Browsed by
Category: Self Improvement

Mengeluh karena Penat, Bolehkah?

Mengeluh karena Penat, Bolehkah?

“Bolehkah seseorang mengeluh ketika merasa penat? Atau sebaiknya menutupinya dan berusaha terlihat baik-baik saja?”

Penat adalah Proses

Aku terbaring siang itu. Kala si kecil mengantuk, akupun tanpa sadar ikut mengantuk juga. Orang bilang, menyusui adalah proses yang harus dilakukan bersama dengan pekerjaan baik. Membaca surah pendek misalnya atau sekedar berdzikir. Tapi tanganku gatal memeriksa handphone untuk sekedar melakukan tugas rutin mingguan. Blogwalking dan menelusuri sosial media. Dan akhir-akhir ini, rutinitas itu membuatku mengantuk. 

Terbangun dan menyadari bahwa aku tertidur selama 2 jam. Syukurlah si kecil Humaira masih tidur. Perlahan kulakukan jurus ninjutsu baru. Gerakan berpindah tempat tanpa bunyi dan pergerakan. Sudah sering kulatih jenis ninjutsu ini. Tapi seringnya gagal dan menimbulkan bunyi ‘kreek’ dari kasur. Alhasil, Humaira menyadari dan menangis melihatku. 

Rutinitas biasa dari keseharian ibu rumah tangga biasa. Drama biasa-biasa saja bukan? 

Tapi kadang, hal beginilah yang membuatku merasa penat. Bahkan tertidur 2 jam pun merasa sangat berdosa. Lihatlah mainan yang lupa kubereskan. Lihatlah cucian yang belum dijemur. Bagaimana kalau ada tamu yang datang? 

Perulangan yang kadang terjadi setiap hari. Membuatku merasa menjadi bukan Istri yang baik. Tapi, kadang hidup harus memilih bukan? Mau jadi Ibu yang baik hari ini kah? Atau Istri yang baik kah? Kadang hari ini cantik, besoknya menjadi tidak karuan karena peran Ibu sedang dominan. Kadang masakan tertata rapi dan diri sudah cantik tapi anak terpapar gadget lama. Kadang, diri sendiri terupgrade sempurna dengan berbagai ilmu tapi suami terabaikan. 

Kadang berkata juga pada diri sendiri, “Tak bisakah punya jurus membelah diri? Atau seribu bayangan saja?”

Tapi logikaku masih jalan dengan baik. Dan aku selalu berkata pada diriku sendiri.. 

“Ini tidak akan lama. Ini hanya sementara.”

Karena penat adalah proses untuk bangkit. 

Nikmati setiap rasa penat dengan syukur. Karena makhluk tanpa rasa penat, sedih, lelah dan down itu bukanlah manusia. Manusia bisa merasakan dan bisa memanjatkan syukur. 

Manusia, selalu memiliki pilihan. 

No Pain No Gain

Dalam penat, selalu ada luka. 

Ih..sudah penat, luka pula. Apa asiknya! 

Yah.. Aku menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada ibu yang sempurna. Kecuali mungkin ibu yang bisa membelah diri atau memiliki ninjutsu hebat. Siapa aku? Amoeba bukan, ninja juga bukan. 

Tapi, bolehkan seorang ibu punya jalan ninjanya sendiri? 

Aku memutuskan untuk mengakui rasa penat itu. Membagikannya bersama suami. Melalui penat itu. Jika suatu saat luka datang dari rasa penat.. Baik itu berupa luka dari diri sendiri, suami maupun anak yang kadang terabaikan maka aku memutuskan untuk mengobati luka itu. Membuka luka dan mengobatinya. Bukan sekedar mengabaikannya dan berkata aku tidak apa-apa. 

Karena dalam setiap luka, ada perolehan. 

Aku memutuskan untuk tidak menyesali masa laluku. Diriku yang sempat terkena PPD, anakku yang terpapar oleh rasa itu, hingga pertengkaran yang pernah terjadi dengan suami. Itu hanya masa lalu. Aku sudah mendapatkan pelajarannya. Sudah memiliki harga atas itu semua. 

No pain, No gain

Mengeluh Karena Penat itu Tidak Apa-Apa.. Tetapi.. 

Kembali lagi, apakah mengeluh karena rasa penat itu tidak apa-apa? 

Apakah tidak apa-apa jika kita merasa lelah kemudian mengabaikan obatnya? Butuh tidur misalnya. Tapi kita mengabaikannya. 

Menurutku, itu salah. 

Begitupun dengan rasa penat di hati. Jika kita sedang merasa tidak baik-baik saja dengan kondisi yang ada maka apakah kita tidak boleh mengeluh? 

Boleh, mengeluh atas ketidaknyamanan maupun rasa penat itu sungguh tidak apa-apa. Tapi, mengeluh-lah sekedarnya. Dan yang lebih penting lagi, carilah jalan keluar atas rasa penat. 

Karena sesungguhnya fungsi dari mengeluh adalah membuka kesadaran. Lantas mencari ruang teduh untuk mengatasi penat itu. 

Dan carilah ruang teduh yang cocok untuk diri kita masing-masing. 

Karena setiap kita punya cara yang berbeda. 🙂 

Jadi, sudahkah Anda memiliki solusi dari rasa penat? 

Jadi Cewek kok Berbulu? Tenang Anda Tidak Sendirian

Jadi Cewek kok Berbulu? Tenang Anda Tidak Sendirian

“Kenapa kaos kaki kamu dipanjangin sampe lutut gitu? Mau main bola ya?”

“Ih, bulu tangan kamu banyak banget. Liat dong kaki kamu gimana?”

“Waduh, kamu cewek kok kumisan?”

“Dia cewek tapi badannya kek cowok.. “

***

Hampir semua orang suka memuji badanku yang tak kunjung gemuk walau sudah memiliki 2 anak. Tapi, apakah mereka tau kalau dulu aku adalah orang yang paling merasa minder dengan badanku sendiri? 

Apakah mereka tau kalau aku sempat tidak mau sekolah karena dulu pernah dibilang ‘monyet’? 

Yup, ini ceritaku. Tentang aku si anak cewek yang ‘berbulu’. Mungkin, cerita ini bisa berguna untuk kalian yang memiliki nasib sama sepertiku. 

I just wanna to tell u.. U are not alone. 

Mama, Kenapa Aku Memiliki Banyak Bulu

Ya tidak masalah kalau laki-laki. Masalahnya, aku adalah perempuan. Yang mana selalu disuguhi statement bahwa perempuan itu biasanya memiliki kulit halus dan putih. Seperti iklan di TV itu. 

Aku? Putih enggak. Halus enggak. Sawo matang iya. Berbulu pula. 

Sebanyak apa sih? 

Oh, apakah aku harus memperlihatkan fotonya? Kurasa tidak ya. Karena sejak kuliah aku sudah memutuskan untuk menutup aurat. Walau masih tidak sempurna tapi memperlihatkan fotonya kurasa tidak bijak untuk orang yang sudah bersuami sepertiku. Hihi. 

Pokoknya. Buanyak_Banget. Haha. 

Sejak aku SD, bulu ditangan dan kakiku sudah sangat lebat. Sehingga aku pernah ditegur oleh seorang guru. 

“Win, kamu makai shampo kebalik ya? Kok bulu kakinya panjang buanget..”

Sejak ditegur seorang guru laki-lakiku itu. Aku menjadi insecure. Huhu

Jujur guru ini tamvan kek oppa. Mungkin ya maksudnya bercanda. Tapi bagiku itu hurt banget. Sejak itu aku selalu memakai kaos kaki panjang jika sekolah. Saat itu, masih tahun 1999. Aku masih berumur 9 tahun. Belum ada yang memakai kerudung dan pakaian muslim di tempatku. Aku masih mengenakan rok selutut saja. 

Aku pulang dengan sedikit menangis kala itu lalu bertanya pada Mama, “Ma, kenapa aku berbulu lebat begini?”

Tapi Mama tidak pernah menjelaskan secara detail. Mama hanya bilang aku mirip abah (ayahku). Dan itu kehendak Allah. Tapi bukankah tidak lazim jika anak perempuan berbulu selebat ini? Bahkan lebih lebat dari kakakku yang laki-laki? 

Katanya, Anak Perempuan yang Berbulu itu Beruntung

Sejujurnya, aku sering sekali mendapat semangat dari Mama dan Abah tentang kondisi fisikku. Mereka bilang bahwa anak perempuan yang berbulu itu ‘peuntungan hidup’. 

“Kada usah minder. Anak binian bebulu tuh bauntung”

“Disayangi laki kena tahulah.”

“Lakian ketuju lawan binian bebulu”

Itulah yang menjadi penyemangatku. Mama dan Abah selalu menyayangiku dan memujiku. Aku tidak pernah mencukur bulu tangan dan kakiku. Sekalipun. Walau teman lelaki dan perempuanku sering bertanya bahkan usil menarik-narik bulu kakiku. Menyebalkan. 

Tapi, sungguh perkataan guru itu menggangguku. 

Jangan mencukur bulu, nanti tambah panjang. 

“Kenapa kamu pakai kaos kaki panjang mulu sih? Mau main sepak bola?”

Siapa yang mengucapkan itu? Hmm.. Pernah kan kalian punya perasaan suka untuk pertama kali? Yang mengucapkan itu adalah orang yang aku sukai pertama kali. Maklum, saat itu adalah fase pubertas.  

Seakan ingin membuktikan diri bahwa ‘aku normal’ maka aku mencukur bulu untuk pertama kalinya. Menggunakan silet. Daaan.. Luka dong. 

Tapi sungguh senang sekali melihat hasilnya. Ya ampun, ternyata kakiku ini putih sekali. Mungkin saking lebatnya si bulu ini. Jadi kulitnya terlindungi dari sinar matahari. 

Dan untuk pertama kalinya, aku pergi ke sekolah dengan kaos kaki pendek dan kaki putih nan mulus. Hanya untuk sebuah pembuktian kepada teman lelaki yang menegurku. Sungguh kekanakan kalau diingat-ingat. 😅

Aku lewat dengan pede sekali di depan teman lelakiku itu. Sampai matanya oleng karena kaki putihku saat itu. 

Tapi, itu tak bertahan lama. 

Sehari sesudah mencukur bulu, kakiku sungguh amat gatal. Aku pun jadi sering menggaruknya. Sampai merah-merah. Mama yang memergokiku sering menggaruk kakipun iseng bertanya. 

“Kenapa kaki ikam?”

“Digigit nyamuk ma..”

Iya. Mama masih tidak tau. Maklum, aku biasa memakai celana panjang kalau di rumah. Dan masih memakai kaos kaki panjang jika berangkat sekolah. Baru menggantinya diparkiran sepeda saja hari kemarin itu. 

Tapi bukan mama namanya kalau tidak jeli. Mama tau bahwa ‘saking panjangnya buluku’ maka pasti ada yang keluar dibalik celana panjangku kala berwudhu. 

“Kenapa bulu batis kam win? Kam larap kah?” 

Doeeenk. Akupun mendapatkan ceramah panjang lebar kala itu. Maklum. Mama selalu menasehatiku untuk tidak mencukur bulu. 

“Nanti tambah lebat” Kata mama. 

Dan akupun membenarkan kata-kata mama. Lihatlah kakiku sekarang, bibit-bibit bulu itu tumbuh makin hitam dan tebal.. Dan tentu saja gatal sekali. Hiks. 

Esok harinya, aku datang kesekolah dengan kaos kaki panjang lagi. Tidak ada lagi kaki putih dan mulus itu. Sudah expired. Expired dalam sehari. 

Cewek Berbulu itu Mirip Monyet

Kutukan yang muncul gara-gara aku mencukur bulu itu ternyata mengerikan. 

Pertumbuhan bulu kaki itu sampai menembus kaos kakiku. Iya, memang separah itu. Sehingga kaos kakiku seperti kaktus. Berduri. 

Dan sialnya, ketika aku di sekolah.. Ada saja yang memperhatikan itu. Awalnya hanya gara-gara teman-temanku berbicara tentang kumis. Lalu beberapa dari mereka melirik kearahku. Melihat wajahku dengan lama lalu kearah tangan.. Daan.. Kakiku. 😣

“Dikelas kita ini kayaknya si Aswinda ini yang paling banyak bulunya..”

“Bukan, kumisnya tebelan si Anu”

“Tapi si Anu tangannya gak berbulu. Cuma kumisan sama bulu kaki aja. Lagian dia kan cowok. Ya wajar.”

“Iya ya, tapi Aswinda kakinya enggak berbulu tuh. Kemarin pas pake kaos kaki pendek kakinya putih.”

Aku masih ingat perasaanku kala itu ketika menuliskan cerita ini. Bagaimana merahnya mukaku, bagaimana rasanya keinginanku untuk memotong kakiku saja. Malu sekali. Huhu. 

Mereka melihat kearah kaos kakiku dan tertawa dengan ‘mode kaktusnya’. 

“Eeeh.. Gak boleh ngetawain temen gitu” Kata salah seorang temanku.. 

“Iya, cewek yang berbulu itu perejekian. Aku pernah denger begitu” Bela temanku yang satunya. 

Dan kagetnya aku. Lelaki yang aku sukai pada masa puber pertamaku berkata, “Kata siapa? Cewek kalau berbulu itu ya mirip monyet.. “

Sejak itu, aku mencoret nama laki-laki itu. Berharap tidak lagi satu kelas denganku. Satu SMA denganku hingga kuliah. Jangan pernah bertemu dengan wajah menyebalkan itu lagi. 

Penjelasan Ilmiah tentang Perempuan yang Berbulu

Seiring berjalan waktu, trend sekolah dengan jilbab pun mulai muncul. Saat SMA aku berkerudung. Tapi, diluar sekolah aku tidak berkerudung. Maklum, masih labil dan masih merasa jauh lebih cantik tidak berkerudung. 

Satu hal yang pasti saat itu, tidak ada teman yang tau bahwa aku memiliki banyak bulu. Karena bajuku selalu lengan panjang dan celana panjang. Didalam maupun diluar sekolah, aku tidak pernah menggulungnya. Aku trauma kalau-kalau dibilang monyet lagi. 

Akupun akhirnya tau bahwa aku memiliki kelebihan hormon androgen. Umumnya, hormon ini dimiliki oleh lelaki, tapi hormon ini juga sedikit dimiliki oleh perempuan. Namun untuk kasusku, aku mengalami hirsutisme. 

Hirsutisme adalah suatu kondisi tumbuhnya rambut secara berlebihan pada tubuh dan wajah yang biasanya dimiliki oleh laki-laki tapi terjadi pada perempuan. Hal ini kemungkinan timbul akibat kelebihan hormon yang disebut androgen dan hormon utamanya adalah testosteron. Selain itu faktor keturunan atau etnis kemungkinan juga memainkan peran, karena jumlah rambut yang tumbuh ditentukan oleh faktor genetik.

Wikipedia

Aku beruntung loh, kasusku tidak terlalu parah. Aku membaca bahwa banyak sekali perempuan yang mengalami hirsutisme parah diluar sana. Bahkan sampai berkumis dan berjenggot panjang. Untuk kondisiku ini ternyata masih sangat ringan. 

Apakah bulu yang kumiliki adalah faktor genetik? 

Aku akan menjawab iya andaikan aku adalah seorang laki-laki. Mungkin saja aku mirip Ayahku. Tapi please aja, bulu milikiku bahkan lebih parah lebatnya dibanding Ayahku. Padahal, Ibuku mulus sekali. Heu. Jadi, aku ini Hirsutisme ringan namanya.. 

Hirsutisme parah bisa bergejala seperti suara yang berat, jerawat, botak, pigmen rambut yang kasar, penurunan ukuran payudara, pembesaran klitoris dan peningkatan massa otot.

Well, aku tidak memiliki gejala parah diatas. Suaraku tidak berat tapi punya 4 mode. Temanku dulu pernah bilang bahwa aku seharusnya menjadi dubber. Haha. 

Urusan pigmen rambut sedikit benar. Rambutku hitam lurus dan bilah rambutnya seperti bilah sapu. Lucunya teman-temanku selalu iri pada rambutku. Sejak SD sampai SMP mereka selalu bilang bahwa rambutku hitam dan lebat. Tidak ada cela layaknya iklan shampo. Padahal kalau diperhatikan rambutku ini tidak lembut melainkan kasar. Meski begitu, pujian teman itu benar-benar meningkatkan rasa percaya diriku sehingga aku masih malas memakai jilbab kala SMA dulu. Rambut hitam lebat itu adalah berkah dari hirsutisme ringan ini. 

Alisku sangat tebal. Layaknya sinchan. Aku juga berkumis. Tapi tidak parah. Tidak nampak sekali layaknya Iis Dahlia. Mungkin seperti Intan Nuraini. Bukan, bukan kepedean mirip artis ini. Aku cuma ingin kalian membayangkan tingkat lebatnya seperti apa. Kalau wajahnya sih jelas kalah jauh. Wkwk. 

Tapi, ada satu yang aku duga ‘mungkin’ ikut menjadi faktor penyebab aku memiliki banyak bulu. 

Aku berada dalam perut Mama hampir satu tahun. Kalau orang dulu bilang, mamaku hamil kebo. Air ketubannya bahkan hampir kering. Maklum saja, orang zaman dulu tidak sepeka kita akan HPL. Aku menduga-duga.. Ini turut mempengaruhi faktor kulit berbulu ini. Walaupun masih belum ada bukti ilmiahnya. 

Kamu Wanita Berbulu Juga? Jangan Minder! 

Aku menulis cerita ini di blog bukan tanpa alasan. Pada suatu grup aku melihat ada cewek curhat panjang lebar tentang kondisi kulitnya yang berbulu. Dia juga memoto bagian kumis dan alisnya. Ya ampun, dia mirip aku pikirku. 

Anak ini dalam masa pubertas juga. Kuduga dia non muslim. Aku tau sekali bagaimana perasaannya. Pasti dia minder. 

Mungkin juga ada saatnya anak itu akan mengalami rasa tidak pede sepertiku. Bahkan saking tidak pedenya sampai bertanya-tanya, “Bisakah jenis werewolf sepertiku mendapatkan jodoh?”

Well, didunia ini.. Akan selalu ada orang yang melihat sisi buruk kita. Kita tidak bisa menyuruh mereka untuk diam. Tapi, kita selalu bisa mengontrol diri kita sendiri. Apakah memilih denial pada kekurangan itu, atau menerimanya? 

Pada akhirnya, aku menerima seluruh kekurangan yang ada pada diriku. Aku berbulu, aku berkumis, alisku lebat tidak karuan bahkan dibilang perias tidak bisa diatur saat aku bersikeras untuk jangan mencukur, aku bahkan memiliki tahi lalat besar dibawah hidung. But I try accepted it. 

Sebelum menikah, aku bilang pada calon pasanganku akan kekuranganku. Semuanya. Aku bercerita padanya bahwa aku werewolf, bahwa bulu kakiku lebih lebat dan panjang dari pada bulu kakinya. Dia kaget? Oh tentu saja. Hahaha. 

Tapi diatas semua kekuranganku, aku jauh mensyukuri semua kelebihan yang Allah beri padaku. Alisku tebal dan tak perlu pensil alis untuk berdandan, rambutku tidak pernah rontok bahkan walau sudah menyusui 2 anak, kumisku bisa ditutupi dengan concealer, tahi lalatku.. Ah sudahlah. 

Untuk kalian yang mungkin memiliki nasib yang mirip denganku. Cobalah melihat kaca lagi. Mungkin apa yang orang dulu bilang tentang cewek berbulu itu betul. 

“Perejekian.. Disayang suami..” Mama selalu mengatakan itu padaku seolah itu adalah sebuah doa. 

Dan itu terjadi. Benar-benar terjadi. 

PS: Jika suatu hari aku bertemu dengan lelaki yang menyebutku monyet lagi. Aku berharap saat itu aku sedang dalam keadaan cantik paripurna dan menggandeng suamiku. Sungguh aku ingin pamer. 

Kangen Jadi Blogger Curhat yang Dulu

Kangen Jadi Blogger Curhat yang Dulu

“Entah kenapa sekarang Blog Walking gak seseru dulu. Mungkin karena sekarang kalo blog walking tulisannya pada sponsor mulu ya..”

“Iya, kan butuh traffic dan engangement juga.. “

“Tapi jadi gak asik lagi ya.. Pernah gak kamu ngerasain jenuh ngeblog karena hal begini?”

Dan jangan terbawa serius dengan obrolan diatas. Apalagi bertanya, ngobrol sama siapa win? 

Jujur, aku ngobrol sama kaca. 

Kangen Nulis Polos Kek Zaman Dulu

Dulu, waktu belum mengenal job.. DA, PA, SEO dan sebagainya. Sepertinya tulisanku lebih lepas dan luas. Dan yang kurasakan adalah, sepertinya dulu aku memang membutuhkan blog untuk mencurahkan isi hati. Iya, dulu aku adalah blogger curhat yang jujur saja.. Enggak peduli woy orang mau ngomong apa sama curhatan aku. 

Seiring berjalan waktu, aku kenal dengan blogger A, B, C dan D. Lalu, semakin kesini sepertinya aku memiliki ‘urat malu’ untuk curhat lagi. Aku pun memutuskan hanya menulis sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan. 

“Untuk apa menulis banyak-banyak dan enggak karuan kalau tidak ada yang baca?” Itulah salah satu komentar teman bloggerku. 

Dan hal itu memang benar. Namanya ilmu SEO itu perlu, riset keyword dsb perlu untuk menunjang tulisan. DA PA dsb perlu untuk kualitas job. 

Masalahnya, semakin kesini.. Jujur aku merasa semakin minder dan malu untuk menjadi blogger lepas seperti dahulu. 

Yang suka menjebolkan capslock kalau marah. Juga suka lompat-lompat tanpa menghiraukan EYD. Aku kangen menjadi anak kecil yang mencoret tembok sembarangan itu. 

Apakah Arti Menulis Bagimu? 

Termangu melihat Humaira yang tertawa lepas sambil mencoret-coret tembok. Lama. 

Aku semakin merenung, sebenarnya.. Apa arti menulis bagiku ya? 

Kenapa aku sekarang harus malu untuk menuangkan ekspresi? 

Apakah aku sudah move on atau malah menjadi blogger yang stuck hanya karena mengejar standar seperti kebanyakan? 

Aku kemudian melihat Farisha, lantas iseng bertanya padanya, “Pica, kenapa gak ikut Humaira mencoret tembok?”

“Memangnya mama enggak marah kalau Pica mencoret tembok?”

Lama kuberpikir. Apakah aku memiliki alasan yang sama dengan Pica? Aku takut berekspresi karena takut dengan pendapat orang lain? 

“Kalau Mama tidak marah, apa Pica masih suka mencoret tembok?”

“Enggak ma, Pica gak suka lagi. Karena Pica sudah punya tempat yang pas. Mama sudah membelikan buku gambar dan Mama juga bilang untuk memanfaatkan kertas bekas print gagal yang tidak terpakai untuk dicoret-coret. Jadi kenapa harus mencoret tembok? Itukan kerjaan bayi kayak Humaira..”

Kerjaan bayi? Pikirku lama. 

Perkataan Pica banyak menyadarkanku. Bahwa sebenarnya, apa yang aku lakukan selama ini bukanlah hal yang sepenuhnya salah. Aku bukanlah seorang blogger yang tersesat karena mabuk dengan sponsored post. Aku hanyalah seorang blogger yang sedang dalam tahap picky. 

Bahwa tulisan memiliki tempatnya masing masing. Arti menulis bagiku bukan terpaku hanya pada blog saja. 

Aku sudah sedikit memahami blog. Ada 2 hal yang harus dipilih untuk memaksimalkan traffic. Yang pertama adalah branding maksimal di sosmed sedangkan yang kedua adalah memanfaatkan SEO. 

Sejak memiliki anak kedua, aku tidak bisa memaksimalkan branding di sosmed lagi. Pikiranku penuh dengan cabang. 

Baca juga: 9 Hal Penyebab Tulisan Emak Tak Kunjung Selesai

Aku memiliki banyak hal untuk dicurhatkan, tetapi aku malu menuliskannya di blog. Sekarang, aku seperti Pica yang belajar menggambar di kertas bekas. Kertas itu berserakan. Dan kukumpulkan. 

Aku masih membutuhkan menulis untuk hidup. Tapi, aku tidak bisa membagikan semua tulisanku. Ada yang kusimpan sendiri, ada yang aku sharing dengan teman dekatku, dan blog ini bukanlah tempat untuk itu. 

Kangen Seperti Dulu, Tapi Belajar Menyaring dan Menahannya

Yup, intinya aku memang kangen dengan diriku yang dulu. Yang tidak tau malu. Semuanya dicurhatkan di blog. Tulisannya memang organik dan menarik. Tulisannya lepas, seru, melegakan. Tapi, tidak begitu bermanfaat. 

Lagi pula, sebenarnya aku sudah menuliskan curhatan-curhatan itu di media yang tidak diketahui. Jadi toh sebenarnya, aku ini bukannya sedang mengalami ‘blocked’ dalam menulis. Tapi belajar memisah-misahkan ekspresi dan manfaat. 

Ah, ternyata jadi ‘blogger dewasa’ itu susah. Kangen dengan blogger apa adanya seperti dulu. Tapi, rasa kangen itu dikalahkan oleh rasa ingin menjadi lebih baik. *eh gimana? 

Apa kalian ada yang sepertiku? Kangen dengan zaman ngeblog dahulu? 

Tentang Belajar Memaafkan Tragedi Mom Shaming

Tentang Belajar Memaafkan Tragedi Mom Shaming

“Bukan emak-emak namanya kalau belum pernah berhadapan dengan tragedi mom shaming.. “

Kalimat itu sontak langsung aku tertawakan sendiri. Lucu. Dan memang benar sih sesungguhnya. Obrolan renyah dengan teman masa kecilku itu membuka sudut pandang baru tentang tragedi mom shaming yang selama ini tentu saja sering terjadi di kalangan ’emak-emak’

Yaaa… Aku sendiri sebenarnya sudah sering mengalaminya. Bahkan aku juga pernah menulis solusi menghadapi mom shaming. Disisi lain, aku juga pernah menulis tentang mengapa ada ibu-ibu yang gampang sekali baper?

Dan hari ini, aku ingin fokus menulis tentang hal yang lebih sulit. Yaitu.. Memaafkan.

Memaafkan itu Sungguh Sulit

Sulit banget. Memaafkan itu sulit banget genks.

Bahkan ada yang bilang begini, “Aku mungkin memaafkan, tapi aku tidak akan pernah melupakannya.. “

Duh, kalau sudah nemu kalimat begini itu artinya lukanya dalem banget. Bahkan besar kemungkinan kalau ini hanya fase ‘pura-pura memaafkan’. Sesungguhnya, akupun pernah berada dalam fase itu. Berpikir, “Ih kok jahat banget sih ya bilang begitu? Kok memojokkan aku ya? Padahal kita kan sama-sama Ibu?”

Penyebabnya sepele sih sebenarnya. Biasalah, basa basi curhat kehidupan emak-emak malah ujung-ujungnya jadi mom war. Yang satu curhat di sosial medianya, yang satu malah merasa curhatan temannya receh dan menyerang begitu saja. Something like mak emak yang ngeluh kerjaan di rumah gak ada apresiasi.. Lalu di judge sama emak pekerja, “Kamu harusnya bersyukur.. Di rumah aja..bla bla.. Coba aku nih, cape tau seharian bla bla.. “

Ini cuma contoh ya. Banyak sih penyebab mom war dan mom shaming itu. Tapi penyebab paling utama ya karena Emak-emak ini merasa paling benar dan emak yang satunya.. Merasa tidak dihargai ketika berbicara keluhan.

Dan banyak hal lain penyebabnya sebenarnya. Berhadapan dengan mom shaming berkali-kali membuatku belajar untuk selalu bisa berempati dengan kehidupan ibu lainnya. Tapi untuk hal memaafkan mom shaming.. Sungguh itu sangat sulit. Haha..

Memaafkan orang yang melakukan mom shaming pada diri kita, bahkan dia merasa tidak bersalah dan malah melabeli kita ‘mamak baperan’ itu sangat sulit. Apalagi, doi mah.. menyesal pun tidak. Tapi, bukan aku namanya kalau membiarkan perasaan hitam bersemi dalam diri. Aku harus belajar memaafkan, sekalipun orang tersebut tidak menyesal dan tidak pernah meminta maaf bahkan terus saja mengulangi hal yang sama.

Karena aku yakin, hal ini tuh receh. Dan ini akan terus terjadi. Akan selalu ada orang-orang yang ‘judge’ sama kehidupan kita. Maka, sebelum orang tersebut menyesal dan minta maaf. Maafkan saja terlebih dahulu.

Lingkaran Setan Terus Berlanjut Jika Aku Tidak Memaafkan

Hal yang membuatku bertekad untuk memaafkan segala tragedi mom shaming adalah karena mom shaming itu menular. Ini serius.

Hati yang gelap itu, membuatku terus berpikir negatif.

Aku bukan tipikal penyerang balik jika direndahkan oleh orang lain. Aku adalah tipikal yang ‘pura-pura baik-baik saja’. Tapi dibelakang orang tersebut aku meredakan rasa kesal dengan melampiaskannya kepada yang lain.

Aku pernah melampiaskan rasa kesal tersebut pada anakku. Aku juga pernah melampiaskan rasa kesal tersebut dengan memecahkan piring. Puncaknya, aku juga pernah melampiaskan rasa kesal tersebut dengan ‘menghargai dan meninggikan’ diriku sendiri di status sosial media. Semua itu aku lakukan demi menutup lubang menganga yang pernah diserang oleh sosok yang bernama ibu sempurna.

Ini tidak benar. Lingkaran setan ini harus berakhir. Jika tidak…

Yaa.. Aku Merasakan Menjadi Pelaku Mom Shaming

Akhirnya aku merasakan berada diposisi ini juga. Tanpa disadari, aku menjadi pelaku mom shaming.

Ketika aku meninggikan diriku sendiri untuk terlihat ‘sempurna juga’, tanpa aku sadari.. Mulutku mulai melakukan hal yang sama..

.. Aku tidak sengaja telah merendahkan Ibu yang lain.

Dan Ibu tersebut sontak memarahiku. Melabeliku dengan berkata bahwa aku selalu merasa diriku yang paling baik.

Ah, beruntunglah aku karena berhadapan dengan tipe penyerang balik yang kemudian mencaci segala kekuranganku. Akupun otomatis segera meminta maaf, berusaha menjelaskan bahwa ‘bukan itu maksudku’ dan berusaha menjelaskan penyesalanku. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Ternyata, aku berhadapan dengan Ibu yang keras sekali hatinya. Bahkan sudah meminta maaf berkali-kali pun dia malah mengorek-ngorek seluruh keburukanku.

Tapi tidak apa-apa. Semua salahku. Aku yang awalnya sulit memaafkan orang lain. Aku yang kemudian melepaskannya dengan membuat diriku terlihat sempurna. Aku yang kemudian merasa bahwa kesempurnaanku telah menyakiti orang lain.

Its okay. Thats life.

Semua orang pernah berbuat salah bukan?

Memaafkan, Karena Apa yang Mereka Lakukan Adalah Bentuk Pertahanan Diri

Karena pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming.. Kini aku sedikit mengerti dengan para pelaku mom shaming. Dan bergumam dalam hati, “Oh beginikah rasanya?”

Beginikah rasanya ingin menunjukkan kesempurnaan karena merasa ‘diserang’?

Beginikah rasanya ‘geregetan’ ketika melihat orang yang bersedih karena hal sepele?

Beginikah rasanya mempertahankan diri dengan melakukan hal yang salah?

Dan aku kemudian belajar berdamai dengannya, kemudian berkata.. “I feel u now.. “

Yah, ada hikmahnya pernah menjadi pelaku mom shaming ternyata. Aku jadi dapat reframing perasaan mereka yang suka merendahkan Ibu lainnya. Mereka itu ternyata lebih menderita. Mereka ingin berekspresi tapi tidak keluar dengan baik. Mereka punya banyak sampah tapi membuang sampah tersebut di tempat yang tidak benar.

Maka, sebenarnya pelaku mom shaming pun perlu pelukan. Mereka terkurung dalam perfeksionis sindrom dan lingkungan yang memaksa mereka untuk sempurna. Mereka tertular oleh para pelaku mom shaming lainnya. Mereka ini.. Sangat kasihan sebenarnya.

Jadilah Orang Baik yang Selalu Menjaga Mulut dan Jarinya

Ah, sungguh rasa bersalah ini membuatku banyak belajar.

“Hei diriku sendiri.. Jadilah orang baik yang selalu bisa menjaga mulut dan jari.. “

Jika merasa diri lebih baik, hanya buktikan dengan tindakan. Jangan merendahkan orang yang masih tidak baik. Tidak ada gunanya.

Jika merasa ingin mengeluh, mengeluhlah di tempat yang benar. Jangan terlihat oleh orang yang keadaannya bertolak belakang denganmu. Bukan empati yang akan kau dapatkan nanti. Jaga hati orang lain dari rasa ingin merendahkan.

Jika ingin menasehati orang lain, pergunakanlah kata-kata yang sesuai dengan karakter orang tersebut. Jika tidak mengenal orang tersebut secara dekat, lebih baik diam saja.

Jika ingin menulis di sosial media, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Menulis itu terapi. Dan toh masih banyak yang bilang tulisanmu bagus. Jika ada yang sepertinya tidak suka dengan gaya tulisanmu.. Maka, blok saja mereka. Demi menjaga hati.

Hidup itu simple.

Jangan gengsi meminta tolong.

Jangan gengsi bilang terima kasih.

Jangan gengsi meminta maaf.

Jangan memberi makan ego dengan sesuatu yang tidak benar.

Dan.. Berusahalah reframing dan memaafkan.

Berdamai dan memaafkan adalah kunci dari penerimaan. Agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik esok harinya.

Bukankah begitu?

Mengobati Hati Sensitif Plus Gampang Baperan Ala Emak-Emak

Mengobati Hati Sensitif Plus Gampang Baperan Ala Emak-Emak

Ah, entah kenapa akhir-akhir ini aku merasakan hal itu lagi. Ketika telingaku kadang-kadang mendengarkan hal yang tidak aku inginkan. Ketika mataku kadang-kadang membaca hal yang menyinggung perasaan. Lalu aku merasa tersudut sendiri. Merasa bukanlah seorang Ibu yang baik. Merasa bukanlah pribadi yang baik. Dan sangat tidak pantas untuk berdampingan hidup dengan suamiku, anakku bahkan lingkungan sosialku.

I feel so deppresed..

Lalu, ketika efek ‘stun‘ ini berlangsung cukup lama.. Aku melihat pencapaian orang-orang disekitarku. Aku melihat sosial media tiada habisnya. You know what happened?

Hanya bisa berkata dalam hati, “Oh Tuhan.. Inikah namanya iri hati?”

Tidak mau berlarut terlalu lama.. Akhirnya aku mencoba meyakinkan diri sendiri. “Oke win.. Kamu sedang dalam tahap tidak waras..”

Dan hal yang harus dilakukan sekarang adalah.. Mencari tahu kenapa ini terjadi kemudian mengobatinya.

Penyebab Hati Gampang Baper

1. PMS

Ya.. Ini mungkin salah satunya. Sudah 5 bulan aku berhenti mengkonsumsi pil KB diane yang merupakan pil KB andalanku. Hal ini aku lakukan karena pil itu sekarang harganya mahal sekali. Sungguh jiwa ngirit ku meronta-ronta. Heu.. *kok malah curcol.

Efeknya apa? Efeknya ada siklus yang hilang dalam tubuhku. Yaaa.. Yang seharusnya cewek itu menstruasi paling enggak sebulan  sekali.. Malah jadi enggak menstruasi. Tamu bulanan itu lenyap seketika.

Bukan, bukan hamil. Hahaha.

Memang konon katanya.. Kalau sedang menyusui itu.. Siklus menstruasi bisa terganggu. Dan yaa.. Sudah 5 bulan loh aku tidak menstruasi. Jadi aku merasa kalau tubuhku ini agak kurang sehat dan perlu mengembalikan siklus haid seperti dulu lagi.

Bukan hanya merasa kurang sehat secara jasmani, ternyata efeknya juga ke rohani. Ya, siklus PMS yang harusnya terjadi rutin sebulan sekali itu malah selalu tertunda. Jadinya, efek PMS pun menumpuk. Just feel like its a mood swing.. Ya.. Seperti mood swing yang aku rasakan saat hamil. Ini terjadi lagi sekarang.. Saat siklus PMS tertunda. Hiks

2. Tanki Cinta Sekarat

Permasalahan kedua adalah tangki cinta.

Tangki cinta dalam kehidupan dapat diperoleh dari 4 time yang berharga, yaitu Me time, couple time, family time dan social time.

Syukurlah untuk family time dan couple time aku sudah mendapatkannya. Yaa.. Walau memang sih pertengkaran sering terjadi. Tapi itu hal yang wajar lah ya.. Namanya juga berumah tangga. Hihi..

Tapi untuk me time dan social time.. Aku mulai mencapai tingkat krisis. Mood swing yang tidak bisa mengeluarkan hoby menulisku.. Social time yang tidak terlalu bisa aku lakukan semenjak ada bayi. Ada 2  buah tangki kosong yang menuntut sebuah keseimbangan. Dan aku harus bisa mengisinya.

3. Kelelahan
Ah.. Gak tau deh. Entah kenapa sejak Humaira bisa merangkak dan merambat.. Aku lumayan kewalahan sama tingkah lakunya. Rumahku berantakan.. Genks! Hahahha

Sementara, aku punya innerchild yang membiasakan diri ‘harus’ memiliki standar rapi seperti Ibuku. Dan kalau melihat rumah berantakan.. Aku stress. Inspirasi pun gak bisa nyantol setiap kali melihat berantakan.

4. Terlalu membandingkan kehidupan dengan orang lain yang diatas

Inilah yang membuatku ‘stun’ bersosial media. Aku merasa seperti timbunan debu diatas langit yang indah. Sama sekali tidak pantas mengeluarkan ekspresi dibanding dengan teman-temanku. Tidak ada pencapaian seru, pun tidak ada hal menantang yang harus dilakukan. Dan yaah.. Kayaknya aku perlu piknik.. Hihi

Padahal bukan sosial media yang salah loh. Sosial media memang diciptakan untuk menuangkan ekspresi baik dan pencapaian. Hanya saja, kalau hati kita sedang tidak baik maka efeknya juga tidak baik. Bukan hanya bersosial media, bertemu dengan teman-teman yang status sosialnya diatas kita pun pasti akan menimbulkan perasaan rendah diri hingga iri hati.

Cara Mengobati Hati Sensitif Plus Gampang Baper

Genks, ini gak baik. Ada yang salah dari diri kita. Ada yang salah kenapa kita tuh selalu baper di tengah-tengah kehidupan. Eh, kita? Aku aja kali.. Haha..

Mari coba temukan solusinya sendiri. Dan mungkin, solusi dibawah ini dapat membantu:

1. Rutin ‘Membuang Sampah’ dengan cara yang benar

Setiap manusia memiliki energi negatif dalam dirinya, aku percaya hal itu. Hanya saja, sebagian dari manusia dapat menyalurkan energi negatifnya dengan benar.. Sebagian lagi tidak benar.

Mereka yang dapat melakukannya dengan benar adalah mereka yang bisa berolah raga untuk mengeluarkan aura negatifnya, mereka yang bisa mengolahnya menjadi suatu karya.. Lukisan mungkin.. Puisi mungkin.. Dan pada puncaknya, mereka yang merasa sudah puas ketika energi itu hanya tertuang dalam sujud dan doa.

Tapi, jika tidak bisa membuang energi negatif dengan cara yang benar bagaimana?

Jawabannya, lakukan saja sesuka hatimu. Selama itu adalah hal baik, kenapa tidak?

Aku sendiri memiliki ruang khusus untuk blackhole di hatiku. Aku memutuskan untuk memiliki privasi tulisan receh dalam kehidupanku. Yaa.. Karena hobiku kan menulis.. Jadi, aku perlu ruang khusus untuk mengobati tulisanku.

Aku punya keluhan. Banyak bahkan. Namun, aku menuangkannya hanya pada status privasi di WA story. Hanya sedikit teman yang bisa melihatnya. Entah kenapa, itu sedikit melegakan. Recehan keluhan itu kadang bisa mengobati hati yang sedang kalut dan bingung.

2. Menjalin hubungan romantis dengan pasangan

Hubungan romantis atau sebuah kerja sama yang baik dari suami istri dapat memenuhi tangki cinta loh. Bahkan memenuhi tangki cinta untuk me time dan social time. Hmm.. Kok bisa?

Karena dalam rumah tangga, hubungan suami istri yang romantis adalah awal dari semuanya. Kerja sama yang benar-benar pas adalah awal dari terbarunya keseimbangan waktu, baik itu me time, family time, couple time dan sosial time.

Gak percaya? Misalnya saja nih, anak sedang super rewel dan mau sama emaknya melulu. Apa jadinya kalau suami tidak mau membantu? Pekerjaan terbengkalai dan tentu saja kita tidak bisa memanjakan diri sendiri. Karena itu, penting banget berkomunikasi dengan baik dan benar.

Karena itu punya suami baik dalam rumah tangga itu adalah ‘koentji’. Bagaimana jika suami susah sekali membantu? Jawabannya, hanya kita yang tahu persis bagaimana caranya. Karena setiap orang punya karakter berbeda. Suamiku yang introvert dan punya daya peka yang agak lambat misalnya.. Maka, aku harus punya skill komunikasi yang berbeda.. Dan ini lama sekali membentuknya Tuhaaan.. Haha..

Baca juga: Ketika Introvert menikahi Introvert

Ketika tahapan ini sudah dilalui dengan benar, maka perlahan-lahan tangki cinta kita akan penuh dengan sendirinya. Tau kan ya kalau hati perempuan sudah merasa dicintai dan berbunga-bunga.. Apalagi secara finansial suami mengerti ya otomatis istri bisa menjalani hidup dengan nyaman tanpa ada baper dan iri hati..ckck..

Ops, tapi jangan salah dulu..jangan dikira semua akan teratasi instan kalau finansial menunjang ya. Semua ada prosesnya, ujian pernikahan itu banyak. Dan ujian ekonomi adalah krisis yang harus aku lalui dalam 5 tahun pernikahan.

3. Belajar Mencintai Diri Sendiri

Ini adalah hal yang harus kita temukan jika kita tidak ingin virus baper berkepanjangan melintas dalam kehidupan. Kita tidak boleh mendengarkan apa kata orang. Kita harus menggali potensi diri sendiri semaksimal mungkin.

Dan ini akan sangat mudah dilakukan kalau tangki cinta sudah terisi. Hihi..

Biarkan saja orang dengan pencapaiannya..
Biarkan saja orang dengan pendapatnya..
Itu mereka. Dirimu adalah dirimu..
Diriku adalah diriku.

Setiap orang punya lintasan yang berbeda dan kita tidak boleh keluar dari lintasan kita dan tetiba ingin menjalani lintasan orang lain. Woy, semua juga tau kalau itu curang namanya.

Fokus saja dengan tujuanmu sendiri. Buat dinding sendiri dalam lintasanmu. Dinding itu adalah orang yang mendukung dan menyemangatimu. Tidak perlu fokus dengan rumput tetangga. Yaaah.. Rumput tetangga memang hijau sih. Tapi masih lebih bagus rumput dengan warna pink kok.. *eh, emang ada?

4. Melihat keadaan orang yang dibawah plus membantunya

Ini adalah solusi termanjur yang pernah aku lakukan.

Ketika sedang merasa down dan tidak bisa apa-apa.. Maka lihat saja orang yang kehidupannya dibawah. Baik mereka yang dibawah secara ekonomi, sosial maupun hal lainnya. Itu akan membuat diri sendiri berkaca lebih dalam. “Ah, memangnya siapa aku yang baru dikasih ujian baper level satu saja sudah meringis.. “

Karena itu, tidak salah memang ketika para ulama bilang bahwa sedekah akan melapangkan hati kita yang terasa sempit dan tidak nyaman. Memang pada prinsipnya, manusia harus menemukan social time yang benar penyalurannya.

Social time yang bukan hanya berkumpul dengan teman-teman satu passion kemudian menggali potensi diri. Social time yang benar kadang hanyalah memberikan sedekah kepada mereka yang posisinya di bawah kita. Dengan begitu, kita akan merasakan syukur dengan cara yang benar. Bukankah begitu?

Nah, itu dia solusi anti baper ala aku. Memang masih belum sempurna terwujud. Tapi aku yakin, semuanya perlu proses. 🙂

Kita para emak-emak kudu terus bahagia bukan?

IBX598B146B8E64A