Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Topik yang Never Ending

“Gak bosan dirumah aja? Kalau menurut saya jadi perempuan itu tuh harus mandiri minimal secara finansial karena (bla bla bla)”

“Aduh, makanya saya gak mau nitipin anak gitu. Kebayang ga sih pembantu sekarang ga bisa dipercaya. Makanya saya milih ga kerja aja karena ya (bla bla bla)”

“Waduh, enak ya melahirkan cesar. Ga sakit krn dibius.. Kalo saya kemarin nih.. (bla bla)”

“Waduh, anak umur segitu udah dikasih sufor? Gak takut anaknya nanti (bla bla). Sufor itu begini loh, begitu loh. Kalau saya dulu diusahain dong ya bisa ASI. Saya sampe (begini-begitu) supaya anak bisa ASI ekslusif. Karena begini loh, ASI itu ya (bla bla)”

“Aduh, punya anak 1 plus gak kerja aja pake ART. Orang kayah. Kalo saya sih biar punya duit ya tetep aja sayang karena kita ga tau apa yang terjadi di masa depan kan bisa aja nih nanti (bla bla)”

“Maaf ya, kalau aku suka miris liat emak-emak yang anaknya dikasih makan sosis, nuget, telor dadar. Muter itu-itu aja. Buat aku sih emak begitu namanya emak pemalas.”

“Anak umur 3 tahun udah di sekolahin. Apa sih yang ada dipikiran emaknya? Gak takut anaknya nanti kena sindrom bosen sekolah? Kata psikolog gue nih anak umur segitu itu (bla bla). Ya, kalau aku sih maunya homeschooling aja.”

“Jadi Istri plus Ibu itu harus bisa jaga penampilan. Masa baru anak satu aja badan udah gemukan. Aku nih udah anak 3 masih kurus. Ya, emang harus dijaga. Kalau siang kerjaannya molor aja gimana ga gemuk.”

“Aduh, itu vaksin belum di halalin MUI loh. Program pemerintah ada-ada aja. Coba deh kita berkaca dengan zaman dulu. Emak gue, kakek-nenek gue, itu gak ada namanya vaksin-vaksinan. Iya, sehat aja. Anak, sekarang malah gampang sakit. Udah baca artikel ini belum? Vaksin itu bikinan Yahudi. Kamu rela kalo anakmu nanti (bla bla) ”

Punya kata-kata lain yang sering kita dengar di perbincangan antar emak-emak? Gak usah disharing ya. Iya, emak udah kenyang. Serius.

Baca juga: 9 Topik Obrolan Sensitif yang dapat menyebabkan Mommy War

Makanya, teman itu Memang harus PILIH-PILIH!

source: parents magazine

Pernah punya prinsip begini.. “Berteman itu jangan pilih-pilih. Mau itu orang kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, gak pintar semua harus ditemani.. Karena kita ini makhluk sosial. Kita itu (bla bla)”

Siapa ya yang bilang begini? Iya, mungkin ini salah satu kilasan memori dari Guru PPKN dulu. Hahahaha.

Dulu, aku menelan mentah-mentah kata-kata itu. Mencoba berteman dengan siapa saja. Walau sebenarnya aku tergolong introvert namun urusan pertemanan aku baik, aku punya pemahaman polos bahwa semua manusia itu sama, semuanya harus ditemani.

Tapi pemahaman itu berubah ketika aku mulai remaja, jangan ditanya seberapa berubah ketika aku sudah menjadi emak-emak. Berubah Drastis. Buatku, yang namanya teman itu WAJIB PILIH-PILIH.

Kenapa? Noh, kalian mau temenan sama teman yang mulut plus jarinya kerjaannya nyinyir kayak diatas? Gak mau kan? Belum lagi kalau yang ngomong emak-emak yang ngakunya ‘senior’. Haduh mak, sakit banget tuh rasanya kayak ditusuk-tusuk pake tusuk sate.

Makanya, kadang aku merasa sendiri ya kalau emak-emak itu punya circle pergaulan yang ‘agak memisah’. Contoh:

Ibu Rumah Tangga sukanya temenan sama Ibu Rumah Tangga aja, Working Mom sukanya temenan sama Working Mom aja. Karena kalau ketemu obrolan mereka pasti ketitik yang paling krusial yaitu drama menitipkan anak dan topik finansial.

Ada grup khusus Emak-emak Menyusui yang kalau didalamnya muncul emak-emak curhat minumin anaknya sufor langsung diserang Ciat.. Ciat.. Seolah bilang, “Hei, tempat kamu itu bukan disini..”

Ada grup khusus anti vaksin yang kalau muncul emak-emak ‘sok sehat’ maka dia langsung ditertawakan dan dibully.

Ada grup khusus memasak. Yang didalamnya penuh dengan emak-emak homemade. Kalau ada satu biji emak yang share resep pakai vetsin atau sosis jadi dan kornet langsung diserang dan diceramahi.

Iya, karena itu jadi emak-emak wajib pilih-pilih teman plus punya ramuan ANTI BAPER dan KOMUNITAS PENDUKUNG agar bisa beradaptasi dengan kerasnya pergaulan diluar.

Ramuan Anti Baper 1: Emak harus Punya Passion yang diandalkan

Tiap orang itu punya kesenangan, namanya hoby. Adapun yang dinamakan passion yang diandalkan adalah hoby yang membuat manfaat bagi orang disekitarnya. Ingat ya, aku menggarisbawahi passion loh, buat ‘penghasilan yang dapat diandalkan’ 😝

Menurutku, adalah bohong besar ada Ibu Rumah Tangga yang kerjaannya ‘cuma bahagia’ dengan melayani anak dan suami lalu mengabaikan kondisi psikologisnya sendiri serta menolak hubungannya dengan lingkungan sosial. Eh, ada ya? Oke, jangan ajak aku berkenalan ya. ✌

Menurutku tiap ibu itu harus punya passion. Apapun itu, passion tidak harus melulu menghasilkan uang. Prinsipnya adalah kita senang melakukannya, apalagi jika orang lain merasa hal yang kita lakukan itu bermanfaat dan membantu.

Adapun emak yang ‘ngakunya’ tidak punya passion tetap seperti aku mengaku lebih mencintai dunia menulis dan ngeblog seperti ini untuk berekspresi.

Baca juga: I dont have any passion, Im divergent.

Aku menyebut aktivitas ngeblog ini sebagai ‘Ramuan Anti Baper’. Hal yang membuatku bisa lebih hidup serta dapat menutup mata dan telinga setiap kali mendengar nyinyiran diatas. Adapun emak lain mungkin akan lebih bahagia dengan passion yang lain. Tapi perlu diingat bahwa tiap emak itu beda, so teori parentingnya pun beda. Aku pernah membahas ini ditulisan sebelumnya.

Baca juga: Hal yang perlu diketahui sebelum belajar parenting

Baca juga: Gini cara emak introvert ngasuh anak, Masalah?

Ramuan Anti Baper 2: Emak harus Punya Hiburan

Apa me time buat kamu? Menulis?

Ah, tidak. Menulis tidak akan bisa dilakukan kalau otak tidak terhibur. Ya, bisa sih tapi isinya curhat semua. Hahaha.

Me time ala aku adalah menonton drakor ditemani cemilan dan susu hangat. So, dengerin nyinyiran diatas? Me time aja! Nonton drakor, jalan-jalan, baca buku, nonjok boneka. *ops

Apapun hal yang bisa menghibur… Do it Mom! Do it!

Ramuan Anti Baper 3: Emak harus punya Komunitas Pendukung

Apa passionmu?
Apakah sudah ada komunitas yang mendukung passion tersebut?
Atau selama ini kamu berada pada komunitas yang salah?
Jangan takut untuk KELUAR dari zona yang tidak nyaman. Cari komunitas yang cocok dengan kita.

Sebagai contoh, itu aku (maaf ya.. Contohnya aku lagi.. Aku lagi.. Namanya juga personal blog ya.. ✌)

source: hellomama’s.com

Sebagai makhluk hidup yang ‘suka nyampah’ dengan tulisan, baik itu berupa status jelek maupun ‘sok bijak’, aku tidak mau bergabung dengan circle mak-mak yang tidak bisa menerima sampah-sampah itu. Menyebut bahwa kerjaan blogger itu pamer dan ‘cuma’ modal tulisan. Itu adalah circle komunitas yang harus aku jauhi. Ada yang nyinyir? Block aja, delete.. selesai masalah. Berkomunitaslah dengan orang-orang yang punya satu hoby dan kesenangan dengan kita atau berteman dengan orang yang sepemahaman dengan kita. Komunitas pendukung seperti ini penting sekali loh dimiliki.

Emak Perfect itu Enggak Baik, yang Baik itu Emak yang Bahagia dan Sukses Menularkan Kebahagiaannya

Jika sudah menemukan 3 kunci ramuan anti baper maka kita sudah sampai ketitik ternyaman dunia emak-emak. Apa itu? Mencapai kesempurnaan yang hakiki? 😅

Pernahkah kita sebagai emak-emak mencoba untuk melakukan segala hal serba sempurna? Asi ekslusif, anak tak pernah tersentuh teh dan garam pada waktunya, tak pernah kenal gadget dan TV, rumah selalu bersih, makanan selalu homemade, tidak punya ART, selalu tampil cantik, bisa melakukan 4 pekerjaan dalam satu waktu termasuk sambil masak, nyuci, zumba plus liat fluktuasi saham? Lalu, uang bulanan selalu bersisa untuk ditabung.

Tapi.. Dibalik kesempurnaan itu.. Apa yang kita rasakan? Bahagiakah?

Aku (lagi lagi aku) pernah merasakan betapa buruknya terjebak dalam standar perfeksionis diatas. Puncaknya, aku merasa tidak bahagia.

Rumah selalu bersih tapi dibalik itu aku mengurung anakku dikamar, tanpa TV dan ia hanya aku hadapkan pada makanan homemade. Ia menangis. Aku cuek. Begitu teori parfectionis bicara.

Makanan selalu homemade, selalu tampil cantik. Tapi saat suami datang, bukan senyum yang aku suguhkan. Namun kelelahan, tak bisa memanjakannya. Mencoba mendapatkan pujian dengan bersisanya uang bulanan. Tanpa hiburan, tanpa family time, apalah artinya tabungan itu.

Kesempurnaan tidak membuatku bahagia.

Belajar membahagiakan diri dan sukses menularkan kebahagiaannya adalah prinsip dari terbentuknya keluarga yang bahagia. Aku sudah banyak belajar bahwa mencari puncak kesempurnaan tidak mengajarkan apapun padaku. Hanya rasa haus pujian yang tiada habisnya. Tidak bahagia, tapi Depresi.

Baca juga: Sepenggal Kisah tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan

Kenapa Perfeksionis sindrom itu Pemicu Utama Depresi dan Menular? Karena Korbannya adalah Emak-emak Sensitif dan Anak Kecil

source: thejoyoofthis.com

Apa akibat dari standar kesempurnaan yang tinggi?

Pengalaman nyata yang aku rasakan adalah.. Mengejar kesempurnaan membuatku terkena Post Partum Depression.

Yes, aku depresi. Aku mencoba memenuhi setiap standar kritik dari mulut-mulut ‘nyinyir’ yang singgah ditelingaku. Mommy War telah membentuk diriku yang sensitif ini menjadi ‘bukan diriku lagi’.

“Aku dulu uang bulanan cuma habis 800ribu loh. Kamu masa satu juta gak cukup? Anak masih satu juga..”

(Oke. Aku bisa. Aku harus serba homemade. Harus ngemil singkong tiap hari supaya ASI tetap jalan. Gak boleh nagih ini itu kesuami. Aku kan istri yang baik)

“Kalo aku jadi kamu, dari pada foto-foto makanan begini, mending jualan. Gak kerja juga, masa gak punya waktu. Jadi perempuan itu lebih enak kalau punya uang sendiri.”

(Oke, jualan. Aku bisa)

“Istri kamu kalau jalan modis banget ya. Berapa uang make upnya buat sebulan tuh? Aku dulu zaman begini begitu cuma modal bedak bayi aja..”

(Oke, bedak bayi.. Kely.. Aku juga bisa masih cantik begitu.. *kalo dasarnya udah cantik.. 😝)

Bla bla..

Bla bla..

Iya, aku dulu super sensitif. Dibilang ini manggut, itu.. Manggut. Aku depresi untuk mengejar kesempurnaan. Jikapun itu hanya terjadi pada diriku saja tidak mengapa..

Tapi aku menularkannya.

Aku membuat anakku menangis. Aku membuat suamiku marah.

Apa yang bisa dibanggakan dari menjadi ’emak yang maha sempurna’?

TIDAK ADA.

Hati-hati,

Jaga Mulut! Jaga Jari! Jaga Hati!

source: wytghana.org

Kita tidak pernah tau seberapa halus perasaan seseorang. Kita tidak pernah berteman dengan mereka yang baru kita kenal, tau masa lalu mereka. Bagaimana ‘tameng psikologis’ yang sudah terbentuk pada diri mereka. Kita melewati ‘masa lalu’ yang berbeda dengan setiap orang. Karena itu tiap orang itu unik. Tiap emak unik. Mereka tidak sama dan punya hoby yang berbeda. Dan satu lagi, perasaan mereka tidak sama.

Pernah mendengar penyakit schizophrenia? Penyakit kejiwaan ini dapat disebabkan bukan hanya karena lingkungan. Namun innerchild yang sangat negatif. Baik itu kenangan buruk dari masa kehamilan, kenangan buruk masa kecil, hingga tekanan demi tekanan yang diterima dilingkungannya.

Depresi itu menular. Dan pusatnya adalah pada kebahagiaan Ibu. Jangan pernah membuat perasaan Ibu tersakiti dengan mulut dan jari kita. Jaga hati kita agar tak selalu berprasangka negatif pada ‘ketidaksempurnaan emak-emak’. Karena bisa jadi, mereka tidak punya dan belum tau dengan ramuan anti baper.

“Kadang kita merasa mulut kita sungguhlah bijak. Ketika melihat emak-emak curhat, kita berkata ia tak bisa menjaga aib keluarganya. Lalu kita sarankan agar menutup mulutnya. Kita tidak tau, hatinya terluka. Tidak ada yang mendengarkan. Pernahkah kita sekali saja berusaha menjadi pendengar yang baik?”

“Kadang kita merasa jari kita begitu bermanfaat. Membuat status kesempurnaan dan menyakiti perasaan Ibu yang tak sempurna. Membuat kata-kata berambisi agar orang lain memiliki semangat membara, tapi kita lagi-lagi tidak tau_ kondisi setiap orang berbeda..”

“Kadang kita selalu berprasangka, ‘Apakah ini tentang aku?’, padahal dunia itu luas. Tidak melulu tentang ‘kita’. Adalah hak orang ketika ia ingin mengatakan sesuatu hal dengan ‘caranya’ . Bisa jadi, yang ia maksud sebenarnya adalah dirinya sendiri bukan? Sudah berapa banyak (aku) berkenalan dengan orang yang menulis untuk ‘memperingatkan dirinya sendiri’.”

Tersenyumlah mak, mulut dan jari dunia ini memang kejam. Tapi hati ini, sungguh masih memiliki obat. Yaitu dengan selalu berprasangka baik. Tidak mudah tentu. Tapi kita dapat berusaha.

Tertarik dengan ramuan anti baper? Let me know if it success!

Komentar disini yuk
13 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A