Browsed by
Category: Kesehatan

Mengulas informasi kesehatan dari pengalaman penulis

10 Hal yang Aku Lakukan Agar Luka Operasi Cesar Lekas Sembuh

10 Hal yang Aku Lakukan Agar Luka Operasi Cesar Lekas Sembuh

“Gimana caranya mba supaya bisa cepet sembuh luka bekas cesarnya?”

“Mba kemarin minum obat apa aja?”

“Apa benar obat dari BPJS kurang efektif?”

“Apa jahitan bisa bernanah ya mba? Kok jahitanku jadi basah gini?”

Itulah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan pembaca blog kepadaku ketika aku curhat tentang operasi cesar dengan BPJS di blog. 

Awalnya, aku mencoba menjawab dengan membalas DM dan WA saja. Tapi, baru-baru ini salah seorang sahabatku juga menanyakan hal yang sama. Hmm, kupikir mungkin ada gunanya jika aku tulis di blog saja ya. 

Dan berikut ini adalah beberapa hal yang aku lakukan agar bekas luka cesar lekas sembuh. 

1. Nabung Buat Punya ART Sejak Hamil

Yup, menyembuhkan bekas cesar bukan cuma perkara sesudah cesar saja. Tapi tentang mempersiapkan segalanya sejak hamil, terutama tercukupinya finansial untuk menjaga kondisi fisik maupun psikologis.

Belajar dari pengalaman anak pertama dahulu yang mana lahirnya juga cesar, maka aku sadar sekali kalau sangat penting menjaga diriku sendiri agar tidak kelelahan pasca operasi. Maka, sejak hamil aku sudah rutin menabung khusus untuk keperluan memiliki ART selama 3 bulan. Aku menabung dari hasil job ngeblog dan instagram. Semuanya pure tidak dipakai demi memiliki ART. Karena aku sadar suamiku sangat sibuk dan tidak bisa membantu banyak. 

Dengan memiliki ART paling tidak aku menjadi sangat terbantu sehingga bisa lebih banyak beristirahat. Bulan pertama pasca cesar adalah masa krusial, sangat penting untuk memiliki seseorang yang bisa membantu.

Memang kondisi finansial orang tentunya berbeda, bagi sebagian yang lain mungkin bisa meminta bantuan suami atau keluarga lainnya untuk pekerjaan rumah tangga. Tapi yakinkan diri kalau bulan pertama pasca cesar paling tidak jangan kelelahan. Yakinkan ada yang menolong diri kita. Jangan mengerjakan semuanya serba sendiri. Dan persiapkan hal itu sebelum melahirkan ya. 

2. Berani Melawan Rasa Sakit

Yang kedua adalah beranilah melawan rasa sakit itu. 

Pasca operasi cesar pasti sangat tidak nyaman. Rasa perih dan sakit bekas sayatan di perut tentu sangat mengganggu. Apalagi jika sehabis Cesar kita langsung full menyusui bayi. Rasanya? Duh.. Luar biasa. Tapi jangan salah, justru dengan menyusui bayi.. luka cesar dapat lekas sembuh. Jadi yang pertama, jangan takut menyusui bayi pasca cesar ya.

Hari pertama pasca operasi dokter menyuruhku untuk jangan miring. Bayangkan betapa sulitnya aku menyusui bayi. Hiks. 

Hari kedua, pasca 12 jam sehabis operasi.. Badanku sudah diperbolehkan miring. Dan 12 jam berikutnya aku sudah disuruh untuk latihan duduk. Rasanya? Duh duh.. 

Tapi bagaimanapun juga harus berani. Kalau tidak, rasa sakit itu akan betah menempel kalau kita takut untuk bergerak. Justru dengan bergerak perlahan kita dapat sembuh. 

Dan entah karena aku operasinya dengan BPJS atau apa ya.. Aku merasa seperti disuruh cepat-cepat sembuh.. Wkwk..

Kalau aku mengeluh ‘masih tidak bisa duduk’. Para bidan dan perawat sontak mengomeliku. Ketika aku menyusui sambil rebahan, mereka juga memarahiku sambil berkata, “Menyusui jangan sambil rebahan nanti bayinya tersedak!”

(Duh sabar.. Baru juga 36 jam pasca operasi denk, sudah disuruh duduk melulu.. dalem hati aku.. Hahaha) 

Tapi begitulah, harus kuat dan berani dengan rasa sakit. 48 jam pasca operasi aku sudah bisa duduk dengan benar. Dan saat itu pula bidan dan perawat menyuruhku untuk segera latihan berdiri. 

Lalu, 6 jam berikutnya.. “Sudah bisa berjalan mba? Loh belum bisa? 3 hari harus sudah pulang loh..” Kata bidan. 

Aku melongo. Baru saja tertatih-tatih belajar berdiri. 😅

Alhamdulillah tepat 72 jam pasca operasi, aku sudah bisa berjalan sambil menggendong bayi. Kemudian berjalan menuju ruang bayi sendiri. 

Sontak si Bidan menegur, “Loh mba.. Bayinya jangan dibawa sendiri.. “

Aku langsung cengengesan. Dari kemarin berasa level lambat mulu sih. Kan ditinggiin satu level salah juga.. 🤣

Intinya, jangan takut bergerak pasca operasi ya. Harus sabar dengan petuah dokter dan bidan. Mereka melakukan itu supaya kita lekas sembuh loh. 

3. Tidak Malu Minta Tolong Pada Suami

Walau sudah memiliki ART, tapi jangan jaim minta tolong pada suami. Terutama di malam hari. 

Iya, jadi ART ku hanya bekerja dari pagi sampai siang saja. Malam harinya tetep begadang dong dengan bayi. 

Ada kalanya lelah bolak balik mengganti popok bayi yang selalu bentar-bentar pup. Tapi sesekali minta tolong suami tidak ada salahnya loh. Ini kan anak berdua, bukan anak emaknya doang.. Kan? 

Selain minta tolong di malam hari, aku juga minta tolong pada suami untuk mengeramasi rambutku 3 hari sekali. Karena aku masih tidak diperbolehkan untuk mandi. Waw, ini benar-benar menolong sekali loh. 

4. Rutin Konsultasi ke Dokter

Tiga hari pasca pulang dari RS, aku konsultasi jahitan ke dokter. Begitu pula seminggu kemudian. Lalu seminggu berikutnya lagi. 

Menurutku, rutin konsultasi ke dokter sangat penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesembuhan luka. Apakah sudah mengering dengan baik? Apakah ada yang bernanah dan sebagainya? 

Karena ada loh kasus.. Karena sudah merasa lukanya kering dan tidak sakit lagi, dia melepas plesternya sendiri dan mandi. Akibatnya, lukanya basah dan semakin parah. Malah harus operasi ulang. 

Adapula kasus lainnya, yang malas konsultasi ke dokter dan memilih hanya mengandalkan jamu saja dan meninggalkan obat dokter. Ikut petuah mertua yang harus rajin di rumah dsb. Akhirnya jahitannya bernanah. 

Berkonsultasilah pada yang Ahli ya.. Bukan hanya dengan yang berpengalaman saja. Apalagi dengan seseorang yang tidak punya pengalaman operasi cesar. 

5. Rutin Minum Obat

“Apakah harus mengkonsumsi obat khusus supaya bekas luka cepat sembuh?

“Apakah obatnya mahal?”

“Perlu minum jamu gak?”

Pertanyaan ini juga sering masuk di DM instagramku. 

Well, sebenarnya koentji dari kesembuhan itu adalah disiplin dan patuh. Itu aja. 

Jujur saja aku hanya mengkonsumsi obat dari BPJS. Tidak memakai obat mahal lainnya. Menurutku, dari pada fokus memilih obat mahal.. Lebih baik uangnya untuk biaya aqiqah atau perpanjangan ART. *mamak ngirit 😅

Apakah obat BPJS efektif? 

So far, efektif saja sih. Bahkan saat operasi anak kedua ini aku sama sekali tidak mengkonsumsi obat diluar obat BPJS. Malah sembuhnya lebih cepat dibanding anak pertama dulu. Padahal ketika anak pertama kemarin aku beli obat paten yang sedikit mahal. Mungkin karena saking paranoidnya sama kata-kata orang. 

Nyatanya, dengan bermodal keyakinan dan sedikit percaya diri saat melahirkan anak kedua.. Proses kesembuhan justru lebih cepat. Kuncinya asal DISIPLIN MINUM OBAT dan PATUH sama petuah Dokter. 

“Tapi mertuaku bilang gak perlu obat bla bla.. Asal minum jamu bla bla.. “

Di ‘Iya’ in aja mertuanya. Namanya juga orang tua. Begitulah sifatnya. 

White lies pada mertua itu gak papa banget loh. Itu namanya adab. Tapi ingat, demi kesembuhan tetaplah patuh pada aturan dokter. 

Aku sendiri juga tetap minum jamu yang diberikan mertua. Asal kandungan bahannya aman-aman saja ya kenapa takut untuk mengkonsumsinya? Yang penting, jangan lupa minum obat sesuai dengan resep dokter. Walau obat BPJS saja sekalipun.. Asal disiplin dan yakin Insya Allah bisa sembuh. 

6. Tidak Memakai Plester Anti Air untuk Luka Cesar

“Dok, saya mau mandi sebelum pulang ke rumah. Boleh minta ganti plester luka cesarnya dengan plester anti air? Supaya saya bisa mandi?”

Itulah ucapanku kepada dokter 4 jam sebelum pulang. Dan beginilah jawaban dokter tersebut

“Sebaiknya jangan diganti dengan plester anti air mba. Perban biasa begini lebih bagus. Luka lebih cepat mengering. Disamping itu, dengan memakai plester anti air kadang banyak yang lengah dengan mandi. Plester anti air tidak menjamin 100% air tidak bisa masuk loh mba..”

“Jadi, pakai plester biasa aja dok?”

“Iya, tiap konsultasi baru diganti.. “

“Diganti dengan anti air dok?”

“Kita liat nanti ya.. “

“Jadi saya belum boleh mandi?”

“Belum boleh.. “

Doenkk.. 

Tapi aku memilih patuh pada dokter. Aku tidak memakai plester anti air dan.. Tidak mandi. 

7. Rela Tidak Mandi 2 Minggu

Berapa lama aku tidak mandi? 

2 minggu.. Bayangkan..! Hahahahha..

Kok bisa selama itu? 

Ya, begini ceritanya.. 

Tiga hari pasca pulang ke rumah, aku berkonsultasi ke dokter untuk memeriksa jahitanku. Perban jahitanku diganti. Iya, cuma diganti doang dengan perban biasa. Kemudian dibilang bekas jahitanku perkembangannya bagus dan belum boleh mandi. Itu saja. 

Tujuh hari sesudah itu, aku ke dokter lagi. Dokter bilang jahitanku bagus. Tidak bernanah dan sudah mulai mengering. Tersenyumlah aku berharap dokter mau mengganti perbanku dengan plester anti air agar aku bisa mandi. Namun kemudian dokter berkata, “Kalau bisa jangan dulu deh mba. Perban biasa aja ya.. “

Duh, ingin rasanya dokternya kusogok memakai duit agar mau mengganti perbanku. Tapi aku hanya senyum cengengesan sambil membatin.. “Gusti.. Kapan aku boleh mandi?”

Tiga hari kemudian aku konsultasi ke dokter lagi. Ya ampun, sudah gatal luar biasa badanku. 

“Jahitannya sudah kering sempurna mba. Ini bagus.. “

“Boleh mandi dok? Mandi tanpa perban?”

“Sudah boleh mba.. “

Yuhuu.. Ingin rasanya aku meloncat tinggi keatas saat itu. Hahaha. Akhirnya bisa mandi dengan normal lagi. 

Yup, 2 minggu aku tidak bisa mandi dengan normal. Aku hanya membilas kaki dan tanganku 2 hari sekali. Kemudian minta tolong suami untuk mengeramasi rambutku 3 hari sekali. Untuk badanku aku hanya berani menyekanya saja dengan air hangat dan kain. Sungguh aku ingin sekali bisa mandi secara normal. 

Pernah suatu malam aku menangis karena merasa badanku gatal sekali. Sungguh menyeka badan saja rasanya tidak cukup. Aku butuh sabun dan air segar untuk membilas. Semalaman aku tidak bisa tidur karena keringat yang tidak nyaman. Perban di luka cesar pun rasanya gatal sekali. Hiks

Tapi syukurlah sabar itu terjawab. Luka cesarku pulih dengan sempurna. Bahkan sampai sekarang tidak pernah cenat cenut. Aku merasa cesar yang kedua ini lebih cepat proses sembuhnya dibanding dengan yang pertama. 

8. Makan Halal dan Rajin Berdoa

“Apa mba mengkonsumsi obat cina? Yang mahal itu mba?”

Jujur, aku sempat ingin membeli obat cina yang kekinian di kalangan emak-emak cesar. Aku ingin membelinya sebelum operasi. 

Tapi, aku langsung mengurungkan diri ketika melihat komposisi di dalamnya..

“Beli gak sayang?” Tanyaku pada suami. 

“Jangan deh. Takutnya ngalir ke ASI. Terus ke anak deh..” Kata Suamiku. 

Ya.. Di dalam obat cina itu aku melihat ada beberapa komposisi yang ‘uhuk banget’. Memang khasiatnya terkenal manjur. Iparku bilang sehabis minum langsung berkurang sekali nyerinya. Tapi ketika melihat komposisinya aku jadi bingung. Dan akhirnya, aku tidak jadi beli. Heu. 

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, melihat kondisiku sekarang ini.. Sepertinya ada baiknya juga aku tidak mengkonsumsi obat cina tsb. Dengan bermodal obat BPJS dan disiplin saja bisa sembuh total kok. Malah mungkin karena patuh pada suami untuk selalu mengkonsumsi yang halal.. Maka bekas luka sama sekali tidak ada keluhan. 

Jadi, tidak pernah ada salahnya menempuh jalan Halal. Meskipun aku juga tidak menyalahkan loh bagi yang ingin mengkonsumsi Obat Cina dsb. Karena proses penyembuhan orang kan berbeda-beda. Disini aku hanya menekankan, kalau tidak terpaksa banget lebih baik tidak usah beli obat yang macam-macam. Apalagi kalau obatnya tidak halal. 

Dan, jangan lupa untuk banyak berdoa juga. Selain itu, banyakkah berbuat baik agar orang lain juga turut mendoakan kita. 

9. Banyak Istirahat

Tips selanjutnya dariku adalah perbanyaklah istirahat terutama pada bulan pertama pasca melahirkan cesar. 

Melahirkan itu capek loh. Mau normal kek. Mau cesar kek. Capek karena kondisi bayi lagi labil-labilnya. 

Yang mana tiap malam ngajak begadang. Dikit-dikit nangis. Dikit-dikit pup. Dikit-diin minta gendong melulu. Makanya, kalau bayi bobok.. Kitanya bobok juga. 

Kerjaan rumah gimana? Nah, makanya aku cerita di awal kalau aku lebih baik giat nabung demi punya ART dari pada ujung-ujungnya kecapean terus jahitan bermasalah. Malah lebih banyak keluar duit juga kan? 

Terbukti banget loh dengan banyak istirahat maka bekas luka juga cepat sembuh. Asal jangan seharian aja diatas kasur. Salah juga begitu woy.. Hihi.. 

Intinya bergerak sewajarnya saja. Jangan terlalu capek dan juga jangan lupa perbanyaklah cemilan sehat di rumah. 

10. Jaga Kewarasan

Ngaruh gak sih kewarasan dengan menyembuhkan luka cesar? 

Ngaruh banget sih buat aku. Haha. 

Soalnya dulu aku kan pernah kena baby blues pas anak pertama. Terus pernah saking ‘enggak warasnya’ aku marah-marah sambil angkat kasur. Padahal itu 2 minggu pasca operasi. Mana kasurnya versi gede pula yang 120×180. Alhasil jahitan langsung sakit. Wkwk.. 

Kalau bisa nih.. Pasca melahirkan itu enggak usah banyak menerima tamu. Apalagi kalau kitanya agak sensian. Kek aku nih. Kalau habis melahirkan entah ada hormon apa itu.. Enggak bisa denger orang ‘ngasih nasihat’ pikiranku mesti agak negatif. 

Jadi penting banget menjaga kewarasan dengan mengurangi gangguan-gangguan silaturahmi dari luar. Itu cara waras versi aku ya. Cara waras versi kalian mungkin berbeda. 

***

Nah, itu dia 10 hal yang aku lakukan untuk menyembuhkan bekas luka pasca cesar. Jujur, cesar kedua ini lebih nyaman dan rileks. Saking nyamannya, 40 hari pasca operasi aku berani naik motor bawa bayi. Ya ampun, jangan ditiru sih. Ini pas kepepet aja kemarin. 

Tapi serius, sampai sekarang lukanya benar-benar biasa aja. Enggak ada cenat cenut atau apalah itu.

Mungkin juga ya gara-gara 2 minggu enggak mandi itu.. Wkwkkwk.. 

Punya pengalaman juga untuk nyembuhin luka cesar? Sharing denganku yuk! 

Kenapa Teori Konspirasi Covid 19 Bisa Tumbuh Subur di Indonesia?

Kenapa Teori Konspirasi Covid 19 Bisa Tumbuh Subur di Indonesia?

“Covid? Bull*hit lah.. Semua yang masuk rumah sakit dibilang covid semua..”

“Udah 3 bulan ini aku aktivitas normal. No masker. No jaga jarak. No cuci tangan. Liat deh, aku sehat-sehat aja.. “

“Masker adalah simbol berbudakan”

“F*ck WHO.. Jangan mau dibodohin Elite Global.. “

“Target utama covid 19 ini adalah melumpuhkan ekonomi negara-negara di dunia. Kita jangan terpengaruh. Harus dilawan!”

Ya ya.. Kalimat-kalimat diatas adalah hal yang paling sering aku dengar di media sosial akhir-akhir ini. 

Ada rasa gatal ingin ikut berkomentar dan adu argumentasi. Tapi kalau dipikir ulang dan membaca komentar-komentar yang kontra aku kembali menahan jempolku. Kemudian berpikir, “Percuma..”

Yah, setidaknya aku masih bisa menghindari pengaruh negatif dari media sosial dengan melakukan 4 hal: unfriend, unfollow, hide atau block sekalian. 

Tapi, jika teori konspirasi ini mulai berkembang kedunia nyata disekitarku.. Bahkan meracuni pemikiran orang-orang disekitarku hingga yang berkontak erat denganku.. Maka, aku tidak bisa diam saja. 

Yaaa.. Aku tidak bisa diam saja ketika melihat orang-orang dengan cueknya masuk ke rumahku tanpa memperdulikan protokol kesehatan. Aku juga tidak bisa diam saja ketika melihat salah seorang keluarga bersikeras berpendapat bahwa dokter dan tenaga medis lain menjadikan covid 19 sebagai lahan bisnis. Yah, semua orang punya bom waktu masing-masing bukan? 

Dan hari ini, aku akan belajar menuliskan covid 19 dari 2 sisi. Yaitu dari pandangan yang mempercayai teori konspirasi dan teori kesehatan. 

Benarkah Teori Konspirasi Covid 19? 

Pertama kali aku mengenal teori konspirasi adalah pada grup WAG. Pesan itu tersebar luas dibeberapa grup dan banyak yang mendukungnya. Sebagai ‘anak baik’, aku hanya bisa membaca sambil berdiam diri membaca komentar orang-orang di grup tersebut. Dan yaa.. Sekitar 30% teman-temanku sedikit mempercayai teori konspirasi. 

Jujur, akupun termasuk yang pernah mempertanyakan kebenaran teori ini. 

Tentang benarkah covid ini hanyalah penyakit flu yang diperparah dengan kecemasan berlebihan? 

Apakah benar tes PCR ini tidak akurat? 

Apakah benar ada sesuatu dibalik ini? Ada yang ditutup-tutupi? 

Dan bagaimana bisa Bill Gates hingga Om Mark ikut dikait-kaitkan sebagai ‘Elite Global’ yang menggunakan Covid 19 sebagai lahan bisnis? Bukankah mereka sudah cukup kaya? 

Apakah mereka punya tujuan “Controlling the World?”

Begitu? 

Aku juga pernah dengan seksama memperhatikan video viral dari youtube tentang teori konspirasi tersebut. Dan yaa.. Harus aku akui, narasinya tergolong HEBAT. Saking hebatnya, aku langsung sadar bahwa ini sangat mirip dengan narasi Teori Bumi Datar aka Flat Earth yang pernah booming dahulu. 

Dari situlah aku langsung melupakan racun konspirasi covid. Ayolah, ini konyol. Pikirku. Rakyat indonesia yang peka tidak mungkin langsung menelan mentah-mentah hal seperti ini. 

Dan ternyata, aku salah. 

Sudah sekitar 3 bulan ini aku mengikuti instagram Jrxsid. Hanya sekedar memantau ig storynya. Satu sisi, aku sedikit mengerti pola pikir drummer SID ini. Tapi sisi lainnya.. Ya ampun aku gemes sekali. Bahkan pernah rasanya aku ingin menyumpah-nyumpah. Tapi sudahlah, itu sosial media punya dia. Hak dia mau ngapain. Kalau tidak suka tinggal unfollow. Begitukan aturan bersosial media? 

Eh tapi kok ya enggak aku unfollow?

Simple. Aku pengen reframing lebih jauh tentang pikirannya. Kalau kata seorang Guru, baik jahatnya seseorang itu tergantung dari cara kita memandang. Dan sesungguhnya, kalau kita mau melihat dari berbagai sudut.. Tidak ada orang yang jahat banget atau baik banget. Tapi kalau ada orang yang tidak paham, bukannya harus diluruskan? 

Ya.. Harus diluruskan. 

Karena banyak sekali ternyata orang-orang yang sepemahanan dengan Jerinx ini. BANYAK BANGET. Setuju? 

Tapi semakin aku sering kepo dengan story jrx dsb ini.. Semakin aku sadar bahwa mereka memiliki alasan kenapa bersikeras berpendapat covid hanya konspirasi. Kenapa banyak follower yang mendukung mereka. Itu semua masuk akal jika dijabarkan alasannya. 

8 Hal Penyebab Teori Konspirasi Menyebar Luas Di Indonesia

Yup, setidaknya aku menyimpulkan ada 8 penyebab meluasnya teori konspirasi di indonesia, hal itu antara lain adalah:

1. Terdesaknya Situasi Ekonomi

“Lo sih enak ya bilang DI RUMAH AJA.. DI RUMAH AJA.. Lo kaya. Duit lo segudang. Pikirin nih masyarakat misquen yang duitnya sehari abis dan bingung besok masih bisa makan apa enggak!”

Jleb. Kata-kata itu langsung menusuk hatiku. 

Dan sejak itu, aku tidak pernah lagi mengkampanyekan #dirumahAja di sosial mediaku. Aku lebih sering berfokus pada menggaungkan protokol kesehatan. Terutama untuk mereka yang masih terpaksa bekerja di luar sana. Kupikir, tidak semua orang bernasib beruntung. Dan setidaknya dengan era new normal ini ekonomi akan sedikit memulihkan diri.

Kuharap, dengan menggaungkan protokol kesehatan yang ketat.. Setidaknya aspek kesehatan dan aspek ekonomi jadi seimbang.. 

Akan tetapi.. Tidak lama kemudian setelah New Normal diberlakukan..

“Masker simbol perbudakan.. “

“Maskerlah yang bikin sesak nafas. Bukan virus corona..”

Dan beberapa kafe dibuka. Masyarakatpun mulai tidak peduli lagi dengan social distancing dan memakai masker. Mereka mulai percaya teori konspirasi. Kemudian, muncullah kata-kata ini..

“Lo sih enak di rumah aja gak pake masker. Kami yang harus bekerja diluar.. Sesak kalau harus selalu memakai masker. Masker yang bikin corona. Virus corona cuma konspirasi..”

“Lo bayangin dah. Hampir tiap bulan kami para pedagang kena tes masal. Kalau hasilnya reaktif orang sekitar kami pada mengucilkan kami. Dagangan kami gak laku. Bagaimana kami bisa hidup?”

“Tes covid itu sengaja mempositifkan hasilnya. Supaya kami tidak bisa lagi mencari nafkah..”

“Kami lapar. Kami terpuruk. Bukan karena virus corona yang mematikan. Tapi kami dimatikan terlebih dahulu oleh stigma masyarakat. Kami tidak punya pilihan lain selain menganggap corona sebagai konspirasi untuk bisa bertahan hidup”

Masyarakat Kecil

Ekonomi down – Segala Teori Akhirnya Dibenarkan..

Ketika manusia kelaparan. Maka daging tikus yang sudah dimasakpun dianggap enak sekali. Bukankah begitu?

2. Aspek Psikologis Manusia

Well, bukan hanya faktor terpuruknya ekonomi yang menyebabkan teori konspirasi berkembang luas tapi juga faktor psikologis manusia. 

Iya, Banyak kok yang ekonominya menengah keatas tapi juga percaya teori konspirasi. Beberapa teman dan keluargaku mungkin bisa dijadikan contohnya. Mereka tidak dalam kondisi terhimpit ekonomi karena corona. Tapi, suka sekali bersikeras kalau corona hanya ‘mainan tenaga medis’

“Halah, semua yang masuk Rumah Sakit sekarang dibilang covid kok..”

“Konspirasi aja tuh. Alat tes nya memang bikin semuanya positif..”

“Yang meninggal kecelakaan aja dimakamkan gaya covid..”

“Kan tenaga medis dapet insentif lebih kalau ada pasien covid.. “

(Tahan tahan.. Yang punya keluarga tenaga medis pasti panas sekali mendengarnya bukan?) 

Yup, covid seakan dianggap remeh keberadaannya. Seiring meningkat tajam kasusnya, malah semakin sedikit yang takut dengan covid. Dan justru sudah dianggap hampir tidak ada. 

Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa ada 2 tipe manusia ketika dihadapkan pada suatu masalah. Yang pertama, adalah ia yang menganggap masalah itu nyata. Kemudian memecahkan masalahnya dengan langkah yang realistis. 

Tipe yang kedua adalah ia yang mengubah bentuk masalah itu dalam perspektif yang berbeda. Kenapa begitu? Untuk mengurangi kadar kecemasan. Karena setiap manusia itu unik, ada yang memiliki tingkat kecemasan yang berlebihan dan berbahaya jika tidak dikurangi. Maka, ia lebih memilih untuk melupakan bahkan membenarkan teori yang lebih nyaman di pikirannya. 

Dan teori konspirasi membuat pikiran ‘beberapa’ manusia lebih rileks dalam menghadapi pandemi. 

Hal ini baik jika tidak merugikan orang lain tentunya. Masalahhya, teori konspirasi sangat merugikan beberapa pihak. Bukankah begitu? 

3. Rumitnya Mengenali Tingkah Polah ‘Si Virus Baru’

Jujur, baru kali ini sepertinya dalam sejarah hidupku sekolah dibubarkan sedemikian lamanya. 

Dan baru kali ini dunia dibuat pusing dengan peraturan WHO yang berubah-ubah. 

Masih ingat ketika awal pandemi terjadi? Sekitar bulan Februari di negara tetangga dan resmi di indonesia ketika bulan Maret. Banyak peraturan dan prosedur baru yang berubah-ubah. 

Awalnya, Para Dokter dan Pakar Kesehatan serta tentunya juga WHO menganjurkan hanya yang sakit saja yang memakai masker. Beberapa waktu kemudian, semua orang diwajibkan memakai masker karena dikhawatirkan carrier tanpa gejala bisa menularkan dropletnya hanya dari bernafas dan berbicara. 

Peraturan kesembuhan untuk pasien covid pun berubah-ubah. Dari yang awalnya harus melalui 2x tes negatif hingga akhirnya pasien dinyatakan sembuh jika sudah tanpa gejala dalam waktu 14 hari. Karena virus Covid 19 diyakini tidak infeksius jika sudah 14 hari walaupun tesnya masih positif. 

Saat membaca peraturan baru tersebut, jujur saja pikiran luguku mulai bermain. 

Jadi, apakah OTG selama ini bukan carrier yang infeksius? Bukankah pasien dinyatakan sembuh walau masih terdiagnosa positif? Bagaimana kalau ternyata aku sendiri pernah terpapar dan virusnya masih ada namun tidak infeksius? Ah entahlah.. 

Yang jelas INI VIRUS BARU dan sebagai masyarakat awam, patuhi saja protokol kesehatan yang ada. 

Tapi tidak semua orang berpikir sama sepertiku. Ada yang sudah mulai melonggarkan kewaspadaan mereka, lalu berpikir apakah virus ini sejatinya memang tidak ada? 

Karena virus ini memiliki seribu wajah. Kan aneh sekali? Ada yang diare saja, ternyata positif covid. Ada pula yang tidak demam dan sesak nafas, hanya tidak selera makan.. Ternyata positif covid. 

Sifat virus baru yang sungguh rumit ini akhirnya membuat beberapa orang percaya dengan teori konspirasi. 

4. Prosedur Kewaspadaan Rumah Sakit yang Tidak Bisa Dipahami Semua Orang

“Ya ampun masa menolong orang kecelakaan aja tim medis pakai hazmat suit.. Pasti dianggap corona tuh.. “

“Pokoknya jangan berani-berani ke Rumah Sakit pas masa pandemi gini. Nanti kamu di diagnosa corona.. “

Well, padahal kenyataannya.. Prosedur pelayanan masyarakat saat pandemi ini memang harus demikian. 

Tenaga medis harus selalu waspada. Karena setiap pasien bergejala maupun tidak akan berpotensi menularkannya kepada tenaga medis. Bukankah mereka adalah pahlawan garda terdepan dalam pandemi ini?

Sudah tau bahwa korban Tenaga Medis yang meninggal karena Covid 19 di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia? Kenapa sampai terjadi hal ini? 

Karena pada awal pandemi, tenaga medis kekurangan APD.

Pada awal pandemi corona, tenaga medis juga tidak sewaspada sekarang. Sehingga banyak dari mereka yang terpapar hingga meninggal dunia. Karena itu, mereka belajar dari kejadian terdahulu bahwa dalam masa pandemi ini APD lengkap adalah hal yang wajib. 

Sayangnya banyak masyarakat yang takut dengan tenaga medis yang memberlakukan mereka seperti pasien covid. Takut mengeluh bergejala kalau saja langsung didiagnosa covid 19. Apalagi kalau tiba-tiba meninggal dan harus melalui prosedur pemakaman covid. Banyak masyarakat yang tidak terima kemudian membenarkan teori konspirasi. 

Sepertinya, aku sudah sangat sering membahas hal ini di ig story hingga status WA. Banyak sekali masyarakat yang gagal paham dengan prosedur kewaspadaan yang diterapkan di rumah sakit. Dimulai dengan segala prosedur harus melalui tes hingga kebijakan tes masal dimana-mana.

Hal ini juga menciptakan konflik serius antara masyarakat dan tenaga medis. Tidak jarang aku melihat berita tentang tenaga medis yang dipukul oleh orang yang anggota keluarganya berstatus PDP sehingga terpaksa dimakamkan secara covid, hal ini karena hasil tes yang belum keluar. 

Aku harap, banyak masyarakat yang mengedukasi dirinya sebelum menghakimi para tenaga medis. Belajar dan terus belajar dengan reframing. Jika tenaga medis sedemikian jahatnya.. Mengapa banyak dokter dan perawat yang berguguran ditengah pandemi ini?

5. Dorongan Bersosialisasi secara Normal

Manusia itu makhluk sosial. Seintrovert apapun manusia, mereka butuh berinteraksi secara nyata dengan orang lain. 

Yah, akhirnya aku menyadari hal ini selama di rumah saja. Seintrovert apapun diriku, aku butuh berkumpul dengan teman yang satu passion denganku. Berkumpul secara nyata. Bukan hanya lewat online. 

Tapi aku tetap sabar menahan semuanya. Walaupun sudah era new normal. Terkadang merasa sangat bersyukur karena sudah memiliki keluarga dimana masih bisa tertawa bersama. Terbayang kalau aku sendiri masih single, bekerja diperantauan dan ngekos atau ngontrak rumah sendirian? How lonely! 

*eh kok jadi curhat. 

Yah, serius. Faktor dorongan bersosialisasi secara normal ini juga sangat mempengaruhi seseorang untuk percaya pada teori konspirasi. Apalagi jika kita berada di lingkungan sosial yang cuek bebek pada protokol kesehatan. Cepat atau lambat akhirnya dorongan sosial itu mempengaruhi pola pikir kita. 

6. Kurangnya Literasi

Well, ini related banget sama nomor 4. 

Yup, masyarakat kita itu banyak yang malas baca. Hobi nonton youtube dengan tayangan yang oke sama nalarnya aja. Makanya teori konspirasi sukses besar dalam penyebarannya di grup WA keluarga. Masyarakat indonesia lebih suka scroll sosial media dibanding baca. Lebih suka melihat aktivitas artis panutannya dibanding berguru yang benar. Laaah.. Yang diliat cuma sekelas jerinx doang.. 😅

Padahal kunci untuk melawan teori konspirasi itu simple loh. Banyakin baca. Berguru pada YANG AHLI. 

Covid 19 ini nyata, bukan halusinasi. Nyata secara penelitian, sudah jelas banyak yang tertular. Yang mati random. Gak cuma yang punya penyakit bawaan tapi juga yang sehat bugar. Tapi selalu saja ditolak kenyataannya hanya berdasarkan teori yang tidak jelas kebenarannya. 

Banyaklah belajar. Percayailah teori dari orang-orang yang valid keilmuannya. 

Dari Covid 19 aku banyak belajar, bahwa yang kita lawan bukan hanya virus.. Tapi kebodohan. 

7. Aturan Pemerintah yang Labil

Boleh gak ya nulis beginian? 

Boleh aja deh ya. Ini kan blog aku. Opini aku. Suka-suka. Haha

Jujur ya aku sedikit kecewa dengan lambatnya penanganan covid 19 di indonesia. Bahkan, pemerintah sempat menganggap remeh virus ini dengan membiarkan semua negara memiliki akses masuk ke Indonesia ditengah pandemi corona. Alasannya, covid 19 tidak mengerikan dan cuaca indonesia yang tropis bisa menangkalnya. Apalagi penduduk indonesia rajin minum jamu.. *eh.

Akibatnya, banyak sekali yang masih menggaris bawahi pernyataan pemerintah ini sampai sekarang. Menganggap bahwa covid 19 ini penyakit biasa saja. Bahkan, aku sepertinya sudah hampir 5x menonton video menkes di igs jrx tentang memakai masker untuk yang sakit saja. Padahal, video itu masa ketika awal covid melanda. Dan masih banyak pernyataan petinggi lainnya yang dijadikan acuan bagi masyarakat untuk menggampangkan virus ini. 

Belum lagi cerita tentang mudik vs pulang kampung. 😅

PSBB dilonggarkan, era new normal. Kupikir akan membuat masyarakat sedikit semangat untuk memperbaiki ekonomi dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Ternyata? Aku salah. Himbauan pemerintah seakan diabaikan. Sebagian dari mereka masih saja percaya dengan statement awal pemerintah.

8. Berita Media yang Terlalu Banyak Menebar Ketakutan

Apakah dengan banyaknya berita ketakutan masyarakat akan lebih mentaati protokol kesehatan? 

Ternyata tidak, menurutku yang selama ini selalu kepo dengan ig story Jrx.. Media yang menebar ketakutan ini justru menjadi senjata bagi kaum pemercaya konspirasi untuk menggaungkan betapa hoax nya WHO dsb. 

Bahkan, akhir-akhir ini aku kembali kepo dengan akun @duniamanji atau anji yang sedang ramai diperbincangkan karena sempat mengunggah foto pasien covid meninggal yang dibungkus plastik lengkap dengan captionnya. 

Pada caption akhir Anji mengungkapkan

 “Saya percaya cvd (Covid-19) itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil.”

Sontak Anji langsung diserang oleh para netizen karena dianggap menyepelekan covid dan mempercayai teori konspirasi. 

Well, aku lalu memperhatikan feed ig duniamanji. Menurutku sendiri, Anji ini bukan orang yang percaya teori konspirasi layaknya Jrx. Anji bahkan masih taat pada protokol kesehatan.

Adapun soal kata-kata Anji yang berkata bahwa Covid tidak semengerikan itu.. Kurasa kata-kata ini masih bisa ditoleransi. Apalagi Anji bukanlah tenaga ahli dalam hal ini. I mean.. Masih ingatkah kalian bahwa pada awal pandemi covid 19 ini.. Banyak para dokter yang juga mengatakan hal serupa dengan Anji. Itu Dokter loh. Dan tentu saja sekarang hampir tidak ada lagi dokter yang berkata demikian saat melihat kenyataannya.

Kepo dengan akun ig @duniamanji dan membandingkannya dengan akun @jrxsid.. Aku merasa si Anji ini tidak ada apa-apanya dibanding jerinx. Anji hanya menekankan pada media yang selalu membawa berita ketakutan. Aku tidak menemukan Anji yang bilang, “Jangan pakai masker, masker simbol perbudakan, covid konspirasi dsb.. ”

Apakah ada? Cmiiw ya.. Soalnya akupun baru-baru saja kepo dengan akun ig Anji ini. 

Kulihat Anji hanya tidak memakai masker dalam keadaan sunyi. Ia tidak menganjurkan memakai masker ketika berolah raga. Well, apa sih salahnya? Aku sendiri juga tidak pakai masker ketika berolah raga di depan rumah. Asal dalam keadaan sunyi. 

Dalam inti caption pada feed @duniamanji, Anji hanya menegaskan bahwa media terlalu ekstrem dalam menghujani masyarakat dengan berita ketakutan (cmiiw yaa). Dan terus terang, aku setuju. Berita ketakutan hanya akan membuat sebagian masyarakat melawan, bukan semakin takut dan taat pada protokol kesehatan. 

Oke, covid ini penyakit mengerikan. Aku setuju. Tapi please jangan terus menghujani masyarakat dengan berita negatif saja wahai media. Aku sangat setuju hal ini. Sejak melihat video dari Project Nighfall dan Prince Ea, aku sudah meredam sedikit ketakutanku dan menyisakannya untuk kewaspadaan. Tidak lagi bersikap paranoid berlebihan. 

Well, masyarakat pun perlu KESEIMBANGAN. 

Please tolong juga sampaikan bahwa banyak pasien covid 19 yang sembuh. 

Please tolong juga sampaikan tentang perkembangan vaksin dunia. Tentang inovasi obat untuk covid 19 yang telah dicoba dan berhasil. 

Please tolong juga beritakan tentang banyaknya pasien dengan penyakit bawaan yang sembuh. 

Masyarakat butuh itu untuk menyeimbangkan diri dengan berita negatif. Agar jiwanya tidak merasa takut berlebihan lalu mencari pelarian dengan membenarkan teori konspirasi. 

Dan please, untuk teman-teman yang memiliki pengaruh di sosial media. Yang memiliki ratusan like hingga engagement yang tinggi.. Mari mulai seimbangkan berita positif dan negatif. Tunjukkan fakta pahit dan manis. Agar covid 19 tak lagi dianggap main-main. Agar masyarakat waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Tidak cemas dan stress lalu berhalu-halu ria dengan teori konspirasi.

Yuk, Tidak Pernah Ada Salahnya Waspada dengan Memakai Masker dan Terus Mentaati Protokol Kesehatan

Kepo dengan ig jrx hingga duniamanji mengajarkanku untuk bisa reframing dengan sudut pola pikir manusia lainnya. Mereka membuatku sadar untuk bisa mengerti keadaan sudut dunia yang lain. Untuk itu, walau sedikit merasa gemes.. Tentu aku berterima kasih. Paling tidak aku bisa menulis dari tuangan ekspresi mereka. 

Dan yaa.. Bagaimanapun juga kita tidak bisa memaksakan pendapat semua orang untuk sesuai denganku. Tulisanku ini hanya sekedar sebuah insight berbeda dari diriku yang awalnya selalu berkata #dirumahsaja.

Didunia ini, setidaknya ada 4 golongan berbeda dalam memahami covid 19.

Dan penganut teori konspirasi adalah mereka yang berada pada golongan 3 dan 4. Entah tekanan psikologis, kurangnya literasi atau ekonomi yang membuat mereka membenarkan teori itu. Tapi bagaimanapun juga.. Please, tidak ada salahnya kok waspada dengan memakai masker. 

Aku tahu daya tahan tubuh kalian yang menganut teori konspirasi mungkin diatas rata-rata. Mungkin juga beberapa dari kalian adalah manusia super saiya. Sehingga para dokter pun tak berani menerima tantangan Jrx. 

Tapi, virus ini nyatanya bukanlah sebuah konspirasi. Korbannya sudah banyak. Bahkan orang sehat sekalipun bisa meninggal dibuatnya. Tolong, berempatikah sedikit. Aku tau kalian tidak punya rasa takut. Kalian kuat. Bersinar. Tapi tolong.. Berempatilah. 

Aku tau kalian sudah banyak menyumbang untuk masyarakat miskin. Kalian menciptakan semangat dan produktivitas dengan cara yang lain. Tapi tolong, berempatilah pada sudut yang lain. 

Terakhir, izin memuat kuotenya ya Bang Tere Liye. 

Sering Cemas dan Pegal saat Menyusui kala Pandemi? Ini Solusinya!

Sering Cemas dan Pegal saat Menyusui kala Pandemi? Ini Solusinya!

“Bisa gak tahun 2020 ini diloncatin aja? Sumpah capek banget ngejalanin tahun ini.. “

Ucapku ketus sambil meletakkan keranjang belanja pagi itu. 

Ya.. Pagi itu aku sedang sangat kesal. Bisa dibilang aku sedang PMS. Belum lagi si bayi yang menyambutku dengan tangisan pasca berbelanja kebutuhan rumah keluar. Bergegas aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu menghela nafas ketika melihat setumpuk belanjaan mingguan. 

“Dan semua ini harus disemprot dengan disinfektan dulu..”

Huft.. 

Ya bener sih. Disisi lain harus banyak bersyukur karena masih banyak orang yang kesulitan ekonomi untuk bertahan di pandemi ini. Tapi, boleh gak sih aku juga mengeluh capek

***

Mengeluh capek, lelah, dan khawatir itu boleh-boleh saja. Psikolog bahkan selalu menekankan untuk ‘menerima’ perasaan negatif yang ada pada diri kita. Yang tidak boleh itu, kalau kita terlalu lama larut di dalamnya. Sehingga lupa untuk memecahkan persoalannya. 

Aku sempat melalui masa lelah dan cemas kala berada di fase awal pandemi corona ini. Bahkan aku pernah bercerita disini bukan? Bahwa aku sempat anemia dan kecelakaan kecil karena terlalu strict dengan protokol kesehatan. 

Well, kalau dipikir lagi. Tindakanku itu ternyata sedikit berlebihan. Cemas dengan pandemi, hingga menyebabkan mood tidak stabil dan lelah harus diatasi dengan baik. Apalagi kalau sedang dalam keadaan hamil hingga menyusui. Pasalnya, apa yang kita alami dan rasakan juga akan terbawa ke bayi kita. 

Untunglah hal tersebut sudah terlewati, dan kali ini aku ingin berbagi solusi untuk mengatasi cemas dan cara mengatasi pegal-pegal saat menyusui di masa pandemi ini.. Diantaranya adalah:

1. Ciptakan Kegiatan yang Menyenangkan

Lupakan sejenak tentang corona. Lalu buatlah pikiran yang menyenangkan. Urutkan beberapa hal yang paling senang dilakukan. Dan tentu saja disertai dengan trik untuk dapat melakukannya bersama anak di rumah. 

Memang, ini sedikit sulit dilakukan jika kita memiliki kepribadian ekstrovert. Akan lebih nyaman jika bisa keluar rumah bukan? Yaa.. Aku pun berpikir demikian. 

Tapi sebenarnya, setiap diri kita selalu memiliki sisi introvert. Dan kala pandemi ini, sangat dianjurkan untuk membangkitkan hobi introvert yang kita miliki. 

Untuk yang terbiasa kuliner di luar rumah misalnya. Kenapa tidak untuk mencoba bereksperimen memasak di rumah? Ini sangat menyenangkan. Apalagi jika bisa mendokumentasi prosesnya hingga membagikannya di sosial media. 

Dan untuk yang terbiasa berkomunikasi dengan orang banyak misalnya. Kenapa tidak untuk mencoba membangun kelas online di zoom?  Ini sangat dianjurkan untuk kita yang ingin social time. 

Saat menyusui penting sekali untuk terus merasa senang. Aku bahkan sering membaca novel sambil menyusui. Aku juga sering bersosial media sambil menyusui. Menulis sambil menyusui. Itu membuatku lebih hidup. 

Keluarkan ekspresi menyenangkan yang bisa membuat hidup kita lebih bermakna dibanding hanya meratapi pandemi yang tak kunjung usai. 

2. Rutin Olah Raga dan Berjemur

Sejak pandemi ini, waktu pagiku menjadi jauh lebih longgar. Sehingga aku bisa mengisinya dengan ber olah raga dan sedikit berjemur. 

Ya.. Biasanya waktu pagi itu diisi dengan kerempongan menyiapkan sarapan dan sebagainya. Maklum, anak harus sekolah dan suami harus bekerja. Ini adalah satu hal yang benar-benar harus disyukuri. Akhirnya aku bisa berolah raga kecil di halaman rumah bersama dengan anak-anak. Humaira, anakku yang masih menyusu pun juga selalu ikut bermain kala pagi. Ketika waktu sarapan tiba pun aku membawanya ke halaman rumah untuk berjemur. 

Berolah raga dan berjemur sangat efektif untuk menyehatkan pikiran dan badan, sehingga dapat mengurangi rasa cemas dan pegal. Apalagi, kalau disertai dengan yoga. Tentunya pikiran juga semakin terasa rileks. Tapi bagi emak menyusui tanpa ART tentu sulit sih untuk melakukan yoga. Tidak apa-apa karena berlari kecil di halaman rumah dengan si kecil juga sudah merupakan olah raga ringan kok. Lakukan sebisa dan senyamannya saja ya. 

3. Jangan Malu untuk Minta Tolong
Sering kali, sebagai emak-emak rempong kita gengsi sekali untuk minta tolong secara langsung. Lebih suka main kode dengan suami, dari kode lembut hingga kode keras. 

Masalahnya, tidak semua suami paham dan mengerti dengan kode itu. Apalagi jika suaminya tipe introvert cuek seperti suamiku. Kode keras pun kadang tidak dimengerti. *sambil memecahkan piring.. Hahaha.. 

So, komunikasikanlah secara baik-baik tentang pembagian tugas di rumah. Apa saja hal yang harus diprioritaskan dan tidak perlu diprioritaskan. Apa saja yang sebaiknya dibantu untuk mengurangi kelelahan kita sebagai ibu menyusui. 

4. Couple Time dengan Saling Pijat

Seorang psikolog bilang kepadaku bahwa seorang Ibu sebaiknya memiliki 4 porsi waktu yang seimbang dalam kesehariannya. Empat waktu itu adalah me time, couple time, family time, dan social time. 

Untuk mengurangi rasa lelah, biasanya ketika semua anak sudah tidur aku dan suami melakukan couple time. 

Eits, couple time ala kami maksudnya saling pijat.. Wkwkwk.. 

Karena suamiku seharian selalu duduk untuk meng-coding. Sedangkan aku, aku sering sekali pegal karena terlalu lama menyusui dan menggendong Humaira. 

Dulu, waktu kami belum punya anak sih kami selalu menggunakan minyak urut yang sama. Tapi semenjak hamil dan menyusui, aku sudah move on untuk menggunakan Minyak Pijat yang spesial. 

Ternyata Memilih Minyak Pijat untuk Ibu Menyusui itu Tidak Boleh Sembarangan loh! 

“Tau gak kalau Koyo atau krim panas yang beredar di pasaran tidak disarankan 

untuk digunakan ibu hamil dan menyusui karena 

kebanyakan produk tersebut mengandung methyl salicylate, 

sejenis pain killer yang bermanfaat untuk meredakan rasa nyeri 

sementara. Jenis toksin berbahaya tersebut tidak baik digunakan, apalagi untuk ibu hamil tri semester 3..”

Segini ribetnya untuk memilih minyat pijat? Iya, segininya karena aku sedang menyusui. Aku enggak mau memakai zat sembarangan saat menyusui. Bahkan, untuk urusan skincare saja aku sangat berhati-hati memilihnya. Ini bukan soal untuk keamananku saja, tapi juga untuk keamanan kualitas ASI dan tentunya bayiku sendiri. 

Bagiku, standar untuk memakai suatu produk itu harus aman, halal dan natural. 

Karena itu aku move on untuk mencoba produk Herbal Oil dari Mama Choice. 

Herbail Oil ini sudah bersertifikasi halal, kandungan bahan didalamnya aman digunakan untuk ibu hamil dan menyusui. Dan yang tak kalah penting, produk ini mengandung bahan yang natural sehingga tidak perlu khawatir dengan zat kimia yang berbahaya. 

Tentang Mama’s Choice

Aku sudah lama tau tentang produk Mama’s choice. Biasalah, aku kan sering sekali memantau flash sale di shopee. Kadang beberapa produk Mama’s Choice ada disana. Aku bahkan sempat tertarik untuk mencoba sunscreennya. 

Mama’s choice ini adalah salah satu brand yang memproduksi beberapa produk aman & bebas toksin khusus untuk ibu hamil dan menyusui. Mama’s Choice dikembangkan bersama para Ahli, Ibu, Ayah, praktisi terbaik dan puluhan ribu Ibu hamil dan menyusui.

Yup, sesuai dengan taglinenya, “Aman dari Hati, Untuk Mama dan Bayi”

Hampir semua produk Mama’s choice memiliki packaging dengan warna pink. Sebuah warna yang dominan disukai kalangan perempuan termasuk aku. 

Mama’s Choice Herbal Massage Oil, Solusi nyaman untuk Pijat Ibu Menyusui

Minyak Pijat Aman untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Mama’s choice mengeluarkan 2 produk massage oil. Yaitu, Relaxing Massage Oil dan Herbal Massage Oil. Keduanya memiliki manfaat hampir sama namun kandungannya berbeda. 

Untuk kalian yang memiliki masalah ‘pegal’ yang sama sepertiku, aku rekomendasikan untuk mencoba Herbal Massage Oil. Karena tekstur dan aromanya lebih ‘nendang’ untuk meredakan pegal dan menenangkan pikiran. Selain untuk pijatan versi meredakan pegal, herbal oil ini juga bisa banget digunakan untuk pijatan oksitoksin. 

Review Mama’s Choice Herbal Massage Oil

-Packaging

Awal tadi aku sudah bilang bukan.. Bahwa hampir semua produk Mama’s choice berwarna pink-putih. Tapi, produk Mama’s Choice Herbal Massage Oil ini sedikit berbeda. Warnanya hijau lumut dan putih mungkin untuk membedakan dengan produk Relaxing Massage Oil. Karena produk ini lebih menekankan kandungan cajuput, bukan hanya kandungan lavender. 

Aku suka dengan desain botolnya, lebih langsing dibandingkan dengan kembarannya. Dan pump-nya sangat bersahabat. I mean, Minyak yang keluar saat dipencet itu sesuai dengan kebutuhan. Tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit. . Kemasan ini juga tidak membuat minyaknya gampang bocor saat terjatuh. 

Tutup beningnya juga sangat apik untuk tidak menutupi desain pump-nya. Dan jangan lupakan untuk membahas kotaknya. Wow, I love it.. Dikotaknya ini ada petunjuk untuk gerakan pijatan oksitoksin. Berguna banget kan buat para suami yang pengen mijitin istrinya.. Hehe

-Tekstur, warna dan komposisi 

Teksturnya.. Hmm.. Ya seperti minyak pada umumnya lah ya. Tapi warnanya ini bening seperti air dan ketika dioleskan kekulit tidak lengket dan tidak berasa oily banget. Karena minyaknya ini berasa meresap dikulit. Dan yang paling aku suka.. Hmm.. Wangi sekalii. Gak heran sih karena saat aku liat komposisi didalamnya.. 

Tiap botol mengandung:

Oleum Europaea 62%
Grape Seed Oil 10%
Oleum Cajuputi 25%
Oleum Lavender 3%

-Klaim dan Cara Pemakaian

“Minyak Pijat untuk membantu meredakan pegal linu. Dapat digunakan untuk ibu hamil dan menyusui”

Kegunaan: Sebagai minyak pijat untuk membantu meredakan pegal linu dan membantu melembabkan kulit. 

Diperkaya dengan kandungan essensial minyak berkualitas : 

  • Minyak KayuPutih: Obat alami untuk masalah pernapasan, juga mengobati nyeri otot dan persendian.
  • Minyak Biji Anggur: Tinggi antioksidan, melembabkan kulit tanpa menyumbat pori-pori
  • Minyak Zaitun: Menghidrasi dan melindungi kulit agar kulit halus dan lembut

Aturan Pakai:

Tuangkan Mama’s Choice Herbal Oil secukupnya ke telapak tangan, oleskan pada anggota tubuh yang ingin dipijat secara merata, kemudian lakukan pemijatan secara perlahan dan teratur pada bagian yang pegal. 

-Kesan Penggunaan

Selama menggunakan produk Mama’s choice ini aku merasakan pegal yang aku alami sangat berkurang, terutama dibagian punggung. Kualitas tidur pun jauh lebih nyaman. Mungkin karena wanginya yang bersifat seperti aroma terapi. 

Manfaat plus-plus yang tak terduga dari Herbal Massage Oil ini adalah respon dari suamiku. Dia suka sekali dengan wanginya. Bahkan, sekarang dia suka menyuruhku untuk memakai Herbal Massage Oil ini tiap malam. Katanya wangi aku sekarang bikin nagih. Oh please, ini bukan lebay. Ini beneran. Coba deh kalian coba juga. Wanginya memang soft dan nyaman sekali. 

Tapi kesal juga sih. Karena sekarang dia ikut-ikutan minta pijit memakai Herbal Massage Oil Mama’s Choice juga. Hiks_ bakal cepat habis dong punya aku.. 

5. Solusi terakhir.. Jangan Stress, Buang Pikiran Negatif

Nah loh, kepanjangan curhat lalu review Herbal Massage Oil kesukaan.. Sampai hampir lupa kalau ada solusi nomor 5 untuk mengurangi cemas dan pegal kala pandemi… 

Yes..

Solusi itu adalah Jangan stress, buang pikiran negatif jauh-jauh.. 

Enggak dipungkiri sih, pandemi ini membuat pikiran sedikit sempit. Ya bagaimana tidak? Sehari-hari yang dilihat hanyalah seputar keadaan rumah saja. Dan ketika ingin beristirahat sejenak sambil membuka sosial media, bukannya senang yang didapatkan.. Tetapi malah semakin khawatir karena pemberitaan semakin meningkatnya pasien positif corona. Belum lagi cerita tentang virus yang bermutasi, gejala yang beragam, hingga dampak kriminalitas. 

Awalnya sih cuma khawatir, lama-lama muncul rasa cemas.. Lalu stress.. Kan enggak banget tuh? Karena itu, hal pertama yang harus kita singkirkan sebelum stress muncul adalah #KurangiWorry atau kurangi kekhawatiran yang muncul karena pikiran negatif. 

Mengurangi rasa khawatir tentu perlu ikhtiar bukan? Nah, salah satu ikhtiar atau usaha itu adalah melakukan segala yang terbaik. Kalau doa dan pikiran positif sudah dilakukan maksimal maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelayanan terbaik untuk diri sendiri. 

Thats why, selain memakai produk Herbal Massage Oil.. Aku juga memakai produk Mama’s choice yang lain. Diantaranya adalah Pasta Gigi, Mouth Wash, dan Relaxing Massage Oilnya.. 

Dengan begini, paling tidak aku sudah ‘one less worry’. Karena yakin kalau segala produk yang aku gunakan aman untukku dan ASI si kecil. Yup, kesehatan mahal harganya. Jadi, harus selalu dijaga. 

Dan tentunya, One less worry yang berasa banget mengurangi kecemasan aku adalah aroma terapi dari Mama’s choice Herbal Massage Oil. Wanginya membuat tidurku berkualitas dan menenangkan pikiran. 

Oya, buat kalian yang mau belanja produk dari Mama Choice ini, bisa pakai kode voucher MAMAASWIND (Huruf besar semua) untuk mendapat potongan 25k dengan minimal belanja 150k di official store Mama Choice Shopee.

Caranya klaim vouchernya: Klik Profile > Voucher Saya > Input Kode MAMAASWIND (berlaku 1x penggunaan) 

Ya ya.. Aku juga sepertinya bakal repurchase lagi Herbal Massage Oilnya, plus juga coba beli sunscreennya. 

Kalian juga bisa membeli produk Mama’s Choice di official store Mama’s Choice

Oya, kunjungi Instagram Mama’s Choice juga yuk di @mamaschoiceid

Sekian curhatan dan solusi dari aku tentang masa menyusui kala pandemi. Kalian punya cerita yang sama? Sharing denganku yuk! 


Gigi Seri Patah Akibat Kecelakaan, Bagaimana Mengatasinya?

Gigi Seri Patah Akibat Kecelakaan, Bagaimana Mengatasinya?

Oppa! Kamu kenapaaa? Jatuh dari mana? Kecelakaan atau kelahi ngerebutin akuh? 

Plaaak (Mukul Muka..Sadar Woy!)

*Mon maap anaknya lagi kegeeran bentar ya.. 🤣

Oppa Kim Soo Hyun baik-baik aja kok, jangan gempar dulu. Ini bukan cerita tentang dia kok. Ini cerita tentang aku.. Hahaha.. 

Inget cerita bibir sobek aku yang dijahit pasca kecelakaan kemarin? 

Yup, ini seri lanjutannya. Seperti janjiku kemarin kalau aku akan menulis cerita gigi patah yang ditambal jika pandemi covid 19 sudah usai. 

But wait, bukannya pandemi belum reda win? 

Kok kamu nulis cerita tambal gigi pas pandemi gini? 

Kamu ke dokter gigi? 

Hmmm… Begini ceritanya.. 

Gigi Seri yang Patah Sebagian Karena Kecelakaan

Kenapa ya kecelakaan kecil gitu aja bisa bikin gigi patah dan bibir sampe dijahit? 

Ya.. Akupun enggak tau. Hiks.. 

Yang jelas gigi kelinci sebelah kiriku patah begitu saja setelah menghantam bibir dan lantai kamarku. Bahkan, hingga sekarang aku masih sering terbayang dengan rasa nyerinya. Saking horornya, dari tanggal 29 Mei sampai sekarang.. Sudah sekitar 5 kali aku bermimpi gigiku copot. Bangun tidur langsung pegang gigi sendiri. Alhamdulillah masih ada. Tapi separo.. Hiks.. Kadang, disitu aku pengen nangis.. 

Yup, ini memang bukan kasus patah total. Tapi patah sekitar 1/4 atau 1/5 bagian. Tapi buatku, karena gigi seri yang patah.. Tentu saja ini sangat amat mengganggu penampilan. Mana aku kan cewek ya, kan minder banget kalau gigi aku patah begini. Gak bisa ketawa dikit langsung keliatan kek nenek-nenek. Hiks. 

Selain soal penampilan.. Gigiku yang patah ini rasanya sedikit nyeri. Dan nyeri berlangsung hingga 1 minggu. 

Pertolongan Pertama Pada Gigi yang Patah

Ketika menyadari gigi patah saat terjatuh.. Aku langsung menyimpan patahan gigi itu ditanganku. Lalu, aku langsung mencari artikel di google yang berhubungan dengan penanganan gigi yang patah. Bertemulah aku dengan artikel alo dokter yang berkata bahwa.. 

Jreng jreeeng.. 

Langkah pertama tentu sudah aku lakukan. Tapi, percuma. Mana bisa nempel lagi gigi patah itu. Patah ya patah aja maah.. 

Lalu, jujur ya.. Sempat-sempatnya aku melirik lem alteco yang bertengger manis di lemari kecilku. Pikiranku mulai error. Kalau saja bibirku tak henti-hentinya berdarah.. Mungkin saja aku sudah mengeksekusi langkah konyol itu. Hahaha.. 

Tak mau error terlalu lama, aku akhirnya merendam patahan gigiku di air susu seperti kata artikel tersebut. Sialnya, susu UHT habis. Dan aku tidak ada waktu untuk belanja. Akhirnya, gigi tersebut aku rendam di perahan ASI. Duh, konyol kan? Tapi aku optimis sih ASI merupakan pengganti yang baik ketika tidak ada susu UHT. Setelah urusan gigi ini selesai.. Aku bergegas ke IGD untuk menjahit bibir. 

Kenapa tidak sekalian saja menangani gigi di IGD win? 

Nah, itu dia. Pikiranku konslet teman-teman. Sama sekali tidak terpikir untuk langsung ke dokter gigi untuk memikirkan tindakan penyambungan gigi yang patah. Mungkin karena bibirku yang robek dan terus mengeluarkan darah itu membuatku sedikit panik. Aku bahkan lupa membawa kartu BPJS ku. 

Sore harinya, atau sekitar 4 jam pasca kecelakaan.. Barulah aku berinisiatif untuk ke dokter gigi. Aku memilih untuk mengunjungi praktek Dr Gigi, bukan di RS. Selain karena pandemi yang membuatku galau, kurasa kalau ke Dr Gigi langsung maka tidak memerlukan antri. 

Dan benar saja, beruntung sekali aku menemukan praktek Dr. Gigi yang mau menangani keadaanku. Padahal rata-rata praktik dokter gigi di sini tutup karena pandemi. Dr Gigi yang aku kunjungipun sebenarnya tutup. Tapi, karena kasusku urgent. Maka beliau bersedia untuk membantu. 

Saat itu, aku sangat optimis gigiku bisa disambung lagi dengan lem khusus. Apalagi, pasca kecelakan tersebut aku langsung merendam patahan gigiku di perahan ASI dan memasukkannya ke kulkas. 

PASTI BISA. PASTI TIDAK APA-APA. Pikirku optimis saat itu. 

“Sudah berapa jam pasca kecelakaan mba?” Tanya Dokter gigi ketika melihat botol rendaman patahan gigiku. 

“Terhitung 5 jam dokter. Bagaimana dok? Bisa disambung aja kan?”

“Kita lihat dulu ya.. “

Dan aku pun membuka mulutku.. 

“Wah.. Masih berdarah-darah jahitannya ya.. ” Kata Dokter. 

“Iya dok.. Giginya bagaimana dok?”

“Waduh.. Ini gak bisa disambung mba giginya..”

“Kata artikel alo dokter yang saya baca.. Bisa menggunakan lem khusus dok.. Enggak bisa ya dok?”

“Enggak bisa mba.. Kondisi gigi mba ini.. Bla bla.. “

Beliau menjelaskan padaku sambil mengambil gambar gigi dan akar gigi. Sepenangkapanku, gigiku tidak bisa dilem karena bagian yang patah tidak memenuhi prosedur untuk bisa dilakukan penyambungan. Entah karena terlalu sedikit yang patah, atau karena terlalu banyak dengan kondisi menipis didalam. 

“Ini harus ditambal mba.. “

“Bisa ditambal sekarang dok?”

“Sayangnya enggak bisa mba, karena jahitan dibibir mba masih berdarah-darah. Takutnya proses penambalan ini akan memperparah jahitannya. Sebaiknya, 2 minggu lagi kesini ya mba. Sembuhkan jahitan di bibirnya dulu.. “

Yah.. Begitulah. 

Akhirnya, aku pulang begitu saja. Pertolongan pertama untuk gigi patahku hanya bisa sampai disini. Aku harus bersabar. 

Dan akupun  menatap botol rendaman patahan gigiku. Huft.. Selamat tinggal patahan gigiku.. 😔

Haruskah Menambal Gigi Seri Demi Estetika? Ditengah Pandemi Covid 19 Begini? 

Bulan Juni, kasus corona di banjarmasin kian meningkat. Bahkan pernah dalam sehari memecah rekor, kasus penambahan pasien positifnya tertinggi seindonesia. 

Ya, memang di banjarmasin sedang gencar-gencarnya tes masal di berbagai pasar. Sehingga banyak pedagang yang terdeteksi positif meski tanpa gejala. 

Para ahli dan WHO menjelaskan bahwa OTG pun berisiko menularkan. Dan entah kenapa penjelasan itu membuatku sangat amat parno. Sehingga, aku memutuskan untuk TIDAK MENAMBAL GIGI sebelum pandemi selesai. 

Tapi apa daya. Dua minggu pasca kecelakaan, bibirku yang sobek memang sudah membaik. Namun, gigiku yang patah mulai nyeri luar biasa. Rasa nyeri inilah yang sering kali membuatku khawatir. Bahkan sering bermimpi buruk kalau gigiku tercabut. Akhirnya, aku memutuskan untuk menghubungi Dr Gigiku kemarin. 

“Di rontgen saja mba, takutnya patah di dalam giginya.. “

“Tapi saya takut ke RS dok. Ada saran rontgen gigi dimana yang aman?”

“Apakah giginya goyang?”

“Tidak dok. Hanya ngilu luar biasa.. “

“Minum paracetamol dulu ya mba. Kalau beberapa hari ini tidak hilang juga maka sebaiknya rontgen..”

Duh, rontgen di RS? Itu horor sih di masa pandemi begini. Akupun memutuskan untuk minum obat saja setiap kali merasakan ngilu tak tertahankan. Aku juga sempat menghubungi temanku yang suaminya merupakan dokter gigi. Dia menyarankan untuk menunda ke dokter gigi, katanya.. Tunggu hingga pandemi usai saja. 

Ajaibnya, 3 hari kemudian rasa ngilu itu hilang begitu saja. Rasa khawatirku mulai hilang. Senang sekali. Aku bahkan merasa percaya diri hingga iseng berselfie ria kemudian menguploadnya di instagram dengan caption curhat tentang gigiku yang patah. Dan.. 

Salah seorang teman bloggerku di instagram menanyakan tentang gigiku. Kemudian ia menceritakan masalah yang sama. Ia berkata bahwa pernah membiarkan masalah gigi yang patah hingga akhirnya harus dicabut karena akarnya yang mati. Dan, disitulah aku merasa horor. Mimpi burukku terasa kembali lagi.. Hahaha.. 

Untunglah, aku sudah menginstall aplikasi halo doc di smatphoneku. Dengan memanfaatkan konsultasi gratis, Akupun langsung bertanya pada Dokter Gigi disana tentang keadaanku. Dan hasilnya adalaah.. 

“Harus segera ditambal mba.. Secepatnya.. Mumpung tidak sakit lagi.. “

Rasa takut akan corona pun hilang seketika, idealismeku untuk tidak akan ke dokter gigi sebelum pandemi berakhir cuma tinggal cerita pembuka. Dua jam setelah konsultasi di Halodoc, aku langsung mengunjungi Dr Gigi. 

“Giginya harus segera ditambal. Karena bagian yang patah itu semakin hari akan semakin mengalami kerusakan karena makanan yang masuk. Menambal gigi tidak hanya soal memperbaiki estetika, tapi juga mencegah kerusakan lebih lanjut.. “

Pengalaman Menambal Gigi Seri yang Patah ditengah Pandemi Covid 19

“Wah.. Akhirnya ditambal juga ya mba.. ” Sambut Dokter Gigi ku.. 

“Iya dok, saya mimpi gigi ompong terus. Berasa dihantui. Apalagi kemarin konsultasi di halodoc, katanya harus segera ditambal. Soalnya semakin hari bagian gigi yang patah ini terpapar makanan dan berpotensi rusak. Hororlah saya dok, enggak mau jadi nenek terlalu dini.. “

Dokter tersebut langsung tertawa. Hari itu, genap sebulan pasca kecelakaan. Dan bibirku sudah sangat pulih. Hanya ada benjolan sedikit dan itu tidak sakit. Sehingga, dokter bisa memasang penyangga pada bibirku untuk bisa menambal gigi seriku. 

Well, selama dokter menambal gigi.. Aku memperhatikan APD yang digunakan dokter tersebut. 

Bukan hazmat yang seperti biasa kulihat di TV. Tapi mungkin termasuk ‘temannya’. Entahlah apa itu tapi kulihat ini sudah termasuk APD level 3. Beliau juga memakai masker medis berlapis N95, tak lupa kaca mata pelindung. Sambil menikmati proses tambal gigi, aku tak henti berdoa semoga kami berdua baik-baik saja. 

Tambal gigi depan sedikit berbeda dengan tambal gigi biasa. Kalian mungkin kenal dengan tambal estetik bukan? Yups, tambal estetik bukan cuma untuk memperbaiki gigi yang berlubang tetapi juga untuk mengembalikan fungsi estetik dari gigi. 

Penambalan gigi estetik merupakan tehnik penambalan gigi yang aman karena tidak menggunakan merkuri. Penambalan gigi dilakukan menggunakan bahan resin komposit sehingga warna dapat disesuaikan warna gigi asli. Dengan menggunakan tehnik penambalan gigi estetik keindahan warna gigi asli kita dapat dikembalikan sealami mungkin. Dokter gigi yang berpengalaman sudah paham untuk menggunakan bahan resin yang sesuai dengan warna gigi kita. 

Tambal gigi estetik yang aku lakukan, memakan waktu kurang lebih 1 jam.. Yup, tidak begitu lama karena gigiku tidak memerlukan perawatan saluran akar gigi. Kondisi gigiku saat itu tidak ngilu dan tidak goyang sehingga dapat langsung dilakunan penambalan estetik. 

Kalau dibandingkan dengan tambal gigi biasa, kurasa tambal estetik ini lebih sulit. Aku beberapa kali melihat dokternya mengambil alat sejenis kuas mungil dan dioles dengan (mungkin) resin komposit yang sewarna dengan gigiku. Kemudian, sebelum finishing.. Beliau mengambil kaca dan memperlihatkan warna giginya kepadaku. Berkata apakah sudah pas? Meski awalnya merasa seakan gigiku sedikit maju dan agak putih.. Lama kelamaan aku merasa biasa saja. 

Gigi Seri yang ditambal before-after

Terakhir, tentu ada yang bertanya berapa biaya menambal gigi ini bukan? 

Biayanya adalah 375.000. Menurutku, sebanding sekali dengan hasilnya. Aku bahkan bersyukur loh ketika melihat pengalaman tambal gigi orang lain di internet. Ada yang memerlukan perawatan saluran akar hingga total satu gigi saja hampir 2 juta. Sebenarnya, mungkin aku juga akan menghabiskan biaya yang sama jika saja aku tidak sabar saat mengalami ngilu kemarin. Jika kita menambal gigi dalam keadaan ngilu, maka kita memerlukan 2 biaya tambahan. Biaya itu adalah biaya rontgen, juga perawatan saluran akar yang mungkin tidak bisa hanya sekali saja. 

Sekarang, sudah hampir sebulan berlalu sejak aku menambal gigi di Dr Gigi. Alhamdulilah, aku dan Dr Gigi masih sehat. 

Bagaimana Rasanya Memiliki Gigi Seri Tambalan? 

Wow.. Rasanya? 

Teteplah gigi asli tidak tergantikan.. Hahaha.. 

Memiliki gigi tambalan ini seakan terlihat baik-baik saja. Tapi sebenarnya, sampai sekarang aku merasa sekali gigi seriku ini masih separo. Dan jujur ya, kalau diperhatikan lebih seksama.. Terlihat kok warnanya sedikit berbeda. Karena gigi asliku ini warnanya putih gading. Aku yakin sih dokter gigi sudah memberikan warna yang sangat mirip, tapi memang gigiku saja yang warnanya begitu. Hehe

Apakah gigi seri ini bisa dipakai untuk menggigit normal? 

TIDAK. BIG NOOO..! 

Dokter bahkan langsung memperingatkanku usai menambal kemarin, bahwa gigiku tidak bisa dipakai untuk menggigit secara normal lagi. Bahkan untuk menggigit roti pun tidak. Aku memakan roti dengan cara menyobeknya dengan tanganku dan langsung mengunyah dengan geraham. 

Sedih sih ya.. Tapi sadar banget kalau aku enggak boleh denial sama keadaanku. Gak boleh bilang, “Coba deh kemarin hati-hati.. ” Atau “Coba deh hari yang kemarin bisa diulang lagi..”

Harus menerima keadaan. Inilah aku yang sekarang. Gigi seri tambalan dan bibir sedikit belah. Ya mau bagaimana lagi? Life must go on right? 

Dokter gigi bahkan berkata kepadaku bahwa selain patah, sebenarnya gigiku ini juga retak. Bahkan gigi seri sebelahnya juga, hanya saja retakannya tidak terlihat. Jadi, dari sekarang harus menghindari makanan yang asam dan harus sangat rajin menggosok gigi. 

Dan tau gak kalian sisi lucunya apa? 

Sejak peristiwa ini, aku malah suka sekali tersenyum dengan memperlihatkan gigiku. Bahkan difoto juga begitu. Pamer? Oh tidak. Bukan begitu. 

Lebih tepatnya, aku baru saja sadar bahwa gigi kelinci yang aku miliki ini ternyata SANGAT BERHARGA. Jujur ya, dulu aku sedikit denial dengan gigiku ini. Apalagi sisi gingsulnya itu, kalau difoto dengan angle yang salah.. Otomatis aku terlihat boneng. Ditambah dengan gigi kelinciku yang besar ini.. Thats why dulu minder pake banget senyum kalau keliatan gigi.. Hiks.. 

Sekarang.. Ya ampun.. Ternyata aku baru sadar gigi akutuh (lumayan) cantik.. Coba dulu aku lebih sering senyum lepas dengan gigi yang terlihat.. Kan mungkin oppa pun kesengsem.. Hiks.. *lebay.. 

Okay, sekian deh curhatan bombay aku tentang gigi patah dan proses penambalannya. Moral story is.. Hargai yang kita miliki sekarang, sejelek apapun itu.. Syukuri aja deh. 

Jangan seperti aku, baru merasakan sesuatu itu sangat berharga ketika sudah kehilangan.. 

5 Hal Sederhana ini dapat Meminimalisir Potensi Menjadi Carrier Covid 19

5 Hal Sederhana ini dapat Meminimalisir Potensi Menjadi Carrier Covid 19

New normal sudah berjalan beberapa minggu. Beberapa sektor ekonomi sudah mulai dibuka. Negara-negara didunia termasuk indonesia tidak punya pilihan lain selain melakukan new normal untuk memulihkan kembali siklus ekonomi. Beberapa orang yang awalnya memilih #dirumahsaja selama beberapa bulan pun akhirnya terpaksa untuk berkerja. 

Ya.. Karena tidak mungkin bukan dengan hanya di rumah saja uang akan mengalir dengan sendirinya? Kecuali Anda ‘Horang Kayah’. Kalau spesies itu sih, jangan dipertanyakan lagi. 

Beberapa generasi pun mulai terjun unuk bekerja. Termasuk jajaran generasi milenial sepertiku. Mereka mulai aktif bekerja di luar rumah. 

Akan tetapi, dengan bekerja diluar seperti itu.. Bukan tidak mungkin kita menjadi carrier  suatu hari nanti. Karena berbagai paparan virus diluar sana bisa saja hinggap di tubuh kita. Dan akan sangat berpotensi jika paparan itu terkena saluran pernafasan kita secara langsung. Bisa dibayangkan kalau kita menjadi carrier virus covid 19? Maka orang-orang yang serumah dengan kita akan berpotensi ketularan pula. Termasuk itu pasangan kita, anak, hingga orang tua. Hiks

Tapi tenang dulu, karena ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar kita dapat meminimalisir potensi menjadi carrier. Beberapa hal itu diantaranya adalah:

1. Patuhi Protokol Kesehatan dengan Benar

Mungkin ini adalah hal yang paling dan paling sering kita ketahui. Karena sudah sangat amat gencar petunjuknya di beberapa media. Termasuk itu TV, poster hingga sosial media. 

Beberapa hal seperti rutin cuci tangan/hand sanitizer, memakai masker, jaga jarak, hindari keramaian dsb tentu sudah sangat umum kita dengar selama ini. Namun, sebenarnya sangat sedikit yang benar-benar paham dan mengaplikasikannya dengan benar. 

Salah satunya masih banyak yang menganggap memakai masker saja sudah cukup, sehingga abai dengan himbauan untuk jaga jarak. Kadang saat bekerja, kita menjadi lengah untuk menjaga kebersihan dan jaga jarak. Masker menjadi andalan satu-satunya. Padahal, fungsi masker tentu tidak bisa merangkap fungsi jaga jarak hingga cuci tangan. 

Protokol kesehatan selanjutnya yang sering diabaikan adalah protokol ketika sampai di rumah. 

Banyak sekali yang abai dengan hal ini. Langsung duduk dan bersantai ketika sampai rumah. Padahal, kita sangat rentan terpapar virus diluar sana saat bekerja. Banyak yang gagal paham soal ini dan berkata dengan enteng, “Toh sinar matahari sudah membunuh virus.. “

Kalau sesimple itu, kok corona bisa masuk negara tropis? Hehe. 

Dan masih banyak hal lainnya yang kadang sering kita abaikan. Sering kali, ketika diluar rumah kita terbawa ‘halu’ dan merasa bahwa kehidupan kembali normal sehingga lengah dengan protokol kesehatan. Padahal, musuh seperti virus yang tidak terlihat ini sangat senang sekali kalau kita lengah dengan keberadaannya. 

2. Tunda ke Fasilitas Kesehatan Sementara Waktu

Fasilitas kesehatan termasuk didalamnya puskesmas hingga rumah sakit dalam keadaan ‘super hectic’. Apalagi jika kita berada di zona merah. Sangat memungkinkan jika kita ke fasilitas kesehatan maka kita akan terpapar virus. 

Oleh karena itu, jika tidak urgent sekali maka sebaiknya kita menunda berkunjung ke fasilitas kesehatan. Dan jikapun kita terpaksa sekali ke fasilitas kesehatan maka sebisa mungkin tidak membawa anggota keluarga termasuk anak kecil ke dalamnya. 

3. Jika Memungkinkan, sediakan Rumah atau Ruangan Kosong untuk Isolasi Mandiri

source image: pixabay

Sejak corona merebak, kami selalu mengikuti perkembangannya. Dan kami sekeluarga selalu berpikir ke depan untuk berjaga-jaga. 

Karena itu ada rumah khusus milik keluarga besar kami yang sengaja dikosongkan. Mengingat beberapa anggota keluarga kami aktif bekerja diluar. Kami berpikir, jika saja ada salah satu dari kami yang positif dan tidak parah.. Mungkin lebih baik untuk isolasi mandiri di tempat khusus. 

Rumah tersebut juga kami gunakan jika ada anggota keluarga yang dari luar kota atau mudik ke tempat kami. Sebisa mungkin isolasi mandiri dulu sebelum bertemu dengan keluarga lainnya. 

4. Konsultasi dengan Dokter Jika Memiliki Gejala Covid 19

Jika kita mulai merasa tidak sehat dan mulai bergejala yang mengarah ke covid 19, maka ada baiknya kita segera berkonsultasi dengan dokter. 

But wait, bukannya aku tadi bilang untuk menghindari fasilitas kesehatan sementara waktu? 

Bukan masalah kok, konsultasi zaman now bisa dilakukan tanpa bertatapan secara langsung. Sekarang, segalanya kan serba online. Hehe.. 

Aku sendiri sudah terbiasa untuk berkonsultasi dengan dokter langgananku. Dulu sih aku hanya berkonsultasi lewat nomor WA dokter saja. Tapi semenjak kecelakaan kecil 2 minggu yang lalu, aku berinisiatif untuk menginstall halo doc demi konsultasi tentang masalah gigiku. 

Aplikasi Halo Doc ini sangat membantu sekali ditengah pandemi covid 19 ini. Hanya dengan download Halo Doc di PlayStore, kita sudah bisa terhubung dengan berbagai dokter umum hingga spesialis di seluruh indonesia. Dan ssst.. Konsultasi online pertamaku gratis loh.. Hehe

Bukan hanya bisa konsultasi saja. Kita dapat mendapatkan ilmu khusus tentang covid 19 disana, kita juga dapat membuat janji dengan dokter, dan lagi bisa banget kita konsultasi tentang masalah jiwa disana. Duh, siapa nih yang pas masa pandemi ini bawaannya pengen bersih-bersih dan cuci tangan mulu.. Padahal di rumah aja. Mungkin itu tandanya kita perlu menenangkan diri dan sedikit curhat dengan dokter. 

Jika kita memiliki gejala covid 19, sebaiknya kita konsultasi online dulu dengan dokter di halo doc. Dont worry, bayarnya gak mahal kok. Bahkan ada diskon dan beberapa dokter yang jadi free dari diskon tsb. Yakan.. Dari pada kita ke RS terus tidak sengaja terpapar virus disana, mending kita ‘santuy’ di rumah sambil berkonsultasi online. Siapa tau, gejala yang kita pikir mirip covid 19 itu hanya gejala alergi atau flu biasa. 

5. Melakukan Rapid Test

Nah, jika kita memiliki beberapa gejala covid 19.. Atau mungkin pernah tak sengaja berkontak dengan pasien positif. Ada baiknya jika kita melakukan rapid tes di tempat rapid test terdekat. Siapa tau ternyata selama ini kita termasuk dalam carrier tanpa gejala.

source image: freepik

Hal ini untuk mengetahui apakah kita termasuk reaktif atau tidak. Karena jika hasilnya reaktif, akan lebih baik jika kita isolasi mandiri dulu demi memutus rantai penularan ke orang terdekat kita. 

Rapid tes itu tidak horor kok. Tesnya sangat simple dan tidak menyakitkan. Dan jangan terlalu takut jika hasilnya reaktif karena belum tentu hasil swab nya positif loh. 

Hal yang tidak kalah penting dari berhadapan dengan covid 19 adalah meningkatkan imun kita. Jadi, sebisa mungkin buatlah pikiran positif dan menyenangkan. Jangan lupa untuk terus mengkonsumsi makanan bergizi lengkap serta minum Vit C. 

Aku yakin Covid 19 ini akan segera berlalu. 

IBX598B146B8E64A