Browsed by
Month: August 2018

Kelihatan Tua Walau Usia Masih Muda? Jangan Perparah Dengan Hal Ini Ya!

Kelihatan Tua Walau Usia Masih Muda? Jangan Perparah Dengan Hal Ini Ya!

“Umur belum menginjak 30 tahun, tapi kok suamiku terlihat lebih muda ya? padahal masih lebih tua dia deh 3 tahun..”

Familiar dengan kata-kata diatas? Tentu saja ya, apalagi buat para kalangan emak-emak yang sudah punya anak satu, dua bahkan tiga. Konon, para perempuan memang lebih cepat tua dibanding laki-laki apalagi jika sudah menikah. Beberapa faktor yang menyebabkannya antara lain karena perempuan yang sudah menjadi ’emak’ memiliki beban kerja dengan tuntutan stress yang lebih tinggi. Ya, memikirkan keuangan rumah tangga, memikirkan anggaran sekolah anak, kredit rumah, biaya hidup membuatnya mengabaikan perawatan untuk dirinya sendiri.

Padahal.. Setiap wanita pasti sangat ingin menghindari penuaan dini, iya kan?

Karena penuaan dini bikin kita para kaum ’emak-emak’ menjadi gak percaya diri. Baik itu di lingkungan sosial maupun di mata suami sendiri.

Apa? Belum merasa tuaaa?

Coba deh, raba wajah kita sendiri. Sambil ‘ngaca’ dengan wajah ‘bare face’ di ruangan terang dan jujur ya… (Memang ada ruangan gak jujur? Ada kok, kalau cahayanya ‘over’ kalian bakal ngerasa masih terlalu cantik walau bare face. Bahaya tuh.. 😂)

Nah, sudah diraba dan berkaca dengan benar? Kalo kalian merasa wajah kalian udah mulai keliatan berkerut, terasa kasar, dan ada garis halus di sekitar dahi atau bibir. Itu artinya kalian udah mulai tua ya (oke, sepertinya aku belum.. 😂✌).

Hati-hati! Jangan sampai kita mengalami yang namanya penuaan dini!

Nah, seandainya kalian udah ngalamin beberapa tanda penuaan dini kaya yang udah aku sebutin di awal. Sebaiknya hindari hal-hal dibawah ini supaya wajah kita enggak mengalami penuaan dini.

1. Gonta-Ganti Produk Kecantikan

Siapa sih yang kadang merasa frustasi karena tak kunjung mendapatkan wajah yang mulus dan cerah?

Lalu kita berusaha terus untuk beli produk dan menggantinya secara terus menerus, lagi.. Lagi.. Dan lagi..

Padahal, seringnya gonta-ganti produk kecantikan itu ‘enggak baik’, catet. Kenapa? karena bikin kulit kita enggak mampu beradaptasi, dan beresiko menimbulkan iritasi.

2. Menggunakan Banyak Produk di Satu Waktu

Siapa yang tiap hari gak bisa lepas dari make up?

Makeup itu emang penting, aku sih yes (gaya mas anang.. 😂). Tapi, bukan berarti kita setiap hari harus menggunakan makeup yang berlebihan dengan banyak produk yang diaplikasikan setiap hari baii di rumah maupun di luar rumah.

Kenapa? Karena hal ini kalau dibiarkan bisa menimbulkan tanda-tanda penuaan dini di wajah. Wajah kita tidak dapat merasakan pori-pori yang bebas dikarenakan selalu tertutup make up. Hal ini dapat menyebabkan komedo dan jerawat loh dan akhirnya, tidak dapat benar-benar melakukan perawatan dengan skincare. Jadi, kalau mau makeup alangkah lebih baiknya gunakan makeup yang ringan-ringan saja. Kecuali untuk acara-acara tertentu, baru deh kita boleh menggunakan makeup yang agak berlebihan dan menyesuaikan dengan acara.

3. Sering Lupa Membersihkan Muka

Nah, Kebiasaan malas mencuci wajah itu jangan dibiasain ya. Aktivitas kita sepanjang hari pasti menyebabkan banyak banget kotoran, minyak, debu yang menempel di wajah. Dan bakal menutupi pori-pori wajah kalian. Hal inilah yang akan membuat jerawat dan keriput muncul.

Tau gak sih.. Membersihkan wajah dengan beberapa produk sekaligus pun ga bakal menunjukkan hasil yang baik. Karena hal ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Jadi, akan lebih baik jika kita memilih salah satu produk pembersih saja kalau ingin menghilangkan make up.

Kalau aku pakai apa ya? Ssst.. Aku pakai produk pembersih wajah yang lagi happening banget sekarang, yes.. itu adalah micellar water. Tau gak sih kalau Micellar water bisa membersihkan wajah dari sisa makeup dengan maksimal, dan tanpa dibilas.

Setiap habis makeup, aku pasti selalu bersihin wajah pake micellar water andalan aku. Kebetulan aku memakai produk micellar water dari ovale.

Aku pernah review produk ini sebelumnya di blog aku. Dan sampai sekarang, produk ini ter-love banget. Kalian bisa baca berbagai ingredients dari produk ini dan kesan pemakaian aku ditulisan sebelumnya ya.

Baca juga: Review Ovale Micellar Water

Ovale sendiri terdiri dari dua varian yang berbahan alami, yaitu ekstrak bunga magnolia dan ekstrak teh hijau, Ovale Micellar Water mampu membersihkan makeup dalam sekejap! Aku bisa lebih irit kapas pake ini (biasalah, mak emak kan memang harus serba ngirit kan ya.. Hihi) .

Oh iya, untuk harga jangan khawatir ya, Ovale Micellar Water ini bisa kita dapetin dengan harga 30ribuan untuk ukuran 200ml, dan 16ribuan untuk yang ukuran 100ml. ekonomis banget, kan?

4. Hindari rokok

Kalau ini sih, sudah tidak diragukan lagi bakal bikin kita cepat tua (dan cepat mati.. 😅). Kenapa? Karena ternyata kandungan zat aditif dalam rokok bisa membuat tampilan wajah kita lebih tua dari umur aslinya loh! Zat ini bisa memicu tumbuhnya radikal bebas dalam tubuh yang bisa merusak sel-sel tubuh. Selain menyumbat sel-sel kulit, menghisap rokok juga bisa membuat otot wajah jadi gak kencang seperti seharusnya. Bayangin deh kalau kita merokok setiap hari? Otot wajah kita bisa ketarik terus dan wajah bisa terlihat kendur. Menghisap rokok konon juga dapat menyebabkan bibir menghitam. Iya, lihat saja para perokok. Bibirnya rata-rata pasti hitam kan?

Maka dari itu, lebih baik menghindar deh dari rokok. Karena kalau kita sudah kecanduan, bukan cuma wajah kita yang bisa kelihatan tua, tapi kesehatan tubuh kita juga terancam.

Baca juga: Suara Ibu: “Rokok harus mahal demi kesejahteraan rumah tangga.”

5. Hindari pola makan tak sehat

Buat kalian yang masih punya pola makan enggak sehat, lebih baik stop dari sekarang ya. Orang-orang yang jarang mengonsumsi buah dan sayuran biasanya akan rentan terkena masalah kulit. Iya, tidak terkecuali seperti penuaan dini yang bisa membuat penampilan kita jadi kurang menarik.

Kita bisa mulai dengan membiasakan diri mengonsumsi buah dan sayuran secara rutin. Buah dan sayur dikenal memiliki banyak nutrisi dan vitamin yang bermanfaat untuk kesehatan kulit.

6. Kurangi asupan gula

Sudah tau belum kalau mengurangi konsumsi gula dalam bentuk apapun bisa jadi jalan untuk mengatasi kulit wajah yang terlihat tua loh! Iya, kadang kita sering ‘ngeles’ kalau konsumsi manis-manis bakal buat kita terlihat makin manis. Haha.. *gosip macam mana pula ini.. 😂

Memang, kalau kita sudah terbiasa dengan makan manis dan minum manis, pasti akan sulit untuk mempraktekannya. Iya, gula enggak bisa kita pisahin dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Bahkan katanya kan gula pengganti vetsin dalam masakan. Hayo, Siapa yang suka oseng sayur pakai tambahan gula?

Tapi tau enggak sih kalau kita mengonsumsi gula dalam jumlah banyak itu bisa menimbulkan glikasi? Glikasi adalah proses penggumpalan lemak dan protein dengan glukosa. Proses ini bisa membuat fungsi organ tubuh jadi gak maksimal karena jaringan dalam tubuh jadi kaku dan bisa memicu proses pengerutan kulit. Nah, akhirnya mau enggak mau dampaknya bisa sampai ke wajah yaitu berupa munculnya kerutan dan garis halus (kata siapa makan manis bisa bikin muka tambah manis.. 😂). Nah, kita enggak mau kan itu terjadi? Makanya, yuk mulai atur asupan gula kita agar gula enggak berlebihan dan memicu masalah bagi diri kita.

Nah, sekarang kita sudah tau kan hal apa saja yang bikin penuaan dini bakal tambah parah selain beban pikiran emak yang kadang bikin stress? So, Kalau kalian peduli dengan diri sendiri, yuk mulai sekarang dirawat baik-baik wajahnya. Jangan sampe kalian malu foto bareng temen atau suami sendiri karena keliatan paling ‘berumur’ sendiri, padahal sih ya sama yang lain kan masih satu angkatan. ✌

Berkunjung ke Kalimantan Selatan? Jangan Lewatkan Keindahan Pulau Pinus yang tersembunyi ini

Berkunjung ke Kalimantan Selatan? Jangan Lewatkan Keindahan Pulau Pinus yang tersembunyi ini

“Indonesia itu luas! Jangan di rumah terus!”

Itulah kata-kata salah seorang temanku saat tak sengaja membaca statusnya. Ia adalah seorang traveller yang tentunya hoby sekali jalan-jalan. Melihat berbagai foto-foto serta tulisan pengalamannya dalam jalan-jalan kemana saja tentu telah membuatku iri. Hei, kalau aku sudah kemana saja? Mungkin, bagian bumi yang pernah kupijak hanyalah 0,000000000000000000 (entah berapa nol lagi) yang ujungnya tentu saja satu. 😅

Aku pernah berkata padanya, “Kamu sih enak, masih single. Punya penghasilan dan (bla bla), sementara aku?”

Dia hanya tertawa dan berkata padaku bahwa sesungguhnya hampir sebagian besar tempat-tempat yang ia jelajahi adalah kawasan surga alam perawan, yaitu tempat indah yang tidak banyak orang yang tau. Sehingga hal yang dibutuhkan untuk jiwa penjelajah hanyalah satu hal ‘penasaran’.

“Kalau menjelajah tempat yang sudah banyak orang tau itu gak asik. Terlalu ramai, terlalu berisik dan sesak. Terakhir, budgetnya lumayan.. Hahaha.”

Ia kemudian bercerita tentang tempat-tempat indah di kalimantan selatan yang masih terbilang ‘perawan’. Pada beberapa tempat tentu saja memiliki jalan tempuh yang ‘mengerikan’, kalau tidak pastilah dibumbui oleh mitos-mitos menyeramkan. Aku, sebagai orang yang lumayan ‘worry’ tentu selalu bilang tidak pada beberapa sarannya. Dan setelah lama berbincang, akhirnya aku tertarik pada satu tempat. Namanya adalah Pulau Pinus.

Tentang Pulau Pinus

Di banjarmasin ada pulau?

Bukan di banjarmasin tepatnya sebenarnya, namun mengarah ke banjar baru di waduk riam kanan. Semua orang banjar tentu kenal bahwa waduk riam kanan adalah salah satu PLTA terbesar di kalimantan selatan. Namun, tidak banyak yang tau bahwa waduk riam kanan ternyata merupakan danau besar yang memiliki beberapa pulau-pulau kecil yang indah didalamnya, salah satunya adalah Pulau Pinus.

Sesuai dengan namanya, pulau ini ditumbuhi oleh banyak pohon pinus besar. Dan pulau yang aku kunjungi adalah pulau pinus 2. Dimana disana kita dapat berjalan hingga kebukit batas dan menikmati pemandangan indah disana. Sayangnya, walau sudah 2 kali kesini aku tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa ke bukit batas. Perjalanan pertama kesini alasannya adalah waktu yang sempit. Sementara perjalanan kedua kesini alasannya adalah kehamilan mudaku yang tentunya harus dijaga. Yah, tidak mungkin kan bumil harus naik bukit dan mempertaruhkan kesehatannya demi melihat panorama nan menawan hati.

Jadilah aku dan keluargaku terdampar disini, Pulau Pinus 2. Sekilas, lokasi ini terlihat seperti ditengah-tengah laut. Tapi sebenarnya, ini adalah danau riam kanan. Untuk sampai kepulau ini kami sekeluarga menyewa 1 kelotok dengan harga 450.000. Dalam satu kelotok, maksimal ditempati oleh 11 orang. So, lumayan banget kan kalau berangkatnya rombongan. Hehe

Memasuki pulau pinus pun tidak perlu budget yang mahal. Cuma 3000 rupiah saja kita dapat berkeliling pulau ini dan berfoto-foto ria sepuasnya. Lokasi disini sangat instagramable. Jadi, yakinkan bawa alat-alat berfoto yang maksimal ya termasuk alat dandannya.. *halah

Ingin lebih puas menikmati keindahan alam nan perawan ini? Yuk, naik saja ke bukit batas. Diatas bukit sana kita dapat menikmati maha karya pemandangan alam yang ‘waaw banget’. Suamiku sudah 2 kali mendaki bukit batas ini. Sebenarnya banyak sekali dokumentasi foto yang indah yang sudah tersebar di google. Suamiku sendiri tidak begitu mendapatkan banyak foto yang bagus karena saat mendaki cuaca sedikit berkabut dan faktor selanjutnya tentu saja kameranya tidak canggih. Hihi..

Di Pulau Pinus Bisa Ngapain Aja?

Jadi, kamu kesana jauh-jauh cuma buat foto-foto doang?

Ya enggak lah. Foto itu kenangan. Sisanya yang terbesar adalah kebahagiaan batin. Charge batin emak yang bisa tahan sampai berminggu-minggu lamanya sambil senyum-senyum mengenang foto. *halah.

Sebenarnya, kami termasuk kategori keluarga yang tidak suka piknik di tempat ramai. Seperti di siring, atau mengantri naik hiburan di mall. Itu membosankan. Kami tipe keluarga yang mencintai kesunyian dan keindahan hakiki. *tsah.

Jadi, selain ‘foto-foto doang’ banyak kok hal yang bisa dilakukan di sini, baik diperjalanan maupun di pulau pinus. Apa aja sih? Ini dia:

1. Menikmati keindahan perjalanan dan mampir ke pulau lain

Kesana naik kelotok? Apa asiknya?
Asik dong, soalnya pemandangannya ‘tcakep’. Airnya terbilang jernih dan bersih dan selama naik kelotok kita juga dapat melihat keindahan pulau-pulau kecil lainnya selain pulau pinus. Mau mampir ke dua pulau? Bisa banget.

Bagi penduduk kota yang jenuh melihat bangunan di kota. Pemandangan alam saat menaiki kelotok ini sangat berkesan sekali.

2. Berenang di pinggiran pulau pinus

Lebih tepatnya, merendam diri mungkin. Karena aku jelas tidak bisa berenang (hahaha.. 😂). Tapi aku cukup berbakat menjaga anakku untuk tidak tenggelam. Pokoknya, kalau dia ketengah danau sedikit aku teriak.. Ketengah dikit.. Aku teriak..

Lumayan kan teriak-teriak ‘sok panik’ begini, bisa mengurangi stress. Hahaha.

Air disini bagaimana? Kotor?

Enggaak, bersih. Bener. Jauh banget deh pokoknya dengan pantai-pantai yang pernah aku kunjungi di kalimantan selatan ini. Kalau pun di foto terlihat coklat itu karena endapan tanah liatnya bercampur air karena kami injak-injak.

3. Kuliner Alam
Kalian mau makan-makan disini? Berharap ada yang jualan ikan bakar, sambel, nasi hangat dll? Lupakan saja. Disini adanya cuma warung yang jualan mie instan. 😂

Jadi, kami makan mie instan disini? Ya enggak dong. Mama mertuaku adalah penganut paham homemade garis keras. Bayangkan, dari rumah nih beliau bawa nasi, terasi, lombok, tomat, bawang, bumbu ikan bakar yang baru diulek, kertas nasi, sampai ke tikarnya juga pemirsa.. Iya, sampai minyak goreng juga. Hahaha.

Ikannya gimana? Kami mancing? Ya enggak lah.

Namanya juga di danau. Disana banyak penjual ikan segar loh. Dari mulai nila, patin, hadungan, bawal, sampai lobster segar juga ada loh. Sayangnya? Aku lupa moto proses masak dari membersihkan ikan disini sampai memanggangnya. Kenapa? Karena aku keasikan main air tentunya. Hahaha.

Oya, FYI kalian kesini kalau mau bakar-bakar ikan begini gak usah bawa bara, minyak tanah, dll. Karena biji pinus merupakan bahan bakar yang bikin bara banget. Dan ranting-ranting kering juga banyak disini. Iya, namanya juga ‘kuliner alam’ lebih tepatnya sih.. Masak ala primitif. 😂

4. Berkemah

Aku berkemah disini? Enggak lah. Takut. Hamil berani banget bermalam di pulau pinus. Kan serem. Hihi

Tapi, suamiku dan ipar-iparku berkemah disini semalaman. Yah, lokasinya memang enak banget sih buat malam-malam barbeque. Tapi serem sih. Konon di pulau ini ada ‘penunggunya’. Bener loh. Tapi suamiku semalaman berjaga kepingin ‘moto makhluk gaib’ malah gagal. Ckckck.. 😂

5. Naik Pohon

Ya, silahkan ya. Bagi yang punya bakat terpendam salurkan saja disini. Karena selain pohon pinus disini juga banyak pohon lain. Silahkan kalau mau adegan loncat-loncat pohon kayak film twilight dan bermesraan diatas pohonnya sambil memandang pemandangan yang aduhai.. Silahkan kalau bisa.. 😂

Kalau aku? Skip lah.

Naik rumah pohon 3 kali bolak balik aja kepalaku benjol 3 kali. 😂

Kelihatan senang sekali, padahal kepala benjol..Haha

Nah, itu dia keseruanku dan keluarga saat berwisata di pulau pinus. Tertarik kesini juga? Yuk, visit kalsel.. 😉

Anak Perempuanku di-Bully lagi dan lagi, Aku harus Bagaimana?

Anak Perempuanku di-Bully lagi dan lagi, Aku harus Bagaimana?

source image: list.com

“Farisha kenapa? Kok sendirian mana temannya?” Tanyaku sambil menghampiri Farisha yang bermain ayunan TK sendirian kala jam istirahat di sekolahnya tiba.

Tanpa tertahan lagi, air mata Farisha langsung tumpah sambil memelukku. Ia kemudian berkata, “Teman Farisha gak mau temenan sama Farisha Ma..”

Aku langsung menoleh kearah 3 teman ‘sekelompoknya’. Sambil menuntun tangan anakku aku berkata kepada ketiga temannya, “Halo.. Kenapa ya anak tante gak ditemenin? Kalian kan berteman biasanya?”

Sang ‘ketua genk’ dalam kelompok itu menyahut lantang, “Aku gak mau temenan sama Farisha, Jilbab Farisha BAU.”

Hatiku panas. Meski beristigfar di dalam hati aku merasa ‘sangat GEMAS’ dengan mulut teman Farisha yang satu ini. Tapi, aku berusaha tersenyum (walau hati ingin menjambak-jambak rambutnya.. 😂) sambil berkata,”Oh yaa? Padahal sudah tante cuci loh. Pakai pengharum lagi. Masa bau sih?”

“Iya mama Farisha bau..”

“Oh gitu.. Cela (nama samaran) suka gak sih kalau ada yang bilang rambut Cela itu keriting jelek dan bau?”

“Tapi, rambut Cela ga bau. Udah keramas kemarin. Iya kan? Gak bau kan?” Tanyanya sambil meyakinkan ke teman ‘sekelompok’ nya.

“Oh.. Cela gak suka kan berarti tante bilang rambutnya bau? Nah, gitu juga perasaan anak tante. Dia sedih dibilang Jilbabnya bau, ga ditemenin lagi.. ”

Cela menoleh kearah Farisha, sementara Farisha masih menangis memelukku. Aku kemudian menyuruh mereka berdua bermaafan dan berkata kepada Cela..

“Cela, kalau enggak mau temenan sama Farisha enggak papa. Tapi tolong ya, jangan pernah meledek jilbab Farisha lagi. Nanti Anak tante kehilangan percaya dirinya.”

Dear Mama, “Aku merasa sendirian dan ‘berbeda’ di sekolah”

“Mama, Farisha besok gak mau lagi sekolah pakai jilbab..”

“Kenapa Sayang? Bukannya kemarin Farisha sendiri yang pengen pakai jilbab?”

“Tapi teman Farisha gak ada yang pakai jilbab..”

“Terserah anak mama, kemarin Farisha gak pakai kan awal masuk sekolah? Tapi Farisha sendiri yang tiba-tiba mau pakai. Its your choice. Mama gak wajibin Farisha, tapi mama tau Farisha lebih merasa nyaman pakai jilbab.”

“Tapi kenapa teman Farisha gak ada yang pakai ma? Padahal mereka orang islam.”

“Karena mereka belum merasa nyaman seperti nyamannya Farisha dalam memakai jilbab.”

Farisha terdiam. Setelah berdandan rapi dengan rambut dikuncir, akhirnya ia mengambil jilbabnya lagi. Aku menghela nafas, ya.. Itulah anakku. Aku sebenarnya tidak pernah memaksanya untuk berjilbab. Aku tau tantangannya. Aku saja baru memutuskan berjilbab ketika kuliah. Tapi Farisha? Lihatlah.. Dia memakainya karena merasa nyaman.

Nyaman. Mungkin ada yang bertanya kenapa merasa nyaman? Inilah yang dinamakan Innerchild positif. Sejak Farisha kecil, aku membiasakannya untuk berjilbab. Awalnya, hal itu untuk menutupi rambutnya yang baru ‘dibotakin’. Lama-kelamaan malah semakin terbiasa. Hingga besar, ia merasa ‘nyaman’ dengan tampilannya yang berbeda ini.

Ia tau ia terlihat berbeda. Tapi begitulah ‘style’ nya. Ia nyaman dengan tampilannya sampai suatu hari ia sadar bahwa ia merasa sendirian dan berbeda di kelompoknya.

Hati Ibu mana yang tidak sedih mendengar bully temannya Farisha secara langsung? Saat itu juga aku merasa berdosa telah ‘salah’ menyekolahkan Farisha di sekolah TK umum. Awalnya aku ingin mengajarkan toleransi kepada Farisha. Aku tidak ingin ia berpikiran sempit. Tapi lihatlah? Mengapa teman-temannya memperlakukannya dengan berbeda hanya karena penampilannya berbeda? Sungguh. Aku merasa bersalah. Aku tidak tau apakah keputusanku untuk memakaikan jilbab kepada Farisha sejak dini adalah keputusan yang benar atau benar-benar salah.

Dear Farisha, “Maafkan Mama membuatmu terlihat berbeda. Percayalah, Mama akan buat Anak Mama menjadi Bintang Merah yang bersinar terang.”

Seperti Ibu pada umumnya, aku mulai bertanya-tanya bagaimana cara ampuh untuk menghentikan bully. Aku membaca artikel, hingga bertanya pada psikolog saat seminar parenting. Dan aku tak pernah benar-benar puas dengan jawaban yang ada. Karena sungguh, praktiknya luar biasa sulit.

Apakah bully Pada Farisha berakhir saat aku ‘menasehati’ temannya? Tidak. Bully terjadi lagi dan lagi. Sampai suatu ketika aku menjenguk Farisha lagi di sekolahnya dan lagi lagi.. Aku menyaksikan anakku di bully di depan banyak teman dan gurunya.

Petualangan ‘sang emak’ dalam menghentikan BULLY sungguh panjang. Awalnya, aku juga kehabisan ide dan bergumam, “Ya Tuhan, Aku harus bagaimana lagi?”

Kenyataannya, anakku butuh dukungan namun aku sadar sepenuhnya bahwa aku tak bisa terus melindunginya dari bully. Aku harus punya cara lain..

Dan.. Sebagai kesimpulan terakhir aku akhirnya berani untuk menuliskan tahap-tahap yang kulakukan untuk menghentikan bully itu sendiri. Berikut adalah hal-hal yang telah aku lakukan:

1. Katakan padanya bahwa, “Maaf, Mama tidak bisa selalu Membelamu..”

source: u-gro.com

Ada beberapa orang tua yang sangat amat kesal ketika tau anaknya di bully. Mereka langsung mendatangi sang anak pem-bully dan menasehatinya. Bahkan, adapula yang sampai ke konflik besar sampai-sampai orang tua masing-masing juga turut berkelahi.

Aku pernah membela Farisha. Aku menasehati temannya dan mengajak mereka berdamai. Tapi, sungguh.. Apa kalian pikir dengan begitu semua sudah berakhir?

Tidak. Itu adalah awal yang buruk.

Pada beberapa ‘teman spesial’ campur tangan orang tua dalam hubungan pertemanan anak kecil adalah hal yang ‘tidak sportif’. Beberapa kasus bahkan akan menyebabkan pembelaan menjadikan sang pem-bully semakin menjadi-jadi dengan mengatakan, “Anak Mami.. Bisanya di ngadu Mama aja..!”

Aku pernah mengalami hal ini sewaktu kecil ketika Mama membelaku. Dan buruknya, aku mengulanginya pada kasus anakku.

Bully semakin menjadi-jadi. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak ikut campur tangan secara langsung kedalam urusan ‘pertemanan’ mereka.

Ketika Farisha curhat padaku tentang teman yang mem-bullynya, aku meyakinkan diriku dan berkata, “Sayang, Mama tak bisa terus membelamu. Farishalah yang harus membuktikan diri sendiri dan bersinar sendiri.”

Bagaimana respon anak? Semakin merasa ‘sendirian’. Ya, benar.

Tapi jika kita terus membelanya secara langsung, ia akan menjadi pribadi yang pengecut dan penakut. Percayalah.

2. Buatlah Anak ‘Bersinar’

Kita harus lepas dengan ‘urusan pertemanan’ mereka secara langsung, kita hanya bisa mengawasi mereka dari kejauhan. Tapi, kita tak boleh lepas tangan dalam urusan ‘menjadi penyemangat mereka’.

Ya, tiap anak itu punya sinarnya masing-masing.

Jika bully telah menghalangi sinar tersebut, maka buatlah sinar tersebut makin terang dan menyilaukan.

Anda percaya bahwa tiap anak itu Spesial? Carilah dan terus gali bakat yang ia miliki. Biarkan ia menunjukkan bakatnya pada semua orang. Suatu saat, kerja kerasnya dalam mengasah bakatnya akan mencapai titik keberhasilan.

Tahap ini sulit memang dan prosesnya memakan waktu yang lama. Dalam kasus Farisha, aku memutuskan untuk menggali bakat mewarnanya. Karena aku melihatnya suka sekali berurusan dengan gambar dan pewarna.

Awalnya bagaimana? Tentu hasilnya jelek. Tapi, anak yang benar-benar menyenangi aktivitasnya tidak peduli dengan hasilnya yang jelek. Ia akan mengulanginya lagi dan lagi sampai tiada bosannya. Pada tahap ini sangat penting peran orang tua untuk mendukungnya dan mengarahkannya ke hal yang benar-benar ia senangi. Karena jika kita mengarahkan bakatnya kepada hal yang tidak ia senangi, ia akan berputus asa.

Contoh ya.. Si Pembully adalah anak yang punya bakat dibidang mengenal huruf, berhitung dan membaca. Ia meledek anak kita tidak bisa seperti dia dan sangat lambat. Kadang, kita malah menantang si pembully dengan membuat anak kita tidak kalah dengannya. Mengajarkan kepada anak kita calistung pada usia dini padahal ia ‘tidak suka’. Percayalah jika hal ini dipaksakan anak kita tidak pernah benar-benar bersinar. Karena kita telah mencoba menghidupkan sinar yang tidak dominan.

Tiap anak itu spesial. Carilah bakat uniknya sendiri dan ia akan bangkit dari bully dengan cara yang menakjubkan.

Baca juga: Cara Sederhana untuk Mendukung dan Mengembangkan Bakat pada Anak

Prestasi akan membuat lawan bully-nya mengakuinya dan menerimanya..

Tapi ingat, prestasi juga akan menimbulkan bunga-bunga IRI pada lawan bully-nya.

3. Katakan Pada Anak, “Jangan Pernah Takut Memusuhi yang Salah.”

Prestasi akan menimbulkan bunga-bunga IRI pada lawan bully. Itu benar.

Kupikir, dengan membuat Farisha bersinar di sekolahnya akan membuat perasaan bangga diantara teman-teman kelompok bermainnya. Ternyata… Aku salah.

Bunga-bunga IRI itu tumbuh di hati ‘Sang Ketua’. Ia mulai membully Farisha dengan hal yang tidak pantas dan berlebihan. Bahkan, aku merasa bahwa ‘Sang Ketua’ ini berani denganku.

“Farisha lomba mewarna dibantu Mamanya Bu Guru..” Teriaknya nyaring saat upacara bendera. Saat itu, aku berada disana. Padahal, jarang sekali aku ikut kesekolah anakku. Teriakan itu terjadi 3 kali. Pada awal upacara, tengah upacara dan terakhir upacara.

Aku mulai berpikir, Apa anak ini sering melakukannya? Ada aku saja dia berani begini, apalagi tidak ada aku?

Semua anak tau bahkan Guru TK Farisha pun tau bahwa Farisha anak mandiri. Ia telah lepas dari pengawasanku sejak satu minggu di TK. Aku memang membantunya mewarna di rumah. Tapi, aku tak pernah membantunya mewarna diluar apalagi berkompetisi. Farisha telah mengikuti banyak lomba mewarna dan maaf saja.. Ia tak pernah didiskualifikasi. Oke, aku mulai ‘baper’.

Aku melihat raut sedih di mata Farisha dan matanya mulai berbinar. Saat ‘Sang Ketua Genk’ mau meledeknya lagi, aku langsung menatapnya dengan tatapan tajam dan marah. Oke, aku emosi.

Dan saat pulang sekolah, aku dengan lantang berkata pada Farisha, “Jangan mau berteman dengan si Cela lagi.”

Farisha berkata dengan mata berbinar, “Tapi kalau Farisha gak berteman sama dia nanti dia bilang sama teman-teman kalau jangan nemenin Farisha, nanti Farisha gak ditemenin di sekolah.”

“Masa sih? Masa Farisha anak mama yang pintar mewarna ini gak punya teman di sekolah hanya karena gak mau menemani satu orang anak aja? Mama yakin banyak kok yang mau berteman dengan Farisha. Si anu baik.. Si itu juga baik Mama lihat..”

“Tapi Ma..”

“Pokoknya mulai besok, Farisha gak boleh temenan sama anak yang suka ngeledek begitu. Gak boleh sebelum dia minta maaf sama Farisha.”

Kalian tau apa yang terjadi besok?

Farisha pulang dengan wajah ceria sambil membawa ‘bros rusak’ bermotif kuda poni. Ia berkata, “Cela beriin Farisha ini Ma..”

“Oh ya, Cela udah minta maaf sama Farisha?”
“Pagi tadi Cela gak Farisha temenin. Terus, Farisha temenan sama Anu dan Eno aja trus Farisha ajak lagi si Ino. Trus, Farisha main berempat. Trus, si Cela liatin Farisha terus. Trus, dia deketin Farisha sambil minta maaf dan ngasih bros kuda poni..”

Aku tertawa mendengarnya. Lihatkan? Jangan pernah takut memusuhi yang salah. Karena jika anak kita sudah punya ‘Power’ maka teman akan mendekatinya dan ia berkesempatan untuk membentuk ‘Genk Baru’ dengan kualitas yang lebih baik.

4. Katakan Pada Anak, “Jangan Pernah Mau ‘Menjadi Pengikut Pembully’, Jadilah sang Perangkul yang BAIK”

Hal yang paling membuatku sebal pada diri Farisha adalah kepribadiannya yang plegmatis.

Ya, entah kenapa ia sangat suka membuntut pada ‘Ketua Genk’ walau ketua tersebut dulu sering membullynya. Sampai sekarang pun, aku tetap merasa bahwa sikap ketua genk tak jauh berubah. Hanya sedikit berubah saja, itupun mungkin terpaksa.

Ya, aku yakin Farisha bisa membuat genk dengan kualitas yang lebih baik. Ia mampu menjadi ketua yang baik dengan sifatnya yang sangat berempati. Ketahuilah, Kebanyakan anak plegmatis itu rawan dibully dan gampang terpengaruh, catat.

Aku yakin ada cara yang lebih baik untuk membuat pribadi anakku lebih dominan di kelompoknya. Setidaknya, aku harus yakin bahwa ia tidak ‘menjadi bawahan’. Dan aku ingin teman-temannya menghargainya dan menghormatinya. Jadi, dia bisa lepas sepenuhnya dari ancaman bully.

Satu dua anak kulihat sudah dominan memihak Farisha dikelompoknya. Aku hanya butuh satu lagi untuk meyakinkan diri bahwa anakku benar-benar disayangi oleh teman-temannya.

TING. Ide itu muncul begitu saja.

Aku tau, teman-teman Farisha suka melirik bekal Farisha. Aku menyuruh Farisha untuk membagikan bekalnya pada teman-temannya. Aku sengaja membawakannya bekal berlebih.

So, is that work?

Noooo… Anak-anak butuh perhatian lebih banyak. Suatu ketika cara itu mampir begitu saja.

Suatu hari Farisha mengikuti lomba mewarna 17 Agustus yang diadakan di sekolahnya. Setiap anak membayar 35ribu untuk lomba mewarna ini, karena dipastikan semua anak yang ikut akan mendapatkan piala sebagai penyemangatnya.

Alhamdulillah, Farisha mendapatkan juara 1. Kupikir, hanya satu piala yang Farisha dapat. Ternyata sang guru menyerahkan dua piala yaitu Piala Juara 1 dan Piala Peserta seperti yang semua teman Farisha dapatkan.

Tiba-tiba, saat jam pulang sekolah salah satu teman Farisha menangis mencari Pialanya. Hilang. Pialanya benar-benar hilang. Semua orang tua murid dan Guru berputar-putar mencarinya. Dan hasilnya Nihil.

Aku membujuk Farisha untuk memberikan satu pialanya kepada temannya. Dan? Ya, ia mau melakukannya. Temannya memeluknya dan berterima kasih padanya.

Seketika itu pula, Farisha dikenal sebagai anak yang berhati luas. Ia tak hanya dicintai oleh ‘Teman Satu Genk’ nya, tapi juga semua anak. Semua ramai memujinya..

Ya, solusi terakhir sebagai obat Bully adalah… Tetaplah menjadi Anak yang Baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Karena Anak Baik selalu dicintai teman-temannya. 😊

source: www.schooltattoos.ca

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Hati-Hati Mak, Mom War dan Perfectionist Syndrome adalah Pemicu Utama Depresi dan Menular

Topik yang Never Ending

“Gak bosan dirumah aja? Kalau menurut saya jadi perempuan itu tuh harus mandiri minimal secara finansial karena (bla bla bla)”

“Aduh, makanya saya gak mau nitipin anak gitu. Kebayang ga sih pembantu sekarang ga bisa dipercaya. Makanya saya milih ga kerja aja karena ya (bla bla bla)”

“Waduh, enak ya melahirkan cesar. Ga sakit krn dibius.. Kalo saya kemarin nih.. (bla bla)”

“Waduh, anak umur segitu udah dikasih sufor? Gak takut anaknya nanti (bla bla). Sufor itu begini loh, begitu loh. Kalau saya dulu diusahain dong ya bisa ASI. Saya sampe (begini-begitu) supaya anak bisa ASI ekslusif. Karena begini loh, ASI itu ya (bla bla)”

“Aduh, punya anak 1 plus gak kerja aja pake ART. Orang kayah. Kalo saya sih biar punya duit ya tetep aja sayang karena kita ga tau apa yang terjadi di masa depan kan bisa aja nih nanti (bla bla)”

“Maaf ya, kalau aku suka miris liat emak-emak yang anaknya dikasih makan sosis, nuget, telor dadar. Muter itu-itu aja. Buat aku sih emak begitu namanya emak pemalas.”

“Anak umur 3 tahun udah di sekolahin. Apa sih yang ada dipikiran emaknya? Gak takut anaknya nanti kena sindrom bosen sekolah? Kata psikolog gue nih anak umur segitu itu (bla bla). Ya, kalau aku sih maunya homeschooling aja.”

“Jadi Istri plus Ibu itu harus bisa jaga penampilan. Masa baru anak satu aja badan udah gemukan. Aku nih udah anak 3 masih kurus. Ya, emang harus dijaga. Kalau siang kerjaannya molor aja gimana ga gemuk.”

“Aduh, itu vaksin belum di halalin MUI loh. Program pemerintah ada-ada aja. Coba deh kita berkaca dengan zaman dulu. Emak gue, kakek-nenek gue, itu gak ada namanya vaksin-vaksinan. Iya, sehat aja. Anak, sekarang malah gampang sakit. Udah baca artikel ini belum? Vaksin itu bikinan Yahudi. Kamu rela kalo anakmu nanti (bla bla) ”

Punya kata-kata lain yang sering kita dengar di perbincangan antar emak-emak? Gak usah disharing ya. Iya, emak udah kenyang. Serius.

Baca juga: 9 Topik Obrolan Sensitif yang dapat menyebabkan Mommy War

Makanya, teman itu Memang harus PILIH-PILIH!

source: parents magazine

Pernah punya prinsip begini.. “Berteman itu jangan pilih-pilih. Mau itu orang kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, gak pintar semua harus ditemani.. Karena kita ini makhluk sosial. Kita itu (bla bla)”

Siapa ya yang bilang begini? Iya, mungkin ini salah satu kilasan memori dari Guru PPKN dulu. Hahahaha.

Dulu, aku menelan mentah-mentah kata-kata itu. Mencoba berteman dengan siapa saja. Walau sebenarnya aku tergolong introvert namun urusan pertemanan aku baik, aku punya pemahaman polos bahwa semua manusia itu sama, semuanya harus ditemani.

Tapi pemahaman itu berubah ketika aku mulai remaja, jangan ditanya seberapa berubah ketika aku sudah menjadi emak-emak. Berubah Drastis. Buatku, yang namanya teman itu WAJIB PILIH-PILIH.

Kenapa? Noh, kalian mau temenan sama teman yang mulut plus jarinya kerjaannya nyinyir kayak diatas? Gak mau kan? Belum lagi kalau yang ngomong emak-emak yang ngakunya ‘senior’. Haduh mak, sakit banget tuh rasanya kayak ditusuk-tusuk pake tusuk sate.

Makanya, kadang aku merasa sendiri ya kalau emak-emak itu punya circle pergaulan yang ‘agak memisah’. Contoh:

Ibu Rumah Tangga sukanya temenan sama Ibu Rumah Tangga aja, Working Mom sukanya temenan sama Working Mom aja. Karena kalau ketemu obrolan mereka pasti ketitik yang paling krusial yaitu drama menitipkan anak dan topik finansial.

Ada grup khusus Emak-emak Menyusui yang kalau didalamnya muncul emak-emak curhat minumin anaknya sufor langsung diserang Ciat.. Ciat.. Seolah bilang, “Hei, tempat kamu itu bukan disini..”

Ada grup khusus anti vaksin yang kalau muncul emak-emak ‘sok sehat’ maka dia langsung ditertawakan dan dibully.

Ada grup khusus memasak. Yang didalamnya penuh dengan emak-emak homemade. Kalau ada satu biji emak yang share resep pakai vetsin atau sosis jadi dan kornet langsung diserang dan diceramahi.

Iya, karena itu jadi emak-emak wajib pilih-pilih teman plus punya ramuan ANTI BAPER dan KOMUNITAS PENDUKUNG agar bisa beradaptasi dengan kerasnya pergaulan diluar.

Ramuan Anti Baper 1: Emak harus Punya Passion yang diandalkan

Tiap orang itu punya kesenangan, namanya hoby. Adapun yang dinamakan passion yang diandalkan adalah hoby yang membuat manfaat bagi orang disekitarnya. Ingat ya, aku menggarisbawahi passion loh, buat ‘penghasilan yang dapat diandalkan’ 😝

Menurutku, adalah bohong besar ada Ibu Rumah Tangga yang kerjaannya ‘cuma bahagia’ dengan melayani anak dan suami lalu mengabaikan kondisi psikologisnya sendiri serta menolak hubungannya dengan lingkungan sosial. Eh, ada ya? Oke, jangan ajak aku berkenalan ya. ✌

Menurutku tiap ibu itu harus punya passion. Apapun itu, passion tidak harus melulu menghasilkan uang. Prinsipnya adalah kita senang melakukannya, apalagi jika orang lain merasa hal yang kita lakukan itu bermanfaat dan membantu.

Adapun emak yang ‘ngakunya’ tidak punya passion tetap seperti aku mengaku lebih mencintai dunia menulis dan ngeblog seperti ini untuk berekspresi.

Baca juga: I dont have any passion, Im divergent.

Aku menyebut aktivitas ngeblog ini sebagai ‘Ramuan Anti Baper’. Hal yang membuatku bisa lebih hidup serta dapat menutup mata dan telinga setiap kali mendengar nyinyiran diatas. Adapun emak lain mungkin akan lebih bahagia dengan passion yang lain. Tapi perlu diingat bahwa tiap emak itu beda, so teori parentingnya pun beda. Aku pernah membahas ini ditulisan sebelumnya.

Baca juga: Hal yang perlu diketahui sebelum belajar parenting

Baca juga: Gini cara emak introvert ngasuh anak, Masalah?

Ramuan Anti Baper 2: Emak harus Punya Hiburan

Apa me time buat kamu? Menulis?

Ah, tidak. Menulis tidak akan bisa dilakukan kalau otak tidak terhibur. Ya, bisa sih tapi isinya curhat semua. Hahaha.

Me time ala aku adalah menonton drakor ditemani cemilan dan susu hangat. So, dengerin nyinyiran diatas? Me time aja! Nonton drakor, jalan-jalan, baca buku, nonjok boneka. *ops

Apapun hal yang bisa menghibur… Do it Mom! Do it!

Ramuan Anti Baper 3: Emak harus punya Komunitas Pendukung

Apa passionmu?
Apakah sudah ada komunitas yang mendukung passion tersebut?
Atau selama ini kamu berada pada komunitas yang salah?
Jangan takut untuk KELUAR dari zona yang tidak nyaman. Cari komunitas yang cocok dengan kita.

Sebagai contoh, itu aku (maaf ya.. Contohnya aku lagi.. Aku lagi.. Namanya juga personal blog ya.. ✌)

source: hellomama’s.com

Sebagai makhluk hidup yang ‘suka nyampah’ dengan tulisan, baik itu berupa status jelek maupun ‘sok bijak’, aku tidak mau bergabung dengan circle mak-mak yang tidak bisa menerima sampah-sampah itu. Menyebut bahwa kerjaan blogger itu pamer dan ‘cuma’ modal tulisan. Itu adalah circle komunitas yang harus aku jauhi. Ada yang nyinyir? Block aja, delete.. selesai masalah. Berkomunitaslah dengan orang-orang yang punya satu hoby dan kesenangan dengan kita atau berteman dengan orang yang sepemahaman dengan kita. Komunitas pendukung seperti ini penting sekali loh dimiliki.

Emak Perfect itu Enggak Baik, yang Baik itu Emak yang Bahagia dan Sukses Menularkan Kebahagiaannya

Jika sudah menemukan 3 kunci ramuan anti baper maka kita sudah sampai ketitik ternyaman dunia emak-emak. Apa itu? Mencapai kesempurnaan yang hakiki? 😅

Pernahkah kita sebagai emak-emak mencoba untuk melakukan segala hal serba sempurna? Asi ekslusif, anak tak pernah tersentuh teh dan garam pada waktunya, tak pernah kenal gadget dan TV, rumah selalu bersih, makanan selalu homemade, tidak punya ART, selalu tampil cantik, bisa melakukan 4 pekerjaan dalam satu waktu termasuk sambil masak, nyuci, zumba plus liat fluktuasi saham? Lalu, uang bulanan selalu bersisa untuk ditabung.

Tapi.. Dibalik kesempurnaan itu.. Apa yang kita rasakan? Bahagiakah?

Aku (lagi lagi aku) pernah merasakan betapa buruknya terjebak dalam standar perfeksionis diatas. Puncaknya, aku merasa tidak bahagia.

Rumah selalu bersih tapi dibalik itu aku mengurung anakku dikamar, tanpa TV dan ia hanya aku hadapkan pada makanan homemade. Ia menangis. Aku cuek. Begitu teori parfectionis bicara.

Makanan selalu homemade, selalu tampil cantik. Tapi saat suami datang, bukan senyum yang aku suguhkan. Namun kelelahan, tak bisa memanjakannya. Mencoba mendapatkan pujian dengan bersisanya uang bulanan. Tanpa hiburan, tanpa family time, apalah artinya tabungan itu.

Kesempurnaan tidak membuatku bahagia.

Belajar membahagiakan diri dan sukses menularkan kebahagiaannya adalah prinsip dari terbentuknya keluarga yang bahagia. Aku sudah banyak belajar bahwa mencari puncak kesempurnaan tidak mengajarkan apapun padaku. Hanya rasa haus pujian yang tiada habisnya. Tidak bahagia, tapi Depresi.

Baca juga: Sepenggal Kisah tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan

Kenapa Perfeksionis sindrom itu Pemicu Utama Depresi dan Menular? Karena Korbannya adalah Emak-emak Sensitif dan Anak Kecil

source: thejoyoofthis.com

Apa akibat dari standar kesempurnaan yang tinggi?

Pengalaman nyata yang aku rasakan adalah.. Mengejar kesempurnaan membuatku terkena Post Partum Depression.

Yes, aku depresi. Aku mencoba memenuhi setiap standar kritik dari mulut-mulut ‘nyinyir’ yang singgah ditelingaku. Mommy War telah membentuk diriku yang sensitif ini menjadi ‘bukan diriku lagi’.

“Aku dulu uang bulanan cuma habis 800ribu loh. Kamu masa satu juta gak cukup? Anak masih satu juga..”

(Oke. Aku bisa. Aku harus serba homemade. Harus ngemil singkong tiap hari supaya ASI tetap jalan. Gak boleh nagih ini itu kesuami. Aku kan istri yang baik)

“Kalo aku jadi kamu, dari pada foto-foto makanan begini, mending jualan. Gak kerja juga, masa gak punya waktu. Jadi perempuan itu lebih enak kalau punya uang sendiri.”

(Oke, jualan. Aku bisa)

“Istri kamu kalau jalan modis banget ya. Berapa uang make upnya buat sebulan tuh? Aku dulu zaman begini begitu cuma modal bedak bayi aja..”

(Oke, bedak bayi.. Kely.. Aku juga bisa masih cantik begitu.. *kalo dasarnya udah cantik.. 😝)

Bla bla..

Bla bla..

Iya, aku dulu super sensitif. Dibilang ini manggut, itu.. Manggut. Aku depresi untuk mengejar kesempurnaan. Jikapun itu hanya terjadi pada diriku saja tidak mengapa..

Tapi aku menularkannya.

Aku membuat anakku menangis. Aku membuat suamiku marah.

Apa yang bisa dibanggakan dari menjadi ’emak yang maha sempurna’?

TIDAK ADA.

Hati-hati,

Jaga Mulut! Jaga Jari! Jaga Hati!

source: wytghana.org

Kita tidak pernah tau seberapa halus perasaan seseorang. Kita tidak pernah berteman dengan mereka yang baru kita kenal, tau masa lalu mereka. Bagaimana ‘tameng psikologis’ yang sudah terbentuk pada diri mereka. Kita melewati ‘masa lalu’ yang berbeda dengan setiap orang. Karena itu tiap orang itu unik. Tiap emak unik. Mereka tidak sama dan punya hoby yang berbeda. Dan satu lagi, perasaan mereka tidak sama.

Pernah mendengar penyakit schizophrenia? Penyakit kejiwaan ini dapat disebabkan bukan hanya karena lingkungan. Namun innerchild yang sangat negatif. Baik itu kenangan buruk dari masa kehamilan, kenangan buruk masa kecil, hingga tekanan demi tekanan yang diterima dilingkungannya.

Depresi itu menular. Dan pusatnya adalah pada kebahagiaan Ibu. Jangan pernah membuat perasaan Ibu tersakiti dengan mulut dan jari kita. Jaga hati kita agar tak selalu berprasangka negatif pada ‘ketidaksempurnaan emak-emak’. Karena bisa jadi, mereka tidak punya dan belum tau dengan ramuan anti baper.

“Kadang kita merasa mulut kita sungguhlah bijak. Ketika melihat emak-emak curhat, kita berkata ia tak bisa menjaga aib keluarganya. Lalu kita sarankan agar menutup mulutnya. Kita tidak tau, hatinya terluka. Tidak ada yang mendengarkan. Pernahkah kita sekali saja berusaha menjadi pendengar yang baik?”

“Kadang kita merasa jari kita begitu bermanfaat. Membuat status kesempurnaan dan menyakiti perasaan Ibu yang tak sempurna. Membuat kata-kata berambisi agar orang lain memiliki semangat membara, tapi kita lagi-lagi tidak tau_ kondisi setiap orang berbeda..”

“Kadang kita selalu berprasangka, ‘Apakah ini tentang aku?’, padahal dunia itu luas. Tidak melulu tentang ‘kita’. Adalah hak orang ketika ia ingin mengatakan sesuatu hal dengan ‘caranya’ . Bisa jadi, yang ia maksud sebenarnya adalah dirinya sendiri bukan? Sudah berapa banyak (aku) berkenalan dengan orang yang menulis untuk ‘memperingatkan dirinya sendiri’.”

Tersenyumlah mak, mulut dan jari dunia ini memang kejam. Tapi hati ini, sungguh masih memiliki obat. Yaitu dengan selalu berprasangka baik. Tidak mudah tentu. Tapi kita dapat berusaha.

Tertarik dengan ramuan anti baper? Let me know if it success!

Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Semangat Anakku dalam Mengasah Bakatnya

Faber Castell Colour to Life, Sang Pembangun Semangat Anakku dalam Mengasah Bakatnya

“Farisha, ayo warnai lagi. Kok belum selesai aja mewarnanya.” Ucapku ketus saat melihat kertas gambar yang hanya ¼ telah diwarnai anakku, padahal sudah berjam-jam lamanya aku memberinya kertas itu.

“Tapi Farisha capek ma.” Sahut Farisha dengan wajah kusut sambil terus menonton TV.

“Nanti kalau menonton TV terus ga bisa juara lagi mewarnanya.”

“Tapi kemarin Farisha udah usaha keras dan kalah lagi.. Kalah lagi..”

Yah, itulah kilasan percakapanku dengan Farisha sore itu. Sudah cukup lama aku membujuknya untuk terus mengasah hobynya tapi belakangan beberapa bulan ini anakku sedang tidak mood dalam mewarnai. Sebagian besar buku mewarnanya hanya diwarnai sedikit saja. Sisanya, jika aku lengah ia mulai santai menonton TV saja.

Dear Mama: “Aku Bosan Mewarnai”

“Farisha sudah bosan mewarnai ma..” Keluh Farisha sambil menunduk.

Aku terdiam.

Rasa bosannya mungkin beralasan. Dia pernah berusaha keras belajar teknik gradasi dalam mewarnai saat latihan untuk mengikuti 3 perlombaan mewarna. Aku membujuknya bahwa jika ia berusaha keras tentu akan menang. Tapi selama 3 kali berturut-turut ia kalah. Ia hanya dapat termangu melihat para juara memegang piala mereka. Dan yang dapat aku lakukan saat itu hanya membesarkan semangatnya sambil berkata, “Tapi Farisha juga sudah punya 2 piala lomba mewarna juara 1. Ini sudah hebat sekali. Mungkin, Allah ingin rasa senang anak-anak dibagi-bagi jadi bukan Farisha terus yang menang. Dan Allah mau Farisha tidak sombong. Jadi kalah dulu supaya nanti menang lagi dengan usaha yang lebih keras..”

Liburan sekolah dan kekalahan belakangan telah mengikis hoby mewarnanya selama ini. Selama liburan sekolah, aku mengakui bahwa telah lengah dalam mengatur schedule harian Farisha. Kadang, setiap pagi karena kesibukanku maka aku membiarkannya menonton TV berjam-jam lamanya. Ia senang, ia sampai hapal dengan jadwal kartun kesukaannya. Hingga suatu hari aku mulai protes dengan hoby barunya ini. Bagaimana tidak? Lihatlah, hoby barunya ini benar-benar tidak produktif dan menghambat kreatifitasnya.

Aku berusaha membangun semangatnya dengan hoby mewarnanya namun ia hanya mengeluh dan terus mengeluh dengan rasa bosan. Sampai akhirnya suatu hari ia berkata, “Ma, coba kalau gambar yang Farisha warnai bisa bergerak dan bercerita layaknya kartun yang Farisha tonton. Tentu rasanya senang sekali ya..”

Deg..

Aku hanya bisa diam mendengar kalimat protesnya ini. Aku pun mulai memutar ide agar bakat menggambar dan mewarnainya tidak terhenti begitu saja. Ide pertama yang terlintas dikepalaku adalah..

Hei, kenapa tidak coba membuat komik saja

“Komik?” tanya Farisha dengan wajah heran.

“Iya komik, Farisha kan bisa menggambar, bisa mewarna. Farisha mau tidak karya Farisha bisa dibukukan layaknya buku cerita yang mama bacakan tiap malam. Yuk, Farisha coba buat komik seperti buku doraemon. Nanti setelah digambar komiknya diwarnai. Jadi Farisha senang.”

“Kalau begitu, Farisha mau bikin komik Tayo..!”

Komik, kreasi pertama pengasah Bakat

Selama beberapa hari, Farisha bersemangat untuk menyelesaikan proyek komiknya. Setelah pulang sekolah, ia menyelesaikan satu lembar gambar komik. Komik yang ia buat tidaklah seperti komik pada umumnya sebenarnya. Namun hanya komik kecil mungil berukuran 5×10 cm. Apapun itu asalkan ia senang dan kreatif aku akan selalu mendukungnya.

Hingga suatu hari,

“Ma, kalau komik Farisha dijadikan kartun beneran bisa gak sih?”

“Bisa sayang, kalau yang bikin kartun Tayo tertarik dengan cerita di komik Farisha.”

“Bikin kartun? Bikin kartun itu bagaimana?”

“Hmm.. Bagaimana ya. Itu pakai animasi di komputer. Banyak skill yang harus dikuasai kalau ingin bikin kartun.”

“Farisha mau belajar bikin kartun. Wah, coba kalau gambar yang Farisha warnai bisa bergerak dan bermain, pasti Farisha senang.”

Aku tertawa mendengarnya.

“Iya, Farisha pikir dunia kartun itu berbeda dengan dunia kita. Ternyata itu bikinan manusia juga ya..”

Aku makin tertawa.

Ketika Komik saja tidak cukup.. Untung ada Inovasi terbaru dari Faber Castell

Tidak terkira bagaimana rasa senangku saat Produk terbaru dari Faber Castell tiba di rumahku. Aku langsung berseru memanggil Farisha dan memperlihatkan paket yang telah datang kerumah.

“Apa ini Ma?” Tanya Farisha bingung.

“Farisha mau hasil gambar yang Farisha warnai menjadi hidup bukan? Bisa bermain juga bukan? Ini kejutan buat Farisha supaya bisa mewujudkan keinginan itu.”

Farisha langsung membuka paket kiriman Faber Castell beserta buku mewarna di dalamnya.

“Lihat gambar disana? Kalau Farisha mewarnai gambar itu, nanti dia bakal hidup dan bisa bermain dengan Farisha.”

“Bagaimana caranya ma?”

“Warnai saja dulu, Farisha percaya dengan mama bukan?”

“Percaya ma..”

Faber Castell Colour to Life

Apa itu Faber Castell Colour to Life? Apa bedanya dengan Faber Castel biasa?

Faber Castell Colour to Life adalah sebuah paket terbaru dari rangkaian produk faber castel yang didalamnya terdiri dari 15 page Augmented Reality-Colour Book dan 20 connector pens

Familiar dengan kata Augmented Reality? Ya, benar. Ini bukan buku mewarnai biasa, namun buku mewarnai yang dapat dihidupkan karakternya melalui aplikasi Colour to Life. Jadi, setelah anak kita selesai mewarnai gambar pada buku ini maka ia dapat melihat karakter yang ia warnai dapat bergerak dan bermain.

Bermain? Ya, tidak sekedar berwujud layaknya kartun saja, tapi juga karakter tersebut dapat dimainkan. Caranya sangat mudah, Anda tinggal mengikuti instruksi yang tertera pada box Faber Castel ini.

1. Download Aplikasi Colour to Life di Play Store.

2. Warnai lembar dari buku mewarnai faber castel memakai connector pens Faber Castell. Ingat, hindari mewarnai bingkai dari gambar karena kalau bingkai diwarnai hasil mewarnanya tidak dapat di-scan pada Aplikasi Colour to Life.

3. Buka aplikasi Colour to Life kemudian pilih 5 jenis permainan yang tersedia sesuai dengan karakter yang sudah diwarnai. Setelah itu, scan gambar yang sudah diwarnai dengan mengarahkan kamera tepat di tengah-tengah bingkainya. Nah, aplikasi ini akan sukses melakukan scan jika layarnya berwarna hijau. Jika karakternya sudah muncul kita tinggal klik ‘play game’

5. Dalam satu buku mewarnai ini terdiri dari 5 jenis karakter yang berbeda. Setiap karakter memiliki 3 lembar gaya dan latar yang berbeda untuk diwarnai. Apakah jika tidak diwarnai gambar dapat di scan? Ya, bisa saja. Tapi gambarnya akan berwarna abu-abu tidak menarik seperti patung dibawah ini. Jadi, sudah tentu anak kita harus mewarnainya supaya karakter bermainnya tidak seperti patung ya. Hehe

6. Selain dapat bermain kita juga dapat berselfie dengan karakter yang sudah diwarnai loh. Caranya setelah memilih permainan dan sudah melakukan scan kita klik ‘take photo’ dan karakter tersebut sudah berada di camera hp kita, tinggal berfoto bareng deh.

Apa Gunanya Jika Ujung-ujungnya anak suka main HP?

Oya, saat aku ‘memamerkan’ aplikasi colour to life ini pada beberapa orang teman sempat ada yang bertanya, “Apa gak papa ya Mama Farisha kalau anak kita bermain game di hp begini. Bukannya kalau anak main game itu nanti akan… (bla bla bla)”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ya, tiap orang tua kan punya kebijakan masing-masing terkait aturan menggunakan gadget. Ada yang bahkan melarang menyentuhnya, ada pula yang cuek dan tidak perduli pada anak dengan prinsip ‘asal’ – asalkan dia diam dan tidak mengganggu. Lalu, aku termasuk type yang mana?

Aku sih ‘yes aja’ soal gadget dan bermain gadget. Asaaaal.. Asal anak masih ingat waktu dan game yang ia mainkan mengasah otak. Iya, anak zaman now juga harus diperkenalkan dengan kemajuan teknologi dan manfaatnya bukan?

Seperti Game pada Aplikasi Colour to Life. Game ini betul-betul membuat Anak merasa hidup kembali setelah puas dengan hasil mewarnainya.

Kelima jenis game pada aplikasi ini memiliki manfaat loh, antara lain:

1. Giddy Up
Permainan ini sangat cocok untuk anak laki-laki. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan koordinasi mata dan tangan, mengasah skill motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi dan pelatihan rileks.

2. Pogo Boy

Walau karakter permainan ini laki-laki, namun anak perempuanku sangat suka memainkannya. Menurutnya permainan ini cukup mudah dan mengasyikkan. Permainan ini berfungsi untuk menyatukan koordinasi mata dan tangan, mengasah skill motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi dan pelatihan rileks.

3. Dress Up Challange

Nah, kalau yang satu ini adalah permainan favorite anakku. Permainan ini mengasyikkan. Walau berkali-kali kalah ia tak bosan mencoba. Permainan ini menguji perhatian dan konsentrasi kita sehingga membutuhkan daya ingat yang cukup kuat. Anak Anda sering lupa saat diajari? Coba permainan ini dan kemampuannya mengingat mungkin akan meningkat.

4. Balance your Brain

Permainan ini berfungsi untuk merangsang perkembangan otak kiri dan kanan, mengembangkan perhatian dan konsentrasi serta meningkatkan kecepatan berpikir.

5. Safe Flight

Nah, kalau permainan pesawat yang satu ini berfungsi untuk menyeimbangkan koordinasi tangan dan mata, melatih keterampilan motorik, meningkatkan perhatian dan konsentrasi serta melatih refleks anak.

Semangatnya mulai bangkit lagi

Melihat hasil karyanya dapat hidup bahkan bermain bersamanya, Farisha seakan menemukan semangat baru. Dan game yang paling ia sukai adalah Dress Up Chalange.

Ia sangat suka dengan karakter anak perempuan. Terlebih jika permainannya adalah mengganti baju. Permainan ini menguji daya ingatnya dan memperluas imajinasinya tentang gaya berpakaian. Ini adalah pengetahuan baru yang bisa ia praktikkan saat belajar menggambar.

“Ternyata, desain baju macam-macam ya Ma..”

Asyiknya berselfie dengan tokoh yang sudah diwarnai

Point plus dari aplikasi ini adalah kita dapat berselfie dengan obyek yang telah kita warnai. Waw, seperti film digimon saja ya. Dunia digital seakan terlihat dapat hadir ditengah-tengah dunia nyata.

Manfaat dari selfie dengan karakter yang sudah ia warnai ini banyak loh, diantaranya adalah:

1. Membuat Mood Ceria Kembali

Lihatlah bagaimana keceriaan wajahnya saat selesai mewarna pesawat. Ia langsung bilang, “Ma, aku juga mau terbang jadi kupu-kupu buat nangkap pesawat.”

Segera ia mengambil sayap kupu-kupu miliknya dan berselfie ria dengan karakter pesawat. Ya, seakan-akan dia bisa terbang saja.

2. Merasakan Dunia yang Baru

Bisa berselfie dengan obyek yang telah ia warnai membuatnya merasa seakan telah masuk kedunia kartun. Lihatlah betapa semangatnya ia saat aku menyuruhnya bermain kuda-kudaan dengan prajurit kuda. Seakan berteman dengan teman imajinasi saja. Haha

3. Kembalinya Percaya Diri Anak

“Ternyata semua hal yang Farisha lakukan tidak sia-sia ya ma..” Kata Farisha.

Aku tersenyum dan mulai merasakan bahwa percaya dirinya bangkit kembali. Kekalahan demi kekalahan itu seakan hilang begitu saja dalam ingatannya. Ibu mana yang tidak bahagia melihat anaknya dapat percaya diri lagi?

“Coba bisa bicara juga Ma..” Sahut Farisha lagi.

Wah, permintaanmu tiada habisnya ya sayang. 😅

Tentang Cita-cita baru

Berbicara tentang cita-cita anak kecil itu adalah hal yang sangat menarik. Anak kecil selalu suka meniru. Suatu hari aku pernah bertanya padanya, “Apa cita-cita Farisha kalau sudah besar?”

“Farisha mau jadi Guru, Farisha mau bikin anak-anak jadi pintar semua..”

“Yakin gak jadi pelukis? Farisha kan suka mewarnai?”

“Pelukis gak bisa bikin anak jadi pintar ma..”

***

Aku tertawa mengingat jawabannya dan hari ini aku iseng bertanya lagi padanya, “Farisha, kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Mau bikin kartun Ma, kayak di TV itu. Nanti kartunnya bikin anak-anak jadi pintar. Jadi, kalau Mamanya lagi sibuk, anak-anak bisa jadi pintar dengan nonton kartun..”

“Gak jadi Programmer kayak Abah? Bikin Game Kartun?”

“Farisha kan suka menggambar dan mewarna ma.. Bukan ketik-ketik layar komputer dengan abc pusing warna hitam kayak bapak..”

Aku tertawa mendengarnya. Ya, sejak mengetahui bahwa skill menggambar dan mewarna dapat mewujudkan impiannya membuat kartun maka ia punya cita-cita baru yaitu menjadi pembuat kartun yang edukatif di masa depan. Jika kalian bertanya sejak kapan cita-citanya tiba-tiba berubah? Yaitu, Sejak dia mengenal Faber Castell Colour To Life.

Terima Kasih Faber Castell Colour to Life. Kini cita-cita anakku menjadi lebih berwarna.

Punya pengalaman serupa dengan anak yang mulai bosan dengan hoby mewarna? Penasaran dimana beli produk ini?

Kita dapat membeli produk ini di Tokopedia, Gramedia atau toko buku terdekat. Buruan beli yuk dan download aplikasi Colour to Life yuk!

Ini adalah pengalaman nyata yang aku alami. Bagaimana denganmu? Yakin tidak mau mencoba?

Karena Rasa bosan itu wajar. Inovasi dari kitalah yang dapat membuatnya bersemangat kembali. 😉

IBX598B146B8E64A