Browsed by
Category: Review Buku dan Film

Dilema Penulis Buku VS Pembajak Buku

Dilema Penulis Buku VS Pembajak Buku

“Bukannya apa sih, sebagai seorang penulis yang sudah punya banyak fans. Harusnya bahasanya lebih ‘sopan’.. “ -Netizen

Ramai para netizen membully ‘omelan’ Tere Liye pada tulisannya di page facebook akhir-akhir ini. Kubaca satu per satu komentarnya. Lalu melamun sesaat.

Komentar itu.. Ada yang berempati, ada yang menyemangati, ada pula yang menertawakan. Sebagai silent reader di fanspage Tere Liye, aku hanya bisa diam. Nyaliku tak begitu bagus untuk ikut nimbrung sekedar berbagi komentar. Tapi, aku mencoba memberanikan diri menulis opiniku pada tulisan blog kali ini. Toh, blog ini adalah milikku. Suka-suka aku bukan beropini disini? 

Ketika Pembajakan Sudah Menjadi Hal Biasa Dalam Kehidupan

“Wind, kamu ngebela Tere Liye. Bukannya kamu juga langganan beli CD bajakan ketika SMA dulu?”

Eh iya, siapa bilang aku orang yang suci? Gak pernah ngomong begitu bukan? Bahkan, dosaku dibidang membeli barang bajakan mungkin jauh lebih juara dibanding kalian semua. 

Aku pernah beli CD murah, beli baju murah, tas murah, sepatu murah. Bahkan aku juga tukang ‘influence’ temen-temen aku ketika kuliah dimana membeli barang-barang murah nan bagus. Bangga sekali rasanya kalau diingat masa-masa itu. 

“Winda, cewek yang tau list harga barang-barang murah dan bagus..”

Aku tidak peduli kalau ada salah seorang menegurku seperti ini, “Eh, ini tas Channel ya? Berapa harganya? Kok murah? Oh, barang kw..”

Hatiku pasti mendengus kesal, “Kan gak semua orang financialnya kayak elo.. “

“Bergayalah sesuai isi dompetmu.. “

Itu adalah prinsip kesekian dalam hidupku. Dan aku sangat bangga dengan prinsip itu. Karena prinsip itu ditularkan oleh mamaku. Bahkan, jujur saja.. Sebelum aku lahirpun mungkin saja aku sudah mengonsumsi barang-barang bajakan. Jauh lebih banyak dibanding kalian. Tapi kenapa aku begitu? 

Ketika aku kecil, aku tidak mengerti apa itu barang bajakan. 

Ketika aku sudah besar, aku mengerti barang bajakan. Tapi aku sudah memaklumi industrinya. Dan mendukung perkembangannya karena lebih ramah pada golongan ekonomi kebawah. 

Lalu, atas alasan ‘murah, murah, murah’ aku membenarkan pembelian barang bajakan dalam hidupku. Biarkan saja barang ORI punya kelas dan pasarnya. Barang bajakan juga sebuah industri yang punya pasar dan kelas sendiri. 

Itulah pembenaranku. Dan ya, aku mengakui bahwa diriku adalah sarjana akuntansi dan tentu sudah memahami ekonomi. Tapi aku menyangkal kesalahanku dan membenarkannya. Karena aku memang punya sifat keras kepala sejak dahulu. 

Pembajakan adalah hal biasa dalam kehidupanku. Ngapain repot-repot diurusin? 

Dan kalian tau? Aku pernah membeli buku Tere Liye 1 bundling. Dan itu barang bajakan. Judge me. Itulah aku dahulu. Winda dengan mental sok miskin dan iya.. Goblok. 

Apakah Tere Liye Itu Memang Penulis yang Tidak Sopan dalam Berbahasa? 

Aku mengenal Tere Liye sejak kuliah. Buku pertama karyanya yang aku baca adalah Negeri Para Bedebah. Ops sorry, buku itu ORI karena itu bukan milikku melainkan punya adikku. Bermodal ‘pinjem’ dari adik, aku mulai menyukai buku-buku Tere Liye. Jangan salah, buku-buku Tere Liye saat itu dibeli di gramedia dengan harga yang menurutku mahal.

Saat aku menikah, ekonomi keluargaku dalam kondisi down. Selain itu, aku sempat mengalami PPD. Untuk mewaraskan diri, aku mulai menekuni dunia blogging dan membaca buku. Kulirik lagi karya-karya terbaru dari Tere Liye. Tak lantas menabung demi membeli bukunya. Tapi aku hanya membaca-baca review buku tere liye yang berseliweran di internet. Lumayan mengenyangkan. 

Hari berganti tahun demi tahun. Marketplace mulai ramai. Saat itu, aku tidak menginstall aplikasi online store apapun di HP. Aku hanya kepo dengan berbagai marketplace itu melalui HP suami. Lalu, saat iseng membuka buka*apak di HP suami. Aku melihat buku Tere Liye. Harganya, omo.. Murah sekali. Itu adalah kali pertama aku tau ada yang namanya buku murah di marketplace. Dulu, kukira buku itu ORI. Lalu, saat bukunya datang aku terkejut dengan kualitas kertasnya. Kan, memang aslinya goblok. 😆

Saking gobloknya, aku membeli lagi buku itu 3 bulan kemudian di toko yang sama. Saat itu, aku sudah melakukan tombol ‘like’ di fanspage Tere Liye. Kuperhatikan kuote dan tulisannya. Bagus. Dan toh Tere Liye tak pernah menyinggung tentang buku bajakan dsb. Itulah letak kegoblokan hakiki milikku. Kenapa aku beli lagi ya? Apakah karena kupikir tidak apa-apa? Toh, penulisnya saja santuy dan tidak marah. 

Bulan berganti tahun. Keadaan ekonomi keluargaku membaik. Aku sudah mulai bisa menabung dan memiliki penghasilan sendiri dari blog. Aku mulai mengubah polaku dalam membeli buku. Mulai berani menginstall sh*pee dan tokop*dia di HP lalu mencari buku ORI yang sedang diskon. Separuh buku Tere Liye milikku adalah buku ORI. Senang rasanya, kualitas kertasnya saja sudah beda sekali dengan yang bajakan. 

Tahun 2018, Tere Liye datang ke Gramedia Banjarmasin. Dia berbagi ilmu disana. Aku memperhatikan dan sempat mengangkat tangan untuk bertanya. Ia menjawab dengan lugas dan nyaman. Aku juga ikut mengantri tanda tangan di buku ORI yang aku miliki. Dari awal pertemuan hingga akhir, tak sekalipun ia pernah protes tentang buku bajakan. Tak pernah ia nyinyir dan sebagainya. Padahal saat itu, buku bajakannya ramai sekali dijual dimana-mana. Karena sifatnya yang terkesan legowo demikianlah aku memutuskan untuk tidak lagi membeli buku bajakannya. 

Setahun terakhir ramai tulisan Tere Liye di fanspagenya membahas tentang buku bajakan. Dimulai dari tulisan yang ‘biasa saja’ untuk sekedar menghimbau pembacanya hingga semakin hari semakin naik levelnya. Dari biasa saja, medium hingga seperti tulisan diatas. Apakah itu wajar? 

Hei, Apakah marah itu wajar? 

Tentu saja wajar.. Kok bisa-bisanya kalian yang mungkin tidak mengenalnya bahkan mungkin tidak pernah membaca karyanya menertawakannya dan ikut menggunjingnya. Ironisnya, sebagian dari mereka juga para penulis. Disitulah hatiku nyeri. 

Kenapa dunia selucu ini? 

Gaes.. Aku pernah diposisi sama dengan Tere Liye sewaktu sekolah. Tugas dan PR milikku dicontek oleh teman-teman sekelasku. Aku yang capek, teman-temanku yang tertawa. Saat aku iseng ‘menyalahkan’ jawabanku supaya nilai kami tak seragam, teman-temanku mencela tindakanku. Berkata ingin menang sendiri. Saat aku tidak mau menyerahkan tugas dan PR milikku mereka ramai menggunjingku ‘pelit’. Sudah jutek, pelit pula. 

Begitulah kiranya konflik penulis dengan pembajak.. 

Penulis capek sekali untuk menemukan ide, melakukan riset, edit sana sini, bolak balik, kerja dan kerja. Pembajak punya jalan yang lebih instan. Cukup copy paste. Saat penulis mogok dan merajuk, orang-orang disekelilingnya ramai mengatakannya penulis pamrih, matre dsb. Sementara pembajak ramai dipuji murah hati karena ia memang lebih ‘murahan’. Disitulah letak menyebalkannya. Kenapa dunia ini selucu itu? 

Perlu kalian ingat bahwa.. 

“Marah dan tidak sopan itu wajar terjadi. Saat bahasa komunikasi lembut dan sopan tak kunjung diapresiasi..”

Karena apa? Karena komunikasi hanyalah alat untuk penyampaian. Hal yang lebih penting adalah Apakah sudah dirasakan? Bagaimana caranya agar lebih berasa? Kapan jurus marah dan tidak sopan akan efektif? 

Ingin Belajar Berempati dengan Kehidupan Penulis? Bacalah Novel Selamat Tinggal

Setiap Tere Liye mengulas tentang betapa b*engseknya industri buku bajakan ia selalu menuliskan kalimat akhir dalam tulisannya. 

“Tere Liye, Penulis Novel Selamat Tinggal”

Itulah ciri khas miliknya. Setiap menulis status, ia mencantumkan judul novel yang mewakili statusnya. 

Dan novel yang mewakili konflik Penulis vs Pembajak adalah novel berjudul Selamat Tinggal. 

Aku sudah pernah mereview novel selamat tinggal. Dan novel itu luar biasa. Ia mengubah diriku yang selalu membenarkan pembajakan. Ia juga membuka pola pikirku untuk memahami makna keberkahan dalam hidup. 

Berhentilah menilai seseorang hanya dari status-statusnya di facebook. Tidak lantas 1-2 kalimat terlihat rese lalu kalian berhak mengklaim kalau orang ini jelek. Pertanyaanku, pernahkah kalian membaca buku Tere Liye sehingga berhak sekali menghakimi status-statusnya? Sudah berapa lama sih kalian kenal dengan Tere Liye? 

Eh, memangnya kamu kenal banget win?

Enggak, ada ⅕ bukunya yang belum aku baca.

Aku tidak pernah mengobrol dengan Tere Liye, atau bahkan tinggal 1 kelas dengannya. Lantas kenapa? Itulah alasan kenapa aku tidak menghakiminya. Toh, aku belum kenal 100% dengan Tere Liye bukan? Justru karena belum kenal aku tidak berani menghakimi orang yang sudah membuka pola pikirku dengan buku-bukunya yang mengandung banyak hikmah kehidupan. 

Novel selamat tinggal ini luar biasa loh. Kalau kalian membaca dengan seksama. Penulis menempatkan dirinya pada posisi penjual buku bajakan. Mencoba berempati dari posisi mereka. Mengubah karakternya perlahan-lahan melalui berbagai peristiwa. Dan memaklumi bahwa di dunia ini selalu ada makhluk yang bebal dan tidak sadar akan kesalahannya. Begitulah dunia. Untuk seorang penulis yang karyanya sudah sedemikian dicuri oleh pembajak. Novel Selamat Tinggal ini cenderung sopan dalam menegur. 

Tapi, untuk apa penulis terus menulis? Bukan untuk pembajak. Bukan pula untuk menghancurkan industrinya. 

Tujuannya adalah mengubah pola pikir generasi selanjutnya menjadi lebih baik. Lantas, bagaimana generasi menjadi lebih baik jika ‘kalian’ terus meneriaki dan mentertawakan omelannya? Menyindirnya di status hingga ramai menertawakan beberapa hal tidak baik miliknya. 

Sedihnya, mengapa hal ini juga turut dijadikan ajang aji mumpung bagi penulis lain? Berlagak cara mereka lebih sopan dan baik. Kenapa demikian? 

“Aku heran kenapa manusia suka bergosip? Bukankah kita semua memiliki cela pada diri masing-masing?” -Fey: Nebula-Tere Liye. 

Pertanyaannya, apakah industri buku bajakan akan mati? Jawabannya tentu tidak. 

Tapi, Mungkinkah generasi selanjutnya akan lebih baik? 

Jawabannya ada pada diri kalian sendiri. 🙂

Nb: Aku bukanlah fans mati Tere Liye. Banyak beberapa penulis indonesia yang juga aku sukai. Akan tetapi, aku selalu berusaha untuk mengapresiasi langkah keberanian. Sejauh itu benar, Kenapa tidak? 

Kalian juga boleh saja menghakimiku karena pernah membeli buku dan barang bajakan. Kalian tau? Semua manusia pernah melalui masa ‘goblok’nya masing2. Dan iya, aku pernah ‘goblok’. Tapi satu hal yang penting. Apakah lantas kita membenarkan kegoblokan itu? Dalam hidupku ada 3 orang yang pernah memakiku ‘bodoh’ dan ‘goblok’. Tiga orang itu, adalah orang yang paling aku sayangi sekarang. Kalimat kemarahan adalah sebuah batas merah yang tanpa sadar menciptakan tombol ‘warning’ dalam hati kita. Maka, peluklah rasa marah itu. 

Mengintip Cara Setan Menggoda Manusia: Tontonlah Girl From Nowhere

Mengintip Cara Setan Menggoda Manusia: Tontonlah Girl From Nowhere

“Ma, bagaimana cara setan menggoda manusia?” Pica bertanya dengan lugu padaku. 

“Tidak ada yang tahu persis caranya. Tapi setan selalu memanfaatkan celah hitam dari hati manusia..”

“Celah hitam?”

“Rasa iri, benci, ingin lebih baik, obsesi tak terkendali, setan suka sekali memanfaatkan hal itu..”

“Bagaimana persisnya Ma?”

“Entahlah..”

Bagaimana Jika Iblis dan Setan Menyamar Menjadi Manusia? 

Adalah Nanno. Karakter perempuan utama dalam film Girl From Nowhere. Tidak ada yang tau persis dari mana asalnya dia. Tapi, dia selalu berpindah sekolah. Menyamar menjadi murid perempuan lantas mencari jiwa-jiwa gelap di sekolah. Mencoba bergaul dan berteman dengan mereka. 

Uniknya, jiwa gelap itu bukan terpasang dari karakter yang jahat dari luar. Tapi, most of them adalah karakter yang ‘terlihat baik’. Nanno menggali jiwa gelap itu dengan masuk kedalam kehidupannya. Tidak lantas langsung membisikinya tetapi hanya masuk kedalam kehidupannya. Kemudian, memberikan jiwa itu sebuah pilihan. 

Aku selalu terngiang dengan pertanyaan Pica. Bagaimana tepatnya cara setan menggoda manusia? Apakah dengan membisiki agar kita tidak sholat? Tidak mengaji? Lupa membaca doa? Lalu kemudian masuk menguasai separuh diri kita? Atau sebenarnya, kitalah yang membiarkan aura hitam itu masuk. Karena kita tak bisa mengontrol setitik sifat jahat yang muncul pada diri kita. 

Setan, memanfaatkan hal itu. Rasa iri, dengki, nafsu, haus penerimaan, obsesi, rasa benci. Setitik saja. Itu sudah sangat cukup untuk dikembangkan. 

Nanno bukanlah setan, bukan pula Iblis. She just Girl From Nowhere. Dia seperti iblis peneliti yang sedang mencari tau..

“Betapa lucunya sifat manusia sebenarnya”

“Betapa akalnya terlihat seakan sangat hebat. Tetapi nafsunya menggebu-gebu di dalamnya.”

“Inikah makhluk yang diciptakan Tuhan? Yang katanya bisa lebih mulia dibandingkan Malaikat, tetapi bisa lebih rendah dibanding binatang?”

Mengintip Karakter Jahat Manusia yang Terpendam dalam Episode Serial Girl From No Where

Cerita Girl From Nowhere ini menurutku cukup unik. Ada 13 episode dalam season 1. Ceritanya selalu dimulai dengan karakter Nanno yang berpindah-pindah sekolah dalam setiap episodenya. Berikut adalah beberapa ringkasan judul episode yang sangat aku ingat:

1. The Ugly Truth

Apakah kau yakin bahwa orang yang selama ini kau kagumi adalah orang yang baik? Atau sebenarnya hanya berpura-pura baik agar mendapatkan ‘mangsa yang lezat’

Seorang Guru di sekolah sekaligus mentor Yoga merupakan Guru yang disukai oleh murid-muridnya, khususnya murid perempuan. Karena wajahnya yang tampan dan perawakannya yang gentle. Nanno pun bereksplorasi di sekolah tersebut. Mengikuti kelas Yoga seperti murid biasa. Tanpa menggoda sang Guru, Nanno mencoba mengungkapkan topeng jahat sang Guru yang sebenarnya. Lantas tertawa saat semua orang mengetahuinya. Yup, Guru itu memperkosa beberapa anak muridnya lantas merekam adegannya sebagai pemerasan. 

“Tak semua manusia baik itu baik, sebagian hanya berpura-pura baik agar bisa lebih jahat”

2. Apologies

Nanno menjadi murid baru paling cantik di sekolah kedua yang ia datangi. Kecantikannya mengundang ketertarikan dari 3 personil tim basket. Namun, membuat iri 2 teman perempuannya. Nanno tidak menggoda keduanya. Tapi keduanya larut dalam rasa iri dan benci. Sementara 3 lelaki yang menyukainya memanfaatkan itu. 

Dalam sebuah pesta minuman, Nanno dimanfaatkan. Lantas ada kejadian tak terduga yang membuat Nanno meninggal_di mata para manusia itu. 

“Manusia membuat kesalahan, lalu meminta maaf. Lalu berbuat kesalahan lagi. Sungguh lucu..”

3. Social Love

Kali ini Nanno masuk ke dalam sekolah dimana dia memacari seorang lelaki yang populer disana. Hubungan mereka menjadi sorotan di sosial media. Mereka memiliki fans dengan ribuan follower. Tetapi, sang lelaki hanya memanfaatkan Nanno untuk popularitasnya. 

Nanno memanfaatkan kebohongan lelaki itu. Lewat berbagai tragedi, dia meyakinkan lelaki itu bahwa kebohongannya akan terjadi selamanya. 

“Manusia senang sekali dengan popularitas. Tidak peduli itu bohong atau palsu yang penting adalah citranya tidak hilang”

4. Hi-So

Nanno masuk kedalam sekolah elite. Dimana didalamnya hanya ada murid-murid kaya. Sebagai murid terkaya ia bisa membeli sebuah kelas dan menjalankan usaha didalamnya. 

Usaha yang simple bagi setan. “Aku akan mengabulkan APAPUN keinginanmu asalkan ada bayarannya.”

Nanno memanfaatkan rasa penasaran dari teman-temannya akan kehidupan Dino yang konon merupakan anak terkaya. Dino yang selama ini berbohong terjebak dalam realita ketika ia harus mengambil uang kedua orang tuanya yang miskin. 

“Kupikir, orang miskin memiliki hal yang tidak bisa kubeli. Ternyata, segalanya bisa dibeli dengan uang di dunia manusia. Termasuk sebuah jati diri.”

5. Trap

Apa jadinya kalau ada narapidana yang kabur dan memasuki sekolah kemudian membunuh siapapun disana? 

Sekelompok siswa dan guru pun terjebak didalam satu kelas. Nanno termasuk didalamnya. Ia memperhatikan hal menarik.. 

“Bahwa manusia akan memperlihatkan sisi asli dirinya ketika ia merasa terancam..”

Lucunya.. “Manusia-manusia ini, menurunkan sifat asli itu pada keturunannya. Termasuk sifat jeleknya.”

6. WonderWall

Nanno menjadi partner manager tim sepak bola di sekolah kali ini. Ia berusaha berteman dengan Bam. Namun, karena rasa iri Bam membenci Nanno. 

Karena kesal, Bam lalu menulis hal iseng di dalam dinding toilet sekolahnya. 

Dasar Nanno Wajah Bau

Ternyata segala hal yang ia tulis di dinding toilet tersebut menjadi kenyataan. Anehnya, tulisan impian yang indah tak pernah terwujud. Hanya tulisan kebencian saja yang akan terwujud. Ia menjadi ketagihan untuk mengutuk orang yang ia benci. 

“Ketika manusia lemah diberikan sebuah kekuatan.. Ternyata ia sama menyebalkannya dengan manusia lainnya. Kebencian memang luar biasa.”

7. The Rank

Episode yg sangat related dengan kehidupan. Bahwa kita kadang terobsesi pada sebuah persaingan. Keinginan untuk menang. 

Kali ini Nanno menjadi murid baru di sekolah khusus perempuan yang menilai muridnya dari kecantikannya. Bahkan setiap hari ada aplikasi khusus yang bisa mengurutkan kadar kecantikan siswinya. Siswi yang masuk dalam 10 besar tercantik akan mendapatkan pelayanan khusus. 

Nanno memanfaatkan obsesi dari putri kesepuluh untuk menjadi putri nomor 1. Mencoba menerka-nerka hati putri yang terlihat baik hati namun penuh kepalsuan, lantas berbisik

“Ada dua cara untuk bisa menjadi nomor 1 didunia ini. Pertama, berusaha menjadi yang terbaik. Kedua, jatuhkan orang lain.”

8. Best Friends Forever

Nanno tidak hanya bisa menjadi murid baru di masa sekarang. Namun juga di setiap masa. 

Saat reuni sekolah diadakan, Nanno hadir masih dalam seragam sekolahnya. Menyiapkan hidangan untuk para teman reuni. Siapa sangka Nanno juga merupakan teman satu angkatan mereka? 

Nanno adalah Teman yang mereka bully habis-habisan. 

Nanno menjadi objek kebencian bagi semua teman di kelasnya hingga dipukul dan dikeroyok. Yah, setidaknya dalam kasus penutupnya ini. Nanno tau satu hal bahwa.. 

“Untuk menjadi best friends forever, kadang sekelompok orang membutuhkan satu hal yang sama. Sekalipun persamaan itu adalah kesenangan dalam membenci hingga membully seseorang. Membenci seseorang bersama-sama itu menyenangkan bukan?”

Lantas, Benarkah Musuh Kita Selama Ini adalah Setan? 

“Manusia selalu berdoa agar setan menjauh dari kehidupannya. Agar ia bisa beribadah dengan khusyuk. Agar ia bisa menjadi orang baik. Tetapi ia lupa.. Bahwa sifat jahat itu, berasal dari nafsu. Nafsu adalah hal yang Tuhan ciptakan. Tugas manusia, adalah mengontrol nafsu. Bukan menyalahkan setan atas sifat jahatnya.”

Bahkan dalam suatu cerita, setan pernah ditanya.. “Kenapa kau selalu menggoda manusia?”

Setan menjawab, “Aku tidak menggodanya. Dia yang memilihnya sendiri. Apakah kau punya bukti bahwa aku benar-benar menggodanya? Aku hanya memberikannya pilihan. Memakan buah atau tidak. Taat atau tidak..”

Manusia lahir, membawa genetik sifat ibu dan ayahnya. Mewarisi akar budaya kakek dan neneknya. Terdampar pada suatu lingkungan. Bercampur, berbaur. Itulah yang membuat sifat manusia berubah. Akal dan nafsu, berlomba-lomba memperlihatkan eksistensinya. Tapi pada dasarnya manusia lupa hal itu. Mereka hanya tau bahwa didunia ini mereka harus survive. Mereka harus berlomba. Dan mereka dituntut untuk menang, senang, bahagia. Segala hal itu telah mengikis sebuah perasaan penting. Yang paling penting. Kalian tau apa itu? 

Itu adalah Empati. 

Pembelajaran dalam Film Girl From No Where ke-1: Manusia Harus Punya Empati

Segala karakter manusia yang ‘digoda’ oleh Nanno selalu berusaha ia hadapkan pada pilihan untuk ‘memedulikan manusia yang lain’ tapi obyek manusia yang ia eksplorasi tak pernah memilih hal itu. Padahal, Nanno selalu menggoda untuk memilihnya.

Dunia ini, miskin rasa toleransi dan empati. Padahal, Tuhan sudah merancang rasa sosial dalam diri manusia. Tapi seiring berjalan waktu, rasa itu berubah wujud menjadi kesenjangan. 

Entah sejak kapan manusia senang mengelompokkan diri, lantas hanya peduli pada circle yang itu-itu saja. Tidak jarang menjatuhkan yang lain untuk bertahan. Bahkan, menjatuhkan yang lain hanya untuk kesenangan. 

I tell u.. Kalau tidak paham inti dari film serial ini pastinya kita akan berpikir bahwa film ini toxic. Kayak, ehm apa sih mencari-cari sisi gelap manusia. Tapi, sesungguhnya film ini lebih dari itu. Film ini memberikan gambaran kepada kita bahwa kita harus waspada dengan sekeliling kita. Bukan dengan orang jahat. Apalagi dengan orang yang terlihat jahat. Mungkin bahasa lainnya adalah membongkar kemunafikan sifat asli manusia. 

Pembelajaran dalam Film Girl From No Where ke-2: Manusia Harus Waspada dengan Manusia Lainnya

Jujur, saat SMA dulu aku sangat kebingungan dengan istilah ‘homo homini lupus’ atau dalam terjemahannya yaitu:

“Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”

Dijelaskan guru berbolak balik pun aku masih bingung. Terasa aneh. Bahkan saat ulangan, jujur saja aku sangat text book. Demi tidak memahami dan menjiwai apa artinya. Seperti apa sih contohnya pikirku. Peperangan begitu? Perebutan tahta begitu? 

Ternyata tidak serumit itu. 

“Diantara sesama manusia, ada serigala yang kejam.”

Aku memahami arti serigala itu ketika duduk di bangku kuliah. Aku semakin memahaminya ketika sudah menjadi ibu. Betapa sesungguhnya, siapapun berpotensi menjadi serigala itu. Bahkan, tidak dipungkiri bahwa diri sendiripun bisa saja menjadi serigala tersebut. 

Terjebak dalam momwar, aku pernah sekali melakukan kesalahan. Menerkam perasaan yang lain. Hanya untuk memuaskan dahaga rasa kesalku. Membiarkan rasa iri dan merasa ketidakadilan memimpin atas tindakanku. Padahal, tidak ada Nanno disana. 

Well, pada akhirnya sebagai manusia kita hanya bisa menjaga satu hal. Jagalah hati kita sendiri. 

Jagalah hati, jangan kau kotori

Jagalah hati, lentera hidup ini

Jagalah hati, jangan kau nodai

Jagalah hati, cahaya ilahi

*dari ngereview film serial sampai menyanyi.. Sungguh artikel yang tidak jelas.. Semoga tidak dibaca setengah-setengah lalu misunderstanding.. 😂🤣

Iyakan, manusia itu makhluk yang lucu ~ Nanno. 

Mengulas Novel Selamat Tinggal-Tere Liye

Mengulas Novel Selamat Tinggal-Tere Liye

Pernah gak sih kamu kalo baca novel tetiba ngerasa ‘ih, kok bener’ atau ‘ih, iya juga’ bahkan ‘kok mirip aku’ dsb..

Kalau kamu pernah merasakan hal tersebut. Berarti, penulis telah sukses membawakan pesannya dalam novel tersebut.

Artinya apa?

Artinya, buku tersebut menjadi bagian yang akan merubah hidupmu kelak.

“Untuk apa kita mengungkapkan kritik dalam sebuah tulisan? Toh paling-paling yang dikritik tidak akan berbuat lebih baik.”

Anda lupa hakikat sebuah tulisan yang sebenarnya. Tulisan itu bukan untuk membuat si A menjadi lebih baik. Ah itu terlalu kecil. Tapi untuk mengubah pola pikir generasi menjadi lebih baik. Itu jauh lebih besar efeknya

Selamat Tinggal, Novel Karya Tere Liye yang JLEB

Pernah gak sih kamu merasa kalau sebagian dari hidupmu dipenuhi kepalsuan?

Palsu untuk mendapatkan sebuah penerimaan.

Palsu karena itulah penawar saat susah.

Harus palsu karena circle yang mendorong.

Jika iya, maka novel ‘Selamat Tinggal’ akan membuat pikiranmu tertembak dan merasakan penyesalan yang indah. Karena sejatinya.. Semua orang pernah memasang topeng untuk melindungi dirinya. Dan itu, tidak sepenuhnya salah.

Tetapi semuanya akan menjadi salah ketika kepribadian kita terlanjur membenarkan yang salah lantas tak mau belajar.

Itulah yang aku rasakan ketika selesai membaca novel ‘Selamat Tinggal’ karya Tere Liye. Entahlah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena sungguh banyak pembelajaran yang ‘Jleb’ saat membaca novel ini.

Well, novel ini bercerita tentang apa win?

Ehm, Aku tidak begitu pandai membuat sinopsis. Lebih tepatnya ‘aku malas’ menulis sinopsis yang bagus seperti penulis pada umumnya. Aku lebih suka menulis sesuka jariku saja.

Adalah Sintong Tinggal. Seorang remaja yang kuliah di jurusan sastra dimana kehidupannya terasa ‘stuck’ ketika memasuki semester 7. Tanpa disadari ia hampir menjadi mahasiswa abadi karena kepingan puzzle kehidupannya berjalan berlawanan dengan hati kecilnya. Ia adalah seorang penjaga toko buku bajakan, padahal dia sendiri memiliki bakat menulis. Sepotong kehidupan cintanya yang kandas juga telah mengikis semangatnya.

Sampai suatu hari seorang mahasiswi bernama Jess memberi warna baru di kehidupannya. Ia mulai melupakan masa lalu suramnya. Kemudian belajar membuat lembaran yang baru. Termasuk pada skripsinya.

Siapa sangka penelitian pada tokoh penulis ‘Sutan Pane’ di masa lalu untuk skripsinya telah membuat percikan semangat menulisnya bangkit lagi? Dan karena asyik berburu sumber penelitian, ia mendapatkan jejak-jejak yang seru dan bermakna dalam hidupnya.

Dari Berburu Jejak Sutan Pane hingga Pencarian Jati Diri

Karakter Sintong Tinggal digambarkan Tere Liye sebagai remaja yang memiliki bakat menulis, namun merasa kehilangan semangat ditengah-tengah kuliahnya.

Well, Siapa yang sering mengalami hal berikut:

Merasa diri tidak berkembang, ingin berubah takut dijauhi. Ingin maju dan berkata benar takut disalahkan dan menjadi benar-benar salah. Tapi diam juga jadi salah karena memendam kebenaran. Terasa sangat sulit untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada kesalahan karena sudah menjadikan kesalahan tersebut sebagai hal yang biasa saja.

Toh, semuanya menganggap hal itu adalah hal biasa saja.

Zona nyaman yang salah kadang membuat kita stuck. Begitupun sebuah kesalahan. Kesalahan yang sudah berlaku umum maka terasa bukan lagi sebuah kesalahan. Tetapi menjadi, Ah.. Biasalah. B aja gitu.

Sintong Tinggal terperangkap pada zona yang demikian. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah buku dari Sutan Pane. Tokoh penulis di zaman revolusi. Tokoh tersebut menginspirasinya. Membuat semangatnya untuk menulis kembali bangkit. Bukan hanya semangat untuk menyelesaikan skripsinya tapi juga semangat untuk menjadi penulis.

Sintong sendiri digambarkan merupakan sosok generasi milenial sepertiku. Yang mana keseharian dan circlenya hampir sama dengan generasi milenial pada umumnya. You know lah.. Something like menyukai hal murah, berburu barang prestise. Generasi yang suka dan bangga sekali berburu barang murah untuk jenis-jenis yang tidak bisa dipamerkan. Lantas kemudian bersedia bayar mahal untuk sesuatu yang bisa dipamerkan.

Dari berburu jejak Sutan Pane, Sintong mendapatkan hal-hal baru. Bukan sekedar untuk penyelesaian skripsinya. Ia juga banyak belajar dari tokoh Sutan Pane. Dan pembelajaran itu membuatnya bisa menulis dengan baik lagi. Mungkin itulah hal yang dinamakan ‘terinspirasi’.

Pesan Buku Selamat Tinggal: Dunia ini Dipenuhi dengan Hal Palsu

Jujur, kalau membaca status Tere Liye di FB sekilas cepat saja tanpa melihat dari sisi lain. Pasti ada yang berpikir bahwa Tere Liye ini memiliki pola pikir sempit. Seperti, “Apa sih, dikit-dikit nyinyirin orang pamer. Beda tau antara pamer dan menginspirasi. Bla bla”

Well, aku yakin sebagian besar pembaca setia buku Tere Liye pasti tidak setuju dengan kalimat tersebut. Termasuk aku. Tere Liye selalu sempurna dalam mengulas sebuah karakter. Layaknya drama korea, karakter yang diciptakannya pada novelnya tidak ada yang ‘uh jahat banget’ atau ‘uh baik banget’. Semuanya manusiawi.

Dan tahukah? Palsu pun juga manusiawi. Karena itulah bentuk adaptasi diri. Walau Tere Liye benci dengan kepalsuan, buku bajakan dsb. Tapi dia menempatkan kekecewaan tersebut pada tokoh Sintong dengan cara yang manusiawi.

Dalam buku ini aku sedikit banyak belajar dari karakter Jess, Bunga, Mawar, dan Sutan Pane. Dari dunia Endorser, Percetakan Buku Bajakan, Obat Palsu hingga fakta kelam dibalik dunia penulis terbaik. Semua penuh kepalsuan yang manusiawi.

Mama Jess yang merupakan seorang influencer. Ternyata hidupnya penuh dengan kepalsuan. Suaminya pergi, segala yang dijualnya disosial media adalah produk palsu. Kemewahan itu, terasa tidak menyenangkan di mata Jess.

Nasib sama dengan Bunga, teman Jess. Ayahnya yang merupakan pemilik percetakan buku bajakan, namun ia tidak bisa menghentikannya. Bunga dan Jess adalah sahabat yang sama-sama ingin keluar dari dunia yang palsu.

Tidak hanya buku dan sosial media yang bisa berujar kepalsuan. Bahkan dunia farmasipun juga memiliki musuh. Obat palsu, waw.. Luas sekali pemikiran penulisnya. Dan cara menghubungkannya dalam tokoh Mawar itu keren. Hanya saja, aku sedikit kecewa kenapa Sintong begitu setia pada cinta pertamanya. Layaknya novel Sunset Bersama Rosie.. Fix, penulisnya suka sekali pada karakter yang setia. Padahal.. Cinta dan Realitas itu bukannya harus seimbang. Ehm. Apakah penulis merupakan golongan ‘cinta ini kadang-kadang tak ada logika?’ Hihi.

Dan akupun belajar dari kehidupan Sutan Pane. Kalian tahu apa yang aku pelajari dan sangat aku garis bawahi dari kehidupan Sutan Pane?

Bahwa kadang, penulis terlalu sibuk menuliskan hal-hal baik. Mengkritik sana dan sini. Sibuk dengan produktivitas di dunia kertas. Sampai kemudian lupa, bahwa dunia ini harus seimbang.

Dalam ending kehidupan Sutan Pane, ia menjual 5 buku terbaiknya untuk menutupi hutang adiknya. Memilih menghilang dari kehidupan karena malu dengan dirinya sendiri. Penulis terbaik itu, memiliki kisah nyata yang suram. Dan sungguh, sebenarnya.. Ini banyak terjadi.

Dibalik kata-kata bijak itu terdapat inspirasi dari melihat ketidakadilan dan kejahatan diluar sana. Tapi kadang-kadang, penulis lupa dengan orang terdekatnya. Kenapa penulis bisa hilang begitu saja? Karena prinsip hidupnya sendiri yang membantingnya.

“Hidup adalah kesesuaian antara perkataan, tulisan dan perbuatan. Apalah arti kehormatan seorang manusia saat tiga hal ini tidak sesuai lagi. Apalah arti martabat seorang manusia ketika hal tersebut bertolak belakang.”

“Dan kita bertanggung jawab tidak hanya terhadap diri kita sendiri, tetapi juga orang-orang disekitar kita. Atasan bertanggung jawab atas anak buahnya. Orang tua bertanggung jawab atas anak-anaknya. Memastikan perkataan, tulisan dan perbuatan itu selalu sama.” (Selamat Tinggal,Tere Liye: 337) 

Sungguh, inilah kepalsuan yang sangat membuatku belajar hingga aku selalu mengingatkan pada diriku sendiri. Family first, healing with curhat. Baru belajar dan menulis hal yang ‘sesuai’. Karena lucu sekali kalau di blog aku menulis ‘ceramah’ tapi aslinya aduh, jauh sekali.

Every Novel Just Like a Horchux

Menurutku, setiap kepribadian tersembunyi Penulis seperti terpecah di karakter beberapa novelnya. And Damn.. I like it. Aku selalu suka setiap karakter yang dia bangun. Dari Bujang, Thomas, hingga Ali. And the Last, I feel like Sintong is half of Tere Liye.

Kadang saat membaca buku selamat tinggal ini aku mencoba flashback dengan status-status Tere Liye di fb. Maklum, aku adalah salah satu follower setianya. Jadi, kadang aku sedikit tertawa kalau dia ‘memanfaatkan’ novelnya untuk menyampaikan pesan-pesan dan ‘nyinyirannya’. Wkwk. I know.. Bagi sebagian orang mungkin suka sekali mencerca gaya menulis yang begini. Tapi, itulah ciri khasnya. Bukankah setiap penulis punya branding yang unik? Hargailah.

Dan setiap membaca novel Tere Liye, aku jadi ingat dengan istilah Horchux pada buku Harry Potter. Kalian tau? Horchux adalah benda-benda yang merupakan bagian dari nyawa Voldemort. Hilang satu, masih ada yang lain. Horchux adalah benda yang berasal dari ilmu hitam dimana didalamnya ada bagian nyawa dari pemiliknya. Jadi, si pemilik selalu bisa hidup abadi.

Buku karya sendiri membuat kita bisa abadi. Bukankah begitu?

Aku selalu percaya bahwa penulis memiliki banyak dunianya sendiri. Setiap buku yang dibaca menjadi akar yang baru. Setiap buku yang ditulis menjadi dunia yang baru. Setiap buku memiliki kode uniknya, dan memiliki karakternya. I feel it. Entahlah kapan aku bisa memecah karakterku menjadi seperti itu. Supaya tidak begitu labil didunia nyata. Wkwk.

NB: Buku Selamat Tinggal telah banyak mencerahkan. Kuakui aku pernah tak sengaja dan sungguh bodoh membeli buku Tere Liye yang bajakan di market place saat era jahiliyah hidupku. Hiks. Semoga itu yang terakhir. Dua tahun terakhir aku sudah berhenti dan membeli buku asli. Kini, aku adalah seorang pemburu buku diskon. Maaf, bagaimanapun juga aku Mamak beranak dua yang ingin hemat tapi tidak pelit dan masih baik hati. Terima kasih sudah berani mengajarkan arti kepalsuan dalam hidup ini lantas mengakui kepalsuan lalu keluar dari itu semua.

Untuk kalian yang ingin membeli buku Tere Liye Original dan mendapatkan tanda tangan aslinya bisa banget. Karena Tere Liye punya toko di shopee. Just klik ‘Tereliyewriter’.

Drama Start Up dan Warna-Warni Perasaan di Dalamnya

Drama Start Up dan Warna-Warni Perasaan di Dalamnya

Minggu 6 Desember sudah berlalu.. Minggu yang benar-benar spesial karenaaaaa… 

Episode Terakhir Start Up udah kelarrr… 

Jadi, siapa pemenangnya? 

Kamu Tim #NamDosan atau #HanJiPyong? 

Begitu kan yang sedang trend akhir-akhir ini di dunia perdrakoran? Sampai ada war-nya segala.. 🤣

Well, gak salah sih ya kelakuan Writer Nim emang juara banget dalam ngaduk-ngaduk perasaan netizen. Sudahlah diaduk, ditambahin micin sama gula pula. Padahal sudah emak bilang loh, micin ya micin.. Gula ya gula. Jangan barengan. Nanti terlalu sedap! 

*ini ngomong apaan sih? 

Pokoknya, nonton ini itu perasaan nano-nano. Manis, asem, asin, kegeeran. Ya begitulah kalau yang nonton sok-sokan reframing jadi Seo Dal Mi segala. Wkwk.. Bener-bener deh nih pandemi, bikin emak keracunan nonton drakor aja dari kemarin.

Nah, berikut ini adalah Warna-Warni perasaan emak ketika menonton drama Start Up:

Mengalami 2nd Lead Syndrome

Jujur ya, emak tuh sudah sering nonton drakor. Tapi, baru kali ini yang bener-bener terpana dengan 2nd lead. Bahkan selalu protes saat netizen bilang kalau Ji Pyong adalah 2nd lead. Karena bagi emak sih ya kok gak pantas gitu. Peran karakternya lumayan dominan loh. Dan yang utama adalah dia yang membangun drama ini jadi up n down. 

Dari pertemuannya dengan si nenek, surat dengan Dal Mi, caranya membangun dan memotivasi Samsan Tech dari belakang. Wow, super sekali sih. Sudah pantas banget jadi 1st lead gitu. 

Tapi kenyataannya, menurutku writer nim agak kebablasan dalam memasukkan karakter Ji Pyong ini. Terlalu dominan ngebaperinnya jika dibandingkan dengan Nam Do San. Padahal, kelihatan sekali kalau Nam Do San lah sebenarnya 1st leadnya. Biasanya loh namanya karakter 2nd lead gak sebaper ini. 

Sejak awal aku jujur saja sudah simpatisan berat sama karakter Han Ji Pyong. Caranya berekspresi itu menggemaskan. Aura denialnya saat menolak menjadi anak baik itu menggemuruhkan dada (halahh). Apalagi kalau melihatnya mendadak jadi pahlawan, luluh seketika. Gak heran, tim Han Ji Pyong ini banyak banget. 

Tapi, apakah aku juga Tim Han Ji Pyong seperti ‘mereka’? Jujur, enggak segitunya sih. Hihi. 

Story di instagram ini aku buat tanggal 22 November. Aku #TimJiPyong tapi aku mendukungnya untuk selalu menjadi anak baik. Bukan mendukungnya untuk memenangkan hati Dal Mi. Karena aku benar-benar terinspirasi dengan karakternya. Suka sekali. Menurutku ya, karakter Ji Pyong ini adalah karakter terbaik yang pernah Writer Nim ciptakan. 

Meski jujur, aku sempat kecewa dengan perubahan mendadak karakternya di episode 13 dan 14. Seakan sedikit dipaksakan. Sempat malas sekali nonton episode terakhirnya. Karena takut karakternya diubah demi kemenangan Do San. Tapi ternyata, endingnya mengagumkan. Salut dengan penulisnya. 

Merasa Senasib dan Satu Sifat dengan Do San

Aku mendukung Do San mendapatkan Dal Mi. Tapi, karakternya masih tidak bisa mengalahkan ke-baperanku pada karakter Ji Pyong. Maka, aku bukan tim Do San. 

Aku mendukungnya untuk mendukung diriku sendiri. Karena aku merasa mirip dengannya. *Tapi katanya bukan tim Do San. GIMANA SIH? 

Well, Aku tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat mirip dengan Do San. Walau jujur aku tidak sepintar Do San. Scene yang membuatku merasa sangat mirip dengannya adalah tentang meraba-raba tujuan hidupku. Aku sungguh sangat baper ketika menonton scene dimana Do San hidup untuk membahagiakan dan membanggakan orang tuanya. Sungguh sama.. 😭

Aku juga sangat baper ketika melihat Do San bingung meraba mimpinya ketika ditanya, “Apa cita-citamu?”

Aku juga merasakan hal yang sama ketika orang tuanya berbisik tentang cita-cita seharusnya. Aku merasakan kebingungan dihati Do San. 

Pokoknya, Karakter Do San sangat mewakili generasi Milenial sepertiku. Sangat. Up and Down Do San dalam Quarter life crisis itu sangat related dengan kehidupan remaja seumurannya dan juga seumuranku dahulu.

I’m so happy ketika Do San sudah paham dengan mimpinya sendiri. Yes, Just Follow Your Dream!

Kadang juga Merasa Mirip Dengan Dal Mi

Apaan sih? Tadi merasa mirip Do San. Sekarang Sok kegeeran mirip Dal Mi? Mirip dimana? Nasibnya? Direbutin dua cowok super legit juga? 

Enggak lah.. Mirip mukanya maksudku.. (Auto ditoyor berjamaah para fans Suzy..🤣) 

Becanda denk. 

Jadi, aku tuh merasa sangat terinspirasi dengan sosok Dal Mi ini. Ada dibeberapa scene hidupnya yang mewakili perasaanku banget dimana aku ngerasa. “Ih iya. Aku juga pernah gini..”

Masalah-masalah yang ada dalam perjuangan hidup Dal Mi ini sebenarnya sangat mirip dengan kehidupan kita, bukan kehidupanku saja loh. Tau gak miripnya dimana? 

Yaitu, kalau kita sudah memutuskan memilih. Maka itu berarti kita sudah siap dengan risikonya. Dan harus menghadapinya. TANPA PENYESALAN. *eh, apa lu capslock main dimari.. 

Ketika Dal Mi memilih ikut dengan Ayahnya maka ia juga harus menanggung risiko dengan beratnya beban hidup. Begitupun ketika ia memutuskan menandatangani kontrak akuisisi bakat dengan Alex tanpa teliti, maka ia harus terlepas dengan Samsan Tech. 

Aku pernah merasakan hal yang sama dengan Dal Mi. Ketika ia berkata, “Nenek, apakah aku bunga kenikir yang terlambat?” *kalau tidak salah begitu ya? 

So related dengan hidupku sekarang walau beda latar ceritanya. 

Tapi, begitulah hidup. Hidup penuh kejutan bahagia. Juga kejutan rasa sedih. 

Dari Dal Mi aku belajar untuk tidak pernah menyesali keputusanku. Juga tidak pernah menyesali kecerobohanku. Keputusan benar maupun salah memiliki risikonya masing-masing. Kuncinya ada pada diri kita, mau terus berjalan atau stuck? 

Dari Dal Mi aku ikut termotivasi untuk bisa ‘naik kembali’ dan menemukan tempat yang tepat untukku.

Paham dengan Berbagai Selak Seluk Bisnis

Drama start up ini sungguh banyak mengajariku insight baru tentang bisnis. Aku akhirnya paham dengan maksud suami untuk ‘membangun ekosistem’ pada bisnis kami. Well, sungguh aku banyak belajar dari sini. 

Yup sebagai pebisnis pemula sungguh niat awalku nonton start up adalah kegugupan diri sendiri karena bulan ini aku sudah memiliki npwp untuk ikut serta berperan dalam bisnis suami. Walau jujur, suami mungkin hanya butuh namaku untuk jadi CEO perusahaan kecil kami tapi dalam sudut hatiku.. Aku ingin menjadi CEO yang layak. Bukan sekedar nama saja. 🙂

Maka, boleh dong aku juga memposisikan diri sebagai Dal Mi dan menganggap suamiku adalah Do San. Huahaha. Dan lucunya, di kantor kami juga punya Yo San dan Chul San sama seperti Samsan Tech. Sungguh aku bersemangat sekali mengkhayal bisnis kami akan sukses layaknya Chong Myong Company. *eh, kok jadi curhat gini? 

Oke, back to ekosistem bisnis. Aku akhirnya jadi paham dengan model profitnya PayPal dan Flip. Berbekal dengan nonton start up aku mengerti pentingnya sebuah tim yang solid, tata cara pembagian saham hingga membangun bisnis agar berkembang. 

Well, ternyata tim yang solid itu bukan hanya diisi oleh orang yang satu passion loh. Ini benar adanya. Selama 3 tahun suamiku memiliki posisi sama dengan Do San dalam bisnisnya. Ia memiliki teman yang satu passion, akan tetapi rasanya hanya berputar disitu-situ saja. 

Drama start up benar-benar mengispirasi dalam menjalankan bisnis. Tapi jujur kami belum bisa meniru itu semua. Suami bilang, lebih baik mengumpulkan laba untuk menjadikannya modal usaha. Rasanya kami tidak bisa menghubungkan investor untuk bisnis kami. Karena kami belum punya relasi yang trust soal ini. Hmm.. Anggap lah posisi kami sekarang layaknya Itaewon Class dimasa awal. Kurasa aku harus banyak menonton drama seperti ini untuk dijadikan inspirasi.

Merasa Nostalgia Melihat Kelakuan Sa-Ha dan Chul San

Jika bertanya bagaimana cerita kehidupan cintaku dengan suami dahulu maka mungkin bisa dikatakan mirip dengan kekonyolan cinta  Sa-Ha dan Chul San. Walau jujur sih karakter suami tegas, gak seperti Chul San juga. Tapi untuk beberapa scene, 60% bisa dikatakan mirip. Huahaha. Karena itulah aku selalu senyum-senyum gemas kalau sudah melihat kelakuan mereka berdua. 

Wah, kaget ya. Nulisnya norak gini tapi aslinya jaim kayak Sa-Ha? Percayalah, aslinya dulu ‘topeng’ aku begitu. Karakter topengku waktu kuliah mirip dengan Sa-Ha ini, suamipun mengiyakan. Judes dan jaimnya sangat mirip padahal itu hanya topeng. ((Aslinya, ya begini.. 🤣)) 

Apalagi kalau ingat dulu aku dan suami juga diam-diam pacaran. Tidak ada yang tau. Saat adegan Yong San ingin memecahkan script dengan Sa-Ha, I can related it dengan adegan suami yang tiba-tiba menyuruh teman diskusiku untuk maju ke depan kelas. Sementara aku bengong dibuatnya. Ah sungguh kangen masa-masa itu. 

Bercita-cita ingin Menjadi Halmoni di Hari Tua

Diantara Ji Pyong, Do San, Dal Mi hingga In Jae.. Siapa sih karakter favoritku? 

Jawabanku adalah Nenek Dal Mi. Sungguh sosok yang luar biasa luas hatinya. 

Melihatnya aku jadi teringat mertuaku. I mean, dalam banyak sisi mirip loh sebenarnya. 

Beliau yang masih setia bersama Ayah Dal Mi ketika down, lalu membesarkan Dal Mi seorang diri ketika Ayahnya Dal Mi meninggal, tidak hanya itu.. Beliau juga membesarkan Ji Pyong ditengah keterbatasan ekonominya. Merangkul Ji Pyong hingga selalu memanggilnya ‘Anak Baik’. Membelikannya sepatu, memeluknya. Hiks. Kok baper pen nangis dulu bentar. 

Tidak hanya itu, beliau masih menerima mantan menantunya yang telah membuang anaknya sendiri. Luas sekali hatinya. 

Mirip sekali dengan mama mertua yang membesarkan anak yang ditelantarkan ibunya dari kecil hingga sudah kuliah kemudian membesarkan 2 anak yang lahir bukan dari rahimnya melainkan dari istri kedua suaminya. Jika dihitung, maka sebenarnya Mertua sudah membesarkan 9 anak ditengah keterbatasan ekonomi keluarganya. Luar biasa. Tidak hanya itu, masih saja mau direpotkan dengan membesarkan 4 cucunya. Emejing bukan? 

Saking emejingnya dulu aku sampai meniru kebiasaan mertua dalam mengatur ekonomi. Tapi aku tidak sanggup.. 

Akupun bercita-cita ingin menjadi seperti Nenek Dal Mi suatu saat nanti. Walau pemikiranku masih sesempit ini, kadang masih labil dan bla bla. Bahkan mungkin hampir mustahil bisa seperti itu. Tapi aku ingin bisa sebaik itu suatu hari. Entahlah bagaimana caranya

Belajar Rasa Ikhlas Dari Ji Pyong

Sejak episode 4 aku sudah sangat yakin bahwa Ji Pyong pasti tidak akan mendapatkan Dal Mi. Ji Pyong menolak perasaan cintanya, sementara Do San langsung mengakuinya. 

So related dengan kisah cinta emak zaman SMA yang kandas. Makanya emak sangat yakin pasti gak bakal bersama Dal Mi. Biar berasa senasib dan bisa berpelukan. Huahaha 

Selain itu tokoh utama dalam drama Start Up ini mengusung tokoh andalan yang sifatnya from zero to hero. Tentunya Do San yang lebih cocok untuk itu bukan Ji Pyong. Karena Ji Pyong sudah dalam keadaan sukses menjadi investor ketika bertemu dengan Dal Mi. 

Banyak yang menganalogikan Do San dan Ji Pyong bagaikan tokoh Naruto dan Sasuke. Dan berharap Sasuke (Ji Pyong) akan bersama Sakura (Dal Mi) di endingnya nanti. Akupun jujur juga pernah berharap demikian meski tidak ekstrem sekali. 

Saat episode 12, aku sudah yakin seyakin yakinnya bahwa Ji Pyong gak akan mendapatkan Dal Mi. Meski begitu, aku tetap melanjutkan menonton drama ini untuk semata-mata melihat Ji Pyong sampai akhir. Apakah dia akan bahagia? Apakah dia bisa ikhlas? Itulah yang aku pikirkan. 

Karena seperti kata-kataku diawal tadi, aku adalah #TimJiPyong tapi aku mendukungnya untuk selalu menjadi anak baik. Bukan memenangkan hati Dal Mi. 

Dan ternyata endingnya sesuai dengan harapanku. Ji Pyong sukses mencuri hatiku untuk menjadi anak yang benar-benar baik. Ditengah kesedihannya karena tidak bisa mendapatkan hati Dal Mi. Ditengah kesepiannya itu ia melepaskan semuanya dengan menjadi Investor yang sesungguhnya. 

Surat 15 tahun yang lalu, usaha menunggu hati Dal Mi yang terbuka untuknya, berakhir dengan ‘oh gitu ya’

Tapi Ji Pyong melepaskan semuanya dengan bertemu dengan Yeong sil versi asli dan menjadi ‘Sand Box’ yang sebenarnya. 

Tanpa Ji Pyong, drama ini tidak berarti. Banyak belajar dari Ji Pyong tentang hati yang dimulai dengan keras bisa menjadi selunak dan sebaik itu. 

Mungkin karena si nenek selalu menyebutnya ‘Anak Baik’. Karena setiap ucapan itu adalah doa. Bukankah begitu?

Belajar Pentingnya Kesetiaan dari Pasangan

Drama start up ini dimulai dari cerita tentang Ayah Dal Mi yang memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan dan memulai merajut impiannya. Akan tetapi, keadaan finansial tidak mendukungnya. Ia memiliki keluarga yang perutnya harus diisi. Karena itulah, istrinya langsung mengancam untuk menceraikan Ayah Dal Mi jika berhenti bekerja. I know that feeling. Saat semua orang mengutuki kelakuan Ibu Dal Mi tapi entah kenapa aku bisa paham posisinya. Sungguh jadi Ibu itu posisinya serba salah ya. Coba deh saat kejadian ini bisa ada keajaiban layaknya film go back couple juga. Eh, tapi kan gak mungkin.

Seseorang pernah bilang padaku.. 

“Ujian seorang istri adalah ketika suami dalam keadaan terpuruk, sementara ujian seorang suami adalah ketika ia sudah menemui kesuksesan.”

Unknown

Maka sesungguhnya, seterpuruk apapun kondisinya.. Tugas istri adalah mendukung suami dalam menggapai impiannya. Ini menjadi catatan untukku dikemudian hari juga. Bahwa apapun cita-cita suami, aku harus terus berada disampingnya untuk mendukungnya. 

***

Well, itu dia perasaan-perasaan nano-nano yang sudah aku tuangkan setelah menonton drama start up. Sedikit banyak curhat didalamnya tapi aku senang menulisnya. Karena drama ini sunguh banyak memberikan pembelajaran dan insight baru untuk kehidupanku. 

Kalau kalian bagaimana? Sudah nonton drama hits ini juga? Curcol denganku yuk! 

Mengupas Karakter: Siapakah Tokoh Antagonis pada Film Pendek Tilik?

Mengupas Karakter: Siapakah Tokoh Antagonis pada Film Pendek Tilik?

Dunia sosial mediaku heboh dengan sebuah film pendek 3 harian ini. 

Tahukah kalian film apa yang kumaksud? 

Yup, Tilik. 

Aku sendiri jujur awalnya biasa saja ketika satu dua temanku sharing tentang film ini di facebook. Pikiranku cuma berbisik sebentar saja, bisikan biasa seperti ini.. 

“Paling filmnya ebok ebok pada umumnya.. “

Apalagi ketika aku iseng menonton pada 5 menit pertama. Jempolku langsung auto-closed. Sambil berkata dalam hati, “Tuh kan, film ibu-ibu pada ghibah..”

Hari berikutnya, topik sosial media masih sama. Tilik lagi.. Tilik lagi.. Kali ini lengkap dengan pro dan kontra tentang film ini. Ada yang bilang film ini sama sekali gak bagus karena melecehkan perempuan berjilbab lengkap dengan bahasa yang tidak islami dsb. Tapi juga ada yang bilang kalau film ini memuat hal yang lebih luas.

Akhirnya aku pun melanjutkan menonton film pendek tersebut ketika Humaira sudah tertidur. 

“Toh cuma buang waktu 30 menit doang.. ” Pikirku. 

Ya.. 30 menit yang menyenangkan ternyata. 

Ya Allah.. Film ini membuatku rindu pada dunia sosial. Dan film pendek ini mampu membuatku tersenyum di masa pandemi yang melelahkan ini. Setidaknya senyum hingga 5-6x dalam durasi 30 menit. 

Mengupas Karakter Film Pendek Tilik

Film pendek berjudul Tilik yang ngetrend di sosial media emak-emak itu menurutku bukan sekedar film ngasal. Film ini kreatif dan apa adanya. Tidak dibuat-buat. Yang paling membuatku senang adalah karakter-karakter yang bermain dalam film ini. Semuanya natural adanya tanpa framing berlebihan. 

Padahal loh artisnya satupun mamak enggak kenal. Wkwk.. 

Alur ceritanya pun sederhana. Bercerita tentang segerombolan ibu-ibu yang naik truk untuk menjenguk Ibu Lurah yang sedang sakit. 

Terus, ramenya dimana dong? 

Ya diproses perjalanan kesananya. 

Ada yang ghibah gak berhenti-berhenti, ada adegan truk mogok, mau pipis di tengah sawah, sampai kena razia pak polisi dan adegan mom war. Ya ampun hidup banget sih ceritanya. Mamak life banget gitu. 

E.. Tapi serius. 

Diantara Film tersebut, karakter mana yang paling kalian senangi? Atau nih, kalian mirip siapa kalau di dunia sosial ibu-ibu begitu? 

Bentar, aku angkat tangan. Aku ngaku mirip yang muntah di truk itu ya. Gak jarang aku juga sering banget senasib sama Yu Nah lho.. Hahaha

Oke, mari kita ulas 4 karakter yang ada di film Tilik ini. Karena menurutku karakter-karakter film ini nih yang bikin filmnya hidup. 

Bu Tejo, Tukang Ghibah aka Influencer Deso

Keyword google sedang ramai dengan sosok Bu Tejo. Pun segala sosial media. Mulai dari twitter, fb, hingga meme Bu Tejo di instagram. Ulala.. Film pendek Tilik bikin sosok pemeran Bu Tejo jadi viral sekali. 

Apa sih asiknya karakter Bu Tejo? 

Ya.. Bu Tejo ini yang bikin filmnya jadi punya konflik ringan. Mulai dari ghibahnya tentang Dian, hingga kelakuannya yang aduhai.. Bikin gemes awal-awal nonton.. Sampe mikir Ih kok ada ya orang begini? Eh, kan emang banyak? Hahaha.. 

Kenyataannya ada kok orang begini. Banyak. Cari aja di berbagai kelompok dunia sosialita. Pasti ada deh sosok Ibu-ibu yang suka berbicara luwes dan menjadi perhatian semuanya. Dan lucunya sosok begini selalu punya banyak teman loh. Bahkan tidak jarang punya jiwa influencer yang luar biasa. Influencer? Iya jiwa mempengaruhi. Influencer bukan cuma di sosial media saja kok. Dunia nyata juga. Duh, gak kebayang sih kalo sosok Bu Tejo bakal jadi influencer sosmed beneran. Pasti banyak followernya. Kalah lambe turah mungkin..😆

Diberbagai info yang aku browsing, bahkan dikatakan bahwa sosok Bu Tejo ini tidak benar-benar menghafal naskah loh. Tuh kan, menjiwai banget sih ya. Karena topik pembicaraannya itu terlihat sekali perbincangan naturalnya. Sudah lah dengan mimik muka yang juga pas judesnya. Bikin tokoh Bu Tejo langsung di judge sebagai pemeran antagonis for the first sight. 

Eh, apa iya tapi beliau pemeran antagonisnya? Atau…  hmm.. 

Yu Ning si Positif Thinking namun Terpinggirkan

Ini dia nih, karakter yang selalu mamak manggutin ‘ceramahnya’. 

Jujur aku gak ngerti dengan bahasa jawa sih. Kalau film ini gak ada translatenya mungkin aku cuma ternganga-nganga bingung saja. 

Tapi dari medok-medoknya bahasanya. Terlihat kok kalau yang ini kasar, yang ini halus. Dan sosok Yu Ning ini bagaikan Ustadzah yang selalu remind dan remind.. “Eh, ga bole loh begini.. Nanti begini.. Astaghfirullah.. Bla bla.. “

Saat Bu Tejo sedang asyik berghibah ria dengan Yu Sam dan yang lain. Sosok Yu Ning selalu mengingatkan di belakangnya. Jujur sih, kupikir nanti si Yu Ning ini bakal dibenarkan kata-katanya. Kemudian berujung pada Bu Tejo yang kena akibatnya gara-gara ghibahnya enggak bener atau apa. 

Etapi semakin kesini, sosok karakter Yu Ning makin terbongkar. Biarpun selalu remind tentang kebaikan, ternyata orangnya baperan juga. Dan suka berbalas-balasan judge juga kalo diserang. Duh ya.. Namanya juga manusia.. Lucu juga kalau melihat Bu Tejo dan Yu Ning bertengkar. 

Seakan melihat pro dan kontra marshanda dan rina nose yang tetiba buka hijab. Bukan urusan kita tapi dibuat war sama netizen di kolom komentar.. *mamak-mamak selucu itu kalau berkaitan tentang mempertahankan argumen masing-masing.. 😌😅

Yu Tri si Pendukung Bu Tejo

Tukang ghibah selalu punya pasangan telinga dan mulut untuk diajak mendengar dan berpendapat. Dan disitulah sosok Yu Tri ada. 

Sosok Yu Tri sendiri bukanlah karakter yang penting-penting amat di film ini. Ya.. Pemeran tambahan lah ya. Tapi bagi Bu Tejo sosok Yu Tri sih penting banget. Paling enggak saat dia sedang adu mulut dengan Yu Ning, ada Yu Tri disampingnya yang turut membelanya (lebih tepatnya ngomporin ya?). Sementara Yu Sam disampingnya terlalu labil untuk memihak siapa yang patut dibela.

Dalam dunia influencer, sosok Yu Tri ini sejenis ‘Top Fans’.. 😅

Dalam dunia nyata sosok begini nyata adanya. Orang yang senang mendengar berita dan memperbincangkannya bersama itu nyata. Dan percayalah sosok begini pun berperan besar dalam komunitas emak-emak. Wkwk

Mbak Dian Si Kembang Desa

Feeling emak-emak yang sering nonton sinetron ikan terbang pasti pada setuju kalau sosok Dian ini pasti sejenis pemeran bawang putih. Di injek-injek, digunjing-gunjing.. Padahal dia baik. Begitu? 

Itu sih feeling aku waktu mendengar sosok Dian dighibahin. Pasti deh yang dighibahin ini orangnya baik sebenarnya. Orang-orang mah bisanya cuma gosip ria saja, kataku. Eh, mana sih sosok Dian nya kok gak muncul-muncul? 

Hingga menit ke 20, sosok Dian yang di ghibahkan belum juga muncul. Padahal, mamak-mamak sepertiku mulai menebak nebak endingnya yang bakal bikin Bu Tejo malu. 

Hingga akhirnya, di menit-menit terakhir.. Sosok Dian akhirnya muncul bersama Fikri. Anak Bu lurah yang katanya sedang berpacaran dengan Dian. 

Dan endingnya… aku langsung ber hmmm… 

“Oh begini toh sosok Dian.. ” Pikirku. 

Jadi, Siapa Pemeran Antagonis dalam Film Tilik? 

Hmm.. Siapa ya? Menurut kalian siapa? 

Apakah Bu Tejo bisa dikategorikan sebagai pemeran antagonis karena mulutnya yang lambe turah? Apakah ghibahnya merupakan sejenis informasi positif atau negatif? 

Apakah Yu Ning bisa dikategorikan sebagai pemeran antagonis ketika sifat aslinya keluar saat bertengkar dengan Bu Tejo? 

Apakah sosok Dian yang hanya muncul di menit-menit terakhir juga bisa dikategorikan antagonis? Padahal kalau kita jeli menyimak percakapan Yu Ning dan Bu Tejo, ada sisi lain dari Dian yang perlu kita pertimbangkan. 

Menurutku sendiri, hampir tidak ada pemeran antagonis di film ini. Dan inilah yang membuat film pendek ini masuk dalam kategori sukses dan berhasil. 

Salut. Semua karakternya manusiawi. Jarang loh film indonesia ada yang begini. Atau mungkin cuma aku yang kurang tau?

Jujur salah satu alasanku suka dengan drama korea adalah karena karakter tokoh dalam drama korea itu tidak ada yang ‘jahat banget’. I mean, Jahat secara lahiriah. Di sela-sela film pasti dijelaskan kenapa karakter ini menjadi jahat. Dan itu membuat aku sebagai penonton selalu punya insight berbeda terhadap pemeran antagonis. Drama korea membuatku sadar akan warna warni karakter dalam kehidupan itu tidak sesederhana hitam dan putih. 

Dan inilah yang aku lihat pada karakter di film pendek Tilik. Enggak ada kok karakter yang jahat banget dan baik banget.

Coba lihat sosok Bu Tejo. Sungguh di dalam kehidupanku.. Aku memiliki 3-4 orang dengan sifat serupa. Tapi aku tidak pernah kesal dengan gaya ghibahnya. Dibalik itu semua, telingaku selalu melebar setiap kali tukang ghibah berbicara. Aku selalu mengumpulkan informasi dari tukang ghibah (sambil berpura-pura main hape di pojokan). Dan percayalah informasi itu sungguh berguna. Paling tidak aku bisa berhati-hati dalam memutuskan sesuatu. Informasi-informasi demikian bahkan tidak jarang aku jadikan topik dalam menulis blog. I mean, untuk ide ceritanya. Bukan tentang topik ghibahannya yang belum di crosscheck. 

Coba bayangkan, Bagaimana dunia sosialita bisa hidup tanpa adanya orang-orang seperti Bu Tejo? Bukankah terasa hampa? Orang seperti Bu Tejo memang kadang terasa menyebalkan. Tapi percayalah, penebar ghibah begini patut dijadikan pertimbangan dalam mencari sumber informasi..

Yah.. Seperti lyric lagu taylor swift yang berjudul new romantics.. 

“The rumors

Are terrible and cruel

But, honey most of them are true”

Taylor Swift

Aku sendiri tidak mau dekat dengan orang yang berkarakter seperti Bu Tejo. Karena aku sedikit baper. Haha.. Tapi kalau dilihat lagi, ternyata masih banyak sisi menyenangkannya. Terutama soal solutip.. Dari solutip minta empati dengan pak polisi dan solutip mengalihkan rasa kecewa dengan jalan-jalan ke pasar… 😀

Dan untuk sosok Yu Ning? Sadarkah kita bahwa tidak semua orang yang berpikiran positif itu bagus? Kadangkala, kita harus berpikir sedikit realistis dan menengah antara pikiran positif dan negatif tanpa memandang kepentingan yang lain.

Sosok Yu Ning sendiri selalu membela Dian karena ia masih merupakan keluarga jauh dari Dian. Yu Ning ini seperti tokoh yang menggunakan bahasa positif untuk melindungi keluarganya. Hatinya juga sedikit sensitif dan suka baper. Dan kurasa, dia juga tidak pantas dikategorikan pemeran antagonis karena topeng positif yang ia gunakan. Perannya manusiawi banget kok. 

Nah, bagaimana dengan sosok Dian. Yang emm.. Ternyata pada endingnya Dian adalah ‘wanita kedua’ Ayahnya Fikri atau Pak Lurah, bukan pacarnya Fikri. Besar kemungkinan Dian lah yang menyebabkan Bu Lurah sakit. Bisakah kita men-capnya sebagai pemeran Antagonis? 

“Iya dong win.. Gak ada asap kalau gak ada api.. Pantesan aja pada digosipin ibu-ibu.. Ternyata kelakuannya Dian tuh bla bla.. “

Coba deh tonton ulang filmnya. Ada loh pembicaraan yang menceritakan bahwa Dian ini ditinggal Ayahnya sejak kecil. I mean.. Seee? Dian ini kehilangan sosok ayah di masa kecilnya. 

Sudah dapet sisi manusiawinya? Belum? 

Ehm, jadi begini. Pernah gak kalian nemu kasus ada beberapa orang cewek yang suka banget pacaran sama ‘bapak-bapak’. Selalu jatuh cinta dengan yang umurnya 10, 15, 20 hingga 30 tahun lebih tua darinya? Kenapa sih ada orang begitu? 

Besar kemungkinan karena ia bukan mencari pasangan. Akan tetapi mencari sosok ayah yang hilang pada masa kecilnya. 

Aku punya banyak cerita kehidupan yang demikian. Dan itu nyata. Orang yang suka menjadi pelakor karena beneran butuh sosok ayah itu nyata adanya. Dan ya.. Walaupun itu jahat. Tapi sisi kehidupan Dian yang kehilangan Ayah sejak kecil membuatku berpikir ulang.. Pantaskah dia disebut pemeran antagonis? 

Ah, siapapun pemeran antagonisnya.. Menurutku.. Film singkat ini layak diacungi jempol. 

Karena saat penonton tidak bisa menebak siapa pemeran antagonis dan dapat merasakan karakter warna warni dalam film.. Disitulah sebuah film dikatakan sukses. Bagaimana menurut kalian? 

IBX598B146B8E64A