Browsed by
Category: Self Improvement

Belajar membangkitkan semangat menulis dari Ahmad Fuadi-Penulis Novel Negeri 5 Menara

Belajar membangkitkan semangat menulis dari Ahmad Fuadi-Penulis Novel Negeri 5 Menara

Halo content writer shezahome? Masih hidup? 😅

Ya, sepertinya bulan ini aku termasuk jarang menulis ya. Berapa tulisan yang aku terbitkan bulan ini? Mana konsisten yang dulu sempat aku bangun? Kemana semangat menggebu-gebu itu pergi?

Apakah aku sudah menjadi pemalas?

Bukan, bukan malas. Lebih tepatnya aku mulai merasa pesimis. Semangat yang dulu ada itu tiba-tiba mulai menurun kualitasnya. Aku juga tidak tau persis apa alasannya. Padahal Domain Authority dari blog shezahome.com sudah meningkat menjadi 22 yang artinya blog aku sudah ‘lumayan’ diperhatikan oleh google.

Tapi seberapa bermanfaatkah tulisanku?

Ya, kata-kata itu muncul begitu saja. Menulis bagiku sekarang adalah terapi yang menyenangkan. Tapi terapi itu tidak berjalan baik jika tidak bisa berguna bagi siapapun. Memang, kebanyakan pengguna internet adalah pasif. Ketika mereka selesai membaca content maka mereka hanya akan ‘closed’ tanpa meninggalkan jejak ataupun ucapan terima kasih.

Mungkin saja itu karma. Sebelum mendalami dunia blog aku juga begitu. Silent Reader. Jadi anggap saja impas. Haha..

Berbicara mengenai traffic. Maka traffic blogku sudah ‘lumayan’ dibanding bulan pertama ngeblog. Terlebih sekarang aku juga punya komunitas dalam menunjang aktivitas ngeblog. Tapi jujur saja, aku butuh alasan lebih.. lebih.. dan lebih lagi supaya bisa tetap konsisten dalam membuat tulisan. Bagaimana cara memperbaiki mood ku yang tidak stabil sehingga blogku pun menjadi terkesan labil.

Itulah alasanku menghadiri ‘Meet and Greet’ penulis Ahmad Fuadi, yang diadakan di Aula Perpustakaan Daerah di Banjarmasin. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Fuadi? Penulis Novel ‘Negeri 5 Menara’? Aku bahkan terpikat saat pertama kali membaca bukunya.

Apah? Tidak pernah membaca Negeri 5 Menara? Tenggelamkan!

Hahaha.. 😂

***

Sebenarnya saat pertama kali aku menyelesaikan membaca buku Negeri 5 Menara aku tidak mendapat pembelajaran nyata. Aku terpikat, tapi aku iri. Ya, seperti biasa aku hanya bisa bilang “Ya iya dong dia bisa nulis buku keren soalnya ini buku tentang ‘dirinya sendiri’ dengan pengalaman hebatnya”

Lah, aku? Dimana pengalaman hebatku? Apa yang harus aku tulis? Aku kan tidak punya pengalaman hebat? Tidak pernah travelling? Tidak pernah belajar dipesantren? Tidak pernah merantau sejak kecil? Duniaku kotak, mataku hanya belajar pada kertas dan otakku hanya bisa berimajinasi.

Karena itulah sewaktu kecil aku sangat ‘malas’ membaca buku dengan pengalaman ‘nyata’. Aku iri. Aku lebih suka membaca buku imajinasi. Aku suka penulis yang terinspirasi dari buku dan suka mengkhayal. Ya, seseorang seperti JK. Rowling, Rick Riordan, dan Stephanie Meyer serta para pencipta karakter anime. Mereka mungkin lebih masuk akal dijadikan penulis idola untuk orang sepertiku.

Namun, sejak menjadi Ibu Rumah Tangga aku mulai merubah pandangan hidupku. Aku mulai tak suka mengkhayal berlebihan. Sejak menikahi introvert nyata, aku lebih suka membaca buku yang realitas. Sehingga genre novel yang kubaca mulai berubah. Ya.. Ya.. Aku suka Tere Liye dan Ahmad Fuadi. Aku juga mulai suka dengan gaya penulisan klasik oleh Lucy M. Mortgomery.

Karena itu, kenapa tidak belajar menjadi salah satu dari mereka?

***

Sebenarnya, ini bukan pertama kali aku bertemu dengan Ahmad Fuadi. Ini kedua kalinya.

Pertama kali bertemu dengan Ahmad Fuadi adalah saat aku diundang untuk menonton ‘Negeri 5 Menara’ oleh Bank Indonesia. Ya, saat itu aku masih menjadi mahasiswi magang. Aku menonton Negeri 5 Menara secara gratis saat itu. Dan saat selesai menontonnya, penulis novelnya kemudian hadir didepan bioskop sambil bergantian bersalaman dengan kami.

Tapi apa peduliku saat itu? Jujur saja saat melihat Ahmad Fuadi pertama kali dan menonton filmnya aku hanya bisa membatin, “sepertinya orangnya narsis” hahaha..

***

Namun semua pendapatku tentangnya luntur seketika ketika aku bertemu langsung dengannya untuk yang kedua kali dan mendengarnya berbicara.

Aku memang sengaja mengambil tempat duduk ‘lumayan didepan’ walau sadar diri bahwa aku mungkin satu-satunya Ibu Rumah Tangga yang absen dari kegiatan hariannya saat itu untuk menghadiri moment ini. Aku cukup sadar bahwa aku dikelilingi oleh puluhan mahasiswa berbaju almameter dan para dosennya.  Tapi, peduli amat? Ini undangan untuk umum kan? Lagian aku kesana ‘menyamar’ kok. 😆 #bukan pakai daster ya..

Terbukti penyamaranku cukup berhasil kok saat ada yang bertanya, “Mahasiswi mana?” dan aku menjawab singkat “alumnus kok udah” 😂😂

Okeh, kok jadi aku yang narsis? Ehm, bukannya kamu barusan bilang Ahmad Fuadi itu yang narsis?

Ya, ternyata Ahmad Fuadi itu Penulis Narsis yang beralasan.

Jika dia tidak narsis mana mungkin dia bisa menulis buku negeri 5 menara?

Jika dia tidak narsis, siapa yang tidak akan iri mengikuti jejaknya berkeliling dunia hanya karena dia hoby membaca dan menulis?

Jika dia tidak hoby pamer, siapa yang tau tentangnya?

Maka ketahuilah, narsis itu anugerah.

Orang narsis, kita terinspirasi dari narsisnya. Itulah narsis yang benar.

Terlebih seperti Ahmad Fuadi. Selama 1 jam disana terbukti para penonton ternganga lebar melihat foto-fotonya berkeliling dunia. Bagaimana bisa??

Konsisten macam apa yang dia miliki? Pikirku.. Mungkin dia konsisten karena cerita hidupnya memang sangat banyak yang seru dan menantang. Ah.. Seharusnya aku memang tak cocok mendengarnya berbicara, nanti aku minder. Seharusnya aku menanti Tere Liye saja yang datang. *Loh

Sebenarnya aku tidak tertarik mendengar cerita Ahmad Fuadi yang sudah jelas merupakan kisah dari Alif, tokoh utama novel Negeri 5 Menara. Tapi seperti yang kuduga, dia pasti menceritakan itu. Dan aku bosan. Lalu seakan bisa membaca kebosananku beliau berkata..

“Saya heran, kenapa buku Novel ‘Negeri Lima Menara’ menjadi bacaan wajib di beberapa sekolah dan univeritas di luar negeri. Salah satunya di sekolah Xin Min Singapura dan Lote Secondary School di New South Wales Australia. Juga jadi bagian dari mata kuliah di Universitas California Berkeley”

Dan Dosen dari Universitas California Berkeley menjawab, “The Land of 5 Tower is the story about Human Being

Human being.. Itulah rahasia kenapa orang suka sekali dengan buku negeri 5 menara. Ia menceritakan tentang kisah perjalanan manusia. Nyata dan sangat indah. Tiba-tiba aku mulai merasakan dejavu saat membaca buku itu. Ya, harus diakui buku itu luar biasa. Aku hanya iri karena tak bisa berusaha mewujudkan semangat dari man jadda wajada dari buku itu.. 

“Buku adalah Karpet Terbang” Katanya..

“… Jika kalian pernah memimpikan karpet terbang dari film disney Aladin maka bangunlah mimpi itu dari membuat buku, maka buku akan membawamu kemana saja”

Aku langsung merinding. Benar. Ahmad Fuadi dapat berkeliling dunia karena buku. Dia menulis buku dan buku telah menerbangkannya kesegala penjuru dunia. Dia memiliki ‘Karpet terbang’ karena usahanya yang sungguh-sungguh. Man Jadda Wajada.. 

“Buku.. Lebih Tajam dibanding peluru”

“.. Peluru hanya bisa menembus kulit dan daging. Tapi buku dapat membangun gagasan pemikiran seseorang. Buku dapat mempengaruhi seseorang. Satu peluru buku pada satu orang mungkin akan berdampak pada seratus, bahkan seribu

“Buku.. Adalah Keabadian yang dapat kita ukir didunia. Maka, selagi hidup cobalah berusaha menulis walau hanya satu buku saja” 

Aku merinding. Benar. Semua yang dia katakan benar. Satu buku. Satu buku untuk menciptakan sejarah.

Tapi bagaimana? Sulitkah membuat satu buku saja?

“… Saya menyelesaikan buku Negeri 5 Menara dalam waktu satu tahun. Saat itu saya bekerja dan pulang dari bekerja saya menyempatkan diri untuk menulis satu halaman sehari.. Satu tahun menjadi 365 halaman”

“… Kemudian edit, edit, edit dan dalam waktu 2 tahun akhirnya buku Negeri 5 menara berhasil dicetak”

Dan kalian tentu tahu kalimat berikutnya yang bla bla bla.. *bikin iri banget. Okeh, pokoknya bisa cari informasi di google lah ya untuk perjalanan Ahmad Fuadi. 😂

***

Saat sesi tanya-jawab, banyak sekali peserta yang bertanya. Dari Dosen hingga mahasiswanya. Namun banyak juga yang tidak terlalu memperhatikannya. Kupikir sepertinya menghadiri Meet & Greet Ahmad Fuadi ini merupakan kewajiban bagi mereka. Hihi..

Sebenarnya aku juga ingin bertanya tapi karena pertanyaanku mirip dengan penanya pertama kurasa niatku lebih baik kuurungkan. Daripada aku ditanya “mahasiswi mana?” dan aku hanya menjawab “ibu rumah tangga (yang haus ilmu)” 😂

Salah satu pertanyaan yang kuingat adalah “Bagaimana kita dapat konsisten menulis satu halaman perhari sementara kita tidak punya pengalaman ‘nyata’ seperti anda..”

Saat itu beliau langsung menjelaskan..

“Saat saya menulis saya melakukan 5 hal”

Pertama, “Saya masuk kedalam diri dan bertanya kenapa saya menulis? Apa sebenarnya tujuan dari tulisan saya”

Kedua, “Saya memutuskan untuk menulis APA”

Ketiga, “Saya melakukan Riset dari APA yang ingin saya tulis”

Keempat, “LAKUKAN SEGERA, atau ide itu akan hilang begitu saja”

Kelima, “Tulis saja. Tulis segala yang ingin ditulis. Tiap penulis punya gayanya sendiri. Maka, jadilah diri sendiri. Saat anda menikmati proses menulis dan tidak terbebani maka itulah cara bagaimana anda menulis”

Akhir kata, aku benar-benar mendapat pelajaran berharga dari ‘Meet and Greet with Ahmad Fuadi’. Jika suatu saat aku bisa bertemu lagi semoga saja aku dapat kesempatan untuk bertanya.

Sebenarnya aku pulang sebelum acaranya diakhiri. Maklum, emak-emak.. Harus jemput anak sekolah. Hiks..

Tanda tangan pun tak dapat.. 😭

Tapi aku sudah mendapatkan sebagian dari semangat Ahmad Fuadi. Aku akhirnya mengerti kenapa ia bisa terus konsisten menulis. Bukan, ini lebih dari tentang Man Jadda wajada. Ini juga tentang Man Shabara Zhafira. Dan Ini juga tentang menjadi diri sendiri. 😊

Disclaimer: kutipan kata-kata dari Ahmad Fuadi mungkin terdapat sedikit kesalahan. Karena metode dokumentasi penulis hanyalah catatan kecil saja. Harap dimaklumi. 😅

Kenapa sih Emak zaman dulu selalu BISA? 

Kenapa sih Emak zaman dulu selalu BISA? 

Sebenarnya sudah sejak lama sekali saya ingin menulis tentang hal ini. Tentang bagaimana cara adaptasi emak-emak zaman dulu yang (katanya) terlihat (lebih) super woman dibandingkan emak zaman sekarang. 

Lebih hebat, serba bisa.. 

Menghasilkan belasan anak yang konon selalu sukses.. 

Bisa mencari nafkah sendiri, mama yang_konon katanya mandiri.. 

Serta… Lebih terjaga kewarasannya.. Padahal emak zaman dulu menikah dalam usia muda. 

Emak sekarang? 

Punya berbagai teknologi tapi lamban dalam bekerja.. 

Tidak dapat mandiri, padahal anak cuma dua biji.. 

Usia menikah dan punya anak tergolong sudah matang tapi rentan terkena baby blues dan gangguan psikologi lainnya..

Baca juga Mengenal Gejala dan Penyebab serta Penanganan Baby Blues

Emak zaman sekarang bahkan terkesan lebih sulit move on dibanding emak zaman dulu. Padahal, emak zaman dulu sebagian besar juga merupakan stay at home mom. Tetapi pekerjaannya dinilai lebih produktif dibanding emak sekarang. Kok bisa ya? 

Baca juga : ‘8 Hal penyebab Stay At Home Mom Gagal Move On’ 

Saya sudah sering sekali mendengar para emak senior berbincang ria saat perkumpulan pada acara silaturahim. Saling membanggakan diri satu sama lain. Membanggakan Mamanya Mama dan Mamanya si Mama. Membandingkan kehidupan emak era 70an, 80an hingga 90an.

“Saya dulu enggak begitu loh.. Mama saya dulu begini..begitu.. Tetep senang-senang aja. Tetep bahagia.. Padahal anaknya ada lima belassss… Anak sekarang punya anak satu aja repot sama stress” 

Sering denger statement diatas?? Udah kita masuk kamar aja dah.. Nonjok boneka.. Hahahha.. 

Memang banyak banget emak-emak yang ngomong suka seenaknya begitu tanpa memikirkan bagaimana jika dia berada diposisi kita dengan anugerah passion yang berbeda. Solusi kalo ketemu emak begini? Udah, bawa makan aja.. Hahahaha.. 

Kenyataannya, ketika berbicara dengan para emak senior yang suka sok perfeksionis dan suka membanding-bandingkan itu saya tentu saja tidak bisa melupakan kalimat itu begitu saja. Bukan, ini bukan tentang merasa kesal saja. Tapi, ada kalanya saya juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi emak senior yang lahir pada tahun 60an. Memiliki anak pada tahun 80an dan tetap waras walau tidak punya ART dan memiliki belasan anak. 

Kalo emak zaman sekarang sih mustahil ya.. 

Ya, kalimat itu lagi-lagi terngiang dikepala saya. Memang mustahil. Pikir saya. 

Kenapa sih? Kenapa kok mereka bisa? 

Rasa iri tiba-tiba saja memenuhi pikiran saya. Jujur, rasa iri itu sempat menginap lama dipikiran saya. Kemudian rasa itu membakar hati saya. Membuat aura persaingan dalam diri saya yang kemudian membuat saya menjadi Ibu yang serba perfeksionis. Saat itu, dalam hati saya berkata, “Aku juga bisa kayak emak senior itu!” 

Kenyataannya, setelah beberapa tahun mencoba menjadi seperti emak senior akhirnya saya sadar bahwa saya telah menghilangkan passion yang seharusnya benar-benar saya lakukan. Saya merasa terdepresiasi secara ekstrim karena ingin mencoba menjadi emak senior. Saat menyadari hal itu saya berkata pada diri saya sendiri. Hei, its enough! 

I cant be like u…!!! I’m Different! 

Setelah saya tersadar dan mulai bangun dari cengkraman pikiran perfeksionis dengan rule mode yang salah akhirnya saya bebas menjalani passion yang seharusnya saya geluti dan menghilangkan sepenuhnya sisi plegmatis dalam kepribadian yang dominan melankolis ini. Saya menghilangkan segala jenis bentuk Rule Mode. Saya harus menjadi diri saya sendiri. 

Nah, Kalian tau kenapa emak-emak zaman dulu selalu BISA? Yuk, kita ulas berbagai alasannya.. 

1. Emak zaman dulu didukung oleh lingkungan ‘Amity’ 

Jika kalian pernah menonton film Divergent tentu kata amity tidak terdengar asing. 

Amity adalah salah satu kelompok yang paling bersahabat, pecinta kedamaian dan paling tidak ambil pusing dalam ilmu pengetahuan. Pekerjaan para amity adalah berkebun, bertani, nelayan, dan sebagainya. Jenis pekerjaan yang sangat cinta damai.

Tidak dipungkiri bahwa lingkungan para emak senior lebih didominasi oleh masyarakat yang ‘amity’. Dalam fakta kehidupan di masyarakat secara sederhana kita dapat melihat pada berbagai kehidupan suku pedalaman. Sebut saja contohnya kaum Bushman. 

Look Familiar? 

Yup, Bushman adalah tokoh suku latar utama dalam film The God Must Be Crazy. Suku yang sangat sederhana. Film The God Must Be Crazy menggambarkan betapa sederhana dan simple nya cara berpikir mereka. Hal ini tentu sangat lucu jika digabungkan dengan pemikiran masyarakat kota yang sudah terpapar oleh pengetahuan, teknologi dan sebagainya. 

Maksudmu apa sih? Memangnya emak dulu kaum primitif gitu? Kok contohnya enggak banget? 

Tentu saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan kaum emak senior dahulu yang juga tentu merupakan senior saya. Namun, disini saya menekankan bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh didominasi oleh kaum yang berpikir sangat sederhana dan saat itu ilmu pengetahuan tidak sekompleks sekarang. 

Seperti pada suku bushman yang sangat bahagia ketika mendapatkan air dari tetesan embun, seperti itu pula orang zaman dahulu lebih mudah merasakan rasa syukur. Hanya dengan nasi dan garam saja mereka sudah merasa sangat bahagia. Betul? Tanyakan emak kalian yang hidup pada era 70an.

2. Emak zaman dahulu punya passion yang sederhana 

Zaman dahulu pendidikan emak-emak jauh lebih rendah dibanding sekarang. Sebagian dari mereka hanya menyandang lulusan SD. Pendidikan SMA itu tergolong sangat tinggi dan dapat memiliki profesi disegala bidang. 

Seperti kita tau passion terbentuk karena kebiasaan dan pendidikan. Emak-emak zaman dahulu memiliki hoby yang tidak jauh dari aktivitas dirumah karena saat remaja pun mereka cenderung senang dirumah dan sebagian lagi mendapatkan kesempatan berbeda dalam jenjang pendidikan. 

Emak dengan pendidikan lulusan SD biasanya cenderung memiliki passion di bidang memasak. Sementara emak lulusan SMA dan kuliah dan lain-lain biasanya menjadi guru dan atau bekerja diluar. 

Emak dengan jenjang pendidikan tinggi biasanya merasa wajib mendistribusikan ilmunya kemasyarakat karena itu ia memilih bekerja dimasyarakat. Zaman dahulu mencari pekerjaan termasuk mudah dibanding sekarang sehingga passion emak dengan pendidikan tinggi dapat benar-benar tersalur. 

Zaman sekarang? Beda gaya!

Penyaluran passion tidak dapat sesederhana itu!

Seorang Ibu Rumah Tangga zaman dulu dengan pendidikan lulusan SD tidak dapat disamakan dengan Ibu Rumah Tangga zaman sekarang yang kebanyakan sarjana. Menjadi sarjana adalah sebuah beban. Disatu sisi kita merasa bertanggung jawab dengan ilmu yang kita peroleh, tapi disisi lain ada keluarga yang membutuhkan kita. Dan akhirnya? Akhirnya passion yang seharusnya kita tingkatkan menjadi berbeda ‘gaya penyaluran’. 

Baca juga “Just Dont Judge Our Passion” 

Ada Ibu Rumah Tangga dengan title sarjana akuntansi yang memilih untuk bermain saham dirumah. 

Ada Ibu Rumah Tangga dengan title dokter memilih membantu suaminya saja yang berprofesi sama. 

Ada Ibu Rumah Tangga dengan title sarjana TI yang memilih menjadi programmer ataupun hacker. (haha) 

Ada pula Ibu Rumah Tangga yang bercita-cita menjadi guru namun karena tak kunjung ada penerimaan ia memilih menjadi penulis blog untuk menyalurkan ilmunya.  (ini siapa?) 😂

Kami para Ibu Rumah Tangga zaman sekarang, punya tanggung jawab lebih tinggi karena tuntutan dari pendidikan tinggi kami. Ilmu pengetahuan harus diaplikasikan dengan ruang yang benar agar tidak menyusut. 

Karena itu Ibu Rumah Tangga sekarang tidak bisa bekerja ‘fokus’ pada pekerjaan rumah. Harus memasak, urus anak, membersihkan rumah, melayani suami SAJA. Karena ia merasa memiliki kewajiban lain untuk menyalurkan ilmu pengetahuan dan passionnya yang sesuai. 

Maka, jangan disalahkan jika Ibu Rumah Tangga sekarang kok tidak bisa ya serba sempurna pekerjaan rumahnya seperti Emak senior? Karena passion mereka tak sesederhana itu! 

3. Emak zaman dahulu tak mengenal Teknologi tapi mereka kenal prinsip gotong royong

Kenapa sih emak zaman dulu kok bisa-bisa aja padahal mereka ga punya mesin cuci, rice cooker, stroller, kulkas, mobil, kendaraan, mesin air, dan bla-bla..?

Jadi orang zaman dulu itu capek tau ga! karena minim teknologi. Eh, tapi masih bisa waras kok. Sekarang kok susah ya? 

Jawabannya karena emak zaman sekarang lebih individualis dibanding emak zaman dulu.. 

Bukan, maksud individualis disini bukan anti sosial. Tapi keadaan yang menuntut menjadi individualis. Ya, ini berlaku buat para emak-emak perantauan, emak-emak komplek, dan emak-emak lain yang menyandang status ibu baru di lingkungan baru. 

Pernah mendengar pepatah “Hujan emas dinegeri orang, tapi lebih enak hujan batu di negeri sendiri” 

Kalian tau kenapa pepatah itu ada? 

Karena andai hujan batu benar-benar terjadi maka emak-emak zaman dulu akan mengatasinya dengan kerja sama. Kebanyakan dari emak-emak zaman dulu masih tinggal satu atap dengan mertua atau orang tua, berdampingan dengan ipar dan saudara lain. Ramai? Ramai dan banyak yang saling membantu. Karena itu pekerjaan menjadi mudah. 

Berat sama dipikul ringan sama dijinjing. 

Karena itu emak zaman dahulu ada yang bisa berdagang macam-macam hingga mengurus rumah tangga. Rumah tangganya dipenuhi dengan prinsip kerja sama_antar rumah tangga. 

Sekarang kok tidak bisa begitu? Kok tidak bisa sambil berdagang semrawut begitu? 

Karena emak sekarang adalah emak rantau dan tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan membantu selain suami dan anak sendiri. Mencari ART juga problematika yang sulit. Betul? Maka biarkanlah emak sekarang bekerja sama dengan teknologi untuk mempermudah pekerjaannya. Jangan dinyinyirin loh.. Hihi.. 

4. Sosial Media emak zaman dahulu adalah seni berbicara saat Gotong Royong

Emak sekarang kebanyakan sosmed makanya deh pekerjaannya ga sesempurna emak zaman dulu.. 

Yuk kita intip realitanya.. 

Pagi-pagi emak sekarang puter mesin cuci sambil santai dulu buka facebook sembari merebus air…

Sore hari menunggu adonan cookies mateng foto-foto dulu sambil update status diinstagram bahwa ‘sedang on process nih cookiesnya..’

Pas udah si cookies mateng bukannya ngerjain pekerjaan lain kayak nyuci bekas ‘perang’ misalnya. Eeh, malah sibuk foto-foto si cookies hingga berjam-jam lamanya sambil nulis. 😂

Nyetrika malam-malam sambil aja tuh tangannya scrooll feed di bbm, facebook, dan instagram. Sambil sesekali ngelike dan koment pertanda sang emak masih eksis didunia maya. 

Sebelum tidur jangan lupa buka online shop. Mengharapkan ada diskon atau promo. Lalu ngeliatin barang kesuami sambil bilang “Bagus ya Pa..”, sang suami manggut-manggut sambil mengerutkan dahi melihat penuhnya isi lemari. 

Banyak emak gini? Banyak!!! *mukul muka.. 😂

Salah ga sih emak sekarang begitu? 

Ya ga salah-salah amat, apalagi buat stay at home mom! Its Normal! 

Seorang perempuan dituntut mengerjakan pekerjaan rumah dengan tidak mengabaikan kewarasan dirinya untuk tetap bisa berbicara. Perempuan normal mengeluarkan menimal 20.000 kata perhari agar tetap waras.

Emak zaman dahulu mengeluarkan kata dengan berbicara. Mereka berbicara sambil bekerja. Sebenarnya tidak jauh beda kan dengan emak sekarang? Emak sekarang mengeluarkan kata dengan menulis dan bersosial media_mereka dapat melakukan itu sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, buat emak yang suka nyinyir kok sosmed mulu? 

Mungkin mereka masih kekurangan bahan pembicaraan untuk menggenapkan 20.000 kata minimunnya perhari. 😂

5. Emak zaman dahulu tak mengenal dunia Sosialita walau sering bersosial

Menjadi emak zaman sekarang itu dilematis. Tau?

Coba deh kalau jadi emak sekarang kalian pilih posisi yang mana? 

1. Jadi emak rumahan yang fokus dengan keluarga dan jarang bersosial secara langsung. Hanya aktif dimedia sosial dan takut salah bergaul dengan menghindari kehidupan sosialita.

2. Jadi emak yang memiliki jiwa sosial tinggi. Memiliki koneksi disana sini, aktif dengan berbagai kegiatan sosial namun memiliki resiko lemah hati dengan dunia sosialita. Tidak tahan dengan godaan tas branded, kosmetik gaya terbaru, dan berbagai lifestyle lainnya. 

Mungkin kalo saya dikomunitas ini kerjaan cuma tukang foto 😂

Enak jadi emak sekarang?

Saya sendiri masih takut berada diposisi nomor 2 karena sadar diri dengan kondisi keuangan rumah tangga. Disatu sisi saya mensyukuri kepribadian saya yang lumayan introvert. 😂

Saya adalah tipe nomor satu yang masih selektif untuk memilih teman sosial. Selektif itu susah.. Tau? 

Sedangkan emak zaman dulu dihadapkan pada dunia sosialita yang ‘damai’. Tidak perlu terlalu selektif karena pergaulannya sama-sama saja. Tidak ada tas branded, tidak ada lipstik 500k, tidak mengerti dengan update fashion kekinian. Dan yang paling membuat iri adalah kesenjangan sosial tidak seperti sekarang. Emak zaman dulu tidak terlalu mengerti tentang kesenjangan sosial karena lingkungannya amatys

Emak saya dahulu termasuk dalam kategori nomor 2. Tapi lingkungannya tidak seperti sekarang. Ketika zaman sekarang para Ibu sibuk dengan tas mahal, gaya hijab dan lipstik. Maka emak saya zaman dahulu sudah dikategorikan cukup trendish hanya dengan mengeriting rambutnya. 😂 

Sekian akhir dari tulisan saya. Sebagai penutup tentu saya menulis ini bukan untuk menyalahkan adat kebiasaan emak zaman dulu. Tidak ada niat sama sekali untuk menjelek-jelekkan emak zaman dulu. Karena saya sadar diri bahwa saya pun terbentuk dari warisan kebaikan para emak zaman dulu. Saya sangat menghargai bagaimana cara beradaptasi, berpikir dan pendidikan emak zaman dulu. 

Namun, saya pernah mendengar sebuah kata bijak. Bahwa “didiklah anak sesuai dengan zamannya” 

Saya sangat bersyukur memiliki orang tua yang memberi pengertian lain pada kata bijak diatas, mereka tidak memanjakan saya walau perbedaan zaman menuntut saya untuk mengikuti trend saat remaja. Mereka tak pernah menyalah-artikan kalimat diatas dengan ‘menuruti segala permintaan saya’. 

Kemudian, Saya membuat pengertian dalam kalimat itu bahwa setiap manusia dilahirkan dengan zaman yang berbeda. Anak diharuskan beradaptasi dengan cara berbeda, membentuk pola pikir berbeda dan TETAP membiarkan nilai kebaikan dari warisan kedua orang tuanya serta meninggalkan kejelekannya. Jadi, pengertian mendidik anak sesuai dengan zamannya adalah mendidik dengan terus ‘mengupgrade’ ilmu pengetahuan terkini agar dapat bermanfaat didalam keluarga dan lingkungannya. Karena berbeda zaman, maka berbeda pula tantangan hidupnya. 

Maka, biarkan emak sekarang berkembang sesuai zamannya.. 😊

8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

Setiap wanita didunia diciptakan dengan rahim yang berbeda serta lingkungan yang berbeda pula. Hal itulah yang membuatnya unik antara satu dengan yang lain. Keunikan dari setiap karakter dan passion wanita terkadang membuatnya memilih jalan yang berbeda pula ketika dewasa. Ada yang memilih untuk mengutamakan perkembangan diri dengan menunda-nunda pernikahan. Ada yang merasa menikah akan meningkatkan kualitas hidupnya dibanding menyandang status single sehingga memutuskan menikah dini. Ada pula yang beruntung, bisa menikah serta sekaligus dapat mengembangkan diri dalam rutinitas rumah tangga_mengurus anak dan suami.

Tentu setiap pilihan dari wanita setelah menikah adalah pilihan yang berharga. Stay at Home dan Working Mom itu adalah Super Mom. Tidak ada yang melebihi status spesial dari pada yang lain. Status Ibu_apapun plihannya adalah status mulia.

Ya, status mulia dengan tanggung jawab besar. Hanya saja dalam mengelola tanggung jawabnya sang Ibu diharuskan selalu bahagia. Ibu yang tidak bahagia akan menghasilkan output yang tidak sempurna_tidak bahagia pula.

Siapa yang tidak bahagia? Working Mom? Stay at Home Mom?

Yeah.. Kata siapa Ibu yang fokus mengurus rumah tangganya dirumah saja akan selalu bahagia? Ya, Belakangan ini aku sering melihat beberapa keluhan, terutama dari Full time Mother. Keluhan itu awalnya adalah keluhan kecil_kemudian membesar dan merembet pada hal-hal yang besar. Ledakan dari keluhan Full time Mother tidak jarang menjadi sorotan disosial media. Apa yang salah dengan selalu berada dirumah sehingga membuat Ibu tidak bahagia?

Apa sebenarnya yang membuat para Ibu (Pepes) ini begitu depresi dirumah?

Ya.. Ya.. Aku tau.. Mereka mempunyai seribu alasan dibalik itu. Aku juga pernah merasakannya selama 2 tahun. Padahal, pilihan menjadi Full Time Mother adalah pilihanku sendiri. Lantas, bagaimana bisa aku tidak bersemangat menjalaninya?

Yup, itulah yang dinamakan IRT gagal Move On. Jadi, ngapain jadi IRT tulen kalo ujung-ujungnya dia kerjaannya depresi dikamar dan mengurus suami dan anak dengan tidak ikhlas? There’s something Wrong Mom. U know it.

Apa saja sih yang membuat IRT ini gagal Move On? Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Memesan Menu yang ‘SALAH’ 

Menu? Salah? Eh, kau pikir ini makanan?

Iya, rumah tangga itu adalah sebuah pilihan mom. Pilihan menu, begitu sederhananya.

Bayangkan aja, anda berada disebuah restoran. Anda ‘buta’ dengan nama menu yang ada direstoran tersebut. Kemudian memesan makanan secara asal. Ketika makanan datang, anda malah mau mun*ah dengan rasa makanannya.

Anda punya dua opsi saat itu. Yang pertama adalah memaksa tetap makan dan munt*h setelahnya. Yang kedua adalah mengganti menu yang lain.

Kebanyakan Rumah Tangga berjalan dan baru sadar 2-3 bulan hingga beberapa tahun bahwa dia menjalani pilihan hidup yang salah. Pilihan yang salah ini seharusnya dapat didiskusikan dan direnungkan bersama dengan suami. Katakan apa yang sebenarnya anda inginkan. Pilihlah menu yang benar yang sesuai dengan Passion anda.

2. Tidak memiliki Tujuan Hidup yang jelas

Kebanyakan Full Time Mother melupakan inti tujuan hidupnya. Selama berjam-jam lamanya setiap hari mereka lebih memilih menghabiskan waktu hidupnya sebagai Inem Tulen dirumah.

Lah? Emang salah? Nyapu, masak, nyuci itu pahala. Kamu kan ga tau bla bla bla..

Iya, iya Momm.. Saya tau. Tau banget malah.. 😅

Masalahnya disini adalah terkadang Ibu dirumah itu terkena sejenis ‘Genjutsu’ (kumat bahasa naruto saya) ketika berada dirumah. Terlena dengan kegiatan dirumah sehingga lupa dengan list list wajib yang seharusnya lebih dia utamakan. List Visible Job yang membuatnya seharusnya bahagia.

Setiap Ibu dengan Passion berbeda tentu memiliki tujuan berbeda pula. Maka, disini saya tidak akan menggurui kira-kira apa patutnya tujuan yang membuat hidup Ibu lebih bersemangat. Kan aneh ya kalo saya bilang

“Gimana kalo nyusun kegiatan belajar anak seminggu?”

“Gimana kalo nyusun daftar kue n masakan yang belum pernah dicoba? ”

“Gimana kalo minggu depan diadakan pertemuan antar Ibu-Ibu… Dan ini kegiatan yang akan dilaksanakan”

“Gimana kalo Besok Beli Ini, dibikin ini trus digini.. Digini”

Ya.. Itu contoh ya Ibu-ibu.. Jangan dibawa baper.. Sebagai saran akhir saya cuma bisa bilang pilih tujuan hidup yang bermakna Investasi masa depan dan minimal sesuatu yang Visible. Jangan ngerjain sesuatu yang invisible aja (nginem). Itu pahala emang bu.. Pahala.. Tapi kita butuh sesuatu yang visible supaya hidup kita makin semangaat.

Mulailah membuat list tujuan hidup baru. Tuliskan pada secarik kertas dan ditempel pada dinding kamar. Trus? Gimana kalo semuanya tidak kesampaian? Jangan mikir kesitu dulu buu.. Yang penting anda sudah menulis sebuah tujuan. Itu adalah sebuah niat yang mulia apapun hasilnya nanti.

3. Berada didunia yang salah

Ada beberapa Stay At Home Mom yang menikmati pekerjaannya dirumah. Cukup puas dengan melatih skill memasak, mendokumentasikan kegiatan dengan anak, berjualan online, ataupun menulis. Ialah Ibu yang Introvert. Ibu yang cukup senang berada didunia kotak.

Tapi ada beberapa Ibu yang bagaimanapun usaha dan kegiatannya dirumah maka perasaannya tetap saja bosan. Ibu jenis ini adalah Ibu yang ekstrovert. Ibu yang butuh piknik, kuliner, kerja diluar dan Silaturahmi. Ibu yang butuh dunia bulat, bukan kotak.

Apa jadinya jika si Ibu Ekstrovert berada didunia kotak? Dan apa jadinya Ibu Introvert yang berada didunia Bulat?

Ya, mereka tidak bisa berkembang. Karena setiap Ibu punya dunia masing-masing yang membuatnya merasa hidup.

4. Tidak memiliki Komunitas yang Mendukung

Aku sering mendengar Working Mom nyinyir  “Ibu anu tu kerjaan tiap sore pasti deh ngerumpi di rumah ibu anu, ngumpul sampe jam 5 sore. Ngapain aja sih ga ada kerjaan aja”

Hihi, iya.. Syukur aja ya ngomong sama aku yang cenderung suka dirumah dan punya komunitas onlineku sendiri. Tapi gimana dengan Ibu yang disebutnya tadi?

Ya, Ibu tersebut adalah jenis Ibu yang haus akan Silaturahmi. Jika menulis adalah wujud dari cara mengatasi kewarasanku maka bicara adalah alat pemuas kebutuhan bagi Ibu tersebut. Lagi pula, tau apa Ibu bekerja tentang pentingnya ngerumpi? Toh mereka juga punya teman dan komunitas sendiri dikantor.

Komunitas adalah kumpulan dari beberapa orang dimana didalamnya terdapat berbagai jenis orang yang memiliki tujuan yang sama. Komunitas ini penting bagi Ibu Introvert maupun Ekstrovert. Karena walau bagaimanapun juga tidak ada Ibu yang hobi ngomong sendirian kecuali dia gila. Bagi Ibu Ekstrovert ngerumpi dengan tetangga adalah jenis terapi melalui komunitas. Bagi Ibu Introvert, wujud komunitas dengan menulis dimedia Online seperti WA, Bbm, Fb, Twitter dan Instagram adalah jenis terapinya.

5. Tergila-gila dengan Kesempurnaan

Ada yang begini? Suka menyempurnakan segala sesuatu hal terkait suami anak dan rumah? Ya, itu aku.

Dulu sejak memutuskan menjadi Full Time Mother aku sering membaca artikel berkaitan dengan Parenting hingga tentang Masakan dan Baking. Aku ingin seperti Mama-mama kece yang sebegitu gampangnya menulis hal-hal ini.

Anak tak boleh lama-lama didepan TV, tidak boleh mainan gadget. Anak it seharusnya bla bla bla.. 

Istri yang disayang suami adalah istri yang jago ini.. Ini.. Ini.. 

…dan bagaimana pun beratnya tugasmu Rumah harus RAPI DAN BERSIH. 

Aku melakukan semuanya selama setahun dan menyadari bahwa diriku hanya terkikis habis untuk mengejar sebuah kesempurnaan tanpa mengasihani diriku sendiri. Ya, aku perlu aktualisasi diri dan mengurangi kadar sempurna.

Bagaimanapun juga hidup wanita harus seimbang. Ia tidak bisa menjadi sempurna dimata anak dan suami saja. Ia butuh menjadi pribadi yang sehat pula.

Mengejar kesempurnaan juga patut berlaku pada Working Mom. Ya, jika Full time Mother mengejar kesempurnaan untuk suami dan anaknya maka biasanya tidak jarang ada pula working mom yang mengejar kesempurnaan untuk aktualisasi dirinya saja sehingga melupakan kewajibannya dirumah.

6. Memiliki Suami yang Mendominasi

Memiliki tipe suami yang otoriter adalah salah satu hal yang membuat Full Time Mother tidak bisa Move On. Suami yang egois, merasa statusnya sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah menjadikannya alasan untuk mendominasi segala peraturan dirumah.

Type suami seperti ini akan sulit sekali membuat sang Ibu Move On. Karena gerakan sang Ibu seperti terbatasi oleh tali tak terlihat yang dlilitkan ditubuhnya.

Jika memiliki type suami seperti ini maka ada baiknya anda mengajaknya berbicara. Kemukakan segala keinginan anda. Karena biarpun anda adalah Guru dirumah anda_bagaimanapun juga suami adalah kepala sekolahnya.

Dan buat para suami, jadilah suami yang demokratis. Suami yang bisa melihat, mendengar dan menyejukkan jiwa istri dirumah. Bukan hanya menuntutnya menjadi serba sempurna dalam segala kegiatannya.

7. Kurangnya dorongan Semangat dari Suami

Dibalik suami yang luar biasa selalu ada istri luar biasa dibelakangnya.

Dibalik istri luar biasa selalu ada suami luar biasa yang mendukungnya.

Ya.. Ya.. Istri perlu dukungan dan semangat darimu wahai suami…!!!

Aku pernah bertemu dan melihat berbagai tipe lelaki. Ada yang ekspresif, jutek namun perhatian, hingga lebay tingkat tinggi. Tapi dari semuanya yang paling menyebalkan adalah tipe lelaki flat face dan robot feeling.

Apa itu Flat Face and Robot Feeling? Yup suami yang jarang tersenyum. Suami yang tidak ekspresif hanya menjawab segala pertanyaan sang istri hanya dengan “Iya” atau “terserah” dengan muka flat seakan akan tidak perduli. Keadaan ini diperparah dengan sibuknya jam kerja dari suami diluar. Aku berani bertaruh, Full Time Mother yang memiliki suami tipe begini lama kelamaan akan stress tingkat tinggi.

Jangankan memberi semangat untuk maju kepada sang istri. Menjadi pendengar yang baikpun suami tipe begini tidak bisa. Jika kebetulan suami anda seperti ini ada baiknya anda menulis surat padanya. Kemukakan segala perasaan anda. Biasanya suami tipe seperti ini lebih ekspresif pada media tulisan. Ya, bisa jadi dia introvert robot yang benar-benar tulen. Tidak ada salahnya dicoba bukan? 🙂


8. Menyalah-artikan kata ‘Syukur’ 

Menyalah-artikan makna syukur adalah hal yang paling sering aku jumpai pada Full Time Mother.

Apa itu syukur? Syukur adalah sebuah rasa berterima kasih yang tinggi atas segala karunia yang diterima dalam kehidupan yang diperoleh dari usaha. 

Ya, usaha Ibu-ibu.. Bukan hanya bersyukur karena Gajih Suami cukup kemudian kita bisa memasak enak lalu segala urusan rumah tangga selesai.

Memasak usaha juga kok.. 

Iya, memasak juga usaha. Namun, pastikan anda senang mengerjakannya. Menganggapnya adalah bukan hanya sebagai media untuk menyenangkan suami tapi juga merupakan passion anda. Karena percuma jika kita mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai. Perasaan itu akan menimbulkan rasa tidak ikhlas kemudian mencemari rasa syukur itu sendiri.

Aku percaya kadar tingkatan usaha dalam rasa syukur setiap Ibu berbeda-beda. Ya, setiap ibu punya ladang pahalanya sendiri. Tapi pastikan anda melakukannya sesuai dengan passion yang sesuai dan dilandasi rasa ikhlas.

IBX598B146B8E64A