Tentang Beropini di Sosial Media, Apakah Bisa Setransparan Mungkin?

Tentang Beropini di Sosial Media, Apakah Bisa Setransparan Mungkin?

Jujur, sudah sekitar 2 bulan ini aku tidak terlalu memantau sosial media. Aku katakan ‘tidak terlalu’ bukan berarti lepas sepenuhnya. Hanya saja, aku hanya memprioritaskan untuk melihat apa yang ingin aku lihat. Teman-teman dekatku saja misalnya. Atau akun instagram yang menghibur saja contohnya.

Aku memang bukan tipe orang yang suka melihat tiktok. Karena reels di instagram sudah amat mewakili konten yang aku butuhkan untuk keseharianku. Aku juga tidak terlalu memantau twitter. Capek melihatnya. Itu aku. Mungkin karena kebutuhanku sekarang juga sudah berbeda dengan aku yang dulu.

Namun, ada satu sosial media lagi yang kadang iseng aku buka. Berandanya muncul secara abstrak. Kadang teman dekat bisa muncul, kadang juga tidak. Entah kenapa hari itu aku melihat salah seorang temanku (yang juga sebenarnya tidak terlalu dekat) me-share status facebook orang ini (yang nama akunnya tak ikut aku screenshot)

Baca dulu, dan aku yakin kalau yang membaca teman bloggerku, mindset dalam memahami sebuah opini pun bisa lebih bijak. Ya kan?

Ini Sosmedku, Bukan Sosmed Kalian

Hal pertama yang aku lakukan setelah membaca status itu adalah kepo pada komentar-komentarnya. Pikiranku sibuk mengkalkulasi opini. Mana yang lebih banyak? Yang julid atau yang memiliki pemikiran serupa?

Ada 200++ akun facebook yang bereaksi dengan tertawa. Namun, ada ratusan pula yang bereaksi dengan love. Selebihnya adalah reaksi suka dan komentar pro dan kontra. Kalau aku kalkulasikan secara abstrak berdasarkan ‘sekali lihat’. Status Ibu ini memiliki pro kontra yang seimbang. Sebagian menyukainya, sebagian lagi menertawai mindset dan mengkritik status ibu ini.

Kepo, aku pun mengklik akun Ibu tersebut. Dan mendapati beberapa statusnya memiliki jumlah like yang lumayan ‘banyak’. Serta ribuan follower. Itu artinya, Jauh hari si Ibu sudah membangun branding sebagai seorang ibu pembisnis yang cukup frugal living dalam hidupnya. Selama itu pula banyak akun yang memfollow dan menyukai statusnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah salah menyinggung dan menyindir konsumen dan pembisnis setarbuk pada sosmed pribadi? 

Mungkin beberapa temanku akan menjawab tidak salah. Karena ini sosmedku, bukan sosmed kalian. Jika ingin beropini kontra, buatlah status sendiri. Bukan menumpang pada ‘rumah orang lain’. Beberapa temanku yang lain mungkin juga akan menjawab bahwa itu salah. Karena saat kita membuat status dan menyindir pihak lain, maka itu sudah termasuk dalam hal yang tidak baik dilakukan. 

Bagaimana denganku? Apakah aku berada pada pihak yang pro atau kontra?

Setiap Orang Pernah Terpeleset di Sosial Medianya Sendiri

Jujur, aku tak bisa pro. Tak bisa pula kontra. Mungkin karena duniaku sekarang bukan lagi duniaku yang dulu.

Dulu, jujur aku memiliki mindset yang mirip sekali dengan ibu ini. Aku sering membuat status di WA tentang masakanku dan berapa modal untuk membuatnya. Mungkin itu bisa menginspirasi pikirku. Tapi pada suatu hari, aku juga pernah mengkritik betapa mahalnya makan di restoran A, B, C. Padahal rasanya ‘Beh’ aja. “Ah, hidup itu memang tentang memilih lifestyle agar bisa maju..” Pikirku.

Aku juga pernah mengkritisi tindakan manusia yang suka mengoleksi barang-barang ‘itu-itu saja’ dengan harga yang tidak masuk akal. Pada mindsetku saat itu, kenapa harus beli barang yang mahal dengan kualitas yang mirip saja dengan barang yang standar harganya. Kan kita sebagai konsumen harus bijak dan hemat.

Pada status-status yang pernah aku lontarkan. Ada beberapa yang terinspirasi. Kebanyakan dari mereka yang memiliki ekonomi menengah hingga menengah kebawah. Aku senang, statusku bisa membuat perekonomian mereka berjalan lebih bijak. Dari situ, aku pernah dalam fase semakin semangat mengunggah ‘cara hemat’ dalam hidupku.

Tapi disisi lain, ternyata statusku itu merupakan kata-kata yang menyakitkan bagi mereka yang memiliki ekonomi keatas. Atau mereka yang memiliki ekonomi sama sepertiku namun ingin memprioritaskan hal yang berbeda.

Dari situ aku sadar, bahwa keangkuhan dan perasaan ‘paling benar’ yang aku miliki membuatku terpeleset di sosial media. Fenomena terpeleset di sosial media ini pun jujur tak hanya 1 sampai 2 kali aku alami. Sering. Namun, apakah aku menjadi jera membuka sosial media?

No. Karena sosial media membuatku banyak belajar. Hanya saja, aku mulai mengurangi itensitas untuk membuat status di ruang yang lebih publik. Aku menyadari, saat membuat tulisan atau apapun itu.. Ada banyak kepala yang menyimaknya dalam cara yang berbeda.

Algoritma Pengumpul Circle

Aku anaknya ‘baperan’. Jujur, baperan banget. Saat beberapa kali terpeleset di sosial media. Aku akan mengobati luka terpeleset itu dengan durasi yang ‘sangat lama’. Dulu, aku memulai sosial mediaku dengan masakan dan frugal living. Saat terpeleset. Aku off lama di sosial media. Lantas saat memulai lagi, aku muncul dengan diri yang berbeda. Tak lagi sering membahas cara hemat dalam hidup. Namun lebih sering memposting tentang parenting. Karya anak-anakku dll. Bagiku, its a new start.. Namun aku tidak sadar, bahwa saat itu pula, algoritma sosial mediaku pun berubah. Aku kehilangan view oleh orang-orang yang dulu menantikan cara dan tips hematku. Tapi aku memiliki follower baru yang memperhatikan cara parentingku.

Dalam membuat konten parenting pun aku pernah terpeleset dalam mom shaming. Tanpa sadar aku jadi sering menyindir mereka yang masih menganut patriarki garis keras. Banyak yang menyukai pembelaanku dan insight feminis yang mulai aku koarkan. Ada masanya, aku merasa benci sekali dengan orang-orang yang memaksa para ibu untuk serba sempurna. Namun, rasa-rasa demikian tak aku teruskan lagi. Karena aku tau, aku sedang terpeleset dan mulai melakukan hal tidak baik. Aku off lagi membuat konten demikian. Banyak merenung. Banyak koreksi diri,

Aku sadar, ‘rasa lebih baik dari pada orang lain’ itu toxic sekali. Karena itu, sosial mediaku belakangan menjadi sosial media yang ‘damai’. Aku hanya berani ‘bersuara’ lewat review drama korea. Berani menampilkan diri yang sekarang lewat job endorse produk. Sesekali curhat, namun itu pun di edit berkali-kali dan durasinya menjadi sebulan sekali. Sesekali aku lebih fokus untuk belajar. Belajar hal baru dan baru lagi. Algoritmaku pun mulai bingung menentukan prioritas karena begitu banyak hal yang aku pelajari belakangan ini

Belajar Investasi. Lalu muncullah berbagai akun reksadana dan saham yang bagus.

Belajar membuat konten perusahaan. Lalu muncullah berbagai akun edukasi membuat konten dll.

Lalu, apa hubungannya heading kali ini dengan tulisan ibu-ibu diawal tadi?

Jujur, aku SALUT dengan akun ibu-ibu itu. Aku melakukan scroll dan scroll atas akunnya. Aku mendapatkan ilmu baru. Bahwa sejelek apapun tulisan atau konten yang kamu buat… KONSISTEN IS KOENTJI.

Kalau boleh beropini, tulisan ibu-ibu tersebut enggak begitu aku sukai. Karena banyak yang berbau ‘yang aku lakukan ini lebih baik lo dibanding kalian’. Namun, karena Ibu-ibu ini konsisten dalam mempromosikan mindsetnya. Maka follower yang ‘satu mindset’ pun berdatangan secara konsisten. Karena itulah, meski ada satu tulisan yang ‘jelek’ dimata sebagian orang. Masih banyak yang menyukai tulisan mode demikian. 

Aku belajar banyak dari Ibu ini bahwa untuk membangun personal branding, janganlah menjadi orang yang ‘baperan’. Sedikit-sedikit tersinggung. Off lama. Dan tak konsisten. Membuat algoritma sosial media pun bingung memandang kita sebagai ‘orang yang suka apa sih?’

Aku memperhatikan kolom komentar yang mengkritik tulisan ibu diatas. Tak ada satupun hate comment yang dibalas. Namun, hate comment tersebut juga tidak dihapus. Bagaimanapun mindset si Ibu. Dia punya batas dan pagar sendiri dalam menanggapi orang lain. Ia hanya fokus pada komentar yang bagus dan tetap fokus membangun dirinya apa adanya.

Damage Tulisan vs Lisan yang Berbeda

Sadarkah bahwa.. tulisan Ibu dalam statusnya tersebut sebenarnya mungkin sering kita dengarkan. Jujur, orang-orang disekitarku sering loh berbicara tentang hal demikian.

“Makan di rumah makan A, mahal banget. Padahal makanannya gak enak. Heran banyak orang kesana. Duitnya berapa banyak. Tapi aku sekarang duitnya banyak juga gak mau kesana.. Mending buat..bla bla”

Saat mendengar kata-kata demikian, kita sih ‘Beh’ aja. Bahkan mungkin bisa memaklumi meski itu terasa salah. Kenapa? Karena menyindir secara lisan dibanding menyindir melalui tulisan di sosial media.. damagenya memang berbeda. 

Dan berikut alasannya:

Pertama, karena saat berbicara secara lisan. Kita lebih tau dengan lawan bicara kita sendiri. Lawan bicara kita yang memiliki latar belakang sama dengan kita dan memiliki pola pikir ekonomi yang sama, cenderung merasakan hal serupa. Lawan bicara yang tak memiliki latar belakang dan ekonomi yang sama namun lebih memahami kita pun bisa ‘maklum’ karena dalam pikirannya.. ya setiap orang berbeda bukan. 

Kedua, karena saat berbicara secara lisan.. Lawan bicara kita bisa merasakan emosi yang terkandung dalam mimik dan nada bicara. Bercanda kah. Atau ingin merasa diakui kah… sehingga prasangka negatif lebih nyaman ditepis dibanding secara tulisan.

Ya, entah kenapa dengan maraknya sosial media. Manusia sekarang kebanyakan lebih suka mengekspresikan apapun di sosial media dibanding secara lisan. Padahal, lisan adalah penyaring pertama yang low risk. Karena sifatnya lebih privasi. Bukan publik.

Tapi kembali lagi, jika orang tak pernah terpeleset secara publik. Ia tak pernah tau dimana letak kesalahannya karena privasi satu circle cenderung meloloskan kesalahan. Jika kita tak pernah punya keberanian mengungkapkan diri pada publik. Tak akan ada follower satu value yang didapatkan, tak ada kesempatan untuk koreksi diri. 

Diluar sana, banyak orang-orang yang memiliki pemikiran sama dengan kita. Sosial media, algoritma yang mengumpulkan circle serupa menjawab itu semua agar dibenarkan, agar diakui. 

Sosial media, adalah pisau bermata dua. Yang jika digunakan dengan bijak akan mendatangkan banyak rejeki dan manfaat. Namun, jika digunakan dengan kebablasan. Akan mendatangkan banyak kritik yang menguji apa yang sudah kita yakini selama ini.

Kembali lagi, siapkah kita menerima risiko dan memperbaiki diri saat terpeleset di sosial media? Karena sebenarnya.. setiap opini yang tak bagus-bagus amat pun..memiliki pasarnya masing-masing. Seperti contoh kasus ibu tsb.

Pertanyaan terakhirku.. Saat sadar bahwa opini kita dikritik.. mana yang lebih dipilih.. ?

Memperbaiki diri dan membangun circle baru?

Atau mempertahankan branding personal apa adanya?

Komentar disini yuk
0 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A