Browsed by
Category: Parenting

Ternyata, Sekolah Negeri Itu Gak Seram Kok!

Ternyata, Sekolah Negeri Itu Gak Seram Kok!

“Gimana sekolah negeri disana win, ceritain dong!”

Itulah perkataan temanku beberapa hari yang lalu. Ia bertanya kepadaku karena sepertinya ia sendiri sedang ‘galau’ ingin menyekolahkan anaknya dimana. Pilihannya ada 3 yaitu SD Islam, SD alam, dan SD negeri. Ia yang terkenal berkarakter perfeksionis itu mulai survei beberapa SD disini dan tak kunjung menemukan titik yang benar.

Sebenarnya, akupun juga gak mau langsung menyarankannya untuk sekolah di SD yang sama dengan Pica. Trauma pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming membuatku takut sekali berkata-kata atau bahkan ingin menyarankan sesuatu. Takutnya, itu menjadi jenis toxic positively. Jadi yaa.. Aku jelaskan dengan deskripsi seadanya saja saat dia bertanya.

Namun, bukan aku namanya kalau tidak tergelitik menulis di blog ketika banyak pertanyaan yang menyudutkan. Di dunia nyata aku hanya bisa ber hehe hehe binggung dan awkward menjelaskan. Tapi jariku sebenarnya gatal ingin menjelaskan panjang lebar mengenai pengalaman Farisha bersekolah disini.

Dan yaaa… Mari tulis tentang sekolah anak hari ini..

Kenapa Pilih Sekolah Negeri?

Banyak yang bertanya padaku, “Kenapa tidak masukkan Pica ke SDIT yang dekat dengan komplek rumahmu saja?”

Well, banyak alasan kenapa tiba-tiba aku hanya mendaftarkan anakku di SD Negeri saja. Salah satunya karena aku sudah terlalu banyak survei dan sedikit pusing. Haha..

Serius. Farisha sudah berkeliling ikut lomba mewarnai yang diadakan beberapa SDIT di daerah kami untuk promosi. Dari situ, aku sudah sedikit survei dengan kondisi sekolah serta karakter guru-guru dari sekilas pandang. Aku juga sedikit survei dengan melihat perilaku para siswa yang bersekolah disana.

Entah kenapa, dari 5 SDIT.. Hanya satu SDIT yang menarik perhatianku. Dan sayang sekali lokasinya sangat jauh dari rumah. Sangat tidak memungkinkan dengan kondisiku yang memiliki bayi untuk mengantar jemput.

Apa? Lulusan SDIT berpikiran sempit  kurang rasa toleransi?

Oh lupakan. Aku termasuk yang tidak percaya hal itu.

Memang, ada beberapa SDIT yang sedikit kurasa nyaman bahasanya. Tapi, prinsipku dalam menilai promosi sekolah itu simple.. Kalau dalam bahasanya ada yang menjatuhkan SD lain maka aku akan mencoret SD tersebut. Entah kenapa, feelingku merasa kurang nyaman untuk menyekolahkan anak disana.

Jadi, hal-hal positif yang membuatku hanya menyekolahkan anak di SD Negeri saja diantaranya adalah:

1. Pertimbangan Ekonomi

Suamiku Dosen PNS, dan belum memperoleh sertifikasi. Berapa gajihnya? 3,8 juta.

Hitung dan hitung. Diriku tidak bekerja, sementara Mama suami adalah seorang janda dan masih memiliki beberapa anak yang masih butuh biaya. Gajih suami harus dibagi dua. Sementara? Cicilan rumah kami juga ada. Dan jangan lupa anak sulungku si Pica yang ingin masuk SD kemarin memiliki seorang adik bayi.

Silahkan dihitung berapa sisa jatahku dalam satu bulan. Hihihi..

Jelas, kami tidak memiliki budget berlebih untuk menyekolahkan anak di SDIT yang biayanya hampir sama dengan jatah makan keluarga dalam setengah bulan. Memang, suamiku adalah programmer dan memiliki usaha sampingan. Tapi, keuntungan dari usaha itu sudah memiliki pos-pos pengeluaran yang lain.

Yah, jika kalian pernah membaca tulisanku tentang mengatur keuangan ala shezahome, maka tentu kalian mengerti bahwa keluarga kami tergolong sangat irit dan hati-hati dalam belanja.

Kami bahkan membagi fase ekonomi keluarga dalam 3 fase. Pertama, fase ekonomi pembangunan. Kedua, fase ekonomi investasi. Dan ketiga, fase ekonomi berdaya.

Kami memiliki banyak impian. Dan menyekolahkan anak di SD Negeri saja bukan berarti kami tidak peduli dengan investasi pendidikan. Melainkan kami berpikir realistis. Bahwa dalam fase ekonomi pembangunan dimana cicilan rumah saja belum lunas.. Akan terasa lebih waras dan sejahtera jika biaya sekolah anak tidak terlalu membebani.

2. Pertimbangan Lingkungan

Ketika kita menyekolahkan anak di SD, bukan hanya sistemnya yang kita pedulikan, tapi juga lingkungannya.

Bagaimana Gurunya? Bagaimana perkembangan perilaku dan sosial rata-rata murid disana? Lingkungan mana saja yang menyekolahkan anak disana? Termasuk kategori apa lingkungannya tersebut?

Jika kita memutuskan menyekolahkan anak di lingkungan yang isinya banyak anak-anak orang kaya, maka kita harus bersiap-siap akan kemungkinan biaya ekstra.

Biaya itu adalah biaya penerimaan sosial. Sudah memperhitungkan biaya ini? Percayalah biaya ini nyata adanya. Hahaha.

Sekolah Farisha aku pilih berdasarkan rekomendasi teman-teman yang aku percayai. Dimana aku sudah survei lingkungan disana.

FYI, Beberapa SD Negeri disini tidak semuanya bagus tentu. Ada SD Negeri yang tumbuh di lingkungan yang ‘hmm.. Begitu deh.. ‘. Sehingga sangat mengkhawatirkan jika aku menyekolahkan anak disana mungkin ia juga akan terpengaruh lingkungan. Aku pernah survei ke suatu SD dimana para muridnya berkata-kata kasar dan tidak senonoh.

Jadi, baik itu SD Negeri.. SD  Islam.. SD Alam.. Sangat penting untuk memperhatikan faktor lingkungan ini ya. Karena jika sistemnya bagus, gurunya bagus tapi lingkungannya tidak bagus maka anak akan sangat mungkin masuk ke pergaulan yang tidak bagus. Atau, anak yang terkumpul dalam lingkungan anak-anak orang kaya juga harus sangat dipikirkan. Tidak mau kan anak berakhir minder dan tidak percaya diri hanya karena ia tidak memiliki ‘sesuatu’ yang rata-rata dimiliki anak lainnya?

3. Pertimbangan Kemampuan Anak

Di tempatku, untuk masuk ke SD Negeri itu pakai tes. Dan dibeberapa SD tes masuknya tidak dalam standar dinas pendidikan.

Iya, katanya SD dilarang melakukan tes membaca untuk syarat masuk. Nyatanya, memang itu dilakukan kok. Terlebih jika SD tersebut adalah SD Negeri favorit yang jumlah pendaftarnya ‘bejibun’. Untuk menyeleksi pendaftarnya.. Terpaksa dilakukan tes membaca dan menulis juga.

Akhirnya yang masuk ke SD tersebut memang rata-rata adalah anak pintar yang sudah bisa membaca dan menulis juga menjawab pertanyaan dengan baik dan lancar. Apakah anak siap dengan persaingan tersebut? Itu yang harus jadi pertimbangan terakhir. Karena mengingat pelajaran SD level sekarang memang sangat dibutuhkan kemampuan bisa membaca dari kelas 1.

4. Pertimbangan Waktu Pulang

Penting gak sih? Bagiku ini penting sih.. Haha..

SD Negeri itu pulangnya cepat. Jam 11 sudah pulang. Hanya hari-hari tertentu saja yang pulang jam 12. Dan itu karena ada pelajaran tambahan atau les. Setiap hari sabtu bahkan anak-anak pulang jam 10.40 WITA.

Menurutku, ini penting banget karena Farisha anaknya agak pembosan. Jadi mungkin kalau terlalu lama sekolah wajahnya akan berubah menjadi begini . Disamping itu, Farisha sudah biasa makan siang hangat di rumah. Jadi kalau sangu bekal makan siang, selain aku yang repot.. Dia sebenarnya kurang suka. Haha.

Farisha juga biasa tidur siang setiap hari. Menurutku ini penting sih. Anak harus istirahat siang. Jadi kalau sore hari dia bisa semangat mengaji atau bermain.

5. Pertimbangan Lokasi

Ini nih.. Super penting.

Sebenarnya, ada SD Islam yang sangat cocok di hati. Bahkan saat pertama kali menjejak di tanahnya saja aku sudah jatuh cinta. Apalagi, mendengar tata bicara ustadzahnya yang menyejukkan hati. Ah, ini SD impian. Walau budgetnya tinggi pun ingin rasanya mengusahakan anak masuk disana.

Tapiiii… SD nya jauh sekaliii dari rumah. Yah, masa aku harus bawa kendaraan bolak balik setiap hari untuk mengantar Farisha? Ingat loh, aku punya bayi. Aku bahkan setiap hari antar jemput Farisha memakai gendongan dan berkendara sendirian. Kalau dengan jarak super jauh begitu, bisa-bisa bayiku masuk angin dibuatnya.

Sekolah Negeri di sini Enggak Seram Kok

Sudah satu semester Pica sekolah di SD ‘bla bla’. Aku yang awalnya khawatir dan agak ‘gimana’, perlahan-lahan mulai menjalaninya dengan enjoy saja. Apalagi kalau setiap hari mendengar Farisha bercerita semangat tentang sekolahnya. Aku jadi semakin santai dan selalu berkata Alhamdulillah.

Mitos-mitos tentang seramnya SD Negeri itu perlahan terbantahkan. Nyatanya, Farisha enjoy menjalaninya.

Iya, jadi dulu aku juga termasuk yang termakan mitos-mitos seram tentang anak zaman now yang masuk SD Negeri jadi begini.. begitu.. Sampai nangis-nangis bombay meronta-ronta sama suami buat menyekolahkan anak di SDIT saja. Nyatanya, hampir semua mitos jelek tentang SD Negeri terbantahkan.

Mitos apa saja? Kek begini nih

1. Katanya, Pelajaran SD Negeri itu Seram

Seram katanya. Konon pelajarannya bisa ‘menggigit otak’. Wkwk.. Sampai akunya parno sendiri.

Nyatanya? Biasa aja sih. Bahkan sebenarnya aku suka dengan sistem tematik begini. Anak jadi enggak tau betapa menyebalkannya mata pelajaran matematika. Karena gak ada namanya buku matematika. Haha. Pokoknya, kalau Pica ada kesulitan dengan pelajarannya dia cuma bilang begini.. “Susah ma, Pica gak ngerti sama tema anu halaman anu.. “

See? Gak ada label cerita ‘benci sama pelajaran matematika’. Menurut aku ini efeknya positif sih. Sejauh ini, Farisha tidak pernah merasa seram dengan pelajaran di SD. Malah dia sangat senang dibandingkan TK dulu. Yaah.. Dulu aku salah masukin sekolah TK genks, jadi ya gitu deh.

Satu hal sih yang benar. Paling enggak anak harus bisa membaca saat masuk SD Negeri. Karena sudah standarnya begitu. Kalau belum bisa membaca, maka anak akan sangat kesulitan. Dan ia akan sangat ketinggalan dibanding teman-teman lainnya.

Baca juga: Suka Duka Mengajari Anak Membaca

Pica pernah bercerita padaku tentang temannya yang belum bisa membaca. Ia sepertinya dimasukkan ‘lewat belakang’. Kasihan sekali. Apalagi ketika ulangan harian tiba. Temannya kelabakan dan bisa menangis. Seramnya disini sih. Memang harus diakui bahwa pelajaran kelas 1 SD zaman sekarang, sudah hampir sama dengan level kelas 3 SD zaman dulu. Jadi, dilihat juga kemampuan anaknya.. Apakah ia mampu?

2. Katanya, SD Negeri Mengebelakangkan Pelajaran Agama

Ini yang kemarin bikin aku sedikit was was. Bener gak sih begitu? Atau cuma hoax?

Rasanya kok enggak mungkin ya, semua guru yang berjilbab itu mengebelakangkan nilai agama dalam keseharian anak-anak?

Ternyata salah besar. SD Negeri tempat Pica belajar sangat peduli dengan nilai Agama. Dalam seminggu, ada 2 kali pelajaran Agama dan Al Qur’an. Yah, memang tidak ada target hapalan layaknya SD Islam sih. Tapi sesungguhnya disitulah nilai plusnya. Kenapa? Hmm.. Kuakui ya.. Pica itu kemampuan auditorinya sedikit rendah. Dia sangat sulit menghapal. Aku tidak bisa membayangkan jika setiap minggu ada target hapalan. Bisa-bisa akulah yang bertanduk.. Hihi..

Setiap jum’at ada jadwal khusus bahkan. Dan seragamnya menyesuaikan. Ada jum’at senam, jum’at taqwa dan jum’at asmaul husna. Anak-anak disuruh berseragam putih-putih jika jadwal jum’at taqwa. Setiap sebelum dan sesudah belajar, anak-anak selalu disuruh berdoa. Menurutku, itu sudah sangat cukup untuk pembelajaran agama setiap harinya. Disamping itu, setiap sore Farisha selalu aku antar mengaji.

Agama tetap menjadi pelajaran nomor satu bagi kami, walau anak hanya sekolah di SD Negeri biasa.

3. Katanya, Kognitif anak menjadi standar penilaian utama dalam rangking

Benarkah? Nyatanya, setelah melewati satu semester ternyata aku speechless.

No rangking!

Ya.. Gak ada sistem rangking disini. Dan itu buat aku sangat lega. FYI, Pica waktu TK aja pakai rangking loh. Bayangkan berapa senangnya aku saat mengetahui gak ada sistem rangking disini.

Artinya, kemampuan kognitif bukan hal utama dalam memandang kecerdasan anak. Bahkan, guru Farisha itu baik sekali. Beliau berkata untuk jangan pernah membandingkan nilai raport anak dengan anak lainnya. Semua anak baik. Semua anak spesial. Beruntung sekali aku bertemu dengan guru tipe seperti itu untuk Farisha.

Bukan Berarti SD Negeri adalah Pilihan yang Terbaik Loh!

Aku menulis tentang SD Negeri bla bla bla.. Bukan berarti aku mengklaim bahwa SD Negeri adalah yang terbaik. Bukan.. Bukan begitu.. Jadi please.. Tidak ada mom war soal sekolah begini ya.. Hihi.. Peace!

SD Negeri hanya pilihan terbaik untuk anak kami. Dalam kondisi seperti kami. Yang tentunya sudah detail dituliskan alasannya diatas. Pilihan kalian? Belum tentu SD Negeri yang paling baik. Apalagi lingkungan kita tidak sama. Jadi, jangan disamakan.

Kalaupun secara kondisi lebih memungkinkan untuk menyekolahkan anak di SD Islam, ya tidak apa-apa. Siapa bilang SD Islam tidak baik? Baik semua kok. Asaaaal jangan lupa untuk survei dan menyesuaikan dengan kondisi kita sendiri. Oke?

Karena pendidikan anak itu investasi. Efeknya jangka panjang. Apalagi untuk sekolah SD yang lamanya 6 tahun. Selain mementingkan satu faktor, kita juga harus jeli dengan faktor lainnya. Dan jangan lupa selalu diskusikan dengan suami soal memilih sekolah anak. Karena tanpa kata ‘sepakat’ apalah artinya idealisme seorang mama.

Yup? Happy Parenting Moms!

Ketika Anak Pertama dan Kedua Terlihat Berbeda

Ketika Anak Pertama dan Kedua Terlihat Berbeda

“Wah, si Humaira ini kok gak mirip sama kakaknya ya?”

“Iya nih. Kakaknya item. Si Humaira kayak Cina.. “

“Tapi Humaira mungil ya. Beda sama Kakaknya dulu yang super montok. Hihi.. “

Aku senyum-senyum mendengar komentar orang tentang Farisha dan Humaira. Memang kedua kakak beradik ini terlihat sekali perbedaannya. Mungkin, beberapa orang akan terkejut jika tau keduanya bersaudara. Karena secara fisik keduanya terlihat berbeda.

Bukan hanya secara fisik, tapi perbedaannya juga terlihat dari sisi-sisi lainnya. Dan yang paling menonjol adalah motoriknya. Humaira jauh lebih lincah dibandingkan dengan Farisha sewaktu seumur dengannya. Nada suara mereka berdua sewaktu kecil pun berbeda. Humaira lebih nyaring dan ekspresif dalam bersuara, sedangkan Farisha lebih kalem dan merdu.

So far, aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan Farisha dan Humaira. Menurutku keduanya sama-sama spesial. Aku juga hanya senyum-senyum saja kalau ada yang bilang bahwa Humaira jauh lebih cantik.

Tapi, masalah itu datang ketika Farisha mendengar celotehan perbedaan itu langsung dari telinganya. Kupikir, awalnya dia biasa saja. Hmm.. Ternyata sepertinya aku salah.

Mama, Kenapa Kulitku Lebih Hitam dari Humaira?

Ini adalah body shaming pertama yang Farisha dapatkan. Ketika ia menyadari bahwa  kulitnya lebih hitam dibanding adiknya dari celotehan orang-orang. Bahkan ia juga merasa bahwa bibir Humaira lebih pink dan tipis. Ditambah lagi setiap orang yang datang ke rumah memang selalu bilang bahwa, “Humaira Cantik.. ” Tanpa menghiraukan kehadiran si Kakak yang sama-sama berada di rumah.

Disitulah naluri keibuanku terasa sedikit tidak nyaman. Karena hei…

Sesungguhnya aku pun pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil dulu. Ingatanku lalu menggali kenangan lama yang sudah lama aku tutupi. Entah kenapa, aku merasa kenangan itu mungkin akan bermanfaat bagi Farisha.

Dan suatu malam, ketika Farisha ingin tidur.. Aku mendapatinya sedikit terisak. Ia melihatku menyusui Humaira sambil berusaha terlihat baik-baik saja.

Tapi aku tau.. Farisha sedang tidak baik-baik saja.

Sebuah Kenangan Lama, Tentang Cerita Anak Itik yang Jelek

“Pica kenapa? Sedih ya? Sedih kenapa?” Kataku pura-pura ingin tahu.

“Pica bingung..”

“Bingung kenapa Pica?”

“Bingung kenapa kulit Humaira putih, rambut Humaira hitam dan lurus. Bibir Humaira Pink. Humaira sering dibilang bayi cina. Tapi kenapa Pica berbeda?”

Aku tersenyum pada Pica. Tidak bisa berkata apa-apa. Bagiku, Pica sudah jujur pun adalah hal yang patut aku apresiasi. Aku hanya bisa memeluknya. I feel u.. Pica.

“Pica, tau gak sih Pica ini mirip sama siapa?”

“Kata orang mirip Abah ma.. Tapi Abah kulitnya Putih.. “

Aku lalu tersenyum pada Pica. Kemudian berkata, “Pica itu mirip Mama.. Mama dulu waktu kecil juga mirip sama pica. Jauh lebih jelek bahkan.. “

“Masa sih ma? Tapi mama gak sehitam Pica.. “

“Mama dulu sehitam Pica. Dan muka mama waktu kecil mirip banget sama Pica”

Aku lalu memperlihatkan foto kecilku pada Farisha. Sontak Farisha terkejut lalu tertawa..

“Ini mama? Kok beda banget?”

“Serius ini mama. Ini mama waktu TK. Masih lebih cantik Farisha kan?”

“Tapi, mama waktu kecil sering dibilang jelek lah sama temen-temen mama?”

“Sering.. Mama sering enggak ditemani. Makanya dulu mama cuma punya nenek buat jadi teman mama. Mama dulu juga sering dibilang monyet karena kulit mama penuh bulu. Bahkan waktu sudah besar, tahi lalat mama yang gede dimuka ini sering jadi bahan bullyan. Katanya muka mama kotor sampai ada lalat yang ee disitu.. Hahahaha”

Pica pun langsung tertawa geli. Ia bertanya lagi, “Tapi kenapa mama terlihat berbeda sekali sekarang?”

“Itulah namanya teori evolusi. Pica tau cerita anak itik yang jelek bukan?”

“Itik yang berubah jadi angsa waktu sudah besar?”

“Iya. Kita para perempuan.. Akan mengalami setidaknya 3 kali perubahan dalam kehidupan. Dan perubahan pertama dimulai pada masa pubertas.”

“Apa itu mama?”

“Itu adalah tahapan dimana manusia mulai belajar untuk dewasa.. “

“Jadi, kalau sudah mau dewasa itu otomatis jadi cantik ya ma?”

“Bukan Pica. Ketika orang sudah mulai dewasa.. Dia punya sesuatu yang membuat dirinya berubah menjadi lebih baik.. “

“Apa itu Ma?”

Tentang Mensyukuri dan Mencintai Diri Sendiri

Aku terdiam mendengar pertanyaan Farisha. Kemudian mengingat masa remajaku dulu. Saat aku duduk di kelas 2 SMP.

Salah seorang teman lelakiku tertawa melihat kaos kakiku yang panjangnya hampir selutut. Di kelasku saat itu, hanya aku yang suka sekali memakai kaos kaki panjang. Bukan tanpa alasan aku memakainya. Aku memakainya karena kakiku penuh dengan bulu. Itulah kondisi spesialku. Aku adalah perempuan paling berbulu di sekolah. Dan itu sangat membuatku tidak percaya diri.

“Dia bahkan punya kumis.. Hahaha.. ” Sorak salah seorang temanku

“Lihat, bulu kakinya bahkan tembus dari kaos kaki.. ” Sorak temanku yang lain.

Mereka bilang padaku bahwa itu hanya bercanda. Tapi serius, aku tidak mengerti dimana sisi lucunya. Sumpah, saat itu ingin sekali aku mengambil silet dan merontokkan semua bulu yang ada di badanku. Tapi, jika ingat pesan Ayahku.. Semuanya aku urungkan. Ayahku bilang bahwa, “Perempuan berbulu adalah Satu dari seribu perempuan paling beruntung di dunia..”

Dan aku mempercayai hal itu. Aku menunggu sebuah keberuntungan datang setiap hari. Dari semua bully, aku yakin ada seseorang yang memujiku.

Ialah teman pertamaku. Gadis putih berambut tipis dengan mata sipit layaknya cina. Ia berkata padaku, “Alismu tebal banget. Rambutmu juga. Aku mau punya alis dan rambut seperti kamu.. “

Kata-katanya, bagaikan segelas air es di gurun pasir. Ingin rasanya aku mengambil kaca segera. Dan saat itu, aku hanya bisa nyengir kuda sambil tersipu malu. Singkatnya, kami berteman.

Si putih dan si sawo matang.
Si sipit beralis hampir zonk.. Dan si alis tebal.
Si rambut merah buntut kuda.. Dan si rambut hitam lurus dan tebal.
Si mungil dan si jangkung..
Dan jangan lupa.. Si kulit mulus.. Dan si kulit penuh bulu.

Persahabatan yang benar-benar berlawanan fisik. Tapi kami sangat akrab. Kami akrab karena perbedaan itu. Kami saling iri terhadap fisik masing-masing. Kami saling memuji dan itulah sisi yang menyenangkan.

Yah. . Kisah Farisha dan Humaira mengingatkanku pada persahabatan itu. Aku tau betul apa yang dirasakan oleh Farisha. Ia haus akan pengakuan dan pujian. Aku pun menceritakan cerita persahabatanku. Dan Farisha langsung nyeletuk..

“Pasti banyak yang mau berteman sama teman mama tuh.. “

“Enggak. Temannya cuma mama..”

“Dulu banyak lah yang suka sama mama?”

“Seiring dewasa.. Mama tidak mempermasalahkan lagi tentang banyak yang suka atau tidak. Ada satu hal yang lebih penting dibanding ‘banyak yang suka’ pica..”

“Apa itu ma?”

“Pica harus mencintai diri sendiri..”

“Tapi pica mau putih juga kayak Humaira.. Mau bibirnya pink juga..”

“Pica cantik kok. Kulit pica bersih. Pica tinggi. Pica alisnya tebal. Bulu matanya lentik. Dan Pica juga pintar mewarnai. Pica juga mulai pintar bercerita dan menulis. Buat mama, Pica itu spesial.. Biarkan orang bilang Pica gak secantik Humaira. Buat mama, Pica kakak yang keren.. “

Pica terdiam mendengarku.

“Lihatlah suatu hari nanti. Pica pasti akan bertemu dengan seseorang yang menghargai apa yang ada pada diri pica. Asal.. Pica percaya diri. Jangan minder. “

Karena Mama Tau, Kedua Anak Mama Spesial

Kupikir, aku perlu julukan untuk kedua anakku. Aku perlu melakukan sesuatu untuk membuat mereka merasa spesial. Agar mereka bangga pada apa yang mereka miliki. Bangga dengan kekurangan, maupun kelebihannya.

Untuk Si sulung, anak yang memiliki kulit hitam manis juga bakat visual yang bagiku sudah luar biasa.. Aku menjulukinya Si Tangan Kreatif.

Aku percaya suatu hari nanti kreativitasnya akan dihargai. Percaya bahwa tangannya ajaib. Bahwa apapun yang dia sentuh, akan memiliki fungsi yang lebih baik. Bahwa apapun yang dia sentuh, akan menjadi lebih indah. Jadilah dirimu sendiri Pica. Mama percaya Pica penuh dengan kejutan.

Baca juga: Tentang Hobi Mewarnai Pica, Terima Kasih Sudah Menjadi Anak yang Membanggakan

Untuk Humaira, anakku yang sangat ceria dan aktif. Bahkan aku mengakui sendiri bahwa ia 2 kali lipat lebih lincah dibanding kakaknya dulu. Motoriknya berkembang pesat. Ia bahkan hobi sekali berjoget ria sendiri. Mungkin aku perlu menjulukinya Anak Periang. Karena apapun yang dilakukannya di rumah ini, selalu membuat kami tertawa.

Hei anak-anak perempuanku, kalian memang berbeda. Tapi mama tau, kalian spesial. ❤

Tumbuh Gigi dan Drama Menggigit Si Kecil serta Cara Menjaga Kebersihannya

Tumbuh Gigi dan Drama Menggigit Si Kecil serta Cara Menjaga Kebersihannya

“Humaira.. Kok digigit melulu sendoknya.. Yuk makan lagi yuk..”

Dan Si kecil Humaira hanya tertawa melihatku sambil menggigit sendok makannya sekuat tenaga.. 

Drama Menggigit si Kecil yang Membuat Mamak Pusing

Setelah drama GTM berakhir, si kecil Humaira kembali membuat drama baru dalam kehidupanku. Dan itu dimulai sejak gigi bawahnya mulai tumbuh satu. 

Awalnya, dia hanya menggigit payudara. Sebenarnya itu cukup ngilu dan sakit. Tapi hal yang lebih menyeramkan lagi adalah ketika dia berlari kesana kemari dan memasukkan segalanya kemulutnya. Ya ampun.. “She want to bites everything”

Ya.. Si kecil Humaira yang berumur 9 bulan itu sudah lincah merangkak kesana kemari. Dia sudah mulai protes jika aku selalu menggendongnya. Bahkan, kini dia sudah tidak mau lagi makan di kursi makannya. Dia ingin makan sambil merangkak dan bereksplorasi. Sayangnya, eksplorasi si kecil ini bukan eksplorasi biasa. Mari menyebutnya Eksplorasi Oral. Hahaha

Bayangkan saja, jika dia bertemu buku pasti dia gigit. Jika bertemu boneka dia tersenyum meniru ekspresi boneka.. Tapi kemudian pasti digigit. Yang paling ekstrim adalah saat dia melihat kucing tertidur. Dia akan langsung menarik buntut si kucing, lantas kemudian ingin memasukkannya ke mulutnya. 

Disitulah kewarasanku diuji.. Huft.. 

Pentingnya Menjaga Kebersihan di 1000 hari Pertama si Kecil

Peer besar saat si kecil mengalami fase oral begini bukan pada ‘kapan ia akan berhenti menggigit atau bagaimana menghentikan fase ini’. Fase menggigit seperti ini adalah fase yang wajar. Peer sebenarnya adalah Bagaimana aku bisa menjaga kebersihannya? Dia bahkan bisa merangkak begitu cepat jika melihat hal yang menarik. Rasanya sungguh kewalahan untuk terus menjaganya sementara setumpuk tugas domestik di rumah masih melambai-lambai. 

Iya.. Mamak kan gak punya ART genks.. 

Padahal, pada fase seperti ini penting sekali untuk menjaga kebersihan si kecil. Terutama segala yang masuk kedalam mulutnya. Karena itu akan mempengaruhi kesehatan pencernaannya. Please.. Humaira masih berumur 9 bulan dan itu adalah fase Golden Age. Yang mana 1000 hari pertamanya ini akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya kelak.

“Peralatan yang digunakan untuk bayi dan balita juga harus terjaga kebersihannya, tidak hanya peralatan untuk makan dan minum, tetapi juga peralatan lain seperti baju, celana, buah dan sayur bayi dari kuman dan bakteri akan membantu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh bayi sehingga tumbuh dan berkembang dengan baik,”


(Dr. Rini Sekartini, SPAk)

Kan? Berarti segala yang dimasukkan Humaira kedalam mulutnya itu paling tidak haruslah bersih. Dari dotnya hingga peralatan makannya tak lupa pula segala mainan yang sering dia gigit. Karena itu akan berpengaruh pada kesehatannya. FYI, Humaira sudah terserang batuk dan pilek sejak fase menggigit yang ekstrem ini. Mungkin karena aku sedikit lengah dengan kebersihan. Hiks

Cara Menjaga Kebersihan Si Bayi yang Sedang Hobi Menggigit

1. Belikan Bayi Teether yang Menarik

Dari zaman punya anak pertama, aku selalu membelikan teether atau gigitan bayi ketika fase menggigit. Karena konon gusi bayi pada fase ini gatal, sehingga ia suka sekali menggigit sesuatu yang kenyal. 

Kalau bisa, belikan bayi teether dengan mengajaknya ke toko peralatan bayi. Ini serius. Biarkan dia memilih teethernya sendiri. Karena dari pengalamanku, jika ia tak memilihnya sendiri maka besar kemungkinan teether itu tidak terpakai. Karena tiap bayi punya selera yang berbeda. 

Aku sendiri mengajak Humaira untuk memilih teethernya sendiri. Dan ternyata dia suka melihat teether berwarna pink. Aku pun membelikannya beserta dengan mainan yang lain. 

Memberikan teether begini punya dampak positif untuk menjaga kebersihan loh. Bayangkan saja kalau si kecil menggigit apapun yang ditemuinya. Sementara ‘apapun’ itu belum tentu bersih kan? Kalau hanya teether saja kan gampang dibersihkan. 

Hmm.. Tapi bagaimana kalau si kecil bereksplorasi keseluruh ruangan di rumah? 

2. Berikan Ruangan Khusus untuk Bayi bermain

.. Ya beri saja ruangan khusus untuknya bermain.. 

Kalau punya ruangan nganggur, ada baiknya jika ruangan itu untuk si kecil saja. Pada fase suka menggigit ini, bayi butuh ruangan khusus untuk bereksplorasi. Karena please deh ya.. Kalau semua ruangan jadi tempat eksplorasi bayi maka ‘mamak tidak bisa pencitraan’. Karena ruang tamu adalah salah satu ruang pencitraan ‘sok bersih dan rapi’ bagi emak.. Hahaha

Aku sendiri memutuskan untuk mengosongkan ruangan di dekat dapur. Aku biarkan dia merangkak dan bereksplorasi sendiri disana. Tidak khawatir dengan terbengkalainya tugas domestik juga, karena ruangannya berdekatan dengan dapur. Aku bisa sambil memasak di dekatnya. 

Biasanya, ruangan untuk eksplorasi ini hanya aku isi dengan teether, buku bayi dan mainan  yang bisa dicuci lainnya. 

Dan jauhkan si kecil dari mainan super mungil yang bisa saja masuk dalam mulutnya. Sumpah.. Ini bahaya banget. 

3. Bersihkan Mainan dan Peralatan Bayi lainnya Memakai Sabun Pembersih Khusus untuk Bayi

Nah, ini solusi yang super duper penting banget. 

Tadi aku cerita kan kalau Humaira sempat pilek dan batuk? Kalian tau gak kira-kira apa penyebabnya? 

Kalau aku boleh menebak sih, salah satu alasannya karena aku lengah dengan kebersihannya.

Ceritanya, dua minggu yang lalu.. aku mengajak Humaira ke rumah neneknya. Dan aku benar-benar lupa untuk membawa hal yang penting. Yaitu, sabun Pembersih peralatan bayi. 

Tadinya sih aku mau enjoy aja. Masa sih karena masalah sabun aja bikin macam-macam. Eh ternyata aku salah. Pasca pulang dari rumah nenek, Si Humaira langsung pilek dan batuk. Huhu.. 

Ternyata, aku memang gak boleh ketinggalan bawa Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser. Iya, aku percayakan kebersihan anakku dari yang pertama sampai yang kedua ini sama Sleek. 

Dari Humaira Bayi dan ASI aku masih super seret.. Aku selalu membawa Pompa ASI dan Sleek kemana saja. 

Dari Botol ASIP, Dot, serta peralatan MPASI aku selalu mempercayakan kebersihannya dengan memakai Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser. 

Hingga Humaira dalam fase menggigit ini pun.. Aku selalu memakai Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser untuk membersihkan semua mainan dan teether-nya. Pokoknya, terpakai banget dan please jangan lupa lagi deh dibawa. Karena sepenting itu punya sabun pembersih yang food grade. 

Oya, Sleek ini mengandung Stain Removal Formula. Jadi, dapat menghilangkan sisa lemak susu dan bau yang menempel pada peralatan botol bayi. Hayo.. Siapa kemaren yang mengaku cheating menyiapkan MPASI bayi dengan memberinya teether terlebih dahulu? Ngaku deh ngaku.. *malu.. 

Jadi, teether Humaira itu rata-rata dicuci 3x sehari. Karena saat makan, dia pasti sambil menggigit teethernya. Kalau diibaratkan dengan kelakuan orang dewasa.. Mungkin dia pikir teether itu kerupuk.. Haha.. 

Tapi aku enggak worried. Karena kalau dicuci dengan Sleek, baunya hilang loh. Selain efektif untuk menghilangkan lemak dan bau, 

Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser juga hadir dengan Formula Baru. Sleek kini dilengkapi dengan 8 Proteksi yang pastinya membuat kebersihan peralatan bayi lebih aman. 

Nah, itu dia pengalamanku dalam menghadapi drama si kecil yang suka menggigit apa saja. Fase ini adalah fase yang sangat normal loh. Kita tidak bisa melarang si kecil untuk bereksplorasi dengan mulut kecilnya itu. Yang bisa kita lakukan adalah menjaganya dan memperhatikan kebersihannya. Iyakan? Kalau moms yang lain bagaimana nih? Punya pengalaman seru juga gak dengan drama si kecil yang suka menggigit? 

Yuk, kunjungi sosial media Sleek untuk tahu lebih banyak.. 

Fb: Sleek Baby

Ig: sleekbaby_id

#SleekBaby #SleekBabyAlamiMelindungi #SleekBaby8Protection #1000HariPertama 

#PerlengkapanBayi #ProdukBayi #BayiBaruLahir #PembersihBotol 


#FBB Collaboration: Surat Untuk Mama, Maafkan Aku yang Terlambat Reframing

#FBB Collaboration: Surat Untuk Mama, Maafkan Aku yang Terlambat Reframing

“Nanti kalau kamu sudah jadi Ibu.. Baru tau rasanya.. “

Itulah kalimat yang sering mama ucapkan setiap kali kami bertengkar. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Sudah diputar kebelakang.. Tapi malah masuk lagi di gendang telinga. Sampai-sampai.. Lelah mendengarnya. 

Lalu aku mendengus di dalam hati, “Nanti kalau aku jadi emak-emak.. Aku harus jadi emak yang bijak.. Yang enggak ngomong kalimat itu-itu saja setiap kali marah.. Aku bakal menjadikan anak sebagai teman lalu aku bla bla bla.. “

Begitu kiranya keluhanku di dalam hati. 

Perkenalkan, Aku adalah Anak yang Paling Sering Bertengkar dengan Mama

Aku adalah anak kedua dalam empat bersaudara. Kakakku yang pertama adalah laki-laki, berjarak 3 tahun dariku. Sementara adikku kembar.. Laki-laki juga, berjarak 8 tahun dariku. Yaa.. Aku adalah anak perempuan satu-satunya.. 

Seharusnya.. Akulah yang paling disayangi. Itulah ego yang sering muncul di kepalaku. 

Nyatanya, diantara 4 bersaudara tersebut.. Akulah yang paling sering mencari masalah dengan mama. 

Sewaktu kecil dulu.. Aku sering menangis karena selalu mendapat baju lungsuran dari kakak. Aku iri dengan teman-teman perempuanku. Aku ingin memakai baju cantik seperti mereka. Aku tidak suka terlihat seperti laki-laki. Aku bilang  pada mama, “Ma, Winda mau seperti xxxx juga. Winda mau cantik juga.. “

Aku.. Tidak tau bagaimana perasaan mama saat itu.. 

Kami hanya bertengkar. Dan berakhir saling memeluk di malam hari. 

Aku masih ingat ketika aku beranjak remaja dulu. Aku yang mengamuk saat tidak diperbolehkan ikut berkemah. Aku yang protes dengan lantang saat tidak diperbolehkan ikut acara ‘masak-masak’ di malam hari. Aku yang berdebat karena dibilang boros dan langsung membandingkan uang sakuku dengan temanku. 

Tak terhitung rasanya pembenaran demi pembenaran aku ucapkan dengan lantang dihadapan mama. Aku selalu merasa bahwa akulah yang paling menderita di dalam circle pergaulanku. Dalam circle keluargaku. 

Itu terjadi begitu saja. Perasaan insecure. 

Ketika kakakku lulus kedokteran. Ketika adikku terlihat kepintarannya. Sementara aku si anak tengah? Aku terlihat biasa saja. Tidak memiliki kelebihan. 

Ketika itu.. Setiap kali aku ingin mengembangkan diri dengan caraku.. Mama selalu mengatakan ‘jangan’ dan ‘jangan’ yang lain. Mama seakan menjadi pagar dalam kehidupanku. Membuat duniaku yang seharusnya bulat menjadi kotak. 

Saat itu.. Sungguh.. Aku tidak tahu perasaan mama.. 

Aku hanya berteriak dan membangkang… 

‘Kebebasan!’ teriakku.. 

Antara Mama dan Anak Perempuan

Perasaan paling menyenangkan yang aku rasakan hingga sekarang salah satunya adalah ketika mama bercerita.. Bahwa ia sangat menginginkan anak perempuan. 

Ya, katanya.. Saat ia hamil anak kedua ia menginginkanku. Sang anak perempuan. Bukan hanya itu.. Ayah dan kakakku juga. 

Mereka menantikan kehadiranku! 

Katanya, aku sangat lama keluar. Hampir 11 bulan. Aku yang seharusnya lahir bulan Juli malah lahir di bulan September. Mama mengeluarkanku kedunia ini penuh dengan perjuangan. Mama harus diinduksi. Konon itu rasanya sakittt sekali. Aku? Sampai sekarang aku yakin tak ada rasa sakit yang aku lalui dan bisa menyamai rasa sakit itu. 

Saat itu, kondisi ekonomi keluarga kami sangat pas-pasan. Mama dan Abah berjuang mulai nol. Aku masih ingat ketika kami memiliki rumah yang baru dulu. Kami bahkan tidak punya toilet. Jangan tanyakan bagaimana. Itu hal yang tidak nyaman diceritakan. 

Aku berlarian kesana kemari dengan memakai baju lungsuran kakakku yang laki-laki. Tidak ada perasaan kecewa saat itu. Yang aku rasakan hanya cinta dan penuh Terima kasih. 

Aku masih ingat, baju perempuan pertama yang paling berkesan. Baju Sailor Moon yang mama belikan sebagai oleh-oleh saat pergi penataran dulu. 

Aku masih ingat, boneka susan pertama di desaku dulu. Akulah yang pertama kali memilikinya. Saat itu.. Aku begitu merasa disayangi. 

Entah apa yang membuatku berkata kalimat pembandingan itu. Entah setan apa yang menggodaku untuk merasakan perasaan kurang dan kurang. Hingga aku sakiti perasaan mama… Yang saat itu sedang jatuh bangun menyejahterakan ekonomi keluargaku. 

Aku menyakiti mama sejak sekecil itu. Dengan kalimatku yang polos.. Dengan wajahku yang lugu. 

Tidak cukup sampai disitu, Aku pernah bertengkar paling mengerikan dengan mama saat hamil anak pertama dahulu. Aku yang merasa down saat fase ekonomi sedang tidak stabil. Aku yang berkata pada mama, “Memangnya siapa yang menyuruhku untuk menikah semuda ini? Siapa yang menyuruhku menunda cita-citaku? Kenapa Mama begitu egois. Aku sudah menuruti semua permintaan Mama…”

“Ma.. Aku sudah berusaha menjadi Winda versi terbaik bagi Mama..”

Aku mengeluarkan semua emosiku. Tapi, aku terlambat untuk Reframing. Aku tidak tau.. Bahwa segala keputusan mama memang selalu dilandasi oleh Kasih Sayang. 

Hei, ternyata begini rasanya menjadi Seorang Mama.. Mama dari Anak Perempuan.. 

Kini, aku mengerti segala keputusanmu Ma. Setelah melahirkan Farisha. Membesarkannya dan menyelami segala kelakuannya. Kini aku mengerti bagaimana perasaan seorang Ibu. 

Bahwa seorang Ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. 

Untuk segala pikiran kerasmu dalam mendidikku.. 

Untuk semua pagar demi pagar yang engkau berikan.. 

Aku mengerti..

Untukmu yang menghalangi mimpiku dahulu.. 

Aku memaafkanmu atas segala perlindungan kerasmu untukku.. 

Aku kini mengerti, kau lakukan itu semua karena aku adalah si Anak Spesial. Satu-satunya perempuan yang harus dilindungi.

Segala perlakuanmu padaku.. Aku sudah mengerti segala manfaatnya. 

Lihatlah anakmu yang memiliki dua anak perempuan. Masih sekecil ini saja sudah berapa aturan yang aku terapkan untuk melindunginya. Ternyata, memiliki anak perempuan tidak semudah yang dibayangkan. 

Perempuan cenderung berbicara dengan perasaan. Terkadang emosinya turut ikut andil. Jika kita sangat sering bertengkar karena itu.. Maka kini aku mengerti kenapa anakku sering menangis saat aku nasehati. Ya, dia masih kecil saja begini. Bagaimana jika sudah besar nanti? Konflik macam apa yang akan terjadi? Pagar macam apa yang harus aku berikan? Dan bisakah aku sesukses mama dalam mendidiknya nanti? 

Ah, entahlah. 

Mama, kini aku bisa memahamimu. 

Izinkan aku berterima kasih, meminta tolong dan meminta maaf padamu. 

Ya, kau kan yang mengajariku 3 kata ajaib itu? 

Terima kasih Mama

Aku memang hidup dalam lingkungan yang patriarki sekarang. Namun aku bersyukur memiliki seorang mama feminis yang selalu menjunjung tinggi tugas domestik di rumah. Atas segala pembelajaran berharga mu untukku.. Sungguh aku merasakan sekali manfaatnya sekarang. 

Lihatlah, karenamu aku bisa melakukan segalanya di rumah. Aku tidak terkejut dengan tugas domestik di rumah. Aku sudah terbiasa. Karenamu aku bisa memasak, melipat baju dengan rapi dan merawat anak-anakku dengan baik. 

Please.. Mom.. 

Tolong ma.. 

Tolong percayalah sepenuhnya pada langkah hidupku. Hanya doamu yang aku harapkan. Dan aku ingin kau bangga padaku. Walau aku satu-satunya yang bukan seorang dokter dari semua anak-anakmu.

Menjadi Ibu rumah tangga itu tidak berat ma. Lelah hanya begitu-begitu saja. Yang paling membuatku lelah adalah tidak ada apresiasi. Tidak ada kata-kata Terima Kasih atas usaha yang aku berikan di rumah. Tolong berilah aku perasaan bangga itu. Aku sungguh sangat membutuhkannya. 

Tolong lindungi aku dari orang-orang yang memandang rendah diriku. Orang-orang yang berkata bahwa aku tidak bisa apa-apa. Mereka yang sering berkata Susah-susah dikuliahkan tapi malah tidak bekerja, apa yang dikerjakan di rumah? Dan pertanyaan memojokkan lainnya. Aku tau kau sudah menerimaku dan please.. Banggakan aku di mata orang-orang tersebut. 

Maaf Ma..

Maaf karena aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga. Jauh dari cita-cita mandiri secara finansial yang engkau harapkan. 

Maaf karena tidak bisa menemanimu di rumah. Maaf karena aku harus menjauh mengikuti suamiku. 

Terakhir.. Maaf karena aku terlambat reframing perasaanmu. Sungguh, aku menyesali pertengkaran demi pertengkaran dahulu. Andai saja aku bisa berkomunikasi dengan lebih baik dahulu. Mungkin aku bisa membuatmu mengerti tentangku. Andai saja emosiku tidak menggebu-gebu.. Mungkin aku bisa menjadi Winda yang lebih baik. 

Ah, menyesal memang selalu terlambat bukan? Tapi semoga tidak ada kata terlambat untuk menyayangimu lagi.

Dariku, sang anak yang sudah berubah menjadi Ibu. 

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam FBB Collaboration dengan tema Hari Ibu

Berdamai dengan GTM? Bisa Kok!

Berdamai dengan GTM? Bisa Kok!

“Humaira.. Sedikit lagi sayang…hayuk yuk… Aaaaaa”

Kurang lebih, beginilah kegiatanku selama satu bulan ini. Dalam waktu 3 kali sehari berputar-putar di rumah sambil mengejar Humaira yang merangkak dan menyuapinya. Jangan tanya berapa jam waktuku terbuang untuk ini. Satu kali makan.. Aku harus mengorbankan satu jam lebih waktuku yang berharga. Belum lagi kalau Humaira memuntahkannya..

Belum lagi.. Setumpuk pekerjaan rumah tangga..

Belum lagi.. Harus menjemput Farisha..

Jangan lupa makan siang.. Kepasar dsb dsb…

Disitulah kewarasanku diuji…

Aaaagrrrrh!

Curhatan Mamak Stress Menghadapi Anak GTM

Sesungguhnya, memiliki anak kedua ini aku cenderung lebih santai. Easy Going aja gitu… Apalah apalah.. Gak perlu deh terlalu perfeksionis. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman anak pertama dulu. Iya, dulu aku sempat terkena babyblues..dan PPD

Bahkan, aku pernah menulis tentang baby blues secara rinci. Tak lupa juga tentang cara mengatasi babyblues. Aku dan suami sudah aware banget. Janganlah ini terulang kembali.

Dan tips mengatasi babyblues hingga PPD tersebut berhasil. Sampai Humaira berumur 8 bulan dan mulai tumbuh gigi 4 biji sekaligus.. Disanalah drama GTM (Gerakan tutup mulut) dimulai.

Humaira yang biasanya lahap makan, kini mulutnya selalu menutup. Bahkan saat tidak sedang makan sekalipun. Kalau dibuka.. Maka air liurnya berjatuhan. Kalau melihatku memegang mangkuk dan sendok dia langsung menangis di kursi makannya dan meronta ingin keluar. Saat dikeluarkan.. Ia langsung merangkak laju menghindariku.

Lalu aku menggendongnya.. Menyanyi dan menenangkannya.. Sesekali mengalihkan perhatiannya pada teethernya. Dan saat ia membuka mulut..tangan kananku langsung sigap memasukkan sesendok MPASI kemulutnya.

Jika kalian kira hanya begitu saja cerita dan solusinya.. Tentu kalian salah. MPASI itu diemut saja dimulutnya.. Tidak dikunyah.. Tidak diteguk.. Dan saat aku menyuapi air putih ia langsung sigap membuka mulutnya.. Dan keluarlah semua MPASI yang aku buat itu… huhuhu..

Jangan! Jangan dulu menyarankanku untuk ini dan itu.. Aku sedang membaca tau.. Aku googling kesana kemari. Rambutku mulai kusut dibuatnya. Huh, artikel-artikel itu sama sekali tidak membantu.. 

Santai katanya? Susui saja katanya?

Lihatlah.. Humaira tanpa makan.. Artinya dia selalu menyusu..

Jika Humaira selalu menyusu.. Maka aku yang jadinya terancam selalu lapar..

Jika Humaira selalu menyusu.. Maka aku tidak bisa bergerak bebas. Apa jadinya rumahku? Hei!

Dan jangan lupa.. Jika aku terlambat makan.. Jika aku kelaparan.. Jika pekerjaan rumah tak kunjung selesai.. Sementara isi kulkas zonk.. Maka tandukku bisa keluar kapan saja. Grrrrr..

Apah? Go Food? Ah.. tidak semudah itu ferguso.. Memangnya uang bulananku cukup jika memesan go food setiap hari?

Ah itulah.. Ekonomi dan kewarasan berumah tangga.. Dalam sekali kaitannya. Halah, jadi curcol kan emak. Hahahaha…

Drama GTM dan Demam yang berulang-ulang kayak zaman Missed Call lagi ABG

Yaelah.. Outlinemu gitu amat win.. Hahaha..

Yah, beginilah caraku menyenangkan diri sendiri. Ditengah bayi yang selalu bangun setiap malam. Kayak aku waktu zaman abege labil juga.. dimissed call cowok..kegeeran..enggak bisa bobo karena kegeeran.. Yaelah.. Malu-maluin kalau diingat.. Apalagi kalau kenyataan sekarang berbicara tuh cowok enggak ganteng kok aku geer ya? 

Oke, skip.. Aku memang agak labil orangnya. Padahal anak udah dua biji. Ckck

Jadi, Humaira itu hampir setiap jam bangun kalau lagi GTM begini. Badannya panas, giginya bengkak dan pipinya tembem (ini apaan? Sisi positifnya euy..). Hampir tiap malam aku begadang dan jangan ditanya nasib kantung mataku. Jangan ditanya ya.. Karena concealer aku cukup ampuh menutupinya… (tersenyum licik). *blog post ini sungguh ngalur ngidul..karena ditulis terjeda-jeda disela-sela sakitnya si kecil..

Demam Humaira ini cukup labil. Bentar-bentar turun..nanti naik lagi. Paling parah itu pas malam tiba sih. Sampai-sampai aku mengira mungkin saja Humaira terkena DBD. Karena cuaca juga cukup labi, bentar panas..bentar hujan pas banget timingnya buat si nyamuk khas ini.

Ketika Humaira demam parah selama 3 hari berturut-turut maka aku pun memeriksakannya ke Puskesmas. Aku langsung meminta untuk di cek darahnya. Karena hanya itu cara satu-satunya untuk mengetahui apakah ia terkena DBD atau tidak. Untungnya, hasil lab mengatakan tidak. Tapi, bukan aku dong namanya kalau langsung pulang ketika sudah mengetahui hasil lab.

Setelah berhasil bertemu dokter anak di puskesmas.. Aku langsung curhat seeeeepanjang-panjangnya.. Sebombay-bombaynya.. Tapi sungguh.. Tidak sekonyol blogpost ini.. Hahaha..

Anak GTM akut.. Mamak harus Apaaa?

Sejujurnya.. Solusi yang dikemukakan oleh Dokternya ya kurang lebih sama saja dengan artikel-artikel di google itu. Tapi, entah kenapa rasanya lebih plong saja kalau mendengar solusi tersebut secara langsung. Apalagi nih.. Apalagi sang dokter bilang begini, “Anak saya dulu juga begini.. Ya Allah mba.. Seminggu enggak mau makan.. Menyusu aja kerjaannya..”

Disitulah saya merasa senang.. Hahaha..

Mau berpelukan sambil bilang, “Senasib kita maak..!”

Lalu menari di padang ilalang.. (imajinasi yang ter-innerchild oleh film india).

Jadi, setelah sepulang dari puskesmas.. Aku mulai melakukan hal-hal yang disarankan oleh Dokter tersebut. Hal-hal itu diantaranya adalah:


Mamak tidak boleh Stress

Tekankan pada diri sendiri.. Ini adalah hal yang sangat wajar terjadi dan aku tidak sendirian. Setiap Ibu pasti melalui fase GTM. Hanya saja.. Support systemnya yang berbeda. Jangan dong ya membandingkan diri sendiri dengan Nia Ramadhani. Enggak salak to salak banget.. Hahaha..

Bahagialah menyambut proses ini. Bawalah si kecil keluar rumah jika sudah jenuh di rumah. Lakukan apa yang membuat mamak tertawa. Lakukan apa yang membuat si kecil tertawa. Kalau aku? Aku sudah mengetahui bahwa Humaira senang sekali melihatku berjoget ria. Jadi, aku selalu memutar musik anak-anak sambil (membawa sendok). Jadi kalau anak tertawaaaa… langsung seraaang!!!

Bersahabatlah dengan Teknologi

Siapa bilang anak tidak boleh terpapar gadget? Tidak boleh menonton TV? Siapa? Siapa?

Nia ramadhani? Enggak kan? (kok kesini?)

Lupakan sejenak mak.. Nasehat-nasehat pakar parenting yang seklek banget itu. Stress kalau dimasukin keotak semua. Beneran ini.

Nyatanya, para Emak tanpa ART itu butuh banget support system yang bisa menghemat budget. Dan itu adalah gadget. The Best Nanny for a Low Budget Mommy.. Hahaha..

Boleh banget kok melakukan jurus genjutsu dengan gadget. Asal jangan kelamaan. Coba tanya Uchiha Itachi apa efeknya kalau genjutsu kelamaan. Iya.. mata sharingannya berdarah. Gak mau kan begitu? Udah stress.. Mata berkantung.. Berdarah lagi.. Untung masih cakep yak! 

Aku sendiri mulai bersahabat dengan TV dan Youtube loh. Humaira suka sekali dengan nyanyian. Jadi, kalau dia senang kesenangan aku bisa banget sukses menyuapinya beberapa suapan. Dan itu bikin aku bahagiaaa banget.

Jangan bikin MPASI yang ribet-ribet

Musim anak GTM begini.. Kalau saran aku.. Janganlah bikin MPASI yang ribet-ribet. 

Udahlah itu bikinnya lama banget. Makaninnya lama banget juga lagi. Kapan euy tugas domestik emak-emak kelarrr? Kapaan? (sambil ngambil pisau dapur)

Sudahlah.. Sejak anak kedua ini aku enggak mau lagi deh jadi mommy perfeksionis kayak anak pertama dulu. Mau jadi mommy yang balance aja kehidupannya. Kadang kalau rajin ya home made. Kalau enggak rajin dan enggak ada waktu ya pakai aja MPASI instan. Toh, itu tidak apa-apa loh

Iya,berdasarkan hasil curcol dengan Dokter Anak di puskesmas kemarin aku mengetahui kalau dokter tersebut juga tim MPASI instan. Katanya, its okayyy..

Justru MPASI instan sudah tertakar nutrisinya. SDan itu lebih komplit. Tapi, kalau bisa membuat sendiri MPASI dengan nutrisi yang lengkap kenapa tidak? Intinya.. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing. 

Memang, MPASI instan itu tidak kaya rasa. Rasanya ya begitu-begitu saja.

Tapi, bisa kok diakali. Aku sendiri sering mencampur MPASI instan dengan berbagai bahan untuk cita rasanya.

Kadang, aku campur bubuk MPASI instan dengan kaldu haruan. Tergantung MPASInya juga ya. Kalau beras merah biasanya dicampur apa saja cocok. Kadang aku juga menambahkan parutan wortel dan kocokan telur yang direbus. Hasilnya jadi lebih enak.

Coba Metode BLW yang aman sesuai dengan umurnya

Sebenarnya, aku bukan penganut BLW atau Baby led Weaning yang mempercayakan makanan kepada tangan bayi sepenuhnya. Ada beberapa faktor yang membuatku tidak menganutnya. 

Yang pertama adalah BLW tidak direkomendasikan oleh IDAI maupun WHO. Sebenarnya responsive feeding lebih direkomendasikan.

Yang kedua, aku tidak sanggup melihat makanan berantakan dan terbuang. Aku sangat sanggup melihat rumah berantakan. Tapi tidak untuk makanan. Itu membuatku stress luar biasa saat melihatnya. Apa? Pakai kursi makan? Tetap saja berantakan. Pasti masih banyak yang berceceran dilantai dan tidak selamanya lantaiku bersih.

Tapi, aku kadang BLW juga sih.. Tapi BLW yang diawasi. Bagaimana itu?

Ya.. Humaira memang lebih suka memakan makanannya sendiri. Tapi dia masih sangat rentan tersedak. Karena itu aku masih memilah milih makanan yang cocok untuk tangannya. 

Untuk buah-buahan, Humaira bisa memakan pisang sendiri. Dan untuk yang lainnya aku mempercayakan pada MPASI instan lagi.

Gigi Humaira yang ingin tumbuh tidak bersahabat dengan MPASI hangat dan kental. Maka, dokter menyarankanku untuk mendinginkan MPASInya di kulkas. Aku berinisiatif untuk mengurangi kadar air MPASInya dan menaruhnya di freezer selama beberapa menit. Hasilnya? MPASI itu bisa dibentuk menjadi bulatan chewy layaknya marsmallow  yang kenyal. Alhamdulillah..Humaira suka memakannya dengan tangannya sendiri.

Jangan terlalu memaksakan porsi MPASI sesuai standar

Kadang, kalau sedang menyediakan MPASI.. Aku cuma menyajikan seperlunya saja.. Sebisanya saja.. 

Karena kalau harus sesuai standar maka status kewarasanku bisa tidak terkendali. Hahaha.. FYI, anak pertamaku si Pica dulu adalah korban kekerasan sendok MPASI. Karena aku sempat kesal dia tidak mau makan. Aku memaksanya untuk makan dan membuka mulutnya. Akhirnya.. Dia trauma.. Dan tau gak kaleyanss.. Si Pica dulu ASI ekslusif selama satu tahun. Huft.. 


Pengalaman itu terulang. Biasanya kalau sudah tidak mood makan Humaira bisa menangis kejer. Dan suaranya benar-benar menguji kewarasan. Sampai-sampai tetangga mendengar suaranya loh (Disitu kadang wajah jutek milikku dipertanyakan..). Untungnya, aku sudah bisa mengontrol emosiku. Ya sudahlah.. Suapin sebisanya saja.. 

Kadang aku memulai mempersiapkan MPASI dengan ⅓ porsinya saja. Kalau sudah habis dan dilihat mood humaira masih stabil maka aku akan menambahkannya lagi sedikit. 

Karena aku adalah tipe mamak yang anti mubazir. Jadi, kalau bubur tidak habis.. Maka pastilah ia berakhir di perutku. Jadi akan lebih baik jika mengolah MPASI seperlunya saja. 

Banyak Menyusui dan Sediakan Banyak Cemilan di rumah

Ya sudahlah.. Kalau anak GTM itu memang gentong emaknya harus selalu kenceng. Karena itu stok makanan di rumah harus tetap stabil. 

Untuk yang perekonomiannya masih labil sepertiku.. Maka membuat masakan dan cemilan homemade mungkin akan lebih baik. Karena selain hasilnya lebih banyak, juga lebih sehat, hemat dan menyenangkan suami. 

Iya, aku tim instan buat MPASI anak tapi tim homemade buat keluarga. Karena memang jauh sekali selisihnya kalau makanan serba beli. Huhu.. 

Tapi kembali lagi disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Kalau punya budget berlebih untuk membeli kenapa tidak? Perekonomian jadi lebih stabil kan jika membantu orang? 

Yang penting.. ASI selalu ada dan ibu bahagia..

Jangan Peduli Omongan Orang..

“Anaknya kok kurus.. Bukannya umurnya seumur ya sama anakku?”

“Iya nih.. Anaknya emang badannya proporsional sekali. Nurun dari emaknya mungkin.. ” *kibas alis..

Ah, inget banget sama berita yang berseliweran beberapa minggu lalu. Tentang bayi yang meninggal gara-gara digelonggong ibunya pakai air. Konon katanya, si ayah protes anaknya gak gemuk kayak kembarannya yang diasuh sama mamanya. 

Ya eya lah si Ibu emosi. Emangnya mudah bikin bayi gemuk? Apalagi genetiknya ya udah kurus.. Apalagi uang bulanan pas-pasan.. Masih ngontrak pula. Kalau kondisi ibunya sedang tidak waras.. Memperdulikan omongan orang itu bahaya loh. 

Jadi, cuek aja lah.. Menumbuhkan pikiran positif itu dimulai dengan menghindari orang-orang yang bermulut pedas. Kita punya sisi bahagia yang lain. Iyakan? Coba berkaca.. Pasti ada deh! 

Ya.. Begitulah.. GTM memang sangat menyita kesabaran. Kadang juga menguji kewarasan. Satu hal yang pasti bahwa tiap bayi punya fase GTM.. Itu pasti dan yakinlah kita tidak sendirian.

Bayi-bayi gemuk diluar sana pun pasti memiliki satu-dua masalah. Hanya saja kita tidak tau. 

GTM adalah fase dimana bonding Ibu dan Anak diuji. Peluklah ia.. Bicaralah padanya.. Abaikan sedikit pekerjaan domestik.. Bicaralah pada pasangan.. Serta tidak lupa berdoa.. 

Semoga lelah ini menjadi lillah.. Amiiin.. 

Nah.. Kalian punya pengalaman sama tentang anak GTM? Sharing yuk! 

I

IBX598B146B8E64A