Browsed by
Category: Ekonomi

Pengalaman Investasi Pada Reksadana Pasar Uang

Pengalaman Investasi Pada Reksadana Pasar Uang

“Dari pada duit yang ada nganggur, lebih baik diinvestasikan. Coba cari-cari informasi berapa imbal hasil deposito per tahun di bank syariah sekarang” Suamiku berkomunikasi padaku beberapa bulan yang lalu.

Aku pun iseng mendatangi bank syariah yang kebetulan dekat dengan rumahku. Customer service menerangkan padaku tentang deposito syariah berikut dengan akadnya. Ia juga menawarkan produk investasi berupa emas, selain itu ia juga menjelaskan syarat-syaratnya.

Aku manggut-manggut mendengarkan. Ada beberapa point saat itu yang aku tangkap. Pertama, imbal hasilnya rendah menurutku. Kedua, jika menarik uangnya maka akan terkena biaya. Entah kenapa, aku tidak tertarik mencoba.

Karena, uang yang kami investasikan diharapkan bisa memiliki likuiditas yang tinggi. Ya, kami masih menjaga aliran cashflow yang cukup lancar untuk perusahaan ini.

Berkenalan Reksadana Pasar Uang melalui Channel YouTube Felicia Putri Tjiasaka

Sebenarnya, beberapa tahun lalu aku sudah mengenal reksadana pasar uang. Akan tetapi, karena saat itu aku hanya memegang uang bulanan dan tak ada uang dingin maka aku rasanya tak mau untuk memasukkan uangku pada reksadana. Bagiku, dana darurat cukup dimasukkan dalam tabungan karena perlu tingkat likuiditas yang tinggi. I mean, bisa diambil kapan saja jika diperlukan.

Saat itu aku hanya sibuk ngeblog dengan uang apa adanya. Aku sudah sering melihat beberapa youtuber dan influencer yang mengkampanyekan reksadana. Tapi hatiku belum terpanggil untuk memulai investasi. Hanya karena aku punya trust issue yang lumayan tinggi dan aku merasa uang yang kumiliki begitu berharga dan nyaman di tabungan. Tak rela rasanya berinvestasi jika mengingat nasib saham kami dahulu. Yup, sebelum kenal dengan reksadana.. Kami malah sudah kenal dengan saham lewat kampanye idx dahulu. Investasi kami dimulai pada instrumen highrisk dengan modal pengetahuan fundamental dan teknikal yang tipis-tipis. Dan berujung rugi ketika dibiarkan mengendap selama 5 tahun. Untungnya, saat itu kami memakai uang dingin.

Sampai akhirnya, ada channel youtube yang begitu mempengaruhiku untuk segera berinvestasi pada reksadana. Channel dari Felicia Putri Tjiasaka dengan playlist #ReksadanaSeries membuatku mulai melek pada dunia reksadana. Aku menonton semua tayangan reksadana series dan memutuskan mengklaim bahwa diriku adalah investor konservatif yang belum siap dengan risiko dan perlu memulihkan trauma (ciee). Maka, aku putuskan berinvestasi pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

FYI, Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari investor untuk selanjutnya diinvestasikan kembali dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi. Jenis reksadana ini terbagi lagi. Yaitu reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, hingga reksadana saham, reksadana campuran dan reksadana indeks. Untuk reksadana dengan tingat risiko paling rendah ada pada reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Tapi, sesuai prinsip Investasi, Low Risk-Low Return High Risk-High Return. Maka, jika kamu memilih berinvestasi pada investasi yang rendah risikonya maka imbal hasilnya juga rendah. Lalu, apa tolak ukur kita dalam memilih investasi?

“Investasilah pada hal yang cocok pada kamu dan benar-benar kamu ketahui. Dan start small”

Felicia PT

Menurutku, dari semua influencer financial dan youtuber lainnya. #ReksadanaSeries ala Felicia Putri ini yang paling lengkap penjelasannya. Mulai diperkenalkan pada reksadana, jenis reksadana, risiko pada reksadana hingga memilih manager investasi. Ya ampun aku jadi keterusan nonton semua kontennya. 

Dimana Membeli Reksadana Pasar Uang?

Dulu, sebenarnya awal nikah pun sudah tau kok dengan reksadana. Tapii, beli reksadana zaman dulu  itu tidak secanggih sekarang. Dulu, kudu ngurus ini itu ke bank dll. Sekarang, tinggal install aplikasi doang. Dan bayarnya tinggal ngandelin jempol doang. Sambil rebahan pun bisa banget investasi.

Zaman sekarang, setidaknya ada 3 aplikasi yang cukup terkenal untuk investasi reksadana. Pertama, Ajaib. Dulu, Ajaib ini adalah aplikasi untuk investasi reksadana saja. Sekarang sudah merambah ke saham. Yang Kedua adalah Bareksa. Jujur aku kenal Bareksa cuma dari konten Ci Feli. Aku tuh taunya justru sama yang ketiga aja yaitu Bibit. Karena banyak Influencer dan Youtuber yang mempromosikannya.

Aku awalnya menginstall bibit pada handphone. Mulai mendaftar berbekal memasukkan data KTP, NPWP hingga rekening tabungan. Lalu, Tak cukup puas dengan fiturnya. Aku juga coba install bareksa. Which better? Sebenarnya, keduanya sama saja. Hanya saja kalau pada bibit kita bisa kelompokkan investasi berdasarkan tujuan. Kalau di bareksa, portofolio yang muncul terlihat langsung dari nama manager investasi reksadananya.

Tampilan Portofolio pada Aplikasi Bibit
Tampilan Portofolio pada Bareksa

Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka investasi di Bareksa. Karena terlihat langsung berapa persentasi keuntungan dari manager investasinya. Melihat yang demikian akan lebih memudahkanku dalam membeli lagi produk reksadana yang terlihat lebih bagus kinerjanya. 

Yah itu menurut aku saja sih. Aku lebih sreg di Bareksa. Tapi, teman-temanku yang lain lebih suka di Bibit karena merasa nyaman mengelompokkan pada tujuan keuangannya. Tidak tercampur-campur sehingga bisa lebih fokus pada tujuan keuangan.

Kalian sudah coba yang mana?

Apakah Reksadana Pasar Uang ini Riba?

Kurasa setiap perputaran uang zaman sekarang sangat sulit untuk tidak bersentuhan dengan riba. Sebutlah contohnya sejak aku membuka rekening untuk perusahaan kami. Sulit untuk bertransaksi dengan bank syariah yang aku pakai secara pribadi. Maka, aku pun juga membuka rekening pribadi dan perusahaan pada bank konvensional. Oh ya, aku juga punya rekening RDN di bank konvensional lain. Hayoloh, kenapa sulit sekali untuk terbebas dari riba saat kita manusia ingin berusaha plus berinovasi?

Aku punya keyakinan, bahwa segala bentuk harta yang kita miliki itu perlu dibersihkan diluar dari kewajiban zakat. Thats why, kita umat islam itu selalu disuruh untuk perbanyak sedekah. Karena dalam setiap harta kita mungkin saja kita termakan hal yang riba. Nah, itu keyakinanku.

Kembali ke reksadana pasar uang, apakah ini riba?

FYI, reksadana pasar uang ada yang syariah kok. Dan sudah dikeluarkan fatwanya oleh MUI dengan No.20/DSN-MUI/IV/2001. Lalu, untuk mengetahui apa saja komposisi dari reksadana pasar uang yang ingin kita beli maka kita bisa membuka informasi pada reksadana tersebut.

Berikut ini adalah salah satu komposisi pada reksadana pasar uang syariah yang aku miliki:

Nah, pada komposisi reksadana pasar uang ini, kita bisa search di google salah satunya dan klik laman dari ksei. Maka kita akan menemukan Sukuk apa yang memiliki nama Sukuk SIEXCL01DCN1. Dan inilah Security namenya:

Nah, kalian juga bisa cek satu per satu lainnya dari komposisi reksadana pasar uang syariah  yang ingin kalian beli. Bisa dilihat untuk namanya saja adalah Sukuk dan TD. Yang mana sukuk merupakan Obligasi Syariah yang memiliki imbal hasil bersifat tetap sedangkan TD adalah Deposito Syariah. Jadi, dari membaca penjelasanku tentu akhirnya kalian bisa paham bahwa RDPU Syariah ini terdiri dari komposisi Obligasi dan Deposito yang bersifat syariah.

Cara Memilih Manager Investasi Reksadana Pasar Uang

“Banyak juga ya Manager Investasi RDPU ini. Pilih yang mana ya?”

Kalau berdasarkan konten Ci Feli yang aku tonton, memilih produk RDPU bukan dilihat dari berapa imbal hasilnya saja. Tapi, lihatlah berdasarkan profil Manager reksadananya. Apakah profil dari manager investasinya tergolong baik dan tak pernah trading saham-saham gorengan? Selain itu kita juga bisa melihat dari Berapa dana kelolaan atau Asset Under Management AUM yang ia kelola?  Biasanya aku juga cek di laman indopremier. Pilihlah yang memiliki AUM yang berada diposisi top 20. Untuk beginner sepertiku, memilih manager investasi yang diposisi Top 10 saja sih supaya lebih aman.

Berapa Keuntungan yang Didapatkan?

“Berapa sih keuntungan investasi di reksadana pasar uang? Apa iya lebih tinggi dari pada Deposito?”

Nah, berikut aku tampilkan contoh dari simulasi keuntungan reksadana pasar uang syariah dari Sucor Invest management atau produk Sucor Invest Sharia Money Market Fund:

Dapat dilihat bahwa imbal hasilnya dalam setahun sebanyak 4,09%. Ini lebih tinggi dibandingkan bunga pada deposito. Jika dalam 3 tahun saja kita memasukkan uang disini maka jumlah keuntungan yang kita dapatkan adalah sebanyak 16,63%. Bayangkan jika kita sedang menabung untuk biaya pendidikan anak 10 tahun lagi dimasa depan? Maka imbal hasil yang kita dapatkan adalah sebanyak 50%an. Tapi, perhitungan ini akurat jika kita menaruh uang secara lumpsum ya. Jika kita menjadikan RDPU jadi tabungan rutin maka bisa saja persentasinya berbeda.

Apakah Semua Uangku Harus Ditaroh di Reksadana Pasar Uang

“Wah Asik deh, kalau begitu semua uangku cukup ditaroh di RDPU aja win!”

What? All In?

Well, satu hal lagi yang perlu kalian tau adalah mencairkan RDPU tidak seinstan mengambil uang lewat ATM. Atau membayar belanjaan via QRIS dan otorisasi belanja online lainnya. Mencairkan RDPU butuh waktu setidaknya 3 hari. Paling lama, pernah loh sampai 5 hari.

Itulah kenapa aku hanya menaroh 50% dari dana darurat di RDPU. Sisanya aku masih mengandalkan tabungan untuk menyimpan dana darurat. 

Jika kita menaruh semua uang pada RDPU kemudian ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi maka kita tak bisa sedia cash dengan instan. Oleh karena itu, aku sarankan untuk tetap menyimpan sebagian dana darurat pada tabungan. 

Nabung Rutin Reksadana Pasar Uang Yay or Nay?

Kalau menurut channel Ci Feli, nabung rutin reksadana pasar uang akan membuat persentasi keuntungan terlihat lebih kecil. Karena harga RDPU hari ini dan besok akan selalu berbeda dan akan selalu lebih tinggi harganya dihari esok. Karena itu, jika kita sudah punya rencana investasi yang matang akan lebih baik jika lumsum atau beli sekaligus bukan dijadikan nabung rutin.

Aku sendiri sih, punya investasi dana pendidikan khusus di aplikasi bibit. Dan untuk investasinya aku jadikan nabung rutin di reksadana pasar uang syariah. Memang sebenarnya tabunganku sifatnya jangka panjang. Tapi tabungan ini adalah sarana Pica untuk belajar investasi. Makanya aku mengalokasikannya pada reksadana pasar uang saja yang lebih low risk. Aku akan merasa kasian kalau melihat Pica sedih melihat tabungan investasinya menurun karena ditaroh di reksadana saham.

So, menurutku soal nabung rutin reksadana pasar uang sih yes yes saja. Tergantung pada apa tujuan keuangan dan profil risiko kita.

Kalau kalian bagaimana nih? Sudah coba investasi pada RDPU? Sharing denganku yuk!

Ingin Membeli Apartemen? Yuk, Pertimbangkan Hal-hal ini dulu!

Ingin Membeli Apartemen? Yuk, Pertimbangkan Hal-hal ini dulu!


“Menurut aku, yang namanya rumah itu adalah kebutuhan jangka panjang. Jadi, meski harus kredit yang penting diusahakan punya dulu”

“Iya ya betul banget. Tapi, kalau yang suaminya kerja pindah-pindah kayak aku.. Hmm.. Apa iya kudu punya rumah dulu ya? Kayaknya urgensi kebutuhan kami lebih ke mobil dulu nih”

Well, pastinya kita pernah ya dihadapkan pada situasi yang demikian. Ketika ngobrol tentang keinginan beli properti tapi kok bingung harus yes or no soal pembeliannya.

Karena faktanya, meski rumah merupakan kebutuhan pokok.. Tidak semua dari kita memiliki urgensi yang sama soal kebijakan pembelian rumah.

Contoh, seseorang yang tinggal bertiga saja bersama orang tuanya. Memiliki keinginan menetap dan belum berpikir untuk menikah.. Tentu tidak memiliki urgensi sama dalam pembelian rumah dengan orang yang sudah berumah tangga.

Contoh lagi, keadaan rumah tangga orang yang memiliki pekerjaan berpindah-pindah dengan yang menetap. Tentu memiliki kebijakan berbeda tentang pembelian rumah bukan?

Jangankan rumah, untuk pembelian properti berupa apartemen pun tentu memiliki kebijakan yang berbeda pula antara satu dengan lainnya.

Pertimbangkan Hal ini Dulu Sebelum Membeli Aparteman

Nah, sebaiknya sebelum memutuskan membeli apartemen, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan loh. Diantaranya adalah

1. Kondisi Keuangan

“Wah, harga Apartemen disana segini nih, kalau aku bisa hemat pasti bisa beli nih”

“Harga cicilannya berapa persen dari gajih kamu?”

“Emmm… 70%..”

Sangat banyak sekali keputusan membeli properti yang tidak seimbang dengan pemasukan. Hanya karena gajih kita mampu membeli, belum tentu itu adalah hal yang bijak dilakukan. Apalagi, jika hanya 30% gajih yang bisa dipakai untuk keperluan hidup. Hmm, apakah itu cukup untuk kebutuhan istri dan anak? Hal demikian sangat perlu dipertimbangkan.

Setidaknya, kita harus bisa memperkirakan bagaimana kiranya agar keuangan kita tetap sehat ketika memutuskan membeli properti. Jangan hanya karena merasa mampu lalu kemudian kebutuhan lainnya terbengkalai

2. Kondisi Pekerjaan dan Rumah Tangga

Aku memiliki beberapa teman yang belum memiliki rumah dalam usia pernikahan puluhan tahun. Well, apakah hal ini wajar?

Wajar saja jika kondisi memang tidak memungkinkan. Karena memiliki rumah bukan hanya dilihat dari faktor financial. Tapi juga dilihat dari kondisi pekerjaan dan rumah tangga.

Misalnya saja, jika kita memiliki suami yang pekerjaannya berpindah-pindah. Tentu membeli rumah merupakan keputusan yang sulit. Karena jika pekerjaan suami berpindah lagi, rumahnya menjadi terbengkalai dan membuang biaya perawatan plus uang yang tidak sedikit.

3. Kondisi Strategis Apartemen

“Kalau disuruh memilih, kamu lebih memilih apartemen dengan harga terjangkau tetapi letaknya jauh dan tidak strategis.. Atau apartemen dengan harga sedikit mahal tapi dekat dengan tempat kerja plus sekolah anak?”

Tentu saja, memilih yang harganya terjangkau plus strategis jawabku sambil tertawa. Hahaha.

Yah, bagaimana ya. Menurutku, letak strategis ini merupakan hal yang penting sekali dalam memutuskan membeli apartemen. Percuma saja jika kita membeli apartemen yang murah, bagus dan cantik tapi letaknya jauh sekali dari tempat kerja atau jauh sekali dari tempat sekolah anak. Akhirnya, waktu kehidupan kita kebanyakan hanya dihabiskan di jalanan saja. Tanpa menikmati waktu yang bisa dimanfaatkan dengan lebih berkualitas.

Ketika kita memutuskan ingin membeli rumah maupun apartemen sangat penting untuk mempertimbangkan letak strategisnya. Karena ini berkaitan erat dengan waktu kehidupan yang akan kita habiskan.

Kenalan Sama Apartemen The Parc South City

Ehm, ngomong-ngomong soal apartemen.. Aku tuh jadi kepo sama Apartemen The Parc South City.

Jadi Apartemen The Parc South City adalah proyek superblok dengan desain modern dan konsep coliving di dalamnya. Kawasan superblok Southcity seluas 1,5 Ha ini memiliki green area 75% dari total lahan di The Parc.

Tentunya, green area ini diolah demi meningkatkan kualitas hidup penghuninya ya.

Selain konsep hijau, The Parc South City juga memiliki fasilitas seperti pool outdoor sport, jogging track, access card dan free wifi.

Apartemen yang terletak di kawasan Pondok Cabe Tangerang Selatan ini memiliki tiga akses tol dan dua stasiun MRT terdekat.

Berbatasan dengan tiga kawasan besar, yakni Jakarta Selatan, Cinere dan Pondok Cabe, membuatnya dapat diakses melalui Tol Depok-Antasari, Tol Cinere-Serpong, dan Tol Cinere-Jagorawi.

Sedangkan stasiun MRT yang berada di sekitar hunian ini adalah Stasiun MRT Lebak Bulus dan Fatmawati, yang dapat ditempuh dalam waktu 20 menitan saja.

Tak hanya akses ke jalan tol atau MRT, bahkan di dalam apartemen The Park at Southcity ini terdapat halte Transjakarta yang dapat membawa Anda ke fasilitas penting di sekitar Cinere Raya dan Pondok Cabe.

Bicara soal unitnya, setiap ruang di dalamnya mendapatkan pencahayaan alami yang efisien berkat kehadiran jendela lebar sekaligus hasil dari pemakaian konsep ruang terbuka di dalamnya.

Desain interior yang diterapkan juga modern dengan sentuhan natural yang memberikan kesan hangat, ditambah dengan adanya perlengkapan di tiap unitnya.

Wah ini merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan gaya hidup yang dinamis dan modern di tengah kota besar ya.

Bagi kamu yang berencana memiliki hunian vertikal di Tangerang Selatan, The Parc SouthCity tentunya menjadi pilihan yang tepat.

Berapa harganya? Well, kita bisa memiliki apartemen Tipe Studio di dalam superblock The Parc South City dengan harga mulai Rp400 jutaan.

Gimana? Tentunya harganya termasuk terjangkau dengan lokasi yang strategis. Tapi, kembali lagi.. Sebelum memutuskan membeli cek kondisi masing-masing seperti yang aku ulas diatas ya. 🙂

Petualangan Membangun Bisnis IT, dari Recehan Rengginang, Bertikai, hingga Mirip Alur Drakor Start Up

Petualangan Membangun Bisnis IT, dari Recehan Rengginang, Bertikai, hingga Mirip Alur Drakor Start Up

“Bisnis itu bukan tentang bagaimana menjadi kaya. Tapi petualangan untuk membangun circle produktif.” -Shezahome

Apakah aku pernah bercerita tentang bisnis yang dibangun oleh keluarga kami? Hmm, sepertinya iya. Walau termasuk sangat jarang diceritakan di blog. Karena sesungguhnya pemeran utama dalam bisnis ini adalah suami.

Aku? Hanyalah aktor bayangan yang mendukung di belakang. 

Tapi, kali ini rasanya aku sangat gatal ingin bercerita bagaimana awal mula hingga proses bisnis ini dibangun. Karena, kalau diputar ulang sepertinya ceritanya sedikit menarik. 

Iseng dan Ingin Berdaya adalah Awal Mimpi

Aku menikah pada tahun 2012. Sebuah tahun yang merupakan saksi dalam perjuangan ekonomi keluarga shezahome. Awal kehidupan pernikahan, aku dan suami bukanlah anak yang memiliki privilege untuk sukses. Aku masih kuliah sedangkan suami baru saja lulus PNS setahun yang lalu. Untuk awal hidup, kami memutuskan hidup menumpang di tempat mertua. 

Keluargaku mungkin terbilang berada. Tetapi, bukanlah tipikal keluarga yang serba menolong. Apalagi, sudah tradisi kiranya bahwa jika anak perempuan menikah maka hilanglah sudah tanggung jawab orang tua. Sedangkan keluarga suami serba kekurangan. Ibunya janda dan adiknya terbilang banyak. Gajih PNS biasa tidaklah cukup untuk mengcover biaya kehidupan. Apalagi untuk membeli rumah. Untuk mengontrak saja kami harus berpikir puluhan kali. Keadaan menjadi mengejutkan kala aku hamil, padahal kala itu masih banyak impian hidup yang harus dibangun. Karena sungguh sebenarnya aku sangat ingin membantu ekonomi keluarga hingga benar-benar berdaya. Hingga suami memutuskan kuliah S2 di UGM, aku di seberang pulau malah terdampar antara rumah mama dan mama mertua. Demi apa? Demi menabung untuk bisa membeli rumah. 

Setahun kemudian anakku lahir dan suami pulang. Kami memutuskan membangun CV. Awalnya, CV ini dibangun karena iseng saja. Suami punya kemampuan di bidang pembangunan program aplikasi. Dan kebetulan, kakak iparku bekerja di dinas provinsi. Yang mana saat itu memiliki sedikit proyek dari pemerintah, khususnya dalam pembangunan web dan berbagai aplikasi. Pekerjaan pertama pun datang. 

Aku masih ingat kala itu, suami sering begadang untuk membuat aplikasi tersebut. Aku tidak begitu paham sebenarnya apa yang ia kerjakan saat itu.. 😂 Hal receh yang bisa aku lakukan hanyalah support receh. Menyemangati, membuatkan cemilan disertai dengan suara bayi Farisha yang menangis kencang. Saat itu, aku berdoa dalam hati. Setiap anak lahir dengan membawa rejekinya. Maka, semoga kelahiran Farisha (Pica) membuka rejeki keluarga kami. 

Pekerjaan pertama itu sukses. Dan kami memutuskan untuk mencari rumah. Entah beruntung atau kami memang sedang sangat dirahmati Allah.. Tetiba kami menemukan rumah tua yang harganya murah. Simsalabim, rumah itu berubah dengan uang proyek pertama. Pekerjaan pun berlanjut. Sebenarnya, tak selalu pekerjaan suami berujung sukses. Kami sempat mencari tenaga kerja programming tambahan. Hingga memicu konflik antar anggota. Berakhir dengan suamilah yang membangun segalanya hingga selesai. Proyek pekerjaan kami memang tak selalu punya imbal balik yang besar. Kadang kala, 50% dari total pendapatan jatuh ke pos pos anggaran yang tidak seharusnya. Kami? Mungkin hanya dapat 30% dari anggaran. Dan itupun harus dibagi-bagi. Layaknya rengginang yang gurih tapi membuat ketagihan, kami berharap pekerjaan ini terus berkelanjutan. Walau nyatanya kadang masih jarang. 

Tapi, kami tetap menekuni usaha tersebut. 

Usaha itupun sempat mengalami kekosongan. Tidak ada proyek dan hanya menyisakan biaya bulanan. Kami sempat hidup hanya mengandalkan gajih saja (yang juga dibagi-bagi). Suami sempat menghilang dalam bisnis ini dan berfokus untuk mengurus sertifikasi dosen. Namun sepertinya, stuck di satu posisi bukanlah jalan ninja kami. Apalagi, aku terkadang juga sering ‘membatin’ kala uang bulanan dibagi-bagi. Wkwk. Ya aku juga sempat kok berjualan kue untuk bisa membantu ekonomi rumah tangga. Akan tetapi, sepertinya berjualan kue sambil mengurus anak tidak cocok untukku. Usaha itu hanya berjalan setahun dan mandeg. 😅

Kami juga sempat memutuskan untuk belajar berinvestasi. Bukan, bukan reksadana. Tapi saham. Saat itu sedang ramai dengan bitcoin. Kami juga tercebur sebentar. Lantas keluar kemudian. Tidak karena rugi sebenarnya, tapi ROI nya terbilang lamban. Apa memang kami yang tak cekatan? Wkwk

Then, start up pun menjamur di indonesia. Suami tergabung dalam salah satu komunitasnya. Kalian tau? Jika kita menjalani sebuah jalan yang buntu maka solusi terbaik adalah kembali dan mencari kawan senasib. Disitulah awal mula suami bertemu dengan salah satu founder start up di Jakarta dan mengobrol tentang bisnis IT. 

Suami pun memutuskan untuk ‘create project’. Aku tidak tau tepatnya saat itu, apa sih yang dikerjakannya sendirian malam-malam. Oh ternyata, suami sedang mencoba membuat thema untuk jurnal. 

Saat itu, aku sedang hamil anak kedua. Kehidupan kehamilan kedua dipenuhi baper-baper tidak jelas karena ya.. memang setiap hamil aku berubah jadi sensitif sekali entah kenapa. 😂 Sehingga saat melihat suami sibuk sendiri di komputernya tanpa ngelus-ngelus istrinya atau mengobrol renyah tuh kok gemes. Belum lagi kadang kok tidak ada surprise cemilan yang datang. Pekerjaan domestik hingga sekian nganu pun tidak mendapatkan pengertian. Otak suuzhon pun mulai kesana kemari. 😌

Tapi, biar sedemikian baper. Aku selalu berdoa semoga apapun yang suami lakukan diberikan keberkahan. 

Usaha itu Mencapai Titik Kejayaan Saat Pandemi

Kelahiran Humaira adalah sejarah yang tak terlupakan dalam cerita shezahome. Layaknya, Pica yang sukses karena kelahirannya. Humaira pun tidak kalah. 

Tak disangka usaha thema itu sukses. Laba dari penjualan kami modalkan untuk pembangunan ruangan kantor di rumah. Kami juga memutuskan untuk mempekerjakan 2 pegawai. 

Setahun berlalu dan pandemi covid 19 pun tiba di indonesia. Sekeliling kami mengalami dampak krisis ekonomi. Kebijakan WFH pun diadakan. Suami tak lagi pergi ke kampus untuk mengajar. Tapi full time di rumah saja. Kami sempat mengalami kegalauan karena takut jika pandemi mempengaruhi tingkat penjualan. Sempat beberapa hari kosong orderan. Dan kami memutuskan untuk mengisinya dengan membuat artikel promosi hingga memberdayakan google ads. Belajar SEO untuk bersaing dengan page-page luar yang memiliki usaha sama dengan kami. 

Eh, kami? Gak, aku pendukung di belakang layar. Haha. Lebih tepatnya mungkin ‘mereka’..🤣

Pandemi membuat 2 orang anggota keluarga kami tidak bekerja. Dan suami harus support. Tak hanya itu, salah seorang tetangga janda yang berjualan di SD pun terkena dampak. Mana beliau dirongrong oleh hutang. Keadaan yang demikian membuat empati diawal pandemi menjadi-jadi. Sehingga biaya juga terkuras kesana. 

Namun keadaan berlangsung tidak lama. Usaha kami kembali laris. Klien berdatangan dari luar negeri. Pandemi tak membuat usaha kami merosot. Justru keadaan berbalik kemudian. 

Tapi, dimana ada titik kesuksesan biasanya selalu diiringi dengan cobaan yang tak kalah menggoyangkan. 

Dan cobaan pertama itu terjadi… 

Bertikai dengan Perusahaan Pesaing di Luar Negeri

“Email dari nganu masih ada bah?”

“Buat apa?”

“Mamak mau bikin tulisan di blog..”

“Udah lama diapus..”

“Yaah.. ~”

Iya, tadinya mau melampirkan email ‘teror’ dari perusahaan sebelah di blog post ini. Tapi ternyata emailnya sudah dihapus. Wkwk. 

Intinya, kami pernah mengalami fase horor dan terancam dipenjarakan hingga didenda. Dan jumlahnya.. Banyak banget.. Horor gak tuh? 

Bukan, bukan oleh perusahaan di indonesia. Tapi perusahaan di amerika sonoh.. 

Kenapa bisa kejadian demikian? 

Oke, aku akan menuliskan ceritanya supaya bisa jadi pembelajaran juga buat kalian yang membaca ya. 

Awal mula membangun usaha open journal theme. Kami membangun rangking di google terlebih dahulu. Sehingga, salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memposting artikel. Baik itu tentang perkenalan, hingga cara mengaplikasikan dll dsb. 

Nah, saat itu jujur aku saja tidak terlalu paham dengan usaha suami ini. Terus, aku juga rempong dengan urusan domestik di rumah. Humaira kan masih bayi banget juga. Sehingga untuk menulis artikel tentang ojt bukan masuk ranah aku meski aku suka nulis. Kan hobinya nulis curhat deng. Wkkw. 

Suami saat itu menyuruh salah seorang pegawainya buat menulis about us plus lain-lainnya. Dan tentu pakai bahasa inggris. Kan pasar kami global, bukan cuma indonesia. 

Ternyata, pegawai ini mencari artikel di google juga buat menulis. Daan, dia copas dong dari website yang lain.. Website yang usahanya sama dengan kami pula.. 😭

Seminggu, dua minggu sih tidak ada yang terjadi. Pas sudah sebulan, email teror itu datang. Dan suami baru ngeh kalo ternyata pegawainya copas salah satu konten perusahaan lain ini sama persis plek ketiplek. Bukan perusahaan sembarangan pula. Perusahaan maju di amerika yang mana bergerak dibidang sama dengan kami. Dan tuntutannya gak main-main. Horor banget gais. Auto gak tidur 2 hari 2 malam. 😭

Aku pun juga bertanya-tanya dengan para bloger yang pernah kena kasus plagiarisme. Juga aktif bertanya pada bloger senior. Jawabannya bermuara pada hal yang sama yaitu minta maaf dan hapus. 

Of course ya itu sudah dilakukan. Bahkan sejak email dibaca pun suami langsung menghapus tulisan copas tersebut dan meminta maaf. Tapi sepertinya, bukan hal itu saja yang menjadi tujuan perusahaan sebelah. 

Mereka mengganggap kami pesaing. Sehingga menyuruh kami mengganti web dan membangun bisnis dari 0 lagi dengan web yang berbeda. Kenapa? 

Karena ranking web kami di google ada diurutan tepat dibawah mereka. Dan harga yang kami tawarkan untuk satu thema jauh dibawah harga mereka. 

Kami bersikeras tidak mau mengganti nama web dan membangun ulang karena pelanggan kami sudah ‘lumayan’. Dan ternyata, mereka mulai mencari-cari masalah yang lain untuk menjatuhkan kami. Huhu.. 

Email demi email berdatangan dan kali ini bukan membahas artikel plagiarisme. Melainkan membahas bahwa salah satu coding thema suami juga mengcopas coding thema produk mereka. Mereka mengklaim bahwa kami telah melakukan peniruan produk. Dan sedang on process dituntut. Haduh, membaca emailnya saja sudah auto mual. Apalagi membaca dendanya. 😭

Lalu, aku balik bertanya pada suami, “Emang beneran sama ya? Beneran copas ya?”

“Gak ada tuh. Aku bikin capek banget euy designnya masa dibilang niru?”

Semalaman suami tak nyenyak tidur. Melihat bolak balik produk thema miliknya dan milik perusahaan tsb. Dan entah bagaimana ceritanya.. Esok paginya dia tersenyum sumringah. 

“Kenapa bah? Kok kayak happy gitu?”

“Mereka ketauan curang.. Aku dapet bukti bahwa mereka yang copas coding thema kita. Ini buktinya.”

*dan terlampirlah kode-kode yang tidak mamak mengerti. Kiri kanan persis sama.. 

Disini tercantum tanggal create nya. Dan aku yang bikin pertama kali. Mereka ketahuan cari perkara sama aku. 

“Oh ya.. Kenapa mereka gitu ya?”

“Ya namanya bisnis, ada aja masalahnya. Mungkin mereka merasa kita ancaman karena beberapa pelanggan mereka pindah ke kita. Dan kita agak keterlaluan juga sih. Naroh harga murah.”

Kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? 

Email masuk kembali dan itu dari lembaga hukum yang mempertengahi perkara antara kami. Email tersebut menjelaskan kepada suami bahwa kasus plagiarismenya serius. Dan jika suami tidak mau mengurus dengan hukum maka akan ada tindakan serius. 

Suami pun kembali melakukan tuntutan hal yang sama. Yaitu, menuntut perusahaan tsb yang juga melakukan plagiarisme produk. Ia melampirkan bukti-buktinya. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? 

Perusahaan tersebut mengajak berdamai.. 😂

Case closed. 

Sebagai endingnya, kami menaikan harga thema menjadi rata-rata. Kami sadar bahwa kami juga salah. Memiliki usaha dengan pasar global di mana standar harganya adalah standar lokal. Sehingga membuat usaha yang lain menjadi timpang. Pelajaran yang sangat berharga bagi kami. 

Sekarang, Keadaan Kami bagaikan Nam Do San – SamsanTech

Bisa dibilang dari bulan kemarin perusahaan kami mengalami penurunan. Padahal, kami sudah semangat membangun bisnis ini dengan mendirikan kantor baru. 

Masih on process sih. Tapi, semangat kami sedang menggebu-gebu untuk maju. Walau realitanya, dalam bulan ini saja tidak ada orderan masuk. 😂

Kami sadar bahwa untuk maju,tidak bisa mengharapkan penjualan thema saja. Setidaknya kami berharap ada proyek tambahan lagi. Seperti tahun sebelumnya. 

Sampai suatu hari suami ‘curhat’ bahwa ingin memberdayakan uang yang ada untuk belajar saham (lagi) bahkan ingin mempekerjakan karyawan khusus untuk investasi. Dan kalian tau kabar lucunya? Karyawan yang dipercayai untuk menghandlenya adalah fresh graduate yang belum berpengalaman. Sontak bikin mamak jantungan. Kok bisa suami punya pikiran begitu. Layaknya Nam Do San lugu yang sedang mencari investor tapi gak jelas yang datang.. 🤣

Layaknya Drama Itaewon Class yang mempercayakan kemajuan produk masakan oleh chef yang bahkan so far memasaknya masih belajar. Suamiku ternyata karakternya sedemikian.. Unrealistis. 😅

Kemudian, email itu datang. Email dari perusahaan yang bertikai dengan kami dulu. 

Tapi isi email kali ini.. Adalah penawaran kerja sama.. 

Posisi kami sekarang bagaikan Samsan Tech yang sudah berkembang brandingnya di Sand Box bersama Dal Mi. Akan tetapi karena stuck, maka kami ditawarkan kerja sama oleh ‘Alex’. Bukan, bukan akuisisi bakat sih. Tapi mirip. Kami seakan dibuatkan pilihan. Ingin stuck di perusahaan sekarang. Atau mengembangkan perusahaan mereka? Lalu melepaskan perkembangan usaha yang ada sekarang. 

Aku gak tau kenapa alur cerita usaha ini jadi mirip-mirip drakor ujungnya.. 😭

Lalu aku bertanya pada suami, “Jadi kalian bakal disuruh kerja di amerika sono?”

Dan suami bilang, “Kerjaannya remote kok”

Lalu angan-angan dramanya jadi gedubrak.. 🤣

Gak, gak ada cerita ke Dal Mi ditinggal-tinggal Nam Do San. Syukurlah. *sudah mau baper2 dandan dan nangis kayak film.. 😌😂

Hanya saja ya begitulah. 7 tahun membangun bisnis IT, dimulai dari benar-benar 0 sampai bisa mempekerjakan 5 pegawai. Dan diantara pegawai ini juga ada yang bekerja dengan kami di garis ekonomi yang 0. Berangkat naik sepeda, yatim piatu gak punya apa-apa. Sampai sekarang bisa membeli handphone dan kendaraan baru. Bagi kami, ini pencapaian yang gak terkira harganya. 

Dan kami ingin agar bisa membangun anak-anak begitu lebih banyak lagi. Membangun banua sendiri, membangun indonesia. 

Karena bisnis bukan sekedar tentang uang. Bisnis adalah petualangan untuk berkembang. Membangun yang awalnya 0 menjadi luar biasa. 

Social E-commerce bersama PT Komunitas Cerdas Indonesia

Social E-commerce bersama PT Komunitas Cerdas Indonesia

“Pakeeet”

Teriakan kurir siang itu membuatku bersemangat menuju ke depan rumah. Sembari mempersiapkan uang, suamiku yang sedang duduk santai di ruang tamu ber’ehm’ sambil berkata..

“Belanja apa lagi Ma?”

Akupun cengengesan sambil berkata, “Belanja Masker Pah..”

“Beli masker pun onlen? Kan di depan komplek rumah banyak yang jualan..”

“Anu.. Mumpung lagi promo dan gratis ongkir Pah.. Hehe..”

Bisnis Zaman Now tanpa Internet? Gimana Nasibnya? 

“Ish, sesekali belilah jualan para tetangga sekitar. Jangan beli onlen terus..” Obrolan kembali berlanjut ketika aku dengan sumringah membuka paket. 

“Kalo keluar rumah pastilah dibisa-bisain mampir Pah. Tapi kan kadang susah keluar rumah. Dua buntut ini pasti pada ikut.”

Suamipun bergeleng-geleng kepala sambil melihat hasil belanjaku.. 

“Berapa harganya ini?” Ucapnya sambil memegang sekotak masker anak. 

“Cuma 30ribu pah. Gratis ongkir pula..”

“Wah, murah amat.. Nanti beliin buat aku juga ya kalo diskon lagi..”

Akupun melongo sambil tertawa.. 

Hmm.. Berbicara tentang perkembangan ekonomi di masa pandemi memang ada up dan down. Disatu sisi, ada beberapa pedagang yang bisa survive. Tapi disisi lain, ada yang gulung tikar hingga bangkrut. 

Sebutlah Pak Min, pedagang kantin sekolah yang banting setir menjadi penjual masker. Pak Min lahir di era generasi baby boomer, sehingga tidak mengenal internet. Hanya baru-baru saja beliau kenal dengan apa itu Whats App. Itupun karena terdesak dengan kondisi anak yang harus sekolah online. Boro-boro kenal dengan zoom dsb, Pak Min lebih memilih anaknya ikut belajar dengan tetangga dibanding harus repot dengan menginstall aplikasi dan bingung harus apa lagi. 

Tak jauh dari sana, ada seorang tetangga yang tak berbeda jauh umurnya bernama Pak Usup. Pak usup yang sudah 3 bulan di PHK, kini harus banting setir dengan berjualan abon ikan. Berbagai pemasaran dilakukan tapi hasilnya tidak maksimal. Sampai akhirnya anaknya yang sekolah SMA mengenalkannya pada e commerce dan berbagai aplikasi market place. Pak Usup akhirnya mencoba berdagang online. Bekerja sama dengan anaknya sebagai pengelola toko onlinenya. 

Bisakah ditebak yang mana yang lebih sukses? 

Pak Usup tentu. 

Mungkin benar kiranya bahwa di zaman sekarang, orang yang tidak mengenal internet dan tidak memiliki kemauan untuk belajar maka akan mengalami ketertinggalan. Baik itu secara sosial maupun ekonomi. 

Jujur, sebelum pandemi aku tipe emak-emak yang lebih mengandalkan belanja secara langsung dibanding belanja online. Alasannya, karena aku suka jalan-jalan dan bertemu orang. Haha. Tapi, setelah pandemi melanda, perlahan berbagai e commerce mulai aku kepoin. Sudah 3 aplikasi market place yang aku install. Dan aku sangat menikmati belanja online. Pola konsumsiku berubah. Dari yang dulu offline menjadi serba online. Inilah yang dinamakan era digitalisasi. Era ini mengubah pola produksi, distribusi maupun konsumsi. 

Membangun Pertumbuhan Digital Indonesia bersama PT Komunitas Cerdas Indonesia dengan Konsep Social E-Commerce

Sadar tidak sadar, pertumbuhan digital di indonesia berkembang sangat pesat. Terlihat dari tingginya jumlah belanja E-Commerce Indonesia yang melampaui berkali-kali lipat dibandingkan pengeluaran iklan berbasis selulernya. 

Aku sangat menyadari nyamannya bersahabat dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi di era digital. Untuk usaha IT keluarga kami misalnya. Kami sudah tidak memakai sistem pemasaran melalui pengajuan proposal ke lembaga-lembaga pemerintah lagi. Melainkan sudah merambah melalui iklan di google ads dan facebook ads. Sungguh ini membuat sebuah perubahan besar. Dari yang awalnya kami berpikir keras untuk berkembang di era pandemi menjadi merasa nyaman dengan datangnya klien di berbagai belahan dunia. Mungkin, inilah yang dinamakan the power of kepepet. 

Nah, tahukah kalian bahwa ada konsep baru untuk industri periklanan dan e-commerce ini? 

Adalah PT Komunitas Cerdas Indonesia, perusahaan yang menawarkan konsep baru yaitu social e-commerce sebagai pilihan investasi dan bisnis di masa mendatang. Akarnya berasal dari social concept yang merupakan konsep baru dengan menggabungkan kekuatan sosial masyarakat dengan industri digital big data. 

Dengan Social E-commerce, kekuatan masyarakat dapat digunakan untuk meningkatkan percepatan distribusi produk secara digital. 

Lalu, dengan adanya Social Advertising, kekuatan masyarakat digunakan untuk melakukan percepatan dalam meningkatkan traffic digital advertising. 

Wuah, sound familiar ya. Para pegiat sosial media dan pedagang E-commerce pasti sudah sedikit mengerti kemana larinya konsep ini. Contoh kecilnya saja, jika kita sedang melihat para influencer favorit sedang merekomendasikan produk favoritnya maka kita akan melakukan ‘action’ dengan kepo ke market place yang menjual barang tersebut. Social E-commerce adalah sebuah konsep yang diharapkan dapat meningkatkan percepatan distribusi produk secara digital dengan cara penggabungan kekuatan masyarakat dan industri digital. Jadi, social E-commerce ini berbeda ya dengan social commerce. 🙂

Lantas, bagaimana berjalannya konsep social E-commerse ini? 

Konsep baru ini akan terlaksana di dalam mobile apps bernama Viplus, yang nantinya disana akan ada produk suplemen kesehatan di e-commerce nya. 

Aku pribadi sangat menantikan mobile apps Viplus ini. Semoga dengan adanya aplikasi ini pilihan bisnis dan investasi hingga langkah para penggiat ekonomi semakin nyaman. 

Jadi, siapkah mengubah pola konsumtif menjadi produktif? 

Bedakan antara Suami Pelit dan Suami Hemat

Bedakan antara Suami Pelit dan Suami Hemat

“Sayang, kayaknya bulan ini keperluannya bakal lebih deh. Buku anak mesti dibeli karena tahun ajaran baru. Pengeluaran yang lain juga ada nih..”

“Ya dicukup-cukupkan dulu bisa gak Ma. Soalnya uang kita juga ngepas kan..”

“Tapi bukannya Papa kemarin dapet uang sampingan dari kerjaan?”

“Ya tapi kan buat Mama. Kan kasian loh adek aku juga masih sekolah.”

Sang Istri pun menunduk lantas tak sengaja meneteskan air mata. Sudah berkali-kali rasanya suaminya seperti itu. Sering sekali. Seakan ia hanyalah orang kedua yang membutuhkan nafkah darinya. Seakan hanya dia-lah yang harus berputar-putar mencari cara agar keuangan rumah tangga kami mencapai kata ‘cukup’. 

Dan kadang, Sang Istri sering bertanya pada diri sendiri.. 

“Apakah suamiku ini pelit? Atau terlalu hemat?”

Suami Terkesan Pelit, Salahkah? 

Abaikan cerita diatas. Berhentilah berimajinasi seolah-olah itu adalah cerita curhat dariku. Jujur, enggak juga sih mirip, tapi aku yakin pasti diantara pembaca disini pernah mengalami posisi yang sama. Terutama di ujian awal pernikahan. Iyakan? Nafkah lahir memang ujian sensitif.

Huft. Yup ujian pernikahan terberat memang pada tiang ekonomi. Masa ketika punya ambisi memiliki rumah sendiri, berdiri sendiri, ditambah sudah memiliki anak dengan gajih yang pas-pasan. Belum lagi soal cobaan menjadi sandwich generation. Digeronggoti sana dan sini. Lalu kemudian keadaan menjadi serba salah. Ingin bekerja, tetapi anak harus bagaimana? Tak bekerja namun keuangan tak memadai. 

Merajuk, tapi kenyataannya tidak bisa. Karena begitulah keadaannya. Lalu kemudian setan-setan mulai berbisik ramai ditelinga.. 

“Dia pelit sekali”

“Bahkan anaknya sendiri tidak penting baginya.”

“Dia lebih memilih Ibunya dibanding dirimu.”

“Harusnya dia menikah dengan Ibunya saja.”

Setan-setan itu, membuat istri yang keadaannya serba salah menjadi bertanya-tanya pula. Lalu kemudian berakhir dengan tetesan air mata. Ingin berkomunikasi takut ditekan lantas dianggap tak bisa mengatur keuangan rumah tangga. Tapi jika terus dipendam maka kapan ada jalan keluar? 

Pernahkah kalian berada diposisi demikian ketika ingin berkomunikasi tentang keadaan ekonomi? Aku? Pernah banget! 

Lalu apa yang aku lakukan? Apakah aku langsung menangis bombay dan berteriak parau dihadapan suami? Tidak. Aku mencari ‘jeda’. 

Jeda itu aku gunakan untuk mengoreksi diri. Mengekspresikan kemarahan melalui jempol-jempolku. Mengukir prasasti pada WA story yang aku atur privasinya. Berharap ada 10 dari teman dekatku yang memiliki nasib yang sama lalu memelukku. Kadang, harapanku tak muluk-muluk. Hanya ingin didengar. Itu saja. Itulah kenapa, diantara 10 kontak itu. Suamiku adalah salah satunya. Aku berharap dia bisa membaca luapan amarah itu. Aku ingin dia tau bahwa aku marah tapi aku takut marah dihadapannya. 

Saat itu setan sedang ramai sekali menari di jemariku. Mungkin mereka tertawa. Aku tidak tau apa yang ada dibenak teman-teman yang membaca status privasiku. Tapi satu hal yang jelas. Aku lega. Dan jeda itu aku ulang lagi dan lagi. Seperti menjadi candu. 

Saat waras menghinggapiku. Dan setan itu sudah lelah dan tertidur. Aku menatap nanar ke arah suamiku yang kelelahan dalam tidur malamnya. Berkata dalam hati, “Mungkin, sebenarnya dia memiliki beban yang tak kalah besar dariku.. Apakah aku yang selama ini menutup mata akan bebannya? Apakah selama ini kami saling memendam rasa karena ‘malu pada beban masing-masing’?”

Bagaimana kalau.. Memang dia tidak punya pilihan? Atau dia takut berkomunikasi? 

Dan hal yang paling aku takutkan saat itu adalah, “Bagaimana kalau ternyata aku tidak dipercayai..?”

Lalu, aku terlempar pada masa lalu. Masa saat kami masih berkenalan dulu. Aku ingat dia pernah berkata padaku.. 

“Dalam kehidupan. Kita harus punya mimpi yang tinggi. Prinsipku adalah aku harus punya mimpi setinggi bintang. Walau senjataku hanyalah tangga. Setidaknya aku punya pijakan untuk melangkah. Walau ujungnya hanyalah atap rumah atau bahkan buah mangga sekalipun. Setidaknya aku sudah menaiki tangga itu.”

Kadang aku melamun dan berpikir. Bagaimana kalau ia sedang membuat anak tangga sendiri? Namun tidak melibatkanku karena ia takut jika aku terlibat maka aku akan memberikan opsi yang tidak maksimal untuk kualitas anak tangganya? 

Jangan-jangan selama ini kami memasang senjata yang salah. 

Ia pelit dan sukar berkomunikasi untuk senjata dan tamengnya. Sedangkan aku diam dan marah untuk senjata dan tamengku sendiri. 

Hidup kami pun pernah mengalami masa-masa itu. Masa dimana kami tidak terbuka, saling curiga. Dia menganggapku tidak bisa mengatur uang karena aku tak pernah melibatkannya. Dan aku menganggapnya pelit karena dia tak pernah mengikutsertakan diriku dalam membangun anak tangganya. 

Akhirnya aku mengerti. Ini bukan perkara pelit. Ini soal saling mengerti. 

Jika Suami Pelit, Mungkin… 

Mungkin sebenarnya.. Dia sedang membangun mimpi. Maka, berusahalah masuk kedalam mimpinya itu. Libatkan dirimu. 

Rasakan bebannya, kemudian ringankan beban itu. Berusahalah memahami. Tekan ego itu, walau butuh sekalipun berusahalah untuk tetap membangun anak tangga itu. Karena pernikahan harus memiliki mimpi. Semua mimpi dilalui dari rasa susah. Ini berat. Banget. Tapi, sebisa mungkin. Berkomunikasilah. 

Jika rasa pelit itu sudah sangat berlebihan tak ada salahnya untuk mencoba jurus-jurus yang pernah aku tulis ini

Baca juga: Jurus-jurus jitu ketika budget keuangan pas pasan

Memiliki suami yang tak paham dengan pengeluaran rumah tangga itu adalah cobaan sejuta wanita. Banyak sekali wanita diluar sana yang memiliki cobaan yang sama apalagi diawal-awal pernikahan. Sesungguhnya, pelit itu tidak bisa disalahkan selama banyak unsur mimpi didalamnya. Seperti yang pernah terjadi padaku. Tapi jika karena faktor lain, mungkin jurusnya pun berbeda pula. Suami pelit itu salah. Tapi tak sepenuhnya salah. Yang bisa kita lakukan adalah meyakinkan diri dan pasangan. 

“Kita harus hemat, bukan pelit..”

Suami Hemat dan Pelit? Apa Bedanya? 

Ya beda dong marimar. 

Suami Pelit itu egois, mengesampingkan kepercayaan dan menganggap goalsnya paling benar. Sedangkan Suami Hemat itu memiliki visi dan misi di masa depan dan melakukannya disertai dengan sifat keterbukaan bersama istri sehingga jikapun ‘susah’ maka susahnya terkesan bersama. Bukan dipikul sendirian. Berjalan masing-masing. Heh, pernikahan macam apa itu. 

See? Dalam menikah itu komunikasi adalah koentji. Termasuk itu dalam hal mengkategorikan suami pelit atau hemat. Mau si Suami punya Duit segudang kek, kalau ‘enggak terbuka’ sama pemasukan dan pengeluarannya.. Maka tetep aja namanya SUAMI PELIT. Catet tuh! 

So, kembali ke pembuka artikel ini. Tentang percakapan diatas, apakah menurut kalian suami tersebut adalah suami yang pelit atau terlalu hemat? 

Suami sudah berkata pada istri bahwa uang sampingannya ia berikan pada keluarganya karena mereka juga membutuhkan. Akan tetapi, ia memberikannya begitu saja tanpa berkomunikasi terlebih dahulu pada istri. Mungkin, suami takut si istri tidak memperbolehkan tindakannya. Apakah itu salah? 

Perlu koreksi diri, apakah selama ini sebagai istri kita sering ‘mendikte’ suami ketika ia memberikan uangnya pada yang lain sehingga menyebabkan adanya ketidak-terbukaan. 

Sebaliknya, reframing diposisi istri. Ketika istri sudah ‘meminta’ itu artinya ia sedang membutuhkan. Maka, tentu saja ia berharap bisa diberi. Kalimat balasan suami sedemikian akan menyebabkan istri merasa dinomor-duakan. Kembali lagi, dalam pernikahan.. Sungguh komunikasi adalah kunci. 

Karena andai saja suami tidak gengsi berkata, “Maaf..” Karena sudah tidak jujur soal uang sampingan dsb. Lalu kemudian berusaha agar ia menunaikan kewajibannya. Maka tentu tidak akan ada konflik dan berburuk sangka dalam diam. 

Jika masalah dibiarkan dan istri selalu ‘diam’ maka suami tidak akan merasa bersalah. Maka harus dikomunikasikan. 

Ketahuilah, permasalahan ekonomi ini adalah tiang dalam kesejahteraan rumah tangga. Maka, keterbukaan adalah penawarnya. Ini bukan soal suami pelit atau hemat aja. Bukan soal ‘mengatur uang’ saja. 

Percayalah, bahkan suami boros sekalipun mungkin masih lebih baik dibanding suami hemat tapi tidak terbuka. Dalam catatan suami boros tersebut terbuka tentang keuangannya. 

So.. Suami Misua Hubby Honey diluar sana.. 

Percayailah Istrimu. Itu saja. 

IBX598B146B8E64A