Browsed by
Category: Renungan Hidup

Tulisan-tulisan yang berisi pengingat tentang kebaikan terinspirasi dari berbagai hal

Ketika Pandemi Corona Mengaburkan Mimpi Kami

Ketika Pandemi Corona Mengaburkan Mimpi Kami

Yes, absolutely.. Can we uninstall it and install again?

Virus Corona Ini Bukan Mimpi

Kadang aku terbangun di pagi hari. Berharap kepanikan kemarin hanyalah sebuah mimpi. Karena mimpiku memang biasanya se-ngaco itu.

Tentang alien yang menjajah bumi..
Tentang astronot yang nyasar ke rumah mencari kentang..
Tentang kucing yang bisa berbicara..
Tentang orang-orang yang mendadak berwarna ungu semua..
Tentang virus? Ayolah.. Ini bukan hal yang baru. Mimpiku memang selalu sengaco dan terlihat senyata itu.

Tapi ketika aku terbangun. Semua itu nyata adanya.

Korban positif yang mencapai angka ribuan itu nyata..
Farisha yang diliburkan sekolah entah sampai kapan itu nyata..
Bahkan sekarung beras ini juga nyata. Aku membelinya kemarin karena didesak oleh panic buying karena melihat india yang sudah lockdown..
Kami yang terkurung di rumah saja ini nyata.

Desinfektan itu nyata. Kegiatanku yang selalu menyemprotkan barang dari luar rumah dengan desinfektan itu nyata.
Bayclin yang habis dimana-mana itu nyata adanya.

Ya Tuhan, kenapa ini nyata? Bagaimana nasib kami selanjutnya? Bagaimana dunia ini menghadapinya? Bagaimana indonesia menghadapinya?

Menghadapi Kenyataan dengan Corona

“2 pasien positif corona ada di Jakarta”

Wacana itu membuat hatiku langsung sedih sekaligus seram. Virus itu sudah ada di negeriku. Di Ibu Kota. Daerah mana saja yang sudah dilalui penderitanya? Akankan ia menyebar hingga kesini? Ke banjarmasin?

Aku berusaha tenang sejak pengumuman itu diberitakan. Setiap hari aku mendengar pasien positif selalu bertambah. Tapi aku berusaha tidak panik. Status PDP dan ODP di banjarmasin belum menunjukkan status positif.

Hingga suatu hari…

“Satu pasien di banjarmasin dinyatakan positif corona..”

Disitulah pikiranku mendadak terasa panik. Terlebih ketika mengetahui bahwa daerah penderita sekitar 5 km dari tempat tinggalku. Pikiranku langsung berjalan mengira-ngira daerah mana saja yang mungkin sudah dilakui oleh pasien positif itu.

Untung saja pemerintah sudah meliburkan sekolah sejak seminggu yang lalu sebelum ada kabar pasien positif tersebut. Langkah yang terbilang cukup cepat sebelum virus ini meluas. Paling tidak, kami bisa merasa aman dan nyaman #dirumahsaja untuk sementara ini. Belajar dari Jakarta, kami berusaha untuk selalu di rumah saja, kecuali ada keperluan yang benar-benar penting.

Alhamdulillah, suamiku yang berprofesi sebagai dosen juga diliburkan. Ia malah merasa nyaman sekali karena bisa bebas mengerjakan deadline journal theme dan aplikasi. Suamiku berprofesi luaran sebagai programmer. Sehingga Work From Home adalah hal yang diimpikannya.

Inilah keluarga kecil kami. Kami semua dirumah saja. Tidak ada yang merasa bosan atau tidak nyaman. Suamiku, Farisha dan Humaira selalu tertawa setiap hari.

Tinggallah aku dipojokan. Menonton berita, menyimak sosial media, memantau kondisi covid 19 di daerahku.. Dan perlahan-lahan rasa panik mulai menjalar ke otakku.

YES, IM PANIC.

Hal-hal gila otak melankolisku mulai melakukan segala yang berlebihan di mata keluargaku. Bagi mereka aku seperti OCD. Tapi bagiku sendiri ini adalah WASPADA.

Aku menyemprot semua rumah dengan desinfektan. Seluruh lantainya juga. Kalau dalam sehari aku ketinggalan melakukan semuanya maka aku tidak bisa tidur. Apalagi, sehari-hari masih saja pegawai suami bekerja. Belum lagi beberapa keluarganya yang suka datang.

Dimata suami, mereka yang datang adalah rekan bisnis.

Dimataku, mereka yang datang harus diwaspadai. Kadang otakku berpikir ingin menyemprot mereka memakai desinfektan. Tapi kenyataannya hanya senyum manis yang pura-pura aku lukiskan.hahaha..

Perlu komunikasi.. komunikasi lagi dan lagi dalam memutuskan adab keluar masuk rumah ini. Suamiku yang cenderung bersikap santai selalu menganggapku berlebihan dalam memandang virus. Sampai suatu hari aku memperlihatkan keadaan negara Italia. Barulah ia paham dan mengerti dengan hantu yang selama ini mengisi ketakutanku. And Finally.. Kita setuju untuk aturan keluar masuk rumah ini.

“Yaa.. Kalau sayang enggak mau aku tiap hari nyemprot desinfektan ke seluruh rumah.. Maka yang masuk rumah saja yang harus di bersihkan. Supaya aku enggak cemas..”

Begitulah akhirnya kami memulai kesepakatan untuk mengurangi kadar panik yang ada dalam diriku.

Ya.. Kita harus menghadapi virus dengan ikhtiar yang realistis bukan? Bukankan begitu yang dinamakan insan yang beriman?

Mimpi yang Kabur di 2020 Akibat Virus Corona

“Sudah satu bulan ini enggak ada yang pesan thema.. Duh, padahal gajih karyawan jalan terus”

“Kenapa kira-kira ya pah?”

“Ya karena pandemi corona ini.. Klienku yang dari italia juga curhat masalah ini kemarin..”

Mendengar keluhan suami, aku jadi merasa kasihan. Aku tahu betul bagaimana kerasnya dia membangun usahanya hingga demikian besar.

Well.. Sepertinya aku tidak pernah bercerita ya? Tentang usaha suamiku yang baru?

Kami memiliki CV. Namanya CV share system. Buah dari hobi suamiku yang senang membuat program dengan aplikasi dan web. Yah begitu begitu deh. Akupun juga tidak begitu mengerti dengan yang ia kerjakan. Karena terus terang saja aku sangat gaptek. hahaha.. Blog ini juga buatan dari suamiku btw.

Nah, CV kami memiliki usaha baru yang setahun belakangan ini berkembang pesat. Suamiku mengelola Open Journal Theme (OJT) yang awalnya usaha ini hanya iseng saja. Ternyata akhirnya memiliki banyak pasar. Hingga, tahun 2014 ini suami memutuskan ingin serius menjalani bisnisnya dengan membangun kantor di samping rumah hingga mempekerjakan pegawai. Dia benar-benar serius dengan bisnis ini. Dan akupun sangat mendukungnya.

Kami sudah memiliki 2 karyawan tetap yang berprofesi sebagai programmer. Yang artinya, untung tidak untung.. Akan selalu ada biaya yang keluar setiap bulan. Belum lagi biaya operasional yang bertambah. Sebutlah itu biaya listrik, bpjs, administrasi dsb. Sungguh awal yang tidak mudah untuk pebisnis pemula seperti kami.

Tahun 2020 adalah tahun awal bisnis kami dimulai. Kami memiliki banyak mimpi untuk ini. Banyak.

Dan ketika pandemi corona tiba, satu-persatu masalah datang. Dari project besar yang mungkin cancel hingga pesanan tema yang menurun drastis dibanding tahun kemarin. Ditengah krisis ini, ditengah Work From Home, kami dilanda ketakutan dan kepanikan. Itu nyata adanya.

Kami harus mengakui bahwa mimpi-mimpi di tahun 2020 ini menjadi kabur. Corona telah membuat segala aspek kehidupan berubah. Baik secara ekonomi maupun psikologi.

Itu kenyataannya.

Mengais Mimpi yang Kabur, Kita Harus Bertahan Bersama ditengah Pandemi Corona

Menerima kenyataan. Itulah yang harus kami lakukan sekarang.

Menunda sebagian mimpi itu. Lantas bergerak pada hal yang jauh lebih penting.

Apa itu?

SURVIVE!

Tahun 2020 ternyata bukanlah tahun untuk meluaskan mimpi usaha kami, melainkan tahun untuk evaluasi diri dan bertahan bersama.

Kami termasuk keluarga yang beruntung. Disaat yang lain kesulitan dalam hal keuangan untuk Work From Home, kami masih memiliki tabungan untuk diri sendiri dan berbagi. Dan mungkin tahun ini adalah tahun dimana daya empati kami diuji.

Ada salah seorang janda yang rumahnya digadaikan ke bank, janda tersebut dekat dengan keluarga kami. Suami meminta izin padaku untuk menggunakan sebagian tabungan kami untuk membantunya. Bagaimana perasaanku? Aku speechless. Serius.

Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba mampir begitu saja. Sebulan yang lalu aku sempat bertengkar hebat dengan suami perkara keuangan. Aku berpikir, suamiku sedikit zholim padaku. Suamiku tidak mau mengerti dengan pengeluaran darurat. Tetapi lihatlah sisi ini. Betapa empatinya tergerak untuk membantu yang lebih berhak. Seketika, aku merasa malu dan tersentuh. Ada air hangat yang turun begitu saja diujung mataku. Aku bangga sekali memiliki suami yang peduli pada sekitar.

Suamiku juga berkata padaku bahwa.. Mungkin, tabungan kami akan habis di tahun ini. Orang tuanya butuh bantuan, saudaranya juga, pegawainya, si ini, si itu. But, i’m fine. Selama ia selalu jujur dan segala keperluan itu untuk hal yang baik maka aku selalu mendukung. Kadang saat begini aku merasa sangat malu dulu sempat marah-marah padanya.

“Kita tidak boleh hanya survive sendirian. Kita harus membuat orang disekeliling kita juga survive.. Mungkin inti dari 2020 adalah tentang menguji daya empati kita..”

Seketika, kami merasa syukur itu tumbuh begitu saja. Ada rasa kepercayaan diri yang kuat bahwa kami pasti bisa melewati pandemi ini dengan baik. Kecemasan itu luntur seketika. Panik itu kehilangan tujuannya.

Berita bertambahnya pasien positif corona setiap harinya membuat kami merasakan ketakutan pada hal yang seharusnya. Bahwa hidup ini sungguh hanya sementara. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah berikhtiar kuat dan terus membantu sesama.

Dan kadang rasa syukur itu tumbuh pada ketakutan semacam ini. Lihatlah kami yang selalu bersama setiap hari di rumah. Tanpa disadari, Tuhan telah menciptakan rasa cinta yang besar ditengah ketakutan ini. Kami semakin menghargai satu sama lain. Kami akhirnya paham akan arti kebersamaan dan cinta.

Stay at home memberikan banyak pembelajaran. Tahun 2020 bukanlah akhir dari cerita kami. Ini adalah awal dimana kami mulai membangkitkan rasa empati. Tuhan, izinkan kami hidup lebih lama lagi. Kami masih ingin memeluk orang tua kami tanpa takut tertular maupun menularkan.

I Hope Corona Virus will be end before Ramadhan comes. Amen

30 Maret 2020

Seorang Ibu yang merindukan orang tuanya, tetapi tau diri untuk tidak pulang kampung

Pembelajaran Berharga dari Film Kim Ji Young dan Joker

Pembelajaran Berharga dari Film Kim Ji Young dan Joker

Please jangan bilang basi..

Emang ya film ini udah basi sih buat dibahas. Tapi gimana ya.. Mamak baru nonton karena baru aja dapet download’annya. Jadi, jangan bilang basi dulu ya. Karena banyak yang bersileweran di otak emak ketika baru nonton film ini.

Konon, film ini banyak kontroversinya. Apalagi Joker, banyak para psikolog kondang yang bilang, “Jangan nonton Joker.. Nanti tambah sakitnya.. Bla bla.. “

Lah.. Aku ketika denger begitu.. Bukannya tambah takut nonton film joker.. Malah tambah penasaran.. Hahaha

Atau film Kim Ji Young yang konon banyak emak-emak pada baper nonton filmnya. Dan disisi lain banyak juga yang bilang, “Jangan nonton Kim Ji Young.. Nanti ikutan gak merasa bersyukur bla bla.. “

Kan kan.. Aku malah makin penasaran. Gimana bapernya sih kehidupan Kim Ji Young.. Haha

Terus, kenapa aku bikin satu blog post untuk membahas dua film sekaligus? Karena eh karena.. Tulisan ini bukan untuk ngereview film, tapi untuk pengingat diri aja. Bahwa banyak pembelajaran berharga setelah nonton film nyesek begini dua hari berturut-turut.

Jadi buat yang pada protes karena nyari review filmnya disini.. Silahkan back halaman ini dan scrool lagi kebawah plus jangan salahin om google. (Gaya si emak, kek tulisan dia bakal page 1 aja.. Biasanya juga jaoooh.. Hahaha)

Nah, ada beberapa hal yang aku pelajari setelah nonton 2 film ini. Dan hal itu diantaranya adalah..

1. Kim Ji Young: Post Partum Depresion dapat terjadi pada Siapa saja..

Sebagai mantan penderita PPD, yang dulu sempat ngamuk-ngamuk plus nangis-nangis sendiri saat membesarkan anak sendirian dibawah ekonomi rumah tangga yang dalam fase pembangunan plus di bawah mamak-mamak perfeksionis yang suka nyinyir sama kehidupan aku.. aku penasaran dengan penyebab PPD yang diderita oleh Kim Ji Young.

Apakah kehidupan ekonominya separah aku?

Apakah komunikasinya dengan suami separah aku? Cobaan pernikahannya separah aku?

Apakah innerchildnya separah aku?

Apakah Lingkungannya separah aku?

Ternyataaaa… Zonk semua. Hahaha..

Bahkan, aku jujur saja bahwa diawal-awal aku nonton Kim Ji Young ini.. Aku sempat julid dengannya. Julid banget malah. Tapi kutahan-tahan sambil berusaha berempati.

Bagaimana tidak? Jujur kehidupan rumput hijau Kim Ji Young itu sempat membuatku merasa iri.

Pertama, dia punya suami yang super pengertian. Kedua, dia bisa menitipkan anaknya di day care. Ketiga, please.. Dia punya sosial life yang berempati sama kondisinya. Keempat, mamaknya buk.. Subhanallah.. Menolong banget sama dia. Kelima, kehidupan ekonominya baik-baik saja.. Sudah punya rumah sendiri dan bahkan mobil sendiri. Sungguh, ingin ku julid dan iri hati saat melihat itu semua. Tapi kutahan-tahan.. Saat melihat orang seperti ini, hati kotorku kadang ingin berteriak, “Hei.. Kamu kurang bersyukur Kim Ji Young..”

Tapi, aku masih berusaha berempati. Bahkan saat mamak-mamak lain pada nangis nonton film ini.. Aku masih berusaha reframing dengan keadaan Kim Ji Young. Dan aku berhasil reframing saat adegan Kim Ji Young  ingin bekerja dan ditelpon marah-marah sama mertuanya. Sungguh, saat adegan itu.. Luka lamaku terasa terbuka lagi. Aku teringat dengan kisah lamaku dengan mertua dahulu. Bagaimana sulit ketika lingkungan patriarki bertentangan dengan ideologiku dan bagaimana aku berdamai dengan semua itu.

Baca juga: “Kenapa aku harus membenci mertuaku?”

Baca juga: “Tentang Penerimaan menjadi Ibu Rumah Tangga”

Pada adegan itu.. Disitulah mamak akhirnya ikutan nangis gaes.. 

Bedanya, mamak gak ada yang melukin waktu itu gaes.. Malah kiri kanan pada menghakimi. Ya ya ya.. Mamak sudah terbiasa dengan kata-kata “kamu kurang bersyukur.. ” Sehingga.. Saat mamak ingin mengatakan itu kepada rumput hijau tetangga.. Mamak selalu menahannya karena berpikir ulang, “Siapalah aku yang hanya tahu sepersekian persen dari kehidupan seseorang.. “

Dan saat melihat Kim Ji Young plus Support System yang dia miliki.. Aku akhirnya bisa berdamai melihat Rumput Hijau itu. Kemudian berkata, “Ternyata, Post Partum Depresion bisa terjadi pada siapa saja..”

Enggak peduli seberapa banyak support system yang seseorang miliki..

Enggak peduli seberapa sayangnya suami plus Ibu Kim Ji Young..

Kalau orang sudah terkena Post Partum Depresion. Maka yang harus kita lakukan adalah menerima bahwa PPD is Real.

Bukan masalah kurang bersyukur atau tidak. Ini lebih daripada itu saja.

Bahwa, kondisi psikologis orang itu tidak sama. Begitu pula biologisnya.

Ibaratnya, orang berkulit tebal yang terjatuh.. Akan berbeda dengan orang berkulit tipis yang terjatuh. Dalamnya luka mereka sangat berbeda.

Post Partum Depression, dapat diderita oleh siapa saja. Bahkan, oleh Ibu yang terlihat baik-baik saja di sekitar kita. Ibu yang tersenyum saat melihat anaknya di luar sana. Ibu yang terlihat cantik dan biasa-biasa saja. Kita tidak tahu apa yang mereka lalui didalam kehidupannya. So.. Stop bilang bahwa Post Partum Depresion itu diawali oleh “kurang bersyukur” Apalagi “kurang beriman”

2. Joker: Don’t Judge People.. Just Emphaty

Sulit memang untuk tidak men-judge orang-orang spesial ini.

Joker yang selalu tertawa..

Kim Ji Young yang selalu menangis..

Mereka dengan kondisi spesialnya. Yang bukanlah cacat secara biologis. Tapi cacat secara psikologis. Dan itu sulit.. Karena semua sakit itu tidak terlihat secara fisik.

Beda cerita ketika kita melihat orang yang tidak punya tangan, orang yang tidak bisa melihat.. Orang yang tidak bisa berjalan. Maka, Emphaty kita akan tumbuh tanpa bertanya.

Bahkan, saat ramai-ramainya film joker.. Ramai pula sebuah meme bahwa ‘Nabi Muhammad disakiti berkali-kali tapi tetap berbuat baik..’ seolah-olah meme itu diciptakan untuk menyangkal perbuatan joker. But.. Menurutku Itu adalah Toxic Positively. Terutama, untuk penderita mental Illness.

Sesungguhnya, aku pernah bertanya didalam hati. Siapakah tokoh yang diciptakan oleh penulis Batman terlebih dahulu? Apakah Batman? Atau Joker? Apakah penulis membuat pahlawan terlebih dahulu? Atau ‘masalah’ terlebih dahulu? Ah, entahlah..

Dari film joker, aku sungguh banyak belajar tentang Mental Illness. Bahwa penyebab dari mental illness ada 3, yaitu secara Biologis, Psikologis dan Lingkungan. Joker? Dia menerima 3 faktor itu dengan sempurna. Jika aku sulit reframing dengan keadaan Kim Ji Young.. Maka, saat menonton film joker.. Aku tidaklah menangis lagi.. Tapi nyesek, sambil mikir.. Kok ada orang yang hidupnya sebegitu ngenes? Oh, syukurlah ini hanya fiksi.

Tapi, serius..

Dari nonton film joker ini aku belajar untuk memahami kondisi para mental illness.

Tentang Narsistic Disorder yang diderita Penny.

Tentang Skizofrenia.. Dsb..

Para penderita Mental illness membutuhkan obat spesial untuk mengobati penyakitnya. Dan ia membutuhkan lingkungan yang support dengan keadaannya.

Terus, apa yang harus kita lakukan saat bertemu dengan para penderita mental illness? Yang suka ketawa-ketawa melulu.. Yang dikit-dikit nangis melulu.. Yang kalau mereka curhat.. Malah bikin toxic.

Jawabannya.. PURA-PURA SAJA BEREMPATI.

Jujur ya, andai makhluk kayak Kim Ji Young ini berada di lingkunganku.. Pasti dia akan terkena penghakiman demi penghakiman yang tiada habisnya.

Something like, “Eh please deh.. Suami lo tuh udah mapan.. Lo kerjaan nangis-nangis gak jelas. Mau kerja apa? Gajih lo juga gak bakal cukup.. Bla bla.. “

Or something like, “Lo tuh kurang apa sih? Tuh anak juga bisa dititipin. Lo juga bisa ketemu sama temen-temen.. Coba nih guweeh.. Gue jadi upik abu aja di rumah sepanjang hari sama 5 anak gue yang kecil-kecil.. “

Please.. Jangan teruskan penghakiman demi penghakiman diatas. Itu menular. Serius. Aku pernah mengalaminya. Aku bahkan juga pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming gara-gara rantai ‘judge’ yang tidak ada habisnya ini.

DENGARKAN SAJA keluhan demi keluhan yang disampaikan oleh orang yang jiwanya tersakiti ini. Jika tidak bisa mendengarkan dengan baik maka PURA-PURA MENDENGARKAN SAJA. Sungguh, itu sangatlah cukup.

Syukur-syukur kalau emphati kita yang berawal dari pura-pura saja itu dapat berbuah senyuman dari mereka. Bagi penderita mental illness.. Lingkungan yang tidak Toxic Positively itu menentramkan jiwa mereka. Mereka membutuhkan Emphaty dan obat.

3. Berekspresilah secara baik, karena ekspresi yang ditahan dan meledak itu sangat tidak baik

Jujur, aku telah menghadapi orang dengan Mental illness berkali-kali.

Aku punya salah seorang keluarga yang terkena skizofrenia. Dan aku sendiri adalah mantan penderita PPD. So, i know Mental illness so well.

Ada satu hal yang aku garis bawahi sebagai penyebab mental illness yang utama. Dan hal itu adalah selalu menahan ekspresi.

Sedih.. Ditahan..

Marah.. Ditahan..

Sabar katanya.. Sabar katanya..

Kenyataannya, sabar itu tidak bisa restok begitu saja. Ada proses cinta dalam menciptakan kesabaran. Apabila proses cinta itu zonk.. Maka sabar itu mencapai batasnya. Dan akan keluar ekspresi yang berbeda untuk pertahanan psikologis seseorang.. Something like.. Sedih.. Marah.. Bahkan benci.

Ekspresi itu.. Tidak bisa selalu ditahan jika tidak diimbangi dengan cinta. Jika selalu ditahan plus ditambah dengan lingkungan yang negatif maka ia akan menjadi bom yang dapat meledak kapan saja. Maka, jika stok cinta sedang sekarat.. Sangat perlu untuk menyalurkan ekspresi negatif itu.

Sebagian orang ‘normal’ akan menyalurkannya dengan elegan. Salah satu hal yang paling efektif adalah dengan melakukan hal yang paling disenangi. Itu sih ya.. Orang normal yang punya penyaluran  yang tepat.

Bagi orang dengan kondisi ‘spesial’ maka sangat penting untuk menuangkan ekspresi ini dengan cara yang spesial pula.

Aku punya beberapa teman yang menuangkan ekspresi negatifnya dengan berolah raga. Berlari, meninju, hingga yoga. Dan itu memang efektif. Aku juga punya teman yang suka berteriak-teriak dilapangan lepas dan sunyi jika emosi, ada pula yang berkaraoke ria. Tapi, tidak semua orang punya waktu spesial untuk itu. Terutama, untuk emak-emak rempong yang tidak punya support system.

(Eh, jangan ditanya kenapa aku punya banyak teman yang aneh-aneh. Itu karena aku punya kepribadian melankolis plegmatis yang dapat berempati plus baper berlebihan sehingga memang kadang virus negatif suka hinggap dari teman.. )

Dalam kasus Kim Ji Young, ia menemukan solusi dalam berekspresi dengan menulis. Aku rasa, inilah hal paling simple dan elegan yang bisa dilakukan oleh para Ibu Rumah Tangga ketika dalam keadaan stress. So.. Jangan judge Para Ibu-ibu yang hobi update status dan menulis. Walau tulisannya jelek sekalipun. Bisa saja.. Itu adalah healing version miliknya.

Dalam kasus Joker, ia mencoba mencari kesenangan dengan menjadi pelawak. Ya.. Semua orang perlu berekspresi. Termasuk penderita Mental Illness. Biarkan saja mereka. Jangan ganggu kehidupan mereka. Karena, ekspresi yang ditahan dan meledak itu justru berbahaya. Seperti halnya yang dilakukan joker dengan membunuh.. Kim Ji Young yang tidak diobati segera pun mungkin saja berakhir demikian jika ia tidak menemukan solusi dengan menulis.

So.. Mak emak narsis dengan selfie-selfie..

Mak emak nulis status sesuka hati..

Mak emak tetiba pakai lipstik gonjreng..

Biarin aja mah.. Hidup ya hidup diaa..

Bukan cuma mak emak.. Semua orang juga.. Single juga.. Just enjoy your life dan berekspresilah secara baik. Selama itu tidak menyakiti hati orang lain.. Kenapa tidak?

Ekspresi itu menyembuhkan hati yang terluka. Kita tidak tau, dengan ekspresi itu.. Orang-orang ini akan berbuat kebaikan untuk orang yang disayanginya.

Biarkan saja ekspresi itu, sampai ekspresi itu membuahkan empati dari orang yang disayanginya. Kemudian akan muncul cinta. Saat cinta itu muncul.. Maka ekspresi akan berubah menjadi positif. Dan itu semua perlu proses.

Orang-orang dengan Mental Illness ini memang toxic sekali ekspresinya. Dikit-dikit ngeluh.. Dikit-dikit nangis. Kita? Kalau tidak suka dengan semua itu gampang sekali solusinya. Tinggal unfollow, mute, hide. Toh, kita juga bukan psikolog yang bisa selalu menjadi tempat sampah bukan?

Biarkan saja orang berekspresi. Karena ekspresi yang ditahan itu tidak baik. Trust me.. Selama ekspresi itu tidak berbahaya.. Maka biarkan saja.. Biarkan hingga orang yang ia sayangi menyadarkan dan memeluknya.

4. Pertahanan Spiritual itu Penting Banget

Well, jika ada yang bertanya.. Apa yang menyembuhkanku dari PPD dahulu? Maka pertahanan spiritual adalah salah satunya.

Selain dengan membebaskan ekspresi, pertahanan spiritual dengan berdoa dan menangis sesuka hatiku adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan.

Aku memang bukan orang verbal. Yang bisa merangkai kata dalam berdoa. Suaraku bahkan punya 5 versi berbeda. Karena itu aku lebih suka menangis dan menulis.

Curhat dengan Sang Pencipta adalah solusi terbaik.

Jangan ditanya kapan waktunya. Kadang aku bahkan tidak meluangkan waktu khusus. Ada panggilan di malam hari tapi malah aku abaikan karena kelelahan mengasuh bayi. Tapi, percaya saja.. Allah ada di mana-mana.

Saat memeluk bayi dan meminta maaf padanya maka ucapkanlah kata itu.

Astaghfirullah hal aziiim.. Menangislah sejadi-jadinya. Sesungguhnya, itu adalah doa.

Allah memahami bahwa itu adalah rintihan untuknya. Maka, ucapkanlah doa itu di dalam hati. Tulislah di selembar kertas barang sejenak.

Itu tidak instan mengobati memang. Tidak seampuh obat. Tapi itu.. Cukup menenangkan..

Dan pertahanan tipe ini.. Tidak dimiliki oleh Kim Ji Young maupun Joker.. Juga oleh April dalam Film Revolutionary Road.

Kita punya modal dalam menciptakan kesembuhan Mental Illness. Dan salah satunya adalah Iman. Konon, iman memang tidak dapat menggantikan cinta.

Tapi, iman dapat memanggil cinta.

Begitulah pergerakan syukur yang benar. Penderita mental illness bukanlah orang yang kurang bersyukur. Mereka hanya orang biasa yang butuh ruang untuk mengeluh.. Dan mereka sedang belajar untuk mengeluarkannya dengan cara yang benar. Bukankah mengeluh adalah tahap awal cara kita belajar arti syukur?

Yah, demikian curcol emak tentang 2 film ini. Banyak bukan pelajaran yang bisa diambil? Setiap film punya pesan positif tersendiri, tergantung dari mana sudut pandang kita memahaminya.

Tapi, memang betul kata psikolog kondang itu. Jika sedang terkena mental illness atau baru sembuh dari mental illness atau yaaa.. Kondisi spesial lainnya.. Lebih baik untuk tidak menonton film ini. Karena luka lama akan teriris pada bagian yang tidak kita sadari. So, berani nonton 2 film ini? Yakinkan dulu bahwa Anda benar-benar dalam kondisi positif dan nyaman. 🙂





#FBB Collaboration: Surat Untuk Mama, Maafkan Aku yang Terlambat Reframing

#FBB Collaboration: Surat Untuk Mama, Maafkan Aku yang Terlambat Reframing

“Nanti kalau kamu sudah jadi Ibu.. Baru tau rasanya.. “

Itulah kalimat yang sering mama ucapkan setiap kali kami bertengkar. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Sudah diputar kebelakang.. Tapi malah masuk lagi di gendang telinga. Sampai-sampai.. Lelah mendengarnya. 

Lalu aku mendengus di dalam hati, “Nanti kalau aku jadi emak-emak.. Aku harus jadi emak yang bijak.. Yang enggak ngomong kalimat itu-itu saja setiap kali marah.. Aku bakal menjadikan anak sebagai teman lalu aku bla bla bla.. “

Begitu kiranya keluhanku di dalam hati. 

Perkenalkan, Aku adalah Anak yang Paling Sering Bertengkar dengan Mama

Aku adalah anak kedua dalam empat bersaudara. Kakakku yang pertama adalah laki-laki, berjarak 3 tahun dariku. Sementara adikku kembar.. Laki-laki juga, berjarak 8 tahun dariku. Yaa.. Aku adalah anak perempuan satu-satunya.. 

Seharusnya.. Akulah yang paling disayangi. Itulah ego yang sering muncul di kepalaku. 

Nyatanya, diantara 4 bersaudara tersebut.. Akulah yang paling sering mencari masalah dengan mama. 

Sewaktu kecil dulu.. Aku sering menangis karena selalu mendapat baju lungsuran dari kakak. Aku iri dengan teman-teman perempuanku. Aku ingin memakai baju cantik seperti mereka. Aku tidak suka terlihat seperti laki-laki. Aku bilang  pada mama, “Ma, Winda mau seperti xxxx juga. Winda mau cantik juga.. “

Aku.. Tidak tau bagaimana perasaan mama saat itu.. 

Kami hanya bertengkar. Dan berakhir saling memeluk di malam hari. 

Aku masih ingat ketika aku beranjak remaja dulu. Aku yang mengamuk saat tidak diperbolehkan ikut berkemah. Aku yang protes dengan lantang saat tidak diperbolehkan ikut acara ‘masak-masak’ di malam hari. Aku yang berdebat karena dibilang boros dan langsung membandingkan uang sakuku dengan temanku. 

Tak terhitung rasanya pembenaran demi pembenaran aku ucapkan dengan lantang dihadapan mama. Aku selalu merasa bahwa akulah yang paling menderita di dalam circle pergaulanku. Dalam circle keluargaku. 

Itu terjadi begitu saja. Perasaan insecure. 

Ketika kakakku lulus kedokteran. Ketika adikku terlihat kepintarannya. Sementara aku si anak tengah? Aku terlihat biasa saja. Tidak memiliki kelebihan. 

Ketika itu.. Setiap kali aku ingin mengembangkan diri dengan caraku.. Mama selalu mengatakan ‘jangan’ dan ‘jangan’ yang lain. Mama seakan menjadi pagar dalam kehidupanku. Membuat duniaku yang seharusnya bulat menjadi kotak. 

Saat itu.. Sungguh.. Aku tidak tahu perasaan mama.. 

Aku hanya berteriak dan membangkang… 

‘Kebebasan!’ teriakku.. 

Antara Mama dan Anak Perempuan

Perasaan paling menyenangkan yang aku rasakan hingga sekarang salah satunya adalah ketika mama bercerita.. Bahwa ia sangat menginginkan anak perempuan. 

Ya, katanya.. Saat ia hamil anak kedua ia menginginkanku. Sang anak perempuan. Bukan hanya itu.. Ayah dan kakakku juga. 

Mereka menantikan kehadiranku! 

Katanya, aku sangat lama keluar. Hampir 11 bulan. Aku yang seharusnya lahir bulan Juli malah lahir di bulan September. Mama mengeluarkanku kedunia ini penuh dengan perjuangan. Mama harus diinduksi. Konon itu rasanya sakittt sekali. Aku? Sampai sekarang aku yakin tak ada rasa sakit yang aku lalui dan bisa menyamai rasa sakit itu. 

Saat itu, kondisi ekonomi keluarga kami sangat pas-pasan. Mama dan Abah berjuang mulai nol. Aku masih ingat ketika kami memiliki rumah yang baru dulu. Kami bahkan tidak punya toilet. Jangan tanyakan bagaimana. Itu hal yang tidak nyaman diceritakan. 

Aku berlarian kesana kemari dengan memakai baju lungsuran kakakku yang laki-laki. Tidak ada perasaan kecewa saat itu. Yang aku rasakan hanya cinta dan penuh Terima kasih. 

Aku masih ingat, baju perempuan pertama yang paling berkesan. Baju Sailor Moon yang mama belikan sebagai oleh-oleh saat pergi penataran dulu. 

Aku masih ingat, boneka susan pertama di desaku dulu. Akulah yang pertama kali memilikinya. Saat itu.. Aku begitu merasa disayangi. 

Entah apa yang membuatku berkata kalimat pembandingan itu. Entah setan apa yang menggodaku untuk merasakan perasaan kurang dan kurang. Hingga aku sakiti perasaan mama… Yang saat itu sedang jatuh bangun menyejahterakan ekonomi keluargaku. 

Aku menyakiti mama sejak sekecil itu. Dengan kalimatku yang polos.. Dengan wajahku yang lugu. 

Tidak cukup sampai disitu, Aku pernah bertengkar paling mengerikan dengan mama saat hamil anak pertama dahulu. Aku yang merasa down saat fase ekonomi sedang tidak stabil. Aku yang berkata pada mama, “Memangnya siapa yang menyuruhku untuk menikah semuda ini? Siapa yang menyuruhku menunda cita-citaku? Kenapa Mama begitu egois. Aku sudah menuruti semua permintaan Mama…”

“Ma.. Aku sudah berusaha menjadi Winda versi terbaik bagi Mama..”

Aku mengeluarkan semua emosiku. Tapi, aku terlambat untuk Reframing. Aku tidak tau.. Bahwa segala keputusan mama memang selalu dilandasi oleh Kasih Sayang. 

Hei, ternyata begini rasanya menjadi Seorang Mama.. Mama dari Anak Perempuan.. 

Kini, aku mengerti segala keputusanmu Ma. Setelah melahirkan Farisha. Membesarkannya dan menyelami segala kelakuannya. Kini aku mengerti bagaimana perasaan seorang Ibu. 

Bahwa seorang Ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. 

Untuk segala pikiran kerasmu dalam mendidikku.. 

Untuk semua pagar demi pagar yang engkau berikan.. 

Aku mengerti..

Untukmu yang menghalangi mimpiku dahulu.. 

Aku memaafkanmu atas segala perlindungan kerasmu untukku.. 

Aku kini mengerti, kau lakukan itu semua karena aku adalah si Anak Spesial. Satu-satunya perempuan yang harus dilindungi.

Segala perlakuanmu padaku.. Aku sudah mengerti segala manfaatnya. 

Lihatlah anakmu yang memiliki dua anak perempuan. Masih sekecil ini saja sudah berapa aturan yang aku terapkan untuk melindunginya. Ternyata, memiliki anak perempuan tidak semudah yang dibayangkan. 

Perempuan cenderung berbicara dengan perasaan. Terkadang emosinya turut ikut andil. Jika kita sangat sering bertengkar karena itu.. Maka kini aku mengerti kenapa anakku sering menangis saat aku nasehati. Ya, dia masih kecil saja begini. Bagaimana jika sudah besar nanti? Konflik macam apa yang akan terjadi? Pagar macam apa yang harus aku berikan? Dan bisakah aku sesukses mama dalam mendidiknya nanti? 

Ah, entahlah. 

Mama, kini aku bisa memahamimu. 

Izinkan aku berterima kasih, meminta tolong dan meminta maaf padamu. 

Ya, kau kan yang mengajariku 3 kata ajaib itu? 

Terima kasih Mama

Aku memang hidup dalam lingkungan yang patriarki sekarang. Namun aku bersyukur memiliki seorang mama feminis yang selalu menjunjung tinggi tugas domestik di rumah. Atas segala pembelajaran berharga mu untukku.. Sungguh aku merasakan sekali manfaatnya sekarang. 

Lihatlah, karenamu aku bisa melakukan segalanya di rumah. Aku tidak terkejut dengan tugas domestik di rumah. Aku sudah terbiasa. Karenamu aku bisa memasak, melipat baju dengan rapi dan merawat anak-anakku dengan baik. 

Please.. Mom.. 

Tolong ma.. 

Tolong percayalah sepenuhnya pada langkah hidupku. Hanya doamu yang aku harapkan. Dan aku ingin kau bangga padaku. Walau aku satu-satunya yang bukan seorang dokter dari semua anak-anakmu.

Menjadi Ibu rumah tangga itu tidak berat ma. Lelah hanya begitu-begitu saja. Yang paling membuatku lelah adalah tidak ada apresiasi. Tidak ada kata-kata Terima Kasih atas usaha yang aku berikan di rumah. Tolong berilah aku perasaan bangga itu. Aku sungguh sangat membutuhkannya. 

Tolong lindungi aku dari orang-orang yang memandang rendah diriku. Orang-orang yang berkata bahwa aku tidak bisa apa-apa. Mereka yang sering berkata Susah-susah dikuliahkan tapi malah tidak bekerja, apa yang dikerjakan di rumah? Dan pertanyaan memojokkan lainnya. Aku tau kau sudah menerimaku dan please.. Banggakan aku di mata orang-orang tersebut. 

Maaf Ma..

Maaf karena aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga. Jauh dari cita-cita mandiri secara finansial yang engkau harapkan. 

Maaf karena tidak bisa menemanimu di rumah. Maaf karena aku harus menjauh mengikuti suamiku. 

Terakhir.. Maaf karena aku terlambat reframing perasaanmu. Sungguh, aku menyesali pertengkaran demi pertengkaran dahulu. Andai saja aku bisa berkomunikasi dengan lebih baik dahulu. Mungkin aku bisa membuatmu mengerti tentangku. Andai saja emosiku tidak menggebu-gebu.. Mungkin aku bisa menjadi Winda yang lebih baik. 

Ah, menyesal memang selalu terlambat bukan? Tapi semoga tidak ada kata terlambat untuk menyayangimu lagi.

Dariku, sang anak yang sudah berubah menjadi Ibu. 

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam FBB Collaboration dengan tema Hari Ibu

Tentangku yang memutuskan #AyoHijrah dan Bank Muamalat Indonesia

Tentangku yang memutuskan #AyoHijrah dan Bank Muamalat Indonesia

“Jangan pernah menganggap remeh orang yang kau lihat sekarang. Karena kau tidak pernah tau akan seperti apa ia di masa depan..”

Ya, dunia ini penuh dengan pekerjaan membolak balik keadaan. Setiap orang bisa berubah.

#Hijrah, dapat mengubah segalanya..

Dan Ini adalah Kisah Hijrahku

Aku masih ingat dengan jelas moment yang terjadi 10 tahun yang lalu. Aku dengan seragam putih abu-abu mengisi formulir pendaftaran SBMPTN. Saat itu, dengan separuh semangat yang masih ada aku menyemangati diriku sendiri sembari berkata dalam hati, “Masih ada kesempatan win. Kamu pasti bisa..”

Yah, tidak ku pungkiri.. Semangatku saat itu bukanlah semangat yang penuh. Separuh dariku masih sangat merasa terpukul karena tidak lulus pada PMDK dan STAN. Melihat teman-temanku yang satu persatu sudah mendapatkan bangku kuliah sungguh membuatku sangat iri. Apalagi jika melihat teman yang saat itu toh kupikir ‘tidak pintar-pintar amat’ kok bisa lulus di kampus idamanku? Ah, keberuntungan macam apa itu.. Pikirku nyinyir saat itu. Sungguh, kampus macam mana yang berani sekali tidak meluluskanku sang juara kelas berkali-kali ini. Ya, seangkuh itu pemikiranku.

Dan hari pengumuman SBMPTN pun tiba. Betapa kecewanya aku saat aku tak melihat namaku lagi di pengumuman kelulusan. Kesalnya, teman-temanku sudah mendapatkan kampus idamannya masing-masing. Ya.. Mereka dengan keberuntungan yang mereka miliki. Aku? Mengutuk nasib sialku. Menjerit dan menangis dalam hati.. Oh, Sebegitu gelapnya masa depanku. Kenapa Allah begitu kepadaku? Apa salahku? Tidak bisakah Allah meluluskanku pada salah satu kampus negeri?

Allah tidak adil! Teriakku saat itu. Lihatlah, aku dengan segala kerja kerasku. Berusaha untuk selalu juara kelas, belajar dan belajar. Tidak pernah tergoda untuk berpacaran, hanya les demi les yang menemaniku setiap sore. Impianku hanya satu saat itu. Aku ingin lebih kaya dibanding kakakku. Jika kakakku lulus di Fakultas Kedokteran, maka aku yang memiliki otak biasa saja ini paling tidak dapat berusaha untuk bisa lulus di Fakultas Ekonomi Akuntansi.

Dan inilah akhir dari obsesiku. Terdampar tidak tau arah. Setelah SBMPTN berakhir, maka aku hanya memiliki 3 pilihan. Pertama, mendaftar pada jalur mandiri di Fakultas Ekonomi UNLAM. Kedua, mendaftar di Kampus Swasta. Ketiga, mendaftar pada tes gelombang kedua di Politeknik Negeri Banjarmasin. Oh ya, aku masih punya pilihan lain untuk bisa kuliah di kampus yang aku inginkan.. Yaitu mencobanya lagi ditahun berikutnya. Tapi tentu saja aku terlalu gengsi untuk mencobanya.

Dan kalian tau aku berakhir dimana?

Aku melawan gengsiku. Aku mendaftarkan diri untuk mengikuti tes gelombang kedua di Politeknik Negeri Banjarmasin. Aku tak boleh lepas dari cita-cita menjadi Sarjana Akuntansi. Politeknik memang bukanlah seperti Fakultas Ekonomi di UNLAM. Kampus yang konon katanya mencetak generasi lulusan siap kerja ini tidak menyediakan program S1. Program yang ada hanyalah D3 Akuntansi, D3 Komputer Akuntansi dan.. Hei apa ini?

Aku membaca daftar tulisan pilihan jurusan di dinding itu untuk meyakinkan diri. Dan mataku tertuju pada pilihan terakhir. Masih sangat unik dan asing namanya ditelingaku. Lihatlah, D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah (ALKS). Jurusan unik macam apa ini? Pikirku.

ALKS adalah program studi baru di Jurusan Akuntansi Poliban. Terhitung baru 2 tahun berdiri. Aku memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut tentang prodi itu pada salah seorang petugas di Politeknik. Setelah mendengarkan jawaban sekaligus membolak-balik membaca brosur dari prodi baru itu maka aku memantapkan diri. Ya, aku akan mendaftar disini.

Hal yang membuatku tertarik dengan prodi ALKS ini sungguh banyak. Prodi Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah ini menjawab masalah dunia kerja diluar sana. Ya, saat itu lembaga-lembaga keuangan syariah sedang menjamur. Dimulai dari Bank Syariah, Asuransi Syariah, Pegadaian Syariah, Pembiayaan Syariah. Sayangnya, menjamurnya lembaga-lembaga syariah ini tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang ahli dibidang tersebut. Kebanyakan pekerja di lembaga keuangan syariah tersebut adalah lulusan akuntansi yang tidak memahami proses pencatatan akuntansi syariah. Bahkan kebanyakan sumber daya manusia di lembaga keuangan syariah tidak begitu tau dengan dasar dari konsep syariah.

Tahukah? Sebelum aku melakukan tes di Poliban aku berdoa dan bersujud di malam harinya. Aku memohon pada Allah agar aku diterima di prodi tersebut. Tak puas hanya sampai disitu.. Aku mengucapkan nazar. Nazar yang akan membuat duniaku berubah 180 derajat.

“Jika aku diluluskan di sini.. Maka aku berjanji akan memakai Jilbab..”

***

Singkat cerita, hari pengumuman kelulusan pun tiba. Alhamdulillah, aku diterima di Prodi ALKS. Prodi yang benar-benar aku inginkan. Maka sejak adanya pengumuman itu, aku mulai memakai jilbab.

Sungguh ini adalah hal yang sangat tidak biasa. Aku adalah remaja yang dikenal jarang memakai jilbab diluar saat itu. Bukannya apa, jujur saja wajahku ini jauh lebih cantik ketika tidak memakai jilbab (ya.. Dalam sudut pandangku dan teman-teman dekatku). Apalagi di zaman itu, belum ada yang namanya jilbab ‘ala ala hijabers’. Kalau tidak salah, saat itu adalah musim film ayat-ayat cinta. Jilbab yang ngetrend saat itu ya.. Cadar. Haha..

Tentu saja yang namanya perubahan itu selalu menuai tantangan. Dimulai dari teman-teman terdekat yang bilang, “Duh, winda sekarang masuk islam aliran apa sih?”

Hingga kritik konyol seperti.. “Lucu win kamu pakai jilbab lebar gini.. Kayak Ustadzah anu..”

Sampai hal yang paling tidak aku sukai saat itu. Yaitu jika aku lewat di gerombolan laki-laki mereka akan berkata, “Assalamualaikum Ustadzah..” atau “Assalamualaikum Ukhti..”

Sungguh, aku tidak merasa pantas dipanggil seperti itu. Toh, aku belum alim-alim amat. Ini barulah langkah awal perubahanku. Selanjutnya rasa penasaranku akan ilmu akuntansi syariah adalah jalan baru menuju hijrahku.

***

Aku yang pantang menyerah untuk dapat lulus di jurusan akuntansi sebenarnya memiliki tujuan yang sama dengan rata-rata cewek pada umumnya. Apa itu? Ya, Aku ingin kaya.

Lihatlah profesi para lulusan akuntansi. Bekerja di Bank, kantor pajak, perusahaan keren, hingga memiliki usaha mandiri yang keren. Pastilah ilmu akuntansi itu akan membawa pada kesuksesan bukan? Itulah alasan kenapa aku terobsesi sekali dengan akuntansi. Aku harus lebih keren dibanding kakakku yang lulus di fakultas kedokteran. Seragam dokter itu sih biasa saja dibanding seragam kerja kantoran milikku kelak.

Dan ternyata, selama belajar di ALKS pandanganku tentang akuntansi berubah 180 derajat lagi.

Lihatlah aku yang dahulu begitu meterialistis. Menilai segala sesuatu hanya dalam bentuk uang dan benda berharga lainnya. Terdampar disini dan berkutat pada pelajaran Ekonomi Islam, Akuntansi Syariah, Manajemen Syariah, hingga Akuntansi Perbankan dan Akuntansi Lembaga Non Bank syariah. Dunia meterialisku mulai diwarnai dengan nilai-nilai islami. Aku mulai merubah mindset. Bahwa begitu pentingnya nilai-nilai islam diterapkan dalam kehidupan ekonomi termasuk pada pencatatannya. Akuntansi Syariah telah meracuni pola pikirku.

Inilah tahapan Hijrah yang telah mengubahku hampir 360 derajat..

***

“Ngapain sih win yang beginian aja di jurnal?” kata temanku saat itu. Ia adalah temanku yang kuliah di Jurusan Akuntansi di Kampus dambaanku.

“Iya, memang dalam akuntansi syariah.. Jurnal dimulai bahkan saat awal kita memulai akad. Bukan hanya itu, coba lihat.. Bagi Hasil pun berbeda perhitungannya dengan margin..”

“Sepertinya catatan jurnalmu jadi 2x lebih panjang dibanding catatan jurnal biasa jadinya deh. Belum lagi.. Duh.. Murabahah.. Mudharabah.. Musyarakah.. Hapal banget kamu beginian ya? Aku mungkin bakal kebolak balik.. Haha..”

“Iya, memang dari segi pencatatan.. akuntansi Syariah lebih ribet ya. Tapi, dari segi kesehatan ekonomi.. Sistem non riba ini bakal besar dampaknya kalau benar-benar diterapkan. Bayangkan, jika saja ya seluruh lembaga keuangan bank dan non bank memakai sistem ekonomi islam hingga memakai sistem pencatatan akuntansi syariah. Tentunya Perekonomian kita lebih baik.. ”

Temanku pun mengangguk setuju. Kemudian berkata,” Apa daya win.. Aku aja nabung masih di bank konvensional.. ”

Aku tertawa kemudian berkata,” Ah, aku juga gitu kok kemarin. Sama aja kita. Aku saja baru semester 2 kemarin baru pindah ke Bank Syariah..”

“Memangnya beda ya win? Lebih gede mana bunganya?”

“Wah, disini gak pakai bunga. Tapi pakai bagi hasil..”

“Ahh.. Bunga sama bagi hasil sama aja kok..”

“Beda laah. Mereka bukan cuma beda nama. Bagi Hasil itu jelas Halal. Kenapa? Karena diperoleh dari penyaluran kredit yang halal juga. Bank Syariah tidak asal asalan dalam menyalurkan kreditnya. Tapi berdasarkan akad-akad yang halal. Nah, kita sebagai si penabung disini diberikan bagi hasil kalau ada keuntungan dari itu. Makanya, kadang bagi hasil dari bank syariah lebih besar dibanding bank konvensional.. Dan tentunya hati jadi lebih terjaga dengan menabung di Bank Syariah. Karena pihak bank enggak mungkin menggunakan duit kita ke penyaluran kredit yang non halal.. ”

Dan temanku pun mengangguk setuju.

“Kamu punya rekomendasi Bank Syariah yang bagus buat aku nabung win?”

“Yakin mau Hijrah Bank?”

“Yakin aja lah. Supaya hati tenang..”

#Ayo Hijrah, Karena Menabung di tempat yang Benar Memberikan Ketenangan..

Selain Hijrah dari segi penampilan dan pola pikir, hijrahku juga merambah ke halal dan haram. Dan menabung ditempat yang benar merupakan salah satu hijrah terbaruku saat itu. Aku mulai berpindah pada bank syariah karena ingin merasakan ketenangan. Ketenangan yang sederhana, aku ingin menjauhi riba dimulai dari diri sendiri dulu.

Tak puas hanya dengan hijrah pada diri sendiri, aku juga tanpa sengaja menularkan semangatku pada teman-teman disekitarku. Ya, teman-teman yang tadinya mengatakan padaku, “kamu masuk islam aliran apa sih?”

Awalnya, proses hijrahku penuh air mata. Aku sempat merasa berbeda. Tidak mendapatkan banyak teman seperti dahulu lagi. Lama-kelamaan aku merasa bangga dengan perubahanku. Bahwa sepertinya prodi ALKS memang ditakdirkan untukku.

Sejak kuliah di ALKS, aku dan teman-temanku mulai gencar menularkan semangat syariah yang kami dapatkan. Organisasi Islam di kampusku juga merupakan salah satu komunitas yang membuatku senang dalam proses Hijrah ini. Organisasi itu bernama KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam).

Sejak bergabung dengan KSEI, aku akhirnya merasakan percaya diri lagi. Aku mulai menularkan semangat Hijrah pada teman-temanku saat SMA dulu. Beberapa teman meminta rekomendasi Bank Syariah yang tepat, seperti percakapan sebelumnya. Saat itu, aku menceritakan pada mereka tentang Bank Muamalat Indonesia-Bank Syariah Pertama di indonesia.

Ya, Bank Muamalat Indonesia (BMI) adalah Bank Umum pertama yang menerapkan Prinsip Syariah Islam sejak tahun 1992, Bank Syariah Murni yang memiliki Captive market kuat dengan jumlah penduduk Muslim Indonesia terbesar. Perlu diketahui bahwa Bank Muamalat tidak menginduk ke Bank Lain sehingga terjaga kemurnian syariahnya.

Kenapa aku bercerita tentang Bank Muamalat? Karena, Sejarah Bank Muamalat inilah yang membuat teman-temanku tergerak untuk hijrah bank. Bank Muamalat terbukti sebagai bank yang bertahan saat krisis moneter tahun 1998. Sistem non riba yang muamalat pakai telah terbukti tahan dari badai inflasi kala itu. Bank Muamalat mengharamkan aksi spekulasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kala itu dan cenderung bergerak pada sektor riil, karena itulah kredit dari Bank Muamalat masih tergolong stabil.

BMI juga sering meraih penghargaan, salah satunya yaitu sebagai Best Islamic Bank in Indonesia dari Islamic Finance News (IFN) Best Bank Poll di Kuala Lumpur tahun 2016. Bank Muamalat juga memiliki produk dan layanan keuangan lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas seperti Mobile Banking, Internet Banking Muamalat dan jaringan ATM dan Kantor Cabang hingga ke luar negeri. Maka, tidak heran jika Bank Muamalat juga pernah diganjar penghargaan Mobile Application Best Choice Award – Infobrand 2018.

Muamalat memiliki terobosan baru yaitu gerakan #AyoHijrah. Hijrah disini bermakna “lebih baik”. Secara keseluruhan #AyoHijrah adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama selalu meningkatkan diri ke arah yang lebih baik dalam segala hal.

Karena Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan kita dengan Sang Pencipta bukan? tapi juga merupakan jalan hidup (way of life). Gerakan #AyoHijrah dilakukan untuk mengajak kita menjalani hidup sesuai tuntunan Islam yang baik dan berkah.

Dengan gerakan #AyoHijrah ini Bank Muamalat mengajak masyarakat untuk berhijrah dalam hal layanan perbankan (pengelolaan keuangan) dengan memanfaatkan layanan perbankan Syariah untuk hidup yang lebih berkah.

Keberkahan Hidup Berkat Rasa Syukur dan Berhijrah

Hanya hijrah kecil yang aku lakukan. Ya, aku tau.. Aku bukanlah orang yang sempurna. Untuk hijrah kecil saja kadang aku belum konsisten. Masih suka malu jika memakai jilbab secara ‘benar’, terkadang juga masih ikut-ikutan dengan teman, terkadang trend sangat mempengaruhiku. Tapi satu hal yang aku tau bahwa berubah itu harus dimulai. Karena, kegagalan utama bagiku bukan gagal karena mencoba berubah tapi gagal karena tidak pernah mencoba sama sekali.

Meski jatuh bangun dalam proses hijrah, namun aku selalu bersyukur. Sejak berhijrah, rasanya hati menjadi lebih tenang. Penampilanku yang berubah, pola pikirku yang mulai sedikit agamis, hingga materialistisku yang mulai memudar. Selama 4 tahun kuliah di ALKS aku bukanlah diriku yang sama dengan waktu SMA lagi.

Aku menatap diriku di kaca. Hmm.. Masihkah ada yang ingin menikah denganku walau aku tidak seperti perempuan pada umumnya lagi? Aku sadar sekali diriku toh tidak secantik waktu SMA dan hubunganku dengan laki-laki sepertinya sudah hilang sepenuhnya sejak masuk di ALKS. Apalah itu laki-laki yang dulu menghubungiku terus sewaktu SMA. Nyatanya, sejak aku berhijrah.. Hubungan kami putus total.

Yah, itu pikiran konyolku sewaktu kuliah di semester 7. Mungkin, kalian berpikir aku ingin segera menikah. Sebenarnya tidak, jalanku masih amat sangat panjang. Aku saat itu bercita-cita ingin menjadi Dosen di kampusku. Setelah selesai kuliah D4 ALKS, aku ingin sekali meneruskan S2 di STIE TAZKIA. Bagiku, ekonomi islam adalah ilmu yang harus disebar-luaskan. Dan aku ingin menjadi salah seorang pelaku terbesarnya. Cita-citaku saat itu.. Seperti itu.

Tapi ternyata, Allah menjawabnya dengan berbeda.

Aku menikah pada bulan Juni 2018. Saat itu aku masih membuat Tugas Akhir atau Skripsi.

Mungkin, kalian bertanya-tanya. Siapa gerangan laki-laki yang mau dengan wanita sepertiku?

Yah, siapa sangka aku menikah dengan asisten dosenku sendiri saat di kampus. Seorang PNS baru yang beberapa kali menyusup ke kelas kami saat salah seorang dosen sedang tidak masuk. Mulai semester 5 lalu aku telah berhubungan dengannya. Yah, sekedar saling sapa di sosial media yang sebenarnya tidak disengaja.

Dan siapa sangka aku langsung hamil begitu menikah? Ya, cita-cita untuk kuliah lagi pun gagal. Begitulah manusia, ia hanya bisa berkehendak. Allah yang menentukan segalanya.

Tapi, sejak menikah aku mulai merasakan keberkahan pada hidup. Dan aku merasa keberkahan ini mulai ada sejak kami memutuskan untuk menjauhi riba secara totalitas.

Saat itu, aku yang masih dalam kondisi hamil dan sudah lulus kuliah sangat ingin bekerja. Hal ini karena kondisi perekonomian kami saat awal pernikahan tidaklah terlalu bagus. Namun, suamiku tidak memperbolehkan. Ia berkata bahwa aku harus menunggu hingga anakku lahir dan berumur 6 bulan. Jika aku mematuhinya maka aku boleh bekerja dimana saja yang aku suka.

Ketika anakku berumur 6 bulan, aku diam-diam mendaftar bekerja pada bank konvensional. Putus asa, stress, dan himpitan ekonomi membuatku melupakan prinsip hidupku untuk menjauhi riba. Namun, keputusanku yang diam-diam itu ketahuan juga oleh suami. Tentu saja ia menolak mentah-mentah. Dia berkata, “Lebih baik pemasukan yang sedikit namun berkah dibanding banyak tapi tidak berkah..”

Sebagai istri, aku hanya bisa berpura-pura patuh saat itu. Hatiku penuh dengan perasaan ingin melawan. Aku dan segala ilmu tentang ekonomi islam yang aku punya tidak memiliki penyaluran positif untuk dituangkan. Paling tidak, aku dapat membantu perekonomian rumah tangga dengan bekerja. Apalah itu berkah? Aku sudah lupa.

Dalam tangis aku selalu berdoa supaya dipilihkan oleh Allah jalan terbaik. Dan doaku tersebut diijabah beberapa bulan kemudian.

Suamiku memutuskan untuk mendirikan CV. Share system. Ia memutuskan untuk memiliki usaha sampingan, yaitu menjadi Programmer. Dan Alhamdulillah, sejak itu rejeki keluarga kami terus mengalir pada pintu yang tidak disangka-sangka.

Aku Yakin #Hijrahku Sudah Mencapai Balasannya

Inilah aku yang sekarang. Aku dengan segala lika liku hidupku yang dahulu selalu dipenuhi dengan kebimbangan. Aku kini memutuskan untuk menyalurkan kemampuanku pada dunia menulis. Blog ini adalah salah satunya. Menjadi Full Time Mother dan penulis sampingan adalah pilihanku.

Perjalanan hidupku dari remaja biasa yang labil hingga memasuki ALKS dan menikah bukanlah kebetulan. Segalanya sudah diatur oleh Allah. Ketidaklulusanku di beberapa universitas idamanku hingga bertemu jodoh di kampus adalah sebuah takdir. Dan takdir yang baik akan terjadi ketika kita ikhlas dalam rencananya disertai dengan usaha untuk peningkatan kualitas diri dengan berhijrah kejalan yang lebih baik.

Jika kalian bertanya, Apa kunci utama untuk keberkahan rumah tangga? Maka, mengikuti jalan yang halal adalah jawabannya. Yah, Mencari rejeki yang halal, menyalurkannya ke yang halal pula dan tentu saja.. Menabung di tempat yang halal.

Kalian tau? hijrah itu harus totalitas. Tidak separo-separo. Menjalankan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari haruslah secara kaffah. Karena itulah berkali-kali aku menekankan pada tulisan ini untuk menyimpan dan menyalurkan rejeki pada tempat yang halal.

Sebagai muslim, aku ingin turut serta dalam mewujudkan cita-cita Bank Muamalat, yaitu sebagai pusat dari Ekosistem Ekonomi Syariah yang menyetarakan pertumbuhan nasabah bank syariah agar setara dengan kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. Selain itu Bank Muamalat bercita-cita untuk turut membangun industri halal di Indonesia dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Karena itu aku mendukung gerakan #AyoHijrah Bank Muamalat.

Beberapa produk Bank Muamalat memiliki nama baru dalam #AyoHijrah loh, diantaranya sebagai berikut:

  • Tabungan iB Hijrah
  • Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah
  • Tabungan iB Hijrah Rencana
  • Tabungan iB Hijrah Prima
  • Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
  • Deposito iB Hijrah
  • Giro iB Hijrah
  • Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Super Ringan dan Fix and Fix (masih dalam proses pengajuan kepada Regulator/OJK)

Yuk, Carl tau lebih banyak tentang gerakan #AyoHijrah Bank Muamalat melalui sosial medianya:

Facebook : BankMuamalatIndonesia

Instagram : Bank.Muamalat

Twitter : BankMuamalat

Youtube : Bank Muamalat

Websites : www.bankmuamalat.co.id

Tunggu apalagi? #AyoHijrah!

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Pernahkah merasa bahwa kehidupan itu sejatinya tidaklah lurus?

Ia selalu menghadapkan kita pada pilihan.

Pilihan itu tidak cukup sekali.

Ia bercabang.

Lagi, lagi dan lagi.

Tiada habisnya.

Dan terkadang. Pilihan itu membuat pola tujuan kita berubah. Cita-cita yang berbelok dan terus berbelok. Sehingga kadang kita bertanya-tanya, “Masihkah aku dijalan yang benar? Sudah seberapa jauh aku dari tujuan awalku?”

“Apakah Passionku sudah sedemikian terdepresiasi?”

Ya, Pertanyaan tidak asing bagi seseorang yang telah membagikan seluruh hidupnya untuk mengabdi menjadi Ibu Rumah Tangga ‘Sejati’

Sebenarnya, Apa Passion Itu?

Seseorang berkata padaku, “Jika kau mengerjakan sesuatu selama berulang-ulang. Tiada bosannya. Bahkan ingin selalu meningkatkan kualitas dari pekerjaan itu. Kemudian, kamu senang melakukannya. Kamu bahagia untuk itu. Maka hal yang telah kau lakukan adalah Passion. Senjata yang membuatmu dapat menghadapi dunia.”

Passion adalah salah satu makanan batin untuk bertahan hidup. Passion adalah skill menyenangkan untuk menghadapi dunia.

Maka, bohong besar kalau selama manusia hidup ia tak pernah memiliki kesenangan hal yang dilakukan. Tidak punya hoby. Tidak punya bakat. Tidak punya tujuan. Bohong besar.

Seseorang yang telah kehilangan passionnya berarti ia tidak punya makanan batin untuk dirinya sendiri. Hei, benarkah itu?

Bagaimana Jika Passion kita Terkubur?

source: dream dictionary

Kadang, pilihan itu sulit. Bercabang. Membuat masalah-masalah baru. Memaksa kita untuk beradaptasi. Berubah. Berubah dan terus berubah. Syukurlah jika dari ulat menjadi kupu-kupu. Tapi bagaimana jika perubahan ulat menjadi kepompong telah memakan waktu terlalu lama? Tidur lama yang membuat kita lupa. Untuk apa sebenarnya kulit kepompong ini menyelimuti kita?

Masa Kepompong adalah Masa yang tidak bisa dihindari..

Terkuburnya Passion bagi seorang Ibu adalah masa kepompong. Masa yang bagi mereka ‘kita telah hilang’ tapi sebenarnya kita tidaklah hilang, kita hanya mengubur passion yang biasanya. Mengubah passion dan mendalami makna baru fase kehidupan bagi seorang ibu.

Yaitu, mengerti arti dari pengorbanan.

Bagaimana bisa seseorang yang dulunya ketika remaja begitu lincah kesana kemari, mengejar ini dan itu lantas kemudian menjadi ‘upik abu’ di rumahnya sendiri?

Karena ia memiliki si mungil yang membutuhkannya. Makhluk kecil yang selalu mengikutinya kemana saja. Memanggil dan menangis menyebut nama kita yang tak lagi berupa ‘nick name’ tapi…

“Mama..”

Ya, kita memang bukan diri kita yang dulu. Bukan seorang gadis yang memiliki kebebasan. Tapi kita lebih dari itu. Kepompong yang berdiam diri dalam selimutnya. Membentuk dirinya yang baru.

Karena untuk mengerti arti ‘pengorbanan’ itu tidaklah mudah.

Ya, kadang kita harus mengganti passion menjadi hal yang lebih terlihat berguna.

Menyapu, menyusui, memasak, mengepel, mencuci, lantas berbolak-balik lagi. Siklus rutinitas yang tiada habisnya. Bukan tidak mungkin passion dan kesenangan yang dulu tidak terdepresiasi.

Lalu, merugikah kita akan hal itu? Menyesalkah?

Percayalah, Perempuan adalah Makhluk Multitalenta. Hilang Satu Passion.. Tumbuh Seribu

Mama pernah berkata padaku, “Nanti kalau kamu udah jadi Mama juga baru ‘merasa’..”

Kalimat sama yang berulang-ulang bagai kaset rusak yang selalu aku abaikan maknanya ketika remaja dulu. Mama adalah penceramah nomor satu dalam hidupku. Siapa sangka kata-kata cerewetnya kini menjadi panduan dalam kehidupan rumah tanggaku.

Tidak pernah ada cerita bahwa seorang Ibu kehilangan Passion. Yang ada, seorang Ibu kehilangan dan lupa ‘tujuan yang benar’

Merasakan passion yang sedikit demi sedikit mulai terdepresiasi itu tentu pernah aku rasakan. Beberapa bulan lalu aku bahkan kesulitan untuk memasukkan pos neraca dalam CV kami. Woi, bukannya aku dulu gampang sekali membuat basic kerjaan akuntansi ini?

Aku bahkan blank saat mengurus pajak dan menyadari melupakan segala teorinya. Hei, bukannya dulu aku hapal pph sekian sekian?

Otak ’emak-emak’ ku mulai tak sengaja membuang memory akuntansi dan memasukkan memory baru. File parenting, resep masakan, metode baking, jejalan virus drama korea yang tak sengaja aku jadikan ‘me time’ dikala melipat baju dan menyetrika. Mana mungkin aku mengingat-ngingat kembali pelajaran dahulu?

Apakah akuntansi berguna untuk kebahagiaan kehidupan rumah tanggaku? Tidak sepenuhnya. Ia hanya berguna sebagai catatan pertanggungjawaban keuangan rumah tangga. Untuk memanajemen keuangan rumah tangga? Aku sang manajer bukanlah berkostum rapi bak sekretaris perusahaan. Tapi menjadi ‘Upik Abu’. Ya, profesi yang konon merupakan profesi ‘Emak Maha Benar’. 😂

Dan tanpa sengaja, profesi itu telah membuatku menjadi makhluk multitalenta.

Tidak mengapa passionku yang dulu telah menghilang, ucapkan selamat tinggal pada impian menjadi bintang kelas di kelas selama-lamanya. Itu sudah berlalu. Tidak perlu disesali, tidak perlu dikejar berlebihan. Seperlunya saja.

Passion Ada Dimana-mana. Ia Berkembang Sesuai Kebutuhan Orang yang Kita Sayangi

Jika kalian bertanya siapa orang paling ‘labil’ di dunia maka mungkin jawabannya adalah aku.

Aku tidak punya cita-cita ‘spesial’..

Dulu, ketika mama bertanya padaku apa cita-citaku aku tak bisa menjawab secara pasti apa itu sebenarnya.

Ketika mama menginginkan Anaknya berstatus sosial diatasnya maka aku memimpikan diri menjadi hal itu. Apapun itu dengan seragam yang lebih keren dibanding Guru TK. Entah itu Polwan, Dokter, ataupun yah artis mungkin. Haha

Cita-citaku selalu berubah. Suatu hari aku memutuskan memasuki jurusan akuntansi karena alasan yang simple. Ingin kaya. Ingin membahagiakan mama dengan high status dan kekayaan. Simple.

Namun suatu ketika cita-cita itu berubah (lagi) ketika aku bertemu teladan yang baru. Ya, jatuh cinta dengan salah seorang pengajar di kampusku mengingatkan dan menyadarkanku akan keinginan sejak kecil dahulu yang terkubur oleh sisi materialisme. Sejatinya cita-citaku sejak kecil ingin menjadi panutan. Ingin menjadi role mode bagi siapapun. Ingin menjadi bintang kelas selama-lamanya. Ingin menjadi Guru.

Terlalu banyak cerita tentang hal ini. Kalian bisa membaca banyak cerita tentang perjalanan hidupku pada catatan cengeng dibawah ini:

“Mama, maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga saja”

“Mengapa aku harus membenci mertuaku?”

“Sepenggal cerita tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan”

Sudah dibaca? Belum?

Jika sudah, maka tentu kalian mengerti mengapa akhirnya aku memutuskan untuk ‘Hanya Menjadi Ibu Rumah Tangga’

Bagi perempuan pilihan itu sulit, pilihan berkembang sesuai dengan keinginan untuk membahagiakan orang yang ia cintai. Seorang Ibu tidak akan memilih pilihan yang hanya membahagiakan dirinya sendiri (saja).

“I dont have Any Passion, I’m Divergent”

Aku tidak punya passion khusus. Tapi aku punya tujuan. Tujuanku adalah Membahagiakan Keluargaku. Menjadi kebanggaan mereka dan mewariskan kebaikan. Karena semuanya akan hilang. Yang tetinggal hanyalah kebaikan.

Belajar Menjadi Air, Arti Penerimaan yang Benar

Akan tiba suatu hari kau belajar arti penerimaan tertinggi dalam kehidupan. Diam jika terbawa arus, mengalir, namun tetap tenang.

Sebagian akan meremehkan hal ini. Tapi kau tetap menerima. Dipakai, dicemari, tak dianggap. Namun kau tetap diam.

Membiarkan rasa panas itu. Menguapkan semuanya. Kemudian menurunkan rasa sakit itu dalam tetes-tetes hujan.

Saat itu, kau dalam level tertinggi sebuah kebijakan. Memilih menjadi Air.

source: redbuble.com

Tentu aku belum sampai kedalam tahap itu. Namun, tidak pernah ada salahnya terus belajar. Kau tidak akan percaya dengan betapa mengerikannya egoku dahulu. Namun beberapa dari hal itu telah terkikis. Kupikir pengorbanan dan cinta seorang ibu telah merubah beberapa sifat buruk itu.

Baca juga: “Hal yang telah berubah sejak aku menjadi Ibu”

Jangan Pernah Menggenggam Dunia Dihatimu, Cukup Ditanganmu saja

Bukan sekali-dua kali aku mendengar kata-kata ini. Sering, cukup sering. Bahkan setiap kali ke pengajian Guru Juhdi pada malam jum’at di Mesjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin_beliau berkali-kali mengingatkan hal ini.

Ganggam ditangan haja. Jangan di hati. Amun ikam sampai meandak ke hati segala urusan dunia ngini, lalu ngalih.

Tidak ada hal yang lebih tidak nyaman dibanding menjadi tawanan hasrat sendiri. Mungkin, antara rasa semangat, ambisi dan kerja keras itu merupakan hal yang baik tapi jika ketiganya telah melawan arti pengorbanan dan cinta.. Masihkah ketiga rasa itu bisa disebut dengan hal positif? Mungkin, penawanan oleh hasrat ini yang dimaksud Ibnu Taimiyah.

Orang yang benar-benar terpenjara adalah yang terpenjara hatinya oleh Tuhan. Orang yang tertawan adalah tertawan hawa nafsunya. (Ibnu Qayyim, al-Wabil) – Yasmin Mogahed “Reclaim Your Heart”

Ah, jika kalian pernah membaca buku Yasmin Mogahed yang satu ini kalian pasti paham apa maksud dari kata-kataku ini. Ini adalah kutipan yang aku ambil dari salah satu bab yang sangat aku sukai. Aku menyebutnya “Tentang Burung dalam Sangkar Emas” walau judul chapter aslinya berjudul “Lolos dari Penjara Terburuk”

Aku punya cita-cita kecil yang kuharap suatu saat bisa mewujudkannya.

Disuatu hari nanti, entah kapan pun itu. Aku ingin berjalan menyusuri dunia. Bukan sekedar berfoto dan mendokumentasi perjalanan. Tapi belajar. Tak berharap kuliah untuk gelar lebih tinggi. Hanya berharap bertemu banyak orang bijak. Berguru pada semuanya.

Siapapun.. Siapapun Guru yang mungkin bisa membuatku benar-benar lolos dari Penjara Terburuk.

IBX598B146B8E64A