Browsed by
Month: February 2020

Pengalaman Menghadapi Telinga yang Berdarah

Pengalaman Menghadapi Telinga yang Berdarah

“Wah.. Kok Ada Bercak Darah di Cotton Budnya” Desis ku panik malam itu

Kurasakan gendang telingaku mulai pedih. Tak lagi ku mengambil cotton bud untuk memasukkannya lagi ke telinga. Sumpah. Jera!

Yah, padahal.. Sudah berkali-kali aku bilang sama Pica anakku sendiri.. “Jangan pernah membersihkan telinga pakai cotton bud lagi.. “

Nyatanya.. Lihatlah kelakuanku malam itu. Membersihkan telinga memakai cotton bud dengan alasan ‘gatal’, lantas menyesal sekali kemudian.. Lihatlah warna merah ini..

Mengapa Telingaku Berdarah?

Hal pertama yang melintas dipikiranku ketika melihat darah pada cotton bud itu adalah, “Apa yang sedang terjadi dengan telingaku?”

“Apakah telingaku luka?”

“Apakah ada penyakit?”

“Apakah ini keren?”

Please, yang terakhir itu enggak banget. Haha..

Maklum, aku terlalu sering berimajinasi. Bermimpi suatu saat ketika mimisan akan ada pangeran ganteng yang membawa dan menolongku. #plak

Nyatanya, si Ganteng malah tertidur nyenyak disampingku malam itu. Mau dibangunkan kok kayaknya alasannya gak keren?

Masa begini?

“Pah, telingaku berdarah.. ” Sambil memperlihatkan cotton bud. *imajinasi ON

Yah, dimana-mana.. Adegan yang pas adalah seorang putri sedang tertidur. Tau-tau pengeran bangun dan melihat putri mulutnya berdarah.. Lantas menggendong panik sang putri dan menemaninya ke ambulans.

Skip! Berkomunikasi dengan suami saat begini sama sekali tidak keren.

Dan melongolah aku malam itu. Ketika telingaku berdarah. Tiba-tiba saja telingaku mendengung. Kulit didalamnya terasa pedih.

Fix, ini pasti luka. Pikirku.

Dan konyolnya. Aku menghadapkan telingaku yang berdarah tersebut kedepan kipas angin. Berharap di pagi hari nanti mungkin lukanya akan kering. Berharap nanti dia akan berhenti mendengung. Dan itulah yang aku lakukan malam itu. Semalaman. Gelisah memikirkan. Hahhaha..

Lalu, aku melihat kearah cotton bud. Apakah ini penyebabnya? Pikirku.

Sebelum membersihkan telinga dengan cotton bud, aku mengalami gatal yang luar biasa pada telinga. Gatal sekali. Sehingga tanpa berpikir dua kali aku langsung membersihkan telinga memakai cotton bud. Padahal, aku tau. Itu salah.

Aku sudah banyak belajar dari pengalaman Farisha ketika terkena Otitis Eksterna dulu, bahwa sangat tidak baik membersihkan telinga memakai cotton bud. Tapi apa daya, rasa gatal itu menggelitik tanganku untuk melakukan itu. Dan aku menyesalinya seketika. Darah yang menempel diujung cotton bud itu jelas mengisyaratkan bahwa telingaku malah semakin parah permasalahannya. Hiks.

Mengatasi Telinga Berdarah Memakai BPJS

Esok harinya, aku langsung meminta rujukan ke Faskes 1 yaitu di dokter praktek langgananku. Ternyata, rujukan tidak dapat dibuat segampang itu sekarang.

“Takutnya ini hanya luka biasa saja mba. Bukan Otitis.. ” Kata Dokter tersebut

“Lantas kenapa telinga saya berdengung? Kenapa sedikit mengeluarkan cairan bening?”

“Mungkin bukan jenis otitis akut.. Mungkin bisa diobati dulu.. “

“Tapi saya ada riwayat alergi. Dan itu terjadi setiap cuaca dingin. Ketika anak saya berobat, Dokter THT kemarin bilang bahwa memang ada relasinya antara rhinitis alergi dan otitis. Ini berdarah dok. Dan telinga yang berdarah terus berdengung dan tak bisa mendengar.. “

Akhirnya, sang Dokter menyerah menghadapi ‘Tuan Putri nanti Cerewet’ ini. Lantas memberi rujukan dengan diagnosa sementara ‘otitis eksterna’.

Fiuh.. Begitu memelasnya  aku meminta rujukan. Karena BPJS kan bayar setiap bulan. Dan sakit kan cuma beberapa bulan sekali saja. Masa sih meminta rujukannya gagal? Kan ngenes kalau aku harus berobat ke spesialis THT tanpa BPJS? Habislah jatah makan setengah bulan. Haha.. Mamak curhat.

Singkat cerita, di dokter THT aku diperiksa oleh Dokter. Kalau pada zaman mengobati Pica dulu, dokter tanpa basa basi langsung membersihkan telinga memakai suntikan air hangat.

Nah, untuk kasus ku. Dokter memeriksa telingaku terlebih dahulu. Dan beliau berkata, “Ini ada luka mba..”

“Kira-kira kenapa ya dok?” Jawabku pura-pura polos..

“Pernah dibersihkan pakai cotton bud?”

Dan aku pun meng ‘iya’ kan..

“Nah, jangan lagi ya mba. Itu bisa bikin luka. Dan ini telinganya agak sedikit basah karena efek dikorek itu.. “

Kemudian dokter membersihkan telingaku memakai alat khusus dan kapas. Ya Ampun, sumpah enak banget habis dibersihkan itu. Telingaku langsung berangsur membaik. Tidak berdengung lagi. Tidak Gatal lagi. Lantas, aku kemudian bertanya.

“Telinga saya ini sering agak gatal dok. Apalagi kalau cuaca dingin. Saya kan punya rhinitis alergi. Nah apa ada hubungannya ya dok?”

Dokter kali ini agak pendiam. Mungkin karena dia laki-laki. Sebenarnya, aku berharap dapat dokter yang suka berbicara dan memberi nasehat. Tapi ya sudahlah. Curhatanku hanya dijawab dengan secarik resep. Dan aku pun mengucapkan terima kasih.

Jangan tanyakan resepnya ya. Takutnya, ada yang membaca blog ini lewat google lantas membeli obatnya sendiri. Ah, tidak boleh begitu. Karena beda orang, beda obat. Walaupun ceritanya mungkin terlihat sama.

Dalam kasusku, dokter memberikan obat yang pas untuk menyusui. Dokter juga memberikan obat khusus untuk mengobati alergi ku. Dan selama meminum obat, rasa gatal ditelingaku berangsur-angsur membaik. Hingga sekarang, rasa gatal itu tidak pernah datang lagi.

Dan ya satu lagi.. Berobat memakai BPJS ini Gratis.

Jangan Pernah Anggap Remeh Telinga yang Berdarah

Jika ada yang mengalami kejadian sama sepertiku, kuharap tidak ada yang cuek lantas membiarkannya saja. Apalagi dengan alasan tidak ada waktu berobat, tidak ada yang mengantar, punya bayi dsb.

Kalian tau? Aku berobat membawa Humaira. Dari antri BPJS sampai antri di THT. Dan tentu saja aku berjauhan dari para pasien.

Hanya duduk dikejauhan saja. Karena, pada siapa aku bisa menitipkan Humaira? Suamiku bekerja. Keluarga disini ya.. Ya.. Begitulah.

Aku naik kendaraan sambil menggendong Humaira sebanyak 3x bolak balik RS. Dan RS tersebut tidak dekat. Tapi demi kesembuhan, aku memang harus egois sambil terus berdoa supaya Humaira baik-baik saja.

Telinga berdarah bisa mengarah pada berbagai diagnosa seperti infeksi telinga, barotrauma, gendang telinga pecah, kanker saluran telinga dsb. Seram bukan?

Untung saja penyebab telinga berdarahku hanyalah karena kecerobohanku dalam membersihkan telinga. Mungkin karena aku terlalu bersemangat. Wkwk..

Oya, akan lebih baik jika saat telinga berdarah.. Kita langsung tahan pendarahan dengan kain penutup telinga. Hal ini dilakukan untuk mencegah darah keluar juga mencegah air dan kotoran masuk ke telinga sehingga menyebabkan infeksi.

Jadi, jangan berkelakukan konyol sepertiku yang mengeringkan telinga dengan kipas angin. Sungguh itu unfaedah sekali. Haha

Punya drama yang sama dengan telinga? Yuk sharing!





Ternyata, Sekolah Negeri Itu Gak Seram Kok!

Ternyata, Sekolah Negeri Itu Gak Seram Kok!

“Gimana sekolah negeri disana win, ceritain dong!”

Itulah perkataan temanku beberapa hari yang lalu. Ia bertanya kepadaku karena sepertinya ia sendiri sedang ‘galau’ ingin menyekolahkan anaknya dimana. Pilihannya ada 3 yaitu SD Islam, SD alam, dan SD negeri. Ia yang terkenal berkarakter perfeksionis itu mulai survei beberapa SD disini dan tak kunjung menemukan titik yang benar.

Sebenarnya, akupun juga gak mau langsung menyarankannya untuk sekolah di SD yang sama dengan Pica. Trauma pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming membuatku takut sekali berkata-kata atau bahkan ingin menyarankan sesuatu. Takutnya, itu menjadi jenis toxic positively. Jadi yaa.. Aku jelaskan dengan deskripsi seadanya saja saat dia bertanya.

Namun, bukan aku namanya kalau tidak tergelitik menulis di blog ketika banyak pertanyaan yang menyudutkan. Di dunia nyata aku hanya bisa ber hehe hehe binggung dan awkward menjelaskan. Tapi jariku sebenarnya gatal ingin menjelaskan panjang lebar mengenai pengalaman Farisha bersekolah disini.

Dan yaaa… Mari tulis tentang sekolah anak hari ini..

Kenapa Pilih Sekolah Negeri?

Banyak yang bertanya padaku, “Kenapa tidak masukkan Pica ke SDIT yang dekat dengan komplek rumahmu saja?”

Well, banyak alasan kenapa tiba-tiba aku hanya mendaftarkan anakku di SD Negeri saja. Salah satunya karena aku sudah terlalu banyak survei dan sedikit pusing. Haha..

Serius. Farisha sudah berkeliling ikut lomba mewarnai yang diadakan beberapa SDIT di daerah kami untuk promosi. Dari situ, aku sudah sedikit survei dengan kondisi sekolah serta karakter guru-guru dari sekilas pandang. Aku juga sedikit survei dengan melihat perilaku para siswa yang bersekolah disana.

Entah kenapa, dari 5 SDIT.. Hanya satu SDIT yang menarik perhatianku. Dan sayang sekali lokasinya sangat jauh dari rumah. Sangat tidak memungkinkan dengan kondisiku yang memiliki bayi untuk mengantar jemput.

Apa? Lulusan SDIT berpikiran sempit  kurang rasa toleransi?

Oh lupakan. Aku termasuk yang tidak percaya hal itu.

Memang, ada beberapa SDIT yang sedikit kurasa nyaman bahasanya. Tapi, prinsipku dalam menilai promosi sekolah itu simple.. Kalau dalam bahasanya ada yang menjatuhkan SD lain maka aku akan mencoret SD tersebut. Entah kenapa, feelingku merasa kurang nyaman untuk menyekolahkan anak disana.

Jadi, hal-hal positif yang membuatku hanya menyekolahkan anak di SD Negeri saja diantaranya adalah:

1. Pertimbangan Ekonomi

Suamiku Dosen PNS, dan belum memperoleh sertifikasi. Berapa gajihnya? 3,8 juta.

Hitung dan hitung. Diriku tidak bekerja, sementara Mama suami adalah seorang janda dan masih memiliki beberapa anak yang masih butuh biaya. Gajih suami harus dibagi dua. Sementara? Cicilan rumah kami juga ada. Dan jangan lupa anak sulungku si Pica yang ingin masuk SD kemarin memiliki seorang adik bayi.

Silahkan dihitung berapa sisa jatahku dalam satu bulan. Hihihi..

Jelas, kami tidak memiliki budget berlebih untuk menyekolahkan anak di SDIT yang biayanya hampir sama dengan jatah makan keluarga dalam setengah bulan. Memang, suamiku adalah programmer dan memiliki usaha sampingan. Tapi, keuntungan dari usaha itu sudah memiliki pos-pos pengeluaran yang lain.

Yah, jika kalian pernah membaca tulisanku tentang mengatur keuangan ala shezahome, maka tentu kalian mengerti bahwa keluarga kami tergolong sangat irit dan hati-hati dalam belanja.

Kami bahkan membagi fase ekonomi keluarga dalam 3 fase. Pertama, fase ekonomi pembangunan. Kedua, fase ekonomi investasi. Dan ketiga, fase ekonomi berdaya.

Kami memiliki banyak impian. Dan menyekolahkan anak di SD Negeri saja bukan berarti kami tidak peduli dengan investasi pendidikan. Melainkan kami berpikir realistis. Bahwa dalam fase ekonomi pembangunan dimana cicilan rumah saja belum lunas.. Akan terasa lebih waras dan sejahtera jika biaya sekolah anak tidak terlalu membebani.

2. Pertimbangan Lingkungan

Ketika kita menyekolahkan anak di SD, bukan hanya sistemnya yang kita pedulikan, tapi juga lingkungannya.

Bagaimana Gurunya? Bagaimana perkembangan perilaku dan sosial rata-rata murid disana? Lingkungan mana saja yang menyekolahkan anak disana? Termasuk kategori apa lingkungannya tersebut?

Jika kita memutuskan menyekolahkan anak di lingkungan yang isinya banyak anak-anak orang kaya, maka kita harus bersiap-siap akan kemungkinan biaya ekstra.

Biaya itu adalah biaya penerimaan sosial. Sudah memperhitungkan biaya ini? Percayalah biaya ini nyata adanya. Hahaha.

Sekolah Farisha aku pilih berdasarkan rekomendasi teman-teman yang aku percayai. Dimana aku sudah survei lingkungan disana.

FYI, Beberapa SD Negeri disini tidak semuanya bagus tentu. Ada SD Negeri yang tumbuh di lingkungan yang ‘hmm.. Begitu deh.. ‘. Sehingga sangat mengkhawatirkan jika aku menyekolahkan anak disana mungkin ia juga akan terpengaruh lingkungan. Aku pernah survei ke suatu SD dimana para muridnya berkata-kata kasar dan tidak senonoh.

Jadi, baik itu SD Negeri.. SD  Islam.. SD Alam.. Sangat penting untuk memperhatikan faktor lingkungan ini ya. Karena jika sistemnya bagus, gurunya bagus tapi lingkungannya tidak bagus maka anak akan sangat mungkin masuk ke pergaulan yang tidak bagus. Atau, anak yang terkumpul dalam lingkungan anak-anak orang kaya juga harus sangat dipikirkan. Tidak mau kan anak berakhir minder dan tidak percaya diri hanya karena ia tidak memiliki ‘sesuatu’ yang rata-rata dimiliki anak lainnya?

3. Pertimbangan Kemampuan Anak

Di tempatku, untuk masuk ke SD Negeri itu pakai tes. Dan dibeberapa SD tes masuknya tidak dalam standar dinas pendidikan.

Iya, katanya SD dilarang melakukan tes membaca untuk syarat masuk. Nyatanya, memang itu dilakukan kok. Terlebih jika SD tersebut adalah SD Negeri favorit yang jumlah pendaftarnya ‘bejibun’. Untuk menyeleksi pendaftarnya.. Terpaksa dilakukan tes membaca dan menulis juga.

Akhirnya yang masuk ke SD tersebut memang rata-rata adalah anak pintar yang sudah bisa membaca dan menulis juga menjawab pertanyaan dengan baik dan lancar. Apakah anak siap dengan persaingan tersebut? Itu yang harus jadi pertimbangan terakhir. Karena mengingat pelajaran SD level sekarang memang sangat dibutuhkan kemampuan bisa membaca dari kelas 1.

4. Pertimbangan Waktu Pulang

Penting gak sih? Bagiku ini penting sih.. Haha..

SD Negeri itu pulangnya cepat. Jam 11 sudah pulang. Hanya hari-hari tertentu saja yang pulang jam 12. Dan itu karena ada pelajaran tambahan atau les. Setiap hari sabtu bahkan anak-anak pulang jam 10.40 WITA.

Menurutku, ini penting banget karena Farisha anaknya agak pembosan. Jadi mungkin kalau terlalu lama sekolah wajahnya akan berubah menjadi begini . Disamping itu, Farisha sudah biasa makan siang hangat di rumah. Jadi kalau sangu bekal makan siang, selain aku yang repot.. Dia sebenarnya kurang suka. Haha.

Farisha juga biasa tidur siang setiap hari. Menurutku ini penting sih. Anak harus istirahat siang. Jadi kalau sore hari dia bisa semangat mengaji atau bermain.

5. Pertimbangan Lokasi

Ini nih.. Super penting.

Sebenarnya, ada SD Islam yang sangat cocok di hati. Bahkan saat pertama kali menjejak di tanahnya saja aku sudah jatuh cinta. Apalagi, mendengar tata bicara ustadzahnya yang menyejukkan hati. Ah, ini SD impian. Walau budgetnya tinggi pun ingin rasanya mengusahakan anak masuk disana.

Tapiiii… SD nya jauh sekaliii dari rumah. Yah, masa aku harus bawa kendaraan bolak balik setiap hari untuk mengantar Farisha? Ingat loh, aku punya bayi. Aku bahkan setiap hari antar jemput Farisha memakai gendongan dan berkendara sendirian. Kalau dengan jarak super jauh begitu, bisa-bisa bayiku masuk angin dibuatnya.

Sekolah Negeri di sini Enggak Seram Kok

Sudah satu semester Pica sekolah di SD ‘bla bla’. Aku yang awalnya khawatir dan agak ‘gimana’, perlahan-lahan mulai menjalaninya dengan enjoy saja. Apalagi kalau setiap hari mendengar Farisha bercerita semangat tentang sekolahnya. Aku jadi semakin santai dan selalu berkata Alhamdulillah.

Mitos-mitos tentang seramnya SD Negeri itu perlahan terbantahkan. Nyatanya, Farisha enjoy menjalaninya.

Iya, jadi dulu aku juga termasuk yang termakan mitos-mitos seram tentang anak zaman now yang masuk SD Negeri jadi begini.. begitu.. Sampai nangis-nangis bombay meronta-ronta sama suami buat menyekolahkan anak di SDIT saja. Nyatanya, hampir semua mitos jelek tentang SD Negeri terbantahkan.

Mitos apa saja? Kek begini nih

1. Katanya, Pelajaran SD Negeri itu Seram

Seram katanya. Konon pelajarannya bisa ‘menggigit otak’. Wkwk.. Sampai akunya parno sendiri.

Nyatanya? Biasa aja sih. Bahkan sebenarnya aku suka dengan sistem tematik begini. Anak jadi enggak tau betapa menyebalkannya mata pelajaran matematika. Karena gak ada namanya buku matematika. Haha. Pokoknya, kalau Pica ada kesulitan dengan pelajarannya dia cuma bilang begini.. “Susah ma, Pica gak ngerti sama tema anu halaman anu.. “

See? Gak ada label cerita ‘benci sama pelajaran matematika’. Menurut aku ini efeknya positif sih. Sejauh ini, Farisha tidak pernah merasa seram dengan pelajaran di SD. Malah dia sangat senang dibandingkan TK dulu. Yaah.. Dulu aku salah masukin sekolah TK genks, jadi ya gitu deh.

Satu hal sih yang benar. Paling enggak anak harus bisa membaca saat masuk SD Negeri. Karena sudah standarnya begitu. Kalau belum bisa membaca, maka anak akan sangat kesulitan. Dan ia akan sangat ketinggalan dibanding teman-teman lainnya.

Baca juga: Suka Duka Mengajari Anak Membaca

Pica pernah bercerita padaku tentang temannya yang belum bisa membaca. Ia sepertinya dimasukkan ‘lewat belakang’. Kasihan sekali. Apalagi ketika ulangan harian tiba. Temannya kelabakan dan bisa menangis. Seramnya disini sih. Memang harus diakui bahwa pelajaran kelas 1 SD zaman sekarang, sudah hampir sama dengan level kelas 3 SD zaman dulu. Jadi, dilihat juga kemampuan anaknya.. Apakah ia mampu?

2. Katanya, SD Negeri Mengebelakangkan Pelajaran Agama

Ini yang kemarin bikin aku sedikit was was. Bener gak sih begitu? Atau cuma hoax?

Rasanya kok enggak mungkin ya, semua guru yang berjilbab itu mengebelakangkan nilai agama dalam keseharian anak-anak?

Ternyata salah besar. SD Negeri tempat Pica belajar sangat peduli dengan nilai Agama. Dalam seminggu, ada 2 kali pelajaran Agama dan Al Qur’an. Yah, memang tidak ada target hapalan layaknya SD Islam sih. Tapi sesungguhnya disitulah nilai plusnya. Kenapa? Hmm.. Kuakui ya.. Pica itu kemampuan auditorinya sedikit rendah. Dia sangat sulit menghapal. Aku tidak bisa membayangkan jika setiap minggu ada target hapalan. Bisa-bisa akulah yang bertanduk.. Hihi..

Setiap jum’at ada jadwal khusus bahkan. Dan seragamnya menyesuaikan. Ada jum’at senam, jum’at taqwa dan jum’at asmaul husna. Anak-anak disuruh berseragam putih-putih jika jadwal jum’at taqwa. Setiap sebelum dan sesudah belajar, anak-anak selalu disuruh berdoa. Menurutku, itu sudah sangat cukup untuk pembelajaran agama setiap harinya. Disamping itu, setiap sore Farisha selalu aku antar mengaji.

Agama tetap menjadi pelajaran nomor satu bagi kami, walau anak hanya sekolah di SD Negeri biasa.

3. Katanya, Kognitif anak menjadi standar penilaian utama dalam rangking

Benarkah? Nyatanya, setelah melewati satu semester ternyata aku speechless.

No rangking!

Ya.. Gak ada sistem rangking disini. Dan itu buat aku sangat lega. FYI, Pica waktu TK aja pakai rangking loh. Bayangkan berapa senangnya aku saat mengetahui gak ada sistem rangking disini.

Artinya, kemampuan kognitif bukan hal utama dalam memandang kecerdasan anak. Bahkan, guru Farisha itu baik sekali. Beliau berkata untuk jangan pernah membandingkan nilai raport anak dengan anak lainnya. Semua anak baik. Semua anak spesial. Beruntung sekali aku bertemu dengan guru tipe seperti itu untuk Farisha.

Bukan Berarti SD Negeri adalah Pilihan yang Terbaik Loh!

Aku menulis tentang SD Negeri bla bla bla.. Bukan berarti aku mengklaim bahwa SD Negeri adalah yang terbaik. Bukan.. Bukan begitu.. Jadi please.. Tidak ada mom war soal sekolah begini ya.. Hihi.. Peace!

SD Negeri hanya pilihan terbaik untuk anak kami. Dalam kondisi seperti kami. Yang tentunya sudah detail dituliskan alasannya diatas. Pilihan kalian? Belum tentu SD Negeri yang paling baik. Apalagi lingkungan kita tidak sama. Jadi, jangan disamakan.

Kalaupun secara kondisi lebih memungkinkan untuk menyekolahkan anak di SD Islam, ya tidak apa-apa. Siapa bilang SD Islam tidak baik? Baik semua kok. Asaaaal jangan lupa untuk survei dan menyesuaikan dengan kondisi kita sendiri. Oke?

Karena pendidikan anak itu investasi. Efeknya jangka panjang. Apalagi untuk sekolah SD yang lamanya 6 tahun. Selain mementingkan satu faktor, kita juga harus jeli dengan faktor lainnya. Dan jangan lupa selalu diskusikan dengan suami soal memilih sekolah anak. Karena tanpa kata ‘sepakat’ apalah artinya idealisme seorang mama.

Yup? Happy Parenting Moms!

Ketika Anak Pertama dan Kedua Terlihat Berbeda

Ketika Anak Pertama dan Kedua Terlihat Berbeda

“Wah, si Humaira ini kok gak mirip sama kakaknya ya?”

“Iya nih. Kakaknya item. Si Humaira kayak Cina.. “

“Tapi Humaira mungil ya. Beda sama Kakaknya dulu yang super montok. Hihi.. “

Aku senyum-senyum mendengar komentar orang tentang Farisha dan Humaira. Memang kedua kakak beradik ini terlihat sekali perbedaannya. Mungkin, beberapa orang akan terkejut jika tau keduanya bersaudara. Karena secara fisik keduanya terlihat berbeda.

Bukan hanya secara fisik, tapi perbedaannya juga terlihat dari sisi-sisi lainnya. Dan yang paling menonjol adalah motoriknya. Humaira jauh lebih lincah dibandingkan dengan Farisha sewaktu seumur dengannya. Nada suara mereka berdua sewaktu kecil pun berbeda. Humaira lebih nyaring dan ekspresif dalam bersuara, sedangkan Farisha lebih kalem dan merdu.

So far, aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan Farisha dan Humaira. Menurutku keduanya sama-sama spesial. Aku juga hanya senyum-senyum saja kalau ada yang bilang bahwa Humaira jauh lebih cantik.

Tapi, masalah itu datang ketika Farisha mendengar celotehan perbedaan itu langsung dari telinganya. Kupikir, awalnya dia biasa saja. Hmm.. Ternyata sepertinya aku salah.

Mama, Kenapa Kulitku Lebih Hitam dari Humaira?

Ini adalah body shaming pertama yang Farisha dapatkan. Ketika ia menyadari bahwa  kulitnya lebih hitam dibanding adiknya dari celotehan orang-orang. Bahkan ia juga merasa bahwa bibir Humaira lebih pink dan tipis. Ditambah lagi setiap orang yang datang ke rumah memang selalu bilang bahwa, “Humaira Cantik.. ” Tanpa menghiraukan kehadiran si Kakak yang sama-sama berada di rumah.

Disitulah naluri keibuanku terasa sedikit tidak nyaman. Karena hei…

Sesungguhnya aku pun pernah mengalami hal yang sama sewaktu kecil dulu. Ingatanku lalu menggali kenangan lama yang sudah lama aku tutupi. Entah kenapa, aku merasa kenangan itu mungkin akan bermanfaat bagi Farisha.

Dan suatu malam, ketika Farisha ingin tidur.. Aku mendapatinya sedikit terisak. Ia melihatku menyusui Humaira sambil berusaha terlihat baik-baik saja.

Tapi aku tau.. Farisha sedang tidak baik-baik saja.

Sebuah Kenangan Lama, Tentang Cerita Anak Itik yang Jelek

“Pica kenapa? Sedih ya? Sedih kenapa?” Kataku pura-pura ingin tahu.

“Pica bingung..”

“Bingung kenapa Pica?”

“Bingung kenapa kulit Humaira putih, rambut Humaira hitam dan lurus. Bibir Humaira Pink. Humaira sering dibilang bayi cina. Tapi kenapa Pica berbeda?”

Aku tersenyum pada Pica. Tidak bisa berkata apa-apa. Bagiku, Pica sudah jujur pun adalah hal yang patut aku apresiasi. Aku hanya bisa memeluknya. I feel u.. Pica.

“Pica, tau gak sih Pica ini mirip sama siapa?”

“Kata orang mirip Abah ma.. Tapi Abah kulitnya Putih.. “

Aku lalu tersenyum pada Pica. Kemudian berkata, “Pica itu mirip Mama.. Mama dulu waktu kecil juga mirip sama pica. Jauh lebih jelek bahkan.. “

“Masa sih ma? Tapi mama gak sehitam Pica.. “

“Mama dulu sehitam Pica. Dan muka mama waktu kecil mirip banget sama Pica”

Aku lalu memperlihatkan foto kecilku pada Farisha. Sontak Farisha terkejut lalu tertawa..

“Ini mama? Kok beda banget?”

“Serius ini mama. Ini mama waktu TK. Masih lebih cantik Farisha kan?”

“Tapi, mama waktu kecil sering dibilang jelek lah sama temen-temen mama?”

“Sering.. Mama sering enggak ditemani. Makanya dulu mama cuma punya nenek buat jadi teman mama. Mama dulu juga sering dibilang monyet karena kulit mama penuh bulu. Bahkan waktu sudah besar, tahi lalat mama yang gede dimuka ini sering jadi bahan bullyan. Katanya muka mama kotor sampai ada lalat yang ee disitu.. Hahahaha”

Pica pun langsung tertawa geli. Ia bertanya lagi, “Tapi kenapa mama terlihat berbeda sekali sekarang?”

“Itulah namanya teori evolusi. Pica tau cerita anak itik yang jelek bukan?”

“Itik yang berubah jadi angsa waktu sudah besar?”

“Iya. Kita para perempuan.. Akan mengalami setidaknya 3 kali perubahan dalam kehidupan. Dan perubahan pertama dimulai pada masa pubertas.”

“Apa itu mama?”

“Itu adalah tahapan dimana manusia mulai belajar untuk dewasa.. “

“Jadi, kalau sudah mau dewasa itu otomatis jadi cantik ya ma?”

“Bukan Pica. Ketika orang sudah mulai dewasa.. Dia punya sesuatu yang membuat dirinya berubah menjadi lebih baik.. “

“Apa itu Ma?”

Tentang Mensyukuri dan Mencintai Diri Sendiri

Aku terdiam mendengar pertanyaan Farisha. Kemudian mengingat masa remajaku dulu. Saat aku duduk di kelas 2 SMP.

Salah seorang teman lelakiku tertawa melihat kaos kakiku yang panjangnya hampir selutut. Di kelasku saat itu, hanya aku yang suka sekali memakai kaos kaki panjang. Bukan tanpa alasan aku memakainya. Aku memakainya karena kakiku penuh dengan bulu. Itulah kondisi spesialku. Aku adalah perempuan paling berbulu di sekolah. Dan itu sangat membuatku tidak percaya diri.

“Dia bahkan punya kumis.. Hahaha.. ” Sorak salah seorang temanku

“Lihat, bulu kakinya bahkan tembus dari kaos kaki.. ” Sorak temanku yang lain.

Mereka bilang padaku bahwa itu hanya bercanda. Tapi serius, aku tidak mengerti dimana sisi lucunya. Sumpah, saat itu ingin sekali aku mengambil silet dan merontokkan semua bulu yang ada di badanku. Tapi, jika ingat pesan Ayahku.. Semuanya aku urungkan. Ayahku bilang bahwa, “Perempuan berbulu adalah Satu dari seribu perempuan paling beruntung di dunia..”

Dan aku mempercayai hal itu. Aku menunggu sebuah keberuntungan datang setiap hari. Dari semua bully, aku yakin ada seseorang yang memujiku.

Ialah teman pertamaku. Gadis putih berambut tipis dengan mata sipit layaknya cina. Ia berkata padaku, “Alismu tebal banget. Rambutmu juga. Aku mau punya alis dan rambut seperti kamu.. “

Kata-katanya, bagaikan segelas air es di gurun pasir. Ingin rasanya aku mengambil kaca segera. Dan saat itu, aku hanya bisa nyengir kuda sambil tersipu malu. Singkatnya, kami berteman.

Si putih dan si sawo matang.
Si sipit beralis hampir zonk.. Dan si alis tebal.
Si rambut merah buntut kuda.. Dan si rambut hitam lurus dan tebal.
Si mungil dan si jangkung..
Dan jangan lupa.. Si kulit mulus.. Dan si kulit penuh bulu.

Persahabatan yang benar-benar berlawanan fisik. Tapi kami sangat akrab. Kami akrab karena perbedaan itu. Kami saling iri terhadap fisik masing-masing. Kami saling memuji dan itulah sisi yang menyenangkan.

Yah. . Kisah Farisha dan Humaira mengingatkanku pada persahabatan itu. Aku tau betul apa yang dirasakan oleh Farisha. Ia haus akan pengakuan dan pujian. Aku pun menceritakan cerita persahabatanku. Dan Farisha langsung nyeletuk..

“Pasti banyak yang mau berteman sama teman mama tuh.. “

“Enggak. Temannya cuma mama..”

“Dulu banyak lah yang suka sama mama?”

“Seiring dewasa.. Mama tidak mempermasalahkan lagi tentang banyak yang suka atau tidak. Ada satu hal yang lebih penting dibanding ‘banyak yang suka’ pica..”

“Apa itu ma?”

“Pica harus mencintai diri sendiri..”

“Tapi pica mau putih juga kayak Humaira.. Mau bibirnya pink juga..”

“Pica cantik kok. Kulit pica bersih. Pica tinggi. Pica alisnya tebal. Bulu matanya lentik. Dan Pica juga pintar mewarnai. Pica juga mulai pintar bercerita dan menulis. Buat mama, Pica itu spesial.. Biarkan orang bilang Pica gak secantik Humaira. Buat mama, Pica kakak yang keren.. “

Pica terdiam mendengarku.

“Lihatlah suatu hari nanti. Pica pasti akan bertemu dengan seseorang yang menghargai apa yang ada pada diri pica. Asal.. Pica percaya diri. Jangan minder. “

Karena Mama Tau, Kedua Anak Mama Spesial

Kupikir, aku perlu julukan untuk kedua anakku. Aku perlu melakukan sesuatu untuk membuat mereka merasa spesial. Agar mereka bangga pada apa yang mereka miliki. Bangga dengan kekurangan, maupun kelebihannya.

Untuk Si sulung, anak yang memiliki kulit hitam manis juga bakat visual yang bagiku sudah luar biasa.. Aku menjulukinya Si Tangan Kreatif.

Aku percaya suatu hari nanti kreativitasnya akan dihargai. Percaya bahwa tangannya ajaib. Bahwa apapun yang dia sentuh, akan memiliki fungsi yang lebih baik. Bahwa apapun yang dia sentuh, akan menjadi lebih indah. Jadilah dirimu sendiri Pica. Mama percaya Pica penuh dengan kejutan.

Baca juga: Tentang Hobi Mewarnai Pica, Terima Kasih Sudah Menjadi Anak yang Membanggakan

Untuk Humaira, anakku yang sangat ceria dan aktif. Bahkan aku mengakui sendiri bahwa ia 2 kali lipat lebih lincah dibanding kakaknya dulu. Motoriknya berkembang pesat. Ia bahkan hobi sekali berjoget ria sendiri. Mungkin aku perlu menjulukinya Anak Periang. Karena apapun yang dilakukannya di rumah ini, selalu membuat kami tertawa.

Hei anak-anak perempuanku, kalian memang berbeda. Tapi mama tau, kalian spesial. ❤

Pengalaman Memakai Gendongan Ultimo dan Lite dari Cuddle Me

Pengalaman Memakai Gendongan Ultimo dan Lite dari Cuddle Me

“Ternyata, memeluk bayi itu bikin ketagihan..”

Itu yang aku rasakan sejak menimba ilmu baby wearing secara diam-diam di grup Indonesian Baby Wearers.

Yaa.. Sejak hamil Humaira, diam-diam aku bergabung dalam grup tertutup ini. Awalnya cuma iseng sih. Lama-lama, ketika aku sering melihat action pict para emak-emak dengan gendongannya ada pertanyaan lugu dalam hatiku.

“Kok sepertinya menggendong ini terlihat seperti seni yang baru ya.. Hihi.. “

Iya, aku menyebutnya seni karena aku baru tau dengan berbagai jenis gendongan di grup ini. Sebutlah itu Ring Sling, Baby Wrap, Onbuhimo serta SSC. Akupun juga baru tau kalau teknik menggendong itu bermacam-macam. Bahkan diam-diam aku juga sering manggut-manggut melihat berbagai tutorialnya.

FYI, aku adalah seorang silent reader di grup itu. Yang bahkan jujur saja ya.. Aku bahkan tidak pernah menyumbangkan like dengan jempolku sekalipun. Haha. Aku tidak pernah posting action pict disana. Aku juga tidak pernah bertanya. Aku hanya membaca berbagai catatan penting dan yaah.. Kupikir dengan berbulan-bulan menimba ilmu disana paling tidak aku paham dengan posisi ternyaman dalam menggendong. Sebutlah Itu M-Shape.

Ternyata Begini Posisi Menggendong Ternyaman itu

Selama berbulan-bulan aku berada di grup IBW, aku tidak pernah memberanikan diriku untuk action pict maupun bertanya. Jangan tanya kenapa. Aku punya sedikit trauma bertanya dengan banyak member emak-emak di dalamnya. Dan dari melihat berbagai post aku cukup banyak belajar. Bahwa ada saja emak-emak yang komentarnya cukup menyakitkan hati ketika ada yang bertanya polos tentang gendongan NBC. Entah kenapa, itu sudah membulatkan tekadku bahwa aku tidak akan pernah action pict di grup ini. Cukuplah grup Support ASI dan grup lainnya menjadi pembelajaran bahwa jangan pernah bertanya kebodohan ditengah-tengah emak-emak yang sudah pintar. Hahaha

Aku lebih memberanikan diri bertanya secara personal dengan yang ahli. Bagiku itu terasa lebih nyaman. Entah kenapa, kalau ada yang julid dengan pertanyaanku.. Aku malah malas sekali melanjutkan ilmu disitu. Jadi, Orang-orang yang aku tanyakan tentang ilmu ini pun adalah orang yang aku rasa baik.

Lewat berbagai tulisan blogger di google dan grup IBW aku mulai paham bahwa posisi M Shape adalah posisi terbaik yang membuat Bayi merasa sangat nyaman. Posisi yang terlihat ngangkang ini sebenarnya merupakan posisi yang sama ketika kita menggendong bayi dengan tangan saja. See? Sama kan?

Niat mengedukasi tapi yang digendong anaknya mereng2 pas gak pakai gendongan.. 😂

Tapi yaa.. Entah kenapa kalau dipakai dengan gendongan.. Posisinya terlihat ngangkang. Sehingga para orang tua sering memberikan reaksi ‘terkejoed’. Dan langsung ngomong..

“Itu gak papa ya kaki anaknya ngangkang gitu?”

“Itu umur berapa sih anaknya? Kok sudah digendong gaya begitu?”

“Pokoknya kalau nanti anak kamu kakinya ngangkang jangan salahin orang loh. Kamu sendiri dibilangin bla bla bla.. “

Apa tanggapan kita ketika mendengar itu? Ya udah.. Senyumin aja.. Hihi. Mereka itu enggak tau ilmunya. Jadi mah santai aja. Aku begitu sebenarnya kalau orang tua yang bilang. Kalau dengan omongan orang tua begitu saja tersinggung lantas apa bedanya kita sama para emak yang suka julid dengan emak lain yang memakai gendongan NBC?

Dibanding marah mencak-mencak. Mending jelaskan saja para orang tua itu pakai gambar diatas sambil berkata.. “Gimana? Sama aja kan sebenarnya sama gendong pakai tangan? Cuma kalau pakai gendongan Ibunya jadi enggak capek.. Hehe.. Bayinya juga berada lebih nyaman karena posisinya seperti dalam perut ibunya. Nah kan langsung tidur si bayi saking keenakannya.. Lihat deh.. Gak percaya? Cobain deh.. “

Alasan Aku Memilih Gendongan SSC

Dari beberapa action pict di grup IBW.. Serta dari berbagai tutorial yang aku lihat serta tidak lupa yang paling penting yaitu survey harga (haha).. Aku akhirnya memutuskan untuk memilih jenis gendongan SSC (Soft Structur Carrier)

Alasan pertama adalah karena aku sangat newbie dalam hal ini. Jadi ya aku mah pilih yang praktis-praktis aja. SSC dikenal gampang memakainya untuk emak yang mobilitasnya lumayan tinggi seperti aku.

Alasan kedua adalah karena SSC gampang sekali menyettingnya. Tinggal atur tali di bagian pinggang dan punggung. Set set set.. Ciat.. Udah deh. Jujur aja, aku kalau liat emak-emak pakai baby wrap suka ngiler. Tapi malas sekali belajar memakainya. Haha

Alasan ketiga adalah.. Karena SSC harganya juga terjangkau. Iya, berterima kasihlah sekarang sudah banyak SSC lokal yang harganya masih bisa dijangkau emak-emak golongan menengah ini. Kalau SSC non lokal emak angkat bendera putih aja dah. Enggak kuat beb. Apalagi kalau mengajukan anggaran khusus ke suami hanya untuk perihal beli gendongan. Bisa-bisa emak ditanyain dengan wajah gemes, “Mau beli gendongan atau kredit motor beib?”

*yah.. Begitulah lelaki.. Liat cewek koleksi lipstik yang warnanya sama semua aja dia bingung. Apalagi beli gendongan mahal. Bingung dia.. Gak masuk di logikanya. Hahaha..

Pengalaman Memakai Gendongan Cuddle Me Lite

Humaira sekarang udah 1 tahun. Dan aku baru berani nulis pengalamannya disini. Padahal, gendongan ini sudah aku beli sejak Humaira umur 4 bulan.

Btw, ini cerita pengalaman loh ya.. Bukan review. Soalnya aku merasa bukan emak yang pantas untuk memberikan sebuah review ‘detail’. Karena aku pun masih belajar. Hehe

Gendongan SSC merk Cuddle Me versi Lite ini terasa cukup nyaman buat aku yang baru mengenal ilmu pergendongan. Ya eyalah, ini pertama kalinya beli SSC. Gendongan ini bisa dipakai dari umur bayi 4 bulan dan BB minimal 7 kg.

Awal-awal agak kudet juga sih nyetingnya.. Berpikir kok agak pegel juga ya punggung. Eh ternyata, kalau tali bagian punggung ini diturunin rasanya jadi enak. Konon ada juga emak-emak yang lebih enak talinya agak diatas. Dan aku pun mengambil kesimpulan kalau kenyamanan orang beda-beda.

Buat aku gendongan ini standar nyamannya B. Yang aku suka, gendongan ini punya hoodie yang berguna sekali untuk menyusui. Tinggal longgarkan tali dibagian perut hingga kepinggang atau posisi mulut bayi sudah di payudara lalu tutupi dengan hoodie. Sangat membantu dikala ingin menyusui ditengah umum tanpa terlihat seperti menyusui. Hehe…

Gendongan ini dapat dipakai dengan 3 posisi. Meski aku hanya sering memakai 2 posisi saja yaitu Front Facing In dan Back Carry. Bagiku, posisi ternyaman adalah Back Carry.

Sebenarnya, ada gendongan yang lebih nyaman untuk Back Carry yaitu Onbuhimo, bisa juga Baby Wrap dengan teknik back carry. Untuk Gendongan Cuddle Me ini kurang nyaman bagi bayi untuk posisi backcarry karena posisi kepala bayi kurang tinggi. Sehingga, kalau bayi tertidur kepalanya jadi.. Yaaa.. Gitu deh. Haha..

Biasanya, posisi backcarry sangat aku andalkan jika banyak pekerjaan di rumah. Sambil ngepel lantai, nyapu, memasak.. Aku bisa dengan nyaman mengerjakan semuanya dengan menggendong posisi backcarry. Tapi, itu aku lakukan jika bayi tidak tertidur. Karena kasian juga kepalanya.

Sedangkan untuk jalan-jalan aku biasa memakai posisi Front Facing In. Ini adalah posisi ternyaman antara Ibu dan Bayi. Menggendong berjam-jam lamanya? Ikut event blogger? Ikut sosialita? Hayyuk.. Hajar semua. Haha.

Tadinya, aku ingin setia hanya memakai Cuddle Me Lite saja seumur hidup. Kupikir yaaa.. Ngapain punya banyak gendongan. Toh bentar juga si bayi bisa jalan. Eh ternyata, ideologiku runtuh juga. Yaa.. Siapa suruh kepo dengan kelakuan konsultan menggendong. Akhirnya dapat racun baru kan.

Pengalaman Memakai Cuddle Me Ultimo

Ultimo, Gendongan yang tumbuh bersama bayi

Racun itu bernama Ultimo. Gendongan yang konon dapat dipakai dari New born hingga anak gede. Hingga iseng aku menggoda pica..

“Hei pica.. Kalau mau digendong mama bisa kok. Ini mama ada gendongannya.. “

Dan Pica pun berogah-ogah ria sambil kukejar…

Yaa.. Anakku yang pertama itu kadang suka iri dengan adiknya. Jadi sesekali boleh lah digodain begitu ya. Supaya dia merasa diperhatikan. *apaan sih ya.. Tulisannya nyorcol kesana kemari..

Alasan aku membeli Ultimo ini karena sebenarnya.. Aku gak mau keracunan beli gendongan lagi. Sumpah akutuh bukan tipe banci dalam  hal beginian. Jiwa pengiritanku selalu menjerit.. *manja

Karena aku tau Cuddle Me Lite ini gak bisa selamanya dipakai. Akan ada masanya kaki Humaira mulai memanjang dan bagian itu (apa sih namanya hei?).. Ah.. Dudukannya.. Body Panel ya? Haha.. (Doh.. Kan kan kubilang juga apa.. Ini bukan review.. Tapi pengalaman.. 😂).

Iya jadi bagian body panelnya si Lite itu gak bisa dilebarkan layaknya si Ultimo. Akan tiba saatnya kaki anak terasa gantung saat digendong. Kitanya enggak capek sih sebagai penggendong. Yang kasian itu si anak. Makanya Cuddle Me juga menyediakan atribut berupa footstrap yang dijual terpisah. Tapi kan mana mau emak beli gitu aja di online. Secara ekonomi, itu buang-buang biaya ongkir.. Haha.. Alesan.

Alasan kedua ya lumayan buat ganti-ganti gendongan. Selama anak aku ketagihan digendong ini.. Mau enggak mau aku juga harus rajin membersihkan gendongan. Jadi kalau gendongan yang satu dicuci masih ada gendongan yang lain.

Alasan ketiga karena buat ganti gaya aja. Lumayan lah emak-emak yang kadang punya gaya mood swing tinggi. Bosan kalau pakai itu lagi.. Itu lagi.. Paling enggak kalau punya dua gendongan kan ada juga variasinya. *karena hidup perlu banyaaak rasaa.. Eaa

Minusnya, aku harus rela mengeluarkan uang yang menurutku lumayan banyak. Hiks. Iya kalau si Lite harganya cuma 250ribu, sementara si Ultimo 560ribu. Dan ingat, itu belum termasuk ongkir sebanyak 2 kg ke banjarmasin buk!

(Huft. Untunglah duit ngeblog lumayan membantu. Biar tulisannya enggak karuan begini.. )

Selama 7 bulan memakai Ultimo, ada kenyamanan spesial yang aku dapat sih.

Pertama, Ultimo ini lebih Snug rasanya. Kalau kata konsultan menggendong itu.. Lebih dapet TICKS-nya.

Kedua, Kain Ultimo ini lebih nyaman dibanding Lite. Kalau harinya agak panas, aku lebih suka pakai Ultimo dibanding Lite.

Ketiga, untuk posisi backcarry maupun Front Facing In.. Lebih dapet si Ultimo. Lebih snug aja. Dan kepala bayi lumayan bisa ditopang lah ya. Walau masih gimana juga kalau dia lincah. Hihi

Keempat, Ultimo ini bisa dipakai posisi Facing Out juga. Lumayan buat jalan-jalan sama bayi sekalian bereksplorasi. Memang memggendong Facing Out begini enggak boleh lama-lama, maksimal cuma 30 menit katanya supaya si bayi enggak over stimulated. Menggendong posisi Facing in lebih direkomendasikan.

Kelima, Ultimo ini benar-benar work sepanjang usia bayi. Maksudku, ini benar-benar gendongan yang recomended buat kamu yang ingin punya gendongan sekali seumur hidup. Karena benar-benar gak ada ruginya. Dari umur 4 bulan sebenarnya Humaira itu beratnya masih kurang dari 7 kg. Sehingga versi lite kadang masih over spread. Jadi ketika memakai Ultimo lebih terasa snug dan nyaman. Dan hingga Humaira umur setahun dan memiliki kaki yang semakin panjang.. Ultimo masih selalu bisa digunakan. Karena bagian body panel nya bisa di setting panjang pendeknya. Juga bagian lehernya, bisa dikecilkan dan dilebarkan.

Plus Minus Cuddle Me Lite vs Ultimo

Hmm.. Apa ya Plus minusnya? Buatku semuanya punya kelebihan dan kekurangan sih. Nah, kalau mau tau lebih rinci nya begini:

1. Lite lebih murah dibandingkan Ultimo.

Jelas ya.. Diatas sudah aku sebutkan, lite harganya cuma 250ribu, sedangkan Ultimo harganya 560ribu.

2. Lite lebih gampang menyettingnya.

Ini sih yang sering aku temui dikalangan emak-emak, mereka bilang lite lebih gampang nyettingnya. Kalau menurut aku sih wajar ya gampang, karena ini type standar kan yang mana memang didesain buat bayi sejak umur 4 bulan sampai 20 kg. Beda dengan Ultimo yang punya banyak settingan untuk bisa menyesuaikan. Tapi, menurutku settingannya gak rumit amat. Cukup 2-3x melihat tutorial menggendong di youtube ala konsultan gendong.. Dijamin sudah mengerti. Jangan lupa latihan sedikit-sedikit.


3. Lite perlu aksesoris khusus untuk bisa dipakai disemua usia

Iya, si lite ini sebenarnya bisa dipakai dari newborn hingga toddler. Kalau dari New born harus punya infant insert untuk tambahannya. Pun kalau mau memakai hingga toddler, perlu membeli footstrap agar kaki bayi tidak menggantung. Cuma yaa.. Ribet. Haha. Kalau Ultimo kan praktis ya, tinggal disetting bagian body panel dan settingan lainnya.

Kalau aku sendiri, lebih merekomendasikan beli Ultimo dibanding lite. Karena ketika umur Humaira satu tahun ini, aku merasakan sendiri kakinya sudah agak panjang dan posisinya jika memakai gendongan cuddle me lite sedikit kurang M-Shape. Mungkin sekitar 3-4 bulan lagi, kakinya bakal gantung dan membutuhkan footstrap supaya tidak pegal.

Disamping itu, kalau membeli gendongan yang support dari newborn hingga toddler.. Maka ketika punya newborn lagi jadi masih bisa dipakai deh.. Ya kaaaan? Hahahaha.. (Ada yang ketagihan punya newborn)

Jadi, pengalaman menggendong apa yang kalian punya mak? Gendongan apa yang jadi favorit selama ini? Sharing yuk!

(Ditulis oleh emak-emak yang mau beli gendongan SSC support newborn hingga toddler buat gantian.. tapi meringis melihat harganya.. 🤣)

IBX598B146B8E64A