Suara Ibu: Rokok Harus Mahal Demi Kesejahteraan Rumah Tangga

Suara Ibu: Rokok Harus Mahal Demi Kesejahteraan Rumah Tangga

Mungkin judul diatas terlihat kejam bagi kalangan pecandu rokok, tapi bagi saya yang merupakan seorang perempuan sekaligus ibu dari satu anak maka judul tersebut sangat tepat untuk mengungkapkan isi hati saya selama ini. Tolong, jangan protes. Dengarkan dulu apa yang ingin saya ungkapkan sebagai seorang Ibu.

Wahai Perokok, Izinkan Saya Berekspresi Melalui Tulisan Ini

Suami saya bukanlah seorang perokok. Namun tetangga saya, keluarga saya, serta suami dari teman-teman saya merupakan perokok aktif. Tidak jarang saya mendapati mereka merokok saat berbicara dengan saya. Tidak jarang pula mereka tanpa rasa simpati tetap merokok meskipun saya membawa anak saya saat pertemuan silaturahim.

Menegurkah saya? Tentu tidak. Saya sungkan. Saya pikir kebasan tangan tanda tidak suka sudah cukup sebagai ekspresi ketidaksukaan itu. Saya pikir, menyuruh Farisha anak saya menjauh sudah cukup menjadi ekspresi ketidaksenangan itu. Ternyata, itu tidak cukup. Hanya karena kesenangan pribadi dengan alasan kecanduan akut, tak bisakah kalian (sang perokok) prihatin dengan orang-orang di sekeliling kalian?

Kalian mungkin tidak tau, asap yang kalian timbulkan dari rasa nyaman itu telah membuat perokok pasif seperti kami menderita dan sakit. Parahnya, kalian tidak akan sadar selama kami yang sakit. Kalian akan sadar (hanya jika) kalian yang sakit. Kalian mungkin tak peduli jika anak kami terkena gangguan pernafasan. Tidak peduli dengan kondisi Ibu hamil di sekeliling kalian, tidak peduli dengan perasaan seorang Ibu. Kalian mengkondisikan kami selalu berada dalam perisai imun tubuh yang kuat. Kenyataannya, kami tidak sekuat itu.

Kalian akan tau rasanya, jika kalian menjadi seorang ayah dan melihat penderitaan itu pada istri dan anak kalian.

Saat itu, barulah kalian sadar..

Kami tidak sekuat itu..

Selama ini kami menutupinya rapat-rapat..

Sekilas Cerita tentang Permasalahan Rumah Tangga yang Timbul Karena Perokok

source: halosehat.com

Saya memiliki seorang teman. Ia adalah seorang Ibu dari satu anak laki-laki. Suaminya adalah seorang perokok aktif. Sementara teman saya adalah working mom sehingga ia tidak dapat aktif 24 jam mengontrol anaknya. Ia menitipkan anaknya pada mertua. Sementara anaknya lebih sering berinteraksi dengan ayahnya dibandingkan dengan dia sendiri karena jam kerja teman saya tersebut hingga malam hari.

Pada usia 2 tahun, anaknya terkena radang paru-paru. Selama berbulan-bulan teman saya bolak balik rumah sakit untuk memeriksa keadaan anaknya. Tidak sedikit uang yang dikeluarkan. Bahkan obat-obatan pun tidak dapat di cover asuransi kesehatan. Selidik demi selidik, penyebab penyakit radang paru-paru pada anaknya adalah karena ayahnya yang merupakan perokok aktif. Ayahnya mengaku menghabiskan rokok minimal 2 bungkus sehari. Dan saat bermain dengan anaknya sementara menunggu Ibunya pulang, sang Ayah selalu menghirup rokok. Ia selalu merokok sesudah makan hingga sambil minum kopi. Tidak jarang anaknya ikut meminum kopi bekas ayahnya juga.

Perekonomian yang telah dibangun susah payah dari seorang working mom kini hancur lebur karena biaya penyakit yang diderita anaknya. Sang Ayah kini hanya bisa menyesal meratapi keadaan anaknya yang tak kunjung membaik. Bagaimana ending dari cerita ini?

Selanjutnya, mari kita bercerita tentang seorang Ibu Rumah Tangga yang memiliki Suami Sang Perokok… Ya, salah seorang teman saya juga.

Kehidupan keluarganya terbilang sangat sederhana. Ia tinggal dirumah kecil kreditan bersubsidi dengan satu orang anaknya. Suaminya bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan. Gajihnya tidaklah banyak bahkan bisa dibilang pas-pasan. Namun, suaminya masih bisa membeli rokok satu bungkus sehari. Sang Istri tidak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya kondisi keuangannya juga kurang. Ia hanya bisa membeli beras, tahu, dan tempe sebagai konsumsi sehari-hari. Namun, karena tekanan rasa rendah diri dibanding suaminya yang merupakan tulang punggung maka ia tidak dapat berkata apa-apa. Tahun ini, anaknya akan mulai masuk sekolah. Dan ia tidak punya biaya untuk itu, sementara suaminya? Tidak peduli. Ia berkata bahwa, “Pokoknya, aku sudah ngasih duit.”

Bagaimana ending dari 2 kisah ini?

Permasalahan ini Muncul Karena Harga Rokok yang Murah

Jika ditelusuri, dasar permasalahan ini muncul karena harga rokok yang cukup murah. Bahkan, uang jajan anak SD kalangan menengah saja sudah bisa untuk membeli 1 bungkus rokok. Ya, kecanduan itu dimulai sejak kecil bukan? Dari kata yang dinamakan ‘coba-coba’.

Kenapa mencoba? Karena Ayahnya saja terus mengkonsumsinya hingga sesekali menyuruhnya untuk membelikan rokok. Anak kecil mana yang tidak penasaran? Sekalipun orang tua selalu bilang ‘jangan coba-coba’ tapi bagi anak kecil, kata ‘jangan’ tersebut sangat menggoda untuk dilanggar. Terlebih jika dia punya uang cukup untuk membelinya.

Sejak kecil mencoba rokok dan ketika dewasa mengalami kecanduan. Itulah yang menjadi dasar para perokok. Karena itu, besar kemungkinan jika sang ayah perokok maka anaknya juga perokok. Walaupun memang tidak semuanya seperti itu. Kecanduan ini tidak dapat dicegah selama harga rokok selalu cukup untuk dibeli.

Apa latar belakang kasus pada teman saya yang pertama? Karena rokok murah, murahnya harga rokok membuat suaminya mampu mengkonsumsi minimal 2 bungkus rokok perhari. Ia merasa harga rokok sangat terjangkau, apalagi istrinya bekerja sehingga uang jajan miliknya cukup banyak untuk dapat membeli lebih dari satu bungkus rokok.

Apa latar belakang kasus pada teman saya yang kedua? Karena rokok murah. Biarpun gajih pas-pasan tapi lebih baik membeli sebungkus rokok dibandingkan membeli lauk pauk. Toh, istrinya tidak akan protes. Kepala keluarga siapa? Yang menghasilkan uang siapa?

Ya, semua masalah bermula dari murahnya harga rokok.

Rokok Harus Mahal

Tidak perlu berpikir 2 kali untuk turut serta menandatangani petisi naikkan harga rokok 50 ribu perbungkus #RokokHarusMahal #rokok50ribu di change.org. Saya langsung turut serta menandatanganinya dan menyebarkannya ke media sosial. Kenapa saya melakukan itu?

Setidaknya, ada 5 pertimbangan kuat yang membuat saya sangat wajib ikut menandatanganinya, yaitu:

1. Jika Rokok Mahal, para Ayah akan menomor satukan pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga

Bayangkan jika pada kasus teman saya yang kedua tersebut harga rokok sudah mahal sebelum hari pernikahannya? Tentu suaminya berangsur-angsur ingin berlatih untuk berhenti merokok sebelum ia memberanikan diri melamar kekasihnya.

Bagaimana tidak? Gajih pas-pasan, perokok aktif, rokok mahal, mau melamar anak orang? (jika saya sebagai mertua tentu akan menolak mentah-mentah.. 😝)

Nah, bagaimana jika rokok mahal ketika sudah menikah seperti kejadian nyatanya? Tentu suami akan berlatih untuk berhenti merokok dan mengutamakan kebutuhan rumah tangganya.

Bagaimana kalau tidak? Bagaimana jika ia bersikeras tidak mau berhenti merokok dengan harga rokok yang mahal? Percayalah, hanya suami yang tidak cinta keluarganya saja yang sanggup melakukannya.

2. Jika Rokok Mahal, generasi muda calon ayah masa depan dapat terselamatkan

Belakangan, saya miris melihat anak-anak SMP hingga SD sudah mencoba merokok. Bagaimana bisa? Karena rokok murah. Uang jajan harian mereka cukup untuk membeli rokok.

Solusi dengan mengurangi uang jajan anak tidaklah cukup. Mereka punya banyak akal untuk bisa merokok. Mencuri rokok punya ayahnya mungkin, atau menabung demi satu bungkus rokok. Tapi jika rokok sudah berharga 50 ribu, masihkah mereka sanggup untuk ingin merokok? Mencoba pun bahkan mereka akan berpikir.

Lelaki Generasi Muda, para calon Ayah masa depan akan terselamatkan dari status perokok aktif. Karena mereka menghindari rokok sejak dini.

3. Jika Rokok Mahal, Generasi Wanita dan Anak-anak akan Sejahtera

Siapa yang paling sejahtera jika Rokok 50ribu diberlakukan? Yaitu, wanita dan anak-anak. Karena besar kemungkinan Ayah perokok dan lingkungan perokok mulai berangsur-angsur berkurang. Keluarga sejahtera dan sehat diawali dengan pemahaman seorang ayah tentang kondisi ekonomi maupun kepedulian kesehatan pada keluarganya. Betul tidak?

Tidak akan ada lagi golongan ekonomi menengah kebawah yang mengutamakan pembelian rokok sebagai pengeluaran harian rumah tangga. Akhirnya, uang dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna seperti peningkatan konsumi protein dalam sehari-hari maupun tabungan untuk pendidikan anak.

4. Jika Rokok Mahal, penyakit karena rokok akan berkurang

Mungkin, tidak perlu saya jelaskan dengan detail penyakit apa saja yang dapat muncul karena rokok. Bercerita tentang penyakit-penyakit itu terlalu seram (bahkan lebih seram daripada film horror menurut saya.. 😅).

Benar, saya bahkan ingin menangis saat menulis cerita tentang penyakit teman anak saya diatas. Entah kenapa kalau korban adalah anak-anak itu terlalu mengerikan. Lantas, bagaimana jika sang Ayah Perokok yang terkena penyakitnya?

Itu juga mengerikan. Bayangkan jika sang tulang punggung keluarga tidak bisa apa-apa karena sakit? Bayangkan kalau ia berpulang terlebih dulu? Entahlah bagaimana nasib anak dan istrinya.

Dengan mahalnya harga rokok, pengguna rokok akan berkurang yang tentunya otomatis akan mengurangi korban penyakit yang muncul karena perokok aktif maupun pasif.

5. Jika Rokok Mahal, keluarga akan sejahtera

Bagaimana ending seharusnya dari 2 kisah diatas? Dengan mahalnya harga rokok maka akan menyadarkan kaum ayah. Yah, meski mungkin ini tergolong shock therapy. Namun, segala hal baik tentu perlu perjuangan bukan?

Bagaimana Cara mendukung #RokokHarusMahal?

Selain menandatangani petisi dengan klik change.org, kita juga bisa mengikuti talkshow mengenai #rokokharusmahal di Radio Power FM (89.2) streaming di jam 09.00 – 10.00 WIB.

Talkshow ini diisi oleh 2 nara sumber yang kompeten yaitu:

1. Ibu Magdalena Sitorus, perwakilan dari Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T)

2. Ligwina Hananto, perwakilan dari Financial Trainer

Berikut ini adalah tanggal talkshow lengkapnya:

PUKUL : 09.00-10.00 WIB

1. Jumat, 11 Mei 2018 ;

2. Rabu, 16 Mei 2018;

3. Rabu, 30 Mei 2018;

4. Rabu, 6 Juni 2018;

5. Rabu, 20 Juni 2018;

6. Rabu, 11 Juli 2018;

7. Rabu, 25 Juli 2018;

8. Rabu, 15 Agustus 2018

Kalian juga bisa streaming di KBR.id / KBR Apps atau tonton di Facebook Kantor Berita Radio-KBR.

Para blogger juga dapat mendukung #RokokHarusMahal dengan menulis artikel. Karena selain menebar kebaikan tulisan kita juga bisa diikutsertakan dalam lomba blog loh. Ketentuannya adalah:

1. Follow akun social media KBR :

◼ Facebook Kantor Berita Radio-KBR,

◼ Twitter @haloKBR dan @beritaKBR

◼ Instagram @kbr.id

2. Tulisan sesuai tema pembahasan dalam talkshow.

3. Upload tulisan di blog pribadi dengan memuat frase :

◼ Program radio Ruang Publik KBR

◼ #rokokharusmahal #rokok50ribu

◼ Backlink ke website KBR.ID

4. Kirim link blog ke email ruangpublikkbr@gmail.com dengan subject LOMBA BLOG, sertakan juga biodata Anda (Nama, Domisili, Akun Medsos;twitter, FB, IG dan Nomor HP )

5. Share tulisan di blog ke media sosial Anda dengan mention salah satu akun media sosial KBR dan mencantumkan #rokokharusmahal #rokok50ribu

6. Blogger diperbolehkan mengirimkan tulisan untuk semua episode talkshow

(Ada 8 episode yang akan kami hadirkan hingga Agustus)

7. Pemenang akan dipilih oleh juri dari KBR

8. Ada 3 pemenang di masing-masing episode dengan hadiah total Rp 1,2 juta.

Tiga tulisan terbaik dari tiap episode akan dilombakan lagi di akhir program untuk dipilih oleh dewan juri menjadi juara 1,2, dan 3. Total hadiah dari episode 1 hingga akhir program Rp 17 juta. Keputusan juri bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

9. Pendaftaran tiap episode kami tunggu paling lambat 7 hari setelah talkshow

Yuk, kita dukung penuh program kampanye #rokokharusmahal. Bukan hanya para ibu yang wajib mendukung tapi juga semua kalangan. 😊

Komentari dong sista
11 Shares

10 thoughts on “Suara Ibu: Rokok Harus Mahal Demi Kesejahteraan Rumah Tangga

  1. Saya setuju banget jika rokok harus mahal agar perokok lebih mikir2 kalau mau beli rokok. Udah tau rokok nggak bagus buat kesehatan, masih aja bandel ngerokok

  2. Kalau saya sih setuju banget untuk harga rokok harus mahal biar pada jera yang suka beli rokok. Secara tidak langsung para perokok bisa merugikan orang banyak, mulai dari anak-anak hinggs orang dewasa. Seringa banget menjumpai bapak merokok dan disampingnya ada anaknya.

  3. Saya setuju bangey gerakan ini. Sering banget nemuin perokok aktif yang sangat arogan dan gak peduli sekitar. Suka sedih kalo bawa bayi keluar dan dapati perokok itu pasang tampang ya terserah gw mau ngapain juga. 🙁

  4. Aku setuju banget kalo rokok harus mahal. Aku nggak suka juga sama asap rokok dan suka kesel sama orang yang suka ngerokok seenaknya di tempat umum.

  5. Paling sedih kalau ada bapak2 apalagi ibu2 merokok di depan anaknya. Udah gtu anaknya kena sakit hadeuh. Moga2 ini gak sekadar wacana ya kempennya, push terus pemerintah supaya rokok beneran dimahalin.

  6. Setujuuu bgt mba rokok harus mahal, suamiku jg perokok berat. Suka ngeselin uang udah mepet masih aja nyempetin beli rokok juga huhuhuhu. Kan klo mahal dia jd mikir buat beli

  7. Bener banget rokok harus mahal
    Anak saya umur 6 thn jg ga suka ayah nya merokok
    Sering dia buang rokok ayahnya .tp si ayah blm kapok.

  8. Sebagai generasi milenial saya juga nggak suka sama asap rokok yang mengganggu banget buat menghirup udara segar dan pastinya bikin nggak sehat. Dukung mahal kan harga rokok

  9. Iya bener mba. Mengganggu sekali rokok itu. Bahkan saya pernah nerima curhatan teman yang suaminya perokok. Udah menganggur, ngerokok lagi. Padahal beli rokok itu pake uang. Jadi aja teman saya itu ngebatin

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A