Browsed by
Category: Kesehatan

Mengulas informasi kesehatan dari pengalaman penulis

Kreasi Resep Makanan Sehat Menggunakan Susu Cair Anak

Kreasi Resep Makanan Sehat Menggunakan Susu Cair Anak

Masih segar rasanya di ingatanku tentang kata-kata dari Chef Devina Hermawan pada konferensi pers dari Morinaga Chil*Go! minggu kemarin. 

“Kadang tuh suka worry sama kecukupan gizi anak aku. Yang makannya suka pilah pilih. Cukup gak ya?”

Kata-kata itu sangat mewakili pikiran emak-emak sepertiku. Apalagi, anak keduaku Humaira sedang dalam fase picky eater yang lumayan parah. Bisakah aku mencukupi gizinya hanya dengan makanan yang ia suka saja? 

Atau, kita yang harus memutar otak dan mencari cara agar menu sehari-hari dapat diatur dengan kreatif? 

Berbagai Kreasi Resep Makanan Sehat dengan Susu Cair Anak

“Mau tidak mau, kita harus kreatif dalam memberikan variasi makanan pada si kecil. Kenali bahan-bahan favoritnya dan atur keseimbangan gizinya.”

Ya, Chef Devina mengaku salah satu idenya untuk mencukupi kebutuhan gizi si kecil adalah dengan mengolah masakan yang bervariasi. Selain itu, kreasi masakan tersebut juga diberi tambahan susu cair anak untuk melengkapi gizi seimbangnya. Ide kreatif Chef Devina dalam menyajikan makanan untuk buah hatinya menginspirasiku untuk mengenali makanan favorit anakku dan mengkreasikannya. 

Nah, berikut ini adalah resep makanan sehat kreasiku:

Korean Cheese Bread Simple ala Chil*Go

Awalnya, ide ini hanyalah ide iseng saja. Aku dan Pica sering sekali memang bereksperimen dengan roti tawar. Bahkan, kami pernah membuat kue red velvet dari roti tawar. Haha. 

Karena sejak punya 2 anak, jujur aku tidak terlalu sempat membuat cemilan yang susah. Termasuk itu untuk mengulen roti dsb. Sehingga setiap minggu memang selalu membeli roti tawar. Tetapi, trust me resep korean cheese bread simple ini sudah 2x kami praktikkan. Hasilnya ludes tak bersisa. Bahkan Humaira pun sangat suka. 

Ini dia resepnya

Bahan:

10 lembar roti tawar ukuran sedang (saya pakai 15 lembar ukuran kecil) 

1 butir kuning telur

3 siung bawang putih

3 sdm mentega

3 sdm madu

100 gr keju quick melt

Parsley secukupnya

1 botol Morinaga Chil*Go Original

Cara Membuat:

Cincang halus bawang putih masukkan kedalam wadah tahan panas dan campur bersama kuning telur, mentega, keju quick melt dan madu. Aduk dan masukkan ½ botol Morinaga Chil*Go Original. 

Selanjutnya tim bahan campuran tersebut hingga kejunya leleh dan mengental. Ini adalah saos cheese garlicnya. 

Ambil selembar roti tawar. Oles dengan saos cheese garlic tersebut lalu taburi parsley. Gulung dan tata diatas loyang tahan panas. Ulangi hingga habis

Tuang ½ botol Morinaga Chil*Go kedalam sisa saos yang ada. Aduk dan tuang kedalam loyang. Lalu, taburi lagi dengan parsley. 

Panggang di oven dengan suhu 180 derajat selama 20 menit atau hingga kekuningan.

Sajikan hangat. 

Roti ini sangat enak dijadikan cemilan maupun hidangan sarapan. Perpaduan rasa bawang putih dan keju yang meleleh didalamnya membuat si kecil berselera. 

Resep ini biasanya aku sajikan dengan lauk disampingnya. Bisa berupa sosis goreng maupun nugget, tambahkan juga sup untuk melengkapi kandungan gizinya. Bisa juga disajikan dengan daging barbeque atau daging lada hitam. Jangan lupa sediakan cocolan mayonaise dan saos tomat. 

Es Campur Frambozen Mix Agar Chil*Go

Nah, ketika bulan puasa begini anak aku si Pica biasanya selalu request menu yang segar untuk berbuka. Dia selalu suka dengan sirup. Dan biasanya sangat jarang meminta susu untuk berbuka. Jadi, agar nutrisinya saat berpuasa terpenuhi saat berbuka maka aku juga sedikit tricky untuk memasukkan susu. Kali ini, aku mencampurkan susu sebagai potongan agar untuk sirup berbuka puasa. Tak lupa dicampur dengan buah agar kandungan seratnya juga ada.

Berikut resepnya:

Bahan Sirup:

250 gr gula pasir

100 ml air

2 tetes frambozen

2 tetes pewarna merah tua

1 lembar daun pandan

Bahan Agar:

3 botol Morinaga Chil*Go Original

½ sachet bubuk agar-agar plain

Bahan Tambahan:

Potongan Nanas dan Sagu Mutiara. (Bisa tambahkan buah dan bahan lain yang disuka) 

Cara membuat:

Campurkan bahan sirup dan masak hingga mendidih. Dinginkan. 

Campurkan bahan agar. Masak hingga mendidih. Dinginkan dan masukkan kulkas. 

Potong agar-agar susu kecil-kecil. Tata di dalam gelas. Masukkan potongan nanas dan sagu mutiara. Lalu masukkan ice cube dan tuangkan sirup frambozen secukupnya. Terakhir, tuangkan air putih secukupnya. Sajikan dingin. 

Bakwan Campur Gurih ala Chil*Go 

Bakwan kok pakai susu? Emangnya enak? 

Hmm.. Enak kok! Kalian belum pernah nyoba sih. Hihi. Lagian, ini bukan pakai susu biasa. Tetapi Morinaga Chil*Go original yang rendah gula. Jadi, bakwannya enggak manis kok. Tetap sesuai dengan identitasnya yang gurih crunchy. Justru dengan tambahan susu bakwannya jadi tambah gurih. 

Ya, Bakwan memang terkenal sebagai jurus jitu untuk anak-anak yang suka ngemil. Karena di dalam bakwan kita bisa menyelipkan berbagai lauk dan sayur. Gizi dan nutrisi terpenuhi dan anak juga suka. Berikut resepnya:

Bahan:

1 buah wortel (iris tipis) 

200 gr kol (iris tipis) 

1 butir telur

200 gr tepung terigu

50 gr tepung beras

100 gr udang kecil

1 batang daun bawang (iris tipis) 

2 helai kacang panjang (iris tipis) 

1 botol Morinaga Chil*Go Original

Air secukupnya

Minyak goreng secukupnya

Bumbu Halus

1 sdt garam

2 siung bawang putih

1 sdt merica bubuk

Penyedap secukupnya

Cara membuat:

Campur bumbu halus dengan 1 butir telur. Kocok sebentar. 

Masukkan bahan yang diiris (wortel, kol, daun bawang dan kacang panjang). Aduk rata. 

Masukkan tepung terigu dan tepung beras. Masukkan juga udang kecil. 

Terakhir, masukkan susu Morinaga Chil*Go Original. Masukkan air secukupnya hingga tekstur adonan pas. 

Goreng hingga kecoklatan. 

Morinaga Chil*Go Rasa Original, Lengkapi Kreasi Ibu Tanpa Worry

Semua kreasi resep di atas memakai Morinaga Chil*Go rasa Original. Bukan tanpa alasan loh aku memilih Morinaga Chil*Go rasa Original untuk melengkapi kreasinya. 

Varian rasa Original dari Morinaga Chil*Go ini adalah varian baru. Dibuat spesial karena rendah gula. Kalian tau? Anak-anak yang kelebihan asupan gula akan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Selain itu, juga memungkinkan adanya dampak masalah pada gigi hingga obesitas jika anak-anak kelebihan asupan gula. 

Jika melihat dari riwayat penyakit keluarga suami maka aku khawatir sekali kalau anakku nanti terkena diabetes. Maka, sejak kecil asupan gulanya harus dijaga. Morinaga Chil*Go varian Original menjawab solusi atas rasa khawatir itu. 

Dengan Morinaga Chil*Go rasa Original aku dan anak-anak jadi tidak worried. Karena berbagai masakan yang dikreasikan dengan Morinaga Chil*Go Original menjadi kaya rasa, gurih dan enak. Picky eater pada anak pun lambat laun dapat diatasi dengan berbagai kreasi masakan. 

Rumus membuat kreasi masakan adalah peka terhadap bahan-bahan makanan yang disukai oleh anak. Perlahan, kenalkan ia dengan bahan makanan lainnya yang mengandung gizi baik lalu cerdiklah dalam memadukannya bersama bahan makanan yang ia sukai. Selain itu, kita juga harus peka dengan tekstur yang disukai anak. Jika sudah paham dengan itu semua maka tengoklah isi kulkas dan kreasikan sebisa mungkin. 

Karena dari rasa ada cinta. 

Nah, kalau kalian bagaimana? Punya resep favorit juga yang menjadi andalan di rumah? Share denganku yuk! 

Pentingnya Menjaga Saluran Pencernaan Anak untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak di Masa Pandemi

Pentingnya Menjaga Saluran Pencernaan Anak untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak di Masa Pandemi

“Mama, memangnya covid itu ada gak sih. Masa temen Pica bilang itu cuma bohongan aja. Buktinya temen-temen sekelas Pica gak ada tuh yang sakit.” Pica bertanya bingung padaku hari itu.

“Menurut Pica sendiri gimana?” Aku bertanya balik.

“Keluarga kita juga gak ada yang sakit ma. Malah pas pandemi sehat-sehat aja. Jarang sakit. Jangan-jangan cuma bohongan sama kayak dibilang temen Pica.”

“Temen Pica mungkin mainnya kurang jauh. Sini Mama jelasin..” 

Mungkinkah Anak-Anak Bisa Terserang Covid? 

Di indonesia, kasus positif covid pada anak itu tertinggi lho di Asia. Inilah fakta yang ada berdasarkan data di lapangan. Mau dibilang konspirasi, tapi ternyata tidak demikian. Mau dibilang anak-anak daya tahan tubuhnya jauh lebih bagus, tapi nyatanya kasus kematian itu ‘ada’. 

Kami sekeluarga bisa dibilang beruntung dan patut bersyukur dalam masa pandemi seperti ini. Bagaimana tidak? Circle keluarga besar dan temanku serta teman di sekolah Pica tidak ada kasus positif covid yang berat. Padahal, keluarga besar kami ada yang berprofesi sebagai dokter hingga perawat. Saking beruntungnya, Pica sampai bertanya hal demikian padaku. Tapi, aku tidak menghakiminya. Namanya kan juga anak kecil. Masih 8 tahun loh. Dan menurutku sangat wajar dia berpikiran demikian. 

Mungkin, dia bertanya begitu karena mengakui sendiri bahwa dia jarang sakit sejak pandemi. Padahal waktu sekolah dulu, kalau ada satu saja teman sekelasnya yang sakit, satu hari setelahnya pasti ada saja yang tertular. Termasuk itu Pica. Yah, mungkin karena merasa sehat raga dan merasa haus akan aktivitas di luar rumah maka psikologisnya bertanya demikian. Padahal, hmm.. Bukan begitu kan cara mainnya Bu ibu? Anak-anak jarang sakit masa pandemi ya karena protokolnya sudah sedemikian ketat bukan?

Tapi tunggu, apakah mengandalkan protokol saja sudah cukup? 

Kiat Menjaga Daya Tahan Tubuh Anak di Masa Pandemi

Untuk menjaga kesehatan di masa pandemi kami percaya pada pentingnya menjaga 3M, yaitu Iman, Imun dan Aman

Karena apapun yang terjadi, berpegang pada Iman dalam berdoa adalah hal yang tak bisa dianggap remeh kekuatannya. Pun juga tak abai dengan protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak, hingga mencuci tangan sudah menjadi perilaku standar di masa demikian. 

Tapi, ada satu hal lagi yang sangat kami perhatikan untuk menjaga kesehatan anak. Satu hal itu adalah menjaga imunitas atau daya tahan tubuh anak. Yap, selama pandemi aku sangat menjaga imun anak-anak di rumah dengan memastikan gizi harian mereka terpenuhi. Karena sungguh, kalau anak sakit itu rasanya emaknya jadi ikutan sakit. Dari sakit hati melihatnya, hingga sakit karena capek merawatnya. Jadi, kalau bisa kesehatan mereka itu nomor 1. 

“Kalian gak boleh sakit, biar emak aja yang lelah..”

Begitulah kira-kira kondisi idealis yang aku ciptakan selama ini. Sampai suatu hari, aku mengikuti konferensi pers dari Morinaga Chil*Go! secara virtual pada tanggal 25 Maret 2021 dengan tema Peduli Gizi Anak. Waw, Excited sekali. Karena selain dihadiri para dokter yang kompeten juga ada Chef Devina, finalis master chef season 5 juga yang bakal bagi-bagi resep. Ini juga ikhtiarku yang kesekian dalam mengikuti kelas gizi agar anak-anak di rumah tidak gampang sakit. Karena jujur, anak-anak mulai bosan dengan masakan yang itu-itu saja. Huhu.

“Daya tahan tubuh anak berkaitan erat dengan pemberian nutrisi harian dan pola pengasuhan keluarga. Tentunya kesehatan keluarga ini juga tidak terlepas dari peran para dokter yang ada dalam memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan terhadap keluarga, termasuk untuk anak-anak,”

Dr. Daeng M Faqih, S.H., M.H., Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI)

“Pola makan seimbang yang terdiri dari nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan nutrisi mikro (vitamin dan mineral) dikombinasikan dengan pola hidup bersih sehat (PHBS) seperti rajin cuci tangan, menghindari keramaian, memakai masker, tidur cukup, tetap beraktivitas fisik, serta stres rendah, paling efektif membantu tubuh melawan infeksi virus dan penyakit. Hal ini sama pentingnya untuk orang dewasa maupun anak-anak, apalagi dalam situasi saat ini. Oleh karenanya para orang tua dan anggota keluarga perlu memperhatikan dengan benar-benar pemenuhan nutrisi dan juga aktivitas anak sehari-hari,” jelas dr. Daeng.

Perkataan dr. Daeng kembali mengingatkan diriku bahwa aku harus mengatasi masalah picky eater yang ada pada kedua anakku akhir-akhir ini. Karena pola makan itu harus seimbang. Baik itu nutrisi makro maupun mikro. Aku pun kembali disadarkan bahwa anak-anak harus beraktivitas fisik selama pandemi. Jujur terkadang sedikit takut membawa anak keluar rumah. Sehingga kadang sehabis belajar anakku menjadi uring-uringan di kamarnya. Tapi dokter bilang bahwa tidak apa-apa membawa anak keluar rumah menikmati alam bebas. Asal tidak berinteraksi dengan circle yang lain. 

Intinya, untuk menjaga imunitas kita perlu keseimbangan jiwa dan raga. Raga yang sehat dengan nutrisi seimbang serta jiwa yang senang dengan aktivitas yang seimbang. Berpikiran positif namun tidak stress dan tidak juga meremehkan. 

Daya Tahan Tubuh Anak yang Baik diawali dari Saluran Pencernaan Anak yang Sehat

Sudah sangat banyak yang tau kiranya bahwa nutrisi berperan penting untuk menjaga imunitas. Namun, tahukah? Bahwa awal dari daya tahan tubuh anak yang baik itu adalah saluran pencernaan anak yang baik. 

Penelitian telah membuktikan bahwa sistem kekebalan tubuh sangat berhubungan dengan saluran pencernaan. Hal ini bisa terjadi karena saluran pencernaan yang baik memungkinkan penyerapan nutrisi dalam tubuh bisa dilakukan dengan baik, yang pada akhirnya membuat daya tahan tubuh menjadi lebih baik. 

Bagaimana saluran cerna yang sehat itu? 

Saluran cerna yang sehat dihuni oleh bakteri baik yang dominan untuk melawan bakteri jahat. Nah, untuk bertumbuh subur, bakteri baik perlu makanan yang disebut prebiotik, di mana salah satu sumbernya adalah Serat Pangan Inulin.

Inulin adalah salah satu jenis karbohidrat yang mengandung serat dan tergolong sebagai prebiotik. Secara alami, inulin dapat ditemukan pada berbagai buah-buahan dan sayuran, seperti bawang, pisang, bawang putih, gandum, dan sebagainya. 

“Serat pangan inulin bisa menjadi salah satu senjata utama dalam tumbuh kembang dan menjaga kesehatan tubuh anak-anak. Serat pangan inulin adalah salah satu jenis prebiotik yang tinggi serat dan rendah kalori serta dapat menjadi pilihan nutrisi yangbermanfaat bagi saluran pencernaan anak, apalagi saluran pencernaan sering disebut sebagai “otak kedua” manusia.”

-Dr. Muliaman

Adapun ciri saluran anak yang sehat antara lain adalah:

  • Pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil sesuai dengan yang direkomendasikan.
  • Si Kecil jarang mengalami gangguan pencernaan.
  • Nafsu makan Si Kecil baik dan nutrisi yang masuk dapat terserap dengan baik.

Jujur, saat awal pandemi hingga 3 bulan terakhir kedua anakku ✅ saja untuk tiga point diatas. Akan tetapi, sudah hampir seminggu ini anakku yang kedua mengalami susah BAB. Tidak hanya itu, nafsu makannya pun sedikit menurun. Sebagai Ibu, aku jadi cemas. Takut kalau-kalau sebenarnya nutrisi yang ia konsumsi tidak seimbang. Karena akhir-akhir ini picky eater-nya kambuh lagi. Padahal, aku sudah bolak-balik mengatur menu yang berbeda. 

Disitulah aku ingin menangis.. 😭

Melengkapi Nutrisi Anak dengan Morinaga Chil*Go! 

Akhirnya, selain bolak-balik mengatur menu berbeda untuk buah hati. Aku pun memutuskan untuk memberikannya nutrisi tambahan. Dari sekian banyak saran hingga mengikuti webinar maka aku memutuskan untuk melengkapi nutrisi anak dengan Morinaga Chil*Go!

“Orang tua perlu benar-benar memperhatikan nutrisi harian anak di masa pandemi ini. Selain memberi makanan sehat dan seimbang, orang tua juga perlu memberikan nutrisi tambahan yang tepat karena dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak. Nutrisi tambahan yang diberikan bisa berupa susu, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Dan semua nutrisi ini diperlukan untuk mendukung saluran pencernaan yang lebih sehat, agar bakteri baik yang ada di dalamnya bisa membentuk daya tahan tubuh yang lebih optimal.”

dr. Muliaman Mansyur, Head of Medical KALBE Nutritionals 

Anak-anakku sudah familiar dengan susu Morinaga sejak dulu. Dari Pica yang sempat mengalami alergi susu sapi dan mengonsumsi Morinaga Chil*School Soya. Hingga akhirnya keduanya cocok untuk mengkonsumsi Morinaga Chil*Go! 

Nah, Morinaga Chil*Go! sendiri merupakan produk inovasi baru dari Kalbe dan Morinaga dalam bentuk susu cair siap minum untuk usia 1 – 12 tahun, beberapa keunggulannya adalah mengandung Serat Pangan Inulin yang berguna untuk menjaga saluran pencernaan anak, serta 9 Vitamin dan 5 Mineral untuk mendukung daya tahan tubuh. 

Ssst.. Kalian tau? Morinaga Chil*Go! ini dikemas dalam kemasan praktis yang bisa didaur ulang lho.  Morinaga Chil*Go! juga telah melalui uji kualitas PT Kalbe Nutritionals dan Morinaga Jepang. 

Morinaga Chil*Go! juga punya varian rasa yang pasti disukai anak-anak, seperti Coklat, Vanila, Stroberi, dan Melon. Akan tetapi untuk nutrisi tambahan sehari-hari aku lebih merekomendasikan Morinaga Chil*Go rasa original.

Morinaga Chil*Go! Rasa Original, Susu Cair Rendah Gula untuk Nutrisi Tambahan Harian Si Kecil

“Dalam memberikan nutrisi harian serta nutrisi tambahan untuk anak, perlu diperhatikan juga kandungan gulanya sehingga tidak berlebihan. Hal ini dikarenakan jika anak-anak kelebihan asupan gula, akan menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, permasalahan pada gigi, obesitas, dan berbagai penyakit di masa depan. Adapun berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO) tahun 2015, asupan harian gula tambahan untuk anak usia di bawah 12 tahun maksimal 200 kkal, yang setara dengan 50 gram gula atau 6 sendok makan/hari,”

dr. Muliaman

Pada bulan Januari tahun 2021 kemarin, Morinaga Chil*Go! mengeluarkan varian rasa baru yaitu rasa original. Varian ini dibuat dengan kandungan lebih rendah gula untuk mendukung gaya hidup yang lebih sehat. Karena seperti dipaparkan oleh dr Muliaman tadi bahwa jika anak-anak kelebihan asupan gula maka akan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Selain itu dampak masalah pada gigi hingga obesitas juga tidak dapat disepelekan. 

Selain karena rendah gula, ada dua alasan lain kenapa aku lebih menyukai Morinaga Chil*Go! varian rasa original. 

Alasan Pertama adalah rasanya lebih friendly buat anak-anak yang terbiasa mengkonsumsi ASI. Karena rasanya enak maka anak keduaku Humaira yang berumur 2 tahun dan sudah disapih langsung suka serta menghabiskannya. Ini sangat jarang terjadi karena biasanya dia hanya suka varian coklat. 

Alasan Kedua adalah varian rasa original ini bisa dikreasikan menjadi berbagai olahan makanan. Dari appetizer hingga dessert. Aku jadi semakin semangat untuk mencoba-coba resep yang menggunakan susu sejak penampilan chef Devina di webinar kemarin. 

Jadi ceritanya Chef Devina sempat sedikit ‘curhat’ bahwa beliau sempat khawatir apakah kedua anaknya telah mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk membangun daya tahan tubuh. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Makanya, Chef Devina juga memberikan nutrisi tambahan dengan Morinaga Chil*Go!. Selain mengkonsumsi dengan meminum seperti biasa.. Chef Devina juga mengkreasikan berbagai masakan dengan Morinaga Chil*Go!. 

Yup, pada webinar kemarin itu chef Devina memasak Baked Broccoli Potato Cheese dan Panacotta with Mixed Berries Sauce​. Keduanya terlihat enak dan gampang dipraktikkan. Aku jadi gatal juga untuk mencoba membuat kreasi resep dengan menggunakan Morinaga Chil*Go! rasa Original. 

Karena menjaga daya tahan tubuh hingga menjaga rasa dari masakan Ibu itu adalah wujud kasih sayang yang akan selalu diingat oleh anak hingga ia sudah besar nanti. ❤

***

Nah, panjang juga jadinya curhatanku kali ini ya. Dari membahas covid pada anak hingga kiat menjaga daya tahan tubuh dari menciptakan saluran pencernaan yang sehat. Semoga ini bermanfaat ya buat kalian yang mungkin mengalami perasaan yang sama sepertiku. 

Stay Safe and Stay Happy.. ❤

Website : https://morinagaplatinum.com/id

IG : @morinagaplatinum

Tingkatkan Imun saat Pandemi dengan Imunomodulator

Tingkatkan Imun saat Pandemi dengan Imunomodulator

“Mama, Nene Pica bilang kalo kita rajin minum jamu nanti gak bakal kena virus corona Ma..”

“Ah, masa.. Memangnya Pica suka minum jamu kayak Nene?”

“Bukan, yang minum jamu Mama aja. Pica asal rajin minum susu sama makan aja katanya. Kan jamu itu buat orang dewasa. Pica masih kecil.”

“Ah Pica, bilang aja gak suka pahit..” Ledekku kemudian. 

Obrolan itu, kembali terngiang ketika kemarin aku belajar tentang Imunomodulator pada sabuah acara webinar.

Apa Itu Imunomodulator? 

Jujur sih aku bukan tipikal yang percaya begitu saja kalau rerempahan seperti kunyit, jahe, serai dsb adalah obat untuk menangkal virus corona. Bagiku, jamu ya jamu saja. Sifatnya menjaga sistem imun. Bukan untuk mengobati. Jadi, aku tidak terlalu kental menerapkan rajin minum jamu layaknya Mama. 

Tapi kemudian, aku berkenalan dengan istilah imunomodulator ketika mengikuti webinar bersama Imugard di hari Senin, tanggal 22 Maret 2021. Webinar ini mengundang Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si.(Herbal) yang merupakan Ketua Umum PDPOTJI (Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia). Dan disitulah aku berkenalan dengan istilah imunomodulator dan manfaatnya. 

Imunomodulator adalah zat atau substansi yang dapat memodifikasi respon imun, mengaktifkan mekanisme pertahanan alamiah maupun adaptif →mengembalikan ketidakseimbangan sistem imun yang terganggu. 

Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si

“Jadi, dengan adanya imunomodulator maka sistem imun kita dapat ditingkatkan. Karena virus sejenis corona tidak memiliki obat spesifik. Ia bisa dilawan dengan imun yang kuat. Bahkan, vaksin bukanlah obat untuk virus corona. Vaksin hanya akan mendorong pembentukan kekebalan tubuh.”

Hmm.. Sesungguhnya kadang perkataan orang tua itu memiliki sisi benarnya juga. Dokter saja membenarkan khasiat imunomodulator untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan tubuh loh. Akan tetapi, ingat.. bukan berarti kita hanya mengandalkan imun di masa pandemi ini. Ingat juga untuk iman dan aman dengan tak lupa berdoa dan menerapkan protokol kesehatan. 

Herbal dengan Kandungan Imunomodulator yang Ada di Indonesia

Ternyata,  Banyak Herbal Indonesia yang punya peranan sebagai imunomodulator yang dapat dikombinasikan untuk mendapatkan efek modulasi respon imun yang lebih optimal. Tentunya dengan tetap mengutamakan pertimbangan keamanan pemakaian jangka panjang ya. Beberapa tanaman itu antara lain adalah:

Meniran (Phyllanthus niruri)

Meniran ini bersifat Imunostimulasi. Ia dapat Mempercepat penyembuhan infeksi virus cacar air. Dan aman untuk pemakaian jangka panjang. 

Dulu, aku bingung ketika salah seorang tetangga mencari tanaman ini untuk cacar air anaknya. Oh ternyata, begini manfaatnya. Aku sendiri belum pernah cacar air dan memanfaatkan meniran ini sih. Jadi, belum tau khasiat aslinya. 

Kunyit (Curcuma longa / Curcuma domestica)

Kunyit juga bersifat imunostimulasi. Selain itu ia juga bersifat anti-radang. Kunyit dapat memelihara dan memperbaiki sistem pencernaan. Kunyit juga dikenal aman untuk pemakaian jangka panjang.

Hmm.. Thats why inilah jamu yang sering diminum orang tua jaman dulu hingga sekarang. Iya. Akupun suka kok. Haha

Daun Kelor (Moringa oleifera)

Jangan salah. Daun kelor pun bersifat imunostimulasi. Sumber nutrisinya banyak yaitu: kalsium, zat besi, fosfor, kalium, zinc, protein, vitamin A, vitamin B, vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, asam folat dan biotin. Daun kelor juga aman untuk pemakaian jangka panjang

Kalau aku pulang ke rumah Mama, aku hampir setiap hari memakan sayur daun kelor loh. Dan selain untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ASI daun kelor ini juga imunomodulator yang punya manfaat wow. Hmm.. Kudu banyak nanam daun kelor ini di rumah. 

Imugard, Kombinasi dari 3 Herbal Imunomodulator

Kalian bertanya-tanya bukan ketiga herbal imunomodulator ini kalau bersatu bakal begimana ya jadinya? 

Apa perlu kita coba bereksperimen dengan membuat sayur bening daun kelor dengan ekstra kunyit dan meniran supaya imun tubuh tetap terjaga? Maaf, aku imajinasikan sebentar. Kok belum apa-apa sayurnya terasa bau jamu ya.. 😂

Kenapa musti dikombinasikan? Kenapa gak konsumsi salah satunya aja? Nah, kalau dikombinasikan jadi punya manfaat ekstra yaitu jadi anti-peradangan yang bersinergis dengan keunggulan kunyit dalam memperbaiki sistem pencernaan juga keunggulan daun kelor sebagai sumber nutrisi yang cukup seimbang. Jadi, semacam kombinasi yang yahud banget buat jaga sistem imun. 

Tapi gak perlu juga kali bikin sayur bening kelor campur kunyit plus meniran. Karena, hari gini udah ada Imugard loh. 

Imugard ini udah 3 in 1, jadi dalam satu kapsul sudah mengandung 3 bahan imunomodulator tadi. Gak perlu lah ya kita  sayur bening kelor campur kunyit dan meniran. Hihi. Dan Imugard juga sudah ada standar ISO. 

Konsumsi cukup 1 kaplet Imugard setiap hari untuk menjaga daya tahan tubuh.

Nah,  saat kondisi tubuh dirasa sedang turun / drop maka konsumsi 2 kaplet Imugard setiap hari sampai membaik, lalu kalau sudah mendingan lanjutkan dengan 1 kaplet setiap hari.

Imugard dapat diminum oleh anak diatas 12 tahun, dewasa, dan lansia. 

Imugard bisa dibeli di Tokopedia, lazada, blibli dan shopee. Imugard juga tersedia di offline store seperti di Century, Watson, Apotek dan Toko Obat Retail. 

Nah temans, usaha apa aja yang kalian lakukan untuk jaga Imun? Yuk, coba Imugard juga! 

7 Cara Meminimalisir Masalah Gigi Keluarga Saat Pandemi

7 Cara Meminimalisir Masalah Gigi Keluarga Saat Pandemi

“Ma, Gusi Pica kayaknya bengkak deh Ma..” Pica masuk ke kamarku dan mengeluhkan gusinya yang bengkak. 

“Coba sini mama lihat..”

Dan kulihat gusi dibagian gerahamnya membengkak. Akupun langsung sok mendiagnosa instan dan berkata, “Ini gigi yang mau tumbuh.. Musti sering-sering gosok gigi supaya gak masuk kotoran..”

“Jadi gak perlu ke dokter gigi ya Ma?”

“Memangnya Pica berani ke dokter gigi pas kek gini?” Ucapku sambil bercanda menantang.. 

“Gak deh ma.. “

Dan dia langsung berlari untuk sikat gigi. 

***

Yah.. Masalah gigi dan gusi memang kerap hadir di keluarga. Dari masalah gigi berlubang, karang gigi, gusi bengkak hingga kecelakaan gigi. Hal-hal demikian menyadarkan kita bahwa menjaga kebersihan gigi dan mulut tidak bisa diabaikan. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang. 

Masih ingat rasanya awal pandemi melanda di indonesia. Beberapa praktik dokter gigi tutup dan terpaksa kami menunda schedule rutin. Bahkan untuk mencabut gigi susu anak kami mengusahakan untuk melakukan teknik kuno saja. Alih-alih membawa ke dokter gigi yang mungkin saat itu kami nilai berisiko tinggi. 

Apakah selama pandemi kami tidak pernah ke dokter gigi? 

Tentu tidak bisa begitu.. Ferguso.. 

Ada beberapa ‘drama’ yang menyebabkan kami harus ke dokter gigi. Dan salah satunya adalah musibah kecelakaan gigi yang menyebabkan aku harus kesana. Dan saat melihat kerusakan gigi yang terjadi padaku sekarang, aku sangat melek dan sadar bahwa kerusakan gigi itu tidak bisa dikembalikan seperti normal. Hiks. 

Aku kembali disadarkan tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut ketika mengikuti webinar bersama pepsodent hari Jum’at, tanggal 19 Maret kemarin. Ya.. Jadi, dalam rangka hari kesehatan gigi dan mulut sedunia pada tanggal 20 Maret maka pepsodent menghadirkan tokoh yg concern dg kesehatan gigi untuk mengisi acara tersebut, yaitu:

– Ira Noviarti: Presdir Unilever Indonesia

– Dr. Gerhard Seebergers: Presiden FDI World Destal Federation

– drg. Oscar Primadi, MPH: Sekjen Kemenkes RI

-drg. Ratu Mirah Afifah: Head of Sustainable Living Beauty and Personality and Hine Care Unilever Indonesia Fondation

-Dr. drg.R.M. Sri Hananto Seno, Sp.BM : Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia

-Duma Riris : Selebritis dan Ibu dari dua anak

Acara yang berlangsung dari jam 14.00 hingga 16.30 WIB itu membuka banyak pemahamanku tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dan akupun menarik benang merah bahwa ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk meminimalisir masalah gigi dan mulut saat pandemi. 

Cara meminimalisir masalah gigi pada keluarga saat pandemi

Sangat banyak materi yang bisa aku dapatkan pada webinar kali ini. Akan tetapi, aku akan membahas hal spesifik khusus pada cara meminimalisir masalah gigi dan mulut seperti diatas saja. Hal itu antara lain:

1. Mengubah Pola Jadwal Sikat Gigi

Ada hal menarik yang aku ingat pada webinar kemarin bahwa kebanyakan dari kita memiliki jadwal sikat gigi yang sama yaitu pagi dan sore hari. Dan itu dilakukan ketika sesudah mandi. 

Sebenarnya, hal itu tidak salah sepenuhnya. Hanya saja, sebenarnya yang lebih baik adalah menyikat gigi setelah selesai makan. Contohnya ketika di pagi hari, lakukanlah sikat gigi setelah selesai sarapan. Bukan sebelum sarapan. 

Begitupun juga jadwal sikat gigi di sore hari. Hal ini tentu baik. Namun, jangan lupa bahwa yang tidak kalah penting adalah menyikat gigi sebelum tidur. 

2. Menyeimbangkan Porsi Kesehatan Fisik dan Mental 

Apa hubungannya ya? Hmm.. Ada kok. 

Ada tidak yang selama pandemi ini merasa parno dan takut? Kemudian mulai memborong suplemen dan beberapa keperluan pangan untuk bisa berlama-lama di rumah saja? 

Tidak salah sebenarnya, asalkan nutrisi dari makanan yang distok di rumah tetap baik. Bukan sekedar makanan instan dan rutin mengonsumsi suplemen kesehatan saja. Karena kadang, rasa takut dan habit yang demikian justru menurunkan imun dan mengabaikan kebiasaan baik yang lain. Termasuk itu menggosok gigi. 

Khawatir berlebihan pada hal yang belum terjadi menyebabkan habit yang baik menjadi berkurang porsinya karena terdistraksi oleh kecemasan yang lain sehingga tidak menjadi skala prioritas lagi. Survei menunjukkan bahwa 70% masyarakat mengalami hal ini. 

Maka, sebaiknya seimbangkan antara kekhawatiran dan prioritas yang baik termasuk itu rutin menggosok gigi

3. Berkonsultasi Secara Online

Beberapa orang menghindari pergi ke dokter gigi saat pandemi. Hal ini bukanlah hal yang salah. Karena risiko penularan virus corona merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. 

Namun, sebenarnya banyak cara lain untuk tetap memperhatikan kesehatan gigi. Salah satunya dengan berkonsultasi secara online terlebih dahulu. 

Aku sudah beberapa kali memanfaatkan konsultasi online saat pandemi. Namun, saat situasi mendesak maka aku tidak akan menunda untuk ke dokter gigi. Contohnya saat aku kecelakaan kemarin. Meski aku tahu risikonya namun kerusakan pada gigi akan semakin parah jika aku terlambat menanganinya. 

Pada kasus Pica di atas pun aku mencoba berkonsultasi secara online terlebih dahulu sebelum memutuskan memeriksa gusi Pica ke dokter. Jadi, pandemi bukan menjadi alasan untuk tidak memeriksa gigi apalagi mengabaikan kebersihannya

4. Menghindari Makanan ‘Sensitif’

Bagiku yang sudah mengalami kerusakan gigi saat kecelakaan kemarin, maka hampir segala makanan dingin dan manis adalah hal yang harus kuhindari. Karena jika menyentuh itu semua maka gigiku akan berangsur ngilu. 

Begitupun anakku, mereka yang masih memiliki gigi susu akan sangat aku batasi makanan manis. Karena makanan manis rentan menimbulkan karies pada gigi. 

5. Jadilah Role Model yang Baik untuk Anak

“Anak itu bener-bener dah peniru ulung orang tuanya. Pokoknya kalo dibilangin mereka biasa aja. Tapi kalo mereka liat aku begini, mereka langsung ikutan”-Duma Riris

Children See.. Children Do. 

Benar layaknya kata-kata tersebut, termasuk soal habit menggosok gigi. Karena sesungguhnya bukan hanya Duma Riris yang mengalaminya tapi aku juga. Anak-anak itu suka sekali meniru kebiasaan orang tuanya. Kadang kala, kebiasaan buruk lebih nyaman ditiru. Hiks.. 

Seperti aku yang terbiasa tidur larut malam untuk melakukan beberapa pekerjaan yang tak sempat dikerjakan di siang hari. Akhirnya, aku juga sikat gigi larut malam karena kadang suka mengemil saat mengerjakan tugas. 

Diam-diam, si kecil Pica meniru kebiasaan itu di kamarnya sendiri. Bahkan kadang ikut lupa menggosok gigi. Sampai akhirnya giginya berlubang dan aku merasa berdosa sekali.. 

Lambat laun aku menggandeng suami sebagai partner untuk menciptakan kebiasaan baik di keluarga kami. Karena suami lelah bekerja di siang hari jadi saat malam dia selalu tertidur tepat waktu. Akhirnya, dia selalu mengajak anakku sikat gigi bersama. 

6. Sikat Gigi Sekarang! 

Kapan harus sikat gigi? Apakah cukup hanya 2 kali sehari? 

Tidak usah menunggu waktu yang tepat sekali. Sudah seberapa sering makan dan mengemil? Segera sikat gigi sebelum sisa-sisa makanan tersebut menjadi plak yang akan merusak gigi. Karena ketika gigi sudah terlanjur rusak maka akan sangat terlambat untuk memperbaikinya. Begitulah pembelajaran berharga yang aku dapat dari webinar kemarin.

Dan lagi, memperbaiki gigi yang rusak itu MAHAL loh. 

Jadi, untukmu yang masih memiliki gigi yang bagus jagalah kebersihannya. Apalagi untukmu yang sudah mengalami kerusakan gigi, jagalah jangan sampai kerusakannya bertambah luas. 

7. Memakai Pasta Gigi yang Cocok untuk semua Anggota Keluarga

“Tapi win, gigiku ini sensitif. Gak mempan pasta biasa”

Nah, sama dong. Gigiku juga sensitif sejak kecelakaan kemarin. Dan kemarin aku selalu memakai varian pasta gigi untuk gigi sensitif. Anakku Pica juga memakai pasta gigi untuk mencegah gigi berlubang. Sedangkan suami, memilih memakai varian charcoal karena lebih nyaman di mulut. 

Beda masalah, beda varian pasta giginya. Jadi gimana dong.. 😅

Ya kadang kami memakai varian pasta gigi yang berbeda. Untungnya, pepsodent memberikan kemudahan pada kami. Masing-masing variannya sesuai dengan yang kami butuhkan. Hihi. 

Dan sekarang gigiku sudah tidak terlalu sensitif lagi. Aku sekarang memakai varian pepsodent herbal karena terasa segar dan nyaman di mulut. Kebetulan semua anggota keluarga cocok memakainya. 

***

Jadi, masalah gigi apa yang sering terjadi di keluarga kalian? Cerita denganku yuk! 

Pengalaman terkena Anemia Saat Menyusui

Pengalaman terkena Anemia Saat Menyusui

“Semenjak punya bayi, kalo gak bobok siang tuh rasanya kepala berat banget..”

“Ya iya dong, kan malam dipake begadang. Yakan?”

“Gak juga, anakku sudah berhenti begadang umur segini. Tapi seriusan sering banget pusing.”

“Jangan-jangan hamil lagi nih”

Eeeh? Masa? 

Dung trak kadung dung dung.. 

Bisakah Ibu Menyusui Terkena Anemia? 

Gaes.. Kalau udah jadi emak-emak, tapi kepala sering pusing itu banyak faktornya. Pertama, mungkin sedang butuh piknik karena jenuh di rumah. Kedua mungkin keadaan ekonomi bermasalah, jadi berefek ke sumber pangan dan kebutuhan lainnya berbuntut kepala yang turut pusing. Ketiga, eh.. Jangan-jangan hamil. Hihi.. Nah, yang terakhir nih.. Sudah rutinkah cek kesehatan? Terutama cek tekanan darah dan HB. Karena jangan-jangan nih.. Ibu sedang terkena anemia

Anemia bisa menyerang siapa saja, termasuk itu ibu hamil dan menyusui. Gejalanya antara lain sering mengalami pusing, kulit pucat, sulit berkonsentrasi, dan kelelahan. Untuk tes akurat bisa dilakukan pengecekan kadar HB atau haemoglobin pada puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Dan ingat, anemia jangan dianggap sepele loh. 

Pada Ibu Hamil, kondisi anemia bisa menyebabkan preklamsia. Pada Ibu menyusui, kondisi anemia dapat berefek pada pertumbuhan anak dan kesehatan ibu sendiri. aku beberapa kali membaca pengalaman para ibu yang memiliki anak anemia. Dan itu terjadi karena kebutuhan zat besi di 1000 hari pertama si kecil tidak terpenuhi dengan benar. 

Sebagai Ibu menyusui, Alhamdulillah anakku tidak mengalami anemia. Tetapi, efek negatif anemia itu aku alami sendiri. Puncaknya saat aku pada fase menyusui anak keduaku, yaitu Humaira. Saat itu, usianya masih 1 tahun. Dan aku sedang dalam fase parno berlebihan dengan covid. 

Iya, aku sempat kecelakaan kecil parah hanya karena mengabaikan gejala anemia.

Kecelakaan Terparah Akibat Mengabaikan Gejala Anemia

Hari itu adalah bulan ke 4 covid ada di indonesia, aku yang baru berbelanja keluar rumah untuk keperluan mingguan langsung bebersih diri sambil masuk ke kamar mandi. Dan langsung keramas, karena konon kalau habis dari luar rumah harus mandi sebersih-bersihnya. aku tidak terlalu peduli efek samping mandi sehabis panas-panasan dari luar rumah. Yang aku pedulikan saat itu adalah Humaira yang menangis dan dia ingin menyusu melihat mamanya datang. Dan sang mama harus mandi bersih karena takut terpapar virus dari luar. 

Usai mandi dan menyusui hingga Humaira tertidur, aku ingin membereskan hasil belanjaan. Sambil membuka handphone, aku bangkit dari tempat tidur dan membalas beberapa WA temanku. Lanjut handphoneku berbunyi ‘tit tut’ karena kehabisan baterai. Aku pun langsung meraih charger hp yang ada di meja dekat ranjang. Tiba-tiba saja, kepalaku sontak oleng dan jatuh begitu saja. Dan daerah yang jatuh pertama kali adalah bagian bibir. Bisa bayangkan bagaimana luka saat itu? Bibir aku harus dijahit dan gigi seri kesayanganku patah di bagian ujung. Sampai sekarang, aku masih terbayang rasa nyeri jahitan bibir dan ngilunya gigi patah. Hiks. 

Keadaan lelah karena berpanasan belanja di luar, kemudian asupan zat besi yang tidak memadai, ternyata membuat aku terkena anemia parah saat menyusui. aku sering lelah dan pusing namun aku sering abai dengan kondisi tersebut.

“Toh, tinggal dibawa tidur aja kan. Dan pusingnya pasti hilang”

Itulah pemikiran sempit yang membuat aku menyesal berkepanjangan. Andai saja aku peka lebih awal dan rutin mengonsumsi suplemen zat besi mungkin tidak akan seperti ini. 

Tahukah? kecelakaan itu berefek permanen. Sejak saat itu, aku mulai concern untuk memperbaiki asupan zat besi diriku sendiri. 

Kiat Mengatasi Anemia Pada Ibu Menyusui

Untukmu yang memiliki gejala anemia, bahkan gejala ringan sekalipun maka tidak pernah ada salahnya untuk mengatasi hal itu. Terutama nih untuk ibu hamil dan menyusui. Atasilah anemia sebelum nantinya menyesal. 

Berikut beberapa tips dariku untuk mengatasi Anemia saat menyusui:

1.Rutin Konsumsi Makanan yang Mengandung Zat Besi

“Aku tuh gak suka makan hati ayam, katanya kudu makan hati gitu ya buat nambah darah?”

Sering gak kita mendapatkan pertanyaan demikian? Seakan kalau anemia harus konsumsi berbagai jeroan hati dsb. Padahal, gak melulu kok makanan yang mengandung zat besi itu pada hati. 

Ada banyak makanan yang mengandung zat besi. Diantaranya adalah daging sapi, ayam, ikan, hingga sayur bayam. Tapi memang secara kandungan, hati ayam memiliki kadar zat besi yang tinggi. 

Penderita anemia memerlukan asupan zat besi 25% lebih tinggi dibandingkan asupan zat gizi normal. Terutama untuk ibu hamil dan menyusui nih. Karena zat besi yang kita konsumsi juga terserap oleh bayi. Jadi, usahakan untuk mengonsumsi zat besi yang melebihi rata-rata ya. 

Dan satu lagi, kesalahan umum yang sering kita lakukan adalah.. Ketika pusing langsung minum teh panas. Ini mungkin akan manjur jika pusing karena masuk angin. Akan tetapi, jika pusing karena anemia maka meminum secangkir teh panas hanya akan memperparah keadaannya. Teh tidak dianjurkan dikonsumsi oleh penderita anemia karena akan mengurangi kadar zat besi dalam darah. 

2. Rutin Cek Kadar Hb

Biasanya, kita sebagai ibu menyusui selalu rutin ke posyandu setiap bulan bukan? Nah, usahakan untuk memeriksa kadar HB juga ya. Setahuku, pemeriksaan seperti ini gratis loh. 

Hemoglobin normal untuk wanita dewasa berkisar antara 12-16 g/dL. Sedangkan pada ibu hamil, kadar Hb dapat turun menjadi 10,5 g/dL. Akan tetapi masih dianggap normal jika tidak terdapat keluhan atau gejala anemia. Untukku sendiri saat menyusui pernah Hb hanya 8 g/dL. Meski tidak mengalami pusing tapi aku juga jaga-jaga karena kalau sudah pusing dan kambuh bisa gawat.

Dengan rutin memeriksa hb begini, paling tidak kita tahu apakah pusing berkelanjutan ini murni karena anemia atau disebabkan hal yang lain juga. Pemeriksaan rutin juga membuat kita lebih peka akan cukup tidaknya kandungan zat besi yang sudah kita konsumsi. 

3. Sedia Suplemen Penambah Darah di rumah

Kalau kita rutin ke fasilitas kesehatan setiap bulan dan cenderung memiliki hb yang rendah, biasanya faskes akan menyediakan suplemen penambah darah untuk kita konsumsi loh. Selain itu, kita juga bisa membeli sendiri suplemen penambah darah di apotik. 

Setahuku, suplemen penambah darah ini bermacam-macam. Dan tidak semua suplemen cocok untuk tubuh kita. Maka, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter terkait suplemen penambah darah yang cocok ya.

4. Sedia Obat Penghilang Nyeri di rumah

Nah, biasanya penderita anemia cenderung lebih sering mengalami nyeri pada kepala. Dan ini berangsur dalam waktu yang cukup lama sehingga paling tidak kita membutuhkan obat penghilang nyeri di rumah. 

Tapi, sebelum mengonsumsi obat penghilang nyeri akan lebih baik jika sebelumnya kita berkonsultasi dulu dengan dokter ya.

5. Rutin Konsultasi dengan Dokter di HaloDoc

Solusi terakhir adalah.. Rutin konsultasi dengan dokter di aplikasi HaloDoc. Karena di masa pandemi seperti ini, tidak semua dari kita bisa leluasa ke fasilitas kesehatan terdekat bukan? Ngaku deh siapa yang bolak balik konsul online karena parno sama flu pada pandemi covid ini. Haha. 

Aku sendiri biasanya juga konsultasi terkait dengan kondisi anemia. Kalau hanya mengalami gejala ringan, biasanya aku hanya bertanya tentang obat yang pas untuk aku konsumsi karena aku sedang menyusui. Begitupun untuk suplemen penambah darah, aku tidak asal konsumsi. Perlu konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan membeli suplemen yang cocok. 

Aplikasi HaloDoc juga sangat membantuku ketika aku mengalami kecelakaan kemarin. Itu adalah kali pertama aku menginstall aplikasi HaloDoc di smartphoneku. Karena saat pandemi tidak ada dokter gigi yang buka di sekitarku maka aku melakukan konsultasi online untuk menangani nyeri gigi. Ternyata, pelayanannya memuaskan. Pembayaran pun sangat mudah. Terlebih lagi, ada diskon juga. 

Pada aplikasi HaloDoc kita juga dapat memilih dokter yang kita inginkan. Dan sungguh, bagi orang cenderung introvert sepertiku konsultasi online begini sangat amat menolong. 

Jadi, sering pusing saat menyusui? Waspada anemia ya. Jangan sampai terjadi penyesalan sepertiku. Dan yuk mulai rajin konsultasikan kesehatan! 

IBX598B146B8E64A