Seni Menghapus Luka Pengasuhan

Seni Menghapus Luka Pengasuhan

Kemarin, aku membuat konten tentang pola asuh otoriter. Konten ini terinspirasi dari drakor The Good Bad Mother yang baru saja tamat kamis kemarin. Jujur, niatnya pengen jadi pembanding aja sih dengan konten tentang Ibu Permisif sebelumnya. Tapi makin kesini dan baca tulisan sendiri… kok agak mewek ya jadinya.. Huhu

Kenangan Pola Asuh Semi Otoriter

Sebelumnya, disclaimer dulu ya.. Tulisan kali ini bukan dibuat untuk mengupas dan menjelek-jelekkan pola asuh orang tuaku dahulu. Tapi, semata-mata dibuat untuk bisa saling berempati dan memaafkan. Aku sering banget bikin tulisan yang berbau curhat. Tapi kadang sedihnya itu, orang cuma baca sisi jeleknya tanpa mengupas tuntas inti dari tulisan aslinya. Dalam artian, gak membaca dengan hati. Hanya melihat sisi jelek, liatin heading yang biasanya gak mewakili..  opening dan closing yang sedikit.. Lantas mengadu ngadu kesana kemari,,, eh, ada yang begini? Ya ada. Kalau yang baca termasuk tipe begini. Mending closed tulisan ini. Dan no comment ya. Wkwk.. 

Uhuk, napa jadi baper gini ya aku.. Haha

Kembali ke cerita, dulu.. Jujur aku punya banyak kenangan baik dengan orang tuaku. Khususnya di masa kecil. Saat umurku masih berkisar hingga 6 tahun. Aku mengingat jelas bagaimana mama menyayangiku. Memeluk dan sering melakukan permainan ‘Ungga Ungga Apung’ setiap malam. Aku tau bahwa aku adalah anak yang dicintai dan sangat diharapkan kehadirannya. Anak perempuan yang dinantikan setelah kakak laki-lakiku. Mamaku saat itu, memiliki pola asuh yang permisif-demokratis. Menjadikanku Ratu namun tak semua inginku bisa tercapai. Tak masalah meski aku tumbuh sebagai perempuan yang mewarisi baju laki-laki kakakku. Aku bahagia. Sangat. Dan sampai sekarang aku masih mengingat rasa bahagia itu. Asal aku penurut, mama menyayangiku. Sesimple itu.

Tapi semua mulai berubah sejak aku beranjak sedikit lebih besar. Hingga kini aku masih mengingat begitu banyak aturan disiplin yang diterapkan mama padaku. Ketika kedisiplinan dilanggar, hukuman menanti. Entah kenapa saat itu, aku merasakan bahwa hukuman yang aku terima tak sekedar tentang hukuman mendidik. Namun sebuah pelampiasan. Keadaan berlanjut hingga aku punya adik kembar. Sebagai anak tengah, aku merasakan life crisis tingkat 1. Dimana aku harus mencontoh kakakku sebagai panutan disiplin. Disisi lain, aku juga kehilangan kasih sayang yang dulu sempat aku dapatkan ketika masih kecil. Kasih itu beralih sepenuhnya pada adik kembarku. Tiba saatnya mama mulai melakukan gerakan yang sedikit patriarkis dalam memberlakukan anak perempuan. Aku tau saat itu aku sudah besar dan tak boleh cengeng. Namun, rasanya benih-benih iri itu tumbuh begitu saja. Aku jadi kehilangan identitas diri. Bukan sebagai anak paling disayang. Bukan pula kakak yang bisa dibanggakan. Hanya anak tengah yang bingung harus berjalan ke arah mana ditengah identitas perempuan yang harus bisa ini dan itu. 

Apakah mama otoriter? Hingga sekarang aku menganggap pola asuh mama bukanlah otoriter seperti Ibu Kang Ho. Mama adalah sosok semi otoriter dimataku. Satu sisi, aku masih mengingat bagaimana sisi permisif dan demokratisnya mama saat aku masih kecil. Disisi lain, mama bisa mendadak berubah otoriter. Bahkan hingga aku dewasa, mama adalah tipe otoriter di mataku. Begitu banyak aturan, namun tanpa alasan jelas. Komunikasi satu arah dan ketika ingin mengemukakan pendapat, pendapat itu selalu dihakimi atas alasan simple. Hidup harus kuat, harus bisa survive.. Bla bla..

Kenangan demikian, membuatku sedikit baper ketika menonton drakor The Good Bad Mother. Mama mungkin tak mengatur cita-citaku layaknya Ibu Kang Ho. Namun mama mempengaruhi mindsetku dalam memilih cita-cita. Mama yang selalu menegaskan bahwa uang adalah segalanya. Aku yang dulu begitu respect dengan profesi guru, mulai berubah arah tujuan dalam bercita-cita. Tidak ada passion, tidak ada semangat dalam ilmu. Yang ada dalam pikiran hanyalah.. Apakah kelak aku bisa bekerja dan memperoleh banyak uang? Apakah kelak aku akan berada di strata sosial diatas saudaraku? 

Belajar Memahami Mindset Ibu Otoriter

Jujur, dalam 70% hidupku, rasanya semua diatur oleh Mama. Dari mindset, disiplin, hingga ya.. Jodoh.  Meski aku menikahi pacarku yang memang aku cintai. Tapi mama yang mengatur untuk cepat menikah. Sebuah langkah yang bertolak belakang dengan ‘meterialisme’ dan mengejar profesi. Aku sering bertanya, kenapa mama ingin aku cepat menikah? Bukannya mama pula yang sering berceramah padaku bahwa perempuan harus bekerja, mandiri finansial, bla bla.. Apakah menikah dini segera menjawab hal itu? Pikirku bingung. 

Mama hanya menjawabnya dengan jawaban simple. “Perempuan tuh harus cepat menikah. Beda dengan laki-laki.. Perempuan tuh nanti punya anak bla bla.. Nanti kalau gak nikah sekarang gak laku lagi.. Kapan lagi punya calon suami dosen… bla bla”

Sebuah saran yang bertolak belakang dengan Abah. Namun, di dalam rumah kami saat itu.. Pendapat mama lebih dominan. Abah justru berkata padaku, “Kamu tuh cantik. Gak nikah sekarang juga gakpapa.”

Trust me, jika abah berkata hal demikian di depan mama. Maka Abah akan mendapat ceramah besar tentang banyaknya anak perempuan yang tidak laku karena jual mahal bla bla.

Aku memilih lebih taat dengan mama karena alasan simple. I just wanna be a good girl again. Anak perempuan kecil yang dulu selalu dipuji karena melakukan hal kecil. Pikirku, dengan melakukan perintah mama maka mungkin aku akan menjadi anak yang disayangi lagi dan jauh dari aturan otoriter. 

Menikah-langsung memiliki anak-terpaksa berpindah pindah rumah dari rumah orang tua ke rumah mertua dll dsb.. Membuatku sadar bahwa menikah dan langsung menjadi Ibu adalah level terberat dalam hidupku. Ditambah ternyata, Sang Ibu Semi Otoriter mulai membawa-bawa harapan untuk menyuruhku bisa mandiri finansial. Itu adalah krisis besar dalam hubungan kami berdua. Aku sempat marah dengan mama. Dan atas perjalanan panjang marah-empati-marah-empati.. Akhirnya aku bisa paham dengan luka, keadaan dan psikologis mama.

Apakah empati itu instan? Tentu tydak. Bayangkan aku bahkan butuh waktu sekian tahun untuk paham dengan mama. Padahal kami adalah dua orang yang terikat secara biologis, cinta, ruang dan waktu.

Bagaimana agar tak mengulang pola semi otoriter yang sama?

Pada ending konten, aku gampang sekali menuliskan kata-kata ini.

Nyatanya, sungguh itu sangat sulit. Kadang kala disiplin dan hukuman itu terulang. Kadang kala aku merasa pola asuh dari mama adalah yang terbaik yang bisa kuulang kembali. 

Toh aku hidup dengan baik sekarang bukan? Bisa saja anakku di masa depan hidup dengan baik pula?

Tapi, kadang kala aku sering bertanya ulang. Dimana batas wajar otoriter itu?

Dan sekarang, lambat laun aku mulai paham dimana mencari batasnya. Intinya cuma 2 hal. Pertama tentang bagaimana kita bisa membuat hati kita untuk bisa memaafkan pola asuh yang dahulu. Kedua tentang bagaimana kita berusaha menyayangi diri sendiri.

Memaafkan adalah tentang membuang hati yang kotor, mengobati luka. Sedangkan menyayangi diri sendiri adalah sumber dari hati yang terus diisi air bersih. Hati itu yang bisa berbicara secara demokratis dengan anak. Hati yang bisa berkomunikasi dengan baik dan menahan amarah berlebih.

Tahukah bahwa diantara 2 inti solusi, ada cara lain untuk tak mengulangi pola otoriter yang sama. Cara itu adalah dengan menjadikan pasangan kita sebagai partner dalam pengasuhan. Aku selalu mengingat, saat Mama sedang dalam mode otoriter yang luar biasa.. Aku lari pada Abah. Abah selalu membelaku, mendukung apapun impian konyolku.

Milikilah pasangan yang bisa meredam amarahmu dan memeluk hangat anak-anakmu. Sungguh itu sangat menenangkan.

Apakah pola otoriter bisa hilang? Mungkin tak sepenuhnya hilang namun setidaknya berubah menjadi lebih baik. Karena.. Ya.. tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini bukan?

Komentar disini yuk
0 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A