Browsed by
Category: Renungan Hidup

Tulisan-tulisan yang berisi pengingat tentang kebaikan terinspirasi dari berbagai hal

Dongeng Penggembala Domba

Dongeng Penggembala Domba

Dahulu kala..di sebuah desa.. Tinggallah seorang anak laki-laki dan orang tuanya. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Namun setiap hari mereka juga memelihara Domba. Domba-domba itu adalah milik keluarga mereka. 

Suatu hari sang anak laki-laki ditinggal oleh orang tuanya ke kota. Sang anak dititipkan beberapa domba. Mereka menyuruh sang anak agar menjaga dan memberi makan domba-domba tersebut. 

Sang anak menjaga domba itu dengan tekun.

Tapi, hingga hari ke tiga.. Orang tuanya tak kunjung datang. Maka, ia mulai merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Ketika menjaga domba, pikiran anakpun mulai jahil. Ia kemudian berteriak, “Serigalaaa… serigala.. Tolooong!”

Penduduk desa pun datang berlarian. Mereka langsung mencari keberadaan serigala disekitar anak tersebut. Sang anak senang sekali melihat respon para penduduk. Ia pun tersenyum dan berkata, “Haha.. Tidak ada serigala kok!” 

Para penduduk pun kesal. Mereka langsung pulang kerumah. 

Besoknya, Anak lelaki itu mengulangi hal yang sama, ia berteriak dengan lebih nyaring, “Serigala.. Serigala..! Astagaa tolong akuu!”

Penduduk desa awalnya tidak mau datang. Tapi karena teriakan anak itu begitu nyaring dan serius. Akhirnya mereka tidak tega. Mereka pun segera lari kearah suara anak tersebut. 

Dan betapa kesalnya mereka ketika melihat sang anak tertawa terbahak-bahak. 

Besok harinya, anak lelaki tersebut duduk tenang sambil menjaga dombanya yang sedang makan. Betapa terkejutnya ia ketika tiba-tiba melihat serigala datang ke arah domba tersebut. Sang anak pun berteriak panik, “Toloong.. Serigala.. Toloong.. Domba saya dimakan.. Tolong!”

Tapi tidak ada satupun yang datang. 

Penduduk desa sudah tidak percaya lagi dengan teriakan anak tersebut. Dan akhirnya, domba-domba pun habis dimakan serigala. 

Tamat. 

Memahami Adanya Ego Manusia Untuk ‘Mencari Perhatian hingga Mendapat Pengakuan’

Apa yang dapat dipelajari dari dongeng penggembala domba diatas? Sejak kecil, kita diajarkan bahwa moral story dalam dongeng ini adalah untuk tak pernah berdusta.

“Jangan pernah berdusta, apalagi mengulanginya. Atau orang tak akan percaya lagi pada kita.”

Ada benarnya. Dan itu terbukti bukan? Sekali, dua kali hingga tiga kali kita berdusta maka tak akan ada lagi yang percaya pada omongan kita. 

Namun, jika kita berani memandang sebuah dongeng dalam sudut pandang yang berbeda. Maka, ada satu hal yang kita lewatkan pada dongeng tersebut. Yaitu tentang..

“Mengapa penggembala domba tersebut berdusta.. Lagi dan lagi”

Aku tersadar tentang untold story pada dongeng ini saat menonton drama its okay to be not okay. Sebenarnya, penggembala domba tersebut kesepian. Demikianlah hal yang terjadi sejak ia ditinggalkan oleh orang tuanya. 

Orang yang kesepian biasanya akan melakukan 2 hal. Pertama Ia akan mencari teman agar tidak kesepian. Kedua ia mungkin ingin menarik perhatian agar ‘diperhatikan’.

Sadar gak sih, kadang kala dongeng anak gembala ini mengingatkan kita akan fenomena sekeliling kita sendiri. Betapa banyak orang-orang yang rela berdusta, melebih-lebihkan cobaan hidupnya sendiri ‘demi mendapatkan perhatian’ dan ‘demi mendapatkan pengakuan’. Banyak yang terpancing dan berempati ‘tanpa tahu keadaan yang sebenarnya’. Padahal mungkin jika kita tahu keadaan sebenarnya akan berbeda ceritanya.

Bisa jadi, jika sejak awal anak tersebut jujur pada sekitarnya bahwa orang tuanya tak kunjung datang maka orang sekitarnya akan berempati padanya. Tapi, anak-anak tak begitu paham ‘cara berkomunikasi yang benar’. Maka, dibuatlah ‘sensasi’ demi mencari perhatian..

Sebenarnya, mencari perhatian dan mendapatkan pengakuan adalah ego yang sangat wajar timbul pada manusia. Aku sendiri mengaku bahwa emosi ‘ingin mendapatkan pengakuan’ adalah emosi dominan dibanding 5 emosi seorang ibu lainnya. Sampai sekarang pun, jujur aku selalu mempertanyakan setiap langkah yang aku lakukan. Apa niatku? Apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan?

Menyadari Emosi Seapa-Adanya

Dongeng anak gembala sebenarnya so related dengan kehidupan ibu-ibu loh. 

Eh, dimana relatednya win?

Sadar gak, di era sosial media begitu marak seperti sekarang. Kita sering kali mungkin berperilaku seperti anak gembala. Mencari perhatian. Terinfluence pada konten-konten orang lain. Konten tentang keluhan menjadi IRT misalnya. Dari yang biasa saja sampai kemudian berbau menyalahkan suami. Konten-konten demikian ini, sadar gak sih bahwa peminatnya semakin banyak karena merasa senasib? Lantas satu demi satu kreator berlomba membuat pelampiasan emosi. Untuk bersuara. Yang awalnya hanya untuk ‘release’ kemudian dijadikan ajang mencari pengakuan.

Tidak salah sebenarnya. Yang dipertanyakan adalah.. Sebenarnya, apa sih niat membuat konten demikian? Ingin mengutarakan masalah atau ingin mendapatkan pengakuan? Atau ingin mencari teman senasib?

Aku bisa paham jika tujuannya ingin mencari teman senasib, karena pernah berada diposisi demikian. Setidaknya pernah dalam sekian fase demikian. Namun, setelah mendapatkan 4-5 teman senasib, aku memutuskan berhenti melakukannya. Sharing permasalahan pribadi pada umum yang tidak menemukan solusi mungkin merupakan toxic bagi sebagian orang yang tidak mengerti. Sebaliknya, ketika menemukan hikmah dalam permasalahan aku biasa menuliskannya di blog agar menjadi insight buatku dan pasangan. 

Jadi, apakah membuat konten tentang keluhan itu sesat?

Tidak. Tentu saja tidak. Semuanya tergantung dari ‘niat’. Jika niatnya untuk mencari pengakuan dari orang lain. Untuk mendapatkan perhatian.. Maka, mungkin perlu dipikirkan lagi. Tapi, jika niatnya untuk kebaikan. Merangkul ibu-ibu senasib, memberikan pemahaman pada para suami yang mindsetnya terlalu sempit tentu tak apa-apa. 

Pada kelas rangkul keluarga kita. Aku jadi paham banget bahwa mengenali emosi diri itu adalah ilmu dasar yang perlu dipahami. Jadi, ketika kita melakukan sesuatu hal.. Segala sesuatu itu harus dipertanyakan berkali-kali pada diri sendiri. Kenapa aku melakukan ini? Release Emosi? Apa dampaknya jika aku melakukan ini? Apakah aku siap dengan kritik orang lain? Apakah aku membuat ini hanya untuk mendapatkan pengakuan bahwa aku benar? Apakah yang aku tulis berguna atau membuat boomerang efek pada diriku sendiri?

Menyadari emosi, menerima seapaadanya, mengungkapkan dengan baik pada tempatnya, membuat konten positif untuk outputnya. Inilah yang mungkin perlu banget dikelola pada seorang Ibu.

Lantas bagaimana jika sulit sekali berkomunikasi pada suami?

Ehem, aku sering menulis hal ini loh

Berkomunikasi tak melulu kunci

Saat marah pada suami

Jika Tak Ingin Memiliki Ending Seperti Penggembala Domba

“Jangan pernah sekalipun berbohong. Sekali berbohong orang mungkin masih berempati padamu. Dua kali berbohong, orang mulai waspada pada apa yang engkau sampaikan. Tiga kali berbohong, orang tak akan percaya lagi padamu”

Ending dari dongeng itu adalah, penggembala domba tak lagi dipercayai oleh orang lain.

Alih-alih berteriak ‘serigala..serigala..’ Padahal banyak hal yang bisa dilakukan oleh anak tersebut jika merasa kesepian. Ia mungkin tidak bisa melepas dombanya karena diamanahkan untuk terus menjaganya. Akan tetapi, penggembala masih memiliki pilihan untuk menangis dan meronta. Itu jauh lebih baik dibanding berdusta.

Berkata bahwa ia kesepian, orang tuanya tak kunjung datang, kelaparan.. Jauh lebih baik dibanding berdusta bahwa ada kedatangan serigala. 

Apa yang dilakukan pendengar jika mendengar hal ini? 

Mendengarkan. Berempati. Menolong. Atau diam saja.

Berempati dan menolong dengan membawakannya makanan dan menemaninya sejenak. Mendengarkan tangisannya dikejauhan namun tak menolong pun tak apa. Aku yakin dengan jujur tentang apa yang sedang dialami, akan jauh lebih baik dari pada mencari perhatian dengan berbohong. Kesepian, sesungguhnya bukanlah hal yang memalukan.

Ibu rumah tangga kesepian, capek, dan frustasi di rumah seorang diri itu bukanlah hal memalukan untuk dikeluhkan. Tapi akan menjadi salah jika Ibu tersebut berteriak-teriak menyalahkan orang lain. Menyalahkan cuaca, menyalahkan suami, menyalahkan Tuhan sekali lagi dengan niat ‘demi mencari perhatian’. Apalagi jika kesakitan dan risiko itu sebenarnya sudah merupakan konsekuensi dari pilihannya sendiri. Solusinya adalah memintalah pertolongan pada hal yang lebih realistis. Bukan mencari perhatian kemana-mana.

Dan sebenarnya, anak gembala memiliki pilihan kreatif untuk dilakukan pada saat kesepian.

Yaitu mencoba berteman dan memanfaatkan keadaannya untuk hal yang produktif. Berteman dengan domba, mencukur bulunya, belajar meniup seruling untuk memandu para domba, menganalisis tanaman yang dimakan oleh domba. Menerima keadaan seapaadanya…Bahwa ia sekarang sendirian, dan apa boleh buat?

Mungkin sang anak gembala tak berpikir sampai kearah demikian karena ia masih anak-anak dan belum dewasa. Maka, inti dari dongeng untuk anak-anak pun memiliki pesan demikian.

Tapi, setalah aku selesai membaca dongeng ini untuk anak-anakku.. Aku pun tersadar bahwa meski ini cerita anak-anak.. Value yang disampaikan pun bahwa sebenarnya berlaku untuk orang dewasa sepertiku. Mungkin dongeng penggembala domba ini adalah sebuah kisah nyata dengan pesan demikian untuk anak-anak. Agar anak-anak tak akan pernah berdusta.

Andai penggembala domba dalam cerita itu sudah besar sekarang, mungkin ia akan banyak belajar dari masa kecilnya. Memahami emosi yang hadir, mengelolanya dengan lebih baik, memanfaatkan kesepian untuk hal yang produktif..

Sebenarnya, andai saja tokoh-tokoh dalam dongeng diteruskan masa depannya.. Mungkin ceritanya akan terdengar lebih menarik dan lebih dewasa bukan? Bagaimana menurut kalian?

Fenomena Miring di dunia, Dimulai dari Apa dan Bagaimana Mengakhirinya?

Fenomena Miring di dunia, Dimulai dari Apa dan Bagaimana Mengakhirinya?

Well, judul tulisan yang cukup absurd aku tulis malam ini.

Berawal dari celotehan demi celotehan di sosial media yang berkaitan tentang pro dan kontra soal childfree. Hingga aku akhirnya mulai ‘kepo’ tentang apa sih “komentar” mengganggu yang ditulis oleh ‘Si Mbak’. Akupun mulai membatin dan berkata “Ohhh…” di dalam hati. Tanpa sadar hatiku diikuti rasa amarah hari itu. Aku sempat membuat sekian bar igs demi menenangkan diri. Mengingat kembali ‘luka lama’ saat aku melahirkan anak pertamaku di dunia.

Seorang Ibu muda yang ‘memang sih’ mendadak tua karena anaknya telah menguras fisiknya. Tak terbayang jika saat itu aku sudah mengenal sosial media. Mungkin saja, jari-jari kejamku dengan lantangnya mengetikkan kata-kata yang sedikit baper dan mungkin juga tak pantas.

Tapi, hari ini aku menghela nafas lebih baik setelah sekian lama workout. Memperhatikan kembali duniaku hari ini yang begitu berbeda dengan dunia 10 tahun yang lalu. Berbeda pula dengan dunia 20 tahun yang lalu. Kusadari.. Bumi, manusia dan pikiran orang-orang sudah mulai berubah tajam.

Apakah teman-teman berpikiran serupa?

Tentang Telur vs Ayam

Pilihan tentang Childfree menjadi sebuah pro dan kontra. Begitupun celotehan ‘Mbaknya’ pada kolom komentar. Ada yang berempati padanya, ada pula yang memakinya. Yang berempati padanya berkata bahwa pilihan childfree bukanlah hal yang salah karena trauma masa kecil ‘si Mbak’ begitu mengerikan sehingga memicu depresi dan pembelaan diri berlebihan. Sementara yang memaki beralasan bahwa hal sedemikian tak pantas diungkapkan di publik, apalagi jika sudah dalam fase menjelek-jelekan kubu tertentu. 

Pertanyaanku selanjutnya, siapa sebenarnya yang ‘terlebih dahulu’ bersalah?

Apakah itu orang tua ‘si Mbak’ karena menorehkan trauma pada anaknya?

Ataukah ‘Si Mbak’ karena dengan nyamannya berkomentar tanpa peduli hati yang mungkin tersakiti?

Atau orang tua dari orang tuanya ‘Si Mbak’ karena juga telah menorehkan luka yang kemudian menurun? Atau orang tua yang lain yang turut menghakimi dan menyakiti pada kehidupan orang tua ‘Si Mbak’ di masa lalu?

Atau emak-emak yang kontra dengan childfree dan membully berlebihan setelah tau pilihan ‘Si Mbak’ ?

Menjawab pertanyaan demikian sama rumitnya dengan pertanyaan, “Mana yang lebih dulu? Telur atau Ayam?”

Semua punya asumsi sendiri, punya alasannya masing-masing. Tak ada yang mutlak salah dan mutlak benar. Yang perlu dipahami lebih lagi sebenarnya adalah.. Apakah rasa memaafkan itu ada? Apakah empati terhadap perasaan satu sama lain itu ada?

Karena jika itu tak ada. Tak berkesudahan. Maka, fenomena ini mungkin akan terus berlanjut. Disadari atau tidak sebenarnya ini adalah awal dari fenomena miring lainnya.

Saat manusia kehilangan empati pada sekelompok golongan yang seharusnya lebih baik. Lantas kemudian memutuskan tak lagi ingin menambah keturunan, ditambah penolakan dari sekitarnya. Hal ini membuat tameng transparan antara circle sosial satu dengan lainnya. Manusia menjadi terkelompok pada sekian golongan. Tak merasakan empati pada golongan yang ia benci. Dan tentunya ditandai oleh hilangnya rasa empati pada satu golongan.

Aku.. setelah begitu panjang ingin mengomel pada ‘Si Mbak’ akhirnya sadar jika aku tak berempati pada keadaaannya bagaimana bisa ‘Si Mbak’ juga berempati pada sosok Ibu. Bagaimana bisa ‘Si Mbak’ memaafkan trauma masa lalunya jika pasukan emak-emak menyerbu perspektifnya tanpa berkesudahan. Akhirnya pada suatu waktu ledakan penolakan itu bersatu dengan gelombang narsistik dan terpublishlah komentar tidak mengenakkan itu.

Pertanyaan selanjutnya, Apakah yakin kita sebagai emak-emak tak pernah merasakan hal demikian? Merasa jumawa karena bisa ‘begitu sempurna’ dengan pilihan kita lantas merendahkan yang lain. Merasa bangga dan bertahan dari rasa sakit dengan membela kelebihan diri sendiri dan merendahkan orang lain terutama segelintir golongan yang secara masif ‘nyinyir’?

Ah entahlah. Fenomena Ayam vs Telur. Duluan yang mana? Kurasa kita harus menyadari hukum sebab akibat terlebih dahulu untuk menjawabnya. 

Fenomena Pengurangan Jumlah Manusia, Apakah ini Pertanda Baik bagi Bumi?

Sebelum ramai karena kasus komentar. ‘Si Mbak’ juga pernah terkenal karena komentarnya tentang stunting. Setelah itu ramai teman-temanku juga membuat postingan yang menyebut bahwa ‘Si Mbak’ juga mendukung ‘lagibete’. Entahlah, aku kurang tau tentang 2 hal ini karena saat itu memang ada sedikit pekerjaan kantor yang sedang aku kerjakan. So itu berlalu begitu saja. Aku tak mencari tau lebih jauh.

Tapi, seandainya benar bahwa si mbak pro ataupun toleran dengan ‘lagibete’ aku lagi-lagi mencoba berempati pada mindsetnya yang konon openminded tersebut. Bisa jadi ia mirip dengan Dear Alyne yang memilih child free karena merasa populasi manusia di bumi begitu banyak dan mulai berdampak negatif. 

Disisi lain tak berkejauhan dari fenomena childfree. Kita dapat melihat secara nyata bahwa hubungan sesama jenis mulai dinormalisasi. Tak cukup sampai situ, hubungan demikian begitu digemborkan, dikampanyekan bahkan menjadi solusi untuk pengurangan jumlah penduduk. Jangan tanya tentang seks bebas, asalkan ‘tidak hamil’ maka itu tidak masalah. 

“Mempertajam kualitas dibanding kuantitas. Demikianlah manusia zaman sekarang. Namun, apakah benar kualitasnya menjadi jauh lebih baik setelah mengurangi kuantitas kelahiran manusia?”

Anak dilambangkan sebagai pembawa beban bagi orang-orang yang ingin bahagia dan produktif. Apalagi bagi orang yang memiliki trauma, pilihan childfree terkesan jauh lebih bijak. Tentu, aku tak menyalahkan mereka yang berpikir demikian. Well, justru aku mendukung wanita untuk memilih pilihan berdasarkan hatinya. Tapi, kembali lagi manusia hanya bisa berencana. Selebihnya Allah tau yang terbaik. Itulah prinsip hidupku.

Aku percaya bahwa dibalik sekian fenomena yang ada pasti ada rahasia Allah dibalik itu. Termasuk kelahiran Pica yang tidak aku rencanakan. Namun, fenomena pengurangan jumlah manusia? Apakah ini pertanda baik bagi Bumi?

Secara teori mungkin iya. Bumi membaik dengan berkurangnya populasi manusia. Terutama mungkin sampah akan berkurang. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa seiring berkembangnya fenomena pengurangan jumlah manusia sekarang maka fenomena sosial dan penyakit jiwa pun ‘entah kenapa’ semakin meningkat?

Mungkinkah ini dimulai dari Kebebasan tanpa Kritik?

“Terserah aku dong mau memilih apa. Itu urusanku kenapa kalian yang repot?”

Kata-kata demikian mungkin sudah lazim didengar. Manusia mulai tak menyukai urusan pribadinya dicampuri. Aku bisa memaklumi jika itu hanya perkara tentang ‘masak atau tidak’, ‘sekolah negeri vs swasta’, ‘ibu bekerja atau di rumah saja’, ‘memiliki art atau tidak’ hingga hal seperti ‘beranak vs child free’. Sungguh, aku tak ingin mencampuri hal-hal sedemikian. Itu hak masing-masing individu maupun pasangan. 

Tapi belakangan, aku mulai berpikir bagaimana kalau sebenarnya hal-hal demikian terjadi dimulai dari kebebasan tanpa kritik? Bagaimana jika semuanya dimulai dari hilangnya perasaan menghormati kita pada orang yang lebih tua? Bagaimana jika sebenarnya, karena keegoisan kita sendiri dalam memantapkan pilihan maka kita menjadi cenderung closed minded terhadap saran dari orang lain? Aku bertanya-tanya sambil berkaca pada kehidupanku sendiri.

Jujur, pernah sekali pada fase demikian. Aku merasa ‘muak’ dengan orang yang suka mencampuri aturan dan prioritas hidupku. Tentang memasak repot atau tim memasak praktis, tentang pilihan ‘mengeluarkan duit berapa’ sampai pilihan yang sebenarnya adalah keputusan hidupku sendiri. Berusaha meluangkan waktu untuk berdaya setelah jungkir balik hidup ditekan secara finansial maupun waktu. Sungguh, jika ingin jujur aku ingin berteriak bahwa ‘orang-orang rese dan kepo terhadap hidup orang lain’ adalah penyebab utamanya. 

FYI, karena pernah mengalami hal demikian aku sempat terkena Sosial Anxiety. Aku jadi malas berinteraksi dengan orang lain. Rasanya melihat orang berkumpul sekitar rumahku pun membuat aku kembali mengurungkan diri untuk keluar rumah. Pikiranku dipenuhi prasangka negatif seperti, “Bagaimana kalau mereka bertanya ‘begini’?” Apa aku harus jumawa dan tegas atau aku pergi begitu saja?”

Dulu, aku bukanlah orang yang terlahir tanpa kritik demikian. Sungguh banyak kritik yang mampir dalam hidupku. Tapi toh aku baik-baik saja. Kurasa ‘closed minded’ pada pikiranku hadir sejak cercaan pada pilihan hidupku diremehkan. Aku jadi sempat merasakan ingin bebas sebebas-bebasnya oleh pilihan hidupku sendiri. Pada ‘dark mind’ yang terdalam sempat berpikiran sangat amat ingin melakukan hal tak biasa. Namun, kembali lagi saat melihat bagaimana aku lelah berproses untuk dekat pada-Nya. Hal itu aku urungkan. Jika hanya untuk mengikis iman dan ketaatan yang ada. Aku memilih kembali dan merenung.

Belajar Untuk Terkoneksi, Berempati, dan Memaafkan

Jujur tulisan ini tidak akan menemukan ‘ujungnya’ dan mungkin hanya akan mengendap menjadi draft tidak karuan jika malam itu aku tidak membuka facebook. Entah kenapa postingan ini lewat begitu saja lewat akun Baper.id. Lama aku menatap gambar ini merenung dan.. Ealah.. Baper beneran sampai meneteskan air mata. Wkwk.. 

Aku sering sekali merepost sebuah kalimat yang kurang lebih bunyinya begini, “Kamu lihat kan paku yang telah menancap pada kayu ini? Kemudian pakunya dilepas. Apakah kamu melihat bahwa bekasnya masih ada dan tak pernah bisa hilang? Begitupun halnya dengan luka. Bekasnya akan selalu tetap ada”

Aku selalu membenarkan kata-kata demikian. Benar halnya bahwa namanya bekas luka tak akan pernah hilang. Maka jangan pernah melukai hati orang sembarangan. 

Tapi bagaimana kalau sebenarnya aku salah memahami konsep kayu dan paku tersebut? Bagaimana kalau sebenarnya kisah paku dan kayu memang ditakdirkan untuk terkoneksi dan bersatu demi sebuah bangunan yang indah? Jika paku terus dilepas, justru efeknya tak akan pernah ‘sembuh’ karena kayu menjadi sendirian, tak berguna, dengan sekian banyak bekas luka.

Susah payah kayu ‘menyembuhkan luka’ tak akan pernah benar-benar sembuh karena teman hidup yang terkoneksi dan bisa menyembuhkan lukanya sebenarnya adalah paku. Paku dan pukulan oleh palu.

Sama halnya dengan konsep orang tua yang mungkin menyakiti hidup kita, mungkin mereka bagaikan paku.. Menciptakan trauma pada diri kita. Namun sejatinya, paku tersebut membuat kita menjadi bangunan yang indah. Palu yang memukul paku sejatinya adalah kekuatan untuk kita bangkit. Mereka bukan untuk kita salahkan. Namun.. Kita peluk dan rasakan.

Karena itu dalam hidup selalu berterima kasihlah pada setiap emosi yang datang. Entah itu bahagia, sedih, marah, kecewa, takut.. Karena emosi membuatmu bertumbuh. Itulah kenapa setiap orang yang dekat dengan kita selalu menciptakan emosi dengan ‘versi komplit’ bukan untuk membuat kita menjauh tapi untuk semakin merasakan dan membuat sinergi yang lebih baik. Karena itulah sejak kecil kita diajarkan 3 kata ajaib.. Tolong, Terima kasih, dan Maaf. Kata-kata demikian bukan hanya sekedar terucap tapi dirasakan dengan menghubungkan emosi-emosi agar berakhir lebih baik.

Pada akhirnya, untukku, untukmu, untuk ‘Mbaknya’ atau siapapun itu.. Mungkin sebenarnya hidup ini bukan sekedar hanya membangun kualitas dan melupakan kuantitas. Mungkin hidup ini bukan hanya tentang menerima siapa-siapa yang cocok dengan kita dan membully yang tak cocok dengan kita. Percayalah, kita itu sebenarnya ‘saling membutuhkan’. Ada rahasia dan takdir unik yang menyebabkan orang-orang terdekat dengan kita memunculkan luka dan trauma.

Mungkin itu karena Allah mengajarkan ilmu Memaafkan melalui rasa sakit. 

“Pada Akhirnya, Dalam Hidup ini Belajarlah Untuk Terkoneksi, Berempati, dan Memaafkan. Itu Tidak Membuatmu Bebas Mungkin. Tapi Mungkin, Itu Justru Membuatmu Indah dan Kuat”

Aswinda Utari

Well, aku membaca ulang tulisan yang cukup aneh ini, namun pede sekali mempublishnya. Biarlah untuk dijadikan pengingat diri sendiri.

Hiatus Ngeblog, Terus Ngapain?

Hiatus Ngeblog, Terus Ngapain?

“Blogmu 2022 ini kenapa jarang update Win?”

“Aku kayaknya mau berhenti ngeblog dulu deh.” Jawabku asal saat itu

Dan itu benar. Aku memang berhenti ngeblog karena sesuatu hal. Akhir tahun kemarin jika bersentuhan dengan media tulis. Entah kenapa keinginan hati hanyalah untuk mencurahkan beberapa hal yang tak kunjung usai.  Sampai aku berpikir, ya sudahlah untuk apa juga terus ditulis atau dijelaskan. Toh, orang tak akan paham aku. Orang juga tak akan mengerti jalan pikiranku. Orang hanya paham apa akar jeleknya tanpa paham mengapa hal demikian muncul.

Saat itu, otakku hanya berpikir bahwa berhenti menulis dan mengalihkan kegiatan dalam setahun penuh mungkin akan membuatku membaik.

Kuharap begitu.

Ketika Media Untuk Healing Beralih Tempat

Kuputuskan untuk lebih menghargai posisiku yang sekarang. Aku sudah lama menempati posisi ini sebenarnya. Tapi tak banyak yang tau kalau direktur perusahaan ini dalam hitam diatas putih adalah atas namaku sendiri. Memang ini adalah usaha suami, usaha IT yang sudah lama ia bangun dan berpindah badan hukum menjadi PT sejak aku melahirkan Humaira. Karena beberapa hal, CV kami tak lagi kami kelola. Lebih tepatnya kami pindahtangankan. Karena, yah begitulah.

Aku memutuskan untuk menjadi direktur yang tak sekedar hitam diatas putih saja. Aku putuskan untuk benar-benar masuk ke dalamnya. Humaira, anakku yang masih berusia 3 tahun saat itu.. Aku masukkan di daycare hingga jam 4 sore. Jadi, aku bisa lebih fokus untuk belajar mengelola perusahaan ini. Meski aku tak paham tentang IT. Tapi basic knowledgeku adalah keuangan dan ekonomi. Aku putuskan untuk handle keuangan perusahaan. Hal sensitif yang dulu memicu konflik antar anu anu. Aku putuskan untuk berdaya disini. Dimulai dari membuka rekening perusahaan atas nama PT kami. Mengatur ulang laporan dan buku besar. Hingga mengalihkan beberapa dana dingin pada instrumen lain agar lebih berdaya.

Yup, aku sudah menuliskannya bukan? Aku belajar investasi. Mulai dari reksadana Pasar Uang, hingga perlahan memulai melek kembali ke dunia saham. Mulai menyibukkan diri membaca-baca isue ekonomi. Menghabiskan pagi hari dengan menonton beberapa konten tentang ekonomi dan investasi.

Selama hampir setahun dunia menulisku teralihkan. Pada laporan perusahaan, administrasi, ekonomi dan investasi. Aku mulai meninggalkan dan melalukan muted pada beberapa grup blogger. Hingga aku juga dikeluarkan dari beberapa komunitas. Aku juga tak pernah mengisi form job untuk blogger dan influencer dalam beberapa bulan. Tak membalas email dan WA tawaran apapun. I’m totally quit.

Ternyata Media Menulis itu Teralihkan pada Topik yang lain

Setiap seminggu sekali, aku rutin mengajak anakku untuk ke perpustakaan daerah. Disana, biasanya aku menyewa 4 buku untuk kami baca di rumah. Aku tak pernah meminjam buku bertema ekonomi, parenting atau apapun untuk diriku sendiri. Sebaliknya, aku malah ikut meminjam buku anak-anak untuk kartu peminjamku sendiri.

Aku mulai menyadari bahwa buku cerita anak-anak adalah bacaan ringan yang penuh makna. Yang bahkan, tidaklah kekanakan untuk orang dewasa sepertiku mencoba membacanya hingga berulang-ulang. Kusadari, mengarang buku anak-anak itu adalah kegiatan yang cukup menarik. Bahwa buku anak adalah salah satu pondasi dalam kehidupan anak. Dan aku memperhatikan setiap gaya penulis buku anak-anak itu… unik.

Iseng, setiap malam aku mencoba menulis cerita anak-anak. Kutulis dan kubacakan sendiri untuk anak-anakku. Mungkin, Humaira masih tidak memahaminya. Tapi Pica begitu mudahnya mencerna makna dari cerita-cerita yang aku tulis. Entah kapan terealisasi.. Aku ingin sekali kelak Pica bisa menjadi ilustrator untuk buku anak karanganku sendiri.

Banyak Hal yang Mengobatiku untuk Meninggalkan Dunia Blog, Tapi..

Tapi aku merasa sendirian ketika suatu hari aku mengikuti perkumpulan bersama teman-teman bloggerku. Tak lagi ada topik seru untuk didiskusikan. Tak lagi ada pertanyaan, “Kamu dapet job ini enggak?”

Ah, aku saja tak mendaftar. Aku saja tak tau itu apa. 

Ada pengetahuan dan rutinitas baru yang mengisi kehidupanku. Tapi dunia sosialku yang dulu terasa hilang. Dunia bersama teman-teman blogger itu seakan kubuang begitu saja. Percayalah, ada rasa rindu yang tak bisa dideskripsikan disitu. Tentang bagaimana rasanya mendapatkan job endorse free produk tanpa fee. Atau fee kecil dengan banyak tuntutan. Atau job dadakan dengan fee yang sangat lumayan. Rasanya kok rindu mengeluhkan dan mengobrolkan hal demikian bersama teman-temanku. Belum lagi melihat beberapa temanku menang lomba. Ehm sebenarnya aku ingin kok mengucapkan selamat dengan sangat excited dan tulus. Tapi mirisnya aku bahkan malas untuk sekedar membaca tulisannya. Demikianlah. Aku sadar aku ingin meninggalkan dunia blog karena ingin mengobati trauma. Tapi disisi lain, aku rindu uang-uang receh itu. Aku rindu mendapatkan kejutan. Rindu dengan job dan sesekali menang lomba receh.

Akhirnya Mencoba Menulis lagi

Sore itu ada whatsapp dengan nomor yang tak kusimpan masuk. Dan bertanya apa aku bersedia ikut dalam job blogger? Awalnya aku tentu ingin menolak. Tapi setelah tau itu tentang apa maka aku tertarik masuk. 

Aku sadar ada hal yang sangat aku senangi di dunia blogger ini. Yaitu saat anakku bisa mendapatkan keterampilan baru dengan free. Saat aku mendapatkan uang dengan tulisan recehku. Dan saat aku bebas membeli apapun dengan uangku sendiri tanpa meminta pada suamiku.

Meski aku adalah direktur di kantor ini. Aku pula yang mengelola keuangan dan mentransfer gajih pegawai puluhan juta setiap awal bulan. Tapi percayalah aku tak berani mengambil sepeser pun uang dari perusahaan untuk keperluan pribadiku. Bagiku, biaya penitipan humaira yang sudah dihandle diluar dari uang bulanan sudah lebih dari cukup. Terserah orang diluar sana ingin berkata apa tapi aku punya bukti atas itu. 🙂

Pada akhirnya aku mulai percaya pada perkataan salah seorang teman di sosial mediaku. Bahwa seorang perempuan perlu banget memiliki skill untuk mandiri finansial. Tanpa meminta apapun dan berharap apapun pada orang lain. Termasuk itu pada orang yang paling disayang dan disupport selama ini. Kita tak tau perasaan orang lain. Kita tak bisa mengontrol hal itu. Yang bisa kita kontrol, percayai dan berdayakan adalah diri sendiri.

Comfort Zone dan Genjutsu Kehidupan

Comfort Zone dan Genjutsu Kehidupan

“Eh idup aku tuh kok gini-gini aja yee akhir-akhir ini.. Kagak ada seru-serunya.”

“Harusnya saat begini tuh dibawa bersyukur. Syukur banget hari gini masih bisa hidup enak. Lagian mau hidup yang bagaimana sih?”

“Gimana ya.. Ngerasa gak? Semakin besar tuh kayaknya idup semakin susah ya untuk bahagia. Padahal, waktu kecil tuh kayaknya gampang banget bahagia”

“Tuh liat Humaira.. Ketemu gelembung sabun aja norak. Liat badut di jalan norak. Ketawa ketawa sendiri.”

“Lah aku nonton drakor marathon 12 episode.. Ngantuk iya. Happy? Entahlah..”

Comfort Zone: Kenyamanan orang dewasa yang kadang gak bikin bahagia

Kapan hidup kamu masuk dalam kategori comfort zone

Yaitu saat episode dalam hidup kamu lempeng. Gak ada misi seru. Semuanya serba berkecukupan. Tidak ada aktivitas ‘terpaksa’ yang membuatmu kerja keras untuk survive. Hal yang dikerjakan sehari-hari hanyalah aktivitas monoton. Yang mana, aktivitas tersebut begitu menyenangkan dilakukan saat kecil. Tetapi saat dewasa, aktivitas tersebut terasa hambar. 

Sebutlah contohnya menonton Tom and Jerry. Sewaktu kecil, aduh.. Senang sekali. Ketika sudah besar? Tertawa pun tidak. 

Sewaktu kecil, moment ketika berhasil menaiki sepeda roda 2 itu adalah pencapaian luar biasa. Ketika sudah besar, berkeliling komplek menaiki sepeda terasa hambar dan biasa saja. Diupgradelah kesenangan itu dengan cara yang lain. Membeli sepeda baru, membeli kostum yang bagus.. Dll dsb.. Rasanya? Tidak sebahagia sewaktu kecil. 

Kenapa? Kenapa ya? 

***

Dalam dunia game, ada 2 cara untuk meningkatkan experience dan bisa naik level. 

Yang pertama adalah melakukan misi yang mudah setiap hari. Misi level 1-5, berulang kali. Walaupun secara fisik tubuh kita sudah tumbuh ke level 20. Bukan tidak mungkin kita bisa naik level ke 21 dengan mengerjakan level 1-5 setiap hari. 

Yang kedua adalah melakukan misi spesial, hingga ujian kelulusan spesial. Yang mana, jika misi ini selesai dilakukan maka kita akan mendapatkan level yang naik secara instan. Bahkan, mungkin saja mendapatkan berbagai gift dan scroll kebahagiaan. Experience kita bertambah banyak seperti melakukan 100-300x misi level 1-5. Padahal, itu hanyalah melakukan satu misi spesial. 

Kadang, dunia nyata yang kita jalani bekerja mirip dengan dunia game. Ketika kita memutuskan memberikan rasa nyaman dengan berada di level yang sama. Maka, ada satu hal yang terasa berbeda. Happiness feel so empty. 

*abaikan gambarnya yang super jelek.. Haha
FYI, gambar ini aku buat bersama dengan Humaira. Sekedar untuk mengenalkannya pada warna. Lalu, suamiku memperlihatkanku pada gambar tentang happiness yang dia temukan di facebook. Entahlah, gambar siapa itu, aku ingin mencarinya lagi tapi tidak ketemu. Makna gambarnya dalem sekali. Jadilah gambar tidak karuan ini aku wakilkan untuk dijadikan konten dari pengembangan gambar yang aku lihat. Pliss, jangan sakit mata melihatnya.. 😂

Well, aku sedang berada ditahap itu. Sebulan ini jujur aku merasa tidak begitu produktif. Seperti berada pada level yang itu-itu saja. Aku konsisten melakukannya tapi semakin sering itu dilakukan. Ada rasa bosan dan berpikir, “Kok begini-begini saja ya pekerjaanku?”

Menjadi Ibu bukanlah peran yang mudah. Saat single dulu, level yang aku mainkan mungkin hanyalah untuk diriku sendiri. Imajinasikanlah sebagai pemain solo. Nah, ketika sudah berkeluarga. Kekuatan ego sedikit banyak sudah dikurangi. Kekuatan yang dulu pernah diasahpun sudah berubah haluan ke mode healing. Pun juga, saat memiliki anak.. Mau tidak mau.. Aku yang pernah berada dilevel 20 kembali turun gunung untuk mengulang level 1. 

Membersamai anak. Melupakan sejenak diriku yang pernah ada di level 20.

Ikut tertawa dan bahagia melihat perkembangan mereka. Dari yang selalu menangis hingga tertawa riang. Mereka menonton kartun, aku ikut nimbrung. Mereka request makanan macam-macam, aku jadi beralih menjadi suka memasak dan eh.. Kok jadi ikut-ikutan bahagia karena suka makan? 

Kata orang, menjadi ibu berarti siap untuk bertumbuh bersama. Tapi jujur saja, aku sempat loh berpikir. Hmm.. Aku ini tumbuh bersama atau turun level demi mengatur mode dewasa ke child mode? 😂

Awalnya sih bahagia. Bahagia banget. Tapi, semakin kesini aku sadar sekali. Bahwa, semakin sering pekerjaan level bawah dikerjakan. Maka, pekerjaan level atas menjadi terlupakan. 

Seperti aku yang malam itu kikuk membuka komputer setelah sekian lama. Mengatur blog, kaget dengan PV GA yang menurun dratis. Kaget, eh, kok aku gak bisa begini lagi? Eh ini kenapa? Eh, kok kok.. Bla bla.. 

Well, aku mengambil peran sebagai Ibu terlalu banyak. Stuck pada comfort zone dan mulai lupa dengan diriku lagi. Terlalu banyak berimajinasi karena sering marathon menonton film. Aku jadi lupa dengan dunia nyata dan misi yang seharusnya aku jalani. 

Aku seperti terkena genjutsu pada comfort zone. Hiks

Genjutsu Kehidupan: Malas Mengupgrade Diri Sendiri

… Terlena dengan kenyamanan dan stuck dengan pekerjaan level 1-5 yang kalau tidak dikerjakan kok bikin kepala pusing. 😅

Sebutlah itu pekerjaan domestik. Silahkan judge ketika aku mengatakan pekerjaan domestik adalah pekerjaan dengan level rendah. Kenyataannya memang demikian kok (bagiku.. Haha). Lempari saja aku batu, katakan kalau pekerjaan domestik adalah ladang pahala. Kenyataannya, pekerjaan domestik yang setumpuk itu menghalangiku untuk kembali ke level seharusnya. Semakin kesini, aku semakin paham kenapa banyak Ibu yang membutuhkan ART walau hanya di rumah saja. 

Banyak lomba blog bertebaran. Ketika ide muncul, ada saja pekerjaan rumah yang mengganggu. Padahal,akhir-akhir ini aku sedang semangat mengikuti lomba blog. Karena 2x berturut-turut menang. FYI, untuk pekerjaan rumah biasa jujur saja jam 7 pagi semua sudah selesai. Jadi, toh ngapain aku punya ART untuk membantu bersih-bersih rumah dan masak? Aku sudah (merasa) sangat cekatan untuk itu. *sombongnya kumat

Yang membuatku keteteran adalah anak. Biasanya, jam 8-9 aku sudah selesai membimbing anak pertamaku (Pica 8Y) untuk sekolah. Jam 9 aku sudah selesai mempersiapkan cemilan untuk 5 pegawai di rumah (sudah pernah bercerita kan? Keluarga kami punya bisnis IT di rumah). Jam 9.30-11 aku bersepeda membawa Humaira keluar. Pulang ke rumah, tugas Pica sudah selesai. Aku memasak untuk makan siang dan memeriksa tugas. Biasanya, masakan ini pun sudah 60% aku kerjakan di malam hari. Karena anak-anakku.. Aduh, lincah sekali. Terutama yang berusia 2 tahun itu. Anak perempuan yang hidupnya penuh drama karena saat di kandungan dulu, kerjaan mamaknya baper melulu. 😂

Well, sudah sekian kali aku berpikir untuk memiliki ART. Tapi keinginan itu kutahan lagi. Entahlah, aku merasa ART zaman sekarang tidak cekatan. Jikapun disuruh menjaga anak, ya memang itu saja pekerjaannya. Pun jika disuruh membersihkan rumah. Ya cuma itu saja. Sesungguhnya, aku lebih membutuhkan sekolah offline dibandingkan ART. Aku lebih membutuhkan berakhirnya pandemi lebih dari keinginan punya 5 ART sekalipun. Karena aku bermasalah pada sistem kepercayaan dan suuzhon. Entahlah, sulit menerima orang lain di rumah. Layaknya menerima persahabatan dan cinta. *meleber-leber curhatnya yee.. Kebiasaan. 

Nah, sifat demikianlah yang menyebabkan aku stuck pada level 1-5. Kebahagiaan yang mengisi rongga hidupku menjadi sulit diraih. Karena kuantitas pekerjaan yang tidak sebanding dengan kualitas umur. Dan aku tau aku tidak sendirian dalam hal ini. Yakin sekali bahwa banyak orang diluar sana yang senasib denganku bahkan jauh lebih buruk. Lantas, bagaimana cara mengatasinya? 

Keluarlah dari genjutsu. Hadapi kenyataan. Eh, dirimu bukan harus terkungkung disini saja! Itu adalah hal yang pertama dibenahi. 

Dirimu harus punya keseimbangan kehidupan. 

Waktu untuk anak

Waktu untuk pasangan

Waktu untuk sosial

Waktu untuk diri sendiri

Maka, sudah seminggu lamanya aku memutuskan untuk membuang waktu sosial yang biasanya. Ya, dulu aku menghabiskan dunia sosialku dengan interaksi di sosial media. Sekarang, aku tidak terlalu aktif di sosial media, sudah hampir 2 minggu lamanya. Apalagi menghabiskan waktu untuk kepo dengan berita terbaru. Pun membaca komentar netizen yang aneh-aneh. Aku sadar hal demikian merusak susunan otakku. Kalian tau aku lari kemana? 

Aku bersepeda ke rumah mertua. Haha. 

FYI, hubunganku dengan mertua tidak indah-indah banget. Tapi, juga tidak buruk-buruk banget. Disinilah aku mulai belajar menemukan diriku yang dulu lagi. Aku sadar dunia nyata tak tergantikan oleh sosial media. Ada sesuatu yang lebih disana. Entahlah apa itu.. Yang jelas, aku tetaplah seorang introvert. Tapi, aku sadar bahwa circle keluarga adalah circle yang harus aku pererat sekarang. 

Aku juga mulai memperbaiki kualitas dengan pasangan. Meniadakan rutinitas memasak malam adalah jalan ninjaku. Menggantinya dengan quality time saling memijat, menonton tv, saling curhat. Kami sudah terbiasa untuk makan malam apa adanya saja. Dan itu sangat membantu produktifitasku lagi. Aku mulai mencoba hal baru. Dari yang kemarin hanya membelikan Pica wacom untuk kesenangannya menggambar. Sekarang, aku memakainya untuk mengajari Humaira mewarnai dan memanfaatkannya menjadi konten receh begini. Well, she’s so happy! 

Misi level 20 seorang Ibu mungkin bukanlah misi yang besar. Ia hanya perlu kesadaran akan perlunya keseimbangan ruang.

“Jangan lupa ya diriku.. Teruslah bertumbuh dan pelihara dirimu sendiri. Karena tanpa dirimu yang baik, mereka tak akan jadi baik-baik saja.” 

*level 20? Yakin? Kamu saja sudah umur 30 tahun win. Haha.. (Ya ya, level hidupku lambat. Aku pernah kena genjutsu berkali-kali dan efek stun-nya. Lama sekali. Ada yang setahun, 2 tahun, sampai sekian tahun. Duh, parah memang) 

Bahagia Itu Gak Sederhana

Jika setelah membaca tulisan ini kalian berpikir bahwa bahagia itu sederhana. Maka, kalian salah. 

Bahagia itu, gak sederhana. 

((lalu dilempari batu))

Aduh, bahagia itu akan sederhana ketika kita sudah menemukan ‘rasanya’. Kalau langsung ketemu ‘happy’ tanpa sebelumnya merasakan ‘gagal’ atau ‘sakit’ maka bahagianya flat. 

Naik kepuncak gunung, makan mie instan di puncaknya. Kalian bisa bilang.. “Bahagia itu sederhana” Ya karena kalian udah capeeeek. 

Makan ikan asin dan nasi hangat di sawah. Kalian bisa bilang.. “Bahagia itu sederhana” Ya karena kalian udah capeek lari-lari di sawah atau ikut mencangkul. 

‘Hanya melihat senyummu’ lalu bilang “Bahagia itu sederhana” Ya karena sebelumnya kalian sedih kan liat dia sedih, manyun gak jelas. Atau kalian lagi cinta-cintanya sama dia. Kan ada rasanya? 

Bahkan, nabi saja bilang.. “Makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang..”

Saking, merasakan bahagia itu ada ‘seninya’. Susah dulu, baru disembuhkan. Baru tau rasanya bahagia. 

Semakin dewasa, arti bahagia itu semakin gak sederhana. Karena Tuhan emang bikin bahagia kita gak sederhana kayak dulu lagi. 

“Bersama kesulitan ada kemudahan..”

Bersama.. Bukan setelah.. 

Betapa Tuhan itu sangat menguji kita untuk paham dengan apa arti dari rasa syukur. Syukur adalah rasa yang bisa menerima.. ketika kesulitan hadir, namun tetap bisa mencari kemudahan disela kesulitan. Kebahagiaan hadir berdampingan dengan kesulitan. Itulah kewajaran level bahagia yang terjadi dalam kehidupan manusia dewasa. 

Happiness look simple. But sometimes, being happy is not simple as when we were little. 

Bahagia itu gak sederhana. Keluarlah dari zona aman dan cari misi terbaru hidupmu. Semangat! 

Dari Insecure Hingga Congkak, Begini Caraku Menemukan Arti Dari Self Love

Dari Insecure Hingga Congkak, Begini Caraku Menemukan Arti Dari Self Love

“Kamu tuh kalo bikin status musti deh terkesan meninggikan diri sendiri.. Kita yang baca jadi terkesan rendah dimata kamu..”

Masih ingat aku salah satu japri dari teman satu komunitasku. Sejak itu, aku mulai banyak mengoreksi diri. Dimulai dari memfilter ulang orang-orang pilihan yang bisa membaca status privasiku. Hingga, memfilter perasaan diri sendiri. 

Kenapa sekarang aku terkesan tinggi? Kenapa aku jadi congkak? Bukannya dulu aku pernah merasa insecure parah

Niatku hanya ingin mencari selflove. 

Selflove karena aku merasa direndahkan oleh lingkunganku. 

Aku hanya ingin menghargai diriku. Tapi, kenapa jatuhnya jadi congkak? 

Congkak, Sebuah Rasa yang Timbul karena Insecure yang Diobati Secara Berlebihan

Dalam episode kehidupanku, jujur saja bisa dibilang 60% kiranya dipenuhi oleh rasa insecure. 

Kenapa?

Apakah aku insecure dari lahir? 

Tentu tydack

Perasaan insecure pertama yang muncul dalam hidupku adalah ketika aku menyadari bahwa tubuhku berbeda dari perempuan kebanyakan. 

Ya, aku sudah pernah bercerita disini bukan? Bahwa tubuhku berbulu. Bukan bulu halus lazim seperti perempuan kebanyakan. Bulu tangan dan kakiku terbilang tumbuh melebihi kelebatan dan kepanjangan pada umumnya. Rasa insecure pertama aku peroleh dari TK. Teman-temanku bilang bahwa aku mirip laki-laki. Wajahku pun terbilang dominan mirip ayahku. 

Ketika adik kembar laki-lakiku lahir lengkaplah sudah 4 anak mama. Aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Namun, karena keterbatasan ekonomi.. Mamaku sangat jarang membelikanku baju perempuan. Kebanyakan baju yang kupakai adalah baju laki-laki warisan kakakku. Rambutku pun pendek layaknya laki-laki. Aku sendiri tidak tau sebab kenapa mama jarang sekali mendandaniku layaknya anak perempuan sewaktu kecil. Dan itu mempengaruhi fase kecil hingga menjelang dewasa. Aku tumbuh tanpa mengerti arti perawatan dan fashion perempuan. Dan lingkunganku membullyku karena aku memang mirip dengan laki-laki. Padahal, aku sangat ingin dianggap anak perempuan yang cantik. 

Apakah aku pernah bercerita tentang cinta pertamaku? Hmm, aku lupa. Haha

Dulu, sewaktu SD aku suka sekali melihat salah satu guru laki-lakiku. Bagiku, beliau keren. Aku rasa sih perasaan itu lebih ke arah kagum dan simpatik. Tapi, rasa itu terhempas ketika beliau iseng bercanda padaku. 

“Wah, winda ini salah pake sabun kayaknya. Shampoo dipakai buat sabun ya? Jadi bulunya buanyak banget gini..”

Mungkin kalimatnya bercanda. But its really trully hurt me. 😭

Bayangkan, saat itu umurku masih 10 tahun. Dan aku nekat mengambil lakban di kantor ayahku lalu merekatkan lakban itu pada tangan dan kakiku. Melepasnya bersamaan dengan terangkatnya bulu-bulu kaki dan tanganku. Beberapa bagian berdarah. Tapi, bagiku itu kepuasan. Kepuasan untuk mengemis sebuah penerimaan esok harinya. 

Berharap ada yang memuji kulitku putih dan mulus. 

***

Kisah diatas hanyalah potongan kecil rasa insecure yang pernah aku dapatkan. Perasaan tidak cantik bagi seorang perempuan itu membekas. Membuat dirinya tidak berdaya hingga SMP dan SMA. Seberapapun banyak yang bilang kepadanya bahwa itu tidak apa-apa. Tapi, bagaimana ya? Kenapa aku selalu fokus pada orang yang mengejekku dibanding orang yang memujiku? 

Sebagai contoh saja, ketika SMP dan SMA ada saja kok laki-laki yang terkesan mengejarku. Memujiku cantik, ingin jadi pacar dll dsb. Tapi, kenapa ya rasanya hambar sekali. Tidak puas rasanya kalau belum dapat penerimaan dari orang yang mengejekku. Padahal, sewaktu SMA aku pernah memiliki sedikit rasa dengan orang yang naksir denganku. Tapi kenapa ya kok ada saja perasaan tidak pantas di dalam hati? Seperti takut kalau-kalau dia bisa menyakiti? Kenapa ya? 

Mama dan Ayahku sudah sering kali meninggikan hatiku. Bahwa aku tinggi dan cantik. Bahwa punya bulu itu adalah hal yang biasa. Mereka bahkan beberapa kali menyuruhku ikut kompetisi Nanang Galuh sewaktu SMA. Tapi aku tidak percaya diri. 

Sampai kemudian, kakakku masuk kuliah kedokteran. Dan aku? Huh, lulus PMDK dan SPMB saja tidak. Aku terdampar di Poliban, sebuah universitas negeri di banjarmasin namun tidak populer. Dengan jurusan yang tidak populer pula. Pernah mendengar D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah? Oh belum pernah. Ya, disanalah aku kuliah. 

Kedua adik kembarku yang manis memiliki pencapaian tak kalah dari kakakku. Keduanya sering mendapatkan piala dari berbagai lomba. Dan lulus di kedokteran pula. Keduanya. 

Disitulah perasaan insecure mulai bersemi menjadi-jadi. Perasaan yang membuatku terasa kalah dan tak memiliki kelebihan untuk dibanggakan. 

Aku mencoba move on dengan Insecure yang belum terobati. 

***

Time flies.. 

Aku menikah karena telah bertemu dengan seseorang yang mengobati insecure yang kumiliki dari luar. Bersamanya, aku merasa cantik. Merasa bisa melakukan sesuatu. Dan ingin berkembang. 

Ya, kalau kebanyakan orang memiliki tujuan punya anak saat sudah menikah.. Kalau aku? Tujuanku menikah hanya ingin membuat diriku yang kuncup menjadi berbunga. Aku hanya ingin mengembangkan diri. Tapi.. 

Tapi anak itu lahir. Farisha, anak ajaib yang lahir meski kami mencoba mencegahnya. Dan, sejak Farisha lahir.. Rasa insecure yang kumiliki dari awal hingga akhir.. Kembali tumbuh dengan rasa yang tak pernah kusangka sebelumnya.. 

Aku menjadi Ibu. Dan Aku Insecure. Insecure tersakit yang pernah aku alami. 

“Kok gak kerja? Kan sudah capek-capek kuliah?”

“Kakaknya dokter, adeknya kuliah dokter. Dia cuma IRT..”

“Jaga anak sendirian aja di rumah stress.. Aku dong sambil kerja di luar jauh lebih capek”

“Anaknya kok gak mirip Ibu sama Bapaknya.”

“Kok anaknya sudah 2 tahun tapi Ibunya gak mau kerja?”

“Kok anaknya kurus?”

“Suaminya lucu sekali potongan rambutnya.. Apa istrinya gak perhatiin..”

“Baju istrinya bagus-bagus ya. Coba liat suaminya”

“Padahal mamanya kerja dan aktif organisasi. Kok anaknya (aku) begitu saja?”

Dst.. Dst.. 

Ketika aku menjadi Ibu. Aku bertemu pada perasaan insecure yang maha dahsyat. Sungguh lebih dahsyat dibanding insecure yang aku alami saat remaja. 

Kenapa sih orang suka sekali berpendapat pada kehidupan orang lain? 

Dan kenapa pula aku harus peduli? Kenapa ada perasaan ingin melawan dalam diriku. Perasaan ingin membuktikan diri. 

Aku lawan segala rasa insecure tersebut dengan rasa-rasa congkak dan sombong

Bagaimana? Bukannya aku hanya di rumah saja? 

Aku punya sosial media. Status di BBM adalah media congkak pertama yang aku miliki. 

Aku selalu memposting masakanku setiap hari. Segala-gala yang aku buat serba homemade. Juga selalu memposting kegiatan anakku. Jujur saja, tidak ada rasa sharing is caring saat itu. Yang aku inginkan hanyalah haus akan rasa pengakuan. Karena dalam kehidupan nyata.. Pencapaianku tidak diakui. 

Tidak ada yang bilang aku ibu hebat. Tidak ada yang bilang aku bekerja. Sekelilingku hanya tau aku ibu yang tak berdaya karena tak bekerja. Kerjaannya hanya tidur siang mungkin.. Yah, begitulah. 

Rasa insecure itu kadang sembuh dan kadang kumat lagi. Insecure yang parah pada kehadiran anak pertama pernah membuatku depresi dan perlahan berhasil diobati. Namun, pada kehamilan anak kedua. Perasaan insecure parah itu kembali lagi. 

“Perutnya kok kecil sekali”

“Kalau hamil tuh jangan begini, nanti begitu”

“Sudah USG? Apa? Perempuan lagi? Ya, kamu sih gak banyak makan daging..”

“Nanti makan daging banyak-banyak. Siapa tau lahirnya laki-laki..”

“Apa? Operasi lagi? Kamu sih gak mau melahirkan di bidan sini aja..”

“Padahal di rumah aja. Tapi mau nyari pembantu.”

Dst dst.. 

Dan perasaan congkak hingga ingin diakui pun kembali bersemi lagi. 

Aku selalu membuat pelampiasan melalui status-status WA yang aku atur secara privasi. Jika ada yang menyakitiku, aku akan menyakitinya kembali dengan menyumpahinya di status WA (yang tentunya tak terlihat olehnya, hanya aku dan tak sampai 10 orang yang tau). Lega rasanya. Disertai dengan sindiran-sindiran keras. Terutama sekali kalau ada yang menyakitiku dengan berkata aku tidak bisa mengatur uang. Aduh, 2,4 juta sebulan dalam keadaan hamil dan anak 1 dibilang boros. Ada saja yang bilang begitu. Saat itu, status-statusku dipenuhi oleh keinginan adanya pengakuan bahwa aku hemat. Diakui oleh siapa? Bukannya yang melihat privasi. 

Diakui oleh diriku yang sedang jatuh. Aku ingin melawan diriku yang sakit. Tapi lupa bahwa kalimat toxic tidak mengobati. Tidak menyembuhkan. Justru membuat hatiku menghitam. 

Aku suka posting foto masakan, nyinyir dengan para influencer yang suka belanja barang branded (ya kali, padahal mereka diendorse juga kan.. 🤣). Ya begitulah, namanya juga hatiku sedang tidak baik-baik saja. Sampai suatu ketika aku mencari gendongan untuk anakku kalau lahir. Lalu surprise dengan harganya yang mahal-mahal. Dan iya, dibikin status juga.. Benar-benar keadaan labil dan kurang iman.. 😂

Aku masih ingat menit-menit terakhir aku memutuskan hubungan dengan temanku tersebut. Yaitu, saat aku memutuskan bergabung dalam grup babywearing. Dan ingin kepo dengan harga gendongan yang reachable. Lucunya, menurutku yang saat itu masih newbie. Grup tersebut seperti bukan grup edukasi dan bagus untuk golongan ekonomi ke bawah. Karena isinya mostly dipenuhi oleh mamak-mamak pengoleksi gendongan mahal-mahal dan suka ganti-ganti motif. Hal yang tidak dipahami fungsinya oleh makhluk hemat sepertiku. 

Dan, diupdate status lagi pula.. Tanpa sadar bahwa salah seorang temanku penggila gendongan.. 🤣

Yah begitulah, keadaan sedang down. Insecure, tidak berdaya.. Mungkin juga kurang iman karena sholat tidak benar-benar khusyuk saat itu. Hati galau, merasa tidak ada yang membelai. *halahh..

Jari-jari setan membisikkan macam-macam dengan dalih ingin menyembuhkan diri. 

Dari winda yang insecure.. Menjadi winda yang congkak dan sombong. Pernah difase itu. Tak hanya sekali. Tapi berkali-kali. 

Mengobati Insecure dengan Menemukan Arti Selflove dan Menghapus Racun Congkak

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Seperti kasus temanku diatas dan diriku. Dari kritik tersebut aku langsung meminta maaf dan sungguh.. aku sih ingin menjelaskan panjang kali lebar kenapa aku sampai begitu. Tapi entah kenapa jariku enggan mengutarakan. Kalian liat sendiri kan? Begitu panjang diriku kalau sudah bercerita. Dan iya kalau dibaca pakai hati dan dihayati. Kalau cuma fokus di kalimat jelek aja gimana? Wkwk.. Suuzhon emang anaknya.. 

Jujurly, aku tak pernah sih merasa sebersalah itu dalam hidup. Ya karena emang salah makanya bersalah banget. Sakitnya, ketika minta maaf teman tersebut malah mengorek-ngorek curhatanku. Membawa nama Tuhan untuk menyakiti. Membawa nama suami untuk menghakimi bahwa aku maha salah atas segalanya. Aku tak ambil langkah panjang saat itu. Aku kembali menuliskan kata maaf dan memblokir. Cukup untuk mengobati hati. Berdoa semoga dia tidak merasakan apa yang aku rasakan saat itu. 

Aku pernah berada dititik curhat karena tak punya pendukung di dunia nyata. Dan jika dunia maya juga menghakimi.. Apalagi status itu privasi, ya bagaimana ya.. Mungkin kiranya aku sudah salah menganggapnya sebagai salah seorang closed friends. Aku saja yang kegeeran merasa dia baik. Karena sungguh, jika teman benar-benar baik. Ia tak akan membalas dengan senjata yang jauh lebih tajam. Ia sekedar menyadarkan. Jujur, tak juga aku minta dimaafkan. Setidaknya, jangan membalas dan menghakimi. Karena ketika orang balik menghakimi, aku kembali bertanya.. Lantas apa bedanya dia denganku yang sedang dalam kondisi down? ((Curhat kok segini lebar win)) 😂

Well, kejadian itu sih sudah 2 tahun berlalu. Dan sekian lama loh aku sering merenung dibuatnya. Tergoda ingin unblokir dan meminta maaf ulang. Tapi kok takut kalau saja dibalas dengan kata yang menyakitkan lagi. Ya, setidak enak itu rasanya dibenci orang.

Perlahan, aku mengumpulkan serpihan diriku yang masih putih. Merenung, melihat sebagian diriku yang menghitam karena rasa congkak. Lalu, aku memeluk rasa insecure itu. Aku akhirnya menemukan arti selflove yang pantas untukku.

https://www.instagram.com/p/CQFPk3JMl0H/?utm_source=ig_web_copy_link

Aku berbulu. Benar

Aku tidak terlalu pintar layaknya saudara-saudara kandungku. Benar

Aku tidak mandiri finansial. Benar

Punya anak perempuan melulu. Benar

Aku bukan ibu sempurna, makanya banyak yang bilang begini begitu.. Ya benar. 

Alunan lagu colbie caillat mengiringi tulisanku.. 

So they like you, do you like you?

You don’t have to try so hard

You don’t have to give it all away

You just have to get up, get up, get up, get up

You don’t have to change a single thing

Ya aku memang penuh kekurangan. Tapi segala kekuranganku tidak merugikan orang lain bukan? 

Apakah fisikku harus sempurna untuk menyenangkan semua orang? Kan tidak. Yang penting.. Ayah, Ibu dan Suamiku bilang aku punya tubuh tinggi dan cantik. Aku berbulu juga punya tahi lalat besar di wajah, tapi aku selalu punya alasan untuk mencintai fisikku yang beratnya tetap stabil hingga sekarang contohnya. Itu berharga. . 

Apakah aku harus pintar dan menjadi dokter? Kan tidak. Yang penting, setidaknya aku punya ruang untuk mengoptimalkan diriku sendiri. Status sosial hanyalah sebuah topeng. Semua manusia bisa berkembang jika ia memiliki value. 

Apakah aku harus mandiri finansial? Berusaha iya. Tapi.. Kan tidak harus. Setiap manusia punya jalannya sendiri. Apalagi jalan perempuan yang sungguh kompleks. Ingat perdebatan Imam Maliki vs Imam Syafii soal rejeki? Tidak ada yang paling benar dalam pendapat mereka. Kebenaran sesungguhnya adalah dunia perlu keseimbangan dan usaha menurut value yang diyakini. 

Apakah salah jika aku punya anak perempuan melulu? Kan tidak. Masa sih mau menyalahkan Tuhan. “Hai Tuhan, kenapa Kau kasih Winda anak perempuan melulu.. Padahal dia sudah makan daging.” Kan lucu. 

Apakah salah ketika sesekali rumah berantakan, sesekali rasa masakan aneh tak karuan, sesekali meringkuk dipojokan. Lelah dengan keadaan. Apa salah jadi Ibu yang tidak sempurna? Memangnya bagaimana definisi sempurna itu? 

Tidak ada yang salah dari unperfect. Selama kita masih memiliki impian n value. Dan yang terpenting, tidak merugikan orang lain. 

((Lagu itu kembali mendayu-dayu dengan liriknya)) 

You don’t have to try, try, try, try

You don’t have to try, try, try, try

You don’t have to try, try, try, try

You don’t have to try

Yooou don’t have to try.. 

Akhirnya, aku menemukan arti selflove dengan memeluk kekuranganku sendiri. Dan mensyukuri kelebihan yang ada. 

Aku akhirnya mengerti, bahwa jenis kekurangan yang harus diperbaiki adalah sifat menyakiti dan rasa congkak. Karena sungguh, itulah awal mula dari segalanya. 

Congkak adalah awal dari racun ingin menyakiti. Karena merasa bahwa diri sendiri lebih wah dibanding yang lain adalah sumber dari pembenaran tindakan menyakiti. Congkak adalah sifat yang ingin mencari pengakuan lalu menyingkirkan impian dan value. Aku pernah menulis disini bukan? Tentang pesan dari mertua? Bahwa ketika hidup kita dipenuhi dengan rasa ingin diakui dan ambisi tanpa rasa legowo. Maka, hilangkah sudah anak baik-baik yang pernah tumbuh dalam diri kita itu. 

Ya disadari atau tidak, awal dari bencana selalu diawali dengan rasa congkak. Cerita sederhana saja misal. Masih ingat kan bahwa Iblis begitu congkak saat Tuhan menciptakan manusia? Merasa bahwa dirinya yang paling pantas. Dari merasa pantas, lalu menyakiti. Begitulah rumusnya. 

Kita tidak perlu congkak demi pembuktian bahwa kita makhluk sempurna. Karena sebenarnya, bukankah tidak ada manusia yang sempurna? 

Manusia, memang diciptakan penuh dengan kekurangan. 

Kenapa? Karena manusia membutuhkan manusia yang lain. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Makanya, manusia itu memang tidak ada yang memiliki kemampuan sempurna. 

Jika ada Ibu pekerja yang seharian diluar rumah. Ia pulang dengan membawa rasa lelah. Dan sekotak makanan hangat yang dibelinya diluar rumah. Tidak 24 jam bersama anak? Tidak memasak? Ya tidak apa-apa. Kan banyak rumah makan yang harus dibantu untuk dikembangkan. Ada rasa rindu yang membuat quality time lebih bermakna. 

Jika ada Ibu Rumah Tangga yang seharian di rumah. Lalu ia keluar rumah dan dengan noraknya berfoto narsis kesana kemari. Mengabaikan anaknya bersama Ayahnya saja. Terkesan egois dan suami takut istri. Ya kenapa sih? Kan tidak apa-apa. Ada keseimbangan psikologis yang menuntut tangki waras dan bahagia. 

Jika ada Ibu yang punya anak perempuan melulu. Ya apa sih masalahnya? Toh juga banyak yang punya anak laki-laki melulu bukan? Kan juga kalian tau sama poligami? Tau sama childfree? Pernah jenguk panti asuhan yang anaknya makin hari makin banyak. Salahnya dimana dengan dominansi jenis kelamin di dunia? Kiamat sudah dekat ketika perempuan yang banyak ini mulutnya sudah tidak beres lagi. Hatinya sudah kotor. Maka, aduh.. Jadilah anak baik-baik dari sekarang. 

Temukanlah self love dalam diri. 

Menerima kekurangan. Tidak mengubah kekurangan dengan berusaha mendapatkan pengakuan orang lain. Serta tak congkak dengan kelebihan. Karena kelebihan tercipta bukan untuk menyakiti yang lain. 

Tapi untuk membantu yang lain. Bukankah begitu? 

Wait a second,

Why should you care, what they think of you

When you’re all alone, by yourself

Do you like you? Do you like you?

You don’t have to try so hard

You don’t have to give it all away

You just have to get up, get up, get up, get up

You don’t have to change a single thing

Waw, lirik-lirik lagu Colbie benar-benar mewakili tulisanku kali ini. Kalian perlu mendengarnya. Judulnya.. “Try” 

**untukmu yang pernah menegurku. Sungguh aku berterima kasih
*untukmu yang tak pernah memaafkan. Tidak apa. Kau tau? Kadang Tuhan membolak balik posisi ketika hati kita tak paham. Tapi, kuharap hal itu tak terjadi. Kuharap kamu paham dengan membaca tulisan receh ini. 
IBX598B146B8E64A