Browsed by
Month: February 2018

Aku dan Teman Imajinasiku

Aku dan Teman Imajinasiku

Mereka berkata bahwa masa kecil seseorang akan mempengaruhi 50% karakternya saat dewasa. Dan hari ini, aku ingin bercerita..

Masa kecilku tak seperti kebanyakan anak pada umumnya

Bukan..

Aku bukanlah seorang tarzan yang hidup dihutan sebatang kara dan berteman dengan gorilla maupun monyet-monyet.

Bukan pula seorang anak yang hidupnya sebatang kara tanpa teman dipanti asuhan.

Bukan seperti Putri Salju yang hidup terkurung di istana karena Ibu Tiri yang jahat.

Bukan pula seperti Cinderella yang ditinggal mati Ibunya dan mulai mengkhayal memiliki Ibu Peri.

Bukan seperti itu.

Hidupku sempurna. Aku memiliki Ayah, Ibu dan seorang Kakak laki-laki yang menemaniku sejak kecil. Kami hidup di desa. Dimana saat itu tetangga yang kumiliki sangat..

Sedikit…

Kakakku adalah satu-satunya temanku. Kebanggaanku, orang yang selalu kubuntuti kemanapun ia pergi. Jikapun aku tau tentang tujuan hidup saat itu, maka jawabanku sangat sederhana.

“Aku ingin bersama Kakakku selamanya”

Namun semuanya berubah sejak aku mulai mengenal sekolah. Aku mulai mengenal teman perempuan sebaya. Kukira, di dunia ini hanyalah aku anak perempuan tercantik didunia. Seperti kata-kata yang dilontarkan kakakku.

Aku menyukai dunia sekolah saat itu. Namun aku sedikit lambat dalam proses adaptasi. Hal ini mengingat aku tak memiliki tetangga, tak pernah memiliki teman perempuan sebaya sebelumnya, dan cenderung menjadi adik yang manja. Adaptasiku semakin terhambat mengingat Mamaku adalah guru dikelasku sendiri. Sehingga aku lebih menyukai berteman dengan Mama dibanding dengan teman perempuan sebayaku. Lambat laun, aku mulai merasakan perasaan iri dari teman-temanku karena kedekatanku dengan Mama yang merupakan guru dikelas kami.

Seingatku, aku tak pernah punya teman akrab selagi TK. Aku hanya membuntut pada Mama. Hingga istirahat tiba pun aku takut untuk bermain bersama. Kurasa, tidak ada teman yang bersifat seperti Mama maupun Kakak. Ya, itulah perasaan yang kuingat sewaktu kecil dulu.

Aku tumbuh menjadi anak manja yang rindu akan teman perempuan sebaya, berharap mereka dapat bersifat sama seperti Kakak dan Mamaku..

Maka, aku mulai menciptakan Karakter itu.

source: detikhealth.com

Sejak aku sekolah, Mama mulai menyadari bahwa aku sering berbicara sendiri tanpa Kakak. Mama sering menanyakan hal aneh itu padaku namun aku hanya tersenyum-senyum malu. Aku tau bahwa lawan bicaraku bukanlah makhluk nyata. Aku hanya berimajinasi.

Fase ini beralasan. Kakakku mulai memiliki teman laki-laki dan aku pastinya juga harus memiliki teman perempuan. Namun, lingkungan tempatku tinggal tidak mendukung, begitupun dengan dunia sekolah. Lingkunganku sunyi tanpa satupun tetangga yang memiliki anak perempuan sepertiku. Aku tak pernah bergaul dengan para sepupu karena kami adalah keluarga perantauan.

Pohon-pohon disekeliling rumahku adalah tempat persinggahan imajinasiku. Pohon rambutan adalah rumah Rita, pohon jambu adalah rumah Aulia, dan pohon rambutan kering adalah rumah Gigi. Tidak perlu imajinasi lebih untuk mengkhayalkan Rita dan Aulia karena mereka adalah wujud imajinasi dari teman yang satu TK denganku. Sementara Gigi adalah teman yang kuciptakan sendiri. Dalam imajinasiku, Ia adalah tetangga baruku.

Menggenaskan? Kesepian?

Tidak, itu menyenangkan..

Jika itu tidak menyenangkan, mana mungkin aku masih mengingatnya hingga sekarang? Ya, hingga setua ini?

source: bukubiruku.com

Sewaktu kecil aku sangat hoby memanjat pohon. Tentunya pohon yang kupanjat tidak terlalu tinggi. Pohon-pohon itulah yang telah kujadikan rumah imajinasi untuk setiap teman-teman imajinasiku. Aku bahkan memasukkan karakter detail dari setiap teman imajinasiku. Seperti Gigi, si cengeng yang selalu menangis. Rita, si cantik yang banyak dikagumi. Bahkan Aulia, si baik hati yang suka bermain masak-masakan. Dan aku? Aku adalah teman yang paling mereka sukai.

Aku masih mengingat saat-saat itu. Masa saat aku membawa empat pasang sandal kerumah imajinasi. Kemudian mama panik mencari sandal-sandal dirumah yang hilang. Dan aku dengan wajah tanpa dosa berkata, “Rita, Aulia dan Gigi yang pinjam Ma”

Aku juga masih mengingat saat saat lucu itu. Saat aku menghamburkan baju-bajuku. Mencari baju yang pas untuk boneka susanku. Mengkhayal bahwa salah seorang temanku baru saja melahirkan. Ya, akulah sang dewi penolong yang membantunya melahirkan.

Dan saat pujian-pujian imajinasi itu datang satu persatu dari mulut teman imajinasiku, Mama berteriak menggerutu betapa berantakan lemari pakaianku. Tapi aku tak peduli, di mata teman-teman imajinasiku saat itu aku adalah pahlawan.

Menginjak usia lima tahun imajinasiku semakin berkembang. Mungkin ini karena perubahan teman dari lingkungan nyataku di sekolah. Teman TK yang dulu sekelas denganku sudah memasuki Nol Besar. Dan aku mendapati teman-teman baru di Nol Kecil. Bagaikan senior dikelas baru, aku kini merasa lebih dihargai. Satu per satu mulai berteman denganku di dunia nyata.

Dan teman imajinasiku di rumah mulai berubah tingkatannya. Seingatku, saat itu aku pernah mengkhayal menjadi ‘Tuan Putri’ yang berteman dengan dayang-dayangnya. Maklum saja, zaman itu acara TV sedang ramai-ramainya tentang film asia. Dan setiap sore hal yang kulakukan adalah membawa selendang putih yang dapat kutemukan kemana saja dan menyelimutkannya keseluruh tubuhku. Rasanya saat itu bahagia sekali.

Khayalan terus berkembang dimasa-masa TK hingga akhirnya aku masuk sekolah SD.

SD yang menjadi pilihan orang tuaku saat itu adalah SDN Tampang. Satu-satunya SD di desaku. Lingkungan baru yang satu itu tidak terlalu aku sukai karena sekali lagi aku harus beradaptasi. Kali ini aku harus berlatih benar-benar berteman karena mama kini tak lagi bisa kubuntuti.

Aku tak menyukai lingkungan ini. Apalagi anak laki-lakinya. Anak Desa memiliki kekuatan yang menyeramkan dibanding Anak Kota terlebih dalam olah raga. Seingatku aku selalu menjadi siswi terpayah dalam hal olah raga. Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan teman-teman laki-laki. Hanya satu sampai tiga anak perempuan yang dekat denganku. Tapi, keberadaan teman imajinasiku tetaplah lebih dominan dibanding teman nyataku.

Hingga umur 7 tahun aku masih memiliki teman imajinasi dan keberadaannya masih dominan dibanding teman nyataku. Akhirnya, Mama mulai bertindak. Mama mengenalkanku dengan Yanti, teman SD yang rumahnya paling dekat denganku.

Yanti menyenangkan. Kami membuat rumah-rumahan bersama. Bermain didalamnya kemudian berjalan-jalan bersama dari siang hingga sore hari. Apakah saat itu perlahan teman imajinasiku menghilang?

Tidak..

Dengan percaya diri aku mengenalkan Teman Imajinasiku kepada Yanti.

“Aku tidak melihat mereka” protes Yanti

“Aku juga tidak, tapi menyenangkan jika kita berpura-pura melihatnya”

“Haha.. Kamu aneh win..” Katanya tertawa

“Ayolah.. Ini menyenangkan” kataku memaksa

Aku memperkenalkan rumah-rumah teman imajinasiku. Yanti hanya tertawa dan memanjat pohon itu. Aku mengajaknya pura-pura mengobrol dengan teman imajinasiku. Tapi Yanti bersikeras menghilangkan keberadaan mereka. Akhirnya, kami memutuskan untuk bermain ‘bipian’.

Apa itu bipian? Mungkin terdengar asing ya. Sebagian dari kalian mungkin menyebutnya ‘pepean’ tapi kami ‘urang banjar’ lebih senang menyebutnya bipian, yaitu mainan kertas yang berbentuk karakter wanita lengkap dengan pasangan baju-bajunya. Bagi kami, bipian bagai jenis boneka dua dimensi yang sangat menyenangkan untuk dimainkan.

Source: tokopedia

Mainan bipian sangat menyenangkan saat itu. Aku sangat ketagihan. Aku bahkan belajar menggambar lebih baik untuk dapat membuat salah satu karakter bipian. Saat itu, bipian menjadi tuangan nyata dari wujud teman imajinasiku. Ya, tadinya aku sering keluar dan memanjat pohon untuk berimajinasi. Kini, aku hanya butuh ruang kotak yang berisi kertas, pensil, spidol dan crayon. Saat itu, aku ingat dengan senyum kepuasanku dan berkata, “Lihatlah, kalian semua sudah menjadi nyata”

Aku berbeda, dan aku tetap mensyukuri itu..

Memiliki teman imajinasi adalah proses adaptasi psikologis masa kecilku. Aku mengingat hal itu sampai sekarang. Aku tak pernah merasa bahwa aku termasuk anak yang aneh karena suka tertawa sendiri dahulu. Masa kecilku bahagia dan ialah pembentuk diriku yang sekarang.

Baca juga: “Wajarkah Kehadiran Teman Imajinasi pada Anak”

Memang dampak dari teman imajinasi terbawa hingga besar. Dalam proses berteman, aku terbilang sangat pendiam dan selektif. Aku tau aku adalah karakter yang pemilih dan susah untuk dijadikan teman akrab. Saat SD hanya Yanti dan Wiwik yang menjadi teman dekatku. Seiring berjalan waktu mereka berubah. Sejak lulus SD, Yanti telah berpindah rumah dan jauh dariku. Dan sejak SMP Wiwik berubah menjadi lebih gaul dibandingkan denganku yang ‘begini-begini saja’.

Aku percaya, dalam setiap proses penciptaan Tuhan ia telah menanamkan karakter yang berbeda pada setiap manusia. Seperti aku yang lebih suka hidup diruang imajinasiku, selektif dalam berteman dan tidak suka keramaian berlebihan. Dan aku hanya berharap suatu hari dapat menemukan orang berkepribadian terbalik yang dapat merubah karakterku yang ‘parah’.

Tapi itu omong kosong. Sudah berapa banyak aku berteman dengan karakter yang berlawanan denganku? Pada akhirnya, aku hanya butuh karakter yang sama denganku untuk dapat melihat potensiku.

source: pinterest

Ialah suamiku, bukan teman imajinasiku..

Ia adalah sosok nyata dari gabungan karakter teman imajinasiku..

Ia adalah temanku sekarang dan selamanya.. 😊

9 Topik Obrolan Sensitif yang berpotensi menyebabkan Mommy War

9 Topik Obrolan Sensitif yang berpotensi menyebabkan Mommy War

Berekspresi memang merupakan salah satu kebutuhan batin seorang perempuan. Tanpa berekspresi, hidup perempuan tentu akan terasa hampa. Wujud dari ekspresi itu sangat bervariatif. Sebagian berekspresi melalui foto, sebagian dengan bernyanyi, sebagian melalui tulisan, sebagian lagi lebih menyukai berbicara.

Untuk menuangkan ekspresinya biasanya seorang perempuan lebih menyukai keberadaan pendapatnya di sebuah komunitas. Adapun sebagian lain juga lebih menyukai tuangan ekspresi melalui media sosial saja. Ruang obrolan merupakan kebutuhan yang hampir tak mungkin dihindari oleh seorang perempuan.

Topik Obrolan dari Perempuan Single, married, maupun seorang ‘Mommy‘ tentu berbeda. Sebagai seorang perempuan yang sudah menyandang gelar ‘Mommy’ beranak satu tentu aku lebih menyukai ruang obrolan dengan komunitas sesama mommy pula. Ya, segalanya berubah sejak menjadi seorang ibu. Status fb, galeri instaram, hingga curcolan kecil di ruang obrolan WA dan bbm sekarang dipenuhi dengan komunitas sesama ’emak-emak’.

Obrolan yang sehat adalah saat para anggota menghindari terjadinya konflik antar individu. Untuk menciptakan keakraban dan persahabatan antar komunitas maka sebaiknya kita menghindari topik ‘sensitif’ dalam obrolan.

Tidak sedikit lho, para emak-emak zaman now bertengkar diruang obrolan yang kemudian berlanjut dengan saling sindir menyindir di sosial media masing-masing. Efek selanjutnya yang terjadi adalah komunitas para emak menjadi tidak asik dan tidak nyaman lagi bagi anggotanya.

Nah, buat kamu yang berstatus emak-emak. Sebaiknya berhati-hati dengan 9 topik sensitif yang dapat memicu Mommy War seperti dibawah ini:

1. Topik ASI atau Sufor

“Anaknya kok dikasih sufor? kalo anakku sih kemaren ASI ekslusif loh sampai 6 tahun. Lanjut lagi deh minum ASI sampai 2 tahun”

“Anu Bund.. Ini anak adopsi, saya belum dapet Ibu Susuan buat ngasih dia ASI” 😅😅

“Ooooh…”

Eh, mending sih ya kalo ceritanya kayak diatas. Obrolan usai. Nah, gimana coba kalau ceritanya beda-beda?

Ada Ibu yang melahirkan secara caesar dan galau dengan ASI yang tak kunjung keluar, sementara Ibu tersebut terancam dengan gangguan psikologis babyblues. Trus kita nengok dia ceramah-ceramah ASI. Apa jadinya bun? Makin stress dia.

Ada Ibu yang memang sudah berusaha jungkir balik banting tulang rusuk sampai beli berbagai obat pelancar ASI tapi ASI tak kunjung keluar. Ada? Ada bunda..

Ada Ibu Pekerja yang dilanda dilema dengan pekerja rumah tangga ataupun ibu dan mertua yang tidak mau bekerja sama dengan program ASI ekslusif. Terus dia curhat. Eh, malah di ceramahin “berhenti kerja aja bun, perempuan itu harusnya bla bla bla” tanpa tahu cerita dibalik layar ibu tersebut.

Terus, salah ga komunitas pejuang ASI selama ini?

Enggak, ga salah. Komunitas itu bagus banget. Tapi perlu diingat bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk pemaksaan keadaan ideal terhadap kondisi seseorang. Akan lebih baik jika suatu komunitas membimbing para membernya dengan perkataan yang halus tanpa bully.

2. Topik Pekerjaan

“Ibu kerja dimana?”

“Anu, saya cuma Ibu Rumah Tangga”

Selanjutnya si Ibu melipir menjauh. Takut tersinggung kalau-kalau si ibu ditanya lagi tentang jenjang pendidikannya. Padahal yang nanya? Petugas kesehatan.. 😂

Ada ya begini. Baper aja kalo ditanya soal pekerjaan..😂

Sementara serangan bagi Ibu Pekerja lebih gencar disosial media. Maklum, emak rumahan sepertinya komunitasnya lebih besar kalau menyangkut komunitas sosmed.

Drama biasanya dimulai dengan cerita-cerita tragis tentang anak yang dititipkan pada pengasuhnya. Siapa yang paling banyak share? Emak rumahan tentunya. Sharing pertanda rasa syukur bahwa dia tidak bekerja dan dapat menjaga anaknya sendiri. Biasanya sebelum sharing, postingan dibumbui dengan kata-kata bijak perihal betapa mulianya emak rumahan yang mengabdikan hidupnya pada rumah tangga saja tanpa bekerja.

Bagus ga sih begini?

Ini sensitif loh bun.. 😅

Jika kita berada diposisi ibu pekerja tentu kita akan merasa galau sekali melihat postingan tersebut. Perasaan bersalah akan muncul bertubi-tubi. Padahal, setiap ibu itu punya pilihan masing-masing. Mau sebagai Full Time Mom maupun Working Mom. Mereka sama, tetaplah seorang ibu yang mencintai anaknya dan butuh dihargai bukan direndahkan pilihannya.

Maka, bersahabatlah kalian hei working mom dan full time mother. Kalian sama-sama luar biasa.

3. Topik Perkembangan Anak

“Anak saya umur 9 bulan kemaren udah bisa jalan loh bunda”

“Wah itu sih biasa, anak saya 9 bulan udah hapal pancasila”

“Anak saya bun, umur 9 bulan sudah bisa maen game edukasi marbel belajar huruf loh”

Dst.. Dst..

Anak saya apa kabar? Yang jalan belum bisa, pancasila ga hapal bahkan ga kenal huruf satu pun. Bisanya cuma berantakin rumah. Kok anak mereka pinter betul ya? Apa anak saya nurun saya semua ya jadi kayak gini? Apa mesti dibawa ke dokter anak?

😂

Familiar ya sama yang beginian. Kalau udah begini langsung deh si emak browsing tentang tumbuh kembang anak sesuai umurnya. Belum puas juga? Cari emak yang senasib atau bahkan dibawah standar perkembangan anak kita supaya hati lega.

Topik perkembangan anak ini juga termasuk topik sensitif loh. Banyak para bunda yang galau dengan pertumbuhan anaknya yang mungkin terlambat. Padahal, tiap anak itu spesial. Keterlambatan merupakan hal wajar dan merupakan keunikan tersendiri. Tidak perlu baper dan sensitif berlebihan dengan topik obrolan seperti ini.

4. Topik Homemade dan Instan

“Aku ga mau anakku jajan diluar, pokoknya semua makanannya aku yang bikinin. Soalnya jajan diluar itu bla bla bla”

“Aku juga, soalnya mereka suka over kalau nambahin vetsin. Itu kan ga baik. Mending pakai bla bla”

“Aku beli mie instan aja ga pernah. Beli ini itu di super market ga pernah.. Ssst.. Katanya itu bikin kanker loh”

Trus apa kabar emak yang dipojokan ngederin ini?

Yang ga punya waktu buat masak ini itu karena banyak kegiatan, yang malam-malam suka makan mie instan trus dipalakin anaknya, yang ga bisa denger bakso lewat bawaannya laper ajah. 😂

Apakah dia termasuk emak pemalas?

Apa jadinya kalau emak yang terlihat pemalas itu ternyata punya banyak kegiatan mulia? Yang karena padatnya jadwal kegiatannya maka ia terpaksa membeli bahan makanan instan. Yang karena rasa capeknya ia memanfaatkan jasa antar makanan saja.

Dilihat dari sisi kesehatan hal ini memang tidak baik. Tapi, jika saja kita dapat melihat ke sisi yang lebih luas..

Emak yang instan mungkin saja telah memutar roda perekonomian lebih baik. Karena ‘ketidakberdayaannya’ ia membeli makanan dari jualan makanan para emak yang membutuhkan uang, ia membeli makanan pada jasa antar yang membutuhkan uang. Apakah kadar usahanya sama dengan emak homemade? Sama saja..

Jadi, please jangan berlebihan saling merendahkan satu sama lain ya homemade mom and instan mom.. Kalian sama luar biasanya.. 😊

5. Topik Finansial

Ada tidak sih emak kepo yang suka nanya berapa pengeluaran sebulan? 😅

Ini kepo udah kebangetan ya menurutku.. Kalau mama atau mertua yang bertanya sih mungkin wajar. Tapi kalau yang nanya sesama emak-emak? Kenapa?

Alasan kuatnya adalah dia ingin tahu seberapa hemat sebenarnya dirinya dibanding orang lain. Sebenarnya jika pertanyaan tak berbuntut panjang, tentu ini adalah hal biasa. Tapi, yang namanya emak-emak pasti pertanyaannya beranak pinak. 😂

Pertanyaan ini sangat memicu mommy war jika sang penanya dan penjawab adalah working mom dan full time mom, pertanyaan ini juga sangat memicu mommy war jika tingkat ekonomi ibu berbeda. Sebisa mungkin batasi pertanyaan berbau finansial, kecuali para ibu memang berada pada seminar ekonomi maupun kegiatan lain yang berhubungan.

6. Topik Cara Melahirkan

“Kamu kemarin melahirkan normal atau caesar sih?

“Caesar Bun, anu…”

“Wah enak ya ga sakit, aku kemarin loh bla bla bla”

😅

Sering denger begini?

Padahal setiap ibu yang sudah melahirkan itu sama saja. Sama-sama ga utuh lagi. Yang satu perutnya punya bekas jahitan, yang satunya punya juga di letak yang berbeda. Sakitnya? Ya sama aja lah. Yang satu ketika proses melahirkan tidak merasa sakit tapi tahap selanjutnya sakitnya jangka panjang. Yang satu ketika proses melahirkan sangat sakit tapi tahap selanjutnya penyembuhan rasa sakit tergolong mudah. Ya sama aja lah.. 😂

Tapi topik ini termasuk topik sensitif juga loh kalau dibahas berkepanjangan. Bisa kelahi juga? Bisaa.. Makanya hati-hati.. 😅

7. Topik Kecantikan

Tau kenapa produk kecantikan itu tidak ada matinya?

Karena sejak single sampai menikah topik kecantikan memang topik hangat dikalangan wanita. 😂

Nah, jika saat remaja para cewek bersaing untuk mendapatkan kulit mulus dan wajah cantik. Maka saat menjadi emak-emak, percayalah persaingan selanjutnya adalah lomba kelangsingan tubuh pasca melahirkan. 😅

Emak-emak yang sudah dari sononya sulit untuk langsing pastinya ngiri tingkat langit dong kalau emak awet kurus bilang, “Aku udah punya anak 3 tapi berat badanku ya segini-gini aja”

Terus si emak gendut bilang, “kamu makan emang dikit kali”

Keselnya nih emak kurus malah bilang, “Aku banyak makan tapi ga gendut-gendut, kenapa ya?” *ditambah muka sok polos.. 😂

Jangan ya.. Jangan sekali-sekali singgung tentang fisik seorang emak-emak yang berubah drastis. Itu menyakitkan. Percayalah.. 😂

8. Topik Pilihan Pendidikan Anak

Belakangan ini mulai tercipta kalangan emak generasi baru. Namanya emak homeschooler. Itu tuh, emak yang milih anaknya buat homeschooling aja dan say no untuk sekolah diluar. Katanya sekolah diluar itu ga terlalu penting dan efeknya bla bla bla (bisa cari sendiri ya)

Aku sih tidak mengalami konflik ini didunia nyata karena disini metode homeschooling masih sedikit digunakan. Tapi, aku cukup baper melihat metode homeschooling yang dilancarkan para emak-emak penggiat homeschooling didunia maya. Kesannya, salah banget nyekolahin anak disini. 😂

Ya apa boleh buat. Homeschooling itu berat bagi emak-emak yang punya banyak pertimbangan khususnya pertimbangan ekonomi. Tapi tiap emak punya pilihan. Bagi emak sepertiku sekolah tetap hal yang penting, ijazah? Penting, terlepas itu kertas nanti berguna atau tidak. Masa-masa sekolah bagi emak sepertiku adalah masa yang penting.

9. Topik Vaksin

The Last.. Is… Yes.. Vaksin.. 😂

Mommy vaksin vs mommy antivaksin. Peperangan yang tiada ujungnya hingga sekarang. Masing-masing kuat dengan argumennya sendiri. Para antivaksin bersikeras bahwa vaksin itu haram dan mommy vaksin bersikeras bahwa vaksin itu wajib. Dan jika mereka bertemu diruang obrolan vaksin disosial media… Jreng jreng..

Walau termasuk sebagai mommy vaksin tapi aku sangat menjauhi jenis obrolan yang satu ini. Karena apa? Karena penjelasan apapun akan berputar putar tak berguna. 😅

Ah.. Sudahlah.. Emak lelah.. 😂

Ada yang lelah juga baca artikel ini? 😅

Ada yang punya pendapat “Ah, ini sih kalau dari sononya emaknya udah sensitif ya semuanya bikin tersinggung apapun jenis obrolannya”

Ya, memang tiap orang punya sisi sensitifnya masing-masing. Karena itu, sebagai makhluk sosial kita harus saling menghargai, menghormati dan tidak merendahkan pilihan yang lain. Artikel ini dibuat agar setiap ibu lebih berhati-hati saat berada dalam pembicaraan 9 topik sensitif diatas. 😊

Valentine Remaja vs Valentine Emak-Emak

Valentine Remaja vs Valentine Emak-Emak

“Mama, kenapa di super market sekarang banyak Coklat berbentuk hati?” celoteh anak saya sore itu.

Tentu saya tidak memperdulikannya. Yah, untuk apa dijelaskan jika samping kiri kanan ada kasir dan pengunjung lain. Jikapun pertanyaan itu di jawab sudah tentu pertanyaannya akan beranak pinak. Tidak ada habisnya meladeni pertanyaan anak berumur 4 tahun dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Diam adalah pilihan terbaik jika pertanyaan diajukan di tempat umum.

Satu..

Dua..

Tiga..

Kasir dan pengunjung lain mulai cekikikan mendengar suara ‘cempreng’ anakku bertanya tiada habisnya. Dalam hati aku bergumam, “Tidak dijawab saja pertanyaannya beranak, kalian sih belum tau pertanyaan lanjutan yang bakal dia tanyakan kalau yang ini saja sudah kujawab, ah biarlah mereka bingung melihat dan menilai ‘Bagaimana bisa Ibu berwajah datar punya anak seekspresif itu?’

Sampai akhirnya anakku berkata,”Ma, Coklat itu enak loh.. Farisha suka makan coklat”

😑

***

Apa harus kuterangkan pada si kecil bahwa didunia ini ada tanggal di kalender yang berbentuk hati dan berwarna pink? Ah, dulu aku senang sekali mewarnai tanggal itu. Mengkhayal, kira-kira tanggal itu aku akan dapat coklat tidak ya? 😂

Mereka menyebutnya Hari Kasih Sayang. Sebuah hari dimana coklat-coklat bertebaran dimuka bumi. Ya, aku yang dikenal sebagai anak yang cukup pelit untuk mengeluarkan uang tentu sangat jarang membeli coklat. Seingatku dulu coklat dibawah ini adalah coklat yang paling sering aku konsumsi. Maklum, edisi anak tahun 90an. Haha

Coklat jadul era tahun 90’an

Sementara coklat silver queen termasuk salah satu coklat elite dimana aku hanya membelinya selama setahun sekali untuk kumakan sendiri. 😂

Coklat elite era tahun 90-an

Tapi, menginjak umur 14 tahun aku mulai memakan coklat Silver Queen 2x dalam setahun. Silver Queen bagaikan lambang kasih sayang para remaja saat itu. Sehingga sempat terdengar lelucon konyol seperti..

“Barang siapa mendapatkan coklat silver queen dihari valentine maka berbahagialah, seseungguhnya anda termasuk orang yang laku” 😂

Siapa yang dapat? Aku? Ah enggak kok.. (malu) 😝

Ah biarlah.. Sebenarnya saya malu loh cerita hal konyol begini. Tapi biarlah ini menjadi semangat pembuka romantisme dibulan Februari dimana tulisan ini kupersembahkan sebagai kode_eh, maksudku kupersembahkan sebagai tulisan collaboration bareng Female Blogger of Banjarmasin (FBB) dengan tema Kisah Romantis. *Ciyeee… Uhuk

Emak punya kisah romantis?

Serius pasangan introvert punya sisi romantis juga? 😂

Jangan salah, begini-begini dulu dia pernah ngasih coklat loh. Packaging bentuk hati pula. Dibungkus pakai kotak yang dipenuhi dengan kertas-kertas kecil berbentuk hati layaknya salah satu scene cerita film the proposal itu pula. Perlu aku review disini? Jangan, terlalu sulit bagi para jomblo untuk membacanya. Kalian ga akan sanggup mblo.. 😂

Baca juga: Ketika Introvert Menikahi Introvert Pula

Saat remaja hingga pra nikah setidaknya coklat itu adalah coklat terindah yang pernah kuterima.. Coklat berbentuk hati berbungkus kotak berwarna pink dengan taburan kertas hati didalamnya. Tahun itu adalah tahun valentine terakhir bagi tahun ‘lajang’ ku.

***

Apa valentine itu perlu?

Perlukah sebuah hari kasih sayang?

Perlukah hari special untuk kasih sayang ditujukan maksimal pada hari itu saja?

Dan terakhir, bolehkah kita merayakan hari kasih sayang aka valentine?

Tak dipungkiri kita pasti senang dengan hal yang berbau spesial, termasuk diantaranya hari valentine. Ya, kapan lagi harga coklat mencapai titip terendah dengan packaging yang lucu-lucu? Kita pasti sangat menikmati hal itu bukan? Bahkan pasti ingin ikut membelinya.

Bagiku sendiri sangat penting mengungkapkan rasa kasih sayang ditanggal-tanggal yang spesial. Diantaranya adalah hari ulang tahun suami, hari ulang tahun anak, hari ulang tahunku hingga hari ulang tahun pernikahan. Rasanya seakan-akan rasa sayang pada hari itu menjadi berlipat-lipat banyaknya. Kita memerlukan semangat kasih sayang itu dengan adanya tanggal spesial berbentuk hati dikalender kita. Kita? Atau aku saja?

Ya, sampai suatu hari ketika masa remajaku sedang menggebu-gebu sebuah lembaran berita itu datang. Tentang asal usul hari valentine dan berbagai fakta dibalik hari valentine. Terus terang, bagi remaja polos pecinta coklat, warna pink dan kalender hati hal itu cukup membuat shock. Tapi, sebagai anak baik, tidak sombong dan rajin menabung maka aku menelan fakta valentine bulat bulat dan ikut meneriakkan, “Say No to Valentine!” dengan mata berapi-api. 😂

Saat Musim Remaja aku tak memiliki Kisah Romantis tapi..

Tapi valentine menyimpan sejuta kenangan bagiku. Ya, bulan Februari ini. Mungkin aku pernah bercerita bahwa sejak SMP aku mempunyai pergaulan yang tidak kusukai yang menyebabkan aku pernah pacaran tanpa sedikitpun rasa cinta didalamnya karena memang pikiranku saat itu masih polos.

Tapi di tahun pertamaku di SMP, aku mendapatkan coklat valentine pertamaku. Begitupun di tahun ke dua dan ketiga. Dan tahun ketiga adalah tahun terakhir kalinya aku bertekad tidak mau berhubungan apapun dengan valentine.

Karena pada tahun ketiga setelah seorang laki-laki memberiku coklat dan cincin itu, ia tidak ada lagi dimuka bumi ini.

Maksudnya? Ya, meninggal.

Tidak, ini tidak seperti sinetron pada umumnya itu. Sebab dan kronologis dari kejadian itu bahkan simpang siur. Dan yang melelahkan adalah aku harus menyandang status mantan arwah. Seakan-akan hal itu menyedihkan sekali. Status menyedihkan ini berlanjut hingga SMA yang membuatku terkesan seperti sang jomblo menyedihkan yang tidak bisa move on.

Aku tak punya kisah romantis di tahun remajaku yang berbunga-bunga. Saat rasa cinta mulai tumbuh, aku tak pernah mendapatkan coklat lagi. Ah, bukan.. Aku tidak berharap kok. Bukankah coklat di hari valentine itu haram? 😅

Menginjak Dewasa Coklat berbentuk hati itu Datang..

Ya, inilah lanjutan cerita tentang datangnya coklat hati dengan packaging ala scene film ‘the proposal’ yang dibintangi Sandra Bullock. Apakah aku harus mengatakan coklat itu ‘haram’ seperti ideologi yang masuk keotakku selama ini?

Ah tentu saja tidak, aku meloncat kegirangan. Setelah sekian lama, akhirnya aku dapat coklat lagi. 😂

Lanjutan dari kisah coklat ini berlanjut hingga tanggal pink selanjutnya dikalenderku. Diantaranya adalah ulang tahunku dan terakhir hari pernikahanku.

Aku mendapatkan buku dan buku lagi hingga akhirnya ‘hantaran’ dan ‘jujuran’ itu datang.

Valentine versi emak sekarang..

Tanggal berwarna pink saat remaja dan saat emak-emak itu sekarang sangat berbeda. Bagi remaja, hari valentine adalah hari curahan kasih sayang dengan simbolis hati, pink dan coklat. Jika saat remaja hari kasih sayang sangat dinantikan, maka bagi emak-emak hari valentine adalah hari biasa, bukanlah hari yang spesial.

Kecuali saat emak ke super market dan melihat harga coklat yang mulai diskon.. 😂

Karena emak punya banyak warna pink di kalender sekarang..

Hari Ulang Tahun Suami
Hari Ulang Tahun Anak
Hari Ulang Tahun Mama
Hari Ulang Tahun Pernikahan
Dan Hari-hari week end dimana kami dapat menikmati family time yang sebenar-benarnya..

Sudah berapa kali valentine yang berlalu begitu saja tanpa coklat? Lebih tepatnya kami sama-sama lupa dengan hari itu. Bahkan baru tahun ini aku ‘ngeh’ dengan valentine karena teguran Farisha di supermarket.

Masih suka bertanya-tanya, “Apa gerangan yang menyebabkannya dulu memberiku coklat dengan packaging semanis itu ya?”

Kupikir dia sama sepertiku yang menganggap tanggal 14 adalah hari spesial. Dan hari ini kuberanikan diri untuk bertanya padanya. Ehm, sebuah pertanyaan yang terinspirasi dari Farisha.

“Bah.. Di supermarket banyak coklat diskon loh”

“Oh ya? Ada apa emang?”

“Oh gapapa.. Coklat itu enak, apalagi yang bentuk hati”

Eaaa… Serangan blak blakan.. 😂

Tau dia bilang apa?

“Udah nikah ga musim lagi beli coklat hati.. Mending beli coklat batangan.. Rasanya sama aja”

Ah.. Ya sudahlah.. 😅

Sedih? Enggak, ga sedih seperti beberapa tahun silam dengan februari tanpa coklat. Karena remaja haus kasih sayang dan udah emak-emak itu kekenyangan. *sok teguh😝

Ya, sejak 2 Juni 2012 hidupku sudah berubah.

Setiap hari adalah hari kasih sayang..

Setiap hari adalah spesial walau tanpa sekotak coklat..

Tapi, bolehkah sesekali coklat berbentuk hati itu datang lagi? *eh..

Anak Pemilih dalam Berteman? Wajarkah? Apa Dampaknya?

Anak Pemilih dalam Berteman? Wajarkah? Apa Dampaknya?

Ada tidak sih emak-emak yang suka bertanya-tanya, “Kok anak saya mainnya sama itu itu melulu ya?”

“Kok kalau ditempat ramai dia nempel sama aku aja?”

“Kok kalau disuruh deket sama si anu dan si anu dia ga mau ya?”

“Wajar tidak ya jika anak saya pemilih dalam berteman?”

“Apa sifatnya itu tidak akan mempengaruhi adaptasinya nanti di lingkungan yang baru?”

Ada ga sih mom yang nanya hal beginian?

Kalau ada, yuk kita kompak dulu.. 😂

Galau ya mom, apalagi nih kalo anak kita yang tadinya TK mau pindah ke SD, yang tadinya SD mau pindah ke SMP, yang tiba-tiba mau pindah rumah karena bapaknya pindah kerja. Tiba-tiba khawatir gimana kalau anak kita galau tingkat dewa sampai ga bisa move on lama kayak film inside out. Saking galaunya malah ngajak emak-emak lain ikutan pindah juga khususnya sih yang anaknya dekat sama kita. Bener ga? Ngaku aja lah.. Hahaha..

Padahal nih ya.. Padahal sang emak perfeksionis sudah mencari-cari dan meneliti kira-kira sekolah mana yang bagus buat si kecil? Eh, pas ditanya temen akrabnya sekolah dimana dan tau ternyata tidak satu sekolah malah galau lagi.. 😂

Kenapa sih?

Kenapa sih terjadi kekhawatian tentang hal beginian? Khawatir kalau sifat pemilih yang ada pada anak kita akan terbawa dengan dampak psikologis jika terjadi perubahan teman dan lingkungan. Sebagai pembuka, berikut beberapa sebabnya yang saya analisis:

1. Mama terkenang masa lalu

Mama terkenang masa lalu bahwa perubahan lingkungan dengan sifat pemilih demikian pernah terjadi pada masa kecilnya dan berefek jangka panjang. Entah itu menjadi bersifat pendiam secara mendadak maupun merasa dikucilkan dilingkungannya yang baru karena hilangnya teman dan lingkungan yang lama. Dan tentu saja, mama khawatir nasib anaknya akan seperti dia kelak yang sulit atau bahkan tidak bisa move on.

2. Mama memiliki kepribadian melankolis maupun plegmatis.

Tidak dipungkiri bahwa mama yang memiliki kepribadian melankolis memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding mama sanguinis. Biasanya anak akan menurun dari orang tuanya yang menyebabkan anak bersifat selektif dalam berteman.

Selain mama melankolis, ada mama plegmatis yang suka merasa nyaman menjadi ‘pengikut’. Sehingga jika teman akrab mama ataupun teman akrab anak tidak deal dalam skema perubahan maka mama plegmatis akan membuntut pada pribadi yang dominan.

***

Kedua alasan diatas merupakan penyebab kekhawatiran berlebihan pada orang tua ke anak mereka akan sifat selektif anak dalam berteman. Hmm.. Sebenarnya wajar tidak sih jika anak pemilih dalam berteman? Haruskan kita membuatnya dan mengaturnya bahwa ia harus berteman akrab dengan semua anak?

Bagaimana kalau mereka tidak dapat seperti itu?

Pemilih itu wajar, moms..

Moms, tentu wajar jika anak kita memiliki satu atau dua tiga teman akrab bahkan membuat kelompok dengan temannya. Hal itu merupakan bentuk pembelajaran nyata mereka tentang mengenal populasi. Tahap ini pasti akan terjadi ketika anak sudah mengenal lingkungan, khususnya sekolah. Mereka akan berteman dengan yang mereka rasa ‘sejenis’ dengannya.

Pada tahap ini sangat jarang ada anak yang mau berteman dengan siapa saja, dalam artian mereka tidak memiliki ikatan yang dominan. Karena mereka berada dalam tahap belajar berteman.

Karena anak memerlukan ikatan dominan..

Secara psikologis, anak kecil lebih menyukai berteman dengan teman yang membuat mereka diterima dan merasa nyaman. Karena itu mereka memerlukan ikatan yang dominan dengan memiliki satu-dua atau tiga teman akrab untuk berbagi perasaan dan saling bermain.

Dampak dari ikatan dominan inilah yang menyebabkan anak kita lebih suka berteman dengan itu-itu saja. Karena ia merasa terlalu nyaman sehingga timbul perasaan baru yang dinamakan ‘setia’. Namun, masing-masing anak memiliki pribadi yang unik dalam memandang arti setia.

Kebanyakan anak yang melankolis menganggap kesetiaan adalah hal mutlak, dia konsisten untuk hanya berteman dengan ‘dia saja’

Kebanyakan anak yang sanguinis menganggap kesetiaan adalah keramaian bermain. Jika membosankan maka ‘jangan ditemani’.

Kebanyakan anak yang koleris menganggap kesetiaan adalah kepercayaan. Jika ada yang berkhianat maka ‘dia bukan pengikut yang baik’

Kebanyakan anak yang plegmatis mengganggap kesetiaan adalah mengikuti yang menyenangkan. Maka berusahalah terlihat menyenangkan untuk ‘dapat ditemani’

Sifat dan kepribadian yang unik pada anak inilah yang membuat ia memilig untuk memiliki ikatan dominan terhadap siapa yang ia inginkan. Nah moms, anakmu pribadi yang mana?

Mereka memilih ikatan yang membuatnya merasa nyaman..

Dalam beberapa kasus, ada anak kecil berjenis kelamin perempuan yang dekat dengan teman laki-laki. Kenapa? Karena ia merasa nyaman saat dekat dengan ayahnya dirumah. Hal ini juga dapat terjadi jika didalam lingkungan sekolah ia merasa memerlukan ‘perlindungan’. Namun, kasus ini termasuk jarang. Kebanyakan anak kecil lebih suka bergaul dengan sesama laki-laki maupun sesama perempuan.

Anak yang selektif dalam berteman itu ada positifnya loh..

Iya, serius lah.. Banyak dampak positif dari anak yang selektif dalam berteman. Apa aja sih?

1. Anak memiliki rasa setia

Ini tentu sudah jelas ya. Anak yang pemilih dalam berteman dan hanya suka menempel dengan itu-itu saja pastinya punya rasa setia.

Kebaikannya apa? Pastinya baik buat dijadiin calon mantu idaman karena pantang mendua… *loooh.. 😂

2. Anak memiliki rasa persahabatan

Sahabat itu beda loh dengan teman biasa. Karena teman biasa ibarat tokoh figuran dan sahabat itu ibarat pemeran utama juga. Boleh ga sih beda-bedain gini? Kok kesannya pilih pilih? *lah kok nanya lagi? Udah jelas kan diatas jawabannya? He

Rasa persahabatan ini adalah awal dari koneksi baik untuk anak. Persahabatan yang baik akan mengajarkan anak untuk memahami nilai kebersamaan seperti kerja sama, mengalah, rela berkorban, dan lain-lain.

3. Anak belajar berhati-hati

Setuju ga sih kalau anak pemilih itu cenderung lebih hati-hati? Seakan ada lampu warning langsung menyala saat melihat orang yang tak dia sukai. Dan dia menjauh.

Mungkin ini adalah hasil dari didikan orang tua dirumah yang menyuruhnya untuk selalu berhati-hati. Mungkin pula ini bawaan dari psikologis anak yang sudah dari sononya dia suka curiga. Kalau aku melihat anak yang begini sih selalu salut. Pastinya dia anak cerdas yang punya tingkat waspada yang tinggi.

Positifnya apa? Anak begini susah diculik buu.. Hahhaha.. Bawaannya curiga terus. 😂

4. Anak belajar mengembangkan potensi khususnya

Pernah tidak kita mengamati bahwa anak yang suka bermain dengan berkelompok itu dia memiliki potensi khusus yang terorganisir loh.

Iya, soalnya ini bentuk adaptasi psikologisnya juga. Saat berteman ia akan melihat bahwa temannya memiliki kemampuan begini dan begitu. Lalu, sebagai anak yang ingin diakui kelompoknya tentu ia akan mengembangkan salah satu bakatnya untuk dapat dilihat. Ini kalau anak melankolis, sanguinis dan koleris ya.. Kalau plegmatis biasanya lebih suka meniru kemampuan temannya.

Jadi, siapa bilang anak yang pemilih dan suka bermain dengan yang itu-itu saja adalah perilaku negatif? Banyak segi positifnya juga loh..

Tapi, selektif juga ada negatifnya loh..

Kapan sih perilaku selektif dapat berdampak negatif? Berikut ulasannya:

1. Saat ia berteman dengan yang tidak seharusnya

Berteman bagaikan memilih parfum, jika kita salah memilih maka kita akan memiliki bau yang sama.

Setuju?

Selektif dalam berteman akan berdampak sangat negatif jika anak salah memilih teman. Kebanyakan anak yang memiliki pribadi plegmatis biasanya tidak sadar bahwa ia memilih teman yang salah karena ia adalah peniru ulung. Sangat dibutuhkan perhatian orang tua dalam melihat pergaulan anaknya apalagi diusia dini.

2. Saat kelompoknya sangat dominan dilingkungannya sehingga dapat merendahkan teman lainnya dan mengakibatkan kesenjangan

Pernah tidak sih sewaktu kita sekolah dulu kita melihat beberapa ‘genk’ yang terkesan ‘tinggi’?

Pasti pernah dong ya.. Genk kumpulan ‘Anak orang Kayah’, genk kumpulan ‘Anak berwajah Artis’ hingga ‘Genk Anak Culun dan Pintar’. Negatif tidak sih?

Negatif kalau anak kita termasuk kedalam sana.. 😂

Anak kita masuk genk artis, kita yang rempong memodali mereka.

Anak kita masuk genk Culun, kita yang rempong menumbuhkan rasa percaya dirinya dari ‘bully’ sang genk artis.

Haduh, rempong ya emang kalau sudah ketahap ini. 😂

Intinya, sebagai orang tua kita harus peka dengan teman akrab anak kita. Jangan sampai ia salah masuk genk dan membawa dampak negatif dengan kesenjangan sosial dilingkungannya.

3. Over-setia yang menyebabkan dia sulit beradaptasi dilingkungan lain

Ini? Anak emak banget atau emak waktu kecil banget sih? 😂

Iya, memang ada loh anak yang sukanya dekat dan menempel dengan pribadi yang itu saja. Ia terlalu merasa nyaman dengan temannya tersebut sehingga sulit berteman dengan yang lain. Biasanya anak berkepribadian melankolis dan plegmatis turunan akan seperti ini. Negatifnya dia akan sulit bergaul dilingkungan berbeda dan teman yang sepenuhnya berbeda pula.

Lantas, Bagaimana cara adaptasi anak selektif dilingkungan baru?

Tentunya kita sebagai orang tua harus berperan aktif dalam memantau lingkungan anak. Sebelum kita memutuskan ingin berpindah kelingkungan yang baru dan berhadapan dengan dilematis anak maka kita harus mencari tahu sebab dari sifat pemilhnya itu. Kebanyakan anak pemilih dalam berteman pasti memiliki kriteria khusus untuk teman akrabnya. Jadi, hal yang harus kita lakukan adalah:

1. Jadilah teman baginya

Beberapa anak yang berpindah lingkungan tentu akan merasa asing dengan lingkungan barunya. Maka, jadilah teman untuknya sementara waktu. Dengan begitu ia tidak akan terlalu merasa sendirian. Namun, tentu tidak baik juga kalau dia harus membuntuti kita kemana saja karena rasa asing itu, maka..

2. Carilah teman yang baik untuknya

Pelajarilah kriteria teman akrabnya dahulu lalu carilah teman yang mirip seperti temannya dahulu di lingkungan yang baru. Tidak ada? Pasti ada. Jika kita merasa temannya yang mirip sudah tergabung dalam ‘genk khusus’ maka bergabunglah sejenak.

3. Bertemanlah bersama dengan ia dan temannya

Ya, ini mungkin agak kekanakan. Tapi punya jiwa sedikit childish itu kadang penting juga. Dengan begitu kita akan tau karakter dari teman-temannya. Kadang, keterlibatan orang tua juga memiliki dampak positif loh asalkan kita benar-benar bisa menjadi teman bagi mereka.

Point ini harus dikerjakan dengan benar. Karena jika point ini berlebihan mungkin anak akan semakin dijauhi karena kita ikut campur dalam urusan pembelaan dsb.

4. Buatlah hoby yang menyenangkan untuknya

Yes, the last thing is a hoby..

Jika anak masih dirasakan sulit beradaptasi karena sifat selektifnya maka carilah hoby untuknya. Hoby dapat membuat passion pada anak loh bunda. Jika hobynya berkembang menjadi sebuah keterampilan khusus maka teman akan datang dengan sendirinya dan anak akan merasa dihargai di lingkungannya.

Artikelnya panjang?

Anggap emak sedang semangat menulis setelah beberapa hari gak update. Hihi..

Happy Parenting Moms!

Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

“Wadai Untuk Apaan? Untukmu? Untukku”

“Namanya ‘Untuk’ bukan untukmu-untukku”

“Itu serius namanya ‘Untuk’ ? Siapa yang kasih nama sih?”

“Ya siapa lagi kalo bukan ‘Urang Banjar'” 😅

“Emangnya gimana sih rasanya Wadai Untuk itu?”

(Ngeliatin Wadai Untuk)

“Oalaaaah.. Ini sih namanya Roti Goreng Mbak Yuuu…”

“Coba deh rasain dulu.. Ada yang beda loh dari Roti Goreng”

????

***

Ya, itu dia kilasan cerita saat pertama kali aku memperkenalkan ‘Wadai Untuk’ dengan salah satu temanku yang bukan orang banjar. Secara spontan dia langsung bilang, “Ini sih namanya Roti Goreng”

Memang penampakan dan tekstur dari ‘Wadai Untuk’ ini mirip sekali dengan Roti Goreng hampir tidak ada bedanya. Tapi jika kalian jeli maka sebenarnya keduanya berbeda loh teman.

Untuk klasik ala urang banjar diolah dengan bahan biang yang berbeda. Rasanya lebih manis dibanding dengan roti goreng pada umumnya. Selain itu bahan yang tidak ketinggalan adalah Santan yang membuat rasanya gurih. Hmm, sepertinya hampir semua Wadai Khas Banjarmasin mengandung santan ya.

Karena rasanya lebih manis dan teksturnya lebih padat dibanding roti goreng pada umumnya maka dipastikan dalam pembuatannya memakai lebih banyak gula. Ya, urang banjar itu suka manis. Lihat saja kue khas Banjarmasin pasti mengandung banyak gula dan tidak ketinggalan si untuk ini.

Nah, karena pemakaian gula yang lebih banyak pula lah maka proses fermentasi dari untuk sedikit berbeda dibanding roti goreng. Skill baking pada umumnya sudah mengajarkan padaku bahwa fungsi gula dalam proses fermentasi adalah sebagai sumber energi bagi ragi. Gula dapat memberikan rasa manis dan warna kecoklatan (golden brown) pada roti. Jumlah gula untuk fermentasi roti normalnya adalah ± 2%. Sementara bagi pembuatan ‘Wadai Untuk’ jumlah gula diberikan 2x lipat lebih banyak.

Apa efeknya? Efek dari penambahan gula dengan kadar ragi yang sedikit adalah terganggunya proses fermentasi. Nah, masalah? Tidak, inilah yang menyebabkan ‘Wadai Untuk’ berbeda dengan Roti Goreng pada umumnya. Efek dari lebihnya penambahan gula ini adalah proses fermentasi roti berjalan lebih lama dan tekstur dari roti lebih padat dan kokoh. Berbeda dengan roti goreng umum yang empuk, maka ‘Wadai Untuk’ mempunyai tekstur lebih padat dengan daya tahan melebihi Roti Goreng pada umumnya. Warna dari wadai untuk juga lebih coklat karena banyaknya kadar gula menyebabkan proses penggorengan membuatnya cepat coklat.

Karena proses fermentasi dari ‘Wadai Untuk’ cukup lama maka biasanya Urang Banjar membuat adonan untuk di malam hari dan menggorengnya dipagi hari. Kue ini sudah umum sekali dijual dipinggiran kota Banjarmasin. Sangat sedap dimakan saat dalam keadaan panas.

Ingin tahu Resep dan Cara membuatnya? Yuk, Intip..

Wadai Untuk Khas Banjarmasin

Bahan dough:

250 gr tepung terigu protein sedang

1 btr kuning telur

1/2 sdt garam

4 sdm gula pasir

1 sdt fermipan

Santan kental secukupnya (saya pakai 20 ml kara+ sedikit air)

2 sdm margarine

Bahan Isian

Sebenarnya Wadai Untuk Klasik ala Urang Banjarmasin zaman dulu memiliki isian berupa Inti (campuran kelapa parut dan gula merah), Pisang Talas, Kacang Hijau Manis dan Kacang Tanah Manis yang dihaluskan. Tapi, karena perkembangan zaman selera orang pun mulai berubah. Untuk Banjarmasin kini telah memiliki varian isi yang lebih banyak. Nah, keluargaku sendiri lebih suka jika bahan isiannya berupa Coklat Batang, Keju Mozzarella, dan Sosis.

Cara membuat:

Pertama-tama kita harus membuat ‘anakan’ adonan untuk ini. Yah, begitulah orang bahari menyebutnya. Kalau versi emak modern sih hal ini dilakukan untuk tes ragi. Apakah ragi masih berfungsi atau tidak?

Caranya dengan mencampur 1 sdt ragi dengan 1 sdt gula dan sedikit air hangat. Kalau 10 menit kemudian raginya berbusa, berarti ini dapat dipakai. Kalau tidak? Berarti ragi sudah tak dapat dipakai. 😊

Campurkan 1 kuning telur dan gula aduk hingga gula menjadi halus. Setelah itu masukkan tepung sedikit saja. Aduk hingga rata dan masukkan larutan ragi yang diolah tadi. Aduk-aduk dan masukkan santan kental sedikit demi sedikit bergantian dengan tepung sambil terus diuleni. Lakukan hingga adonan sedikit kalis.

Terakhir, masukkan garam dan mentega. Banting-banting dengan lembut adonan hingga tidak lengket ditangan, elastis dan luwes. Terakhir, tutup adonan dengan kain dan biarkan kurang lebih 5-6 jam.

Bentuk adonan sesuai selera dan beri isian. Lumuri kembali dengan tepung lalu Biarkan 30 menit.

Goreng adonan untuk hingga coklat atau sedikit kecoklatan. Berhubung anakku tidak suka dengan penampakan kue yang terlalu coklat maka aku hanya menggorengnya hingga setengah coklat. Nah, jika sudah angkat, tiriskan dan sajikan selagi panas.

Selamat mencoba!

Happy Baking!

IBX598B146B8E64A