6 Hal yang perlu Emak tau sebelum ‘Belajar Parenting’ 

6 Hal yang perlu Emak tau sebelum ‘Belajar Parenting’ 

Parenting. Ya, ilmu yang mendadak penting dikala berstatus Ibu ini tiba-tiba begitu banyak diminati. Hal ini karena kita tak pernah sekalipun belajar ilmu parenting saat dibangku sekolah. Aneh mengingat ‘ternyata’ ilmu parenting begitu dibutuhkan karena status Ibu maupun Ayah yang akan melekat saat kita memiliki anak. 

Ayah? Jadi, parenting bukan tentang menjadi Ibu yang baik saja?

Ya, tentu saja bukan. Kok bisa bikin anak berdua_ dan yang harus mengerti ilmu parenting cuma Ibu? Gak adil dong begitu! *saya bukan penganut paham gender juga bukan penganut paham aliran keras parenting, catat. 

Jadi, ilmu parenting adalah ilmu yang ‘memang wajib’ diketahui oleh para emak-emak maupun bapak-bapak. Masalahnya? Masalahnya mengetahui itu ternyata tidak segampang mempraktikkannya pemirsa.. 😅

Kok bisa?

Ya, karena keadaan setiap Ibu itu unik. 

Ada Ibu yang memiliki passion memasak kemudian menjual hasil masakannya yang berefek jika kebanjiran orderan maka ketika sang anak rewel ‘terpaksa’ disuapi ‘youtube’. Teori Parenting mengatakan? Tidak boleh! Sementara? Sang Ibu kehidupan ekonominya terbilang pas-pasan dan tidak mungkin memiliki ART. 

Ada Ibu yang dalam keterpaksaan kondisi mengharuskannya bekerja diluar lalu selama setengah hari tidak bertemu dengan buah hatinya. Siapa yang mengurus? Mungkin Mertua, orang tuanya, hingga ART. Salahkah ketika kita mendapati sang pengasuh tidak sepengertian dengan kita? Sementara teori parenting mengatakan.. Bla bla bla.. 

Ada Ibu yang baru saja melahirkan kemudian karena kondisi psikologis yang belum matang serta keterkejutan dengan suasana baru membuatnya terkena babyblues. Kemudian baru saja satu tahun umur anaknya, dia hamil lagi dan melahirkan dengan kondisi psikologis baby blues yang belum sepenuhnya sembuh. Untuk membahagiakan dirinya saja ibu ini sulit. Bagaimana dia bisa mengaplikasikan teori parenting yang berkata….

Ahh.. Sudahlah.. 

Belum lagi pada zaman sekarang para orang tua terkesan gampang baper karena aktif dimedia sosial. Ya, media sosial memang terkadang membuat kita merasa minder ketika.. 

Melihat sang Ibu yang begitu perfeksionis dan anaknya sudah bisa bla bla..

Melihat anak artis dengan sejuta fasilitas dan baby sister yang selalu ada serta mama yang terkesan awet muda dengan video mesra bertema ‘Begini lohh.. Keluarga dan Mama dan Hebat itu..’ 

Sementara kita? 😢

Kenyataannya, mempraktikkan teori parenting sangat luar biasa sulit. Ada beberapa hal yang perlu ’emak tau’ sebelum membaca berbagai teori parenting agar dapat memahami maksud dari teori dengan pemahaman yang luas. Hal apa saja itu? Yuk, kita simak.. 

1. Waraskan diri sendiri sebelum belajar

Sebanyak apapun membaca teori parenting jika kondisi psikologis sang Ibu bermasalah maka percuma. Setuju? 

Ibu lelah pikiran, jarang berlibur, jarang me time, jarang bersosialisasi, kemudian ingin membaca teori parenting? Jangan! Tambah stress nanti.. 😂

Kewarasan Ibu bagaikan sebuah charge dalam aktivitasnya dirumah. Jadi, jangan pernah biarkan kondisi Ibu tidak waras ya. 

Bacalah teori parenting dikala otak sudah dapat menerima dengan baik. Jangan baca teori ketika anak disamping nangis ya. Tambah stress nanti.. 😅

2. Bukan hanya banyak membaca tapi LAKUKAN! 

Ini adalah kesalahan yang paling sering aku lakukan. Aku lebih sering membaca dibanding melakukan. Dan anehnya semakin banyak aku membaca malah semakin sedikit praktik yang aku lakukan. 

Bagiku mengetahui itu mudah. Melakukan luar biasa sulitnya. Menulis itu mudah, praktiknya? Luar biasa melelahkan.. 😥

Bagi seorang Ibu Introvert sepertiku membaca adalah sebuah ruang kebahagiaan namun tanpa sadar bahwa ‘ladang amal’ sedang bertebaran dirumah sendiri. 😅

Buat kamu yang sedang belajar parenting, ingatlah, lakukan! Bukan hanya pelajari! Membaca tentu boleh, tapi jangan sampai buku mengalihkan perhatian kita pada anak kita yang jauh membutuhkan perhatian kita. 

3. Jangan terlewat Baper ketika membaca Teori tak seirama

Harus diakui bahwa beberapa teori parenting itu terkesan kejam. Kejam? 

Ya, kejam. Kejam sama si pembaca kalau tidak sesuai. 

“Loh.. Ini ga boleh ternyata.. Aku sudah begini padahal sama anakku, gimana ya.. Gimana nanti kalau..bla bla..” 

Anehnya, jika tulisan parenting tersebut bersumber dari sosial media dan dikomentari dengan komentar seperti diatas akan ada saja Ibu-ibu yang sok perfeksionis dan menyalahkan. Ya, memang hal tersebut tidak salah. Makanya saran selanjutnya adalah jangan baper. 😂

Jika kita sudah berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi Ibu yang baik namun kenyataannya ternyata kita ‘baru tau’ kalau itu ‘salah’ maka jawabannya adalah ‘Memaafkan diri sendiri dan belajar lebih baik’. Jangan merenungi kesalahan dan baper berkepanjangan. 

4. Ambil teori yang baik dan aplikable, pahami setiap Mama punya Gaya Parenting tersendiri

Harus diakui bahwa tidak semua teori parenting ‘bersahabat’ dengan keadaan kita. 

Kita tidak bisa menyamakan keadaan mereka yang memiliki baby sister dan ART dengan diri kita. 

Kita tidak bisa menyamakan keadaan mereka yang Stay At Home Mom dan Working Mom

Kita tidak bisa menyamakan mereka yang memiliki passion berbeda dengan kita. 

We have our own style.. Mom..! 

Jadi, tidak usah melirik anak artis, anak orang kaya, anak yang ‘katanya harus homeschooling’, anak yang harus begini dan begitu supaya pintar.. 

Tidak usah melirik tulisan parenting gaya mereka dan minder dengan passion kita yang berbeda. Sekali lagi.. 

We have our own style.. Mom..! 

5. Setiap anak punya metode Parenting yang berbeda

Memiliki mama yang merupakan seorang guru TK membuatku sedikit belajar untuk tidak terlalu terpaku pada buku dan artikel parenting. 

Karena sesungguhnya dalam realitanya mendidik anak kecil itu sungguh perlu memiliki banyak ‘gaya’. Ada beberapa anak yang terlahir sensitif sehingga tidak bisa mendengar nada tinggi hingga kata ‘jangan’, dia akan menangis dan perasaan lukanya membekas. Ada pula, anak yang ketika diramahi maka akan semakin menjadi-jadi gaya berkuasanya. 

Ada beberapa anak yang masa Tantrumnya tidak pernah usai kecuali ketika sang Ibu ‘Tegas’ dan mengenalkan aturan. Ada pula anak yang sedari kecil sudah memiliki perasaan halus sehingga masa tantrumnya dapat teratasi hanya dengan menanamkan empati. 

Ya, hanya kita yang tau Metode Parenting yang benar untuk anak kita. 

6. Sebaik apapun Teori, Sabar adalah segalanya

“Ya sabar laah, namanya juga anak-anak” 

“Sabar laah, kamu dulu juga begitu” 

“Sabar dulu, nanti juga dia bisa” 

“Jangan marah begitu, ya sabar lah” 

Sabar.. Sabar… 

Ya, kalau di alibaba, tokopedia, olx, lazada, shoope, blibli, bla bla ada jualan stok sabar aku bakal ikut beli deh walau ga pake free ongkir.. 😂

Kenyataannya sabar itu sulit pemirsa.. *apalagi kalau musim PMS melanda.. Ops.. 😬

Akhir kata, sepintar apapun anda_Sudah mendalami ilmu psikologi setinggi apapun anda.. Namun, kadar kesabaran anda masih dibawah emak-emak yang lulusan SD saja, maka jangan bangga dulu.. 😂 *mukul kepala sendiri

Sekali lagi aku nanya serius ya.. Ada emak-emak yang jualan stok sabar? Aku mau beli.. 😬

Sekian artikel dari saya, semoga bermanfaat.. 😊

Sumber Gambar 

Komentar disini yuk
8 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A