Browsed by
Category: Parenting

Cerita Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si kecil dan Cara Memperbaikinya

Cerita Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si kecil dan Cara Memperbaikinya

Maafkan telah nembuat luka pada hati putihmu. Aku tau itu tidak akan benar-benar sembuh…

Sejatinya.. Aku sudah tau itu..

***

Aku Pernah Menjadi Ibu yang Sangat Buruk

Saat itu, usia Farisha masih 6 bulan. Dia sangat lucu. Ya, aku masih memiliki beberapa video ocehannya yang tidak karuan beserta senyum manis dan kebiasaannya untuk mengemut jempol kaki. Hanya seorang iblis mungkin yang dengan tega memarahi dan membentak mahkluk kecil itu. Dan Iblis itu ternyata adalah Ibunya sendiri.

Saat itu, aku hanyalah seorang Ibu yang terus mengaku tidak siap memiliki anak. Cita-citaku masih panjang, namun anak ini menghambat semuanya. Awalnya, kupikir semua akan baik-baik saja. Kupikir lambat laun aku akan dengan mudah melepas cita-cita dan menerima statusku yang baru sebagai Ibu Rumah Tangga saja. Semua menjadi salah ketika Farisha mengalami GTM parah disertasi dengan omongan-omongan sekitar yang membuat aku menbenci diriku sendiri dan membenci Farisha. Ya, salah dia kan? Dia awal dari semua ini?

source: babygaga.com

Tidak ada yang tau saat itu, betapa sering aku membentaknya yang menangis karena kelaparan. Betapa sering aku menyuapkan makanan secara paksa dan menumpahkan MPASI homemade di hadapannya dan berteriak marah-marah seperti orang gila. Tidak ada yang tau bahwa ASIku mulai sedikit, tangan dan badanku gemetar sementara hidangan makan siang tidak ada karena kesibukan yang tidak jelas. Hanya Farisha, ia yang selalu kumarahi untuk melepas energi itu.

Jangan tanya berapa bulan hal ini berlangsung. Ini cukup lama. Salahku, ya aku tau semua salahku. Salahku yang tidak pernah percaya lagi pada sosial media karena pernah di bully saat curhat. Salahku yang bersikeras memberikan ASI Ekslusif padahal aku tak mampu. Salahku yang tidak mengerti cara pemakaian KB. Salahku yang hamil dini. Salahku yang menikah muda. Salahku yang saat itu tidak bisa move on.

Baca juga: Penyebab Stay At Home Mom Gagal Move On

Namun setelah itu, setelah amarah itu pudar..

Aku selalu memeluknya..

Menangis saat dia tidur..

Tapi kembali mengulangnya lagi di esok harinya..

Ya, Aku sang Mantan terpidana Post Partum Depression.

Jangan kira hal ini tidak berefek negatif pada anakku. Penyakit psikologis ini menyebarkan aura negatif bukan hanya pada penderitanya tapi juga pada suami dan Anaknya sendiri.

Hari ini, aku ingin mengingatkan pada Ibu diluar sana yang mengalami gejala sama sepertiku dulu. Bahwa apa yang telah kau lakukan pada si Kecil sangat berefek negatif padanya dan masa pulihnya tidak pernah diketahui atau mungkin.. Tidak akan pulih.

Berikut adalah efek negatif PPD pada si kecil yang pernah aku hadapi:

1. GTM yang tak Kunjung Reda

Percaya tidak, anakku ASI Ekslusif selama 2 tahun. Ia tidak mau makan. Karena ia trauma pada makanan.

Ia tau bahwa setiap kali mangkuk itu datang, wajah ibunya seketika berubah menjadi kelabu. Ia tau bahwa Ibunya akan memaksanya. Ia tau adegan selanjutnya bahwa mangkuk makanan itulah yang membuatnya dan Ibunya menangis. Ia tau bahwa mangkuk makanan itu.. Sendok itu.. Membuat banyak tragedi tidak menyenangkan dalam hidupnya. Ia tau dan ia tidak akan pernah bersahabat dengan makanan lumat yang di isi pada mangkuk lagi.

Tahukah? Hingga sekarang Farisha tidak suka melihat mangkuk kecil dengan bubur didalamnya. Ia tidak suka makan bubur karena mungkin bubur selalu mengingatkannya pada adegan tidak menyenangkan.

Apa? Kenapa tidak coba BLW?

Ya, aku tau seharusnya saat itu aku melek informasi. Tapi saat itu, sejak aku tidak menyukai sosial media karena pernah di bully saat bertanya di salah satu grup parenting. Saat itu juga aku memutuskan untuk menjauhi dunia maya beserta informasi parenting sok tau dan memutuskan untuk sibuk dengan urusan domestik rumah tangga saja. Alhamdulillah, sekarang grup parenting tidak sekacau dulu. Dulu, para member sibuk membanggakan dirinya sendiri saja sehingga rentan memicu mommy war.

Baca juga: 10 Topik Obrolan Sensitif yang dapat memicu Mommy War

Kapan Farisha bisa makan? Saat aku menerapkan WWL dengan melibatkan peran suami. Akhirnya, Farisha tau dengan rasa lapar dan mulai bersahabat dengan berbagai cemilan. Sebenarnya, petualangan tentang cerita makan Farisha masih panjang. Ia sempat menjadi anak bule yang tidak mau makan nasi.

Mungkin aku akan bercerita lagi nanti..

2. Terganggunya Kelancaran Berbicara (Gagap)

Jika kalian membaca cerita-cerita parenting di blogku mungkin kalian tau bahwa Farisha bukanlah anak gagap. Sebaliknya ia lancar berbicara dan kritis terhadap permasalahan di sekitarnya. Tapi, tahukah kalian bahwa ia pernah gagap hingga beberapa bulan?

Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku sangat khawatir. Awalnya dia lancar berbicara. Tapi (lagi-lagi) karena hari itu dia mogok makan, aku membentaknya lagi dengan kalimat yang jauh lebih nyaring, mata melotot dan ingin rasanya aku mengeluarkannya dari rumah.

Saat itulah.. Dia gagap begitu saja..

“Mmma mmma mma.. Mamma… U.. Uu..uuu…ulun.. Ka.. Ka.. Ka.. Kada.. Bi.. Bi.. Bi.. Tsaaaa..”

Ya, seperti itu. Aku menangis dan tak berhenti menyalahkan diriku sendiri.

Apakah ia masih gagap sekarang?

Alhamdulillah itu sudah berakhir. Ya, pada kasusku untung saja ini berakhir. Bukankah kita sering melihat anak gagap hingga usia dewasa? Pernahkan kita berpikir apa penyebab sebenarnya?

Lobang dihatinya.. Luka itu.. Tidak semua anak punya obat yang sama..

3. Si Kecil Lebih Sering berekspresi dengan Menangis

source: desycomments.com

Saat Farisha kecil, aku sering memarahinya hingga ia menangis. Jangan tanya berapa lama. Aku sering membiarkannya menangis begitu saja di kamar sementara aku sibuk memasak di dapur. Perutku lapar. ASI ku kering. Ekonomi merintis dari bawah.

Sementara di luar sana berhamburan informasi bahwa… Anak kecil tidak boleh terpapar gadget terlalu lama. Ah, bodohnya aku yang tidak bisa membaca situasi saat itu. Bukankah gadget sebenarnya penolong yang baik? Dalam kondisi itu, siapa yang bisa menolongku kecuali TV dan handphone?

Sungguh teori parenting diluar sana kadang terlalu kejam untuk diterapkan pada semua Ibu, apalagi Ibu Muda dengan emosi yang terbilang labil. Pada siang hari aku tidak waras karena menelan prinsip perfeksionis. Pada malam hari, aku menangis memeluknya.

Hingga ia besar, ia hanya dapat menangis untuk mengungkapkan kesedihan. Anakku, tumbuh menjadi anak yang cengeng karena meniru segala kesedihanku. Apakah ini berlangsung lama?

Alhamdulillah tidak. Tangisan itu kini dapat ia ubah menjadi gaya curhat yang ekspresif padaku. Butuh waktu lama membuatnya menyadari bahwa tidak setiap kesedihan dapat diluapkan dengan menangis.

4. Innerchild Negatif

Jika suatu saat anak melakukan hal negatif yang persis sama dengan hal yang kita lakukan dulu percayalah bahwa itu adalah hal yang tidak sadar ia lakukan karena alam bawah sadarnya mengingatkan akan itu.

Baca juga: Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah?

Farisha sempat melakukan hal-hal tidak menyenangkan itu. Ia pernah membentak dan berteriak pada ayahnya. Ya hal terparah selain 3 hal diatas. Ia juga pernah secara tidak langsung meniru bagaimana gaya ‘ngambek’ ala mamanya. Persis sama. Entahlah hal negatif apalagi yang tidak aku ketahui yang mungkin saja timbul gara-gara sifatku dahulu.

5. Tidak Percaya Diri

“Sering membentak anak akan menyebabkan ia tidak percaya diri..”

Ya, ya.. Aku tau. Aku sering membaca teori itu. Tapi aku mengabaikannya karena aku pernah kurang waras. Ah, jangan kemukakan lagi tentang teori hindari berkata ‘Jangan’ pada anak kecil. Aku adalah Mama nomor satu yang sering melanggarnya.

Akhirnya, dia pernah menjadi pribadi yang pemalu dan penakut. Tidak lama untungnya. Aku sangat bersyukur dengan hal ini. Kurasa ia memiliki hati baja yang kebal dengan bentakanku.

***

Luka dan dampak negatif pada anak yang timbul dari PPD diatas mungkin tidak dapat secara total disembuhkan.

Tapi, kita dapat BERUSAHA menyembuhkannya.

Dari potongan cerita diatas, kalian sudah tau bahwa lambat laun luka itu mulai membaik. Farisha bisa makan, Farisha tidak gagap, Farisha suka bercerita, dan siapa sangka ia termasuk pribadi yang percaya diri dan berani ketika sudah besar?

Beruntung, PPD dapat aku sembuhkan perlahan seiring berjalan waktu. Sehingga, tidaklah terlambat untuk mulai memperbaiki semuanya.

Baca juga: Gejala Baby Blues-PPD, Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Ada 5 cara efektif yang telah aku bangun untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku buat kepada si kecil, antara lain:

1. Membangun Komunikasi Positif

Aku memang sering memarahinya untuk melampiaskan ketidakwarasanku. Tapi, aku tidak pernah melewati malam hari tanpa bercerita untuknya. Membacakannya buku cerita sebelum tidur serta memeluknya adalah caraku untuk membangun kembali bonding romantis diantara kami seberapapun berat hari yang kami lewati saat itu. Hal itu terus berusaha aku lakukan untuk terus membuatnya percaya padaku. Bahwa sebenarnya, aku adalah Mama yang baik.

source: talktoyourbaby.org

Dari bercerita aku sering menjadi pribadi yang berbeda untuknya. Meniru suara boneka yang sangat menyayanginya. Aku bisa membuat 4 suara berbeda untuk karakter antagonis dan protagonis. Farisha menyukai hal itu. Hal itu membuatnya suka bercerita pada boneka-boneka, juga padaku. Lambat laun, dia menjadikanku sebagai teman komunikasi terbaiknya.

Ya.. Ia pernah takut padaku. Ia pernah diam melihatku. Ia pernah menatapku penuh tanya seakan berkata, “Kapan Mama tersenyum dan mengajakku berbicara lagi?”

Sejatinya, kita adalah teman pertama baginya di dunia. Tersenyum dan berbicara padanya adalah semangat cinta untuknya. Tidak pernah ada yang salah dari terapi komunikasi. Bicaralah padanya, itu adalah solusi nomor satu yang tidak bisa di-skip.

2. Selalu Meminta Maaf

Ah, entahlah sudah seberapa banyak kesalahan yang aku lakukan pada Farisha. Jujur, sebelum menjadi Mama hal tersulit bagiku adalah meminta maaf. Aku gengsi sekali melakukannya sekalipun tau aku salah. Tapi, semenjak ada Farisha.. Semua gengsi itu luntur seketika.

Aku selalu mengingat bahwa semasa aku kecil dulu, mama sering meminta maaf padaku dan memelukku sewaktu tidur. Hal itulah yang membuatku terus mencintai mama, seberapapun sering mama marah padaku.

Mama tidak pernah bercerita tentang kesulitan hidupnya padaku sewaktu kecil. Mama selalu sukses berpura-pura tidak kesulitan tapi tidak sukses dalam menyembunyikan kemarahan. Meminta Maaf adalah cara Mama dalam mengungkapkan rasa sayangnya.

Mama selalu berkata, “Percayalah. Mama yang baik bukanlah Mama yang tidak pernah marah. Mama yang baik akan marah jika anaknya melakukan kesalahan. Karena ia takut terjadi hal yang tidak menyenangkan. Tapi selalu ada pelukan setelah itu. Selalu ada kata maaf. Lantas, Bagaimana bisa Mama tidak menyayangimu?”

3. Ciptakan Kenangan yang Baik

Kenangan buruk memang tidak akan pernah hilang begitupun juga dengan kenangan baik. Lalu, apa salahnya jika kita perbanyak kenangan baik dalam memorinya?

Keluarlah sesekali berdua saja dengan si kecil. Bersuka-rialah. Beli sesuatu yang ia senangi sesekali, ice cream mungkin. Makan berdua saja lalu berfoto bersama. Ini adalah terapi yang menyenangkan untuk Ibu maupun untuk anak yang dapay menciptakan kenangan positif.

Dulu, aku jarang sekali melakukan hal itu. Aku lebih sering mengajak Farisha kedapur untuk membuat dough kue maupun membuat cookies. Dia senang melakukannya. Hingga sekarangpun dia masih senang melakukan itu. Itu adalah salah satu kenangan indah yang dominan dalam ingatannya.

4. Jadilah Pahlawan Pendukung

Dulu, Farisha termasuk pribadi yang cengeng. Aku tau sebenarnya dia tidak cengeng, dia hanya meniruku bagaimana berekspresi tentang kesedihan. Karena ia tau bahwa kesedihan dapat diluapkan dengan menangis, bukan berbicara.

Saat anak menangis, hal yang sebenarnya ia butuhkan adalah figur pendukung yang dapat ia percayai untuk mengadu. Maka, jadilah figur tersebut. Jadilah pahlawan untuk setiap tangisannya.

Dulu pahlawan tangisan Farisha bukanlah aku, tapi ayahnya. Aku adalah figur yang bersifat bunglon dimatanya. Jika ia melihatku dengan warna hijau maka ia berani mendekatiku. Sebaliknya, jika ia melihatku dengan warna merah maka ia lari mendekati ayahnya. Ia takut.

Sebisanya, jangan ciptakan lagi aura negatif padanya. Ketika kita sudah berhasil menghilangkan aura itu, anak akan menjadikan kita sebagai pahlawannya. Ya, orang yang akan menjaga air matanya dan membuatnya berani menghadapi dunia.

5. Sering memberikan Pujian

Sempat khawatir dengan anak yang sangat tidak percaya diri? Mungkin salah satu penyebabnya adalah Innerchild negatif karena bentakan kita yang menjatuhkan mentalnya. Hal kecik yang dapat kita berikan untuk menyembuhkannya adalah pujian.

Anak kecil sangat suka pujian. Beri ia pujian dan apresiasi setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Jika ia sedang tidak mood dan uring-uringan karena bersedih maka carilah sesuatu yang membuatnya bersemangat lagi. Setiap anak sejak kecil sejatinya punya hoby spesial. Anakku, sangat mencintai dunia warna. Maka, mengajaknya mewarnai dan memuji segala karyanya merupakan hal kecil yang bisa aku lakukan untuk membuatnya percaya diri lagi.

Baca juga: Cara sederhana untuk mendukung bakat pada anak

***

Setiap Ibu mungkin pernah merasa bersalah dengan masa lalu si kecil sehingga membentuk karakter negatif dan lubang luka yang mungkin tidak akan sembuh.

Tapi sesungguhnya apapun yang terjadi.. Kita tetaplah Ibu Baginya. Orang pertama yang ia percayai. Maka bangunlah harapannya lagi.

Hanya kita yang dapat membantu menyembuhkan luka itu..

Anak Jajan itu Boleh Ga Sih?

Anak Jajan itu Boleh Ga Sih?

source: nakita.id

“Anak kamu dibolehin ga sih jajan di luar?” tanya salah seorang teman masa kecilku.

Mendengar hal itu aku hanya diam sambil tersenyum tipis, bingung kiranya jawaban apa yang pas untuk salah seorang temanku yang terbilang cukup ‘pembersih’ itu. Jika berkaca dengan masa lalu kami maka jelas sudah ia tahu bahwa sejak kecil aku jarang sekali jajan. Ya, aku lahir di keluarga yang sangat bersih dan menjaga kesehatan. Uang jajan untukku kala itu hanya habis untuk aku tabung.

“Jangan beli jajan sembarangan, nanti sakit perut. Ini mama kasih bekal kue aja.” Kata Mamaku setiap kali aku berangkat sekolah.

Aku tumbuh sebagai anak pembawa bekal di sekolahku. Tidak pernah sekalipun aku jajan. Ya, kecuali 1 bungkus permen cap jempol kaki dan balon tiup transparan. Mungkin aku akan terkenal sebagai anak terpelit di sekolah andai saja aku tak mau berbagi bekalku dengan yang lain. Hihi..

Tapi, suatu hari aku mulai berubah karena menemukan pandangan baru terhadap penjual makanan. Kala itu, aku tidak sengaja mendengarkan salah seorang penjual pentol mengeluh dengan penjual di warung sekolahan.

“Padahal untung saya tidak seberapa, tapi semenjak ada desas desus obat pengawet mayat di setiap jajanan pentol akhirnya jualanku tidak pernah laku lagi.” Keluh Penjual Pentol dengan wajah sedihnya.

“Sabar Mas, aku juga begitu. Ga seberapa untung dari jualan ini, cukup buat makan juga sudah Alhamdulillah. Anak kamu berapa sudah mas?”

“Dua Mba, satunya sudah sekolah dan satunya masih kecil. Masih satu tahun umurnya.” Kata penjual pentol dengan raut wajah iba.

Mendengar percakapan itu, tidak ada satu hal pun yang dapat aku lakukan. Karena aku sudah terlanjur sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang sehingga aku bahkan meninggalkan uang jajanku di rumah. Esok harinya, aku mulai berbelanja pentol seperti anak-anak yang lain. Tidak banyak, hanya sedikit dengan niatan untuk membantu sang penjual makanan.

***

Dan saat ini, aku bukanlah anak sekolahan biasa lagi. Melainkan seorang Ibu dengan Anak berusia lima tahun yang bersekolah di TK Nol Kecil. Kini, aku mulai merasakan rasa cemas yang dulu sempat singgah pada Mamaku. Ya, overprotective.

Ketika Jajan Adalah Problematika Utama Anak Sekolah

Sebelum anakku Farisha mulai bersekolah, aku sangat jarang sekali memperbolehkan ia jajan bahkan hampir tidak pernah. Aku bersikeras bahwa ia harus memakan makanan buatanku saja jika ingin makan. Sebagai Ibu yang terbiasa serba homemade tentu ini bukan masalah besar untukku. Aku sudah cukup biasa membuat kue dan hidangan makan sendiri. Selain untuk menghemat pengeluaran rumah tangga, hal ini juga kulakukan untuk memperhatikan kesehatan keluargaku.

Aku rasa hasil pendidikan oleh Mama dulu sangat melekat padaku. Lain Mama, lain pula Mertua dan para keponakanku. Rumah Mertuaku berdekatan dengan sekolah dasar (SD) sehingga banyak penjual makanan di sekitar sana. Hal ini membuat para sepupu Farisha senang memberikan jajan kepada Farisha.

Sebagai Ibu, aku hanya bisa menggeleng-geleng kasar setiap kali Farisha mengisyaratkan ingin jajan seperti para sepupunya. Alhamdulillah, dia sangat penurut. Kecuali jika ia tak sengaja mendapatiku jajan. Dia pasti mengulang perkataanku, “Kok mama Jajan? Kan ga boleh ma jajan sembarangan?”

Kalau sudah tertangkap basah seperti itu yang bisa kulakukan hanya nyengir sambil menahan malu. Hihi

***

Tepat bulan Juni 2017 lalu, Farisha mulai bersekolah. Jadwal rutinitas rumah tangga yang kulakukan setiap pagi pun harus dapat lebih cepat selesai agar dapat menyiapkan bekal sekolah Farisha, mengantar, dan menemaninya sekolah. Ya, Sebagai Mama yang baik kita harus melakukan observasi di lingkungan sekolah anak bukan?

Baca juga: Tips membuat anak merasa senang di sekolah

Hal yang sangat kuperhatikan pertama kali adalah lingkungan luar sekolah anakku. Alhamdulillah, sejak pagi itu aku tak melihat satu pun penjual makanan. Namun, saat jam istirahat para penjual makanan ternyata mulai datang. Sekitar 2-3 penjual makanan mulai nangkring manis di depan sekolah dan para teman Farisha pun menggerumuninya. Bagaimana dengan anakku? Ia duduk manis sendirian sambil memakan bekal kemudian ternganga melihat hasil jajan yang dibeli oleh teman-temannya.

Awalnya, aku kalem. Kujelaskan pada Farisha bahwa bekal yang ia bawa jauh lebih sehat, enak dan mengenyangkan. Namun…

“Maukah Farisha?” Kata salah seorang temannya sambil memberikan satu permen miliknya.

Farisha nyengir kearahku, meminta pendapatku untuk meng’iya’kan atau tidak. Aku hanya bisa mengangguk saat itu, aku tau Farisha paling tidak bisa menahan nafsu kalau berbau dengan hal manis-manis. Bagiku, bertoleransi dengan menghargai pemberian orang lain rasanya lebih mendidik dibandingkan dengan keras kepala dengan ideologi sendiri. Hihi..

Kemudian Farisha mulai berbisik padaku, “Ma, permennya enak. Mama bisa ga bikin permen kayak gitu?”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa bergumam kecil dalam hati.. “Bikin Permen? Ya tentu saja tidak bisa. Kalau bikin kue, apapun jenisnya Mama tantang nak..”

Ya, Jajan adalah Hal yang tidak bisa dihindari

source: tigakali.com

Hari demi hari bersekolah berlalu. Ada satu hal yang sangat jelas aku pelajari saat anakku mulai sekolah. Taukah apa itu? Ya, Jajan adalah hal yang mungkin tidak bisa dihindari bagi anak kecil.

Kita bisa saja membuat perjanjian kecil padanya tentang pembagian uang jajan dan tabungan serta alokasi jajan yang baik. Namun, anak mana yang bisa menolak jika diberikan jajan oleh temannya? Hanya anak yang terlalu jaim kurasa. Anakku? Tidak seperti itu, jika diberikan sesuatu ia pasti sangat senang dan mengucapkan terima kasih.

Satu kali, dua kali, tiga kali. Aku membiarkan hal itu berlangsung. Tapi pada suatu hari..

“Oek”

Farisha memuntahkan seluruh makan siangnya. Hal ini tak seperti biasanya, tanpa berpikir lagi aku langsung saja menghakiminya sendiri.

“Farisha tadi pasti makan permen terus ya? Gini deh kalau kebanyakan makan permen. Jadi gak nafsu lagi makan masakan mama kan. Lain kali kalau diberi teman bilang aja Farisha sakit gigi ya.”

Ia mengangguk pelan sambil sedikit menyeka air matanya. Lalu bilang kepadaku,”Tadi Farisha ga diberiin permen sama teman ma. Tapi Farisha sendiri yang ngasih permen. Tadi uang jajan Farisha dibelikan ke permen aja terus Farisha bagi-bagi ke teman yang sering kasih Farisha”

Aku langsung terdiam. Astaga, ternyata ia ingin belajar untuk membalas budi teman-temannya yang pernah memberinya permen dan lain-lain. Ibu macam apa yang langsung menghakimi anaknya tanpa tahu permasalahan sebenarnya.

Akhirnya, aku perlahan mengerti bahwa jajan adalah hal yang tidak bisa dihindari pada dunia sosial anak.

Anak Boleh Jajan, Asalkan…

Perlahan aku mulai mencoba berkomunikasi dengan anakku tentang problematika jajan. Aku memberinya apresiasi atas apa yang telah ia lakukan dengan membagikan jajan kepada teman-temannya. Lantas kemudian bertanya, “Sayang, coba bayangkan bagaimana kalau permen yang Farisha kasih tadi bikin teman-temannya muntah juga dan ga nafsu makan.. Farisha senang ga?”

Farisha terdiam. Lantas kemudian berkata, “Mm.. Nanti teman farisha dimarahin mamanya juga ya?”

Aku menahan tawa, lalu berkata, “Mungkin Mamanya marah lalu bertanya ‘jajan apa tadi di sekolah?’. Nah, Bagaimana kalau teman Farisha bilang kalau mereka makan permen yang diberi sama Farisha?”

“Mamanya marah ya sama Farisha?”

“Pasti ga ada yang marah sayang. Tapi mulai sekarang Farisha harus hati-hati kalau jajan dan memberikan jajan dengan teman Farisha.”

“Berarti Farisha ga boleh jajan lagi dong Mama. Bawa bekal aja ya? Tapi Farisha suka permen? Mama bisa ya bikin permen?”

Ah, lagi-lagi pertanyaan itu yang muncul. Haha..

“Mama gak bisa bikin permen sayang. Tapi Mama bolehin Farisha jajan kalau permennya memang benar-benar bagus.”

“Permen bagus itu seperti apa ma? Kan Permen yang Farisha beli sudah bagus. Warna Pink lagi..”

“Tapi kenapa bisa bikin muntah hayo? Berarti permen yang Farisha beli masih kurang bagus.”

Wah, percakapan ini tiada habisnya ya. Memang kalau berbincang dan memberikan penjelasan kepada si kecil percakapannya selalu seru dan lucu. Hihi..

Secara garis besar aku menerangkan kepada Farisha bahwa ia boleh saja jajan permen dan jajanan lainnya asalkan:

1. Halal

2. Tidak Expired

3. Terdaftar di BPOM

4. Bergizi, sehat dan aman dikonsumsi

Lantas bagaimana menjelaskan 4 hal tersebut kepada anak kecil yang masih berusia empat tahun itu? Nah ini dia cara unik saat aku berkomunikasi dengan anakku tentang pemilihan jajan:

1. Harus punya lingkaran dengan huruf hijaiyah di dalam lingkarannya

“Sayang tau kalau orang Islam itu harus mengkonsumsi makanan yang halal saja. Tau apa artinya halal sayang?”

“Ulun tau Ma.. Yang ga ada ba*inya kan?”

Sambil menahan tawa aku melanjutkan penjelasanku, “Iya, jelas dong ga ada ba*inya. Nah, tau ga Farisha kalau di indonesia sudah ada ulama-ulama spesial yang menangani halal-haram makanan kemasan ini. Namanya Majelis Ulama Indonesia. Nah, Majelis ulama ini punya label khusus untuk makanan yang sudah halal. Yaitu lingkaran dengan huruf hijaiyah didalamnya yang bacaannya Halal. Jadi, kalau Farisha jajan harus ada lingkaran spesial ini. Kalau ga ada bilang sama mama dulu ya.”

Farisha langsung berangguk-angguk tanda mengerti. Jujur, ia sebenarnya masih tidak bisa membaca huruf arab tapi ia mengerti kalau huruf hijaiyah berbeda karakternya dengan huruf yang ia kenal. Karena hal ini pula akhirnya setiap kali kami ke super market ia sibuk memperhatikan dan mencari tanda lingkaran. Jika tidak ada, ia tak sungkan berteriak nyaring. Bahkan dengan polos ia sering bertanya, “Ma, kenapa orang itu beli makanan yang tidak ada lingkarannya?”

Pernah juga suatu hari aku membeli kue pada temanku. Lalu ia dengan suara nyaring bertanya, “Mana lingkarannya maa?”

Dan aku pun malu sendiri. Haha.

2. Ada tanggalnya di kemasan yang tidak boleh dikonsumsi jika kurang dari tanggal hari ini maupun bulan ini

Berbicara mengenai tanggal kadaluarsa dengan anak tak sesulit berbicara tentang logo MUI. Karena anakku lebih cepat mengenal angka dibandingkan dengan huruf hijaiyah dan huruf latin. Namun, problematikanya adalah ia tak terlalu mengerti dengan bilangan diatas 2 digit. Hihi.

Untunglah, kode kadaluarsa pada makanan kemasan biasanya hanya berjumlah 6 digit yang mewakili tanggal, bulan dan tahun yang masing-masing berjumlah dua digit. Sehingga penjelasannya lebih mudah dimengerti.

3. Ada tulisan BPOM dan digit nomor

Setiap produk makanan itu harus ada izin BPOM supaya aman. Betul? Lantas bagaimana menjelaskan BPOM pada anak kecil yang lugu dan polos ini?

“Sayang, tiap makanan yang baik itu pasti ada izin BPOM-nya. BPOM itu Badan yang mengawasi obat dan makanan. Dia bantuin MUI supaya makanannya bagus. Nah, kalau udah ada izin BPOM ini cirinya di kemasan ada tulisan BPOM sama digit angka. Berarti itu aman dikonsumsi.”

Farisha langsung mengangguk sambil memperhatikan tulisan BPOM pada salah satu produk makanan.

4. Bergizi, sehat dan aman dikonsumsi

“Nah, memilih jajan itu harus selektif nak. Banyak jajan yang tidak terlalu bergizi dan mungkin merugikan. Untuk itu, Farisha harus jajan yang baik-baik saja. Permen tentu baik. Tapi apa setiap permen mengandung gizi, sehat dan aman dikonsumsi sehingga tidak bikin muntah?”

“Berarti yang boleh permen apa ma?”

“Permen susu sayang..”

“Permen susu itu yang ada gambar sapinya ya?”

“Nah, mama ada rekomendasi permen susu yang baik buat kamu sayang..”

“Apa itu Ma?”

Ini Dia Permen Susu yang Cocok Buat Kamu Nak!

Aku langsung mengeluarkan 3 bungkus permen pindy susu dengan rasa yang berbeda yaitu strawberry, coklat, dan susu. Sebelum membukanya aku menyuruh Farisha untuk memperhatikan point-point dalam memilih jajan seperti diatas.

“Ada label halal Sayang?”

“Ada Ma.. ”

“Ada tulisan BPOM sayang?”

“Ada Ma..”

“Tanggalnya bagaimana sayang?”

“040419 Ma.. Berarti belum basi, masih boleh dimakan ma.. Oya ma, ada gambar sapinya. Berarti permen susu ma.. ”

“Kalau begitu boleh dimakan..”

“Yeay… Mmm.. Yang strawberry enak banget!”

“Nah, kalau yang begini baru boleh dikasih ke teman ya sayang. Kalau memberikan sesuatu ke teman itu, yakinkan dulu yang kita kasih memang baik..”

“Yeay.. Aku bawa permennya ke tempat nayka ya ma. Dia pasti suka..”

Jika memberi dapat mengajarkannya arti empati kenapa harus dilarang?

Saat Farisha memberikan permen pindy dengan tulus pada temannya, aku kemudian teringat tentang penjual pentol saat aku sekolah dulu. Aku tersenyum dan hati kecilku berdoa,”Semoga Kelak kamu dapat menolong orang-orang yang tak beruntung itu ketika sudah besar ya sayang..”

Sekilas Tentang Permen Pindy Susu

Pindy susu adalah kembang gula lunak dengan rasa susu (milk chewy candy) yang enak dan aman dikonsumsi anak-anak. Permen ini bertekstur chewy sehingga sangat cocok untuk dikonsumsi anak-anak karena dapat dikunyah dan bersahabat dengan giginya. Nah, permen ini terdiri dari 3 rasa yaitu strawberry, coklat dan susu.

Permen ini halal dan memiliki izin BPOM loh. Apa? Pernah dengar gosip permen ini mengandung narkoba?

Uhuk… Masa? Yang bener aja? Itu HOAX ya ibu-ibu. Silahkan search dan gali informasi dari BPOM. Bahkan BPOM sendiri sudah mengklarifikasi loh kalau itu Hoax. Yuk, cerdas dalam memilih berita.

Nah, bagaimana dengan komposisi dan gizi dari permen pindy? Alhamdulillah, Komposisi dari permen ini juga aman untuk anak-anak. Berikut komposisinya:

Gula, Sirup Glukosa, Lemak Nabati, Bubuk Buttermilk (2,47%), Lemak Susu Anhidrat (1,23 %), Pembentuk Gelatin Sapi, Pengental Gom Arab, Perisa Sintetis Susu, Pengemulsi Nabati Lesitin Kedelai.

Nah, untuk infotmasi nilai gizi dapat dilihat di sini:

Permen Pindy tidak mengandung lemak, protein, dan natrium/sodium. Permen ini memiliki kandungan kalori di setiap permennya sebanyak 10kkal dan 2 gram karbohidrat dari gula.

Seperti kita tahu bahwa gizi untuk anak usia 1-3 tahun itu kebutuhan energinya rata-rata hanya 1000 kkal, jadi kebutuhan gula maksimal hanya 25 gram dalam satu hari. Hmm.. Itu setara 5 sendok teh gula ya..

Sedangkan pada anak usia 3-6 tahun, kebutuhan energi rata-rata adalah 1550 kkal, atau kebutuhan gulanya tidak lebih dari 38 gram perhari. Berarti untuk seumur Farisha sekitar 8 sendok teh gula. Berarti permen ini baik dikonsumsi untuk anak asalkan ajari dia berbagi dan tak menghabiskan satu bungkus besar permen sendirian. Hihi.. Betul?

Hmm.. Bagaimana? Masih bingung tentang dilema anak jajan? Yuk, coba berkomunikasi dengan anak memakai cara di atas.

Kepo dengan permen pindy susu ini? Yuk, stalking instagramnya di @permenpindy_id.. 😊

Jangan takut dengan jajan anak lagi ya Bunda.. Karena Kita tak bisa menghindari jajan untuk anak, maka minimal ajari anak untuk memilih jajan yang benar.

Happy Parenting!

Mengajak Anak Mengenal Bumi dan Menjaga Lingkungan Melalui Buku

Mengajak Anak Mengenal Bumi dan Menjaga Lingkungan Melalui Buku

Suatu hari, aku iseng menengok anakku pada jam istirahat di sekolahnya. Kulihat sebagian besar temannya sudah bermain di area luar sekolah. Hmm, mana anakku? Batinku sambil melihat-lihat kearah teman-teman akrab anakku. Tanpa bertanya aku langsung masuk kedalam kelasnya di Nol Kecil. Benar saja, dia satu-satunya yang masih sibuk dengan pewarnanya. Padahal, jam istirahat sudah 10 menit berlalu.

Aku mengerutkan kening melihat hasil warna dan gambaran pada kertasnya. Ehm, bukannya ini pasar terapung?

Ada kejanggalan yang sangat mencolok di gambar itu dibandingkan dengan hasil warna milik teman-temannya. Ya, ia mewarna air sungai dengan warna coklat bukan warna biru seperti yang lain. Aku langsung bertanya padanya, “Sayang, kok sungainya warna coklat? Coba lihat warna sungai punya teman Farisha? Bukannya warna biru?”

Dan ia langsung menjawab, “Ma, sungai itu warna coklat.. Mana ada sungai warna biru? Pica udah pernah liat sungai. Sungai itu coklat, bukan biru. Pantai juga coklat, bukan biru”

Dan aku pun langsung speachless.. 😅

Dua minggu yang lalu sebelum hari itu, anakku mengikuti program rekreasi ke pantai yang diadakan sekolahnya. Sebagai anak yang hampir tidak pernah kepantai tentu hal ini membuatnya senang. Bahkan, malam hari sebelum ke pantai ia langsung mencoba menggambar dan mewarnai pantai. Dalam imajinasinya pantai itu indah dengan hamparan pasir putih dan air laut yang biru.

Kenyataannya, pantai yang kami kunjungi memiliki pasir lengket yang berwarna seperti semen. Bukan hanya itu, airnya coklat dan sangat kotor. Hilanglah sudah imajinasinya tentang indahnya pantai. Baru 15 menit kami berada di pantai, ia langsung merengek meminta pulang.

Ia langsung curhat denganku pada suatu malam. Bertanya dengan ciri khas anak kecil yang ingin serba tau. Ya pertanyaan-pertanyaan lucu seperti:

“Ma, dulu pantai dan sungai memang coklat ya?”

“Ma, Kenapa orang-orang suka bilang sungai dan pantai itu biru. Memang ada yang biru?”

Sampai..

“Ma, sebenarnya Farisha suka loh sama coklat, susu coklat juga suka. Tapi Farisha ga suka liat air coklat..”

***

Hati Ibu mana yang tidak tergelitik mendengar ocehan dan curhatan si kecil yang ingin serba tau. Sebagai orang tua biasa, hal yang bisa kulakukan hanyalah bercerita padanya. Ya, cerita sederhana seperti tentang bagaimana sebenarnya wujud Bumi yang ia tinggali, apa yang menyebabkan bumi berubah, hingga memperkenalkannya pada planet lain selain Bumi. Tentu aku tidak menceritakannya tanpa media apapun. Sebagai Ibu lulusan Sarjana Akuntansi, hal kecil yang bisa aku lakukan hanyalah membelikannya buku-buku. Hmm.. Itupun bukan buku mahal seri ensiklopedia seperti kebanyakan. Hanya buku-bukuku sewaktu kecil yang masih ada juga ditambah buku-buku yang ku beli di cuci gudang dan book fair dengan harga 5ribu-10ribuan.

Maafkan nak, emakmu super pelit memang.. 😂✌

Ingin tahu apa saja buku murah meriah yang sudah aku bacakan untuk anakku agar ia mengenal bumi dan lingkungannya? Ini dia..

Jreng jreng…

Doraemon – Menjelajahi Bumi

Ini bukan buku baru, bukan pula buku cuci gudang. Ini adalah buku komik bacaanku sewaktu SD. Hmm, berapa umurnya?

Yup, sekitar hampir 20 tahun.. 😂

Ya, ya.. Katakanlah aku ini makhluk super engken (pelit) yang tidak mau berbagi buku untuk yang lain. *Padahal banyak loh buku novelku yang tak kunjung dikembalikan saja sampai sekarang.. 😭

Buku Doraemon bagiku sangat spesial. Ya, aku pecinta doraemon. Sampai sekarang pun aku mengaku masih sangat terhibur dengan kartun dan komik doraemon. Karena itu buku doraemon koleksiku masih tersimpan rapi sampai akhirnya sebagian besar memang dimakan rayap.. 😅

Nah, buku yang satu ini.. Alhamdulillah aman, tak satupun dimakan rayap. Hanya kertasnya memang sudah butut banget.

What? Anak kok dibacain komik?

Eh, emang kenapa? Ini komik edukatif banget. Anakku suka sekali dengan buku berbentuk komik karena banyak gambarnya. Maklum lah, anak visual kan begitu ya..😅

Sesuai dengan judulnya ‘Menjelajah Bumi’ buku ini bercerita tentang berbagai seri penjelajahan bumi oleh Nobita, Doraemon dan teman-temannya. Mulai dari pengenalan umum bumi, petualangan di laut, petualangan di padang pasir, petualangan di kutub selatan, hingga pengetahuan edukatif disetiap akhir komiknya. Selain itu, buku ini juga menggambarkan petualangan nobita saat ingin mengetahui proses minyak bumi dan terjadinya gunung berapi. Keren sekali bukan?

Rahasia Siang dan Malam

Aku membeli buku ini dengan harga 10ribu. Cukup murah dengan isi yang disertai ilustrasi gambar yang disukai anakku. Buku ini banyak bercerita tentang bumi secara umum seperti bentuk bumi, rotasi bumi, disertai dengan pembahasan waktu siang dan malam. Tidak hanya itu, ada eksperiment kecil-kecilan yang cocok untuk mengisi keseharian emak dan anak. Hihi

Buku tipis dengan 30 halaman ini sangat cocok untuk dibacakan kepada si kecil sebelum tidur. Yah, kadang membaca pengetahuan pun bisa menjadi pengantar tidur yang baik loh.

Kehidupan di Air Tawar

Dari buku yang satu ini, anakku banyak belajar tentang kehidupan sungai dan rawa yang merupakan lingkungan dominan di Banjarmasin. Yah, aku memang sengaja membelinya untuk memperkenalkan si kecil dengan lingkungannya. Harganya? 5ribu saja. 😆

Maklum ya, kalau bersinggungan dengan harga dan manfaat kaum emak-emak memang suka agak sombong. Haha.. ✌

Melalui buku ini Farisha akhirnya kenal dengan Danau. Maklum dia mana pernah sih ke danau (haha). Tidak hanya itu, ia juga akhirnya kenal dengan tanaman eceng gondok yang dulunya dia kira pulau hijau di atas sungai (untuk enggak kamu loncatin ya sayang 😅).

Saat mengajaknya kepasar, dia langsung mencoba mengenali ikan yang aku beli. Bertanya apakah yang kubeli hidup di laut atau di sungai. Ia juga mulai mengerti kenapa binatang berang-berang kadang suka muncul di bawah rumah kami dan keluar. Setiap sore, ia mencari capung-capung kecil di sekitar rumah karena ia mulai tau tempat tinggal rahasia capung. Hihi

Melalui buku ini, anakku mulai mengerti tentang kehidupan danau, sungai dan rawa. Buku ini cocok dijadikan sebagai pendamping pengetahuan saat anak mulai bertanya tentang lingkungan. Hmm.. Aku sebenarnya juga sering menjadikan buku ini pengantar tidur sih karena anakku suka setiap ilustrasi ikan.

Geografi yang menyenangkan – Sungai dan Laut

Buku ini aku dapat pada book fair. Perlu diketahui, mendapatkan buku anak-anak pada book fair kali ini benar-benar susah. Dari bertumpuk tumpuk buku komik cantik hingga novel dewasa dan berbagai buku pengetahuan aku hanya mendapatkan 3 buku yang cocok untuk anakku. Itupun bukan buku dongeng. Ya, buku seperti ini.

Buku ini hanya berharga 10ribu rupiah. Sangat beruntung mendapatkan buku ini dengan hardcover pula. Isinya? Tak kalah keren. Anakku akhirnya bisa belajar tentang siklus air, sifat air, hingga air tanah yang dulu dipertanyakannya saat melihat sumur di pelaihari. Yah, maklum saja selama ini kami memakai air PDAM sehingga anakku tidak mengenal air sumur.

Nah, dari sifat air akhirnya anakku mengerti bahwa air sungai menuju ke laut. Yang khas dari buku ini adalah setiap chapternya selalu ada eksperiment yang membuat anak mengerti. Apakah aku rajin mempraktikkannya? Sayangnya tidak. 😂

Ehm, tapi ini sudah membuat anakku sedikit mengerti apa sebenarnya yang menyebabkan polusi sungai. Apa contoh bencana polusi sungai di dunia seperti sungai Rhene dan sungai Tisza.

Tidak hanya pengetahuan saja, buku ini juga menumbuhkan rasa simpati. Hmm, kenapa? Karena akhirnya anakku tau bahwa di belahan bumi ini tidak semua daerah memiliki air yang mencukupi. Sementara di daerah lain banjir sering terjadi. Ya, kekeringan dan banjir di belahan bumi lain membuatnya bersyukur karena tinggal di lingkungan dengan air yang mencukupi.

Ingin rasanya bercerita semua isi buku ini. Soalnya isinya edukatif sekali. Tapi kalau kuceritakan semua kalian pasti bosan.. 😅

Intinya bukunya murah dan isinya keren2.. *Pamer lagiii.. 😂

Polusi

Yeay.. Satu lagi nih buku keren yang aku beli di book fair. Hardcover dengan kualitas kertas yang bagus dengan harga 10ribu saja.

Buku ini berisi pemahaman-pemahaman sederhana tentang pentingnya menjaga agar lingkungan bersih dan sehat. Nah, sesuai judulnya hal yang paling banyak dibahas pada buku ini adalah tentang Polusi.

“Wah, ternyata polusi ada macam-macam ya ma?” celoteh anakku saat itu.

Ya, dia baru tau ternyata bukan hanya sungai dan air yang bisa terkena polusi. Tapi juga udara dan tanah. Buku ini juga menjelaskan zat-zat berbahaya dari polusi yang tentunya aku skip karena itu berat buat anak Nol Kecil begini. Hihi..

Lalu suatu hari anakku bertanya, “Ma, mama kenapa bikin polusi udara siang-siang? Boleh kah begini?”

Dan sang emakpun ternganga saat memegang kipas sambil memanggang ikan di luar rumah dengan bara api. Benar juga, asap dari bara api ini…?

Emak speachless.. 😂

Awas Serbuan Meteor

Jika anak sudah mengenal Bumi maka tentu kita ingin memperkenalkan hal lain di luar sana. Ya, apalagi kalau bukan Tata Surya.

Buku ini berisi pengetahuan spesial yang perlu anak tau. Bahwa setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik planet Bumi diserbu meteor. Jumlahnya jutaan loh. Kadang meteor terlihat seperti kembang api dan kadang hanya lurus bercahaya.

Untuk isi buku dengan ilustrasi yang menyenangkan ini tentu saja anakku bahagia saat aku mulai membacakannya. Apalagi saat mengetahui kehidupan planet bumi jutaan tahun yang lalu. Yaitu saat zaman dinosaurus yang kemudian musnah karena jatuhnya meteorid raksasa. Tapi dibalik semua itu, siapa sangka bahwa batu meteor pun juga berguna bagi mahkluk hidup di Bumi.

Buku ini isinya sangat bagus untuk anak-anak. Bahasanya juga sangat fun dan ringan sehingga membacanya berdua dengan anak pun menjadi sangat seru. Melalui buku ini, pengetahuan anak tentang Tata Surya akan bertambah.

Hal tambahan yang aku suka dari buku ini adalah adanya kamus astro dibelakangnya yang bercerita tentang perjalanan meteoroid dan komet. Anakku sangat senang melihat ekspresi dari meteor dan komet tersebut.

Harga buku ini? cuma 5ribu saja.. *pamer lagi.. ✌

***

Nah, itu dia Daftar buku murah meriah yang kami miliki untuk belajar tentang Bumi dan Lingkungannya. Buku-Buku kecil yang murah meriah ini telah banyak berjasa untuk pembentukan kepedulian anakku terhadap lingkungannya. Ia mulai mengerti penyebab kotornya air sungai, mulai mengerti pasang surut pantai, dan mulai mengerti kenapa air pantai pun juga coklat.

Hal kecil yang bisa ia lakukan sekarang adalah membuang sampah pada tempatnya. Hmm.. Kuharap saat anakku besar nanti dia bisa bermanfaat bagi bumi, masyarakat hingga lingkungannya nanti.

Yuk, mak.. Jangan lupa selalu bacakan buku untuk si kecil. Karena Buku adalah Jendela Imajinasinya.. 😉

*Tulisan ini diikutsertakan pada kolaborasi menulis dengan FBB (Female Blogger of Banjarmasin) di bulan April dengan tema “Hari Bumi” 😊

Cara Sederhana Untuk Mendukung dan Mengembangkan Bakat Pada Anak

Cara Sederhana Untuk Mendukung dan Mengembangkan Bakat Pada Anak

Setiap orang tua tentu setuju bahwa memiliki anak adalah sebuah tantangan baru dalam hidup. Apalagi jika si kecil sudah semakin besar. Pastinya, banyak orang tua yang mulai berpikir dan mulai mengira-ngira, “Apa sebenarnya bakat dari anakku?” atau “Sebaiknya ketika sudah besar ia jadi apa?”

Bahkan, pastinya ada orang tua yang mulai iseng bertanya langsung kepada si kecil, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”

Wah, jika sudah sampai kepertanyaan ini pastinya orang tua juga akan terbayang dengan cita-citanya waktu kecil dulu. Dan, apakah cita-cita itu berhasil?

Lucunya, cita-cita sejak kecil hingga besar itu seringkali berubah-ubah. Hal ini sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun faktor yang paling dominan biasanya adalah karena tidak adanya dukungan pada bakat anak. Hal ini menyebabkan cita-cita anak tidak konsisten dan ia mencoba tujuan hidup baru yang membuatnya diterima di masyarakat. Padahal, bisa jadi loh sejak kecil anak sudah menunjukkan hal yang paling disenanginya kepada orang-orang sekitarnya.

Sebagai orang tua, hal yang bisa kita lakukan dalam melihat potensi dan bakat anak sebenarnya cukup sederhana. Nah, berikut ini adalah hal-hal yang dapat kita lakukan:

1. Perhatikan hal yang paling suka dilakukan oleh anak

Sejak kecil tentu anak memiliki hal yang paling suka dilakukan yang kemudian berakhir menjadi hobynya saat besar. Hal yang perlu kita lakukan adalah memperhatikan hal yang selalu dilakukannya berulang-ulang hingga tiada bosannya.

source: intisarionline

Hah? Apa? Hoby main Gadget? (itu sih.. 😅)

Baca juga: Cara Cerdik mendidik anak generasi milenial dengan gadget

Sedikit curhat, anakku Farisha sudah mencintai aktivitas mewarnai sejak berkenalan dengan pewarna makanan waktu berumur 2 tahun. Awalnya kupikir itu adalah kesenangan biasa yang paling-paling hanya muncul sesaat saja. Namun ketika semakin besar, wujud kecintaannya pada bidang mewarna mulai besar. Tidak perlu banyak media untuk membuatnya diam. Hanya sediakan kertas dan pewarna maka ia sudah betah berjam-jam lamanya dengan kedua media tersebut. Hal lain yang paling disukainya juga tak jauh dari aktivitas campur mencampur warna. Dan untuk sementara, aku menyimpulkan bahwa kesenangannya adalah segala hal yang melibatkan kesenian mewarna.

Memang, anak yang masih berumur 4-5 tahun seperti Farisha lebih menyukai aktivitas yang berhubungan dengan otak kanan sehingga kita masih tidak bisa menilai bahwa itulah bakatnya. Namun, tidak ada salahnya untuk terus memperhatikan dan mendukung kesenangannya sekarang bukan?

2. Membiarkan Anak bereksplorasi sesuka hatinya

Setiap ibu pasti setuju bahwa punya anak itu super rempong. Baju kotor, rumah yang selalu berantakan, dinding rumah yang menjadi tuangan imajinasi, hingga sprei dan lipstik-lipstik pun menjadi korban. Angkat tangan mak yang masih dalam fase ini..🙋

source: wisatasekolah.com

Capek Mak? Capek banget…!

Tapi bisakah kita menghentikan semua itu? Melarang anak untuk bermain dan bereksplorasi sesuka hatinya? Memasukkannya kekamar dan meminjaminya smartphone supaya diam? Menyalakan TV seharian dan membuatnya hanya menonton kartun seharian?

Ini lebih capek lagi ternyata.. Capek Batin melihatnya.. Hihi😅

Ternyata, anak yang dibiarkan bereksplorasi akan lebih terasah potensinya dibanding anak yang sering dilarang begini dan begitu. Sebagai orang tua kadang membiarkan mereka semaunya mungkin lebih bijak dibanding selalu melarang mereka.

3. Membangun Komunikasi Pada si Kecil

Masih capek beres-beres rumah gara-gara saran diatas mak?

Yuk, ajak si kecil ngadem bentar. Buatlah susu lalu minum bersama-sama. Kemudian? Ya, bicaralah.

source: nexttica.com

Berbicara ini penting sekali untuk membangun komunikasi lebih dekat dengan si kecil. Ada loh, emak-emak yang enggak doyan bicara dengan buah hatinya sendiri. Ketika si kecil bertanya, “Ma.. Ini Apa Ma?”

“Ma, kenapa Siput ini punya antena begini?” (ada WA masuk, bentar)

“Ma, kok semutnya berbaris disini ma?” (Eh, Apa nih? Berita semut masuk telinga anak)

“Ma, aku udah gambar siput di dinding ma, coba liat?” (Eh? Siput? Di dinding? What 😱 )

Banyak begini? Hihihi..

Saat kita berbicara dengan si kecil berarti kita sudah memberi apresiasi dan dukungan terhadap apa yang dilakukannya. Akan lebih baik lagi jika setiap kita berbicara selalu kita selipkan pujian pada apapun yang dilakukannya. Hal ini akan membuat rasa percaya dirinya bertambah dan ia tidak sungkan untuk memperlihatkan potensinya pada kita bahkan juga pada orang disekitarnya.

4. Memperhatikan lingkungan sosial dan teman dominan si kecil

source: intisarionline

Setujukah bahwa biasanya anak lebih akrab dengan teman yang satu passion dengannya?

Hmm, bisa iya tapi juga bisa tidak.

Kebanyakan anak kecil akan lebih menyukai berteman dengan yang bisa menerimanya walaupun mereka tidak satu passion dengannya. Akan tetapi seiring berjalan waktu anak yang memiliki kepribadian melankolis biasanya lebih selektif dalam memilih temannya. Ya, ada beberapa anak yang lebih suka berteman dengan yang satu passion dengannya.

Baca juga: Wajarkah Anak Pemilih dalam Berteman?

Memperhatikan lingkungan sosial dan teman dominan anak ini sangat penting. Karena dengan melihat kedua hal tersebut kita bisa mengetahui hal apa yang membuatnya tertarik. Dengan memperhatikan teman akrabnya kita bisa belajar untuk menjadi teman yang lebih akrab dengannya. Dengan begitu, ia akan selalu merasakan dukungan terhadap apa yang disukainya.

5. Memperkenalkan Anak pada Tokoh Dunia Sesuai Bakatnya

Sudah mulai meraba-raba apa potensi si kecil? Yuk, cari tokoh dunia yang mungkin bisa menjadi panutan atau role mode untuknya. Karena setiap anak itu sejatinya adalah peniru ulung.

Anak anda merasa tidak punya bakat? Yuk, ajak baca buku seperti ini

Tidak percaya? Hmm, suatu hari aku pernah bertanya pada anakku ketika usianya masih 3 tahun, “Farisha mau jadi apa kalau sudah besar?”

Dan dia menjawab, “Mau jadi kayak Mama”

Ketika ia sekolah aku menanyakan hal yang sama, “Farisha mau jadi apa kalau sudah besar?”

Dan dia menjawab, “Mau jadi Ibu Guru”

Kedua pertanyaan sama di atas mendapatkan jawaban yang berbeda karena ia mendapatkan tokoh panutan yang baru. Pertama ia ingin menjadi sepertiku, lalu saat ia melihat betapa mulianya tugas Ibu Guru maka ia ingin menjadi Guru.

Saat kita mulai melihat bakat si kecil. Carilah tokoh dunia yang memiliki kesamaan bakat sepertinya, jelaskan berbagai usaha yang dilakukan oleh tokoh itu hingga akhirnya menjadi seseorang yang sukses. Kalau perlu, pajanglah poster tokoh tersebut di kamarnya agar ia termotivasi.

6. Berkonsultasi dengan Guru

source: erabaru.com

Sudah tau apa kesenangan anak dan apa hal yang paling tidak ia sukai? Langkah berikutnya adalah berkonsultasilah dengan Gurunya di sekolah. Katakan bahwa anak kita tidak menyukai model pembelajaran yang seperti apa dan hal apa yang sebenarnya ingin ia kembangkan. Karena anak kita perlu dukungan lain di luar dari dukungan kita.

Dengan berkonsultasi dengan Guru kita dapat bekerja sama untuk mengarahkan bakat pada anak. Selain itu, kita juga akan mendapatkan informasi lebih lanjut tentang bagaimana penyaluran bakatnya. Entah itu dengan mengikuti perlombaan hingga sekolah lanjutan mana yang sebaiknya ia pilih.

7. Mengajak anak berkompetisi

source: orami.co.id

Kadang untuk mengasah bakat itu butuh tantangan, betul?

Karena itu ajaklah anak untuk berkompetisi agar ia bersemangat dalam mengasah bakatnya. Kita dapat memulai kompetisi dengan mengajaknya mengikuti berbagai lomba, baik itu yang ada di sekolahnya maupun di luar sekolah.

Dengan berkompetisi anak akan maksimal dalam mengeksplorasi bakatnya. Selain itu, pengalamannya akan persaingan dunia luar akan bertambah.

Bagaimana jika anak kalah dalam berkompetisi? Jawabannya ada pada point 9.

8. Memberi Kebebasan Anak untuk Memilih

Kadang, tidak setiap orang tua dapat menerima dan mendukung bakat anaknya. Sering kali orang tua mengarahkan anak untuk menjadi begini dan begitu. Betul?

Keadaan demikian memang sangat beralasan. Tuntutan ekonomi, sikap materialisme, lingkungan sosial membuat kita tanpa sadar telah memaksa anak untuk keluar pada jalur yang ia inginkan. Padahal hal itu tidaklah benar karena…

Setiap Anak itu Spesial..

Ya, setiap anak spesial. Tidak semua anak bisa multitalenta. Ada beberapa anak yang diciptakan dengan satu bakat yang mencolok saja sementara kemampuan yang lain dibawah rata-rata. Hal yang bisa kita lakukan adalah selalu mendukungnya dan memberinya kebebasan untuk memilih apa yang benar-benar ia senangi.

9. Memberikan tes dengan kekalahan dan sedikit desakan

source: nova.grid.id

Melanjutkan no. 7 tentang mengajak anak berkompetisi, lalu bagaimana jika anak kalah?

Pastinya anak akan kecewa, iri kepada yang menang, serta merasa bersalah. Tapi, dibalik kekalahan tersebutlah anak akan banyak belajar asalkan kita selalu mendukungnya dan memberinya semangat.

Baca juga: Ajarkan Anak 5 Hal yang Tidak Menyenangkan

Jika anak tidak pernah merasakan kekalahan dan selalu merasa dirinya paling hebat maka sesungguhnya anak tersebut tidak akan berkembang dalam bakatnya. Karena suatu saat, sehebat apapun anak pasti akan ada rintangan yang menghambatnya. Ia perlu merasakan hal-hal tidak menyenangkan itu agar dapat terus belajar, memperbaiki kesalahannya, dan berusaha lebih baik lagi.

10. Mengajarkan pentingnya kerja keras

Nah, terakhir dari semuanya adalah kita harus mengajarkan pada anak pentingnya kerja keras. Terangkan kepadanya bahwa segala hal tidak akan pernah dapat tercapai jika hanya berpangku tangan apalagi sudah merasa paling hebat. Jika anak sudah menemukan dan serius dalam bakat yang ingin ia perdalam maka kita harus mendorongnya untuk terus belajar dan bekerja keras dalam bidang itu.

Nah, itulah 10 Hal yang dapat Orang Tua lakukan dalam mendukung dan mengembangkan bakat anak. Punya hal lain selain uraian diatas? Sharing yuk!

Happy Parenting.. 😊

Ajarkan Anak untuk Merasakan 5 Hal yang tidak Menyenangkan

Ajarkan Anak untuk Merasakan 5 Hal yang tidak Menyenangkan

Adakah emak yang mengernyitkan dahi sebagai ekspresi bingung melihat judul diatas?

Kok bisa hal yang tidak menyenangkan diajarkan?

Bukannya kita harus menanamkan memory kebahagiaan pada anak kita?

Tunggu.. Memangnya hal yang tidak menyenangkan itu apa sih?

Sadar tidak sih, kalau sebenarnya tidak semua kenangan bahagia dapat membentuk mental kuat pada si kecil. Kadang kala sedikit luka mungkin saja membuat si kecil tumbuh dengan lebih kuat. Masa kecil yang sangat bahagia bukan menjadi jaminan bahwa si kecil akan tumbuh menjadi anak yang kuat mental di masa dewasanya.

Tidak percaya?

Aku mengenalnya dengan sebutan Pendidikan Mental Baja. Sebut saja begitu karena aku hanya mengambil kasus pada leluhur zaman dahulu. Zaman dimana para emak zaman dahulu dikenal dengan pola asuh yang mana mungkin saja pada zaman sekarang dianggap otoriter. Pola asuh tersebut terbukti dapat menghasilkan anak yang berkualitas dimasa depannya.

Baca juga: Kenapa emak sih emak zaman dulu selalu bisa?

Memang, tidak semua pola asuh orang zaman dulu sempurna. Sebagian lagi juga dapat menyisakan luka innerchild yang sulit untuk disembuhkan. Tapi, dari sebuah cerita inspiratif aku belajar bahwa kenangan sulit pun dapat berdampak positif terhadap mental anak.

Baca juga: Berdamai dengan Innerchild, Mungkinkah?

Sebagai emak pembelajar, ada baiknya agar kita juga mengajarkan beberapa hal yang tidak menyenangkan untuk membuat pribadi anak menjadi lebih kuat, teguh dan percaya diri. Nah hal apa saja itu?

1. Ajarkan anak merasa kecewa

source: today’sparent. com

Pastinya setiap orang tua akan merasa senang jika segala permintaan anak dapat dituruti. Melihat kepuasan dalam diri anak akan menimbulkan sensasi menyenangkan pada batin orang tua. Namun, sebenarnya apakah itu adalah hal yang baik?

Hati-hati jika hal ini terjadi berkelanjutan hingga besar, maka anak akan cenderung dimanjakan oleh pola asuh permisif. Anak akan merasa bahwa hidupnya harus selalu sempurna. Bahwa segala keinginannya harus selalu dapat terpenuhi. Sudah banyak bukan beberapa kasus tentang anak yang tidak dapat move on saat menghadapi kesulitan. Bunuh diri hanya gara-gara skripsi ditolak. Besar kemungkinan penyebabnya adalah anak tersebut tak pernah merasakan tahap kekecewaan.

Merasa kecewa itu perlu. Ajarkan anak untuk merasakan perasaan itu sejak kecil. Sebagai orang tua kita tidak perlu menuruti segala permintaannya. Kita perlu menghentikan tangisan anak dengan sesuatu yang lebih baik. Apakah itu?

Empati..

Ajarkan anak untuk mengerti dengan keadaan dan kesulitan kita. Tidak perlu malu untuk mengakuinya didepan anak. Jika hal itu akan menumbuhkan rasa empatinya, kenapa tidak?

2. Ajarkan anak menerima kekalahan

source: parents.com

Anak yang sudah bersosialisasi di lingkungan tentu akan mengenal menang dan kalah. Baik itu dalam dunia bermain kecil-kecilan hingga berkompetisi pada lomba. Apa jadinya jika anak selalu menang?

Ia akan merasa bahwa dirinya lah yang terhebat, sehingga ia tidak perlu belajar lebih baik. Betul?

Aku mengalaminya sendiri saat melihat anakku. Ketika suatu hari ia mendapatkan juara 1 lomba mewarna tingkat TK di Trio Motor, ia sangat senang. Hal ini membuatnya sedikit malas untuk belajar pada lomba berikutnya karena ia yakin bahwa ia pasti menang.

Pada lomba mewarna kedua yang diadakan Biolysin di sekolah, ia juga mendapat juara 1. Ia sangat senang dan sangat percaya diri bahwa ialah yang terbaik diantara semua temannya.

Lalu suatu hari, aku mengajaknya untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh Faber Castel. Dengan percaya diri, ia yakin bahwa ia pasti akan menang lagi. Ternyata, ia kalah. Dan saat itu ia menyadari bahwa masih banyak anak-anak yang lebih baik di bandingkan dengan dirinya.

Kecewa? Pastinya…

Tapi dari kekalahan ia belajar bahwa ia harus lebih baik. Malam harinya, ia langsung berlatih teknik gradasi seperti para pemenang. Aku tidak memaksanya, tapi ia bersemangat untuk dapat lebih baik lagi. Ia bahkan hanya meminta dibelikan pewarna untuk ulang tahunnya.

Kekalahan telah banyak mengajarinya untuk belajar lebih baik lagi.

3. Ajarkan anak merasakan sendirian

Maksudnya? Mengunci anak sendirian di kamar? Sementara emaknya jalan-jalan?

Jangan ya, itu terlalu kejam.. 😂

Maksud dari sendirian ini adalah ajari anak untuk tak membuntuti segala aktivitas kita. Ya, kita memang role mode baginya. Tapi apa jadinya jika ia terus bersama kita dari bangun tidur hingga tidur lagi?

Ia jadi tidak mandiri dan kurang kreatifitas.. Betul?

Hal ini aku rasakan sendiri dengan anakku. Sangat berbeda rasanya ketika aku terus menemaninya bermain dengan membiarkannya bereksplorasi sesuka hatinya dalam keadaan sendirian.

Ketika aku terus menemaninya, maka aktivitasnya terpaku padaku. Ia menjadi malas untuk melakukan hal-hal ringan. Sebaliknya, jika ia ditinggalkan sendirian maka berbagai eksplorasi akan muncul. Mulai dari menggambar, membuat buku kecil, belajar menulis dll.

Ya, itu anakku.. Bagaimana dengan anakmu?

4. Ajarkan anak tidak memiliki pilihan

source: inliv.com

“Mama, hari ini makan ayam goreng tepung ya..”

“Ayam goreng enggak ada hari ini, adanya ikan goreng aja..”

“Tapi aku tidak suka ma..”

“Ya sudah, gak usah makan..”

Ada yang begini? 😂

Itu aku, haha. Terus terang ini adalah kebiasaan turunan dari keluargaku. Hal ini juga yang membuatku tidak memiliki makanan yang tidak disukai. Karena aku harus memilih antara menahan lapar demi lauk kesukaan atau mengganjal perut seadanya. 😅

Kebiasan ini menurutku adalah hal yang baik dan aku harus berhasil menurunkannya pada anakku. Awalnya sangat sulit mengingat si kecil memang picky eater sejak 6 bulan. Tapi, sejak ia sekolah aku mulai tegas dalam mengatur menu makan siangnya. Sejauh ini, ia tidak pernah melewatkan makan siang apapun lauknya karena ia sangat lapar sehabis pulang sekolah.

Bukan hanya dalam hal makanan saja, aku juga mengaturnya memilih dalam mengelola uang jajannya yang sebesar 4000 rupiah. Kami sepakat untuk menabung 2000 rupiah dari uang jajannya sementara sisanya sebesar 2000 lagi untuk jajannya di sekolah.

“Mama, Farisha mau beli Pukis”

“Tapi kalau beli Pukis gak boleh beli mainan ya”

“Tapi Farisha mau beli mainan juga”

“Ya udah, ga usah pulang..”

Dan konflik berakhir. Ya, sesederhana itu.. 😂

Apa sih manfaatnya hal ini?

Tentu hal ini bermanfaat sekali jika suatu hari nanti kehidupan anak kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia harus siap memilih hal yang terbaik untuknya dan lingkungannya. Karena itu, sejak kecil kita harus mengajarinya untuk berada diposisi terdesak dengan pilihan.

5. Ajarkan anak merasa kehilangan

Kehilangan?

Bukan kehilangan sejauh itu ya.. Maksud kehilangan dalam hal ini adalah masih dalam kehilangan hal yang wajar. *Jangan galau dulu mak sampai mikir mau bunuh diri segala.. 😂

Contoh simplenya adalah kehilangan barang berharga miliknya. Entah itu boneka kesayangannya hingga hal lainnya seperti buku gambarnya dll. Apa yang akan terjadi?

Tentunya anak akan sedih sekali. Tapi dibalik kesedihan itu ia akan belajar menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam menjaga barang miliknya. Selain itu, dengan kehilangan anak juga akan belajar arti dari ‘tidak ada yang abadi di dunia ini’. *Eaa..

Ya, demikian tulisan singkat ini dibuat oleh emak yang baru saja mendapat pelajaran berharga dari anaknya. Semoga hal ini dapat berguna bagi emak lainnya.

Happy Parenting.. 😊

IBX598B146B8E64A