Browsed by
Month: November 2022

Hiatus Ngeblog, Terus Ngapain?

Hiatus Ngeblog, Terus Ngapain?

“Blogmu 2022 ini kenapa jarang update Win?”

“Aku kayaknya mau berhenti ngeblog dulu deh.” Jawabku asal saat itu

Dan itu benar. Aku memang berhenti ngeblog karena sesuatu hal. Akhir tahun kemarin jika bersentuhan dengan media tulis. Entah kenapa keinginan hati hanyalah untuk mencurahkan beberapa hal yang tak kunjung usai.  Sampai aku berpikir, ya sudahlah untuk apa juga terus ditulis atau dijelaskan. Toh, orang tak akan paham aku. Orang juga tak akan mengerti jalan pikiranku. Orang hanya paham apa akar jeleknya tanpa paham mengapa hal demikian muncul.

Saat itu, otakku hanya berpikir bahwa berhenti menulis dan mengalihkan kegiatan dalam setahun penuh mungkin akan membuatku membaik.

Kuharap begitu.

Ketika Media Untuk Healing Beralih Tempat

Kuputuskan untuk lebih menghargai posisiku yang sekarang. Aku sudah lama menempati posisi ini sebenarnya. Tapi tak banyak yang tau kalau direktur perusahaan ini dalam hitam diatas putih adalah atas namaku sendiri. Memang ini adalah usaha suami, usaha IT yang sudah lama ia bangun dan berpindah badan hukum menjadi PT sejak aku melahirkan Humaira. Karena beberapa hal, CV kami tak lagi kami kelola. Lebih tepatnya kami pindahtangankan. Karena, yah begitulah.

Aku memutuskan untuk menjadi direktur yang tak sekedar hitam diatas putih saja. Aku putuskan untuk benar-benar masuk ke dalamnya. Humaira, anakku yang masih berusia 3 tahun saat itu.. Aku masukkan di daycare hingga jam 4 sore. Jadi, aku bisa lebih fokus untuk belajar mengelola perusahaan ini. Meski aku tak paham tentang IT. Tapi basic knowledgeku adalah keuangan dan ekonomi. Aku putuskan untuk handle keuangan perusahaan. Hal sensitif yang dulu memicu konflik antar anu anu. Aku putuskan untuk berdaya disini. Dimulai dari membuka rekening perusahaan atas nama PT kami. Mengatur ulang laporan dan buku besar. Hingga mengalihkan beberapa dana dingin pada instrumen lain agar lebih berdaya.

Yup, aku sudah menuliskannya bukan? Aku belajar investasi. Mulai dari reksadana Pasar Uang, hingga perlahan memulai melek kembali ke dunia saham. Mulai menyibukkan diri membaca-baca isue ekonomi. Menghabiskan pagi hari dengan menonton beberapa konten tentang ekonomi dan investasi.

Selama hampir setahun dunia menulisku teralihkan. Pada laporan perusahaan, administrasi, ekonomi dan investasi. Aku mulai meninggalkan dan melalukan muted pada beberapa grup blogger. Hingga aku juga dikeluarkan dari beberapa komunitas. Aku juga tak pernah mengisi form job untuk blogger dan influencer dalam beberapa bulan. Tak membalas email dan WA tawaran apapun. I’m totally quit.

Ternyata Media Menulis itu Teralihkan pada Topik yang lain

Setiap seminggu sekali, aku rutin mengajak anakku untuk ke perpustakaan daerah. Disana, biasanya aku menyewa 4 buku untuk kami baca di rumah. Aku tak pernah meminjam buku bertema ekonomi, parenting atau apapun untuk diriku sendiri. Sebaliknya, aku malah ikut meminjam buku anak-anak untuk kartu peminjamku sendiri.

Aku mulai menyadari bahwa buku cerita anak-anak adalah bacaan ringan yang penuh makna. Yang bahkan, tidaklah kekanakan untuk orang dewasa sepertiku mencoba membacanya hingga berulang-ulang. Kusadari, mengarang buku anak-anak itu adalah kegiatan yang cukup menarik. Bahwa buku anak adalah salah satu pondasi dalam kehidupan anak. Dan aku memperhatikan setiap gaya penulis buku anak-anak itu… unik.

Iseng, setiap malam aku mencoba menulis cerita anak-anak. Kutulis dan kubacakan sendiri untuk anak-anakku. Mungkin, Humaira masih tidak memahaminya. Tapi Pica begitu mudahnya mencerna makna dari cerita-cerita yang aku tulis. Entah kapan terealisasi.. Aku ingin sekali kelak Pica bisa menjadi ilustrator untuk buku anak karanganku sendiri.

Banyak Hal yang Mengobatiku untuk Meninggalkan Dunia Blog, Tapi..

Tapi aku merasa sendirian ketika suatu hari aku mengikuti perkumpulan bersama teman-teman bloggerku. Tak lagi ada topik seru untuk didiskusikan. Tak lagi ada pertanyaan, “Kamu dapet job ini enggak?”

Ah, aku saja tak mendaftar. Aku saja tak tau itu apa. 

Ada pengetahuan dan rutinitas baru yang mengisi kehidupanku. Tapi dunia sosialku yang dulu terasa hilang. Dunia bersama teman-teman blogger itu seakan kubuang begitu saja. Percayalah, ada rasa rindu yang tak bisa dideskripsikan disitu. Tentang bagaimana rasanya mendapatkan job endorse free produk tanpa fee. Atau fee kecil dengan banyak tuntutan. Atau job dadakan dengan fee yang sangat lumayan. Rasanya kok rindu mengeluhkan dan mengobrolkan hal demikian bersama teman-temanku. Belum lagi melihat beberapa temanku menang lomba. Ehm sebenarnya aku ingin kok mengucapkan selamat dengan sangat excited dan tulus. Tapi mirisnya aku bahkan malas untuk sekedar membaca tulisannya. Demikianlah. Aku sadar aku ingin meninggalkan dunia blog karena ingin mengobati trauma. Tapi disisi lain, aku rindu uang-uang receh itu. Aku rindu mendapatkan kejutan. Rindu dengan job dan sesekali menang lomba receh.

Akhirnya Mencoba Menulis lagi

Sore itu ada whatsapp dengan nomor yang tak kusimpan masuk. Dan bertanya apa aku bersedia ikut dalam job blogger? Awalnya aku tentu ingin menolak. Tapi setelah tau itu tentang apa maka aku tertarik masuk. 

Aku sadar ada hal yang sangat aku senangi di dunia blogger ini. Yaitu saat anakku bisa mendapatkan keterampilan baru dengan free. Saat aku mendapatkan uang dengan tulisan recehku. Dan saat aku bebas membeli apapun dengan uangku sendiri tanpa meminta pada suamiku.

Meski aku adalah direktur di kantor ini. Aku pula yang mengelola keuangan dan mentransfer gajih pegawai puluhan juta setiap awal bulan. Tapi percayalah aku tak berani mengambil sepeser pun uang dari perusahaan untuk keperluan pribadiku. Bagiku, biaya penitipan humaira yang sudah dihandle diluar dari uang bulanan sudah lebih dari cukup. Terserah orang diluar sana ingin berkata apa tapi aku punya bukti atas itu. 🙂

Pada akhirnya aku mulai percaya pada perkataan salah seorang teman di sosial mediaku. Bahwa seorang perempuan perlu banget memiliki skill untuk mandiri finansial. Tanpa meminta apapun dan berharap apapun pada orang lain. Termasuk itu pada orang yang paling disayang dan disupport selama ini. Kita tak tau perasaan orang lain. Kita tak bisa mengontrol hal itu. Yang bisa kita kontrol, percayai dan berdayakan adalah diri sendiri.

Pengalaman Investasi Pada Reksadana Pasar Uang

Pengalaman Investasi Pada Reksadana Pasar Uang

“Dari pada duit yang ada nganggur, lebih baik diinvestasikan. Coba cari-cari informasi berapa imbal hasil deposito per tahun di bank syariah sekarang” Suamiku berkomunikasi padaku beberapa bulan yang lalu.

Aku pun iseng mendatangi bank syariah yang kebetulan dekat dengan rumahku. Customer service menerangkan padaku tentang deposito syariah berikut dengan akadnya. Ia juga menawarkan produk investasi berupa emas, selain itu ia juga menjelaskan syarat-syaratnya.

Aku manggut-manggut mendengarkan. Ada beberapa point saat itu yang aku tangkap. Pertama, imbal hasilnya rendah menurutku. Kedua, jika menarik uangnya maka akan terkena biaya. Entah kenapa, aku tidak tertarik mencoba.

Karena, uang yang kami investasikan diharapkan bisa memiliki likuiditas yang tinggi. Ya, kami masih menjaga aliran cashflow yang cukup lancar untuk perusahaan ini.

Berkenalan Reksadana Pasar Uang melalui Channel YouTube Felicia Putri Tjiasaka

Sebenarnya, beberapa tahun lalu aku sudah mengenal reksadana pasar uang. Akan tetapi, karena saat itu aku hanya memegang uang bulanan dan tak ada uang dingin maka aku rasanya tak mau untuk memasukkan uangku pada reksadana. Bagiku, dana darurat cukup dimasukkan dalam tabungan karena perlu tingkat likuiditas yang tinggi. I mean, bisa diambil kapan saja jika diperlukan.

Saat itu aku hanya sibuk ngeblog dengan uang apa adanya. Aku sudah sering melihat beberapa youtuber dan influencer yang mengkampanyekan reksadana. Tapi hatiku belum terpanggil untuk memulai investasi. Hanya karena aku punya trust issue yang lumayan tinggi dan aku merasa uang yang kumiliki begitu berharga dan nyaman di tabungan. Tak rela rasanya berinvestasi jika mengingat nasib saham kami dahulu. Yup, sebelum kenal dengan reksadana.. Kami malah sudah kenal dengan saham lewat kampanye idx dahulu. Investasi kami dimulai pada instrumen highrisk dengan modal pengetahuan fundamental dan teknikal yang tipis-tipis. Dan berujung rugi ketika dibiarkan mengendap selama 5 tahun. Untungnya, saat itu kami memakai uang dingin.

Sampai akhirnya, ada channel youtube yang begitu mempengaruhiku untuk segera berinvestasi pada reksadana. Channel dari Felicia Putri Tjiasaka dengan playlist #ReksadanaSeries membuatku mulai melek pada dunia reksadana. Aku menonton semua tayangan reksadana series dan memutuskan mengklaim bahwa diriku adalah investor konservatif yang belum siap dengan risiko dan perlu memulihkan trauma (ciee). Maka, aku putuskan berinvestasi pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

FYI, Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari investor untuk selanjutnya diinvestasikan kembali dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi. Jenis reksadana ini terbagi lagi. Yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, hingga reksadana saham, reksadana campuran dan reksadana indeks. Untuk reksadana dengan tingat risiko paling rendah ada pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Tapi, sesuai prinsip Investasi, Low Risk-Low Return High Risk-High Return. Maka, jika kamu memilih berinvestasi pada investasi yang rendah risikonya maka imbal hasilnya juga rendah. Lalu, apa tolak ukur kita dalam memilih investasi?

“Investasilah pada hal yang cocok pada kamu dan benar-benar kamu ketahui. Dan start small”

Felicia PT

Menurutku, dari semua influencer financial dan youtuber lainnya. #ReksadanaSeries ala Felicia Putri ini yang paling lengkap penjelasannya. Mulai diperkenalkan pada reksadana, jenis reksadana, risiko pada reksadana hingga memilih manager investasi. Ya ampun aku jadi keterusan nonton semua kontennya. 

Dimana Membeli Reksadana Pasar Uang?

Dulu, sebenarnya awal nikah pun sudah tau kok dengan reksadana. Tapii, beli reksadana zaman dulu  itu tidak secanggih sekarang. Dulu, kudu ngurus ini itu ke bank dll. Sekarang, tinggal install aplikasi doang. Dan bayarnya tinggal ngandelin jempol doang. Sambil rebahan pun bisa banget investasi.

Zaman sekarang, setidaknya ada 3 aplikasi yang cukup terkenal untuk investasi reksadana. Pertama, Ajaib. Dulu, Ajaib ini adalah aplikasi untuk investasi reksadana saja. Sekarang sudah merambah ke saham. Yang Kedua adalah Bareksa. Jujur aku kenal Bareksa cuma dari konten Ci Feli. Aku tuh taunya justru sama yang ketiga aja yaitu Bibit. Karena banyak Influencer dan Youtuber yang mempromosikannya.

Aku awalnya menginstall bibit pada handphone. Mulai mendaftar berbekal memasukkan data KTP, NPWP hingga rekening tabungan. Lalu, Tak cukup puas dengan fiturnya. Aku juga coba install bareksa. Which better? Sebenarnya, keduanya sama saja. Hanya saja kalau pada bibit kita bisa kelompokkan investasi berdasarkan tujuan. Kalau di bareksa, portofolio yang muncul terlihat langsung dari nama manager investasi reksadananya.

Tampilan Portofolio pada Aplikasi Bibit
Tampilan Portofolio pada Bareksa

Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka investasi di Bareksa. Karena terlihat langsung berapa persentasi keuntungan dari manager investasinya. Melihat yang demikian akan lebih memudahkanku dalam membeli lagi produk reksadana yang terlihat lebih bagus kinerjanya. 

Yah itu menurut aku saja sih. Aku lebih sreg di Bareksa. Tapi, teman-temanku yang lain lebih suka di Bibit karena merasa nyaman mengelompokkan pada tujuan keuangannya. Tidak tercampur-campur sehingga bisa lebih fokus pada tujuan keuangan.

Kalian sudah coba yang mana?

Apakah Reksadana Pasar Uang ini Riba?

Kurasa setiap perputaran uang zaman sekarang sangat sulit untuk tidak bersentuhan dengan riba. Sebutlah contohnya sejak aku membuka rekening untuk perusahaan kami. Sulit untuk bertransaksi dengan bank syariah yang aku pakai secara pribadi. Maka, aku pun juga membuka rekening pribadi dan perusahaan pada bank konvensional. Oh ya, aku juga punya rekening RDN di bank konvensional lain. Hayoloh, kenapa sulit sekali untuk terbebas dari riba saat kita manusia ingin berusaha plus berinovasi?

Aku punya keyakinan, bahwa segala bentuk harta yang kita miliki itu perlu dibersihkan diluar dari kewajiban zakat. Thats why, kita umat islam itu selalu disuruh untuk perbanyak sedekah. Karena dalam setiap harta kita mungkin saja kita termakan hal yang riba. Nah, itu keyakinanku.

Kembali ke reksadana pasar uang, apakah ini riba?

FYI, reksadana pasar uang ada yang syariah kok. Dan sudah dikeluarkan fatwanya oleh MUI dengan No.20/DSN-MUI/IV/2001. Lalu, untuk mengetahui apa saja komposisi dari reksadana pasar uang yang ingin kita beli maka kita bisa membuka informasi pada reksadana tersebut.

Berikut ini adalah salah satu komposisi pada reksadana pasar uang syariah yang aku miliki:

Nah, pada komposisi reksadana pasar uang ini, kita bisa search di google salah satunya dan klik laman dari ksei. Maka kita akan menemukan Sukuk apa yang memiliki nama Sukuk SIEXCL01DCN1. Dan inilah Security namenya:

Nah, kalian juga bisa cek satu per satu lainnya dari komposisi reksadana pasar uang syariah  yang ingin kalian beli. Bisa dilihat untuk namanya saja adalah Sukuk dan TD. Yang mana sukuk merupakan Obligasi Syariah yang memiliki imbal hasil bersifat tetap sedangkan TD adalah Deposito Syariah. Jadi, dari membaca penjelasanku tentu akhirnya kalian bisa paham bahwa RDPU Syariah ini terdiri dari komposisi Obligasi dan Deposito yang bersifat syariah.

Cara Memilih Manager Investasi Reksadana Pasar Uang

“Banyak juga ya Manager Investasi RDPU ini. Pilih yang mana ya?”

Kalau berdasarkan konten Ci Feli yang aku tonton, memilih produk RDPU bukan dilihat dari berapa imbal hasilnya saja. Tapi, lihatlah berdasarkan profil Manager reksadananya. Apakah profil dari manager investasinya tergolong baik dan tak pernah trading saham-saham gorengan? Selain itu kita juga bisa melihat dari Berapa dana kelolaan atau Asset Under Management AUM yang ia kelola?  Biasanya aku juga cek di laman indopremier. Pilihlah yang memiliki AUM yang berada diposisi top 20. Untuk beginner sepertiku, memilih manager investasi yang diposisi Top 10 saja sih supaya lebih aman.

Berapa Keuntungan yang Didapatkan?

“Berapa sih keuntungan investasi di reksadana pasar uang? Apa iya lebih tinggi dari pada Deposito?”

Nah, berikut aku tampilkan contoh dari simulasi keuntungan reksadana pasar uang syariah dari Sucor Invest management atau produk Sucor Invest Sharia Money Market Fund:

Dapat dilihat bahwa imbal hasilnya dalam setahun sebanyak 4,09%. Ini lebih tinggi dibandingkan bunga pada deposito. Jika dalam 3 tahun saja kita memasukkan uang disini maka jumlah keuntungan yang kita dapatkan adalah sebanyak 16,63%. Bayangkan jika kita sedang menabung untuk biaya pendidikan anak 10 tahun lagi dimasa depan? Maka imbal hasil yang kita dapatkan adalah sebanyak 50%an. Tapi, perhitungan ini akurat jika kita menaruh uang secara lumpsum ya. Jika kita menjadikan RDPU jadi tabungan rutin maka bisa saja persentasinya berbeda.

Apakah Semua Uangku Harus Ditaroh di Reksadana Pasar Uang

“Wah Asik deh, kalau begitu semua uangku cukup ditaroh di RDPU aja win!”

What? All In?

Well, satu hal lagi yang perlu kalian tau adalah mencairkan RDPU tidak seinstan mengambil uang lewat ATM. Atau membayar belanjaan via QRIS dan otorisasi belanja online lainnya. Mencairkan RDPU butuh waktu setidaknya 3 hari. Paling lama, pernah loh sampai 5 hari.

Itulah kenapa aku hanya menaroh 50% dari dana darurat di RDPU. Sisanya aku masih mengandalkan tabungan untuk menyimpan dana darurat. 

Jika kita menaruh semua uang pada RDPU kemudian ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi maka kita tak bisa sedia cash dengan instan. Oleh karena itu, aku sarankan untuk tetap menyimpan sebagian dana darurat pada tabungan. 

Nabung Rutin Reksadana Pasar Uang Yay or Nay?

Kalau menurut channel Ci Feli, nabung rutin reksadana pasar uang akan membuat persentasi keuntungan terlihat lebih kecil. Karena harga RDPU hari ini dan besok akan selalu berbeda dan akan selalu lebih tinggi harganya dihari esok. Karena itu, jika kita sudah punya rencana investasi yang matang akan lebih baik jika lumsum atau beli sekaligus bukan dijadikan nabung rutin.

Aku sendiri sih, punya investasi dana pendidikan khusus di aplikasi bibit. Dan untuk investasinya aku jadikan nabung rutin di reksadana pasar uang syariah. Memang sebenarnya tabunganku sifatnya jangka panjang. Tapi tabungan ini adalah sarana Pica untuk belajar investasi. Makanya aku mengalokasikannya pada reksadana pasar uang saja yang lebih low risk. Aku akan merasa kasian kalau melihat Pica sedih melihat tabungan investasinya menurun karena ditaroh di reksadana saham.

So, menurutku soal nabung rutin reksadana pasar uang sih yes yes saja. Tergantung pada apa tujuan keuangan dan profil risiko kita.

Kalau kalian bagaimana nih? Sudah coba investasi pada RDPU? Sharing denganku yuk!

Inner Strength: Pondasi Anak dalam Menggapai Masa Depannya

Inner Strength: Pondasi Anak dalam Menggapai Masa Depannya

Siang itu, aku menunggu Pica keluar sekolah bersama ibu-ibu yang lain. Ramai semua bercerita tentang cara anaknya belajar malam tadi. Maklum, hari itu adalah ulangan harian matematika. Yang mana, bagi sebagian ibu-ibu sepertiku mengajari anak untuk bisa mendapat nilai baik tanpa marah-marah saja rasanya sudah Alhamdulillah. Apalagi kalau lelah itu terbalas dengan senyuman anak sepulang sekolah dan berkata ulangannya berjalan lancar. 

“Bagaimana ulangannya tadi?” Tanyaku pada Pica

“Mmm.. Bisa aja sih Ma..” Jawab Pica

“Soal-soal yang mama bikin malam tadi ada gak keluar?”

“Ada. Tapi ada juga yang gak ada..”

“Yang gak ada gimana? Bisa gak jawabnya..?”

“Agak bingung sih aku Ma.”

Seminggu pun berlalu. Dan aku baru mendapatkan kabar kalau anakku termasuk dalam salah satu yang remedial ulangan harian matematika. Hmm.. Sedih sih pastinya. Karena aku sudah sangat berusaha mengajarinya. Hiks. 

Percaya Makna Inner Strength: Cause Every Child Is Special

Kalau ditanya sebenarnya Pica mirip siapa. Sepertinya Pica lebih mirip aku sih. Diantara ketiga saudaraku sepertinya aku yang paling payah matematika. Aku juga tak punya bakat menghitung-hitung rumus kimia. Makanya, dulu aku masuk jurusan IPS karena lebih suka membaca sejarah dan perilaku manusia lewat belajar sosiologi. Aku lebih suka membaca komik, menulis dan menggambar. Satu hal yang menjadi persamaan antara aku dan saudaraku hanyalah.. Kami sama-sama suka menonton film. 

Jujur, aku sempat kecewa dengan diriku sendiri karena terasa paling payah dalam keluargaku. Saat yang lain mengikuti olimpiade IPA dan Matematika bahkan menang saat itu. Aku bahkan tak bisa menang dalam lomba Bahasa Inggris. Saat yang lain bisa masuk jurusan kedokteran pada SBMPTN, aku hanya bisa lulus pada Kampus Negeri biasa dengan jurusan tak terkenal. 

Kok rasanya sedih sekali anakku jadi mirip denganku. Kenapa tidak mirip Ayahnya saja. Setidaknya, jika mirip ayahnya dia akan lebih diakui dan lebih sukses di masa depan. 

Diakui.. Sukses.. 

Sering aku masuk ke kamar Pica untuk sekedar iseng bertanya apa yang ia kerjakan. Aku juga sering bertanya, apakah di sekolah pernah ada yang membully atau merendahkannya. Alhamdulillah, Pica bilang tidak ada. 

“Teman-teman Pica bilang gambaran Pica bagus.” Pica memulai pembicaraan

“Iya, gambaran Pica memang bagus.” Sahutku

“Ada loh yang minta supaya Pica bikinkan komik.”

“Oh ya? Terus gimana?”

“Gak Pica bikinin. Takut temen Pica kecewa sama hasilnya. Karena Pica tuh kalau menggambar nunggu moodnya dulu membaik.”

Hmm.. Sampai hal demikian pun kita mirip nak.. 🤭

Aku pun mencoba bercerita berdua saja dengan Pica. Bercerita dari hati ke hati. Menceritakan sepotong-sepotong cerita masa laluku dan teman-temanku hingga masa sekarang. Harapannya, Pica menemukan arti inner strength miliknya sendiri. 

“Jadi temen mama yang dulu suka nulis itu malah jadi Pegawai Bank?” Pica bertanya

“Iya. Karena lingkungannya menuntut demikian. Dia jadi tidak percaya diri dengan karya-karyanya. Akhirnya semua karyanya hanya jadi pajangan di kamar. Uang dan status sosial kadang kala menjadi pembunuh nomor satu potensi diri.”

“Jadi, kita harus bagaimana dulu Ma? Memilih uang dulu atau mengasah potensi dulu? 

“Tergantung, ada beberapa orang yang pilihan hidupnya memang sulit. Tak ada yang support secara ekonomi. Maka ia memilih menghasilkan uang dulu diatas segalanya. Ada pula, yang secara ekonomi sudah disupport. Contohnya, adalah anak yang masih sekolah seperti Pica. Pica punya banyak kesempatan untuk bisa mengembangkan inner strength sendiri.”

Inner strength adalah kekuatan positif yang ada dalam diri setiap orang. Apabila diasah dan dilatih dengan baik, inner strength mampu menciptakan generasi yang kuat dan tangguh. 

Aku termasuk yang sangat percaya bahwa setiap anak terlahir dengan beragam potensi dalam dirinya. Belajar dari kehidupanku dan teman-temanku dulu maka aku melihat tak melulu anak yang pintar secara akademik memiliki inner strength yang kuat. Semuanya tergantung dari bagaimana manusia bisa memiliki kekuatan dan pola pikir yang positif pada potensi yang ada pada diri. 

Sebutlah namanya Agam. Dulu, dia selalu langganan remedial matematika sepertiku. Kadang dia membolos. Akan tetapi dia begitu ramah dan murah senyum. Suka menolong anak yang tak bisa berolahraga sepertiku. Berani, percaya diri, serta tangguh. Ia tak terlalu peduli pada pelajaran yang tak bisa ia maksimalkan nilainya. Akan tetapi, ia konsisten setiap hari latihan tinju hingga bisa meraih medali pada Olimpiade. 

Nasib Agam berbeda dengan Celi. Dulu, dia selalu juara kelas. Jika tak juara sekali saja. Raut wajah kecewanya tak kunjung hilang selama seminggu. Kupikir, awalnya ia adalah anak yang begitu ambisius. Terobsesi pada prestasi. Ternyata, ia tertekan oleh orang tua dan lingkungannya yang selalu menuntutnya untuk menjadi nomor 1. Saat tak bisa masuk di jurusan kedokteran, Celi terpukul sekali. Rasa minder menyelimuti dirinya, tak ada lagi keberanian untuk mencoba karena takut akan penilaian orang lain. 

Ada satu perbedaan besar yang menjadi penentu sebuah kesuksesan antara Celi dan Agam. Yaitu, Tingkat pengakuan. Celi sangat membutuhkan pengakuan dari orang sekitarnya. Sementara Agam tak membutuhkan itu. Ia ikhlas menerima apapun. 

Dari kisah demikian aku belajar bahwa masa depan yang cerah tak diukur dari bagaimana nilai akademik anak. Setiap anak itu unik dan memiliki bakatnya masing-masing. Segala bentuk kesuksesan dalam mendidik anak selalu dimulai dari akar yang sama yaitu pembangunan Inner Strength. 

Pentingnya Membangun Karakter Kuat dan Positif 

“Jadi dari situ kita belajar Pica.. Bahwa..”

“Remedial matematika itu gakpapa. Yang penting punya bakat yang selalu diasah. Iya kan Ma?”

“Bukan Pica. Kalau remedial tentu artinya Pica harus belajar lagi. Hidup itu gak sesimple punya satu skill yang diasah saja. Kalau gak pinter di bidang yang lain. Kita rentan dibodohi oleh orang loh”

“Jadi apa dong Ma kesimpulannya?”

“Perbedaan Agam dan Celi itu bukan tentang mereka punya bakat berbeda. Tapi tentang kekuatan Inner Strength yang beda. Agam memiliki karakter kuat dan positif. Sementara Celi, hidupnya bergantung pada penilaian orang lain. Agam dijemur oleh guru karena membolos, ia juga pernah dihukum karena tidak mengerjakan PR. Tapi, ia begitu hormat dengan guru. Ia menyayangi teman-teman. Ia tak perlu pengakuan dari orang lain. keberanian, kebaikan dan ketangguhan hati, hingga percaya diri adalah pembentuk Inner Strength. Dan Agam memiliki itu.”

“Itu mungkin karena dia rajin main tinju Ma. Anak laki-laki itu suka olahraga makanya mereka pada berani.”

“Itu dia Pica salah satunya. Olahraga memang membuat anak jadi punya keberanian. Tapi hal yang juga dominan dalam pembentukan itu adalah pengalaman positif.”

“Makanya Pica tuh jadi lebih suka karate tau gak sih ma dari pada belajar matematika.”

Sebenarnya, Kata-kata Pica ada benarnya. Aku melihat, Anak-anak yang rajin berolahraga dan beraktivitas diluar akan lebih terbentuk keberaniannya. Seperti halnya latihan karate yang sudah 2 bulan ini Pica jalani. Awalnya, gerakan Pica kaku sekali. Dilatih untuk menepis serangan pun ia tak bisa. Takut katanya. Akhirnya, melalui latihan-latihan dasar dan berulang-ulang berteriak.. Pica jadi punya keberanian untuk menepis bahkan berteriak. Kurasa, memasukkan Pica pada karate termasuk pilihan yang baik saat ini. Karena dengan menyeimbangkan aktivitasnya kuharap karakter positifnya akan terbentuk. 

Karena karakter positif adalah akar untuk menumbuhkan skill anak. Jika karakter positifnya saja sudah sulit tumbuh, butuh disirami pengakuan orang lain dan tak punya keberanian bahkan untuk melakukan hal yang benar-benar diinginkan.. Maka kebaikan, ketangguhan hati hingga percaya diri pun akan menipis. Dan ini akan mempengaruhi masa depan dan kebahagiaan anak kita kelak. 

Olah Raga Sepak Bola Untuk Mengembangkan Inner Strength

Saat menunggu Pica karate, aku melamun sambil menonton pertandingan sepak bola tingkat SD keponakanku. Sebenarnya pertandingannya sudah lama, tapi aku baru saja menontonnya karena baru diedit dan dikirimkan di grup whatsapp keluarga. Alhamdulillah saat itu keponakanku menang. Tak heran ia bangga sekali kesana kemari membawa bola. Begitulah anak-anak, ketika ia sudah menyukai sesuatu apalagi sudah mendapatkan kemenangan.. Rasanya dunia ini selalu menyorakinya. 

Aku jadi ingat pengalamanku bermain sepak bola sewaktu kecil dulu. Saking polosnya, aku bahkan menendang bola kegawangku sendiri. Lawan mainku bersorak kegirangan. Hahaha

Tapi, sensasi sewaktu bermain sepak bola di masa kecil itu masih ada. Saling bekerja sama menggiring bola, pentingnya komunikasi bahkan menggunakan bahasa isyarat, keyakinan dan keberanian menendang bola hingga saling menerima kemenangan dan kekalahan. Tak heran, guru olah raga kami sewaktu SD dulu senang sekali mengajari kami sepak bola. Tak peduli muridnya laki-laki atau perempuan. Ya, dulu bahkan ada loh pertandingan sepak bola perempuan saat lomba 17 Agustusan. Sekarang, rasanya aku tak pernah lagi melihatnya.

Sedih rasanya kalau sekarang aku hanya bisa melihat anak-anak ribut bermain game masing-masing lalu mengeluarkan bahasa semacam *njing *njir.. Aduh, entah karakter bagaimana yang akan terbentuk di masa depan. Padahal, bermain sepak bola begini rasanya terlihat nikmat sekali. 

Jadi teringat kata Pica bahwa anak lelaki mungkin memang cenderung kuat karakternya karena rajin berolahraga dan bermain. Itu ada benarnya. Melihat tawa keponakanku, caranya berekspresi saat bertemu dengan keluarga hingga kepercayaan dirinya. Aku jadi yakin bahwa olahraga yang membentuk nilai kerja sama tim seperti sepak bola adalah cara menyenangkan untuk membentuk Inner Strength pada anak. 

Sekolah Bola Online Biskuat Akademi 2022

Ketika asyik berselancar di sosial media, aku baru tau ternyata ada program Biskuat Academy. Pas banget program begini bisa mendukung anak yang punya skill sepak bola seperti keponakanku itu.Tak hanya skill sepak bola yang ditingkatkan tapi juga berbagai pengalaman menarik. Perjalanan Biskuat Academy ini ternyata juga sudah cukup lama. Mulai dari tahun 2019 hingga sekarang. Aduh, aku ketinggalan berita rupanya. Padahal anakku sendiri langganan beli biskuat buat bekal sekolah. 

https://www.instagram.com/p/Cjz_eOesArV/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

Oh ya, Biskuat sendiri merupakan salah satu brand unggulan Mondelez International yang memiliki purpose led brand untuk menciptakan #GenerasiTiger yaitu anak-anak yang tidak hanya berprestasi tapi juga memiliki kekuatan baik dari dalam (inner strength).

Biskuat percaya bahwa setiap anak memiliki potensi tak terbatas melebihi apa yang terlihat. Kekuatan sejati dan unik seorang anak terletak di dalam diri mereka.

So, biskuat senantiasa mendorong pencapaian prestasi anak-anak Indonesia di bidang olahraga, seperti di sepak bola melalui program Biskuat Academy. 

Aku speechless ketika tau apa saja keuntungan anak mengikuti Biskuat Academy 2022 ini. Pertama anak bisa belajar keterampilan sepak bola dari pelatih berlisensi UEFA A. Kedua, anak bisa bertemu dan belajar langsung dari pemain profesional Tim Nasional Sepak Bola Indonesia. Ketiga, Anak juga punya kesempatan untuk memenangkan Tur ke Stadion di Eropa dan ratusan hadiah lainnya. Terakhir, semua anak mendapatkan E-Sertifikat dan Sertifikat fisik yang ditandatangani oleh Kemendikbud dan Kemenpora untuk finalis. 

Menurutku, Biskuat Academy ini merupakan sebuah kesempatan bagi para orang tua untuk mendukung potensi anak di bidang non akademis. Karena, seperti ceritaku diawal tadi bahwa Inner Strength pada anak bisa terbentuk melalui berbagai pengalaman positif yang membentuk karakter positifnya. Dan salah satu cara yang menyenangkan adalah dengan sepak bola. Apalagi jika anak memang memiliki kesenangan dan skill dalam sepak bola. Kurasa ini kesempatan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. 

Yuk ah yuk. Ajak anak-anak kita ikutan Biskuat Academy. Caranya cukup simple. Pertama, beli Biskuat dengan kemasan khusus seperti dibawah ini. 

Kedua, daftar melalui whatsapp 081212225919 dan ikuti instruksi chatboat serta kirimkan foto struk. Dan kita bisa dapat hadiah langsung akses ke sekolah. Dengan sekolah bola online bersama bintang garuda anak bisa ikutan kompetisi video teknik bola di instagram dan berpotensi memenangkan tur ke stadion bola di Eropa. 

Oh iya, Pica juga punya karya untuk mendukung program Biskuat Academy ini loh. Dan ini adalah komik buatan Pica. 

Didalam komik ini, Pica bercerita bahwa ada seorang anak laki-laki yang sedih tak punya bakat apa-apa. Nilai akademiknya rendah sementara teman-temannya memiliki nilai yang tinggi. Hal yang anak itu senangi hanyalah bermain bola karena sering mendapatkan kemenangan. Sayangnya, kadang lingkungan lupa akan pencapaian itu. Olahraga sepak bola bersama teman sering dianggap sebelah mata dan dikatakan ‘hanya bermain saja’. Termasuk Mamanya juga sering memarahinya.

Akan tetapi, walaupun Mama sering marah.. Mama anak tersebut sellau perhatian dan menyayanginya. Mama selalu membuatkan bekal dan tak lupa menyelipkan biskuat kesukaan anak tersebut pada bekalnya. Di sekolah, anak laki-laki itu juga memiliki pendukung yang selalu menyemangatinya latihan. Ia adalah guru olahraga di sekolahnya. Semangat dari guru olahraga serta kasih sayang dari Mama membuat ia merasa berani, tangguh, dan percaya diri. Mamanya pun senang melihat anaknya selalu memiliki inner strange positif. Maka, Mama mendaftarkannya pada program Biskuat Academy.

Dalam komik itu Pica menjelaskan bahwa peranan guru begitu penting dalam semangat anak belajar. Maka, melalui inisiatif terbaru “Workshop Guru Olahraga” Biskuat juga ingin memberi dukungan  kepada  para pahlawan dibalik pengembangan potensi sepak bola anak yaitu guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) di tingkat Sekolah Dasar dan Menengah serta Pelatih Sekolah Sepak Bola. 

Hmmm, coba saja workshop seperti ini ada sejak aku SD dulu. Kurasa guruku pasti akan senang sekali karena beliau rajin mengajari kami sepak bola. Yup, guru olahraga ku dulu mirip seperti Coach Aji pada video inspiratif dari biskuat ini. 

Beliau, sang guru olahraga yang bilang padaku bahwa tak apa-apa punya kaki yang tak cepat berlari, kamu pasti punya kelebihan lain. Dan aku tau meski tak cepat berlari tapi tendanganku cukup baik jika dibandingkan teman-temanku yang berlari cepat. Meski, yah.. Seperti cerita diawal tadi.. Aku menendang ke gawangku sendiri. Hihi. 

Peranan seorang guru itu begitu bermakna bagi murid-muridnya. Satu kalimat positif yang terlontar olehnya akan selalu diingat oleh muridnya. Bayangkan, guru yang hanya bertemu sekian jam saja per minggu begitu dalam peranannya. Apalagi kita sebagai orang tua? 

“Jika satu pelatih saja dapat mengembangkan sekelompok anak, maka dukungan penuh dari berbagai pihak seperti guru, orang tua, dan masyarakat sekitar dapat menghasilkan perubahan maksimal dalam pengembangan olahraga sepak bola dan sekaligus mengembangkan karakter positif anak”

Yuk, peluk anak-anak kita. Bisikkan semangat positif setiap harinya. Bagi mereka mungkin itulah bekal mereka menghadapi masa depannya kelak. 

Happy Parenting. 

Artikel Ini diikutsertakan pada lomba KEB X Biskuat Academy

Manfaat Wifi Rumah Bantu Gen Alpha jadi Makin Cakap Digital

Manfaat Wifi Rumah Bantu Gen Alpha jadi Makin Cakap Digital

“Pica!! PICAAA”

Teriakanku pagi-pagi selalu membuat rumahku bagai ramai akan warna emosi. Bagaimana tidak? Pica, anak pertamaku selalu saja sulit melakukan rutinitas sesuai prosedur kedisiplinan yang sudah aku atur. Akhirnya berakhir dengan berbagai omelan tambahan yang keluar. 

“Mama kan sudah bilang, kalau pagi-pagi itu bereskan kamar dulu, siram tanaman dulu, makanin kucing. Kenapa malah diam-diam pegang HP mama pas mama di dapur.”

“Tapi, Pica kan cuma pengen whatsapp Naomi temen Pica.. Nanya hari ini sholat dhuha apa enggak.”

“Kamu alasannyaalesannya gitu. Tapi pasti ujung-ujungnya buka tiktok ya kan!”

Dan aku langsung merebut HP milikku sambil memperlihatkan padanya bahwa ia tak hanya membuka Whatsapp tapi juga kepo melihat tiktok. 

Sungguh, anak generasi sekarang. Kenapa sih pada suka sekali main tiktok? 

Sejak Ada Wifi rumah, Anak Suka Kalap

“Tuh kan main hape lagi!!”

Jam makan siang pun, sempat-sempatnya si Pica mengambil HP milikku. 

“Tapi Pica cuma mau nanya sama Syifa, kapan jemput Pica ngaji sore ini”

“Kan jemputnya sore, kenapa nanyanya jam segini. Udah jangan alasan, pasti deh kamu buka tiktok ya kan?”

Dan aku melihat riwayat aplikasi yang dibuka oleh Pica melalui wifi rumah. Benar saja, dia baru saja membuka aplikasi youtube. Langganan tontonannya adalah storytelling tentang cerita horor. Sungguh aku bingung dimana letak keseruannya. 

Dulu, sebenarnya aku sudah pernah mengeluh pada suami soal perilaku anak yang mulai suka dengan HP dan internet. Ia mulai kalap dengan aktivitasnya sejak ada Wifi di rumah. Jika aku dan suami sedang sibuk bekerja. Ia pasti diam-diam meminjam HP. Akun tiktok yang dulu atas namaku pun sekarang berubah isinya menjadi berbagai animasi yang aku tak paham isinya. 

Tak cukup hanya tiktok, youtube pun mulai diserangnya. Berawal dari suka sekali menonton story telling tentang cerita horror kemudian dia mulai suka menggambar cerita-cerita yang ia sukai. Sedihnya, aku mengamati.. Ia lebih suka memperhatikan tontonannya dibanding mencoba mengerjakan sesuatu yang ia senangi. 

Maka, sejak itu juga kami sebagai orang tua sepakat untuk membatasi aktivitas anak dengan gadgetnya. Untuk hari senin sampai jumat anak hanya boleh beraktivitas nyata. Sementara sabtu sore dan minggu anak boleh meminjam HP. Kami menyebut waktu itu adalah Gadget Time. 

Aturan Gadget Time yang Bikin Anak Kreatif

Aku sebenarnya sudah lama sekali peka dengan bakat Farisha. Sejak kecil, ia suka sekali mewarnai. Bakatnya cukup bagus sehingga ia juga memenangkan banyak perlombaan mewarna. Anaknya telaten dalam mengarsir. Lekas paham saat diajari tentang gradasi, serta lihai memadu-padankan warna. Aku tahu sejak itu juga bahwa anakku adalah tipe visual. Yang lebih suka melihat dan menonton dibanding mendengarkan bacaan. Yang lebih suka membaca komik dibanding buku pelajaran. 

Karena itu, aturan gadget time yang kami terapkan diharapkan bisa menumbuhkan kesenangan Pica lagi akan mewarnai dan menggambar. Aku pun mulai suka mengajaknya keperpustakaan untuk meminjam buku. Aku berharap ia bisa belajar dari buku anak-anak yang ia pinjam. 

“Pica lihat gak, setiap buku cerita.. Beda ilustrator maka beda pula gambarannya. Bahkan, ada loh orang yang baru melihat gambarnya saja tapi ia sudah tahu bahwa ini pasti karyanya si ini” Kataku iseng bicara. 

Sumber gambar: Buku Harian Cacing Oleh Doreen Cronin. Diilustrasi oleh: Harry Bliss

“Kok bisa gitu ma?” Tanya Pica

“Itulah namanya ciri khas dari ilustrator. Tiap gambaran karakternya.. Itu ‘dia banget’ dan bahkan orang tahu bahwa itu gambarannya dengan sekilas melihat saja”

“Gimana bisa menciptakan ciri khas demikian Ma?” Pica bertanya. 

“Sering-seringlah mengamati lingkungan di sekitarmu. Dan sering-seringlah membaca. Tulis dan gambar apapun yang ada terbersit di dalam pikiran Pica. Setiap ide itu berharga. Pica tau gak, bahkan karakter Hello Kitty dan Baby Shark itu bisa bernilai luar biasa. Jangan pernah remehkan sebuah ide dan khayalan. Setiap seni itu berharga.”

Sejak itu, Pica mulai kuberi tugas unik. Yaitu belajar membuat karakter. Dari belajar membuat karakter manusia hingga gabungan manusia dan hewan. Ia akhirnya mulai paham dengan cara membuat ekspresi pada wajah. 

Pertanyaannya, bagaimana Pica belajar menggambar? Apakah ia punya guru? 

Belajar Melalui Youtube, Akhirnya Anak Jadi Cakap Digital

Aturan gadget time hanya memperbolehkan Pica untuk meminjam HP pada hari sabtu dan minggu. Dan kami sepakat untuk mengawasi apa yang Pica lakukan. Akan lebih baik jika Pica belajar mengasah skillnya dibanding hanya menonton konten yang kurang edukatif. 

Pica pun telaten belajar menggambar karakter dari berbagai channel youtube. Meski awalnya begitu sulit untuk menggambar dengan bagus. Tapi, lama kelamaan ia mulai menyukainya. Ia pun mulai iseng membuat gambaran sederhana. Lalu, Pica mulai suka mendokumentasikan karya-karyanya. Ia mulai paham bagaimana caranya melakukan scan. Ia juga mulai paham bagaimana membuatnya pada folder komputer. 

Aku pun juga mengikutkan Pica pada Comic Class. Awalnya, niat itu hanya supaya Pica punya kelas dalam mengembangkan minatnya. Lama kelamaan, Pica jadi suka menggambar komik. Bertanya padaku tentang ide cerita. Dan bulan ini ia ingin mengikuti kelas komik lagi. 

Tantangan Di Masa Depan Anak Cakap Digital

“Aku sih ikut kelas offline aja bund. Duh, anak itu kalau sudah belajar online. Bukannya belajar fokus, dia malah ngantuk. Atau malah jadi buka aplikasi yang lain” Celetuk salah seorang orang tua murid di SD Pica. 

Aku memang mengetahui diluar sana ada kok beberapa kelas offline untuk menggambar. Tapi, entah kenapa itu terlalu sulit dilakukan untuk orang tua seperti aku yang apa-apa serba di rumah. Bekerja di rumah, mencari duit mulai rumah, serta sudah terbiasa menghibur diri di rumah menggunakan wifi rumah pula. Rasanya seakan pergi ke dunia luar itu memakan waktu yang cukup lumayan lama. 

Tapi disisi lain, perkataan beliau ada benarnya. Ketika belajar online, anak kadang jadi ‘kepo’ dengan hal-hal baru. Saat belajar menggambar anime lewat youtube saja, pasti kemudian ada beberapa playlist yang tidak diharapkan muncul. Belum lagi, anak suka sekali menginstall aplikasi game baru di handphonenya. Huft. 

Tapi, kurasa hal sedemikian hanya tinggal masalah waktu. Seberapapun sering kita mencegah anak untuk tidak menyentuh gadget, kelak dia pasti akan menyentuhnya juga. Karena bagi generasi alpha, teknologi adalah sebuah kebutuhan. Bahkan mungkin kelak ia bisa saja bekerja di rumah sepertiku hanya dengan bermodal teknologi. 

Dari situpun aku sadar bahwa teknologi dan risikonya hanya bisa dikontrol dengan cakap digital. Kebijakan dalam berinteraksi di dunia digital adalah kunci seorang anak bisa cakap digital. Memang, ada risiko bahwa anak akan tergelincir pada hal yang tidak baik di dunia digital. Tapi, itu tergantung dari bagaimana orang tua mengontrol dan mengawasi mereka. Mulai dari bagaimana ia bersosial media hingga bagaimana ia berkembang. Sebagai orang tua sudah barang tentu menginginkan hal-hal positif bagi anggota keluarganya.

Aman dan Cakap Di dunia Digital untuk Anak

Anj*r cakep banget karya lo

P

P

Aku mengernyitkan dahi membaca chat Pica dan komentarnya pada konten temannya. Ya ampun, anak zaman sekarang gak bisa ya luput dari kata sembarangan.. 😭

Perlahan, akupun mulai bertanya pada Pica.

“Kenapa sih suka banget ngomong bahasa gitu sama temen-temen?“

“Teman-teman Pica juga gitu Ma..”

“Ya masa kamu harus ikut-ikutan begitu juga. Mereka ya mereka. Kamu ya kamu. Mulai kecil kayak kamu ini yang harus dibiasakan berkomunikasi dengan baik. Kalau sudah dewasa, sudah telat.”

Pica menunduk lesu. Baginya, mungkin bahasa itu seru dan kekinian. Ah, kamu belum tau aja nak. Kalau tulisan negatif itu jejak digitalnya akan terekam selamanya. Beda dengan halnya kamu bicara. Ucapanmu mungkin hanya akan menguap sebentar saja. 

Ini benar loh. Saat aku mengikuti acara Makin Cakap Digital 2022, Bang Awan Ruang Ide juga menyampaikan hal serupa. Mungkin, anak memang merasa nyaman dengan bahasanya sekarang di sosial media. Anak bahkan bisa berkreatifitas disana. Tapi, rambu rambu bersosial media bukanlah hal yang bisa diremehkan. Karena jejak digital lebih abadi dan tak akan hilang. 

“Akan lebih baik, dibanding komentar dengan bahasa yang tak baik mending Pica bikin adalah konten yang inspiratif atau bisa membantu orang lain.. Karena komentar dengan kata-kata demikian, mungkin biasa saja bagi yang lain. Tapi mungkin sebagian lagi tidak merasa demikian” Kataku pada Pica

Karena bagiku, sosial media adalah salah satu yang bisa membangun diriku dari keterpurukan. Konten inspiratif dari orang lain, membuatku bangkit ingin bercerita dan menulis juga. Konten tentang semangat hidup, membuatku merasakan syukur tak terhingga. Tak heran jika I Wayan Adi Karnawa memberikan edukasi bahwa cakap digital adalah kunci dari kita bertumbuh di era yang sekarang. Lihatlah konten yang baik, dan buatlah karya digital yang baik itulah kunci untuk bertumbuh.

Hal ini dibenarkan oleh Irwa Rochimah Darkasi, bahwa Creativity is a Key Skill for Success. Maka, dibanding untuk membiarkan anak berkomentar dengan bahasa anehnya di konten orang lain. Akan lebih baik jika ia memanfaatkan dunia digital untuk mengasah kreativitasnya. 

Bikin Anak Makin Kreatif di Rumah bersama Wifi

Awal nikah, sebenarnya aku termasuk salah satu Ibu yang gaptek. Tak paham tentang teknologi. Hanya tau dengan BBM ria saja. Pasang status receh, upload foto makanan. 

Tak paham dengan blog, apalagi aktif di sosial media yang lain. Aku menyibukkan diri di dunia nyata dan sempat berjualan kue. Namun, semuanya terasa tak produktif. Terasa hambar. 

Keadaan justru berubah sejak aku kenal sosial media. Facebook dan instagram mendorongku terjun ke dunia blogging. Dunia blogging dan bisnis IT suami mendorong kami untuk memiliki Wifi di rumah. Dan Kepercayaan kami jatuh pada IndiHome. 

IndiHome adalah bagian dari Telkom Grup yang jangkauannya sudah luas. Bahkan, di desa tempatku tinggal sewaktu kecil dulu juga sudah ada. IndiHome juga memiliki fitur Internet Positif yang membantu kita agar dapat mengakses internet dengan aman. 

Menurutku, dunia digital sangat mendukung diri sendiri untuk menjadi manusia yang kreatif. Dan aku ingin menyalurkan mindset sendiri pada anak. Bahwa, dunia digital itu seru. Dan kita punya peluang untuk berdaya di dalamnya. 

Aku sangat bersyukur, sejak adanya wifi di rumah Pica begitu semangat mengikuti kelas komik. Ia juga mulai menjadikan kegiatan membuat komik sebagai hobi di rumah. Kadang, aku menyumbang sedikit ide pada komiknya dari beberapa drakor yang aku tonton. 

Terima kasih Internet, Terima kasih IndiHome. Tanpa kalian mungkin kami sekeluarga tak akan bisa menjadi kreatif di dunia digital. 

IBX598B146B8E64A