Browsed by
Month: August 2018

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Topik yang Never Ending

“Gak bosan dirumah aja? Kalau menurut saya jadi perempuan itu tuh harus mandiri minimal secara finansial karena (bla bla bla)”

“Aduh, makanya saya gak mau nitipin anak gitu. Kebayang ga sih pembantu sekarang ga bisa dipercaya. Makanya saya milih ga kerja aja karena ya (bla bla bla)”

“Waduh, enak ya melahirkan cesar. Ga sakit krn dibius.. Kalo saya kemarin nih.. (bla bla)”

“Waduh, anak umur segitu udah dikasih sufor? Gak takut anaknya nanti (bla bla). Sufor itu begini loh, begitu loh. Kalau saya dulu diusahain dong ya bisa ASI. Saya sampe (begini-begitu) supaya anak bisa ASI ekslusif. Karena begini loh, ASI itu ya (bla bla)”

“Aduh, punya anak 1 plus gak kerja aja pake ART. Orang kayah. Kalo saya sih biar punya duit ya tetep aja sayang karena kita ga tau apa yang terjadi di masa depan kan bisa aja nih nanti (bla bla)”

“Maaf ya, kalau aku suka miris liat emak-emak yang anaknya dikasih makan sosis, nuget, telor dadar. Muter itu-itu aja. Buat aku sih emak begitu namanya emak pemalas.”

“Anak umur 3 tahun udah di sekolahin. Apa sih yang ada dipikiran emaknya? Gak takut anaknya nanti kena sindrom bosen sekolah? Kata psikolog gue nih anak umur segitu itu (bla bla). Ya, kalau aku sih maunya homeschooling aja.”

“Jadi Istri plus Ibu itu harus bisa jaga penampilan. Masa baru anak satu aja badan udah gemukan. Aku nih udah anak 3 masih kurus. Ya, emang harus dijaga. Kalau siang kerjaannya molor aja gimana ga gemuk.”

“Aduh, itu vaksin belum di halalin MUI loh. Program pemerintah ada-ada aja. Coba deh kita berkaca dengan zaman dulu. Emak gue, kakek-nenek gue, itu gak ada namanya vaksin-vaksinan. Iya, sehat aja. Anak, sekarang malah gampang sakit. Udah baca artikel ini belum? Vaksin itu bikinan Yahudi. Kamu rela kalo anakmu nanti (bla bla) ”

Punya kata-kata lain yang sering kita dengar di perbincangan antar emak-emak? Gak usah disharing ya. Iya, emak udah kenyang. Serius.

Baca juga: 9 Topik Obrolan Sensitif yang dapat menyebabkan Mommy War

Makanya, teman itu Memang harus PILIH-PILIH!

source: parents magazine

Pernah punya prinsip begini.. “Berteman itu jangan pilih-pilih. Mau itu orang kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, gak pintar semua harus ditemani.. Karena kita ini makhluk sosial. Kita itu (bla bla)”

Siapa ya yang bilang begini? Iya, mungkin ini salah satu kilasan memori dari Guru PPKN dulu. Hahahaha.

Dulu, aku menelan mentah-mentah kata-kata itu. Mencoba berteman dengan siapa saja. Walau sebenarnya aku tergolong introvert namun urusan pertemanan aku baik, aku punya pemahaman polos bahwa semua manusia itu sama, semuanya harus ditemani.

Tapi pemahaman itu berubah ketika aku mulai remaja, jangan ditanya seberapa berubah ketika aku sudah menjadi emak-emak. Berubah Drastis. Buatku, yang namanya teman itu WAJIB PILIH-PILIH.

Kenapa? Noh, kalian mau temenan sama teman yang mulut plus jarinya kerjaannya nyinyir kayak diatas? Gak mau kan? Belum lagi kalau yang ngomong emak-emak yang ngakunya ‘senior’. Haduh mak, sakit banget tuh rasanya kayak ditusuk-tusuk pake tusuk sate.

Makanya, kadang aku merasa sendiri ya kalau emak-emak itu punya circle pergaulan yang ‘agak memisah’. Contoh:

Ibu Rumah Tangga sukanya temenan sama Ibu Rumah Tangga aja, Working Mom sukanya temenan sama Working Mom aja. Karena kalau ketemu obrolan mereka pasti ketitik yang paling krusial yaitu drama menitipkan anak dan topik finansial.

Ada grup khusus Emak-emak Menyusui yang kalau didalamnya muncul emak-emak curhat minumin anaknya sufor langsung diserang Ciat.. Ciat.. Seolah bilang, “Hei, tempat kamu itu bukan disini..”

Ada grup khusus anti vaksin yang kalau muncul emak-emak ‘sok sehat’ maka dia langsung ditertawakan dan dibully.

Ada grup khusus memasak. Yang didalamnya penuh dengan emak-emak homemade. Kalau ada satu biji emak yang share resep pakai vetsin atau sosis jadi dan kornet langsung diserang dan diceramahi.

Iya, karena itu jadi emak-emak wajib pilih-pilih teman plus punya ramuan ANTI BAPER dan KOMUNITAS PENDUKUNG agar bisa beradaptasi dengan kerasnya pergaulan diluar.

Ramuan Anti Baper 1: Emak harus Punya Passion yang diandalkan

Tiap orang itu punya kesenangan, namanya hoby. Adapun yang dinamakan passion yang diandalkan adalah hoby yang membuat manfaat bagi orang disekitarnya. Ingat ya, aku menggarisbawahi passion loh, buat ‘penghasilan yang dapat diandalkan’ 😝

Menurutku, adalah bohong besar ada Ibu Rumah Tangga yang kerjaannya ‘cuma bahagia’ dengan melayani anak dan suami lalu mengabaikan kondisi psikologisnya sendiri serta menolak hubungannya dengan lingkungan sosial. Eh, ada ya? Oke, jangan ajak aku berkenalan ya. ✌

Menurutku tiap ibu itu harus punya passion. Apapun itu, passion tidak harus melulu menghasilkan uang. Prinsipnya adalah kita senang melakukannya, apalagi jika orang lain merasa hal yang kita lakukan itu bermanfaat dan membantu.

Adapun emak yang ‘ngakunya’ tidak punya passion tetap seperti aku mengaku lebih mencintai dunia menulis dan ngeblog seperti ini untuk berekspresi.

Baca juga: I dont have any passion, Im divergent.

Aku menyebut aktivitas ngeblog ini sebagai ‘Ramuan Anti Baper’. Hal yang membuatku bisa lebih hidup serta dapat menutup mata dan telinga setiap kali mendengar nyinyiran diatas. Adapun emak lain mungkin akan lebih bahagia dengan passion yang lain. Tapi perlu diingat bahwa tiap emak itu beda, so teori parentingnya pun beda. Aku pernah membahas ini ditulisan sebelumnya.

Baca juga: Hal yang perlu diketahui sebelum belajar parenting

Baca juga: Gini cara emak introvert ngasuh anak, Masalah?

Ramuan Anti Baper 2: Emak harus Punya Hiburan

Apa me time buat kamu? Menulis?

Ah, tidak. Menulis tidak akan bisa dilakukan kalau otak tidak terhibur. Ya, bisa sih tapi isinya curhat semua. Hahaha.

Me time ala aku adalah menonton drakor ditemani cemilan dan susu hangat. So, dengerin nyinyiran diatas? Me time aja! Nonton drakor, jalan-jalan, baca buku, nonjok boneka. *ops

Apapun hal yang bisa menghibur… Do it Mom! Do it!

Ramuan Anti Baper 3: Emak harus punya Komunitas Pendukung

Apa passionmu?
Apakah sudah ada komunitas yang mendukung passion tersebut?
Atau selama ini kamu berada pada komunitas yang salah?
Jangan takut untuk KELUAR dari zona yang tidak nyaman. Cari komunitas yang cocok dengan kita.

Sebagai contoh, itu aku (maaf ya.. Contohnya aku lagi.. Aku lagi.. Namanya juga personal blog ya.. ✌)

source: hellomama’s.com

Sebagai makhluk hidup yang ‘suka nyampah’ dengan tulisan, baik itu berupa status jelek maupun ‘sok bijak’, aku tidak mau bergabung dengan circle mak-mak yang tidak bisa menerima sampah-sampah itu. Menyebut bahwa kerjaan blogger itu pamer dan ‘cuma’ modal tulisan. Itu adalah circle komunitas yang harus aku jauhi. Ada yang nyinyir? Block aja, delete.. selesai masalah. Berkomunitaslah dengan orang-orang yang punya satu hoby dan kesenangan dengan kita atau berteman dengan orang yang sepemahaman dengan kita. Komunitas pendukung seperti ini penting sekali loh dimiliki.

Emak Perfect itu Enggak Baik, yang Baik itu Emak yang Bahagia dan Sukses Menularkan Kebahagiaannya

Jika sudah menemukan 3 kunci ramuan anti baper maka kita sudah sampai ketitik ternyaman dunia emak-emak. Apa itu? Mencapai kesempurnaan yang hakiki? 😅

Pernahkah kita sebagai emak-emak mencoba untuk melakukan segala hal serba sempurna? Asi ekslusif, anak tak pernah tersentuh teh dan garam pada waktunya, tak pernah kenal gadget dan TV, rumah selalu bersih, makanan selalu homemade, tidak punya ART, selalu tampil cantik, bisa melakukan 4 pekerjaan dalam satu waktu termasuk sambil masak, nyuci, zumba plus liat fluktuasi saham? Lalu, uang bulanan selalu bersisa untuk ditabung.

Tapi.. Dibalik kesempurnaan itu.. Apa yang kita rasakan? Bahagiakah?

Aku (lagi lagi aku) pernah merasakan betapa buruknya terjebak dalam standar perfeksionis diatas. Puncaknya, aku merasa tidak bahagia.

Rumah selalu bersih tapi dibalik itu aku mengurung anakku dikamar, tanpa TV dan ia hanya aku hadapkan pada makanan homemade. Ia menangis. Aku cuek. Begitu teori parfectionis bicara.

Makanan selalu homemade, selalu tampil cantik. Tapi saat suami datang, bukan senyum yang aku suguhkan. Namun kelelahan, tak bisa memanjakannya. Mencoba mendapatkan pujian dengan bersisanya uang bulanan. Tanpa hiburan, tanpa family time, apalah artinya tabungan itu.

Kesempurnaan tidak membuatku bahagia.

Belajar membahagiakan diri dan sukses menularkan kebahagiaannya adalah prinsip dari terbentuknya keluarga yang bahagia. Aku sudah banyak belajar bahwa mencari puncak kesempurnaan tidak mengajarkan apapun padaku. Hanya rasa haus pujian yang tiada habisnya. Tidak bahagia, tapi Depresi.

Baca juga: Sepenggal Kisah tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan

Kenapa Perfeksionis sindrom itu Pemicu Utama Depresi dan Menular? Karena Korbannya adalah Emak-emak Sensitif dan Anak Kecil

source: thejoyoofthis.com

Apa akibat dari standar kesempurnaan yang tinggi?

Pengalaman nyata yang aku rasakan adalah.. Mengejar kesempurnaan membuatku terkena Post Partum Depression.

Yes, aku depresi. Aku mencoba memenuhi setiap standar kritik dari mulut-mulut ‘nyinyir’ yang singgah ditelingaku. Mommy War telah membentuk diriku yang sensitif ini menjadi ‘bukan diriku lagi’.

“Aku dulu uang bulanan cuma habis 800ribu loh. Kamu masa satu juta gak cukup? Anak masih satu juga..”

(Oke. Aku bisa. Aku harus serba homemade. Harus ngemil singkong tiap hari supaya ASI tetap jalan. Gak boleh nagih ini itu kesuami. Aku kan istri yang baik)

“Kalo aku jadi kamu, dari pada foto-foto makanan begini, mending jualan. Gak kerja juga, masa gak punya waktu. Jadi perempuan itu lebih enak kalau punya uang sendiri.”

(Oke, jualan. Aku bisa)

“Istri kamu kalau jalan modis banget ya. Berapa uang make upnya buat sebulan tuh? Aku dulu zaman begini begitu cuma modal bedak bayi aja..”

(Oke, bedak bayi.. Kely.. Aku juga bisa masih cantik begitu.. *kalo dasarnya udah cantik.. 😝)

Bla bla..

Bla bla..

Iya, aku dulu super sensitif. Dibilang ini manggut, itu.. Manggut. Aku depresi untuk mengejar kesempurnaan. Jikapun itu hanya terjadi pada diriku saja tidak mengapa..

Tapi aku menularkannya.

Aku membuat anakku menangis. Aku membuat suamiku marah.

Apa yang bisa dibanggakan dari menjadi ’emak yang maha sempurna’?

TIDAK ADA.

Hati-hati,

Jaga Mulut! Jaga Jari! Jaga Hati!

source: wytghana.org

Kita tidak pernah tau seberapa halus perasaan seseorang. Kita tidak pernah berteman dengan mereka yang baru kita kenal, tau masa lalu mereka. Bagaimana ‘tameng psikologis’ yang sudah terbentuk pada diri mereka. Kita melewati ‘masa lalu’ yang berbeda dengan setiap orang. Karena itu tiap orang itu unik. Tiap emak unik. Mereka tidak sama dan punya hoby yang berbeda. Dan satu lagi, perasaan mereka tidak sama.

Pernah mendengar penyakit schizophrenia? Penyakit kejiwaan ini dapat disebabkan bukan hanya karena lingkungan. Namun innerchild yang sangat negatif. Baik itu kenangan buruk dari masa kehamilan, kenangan buruk masa kecil, hingga tekanan demi tekanan yang diterima dilingkungannya.

Depresi itu menular. Dan pusatnya adalah pada kebahagiaan Ibu. Jangan pernah membuat perasaan Ibu tersakiti dengan mulut dan jari kita. Jaga hati kita agar tak selalu berprasangka negatif pada ‘ketidaksempurnaan emak-emak’. Karena bisa jadi, mereka tidak punya dan belum tau dengan ramuan anti baper.

“Kadang kita merasa mulut kita sungguhlah bijak. Ketika melihat emak-emak curhat, kita berkata ia tak bisa menjaga aib keluarganya. Lalu kita sarankan agar menutup mulutnya. Kita tidak tau, hatinya terluka. Tidak ada yang mendengarkan. Pernahkah kita sekali saja berusaha menjadi pendengar yang baik?”

“Kadang kita merasa jari kita begitu bermanfaat. Membuat status kesempurnaan dan menyakiti perasaan Ibu yang tak sempurna. Membuat kata-kata berambisi agar orang lain memiliki semangat membara, tapi kita lagi-lagi tidak tau_ kondisi setiap orang berbeda..”

“Kadang kita selalu berprasangka, ‘Apakah ini tentang aku?’, padahal dunia itu luas. Tidak melulu tentang ‘kita’. Adalah hak orang ketika ia ingin mengatakan sesuatu hal dengan ‘caranya’ . Bisa jadi, yang ia maksud sebenarnya adalah dirinya sendiri bukan? Sudah berapa banyak (aku) berkenalan dengan orang yang menulis untuk ‘memperingatkan dirinya sendiri’.”

Tersenyumlah mak, mulut dan jari dunia ini memang kejam. Tapi hati ini, sungguh masih memiliki obat. Yaitu dengan selalu berprasangka baik. Tidak mudah tentu. Tapi kita dapat berusaha.

Tertarik dengan ramuan anti baper? Let me know if it success!

Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Semangat Anakku dalam Mengasah Bakatnya

Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Semangat Anakku dalam Mengasah Bakatnya

“Farisha, ayo warnai lagi. Kok belum selesai aja mewarnanya.” Ucapku ketus saat melihat kertas gambar yang hanya ¼ telah diwarnai anakku, padahal sudah berjam-jam lamanya aku memberinya kertas itu.

“Tapi Farisha capek ma.” Sahut Farisha dengan wajah kusut sambil terus menonton TV.

“Nanti kalau menonton TV terus ga bisa juara lagi mewarnanya.”

“Tapi kemarin Farisha udah usaha keras dan kalah lagi.. Kalah lagi..”

Yah, itulah kilasan percakapanku dengan Farisha sore itu. Sudah cukup lama aku membujuknya untuk terus mengasah hobynya tapi belakangan beberapa bulan ini anakku sedang tidak mood dalam mewarnai. Sebagian besar buku mewarnanya hanya diwarnai sedikit saja. Sisanya, jika aku lengah ia mulai santai menonton TV saja.

Dear Mama: “Aku Bosan Mewarnai”

“Farisha sudah bosan mewarnai ma..” Keluh Farisha sambil menunduk.

Aku terdiam.

Rasa bosannya mungkin beralasan. Dia pernah berusaha keras belajar teknik gradasi dalam mewarnai saat latihan untuk mengikuti 3 perlombaan mewarna. Aku membujuknya bahwa jika ia berusaha keras tentu akan menang. Tapi selama 3 kali berturut-turut ia kalah. Ia hanya dapat termangu melihat para juara memegang piala mereka. Dan yang dapat aku lakukan saat itu hanya membesarkan semangatnya sambil berkata, “Tapi Farisha juga sudah punya 2 piala lomba mewarna juara 1. Ini sudah hebat sekali. Mungkin, Allah ingin rasa senang anak-anak dibagi-bagi jadi bukan Farisha terus yang menang. Dan Allah mau Farisha tidak sombong. Jadi kalah dulu supaya nanti menang lagi dengan usaha yang lebih keras..”

Liburan sekolah dan kekalahan belakangan telah mengikis hoby mewarnanya selama ini. Selama liburan sekolah, aku mengakui bahwa telah lengah dalam mengatur schedule harian Farisha. Kadang, setiap pagi karena kesibukanku maka aku membiarkannya menonton TV berjam-jam lamanya. Ia senang, ia sampai hapal dengan jadwal kartun kesukaannya. Hingga suatu hari aku mulai protes dengan hoby barunya ini. Bagaimana tidak? Lihatlah, hoby barunya ini benar-benar tidak produktif dan menghambat kreatifitasnya.

Aku berusaha membangun semangatnya dengan hoby mewarnanya namun ia hanya mengeluh dan terus mengeluh dengan rasa bosan. Sampai akhirnya suatu hari ia berkata, “Ma, coba kalau gambar yang Farisha warnai bisa bergerak dan bercerita layaknya kartun yang Farisha tonton. Tentu rasanya senang sekali ya..”

Deg..

Aku hanya bisa diam mendengar kalimat protesnya ini. Aku pun mulai memutar ide agar bakat menggambar dan mewarnainya tidak terhenti begitu saja. Ide pertama yang terlintas dikepalaku adalah..

Hei, kenapa tidak coba membuat komik saja

“Komik?” tanya Farisha dengan wajah heran.

“Iya komik, Farisha kan bisa menggambar, bisa mewarna. Farisha mau tidak karya Farisha bisa dibukukan layaknya buku cerita yang mama bacakan tiap malam. Yuk, Farisha coba buat komik seperti buku doraemon. Nanti setelah digambar komiknya diwarnai. Jadi Farisha senang.”

“Kalau begitu, Farisha mau bikin komik Tayo..!”

Komik, kreasi pertama pengasah Bakat

Selama beberapa hari, Farisha bersemangat untuk menyelesaikan proyek komiknya. Setelah pulang sekolah, ia menyelesaikan satu lembar gambar komik. Komik yang ia buat tidaklah seperti komik pada umumnya sebenarnya. Namun hanya komik kecil mungil berukuran 5×10 cm. Apapun itu asalkan ia senang dan kreatif aku akan selalu mendukungnya.

Hingga suatu hari,

“Ma, kalau komik Farisha dijadikan kartun beneran bisa gak sih?”

“Bisa sayang, kalau yang bikin kartun Tayo tertarik dengan cerita di komik Farisha.”

“Bikin kartun? Bikin kartun itu bagaimana?”

“Hmm.. Bagaimana ya. Itu pakai animasi di komputer. Banyak skill yang harus dikuasai kalau ingin bikin kartun.”

“Farisha mau belajar bikin kartun. Wah, coba kalau gambar yang Farisha warnai bisa bergerak dan bermain, pasti Farisha senang.”

Aku tertawa mendengarnya.

“Iya, Farisha pikir dunia kartun itu berbeda dengan dunia kita. Ternyata itu bikinan manusia juga ya..”

Aku makin tertawa.

Ketika Komik saja tidak cukup.. Untung ada Inovasi terbaru dari Faber Castell

Tidak terkira bagaimana rasa senangku saat Produk terbaru dari Faber Castell tiba di rumahku. Aku langsung berseru memanggil Farisha dan memperlihatkan paket yang telah datang kerumah.

“Apa ini Ma?” Tanya Farisha bingung.

“Farisha mau hasil gambar yang Farisha warnai menjadi hidup bukan? Bisa bermain juga bukan? Ini kejutan buat Farisha supaya bisa mewujudkan keinginan itu.”

Farisha langsung membuka paket kiriman Faber Castell beserta buku mewarna di dalamnya.

“Lihat gambar disana? Kalau Farisha mewarnai gambar itu, nanti dia bakal hidup dan bisa bermain dengan Farisha.”

“Bagaimana caranya ma?”

“Warnai saja dulu, Farisha percaya dengan mama bukan?”

“Percaya ma..”

Faber Castell Colour to Life

Apa itu Faber Castell Colour to Life? Apa bedanya dengan Faber Castel biasa?

Faber Castell Colour to Life adalah sebuah paket terbaru dari rangkaian produk faber castel yang didalamnya terdiri dari 15 page Augmented Reality-Colour Book dan 20 connector pens

Familiar dengan kata Augmented Reality? Ya, benar. Ini bukan buku mewarnai biasa, namun buku mewarnai yang dapat dihidupkan karakternya melalui aplikasi Colour to Life. Jadi, setelah anak kita selesai mewarnai gambar pada buku ini maka ia dapat melihat karakter yang ia warnai dapat bergerak dan bermain.

Bermain? Ya, tidak sekedar berwujud layaknya kartun saja, tapi juga karakter tersebut dapat dimainkan. Caranya sangat mudah, Anda tinggal mengikuti instruksi yang tertera pada box Faber Castel ini.

1. Download Aplikasi Colour to Life di Play Store.

2. Warnai lembar dari buku mewarnai faber castel memakai connector pens Faber Castell. Ingat, hindari mewarnai bingkai dari gambar karena kalau bingkai diwarnai hasil mewarnanya tidak dapat di-scan pada Aplikasi Colour to Life.

3. Buka aplikasi Colour to Life kemudian pilih 5 jenis permainan yang tersedia sesuai dengan karakter yang sudah diwarnai. Setelah itu, scan gambar yang sudah diwarnai dengan mengarahkan kamera tepat di tengah-tengah bingkainya. Nah, aplikasi ini akan sukses melakukan scan jika layarnya berwarna hijau. Jika karakternya sudah muncul kita tinggal klik ‘play game’

5. Dalam satu buku mewarnai ini terdiri dari 5 jenis karakter yang berbeda. Setiap karakter memiliki 3 lembar gaya dan latar yang berbeda untuk diwarnai. Apakah jika tidak diwarnai gambar dapat di scan? Ya, bisa saja. Tapi gambarnya akan berwarna abu-abu tidak menarik seperti patung dibawah ini. Jadi, sudah tentu anak kita harus mewarnainya supaya karakter bermainnya tidak seperti patung ya. Hehe

6. Selain dapat bermain kita juga dapat berselfie dengan karakter yang sudah diwarnai loh. Caranya setelah memilih permainan dan sudah melakukan scan kita klik ‘take photo’ dan karakter tersebut sudah berada di camera hp kita, tinggal berfoto bareng deh.

Apa Gunanya Jika Ujung-ujungnya anak suka main HP?

Oya, saat aku ‘memamerkan’ aplikasi colour to life ini pada beberapa orang teman sempat ada yang bertanya, “Apa gak papa ya Mama Farisha kalau anak kita bermain game di hp begini. Bukannya kalau anak main game itu nanti akan… (bla bla bla)”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ya, tiap orang tua kan punya kebijakan masing-masing terkait aturan menggunakan gadget. Ada yang bahkan melarang menyentuhnya, ada pula yang cuek dan tidak perduli pada anak dengan prinsip ‘asal’ – asalkan dia diam dan tidak mengganggu. Lalu, aku termasuk type yang mana?

Aku sih ‘yes aja’ soal gadget dan bermain gadget. Asaaaal.. Asal anak masih ingat waktu dan game yang ia mainkan mengasah otak. Iya, anak zaman now juga harus diperkenalkan dengan kemajuan teknologi dan manfaatnya bukan?

Seperti Game pada Aplikasi Colour to Life. Game ini betul-betul membuat Anak merasa hidup kembali setelah puas dengan hasil mewarnainya.

Kelima jenis game pada aplikasi ini memiliki manfaat loh, antara lain:

1. Giddy Up
Permainan ini sangat cocok untuk anak laki-laki. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan koordinasi mata dan tangan, mengasah skill motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi dan pelatihan rileks.

2. Pogo Boy

Walau karakter permainan ini laki-laki, namun anak perempuanku sangat suka memainkannya. Menurutnya permainan ini cukup mudah dan mengasyikkan. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan koordinasi mata dan tangan, mengasah skill motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi dan pelatihan rileks.

3. Dress Up Challange

Nah, kalau yang satu ini adalah permainan favorite anakku. Permainan ini mengasyikkan. Walau berkali-kali kalah ia tak bosan mencoba. Permainan ini menguji perhatian dan konsentrasi kita sehingga membutuhkan daya ingat yang cukup kuat. Anak Anda sering lupa saat diajari? Coba permainan ini dan kemampuannya mengingat mungkin akan meningkat.

4. Balance your Brain

Permainan ini berfungsi untuk merangsang perkembangan otak kiri dan kanan, mengembangkan perhatian dan konsentrasi serta meningkatkan kecepatan berpikir.

5. Safe Flight

Nah, kalau permainan pesawat yang satu ini berfungsi untuk menyeimbangkan koordinasi tangan dan mata, melatih keterampilan motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi serta melatih refleks anak.

Semangatnya mulai bangkit lagi

Melihat hasil karyanya dapat hidup bahkan bermain bersamanya, Farisha seakan menemukan semangat baru. Dan game yang paling ia sukai adalah Dress Up Chalange.

Ia sangat suka dengan karakter anak perempuan. Terlebih jika permainannya adalah mengganti baju. Permainan ini menguji daya ingatnya dan memperluas imajinasinya tentang gaya berpakaian. Ini adalah pengetahuan baru yang bisa ia praktikkan saat belajar menggambar.

“Ternyata, desain baju macam-macam ya Ma..”

Asyiknya berselfie dengan tokoh yang sudah diwarnai

Point plus dari aplikasi ini adalah kita dapat berselfie dengan obyek yang telah kita warnai. Waw, seperti film digimon saja ya. Dunia digital seakan terlihat dapat hadir ditengah-tengah dunia nyata.

Manfaat dari selfie dengan karakter yang sudah ia warnai ini banyak loh, diantaranya adalah:

1. Membuat Mood Ceria Kembali

Lihatlah bagaimana keceriaan wajahnya saat selesai mewarna pesawat. Ia langsung bilang, “Ma, aku juga mau terbang jadi kupu-kupu buat nangkap pesawat.”

Segera ia mengambil sayap kupu-kupu miliknya dan berselfie ria dengan karakter pesawat. Ya, seakan-akan dia bisa terbang saja.

2. Merasakan Dunia yang Baru

Bisa berselfie dengan obyek yang telah ia warnai membuatnya merasa seakan telah masuk kedunia kartun. Lihatlah betapa semangatnya ia saat aku menyuruhnya bermain kuda-kudaan dengan prajurit kuda. Seakan berteman dengan teman imajinasi saja. Haha

3. Kembalinya Percaya Diri Anak

“Ternyata semua hal yang Farisha lakukan tidak sia-sia ya ma..” Kata Farisha.

Aku tersenyum dan mulai merasakan bahwa percaya dirinya bangkit kembali. Kekalahan demi kekalahan itu seakan hilang begitu saja dalam ingatannya. Ibu mana yang tidak bahagia melihat anaknya dapat percaya diri lagi?

“Coba bisa bicara juga Ma..” Sahut Farisha lagi.

Wah, permintaanmu tiada habisnya ya sayang. 😅

Tentang Cita-cita baru

Berbicara tentang cita-cita anak kecil itu adalah hal yang sangat menarik. Anak kecil selalu suka meniru. Suatu hari aku pernah bertanya padanya, “Apa cita-cita Farisha kalau sudah besar?”

“Farisha mau jadi Guru, Farisha mau bikin anak-anak jadi pintar semua..”

“Yakin gak jadi pelukis? Farisha kan suka mewarnai?”

“Pelukis gak bisa bikin anak jadi pintar ma..”

***

Aku tertawa mengingat jawabannya dan hari ini aku iseng bertanya lagi padanya, “Farisha, kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Mau bikin kartun Ma, kayak di TV itu. Nanti kartunnya bikin anak-anak jadi pintar. Jadi, kalau Mamanya lagi sibuk, anak-anak bisa jadi pintar dengan nonton kartun..”

“Gak jadi Programmer kayak Abah? Bikin Game Kartun?”

“Farisha kan suka menggambar dan mewarna ma.. Bukan ketik-ketik layar komputer dengan abc pusing warna hitam kayak bapak..”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, sejak mengetahui bahwa skill menggambar dan mewarna dapat mewujudkan impiannya membuat kartun maka ia punya cita-cita baru yaitu menjadi pembuat kartun yang edukatif di masa depan. Jika kalian bertanya sejak kapan cita-citanya tiba-tiba berubah? Yaitu, Sejak dia mengenal Faber Castell Colour To Life.

Terima Kasih Faber Castell Colour to Life. Kini cita-cita anakku menjadi lebih berwarna.

Punya pengalaman serupa dengan anak yang mulai bosan dengan hoby mewarna? Penasaran dimana beli produk ini?

Kita dapat membeli produk ini di Tokopedia, Gramedia atau toko buku terdekat. Buruan beli yuk dan download aplikasi Colour to Life yuk!

Ini adalah pengalaman nyata yang aku alami. Bagaimana denganmu? Yakin tidak mau mencoba?

Karena Rasa bosan itu wajar. Inovasi dari kitalah yang dapat membuatnya bersemangat kembali. 😉

IBX598B146B8E64A