Browsed by
Category: Self Improvement

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

“Setiap orang akan berubah, lihatlah.. Pohon saja tumbuh.. Rumput saja selalu tumbuh seberapapun seringnya ia dipotong..” Kata seseorang padaku.

“Ya, tapi kurasa perubahan itu bukan hanya jenis pertumbuhan saja. Kadang memang ada sesuatu yang cukup berubah dari segi warna dan bentuk lalu selesailah urusannya..” Sahutku membela diri.

“Tapi biarpun begitu, semuanya berjalan. Tidak pernah sesuatu hal berguna akan tamat begitu saja. Seperti halnya buku. Bagi penulisnya, buku itu mungkin sudah tamat. Tapi manfaatnya akan terus mengalir. Kurasa tidak mungkin ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan tanpa perubahan sedikitpun hingga tak ada manfaat sedikitpun.”

Aku menatap dua mata penuh yang penuh optimis itu. Tak pernah sebelumnya aku merasakan aura sedemikian nyaman saat aku mulai cengeng. Saat itulah aku memutuskan hal yang terbesar dalam hidupku.

Aku ingin menjadi energi dalam setiap langkahmu..

Karena di dunia ini.. Hanya kamu satu-satunya orang yang percaya dengan kemampuanku..

***

Menjadi Ibu adalah fase perubahan terbesar nomor 3 dalam hidupku. Untuk nomor 1 dan 2 adalah rahasia. Karena kedua perubahan masa lalu itu adalah perubahan termanis sekaligus terburuk. Tak apa, tiap orang tentu punya masa kelamnya masing-masing. Dan aku ingin bercerita tentang perubahanku sekarang. Ya, perubahan sejak menjadi Ibu.

Awalnya aku mengira sejak awal menyandang status Ibu maka aku akan menjadi wanita paling sempurna. Ya, seakan lengkap sudah tujuan hidup ini. Ah, ternyata menjadi Ibu itu sulit. Aku kira awalnya, suatu saat aku akan menjadi Ibu yang sempurna. Ternyata, aku merasakan hal sebaliknya dalam prosesku menjadi Ibu.

Hmm.. Inikah titik terendah dalam hidupku?

Ya, seharusnya titik kebahagiaan seorang wanita itu ketika ia sudah menjadi Ibu. Ternyata tidak, justru itu awal dari konflik kehidupan sesungguhnya. Banyak cerita yang telah aku alami sejak menjadi Ibu.

Baca juga: Baby Blues, aku mengalaminya

Baca juga: Sepenggal Cerita tentang Ibu yang mencari kebahagiaan

Baca juga: Please, aku bosan jadi IRT

Baca juga: Revolusi 2018, Menjadi Pribadi yang seimbang

Sudah membaca semuanya? *ah, ga penting.. Hahaha 😂

Percayalah, jika kalian melihat judul blog shezahome dengan mengernyitkan dahi maka tidak denganku..

Blog shezahome aku buat sebagai tuangan wadah untuk berevolusi, karena itu judulnya “Proyek Evolusi Mamah Muda”. Blog ini berisi segala tuangan ekspresi dengan harapan suatu hari nanti aku dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan hari ini, aku ingin membuat penghargaan kecil untuk diriku sendiri. Ya, sebuah tulisan “curcolan lagi” yang merupakan hasil dari gabungan-gabungan pujian dari sang suami tercinta. *mana gayung? Lebay amat yah.. 😂

Kurasa hal ini perlu ya. Mengukur sudah sejauh mana sebenarnya perubahan diri? Nah, berikut adalah perubahan-perubahan positif yang aku rasakan sejak menjadi Ibu:

1. Aku menjadi Mandiri

Sejak menjadi Ibu, aku belajar untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan siapapun. Mungkin hanya hal kecil tapi ini adalah perubahan besar untukku yang dulunya merupakan anak perempuan satu-satunya diantara 4 bersaudara. Perubahan kecil ini dimulai dari menyingkirkan rasa takutku akan dunia sosial dan ketergantunganku dengan sosok Mama.

Dulu, aku sangat mengekor pada mama. Ya, hingga remaja. Hal ini mungkin karena aku merasa mama adalah satu-satunya teman untukku di rumah. Hmm, ya aku tidak terlalu akrab dengan saudara laki-lakiku. Hingga hal sepele seperti mendaftar les dan bla bla mama selalu mendampingiku. Aku tidak peduli di cap sebagai anak mama. Tapi karena hal negatif yang terus berkelanjutan ini maka aku sedikit takut dengan dunia sosial.

Tapi sejak memiliki anak? Entah kenapa rasa malu itu langsung muncul. Aku malu jika kemana-mana harus bersama mama. Sampai membawa anak Imunisasi saja dengan mama? Hallo? Haha..

Memutuskan Ikatan yang tidak biasa dengan mama telah membuatku berubah menjadi sosok yang mandiri.

2. Aku belajar arti Memberi tak hanya menerima

Kasih Ibu kepada Beta..

Tak terhingga sepanjang masa..

Hanya memberi.. Tak harap kembali..

Bagai Sang surya menyinari dunia..

Dulu, aku hanya bisa menyanyikan lagu ini sambil tersenyum melihat wajah lelah Mama. Tentu saja lagu ini tak aku nyanyikan hingga besar. Aku sewaktu kecil begitu jujur dan polos dalam mengungkapkan perasaanku. Namun menginjak usia dewasa, aku mulai malu mengungkapkan perasaan sayang pada Mama dengan ekspresi berupa nyanyian atau pujian. Entahlah sejak kapan aku begitu berubah menjadi non ekspresif seperti itu.

Kini, aku telah merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu. Menjadi orang yang ‘hanya memberi’ dan tak mengharapkan balasan apapun. Ya, itu betul.. Menjadi Ibu itu tak mengharapkan imbalan berupa materi atau hal yang prestise. Tapi, kiranya aku salah..

Saat anakku mulai besar dan dapat bernyanyi serta memujiku, aku merasakan betapa besar energi rasa sayang dari pujian itu mengalir pada semangatku. Aku senang sekali sekaligus merasa menyesal.

Menyesal kenapa saat beranjak dewasa aku tak semanis wujud kecilku dulu. Betapa lelah mama telah membesarkanku namun balasannya hanyalah wujud flat dari ekspresiku yang merupakan kebalikan dari perasaanku.

Kini, sejak menjadi Ibu. Aku mengerti perasaan itu. “Hanya memberi.. tak harap kembali..

3. Aku menjadi serba bisa

Sewaktu remaja dulu, apakah aku pandai memasak?

Tidak, masakanku hancur rasa dan hancur segalanya.

Sewaktu remaja dulu, apakah aku jijik melihat pup n pee bayi?

Ya, walau dulu aku memiliki adik saat umur 8 tahun. Tapi setiap melihat adikku pi*is aku selalu bergumam ‘hiiiiiiy.. Jijik’

Sewaktu remaja dulu, bisakah aku membersihkan rumah sambil mencuci dan memasak dalam waktu bersamaan?

Tidak bisa, karena tanganku sibuk dengan chit chat dunia maya dan tugas. Bahkan menyapu kamar saja malas. Haha

Tapi sejak menjadi Ibu?

Aku bisa melakukan semuanya..

Aku bisa memasak dengan kayu bakar. Aku bisa menyediakan kue hingga makan siang para tukang saat rumah direnovasi dengan anak yang masih kecil dan menyusu. Aku bahkan bisa membersihkan rumah sambil mengerjakan 2-3 pekerjaan lainnya. Aku bahkan sempat berjualan. Kusadari, semua hal yang dulu tak bisa kukerjakan sendirian kini telah serba bisa kukerjakan.

Kiranya benar bahwa setiap wanita itu sebenarnya punya kekuatan super jika ia sudah memiliki hal yang benar-benar dicintainya.

4. Aku tidak se-melankolis dulu

Ini adalah perubahan besar dalam hidupku. Aku mulai menunjukkan pribadi yang lain selain dari sisi melankolisku yang terbilang akut.

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Awalnya aku mengira bahwa sikap baruku yang muncul itu hanyalah wujud dari ‘kepura-puraan’ ku saja. Ternyata, lambat laun aku menyadari bahwa aku menikmatinya.

Aku mulai menikmati munculnya sisi-sisi sanguinis dalam kepribadianku. Bukan hanya itu, aku kini merasa bahwa terkadang aku bisa sangat bersemangat jika menemukan hal baru. Jika sudah begitu maka aku dapat bercerita dan tertawa dengan lancar hingga berjam-jam lamanya. Dulu, aku tidak pernah seekspresif ini.

Apakah aku menikmatinya?

Ya, aku sangat menikmatinya.

5. Aku tidak pemalu lagi

Dulu, aku sangat pemalu. Bahkan teman-teman sekelasku dulu mengelariku ‘siput pais’ karena sifatku yang selalu diam apapun yang terjadi. (FYI: Pais adalah sebutan bahasa banjar untuk masakan pepes. Siput pais adalah sebuah majas sarkasme yang artinya sudah dari sananya pendiam seperti siput lalu kemudian dimasak pepes jadilah benar-benar diam.. Haha)

Sewaktu sekolah dulu, aku sangat anti dalam mengacungkan jari. Jika Guru bertanya tentang jawaban maka aku selalu diam biarpun aku tau jawaban yang tepat. Jika Guru bertanya adakah yang tidak dimengerti maka aku tidak akan bertanya walaupun aku sangat ingin bertanya. Jika kemudian Guru iseng bertanya padaku maka aku akan mengeluarkan keringat dingin karena gugup, walaupun aku bisa dan aku tau jawaban yang benar tapi kata-kata yang keluar dari mulutku sangat berantakan.

Sekarang? Ku akui aku berubah.

Aku tidak terlalu mengerti kapan lebih tepatnya perubahan ini muncul. Dalam acara event blogger beberapa bulan dan minggu yang lalu aku tidak sungkan mengangkat tangan dan bertanya. Kurasa, pertanyaan yang aku lontarkan pun tidak ada nada gugup didalamnya. Ada sebuah dorongan semangat yang tidak jelas asalnya menyuruhku untuk melakukan itu.

Saat sudah melakukan itu, ada perasaan bangga yang muncul pada diriku. Seakan-akan hal yang selama ini tertanam dalam hati dan tertimbun bertahun-tahun baru bisa keluar semenjak aku menjadi Ibu. Ya, sejak menjadi Ibu aku telah menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri.

Kenapa Hal ini Bisa Terjadi?

Salah seorang temanku berkata padaku ketika sekian lama kami tidak bertemu..

“Kenapa kamu bisa sedemikian berubah? Aku senang dengan kamu yang sekarang win..”

Ya, kadang kita tak sadar bahwa kita sudah berubah kecuali kita bertemu dengan teman lama yang benar-benar mengenal kita. Betul?

Kupikir, ada dua hal dominan yang telah menyebabkan perubahan ini.
1. Acting Ibu yang kebablasan

source: www.rdiconnect.com

Sejak memiliki anak, aku membuat prinsip baru dalam parenting versiku sendiri. Kalian mau tau bagaimana prinsip parenting versiku dulu?

Menjadi Ibu adalah seni berpura-pura.

Jika melihatnya menangis, berpura-pura lah untuk tertawa maka ia akan ikut tertawa..

Jika ia marah dan berontak berpura-pura lah untuk sabar dan lihatlah ia sebagaimana kita berkaca dengan masa lalu kita..

Jika kita bosan menghadapinya, berpura-pura lah untuk tidak bosan. Jangan pernah memasang mode flat face pada anak kecil atau ia akan menirunya saat besar nanti.

Aku memang bukanlah ibu yang baik. Tapi aku selalu berusaha untuk berpura-pura baik atau berakting menjadi tokoh terbaik di depan anakku. Karena aku tau bahwa ia adalah peniru ulung. Aku adalah role mode pertama dalam hidupnya.

Tanpa kusadari, karena sifat dan prinsip parenting versiku ini maka aku telah memiliki kepribadian yang.. Hmm.. Bisakah dibilang berkepribadian ganda?

Sejak menjadi Ibu, aku telah membuat senyum dan tawa yang ikhlas untuk membuatnya tersenyum. Dulu, aku hanya bisa memasang mode flat face dimanapun berada. Oh, kurasa hal ini dialami semua ibu yang awalnya merupakan orang yang dingin. Betul? Ibu macam mana yang bisa mengaplikasikan mode flat didepan anak kecil nan lucu.

Bagaimana bisa seorang lulusan akuntansi yang dulunya hanya mengenal seonggok kertas membosankan kini harus pura-pura senang dengan setumpuk mainan yang berantakan? Dan setumpuk boneka? Serta crayon warna-warni?

Kini aku tau kenapa dulu aku sempat ingin menjadi Guru TK. Ternyata hal itu karena aku senang memiliki 4 varian suara yang berbeda. Dari 4 varian suara itu, aku berpura-pura untuk menjadi 4 teman Farisha melalui bonekanya. Finally, aku ketagihan untuk bermain dengannya. Aku baru menyadari bahwa teman sejatiku yang benar-benar lucu adalah dia.. Ya.. Anak ini.. Anak ini benar-benar merubahku menjadi karakter warna-warni.

Nak, Acting Mama kini sudah kebablasan. Mama benar-benar merasa bukan diri mama yang dulu lagi. Mama merasa menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hal itu salah satunya adalah karenamu…

2. Dorongan semangat dari Suami

Dibalik istri yang cemerlang itu_Selalu ada suami luar biasa, betul? He

Eh, emang aku sudah cemerlang? 😂

Belum yah, tapi lumayan sudah mau berubah sedikit.. Eh banyak..😜

Sedikit curcol, blog shezahome dibuat oleh suamiku yang merupakan seorang programmer sekaligus konsultan IT dari Sharesystem. Belum tau sharesystem? Kenalan dulu dong yah sebagai blogger. Mba langit amaravati aja udah kenalan kok.. Hehe.. *numpang tenar dari mba langit saya.. 😂

Terus kenapa? Blog ini bisa bikin berevolusi ternyata?

Oh bukan sekedar berevolusi, blog ini sudah menjadi salah satu semangat hidup aku. Dari blog shezahome aku kini dapat menuangkan ekspresi lebih baik selain itu aku juga mendapat banyak teman di dunia blogging. Salah satu komunitas yang dekat denganku adalah Female Blogger of Banjarmasin (FBB).

Tanpa dorongan suami untuk ngeblog? Kehidupanku hanyalah seperti IRT pada umumnya. Kini, sejak menjadi Blogger, kehidupan warna-warni mulai menghampiriku dan mengubah diriku yang dulu.

Ya, Proyek Evolusiku dapat dibilang 70% telah berhasil..

Jadi, siapa bilang jadi Ibu itu hidupnya malah ga seru?

Semuanya punya jalan perubahan masing-masing.. Apa perubahanmu? Sharing yuk! 😊

Go Back Couple: Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Go Back Couple: Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Ngapain kamu bahas korea? Mau keranjingan demam korea kayak masa remaja lagi?

NYADAR MAK! UDAH EMAK-EMAK! MALU!

😂😂😂

Oke, tulisan kali ini kayaknya agak bertolak belakang ya sama tulisanku biasanya apalagi gaya menulisnya dengan post sebelumnya diawal januari. Haha.. Abaikan, anggap emak udah move on. 😂

Jadi kenapa ngebahas korea sih? Karena eh karenaaa emak lagi ikutan collaboration nulis bareng komunitas FBB atau Female Blogger Banjarmasin. Tema tulisan collaboration kali ini adalah all about Korea. Yah, kalian tau lah kalau para perempuan itu hoby banget ngerumpi_eh, maksudnya kami itu sering bertukar hoby bersama. Termasuk membicarakan kesenangan yang satu ini, apalagi kalau bukan “Menonton Drama Korea aka Drakor” 😂

Kenapa sih ya cewek hoby banget nonton drama? Hmm berikut kayaknya ulasan yang pas untuk hal ini:

1. Cewek itu suka mengkhayal. Ga tau sih apa ini jenis Cinderella Sindrom? Pokoknya cewek itu udah dari sononya hoby mengkhayal Pangeran Berkuda Putih hingga Pangeran Konyol yang nyari pasangan sepatu hingga kepelosok negeri. 😂

2. Cewek itu ngakunya ga suka sedih tapi hoby nonton konflik. Hayo.. Ngaku aja begitu! Siapa yang suka baper nonton film korea sambil sedia sapu tangan? Sedih ya padahal? Tapi senang bukan? Haha.. Sepertinya cewek itu perlu penyaluran untuk mengeluarkan air matanya agar kecerdasan emosinya stabil. 😂

3. Cewek itu demen liat artis ganteng. Ah, ini.. Siapa yang punya alasan gini? Yang kalau liat pemain drama mukanya ga oke langsung males? Sementara liat ‘si Ganteng’ langsung teriak “Opppaaaa” padahal ya filmnya ga rame rame amat. 😂

4. Menonton Drama adalah salah satu sumber inspirasi dan media pembelajaran yang menyenangkan. Nah, kalau yang satu ini aku banget (ngakunya sok banget padahal alasan no. 3 tuh.. Haha). Tapi serius, sejak berumah tangga aku mulai suka menonton drama tanpa pandang bulu. Mau mukanya kek lapangan badminton juga aku gak peduli kalau memang filmnya menyenangkan dan menyisakan pembelajaran yang luar biasa (catet ya mak). 😂

Seperti drama satu ini, judulnya “Go Back Couple”. Jujur ya aku tidak terlalu tau dengan aktor dari film ini tapi membaca narasi kisah dari drakor ini aku langsung penasaran ingin menontonnya. Ya, kalian tau kan biasanya nih drama korea itu dipenuhi dengan cerita perjuangan sebelum menikah. Entah itu bagaimana mendapatkan si cowok atau si cewek biasanya cerita cintanya dipenuh dengan bumbu romantisme dan komedi lalu endingnya adalah ‘Menikah’ lalu ‘TAMAT’

Sebelum berumah tangga sih aku suka banget nonton drama begitu. Apalagi nih.. Apalagi kalau aktor si cewek itu adalah pribadi konyol dan ceroboh serta si cowok suka bilang ‘Bodoh’ dengan cueknya. Yah remaja banget lah ceritanya. Tapi setelah berumah tangga huewww… Asli deh, aku itu mulai pensiun nonton drama cabe cabean begitu. Halah meeen.. Kata siapa Menikah itu adalah ending yang bahagia?? Kebanyakan makan micin lo.. 😂

Baca juga: “Pembelajaran dalam film Revolutionary Road”

Setelah emak menonton episode pertamanya ‘Go Back Couple’ langsung deh dengan pedenya emak menyeret sang suami. Tidak biasanya loh suamiku mau disuruh nonton drakor bareng tapi kali ini aku wajibkan kalau enggak aku guling-guling. 😂

Alhamdulillah.. Tiada moment yang lebih menyenangkan dibanding meracuni suami sendiri dengan virus korea. Aku sukses membuatnya nonton bareng hingga episode terakhir sambil berpelukan. *Ehm.. Ciee… 😛

Diceritakan bahwa Ma Jin Jo dan Choi Ban Do menikah dengan awal yang bahagia hingga akhirnya dikaruniai seorang anak. Pernikahan yang awalnya dipenuhi dengan romantisme kehidupan kini mulai berkurang semenjak konflik demi konflik mulai menerpa kehidupan rumah tangga mereka. Choi Ban Do sebagai tulang punggung keluarga telah dibebani dengan kerasnya kehidupan ekonomi dan sosialnya dilingkungan kerjanya, sementara Ma Jin Jo telah dibebani dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga, depresi, tekanan finansial dan rasa kesepian ditengah kehidupan keluarganya dengan suaminya yang sangat sibuk. Akhirnya, pernikahan mereka hanya mampu berjalan hingga 14 tahun kemudian mereka memutuskan ingin segera bercerai.

Apa jadinya ketika ditengah-tengah konflik perceraian namun keduanya malah dikembalikan ke masa lalunya? Yaitu pada tahun 1999, saat beberapa waktu sebelum pertama kali mereka dipertemukan dengan umur yang sama-sama masih muda. Senang? Banget! Siapa sih yang menolak dikembalikan menjadi muda lagi? Semua orang pasti bermimpi untuk bisa kembali menjadi muda demi mengubah masa depannya.

Apakah mereka akan mengubah jalan hidup mereka? Apakah mereka akan mencari jodoh yang lain? Bagaimana mereka mengatasi kerinduan mereka dengan Seo Jin anak mereka? Akankah Rumah Tangga mereka bersatu kembali?

Hmm.. Sekilas melihat alur dari film ini aku jadi ingat dengan film ’17 Again’ yang di perankan oleh Zac Efron, tau? Yah, cerita awalnya mirip-mirip lah tapi bedanya di 17 Again cuma Zack yang kembali muda dan dia tidak kembali kemasa lalunya. Hanya sekedar fisiknya yang berubah menjadi muda. Tapi serius laaah, Go Back Couple bukan plagiat. Aku jauh lebih suka Go Back Couple karena pembelajaran di drama ini jauh lebih banyak.

Yuk! Segera nonton mak! Inget sama suami ya! 😂

Kenapa sih harus nonton sama suami? Karena kalo sendirian itu maka pembelajarannya ga bakal maksimal. Soalnya rumah tangga itu bukan cuma soal Istri saja, tapi suami juga. Rumah Tangga adalah tentang saling memahami satu sama lain. Nah, Berikut adalah point-point berharga dari pembelajaran menonton Drama Korea “Go back Couple” yang telah aku dapatkan:

1. Pernikahan memang bukanlah akhir yang bahagia

Hei.. Buat para remaja! Kalian wajib nonton film ini supaya kalian tau kalau Rumah Tangga itu ga sereceh yang kalian bayangkan!

Kalian pikir dengan menikah maka hidup kalian udah bahagia? Kerjaan tiap hari cuma guling-guling dikasur dan menatap indahnya dunia bersama diatas awan putih? Jangan mimpi ya! 😂

Perlu kalian ketahui konflik kehidupan berumah tangga itu banyak sekali. Masing-masing rumah tangga diberi cobaan yang berbeda. Ada yang diuji dengan perekonomian, lingkungan sosial, hingga beban psikologis. Kalau kalian kira dengan menikahi cowok tampan nan tajir akan mengatasi semua masalah itu maka kalian salah besar!

Lalu, apa yang dapat mengatasinya? Cinta?

Makan tuh Cinta! 😂

Iya, itu kata para tetua.. Terus emak pikir ya iya lah cara ‘Cinta’ tidak berhasil. Wong cintanya dimakan bak makanan dan dibuang begitu saja. Jadi, buat kalian yang sedang ngebet-ngebetnya ingin menikah maka ingatlah bahwa Cinta itu adalah alasan kalian menikah tapi kalian juga harus mengerti maksud dari CINTA itu sendiri.

Belum ngerti? Makanya jangan terburu-buru menikah. Belajar dulu ya! Belajar! 😛

2. Saat Pahit itu menghampiri, ingatlah kenangan Manis

Tidak dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, rumah tangga akan mengalami masa-masa sulit. Baik itu masa jenuh hingga masa penuh tangisan. Apa yang kita lakukan saat masa-masa pahit itu datang?

Kita bertengkar!

Pertengkaran memang hal yang lumrah dalam berumah tangga. Bahkan, orang bilang rumah tangga tanpa pertengkaran akan terasa sangat hambar. Tapi apa jadinya jika pertengkaran terjadi diluar batas? Ya, Perceraian.

Uniknya disadari atau tidak, setiap pasangan yang bertengkar selalu mengungkap aib masing-masing pasangan. Mereka yang dulunya tidak tau sifat asli pasangan kini menyesal saat mengetahui sifat yang sebenarnya setelah menikah. Kenangan manis saat sebelum dan setelah menikah pun seakan sirna begitu saja. Padahal, kenangan manis itu penting loh.. Bukan sekedar gombal.. gombal..

Seperti inilah perasaan Ma Jin Jo dan Choi Ban Do saat kembali ke masa lalu mereka. Mereka sadar bahwa mereka pernah melewati masa-masa manisnya rasa cinta bersama. Masa saat mereka pernah mengalami puncak cinta dan bagaimana mereka melewati masa sulit bersama.

Maka, saat kita bertengkar.. Ingatlah kenangan manis.. Ingatlah kenapa kita memilihnya.. Ingatlah masa sulit yang bisa kita lalui..

3. Jangan menyesali masa muda, nikmati musim semi Rumah Tangga dan ambillah setiap jejak manis kehidupan

Choi Ban Do dan Ma Jinjo kembali muda dan hidup di masa lalu mereka. Mereka bertanya-tanya, Apa sebenarnya maksud Tuhan mengembalikan mereka ke masa lalu? Apakah agar mereka diberi kesempatan kedua untuk mengubah jalan hidup mereka? Atau ini hanyalah sekedar hiburan untuk mereka yang diberi oleh Tuhan?

Hmm.. Ayo kita berkaca dengan diri kita..

Apa yang kita lakukan jika kembali ke masa lalu? Yap, salah satu yang akan kita lakukan adalah memaksimalkan masa muda kita.. Kenapa? Hmm.. Kenapa ya..

Bagiku sendiri masa mudaku bagaikan musim semi yang tak pernah berbunga. Sama seperti cerita Choi Ban Do dan Ma Jinjo, aku juga merasakan bahwa masa muda yang pernah aku lewati dahulu berjalan kurang maksimal.

Baca juga: “8 hal yang harus kamu lakukan mumpung kamu masih single”

Enak dong ya.. Jika kita bisa mengubah masa lalu kita? Tapi apakah hal itu mungkin?

Tentu saja tidak, itu hanya terjadi di film.. 😂

Kesimpulan yang aku ambil dari film ini adalah kita tidak mungkin kembali kemasa muda kita, maka mumpung kamu masih muda maksimalkan potensimu. Dan, buat yang sudah terlanjur menua dan berumah tangga maka hal yang harus dilakukan adalah ‘menikmati musim semi dalam berumah tangga’.

Aku yakin, tidak semua moment dalam berumah tangga itu adalah moment pahit. Pasti ada moment manis didalamnya. Nikmati semuanya agar hidup terasa lebih bermakna. Karena makna bahagia adalah saat hidup kita berwarna bagai pelangi bukan hanya dihiasi satu warna saja. Warna warni kehidupan rumah tangga itu unik. Mungkin saat belum kenal satu sama lain kita hanya mengenal satu warna pada pasangan. Namun seiring berjalan waktu warna lain pada pasangan akan muncul, yakinlah itu bukanlah fase musim kering rumah tangga namun musim semi yang sebentar lagi akan berbunga.

4. Terkenang Cinta Pertama? Ingatlah Cinta Terakhirmu

Ehm… Ada yang masih ingat dengan Cinta Pertama dan masih terkenang manis hingga berumah tangga?

Saking penasarannya bahkan masih saja suka stalking sosial media si first love. Ikut gelisah saat tau dia sakit. Ikut senang saat dia bekerja. Bahkan nih, dia nikah malah kitanya sedih. Ada ga sih yang begitu?

Ops, ada juga loh emak-emak yang menyesali pernikahannya dan berandai-andai ‘Coba deh aku nikah sama si A aja kemaren, jadi orang kayah deh aku’

Ada juga bapak-bapak yang menyesali pernikahannya dan berandai-andai ‘Coba aku kemarin nikah sama si A aja, dia lebih awet muda dan dia lebih lemah lembut’

Terus apa??? Mau menyesal?? Mau kembali kemasa lalu trus ngedeketin si Do’i?

Yah, itu juga yang terjadi pada Drama Go Back Couple. Choi Ban Do mencoba mendekati Cinta Pertamanya Min Suh Young. Ia bersikeras ingin menjauhi Ma Jin Jo. Berbeda dengan Ma Jin Jo yang tak memiliki Cinta Pertama, ia akhirnya menyesali pernah menolak seniornya dikampus Jung Nam Gil dan berusaha memperbaiki masa lalunya dengan mendekati Jung Nam Gil. Nah, Bagaimana akhirnya? Akhirnya mereka malah saling cemburu pemirsa.. 😂

Yakin ingin kembali pada Cinta Pertama?

Kesimpulannya? Cinta Pertama itu Omong Kosong! Debaran jantung yang menggebu-gebu ketika kita bertemu dengan si Dia takkan bertahan lama jika kita sudah hidup lama dengannya. Cinta pertama adalah kenangan manis yang tak patut kita sesali dan kita kenang. Hal yang paling berarti sekarang di kehidupan rumah tanggamu adalah Cinta Terakhir. Maka, rawatlah cinta terakhirmu.

5. Belajarlah saling menghargai pasangan

“Ada satu titik dimana kita kurang menghargai kepedulian pasangan karena kita sudah merasa hal itu adalah hal biasa.”

Sudah melalui titik itu?
Melihat Suami kelelahan bekerja hingga tengah malam dan kita merasa itu adalah hal biasa karena ‘memang itulah kewajibannya’
Melihat Istri kelelahan mengurus anak, dapur, sumur hingga kasur dan kita merasa itu adalah hal biasa karena ‘memang itulah kewajibannya’
Kita tidak sadar bahwa pekerjaan yang ia lakukan bukan didasari karena kewajiban. Tapi didasari oleh rasa cinta. Dan kita tidak menghargainya karena merasa itu hanyalah hal biasa yang dilakukan. Haruskah kita membuat orang yang kita cintai menjadi robot? Bahkan robot-pun butuh baterai untuk bekerja!
Tak bisakah kita memberikan apresiasi? Uluran tangan tanda peduli hingga aliran semangat? Itulah tenaga yang dibutuhkan dalam kehidupan berumah tangga.

Choi Ban Do bekerja di Farmasi Han Kook. Menjadi sales obat yang menawarkan obat-obatnya pada para Dokter. Bukan hanya itu, ia juga dijadikan pesuruh oleh Dokter Kim. Ia menyembunyikan selingkuhan Dokter Kim hingga menemaninya di klub malam. Ia bekerja ‘Bagaikan Anjing Pesuruh’ hingga larut malam. Untuk siapa?

Untuk anak dan Istrinya..

Ma Jin Jo bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Lulusan sarjana tidak membuatnya dapat berkarir karena ia telah mengorbankan hidupnya untuk kehidupan Rumah Tangganya. Ia mengurus Dapur, anak, hingga mencukupi uang bulanan yang pas pasan untuk kehidupan keluarganya. Ia tak lagi cantik seperti saat muda dulu karena ia terlalu banyak berkorban. Untuk siapa?

Untuk anak dan Suaminya..

Namun saat keduanya bertemu dimalam hari. Masing-masing sibuk mengeluh dengan kesehariannya tanpa saling menghargai. Ma Jin Jo tak mengerti sekeras apa kehidupan pekerjaan diluar sana sementara Choi Ban Do juga tidak mengerti sesulit apa manajemen rumah tangga yang sudah Ma Jin Jo lakukan.

Ingatlah, setiap hal yang dilakukan oleh Suami dan Istri bukanlah ‘Hal Biasa’. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Maka, hargai usahanya untuk berusaha mencintaimu dengan lebih baik. Ya, setiap pasangan harus saling menghargai.

6. Kecantikan Wanita adalah saat ia bisa menjadi Dirinya Sendiri

Saat muda, kupikir usia hanyalah angka yang meresap begitu saja tanpa membuat perubahan. Sekarang aku sadar, usia tidak meresap begitu saja dalam tubuh tanpa perubahan. Seiring bertambah tua kau akan menyesuaikan diri dengan usia.

Sudah merasakan hal itu?

Saya belum.. Merasa masih muda.. *siram gayung 😂

Walau aku belum benar-benar merasakannya namun aku yakin sekali masa itu lambat laun akan datang. Masa ketika kecantikan tak lagi berarti. Masa ketika kulitku mulai keriput dan tulangku mulai lelah.

Apa kekuatan yang masih ada dalam diri kita jika kita menua? Kekuatan itu adalah Inner beauty yaitu saat kita menjadi diri sendiri yang menyenangkan. Hal itulah yang membuat kita bersinar bahkan diusia senja.

Ma Jin Jo diajak kencan oleh Jung Nam Gil karena ketidaksengajaan. Ma Jin Jo langsung dengan cuek menolaknya. Namun, Ma Jin Jo ingin memperbaiki kesalahannya dahulu dengan mendekati Jung Nam Gil. Awalnya, hal itu membuat Jung Nam Gil kebingungan. Sebenarnya, saat itu dia tidak benar-benar menyukai Ma Jin Jo.

Akan tetapi semakin sering bertemu dengan Ma Jin Jo membuat Jung Nam Gil benar-benar jatuh cinta. Kurasa, hal ini bukan karena kecantikan Ma Jin Jo namun karena kedewasaannya. Yah, sebagai emak-emak yang sudah berumur maka tingkah polah Ma Jin Jo jauh berbeda, dia sangat dewasa dan perhatian kepada Jung Nam Gil. Baginya, Jung Nam Gil adalah seorang anak non ekspresif yang sedang tersesat dan mencari jati dirinya.

Dari potongan drama ini aku belajar bahwa hal yang membuat wanita tetap menarik sejatinya adalah karena ia dapat menjadi diri sendiri dan peduli kepada orang lain.

7. Pentingnya keterbukaan dan kerjasama antar pasangan

Salah satu adegan yang membuatku tersentuh adalah ketika Ma Jin Jo dan Choi Ban Do bekerja sama untuk memberi pelajaran kepada Dokter Kim Muda. Mereka menyusun rencana agar Dokter Kim tertangkap basah selingkuh oleh pacarnya dimasa lalu yang akan menjadi istrinya dimasa depan.

Dimasa depan, Choi Ban Do adalah suruhan Dokter Kim. Ia melakukan apa saja yang diperintahkan Dokter Kim, termasuk untuk menyembunyikan selingkuhan Dokter Kim hingga menemani Dokter Kim di klub malam. Hal inilah yang membuat Choi Ban Do sering pulang larut malam hingga merasakan keterpurukan dilingkungan kerjanya.

Ma Jin Jo dan Choi Ban Do ingin merubah hal itu. Mereka merasa kasihan dengan istri Dokter Kim yang sebenarnya dimanfaatkan kekayaannya oleh Dokter Kim. Maka, mereka berencana untuk merubah takdir Dokter Kim untuk menikahi pacar kayanya.

Akhirnya mereka berhasil melakukan hal itu. Semuanya karena Choi Ban Do mulai terbuka dengan Ma Jin Jo tentang pribadi ‘bos’ nya. Kerja sama yang mereka lakukanpun telah menumbuhkan rasa cinta yang kuat diantara keduanya.

Hal yang dapat kupetik dari adegan ini adalah seandainya suami istri saling terbuka denhan masalahnya masing-masing dan bekerja sama untuk masalah tersebut maka rumah tangga mereka akan langgeng dan menyenangkan.

8. Cinta adalah Senjatamu melawan dunia yang sulit

Apa cita-cita kalian sebenarnya? Apakah cita-cita kalian sudah benar-benar tercapai?

Diceritakan dalam Drama Go Back Couple bahwa Choi Ban Do adalah mahasiswa lulusan dari Teknik Sipil. Namun ia bercita-cita kuat ingin menjadi Sutradara. Ia bekerja keras bersama kedua temannya untuk menciptakan hal itu. Ia bahkan membuat hal yang tak terlupakan bersama ketiga temannya hingga ia merasa malu bahwa pernah melakukan hal konyol.

Apakah ia berhasil mewujudkan cita-citanya? Sayangnya dunia itu kejam. Ia kini hanyalah sales obat di Farmasi Han Kook. Salah seorang temannya sekampus yang dulu sangat ambisius untuk menjadi Arsitek pun kini berakhir menjadi sales asuransi.

Ma Jin Jo sendiri pernah menyesali karirnya sekarang yang hanya diisi dengan kesibukan Rumah Tangga. Ia berpikir bahwa jika saja ia dulu lebih rajin maka mungkin saja ia bisa menjadi Jaksa atau Pengacara atau berbagai pekerjaan bergengsi lainnya.

Namun apa yang membuat Choi Ban Do dan Ma Jin Jo tetap bersemangat untuk hidup?

Cinta adalah jawabannya. Melihat senyum dan tawa anak mereka adalah hal yang menguatkan mereka untuk terus hidup dan bekerja.

Ya, hidup itu sulit dan rumit. Kadang hal yang kita upayakan sejak lama tidak tercapai. Kita jatuh merangkak untuk sekedar mencari sesuap nasi namun kita dapat terus bertahan jika mengingat sebuah senyuman selalu menanti kita dirumah.

9. Belajar Adab Kepada Orang Tua dan Mertua

Apa yang kalian lakukan jika dapat kembali menemui Ibu kalian dalam kondisi hidup sementara sebenarnya ia sudah mati?

Memeluknya?

Mengungkapkan penyesalan?

Menangis?

Hal itulah yang dilakukan oleh Ma Jin Jo saat mendapati Ibunya yang masih hidup dimasa lalunya. Di masa depan, Ma Jin Jo bahkan tidak sempat menemui Ibunya dikesempatan terakhir. Ia sangat marah pada Choi Ban Do yang tidak dapat menyempatkan waktu untuk itu.

Ma Jin Jo pun membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukannya dengan Ibunya, tidur dengan Ibunya, hingga memastikan kesehatan Ibunya dimasa depan. Ia tidak mau kehilangan moment berharganya bersama Ibunya.

Chi Ban Do pun tidak jauh berbeda dengan Ma Jin Jo. Ia langsung meneteskan air mata saat berpapasan dengan mertuanya yang masih hidup. Perasaan bersalahnya muncul begitu saja. Ia pun langsung menemui mertuanya dan membelikan buah kesukaannya. Ia juga pergi ke Rumah Sakit untuk meyakinkan kondisi kesehatan mertuanya baik-baik saja.

Adegan ini membuatku belajar bahwa walaupun kita sudah berumah tangga dan memiliki kehidupan sendiri, tapi orang tua adalah hal pertama yang membuat kita merasakan kasih sayang. Kasih sayang tersebut tidak bisa kita balas sampai kapanpun. Oleh karena itu, sayangi dan hargailah mereka selagi mereka masih hidup. Kita akan sangat menyesal sekali jika mereka telah tiada.

Baca juga: “Surat untuk mama, maafkan aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga”

Kasih sayang yang diberikan oleh Choi Bando kepada mertuanya pun membuatku tersentuh. Ia telah menganggap mertuanya bagaikan orang tuanya sendiri. Dari mertua, ia belajar untuk menyayangi Ma Jin Jo.

Baca juga: “Untuk apa aku membenci mertuaku

Hmm.. Itulah kiranya pembelajaran penting dalam rumah tangga yang aku petik dari Drama Korea “Go Back Couple”. Kalian sudah nonton dan sependapat dengan hal diatas? Yuk, sharing!

Dan buat emak-emak yang belum nonton, yuk segera nonton! Film ini benar-benar recomended ditonton buat kamu yang sudah berumah tangga!

Belajar membangkitkan semangat menulis dari Ahmad Fuadi-Penulis Novel Negeri 5 Menara

Belajar membangkitkan semangat menulis dari Ahmad Fuadi-Penulis Novel Negeri 5 Menara

Halo content writer shezahome? Masih hidup? 😅

Ya, sepertinya bulan ini aku termasuk jarang menulis ya. Berapa tulisan yang aku terbitkan bulan ini? Mana konsisten yang dulu sempat aku bangun? Kemana semangat menggebu-gebu itu pergi?

Apakah aku sudah menjadi pemalas?

Bukan, bukan malas. Lebih tepatnya aku mulai merasa pesimis. Semangat yang dulu ada itu tiba-tiba mulai menurun kualitasnya. Aku juga tidak tau persis apa alasannya. Padahal Domain Authority dari blog shezahome.com sudah meningkat menjadi 22 yang artinya blog aku sudah ‘lumayan’ diperhatikan oleh google.

Tapi seberapa bermanfaatkah tulisanku?

Ya, kata-kata itu muncul begitu saja. Menulis bagiku sekarang adalah terapi yang menyenangkan. Tapi terapi itu tidak berjalan baik jika tidak bisa berguna bagi siapapun. Memang, kebanyakan pengguna internet adalah pasif. Ketika mereka selesai membaca content maka mereka hanya akan ‘closed’ tanpa meninggalkan jejak ataupun ucapan terima kasih.

Mungkin saja itu karma. Sebelum mendalami dunia blog aku juga begitu. Silent Reader. Jadi anggap saja impas. Haha..

Berbicara mengenai traffic. Maka traffic blogku sudah ‘lumayan’ dibanding bulan pertama ngeblog. Terlebih sekarang aku juga punya komunitas dalam menunjang aktivitas ngeblog. Tapi jujur saja, aku butuh alasan lebih.. lebih.. dan lebih lagi supaya bisa tetap konsisten dalam membuat tulisan. Bagaimana cara memperbaiki mood ku yang tidak stabil sehingga blogku pun menjadi terkesan labil.

Itulah alasanku menghadiri ‘Meet and Greet’ penulis Ahmad Fuadi, yang diadakan di Aula Perpustakaan Daerah di Banjarmasin. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Fuadi? Penulis Novel ‘Negeri 5 Menara’? Aku bahkan terpikat saat pertama kali membaca bukunya.

Apah? Tidak pernah membaca Negeri 5 Menara? Tenggelamkan!

Hahaha.. 😂

***

Sebenarnya saat pertama kali aku menyelesaikan membaca buku Negeri 5 Menara aku tidak mendapat pembelajaran nyata. Aku terpikat, tapi aku iri. Ya, seperti biasa aku hanya bisa bilang “Ya iya dong dia bisa nulis buku keren soalnya ini buku tentang ‘dirinya sendiri’ dengan pengalaman hebatnya”

Lah, aku? Dimana pengalaman hebatku? Apa yang harus aku tulis? Aku kan tidak punya pengalaman hebat? Tidak pernah travelling? Tidak pernah belajar dipesantren? Tidak pernah merantau sejak kecil? Duniaku kotak, mataku hanya belajar pada kertas dan otakku hanya bisa berimajinasi.

Karena itulah sewaktu kecil aku sangat ‘malas’ membaca buku dengan pengalaman ‘nyata’. Aku iri. Aku lebih suka membaca buku imajinasi. Aku suka penulis yang terinspirasi dari buku dan suka mengkhayal. Ya, seseorang seperti JK. Rowling, Rick Riordan, dan Stephanie Meyer serta para pencipta karakter anime. Mereka mungkin lebih masuk akal dijadikan penulis idola untuk orang sepertiku.

Namun, sejak menjadi Ibu Rumah Tangga aku mulai merubah pandangan hidupku. Aku mulai tak suka mengkhayal berlebihan. Sejak menikahi introvert nyata, aku lebih suka membaca buku yang realitas. Sehingga genre novel yang kubaca mulai berubah. Ya.. Ya.. Aku suka Tere Liye dan Ahmad Fuadi. Aku juga mulai suka dengan gaya penulisan klasik oleh Lucy M. Mortgomery.

Karena itu, kenapa tidak belajar menjadi salah satu dari mereka?

***

Sebenarnya, ini bukan pertama kali aku bertemu dengan Ahmad Fuadi. Ini kedua kalinya.

Pertama kali bertemu dengan Ahmad Fuadi adalah saat aku diundang untuk menonton ‘Negeri 5 Menara’ oleh Bank Indonesia. Ya, saat itu aku masih menjadi mahasiswi magang. Aku menonton Negeri 5 Menara secara gratis saat itu. Dan saat selesai menontonnya, penulis novelnya kemudian hadir didepan bioskop sambil bergantian bersalaman dengan kami.

Tapi apa peduliku saat itu? Jujur saja saat melihat Ahmad Fuadi pertama kali dan menonton filmnya aku hanya bisa membatin, “sepertinya orangnya narsis” hahaha..

***

Namun semua pendapatku tentangnya luntur seketika ketika aku bertemu langsung dengannya untuk yang kedua kali dan mendengarnya berbicara.

Aku memang sengaja mengambil tempat duduk ‘lumayan didepan’ walau sadar diri bahwa aku mungkin satu-satunya Ibu Rumah Tangga yang absen dari kegiatan hariannya saat itu untuk menghadiri moment ini. Aku cukup sadar bahwa aku dikelilingi oleh puluhan mahasiswa berbaju almameter dan para dosennya.  Tapi, peduli amat? Ini undangan untuk umum kan? Lagian aku kesana ‘menyamar’ kok. 😆 #bukan pakai daster ya..

Terbukti penyamaranku cukup berhasil kok saat ada yang bertanya, “Mahasiswi mana?” dan aku menjawab singkat “alumnus kok udah” 😂😂

Okeh, kok jadi aku yang narsis? Ehm, bukannya kamu barusan bilang Ahmad Fuadi itu yang narsis?

Ya, ternyata Ahmad Fuadi itu Penulis Narsis yang beralasan.

Jika dia tidak narsis mana mungkin dia bisa menulis buku negeri 5 menara?

Jika dia tidak narsis, siapa yang tidak akan iri mengikuti jejaknya berkeliling dunia hanya karena dia hoby membaca dan menulis?

Jika dia tidak hoby pamer, siapa yang tau tentangnya?

Maka ketahuilah, narsis itu anugerah.

Orang narsis, kita terinspirasi dari narsisnya. Itulah narsis yang benar.

Terlebih seperti Ahmad Fuadi. Selama 1 jam disana terbukti para penonton ternganga lebar melihat foto-fotonya berkeliling dunia. Bagaimana bisa??

Konsisten macam apa yang dia miliki? Pikirku.. Mungkin dia konsisten karena cerita hidupnya memang sangat banyak yang seru dan menantang. Ah.. Seharusnya aku memang tak cocok mendengarnya berbicara, nanti aku minder. Seharusnya aku menanti Tere Liye saja yang datang. *Loh

Sebenarnya aku tidak tertarik mendengar cerita Ahmad Fuadi yang sudah jelas merupakan kisah dari Alif, tokoh utama novel Negeri 5 Menara. Tapi seperti yang kuduga, dia pasti menceritakan itu. Dan aku bosan. Lalu seakan bisa membaca kebosananku beliau berkata..

“Saya heran, kenapa buku Novel ‘Negeri Lima Menara’ menjadi bacaan wajib di beberapa sekolah dan univeritas di luar negeri. Salah satunya di sekolah Xin Min Singapura dan Lote Secondary School di New South Wales Australia. Juga jadi bagian dari mata kuliah di Universitas California Berkeley”

Dan Dosen dari Universitas California Berkeley menjawab, “The Land of 5 Tower is the story about Human Being

Human being.. Itulah rahasia kenapa orang suka sekali dengan buku negeri 5 menara. Ia menceritakan tentang kisah perjalanan manusia. Nyata dan sangat indah. Tiba-tiba aku mulai merasakan dejavu saat membaca buku itu. Ya, harus diakui buku itu luar biasa. Aku hanya iri karena tak bisa berusaha mewujudkan semangat dari man jadda wajada dari buku itu.. 

“Buku adalah Karpet Terbang” Katanya..

“… Jika kalian pernah memimpikan karpet terbang dari film disney Aladin maka bangunlah mimpi itu dari membuat buku, maka buku akan membawamu kemana saja”

Aku langsung merinding. Benar. Ahmad Fuadi dapat berkeliling dunia karena buku. Dia menulis buku dan buku telah menerbangkannya kesegala penjuru dunia. Dia memiliki ‘Karpet terbang’ karena usahanya yang sungguh-sungguh. Man Jadda Wajada.. 

“Buku.. Lebih Tajam dibanding peluru”

“.. Peluru hanya bisa menembus kulit dan daging. Tapi buku dapat membangun gagasan pemikiran seseorang. Buku dapat mempengaruhi seseorang. Satu peluru buku pada satu orang mungkin akan berdampak pada seratus, bahkan seribu

“Buku.. Adalah Keabadian yang dapat kita ukir didunia. Maka, selagi hidup cobalah berusaha menulis walau hanya satu buku saja” 

Aku merinding. Benar. Semua yang dia katakan benar. Satu buku. Satu buku untuk menciptakan sejarah.

Tapi bagaimana? Sulitkah membuat satu buku saja?

“… Saya menyelesaikan buku Negeri 5 Menara dalam waktu satu tahun. Saat itu saya bekerja dan pulang dari bekerja saya menyempatkan diri untuk menulis satu halaman sehari.. Satu tahun menjadi 365 halaman”

“… Kemudian edit, edit, edit dan dalam waktu 2 tahun akhirnya buku Negeri 5 menara berhasil dicetak”

Dan kalian tentu tahu kalimat berikutnya yang bla bla bla.. *bikin iri banget. Okeh, pokoknya bisa cari informasi di google lah ya untuk perjalanan Ahmad Fuadi. 😂

***

Saat sesi tanya-jawab, banyak sekali peserta yang bertanya. Dari Dosen hingga mahasiswanya. Namun banyak juga yang tidak terlalu memperhatikannya. Kupikir sepertinya menghadiri Meet & Greet Ahmad Fuadi ini merupakan kewajiban bagi mereka. Hihi..

Sebenarnya aku juga ingin bertanya tapi karena pertanyaanku mirip dengan penanya pertama kurasa niatku lebih baik kuurungkan. Daripada aku ditanya “mahasiswi mana?” dan aku hanya menjawab “ibu rumah tangga (yang haus ilmu)” 😂

Salah satu pertanyaan yang kuingat adalah “Bagaimana kita dapat konsisten menulis satu halaman perhari sementara kita tidak punya pengalaman ‘nyata’ seperti anda..”

Saat itu beliau langsung menjelaskan..

“Saat saya menulis saya melakukan 5 hal”

Pertama, “Saya masuk kedalam diri dan bertanya kenapa saya menulis? Apa sebenarnya tujuan dari tulisan saya”

Kedua, “Saya memutuskan untuk menulis APA”

Ketiga, “Saya melakukan Riset dari APA yang ingin saya tulis”

Keempat, “LAKUKAN SEGERA, atau ide itu akan hilang begitu saja”

Kelima, “Tulis saja. Tulis segala yang ingin ditulis. Tiap penulis punya gayanya sendiri. Maka, jadilah diri sendiri. Saat anda menikmati proses menulis dan tidak terbebani maka itulah cara bagaimana anda menulis”

Akhir kata, aku benar-benar mendapat pelajaran berharga dari ‘Meet and Greet with Ahmad Fuadi’. Jika suatu saat aku bisa bertemu lagi semoga saja aku dapat kesempatan untuk bertanya.

Sebenarnya aku pulang sebelum acaranya diakhiri. Maklum, emak-emak.. Harus jemput anak sekolah. Hiks..

Tanda tangan pun tak dapat.. 😭

Tapi aku sudah mendapatkan sebagian dari semangat Ahmad Fuadi. Aku akhirnya mengerti kenapa ia bisa terus konsisten menulis. Bukan, ini lebih dari tentang Man Jadda wajada. Ini juga tentang Man Shabara Zhafira. Dan Ini juga tentang menjadi diri sendiri. 😊

Disclaimer: kutipan kata-kata dari Ahmad Fuadi mungkin terdapat sedikit kesalahan. Karena metode dokumentasi penulis hanyalah catatan kecil saja. Harap dimaklumi. 😅

Kenapa sih Emak zaman dulu selalu BISA? 

Kenapa sih Emak zaman dulu selalu BISA? 

Sebenarnya sudah sejak lama sekali saya ingin menulis tentang hal ini. Tentang bagaimana cara adaptasi emak-emak zaman dulu yang (katanya) terlihat (lebih) super woman dibandingkan emak zaman sekarang. 

Lebih hebat, serba bisa.. 

Menghasilkan belasan anak yang konon selalu sukses.. 

Bisa mencari nafkah sendiri, mama yang_konon katanya mandiri.. 

Serta… Lebih terjaga kewarasannya.. Padahal emak zaman dulu menikah dalam usia muda. 

Emak sekarang? 

Punya berbagai teknologi tapi lamban dalam bekerja.. 

Tidak dapat mandiri, padahal anak cuma dua biji.. 

Usia menikah dan punya anak tergolong sudah matang tapi rentan terkena baby blues dan gangguan psikologi lainnya..

Baca juga Mengenal Gejala dan Penyebab serta Penanganan Baby Blues

Emak zaman sekarang bahkan terkesan lebih sulit move on dibanding emak zaman dulu. Padahal, emak zaman dulu sebagian besar juga merupakan stay at home mom. Tetapi pekerjaannya dinilai lebih produktif dibanding emak sekarang. Kok bisa ya? 

Baca juga : ‘8 Hal penyebab Stay At Home Mom Gagal Move On’ 

Saya sudah sering sekali mendengar para emak senior berbincang ria saat perkumpulan pada acara silaturahim. Saling membanggakan diri satu sama lain. Membanggakan Mamanya Mama dan Mamanya si Mama. Membandingkan kehidupan emak era 70an, 80an hingga 90an.

“Saya dulu enggak begitu loh.. Mama saya dulu begini..begitu.. Tetep senang-senang aja. Tetep bahagia.. Padahal anaknya ada lima belassss… Anak sekarang punya anak satu aja repot sama stress” 

Sering denger statement diatas?? Udah kita masuk kamar aja dah.. Nonjok boneka.. Hahahha.. 

Memang banyak banget emak-emak yang ngomong suka seenaknya begitu tanpa memikirkan bagaimana jika dia berada diposisi kita dengan anugerah passion yang berbeda. Solusi kalo ketemu emak begini? Udah, bawa makan aja.. Hahahaha.. 

Kenyataannya, ketika berbicara dengan para emak senior yang suka sok perfeksionis dan suka membanding-bandingkan itu saya tentu saja tidak bisa melupakan kalimat itu begitu saja. Bukan, ini bukan tentang merasa kesal saja. Tapi, ada kalanya saya juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi emak senior yang lahir pada tahun 60an. Memiliki anak pada tahun 80an dan tetap waras walau tidak punya ART dan memiliki belasan anak. 

Kalo emak zaman sekarang sih mustahil ya.. 

Ya, kalimat itu lagi-lagi terngiang dikepala saya. Memang mustahil. Pikir saya. 

Kenapa sih? Kenapa kok mereka bisa? 

Rasa iri tiba-tiba saja memenuhi pikiran saya. Jujur, rasa iri itu sempat menginap lama dipikiran saya. Kemudian rasa itu membakar hati saya. Membuat aura persaingan dalam diri saya yang kemudian membuat saya menjadi Ibu yang serba perfeksionis. Saat itu, dalam hati saya berkata, “Aku juga bisa kayak emak senior itu!” 

Kenyataannya, setelah beberapa tahun mencoba menjadi seperti emak senior akhirnya saya sadar bahwa saya telah menghilangkan passion yang seharusnya benar-benar saya lakukan. Saya merasa terdepresiasi secara ekstrim karena ingin mencoba menjadi emak senior. Saat menyadari hal itu saya berkata pada diri saya sendiri. Hei, its enough! 

I cant be like u…!!! I’m Different! 

Setelah saya tersadar dan mulai bangun dari cengkraman pikiran perfeksionis dengan rule mode yang salah akhirnya saya bebas menjalani passion yang seharusnya saya geluti dan menghilangkan sepenuhnya sisi plegmatis dalam kepribadian yang dominan melankolis ini. Saya menghilangkan segala jenis bentuk Rule Mode. Saya harus menjadi diri saya sendiri. 

Nah, Kalian tau kenapa emak-emak zaman dulu selalu BISA? Yuk, kita ulas berbagai alasannya.. 

1. Emak zaman dulu didukung oleh lingkungan ‘Amity’ 

Jika kalian pernah menonton film Divergent tentu kata amity tidak terdengar asing. 

Amity adalah salah satu kelompok yang paling bersahabat, pecinta kedamaian dan paling tidak ambil pusing dalam ilmu pengetahuan. Pekerjaan para amity adalah berkebun, bertani, nelayan, dan sebagainya. Jenis pekerjaan yang sangat cinta damai.

Tidak dipungkiri bahwa lingkungan para emak senior lebih didominasi oleh masyarakat yang ‘amity’. Dalam fakta kehidupan di masyarakat secara sederhana kita dapat melihat pada berbagai kehidupan suku pedalaman. Sebut saja contohnya kaum Bushman. 

Look Familiar? 

Yup, Bushman adalah tokoh suku latar utama dalam film The God Must Be Crazy. Suku yang sangat sederhana. Film The God Must Be Crazy menggambarkan betapa sederhana dan simple nya cara berpikir mereka. Hal ini tentu sangat lucu jika digabungkan dengan pemikiran masyarakat kota yang sudah terpapar oleh pengetahuan, teknologi dan sebagainya. 

Maksudmu apa sih? Memangnya emak dulu kaum primitif gitu? Kok contohnya enggak banget? 

Tentu saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan kaum emak senior dahulu yang juga tentu merupakan senior saya. Namun, disini saya menekankan bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh didominasi oleh kaum yang berpikir sangat sederhana dan saat itu ilmu pengetahuan tidak sekompleks sekarang. 

Seperti pada suku bushman yang sangat bahagia ketika mendapatkan air dari tetesan embun, seperti itu pula orang zaman dahulu lebih mudah merasakan rasa syukur. Hanya dengan nasi dan garam saja mereka sudah merasa sangat bahagia. Betul? Tanyakan emak kalian yang hidup pada era 70an.

2. Emak zaman dahulu punya passion yang sederhana 

Zaman dahulu pendidikan emak-emak jauh lebih rendah dibanding sekarang. Sebagian dari mereka hanya menyandang lulusan SD. Pendidikan SMA itu tergolong sangat tinggi dan dapat memiliki profesi disegala bidang. 

Seperti kita tau passion terbentuk karena kebiasaan dan pendidikan. Emak-emak zaman dahulu memiliki hoby yang tidak jauh dari aktivitas dirumah karena saat remaja pun mereka cenderung senang dirumah dan sebagian lagi mendapatkan kesempatan berbeda dalam jenjang pendidikan. 

Emak dengan pendidikan lulusan SD biasanya cenderung memiliki passion di bidang memasak. Sementara emak lulusan SMA dan kuliah dan lain-lain biasanya menjadi guru dan atau bekerja diluar. 

Emak dengan jenjang pendidikan tinggi biasanya merasa wajib mendistribusikan ilmunya kemasyarakat karena itu ia memilih bekerja dimasyarakat. Zaman dahulu mencari pekerjaan termasuk mudah dibanding sekarang sehingga passion emak dengan pendidikan tinggi dapat benar-benar tersalur. 

Zaman sekarang? Beda gaya!

Penyaluran passion tidak dapat sesederhana itu!

Seorang Ibu Rumah Tangga zaman dulu dengan pendidikan lulusan SD tidak dapat disamakan dengan Ibu Rumah Tangga zaman sekarang yang kebanyakan sarjana. Menjadi sarjana adalah sebuah beban. Disatu sisi kita merasa bertanggung jawab dengan ilmu yang kita peroleh, tapi disisi lain ada keluarga yang membutuhkan kita. Dan akhirnya? Akhirnya passion yang seharusnya kita tingkatkan menjadi berbeda ‘gaya penyaluran’. 

Baca juga “Just Dont Judge Our Passion” 

Ada Ibu Rumah Tangga dengan title sarjana akuntansi yang memilih untuk bermain saham dirumah. 

Ada Ibu Rumah Tangga dengan title dokter memilih membantu suaminya saja yang berprofesi sama. 

Ada Ibu Rumah Tangga dengan title sarjana TI yang memilih menjadi programmer ataupun hacker. (haha) 

Ada pula Ibu Rumah Tangga yang bercita-cita menjadi guru namun karena tak kunjung ada penerimaan ia memilih menjadi penulis blog untuk menyalurkan ilmunya.  (ini siapa?) 😂

Kami para Ibu Rumah Tangga zaman sekarang, punya tanggung jawab lebih tinggi karena tuntutan dari pendidikan tinggi kami. Ilmu pengetahuan harus diaplikasikan dengan ruang yang benar agar tidak menyusut. 

Karena itu Ibu Rumah Tangga sekarang tidak bisa bekerja ‘fokus’ pada pekerjaan rumah. Harus memasak, urus anak, membersihkan rumah, melayani suami SAJA. Karena ia merasa memiliki kewajiban lain untuk menyalurkan ilmu pengetahuan dan passionnya yang sesuai. 

Maka, jangan disalahkan jika Ibu Rumah Tangga sekarang kok tidak bisa ya serba sempurna pekerjaan rumahnya seperti Emak senior? Karena passion mereka tak sesederhana itu! 

3. Emak zaman dahulu tak mengenal Teknologi tapi mereka kenal prinsip gotong royong

Kenapa sih emak zaman dulu kok bisa-bisa aja padahal mereka ga punya mesin cuci, rice cooker, stroller, kulkas, mobil, kendaraan, mesin air, dan bla-bla..?

Jadi orang zaman dulu itu capek tau ga! karena minim teknologi. Eh, tapi masih bisa waras kok. Sekarang kok susah ya? 

Jawabannya karena emak zaman sekarang lebih individualis dibanding emak zaman dulu.. 

Bukan, maksud individualis disini bukan anti sosial. Tapi keadaan yang menuntut menjadi individualis. Ya, ini berlaku buat para emak-emak perantauan, emak-emak komplek, dan emak-emak lain yang menyandang status ibu baru di lingkungan baru. 

Pernah mendengar pepatah “Hujan emas dinegeri orang, tapi lebih enak hujan batu di negeri sendiri” 

Kalian tau kenapa pepatah itu ada? 

Karena andai hujan batu benar-benar terjadi maka emak-emak zaman dulu akan mengatasinya dengan kerja sama. Kebanyakan dari emak-emak zaman dulu masih tinggal satu atap dengan mertua atau orang tua, berdampingan dengan ipar dan saudara lain. Ramai? Ramai dan banyak yang saling membantu. Karena itu pekerjaan menjadi mudah. 

Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. 

Karena itu emak zaman dahulu ada yang bisa berdagang macam-macam hingga mengurus rumah tangga. Rumah tangganya dipenuhi dengan prinsip kerja sama_antar rumah tangga. 

Sekarang kok tidak bisa begitu? Kok tidak bisa sambil berdagang semrawut begitu? 

Karena emak sekarang adalah emak rantau dan tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan membantu selain suami dan anak sendiri. Mencari ART juga problematika yang sulit. Betul? Maka biarkanlah emak sekarang bekerja sama dengan teknologi untuk mempermudah pekerjaannya. Jangan dinyinyirin loh.. Hihi.. 

4. Sosial Media emak zaman dahulu adalah seni berbicara saat Gotong Royong

Emak sekarang kebanyakan sosmed makanya deh pekerjaannya ga sesempurna emak zaman dulu.. 

Yuk kita intip realitanya.. 

Pagi-pagi emak sekarang puter mesin cuci sambil santai dulu buka facebook sembari merebus air…

Sore hari menunggu adonan cookies mateng foto-foto dulu sambil update status diinstagram bahwa ‘sedang on process nih cookiesnya..’

Pas udah si cookies mateng bukannya ngerjain pekerjaan lain kayak nyuci bekas ‘perang’ misalnya. Eeh, malah sibuk foto-foto si cookies hingga berjam-jam lamanya sambil nulis. 😂

Nyetrika malam-malam sambil aja tuh tangannya scrooll feed di bbm, facebook, dan instagram. Sambil sesekali ngelike dan koment pertanda sang emak masih eksis didunia maya. 

Sebelum tidur jangan lupa buka online shop. Mengharapkan ada diskon atau promo. Lalu ngeliatin barang kesuami sambil bilang “Bagus ya Pa..”, sang suami manggut-manggut sambil mengerutkan dahi melihat penuhnya isi lemari. 

Banyak emak gini? Banyak!!! *mukul muka.. 😂

Salah ga sih emak sekarang begitu? 

Ya ga salah-salah amat, apalagi buat stay at home mom! Its Normal! 

Seorang perempuan dituntut mengerjakan pekerjaan rumah dengan tidak mengabaikan kewarasan dirinya untuk tetap bisa berbicara. Perempuan normal mengeluarkan menimal 20.000 kata perhari agar tetap waras.

Emak zaman dahulu mengeluarkan kata dengan berbicara. Mereka berbicara sambil bekerja. Sebenarnya tidak jauh beda kan dengan emak sekarang? Emak sekarang mengeluarkan kata dengan menulis dan bersosial media_mereka dapat melakukan itu sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, buat emak yang suka nyinyir kok sosmed mulu? 

Mungkin mereka masih kekurangan bahan pembicaraan untuk menggenapkan 20.000 kata minimunnya perhari. 😂

5. Emak zaman dahulu tak mengenal dunia Sosialita walau sering bersosial

Menjadi emak zaman sekarang itu dilematis. Tau?

Coba deh kalau jadi emak sekarang kalian pilih posisi yang mana? 

1. Jadi emak rumahan yang fokus dengan keluarga dan jarang bersosial secara langsung. Hanya aktif dimedia sosial dan takut salah bergaul dengan menghindari kehidupan sosialita.

2. Jadi emak yang memiliki jiwa sosial tinggi. Memiliki koneksi disana sini, aktif dengan berbagai kegiatan sosial namun memiliki resiko lemah hati dengan dunia sosialita. Tidak tahan dengan godaan tas branded, kosmetik gaya terbaru, dan berbagai lifestyle lainnya. 

Mungkin kalo saya dikomunitas ini kerjaan cuma tukang foto 😂

Enak jadi emak sekarang?

Saya sendiri masih takut berada diposisi nomor 2 karena sadar diri dengan kondisi keuangan rumah tangga. Disatu sisi saya mensyukuri kepribadian saya yang lumayan introvert. 😂

Saya adalah tipe nomor satu yang masih selektif untuk memilih teman sosial. Selektif itu susah.. Tau? 

Sedangkan emak zaman dulu dihadapkan pada dunia sosialita yang ‘damai’. Tidak perlu terlalu selektif karena pergaulannya sama-sama saja. Tidak ada tas branded, tidak ada lipstik 500k, tidak mengerti dengan update fashion kekinian. Dan yang paling membuat iri adalah kesenjangan sosial tidak seperti sekarang. Emak zaman dulu tidak terlalu mengerti tentang kesenjangan sosial karena lingkungannya amatys

Emak saya dahulu termasuk dalam kategori nomor 2. Tapi lingkungannya tidak seperti sekarang. Ketika zaman sekarang para Ibu sibuk dengan tas mahal, gaya hijab dan lipstik. Maka emak saya zaman dahulu sudah dikategorikan cukup trendish hanya dengan mengeriting rambutnya. 😂 

Sekian akhir dari tulisan saya. Sebagai penutup tentu saya menulis ini bukan untuk menyalahkan adat kebiasaan emak zaman dulu. Tidak ada niat sama sekali untuk menjelek-jelekkan emak zaman dulu. Karena saya sadar diri bahwa saya pun terbentuk dari warisan kebaikan para emak zaman dulu. Saya sangat menghargai bagaimana cara beradaptasi, berpikir dan pendidikan emak zaman dulu. 

Namun, saya pernah mendengar sebuah kata bijak. Bahwa “didiklah anak sesuai dengan zamannya” 

Saya sangat bersyukur memiliki orang tua yang memberi pengertian lain pada kata bijak diatas, mereka tidak memanjakan saya walau perbedaan zaman menuntut saya untuk mengikuti trend saat remaja. Mereka tak pernah menyalah-artikan kalimat diatas dengan ‘menuruti segala permintaan saya’. 

Kemudian, Saya membuat pengertian dalam kalimat itu bahwa setiap manusia dilahirkan dengan zaman yang berbeda. Anak diharuskan beradaptasi dengan cara berbeda, membentuk pola pikir berbeda dan TETAP membiarkan nilai kebaikan dari warisan kedua orang tuanya serta meninggalkan kejelekannya. Jadi, pengertian mendidik anak sesuai dengan zamannya adalah mendidik dengan terus ‘mengupgrade’ ilmu pengetahuan terkini agar dapat bermanfaat didalam keluarga dan lingkungannya. Karena berbeda zaman, maka berbeda pula tantangan hidupnya. 

Maka, biarkan emak sekarang berkembang sesuai zamannya.. 😊

8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

Setiap wanita didunia diciptakan dengan rahim yang berbeda serta lingkungan yang berbeda pula. Hal itulah yang membuatnya unik antara satu dengan yang lain. Keunikan dari setiap karakter dan passion wanita terkadang membuatnya memilih jalan yang berbeda pula ketika dewasa. Ada yang memilih untuk mengutamakan perkembangan diri dengan menunda-nunda pernikahan. Ada yang merasa menikah akan meningkatkan kualitas hidupnya dibanding menyandang status single sehingga memutuskan menikah dini. Ada pula yang beruntung, bisa menikah serta sekaligus dapat mengembangkan diri dalam rutinitas rumah tangga_mengurus anak dan suami.

Tentu setiap pilihan dari wanita setelah menikah adalah pilihan yang berharga. Stay at Home dan Working Mom itu adalah Super Mom. Tidak ada yang melebihi status spesial dari pada yang lain. Status Ibu_apapun plihannya adalah status mulia.

Ya, status mulia dengan tanggung jawab besar. Hanya saja dalam mengelola tanggung jawabnya sang Ibu diharuskan selalu bahagia. Ibu yang tidak bahagia akan menghasilkan output yang tidak sempurna_tidak bahagia pula.

Siapa yang tidak bahagia? Working Mom? Stay at Home Mom?

Yeah.. Kata siapa Ibu yang fokus mengurus rumah tangganya dirumah saja akan selalu bahagia? Ya, Belakangan ini aku sering melihat beberapa keluhan, terutama dari Full time Mother. Keluhan itu awalnya adalah keluhan kecil_kemudian membesar dan merembet pada hal-hal yang besar. Ledakan dari keluhan Full time Mother tidak jarang menjadi sorotan disosial media. Apa yang salah dengan selalu berada dirumah sehingga membuat Ibu tidak bahagia?

Apa sebenarnya yang membuat para Ibu (Pepes) ini begitu depresi dirumah?

Ya.. Ya.. Aku tau.. Mereka mempunyai seribu alasan dibalik itu. Aku juga pernah merasakannya selama 2 tahun. Padahal, pilihan menjadi Full Time Mother adalah pilihanku sendiri. Lantas, bagaimana bisa aku tidak bersemangat menjalaninya?

Yup, itulah yang dinamakan IRT gagal Move On. Jadi, ngapain jadi IRT tulen kalo ujung-ujungnya dia kerjaannya depresi dikamar dan mengurus suami dan anak dengan tidak ikhlas? There’s something Wrong Mom. U know it.

Apa saja sih yang membuat IRT ini gagal Move On? Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Memesan Menu yang ‘SALAH’ 

Menu? Salah? Eh, kau pikir ini makanan?

Iya, rumah tangga itu adalah sebuah pilihan mom. Pilihan menu, begitu sederhananya.

Bayangkan aja, anda berada disebuah restoran. Anda ‘buta’ dengan nama menu yang ada direstoran tersebut. Kemudian memesan makanan secara asal. Ketika makanan datang, anda malah mau mun*ah dengan rasa makanannya.

Anda punya dua opsi saat itu. Yang pertama adalah memaksa tetap makan dan munt*h setelahnya. Yang kedua adalah mengganti menu yang lain.

Kebanyakan Rumah Tangga berjalan dan baru sadar 2-3 bulan hingga beberapa tahun bahwa dia menjalani pilihan hidup yang salah. Pilihan yang salah ini seharusnya dapat didiskusikan dan direnungkan bersama dengan suami. Katakan apa yang sebenarnya anda inginkan. Pilihlah menu yang benar yang sesuai dengan Passion anda.

2. Tidak memiliki Tujuan Hidup yang jelas

Kebanyakan Full Time Mother melupakan inti tujuan hidupnya. Selama berjam-jam lamanya setiap hari mereka lebih memilih menghabiskan waktu hidupnya sebagai Inem Tulen dirumah.

Lah? Emang salah? Nyapu, masak, nyuci itu pahala. Kamu kan ga tau bla bla bla..

Iya, iya Momm.. Saya tau. Tau banget malah.. 😅

Masalahnya disini adalah terkadang Ibu dirumah itu terkena sejenis ‘Genjutsu’ (kumat bahasa naruto saya) ketika berada dirumah. Terlena dengan kegiatan dirumah sehingga lupa dengan list list wajib yang seharusnya lebih dia utamakan. List Visible Job yang membuatnya seharusnya bahagia.

Setiap Ibu dengan Passion berbeda tentu memiliki tujuan berbeda pula. Maka, disini saya tidak akan menggurui kira-kira apa patutnya tujuan yang membuat hidup Ibu lebih bersemangat. Kan aneh ya kalo saya bilang

“Gimana kalo nyusun kegiatan belajar anak seminggu?”

“Gimana kalo nyusun daftar kue n masakan yang belum pernah dicoba? ”

“Gimana kalo minggu depan diadakan pertemuan antar Ibu-Ibu… Dan ini kegiatan yang akan dilaksanakan”

“Gimana kalo Besok Beli Ini, dibikin ini trus digini.. Digini”

Ya.. Itu contoh ya Ibu-ibu.. Jangan dibawa baper.. Sebagai saran akhir saya cuma bisa bilang pilih tujuan hidup yang bermakna Investasi masa depan dan minimal sesuatu yang Visible. Jangan ngerjain sesuatu yang invisible aja (nginem). Itu pahala emang bu.. Pahala.. Tapi kita butuh sesuatu yang visible supaya hidup kita makin semangaat.

Mulailah membuat list tujuan hidup baru. Tuliskan pada secarik kertas dan ditempel pada dinding kamar. Trus? Gimana kalo semuanya tidak kesampaian? Jangan mikir kesitu dulu buu.. Yang penting anda sudah menulis sebuah tujuan. Itu adalah sebuah niat yang mulia apapun hasilnya nanti.

3. Berada didunia yang salah

Ada beberapa Stay At Home Mom yang menikmati pekerjaannya dirumah. Cukup puas dengan melatih skill memasak, mendokumentasikan kegiatan dengan anak, berjualan online, ataupun menulis. Ialah Ibu yang Introvert. Ibu yang cukup senang berada didunia kotak.

Tapi ada beberapa Ibu yang bagaimanapun usaha dan kegiatannya dirumah maka perasaannya tetap saja bosan. Ibu jenis ini adalah Ibu yang ekstrovert. Ibu yang butuh piknik, kuliner, kerja diluar dan Silaturahmi. Ibu yang butuh dunia bulat, bukan kotak.

Apa jadinya jika si Ibu Ekstrovert berada didunia kotak? Dan apa jadinya Ibu Introvert yang berada didunia Bulat?

Ya, mereka tidak bisa berkembang. Karena setiap Ibu punya dunia masing-masing yang membuatnya merasa hidup.

4. Tidak memiliki Komunitas yang Mendukung

Aku sering mendengar Working Mom nyinyir  “Ibu anu tu kerjaan tiap sore pasti deh ngerumpi di rumah ibu anu, ngumpul sampe jam 5 sore. Ngapain aja sih ga ada kerjaan aja”

Hihi, iya.. Syukur aja ya ngomong sama aku yang cenderung suka dirumah dan punya komunitas onlineku sendiri. Tapi gimana dengan Ibu yang disebutnya tadi?

Ya, Ibu tersebut adalah jenis Ibu yang haus akan Silaturahmi. Jika menulis adalah wujud dari cara mengatasi kewarasanku maka bicara adalah alat pemuas kebutuhan bagi Ibu tersebut. Lagi pula, tau apa Ibu bekerja tentang pentingnya ngerumpi? Toh mereka juga punya teman dan komunitas sendiri dikantor.

Komunitas adalah kumpulan dari beberapa orang dimana didalamnya terdapat berbagai jenis orang yang memiliki tujuan yang sama. Komunitas ini penting bagi Ibu Introvert maupun Ekstrovert. Karena walau bagaimanapun juga tidak ada Ibu yang hobi ngomong sendirian kecuali dia gila. Bagi Ibu Ekstrovert ngerumpi dengan tetangga adalah jenis terapi melalui komunitas. Bagi Ibu Introvert, wujud komunitas dengan menulis dimedia Online seperti WA, Bbm, Fb, Twitter dan Instagram adalah jenis terapinya.

5. Tergila-gila dengan Kesempurnaan

Ada yang begini? Suka menyempurnakan segala sesuatu hal terkait suami anak dan rumah? Ya, itu aku.

Dulu sejak memutuskan menjadi Full Time Mother aku sering membaca artikel berkaitan dengan Parenting hingga tentang Masakan dan Baking. Aku ingin seperti Mama-mama kece yang sebegitu gampangnya menulis hal-hal ini.

Anak tak boleh lama-lama didepan TV, tidak boleh mainan gadget. Anak it seharusnya bla bla bla.. 

Istri yang disayang suami adalah istri yang jago ini.. Ini.. Ini.. 

…dan bagaimana pun beratnya tugasmu Rumah harus RAPI DAN BERSIH. 

Aku melakukan semuanya selama setahun dan menyadari bahwa diriku hanya terkikis habis untuk mengejar sebuah kesempurnaan tanpa mengasihani diriku sendiri. Ya, aku perlu aktualisasi diri dan mengurangi kadar sempurna.

Bagaimanapun juga hidup wanita harus seimbang. Ia tidak bisa menjadi sempurna dimata anak dan suami saja. Ia butuh menjadi pribadi yang sehat pula.

Mengejar kesempurnaan juga patut berlaku pada Working Mom. Ya, jika Full time Mother mengejar kesempurnaan untuk suami dan anaknya maka biasanya tidak jarang ada pula working mom yang mengejar kesempurnaan untuk aktualisasi dirinya saja sehingga melupakan kewajibannya dirumah.

6. Memiliki Suami yang Mendominasi

Memiliki tipe suami yang otoriter adalah salah satu hal yang membuat Full Time Mother tidak bisa Move On. Suami yang egois, merasa statusnya sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah menjadikannya alasan untuk mendominasi segala peraturan dirumah.

Type suami seperti ini akan sulit sekali membuat sang Ibu Move On. Karena gerakan sang Ibu seperti terbatasi oleh tali tak terlihat yang dlilitkan ditubuhnya.

Jika memiliki type suami seperti ini maka ada baiknya anda mengajaknya berbicara. Kemukakan segala keinginan anda. Karena biarpun anda adalah Guru dirumah anda_bagaimanapun juga suami adalah kepala sekolahnya.

Dan buat para suami, jadilah suami yang demokratis. Suami yang bisa melihat, mendengar dan menyejukkan jiwa istri dirumah. Bukan hanya menuntutnya menjadi serba sempurna dalam segala kegiatannya.

7. Kurangnya dorongan Semangat dari Suami

Dibalik suami yang luar biasa selalu ada istri luar biasa dibelakangnya.

Dibalik istri luar biasa selalu ada suami luar biasa yang mendukungnya.

Ya.. Ya.. Istri perlu dukungan dan semangat darimu wahai suami…!!!

Aku pernah bertemu dan melihat berbagai tipe lelaki. Ada yang ekspresif, jutek namun perhatian, hingga lebay tingkat tinggi. Tapi dari semuanya yang paling menyebalkan adalah tipe lelaki flat face dan robot feeling.

Apa itu Flat Face and Robot Feeling? Yup suami yang jarang tersenyum. Suami yang tidak ekspresif hanya menjawab segala pertanyaan sang istri hanya dengan “Iya” atau “terserah” dengan muka flat seakan akan tidak perduli. Keadaan ini diperparah dengan sibuknya jam kerja dari suami diluar. Aku berani bertaruh, Full Time Mother yang memiliki suami tipe begini lama kelamaan akan stress tingkat tinggi.

Jangankan memberi semangat untuk maju kepada sang istri. Menjadi pendengar yang baikpun suami tipe begini tidak bisa. Jika kebetulan suami anda seperti ini ada baiknya anda menulis surat padanya. Kemukakan segala perasaan anda. Biasanya suami tipe seperti ini lebih ekspresif pada media tulisan. Ya, bisa jadi dia introvert robot yang benar-benar tulen. Tidak ada salahnya dicoba bukan? 🙂


8. Menyalah-artikan kata ‘Syukur’ 

Menyalah-artikan makna syukur adalah hal yang paling sering aku jumpai pada Full Time Mother.

Apa itu syukur? Syukur adalah sebuah rasa berterima kasih yang tinggi atas segala karunia yang diterima dalam kehidupan yang diperoleh dari usaha. 

Ya, usaha Ibu-ibu.. Bukan hanya bersyukur karena Gajih Suami cukup kemudian kita bisa memasak enak lalu segala urusan rumah tangga selesai.

Memasak usaha juga kok.. 

Iya, memasak juga usaha. Namun, pastikan anda senang mengerjakannya. Menganggapnya adalah bukan hanya sebagai media untuk menyenangkan suami tapi juga merupakan passion anda. Karena percuma jika kita mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai. Perasaan itu akan menimbulkan rasa tidak ikhlas kemudian mencemari rasa syukur itu sendiri.

Aku percaya kadar tingkatan usaha dalam rasa syukur setiap Ibu berbeda-beda. Ya, setiap ibu punya ladang pahalanya sendiri. Tapi pastikan anda melakukannya sesuai dengan passion yang sesuai dan dilandasi rasa ikhlas.

IBX598B146B8E64A