Browsed by
Category: Lomba Blog

Resolusi 2018: Menjadi Pribadi yang Seimbang

Resolusi 2018: Menjadi Pribadi yang Seimbang

sumber: job-like.com

Desember.

Apa arti bulan Desember bagimu? 

Mereka berkata bahwa desember adalah bulan ‘Tutup Buku’. Ibarat akuntan, maka bulan desember adalah bulan sibuk karena seluruh transaksi yang telah dicatat akan diperjuangkan pencatatannya pada bulan ini. Yah, mereka yang berjuang pada usaha bisnis dan membutuhkan laporan keuangan setiap tahunnya tentu setuju bahwa bulan desember adalah bulan super sibuk. 

Namun, apa arti bulan desember bagiku?

Sewaktu remaja, zaman kuliah tepatnya, tahun 2008 lalu, aku yang masih bercita-cita menjadi akuntan atau banker dengan baju dan dandanan ‘kece’ belajar cukup giat. Berharap dengan IPK yang lumayan tinggi maka aku dapat memperjuangkan cita-citaku menjadi orang kaya nan bergengsi. Bulan Desember bagiku adalah bulan tutup buku nantinya. Dan aku mengkhayal dapat membuat banyak laporan untuk menyenangkan ‘atasan’ ku saat bekerja nanti.

Lambat laun pola pikirku mulai berubah. Aku yang saat itu kuliah di Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah mulai mengikis cita-citaku dulu. Tujuanku yang mulanya ingin menjadi banker kaya nan bergengsi kini berubah menjadi hanya ingin bekerja sebagai Guru. Aku belajar giat saat kuliah untuk mencari perhatian Dosenku agar suatu hari nanti dapat bekerja membantu atau menggantikan beliau.

Kenapa ingin menjadi Guru? Karena pekerjaan Guru itu mulia. Ilmu yang aku dapatkan menular kepada muridku dan muridku akan menularkan kepada temannya dan anaknya dan anaknya kepada anaknya lalu anaknya lagi. Yah, sebuah ladang amal yang tiada habisnya. Aku ingin tampil menjadi sebuah inspirasi dengan caraku dan ilmu yang kudapat. 

Mamasuki semester 5 perkuliahan aku berkenalan dengan salah seorang asisten dosen yang baru memasuki kelas kami.  Hubungan kami berlanjut hingga membuatku menikah dengannya bahkan sebelum aku lulus kuliah. Aku menikahinya saat semester 8 saat masa pembuatan Tugas Akhir. 

Aku hamil. 

Sebenarnya aku sedikit shock dengan kehamilanku. Padahal Kami berencana menundanya. Namun karena ilmu pengetahuan yang kurang mengenai cara pemakaian KB, akhirnya malah berdampak pada penyuburan rahimku sehingga aku langsung hamil. 

Saat lulus kuliah usia kandunganku sudah 4 bulan. Dan 5 bulan lagi akan ada bayi mungil dipangkuanku. Namun peduli apa aku saat itu? Aku ingin BEKERJA!

Ayolah aku sudah lulus. Saatnya ‘memanen’ apa yang sudah aku tanam di kepalaku. Saatnya melamar pekerjaan. Aku ingin bekerja secepatnya, kalau tidak aku akan malu. Aku tidak mau dibilang sebagai sarjana pengangguran. Atau yang lebih sakit lagi, “Susah-susah di kuliahkan, eh ujung-ujungnya cuma jadi Ibu Rumah Tangga”

Alhamdulillah, aku memiliki suami yang pengertian. Ia memperbolehkanku melamar program beasiswa S2 di salah satu kampus di Pelaihari. Aku sangat bersemangat dan berapi-api. Namun belum lagi lamaran itu diantar, tangisan mertuaku membuat suamiku bimbang.

“Apa mama akan ditinggalkan disini saja? Apa kau akan bekerja di Pelaihari? Memiliki rumah disana?”

Perkataan itu membuat surat lamaranku berakhir di bawah setumpuk baju dilemari pakaian. Dan saat itu perasaanku benar-benar sedih. 

***

5 bulan kemudian, anakku lahir. Benar, aku hanyalah Ibu Rumah Tangga tulen saat itu. Mimpi untuk kuliah lagi telah kuhapus menjadi “Ayolah.. Cepat bekerja supaya membanggakan orang tua”

Tentu kalimat itu beralasan. Saat aku menyusui, mengganti popok dan mencuci tak habis-habisnya namun otakku saat itu dipenuhi dengan rasa iri. Iri melihat status teman-temanku yang satu per satu mulai bekerja. Mereka mulai ‘memanen’ hasilnya. Dan aku? Aku menjadi apa? Aku tidak mendapatkan apapun dari IPK-ku dulu. Hanya bayi, ya.. Bayi yang selalu menangis. Aku memutuskan berhenti bersosial media untuk menghapus rasa iri itu. 

Selama 2 tahun aku menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik. Belajar skill memasak, baking, dan parenting. Sosial media kini mulai berteman lagi denganku setelah sekian lama aku ‘hibernasi’. Dulu, baby blues sindrom sempat singgah didalam kelamnya kehidupanku. Sehingga aku memutuskan untuk memiliki me time dengan bersosialisasi di dunia maya.

Namun ternyata dunia maya lebih kejam. Aku sempat memasuki grup parenting, grup ASI dan grup berbau emak-emak yang lain. Ketika aku memberanikan diri untuk terbuka dan mempertanyakan keadaan psikologisku tidak sedikit  para member yang menyindir hingga membully. Sejak itu aku berpikir, “Tak adakah tempat yang benar-benar pas denganku?”

Aku Ibu Rumah Tangga sejati, tinggal di kota dengan sedikit ruang sosialisasi, memiliki suami yang sibuk dan mulai menjadi gila dengan segala sifat perfeksionisku. Ya, anakku adalah saksi atas setiap kegilaanku saat itu. Dalam perasaan yang ‘kosong’ aku mencoba mencari sensasi dalam hidupku dengan berjualan kue.

Aku senang mencoba membuat kue dan berbagai masakan lain, apalagi jika hasilnya bisa menyenangkan keluargaku. Saat itu aku meyakinkan pada diriku sendiri bahwa ‘inilah rejekiku, rejekiku diperut suamiku’. Saat mencoba berjualan aku senang dengan keuntungan yang aku dapatkan. Aku senang memiliki passion yang bisa tersalur. 

Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Aku mulai merasakan perasaan itu lagi. Perasaan bahwa hidupku standar, tidak terlalu berguna. Dan rasa bosan melihat tepung, gula, telur dan mentega mulai menghantuiku. Sekali, kue yang ku buat gagal total. Dua kali, aku mengerjakannya dengan berteriak membentak anakku. Tiga kali, aku membuat kue yang gagal dan menyalahkan anakku atas kegagalanku. Saat itu aku sadar, aku tidak bisa mengerjakan sesuatu yang sama setiap hari tanpa peningkatan apapun.

Saat itulah aku gelisah. Aku tidak tau perasaan apa persisnya itu. Yang jelas, aku tidak bisa tidur. Tengah malam, aku membuka facebook dan menemukan blog post diberanda facebookku. Sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh Dosenku, Nailiya Nikmah.

Hatiku dipenuhi rasa iri.  Tulisan itu adalah tentang program ‘indonesia mengajar’. Bagaimana serunya kegiatan mengajar yang dilakukan oleh Dosenku yang berprofesi juga sebagai penulis. Indonesia mengajar adalah sebuah cara agar siswa terinspirasi dari profesi sehingga dapat memiliki cita-cita dari rule mode profesi tersebut. Aku terhentak. Sadar bahwa selama ini aku melupakan cita-citaku untuk menjadi guru.

Tengah malam itu juga aku memberanikan diri untuk menyapa Dosenku. Perasaan ini bukanlah perasaan iri ketika melihat teman-temanku bekerja. Perasaan itu berbunyi, “Tolong ajarkan aku menjadi sepertimu Ibu”

Aku terinspirasi dari tulisan beliau. Aku ingin menjadi seperti itu juga. Setelah lama berbincang dan bertanya mengenai komunitas menulis kemudian beliau memberi saran padaku, “Bikin blog aja win..”

Serasa dejavu. Karena saran itu pernah dikatakan oleh suamiku. Suamiku adalah seorang proggrammer yang tentu saja ahli dalam hal membuat blog. Maka tiga hari kemudian aku memutuskan membuat blog di platform WordPress. Membuat blog adalah awal dari resolusi hidupku.

***

sumber: dreamstime.com

Mencoba belajar menulis telah memperbaiki kondisi psikologisku. Aku merasa nyaman dengan kegiatan me time yang baru. Memang aku sempat merasa tidak percaya diri dengan tulisanku. Tapi siapa peduli? Yang harus kulakukan adalah terus belajar dan bersemangat dengan hoby yang baru.

Hoby baruku juga didukung oleh adanya komunitas blogger perempuan di Banjarmasin. Female Blogger Banjarmasin (FBB) adalah salah satu komunitas yang membuatku bersemangat untuk terus menulis. Setiap member dari kami memiliki jenis niche yang berbeda. Tapi yang lebih penting, kami mempunyai gaya ekspresif yang sama dalam menyalurkan hoby yaitu Menulis.

Selain FBB aku juga tergabung di komunitas blogger perempuan. Disana aku akhirnya dapat memiliki teman-teman baru sehingga dapat berpikir lebih luas. Aku yang sehari-hari hanya dirumah kini mulai merasakan sensasi petualangan dengan membaca berbagai content dari para blogger. Kesepian itu dan rasa kosong yang sempat aku cari selama ini kini mulai terisi dengan warna warni kehidupan.

Aku kemudian teringat dengan cita-cita ku dahulu. Aku hanya ingin menjadi pintar dan dapat berguna dengan ilmuku. Guru, adalah profesi yang dulu aku inginkan. Kuliah lagi adalah alternatif kedua jika tidak bisa bekerja menjadi guru. Namun, ternyata rencana Allah lebih indah.

Aku mulai mencoret-coret proyek tujuan hidupku yang dulu..

2012-2014 Kuliah S2

2015-2016 Bekerja menjadi Guru

2017 Memiliki pekerjaan tetap

2018 Belajar usaha sampingan

Dari lulus kuliah tahun 2012 hingga sekarang tak ada satupun impian yang kutulis ditahun 2012 menjadi nyata karena aku memutuskan untuk menikah. Dan menikah telah mengubah segala cita-cita hidupku. Kenyataan yang terjadi, berkata demikian.. 

2012 menikah dan hamil

2013 memiliki anak

2014-2015 belajar menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik

2016 Belajar berjualan Kue

2017 Belajar Menulis didunia blog

Apakah langkahku salah?

Tidak, aku yakin tidak pernah ada kesalahan sedikitpun dari keputusanku. Menikah dan memiliki anak diusia muda bukanlah keputusan yang salah. Jika orang-orang disekitarku ‘menyayangkan’ keputusan menikah yang telah kuambil maka aku kini telah menikmati hasil dari keputusan itu.

Awalnya memang berat. Aku perlu kehilangan duniaku yang dulu. Mengalami baby blues hingga post partum depression. Namun semua hal itu membuatku belajar. Aku menjadi memiliki banyak pengalaman dibalik itu semua. Jika teman-temanku belajar dari lingkungan kerja maka aku telah banyak belajar mengenai dunia dirumah. Dan aku tetap mensyukuri setiap langkah yang kuambil. Pilihan menjadi Ibu Rumah Tangga bukanlah pilihan yang salah.

Tahun 2017 adalah tahun kebangkitan bagiku. Dunia blogger telah banyak membuka wawasanku. Hoby menulis yang dulu sempat tak terasah kini mulai kulakukan lagi. Dari menulis aku telah banyak belajar. Dari menulis aku telah memiliki teman dan komunitas baru. Dari menulis aku telah menjadi lebih produktif. Dari menulis aku merasa telah berprofesi lebih dari sekedar Guru. Dan hal itu membuatku bahagia. 

Maka di tahun 2018 aku memiliki banyak resolusi lagi. Aku ingin mendapatkan dunia yang seimbang. Aku ingin lebih berguna bukan hanya untuk keluargaku, namun juga lingkunganku, dan menjadikan diriku sendiri lebih berarti. Adapun resolusi yang ingin kucapai ditahun 2018 adalah:

Untuk keluargaku:

  1. Menjadi Istri yang seimbang. Bukan hanya pintar memasak untuk suami namun juga pintar berdandan dan mencari sedikit uang minimal untuk keperluan sendiri dan keperluan rumah tangga lainnya. 
  2. Menjadi Ibu yang seimbang. Aku memutuskan untuk tidak memiliki target untuk peningkatan otak kiri anakku hingga dia berumur 7 tahun. Aku hanya ingin dia dapat bersosialisasi dengan baik dan aktif didunianya. Aku memutuskan berhenti menjadi Ibu yang terlalu perfeksionis dan mulai memperdulikan kualitas kesehatan jiwaku dalam mendidik anakku. 
  3. Menjadi Anak yang berbakti. Memang aku tidak bekerja supaya bisa memberi Mamaku uang. Namun, jika beliau datang kerumah aku akan berusaha membuat makanan yang istimewa. Aku juga seharusnya menyempatkan diri untuk menelpon dan menghubunginya sebisaku. Walau aku termasuk anak yang sering kehabisan kosa kata saat menelpon. Sepertinya aku perlu membuat konsep sebelum menelpon. 
  4. Menjadi Menantu yang baik. Aku akan berusaha memuji masakan mertuaku walau pada kenyataannya lidahku memang sering kaku. Semoga suatu hari kami bisa menjadi lebih akrab. 
  5. Menjadi Kakak yang baik. Mungkin aku belum bercerita bahwa salah satu adik kembarku tinggal dirumahku. Sebagai Kakak yang memiliki sifat introvert aku sering merasa berdosa karena sering terlihat cuek. Namun, dibalik itu aku ingin mendidiknya. Semoga dia dapat mengerti. 
  6. Menjadi Majikan Kucing baik. Eh, ga penting banget ya? Penting kok, bagiku memiliki kucing juga pemberi semangat hidup. Semoga aku bisa memberi makan ikan kesukaannya minimal seminggu dalam sebulan. 

Untuk lingkunganku  

Aku pribadi yang cukup tertutup. Sejak menjadi Ibu Rumah Tangga aku tidak memiliki dunia sosial untuk bergabung selain menjadi anggota yasinan komplek. Namun sejak menjadi blogger aku merasa mendapatkan duniaku kembali. Belakangan, aku dipercaya untuk menjadi Sekretaris di FBB. Semoga suatu saat aku bisa berguna di FBB dan tulisanku dapat semakin baik sehingga dapat menginspirasi pembacanya. 

Untuk diriku sendiri 

Aku memutuskan untuk ‘benar-benar tercebur’ didunia blogging. Bukan hanya menjadikannya hoby namun juga profesi. Namun, mengingat skill blogging yang aku miliki masih sangat rendah maka aku memutuskan untuk terus belajar. Tentu menyenangkan mengingat suamiku sendiri adalah proggrammer. Namun sampai kapan aku harus terus bergantung padanya? Aku harus bisa sendiri. Minimal untuk mengurus blogku sendiri. Karena itu aku perlu membuat tujuan belajarku sendiri, diantaranya adalah:

  1. Belajar teknik SEO pada bulan Januari hingga Maret 
  2. Belajar membuat blog dari awal hingga selesai. Ya, mungkin aku akan membuat blog baru khusus untuk hoby memasak. Semoga bulan april-akhir tahun blog itu benar-benar tercipta dan memiliki domain authority yang tinggi.
  3. Belajar teknik fotografi. Ini PR sekali, sejauh ini aku merasa skill fotografi yang kumiliki terlalu biasa. Sebagai blogger, aku harus bisa mendapat kualitas foto yang bagus. Ah mungkin aku perlu kamera baru? 😂
  4. Memperbanyak membaca buku. Ya, sejak punya anak aku tidak memiliki banyak waktu untuk membaca buku. Tetapi sekarang anakku sudah cukup besar sehingga dia juga telah memiliki hoby baru untuk kesehariannya. Aku harus bisa membaca buku minimal 1 buku untuk 1 bulan. 

    Pernah saja aku tergoda untuk mencoba menulis 1 day 1 post. Namun semua draft yang aku buat hanya berakhir di black hole. Kenapa? Ya, kuakui.. Aku ini penyakitan. Aku punya penyakit rhinitis alergica yang merupakan kutukan sejak kecil. Ditambah lagi dengan konsentrasiku yang mudah terganggu. Anak menangis, suami tiba-tiba datang, suara air mendidih dan bersin yang tiada habisnya lalu inspirasi itu hilang. Akhirnya, tujuan yang harus aku capai menjadi pending and pending again. Kalian pernah begini?

    Menjelang musim hujan penyakit rhinitis ku selalu kambuh. Aku perlu satu kotak tisue sambil membuat tulisan. Perlu satu kotak tisue saat tidur. Hingga saat memasakpun, aku perlu satu kotak tisue menemaniku. Terbayang terganggunya aku dengan semua itu? Sesuatu yang seharusnya bisa aku lakukan dengan waktu singkat akhirnya memakan waktu lama dan terbuang sia-sia. 

    Akhirnya, berkat bersosialisasi dengan para blogger aku mengenal theragran-M. Theragran-M adalah Multivitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Teman-temanku ternyata meminum ini untuk menjaga daya tahan tubuh. Nah, Biasanya aku meminumnya saat kondisi badanku sedang down karena rhinitis ku kambuh. Ya, kalian tau kan? Penyakitku itu tidak ada obatnya. Obatnya hanyalah menjaga daya tahan tubuh supaya tetap fit. Jika kondisiku sedang tidak baik, penyakitku kambuh lagi. Ya sakit sih boleh, tapi jangan lama-lama juga.

    Efek yang aku rasakan setelah meminum theragran-M adalah badan menjadi terasa nyaman. Tentu saja ini mengurangi frekuensi bersin ku sehingga aku dapat leluasa beraktivitas. Ya, menjadi pusat perhatian di dalam keluarga itu berat. Sakit sedikit saja menyebabkan rumah, anak dan suami terbengkalai. Sesekali sakit sih memang perlu supaya kita bisa bermanja-manja merasakan perhatian suami. Hehe.. Tapi tetap ya, jangan lama-lama. Nanti merasa berdosa.

    Resolusi terakhirku adalah dapat menjadi pribadi yang seimbang. Dapat membagi diri dengan benar antara keluarga-lingkungan dan diriku sendiri. Ya, aku mengaku tidak dapat membagi diri dengan benar karena kondisi badanku yang sering down. Namun bersama Theragran-M, aku optimis dan aku akan terus berusaha. 

    ***

    Desember. 

    Desember bagiku sekarang adalah bulan pengingat diri. Akhir bulan yang seakan bertanya padaku, “Hei, apa saja yang kau lakukan tahun ini, tutup buku macam apa yang kau buat?”

    Dan sekarang, aku berani menjawab, “Aku sudah banyak berubah tahun ini, dan tahun depan harus lebih baik lagi. Aku berjanji akan menjalankan resolusi baru untuk hidupku_chapter baru dalam hidupku yang mulai berapi-api”  

    Januari. 

    Adalah sebuah tujuan baru, langkah baru, dan semangat baru. Tak sabar untuk menunggumu Januari. 

    Happy New Year! 

    *Artikel ini diikutsertakan sertakan dalam lomba menulis blog yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M 
     

    Mendidik Anak Generasi Milenial dengan CERDIK bersama So Good

    Mendidik Anak Generasi Milenial dengan CERDIK bersama So Good

    Suatu hari aku berkumpul dipojok ceria ’emak-emak’ saat menjemput anakku pulang sekolah. Biasanya aku jarang sekali mengikuti pembicaraan emak-emak yang berkumpul ria seperti ini. Tapi untuk kali ini aku sengaja mengikuti pembicaraannya dengan cukup lama karena topik dari pembicaraan bukanlah tentang gosip. Ya, mereka berbicara perkara anak-anak zaman now. 

    “Seharian main handphone mulu si Kaka, ya adeknya ikut-ikutan jadinya”

    “Iya, beda banget sama zaman kita kecil dulu ya.. Kalo kita dulu ga kayak mereka”

    “Apalagi anakku, kalau udah buka youtube ga bisa dipanggil-panggil. Asik sendiri”

    Terus aku ikut nyurcol, “Kok sama yah, suami aku kerjaannya dirumah ‘enemy has been slayed’ dan itu jadi bahan ejekan anakku” 😂

    Bisa ditebak betapa konyolnya wajah para ibu-ibu itu mendengar kata-kataku yang ‘sok nyambung’. Hahaha..

    Tapi serius, aku mengerti sekali perasaan mereka. Mengasuh anak generasi milenial seperti sekarang itu tidak gampang. Hal ini ditambah dengan situasi lingkungan perkotaan yang menuntut para ibu-ibu menjadi individualis dirumah. Apa efeknya? Ibu-ibu sekarang haus akan kewarasan dan membiarkan anaknya berlama-lama bermain gadget ‘tanpa’ didampingi olehnya.

    Salahkah?

    Tidak bisa dipungkiri di zaman sekarang adalah hal yang mustahil jika ingin menjauhkan total gadget dengan anak. Kenapa? Karena emaknya sendiri juga beraktivitas dengan gadget. 😂

    Ya bagaimana tidak? Emak-emak zaman now ya.. Masa ga ngerti gadget alias gaptek? 😅

    Emak melihat anak sakit langsung browsing. Emak kehabisan inspirasi buat masak langsung berburu resep di internet. Emak kurang piknik tapi enggak punya waktu piknik, akhirnya main sosmed. Emak kurang sosialisasi dirumah tapi tetangga pada enggak suka keluar rumah, akhirnya main WA dan BBM. Emak kekurangan duit sementara anak masih kecil-kecil, akhirnya memilih jualan online. Ya, semua aktivitas emak sekarang butuh gadget!

    Sebagai rule mode pertama dari anak maka sangat tidak mungkin emak yang hidup dengan gadget menjauhkan anak dari gadget. Tidak mungkin, karena generasi dimana emak hidup sekarang adalah generasi milenial. Karena itu, apa solusi terbaik untuk anak pada generasi milenial?

    Yaitu dengan mencukupi kebutuhannya dengan CERDIK sesuai zamannya. Ya, kita tahu bahwa gadget bagi anak memiliki dampak negatif tapi ada pula dampak positif yang didapat dari gadget. Asalkan kita sebagai orang tua dapat mengawasi, membimbing serta mengajarkan nilai kebaikan dari gadget.

    Jujur saja dulu aku juga anti gadget. Sewaktu anakku Farisha masih berumur 2 tahun aku sering sekali membacakannya buku cerita sebelum tidur. Buku cerita sangat membantuku untuk menidurkannya yang saat itu dalam proses menyapih. Tadinya, aku berpikir bahwa dengan membacakan buku cerita maka aku telah mencukupi kebutuhan hiburannya setiap hari. Ternyata aku salah, lambat laun aku pun lengah dengan turut menyodorkan gadget padanya.

    Awalnya menyenangkan. Ia tak lagi mengganggu aktivitasku. Aku dapat mengerjakan pekerjaan rumah dengan bebas tanpa gangguannya. Namun lama kelamaan aku merasa menjadi nomor dua baginya. Ia mulai mengacuhkan panggilanku. Ia asik dengan ‘mainan’ barunya. Ia tidak perduli lagi dengan asiknya kegiatan membentuk dough roti dengan tangannya. Parahnya, ia lebih suka melihat video di youtube dibanding dibacakan dongeng olehku.

    Ini salah.. Ini salah.. Pikirku.

    Saat itu aku memutuskan untuk menjauhkan gadget dari hidupku. Dia harus meniruku yang dapat survive tanpa gadget. Kebiasaan ini berhasil tapi mulai pudar saat Farisha mulai kenal arti berteman diluar.

    Ya, kupikir dengan mengajaknya bermain diluar bersama teman dia akan senang dan melupakan gadget. Ternyata sejak berteman dia malah menjadi iri dengan temannya yang asik dengan gadgetnya dan tidak memperdulikannya. Dia berkata padaku, “Ma, Farisha jua mau main hape seperti teman Farisha” 😑

    Kejadian ini memberiku pembelajaran bahwa menjauhkan anak dari gadget sepenuhnya bukanlah tindakan bijak. Aku akhirnya mulai menerapkan 3 aturan dalam memberikan pinjaman gadget bagi anakku. Tiga aturan itu antara lain:

    1. Tidak membiarkan anak meminjam gadget dalam kondisi online.
    2. Tidak boleh bermain gadget lebih dari 15 menit.
    3. Hanya permainan edukatif yang boleh dilakukan anak dalam bermain gadget.

    Tiga aturan tersebut telah sukses aku terapkan selama ini. Sejak itu aku merasa kehidupanku normal kembali. Farisha mulai senang membantuku didapur untuk membuat kue maupun memasak, senang setiap kali aku bacakan buku cerita, dan hadiah dari sikapnya baik tersebut aku memberinya kepercayaan untuk meminjam smartphone-ku dalam waktu 15 menit sebanyak 3x sehari.

    ***

    Bicara tentang hoby anakku dalam memasak, ia paling menyukai kegiatan membentuk. Baik itu membentuk dough roti, membentuk cookies, hingga menata persentasi makanannya sendiri. Aku membiarkan imajinasinya berkembang dari kegiatan itu. Dan yang terpenting, ia bangga dengan karyanya sendiri dan dapat dengan lahap memakan hasil dari olahan tangannya.

    Namun kini Farisha sudah sekolah. Ia tidak memiliki banyak waktu didapur seperti dahulu. Ia kini memiliki lingkungan baru, teman baru dan pola hidup yang baru. Aku sebagai Ibunya pun kini memiliki rutinitas baru setiap pagi untuknya. Yaitu membuat bekal.

    Membuat bekal itu sebenarnya mudah. Tapi membuat bekal yang terlihat menarik itu sulit. Sementara anakku sendiri sudah terbiasa dimanjakan lidahnya oleh masakanku. Aku tidak bisa membuat imajinasinya mulai pudar dengan bentuk bekal yang itu-itu saja. Ditambah lagi, aku tidak punya waktu cukup untuk menyiapkan semuanya serba sempurna dipagi hari yang sibuk.

    Akhirnya suatu malam aku memutuskan untuk membeli makanan praktis disupermarket. Kebetulan besok aku punya banyak kegiatan dan tidak ingin berlama-lama dalam membuat bekal sekolah anakku. Aku akhirnya memutuskan untuk membeli Nugget karena Farisha suka sekali dengan Nugget. Dan pilihanku jatuh pada Nugget So Good.

    Kenapa So Good ya? Karena aku termasuk mommy yang suka pilih-pilih dalam membeli makanan. Sebenarnya merk nugget lain juga banyak. Tapi So Good ini sudah terjamin kualitasnya dan paling enak rasanya. Dan nilai plus lagi dari So Good ini adalah bentuknya bervariasi sekali. Anakku pasti suka bentuk-bentuk makanan yang lucu untuk bekalnya disekolah.

    Aku akhirnya memilih So Good Nugget Ayam Dino Bites. So Good varian ini adalah nugget yang berbentuk dinosaurus. Aku memilihnya karena Dinosaurus adalah binatang yang hanya hidup di imajinasi Farisha dan aku ingin membuatnya terlihat nyata. Hal ini karena dia sering sekali bertanya tentang dinosaurus seolah-olah ingin benar-benar melihatnya.

    Aku pun pulang dan langsung bertanya padanya.

    “Farisha mau lihat Dinosaurus?”

    “Bukannya Dinosaurus sudah musnah ma? ditabrak batu besar? ” Katanya

    “Dinosaurus sudah musnah sayang, sekarang cuma ada fosil dinosaurus daaan Dinosaurus Goreng” Kataku

    “Dinosaurus goreng?” Farisha bertanya heran.

    Aku lalu mengeluarkan So Good Nugget Ayam Dino Bites berukuran 400 gr yang aku beli lalu membuka isinya. Dan aku terkejut, ternyata didalamnya ada hadiah kartu So Good Cerdik dengan Framenya. Wow, ini keren. Pikirku.

    Sementara aku menginstal aplikasi So Good Cerdik di Playstore, Farisha mulai memilih dinosaurus apa yang akan digoreng. Dia memilih Brontosaurus dan T-Rex untuk makan malamnya nanti. Dan menyisakan Dua T-Rex untuk bekal sekolahnya besok. Saat melihatku asik mengutak atik kartu dan smartphoneku akhirnya dia bertanya, “Apa itu ma? Mainan baru?”

    Aku tersenyum dan mengajaknya masuk kekamar. Ya, aku senang sekali malam itu. Aku punya dongeng baru untuk Farisha. Siapa kira smartphone begitu berguna untuk dongeng kita malam ini.

    Dongeng? Dengan kartu itu?

    Ya, ternyata kartu ini bukan kartu sembarangan. Kartu ini adalah kartu ajaib yang dapat berbicara dan mendongeng dengan aplikasi So Good Cerdik. Kartu ini di olah dengan teknologi Augmented Reality atau AR. Hanya dengan melakukan scan pada kartu ini di kamera smartphone maka akan terjadi keajaiban.

    Mau tau cara lebih lanjutnya? Yuk, aku kasih tau.. 😊

    Pertama, kita harus install aplikasi So Good Cerdik di Playstore.

    Dan mari kita buka aplikasinya.

    Pilih cerita yang tersedia. Karena aku mendapatkan seri Chika dan Chiko part 2 maka aku memilih gambar Chika dan Chiko part 2.

    Kemudian klik mulai dan arahkan kamera smartphone pada kartu So Good Cerdik berhadiah tadi. Lalu klik mulai cerita. Dan lihatlah, smartphone juga bisa bercerita loh. Seperti aku. Tapi aku tidak bisa membuat tampilannya sekeren ini. Serius, tampilannya tiga dimensi dan tokohnya dapat bergerak. 😆

    Bisa dibayangkan betapa senangnya anakku melihat keajaiban dari aplikasi So Good Cerdik ini. Dia langsung bilang, “Lagi ma.. Lagi…”

    Dan sampai sekarang cerita ini diulang-ulang hingga tiada bosannya. Kemudian dia berbisik padaku, “Ma, nanti beli lagi ya.. Aku mau cerita yang lain juga”

    “Hihi.. Baiklah, tapi nanti minta belikan so good dengan papamu saja ya sayang..” 😝

    ***

    Bercerita bersama aplikasi So Good Cerdik membuatku tersadar. Bahwa mendidik anak generasi sekarang tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Kita harus peka dengan teknologi, bukan melarang perkembangan teknologi masuk kedalam keluarga kita. Karena teknologi yang dipergunakan secara positif maka akan menghasilkan output yang positif pula.

    Berbagai permainan digital edukatif seperti aplikasi So Good Cerdik dengan cerita pengantar tidurnya telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anakku. Diantaranya untuk bisa berbagi, kreatif, dan tidak berprasangka buruk dengan orang lain.

    Aku kini dapat membangun bonding lebih erat dengan anakku berkat So Good Cerdik ini. Bentuk Dinosaurus dari Nugget So Good benar-benar membangkitkan imajinasinya sehingga kami dapat bermain bersama. Setelah lelah bermain, kami menonton dongeng bersama. Benar-benar moment yang menyenangkan.

    Keesokan harinya, Farisha langsung mengajak temannya bermain dirumah. Ya, dia semangat sekali mengajak temannya. Awalnya, temannya tidak menghiraukannya dan asik dengan gadgetnya. Namun akhirnya ia tertarik mendekat ketika melihat Farisha bermain So Good Cerdik dengan Kartu Augmented Reality milik Farisha. Saat melihat keduanya, hatiku senang. Kini Farisha mulai meniru gaya cerita sang story teller di aplikasi itu.

    Ya, siapa tau ketika besar kamu biasa jadi pendongeng hebat berkat So Good Cerdik ya nak!

    ***

    Pagi harinya aku membuka kulkas untuk membuatkan Farisha ‘Dinosaurus Goreng’ lagi. Namun, secara iseng aku membuka aplikasi So Good Cerdik lagi. Karena aku pernah melihat kata-kata resep pada menu utamanya. Dan benar saja, ternyata banyak resep kreasi nugget disana. Wow.. 😱

    Saat asik membaca aku baru sadar kalau bahan-bahan untuk membuatnya tidak ada dikulkas. Sepertinya aku perlu resep yang lain. Eh, sayangnya kategori resep yang sudah di unlock cuma satu. Hiks..

    “Baiklah, mungkin aku akan membeli So Good lagi besok” Pikirku.

    *loh, kok emaknya jadi ikut keracunan.. 😂

    Ya, ini ceritaku saat bangkit membangun semangat mendidik anakku di generasi milenial dengan CERDIK. Mana ceritamu?

    Happy Parenting! 😊

    Indonesia Bergerak Maju tanpa HOAX

    Indonesia Bergerak Maju tanpa HOAX

    Hari Jum’at tanggal 13 Oktober 2017 saya mendapat undangan Flash Blogging dari Kominfo. Tentu sebagai anggota dari Female Blogger Banjarmasin hal ini merupakan hal yang membanggakan mengingat saya baru saja memulai aktivitas blogging bulan Januari lalu dengan blog berbasis WordPress.

    Sekedar cerita, bulan maret 2017 saya tergabung dikomunitas Female Blogger Banjarmasin dan secara aktif memulai blog TLD saya sejak bulan April 2017. Alhamdulillah kegiatan blogging ini membawa perubahan positif didalam hidup saya. Salah satu kegiatan yang benar-benar berkesan adalah Event Flash Blogging dengan tema “Bijak Bersosial Media” yang diselenggarakan oleh Kominfo.

    Jam 08.00 WITA aku dan teman-teman dari Female Blogger Banjarmasin melakukan registrasi dan duduk di meja bundar bagian depan. Kami menyanyikan lagu Indonesia raya yang disusul dengan sambutan oleh Kadiskominfo Kalimantan Selatan, sambutan direktur kemitraan komunikasi hingga foto bersama. 

    Selanjutnya adalah materi tentang teknik menulis kreatif yang dibawa oleh nara sumber Akhmad Riannor Asrari Puadi, penulis blog asraripuadi.net. Terlebih dahulu, beliau mengemukakan tentang pentingnya penyaringan berita hoax karena para penulis berita hoax adalah para haters. 

    Perubahan Dunia dimulai dari aktivitas menulis. Tanpa menulis sejarah akan hilang. Penemu dan pengembang diindonesia ada karena aktivitas menulis. Dengan perubahan zaman, generasi milenial memegang peranan penting dalam perubahan persepsi masyarakat. Sayangnya, perubahan persepsi masyarakat sering kali condong ke arag negatif akibat dari beredarnya hoax.

    Peperangan digital terus melaju. Para haters dan para penulis ‘yang benar’ semakin sulit dibedakan. Judul-judul dengan kalimat pemancing yang luar biasa menyebabkan traffic dari blog haters jauh lebih tinggi dari blog ‘pembawa kebenaran’. Anehnya, hal ini menyebabkan blog haters tersebut lebih didukung dan dipercaya oleh publik. Tulisan content pada Blog tersebut cenderung lebih banyak dibagikan oleh para penggiat sosial.

    Ya, media sosial memang membawa peranan penting bagi perubahan persepsi masyarakat. Semakin banyak kontent positif yang disebar maka semakin banyak pula orang-orang yang dapat berpikiran positif. Sebaliknya, jika kontent bermuatan negatif semakin banyak disebar maka semakin banyak pula tercipta para ‘haters’ baru.

    Sudah tugas kita untuk dapat bersosial media dengan bijak. Penulis pidato presiden, Sukardi Rinakit mengingatkan bahwa kita harus melakukan 3 hal dalam hidup ini. Pertama, kita tidak boleh mudah kecewa. Kedua, kita tidak boleh salah persepsi. Ketiga, kita harus melakukan dan mengutamakan cek dan recheck terhadap sesuatu.

    Ketiga hal tersebut mengingatkan saya akan pentingnya menjadi blogger dan penggiat sosial media yang selektif terhadap berita. Jujur, sebelum menjadi blogger saya adalah salah satu orang yang mudah terpancing dan terpengaruh dengan berbagai kontent negatif. Saya sering menyebarluaskan berita fitnah yang ‘pernah’ saya anggap benar.

    Hal ini diawali sebelum masa pemilihan presiden. Saya yang merupakan pendukung calon presiden ‘lain’ memulai paham fanatik saya dengan menyukai salah satu fanspage penulis haters. Ya, saya menyukai semua tulisannya. Caranya membawa para pembaca untuk tidak menyukai presiden ‘ini’ benar-benar logis dan sangat beralasan.

    Kemudian suatu hari saya menjumpai tulisan yang terlihat ‘sangat dibuat-buat’ dan tidak jelas sumber data yang diambil. Tanpa berpikir panjang saya memutuskan untuk dislike halaman penulis tersebut. Saya pikir penulis harus memiliki sumber yang kuat dan tidak berdasarkan opini semata. Apa penulis ini hanya mencari sensasi untuk penjualan bukunya? Pikir saya.

    Sejak memulai belajar menulis bersama komunitas blogger saya menjadi mengerti tentang pentingnya sebuah adab dalam menulis. Saya menjadi merasa sangat bodoh karena dulu sempat menjadi penyebar hoax. Kemudian, saya bertekad harus menulis kebaikan demi menghapus dosa dari hoax yang pernah saya sebarkan.

    Materi dari Bapak Andoko Darta dari Tim Komunikasi Kepresidenan telah membuka mata saya tentang betapa banyaknya kegiatan positif yang telah dilakukan oleh Bapak Jokowi_presiden yang dulu pernah membuatku ‘merasa kecewa’ dengan berita negatif dari berbagai kontent haters (hoax). Ya, aku baru tau ternyata kinerja positif President Jokowi selama ini telah tertutup oleh kontent-kontent kebencian.

    Bagaimana bisa aku tidak tau tentang kinerja Bapak Jokowi di Desa Ampas, Papua. Desa Ampas dulunya tidak memiliki listrik hingga 72 tahun. Dan baru di era Bapak Jokowi, desa ini akhirnya telah memiliki listrik. Bayangkan betapa senang rakyat disana telah sangat terbantu.

    Pemerintahan era Jokowi menekankan pada keadilan perlakuan, bukan persamaan perlakuan. Ia mengutamakan masyarakat golongan kecil untuk mendapatkan ‘hak’ yang sama dengan golongan menengah dan atas. Karena itu, perjuangannya tidak dapat dirasakan oleh masyarakat menengah sepertiku.

    Pencerahan ini membuatku tersadar. Betapa gelapnya pola pikir dan sudut pandangku dahulu. Betapa ‘nyaman’ tanganku membagikan berita yang belum tentu benar. Betapa mudah diriku yang ‘merasa pintar’ ini menyebarluaskan semuanya seolah-olah itu benar. Padahal, kenal dengan orang terdekat beliau saja aku tidak pernah.

    Perjuangan ini belum berakhir. Masih banyak berita hoax yang membawa kebencian dijejaring sosial. Masih banyak blog negatif yang terus menyebar hoax demi kepentingan pribadinya. Bahkan, banyak dari pengelola kontent-kontent negatif tersebut  yang menjadi kaya karenanya.

    Siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Apa hal positif yang bisa kita lakukan?

    Mari, menulislah untuk kebaikan..

    Karena, itulah sejatinya tugas dari penulis. Bukan untuk menjadi tenar, tapi untuk menyebarkan kebaikan.

    Semoga Female Blogger Banjarmasin turut menjadi pejuang Pergerakan Kemajuan Indonesia melalui tulisan kebaikan.

    Move On Ngeblog bersama Komunitas Female Blogger Banjarmasin

    Move On Ngeblog bersama Komunitas Female Blogger Banjarmasin

    I think I’m just the Only One Who have ‘Strange Hobby’.. 
    But now.. I know.. I’m not Alone..

    Sejak kecil aku merasa memiliki hoby yang aneh. Saat teman-temanku asik bermain dengan sesama, aku lebih suka diam di kelas sambil menghisap permen lolipopku. Salah satu temanku kemudian bertanya, “Kamu ngapain?” dan aku menjawab, “Sedang mengkhayal”

    Aku tidak terlalu suka dengan keramaian. Tapi aku suka berpura-pura ramai dipikiranku sendiri. Jikapun aku butuh teman_aku hanya butuh SATU. Ya, cukup satu saja yang mengerti diriku dan paham denganku maka aku akan menjadikannya SEGALANYA.

    Nyatanya, menemukan satu teman yang mengerti dirimu itu sulit. Sejak itu aku berpikir, “Aku kah yang terlalu aneh?”

    Ketika Guruku bertanya mengenai Cita-cita, aku hanya bisa menjawab menjadi Guru. Namun ketika ditanya, “Apa Hobymu? ”

    Aku menjawab, “Mengkhayal”

    Lantas seisi kelas mentertawakanku.

    Aku tidak mengerti dimana sisi lucu dari jawabanku. Itu benar, aku hoby melamun. Kadang ketika selesai membaca satu buku_aku bisa tersenyum-senyum sendiri. Kemudian aku berbaring dengan wajah berseri-seri hingga berjam-jam lamanya. Ya, sudah terlalu sering orang tuaku mengira ekspresi itu adalah ‘Jatuh Cinta’. Kenyataannya, tidak. 😂

    Aku memiliki hoby aneh sejak kecil. Aku suka berimajinasi. Aku bahkan memiliki ‘sebutan lain’ dalam versiku sendiri untuk setiap teman dikelasku.

    Kemudian, suatu hari hoby menulis itu muncul begitu saja ketika Sekolah Dasar. Aku suka ‘menulis’ berbagai fenomena disekitarku. Mulai dari keluhan dengan berbagai omelan mama, bertengkar dengan kakak, rasa iri dengan adik kembarku, rasa senang ketika ayah membela segala egoku hingga bully yang dilakukan teman-temanku.

    Tadinya, aku menyebut buku itu sebagai buku harian. Sampai suatu hari buku itu ditemukan oleh kakakku dan dibaca ditengah-tengah anggota keluargaku. Memang, aku berharap suatu hari ada yang membaca buku harianku_tapi tidak dalam moment yang memalukan seperti itu. 😅

    Aku sempat jera menulis hingga kemudian Ayahku membelikanku kado ulang tahun berupa ‘istana buku’. Ya, itu adalah kado yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kado istana buku merupakan sebuah istana kertas yang didalamnya berisi buku-buku dongeng mungil. Imajinasi liarku menjadi-jadi.

    Sejak itu aku punya ide aneh yang terlintas begitu saja didalam otakku. Aku menulis cerita singkat dengan panjang tiga paragraf. Sangat jelek namun aku senang. Paragraf pertama menceritakan karakter antagonis. Paragraf kedua menceritakan kedatangan tokoh protagonis. Dan paragraf tiga aku mematikan salah satunya atau mendamaikannya. Ya, sesimple itu. 😂

    Namun salah seorang teman SD ku menyukainya dan kau tau? Itulah saat pertama aku merasa memiliki ‘fans’ dan teman satu passion.. 😄

    ***

    Kekurangan dari kepribadian melankolis-plegmatis sepertiku adalah tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri, butuh rule mode dalam kehidupan, serta memiliki perasaan yang halus. Ya, kekurangan itu telah membuatku pensiun dengan kegiatan menulis. Hal ini terjadi begitu saja ketika teman sepassionku hilang, nilai pelajaranku tidak bagus, dan aku dinilai sebagai anak kuper dilingkunganku. Setiap remaja butuh sedikit rasa penerimaan bukan? 

    Aku pensiun menulis selama 5 tahun lamanya. Kemudian bersambung menulis novel ketika kelas 3 SMA_yang tidak jelas rimbanya kemana sekarang. Lalu hoby menulisku hilang total ketika kuliah. Sampai kemudian aku bertemu dengan dia yang suka menulis. Dan aku mulai melanjutkan menulis lagi. Walau bukan jenis novel tapi hanyalah catatan renungan-renungan kelabu. 

    Sepertinya hoby menulisku tak pernah berkembang ke arah yang positif. Karena itulah aku akhirnya berpikir bahwa menulis tidak akan membawaku kemana-mana. Saat menikah dan memiliki anak, suamiku mendorongku untuk terus menulis. Ia membelikan diary, menyuruhku menulis di kompasiana, menyuruhku rajin membaca tapi aku mengabaikan segala ceramahnya. Aku berpikir, “Siapa yang akan menerimaku dengan tulisan? Bukankah aku lebih baik menghabiskan waktu belajar memasak, membersihkan rumah, dan bermain dengan anak?” 

    Saat itu aku masih menjadi Ibu Rumah Tangga yang idealis. Menganggap semua pekerjaan rumah harus perfect dan tidak perlu me time. Kenyataannya aku menjadi ibu mengerikan dibalik gaya perfeksionisku. Aku sering kali marah tidak jelas, menangis tidak jelas dan mulai menyalahkan keluargaku atas segala punyusutan dalam diriku. Itulah saat pertama kali aku sadar telah terkena gejala post partum depression. 

    Kemudian, bulan January 2017 aku memutuskan membuat blog di wordpress. Aku pikir blog akan membuat kondisi psikologisku membaik pasca beberapa tahun menjadi stay at home mom. Suamiku mendukung secara positif dan dia menekankan padaku betapa pentingnya ‘konsisten’ dalam menulis. Konsisten berarti harus menulis secara terjadwal dan sering. Minimal 3 hari sekali. 

    Aku melakukannya. Menulis berbagai hal yang aku pendam selama ini. Jika kehabisan inspirasi, aku akan menulis resep masakan. Namun bulan maret 2017 aku mulai galau dalam menulis. Karena statistik blogku yang tak kunjung naik, follower yang sedikit, dan tidak ada komunitas. Ngeblog itu hanya self healing. Pikirku. 

    Tapi dimana serunya ngeblog jika itu hanya berputar pada diriku sendiri saja? Bukankah inti dari ngeblog adalah berbagi? Dimana tempat berbagi? Bagaimana aku bisa move on dengan ngeblog? 


    ***

    Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menemukan ‘seseorang yang begitu mengerti dirimu’.

    Ya, itu benar.

    Itulah yang terjadi saat aku bertemu dua orang perempuan ketika seminar Dancow “Katakan, IYA-BOLEH untuk mendukung eksplorasi si kecil” di Hotel Golden Tulip Banjarmasin bulan Februari lalu. Singkat cerita, disana aku diundang sebagai blogger untuk meliput acara Dancow. Aku pikir tadinya mungkin aku disana akan sendirian saja_seperti biasa. 😂

    Ternyata aku bertemu dengan dua blogger perempuan lainnya. Mereka bernama Shovya dan Leha. Aku duduk berjejer dengan mereka dan mendengarkan ‘kata-kata yang tidak aku mengerti’. Sebut saja itu niche, tld, hingga monetize dan job. Ya ampun, begitu mengasyikkan-kah dunia ngeblog itu? Pikirku.

    Leha, Shovya, dan Aku

    Aku memutuskan untuk bertanya tentang komunitas blogger yang ada diindonesia hingga yang khusus di Kalimantan Selatan. Dan mereka antusias. Shovya adalah member dari Blogger Banua dan Leha adalah member dari Female Blogger Banjarmasin. Berhubung aku lebih suka dengan ‘komunitas khusus perempuan’ maka aku memilih bergabung di Female Blogger Banjarmasin.

    Saat pertama kali bergabung hanya ada beberapa member disana. Aku pikir jelas alasannya, karena tidak banyak orang yang memiliki passion dibidang menulis. Kenyataannya, sejak aku bergabung hingga sekarang_anggota Female Blogger Banjarmasin semakin bertambah dan kami semakin serius dengan membentuk sistem kepengurusan hingga secara khusus mengelola sosial media kami.

    Aku benar-benar bersyukur tergabung dalam komunitas ini. Aku pernah tergabung dalam komunitas ’emak-emak’, komunitas agamis, komunitas ‘alay’ namun tidak pernah merasa secocok dan senyaman ini. Ya, seseorang pernah berkata padaku bahwa, “Kita tidak bisa menjadikan semua orang sebagai teman kita berpijak, kita butuh beberapa topeng dibalik itu semua agar diterima. Tapi yang menerimamu apa adanya_hanyalah keluarga dan mereka yang satu passion denganmu”

    Itu benar, dan akhirnya aku memutuskan untuk menjadi member Female Blogger Banjarmasin selamanya. 😂

    Anggota famale blogger banjarmasin memiliki jenis niche yang berbeda untuk blog yang dikelolanya. Ada yang memiliki niche Lifestyle, Beauty, hingga Travelling. Tadinya, aku adalah satu-satunya member yang memiliki niche Food didalamnya. Namun sekarang jujur saja niche blogku memuat banyak post lain selain Food. Dan yang paling lucu itu adalah aku mulai suka menulis di label kecantikan bertema lipstik. Dan terakhir, aku sekarang mulai suka berganti-ganti BB Cream. 😂

    Itulah yang terjadi ketika dalam komunitas ini banyak Beauty Bloggernya. Maklum, aku memiliki sedikit beberapa sifat plegmatis sehingga suka sedikit terbawa arus.

    Tapi itu benar, selama ngeblog aku tidak pernah berpisah dengan skincare maupun make up. Jika beberapa orang berpendapat bahwa make up adalah alat untuk bernarsis ria maka bagiku sendiri make up (khususnya lipstik) merupakan alat penunjang percaya diri saat ngeblog.

    Nulis aja perlu lisptik win? Kamu waras?

    Katakan saja aneh, tapi inspirasiku datang selalu dari luar rumah.. Sehingga lipstik selalu menemaniku saat mencari inspirasi.. 😂

    Contohnya saat aku mengunjungi anakku pada jam istirahat sekolah untuk membawakannya kue. Aku suka sekali mendengar pembicaraan emak-emak dan menjadikannya inspirasi tulisanku. Eits, tapi jangan salah. Aku tidak pernah menulis gosip secara gamblang. Aku hanya menulis dan menangkap kesimpulan agar mendapat pembelajaran. Bukankah itu yang namanya terinspirasi?

    Nah, bicara soal lipstik aku punya brand favorite yang bener-bener kece soal make up. Siapa lagi kalau bukan Wardah? I’m so in love with Wardah. Mulai dari Bedak, lipstik, blush on, eye shadow semua dari wardah. Kenapa? Karena aku terlanjur jatuh cinta sama make up wardah sejak acara ‘behantaran’ saat pernikahanku dulu. Wardah merupakan make up pertama yang membuatku jatuh cinta. 😍

    Baru-baru ini yang membuatku sangat luar biasa ketagihan adalah mengoleksi berbagai warna lipcream wardah. Ya, sejak pertama kali membeli Wardah Ekslusive Matte Lip Cream No. 5 (Speachless) aku akhirnya mulai mencoba warna lain. Aku sudah memiliki lipcream wardah no. 3, 4, 5 dan 10. Menurutku produk lipcream wardah ini kece banget. Warnanya pigmented dan selalu bikin aku merasa cantik saat mencari inspirasi diluar.

    Dan warna yang paling menyenangkan dan membuat wajahku fresh adalah no. 05 (Speachless). Aku selalu ketagihan dengan berbagai warna nude hingga orange karena warna itu bisa ‘sedikit’ menyamarkan usiaku sebenarnya.. 😂

    Lipstik adalah senjata percaya diriku dalam mencari inspirasi

    ***

    Oke, itu sekilas cerita tentang Female Blogger Banjarmasin dan hal yang membuatku ‘teracuni’ dengan produk kecantikan hingga brand favorite aku, Wardah. 😘

    Sekarang bagaimana kabar Female Blogger Banjarmasin?

    Alhamdulillah, Female Blogger Banjarmasin telah berumur satu tahun dan kita sudah banyak kemajuan didepan. Tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 (06-10-2016) Female Blogger Banjarmasin berulang tahun yang pertama. Aku berharap komunitas ini akan lebih maju dan lebih bersemangat sehingga memberi keberkahan untuk setiap member dan memberi manfaat untuk setiap orang dengan tulisan. 😊

    Oya, Kami sudah memiliki Struktur Organisasi yang jelas untuk kepengurusan. Siapa saja sih? Yuk, kepoin..

    • Ketua: Ruli Retno Mawarni (www.ruliretno.com)
    • Wakil Ketua: Vina Jihan Faheera (www.reistilldoll.com)
    • Sekretaris: Siti Zulaeha Barsieh (www.syunamom.com)
    • Bendahara: Rima Melaty (www.rima-angel.com)
    • PJ Sosmed: Dina Yulini Fahdina (www.dinalangkar.com)
    • Humas: Antung Apriana (www.ayanapunya.com)

    Dan beberapa member lainnya. Saat ini member kami sudah mencapai 20 orang. Dikit ya? Eh banyak kok.. 😂

    Soal angka itu tak masalah bukan? Yang penting kami kece dan konsisten nulis setiap bulannya dan dapat job. Hehe..

    Berbicara tentang konsisten, hal yang paling membuatku bersemangat bergabung dalam komunitas Female Blogger Banjarmasin adalah kami memiliki jadwal untuk share link setiap hari selasa dan sabtu. Pada jadwal share link kami diwajibkan untuk saling blog walking. Bagaimana jika kami tidak blog walking dan ada yang terlewat meninggalkan komentar? Secara tegas sudah ada sanksi khusus untuk itu, yaitu tidak boleh mengikuti kegiatan share link selama 2 minggu. Ngomong-ngomong, aku juga pernah kena sanksi loh satu kali. Oh, semoga itu yang terakhir. 😂

    Oh iya, kami sudah pernah meet up loh. Dan luar biasa menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang satu passion denganmu. Rata-rata dari kami memang pendiam tapi siapa sangka kami bisa seriang ini jika berkumpul bersama?

    Meet up kedua adalah saat kami menghadiri HP Notebook Gathering Media di Swiss Bell Hotel. Ini ketiga kalinya aku meet up dengan member Female Blogger Banjarmasin. Sayangnya hanya Aku, Rima, dan Kak Pita yang hadir. Tapi tidak apa-apa, aku sangat senang sekali. 😊

    Kak Pita, Aku dan Rima

    Jika tidak bertemu dengan komunitas kece ini mungkin saja aku tidak bisa begini. Mungkin aku kini hanya Ibu Rumah Tangga biasa yang sangat moody ngeblog karena tidak ada pembaca, komunitas pendukung, job, dan berbagai event blogger. Mungkin kini aku hanya menggerutu dengan berbagai pekerjaan rumahku tanpa bisa move on. Tapi komunitas ini merubahku, benar-benar merubahku

    Well, ulang tahun ga ada event spesial?

    Ah, siapa bilang..! Ada Kok! 😆

    Event spesial berikutnya dari Female Blogger Banjarmasin adalah mengadakan Beauty Class spesial dengan Wardah di Street Food Banjarmasin. Acara ini akan berlangsung pada 22 Oktober 2016. Penasaran dengan acara ini? Bagaimana sih Beauty Class bareng wardah? Tenang saja, aku pasti akan menulis pengalamanku pertama kalinya  mengikuti beauty class di blog ini. 😊

    Jadi, Anda perempuan dan seorang blogger yang berdomisili dibanjarmasin? Bingung bagaimana cara move on dalam ngeblog? Tertarik ingin bergabung dengan komunitas Female Blogger Banjarmasin? Yuk, kepo’in tentang kita di instagram dan twitter kami.

    Karena komunitas satu passion adalah wadah yang bisa membuatmu move on. Jadi, mari segera move on! Tunggu apa lagi!

    Resep Kreasi So Good “Ayam Masak Habang Banjar dan Nasi Kuning Ala So Good ” 

    Resep Kreasi So Good “Ayam Masak Habang Banjar dan Nasi Kuning Ala So Good ” 

    Halo emak Rempong? 

    Hari ini aku pengen share resep lagi. Kenapa? Ya karena aku lagi pengen aja.. Hihi.. 

    Aku lagi addicted banget bikin olahan ayam. Jadi ceritanya kemarin aku mau ngabisin stok ayam ‘kota’ yang biasa aku beli dipasar terus aku berkreasi masak deh. Terus suamiku makan dan langsung nyeletuk, “Ko ayamnya ga semanis kemarin ya?” 

    Haduh mak, kalian tau kan kalo suami udah kritik masakan itu hati kita ini ibarat langsung ‘duarr’ gitu. Serasa hidup tak berguna, serasa tak ambil andil dalam peran lingkup mensejahterakan rumah tangga yang dimulai dari kesejahteraan lidah dan perut. *emak mau lari kepojokan rumah dulu garuk-garuk bantal

    Okeh, saya lebay.. Haha

    Kenapa sih ayamnya jadi ga manis begitu ya? Padahal kalian tau ga hal apa yang udah aku lakukan dalam proses ‘pembersihan’ ayam itu? 

    Pertama aku bersihin sisa-sisa bulu halus si ayam. Kedua aku cuci si ayam. Ketiga aku remas pake garam. Keempat aku perahin jeruk nipis supaya ga amis. Terakhir aku diamkan si ayam dikulkas sebelum 30 menit kemudian siap aku masak. Lama ga sih prosesnya? Lamaa laaah… 

    Udah gitu masih dikritik sedemikian sama pak suami..hiks..

    Tapi memang benar sih ayam yang aku bikin agak kurang manis dan kurang sreg. Aku berpikir apa skill masakku sekarang sedemikian menyusut setelah berlama-lama malas-malasan di idul fitri? 

    Aku pikir-pikir sih enggak! Ini pasti karena bawang.. Eh.. Ayam.. Hihi.. 

    Kenapa? Karena waktu aku bikin soto banjar kaldunya enak banget dan ayamnya manis. Waktu itu aku pake So Good Ayam Potong. Luar biasa enaknya loh, cuma sekali makan udah abis dan aku akhirnya sadar aku bikinnya terlalu sedikit. 

    Kok bisa make So Good Ayam Potong berbeda sama ayam pasaran biasa? 

    Karena, So Good Ayam Potong berasal dari bibit ayam pilihan yang dipelihara dengan baik dipeternakan modern, ayam So good tumbuh sehat tanpa suntikan hormon. Dipotong secara HALAL, dibekukan sempurna dengan teknologi Individually Quick Frozen yang mengunci empat kualitas ayam segar yaitu SEGAR, GIZI, RASA dan BERSIH. 

    Dan kalian tau sisi positif dari So Good Ayam Potong lainnya? Ya, ini siap pakai. Ga perlu repot remas-remas pake garam dan lumuri pake jeruk nipis. Ayamnya dijamin ga amis dan dagingnya juga manis. 

    Karena stok So Good Ayam Potong masih ada dikulkas aku langsung deh mau berkreasi bikin Ayam ini. Dan masakan yang ingin aku bikin kali ini masih berbau masakan daerah aku sendiri. Namanya Masak Habang. 

    Didaerah kami Masak Habang ini biasa disajikan dengan Nasi Kuning. Rasanya manis dan gurih. Dijamin bikin ketagihan karena Nasi Kuning Iwak Masak Habang ini sudah jadi kuliner khas Banjarmasin. Ditiap pelosok Banjarmasin tentu tidak sulit untuk menemukan para penjual Nasi Kuning Iwak masak Habang ini. 

    Gimana sih resepnya? Yuk intip dulu! 

    Ayam Masak Habang Banjar dan Nasi Kuning Ala So Good

    (untuk 5 porsi) 

    Bahan Masak Habang

    5 potong So Good Ayam Potong

    Bumbu halus 

    10 siung bawang merah

    5 siung bawang putih

    5 buah cabai merah kering 

    1 ruas jahe

    1/2 sdt terasi

    1 sdm air asam jawa

    2 sdm gula merah

    5 cm kayu manis

    100 ml minyak

    Air secukupnya

    Garam dan penyedap secukupnya 

    Bahan Nasi Kuning 

    250 gr beras

    300 ml santan (dari 1/5 buah kelapa) 

    1/2 sdt kunyit bubuk

    1 helai daun pandan

    1 sdm margarine

    1 sdt garam

    Cara membuat:

    Membuat Masak Habang Ayam:

    Pertama kita buat bumbu masak habang dulu, karena ini memakan cukup banyak waktu. 

    Buang biji pada lombok merah kering dan rendam pada air panas. Diamkan 15 menit hingga lombok melunak. 

    Haluskan lombok, bawang, jahe, terasi, air asam dengan menggunakan blender dan air secukupnya agar mudah di blend. 

    Panaskan bumbu yang sudah dihaluskan pada wajan hingga air menyusut. Kemudian masukkan minyak yang sudah dipanaskan terlebih dahulu. Teknik ini agar bumbu lebih cepat matang dan tidak berbau bawang. 

    Masak bumbu hingga matang dan berwarna merah tua sekali, jangan lupa masukkan kayu manis. Memasak bumbu memakan kesabaran karena bumbu biasanya akan meletup-letup. Bumbu yang sudah matang akan ‘mengeluar minyak’ seperti gambar dibawah ini

    Selanjutnya, lumuri So Good Ayam Goreng dengan Garam dan goreng sebentar pada minyak hingga setengah matang. 

    Masukkan ayam pada bumbu masak habang. Tambahkan sedikit air, gula merah, garam dan penyedap secukupnya. Masak hingga bumbu meresap pada ayam. 

    Membuat Nasi Kuning 

    Panaskan santan pada api dan masukkan kunyit bubuk, garam, dan daun pandan serta margarine. 

    Masukkan beras yang sudah dicuci bersih kemudian aduk dan masak hingga air santan habis. 

    Selanjutnya kukus nasi hingga matang. Nasi Kuning siap disajikan. 

    Sajikan Ayam masak habang dengan Nasi Kuning dan taburi bawang goreng diatasnya. 

    Hmmm.. Ini benar-benar lezat loh. Apalagi Daging Ayamnya..manis dan membuat bumbu masak habang menjadi lezat. 

    Oya, Resep ini diikutsertakan dalam Lomba Kreasi Masak Ramadhan dan Idul Fitri ala SO GOOD #BPNxSOGOOD yang diselenggarakan oleh SO GOOD bersama Blogger Perempuan Network. Aku ikutan ketegori #RamadhanSoGoodAyamPotong

    Happy Cooking.. 😊

    IBX598B146B8E64A