Browsed by
Category: Parenting

Serumah Orang Tua atau Mertua Untuk ‘Berbakti’, Yay or Nay?

Serumah Orang Tua atau Mertua Untuk ‘Berbakti’, Yay or Nay?

“Dulu mama capek banget membesarkan 5 orang anak, pas mama udah tua.. Satu pun anak gak ada yang bisa bener-bener berbakti” 

Aku mendengarkan sayup-sayup suara demikian di jalan. Terlihat ibu yang sudah mulai tua berbincang dengan ibu-ibu sebayanya. Lantas keduanya mengutuki anak-anak zaman sekarang dengan label ‘durhaka’. 

Flashback, 10 tahun yang lalu aku pro sekali dengan mindset ibu-ibu tua begini. Masa sih, dari sekian banyak anak gak ada satupun yang bisa memelihara ibunya dengan baik, pikirku dengan jengkel.

Seiring waktu. Mindsetku mulai berubah dalam mengklaim kata ‘durhaka’.

Karena sebenarnya, ada waktunya anak harus memilih. Ingin dibanggakan atau ingin menjadi anak ‘berbakti’ sepenuhnya.

Antara menjadi Anak yang Dibanggakan atau Anak yang ‘Berbakti’

Sebelum menikah, aku meyakini bahwa menjadi anak yang berbakti adalah kunci untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat. Aku yakin dengan menuruti apa saja perintah orang tua, menjadi versi terbaik ala mereka maka hidupku akan penuh dengan keberkahan. Itulah kenapa aku penurut sekali. Disuruh ini itu enggih. Bahkan disuruh menikah muda pun enggih aja. Aku yakin, pada fase itu aku termasuk dalam kategori ‘anak yang berbakti’.

Sampai suatu ketika, aku sadar bahwa sesudah menikah maka prioritasku berbeda. Yang dulu harus menuruti orang tua, sekarang berpindah menjadi harus menurut pada suami. Dulu, aku yakin bisa mendayung keduanya. Bekerja dan memberikan uang pada orang tua sebagai balas budi. Menjenguk mereka setiap sore. Tapi aku sadar, keadaanku sekarang pun adalah konsekuensi dari terlalu berbakti pada orang tua. Karena terlalu berbakti aku melepaskan prioritas bakti. *apa pula ngomong berputar-putar..

Tapi serius, kebanyakan orang tua begitu berharap pada anak-anaknya bahwa kelak anaknya akan memperhatikan mereka ketika mereka sudah tua. Tapi, mereka pula yang menyuruh anak-anaknya untuk lekas menikah, lekas punya anak, lekas punya anak lagi, lekas punya anak lagi dan lagi lekas berkarir tinggi, lekas ini, lekas itu. Mereka berharap, anaknya selalu menuruti perintah mereka. Tanpa sadar bahwa saran-saran itu telah membuat anaknya memiliki dunia sibuknya sendiri dan akhirnya enggan bertemu dan berbicara dengan orang tua. 

Orang tua kadang menyakitkan. Thats fact. Sudah menikah, memiliki anak. Tapi tak tau ambang batas cukup untuk klaim berhasil. Kepada seorang anak perempuan yang tidak bekerja misalnya. Jika dalam perkumpulan keluarga atau ada masalah apapun. Kata-kata menyakitkan itu akan keluar begitu saja.

“Kalo kamu kan enak gak kerja”

“Makanya, gak kerja sih. Susah kan jadinya kalau pengen ini itu. Kalo anu sih bla bla”

Itu masih level 1. Tahukah dimana sisi sulitnya? Ketika anak sudah berhasil mencapai puncak. Sudah bekerja, memiliki anak, sukses sebagai diri sendiri, istri dan ibu serta juga dalam lingkup sosial. Tapi juga suatu waktu harus memenuhi standar ego para tetua. Mertua dan Orang tua. 

Bisa dibayangkan betapa sulitnya memilih. Menjadi anak atau menantu yang dibanggakan tapi tak bisa sempurna ‘berbakti’. Atau menjadi anak berbakti tapi kemudian terinjak harga dirinya karena tak bisa dibanggakan dalam status sosial?

Sungguh, aku akhirnya paham. Tak semua kata durhaka bisa diklaim begitu saja. Karena jika ingin anak berbakti sepenuhnya pada orang tua.. Mungkin pilihan yang benar adalah tak usah menikahkannya. Tak usah motivasi mereka untuk mengejar impian. Apalagi menyuruh mereka untuk memiliki anak. Didik saja mereka untuk bisa bertahan hidup dalam cara tradisional. Dan miliki mereka dengan fokus pada satu tujuan. “Aku ingin punya anak agar kelak masa tuaku bisa ada yang melayani dan berbakti disampingku”

Jadi, anak bisa fokus pada tujuan itu. Belajar membersihkan dan merapikan versi orang tua. Belajar memasak versi orang tua. Dan belajar tunduk dan patuh versi orang tua. 

Mungkin tulisanku terkesan aduh. Tapi.. ayolah.. Para orang tua.. Sadarilah hidup itu harus memilih. Dan mengetahui batasan bakti sejak dini. Jangan sampai ketika tua kita menyesal membuat anak mengejar mimpinya. Karena antara mimpi, ambisi dan kebanggaan hidup.. Ada hal yang harus dibatasi sebagai korban. Tahukah apa itu? Yaitu waktu untuk benar-benar menjadikan anakmu anak yang berbakti. 

Batasan dan Cara Berbakti

Melihat dan mengalami sendiri fenomena demikian, aku jadi paham sekali kenapa anak-anak zaman sekarang ada yang memilih untuk childfree. Karena nyatanya, memiliki anak itu tidak sebercanda itu. Dulu, orang tua kita menganggap anak adalah investasi. Dibesarkan agar di masa depan anak bisa memberikan hal yang lebih besar dari pada apa yang mereka berikan.

Sebenarnya, memandang anak sebagai investasi itu benar. Tak salah. Namun, harus dipahami bahwa dalam investasi juga berlaku rumus highrisk – highreturn. Senada dengan apa yang aku tulis pada awal artikel ini. Ingin memiliki anak yang super membanggakan maka pahamilah bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya berbakti. Sebaliknya, ingin memiliki anak yang sangat berbakti, sadarilah mereka mungkin tidak membanggakan.

Bukankah ada pilhan untuk membanggakan dan berbakti? Ada. Tapi langka. Bahkan dalam investasi sendiri kita kenal bukan.. bahwa hanya saham bigcaps saja yang memiliki kemampuan sedemikian. Apa kabar saham 2nd liner 3rd liner? 

Aku lebih menyukai orang tua yang memandang anak bukan sebagai investasi. Tapi sebagai kewajiban. Amanah dari Allah. Allah anugerahkan anak pada orang tua untuk dibesarkan dan diajarkan nilai-nilai kebaikan. Agar sang anak tumbuh dengan baik. Beketurunan baik-baik. Menjaga Bumi Allah dengan baik.

Lalu apa yang diperoleh orang tua saat sudah membesarkan anaknya dengan baik? 

Rasa sayang dan terima kasih dari sang anak.. Yang mungkin tak bisa dilukiskan secara material maupun tindakan dalam keterbatasan kondisinya. Seuntai doa yang anak lanturkan seusai sholat.. Tebaran kebaikan yang mereka lakukan di dunia.. Ikut orang tua dapatkan meski dalam keadaan tak berdaya bahkan sudah mati sekalipun. Yup, Amal Jariyah namanya.

Saat menjadi anak dengan usia orang tua dan mertua yang sudah tua.. Aku menyadari.. Tak ada anak yang sempurna. Pun sebaliknya, saat aku menjadi orang tua.. Aku menyadari.. Tak ada orang tua yang sempurna. 

Aku, mungkin bukanlah anak yang berbakti penuh. Bukan Ibu yang lemah lembut. Aku baperan. Gampang menangis. Tapi percayalah, dalam batasan kemampuanku.. Aku berusaha berbakti dengan caraku sendiri.

Mungkin bukan selalu ada untuk orang tua atau mertua, mungkin tak bisa melayani sungguh-sungguh, mungkin dicaci sedikit saja aku sudah menangis baper. Tapi pahamilah, aku berusaha sayang dan tetap mendoakan dengan ikhlas. 

Karena kadang, dengan menjauh.. Mungkin aku bisa lebih sayang.

Serumah dengan Orang Tua atau Mertua untuk Berbakti, Yay or Nay?

Dari ceritaku diatas, mungkin sudah jelas jawabanku bukan?

Hmm.. Kalian pasti menerka bahwa jawaban ‘Nay’ adalah jawaban terbaik.

Yang perlu dipahami adalah, terbaik untukku.. Mungkin bukan yang terbaik untuk kalian.

Jujur, keluarga impian dalam imajinasiku adalah keluarga chibi maruko chan. Ada dua anak perempuan, ayah, dan nenek kakek di dalamnya. It looks perfect for me.

Aku lebih menyukai anak-anakku rekat pada nenek kakeknya. Agar ia memiliki teman bercerita di rumah. Kadang aku sibuk di kantor setiap hari. Malamnya aku memasak. Seakan waktu untuk menemani anak untuk hal receh tak ada lagi. Tapi jika ada kakek lucu seperti kartun Chibi Maruko Chan.. bukankah itu menghibur sekali.. Jika ada nenek yang bisa menemani cucunya sesekali sambil membantuku menyiapkan makanan.. Bukankah itu menyenangkan?

Jujur, itulah impianku. Aku senang kok jika hidupku seperti di kartun itu. Meski misalnya aku hanya IRT biasa tapi sepertinya di kartun itu IRT tidak dipandang sebelah mata. Dan tidak ditekan untuk ini itu. 

Diluar sana, kalian mungkin memiliki Ibu, ayah atau mertua seperti kartun Chibi Maruko Chan. Yang bisa menjadi teman di rumah tanpa menuntut ini dan itu. Yang bisa membuat kalian tertawa. Saat mereka sakit, kalian bisa merawat mereka tanpa dikritik bahwa makanan kalian tak enak, rumah tak bersih, tak bisa melipat baju presisi,  ini dan itu. Mereka berterima kasih tanpa menuntut sempurna dan menjadi teman bicara setiap malam. Keluarga demikianlah.. Keluarga yang harmonis.

Aku berharap, kelak bisa menjadi kakek nenek seperti film Chibi Maruko Chan. Yha, jujur cita-citaku selanjutnya adalah bisa menjadi nenek yang baik dan tak cerewet. Makanya, sejak sekarang aku sudah perlahan menghapus file-file dan aplikasi tidak penting dalam otakku yang sudah terinstall oleh kebiasaan orang tua dan mertuaku.

File seperti cara membersihkan sudut ruangan, melipat baju presisi, menyusun segala sesuatu sesuai kaidah dll dsb. Aku juga sudah melakukan uninstall pada aplikasi yang telah diinstall mama mertua dalam otakku. Seperti cara memanggang ikan, menyiangi ikan hidup-hidup agar dimakan tetap manis dan enak, cara memasak ini dan itu. Aku sudah lama membuang itu semua dan mengganti itu dengan file dan aplikasi lain di otakku. 

Aku menyadari untuk bisa menua dengan baik dan bijak, aku perlu menjadi diri yang waras. Bukan diri yang sempurna. 

Serumah dengan orang tua atau mertua.. Menjadikan file dan aplikasi itu terpaksa diinstall lagi dalam otakku. Its okay sebenarnya. Tapi otakku hanya otak biasa. Jika dipaksa, ia akan membuang file dan aplikasi lain. Maka tak heran jika sewaktu waktu aku bisa hilang dalam sosial media, blog maupun di perusahaan. Berfokus pada hal yang lain. 

Lantas, jika tidak serumah… Dimana?

Pertanyaan ini sudah kami diskusikan secara deep talk. Bahkan aku sendiri berkata pada suami.. Jika suatu saat aku tinggal sendirian dan keadaan anak-anak tak memungkinkan untuk merawatku. Mungkin aku lebih memilih mendaftarkan diri di panti jompo. Pun sebaliknya. Jika suami tinggal sendirian, ia akan melakukan hal serupa. Kami menyadari, sebaik-baiknya peran orang tua adalah yang bisa berempati pada keadaan anaknya. Apalagi kedua anak kami perempuan yang mana juga mungkin suatu hari pekerjaan mereka juga setumpuk. Alangkah baiknya jika kami sebagai orang tua bisa memberikan support maksimal untuk membantu mereka dalam menggapai mimpi meski mereka terhambat peran.

Pun seandainya orang tua atau mertua tak punya pilihan dan terpaksa di rumah kami. Better, aku memiliki pembantu untuk membantu di rumah. Setidaknya berjaga andai pekerjaanku tak sempurna, aku setidaknya ‘punya teman’ untuk dianggap tak sempurna. Andai bisa di uninstall aku juga ingin sekali menghapus perasaan baper yang betah dalam diriku setiap kali rentan dikritik boros. Entah kenapa, sepertinya lebih nyaman merawat orang tua yang tak berdaya, dibanding berdaya tapi super cerewet dalam mengatur kehidupan.

Meski terasa sulit kami meyakini bahwa dalam berperan sebagai orang tua maupun anak rumusnya tetaplah sama..

“Hanya memberi, tak harap kembali”

Cara Asyik Mengajarkan Tentang Ilmu Ekonomi dan Keuangan pada Anak

Cara Asyik Mengajarkan Tentang Ilmu Ekonomi dan Keuangan pada Anak

“Mama, mama ini sarjana akuntansi ya?” Pica bertanya padaku hari itu.

“Iya Pica, trus kenapa?” 

“Abah ternyata jurusan akuntansi juga ya..” Pica kembali bertanya.

“Iya Pica.. Kalau Abah kamu itu S2 Akuntansi”

“Terus, Kenapa Mama gak kerja jadi akuntan? Kenapa Abah jadi Dosen Komputer? Kenapa jadi programmer?”

“Emangnya Pica mau Mama sama Abah jadi Akuntan? Akuntan itu kerjaannya ngitung duit, manage duit.. Tapi duit orang.. Hehe..” Celetuk aku sambil tertawa iseng

“Terus, ilmu mama sama abah waktu kuliah jadi apa dong sekarang?”

Pengalaman Mengajarkan Basic Ilmu Ekonomi Pada Anak

1. Transparan Dengan Keadaan Ekonomi Keluarga

“Hmm.. Jadi apa ya. Coba Pica kesini sebentar.” 

Pica melihat handphoneku dan aku memperlihatkan google sheet padanya. Tak hanya berisikan tentang pencatatan keuangan perusahaanku dan suami tapi juga berisi tentang pencatatan investasi. Oya, bagi yang belum tau cerita keluargaku. Keluargaku punya bisnis IT yang dikelola sendiri. Jadi, aku dan suami berbagi tugas. Suami mengelola project ITdan para programmer. Sedangkan aku mengelola administrasi, pencatatan akuntansi dan manajemen. 

Pica mengernyitkan dahi membaca catatanku itu lantas berkata, “Oh, ternyata ilmu mama berguna buat kantor bisnis abah ya..”

Aku tersenyum. Pica memang kurang paham tentang bisnis IT yang kami kelola. Dia cuma paham kalau itu usaha Abahnya. Yang mana awal mula merintis usaha memang hanya bermodalkan 4 orang programmer dan dibangun otodidak oleh suamiku. Jadi, dia tidak paham apa kontribusiku disana.

Aku kemudian menyuruhnya melihat catatan keuanganku lagi. Sambil memperlihatkan sheet demi sheet aku menjelaskan pada Pica kalau dahulu… Kondisi ekonomi keluarga tidak sestabil ini.

“Ini catatan waktu mama masih dapat uang bulanan sebanyak 1,5 juta. Dan ini ketika 2 juta sebulan.”

Pica melihat dengan detail caraku membagi pos keuangan. Untuk makan, listrik, jajan anak, hingga untukku sendiri. Kadang surplus, kadang juga minus. Tapi kadang aku juga menyisipkan adanya uang extra yang aku dapatkan dari bekerja freelance.

“Pica tau gak, ngatur keuangan itu susah. Ada saatnya kita berada diposisi mengatur apa yang ada karena tidak bisa produktif menghasilkan uang. Contohnya ketika Pica masih kecil. Mama gak bisa ikut nyari duit. Jadi, pemasukan sehari-hari hanya mengandalkan Gajih Abah. Yang mana gajih itupun harus terbagi lagi untuk biaya rumah, modal membangun bisnis, dan tumpuan sandwich generation. Saat itulah mama bersyukur karena sudah dididik tentang ilmu ekonomi baik di rumah nenek dulu maupun di dunia pendidikan. Mama gak pernah ngerasa ilmu mama gak bermanfaat. Semua bermanfaat. Meski mama saat itu hanya jadi Ibu Rumah Tangga aja.”

Sejak Pica menginjak usia 9 tahun, aku sudah mulai transparan tentang kondisi ekonomi pada Pica. Hal demikian aku lakukan sebagai insight buat anak agar mulai paham tentang ilmu ekonomi. Sebelumnya, mamaku sendiri juga menerapkan hal yang sama padaku. Mama bilang padaku bahwa jatah uang jajanku sebulan ‘segini’. Gajih mama ‘segini’ dan alokasinya tak hanya tentang keperluan hari ini. Tapi juga keperluan menengah dan masa depan. 

2. Ajarkan Bahwa: Setiap Keluarga Memiliki Prioritas dan Kebutuhan yang Berbeda

Sederhananya, ekonomi adalah ilmu tentang bagaimana memenuhi kebutuhan manusia. Keinginan manusia tak terbatas sementara sumber daya itu terbatas. Maka, self control adalah kunci dalam ilmu ekonomi. Sebelum paham tentang teorinya. Jauh lebih baik mengatur psikis. Memahami kondisi diri. Menentukan mana hal yang primer, sekunder dan tersier. Dan setiap rumah tangga tentu tak sama kondisinya.

“Jadi, Pica jangan ngiri kalau liat teman Pica yang uang sakunya lebih banyak dari Pica. Pica juga jangan bingung kalau liat teman Pica yang hemat banget. Karena peraturan ekonomi tiap keluarga itu beda-beda. Prioritasnya beda. Basic banget dalam mengatur ekonomi adalah: Kita gak boleh iri dengan orang lain ataupun membandingkan mereka dengan kita”

Keluarga kami sendiri memiliki aturan bahwa kebutuhan tersier hanya boleh dibeli setahun sekali dengan budget yang sesuai. Sementara kebutuhan primer tak melulu tentang sandang pangan papan tapi juga pendidikan. Uang extra untuk memupuk skill dan minat anak, bagi kami adalah kebutuhan primer. Sementara kebutuhan sekunder kami beli sekitar 3 bulan sekali. 

3. Pentingnya Mengajarkan Dana Darurat dan Konsep Investasi 

Apakah penting anak diajarkan ilmu tentang dana darurat dan investasi? Menurutku, perlu. 

Berkaca dengan hidupku, Sejak kecil aku sudah paham tentang pentingnya mindset investasi dan dana darurat. Jauh sebelum aku kenal dengan para influencer keuangan.. Mama adalah teladanku dalam mengelola uang. Quote yang selalu mama ulang dan ulang adalah, “Karena kita tidak tau apa yang terjadi di masa depan.”

Sewaktu kecil, aku tidak memiliki dana darurat sendiri. Semua diatur oleh mama. Sedangkan Pica berbeda. Aku menyuruhnya untuk menyisihkan uang lebaran ke dana darurat. 50% dari dana darurat Pica disimpan secara cash olehnya sendiri. Sementara 50%nya lagi aku simpan di Reksadana Pasar Uang (RDPU). Selain memiliki Dana Darurat aku juga mengajarkan Pica untuk memiliki investasi biaya pendidikannya kelak. Jadi, sejak dini aku sudah menabung sedikit demi sedikit untuk investasi jangka panjang

Aku bilang pada Pica bahwa pada RDPU dan investasi lainnya, setiap tahun uangnya akan bertambah 3-4% bahkan lebih dan bisa diambil kapanpun diperlukan. Namun perlu waktu beberapa hari. Dana Darurat yang Pica miliki secara cash bisa langsung dipakai untuk keperluan darurat. 

Mengajarkan Anak Akan Pentingnya Memiliki Tujuan Keuangan

Kalau dari ceritaku diatas, terlihat bukan bahwa basic yang aku ajarkan sebenarnya adalah tentang cashflow keuangan agar bisa survive dalam mengatur ekonomi. Sebelum level mengatur cashflow, anak sebenarnya juga sudah harus mengerti tentang bagaimana menghasilkan uang. Lantas memiliki tujuan keuangan setelah itu.

Bukan mengajarkan anak jadi materialistis. Tapi menunjukkan fakta di dunia bahwa dalam hidup.. uang memang diperlukan. Dan dalam mencapai cita-cita di depan, kita harus memiliki tujuan keuangan yang bervalue. 

“Hidup kita itu sebenarnya mirip games Pica. Ada gold untuk membeli apa yang kita butuhkan agar bisa naik level. Tanpa gold, kita gak bisa apa-apa. Nothing. Jadi mencari uang itu bukan simbol dari matre. Tapi simbol survive dan bisa naik level. Jadi, dengan paham cara memiliki uang kita bisa punya tujuan keuangan dimasa depan. Pica pengen apa? Pengen kuliah, pengen punya skill baru, bahkan pengen punya rumah atau impian memiliki anak.. Itu adalah tujuan keuangan.”

“Gimana caranya supaya dapet uang Ma?”

“Uang itu bisa didapatkan dengan banyak hal. Pertama dengan tenaga. Pica bisa aja ngambil jasa loundry atau setrika. Diluar sana ada yang berprofesi sebagai pembantu dan tukang untuk mendapatkan uang. Kedua, dengan otak dan skill. Itulah gunanya Pica sekolah dan mengasah apa yang Pica suka. Misal, Pica suka menggambar. Diluar sana mungkin Pica bisa jadi pembuat komik. Pica senang. Pica juga dapat uang.”

Banyak yang beranggapan bahwa tujuan keuangan adalah melulu tentang hal berbau materialis. Padahal, di dunia ini suka tak suka kita harus bisa mengatur dengan seimbang masa kini dan masa depan dengan uang. Masa produktif manusia untuk bekerja itu terbatas. Sementara manusia mungkin saja hidup lebih lama tanpa masa produktif. Tujuan keuangan meliputi kecukupan masa kini dan masa depan. Bagi anak, tujuan keuangan adalah tentang bagaimana ia bisa meraih cita-citanya sekarang dan tetap seimbang jalannya hingga di masa depan.

Wah, kalau membahas tujuan keuangan dengan seimbang demikian. Sepertinya tak cukup kalau hanya sekedar menjelaskan pada anak bahwa menjadi produktiflah yang selalu menghasilkan uang. Karena faktanya, ada yang namanya pasif income. Orang bisa mendapatkan uang tanpa terus bekerja di hari tua bukan?

Ngajarin Anak Tentang Pasif Income Melalui Game

“Tapi, Pica juga musti tau gimana cara orang-orang menghasilkan duit dengan cara yang diluar itu.. Pica tau gak, nenek sama kakek itu gak kerja lagi loh. Pertanyaannya, gimana cara mereka masih dapat uang?”

“Bukan dari Mama ya? Berarti Ada cara lain dong ma untuk dapat uang. Gimana tuh?”

“Namanya Pasif Income Pica. Kita bisa tetap dapat uang meski diam aja. Bisa lewat investasi. Bisa lewat menyewakan barang, menjual properti ketika harga tinggi, yang dulu dibeli dengan harga rendah. Banyak cara lainnya. Sini, Mama mau ngajarin Pica lewat game. Mau tau gak gimana?”

Aku lalu membuka laman money games . Aku baru tahu tentang website money game ini dari temanku. Surprise, ternyata disana ada berbagai game yang seru untuk mengedukasi anak tentang uang. Dari cara mendapatkan uang, simulasi uang, bahkan hingga saham dan NFT pun ada. Tapi buat anakku itu masih terlalu jauh. Sekarang aku hanya ingin mengajarkan kepada Pica tentang pasif income yang related dengan game. Nama-nama game itu antara lain:

Kingdoms War

Game Kingdoms War ini mirip dengan monopoly. Dulu, sewaktu SMP hingga SMA aku sering memainkannya dengan kakakku. Bahkan ketika muncul versi aplikasi game di komputer pun aku sering memainkannya. Nah, sekarang bisa dimainkan di website mortgage calculator juga.

Dimulai dengan bekal tabungan 500 koin. Dan kita memainkan game dengan lemparan dadu. Ketika mendarat di properti dan tersedia untuk dibeli maka  kita dapat membelinya. Jika orang lain menempati properti itu, maka ia harus membayar sejumlah sewa. Sewa di awal cukup terjangkau dan bisa bertambah mahal jika ada rumah diatasnya. Dengan memiliki 3 properti berturut-turut kita bisa membangun rumah dan meningkatkan pendapatan sewa. Kita juga bisa membeli tanah dan properti dari orang lain dan menyewakannya.

Meski permainan ini bergantung pada kesempatan dan keberuntungan dalam pelemparan dadu. Namun ada satu hal baru yang dipelajari oleh Pica. Melalui game akhirnya ia paham maksud dari sewa. Dan menyewakan properti adalah salah satu bentuk dari pasif income.

Aku bercerita ini related dengan pasif income Nenek Pica. Nenek Pica memiliki lahan karet yang disewakan pada petani. Ketika panen, nenek akan mendapatkan pembagian hasil tanpa bekerja. Tentu saja ini tidak diperoleh secara instan. Ada kerja keras dan konsisten menabung sebelumnya agar bisa membeli lahan yang potensial.

Real Estate Tycoon

Game Real Estate Tycoon adalah game yang membuat anak belajar tentang harga properti yang naik dan turun. Dalam game ini, uang kita akan bertambah jika sukses membeli properti dengan harga rendah dan menjualnya saat harga tinggi. Hmm… related banget dengan kehidupan kita bukan?

Dalam game ini, sebagian besar bangunan naik nilainya saat pertama kali muncul dalam garis yang cukup lurus, lalu mendingin dan memperlambat apresiasinya sebelum berbelok ke selatan. Ketika kita masuk lebih jauh ke dalam permainan, bangunan muncul lebih cepat dan beberapa bangunan mengalami siklus harga berkali-kali. Waduh, related sekali dengan harga properti di sekeliling kita. Thats why, membeli property itu tricky. Terutama membeli rumah.

Game ini mengajarkan pada Pica bahwa ada pasif income yang tricky untuk ditiru. Aku mengajarkan padanya tentang harga properti yang bisa jatuh sewaktu-waktu. Namun ada pula yang bisa mengambil keuntungan dari jual beli properti. Dalam keadaan tertentu, kadang ada beberapa orang yang menjual propertinya dalam harga rendah dan dibawah harga pasar. Kalau ada kesempatan demikian maka itu boleh diambil. Karena potensi mendapatkan keuntungan ketika dijual masih tinggi. Namun, sangat penting untuk menghindari perasaan greedy dalam membeli properti. Atau uang kita akan menyusut nilainya.

Aku bercerita bahwa Nenek Pica sering kali membeli tanah yang dekat dengan jalan besar. Beliau membeli tanah yang memang saat itu harganya sedang murah. Bertahun-tahun kemudian, harga tanah itu 70% naiknya. Dan ketika menjualnya, Nenek bisa membiayai anak-anaknya kuliah di kedokteran. Menggunakannya untuk umroh. Dan sisanya bisa disimpan di deposito bank, dan tentunya keuntungannya menjadi pasif income.

Web Tycoon Simulator

Game Web Tycoon Simulator ini mungkin terlihat sederhana. Ini adalah game dimana anak hanya melakukan ‘click’ untuk mendapatkan penghasilan.Tapi tahukah dimana sisi uniknya dilihat dari potensi pasif income? Disini anak diajak untuk meningkatkan aspek bisnis berbasis web. Dimana kita tahu sendiri sekarang bukan? Bahwa bisnis digital adalah ladang untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Dari Aspek Workstation, website, advertising, private server, dll.. Pica jadi tahu bahwa zaman sekarang ini untuk mendapatkan pasif income bisa dalam ladang digital. Dalam game ini, kita dapat klik di mana saja di layar untuk menghasilkan pendapatan. Jumlah tabungan kita pun ditampilkan di bagian atas layar.

Game ini mengajarkan penghasilan juga dapat dihasilkan secara pasif ketika kita tidak mengklik, meskipun mungkin hanya sekitar 20 persen dari tarifnya.

Kita dianjurkan untuk menggunakan penghasilan untuk membeli peningkatan workstation, situs web, strategi periklanan, server pribadi, merchandising, pasar, dan mengembangkan dominasi web.Uniknya, Setiap fitur dapat ditingkatkan berkali-kali dengan biaya peningkatan yang tumbuh secara geometris. Ketika kita ingin meningkatkan berbagai aspek bisnis, pendapatan pasif kita akan meningkat.

Game ini related dengan kehidupan nyata sekarang. Banyak yang berprofesi sebagai youtuber, blogger, tiktoker, dan bisa mendapatkan pasif income dari adsense. Ketika menjelaskan hal ini, Pica jadi excited. Ternyata pasif income zaman sekarang bisa didapatkan dengan ‘memupuk proses’.

***

“Ah ternyata, belajar keuangan itu seru. Pica pikir awalnya.. Mencari uang itu selalu tentang kerja keras.”

“Ya awalnya memang harus kerja keras. Keras pada minat yang ingin kita gali sendiri. Bahkan membuat konten saja perlu konsep matang dulu agar menarik loh. Jadi, belajar tentang pasif income tak melulu mengajarkan untuk malas ya.. Tapi mengajarkan bahwa manusia itu tak selamanya bisa produktif maksimal. Karena itu kita perlu belajar untuk bisa merdeka finansial meski tak produktif lagi dengan belajar memiliki pasif income.. Contohnya seperti Nenek dan Kakek Pica. Jujur, mama bangga banget punya orang tua seperti mereka.”

Pendapatku pribadi, penting mengajari anak tentang pasif income untuk mengoptimalkan dana pensiun maupun rencana masa depan. Dan ternyata mengajarkan anak tentang keuangan dan pasif income itu bisa banget melalui game yang renyah dan seru. Kalau menurut kalian bagaimana? Penting gak ngajarin anak sejak dini tentang pasif income dan mengelola uang? Sharing yuk!

Seni Menghapus Luka Pengasuhan

Seni Menghapus Luka Pengasuhan

Kemarin, aku membuat konten tentang pola asuh otoriter. Konten ini terinspirasi dari drakor The Good Bad Mother yang baru saja tamat kamis kemarin. Jujur, niatnya pengen jadi pembanding aja sih dengan konten tentang Ibu Permisif sebelumnya. Tapi makin kesini dan baca tulisan sendiri… kok agak mewek ya jadinya.. Huhu

Kenangan Pola Asuh Semi Otoriter

Sebelumnya, disclaimer dulu ya.. Tulisan kali ini bukan dibuat untuk mengupas dan menjelek-jelekkan pola asuh orang tuaku dahulu. Tapi, semata-mata dibuat untuk bisa saling berempati dan memaafkan. Aku sering banget bikin tulisan yang berbau curhat. Tapi kadang sedihnya itu, orang cuma baca sisi jeleknya tanpa mengupas tuntas inti dari tulisan aslinya. Dalam artian, gak membaca dengan hati. Hanya melihat sisi jelek, liatin heading yang biasanya gak mewakili..  opening dan closing yang sedikit.. Lantas mengadu ngadu kesana kemari,,, eh, ada yang begini? Ya ada. Kalau yang baca termasuk tipe begini. Mending closed tulisan ini. Dan no comment ya. Wkwk.. 

Uhuk, napa jadi baper gini ya aku.. Haha

Kembali ke cerita, dulu.. Jujur aku punya banyak kenangan baik dengan orang tuaku. Khususnya di masa kecil. Saat umurku masih berkisar hingga 6 tahun. Aku mengingat jelas bagaimana mama menyayangiku. Memeluk dan sering melakukan permainan ‘Ungga Ungga Apung’ setiap malam. Aku tau bahwa aku adalah anak yang dicintai dan sangat diharapkan kehadirannya. Anak perempuan yang dinantikan setelah kakak laki-lakiku. Mamaku saat itu, memiliki pola asuh yang permisif-demokratis. Menjadikanku Ratu namun tak semua inginku bisa tercapai. Tak masalah meski aku tumbuh sebagai perempuan yang mewarisi baju laki-laki kakakku. Aku bahagia. Sangat. Dan sampai sekarang aku masih mengingat rasa bahagia itu. Asal aku penurut, mama menyayangiku. Sesimple itu.

Tapi semua mulai berubah sejak aku beranjak sedikit lebih besar. Hingga kini aku masih mengingat begitu banyak aturan disiplin yang diterapkan mama padaku. Ketika kedisiplinan dilanggar, hukuman menanti. Entah kenapa saat itu, aku merasakan bahwa hukuman yang aku terima tak sekedar tentang hukuman mendidik. Namun sebuah pelampiasan. Keadaan berlanjut hingga aku punya adik kembar. Sebagai anak tengah, aku merasakan life crisis tingkat 1. Dimana aku harus mencontoh kakakku sebagai panutan disiplin. Disisi lain, aku juga kehilangan kasih sayang yang dulu sempat aku dapatkan ketika masih kecil. Kasih itu beralih sepenuhnya pada adik kembarku. Tiba saatnya mama mulai melakukan gerakan yang sedikit patriarkis dalam memberlakukan anak perempuan. Aku tau saat itu aku sudah besar dan tak boleh cengeng. Namun, rasanya benih-benih iri itu tumbuh begitu saja. Aku jadi kehilangan identitas diri. Bukan sebagai anak paling disayang. Bukan pula kakak yang bisa dibanggakan. Hanya anak tengah yang bingung harus berjalan ke arah mana ditengah identitas perempuan yang harus bisa ini dan itu. 

Apakah mama otoriter? Hingga sekarang aku menganggap pola asuh mama bukanlah otoriter seperti Ibu Kang Ho. Mama adalah sosok semi otoriter dimataku. Satu sisi, aku masih mengingat bagaimana sisi permisif dan demokratisnya mama saat aku masih kecil. Disisi lain, mama bisa mendadak berubah otoriter. Bahkan hingga aku dewasa, mama adalah tipe otoriter di mataku. Begitu banyak aturan, namun tanpa alasan jelas. Komunikasi satu arah dan ketika ingin mengemukakan pendapat, pendapat itu selalu dihakimi atas alasan simple. Hidup harus kuat, harus bisa survive.. Bla bla..

Kenangan demikian, membuatku sedikit baper ketika menonton drakor The Good Bad Mother. Mama mungkin tak mengatur cita-citaku layaknya Ibu Kang Ho. Namun mama mempengaruhi mindsetku dalam memilih cita-cita. Mama yang selalu menegaskan bahwa uang adalah segalanya. Aku yang dulu begitu respect dengan profesi guru, mulai berubah arah tujuan dalam bercita-cita. Tidak ada passion, tidak ada semangat dalam ilmu. Yang ada dalam pikiran hanyalah.. Apakah kelak aku bisa bekerja dan memperoleh banyak uang? Apakah kelak aku akan berada di strata sosial diatas saudaraku? 

Belajar Memahami Mindset Ibu Otoriter

Jujur, dalam 70% hidupku, rasanya semua diatur oleh Mama. Dari mindset, disiplin, hingga ya.. Jodoh.  Meski aku menikahi pacarku yang memang aku cintai. Tapi mama yang mengatur untuk cepat menikah. Sebuah langkah yang bertolak belakang dengan ‘meterialisme’ dan mengejar profesi. Aku sering bertanya, kenapa mama ingin aku cepat menikah? Bukannya mama pula yang sering berceramah padaku bahwa perempuan harus bekerja, mandiri finansial, bla bla.. Apakah menikah dini segera menjawab hal itu? Pikirku bingung. 

Mama hanya menjawabnya dengan jawaban simple. “Perempuan tuh harus cepat menikah. Beda dengan laki-laki.. Perempuan tuh nanti punya anak bla bla.. Nanti kalau gak nikah sekarang gak laku lagi.. Kapan lagi punya calon suami dosen… bla bla”

Sebuah saran yang bertolak belakang dengan Abah. Namun, di dalam rumah kami saat itu.. Pendapat mama lebih dominan. Abah justru berkata padaku, “Kamu tuh cantik. Gak nikah sekarang juga gakpapa.”

Trust me, jika abah berkata hal demikian di depan mama. Maka Abah akan mendapat ceramah besar tentang banyaknya anak perempuan yang tidak laku karena jual mahal bla bla.

Aku memilih lebih taat dengan mama karena alasan simple. I just wanna be a good girl again. Anak perempuan kecil yang dulu selalu dipuji karena melakukan hal kecil. Pikirku, dengan melakukan perintah mama maka mungkin aku akan menjadi anak yang disayangi lagi dan jauh dari aturan otoriter. 

Menikah-langsung memiliki anak-terpaksa berpindah pindah rumah dari rumah orang tua ke rumah mertua dll dsb.. Membuatku sadar bahwa menikah dan langsung menjadi Ibu adalah level terberat dalam hidupku. Ditambah ternyata, Sang Ibu Semi Otoriter mulai membawa-bawa harapan untuk menyuruhku bisa mandiri finansial. Itu adalah krisis besar dalam hubungan kami berdua. Aku sempat marah dengan mama. Dan atas perjalanan panjang marah-empati-marah-empati.. Akhirnya aku bisa paham dengan luka, keadaan dan psikologis mama.

Apakah empati itu instan? Tentu tydak. Bayangkan aku bahkan butuh waktu sekian tahun untuk paham dengan mama. Padahal kami adalah dua orang yang terikat secara biologis, cinta, ruang dan waktu.

Bagaimana agar tak mengulang pola semi otoriter yang sama?

Pada ending konten, aku gampang sekali menuliskan kata-kata ini.

Nyatanya, sungguh itu sangat sulit. Kadang kala disiplin dan hukuman itu terulang. Kadang kala aku merasa pola asuh dari mama adalah yang terbaik yang bisa kuulang kembali. 

Toh aku hidup dengan baik sekarang bukan? Bisa saja anakku di masa depan hidup dengan baik pula?

Tapi, kadang kala aku sering bertanya ulang. Dimana batas wajar otoriter itu?

Dan sekarang, lambat laun aku mulai paham dimana mencari batasnya. Intinya cuma 2 hal. Pertama tentang bagaimana kita bisa membuat hati kita untuk bisa memaafkan pola asuh yang dahulu. Kedua tentang bagaimana kita berusaha menyayangi diri sendiri.

Memaafkan adalah tentang membuang hati yang kotor, mengobati luka. Sedangkan menyayangi diri sendiri adalah sumber dari hati yang terus diisi air bersih. Hati itu yang bisa berbicara secara demokratis dengan anak. Hati yang bisa berkomunikasi dengan baik dan menahan amarah berlebih.

Tahukah bahwa diantara 2 inti solusi, ada cara lain untuk tak mengulangi pola otoriter yang sama. Cara itu adalah dengan menjadikan pasangan kita sebagai partner dalam pengasuhan. Aku selalu mengingat, saat Mama sedang dalam mode otoriter yang luar biasa.. Aku lari pada Abah. Abah selalu membelaku, mendukung apapun impian konyolku.

Milikilah pasangan yang bisa meredam amarahmu dan memeluk hangat anak-anakmu. Sungguh itu sangat menenangkan.

Apakah pola otoriter bisa hilang? Mungkin tak sepenuhnya hilang namun setidaknya berubah menjadi lebih baik. Karena.. Ya.. tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini bukan?

Parenting Dimata Chat GPT

Parenting Dimata Chat GPT

Chat GPT, hal yang sudah jauh hari ramai diperbincangkan oleh teman-temanku. Kalangan blogger serta teman-teman yang bekerja di dunia digital mulai ramai membuat status di sosial media berceloteh tentang AI yang serba bisa ini. Beberapa diantara mereka berkata bahwa ini sedikit ‘waw’ dan sebagian yang lain berkata bahwa ini akan menggeser profesi blogger. Namun, tak banyak pula yang melihat bahwa chat GPT hanya sekedar alat untuk mempermudah. 

Aku sendiri sudah sekitar 3 bulan yang lalu mulai aktif menggunakan Chat GPT. Jujur, aku sama sekali tidak berminat menggunakan chat GPT untuk tulisan blog shezahome.com. Blog ini pure ditulis dengan ‘emosi’ dan sedikit pencerahan pada endingnya. Sifatnya adalah media healing dan pengingat diri. Aku menggunakan Chat GPT hanya untuk keperluan konten branding perusahaan. Aku juga menggunakan Chat GPT untuk bertanya hal-hal yang tidak aku tau.

Dan jujur, jawabannya lebih to the point dan rinci dibandingkan mencari artikel yang related di google. Untuk keperluan materi, Chat GPT sangat membantu. Tapi, bagaimana untuk urusan parenting?

Iseng, aku bertanya berbagai hal yang berbau parenting pada Chat GPT. Dan kalian tau bagaimana responku?

Tentang Menjadi Ibu yang Baik ala Chat GPT

Iseng, aku bertanya hal demikian pada Chat GPT.

Jawaban yang cukup panjang dan sungguh menurutku cukup lengkap. Tapi, cobalah baca berulang kali. Sound so familiar sih kata-katanya menurutku sendiri. Seperti baru saja menyimak seorang psikolog parenting yang membeberkan webinar tanpa pengalaman di dalamnya. Seperti menyimak tulisan blogger yang cuma membeberkan teori parenting di artikelnya. Seperti blog-blog parenting tanpa branding personal. Ibu beranak 2 sepertiku kadang hanya bisa melihat sambil sesekali menguap membaca hal demikian. Jujur, menyimak materi tanpa emosi di dalamnya maka materi tersebut seakan ‘tak related’

Beda halnya ketika aku membaca sebuah status tentang pengalaman seorang ibu, jatuh bangunnya untuk mewaraskan diri sendiri, hingga mungkin memiliki anak-anak yang juga menguji emosinya. Keluhan di awal namun mencoba stabil di tengah cerita. Lantas meski tau tak mudah, mencoba menulis solusi dan penenangan diri di akhir cerita. Rasanya beda. Seakan aku baru saja menemukan teman yang sama sepertiku. 

Itulah yang tak dimiliki Chat GPT. Emosi. Pengalaman. Chat GPT mungkin bisa mengemukakan cara menjadi ibu yang baik. Tapi ia tak punya pengalaman berkaitan tentang itu. Ia tak punya emosi yang membuat pembaca merasakan hal yang sama.

Chat GPT Bisa Menjadi Acuan dalam Masalah yang Solutif

Sebagai blogger, jujur aku sempat sekali menulis pengalaman-pengalaman baper di blog. Tapi seiring berjalan waktu, aku memutuskan menjadikan separuh diriku layaknya Chat GPT. Itulah kenapa Blog yang dulunya hanya ladang curhat, aku ganti Taglinenya dengan ‘Sok Bijak’. 

Namun demikian, Chat GPT menurutku cukup menarik. Ia mulai bisa membuat solusi pada emosi. Dari yang awalnya hanya teori, berkembang menjadi teori-solutif. Ini seakan membuatku sadar bahwa andai kita memiliki masalah mungkin Chat GPT bisa memberikan kerangka solusinya. Misalnya saja seperti pertanyaanku dibawah ini, “Bagaimana cara Ibu memberdayakan diri?”

Meski terkesan teoritis, namun kata-kata yang dituliskan oleh Chat GPT adalah to the point ke solusi. Dan jujur solusinya itu benar semua. Berbeda denganku dulu yang perlu berjuang untuk paham arti berdaya. Dari mulai mengutamakan me time, belajar, mencari komunitas sosial, curhat, akan tetapi semua jadi gamang dan tanpa tujuan saat aku tidak mendelegasikan tujuan dan rencana. Semua jadi tetap saja terasa stressnya karena aku tidak menjaga kesehatan fisik dan emosional lewat workout dan meditasi. Chat GPT menjawab masalah dengan solusi rinci meski tanpa emosi. Dan jawabannya mirip… dengan jawaban laki-laki.. Hahaha.

Dan aku sungguh merasa tersentuh sih soal jawaban Chat GPT pada point 7. Meski mungkin itu adalah teori yang ada pada database AI.. Namun, itu mengandung emosi. Jangan lupakan diri Anda sendiri, kata-kata itu bahkan perlu aku dapatkan setelah 7 tahun menjadi Ibu. Tapi lewat bertanya pada Chat GPT? Aku mendapatkan jawaban itu secara instan. Sungguh Instan.

Sisi Mengerikan Chat GPT: Dia Bahkan Bisa Bercerita

Seakan menggigit lidah, aku kembali menarik perkataanku bahwa Chat GPT tidak memiliki pengalaman. Iseng, aku bertanya, “Ceritakan pengalaman tentang proses menjadi ibu”

Dan jawabannya seakan menjadi ‘teman’ dan mencoba untuk ‘related’ dengan kita.

Meski ya memang sih.. Ceritanya seakan sok bijak banget. Tapi, kurasa bukan tak mungkin Chat GPT lebih berkembang lagi. Seperti mencoba menjawab pertanyaan dengan versi empati lebih tinggi atau bahkan membuat kita seorang Ibu merasakan keterikatan. Bukan tak mungkin seiring berjalan waktu AI menjadi partner baik dalam pengasuhan. Menjadi teman curhat dan pendengar yang baik. Bukankah itu yang sebagian manusia lain inginkan? Ketika seorang Ibu sedang sedih dan baper.. Jangan curhat, jangan ngeluh, jangan nulis kesana kemari. Curhatlah hanya pada Allah. Duh, sebuah kata-kata diatas level bijak sekali. Bahkan Allah saja menjadikan manusia sebagai makhluk sosial untuk bisa terkoneksi.

Coba renungkan sekali lagi, andai saja seorang Ibu yang terkena Mom Shaming justru curhat pada Chat GPT. Dan lagi-lagi.. Jawabannya pun solutif.

Saat membaca solusi dari Chat GPT aku bahkan mendapatkan kesimpulan bahwa AI saja menyuruh seorang ibu untuk memiliki teman bicara. Teman yang bisa dipercayai, keluarga yang baik yang bisa mendukung. Seorang AI saja tidak memberikan solusi seperti, “Jangan ini itu, curhat pada Allah saja”

Lantas kenapa kita sebagai manusia level bijaknya seakan sudah diatas sekali? Ada khayalan mengerikan yang terlintas begitu saja saat aku iseng memberikan beberapa pertanyaan demikian pada Chat GPT…

Bagaimana jika kelak, AI hadir bukan hanya tentang memberikan solusi.. Tapi menjadi teman. Masihkah manusia membutuhkan manusia yang lain?

Bagaimana jika kelak, manusia mulai lelah berhubungan dengan sesamanya dan mulai serba menggunakan AI dalam hidupnya. Masihkah layak disebut manusia?

Jujur, aku pribadi saja sudah ‘sedikit’ mengalaminya. Dulu, aku sering dibully tentang pekerjaan rumah yang tak becus. Rumah yang tak rapi, masakan yang tidak perfect, atau anak yang tidak dididik seperti pola mereka. Orang-orang demikian, membuatku trauma berhubungan dengan manusia terutama ibu-ibu yang berbeda generasi denganku. Seiring dengan meningkatnya ekonomi hidupku, aku lebih memilih membeli teknologi untuk mempermudah hidupku dibanding memiliki ART. Teknologi bisa membuat hidupku lebih baik. Mesin cuci, robot vacuum, setrika uap.. Jauh lebih membuatku waras dibanding memilih memiliki ART yang mana mungkin saja merupakan generasi diatasku. Alih-alih membantu orang dalam bekerja, aku lebih memilih memiliki teknologi. Bagaimana jika kelak, untuk teman curhat pun aku lebih memilih AI? Haha.

Meski terkesan ‘gimana’. Percayalah.. Inti dari tulisanku adalah.. Yuk, jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya. Jangan sampai teknologi AI malah memiliki empati yang lebih baik dibanding manusia. Aku tau, AI sebenarnya tak punya ‘rasa’. Aku tau, manusia tempatnya khilaf dan sering berbuat salah maupun melanturkan kata-kata menyakitkan. Namun, di era serba digital ini.. Jangan sampai dunia nyata dan relasi nyata pun tergantikan. 

Bagiku, yang namanya ilmu parenting tetaplah tentang petualangan menjadi orang tua yang baik. Tentang bagaimana menemukan teman untuk berbagi, dan menemukan diriku sendiri. Bagaimanapun juga, AI tak bisa mengambil alih cinta dari keluarga. AI tak bisa memahami karakter manusia disekitar kita. Empati itu ada pada diri manusia. AI hanya memanipulasinya dalam bentuk kata.

Ngobrolin Tentang YOLO Parenting

Ngobrolin Tentang YOLO Parenting

“Kalau Parenting style versi aku, itu aku namain YOLO Mother”

“YOLO Parenting? Apaan Tuh?”

“Yah.. You Only Live Once. Dalam artian, kalau pekerjaan itu bikin kamu pusing as a mother, gak usah dikerjain. Gak usah maksain apa yang kata orang-orang harus lakukan. Kalau gak suka ya udah.. Tinggalin aja”

-Nikita Willy

Nyinyirin Hidup Nikita Willy as a YOLO Mother dan Lomba Perbandingan Penderitaan

Jujur, suka banget ketawa dengan konten-konten yang menggabungkan life style Nikita Willy as a Mother dengan keadaannya sendiri. Lucu sih, aku akui konten-konten begini sangat amat menghibur. Aku saja nonton sampai cekikikan di kamar. Nah, ini contoh konten yang lucu itu:

https://www.instagram.com/reel/Cr-EH3FA3eZ/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Lucu kan?

Tapi, semuanya tak lagi jadi hiburan kala iseng membaca kolom komentar. Awal mula yang niatnya hanya mengisi hiburan saja malah jadi manggut-manggut membaca penderitaan orang lain. Sambil berkeluh begini di dalam hati..

“Ah iya.. Nikita Willy mah enak. Bisa memilih mana pekerjaan yang disukai untuk mengisi kesehariannya.. Lah kita emak-emak yang privilegednya gak kayak Nikita Willy punya pilihan apa?”

Gak ngerjain cucian baju dan piring.. Apakah baju dan piring bisa membersihkan dan merapikan dirinya sendiri?

Gak masak sehari. Keluarga makan apa?

Gak bersihin rumah. Apakah rumah bisa bersih dengan sendirinya setelah dipakai beraktivitas?

Nikita Willy mah enak gak kek aku bla bla bla. 

Iya.. Gak kayak kita..

Lantas ibu-ibu yang merasa senasib berpelukan. Gak salah sebenarnya kalau ibu-ibu ini saling berpelukan dan berbagi rasa. Apalagi ketika mengeluh misal, ada yang menawarkan bantuan. Hehe..

Yang jadi masalah adalah ketika iri pada Nikita Willy ini berlanjut. Mencoba meniru YOLO Mother plek ketiplek versi Nikita sambil terlebih dahulu berdiskusi dengan suami. Padahal, ya.. Kita tau sendiri bahwa gak semua suami itu sama dengan suami Nikita. Yang ada, kalau kita ingin hidup sama seperti Nikita dan diskusi ke suami, suami malah merasa direndahkan karena tak bisa membuat kita seperti Nikita.

Yang jadi masalah kedua lagi adalah, saat rasa iri itu berlanjut dan memandang rendah kearah Nikita Willy. Seakan-akan hidupnya 180 derajat berbeda dengan hidup kita dari lahir tanpa usaha apapun. Lantas kita menganggap bahwa yang namanya nasib itu tak perlu diusahakan karena privileged itu sudah ada tercipta dan terbentuk dari lahir. 

Thats the problem. Saat liat kehidupan orang lain lantas berusaha menjadi orang lain itu. Atau saat liat kehidupan orang lain lantas nyinyir dan iri berkepanjangan dengan orang tersebut tanpa berusaha lebih realistis.

Nyatanya: YOLO Parenting Itu Ada Benarnya

Aku pribadi sih, merasa bahwa perkataan Nikita Willy itu ‘ada benarnya’. 

Terutama dalam bagian, “Gak usah maksain apa yang kata orang-orang harus lakukan. Kalau gak suka ya udah.. Tinggalin aja”

Kenapa aku merasa perkataan itu ada benarnya? Karena ‘Setiap Ibu punya prioritas yang berbeda’

Misal, ketika aku memiliki bayi yang masih kecil dan dalam keadaan pemulihan pasca cesar.

Aku akan berusaha banget tutup telinga dari perkataan orang-orang yang menyakitkan seperti..

“Wah, padahal gak kerja tapi punya ART di rumah”

Orang nyinyir yang bahkan bertemu aku baru 15 menit saja. Tau apa dia tentang hidupku? Tau apa dia tentang bagaimana aku menggajih ART.. yang mana harus menabung saat hamil demi bisa memiliki ART selama 3 bulan pasca melahirkan. Tau apa mereka bahwa aku juga berusaha mencari uang meski terlihat tidak bekerja di luar.

Contoh perkataan lain seperti..

“Wah, rumahnya kok berantakan. Wah, bersihin anak pup kok begitu. Bla bla..”

Orang nyinyir yang bahkan tak tau bahwa anakku adalah makhluk hidup yang butuh bereksplorasi. Yang bukanlah robot dan bisa kukontrol. Dan mereka bahkan tak tau bahwa aku punya waktu sendiri kapan harus membereskan rumah dan kapan tidak. Mengapa mereka tidak tau adab bertamu yang seharusnya memberitahu terlebih dahulu pada pemilik rumah jika ingin bertamu?

Alih-alih klarifikasi, membela diri atau melakukan apa yang ‘orang nyinyir’ inginkan. Jauh lebih baik bagi seorang ibu untuk memahami apa prioritas hidupnya sendiri. 

Saat memiliki anak bayi, prioritas aku ya si bayi. Bukan rumah yang perfect.

Saat anak sudah mulai besar, prioritas aku adalah mengasah habbit anak agar bisa disiplin. Bukan membiarkan anak berlama-lama dengan gadget agar rumah dan dapur kita sempurna.

Saat anak sudah mulai mandiri, prioritasku adalah mulai mengejar mimpi yang sempat tertunda. Mulai bonding ulang dengan suami agar kerja sama kami bagus. Tak sungkan mengeluarkan budget untuk kelas belajar hingga membeli lingerie.

Nikita Willy ada benarnya bahwa You Only Live Once.. Just Do What You Want.. Not What They Wanted…

Hanya saja, kita dan Nikita memang berbeda. Dan memang harus berbeda. Kenapa pula Nikita Willy harus sama dengan kita yang mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri? Kan dia berhak melakukan hal yang lain. Bukan berarti dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, tapi dia punya privileged untuk meninggalkannya. And its good. Aku pun jika senasib dengan Nikita dengan senang hati lebih memilih work out atau ngegym diluar dibanding mengerjakan pekerjaan rumah. Akan lebih senang jika separuh waktuku diisi dengan belajar dan berkarya. 

Tapi YOLO Mother bagiku.. Ada Batasnya

“Yah.. You Only Live Once. Dalam artian, kalau pekerjaan itu bikin kamu pusing as a mother, gak usah dikerjain”

Jujur, selain Nikita.. Ada satu orang lagi yang bilang kata-kata begini ke aku.

Kalian tau siapa??

Suami… HAHAHA

Suami tuh pernah bilang gini ke aku pas aku kecapean kerja di rumah, “Kalau capek gak usah dikerjain. Selesai kan urusannya”

Langsung deh, aku mendegap degupkan langkah kakiku. KODE KERAS bahwa aku sedang marah saat dibilang begitu. Berkata di dalam hati, “Harusnya solusinya dibantu dong. Bukannya enggak dikerjain.”

Baca Juga: Jika Ingin Istri Seperti Nikita Willy

Sebagai Young Mom diusia 22 tahun, bagiku semua pekerjaan rumah itu jujur saja MEMUSINGKAN. Menyusui anak saat perut masih nyeri dan lukanya tak sembuh itu menyakitkan. Tidak tidur malam karena anak selalu bangun, itu memusingkan. Ditambah jadi manusia yang harus makan demi teirisinya ASI itu juga memusingkan. Karena kalau ditanya, apa yang tidak memusingkan as a mother itu cuma dua hal. Lihat wajah anak yang lucu dan tidurrrrr. 

Dan bagaimana bisa itu terjadi jika anak terus menangis, perut lapar dan perlunya kebersihan. Kita diciptakan sebagai manusia yang bisa survive dengan makanan bergizi dan lingkungan yang bersih. Kalau itu tidak bisa tercipta dengan tidur maka apa boleh buat bukan? 

YOLO Mother punya batasan. Diakui atau tidak, setelah menjadi Ibu tidak ada kata-kata ‘Ayolah Nikmati Hidup karena Hidup Cuma Sekali’

Karena… Masa kecil anakpun.. Tak akan terulang lagi… Anak kita hidup hanya sekali. Dan Tak Akan Terulang. Itu yang harus sangat disadari.

Berkorban itu nyata adanya. Anak memang tak meminta dilahirkan, tak meminta kita berkorban. Kita memilih langkah itu sendiri karena insting seorang ibu yang menyayangi dan melindungi. 

Jika dibilang pusing. Semuanya pusing. Semuanya melelahkan. Tapi jika dipikirkan lagi Kenapa aku tetap mengerjakannya? Dan merasa wajib mengerjakannya?

Karena Cinta. Sesimple itu.

Capek. Mengomel saat kelelahan dan tak dibantu. Meski menangis sambil menahan sakit tetap dikerjakan. Karena semua pekerjaan saat itu prioritas dan tak bisa didelegasikan. 

YOLO Mother punya batasan, saat seorang Ibu tau bahwa untuk kualitas hidup anaknya.. Ia perlu berlelah-lelah sebentar. 

YOLO Mother punya batasan, saat seorang Ibu tau bahwa keluarganya dalam kesulitan.. Ia perlu merasakan pusing sebentar.

Kita memang bukan Nikita Willy, tapi kitalah yang paham seperti apa persisnya hidup kita sendiri.

IBX598B146B8E64A