Browsed by
Category: Renungan Hidup

Tulisan-tulisan yang berisi pengingat tentang kebaikan terinspirasi dari berbagai hal

Comfort Zone dan Genjutsu Kehidupan

Comfort Zone dan Genjutsu Kehidupan

“Eh idup aku tuh kok gini-gini aja yee akhir-akhir ini.. Kagak ada seru-serunya.”

“Harusnya saat begini tuh dibawa bersyukur. Syukur banget hari gini masih bisa hidup enak. Lagian mau hidup yang bagaimana sih?”

“Gimana ya.. Ngerasa gak? Semakin besar tuh kayaknya idup semakin susah ya untuk bahagia. Padahal, waktu kecil tuh kayaknya gampang banget bahagia”

“Tuh liat Humaira.. Ketemu gelembung sabun aja norak. Liat badut di jalan norak. Ketawa ketawa sendiri.”

“Lah aku nonton drakor marathon 12 episode.. Ngantuk iya. Happy? Entahlah..”

Comfort Zone: Kenyamanan orang dewasa yang kadang gak bikin bahagia

Kapan hidup kamu masuk dalam kategori comfort zone

Yaitu saat episode dalam hidup kamu lempeng. Gak ada misi seru. Semuanya serba berkecukupan. Tidak ada aktivitas ‘terpaksa’ yang membuatmu kerja keras untuk survive. Hal yang dikerjakan sehari-hari hanyalah aktivitas monoton. Yang mana, aktivitas tersebut begitu menyenangkan dilakukan saat kecil. Tetapi saat dewasa, aktivitas tersebut terasa hambar. 

Sebutlah contohnya menonton Tom and Jerry. Sewaktu kecil, aduh.. Senang sekali. Ketika sudah besar? Tertawa pun tidak. 

Sewaktu kecil, moment ketika berhasil menaiki sepeda roda 2 itu adalah pencapaian luar biasa. Ketika sudah besar, berkeliling komplek menaiki sepeda terasa hambar dan biasa saja. Diupgradelah kesenangan itu dengan cara yang lain. Membeli sepeda baru, membeli kostum yang bagus.. Dll dsb.. Rasanya? Tidak sebahagia sewaktu kecil. 

Kenapa? Kenapa ya? 

***

Dalam dunia game, ada 2 cara untuk meningkatkan experience dan bisa naik level. 

Yang pertama adalah melakukan misi yang mudah setiap hari. Misi level 1-5, berulang kali. Walaupun secara fisik tubuh kita sudah tumbuh ke level 20. Bukan tidak mungkin kita bisa naik level ke 21 dengan mengerjakan level 1-5 setiap hari. 

Yang kedua adalah melakukan misi spesial, hingga ujian kelulusan spesial. Yang mana, jika misi ini selesai dilakukan maka kita akan mendapatkan level yang naik secara instan. Bahkan, mungkin saja mendapatkan berbagai gift dan scroll kebahagiaan. Experience kita bertambah banyak seperti melakukan 100-300x misi level 1-5. Padahal, itu hanyalah melakukan satu misi spesial. 

Kadang, dunia nyata yang kita jalani bekerja mirip dengan dunia game. Ketika kita memutuskan memberikan rasa nyaman dengan berada di level yang sama. Maka, ada satu hal yang terasa berbeda. Happiness feel so empty. 

*abaikan gambarnya yang super jelek.. Haha
FYI, gambar ini aku buat bersama dengan Humaira. Sekedar untuk mengenalkannya pada warna. Lalu, suamiku memperlihatkanku pada gambar tentang happiness yang dia temukan di facebook. Entahlah, gambar siapa itu, aku ingin mencarinya lagi tapi tidak ketemu. Makna gambarnya dalem sekali. Jadilah gambar tidak karuan ini aku wakilkan untuk dijadikan konten dari pengembangan gambar yang aku lihat. Pliss, jangan sakit mata melihatnya.. 😂

Well, aku sedang berada ditahap itu. Sebulan ini jujur aku merasa tidak begitu produktif. Seperti berada pada level yang itu-itu saja. Aku konsisten melakukannya tapi semakin sering itu dilakukan. Ada rasa bosan dan berpikir, “Kok begini-begini saja ya pekerjaanku?”

Menjadi Ibu bukanlah peran yang mudah. Saat single dulu, level yang aku mainkan mungkin hanyalah untuk diriku sendiri. Imajinasikanlah sebagai pemain solo. Nah, ketika sudah berkeluarga. Kekuatan ego sedikit banyak sudah dikurangi. Kekuatan yang dulu pernah diasahpun sudah berubah haluan ke mode healing. Pun juga, saat memiliki anak.. Mau tidak mau.. Aku yang pernah berada dilevel 20 kembali turun gunung untuk mengulang level 1. 

Membersamai anak. Melupakan sejenak diriku yang pernah ada di level 20.

Ikut tertawa dan bahagia melihat perkembangan mereka. Dari yang selalu menangis hingga tertawa riang. Mereka menonton kartun, aku ikut nimbrung. Mereka request makanan macam-macam, aku jadi beralih menjadi suka memasak dan eh.. Kok jadi ikut-ikutan bahagia karena suka makan? 

Kata orang, menjadi ibu berarti siap untuk bertumbuh bersama. Tapi jujur saja, aku sempat loh berpikir. Hmm.. Aku ini tumbuh bersama atau turun level demi mengatur mode dewasa ke child mode? 😂

Awalnya sih bahagia. Bahagia banget. Tapi, semakin kesini aku sadar sekali. Bahwa, semakin sering pekerjaan level bawah dikerjakan. Maka, pekerjaan level atas menjadi terlupakan. 

Seperti aku yang malam itu kikuk membuka komputer setelah sekian lama. Mengatur blog, kaget dengan PV GA yang menurun dratis. Kaget, eh, kok aku gak bisa begini lagi? Eh ini kenapa? Eh, kok kok.. Bla bla.. 

Well, aku mengambil peran sebagai Ibu terlalu banyak. Stuck pada comfort zone dan mulai lupa dengan diriku lagi. Terlalu banyak berimajinasi karena sering marathon menonton film. Aku jadi lupa dengan dunia nyata dan misi yang seharusnya aku jalani. 

Aku seperti terkena genjutsu pada comfort zone. Hiks

Genjutsu Kehidupan: Malas Mengupgrade Diri Sendiri

… Terlena dengan kenyamanan dan stuck dengan pekerjaan level 1-5 yang kalau tidak dikerjakan kok bikin kepala pusing. 😅

Sebutlah itu pekerjaan domestik. Silahkan judge ketika aku mengatakan pekerjaan domestik adalah pekerjaan dengan level rendah. Kenyataannya memang demikian kok (bagiku.. Haha). Lempari saja aku batu, katakan kalau pekerjaan domestik adalah ladang pahala. Kenyataannya, pekerjaan domestik yang setumpuk itu menghalangiku untuk kembali ke level seharusnya. Semakin kesini, aku semakin paham kenapa banyak Ibu yang membutuhkan ART walau hanya di rumah saja. 

Banyak lomba blog bertebaran. Ketika ide muncul, ada saja pekerjaan rumah yang mengganggu. Padahal,akhir-akhir ini aku sedang semangat mengikuti lomba blog. Karena 2x berturut-turut menang. FYI, untuk pekerjaan rumah biasa jujur saja jam 7 pagi semua sudah selesai. Jadi, toh ngapain aku punya ART untuk membantu bersih-bersih rumah dan masak? Aku sudah (merasa) sangat cekatan untuk itu. *sombongnya kumat

Yang membuatku keteteran adalah anak. Biasanya, jam 8-9 aku sudah selesai membimbing anak pertamaku (Pica 8Y) untuk sekolah. Jam 9 aku sudah selesai mempersiapkan cemilan untuk 5 pegawai di rumah (sudah pernah bercerita kan? Keluarga kami punya bisnis IT di rumah). Jam 9.30-11 aku bersepeda membawa Humaira keluar. Pulang ke rumah, tugas Pica sudah selesai. Aku memasak untuk makan siang dan memeriksa tugas. Biasanya, masakan ini pun sudah 60% aku kerjakan di malam hari. Karena anak-anakku.. Aduh, lincah sekali. Terutama yang berusia 2 tahun itu. Anak perempuan yang hidupnya penuh drama karena saat di kandungan dulu, kerjaan mamaknya baper melulu. 😂

Well, sudah sekian kali aku berpikir untuk memiliki ART. Tapi keinginan itu kutahan lagi. Entahlah, aku merasa ART zaman sekarang tidak cekatan. Jikapun disuruh menjaga anak, ya memang itu saja pekerjaannya. Pun jika disuruh membersihkan rumah. Ya cuma itu saja. Sesungguhnya, aku lebih membutuhkan sekolah offline dibandingkan ART. Aku lebih membutuhkan berakhirnya pandemi lebih dari keinginan punya 5 ART sekalipun. Karena aku bermasalah pada sistem kepercayaan dan suuzhon. Entahlah, sulit menerima orang lain di rumah. Layaknya menerima persahabatan dan cinta. *meleber-leber curhatnya yee.. Kebiasaan. 

Nah, sifat demikianlah yang menyebabkan aku stuck pada level 1-5. Kebahagiaan yang mengisi rongga hidupku menjadi sulit diraih. Karena kuantitas pekerjaan yang tidak sebanding dengan kualitas umur. Dan aku tau aku tidak sendirian dalam hal ini. Yakin sekali bahwa banyak orang diluar sana yang senasib denganku bahkan jauh lebih buruk. Lantas, bagaimana cara mengatasinya? 

Keluarlah dari genjutsu. Hadapi kenyataan. Eh, dirimu bukan harus terkungkung disini saja! Itu adalah hal yang pertama dibenahi. 

Dirimu harus punya keseimbangan kehidupan. 

Waktu untuk anak

Waktu untuk pasangan

Waktu untuk sosial

Waktu untuk diri sendiri

Maka, sudah seminggu lamanya aku memutuskan untuk membuang waktu sosial yang biasanya. Ya, dulu aku menghabiskan dunia sosialku dengan interaksi di sosial media. Sekarang, aku tidak terlalu aktif di sosial media, sudah hampir 2 minggu lamanya. Apalagi menghabiskan waktu untuk kepo dengan berita terbaru. Pun membaca komentar netizen yang aneh-aneh. Aku sadar hal demikian merusak susunan otakku. Kalian tau aku lari kemana? 

Aku bersepeda ke rumah mertua. Haha. 

FYI, hubunganku dengan mertua tidak indah-indah banget. Tapi, juga tidak buruk-buruk banget. Disinilah aku mulai belajar menemukan diriku yang dulu lagi. Aku sadar dunia nyata tak tergantikan oleh sosial media. Ada sesuatu yang lebih disana. Entahlah apa itu.. Yang jelas, aku tetaplah seorang introvert. Tapi, aku sadar bahwa circle keluarga adalah circle yang harus aku pererat sekarang. 

Aku juga mulai memperbaiki kualitas dengan pasangan. Meniadakan rutinitas memasak malam adalah jalan ninjaku. Menggantinya dengan quality time saling memijat, menonton tv, saling curhat. Kami sudah terbiasa untuk makan malam apa adanya saja. Dan itu sangat membantu produktifitasku lagi. Aku mulai mencoba hal baru. Dari yang kemarin hanya membelikan Pica wacom untuk kesenangannya menggambar. Sekarang, aku memakainya untuk mengajari Humaira mewarnai dan memanfaatkannya menjadi konten receh begini. Well, she’s so happy! 

Misi level 20 seorang Ibu mungkin bukanlah misi yang besar. Ia hanya perlu kesadaran akan perlunya keseimbangan ruang.

“Jangan lupa ya diriku.. Teruslah bertumbuh dan pelihara dirimu sendiri. Karena tanpa dirimu yang baik, mereka tak akan jadi baik-baik saja.” 

*level 20? Yakin? Kamu saja sudah umur 30 tahun win. Haha.. (Ya ya, level hidupku lambat. Aku pernah kena genjutsu berkali-kali dan efek stun-nya. Lama sekali. Ada yang setahun, 2 tahun, sampai sekian tahun. Duh, parah memang) 

Bahagia Itu Gak Sederhana

Jika setelah membaca tulisan ini kalian berpikir bahwa bahagia itu sederhana. Maka, kalian salah. 

Bahagia itu, gak sederhana. 

((lalu dilempari batu))

Aduh, bahagia itu akan sederhana ketika kita sudah menemukan ‘rasanya’. Kalau langsung ketemu ‘happy’ tanpa sebelumnya merasakan ‘gagal’ atau ‘sakit’ maka bahagianya flat. 

Naik kepuncak gunung, makan mie instan di puncaknya. Kalian bisa bilang.. “Bahagia itu sederhana” Ya karena kalian udah capeeeek. 

Makan ikan asin dan nasi hangat di sawah. Kalian bisa bilang.. “Bahagia itu sederhana” Ya karena kalian udah capeek lari-lari di sawah atau ikut mencangkul. 

‘Hanya melihat senyummu’ lalu bilang “Bahagia itu sederhana” Ya karena sebelumnya kalian sedih kan liat dia sedih, manyun gak jelas. Atau kalian lagi cinta-cintanya sama dia. Kan ada rasanya? 

Bahkan, nabi saja bilang.. “Makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang..”

Saking, merasakan bahagia itu ada ‘seninya’. Susah dulu, baru disembuhkan. Baru tau rasanya bahagia. 

Semakin dewasa, arti bahagia itu semakin gak sederhana. Karena Tuhan emang bikin bahagia kita gak sederhana kayak dulu lagi. 

“Bersama kesulitan ada kemudahan..”

Bersama.. Bukan setelah.. 

Betapa Tuhan itu sangat menguji kita untuk paham dengan apa arti dari rasa syukur. Syukur adalah rasa yang bisa menerima.. ketika kesulitan hadir, namun tetap bisa mencari kemudahan disela kesulitan. Kebahagiaan hadir berdampingan dengan kesulitan. Itulah kewajaran level bahagia yang terjadi dalam kehidupan manusia dewasa. 

Happiness look simple. But sometimes, being happy is not simple as when we were little. 

Bahagia itu gak sederhana. Keluarlah dari zona aman dan cari misi terbaru hidupmu. Semangat! 

Dari Insecure Hingga Congkak, Begini Caraku Menemukan Arti Dari Self Love

Dari Insecure Hingga Congkak, Begini Caraku Menemukan Arti Dari Self Love

“Kamu tuh kalo bikin status musti deh terkesan meninggikan diri sendiri.. Kita yang baca jadi terkesan rendah dimata kamu..”

Masih ingat aku salah satu japri dari teman satu komunitasku. Sejak itu, aku mulai banyak mengoreksi diri. Dimulai dari memfilter ulang orang-orang pilihan yang bisa membaca status privasiku. Hingga, memfilter perasaan diri sendiri. 

Kenapa sekarang aku terkesan tinggi? Kenapa aku jadi congkak? Bukannya dulu aku pernah merasa insecure parah

Niatku hanya ingin mencari selflove. 

Selflove karena aku merasa direndahkan oleh lingkunganku. 

Aku hanya ingin menghargai diriku. Tapi, kenapa jatuhnya jadi congkak? 

Congkak, Sebuah Rasa yang Timbul karena Insecure yang Diobati Secara Berlebihan

Dalam episode kehidupanku, jujur saja bisa dibilang 60% kiranya dipenuhi oleh rasa insecure. 

Kenapa?

Apakah aku insecure dari lahir? 

Tentu tydack

Perasaan insecure pertama yang muncul dalam hidupku adalah ketika aku menyadari bahwa tubuhku berbeda dari perempuan kebanyakan. 

Ya, aku sudah pernah bercerita disini bukan? Bahwa tubuhku berbulu. Bukan bulu halus lazim seperti perempuan kebanyakan. Bulu tangan dan kakiku terbilang tumbuh melebihi kelebatan dan kepanjangan pada umumnya. Rasa insecure pertama aku peroleh dari TK. Teman-temanku bilang bahwa aku mirip laki-laki. Wajahku pun terbilang dominan mirip ayahku. 

Ketika adik kembar laki-lakiku lahir lengkaplah sudah 4 anak mama. Aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Namun, karena keterbatasan ekonomi.. Mamaku sangat jarang membelikanku baju perempuan. Kebanyakan baju yang kupakai adalah baju laki-laki warisan kakakku. Rambutku pun pendek layaknya laki-laki. Aku sendiri tidak tau sebab kenapa mama jarang sekali mendandaniku layaknya anak perempuan sewaktu kecil. Dan itu mempengaruhi fase kecil hingga menjelang dewasa. Aku tumbuh tanpa mengerti arti perawatan dan fashion perempuan. Dan lingkunganku membullyku karena aku memang mirip dengan laki-laki. Padahal, aku sangat ingin dianggap anak perempuan yang cantik. 

Apakah aku pernah bercerita tentang cinta pertamaku? Hmm, aku lupa. Haha

Dulu, sewaktu SD aku suka sekali melihat salah satu guru laki-lakiku. Bagiku, beliau keren. Aku rasa sih perasaan itu lebih ke arah kagum dan simpatik. Tapi, rasa itu terhempas ketika beliau iseng bercanda padaku. 

“Wah, winda ini salah pake sabun kayaknya. Shampoo dipakai buat sabun ya? Jadi bulunya buanyak banget gini..”

Mungkin kalimatnya bercanda. But its really trully hurt me. 😭

Bayangkan, saat itu umurku masih 10 tahun. Dan aku nekat mengambil lakban di kantor ayahku lalu merekatkan lakban itu pada tangan dan kakiku. Melepasnya bersamaan dengan terangkatnya bulu-bulu kaki dan tanganku. Beberapa bagian berdarah. Tapi, bagiku itu kepuasan. Kepuasan untuk mengemis sebuah penerimaan esok harinya. 

Berharap ada yang memuji kulitku putih dan mulus. 

***

Kisah diatas hanyalah potongan kecil rasa insecure yang pernah aku dapatkan. Perasaan tidak cantik bagi seorang perempuan itu membekas. Membuat dirinya tidak berdaya hingga SMP dan SMA. Seberapapun banyak yang bilang kepadanya bahwa itu tidak apa-apa. Tapi, bagaimana ya? Kenapa aku selalu fokus pada orang yang mengejekku dibanding orang yang memujiku? 

Sebagai contoh saja, ketika SMP dan SMA ada saja kok laki-laki yang terkesan mengejarku. Memujiku cantik, ingin jadi pacar dll dsb. Tapi, kenapa ya rasanya hambar sekali. Tidak puas rasanya kalau belum dapat penerimaan dari orang yang mengejekku. Padahal, sewaktu SMA aku pernah memiliki sedikit rasa dengan orang yang naksir denganku. Tapi kenapa ya kok ada saja perasaan tidak pantas di dalam hati? Seperti takut kalau-kalau dia bisa menyakiti? Kenapa ya? 

Mama dan Ayahku sudah sering kali meninggikan hatiku. Bahwa aku tinggi dan cantik. Bahwa punya bulu itu adalah hal yang biasa. Mereka bahkan beberapa kali menyuruhku ikut kompetisi Nanang Galuh sewaktu SMA. Tapi aku tidak percaya diri. 

Sampai kemudian, kakakku masuk kuliah kedokteran. Dan aku? Huh, lulus PMDK dan SPMB saja tidak. Aku terdampar di Poliban, sebuah universitas negeri di banjarmasin namun tidak populer. Dengan jurusan yang tidak populer pula. Pernah mendengar D4 Akuntansi Lembaga Keuangan Syariah? Oh belum pernah. Ya, disanalah aku kuliah. 

Kedua adik kembarku yang manis memiliki pencapaian tak kalah dari kakakku. Keduanya sering mendapatkan piala dari berbagai lomba. Dan lulus di kedokteran pula. Keduanya. 

Disitulah perasaan insecure mulai bersemi menjadi-jadi. Perasaan yang membuatku terasa kalah dan tak memiliki kelebihan untuk dibanggakan. 

Aku mencoba move on dengan Insecure yang belum terobati. 

***

Time flies.. 

Aku menikah karena telah bertemu dengan seseorang yang mengobati insecure yang kumiliki dari luar. Bersamanya, aku merasa cantik. Merasa bisa melakukan sesuatu. Dan ingin berkembang. 

Ya, kalau kebanyakan orang memiliki tujuan punya anak saat sudah menikah.. Kalau aku? Tujuanku menikah hanya ingin membuat diriku yang kuncup menjadi berbunga. Aku hanya ingin mengembangkan diri. Tapi.. 

Tapi anak itu lahir. Farisha, anak ajaib yang lahir meski kami mencoba mencegahnya. Dan, sejak Farisha lahir.. Rasa insecure yang kumiliki dari awal hingga akhir.. Kembali tumbuh dengan rasa yang tak pernah kusangka sebelumnya.. 

Aku menjadi Ibu. Dan Aku Insecure. Insecure tersakit yang pernah aku alami. 

“Kok gak kerja? Kan sudah capek-capek kuliah?”

“Kakaknya dokter, adeknya kuliah dokter. Dia cuma IRT..”

“Jaga anak sendirian aja di rumah stress.. Aku dong sambil kerja di luar jauh lebih capek”

“Anaknya kok gak mirip Ibu sama Bapaknya.”

“Kok anaknya sudah 2 tahun tapi Ibunya gak mau kerja?”

“Kok anaknya kurus?”

“Suaminya lucu sekali potongan rambutnya.. Apa istrinya gak perhatiin..”

“Baju istrinya bagus-bagus ya. Coba liat suaminya”

“Padahal mamanya kerja dan aktif organisasi. Kok anaknya (aku) begitu saja?”

Dst.. Dst.. 

Ketika aku menjadi Ibu. Aku bertemu pada perasaan insecure yang maha dahsyat. Sungguh lebih dahsyat dibanding insecure yang aku alami saat remaja. 

Kenapa sih orang suka sekali berpendapat pada kehidupan orang lain? 

Dan kenapa pula aku harus peduli? Kenapa ada perasaan ingin melawan dalam diriku. Perasaan ingin membuktikan diri. 

Aku lawan segala rasa insecure tersebut dengan rasa-rasa congkak dan sombong

Bagaimana? Bukannya aku hanya di rumah saja? 

Aku punya sosial media. Status di BBM adalah media congkak pertama yang aku miliki. 

Aku selalu memposting masakanku setiap hari. Segala-gala yang aku buat serba homemade. Juga selalu memposting kegiatan anakku. Jujur saja, tidak ada rasa sharing is caring saat itu. Yang aku inginkan hanyalah haus akan rasa pengakuan. Karena dalam kehidupan nyata.. Pencapaianku tidak diakui. 

Tidak ada yang bilang aku ibu hebat. Tidak ada yang bilang aku bekerja. Sekelilingku hanya tau aku ibu yang tak berdaya karena tak bekerja. Kerjaannya hanya tidur siang mungkin.. Yah, begitulah. 

Rasa insecure itu kadang sembuh dan kadang kumat lagi. Insecure yang parah pada kehadiran anak pertama pernah membuatku depresi dan perlahan berhasil diobati. Namun, pada kehamilan anak kedua. Perasaan insecure parah itu kembali lagi. 

“Perutnya kok kecil sekali”

“Kalau hamil tuh jangan begini, nanti begitu”

“Sudah USG? Apa? Perempuan lagi? Ya, kamu sih gak banyak makan daging..”

“Nanti makan daging banyak-banyak. Siapa tau lahirnya laki-laki..”

“Apa? Operasi lagi? Kamu sih gak mau melahirkan di bidan sini aja..”

“Padahal di rumah aja. Tapi mau nyari pembantu.”

Dst dst.. 

Dan perasaan congkak hingga ingin diakui pun kembali bersemi lagi. 

Aku selalu membuat pelampiasan melalui status-status WA yang aku atur secara privasi. Jika ada yang menyakitiku, aku akan menyakitinya kembali dengan menyumpahinya di status WA (yang tentunya tak terlihat olehnya, hanya aku dan tak sampai 10 orang yang tau). Lega rasanya. Disertai dengan sindiran-sindiran keras. Terutama sekali kalau ada yang menyakitiku dengan berkata aku tidak bisa mengatur uang. Aduh, 2,4 juta sebulan dalam keadaan hamil dan anak 1 dibilang boros. Ada saja yang bilang begitu. Saat itu, status-statusku dipenuhi oleh keinginan adanya pengakuan bahwa aku hemat. Diakui oleh siapa? Bukannya yang melihat privasi. 

Diakui oleh diriku yang sedang jatuh. Aku ingin melawan diriku yang sakit. Tapi lupa bahwa kalimat toxic tidak mengobati. Tidak menyembuhkan. Justru membuat hatiku menghitam. 

Aku suka posting foto masakan, nyinyir dengan para influencer yang suka belanja barang branded (ya kali, padahal mereka diendorse juga kan.. 🤣). Ya begitulah, namanya juga hatiku sedang tidak baik-baik saja. Sampai suatu ketika aku mencari gendongan untuk anakku kalau lahir. Lalu surprise dengan harganya yang mahal-mahal. Dan iya, dibikin status juga.. Benar-benar keadaan labil dan kurang iman.. 😂

Aku masih ingat menit-menit terakhir aku memutuskan hubungan dengan temanku tersebut. Yaitu, saat aku memutuskan bergabung dalam grup babywearing. Dan ingin kepo dengan harga gendongan yang reachable. Lucunya, menurutku yang saat itu masih newbie. Grup tersebut seperti bukan grup edukasi dan bagus untuk golongan ekonomi ke bawah. Karena isinya mostly dipenuhi oleh mamak-mamak pengoleksi gendongan mahal-mahal dan suka ganti-ganti motif. Hal yang tidak dipahami fungsinya oleh makhluk hemat sepertiku. 

Dan, diupdate status lagi pula.. Tanpa sadar bahwa salah seorang temanku penggila gendongan.. 🤣

Yah begitulah, keadaan sedang down. Insecure, tidak berdaya.. Mungkin juga kurang iman karena sholat tidak benar-benar khusyuk saat itu. Hati galau, merasa tidak ada yang membelai. *halahh..

Jari-jari setan membisikkan macam-macam dengan dalih ingin menyembuhkan diri. 

Dari winda yang insecure.. Menjadi winda yang congkak dan sombong. Pernah difase itu. Tak hanya sekali. Tapi berkali-kali. 

Mengobati Insecure dengan Menemukan Arti Selflove dan Menghapus Racun Congkak

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian. Seperti kasus temanku diatas dan diriku. Dari kritik tersebut aku langsung meminta maaf dan sungguh.. aku sih ingin menjelaskan panjang kali lebar kenapa aku sampai begitu. Tapi entah kenapa jariku enggan mengutarakan. Kalian liat sendiri kan? Begitu panjang diriku kalau sudah bercerita. Dan iya kalau dibaca pakai hati dan dihayati. Kalau cuma fokus di kalimat jelek aja gimana? Wkwk.. Suuzhon emang anaknya.. 

Jujurly, aku tak pernah sih merasa sebersalah itu dalam hidup. Ya karena emang salah makanya bersalah banget. Sakitnya, ketika minta maaf teman tersebut malah mengorek-ngorek curhatanku. Membawa nama Tuhan untuk menyakiti. Membawa nama suami untuk menghakimi bahwa aku maha salah atas segalanya. Aku tak ambil langkah panjang saat itu. Aku kembali menuliskan kata maaf dan memblokir. Cukup untuk mengobati hati. Berdoa semoga dia tidak merasakan apa yang aku rasakan saat itu. 

Aku pernah berada dititik curhat karena tak punya pendukung di dunia nyata. Dan jika dunia maya juga menghakimi.. Apalagi status itu privasi, ya bagaimana ya.. Mungkin kiranya aku sudah salah menganggapnya sebagai salah seorang closed friends. Aku saja yang kegeeran merasa dia baik. Karena sungguh, jika teman benar-benar baik. Ia tak akan membalas dengan senjata yang jauh lebih tajam. Ia sekedar menyadarkan. Jujur, tak juga aku minta dimaafkan. Setidaknya, jangan membalas dan menghakimi. Karena ketika orang balik menghakimi, aku kembali bertanya.. Lantas apa bedanya dia denganku yang sedang dalam kondisi down? ((Curhat kok segini lebar win)) 😂

Well, kejadian itu sih sudah 2 tahun berlalu. Dan sekian lama loh aku sering merenung dibuatnya. Tergoda ingin unblokir dan meminta maaf ulang. Tapi kok takut kalau saja dibalas dengan kata yang menyakitkan lagi. Ya, setidak enak itu rasanya dibenci orang.

Perlahan, aku mengumpulkan serpihan diriku yang masih putih. Merenung, melihat sebagian diriku yang menghitam karena rasa congkak. Lalu, aku memeluk rasa insecure itu. Aku akhirnya menemukan arti selflove yang pantas untukku.

Aku berbulu. Benar

Aku tidak terlalu pintar layaknya saudara-saudara kandungku. Benar

Aku tidak mandiri finansial. Benar

Punya anak perempuan melulu. Benar

Aku bukan ibu sempurna, makanya banyak yang bilang begini begitu.. Ya benar. 

Alunan lagu colbie caillat mengiringi tulisanku.. 

So they like you, do you like you?

You don’t have to try so hard

You don’t have to give it all away

You just have to get up, get up, get up, get up

You don’t have to change a single thing

Ya aku memang penuh kekurangan. Tapi segala kekuranganku tidak merugikan orang lain bukan? 

Apakah fisikku harus sempurna untuk menyenangkan semua orang? Kan tidak. Yang penting.. Ayah, Ibu dan Suamiku bilang aku punya tubuh tinggi dan cantik. Aku berbulu juga punya tahi lalat besar di wajah, tapi aku selalu punya alasan untuk mencintai fisikku yang beratnya tetap stabil hingga sekarang contohnya. Itu berharga. . 

Apakah aku harus pintar dan menjadi dokter? Kan tidak. Yang penting, setidaknya aku punya ruang untuk mengoptimalkan diriku sendiri. Status sosial hanyalah sebuah topeng. Semua manusia bisa berkembang jika ia memiliki value. 

Apakah aku harus mandiri finansial? Berusaha iya. Tapi.. Kan tidak harus. Setiap manusia punya jalannya sendiri. Apalagi jalan perempuan yang sungguh kompleks. Ingat perdebatan Imam Maliki vs Imam Syafii soal rejeki? Tidak ada yang paling benar dalam pendapat mereka. Kebenaran sesungguhnya adalah dunia perlu keseimbangan dan usaha menurut value yang diyakini. 

Apakah salah jika aku punya anak perempuan melulu? Kan tidak. Masa sih mau menyalahkan Tuhan. “Hai Tuhan, kenapa Kau kasih Winda anak perempuan melulu.. Padahal dia sudah makan daging.” Kan lucu. 

Apakah salah ketika sesekali rumah berantakan, sesekali rasa masakan aneh tak karuan, sesekali meringkuk dipojokan. Lelah dengan keadaan. Apa salah jadi Ibu yang tidak sempurna? Memangnya bagaimana definisi sempurna itu? 

Tidak ada yang salah dari unperfect. Selama kita masih memiliki impian n value. Dan yang terpenting, tidak merugikan orang lain. 

((Lagu itu kembali mendayu-dayu dengan liriknya)) 

You don’t have to try, try, try, try

You don’t have to try, try, try, try

You don’t have to try, try, try, try

You don’t have to try

Yooou don’t have to try.. 

Akhirnya, aku menemukan arti selflove dengan memeluk kekuranganku sendiri. Dan mensyukuri kelebihan yang ada. 

Aku akhirnya mengerti, bahwa jenis kekurangan yang harus diperbaiki adalah sifat menyakiti dan rasa congkak. Karena sungguh, itulah awal mula dari segalanya. 

Congkak adalah awal dari racun ingin menyakiti. Karena merasa bahwa diri sendiri lebih wah dibanding yang lain adalah sumber dari pembenaran tindakan menyakiti. Congkak adalah sifat yang ingin mencari pengakuan lalu menyingkirkan impian dan value. Aku pernah menulis disini bukan? Tentang pesan dari mertua? Bahwa ketika hidup kita dipenuhi dengan rasa ingin diakui dan ambisi tanpa rasa legowo. Maka, hilangkah sudah anak baik-baik yang pernah tumbuh dalam diri kita itu. 

Ya disadari atau tidak, awal dari bencana selalu diawali dengan rasa congkak. Cerita sederhana saja misal. Masih ingat kan bahwa Iblis begitu congkak saat Tuhan menciptakan manusia? Merasa bahwa dirinya yang paling pantas. Dari merasa pantas, lalu menyakiti. Begitulah rumusnya. 

Kita tidak perlu congkak demi pembuktian bahwa kita makhluk sempurna. Karena sebenarnya, bukankah tidak ada manusia yang sempurna? 

Manusia, memang diciptakan penuh dengan kekurangan. 

Kenapa? Karena manusia membutuhkan manusia yang lain. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Makanya, manusia itu memang tidak ada yang memiliki kemampuan sempurna. 

Jika ada Ibu pekerja yang seharian diluar rumah. Ia pulang dengan membawa rasa lelah. Dan sekotak makanan hangat yang dibelinya diluar rumah. Tidak 24 jam bersama anak? Tidak memasak? Ya tidak apa-apa. Kan banyak rumah makan yang harus dibantu untuk dikembangkan. Ada rasa rindu yang membuat quality time lebih bermakna. 

Jika ada Ibu Rumah Tangga yang seharian di rumah. Lalu ia keluar rumah dan dengan noraknya berfoto narsis kesana kemari. Mengabaikan anaknya bersama Ayahnya saja. Terkesan egois dan suami takut istri. Ya kenapa sih? Kan tidak apa-apa. Ada keseimbangan psikologis yang menuntut tangki waras dan bahagia. 

Jika ada Ibu yang punya anak perempuan melulu. Ya apa sih masalahnya? Toh juga banyak yang punya anak laki-laki melulu bukan? Kan juga kalian tau sama poligami? Tau sama childfree? Pernah jenguk panti asuhan yang anaknya makin hari makin banyak. Salahnya dimana dengan dominansi jenis kelamin di dunia? Kiamat sudah dekat ketika perempuan yang banyak ini mulutnya sudah tidak beres lagi. Hatinya sudah kotor. Maka, aduh.. Jadilah anak baik-baik dari sekarang. 

Temukanlah self love dalam diri. 

Menerima kekurangan. Tidak mengubah kekurangan dengan berusaha mendapatkan pengakuan orang lain. Serta tak congkak dengan kelebihan. Karena kelebihan tercipta bukan untuk menyakiti yang lain. 

Tapi untuk membantu yang lain. Bukankah begitu? 

Wait a second,

Why should you care, what they think of you

When you’re all alone, by yourself

Do you like you? Do you like you?

You don’t have to try so hard

You don’t have to give it all away

You just have to get up, get up, get up, get up

You don’t have to change a single thing

Waw, lirik-lirik lagu Colbie benar-benar mewakili tulisanku kali ini. Kalian perlu mendengarnya. Judulnya.. “Try” 

**untukmu yang pernah menegurku. Sungguh aku berterima kasih
*untukmu yang tak pernah memaafkan. Tidak apa. Kau tau? Kadang Tuhan membolak balik posisi ketika hati kita tak paham. Tapi, kuharap hal itu tak terjadi. Kuharap kamu paham dengan membaca tulisan receh ini. 
Sebuah Pembelajaran dari Ramainya Isu Childfree

Sebuah Pembelajaran dari Ramainya Isu Childfree

Pagi itu, aku membuka instagramku. Sekedar kepo ada kabar baru apa yang mungkin terjadi. Dan aku memutuskan untuk membuka DM yang masuk. 

Betapa terkejutnya aku. Aku mendapat sebuah kritik tentang konten yang aku publish di instagram. 

“Jangan ikut-ikutan mendukung childfree dong mba. Mba winda tuh brandingnya Ibu dengan 2 anak.”

Aku termangu sebentar. Kubuka ulang cuitan twitter yang aku publish di instagram tersebut. Kemudian, aku bertanya-tanya pada diri sendiri. 

“Memangnya, di cuitan aku ini terasa seperti mendukung childfree?”

Lalu, aku bertanya lagi di dalam hati..

“Adakah batasan nyata antara rasa toleransi, menghargai hingga mendukung?”

Kenapa kita tidak boleh terkesan menghargai? Kenapa menghargai kental dengan rasa mendukung? Bukankah keduanya hal yang berbeda? 

Padahal, di cuitan tersebut jelas-jelas aku mengarahkan ending soal pilihan dan takdir. 

Ah netizen, ada aja kelakuannya.. 😅

Childfree memang sebuah pilihan tapi tetap memiliki batasan

Ramai isue childfree karena statement Gitasav akhir-akhir ini. Jujur, aku bukanlah follower gitasav. Bisa dibilang tidak tau apa-apa tentang hidupnya. Aku hanya mengenalnya baru-baru saja dalam kontennya di youtube. So far, aku berkesimpulan bahwa Gitasav adalah sosok perempuan yang open minded, pintar dan berbeda dengan kebanyakan. Apalagi jika dibandingkan denganku saat seumur dengannya. Ah, benar-benar tidak ada apa-apanya. 

Oke itu tentang Gitasav dimataku. 

Sekarang, kenapa aku ikut-ikutan terbawa dengan keramaian opini tentang childfree? 

FYI, aku bukan jenis makhluk yang suka berkicau dengan hal yang sedang trending. Hanya saja, hatiku tergerak untuk ikut ‘join curcol’ ketika sosmedku mulai dipenuhi dengan ‘war’. Ada yang pro childfree, ada yang kontra. Lalu saling sindir. Hatiku seperti mengganjal. Kok orang sebegininya? 

Iya, kok sebegitunya. Dan aku menonton ulang statement Gitasav. Entah kenapa, di mataku.. Dia biasa aja tuh. Gak ada mengajak begini begitu. Gak juga menjelek-jelekkan yang lain. Kenapa di sosmed begitu ramai berkelahi? 

Aku jadi merasa ‘gimana’. Karena aku pun pernah share di sosmed aku konten dear aline yang berjudul ‘I don’t want kids’. Aku share konten tersebut hanya sebagai pengingatku bahwa setiap wanita punya pilihan. Dan video Aline tersebut bagus menurutku. Bukan tentang childfree yang digemborkan. Takut juga sih gegara share video begitu dikira penganut childfree. Atau yang buruk lagi, dikira termasuk kaum yang menyesal karena punya anak. 😅

Lalu, aku membaca tulisan AFI. Tau kan ya? Gak perlu aku share sepertinya. 

Wah, semakin ramailah sosmed penuh dengan kemarahan demi kemarahan. Padahal, menurutku sendiri pernyataan Afi ada sisi benarnya. Walau iya, memang ada sisi nganu. Tapi ya.. Aduh, dia kan umurnya masih segitu. Wajar sangat lah menurutku dia mengemukakan pendapat dengan bahasa sedemikian. 

Kenapa sih, pernyataan Afi perlu dibela? 

Gak, aku gak ngebela. Cuma aku bilang sedikit banyak memang benar. 

Kenapa? 

Kalian pernah nonton film Mind Hunter? Film yang diangkat dari kisah ini punya banyak pembelajaran loh. Bahwa para psikopat-psikopat yang lahir di dunia ini.. Muncul dari keluarga yang tidak beres. Dari seorang Ibu yang depresi, Ayah yang punya kelainan. Lingkungan yang toxic dll dsb. Film berbau hal yang sama pun banyak yang terinspirasi dari kisah nyata demikian. Sebutlah mungkin Joker, walau fiksi.

Dunia itu, gak sebulat yang kalian kira. Gak selurus dan senyaman yang dipahami. Dunia itu, ruwet. Kayak benang kusut. 

Sepemahamanku, sebagian dunia ini dihuni oleh orang-orang yang mentalnya bermasalah. Dari masalah kecil, hingga besar atau besar banget. 

Orang-orang yang sadar akan ‘ketidakberesan’ ini. Memutuskan untuk memutus rantai masalah dari hal yang menurut mereka basic. Yaitu childfree. Nah, dalam perkembangannya childfree ini sendiri menjadi sebuah lifestyle. Gak hanya orang-orang yang memiliki masalah mental yang menganutnya. Banyak yang ikut-ikutan childfree karena merasa tak mapan secara ekonomi. Banyak pula yang menjadikannya sebagai upaya untuk mengenal diri sendiri hingga mewujudkan kebahagiaan pasangan yang ideal. 

Bagiku, memilih childfree itu boleh. Tapi, tetap HARUS memiliki batasan. 

Karena childfree itu pilihan manusia. Bukanlah takdir mutlak. 

Aku dulu adalah orang yang sepemahaman dengan Gitasav. Bahwa, memiliki anak harus didahului oleh kesiapan mental dan fisik. Anak bukan investasi. Anak adalah buah cinta. Tempat kita mewariskan hal-hal baik. Bukan tong sampah emosi. Bukan pula aksesoris hidup. Memiliki anak harus didahului oleh hati yang bahagia, didahului oleh ekonomi yang menunjang. Anak.. Bukanlah barang undian yang bisa membawa rejeki ketika kita dalam kesusahan. 

Aku menikah. Bertemu dengan cinta hidupku. Sekaligus menemui titik balik hidupku. Tinggal di tempat mertua, sumber ekonomi terbatas. Mental sedang diuji. Lantas langsung hamil. 

Shock. 

Akupun berpikir. Jika aku bersikeras dengan pilihan childfree, maka sungguh berdosalah aku. 

Oke, katakanlah aku anak liberal karena memang memiliki pemikiran menunda anak adalah yang terbaik. Memahami penganut childfree dll. Tapi, aku tetaplah orang yang memiliki setitik Iman di hati. 

Jika Allah berkata ‘Jadilah’.. Maka Jadilah.. 

Itulah yang kami pahami sebagai pasangan muda yang tak siap dengan status Ibu atau Ayah. Kami boleh jadi berencana untuk menunda anak hingga tak punya anak. Tapi, Allah berkata hal yang berbeda. 

9 bulan kemudian anak itu lahir.

Seperti para penganut childfree yakini, bahwa ibu yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan mengidap depresi saat memiliki anak. Ya, aku mengalaminya. Aku terkena babyblues. Lantas tak ditanggulangi dengan baik. Lalu berlanjut hingga PPD. 

Tapi mau bagaimana? Allah berkata itulah misi hidup yang harus dijalani pertama kali. Bukan mimpiku, bukan pula membangun citraku. 

Setahun dilalui dengan susah payah. Tumbuh bersama anak dalam mental yang tidak baik. Tapi anak itu sungguh ajaib. Ia benar-benar membuka pintu rejeki. Ia juga menyembuhkanku. Membersamai proses hidupku untuk bertumbuh. 

Aku tak mau menganggapnya tong sampah emosi, ataupun undian hidup pembawa rejeki. Tapi ia menyembuhkanku dan membawa rejeki. Mungkin, karena kami memutuskan hal yang benar. Percaya pada takdir. 

Tanpa Anak, mungkin aku tak bisa menjadi Winda yang sekarang. 

Ya, childfree itu pilihan yang harus dihargai. Karena hidup kita tak sama. Tapi, manusia hanya bisa memilih. Takdirlah yang membawa hidupnya. Pemahamanku tentang pandangan ‘kebolehan’ childfree hanya sampai disitu. Berbatas pada takdir dan menjauhi hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama. 

Antara Feminisme dan Kodrat Perempuan

Isu childfree berbuntut panjang. Dari women war lantas berujung pada kentalnya bau paham feminis. Lalu, apakah childfree telah melakukan penolakan terhadap kodrat perempuan? 

Ya, menurutku sendiri.. jika sudah mencapai ranah ideologi hingga kodrat. Sungguh pembahasannya mulai berat dan sensitif. 

Aku sendiri, mengaku bukanlah wanita yang menjunjung paham feminisme. Hanya saja, aku memiliki batasan antara hal yang bisa diterima dan hal yang ditolak. Jika, pada headline awal aku bercerita bahwa wanita memiliki pilihan tapi tak bisa denial dengan takdir. Maka, mungkin kali ini aku akan bercerita tentang pandanganku tentang feminisme. 

Jadi, apa itu feminisme

Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Feminisme menggabungkan posisi bahwa masyarakat memprioritaskan sudut pandang laki-laki, dan bahwa perempuan diperlakukan secara tidak adil di dalam masyarakat tersebut. Upaya untuk mengubahnya termasuk dalam memerangi stereotip gender serta berusaha membangun peluang pendidikan dan profesional yang setara dengan laki-laki.

-Wikipedia

Well, secara sadar aku membenarkan bahwa derajat laki-laki memang lebih tinggi dibanding wanita. Aku lahir pada lingkungan yang ‘menghormati’ laki-laki. Sadar bahwa dalam keluarga, sosial hingga organisasi.. Laki-laki selalu memimpin. Dan aku menghormati hal demikian. Karena memang secara genetik hingga psikis, laki-laki lebih pantas untuk itu. 

Kebetulan, lingkunganku dipenuhi oleh laki-laki yang berkomitmen dan memiliki tanggung jawab. Sehingga, secara sadar aku membenarkan paham patriarki menjalar dalam pola pikirku. Dan aku tidak apa-apa oleh hal itu. Karena aku dikelilingi oleh laki-laki yang hebat. Laki-laki yang bisa memberikan kasih sayang hingga apresiasi pada wanita yang melayaninya. Demikianlah. 

Time flies.. Aku mulai berkenalan dengan berbagai sudut pandang kehidupan yang berbeda. Aku berteman dengan berbagai perempuan dengan latar belakang berbeda. 

Perempuan yang keluarganya broken home. Perempuan yang tak bisa melanjutkan cita-citanya. Hingga perempuan-perempuan yang depresi karena kehidupannya yang carut marut. 

Perempuan-perempuan diatas. Tak bisa berkembang dengan baik. Ada yang stuck di tempat. Ada pula yang berkembang namun memiliki ego yang tinggi dan labil. Dan ada pula yang bolak balik ke psikolog karena masalah dengan masa lalunya. Juga ada pula yang dijajah ekonominya, dituntut serba bisa. Tak pernah menjadi perempuan utuh. Yang bisa berjalan dengan bahagia. Bahagia dengan pilihan yang ia pilih sendiri. 

Banyaknya problematika demikian. Menyebabkan gerakan feminisme bangkit. Perempuan harus berdaya. Begitulah semboyan mereka. Cobalah pikirkan, kenapa perempuan-perempuan begini bisa muncul ‘taring’nya? 

Ya, karena dalam circle hidupnya.. Mereka dikelilingi oleh orang-orang toxic. Tidak dilengkapi dengan restocknya tangki cinta. Karena laki-laki dalam hidupnya sama-sama toxic. 

Sesungguhnya, aku sangat yakin bahwa perempuan ‘mungkin’ kebanyakan terlahir dengan hati yang lembut dan penurut. Ia memang makhluk yang diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Tapi, jika laki-lakinya tidak baik. Maka, perempuan akan mulai kehilangan daya yang benar. Aku sangat yakin, awal gerakan feminis dipicu oleh hal demikian. 

So, kembali ke persoalan mengenai childfree.. 

Bisakah kita ‘menyalahkan’ perempuan yang memilih tidak punya anak. Ketika mentalnya tidak baik-baik saja. Ketika laki-laki dalam hidupnya tak bisa diandalkan untuk support. Hingga adanya trauma masa lalu yang merupakan buah dari nenek moyangnya. Trauma ketika anak dijadikan beban untuk masa tua. Sumpah serapah anak durhaka yang tak pada tempatnya. 

Child free adalah buah pemikiran solusi instan atas kesalahan yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. 

Pemikiran instan seperti, “Aku gak mau hal demikian terulang. Stop di aku. Cukup!”

Awalnya, mungkin itulah akar dari childfree. Lantas kemudian dijadikan gaya hidup oleh beberapa negara. Dibenarkan opininya oleh beberapa orang. Dan diadopsi pemikirannya. Menjadi hal wajar dan biasa saja. 

Hal wajar yang biasa saja. 

Ketika hal sedemikian dijadikan wajar dan biasa saja maka kemungkinan bisa saja hal buruk terjadi di masa depan. 

Pembenaran tindakan aborsi, hingga peningkatan gaya feminis yang mulai melenceng. 

Hari ini kita memandang aneh penganut childfree. Dan besok besok, bisa saja.. Kita punya anak satu saja. Repot satu kampung membully. Dunia mungkin bisa saja seterbalik itu. 

Bukan tidak mungkin kan hal itu bisa terjadi? Apalagi ketika kita tak punya batasan dalam mengadopsi suatu pemahaman. 

So, menghargai childfree boleh. Tapi, turut mendukung hingga mengkampanyekan. Itu Nay dilakukan… menurutku. 

Dibanding ramai saling judge, yuk.. Ambil pembelajarannya saja

Well, pembahasannya jadi sedemikian panjang ya. 

Semoga sudah mengerti dengan inti cerita yang ingin aku sampaikan. 

Bahwa mungkin beberapa penganut childfree punya alasan yang bisa diterima. Maka, kenapa sih kita sebagai emak-emak yang sudah beranak tak melihat sisi positifnya saja? Alih-alih sibuk war di sosmed? 

Apa sisi positif yang bisa kita pelajari? 

Kalau kita tak ingin paham childfree ini meluas dan menyebabkan depolulasi hingga terputusnya generasi baik maka.. 

Buatlah kenangan baik antara orang tua dan anak

Dan jika anak sudah ‘terlanjur’ terpapar dengan rasa depresi dari ibu.. Maka perbaiki hubungan kita.

Jangan sampai dalam kehidupan anak merasa masa lalunya suram. Lalu merasa bahwa dirinya hanyalah alat investasi yang dimanfaatkan di masa depan. Hal demikian, bukan tidak mungkin menyebabkan anak kita takut memiliki anak di masa depan. 

Yuk, jadikan anak-anak kita #anakbaik mulai sekarang. Ciptakan kenangan indah yang membuatnya selalu terkenang. Membuatnya semangat dalam menjalani hari-harinya. Penuhi cinta di hatinya. 

Agar suatu hari ia bisa bertemu pasangan yang baik tanpa terburu-buru karena kekurangan rasa cinta. 

Agar suatu hari ia bisa menyayangi anaknya. Memberikan nilai-nilai kehidupan yang baik dalam merawat dan membesarkannya. 

Ya, hidup bahagia itu.. Tangki cintanya harus selalu ada. Maka, jika dalam hidup selalu memendam benci karena beda opini.. Alangkah meruginya bukan? 

Dear Diriku: “Apakah Tidak Apa-Apa Hidup Begini Saja?”

Dear Diriku: “Apakah Tidak Apa-Apa Hidup Begini Saja?”

Belakangan ini, aku sengaja tidak begitu aktif dalam sosial media. Penyebabnya satu hal. Konon namanya adalah.. 

Insecure. 

Seharusnya, perasaan yang tumbuh ketika kita melihat orang lain senang atau memiliki pencapaian lebih adalah perasaan senang pula. Senyum ketika melihat pencapaian orang lain. Ikut senang melihat kebahagiaan mereka. Tapi, entah kenapa tiba-tiba ada rasa ingin bersembunyi ketika melihat semuanya. 

Rasanya seakan-akan kamu merasa lelah. Mengejar sesuatu akan tetapi realita yang terjadi adalah kamu kelelahan hanya karena lari ditempat. Tidak berpindah, tidak kemana-mana. Tidak mencapai sesuatu. Seperti halnya mereka, mereka, dan mereka. 

Kayaknya aku capek kok hasilnya enggak ada? 

Apa karena potensiku memang begitu receh? 

Hidupku kok stuck di tempat? 

Lalu, Mau Hidup yang Bagaimana? 

Aku terdiam di depan kaca, bertanya pertanyaan yang sama. “Apa gak papa ya hidup begini begini saja? Kok sepertinya pencapaianku receh sekali?”

Belakangan aku memang agak shock ketika melihat PV blog yang turun hingga 50% sebulan ini. Entahlah dimana kesalahannya. Hal itu juga sudah aku komunikasikan dengan suami. Pun juga kejadian tak terduga di perusahaan kami bulan ini. Salah seorang klien marah besar ketika jurnalnya tampil tidak karuan. Ternyata, 2 pagawai di kantor melakukan kesalahan. Dan masih banyak kejadian yang membuat aku merasa seakan hidup akhir-akhir ini tidak ada pencapaian. Kontras dengan sosial media. Ya padahal harusnya aku tahu diri bahwa sosial media hanyalah citra. Layaknya aku yang kadang bekerja receh disana. Tapi, namanya perasaan sedang insecure. Haha. Sudah hampir 3 tahun aku aktif di instagram. Tapi sepertinya baru kali ini merasa ingin bersembunyi saja. 

Lalu, aku berjalan ke halaman depan pada kantor kami yang dalam proses pembangunan. Sekitar tempat itu masih tergolong asri. Meski diatas sungai penuh dengan rumah penduduk. Tapi diseberangnya terhampar sebidang sawah hijau. Dan tak jauh dari sana, bangunan kampus universitas kami berdiri kokoh. Seakan melambai-lambai minta jenguk kembali. 

Humaira merengek kesal karena aku melamun saja. Aku jadi ikut kesal melihatnya yang sepertinya tak paham bahwa kadang ibunya butuh melamun sejenak. Sekitar situ memang tidak ada apa-apa. Tidak ada kucing berkeliaran, apalagi sapi. Hewan yang akhir-akhir ini menjadi favorit Humaira sejak idul adha. Akupun melirik setangkai bunga liar di pinggiran sawah. Tumbuh tidak karuan di lahan gambut bersama dengan tumbuhan lain yang tak kalah semrawutnya. Kupetik bunga tersebut. Lalu, aku berikan pada Humaira. Humaira seakan melongo menatapnya. Kupikir, pasti anak ini akan menangis lagi. 

Bunga liar. Apa bagusnya. 

Tapi Humaira melamun dan berpikir sejenak sambil melihat bunga itu. Dicium, dipotek, dilepeh hingga hampir diinjak. Anak itu memang sedang tantrum. Lantas kurebut bunganya. Kurentangkan tanganku menuju sawah. 

“Lihat Hum.. Bunganya Cantik..”

Humaira tertegun. Aku langsung mengeluarkan hp dan memotonya. 

“Bunga ini akan cantik ketika latarnya berubah..”

Aku menatap foto itu berkali-kali. Diperjalanan, aku melamun panjang. Bahwa, mungkin selama ini aku hanya bisa melihat dalam sudut pandang sempit. 

Mungkin selama ini bukan hidupku yang biasa-biasa saja yang bersalah. 

Tapi, sudut pandangku. 

Antara Impian, Pengakuan, Ambisi hingga Penerimaan

Pada tulisan sebelumnya, aku telah bercerita tentang perbedaan antara impian, pengakuan dan ambisi untuk ambang kebahagiaan. 

Namun, dalam proses meraih impian. Kadang kala, ada jeda panjang yang membuat proses tak lagi menjadi fokus. Kadang, kita terpaksa mengambil langkah jalan ditempat hingga lari ditempat. Tak berpindah. Untuk melakukan hal lainnya. Hal demikian sering terjadi sejak fase pernikahan hingga memiliki anak.

Karena merasa stuck dan tak berpindah latar maka pikiran menjadi begitu sempit. Seakan hidup tidak memiliki pencapaian. Padahal jika di runut kebelakang. Begitu banyak hal-hal receh yang kadang terlupakan untuk disyukuri. 

Aku kadang lupa mengapresiasi diri ketika memenangkan sesuatu, pun kadang lupa bahwa suami juga kerap kali memujiku. Lupa bahwa anak-anakku baik-baik saja ditengah krisis ini. Aku tak kehilangan sesuatu hal yang berharga. Betapa kemudian karunia ini kadang terlihat receh lalu tak diresapi ‘rasa’nya. 

Hidup memang perlu tantangan dan level baru. Namun, ketika merasa biasa-biasa saja bukan berarti tantangannya tidak ada. Ketika merasa biasa saja, bukan berarti kerja keras yang sudah dilakukan menjadi tak berharga. Ia hanya berubah wujud dan sudut pandang. 

Proses receh itulah kenikmatan yang kadang terlupakan. 

Penerimaan dan syukur. Hal yang kadang kala terlupakan oleh Ibu Rumah Tangga yang aktivitasnya seakan berputar disitu-situ saja. Namun, hal yang terpenting adalah tak pernah menghilangkan diri sendiri. Itulah yang aku pelajari ketika pernah kena PPD dulu. 

Aku sadar hidupku begitu berharga. Walau terlihat begini-begini saja. 

Selalu ada anak yang bertanya, “Mama, besok kita makan apa?”

Selalu ada tangisan disela-sela aktivitasku. Seakan itulah tantangan untukku bertumbuh. 

Dan selalu ada impian di depan sana. Bukan hanya impianku, tapi impian bersama. 

Mendirikan perusahaan yang mandiri. Bangkit dan menggandeng support lalu kembali belajar hal yang baru. 

Untuk sekarang, nikmatilah hidup yang begini-begini saja. Karena masa kecil Hum itu tidaklah lama. 

Hidup jadi Ibu, ya memang ‘harus begini-begini saja’ dulu. Gitu win! *aku sedang berbicara di depan cermin

Untukmu yang sedang merasa biasa-biasa saja. Percayalah hal biasalah yang mungkin dapat membuatmu bertumbuh. ❤

“Mari tumbuh bersama lagi mulai besok Hum.. “

Pesan Tentang Hidup Bahagia Ala Mama Mertua

Pesan Tentang Hidup Bahagia Ala Mama Mertua

“Kalau menuruti nafsu manusia.. Gak akan ada habisnya hidup ini. Selalu ada yang dikejar.”

Suamiku tersenyum mendengarnya. 

“Tapi kita itu berusaha bukan buat menuruti nafsu Ma. Kita tuh berusaha supaya bisa membantu orang. Coba kalau anak mama ini pasrah jadi PNS aja. Gak bakalan bisa membuka lapangan kerja. Dan gak bakalan bisa membantu keluarga dengan banyak..”

“Kalau prinsip kamu sudah benar nak. Yang mama maksud bukan itu. Coba lihat sekeliling kita. Banyak sekali orang-orang yang sebenarnya tidak tergolong mampu. Tapi suka sekali ganti-ganti mobil. Ya memang itu urusan mereka. Tapi apa iya kita harus hidup untuk mendapat penilaian dari orang lain dengan menyakiti diri sendiri. Itulah yang dimaksud hidup tidak ada habisnya.. Terlalu mengejar mata dunia..”

“Ya biarin aja ma.. Selama mereka bahagia. Nanti juga bakal sadar dan menyesal sendiri” Sahut Iparku di kamar sebelah.. 

Aku cengengesan mendengarnya. 

“Selama mereka bahagia, itu selalu jadi pembelaan. Manusia itu, tidak bisa membuat batas dalam mengukur kebahagiaan.” Pikirku 

Pesan Bermakna Untuk Mengukur Batas Kebahagiaan

Salah seorang dosen ekonomi islam di kampusku selalu saja mengulangi statement yang sama setiap kali pertemuan. 

Kebutuhan manusia itu terbatas, keinginannya yang tidak terbatas

Tapi dalam menjalani kehidupan, aku menyadari bahwa hasrat ‘ingin’ merupakan sebuah power dalam kehidupan. Manusia memang didesign sedemikian unik. Ia punya akal, juga punya nafsu. Nafsu membuatnya bersemangat, tapi akal membatasinya. Begitulah pola yang terjadi. 

Belakangan, pola itu sering mengalami kebablasan. Atas nama kebahagiaan, segala ‘ingin’ diciptakan. Sebuah saran dianggap parasit. Sementara ‘atas nama bahagia’ maka keinginan yang sebenarnya hanya butuh pengakuan selalu dijadikan alasan. 

Banyak terjadi. Karena kurang merasa bahagia, maka manusia sering menyakiti dirinya sendiri. Menguras finansialnya untuk mengemis perhatian dari orang lain. Sekedar mendapatkan pengakuan. Lalu jika sudah dapat, pola itu tak kunjung usai. Ia ingin minta lagi dan lagi. 

Lalu sebenarnya siapa sih yang ingin kita bahagiakan? Mata orang lain atau diri kita sendiri? 

Pernahkah kalian berpikir kenapa kita diberikan nafsu oleh Tuhan? 

Mungkin.. Hal itu karena kita ‘manusia’ harus memiliki impian.. 

Pentingnya Membedakan Impian, Pengakuan Hingga Ambisi untuk Batas Kebahagiaan

“Zaman sekarang, banyak orang salah persepsi tentang definisi bahagia.” 

Pillow talk dengan suami malam itu begitu melekat di kepalaku. 

“Mungkin, karena zaman sekarang mental health juga jadi perhatian khusus sih bah. Mereka melakukan hal-hal demikian karena psikisnya juga bermasalah..”

“Iya.. Tapi manusia perlu paham bahwa untuk memperbaiki diri.. Itu tidak bisa dimulai hanya dengan self reward remeh hingga mengemis pengakuan orang lain yang tiada habisnya. Itu bukan mengobati. Cenderung menganiaya diri sendiri.. “

Lantas, tahukah kalian bagaimana persepsi bahagia bisa tercipta? 

Dimulai dari hal sederhana ternyata. Kita harus bisa membedakan antara impian, pengakuan, hingga ambisi. 

Impian adalah hal yang benar-benar ingin kita lakukan dan bertujuan positif di masa depan. Impian selalu diatur setinggi mungkin. Ada rasa senang didalam menjalaninya. Apalagi jika membuat orang ikut merasa terbantu. Kita cenderung tidak peduli dengan penilaian toxic dari orang lain tentang impian. Selama itu bisa meningkatkan kualitas diri dan tujuan hidup yang lebih baik. Kenapa tidak? 

Contoh, Seseorang memiliki mimpi besar untuk membangun sebuah perusahaan. Ia memiliki uang sebesar 1 M untuk mengembangkannya. Uang tersebut ia peroleh dari pola hidup yang sederhana. Banyak orang disekelilingnya menganggapnya pelit, kikir dsb karena tak pernah menikmati hidup. Tapi, ia tidak peduli. Toh, itu impiannya bukan? Bersakit-sakit dahulu supaya bisa mengembangkan mimpi dan membantu orang kemudian? Kalian tau, jika kita hidup dengan membangun mimpi.. Maka tangki bahagianya selalu terisi berkesinambungan. 

Dan apa itu Pengakuan? Pengakuan adalah hal yang kita lakukan semata-mata untuk mendapat apresiasi dari orang lain. Kita tidak peduli hal itu benar atau salah. Selama itu bisa menyenangkan orang lain. Kenapa tidak? 

Contoh, Seseorang memiliki kemampuan finansial yang pas-pasan. Namun, karena begitu banyak tuntutan dari orang sekeliling. 

“Beli mobil, renovasi rumah, beli ini itu..”

Maka ia lemah, dan melakukan hal yang tidak seharusnya. Ketika sudah mendapat pengakuan ia bahagia. Namun, kebahagiaan yang dibangun atas nama pengakuan tidak akan restok dengan benar. Pengakuan cenderung akan menyakiti diri sendiri. Dan selalu meminta ‘lagi, lagi dan lagi’ tak ada habisnya. 

Seperti layaknya kata-kata diatas.. 

“Hidup jika mengejar dunia.. Tak ada habisnya..”

Kalau dinilai dengan singkat, Impian ini memiliki kebahagiaan jangka panjang sedangkan pengakuan memiliki kebahagiaan jangka pendek. 

Dan diantara keduanya, ada satu hal yang kadang muncul dan mirip dengan gabungan keduanya. Kalian tau apa itu? 

Namanya adalah Ambisi. 🙂

Sudahkah dalam hidup ini kita berkenalan dengan rasa ‘ambisius’? Aku? Sering. 

Ambisi terjadi ketika impian dan pengakuan bersatu. Seringkali dalam kehidupan hal ini terjadi pada sebuah kompetisi. 

Menang-Kalah.. 

Ambisi adalah impian yang ingin diakui dengan kemenangan. Agar orang-orang yang menyayangi kita dapat mengakui kita lebih tinggi. 

Ambisi seringkali terjadi jika impian kita tak kunjung mendapatkan semangat dari orang sekitar. Akhirnya, kita semacam mencari ‘pembuktian’

Pertanyaannya, Apakah rasa ambisius itu salah? 

Bisa jadi salah, bisa jadi pula benar. 

Benar ketika kita memunculkan semangat sendiri dalam mengejar ambisi. Namun, bisa menjadi salah saat kita tidak ‘legowo’ dengan hasilnya. Ambisi bisa menjadi salah ketika rasa ingin diakui lebih tinggi dibandingkan rasa legowo. 

Karena itu, aku menyimpulkan bahwa.. 

Jadilah manusia yang terus membangun mimpi, tapi juga menikmati proses jatuh bangunnya. 

Karena bahagia tak melulu dinilai dari hasil. 

Well, aku pernah menuliskan tulisan yang mirip dengan hal ini. Meski terdengar pesimis tapi sesungguhnya, saat menjadi ibu kadang kala kita harus menurunkan ambisi. 

Baca juga: Haruskah seorang Ibu mengejar mimpinya.

Pesan Mama Mertua, “Jadilah Manusia yang Biasa-Biasa Saja”

Terdengar pesimis bukan? Percayalah arti kata-kata Mama Mertua bukan sesederhana itu. 

Dalam bahasa banjar kepanjangan dari kata-kata itu adalah.. 

“Babila Sugih Jangan Tatawa, Babila Miskin Jangan Manangis..”

Artinya: Jika Kaya jangan tertawa, Jika Miskin jangan menangis. 

Seringkali, kita sebagai manusia begitu over dalam mengeluarkan ekspresi. Begitu pula dalam membendung keinginan. Padahal, sungguh andai saja kita itu bisa ‘biasa-biasa saja’ dalam setiap proses kehidupan, mungkin itu jauh lebih baik. Tapi, ya begitulah manusia bukan? 

Aku mengartikan kalimat itu dalam konteks yang berbeda. Yaitu dalam membangun mimpi. 

Mungkin maksudnya adalah.. Ketika kita membangun mimpi, jika berhasil maka jangan sombong. Sebaliknya, jika tidak berhasil maka jangan sedih. 

Apa maksud menjadi manusia yang biasa-biasa saja? 

Jadilah manusia yang mengenal arti ‘cukup’ dengan baik. Paham dengan hidup harus memiliki impian. Setuju bahwa dalam prosesnya tidak perlu pengakuan serta legowo dalam setiap tantangan hingga level ujian yang ada. 

Ah, semoga saja bisa demikian. Mungkin benar adanya bahwa bahagia itu sederhana. Jika kita mengerti maksudnya. 

IBX598B146B8E64A