Browsed by
Month: September 2020

Kulit Wajah Cantik dan Sehat di Era Pandemi

Kulit Wajah Cantik dan Sehat di Era Pandemi

“Gak usah pake make up. Toh pake masker juga. Gak ada yang liat muka kita juga kan?”

“Iya, gak usah pake skincare komplit. Toh ditutup masker juga. Kan udah terlindungi jadinya..”

“Mending beli masker-masker cantik ajaa.. Cantik deh jadinya.. “

Emm.. Cantik sih dari luar.. Tapi, sehat gak? 

Pentingnya memakai skincare rutin di era pandemi

Memakai masker kain dengan motif yang cantik-cantik sekarang sudah menjadi trend tersendiri. Akan tetapi, tahukah kalian trend yang lebih jauh terjadi akibat trend mamakai masker cantik ini? 

Yaitu trend malas memakai skincare rutin dan pakai make up. 

Jika ditanya alasannya jawabannya pasti sangat simple. “Kan pake masker juga. Ngapain pakai sunscreen? Ngapain pakai make up? Gak ada yang liat kan? Duh, ngapain pakai double cleansing? Kan gak kotor juga mukanya. Kan pake masker.. Bla bla.. “

Setidaknya, aku juga salah satu penganut ‘tim malas’ itu beberapa waktu lalu. Tim yang ‘mendewakan’ masker. Bukan hanya sebagai pelindung dari virus, tetapi juga pelindung wajah dari semua kekurangannya. Masker seakan diklaim memiliki banyak fungsi di masa pandemi. Tapi sungguh, sekarang aku menyesal atas sikap itu. Hiks

***

Sekitar pertengahan april, aku dikejutkan dengan jerawat di hidungku. Tepat di puncak hidung. Naik-naik ke puncak hidung tinggi-tinggi sekali. *loh kok jadi nyanyi. 

Tapi serius, aku kaget dong. Soalnya kulitku ini cenderung normal dan jarang berjerawat. Walau malas memakai skincare sekalipun kulit wajahku baik-baik saja.

Lalu, kenapa tiba-tiba jerawat jelek itu datang? Pikirku. Setelah aku pikir-pikir lagi. Oh ternyata, hal ini mungkin karena aku tidak melakukan double cleansing ketika habis dari keluar rumah. Aku terlalu malas untuk ke kamar sejenak mengambil kapas dan micellar water. Aku hanya mandi biasa saja sambil mencuci muka dengan facial wash. Akhirnya, jerawat itu muncul. 

Ya salah aku juga sih karena menganggap remeh pentingnya double cleansing. 

Padahal, di masa pandemi begini kemungkinan kulit berjerawat itu jadi 2 kali lipat. Karena masker yang kita pakai menyentuh bagian atas hidung dalam waktu yang cukup lama. Beberapa bakteri jahat bisa saja nongkrong dan kencan dengan komedo sehingga membuahkan jerawat. Ya kan? Nih, jerawat aku buktinya. Hiks

Sejak itu, aku tidak pernah meninggalkan siklus skincare rutin aku. Nah, skincare rutin yang setidaknya harus kita lakukan itu ada 4 yaitu:

Cleansing: Biasakan melakukan double cleansing agar kulit wajah bersih sempurna. Dapat dilakukan dengan milk cleanser dan kapas terlebih dahulu ataupun micellar water. Setelah itu lanjutkan dengan facial wash. 

Toner: Basahi kapas dengan toner lalu tepuk lembut di wajah. Lakukan setelah mengeringkan kulit wajah pasca cleansing. 

Moisturizing: Gunakan moisturizer yang cocok untuk jenis kulit. Aku sendiri menggunakan produk wardah perfect bright. 

Protecting: Jangan lupa selalu pakai sunscreen baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Karena sinar UVA dan UVB itu sangat buruk efeknya bagi kulit. 

Nah, di masa pandemi ini jangan ketinggalan untuk selalu memakai skincare rutin diatas ya. Karena saat memakai masker, kulit kita belum tentu terlindungi dan tidak butuh sunscreen. Kulit kita juga harus dibersihkan maksimal untuk mengurangi kemungkinan timbulnya jerawat. 

Pastinya saat pandemi berakhir nanti kita tentu ingin keluar rumah dengan kulit wajah yang sehat bersinar bukan? So, rajin-rajinlah memakai skincare dari sekarang! Jadi, jangan lengah hanya karena masker ya! 

Apakah era new normal juga harus pakai make up? 

Di era new normal ini, ada dua tipe cewek saat keluar rumah. 

Yang satu adalah no make up karena pakai masker. Sedangkan yang satunya adalah selalu pakai make up. 

Aku sendiri bagaimana? 

((Make up’in mata dan alis aja. Kan cuma mata dan alis aja yang keliatan. Hahaha.. 🤣)) 

Tapi serius lah. Masa kalau jalan-jalan sama suami ke wilayah sunyi senyap buat kencan cuma make up’in mata doang? Kan gak asik. Kan gimana mau dapet foto bagus kalau yang di make’up in cuma mata doang? *tuh kan ujung-ujungnya minta fotoin suami ternyata.. 🤭

Thats why.. Aku tim make up! 

Karena aku gak pede banget kalau no make up pas di dekat suami. Apalagi kalau keluar rumah. Biarpun sedang pandemi aku selalu berusaha agar nampak cantik. Disamping itu, make up itu merupakan pelindung kedua setelah skincare loh. Yah paling enggak kulit kita tidak terkena debu dan polusi secara langsung kalau memakai make up. 

Nah, Beberapa make up yang aku pakai saat era new normal ini diantaranya adalah:

Foundation

Two Way Cake

Eyeshadow

Eyeliner

Maskara

Pensil alis

Lipstik

Blush on

Beberapa make up diatas aku pakai tipis-tipis supaya tetap terlihat cantik dan tidak menimbulkan bekas make up pada masker. 

Sehat dan cantik di era pandemi bersama Wardah

Berhubung aku termasuk newbie soal memelihara kulit wajah dan memakai make up, maka tanggal 20 September 2020 kemarin aku menyempatkan diri untuk mengikuti Virtual Beauty Class bersama Wardah dan teman-teman dari Female Blogger Banjarmasin. Duh, jujur sejak pandemi corona baru kali ini aku ikut kelas zoom bersama member FBB. Rasanya bagaimana? Senang dong! 

*Walau pada realitanya.. aku mengikuti virtual class ini bersama Humaira, anakku yang masih berumur 19 bulan.. 🤣

Pada virtual class ini aku belajar banyak hal dari Kak Annisa yang merupakan mentor kami saat virtual class. Beliau mengajarkan teknik double cleansing, menggunakan toner yang baik hingga pentingnya penggunaan moisturizer ber-SPF. Dan yang lebih seru lagi adalah.. Kami belajar make up. Yeay! 

Make up bagaimana win? 

*yang jelas bukan make up’in mata aja.. 🤭

Make’up minimalis lah ya! Dan aku sudah prepare perlengkapan make up aku sejak pagi di samping laptop. Senang sekali karena memang sebagian besar make up yang aku miliki dari Wardah. 

Berikut adalah step by step make up minimalisnya:

Foundation dan Concealer

Aku memakai wardah exclusive liquid foundation no. 05 (Coffe Beige). Sebenarnya, aku salah pilih shade saat beli foundation ini di flash sale. Akhirnya, warna foundation ini kegelapan di kulit aku. But no worry.. Aku mencampur foundation ini dengan BB cream wardah yang light sehingga warnanya pas di kulit aku. Selanjutnya, tak lupa memakai concealer di bagian bawah mata dan beberapa jerawat.

Kak Annisa sendiri memakai foundation wardah yang terbaru. Waw, kalau saja beauty class ini tidak berlangsung secara virtual rasanya ingin sekali aku ikut mencoba foundation wardah yang terbaru ini. Karena kulihat saat Kak Annisa mengaplikasikan di wajahnya langsung terlihat soft dan menyatunya. 

Two Way Cake

Bagi pemilik kulit normal to dry maka setelah mengaplikasikan foundation langsung saja memakai two way cake. Namun untuk pemilik kulit berminyak akan lebih baik kalau memakai loose powder terlebih dahulu. Pasalnya, jika langsung memakai two way cake hasilnya akan sedikit berminyak. 

Aku sendiri memilih langsung memakai two way cake. Karena kulitku normal. Aku memakai Wardah lightening powder foundation ber-SPF 15. Hasilnya matte dan sangat long lasting. 

Eyeshadow

Aku memakai seri eyeshadow classic brown dari wardah. Hanya terdiri dari 3 shade. Rasanya ingin sekali mencolek eyeshadow versi lengkap milik Kak Annisa. Jujur aku tidak terlalu bisa rapi dalam mengaplikasikan eyeshadow. Apalagi jika diganggu bayi disampingku. Hiks. 

Sedikit tips nih, bagi yang ingin warna eyeshadow lebih pigmented mungkin bisa mencoba base eyeshadow. Tapi, karena aku bukan tipe yang suka dengan eye shadow yang long lasting aku skip ini.

Eyeliner

Aku memilih menggunakan liquid eyeliner karena tampilannya lebih terlihat jelas. Bagi pemula, bisa menggunakan jenis eyeliner pensil saja ya.

Pensil Alis

Jujur, ini adalah tahapan tersulit. Karena alisku tebal dan berantakan. Kak Annisa pun sharing kalau bagi pemilik alis yang berantakan bisa menggunakan concealer agar terlihat sedikit rapi. 

Dan Alhamdulillah aku bisa sedikit mengaplikasikannya. Senang! Ini ilmu baru. 

Maskara

Inget ya.. Stepnya adalah eyeshadow dulu, lalu eyeliner dan pensil alis. Maskara adalah finishing make up mata yang terakhir. Kalau tidak maka akan berantakan apalagi kalo pake acara *ku menangiiiiiissss

Blush On

Aku mau curhat sedikit deh ya. Kalau blush on Wardah milikku pecah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Humaira. 🤣

Akhirnya, berbekal blush on dari lipstik pallete wardah aku berhasil juga membuat pipi sedikit merona dengan natural look. Sedikit berbeda dengan tutorial Kak Annisa tapi aku senang. 

Lipstik

Aku memakai varian lipcream wardah yang terbaru. Yaitu velvet matte lip mouse no 1. Jujur menurutku ini varian lipcream wardah yang paling oke buat aku. Teksturnya ringan di bibir. Dan hasilnya juga matte finish dan tentunya langsung secara instan menutupi pinggiran bibirku yang sedikit hitam. 

Dan yang paling aku suka sekali dari lipcream ini adalah… dia tidak transfer! Jadi, sangat aman dipakai walaupun memakai masker. Perfect sekali bukan? 

Dan inilah hasil dari beauty virtual class hari itu. Yup, tidak hanya aku yang asik ber make up.. Tapi juga Humaira. Sibuk sekali dia ikut memilah milih kuas make up. Jadi sekalian saja aku make up’i sedikit wajahnya. Haha.

*Jangan khawatir, habis ini make up di wajah Humaira langsung dihapus kok.. 🤭

So, Punya kulit wajah cantik dan sehat di era Pandemi? Kenapa tidak? 

Syaratnya toh tidak muluk-muluk. Rajin-rajinlah memakai skincare, gunakan make up pada timing yang tepat dan jangan lupa selalu memakai masker saat keluar rumah. 

***

Tambahan nih, berhubung indonesia sedang memasuki tahap resesi ekonomi maka kalian juga harus pandai dalam mengatur keuangan ya. Dimulai dari hal sederhana saja. Misalnya dengan menggunakan masker kain yang memiliki 3 lapisan sesuai dengan rekomendasi WHO. Selain hemat budget juga dapat menjaga bumi. 

Dan yang terakhir, pakailah produk lokal. Ini adalah hal yang simple dan sederhana sekali untuk membantu ekonomi indonesia. Dimulai dari skincare dan make up harian misalnya. Produk lokal itu bagus loh, halal juga dan yang paling penting lagi juga ramah di dompet. 🙂 

Kalau aku sih setia jadi #TimWardah sejak dulu. 

Kalian bagaimana? 

Yuk, sharing denganku tentang skincare dan make up kala pandemi di kolom komentar.. 😀

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

“Anaknya umur berapa Bu? Kok masih gak mau manggil Mama.. Kalau sudah 2 tahun begini perlu dikonsultasikan loh Bu..”

“Anak jangan digendong memakai gendongan begitu Bu, melihatnya gak nyaman. Coba saya coba gendong sebentar memakai kain ini..”

Dst dst

Apakah Itu Mom Shaming? 

Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca kata-kata diatas? 

Apakah langsung merasa baper? Lalu menjauh dan lantas marah karena tersinggung.. 

Atau senang karena merasa dipedulikan? 

Jujur, aku tipe yang agak ‘labil’ kalau disuruh menjawab soal ini. Karena aku sih tak memungkirinya, bahwa aku pernah marah dan tersinggung dengan salah satu kata-kata diatas. Tapi, aku juga pernah merasa senang karena merasa dipedulikan.

Ya.. Kadang juga berpikir sih, kok wanita se-complicated itu? Kadang baper, kadang marah tersinggung tidak jelas. Hah! 

Belakangan sering berpikir dan melamun dengan orang-orang yang sudah tidak bertegur sapa lagi denganku karena kemarahanku itu. Semakin berpikir dan berpikir.. Lalu semakin reframing lagi dan lagi.. Kok ya aku jadi sadar bahwa aku ini kadang tidak bisa membedakan antara sebuah kritik yang membangun dan mom shaming

Mom shaming adalah perilaku di mana terjadi pemberian kritik atau komentar kepada seorang ibu, yang justru membuatnya tertekan karena diucapkan dengan nada negatif. Bentuk nada negatif itu biasanya disertai dengan perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan dirinya sendiri lebih baik.

Contohnya adalah.. 

“Wah, kok anaknya minum sufor. Jadi kayak anak sapi dong. Kita kan manusia ya masa minum susu sapi. Aku nih kemarin ASI nya juga gak bisa keluar. Tapi aku terus berusaha nih gak menyerah. Kalau langsung menyerah kayak kamu bla bla.. “

“Duh, anaknya kok digendong gitu sih. Gendong tuh yang support M-Shape. Masa gendongan gini dipake. Kasian anaknya. Ngilu deh liatnya. Coba nih pake kayak punyaku. Belajar dulu bla bla.. “

Dua kalimat diatas bernada negatif juga sedikit membanggakan diri sendiri. Kalimat diatas bisa dikategorikan sebagai bentuk mom shaming. Walaupun maksudnya baik, namun cara penyampaiannya menyinggung hati. Sehingga maksud positif dari sebuah pesan menjadi tertutupi. 

Nah, kalau kalimat-kalimat seperti.. 

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

Bukanlah jenis kalimat yang bernada negatif. Karena didalamnya tidak ada kata ‘merendahkan, menekan hingga mempermalukan’. Tidak ada pula kata-kata yang memperbandingkan diri sendiri dengan orang yang dikritik. Maka, sebenarnya ini bukan termasuk jenis mom shaming. Tapi sebuah kritik positif. 

Pentingnya Kritik Positif untuk Perkembangan Hidup

“Sejak menjadi Ibu, perasaanku sensitif. Sedikit-sedikit tersinggung.. Aku jadi tidak bisa membedakan antara kritik dan nyinyir.. “

Perasaan itu pernah aku lewati setidaknya selama 3 fase kehidupanku. Yang pertama, ketika aku terkena baby blues. Kedua ketika aku tinggal di rumah mertua dan terkena PPD. Dan ketiga, ketika keuangan rumah tanggaku dalam kondisi down sekali. 

Banyak kritik positif yang singgah seakan mencoba menerangi pikiran gelapku. Namun, sebagian besar kritik positif itu tidak aku hiraukan. Aku malah ingin berbalik mencaci maki orang-orang yang mengkritikku itu. Rasanya ingin sekali aku berkata pada mereka, “Coba kamu jadi aku!”

Seiring berjalan waktu, beberapa kritik positif yang pernah singgah itu mulai aku renungi. Lalu perlahan aku aplikasikan dalam kehidupanku. 

Ternyata, kritik positif tersebut benar-benar membantu. Meski awalnya menyakitkan menghadapinya, tetapi sebuah kebenaran memang harus diaplikasikan. Kalau tidak, ya kita tidak bisa move on dalam hidup. Itulah kenapa kita kadang perlu menghadapi kepahitan untuk sebuah rasa manis. 

“Sejatinya, kritik positif bagaikan clue dalam permainan hidup. Mau naik level atau tidak? Itu adalah pilihanmu sendiri.. “

Mom shaming pun tidak selalu salah

Dulu, aku pernah menulis di blog ini bahwa sesungguhnya orang yang melakukan mom shaming adalah korban dari lingkungan yang salah. Circle hitam yang terus menerus ada sehingga tanpa sengaja bisa melukai orang lain. 

Baca juga: Tentang Memaafkan Mom Shaming

Satu hal yang aku garis bawahi adalah..

Orang yang melakukan mom shaming bukan berarti jahat. Ia hanya terperangkap dalam circle yang salah dan tidak bisa berkomunikasi. 

Yup, coba deh lihat. Kadang orang yang melakukan mom shaming itu bukanlah orang jahat kok. Tapi memang ‘gaya komunikasi’ yang ia miliki semacam itu. Baginya sih biasa saja, tapi bagi kita.. Emmmm… 

Jujur, aku hidup dikelilingi oleh lingkungan yang sopan santun sekali sejak kecil. Kalau ada kritik maupun saran pasti disampaikan dengan komunikasi yang nyaman. Kalau ada sedikit saja konflik saat komunikasi, pasti ada yang mengoreksi lebih awal. 

Saat menikah, lingkunganku jauh berubah. Aku tidak terbiasa dengan gaya bahasa yang sedikit kasar. Aku juga tidak terbiasa dengan kritik yang blak-blakan. Langsung hamil dan memiliki anak diusia tergolong muda membuatku sedikit kaget dengan suasana baru. Akhirnya, aku memutuskan menutup diriku sendiri dari komunikasi luar. 

Seiring berjalan waktu, aku sadar bahwa mom shaming yang sering singgah dikehidupanku merupakan sebuah kritik positif yang berbeda gaya bahasanya. 

Mungkin benar adanya sebuah nasehat lama itu.. 

“Jika orang tua berbicara, IYA kan saja. Sesalah apapun itu.. Suatu saat kamu akan mengerti arti kebenarannya.”

Teknik komunikasi: Dahulukan mengenal dan membaca situasi sebelum mengkritik

Dari belajar tentang menoleransi mom shaming hingga memahami dan mengaplikasikan kritik positif aku menjadi paham bahwa ada satu garis merah yang harus ditarik untuk menjadikannya pembelajaran yang berarti. 

Bahwa sebelum mengkritik seseorang, dahulukanlah mengenalnya..

Setelah sudah mengenalnya, bacalah situasi hatinya..

Pahami dan peluk hatinya..

Jika diminta bantuan, barulah beri pendapat dan kritik. 


Yup, begitulah kiranya. Setidaknya, menurutku inilah teknik komunikasi terbaik yang dapat aku simpulkan setelah sekian tahun belajar. Karena sebagus apapun kritik positif.. Kalau dilakukan tanpa membaca perasaan dan situasi maka kritik tersebut akan berakhir pada sebuah trigger permusuhan. 

Pernah mendengar istilah ‘Toxic Positivity’?

Istilah toxic positivity sendiri pernah ngetrend belakangan ini. Yaitu kondisi dimana seseorang secara terus menerus mendorong orang yang sedang tertimpa kemalangan untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan kenalannya itu atau tanpa memberi kesempatan kenalannya untuk meluapkan perasaannya.

Mungkin jenis toxic seperti inilah yang menjadikanku dulu sangat pemarah dan menutup diri. Ketika fase awal menjadi ibu baru, aku hanya ingin dimengerti oleh lingkunganku. Bahwa aku juga ingin merasa dihargai, diberikan ruang untuk berkeluh kesah dsb. Bahwa sesungguhnya, yang aku butuhkan hanya telinga. Bukan mulut untuk dikritik. 

Itulah kenapa akhir-akhir ini jika aku bertemu dengan keluhan new mom di sosial media, aku sangat amat jarang ikut berkomentar disana. Aku bahkan sangat jarang memberikan like dsb. Kecuali, dia adalah teman dekatku. Sesekali aku memberikan feel care di status tersebut. Atau malah mengomentari dengan tidak nyambung demi membuatnya tersenyum. Karena aku pernah berada di posisi tersebut. Aku tidak butuh kritik, aku hanya butuh teman pendengar. 

Tentang timing memberikan pendapat positif dan cara menyalurkan ekspresi

Berikanlah kritik positif ketika diminta. Itulah cara aman menghindari label mom shaming. 

Nah, jikapun mungkin kita sangat ingin memberikan edukasi positif terkait tentang ASI, cara menggendong, perkembangan anak, motivasi diri dsb maka akan lebih baik jika itu disharing melalui status sendiri saja dengan aturan yang bisa dibaca publik. Ets, tunggu sharing hal positif bukannya rentan jadi toxic positivity?

Manusia normal adalah manusia yang bisa berekspresi dengan bebas. Sedih punya ruang, senang punya ruang, norak punya ruang. 

Namun saranku, biasakanlah hidup memiliki privasi. Itulah inti dari sebuah ekspresi. Sejak menjadi ibu, aku akhirnya paham bahwa tidak semua orang bisa paham tentang rasa sedih, norak, positif dsb. 

Karena itu, aku mengatur privasi segala media sosialku. 

Blog adalah tempatku bercerita ketika segala pengalaman pahit dan manis telah menemukan hikmahnya. 

Facebook adalah tempatku bisa melihat perasaan teman-temanku. Tempatku mencari inspirasi. Tempatku bisa melihat video bermanfaat dari nas dkk. Ah, sereceh itu. 

Instagram adalah tempat dimana aku menebar hal positif saja. Sebuah citra singkat yang mungkin akan membuat orang berpikir kalau hidupku bahagia sekali. 

Dan WA story adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa sedih, norak, bingung, labil, alay, nyinyir dsb. Hanya kurang dari 10 orang yang bisa melihatnya. 

Wah, sepertinya tulisannya sudah sedemikian melenceng dari topik awal? 

Ah tidak juga. Karena sebenarnya ini berkaitan. Dan percayalah, segalanya akan teratur dengan baik jika kita bisa mengatur privasi. Karena awal mula dari mom shaming adalah ketika kita tidak bisa menempatkan ekspresi pada tempatnya. 🙂 

So.. kalian sendiri bagaimana moms? Lebih sering bertemu kritik positif atau mom shaming?

Perjuangan Menyusui Kedua Buah Hati Pasca Operasi Cesar

Perjuangan Menyusui Kedua Buah Hati Pasca Operasi Cesar

“Gak usah bersikeras menyusui, kamu istirahat aja memulihkan diri. Bayinya biar kami bawa pulang dulu..”

“Tapi.. Dia minum apa kalau enggak nyusu ka?” Tatapku nanar. 

“Ya minum susu formula aja. Kan banyak aja susu formula untuk bayi.. Kalau bersikeras menyusui takutnya luka cesarnya lambat sembuh.. Nanti kamu.. Bla bla “

Suamiku bergegas mengambil Humaira dari gendongan iparku kemudian menyerahkannya padaku untuk aku susui. Lantas langsung berbicara dengannya ke luar ruangan. 

Melihat itu, aku tersenyum. Aku sangat senang suamiku support padaku untuk memberikan ASI pada Humaira. Pemandangan ini langka dan sangat romantis. Apalagi mengingat saat anak pertama lahir dulu suami tidak bisa datang. Jadi saat melihat hal itu, hatiku bahagia. Sangat bahagia. 

Walau awalnya terasa sulit. Pemandangan itu membuatku kuat. Ini memang tidak mudah, tapi setidaknya kali ini aku tidak merasa berjuang sendirian. 

Menyusui pasca operasi cesar itu tidak mudah

Yup, menyusui pasca operasi cesar itu tidak mudah. Karena Ibu yang melahirkan cesar tidak bisa langsung beraktivitas normal. Duduk dan memiringkan tubuh saja tidak bisa instan. Apalagi ketika harus langsung menyusui. Duh, sungguh tantangan tersendiri. Dan kedua anakku lahir secara cesar, jadi aku memiliki kisah suka dan duka tersendiri dibalik proses menyusui. 

Aku pernah menangis tidak tahan ketika menyusui anak pertama dahulu. Dari ASI yang tidak keluar, bayi kuning hingga luka pasca operasi yang sukar sembuh, belum lagi kalau mengingat aku sempat kena babyblues. Hiks.. Pengalaman menyusui ini juga sudah aku tulis secara lengkap di blog ini. Bedanya, saat anak pertama itu rasanya sulit sekali. Tapi ketika anak kedua, energi positif itu ada. Sehingga tidak terlalu drama layaknya anak pertama. 

Dari pengalaman anak pertama dan kedua, aku sadar tentang pentingnya energi positif. Bahwa energi positif itu sangat berguna untuk menyusui sambil menahan rasa sakit. Dari menyusui sambil berusaha memiringkan tubuh pasca operasi, sambil duduk, hingga menggendongnya dan membawanya pulang ke rumah. Dan tentu saja ada beberapa tips tersendiri untuk melawan rasa sakit itu. 

Mengatasi rasa sakit menyusui pasca operasi cesar

Bagi Ibu yang melahirkan secara cesar tentu setuju sekali bahwa saat bayi mulai menghisap payudara maka jahitan cesar seakan terasa terbuka kembali, belum lagi tentang drama puting yang lecet. Kedua rasa sakit itu harus ditahan demi suksesnya MengASIhi. Dan berikut adalah beberapa tips dariku untuk mengatasi rasa sakit itu:

1. Jangan menyerah dengan rasa sakit, yakin bahwa semua Ibu bisa melewatinya

Sungguh, aku pernah ingin menyerah saja saat menyusui anak pertama dulu. Tapi, Ibuku sangat memotivasiku. Dia berkata bahwa aku kuat. Dia juga yang bercerita tentang pengalamannya menyusui adik kembarku dengan kondisi payudara yang tidak sempurna. Padahal saat itu pengobatan pasca operasi cesar tidak secanggih sekarang. Hal itu sangat memotivasiku. AKU BISA. AKU BISA. 

Ibu yang lain juga bercerita padaku tentang pengalaman mereka dalam menyusui. Entah kenapa dari cerita tersebut aku menjadi yakin bahwa aku bisa melaluinya. Walau terkadang rasanya ingin menangis setiap kali jahitan itu sakit. Apalagi ketika melihat putingku lecet keduanya. Hiks. Tapi sunggguh, selama 2 minggu akhirnya luka-luka itu sembuh. Putingku dan sayatan cesarku. 

2. Mengonsumsi makanan yang mengandung albumin

Salah satu rahasia kesembuhan luka di puting dan jahitan cesarku adalah aku sangat rajin memakan ikan haruan pasca melahirkan. Baik saat anak pertama maupun kedua. Ikan haruan ini disebut juga ikan gabus kalau di daerah jawa. Zat albumin di dalam ikan ini sangat bagus dalam penyembuhan luka. 

3. Rajin kontrol luka jahitan

Terakhir, rajin-rajinlah kontrol jahitan ke dokter. Pertama kontrol yaitu 3 hari pasca pulang dari RS, kemudian seminggu sekali hingga luka benar-benar mengering. 

Luka jahitan yang mengering tentu akan memberikan kenyamanan pada ibu untuk menyusui. 

Tapi ingat, rawatlah luka dengan tidak meninggalkan moment menyusui, karena sesungguhnya dengan menyusuilah maka rahim kita akan cepat kembali normal begitupun dengan luka cesar. 

Benarkah Ibu yang melahirkan cesar sulit untuk memberikan ASI? 

Aku pernah mengalami masa down saat menyusui anak pertama. Saat itu, ada salah satu penjenguk yang berkata padaku bahwa Ibu yang melahirkan cesar tidak bisa menyusui. Karena tidak mendapatkan rasa sakit pemancing keluarnya ASI layaknya Ibu yang melahirkan normal.

Dan sungguh, statement tersebut menguras semangatku. Apalagi saat awal menyusui Farisha payudaraku benar-benar kecil dan tidak kencang seperti Ibu lainnya. 

Aku yang minim ilmu dalam menyusui langsung merasa bersalah karena tidak bisa melahirkan normal. 

“Kalau saja ketubannya tidak pecah duluan dan ada pembukaan.. Mungkin saat ini Farisha bisa menyusu dengan nyaman dan tidak menangis terus.. ” Kataku sedih. 

Untunglah saat itu aku didampingi oleh kakakku yang merupakan seorang Dokter. Kakakku adalah salah satu pendukungku dalam menyusui Farisha. Dia berkata untuk terus menyusui, karena jika tidak.. Air susu tidak akan keluar. 

“Yang memancing air susu untuk keluar itu bukannya tentang cara melahirkannya, tapi tentang seberapa besar usaha Ibu untuk terus menyusui Bayi..”

“Dan sesungguhnya.. Bukan mulut orang yang menentukan keberhasilan menyusui. Tapi semangat mulut bayi dalam menghisap. Jika ia selalu menangis dan tak mau lepas dari payudara, artinya bukanlah ASI nya sedikit. Ia sedang menikmati ASI. Ia sedang memancing ASI untuk keluar lebih banyak.. “

Dan semua kata-kata itu benar adanya. Walau dulu Farisha sempat mengalami kuning dan penurunan berat badan akibat kurangnya ASI. Namun dalam jangka waktu 2 minggu berat badannya kembali naik, badannya mulai berisi dan astaga.. Lihatlah payudaraku yang ASI nya selalu kencang bahkan sering rembes sendiri. 

Farisha pun menjadi anak yang ‘super montok’ sehingga sering digelari ‘si endut’ oleh orang-orang. Dan saat umurnya masih 5 bulan, ada salah seorang Ibu bertanya padaku di Posyandu.. 

“Minum susu merk apa mba jadi badannya montok banget?”

“Minum ASI aja buk.. Hehe.. ” Sahutku malu. 

Ingin sekali rasanya aku meloncat riang. Apalagi jika ingat perjuangan awalnya. Dimulai dari perasaan insecure karena melahirkan cesar, dituding tidak bisa menyusui hingga… hiks.. Speechless.. 

Dan yaa.. Kedua anakku adalah anak ASI, walaupun aku melahirkan secara cesar. 🙂 

Jadi, semua Ibu bisa menyusui bayi kok. Baik itu Ibu yang melahirkan secara normal maupun cesar. 

Tips agar ASI melimpah walau pasca operasi cesar

Saat menyusui anak kedua, perjuangannya lebih menyenangkan dibanding saat anak pertama. Karena ada suami yang mendampingiku. Walau sempat melalui fase ASI seret, lidah bayi yang putih dan sebagainya akan tetapi perjuangan menyusui Humaira sukses. 

Sekarang, Humaira sudah berusia 18 bulan. Anaknya lincah dan selalu riang. Walau tidak memiliki tubuh segendut Farisha sewaktu kecil tapi berat badannya masih termasuk dalam kategori normal. Yaa.. Setiap anak berbeda bukan? Tidak gendut bukan berarti kualitas ASI nya berbeda. 

Meski sudah 18 bulan menyusui, Alhamdulillah ASI yang aku miliki tergolong cukup. Bahkan sesekali aku masih memerlukan pompa ASI untuk memerah.

Yup, meski sesekali aku meninggalkan Humaira dan Pica keluar rumah.. Aku tidak lupa untuk menyiapkan stok ASI. Karena bagiku, ASI adalah nutrisi yang terbaik. ASI bernutrisi untuk Ibu dan Bayi Istimewa. Yaa.. yakinlah kalau kita istimewa dan hebat saat memutuskan untuk memberikan ASI. 

Nah, berikut adalah beberapa tips dariku agar lancar menyusui meski pasca operasi cesar. 

1. Jangan Stress

Apapun yang sedang terjadi, jangan stress. Karena stress akan menghambat keluarnya ASI. Pikiran negatif itu akan membuat efek negatif pula ke seluruh badan. 

Karena kita adalah apa yang kita pikirkan. 

“Menyusui adalah tentang ikatan pertama Ibu dan Anak. Bangunlah ikatan itu dari sebuah keyakinan diri.. “

Lalu, bagaimana bisa muncul keyakinan jika kita sendiri stress? 

Jadi, jauhi perasaan tidak nyaman. Milikilah support system yang baik dan pikirkanlah hal yang baik-baik saja. Dan yang sangat penting lagi.. Tidak usah dengarkan apa kata orang. 🙂 

2. Selalu menyusui bayi dimanapun dan kapanpun

“Tapi, Coba lihat.. ASInya tidak keluar.. ” 

Sahutku sambil memencet putingku.

“ASI perlu isapan bayi untuk keluar maksimal, bukan ditentukan lewat pencetan dibagian puting. Apalagi ini anak pertama. Hanya isapan bayi yang efektif untuk memproduksi ASI.. ” Sahut Kakakku

Dan itu benar. Saat aku memompa ASI, sangat sedikit ASI yang bisa keluar. Tapi ketika bayi menghisap, ia bisa tertidur sambil menyusu dan bahkan sambil pipis. Bukankah itu artinya ASI nya keluar saat dihisap? 

Semakin sering kita menyusui bayi.. Maka produksi ASI juga semakin banyak. Itulah hukum kekekalan ASI.

3. Milikilah dukungan dari Suami

Nah, mari sambung kalimat pembuka tulisan ini disini. 

Yup, salah satu penguatku dalam menyusui anak kedua adalah suamiku. Sedangkan penguatku dalam menyusui anak pertama adalah Mama dan Kakakku. Karena, saat anak pertama lahir dulu suamiku tidak bisa datang hingga anakku berumur 4 bulan. 

Dan tidak dipungkiri rasanya beda sekali melahirkan didampingi suami dan tidak didampingi. Rasanya, aku seperti memiliki seseorang untuk membelaku disaat ingin menangis. Termasuk halnya membela dalam hal mempertahankan egoku untuk menyusui Humaira. 

Dukungan suami sangatlah penting. Karena setidaknya kita memiliki orang yang selalu berada dipihak kita untuk bisa menyusui. Istilah Ayah ASI pun melekat pada seorang Ayah yang terus support sang ibu untuk bisa menyusui. 

Ayah yang menemani begadang, mengganti popok, membantu di dapur, membelikan makanan lalu memberikan Ibu waktu untuk mengelola Me time.. Itulah Ayah ASI sejati. 

4. Miliki empat waktu sehat seimbang

Ibu menyusui itu harus ‘waras’. Karena itu sangat penting untuk menjaga kestabilan hatinya. Jadi, sangat penting untuk menjaga keseimbangan manajemen 4 waktu dalam hidup. 

Empat waktu itu adalah Me time, Couple Time, Family Time dan Social Time. 

Sebagai Ibu, kita harus memiliki me time agar kita dapat memelihara hobi dan passion. Me time sederhana seorang Ibu menyusui mungkin dapat dilakukan dengan menonton film, membaca buku dsb. 

Jangan lupa untuk Couple Time sesekali. Milikilah waktu bersama pasangan. Karena sebelum si kecil muncul, jangan lupa bahwa kita adalah pasangan bahagia bersama suami. 

Family time saat menyusui dapat dilakukan dengan makan bersama, nonton film bersama hingga.. Mmm.. Ganti popok bersama mungkin? Haha.. 

Social time? Yaaa.. Ini penting.. Biarkanlah sesekali Ibu menyusui keluar rumah untuk sekedar bertemu teman-temannya. Karena tidak nyaman loh kalau dunia ibu hanya berputar di rumah saja. 

Empat waktu diatas harus diatur dengan seimbang untuk kewarasan Ibu menyusui. Ibu yang waras akan menghasilkan ASI berkualitas. 

5. Banyak makan makanan bergizi, jangan takut gemuk! 

Jangan lupa untuk selalu makan makanan bergizi terutama saat menyusui. Ehm, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa banyak? 

Tentunya sampai Ibu merasa kenyang. Biarpun porsi makanan melebihi porsi sebelum menyusui, tidak usah takut gemuk. Utamakan kualitas ASI terlebih dahulu. ASI bernutrisi tercipta dari makanan yang bernutrisi bukan? Lagi pula, menyusui itu adalah diet paling efektif loh. 

Apakah harus mengonsumsi makanan tertentu? Apakah ada pantangan? 

Menurutku sendiri, Ibu menyusui jangan terlalu banyak memikirkan pantangan. Apalagi kalau harus kehilangan nutrisi lengkap ketika banyak pantangan. 

“Utamakan nutrisi lengkap, karena percuma jika banyak pantangan tetapi nutrisinya kurang.. “

Kalau tantangannya masih masuk diakal, terutama untuk menghindari reaksi alergi maka jauhi makanan alergi. Akan tetapi, jika pantangannya adalah ‘jangan makan buah nanti anak diare’ atau ‘jangan makan ikan, nanti ASI amis’ . Hmm, sebaiknya jangan dilakukan ya.. 🙂 

6. Jangan kelelahan dan tidur cukup

“Kalau anak sedang tidur, mamanya jangan ikutan tidur. Nanti kerjaan di rumah gak beres-beres.. “

Sesekali boleh sih menuruti saran diatas. Tapi ingatlah bahwa kita juga punya batasan lelah masing-masing. Ibu lain kuat kalau hanya tidur 3 jam, tapi belum tentu kita kuat. 

Boleh banget kok kalau anak tidur kita juga ikut tidur. Kurangilah standar sesekali. Apalagi ketika anak masih ASI ekslusif. 

7. Minum suplemen tambahan untuk nutrisi Ibu menyusui

Yup, multivitamin itu menurutku penting untuk mendukung nutrisi Ibu menyusui. Apalagi aku sering sekali anemia, pernah jatuh sendiri pasca menyusui, hingga yaa.. Aku itu cepet banget capek. 

Belum lagi Ibu yang menyusui itu memiliki potensi tinggi untuk terkena osteoporosis. Untuk anak pertama saja, ada salah satu gigiku yang keropos begitu saja. Makanya saat memiliki anak kedua ini aku butuh nutrisi tambahan dari multivitamin khusus untuk ibu menyusui.

Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold adalah salah satu multivitamin dan mineral yang aku konsumsi saat menyusui. Sebenarnya, untuk lebih optimal aku sarankan untuk mengonsumsi multivitamin ini sejak hamil. Karena, 1000 hari pertama anak dimulai sejak hamil. 🙂 

Mengapa Memilih Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold

Kenapa sih pilih Black Mores? Kan multivitamin banyak? Dan kalsium, asam folat, zat besi bisa dibeli? Gak perlu kan pake satu produk khusus? 

Nah, ada 3 hal yang buat aku percaya untuk pilih Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold ini, diantaranya adalah

1. Dosis disesuaikan berdasarkan kebutuhan ibu hamil & menyusui di Indonesia (tidak berlebih)

Yup, dosis Black Mores Pregnancy and Beast-Feeding Gold ini sudah diatur sedemikian rupa untuk sesuai dengan kebutuhan Ibu. Aku sendiri sangat cocok meminumnya, terlebih saat usia Humaira sudah 18 bulan ini ASI ku mulai berkurang produksinya. Multivitamin ini tidak membuat ASI terlalu banyak, tapi cukup.. Alhamdulillah. 

Dan tentu saja aku tidak tambah gendut pasca meminum multivitamin ini. Haha. Jangan khawatir, multivitamin itu tidak bikin gemuk kok. Minum sebanyak 2x sehari pada siang dan malam hari. Insya Allah nutrisi Ibu tercukupi dan ASI juga bernutrisi untuk bayi. Karena ASI bernutrisi untuk Ibu dan Bayi Istimewa bukan?

Nah, berikut adalah komposisinya:

Asam folat 200 µg, Kalium iodide 98 µg (Iodium 75 µg), Fish oil 500 mg mengandung 165 mg Omega-3 (DHA 125 mg + EPA 25 mg), Fe (II) fumarate 15.7 mg (Zat besi 5 mg), Niasin 7.5 mg, Vitamin C 30 mg, Kalsium karbonat 300 mg (Kalsium 120 mg), Zinc sulfat 20.8 mg (Zinc 7.5 mg), Magnesium oksida 49.8 mg (Magnesium 30 mg), Thiamine nitrate 500 µg (Vitamin B1 405 µg), Riboflavin (Vit B2 750 µg), Pyridoxine HCl (Vit B6 750  µg), Vit B12 1.5 µg, d-alpha tocopherol (natural Vit E 5.21 IU), Dunaliella salina cell extract soft concentrate 72 mg

2. Mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi ibu hamil dan menyusui

Black Mores Pregnancy and Breast-Feeding Gold ini adalah suplemen dengan kandungan lengkap, 17 Nutrisi Esensial di dalamnya sangat penting untuk mencukupi kebutuhan nutrisi ibu menyusui sehingga dapat memberikan ASI bernutrisi untuk buah hati. Adapun 17 nutrisi esensial itu adalah:

1. Tinggi Asam Folat

Ibu hamil dan menyusui tentunya memerlukan asam folat yang tinggi bukan? Asam folat dibutuhkan untuk membantu mendukung pengembangan sel darah merah dan menyerap zat besi untuk tubuh. Dan fungsi yang jauh lebih  penting adalah karena ini termasuk vitamin untuk ibu menyusui agar bayi cerdas.

2. Tinggi Kalsium dan DHA

Kalsium merupakan kebutuhan yang penting bagi Ibu dan Bayi karena diperlukan untuk membantu pertumbahan tulang dan gigi. Selain itu juga untuk mencegah terjadinya osteoporosis pada ibu.

Yup, aku punya pengalaman tentang pengeroposan gigi pada anak pertama dulu. Karena saat anak pertama aku tidak mengonsumsi multivitamin. Ketika anak kedua ini Alhamdulillah tidak, karena faktor peningkatan ekonomi mendukung jadi bisa mengonsumsi multivitamin seperti blackmores ini. 

3. Zat Besi

Zat besi yang terkandung dalam Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold tidak menyebabkan konstipasi karena berasal dari besi fumarat. Jadi, aman dan bantu ibu jaga energi supaya tidak mudah sakit. Apalagi aku punya riwayat anemia. 

4. Omega 3/DHA dari Minyak Ikan

Omega 3/DHA ini baik untuk pertumbuhan otak & mata bayi. Dan yang paling aku suka minyak ikan ini tidak berbau dan menyebabkan mual saat dikonsumsi.

5. Vitamin dan Mineral Lainnya

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold juga mengandung vitamin dan mineral lainnya. Dan tentunya sangat dibutuhkan oleh ibu menyusui.

3. Mendukung perkembangan bayi pada masa 1000 hari pertama kehidupan

Tentu semua sudah tau bukan bahwa 1000 hari pertama itu adalah masa golden age. Dan itu tidak akan terulang lagi. 

sumber: www.blackmores.co.id

Karena itu, cukupilah nutrisi anak di masa 1000 hari pertamanya dengan ASI bernutrisi. Karena ASI itu TIDAK TERGANTIKAN. ASI menjadikan ikatan antara Ibu dan Anak kuat. Sentuhan itu, pelukan saat menyusui, proses pendekatan itu.. Luar biasa. Itulah awal dari cinta. 

ASI adalah nutrisi cinta pertama bayi saat lahir ke dunia. 

Dan sejak meminum blackmores, kandungan ASI yang aku perah akhir-akhir ini memiliki kandungan seimbang antara hindmilk dan foremilk. Menurutku, ASI berkualitas seperti itu.. kandungannya seimbang. Ah, makanya Humaira bisa tidur nyenyak sejak aku minum multivitamin ini. Semoga tumbuh kembangnya terus optimal dengan tercukupinya nutrisi di 1000 pertama kehidupannya.

World breast-feeding week 2020-ASI bernutrisi untuk bayi istimewa

Nah.. tau enggak sih sebagai bentuk wujud pemenuhan nutrisi ibu hamil dan menyusui maka Kalbe Blackmores Nutrition bekerja sama dengan Yayasan Bumi Sehat. Bumi Sehat sendiri adalah sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada penyediaan akses layanan kesehatan berkualitas, higienis, serta pengupayaan kelahiran anak secara layak.

Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold turut mendukung World Breastfeeding Week yang jatuh pada bulan Agustus. Untuk itu, sejak tahun 2017 Blackmores bekerja sama dengan Bumi Sehat Foundation untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui. Caranya adalah dengan membagikan 12.000 botol Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold di setiap tahunnya di klinik Bumi Sehat. Kemudian akan dibagikan lagi kepada ibu hamil dan menyusui. Wah, luar biasa bukan? 

Saat ini Klinik Bumi Sehat sudah tersebar di tiga kota, yaitu Denpasar, Aceh, dan Papua.

Terakhir, aku sangat berterima kasih pada Blackmores Pregnancy and Breast-Feeding Gold karena telah membantu mendukung ASI Bernutrisi untuk Ibu dan Bayi yang Istimewa. Berkat itu, aku bukan hanya telah merasa memberikan yang terbaik untuk anakku tetapi juga menghargai diriku sendiri sebagai seorang Ibu. Bahwa akupun butuh dukungan nutrisi yang kuat untuk hari-hari bahagiaku. 

Oya, Untuk kalian yang ingin mendapatkan produk ini caranya mudah loh. Karena tersedia di berbagai E-Commerce, seperti: Lazada, bukalapak, tokopedia dan Shopee yang bertuliskan Official Store.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: https://www.blackmores.co.id/mom-and-baby/

Atau langsung ke akun instagram @blackmoresid.

Nah, kalian punya cerita menarik juga tentang menyusui? Share denganku yuk!

Happy Breast-Feeding Mom!

Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir

Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir

“Gimana ya cara ngomong sama suami, masa aku dikasih segini aja tiap bulan? Padahal udah tau anak nambah. Udah tau biaya sekolah segini, biaya bulanan segini.. Kok masih gak ngerti aja ya.. “

Sebuah diskusi awal dari grup WAG emak-emak yang tentu saja ada aku didalamnya. Sebagai silent reader, aku hanya bisa manggut-manggut membaca chat demi chat yang mengompori maupun menyemangati Ibu tersebut. Ingin sekali rasanya ikut nimbrung. 

Writing.. Tapi delete lagi.. Writing.. Tapi delete lagi.. 

Ya ampun, aku memang gak pede sih kalau ikutan nimbrung di tengah-tengah banyak kepala begini. Akhirnya, kuputuskan untuk menyimak hingga akhir. Dan, selang seminggu berlalu.. Kuberanikan diri untuk menulis blogpost ini.. 

Bagaimana Mengatasi Suami yang Lemah Tentang Nafkah Lahir? 

Jujur, selama 8 tahun umur pernikahan.. Aku sangat pernah mengalami hal yang sama dengan Ibu tersebut. Dari awal nikah yang hanya dikasih nafkah 300rb, lalu 1 juta, 2 juta, hingga 3 juta. Aku sendiri? Bukanlah seorang Ibu pekerja. Aku hanya perempuan biasa yang memilih nikah muda kemudian menjadi IRT saja. Tanpa uang sampingan_ Apalagi statement mandiri secara finansial. Ya setidaknya sebelum ngeblog dsb. 

Aku juga pernah menangis di kamar. Memikirkan bagaimana menambal uang sekolah anak. Apalagi ketika sudah ‘meminta’, bukannya uang yang aku dapatkan tapi sebuah keluhan. Seakan aku bukanlah manager keuangan yang pantas dalam rumah tangga untuk diberikan kepercayaan. 

Aku juga pernah memandang iri kepada teman-temanku. Apalagi kepada mereka yang disayang oleh suaminya, padahal mereka tidak sehemat aku dalam mengelola uang. 

Jadi, seandainya bisa.. Aku ingin memeluk Ibu yang mengeluh tersebut. Mengatakan kepadanya.. “I feel you..”

Yah, bagiku.. Tidak cukup berkata sabar kepadanya sebagai semangat. Tidak cukup pula berkata ceramah dsb. Apalagi untuk menguatkan dengan menyuruhnya memulai usaha untuk bisa mandiri secara finansial. Itu bukanlah hak yang bijak ditengah-tengah keluhan itu. 

Tapi, pengalaman 8 tahun menikah membuatku banyak belajar. Bahwa mengatasi suami yang lemah soal nafkah lahir bukanlah hal yang instan. Perlu proses panjang. 

Bahkan jujur saja, aku baru-baru ini saja mendapatkan kepercayaan untuk mengelola keuangan rumah tangga. Bayangkan apa yang terjadi padaku sebelum ini? Aku bahkan pernah menulis tulisan konyol sebagai kode lucu untuk suami. But, no respon. Hahaha

Baca juga: “10 Jurus yang Perlu Istri Ketahui Ketika Jatah Bulanan Kurang

Ah lupakan. Pada akhirnya, jurus-jurus dibawah inilah yang efektif untuk menaikkan jatah bulanan. 

1. Pahami Pola Pikir Suami, Apakah Ia Memiliki Tanggungan Lain? 

Pernah mendengar istilah sandwich generation

Yaitu ketika generasi penerus harus menanggung kebutuhan hidup generasi sebelumnya?

Itulah yang terjadi pada keuangan rumah tanggaku. 

Nafkah yang dimulai dari uang 300rb, tinggal di rumah mertua, lalu memberanikan diri membeli rumah dengan kredit, dapat jatah bulanan 1 juta dengan anak yang masih bayi.. Itulah rumah tanggaku dahulu. Thats why, dulu aku sampai terkena baby blues. Salah satu faktornya karena ekonomi. 

Tapi mau bagaimana lagi? Jika mengingat kondisi sangat tidak memungkinkan untukku bekerja diluar. Akupun juga pernah berusaha berjualan online. Tapi ya.. Begitulah.. Hiks

Dan diatas semua kondisi itu, aku tidak mungkin menyalahkan suami. Tidak mungkin pula untuk menyuruhnya mengutamakan keluarga kami. Menikah dengan suami yang merupakan anak lelaki dari seorang Ibu yang janda serta memiliki beberapa adik yang masih sekolah maka aku juga harus rela berbagi. Itulah risiko yang harus aku hadapi diawal pernikahan. 

Tanggungan-tanggungan seperti ini merupakan hal yang harus kita perhatikan. Ketika suami memberi nafkah kecil karena memiliki banyak tanggungan, maka kita harus berusaha ikhlas. Itulah ujian dalam pernikahan

“Wanita yang mendampingi lelakinya dari masa sulit akan lebih bermakna dibanding mendampingi lelakinya pada masa senang-senangnya saja.. “

2. Bersabar dan Kuat dengan Pola Hidup Sederhana untuk Memperoleh Kepercayaan

Memiliki tantangan sebagai sandwich generation berarti harus menemukan solusi untuk bisa mengatur keuangan. Pilihannya adalah apakah harus menambah pemasukan? Atau hidup super hemat dengan pemasukan apa adanya? 

Sebagian besar tentu akan menjawab menambah pemasukan. Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berperan menambah pemasukan itu? Apakah suami harus memiliki usaha sampingan? Atau Istri bekerja diluar? Atau Istri bekerja di rumah saja? 

Percayalah, kami sudah mencoba berusaha menambah pemasukan pada awal-awal pernikahan. Dan Alhamdulillah, pemasukan itu dapat kami tabung sedikit demi sedikit untuk membeli uang muka rumah. Memiliki rumah sendiri adalah prioritas kami saat itu. Walau sebenarnya, sisa uang yang kami miliki karena kredit rumah ini terbilang ngepas. 

Karena itu, tidak ada pilihan lain selain mencoba bersabar dan kuat dengan pemasukan yang ngepas ini. Mau tidak mau, harus bisa mengatur budget yang ada untuk kebutuhan sebulan. Nasi dengan lauk apa adanya, menahan diri untuk tidak membeli skincare, tutup mata dengan kilauan dunia sosial. Itulah perjuangan awal menikah dengan uang yang tidak sampai 2 juta per bulan dan memiliki bayi. 

Oya, aku punya sedikit tips untuk mengatur keuangan rumah tangga dengan budget kurang dari 2 juta.

Baca juga: Tips Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga ala Shezahome

Kadang, suami itu bukannya pelit tentang nafkah lahir. Akan tetapi, memang begitulah keadaannya. 

Kadang, suami itu bukannya tidak mau jujur tentang berapa banyak ia memberi Ibu maupun saudaranya. Tapi ia takut dengan rasa cemburu Istri yang mungkin terbakar karena rasa ikhlas yang turun naik. Hiks

Dan memang sebagai Istri, kita harus sedikit sabar.. Mengikuti pola pikirnya selama beberapa saat kemudian sederhanalah dalam mengatur keuangan agar setidaknya mendapatkan kepercayaan penuh dari suami. 

Tujuan awalku dalam sabar, kuat dan sederhana ini sangat simple sebenarnya. Bukan meminta untuk uang bulanan yang diberikan lebih. 

Aku hanya meminta, “Jujurlah padaku setiap kali kamu memberikan uang pada Ibumu. Aku tidak marah. Aku hanya ingin diberikan sebuah kepercayaan.. “

“Karena aku cukup hemat, aku bisa hidup sederhana.. Akulah manager keuangan terbaik.. Bukan yang lain.”

3. Sesedikit Apapun, Cobalah untuk Berterima kasih Sebisa Mungkin

Terdengar naif ya? 

Kalau diberi uang satu juta untuk sebulan padahal itu sangat kurang.. Apakah masih harus berterima kasih? 

Harus. Itu adalah tanda kita menghargai suami. Karena tenaga suami terisi dari perasaan dihargai oleh Istrinya. 

Tugas kita sebagai istri selanjutnya adalah belajarlah berkomunikasi sedikit demi sedikit tentang perekonomian rumah tangga. Artinya, jangan malu untuk mengeluh pada suami. 

Harga beras naik? Biaya sekolah naik? Keluhkan. 

Tidak ditanggapi? Malah diceramahi karena tidak bisa mengatur uang? Marahlah sesekali. 

Kesal banget? Sampai mau curhat ke teman dan sosial media? 

Itu manusiawi. Semua orang punya masa dimana dia butuh pendengar dan penolong. Aku pun juga sering begitu. 

Tapi sekesal-kesalnya kita dengan suami perihal nafkah yang tidak cukup jangan pernah lupa untuk menghargainya. Bahkan untuk sebijik gorengan saja. Berterima kasihlah. 

“Karena bisa saja dia membelikanmu 10 gorengan. Tapi 9 lainnya ia bagikan. Ia takut memberitahumu karena dirimu tak pernah menghargainya dengan terima kasih. Hati kerasmu telah membuatnya takut dan berprasangka..”

Karena menikah itu adalah tentang saling menghargai. Bagaimana bisa kepercayaan diberikan jika menghargai saja tidak bisa? 

Turunkan ego. Hargai dulu. Kuatlah sebentar dengan rasa itu. Semoga tidak sia-sia. 

4. Milikilah Pilihan Bijak Tentang Meningkatkan Pendapatan

Mari menyambung point nomor 2 tentang opsi lain selain mencukupkan nafkah yang ada yaitu menambah pemasukan. Karena konon sebenarnya inilah jurus pamungkas dibalik ketidakcukupan nafkah. 

Pilihannya adalah, apakah suami harus memiliki usaha sampingan? Atau sebaiknya istri juga membantu secara finansial? 

Semua pilihan baik. Tapi, pilihan terbaik adalah yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Karena tidak semua rumah tangga bisa baik-baik saja jika Ibu bekerja. Pun sebaliknya.. Tidak semua rumah tangga bisa baik-baik saja jika suami bekerja terlalu keras hingga LDR dsb. 

Aku sendiri memilih opsi untuk memaksimalkan potensi suami. Suamiku memiliki mimpi besar selain hanya menjadi dosen. Ia memiliki mimpi untuk membangun perusahaan IT dengan bakat programming yang dimilikinya. Mimpi ini sudah lama ia rancang. Tugasku? Mendampingi dan mendukungnya dari awal. Jangan tanya tentang hal yang aku korbankan demi mendukung ini. Aku mengorbankan sebagian mimpiku. But its okay. Mimpiku yang terbaik adalah mendapatkan kepercayaan dari suami. Dan menggali sedikit mimpiku dari keberhasilan suami. 

Karena itu, aku harus full dalam usaha melayani. Tapi sekali lagi.. Itu adalah pilihanku. Bukan berarti juga itu adalah pilihan yang terbaik bagi semua rumah tangga.

Intinya, dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga sangat dibutuhkan kerja sama yang seimbang. Jangan sampai suami terlalu lelah bekerja kemudian tidak mendapatkan apresiasi. Jangan pula istri terlalu lelah bekerja kemudian suami lalai dengan kewajibannya. 

5. Jangan Kebablasan dengan Pola Hidup Mandiri Secara Finansial

“Makanya wanita harus punya penghasilan sendiri. Ya buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena kadang suami itu gak paham. Dikira kebutuhan hidup cuma buat beras dan lauk.. “

“Iya, suami juga gak bakal ngerti sama pentingnya punya skincare dan make up.. “

“Ah pokoknya biarlah. Yang penting penghasilan aku cukup buat kehidupan aku dan anak.”

Yah, aku akui.. Wanita yang mandiri secara finansial itu luar biasa hebat. Aku pun juga selalu punya mimpi untuk bisa memiliki penghasilan sendiri. Apalagi, kehidupanku dikelilingi oleh wanita-wanita pekerja. Aku cukup banyak tahu hal positifnya jadi ibu pekerja. 

Tapi, kadang-kadang karena saking hebatnya.. Wanita yang memiliki penghasilan sendiri menjadi ajang ‘aji mumpung’ untuk suami meninggalkan fitrah tanggung jawabnya. Hiks.. 

Ini banyak terjadi, kita sebagai wanita kadang selalu mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri. Terlalu over empati lalu berujung kasihan dengan suami sendiri sampai tanpa disadari kita malah membiarkan suami meninggalkan fitrahnya. Lalu karena saking terbiasanya kemudian berpikir.. ‘Ya sudahlah..’

Padahal, ini bukan pola yang benar. Bagaimanapun juga suamilah yang bertanggung jawab untuk nafkah lahir keluarga. Adapun peran istri adalah mendukung suami. 

Okelah kalau uang istri dipakai untuk mendukung passion suami, menemaninya mulai jatuh hingga bangun. Tapi ingat, ketika suami sudah berhasil dengan usahanya maka tuntutlah hak kita dengan komunikasi yang benar. Jangan dibiarkan saja. Salah-salah nanti uangnya untuk istri kedua.. *etdah kok jadi ke sinetron ikan terbang. 

Intinya, kembalikan sesuatu sesuai fitrahnya. 

Suamilah yang sebenarnya bertanggung jawab untuk nafkah keluarga, jikapun istri membantu maka itu bernilai sedekah. Jangan kebablasan membiarkan demi rasa yang terbiasa. 

Karena ketika istri menjadi serba bisa tanpa bantuan suami, maka hatinya perlahan menjadi keras. Ia tak lagi lembut seperti dahulu. 

6. Berdoa.. berdoa.. berdoa! 

“Tapi sudah dikomunikasikan.. Sudah sampai nangisss rasanya. Okelah buat aku sendiri gak usah dikasih apa-apa. Tapi minimal.. Masa buat anak sendiri aja enggak mau tanggung jawab.. “

“Laki-laki ini selalu minta dihargai, bagaimana bisa dihargai kalau sama tanggung jawabnya sendiri aja lalai. Apa yang mesti dihargai?”

“Sedih rasanya ketika tau suami punya uang lebih tapi gak pernah kasih ke aku. Malah kasih kesini.. Kesitu.. Sudahlah sering denger ceramah dari Ustad dsb. Tapi mantul gitu aja.. “

Jika sudah mengalami titik kritis seperti diatas padahal sudah berusaha maksimal sekali maka… berdoalah. 

Eeeh.. Jawaban putus asa banget win? 

Iya, emang kalau sudah putus asa lari kemana lagi? Sujud kepada-Nya lah yang bisa menjawabnya. Karena… 

“Jangan pernah menganggap remeh kekuatan dari doa.. Kita tidak pernah tau bagaimana cara ajaib yang berhasil dari kekuatan ini.. “

Selama 8 tahun pernikahan, aku sebisa mungkin mengamalkan doa dari Mama. Menyisihkan waktu untuk sholat dhuha agar pintu rejeki terbuka. Dan yang lebih penting lagi, agar pintu hati suami terbuka. Karena apa gunanya banyak rejeki tapi tidak ada keterbukaan? 

Apakah dalam sekali berdoa maka akan dikabulkan? Tentu saja tidak. 

Aku sudah bilang bukan? Bahwa selama 8 tahun pernikahan.. Doaku terjawab di tahun 2020 ini saja. 

Doa-doa simple seperti.. 

“Ya Allah, semoga kalau suami pulang kerja setidaknya sesekali bawa makanan.. “

“Ya Allah, semoga suami kalo curhat ngasih tau tentang penghasilan sebenarnya dan ngasih ke siapa aja..”

Sesimple itu. Dan semuanya dikabulkan perlahan-lahan. Bahkan diberikan bonus oleh Allah berupa dicukupkannya nafkah bulanan bahkan hingga berlebih. Semuanya atas kekuatan sabar dan doa. 

Dan diakhir tulisan ini, bagi siapapun istri yang memiliki nasib yang sama cobalah untuk sedikit saja mengaplikasikan poin-poin diatas.

Teruntuk para suami yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini, pesanku hanya satu.. “Percayailah Istrimu untuk mengatur uangmu” 🙂

Tentang Anakku yang Alergi Protein Susu Sapi dan Susu Formula Soya yang Cocok Untuknya 

Tentang Anakku yang Alergi Protein Susu Sapi dan Susu Formula Soya yang Cocok Untuknya 

Bagaimana perasaanmu ketika anakmu bangun setiap malam dalam keadaan menangis kencang.

Ia muntah tak berkesudahan.

Tangannya sibuk menggaruk punggungnya. Wajah merahnya dan mata yang berair itu menatapmu seakan bertanya, “Apa yang sedang terjadi padaku Ma?”

Ya.. ini cerita tentangku dan Pica, anak pertamaku. Buah hati pertama yang menyeretku ke dalam dunia emak-emak. Anak pertama yang mengajariku arti pengorbanan. Anak yang sungguh merupakan seorang guru kecilku dalam perjalananku menuju kedewasaan. 

Pada umurnya yang ke 2 tahun, aku menghadapi masalah baru dalam perkembangannya. Masalah itu muncul ketika aku sudah sukses menyapihnya. Setiap malam, ia bangun dengan wajah merah dan mata berair. Tangannya sibuk menggaruk punggungnya. Ia tidak ingin menyusu, ia juga tidak meminta pelukan dariku. Ia seakan bertanya pada diriku, Apa yang sedang terjadi? 

Dan bodohnya aku saat itu.. Sungguh aku sendiri pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. 

Ternyata, Anakku Alergi Protein Susu Sapi

Butuh waktu lama untuk membuatku sadar tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anakku. Karena sebagai ‘mamah muda’ aku sungguh merasa segala tindakanku sudahlah sempurna. Jikapun ada yang salah pada Pica, itu pasti bukanlah kesalahanku. Begitulah egoku berkata. 

Ya, sebagai tipe ibu yang cenderung perfeksionis aku merasa tidak melakukan kesalahan. Pica selalu makan masakan rumahan yang aku buat. Tak pernah sekalipun makan makanan instan. Tak pernah pula jajan sembarangan. Apalagi aku selalu memastikan asupan serat Pica selalu seimbang. Lantas bagaimana bisa Pica sering muntah akhir-akhir ini? 

“Mungkin Ibunya makan sembarangan.. “

Suara sayup itu kadang terdengar. Dan pikiranku langsung menentang seketika sambil bergumam, “Pica aja udah gak nyusu lagi.. Bagaimana bisa pola makanku dikait-kaitkan lagi?”

Aku kemudian melirik ke bintik kecil merah yang bersarang di punggung Pica. Berpikir keras. Apakah anakku alergi? Apakah ia sepertiku waktu kecil? Yang tidak bisa makan telur ayam, seafood hingga ayam ras? 

Ah, bukankah aku sudah banyak belajar soal itu dari Mama? Sejak MPASI aku tidak pernah memberikan Pica seafood berlebihan. Pasti aku cek reaksinya. Dan ia juga tidak alergi dengan telur ayam hingga Ayam ras. Bukannya dia sudah sejak lama makan itu? 

Akupun secara iseng memeriksakan kondisi Pica ketika kebetulan check up di Posyandu. Salah seorang bidan berkata padaku, “Bisa jadi dia alergi susu. Kan alerginya kambuh sejak lepas ASI. Kalau boleh tau, Ibu pakai susu apa di rumah?”

Deg.. 

Aku pun langsung melirik kemasan susu pertumbuhan yang baru-baru ini aku beli. Sambil bergumam.. “Apakah gara-gara ini?”

Bergegas aku mencari informasi di google tentang ciri-ciri anak alergi dengan protein susu sapi. Dan dari semua ciri-cirinya.. Sebagian besar ada pada Farisha. 

Bagaimana Bisa Anakku Alergi Protein Susu Sapi? 

Ya.. Pertanyaan selanjutnya adalah.. Bagaimana bisa anakku alergi dengan susu sapi? 

Bukankah aku sendiri tidak alergi? Bukankah suamiku juga tidak? Lalu bagaimana bisa Pica alergi? 

Ternyata, bisa saja sistem kekebalan tubuh Pica langsung bereaksi ketika mengonsumsi kandungan protein yang terdapat pada susu sapi secara langsung. Padahal, aku sendiri juga mengonsumsi susu sapi. Akan tetapi ketika Pica masih ASI, tidak ada reaksi apa-apa. Itulah yang awalnya membuatku ragu. 

Ternyata bisa saja anak alergi susu sapi walau kedua orang tuanya tidak alergi. Apalagi Pica saat itu masih berusia 2 tahun sehingga sistem pencernaan dan kekebalan tubuhnya belum sempurna. 

Atas pertimbangan alergi, maka aku memutuskan untuk berhenti memberikan Pica susu pertumbuhan. Aku hanya rutin memberikannya makanan 4 sehat secara seimbang. Alhamdulillah alergi itu tidak datang lagi. 

Perjuangan Mencukupi Nutrisi Anak Alergi

Ternyata, mencukupi kebutuhan nutrisi anak itu tidak sesimple itu. Awalnya, kupikir dengan memberikan Pica makanan sehat secara seimbang saja sudah sangat cukup untuk kebutuhan nutrisinya. Ternyata aku salah. 

Di usia Pica yang sudah 3 tahun, ia sering sekali terkena radang tenggorokan. Tidak tahu kenapa. Sampai pernah suatu hari dia di opname selama 3 hari. Dan selama itu dia tidak mau makan. Disitulah hatiku terasa ‘terpotek-potek’. Hiks.. 

“Anaknya gak mau minum susu ya?”

“Kok gak dikasih susu?”

Begitulah komentar orang-orang disekelilingku sehingga akupun menjadi serba salah. 

“Adek Pica ini di rumah biasanya makanan kesukaannya apa?” Kata Dokter padaku. 

“Dia suka sekali telur dadar dok. Hampir setiap hari makan telur..” Kataku

“Apa lebih dari satu kali bu? Kalau bisa dikurangi ya Bu. Anak Ibu ada alergi. Dari sekarang harus rajin juga makan ikan sungai dan sayur ya..

Yah, aku tidak terlalu peka soal alergi pada anak ini. Dulu waktu baru disapih, Pica alergi susu sapi. Kulitnya kemerahan dan sering muntah.

Ketika berumur 3 tahun aku kadang sedikit iseng memberikannya susu sapi. Karena Pica sebenarnya suka dengan berbagai susu UHT. Dan aku senang karena bintik merah itu tidak muncul lagi. 

Akan tetapi, rhinitis alerginya kambuh sedikit lebih parah. Sehingga kadang radang tenggorokan juga sering kambuh. Biasanya diawali dengan batuk dan pilek yang tiada henti kemudian berujung tidak mau makan. Tuh kan, sedih sekali aku kalau mengingatnya. Besar kemungkinan kalau penyebab meningkatnya alergi Pica juga disebabkan oleh susu sapi. 

Untungnya, Dokter merekomendasikan kepadaku untuk memberikan susu formula soya pada Pica. Dan atas rekomendasi dokter tersebut, kini Pica rutin minum susu pertumbuhan soya. 

Ya, hingga usia Pica sudah 7 tahun seperti sekarang. Tak dipungkiri bahwa susu soya turut membersamai pertumbuhannya. Tak lupa disertai dengan makanan sehat yang mendukung untuk menghambat alerginya. Aku terus mengusahakan yang terbaik untuk Pica hingga sekarang. Karena aku tau saat inilah masa tumbuh kembang yang krusial. Ya.. Nutrisi Pica harus tercukupi, karena waktu tak bisa kembali lagi. 

Nah, Ini adalah salah satu menu makanan kesukaan Pica. Ikan patin panggang, berbagai sayur, buah dan sambal tomat. Aku hanya memberikannya telur tidak lebih dari satu setiap hari. Dan aku juga selalu rajin memantau reaksi alerginya setiap 3 bulan sekali. 

Tips untuk Ibu yang memiliki Anak Alergi Protein Susu Sapi

Nah, pastinya salah satu dari kalian ada yang memiliki permasalahan sama sepertiku bukan? Berikut tips untuk Ibu yang memiliki anak alergi susu sapi:

1. Jangan stress

Tidak usah stress loh. Karena yang namanya alergi itu wajar banget terjadi. Apalagi untuk alergi susu sapi. Konon, 2 dari 10 anak bisa mengalami alergi susu sapi. 

Intinya, kita tidak sendirian. Dan dari pada larut dengan kesedihan karena anak sangat sensitif terhadap potein susu sapi lebih baik kita hadapi permasalahannya dengan hati yang lapang. 

2. Hindari Makanan yang Mengandung Susu Sapi

Alergi susu sapi ini ada berbagai macam tingkatnya. Ada loh anak yang bahkan mengalami alergi ketika masih ASI. Dan itu terjadi karena ibunya mengonsumsi protein susu sapi. 

Untuk kasus Pica, alergi terjadi ketika ia berusia 2 tahun dan sudah berhenti ASI. Awalnya kupikir susu pertumbuhannya yang perlu diganti. Ternyata tidak, semua susu yang mengandung protein susu sapi pasti memicu sedikit alergi. Begitupun dengan makanan yang mengandung susu sapi. Seperti keju. Pica akan muntah. 

Oleh karena itu aku menghindari makanan dengan penggunaan susu sapi. Siasatnya adalah dengan membuat makanan sendiri di rumah.

3. Rutin Memantau Perkembangan Alergi Anak

Biasanya, alergi susu sapi tidak berlangsung selamanya loh. Kebanyakan hanya berlangsung hingga anak berumur 2-3 tahun saja. Jadi, jangan khawatir untuk belajar memantau perkembangan alergi anak. 

Caranya bagaimana? 

Sesekali, berilah anak makanan yang mengandung protein sapi. Kemudian amati reaksi alerginya selama 2-3 minggu. 

Ketika Pica berumur 2-3 tahun. Ia tidak tahan makan keju. Tapi, ketika sudah berusia 4 tahun hingga sekarang.. Pica sudah tidak alergi lagi dengan keju. Untuk makanan yang lain pun mulai menyusul satu per satu. Meskipun untuk meminum susu sapi alergi masih muncul. 

4. Gunakan Susu Dengan Protein Soya

Nah, ini yang aku lakukan sejak Pica umur 3 tahun. Sedikit terlambat sih tapi lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali. 

Saat ini ada berbagai macam susu formula pertumbuhan dengan protein soya. Akan tetapi tidak semua ramah di pencernaan anak dan beberapa anak tentu sedikit tidak familiar dengan rasa soya. 

Untuk susu pertumbuhan yang Pica konsumsi adalah Morinaga Chil*School Soya. 

Morinaga Chil*School Soya, Susu Formula Soya Untuk Anak 3-12 Tahun

Menurut berbagai referensi, biasanya alergi susu sapi akan hilang dengan sendirinya seiring dengan matangnya saluran pencernaan bayi (pada usia 2-3 tahun). Oleh karena itu, kadang aku juga sering melakukan challenge test dengan cara mencoba memberikan produk-produk yang mengandung susu sapi sedikit demi sedikit. 

Dulu, Pica sangat suka dengan keju. Tapi, kalau ia memakan lebih banyak pasti berujung dengan muntah. Tapi seiring berjalan waktu, alergi keju sudah memudar. Begitu pula dengan berbagai makanan lain yang mengandung susu sapi. Alerginya sudah mulai hilang. Hingga usia Pica 7 tahun, hampir tidak ada makanan yang mengandung susu sapi dapat memicu alerginya. Alhamdulillah sekali. 

Akan tetapi aku belum berani mengganti susu pertumbuhannya secara penuh. Karena mungkin sedikit trauma. Jadilah sampai sekarang Pica selalu punya persediaan susu formula soya di rumah. 

Dan susu formula soya yang Pica konsumsi adalah Morinaga Chil*School Soya. Susu formula ini tergolong sangat cocok untuk Pica karena dari dulu kandungannya sangat ramah untuk pencernaannya. Dengan kualitas protein setara susu sapi, diperkaya L-Metionin, Karnitin, Asam Amino Esensial, serta Vitamin dan Mineral.

Selain itu, MoriCare+ Zigma Triple Bifidus yang ada dalam Morinaga Chil School soya dapat mendukung:

  • Kecerdasan multi talenta

Didukung dengan nutrisi Kolin, asam lemak esensial AAL & AL (Alfa-linolenat & linolelat), dan Zat Besi.

  • Pertahanan tubuh ganda

Kombinasi Probiotik asset moricare omega dan beta (bakteri baik) dan Prebiotik GOS (makanan bakteri baik), bersinergi untuk kesehatan saluran cerna dan meningkatkan daya tahan tubuh.

  • Tumbuh kembang optimal pada anak

Kombinasi Vitamin D dan Kalsium dalam susu pertumbuhan Morinaga membantu untuk menjaga kepadatan tulang dan gigi

Yah, setidaknya sebagai ibu aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Karena waktu tak bisa kembali bukan? 

FYI, Morinaga Chil*School Soya adalah satu-satunya formula pertumbuhan dengan protein soya yang diakui BPOM dan dilengkapi dengan kandungan AA dan DHA, serta mengandung nutrisi sinbiotik (sinergi dari probiotik dan prebiotik) dengan 3 jenis Bifidobacteria. 

Tidak hanya itu, susu formula soya dari Morinaga Chil*School ini juga sangat enak. Berbeda dengan stigma susu kedelai lain yang konon sedikit ‘eneg’ rasanya. Untuk Morinaga Chil School Soya rasanya enak dan segar, karena selain memiliki rasa vanila isolat protein kedelainya juga berkualitas dan tanpa laktosa.

Morinaga Chil School memiliki kualitas protein yang setara dengan susu sapi. Yup, Bebas alergen susu sapi, jadi aman untuk dikonsumsi oleh anak yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi.

Terima Kasih Morinaga Chil School Soya, Kini Aku Bisa Menikmati Waktu dengan Pica tanpa Worry

Orang bilang.. kalau memiliki anak alergi itu pasti perasaan Sang Ibu sering cemas, terutama soal nutrisi. Dan sungguh itu benar sekali. 

Dari sering memantau reaksi makanan yang memicu alergi, mencoba secara berkala hingga sabar jika alergi tiba-tiba kumat. Apalagi jika anak mendadak sakit serius. Hati ibu mana yang tidak sedih? Hiks. 

Alhamdulillah, perjalanan menemukan nutrisi yang pas untuk anak alergi dapat menemukan jalannya. Dan tak dipungkiri itu berkat dukungan nutrisi tambahan dari Morinaga Chil School Soya. Karena bagaimanapun juga, menemukan susu pertumbuhan yang cocok untuk anak alergi itu bagaikan oasis di padang gurun. *maaf mamak sedang lebay.. 

Untuk para ibu yang bernasib sama sepertiku, saranku untukmu adalah jangan menyerah dan jangan larut dengan kesedihan. Karena anak alergi itu wajar saja kok. Apalagi alergi susu sapi. Muntah, bintik merah, dan gejala lain saat mengonsumsi susu sapi itu adalah hal yang sangat wajar. You’re not alone. 

Jadilah Ibu kuat. Karena anakmu membutuhkanmu. 

Yup, masa anak-anak hanya terjadi satu kali. Dan tidak bisa diulang. Begitupun kesempatan kita untuk membersamai anak, semuanya tidak dapat diulang. Karena itu, manfaatkanlah waktu yang ada untuk terus mendukung potensinya dengan memberikan kasih sayang, stimulasi dan nutrisi yang maksimal. 

Terima kasih Morinaga Chil*School Soya karena telah membersamai tumbuh kembang anakku Pica. Kini perasaan cemas itu sudah berkurang. Aku dapat membersamai Pica setiap hari dengan nyaman karena nutrisinya sudah tercukupi. 

Aku ingin selalu menjadi ibu yang terbaik untuk Pica. Dimulai dari sekarang. Karena waktu tak bisa kembali lagi. 

Informasi lebih lanjut cek website www.cekalergi.com dan IG @morinagaplatinum.

IBX598B146B8E64A