Browsed by
Category: Self Improvement

Membuat Rendang Penuh Cinta dan Ceritaku Tentang Suka Duka Memasak

Membuat Rendang Penuh Cinta dan Ceritaku Tentang Suka Duka Memasak

Namanya Rendang. Masakan daging yang sangat populer di indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Siapa saja tentu kenal dengan masakan fenomenal yang satu ini. Dan yah, hari ini aku harus mengakui bahwa aku baru saja satu bulanan ini benar-benar berhasil membuatnya. Sedikit memalukan memang untuk seseorang yang memiliki hobi masak sepertiku.

Hoby masak?

Iyes, buat kalian yang menyimak blog shezahome sejak awal tentu saja tau bahwa awalnya aku sering share resep makanan dan pengalaman baking disini. Kemudian seiring berjalan waktu genre tulisan di blogku lebih dominan ke ‘curcolan mak-emak’ hingga paranting. Ah ya, karena aku perempuan lantas salahkah aku juga turut menulis review produk kecantikan terutama lipstik disini? Sepertinya tidak ya. Haha. Mari jangan sebut blog ini adalah blog gado-gado dan tidak punya masa depan. Karena dari namanya saja kalian tentu tau blog ini adalah ruang evolusi yang terjadi di shezahome. *mamak kebanyakan alasan

Terus, mana resep rendang yang endes itu win? Yang dari kemarin-kemarin gembor banget testimoninya di WA (testimoni keluarga lebih tepatnya.. Haha). Oke, sebelum aku sharing mengenai keberhasilan ini, aku terlebih dahulu mau sharing mengenai kegagalan demi kegagalan saat aku membuat rendang dan masakan lainnya.

Kuharap kalian menyimak dengan baik karena ini juga merupakan cerita awal mula aku menikah dengan skill masak yang yah.. Biasa saja..

Tentang Kegagalan dan Cerita Pengalamanku Memasak

Adalah bohong besar bahwa aku bisa memasak sejak dahulu. Aku adalah anak perempuan manja dari 4 bersaudara (yang semuanya laki-laki) dan tidak bisa memasak.. Yah, aku hanya mengandalkan masakan dari mama dahulu. Keinginanku belajar memasak tumbuh begitu saja saat aku akhirnya mengontrak rumah dengan kakakku saat kuliah. Dengan jumlah biaya konsumsi yang saat itu dipercayakan kepadaku, tentu saja insting pertahanan diri ala perempuanku begitu saja muncul.

“Uang ini harus cukup, bahkan harus bersisa.. Lumayan kan buat ditabung.. Hehe..” Pikirku kala itu.

Aku membeli buku resep-resep makanan, kepasar, membeli peralatan kecil untuk memasak dan tadaa.. Jadilah aku chef remaja sang peniru resep makanan. Terkadang masakanku berhasil, terkadang (sepertinya banyak) yang tidak berhasil. Tapi dibalik belajar memasak aku mendapat banyak pembelajaran dan sisi positif. Ya, ternyata memasak dapat menumbuhkan rasa cinta, seni dan kreatifitas dalam mengatur menu. Untuk standar anak kuliahan sepertiku dahulu masakanku terbilang sukses jika anggaran makan dengan memasak ternyata lebih hemat dibanding membeli makanan diluar. Soal rasa, nomor 2.

Nah, setelah aku menikah dan merasakan ‘indahnya’ hidup bersama suami di ‘pondok mertua indah’ akhirnya aku menyadari bahwa skill memasak yang kumiliki sejak kuliah tidaklah cukup. Siapa sangka suamiku adalah type lelaki yang memiliki lidah ‘ulala’. Hal ini karena Ibunya atau mertuaku sendiri adalah seorang tukang masak ahli yang terkadang membuka orderan untuk katering kecil-kecilan dan konon dahulu sekali pada zaman susah-susahnya mertuaku bahkan sempat berjualan masakan untuk makan siang. Masakan beliau terkenal memiliki ciri khas dilidah terutama ‘sambal acannya’.

Bagaimana rasanya punya suami yang memiliki Ibu tukang masak sekaligus membuka usaha katering?

Berat beb. Sungguh.

Suamiku itu addicted dengan vetsin, royco, maggie dsb. Sementara aku? Jujur saja sejak belajar memasak aku berusaha untuk menjauhi semua ‘racun lidah’ itu. Saat pertama kali memasak di tempat mertua, aku selalu ingat bahwa mertuaku suka sekali bersaing denganku tentang rasa makanan ini. Dengan wajah merah padam masakanku sering diperbandingkan dengan masakan mertua dan tentu saja suamiku selalu bilang.. “Enak punya mama..”

Saat itu aku dalam kondisi hamil. Dan you know perasaan orang hamil yang serba sensitif. Entah kenapa aku menjadikan mertuaku sendiri sebagai musuh bebuyutanku dalam mencuri perhatian pada masakan. Saat mertua bertanya padaku tentang berbagai bumbu dapur masakan, aku dengan hati yang angkuh mencoba dengan benar menjawabnya namun selalu enggan belajar betul-betul dengan beliau. Padahal suamiku selalu dan selalu bilang padaku, “Belajar masak sama mama. Jadi nanti bisa..”

Aku dengan segala keangkuhan hatiku hanya menjawab, “Enggih..” seraya bergumam dalam hati, “Ya tentu aja enak, vetsin bejibun royco bejibun.. Aku juga bisa bikin enak begitu..”

Selama berbulan-bulan hidup di pondok mertua indah aku mengabaikan resep jitu memasak ala mertuaku karena selalu berprasangka buruk terhadap vetsin. Aku hanya sesekali memperhatikan beliau memasak dan membantunya sementara selebihnya aku sibuk mengurus anakku.

Dan saat memiliki rumah sendiri, bisa ditebak bahwa suamiku berkali-kali kecewa dengan hasil masakanku. Akupun akhirnya merobohkan ‘pertahanan antivetsin’ milikku. Aku tidak peduli dengan pemahamanku tentang vetsin. Yang penting bagiku adalah “Aku harus mendapatkan pujian dari suamiku.. Seperti layaknya ia memuji masakan ibunya.”

Apakah vetsin berhasil?

Ramuan Rahasia dalam Proses Memasak

Pernahkah kita menuruti setiap resep yang beredar di buku dan internet? Membaca benar-benar langkah demi langkah dengan berhati-hati. Bahkan untuk menunjang keberhasilan, kita tak sungkan untuk membeli peralatan yang sama dengan yang disarankan, entah itu timbangan, panci presto, oven, dll. Namun, hasil akhirnya tidaklah sesuai dengan yang kita harapkan. Tentunya kita kecewa dan mulai berpikir, “Dimana kesalahannya?”

Dan kali ini aku akan menyebutkan kesalahanku dalam memasak sehingga hasil masakanku dahulu sering mengalami kegagalan. Ya, kesalahan utamaku adalah:

1. Hanya terpaku pada Resep

Bagi seorang newbie dalam hal masak memasak membaca resep adalah segalanya. Tanpa petunjuk resep maka seorang newbie akan kebingungan dengan hal yang seharusnya dilakukan selanjutnya dan selanjutnya lagi. Karena terbilang masih baru dalam hal masak memasak, bisa saja masakan yang seharusnya hanya memakan waktu 15 menit dalam pengerjaannya bisa memakan waktu 1 jam. Pernah begini? Hihi.

Saranku untuk para pemula, jangan mengandalkan google saja sebagai sumber informasi. Tapi, bergurulah. Bergurulah pada orang yang benar.

Ya, aku tau bahwa buku adalah jendela dunia. Membaca resep adalah senjata memasak, browsing dan membaca artikel memasak adalah ilmu kekinian. Tapi sampai kapanpun juga kita tidak bisa menghilangkan adab nomor 1 ini. Berguru.

Tentu aku sangat menyesal dengan rasa gengsiku untuk belajar dengan mertuaku. Juga menyesal karena dulu aku tidak terlalu sering membantu mamaku membuat kue. Ah, jika saja waktu bisa diulang lagi mungkin kali ini aku akan lebih serius berguru.

Bayangkan, hanya dalam waktu 1 jam saja aku berguru tentang masakan rendang dengan mertua akhirnya aku bisa membuat rendang yang sungguh enak.

Bahkan suamiku berkata, “Lebih enak dari pada punya Mama.”

Yes, ini adalah pencapaian baru untukku.

2. Cara Hemat yang tidak Tradisional

Sebagai tim ’emak ngirit garis keras’. Sebisa mungkin aku harus berusaha menghemat pengeluaran dalam bidang apapun, termasuk itu memasak.

Karena itu aku menerima paham baru dalam memasak. Kenapa tidak sesekali memasak ikan memakai kayu bakar? Kenapa tidak sesekali belajar membersihkan ikan sungai sendiri? Ya, cara ini aku dapatkan cuma-cuma dari belajar dengan Mertuaku.

Baca juga: Pepuyu Beubar dan Daun Kelakay, Kuliner Khas Banjarmasin.

Cara hemat yang tradisional sungguh punya cita rasa tersendiri. Kalian sang penikmat kuliner tentu tau betapa berbeda rasanya ikan yang dipanggang dengan bara api dan ikan yang dipanggang dengan teplon kekinian.

Tapi, ketika kita mencoba untuk hemat dengan mengabaikan cara tradisional rasa akan jauh berbeda.

Tidak percaya?

Ya, sekedar cerita.. Aku membeli panci presto untuk menghemat gas dalam memasak daging. Setiap kali memasak daging, khususnya rendang.. Aku selalu memakai panci ini. Selain hemat, rasanya sayang saja. Masa cuma memasak 250gr daging kita harus memasak secara tradisional tanpa panci presto? Itu pemborosan. Betul?

Ternyata aku salah, cara hemat yang tidak tradisional ini menyebabkan kuah rendang tidak mengental sempurna. Bumbu tidak meresep sempurna pada daging. Dan Daging juga tidak terlalu empuk.

So, untuk membuat masakan penuh cinta, kita memang perlu modal. *Catat duhai suami.. 😂

3. Mengabaikan proses penuh kesabaran

Mama said, “Memasak itu harus sabar. Enggak boleh grasah grusuh. Nanti hasilnya berantakan”

Harus diakui aku adalah anak mama yang sangat tidak sabaran dan suka berkelempangan dalam hal memasak. Aku tidak suka mengerjakan hal yang monoton berulang ulang tanpa mengerjakan hal lain. Seperti fokus dalam melapis kue, fokus mengaduk caramel, fokus membentuk kue supaya sama. Aku tidak bisa melakukan itu semua. Bagiku waktu terlalu berharga untuk memperhatikan hal yang itu-itu saja. Hihi.

Ternyata aku salah, aku belajar dari mama bahwa untuk membuat rendang diperlukan proses sabar yang tiada bandingnya. Menjadikan santan berminyak, mengaduk dan terus mengaduk hingga matang, fokus dan tidak membuat santan pecah-pecah.

Sabar adalah syarat utama dalam memasak. Catat.

Ternyata benar, segalanya harus dimulai dengan rasa Cinta

Mengabaikan gengsi dalam mulai berguru, mencoba cara-cara tradisional yang terkesan ‘ribet’, melakukan segala proses memasak dengan penuh kesabaran itu TIDAK MUDAH.

Tapi semuanya terbayar lunas saat kita menatap suami dan anak yang begitu lahapnya makan. Memuji disetiap kata “tambah” dan mengulangnya lagi dan lagi pada makanan berikutnya. Ibu mana yang tidak bahagia saat moment itu?

Hanya Ibu yang merasakan Cinta itu yang mengerti Apa Maksud dari Memasak Penuh Cinta sesungguhnya.. 😊

Nah, terima kasih sudah membaca petualanganku dalam belajar memasak. Maaf, aku memang begini setiap menulis blog. Tidak bisa fokus pada satu titik tema tanpa petualangan yang panjang. Haha

Kalian penasaran dengan resep rendang? Resep ini aku dapat setelah belajar dari mertua, mama, dan dipadukan dengan resep dari salah satu foodstagram favoritku Mbak Ricke. Yuk, simak bahan dan cara membuatnya dibawah ini:

Resep Rendang Padang

Bahan:
1 kg daging sapi
1 liter santan amat kental
10 butir telur itik aluh-aluh
Irisan gula merah secukupnya
Air jeruk nipis
Garam dan penyedap secukupnya.

Bumbu halus:
125 gr lombok keriting (aku pakai 150 gr lombok besar merah)
20 bawang merah
10 bawang putih
3,5 ruas jari lengkuas muda
2 ruas jari jahe
1 batanh serai (putihnya saja)

Bumbu rempah:
2 batang serai (memarkan)
5 butir cengkeh
1 buah kembang lawang
1 lembar daun kunyit (iris)
4 lembar daun salam segar
8 lembar daun jeruk segar
5 cm kayu manis
1 sdt merica
1 sdt jintan bubuk
1 sdt pala bubuk

Cara membuat:
1. Bersihkan potongan daging kemudian lumuri dengan air jeruk nipis, sedikit garam, dan irisan gula merah.
2. Haluskan bumbu halus, masak bersama 1 liter santan. Masukkan bumbu rempah kecuali irisan daun kunyit. Masak sambil diaduk hingga santan mengeluarkan sedikit minyak.

3. Masukkan irisan daging masak hingga setengah matang. Kemudian masukkan rebusan telur itik aluh-aluh.
4. Proses memasak memakan waktu yang sangat lama, kurang lebih 4 jam. Bisa saja sih, waktu disingkat dengan menggunakan panci presto. Tapi sepengalamanku, hasilnya mengecewakan. Ingat tips diatas ya.. Hehe
5. Nah, setelah 4 jam rendang akan mengeluarkan bau yang luar biasa menggoda. Dengan bumbu yang meresap sempurna serta mengeluarkan minyak kelapa alami.

Selamat mencoba..
Memasaklah dengan penuh cinta.. 💖

Menjadi Generasi Perempuan yang Lebih Produktif bersama Serempak

Menjadi Generasi Perempuan yang Lebih Produktif bersama Serempak

“Apakah kamu tidak bosan di rumah saja?”

Bukan sekali dua kali aku mendapatkan pertanyaan tersebut. Mungkin belasan atau puluhan kali. Syukurlah belum ratusan kali karena bagi Ibu Rumah Tangga sejati sepertiku sebenarnya pertanyaan seperti itu sama bapernya dengan pertanyaan kepada kaum single yang biasanya berbunyi, “Kapan nikah?”

Bagaimana tidak bawa perasaan atau baper? Pertanyaan tersebut selalu berbuntut panjang dengan pertanyaan lainnya. Seperti kapan aku akan kembali aktif didunia luar lagi, kapan aku produktif lagi, dan buntut-buntutnya pertanyaan itu terkadang menyisakan pertanyaan panjang dalam batin seorang ibu sepertiku ini. Ya, pertanyaan yang membuatku kadang merasa pesimis dan merasa bahwa aku dan anakku hanyalah beban ekonomi bagi suamiku.

Apakah usahaku sebagai seorang ibu sekaligus blogger yang berusaha produktif dalam mengasuh anak dan menulis belum dapat dikategorikan sebagai super mom? Apakah seorang super mom haruslah seorang ibu yang dapat menghasilkan uang dalam jumlah nyata dan hasil yang tetap setiap bulannya seperti working mom yang bekerja diluar pada umumnya? Apakah aku belum layak mendapatkan posisi super mom karena penghasilanku masih dibawah rata-rata? Apa sebenarnya arti produktif yang benar untuk seorang Ibu?

Bukan hanya aku yang mendapatkan pertanyaan seperti ini. Tapi juga teman-temanku, para ibu rumah tangga sekaligus blogger dan influencer. Selama ini, komunitas blogger lah yang selalu mendorong pikiranku untuk terus optimis dan produktif dalam menulis. Aku dan teman-temanku bahkan membentuk komunitas FBB (Female Blogger of Banjarmasin) untuk menjadi wadah organisasi bagi para perempuan blogger yang berdomisili di Kalimantan Selatan. Dalam komunitas inilah kami saling berbagi dan saling memberikan energi positif. Kami aktif mengikuti berbagai event blogger, lomba, dan… Ya, kami selalu haus ilmu. Segala undangan seminar selalu menarik perhatian kami. Termasuk acara Roadshow Serempak 2018 yang diadakan pada hari Jum’at tanggal 8 Juni 2018 di UIN Antasari Banjarmasin.

Tepatnya pada pukul 8 pagi, aku dan teman-teman blogger yang tergabung di Female Blogger of Banjarmasin menghadiri Acara Roadshow Serempak 2018 ini. Sebenarnya, member FBB berjumlah lebih dari 20 orang, namun karena kesibukan masing-masing jadi hanya Aku, Ruli, Diah dan Mia saja yang dapat menghadiri acara ini. Maklum saja, kami berempat sudah menjadi ’emak-emak’ sehingga sangat suka mengikuti roadshow dengan tema yang menarik hati kami. Ya, acara ini bertemakan “Serempak dalam Wadja Sampai Kaputing, Meningkatkan Ekonomi Keluarga.”

Kalian tau artinya?

Hmm, bagi kalian yang pernah membaca kisah tentang Pangeran Antasari tentu tidak asing dengan peribahasa “Haram Manyarah Lawan Walanda, Waja Sampai ka Puting.”

Peribahasa ini adalah motto perjuangan Pangeran Antasasi dan Rakyat Kalimantan Selatan dalam melawan penjajah pada saat Perang Banjar yang bermakna bekerja sampai selesai, perjuangan hingga tercapai. Artinya, roadshow kali ini akan mengupas tuntas tentang bagaimana proses perjuangan meningkatkan ekonomi keluarga hingga tercapai hasil yang kita inginkan. Dan roadshow kali ini spesial, karena serempak dan IWITA menggandeng pada perempuan untuk turut serta aktif dalam mensejahterakan dan meningkatkan ekonomi keluarga.

Beberapa narasumber yang hadir pada acara ini antara lain adalah:

1. Ratna Susianawati, SH. MH: Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementrian PPPA

2. Dina Aprilia, M. Psi, Psikolog: Dosen UIN Antasari Banjarmasin

3. Dewi Widya Ningrum: Content and Writer Specialist Siberkreasi

4. Martha Simanjuntak, SE. MM: Founder IWITA (Indonesia Women IT Awareness)

Acara ini diawali dengan sambutan oleh Ir. Agustina Erni Susianti, M.Sc dan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, S.Pi., M.Si. Sungguh sambutan yang kami dapatkan sangatlah berisi dan menggugah semangat kaum ibu untuk dapat terus maju dan selalu terdepan dalam penggalian informasi terkini hingga usaha dalam turut serta meningkatkan ekonomi rumah tangga. Selanjutnya, kami mengikuti materi yang diisi oleh para nara sumber. Ingin tahu isi materinya? Yuk, baca ulasan dibawah ini..

Perempuan Zaman Now Sangat Berperan Dalam Meningkatkan Ekonomi Keluarga

Perempuan berperan sebagai manager dalam perekonomian rumah tangga. Ya, aku sangat merasakan peran ini saat sudah menyandang status sebagai istri sekaligus ibu dari anakku. Betapa sulitnya mengelola arus kas masuk yang ada agar dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga. Berapapun jumlahnya, harus cukup bukan? Hanya ’emak-emak’ yang tau bagaimana rasanya.

Tapi, di era digital sekarang ini keadaan sudah banyak berubah. Perempuan kini dapat bekerja secara fleksibel tak terkecuali dirumah. Mereka tetap dapat menghasilkan dan produktif walau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga saja. Bahkan, tidak sedikit para ibu yang berpenghasilan melebihi suaminya sendiri walau hanya bekerja di rumah. Betul? Lantas, bagaimana caranya?

Perempuan Indonesia Harus Sehat Fisik Maupun Psikologis

Psikolog Dina Aprilia menjelaskan bahwa perempuan zaman now haruslah matang secara psikologis maupun fisik untuk dapat turut serta dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Karena sejatinya, Ibu Bahagia akan membuat keluarganya ikut bahagia pula termasuk dalam aspek ekonomi.

Permasalahan yang sering terjadi sekarang adalah ketidakmatangan psikologis dari seorang ibu dalam membangun rumah tangganya. Penyebab utamanya antara lain adalah pernikahan dini.

Faktor yang menyebabkan pernikahan dini antara lain adalah faktor budaya, sosial ekonomi, dan kondisi emosional yang masih labil. Pernikahan dini akan berdampak secara fisik dan psikologis bagi perempuan.

Secara fisik, pernikahan dini menyebabkan organ kewanitaan yang belum matang sepenuhnya merasakan sakit terlalu dini. Hal ini akan berdampak jangka panjang berupa penyakit yang mungkin saja akan timbul sewaktu-waktu. Selain itu, pernikahan dini juga telah menghalangi perempuan untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Secara psikologis, dampak pernikahan dini menyebabkan ketidaksiapan perempuan untuk menyandang status Ibu sehingga rentan terkena gangguan psikologis seperti post partum depression dan lain-lain.

Kita dapat memberikan support langsung untuk mengurangi dampak negatif diatas antara lain dengan memberikan Psikoedukasi, memberikan pelatihan keterampilan, maupun konseling individual, kelompok, dan keluarga.

Perempuan yang sehat secara psikologis dan fisik adalah kunci dari segalanya. Jika perempuan sudah sehat maka ia dapat:

1. Mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dan meningkatkan passion yang ia sukai.

2. Perempuan akan teredukasi lebih baik

3. Perempuan akan ambil bagian sebagai agen untuk bisa meningkatkan dan membantu kesejahteraan sosial ekonomi keluarga.

Bukankah nomor 3 adalah impian kita para perempuan? Lalu.. Bagaimana kita bisa melakukannya?

Menjadi Perempuan yang ‘Melek’ Teknologi

Dewi Widya Ningrum, Content dan Writer Specialist Siberkreasi mengungkapkan bahwa para ibu rumah tangga punya banyak peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Khususnya, para ibu kekinian yang telah ‘melek’ teknologi. Bukankah Ibu zaman now bukanlah Ibu Rumah Tangga biasa lagi? Melainkan ibu generasi milenial yang sangat berpotensi didalam dunia digital?

Bayangkan, ibu-ibu mana sih zaman sekarang yang tidak mengenal berbagai sosial media? Tidak kenal penggalian informasi secara praktis melalui browsing dan tidak mengenal berbagai situs belanja online? Sepertinya, hampir semua ibu update dengan hal seperti ini bukan?

Perilaku pengguna internet zaman now menunjukkan bahwa:

16,83 % menggunakan internet untuk berjualan online

17,84 % menggunakan internet untuk transaksi perbankan

28,19% menggunakan internet untuk mencari pekerjaan

32,18 % menggunakan internet untuk melakukan pembelian online

37,82 % menggunakan internet untuk informasi pembelian

41,84 % menggunakan internet untuk membantu pekerjaan

Sisanya 45,14% menggunakan internet untuk pencarian harga

Bukankah zaman sekarang ini dunia internet dapat kita manfaatkan semaksimal mungkin?

Berdasarkan survey, pengguna internet tertinggi untuk sosial media yaitu pada facebook dan youtube. Tidak dipungkiri, usaha kecil menengah yang memulai bisnisnya dari dunia online kini telah mulai diperhitungkan sebagai usaha yang turut membantu daerah dalam memajukan ekonomi. Jadi, kenapa kita tidak mulai mencobanya? Ya, sekarang. Cukup dimulai dari rumah dan pengetahuan online, semangat untuk membangkitkan ekonomi rumah tangga menjadi lebih baik bukanlah sekedar mimpi.

Jangan Pernah Remehkan Personal Branding

Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa bisnis online yang telah kita coba tidak kunjung ada kemajuan? Tidak berkembang? Tidak unik? Tidak Spesial seperti bisnis lain. Mengapa hal ini terjadi?

Karena tidak memiliki personal branding.

Founder IWITA (Indonesia Women IT Awareness), Martha Simanjuntak, SE. MM mengungkapkan bahwa sangat sedikit sekali para penggiat usaha online yang peka dengan pentingnya personal branding.

Padahal kita melihat sendiri bagaimana Apple, Supreme, dan lain-lain dapat maju dalam usahanya. Karena mereka memiliki nilai tersendiri dan tidak ragu dalam memperkenalkan dan memajukan brandnya. Mereka punya keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lain. Betul?

Nara sumber Widya berkata “Fokus, Unik dan Konsisten adalah tiga hal yang harus kita terapkan jika ingin mulai berbisnis di dunia online.”

Ya, ternyata fokus dan konsisten saja tidak cukup untuk dapat maju dalam usaha di dunia online. Kita harus unik dan memiliki nilai jual tersendiri. Ini merupakan ilmu baru yang aku peroleh dari Roadshow ini.

Yuk, Menjadi Anggota Serempak.Id !

Acara roadshow yang diadakan oleh serempak telah membuka pikiran dan wawasanku. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengikuti instruksi dari Ibu Martha untuk menjadi Anggota serempak.id. Karena ini adalah hal yang sangat bermanfaat. Jadi, kenapa tidak?

Oh ya, mungkin kalian banyak yang belum tau dengan serempak.id. Jadi, serempak.id adalah media interaktif yang diinisiasi oleh KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) sebagai wadah kerjasama multi-stakeholder dan untuk meningkatkan akses perempuan pada TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Kita juga bisa menjadi kontributor dalam website serempak loh. Nah, caranya dapat dilihat dibawah ini:

Apa sih keuntungannya menjadi kontributor serempak.id? Ternyata, keuntungannya banyak loh. Bagi kita para penulis dan blogger kita dapat membangun personal branding juga disana. 😊

Sudah menemukan semangat baru sesudah idul fitri ini? Masih baper dengan pertanyaan yang tak kunjung selesai tentang ‘hei kamu tak bosan dirumah?’ Yuk, jadi anggota Serempak.id aja. Jadilah perempuan kuat dimulai dari hari ini. Karena kita para ‘perempuan rumahan’ juga tak kalah produktif dibanding para laki-laki bukan?

Semangat Perempuan!

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

Hal Menakjubkan Yang Telah Berubah Sejak Aku Menjadi Ibu

“Setiap orang akan berubah, lihatlah.. Pohon saja tumbuh.. Rumput saja selalu tumbuh seberapapun seringnya ia dipotong..” Kata seseorang padaku.

“Ya, tapi kurasa perubahan itu bukan hanya jenis pertumbuhan saja. Kadang memang ada sesuatu yang cukup berubah dari segi warna dan bentuk lalu selesailah urusannya..” Sahutku membela diri.

“Tapi biarpun begitu, semuanya berjalan. Tidak pernah sesuatu hal berguna akan tamat begitu saja. Seperti halnya buku. Bagi penulisnya, buku itu mungkin sudah tamat. Tapi manfaatnya akan terus mengalir. Kurasa tidak mungkin ada sesuatu di dunia ini yang diciptakan tanpa perubahan sedikitpun hingga tak ada manfaat sedikitpun.”

Aku menatap dua mata penuh yang penuh optimis itu. Tak pernah sebelumnya aku merasakan aura sedemikian nyaman saat aku mulai cengeng. Saat itulah aku memutuskan hal yang terbesar dalam hidupku.

Aku ingin menjadi energi dalam setiap langkahmu..

Karena di dunia ini.. Hanya kamu satu-satunya orang yang percaya dengan kemampuanku..

***

Menjadi Ibu adalah fase perubahan terbesar nomor 3 dalam hidupku. Untuk nomor 1 dan 2 adalah rahasia. Karena kedua perubahan masa lalu itu adalah perubahan termanis sekaligus terburuk. Tak apa, tiap orang tentu punya masa kelamnya masing-masing. Dan aku ingin bercerita tentang perubahanku sekarang. Ya, perubahan sejak menjadi Ibu.

Awalnya aku mengira sejak awal menyandang status Ibu maka aku akan menjadi wanita paling sempurna. Ya, seakan lengkap sudah tujuan hidup ini. Ah, ternyata menjadi Ibu itu sulit. Aku kira awalnya, suatu saat aku akan menjadi Ibu yang sempurna. Ternyata, aku merasakan hal sebaliknya dalam prosesku menjadi Ibu.

Hmm.. Inikah titik terendah dalam hidupku?

Ya, seharusnya titik kebahagiaan seorang wanita itu ketika ia sudah menjadi Ibu. Ternyata tidak, justru itu awal dari konflik kehidupan sesungguhnya. Banyak cerita yang telah aku alami sejak menjadi Ibu.

Baca juga: Baby Blues, aku mengalaminya

Baca juga: Sepenggal Cerita tentang Ibu yang mencari kebahagiaan

Baca juga: Please, aku bosan jadi IRT

Baca juga: Revolusi 2018, Menjadi Pribadi yang seimbang

Sudah membaca semuanya? *ah, ga penting.. Hahaha 😂

Percayalah, jika kalian melihat judul blog shezahome dengan mengernyitkan dahi maka tidak denganku..

Blog shezahome aku buat sebagai tuangan wadah untuk berevolusi, karena itu judulnya “Proyek Evolusi Mamah Muda”. Blog ini berisi segala tuangan ekspresi dengan harapan suatu hari nanti aku dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan hari ini, aku ingin membuat penghargaan kecil untuk diriku sendiri. Ya, sebuah tulisan “curcolan lagi” yang merupakan hasil dari gabungan-gabungan pujian dari sang suami tercinta. *mana gayung? Lebay amat yah.. 😂

Kurasa hal ini perlu ya. Mengukur sudah sejauh mana sebenarnya perubahan diri? Nah, berikut adalah perubahan-perubahan positif yang aku rasakan sejak menjadi Ibu:

1. Aku menjadi Mandiri

Sejak menjadi Ibu, aku belajar untuk mengerjakan sesuatu tanpa bantuan siapapun. Mungkin hanya hal kecil tapi ini adalah perubahan besar untukku yang dulunya merupakan anak perempuan satu-satunya diantara 4 bersaudara. Perubahan kecil ini dimulai dari menyingkirkan rasa takutku akan dunia sosial dan ketergantunganku dengan sosok Mama.

Dulu, aku sangat mengekor pada mama. Ya, hingga remaja. Hal ini mungkin karena aku merasa mama adalah satu-satunya teman untukku di rumah. Hmm, ya aku tidak terlalu akrab dengan saudara laki-lakiku. Hingga hal sepele seperti mendaftar les dan bla bla mama selalu mendampingiku. Aku tidak peduli di cap sebagai anak mama. Tapi karena hal negatif yang terus berkelanjutan ini maka aku sedikit takut dengan dunia sosial.

Tapi sejak memiliki anak? Entah kenapa rasa malu itu langsung muncul. Aku malu jika kemana-mana harus bersama mama. Sampai membawa anak Imunisasi saja dengan mama? Hallo? Haha..

Memutuskan Ikatan yang tidak biasa dengan mama telah membuatku berubah menjadi sosok yang mandiri.

2. Aku belajar arti Memberi tak hanya menerima

Kasih Ibu kepada Beta..

Tak terhingga sepanjang masa..

Hanya memberi.. Tak harap kembali..

Bagai Sang surya menyinari dunia..

Dulu, aku hanya bisa menyanyikan lagu ini sambil tersenyum melihat wajah lelah Mama. Tentu saja lagu ini tak aku nyanyikan hingga besar. Aku sewaktu kecil begitu jujur dan polos dalam mengungkapkan perasaanku. Namun menginjak usia dewasa, aku mulai malu mengungkapkan perasaan sayang pada Mama dengan ekspresi berupa nyanyian atau pujian. Entahlah sejak kapan aku begitu berubah menjadi non ekspresif seperti itu.

Kini, aku telah merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu. Menjadi orang yang ‘hanya memberi’ dan tak mengharapkan balasan apapun. Ya, itu betul.. Menjadi Ibu itu tak mengharapkan imbalan berupa materi atau hal yang prestise. Tapi, kiranya aku salah..

Saat anakku mulai besar dan dapat bernyanyi serta memujiku, aku merasakan betapa besar energi rasa sayang dari pujian itu mengalir pada semangatku. Aku senang sekali sekaligus merasa menyesal.

Menyesal kenapa saat beranjak dewasa aku tak semanis wujud kecilku dulu. Betapa lelah mama telah membesarkanku namun balasannya hanyalah wujud flat dari ekspresiku yang merupakan kebalikan dari perasaanku.

Kini, sejak menjadi Ibu. Aku mengerti perasaan itu. “Hanya memberi.. tak harap kembali..

3. Aku menjadi serba bisa

Sewaktu remaja dulu, apakah aku pandai memasak?

Tidak, masakanku hancur rasa dan hancur segalanya.

Sewaktu remaja dulu, apakah aku jijik melihat pup n pee bayi?

Ya, walau dulu aku memiliki adik saat umur 8 tahun. Tapi setiap melihat adikku pi*is aku selalu bergumam ‘hiiiiiiy.. Jijik’

Sewaktu remaja dulu, bisakah aku membersihkan rumah sambil mencuci dan memasak dalam waktu bersamaan?

Tidak bisa, karena tanganku sibuk dengan chit chat dunia maya dan tugas. Bahkan menyapu kamar saja malas. Haha

Tapi sejak menjadi Ibu?

Aku bisa melakukan semuanya..

Aku bisa memasak dengan kayu bakar. Aku bisa menyediakan kue hingga makan siang para tukang saat rumah direnovasi dengan anak yang masih kecil dan menyusu. Aku bahkan bisa membersihkan rumah sambil mengerjakan 2-3 pekerjaan lainnya. Aku bahkan sempat berjualan. Kusadari, semua hal yang dulu tak bisa kukerjakan sendirian kini telah serba bisa kukerjakan.

Kiranya benar bahwa setiap wanita itu sebenarnya punya kekuatan super jika ia sudah memiliki hal yang benar-benar dicintainya.

4. Aku tidak se-melankolis dulu

Ini adalah perubahan besar dalam hidupku. Aku mulai menunjukkan pribadi yang lain selain dari sisi melankolisku yang terbilang akut.

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Awalnya aku mengira bahwa sikap baruku yang muncul itu hanyalah wujud dari ‘kepura-puraan’ ku saja. Ternyata, lambat laun aku menyadari bahwa aku menikmatinya.

Aku mulai menikmati munculnya sisi-sisi sanguinis dalam kepribadianku. Bukan hanya itu, aku kini merasa bahwa terkadang aku bisa sangat bersemangat jika menemukan hal baru. Jika sudah begitu maka aku dapat bercerita dan tertawa dengan lancar hingga berjam-jam lamanya. Dulu, aku tidak pernah seekspresif ini.

Apakah aku menikmatinya?

Ya, aku sangat menikmatinya.

5. Aku tidak pemalu lagi

Dulu, aku sangat pemalu. Bahkan teman-teman sekelasku dulu mengelariku ‘siput pais’ karena sifatku yang selalu diam apapun yang terjadi. (FYI: Pais adalah sebutan bahasa banjar untuk masakan pepes. Siput pais adalah sebuah majas sarkasme yang artinya sudah dari sananya pendiam seperti siput lalu kemudian dimasak pepes jadilah benar-benar diam.. Haha)

Sewaktu sekolah dulu, aku sangat anti dalam mengacungkan jari. Jika Guru bertanya tentang jawaban maka aku selalu diam biarpun aku tau jawaban yang tepat. Jika Guru bertanya adakah yang tidak dimengerti maka aku tidak akan bertanya walaupun aku sangat ingin bertanya. Jika kemudian Guru iseng bertanya padaku maka aku akan mengeluarkan keringat dingin karena gugup, walaupun aku bisa dan aku tau jawaban yang benar tapi kata-kata yang keluar dari mulutku sangat berantakan.

Sekarang? Ku akui aku berubah.

Aku tidak terlalu mengerti kapan lebih tepatnya perubahan ini muncul. Dalam acara event blogger beberapa bulan dan minggu yang lalu aku tidak sungkan mengangkat tangan dan bertanya. Kurasa, pertanyaan yang aku lontarkan pun tidak ada nada gugup didalamnya. Ada sebuah dorongan semangat yang tidak jelas asalnya menyuruhku untuk melakukan itu.

Saat sudah melakukan itu, ada perasaan bangga yang muncul pada diriku. Seakan-akan hal yang selama ini tertanam dalam hati dan tertimbun bertahun-tahun baru bisa keluar semenjak aku menjadi Ibu. Ya, sejak menjadi Ibu aku telah menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri.

Kenapa Hal ini Bisa Terjadi?

Salah seorang temanku berkata padaku ketika sekian lama kami tidak bertemu..

“Kenapa kamu bisa sedemikian berubah? Aku senang dengan kamu yang sekarang win..”

Ya, kadang kita tak sadar bahwa kita sudah berubah kecuali kita bertemu dengan teman lama yang benar-benar mengenal kita. Betul?

Kupikir, ada dua hal dominan yang telah menyebabkan perubahan ini.
1. Acting Ibu yang kebablasan

source: www.rdiconnect.com

Sejak memiliki anak, aku membuat prinsip baru dalam parenting versiku sendiri. Kalian mau tau bagaimana prinsip parenting versiku dulu?

Menjadi Ibu adalah seni berpura-pura.

Jika melihatnya menangis, berpura-pura lah untuk tertawa maka ia akan ikut tertawa..

Jika ia marah dan berontak berpura-pura lah untuk sabar dan lihatlah ia sebagaimana kita berkaca dengan masa lalu kita..

Jika kita bosan menghadapinya, berpura-pura lah untuk tidak bosan. Jangan pernah memasang mode flat face pada anak kecil atau ia akan menirunya saat besar nanti.

Aku memang bukanlah ibu yang baik. Tapi aku selalu berusaha untuk berpura-pura baik atau berakting menjadi tokoh terbaik di depan anakku. Karena aku tau bahwa ia adalah peniru ulung. Aku adalah role mode pertama dalam hidupnya.

Tanpa kusadari, karena sifat dan prinsip parenting versiku ini maka aku telah memiliki kepribadian yang.. Hmm.. Bisakah dibilang berkepribadian ganda?

Sejak menjadi Ibu, aku telah membuat senyum dan tawa yang ikhlas untuk membuatnya tersenyum. Dulu, aku hanya bisa memasang mode flat face dimanapun berada. Oh, kurasa hal ini dialami semua ibu yang awalnya merupakan orang yang dingin. Betul? Ibu macam mana yang bisa mengaplikasikan mode flat didepan anak kecil nan lucu.

Bagaimana bisa seorang lulusan akuntansi yang dulunya hanya mengenal seonggok kertas membosankan kini harus pura-pura senang dengan setumpuk mainan yang berantakan? Dan setumpuk boneka? Serta crayon warna-warni?

Kini aku tau kenapa dulu aku sempat ingin menjadi Guru TK. Ternyata hal itu karena aku senang memiliki 4 varian suara yang berbeda. Dari 4 varian suara itu, aku berpura-pura untuk menjadi 4 teman Farisha melalui bonekanya. Finally, aku ketagihan untuk bermain dengannya. Aku baru menyadari bahwa teman sejatiku yang benar-benar lucu adalah dia.. Ya.. Anak ini.. Anak ini benar-benar merubahku menjadi karakter warna-warni.

Nak, Acting Mama kini sudah kebablasan. Mama benar-benar merasa bukan diri mama yang dulu lagi. Mama merasa menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Hal itu salah satunya adalah karenamu…

2. Dorongan semangat dari Suami

Dibalik istri yang cemerlang itu_Selalu ada suami luar biasa, betul? He

Eh, emang aku sudah cemerlang? 😂

Belum yah, tapi lumayan sudah mau berubah sedikit.. Eh banyak..😜

Sedikit curcol, blog shezahome dibuat oleh suamiku yang merupakan seorang programmer sekaligus konsultan IT dari Sharesystem. Belum tau sharesystem? Kenalan dulu dong yah sebagai blogger. Mba langit amaravati aja udah kenalan kok.. Hehe.. *numpang tenar dari mba langit saya.. 😂

Terus kenapa? Blog ini bisa bikin berevolusi ternyata?

Oh bukan sekedar berevolusi, blog ini sudah menjadi salah satu semangat hidup aku. Dari blog shezahome aku kini dapat menuangkan ekspresi lebih baik selain itu aku juga mendapat banyak teman di dunia blogging. Salah satu komunitas yang dekat denganku adalah Female Blogger of Banjarmasin (FBB).

Tanpa dorongan suami untuk ngeblog? Kehidupanku hanyalah seperti IRT pada umumnya. Kini, sejak menjadi Blogger, kehidupan warna-warni mulai menghampiriku dan mengubah diriku yang dulu.

Ya, Proyek Evolusiku dapat dibilang 70% telah berhasil..

Jadi, siapa bilang jadi Ibu itu hidupnya malah ga seru?

Semuanya punya jalan perubahan masing-masing.. Apa perubahanmu? Sharing yuk! 😊

Go Back Couple: Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Go Back Couple: Rekomendasi Drakor terbaik sebagai Pembelajaran Kehidupan Rumah Tangga

Ngapain kamu bahas korea? Mau keranjingan demam korea kayak masa remaja lagi?

NYADAR MAK! UDAH EMAK-EMAK! MALU!

😂😂😂

Oke, tulisan kali ini kayaknya agak bertolak belakang ya sama tulisanku biasanya apalagi gaya menulisnya dengan post sebelumnya diawal januari. Haha.. Abaikan, anggap emak udah move on. 😂

Jadi kenapa ngebahas korea sih? Karena eh karenaaa emak lagi ikutan collaboration nulis bareng komunitas FBB atau Female Blogger Banjarmasin. Tema tulisan collaboration kali ini adalah all about Korea. Yah, kalian tau lah kalau para perempuan itu hoby banget ngerumpi_eh, maksudnya kami itu sering bertukar hoby bersama. Termasuk membicarakan kesenangan yang satu ini, apalagi kalau bukan “Menonton Drama Korea aka Drakor” 😂

Kenapa sih ya cewek hoby banget nonton drama? Hmm berikut kayaknya ulasan yang pas untuk hal ini:

1. Cewek itu suka mengkhayal. Ga tau sih apa ini jenis Cinderella Sindrom? Pokoknya cewek itu udah dari sononya hoby mengkhayal Pangeran Berkuda Putih hingga Pangeran Konyol yang nyari pasangan sepatu hingga kepelosok negeri. 😂

2. Cewek itu ngakunya ga suka sedih tapi hoby nonton konflik. Hayo.. Ngaku aja begitu! Siapa yang suka baper nonton film korea sambil sedia sapu tangan? Sedih ya padahal? Tapi senang bukan? Haha.. Sepertinya cewek itu perlu penyaluran untuk mengeluarkan air matanya agar kecerdasan emosinya stabil. 😂

3. Cewek itu demen liat artis ganteng. Ah, ini.. Siapa yang punya alasan gini? Yang kalau liat pemain drama mukanya ga oke langsung males? Sementara liat ‘si Ganteng’ langsung teriak “Opppaaaa” padahal ya filmnya ga rame rame amat. 😂

4. Menonton Drama adalah salah satu sumber inspirasi dan media pembelajaran yang menyenangkan. Nah, kalau yang satu ini aku banget (ngakunya sok banget padahal alasan no. 3 tuh.. Haha). Tapi serius, sejak berumah tangga aku mulai suka menonton drama tanpa pandang bulu. Mau mukanya kek lapangan badminton juga aku gak peduli kalau memang filmnya menyenangkan dan menyisakan pembelajaran yang luar biasa (catet ya mak). 😂

Seperti drama satu ini, judulnya “Go Back Couple”. Jujur ya aku tidak terlalu tau dengan aktor dari film ini tapi membaca narasi kisah dari drakor ini aku langsung penasaran ingin menontonnya. Ya, kalian tau kan biasanya nih drama korea itu dipenuhi dengan cerita perjuangan sebelum menikah. Entah itu bagaimana mendapatkan si cowok atau si cewek biasanya cerita cintanya dipenuh dengan bumbu romantisme dan komedi lalu endingnya adalah ‘Menikah’ lalu ‘TAMAT’

Sebelum berumah tangga sih aku suka banget nonton drama begitu. Apalagi nih.. Apalagi kalau aktor si cewek itu adalah pribadi konyol dan ceroboh serta si cowok suka bilang ‘Bodoh’ dengan cueknya. Yah remaja banget lah ceritanya. Tapi setelah berumah tangga huewww… Asli deh, aku itu mulai pensiun nonton drama cabe cabean begitu. Halah meeen.. Kata siapa Menikah itu adalah ending yang bahagia?? Kebanyakan makan micin lo.. 😂

Baca juga: “Pembelajaran dalam film Revolutionary Road”

Setelah emak menonton episode pertamanya ‘Go Back Couple’ langsung deh dengan pedenya emak menyeret sang suami. Tidak biasanya loh suamiku mau disuruh nonton drakor bareng tapi kali ini aku wajibkan kalau enggak aku guling-guling. 😂

Alhamdulillah.. Tiada moment yang lebih menyenangkan dibanding meracuni suami sendiri dengan virus korea. Aku sukses membuatnya nonton bareng hingga episode terakhir sambil berpelukan. *Ehm.. Ciee… 😛

Diceritakan bahwa Ma Jin Jo dan Choi Ban Do menikah dengan awal yang bahagia hingga akhirnya dikaruniai seorang anak. Pernikahan yang awalnya dipenuhi dengan romantisme kehidupan kini mulai berkurang semenjak konflik demi konflik mulai menerpa kehidupan rumah tangga mereka. Choi Ban Do sebagai tulang punggung keluarga telah dibebani dengan kerasnya kehidupan ekonomi dan sosialnya dilingkungan kerjanya, sementara Ma Jin Jo telah dibebani dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga, depresi, tekanan finansial dan rasa kesepian ditengah kehidupan keluarganya dengan suaminya yang sangat sibuk. Akhirnya, pernikahan mereka hanya mampu berjalan hingga 14 tahun kemudian mereka memutuskan ingin segera bercerai.

Apa jadinya ketika ditengah-tengah konflik perceraian namun keduanya malah dikembalikan ke masa lalunya? Yaitu pada tahun 1999, saat beberapa waktu sebelum pertama kali mereka dipertemukan dengan umur yang sama-sama masih muda. Senang? Banget! Siapa sih yang menolak dikembalikan menjadi muda lagi? Semua orang pasti bermimpi untuk bisa kembali menjadi muda demi mengubah masa depannya.

Apakah mereka akan mengubah jalan hidup mereka? Apakah mereka akan mencari jodoh yang lain? Bagaimana mereka mengatasi kerinduan mereka dengan Seo Jin anak mereka? Akankah Rumah Tangga mereka bersatu kembali?

Hmm.. Sekilas melihat alur dari film ini aku jadi ingat dengan film ’17 Again’ yang di perankan oleh Zac Efron, tau? Yah, cerita awalnya mirip-mirip lah tapi bedanya di 17 Again cuma Zack yang kembali muda dan dia tidak kembali kemasa lalunya. Hanya sekedar fisiknya yang berubah menjadi muda. Tapi serius laaah, Go Back Couple bukan plagiat. Aku jauh lebih suka Go Back Couple karena pembelajaran di drama ini jauh lebih banyak.

Yuk! Segera nonton mak! Inget sama suami ya! 😂

Kenapa sih harus nonton sama suami? Karena kalo sendirian itu maka pembelajarannya ga bakal maksimal. Soalnya rumah tangga itu bukan cuma soal Istri saja, tapi suami juga. Rumah Tangga adalah tentang saling memahami satu sama lain. Nah, Berikut adalah point-point berharga dari pembelajaran menonton Drama Korea “Go back Couple” yang telah aku dapatkan:

1. Pernikahan memang bukanlah akhir yang bahagia

Hei.. Buat para remaja! Kalian wajib nonton film ini supaya kalian tau kalau Rumah Tangga itu ga sereceh yang kalian bayangkan!

Kalian pikir dengan menikah maka hidup kalian udah bahagia? Kerjaan tiap hari cuma guling-guling dikasur dan menatap indahnya dunia bersama diatas awan putih? Jangan mimpi ya! 😂

Perlu kalian ketahui konflik kehidupan berumah tangga itu banyak sekali. Masing-masing rumah tangga diberi cobaan yang berbeda. Ada yang diuji dengan perekonomian, lingkungan sosial, hingga beban psikologis. Kalau kalian kira dengan menikahi cowok tampan nan tajir akan mengatasi semua masalah itu maka kalian salah besar!

Lalu, apa yang dapat mengatasinya? Cinta?

Makan tuh Cinta! 😂

Iya, itu kata para tetua.. Terus emak pikir ya iya lah cara ‘Cinta’ tidak berhasil. Wong cintanya dimakan bak makanan dan dibuang begitu saja. Jadi, buat kalian yang sedang ngebet-ngebetnya ingin menikah maka ingatlah bahwa Cinta itu adalah alasan kalian menikah tapi kalian juga harus mengerti maksud dari CINTA itu sendiri.

Belum ngerti? Makanya jangan terburu-buru menikah. Belajar dulu ya! Belajar! 😛

2. Saat Pahit itu menghampiri, ingatlah kenangan Manis

Tidak dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, rumah tangga akan mengalami masa-masa sulit. Baik itu masa jenuh hingga masa penuh tangisan. Apa yang kita lakukan saat masa-masa pahit itu datang?

Kita bertengkar!

Pertengkaran memang hal yang lumrah dalam berumah tangga. Bahkan, orang bilang rumah tangga tanpa pertengkaran akan terasa sangat hambar. Tapi apa jadinya jika pertengkaran terjadi diluar batas? Ya, Perceraian.

Uniknya disadari atau tidak, setiap pasangan yang bertengkar selalu mengungkap aib masing-masing pasangan. Mereka yang dulunya tidak tau sifat asli pasangan kini menyesal saat mengetahui sifat yang sebenarnya setelah menikah. Kenangan manis saat sebelum dan setelah menikah pun seakan sirna begitu saja. Padahal, kenangan manis itu penting loh.. Bukan sekedar gombal.. gombal..

Seperti inilah perasaan Ma Jin Jo dan Choi Ban Do saat kembali ke masa lalu mereka. Mereka sadar bahwa mereka pernah melewati masa-masa manisnya rasa cinta bersama. Masa saat mereka pernah mengalami puncak cinta dan bagaimana mereka melewati masa sulit bersama.

Maka, saat kita bertengkar.. Ingatlah kenangan manis.. Ingatlah kenapa kita memilihnya.. Ingatlah masa sulit yang bisa kita lalui..

3. Jangan menyesali masa muda, nikmati musim semi Rumah Tangga dan ambillah setiap jejak manis kehidupan

Choi Ban Do dan Ma Jinjo kembali muda dan hidup di masa lalu mereka. Mereka bertanya-tanya, Apa sebenarnya maksud Tuhan mengembalikan mereka ke masa lalu? Apakah agar mereka diberi kesempatan kedua untuk mengubah jalan hidup mereka? Atau ini hanyalah sekedar hiburan untuk mereka yang diberi oleh Tuhan?

Hmm.. Ayo kita berkaca dengan diri kita..

Apa yang kita lakukan jika kembali ke masa lalu? Yap, salah satu yang akan kita lakukan adalah memaksimalkan masa muda kita.. Kenapa? Hmm.. Kenapa ya..

Bagiku sendiri masa mudaku bagaikan musim semi yang tak pernah berbunga. Sama seperti cerita Choi Ban Do dan Ma Jinjo, aku juga merasakan bahwa masa muda yang pernah aku lewati dahulu berjalan kurang maksimal.

Baca juga: “8 hal yang harus kamu lakukan mumpung kamu masih single”

Enak dong ya.. Jika kita bisa mengubah masa lalu kita? Tapi apakah hal itu mungkin?

Tentu saja tidak, itu hanya terjadi di film.. 😂

Kesimpulan yang aku ambil dari film ini adalah kita tidak mungkin kembali kemasa muda kita, maka mumpung kamu masih muda maksimalkan potensimu. Dan, buat yang sudah terlanjur menua dan berumah tangga maka hal yang harus dilakukan adalah ‘menikmati musim semi dalam berumah tangga’.

Aku yakin, tidak semua moment dalam berumah tangga itu adalah moment pahit. Pasti ada moment manis didalamnya. Nikmati semuanya agar hidup terasa lebih bermakna. Karena makna bahagia adalah saat hidup kita berwarna bagai pelangi bukan hanya dihiasi satu warna saja. Warna warni kehidupan rumah tangga itu unik. Mungkin saat belum kenal satu sama lain kita hanya mengenal satu warna pada pasangan. Namun seiring berjalan waktu warna lain pada pasangan akan muncul, yakinlah itu bukanlah fase musim kering rumah tangga namun musim semi yang sebentar lagi akan berbunga.

4. Terkenang Cinta Pertama? Ingatlah Cinta Terakhirmu

Ehm… Ada yang masih ingat dengan Cinta Pertama dan masih terkenang manis hingga berumah tangga?

Saking penasarannya bahkan masih saja suka stalking sosial media si first love. Ikut gelisah saat tau dia sakit. Ikut senang saat dia bekerja. Bahkan nih, dia nikah malah kitanya sedih. Ada ga sih yang begitu?

Ops, ada juga loh emak-emak yang menyesali pernikahannya dan berandai-andai ‘Coba deh aku nikah sama si A aja kemaren, jadi orang kayah deh aku’

Ada juga bapak-bapak yang menyesali pernikahannya dan berandai-andai ‘Coba aku kemarin nikah sama si A aja, dia lebih awet muda dan dia lebih lemah lembut’

Terus apa??? Mau menyesal?? Mau kembali kemasa lalu trus ngedeketin si Do’i?

Yah, itu juga yang terjadi pada Drama Go Back Couple. Choi Ban Do mencoba mendekati Cinta Pertamanya Min Suh Young. Ia bersikeras ingin menjauhi Ma Jin Jo. Berbeda dengan Ma Jin Jo yang tak memiliki Cinta Pertama, ia akhirnya menyesali pernah menolak seniornya dikampus Jung Nam Gil dan berusaha memperbaiki masa lalunya dengan mendekati Jung Nam Gil. Nah, Bagaimana akhirnya? Akhirnya mereka malah saling cemburu pemirsa.. 😂

Yakin ingin kembali pada Cinta Pertama?

Kesimpulannya? Cinta Pertama itu Omong Kosong! Debaran jantung yang menggebu-gebu ketika kita bertemu dengan si Dia takkan bertahan lama jika kita sudah hidup lama dengannya. Cinta pertama adalah kenangan manis yang tak patut kita sesali dan kita kenang. Hal yang paling berarti sekarang di kehidupan rumah tanggamu adalah Cinta Terakhir. Maka, rawatlah cinta terakhirmu.

5. Belajarlah saling menghargai pasangan

“Ada satu titik dimana kita kurang menghargai kepedulian pasangan karena kita sudah merasa hal itu adalah hal biasa.”

Sudah melalui titik itu?
Melihat Suami kelelahan bekerja hingga tengah malam dan kita merasa itu adalah hal biasa karena ‘memang itulah kewajibannya’
Melihat Istri kelelahan mengurus anak, dapur, sumur hingga kasur dan kita merasa itu adalah hal biasa karena ‘memang itulah kewajibannya’
Kita tidak sadar bahwa pekerjaan yang ia lakukan bukan didasari karena kewajiban. Tapi didasari oleh rasa cinta. Dan kita tidak menghargainya karena merasa itu hanyalah hal biasa yang dilakukan. Haruskah kita membuat orang yang kita cintai menjadi robot? Bahkan robot-pun butuh baterai untuk bekerja!
Tak bisakah kita memberikan apresiasi? Uluran tangan tanda peduli hingga aliran semangat? Itulah tenaga yang dibutuhkan dalam kehidupan berumah tangga.

Choi Ban Do bekerja di Farmasi Han Kook. Menjadi sales obat yang menawarkan obat-obatnya pada para Dokter. Bukan hanya itu, ia juga dijadikan pesuruh oleh Dokter Kim. Ia menyembunyikan selingkuhan Dokter Kim hingga menemaninya di klub malam. Ia bekerja ‘Bagaikan Anjing Pesuruh’ hingga larut malam. Untuk siapa?

Untuk anak dan Istrinya..

Ma Jin Jo bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Lulusan sarjana tidak membuatnya dapat berkarir karena ia telah mengorbankan hidupnya untuk kehidupan Rumah Tangganya. Ia mengurus Dapur, anak, hingga mencukupi uang bulanan yang pas pasan untuk kehidupan keluarganya. Ia tak lagi cantik seperti saat muda dulu karena ia terlalu banyak berkorban. Untuk siapa?

Untuk anak dan Suaminya..

Namun saat keduanya bertemu dimalam hari. Masing-masing sibuk mengeluh dengan kesehariannya tanpa saling menghargai. Ma Jin Jo tak mengerti sekeras apa kehidupan pekerjaan diluar sana sementara Choi Ban Do juga tidak mengerti sesulit apa manajemen rumah tangga yang sudah Ma Jin Jo lakukan.

Ingatlah, setiap hal yang dilakukan oleh Suami dan Istri bukanlah ‘Hal Biasa’. Ia melakukannya dengan sungguh-sungguh. Maka, hargai usahanya untuk berusaha mencintaimu dengan lebih baik. Ya, setiap pasangan harus saling menghargai.

6. Kecantikan Wanita adalah saat ia bisa menjadi Dirinya Sendiri

Saat muda, kupikir usia hanyalah angka yang meresap begitu saja tanpa membuat perubahan. Sekarang aku sadar, usia tidak meresap begitu saja dalam tubuh tanpa perubahan. Seiring bertambah tua kau akan menyesuaikan diri dengan usia.

Sudah merasakan hal itu?

Saya belum.. Merasa masih muda.. *siram gayung 😂

Walau aku belum benar-benar merasakannya namun aku yakin sekali masa itu lambat laun akan datang. Masa ketika kecantikan tak lagi berarti. Masa ketika kulitku mulai keriput dan tulangku mulai lelah.

Apa kekuatan yang masih ada dalam diri kita jika kita menua? Kekuatan itu adalah Inner beauty yaitu saat kita menjadi diri sendiri yang menyenangkan. Hal itulah yang membuat kita bersinar bahkan diusia senja.

Ma Jin Jo diajak kencan oleh Jung Nam Gil karena ketidaksengajaan. Ma Jin Jo langsung dengan cuek menolaknya. Namun, Ma Jin Jo ingin memperbaiki kesalahannya dahulu dengan mendekati Jung Nam Gil. Awalnya, hal itu membuat Jung Nam Gil kebingungan. Sebenarnya, saat itu dia tidak benar-benar menyukai Ma Jin Jo.

Akan tetapi semakin sering bertemu dengan Ma Jin Jo membuat Jung Nam Gil benar-benar jatuh cinta. Kurasa, hal ini bukan karena kecantikan Ma Jin Jo namun karena kedewasaannya. Yah, sebagai emak-emak yang sudah berumur maka tingkah polah Ma Jin Jo jauh berbeda, dia sangat dewasa dan perhatian kepada Jung Nam Gil. Baginya, Jung Nam Gil adalah seorang anak non ekspresif yang sedang tersesat dan mencari jati dirinya.

Dari potongan drama ini aku belajar bahwa hal yang membuat wanita tetap menarik sejatinya adalah karena ia dapat menjadi diri sendiri dan peduli kepada orang lain.

7. Pentingnya keterbukaan dan kerjasama antar pasangan

Salah satu adegan yang membuatku tersentuh adalah ketika Ma Jin Jo dan Choi Ban Do bekerja sama untuk memberi pelajaran kepada Dokter Kim Muda. Mereka menyusun rencana agar Dokter Kim tertangkap basah selingkuh oleh pacarnya dimasa lalu yang akan menjadi istrinya dimasa depan.

Dimasa depan, Choi Ban Do adalah suruhan Dokter Kim. Ia melakukan apa saja yang diperintahkan Dokter Kim, termasuk untuk menyembunyikan selingkuhan Dokter Kim hingga menemani Dokter Kim di klub malam. Hal inilah yang membuat Choi Ban Do sering pulang larut malam hingga merasakan keterpurukan dilingkungan kerjanya.

Ma Jin Jo dan Choi Ban Do ingin merubah hal itu. Mereka merasa kasihan dengan istri Dokter Kim yang sebenarnya dimanfaatkan kekayaannya oleh Dokter Kim. Maka, mereka berencana untuk merubah takdir Dokter Kim untuk menikahi pacar kayanya.

Akhirnya mereka berhasil melakukan hal itu. Semuanya karena Choi Ban Do mulai terbuka dengan Ma Jin Jo tentang pribadi ‘bos’ nya. Kerja sama yang mereka lakukanpun telah menumbuhkan rasa cinta yang kuat diantara keduanya.

Hal yang dapat kupetik dari adegan ini adalah seandainya suami istri saling terbuka denhan masalahnya masing-masing dan bekerja sama untuk masalah tersebut maka rumah tangga mereka akan langgeng dan menyenangkan.

8. Cinta adalah Senjatamu melawan dunia yang sulit

Apa cita-cita kalian sebenarnya? Apakah cita-cita kalian sudah benar-benar tercapai?

Diceritakan dalam Drama Go Back Couple bahwa Choi Ban Do adalah mahasiswa lulusan dari Teknik Sipil. Namun ia bercita-cita kuat ingin menjadi Sutradara. Ia bekerja keras bersama kedua temannya untuk menciptakan hal itu. Ia bahkan membuat hal yang tak terlupakan bersama ketiga temannya hingga ia merasa malu bahwa pernah melakukan hal konyol.

Apakah ia berhasil mewujudkan cita-citanya? Sayangnya dunia itu kejam. Ia kini hanyalah sales obat di Farmasi Han Kook. Salah seorang temannya sekampus yang dulu sangat ambisius untuk menjadi Arsitek pun kini berakhir menjadi sales asuransi.

Ma Jin Jo sendiri pernah menyesali karirnya sekarang yang hanya diisi dengan kesibukan Rumah Tangga. Ia berpikir bahwa jika saja ia dulu lebih rajin maka mungkin saja ia bisa menjadi Jaksa atau Pengacara atau berbagai pekerjaan bergengsi lainnya.

Namun apa yang membuat Choi Ban Do dan Ma Jin Jo tetap bersemangat untuk hidup?

Cinta adalah jawabannya. Melihat senyum dan tawa anak mereka adalah hal yang menguatkan mereka untuk terus hidup dan bekerja.

Ya, hidup itu sulit dan rumit. Kadang hal yang kita upayakan sejak lama tidak tercapai. Kita jatuh merangkak untuk sekedar mencari sesuap nasi namun kita dapat terus bertahan jika mengingat sebuah senyuman selalu menanti kita dirumah.

9. Belajar Adab Kepada Orang Tua dan Mertua

Apa yang kalian lakukan jika dapat kembali menemui Ibu kalian dalam kondisi hidup sementara sebenarnya ia sudah mati?

Memeluknya?

Mengungkapkan penyesalan?

Menangis?

Hal itulah yang dilakukan oleh Ma Jin Jo saat mendapati Ibunya yang masih hidup dimasa lalunya. Di masa depan, Ma Jin Jo bahkan tidak sempat menemui Ibunya dikesempatan terakhir. Ia sangat marah pada Choi Ban Do yang tidak dapat menyempatkan waktu untuk itu.

Ma Jin Jo pun membuat daftar hal-hal yang ingin dilakukannya dengan Ibunya, tidur dengan Ibunya, hingga memastikan kesehatan Ibunya dimasa depan. Ia tidak mau kehilangan moment berharganya bersama Ibunya.

Chi Ban Do pun tidak jauh berbeda dengan Ma Jin Jo. Ia langsung meneteskan air mata saat berpapasan dengan mertuanya yang masih hidup. Perasaan bersalahnya muncul begitu saja. Ia pun langsung menemui mertuanya dan membelikan buah kesukaannya. Ia juga pergi ke Rumah Sakit untuk meyakinkan kondisi kesehatan mertuanya baik-baik saja.

Adegan ini membuatku belajar bahwa walaupun kita sudah berumah tangga dan memiliki kehidupan sendiri, tapi orang tua adalah hal pertama yang membuat kita merasakan kasih sayang. Kasih sayang tersebut tidak bisa kita balas sampai kapanpun. Oleh karena itu, sayangi dan hargailah mereka selagi mereka masih hidup. Kita akan sangat menyesal sekali jika mereka telah tiada.

Baca juga: “Surat untuk mama, maafkan aku hanya bisa menjadi Ibu Rumah Tangga”

Kasih sayang yang diberikan oleh Choi Bando kepada mertuanya pun membuatku tersentuh. Ia telah menganggap mertuanya bagaikan orang tuanya sendiri. Dari mertua, ia belajar untuk menyayangi Ma Jin Jo.

Baca juga: “Untuk apa aku membenci mertuaku

Hmm.. Itulah kiranya pembelajaran penting dalam rumah tangga yang aku petik dari Drama Korea “Go Back Couple”. Kalian sudah nonton dan sependapat dengan hal diatas? Yuk, sharing!

Dan buat emak-emak yang belum nonton, yuk segera nonton! Film ini benar-benar recomended ditonton buat kamu yang sudah berumah tangga!

Belajar membangkitkan semangat menulis dari Ahmad Fuadi-Penulis Novel Negeri 5 Menara

Belajar membangkitkan semangat menulis dari Ahmad Fuadi-Penulis Novel Negeri 5 Menara

Halo content writer shezahome? Masih hidup? 😅

Ya, sepertinya bulan ini aku termasuk jarang menulis ya. Berapa tulisan yang aku terbitkan bulan ini? Mana konsisten yang dulu sempat aku bangun? Kemana semangat menggebu-gebu itu pergi?

Apakah aku sudah menjadi pemalas?

Bukan, bukan malas. Lebih tepatnya aku mulai merasa pesimis. Semangat yang dulu ada itu tiba-tiba mulai menurun kualitasnya. Aku juga tidak tau persis apa alasannya. Padahal Domain Authority dari blog shezahome.com sudah meningkat menjadi 22 yang artinya blog aku sudah ‘lumayan’ diperhatikan oleh google.

Tapi seberapa bermanfaatkah tulisanku?

Ya, kata-kata itu muncul begitu saja. Menulis bagiku sekarang adalah terapi yang menyenangkan. Tapi terapi itu tidak berjalan baik jika tidak bisa berguna bagi siapapun. Memang, kebanyakan pengguna internet adalah pasif. Ketika mereka selesai membaca content maka mereka hanya akan ‘closed’ tanpa meninggalkan jejak ataupun ucapan terima kasih.

Mungkin saja itu karma. Sebelum mendalami dunia blog aku juga begitu. Silent Reader. Jadi anggap saja impas. Haha..

Berbicara mengenai traffic. Maka traffic blogku sudah ‘lumayan’ dibanding bulan pertama ngeblog. Terlebih sekarang aku juga punya komunitas dalam menunjang aktivitas ngeblog. Tapi jujur saja, aku butuh alasan lebih.. lebih.. dan lebih lagi supaya bisa tetap konsisten dalam membuat tulisan. Bagaimana cara memperbaiki mood ku yang tidak stabil sehingga blogku pun menjadi terkesan labil.

Itulah alasanku menghadiri ‘Meet and Greet’ penulis Ahmad Fuadi, yang diadakan di Aula Perpustakaan Daerah di Banjarmasin. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Ahmad Fuadi? Penulis Novel ‘Negeri 5 Menara’? Aku bahkan terpikat saat pertama kali membaca bukunya.

Apah? Tidak pernah membaca Negeri 5 Menara? Tenggelamkan!

Hahaha.. 😂

***

Sebenarnya saat pertama kali aku menyelesaikan membaca buku Negeri 5 Menara aku tidak mendapat pembelajaran nyata. Aku terpikat, tapi aku iri. Ya, seperti biasa aku hanya bisa bilang “Ya iya dong dia bisa nulis buku keren soalnya ini buku tentang ‘dirinya sendiri’ dengan pengalaman hebatnya”

Lah, aku? Dimana pengalaman hebatku? Apa yang harus aku tulis? Aku kan tidak punya pengalaman hebat? Tidak pernah travelling? Tidak pernah belajar dipesantren? Tidak pernah merantau sejak kecil? Duniaku kotak, mataku hanya belajar pada kertas dan otakku hanya bisa berimajinasi.

Karena itulah sewaktu kecil aku sangat ‘malas’ membaca buku dengan pengalaman ‘nyata’. Aku iri. Aku lebih suka membaca buku imajinasi. Aku suka penulis yang terinspirasi dari buku dan suka mengkhayal. Ya, seseorang seperti JK. Rowling, Rick Riordan, dan Stephanie Meyer serta para pencipta karakter anime. Mereka mungkin lebih masuk akal dijadikan penulis idola untuk orang sepertiku.

Namun, sejak menjadi Ibu Rumah Tangga aku mulai merubah pandangan hidupku. Aku mulai tak suka mengkhayal berlebihan. Sejak menikahi introvert nyata, aku lebih suka membaca buku yang realitas. Sehingga genre novel yang kubaca mulai berubah. Ya.. Ya.. Aku suka Tere Liye dan Ahmad Fuadi. Aku juga mulai suka dengan gaya penulisan klasik oleh Lucy M. Mortgomery.

Karena itu, kenapa tidak belajar menjadi salah satu dari mereka?

***

Sebenarnya, ini bukan pertama kali aku bertemu dengan Ahmad Fuadi. Ini kedua kalinya.

Pertama kali bertemu dengan Ahmad Fuadi adalah saat aku diundang untuk menonton ‘Negeri 5 Menara’ oleh Bank Indonesia. Ya, saat itu aku masih menjadi mahasiswi magang. Aku menonton Negeri 5 Menara secara gratis saat itu. Dan saat selesai menontonnya, penulis novelnya kemudian hadir didepan bioskop sambil bergantian bersalaman dengan kami.

Tapi apa peduliku saat itu? Jujur saja saat melihat Ahmad Fuadi pertama kali dan menonton filmnya aku hanya bisa membatin, “sepertinya orangnya narsis” hahaha..

***

Namun semua pendapatku tentangnya luntur seketika ketika aku bertemu langsung dengannya untuk yang kedua kali dan mendengarnya berbicara.

Aku memang sengaja mengambil tempat duduk ‘lumayan didepan’ walau sadar diri bahwa aku mungkin satu-satunya Ibu Rumah Tangga yang absen dari kegiatan hariannya saat itu untuk menghadiri moment ini. Aku cukup sadar bahwa aku dikelilingi oleh puluhan mahasiswa berbaju almameter dan para dosennya.  Tapi, peduli amat? Ini undangan untuk umum kan? Lagian aku kesana ‘menyamar’ kok. 😆 #bukan pakai daster ya..

Terbukti penyamaranku cukup berhasil kok saat ada yang bertanya, “Mahasiswi mana?” dan aku menjawab singkat “alumnus kok udah” 😂😂

Okeh, kok jadi aku yang narsis? Ehm, bukannya kamu barusan bilang Ahmad Fuadi itu yang narsis?

Ya, ternyata Ahmad Fuadi itu Penulis Narsis yang beralasan.

Jika dia tidak narsis mana mungkin dia bisa menulis buku negeri 5 menara?

Jika dia tidak narsis, siapa yang tidak akan iri mengikuti jejaknya berkeliling dunia hanya karena dia hoby membaca dan menulis?

Jika dia tidak hoby pamer, siapa yang tau tentangnya?

Maka ketahuilah, narsis itu anugerah.

Orang narsis, kita terinspirasi dari narsisnya. Itulah narsis yang benar.

Terlebih seperti Ahmad Fuadi. Selama 1 jam disana terbukti para penonton ternganga lebar melihat foto-fotonya berkeliling dunia. Bagaimana bisa??

Konsisten macam apa yang dia miliki? Pikirku.. Mungkin dia konsisten karena cerita hidupnya memang sangat banyak yang seru dan menantang. Ah.. Seharusnya aku memang tak cocok mendengarnya berbicara, nanti aku minder. Seharusnya aku menanti Tere Liye saja yang datang. *Loh

Sebenarnya aku tidak tertarik mendengar cerita Ahmad Fuadi yang sudah jelas merupakan kisah dari Alif, tokoh utama novel Negeri 5 Menara. Tapi seperti yang kuduga, dia pasti menceritakan itu. Dan aku bosan. Lalu seakan bisa membaca kebosananku beliau berkata..

“Saya heran, kenapa buku Novel ‘Negeri Lima Menara’ menjadi bacaan wajib di beberapa sekolah dan univeritas di luar negeri. Salah satunya di sekolah Xin Min Singapura dan Lote Secondary School di New South Wales Australia. Juga jadi bagian dari mata kuliah di Universitas California Berkeley”

Dan Dosen dari Universitas California Berkeley menjawab, “The Land of 5 Tower is the story about Human Being

Human being.. Itulah rahasia kenapa orang suka sekali dengan buku negeri 5 menara. Ia menceritakan tentang kisah perjalanan manusia. Nyata dan sangat indah. Tiba-tiba aku mulai merasakan dejavu saat membaca buku itu. Ya, harus diakui buku itu luar biasa. Aku hanya iri karena tak bisa berusaha mewujudkan semangat dari man jadda wajada dari buku itu.. 

“Buku adalah Karpet Terbang” Katanya..

“… Jika kalian pernah memimpikan karpet terbang dari film disney Aladin maka bangunlah mimpi itu dari membuat buku, maka buku akan membawamu kemana saja”

Aku langsung merinding. Benar. Ahmad Fuadi dapat berkeliling dunia karena buku. Dia menulis buku dan buku telah menerbangkannya kesegala penjuru dunia. Dia memiliki ‘Karpet terbang’ karena usahanya yang sungguh-sungguh. Man Jadda Wajada.. 

“Buku.. Lebih Tajam dibanding peluru”

“.. Peluru hanya bisa menembus kulit dan daging. Tapi buku dapat membangun gagasan pemikiran seseorang. Buku dapat mempengaruhi seseorang. Satu peluru buku pada satu orang mungkin akan berdampak pada seratus, bahkan seribu

“Buku.. Adalah Keabadian yang dapat kita ukir didunia. Maka, selagi hidup cobalah berusaha menulis walau hanya satu buku saja” 

Aku merinding. Benar. Semua yang dia katakan benar. Satu buku. Satu buku untuk menciptakan sejarah.

Tapi bagaimana? Sulitkah membuat satu buku saja?

“… Saya menyelesaikan buku Negeri 5 Menara dalam waktu satu tahun. Saat itu saya bekerja dan pulang dari bekerja saya menyempatkan diri untuk menulis satu halaman sehari.. Satu tahun menjadi 365 halaman”

“… Kemudian edit, edit, edit dan dalam waktu 2 tahun akhirnya buku Negeri 5 menara berhasil dicetak”

Dan kalian tentu tahu kalimat berikutnya yang bla bla bla.. *bikin iri banget. Okeh, pokoknya bisa cari informasi di google lah ya untuk perjalanan Ahmad Fuadi. 😂

***

Saat sesi tanya-jawab, banyak sekali peserta yang bertanya. Dari Dosen hingga mahasiswanya. Namun banyak juga yang tidak terlalu memperhatikannya. Kupikir sepertinya menghadiri Meet & Greet Ahmad Fuadi ini merupakan kewajiban bagi mereka. Hihi..

Sebenarnya aku juga ingin bertanya tapi karena pertanyaanku mirip dengan penanya pertama kurasa niatku lebih baik kuurungkan. Daripada aku ditanya “mahasiswi mana?” dan aku hanya menjawab “ibu rumah tangga (yang haus ilmu)” 😂

Salah satu pertanyaan yang kuingat adalah “Bagaimana kita dapat konsisten menulis satu halaman perhari sementara kita tidak punya pengalaman ‘nyata’ seperti anda..”

Saat itu beliau langsung menjelaskan..

“Saat saya menulis saya melakukan 5 hal”

Pertama, “Saya masuk kedalam diri dan bertanya kenapa saya menulis? Apa sebenarnya tujuan dari tulisan saya”

Kedua, “Saya memutuskan untuk menulis APA”

Ketiga, “Saya melakukan Riset dari APA yang ingin saya tulis”

Keempat, “LAKUKAN SEGERA, atau ide itu akan hilang begitu saja”

Kelima, “Tulis saja. Tulis segala yang ingin ditulis. Tiap penulis punya gayanya sendiri. Maka, jadilah diri sendiri. Saat anda menikmati proses menulis dan tidak terbebani maka itulah cara bagaimana anda menulis”

Akhir kata, aku benar-benar mendapat pelajaran berharga dari ‘Meet and Greet with Ahmad Fuadi’. Jika suatu saat aku bisa bertemu lagi semoga saja aku dapat kesempatan untuk bertanya.

Sebenarnya aku pulang sebelum acaranya diakhiri. Maklum, emak-emak.. Harus jemput anak sekolah. Hiks..

Tanda tangan pun tak dapat.. 😭

Tapi aku sudah mendapatkan sebagian dari semangat Ahmad Fuadi. Aku akhirnya mengerti kenapa ia bisa terus konsisten menulis. Bukan, ini lebih dari tentang Man Jadda wajada. Ini juga tentang Man Shabara Zhafira. Dan Ini juga tentang menjadi diri sendiri. 😊

Disclaimer: kutipan kata-kata dari Ahmad Fuadi mungkin terdapat sedikit kesalahan. Karena metode dokumentasi penulis hanyalah catatan kecil saja. Harap dimaklumi. 😅

IBX598B146B8E64A