan suamiku hanya melihat sisi negatif dari tulisanku tersebut, yaitu.. Aku kecewa dengan sistem belajar online. Kecewa dengan gurunya. Itu saja.

Well, jujur aku sedikit kecewa sih dengan sudut pandangnya dalam membaca tulisan. Hiks.. 

Karena sungguh disana aku juga menulis sedikit tentang betapa guru tidak punya pilihan dan juga sisi positif belajar online versi sekolah negeri di masa pandemi. Tapi hanya secara singkat. Aku juga sedikit menyarankan tentang inovasi belajar online disana. 

Dan baiqlah. Kali ini aku akan menuliskan empati versi terpanjangnya. Sebagai penyeimbang tulisan sebelumnya

I Feel You Teacher.. 

FYI, orang tuaku adalah seorang Guru. Keduanya adalah Guru. Begitupun Suamiku. 

Secara keseluruhan tentu aku sudah sangat mengerti tentang siklus hidup Guru. Berapa banyak gajihnya, betapa berat pekerjaannya, dan risiko kena ‘omelan’ dari orang tua murid karena mengajar yang tidak becus. Apalagi Mamaku sendiri adalah guru TK, uh.. Sudah sering aku mendengar cerita dari Mama tentang kasus bully anak sekolah yang berlanjut jadi pertengkaran guru dan orang tua. 

Dan situasi pandemi ini sungguh sangat menyulitkan posisi guru. Apalagi guru yang bukan termasuk dalam kalangan generasi milenial. Kebanyakan tidak begitu mengerti dengan smartphone. Sehingga ya ampun, bahkan ada loh guru yang baru saja berkenalan dengan Whatsapp.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Karena generasi boomers lebih senang dengan dunia nyata dibandingkan dunia maya. Tak pernah terpikir situasi belajar akan beralih ke online. 

Di tulisan sebelumnya aku mengungkapkan bahwa pembelajaran hanya berlangsung via WA. Dan pesan di WA pun hanya berbentuk tugas saja. Sontak banyak orang tua murid yang sering bertanya dan mengusulkan perubahan metode pembelajaran. Ada yang meminta untuk dikirimnya materi lebih jelas dengan video. Ada pula yang meminta untuk dibuatkan kelompok belajar dan dapat bergantian masuk sekolah secara social distancing. Tapi sungguh, keduanya sangat sulit dilakukan. 

“Sebenarnya Ibu sangat ingin belajar normal seperti biasanya.. “

Kalimat itu aku putar berulang-ulang. Ya, kalimat dari potongan video perkenalan dengan murid di kenaikan kelas kemarin. Aku pandangi wajah beliau bersama Pica. Aku yakinkan pada Pica bahwa inilah wali kelasnya sekarang. Dan memang itulah hal maksimal yang bisa beliau lakukan. Apalagi saat melihat beliau yang mungkin seusia dengan Mamaku. Mungkin saja beliau merasa kesulitan bahkan untuk membuat video perkenalan. 

But who knows? Mungkin saja bukan beliau adalah Guru terbaik pada zamannya? 

“Tidak ada satupun guru yang senang dengan sistem pembelajaran online yang demikian. Tapi, situasi pandemi ini memaksa Guru untuk berubah. Termasuk merubah cara mengajarnya.”

Ketika Guru Harus Belajar Berinovasi dalam Mengajar di Masa Pandemi

Tapi bagaimanapun juga, dia adalah Guru. Orang yang berkewajiban menyampaikan ilmu kepada murid. Tolonglah bagaimanapun caranya.. Apalagi Aku tidak punya waktu untuk mengajari anak. Aku harus bekerja siang malam lalu… bla bla bla.. “

Inilah salah satu percakapan di grup orang tua murid. Inilah kenyataannya. Bahwa banyak orang tua yang kesulitan di masa pandemi ini. Bahkan ada juga yang terang-terangan berkata jujur bahwa tugas dari Guru dikerjakan olehnya, bukan oleh anaknya. Kenapa? Karena tidak ada waktu untuk mengajari. 

Hal inilah yang membuatku secara singkat menulis di tulisan sebelumnya bahwa:

“Ah, kuharap setidaknya Guru juga mengirim video pembelajaran sesekali. Sebulan sekali juga tidak apa-apa. Memang kelas zoom atau google meet masih tidak bisa diaplikasikan. Tapi tidak ada salahnya bukan Guru mencoba belajar memiliki channel youtube? Supaya murid dan Guru juga memiliki sedikit keterikatan emosi. Dan memiliki video belajar begini mungkin saja bisa dijadikan ladang adsense suatu hari nanti. Wah, emejing banget kalau peluang ini bisa dimanfaatkan oleh guru honorer.”

Sungguh kata-kata itu dikritik. Dan aku sadar sekali bahwa tentu membuat channel youtube bukanlah hal yang gampang. Tapi tentu bisa dipelajari. Apalagi, setahuku di setiap kelas Guru senior selalu memiliki guru pendamping yang rata-rata adalah generasi milenial. Tentu sangat bisa jika guru belajar untuk membuat video dan dikirimkan ke grup WA di kelas. Tidak perlu berpanjang lebar dan hanya untuk menenangkan hati para orang tua murid saja.

Kenyataannya, guru memang dituntut untuk berinovasi di masa pandemi ini. Aku hanya menulis untuk mengungkapkan isi hati para Orang Tua murid. Menulis untuk berkembang, bukan hanya sekedar nyinyir. Bukankah orang tua dan murid adalah partner dimasa pandemi?

Guru, Bekerja samalah dengan Kami.

Jujur, aku sangat berempati dengan keadaan guru. Apalagi di masa pandemi ini. Apalagi jika Guru tersebut juga Perempuan yang mana juga merupakan seorang Ibu dari anak-anak. Tentu tidak mudah membagi peran. Apalagi kan yaa.. Nah diputar lagi deh.. Misalnya anak Guru tersebut juga memiliki keadaan yang sama dengan anakku. Banyak pula. Kan pusing juga. 

Karena itu aku sangat mengapresiasi jika ada guru yang dengan aktif bertanya dan menjawab pertanyaan dari orang tua di WA. Karena sungguh ketika tugas diberikan, banyak para orang tua murid yang bertanya di grup. Bahkan, pernah suatu hari ada murid yang bertanya berkali-kali. Ia mengeluh tidak paham dengan tugasnya, sementara mamanya tidak ada di rumah. 

Aku harap para guru bisa lebih aktif memantau grup WA. Tidak meninggalkannya begitu saja setelah memberi tugas. Karena di masa pandemi ini.. Sangat dibutuhkan kerja sama yang kompak antara orang tua dan guru. 

Aku tau, selain tugas mengajar guru juga diberikan tugas administratif dari sekolah yang berjibun banyaknya. Aku tau. Aku tau sekali. Karena diam-diam aku juga sering memantau status WA dari para Guru.. Hehehehe..

Dan sepertinya di masa pandemi ini tugas administratif malah bertambah banyak. Oleh karena itu, sepertinya ini bisa menjadi perhatian pemerintah. Setidaknya berilah keringanan tugas guru ‘disisi yang ini’. Karena selain bekerja sama dengan pemerintah, guru juga punya peranan yang lebih penting di masa pandemi ini. 

Yaitu bekerja sama dengan orang tua murid. 

Mari menjadi partner terbaik dalam memajukan generasi bangsa.. Duhai Guru..! 

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

“Duh, jam berapa ini? Mesti nyiapin laptop buat anak belajar..”

“Hapalan kamu gimana sayang? Coba mama tes dulu.. “

“Dengerin Bu Gurunya baik-baik ya.. Jangan ribut protes sama mama muluk..

“Ribet ya sekolah online gini. Darting deh lama-lama emaknya..”

Ewww… begitulah respon teman-teman yang memiliki anak sepertiku. Selama masa pandemi ini, semuanya memiliki cerita suka dan duka sendiri dalam menghadapi sekolah online. Ada yang bilang rame aja, ada pula yang bilang udah gak tahan karena berasa pengen marah-marah melulu. Maklum, rata-rata teman-temanku menyekolahkan anaknya di SD swasta dan SD Islam. Jadi memang mereka selalu sekolah online dengan sangat terstruktur. 

“Lantas, anak kamu gimana win? Si Pica enjoy aja gak..?”

Uhuk.. Berasa pengen batuk. 

Si Pica? Kataku sambil melihat anakku yang belajar sepatu roda di halaman rumah. 

Ya begitulah.. 

Anakku kan hanya sekolah di SD Negeri. Dan meski judul artikel ini terlihat ‘begitu amat’. Percayalah tulisan ini bukan dibuat untuk memojokkan sekolah negeri, apalagi Gurunya. Melainkan untuk sedikit evaluasi dan menumbuhkan rasa syukur ditengah pembelajaran online kala pandemi ini.

Pengalaman Anak SDN Sekolah Online di Masa Pandemi 

“Jadi, gimana Pica? Seneng gak belajar sama Mama doang begini?”

“Seneeeeng.. Karena cepet selesai.. “

“Masa?”

“Enggak juga sih. Mama galak. Apalagi pas ngajarin Matematika. Pica kan gak bisa langsung paham sama pengurangan mode begini.. “

“Kalau Bu Guru Pica enggak galak ya?”

“Enggak.. Bu Guru Pica gak pernah marah-marah kayak Mama.. Bu Guru Pica baiiiik banget.. “

“Jadi lebih senang sekolah beneran ya Pica.. “

“Enggak juga sih. Pica cuma kangen sama teman-teman aja..”

Dan obrolan malam itu pun berhenti. Ah, tidak terasa sudah 5 bulan lebih ya Farisha belajar di rumah. Ada perasaan sedih mengingat sosial time Pica terpaksa menjadi sangat menipis karena efek pandemi. Walaupun Pica sering bervideo call dengan teman satu genk di sekolahnya. Namun tetap saja rasanya tidak sama kalau tidak bertatap muka langsung. Pun soal belajar, rasanya tentu beda sekali dengan belajar di kelas bersama Guru dan teman-teman. Tapi, yaa.. Mau bagaimana lagi? 

Tapi serius, aku baru berani menulis pengalaman tentang sekolah online di SD Negeri sekarang. Karena aku baru saja mendapatkan mood untuk menulisnya. Ada pancingan juga sih. Mengingat pertanyaan dari salah seorang temanku yang anaknya sekolah di SD swasta. Dia yang mulai ‘stress’ lalu bertanya tentang apa solusi dariku. Ketika aku bertanya bagaimana metode pembelajaran disana.. Aku langsung cengengesan. Yup, seperti kubilang diatas.. Sekolah online SD swasta dan Negeri? Enggak apple to apple. Hahaha. 

I mean.. Jelas secara struktur dan sistem SD swasta lebih bagus. Jujur saja, SD Negeri Pica sangat tidak ada apa-apanya dibanding SD swasta. 

Yang mana jam 8 pagi siswa sudah harus hadir di kelas zoom. Mengisi absen, menyetor hafalan, mengerjakan tugas tepat waktu dsb. 

Apa yang Pica lakukan jam 8 Pagi? 

Ya ampun, Pica baru selesai makan dan sedang mengaji jam segitu. Dan aku masih sibuk berberes dapur serta mengurus bayi. Pica bahkan tidak memakai baju seragam layaknya sekolah online. Hanya sebuah pesan WA yang masuk setiap jam 8 pagi di grup kumpulan wali kelas 2A. Mau tau pesannya? 

Ya seperti ini.. 

Sudah. Hanya begitu saja. Setiap hari. Begitu saja. 

Tidak ada petunjuk. Tidak ada video tutorial dari Ibu Guru. Tidak ada materi selain dari buku Tematik.

Tapi mau bagaimana lagi? Ya jalani saja. Keputusan memasukkan anak di Sekolah Negeri kan memang keputusan aku dan suami. Tentang risiko dsb harus dijalani dengan lapang. Apalagi tentang sekolah online yang tentu harus mempertimbangkan banyak pihak dalam membuat aturannya. Dan aku sangat yakin, cara mengajar ini sudah dipertimbangkan baik-baik oleh para dewan guru. Jadi mah, kita tidak punya pilihan lain selain banyak-banyak stok sabaaaar. hihi..

Yup, meski SD Pica tergolong SDN unggulan di kotaku.. Akan tetapi keadaan ekonomi dari siswa sangat beragam. Tidak semuanya merupakan golongan ekonomi menengah keatas. Dan, tidak semua orang tua siswa adalah golongan milenial. Kebanyakan masih berpikiran layaknya generasi Boomers. Tidak paham fungsi aplikasi smartphone.. Selain WhatsApp..😅

Lima bulan lebih belajar online di masa pandemi menciptakan kesan tersendiri antara aku dan Pica. Awalnya memang sungguh jenuh. Bahkan pernah menyesal tidak memasukkan anak ke SD swasta layaknya teman-teman. Tapi ketika aku evaluasi lebih jauh.. 

Hey, ternyata selain banyak kurangnya.. Ada sisi lebihnya juga..! 

Kekurangan Belajar Online Di SD Negeri

Oke, aku akan urutkan kekurangan belajar online di SD Negeri terlebih dahulu. Tapi jangan salah. Setelah ini aku juga akan tulis kelebihannya juga. 

1. Mama berperan 100% Menjadi Guru

Bayangkan, setiap hari Guru di sekolah hanya mengirim pesan ‘demikian’ saja. Tentu saja aku harus berperan menjadi Guru hampir 100% untuk menjelaskan materi. Kadang saat begini, aku sangat bersyukur memilih peran menjadi IRT tulen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku mengatur waktu jika aku bekerja. 

Banyak beberapa orang tua murid yang protes. Meminta Guru mengirim tutorial atau setidaknya video mengajar. Ada pula yang meminta Guru untuk datang private ke rumah. Selain itu, ada pula yang menyarankan agar sekolah kembali dibuka dengan murid yang masuk bergantian seminggu 2x. Apakah dikabulkan? Tentunya tidak. 

Karena itu, beberapa Ibu yang bekerja terpaksa memasukkan anaknya dalam kelompok belajar offline. Mungkin ada sekitar 3 atau 5 orang yang demikian. Apakah aku ikut? Tentu tidak. Aku terlalu takut dan lebih memilih mengajar mandiri di rumah. Walau risikonya.. Mamak bakal sedikit Galak. 

Pica: “Sedikit? Begini sih banyak Ma!”

2. Materi yang Tidak Meluas

“Buku pelajarannya Pica apa aja Win?”

“Hmmm.. ” Ucapku bingung sambil memegang buku Tematik tema 1.

‘Ini doang’ 😅😅

Iya.. Sementara SD swasta punya buku bermacam-macam untuk belajar.. Aku dan Pica cuma memegang 1 buku saja setiap belajar. Tak lupa didampingi dengan google dan youtube. Ulala.. Ini doang. Hahaha. 

Dan karena saking sempitnya materi dan tugas, aku dan Pica kadang hanya meluangkan waktu kurang dari 1 jam untuk membaca dan mengerjakan tugas. Selebihnya? Pica menjadi asisten rumah tangga di rumah. Wkwk

3. Tidak Adanya Komunikasi Online antara Anak dan Guru

“Ustazah aku kemarin bilang bla bla.. ” Kata salah seorang teman TK Pica di chat. 

“Kalau ustazah kamu asik gak ngomongnya Pica?”

Dan pica pun diam. Dia bahkan tidak pernah melihat Gurunya mengajar selain video perkenalan diri di awal pembelajaran. Jadi, bagaimana Pica bisa tau sebenarnya Guru kelasnya seperti apa? Dia sungguh tak pernah melihat gurunya berkomunikasi dengan benar. I mean.. Mengajar dengan normal dengan kelas zoom, google meet dsb. 

“Bisa jadi mama lebih ramah dibanding Guru Pica yang baru.. Bisa jadi Mama lebih bagus penjelasannya.. ” Ketusku iseng. 

“Guru Pica yang kelas 1 aja gak galak. Masa yang kelas 2 galak.. “

“Seiring bertambahnya tingkat kelas.. Gurupun bertambah kegalakannya.. ” Jawabku iseng. 

Hmm.. Tapi serius. Dulu Pica sering sekali bercerita tentang tingkah polah guru dan teman-temannya di sekolah. Sekarang? Ah, moment itu hilang. Bahkan, Pica selalu lupa dengan nama Gurunya di kelas 2 ini. Ia selalu menyebut nama Gurunya yang di kelas 1. 

Ah, kuharap setidaknya Guru juga mengirim video pembelajaran sesekali. Sebulan sekali juga tidak apa-apa. Memang kelas zoom atau google meet masih tidak bisa diaplikasikan. Tapi tidak ada salahnya bukan Guru mencoba belajar memiliki channel youtube? Supaya murid dan Guru juga memiliki sedikit keterikatan emosi. Dan memiliki video belajar begini mungkin saja bisa dijadikan ladang adsense suatu hari nanti. Wah, emejing banget kalau peluang ini bisa dimanfaatkan oleh guru honorer. 🙂

Kelebihan Belajar Online di Sekolah Negeri

Eits jangan salah. Walau kadang banyak mengeluh. Tapi sesungguhnya aku juga banyak bersyukur loh dengan sekolah online di masa pandemi sekolah negeri ini. Iya, ada kok sisi kelebihannya. Nih ya aku jabarkan.. 

1. Waktu Belajar Lebih Fleksibel

Sungguh, Pica itu aslinya anaknya pemalas berolah raga. Tapi semenjak Pandemi corona.. Anak itu kulitnya malah tambah gosong. Wkwkwk.. Terbalik ya? 

Karena dia sedang asik-asiknya belajar sepatu roda. Sehabis bangun tidur, dia langsung bermain di halaman rumah. Begitupun di siang hari sehabis belajar. Aku no worry ya. Karena lingkungan aku termasuk kategori sunyi. Sehingga bisa banget social distancing. Aku selalu tekankan ke Pica bahwa hal yang harus dihindari di masa pandemi ini bukannya keluar rumah. Tapi hindarilah setiap orang. Jaga jarak adalah yang utama. Bukan perihal memakai masker saja. Eh, kok jadi kampanye protokol kesehatan disini? Haha

Tapi serius, habis berolah raga.. Pica baru mandi dan makan. Kadang lewat jam 8, kadang juga ngepas jam 8. Dan belum tentu langsung belajar. Kadang menunggu mamaknya selesai nginem dulu. Kadang jam 9 atau jam 10 baru bisa mengajari anak dengan khusyu. Maklum, punya bayi yang kudu di’genjutsuin’ supaya bisa tenang. 

Dan beberapa emak pekerja juga kadang bersyukur dengan menyekolahkan anaknya di SD Negeri saja. Karena saat jam istirahat atau ketika pulang mereka bisa mengajari anak atau ikut membantu tugas anak. 

Yup, tugas anak setiap hari itu No Deadline. Memang ada sih peraturan awal bahwa tugasnya harus dikumpul paling lambat jam 4 sore. Tapi kadang masih bisa didiskusikan lagi. Apalagi untuk Ibu Pekerja. Masih bisa kok ditoleransi. 

2. Tidak Ada Target Hapalan

Entahlah. Kurasa aku harus bersyukur soal ini. 

Saat melihat ibu-ibu lain berusaha sangat keras mengajari anaknya menghapal aku kadang merasa bersyukur karena Pica tidak memiliki target hapalan sedemikian keras. Karena dari dulu aku paling benci dengan hapalan. Apapun jenisnya. Walaupun memang menghafal Qur’an tentu sangat baik. Tapi jujur saja aku tidak ada bakat disini. Bahkan sewaktu Pica TK dulu aku sempat marah-marah hanya karena Pica bolak balik salah mengurutkan lafal Ayat Al-Kafirun. Sungguh aku sepayah ini dalam mengajarkan hafalan. Huft. 

Dan aku melihat, anakku juga tidak memiliki bakat dalam segi menghafal. Sehingga aku memang tidak perlu banyak stress untuk mengangkat hal yang bukan bakatnya bukan? 

3. Anak Bisa Fokus dengan Hobi dan Passionnya

Yup, bicara soal bakat.. Aku lebih mengarahkan Pica untuk mengeluarkan ekspresi dengan menggambar dan mewarnai. Karena itu adalah kesukaannya sejak kecil. Dari TK Farisha sudah memenangkan banyak piala untuk lomba mewarnai. Dan saat SD ini, dia sangat senang menggambar.

Karena waktu belajar untuk sekolah setiap hari tergolong singkat, bahkan kadang memakan waktu kurang dari 1 jam jika tidak ada matematika.. Maka kegiatan Pica lebih banyak teralihkan dengan berkreasi dan menggambar. Bahkan ia juga memiliki akar-akar hobi yang baru. 

Dan yang paling penting. Ia senang dengan hobi barunya. Ini merupakan berkah untukku. Dan ini kadang tidak bisa didapatkan begitu saja di sekolah bukan? 

4. Anak Bisa Belajar Empati dengan Ibunya

Siapa yang semenjak sekolah online ini anaknya jadi suka memasak di dapur? 

Ada juga yang anaknya punya tugas baru? Yaitu membersihkan halaman dan mengepel lantai? 

Atau menjaga adiknya yang sedang rewel saat emaknya memasak di dapur? Atau membantu emaknya melipat pakaian?

Itulah Pica sekarang. Hahaha. 

Semenjak pandemi, dia jadi punya berbagai skill baru. Salah satunya adalah membersihkan halaman rumah, melipat baju dan mengajak adiknya bermain. 

“Kasian ternyata kerjaan Mama di rumah banyaaaak bangeeet.. “

“Dulu Pica kira kerjaan Mama kalau pagi ngapain?”

“Kirain masak sambil nonton drakor plus menyusui bayi aja Ma.. “

“Ternyata?”

“Ternyata Mama bisa masak sambil nyuci, sambil bersih-bersih rumah, sambil gendong Humaira, sambil nyiapin cemilan buat pegawainya abah.. Duh.. Capek ternyata jadi Mama itu.. “

“Jadi..?”

“Jadi Pica harus bantu-bantu Mama. Karena kalau Mama capek Mama bisa meledak. Marah-marah. Terus pas ngajarin Pica bisa meledak-ledak marahnya kayak bom. Apalagi kalau matematika.”

“Yah.. Memang seperti itulah Mamamu aslinya Pica. Makanya seisi rumah harus berempati pada Mama. Sering-seringlah mengajak Mama Piknik kalau pandemi sudah berakhir ya..!” *Speaker mode ON. Berharap suami mendengar dengan baik. 🤣

Yup.. Inilah cerita sekolah di Masa Pandemi. Iya.. Sekolah Negeri emang gini amat. Bahkan aku sempat cekikikan melihat video tik tok dari seorang Guru SD yang dikatakan makan gajih buta. Wah, memang dimasa pandemi ini serba susah ya. Tapi kalau direnungkan lagi.. Duh, banyak sisi positifnya ternyata dibanding negatifnya ya. Jadi ya sudahlah. Syukuri saja. 

Semoga Pandemi ini segera berakhir ya! Bagiku, sekolah normal memang tak tergantikan sampai kapanpun! 

*Tulisan ini dibuat setelah bercurcol ria dengan para wali murid di grup.. Sehingga isinya sedikit mewakilkan perasaan para emak. Tapi, bukan berarti penulis tidak berempati pada Para Guru.. Khususnya Guru Sekolah Negeri.. 🙂

Baca Tulisan yang berikutnya ya..

“Belajar Berempati dengan Guru di Masa Pandemi”

Tips Mengajari Si Kecil Belajar Makan Mandiri

Tips Mengajari Si Kecil Belajar Makan Mandiri

‘Pokoknya anak kedua ini harus sukses perkara makan!’

Itulah tekad kuatku sejak Humaira sudah berumur 6 bulan. 

Bukan tanpa alasan aku memiliki tekad kuat seperti itu. Alasan utamanya adalah anak pertamaku dahulu bisa dibilang gagal teredukasi soal makan. Bayangkan saja, anak pertamaku ASI ekslusif selama satu tahun. Dan tahun berikutnya dia hanya suka makan cemilan saja. Selebihnya hanya menyusu. Bisa dibayangkan dong betapa kurusnya aku saat itu karena kegiatan menyusui. Ketidaksuksesanku dalam MPASI telah menimbulkan efek yang cukup negatif saat itu. 

Dan kalau dipikirkan lagi, sebenarnya bukan anakku yang salah. Tapi lebih kepada diriku sendiri yang saat itu serba perfeksionis dan terpaku standar. Maka, pengalaman memiliki anak pertama kemarin telah mengajarkanku jauh lebih banyak mengenai teknik nyaman dalam urusan makan bersama bayi. 

Kini, Anak keduaku yang bernama Humaira sudah berumur 16 bulan. Tidak seperti kakaknya dahulu, Humaira cenderung lebih nyaman soal makan. Walau dahulu sempat memiliki drama pada MPASI awal, tapi Alhamdulillah itu tidak membuatnya trauma. 

Dan surprisingly! Sekarang bahkan ia sudah bisa makan sendiri dengan nyaman di mejanya. Waw. Kalian ingin tau tipsnya? Ini dia! 

1. Ajak Anak Makan Bersama

‘Bayi adalah peniru ulung’

Ya.. Bayi akan meniru apa saja yang ia lihat. Ia tidak akan melewatkan hal kecil hingga hal besar yang menarik perhatiannya. Semuanya akan terekam jelas di memorinya dan otomatis akan ia pelajari dan mencoba melakukan hal yang sama suatu hari nanti. 

Thats why.. Kalau kita ingin anak bisa sesuatu, mulailah jadikan diri kita sebagai ‘contoh yang baik’. 

Jika kita ingin anak suka makan, maka mulailah ajak dia untuk makan bersama. 

Jujur saja, dulu aku sangat jarang melakukan ini dengan anak pertamaku. Kenapa? Karena pica kecil dulu sangat mengganggu sekali saat makan bersama. Terlebih dulu kan aku tinggal di tempat mertua, sehingga aku merasa tidak nyaman kalau pica menggangguku dan keluarga makan. Karena itu aku selalu membuat waktu makannya denganku terpisah. And, that is the big problem. 

Humaira beda dengan Pica. Ia lebih sering aku ajak makan bersama. Memang ia tak henti-hentinya mengganggu. Ia akan naik ke atas meja, mengambil nasi dan menghamburkannya. Ia juga selalu mengambil minuman dan menumpahkannya sembarangan. Tapi siapa sangka? Inilah awal dari mengajarinya untuk mandiri soal makan. 

2. Beri Porsi Kecil di piringnya Sendiri

Sebelum makan bersama, aku selalu menyediakan piring dan peralatan khusus untuk mendampingi Humaira makan. Dan biasanya aku memberikan porsi kecil khusus untuk dirinya. 

Memberikan porsi kecil ini mengajarkan kepada si kecil tentang kepemilikan. Ini milikmu dan ini milik mama. Walau pada praktiknya langkah ini tergolong sering gagal akan tetapi lama-kelamaan anak akan mengerti kalau ‘wilayahnya’ adalah hal yang harus ia hadapi terlebih dahulu. Ini lebih baik dibanding memberikan makan bersama dalam satu piringpiring bersamaku. 

3. Berikan Variasi Makanan yang Berwarna Menarik

Kebiasaan Humaira saat makan adalah.. 

‘Ia selalu mengambil makanan dengan warna cerah menyala terlebih dahulu’

Ya.. Jika diatas meja makan tersaji buah semangka berwarna merah maka Humaira akan mengambilnya terlebih dahulu. Ia akan cuek bebek dengan bento mini yang aku buat. Ia juga akan cuek bebek dengan aroma lezat dari bubur. Humaira lebih fokus pada makanan yang berwarna cerah. 

Karena itu aku selalu memancing niat makannya dengan memberikan makanan berwarna cerah terlebih dahulu. Bisa dimulain dengan buah semangka, agar-agar warna warni dsb. Lalu aku akan menyisipkan sesi makanan lainnya saat ia asik menyantap makanan cerah tersebut. 

4. Potong-Potong Makanan Sesuai dengan Kemampuannya dalam Melahap

Aku bukan penganut metode ‘Baby Led Weaning’. Semenjak Humaira MPASI, aku memberinya makan dengan metode biasa. Karena selain aku takut dia akan tersedak, aku juga memikirkan tentang pencernaannya. 

Tapi, semenjak Humaira sudah berumur 1 tahun. Perlahan aku mulai mengikuti cara makan yang ia sukai. Yaitu suka mengambil makanannya sendiri dan anti disuapi. 

Karena itu aku membuat jenis MPASI yang sesuai dengan ukuran tangannya dan bisa dia lahap dengan baik. Berbagai MPASI itu antara lain seperti nugget ayam sayur homemade, perkedel nasi sayur telur, hingga makanan simple seperti kentang goreng dan potongan buah. Yaah.. Bisa dibilang ini metode semi BLW karena aku juga terkadang masih menyuapi Humaira dengan sendok jika memiliki kesempatan setiap ia melahap makanannya dengan tangan. 

5. Jangan Pernah Memaksa Apalagi Marah-Marah

Pernah gak sih si kecil ngambek makan

Belum juga mau menyuapi, ketika melihat makanan pun ia sudah menggeleng-geleng dan menghentakkan kaki tanda tidak mau. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mau makan loh. Diantaranya adalah kemungkinan mulutnya sedang sakit, tumbuh gigi hingga mungkin masih kekenyangan karena banyak menyusu. Atau mungkin juga dia sedang sangat fokus bermain sehingga tidak mau diganggu dengan moment makan. Nah, untuk yang terakhir itu.. Humaira banget. Haha.. 

Kalau Humaira sudah bermain, dia sulit sekali makan. Beda dengan anak lainnya yang bisa disambi-sambi makan saat bermain. Kalau Humaira, tipe yang nyaman makan saat dia membolak-balik buku. Humaira juga tipe yang nyaman makan saat dibawa jalan-jalan ke luar rumah. 

Perhatikan dan lihatlah apa kebiasaan makan yang anak sukai. Jangan pernah marah-marah saat anak tidak mau makan. Karena itu akan membuatnya trauma. Seperti anak pertamaku Pica kemarin, dia sempat trauma dengan sendok karena aku sering memarahinya saat tidak mau makan. Akhirnya? Yaa.. Ngambek makannya sampai hampir 2 tahun. 

Ada baiknya jika kondisi emosi kita sedang tidak stabil saat anak makan maka cobalah minta pertolongan dari suami. Selain untuk membantu kita di rumah.. hal seperti ini juga supaya si kecil memiliki bonding dengan Ayahnya loh.

6. Jangan Terlalu Perfeksionis, Berantakan Bukan Masalah Kok! 

Ini nih.. Super penting banget buat emak yang mau mengajari si kecil makan mandiri. 

Please.. Please.. Dont be too Perfect! 

Saat kita punya anak kecil, apalagi yang masih dibawah 2 tahun.. Gakpapa banget kok kalau rumah selalu berantakan. 

Gakpapa banget kalau si kecil makannya berantakan. Lantai penuh makanan hingga bajunya yang selalu kotor. Itu adalah hal yang wajar sekali. 

Yang gak wajar itu kalau saat moment berantakan, tetiba ada tamu datang dan nyinyir.. *Halaaah kok jadi curhat.. 🤣

Seumur Humaira ini, sepertinya hampir setiap selesai makan aku selalu mengganti bajunya. Hampir setiap selesai makan, aku selalu mengepel ulang lantainya.. 

Capek? Ya capek lah.. Tapi harus sabar.. Gak bolee marah-marah.. Hahaha (Gak mudah kan jadi ibu itu ya.. 🤣) 

Karena aku yakin masa-masa berantakan seperti ini enggak akan bertahan lama kok. Kalau anak sudah besar, dia akan membantu kita untuk membereskan rumah. Seperti anak pertamaku yang selalu membantuku untuk membersihkan rumah saat ‘dijajah’ oleh adiknya.. 

*hehehe.. Ketauan deh tips sabarnya emak.. Punya asisten kecil ternyata.., 😆

7. Berikan si kecil Camilan 

“Kalau lagi makan berat suka males, tapi kalau udah snack time langsung semangat..”

Siapa yang anaknya begini? 

Ini anak aku banget Ya Allah.. 😭

Kalau dia melihat aku makan kerupuk, duh.. Langsung semangat sekali ingin minta diberi. Padahal kan enggak semua kerupuk itu bagus dan sehat untuk bayi. Sampai suatu hari aku bertekad gak mau menggoreng kerupuk lagi karena bikin si kecil addicted. Ternyata, hal itu malah bikin dia semakin enggak semangat buat makan.. Huhu.. 

Sepertinya.. Bayi pun butuh cemilan yang kering dan sehat untuk membantu semangatnya makan ya. Huft_

Untunglah aku akhirnya dapat produk cemilan yang cocok buat Humaira.. Yup, mari berkenalan dengan Milna Nature Puffs Organic

Tentang Perkenalan Milna dan Aku

Aku sudah kenal lama dengan produk milna. Sejak anak pertama tentunya. Dulu, aku ini cenderung perfeksionis kan. Jadi say no banget buat MPASI instan. 

Itu dulu tapi.. Waktu masih ‘bego’.. 😩

Dan sewaktu Farisha anak pertamaku berumur 9 bulan, isenglah aku membelikannya bubur milna instan. Eh, ternyata dia suka loh. Sayangnya itu tidak berlangsung lama karena gigi gerahamnya tumbuh dan dia sempat mogok makan karena aku marahin. Dan mogoklah sekalian.. Huhu.. 

Untuk Humaira anak keduaku, aku sih udah sedikit pintar lah ya. Mulai mengerti kandungan MPASI instan tuh ternyata bagus. Dan aku sudah pakai milna dari Humaira umur 7 bulan. Sampai pindah tekstur pun aku juga setia ngikutin produk-produknya milna karena variannya lengkap sampai ke bubur organiknya juga. Alhamdulillah Humaira suka semuanya. Dan semuanya pun cocok untuk pencernaaannya. 

Dan sekarang aku baru berkenalan dengan Milna varian puff. Seneng banget sih karena ini yang sedang Humaira butuhkan demi mendukungnya belajar makan mandiri. 

Mengapa Memilih Milna Nature Puffs Organic?

Why harus nunggu puffs merk milna? Padahal yang lain mah banyak. 

Pertama, Karena aku pecinta organik dan bahan makanan yang sehat.. 

Bukannya apa sih ya, tapi pencernaan Humaira agak berbeda dengan kakaknya. Kulitnya juga sometimes agak alergi. Jadi kalau bisa MPASI nya ya organik. Milna Puffs ini bahannya dari beras organik, tanpa pengawet, tanpa pemanis bustan, tanpa penguat rasa, dan tanpa pewarna sintetik. Jadi sudah pasti aman buat si kecil. 

Milna Puffs ini juga bebas gluten, tinggi kalsium dan sumber zat besi. Thats why, kalau Humaira menghabiskan 1 bungkus dalam sehari aku malah senang. Karena kadang nih.. Makanan yang aku bikin pun berakhir mendarat mulus di lantai. Kalau puffs ini banyak dimakan kan aku sedikit gak worry soal kalsium dan zat besinya. 

Kedua, Bentuk Milna Natur Puff ini Lucu sekaliii.. 

Saat pertama kali aku buka Milna Puff yang varian keju, aku langsung suka liat bentuknya. 

Ya ampun bentuk Hatiiii.. 

Kan aku jadi inget kado ulang tahun pertamaku yang penuh dengan guntingan kertas berbentuk hati dari pacar yang sekarang udah jadi suami ini.. (Eh, kok aku jadi curhat?) 

Dan saat membuka milna ini.. Aku jadi kegeeran.. *Halaah.. 🤣

Tapi serius, Humaira pun suka sekali memperhatikan bentuknya. Sebelum ingin memakan puffnya, ia memperhatikan bentuknya sebentar dengan mata excited. Lantas semakin semangat ketika ia langsung mengeluarkan semuanya di meja makannya. 

Ketiga, Milna Nature Puffs Organic Enak dan Meleleh di Mulut..

Halah, kayak kamu cobain aja win jadi tau enak.. 

Ya emang aku cobain kok. Dan enak. Hahaha.. 

Makanya kadang kalau si Humaira ketiduran sehabis ngemil milna ini.. Aku suka mengambil yang berguguran dan memasukkannya kemulut. *sayang euy mubazir. 

Terus, gakpapa banget loh kalau si kecil bukan tipe yang doyan ngunyah. Karena milna puffs ini meleleh di mulut. Nah, ada kan tipe anak yang kalau lagi ngambek makan.. Ngunyak pun males. Sukanya di emuttt aja. Boleh nih dikasih cemilan milna ini supaya dia sadar dengan rasa enak dan langsung mengunyah makanannya. 

Keempat, Milna Nature Puffs merupakan Cemilan Anti Berantakan

Buatku Puffs Milna menolong banget saat aku sedang hectic mengerjakan pekerjaan rumah. Yah, you know lah rempongnya emak-emak tanpa ART dan harus homeschooling saat pandemi begini. Kadang aku juga bisa stress kalau melihat si kecil makan berantakan dan selalu ganti baju. Milna puff ini kemasannya gampang dibuka dan anti berantakan. I mean, setidaknya baju si kecil aman karena cemilannya kering. 

Biasanya nih, Humaira tipe yang selalu mengeluarkan semua makanan dari bungkusnya. Aku enggak tau kenapa saat dia makan milna puff ini jarang sekali aku melihatnya mengeluarkan semuanya. Dia lebih suka makan ‘damai’ dengan mengeluarkan puff nya satu per satu dan memasukkannya ke mulutnya. Mungkin nih ya.. Dia mau hemat cemilannya juga.. Hahahaha.. 

Kelima, Humaira suka semua varian rasa Milna Puffs Organic

Varian rasa Milna Puffs Organic ini ada 3, yaitu Cheese, Apple and Mix Berry, serta Banana

Humaira suka semuanya. Alhamdulillah.. 

Tapi dari semua varian rasa, dia paling suka yang keju. 

Aku harap, milna juga mengeluarkan varian puff dengan kandungan sayur. Mungkin bayam atau brokoli. Yah, who knows banyak anak yang sulit makan sayur bukan? 

Keenam, Makan Mandiri memakai Milna Nature Puffs Organik ini menyenangkan

Tadi aku cerita bukan? Kalau Humaira ini pecinta kerupuk. Gak bisa melihat aku makan kerupuk dia langsung menangis minta juga. 

Milna Puffs ini bagaikan penolong saat si kecil kecanduan kerupuk saat makan. Ia akhirnya bisa bersahabat dengan makanan berat dan makanan ringan. Bagaimana? Dengan menyuapnya secara bergantian.. Hehehe.. 

Dan cara baru makan milna yang membuat Humaira ketagihan lainnya adalah dengan mencampurnya dengan ASI perah.. Yah, menjadi seperti cereal. Apakah ia bisa memakannya dengan menggunakan sendok? 

Ya.. Dia belajar… Karena anak harus belajar makan mandiri sedari kecil bukan? 

Bagaimana moms? Punya pengalaman seru terkait mengajari si kecil makan sendiri? Sharing denganku yuk! 

IBX598B146B8E64A