Browsed by
Category: Kesehatan

Mengulas informasi kesehatan dari pengalaman penulis

Mencukupi Kebutuhan Nutrisi Bayi GTM

Mencukupi Kebutuhan Nutrisi Bayi GTM

“Bu.. Anak Ibu sudah 3 bulan berturut-turut tidak mengalami kenaikan berat badan. Kalau boleh tau.. Makannya bagaimana?”

Deg.. Wajahku langsung merah padam. Bingung harus berkata apa. 

Ya.. Sudah sekitar 1 bulan ini Humaira sulit sekali makan. Fase ini pernah aku ceritakan di blog postnya sebelumnya. Fase mengerikan yang bernama GTM atau Gerakan Tutup Mulut. 

Sesungguhnya, aku sudah sangat bisa berdamai dengan GTM. Akan tetapi, perkataan bidan di posyandu ini terus terngiang-ngiang di kepalaku. Apalah artinya aku yang kesana kemari menenangkan diri berdamai dengan GTM, kalau ternyata faktanya berbicara bahwa anakku tidak mengalami kenaikan berat badan selama tiga bulan. Wow, I’m Stuck. 

Disitulah saran demi saran terdengar di telingaku. Dari bidan yang merekomendasikan susu A sampai G. Dari Ibu Mertua yang kadang suka membandingkan Humaira dan sepupunya. Dan teman sosialita yang bercerita bahwa anaknya yang lahap makan karena diberikan tambahan cita rasa. Disitulah aku merasa.. Hmmm… Can I try? 

Its Okay, Motherhood just about Baby and Me

Aku selalu percaya bahwa sangat tidak penting mendengarkan apa perkataan ‘mereka’ tentangku. Tentang bagaimana pola asuh yang aku miliki, ideologiku dsb. Tentang perkataan mereka yang kadang menyudutkanku bahwa merekalah yang paling benar. Aku hanya percaya bahwa parenting yang benar adalah dengan menikmati proses cinta antara aku dan anakku. 

Setiap Ibu itu spesial. Begitu pula anakku dengan kekurangan berat badannya. Nyatanya, Humaira adalah anak yang aktif dan periang. Segala perkembangannya selalu mengagumkan. Bahkan ia sudah bisa berdiri sendiri disaat bayi lain yang seumuran dengannya bahkan masih terbata-bata untuk merangkak. I know it.. Humaira is special. 

Tapi, keangkuhanku luntur seketika begitu melihatnya sakit dan GTM sangat parah. Aku mengusahakan segalanya agar ada sesuap makanan pendamping yang dapat dimakannya. Dari homemade sampai instan. Mencoba berbagai cara yang aku cari-cari di google. Berkonsultasi dengan pakar kesehatan yang membuatku semakin galau. Sampai akhirnya, aku mencoba cara baru untuk mengakhiri GTM ini. 

Ya, Aku Berkenalan dengan Susu Organik

Apa itu Susu Organik?

Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 64 tahun 2013, organik adalah istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar produksi organik dan disertifikasi oleh lembaga sertifikasi resmi. Contoh sertifikat resmi yaitu Sertifikat Organik Indonesia, atau sertifikasi tertinggi di dunia, yaitu Sertifikat Organik Eropa.

Nah, ternyata untuk memperoleh sertifikasi organik ini tidak mudah loh. Merk susu organik harus memenuhi Persyaratan Pangan Olahan Organik, yaitu dari segi kandungannya yang harus mengandung pangan organik paling sedikit 95% dari total berat atau volume (tidak termasuk air dan garam), kandungan pangan non organik di dalamnya bukan merupakan pangan yang sejenis dengan pangan organik yang digunakan, dan tidak mengandung bahan-bahan tambahan yang tidak diizinkan. Duh, sedetail itu loh pemirsa. 

Hmm.. Sejauh ini rasanya belum ada sih aku mendengar ada susu organik di indonesia. Memang kadang ada sih simpang siur melihat di market place. Tapi belum memenuhi persyaratan pangan olahan organik dan belum memiliki sertifikat resmi dari sertifikat organik indonesia maupun sertifikat organik eropa.

Merk Susu Organik Pertama di Indonesia

Nah, ternyata sekarang di indonesia sudah hadir merk susu organik. Namanya adalah Baby & Me Organic. Susu organik pertama di Indonesia yang tak hanya memperoleh Sertifikat Organik Indonesia, namun juga Sertifikat Organik Eropa. Baby & Me Organic dihasilkan dari peternakan susu organik terbesar di dunia, yaitu Arla dari Denmark.

FYI, Arla Foods amba adalah salah satu perusahaan produk susu terdepan di Eropa. Memulai perjalanannya sejak 130 tahun yang lalu, kini Arla Foods amba telah memasarkan berbagai jenis produk dairy di mancanegara. Arla Foods amba menerapkan sistem mutu ARLAGAARDEN yang memastikan bahwa susu yang dihasilkan peternak Arla tidak hanya memiliki kualitas yang baik, namun juga dihasilkan melalui proses yang ramah lingkungan.

Peternakan susu organik ini tentu berbeda dengan susu biasa. Sapi organik diberi makan rumput organik dan biji-bijian organik, serta dipelihara bebas di padang rumput organik di bawah kehangatan sinar matahari Eropa selama musim panas. Sudah bisa diimajinasikan belum mak? Jangan gagal fokus ya.. Membayangkan diri sendiri yang berjemur saking jarang pikniknya.. Hahahaha..

Bisa dibayangkan kan peternakan Baby & Me Organic yang selangkah lebih dekat dengan alam? Oya, Baby & Me Organic tak hanya mengandung segala manfaat baik dari susu organik loh, tapi namun juga mengandung:

  • Omega 3 & 6 Organik dan DHA untuk bantu optimalkan perkembangan kognitif Si Kecil.
  • Tinggi protein organik (Whey dan Casein dengan rasio seimbang), dan kalsium serta vitamin D untuk membantu mengoptimalkan pertumbuhan fisik Si Kecil.
  • FOS & GOS Organik dengan rasio seimbang, dan sumber serat pangan yang membantu meningkatkan fungsi pencernaan dan perkembangan bakteri baik, serta menjaga daya tahan tubuh Si Kecil.
  • Kandungan 15 vitamin dan 12 mineral yang penting untuk tumbuh kembang Si Kecil, juga tinggi zat besi, zink, dan vitamin A dan C yang tinggi untuk imunitas yang baik.

Review Susu Baby and Me Organik

Aku sudah mencoba susu organik dari
Baby & Me Organic loh, yaitu formula lanjutan untuk usia 6-12 bulan. Ya, Susu organik ini ada beberapa varian loh. Untuk yang 1 tahun keatas juga ada. Jadi, jika ingin mencoba bisa disesuaikan dengan usia anak ya. Dan juga akan lebih baik jika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan saran berdasarkan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan bayi. 

Untuk anakku sendiri yang sudah berumur 8 bulan ke atas aku menggunakan 7 sendok takar (1 takar=4,6 gr) dalam 210 ml air dengan suhu 70 derajat Celcius.

Saat aku mencoba rasanya sekilas seperti susu UHT. Tentu saja enak. Dan susu ini tanpa tambahan gula loh. Syukurlah, Humaira sudah sering aku tinggalkan keluar rumah beraktivitas jadi dia sudah familiar dengan dot. Susu Arla ini terlihat nyaman dan aman untuknya karena susu ini tanpa zat tambahan apapun, sudah memiliki sertifikasi dan halal. Ini yang terpenting. 

Biasanya.. Aku meminumkan susu organik di dot saat mendampingi Humaira makan. Hal ini karena jika Humaira sudah menyusu padaku, ia jadi tidak mau makan lagi. Jadi, aku harus sedikit melepaskan sesaat saat makan agar ia dapat fokus pada makanannya. Aku juga menggunakan susu organik ini untuk campuran makanan pendamping Humaira. Dan responnya ternyata membuatku speachless. Humaira suka! 

“Lihatlah dia yang membuka mulutnya lagi dan lagi.. 

Its okay mom.. Just about baby and me!”

Sebelum berkenalan dengan susu organik, aku hanya mencampurkan MPASI instannya dengan air biasa. Mungkin saja dia kurang suka ya.. Karena rasanya kurang gurih. Setelah dicampurkan memang rasanya agak berbeda. Jadi lebih gurih dan enak. Dan yang paling penting.. Susu organik ini tidak membuatnya addicted, ia masih menyusu padaku jika ingin tidur dan diluar jam makan. Ya.. Moment terpenting baby and me tetap terjaga dan tidak hilang. 

Mungkin ada beberapa orang tua yang tidak biasa menggunakan susu organik seperti ini. Saranku, sajikan susu hanya untuk sekali minum. Lebih baik untuk segera mengkonsumsi susu dalam keadaan hangat. Jangan lupa buang susu yang tidak diminum setelah 1 jam. Gunakan bubuk susu dalam waktu 3 minggu setelah kemasan dibuka. Jadi kalau tidak habis dalam waktu 3 minggu lebih baik tidak usah dikonsumsi lagi ya. 

Cara menyimpannya cukup simple. Tutup rapat kemasan Baby & Me Organic dan pastikan bubuk susu tidak terkena cairan atau uap air. Selanjutnya, simpan Baby & Me Organic di tempat yang bersih, sejuk, dan kering, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung.

Oya, pastikan menyiapkan susu dengan air yang bersih dan matang ya, serta menggunakan dot yang telah dicuci bersih dan disterilisasi agar anak terhindar dari gangguan pencernaan. Cara mensterilisasi dapat menggunakan alat khusus atau dengan cara direbus.

Cara merebusnya cukup simple. Peralatan bayi harus terendam seluruhnya dalam panci tertutup dengan air mendidih selama 5-10 menit. Nah, jika peralatan bayi tidak langsung digunakan maka simpan saja ditempat yang bersih dan tertutup.

Prinsipnya simple kok, air yang tidak matang, botol yang tidak steril dan penyajian yang tidak tepat dapat mengakibatkan bayi sakit. Dan juga, penyimpanan dan penggunaan yang tidak tepat dapat mengganggu kesehatan bayi.

Oya, jika anak mengalami mual, kembung, sakit perut, dan diare setelah mengkonsumsi susu organik.. Lebih baik untuk menghentikan penggunaaannya ya. Gejala ini menandakan anak Anda mungkin memiliki alergi susu atau menderita intoleransi laktosa. 

Jadi, udah yakin kan dengan kandungan alami dari susu organik ini? 

Kini aku tidak khawatir lagi tentang kurangnya nutrisi karena GTM. Semoga nutrisi Humaira selalu tercukupi. Dan yang paling penting.. Semoga Baby and Me selalu bahagia.



Tumbuh Gigi dan Drama Menggigit Si Kecil serta Cara Menjaga Kebersihannya

Tumbuh Gigi dan Drama Menggigit Si Kecil serta Cara Menjaga Kebersihannya

“Humaira.. Kok digigit melulu sendoknya.. Yuk makan lagi yuk..”

Dan Si kecil Humaira hanya tertawa melihatku sambil menggigit sendok makannya sekuat tenaga.. 

Drama Menggigit si Kecil yang Membuat Mamak Pusing

Setelah drama GTM berakhir, si kecil Humaira kembali membuat drama baru dalam kehidupanku. Dan itu dimulai sejak gigi bawahnya mulai tumbuh satu. 

Awalnya, dia hanya menggigit payudara. Sebenarnya itu cukup ngilu dan sakit. Tapi hal yang lebih menyeramkan lagi adalah ketika dia berlari kesana kemari dan memasukkan segalanya kemulutnya. Ya ampun.. “She want to bites everything”

Ya.. Si kecil Humaira yang berumur 9 bulan itu sudah lincah merangkak kesana kemari. Dia sudah mulai protes jika aku selalu menggendongnya. Bahkan, kini dia sudah tidak mau lagi makan di kursi makannya. Dia ingin makan sambil merangkak dan bereksplorasi. Sayangnya, eksplorasi si kecil ini bukan eksplorasi biasa. Mari menyebutnya Eksplorasi Oral. Hahaha

Bayangkan saja, jika dia bertemu buku pasti dia gigit. Jika bertemu boneka dia tersenyum meniru ekspresi boneka.. Tapi kemudian pasti digigit. Yang paling ekstrim adalah saat dia melihat kucing tertidur. Dia akan langsung menarik buntut si kucing, lantas kemudian ingin memasukkannya ke mulutnya. 

Disitulah kewarasanku diuji.. Huft.. 

Pentingnya Menjaga Kebersihan di 1000 hari Pertama si Kecil

Peer besar saat si kecil mengalami fase oral begini bukan pada ‘kapan ia akan berhenti menggigit atau bagaimana menghentikan fase ini’. Fase menggigit seperti ini adalah fase yang wajar. Peer sebenarnya adalah Bagaimana aku bisa menjaga kebersihannya? Dia bahkan bisa merangkak begitu cepat jika melihat hal yang menarik. Rasanya sungguh kewalahan untuk terus menjaganya sementara setumpuk tugas domestik di rumah masih melambai-lambai. 

Iya.. Mamak kan gak punya ART genks.. 

Padahal, pada fase seperti ini penting sekali untuk menjaga kebersihan si kecil. Terutama segala yang masuk kedalam mulutnya. Karena itu akan mempengaruhi kesehatan pencernaannya. Please.. Humaira masih berumur 9 bulan dan itu adalah fase Golden Age. Yang mana 1000 hari pertamanya ini akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya kelak.

“Peralatan yang digunakan untuk bayi dan balita juga harus terjaga kebersihannya, tidak hanya peralatan untuk makan dan minum, tetapi juga peralatan lain seperti baju, celana, buah dan sayur bayi dari kuman dan bakteri akan membantu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh bayi sehingga tumbuh dan berkembang dengan baik,”


(Dr. Rini Sekartini, SPAk)

Kan? Berarti segala yang dimasukkan Humaira kedalam mulutnya itu paling tidak haruslah bersih. Dari dotnya hingga peralatan makannya tak lupa pula segala mainan yang sering dia gigit. Karena itu akan berpengaruh pada kesehatannya. FYI, Humaira sudah terserang batuk dan pilek sejak fase menggigit yang ekstrem ini. Mungkin karena aku sedikit lengah dengan kebersihan. Hiks

Cara Menjaga Kebersihan Si Bayi yang Sedang Hobi Menggigit

1. Belikan Bayi Teether yang Menarik

Dari zaman punya anak pertama, aku selalu membelikan teether atau gigitan bayi ketika fase menggigit. Karena konon gusi bayi pada fase ini gatal, sehingga ia suka sekali menggigit sesuatu yang kenyal. 

Kalau bisa, belikan bayi teether dengan mengajaknya ke toko peralatan bayi. Ini serius. Biarkan dia memilih teethernya sendiri. Karena dari pengalamanku, jika ia tak memilihnya sendiri maka besar kemungkinan teether itu tidak terpakai. Karena tiap bayi punya selera yang berbeda. 

Aku sendiri mengajak Humaira untuk memilih teethernya sendiri. Dan ternyata dia suka melihat teether berwarna pink. Aku pun membelikannya beserta dengan mainan yang lain. 

Memberikan teether begini punya dampak positif untuk menjaga kebersihan loh. Bayangkan saja kalau si kecil menggigit apapun yang ditemuinya. Sementara ‘apapun’ itu belum tentu bersih kan? Kalau hanya teether saja kan gampang dibersihkan. 

Hmm.. Tapi bagaimana kalau si kecil bereksplorasi keseluruh ruangan di rumah? 

2. Berikan Ruangan Khusus untuk Bayi bermain

.. Ya beri saja ruangan khusus untuknya bermain.. 

Kalau punya ruangan nganggur, ada baiknya jika ruangan itu untuk si kecil saja. Pada fase suka menggigit ini, bayi butuh ruangan khusus untuk bereksplorasi. Karena please deh ya.. Kalau semua ruangan jadi tempat eksplorasi bayi maka ‘mamak tidak bisa pencitraan’. Karena ruang tamu adalah salah satu ruang pencitraan ‘sok bersih dan rapi’ bagi emak.. Hahaha

Aku sendiri memutuskan untuk mengosongkan ruangan di dekat dapur. Aku biarkan dia merangkak dan bereksplorasi sendiri disana. Tidak khawatir dengan terbengkalainya tugas domestik juga, karena ruangannya berdekatan dengan dapur. Aku bisa sambil memasak di dekatnya. 

Biasanya, ruangan untuk eksplorasi ini hanya aku isi dengan teether, buku bayi dan mainan  yang bisa dicuci lainnya. 

Dan jauhkan si kecil dari mainan super mungil yang bisa saja masuk dalam mulutnya. Sumpah.. Ini bahaya banget. 

3. Bersihkan Mainan dan Peralatan Bayi lainnya Memakai Sabun Pembersih Khusus untuk Bayi

Nah, ini solusi yang super duper penting banget. 

Tadi aku cerita kan kalau Humaira sempat pilek dan batuk? Kalian tau gak kira-kira apa penyebabnya? 

Kalau aku boleh menebak sih, salah satu alasannya karena aku lengah dengan kebersihannya.

Ceritanya, dua minggu yang lalu.. aku mengajak Humaira ke rumah neneknya. Dan aku benar-benar lupa untuk membawa hal yang penting. Yaitu, sabun Pembersih peralatan bayi. 

Tadinya sih aku mau enjoy aja. Masa sih karena masalah sabun aja bikin macam-macam. Eh ternyata aku salah. Pasca pulang dari rumah nenek, Si Humaira langsung pilek dan batuk. Huhu.. 

Ternyata, aku memang gak boleh ketinggalan bawa Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser. Iya, aku percayakan kebersihan anakku dari yang pertama sampai yang kedua ini sama Sleek. 

Dari Humaira Bayi dan ASI aku masih super seret.. Aku selalu membawa Pompa ASI dan Sleek kemana saja. 

Dari Botol ASIP, Dot, serta peralatan MPASI aku selalu mempercayakan kebersihannya dengan memakai Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser. 

Hingga Humaira dalam fase menggigit ini pun.. Aku selalu memakai Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser untuk membersihkan semua mainan dan teether-nya. Pokoknya, terpakai banget dan please jangan lupa lagi deh dibawa. Karena sepenting itu punya sabun pembersih yang food grade. 

Oya, Sleek ini mengandung Stain Removal Formula. Jadi, dapat menghilangkan sisa lemak susu dan bau yang menempel pada peralatan botol bayi. Hayo.. Siapa kemaren yang mengaku cheating menyiapkan MPASI bayi dengan memberinya teether terlebih dahulu? Ngaku deh ngaku.. *malu.. 

Jadi, teether Humaira itu rata-rata dicuci 3x sehari. Karena saat makan, dia pasti sambil menggigit teethernya. Kalau diibaratkan dengan kelakuan orang dewasa.. Mungkin dia pikir teether itu kerupuk.. Haha.. 

Tapi aku enggak worried. Karena kalau dicuci dengan Sleek, baunya hilang loh. Selain efektif untuk menghilangkan lemak dan bau, 

Sleek Baby Bottle Nipple & Accessories Cleanser juga hadir dengan Formula Baru. Sleek kini dilengkapi dengan 8 Proteksi yang pastinya membuat kebersihan peralatan bayi lebih aman. 

Nah, itu dia pengalamanku dalam menghadapi drama si kecil yang suka menggigit apa saja. Fase ini adalah fase yang sangat normal loh. Kita tidak bisa melarang si kecil untuk bereksplorasi dengan mulut kecilnya itu. Yang bisa kita lakukan adalah menjaganya dan memperhatikan kebersihannya. Iyakan? Kalau moms yang lain bagaimana nih? Punya pengalaman seru juga gak dengan drama si kecil yang suka menggigit? 

Yuk, kunjungi sosial media Sleek untuk tahu lebih banyak.. 

Fb: Sleek Baby

Ig: sleekbaby_id

#SleekBaby #SleekBabyAlamiMelindungi #SleekBaby8Protection #1000HariPertama 

#PerlengkapanBayi #ProdukBayi #BayiBaruLahir #PembersihBotol 


Berdamai dengan GTM? Bisa Kok!

Berdamai dengan GTM? Bisa Kok!

“Humaira.. Sedikit lagi sayang…hayuk yuk… Aaaaaa”

Kurang lebih, beginilah kegiatanku selama satu bulan ini. Dalam waktu 3 kali sehari berputar-putar di rumah sambil mengejar Humaira yang merangkak dan menyuapinya. Jangan tanya berapa jam waktuku terbuang untuk ini. Satu kali makan.. Aku harus mengorbankan satu jam lebih waktuku yang berharga. Belum lagi kalau Humaira memuntahkannya..

Belum lagi.. Setumpuk pekerjaan rumah tangga..

Belum lagi.. Harus menjemput Farisha..

Jangan lupa makan siang.. Kepasar dsb dsb…

Disitulah kewarasanku diuji…

Aaaagrrrrh!

Curhatan Mamak Stress Menghadapi Anak GTM

Sesungguhnya, memiliki anak kedua ini aku cenderung lebih santai. Easy Going aja gitu… Apalah apalah.. Gak perlu deh terlalu perfeksionis. Aku sudah banyak belajar dari pengalaman anak pertama dulu. Iya, dulu aku sempat terkena babyblues..dan PPD

Bahkan, aku pernah menulis tentang baby blues secara rinci. Tak lupa juga tentang cara mengatasi babyblues. Aku dan suami sudah aware banget. Janganlah ini terulang kembali.

Dan tips mengatasi babyblues hingga PPD tersebut berhasil. Sampai Humaira berumur 8 bulan dan mulai tumbuh gigi 4 biji sekaligus.. Disanalah drama GTM (Gerakan tutup mulut) dimulai.

Humaira yang biasanya lahap makan, kini mulutnya selalu menutup. Bahkan saat tidak sedang makan sekalipun. Kalau dibuka.. Maka air liurnya berjatuhan. Kalau melihatku memegang mangkuk dan sendok dia langsung menangis di kursi makannya dan meronta ingin keluar. Saat dikeluarkan.. Ia langsung merangkak laju menghindariku.

Lalu aku menggendongnya.. Menyanyi dan menenangkannya.. Sesekali mengalihkan perhatiannya pada teethernya. Dan saat ia membuka mulut..tangan kananku langsung sigap memasukkan sesendok MPASI kemulutnya.

Jika kalian kira hanya begitu saja cerita dan solusinya.. Tentu kalian salah. MPASI itu diemut saja dimulutnya.. Tidak dikunyah.. Tidak diteguk.. Dan saat aku menyuapi air putih ia langsung sigap membuka mulutnya.. Dan keluarlah semua MPASI yang aku buat itu… huhuhu..

Jangan! Jangan dulu menyarankanku untuk ini dan itu.. Aku sedang membaca tau.. Aku googling kesana kemari. Rambutku mulai kusut dibuatnya. Huh, artikel-artikel itu sama sekali tidak membantu.. 

Santai katanya? Susui saja katanya?

Lihatlah.. Humaira tanpa makan.. Artinya dia selalu menyusu..

Jika Humaira selalu menyusu.. Maka aku yang jadinya terancam selalu lapar..

Jika Humaira selalu menyusu.. Maka aku tidak bisa bergerak bebas. Apa jadinya rumahku? Hei!

Dan jangan lupa.. Jika aku terlambat makan.. Jika aku kelaparan.. Jika pekerjaan rumah tak kunjung selesai.. Sementara isi kulkas zonk.. Maka tandukku bisa keluar kapan saja. Grrrrr..

Apah? Go Food? Ah.. tidak semudah itu ferguso.. Memangnya uang bulananku cukup jika memesan go food setiap hari?

Ah itulah.. Ekonomi dan kewarasan berumah tangga.. Dalam sekali kaitannya. Halah, jadi curcol kan emak. Hahahaha…

Drama GTM dan Demam yang berulang-ulang kayak zaman Missed Call lagi ABG

Yaelah.. Outlinemu gitu amat win.. Hahaha..

Yah, beginilah caraku menyenangkan diri sendiri. Ditengah bayi yang selalu bangun setiap malam. Kayak aku waktu zaman abege labil juga.. dimissed call cowok..kegeeran..enggak bisa bobo karena kegeeran.. Yaelah.. Malu-maluin kalau diingat.. Apalagi kalau kenyataan sekarang berbicara tuh cowok enggak ganteng kok aku geer ya? 

Oke, skip.. Aku memang agak labil orangnya. Padahal anak udah dua biji. Ckck

Jadi, Humaira itu hampir setiap jam bangun kalau lagi GTM begini. Badannya panas, giginya bengkak dan pipinya tembem (ini apaan? Sisi positifnya euy..). Hampir tiap malam aku begadang dan jangan ditanya nasib kantung mataku. Jangan ditanya ya.. Karena concealer aku cukup ampuh menutupinya… (tersenyum licik). *blog post ini sungguh ngalur ngidul..karena ditulis terjeda-jeda disela-sela sakitnya si kecil..

Demam Humaira ini cukup labil. Bentar-bentar turun..nanti naik lagi. Paling parah itu pas malam tiba sih. Sampai-sampai aku mengira mungkin saja Humaira terkena DBD. Karena cuaca juga cukup labi, bentar panas..bentar hujan pas banget timingnya buat si nyamuk khas ini.

Ketika Humaira demam parah selama 3 hari berturut-turut maka aku pun memeriksakannya ke Puskesmas. Aku langsung meminta untuk di cek darahnya. Karena hanya itu cara satu-satunya untuk mengetahui apakah ia terkena DBD atau tidak. Untungnya, hasil lab mengatakan tidak. Tapi, bukan aku dong namanya kalau langsung pulang ketika sudah mengetahui hasil lab.

Setelah berhasil bertemu dokter anak di puskesmas.. Aku langsung curhat seeeeepanjang-panjangnya.. Sebombay-bombaynya.. Tapi sungguh.. Tidak sekonyol blogpost ini.. Hahaha..

Anak GTM akut.. Mamak harus Apaaa?

Sejujurnya.. Solusi yang dikemukakan oleh Dokternya ya kurang lebih sama saja dengan artikel-artikel di google itu. Tapi, entah kenapa rasanya lebih plong saja kalau mendengar solusi tersebut secara langsung. Apalagi nih.. Apalagi sang dokter bilang begini, “Anak saya dulu juga begini.. Ya Allah mba.. Seminggu enggak mau makan.. Menyusu aja kerjaannya..”

Disitulah saya merasa senang.. Hahaha..

Mau berpelukan sambil bilang, “Senasib kita maak..!”

Lalu menari di padang ilalang.. (imajinasi yang ter-innerchild oleh film india).

Jadi, setelah sepulang dari puskesmas.. Aku mulai melakukan hal-hal yang disarankan oleh Dokter tersebut. Hal-hal itu diantaranya adalah:


Mamak tidak boleh Stress

Tekankan pada diri sendiri.. Ini adalah hal yang sangat wajar terjadi dan aku tidak sendirian. Setiap Ibu pasti melalui fase GTM. Hanya saja.. Support systemnya yang berbeda. Jangan dong ya membandingkan diri sendiri dengan Nia Ramadhani. Enggak salak to salak banget.. Hahaha..

Bahagialah menyambut proses ini. Bawalah si kecil keluar rumah jika sudah jenuh di rumah. Lakukan apa yang membuat mamak tertawa. Lakukan apa yang membuat si kecil tertawa. Kalau aku? Aku sudah mengetahui bahwa Humaira senang sekali melihatku berjoget ria. Jadi, aku selalu memutar musik anak-anak sambil (membawa sendok). Jadi kalau anak tertawaaaa… langsung seraaang!!!

Bersahabatlah dengan Teknologi

Siapa bilang anak tidak boleh terpapar gadget? Tidak boleh menonton TV? Siapa? Siapa?

Nia ramadhani? Enggak kan? (kok kesini?)

Lupakan sejenak mak.. Nasehat-nasehat pakar parenting yang seklek banget itu. Stress kalau dimasukin keotak semua. Beneran ini.

Nyatanya, para Emak tanpa ART itu butuh banget support system yang bisa menghemat budget. Dan itu adalah gadget. The Best Nanny for a Low Budget Mommy.. Hahaha..

Boleh banget kok melakukan jurus genjutsu dengan gadget. Asal jangan kelamaan. Coba tanya Uchiha Itachi apa efeknya kalau genjutsu kelamaan. Iya.. mata sharingannya berdarah. Gak mau kan begitu? Udah stress.. Mata berkantung.. Berdarah lagi.. Untung masih cakep yak! 

Aku sendiri mulai bersahabat dengan TV dan Youtube loh. Humaira suka sekali dengan nyanyian. Jadi, kalau dia senang kesenangan aku bisa banget sukses menyuapinya beberapa suapan. Dan itu bikin aku bahagiaaa banget.

Jangan bikin MPASI yang ribet-ribet

Musim anak GTM begini.. Kalau saran aku.. Janganlah bikin MPASI yang ribet-ribet. 

Udahlah itu bikinnya lama banget. Makaninnya lama banget juga lagi. Kapan euy tugas domestik emak-emak kelarrr? Kapaan? (sambil ngambil pisau dapur)

Sudahlah.. Sejak anak kedua ini aku enggak mau lagi deh jadi mommy perfeksionis kayak anak pertama dulu. Mau jadi mommy yang balance aja kehidupannya. Kadang kalau rajin ya home made. Kalau enggak rajin dan enggak ada waktu ya pakai aja MPASI instan. Toh, itu tidak apa-apa loh

Iya,berdasarkan hasil curcol dengan Dokter Anak di puskesmas kemarin aku mengetahui kalau dokter tersebut juga tim MPASI instan. Katanya, its okayyy..

Justru MPASI instan sudah tertakar nutrisinya. SDan itu lebih komplit. Tapi, kalau bisa membuat sendiri MPASI dengan nutrisi yang lengkap kenapa tidak? Intinya.. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing. 

Memang, MPASI instan itu tidak kaya rasa. Rasanya ya begitu-begitu saja.

Tapi, bisa kok diakali. Aku sendiri sering mencampur MPASI instan dengan berbagai bahan untuk cita rasanya.

Kadang, aku campur bubuk MPASI instan dengan kaldu haruan. Tergantung MPASInya juga ya. Kalau beras merah biasanya dicampur apa saja cocok. Kadang aku juga menambahkan parutan wortel dan kocokan telur yang direbus. Hasilnya jadi lebih enak.

Coba Metode BLW yang aman sesuai dengan umurnya

Sebenarnya, aku bukan penganut BLW atau Baby led Weaning yang mempercayakan makanan kepada tangan bayi sepenuhnya. Ada beberapa faktor yang membuatku tidak menganutnya. 

Yang pertama adalah BLW tidak direkomendasikan oleh IDAI maupun WHO. Sebenarnya responsive feeding lebih direkomendasikan.

Yang kedua, aku tidak sanggup melihat makanan berantakan dan terbuang. Aku sangat sanggup melihat rumah berantakan. Tapi tidak untuk makanan. Itu membuatku stress luar biasa saat melihatnya. Apa? Pakai kursi makan? Tetap saja berantakan. Pasti masih banyak yang berceceran dilantai dan tidak selamanya lantaiku bersih.

Tapi, aku kadang BLW juga sih.. Tapi BLW yang diawasi. Bagaimana itu?

Ya.. Humaira memang lebih suka memakan makanannya sendiri. Tapi dia masih sangat rentan tersedak. Karena itu aku masih memilah milih makanan yang cocok untuk tangannya. 

Untuk buah-buahan, Humaira bisa memakan pisang sendiri. Dan untuk yang lainnya aku mempercayakan pada MPASI instan lagi.

Gigi Humaira yang ingin tumbuh tidak bersahabat dengan MPASI hangat dan kental. Maka, dokter menyarankanku untuk mendinginkan MPASInya di kulkas. Aku berinisiatif untuk mengurangi kadar air MPASInya dan menaruhnya di freezer selama beberapa menit. Hasilnya? MPASI itu bisa dibentuk menjadi bulatan chewy layaknya marsmallow  yang kenyal. Alhamdulillah..Humaira suka memakannya dengan tangannya sendiri.

Jangan terlalu memaksakan porsi MPASI sesuai standar

Kadang, kalau sedang menyediakan MPASI.. Aku cuma menyajikan seperlunya saja.. Sebisanya saja.. 

Karena kalau harus sesuai standar maka status kewarasanku bisa tidak terkendali. Hahaha.. FYI, anak pertamaku si Pica dulu adalah korban kekerasan sendok MPASI. Karena aku sempat kesal dia tidak mau makan. Aku memaksanya untuk makan dan membuka mulutnya. Akhirnya.. Dia trauma.. Dan tau gak kaleyanss.. Si Pica dulu ASI ekslusif selama satu tahun. Huft.. 


Pengalaman itu terulang. Biasanya kalau sudah tidak mood makan Humaira bisa menangis kejer. Dan suaranya benar-benar menguji kewarasan. Sampai-sampai tetangga mendengar suaranya loh (Disitu kadang wajah jutek milikku dipertanyakan..). Untungnya, aku sudah bisa mengontrol emosiku. Ya sudahlah.. Suapin sebisanya saja.. 

Kadang aku memulai mempersiapkan MPASI dengan ⅓ porsinya saja. Kalau sudah habis dan dilihat mood humaira masih stabil maka aku akan menambahkannya lagi sedikit. 

Karena aku adalah tipe mamak yang anti mubazir. Jadi, kalau bubur tidak habis.. Maka pastilah ia berakhir di perutku. Jadi akan lebih baik jika mengolah MPASI seperlunya saja. 

Banyak Menyusui dan Sediakan Banyak Cemilan di rumah

Ya sudahlah.. Kalau anak GTM itu memang gentong emaknya harus selalu kenceng. Karena itu stok makanan di rumah harus tetap stabil. 

Untuk yang perekonomiannya masih labil sepertiku.. Maka membuat masakan dan cemilan homemade mungkin akan lebih baik. Karena selain hasilnya lebih banyak, juga lebih sehat, hemat dan menyenangkan suami. 

Iya, aku tim instan buat MPASI anak tapi tim homemade buat keluarga. Karena memang jauh sekali selisihnya kalau makanan serba beli. Huhu.. 

Tapi kembali lagi disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Kalau punya budget berlebih untuk membeli kenapa tidak? Perekonomian jadi lebih stabil kan jika membantu orang? 

Yang penting.. ASI selalu ada dan ibu bahagia..

Jangan Peduli Omongan Orang..

“Anaknya kok kurus.. Bukannya umurnya seumur ya sama anakku?”

“Iya nih.. Anaknya emang badannya proporsional sekali. Nurun dari emaknya mungkin.. ” *kibas alis..

Ah, inget banget sama berita yang berseliweran beberapa minggu lalu. Tentang bayi yang meninggal gara-gara digelonggong ibunya pakai air. Konon katanya, si ayah protes anaknya gak gemuk kayak kembarannya yang diasuh sama mamanya. 

Ya eya lah si Ibu emosi. Emangnya mudah bikin bayi gemuk? Apalagi genetiknya ya udah kurus.. Apalagi uang bulanan pas-pasan.. Masih ngontrak pula. Kalau kondisi ibunya sedang tidak waras.. Memperdulikan omongan orang itu bahaya loh. 

Jadi, cuek aja lah.. Menumbuhkan pikiran positif itu dimulai dengan menghindari orang-orang yang bermulut pedas. Kita punya sisi bahagia yang lain. Iyakan? Coba berkaca.. Pasti ada deh! 

Ya.. Begitulah.. GTM memang sangat menyita kesabaran. Kadang juga menguji kewarasan. Satu hal yang pasti bahwa tiap bayi punya fase GTM.. Itu pasti dan yakinlah kita tidak sendirian.

Bayi-bayi gemuk diluar sana pun pasti memiliki satu-dua masalah. Hanya saja kita tidak tau. 

GTM adalah fase dimana bonding Ibu dan Anak diuji. Peluklah ia.. Bicaralah padanya.. Abaikan sedikit pekerjaan domestik.. Bicaralah pada pasangan.. Serta tidak lupa berdoa.. 

Semoga lelah ini menjadi lillah.. Amiiin.. 

Nah.. Kalian punya pengalaman sama tentang anak GTM? Sharing yuk! 

I

Pengalaman Menjaga Asupan Zat Besi di 1000 Hari Kehidupan Pertama Buah Hatiku

Pengalaman Menjaga Asupan Zat Besi di 1000 Hari Kehidupan Pertama Buah Hatiku

“Mama bingung deh pah.. Kenapa ya tiap hamil itu bawaannya pusing kalau sudah jam siang begini. Padahal mama gak pernah mual kalau hamil.. “

“Mood swing aja kali mamah tuh..”

“Duh, mana ada hubungannya mood swing sama pusing.. Beda lah paah”

“Buktinya kalau dibawa ngemall langsung enggak pusing.. “

Yaelah.. Papah.. Gubrak deh.. 

Hahahaha

Sering Pusing dalam 2 kali Kehamilan, Ada Apa ya? 

Pada masa kehamilan pertama, aku sering sekali mengalami pusing dan kelelahan. Akibatnya, aku sering sekali tertidur. Waktu itu pengetahuanku masih sangat minim. Kalau pusing sedikit saja aku langsung minum paracetamol. Ah, entah sudah sebanyak apa paracetamol yang aku konsumsi saat kehamilan pertama itu. 

Pada tri semester kedua, barulah aku berinisiatif untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Sebelumnya, aku hanya memeriksakan diri di dokter kandungan saja dan diberikan beberapa obat. Nah, ternyata di puskesmas ini pemeriksaannya lumayan lengkap loh. Dari pelayanan gizi hingga cek tekanan darah dan Hb atau Hemoglobin. 

Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa Hb ku saat hamil hanyalah 8 gr/dl, sementara batas normal HB saat hamil adalah 10 sampai 11 gr/dl. Ah, pantas saja aku sering sekali pusing saat hamil. 

Dokter di puskesmas menyarankanku untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi yang tinggi, selain itu dokter juga meresepkan Ferrous Sulfate atau Fe. Pasti dong kalian tau dengan obat ini. Itu loh, yang biasanya berwarna merah dengan bentuk bulat. 

Sesudah pulang dari Puskesmas, aku langsung berbicara dengan suami bahwa aku membutuhkan makanan yang zat besinya tinggi. Dan suamiku langsung berceramah.. 

“Nah kan, makanya jangan banyak-banyak ngemil gorengan bla bla.. Harusnya banyak makan hati ayam, daging dan bla bla.. Nanti coba deh bla bla.. “

(Duh, enak gak sih kena ceramah begitu? Haha) 

Oke, dan malam harinya aku langsung mencoba obat Fe berwarna merah yang diberikan dokter tanpa minum air putih. Kemudian, eh.. Kok malah merasa amis dan membuat mual? 

Yah, karena saat itu kondisi ekonomi keluarga kami terbilang pas pasan. Maka aku berusaha untuk tidak mengeluhkan obat yang aku dapat di puskesmas. Kadang, aku mengkonsumsi obat itu bersamaan dengan makanan yang aku sukai. Bisa berupa permen mint atau coklat. Kadang kala, aku juga mencoba memakannya dengan buah-buahan seperti pisang dan apel. Dan kalau sedang tidak memiliki senjata manis begitu.. Kadang aku juga menggumpalnya dengan nasi putih lalu meminumnya bersamaan dengan gumpalan tersebut. 

Dan cara seperti ini kadang berhasil tapi tak jarang membuatku ingin muntah juga. Drama sekali. Drama ini berulang kembali saat aku hamil anak kedua. Sering mengalami pusing dan ternyata HB rendah. Untungnya, saat hamil kedua drama ini hanya berlangsung di tri semester pertama kehamilan saja. 

Bukan Hanya saat Hamil, Ketika Menyusui pun Sering Sekali Pusing

Anak pertamaku si Farisha atau sering dipanggil Pica itu sangat kuat dalam menyusu. Apalagi saat Pica GTM, sering sekali dia menyusu. Pica ini terbilang agak spesial. Dia agak trauma dalam proses MPASI sehingga selama satu tahun penuh dia (hampir) ASI Eksklusif. Tidak heran jika selama proses menyusui badanku sering bergetar dan kepalaku sering pusing. 

Tapi sering pusing juga terjadi saat aku menyusui anak kedua yang bernama Humaira. Sedikit mengherankan karena anakku yang kedua ini cenderung lebih suka makan dibanding menyusu. Jadi, kalau sudah selesai makan kadang Humaira hanya menyusu sedikit saja dan ia langsung tertidur. Aku bahkan harus sering memompa ASI untuk menyeimbangkan kadar Fore Milk dan Hind Milk. 

Yah, awalnya aku pikir sering pusing saat menyusui ini karena bayi terlalu banyak menyusu dan aku terlambat makan. Ternyata, sering pusing juga aku alami ketika memiliki Humaira. Sang Bayi yang cenderung menyusu ketika sangat lapar saja. Aku pikir pasti ada yang salah disini. 

Akhirnya, hal ini terjawab ketika aku menghadiri acara dari Maltofer dengan tema ‘Peran Penting Zat  Besi dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak’ yang ada di Hotel Golden Tulip Banjarmasin pada pukul 09.00 WITA. 

Saat sesudah registrasi, aku langsung cek HB bersama teman-teman dari komunitas Female Blogger Banjarmasin. Ternyata, HB ku tergolong rendah. Hanya sekitar 11 gr/dl saja, sementara HB normal perempuan adalah 12-16 gr-dl.  Aku lalu berpikir, mungkinkah ini karena aku masih menyusui? 

HB Rendah Terlalu Sering, Apakah Aku Menderita Darah Rendah? 

Eits, jangan salah. Banyak yang salah paham loh ternyata. Mengira bahwa Anemia dan Darah Rendah adalah penyakit yang sama. Padahal ternyata berbeda. 

Anemia dan Tekanan Darah Rendah memang memiliki Gejala yang hampir sama (sering merasakan pusing), namun keduanya memiliki kondisi yang berbeda. Anemia disebabkan karena rendahnya jumlah sel darah merah dalam tubuh dan kurangnya asupan oksigen ke seluruh tubuh yang disebabkan karena sel darah merah kekurangan hemoglobin (hb) sedangkan Tekanan Darah Rendah disebabkan karena kondisi hipotensi, yaitu ketika angka tekanan darah menunjukkan angka sistolik dan diastolik di bawah 90/60. 

Kalau tekanan darah ku sebenarnya cenderung normal. Bahkan saat hamil pun tekanan darahku normal saja. Jadi, lebih tepatnya aku sering anemia, walaupun tidak pernah benar-benar parah sampai membutuhkan asupan kantong darah. Itu artinya, aku adalah salah satu Ibu yang kekurangan hemoglobin dan membutuhkan zat besi yang lebih banyak. Kondisi anemiaku juga disebabkan karena efek mengonsumsi obat-obatan yang salah dan pola makan yang buruk. Yeah, I told u.. Aku sering minum paracetamol dan terlambat makan pagi. 

Apa yang harus aku lakukan jika mengalami Hb rendah dimasa 1000 hari pertama kehidupan sang buah hati?

Apa yang harus dilakukan? 1000 hari pertama kehidupan anak itu terhitung dari hamil hingga anak berusia 2 tahun. Jadi, masa hamil dan menyusui itu begitu penting. Jika pada hamil dan menyusui saja aku sendiri sering anemia bagaimana bisa aku dapat memberikan yang terbaik untuk anakku? Bukan hanya psikologis anak yang penting bukan? Anak kita haruslah tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat. 

Rasa ingin tahu yang tinggi inilah yang membuatku nekat mengikuti acara Maltofer di Hotel Golden Tulip Banjarmasin kemarin. Walaupun tidak bisa menitipkan Humaira setidaknya aku bisa ikut mendengarkan ilmunya sambil menyusuinya di dalam ruangan. Ya, semangatku begitu tinggi kalau ada event yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Acara yang bertema ‘Pentingnya Zat Besi di 1000 hari Kehidupan Pertama’ ini membuka pengetahuan baru dan pengalaman baru untukku. Acara ini dihadiri oleh para  narasumber yang sangat kompeten. Diantaranya adalah:

  1. dr. Gladys Gunawan yang merupakan salah satu dokter anak senior di Banjarmasin
  2. dr Carlinda Nekawati yang merupakan medical junior manager combiphar
  3. Ika Puspita Sari yang merupakan blogger senior dan telah memenangkan kompetisi menulis dari Combiphar.

Dr. Gladys berkata bahwa, “Its just Happen once Times.. Mom.. 1000 hari pertama anak ini sangat krusial terhadap tumbuh kembang anak. Baik secara fisik maupun emosional. Karena itu, rawatlah ‘bibit’ ini dari akar. Supaya ia bisa menjadi pohon yang kuat nantinya.. “

Aku merasa sangat tertohok. Ya, dokter Gladys berkata bahwa kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan tidak dapat diperbaiki di masa kehidupan selanjutnya. Karena itu status nutrisi Ibu itu berperan sangat penting. 

Pada masa kehamilan, zat besi berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga pada perkembangan otak janin. Karena itu, Ibu Hamil butuh asupan zat besi yang lebih dibanding dengan biasanya. Permasalahannya, kadang Ibu Hamil tidak bisa mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi seperti pada kondisi normal. Pada tri semester pertama kehamilan, biasanya Ibu hamil mengalami mual yang tidak mengenakkan. Hmm.. Ini berlaku juga untukku yang saat hamil sangat malas makan daging. 

Kebutuhan zat besi yang banyak juga berlaku untuk Ibu Menyusui, apalagi untuk bayi yang masih ASI Ekslusif. Hmm.. Siapa yang seperti aku? Ketika menyusui sering sekali pusing. Akan lebih baik jika Anda ke layanan kesehatan terdekat dan periksa Hb ya. Jangan sampai Ibu Menyusui kekurangan zat besi.

Apa Akibatnya Jika Ibu Mengalami Defisiensi Zat Besi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak?

Permasalahan kekurangan zat besi pada Ibu hamil ini ternyata terjadi hingga 40% di tri semester ketiga. Karena peningkatan kebutuhan akan zat besi terjadi hampir 10x lipat. Karena itu Ibu hamil perlu asupan zat besi jauh lebih banyak dibanding orang pada umumnya. Begitu pula Ibu menyusui, mereka perlu asupan zat besi yang lebih banyak.

Nah, jika Ibu mengalami defisiensi zat besi maka akan mempengaruhi status zat besi dan perkembangan otak pada janin, serta memungkinkan terjadinya risiko defisiensi zat besi dan perubahan perilaku bayi.

Kekurangan (defisiensi) zat besi pada bayi memberikan efek pada kinerja kognitif jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu juga mempengaruhi perilaku sosial-emosional dan perkembangan motoriknya. 

Karena itu, jika pada ilmu psikologis anak kita mendapatkan teori bahwa Ibu yang bahagia akan membuat anaknya bahagia pula. Maka pada ilmu kesehatan fisik kita juga harus ingat pada pola yang sama, Bahwa Ibu yang sehat akan membuat anaknya sehat pula. Jadi, para Ibu Hamil dan Menyusui.. Jangan sampai terlambat menyadari ketidaksehatan diri sendiri. Segera cek Hb jika sering mengalami pusing seperti aku.

Berbagai Asupan Zat Besi untuk 1000 hari Pertama Kehidupan

Dr. Gladys berkata bahwa banyak sekali makanan yang mengandung zat besi dan mudah untuk ditemui. Nah, buat para Ibu yang sedang memilih-milih makanan untuk meningkatkan zat besi mungkin dapat mencoba beberapa alternatif makanan penambah zat besi seperti dibawah ini:

  1. Daging Merah (1,98 mg)
  2. Kuning Telur (1,08 mg)
  3. Ikan (1,98 mg)
  4. Sayuran berdaun gelap atau hijau
  5. Kacang-kacangan,kacang polong dan kacang kedelai (1,08 mg)
  6. Buah kering (plum, kismis)

Dari semua makanan diatas, makanan yang paling tinggi kadar zat besinya memang Daging Merah dan Ikan. Parahnya, rata-rata Ibu Hamil sulit untuk memakannya saat hamil. Karena itu biasanya yang sering aku makan hanyalah kuning telur, sayur dan kacang-kacangan. Itupun juga sangat moody. Karena kadang (sebenarnya sering) aku lebih memilih makan gorengan dan martabak. Hahaha

Sungguh, memakan makanan yang mengandung zat besi pada saat hamil dan menyusui itu sangat sulit. Sulitnya lagi, kadang kita sudah berusaha makan makanan yang mengandung zat besi tapi tetap saja kadar hb rendah. Apalagi pada tri semester ketiga yang membutuhkan  asupan zat besi hampir 10x lipat. Kalau sudah begini, biasanya mengonsumsi makanan yang kaya zat besi saja tidak cukup. Hiks

Maltofer, Solusi tepat untuk mengatasi Kekurangan Zat Besi

Dr Carlinda Nekawati memberikan pencerahan terbaru perihal masalah defisiensi zat besi. Dari beliau akhirnya aku mengetahui bahwa sangatlah wajar jika ketika kita sudah mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi tapi masih saja memiliki hb yang rendah. Ya, kondisi hamil dan menyusui memang sangat spesial. Kenapa? Karena gizi sang Ibu sedang terbagi.

Karena itu Ibu Hamil dan Menyusui butuh suplementasi penambah zat besi. Karena fase hamil dan menyusui akan mempengaruhi kualitas kesehatan, intelektual dan produktivitas pada masa yang akan datang. 

Maltofer menjadi jawaban yang tepat untuk permasalahan ini. Maltofer adalah produk Suplementasi besi dalam bentuk Iron Polymaltose Complex berkualitas dari PT. Combiphar pertama di indonesia dalam bentuk tablet kunyah original swiss dan sudah 50 tahun di dunia.

Maltofer adalah besi tablet kunyah dalam Iron – Hydroxide Complex (IPC) dimana setiap partikel-partikel terbungkus dalam sebuah gugus polimer karbohidrat (polymaltose). Hal ini untuk mencegah bahaya yang ditimbulkan besi pada sistem pencernaan. Proteksi ini juga mencegah interaksi besi dengan makanan.

Nah, berikut adalah alasan-alasan mengapa Maltofer merupakan pilihan yang tepat

  • Maltofer efektif dan ditoleransi dengan baik untuk ibu hamil dengan Iron Defesiensi Anemia

Nah, ini merupakan jawaban untuk para ibu hamil yang sering sekali mual saat meminum Ferrous (Fe 2+) . Maltofer memberikan toleransi yang baik terhadap efek mual dan muntah, konstipasi dan terbukti lebih signifikan dibandingkan Fe. 

Jika sudah pernah mencicipi Maltofer, Anda pasti akan sedikit ketagihan. Pasalnya, suplemen ini memiliki rasa coklat yang enak sehingga jauh berbeda dengan Ferrous yang biasa didapatkan di puskesmas itu. Sehingga tidak akan memberikan efek mual, yang ada malah keenakan.Haha

  • Maltofer dapat diberikan bersamaan dengan makanan maupun obat.

Iron Polymaltose Complex tidak bereaksi negatif dengan makanan, minuman maupun obat-obatan lain dan tidak menimbulkan stress oksidatif. 

Nah, kalian menyimak bukan cerita konyolku sebelumnya diatas tadi? Bahwa aku sering sekali mencampurkan obat Ferrous yang aku dapatkan di puskesmas dengan berbagai macam makanan untuk menghindari rasanya yang agak amis.Ternyata itu adalah cara yang terbilang bodoh. Karena Ferrous Sulfate akan bereaksi negatif jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan. 

  • Toksisitas yang Rendah dan tidak terjadi stress Oksidatif

Maltofer mempunyai toleransibilitas yang lebih baik dan tidak melukai lambung dibandingkan dengan dengan Ferrous (Fe 2+).

Ya.. Jika kalian simak ceritaku diatas tadi maka kalian tentu tau bahwa aku juga penderita magh. Artinya, lambungku bermasalah. Bisa dibayangkan jika aku hanya mengonsumsi suplemen zat besi yang tidak ‘lambung friendly’ maka mungkin saja penyakit magh yang aku derita makin parah.

  • Maltofer tersedia dalam 4 varian yang lengkap

Ada 4 varian maltofer, sehingga maltofer bisa dikonsumsi untuk semua usia. 4 varian itu diantaranya adalah:

Maltofer Fol : Varian maltofer yang diperkaya dengan asam folat untuk Ibu Hamil dan menyusui

Maltofer Chew: Tablet kunyah IPC pertama di indonesia untuk segala usia

Maltofer Syrup: Varian maltofer dengan kemasan sirup isi 150 ml dengan kandungan 1 mL=10 mg Fe untuk anak dan dewasa

Maltofer Drops: Kemasan tetes isi 30 ml untuk bayi dan anak

Dan berikut ini adalah dosis penggunaannya:

Dan aku memilih mengkonsumsi Maltofer Fol untuk keseharianku. Maltofer Fol ini adalah yang paling tepat dikonsumsi selama menyusui, karena selain mengandung Zat Besi juga mengandung asam folat yang sangat berguna untuk Ibu dan Bayi. 

Nah, punya masalah dan pengalaman tentang kekurangan zat besi juga? Sharing denganku yuk!

#maltoferwomancommunity

#maltofer

#maltoferindonesia

#combiphar

sumber artikel:

www.maltofer.combiphar.com

nara sumber event maltofer banjarmasin

Toilet Training Sejak Usia 6 Bulan? Bisa Kok!

Toilet Training Sejak Usia 6 Bulan? Bisa Kok!

“Anak zaman sekarang sih enak pakai diapers. Coba anak zaman dulu. Duh.. Repot ngurusin pipis n pupnya..”

“Iya ya,, sekarang segalanya memang dipermudah.. Alhamdulillah jadi tenang soalnya gak perlu gonta ganti baju terus karena najis.. Hehe.. “

“Eits.. Tapi hati-hati loh.. Anak sekarang ada yang masih pakai diapers sampai umur 5 tahun.. Keenakan kali ya sampai lupa latih anak.. Anakku dulu loh… Bla bla bla..”

Dan aku langsung memasang wajah 😅😅😅

Perkenalkan, aku Mamak Tim Diapers

Bukan, aku bukan ngajak mom war loh ya.. Haha..Silahkan saja bagi yang tim clodi garis keras. Kita tetap bersahabat kok. Disini, aku hanya mengemukakan pendapat dan pengalamanku dalam mengasuh anak. Dan kali ini aku ingin mengemukakan alasan mengapa aku lebih merasa nyaman dalam memakai diapers dibanding dengan clodi.

Sebenarnya, dulu aku juga tim clodi. Anak pertamaku Farisha sangat alergi dengan diapers. Memakai diapers semalaman saja sudah bisa membuat kulitnya kemerahan dan bintik-bintik. Makanya dulu aku tim clodi garis keras. Tim nyuci tiap hari dan no tumpuk-tumpuk. Itu ada alasannya. Dan positifnya.. Memang sih, pakai clodi itu lebih go green dan hemat duit. Hihi

Ketika melahirkan anak kedua. Aku masih memakai metode dahulu. Bulan pertama dia hanya memakai popok tali dan lampin. Dan diganti setiap kali ia pipis dan pup. Bulan kedua aku memakaikan lapisan handuk kecil di popok talinya. Aku masih belum sreg untuk memakaikan clodi karena dengan metode sederhana anakku terlihat lebih nyaman. Nah, ketika Humaira berumur 3 bulan dan durasi pup nya tidak terlalu sering lagi aku jadi merasa nyaman deh bersahabat dengan diapers. Hal positifnya sih karena Humaira senang digendong, jadi rasanya lebih nyaman kalau sang penggendong tidak terkena najis. Hihi..

Diapers itu.. Boros duit yak?

Iya, boros sih.. Dan gak go green juga. Makanya aku mengusahakan untuk hanya memakai 2 diapers dalam satu hari. Ketika durasi pup humaira masih lumayan sering aku memakai cara agak unik sih untuk menghemat diapersnya. Yah.. Kalian pasti bakal tertawa kalau aku ceritakan bagaimana caranya.

Apa? Ceritakan saja?

Janji jangan bully aku ya please.. Hahaha..

Jadi, aku memakaikan jenis celana kain yang ‘ngepas’ dulu sama humaira. Baru deh aku Pakaikan diapers. Jadi, walau dia pup si diapers masih bagus n gak kena pup. Yaaa… Memang terkesan ribet sih. Tapi bagi mamak irit dan sok go green.. Skill receh gini mah cukup menyenangkan ya. Kalau dihitung selisih dengan membeli diapers tanpa trik begini ya lumayan deh ya selisihnya bisa buat beli lipstik. Ckck.. 🤣

Lambat laun, aku gak bisa konsisten juga sih dengan caraku yang terkesan ribet begini. Lumayan juga soalnya liat cuciannya. Walau perkara najis tetap aman sih ya. Akhirnya ketika Humaira sudah bisa duduk sendiri aku memakai cara baru untuk menghemat diapers yaituuuu… Dengan memanfaatkan pispot bayi.

Toilet training dengan Pispot bayi, cara efektif untuk menghemat diapers

Jreng jreng.. Ini dia alat penghemat diapers terbaruku.. Si kecil biru nan imut dan agak bau.. *eh

Ya gimana gak bau kan tiap hari dia kena ‘granat’ 🤣Ada yang mau tau beli dimana? Cari aja lah ya di toko bayi atau ditempat penjualan plastik. Biasanya ada kok. Gak ada linknya ya jeng karena ini bukan sponsored post. Blog aku mah misqueen sponsor post. Tapi kalo ada yang mau endorse email aku ya. Jangan ngirimin pispot begini lagi tapinya ya.. Aku udah punya.. *apaan sih.. 😅

Oya, ini pispot umurnya udah lama sih.. Dari zaman pica kecil dulu. Alhamdulillah masih bisa diwariskan ke Humaira dan sumpah INI TUH BERGUNA BANGET GILA.

Sejak si Humaira bisa duduk sendiri dan bisa pup di pispot bayi ini akhirnya diapers yang aku pakai dalam sehari bisa super hemat. Paling banyak sehari cuma 2 diapers. Dan diapersnya bersih dong karena gak ada granat. Cuma penuh sama pipisnya doang. Tapi.. Ya.. Ada tapinya sih.. Yaitu.. Emaknya harus peka dan rajin.. Ini sih yang peer banget biasa. Iya gak? 🤣

Tips toilet Training Part 1: Emak harus merasa berdosa

Di mana-mana yang namanya tekad itu harus diawali dengan niat yang teguh. Karena itu aku gak mau deh terbawa sama opini anak punya naluri sendiri dsb dsb.. Karena apa? Karena itu bikin aku mikir nyantai melulu.. Wkwkwk… Aku agak plegmatis sih jadi ya harus punya tekad besar dulu kalau mau mengerjakan sesuatu.

Dan aku mengawalinya dengan merasa berdosa jika memakai diapers terlalu banyak setiap hari. Ini harus kuat di pikiran. Versi aku loh ya soalnya ini tuh ‘work banget’. Kalau kalian punya versi lain mah monggo. Every mom is special.. Right?

Jadi, aku merasa berdosa aja kalau pengeluaran rumah tangga lumayan banyak untuk diapers. Efeknya ya males banget kan kalau minta budget tambahan. Proposal lagi.. Komunikasi lagi.. Kelon-kelonan lagi.. Lah iya kalau mempan.. Kalau enggak? Nangis dipojokan keun.. 😆

Dosa kedua ya merasa berdosa sama bumi dong tentu. Bayangin aja 2 bijik diapers tiap hari itu juga nyumbang sampah lumayan banyak loh. Kalikan aja tuh sampai 2 tahun misalnya. Ada kali ya 2 gunungan sampah dari bayi.. Heu.. Sedih gak? Sedih kan.. Mengingat kondisi bumi sekarang..Nah, kalau niat kita sudah kuat.. Hayuk lah ke level berikutnya..

Tips Toilet Training 2: Rajin memantau Siklus Pup anak

Pertama kali aku toilet training sama Humaira itu adalah ketika aku liat dia ‘ngejan-ngejan’ pas makan. Saat itu, Humaira baru saja selesai mandi dan ganti diapers. Ya.. Naluri mamak irit lah ya.. “Duh, diapers baru.. Masa langsung kena pup.. ” Wkwkwkw.. 😂

Bergegaslah aku mengambil pispotnya. Dan menyuruhnya untuk mengejan disitu saja. Pertanyaannya, apakah anak mengerti?

Jawabannya? Ngerti kok. Anak itu ngerti sama gaya bahasa kita. Apalagi kita kan ibunya ya. Sudah ada bonding tersendiri dong tentunya. Nah, kalau aku sendiri sih biasanya suka menatap matanya kalau sedang toilet training. Lalu aku bikin ekspresi ‘mengejan’ dan bersuara ‘eeeeggh eeeeeggh’. Biasanya anak meniru loh. Dan berhasil.. Asal.. Rajin nongkrongin dia pas pup..hahaha..

Nah, siklus pup anak juga ini sebenarnya teratur loh mak. Kayak kita juga tuh.. Tiap pagi habis minum air putih pasti deh ya keun.. *eh

Kalau Humaira sendiri suka sekali pup ketika makan pagi. Jadi yaaa.. Begitulah.. Pas sudah separo MPASI habis dia pasti mulai ngejan-ngejan. Langsung aja tuh lari.. Lariiiii mak.. Cepetan ambil pispotnya.. Semangat mak! Hahahaha..

Tapi kalau aku sih udah hapal ya.. Makanya pispotnya gak jauh-jauh dari kursi makannya.. 🤣

Yah.. kalau udah jadi emak-emak itu kita mah gak kenal istilah jorok bla bla lagi.. Yang penting sih waktu kita efisien dan irit selalu. Betul gak? Kek aku nih yang biasanya makan pagi sambil nyuapin bayi. Yah.. Gak kenal lagi tuh istilah ‘Tengah-tengah makan kok bersihin pan*at bayi’

Eh, jadi curcol..Jadi, ketika bayi mengejan itu. Langsung saja lepas celananya dan suruh dia pup di pispot. Kalau jarak ntara pispot n bayi lumayan jauh maka coba deh sounding ke bayinya.. “Tunggu mamak dulu ya ambil pispot..”Its work loh.. Coba deh..

Tapi kalau aku sih soundingnya bukan versi lemah lembut gitu ya.. Tapi langsung lari sambil teriak.. “Bentar humairaaa bentarrrrr… “

Work gak? Berhasil kok.. Hahahaha.. Tiap ibu kan punya sounding yang uniq.. *sebuah pembenaran..🤣

Nah, untuk jadwal toilet training sendiri pun aku punya jadwal khususnya.. Yaitu..

Sesudah bangun pagi
Ketika anak mengejan
Sesudah bangun sore

Tiga waktu itu aja sih. Sesimpel itu. Cuma ya memang kita harus peka dengan siklusnya.

Tips Toilet Training 3: Konsisten

Nah, kalau sudah tau dan hapal dengan siklus pup dan pee anak.. Tahapan selanjutnya adalah konsisten.

Buatku, ini yang paling susah luar biasaaah…

Kenapa? Karena please lah.. Biar IRT tulen tapi aku juga banyak kerjaan.

Contoh nih ya.. Ketika pagi hari si kecil sudah bangun.. Seharusnya sih dia langsung didudukkan di pispot ya supaya dia pipis disitu. Tapi realitanya..

Kadang aku sibuk memasak sarapan saat dia bangun. Kadang aku juga di toilet pas dia bangun. Kadang aku sholat pas dia bangun. Karena jam bangun tidurnya enggak sama walaupun memang sih.. Biasanya habis bangun tidur anak itu pasti pipis. Tapi melatih toilet training di pagi hari itu susah. Huhu..

Untuk moment pas mengejan dan bangun tidur siang sih biasanya aku enggak kebobolan ya. Kecuali kalau tetiba emaknya rebutan list blog walking atau sosmed walking.. Yah.. Kebobolan deh.. Hahaha..

Yah, soal konsisten ini memang peer sih. Tapi aku patut mengapresiasi diri juga dengan menuliskan blog post ini. Siapa tau ada yang sedang melatih anaknya untuk toilet training. Atau ada yang mau menghemat diapers dikala anak masih bayi.. Bisa kok..

Toilet training bisa dilakukan sejak anak bisa duduk sendiri. Humaira sendiri aku latih sejak umur 6,5 bulan. Dan sekarang Alhamdulillah di usia yang hampir menginjak 9 bulan dia sudah mulai pup di pispot saja. Entah kenapa kalau tidak didudukkan di pispot pup-nya jadi tidak maksimal. Nah, terbuktikan? Ini the power of kebiasaan. Padahal aku enggak konsisten banget loh orangnya. Cuma kalau Humaira ngejan.. Aku pasti ‘sounding’ dan dia ngerti kalau pup itu lebih enak di pispot dibanding di diapers.

Jadi, toilet training sejak anak masih bayi? Bisa kok! Semangat moms!

IBX598B146B8E64A