Browsed by
Category: Ekonomi

Bincang-Bincang Pasutri: Siapa Yang Megang Duit Dalam Rumah Tangga

Bincang-Bincang Pasutri: Siapa Yang Megang Duit Dalam Rumah Tangga

“Kesel banget. Kesel. Suamiku itu bla bla bla bla…”

Sebuah curhatan terbuka yang aku baca di sosial media terkait dengan keuangan rumah tangga. Cerita singkatnya, sang istri kesal karena tidak diberikan kepercayaan dalam memegang 100% keuangan rumah tangga. Aku melihat kolom komentar. Sebagian mengutuki suami yang terkesan pelit. Sebagian yang lain ‘puk puk’ pada penulis status, menyuruhnya untuk terus sabar dan berdoa dalam ujian ini. Ada pula sebagian yang lain yang beradu nasib, menceritakan bahwa jatah bulanan sang penulis status ‘masih mending’ dibanding dengan dia yang hanya diberi sekian rupiah saja.

Jujur, Membaca fenomena ini aku jadi teringat tentang kisah rumah tanggaku sendiri. Hehe..

Siapa yang Megang Duit dalam Rumah Tangga?

Sebenarnya, topik mengenai keuangan demikian jauh lebih baik dibicarakan sebelum menikah. Disini, aku bukannya menghalalkan pacaran yah. Hanya saja, tentu ada dong pendekatan sebelum menikah. Entah itu taaruf atau apa. Nah, dalam fase demikian.. Topik tentang keuangan dan pertanyaan tentang nafkah sebenarnya harus diperbincangkan dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Dalam sebagian masyarakat kita, mungkin pembicaraan ini terdengar tabu. Apalagi jika topiknya mulai diangkat oleh pihak perempuan. Tak sedikit loh, pihak laki-laki yang mungkin akan berpikiran, “Matre ya nih cewek?”

Jujur, aku sendiri menganggap topik demikian adalah topik terlarang dahulu. Dan andai bisa mengulang, aku akan ulang. Haha.

Dulu, aku berpikir bahwa membahas keuangan itu gak banget. Apalagi jika tau bahwa status finansial calon laki-laki dibawah kita. Jadi, entah kenapa kalau membahas hal demikian takut sekali kalau-kalau calon pasangan tersinggung. Padahal, suka tak suka.. masalah finansial ini adalah akar serabut dari kekuatan pondasi rumah tangga.

Tak melulu sebenarnya membahas finansial tentang membahas gajih atau tentang siapa yang memegang. Membahas finansial berarti mulai terbuka tentang isu kebiasaan finansial masing-masing. Misalnya mengetahui bahwa calon pasangan punya trusted issue dibagian apa, punya sandwich generation atau tidak. Bahkan hal remeh seperti kebutuhan primer, sekunder dan tersier bagi calon pasangan saja harus diperbincangkan. Ada loh, yang ngerasa bahwa kebutuhan sekunder kita itu adalah kebutuhan tersier baginya. Dan ketika ini terbawa dalam rumah tangga, bisa-bisa kita yang dianggap tak bisa mengelola keuangan. 

***

Well, back to.. Siapa yang megang duit dalam rumah tangga? 

Yakin deh, 90% dari pembaca akan menjawab “Istri dong!”

“Karena yang ke pasar kan istri, yang bayar ini itu kan istri.. Bla bla”

Tapi, tahukah kalian bahwa tak semua ‘istri’ kompeten dalam memegang duit?

Dalam beberapa kasus, ada kejadian dimana istri tak bisa berempati dengan kondisi finansial keluarga. Diberikan uang 100%. Namun semuanya habis. Padahal uang yang diberi lebih dari cukup. Misal, diberikan 15 juta untuk keperluan rumah tangga dengan 1 anak. Namun setiap bulan uangnya habis tak bersisa. Setelah dicek, ternyata sang istri senang hang out dan belanja kebutuhan tersier.

“Tapi kan win, itulah tantangan bagi suami.. Supaya nyari duit lebih rajin dan istri terawat..bla bla..”

You do you sih… Tapi, dalam kasus demikian. Kalau sering terjadi maka bukan tak mungkin suami akan kehilangan kepercayaan. Suami yang punya tujuan keuangan dan memikirkan masa depan pasti berpikir, jika setiap bulan uangnya habis tak bersisa dan istri tak punya tujuan keuangan yang baik maka ia harus menerapkan aturan berbeda. 

Itulah kenapa, tak melulu sebenarnya pemegang duit dalam rumah tangga itu 100% harus diserahkan pada istri. Konsep terbaiknya adalah dipegang oleh ‘Yang terbukti bisa mengelola uang lebih baik’. Bukan cuma aku loh yang bicara begini. Mostly, Financial planner juga berkata demikian. 

Uang jauh lebih baik dipegang oleh istri ketika ia memiliki pasangan yang boros. Suka berjudi misalnya. Suka berinvestasi bodong misalnya. Tak punya tujuan keuangan yang jelas. Sebaliknya uang jauh lebih baik dipegang oleh suami ketika istri tak paham cara mengelola keuangan. 

Tapi, akan jauh lebih baik lagi kalau suami istri sama-sama paham tentang finansial. Tentang cara mengatur budget masa kini, mengalihkan sebagian uang untuk masa depan. Sama-sama punya tujuan keuangan yang baik dan benar. Nah, yang demikianlah kerja sama terbaik. Ketika suami istri saling percaya pada keuangan masing-masing dan punya tujuan keuangan yang selaras.

Pentingnya Suami Istri Punya Tujuan Keuangan Yang Sama

Jujur, butuh waktu sepuluh tahun bagiku untuk memiliki tujuan keuangan yang sama dengan suami. Awal menikah itu… Aduuhai.. Pertengahan menikah… masih… waduuh… Sampai 10 tahun menikah dan konflik besar tentang finansial mulai meledak di keluargaku. Tapi Alhamdulillah, sejak konflik itu pula akhirnya perlahan kami bisa memiliki tujuan keuangan yang hampir selaras. Jadi, untuk kalian yang belum memiliki tujuan yang sama dengan suami.. Dont give up!

Seorang ‘aku’. Yang punya latar belakang ilmu ekonomi lumayan bagus, memahami konsep investasi, bahkan punya berbagai skill menghemat demi survive (Maap sombong kelewatan)… Ya.. seorang aku saja bahkan tak dipercaya untuk memegang keuangan rumah tangga dahulu. Butuh waktu lama loh agar aku bisa mengelola kembali keuangan rumah tangga. Dengan pengalaman rumah tangga yang beragam. Aku sempat ngerasain gimana survive dengan uang bulanan 1-2 juta.

Mempercayakan keuangan pada suami selama hampir 10 tahun membuatku mengubur tujuan keuanganku sendiri. Suami berhasil membuat bisnisnya grow. Sementara aku harus bertahan mengubur keinginanku untuk menyekolahkan anak pada sekolah yang baik. Suami berhasil merenovasi rumah dan merekrut pegawai. Sementara aku mengubur keinginanku untuk bisa kuliah lagi atau sekedar memiliki ART untuk membantu di rumah. Jika saja konflik besar tak pernah singgah dalam hidup kami maka sampai sekarang pun mungkin aku masih begitu.

Alhamdulillah perlahan kami mulai punya tujuan keuangan yang sama. Keuangan perusahaan mulai dipercayakan padaku. Aku mengalokasikannya pada investasi aman dan berujung surplus. Profit dalam investasi sudah setara dengan jatah bulananku sebelum konflik. Pegawai kami bertambah. Inovasi produk mulai dikembangkan.

It means, hei kaum adam.. Jika memiliki pasangan yang baik. Percayakanlah hartamu padanya niscaya dia memberikan hal yang jauh lebih berharga.

Aku merasa berharga sejak bisa mengelola manajemen dan keuangan perusahaan. Kalau diukur, sejak aku bekerja pada perusahaan ini.. Tingkat profitabilitas perusahaan menaik. Bukan membanggakan diri. Namun ini adalah sedikit teguran pada kaum adam yang memiliki tulang rusuk yang baik. Rawat dia. Dia akan merawat kamu dan apa yang kamu miliki berkali kali lipat.

Aku sendiri tak meminta diberikan hal materialis untuk pekerjaanku sehari-hari. Bagiku, hadiah terbaik seorang suami pada istri adalah selarasnya tujuan keuangan. Aku berdoa hal itu setiap hari semenjak konflik itu. Alhamdulillah satu per satu jalan ditunjukkan oleh Allah.

Seminggu yang lalu entah kenapa suami punya schedule untuk bertemu dengan seorang pencerah. Pakar fintech dari pulau seberang yang menceritakan riwayat hidupnya. Dari situ suami sadar bahwa menyekolahkan anak bukanlah melulu dilihat dari biayanya yang mahal. Tapi sebuah kewajiban. Mengupayakan yang terbaik untuk anak berarti mengupayakan investasi terbaik dunia akhirat. 

Bagiku, mengupayakan yang terbaik untuk anak adalah tujuan keuangan inti. Selama 11 tahun menikah aku tak pernah menuntut suami untuk mengajak liburan ke sini situ, staycation di hotel, atau bahkan membeli mobil. FYI, transportasi kami masih memakai kendaraan.  Mengherankan memang jika dilihat tetangga. Padahal uangnya ada. Tapi bagiku itu tidak begitu prioritas.

Taukah hal yang menyenangkan ketika tujuan keuangan suami istri itu selaras?

Setiap malam kami bisa berbicara ‘mimpi’. Mimpi kelak perusahaan bisa besar. Mimpi kelak anak-anak bisa menggapai mimpinya karena kami mengusahakan yang terbaik bagi mereka. Mimpi kelak kami mungkin bisa punya waktu untuk ibadah impian. Mimpi kelak bisa liburan.

Kita dan pasangan kita mungkin berbeda. Tapi setidaknya, milikilah pasangan yang menghargaimu dan memiliki mimpi sama denganmu. Dengan pasangan demikian.. Dirimu tidak menyusut, tapi terus bertumbuh.

Aswinda Utari

Skill Rahasia Istri Agar Tujuan Keuangan Selaras

  1. Be Demokratif Wife

Kebanyakan perempuan yang bermindset permisif cenderung penurut dalam berkomunikasi dengan suami. Komunikasi hanya satu arah. Tugas perempuan hanya ‘manggut’. Apakah bisa tujuan keuangan rumah tangga selaras dengan demikian?? No!

“Kamu aku kasih 2 juta aja ya sebulan, cukup kan?”

“Tapi kan pemasukan kita 20 juta bang..”

“Loh, tapi kan pengeluaranku banyak. Kamu kan cuma buat 2 anak dan aku. Aku buat 4 orang pegawai, belum buat ini itu bla bla..”

Permisif wife: “Oh..gitu ya..oke deh..”

Demokratif n Smart wife: “Oh, tapi kalau selamanya 2 juta. Keluarga kita begini begini aja loh. Aku begini aja. Anak ya begitu aja. Kita hidup sekedar hidup. Bang, aku tau kok abang juga punya simpanan. Coba deh simpanan itu gak ngendap di bank aja. Ditaroh diinstrumen aman aja kayak sukuk atau RDPU, returnnya udah lumayan buat nambain bulanan aku dan anak. Dan gak ganggu cashflow juga..” (Sambil menyajikan chart Reksadana Pasar Uang)

Jangan takut menjadi istri yang demokratis. Jangan takut jadi cerdas. Istri yang demokratis itu bukan kaum matriarki yang mencak-mencak pada laki-laki. Justru istri yang demokratis yang peduli pada suami dan keluarganya. Selamanya jadi istri permisif? Percaya deh, tujuan keuanganmu gak akan grow.

  1. Semepet apapun, Belilah SkinCare!

Skill kedua yang sering diabaikan kebanyakan perempuan yang sudah berstatus menjadi Ibu. Mengabaikan perawatan diri untuk merawat keluarga.

Bagus sih. Bagus aja. Tapi semepet mepetnya jatah bulanan. Belilah skincare. Gak harus mahal. Level Viva pun bagus. Aku juga memakai brand ini dalam jangka waktu cukup lama. Sewaktu menyusui pernah banget membatasi budget skincare di angka 50k sampai 100k sebulan. Seiring waktu membaik.. *sejak paham dengan endorse dan job sampingan..wkwk..

Intinya, rawat diri untuk kebaikan mata suami. Agar berkomunikasipun nyaman dan dihargai.

3. Semepet apapun, Masak Dengan Cinta

Masak dan no masak masih sering jadi perdebatan di sosmed. Aku sendiri sih masih bingung dengan yang suka berdebat dengan ini. Kan kita beda-beda tho? Kok ngotot gitu.

Kalau aku pribadi, gak berfokus pada bagaimana ribet dan membuang waktunya memasak. Tapi berfokus pada masak dengan cinta. Dalam artian, jika itu ribet dan membuat kita terganggu untuk mengerjakannya. Dont do it. Kerjakan jenis masakan yang membuat kita senang mengerjakannya. Dan membuat waktu kita tak terbuang banyak. 

Sesimple-simplenya masakan kita, saat mengerjakannya dengan cinta dan menyajikannya dengan senyuman maka akan berdampak pada yang memakannya. Itulah yang aku percayai selama ini. Suamiku sendiri jujur berkata bahwa lebih menyukai aku yang memasak telor ceplok dan mie dengan senang. Dibanding membakar ikan atau membuat rendang yang membuat badan agak bau dan wajah merengut. Haha.

Aku tau, memasak mungkin adalah skill bertahan hidup. Tak melulu tentang tugas perempuan. Tapi, untukmu yang ingin ‘skill komunikasi dengan suami’ terjalin lancar.. Masak dengan cinta. Its work!

4. Pelajari Ilmu ‘Ehm Ehm’ di Wainodshop

Tau gak apa itu ilmu ehm ehm..?

Wah, kalau gak tau kalian wajib berkunjung ke instagram @wainodshop . Jujur ini bukan endorse ya, Tapi sudah sekitar 1 tahun ini aku memfollow wainodshop. Toko lingerie yang sering ngasih edukasi tentang ehm ehm. Tabu? No. Ini berguna banget buat para istri yang buntu dalam berkomunikasi dengan suami. Hihi..

Wainod shop ini sukses meracuniku untuk membeli beberapa edisi lingerienya. Aku terbantu dalam beberapa kontennya di instagram. Jujur, meski sudah 10 tahun lebih menikah. Beberapa kontennya adalah ilmu baru bagiku.

Apa dampaknya mempelajari ilmu ehm ehm? Wah, percaya deh. Satu ilmu ini khatam.. 3 skill yang aku sebutkan diatas mungkin damagenya tak bisa dibandingkan. wkwk

Thats why, kalau diluar sana kalian melihat seorang istri yang tak bisa masak, komunikasi agak plin plan, gak bisa pakai make up.. Tapi suaminya sayaang banget. Apa aja dikasih.. Deuh! Bisa-bisa ilmu ehm ehm ini dia udah khatam. Wkwk.. canda serius.

Dan tentu saja, masih ada skill lain selain 4 skill diatas. Aku sudah nulis diatas sebelumnya bukan.. Bahwa aku seringkali berdoa agar tujuan keuangan kami bisa selaras. Jangan remehkan pula kekuatan doa. 🙂

Jadi, Siapa yang pegang duit Rumah Tangga? Bicarakan dan jangan bosan berkomunikasi.

Cara Asyik Mengajarkan Tentang Ilmu Ekonomi dan Keuangan pada Anak

Cara Asyik Mengajarkan Tentang Ilmu Ekonomi dan Keuangan pada Anak

“Mama, mama ini sarjana akuntansi ya?” Pica bertanya padaku hari itu.

“Iya Pica, trus kenapa?” 

“Abah ternyata jurusan akuntansi juga ya..” Pica kembali bertanya.

“Iya Pica.. Kalau Abah kamu itu S2 Akuntansi”

“Terus, Kenapa Mama gak kerja jadi akuntan? Kenapa Abah jadi Dosen Komputer? Kenapa jadi programmer?”

“Emangnya Pica mau Mama sama Abah jadi Akuntan? Akuntan itu kerjaannya ngitung duit, manage duit.. Tapi duit orang.. Hehe..” Celetuk aku sambil tertawa iseng

“Terus, ilmu mama sama abah waktu kuliah jadi apa dong sekarang?”

Pengalaman Mengajarkan Basic Ilmu Ekonomi Pada Anak

1. Transparan Dengan Keadaan Ekonomi Keluarga

“Hmm.. Jadi apa ya. Coba Pica kesini sebentar.” 

Pica melihat handphoneku dan aku memperlihatkan google sheet padanya. Tak hanya berisikan tentang pencatatan keuangan perusahaanku dan suami tapi juga berisi tentang pencatatan investasi. Oya, bagi yang belum tau cerita keluargaku. Keluargaku punya bisnis IT yang dikelola sendiri. Jadi, aku dan suami berbagi tugas. Suami mengelola project ITdan para programmer. Sedangkan aku mengelola administrasi, pencatatan akuntansi dan manajemen. 

Pica mengernyitkan dahi membaca catatanku itu lantas berkata, “Oh, ternyata ilmu mama berguna buat kantor bisnis abah ya..”

Aku tersenyum. Pica memang kurang paham tentang bisnis IT yang kami kelola. Dia cuma paham kalau itu usaha Abahnya. Yang mana awal mula merintis usaha memang hanya bermodalkan 4 orang programmer dan dibangun otodidak oleh suamiku. Jadi, dia tidak paham apa kontribusiku disana.

Aku kemudian menyuruhnya melihat catatan keuanganku lagi. Sambil memperlihatkan sheet demi sheet aku menjelaskan pada Pica kalau dahulu… Kondisi ekonomi keluarga tidak sestabil ini.

“Ini catatan waktu mama masih dapat uang bulanan sebanyak 1,5 juta. Dan ini ketika 2 juta sebulan.”

Pica melihat dengan detail caraku membagi pos keuangan. Untuk makan, listrik, jajan anak, hingga untukku sendiri. Kadang surplus, kadang juga minus. Tapi kadang aku juga menyisipkan adanya uang extra yang aku dapatkan dari bekerja freelance.

“Pica tau gak, ngatur keuangan itu susah. Ada saatnya kita berada diposisi mengatur apa yang ada karena tidak bisa produktif menghasilkan uang. Contohnya ketika Pica masih kecil. Mama gak bisa ikut nyari duit. Jadi, pemasukan sehari-hari hanya mengandalkan Gajih Abah. Yang mana gajih itupun harus terbagi lagi untuk biaya rumah, modal membangun bisnis, dan tumpuan sandwich generation. Saat itulah mama bersyukur karena sudah dididik tentang ilmu ekonomi baik di rumah nenek dulu maupun di dunia pendidikan. Mama gak pernah ngerasa ilmu mama gak bermanfaat. Semua bermanfaat. Meski mama saat itu hanya jadi Ibu Rumah Tangga aja.”

Sejak Pica menginjak usia 9 tahun, aku sudah mulai transparan tentang kondisi ekonomi pada Pica. Hal demikian aku lakukan sebagai insight buat anak agar mulai paham tentang ilmu ekonomi. Sebelumnya, mamaku sendiri juga menerapkan hal yang sama padaku. Mama bilang padaku bahwa jatah uang jajanku sebulan ‘segini’. Gajih mama ‘segini’ dan alokasinya tak hanya tentang keperluan hari ini. Tapi juga keperluan menengah dan masa depan. 

2. Ajarkan Bahwa: Setiap Keluarga Memiliki Prioritas dan Kebutuhan yang Berbeda

Sederhananya, ekonomi adalah ilmu tentang bagaimana memenuhi kebutuhan manusia. Keinginan manusia tak terbatas sementara sumber daya itu terbatas. Maka, self control adalah kunci dalam ilmu ekonomi. Sebelum paham tentang teorinya. Jauh lebih baik mengatur psikis. Memahami kondisi diri. Menentukan mana hal yang primer, sekunder dan tersier. Dan setiap rumah tangga tentu tak sama kondisinya.

“Jadi, Pica jangan ngiri kalau liat teman Pica yang uang sakunya lebih banyak dari Pica. Pica juga jangan bingung kalau liat teman Pica yang hemat banget. Karena peraturan ekonomi tiap keluarga itu beda-beda. Prioritasnya beda. Basic banget dalam mengatur ekonomi adalah: Kita gak boleh iri dengan orang lain ataupun membandingkan mereka dengan kita”

Keluarga kami sendiri memiliki aturan bahwa kebutuhan tersier hanya boleh dibeli setahun sekali dengan budget yang sesuai. Sementara kebutuhan primer tak melulu tentang sandang pangan papan tapi juga pendidikan. Uang extra untuk memupuk skill dan minat anak, bagi kami adalah kebutuhan primer. Sementara kebutuhan sekunder kami beli sekitar 3 bulan sekali. 

3. Pentingnya Mengajarkan Dana Darurat dan Konsep Investasi 

Apakah penting anak diajarkan ilmu tentang dana darurat dan investasi? Menurutku, perlu. 

Berkaca dengan hidupku, Sejak kecil aku sudah paham tentang pentingnya mindset investasi dan dana darurat. Jauh sebelum aku kenal dengan para influencer keuangan.. Mama adalah teladanku dalam mengelola uang. Quote yang selalu mama ulang dan ulang adalah, “Karena kita tidak tau apa yang terjadi di masa depan.”

Sewaktu kecil, aku tidak memiliki dana darurat sendiri. Semua diatur oleh mama. Sedangkan Pica berbeda. Aku menyuruhnya untuk menyisihkan uang lebaran ke dana darurat. 50% dari dana darurat Pica disimpan secara cash olehnya sendiri. Sementara 50%nya lagi aku simpan di Reksadana Pasar Uang (RDPU). Selain memiliki Dana Darurat aku juga mengajarkan Pica untuk memiliki investasi biaya pendidikannya kelak. Jadi, sejak dini aku sudah menabung sedikit demi sedikit untuk investasi jangka panjang

Aku bilang pada Pica bahwa pada RDPU dan investasi lainnya, setiap tahun uangnya akan bertambah 3-4% bahkan lebih dan bisa diambil kapanpun diperlukan. Namun perlu waktu beberapa hari. Dana Darurat yang Pica miliki secara cash bisa langsung dipakai untuk keperluan darurat. 

Mengajarkan Anak Akan Pentingnya Memiliki Tujuan Keuangan

Kalau dari ceritaku diatas, terlihat bukan bahwa basic yang aku ajarkan sebenarnya adalah tentang cashflow keuangan agar bisa survive dalam mengatur ekonomi. Sebelum level mengatur cashflow, anak sebenarnya juga sudah harus mengerti tentang bagaimana menghasilkan uang. Lantas memiliki tujuan keuangan setelah itu.

Bukan mengajarkan anak jadi materialistis. Tapi menunjukkan fakta di dunia bahwa dalam hidup.. uang memang diperlukan. Dan dalam mencapai cita-cita di depan, kita harus memiliki tujuan keuangan yang bervalue. 

“Hidup kita itu sebenarnya mirip games Pica. Ada gold untuk membeli apa yang kita butuhkan agar bisa naik level. Tanpa gold, kita gak bisa apa-apa. Nothing. Jadi mencari uang itu bukan simbol dari matre. Tapi simbol survive dan bisa naik level. Jadi, dengan paham cara memiliki uang kita bisa punya tujuan keuangan dimasa depan. Pica pengen apa? Pengen kuliah, pengen punya skill baru, bahkan pengen punya rumah atau impian memiliki anak.. Itu adalah tujuan keuangan.”

“Gimana caranya supaya dapet uang Ma?”

“Uang itu bisa didapatkan dengan banyak hal. Pertama dengan tenaga. Pica bisa aja ngambil jasa loundry atau setrika. Diluar sana ada yang berprofesi sebagai pembantu dan tukang untuk mendapatkan uang. Kedua, dengan otak dan skill. Itulah gunanya Pica sekolah dan mengasah apa yang Pica suka. Misal, Pica suka menggambar. Diluar sana mungkin Pica bisa jadi pembuat komik. Pica senang. Pica juga dapat uang.”

Banyak yang beranggapan bahwa tujuan keuangan adalah melulu tentang hal berbau materialis. Padahal, di dunia ini suka tak suka kita harus bisa mengatur dengan seimbang masa kini dan masa depan dengan uang. Masa produktif manusia untuk bekerja itu terbatas. Sementara manusia mungkin saja hidup lebih lama tanpa masa produktif. Tujuan keuangan meliputi kecukupan masa kini dan masa depan. Bagi anak, tujuan keuangan adalah tentang bagaimana ia bisa meraih cita-citanya sekarang dan tetap seimbang jalannya hingga di masa depan.

Wah, kalau membahas tujuan keuangan dengan seimbang demikian. Sepertinya tak cukup kalau hanya sekedar menjelaskan pada anak bahwa menjadi produktiflah yang selalu menghasilkan uang. Karena faktanya, ada yang namanya pasif income. Orang bisa mendapatkan uang tanpa terus bekerja di hari tua bukan?

Ngajarin Anak Tentang Pasif Income Melalui Game

“Tapi, Pica juga musti tau gimana cara orang-orang menghasilkan duit dengan cara yang diluar itu.. Pica tau gak, nenek sama kakek itu gak kerja lagi loh. Pertanyaannya, gimana cara mereka masih dapat uang?”

“Bukan dari Mama ya? Berarti Ada cara lain dong ma untuk dapat uang. Gimana tuh?”

“Namanya Pasif Income Pica. Kita bisa tetap dapat uang meski diam aja. Bisa lewat investasi. Bisa lewat menyewakan barang, menjual properti ketika harga tinggi, yang dulu dibeli dengan harga rendah. Banyak cara lainnya. Sini, Mama mau ngajarin Pica lewat game. Mau tau gak gimana?”

Aku lalu membuka laman money games . Aku baru tahu tentang website money game ini dari temanku. Surprise, ternyata disana ada berbagai game yang seru untuk mengedukasi anak tentang uang. Dari cara mendapatkan uang, simulasi uang, bahkan hingga saham dan NFT pun ada. Tapi buat anakku itu masih terlalu jauh. Sekarang aku hanya ingin mengajarkan kepada Pica tentang pasif income yang related dengan game. Nama-nama game itu antara lain:

Kingdoms War

Game Kingdoms War ini mirip dengan monopoly. Dulu, sewaktu SMP hingga SMA aku sering memainkannya dengan kakakku. Bahkan ketika muncul versi aplikasi game di komputer pun aku sering memainkannya. Nah, sekarang bisa dimainkan di website mortgage calculator juga.

Dimulai dengan bekal tabungan 500 koin. Dan kita memainkan game dengan lemparan dadu. Ketika mendarat di properti dan tersedia untuk dibeli maka  kita dapat membelinya. Jika orang lain menempati properti itu, maka ia harus membayar sejumlah sewa. Sewa di awal cukup terjangkau dan bisa bertambah mahal jika ada rumah diatasnya. Dengan memiliki 3 properti berturut-turut kita bisa membangun rumah dan meningkatkan pendapatan sewa. Kita juga bisa membeli tanah dan properti dari orang lain dan menyewakannya.

Meski permainan ini bergantung pada kesempatan dan keberuntungan dalam pelemparan dadu. Namun ada satu hal baru yang dipelajari oleh Pica. Melalui game akhirnya ia paham maksud dari sewa. Dan menyewakan properti adalah salah satu bentuk dari pasif income.

Aku bercerita ini related dengan pasif income Nenek Pica. Nenek Pica memiliki lahan karet yang disewakan pada petani. Ketika panen, nenek akan mendapatkan pembagian hasil tanpa bekerja. Tentu saja ini tidak diperoleh secara instan. Ada kerja keras dan konsisten menabung sebelumnya agar bisa membeli lahan yang potensial.

Real Estate Tycoon

Game Real Estate Tycoon adalah game yang membuat anak belajar tentang harga properti yang naik dan turun. Dalam game ini, uang kita akan bertambah jika sukses membeli properti dengan harga rendah dan menjualnya saat harga tinggi. Hmm… related banget dengan kehidupan kita bukan?

Dalam game ini, sebagian besar bangunan naik nilainya saat pertama kali muncul dalam garis yang cukup lurus, lalu mendingin dan memperlambat apresiasinya sebelum berbelok ke selatan. Ketika kita masuk lebih jauh ke dalam permainan, bangunan muncul lebih cepat dan beberapa bangunan mengalami siklus harga berkali-kali. Waduh, related sekali dengan harga properti di sekeliling kita. Thats why, membeli property itu tricky. Terutama membeli rumah.

Game ini mengajarkan pada Pica bahwa ada pasif income yang tricky untuk ditiru. Aku mengajarkan padanya tentang harga properti yang bisa jatuh sewaktu-waktu. Namun ada pula yang bisa mengambil keuntungan dari jual beli properti. Dalam keadaan tertentu, kadang ada beberapa orang yang menjual propertinya dalam harga rendah dan dibawah harga pasar. Kalau ada kesempatan demikian maka itu boleh diambil. Karena potensi mendapatkan keuntungan ketika dijual masih tinggi. Namun, sangat penting untuk menghindari perasaan greedy dalam membeli properti. Atau uang kita akan menyusut nilainya.

Aku bercerita bahwa Nenek Pica sering kali membeli tanah yang dekat dengan jalan besar. Beliau membeli tanah yang memang saat itu harganya sedang murah. Bertahun-tahun kemudian, harga tanah itu 70% naiknya. Dan ketika menjualnya, Nenek bisa membiayai anak-anaknya kuliah di kedokteran. Menggunakannya untuk umroh. Dan sisanya bisa disimpan di deposito bank, dan tentunya keuntungannya menjadi pasif income.

Web Tycoon Simulator

Game Web Tycoon Simulator ini mungkin terlihat sederhana. Ini adalah game dimana anak hanya melakukan ‘click’ untuk mendapatkan penghasilan.Tapi tahukah dimana sisi uniknya dilihat dari potensi pasif income? Disini anak diajak untuk meningkatkan aspek bisnis berbasis web. Dimana kita tahu sendiri sekarang bukan? Bahwa bisnis digital adalah ladang untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Dari Aspek Workstation, website, advertising, private server, dll.. Pica jadi tahu bahwa zaman sekarang ini untuk mendapatkan pasif income bisa dalam ladang digital. Dalam game ini, kita dapat klik di mana saja di layar untuk menghasilkan pendapatan. Jumlah tabungan kita pun ditampilkan di bagian atas layar.

Game ini mengajarkan penghasilan juga dapat dihasilkan secara pasif ketika kita tidak mengklik, meskipun mungkin hanya sekitar 20 persen dari tarifnya.

Kita dianjurkan untuk menggunakan penghasilan untuk membeli peningkatan workstation, situs web, strategi periklanan, server pribadi, merchandising, pasar, dan mengembangkan dominasi web.Uniknya, Setiap fitur dapat ditingkatkan berkali-kali dengan biaya peningkatan yang tumbuh secara geometris. Ketika kita ingin meningkatkan berbagai aspek bisnis, pendapatan pasif kita akan meningkat.

Game ini related dengan kehidupan nyata sekarang. Banyak yang berprofesi sebagai youtuber, blogger, tiktoker, dan bisa mendapatkan pasif income dari adsense. Ketika menjelaskan hal ini, Pica jadi excited. Ternyata pasif income zaman sekarang bisa didapatkan dengan ‘memupuk proses’.

***

“Ah ternyata, belajar keuangan itu seru. Pica pikir awalnya.. Mencari uang itu selalu tentang kerja keras.”

“Ya awalnya memang harus kerja keras. Keras pada minat yang ingin kita gali sendiri. Bahkan membuat konten saja perlu konsep matang dulu agar menarik loh. Jadi, belajar tentang pasif income tak melulu mengajarkan untuk malas ya.. Tapi mengajarkan bahwa manusia itu tak selamanya bisa produktif maksimal. Karena itu kita perlu belajar untuk bisa merdeka finansial meski tak produktif lagi dengan belajar memiliki pasif income.. Contohnya seperti Nenek dan Kakek Pica. Jujur, mama bangga banget punya orang tua seperti mereka.”

Pendapatku pribadi, penting mengajari anak tentang pasif income untuk mengoptimalkan dana pensiun maupun rencana masa depan. Dan ternyata mengajarkan anak tentang keuangan dan pasif income itu bisa banget melalui game yang renyah dan seru. Kalau menurut kalian bagaimana? Penting gak ngajarin anak sejak dini tentang pasif income dan mengelola uang? Sharing yuk!

Pengalaman Investasi Pada Reksadana Pasar Uang

Pengalaman Investasi Pada Reksadana Pasar Uang

“Dari pada duit yang ada nganggur, lebih baik diinvestasikan. Coba cari-cari informasi berapa imbal hasil deposito per tahun di bank syariah sekarang” Suamiku berkomunikasi padaku beberapa bulan yang lalu.

Aku pun iseng mendatangi bank syariah yang kebetulan dekat dengan rumahku. Customer service menerangkan padaku tentang deposito syariah berikut dengan akadnya. Ia juga menawarkan produk investasi berupa emas, selain itu ia juga menjelaskan syarat-syaratnya.

Aku manggut-manggut mendengarkan. Ada beberapa point saat itu yang aku tangkap. Pertama, imbal hasilnya rendah menurutku. Kedua, jika menarik uangnya maka akan terkena biaya. Entah kenapa, aku tidak tertarik mencoba.

Karena, uang yang kami investasikan diharapkan bisa memiliki likuiditas yang tinggi. Ya, kami masih menjaga aliran cashflow yang cukup lancar untuk perusahaan ini.

Berkenalan Reksadana Pasar Uang melalui Channel YouTube Felicia Putri Tjiasaka

Sebenarnya, beberapa tahun lalu aku sudah mengenal reksadana pasar uang. Akan tetapi, karena saat itu aku hanya memegang uang bulanan dan tak ada uang dingin maka aku rasanya tak mau untuk memasukkan uangku pada reksadana. Bagiku, dana darurat cukup dimasukkan dalam tabungan karena perlu tingkat likuiditas yang tinggi. I mean, bisa diambil kapan saja jika diperlukan.

Saat itu aku hanya sibuk ngeblog dengan uang apa adanya. Aku sudah sering melihat beberapa youtuber dan influencer yang mengkampanyekan reksadana. Tapi hatiku belum terpanggil untuk memulai investasi. Hanya karena aku punya trust issue yang lumayan tinggi dan aku merasa uang yang kumiliki begitu berharga dan nyaman di tabungan. Tak rela rasanya berinvestasi jika mengingat nasib saham kami dahulu. Yup, sebelum kenal dengan reksadana.. Kami malah sudah kenal dengan saham lewat kampanye idx dahulu. Investasi kami dimulai pada instrumen highrisk dengan modal pengetahuan fundamental dan teknikal yang tipis-tipis. Dan berujung rugi ketika dibiarkan mengendap selama 5 tahun. Untungnya, saat itu kami memakai uang dingin.

Sampai akhirnya, ada channel youtube yang begitu mempengaruhiku untuk segera berinvestasi pada reksadana. Channel dari Felicia Putri Tjiasaka dengan playlist #ReksadanaSeries membuatku mulai melek pada dunia reksadana. Aku menonton semua tayangan reksadana series dan memutuskan mengklaim bahwa diriku adalah investor konservatif yang belum siap dengan risiko dan perlu memulihkan trauma (ciee). Maka, aku putuskan berinvestasi pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

FYI, Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari investor untuk selanjutnya diinvestasikan kembali dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi. Jenis reksadana ini terbagi lagi. Yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, hingga reksadana saham, reksadana campuran dan reksadana indeks. Untuk reksadana dengan tingat risiko paling rendah ada pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Tapi, sesuai prinsip Investasi, Low Risk-Low Return High Risk-High Return. Maka, jika kamu memilih berinvestasi pada investasi yang rendah risikonya maka imbal hasilnya juga rendah. Lalu, apa tolak ukur kita dalam memilih investasi?

“Investasilah pada hal yang cocok pada kamu dan benar-benar kamu ketahui. Dan start small”

Felicia PT

Menurutku, dari semua influencer financial dan youtuber lainnya. #ReksadanaSeries ala Felicia Putri ini yang paling lengkap penjelasannya. Mulai diperkenalkan pada reksadana, jenis reksadana, risiko pada reksadana hingga memilih manager investasi. Ya ampun aku jadi keterusan nonton semua kontennya. 

Dimana Membeli Reksadana Pasar Uang?

Dulu, sebenarnya awal nikah pun sudah tau kok dengan reksadana. Tapii, beli reksadana zaman dulu  itu tidak secanggih sekarang. Dulu, kudu ngurus ini itu ke bank dll. Sekarang, tinggal install aplikasi doang. Dan bayarnya tinggal ngandelin jempol doang. Sambil rebahan pun bisa banget investasi.

Zaman sekarang, setidaknya ada 3 aplikasi yang cukup terkenal untuk investasi reksadana. Pertama, Ajaib. Dulu, Ajaib ini adalah aplikasi untuk investasi reksadana saja. Sekarang sudah merambah ke saham. Yang Kedua adalah Bareksa. Jujur aku kenal Bareksa cuma dari konten Ci Feli. Aku tuh taunya justru sama yang ketiga aja yaitu Bibit. Karena banyak Influencer dan Youtuber yang mempromosikannya.

Aku awalnya menginstall bibit pada handphone. Mulai mendaftar berbekal memasukkan data KTP, NPWP hingga rekening tabungan. Lalu, Tak cukup puas dengan fiturnya. Aku juga coba install bareksa. Which better? Sebenarnya, keduanya sama saja. Hanya saja kalau pada bibit kita bisa kelompokkan investasi berdasarkan tujuan. Kalau di bareksa, portofolio yang muncul terlihat langsung dari nama manager investasi reksadananya.

Tampilan Portofolio pada Aplikasi Bibit
Tampilan Portofolio pada Bareksa

Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka investasi di Bareksa. Karena terlihat langsung berapa persentasi keuntungan dari manager investasinya. Melihat yang demikian akan lebih memudahkanku dalam membeli lagi produk reksadana yang terlihat lebih bagus kinerjanya. 

Yah itu menurut aku saja sih. Aku lebih sreg di Bareksa. Tapi, teman-temanku yang lain lebih suka di Bibit karena merasa nyaman mengelompokkan pada tujuan keuangannya. Tidak tercampur-campur sehingga bisa lebih fokus pada tujuan keuangan.

Kalian sudah coba yang mana?

Apakah Reksadana Pasar Uang ini Riba?

Kurasa setiap perputaran uang zaman sekarang sangat sulit untuk tidak bersentuhan dengan riba. Sebutlah contohnya sejak aku membuka rekening untuk perusahaan kami. Sulit untuk bertransaksi dengan bank syariah yang aku pakai secara pribadi. Maka, aku pun juga membuka rekening pribadi dan perusahaan pada bank konvensional. Oh ya, aku juga punya rekening RDN di bank konvensional lain. Hayoloh, kenapa sulit sekali untuk terbebas dari riba saat kita manusia ingin berusaha plus berinovasi?

Aku punya keyakinan, bahwa segala bentuk harta yang kita miliki itu perlu dibersihkan diluar dari kewajiban zakat. Thats why, kita umat islam itu selalu disuruh untuk perbanyak sedekah. Karena dalam setiap harta kita mungkin saja kita termakan hal yang riba. Nah, itu keyakinanku.

Kembali ke reksadana pasar uang, apakah ini riba?

FYI, reksadana pasar uang ada yang syariah kok. Dan sudah dikeluarkan fatwanya oleh MUI dengan No.20/DSN-MUI/IV/2001. Lalu, untuk mengetahui apa saja komposisi dari reksadana pasar uang yang ingin kita beli maka kita bisa membuka informasi pada reksadana tersebut.

Berikut ini adalah salah satu komposisi pada reksadana pasar uang syariah yang aku miliki:

Nah, pada komposisi reksadana pasar uang ini, kita bisa search di google salah satunya dan klik laman dari ksei. Maka kita akan menemukan Sukuk apa yang memiliki nama Sukuk SIEXCL01DCN1. Dan inilah Security namenya:

Nah, kalian juga bisa cek satu per satu lainnya dari komposisi reksadana pasar uang syariah  yang ingin kalian beli. Bisa dilihat untuk namanya saja adalah Sukuk dan TD. Yang mana sukuk merupakan Obligasi Syariah yang memiliki imbal hasil bersifat tetap sedangkan TD adalah Deposito Syariah. Jadi, dari membaca penjelasanku tentu akhirnya kalian bisa paham bahwa RDPU Syariah ini terdiri dari komposisi Obligasi dan Deposito yang bersifat syariah.

Cara Memilih Manager Investasi Reksadana Pasar Uang

“Banyak juga ya Manager Investasi RDPU ini. Pilih yang mana ya?”

Kalau berdasarkan konten Ci Feli yang aku tonton, memilih produk RDPU bukan dilihat dari berapa imbal hasilnya saja. Tapi, lihatlah berdasarkan profil Manager reksadananya. Apakah profil dari manager investasinya tergolong baik dan tak pernah trading saham-saham gorengan? Selain itu kita juga bisa melihat dari Berapa dana kelolaan atau Asset Under Management AUM yang ia kelola?  Biasanya aku juga cek di laman indopremier. Pilihlah yang memiliki AUM yang berada diposisi top 20. Untuk beginner sepertiku, memilih manager investasi yang diposisi Top 10 saja sih supaya lebih aman.

Berapa Keuntungan yang Didapatkan?

“Berapa sih keuntungan investasi di reksadana pasar uang? Apa iya lebih tinggi dari pada Deposito?”

Nah, berikut aku tampilkan contoh dari simulasi keuntungan reksadana pasar uang syariah dari Sucor Invest management atau produk Sucor Invest Sharia Money Market Fund:

Dapat dilihat bahwa imbal hasilnya dalam setahun sebanyak 4,09%. Ini lebih tinggi dibandingkan bunga pada deposito. Jika dalam 3 tahun saja kita memasukkan uang disini maka jumlah keuntungan yang kita dapatkan adalah sebanyak 16,63%. Bayangkan jika kita sedang menabung untuk biaya pendidikan anak 10 tahun lagi dimasa depan? Maka imbal hasil yang kita dapatkan adalah sebanyak 50%an. Tapi, perhitungan ini akurat jika kita menaruh uang secara lumpsum ya. Jika kita menjadikan RDPU jadi tabungan rutin maka bisa saja persentasinya berbeda.

Apakah Semua Uangku Harus Ditaroh di Reksadana Pasar Uang

“Wah Asik deh, kalau begitu semua uangku cukup ditaroh di RDPU aja win!”

What? All In?

Well, satu hal lagi yang perlu kalian tau adalah mencairkan RDPU tidak seinstan mengambil uang lewat ATM. Atau membayar belanjaan via QRIS dan otorisasi belanja online lainnya. Mencairkan RDPU butuh waktu setidaknya 3 hari. Paling lama, pernah loh sampai 5 hari.

Itulah kenapa aku hanya menaroh 50% dari dana darurat di RDPU. Sisanya aku masih mengandalkan tabungan untuk menyimpan dana darurat. 

Jika kita menaruh semua uang pada RDPU kemudian ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi maka kita tak bisa sedia cash dengan instan. Oleh karena itu, aku sarankan untuk tetap menyimpan sebagian dana darurat pada tabungan. 

Nabung Rutin Reksadana Pasar Uang Yay or Nay?

Kalau menurut channel Ci Feli, nabung rutin reksadana pasar uang akan membuat persentasi keuntungan terlihat lebih kecil. Karena harga RDPU hari ini dan besok akan selalu berbeda dan akan selalu lebih tinggi harganya dihari esok. Karena itu, jika kita sudah punya rencana investasi yang matang akan lebih baik jika lumsum atau beli sekaligus bukan dijadikan nabung rutin.

Aku sendiri sih, punya investasi dana pendidikan khusus di aplikasi bibit. Dan untuk investasinya aku jadikan nabung rutin di reksadana pasar uang syariah. Memang sebenarnya tabunganku sifatnya jangka panjang. Tapi tabungan ini adalah sarana Pica untuk belajar investasi. Makanya aku mengalokasikannya pada reksadana pasar uang saja yang lebih low risk. Aku akan merasa kasian kalau melihat Pica sedih melihat tabungan investasinya menurun karena ditaroh di reksadana saham.

So, menurutku soal nabung rutin reksadana pasar uang sih yes yes saja. Tergantung pada apa tujuan keuangan dan profil risiko kita.

Kalau kalian bagaimana nih? Sudah coba investasi pada RDPU? Sharing denganku yuk!

Ingin Membeli Apartemen? Yuk, Pertimbangkan Hal-hal ini dulu!

Ingin Membeli Apartemen? Yuk, Pertimbangkan Hal-hal ini dulu!


“Menurut aku, yang namanya rumah itu adalah kebutuhan jangka panjang. Jadi, meski harus kredit yang penting diusahakan punya dulu”

“Iya ya betul banget. Tapi, kalau yang suaminya kerja pindah-pindah kayak aku.. Hmm.. Apa iya kudu punya rumah dulu ya? Kayaknya urgensi kebutuhan kami lebih ke mobil dulu nih”

Well, pastinya kita pernah ya dihadapkan pada situasi yang demikian. Ketika ngobrol tentang keinginan beli properti tapi kok bingung harus yes or no soal pembeliannya.

Karena faktanya, meski rumah merupakan kebutuhan pokok.. Tidak semua dari kita memiliki urgensi yang sama soal kebijakan pembelian rumah.

Contoh, seseorang yang tinggal bertiga saja bersama orang tuanya. Memiliki keinginan menetap dan belum berpikir untuk menikah.. Tentu tidak memiliki urgensi sama dalam pembelian rumah dengan orang yang sudah berumah tangga.

Contoh lagi, keadaan rumah tangga orang yang memiliki pekerjaan berpindah-pindah dengan yang menetap. Tentu memiliki kebijakan berbeda tentang pembelian rumah bukan?

Jangankan rumah, untuk pembelian properti berupa apartemen pun tentu memiliki kebijakan yang berbeda pula antara satu dengan lainnya.

Pertimbangkan Hal ini Dulu Sebelum Membeli Aparteman

Nah, sebaiknya sebelum memutuskan membeli apartemen, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan loh. Diantaranya adalah

1. Kondisi Keuangan

“Wah, harga Apartemen disana segini nih, kalau aku bisa hemat pasti bisa beli nih”

“Harga cicilannya berapa persen dari gajih kamu?”

“Emmm… 70%..”

Sangat banyak sekali keputusan membeli properti yang tidak seimbang dengan pemasukan. Hanya karena gajih kita mampu membeli, belum tentu itu adalah hal yang bijak dilakukan. Apalagi, jika hanya 30% gajih yang bisa dipakai untuk keperluan hidup. Hmm, apakah itu cukup untuk kebutuhan istri dan anak? Hal demikian sangat perlu dipertimbangkan.

Setidaknya, kita harus bisa memperkirakan bagaimana kiranya agar keuangan kita tetap sehat ketika memutuskan membeli properti. Jangan hanya karena merasa mampu lalu kemudian kebutuhan lainnya terbengkalai

2. Kondisi Pekerjaan dan Rumah Tangga

Aku memiliki beberapa teman yang belum memiliki rumah dalam usia pernikahan puluhan tahun. Well, apakah hal ini wajar?

Wajar saja jika kondisi memang tidak memungkinkan. Karena memiliki rumah bukan hanya dilihat dari faktor financial. Tapi juga dilihat dari kondisi pekerjaan dan rumah tangga.

Misalnya saja, jika kita memiliki suami yang pekerjaannya berpindah-pindah. Tentu membeli rumah merupakan keputusan yang sulit. Karena jika pekerjaan suami berpindah lagi, rumahnya menjadi terbengkalai dan membuang biaya perawatan plus uang yang tidak sedikit.

3. Kondisi Strategis Apartemen

“Kalau disuruh memilih, kamu lebih memilih apartemen dengan harga terjangkau tetapi letaknya jauh dan tidak strategis.. Atau apartemen dengan harga sedikit mahal tapi dekat dengan tempat kerja plus sekolah anak?”

Tentu saja, memilih yang harganya terjangkau plus strategis jawabku sambil tertawa. Hahaha.

Yah, bagaimana ya. Menurutku, letak strategis ini merupakan hal yang penting sekali dalam memutuskan membeli apartemen. Percuma saja jika kita membeli apartemen yang murah, bagus dan cantik tapi letaknya jauh sekali dari tempat kerja atau jauh sekali dari tempat sekolah anak. Akhirnya, waktu kehidupan kita kebanyakan hanya dihabiskan di jalanan saja. Tanpa menikmati waktu yang bisa dimanfaatkan dengan lebih berkualitas.

Ketika kita memutuskan ingin membeli rumah maupun apartemen sangat penting untuk mempertimbangkan letak strategisnya. Karena ini berkaitan erat dengan waktu kehidupan yang akan kita habiskan.

Kenalan Sama Apartemen The Parc South City

Ehm, ngomong-ngomong soal apartemen.. Aku tuh jadi kepo sama Apartemen The Parc South City.

Jadi Apartemen The Parc South City adalah proyek superblok dengan desain modern dan konsep coliving di dalamnya. Kawasan superblok Southcity seluas 1,5 Ha ini memiliki green area 75% dari total lahan di The Parc.

Tentunya, green area ini diolah demi meningkatkan kualitas hidup penghuninya ya.

Selain konsep hijau, The Parc South City juga memiliki fasilitas seperti pool outdoor sport, jogging track, access card dan free wifi.

Apartemen yang terletak di kawasan Pondok Cabe Tangerang Selatan ini memiliki tiga akses tol dan dua stasiun MRT terdekat.

Berbatasan dengan tiga kawasan besar, yakni Jakarta Selatan, Cinere dan Pondok Cabe, membuatnya dapat diakses melalui Tol Depok-Antasari, Tol Cinere-Serpong, dan Tol Cinere-Jagorawi.

Sedangkan stasiun MRT yang berada di sekitar hunian ini adalah Stasiun MRT Lebak Bulus dan Fatmawati, yang dapat ditempuh dalam waktu 20 menitan saja.

Tak hanya akses ke jalan tol atau MRT, bahkan di dalam apartemen The Park at Southcity ini terdapat halte Transjakarta yang dapat membawa Anda ke fasilitas penting di sekitar Cinere Raya dan Pondok Cabe.

Bicara soal unitnya, setiap ruang di dalamnya mendapatkan pencahayaan alami yang efisien berkat kehadiran jendela lebar sekaligus hasil dari pemakaian konsep ruang terbuka di dalamnya.

Desain interior yang diterapkan juga modern dengan sentuhan natural yang memberikan kesan hangat, ditambah dengan adanya perlengkapan di tiap unitnya.

Wah ini merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan gaya hidup yang dinamis dan modern di tengah kota besar ya.

Bagi kamu yang berencana memiliki hunian vertikal di Tangerang Selatan, The Parc SouthCity tentunya menjadi pilihan yang tepat.

Berapa harganya? Well, kita bisa memiliki apartemen Tipe Studio di dalam superblock The Parc South City dengan harga mulai Rp400 jutaan.

Gimana? Tentunya harganya termasuk terjangkau dengan lokasi yang strategis. Tapi, kembali lagi.. Sebelum memutuskan membeli cek kondisi masing-masing seperti yang aku ulas diatas ya. 🙂

Petualangan Membangun Bisnis IT, dari Recehan Rengginang, Bertikai, hingga Mirip Alur Drakor Start Up

Petualangan Membangun Bisnis IT, dari Recehan Rengginang, Bertikai, hingga Mirip Alur Drakor Start Up

“Bisnis itu bukan tentang bagaimana menjadi kaya. Tapi petualangan untuk membangun circle produktif.” -Shezahome

Apakah aku pernah bercerita tentang bisnis yang dibangun oleh keluarga kami? Hmm, sepertinya iya. Walau termasuk sangat jarang diceritakan di blog. Karena sesungguhnya pemeran utama dalam bisnis ini adalah suami.

Aku? Hanyalah aktor bayangan yang mendukung di belakang. 

Tapi, kali ini rasanya aku sangat gatal ingin bercerita bagaimana awal mula hingga proses bisnis ini dibangun. Karena, kalau diputar ulang sepertinya ceritanya sedikit menarik. 

Iseng dan Ingin Berdaya adalah Awal Mimpi

Aku menikah pada tahun 2012. Sebuah tahun yang merupakan saksi dalam perjuangan ekonomi keluarga shezahome. Awal kehidupan pernikahan, aku dan suami bukanlah anak yang memiliki privilege untuk sukses. Aku masih kuliah sedangkan suami baru saja lulus PNS setahun yang lalu. Untuk awal hidup, kami memutuskan hidup menumpang di tempat mertua. 

Keluargaku mungkin terbilang berada. Tetapi, bukanlah tipikal keluarga yang serba menolong. Apalagi, sudah tradisi kiranya bahwa jika anak perempuan menikah maka hilanglah sudah tanggung jawab orang tua. Sedangkan keluarga suami serba kekurangan. Ibunya janda dan adiknya terbilang banyak. Gajih PNS biasa tidaklah cukup untuk mengcover biaya kehidupan. Apalagi untuk membeli rumah. Untuk mengontrak saja kami harus berpikir puluhan kali. Keadaan menjadi mengejutkan kala aku hamil, padahal kala itu masih banyak impian hidup yang harus dibangun. Karena sungguh sebenarnya aku sangat ingin membantu ekonomi keluarga hingga benar-benar berdaya. Hingga suami memutuskan kuliah S2 di UGM, aku di seberang pulau malah terdampar antara rumah mama dan mama mertua. Demi apa? Demi menabung untuk bisa membeli rumah. 

Setahun kemudian anakku lahir dan suami pulang. Kami memutuskan membangun CV. Awalnya, CV ini dibangun karena iseng saja. Suami punya kemampuan di bidang pembangunan program aplikasi. Dan kebetulan, kakak iparku bekerja di dinas provinsi. Yang mana saat itu memiliki sedikit proyek dari pemerintah, khususnya dalam pembangunan web dan berbagai aplikasi. Pekerjaan pertama pun datang. 

Aku masih ingat kala itu, suami sering begadang untuk membuat aplikasi tersebut. Aku tidak begitu paham sebenarnya apa yang ia kerjakan saat itu.. 😂 Hal receh yang bisa aku lakukan hanyalah support receh. Menyemangati, membuatkan cemilan disertai dengan suara bayi Farisha yang menangis kencang. Saat itu, aku berdoa dalam hati. Setiap anak lahir dengan membawa rejekinya. Maka, semoga kelahiran Farisha (Pica) membuka rejeki keluarga kami. 

Pekerjaan pertama itu sukses. Dan kami memutuskan untuk mencari rumah. Entah beruntung atau kami memang sedang sangat dirahmati Allah.. Tetiba kami menemukan rumah tua yang harganya murah. Simsalabim, rumah itu berubah dengan uang proyek pertama. Pekerjaan pun berlanjut. Sebenarnya, tak selalu pekerjaan suami berujung sukses. Kami sempat mencari tenaga kerja programming tambahan. Hingga memicu konflik antar anggota. Berakhir dengan suamilah yang membangun segalanya hingga selesai. Proyek pekerjaan kami memang tak selalu punya imbal balik yang besar. Kadang kala, 50% dari total pendapatan jatuh ke pos pos anggaran yang tidak seharusnya. Kami? Mungkin hanya dapat 30% dari anggaran. Dan itupun harus dibagi-bagi. Layaknya rengginang yang gurih tapi membuat ketagihan, kami berharap pekerjaan ini terus berkelanjutan. Walau nyatanya kadang masih jarang. 

Tapi, kami tetap menekuni usaha tersebut. 

Usaha itupun sempat mengalami kekosongan. Tidak ada proyek dan hanya menyisakan biaya bulanan. Kami sempat hidup hanya mengandalkan gajih saja (yang juga dibagi-bagi). Suami sempat menghilang dalam bisnis ini dan berfokus untuk mengurus sertifikasi dosen. Namun sepertinya, stuck di satu posisi bukanlah jalan ninja kami. Apalagi, aku terkadang juga sering ‘membatin’ kala uang bulanan dibagi-bagi. Wkwk. Ya aku juga sempat kok berjualan kue untuk bisa membantu ekonomi rumah tangga. Akan tetapi, sepertinya berjualan kue sambil mengurus anak tidak cocok untukku. Usaha itu hanya berjalan setahun dan mandeg. 😅

Kami juga sempat memutuskan untuk belajar berinvestasi. Bukan, bukan reksadana. Tapi saham. Saat itu sedang ramai dengan bitcoin. Kami juga tercebur sebentar. Lantas keluar kemudian. Tidak karena rugi sebenarnya, tapi ROI nya terbilang lamban. Apa memang kami yang tak cekatan? Wkwk

Then, start up pun menjamur di indonesia. Suami tergabung dalam salah satu komunitasnya. Kalian tau? Jika kita menjalani sebuah jalan yang buntu maka solusi terbaik adalah kembali dan mencari kawan senasib. Disitulah awal mula suami bertemu dengan salah satu founder start up di Jakarta dan mengobrol tentang bisnis IT. 

Suami pun memutuskan untuk ‘create project’. Aku tidak tau tepatnya saat itu, apa sih yang dikerjakannya sendirian malam-malam. Oh ternyata, suami sedang mencoba membuat thema untuk jurnal. 

Saat itu, aku sedang hamil anak kedua. Kehidupan kehamilan kedua dipenuhi baper-baper tidak jelas karena ya.. memang setiap hamil aku berubah jadi sensitif sekali entah kenapa. 😂 Sehingga saat melihat suami sibuk sendiri di komputernya tanpa ngelus-ngelus istrinya atau mengobrol renyah tuh kok gemes. Belum lagi kadang kok tidak ada surprise cemilan yang datang. Pekerjaan domestik hingga sekian nganu pun tidak mendapatkan pengertian. Otak suuzhon pun mulai kesana kemari. 😌

Tapi, biar sedemikian baper. Aku selalu berdoa semoga apapun yang suami lakukan diberikan keberkahan. 

Usaha itu Mencapai Titik Kejayaan Saat Pandemi

Kelahiran Humaira adalah sejarah yang tak terlupakan dalam cerita shezahome. Layaknya, Pica yang sukses karena kelahirannya. Humaira pun tidak kalah. 

Tak disangka usaha thema itu sukses. Laba dari penjualan kami modalkan untuk pembangunan ruangan kantor di rumah. Kami juga memutuskan untuk mempekerjakan 2 pegawai. 

Setahun berlalu dan pandemi covid 19 pun tiba di indonesia. Sekeliling kami mengalami dampak krisis ekonomi. Kebijakan WFH pun diadakan. Suami tak lagi pergi ke kampus untuk mengajar. Tapi full time di rumah saja. Kami sempat mengalami kegalauan karena takut jika pandemi mempengaruhi tingkat penjualan. Sempat beberapa hari kosong orderan. Dan kami memutuskan untuk mengisinya dengan membuat artikel promosi hingga memberdayakan google ads. Belajar SEO untuk bersaing dengan page-page luar yang memiliki usaha sama dengan kami. 

Eh, kami? Gak, aku pendukung di belakang layar. Haha. Lebih tepatnya mungkin ‘mereka’..🤣

Pandemi membuat 2 orang anggota keluarga kami tidak bekerja. Dan suami harus support. Tak hanya itu, salah seorang tetangga janda yang berjualan di SD pun terkena dampak. Mana beliau dirongrong oleh hutang. Keadaan yang demikian membuat empati diawal pandemi menjadi-jadi. Sehingga biaya juga terkuras kesana. 

Namun keadaan berlangsung tidak lama. Usaha kami kembali laris. Klien berdatangan dari luar negeri. Pandemi tak membuat usaha kami merosot. Justru keadaan berbalik kemudian. 

Tapi, dimana ada titik kesuksesan biasanya selalu diiringi dengan cobaan yang tak kalah menggoyangkan. 

Dan cobaan pertama itu terjadi… 

Bertikai dengan Perusahaan Pesaing di Luar Negeri

“Email dari nganu masih ada bah?”

“Buat apa?”

“Mamak mau bikin tulisan di blog..”

“Udah lama diapus..”

“Yaah.. ~”

Iya, tadinya mau melampirkan email ‘teror’ dari perusahaan sebelah di blog post ini. Tapi ternyata emailnya sudah dihapus. Wkwk. 

Intinya, kami pernah mengalami fase horor dan terancam dipenjarakan hingga didenda. Dan jumlahnya.. Banyak banget.. Horor gak tuh? 

Bukan, bukan oleh perusahaan di indonesia. Tapi perusahaan di amerika sonoh.. 

Kenapa bisa kejadian demikian? 

Oke, aku akan menuliskan ceritanya supaya bisa jadi pembelajaran juga buat kalian yang membaca ya. 

Awal mula membangun usaha open journal theme. Kami membangun rangking di google terlebih dahulu. Sehingga, salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memposting artikel. Baik itu tentang perkenalan, hingga cara mengaplikasikan dll dsb. 

Nah, saat itu jujur aku saja tidak terlalu paham dengan usaha suami ini. Terus, aku juga rempong dengan urusan domestik di rumah. Humaira kan masih bayi banget juga. Sehingga untuk menulis artikel tentang ojt bukan masuk ranah aku meski aku suka nulis. Kan hobinya nulis curhat deng. Wkkw. 

Suami saat itu menyuruh salah seorang pegawainya buat menulis about us plus lain-lainnya. Dan tentu pakai bahasa inggris. Kan pasar kami global, bukan cuma indonesia. 

Ternyata, pegawai ini mencari artikel di google juga buat menulis. Daan, dia copas dong dari website yang lain.. Website yang usahanya sama dengan kami pula.. 😭

Seminggu, dua minggu sih tidak ada yang terjadi. Pas sudah sebulan, email teror itu datang. Dan suami baru ngeh kalo ternyata pegawainya copas salah satu konten perusahaan lain ini sama persis plek ketiplek. Bukan perusahaan sembarangan pula. Perusahaan maju di amerika yang mana bergerak dibidang sama dengan kami. Dan tuntutannya gak main-main. Horor banget gais. Auto gak tidur 2 hari 2 malam. 😭

Aku pun juga bertanya-tanya dengan para bloger yang pernah kena kasus plagiarisme. Juga aktif bertanya pada bloger senior. Jawabannya bermuara pada hal yang sama yaitu minta maaf dan hapus. 

Of course ya itu sudah dilakukan. Bahkan sejak email dibaca pun suami langsung menghapus tulisan copas tersebut dan meminta maaf. Tapi sepertinya, bukan hal itu saja yang menjadi tujuan perusahaan sebelah. 

Mereka mengganggap kami pesaing. Sehingga menyuruh kami mengganti web dan membangun bisnis dari 0 lagi dengan web yang berbeda. Kenapa? 

Karena ranking web kami di google ada diurutan tepat dibawah mereka. Dan harga yang kami tawarkan untuk satu thema jauh dibawah harga mereka. 

Kami bersikeras tidak mau mengganti nama web dan membangun ulang karena pelanggan kami sudah ‘lumayan’. Dan ternyata, mereka mulai mencari-cari masalah yang lain untuk menjatuhkan kami. Huhu.. 

Email demi email berdatangan dan kali ini bukan membahas artikel plagiarisme. Melainkan membahas bahwa salah satu coding thema suami juga mengcopas coding thema produk mereka. Mereka mengklaim bahwa kami telah melakukan peniruan produk. Dan sedang on process dituntut. Haduh, membaca emailnya saja sudah auto mual. Apalagi membaca dendanya. 😭

Lalu, aku balik bertanya pada suami, “Emang beneran sama ya? Beneran copas ya?”

“Gak ada tuh. Aku bikin capek banget euy designnya masa dibilang niru?”

Semalaman suami tak nyenyak tidur. Melihat bolak balik produk thema miliknya dan milik perusahaan tsb. Dan entah bagaimana ceritanya.. Esok paginya dia tersenyum sumringah. 

“Kenapa bah? Kok kayak happy gitu?”

“Mereka ketauan curang.. Aku dapet bukti bahwa mereka yang copas coding thema kita. Ini buktinya.”

*dan terlampirlah kode-kode yang tidak mamak mengerti. Kiri kanan persis sama.. 

Disini tercantum tanggal create nya. Dan aku yang bikin pertama kali. Mereka ketahuan cari perkara sama aku. 

“Oh ya.. Kenapa mereka gitu ya?”

“Ya namanya bisnis, ada aja masalahnya. Mungkin mereka merasa kita ancaman karena beberapa pelanggan mereka pindah ke kita. Dan kita agak keterlaluan juga sih. Naroh harga murah.”

Kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? 

Email masuk kembali dan itu dari lembaga hukum yang mempertengahi perkara antara kami. Email tersebut menjelaskan kepada suami bahwa kasus plagiarismenya serius. Dan jika suami tidak mau mengurus dengan hukum maka akan ada tindakan serius. 

Suami pun kembali melakukan tuntutan hal yang sama. Yaitu, menuntut perusahaan tsb yang juga melakukan plagiarisme produk. Ia melampirkan bukti-buktinya. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? 

Perusahaan tersebut mengajak berdamai.. 😂

Case closed. 

Sebagai endingnya, kami menaikan harga thema menjadi rata-rata. Kami sadar bahwa kami juga salah. Memiliki usaha dengan pasar global di mana standar harganya adalah standar lokal. Sehingga membuat usaha yang lain menjadi timpang. Pelajaran yang sangat berharga bagi kami. 

Sekarang, Keadaan Kami bagaikan Nam Do San – SamsanTech

Bisa dibilang dari bulan kemarin perusahaan kami mengalami penurunan. Padahal, kami sudah semangat membangun bisnis ini dengan mendirikan kantor baru. 

Masih on process sih. Tapi, semangat kami sedang menggebu-gebu untuk maju. Walau realitanya, dalam bulan ini saja tidak ada orderan masuk. 😂

Kami sadar bahwa untuk maju,tidak bisa mengharapkan penjualan thema saja. Setidaknya kami berharap ada proyek tambahan lagi. Seperti tahun sebelumnya. 

Sampai suatu hari suami ‘curhat’ bahwa ingin memberdayakan uang yang ada untuk belajar saham (lagi) bahkan ingin mempekerjakan karyawan khusus untuk investasi. Dan kalian tau kabar lucunya? Karyawan yang dipercayai untuk menghandlenya adalah fresh graduate yang belum berpengalaman. Sontak bikin mamak jantungan. Kok bisa suami punya pikiran begitu. Layaknya Nam Do San lugu yang sedang mencari investor tapi gak jelas yang datang.. 🤣

Layaknya Drama Itaewon Class yang mempercayakan kemajuan produk masakan oleh chef yang bahkan so far memasaknya masih belajar. Suamiku ternyata karakternya sedemikian.. Unrealistis. 😅

Kemudian, email itu datang. Email dari perusahaan yang bertikai dengan kami dulu. 

Tapi isi email kali ini.. Adalah penawaran kerja sama.. 

Posisi kami sekarang bagaikan Samsan Tech yang sudah berkembang brandingnya di Sand Box bersama Dal Mi. Akan tetapi karena stuck, maka kami ditawarkan kerja sama oleh ‘Alex’. Bukan, bukan akuisisi bakat sih. Tapi mirip. Kami seakan dibuatkan pilihan. Ingin stuck di perusahaan sekarang. Atau mengembangkan perusahaan mereka? Lalu melepaskan perkembangan usaha yang ada sekarang. 

Aku gak tau kenapa alur cerita usaha ini jadi mirip-mirip drakor ujungnya.. 😭

Lalu aku bertanya pada suami, “Jadi kalian bakal disuruh kerja di amerika sono?”

Dan suami bilang, “Kerjaannya remote kok”

Lalu angan-angan dramanya jadi gedubrak.. 🤣

Gak, gak ada cerita ke Dal Mi ditinggal-tinggal Nam Do San. Syukurlah. *sudah mau baper2 dandan dan nangis kayak film.. 😌😂

Hanya saja ya begitulah. 7 tahun membangun bisnis IT, dimulai dari benar-benar 0 sampai bisa mempekerjakan 5 pegawai. Dan diantara pegawai ini juga ada yang bekerja dengan kami di garis ekonomi yang 0. Berangkat naik sepeda, yatim piatu gak punya apa-apa. Sampai sekarang bisa membeli handphone dan kendaraan baru. Bagi kami, ini pencapaian yang gak terkira harganya. 

Dan kami ingin agar bisa membangun anak-anak begitu lebih banyak lagi. Membangun banua sendiri, membangun indonesia. 

Karena bisnis bukan sekedar tentang uang. Bisnis adalah petualangan untuk berkembang. Membangun yang awalnya 0 menjadi luar biasa. 

IBX598B146B8E64A