Valentine Remaja vs Valentine Emak-Emak

Valentine Remaja vs Valentine Emak-Emak

“Mama, kenapa di super market sekarang banyak Coklat berbentuk hati?” celoteh anak saya sore itu.

Tentu saya tidak memperdulikannya. Yah, untuk apa dijelaskan jika samping kiri kanan ada kasir dan pengunjung lain. Jikapun pertanyaan itu di jawab sudah tentu pertanyaannya akan beranak pinak. Tidak ada habisnya meladeni pertanyaan anak berumur 4 tahun dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Diam adalah pilihan terbaik jika pertanyaan diajukan di tempat umum.

Satu..

Dua..

Tiga..

Kasir dan pengunjung lain mulai cekikikan mendengar suara ‘cempreng’ anakku bertanya tiada habisnya. Dalam hati aku bergumam, “Tidak dijawab saja pertanyaannya beranak, kalian sih belum tau pertanyaan lanjutan yang bakal dia tanyakan kalau yang ini saja sudah kujawab, ah biarlah mereka bingung melihat dan menilai ‘Bagaimana bisa Ibu berwajah datar punya anak seekspresif itu?’

Sampai akhirnya anakku berkata,”Ma, Coklat itu enak loh.. Farisha suka makan coklat”

😑

***

Apa harus kuterangkan pada si kecil bahwa didunia ini ada tanggal di kalender yang berbentuk hati dan berwarna pink? Ah, dulu aku senang sekali mewarnai tanggal itu. Mengkhayal, kira-kira tanggal itu aku akan dapat coklat tidak ya? 😂

Mereka menyebutnya Hari Kasih Sayang. Sebuah hari dimana coklat-coklat bertebaran dimuka bumi. Ya, aku yang dikenal sebagai anak yang cukup pelit untuk mengeluarkan uang tentu sangat jarang membeli coklat. Seingatku dulu coklat dibawah ini adalah coklat yang paling sering aku konsumsi. Maklum, edisi anak tahun 90an. Haha

Coklat jadul era tahun 90’an

Sementara coklat silver queen termasuk salah satu coklat elite dimana aku hanya membelinya selama setahun sekali untuk kumakan sendiri. 😂

Coklat elite era tahun 90-an

Tapi, menginjak umur 14 tahun aku mulai memakan coklat Silver Queen 2x dalam setahun. Silver Queen bagaikan lambang kasih sayang para remaja saat itu. Sehingga sempat terdengar lelucon konyol seperti..

“Barang siapa mendapatkan coklat silver queen dihari valentine maka berbahagialah, seseungguhnya anda termasuk orang yang laku” 😂

Siapa yang dapat? Aku? Ah enggak kok.. (malu) 😝

Ah biarlah.. Sebenarnya saya malu loh cerita hal konyol begini. Tapi biarlah ini menjadi semangat pembuka romantisme dibulan Februari dimana tulisan ini kupersembahkan sebagai kode_eh, maksudku kupersembahkan sebagai tulisan collaboration bareng Female Blogger of Banjarmasin (FBB) dengan tema Kisah Romantis. *Ciyeee… Uhuk

Emak punya kisah romantis?

Serius pasangan introvert punya sisi romantis juga? 😂

Jangan salah, begini-begini dulu dia pernah ngasih coklat loh. Packaging bentuk hati pula. Dibungkus pakai kotak yang dipenuhi dengan kertas-kertas kecil berbentuk hati layaknya salah satu scene cerita film the proposal itu pula. Perlu aku review disini? Jangan, terlalu sulit bagi para jomblo untuk membacanya. Kalian ga akan sanggup mblo.. 😂

Baca juga: Ketika Introvert Menikahi Introvert Pula

Saat remaja hingga pra nikah setidaknya coklat itu adalah coklat terindah yang pernah kuterima.. Coklat berbentuk hati berbungkus kotak berwarna pink dengan taburan kertas hati didalamnya. Tahun itu adalah tahun valentine terakhir bagi tahun ‘lajang’ ku.

***

Apa valentine itu perlu?

Perlukah sebuah hari kasih sayang?

Perlukah hari special untuk kasih sayang ditujukan maksimal pada hari itu saja?

Dan terakhir, bolehkah kita merayakan hari kasih sayang aka valentine?

Tak dipungkiri kita pasti senang dengan hal yang berbau spesial, termasuk diantaranya hari valentine. Ya, kapan lagi harga coklat mencapai titip terendah dengan packaging yang lucu-lucu? Kita pasti sangat menikmati hal itu bukan? Bahkan pasti ingin ikut membelinya.

Bagiku sendiri sangat penting mengungkapkan rasa kasih sayang ditanggal-tanggal yang spesial. Diantaranya adalah hari ulang tahun suami, hari ulang tahun anak, hari ulang tahunku hingga hari ulang tahun pernikahan. Rasanya seakan-akan rasa sayang pada hari itu menjadi berlipat-lipat banyaknya. Kita memerlukan semangat kasih sayang itu dengan adanya tanggal spesial berbentuk hati dikalender kita. Kita? Atau aku saja?

Ya, sampai suatu hari ketika masa remajaku sedang menggebu-gebu sebuah lembaran berita itu datang. Tentang asal usul hari valentine dan berbagai fakta dibalik hari valentine. Terus terang, bagi remaja polos pecinta coklat, warna pink dan kalender hati hal itu cukup membuat shock. Tapi, sebagai anak baik, tidak sombong dan rajin menabung maka aku menelan fakta valentine bulat bulat dan ikut meneriakkan, “Say No to Valentine!” dengan mata berapi-api. 😂

Saat Musim Remaja aku tak memiliki Kisah Romantis tapi..

Tapi valentine menyimpan sejuta kenangan bagiku. Ya, bulan Februari ini. Mungkin aku pernah bercerita bahwa sejak SMP aku mempunyai pergaulan yang tidak kusukai yang menyebabkan aku pernah pacaran tanpa sedikitpun rasa cinta didalamnya karena memang pikiranku saat itu masih polos.

Tapi di tahun pertamaku di SMP, aku mendapatkan coklat valentine pertamaku. Begitupun di tahun ke dua dan ketiga. Dan tahun ketiga adalah tahun terakhir kalinya aku bertekad tidak mau berhubungan apapun dengan valentine.

Karena pada tahun ketiga setelah seorang laki-laki memberiku coklat dan cincin itu, ia tidak ada lagi dimuka bumi ini.

Maksudnya? Ya, meninggal.

Tidak, ini tidak seperti sinetron pada umumnya itu. Sebab dan kronologis dari kejadian itu bahkan simpang siur. Dan yang melelahkan adalah aku harus menyandang status mantan arwah. Seakan-akan hal itu menyedihkan sekali. Status menyedihkan ini berlanjut hingga SMA yang membuatku terkesan seperti sang jomblo menyedihkan yang tidak bisa move on.

Aku tak punya kisah romantis di tahun remajaku yang berbunga-bunga. Saat rasa cinta mulai tumbuh, aku tak pernah mendapatkan coklat lagi. Ah, bukan.. Aku tidak berharap kok. Bukankah coklat di hari valentine itu haram? 😅

Menginjak Dewasa Coklat berbentuk hati itu Datang..

Ya, inilah lanjutan cerita tentang datangnya coklat hati dengan packaging ala scene film ‘the proposal’ yang dibintangi Sandra Bullock. Apakah aku harus mengatakan coklat itu ‘haram’ seperti ideologi yang masuk keotakku selama ini?

Ah tentu saja tidak, aku meloncat kegirangan. Setelah sekian lama, akhirnya aku dapat coklat lagi. 😂

Lanjutan dari kisah coklat ini berlanjut hingga tanggal pink selanjutnya dikalenderku. Diantaranya adalah ulang tahunku dan terakhir hari pernikahanku.

Aku mendapatkan buku dan buku lagi hingga akhirnya ‘hantaran’ dan ‘jujuran’ itu datang.

Valentine versi emak sekarang..

Tanggal berwarna pink saat remaja dan saat emak-emak itu sekarang sangat berbeda. Bagi remaja, hari valentine adalah hari curahan kasih sayang dengan simbolis hati, pink dan coklat. Jika saat remaja hari kasih sayang sangat dinantikan, maka bagi emak-emak hari valentine adalah hari biasa, bukanlah hari yang spesial.

Kecuali saat emak ke super market dan melihat harga coklat yang mulai diskon.. 😂

Karena emak punya banyak warna pink di kalender sekarang..

Hari Ulang Tahun Suami
Hari Ulang Tahun Anak
Hari Ulang Tahun Mama
Hari Ulang Tahun Pernikahan
Dan Hari-hari week end dimana kami dapat menikmati family time yang sebenar-benarnya..

Sudah berapa kali valentine yang berlalu begitu saja tanpa coklat? Lebih tepatnya kami sama-sama lupa dengan hari itu. Bahkan baru tahun ini aku ‘ngeh’ dengan valentine karena teguran Farisha di supermarket.

Masih suka bertanya-tanya, “Apa gerangan yang menyebabkannya dulu memberiku coklat dengan packaging semanis itu ya?”

Kupikir dia sama sepertiku yang menganggap tanggal 14 adalah hari spesial. Dan hari ini kuberanikan diri untuk bertanya padanya. Ehm, sebuah pertanyaan yang terinspirasi dari Farisha.

“Bah.. Di supermarket banyak coklat diskon loh”

“Oh ya? Ada apa emang?”

“Oh gapapa.. Coklat itu enak, apalagi yang bentuk hati”

Eaaa… Serangan blak blakan.. 😂

Tau dia bilang apa?

“Udah nikah ga musim lagi beli coklat hati.. Mending beli coklat batangan.. Rasanya sama aja”

Ah.. Ya sudahlah.. 😅

Sedih? Enggak, ga sedih seperti beberapa tahun silam dengan februari tanpa coklat. Karena remaja haus kasih sayang dan udah emak-emak itu kekenyangan. *sok teguh😝

Ya, sejak 2 Juni 2012 hidupku sudah berubah.

Setiap hari adalah hari kasih sayang..

Setiap hari adalah spesial walau tanpa sekotak coklat..

Tapi, bolehkah sesekali coklat berbentuk hati itu datang lagi? *eh..

Komentari dong sista
3 Shares

11 thoughts on “Valentine Remaja vs Valentine Emak-Emak

  1. Wah, valentine days. Beruntunglah aku tidak pernah merayakannya. Kisah cinta2anku tidak pernah menyerempet ke valentine days. Btw, Farisha lucu banget. Dia pengen dibelikan cokelatnya ternyata =D

  2. Enaknyaaa…aku bahkan di hari ultahku sendiri ga dappet coklat deh.. Oya, ntar tanggal pink nya nambah lagi deh ya kalo lahir personil baru di rumah dan artinya nambah lagi coklatnya.. Yeay..

  3. Ah, betul.. Andai dapet coklat pun si emak paling dapet 1/4 ajah.. 3/4nya masuk kemulut anak.. Heu..

  4. Wah, ini enaknya jd ibu.. Beli coklat suka2.. Klo ulun msh mikir budget lumayan buat beli ikan.. *mak ngirit.. Wkwk..tp coklat zaman dulu it emg bikin kangen loh bu.. Skrg andai ada pun rasanya udah berubah.. Huuu

  5. Kode nih… Siapa tahu habis baca ini paksunya ngasih sekotak cokelat lagi ya? Tapi kali ini pastinya si cokelat bakalan dimakan bagi-bagi sama anak ^^

  6. Beda umur beda fokus ya mba…dulu cokelat aja bisa jadi lambang romantis. Sekarang udah lain, perhatian, kasih sayang, belaian, bahkan waktu juga bisa jadi lambang romantis (family time misal), selain uang bulanan tentunya *eh

  7. Aku suka pink. Suka coklat jugaaa. Bener deh Win tentang coklat elite yang kamu tulis. Dulu berharap banget dapat coklat tersebut. Sekarang aku bisa membelinya kapanpun aku mau..hihi. biasanya pas PMS aku kayak ngidam pengen makan coklat. Jadi, sebulan sekali mesti beli coklat. Makannya sembunyi2 biar gak dimintai anak. Haha..emak pelit.
    Bukan pelit sih sebenarnya.. aku takut anakku sakit gigi hbs makan coklat. Kadang sesekali kubeliin.

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A