Browsed by
Category: Kesehatan

Mengulas informasi kesehatan dari pengalaman penulis

Kulit Wajah Cantik dan Sehat di Era Pandemi

Kulit Wajah Cantik dan Sehat di Era Pandemi

“Gak usah pake make up. Toh pake masker juga. Gak ada yang liat muka kita juga kan?”

“Iya, gak usah pake skincare komplit. Toh ditutup masker juga. Kan udah terlindungi jadinya..”

“Mending beli masker-masker cantik ajaa.. Cantik deh jadinya.. “

Emm.. Cantik sih dari luar.. Tapi, sehat gak? 

Pentingnya memakai skincare rutin di era pandemi

Memakai masker kain dengan motif yang cantik-cantik sekarang sudah menjadi trend tersendiri. Akan tetapi, tahukah kalian trend yang lebih jauh terjadi akibat trend mamakai masker cantik ini? 

Yaitu trend malas memakai skincare rutin dan pakai make up. 

Jika ditanya alasannya jawabannya pasti sangat simple. “Kan pake masker juga. Ngapain pakai sunscreen? Ngapain pakai make up? Gak ada yang liat kan? Duh, ngapain pakai double cleansing? Kan gak kotor juga mukanya. Kan pake masker.. Bla bla.. “

Setidaknya, aku juga salah satu penganut ‘tim malas’ itu beberapa waktu lalu. Tim yang ‘mendewakan’ masker. Bukan hanya sebagai pelindung dari virus, tetapi juga pelindung wajah dari semua kekurangannya. Masker seakan diklaim memiliki banyak fungsi di masa pandemi. Tapi sungguh, sekarang aku menyesal atas sikap itu. Hiks

***

Sekitar pertengahan april, aku dikejutkan dengan jerawat di hidungku. Tepat di puncak hidung. Naik-naik ke puncak hidung tinggi-tinggi sekali. *loh kok jadi nyanyi. 

Tapi serius, aku kaget dong. Soalnya kulitku ini cenderung normal dan jarang berjerawat. Walau malas memakai skincare sekalipun kulit wajahku baik-baik saja.

Lalu, kenapa tiba-tiba jerawat jelek itu datang? Pikirku. Setelah aku pikir-pikir lagi. Oh ternyata, hal ini mungkin karena aku tidak melakukan double cleansing ketika habis dari keluar rumah. Aku terlalu malas untuk ke kamar sejenak mengambil kapas dan micellar water. Aku hanya mandi biasa saja sambil mencuci muka dengan facial wash. Akhirnya, jerawat itu muncul. 

Ya salah aku juga sih karena menganggap remeh pentingnya double cleansing. 

Padahal, di masa pandemi begini kemungkinan kulit berjerawat itu jadi 2 kali lipat. Karena masker yang kita pakai menyentuh bagian atas hidung dalam waktu yang cukup lama. Beberapa bakteri jahat bisa saja nongkrong dan kencan dengan komedo sehingga membuahkan jerawat. Ya kan? Nih, jerawat aku buktinya. Hiks

Sejak itu, aku tidak pernah meninggalkan siklus skincare rutin aku. Nah, skincare rutin yang setidaknya harus kita lakukan itu ada 4 yaitu:

Cleansing: Biasakan melakukan double cleansing agar kulit wajah bersih sempurna. Dapat dilakukan dengan milk cleanser dan kapas terlebih dahulu ataupun micellar water. Setelah itu lanjutkan dengan facial wash. 

Toner: Basahi kapas dengan toner lalu tepuk lembut di wajah. Lakukan setelah mengeringkan kulit wajah pasca cleansing. 

Moisturizing: Gunakan moisturizer yang cocok untuk jenis kulit. Aku sendiri menggunakan produk wardah perfect bright. 

Protecting: Jangan lupa selalu pakai sunscreen baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Karena sinar UVA dan UVB itu sangat buruk efeknya bagi kulit. 

Nah, di masa pandemi ini jangan ketinggalan untuk selalu memakai skincare rutin diatas ya. Karena saat memakai masker, kulit kita belum tentu terlindungi dan tidak butuh sunscreen. Kulit kita juga harus dibersihkan maksimal untuk mengurangi kemungkinan timbulnya jerawat. 

Pastinya saat pandemi berakhir nanti kita tentu ingin keluar rumah dengan kulit wajah yang sehat bersinar bukan? So, rajin-rajinlah memakai skincare dari sekarang! Jadi, jangan lengah hanya karena masker ya! 

Apakah era new normal juga harus pakai make up? 

Di era new normal ini, ada dua tipe cewek saat keluar rumah. 

Yang satu adalah no make up karena pakai masker. Sedangkan yang satunya adalah selalu pakai make up. 

Aku sendiri bagaimana? 

((Make up’in mata dan alis aja. Kan cuma mata dan alis aja yang keliatan. Hahaha.. 🤣)) 

Tapi serius lah. Masa kalau jalan-jalan sama suami ke wilayah sunyi senyap buat kencan cuma make up’in mata doang? Kan gak asik. Kan gimana mau dapet foto bagus kalau yang di make’up in cuma mata doang? *tuh kan ujung-ujungnya minta fotoin suami ternyata.. 🤭

Thats why.. Aku tim make up! 

Karena aku gak pede banget kalau no make up pas di dekat suami. Apalagi kalau keluar rumah. Biarpun sedang pandemi aku selalu berusaha agar nampak cantik. Disamping itu, make up itu merupakan pelindung kedua setelah skincare loh. Yah paling enggak kulit kita tidak terkena debu dan polusi secara langsung kalau memakai make up. 

Nah, Beberapa make up yang aku pakai saat era new normal ini diantaranya adalah:

Foundation

Two Way Cake

Eyeshadow

Eyeliner

Maskara

Pensil alis

Lipstik

Blush on

Beberapa make up diatas aku pakai tipis-tipis supaya tetap terlihat cantik dan tidak menimbulkan bekas make up pada masker. 

Sehat dan cantik di era pandemi bersama Wardah

Berhubung aku termasuk newbie soal memelihara kulit wajah dan memakai make up, maka tanggal 20 September 2020 kemarin aku menyempatkan diri untuk mengikuti Virtual Beauty Class bersama Wardah dan teman-teman dari Female Blogger Banjarmasin. Duh, jujur sejak pandemi corona baru kali ini aku ikut kelas zoom bersama member FBB. Rasanya bagaimana? Senang dong! 

*Walau pada realitanya.. aku mengikuti virtual class ini bersama Humaira, anakku yang masih berumur 19 bulan.. 🤣

Pada virtual class ini aku belajar banyak hal dari Kak Annisa yang merupakan mentor kami saat virtual class. Beliau mengajarkan teknik double cleansing, menggunakan toner yang baik hingga pentingnya penggunaan moisturizer ber-SPF. Dan yang lebih seru lagi adalah.. Kami belajar make up. Yeay! 

Make up bagaimana win? 

*yang jelas bukan make up’in mata aja.. 🤭

Make’up minimalis lah ya! Dan aku sudah prepare perlengkapan make up aku sejak pagi di samping laptop. Senang sekali karena memang sebagian besar make up yang aku miliki dari Wardah. 

Berikut adalah step by step make up minimalisnya:

Foundation dan Concealer

Aku memakai wardah exclusive liquid foundation no. 05 (Coffe Beige). Sebenarnya, aku salah pilih shade saat beli foundation ini di flash sale. Akhirnya, warna foundation ini kegelapan di kulit aku. But no worry.. Aku mencampur foundation ini dengan BB cream wardah yang light sehingga warnanya pas di kulit aku. Selanjutnya, tak lupa memakai concealer di bagian bawah mata dan beberapa jerawat.

Kak Annisa sendiri memakai foundation wardah yang terbaru. Waw, kalau saja beauty class ini tidak berlangsung secara virtual rasanya ingin sekali aku ikut mencoba foundation wardah yang terbaru ini. Karena kulihat saat Kak Annisa mengaplikasikan di wajahnya langsung terlihat soft dan menyatunya. 

Two Way Cake

Bagi pemilik kulit normal to dry maka setelah mengaplikasikan foundation langsung saja memakai two way cake. Namun untuk pemilik kulit berminyak akan lebih baik kalau memakai loose powder terlebih dahulu. Pasalnya, jika langsung memakai two way cake hasilnya akan sedikit berminyak. 

Aku sendiri memilih langsung memakai two way cake. Karena kulitku normal. Aku memakai Wardah lightening powder foundation ber-SPF 15. Hasilnya matte dan sangat long lasting. 

Eyeshadow

Aku memakai seri eyeshadow classic brown dari wardah. Hanya terdiri dari 3 shade. Rasanya ingin sekali mencolek eyeshadow versi lengkap milik Kak Annisa. Jujur aku tidak terlalu bisa rapi dalam mengaplikasikan eyeshadow. Apalagi jika diganggu bayi disampingku. Hiks. 

Sedikit tips nih, bagi yang ingin warna eyeshadow lebih pigmented mungkin bisa mencoba base eyeshadow. Tapi, karena aku bukan tipe yang suka dengan eye shadow yang long lasting aku skip ini.

Eyeliner

Aku memilih menggunakan liquid eyeliner karena tampilannya lebih terlihat jelas. Bagi pemula, bisa menggunakan jenis eyeliner pensil saja ya.

Pensil Alis

Jujur, ini adalah tahapan tersulit. Karena alisku tebal dan berantakan. Kak Annisa pun sharing kalau bagi pemilik alis yang berantakan bisa menggunakan concealer agar terlihat sedikit rapi. 

Dan Alhamdulillah aku bisa sedikit mengaplikasikannya. Senang! Ini ilmu baru. 

Maskara

Inget ya.. Stepnya adalah eyeshadow dulu, lalu eyeliner dan pensil alis. Maskara adalah finishing make up mata yang terakhir. Kalau tidak maka akan berantakan apalagi kalo pake acara *ku menangiiiiiissss

Blush On

Aku mau curhat sedikit deh ya. Kalau blush on Wardah milikku pecah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Humaira. 🤣

Akhirnya, berbekal blush on dari lipstik pallete wardah aku berhasil juga membuat pipi sedikit merona dengan natural look. Sedikit berbeda dengan tutorial Kak Annisa tapi aku senang. 

Lipstik

Aku memakai varian lipcream wardah yang terbaru. Yaitu velvet matte lip mouse no 1. Jujur menurutku ini varian lipcream wardah yang paling oke buat aku. Teksturnya ringan di bibir. Dan hasilnya juga matte finish dan tentunya langsung secara instan menutupi pinggiran bibirku yang sedikit hitam. 

Dan yang paling aku suka sekali dari lipcream ini adalah… dia tidak transfer! Jadi, sangat aman dipakai walaupun memakai masker. Perfect sekali bukan? 

Dan inilah hasil dari beauty virtual class hari itu. Yup, tidak hanya aku yang asik ber make up.. Tapi juga Humaira. Sibuk sekali dia ikut memilah milih kuas make up. Jadi sekalian saja aku make up’i sedikit wajahnya. Haha.

*Jangan khawatir, habis ini make up di wajah Humaira langsung dihapus kok.. 🤭

So, Punya kulit wajah cantik dan sehat di era Pandemi? Kenapa tidak? 

Syaratnya toh tidak muluk-muluk. Rajin-rajinlah memakai skincare, gunakan make up pada timing yang tepat dan jangan lupa selalu memakai masker saat keluar rumah. 

***

Tambahan nih, berhubung indonesia sedang memasuki tahap resesi ekonomi maka kalian juga harus pandai dalam mengatur keuangan ya. Dimulai dari hal sederhana saja. Misalnya dengan menggunakan masker kain yang memiliki 3 lapisan sesuai dengan rekomendasi WHO. Selain hemat budget juga dapat menjaga bumi. 

Dan yang terakhir, pakailah produk lokal. Ini adalah hal yang simple dan sederhana sekali untuk membantu ekonomi indonesia. Dimulai dari skincare dan make up harian misalnya. Produk lokal itu bagus loh, halal juga dan yang paling penting lagi juga ramah di dompet. 🙂 

Kalau aku sih setia jadi #TimWardah sejak dulu. 

Kalian bagaimana? 

Yuk, sharing denganku tentang skincare dan make up kala pandemi di kolom komentar.. 😀

Perjuangan Menyusui Kedua Buah Hati Pasca Operasi Cesar

Perjuangan Menyusui Kedua Buah Hati Pasca Operasi Cesar

“Gak usah bersikeras menyusui, kamu istirahat aja memulihkan diri. Bayinya biar kami bawa pulang dulu..”

“Tapi.. Dia minum apa kalau enggak nyusu ka?” Tatapku nanar. 

“Ya minum susu formula aja. Kan banyak aja susu formula untuk bayi.. Kalau bersikeras menyusui takutnya luka cesarnya lambat sembuh.. Nanti kamu.. Bla bla “

Suamiku bergegas mengambil Humaira dari gendongan iparku kemudian menyerahkannya padaku untuk aku susui. Lantas langsung berbicara dengannya ke luar ruangan. 

Melihat itu, aku tersenyum. Aku sangat senang suamiku support padaku untuk memberikan ASI pada Humaira. Pemandangan ini langka dan sangat romantis. Apalagi mengingat saat anak pertama lahir dulu suami tidak bisa datang. Jadi saat melihat hal itu, hatiku bahagia. Sangat bahagia. 

Walau awalnya terasa sulit. Pemandangan itu membuatku kuat. Ini memang tidak mudah, tapi setidaknya kali ini aku tidak merasa berjuang sendirian. 

Menyusui pasca operasi cesar itu tidak mudah

Yup, menyusui pasca operasi cesar itu tidak mudah. Karena Ibu yang melahirkan cesar tidak bisa langsung beraktivitas normal. Duduk dan memiringkan tubuh saja tidak bisa instan. Apalagi ketika harus langsung menyusui. Duh, sungguh tantangan tersendiri. Dan kedua anakku lahir secara cesar, jadi aku memiliki kisah suka dan duka tersendiri dibalik proses menyusui. 

Aku pernah menangis tidak tahan ketika menyusui anak pertama dahulu. Dari ASI yang tidak keluar, bayi kuning hingga luka pasca operasi yang sukar sembuh, belum lagi kalau mengingat aku sempat kena babyblues. Hiks.. Pengalaman menyusui ini juga sudah aku tulis secara lengkap di blog ini. Bedanya, saat anak pertama itu rasanya sulit sekali. Tapi ketika anak kedua, energi positif itu ada. Sehingga tidak terlalu drama layaknya anak pertama. 

Dari pengalaman anak pertama dan kedua, aku sadar tentang pentingnya energi positif. Bahwa energi positif itu sangat berguna untuk menyusui sambil menahan rasa sakit. Dari menyusui sambil berusaha memiringkan tubuh pasca operasi, sambil duduk, hingga menggendongnya dan membawanya pulang ke rumah. Dan tentu saja ada beberapa tips tersendiri untuk melawan rasa sakit itu. 

Mengatasi rasa sakit menyusui pasca operasi cesar

Bagi Ibu yang melahirkan secara cesar tentu setuju sekali bahwa saat bayi mulai menghisap payudara maka jahitan cesar seakan terasa terbuka kembali, belum lagi tentang drama puting yang lecet. Kedua rasa sakit itu harus ditahan demi suksesnya MengASIhi. Dan berikut adalah beberapa tips dariku untuk mengatasi rasa sakit itu:

1. Jangan menyerah dengan rasa sakit, yakin bahwa semua Ibu bisa melewatinya

Sungguh, aku pernah ingin menyerah saja saat menyusui anak pertama dulu. Tapi, Ibuku sangat memotivasiku. Dia berkata bahwa aku kuat. Dia juga yang bercerita tentang pengalamannya menyusui adik kembarku dengan kondisi payudara yang tidak sempurna. Padahal saat itu pengobatan pasca operasi cesar tidak secanggih sekarang. Hal itu sangat memotivasiku. AKU BISA. AKU BISA. 

Ibu yang lain juga bercerita padaku tentang pengalaman mereka dalam menyusui. Entah kenapa dari cerita tersebut aku menjadi yakin bahwa aku bisa melaluinya. Walau terkadang rasanya ingin menangis setiap kali jahitan itu sakit. Apalagi ketika melihat putingku lecet keduanya. Hiks. Tapi sunggguh, selama 2 minggu akhirnya luka-luka itu sembuh. Putingku dan sayatan cesarku. 

2. Mengonsumsi makanan yang mengandung albumin

Salah satu rahasia kesembuhan luka di puting dan jahitan cesarku adalah aku sangat rajin memakan ikan haruan pasca melahirkan. Baik saat anak pertama maupun kedua. Ikan haruan ini disebut juga ikan gabus kalau di daerah jawa. Zat albumin di dalam ikan ini sangat bagus dalam penyembuhan luka. 

3. Rajin kontrol luka jahitan

Terakhir, rajin-rajinlah kontrol jahitan ke dokter. Pertama kontrol yaitu 3 hari pasca pulang dari RS, kemudian seminggu sekali hingga luka benar-benar mengering. 

Luka jahitan yang mengering tentu akan memberikan kenyamanan pada ibu untuk menyusui. 

Tapi ingat, rawatlah luka dengan tidak meninggalkan moment menyusui, karena sesungguhnya dengan menyusuilah maka rahim kita akan cepat kembali normal begitupun dengan luka cesar. 

Benarkah Ibu yang melahirkan cesar sulit untuk memberikan ASI? 

Aku pernah mengalami masa down saat menyusui anak pertama. Saat itu, ada salah satu penjenguk yang berkata padaku bahwa Ibu yang melahirkan cesar tidak bisa menyusui. Karena tidak mendapatkan rasa sakit pemancing keluarnya ASI layaknya Ibu yang melahirkan normal.

Dan sungguh, statement tersebut menguras semangatku. Apalagi saat awal menyusui Farisha payudaraku benar-benar kecil dan tidak kencang seperti Ibu lainnya. 

Aku yang minim ilmu dalam menyusui langsung merasa bersalah karena tidak bisa melahirkan normal. 

“Kalau saja ketubannya tidak pecah duluan dan ada pembukaan.. Mungkin saat ini Farisha bisa menyusu dengan nyaman dan tidak menangis terus.. ” Kataku sedih. 

Untunglah saat itu aku didampingi oleh kakakku yang merupakan seorang Dokter. Kakakku adalah salah satu pendukungku dalam menyusui Farisha. Dia berkata untuk terus menyusui, karena jika tidak.. Air susu tidak akan keluar. 

“Yang memancing air susu untuk keluar itu bukannya tentang cara melahirkannya, tapi tentang seberapa besar usaha Ibu untuk terus menyusui Bayi..”

“Dan sesungguhnya.. Bukan mulut orang yang menentukan keberhasilan menyusui. Tapi semangat mulut bayi dalam menghisap. Jika ia selalu menangis dan tak mau lepas dari payudara, artinya bukanlah ASI nya sedikit. Ia sedang menikmati ASI. Ia sedang memancing ASI untuk keluar lebih banyak.. “

Dan semua kata-kata itu benar adanya. Walau dulu Farisha sempat mengalami kuning dan penurunan berat badan akibat kurangnya ASI. Namun dalam jangka waktu 2 minggu berat badannya kembali naik, badannya mulai berisi dan astaga.. Lihatlah payudaraku yang ASI nya selalu kencang bahkan sering rembes sendiri. 

Farisha pun menjadi anak yang ‘super montok’ sehingga sering digelari ‘si endut’ oleh orang-orang. Dan saat umurnya masih 5 bulan, ada salah seorang Ibu bertanya padaku di Posyandu.. 

“Minum susu merk apa mba jadi badannya montok banget?”

“Minum ASI aja buk.. Hehe.. ” Sahutku malu. 

Ingin sekali rasanya aku meloncat riang. Apalagi jika ingat perjuangan awalnya. Dimulai dari perasaan insecure karena melahirkan cesar, dituding tidak bisa menyusui hingga… hiks.. Speechless.. 

Dan yaa.. Kedua anakku adalah anak ASI, walaupun aku melahirkan secara cesar. 🙂 

Jadi, semua Ibu bisa menyusui bayi kok. Baik itu Ibu yang melahirkan secara normal maupun cesar. 

Tips agar ASI melimpah walau pasca operasi cesar

Saat menyusui anak kedua, perjuangannya lebih menyenangkan dibanding saat anak pertama. Karena ada suami yang mendampingiku. Walau sempat melalui fase ASI seret, lidah bayi yang putih dan sebagainya akan tetapi perjuangan menyusui Humaira sukses. 

Sekarang, Humaira sudah berusia 18 bulan. Anaknya lincah dan selalu riang. Walau tidak memiliki tubuh segendut Farisha sewaktu kecil tapi berat badannya masih termasuk dalam kategori normal. Yaa.. Setiap anak berbeda bukan? Tidak gendut bukan berarti kualitas ASI nya berbeda. 

Meski sudah 18 bulan menyusui, Alhamdulillah ASI yang aku miliki tergolong cukup. Bahkan sesekali aku masih memerlukan pompa ASI untuk memerah.

Yup, meski sesekali aku meninggalkan Humaira dan Pica keluar rumah.. Aku tidak lupa untuk menyiapkan stok ASI. Karena bagiku, ASI adalah nutrisi yang terbaik. ASI bernutrisi untuk Ibu dan Bayi Istimewa. Yaa.. yakinlah kalau kita istimewa dan hebat saat memutuskan untuk memberikan ASI. 

Nah, berikut adalah beberapa tips dariku agar lancar menyusui meski pasca operasi cesar. 

1. Jangan Stress

Apapun yang sedang terjadi, jangan stress. Karena stress akan menghambat keluarnya ASI. Pikiran negatif itu akan membuat efek negatif pula ke seluruh badan. 

Karena kita adalah apa yang kita pikirkan. 

“Menyusui adalah tentang ikatan pertama Ibu dan Anak. Bangunlah ikatan itu dari sebuah keyakinan diri.. “

Lalu, bagaimana bisa muncul keyakinan jika kita sendiri stress? 

Jadi, jauhi perasaan tidak nyaman. Milikilah support system yang baik dan pikirkanlah hal yang baik-baik saja. Dan yang sangat penting lagi.. Tidak usah dengarkan apa kata orang. 🙂 

2. Selalu menyusui bayi dimanapun dan kapanpun

“Tapi, Coba lihat.. ASInya tidak keluar.. ” 

Sahutku sambil memencet putingku.

“ASI perlu isapan bayi untuk keluar maksimal, bukan ditentukan lewat pencetan dibagian puting. Apalagi ini anak pertama. Hanya isapan bayi yang efektif untuk memproduksi ASI.. ” Sahut Kakakku

Dan itu benar. Saat aku memompa ASI, sangat sedikit ASI yang bisa keluar. Tapi ketika bayi menghisap, ia bisa tertidur sambil menyusu dan bahkan sambil pipis. Bukankah itu artinya ASI nya keluar saat dihisap? 

Semakin sering kita menyusui bayi.. Maka produksi ASI juga semakin banyak. Itulah hukum kekekalan ASI.

3. Milikilah dukungan dari Suami

Nah, mari sambung kalimat pembuka tulisan ini disini. 

Yup, salah satu penguatku dalam menyusui anak kedua adalah suamiku. Sedangkan penguatku dalam menyusui anak pertama adalah Mama dan Kakakku. Karena, saat anak pertama lahir dulu suamiku tidak bisa datang hingga anakku berumur 4 bulan. 

Dan tidak dipungkiri rasanya beda sekali melahirkan didampingi suami dan tidak didampingi. Rasanya, aku seperti memiliki seseorang untuk membelaku disaat ingin menangis. Termasuk halnya membela dalam hal mempertahankan egoku untuk menyusui Humaira. 

Dukungan suami sangatlah penting. Karena setidaknya kita memiliki orang yang selalu berada dipihak kita untuk bisa menyusui. Istilah Ayah ASI pun melekat pada seorang Ayah yang terus support sang ibu untuk bisa menyusui. 

Ayah yang menemani begadang, mengganti popok, membantu di dapur, membelikan makanan lalu memberikan Ibu waktu untuk mengelola Me time.. Itulah Ayah ASI sejati. 

4. Miliki empat waktu sehat seimbang

Ibu menyusui itu harus ‘waras’. Karena itu sangat penting untuk menjaga kestabilan hatinya. Jadi, sangat penting untuk menjaga keseimbangan manajemen 4 waktu dalam hidup. 

Empat waktu itu adalah Me time, Couple Time, Family Time dan Social Time. 

Sebagai Ibu, kita harus memiliki me time agar kita dapat memelihara hobi dan passion. Me time sederhana seorang Ibu menyusui mungkin dapat dilakukan dengan menonton film, membaca buku dsb. 

Jangan lupa untuk Couple Time sesekali. Milikilah waktu bersama pasangan. Karena sebelum si kecil muncul, jangan lupa bahwa kita adalah pasangan bahagia bersama suami. 

Family time saat menyusui dapat dilakukan dengan makan bersama, nonton film bersama hingga.. Mmm.. Ganti popok bersama mungkin? Haha.. 

Social time? Yaaa.. Ini penting.. Biarkanlah sesekali Ibu menyusui keluar rumah untuk sekedar bertemu teman-temannya. Karena tidak nyaman loh kalau dunia ibu hanya berputar di rumah saja. 

Empat waktu diatas harus diatur dengan seimbang untuk kewarasan Ibu menyusui. Ibu yang waras akan menghasilkan ASI berkualitas. 

5. Banyak makan makanan bergizi, jangan takut gemuk! 

Jangan lupa untuk selalu makan makanan bergizi terutama saat menyusui. Ehm, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa banyak? 

Tentunya sampai Ibu merasa kenyang. Biarpun porsi makanan melebihi porsi sebelum menyusui, tidak usah takut gemuk. Utamakan kualitas ASI terlebih dahulu. ASI bernutrisi tercipta dari makanan yang bernutrisi bukan? Lagi pula, menyusui itu adalah diet paling efektif loh. 

Apakah harus mengonsumsi makanan tertentu? Apakah ada pantangan? 

Menurutku sendiri, Ibu menyusui jangan terlalu banyak memikirkan pantangan. Apalagi kalau harus kehilangan nutrisi lengkap ketika banyak pantangan. 

“Utamakan nutrisi lengkap, karena percuma jika banyak pantangan tetapi nutrisinya kurang.. “

Kalau tantangannya masih masuk diakal, terutama untuk menghindari reaksi alergi maka jauhi makanan alergi. Akan tetapi, jika pantangannya adalah ‘jangan makan buah nanti anak diare’ atau ‘jangan makan ikan, nanti ASI amis’ . Hmm, sebaiknya jangan dilakukan ya.. 🙂 

6. Jangan kelelahan dan tidur cukup

“Kalau anak sedang tidur, mamanya jangan ikutan tidur. Nanti kerjaan di rumah gak beres-beres.. “

Sesekali boleh sih menuruti saran diatas. Tapi ingatlah bahwa kita juga punya batasan lelah masing-masing. Ibu lain kuat kalau hanya tidur 3 jam, tapi belum tentu kita kuat. 

Boleh banget kok kalau anak tidur kita juga ikut tidur. Kurangilah standar sesekali. Apalagi ketika anak masih ASI ekslusif. 

7. Minum suplemen tambahan untuk nutrisi Ibu menyusui

Yup, multivitamin itu menurutku penting untuk mendukung nutrisi Ibu menyusui. Apalagi aku sering sekali anemia, pernah jatuh sendiri pasca menyusui, hingga yaa.. Aku itu cepet banget capek. 

Belum lagi Ibu yang menyusui itu memiliki potensi tinggi untuk terkena osteoporosis. Untuk anak pertama saja, ada salah satu gigiku yang keropos begitu saja. Makanya saat memiliki anak kedua ini aku butuh nutrisi tambahan dari multivitamin khusus untuk ibu menyusui.

Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold adalah salah satu multivitamin dan mineral yang aku konsumsi saat menyusui. Sebenarnya, untuk lebih optimal aku sarankan untuk mengonsumsi multivitamin ini sejak hamil. Karena, 1000 hari pertama anak dimulai sejak hamil. 🙂 

Mengapa Memilih Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold

Kenapa sih pilih Black Mores? Kan multivitamin banyak? Dan kalsium, asam folat, zat besi bisa dibeli? Gak perlu kan pake satu produk khusus? 

Nah, ada 3 hal yang buat aku percaya untuk pilih Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold ini, diantaranya adalah

1. Dosis disesuaikan berdasarkan kebutuhan ibu hamil & menyusui di Indonesia (tidak berlebih)

Yup, dosis Black Mores Pregnancy and Beast-Feeding Gold ini sudah diatur sedemikian rupa untuk sesuai dengan kebutuhan Ibu. Aku sendiri sangat cocok meminumnya, terlebih saat usia Humaira sudah 18 bulan ini ASI ku mulai berkurang produksinya. Multivitamin ini tidak membuat ASI terlalu banyak, tapi cukup.. Alhamdulillah. 

Dan tentu saja aku tidak tambah gendut pasca meminum multivitamin ini. Haha. Jangan khawatir, multivitamin itu tidak bikin gemuk kok. Minum sebanyak 2x sehari pada siang dan malam hari. Insya Allah nutrisi Ibu tercukupi dan ASI juga bernutrisi untuk bayi. Karena ASI bernutrisi untuk Ibu dan Bayi Istimewa bukan?

Nah, berikut adalah komposisinya:

Asam folat 200 µg, Kalium iodide 98 µg (Iodium 75 µg), Fish oil 500 mg mengandung 165 mg Omega-3 (DHA 125 mg + EPA 25 mg), Fe (II) fumarate 15.7 mg (Zat besi 5 mg), Niasin 7.5 mg, Vitamin C 30 mg, Kalsium karbonat 300 mg (Kalsium 120 mg), Zinc sulfat 20.8 mg (Zinc 7.5 mg), Magnesium oksida 49.8 mg (Magnesium 30 mg), Thiamine nitrate 500 µg (Vitamin B1 405 µg), Riboflavin (Vit B2 750 µg), Pyridoxine HCl (Vit B6 750  µg), Vit B12 1.5 µg, d-alpha tocopherol (natural Vit E 5.21 IU), Dunaliella salina cell extract soft concentrate 72 mg

2. Mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi ibu hamil dan menyusui

Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold ini adalah suplemen dengan kandungan lengkap, 17 Nutrisi Esensial di dalamnya sangat penting untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ibu menyusui sehingga dapat memberikan ASI bernutrisi untuk buah hati. Adapun 17 nutrisi esensial itu adalah:

1. Tinggi Asam Folat

Ibu hamil dan menyusui tentunya memerlukan asam folat yang tinggi bukan? Asam folat dibutuhkan untuk membantu mendukung pengembangan sel darah merah dan menyerap zat besi untuk tubuh. Dan fungsi yang jauh lebih  penting adalah karena ini termasuk vitamin untuk ibu menyusui agar bayi cerdas.

2. Tinggi Kalsium dan DHA

Kalsium merupakan kebutuhan yang penting bagi Ibu dan Bayi karena diperlukan untuk membantu pertumbahan tulang dan gigi. Selain itu juga untuk mencegah terjadinya osteoporosis pada ibu.

Yup, aku punya pengalaman tentang pengeroposan gigi pada anak pertama dulu. Karena saat anak pertama aku tidak mengonsumsi multivitamin. Ketika anak kedua ini Alhamdulillah tidak, karena faktor peningkatan ekonomi mendukung jadi bisa mengonsumsi multivitamin seperti blackmores ini. 

3. Zat Besi

Zat besi yang terkandung dalam Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold tidak menyebabkan konstipasi karena berasal dari besi fumarat. Jadi, aman dan bantu ibu jaga energi supaya tidak mudah sakit. Apalagi aku punya riwayat anemia. 

4. Omega 3/DHA dari Minyak Ikan

Omega 3/DHA ini baik untuk pertumbuhan otak & mata bayi. Dan yang paling aku suka minyak ikan ini tidak berbau dan menyebabkan mual saat dikonsumsi.

5. Vitamin dan Mineral Lainnya

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold juga mengandung vitamin dan mineral lainnya. Dan tentunya sangat dibutuhkan oleh ibu menyusui.

3. Mendukung perkembangan bayi pada masa 1000 hari pertama kehidupan

Tentu semua sudah tau bukan bahwa 1000 hari pertama itu adalah masa golden age. Dan itu tidak akan terulang lagi. 

sumber: www.blackmores.co.id

Karena itu, cukupilah nutrisi anak di masa 1000 hari pertamanya dengan ASI bernutrisi. Karena ASI itu TIDAK TERGANTIKAN. ASI menjadikan ikatan antara Ibu dan Anak kuat. Sentuhan itu, pelukan saat menyusui, proses pendekatan itu.. Luar biasa. Itulah awal dari cinta. 

ASI adalah nutrisi cinta pertama bayi saat lahir ke dunia. 

Dan sejak meminum blackmores, kandungan ASI yang aku perah akhir-akhir ini memiliki kandungan seimbang antara hindmilk dan foremilk. Menurutku, ASI berkualitas seperti itu.. kandungannya seimbang. Ah, makanya Humaira bisa tidur nyenyak sejak aku minum multivitamin ini. Semoga tumbuh kembangnya terus optimal dengan tercukupinya nutrisi di 1000 pertama kehidupannya.

World breast-feeding week 2020-ASI bernutrisi untuk bayi istimewa

Nah.. tau enggak sih sebagai bentuk wujud pemenuhan nutrisi ibu hamil dan menyusui maka Kalbe Blackmores Nutrition bekerja sama dengan Yayasan Bumi Sehat. Bumi Sehat sendiri adalah sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada penyediaan akses layanan kesehatan berkualitas, higienis, serta pengupayaan kelahiran anak secara layak.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold turut mendukung World Breastfeeding Week yang jatuh pada bulan Agustus. Untuk itu, sejak tahun 2017 Blackmores bekerja sama dengan Bumi Sehat Foundation untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui. Caranya adalah dengan membagikan 12.000 botol Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold di setiap tahunnya di klinik Bumi Sehat. Kemudian akan dibagikan lagi kepada ibu hamil dan menyusui. Wah, luar biasa bukan? 

Saat ini Klinik Bumi Sehat sudah tersebar di tiga kota, yaitu Denpasar, Aceh, dan Papua.

Terakhir, aku sangat berterima kasih pada Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold karena telah membantu mendukung ASI Bernutrisi untuk Ibu dan Bayi yang Istimewa. Berkat itu, aku bukan hanya telah merasa memberikan yang terbaik untuk anakku tetapi juga menghargai diriku sendiri sebagai seorang Ibu. Bahwa akupun butuh dukungan nutrisi yang kuat untuk hari-hari bahagiaku. 

Oya, Untuk kalian yang ingin mendapatkan produk ini caranya mudah loh. Karena tersedia di berbagai E-Commerce, seperti: Lazada, bukalapak, tokopedia dan Shopee yang bertuliskan Official Store.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: https://www.blackmores.co.id/mom-and-baby/

Atau langsung ke akun instagram @blackmoresid.

Nah, kalian punya cerita menarik juga tentang menyusui? Share denganku yuk!

Happy Breast-Feeding Mom!

Tentang Anakku yang Alergi Protein Susu Sapi dan Susu Formula Soya yang Cocok Untuknya 

Tentang Anakku yang Alergi Protein Susu Sapi dan Susu Formula Soya yang Cocok Untuknya 

Bagaimana perasaanmu ketika anakmu bangun setiap malam dalam keadaan menangis kencang.

Ia muntah tak berkesudahan.

Tangannya sibuk menggaruk punggungnya. Wajah merahnya dan mata yang berair itu menatapmu seakan bertanya, “Apa yang sedang terjadi padaku Ma?”

Ya.. ini cerita tentangku dan Pica, anak pertamaku. Buah hati pertama yang menyeretku ke dalam dunia emak-emak. Anak pertama yang mengajariku arti pengorbanan. Anak yang sungguh merupakan seorang guru kecilku dalam perjalananku menuju kedewasaan. 

Pada umurnya yang ke 2 tahun, aku menghadapi masalah baru dalam perkembangannya. Masalah itu muncul ketika aku sudah sukses menyapihnya. Setiap malam, ia bangun dengan wajah merah dan mata berair. Tangannya sibuk menggaruk punggungnya. Ia tidak ingin menyusu, ia juga tidak meminta pelukan dariku. Ia seakan bertanya pada diriku, Apa yang sedang terjadi? 

Dan bodohnya aku saat itu.. Sungguh aku sendiri pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. 

Ternyata, Anakku Alergi Protein Susu Sapi

Butuh waktu lama untuk membuatku sadar tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anakku. Karena sebagai ‘mamah muda’ aku sungguh merasa segala tindakanku sudahlah sempurna. Jikapun ada yang salah pada Pica, itu pasti bukanlah kesalahanku. Begitulah egoku berkata. 

Ya, sebagai tipe ibu yang cenderung perfeksionis aku merasa tidak melakukan kesalahan. Pica selalu makan masakan rumahan yang aku buat. Tak pernah sekalipun makan makanan instan. Tak pernah pula jajan sembarangan. Apalagi aku selalu memastikan asupan serat Pica selalu seimbang. Lantas bagaimana bisa Pica sering muntah akhir-akhir ini? 

“Mungkin Ibunya makan sembarangan.. “

Suara sayup itu kadang terdengar. Dan pikiranku langsung menentang seketika sambil bergumam, “Pica aja udah gak nyusu lagi.. Bagaimana bisa pola makanku dikait-kaitkan lagi?”

Aku kemudian melirik ke bintik kecil merah yang bersarang di punggung Pica. Berpikir keras. Apakah anakku alergi? Apakah ia sepertiku waktu kecil? Yang tidak bisa makan telur ayam, seafood hingga ayam ras? 

Ah, bukankah aku sudah banyak belajar soal itu dari Mama? Sejak MPASI aku tidak pernah memberikan Pica seafood berlebihan. Pasti aku cek reaksinya. Dan ia juga tidak alergi dengan telur ayam hingga Ayam ras. Bukannya dia sudah sejak lama makan itu? 

Akupun secara iseng memeriksakan kondisi Pica ketika kebetulan check up di Posyandu. Salah seorang bidan berkata padaku, “Bisa jadi dia alergi susu. Kan alerginya kambuh sejak lepas ASI. Kalau boleh tau, Ibu pakai susu apa di rumah?”

Deg.. 

Aku pun langsung melirik kemasan susu pertumbuhan yang baru-baru ini aku beli. Sambil bergumam.. “Apakah gara-gara ini?”

Bergegas aku mencari informasi di google tentang ciri-ciri anak alergi dengan protein susu sapi. Dan dari semua ciri-cirinya.. Sebagian besar ada pada Farisha. 

Bagaimana Bisa Anakku Alergi Protein Susu Sapi? 

Ya.. Pertanyaan selanjutnya adalah.. Bagaimana bisa anakku alergi dengan susu sapi? 

Bukankah aku sendiri tidak alergi? Bukankah suamiku juga tidak? Lalu bagaimana bisa Pica alergi? 

Ternyata, bisa saja sistem kekebalan tubuh Pica langsung bereaksi ketika mengonsumsi kandungan protein yang terdapat pada susu sapi secara langsung. Padahal, aku sendiri juga mengonsumsi susu sapi. Akan tetapi ketika Pica masih ASI, tidak ada reaksi apa-apa. Itulah yang awalnya membuatku ragu. 

Ternyata bisa saja anak alergi susu sapi walau kedua orang tuanya tidak alergi. Apalagi Pica saat itu masih berusia 2 tahun sehingga sistem pencernaan dan kekebalan tubuhnya belum sempurna. 

Atas pertimbangan alergi, maka aku memutuskan untuk berhenti memberikan Pica susu pertumbuhan. Aku hanya rutin memberikannya makanan 4 sehat secara seimbang. Alhamdulillah alergi itu tidak datang lagi. 

Perjuangan Mencukupi Nutrisi Anak Alergi

Ternyata, mencukupi kebutuhan nutrisi anak itu tidak sesimple itu. Awalnya, kupikir dengan memberikan Pica makanan sehat secara seimbang saja sudah sangat cukup untuk kebutuhan nutrisinya. Ternyata aku salah. 

Di usia Pica yang sudah 3 tahun, ia sering sekali terkena radang tenggorokan. Tidak tahu kenapa. Sampai pernah suatu hari dia di opname selama 3 hari. Dan selama itu dia tidak mau makan. Disitulah hatiku terasa ‘terpotek-potek’. Hiks.. 

“Anaknya gak mau minum susu ya?”

“Kok gak dikasih susu?”

Begitulah komentar orang-orang disekelilingku sehingga akupun menjadi serba salah. 

“Adek Pica ini di rumah biasanya makanan kesukaannya apa?” Kata Dokter padaku. 

“Dia suka sekali telur dadar dok. Hampir setiap hari makan telur..” Kataku

“Apa lebih dari satu kali bu? Kalau bisa dikurangi ya Bu. Anak Ibu ada alergi. Dari sekarang harus rajin juga makan ikan sungai dan sayur ya..

Yah, aku tidak terlalu peka soal alergi pada anak ini. Dulu waktu baru disapih, Pica alergi susu sapi. Kulitnya kemerahan dan sering muntah.

Ketika berumur 3 tahun aku kadang sedikit iseng memberikannya susu sapi. Karena Pica sebenarnya suka dengan berbagai susu UHT. Dan aku senang karena bintik merah itu tidak muncul lagi. 

Akan tetapi, rhinitis alerginya kambuh sedikit lebih parah. Sehingga kadang radang tenggorokan juga sering kambuh. Biasanya diawali dengan batuk dan pilek yang tiada henti kemudian berujung tidak mau makan. Tuh kan, sedih sekali aku kalau mengingatnya. Besar kemungkinan kalau penyebab meningkatnya alergi Pica juga disebabkan oleh susu sapi. 

Untungnya, Dokter merekomendasikan kepadaku untuk memberikan susu formula soya pada Pica. Dan atas rekomendasi dokter tersebut, kini Pica rutin minum susu pertumbuhan soya. 

Ya, hingga usia Pica sudah 7 tahun seperti sekarang. Tak dipungkiri bahwa susu soya turut membersamai pertumbuhannya. Tak lupa disertai dengan makanan sehat yang mendukung untuk menghambat alerginya. Aku terus mengusahakan yang terbaik untuk Pica hingga sekarang. Karena aku tau saat inilah masa tumbuh kembang yang krusial. Ya.. Nutrisi Pica harus tercukupi, karena waktu tak bisa kembali lagi. 

Nah, Ini adalah salah satu menu makanan kesukaan Pica. Ikan patin panggang, berbagai sayur, buah dan sambal tomat. Aku hanya memberikannya telur tidak lebih dari satu setiap hari. Dan aku juga selalu rajin memantau reaksi alerginya setiap 3 bulan sekali. 

Tips untuk Ibu yang memiliki Anak Alergi Protein Susu Sapi

Nah, pastinya salah satu dari kalian ada yang memiliki permasalahan sama sepertiku bukan? Berikut tips untuk Ibu yang memiliki anak alergi susu sapi:

1. Jangan stress

Tidak usah stress loh. Karena yang namanya alergi itu wajar banget terjadi. Apalagi untuk alergi susu sapi. Konon, 2 dari 10 anak bisa mengalami alergi susu sapi. 

Intinya, kita tidak sendirian. Dan dari pada larut dengan kesedihan karena anak sangat sensitif terhadap potein susu sapi lebih baik kita hadapi permasalahannya dengan hati yang lapang. 

2. Hindari Makanan yang Mengandung Susu Sapi

Alergi susu sapi ini ada berbagai macam tingkatnya. Ada loh anak yang bahkan mengalami alergi ketika masih ASI. Dan itu terjadi karena ibunya mengonsumsi protein susu sapi. 

Untuk kasus Pica, alergi terjadi ketika ia berusia 2 tahun dan sudah berhenti ASI. Awalnya kupikir susu pertumbuhannya yang perlu diganti. Ternyata tidak, semua susu yang mengandung protein susu sapi pasti memicu sedikit alergi. Begitupun dengan makanan yang mengandung susu sapi. Seperti keju. Pica akan muntah. 

Oleh karena itu aku menghindari makanan dengan penggunaan susu sapi. Siasatnya adalah dengan membuat makanan sendiri di rumah.

3. Rutin Memantau Perkembangan Alergi Anak

Biasanya, alergi susu sapi tidak berlangsung selamanya loh. Kebanyakan hanya berlangsung hingga anak berumur 2-3 tahun saja. Jadi, jangan khawatir untuk belajar memantau perkembangan alergi anak. 

Caranya bagaimana? 

Sesekali, berilah anak makanan yang mengandung protein sapi. Kemudian amati reaksi alerginya selama 2-3 minggu. 

Ketika Pica berumur 2-3 tahun. Ia tidak tahan makan keju. Tapi, ketika sudah berusia 4 tahun hingga sekarang.. Pica sudah tidak alergi lagi dengan keju. Untuk makanan yang lain pun mulai menyusul satu per satu. Meskipun untuk meminum susu sapi alergi masih muncul. 

4. Gunakan Susu Dengan Protein Soya

Nah, ini yang aku lakukan sejak Pica umur 3 tahun. Sedikit terlambat sih tapi lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali. 

Saat ini ada berbagai macam susu formula pertumbuhan dengan protein soya. Akan tetapi tidak semua ramah di pencernaan anak dan beberapa anak tentu sedikit tidak familiar dengan rasa soya. 

Untuk susu pertumbuhan yang Pica konsumsi adalah Morinaga Chil*School Soya. 

Morinaga Chil*School Soya, Susu Formula Soya Untuk Anak 3-12 Tahun

Menurut berbagai referensi, biasanya alergi susu sapi akan hilang dengan sendirinya seiring dengan matangnya saluran pencernaan bayi (pada usia 2-3 tahun). Oleh karena itu, kadang aku juga sering melakukan challenge test dengan cara mencoba memberikan produk-produk yang mengandung susu sapi sedikit demi sedikit. 

Dulu, Pica sangat suka dengan keju. Tapi, kalau ia memakan lebih banyak pasti berujung dengan muntah. Tapi seiring berjalan waktu, alergi keju sudah memudar. Begitu pula dengan berbagai makanan lain yang mengandung susu sapi. Alerginya sudah mulai hilang. Hingga usia Pica 7 tahun, hampir tidak ada makanan yang mengandung susu sapi dapat memicu alerginya. Alhamdulillah sekali. 

Akan tetapi aku belum berani mengganti susu pertumbuhannya secara penuh. Karena mungkin sedikit trauma. Jadilah sampai sekarang Pica selalu punya persediaan susu formula soya di rumah. 

Dan susu formula soya yang Pica konsumsi adalah Morinaga Chil*School Soya. Susu formula ini tergolong sangat cocok untuk Pica karena dari dulu kandungannya sangat ramah untuk pencernaannya. Dengan kualitas protein setara susu sapi, diperkaya L-Metionin, Karnitin, Asam Amino Esensial, serta Vitamin dan Mineral.

Selain itu, MoriCare+ Zigma Triple Bifidus yang ada dalam Morinaga Chil School soya dapat mendukung:

  • Kecerdasan multi talenta

Didukung dengan nutrisi Kolin, asam lemak esensial AAL & AL (Alfa-linolenat & linolelat), dan Zat Besi.

  • Pertahanan tubuh ganda

Kombinasi Probiotik asset moricare omega dan beta (bakteri baik) dan Prebiotik GOS (makanan bakteri baik), bersinergi untuk kesehatan saluran cerna dan meningkatkan daya tahan tubuh.

  • Tumbuh kembang optimal pada anak

Kombinasi Vitamin D dan Kalsium dalam susu pertumbuhan Morinaga membantu untuk menjaga kepadatan tulang dan gigi

Yah, setidaknya sebagai ibu aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Karena waktu tak bisa kembali bukan? 

FYI, Morinaga Chil*School Soya adalah satu-satunya formula pertumbuhan dengan protein soya yang diakui BPOM dan dilengkapi dengan kandungan AA dan DHA, serta mengandung nutrisi sinbiotik (sinergi dari probiotik dan prebiotik) dengan 3 jenis Bifidobacteria. 

Tidak hanya itu, susu formula soya dari Morinaga Chil*School ini juga sangat enak. Berbeda dengan stigma susu kedelai lain yang konon sedikit ‘eneg’ rasanya. Untuk Morinaga Chil School Soya rasanya enak dan segar, karena selain memiliki rasa vanila isolat protein kedelainya juga berkualitas dan tanpa laktosa.

Morinaga Chil School memiliki kualitas protein yang setara dengan susu sapi. Yup, Bebas alergen susu sapi, jadi aman untuk dikonsumsi oleh anak yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi.

Terima Kasih Morinaga Chil School Soya, Kini Aku Bisa Menikmati Waktu dengan Pica tanpa Worry

Orang bilang.. kalau memiliki anak alergi itu pasti perasaan Sang Ibu sering cemas, terutama soal nutrisi. Dan sungguh itu benar sekali. 

Dari sering memantau reaksi makanan yang memicu alergi, mencoba secara berkala hingga sabar jika alergi tiba-tiba kumat. Apalagi jika anak mendadak sakit serius. Hati ibu mana yang tidak sedih? Hiks. 

Alhamdulillah, perjalanan menemukan nutrisi yang pas untuk anak alergi dapat menemukan jalannya. Dan tak dipungkiri itu berkat dukungan nutrisi tambahan dari Morinaga Chil School Soya. Karena bagaimanapun juga, menemukan susu pertumbuhan yang cocok untuk anak alergi itu bagaikan oasis di padang gurun. *maaf mamak sedang lebay.. 

Untuk para ibu yang bernasib sama sepertiku, saranku untukmu adalah jangan menyerah dan jangan larut dengan kesedihan. Karena anak alergi itu wajar saja kok. Apalagi alergi susu sapi. Muntah, bintik merah, dan gejala lain saat mengonsumsi susu sapi itu adalah hal yang sangat wajar. You’re not alone. 

Jadilah Ibu kuat. Karena anakmu membutuhkanmu. 

Yup, masa anak-anak hanya terjadi satu kali. Dan tidak bisa diulang. Begitupun kesempatan kita untuk membersamai anak, semuanya tidak dapat diulang. Karena itu, manfaatkanlah waktu yang ada untuk terus mendukung potensinya dengan memberikan kasih sayang, stimulasi dan nutrisi yang maksimal. 

Terima kasih Morinaga Chil*School Soya karena telah membersamai tumbuh kembang anakku Pica. Kini perasaan cemas itu sudah berkurang. Aku dapat membersamai Pica setiap hari dengan nyaman karena nutrisinya sudah tercukupi. 

Aku ingin selalu menjadi ibu yang terbaik untuk Pica. Dimulai dari sekarang. Karena waktu tak bisa kembali lagi. 

Informasi lebih lanjut cek website www.cekalergi.com dan IG @morinagaplatinum.

10 Hal yang Aku Lakukan Agar Luka Operasi Cesar Lekas Sembuh

10 Hal yang Aku Lakukan Agar Luka Operasi Cesar Lekas Sembuh

“Gimana caranya mba supaya bisa cepet sembuh luka bekas cesarnya?”

“Mba kemarin minum obat apa aja?”

“Apa benar obat dari BPJS kurang efektif?”

“Apa jahitan bisa bernanah ya mba? Kok jahitanku jadi basah gini?”

Itulah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan pembaca blog kepadaku ketika aku curhat tentang operasi cesar dengan BPJS di blog. 

Awalnya, aku mencoba menjawab dengan membalas DM dan WA saja. Tapi, baru-baru ini salah seorang sahabatku juga menanyakan hal yang sama. Hmm, kupikir mungkin ada gunanya jika aku tulis di blog saja ya. 

Dan berikut ini adalah beberapa hal yang aku lakukan agar bekas luka cesar lekas sembuh. 

1. Nabung Buat Punya ART Sejak Hamil

Yup, menyembuhkan bekas cesar bukan cuma perkara sesudah cesar saja. Tapi tentang mempersiapkan segalanya sejak hamil, terutama tercukupinya finansial untuk menjaga kondisi fisik maupun psikologis.

Belajar dari pengalaman anak pertama dahulu yang mana lahirnya juga cesar, maka aku sadar sekali kalau sangat penting menjaga diriku sendiri agar tidak kelelahan pasca operasi. Maka, sejak hamil aku sudah rutin menabung khusus untuk keperluan memiliki ART selama 3 bulan. Aku menabung dari hasil job ngeblog dan instagram. Semuanya pure tidak dipakai demi memiliki ART. Karena aku sadar suamiku sangat sibuk dan tidak bisa membantu banyak. 

Dengan memiliki ART paling tidak aku menjadi sangat terbantu sehingga bisa lebih banyak beristirahat. Bulan pertama pasca cesar adalah masa krusial, sangat penting untuk memiliki seseorang yang bisa membantu.

Memang kondisi finansial orang tentunya berbeda, bagi sebagian yang lain mungkin bisa meminta bantuan suami atau keluarga lainnya untuk pekerjaan rumah tangga. Tapi yakinkan diri kalau bulan pertama pasca cesar paling tidak jangan kelelahan. Yakinkan ada yang menolong diri kita. Jangan mengerjakan semuanya serba sendiri. Dan persiapkan hal itu sebelum melahirkan ya. 

2. Berani Melawan Rasa Sakit

Yang kedua adalah beranilah melawan rasa sakit itu. 

Pasca operasi cesar pasti sangat tidak nyaman. Rasa perih dan sakit bekas sayatan di perut tentu sangat mengganggu. Apalagi jika sehabis Cesar kita langsung full menyusui bayi. Rasanya? Duh.. Luar biasa. Tapi jangan salah, justru dengan menyusui bayi.. luka cesar dapat lekas sembuh. Jadi yang pertama, jangan takut menyusui bayi pasca cesar ya.

Hari pertama pasca operasi dokter menyuruhku untuk jangan miring. Bayangkan betapa sulitnya aku menyusui bayi. Hiks. 

Hari kedua, pasca 12 jam sehabis operasi.. Badanku sudah diperbolehkan miring. Dan 12 jam berikutnya aku sudah disuruh untuk latihan duduk. Rasanya? Duh duh.. 

Tapi bagaimanapun juga harus berani. Kalau tidak, rasa sakit itu akan betah menempel kalau kita takut untuk bergerak. Justru dengan bergerak perlahan kita dapat sembuh. 

Dan entah karena aku operasinya dengan BPJS atau apa ya.. Aku merasa seperti disuruh cepat-cepat sembuh.. Wkwk..

Kalau aku mengeluh ‘masih tidak bisa duduk’. Para bidan dan perawat sontak mengomeliku. Ketika aku menyusui sambil rebahan, mereka juga memarahiku sambil berkata, “Menyusui jangan sambil rebahan nanti bayinya tersedak!”

(Duh sabar.. Baru juga 36 jam pasca operasi denk, sudah disuruh duduk melulu.. dalem hati aku.. Hahaha) 

Tapi begitulah, harus kuat dan berani dengan rasa sakit. 48 jam pasca operasi aku sudah bisa duduk dengan benar. Dan saat itu pula bidan dan perawat menyuruhku untuk segera latihan berdiri. 

Lalu, 6 jam berikutnya.. “Sudah bisa berjalan mba? Loh belum bisa? 3 hari harus sudah pulang loh..” Kata bidan. 

Aku melongo. Baru saja tertatih-tatih belajar berdiri. 😅

Alhamdulillah tepat 72 jam pasca operasi, aku sudah bisa berjalan sambil menggendong bayi. Kemudian berjalan menuju ruang bayi sendiri. 

Sontak si Bidan menegur, “Loh mba.. Bayinya jangan dibawa sendiri.. “

Aku langsung cengengesan. Dari kemarin berasa level lambat mulu sih. Kan ditinggiin satu level salah juga.. 🤣

Intinya, jangan takut bergerak pasca operasi ya. Harus sabar dengan petuah dokter dan bidan. Mereka melakukan itu supaya kita lekas sembuh loh. 

3. Tidak Malu Minta Tolong Pada Suami

Walau sudah memiliki ART, tapi jangan jaim minta tolong pada suami. Terutama di malam hari. 

Iya, jadi ART ku hanya bekerja dari pagi sampai siang saja. Malam harinya tetep begadang dong dengan bayi. 

Ada kalanya lelah bolak balik mengganti popok bayi yang selalu bentar-bentar pup. Tapi sesekali minta tolong suami tidak ada salahnya loh. Ini kan anak berdua, bukan anak emaknya doang.. Kan? 

Selain minta tolong di malam hari, aku juga minta tolong pada suami untuk mengeramasi rambutku 3 hari sekali. Karena aku masih tidak diperbolehkan untuk mandi. Waw, ini benar-benar menolong sekali loh. 

4. Rutin Konsultasi ke Dokter

Tiga hari pasca pulang dari RS, aku konsultasi jahitan ke dokter. Begitu pula seminggu kemudian. Lalu seminggu berikutnya lagi. 

Menurutku, rutin konsultasi ke dokter sangat penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesembuhan luka. Apakah sudah mengering dengan baik? Apakah ada yang bernanah dan sebagainya? 

Karena ada loh kasus.. Karena sudah merasa lukanya kering dan tidak sakit lagi, dia melepas plesternya sendiri dan mandi. Akibatnya, lukanya basah dan semakin parah. Malah harus operasi ulang. 

Adapula kasus lainnya, yang malas konsultasi ke dokter dan memilih hanya mengandalkan jamu saja dan meninggalkan obat dokter. Ikut petuah mertua yang harus rajin di rumah dsb. Akhirnya jahitannya bernanah. 

Berkonsultasilah pada yang Ahli ya.. Bukan hanya dengan yang berpengalaman saja. Apalagi dengan seseorang yang tidak punya pengalaman operasi cesar. 

5. Rutin Minum Obat

“Apakah harus mengkonsumsi obat khusus supaya bekas luka cepat sembuh?

“Apakah obatnya mahal?”

“Perlu minum jamu gak?”

Pertanyaan ini juga sering masuk di DM instagramku. 

Well, sebenarnya koentji dari kesembuhan itu adalah disiplin dan patuh. Itu aja. 

Jujur saja aku hanya mengkonsumsi obat dari BPJS. Tidak memakai obat mahal lainnya. Menurutku, dari pada fokus memilih obat mahal.. Lebih baik uangnya untuk biaya aqiqah atau perpanjangan ART. *mamak ngirit 😅

Apakah obat BPJS efektif? 

So far, efektif saja sih. Bahkan saat operasi anak kedua ini aku sama sekali tidak mengkonsumsi obat diluar obat BPJS. Malah sembuhnya lebih cepat dibanding anak pertama dulu. Padahal ketika anak pertama kemarin aku beli obat paten yang sedikit mahal. Mungkin karena saking paranoidnya sama kata-kata orang. 

Nyatanya, dengan bermodal keyakinan dan sedikit percaya diri saat melahirkan anak kedua.. Proses kesembuhan justru lebih cepat. Kuncinya asal DISIPLIN MINUM OBAT dan PATUH sama petuah Dokter. 

“Tapi mertuaku bilang gak perlu obat bla bla.. Asal minum jamu bla bla.. “

Di ‘Iya’ in aja mertuanya. Namanya juga orang tua. Begitulah sifatnya. 

White lies pada mertua itu gak papa banget loh. Itu namanya adab. Tapi ingat, demi kesembuhan tetaplah patuh pada aturan dokter. 

Aku sendiri juga tetap minum jamu yang diberikan mertua. Asal kandungan bahannya aman-aman saja ya kenapa takut untuk mengkonsumsinya? Yang penting, jangan lupa minum obat sesuai dengan resep dokter. Walau obat BPJS saja sekalipun.. Asal disiplin dan yakin Insya Allah bisa sembuh. 

6. Tidak Memakai Plester Anti Air untuk Luka Cesar

“Dok, saya mau mandi sebelum pulang ke rumah. Boleh minta ganti plester luka cesarnya dengan plester anti air? Supaya saya bisa mandi?”

Itulah ucapanku kepada dokter 4 jam sebelum pulang. Dan beginilah jawaban dokter tersebut

“Sebaiknya jangan diganti dengan plester anti air mba. Perban biasa begini lebih bagus. Luka lebih cepat mengering. Disamping itu, dengan memakai plester anti air kadang banyak yang lengah dengan mandi. Plester anti air tidak menjamin 100% air tidak bisa masuk loh mba..”

“Jadi, pakai plester biasa aja dok?”

“Iya, tiap konsultasi baru diganti.. “

“Diganti dengan anti air dok?”

“Kita liat nanti ya.. “

“Jadi saya belum boleh mandi?”

“Belum boleh.. “

Doenkk.. 

Tapi aku memilih patuh pada dokter. Aku tidak memakai plester anti air dan.. Tidak mandi. 

7. Rela Tidak Mandi 2 Minggu

Berapa lama aku tidak mandi? 

2 minggu.. Bayangkan..! Hahahahha..

Kok bisa selama itu? 

Ya, begini ceritanya.. 

Tiga hari pasca pulang ke rumah, aku berkonsultasi ke dokter untuk memeriksa jahitanku. Perban jahitanku diganti. Iya, cuma diganti doang dengan perban biasa. Kemudian dibilang bekas jahitanku perkembangannya bagus dan belum boleh mandi. Itu saja. 

Tujuh hari sesudah itu, aku ke dokter lagi. Dokter bilang jahitanku bagus. Tidak bernanah dan sudah mulai mengering. Tersenyumlah aku berharap dokter mau mengganti perbanku dengan plester anti air agar aku bisa mandi. Namun kemudian dokter berkata, “Kalau bisa jangan dulu deh mba. Perban biasa aja ya.. “

Duh, ingin rasanya dokternya kusogok memakai duit agar mau mengganti perbanku. Tapi aku hanya senyum cengengesan sambil membatin.. “Gusti.. Kapan aku boleh mandi?”

Tiga hari kemudian aku konsultasi ke dokter lagi. Ya ampun, sudah gatal luar biasa badanku. 

“Jahitannya sudah kering sempurna mba. Ini bagus.. “

“Boleh mandi dok? Mandi tanpa perban?”

“Sudah boleh mba.. “

Yuhuu.. Ingin rasanya aku meloncat tinggi keatas saat itu. Hahaha. Akhirnya bisa mandi dengan normal lagi. 

Yup, 2 minggu aku tidak bisa mandi dengan normal. Aku hanya membilas kaki dan tanganku 2 hari sekali. Kemudian minta tolong suami untuk mengeramasi rambutku 3 hari sekali. Untuk badanku aku hanya berani menyekanya saja dengan air hangat dan kain. Sungguh aku ingin sekali bisa mandi secara normal. 

Pernah suatu malam aku menangis karena merasa badanku gatal sekali. Sungguh menyeka badan saja rasanya tidak cukup. Aku butuh sabun dan air segar untuk membilas. Semalaman aku tidak bisa tidur karena keringat yang tidak nyaman. Perban di luka cesar pun rasanya gatal sekali. Hiks

Tapi syukurlah sabar itu terjawab. Luka cesarku pulih dengan sempurna. Bahkan sampai sekarang tidak pernah cenat cenut. Aku merasa cesar yang kedua ini lebih cepat proses sembuhnya dibanding dengan yang pertama. 

8. Makan Halal dan Rajin Berdoa

“Apa mba mengkonsumsi obat cina? Yang mahal itu mba?”

Jujur, aku sempat ingin membeli obat cina yang kekinian di kalangan emak-emak cesar. Aku ingin membelinya sebelum operasi. 

Tapi, aku langsung mengurungkan diri ketika melihat komposisi di dalamnya..

“Beli gak sayang?” Tanyaku pada suami. 

“Jangan deh. Takutnya ngalir ke ASI. Terus ke anak deh..” Kata Suamiku. 

Ya.. Di dalam obat cina itu aku melihat ada beberapa komposisi yang ‘uhuk banget’. Memang khasiatnya terkenal manjur. Iparku bilang sehabis minum langsung berkurang sekali nyerinya. Tapi ketika melihat komposisinya aku jadi bingung. Dan akhirnya, aku tidak jadi beli. Heu. 

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, melihat kondisiku sekarang ini.. Sepertinya ada baiknya juga aku tidak mengkonsumsi obat cina tsb. Dengan bermodal obat BPJS dan disiplin saja bisa sembuh total kok. Malah mungkin karena patuh pada suami untuk selalu mengkonsumsi yang halal.. Maka bekas luka sama sekali tidak ada keluhan. 

Jadi, tidak pernah ada salahnya menempuh jalan Halal. Meskipun aku juga tidak menyalahkan loh bagi yang ingin mengkonsumsi Obat Cina dsb. Karena proses penyembuhan orang kan berbeda-beda. Disini aku hanya menekankan, kalau tidak terpaksa banget lebih baik tidak usah beli obat yang macam-macam. Apalagi kalau obatnya tidak halal. 

Dan, jangan lupa untuk banyak berdoa juga. Selain itu, banyakkah berbuat baik agar orang lain juga turut mendoakan kita. 

9. Banyak Istirahat

Tips selanjutnya dariku adalah perbanyaklah istirahat terutama pada bulan pertama pasca melahirkan cesar. 

Melahirkan itu capek loh. Mau normal kek. Mau cesar kek. Capek karena kondisi bayi lagi labil-labilnya. 

Yang mana tiap malam ngajak begadang. Dikit-dikit nangis. Dikit-dikit pup. Dikit-diin minta gendong melulu. Makanya, kalau bayi bobok.. Kitanya bobok juga. 

Kerjaan rumah gimana? Nah, makanya aku cerita di awal kalau aku lebih baik giat nabung demi punya ART dari pada ujung-ujungnya kecapean terus jahitan bermasalah. Malah lebih banyak keluar duit juga kan? 

Terbukti banget loh dengan banyak istirahat maka bekas luka juga cepat sembuh. Asal jangan seharian aja diatas kasur. Salah juga begitu woy.. Hihi.. 

Intinya bergerak sewajarnya saja. Jangan terlalu capek dan juga jangan lupa perbanyaklah cemilan sehat di rumah. 

10. Jaga Kewarasan

Ngaruh gak sih kewarasan dengan menyembuhkan luka cesar? 

Ngaruh banget sih buat aku. Haha. 

Soalnya dulu aku kan pernah kena baby blues pas anak pertama. Terus pernah saking ‘enggak warasnya’ aku marah-marah sambil angkat kasur. Padahal itu 2 minggu pasca operasi. Mana kasurnya versi gede pula yang 120×180. Alhasil jahitan langsung sakit. Wkwk.. 

Kalau bisa nih.. Pasca melahirkan itu enggak usah banyak menerima tamu. Apalagi kalau kitanya agak sensian. Kek aku nih. Kalau habis melahirkan entah ada hormon apa itu.. Enggak bisa denger orang ‘ngasih nasihat’ pikiranku mesti agak negatif. 

Jadi penting banget menjaga kewarasan dengan mengurangi gangguan-gangguan silaturahmi dari luar. Itu cara waras versi aku ya. Cara waras versi kalian mungkin berbeda. 

***

Nah, itu dia 10 hal yang aku lakukan untuk menyembuhkan bekas luka pasca cesar. Jujur, cesar kedua ini lebih nyaman dan rileks. Saking nyamannya, 40 hari pasca operasi aku berani naik motor bawa bayi. Ya ampun, jangan ditiru sih. Ini pas kepepet aja kemarin. 

Tapi serius, sampai sekarang lukanya benar-benar biasa aja. Enggak ada cenat cenut atau apalah itu.

Mungkin juga ya gara-gara 2 minggu enggak mandi itu.. Wkwkkwk.. 

Punya pengalaman juga untuk nyembuhin luka cesar? Sharing denganku yuk! 

Kenapa Teori Konspirasi Covid 19 Bisa Tumbuh Subur di Indonesia?

Kenapa Teori Konspirasi Covid 19 Bisa Tumbuh Subur di Indonesia?

“Covid? Bull*hit lah.. Semua yang masuk rumah sakit dibilang covid semua..”

“Udah 3 bulan ini aku aktivitas normal. No masker. No jaga jarak. No cuci tangan. Liat deh, aku sehat-sehat aja.. “

“Masker adalah simbol berbudakan”

“F*ck WHO.. Jangan mau dibodohin Elite Global.. “

“Target utama covid 19 ini adalah melumpuhkan ekonomi negara-negara di dunia. Kita jangan terpengaruh. Harus dilawan!”

Ya ya.. Kalimat-kalimat diatas adalah hal yang paling sering aku dengar di media sosial akhir-akhir ini. 

Ada rasa gatal ingin ikut berkomentar dan adu argumentasi. Tapi kalau dipikir ulang dan membaca komentar-komentar yang kontra aku kembali menahan jempolku. Kemudian berpikir, “Percuma..”

Yah, setidaknya aku masih bisa menghindari pengaruh negatif dari media sosial dengan melakukan 4 hal: unfriend, unfollow, hide atau block sekalian. 

Tapi, jika teori konspirasi ini mulai berkembang kedunia nyata disekitarku.. Bahkan meracuni pemikiran orang-orang disekitarku hingga yang berkontak erat denganku.. Maka, aku tidak bisa diam saja. 

Yaaa.. Aku tidak bisa diam saja ketika melihat orang-orang dengan cueknya masuk ke rumahku tanpa memperdulikan protokol kesehatan. Aku juga tidak bisa diam saja ketika melihat salah seorang keluarga bersikeras berpendapat bahwa dokter dan tenaga medis lain menjadikan covid 19 sebagai lahan bisnis. Yah, semua orang punya bom waktu masing-masing bukan? 

Dan hari ini, aku akan belajar menuliskan covid 19 dari 2 sisi. Yaitu dari pandangan yang mempercayai teori konspirasi dan teori kesehatan. 

Benarkah Teori Konspirasi Covid 19? 

Pertama kali aku mengenal teori konspirasi adalah pada grup WAG. Pesan itu tersebar luas dibeberapa grup dan banyak yang mendukungnya. Sebagai ‘anak baik’, aku hanya bisa membaca sambil berdiam diri membaca komentar orang-orang di grup tersebut. Dan yaa.. Sekitar 30% teman-temanku sedikit mempercayai teori konspirasi. 

Jujur, akupun termasuk yang pernah mempertanyakan kebenaran teori ini. 

Tentang benarkah covid ini hanyalah penyakit flu yang diperparah dengan kecemasan berlebihan? 

Apakah benar tes PCR ini tidak akurat? 

Apakah benar ada sesuatu dibalik ini? Ada yang ditutup-tutupi? 

Dan bagaimana bisa Bill Gates hingga Om Mark ikut dikait-kaitkan sebagai ‘Elite Global’ yang menggunakan Covid 19 sebagai lahan bisnis? Bukankah mereka sudah cukup kaya? 

Apakah mereka punya tujuan “Controlling the World?”

Begitu? 

Aku juga pernah dengan seksama memperhatikan video viral dari youtube tentang teori konspirasi tersebut. Dan yaa.. Harus aku akui, narasinya tergolong HEBAT. Saking hebatnya, aku langsung sadar bahwa ini sangat mirip dengan narasi Teori Bumi Datar aka Flat Earth yang pernah booming dahulu. 

Dari situlah aku langsung melupakan racun konspirasi covid. Ayolah, ini konyol. Pikirku. Rakyat indonesia yang peka tidak mungkin langsung menelan mentah-mentah hal seperti ini. 

Dan ternyata, aku salah. 

Sudah sekitar 3 bulan ini aku mengikuti instagram Jrxsid. Hanya sekedar memantau ig storynya. Satu sisi, aku sedikit mengerti pola pikir drummer SID ini. Tapi sisi lainnya.. Ya ampun aku gemes sekali. Bahkan pernah rasanya aku ingin menyumpah-nyumpah. Tapi sudahlah, itu sosial media punya dia. Hak dia mau ngapain. Kalau tidak suka tinggal unfollow. Begitukan aturan bersosial media? 

Eh tapi kok ya enggak aku unfollow?

Simple. Aku pengen reframing lebih jauh tentang pikirannya. Kalau kata seorang Guru, baik jahatnya seseorang itu tergantung dari cara kita memandang. Dan sesungguhnya, kalau kita mau melihat dari berbagai sudut.. Tidak ada orang yang jahat banget atau baik banget. Tapi kalau ada orang yang tidak paham, bukannya harus diluruskan? 

Ya.. Harus diluruskan. 

Karena banyak sekali ternyata orang-orang yang sepemahanan dengan Jerinx ini. BANYAK BANGET. Setuju? 

Tapi semakin aku sering kepo dengan story jrx dsb ini.. Semakin aku sadar bahwa mereka memiliki alasan kenapa bersikeras berpendapat covid hanya konspirasi. Kenapa banyak follower yang mendukung mereka. Itu semua masuk akal jika dijabarkan alasannya. 

8 Hal Penyebab Teori Konspirasi Menyebar Luas Di Indonesia

Yup, setidaknya aku menyimpulkan ada 8 penyebab meluasnya teori konspirasi di indonesia, hal itu antara lain adalah:

1. Terdesaknya Situasi Ekonomi

“Lo sih enak ya bilang DI RUMAH AJA.. DI RUMAH AJA.. Lo kaya. Duit lo segudang. Pikirin nih masyarakat misquen yang duitnya sehari abis dan bingung besok masih bisa makan apa enggak!”

Jleb. Kata-kata itu langsung menusuk hatiku. 

Dan sejak itu, aku tidak pernah lagi mengkampanyekan #dirumahAja di sosial mediaku. Aku lebih sering berfokus pada menggaungkan protokol kesehatan. Terutama untuk mereka yang masih terpaksa bekerja di luar sana. Kupikir, tidak semua orang bernasib beruntung. Dan setidaknya dengan era new normal ini ekonomi akan sedikit memulihkan diri.

Kuharap, dengan menggaungkan protokol kesehatan yang ketat.. Setidaknya aspek kesehatan dan aspek ekonomi jadi seimbang.. 

Akan tetapi.. Tidak lama kemudian setelah New Normal diberlakukan..

“Masker simbol perbudakan.. “

“Maskerlah yang bikin sesak nafas. Bukan virus corona..”

Dan beberapa kafe dibuka. Masyarakatpun mulai tidak peduli lagi dengan social distancing dan memakai masker. Mereka mulai percaya teori konspirasi. Kemudian, muncullah kata-kata ini..

“Lo sih enak di rumah aja gak pake masker. Kami yang harus bekerja diluar.. Sesak kalau harus selalu memakai masker. Masker yang bikin corona. Virus corona cuma konspirasi..”

“Lo bayangin dah. Hampir tiap bulan kami para pedagang kena tes masal. Kalau hasilnya reaktif orang sekitar kami pada mengucilkan kami. Dagangan kami gak laku. Bagaimana kami bisa hidup?”

“Tes covid itu sengaja mempositifkan hasilnya. Supaya kami tidak bisa lagi mencari nafkah..”

“Kami lapar. Kami terpuruk. Bukan karena virus corona yang mematikan. Tapi kami dimatikan terlebih dahulu oleh stigma masyarakat. Kami tidak punya pilihan lain selain menganggap corona sebagai konspirasi untuk bisa bertahan hidup”

Masyarakat Kecil

Ekonomi down – Segala Teori Akhirnya Dibenarkan..

Ketika manusia kelaparan. Maka daging tikus yang sudah dimasakpun dianggap enak sekali. Bukankah begitu?

2. Aspek Psikologis Manusia

Well, bukan hanya faktor terpuruknya ekonomi yang menyebabkan teori konspirasi berkembang luas tapi juga faktor psikologis manusia. 

Iya, Banyak kok yang ekonominya menengah keatas tapi juga percaya teori konspirasi. Beberapa teman dan keluargaku mungkin bisa dijadikan contohnya. Mereka tidak dalam kondisi terhimpit ekonomi karena corona. Tapi, suka sekali bersikeras kalau corona hanya ‘mainan tenaga medis’

“Halah, semua yang masuk Rumah Sakit sekarang dibilang covid kok..”

“Konspirasi aja tuh. Alat tes nya memang bikin semuanya positif..”

“Yang meninggal kecelakaan aja dimakamkan gaya covid..”

“Kan tenaga medis dapet insentif lebih kalau ada pasien covid.. “

(Tahan tahan.. Yang punya keluarga tenaga medis pasti panas sekali mendengarnya bukan?) 

Yup, covid seakan dianggap remeh keberadaannya. Seiring meningkat tajam kasusnya, malah semakin sedikit yang takut dengan covid. Dan justru sudah dianggap hampir tidak ada. 

Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa ada 2 tipe manusia ketika dihadapkan pada suatu masalah. Yang pertama, adalah ia yang menganggap masalah itu nyata. Kemudian memecahkan masalahnya dengan langkah yang realistis. 

Tipe yang kedua adalah ia yang mengubah bentuk masalah itu dalam perspektif yang berbeda. Kenapa begitu? Untuk mengurangi kadar kecemasan. Karena setiap manusia itu unik, ada yang memiliki tingkat kecemasan yang berlebihan dan berbahaya jika tidak dikurangi. Maka, ia lebih memilih untuk melupakan bahkan membenarkan teori yang lebih nyaman di pikirannya. 

Dan teori konspirasi membuat pikiran ‘beberapa’ manusia lebih rileks dalam menghadapi pandemi. 

Hal ini baik jika tidak merugikan orang lain tentunya. Masalahhya, teori konspirasi sangat merugikan beberapa pihak. Bukankah begitu? 

3. Rumitnya Mengenali Tingkah Polah ‘Si Virus Baru’

Jujur, baru kali ini sepertinya dalam sejarah hidupku sekolah dibubarkan sedemikian lamanya. 

Dan baru kali ini dunia dibuat pusing dengan peraturan WHO yang berubah-ubah. 

Masih ingat ketika awal pandemi terjadi? Sekitar bulan Februari di negara tetangga dan resmi di indonesia ketika bulan Maret. Banyak peraturan dan prosedur baru yang berubah-ubah. 

Awalnya, Para Dokter dan Pakar Kesehatan serta tentunya juga WHO menganjurkan hanya yang sakit saja yang memakai masker. Beberapa waktu kemudian, semua orang diwajibkan memakai masker karena dikhawatirkan carrier tanpa gejala bisa menularkan dropletnya hanya dari bernafas dan berbicara. 

Peraturan kesembuhan untuk pasien covid pun berubah-ubah. Dari yang awalnya harus melalui 2x tes negatif hingga akhirnya pasien dinyatakan sembuh jika sudah tanpa gejala dalam waktu 14 hari. Karena virus Covid 19 diyakini tidak infeksius jika sudah 14 hari walaupun tesnya masih positif. 

Saat membaca peraturan baru tersebut, jujur saja pikiran luguku mulai bermain. 

Jadi, apakah OTG selama ini bukan carrier yang infeksius? Bukankah pasien dinyatakan sembuh walau masih terdiagnosa positif? Bagaimana kalau ternyata aku sendiri pernah terpapar dan virusnya masih ada namun tidak infeksius? Ah entahlah.. 

Yang jelas INI VIRUS BARU dan sebagai masyarakat awam, patuhi saja protokol kesehatan yang ada. 

Tapi tidak semua orang berpikir sama sepertiku. Ada yang sudah mulai melonggarkan kewaspadaan mereka, lalu berpikir apakah virus ini sejatinya memang tidak ada? 

Karena virus ini memiliki seribu wajah. Kan aneh sekali? Ada yang diare saja, ternyata positif covid. Ada pula yang tidak demam dan sesak nafas, hanya tidak selera makan.. Ternyata positif covid. 

Sifat virus baru yang sungguh rumit ini akhirnya membuat beberapa orang percaya dengan teori konspirasi. 

4. Prosedur Kewaspadaan Rumah Sakit yang Tidak Bisa Dipahami Semua Orang

“Ya ampun masa menolong orang kecelakaan aja tim medis pakai hazmat suit.. Pasti dianggap corona tuh.. “

“Pokoknya jangan berani-berani ke Rumah Sakit pas masa pandemi gini. Nanti kamu di diagnosa corona.. “

Well, padahal kenyataannya.. Prosedur pelayanan masyarakat saat pandemi ini memang harus demikian. 

Tenaga medis harus selalu waspada. Karena setiap pasien bergejala maupun tidak akan berpotensi menularkannya kepada tenaga medis. Bukankah mereka adalah pahlawan garda terdepan dalam pandemi ini?

Sudah tau bahwa korban Tenaga Medis yang meninggal karena Covid 19 di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia? Kenapa sampai terjadi hal ini? 

Karena pada awal pandemi, tenaga medis kekurangan APD.

Pada awal pandemi corona, tenaga medis juga tidak sewaspada sekarang. Sehingga banyak dari mereka yang terpapar hingga meninggal dunia. Karena itu, mereka belajar dari kejadian terdahulu bahwa dalam masa pandemi ini APD lengkap adalah hal yang wajib. 

Sayangnya banyak masyarakat yang takut dengan tenaga medis yang memberlakukan mereka seperti pasien covid. Takut mengeluh bergejala kalau saja langsung didiagnosa covid 19. Apalagi kalau tiba-tiba meninggal dan harus melalui prosedur pemakaman covid. Banyak masyarakat yang tidak terima kemudian membenarkan teori konspirasi. 

Sepertinya, aku sudah sangat sering membahas hal ini di ig story hingga status WA. Banyak sekali masyarakat yang gagal paham dengan prosedur kewaspadaan yang diterapkan di rumah sakit. Dimulai dengan segala prosedur harus melalui tes hingga kebijakan tes masal dimana-mana.

Hal ini juga menciptakan konflik serius antara masyarakat dan tenaga medis. Tidak jarang aku melihat berita tentang tenaga medis yang dipukul oleh orang yang anggota keluarganya berstatus PDP sehingga terpaksa dimakamkan secara covid, hal ini karena hasil tes yang belum keluar. 

Aku harap, banyak masyarakat yang mengedukasi dirinya sebelum menghakimi para tenaga medis. Belajar dan terus belajar dengan reframing. Jika tenaga medis sedemikian jahatnya.. Mengapa banyak dokter dan perawat yang berguguran ditengah pandemi ini?

5. Dorongan Bersosialisasi secara Normal

Manusia itu makhluk sosial. Seintrovert apapun manusia, mereka butuh berinteraksi secara nyata dengan orang lain. 

Yah, akhirnya aku menyadari hal ini selama di rumah saja. Seintrovert apapun diriku, aku butuh berkumpul dengan teman yang satu passion denganku. Berkumpul secara nyata. Bukan hanya lewat online. 

Tapi aku tetap sabar menahan semuanya. Walaupun sudah era new normal. Terkadang merasa sangat bersyukur karena sudah memiliki keluarga dimana masih bisa tertawa bersama. Terbayang kalau aku sendiri masih single, bekerja diperantauan dan ngekos atau ngontrak rumah sendirian? How lonely! 

*eh kok jadi curhat. 

Yah, serius. Faktor dorongan bersosialisasi secara normal ini juga sangat mempengaruhi seseorang untuk percaya pada teori konspirasi. Apalagi jika kita berada di lingkungan sosial yang cuek bebek pada protokol kesehatan. Cepat atau lambat akhirnya dorongan sosial itu mempengaruhi pola pikir kita. 

6. Kurangnya Literasi

Well, ini related banget sama nomor 4. 

Yup, masyarakat kita itu banyak yang malas baca. Hobi nonton youtube dengan tayangan yang oke sama nalarnya aja. Makanya teori konspirasi sukses besar dalam penyebarannya di grup WA keluarga. Masyarakat indonesia lebih suka scroll sosial media dibanding baca. Lebih suka melihat aktivitas artis panutannya dibanding berguru yang benar. Laaah.. Yang diliat cuma sekelas jerinx doang.. 😅

Padahal kunci untuk melawan teori konspirasi itu simple loh. Banyakin baca. Berguru pada YANG AHLI. 

Covid 19 ini nyata, bukan halusinasi. Nyata secara penelitian, sudah jelas banyak yang tertular. Yang mati random. Gak cuma yang punya penyakit bawaan tapi juga yang sehat bugar. Tapi selalu saja ditolak kenyataannya hanya berdasarkan teori yang tidak jelas kebenarannya. 

Banyaklah belajar. Percayailah teori dari orang-orang yang valid keilmuannya. 

Dari Covid 19 aku banyak belajar, bahwa yang kita lawan bukan hanya virus.. Tapi kebodohan. 

7. Aturan Pemerintah yang Labil

Boleh gak ya nulis beginian? 

Boleh aja deh ya. Ini kan blog aku. Opini aku. Suka-suka. Haha

Jujur ya aku sedikit kecewa dengan lambatnya penanganan covid 19 di indonesia. Bahkan, pemerintah sempat menganggap remeh virus ini dengan membiarkan semua negara memiliki akses masuk ke Indonesia ditengah pandemi corona. Alasannya, covid 19 tidak mengerikan dan cuaca indonesia yang tropis bisa menangkalnya. Apalagi penduduk indonesia rajin minum jamu.. *eh.

Akibatnya, banyak sekali yang masih menggaris bawahi pernyataan pemerintah ini sampai sekarang. Menganggap bahwa covid 19 ini penyakit biasa saja. Bahkan, aku sepertinya sudah hampir 5x menonton video menkes di igs jrx tentang memakai masker untuk yang sakit saja. Padahal, video itu masa ketika awal covid melanda. Dan masih banyak pernyataan petinggi lainnya yang dijadikan acuan bagi masyarakat untuk menggampangkan virus ini. 

Belum lagi cerita tentang mudik vs pulang kampung. 😅

PSBB dilonggarkan, era new normal. Kupikir akan membuat masyarakat sedikit semangat untuk memperbaiki ekonomi dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Ternyata? Aku salah. Himbauan pemerintah seakan diabaikan. Sebagian dari mereka masih saja percaya dengan statement awal pemerintah.

8. Berita Media yang Terlalu Banyak Menebar Ketakutan

Apakah dengan banyaknya berita ketakutan masyarakat akan lebih mentaati protokol kesehatan? 

Ternyata tidak, menurutku yang selama ini selalu kepo dengan ig story Jrx.. Media yang menebar ketakutan ini justru menjadi senjata bagi kaum pemercaya konspirasi untuk menggaungkan betapa hoax nya WHO dsb. 

Bahkan, akhir-akhir ini aku kembali kepo dengan akun @duniamanji atau anji yang sedang ramai diperbincangkan karena sempat mengunggah foto pasien covid meninggal yang dibungkus plastik lengkap dengan captionnya. 

Pada caption akhir Anji mengungkapkan

 “Saya percaya cvd (Covid-19) itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil.”

Sontak Anji langsung diserang oleh para netizen karena dianggap menyepelekan covid dan mempercayai teori konspirasi. 

Well, aku lalu memperhatikan feed ig duniamanji. Menurutku sendiri, Anji ini bukan orang yang percaya teori konspirasi layaknya Jrx. Anji bahkan masih taat pada protokol kesehatan.

Adapun soal kata-kata Anji yang berkata bahwa Covid tidak semengerikan itu.. Kurasa kata-kata ini masih bisa ditoleransi. Apalagi Anji bukanlah tenaga ahli dalam hal ini. I mean.. Masih ingatkah kalian bahwa pada awal pandemi covid 19 ini.. Banyak para dokter yang juga mengatakan hal serupa dengan Anji. Itu Dokter loh. Dan tentu saja sekarang hampir tidak ada lagi dokter yang berkata demikian saat melihat kenyataannya.

Kepo dengan akun ig @duniamanji dan membandingkannya dengan akun @jrxsid.. Aku merasa si Anji ini tidak ada apa-apanya dibanding jerinx. Anji hanya menekankan pada media yang selalu membawa berita ketakutan. Aku tidak menemukan Anji yang bilang, “Jangan pakai masker, masker simbol perbudakan, covid konspirasi dsb.. ”

Apakah ada? Cmiiw ya.. Soalnya akupun baru-baru saja kepo dengan akun ig Anji ini. 

Kulihat Anji hanya tidak memakai masker dalam keadaan sunyi. Ia tidak menganjurkan memakai masker ketika berolah raga. Well, apa sih salahnya? Aku sendiri juga tidak pakai masker ketika berolah raga di depan rumah. Asal dalam keadaan sunyi. 

Dalam inti caption pada feed @duniamanji, Anji hanya menegaskan bahwa media terlalu ekstrem dalam menghujani masyarakat dengan berita ketakutan (cmiiw yaa). Dan terus terang, aku setuju. Berita ketakutan hanya akan membuat sebagian masyarakat melawan, bukan semakin takut dan taat pada protokol kesehatan. 

Oke, covid ini penyakit mengerikan. Aku setuju. Tapi please jangan terus menghujani masyarakat dengan berita negatif saja wahai media. Aku sangat setuju hal ini. Sejak melihat video dari Project Nighfall dan Prince Ea, aku sudah meredam sedikit ketakutanku dan menyisakannya untuk kewaspadaan. Tidak lagi bersikap paranoid berlebihan. 

Well, masyarakat pun perlu KESEIMBANGAN. 

Please tolong juga sampaikan bahwa banyak pasien covid 19 yang sembuh. 

Please tolong juga sampaikan tentang perkembangan vaksin dunia. Tentang inovasi obat untuk covid 19 yang telah dicoba dan berhasil. 

Please tolong juga beritakan tentang banyaknya pasien dengan penyakit bawaan yang sembuh. 

Masyarakat butuh itu untuk menyeimbangkan diri dengan berita negatif. Agar jiwanya tidak merasa takut berlebihan lalu mencari pelarian dengan membenarkan teori konspirasi. 

Dan please, untuk teman-teman yang memiliki pengaruh di sosial media. Yang memiliki ratusan like hingga engagement yang tinggi.. Mari mulai seimbangkan berita positif dan negatif. Tunjukkan fakta pahit dan manis. Agar covid 19 tak lagi dianggap main-main. Agar masyarakat waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Tidak cemas dan stress lalu berhalu-halu ria dengan teori konspirasi.

Yuk, Tidak Pernah Ada Salahnya Waspada dengan Memakai Masker dan Terus Mentaati Protokol Kesehatan

Kepo dengan ig jrx hingga duniamanji mengajarkanku untuk bisa reframing dengan sudut pola pikir manusia lainnya. Mereka membuatku sadar untuk bisa mengerti keadaan sudut dunia yang lain. Untuk itu, walau sedikit merasa gemes.. Tentu aku berterima kasih. Paling tidak aku bisa menulis dari tuangan ekspresi mereka. 

Dan yaa.. Bagaimanapun juga kita tidak bisa memaksakan pendapat semua orang untuk sesuai denganku. Tulisanku ini hanya sekedar sebuah insight berbeda dari diriku yang awalnya selalu berkata #dirumahsaja.

Didunia ini, setidaknya ada 4 golongan berbeda dalam memahami covid 19.

Dan penganut teori konspirasi adalah mereka yang berada pada golongan 3 dan 4. Entah tekanan psikologis, kurangnya literasi atau ekonomi yang membuat mereka membenarkan teori itu. Tapi bagaimanapun juga.. Please, tidak ada salahnya kok waspada dengan memakai masker. 

Aku tahu daya tahan tubuh kalian yang menganut teori konspirasi mungkin diatas rata-rata. Mungkin juga beberapa dari kalian adalah manusia super saiya. Sehingga para dokter pun tak berani menerima tantangan Jrx. 

Tapi, virus ini nyatanya bukanlah sebuah konspirasi. Korbannya sudah banyak. Bahkan orang sehat sekalipun bisa meninggal dibuatnya. Tolong, berempatikah sedikit. Aku tau kalian tidak punya rasa takut. Kalian kuat. Bersinar. Tapi tolong.. Berempatilah. 

Aku tau kalian sudah banyak menyumbang untuk masyarakat miskin. Kalian menciptakan semangat dan produktivitas dengan cara yang lain. Tapi tolong, berempatilah pada sudut yang lain. 

Terakhir, izin memuat kuotenya ya Bang Tere Liye. 

IBX598B146B8E64A