Browsed by
Category: Parenting

Hans Christian Andersen-Pendongeng Inspiratif untuk Anak Penuh Imajinasi

Hans Christian Andersen-Pendongeng Inspiratif untuk Anak Penuh Imajinasi

“Sebenarnya, Apa cita-citamu sejak kecil?”

“Aku ingin seperti Hans Christian Andersen..” jawabku tertawa konyol kala itu.

Para teman-temanku mengernyitkan dahinya seraya berpikir lalu bertanya, “Siapa gerangan Hans Christian Andersen?”

Dan aku kala itu hanya menjawab, “Biar aku saja yang tau..”

***

Ya, Tidak banyak yang tau tentang Hans Christian Andersen. Kebanyakan remaja kutu buku kekinian saat itu hanya mengetahui penulis-penulis beken. Sebut saja JK.Rowling, dan siapa lah itu.. Aku sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar tau tentang Hans Christian Andersen. Aku hanya membaca kilasan ceritanya pada cerpen di buku majalah bobo sewaktu aku SD dulu. Dan aku mengingatnya hingga SMA saat itu, walau buku majalah bobo yang memuat dongeng tentangnya sebenarnya sudah lama hilang. Hei, jangan tanya aku itu edisi kapan? Sudah jelas aku tidak tau.

Sewaktu zaman aku SMA dulu, tidak banyak yang mengenal Google. Pun warnet-warnet yang bertebaran saat itu hanya digunakan untuk bermain game online dan chatting. Sementara aku sendiri saat itu hanyalah memiliki HP jadul dengan jarak rumah yang jauh dari warnet. Yes, aku tak pernah sekalipun browsing ilmu sewaktu SMA karena aku gaptek dan ‘wong deso’. Tidak pernah terpikir bahwa sekarang aku memiliki suami programmer dan menjadi blogger. Mungkin, cerita tentang Hans begitu menginspirasiku sehingga aku selalu punya cita-cita kecil ingin menjadi penulis dan pendongeng imajinasi sepertinya.

Siapa Itu Hans Christian Andersen?

source: wikipedia

Hans adalah seorang penulis asal Denmark. Ia terkenal sebagai penulis dongeng anak-anak. Selain menulis dongeng, Hans juga terkenal sebagai penulis drama, novel dan puisi yang produktif. Ada 3381 karya dongeng Andersen telah diterjemahkan dalam 125 bahasa. Namun, dongeng-dongeng yang paling dikenal dunia adalah Anak Itik yang Jelek, Putri Salju, Thumbelina, Putri Duyung.

Salah satu alasan kenapa aku menyukai Hans adalah karena karya-karyanya membuatku mencintai buku. Ya, aku jujur saja sejak kecil aku tidak terlalu suka membaca. Aku hanya menyukai menggambar dan mencoret-coret dinding. Setiap gambar yang aku buat melukiskan cerita dari imajinasiku. Aku tidak tau tepatnya apa cerita imajinasiku dahulu, yang jelas itu menyenangkan. Aku menggambar dinding kamar mandi dengan sabun batang, mencoret dinding kamar dan menghubungkan kerutan cat yang tidak rata sambil mengkhayal sebelum tidur. Saat itu, sebagai anak kecil aku tak pernah mengenal dongeng. Mama hanya bercerita kehidupan teladan sehari-hari yang bagiku saat itu membosankan, selebihnya mama sibuk membuat kue.

Dan Buku-buku Hans saat itu telah membuatku mencintai Buku.

Castil Buku Dongeng, Castil Imajinasi Pertamaku

Aku masih ingat kapan tepatnya pertama kali aku jatuh cinta dengan buku. Tepatnya saat aku berusia 8 tahun dan masih duduk di kelas 2 SD. Pada hari ulang tahunku yang ke-8, Ayahku memberikanku hadiah yang sangat istimewa. Aku masih mengingat sensasi rasa senang itu dan bagiku hadiah itu adalah hadiah paling mewah yang pernah kumiliki.

Ayahku memberikan Castil Buku. Sebuah Istana Mungil yang terbuat dari kertas yang berisi 12 Dongeng anak-anak mungil dengan sampul hardcover. Untuk anak ‘Wong Deso’ sepertiku saat itu mendapatkan hadiah itu bagaikan mendapatkan harta karun. Castil itu tidak hanya berisi buku namun juga boneka kertas dengan bentuk karakter tokoh-tokoh istana dongeng seperti Putri, Pangeran, Raja, Ratu, Pelayan Istana, Pemburu dan banyak lainnya. Saat itu juga, segala imajinasiku langsung meledak. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuatku bosan bermain dengan imajinasi boneka kertas dan inspirasi dari buku-buku dongeng. Ya, jujur saja hingga SMP kelas 3 pun aku masih senang menggambar, menggunting dan bermain boneka kertas. Entah betapa konyolnya jika cerita imajinasiku benar-benar tertuang dibuku saat itu. Saat itu, aku akui kemampuan menulisku tidak terasah karena aku pernah merasa terlalu malu saat buku karanganku dibaca oleh kakakku dan ia tertawakan.

Siapa gerangan yang menciptakan dongeng-dongeng indah ini? Kataku. Dan saat kelas 3 SD aku mendapatkan jawabannya. Namanya Hans Christian Andersen. Ia adalah orang pertama yang membuatku mencintai buku.

Kini Aku Bukan Anak Kecil Lagi, Aku adalah Seorang Ibu yang memiliki Anak Penuh Imajinasi

Ya, itu adalah ceritaku saat kecil. Aku yang dahulu hanya suka menggambar dan mewarna kini menjadi pecinta buku. Padahal jujur saja dulu aku termasuk anak yang lambat diajari membaca dibanding dengan kakakku. Dan jika kalian sering membaca blog ini tentu kalian tau bahwa Aku memiliki anak yang bakatnya mirip denganku, Ya.. Namanya Farisha.

Farisha tidak suka diajari membaca dan menulis. Namun dia sangat tertarik jika belajar menggambar dan mewarna. Ia suka mewarnai gambar-gambar yang aku gambar kemudian mengguntingnya dan menempel-nempelnya di dinding kamar. Persis seperti aku dahulu. Aku pernah membujuknya untuk belajar membaca. Sudah banyak kiranya aku bercerita bahwa Buku adalah Jendela Dunia dan bla bla bla. Dan kalian tau apa jawabannya?

Oke, kalian bisa tau jawabannya jika membaca detail cerita pada tulisan sebelumnya ini: “Ketika Topik Perkembangan Anak dijadikan Persaingan Sosial oleh Kedua Orangtuanya”

Dalam ending tulisan itu tertera bahwa tentu aku tidak akan membiarkannya membenci dunia membaca dan menulis. Dan lanjutan dari cerita itu ada disini.. Ya, Aku mengajaknya mengenal lebih jauh tentang tokoh yang sama seperti Farisha bernama Hans Christian Andersen.

Mengajak Anak Mencintai Buku Melalui Dongeng dan Imajinasi

Beruntunglah aku mendapatkan banyak buku cerita tentang Dongeng-dongeng klasik, Cerita Nabi dan Tokoh Dunia ini di bazaar buku yang ada di Banjarmasin. Jujur saja, aku termasuk tipe pelit dalam membelikan buku untuk Farisha. Yah, menurutku ini masih dalam kadar wajar karena toh kondisi ekonomi masing-masing keluarga berbeda. Untuk keluarga kami yang masih merintis ekonomi dari 0 tentu saja membeli buku dengan harga mahal tidak sanggup kami lakukan. Jadi, kami hanya berburu buku jika kebetulan ada diskon besar-besaran, cuci gudang, maupun bazaar buku murah. Selebihnya, aku lebih memilih meminjam buku di perpustakaan daerah di kota kami.

Untuk anak sekecil Farisha, bagiku tidak terlalu penting membelikan buku dengan harga fantastis. Toh, anak berumur 5 tahun ini kadang suka mencoret bukunya bahkan sesekali mengguntingnya. Jadi, cukup membelikan buku dengan harga 10.000-20.000 saja asal buku tersebut memiliki ilustrasi gambar yang menarik kenapa tidak? Seperti buku-buku dibawah ini yang hanya aku beli dengan harga murah meriah.

Sesekali jika waktu senggang dan jadwal memasak untuk makan siang ditiadakan maka aku mengajak Farisha berkunjung ke perpustakaan daerah di Banjarmasin. Perpustakaan ini terletak di Siring Tandean tepatnya berseberangan dengan Menara Pandang.

Menurutku, koleksi buku di perpustakaan daerah ini sudah sangat ‘lumayan’ apalagi untuk bagian buku anak-anak. Sepertinya sudah puluhan kali aku dan Farisha kesini dan meminjam buku tapi koleki buku anak-anaknya masih belum habis terbaca.

Tempat area bacaan buku anak-anakpun terbilang sangat nyaman. Yah, selain disediakan tempat untuk ‘rebahan dan leyeh-leyeh’ hal yang membuatku suka sekaligus sedih adalah kami berdua biasanya hanya berduaan saja disini, yang artinya Kami bebas ‘we time’ tapi juga berpikir keras.. Kenapa kami selalu berdua saja ya? Apa minat baca anak-anak di kota ini sangat sedikit? Atau kami selalu datang ketika jam sibuk?

Hmm.. Entahlah. Yang jelas petugas disini sudah familiar sekali dengan wajah Farisha. Dulu, saat pertama kali datang Farisha dipuji oleh sang penjaga, “Hebat, sudah bisa membaca ya… Rajin kesini..”

Aku hanya tersenyum cengengesan sementara Farisha tersenyum girang sambil terus memperhatikan gambar dibukunya. Hahaha..

Yah, inilah caraku mengajari Farisha mencintai Buku. Aku mengajaknya bermain dengan imajinasi melalui dongeng-dongeng klasik dan cerita nyata dari Nabi-nabi dan tokoh dunia. Buku-buku sederhana berharga murah ini selalu aku bacakan setiap sebelum tidur. Ia memang masih belum bisa membaca, ia hanya tertarik pada gambar. Namun, aku yakin suatu hari nanti ia akan mencintai dunia literasi. Karena gambar-gambar menarik dalam buku-buku cerita ini telah menumbuhkan banyak akar-akar imajinasi di pikirannya. Sst.. Farisha mengetahui teknik gradasi dalam mewarna pun saat ia melihat gambar-gambar di buku ceritanya.

Pertanyaan Sang Penjaga Perpustakaan pun pernah terulang di bibir Farisha padaku, “Ma, apa semua anak harus bisa membaca untuk dapat mencintai buku?”

Aku menjawab, “Seorang anak memang harus bisa membaca, tapi hal yang lebih penting dari belajar membaca adalah belajar mengembangkan Imajinasi. Karena sesungguhnya, Imajinasi dan sistem berpikir lah yang merangkai huruf-huruf ini menjadi sebuah cerita yang bermakna.”

“Seperti Hans Christian Andersen?”

“Ya, seperti Hans Christian Andersen..”

Disclaimer: Tulisan ini adalah tulisan #FBB kolaborasi di bulan September dengan Tema Hari Aksara Internasional yang diperingati pada tanggal 8 September 2018.

Ketika Topik Perkembangan Anak dijadikan Persaingan Sosial oleh Orang Tuanya

Ketika Topik Perkembangan Anak dijadikan Persaingan Sosial oleh Orang Tuanya

source image: bebesymas.com

“Anak aku udah bisa membaca, kemarin sejak umurnya 3 tahun dia udah bisa loh merangkai-rangkai huruf. Jadi pas TK ya bisa aja.. Alhamdulillah.. Emaknya gak pusing.. Hahaha.”

“Enak ya mak, dulu anak pertamaku juga gitu. Tapi yang adek ini beda banget sama kakaknya. Kakaknya dulu umur 4 tahun udah hafal surah macam-macam. Ngajinya juga lancar. Ini udah ngafal Al-Quran juz 30. Adeknya ini, ya Allah.. Iqro 1 aja ngulang-ngulang mulu. Gak bisa bedain mana huruf ‘M’ mana ‘3’ mana huruf 4 arab. Belum lagi ‘b, d, p, sama q’ ngulang-ngulang mulu. Sampai emosi aku tuh. Trus ini bentar lagi mau SD, gimana mau SD kalau huruf aja kebalik mulu.”

“Anakku yang pertama dulu juga gitu mak.. Terus aku ikutkan les di ‘bla bla’. Terus pas udah SD dia juara kelas terus. Iya, tempat lesnya emang bagus sih. Pas udah sampai rumah dia belajar lagi. Jadi di tempat les sama sekolahnya ngasih PR. Tapi Alhamdulillah ya, dia juara terus sejak itu. Padahal ya ampun.. Dulu itu otaknya juga ‘bebal’. Kerjaannya gunting-gunting kertas aja, udah gak terhitung tuh barang yang dia rusak. Kalau diikutkan les kan rumah jadi tenang. Rapii.. Pinter lagi..”

“Wah gitu ya mak, bener juga sih. Hebat ya sekarang juara terus anaknya. Dengar-dengar ada program beasiswa dari pemerintah ya buat anak-anak juara. Kereen. Mau dong ikut les juga..”

“Iya, emang.. Jadi nanti anakku kalau udah SMP mau ikutan program ‘bla bla’. Jadi sampai kuliah nanti kalau dia lulus dia bakal sekolah gratis terus langsung kerja deh. Zaman now ya mak, nyari kerja kan susah. Apalagi kalau anak cowok ya.. Harus lah ya punya penghasilan tetap.. ”

“Ah, anak cewek juga harus kerja kok mak.. Jangan sampai dia gak mandiri pas udah berumah tangga nanti..”

“Iya, bener.. Anakku nanti juga mau begitu ah..”

***

Mama: “Kamu kok susah banget diajarin gak kayak si Anu”

Pernah gak sih kalimat di atas terucap oleh kita?

Pernah gak sih percakapan diatas tak sengaja terdengar oleh kita?

Pernah gak sih merasa kalau sebagian orang-orang (terutama mak emak) suka sekali membandingkan perkembangan anaknya dan anak kita?

Dan ujung-ujungnya kita jadi bete sendiri?

Kemudian merasa tersaingi dan ‘ketinggalan’ dengan bakat anak yang lain. Lalu kemudian bertanya-tanya, “Anak aku kok beda ya sama si anu dan si anu..”

Si anu udah bisa baca.. Anak aku hoby kelayapan main sepeda diluar..

Si anu menang lomba mewarna terus.. Anak aku malah hoby berantakin dan gunting-gunting segala aksesoris di rumah.

Si anu udah hafal surah-surah pendek sampai segini, anak aku diajari Al-Kafirun aja terbolak balik mulu.

Kenapa sih kayaknya kok gak ada yang bisa dibanggakan ya perkembangan anak aku dibanding emak ini, itu dan mak ono..

Benar juga sih, pendidikan zaman sekarang banyak tuntutan. Anak SD sudah diwajibkan bisa membaca. Aduh, apa kabar anak aku yang moody banget kalau disuruh ini itu.

Apa memang harus les?

Pertanyaan ini sungguh sering sekali timbul dipikiran emak muda sepertiku. Realitas sosial, ilmu parenting, bakat anak.. semuanya saling bertabrakan tidak ada titik temu yang benar-benar bisa memecahkan sebuah permasalahan. Dan setelah aku benar-benar merenungi apa sebenarnya permasalahnya.. Aku akhirnya sadar bahwa permasalahan hanya pada satu titik.

***

Masalah jika anak kita berbeda? Sulit diajari membaca? Padahal kita tak putus-putusnya setiap malam membacakan buku cerita padanya?

Tidak. Itu bukan masalah. Setiap anak punya keahlian yang spesial. Pada anak kecil seumur anakku, Farisha.. Perkembangan otak kanannya lebih pesat dibanding otak kirinya. Dia lebih suka dengan aktivitas mewarna, menciptakan kreativitas dan bercerita. Baginya belajar membaca membosankan, menghafal itu membosankan. Aku pernah berkata padanya bahwa membaca dan menulis adalah awal dari munculnya sebuah cerita dan jejak sejarah. Jika tidak bisa membaca maka kita tidak tau apa isi buku cerita itu? Dan kalian tau apa jawabnnya?

Dia berkata padaku, “Tapi, Farisha bisa bercerita walau hanya melihat gambarnya saja.. Dan Farisha bisa bercerita dengan membuat gambar..”

Aku tertawa sekaligus merasa ganjil sesaat. Tapi, setelah aku merenungkan betul-betul kata-katanya akhirnya aku mengerti. Hei, bukankah setiap kode tingkat tinggi tidak melulu dituliskan dengan tulisan? Kebanyakan adalah gambar dan anakku selalu bisa membaca ekspresi dari gambar yang ia lihat. Tidak banyak anak yang mengerti tentang hal ini dan tidak banyak pula orang dewasa yang mengerti dengan standar kepintaran setiap anak.

Couse Everychild is Special.

Permasalahan sesungguhnya adalah “Ketika Topik Perkembangan Anak dijadikan Persaingan Sosial oleh Orang Tuanya..”

Permasalahan utamanya sebenarnya adalah kesalahan kita dalam membuat standar penilaian. Kita selalu mengutamakan ‘standar kebanyakan’ untuk menilai anak kita. Sehingga kebanyakan dari kita membuat anak mengubah jalur kesenangannya untuk menjadi ‘anak-anak pada umumnya’. Padahal, apa asiknya menjadi anak-anak pada umumnya? Apa asiknya selalu juara kelas kalau anak kita sebenarnya tidak mengerti dengan arti persaingan itu?

Aku pernah melakukan kesalahan ini. Jujur saja. Ini terjadi saat di sekolah Farisha akan mengadakan lomba menyusun huruf. Hari sebelumnya aku mengajak Farisha belajar keras agar dapat juara. Aku berkata padanya,”Farisha kalau gak bisa nyusun huruf nanti mama malu. Kan Farisha sudah nol besar..”

Dengan wajah jengkel ia menuruti kata-kataku. Semalaman belajar menyusun huruf. Aku menyemangatinya sambil menghitung waktunya sambil berkata, “Aduh, Farisha lambat sekali..”

Dan ia berkata, “Tapi Farisha udah bisa..”

“Tapi kalau lambat Farisha gak bisa menang!”

“Tapi Farisha Gak sedih kalau gak menang. Farisha cuma sedih kalau kalah dalam lomba mewarna..”

Seketika aku langsung terdiam. Ah, benar juga. Farisha begini anaknya. Seberapapun keras aku mencoba melatih dengan hal yang tidak disukainya.. Ia tetaplah tidak suka.

Aku telah membuat kesalahan besar. Mencoba mengikuti ‘standar kebanyakan’ dalam menilai anak. Aku telah terpancing dalam jebakan persaingan sosial orang tua zaman now. Yaitu, menganggap bahwa Standar Kognitif adalah segalanya.

Ketika Segala Hal Dinilai Serba Kognitif

source: aterceiraidade.com

Kurasa, aku benar-benar membuat kesalahan dalam memutuskan Farisha sekolah. Bukan, bukan karena aku memasukkannya sekolah pada usia belum genap 5 tahun. Tapi aku benar-benar salah memilihkan sekolah untuknya.

Seperti kita ketahui, standar penilaian untuk anak PAUD berbeda dengan anak SD, SMP maupun SMA. Penilaian tidak hanya didasarkan pada Kognitif saja namun juga pada Nilai Agama dan Moral, Motorik, Sosial emosi, Bahasa, dan Kreativitas. Dan setahuku, tidak diperbolehkan diadakan juara sekolah. Apalagi dengan standar kognitif saja atau pencapaian pertumbuhan perkembangan baik yang diukur dengan standar BM (Belum Berkembang), MM (Mulai Muncul), BSH (Berkembang Sesuai Harapan) dan BSB (Berkembang Sangat Baik). Karena Guru di sekolah tidak benar-benar tau tentang anak tersebut. Apalagi model belajar anakku disekolah bukan dengan model sentra.

Aku tentu saja terkejut saat acara perpisahan dan kenaikan kelas ternyata diadakan pemilihan juara kelas. Aku langsung berpikir, “Hei, dengan standar apa?”

Dan anak-anak yang maju kedepan kelas menerima hadiah adalah anak-anak yang cepat menulis di kelas. Bahkan, salah satunya adalah anak yang suka membully anakku. Wow, ‘Emejing’ bukan?

Dan saat melihat para juara di Nol Besar para Ibu-ibu langsung berkomentar, “Iya, si Anu tentu aja juara.. Membacanya sudah lancar…”

Well, How can this happen? Anak PAUD sekecil ini ditentukan standar juara kenaikan dan kelulusan kelasnya berdasarkan Kognitif saja???

Aku menggelengkan kepala. Pantas saja orang tua begitu berlomba-lomba dalam persaingan sosial perkembangan kognitif anak ini. Bahkan, SD zaman now di daerah kami melakukan tes untuk murid-murid TK yang ingin masuk SD. Siapa yang bisa membaca dan menulis maka ia lulus dan boleh memasuki SD Negeri.

Well, mungkin ini terlihat sepele. Tapi, Pernahkah kita menyadari Apa efek dari segala hal yang serba dinilai dari standar kognitif ini?

Mungkin hal ini tidak terlalu berpengaruh pada anak yang memiliki kecerdasan dominan otak kiri sejak kecil. Sebaliknya dia akan senang jika lingkungannya mendukung bakatnya. Tapi, pernahkah kita memposisikan diri sebagai anak kecil? Anak berusia lima tahun yang dunianya dipenuhi dengan segudang kreativitas dan imajinasi? Ia sedang mengembangkan hal yang lebih luar biasa dibandingkan sisi kognitif saja tapi kita memaksanya untuk memenuhi standar bahkan melebihi standar kognitif demi persaingan sosial.

Lantas? Apa Anak Harus dibiarkan semau dia saja? Dibiarkan ketika sisi Kognitifnya ‘lemah’

Tentu saja tidak. Sebagai orang tua aku juga mengerti bahwa tentu membaca, menulis dan berhitung adalah hal yang penting. Tapi, aku meyakini satu hal bahwa kita harus mengikuti caranya berkembang dan berpikir. Dengan kata lain, tiap anak punya metode berbeda untuk belajar sesuatu. Tidak bisa kita menghakimi bahwa anak kita ‘lambat’ hanya karena ia tidak mengerti dengan metode yang dijelaskan oleh gurunya.

Anakku adalah type anak visual yang penuh dengan imajinasi. Gambar dan pewarna adalah hidupnya. Aku sangat ingat ketika mengajarkannya huruf pertama kali aku harus menggambar huruf dengan bentuk-bentuk binatang dan ia yang mewarnainya. Dia mudah mengingatnya ketika imajinasinya bermain. Dan itu menjadi masalah ketika guru menanyainya tanpa gambar maupun visualiasasi melainkan hanya dengan suara. Problem utamanya adalah ketika aku melihat cara belajar di TK anakku yang tidak terlalu banyak menggunakan alat permainan. Ya, hanya papan tulis biasa dan buku tulis. Come on, its boooring!

Bisa ditebak bahwa anak yang pertama kali bisa mengerti adalah anak dengan kecerdasan otak kiri yang dominan dan anak auditori. Apa aku harus mempercayakan anakku belajar lebih lama di TK dan mengikuti les yang membosankan di siang hari? Sepertinya tidak. Aku tidak akan membiarkan imajinasinya hancur.

Ya, hari ini aku berkata pada diriku sendiri.

Anakku Spesial.

Katakan ia masih belum bisa membaca sekarang.

Katakan ia ketinggalan.

Tapi aku tidak akan ikut dengan persaingan sosial dunia perkembangan anak dengan standar kebanyakan. Anak harus bisa begini begitu di usia sekian.

Aku punya standarku sendiri, dan bagiku anakku tetaplah yang terbaik.

Kalian tau? Anak kecil itu kuat. Ia hanya butuh Ibu yang mendukungnya. Hanya itu sumber kekuatannya 100%.

Ia diremehkan lingkungan. Ia di-bully. Ia kalah berkompetisi. Sungguh itu hanya membuatnya menangis sementara saja.

Tapi saat Ibunya mulai tidak mendukung bakatnya, mulai membelokkan bakatnya, menjadikannya tidak spesial lagi.. Maka sungguh, ia akan menangis dan terus menangis lagi..

Sampai kita memeluknya.

Benar-benar memeluknya.

Anak Perempuanku di-Bully lagi dan lagi, Aku harus Bagaimana?

Anak Perempuanku di-Bully lagi dan lagi, Aku harus Bagaimana?

source image: list.com

“Farisha kenapa? Kok sendirian mana temannya?” Tanyaku sambil menghampiri Farisha yang bermain ayunan TK sendirian kala jam istirahat di sekolahnya tiba.

Tanpa tertahan lagi, air mata Farisha langsung tumpah sambil memelukku. Ia kemudian berkata, “Teman Farisha gak mau temenan sama Farisha Ma..”

Aku langsung menoleh kearah 3 teman ‘sekelompoknya’. Sambil menuntun tangan anakku aku berkata kepada ketiga temannya, “Halo.. Kenapa ya anak tante gak ditemenin? Kalian kan berteman biasanya?”

Sang ‘ketua genk’ dalam kelompok itu menyahut lantang, “Aku gak mau temenan sama Farisha, Jilbab Farisha BAU.”

Hatiku panas. Meski beristigfar di dalam hati aku merasa ‘sangat GEMAS’ dengan mulut teman Farisha yang satu ini. Tapi, aku berusaha tersenyum (walau hati ingin menjambak-jambak rambutnya.. 😂) sambil berkata,”Oh yaa? Padahal sudah tante cuci loh. Pakai pengharum lagi. Masa bau sih?”

“Iya mama Farisha bau..”

“Oh gitu.. Cela (nama samaran) suka gak sih kalau ada yang bilang rambut Cela itu keriting jelek dan bau?”

“Tapi, rambut Cela ga bau. Udah keramas kemarin. Iya kan? Gak bau kan?” Tanyanya sambil meyakinkan ke teman ‘sekelompok’ nya.

“Oh.. Cela gak suka kan berarti tante bilang rambutnya bau? Nah, gitu juga perasaan anak tante. Dia sedih dibilang Jilbabnya bau, ga ditemenin lagi.. ”

Cela menoleh kearah Farisha, sementara Farisha masih menangis memelukku. Aku kemudian menyuruh mereka berdua bermaafan dan berkata kepada Cela..

“Cela, kalau enggak mau temenan sama Farisha enggak papa. Tapi tolong ya, jangan pernah meledek jilbab Farisha lagi. Nanti Anak tante kehilangan percaya dirinya.”

Dear Mama, “Aku merasa sendirian dan ‘berbeda’ di sekolah”

“Mama, Farisha besok gak mau lagi sekolah pakai jilbab..”

“Kenapa Sayang? Bukannya kemarin Farisha sendiri yang pengen pakai jilbab?”

“Tapi teman Farisha gak ada yang pakai jilbab..”

“Terserah anak mama, kemarin Farisha gak pakai kan awal masuk sekolah? Tapi Farisha sendiri yang tiba-tiba mau pakai. Its your choice. Mama gak wajibin Farisha, tapi mama tau Farisha lebih merasa nyaman pakai jilbab.”

“Tapi kenapa teman Farisha gak ada yang pakai ma? Padahal mereka orang islam.”

“Karena mereka belum merasa nyaman seperti nyamannya Farisha dalam memakai jilbab.”

Farisha terdiam. Setelah berdandan rapi dengan rambut dikuncir, akhirnya ia mengambil jilbabnya lagi. Aku menghela nafas, ya.. Itulah anakku. Aku sebenarnya tidak pernah memaksanya untuk berjilbab. Aku tau tantangannya. Aku saja baru memutuskan berjilbab ketika kuliah. Tapi Farisha? Lihatlah.. Dia memakainya karena merasa nyaman.

Nyaman. Mungkin ada yang bertanya kenapa merasa nyaman? Inilah yang dinamakan Innerchild positif. Sejak Farisha kecil, aku membiasakannya untuk berjilbab. Awalnya, hal itu untuk menutupi rambutnya yang baru ‘dibotakin’. Lama-kelamaan malah semakin terbiasa. Hingga besar, ia merasa ‘nyaman’ dengan tampilannya yang berbeda ini.

Ia tau ia terlihat berbeda. Tapi begitulah ‘style’ nya. Ia nyaman dengan tampilannya sampai suatu hari ia sadar bahwa ia merasa sendirian dan berbeda di kelompoknya.

Hati Ibu mana yang tidak sedih mendengar bully temannya Farisha secara langsung? Saat itu juga aku merasa berdosa telah ‘salah’ menyekolahkan Farisha di sekolah TK umum. Awalnya aku ingin mengajarkan toleransi kepada Farisha. Aku tidak ingin ia berpikiran sempit. Tapi lihatlah? Mengapa teman-temannya memperlakukannya dengan berbeda hanya karena penampilannya berbeda? Sungguh. Aku merasa bersalah. Aku tidak tau apakah keputusanku untuk memakaikan jilbab kepada Farisha sejak dini adalah keputusan yang benar atau benar-benar salah.

Dear Farisha, “Maafkan Mama membuatmu terlihat berbeda. Percayalah, Mama akan buat Anak Mama menjadi Bintang Merah yang bersinar terang.”

Seperti Ibu pada umumnya, aku mulai bertanya-tanya bagaimana cara ampuh untuk menghentikan bully. Aku membaca artikel, hingga bertanya pada psikolog saat seminar parenting. Dan aku tak pernah benar-benar puas dengan jawaban yang ada. Karena sungguh, praktiknya luar biasa sulit.

Apakah bully Pada Farisha berakhir saat aku ‘menasehati’ temannya? Tidak. Bully terjadi lagi dan lagi. Sampai suatu ketika aku menjenguk Farisha lagi di sekolahnya dan lagi lagi.. Aku menyaksikan anakku di bully di depan banyak teman dan gurunya.

Petualangan ‘sang emak’ dalam menghentikan BULLY sungguh panjang. Awalnya, aku juga kehabisan ide dan bergumam, “Ya Tuhan, Aku harus bagaimana lagi?”

Kenyataannya, anakku butuh dukungan namun aku sadar sepenuhnya bahwa aku tak bisa terus melindunginya dari bully. Aku harus punya cara lain..

Dan.. Sebagai kesimpulan terakhir aku akhirnya berani untuk menuliskan tahap-tahap yang kulakukan untuk menghentikan bully itu sendiri. Berikut adalah hal-hal yang telah aku lakukan:

1. Katakan padanya bahwa, “Maaf, Mama tidak bisa selalu Membelamu..”

source: u-gro.com

Ada beberapa orang tua yang sangat amat kesal ketika tau anaknya di bully. Mereka langsung mendatangi sang anak pem-bully dan menasehatinya. Bahkan, adapula yang sampai ke konflik besar sampai-sampai orang tua masing-masing juga turut berkelahi.

Aku pernah membela Farisha. Aku menasehati temannya dan mengajak mereka berdamai. Tapi, sungguh.. Apa kalian pikir dengan begitu semua sudah berakhir?

Tidak. Itu adalah awal yang buruk.

Pada beberapa ‘teman spesial’ campur tangan orang tua dalam hubungan pertemanan anak kecil adalah hal yang ‘tidak sportif’. Beberapa kasus bahkan akan menyebabkan pembelaan menjadikan sang pem-bully semakin menjadi-jadi dengan mengatakan, “Anak Mami.. Bisanya di ngadu Mama aja..!”

Aku pernah mengalami hal ini sewaktu kecil ketika Mama membelaku. Dan buruknya, aku mengulanginya pada kasus anakku.

Bully semakin menjadi-jadi. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak ikut campur tangan secara langsung kedalam urusan ‘pertemanan’ mereka.

Ketika Farisha curhat padaku tentang teman yang mem-bullynya, aku meyakinkan diriku dan berkata, “Sayang, Mama tak bisa terus membelamu. Farishalah yang harus membuktikan diri sendiri dan bersinar sendiri.”

Bagaimana respon anak? Semakin merasa ‘sendirian’. Ya, benar.

Tapi jika kita terus membelanya secara langsung, ia akan menjadi pribadi yang pengecut dan penakut. Percayalah.

2. Buatlah Anak ‘Bersinar’

Kita harus lepas dengan ‘urusan pertemanan’ mereka secara langsung, kita hanya bisa mengawasi mereka dari kejauhan. Tapi, kita tak boleh lepas tangan dalam urusan ‘menjadi penyemangat mereka’.

Ya, tiap anak itu punya sinarnya masing-masing.

Jika bully telah menghalangi sinar tersebut, maka buatlah sinar tersebut makin terang dan menyilaukan.

Anda percaya bahwa tiap anak itu Spesial? Carilah dan terus gali bakat yang ia miliki. Biarkan ia menunjukkan bakatnya pada semua orang. Suatu saat, kerja kerasnya dalam mengasah bakatnya akan mencapai titik keberhasilan.

Tahap ini sulit memang dan prosesnya memakan waktu yang lama. Dalam kasus Farisha, aku memutuskan untuk menggali bakat mewarnanya. Karena aku melihatnya suka sekali berurusan dengan gambar dan pewarna.

Awalnya bagaimana? Tentu hasilnya jelek. Tapi, anak yang benar-benar menyenangi aktivitasnya tidak peduli dengan hasilnya yang jelek. Ia akan mengulanginya lagi dan lagi sampai tiada bosannya. Pada tahap ini sangat penting peran orang tua untuk mendukungnya dan mengarahkannya ke hal yang benar-benar ia senangi. Karena jika kita mengarahkan bakatnya kepada hal yang tidak ia senangi, ia akan berputus asa.

Contoh ya.. Si Pembully adalah anak yang punya bakat dibidang mengenal huruf, berhitung dan membaca. Ia meledek anak kita tidak bisa seperti dia dan sangat lambat. Kadang, kita malah menantang si pembully dengan membuat anak kita tidak kalah dengannya. Mengajarkan kepada anak kita calistung pada usia dini padahal ia ‘tidak suka’. Percayalah jika hal ini dipaksakan anak kita tidak pernah benar-benar bersinar. Karena kita telah mencoba menghidupkan sinar yang tidak dominan.

Tiap anak itu spesial. Carilah bakat uniknya sendiri dan ia akan bangkit dari bully dengan cara yang menakjubkan.

Baca juga: Cara Sederhana untuk Mendukung dan Mengembangkan Bakat pada Anak

Prestasi akan membuat lawan bully-nya mengakuinya dan menerimanya..

Tapi ingat, prestasi juga akan menimbulkan bunga-bunga IRI pada lawan bully-nya.

3. Katakan Pada Anak, “Jangan Pernah Takut Memusuhi yang Salah.”

Prestasi akan menimbulkan bunga-bunga IRI pada lawan bully. Itu benar.

Kupikir, dengan membuat Farisha bersinar di sekolahnya akan membuat perasaan bangga diantara teman-teman kelompok bermainnya. Ternyata… Aku salah.

Bunga-bunga IRI itu tumbuh di hati ‘Sang Ketua’. Ia mulai membully Farisha dengan hal yang tidak pantas dan berlebihan. Bahkan, aku merasa bahwa ‘Sang Ketua’ ini berani denganku.

“Farisha lomba mewarna dibantu Mamanya Bu Guru..” Teriaknya nyaring saat upacara bendera. Saat itu, aku berada disana. Padahal, jarang sekali aku ikut kesekolah anakku. Teriakan itu terjadi 3 kali. Pada awal upacara, tengah upacara dan terakhir upacara.

Aku mulai berpikir, Apa anak ini sering melakukannya? Ada aku saja dia berani begini, apalagi tidak ada aku?

Semua anak tau bahkan Guru TK Farisha pun tau bahwa Farisha anak mandiri. Ia telah lepas dari pengawasanku sejak satu minggu di TK. Aku memang membantunya mewarna di rumah. Tapi, aku tak pernah membantunya mewarna diluar apalagi berkompetisi. Farisha telah mengikuti banyak lomba mewarna dan maaf saja.. Ia tak pernah didiskualifikasi. Oke, aku mulai ‘baper’.

Aku melihat raut sedih di mata Farisha dan matanya mulai berbinar. Saat ‘Sang Ketua Genk’ mau meledeknya lagi, aku langsung menatapnya dengan tatapan tajam dan marah. Oke, aku emosi.

Dan saat pulang sekolah, aku dengan lantang berkata pada Farisha, “Jangan mau berteman dengan si Cela lagi.”

Farisha berkata dengan mata berbinar, “Tapi kalau Farisha gak berteman sama dia nanti dia bilang sama teman-teman kalau jangan nemenin Farisha, nanti Farisha gak ditemenin di sekolah.”

“Masa sih? Masa Farisha anak mama yang pintar mewarna ini gak punya teman di sekolah hanya karena gak mau menemani satu orang anak aja? Mama yakin banyak kok yang mau berteman dengan Farisha. Si anu baik.. Si itu juga baik Mama lihat..”

“Tapi Ma..”

“Pokoknya mulai besok, Farisha gak boleh temenan sama anak yang suka ngeledek begitu. Gak boleh sebelum dia minta maaf sama Farisha.”

Kalian tau apa yang terjadi besok?

Farisha pulang dengan wajah ceria sambil membawa ‘bros rusak’ bermotif kuda poni. Ia berkata, “Cela beriin Farisha ini Ma..”

“Oh ya, Cela udah minta maaf sama Farisha?”
“Pagi tadi Cela gak Farisha temenin. Terus, Farisha temenan sama Anu dan Eno aja trus Farisha ajak lagi si Ino. Trus, Farisha main berempat. Trus, si Cela liatin Farisha terus. Trus, dia deketin Farisha sambil minta maaf dan ngasih bros kuda poni..”

Aku tertawa mendengarnya. Lihatkan? Jangan pernah takut memusuhi yang salah. Karena jika anak kita sudah punya ‘Power’ maka teman akan mendekatinya dan ia berkesempatan untuk membentuk ‘Genk Baru’ dengan kualitas yang lebih baik.

4. Katakan Pada Anak, “Jangan Pernah Mau ‘Menjadi Pengikut Pembully’, Jadilah sang Perangkul yang BAIK”

Hal yang paling membuatku sebal pada diri Farisha adalah kepribadiannya yang plegmatis.

Ya, entah kenapa ia sangat suka membuntut pada ‘Ketua Genk’ walau ketua tersebut dulu sering membullynya. Sampai sekarang pun, aku tetap merasa bahwa sikap ketua genk tak jauh berubah. Hanya sedikit berubah saja, itupun mungkin terpaksa.

Ya, aku yakin Farisha bisa membuat genk dengan kualitas yang lebih baik. Ia mampu menjadi ketua yang baik dengan sifatnya yang sangat berempati. Ketahuilah, Kebanyakan anak plegmatis itu rawan dibully dan gampang terpengaruh, catat.

Aku yakin ada cara yang lebih baik untuk membuat pribadi anakku lebih dominan di kelompoknya. Setidaknya, aku harus yakin bahwa ia tidak ‘menjadi bawahan’. Dan aku ingin teman-temannya menghargainya dan menghormatinya. Jadi, dia bisa lepas sepenuhnya dari ancaman bully.

Satu dua anak kulihat sudah dominan memihak Farisha dikelompoknya. Aku hanya butuh satu lagi untuk meyakinkan diri bahwa anakku benar-benar disayangi oleh teman-temannya.

TING. Ide itu muncul begitu saja.

Aku tau, teman-teman Farisha suka melirik bekal Farisha. Aku menyuruh Farisha untuk membagikan bekalnya pada teman-temannya. Aku sengaja membawakannya bekal berlebih.

So, is that work?

Noooo… Anak-anak butuh perhatian lebih banyak. Suatu ketika cara itu mampir begitu saja.

Suatu hari Farisha mengikuti lomba mewarna 17 Agustus yang diadakan di sekolahnya. Setiap anak membayar 35ribu untuk lomba mewarna ini, karena dipastikan semua anak yang ikut akan mendapatkan piala sebagai penyemangatnya.

Alhamdulillah, Farisha mendapatkan juara 1. Kupikir, hanya satu piala yang Farisha dapat. Ternyata sang guru menyerahkan dua piala yaitu Piala Juara 1 dan Piala Peserta seperti yang semua teman Farisha dapatkan.

Tiba-tiba, saat jam pulang sekolah salah satu teman Farisha menangis mencari Pialanya. Hilang. Pialanya benar-benar hilang. Semua orang tua murid dan Guru berputar-putar mencarinya. Dan hasilnya Nihil.

Aku membujuk Farisha untuk memberikan satu pialanya kepada temannya. Dan? Ya, ia mau melakukannya. Temannya memeluknya dan berterima kasih padanya.

Seketika itu pula, Farisha dikenal sebagai anak yang berhati luas. Ia tak hanya dicintai oleh ‘Teman Satu Genk’ nya, tapi juga semua anak. Semua ramai memujinya..

Ya, solusi terakhir sebagai obat Bully adalah… Tetaplah menjadi Anak yang Baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Karena Anak Baik selalu dicintai teman-temannya. 😊

source: www.schooltattoos.ca

Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Semangat Anakku dalam Mengasah Bakatnya

Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Semangat Anakku dalam Mengasah Bakatnya

“Farisha, ayo warnai lagi. Kok belum selesai aja mewarnanya.” Ucapku ketus saat melihat kertas gambar yang hanya ¼ telah diwarnai anakku, padahal sudah berjam-jam lamanya aku memberinya kertas itu.

“Tapi Farisha capek ma.” Sahut Farisha dengan wajah kusut sambil terus menonton TV.

“Nanti kalau menonton TV terus ga bisa juara lagi mewarnanya.”

“Tapi kemarin Farisha udah usaha keras dan kalah lagi.. Kalah lagi..”

Yah, itulah kilasan percakapanku dengan Farisha sore itu. Sudah cukup lama aku membujuknya untuk terus mengasah hobynya tapi belakangan beberapa bulan ini anakku sedang tidak mood dalam mewarnai. Sebagian besar buku mewarnanya hanya diwarnai sedikit saja. Sisanya, jika aku lengah ia mulai santai menonton TV saja.

Dear Mama: “Aku Bosan Mewarnai”

“Farisha sudah bosan mewarnai ma..” Keluh Farisha sambil menunduk.

Aku terdiam.

Rasa bosannya mungkin beralasan. Dia pernah berusaha keras belajar teknik gradasi dalam mewarnai saat latihan untuk mengikuti 3 perlombaan mewarna. Aku membujuknya bahwa jika ia berusaha keras tentu akan menang. Tapi selama 3 kali berturut-turut ia kalah. Ia hanya dapat termangu melihat para juara memegang piala mereka. Dan yang dapat aku lakukan saat itu hanya membesarkan semangatnya sambil berkata, “Tapi Farisha juga sudah punya 2 piala lomba mewarna juara 1. Ini sudah hebat sekali. Mungkin, Allah ingin rasa senang anak-anak dibagi-bagi jadi bukan Farisha terus yang menang. Dan Allah mau Farisha tidak sombong. Jadi kalah dulu supaya nanti menang lagi dengan usaha yang lebih keras..”

Liburan sekolah dan kekalahan belakangan telah mengikis hoby mewarnanya selama ini. Selama liburan sekolah, aku mengakui bahwa telah lengah dalam mengatur schedule harian Farisha. Kadang, setiap pagi karena kesibukanku maka aku membiarkannya menonton TV berjam-jam lamanya. Ia senang, ia sampai hapal dengan jadwal kartun kesukaannya. Hingga suatu hari aku mulai protes dengan hoby barunya ini. Bagaimana tidak? Lihatlah, hoby barunya ini benar-benar tidak produktif dan menghambat kreatifitasnya.

Aku berusaha membangun semangatnya dengan hoby mewarnanya namun ia hanya mengeluh dan terus mengeluh dengan rasa bosan. Sampai akhirnya suatu hari ia berkata, “Ma, coba kalau gambar yang Farisha warnai bisa bergerak dan bercerita layaknya kartun yang Farisha tonton. Tentu rasanya senang sekali ya..”

Deg..

Aku hanya bisa diam mendengar kalimat protesnya ini. Aku pun mulai memutar ide agar bakat menggambar dan mewarnainya tidak terhenti begitu saja. Ide pertama yang terlintas dikepalaku adalah..

Hei, kenapa tidak coba membuat komik saja

“Komik?” tanya Farisha dengan wajah heran.

“Iya komik, Farisha kan bisa menggambar, bisa mewarna. Farisha mau tidak karya Farisha bisa dibukukan layaknya buku cerita yang mama bacakan tiap malam. Yuk, Farisha coba buat komik seperti buku doraemon. Nanti setelah digambar komiknya diwarnai. Jadi Farisha senang.”

“Kalau begitu, Farisha mau bikin komik Tayo..!”

Komik, kreasi pertama pengasah Bakat

Selama beberapa hari, Farisha bersemangat untuk menyelesaikan proyek komiknya. Setelah pulang sekolah, ia menyelesaikan satu lembar gambar komik. Komik yang ia buat tidaklah seperti komik pada umumnya sebenarnya. Namun hanya komik kecil mungil berukuran 5×10 cm. Apapun itu asalkan ia senang dan kreatif aku akan selalu mendukungnya.

Hingga suatu hari,

“Ma, kalau komik Farisha dijadikan kartun beneran bisa gak sih?”

“Bisa sayang, kalau yang bikin kartun Tayo tertarik dengan cerita di komik Farisha.”

“Bikin kartun? Bikin kartun itu bagaimana?”

“Hmm.. Bagaimana ya. Itu pakai animasi di komputer. Banyak skill yang harus dikuasai kalau ingin bikin kartun.”

“Farisha mau belajar bikin kartun. Wah, coba kalau gambar yang Farisha warnai bisa bergerak dan bermain, pasti Farisha senang.”

Aku tertawa mendengarnya.

“Iya, Farisha pikir dunia kartun itu berbeda dengan dunia kita. Ternyata itu bikinan manusia juga ya..”

Aku makin tertawa.

Ketika Komik saja tidak cukup.. Untung ada Inovasi terbaru dari Faber Castell

Tidak terkira bagaimana rasa senangku saat Produk terbaru dari Faber Castell tiba di rumahku. Aku langsung berseru memanggil Farisha dan memperlihatkan paket yang telah datang kerumah.

“Apa ini Ma?” Tanya Farisha bingung.

“Farisha mau hasil gambar yang Farisha warnai menjadi hidup bukan? Bisa bermain juga bukan? Ini kejutan buat Farisha supaya bisa mewujudkan keinginan itu.”

Farisha langsung membuka paket kiriman Faber Castell beserta buku mewarna di dalamnya.

“Lihat gambar disana? Kalau Farisha mewarnai gambar itu, nanti dia bakal hidup dan bisa bermain dengan Farisha.”

“Bagaimana caranya ma?”

“Warnai saja dulu, Farisha percaya dengan mama bukan?”

“Percaya ma..”

Faber Castell Colour to Life

Apa itu Faber Castell Colour to Life? Apa bedanya dengan Faber Castel biasa?

Faber Castell Colour to Life adalah sebuah paket terbaru dari rangkaian produk faber castel yang didalamnya terdiri dari 15 page Augmented Reality-Colour Book dan 20 connector pens

Familiar dengan kata Augmented Reality? Ya, benar. Ini bukan buku mewarnai biasa, namun buku mewarnai yang dapat dihidupkan karakternya melalui aplikasi Colour to Life. Jadi, setelah anak kita selesai mewarnai gambar pada buku ini maka ia dapat melihat karakter yang ia warnai dapat bergerak dan bermain.

Bermain? Ya, tidak sekedar berwujud layaknya kartun saja, tapi juga karakter tersebut dapat dimainkan. Caranya sangat mudah, Anda tinggal mengikuti instruksi yang tertera pada box Faber Castel ini.

1. Download Aplikasi Colour to Life di Play Store.

2. Warnai lembar dari buku mewarnai faber castel memakai connector pens Faber Castell. Ingat, hindari mewarnai bingkai dari gambar karena kalau bingkai diwarnai hasil mewarnanya tidak dapat di-scan pada Aplikasi Colour to Life.

3. Buka aplikasi Colour to Life kemudian pilih 5 jenis permainan yang tersedia sesuai dengan karakter yang sudah diwarnai. Setelah itu, scan gambar yang sudah diwarnai dengan mengarahkan kamera tepat di tengah-tengah bingkainya. Nah, aplikasi ini akan sukses melakukan scan jika layarnya berwarna hijau. Jika karakternya sudah muncul kita tinggal klik ‘play game’

5. Dalam satu buku mewarnai ini terdiri dari 5 jenis karakter yang berbeda. Setiap karakter memiliki 3 lembar gaya dan latar yang berbeda untuk diwarnai. Apakah jika tidak diwarnai gambar dapat di scan? Ya, bisa saja. Tapi gambarnya akan berwarna abu-abu tidak menarik seperti patung dibawah ini. Jadi, sudah tentu anak kita harus mewarnainya supaya karakter bermainnya tidak seperti patung ya. Hehe

6. Selain dapat bermain kita juga dapat berselfie dengan karakter yang sudah diwarnai loh. Caranya setelah memilih permainan dan sudah melakukan scan kita klik ‘take photo’ dan karakter tersebut sudah berada di camera hp kita, tinggal berfoto bareng deh.

Apa Gunanya Jika Ujung-ujungnya anak suka main HP?

Oya, saat aku ‘memamerkan’ aplikasi colour to life ini pada beberapa orang teman sempat ada yang bertanya, “Apa gak papa ya Mama Farisha kalau anak kita bermain game di hp begini. Bukannya kalau anak main game itu nanti akan… (bla bla bla)”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ya, tiap orang tua kan punya kebijakan masing-masing terkait aturan menggunakan gadget. Ada yang bahkan melarang menyentuhnya, ada pula yang cuek dan tidak perduli pada anak dengan prinsip ‘asal’ – asalkan dia diam dan tidak mengganggu. Lalu, aku termasuk type yang mana?

Aku sih ‘yes aja’ soal gadget dan bermain gadget. Asaaaal.. Asal anak masih ingat waktu dan game yang ia mainkan mengasah otak. Iya, anak zaman now juga harus diperkenalkan dengan kemajuan teknologi dan manfaatnya bukan?

Seperti Game pada Aplikasi Colour to Life. Game ini betul-betul membuat Anak merasa hidup kembali setelah puas dengan hasil mewarnainya.

Kelima jenis game pada aplikasi ini memiliki manfaat loh, antara lain:

1. Giddy Up
Permainan ini sangat cocok untuk anak laki-laki. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan koordinasi mata dan tangan, mengasah skill motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi dan pelatihan rileks.

2. Pogo Boy

Walau karakter permainan ini laki-laki, namun anak perempuanku sangat suka memainkannya. Menurutnya permainan ini cukup mudah dan mengasyikkan. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan koordinasi mata dan tangan, mengasah skill motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi dan pelatihan rileks.

3. Dress Up Challange

Nah, kalau yang satu ini adalah permainan favorite anakku. Permainan ini mengasyikkan. Walau berkali-kali kalah ia tak bosan mencoba. Permainan ini menguji perhatian dan konsentrasi kita sehingga membutuhkan daya ingat yang cukup kuat. Anak Anda sering lupa saat diajari? Coba permainan ini dan kemampuannya mengingat mungkin akan meningkat.

4. Balance your Brain

Permainan ini berfungsi untuk merangsang perkembangan otak kiri dan kanan, mengembangkan perhatian dan konsentrasi serta meningkatkan kecepatan berpikir.

5. Safe Flight

Nah, kalau permainan pesawat yang satu ini berfungsi untuk menyeimbangkan koordinasi tangan dan mata, melatih keterampilan motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi serta melatih refleks anak.

Semangatnya mulai bangkit lagi

Melihat hasil karyanya dapat hidup bahkan bermain bersamanya, Farisha seakan menemukan semangat baru. Dan game yang paling ia sukai adalah Dress Up Chalange.

Ia sangat suka dengan karakter anak perempuan. Terlebih jika permainannya adalah mengganti baju. Permainan ini menguji daya ingatnya dan memperluas imajinasinya tentang gaya berpakaian. Ini adalah pengetahuan baru yang bisa ia praktikkan saat belajar menggambar.

“Ternyata, desain baju macam-macam ya Ma..”

Asyiknya berselfie dengan tokoh yang sudah diwarnai

Point plus dari aplikasi ini adalah kita dapat berselfie dengan obyek yang telah kita warnai. Waw, seperti film digimon saja ya. Dunia digital seakan terlihat dapat hadir ditengah-tengah dunia nyata.

Manfaat dari selfie dengan karakter yang sudah ia warnai ini banyak loh, diantaranya adalah:

1. Membuat Mood Ceria Kembali

Lihatlah bagaimana keceriaan wajahnya saat selesai mewarna pesawat. Ia langsung bilang, “Ma, aku juga mau terbang jadi kupu-kupu buat nangkap pesawat.”

Segera ia mengambil sayap kupu-kupu miliknya dan berselfie ria dengan karakter pesawat. Ya, seakan-akan dia bisa terbang saja.

2. Merasakan Dunia yang Baru

Bisa berselfie dengan obyek yang telah ia warnai membuatnya merasa seakan telah masuk kedunia kartun. Lihatlah betapa semangatnya ia saat aku menyuruhnya bermain kuda-kudaan dengan prajurit kuda. Seakan berteman dengan teman imajinasi saja. Haha

3. Kembalinya Percaya Diri Anak

“Ternyata semua hal yang Farisha lakukan tidak sia-sia ya ma..” Kata Farisha.

Aku tersenyum dan mulai merasakan bahwa percaya dirinya bangkit kembali. Kekalahan demi kekalahan itu seakan hilang begitu saja dalam ingatannya. Ibu mana yang tidak bahagia melihat anaknya dapat percaya diri lagi?

“Coba bisa bicara juga Ma..” Sahut Farisha lagi.

Wah, permintaanmu tiada habisnya ya sayang. 😅

Tentang Cita-cita baru

Berbicara tentang cita-cita anak kecil itu adalah hal yang sangat menarik. Anak kecil selalu suka meniru. Suatu hari aku pernah bertanya padanya, “Apa cita-cita Farisha kalau sudah besar?”

“Farisha mau jadi Guru, Farisha mau bikin anak-anak jadi pintar semua..”

“Yakin gak jadi pelukis? Farisha kan suka mewarnai?”

“Pelukis gak bisa bikin anak jadi pintar ma..”

***

Aku tertawa mengingat jawabannya dan hari ini aku iseng bertanya lagi padanya, “Farisha, kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Mau bikin kartun Ma, kayak di TV itu. Nanti kartunnya bikin anak-anak jadi pintar. Jadi, kalau Mamanya lagi sibuk, anak-anak bisa jadi pintar dengan nonton kartun..”

“Gak jadi Programmer kayak Abah? Bikin Game Kartun?”

“Farisha kan suka menggambar dan mewarna ma.. Bukan ketik-ketik layar komputer dengan abc pusing warna hitam kayak bapak..”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, sejak mengetahui bahwa skill menggambar dan mewarna dapat mewujudkan impiannya membuat kartun maka ia punya cita-cita baru yaitu menjadi pembuat kartun yang edukatif di masa depan. Jika kalian bertanya sejak kapan cita-citanya tiba-tiba berubah? Yaitu, Sejak dia mengenal Faber Castell Colour To Life.

Terima Kasih Faber Castell Colour to Life. Kini cita-cita anakku menjadi lebih berwarna.

Punya pengalaman serupa dengan anak yang mulai bosan dengan hoby mewarna? Penasaran dimana beli produk ini?

Kita dapat membeli produk ini di Tokopedia, Gramedia atau toko buku terdekat. Buruan beli yuk dan download aplikasi Colour to Life yuk!

Ini adalah pengalaman nyata yang aku alami. Bagaimana denganmu? Yakin tidak mau mencoba?

Karena Rasa bosan itu wajar. Inovasi dari kitalah yang dapat membuatnya bersemangat kembali. 😉

Mengeluh Kepada Anak? Yay or Nay?

Mengeluh Kepada Anak? Yay or Nay?

source image: dreamtimes.com

Jadi orang tua itu harus kuat. Kita gak boleh terlihat meneteskan air mata dan mengeluh sekalipun sebenarnya kita sedih atau capek.

Familiar dengan kata-kata ini? Atau bahkan kalimat diatas merupakan salah satu prinsip kita sendiri. Bahwa sebagai ‘ibu kuat’ kita tak boleh terlihat lemah dan selalu tampil prima dihadapan suami dan anak-anak kita. Karena konon tersenyum dan dapat melayani mereka dengan setulus hati adalah syarat utama dari seorang ‘Ibu yang baik’.

Lantas, salahkah ketika kalimat keluhan itu keluar begitu saja?

“Sayang, tunggu dulu ya.. mama capek. Nanti dulu ya mama mau istirahat..”

“Sayang, maaf ya kita gak jadi beli es krim hari ini. Uang mama enggak cukup..”

“Sayang, makan telur dadar aja ya.. Ayam gorengnya habis mama belum kepasar..”

Yah, jujur saja. Kalimat-kalimat diatas hampir tiap hari aku katakan. Kalau berbicara mengenai siapa ’emak’ paling pandai mengeluh dan bermanja-manja mungkin saja aku termasuk salah satu diantaranya. Bukan hanya mengeluh pada anak, pada suamipun juga sering aku lakukan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan aku sering mengucapkan kalimat keluhan untuk suami dan anakku. Bagiku, mengeluh pada anak sih ‘Yay’.

Hei, kenapa tidak bukan? Ada beberapa dampak positif dari mengeluh kepada anak lho. Berikut ini adalah dampak positif yang aku rasakan:

1. Mengajarkan anak rasa empati

“Mama capek ya? Farisha pijitin ya..”

“Mama capek kah? Farisha gak jadi minta bikinin terong balado sama ayam ma.. Farisha makan telur dadar aja..”

Mengeluh capek? Ini adalah keluhan yang paling sering aku ungkapkan kepada anak. Konon, katanya anak itu peniru ulung. Kalau kita suka mengeluh capek maka anak juga akan beralasan ‘capek’ untuk tidak mengerjakan kewajibannya. Lalu salahkah mengeluh ‘capek’?

Baca juga: Simpati dan Empati, Solusi jitu untuk Tantrum Anakku

Tidak. Itu wajar. Ajarkan anak merasa kasihan dengan kita sebagai Ibunya untuk menumbuhkan Empatinya. Sejauh ini, tidak pernah ada yang salah dari keluhan capek. Anakku mungkin pernah meniru beberapa kali alasan ini untuk menunda kewajibannya tapi itu masih dalam proses yang wajar. Misalnya, ia mengeluh capek ketika aku suruh membereskan mainannya. Tapi itu wajar karena rumah kami sedang diserang 3 sepupu laki-lakinya. Yah, kalian tau sendiri betapa seramnya kreasi anak laki-laki dalam memporak porandakan rumah. Syukurlah anakku perempuan yang manis. 😂

Hal yang sangat aku sukai dengan keluhan capek adalah saat.., “Ma, mama capek ya? Farisha pijitin ya..”

Terasa? Tidak.

Tapi tangan mungilnya meredakan stress… Percayalah.. Haha..

2. Menerapkan secara positif pola asuh yang demoktratis

Siapa penganut pola asuh ini? Aku dong tentunya. Apa? Demokrasi haram? 😅

Jadi begini, mengeluh itu selain menumbuhkan rasa empati pada anak juga dapat membuat ia lebih terbuka dengan kita. Kita bisa menjadikannya teman dalam berkeluh kesah. Bercerita ‘hari yang melelahkan’ dalam versi kami mungkin.

Itulah yang dinamakan suka duka bersama. Ajari anak memahami keadaan kita secara perlahan. Dari berkomunikasi dengannya maka kita juga akan memahami keadaan anak dan kesulitannya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang demokratis ketika besar nanti.

3. Menghindari pola asuh permisif

source: tandaseru.id

Pernah melihat anak menjadi Raja di rumahnya sendiri hingga besar? Suka memerintah, suka bermanja-manja dan hanya mengandalkan orang tuanya saja?

Baca juga: Ajari Anak 5 hal yang tidak menyenangkan

Itu yang akan terjadi kalau kita tak pernah mengajarkan rasa empati pada diri mereka. Selalu menjadi super mom di mata mereka dan tak pernah mengeluh. Selalu bilang ‘Iya sayang’ atas segala perintah mereka. Selalu sabarrrr.. Sabarrr.. Sabarrr…

Bukan hal mustahil Anak akan menjadi raja hingga besar nanti. Fenomena ini banyak aku perhatikan di kehidupan nyata. Memang, secara islam anak kecil dididik sebagai raja. Tapi sampai kapan kita melakukannya? Apakah kita akan membuat ‘raja kecil’ kita tumbuh tanpa empati? Atau membuat ‘raja kecil’ kita menghormati orang tuanya?

4. Menjadikan anak kreatif dan mandiri

“Ma, Farisha gak jadi minta belikan Squishy. Squishy awan mahal. Farisha minta belikan lem bening aja. Farisha mau bikin Squishy awan sendiri.”

Itulah kata-kata Farisha yang terlontar polos begitu saja saat aku mengeluh 3 hari yang lalu di mall.

“Ah, mahal sekali Squishynya. Maaf ya.. Mama gak bisa beli. Duit Mama gak ada. Ya, bisa sih beli tapi Farisha gak bisa makan ayam goreng lagi.”

Rasa kasihan ternyata dapat menjadikan anak kreatif dan mandiri. Farisha menjadi ‘tidak tega’ meminta uang untuk membeli barang kesukaannya. Ia lebih memilih mengandalkan kreatifitas dari video di youtube untuk menemukan jawabannya.

Baca juga: Siapa bilang media Eksplorasi anak harus mahal?

Mengeluh pada anak dapat berdampak positif namun juga dapat berdampak negatif jika kita tak bisa mengontrol keluhan kita. Ada beberapa hal yang harus dihindarkan ketika kita mengeluh pada anak, hal itu antara lain:

1. Jangan membentak dan menangis berlebihan dihadapannya ketika ingin mengeluh

source: pinterest

Sedang dalam emosi yang tidak stabil? Marah, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Ingatlah jangan pernah melampiaskan hal ini di depan anak kita karena bukan rasa kasihan yang akan timbul, melainkan rasa takut.

Mengertilah batasan keluhan-keluhan wajar yang dapat diluapkan. Menjadi orang tua memang seni berpura-pura baik termasuk dalam mengungkapkan keluhan, jika tidak anak akan memasukkan keluhan mengerikan kita pada Innerchild negatifnya. Dan kita semua tau, Innerchild itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia membekas.

Baca juga: Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah?

2. Jangan lupa mengatakan ‘Maaf’ ketika kita tidak dapat menepati janji

Aku yakin, pasti kita sebagai Ibu pernah tidak dapat menepati janji lalu memoles alasannya dengan keluhan. Hal ini mungkin wajar, sangat wajar. Tapi ingatlah untuk menyisipkan kata ‘Maaf’ disela-sela alasan kita.

Mungkin jika kita tidak berkata ‘Maaf’ si kecil akan terlihat baik-baik saja. Tapi suatu hari nanti ia akan mempertanyakan hilangnya kata Maaf itu ketika moment meminta maaf tiba-tiba terjadi. Aku pernah mengalami 1-2 kali kejadian ini sehingga aku sangat mengerti dengan pola pikir anak-anak yang terlihat mengabaikan tapi sebenarnya selalu ingat dan menjadikannya peluru untuk menyerang kita suatu hari nanti.

3. Sebisa mungkin jangan mengeluhkan kondisi ekonomi secara berlebihan dihadapan anak kecil

Mengeluh tidak punya uang tentu boleh. Tapi, jangan membuat drama-drama berlebihan dihadapan anak kecil yang ‘masih meraba dan merangkai masa depannya’.

Apa yang akan terjadi jika kita selalu mengeluhkan kondisi ekonomi yang terpuruk kepada si kecil?

Itu adalah akar materialisme. Dan efeknya tidak baik.

Baca juga: Cara sederhana menjauhkan paham Materialisme pada Anak

Anak akan mengukur masa depannya dengan satu hal saja. Ada uang maka Tenang. Ia lupa bagaimana cara bahagia yang seharusnya. Tentu kita tidak ingin anak kita tumbuh dengan sekedar menjadi orang kaya saja bukan?

4. Mengeluhlah dengan permasalahan yang sesuai dengan umur anak

Terakhir, mengeluh kepada anak tentu boleh. Tapi sesuaikan segala keluhan kita dengan umurnya. Jangan menjadikan otak mereka terlalu terbebani dengan…

Drama pelakor yang sesungguhnya itu urusan tetangga, curhat kepada anak apa nyambungnya?

Drama harga beras naik, uang bulanan tidak cukup karena inflasi bla bla bla.. Please, mereka gak ngerti.

Drama kurikulum pendidikan yang bikin pusing, mereka gak tau apa-apa..

Tapi tentu berbeda cerita jika anak kita sudah besar dan dewasa. Yuk, sejak dini bentuk anak menjadi pribadi yang penuh pengertian dengan mengajarinya arti keluhan yang benar.

Karena ketika ia besar nanti, ia akan menjadi teman kita yang mendengarkan suka duka kita. 😊

IBX598B146B8E64A