Browsed by
Category: Renungan Hidup

Tulisan-tulisan yang berisi pengingat tentang kebaikan terinspirasi dari berbagai hal

Dear Diriku: “Apakah Tidak Apa-Apa Hidup Begini Saja?”

Dear Diriku: “Apakah Tidak Apa-Apa Hidup Begini Saja?”

Belakangan ini, aku sengaja tidak begitu aktif dalam sosial media. Penyebabnya satu hal. Konon namanya adalah.. 

Insecure. 

Seharusnya, perasaan yang tumbuh ketika kita melihat orang lain senang atau memiliki pencapaian lebih adalah perasaan senang pula. Senyum ketika melihat pencapaian orang lain. Ikut senang melihat kebahagiaan mereka. Tapi, entah kenapa tiba-tiba ada rasa ingin bersembunyi ketika melihat semuanya. 

Rasanya seakan-akan kamu merasa lelah. Mengejar sesuatu akan tetapi realita yang terjadi adalah kamu kelelahan hanya karena lari ditempat. Tidak berpindah, tidak kemana-mana. Tidak mencapai sesuatu. Seperti halnya mereka, mereka, dan mereka. 

Kayaknya aku capek kok hasilnya enggak ada? 

Apa karena potensiku memang begitu receh? 

Hidupku kok stuck di tempat? 

Lalu, Mau Hidup yang Bagaimana? 

Aku terdiam di depan kaca, bertanya pertanyaan yang sama. “Apa gak papa ya hidup begini begini saja? Kok sepertinya pencapaianku receh sekali?”

Belakangan aku memang agak shock ketika melihat PV blog yang turun hingga 50% sebulan ini. Entahlah dimana kesalahannya. Hal itu juga sudah aku komunikasikan dengan suami. Pun juga kejadian tak terduga di perusahaan kami bulan ini. Salah seorang klien marah besar ketika jurnalnya tampil tidak karuan. Ternyata, 2 pagawai di kantor melakukan kesalahan. Dan masih banyak kejadian yang membuat aku merasa seakan hidup akhir-akhir ini tidak ada pencapaian. Kontras dengan sosial media. Ya padahal harusnya aku tahu diri bahwa sosial media hanyalah citra. Layaknya aku yang kadang bekerja receh disana. Tapi, namanya perasaan sedang insecure. Haha. Sudah hampir 3 tahun aku aktif di instagram. Tapi sepertinya baru kali ini merasa ingin bersembunyi saja. 

Lalu, aku berjalan ke halaman depan pada kantor kami yang dalam proses pembangunan. Sekitar tempat itu masih tergolong asri. Meski diatas sungai penuh dengan rumah penduduk. Tapi diseberangnya terhampar sebidang sawah hijau. Dan tak jauh dari sana, bangunan kampus universitas kami berdiri kokoh. Seakan melambai-lambai minta jenguk kembali. 

Humaira merengek kesal karena aku melamun saja. Aku jadi ikut kesal melihatnya yang sepertinya tak paham bahwa kadang ibunya butuh melamun sejenak. Sekitar situ memang tidak ada apa-apa. Tidak ada kucing berkeliaran, apalagi sapi. Hewan yang akhir-akhir ini menjadi favorit Humaira sejak idul adha. Akupun melirik setangkai bunga liar di pinggiran sawah. Tumbuh tidak karuan di lahan gambut bersama dengan tumbuhan lain yang tak kalah semrawutnya. Kupetik bunga tersebut. Lalu, aku berikan pada Humaira. Humaira seakan melongo menatapnya. Kupikir, pasti anak ini akan menangis lagi. 

Bunga liar. Apa bagusnya. 

Tapi Humaira melamun dan berpikir sejenak sambil melihat bunga itu. Dicium, dipotek, dilepeh hingga hampir diinjak. Anak itu memang sedang tantrum. Lantas kurebut bunganya. Kurentangkan tanganku menuju sawah. 

“Lihat Hum.. Bunganya Cantik..”

Humaira tertegun. Aku langsung mengeluarkan hp dan memotonya. 

“Bunga ini akan cantik ketika latarnya berubah..”

Aku menatap foto itu berkali-kali. Diperjalanan, aku melamun panjang. Bahwa, mungkin selama ini aku hanya bisa melihat dalam sudut pandang sempit. 

Mungkin selama ini bukan hidupku yang biasa-biasa saja yang bersalah. 

Tapi, sudut pandangku. 

Antara Impian, Pengakuan, Ambisi hingga Penerimaan

Pada tulisan sebelumnya, aku telah bercerita tentang perbedaan antara impian, pengakuan dan ambisi untuk ambang kebahagiaan. 

Namun, dalam proses meraih impian. Kadang kala, ada jeda panjang yang membuat proses tak lagi menjadi fokus. Kadang, kita terpaksa mengambil langkah jalan ditempat hingga lari ditempat. Tak berpindah. Untuk melakukan hal lainnya. Hal demikian sering terjadi sejak fase pernikahan hingga memiliki anak.

Karena merasa stuck dan tak berpindah latar maka pikiran menjadi begitu sempit. Seakan hidup tidak memiliki pencapaian. Padahal jika di runut kebelakang. Begitu banyak hal-hal receh yang kadang terlupakan untuk disyukuri. 

Aku kadang lupa mengapresiasi diri ketika memenangkan sesuatu, pun kadang lupa bahwa suami juga kerap kali memujiku. Lupa bahwa anak-anakku baik-baik saja ditengah krisis ini. Aku tak kehilangan sesuatu hal yang berharga. Betapa kemudian karunia ini kadang terlihat receh lalu tak diresapi ‘rasa’nya. 

Hidup memang perlu tantangan dan level baru. Namun, ketika merasa biasa-biasa saja bukan berarti tantangannya tidak ada. Ketika merasa biasa saja, bukan berarti kerja keras yang sudah dilakukan menjadi tak berharga. Ia hanya berubah wujud dan sudut pandang. 

Proses receh itulah kenikmatan yang kadang terlupakan. 

Penerimaan dan syukur. Hal yang kadang kala terlupakan oleh Ibu Rumah Tangga yang aktivitasnya seakan berputar disitu-situ saja. Namun, hal yang terpenting adalah tak pernah menghilangkan diri sendiri. Itulah yang aku pelajari ketika pernah kena PPD dulu. 

Aku sadar hidupku begitu berharga. Walau terlihat begini-begini saja. 

Selalu ada anak yang bertanya, “Mama, besok kita makan apa?”

Selalu ada tangisan disela-sela aktivitasku. Seakan itulah tantangan untukku bertumbuh. 

Dan selalu ada impian di depan sana. Bukan hanya impianku, tapi impian bersama. 

Mendirikan perusahaan yang mandiri. Bangkit dan menggandeng support lalu kembali belajar hal yang baru. 

Untuk sekarang, nikmatilah hidup yang begini-begini saja. Karena masa kecil Hum itu tidaklah lama. 

Hidup jadi Ibu, ya memang ‘harus begini-begini saja’ dulu. Gitu win! *aku sedang berbicara di depan cermin

Untukmu yang sedang merasa biasa-biasa saja. Percayalah hal biasalah yang mungkin dapat membuatmu bertumbuh. ❤

“Mari tumbuh bersama lagi mulai besok Hum.. “

Pesan Tentang Hidup Bahagia Ala Mama Mertua

Pesan Tentang Hidup Bahagia Ala Mama Mertua

“Kalau menuruti nafsu manusia.. Gak akan ada habisnya hidup ini. Selalu ada yang dikejar.”

Suamiku tersenyum mendengarnya. 

“Tapi kita itu berusaha bukan buat menuruti nafsu Ma. Kita tuh berusaha supaya bisa membantu orang. Coba kalau anak mama ini pasrah jadi PNS aja. Gak bakalan bisa membuka lapangan kerja. Dan gak bakalan bisa membantu keluarga dengan banyak..”

“Kalau prinsip kamu sudah benar nak. Yang mama maksud bukan itu. Coba lihat sekeliling kita. Banyak sekali orang-orang yang sebenarnya tidak tergolong mampu. Tapi suka sekali ganti-ganti mobil. Ya memang itu urusan mereka. Tapi apa iya kita harus hidup untuk mendapat penilaian dari orang lain dengan menyakiti diri sendiri. Itulah yang dimaksud hidup tidak ada habisnya.. Terlalu mengejar mata dunia..”

“Ya biarin aja ma.. Selama mereka bahagia. Nanti juga bakal sadar dan menyesal sendiri” Sahut Iparku di kamar sebelah.. 

Aku cengengesan mendengarnya. 

“Selama mereka bahagia, itu selalu jadi pembelaan. Manusia itu, tidak bisa membuat batas dalam mengukur kebahagiaan.” Pikirku 

Pesan Bermakna Untuk Mengukur Batas Kebahagiaan

Salah seorang dosen ekonomi islam di kampusku selalu saja mengulangi statement yang sama setiap kali pertemuan. 

Kebutuhan manusia itu terbatas, keinginannya yang tidak terbatas

Tapi dalam menjalani kehidupan, aku menyadari bahwa hasrat ‘ingin’ merupakan sebuah power dalam kehidupan. Manusia memang didesign sedemikian unik. Ia punya akal, juga punya nafsu. Nafsu membuatnya bersemangat, tapi akal membatasinya. Begitulah pola yang terjadi. 

Belakangan, pola itu sering mengalami kebablasan. Atas nama kebahagiaan, segala ‘ingin’ diciptakan. Sebuah saran dianggap parasit. Sementara ‘atas nama bahagia’ maka keinginan yang sebenarnya hanya butuh pengakuan selalu dijadikan alasan. 

Banyak terjadi. Karena kurang merasa bahagia, maka manusia sering menyakiti dirinya sendiri. Menguras finansialnya untuk mengemis perhatian dari orang lain. Sekedar mendapatkan pengakuan. Lalu jika sudah dapat, pola itu tak kunjung usai. Ia ingin minta lagi dan lagi. 

Lalu sebenarnya siapa sih yang ingin kita bahagiakan? Mata orang lain atau diri kita sendiri? 

Pernahkah kalian berpikir kenapa kita diberikan nafsu oleh Tuhan? 

Mungkin.. Hal itu karena kita ‘manusia’ harus memiliki impian.. 

Pentingnya Membedakan Impian, Pengakuan Hingga Ambisi untuk Batas Kebahagiaan

“Zaman sekarang, banyak orang salah persepsi tentang definisi bahagia.” 

Pillow talk dengan suami malam itu begitu melekat di kepalaku. 

“Mungkin, karena zaman sekarang mental health juga jadi perhatian khusus sih bah. Mereka melakukan hal-hal demikian karena psikisnya juga bermasalah..”

“Iya.. Tapi manusia perlu paham bahwa untuk memperbaiki diri.. Itu tidak bisa dimulai hanya dengan self reward remeh hingga mengemis pengakuan orang lain yang tiada habisnya. Itu bukan mengobati. Cenderung menganiaya diri sendiri.. “

Lantas, tahukah kalian bagaimana persepsi bahagia bisa tercipta? 

Dimulai dari hal sederhana ternyata. Kita harus bisa membedakan antara impian, pengakuan, hingga ambisi. 

Impian adalah hal yang benar-benar ingin kita lakukan dan bertujuan positif di masa depan. Impian selalu diatur setinggi mungkin. Ada rasa senang didalam menjalaninya. Apalagi jika membuat orang ikut merasa terbantu. Kita cenderung tidak peduli dengan penilaian toxic dari orang lain tentang impian. Selama itu bisa meningkatkan kualitas diri dan tujuan hidup yang lebih baik. Kenapa tidak? 

Contoh, Seseorang memiliki mimpi besar untuk membangun sebuah perusahaan. Ia memiliki uang sebesar 1 M untuk mengembangkannya. Uang tersebut ia peroleh dari pola hidup yang sederhana. Banyak orang disekelilingnya menganggapnya pelit, kikir dsb karena tak pernah menikmati hidup. Tapi, ia tidak peduli. Toh, itu impiannya bukan? Bersakit-sakit dahulu supaya bisa mengembangkan mimpi dan membantu orang kemudian? Kalian tau, jika kita hidup dengan membangun mimpi.. Maka tangki bahagianya selalu terisi berkesinambungan. 

Dan apa itu Pengakuan? Pengakuan adalah hal yang kita lakukan semata-mata untuk mendapat apresiasi dari orang lain. Kita tidak peduli hal itu benar atau salah. Selama itu bisa menyenangkan orang lain. Kenapa tidak? 

Contoh, Seseorang memiliki kemampuan finansial yang pas-pasan. Namun, karena begitu banyak tuntutan dari orang sekeliling. 

“Beli mobil, renovasi rumah, beli ini itu..”

Maka ia lemah, dan melakukan hal yang tidak seharusnya. Ketika sudah mendapat pengakuan ia bahagia. Namun, kebahagiaan yang dibangun atas nama pengakuan tidak akan restok dengan benar. Pengakuan cenderung akan menyakiti diri sendiri. Dan selalu meminta ‘lagi, lagi dan lagi’ tak ada habisnya. 

Seperti layaknya kata-kata diatas.. 

“Hidup jika mengejar dunia.. Tak ada habisnya..”

Kalau dinilai dengan singkat, Impian ini memiliki kebahagiaan jangka panjang sedangkan pengakuan memiliki kebahagiaan jangka pendek. 

Dan diantara keduanya, ada satu hal yang kadang muncul dan mirip dengan gabungan keduanya. Kalian tau apa itu? 

Namanya adalah Ambisi. 🙂

Sudahkah dalam hidup ini kita berkenalan dengan rasa ‘ambisius’? Aku? Sering. 

Ambisi terjadi ketika impian dan pengakuan bersatu. Seringkali dalam kehidupan hal ini terjadi pada sebuah kompetisi. 

Menang-Kalah.. 

Ambisi adalah impian yang ingin diakui dengan kemenangan. Agar orang-orang yang menyayangi kita dapat mengakui kita lebih tinggi. 

Ambisi seringkali terjadi jika impian kita tak kunjung mendapatkan semangat dari orang sekitar. Akhirnya, kita semacam mencari ‘pembuktian’

Pertanyaannya, Apakah rasa ambisius itu salah? 

Bisa jadi salah, bisa jadi pula benar. 

Benar ketika kita memunculkan semangat sendiri dalam mengejar ambisi. Namun, bisa menjadi salah saat kita tidak ‘legowo’ dengan hasilnya. Ambisi bisa menjadi salah ketika rasa ingin diakui lebih tinggi dibandingkan rasa legowo. 

Karena itu, aku menyimpulkan bahwa.. 

Jadilah manusia yang terus membangun mimpi, tapi juga menikmati proses jatuh bangunnya. 

Karena bahagia tak melulu dinilai dari hasil. 

Well, aku pernah menuliskan tulisan yang mirip dengan hal ini. Meski terdengar pesimis tapi sesungguhnya, saat menjadi ibu kadang kala kita harus menurunkan ambisi. 

Baca juga: Haruskah seorang Ibu mengejar mimpinya.

Pesan Mama Mertua, “Jadilah Manusia yang Biasa-Biasa Saja”

Terdengar pesimis bukan? Percayalah arti kata-kata Mama Mertua bukan sesederhana itu. 

Dalam bahasa banjar kepanjangan dari kata-kata itu adalah.. 

“Babila Sugih Jangan Tatawa, Babila Miskin Jangan Manangis..”

Artinya: Jika Kaya jangan tertawa, Jika Miskin jangan menangis. 

Seringkali, kita sebagai manusia begitu over dalam mengeluarkan ekspresi. Begitu pula dalam membendung keinginan. Padahal, sungguh andai saja kita itu bisa ‘biasa-biasa saja’ dalam setiap proses kehidupan, mungkin itu jauh lebih baik. Tapi, ya begitulah manusia bukan? 

Aku mengartikan kalimat itu dalam konteks yang berbeda. Yaitu dalam membangun mimpi. 

Mungkin maksudnya adalah.. Ketika kita membangun mimpi, jika berhasil maka jangan sombong. Sebaliknya, jika tidak berhasil maka jangan sedih. 

Apa maksud menjadi manusia yang biasa-biasa saja? 

Jadilah manusia yang mengenal arti ‘cukup’ dengan baik. Paham dengan hidup harus memiliki impian. Setuju bahwa dalam prosesnya tidak perlu pengakuan serta legowo dalam setiap tantangan hingga level ujian yang ada. 

Ah, semoga saja bisa demikian. Mungkin benar adanya bahwa bahagia itu sederhana. Jika kita mengerti maksudnya. 

Untold Story Dibalik Kisah Anak Durhaka

Untold Story Dibalik Kisah Anak Durhaka

“Dasar Anak Durhaka! Kamu gak tau ya kesakitan Mama ngelahirin kamu! Sudah tua Mama dibeginikan! Menyesal aku melahirkan kamu!”

Masih ingat aku omelan demikian. Saat itu, usiaku masih 17 tahun. Kulihat air matanya, kulihat amarah di wajahnya. Kurasakan getaran pada tangan dan kakinya. Namun, air mata orang yang memelukku.. 

Jauh lebih deras.. 

Ini bukan cerita tentangku. Bukan tentang aku sebagai anak durhaka. Tapi, cerita ini layak untuk kalian baca dan renungkan. 

Asal Usul Anak Yang Durhaka

Ini bukan cerita tentang Malin Kundang. Mungkin jauh setelah Malin Kundang lahir, bertahun kemudian di negeri antah berantah. Lahirlah seorang anak perempuan dari dua insan yang tak lagi saling mencintai. 

Sebut saja namanya adalah Meri. Ia lahir satu bulan pasca perceraian kedua orang tuanya. Sang Ibu bersikeras tak mau memeliharanya. Sementara Sang Ayah jatuh miskin. Tak ada satupun harta digenggamannya. 

Meri hidup dari satu tangan ke tangan yang lain. Dari tangan tante pertama, ia pindah ke tangan tante kedua. Lalu saat usianya menginjak 5 tahun ia mencoba untuk menghambakan diri. Belajar pekerjaan rumah tangga hingga belajar berjualan diluar sana. Pada usia sekecil itu, Meri sudah paham akan arti kerasnya hidup. Bahwa untuk makan sebutir nasi, ia harus berusaha. Ia tak kenal akan kasih sayang. Apalagi sentuhan seorang Ibu. Yang ia ketahui hanyalah satu hal. 

“Aku harus berjuang untuk hidup..”

Hingga usianya beranjak 13 tahun, Meri hidup dengan keras. Untuk sekolah saja ia tak pernah memakai sepatu. Hanya sepasang sandal jepit hasil pinjaman sepupu yang ia pakai. Pun soal uang jajan, jika jualannya tidak mencapai batas laku yang seharusnya. Maka ia tidak jajan. Akan tetapi Meri anak yang tangguh. Dijemur guru beberapa kali karena datang terlambat hingga memakai sandal jepit.. Ia tetap sekolah lagi dan lagi. Sehingga ia menjadi anak yang terkenal di sekolah. Semua guru senang mengandalkannya. Menyuruhnya membeli sayur, mencuci piring dll. Meri mengerjakannya dengan ikhlas. Jika diberi Alhamdulillah, jika tidak ya tidak apa-apa. 

Meri tak pernah sekalipun menanyakan kehadiran orang tuanya. Ia cukup tau diri, sepertinya Mamanya bukanlah orang yang menginginkannya. Pun juga Ayahnya. Apa yang bisa ia harapkan dari penjahit yang kala itu tidak sanggup menopang finansial. Tapi, keinginan Meri untuk mengetahui keberadaan orang tuanya selalu ada. Hari itu, ia putuskan untuk mengunjungi Ayahnya. 

Ternyata, Ayah kandungnya telah menikah lagi. Baru saja ketika usia Meri 13 tahun. Meri pun memutuskan tinggal sebentar dengan Ayah dan Ibu Tirinya. Ia berharap keduanya baik. Keesokan paginya, Meri bersekolah dan memakai sandal jepit yang ada di teras rumah. Dan sepulang sekolah Ibu Tirinya langsung meneriakinya, “Dasar Maling Sandal!”

Ia akhirnya tau, bahwa tak ada satupun yang menginginkannya untuk tinggal. Tapi Meri tau satu hal bahwa Ia harus bertahan dan membuktikan bahwa Ia bisa mendapatkan penerimaan itu suatu hari nanti. 

Ia yakin suatu hari akan ada yang berkata padanya.. “Ini adalah Meri, Anakku yang membanggakan..”

Meri terus berjuang untuk hidup. Ia berhasil sekolah di SMP hingga SMA dengan keadaan jatuh payah sedemikian. Beruntung parasnya tergolong cantik sehingga di sekolah ia mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk menerimanya. Selama 17 tahun hidupnya, ia tak pernah mengenal apa arti kata ‘Mama’. Yang ia tau, ia harus bisa hidup lebih baik. Keluar dari lingkungan yang membuatnya bekerja siang malam. Sekolah akan membuat hidupnya lebih baik. Itulah yang ia yakini. 

Tapi, keinginan itu muncul juga. 

Kira-kira bagaimana reaksi Ibu kandungku jika melihatku sekarang? Akankah ia menyambutku dan menyebutku cantik? Akankah ia memberikanku uang? Sepatu mungkin? Ah, aku coba saja berkunjung. Kata tante, Ibu kandungku adalah seorang PNS. Bukankah seorang PNS setidaknya memiliki tunjangan anak? Berapa banyak tunjangan anak jika dikali 17 tahun? Ah, satu buah sepatu cukup. Ah tidak, satu pujian mungkin. Imajinasi Meri melayang membayangkannya. 

Saat liburan sekolah, Meri mengumpulkan tabungannya untuk mengunjungi Ibunya. Ia tau, Ibunya telah menikah lagi dan memiliki 2 orang anak. Suami barunya juga seorang PNS. Setidaknya, mungkin ia akan lebih sejahtera liburan disana. 

Meri senang saat sudah sampai di rumah Ibu kandungnya. Ada sebuah harapan. Pelukan dan tangisan tanda rasa rindu. Rumah itu dipenuhi dengan keriangan anak-anak. Sementara Ibunya sedang asik berhitung di warung. Dan tersenyum menyambut Meri. 

Aku tau Ibuku orang baik. 

Sayangnya, senyuman itu hanya sebentar. Meri masuk dan tak disambut oleh siapa-siapa. Ia mencoba mengerjakan pekerjaan rumah untuk mendapatkan apresiasi. Namun, tak ada satupun yang memujinya. Terlalu dini untuk kecewa. Ia memutuskan untuk ke warung dan menemui Ibunya. 

“Ma, bolehkah Meri minta pembalut ini? Meri ternyata Mens. Dan lupa bawa kain mens” 

“Jangan! Ini jualanku. Kalau kamu minta ya aku gak dapat untung. Di dapur banyak kain-kain bekas. Pakai itu aja.”

Meri melangkah ke dapur dengan menundukkan kepala. Menahan tangis. 17 tahun tak bertemu dengan Ibu Kandungnya. Namun ia merasa sangat asing. Bahkan merasa tak sedikitpun dipedulikan. Meri bertahan selama 3 hari di rumah itu. Berharap ada sedikit keajaiban. 

Hari ketiga, Meri memutuskan untuk pergi ke barabai. Tempat tinggal julak yang terkenal akan kebaikannya. Kemudian, sekali lagi Meri mencoba memancing-mancing Ibunya.. 

“Ma, Meri mau ke barabai. Bolehkah Meri minta uang untuk naik taksi? 1000 rupiah aja.. “

Sang Ibu memberinya uang 500 rupiah. Dan berbalik begitu saja. Meri mengucapkan terima kasih dengan tertahan.

Inilah uang satu-satunya pemberian ibunya selama 17 tahun. 

Sejak itu, tak pernah sekalipun Meri menjejakkan kaki di rumah itu lagi. Tangisnya membasahi tanah. Hatinya kesal. Tapi ia tau. Konon seorang anak tak boleh durhaka pada Ibunya. Malin Kundang adalah dongeng yang selalu menjadi pembelajaran untuk anak kala itu. Jika ia menangis sekarang lantas Sang Ibu melihat dan mengutuknya. Bukankah masih mungkin ia akan berubah menjadi batu? Karena merasa kesal? 

Meri kemudian bertanya-tanya. Bagaimana masa kecil Malin Kundang? Apakah ketika Ibunya Malin ditinggal oleh Ayahnya berubah menjadi Ibu yang berbeda? Apakah demikian? Sehingga Malin memilih untuk merantau ke negeri seberang? Lantas pulang dan berpura-pura tak kenal dengan Ibunya? 

Entahlah. Hari itu, Meri memutuskan hal yang sama. Merantau lalu menikah. Pergi sejauh-jauhnya.

Jika Saja Malin Kundang Memilih Jalan Yang Berbeda

Meri hidup dengan sejahtera. Ia berprofesi sebagai guru TK dan sudah PNS. Ia juga memiliki suami PNS. Dan ia dianugerahi 2 orang anak. Laki-laki bernama Wanda, juga perempuan bernama Winda. 

Dari kecil, Meri sangat suka bernyanyi dan membaca buku cerita. Karena itu ia merasa cocok bekerja sebagai guru TK. Walau ia memiliki inner child yang kelam, namun ia berusaha untuk tidak membalas semuanya. 

“Apakah Batu Menangis itu benar-benar ada Ma?” Anaknya Winda yang baru berumur 5 tahun bertanya polos. 

“Ia, batunya menangis. Menyesal karena durhaka dengan Ibunya.”

“Nangisnya kedengeran? Atau cuma keluar air mata aja? Batunya sujud gitu? Kok serem banget?”

“Iya.. Winda gak boleh kalau sudah besar durhaka sama Mama ya. Nanti kalau mama kesal bahaya..”

“Mama gak bakal berani ngutuk Winda jadi batu. Kan mama sayang.”

Meri tersenyum melihat Winda. Anak perempuan memang lebih emosional. Sementara Wanda sibuk bertanya-tanya apa itu beda legenda dan dongeng. Mengapa bisa ceritanya ada dll dsb. 

Winda dan Wanda tidak tau bahwa selama ini, ia tidak kenal dengan sosok nenek selain dari pihak ayahnya. Mereka tak pernah sekalipun menanyakannya. Seiring waktu, mereka sering mendengar ibunya terisak saat berbicara dengan ayahnya. Pun beberapa waktu belakangan, sering mereka ditemui oleh wanita tua yang datang kerumah membawa serpihan-serpihan snack murah. Mereka baru saja tau kalau itu adalah nenek. 

Ya, Meri memutuskan hal berbeda dari langkah Malin Kundang. Meski sering kesal, Meri memutuskan untuk menerima Ibunya kembali di masa tuanya. Membiarkannya bercengkrama dengan cucu-cucunya. Ikut senang ketika Wanda dan Winda begitu receh bahagianya. Snack murah dengan harga 100 rupiah sudah membuat mereka berdua senang. Berkata bahwa nenek membelikan oleh-oleh. Untuk sesaat, akhirnya kehidupan normal dengan adanya nenek itu pernah ada. 

Namun, itu tidak lama. 

Wanda dan Winda tumbuh menjadi sosok remaja yang sudah mulai mengerti akan masalah kehidupan. Mereka lambat laun paham akan kehidupan masa lalu Ibunya. Empati itu pun tumbuh. Sehingga jika melihat neneknya ke rumah maka reaksi mereka ‘Beh’ saja. Pun saat mereka tau bahwa neneknya ternyata ingin menghabiskan masa tuanya di rumah Meri. Mereka pura-pura biasa saja padahal ikut geram. 

“Aku mau makan pepuyu sekarang. Gak mau nanti.” Teriak sang Nenek di dapur. 

Meri kerepotan mengurus pagi rutin yang luar biasa. Ditambah dengan request spesial setiap pagi plus ‘ceramah’ dari sosok yang seumur hidup hanya memberinya 500 rupiah. Hati bergemuruh ingin marah. Tapi konon, bukankah seorang anak tidak boleh demikian pada Ibunya? 

Winda melihat air mata menetes di mata Mamanya. Ikut geram saat neneknya duduk santai dan mengobrol dengan pengasuh adik kembarnya.

“Kamu digajih berapa disini sebulan?” Tanya neneknya pada pengasuh itu. 

“Lima ratus ribu enggeh..” Jawab pengasuh polos. 

“Wah, banyak juga. Mana Meri ini anaknya pakai susu formula keduanya si kembar ini. Banyak banget pengeluarannya.”

Kuping Meri memanas mendengarnya. Ia berkata didalam hati, “Kalau memang merasa banyak, kenapa tidak dibantu? Bukannya Ibu tinggal disini juga? Ikut makan dengan pelayanan spesial? Bukannya uang pensiun ibu ada? Uang pensiun janda juga ada? Masa mau ditabung semua?”

Tapi kata-kata itu tertahan. Berganti dengan suara ‘PLAK PLAK’ keras saat memukul ikan pepuyu. 

“Eh, Meri.. Kamu ini ngasih gajih pembantu 500ribu sebulan. Pembantu kamu kasih gajih ya tiap bulan. Mamamu gak pernah dikasih duit.” Ibu Meri berkata demikian dengan santainya. 

Dan saat itu juga. Meri memutuskan melepaskan semua rasa itu. 

Tidak ada lagi kata sabar. 

Sabar itu ada batasnya. 

Selalu Ada Cerita Anak Durhaka, Tapi tak Pernah ada Cerita Ibu yang Durhaka

Mana yang lebih dulu diciptakan? Telur ayam atau Induk Ayam? 

Sebab dan akibat. Selama ini, kita terbiasa dikenalkan pada akibat. Lalu abai akan sebab. Padahal, sebab adalah awal dari semuanya. 

Kisah Meri sudah bisa ditebak endingnya bukan? Ia kehilangan kontrol dan melepaskan semua amarahnya. Ia mengusir ibunya dari rumah dan berakhir dengan sumpah serapah dari mulut ibunya yang berkepanjangan sepanjang hidupnya. 

Meri tak pernah dianggap sebagai anak baik di masa hidup Ibunya. Ia hanyalah seonggok anak celaka yang tidak diharapkan diawal kehidupannya. Namun diperas erat diakhir cerita. 

Apakah Ibunya mengutuknya menjadi batu? 

Ya.. Winda sering mendengarnya. Satu dua.. Mungkin sepuluh kali. Namun kiranya Tuhan lebih tau siapa sebenarnya sosok yang durhaka pertama kalinya. 

Akhir cerita Meri bukanlah menjadi sebuah batu yang menangis layaknya batu Malin Kundang. Namun menjadi anak dengan hati yang membatu. Menangis melihat perilaku Ibunya padanya. Menyesal dilahirkan oleh Ibu yang sedemikian.

Kenyataan demikian membuat Winda berpikir akan pertanyaan masa lalunya, “Bagaimana sebenarnya sosok batu menangis yang sebenarnya?”

Apakah cerita Malin Kundang benar dimulai dari kasih sayang yang dibalas dengan kedurhakaan? Apakah mungkin ‘global story’ dibalik kisah Batu Malin Kundang sebagai pengingat bahwa seburuk apapun perilaku seorang Ibu, seorang anak haruslah menjadi baik. Agar ‘rantai sifat durhaka itu putus’? Yah, mungkin itu kiranya.

Seusai diusir, Ibunya Meri pulang ke rumah anak kandung keduanya. Anak laki-laki dari pernikahan keduanya. Namun sayang, ia tak bisa diurus dengan baik. Ia ditinggalkan begitu saja di dapur rumah. Tanpa mandi, tanpa ganti popok, dan tanpa dilayani sandang pangannya. Ia hidup panjang umur. Dengan pelayanan sedemikian. Apakah itu hukuman dari Tuhan? 

Meri menyaksikan hal itu saat tidak sengaja berkunjung. Hatinya pilu sesaat. Winda dan Wanda tak pernah sekalipun mengunjungi neneknya. Uang 5000 rupiah adalah satu-satunya hal termahal yang pernah diberikan oleh neneknya yang bergelimang harta. 

Tapi Winda sadar. Bukan hanya uang 5000 rupiah yang telah diberikan nenek. Namun sebuah pembelajaran berharga bahwa.. 

Jangan pernah menjadi orang tua yang durhaka.. 

Anak tak pernah meminta dilahirkan.. 

Ia lahir untuk disayangi. Diwariskan rasa-rasa yang baik agar ia menjadi orang baik. 

NB: Ya, aku menulis ini seminggu pasca menonton film Cruella. Kisahnya mengingatkanku pada sepotong cerita. 

Tulisan ini bukan untuk membenarkan perilaku durhaka. Tapi untuk mengunggah hati kembali. Mencari sudut yang berbeda agar kita.. khususnya para Ibu.. 

Belajarlah untuk mencintai anak dengan tulus.. ❤

Jadi kalian tau Winda dan Wanda itu siapa? 🙃

Another galau story: Mama, Maafkan Aku Hanya Bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga

Dilema Penulis Buku VS Pembajak Buku

Dilema Penulis Buku VS Pembajak Buku

“Bukannya apa sih, sebagai seorang penulis yang sudah punya banyak fans. Harusnya bahasanya lebih ‘sopan’.. “ -Netizen

Ramai para netizen membully ‘omelan’ Tere Liye pada tulisannya di page facebook akhir-akhir ini. Kubaca satu per satu komentarnya. Lalu melamun sesaat.

Komentar itu.. Ada yang berempati, ada yang menyemangati, ada pula yang menertawakan. Sebagai silent reader di fanspage Tere Liye, aku hanya bisa diam. Nyaliku tak begitu bagus untuk ikut nimbrung sekedar berbagi komentar. Tapi, aku mencoba memberanikan diri menulis opiniku pada tulisan blog kali ini. Toh, blog ini adalah milikku. Suka-suka aku bukan beropini disini? 

Ketika Pembajakan Sudah Menjadi Hal Biasa Dalam Kehidupan

“Wind, kamu ngebela Tere Liye. Bukannya kamu juga langganan beli CD bajakan ketika SMA dulu?”

Eh iya, siapa bilang aku orang yang suci? Gak pernah ngomong begitu bukan? Bahkan, dosaku dibidang membeli barang bajakan mungkin jauh lebih juara dibanding kalian semua. 

Aku pernah beli CD murah, beli baju murah, tas murah, sepatu murah. Bahkan aku juga tukang ‘influence’ temen-temen aku ketika kuliah dimana membeli barang-barang murah nan bagus. Bangga sekali rasanya kalau diingat masa-masa itu. 

“Winda, cewek yang tau list harga barang-barang murah dan bagus..”

Aku tidak peduli kalau ada salah seorang menegurku seperti ini, “Eh, ini tas Channel ya? Berapa harganya? Kok murah? Oh, barang kw..”

Hatiku pasti mendengus kesal, “Kan gak semua orang financialnya kayak elo.. “

“Bergayalah sesuai isi dompetmu.. “

Itu adalah prinsip kesekian dalam hidupku. Dan aku sangat bangga dengan prinsip itu. Karena prinsip itu ditularkan oleh mamaku. Bahkan, jujur saja.. Sebelum aku lahirpun mungkin saja aku sudah mengonsumsi barang-barang bajakan. Jauh lebih banyak dibanding kalian. Tapi kenapa aku begitu? 

Ketika aku kecil, aku tidak mengerti apa itu barang bajakan. 

Ketika aku sudah besar, aku mengerti barang bajakan. Tapi aku sudah memaklumi industrinya. Dan mendukung perkembangannya karena lebih ramah pada golongan ekonomi kebawah. 

Lalu, atas alasan ‘murah, murah, murah’ aku membenarkan pembelian barang bajakan dalam hidupku. Biarkan saja barang ORI punya kelas dan pasarnya. Barang bajakan juga sebuah industri yang punya pasar dan kelas sendiri. 

Itulah pembenaranku. Dan ya, aku mengakui bahwa diriku adalah sarjana akuntansi dan tentu sudah memahami ekonomi. Tapi aku menyangkal kesalahanku dan membenarkannya. Karena aku memang punya sifat keras kepala sejak dahulu. 

Pembajakan adalah hal biasa dalam kehidupanku. Ngapain repot-repot diurusin? 

Dan kalian tau? Aku pernah membeli buku Tere Liye 1 bundling. Dan itu barang bajakan. Judge me. Itulah aku dahulu. Winda dengan mental sok miskin dan iya.. Goblok. 

Apakah Tere Liye Itu Memang Penulis yang Tidak Sopan dalam Berbahasa? 

Aku mengenal Tere Liye sejak kuliah. Buku pertama karyanya yang aku baca adalah Negeri Para Bedebah. Ops sorry, buku itu ORI karena itu bukan milikku melainkan punya adikku. Bermodal ‘pinjem’ dari adik, aku mulai menyukai buku-buku Tere Liye. Jangan salah, buku-buku Tere Liye saat itu dibeli di gramedia dengan harga yang menurutku mahal.

Saat aku menikah, ekonomi keluargaku dalam kondisi down. Selain itu, aku sempat mengalami PPD. Untuk mewaraskan diri, aku mulai menekuni dunia blogging dan membaca buku. Kulirik lagi karya-karya terbaru dari Tere Liye. Tak lantas menabung demi membeli bukunya. Tapi aku hanya membaca-baca review buku tere liye yang berseliweran di internet. Lumayan mengenyangkan. 

Hari berganti tahun demi tahun. Marketplace mulai ramai. Saat itu, aku tidak menginstall aplikasi online store apapun di HP. Aku hanya kepo dengan berbagai marketplace itu melalui HP suami. Lalu, saat iseng membuka buka*apak di HP suami. Aku melihat buku Tere Liye. Harganya, omo.. Murah sekali. Itu adalah kali pertama aku tau ada yang namanya buku murah di marketplace. Dulu, kukira buku itu ORI. Lalu, saat bukunya datang aku terkejut dengan kualitas kertasnya. Kan, memang aslinya goblok. 😆

Saking gobloknya, aku membeli lagi buku itu 3 bulan kemudian di toko yang sama. Saat itu, aku sudah melakukan tombol ‘like’ di fanspage Tere Liye. Kuperhatikan kuote dan tulisannya. Bagus. Dan toh Tere Liye tak pernah menyinggung tentang buku bajakan dsb. Itulah letak kegoblokan hakiki milikku. Kenapa aku beli lagi ya? Apakah karena kupikir tidak apa-apa? Toh, penulisnya saja santuy dan tidak marah. 

Bulan berganti tahun. Keadaan ekonomi keluargaku membaik. Aku sudah mulai bisa menabung dan memiliki penghasilan sendiri dari blog. Aku mulai mengubah polaku dalam membeli buku. Mulai berani menginstall sh*pee dan tokop*dia di HP lalu mencari buku ORI yang sedang diskon. Separuh buku Tere Liye milikku adalah buku ORI. Senang rasanya, kualitas kertasnya saja sudah beda sekali dengan yang bajakan. 

Tahun 2018, Tere Liye datang ke Gramedia Banjarmasin. Dia berbagi ilmu disana. Aku memperhatikan dan sempat mengangkat tangan untuk bertanya. Ia menjawab dengan lugas dan nyaman. Aku juga ikut mengantri tanda tangan di buku ORI yang aku miliki. Dari awal pertemuan hingga akhir, tak sekalipun ia pernah protes tentang buku bajakan. Tak pernah ia nyinyir dan sebagainya. Padahal saat itu, buku bajakannya ramai sekali dijual dimana-mana. Karena sifatnya yang terkesan legowo demikianlah aku memutuskan untuk tidak lagi membeli buku bajakannya. 

Setahun terakhir ramai tulisan Tere Liye di fanspagenya membahas tentang buku bajakan. Dimulai dari tulisan yang ‘biasa saja’ untuk sekedar menghimbau pembacanya hingga semakin hari semakin naik levelnya. Dari biasa saja, medium hingga seperti tulisan diatas. Apakah itu wajar? 

Hei, Apakah marah itu wajar? 

Tentu saja wajar.. Kok bisa-bisanya kalian yang mungkin tidak mengenalnya bahkan mungkin tidak pernah membaca karyanya menertawakannya dan ikut menggunjingnya. Ironisnya, sebagian dari mereka juga para penulis. Disitulah hatiku nyeri. 

Kenapa dunia selucu ini? 

Gaes.. Aku pernah diposisi sama dengan Tere Liye sewaktu sekolah. Tugas dan PR milikku dicontek oleh teman-teman sekelasku. Aku yang capek, teman-temanku yang tertawa. Saat aku iseng ‘menyalahkan’ jawabanku supaya nilai kami tak seragam, teman-temanku mencela tindakanku. Berkata ingin menang sendiri. Saat aku tidak mau menyerahkan tugas dan PR milikku mereka ramai menggunjingku ‘pelit’. Sudah jutek, pelit pula. 

Begitulah kiranya konflik penulis dengan pembajak.. 

Penulis capek sekali untuk menemukan ide, melakukan riset, edit sana sini, bolak balik, kerja dan kerja. Pembajak punya jalan yang lebih instan. Cukup copy paste. Saat penulis mogok dan merajuk, orang-orang disekelilingnya ramai mengatakannya penulis pamrih, matre dsb. Sementara pembajak ramai dipuji murah hati karena ia memang lebih ‘murahan’. Disitulah letak menyebalkannya. Kenapa dunia ini selucu itu? 

Perlu kalian ingat bahwa.. 

“Marah dan tidak sopan itu wajar terjadi. Saat bahasa komunikasi lembut dan sopan tak kunjung diapresiasi..”

Karena apa? Karena komunikasi hanyalah alat untuk penyampaian. Hal yang lebih penting adalah Apakah sudah dirasakan? Bagaimana caranya agar lebih berasa? Kapan jurus marah dan tidak sopan akan efektif? 

Ingin Belajar Berempati dengan Kehidupan Penulis? Bacalah Novel Selamat Tinggal

Setiap Tere Liye mengulas tentang betapa b*engseknya industri buku bajakan ia selalu menuliskan kalimat akhir dalam tulisannya. 

“Tere Liye, Penulis Novel Selamat Tinggal”

Itulah ciri khas miliknya. Setiap menulis status, ia mencantumkan judul novel yang mewakili statusnya. 

Dan novel yang mewakili konflik Penulis vs Pembajak adalah novel berjudul Selamat Tinggal. 

Aku sudah pernah mereview novel selamat tinggal. Dan novel itu luar biasa. Ia mengubah diriku yang selalu membenarkan pembajakan. Ia juga membuka pola pikirku untuk memahami makna keberkahan dalam hidup. 

Berhentilah menilai seseorang hanya dari status-statusnya di facebook. Tidak lantas 1-2 kalimat terlihat rese lalu kalian berhak mengklaim kalau orang ini jelek. Pertanyaanku, pernahkah kalian membaca buku Tere Liye sehingga berhak sekali menghakimi status-statusnya? Sudah berapa lama sih kalian kenal dengan Tere Liye? 

Eh, memangnya kamu kenal banget win?

Enggak, ada ⅕ bukunya yang belum aku baca.

Aku tidak pernah mengobrol dengan Tere Liye, atau bahkan tinggal 1 kelas dengannya. Lantas kenapa? Itulah alasan kenapa aku tidak menghakiminya. Toh, aku belum kenal 100% dengan Tere Liye bukan? Justru karena belum kenal aku tidak berani menghakimi orang yang sudah membuka pola pikirku dengan buku-bukunya yang mengandung banyak hikmah kehidupan. 

Novel selamat tinggal ini luar biasa loh. Kalau kalian membaca dengan seksama. Penulis menempatkan dirinya pada posisi penjual buku bajakan. Mencoba berempati dari posisi mereka. Mengubah karakternya perlahan-lahan melalui berbagai peristiwa. Dan memaklumi bahwa di dunia ini selalu ada makhluk yang bebal dan tidak sadar akan kesalahannya. Begitulah dunia. Untuk seorang penulis yang karyanya sudah sedemikian dicuri oleh pembajak. Novel Selamat Tinggal ini cenderung sopan dalam menegur. 

Tapi, untuk apa penulis terus menulis? Bukan untuk pembajak. Bukan pula untuk menghancurkan industrinya. 

Tujuannya adalah mengubah pola pikir generasi selanjutnya menjadi lebih baik. Lantas, bagaimana generasi menjadi lebih baik jika ‘kalian’ terus meneriaki dan mentertawakan omelannya? Menyindirnya di status hingga ramai menertawakan beberapa hal tidak baik miliknya. 

Sedihnya, mengapa hal ini juga turut dijadikan ajang aji mumpung bagi penulis lain? Berlagak cara mereka lebih sopan dan baik. Kenapa demikian? 

“Aku heran kenapa manusia suka bergosip? Bukankah kita semua memiliki cela pada diri masing-masing?” -Fey: Nebula-Tere Liye. 

Pertanyaannya, apakah industri buku bajakan akan mati? Jawabannya tentu tidak. 

Tapi, Mungkinkah generasi selanjutnya akan lebih baik? 

Jawabannya ada pada diri kalian sendiri. 🙂

Nb: Aku bukanlah fans mati Tere Liye. Banyak beberapa penulis indonesia yang juga aku sukai. Akan tetapi, aku selalu berusaha untuk mengapresiasi langkah keberanian. Sejauh itu benar, Kenapa tidak? 

Kalian juga boleh saja menghakimiku karena pernah membeli buku dan barang bajakan. Kalian tau? Semua manusia pernah melalui masa ‘goblok’nya masing2. Dan iya, aku pernah ‘goblok’. Tapi satu hal yang penting. Apakah lantas kita membenarkan kegoblokan itu? Dalam hidupku ada 3 orang yang pernah memakiku ‘bodoh’ dan ‘goblok’. Tiga orang itu, adalah orang yang paling aku sayangi sekarang. Kalimat kemarahan adalah sebuah batas merah yang tanpa sadar menciptakan tombol ‘warning’ dalam hati kita. Maka, peluklah rasa marah itu. 

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Pernahkah dalam hidupmu, tangan kiri dan kananmu seakan ditarik oleh dua orang cowok berbeda? 

Yang satu adalah sahabatmu, sedangkan yang satunya adalah orang yang membuatmu terpesona dalam pandangan pertama. 

Ini bukan tulisan ‘sok laku’. Tapi, ini tentang cerita sebuah pilihan. 

Dimana pilihan itu, akan mengubah jalan hidupmu. 

Tentang Petuah Mamak dalam Memilih Pasangan

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, kalau pilih pasangan carilah yang agamanya bagus. Dan derajatnya diatas kita. Supaya kelak enggak direndahkan orang..”

Tapi seiring berjalan waktu, petuah itu berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang agamanya bagus. Dan pekerjaannya tetap. Supaya kelak hidupmu enggak susah..”

Melihat gelagat anaknya tak kunjung memiliki pacar di usia semester 5 kuliah, bahkan malah jingkrak-jingkrak tidak karuan dengan berbagai boyband. Maka petuah mamak pun berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang umurnya enggak seumur sama kamu. Perempuan itu cepat tua. Kalau kamu naksir cowok kayak di TV itu. Ketika sudah punya anak kalian bakal kayak Mamak sama anaknya.. Carilah minimal yang beda umurnya 5 tahun..”

“Tapi Oppa Yunho umurnya 7 tahun diatas aku Ma.. ” Sahutku iseng.

Dan akupun ditimpluk. 

Ah, Mama saat itu belum tau saja. Biarpun keranjingan dengan boyband korea hingga tergabung dalam komunitas game. Serta terlihat sebagai anak rumahan banget. Tetapi, aku ada yang naksir kok. Uhuk. 

“Siapa yang sering ngantar kamu pulang win? Itu temen SMA kamu dulu ya?”

“Iya ma, cuma temen.”

“Lain kali ajaklah makan di rumah..”

Aku mengiyakan sambil ber ‘hehe’. Entahlah feeling Mama tajam sekali. Baru juga sekian kali temanku itu mengantarku pulang. Tapi sudah yakin dan kepedean sekali kalau temanku itu naksir aku. Heh, siapa lelaki yang berani naksir cewek yang sepanjang perjalanan banjarmasin-pelaihari topik pembicaraannya hanya tentang naruto, ninja saga, hingga boyband. Hanya lelaki sangat bodoh yang naksir dengan cewek demikian. Mama riang sekali mengira teman lelakiku itu naksir denganku. Padahal, yang kelihatannya positif naksir denganku itu adalah.. 

Asisten dosen di kampusku. Huahahha.. 

Akupun langsung mengingat petuah-petuah Mama. 

-Agamanya bagus ✅

-Pekerjaan tetap ✅

-Lebih tua 5 tahun ✅

-Bukan personil boyband ✅

Oke ma, kelak kalau suatu hari dia ‘nembak’ aku maka akan aku ceritakan bahwa dia adalah kriteria mama. 

Cinta dan Impian Lalu Kenyataan

Aku tidak tau seperti apa persisnya rasa cinta itu. Hingga kuliah, aku hanya memiliki satu sahabat lelaki yang cukup dekat denganku. Aku tidak malu menjadi ‘apa adanya’ diriku saat di depannya. Bercerita tentang game terbaru, film terbaru, album boyband terbaru, curhat bombay saat memiliki drama dengan teman. Perasaan saat itu.. Tidak ada rasa ‘berdebar’ dan gugup. Layaknya aku membicarakan sasuke atau yunho. *halah

Tapi, aku merasa sangat nyaman bersahabat dengannya. Aku toh tidak perlu merasa tidak nyaman. Berpikir kalau-kalau dia naksir aku misalnya. Hanya cowok tidak waras yang bisa naksir diriku apa adanya. Terutama kalau sudah tau tentang gilanya aku dengan boyband. Lalu betapa konyolnya wajahku ketika dijenguk saat terkena DBD dan tanpa make up satu pun. Belum mandi pula. Sungguh image itu hancur sekali. 

Tapi, dugaanku salah. Persis saat aku bilang kepada temanku bahwa aku sedang ‘kesenangan’ karena chatting dengan asisten dosen di kelasku tentang sebuah kasus di kelas dengan (mungkin) wajah bersemu dan bersemangat. Maka, malam itu dia mengatakan perasaan yang sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya. 

Aku sungguh tidak tau kalau dia memendam perasaan padaku sedemikian lama. 

Dengan pernyataan semendadak itu. Mungkin aku bagaikan ‘Princess Anna’ yang sepersekian lama baru sadar kalau Kristoff ternyata suka padanya. Tapi bedanya, aku benar-benar hanya menganggapnya teman curhat, sahabat baik, atau entahlah apa itu. Tidak ada feeling yang lebih. Hanya perasaan nyaman. Dan aku meyakinkan diriku bahwa itu.. Bukan cinta. 

Berbeda dengan saat aku bertemu dengan asisten dosenku. Penuh semangat, penuh kata-kata motivasi, penuh rasa ingin tahu.. Dan, dia membimbingku kearah jalan yang tidak pernah aku telusuri sebelumnya. 

“Aku tidak tau persis apakah orang yang bisa membuatmu bersemangat itu adalah perasaan cinta? Atau itu hanya sesaat saja..”

Tapi jalan-jalan yang ia nampakkan padaku adalah sesuatu yang realistis. Segala yang ia katakan kepadaku adalah kejujuran, tidak ada bawang di dalamnya. Dia.. Tidak menjanjikan apa-apa padaku.

Entahlah, aku hanya suka saja dengan lelaki yang berpandangan seperti Han Ji Pyong. Bukan berlayar tanpa peta. Tetapi berlayar dengan mempelajari peta, mencari peta. 

Jika Dal Mi bersemangat ketika berlayar tanpa peta.. Maka mungkin aku sebaliknya. 

Mungkin, karena sahabatku itu seumur denganku maka tujuan hidup kami sama-sama abstrak. Mimpi kami sama-sama tidak jelas. Kami masih sama-sama memiliki sisi kekanakan. Dan impian coret tulis coret tulis. Tetapi sahabatku itu selalu memiliki mimpi yang baru. Setiap dia memiliki project, dia memberitahuku seakan minta aku semangati. Dan kami selalu menyemangati satu sama lain. Menghibur satu sama lain. Ketahuilah, punya sahabat cowok itu sangat nyaman. Tidak banyak drama layaknya memiliki sahabat cewek. Setidaknya, sebelum aku tau kalau perasaan itu ternyata ada kemudian menimbulkan ketidaknyamanan. 

Apa yang aku lakukan ketika diriku yang ternyata tak laku-laku tetiba ditaksir cowok secara bersamaan?

Aku langsung merenungi perkataan Ayahku. 

Memilih Berlayar Tanpa Peta Atau Mencari Peta

I’m a Realistic Person

Banyak sahabat yang bergunjing dibelakangku bahwa aku memilih lelaki yang sekarang karena dia memiliki pekerjaan tetap. Tapi, tidak banyak yang tau hal ini bukan?

Bahwa orang yang aku pilih memiliki banyak adik, seorang sandwich generation, seorang anak yatim. PNS dengan gajih yang 50 persen bahkan lebih dipotong untuk hal-hal demikian bukanlah orang yang kokoh secara finansial. Bahkan rentan bangkrut jika suatu hari adik-adiknya juga ikut bertumpu. Terancam tidak memiliki rumah sendiri seumur hidup. Orang mengira aku memilih karena sebuah kepastian masa depan. Padahal, bukan karena itu. 

FYI, kalau boleh jujur mungkin nasib sahabatku jauh lebih baik. Dia anak tunggal, tidak ada tanggungan. Punya banyak space untuk meneruskan mimpi. Tinggal satu daerah denganku sehingga aku mungkin tak perlu berpisah dengan Mama. Bahkan aku bisa meneruskan cita-citaku. Tapi segala mimpinya mungkin tak sejalan denganku. 

Aku memutuskan untuk menjawab ‘Yes’ pada hadiah buku yang dikirimkan oleh Asisten Dosenku.. 

Buku yang surat pembuka didalamnya telah mengunggah hatiku:

…Honestly

I can not commit any promises that every letters that we engraved together are about fulled with good story. 

There can be some chapters that narate sorrow and sadness. Also, I can not promise that the end of our story that we will make it through will be has beautiful ending because.. 

.. I  realize there’s no one who is driving their own fate.. 

Akupun mengetahui latar belakang, masalah hidupnya. Mulai dari masalah finansial hingga masalah psikologis. Tapi, dia jujur padaku bahwa.. 

Dia tidak bisa menjanjikan apapun. 

Entahlah, itu adalah ‘versi bucin’ tergila yang pernah aku rasakan. Ketidakpastian.. Tantangan.. Kegilaan.. Bagiku itu adalah kejujuran yang membangun sebuah komitmen. 

Aku pun langsung teringat petuah Ayahku. 

“Win, kalau milih pasangan itu jangan yang gombal. Banyak menjanjikan macam-macam. Atau, jangan memilih yang tidak punya arah yang jelas dalam hidup. Pilihlah yang dewasa, yang realistis. Yang bisa menunjukkan padamu kalau dunia ini gak selamanya indah. Yang mengajakmu untuk berjuang bersama bukan menjanjikan padamu untuk berstatus layaknya putri raja..”

-Ayah

Aku, memilih seseorang yang tak menjanjikan sebuah kebahagiaan untukku. Tapi mengajakku untuk sadar, bahwa hidup ini bukan tentang mencari bahagia saja. Tetapi juga menghadapi ketidakbahagiaan.. Bersama. 

Win? Bukannya memilih berlayar mencari peta? 

Bukankah aku bilang mencari? Bukan tanpa peta? 

Menghadapi ketidakbahagiaan lantas mencari titik-titik perhentian adalah definisi dari mencari peta untukku.. 🙂

NB: Aku menulis tulisan ini ketika sedang bertengkar dengan suamiku. Lantas membaca lagi kata-katanya dalam buku pertama. Aku menulis ini bukan sedang untuk bernarsis ria dengan masa mudaku. Tapi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa.. Akulah yang memilih menghadapi risiko bersama. 

Iya, bersama.. 🙂 

IBX598B146B8E64A