Browsed by
Month: March 2022

Konsultasi Gigi Gratis di Masa Pandemi? Bisa!

Konsultasi Gigi Gratis di Masa Pandemi? Bisa!

“Ya ampun, gak bisa lagi dah ke dokter gigi hari ini. Udah 3x antri loh dari minggu kemarin” Keluh temanku saat itu

“Ya gimana juga ya, di masa begini dokternya juga jadi gak punya pilihan. Pasien musti dibatasi. Aku aja dari kemarin mau perawatan saluran akar, kudu berangkat satu jam lebih awal biar dapet nomor antrian”

“Ya tapi gimana dong aku kan mau konsultasi aja. Masa dipersulit banget..huhu”

Wait.. Konsultasi? Duh hari gini, semua serba online bisa dong!

Gak Percaya?

https://www.instagram.com/p/CbtcMqipkQ4/?utm_source=ig_web_copy_link

Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2022 bersama Pepsodent 

Jadi, tanggal 22 Maret 2022 kemarin aku tuh ikutan webinar seru dari Pepsodent. Gimana gak seru kalo saat itu adalah Hari Kesehatan Gigi dan Mulut. Mana aku langsung kepo banget kan, soalnya pepsodent tuh tiap event begini pasti deh ada inovasi terbaru. Dan pastinya, nara sumber yang diundang selalu yang materinya daging banget.

Sebelum ini aku juga pernah ikutan webinar yang diadakan Pepsodent di Hari Kesehatan Gigi dan Mulut dengan seruan untuk #SikatGigiSekarang. Nah, kali ini tak sekedar tentang sikat gigi sekarang aja. Hmm.. Tapi sebelum itu kita simak dulu yuk materi yang dipaparkan pada webinar kemarin.

Tau gak sih.. Berdasarkan riset kesehatan dasar, 94,9% masyarakat perkotaan tidak pernah ke dokter gigi dalam setahun terakhir. Persebaran dokter gigi yang belum merata serta faktor biaya juga menjadi hambatan bagi masyarakat untuk rutin berkonsultasi ke dokter gigi. Yup, aku sendiri saja dulu sangat takut loh ke dokter gigi. Bukan karena sakit atau gugup dengan peralatan dokter gigi tapi karena takut banget kalau duit di dompet aku gak cukup. Hahaha. Jadi belum apa-apa, udah pesimis duluan. 

Akibatnya, dari 57% masyarakat yang mengalami permasalahan gigi dan mulut, hanya 10,2% yang berkunjung ke dokter gigi. Itu pun umumnya karena sudah merasa sangat kesakitan. Sehingga ujung-ujungnya.. Giginya haru dicabut!! OH NOOOO!

Makanya.. Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin yang turut hadir untuk membuka acara menekankan, “Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia terbilang masih sangat tinggi. Beberapa faktor penyebabnya antara lain kurangnya kesadaran, rasa enggan, dan kesulitan akses ke tenaga profesional. Terlebih dengan adanya pandemi COVID-19, kita harus mengubah cara pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Edukasi dan sinergi dari berbagai pihak, termasuk kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut akan membuka harapan untuk mencapai target Indonesia Bebas Karies 2030. Pada Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia ini, saya mengapresiasi inisiatif Unilever Indonesia bersama FDI World Dental Federation dengan PDGI untuk berkolaborasi membantu masyarakat mendapatkan akses perawatan gigi dan mulut melalui layanan teledentistry serta edukasi melalui kampanye terbarunya. Mari wujudkan Indonesia Cemerlang, Bebas Gigi Berlubang!“

Pernyataan ini pun ditanggapi oleh drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Head of Professional Marketing Beauty and Personal Care Unilever Indonesia ”Percaya bahwa setiap senyuman begitu berarti, Pepsodent dan PDGI siap berbagi peran mendukung pemerintah melalui program kesehatan gigi dan mulut secara berkelanjutan. Melalui kampanye ‘Jangan Tunggu Sampai Sakit Gigi, #KonsultasiGigiSekarang’, kami ingin membangun kesadaran bahwa menunda ke dokter gigi dapat menyebabkan masalah yang lebih besar. Tidak hanya dari sisi biaya yang pasti akan membengkak, permasalahan juga akan terus terekskalasi hingga risiko terburuk, yaitu gigi tanggal. Tercatat rata-rata pada usia 35-44 tahun masyarakat Indonesia sudah kehilangan 2 giginya, jika tidak ada perubahan kebiasaan merawat gigi dan mulut dengan benar serta rutin berkonsultasi ke dokter gigi, keadaan ini bisa semakin memprihatinkan. Faktanya, rata-rata di usia 65 tahun masyarakat Indonesia sudah kehilangan 11 giginya.

Yup, ini memang fakta sih buat circle sekeliling aku. Banyak banget yang menunda ke dokter gigi saat sadar giginya rusak. Malah ada yang terang-terangan bilang, “Aku males banget ah nambal gigi ini bolak balik capek buat perawatan. Mending biarin aja rusak terus nanti dicabut”

Yhaaa.. Seakan-akan kehilangan gigi itu adalah hal biasa dan harus diterima. Padahal, kalau masih bisa dijaga dan dirawat kenapa harus dicabut? Ya gak sih.

Pepsodent Perluas Akses Konsultasi Gigi Gratis ke Jutaan Masyarakat Indonesia

drg. Usman Sumantri, MSc, Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menjelaskan, “Saat ini jumlah dokter gigi di Indonesia masih belum ideal. Jika dibandingkan dengan rekomendasi WHO yaitu 1 dokter gigi untuk 7.500 orang, di Indonesia faktanya 1 dokter gigi bertugas melayani 9.565 orang. Selain itu, keberadaan dokter gigi, terlebih dokter gigi spesialis, memang masih terpusat di perkotaan. Dari data-data ini terlihat bahwa ketidaksetaraan akses terhadap dokter gigi masih menjadi masalah. Beberapa langkah strategis yang bisa diambil antara lain adalah meningkatkan produksi lulusan dokter gigi dengan cara menambah program studi Kedokteran Gigi dan spesialis, serta peran Pemerintah Daerah untuk menyediakan sarana dan prasarana penunjang kerja yang baik.”

Mendengarkan itu aku sambil angguk-angguk membenarkan sambil berkata, “Ya ampun bener banget.”

Tanganku langsung bersiap untuk mengetikkan pertanyaan.

Jadi, sekitar 2 bulan ini aku selalu bolak-balik ke dokter gigi. Kalian tau gak kenapa?

Ini related sama kecelakaan yang aku alami hampir 2 tahun yang lalu. Jadi, saat itu gigi depan aku itu ujungnya sedikit tanggal. Dan, aku gak mau malu dong. Langsung 2 minggu kemudian ditambal estetik. Nah, ternyata setahun kemudian gusi tempat gigi yang ditambal itu mengalami perubahan. Terlihat ada gelembung kecil disana. Akupun langsung ke dokter gigi untuk memeriksanya. Dan dokternya bilang, “Ini Abses mba. Di rontgen dulu ya jadi kita tau kerusakannya seperti apa.”

Dan, aku pun rontgen gigi. Kata dokter sih, gigiku masuk kategori aman saja cuma perlu perawatan akar. Dan yang bisa menanganinya hanya Spesialis Endodensi. Yang mana, ternyata di kotaku sendiri hanya ada 1 dokter yang spesialist demikian. Virus Omikron pun semakin meluas sehingga dokter ybs terpaksa membatasi jumlah pasien. Sudah 7x kali lebih aku bolak balik ke rumah sakit tapi selalu tidak kebagian, hiks. Survei tempat praktik gigi mana yang bisa menangani, biarpun bayar maha tapi berakhir nihil. Sedih sekali. Padahal inisiatif untuk menangani gigi ada tapi, fasilitas tidak mendukung. Ya iya dong, dari data indonesia saja.. Satu dokter gigi untuk 9565 orang. Bagaimana untuk spesialist endodensi? Huhu.

Aku sering banget melamun kalau lagi senggang. Mikir, andai aja bisa konsultasi gigi online. Sekedar pelipur lara kalau aku curhat dan meyakinkanku kalau gigiku enggak papa. Bukannya kenapa, sering banget loh mimpi gigi depan itu lepas. Terus aku pegang kan. Alhamdulillah memang gak goyang sih tapi tentu saja gelembung kecil itu lumayan mengganggu. 

Banyak banget aku curhat yah! HAHA

Alhamdulillah.. Sejalan dengan kebutuhan yang tinggi demikianlah, Pepsodent bersama PDGI memperluas akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi semua orang melalui layanan teledentistry gratis “Tanya Dokter Gigi by Pepsodent” (di nomor WhatsApp: 0878-8876-8880). Program ini diluncurkan pada 2020, hingga kini tercatat 21.488 sesi layanan telah diberikan, dengan tingkat kepuasan yang sangat baik. 

Waah, aku kemana aja iniiii.. Kok baru tau. XD

Nah, Selama 1 April – 30 Juni 2022, konsultasi akan diberikan oleh ribuan dokter gigi dari 100 PDGI cabang. Secara khusus, 23 PDGI cabang juga akan memberikan edukasi dan tindakan perawatan kepada masyarakat. Selain itu, 300 orang “Pepsodentist”, yaitu relawan dokter gigi swasta di seluruh penjuru Indonesia yang akan ditampilkan dalam Dentist Locator di situs Tanya Pepsodent juga akan ikut berpartisipasi. Para “Pepsodentist” bahkan berkomitmen memberikan perawatan pembersihan karang gigi ringan dalam jumlah terbatas kepada masyarakat. 

Mendengar hal ini, tentunya aku senang banget dong. Gak sabar untuk menunggu tanggal 1 April supaya bisa konsultasi gigi gratis. 

Pengennya Sih, Punya Gigi Cantik Kayak Maudy Koesnaedi

Aww, nara sumber kali ini juga ada Mbak Maudy Koesnaedi. Tau dong yah sama Selebritas Cantik ini. Senyumnya itu loh, Giginya cantik semua.. Kan, jadi pengen punya gigi cantik plus rapi begitu juga. Tapi, yang namanya gigi sehat, cantik, rapi itu perlu dirawat rutin loh.

Maudy Koesnaedi, selebritas dan ibu satu anak berbagi pengalaman, “Pergi ke dokter gigi sudah menjadi rutinitasku dan keluarga, sehingga aku dapat terhindar dari berbagai permasalahan gigi dan mulut, termasuk gigi tanggal. Namun memang masih banyak masyarakat yang belum melakukannya karena berbagai kendala. Layanan teledentistry ‘Tanya Dokter Gigi by Pepsodent’ menjadi solusi yang tepat, mudah, dan sangat bermanfaat bagi semua orang. Apalagi ada fitur video call yang membuat sesi konsultasinya jadi lebih efektif dan menyeluruh. Jangan tunda lagi, cegah sakit gigi dengan memanfaatkan kesempatan ini!”

Mbak Maudy Koesnaedi pun berbagi cerita tentang caranya menjaga kesehatan giginya dn keluarga. Dia memang rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali. Bahkan, ketika ada sedikit keluhan dia selalu kontrol. Termasuk itu memanfaatkan layanan teledentistry ‘Tanya Dokter Gigi by Pepsodent’.

drg. Usman Sumantri, MSc, Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), menegaskan teledentistry sebagai alternatif bagi masyarakat untuk lebih mudah mengakses dokter gigi. Beliau juga mengingatkan bahwa konsultasi sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional agar kesehatan gigi dan mulut dapat terjamin dengan baik.

Nah, dari pemaparan nara sumber. Aku sih semangat banget buat punya gigi cantik, rapi dan sehat. Yah, paling enggak terhindar dari kerusakan.

Thats why, yuk “Jangan Tunggu Sampai Sakit Gigi, #KonsultasiGigiSekarang”

https://www.instagram.com/p/CbtcMqipkQ4/?utm_source=ig_web_copy_link

Karena gigi itu investasi. Hidupmu gak akan pernah sama lagi kalau gigimu sudah rusak. 

Nah, pada penasaran kan gimana kemasan pepsodent terbaru yang bikin kita bisa konsultasi gigi gratis?

Tadaaa

Ingin Membeli Apartemen? Yuk, Pertimbangkan Hal-hal ini dulu!

Ingin Membeli Apartemen? Yuk, Pertimbangkan Hal-hal ini dulu!


“Menurut aku, yang namanya rumah itu adalah kebutuhan jangka panjang. Jadi, meski harus kredit yang penting diusahakan punya dulu”

“Iya ya betul banget. Tapi, kalau yang suaminya kerja pindah-pindah kayak aku.. Hmm.. Apa iya kudu punya rumah dulu ya? Kayaknya urgensi kebutuhan kami lebih ke mobil dulu nih”

Well, pastinya kita pernah ya dihadapkan pada situasi yang demikian. Ketika ngobrol tentang keinginan beli properti tapi kok bingung harus yes or no soal pembeliannya.

Karena faktanya, meski rumah merupakan kebutuhan pokok.. Tidak semua dari kita memiliki urgensi yang sama soal kebijakan pembelian rumah.

Contoh, seseorang yang tinggal bertiga saja bersama orang tuanya. Memiliki keinginan menetap dan belum berpikir untuk menikah.. Tentu tidak memiliki urgensi sama dalam pembelian rumah dengan orang yang sudah berumah tangga.

Contoh lagi, keadaan rumah tangga orang yang memiliki pekerjaan berpindah-pindah dengan yang menetap. Tentu memiliki kebijakan berbeda tentang pembelian rumah bukan?

Jangankan rumah, untuk pembelian properti berupa apartemen pun tentu memiliki kebijakan yang berbeda pula antara satu dengan lainnya.

Pertimbangkan Hal ini Dulu Sebelum Membeli Aparteman

Nah, sebaiknya sebelum memutuskan membeli apartemen, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan loh. Diantaranya adalah

1. Kondisi Keuangan

“Wah, harga Apartemen disana segini nih, kalau aku bisa hemat pasti bisa beli nih”

“Harga cicilannya berapa persen dari gajih kamu?”

“Emmm… 70%..”

Sangat banyak sekali keputusan membeli properti yang tidak seimbang dengan pemasukan. Hanya karena gajih kita mampu membeli, belum tentu itu adalah hal yang bijak dilakukan. Apalagi, jika hanya 30% gajih yang bisa dipakai untuk keperluan hidup. Hmm, apakah itu cukup untuk kebutuhan istri dan anak? Hal demikian sangat perlu dipertimbangkan.

Setidaknya, kita harus bisa memperkirakan bagaimana kiranya agar keuangan kita tetap sehat ketika memutuskan membeli properti. Jangan hanya karena merasa mampu lalu kemudian kebutuhan lainnya terbengkalai

2. Kondisi Pekerjaan dan Rumah Tangga

Aku memiliki beberapa teman yang belum memiliki rumah dalam usia pernikahan puluhan tahun. Well, apakah hal ini wajar?

Wajar saja jika kondisi memang tidak memungkinkan. Karena memiliki rumah bukan hanya dilihat dari faktor financial. Tapi juga dilihat dari kondisi pekerjaan dan rumah tangga.

Misalnya saja, jika kita memiliki suami yang pekerjaannya berpindah-pindah. Tentu membeli rumah merupakan keputusan yang sulit. Karena jika pekerjaan suami berpindah lagi, rumahnya menjadi terbengkalai dan membuang biaya perawatan plus uang yang tidak sedikit.

3. Kondisi Strategis Apartemen

“Kalau disuruh memilih, kamu lebih memilih apartemen dengan harga terjangkau tetapi letaknya jauh dan tidak strategis.. Atau apartemen dengan harga sedikit mahal tapi dekat dengan tempat kerja plus sekolah anak?”

Tentu saja, memilih yang harganya terjangkau plus strategis jawabku sambil tertawa. Hahaha.

Yah, bagaimana ya. Menurutku, letak strategis ini merupakan hal yang penting sekali dalam memutuskan membeli apartemen. Percuma saja jika kita membeli apartemen yang murah, bagus dan cantik tapi letaknya jauh sekali dari tempat kerja atau jauh sekali dari tempat sekolah anak. Akhirnya, waktu kehidupan kita kebanyakan hanya dihabiskan di jalanan saja. Tanpa menikmati waktu yang bisa dimanfaatkan dengan lebih berkualitas.

Ketika kita memutuskan ingin membeli rumah maupun apartemen sangat penting untuk mempertimbangkan letak strategisnya. Karena ini berkaitan erat dengan waktu kehidupan yang akan kita habiskan.

Kenalan Sama Apartemen The Parc South City

Ehm, ngomong-ngomong soal apartemen.. Aku tuh jadi kepo sama Apartemen The Parc South City.

Jadi Apartemen The Parc South City adalah proyek superblok dengan desain modern dan konsep coliving di dalamnya. Kawasan superblok Southcity seluas 1,5 Ha ini memiliki green area 75% dari total lahan di The Parc.

Tentunya, green area ini diolah demi meningkatkan kualitas hidup penghuninya ya.

Selain konsep hijau, The Parc South City juga memiliki fasilitas seperti pool outdoor sport, jogging track, access card dan free wifi.

Apartemen yang terletak di kawasan Pondok Cabe Tangerang Selatan ini memiliki tiga akses tol dan dua stasiun MRT terdekat.

Berbatasan dengan tiga kawasan besar, yakni Jakarta Selatan, Cinere dan Pondok Cabe, membuatnya dapat diakses melalui Tol Depok-Antasari, Tol Cinere-Serpong, dan Tol Cinere-Jagorawi.

Sedangkan stasiun MRT yang berada di sekitar hunian ini adalah Stasiun MRT Lebak Bulus dan Fatmawati, yang dapat ditempuh dalam waktu 20 menitan saja.

Tak hanya akses ke jalan tol atau MRT, bahkan di dalam apartemen The Park at Southcity ini terdapat halte Transjakarta yang dapat membawa Anda ke fasilitas penting di sekitar Cinere Raya dan Pondok Cabe.

Bicara soal unitnya, setiap ruang di dalamnya mendapatkan pencahayaan alami yang efisien berkat kehadiran jendela lebar sekaligus hasil dari pemakaian konsep ruang terbuka di dalamnya.

Desain interior yang diterapkan juga modern dengan sentuhan natural yang memberikan kesan hangat, ditambah dengan adanya perlengkapan di tiap unitnya.

Wah ini merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan gaya hidup yang dinamis dan modern di tengah kota besar ya.

Bagi kamu yang berencana memiliki hunian vertikal di Tangerang Selatan, The Parc SouthCity tentunya menjadi pilihan yang tepat.

Berapa harganya? Well, kita bisa memiliki apartemen Tipe Studio di dalam superblock The Parc South City dengan harga mulai Rp400 jutaan.

Gimana? Tentunya harganya termasuk terjangkau dengan lokasi yang strategis. Tapi, kembali lagi.. Sebelum memutuskan membeli cek kondisi masing-masing seperti yang aku ulas diatas ya. 🙂

IBX598B146B8E64A