Browsed by
Category: Parenting

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

“Duh, jam berapa ini? Mesti nyiapin laptop buat anak belajar..”

“Hapalan kamu gimana sayang? Coba mama tes dulu.. “

“Dengerin Bu Gurunya baik-baik ya.. Jangan ribut protes sama mama muluk..

“Ribet ya sekolah online gini. Darting deh lama-lama emaknya..”

Ewww… begitulah respon teman-teman yang memiliki anak sepertiku. Selama masa pandemi ini, semuanya memiliki cerita suka dan duka sendiri dalam menghadapi sekolah online. Ada yang bilang rame aja, ada pula yang bilang udah gak tahan karena berasa pengen marah-marah melulu. Maklum, rata-rata teman-temanku menyekolahkan anaknya di SD swasta dan SD Islam. Jadi memang mereka selalu sekolah online dengan sangat terstruktur. 

“Lantas, anak kamu gimana win? Si Pica enjoy aja gak..?”

Uhuk.. Berasa pengen batuk. 

Si Pica? Kataku sambil melihat anakku yang belajar sepatu roda di halaman rumah. 

Ya begitulah.. 

Anakku kan hanya sekolah di SD Negeri.

Enggak Apple to Apple sih.. 

Pengalaman Anak SDN Sekolah Online di Masa Pandemi 

“Jadi, gimana Pica? Seneng gak belajar sama Mama doang begini?”

“Seneeeeng.. Karena cepet selesai.. “

“Masa?”

“Enggak juga sih. Mama galak. Apalagi pas ngajarin Matematika. Pica kan gak bisa langsung paham sama pengurangan mode begini.. “

“Kalau Bu Guru Pica enggak galak ya?”

“Enggak.. Bu Guru Pica gak pernah marah-marah kayak Mama.. Bu Guru Pica baiiiik banget.. “

“Jadi lebih senang sekolah beneran ya Pica.. “

“Enggak juga sih. Pica cuma kangen sama teman-teman aja..”

Dan obrolan malam itu pun berhenti. Ah, tidak terasa sudah 5 bulan lebih ya Farisha belajar di rumah. Ada perasaan sedih mengingat sosial time Pica terpaksa menjadi sangat menipis karena efek pandemi. Walaupun Pica sering bervideo call dengan teman satu genk di sekolahnya. Namun tetap saja rasanya tidak sama kalau tidak bertatap muka langsung. Pun soal belajar, rasanya tentu beda sekali dengan belajar di kelas bersama Guru dan teman-teman. Tapi, yaa.. Mau bagaimana lagi? 

Tapi serius, aku baru berani menulis pengalaman tentang sekolah online di SD Negeri sekarang. Karena aku baru saja mendapatkan mood untuk menulisnya. Ada pancingan juga sih. Mengingat pertanyaan dari salah seorang temanku yang anaknya sekolah di SD swasta. Dia yang mulai ‘stress’ lalu bertanya tentang apa solusi dariku. Ketika aku bertanya bagaimana metode pembelajaran disana.. Aku langsung cengengesan. Yup, seperti kubilang diatas.. Sekolah online SD swasta dan Negeri? Enggak apple to apple. Hahaha. 

I mean.. Jelas secara struktur dan sistem SD swasta lebih bagus. Jujur saja, SD Negeri Pica sangat tidak ada apa-apanya dibanding SD swasta. 

Yang mana jam 8 pagi siswa sudah harus hadir di kelas zoom. Mengisi absen, menyetor hafalan, mengerjakan tugas tepat waktu dsb. 

Apa yang Pica lakukan jam 8 Pagi? 

Ya ampun, Pica baru selesai makan dan sedang mengaji jam segitu. Dan aku masih sibuk berberes dapur serta mengurus bayi. Pica bahkan tidak memakai baju seragam layaknya sekolah online. Hanya sebuah pesan WA yang masuk setiap jam 8 pagi di grup kumpulan wali kelas 2A. Mau tau pesannya? 

Ya seperti ini.. 

Sudah. Hanya begitu saja. Setiap hari. Begitu saja. 

Tidak ada petunjuk. Tidak ada video tutorial dari Ibu Guru. Tidak ada materi selain dari buku Tematik. Yah, kadang.. Jujur saja aku merasa sedikit mengeluh ‘payah sekali’. 

Dan aku semakin merasa payah ketika Guru ybs kadang sangat slow respon ketika ada yang bertanya di grup. Sehingga membuat percakapan antar wali murid menjadi setumpuk. 

Tapi mau bagaimana lagi? Ya jalani saja. Keputusan memasukkan anak di Sekolah Negeri kan memang keputusan aku dan suami. Tentang risiko dsb harus dijalani dengan lapang. Apalagi tentang sekolah online yang tentu harus mempertimbangkan banyak pihak dalam membuat aturannya. Dan aku sangat yakin, cara mengajar ini sudah dipertimbangkan baik-baik oleh para dewan guru. 

Yup, meski SD Pica tergolong SDN unggulan di kotaku.. Akan tetapi keadaan ekonomi dari siswa sangat beragam. Tidak semuanya merupakan golongan ekonomi menengah keatas. Dan, tidak semua orang tua siswa adalah golongan milenial. Kebanyakan masih berpikiran layaknya generasi Boomers. Tidak paham fungsi aplikasi smartphone.. Selain WhatsApp..😅

5 bulan lebih belajar online di masa pandemi.. Atau lebih tepatnya aku yang hampir 100% berperan menjadi Guru.. Menciptakan kesan tersendiri antara aku dan Pica. Awalnya memang sungguh jenuh. Bahkan pernah menyesal tidak memasukkan anak ke SD swasta layaknya teman-teman. Tapi ketika aku evaluasi lebih jauh.. 

Hey, ternyata selain banyak kurangnya.. Ada sisi lebihnya juga..! 

Kekurangan Belajar Online Di SD Negeri

Oke, aku akan urutkan kekurangan belajar online di SD Negeri terlebih dahulu. Tapi jangan salah. Setelah ini aku juga akan tulis kelebihannya juga. 

1. Mama berperan 100% menjadi Guru

Bayangkan, setiap hari Guru di sekolah hanya mengirim pesan ‘demikian’ saja. Tentu saja aku harus berperan menjadi Guru hampir 100% untuk menjelaskan materi. Kadang saat begini, aku sangat bersyukur memilih peran menjadi IRT tulen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku mengatur waktu jika aku bekerja. 

Banyak beberapa orang tua murid yang protes. Meminta Guru mengirim tutorial atau setidaknya video mengajar. Ada pula yang meminta Guru untuk datang private ke rumah. Selain itu, ada pula yang menyarankan agar sekolah kembali dibuka dengan murid yang masuk bergantian seminggu 2x. Apakah dikabulkan? Tentunya tidak. 

Karena itu, beberapa Ibu yang bekerja terpaksa memasukkan anaknya dalam kelompok belajar offline. Mungkin ada sekitar 3 atau 5 orang yang demikian. Apakah aku ikut? Tentu tidak. Aku terlalu takut dan lebih memilih mengajar mandiri di rumah. Walau risikonya.. Mamak bakal sedikit Galak. 

Pica: “Sedikit? Begini sih banyak Ma!”

2. Materi yang Tidak Meluas

“Buku pelajarannya Pica apa aja Win?”

“Hmmm.. ” Ucapku bingung sambil memegang buku Tematik tema 1.

‘Ini doang’ 😅😅

Iya.. Sementara SD swasta punya buku bermacam-macam untuk belajar.. Aku dan Pica cuma memegang 1 buku saja setiap belajar. Tak lupa didampingi dengan google dan youtube. Ulala.. Ini doang. Hahaha. 

Dan karena saking sempitnya materi dan tugas, aku dan Pica kadang hanya meluangkan waktu kurang dari 1 jam untuk membaca dan mengerjakan tugas. Selebihnya? Pica menjadi asisten rumah tangga di rumah. Wkwk

3. Tidak Adanya Komunikasi Online antara Anak dan Guru

“Ustazah aku kemarin bilang bla bla.. ” Kata salah seorang teman TK Pica di chat. 

“Kalau ustazah kamu asik gak ngomongnya Pica?”

Dan pica pun diam. Dia bahkan tidak pernah melihat Gurunya mengajar selain video perkenalan diri di awal pembelajaran. Jadi, bagaimana Pica bisa tau sebenarnya Guru kelasnya seperti apa? Dia sungguh tak pernah melihat gurunya berkomunikasi dengan benar. I mean.. Mengajar dengan normal dengan kelas zoom, google meet dsb. 

“Bisa jadi mama lebih ramah dibanding Guru Pica yang baru.. Bisa jadi Mama lebih bagus penjelasannya.. ” Ketusku iseng. 

“Guru Pica yang kelas 1 aja gak galak. Masa yang kelas 2 galak.. “

“Seiring bertambahnya tingkat kelas.. Gurupun bertambah kegalakannya.. ” Jawabku iseng. 

Hmm.. Tapi serius. Dulu Pica sering sekali bercerita tentang tingkah polah guru dan teman-temannya di sekolah. Sekarang? Ah, moment itu hilang. Bahkan, Pica selalu lupa dengan nama Gurunya di kelas 2 ini. Ia selalu menyebut nama Gurunya yang di kelas 1. 

Ah, kuharap setidaknya Guru juga mengirim video pembelajaran sesekali. Sebulan sekali juga tidak apa-apa. Memang kelas zoom atau google meet masih tidak bisa diaplikasikan. Tapi tidak ada salahnya bukan Guru mencoba belajar memiliki channel youtube? Supaya murid dan Guru juga memiliki sedikit keterikatan emosi. Daripada hanya mengirim soal dan soal setiap hari. Tuh kan, mamak mengeluh. Haha

Kelebihan Belajar Online di Sekolah Negeri

Eits jangan salah. Walau kadang banyak mengeluh. Tapi sesungguhnya aku juga banyak bersyukur loh dengan sekolah online di masa pandemi sekolah negeri ini. Iya, ada kok sisi kelebihannya. Nih ya aku jabarkan.. 

1. Waktu Belajar Lebih Fleksibel

Sungguh, Pica itu aslinya anaknya pemalas berolah raga. Tapi semenjak Pandemi corona.. Anak itu kulitnya malah tambah gosong. Wkwkwk.. Terbalik ya? 

Karena dia sedang asik-asiknya belajar sepatu roda. Sehabis bangun tidur, dia langsung bermain di halaman rumah. Begitupun di siang hari sehabis belajar. Aku no worry ya. Karena lingkungan aku termasuk kategori sunyi. Sehingga bisa banget social distancing. Aku selalu tekankan ke Pica bahwa hal yang harus dihindari di masa pandemi ini bukannya keluar rumah. Tapi hindarilah setiap orang. Jaga jarak adalah yang utama. Bukan perihal memakai masker saja. Eh, kok jadi kampanye protokol kesehatan disini? Haha

Tapi serius, habis berolah raga.. Pica baru mandi dan makan. Kadang lewat jam 8, kadang juga ngepas jam 8. Dan belum tentu langsung belajar. Kadang menunggu mamaknya selesai nginem dulu. Kadang jam 9 atau jam 10 baru bisa mengajari anak dengan khusyu. Maklum, punya bayi yang kudu di’genjutsuin’ supaya bisa tenang. 

Dan beberapa emak pekerja juga kadang bersyukur dengan menyekolahkan anaknya di SD Negeri saja. Karena saat jam istirahat atau ketika pulang mereka bisa mengajari anak atau ikut membantu tugas anak. 

Yup, tugas anak setiap hari itu No Deadline. Memang ada sih peraturan awal bahwa tugasnya harus dikumpul paling lambat jam 4 sore. Tapi kadang masih bisa didiskusikan lagi. Apalagi untuk Ibu Pekerja. Masih bisa kok ditoleransi. 

2. Tidak Ada Target Hapalan

Entahlah. Kurasa aku harus bersyukur soal ini. 

Saat melihat ibu-ibu lain berusaha sangat keras mengajari anaknya menghapal aku kadang merasa bersyukur karena Pica tidak memiliki target hapalan sedemikian keras. Karena dari dulu aku paling benci dengan hapalan. Apapun jenisnya. Walaupun memang menghafal Qur’an tentu sangat baik. Tapi jujur saja aku tidak ada bakat disini. Bahkan sewaktu Pica TK dulu aku sempat marah-marah hanya karena Pica bolak balik salah mengurutkan lafal Ayat Al-Kafirun. Sungguh aku sepayah ini dalam mengajarkan hafalan. Huft. 

Dan aku melihat, anakku juga tidak memiliki bakat dalam segi menghafal. Sehingga aku memang tidak perlu banyak stress untuk mengangkat hal yang bukan bakatnya bukan? 

3. Anak Bisa Fokus dengan Hobi dan Passionnya

Yup, bicara soal bakat.. Aku lebih mengarahkan Pica untuk mengeluarkan ekspresi dengan menggambar dan mewarnai. Karena itu adalah kesukaannya sejak kecil. Dari TK Farisha sudah memenangkan banyak piala untuk lomba mewarnai. Dan saat SD ini, dia sangat senang menggambar.

Karena waktu belajar untuk sekolah setiap hari tergolong singkat, bahkan kadang memakan waktu kurang dari 1 jam jika tidak ada matematika.. Maka kegiatan Pica lebih banyak teralihkan dengan berkreasi dan menggambar. Bahkan ia juga memiliki akar-akar hobi yang baru. 

Dan yang paling penting. Ia senang dengan hobi barunya. Ini merupakan berkah untukku. Dan ini kadang tidak bisa didapatkan begitu saja di sekolah bukan? 

4. Anak Bisa Belajar Empati dengan Ibunya

Siapa yang semenjak sekolah online ini anaknya jadi suka memasak di dapur? 

Ada juga yang anaknya punya tugas baru? Yaitu membersihkan halaman dan mengepel lantai? 

Atau menjaga adiknya yang sedang rewel saat emaknya memasak di dapur? Atau membantu emaknya melipat pakaian?

Itulah Pica sekarang. Hahaha. 

Semenjak pandemi, dia jadi punya berbagai skill baru. Salah satunya adalah membersihkan halaman rumah, melipat baju dan mengajak adiknya bermain. 

“Kasian ternyata kerjaan Mama di rumah banyaaaak bangeeet.. “

“Dulu Pica kira kerjaan Mama kalau pagi ngapain?”

“Kirain masak sambil nonton drakor plus menyusui bayi aja Ma.. “

“Ternyata?”

“Ternyata Mama bisa masak sambil nyuci, sambil bersih-bersih rumah, sambil gendong Humaira, sambil nyiapin cemilan buat pegawainya abah.. Duh.. Capek ternyata jadi Mama itu.. “

“Jadi..?”

“Jadi Pica harus bantu-bantu Mama. Karena kalau Mama capek Mama bisa meledak. Marah-marah. Terus pas ngajarin Pica bisa meledak-ledak marahnya kayak bom. Apalagi kalau matematika.”

“Yah.. Memang seperti itulah Mamamu aslinya Pica. Makanya seisi rumah harus berempati pada Mama. Sering-seringlah mengajak Mama Piknik kalau pandemi sudah berakhir ya..!” *Speaker mode ON. Berharap suami mendengar dengan baik. 🤣

Yup.. Inilah cerita sekolah di Masa Pandemi. Iya.. Sekolah Negeri emang gini amat. Tapi kalau direnungkan lagi.. Duh, banyak sisi positifnya ternyata dibanding negatifnya ya. Jadi ya sudahlah. Syukuri saja. 

Semoga Pandemi ini segera berakhir ya! Bagiku, sekolah normal memang tak tergantikan sampai kapanpun! 

Tips Mengajari Si Kecil Belajar Makan Mandiri

Tips Mengajari Si Kecil Belajar Makan Mandiri

‘Pokoknya anak kedua ini harus sukses perkara makan!’

Itulah tekad kuatku sejak Humaira sudah berumur 6 bulan. 

Bukan tanpa alasan aku memiliki tekad kuat seperti itu. Alasan utamanya adalah anak pertamaku dahulu bisa dibilang gagal teredukasi soal makan. Bayangkan saja, anak pertamaku ASI ekslusif selama satu tahun. Dan tahun berikutnya dia hanya suka makan cemilan saja. Selebihnya hanya menyusu. Bisa dibayangkan dong betapa kurusnya aku saat itu karena kegiatan menyusui. Ketidaksuksesanku dalam MPASI telah menimbulkan efek yang cukup negatif saat itu. 

Dan kalau dipikirkan lagi, sebenarnya bukan anakku yang salah. Tapi lebih kepada diriku sendiri yang saat itu serba perfeksionis dan terpaku standar. Maka, pengalaman memiliki anak pertama kemarin telah mengajarkanku jauh lebih banyak mengenai teknik nyaman dalam urusan makan bersama bayi. 

Kini, Anak keduaku yang bernama Humaira sudah berumur 16 bulan. Tidak seperti kakaknya dahulu, Humaira cenderung lebih nyaman soal makan. Walau dahulu sempat memiliki drama pada MPASI awal, tapi Alhamdulillah itu tidak membuatnya trauma. 

Dan surprisingly! Sekarang bahkan ia sudah bisa makan sendiri dengan nyaman di mejanya. Waw. Kalian ingin tau tipsnya? Ini dia! 

1. Ajak Anak Makan Bersama

‘Bayi adalah peniru ulung’

Ya.. Bayi akan meniru apa saja yang ia lihat. Ia tidak akan melewatkan hal kecil hingga hal besar yang menarik perhatiannya. Semuanya akan terekam jelas di memorinya dan otomatis akan ia pelajari dan mencoba melakukan hal yang sama suatu hari nanti. 

Thats why.. Kalau kita ingin anak bisa sesuatu, mulailah jadikan diri kita sebagai ‘contoh yang baik’. 

Jika kita ingin anak suka makan, maka mulailah ajak dia untuk makan bersama. 

Jujur saja, dulu aku sangat jarang melakukan ini dengan anak pertamaku. Kenapa? Karena pica kecil dulu sangat mengganggu sekali saat makan bersama. Terlebih dulu kan aku tinggal di tempat mertua, sehingga aku merasa tidak nyaman kalau pica menggangguku dan keluarga makan. Karena itu aku selalu membuat waktu makannya denganku terpisah. And, that is the big problem. 

Humaira beda dengan Pica. Ia lebih sering aku ajak makan bersama. Memang ia tak henti-hentinya mengganggu. Ia akan naik ke atas meja, mengambil nasi dan menghamburkannya. Ia juga selalu mengambil minuman dan menumpahkannya sembarangan. Tapi siapa sangka? Inilah awal dari mengajarinya untuk mandiri soal makan. 

2. Beri Porsi Kecil di piringnya Sendiri

Sebelum makan bersama, aku selalu menyediakan piring dan peralatan khusus untuk mendampingi Humaira makan. Dan biasanya aku memberikan porsi kecil khusus untuk dirinya. 

Memberikan porsi kecil ini mengajarkan kepada si kecil tentang kepemilikan. Ini milikmu dan ini milik mama. Walau pada praktiknya langkah ini tergolong sering gagal akan tetapi lama-kelamaan anak akan mengerti kalau ‘wilayahnya’ adalah hal yang harus ia hadapi terlebih dahulu. Ini lebih baik dibanding memberikan makan bersama dalam satu piringpiring bersamaku. 

3. Berikan Variasi Makanan yang Berwarna Menarik

Kebiasaan Humaira saat makan adalah.. 

‘Ia selalu mengambil makanan dengan warna cerah menyala terlebih dahulu’

Ya.. Jika diatas meja makan tersaji buah semangka berwarna merah maka Humaira akan mengambilnya terlebih dahulu. Ia akan cuek bebek dengan bento mini yang aku buat. Ia juga akan cuek bebek dengan aroma lezat dari bubur. Humaira lebih fokus pada makanan yang berwarna cerah. 

Karena itu aku selalu memancing niat makannya dengan memberikan makanan berwarna cerah terlebih dahulu. Bisa dimulain dengan buah semangka, agar-agar warna warni dsb. Lalu aku akan menyisipkan sesi makanan lainnya saat ia asik menyantap makanan cerah tersebut. 

4. Potong-Potong Makanan Sesuai dengan Kemampuannya dalam Melahap

Aku bukan penganut metode ‘Baby Led Weaning’. Semenjak Humaira MPASI, aku memberinya makan dengan metode biasa. Karena selain aku takut dia akan tersedak, aku juga memikirkan tentang pencernaannya. 

Tapi, semenjak Humaira sudah berumur 1 tahun. Perlahan aku mulai mengikuti cara makan yang ia sukai. Yaitu suka mengambil makanannya sendiri dan anti disuapi. 

Karena itu aku membuat jenis MPASI yang sesuai dengan ukuran tangannya dan bisa dia lahap dengan baik. Berbagai MPASI itu antara lain seperti nugget ayam sayur homemade, perkedel nasi sayur telur, hingga makanan simple seperti kentang goreng dan potongan buah. Yaah.. Bisa dibilang ini metode semi BLW karena aku juga terkadang masih menyuapi Humaira dengan sendok jika memiliki kesempatan setiap ia melahap makanannya dengan tangan. 

5. Jangan Pernah Memaksa Apalagi Marah-Marah

Pernah gak sih si kecil ngambek makan

Belum juga mau menyuapi, ketika melihat makanan pun ia sudah menggeleng-geleng dan menghentakkan kaki tanda tidak mau. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan anak tidak mau makan loh. Diantaranya adalah kemungkinan mulutnya sedang sakit, tumbuh gigi hingga mungkin masih kekenyangan karena banyak menyusu. Atau mungkin juga dia sedang sangat fokus bermain sehingga tidak mau diganggu dengan moment makan. Nah, untuk yang terakhir itu.. Humaira banget. Haha.. 

Kalau Humaira sudah bermain, dia sulit sekali makan. Beda dengan anak lainnya yang bisa disambi-sambi makan saat bermain. Kalau Humaira, tipe yang nyaman makan saat dia membolak-balik buku. Humaira juga tipe yang nyaman makan saat dibawa jalan-jalan ke luar rumah. 

Perhatikan dan lihatlah apa kebiasaan makan yang anak sukai. Jangan pernah marah-marah saat anak tidak mau makan. Karena itu akan membuatnya trauma. Seperti anak pertamaku Pica kemarin, dia sempat trauma dengan sendok karena aku sering memarahinya saat tidak mau makan. Akhirnya? Yaa.. Ngambek makannya sampai hampir 2 tahun. 

Ada baiknya jika kondisi emosi kita sedang tidak stabil saat anak makan maka cobalah minta pertolongan dari suami. Selain untuk membantu kita di rumah.. hal seperti ini juga supaya si kecil memiliki bonding dengan Ayahnya loh.

6. Jangan Terlalu Perfeksionis, Berantakan Bukan Masalah Kok! 

Ini nih.. Super penting banget buat emak yang mau mengajari si kecil makan mandiri. 

Please.. Please.. Dont be too Perfect! 

Saat kita punya anak kecil, apalagi yang masih dibawah 2 tahun.. Gakpapa banget kok kalau rumah selalu berantakan. 

Gakpapa banget kalau si kecil makannya berantakan. Lantai penuh makanan hingga bajunya yang selalu kotor. Itu adalah hal yang wajar sekali. 

Yang gak wajar itu kalau saat moment berantakan, tetiba ada tamu datang dan nyinyir.. *Halaaah kok jadi curhat.. 🤣

Seumur Humaira ini, sepertinya hampir setiap selesai makan aku selalu mengganti bajunya. Hampir setiap selesai makan, aku selalu mengepel ulang lantainya.. 

Capek? Ya capek lah.. Tapi harus sabar.. Gak bolee marah-marah.. Hahaha (Gak mudah kan jadi ibu itu ya.. 🤣) 

Karena aku yakin masa-masa berantakan seperti ini enggak akan bertahan lama kok. Kalau anak sudah besar, dia akan membantu kita untuk membereskan rumah. Seperti anak pertamaku yang selalu membantuku untuk membersihkan rumah saat ‘dijajah’ oleh adiknya.. 

*hehehe.. Ketauan deh tips sabarnya emak.. Punya asisten kecil ternyata.., 😆

7. Berikan si kecil Camilan 

“Kalau lagi makan berat suka males, tapi kalau udah snack time langsung semangat..”

Siapa yang anaknya begini? 

Ini anak aku banget Ya Allah.. 😭

Kalau dia melihat aku makan kerupuk, duh.. Langsung semangat sekali ingin minta diberi. Padahal kan enggak semua kerupuk itu bagus dan sehat untuk bayi. Sampai suatu hari aku bertekad gak mau menggoreng kerupuk lagi karena bikin si kecil addicted. Ternyata, hal itu malah bikin dia semakin enggak semangat buat makan.. Huhu.. 

Sepertinya.. Bayi pun butuh cemilan yang kering dan sehat untuk membantu semangatnya makan ya. Huft_

Untunglah aku akhirnya dapat produk cemilan yang cocok buat Humaira.. Yup, mari berkenalan dengan Milna Nature Puffs Organic

Tentang Perkenalan Milna dan Aku

Aku sudah kenal lama dengan produk milna. Sejak anak pertama tentunya. Dulu, aku ini cenderung perfeksionis kan. Jadi say no banget buat MPASI instan. 

Itu dulu tapi.. Waktu masih ‘bego’.. 😩

Dan sewaktu Farisha anak pertamaku berumur 9 bulan, isenglah aku membelikannya bubur milna instan. Eh, ternyata dia suka loh. Sayangnya itu tidak berlangsung lama karena gigi gerahamnya tumbuh dan dia sempat mogok makan karena aku marahin. Dan mogoklah sekalian.. Huhu.. 

Untuk Humaira anak keduaku, aku sih udah sedikit pintar lah ya. Mulai mengerti kandungan MPASI instan tuh ternyata bagus. Dan aku sudah pakai milna dari Humaira umur 7 bulan. Sampai pindah tekstur pun aku juga setia ngikutin produk-produknya milna karena variannya lengkap sampai ke bubur organiknya juga. Alhamdulillah Humaira suka semuanya. Dan semuanya pun cocok untuk pencernaaannya. 

Dan sekarang aku baru berkenalan dengan Milna varian puff. Seneng banget sih karena ini yang sedang Humaira butuhkan demi mendukungnya belajar makan mandiri. 

Mengapa Memilih Milna Nature Puffs Organic?

Why harus nunggu puffs merk milna? Padahal yang lain mah banyak. 

Pertama, Karena aku pecinta organik dan bahan makanan yang sehat.. 

Bukannya apa sih ya, tapi pencernaan Humaira agak berbeda dengan kakaknya. Kulitnya juga sometimes agak alergi. Jadi kalau bisa MPASI nya ya organik. Milna Puffs ini bahannya dari beras organik, tanpa pengawet, tanpa pemanis bustan, tanpa penguat rasa, dan tanpa pewarna sintetik. Jadi sudah pasti aman buat si kecil. 

Milna Puffs ini juga bebas gluten, tinggi kalsium dan sumber zat besi. Thats why, kalau Humaira menghabiskan 1 bungkus dalam sehari aku malah senang. Karena kadang nih.. Makanan yang aku bikin pun berakhir mendarat mulus di lantai. Kalau puffs ini banyak dimakan kan aku sedikit gak worry soal kalsium dan zat besinya. 

Kedua, Bentuk Milna Natur Puff ini Lucu sekaliii.. 

Saat pertama kali aku buka Milna Puff yang varian keju, aku langsung suka liat bentuknya. 

Ya ampun bentuk Hatiiii.. 

Kan aku jadi inget kado ulang tahun pertamaku yang penuh dengan guntingan kertas berbentuk hati dari pacar yang sekarang udah jadi suami ini.. (Eh, kok aku jadi curhat?) 

Dan saat membuka milna ini.. Aku jadi kegeeran.. *Halaah.. 🤣

Tapi serius, Humaira pun suka sekali memperhatikan bentuknya. Sebelum ingin memakan puffnya, ia memperhatikan bentuknya sebentar dengan mata excited. Lantas semakin semangat ketika ia langsung mengeluarkan semuanya di meja makannya. 

Ketiga, Milna Nature Puffs Organic Enak dan Meleleh di Mulut..

Halah, kayak kamu cobain aja win jadi tau enak.. 

Ya emang aku cobain kok. Dan enak. Hahaha.. 

Makanya kadang kalau si Humaira ketiduran sehabis ngemil milna ini.. Aku suka mengambil yang berguguran dan memasukkannya kemulut. *sayang euy mubazir. 

Terus, gakpapa banget loh kalau si kecil bukan tipe yang doyan ngunyah. Karena milna puffs ini meleleh di mulut. Nah, ada kan tipe anak yang kalau lagi ngambek makan.. Ngunyak pun males. Sukanya di emuttt aja. Boleh nih dikasih cemilan milna ini supaya dia sadar dengan rasa enak dan langsung mengunyah makanannya. 

Keempat, Milna Nature Puffs merupakan Cemilan Anti Berantakan

Buatku Puffs Milna menolong banget saat aku sedang hectic mengerjakan pekerjaan rumah. Yah, you know lah rempongnya emak-emak tanpa ART dan harus homeschooling saat pandemi begini. Kadang aku juga bisa stress kalau melihat si kecil makan berantakan dan selalu ganti baju. Milna puff ini kemasannya gampang dibuka dan anti berantakan. I mean, setidaknya baju si kecil aman karena cemilannya kering. 

Biasanya nih, Humaira tipe yang selalu mengeluarkan semua makanan dari bungkusnya. Aku enggak tau kenapa saat dia makan milna puff ini jarang sekali aku melihatnya mengeluarkan semuanya. Dia lebih suka makan ‘damai’ dengan mengeluarkan puff nya satu per satu dan memasukkannya ke mulutnya. Mungkin nih ya.. Dia mau hemat cemilannya juga.. Hahahaha.. 

Kelima, Humaira suka semua varian rasa Milna Puffs Organic

Varian rasa Milna Puffs Organic ini ada 3, yaitu Cheese, Apple and Mix Berry, serta Banana

Humaira suka semuanya. Alhamdulillah.. 

Tapi dari semua varian rasa, dia paling suka yang keju. 

Aku harap, milna juga mengeluarkan varian puff dengan kandungan sayur. Mungkin bayam atau brokoli. Yah, who knows banyak anak yang sulit makan sayur bukan? 

Keenam, Makan Mandiri memakai Milna Nature Puffs Organik ini menyenangkan

Tadi aku cerita bukan? Kalau Humaira ini pecinta kerupuk. Gak bisa melihat aku makan kerupuk dia langsung menangis minta juga. 

Milna Puffs ini bagaikan penolong saat si kecil kecanduan kerupuk saat makan. Ia akhirnya bisa bersahabat dengan makanan berat dan makanan ringan. Bagaimana? Dengan menyuapnya secara bergantian.. Hehehe.. 

Dan cara baru makan milna yang membuat Humaira ketagihan lainnya adalah dengan mencampurnya dengan ASI perah.. Yah, menjadi seperti cereal. Apakah ia bisa memakannya dengan menggunakan sendok? 

Ya.. Dia belajar… Karena anak harus belajar makan mandiri sedari kecil bukan? 

Bagaimana moms? Punya pengalaman seru terkait mengajari si kecil makan sendiri? Sharing denganku yuk! 

Ternyata, Sekolah Negeri Itu Gak Seram Kok!

Ternyata, Sekolah Negeri Itu Gak Seram Kok!

“Gimana sekolah negeri disana win, ceritain dong!”

Itulah perkataan temanku beberapa hari yang lalu. Ia bertanya kepadaku karena sepertinya ia sendiri sedang ‘galau’ ingin menyekolahkan anaknya dimana. Pilihannya ada 3 yaitu SD Islam, SD alam, dan SD negeri. Ia yang terkenal berkarakter perfeksionis itu mulai survei beberapa SD disini dan tak kunjung menemukan titik yang benar.

Sebenarnya, akupun juga gak mau langsung menyarankannya untuk sekolah di SD yang sama dengan Pica. Trauma pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming membuatku takut sekali berkata-kata atau bahkan ingin menyarankan sesuatu. Takutnya, itu menjadi jenis toxic positively. Jadi yaa.. Aku jelaskan dengan deskripsi seadanya saja saat dia bertanya.

Namun, bukan aku namanya kalau tidak tergelitik menulis di blog ketika banyak pertanyaan yang menyudutkan. Di dunia nyata aku hanya bisa ber hehe hehe binggung dan awkward menjelaskan. Tapi jariku sebenarnya gatal ingin menjelaskan panjang lebar mengenai pengalaman Farisha bersekolah disini.

Dan yaaa… Mari tulis tentang sekolah anak hari ini..

Kenapa Pilih Sekolah Negeri?

Banyak yang bertanya padaku, “Kenapa tidak masukkan Pica ke SDIT yang dekat dengan komplek rumahmu saja?”

Well, banyak alasan kenapa tiba-tiba aku hanya mendaftarkan anakku di SD Negeri saja. Salah satunya karena aku sudah terlalu banyak survei dan sedikit pusing. Haha..

Serius. Farisha sudah berkeliling ikut lomba mewarnai yang diadakan beberapa SDIT di daerah kami untuk promosi. Dari situ, aku sudah sedikit survei dengan kondisi sekolah serta karakter guru-guru dari sekilas pandang. Aku juga sedikit survei dengan melihat perilaku para siswa yang bersekolah disana.

Entah kenapa, dari 5 SDIT.. Hanya satu SDIT yang menarik perhatianku. Dan sayang sekali lokasinya sangat jauh dari rumah. Sangat tidak memungkinkan dengan kondisiku yang memiliki bayi untuk mengantar jemput.

Apa? Lulusan SDIT berpikiran sempit  kurang rasa toleransi?

Oh lupakan. Aku termasuk yang tidak percaya hal itu.

Memang, ada beberapa SDIT yang sedikit kurasa nyaman bahasanya. Tapi, prinsipku dalam menilai promosi sekolah itu simple.. Kalau dalam bahasanya ada yang menjatuhkan SD lain maka aku akan mencoret SD tersebut. Entah kenapa, feelingku merasa kurang nyaman untuk menyekolahkan anak disana.

Jadi, hal-hal positif yang membuatku hanya menyekolahkan anak di SD Negeri saja diantaranya adalah:

1. Pertimbangan Ekonomi

Suamiku Dosen PNS, dan belum memperoleh sertifikasi. Berapa gajihnya? 3,8 juta.

Hitung dan hitung. Diriku tidak bekerja, sementara Mama suami adalah seorang janda dan masih memiliki beberapa anak yang masih butuh biaya. Gajih suami harus dibagi dua. Sementara? Cicilan rumah kami juga ada. Dan jangan lupa anak sulungku si Pica yang ingin masuk SD kemarin memiliki seorang adik bayi.

Silahkan dihitung berapa sisa jatahku dalam satu bulan. Hihihi..

Jelas, kami tidak memiliki budget berlebih untuk menyekolahkan anak di SDIT yang biayanya hampir sama dengan jatah makan keluarga dalam setengah bulan. Memang, suamiku adalah programmer dan memiliki usaha sampingan. Tapi, keuntungan dari usaha itu sudah memiliki pos-pos pengeluaran yang lain.

Yah, jika kalian pernah membaca tulisanku tentang mengatur keuangan ala shezahome, maka tentu kalian mengerti bahwa keluarga kami tergolong sangat irit dan hati-hati dalam belanja.

Kami bahkan membagi fase ekonomi keluarga dalam 3 fase. Pertama, fase ekonomi pembangunan. Kedua, fase ekonomi investasi. Dan ketiga, fase ekonomi berdaya.

Kami memiliki banyak impian. Dan menyekolahkan anak di SD Negeri saja bukan berarti kami tidak peduli dengan investasi pendidikan. Melainkan kami berpikir realistis. Bahwa dalam fase ekonomi pembangunan dimana cicilan rumah saja belum lunas.. Akan terasa lebih waras dan sejahtera jika biaya sekolah anak tidak terlalu membebani.

2. Pertimbangan Lingkungan

Ketika kita menyekolahkan anak di SD, bukan hanya sistemnya yang kita pedulikan, tapi juga lingkungannya.

Bagaimana Gurunya? Bagaimana perkembangan perilaku dan sosial rata-rata murid disana? Lingkungan mana saja yang menyekolahkan anak disana? Termasuk kategori apa lingkungannya tersebut?

Jika kita memutuskan menyekolahkan anak di lingkungan yang isinya banyak anak-anak orang kaya, maka kita harus bersiap-siap akan kemungkinan biaya ekstra.

Biaya itu adalah biaya penerimaan sosial. Sudah memperhitungkan biaya ini? Percayalah biaya ini nyata adanya. Hahaha.

Sekolah Farisha aku pilih berdasarkan rekomendasi teman-teman yang aku percayai. Dimana aku sudah survei lingkungan disana.

FYI, Beberapa SD Negeri disini tidak semuanya bagus tentu. Ada SD Negeri yang tumbuh di lingkungan yang ‘hmm.. Begitu deh.. ‘. Sehingga sangat mengkhawatirkan jika aku menyekolahkan anak disana mungkin ia juga akan terpengaruh lingkungan. Aku pernah survei ke suatu SD dimana para muridnya berkata-kata kasar dan tidak senonoh.

Jadi, baik itu SD Negeri.. SD  Islam.. SD Alam.. Sangat penting untuk memperhatikan faktor lingkungan ini ya. Karena jika sistemnya bagus, gurunya bagus tapi lingkungannya tidak bagus maka anak akan sangat mungkin masuk ke pergaulan yang tidak bagus. Atau, anak yang terkumpul dalam lingkungan anak-anak orang kaya juga harus sangat dipikirkan. Tidak mau kan anak berakhir minder dan tidak percaya diri hanya karena ia tidak memiliki ‘sesuatu’ yang rata-rata dimiliki anak lainnya?

3. Pertimbangan Kemampuan Anak

Di tempatku, untuk masuk ke SD Negeri itu pakai tes. Dan dibeberapa SD tes masuknya tidak dalam standar dinas pendidikan.

Iya, katanya SD dilarang melakukan tes membaca untuk syarat masuk. Nyatanya, memang itu dilakukan kok. Terlebih jika SD tersebut adalah SD Negeri favorit yang jumlah pendaftarnya ‘bejibun’. Untuk menyeleksi pendaftarnya.. Terpaksa dilakukan tes membaca dan menulis juga.

Akhirnya yang masuk ke SD tersebut memang rata-rata adalah anak pintar yang sudah bisa membaca dan menulis juga menjawab pertanyaan dengan baik dan lancar. Apakah anak siap dengan persaingan tersebut? Itu yang harus jadi pertimbangan terakhir. Karena mengingat pelajaran SD level sekarang memang sangat dibutuhkan kemampuan bisa membaca dari kelas 1.

4. Pertimbangan Waktu Pulang

Penting gak sih? Bagiku ini penting sih.. Haha..

SD Negeri itu pulangnya cepat. Jam 11 sudah pulang. Hanya hari-hari tertentu saja yang pulang jam 12. Dan itu karena ada pelajaran tambahan atau les. Setiap hari sabtu bahkan anak-anak pulang jam 10.40 WITA.

Menurutku, ini penting banget karena Farisha anaknya agak pembosan. Jadi mungkin kalau terlalu lama sekolah wajahnya akan berubah menjadi begini . Disamping itu, Farisha sudah biasa makan siang hangat di rumah. Jadi kalau sangu bekal makan siang, selain aku yang repot.. Dia sebenarnya kurang suka. Haha.

Farisha juga biasa tidur siang setiap hari. Menurutku ini penting sih. Anak harus istirahat siang. Jadi kalau sore hari dia bisa semangat mengaji atau bermain.

5. Pertimbangan Lokasi

Ini nih.. Super penting.

Sebenarnya, ada SD Islam yang sangat cocok di hati. Bahkan saat pertama kali menjejak di tanahnya saja aku sudah jatuh cinta. Apalagi, mendengar tata bicara ustadzahnya yang menyejukkan hati. Ah, ini SD impian. Walau budgetnya tinggi pun ingin rasanya mengusahakan anak masuk disana.

Tapiiii… SD nya jauh sekaliii dari rumah. Yah, masa aku harus bawa kendaraan bolak balik setiap hari untuk mengantar Farisha? Ingat loh, aku punya bayi. Aku bahkan setiap hari antar jemput Farisha memakai gendongan dan berkendara sendirian. Kalau dengan jarak super jauh begitu, bisa-bisa bayiku masuk angin dibuatnya.

Sekolah Negeri di sini Enggak Seram Kok

Sudah satu semester Pica sekolah di SD ‘bla bla’. Aku yang awalnya khawatir dan agak ‘gimana’, perlahan-lahan mulai menjalaninya dengan enjoy saja. Apalagi kalau setiap hari mendengar Farisha bercerita semangat tentang sekolahnya. Aku jadi semakin santai dan selalu berkata Alhamdulillah.

Mitos-mitos tentang seramnya SD Negeri itu perlahan terbantahkan. Nyatanya, Farisha enjoy menjalaninya.

Iya, jadi dulu aku juga termasuk yang termakan mitos-mitos seram tentang anak zaman now yang masuk SD Negeri jadi begini.. begitu.. Sampai nangis-nangis bombay meronta-ronta sama suami buat menyekolahkan anak di SDIT saja. Nyatanya, hampir semua mitos jelek tentang SD Negeri terbantahkan.

Mitos apa saja? Kek begini nih

1. Katanya, Pelajaran SD Negeri itu Seram

Seram katanya. Konon pelajarannya bisa ‘menggigit otak’. Wkwk.. Sampai akunya parno sendiri.

Nyatanya? Biasa aja sih. Bahkan sebenarnya aku suka dengan sistem tematik begini. Anak jadi enggak tau betapa menyebalkannya mata pelajaran matematika. Karena gak ada namanya buku matematika. Haha. Pokoknya, kalau Pica ada kesulitan dengan pelajarannya dia cuma bilang begini.. “Susah ma, Pica gak ngerti sama tema anu halaman anu.. “

See? Gak ada label cerita ‘benci sama pelajaran matematika’. Menurut aku ini efeknya positif sih. Sejauh ini, Farisha tidak pernah merasa seram dengan pelajaran di SD. Malah dia sangat senang dibandingkan TK dulu. Yaah.. Dulu aku salah masukin sekolah TK genks, jadi ya gitu deh.

Satu hal sih yang benar. Paling enggak anak harus bisa membaca saat masuk SD Negeri. Karena sudah standarnya begitu. Kalau belum bisa membaca, maka anak akan sangat kesulitan. Dan ia akan sangat ketinggalan dibanding teman-teman lainnya.

Baca juga: Suka Duka Mengajari Anak Membaca

Pica pernah bercerita padaku tentang temannya yang belum bisa membaca. Ia sepertinya dimasukkan ‘lewat belakang’. Kasihan sekali. Apalagi ketika ulangan harian tiba. Temannya kelabakan dan bisa menangis. Seramnya disini sih. Memang harus diakui bahwa pelajaran kelas 1 SD zaman sekarang, sudah hampir sama dengan level kelas 3 SD zaman dulu. Jadi, dilihat juga kemampuan anaknya.. Apakah ia mampu?

2. Katanya, SD Negeri Mengebelakangkan Pelajaran Agama

Ini yang kemarin bikin aku sedikit was was. Bener gak sih begitu? Atau cuma hoax?

Rasanya kok enggak mungkin ya, semua guru yang berjilbab itu mengebelakangkan nilai agama dalam keseharian anak-anak?

Ternyata salah besar. SD Negeri tempat Pica belajar sangat peduli dengan nilai Agama. Dalam seminggu, ada 2 kali pelajaran Agama dan Al Qur’an. Yah, memang tidak ada target hapalan layaknya SD Islam sih. Tapi sesungguhnya disitulah nilai plusnya. Kenapa? Hmm.. Kuakui ya.. Pica itu kemampuan auditorinya sedikit rendah. Dia sangat sulit menghapal. Aku tidak bisa membayangkan jika setiap minggu ada target hapalan. Bisa-bisa akulah yang bertanduk.. Hihi..

Setiap jum’at ada jadwal khusus bahkan. Dan seragamnya menyesuaikan. Ada jum’at senam, jum’at taqwa dan jum’at asmaul husna. Anak-anak disuruh berseragam putih-putih jika jadwal jum’at taqwa. Setiap sebelum dan sesudah belajar, anak-anak selalu disuruh berdoa. Menurutku, itu sudah sangat cukup untuk pembelajaran agama setiap harinya. Disamping itu, setiap sore Farisha selalu aku antar mengaji.

Agama tetap menjadi pelajaran nomor satu bagi kami, walau anak hanya sekolah di SD Negeri biasa.

3. Katanya, Kognitif anak menjadi standar penilaian utama dalam rangking

Benarkah? Nyatanya, setelah melewati satu semester ternyata aku speechless.

No rangking!

Ya.. Gak ada sistem rangking disini. Dan itu buat aku sangat lega. FYI, Pica waktu TK aja pakai rangking loh. Bayangkan berapa senangnya aku saat mengetahui gak ada sistem rangking disini.

Artinya, kemampuan kognitif bukan hal utama dalam memandang kecerdasan anak. Bahkan, guru Farisha itu baik sekali. Beliau berkata untuk jangan pernah membandingkan nilai raport anak dengan anak lainnya. Semua anak baik. Semua anak spesial. Beruntung sekali aku bertemu dengan guru tipe seperti itu untuk Farisha.

Bukan Berarti SD Negeri adalah Pilihan yang Terbaik Loh!

Aku menulis tentang SD Negeri bla bla bla.. Bukan berarti aku mengklaim bahwa SD Negeri adalah yang terbaik. Bukan.. Bukan begitu.. Jadi please.. Tidak ada mom war soal sekolah begini ya.. Hihi.. Peace!

SD Negeri hanya pilihan terbaik untuk anak kami. Dalam kondisi seperti kami. Yang tentunya sudah detail dituliskan alasannya diatas. Pilihan kalian? Belum tentu SD Negeri yang paling baik. Apalagi lingkungan kita tidak sama. Jadi, jangan disamakan.

Kalaupun secara kondisi lebih memungkinkan untuk menyekolahkan anak di SD Islam, ya tidak apa-apa. Siapa bilang SD Islam tidak baik? Baik semua kok. Asaaaal jangan lupa untuk survei dan menyesuaikan dengan kondisi kita sendiri. Oke?

Karena pendidikan anak itu investasi. Efeknya jangka panjang. Apalagi untuk sekolah SD yang lamanya 6 tahun. Selain mementingkan satu faktor, kita juga harus jeli dengan faktor lainnya. Dan jangan lupa selalu diskusikan dengan suami soal memilih sekolah anak. Karena tanpa kata ‘sepakat’ apalah artinya idealisme seorang mama.

Yup? Happy Parenting Moms!

Ketika Anak Pertama dan Kedua Terlihat Berbeda

Ketika Anak Pertama dan Kedua Terlihat Berbeda

“Wah, si Humaira ini kok gak mirip sama kakaknya ya?”

“Iya nih. Kakaknya item. Si Humaira kayak Cina.. “

“Tapi Humaira mungil ya. Beda sama Kakaknya dulu yang super montok. Hihi.. “

Aku senyum-senyum mendengar komentar orang tentang Farisha dan Humaira. Memang kedua kakak beradik ini terlihat sekali perbedaannya. Mungkin, beberapa orang akan terkejut jika tau keduanya bersaudara. Karena secara fisik keduanya terlihat berbeda.

Bukan hanya secara fisik, tapi perbedaannya juga terlihat dari sisi-sisi lainnya. Dan yang paling menonjol adalah motoriknya. Humaira jauh lebih lincah dibandingkan dengan Farisha sewaktu seumur dengannya. Nada suara mereka berdua sewaktu kecil pun berbeda. Humaira lebih nyaring dan ekspresif dalam bersuara, sedangkan Farisha lebih kalem dan merdu.

So far, aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan Farisha dan Humaira. Menurutku keduanya sama-sama spesial. Aku juga hanya senyum-senyum saja kalau ada yang bilang bahwa Humaira jauh lebih cantik.

Tapi, masalah itu datang ketika Farisha mendengar celotehan perbedaan itu langsung dari telinganya. Kupikir, awalnya dia biasa saja. Hmm.. Ternyata sepertinya aku salah.

Mama, Kenapa Kulitku Lebih Hitam dari Humaira?

Ini adalah body shaming pertama yang Farisha dapatkan. Ketika ia menyadari bahwa  kulitnya lebih hitam dibanding adiknya dari celotehan orang-orang. Bahkan ia juga merasa bahwa bibir Humaira lebih pink dan tipis. Ditambah lagi setiap orang yang datang ke rumah memang selalu bilang bahwa, “Humaira Cantik.. ” Tanpa menghiraukan kehadiran si Kakak yang sama-sama berada di rumah.

Disitulah naluri keibuanku terasa sedikit tidak nyaman. Karena hei…

Sesungguhnya aku pun pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil dulu. Ingatanku lalu menggali kenangan lama yang sudah lama aku tutupi. Entah kenapa, aku merasa kenangan itu mungkin akan bermanfaat bagi Farisha.

Dan suatu malam, ketika Farisha ingin tidur.. Aku mendapatinya sedikit terisak. Ia melihatku menyusui Humaira sambil berusaha terlihat baik-baik saja.

Tapi aku tau.. Farisha sedang tidak baik-baik saja.

Sebuah Kenangan Lama, Tentang Cerita Anak Itik yang Jelek

“Pica kenapa? Sedih ya? Sedih kenapa?” Kataku pura-pura ingin tahu.

“Pica bingung..”

“Bingung kenapa Pica?”

“Bingung kenapa kulit Humaira putih, rambut Humaira hitam dan lurus. Bibir Humaira Pink. Humaira sering dibilang bayi cina. Tapi kenapa Pica berbeda?”

Aku tersenyum pada Pica. Tidak bisa berkata apa-apa. Bagiku, Pica sudah jujur pun adalah hal yang patut aku apresiasi. Aku hanya bisa memeluknya. I feel u.. Pica.

“Pica, tau gak sih Pica ini mirip sama siapa?”

“Kata orang mirip Abah ma.. Tapi Abah kulitnya Putih.. “

Aku lalu tersenyum pada Pica. Kemudian berkata, “Pica itu mirip Mama.. Mama dulu waktu kecil juga mirip sama pica. Jauh lebih jelek bahkan.. “

“Masa sih ma? Tapi mama gak sehitam Pica.. “

“Mama dulu sehitam Pica. Dan muka mama waktu kecil mirip banget sama Pica”

Aku lalu memperlihatkan foto kecilku pada Farisha. Sontak Farisha terkejut lalu tertawa..

“Ini mama? Kok beda banget?”

“Serius ini mama. Ini mama waktu TK. Masih lebih cantik Farisha kan?”

“Tapi, mama waktu kecil sering dibilang jelek lah sama temen-temen mama?”

“Sering.. Mama sering enggak ditemani. Makanya dulu mama cuma punya nenek buat jadi teman mama. Mama dulu juga sering dibilang monyet karena kulit mama penuh bulu. Bahkan waktu sudah besar, tahi lalat mama yang gede dimuka ini sering jadi bahan bullyan. Katanya muka mama kotor sampai ada lalat yang ee disitu.. Hahahaha”

Pica pun langsung tertawa geli. Ia bertanya lagi, “Tapi kenapa mama terlihat berbeda sekali sekarang?”

“Itulah namanya teori evolusi. Pica tau cerita anak itik yang jelek bukan?”

“Itik yang berubah jadi angsa waktu sudah besar?”

“Iya. Kita para perempuan.. Akan mengalami setidaknya 3 kali perubahan dalam kehidupan. Dan perubahan pertama dimulai pada masa pubertas.”

“Apa itu mama?”

“Itu adalah tahapan dimana manusia mulai belajar untuk dewasa.. “

“Jadi, kalau sudah mau dewasa itu otomatis jadi cantik ya ma?”

“Bukan Pica. Ketika orang sudah mulai dewasa.. Dia punya sesuatu yang membuat dirinya berubah menjadi lebih baik.. “

“Apa itu Ma?”

Tentang Mensyukuri dan Mencintai Diri Sendiri

Aku terdiam mendengar pertanyaan Farisha. Kemudian mengingat masa remajaku dulu. Saat aku duduk di kelas 2 SMP.

Salah seorang teman lelakiku tertawa melihat kaos kakiku yang panjangnya hampir selutut. Di kelasku saat itu, hanya aku yang suka sekali memakai kaos kaki panjang. Bukan tanpa alasan aku memakainya. Aku memakainya karena kakiku penuh dengan bulu. Itulah kondisi spesialku. Aku adalah perempuan paling berbulu di sekolah. Dan itu sangat membuatku tidak percaya diri.

“Dia bahkan punya kumis.. Hahaha.. ” Sorak salah seorang temanku

“Lihat, bulu kakinya bahkan tembus dari kaos kaki.. ” Sorak temanku yang lain.

Mereka bilang padaku bahwa itu hanya bercanda. Tapi serius, aku tidak mengerti dimana sisi lucunya. Sumpah, saat itu ingin sekali aku mengambil silet dan merontokkan semua bulu yang ada di badanku. Tapi, jika ingat pesan Ayahku.. Semuanya aku urungkan. Ayahku bilang bahwa, “Perempuan berbulu adalah Satu dari seribu perempuan paling beruntung di dunia..”

Dan aku mempercayai hal itu. Aku menunggu sebuah keberuntungan datang setiap hari. Dari semua bully, aku yakin ada seseorang yang memujiku.

Ialah teman pertamaku. Gadis putih berambut tipis dengan mata sipit layaknya cina. Ia berkata padaku, “Alismu tebal banget. Rambutmu juga. Aku mau punya alis dan rambut seperti kamu.. “

Kata-katanya, bagaikan segelas air es di gurun pasir. Ingin rasanya aku mengambil kaca segera. Dan saat itu, aku hanya bisa nyengir kuda sambil tersipu malu. Singkatnya, kami berteman.

Si putih dan si sawo matang.
Si sipit beralis hampir zonk.. Dan si alis tebal.
Si rambut merah buntut kuda.. Dan si rambut hitam lurus dan tebal.
Si mungil dan si jangkung..
Dan jangan lupa.. Si kulit mulus.. Dan si kulit penuh bulu.

Persahabatan yang benar-benar berlawanan fisik. Tapi kami sangat akrab. Kami akrab karena perbedaan itu. Kami saling iri terhadap fisik masing-masing. Kami saling memuji dan itulah sisi yang menyenangkan.

Yah. . Kisah Farisha dan Humaira mengingatkanku pada persahabatan itu. Aku tau betul apa yang dirasakan oleh Farisha. Ia haus akan pengakuan dan pujian. Aku pun menceritakan cerita persahabatanku. Dan Farisha langsung nyeletuk..

“Pasti banyak yang mau berteman sama teman mama tuh.. “

“Enggak. Temannya cuma mama..”

“Dulu banyak lah yang suka sama mama?”

“Seiring dewasa.. Mama tidak mempermasalahkan lagi tentang banyak yang suka atau tidak. Ada satu hal yang lebih penting dibanding ‘banyak yang suka’ pica..”

“Apa itu ma?”

“Pica harus mencintai diri sendiri..”

“Tapi pica mau putih juga kayak Humaira.. Mau bibirnya pink juga..”

“Pica cantik kok. Kulit pica bersih. Pica tinggi. Pica alisnya tebal. Bulu matanya lentik. Dan Pica juga pintar mewarnai. Pica juga mulai pintar bercerita dan menulis. Buat mama, Pica itu spesial.. Biarkan orang bilang Pica gak secantik Humaira. Buat mama, Pica kakak yang keren.. “

Pica terdiam mendengarku.

“Lihatlah suatu hari nanti. Pica pasti akan bertemu dengan seseorang yang menghargai apa yang ada pada diri pica. Asal.. Pica percaya diri. Jangan minder. “

Karena Mama Tau, Kedua Anak Mama Spesial

Kupikir, aku perlu julukan untuk kedua anakku. Aku perlu melakukan sesuatu untuk membuat mereka merasa spesial. Agar mereka bangga pada apa yang mereka miliki. Bangga dengan kekurangan, maupun kelebihannya.

Untuk Si sulung, anak yang memiliki kulit hitam manis juga bakat visual yang bagiku sudah luar biasa.. Aku menjulukinya Si Tangan Kreatif.

Aku percaya suatu hari nanti kreativitasnya akan dihargai. Percaya bahwa tangannya ajaib. Bahwa apapun yang dia sentuh, akan memiliki fungsi yang lebih baik. Bahwa apapun yang dia sentuh, akan menjadi lebih indah. Jadilah dirimu sendiri Pica. Mama percaya Pica penuh dengan kejutan.

Baca juga: Tentang Hobi Mewarnai Pica, Terima Kasih Sudah Menjadi Anak yang Membanggakan

Untuk Humaira, anakku yang sangat ceria dan aktif. Bahkan aku mengakui sendiri bahwa ia 2 kali lipat lebih lincah dibanding kakaknya dulu. Motoriknya berkembang pesat. Ia bahkan hobi sekali berjoget ria sendiri. Mungkin aku perlu menjulukinya Anak Periang. Karena apapun yang dilakukannya di rumah ini, selalu membuat kami tertawa.

Hei anak-anak perempuanku, kalian memang berbeda. Tapi mama tau, kalian spesial. ❤

Tumbuh Gigi dan Drama Menggigit Si Kecil serta Cara Menjaga Kebersihannya

Tumbuh Gigi dan Drama Menggigit Si Kecil serta Cara Menjaga Kebersihannya

“Humaira.. Kok digigit melulu sendoknya.. Yuk makan lagi yuk..”

Dan Si kecil Humaira hanya tertawa melihatku sambil menggigit sendok makannya sekuat tenaga.. 

Drama Menggigit si Kecil yang Membuat Mamak Pusing

Setelah drama GTM berakhir, si kecil Humaira kembali membuat drama baru dalam kehidupanku. Dan itu dimulai sejak gigi bawahnya mulai tumbuh satu. 

Awalnya, dia hanya menggigit payudara. Sebenarnya itu cukup ngilu dan sakit. Tapi hal yang lebih menyeramkan lagi adalah ketika dia berlari kesana kemari dan memasukkan segalanya kemulutnya. Ya ampun.. “She want to bites everything”

Ya.. Si kecil Humaira yang berumur 9 bulan itu sudah lincah merangkak kesana kemari. Dia sudah mulai protes jika aku selalu menggendongnya. Bahkan, kini dia sudah tidak mau lagi makan di kursi makannya. Dia ingin makan sambil merangkak dan bereksplorasi. Sayangnya, eksplorasi si kecil ini bukan eksplorasi biasa. Mari menyebutnya Eksplorasi Oral. Hahaha

Bayangkan saja, jika dia bertemu buku pasti dia gigit. Jika bertemu boneka dia tersenyum meniru ekspresi boneka.. Tapi kemudian pasti digigit. Yang paling ekstrim adalah saat dia melihat kucing tertidur. Dia akan langsung menarik buntut si kucing, lantas kemudian ingin memasukkannya ke mulutnya. 

Disitulah kewarasanku diuji.. Huft.. 

Pentingnya Menjaga Kebersihan di 1000 hari Pertama si Kecil

Peer besar saat si kecil mengalami fase oral begini bukan pada ‘kapan ia akan berhenti menggigit atau bagaimana menghentikan fase ini’. Fase menggigit seperti ini adalah fase yang wajar. Peer sebenarnya adalah Bagaimana aku bisa menjaga kebersihannya? Dia bahkan bisa merangkak begitu cepat jika melihat hal yang menarik. Rasanya sungguh kewalahan untuk terus menjaganya sementara setumpuk tugas domestik di rumah masih melambai-lambai. 

Iya.. Mamak kan gak punya ART genks.. 

Padahal, pada fase seperti ini penting sekali untuk menjaga kebersihan si kecil. Terutama segala yang masuk kedalam mulutnya. Karena itu akan mempengaruhi kesehatan pencernaannya. Please.. Humaira masih berumur 9 bulan dan itu adalah fase Golden Age. Yang mana 1000 hari pertamanya ini akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya kelak.

“Peralatan yang digunakan untuk bayi dan balita juga harus terjaga kebersihannya, tidak hanya peralatan untuk makan dan minum, tetapi juga peralatan lain seperti baju, celana, buah dan sayur bayi dari kuman dan bakteri akan membantu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh bayi sehingga tumbuh dan berkembang dengan baik,”


(Dr. Rini Sekartini, SPAk)

Kan? Berarti segala yang dimasukkan Humaira kedalam mulutnya itu paling tidak haruslah bersih. Dari dotnya hingga peralatan makannya tak lupa pula segala mainan yang sering dia gigit. Karena itu akan berpengaruh pada kesehatannya. FYI, Humaira sudah terserang batuk dan pilek sejak fase menggigit yang ekstrem ini. Mungkin karena aku sedikit lengah dengan kebersihan. Hiks

Cara Menjaga Kebersihan Si Bayi yang Sedang Hobi Menggigit

1. Belikan Bayi Teether yang Menarik

Dari zaman punya anak pertama, aku selalu membelikan teether atau gigitan bayi ketika fase menggigit. Karena konon gusi bayi pada fase ini gatal, sehingga ia suka sekali menggigit sesuatu yang kenyal. 

Kalau bisa, belikan bayi teether dengan mengajaknya ke toko peralatan bayi. Ini serius. Biarkan dia memilih teethernya sendiri. Karena dari pengalamanku, jika ia tak memilihnya sendiri maka besar kemungkinan teether itu tidak terpakai. Karena tiap bayi punya selera yang berbeda. 

Aku sendiri mengajak Humaira untuk memilih teethernya sendiri. Dan ternyata dia suka melihat teether berwarna pink. Aku pun membelikannya beserta dengan mainan yang lain. 

Memberikan teether begini punya dampak positif untuk menjaga kebersihan loh. Bayangkan saja kalau si kecil menggigit apapun yang ditemuinya. Sementara ‘apapun’ itu belum tentu bersih kan? Kalau hanya teether saja kan gampang dibersihkan. 

Hmm.. Tapi bagaimana kalau si kecil bereksplorasi keseluruh ruangan di rumah? 

2. Berikan Ruangan Khusus untuk Bayi bermain

.. Ya beri saja ruangan khusus untuknya bermain.. 

Kalau punya ruangan nganggur, ada baiknya jika ruangan itu untuk si kecil saja. Pada fase suka menggigit ini, bayi butuh ruangan khusus untuk bereksplorasi. Karena please deh ya.. Kalau semua ruangan jadi tempat eksplorasi bayi maka ‘mamak tidak bisa pencitraan’. Karena ruang tamu adalah salah satu ruang pencitraan ‘sok bersih dan rapi’ bagi emak.. Hahaha

Aku sendiri memutuskan untuk mengosongkan ruangan di dekat dapur. Aku biarkan dia merangkak dan bereksplorasi sendiri disana. Tidak khawatir dengan terbengkalainya tugas domestik juga, karena ruangannya berdekatan dengan dapur. Aku bisa sambil memasak di dekatnya. 

Biasanya, ruangan untuk eksplorasi ini hanya aku isi dengan teether, buku bayi dan mainan  yang bisa dicuci lainnya. 

Dan jauhkan si kecil dari mainan super mungil yang bisa saja masuk dalam mulutnya. Sumpah.. Ini bahaya banget. 

3. Bersihkan Mainan dan Peralatan Bayi lainnya Memakai Sabun Pembersih Khusus untuk Bayi

Nah, ini solusi yang super duper penting banget. 

Tadi aku cerita kan kalau Humaira sempat pilek dan batuk? Kalian tau gak kira-kira apa penyebabnya? 

Kalau aku boleh menebak sih, salah satu alasannya karena aku lengah dengan kebersihannya.

Ceritanya, dua minggu yang lalu.. aku mengajak Humaira ke rumah neneknya. Dan aku benar-benar lupa untuk membawa hal yang penting. Yaitu, sabun Pembersih peralatan bayi. 

Tadinya sih aku mau enjoy aja. Masa sih karena masalah sabun aja bikin macam-macam. Eh ternyata aku salah. Pasca pulang dari rumah nenek, Si Humaira langsung pilek dan batuk. Huhu.. 

Ternyata, aku memang gak boleh ketinggalan bawa Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser. Iya, aku percayakan kebersihan anakku dari yang pertama sampai yang kedua ini sama Sleek. 

Dari Humaira Bayi dan ASI aku masih super seret.. Aku selalu membawa Pompa ASI dan Sleek kemana saja. 

Dari Botol ASIP, Dot, serta peralatan MPASI aku selalu mempercayakan kebersihannya dengan memakai Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser. 

Hingga Humaira dalam fase menggigit ini pun.. Aku selalu memakai Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser untuk membersihkan semua mainan dan teether-nya. Pokoknya, terpakai banget dan please jangan lupa lagi deh dibawa. Karena sepenting itu punya sabun pembersih yang food grade. 

Oya, Sleek ini mengandung Stain Removal Formula. Jadi, dapat menghilangkan sisa lemak susu dan bau yang menempel pada peralatan botol bayi. Hayo.. Siapa kemaren yang mengaku cheating menyiapkan MPASI bayi dengan memberinya teether terlebih dahulu? Ngaku deh ngaku.. *malu.. 

Jadi, teether Humaira itu rata-rata dicuci 3x sehari. Karena saat makan, dia pasti sambil menggigit teethernya. Kalau diibaratkan dengan kelakuan orang dewasa.. Mungkin dia pikir teether itu kerupuk.. Haha.. 

Tapi aku enggak worried. Karena kalau dicuci dengan Sleek, baunya hilang loh. Selain efektif untuk menghilangkan lemak dan bau, 

Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser juga hadir dengan Formula Baru. Sleek kini dilengkapi dengan 8 Proteksi yang pastinya membuat kebersihan peralatan bayi lebih aman. 

Nah, itu dia pengalamanku dalam menghadapi drama si kecil yang suka menggigit apa saja. Fase ini adalah fase yang sangat normal loh. Kita tidak bisa melarang si kecil untuk bereksplorasi dengan mulut kecilnya itu. Yang bisa kita lakukan adalah menjaganya dan memperhatikan kebersihannya. Iyakan? Kalau moms yang lain bagaimana nih? Punya pengalaman seru juga gak dengan drama si kecil yang suka menggigit? 

Yuk, kunjungi sosial media Sleek untuk tahu lebih banyak.. 

Fb: Sleek Baby

Ig: sleekbaby_id

#SleekBaby #SleekBabyAlamiMelindungi #SleekBaby8Protection #1000HariPertama 

#PerlengkapanBayi #ProdukBayi #BayiBaruLahir #PembersihBotol 


IBX598B146B8E64A