Browsed by
Category: Self Improvement

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Janji kepada Diri Sendiri: Aku Akan Menjadi Orang Tua yang menghormati Opini Anak Gadisku Kelak

Wah, judulnya.. Apakah Anda sedang baper duhai penulis shezahome?

Ya, dibilang baper sih tidak juga. Hanya saja aku menulis ini untuk menjadi pengingat kepada diriku beberapa tahun mendatang. Pengingat bagi diriku sendiri yang mungkin saja beberapa tahun mendatang otaknya tidak sewaras sekarang karena berbagai faktor. Pengingat kepada diri sendiri bahwa ketika anakku beranjak dewasa kelak.. Pasti akan banyak sekali perbedaan pendapat yang akan menimbulkan konflik diantara kami.

Tentang Menghadapi Anak yang Beranjak Dewasa

Jadi, tulisan kali ini tentang apa?

Yup, its all about the future.

Tentang khayalanku menghadapi anak yang beranjak dewasa kelak. Memang, anakku sekarang masih tergolong dalam umur anak-anak. Namun, kurasa pengalamanku dengan Mama telah mengajari segalanya.

Sebagai anak yang paling sering bertengkar dengan mama diantara 3 saudara yang lain, tentu pahit manis pertengkaran sudah sering aku lewati. Dimulai dari saling menangis, mogok makan, hingga tidak mau berteguran dengan Mama. Ya, aku mengalami semua itu pada masa remajaku. Aku pernah menjadi anak pembangkang, bahkan pernah hampir dibilang durhaka oleh Mama.

Baca juga: Surat untuk Mama, Maaf Aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga Saja

Pengalaman mengajari segalanya. Walau aku adalah anak yang paling sering berkonflik dengan Mama, namun aku juga merupakan anak yang memiliki ikatan batin terkuat dengan Mama. Ketika Mama sedih, gelisah, bingung.. Mama akan lari mengadu padaku. Seakan aku adalah solusi yang dibutuhkan. Mungkin juga sih, karena aku adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Jadi, feeling kami lebih terasa nyaman dan nyambung.

Berikut adalah beberapa catatan untuk diriku sendiri dimasa depan ketika menghadapi anak remaja. Maka wahai diriku.. Ingatlah bahwa pernah menulis ini..

Ingatlah Bahwa Kita Pernah Muda

Belakangan, aku sangat sering dihadapkan pada konflik orang tua vs anak remaja. Ada yang mencaci dan mengutuk kelakuan anak remajanya. Ada pula yang membiarkan kelakuan anak remaja mereka begitu saja, menuruti segala kehendak mereka dengan alasan.. “Yah, aku dulu gak bisa begitu paling enggak anak bisa merasakan manisnya masa remaja.”

Ada pula yang tidak mau mendengarkan pendapat anak remajanya. Tidak memberikannya kesempatan untuk mengemukakan pendapat dengan alasan, “Mama dulu gak pernah nyahut sama orang tua kayak kamu ini loh! Kalo nyahut pasti langsung dilempar sambel mulutnya! Kamu kok berani sekali?”

Memang, ada hadis Nabi yang berkata bahwa sebagai anak kita tidak boleh sekalipun berkata ‘Ah’ pada orang tua maupun mengeluh. Sebagai seorang anak, kita diharuskan untuk selalu menaati perintah orang tua. Tapi, ingatlah kita akan pola asuh yang dianjurkan oleh Ali.

Jadikan Anakmu Raja hingga berumur 7 tahun..
Jadikan Anakmu Tawanan dari umur 8 sampai 14 tahun..
Jadikan Anakmu TEMAN dari umur 15 sampai 21 tahun..

Artinya sebagai orang tua yang baik, saat terjadi perbedaan pendapat dengan anak kita yang sudah beranjak remaja maka kita tidak boleh melakukan pembenaran kekanak-kanakan dengan alasan, “Gak boleh menyahut pada orang tua..” apalagi mengatakan bahwa mereka adalah Anak Durhaka, Bodoh, dsb. Ingatlah, setiap perkataan orang tua itu adalah Doa.

Kita harus mengingat dan reframing dengan keadaan mereka. Ingatlah, kita pun pernah muda. Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dunia ini, adalah wajar ketika remaja merasa penasaran akan dunianya.

Adalah wajar saat remaja mengemukakan pendapat realistisnya dari ilmu yang didapatkannya.

Adalah wajar saat remaja menentang hal yang tentu saja ia rasa benar. Apalagi jika pendapat tersebut dilandasi ilmu yang benar.

Yang harus kita lakukan sebagai orang tua kekinian adalah tidak menutup diri pada perubahan lingkungan, ilmu pengetahuan, dan selalu update pada era teknologi terkini namun tidak melupakan ajaran terbaik dari yang terdahulu.

Jadilah orang tua yang berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Kenapa? Agar kita benar-benar bisa menjadi teman yang baik baginya. Tidak sekedar menyalahkan segala opini yang keluar dari mulut lugunya.

Jika Kita Ingin Memiliki Anak yang Berempati, maka Kita Harus Memiliki Empati yang Lebih Besar.

Masih segar rasanya cerita tentang tantrum yang dialami Farisha dahulu. Tantrumnya memang amat sangat singkat sehingga hampir tidak ada yang tau bahwa Farisha pernah mengalami tantrum. Bahkan, banyak yang bertanya padaku, “Bagaimana bisa mengatasi tantrum pada anak dalam waktu sesingkat itu?”

Baca juga: Empati, solusi untuk tantrum anakku

Jujur saja, aku bukan penganut menjadikan anak Raja pada fase Farisha kecil. Aku penganut mengajarkan Farisha Rasa Kasihan. Mungkin, ini terjadi karena aku sempat terkena Post Partum Depression. Sehingga aku selalu menyuruhnya memahamiku. Aku membiarkannya melihatku dalam keadaan sedih saat berdua dengannya, tak jarang menangis sendiri. Untuk hal seperti ini, tentu saja tak boleh kalian tiru.

Baca juga: Mengeluh pada Anak, Yay or Nay?

Tapi karena hal ini pula, Empati Farisha secara prematur tumbuh. Ia mulai menyukai hal-hal yang berbau kesedihan dan memahami penyebabnya. Karena itulah ia tidak mengalami tantrum seperti anak-anak pada umumnya. Hingga kini, hal yang paling disenanginya adalah Mewarnai Obyek Kesedihan dan Menggambar Air mata. Ya, aku serius.

Aku tidak menganggap hal ini sebagai kelainan. Apalagi setelah aku berusaha bangkit melawan PPD. Empatiku pada Farisha perlahan-lahan tumbuh makin dalam. Dan saat ia mengalami berbagai konflik di sekolahnya, termasuk saat ia mulai ingin menjadi seperti teman-temannya, dibully, hingga keras hati yang mendadak muncul. Aku melakukan reframing yang mendalam padanya. Aku memeluk dan membacakan buku cerita yang serupa dengan kisahnya. Memberinya sebuah pembelajaran hingga akhirnya ia paham akan jalan pikiranku.

Begitulah hal yang seharusnya kita lakukan saat perbedaan pendapat dan konflik muncul. Empati kita pada anak harus lebih besar. Agar ia menghormati dan menyenangi kita, bukan membuatnya TAKUT dengan kita.

Karena akan ada masanya si kecil tidak semanis ini lagi dan kita harus mempersiapkan mental dimulai dari sekarang..

“Nikmatilah masa-masa berdua saja dengan anakmu yang masih kecil, karena kelak suatu saat nanti ia tidak akan semanis ini lagi.”

Aku sangat menyadari masa-masa itu PASTI akan datang. Apalagi dalam pergaulan sekarang, anak-anak terasa cepat sekali berubah. Mereka cepat sekali menemukan role mode yang baru. Karena lingkungan telah berubah. Perkembangan teknologi dan komunikasi menuntutnya untuk mencari jati diri dengan cara yang lain.

Dan setiap zaman ke zaman. Mode pencarian jati diri ini mengalami perubahan. Itulah yang harus kita sadari.

Zamanku dulu saja misalnya, aku sangat tergila-gila dengan Kpop dan Boyband. Memasang poster berbagai boyband di kamar. Bernyanyi tidak karuan dikamar mandi. Malas memakai Jilbab kesana kemari. Menghabiskan uang jajan untuk warnet dan majalah. Benar-benar masa remaja yang tidak produktif. Terlalu banyak mengkhayal dan lupa dengan dunia nyata. Ada yang sama? Haha..

Tapi itu semua ada penyebabnya. Pada zamanku misalnya, aku melakukan itu semua karena ruang pergaulanku dibatasi oleh mama. Tidak boleh berteman dengan ‘si anu’, tidak boleh keluar rumah kalau bukan karena ‘ini’, tidak boleh bla bla bla. Dan percaya atau tidak dari SMA hingga kuliah aku stuk berteman dengan jenis makhluk laki-laki di dunia nyata. Aku mengalami krisis percaya diri sehingga malas sekali ikut berbagai kegiatan di dunia nyata. Jadi, aku mencari pencarian kesenangan di dunia lain dengan alasan pencarian jati diri. Dan hingga saat ini dunia maya adalah candu. Thats Why Blog dan Sosial Media adalah bentuk ekspresi yang sudah menjadi candu untukku. Kadang aku berpikir bahwa Introvert itu dibentuk bukan natural ‘dari sononya’

Lantas Apa aku harus memperlakukan Farisha dengan sama?

“Tapi efeknya baik kan win? Kamu jadi anak baik-baik hingga dewasa dan menikah karena batasan-batasan yang diberikan oleh Orang Tuamu”

Ya efeknya memang baik. Tapi baiknya kebablasan. Hihi

I mean.. Kebablasan hingga aku tidak bisa berekspresi seperti apa yang aku mau. Merasa ketinggalan dengan perkembangan teman-teman yang lain. Tidak dapat menonjolkan bakat seperti apa yang aku inginkan. Karena setiap keinginan itu muncul, pertengkaran dengan Mama adalah hal yang pasti terjadi. Dan aku sangat membenci itu.

Aku tidak ingin Farisha tumbuh seperti itu. Sebagai anak yang terlalu penurut padaku karena ‘takut’. Aku ingin ia memiliki keinginan sendiri untuk langkah kedepannya dan aku ingin menjadi teman setia yang mengiringinya. Bukan menjadikannya boneka yang pasrah dengan dalangnya. Bukan pula menjadikannya untuk penakut padaku.

Maka hei diri sendiri, tolong ingatlah janji ini. Janji di masa depan nanti.

Ketika Teman Bertanya, “Ngeblog Dapet Duit ya? Mau dong!”

Ketika Teman Bertanya, “Ngeblog Dapet Duit ya? Mau dong!”

“Kayaknya kamu akhir-akhir ini ada tulisan yang kayak sponsor gitu ya win? Ehm, itu dapet duit ga sih?”

Itulah salah satu pertanyaan dari salah seorang temanku yang tiba-tiba saja kepo basa basi menanyakan keadaanku, anakku, keluargaku, tempat tinggalku hingga akhirnya pada part ini. Ya, kepo tentang blog dan sosial mediaku. Juga tentunya.. Kepo dengan komunitas blogger yang kumasuki.

Lantas, apa jawabanku?

“Kamu mau juga? Yuk, mulai nulis di blog..” jawabku optimis.

“Dapet duit ga sih? Kamu sebulan dapet berapa?”

Dan pertanyaan itupun tidak ku jawab. Bukannya kenapa, tapi aku sangat teramat amat amat bete jika ada yang menanyakan hal seperti ini.

Bukan, bukan karena penghasilan ngeblogku tergolong receh. Sehingga aku tidak berani menyombongkan diri dihadapannya. Jujur saja, aku tidak pernah sharing sekalipun tentang job blogger, fee blogger, nyombong begini begitu di sosial media yang memiliki viewer ‘lumayan’. Kalaupun aku pernah mengeluarkan uneg-uneg tentang job, fee dan bla bla.. Maka itu hanya pada WA story dengan privasi yang sudah kuatur. Hanya teman teramat sangat dekat, keluarga, dan teman blogger saja yang tau tentang hal itu.

Jadi, apa alasanku tidak membalas pertanyaannya?

Karena keinginan ngeblog yang tiba-tiba ada pada dirinya bukan karena ia benar-benar ingin menulis, melainkan ingin dapat DUIT INSTAN.

Ya, itulah kesimpulanku.

Arti Ngeblog Buat aku

Bagiku, sebelum menjadi seorang blogger sangat penting untuk membangun niat ngeblog. Ya, ngeblog itu buat apa sih?

Apa cuma pengen dapet duit?
Apa cuma pengen hadir ke event-event beken dan terkenal di mata brand?
Apa cuma pengen dapet produk gratis?

Jika niat Anda ngeblog hanya untuk mendapatkan ‘reward’ seperti hal-hal diatas. Saranku, mending enggak usah ngeblog. Enggak usah ikut-ikut gabung ke komunitas blogger. Malu-maluin. *tuh kan gelaa.. Emosi saya.. Haha.

Silahkan protes ya.. Aku siap di bully.. 😂

Namanya juga blog aku, suka-suka aku nulis apa. Tapi serius deh, fenomena begini pastinya bukan cuma aku yang mengalami ya? Kutebak blogger-blogger senior pun pasti banyak yang mengalami hal seperti ini. Ditanyain orang begini begitu tentang monetize blog, padahal mereka bikin blog aja belum.. Niat nulis bener-bener aja gak ada. Aku sih kalau ketemu makhluk begini males banget ngeladenin. Tapi mungkin kalau blogger senior jauh lebih sabar menanggapinya. Maklum, aku kan masih newbie banget dalam dunia blog. Emosinya masih labil. *emak-emak labil (makabil.. 😂)

Tapi serius, dulu waktu awal aku punya blog itu enggak pernah terpikir olehku bahwa blog bisa begini begitu. Yang aku pikirin saat awal pengen punya blog itu adalah.. Aku harus punya me time yang bisa bikin aku waras di rumah, aku perlu aktualisasi diri, aku perlu dunia maya yang berkualitas dibanding sosmed, aku perlu mengeluarkan kata-kata yang terpendam hingga hatiku puas, aku perlu berguna di dunia, aku perlu sharing hal positif, aku perlu teman berkualitas yang satu hobi denganku. Ya, itu. Itu yang mendasariku ingin ngeblog. Bukan sekedar, “Aku pengen dapet duit dari blog..”

Dia kira enak apa ya dunia monetize blog itu.. Pikirku.

Bagiku, dunia monetize blog itu….

Kejam. Hiks.

Asik sih ya kalau hobi yang kita geluti betul-betul itu bisa menghasilkan uang. Serasa apa yang kita lakukan itu benar-benar membahagiakan dan tidak membuat stress. Tapi, jujur saja aku sempat loh merasakan stress dalam memasuki job blogger dan lain-lain. Kenapa?

Pertama, karena waktu awal dapet job itu aku agak udik. Jadi, terima saja semua job yang menawarkan fee ‘sekian’. Sekalipun itu bukan tentang passion aku.. Terima saja.. *anaknya pasrahan lagi musim matre-matrenya dan udik melihat barang gratis.. 😂

Ternyata? Ternyata nulis sesuatu hal yang ‘enggak aku banget’ itu… Enggak enak beb.. Ada yang janggal. Apalagi kalau dapat placement artikel, serasa ingin dirombak semua tuh. Haha..

Dan aku anaknya jujur dan enggak ingkar janji. Jadi kalau dapat tawaran job permanent link dan bleh bleh bleh syaratnya aku itu gak bakal mengkhianati orangnya. Ternyata, hal ini sempat bikin blog aku enggak sehat.

Yes, blog aku sempat punya banyak brokenlink dan walau sudah dibersihkan entah kenapa setiap kali aku komentar di blog teman-teman maka sering sekali komentarku masuk spam. Padahal ya, aku kalau komentar itu lumayan panjang dan kepo. Dan akupun termasuk jenis yang gak banyak-banyak banget blog walking dalam sehari.

Akhirnya, aku putuskan untuk libur ngejob selama beberapa bulan dan membuang link-link ‘tidak sehat’ di blog. Hasilnya? Blogku sehat kembali. Haha. Jadi, dikira enak apa ya dapat job melulu itu.

Kadang suka agak baper saat ada tawaran job dengan fee ‘lumayan’ dan aku sering menolaknya. Hiks

Halah sombong win.. Haha.. 😂

Serius, Sempat ngiri gak sih melihat teman-teman dengan Domain Authority yang tinggi dapat banyak job? Sempat lah. Apalagi kalau fee nya lumayan. Aduh, nafsu belanja bulanan aku kadang bisa kumat. Tau sendiri lah ya, hiburan emak-emak receh rumahan begitu tuh.

Lantas, apa aku enggak dapat job serupa? Mm.. Kadang ada sih. Entah itu placement artikel atau nulis sendiri dengan fee sekian. Ada beberapa job yang diterima.. Tapi kebanyakan itu.. Ditolak.. Hiks..

Kenapa?

As you know, aku itu orangnya transparant dengan suami luar dalam. Bahkan rekening aja kami blak-blakan soal pemasukan dan pengeluaran serta saling terbuka password dan bla bla. Ketika suamiku dapat job membuat program dari bla bla aja dia pasti ngasih tau sama aku. So, kenapa aku enggak? Iya.. Tiap ada job apapun aku selalu sharing dengan suami. Dan kebanyakan memang ditolak sih. Hiks.

Alasannya?

Pertama, aku gak mau menulis tentang topik tulisan yang enggak sesuai sama blog aku.

What? Bukannya blog kamu masuk kategori gado-gado? Apa aja dimasukin?

Iya, tapi begini-begini aku masih punya ciri khas beb. 😂

Diantaranya aku gak mau nulis topik finansial yang gak sesuai sama prinsip hidup aku. Iya walaupun aku Sarjana Akuntansi, aku juga punya prinsip tentang sharing tulisan tentang finansial. Aku punya kok tulisan tentang ekonomi rumah tangga tapi memang gak ada sama sekali yang membahas hal krusial.

Jangan, jangan bilang aku orangnya suci banget. Enggak, biasa aja. Haha. Aku dan suami juga pernah kok investasi di saham dan bla bla. Pernah ikutan kelas Bursa Efek Indonesia. Tapi, memang concern tulisan aku gak bisa membahas sesuatu yang enggak aku sukai dan membawa pada riba. Aku suka membaca topik tentang investasi dan bla bla, tapi gak suka kalau gak sesuai sama prinsip hidup. Udah itu aja.

Padahal job finansial begini fee nya lumayan ya beb. 😂

Nah, itu adalah tentang prinsip ngeblog aku. Bagi aku, se gado-gadonya blog tapi blog itu harus punya prinsip. Harus punya kesenangan tersendiri. Bukan cuma ngeblog karena pengen dapet duit, pengen dapet barang gratis. Blogger yang sudah sampai ketahap itu butuh perjuangan beb. Perlu nulis tulisan organik sekian banyak. Perlu promosi di sosmed sekian cerewet. Perlu sok-sok pamer. Kalian mah liatnya ‘enaknya’ aja.

Iya, kayak aku misal.. Perlu curhat sekian banyak.. Hahaha.. 😂

Kalau niat ngeblog cuma pengen ‘dapet duit’ maka tulisan di blog itu jadi gak berkualitas. Iya, ibaratnya kalian mau nonton TV tapi isinya Iklan melulu? Yang ada pengunjung pada bete.. Ya kaaan?

Dan lagi, kalau ngeblog niatnya cuma buat monetize doang.. Please jangan nanya hal beginian ke aku. Aku itu blogger perempuan yang ngeblog itu dari hati (ciee.. 😂). Nanya aja sama para blogger lelaki yang bisa ngurus 50-100 blog. Yang bisa membangkitkan blog-blog zombie dengan Domain Authority yang tinggi. Yang punya relasi freelance writer dimana-mana. Yang entah bagaimana caranya bisa menghasilkan adsense satu juta rupiah per harinya. Aku mah apa? Rerecehan yang kalau dapet job aja tulisannya pada curhat. Hahaha.

Sekian tulisan kali ini, spesial buat kalian-kalian yang akhir-akhir ini suka nanya “Pengen juga dong ngeblog.. Biar dapet duit..”

Maaf saja, buatku Blogger sejati itu orang yang suka nulis, bukan sekedar ‘pengen dapet duit’…

Membuat Rendang Penuh Cinta dan Ceritaku Tentang Suka Duka Memasak

Membuat Rendang Penuh Cinta dan Ceritaku Tentang Suka Duka Memasak

Namanya Rendang. Masakan daging yang sangat populer di indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Siapa saja tentu kenal dengan masakan fenomenal yang satu ini. Dan yah, hari ini aku harus mengakui bahwa aku baru saja satu bulanan ini benar-benar berhasil membuatnya. Sedikit memalukan memang untuk seseorang yang memiliki hobi masak sepertiku.

Hoby masak?

Iyes, buat kalian yang menyimak blog shezahome sejak awal tentu saja tau bahwa awalnya aku sering share resep makanan dan pengalaman baking disini. Kemudian seiring berjalan waktu genre tulisan di blogku lebih dominan ke ‘curcolan mak-emak’ hingga paranting. Ah ya, karena aku perempuan lantas salahkah aku juga turut menulis review produk kecantikan terutama lipstik disini? Sepertinya tidak ya. Haha. Mari jangan sebut blog ini adalah blog gado-gado dan tidak punya masa depan. Karena dari namanya saja kalian tentu tau blog ini adalah ruang evolusi yang terjadi di shezahome. *mamak kebanyakan alasan

Terus, mana resep rendang yang endes itu win? Yang dari kemarin-kemarin gembor banget testimoninya di WA (testimoni keluarga lebih tepatnya.. Haha). Oke, sebelum aku sharing mengenai keberhasilan ini, aku terlebih dahulu mau sharing mengenai kegagalan demi kegagalan saat aku membuat rendang dan masakan lainnya.

Kuharap kalian menyimak dengan baik karena ini juga merupakan cerita awal mula aku menikah dengan skill masak yang yah.. Biasa saja..

Tentang Kegagalan dan Cerita Pengalamanku Memasak

Adalah bohong besar bahwa aku bisa memasak sejak dahulu. Aku adalah anak perempuan manja dari 4 bersaudara (yang semuanya laki-laki) dan tidak bisa memasak.. Yah, aku hanya mengandalkan masakan dari mama dahulu. Keinginanku belajar memasak tumbuh begitu saja saat aku akhirnya mengontrak rumah dengan kakakku saat kuliah. Dengan jumlah biaya konsumsi yang saat itu dipercayakan kepadaku, tentu saja insting pertahanan diri ala perempuanku begitu saja muncul.

“Uang ini harus cukup, bahkan harus bersisa.. Lumayan kan buat ditabung.. Hehe..” Pikirku kala itu.

Aku membeli buku resep-resep makanan, kepasar, membeli peralatan kecil untuk memasak dan tadaa.. Jadilah aku chef remaja sang peniru resep makanan. Terkadang masakanku berhasil, terkadang (sepertinya banyak) yang tidak berhasil. Tapi dibalik belajar memasak aku mendapat banyak pembelajaran dan sisi positif. Ya, ternyata memasak dapat menumbuhkan rasa cinta, seni dan kreatifitas dalam mengatur menu. Untuk standar anak kuliahan sepertiku dahulu masakanku terbilang sukses jika anggaran makan dengan memasak ternyata lebih hemat dibanding membeli makanan diluar. Soal rasa, nomor 2.

Nah, setelah aku menikah dan merasakan ‘indahnya’ hidup bersama suami di ‘pondok mertua indah’ akhirnya aku menyadari bahwa skill memasak yang kumiliki sejak kuliah tidaklah cukup. Siapa sangka suamiku adalah type lelaki yang memiliki lidah ‘ulala’. Hal ini karena Ibunya atau mertuaku sendiri adalah seorang tukang masak ahli yang terkadang membuka orderan untuk katering kecil-kecilan dan konon dahulu sekali pada zaman susah-susahnya mertuaku bahkan sempat berjualan masakan untuk makan siang. Masakan beliau terkenal memiliki ciri khas dilidah terutama ‘sambal acannya’.

Bagaimana rasanya punya suami yang memiliki Ibu tukang masak sekaligus membuka usaha katering?

Berat beb. Sungguh.

Suamiku itu addicted dengan vetsin, royco, maggie dsb. Sementara aku? Jujur saja sejak belajar memasak aku berusaha untuk menjauhi semua ‘racun lidah’ itu. Saat pertama kali memasak di tempat mertua, aku selalu ingat bahwa mertuaku suka sekali bersaing denganku tentang rasa makanan ini. Dengan wajah merah padam masakanku sering diperbandingkan dengan masakan mertua dan tentu saja suamiku selalu bilang.. “Enak punya mama..”

Saat itu aku dalam kondisi hamil. Dan you know perasaan orang hamil yang serba sensitif. Entah kenapa aku menjadikan mertuaku sendiri sebagai musuh bebuyutanku dalam mencuri perhatian pada masakan. Saat mertua bertanya padaku tentang berbagai bumbu dapur masakan, aku dengan hati yang angkuh mencoba dengan benar menjawabnya namun selalu enggan belajar betul-betul dengan beliau. Padahal suamiku selalu dan selalu bilang padaku, “Belajar masak sama mama. Jadi nanti bisa..”

Aku dengan segala keangkuhan hatiku hanya menjawab, “Enggih..” seraya bergumam dalam hati, “Ya tentu aja enak, vetsin bejibun royco bejibun.. Aku juga bisa bikin enak begitu..”

Selama berbulan-bulan hidup di pondok mertua indah aku mengabaikan resep jitu memasak ala mertuaku karena selalu berprasangka buruk terhadap vetsin. Aku hanya sesekali memperhatikan beliau memasak dan membantunya sementara selebihnya aku sibuk mengurus anakku.

Dan saat memiliki rumah sendiri, bisa ditebak bahwa suamiku berkali-kali kecewa dengan hasil masakanku. Akupun akhirnya merobohkan ‘pertahanan antivetsin’ milikku. Aku tidak peduli dengan pemahamanku tentang vetsin. Yang penting bagiku adalah “Aku harus mendapatkan pujian dari suamiku.. Seperti layaknya ia memuji masakan ibunya.”

Apakah vetsin berhasil?

Ramuan Rahasia dalam Proses Memasak

Pernahkah kita menuruti setiap resep yang beredar di buku dan internet? Membaca benar-benar langkah demi langkah dengan berhati-hati. Bahkan untuk menunjang keberhasilan, kita tak sungkan untuk membeli peralatan yang sama dengan yang disarankan, entah itu timbangan, panci presto, oven, dll. Namun, hasil akhirnya tidaklah sesuai dengan yang kita harapkan. Tentunya kita kecewa dan mulai berpikir, “Dimana kesalahannya?”

Dan kali ini aku akan menyebutkan kesalahanku dalam memasak sehingga hasil masakanku dahulu sering mengalami kegagalan. Ya, kesalahan utamaku adalah:

1. Hanya terpaku pada Resep

Bagi seorang newbie dalam hal masak memasak membaca resep adalah segalanya. Tanpa petunjuk resep maka seorang newbie akan kebingungan dengan hal yang seharusnya dilakukan selanjutnya dan selanjutnya lagi. Karena terbilang masih baru dalam hal masak memasak, bisa saja masakan yang seharusnya hanya memakan waktu 15 menit dalam pengerjaannya bisa memakan waktu 1 jam. Pernah begini? Hihi.

Saranku untuk para pemula, jangan mengandalkan google saja sebagai sumber informasi. Tapi, bergurulah. Bergurulah pada orang yang benar.

Ya, aku tau bahwa buku adalah jendela dunia. Membaca resep adalah senjata memasak, browsing dan membaca artikel memasak adalah ilmu kekinian. Tapi sampai kapanpun juga kita tidak bisa menghilangkan adab nomor 1 ini. Berguru.

Tentu aku sangat menyesal dengan rasa gengsiku untuk belajar dengan mertuaku. Juga menyesal karena dulu aku tidak terlalu sering membantu mamaku membuat kue. Ah, jika saja waktu bisa diulang lagi mungkin kali ini aku akan lebih serius berguru.

Bayangkan, hanya dalam waktu 1 jam saja aku berguru tentang masakan rendang dengan mertua akhirnya aku bisa membuat rendang yang sungguh enak.

Bahkan suamiku berkata, “Lebih enak dari pada punya Mama.”

Yes, ini adalah pencapaian baru untukku.

2. Cara Hemat yang tidak Tradisional

Sebagai tim ’emak ngirit garis keras’. Sebisa mungkin aku harus berusaha menghemat pengeluaran dalam bidang apapun, termasuk itu memasak.

Karena itu aku menerima paham baru dalam memasak. Kenapa tidak sesekali memasak ikan memakai kayu bakar? Kenapa tidak sesekali belajar membersihkan ikan sungai sendiri? Ya, cara ini aku dapatkan cuma-cuma dari belajar dengan Mertuaku.

Baca juga: Pepuyu Beubar dan Daun Kelakay, Kuliner Khas Banjarmasin.

Cara hemat yang tradisional sungguh punya cita rasa tersendiri. Kalian sang penikmat kuliner tentu tau betapa berbeda rasanya ikan yang dipanggang dengan bara api dan ikan yang dipanggang dengan teplon kekinian.

Tapi, ketika kita mencoba untuk hemat dengan mengabaikan cara tradisional rasa akan jauh berbeda.

Tidak percaya?

Ya, sekedar cerita.. Aku membeli panci presto untuk menghemat gas dalam memasak daging. Setiap kali memasak daging, khususnya rendang.. Aku selalu memakai panci ini. Selain hemat, rasanya sayang saja. Masa cuma memasak 250gr daging kita harus memasak secara tradisional tanpa panci presto? Itu pemborosan. Betul?

Ternyata aku salah, cara hemat yang tidak tradisional ini menyebabkan kuah rendang tidak mengental sempurna. Bumbu tidak meresep sempurna pada daging. Dan Daging juga tidak terlalu empuk.

So, untuk membuat masakan penuh cinta, kita memang perlu modal. *Catat duhai suami.. 😂

3. Mengabaikan proses penuh kesabaran

Mama said, “Memasak itu harus sabar. Enggak boleh grasah grusuh. Nanti hasilnya berantakan”

Harus diakui aku adalah anak mama yang sangat tidak sabaran dan suka berkelempangan dalam hal memasak. Aku tidak suka mengerjakan hal yang monoton berulang ulang tanpa mengerjakan hal lain. Seperti fokus dalam melapis kue, fokus mengaduk caramel, fokus membentuk kue supaya sama. Aku tidak bisa melakukan itu semua. Bagiku waktu terlalu berharga untuk memperhatikan hal yang itu-itu saja. Hihi.

Ternyata aku salah, aku belajar dari mama bahwa untuk membuat rendang diperlukan proses sabar yang tiada bandingnya. Menjadikan santan berminyak, mengaduk dan terus mengaduk hingga matang, fokus dan tidak membuat santan pecah-pecah.

Sabar adalah syarat utama dalam memasak. Catat.

Ternyata benar, segalanya harus dimulai dengan rasa Cinta

Mengabaikan gengsi dalam mulai berguru, mencoba cara-cara tradisional yang terkesan ‘ribet’, melakukan segala proses memasak dengan penuh kesabaran itu TIDAK MUDAH.

Tapi semuanya terbayar lunas saat kita menatap suami dan anak yang begitu lahapnya makan. Memuji disetiap kata “tambah” dan mengulangnya lagi dan lagi pada makanan berikutnya. Ibu mana yang tidak bahagia saat moment itu?

Hanya Ibu yang merasakan Cinta itu yang mengerti Apa Maksud dari Memasak Penuh Cinta sesungguhnya.. 😊

Nah, terima kasih sudah membaca petualanganku dalam belajar memasak. Maaf, aku memang begini setiap menulis blog. Tidak bisa fokus pada satu titik tema tanpa petualangan yang panjang. Haha

Kalian penasaran dengan resep rendang? Resep ini aku dapat setelah belajar dari mertua, mama, dan dipadukan dengan resep dari salah satu foodstagram favoritku Mbak Ricke. Yuk, simak bahan dan cara membuatnya dibawah ini:

Resep Rendang Padang

Bahan:
1 kg daging sapi
1 liter santan amat kental
10 butir telur itik aluh-aluh
Irisan gula merah secukupnya
Air jeruk nipis
Garam dan penyedap secukupnya.

Bumbu halus:
125 gr lombok keriting (aku pakai 150 gr lombok besar merah)
20 bawang merah
10 bawang putih
3,5 ruas jari lengkuas muda
2 ruas jari jahe
1 batanh serai (putihnya saja)

Bumbu rempah:
2 batang serai (memarkan)
5 butir cengkeh
1 buah kembang lawang
1 lembar daun kunyit (iris)
4 lembar daun salam segar
8 lembar daun jeruk segar
5 cm kayu manis
1 sdt merica
1 sdt jintan bubuk
1 sdt pala bubuk

Cara membuat:
1. Bersihkan potongan daging kemudian lumuri dengan air jeruk nipis, sedikit garam, dan irisan gula merah.
2. Haluskan bumbu halus, masak bersama 1 liter santan. Masukkan bumbu rempah kecuali irisan daun kunyit. Masak sambil diaduk hingga santan mengeluarkan sedikit minyak.

3. Masukkan irisan daging masak hingga setengah matang. Kemudian masukkan rebusan telur itik aluh-aluh.
4. Proses memasak memakan waktu yang sangat lama, kurang lebih 4 jam. Bisa saja sih, waktu disingkat dengan menggunakan panci presto. Tapi sepengalamanku, hasilnya mengecewakan. Ingat tips diatas ya.. Hehe
5. Nah, setelah 4 jam rendang akan mengeluarkan bau yang luar biasa menggoda. Dengan bumbu yang meresap sempurna serta mengeluarkan minyak kelapa alami.

Selamat mencoba..
Memasaklah dengan penuh cinta.. 💖

Menjadi Generasi Perempuan yang Lebih Produktif bersama Serempak

Menjadi Generasi Perempuan yang Lebih Produktif bersama Serempak

“Apakah kamu tidak bosan di rumah saja?”

Bukan sekali dua kali aku mendapatkan pertanyaan tersebut. Mungkin belasan atau puluhan kali. Syukurlah belum ratusan kali karena bagi Ibu Rumah Tangga sejati sepertiku sebenarnya pertanyaan seperti itu sama bapernya dengan pertanyaan kepada kaum single yang biasanya berbunyi, “Kapan nikah?”

Bagaimana tidak bawa perasaan atau baper? Pertanyaan tersebut selalu berbuntut panjang dengan pertanyaan lainnya. Seperti kapan aku akan kembali aktif didunia luar lagi, kapan aku produktif lagi, dan buntut-buntutnya pertanyaan itu terkadang menyisakan pertanyaan panjang dalam batin seorang ibu sepertiku ini. Ya, pertanyaan yang membuatku kadang merasa pesimis dan merasa bahwa aku dan anakku hanyalah beban ekonomi bagi suamiku.

Apakah usahaku sebagai seorang ibu sekaligus blogger yang berusaha produktif dalam mengasuh anak dan menulis belum dapat dikategorikan sebagai super mom? Apakah seorang super mom haruslah seorang ibu yang dapat menghasilkan uang dalam jumlah nyata dan hasil yang tetap setiap bulannya seperti working mom yang bekerja diluar pada umumnya? Apakah aku belum layak mendapatkan posisi super mom karena penghasilanku masih dibawah rata-rata? Apa sebenarnya arti produktif yang benar untuk seorang Ibu?

Bukan hanya aku yang mendapatkan pertanyaan seperti ini. Tapi juga teman-temanku, para ibu rumah tangga sekaligus blogger dan influencer. Selama ini, komunitas blogger lah yang selalu mendorong pikiranku untuk terus optimis dan produktif dalam menulis. Aku dan teman-temanku bahkan membentuk komunitas FBB (Female Blogger of Banjarmasin) untuk menjadi wadah organisasi bagi para perempuan blogger yang berdomisili di Kalimantan Selatan. Dalam komunitas inilah kami saling berbagi dan saling memberikan energi positif. Kami aktif mengikuti berbagai event blogger, lomba, dan… Ya, kami selalu haus ilmu. Segala undangan seminar selalu menarik perhatian kami. Termasuk acara Roadshow Serempak 2018 yang diadakan pada hari Jum’at tanggal 8 Juni 2018 di UIN Antasari Banjarmasin.

Tepatnya pada pukul 8 pagi, aku dan teman-teman blogger yang tergabung di Female Blogger of Banjarmasin menghadiri Acara Roadshow Serempak 2018 ini. Sebenarnya, member FBB berjumlah lebih dari 20 orang, namun karena kesibukan masing-masing jadi hanya Aku, Ruli, Diah dan Mia saja yang dapat menghadiri acara ini. Maklum saja, kami berempat sudah menjadi ’emak-emak’ sehingga sangat suka mengikuti roadshow dengan tema yang menarik hati kami. Ya, acara ini bertemakan “Serempak dalam Wadja Sampai Kaputing, Meningkatkan Ekonomi Keluarga.”

Kalian tau artinya?

Hmm, bagi kalian yang pernah membaca kisah tentang Pangeran Antasari tentu tidak asing dengan peribahasa “Haram Manyarah Lawan Walanda, Waja Sampai ka Puting.”

Peribahasa ini adalah motto perjuangan Pangeran Antasasi dan Rakyat Kalimantan Selatan dalam melawan penjajah pada saat Perang Banjar yang bermakna bekerja sampai selesai, perjuangan hingga tercapai. Artinya, roadshow kali ini akan mengupas tuntas tentang bagaimana proses perjuangan meningkatkan ekonomi keluarga hingga tercapai hasil yang kita inginkan. Dan roadshow kali ini spesial, karena serempak dan IWITA menggandeng pada perempuan untuk turut serta aktif dalam mensejahterakan dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Beberapa narasumber yang hadir pada acara ini antara lain adalah:

1. Ratna Susianawati, SH. MH: Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementrian PPPA

2. Dina Aprilia, M. Psi, Psikolog: Dosen UIN Antasari Banjarmasin

3. Dewi Widya Ningrum: Content and Writer Specialist Siberkreasi

4. Martha Simanjuntak, SE. MM: Founder IWITA (Indonesia Women IT Awareness)

Acara ini diawali dengan sambutan oleh Ir. Agustina Erni Susianti, M.Sc dan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, S.Pi., M.Si. Sungguh sambutan yang kami dapatkan sangatlah berisi dan menggugah semangat kaum ibu untuk dapat terus maju dan selalu terdepan dalam penggalian informasi terkini hingga usaha dalam turut serta meningkatkan ekonomi rumah tangga. Selanjutnya, kami mengikuti materi yang diisi oleh para nara sumber. Ingin tahu isi materinya? Yuk, baca ulasan dibawah ini..

Perempuan Zaman Now Sangat Berperan Dalam Meningkatkan Ekonomi Keluarga

Perempuan berperan sebagai manager dalam perekonomian rumah tangga. Ya, aku sangat merasakan peran ini saat sudah menyandang status sebagai istri sekaligus ibu dari anakku. Betapa sulitnya mengelola arus kas masuk yang ada agar dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga. Berapapun jumlahnya, harus cukup bukan? Hanya ’emak-emak’ yang tau bagaimana rasanya.

Tapi, di era digital sekarang ini keadaan sudah banyak berubah. Perempuan kini dapat bekerja secara fleksibel tak terkecuali dirumah. Mereka tetap dapat menghasilkan dan produktif walau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga saja. Bahkan, tidak sedikit para ibu yang berpenghasilan melebihi suaminya sendiri walau hanya bekerja di rumah. Betul? Lantas, bagaimana caranya?

Perempuan Indonesia Harus Sehat Fisik Maupun Psikologis

Psikolog Dina Aprilia menjelaskan bahwa perempuan zaman now haruslah matang secara psikologis maupun fisik untuk dapat turut serta dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Karena sejatinya, Ibu Bahagia akan membuat keluarganya ikut bahagia pula termasuk dalam aspek ekonomi.

Permasalahan yang sering terjadi sekarang adalah ketidakmatangan psikologis dari seorang ibu dalam membangun rumah tangganya. Penyebab utamanya antara lain adalah pernikahan dini.

Faktor yang menyebabkan pernikahan dini antara lain adalah faktor budaya, sosial ekonomi, dan kondisi emosional yang masih labil. Pernikahan dini akan berdampak secara fisik dan psikologis bagi perempuan.

Secara fisik, pernikahan dini menyebabkan organ kewanitaan yang belum matang sepenuhnya merasakan sakit terlalu dini. Hal ini akan berdampak jangka panjang berupa penyakit yang mungkin saja akan timbul sewaktu-waktu. Selain itu, pernikahan dini juga telah menghalangi perempuan untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Secara psikologis, dampak pernikahan dini menyebabkan ketidaksiapan perempuan untuk menyandang status Ibu sehingga rentan terkena gangguan psikologis seperti post partum depression dan lain-lain.

Kita dapat memberikan support langsung untuk mengurangi dampak negatif diatas antara lain dengan memberikan Psikoedukasi, memberikan pelatihan keterampilan, maupun konseling individual, kelompok, dan keluarga.

Perempuan yang sehat secara psikologis dan fisik adalah kunci dari segalanya. Jika perempuan sudah sehat maka ia dapat:

1. Mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dan meningkatkan passion yang ia sukai.

2. Perempuan akan teredukasi lebih baik

3. Perempuan akan ambil bagian sebagai agen untuk bisa meningkatkan dan membantu kesejahteraan sosial ekonomi keluarga.

Bukankah nomor 3 adalah impian kita para perempuan? Lalu.. Bagaimana kita bisa melakukannya?

Menjadi Perempuan yang ‘Melek’ Teknologi

Dewi Widya Ningrum, Content dan Writer Specialist Siberkreasi mengungkapkan bahwa para ibu rumah tangga punya banyak peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Khususnya, para ibu kekinian yang telah ‘melek’ teknologi. Bukankah Ibu zaman now bukanlah Ibu Rumah Tangga biasa lagi? Melainkan ibu generasi milenial yang sangat berpotensi didalam dunia digital?

Bayangkan, ibu-ibu mana sih zaman sekarang yang tidak mengenal berbagai sosial media? Tidak kenal penggalian informasi secara praktis melalui browsing dan tidak mengenal berbagai situs belanja online? Sepertinya, hampir semua ibu update dengan hal seperti ini bukan?

Perilaku pengguna internet zaman now menunjukkan bahwa:

16,83 % menggunakan internet untuk berjualan online

17,84 % menggunakan internet untuk transaksi perbankan

28,19% menggunakan internet untuk mencari pekerjaan

32,18 % menggunakan internet untuk melakukan pembelian online

37,82 % menggunakan internet untuk informasi pembelian

41,84 % menggunakan internet untuk membantu pekerjaan

Sisanya 45,14% menggunakan internet untuk pencarian harga

Bukankah zaman sekarang ini dunia internet dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin?

Berdasarkan survey, pengguna internet tertinggi untuk sosial media yaitu pada facebook dan youtube. Tidak dipungkiri, usaha kecil menengah yang memulai bisnisnya dari dunia online kini telah mulai diperhitungkan sebagai usaha yang turut membantu daerah dalam memajukan ekonomi. Jadi, kenapa kita tidak mulai mencobanya? Ya, sekarang. Cukup dimulai dari rumah dan pengetahuan online, semangat untuk membangkitkan ekonomi rumah tangga menjadi lebih baik bukanlah sekedar mimpi.

Jangan Pernah Remehkan Personal Branding

Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa bisnis online yang telah kita coba tidak kunjung ada kemajuan? Tidak berkembang? Tidak unik? Tidak Spesial seperti bisnis lain. Mengapa hal ini terjadi?

Karena tidak memiliki personal branding.

Founder IWITA (Indonesia Women IT Awareness), Martha Simanjuntak, SE. MM mengungkapkan bahwa sangat sedikit sekali para penggiat usaha online yang peka dengan pentingnya personal branding.

Padahal kita melihat sendiri bagaimana Apple, Supreme, dan lain-lain dapat maju dalam usahanya. Karena mereka memiliki nilai tersendiri dan tidak ragu dalam memperkenalkan dan memajukan brandnya. Mereka punya keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lain. Betul?

Nara sumber Widya berkata “Fokus, Unik dan Konsisten adalah tiga hal yang harus kita terapkan jika ingin mulai berbisnis di dunia online.”

Ya, ternyata fokus dan konsisten saja tidak cukup untuk dapat maju dalam usaha di dunia online. Kita harus unik dan memiliki nilai jual tersendiri. Ini merupakan ilmu baru yang aku peroleh dari Roadshow ini.

Yuk, Menjadi Anggota Serempak.Id !

Acara roadshow yang diadakan oleh serempak telah membuka pikiran dan wawasanku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengikuti instruksi dari Ibu Martha untuk menjadi Anggota serempak.id. Karena ini adalah hal yang sangat bermanfaat. Jadi, kenapa tidak?

Oh ya, mungkin kalian banyak yang belum tau dengan serempak.id. Jadi, serempak.id adalah media interaktif yang diinisiasi oleh KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) sebagai wadah kerjasama multi-stakeholder dan untuk meningkatkan akses perempuan pada TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Kita juga bisa menjadi kontributor dalam website serempak loh. Nah, caranya dapat dilihat dibawah ini:

Apa sih keuntungannya menjadi kontributor serempak.id? Ternyata, keuntungannya banyak loh. Bagi kita para penulis dan blogger kita dapat membangun personal branding juga disana. 😊

Sudah menemukan semangat baru sesudah idul fitri ini? Masih baper dengan pertanyaan yang tak kunjung selesai tentang ‘hei kamu tak bosan dirumah?’ Yuk, jadi anggota Serempak.id aja. Jadilah perempuan kuat dimulai dari hari ini. Karena kita para ‘perempuan rumahan’ juga tak kalah produktif dibanding para laki-laki bukan?

Semangat Perempuan!

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

“Setiap orang akan berubah, lihatlah.. Pohon saja tumbuh.. Rumput saja selalu tumbuh seberapapun seringnya ia dipotong..” Kata seseorang padaku.

“Ya, tapi kurasa perubahan itu bukan hanya jenis pertumbuhan saja. Kadang memang ada sesuatu yang cukup berubah dari segi warna dan bentuk lalu selesailah urusannya..” Sahutku membela diri.

“Tapi biarpun begitu, semuanya berjalan. Tidak pernah sesuatu hal berguna akan tamat begitu saja. Seperti halnya buku. Bagi penulisnya, buku itu mungkin sudah tamat. Tapi manfaatnya akan terus mengalir. Kurasa tidak mungkin ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan tanpa perubahan sedikitpun hingga tak ada manfaat sedikitpun.”

Aku menatap dua mata penuh yang penuh optimis itu. Tak pernah sebelumnya aku merasakan aura sedemikian nyaman saat aku mulai cengeng. Saat itulah aku memutuskan hal yang terbesar dalam hidupku.

Aku ingin menjadi energi dalam setiap langkahmu..

Karena di dunia ini.. Hanya kamu satu-satunya orang yang percaya dengan kemampuanku..

***

Menjadi Ibu adalah fase perubahan terbesar nomor 3 dalam hidupku. Untuk nomor 1 dan 2 adalah rahasia. Karena kedua perubahan masa lalu itu adalah perubahan termanis sekaligus terburuk. Tak apa, tiap orang tentu punya masa kelamnya masing-masing. Dan aku ingin bercerita tentang perubahanku sekarang. Ya, perubahan sejak menjadi Ibu.

Awalnya aku mengira sejak awal menyandang status Ibu maka aku akan menjadi wanita paling sempurna. Ya, seakan lengkap sudah tujuan hidup ini. Ah, ternyata menjadi Ibu itu sulit. Aku kira awalnya, suatu saat aku akan menjadi Ibu yang sempurna. Ternyata, aku merasakan hal sebaliknya dalam prosesku menjadi Ibu.

Hmm.. Inikah titik terendah dalam hidupku?

Ya, seharusnya titik kebahagiaan seorang wanita itu ketika ia sudah menjadi Ibu. Ternyata tidak, justru itu awal dari konflik kehidupan sesungguhnya. Banyak cerita yang telah aku alami sejak menjadi Ibu.

Baca juga: Baby Blues, aku mengalaminya

Baca juga: Sepenggal Cerita tentang Ibu yang mencari kebahagiaan

Baca juga: Please, aku bosan jadi IRT

Baca juga: Revolusi 2018, Menjadi Pribadi yang seimbang

Sudah membaca semuanya? *ah, ga penting.. Hahaha 😂

Percayalah, jika kalian melihat judul blog shezahome dengan mengernyitkan dahi maka tidak denganku..

Blog shezahome aku buat sebagai tuangan wadah untuk berevolusi, karena itu judulnya “Proyek Evolusi Mamah Muda”. Blog ini berisi segala tuangan ekspresi dengan harapan suatu hari nanti aku dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan hari ini, aku ingin membuat penghargaan kecil untuk diriku sendiri. Ya, sebuah tulisan “curcolan lagi” yang merupakan hasil dari gabungan-gabungan pujian dari sang suami tercinta. *mana gayung? Lebay amat yah.. 😂

Kurasa hal ini perlu ya. Mengukur sudah sejauh mana sebenarnya perubahan diri? Nah, berikut adalah perubahan-perubahan positif yang aku rasakan sejak menjadi Ibu:

1. Aku menjadi Mandiri

Sejak menjadi Ibu, aku belajar untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan siapapun. Mungkin hanya hal kecil tapi ini adalah perubahan besar untukku yang dulunya merupakan anak perempuan satu-satunya diantara 4 bersaudara. Perubahan kecil ini dimulai dari menyingkirkan rasa takutku akan dunia sosial dan ketergantunganku dengan sosok Mama.

Dulu, aku sangat mengekor pada mama. Ya, hingga remaja. Hal ini mungkin karena aku merasa mama adalah satu-satunya teman untukku di rumah. Hmm, ya aku tidak terlalu akrab dengan saudara laki-lakiku. Hingga hal sepele seperti mendaftar les dan bla bla mama selalu mendampingiku. Aku tidak peduli di cap sebagai anak mama. Tapi karena hal negatif yang terus berkelanjutan ini maka aku sedikit takut dengan dunia sosial.

Tapi sejak memiliki anak? Entah kenapa rasa malu itu langsung muncul. Aku malu jika kemana-mana harus bersama mama. Sampai membawa anak Imunisasi saja dengan mama? Hallo? Haha..

Memutuskan Ikatan yang tidak biasa dengan mama telah membuatku berubah menjadi sosok yang mandiri.

2. Aku belajar arti Memberi tak hanya menerima

Kasih Ibu kepada Beta..

Tak terhingga sepanjang masa..

Hanya memberi.. Tak harap kembali..

Bagai Sang surya menyinari dunia..

Dulu, aku hanya bisa menyanyikan lagu ini sambil tersenyum melihat wajah lelah Mama. Tentu saja lagu ini tak aku nyanyikan hingga besar. Aku sewaktu kecil begitu jujur dan polos dalam mengungkapkan perasaanku. Namun menginjak usia dewasa, aku mulai malu mengungkapkan perasaan sayang pada Mama dengan ekspresi berupa nyanyian atau pujian. Entahlah sejak kapan aku begitu berubah menjadi non ekspresif seperti itu.

Kini, aku telah merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu. Menjadi orang yang ‘hanya memberi’ dan tak mengharapkan balasan apapun. Ya, itu betul.. Menjadi Ibu itu tak mengharapkan imbalan berupa materi atau hal yang prestise. Tapi, kiranya aku salah..

Saat anakku mulai besar dan dapat bernyanyi serta memujiku, aku merasakan betapa besar energi rasa sayang dari pujian itu mengalir pada semangatku. Aku senang sekali sekaligus merasa menyesal.

Menyesal kenapa saat beranjak dewasa aku tak semanis wujud kecilku dulu. Betapa lelah mama telah membesarkanku namun balasannya hanyalah wujud flat dari ekspresiku yang merupakan kebalikan dari perasaanku.

Kini, sejak menjadi Ibu. Aku mengerti perasaan itu. “Hanya memberi.. tak harap kembali..

3. Aku menjadi serba bisa

Sewaktu remaja dulu, apakah aku pandai memasak?

Tidak, masakanku hancur rasa dan hancur segalanya.

Sewaktu remaja dulu, apakah aku jijik melihat pup n pee bayi?

Ya, walau dulu aku memiliki adik saat umur 8 tahun. Tapi setiap melihat adikku pi*is aku selalu bergumam ‘hiiiiiiy.. Jijik’

Sewaktu remaja dulu, bisakah aku membersihkan rumah sambil mencuci dan memasak dalam waktu bersamaan?

Tidak bisa, karena tanganku sibuk dengan chit chat dunia maya dan tugas. Bahkan menyapu kamar saja malas. Haha

Tapi sejak menjadi Ibu?

Aku bisa melakukan semuanya..

Aku bisa memasak dengan kayu bakar. Aku bisa menyediakan kue hingga makan siang para tukang saat rumah direnovasi dengan anak yang masih kecil dan menyusu. Aku bahkan bisa membersihkan rumah sambil mengerjakan 2-3 pekerjaan lainnya. Aku bahkan sempat berjualan. Kusadari, semua hal yang dulu tak bisa kukerjakan sendirian kini telah serba bisa kukerjakan.

Kiranya benar bahwa setiap wanita itu sebenarnya punya kekuatan super jika ia sudah memiliki hal yang benar-benar dicintainya.

4. Aku tidak se-melankolis dulu

Ini adalah perubahan besar dalam hidupku. Aku mulai menunjukkan pribadi yang lain selain dari sisi melankolisku yang terbilang akut.

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Awalnya aku mengira bahwa sikap baruku yang muncul itu hanyalah wujud dari ‘kepura-puraan’ ku saja. Ternyata, lambat laun aku menyadari bahwa aku menikmatinya.

Aku mulai menikmati munculnya sisi-sisi sanguinis dalam kepribadianku. Bukan hanya itu, aku kini merasa bahwa terkadang aku bisa sangat bersemangat jika menemukan hal baru. Jika sudah begitu maka aku dapat bercerita dan tertawa dengan lancar hingga berjam-jam lamanya. Dulu, aku tidak pernah seekspresif ini.

Apakah aku menikmatinya?

Ya, aku sangat menikmatinya.

5. Aku tidak pemalu lagi

Dulu, aku sangat pemalu. Bahkan teman-teman sekelasku dulu mengelariku ‘siput pais’ karena sifatku yang selalu diam apapun yang terjadi. (FYI: Pais adalah sebutan bahasa banjar untuk masakan pepes. Siput pais adalah sebuah majas sarkasme yang artinya sudah dari sananya pendiam seperti siput lalu kemudian dimasak pepes jadilah benar-benar diam.. Haha)

Sewaktu sekolah dulu, aku sangat anti dalam mengacungkan jari. Jika Guru bertanya tentang jawaban maka aku selalu diam biarpun aku tau jawaban yang tepat. Jika Guru bertanya adakah yang tidak dimengerti maka aku tidak akan bertanya walaupun aku sangat ingin bertanya. Jika kemudian Guru iseng bertanya padaku maka aku akan mengeluarkan keringat dingin karena gugup, walaupun aku bisa dan aku tau jawaban yang benar tapi kata-kata yang keluar dari mulutku sangat berantakan.

Sekarang? Ku akui aku berubah.

Aku tidak terlalu mengerti kapan lebih tepatnya perubahan ini muncul. Dalam acara event blogger beberapa bulan dan minggu yang lalu aku tidak sungkan mengangkat tangan dan bertanya. Kurasa, pertanyaan yang aku lontarkan pun tidak ada nada gugup didalamnya. Ada sebuah dorongan semangat yang tidak jelas asalnya menyuruhku untuk melakukan itu.

Saat sudah melakukan itu, ada perasaan bangga yang muncul pada diriku. Seakan-akan hal yang selama ini tertanam dalam hati dan tertimbun bertahun-tahun baru bisa keluar semenjak aku menjadi Ibu. Ya, sejak menjadi Ibu aku telah menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri.

Kenapa Hal ini Bisa Terjadi?

Salah seorang temanku berkata padaku ketika sekian lama kami tidak bertemu..

“Kenapa kamu bisa sedemikian berubah? Aku senang dengan kamu yang sekarang win..”

Ya, kadang kita tak sadar bahwa kita sudah berubah kecuali kita bertemu dengan teman lama yang benar-benar mengenal kita. Betul?

Kupikir, ada dua hal dominan yang telah menyebabkan perubahan ini.
1. Acting Ibu yang kebablasan

source: www.rdiconnect.com

Sejak memiliki anak, aku membuat prinsip baru dalam parenting versiku sendiri. Kalian mau tau bagaimana prinsip parenting versiku dulu?

Menjadi Ibu adalah seni berpura-pura.

Jika melihatnya menangis, berpura-pura lah untuk tertawa maka ia akan ikut tertawa..

Jika ia marah dan berontak berpura-pura lah untuk sabar dan lihatlah ia sebagaimana kita berkaca dengan masa lalu kita..

Jika kita bosan menghadapinya, berpura-pura lah untuk tidak bosan. Jangan pernah memasang mode flat face pada anak kecil atau ia akan menirunya saat besar nanti.

Aku memang bukanlah ibu yang baik. Tapi aku selalu berusaha untuk berpura-pura baik atau berakting menjadi tokoh terbaik di depan anakku. Karena aku tau bahwa ia adalah peniru ulung. Aku adalah role mode pertama dalam hidupnya.

Tanpa kusadari, karena sifat dan prinsip parenting versiku ini maka aku telah memiliki kepribadian yang.. Hmm.. Bisakah dibilang berkepribadian ganda?

Sejak menjadi Ibu, aku telah membuat senyum dan tawa yang ikhlas untuk membuatnya tersenyum. Dulu, aku hanya bisa memasang mode flat face dimanapun berada. Oh, kurasa hal ini dialami semua ibu yang awalnya merupakan orang yang dingin. Betul? Ibu macam mana yang bisa mengaplikasikan mode flat didepan anak kecil nan lucu.

Bagaimana bisa seorang lulusan akuntansi yang dulunya hanya mengenal seonggok kertas membosankan kini harus pura-pura senang dengan setumpuk mainan yang berantakan? Dan setumpuk boneka? Serta crayon warna-warni?

Kini aku tau kenapa dulu aku sempat ingin menjadi Guru TK. Ternyata hal itu karena aku senang memiliki 4 varian suara yang berbeda. Dari 4 varian suara itu, aku berpura-pura untuk menjadi 4 teman Farisha melalui bonekanya. Finally, aku ketagihan untuk bermain dengannya. Aku baru menyadari bahwa teman sejatiku yang benar-benar lucu adalah dia.. Ya.. Anak ini.. Anak ini benar-benar merubahku menjadi karakter warna-warni.

Nak, Acting Mama kini sudah kebablasan. Mama benar-benar merasa bukan diri mama yang dulu lagi. Mama merasa menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hal itu salah satunya adalah karenamu…

2. Dorongan semangat dari Suami

Dibalik istri yang cemerlang itu_Selalu ada suami luar biasa, betul? He

Eh, emang aku sudah cemerlang? 😂

Belum yah, tapi lumayan sudah mau berubah sedikit.. Eh banyak..😜

Sedikit curcol, blog shezahome dibuat oleh suamiku yang merupakan seorang programmer sekaligus konsultan IT dari Sharesystem. Belum tau sharesystem? Kenalan dulu dong yah sebagai blogger. Mba langit amaravati aja udah kenalan kok.. Hehe.. *numpang tenar dari mba langit saya.. 😂

Terus kenapa? Blog ini bisa bikin berevolusi ternyata?

Oh bukan sekedar berevolusi, blog ini sudah menjadi salah satu semangat hidup aku. Dari blog shezahome aku kini dapat menuangkan ekspresi lebih baik selain itu aku juga mendapat banyak teman di dunia blogging. Salah satu komunitas yang dekat denganku adalah Female Blogger of Banjarmasin (FBB).

Tanpa dorongan suami untuk ngeblog? Kehidupanku hanyalah seperti IRT pada umumnya. Kini, sejak menjadi Blogger, kehidupan warna-warni mulai menghampiriku dan mengubah diriku yang dulu.

Ya, Proyek Evolusiku dapat dibilang 70% telah berhasil..

Jadi, siapa bilang jadi Ibu itu hidupnya malah ga seru?

Semuanya punya jalan perubahan masing-masing.. Apa perubahanmu? Sharing yuk! 😊

IBX598B146B8E64A