Browsed by
Month: February 2021

Mengintip Cara Setan Menggoda Manusia: Tontonlah Girl From Nowhere

Mengintip Cara Setan Menggoda Manusia: Tontonlah Girl From Nowhere

“Ma, bagaimana cara setan menggoda manusia?” Pica bertanya dengan lugu padaku. 

“Tidak ada yang tahu persis caranya. Tapi setan selalu memanfaatkan celah hitam dari hati manusia..”

“Celah hitam?”

“Rasa iri, benci, ingin lebih baik, obsesi tak terkendali, setan suka sekali memanfaatkan hal itu..”

“Bagaimana persisnya Ma?”

“Entahlah..”

Bagaimana Jika Iblis dan Setan Menyamar Menjadi Manusia? 

Adalah Nanno. Karakter perempuan utama dalam film Girl From Nowhere. Tidak ada yang tau persis dari mana asalnya dia. Tapi, dia selalu berpindah sekolah. Menyamar menjadi murid perempuan lantas mencari jiwa-jiwa gelap di sekolah. Mencoba bergaul dan berteman dengan mereka. 

Uniknya, jiwa gelap itu bukan terpasang dari karakter yang jahat dari luar. Tapi, most of them adalah karakter yang ‘terlihat baik’. Nanno menggali jiwa gelap itu dengan masuk kedalam kehidupannya. Tidak lantas langsung membisikinya tetapi hanya masuk kedalam kehidupannya. Kemudian, memberikan jiwa itu sebuah pilihan. 

Aku selalu terngiang dengan pertanyaan Pica. Bagaimana tepatnya cara setan menggoda manusia? Apakah dengan membisiki agar kita tidak sholat? Tidak mengaji? Lupa membaca doa? Lalu kemudian masuk menguasai separuh diri kita? Atau sebenarnya, kitalah yang membiarkan aura hitam itu masuk. Karena kita tak bisa mengontrol setitik sifat jahat yang muncul pada diri kita. 

Setan, memanfaatkan hal itu. Rasa iri, dengki, nafsu, haus penerimaan, obsesi, rasa benci. Setitik saja. Itu sudah sangat cukup untuk dikembangkan. 

Nanno bukanlah setan, bukan pula Iblis. She just Girl From Nowhere. Dia seperti iblis peneliti yang sedang mencari tau..

“Betapa lucunya sifat manusia sebenarnya”

“Betapa akalnya terlihat seakan sangat hebat. Tetapi nafsunya menggebu-gebu di dalamnya.”

“Inikah makhluk yang diciptakan Tuhan? Yang katanya bisa lebih mulia dibandingkan Malaikat, tetapi bisa lebih rendah dibanding binatang?”

Mengintip Karakter Jahat Manusia yang Terpendam dalam Episode Serial Girl From No Where

Cerita Girl From Nowhere ini menurutku cukup unik. Ada 13 episode dalam season 1. Ceritanya selalu dimulai dengan karakter Nanno yang berpindah-pindah sekolah dalam setiap episodenya. Berikut adalah beberapa ringkasan judul episode yang sangat aku ingat:

1. The Ugly Truth

Apakah kau yakin bahwa orang yang selama ini kau kagumi adalah orang yang baik? Atau sebenarnya hanya berpura-pura baik agar mendapatkan ‘mangsa yang lezat’

Seorang Guru di sekolah sekaligus mentor Yoga merupakan Guru yang disukai oleh murid-muridnya, khususnya murid perempuan. Karena wajahnya yang tampan dan perawakannya yang gentle. Nanno pun bereksplorasi di sekolah tersebut. Mengikuti kelas Yoga seperti murid biasa. Tanpa menggoda sang Guru, Nanno mencoba mengungkapkan topeng jahat sang Guru yang sebenarnya. Lantas tertawa saat semua orang mengetahuinya. Yup, Guru itu memperkosa beberapa anak muridnya lantas merekam adegannya sebagai pemerasan. 

“Tak semua manusia baik itu baik, sebagian hanya berpura-pura baik agar bisa lebih jahat”

2. Apologies

Nanno menjadi murid baru paling cantik di sekolah kedua yang ia datangi. Kecantikannya mengundang ketertarikan dari 3 personil tim basket. Namun, membuat iri 2 teman perempuannya. Nanno tidak menggoda keduanya. Tapi keduanya larut dalam rasa iri dan benci. Sementara 3 lelaki yang menyukainya memanfaatkan itu. 

Dalam sebuah pesta minuman, Nanno dimanfaatkan. Lantas ada kejadian tak terduga yang membuat Nanno meninggal_di mata para manusia itu. 

“Manusia membuat kesalahan, lalu meminta maaf. Lalu berbuat kesalahan lagi. Sungguh lucu..”

3. Social Love

Kali ini Nanno masuk ke dalam sekolah dimana dia memacari seorang lelaki yang populer disana. Hubungan mereka menjadi sorotan di sosial media. Mereka memiliki fans dengan ribuan follower. Tetapi, sang lelaki hanya memanfaatkan Nanno untuk popularitasnya. 

Nanno memanfaatkan kebohongan lelaki itu. Lewat berbagai tragedi, dia meyakinkan lelaki itu bahwa kebohongannya akan terjadi selamanya. 

“Manusia senang sekali dengan popularitas. Tidak peduli itu bohong atau palsu yang penting adalah citranya tidak hilang”

4. Hi-So

Nanno masuk kedalam sekolah elite. Dimana didalamnya hanya ada murid-murid kaya. Sebagai murid terkaya ia bisa membeli sebuah kelas dan menjalankan usaha didalamnya. 

Usaha yang simple bagi setan. “Aku akan mengabulkan APAPUN keinginanmu asalkan ada bayarannya.”

Nanno memanfaatkan rasa penasaran dari teman-temannya akan kehidupan Dino yang konon merupakan anak terkaya. Dino yang selama ini berbohong terjebak dalam realita ketika ia harus mengambil uang kedua orang tuanya yang miskin. 

“Kupikir, orang miskin memiliki hal yang tidak bisa kubeli. Ternyata, segalanya bisa dibeli dengan uang di dunia manusia. Termasuk sebuah jati diri.”

5. Trap

Apa jadinya kalau ada narapidana yang kabur dan memasuki sekolah kemudian membunuh siapapun disana? 

Sekelompok siswa dan guru pun terjebak didalam satu kelas. Nanno termasuk didalamnya. Ia memperhatikan hal menarik.. 

“Bahwa manusia akan memperlihatkan sisi asli dirinya ketika ia merasa terancam..”

Lucunya.. “Manusia-manusia ini, menurunkan sifat asli itu pada keturunannya. Termasuk sifat jeleknya.”

6. WonderWall

Nanno menjadi partner manager tim sepak bola di sekolah kali ini. Ia berusaha berteman dengan Bam. Namun, karena rasa iri Bam membenci Nanno. 

Karena kesal, Bam lalu menulis hal iseng di dalam dinding toilet sekolahnya. 

Dasar Nanno Wajah Bau

Ternyata segala hal yang ia tulis di dinding toilet tersebut menjadi kenyataan. Anehnya, tulisan impian yang indah tak pernah terwujud. Hanya tulisan kebencian saja yang akan terwujud. Ia menjadi ketagihan untuk mengutuk orang yang ia benci. 

“Ketika manusia lemah diberikan sebuah kekuatan.. Ternyata ia sama menyebalkannya dengan manusia lainnya. Kebencian memang luar biasa.”

7. The Rank

Episode yg sangat related dengan kehidupan. Bahwa kita kadang terobsesi pada sebuah persaingan. Keinginan untuk menang. 

Kali ini Nanno menjadi murid baru di sekolah khusus perempuan yang menilai muridnya dari kecantikannya. Bahkan setiap hari ada aplikasi khusus yang bisa mengurutkan kadar kecantikan siswinya. Siswi yang masuk dalam 10 besar tercantik akan mendapatkan pelayanan khusus. 

Nanno memanfaatkan obsesi dari putri kesepuluh untuk menjadi putri nomor 1. Mencoba menerka-nerka hati putri yang terlihat baik hati namun penuh kepalsuan, lantas berbisik

“Ada dua cara untuk bisa menjadi nomor 1 didunia ini. Pertama, berusaha menjadi yang terbaik. Kedua, jatuhkan orang lain.”

8. Best Friends Forever

Nanno tidak hanya bisa menjadi murid baru di masa sekarang. Namun juga di setiap masa. 

Saat reuni sekolah diadakan, Nanno hadir masih dalam seragam sekolahnya. Menyiapkan hidangan untuk para teman reuni. Siapa sangka Nanno juga merupakan teman satu angkatan mereka? 

Nanno adalah Teman yang mereka bully habis-habisan. 

Nanno menjadi objek kebencian bagi semua teman di kelasnya hingga dipukul dan dikeroyok. Yah, setidaknya dalam kasus penutupnya ini. Nanno tau satu hal bahwa.. 

“Untuk menjadi best friends forever, kadang sekelompok orang membutuhkan satu hal yang sama. Sekalipun persamaan itu adalah kesenangan dalam membenci hingga membully seseorang. Membenci seseorang bersama-sama itu menyenangkan bukan?”

Lantas, Benarkah Musuh Kita Selama Ini adalah Setan? 

“Manusia selalu berdoa agar setan menjauh dari kehidupannya. Agar ia bisa beribadah dengan khusyuk. Agar ia bisa menjadi orang baik. Tetapi ia lupa.. Bahwa sifat jahat itu, berasal dari nafsu. Nafsu adalah hal yang Tuhan ciptakan. Tugas manusia, adalah mengontrol nafsu. Bukan menyalahkan setan atas sifat jahatnya.”

Bahkan dalam suatu cerita, setan pernah ditanya.. “Kenapa kau selalu menggoda manusia?”

Setan menjawab, “Aku tidak menggodanya. Dia yang memilihnya sendiri. Apakah kau punya bukti bahwa aku benar-benar menggodanya? Aku hanya memberikannya pilihan. Memakan buah atau tidak. Taat atau tidak..”

Manusia lahir, membawa genetik sifat ibu dan ayahnya. Mewarisi akar budaya kakek dan neneknya. Terdampar pada suatu lingkungan. Bercampur, berbaur. Itulah yang membuat sifat manusia berubah. Akal dan nafsu, berlomba-lomba memperlihatkan eksistensinya. Tapi pada dasarnya manusia lupa hal itu. Mereka hanya tau bahwa didunia ini mereka harus survive. Mereka harus berlomba. Dan mereka dituntut untuk menang, senang, bahagia. Segala hal itu telah mengikis sebuah perasaan penting. Yang paling penting. Kalian tau apa itu? 

Itu adalah Empati. 

Pembelajaran dalam Film Girl From No Where ke-1: Manusia Harus Punya Empati

Segala karakter manusia yang ‘digoda’ oleh Nanno selalu berusaha ia hadapkan pada pilihan untuk ‘memedulikan manusia yang lain’ tapi obyek manusia yang ia eksplorasi tak pernah memilih hal itu. Padahal, Nanno selalu menggoda untuk memilihnya.

Dunia ini, miskin rasa toleransi dan empati. Padahal, Tuhan sudah merancang rasa sosial dalam diri manusia. Tapi seiring berjalan waktu, rasa itu berubah wujud menjadi kesenjangan. 

Entah sejak kapan manusia senang mengelompokkan diri, lantas hanya peduli pada circle yang itu-itu saja. Tidak jarang menjatuhkan yang lain untuk bertahan. Bahkan, menjatuhkan yang lain hanya untuk kesenangan. 

I tell u.. Kalau tidak paham inti dari film serial ini pastinya kita akan berpikir bahwa film ini toxic. Kayak, ehm apa sih mencari-cari sisi gelap manusia. Tapi, sesungguhnya film ini lebih dari itu. Film ini memberikan gambaran kepada kita bahwa kita harus waspada dengan sekeliling kita. Bukan dengan orang jahat. Apalagi dengan orang yang terlihat jahat. Mungkin bahasa lainnya adalah membongkar kemunafikan sifat asli manusia. 

Pembelajaran dalam Film Girl From No Where ke-2: Manusia Harus Waspada dengan Manusia Lainnya

Jujur, saat SMA dulu aku sangat kebingungan dengan istilah ‘homo homini lupus’ atau dalam terjemahannya yaitu:

“Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”

Dijelaskan guru berbolak balik pun aku masih bingung. Terasa aneh. Bahkan saat ulangan, jujur saja aku sangat text book. Demi tidak memahami dan menjiwai apa artinya. Seperti apa sih contohnya pikirku. Peperangan begitu? Perebutan tahta begitu? 

Ternyata tidak serumit itu. 

“Diantara sesama manusia, ada serigala yang kejam.”

Aku memahami arti serigala itu ketika duduk di bangku kuliah. Aku semakin memahaminya ketika sudah menjadi ibu. Betapa sesungguhnya, siapapun berpotensi menjadi serigala itu. Bahkan, tidak dipungkiri bahwa diri sendiripun bisa saja menjadi serigala tersebut. 

Terjebak dalam momwar, aku pernah sekali melakukan kesalahan. Menerkam perasaan yang lain. Hanya untuk memuaskan dahaga rasa kesalku. Membiarkan rasa iri dan merasa ketidakadilan memimpin atas tindakanku. Padahal, tidak ada Nanno disana. 

Well, pada akhirnya sebagai manusia kita hanya bisa menjaga satu hal. Jagalah hati kita sendiri. 

Jagalah hati, jangan kau kotori

Jagalah hati, lentera hidup ini

Jagalah hati, jangan kau nodai

Jagalah hati, cahaya ilahi

*dari ngereview film serial sampai menyanyi.. Sungguh artikel yang tidak jelas.. Semoga tidak dibaca setengah-setengah lalu misunderstanding.. 😂🤣

Iyakan, manusia itu makhluk yang lucu ~ Nanno. 

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

“Sayang banget ya kalau udah tinggi-tinggi sekolah, eh ujung-ujungnya cuma jadi IRT..”

“Iya… Bukannya apa ya. Dulu kamu kan punya cita-cita jadi bla bla. Sayanglah. Kan kamu pinter..”

“Kalau punya mimpi kejarlah mimpi itu. Jangan jadikan anak sebagai alasan. Itu terlalu klise..”

Perkataan-perkataan itu, sering sekali kadang mengelilingi kehidupanku. Lalu aku bertanya pada makhluk-makhluk yang mengeluarkan statement tersebut didalam hati. 

“Memangnya.. Kalian sendiri sudah menggapai mimpi kalian yang dulu?”

Dear Diriku: Masihkah ada Mimpi yang dulu? 

Jika ditanya sebuah mimpi atau itu cita-cita atau itu rancangan masa depan maka bisa dibilang aku adalah makhluk ‘terlabil’ dalam merancang sebuah mimpi. 

Aku pernah bercita-cita menjadi Guru TK yang cantik, menjadi model yang cantik, menjadi sailor moon, menjadi detektif, hingga kemudian aku masuk kedalam lubang materialisme saat remaja. Lalu tujuan hidupku mulai abstrak. 

Saat melihat kakakku sukses kuliah di kedokteran dan dipastikan masa depannya secerah intan berlian, aku si anak biasa-biasa saja cuma punya satu mimpi saat itu. 

“Apapun yang terjadi, aku ingin lebih sukses dibanding kakakku..”

Terjunlah aku kedunia ekonomi di kampus karena berharap menjadi orang kaya dimasa depan. Tapi, bukan jurusan ekonomi akuntansi di universitas ternama, melainkan di D4 Ekonomi syariah lebih tepatnya. Aku terjatuh mental 2 kali untuk masuk di jurusan akuntansi yang kuinginkan. Mungkin keberuntunganku sudah habis, mungkin juga stoknya masih bersisa untuk dua hal..Jodoh dan rejeki. Saat itu, aku percaya pada opsi terakhir. Keberuntunganku hanya tertunda. 

Saat lulus aku bermimpi untuk sekolah lagi. Entahlah kurasa dunia kampus itu menyenangkan sehingga aku berkeinginan untuk bekerja di kampus. Apapun, asal itu di dunia pendidikan. Tapi, jodoh memanggilku dengan cepat. Ia adalah asisten dosen dikampusku sendiri. 

Orang bilang, hidup ini bukan ditentukan tentang bagaimana kita memilih sebuah pilihan. Tapi, tentang bagaimana kita melihat sebuah kesempatan. 

Aku, melihat jodohku bukanlah sebuah pilihan. Melainkan kesempatan. Aku, memilih menjadi ‘bucin’ dibanding mengejar cita-citaku. Dan aku? Menikah. 

Impianku pun labil lagi. Aku sangat puas bisa menikah layaknya putri di negeri dongeng. Pernah berperan layaknya menjadi cinderella, lalu putri salju, lalu aladin. Setidaknya, adegan disetiap dongeng itu pernah aku alami. *tentunya adegan yang biasa saja, namun imajinasiku melebih-lebihkannya. Haha. 

Aku sempat ingat dengan mimpiku dikala remaja. Sempat bersemangat lagi. Tapi kemudian, aku hamil dan harus LDR dengan suami. Tidak adanya support sistem membuat mimpi itu tertunda. Lantas, seiring berjalan waktu.. Coba tebak apakah mimpi itu masih ada? 

Masihkah aku seambisius dulu? Setelah beberapa tahun berlalu? 

I’m a realistic person.

Pernahkah kalian menonton film start up? Apakah kalian bisa paham perasaan Dal Mi? Kenapa dia lebih memilih tidak kuliah dan memakai uang neneknya untuk membuat toko baru untuk neneknya?

 

Karena itulah langkah yang bijak dimatanya. 

Dan itulah aku yang sekarang. Kuliah? Bekerja di bidang pendidikan? Its not me anymore. 

Apa boleh buat, ternyata berkorban itu candu. Termasuk mengorbankan impian. Dan tahukah? Ternyata candu itu tidak jelek. 

Ketika Mimpi Itu Menemukan Cabangnya

“Aku percaya, setiap pilihan seorang Ibu itu baik. Mau bekerja atau hanya menjadi IRT. Semuanya baik. Asalkan.. Ambisi dan Semangatnya selalu terisi. Bukan sekedar terisi karena bahagia. Tetapi terisi karena mimpi itu masih ada.” -Shezahome

Krisis pencarian jati diriku memiliki nasib seperti Do San. Segalanya abstrak. Tapi, ketika bertemu dengan jodohku maka segalanya terasa jelas jalannya. 

“Mimpiku dulu selalu sendirian. Tapi, sejak tangan itu ada. Mimpiku jadi bercabang. Dan aku menjadi bersemangat.”

Delapan tahun aku berumah tangga dari ekonomi yang down hingga bisa membantu ekonomi orang lain. Dari mendukung suami menjadi dosen, hingga mendukung suami mendirikan perusahaannya. Dan yang terpenting, aku menikmati proses itu. Tanpa kusadari, aku pun sedang membangun mimpiku sendiri. 

“Ketika manusia kehilangan impian, maka segala semangat itu hilang. Manusia harus punya mimpi untuk bersemangat hari ini.”-My Hubby. 

Aku percaya, bahwa setiap perempuan memiliki mimpinya masing-masing. Adalah tidak apa-apa jika ia bermimpi karirnya harus sedemikian. Juga tidak apa-apa jika ia merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan. Selama ‘impian rumah tangga’ selalu mendapatkan tangga teratas, kenapa tidak? Selama ibu tidak ambisius menurunkan mimpi gagalnya pada anaknya.. Kenapa tidak? Jangan takut untuk meneruskan mimpi. Dan ya, hidup harus punya mimpi. Bukan sekedar mimpi membahagiakan orang yang disayang. Tapi juga mimpi untuk merawat keinginan diri sendiri dan mengontrol batasannya. 

Mengejar Mimpi, Adakah Batasnya? 

Mengontrol batasannya? Apa maksudnya? 

Sesungguhnya, aku menulis ini terinspirasi dari film Soul. Ada yang pernah nonton? Sungguh, film ini menarik sekali. Apalagi untukmu yang sedang mengejar mimpi. 

“Ketika kecil kita memimpikan sungai, ketika remaja kita memimpikan laut, lantas.. Ketika sudah semakin tua, Laut mana lagi yang kau cari? Itu tidak ada batasnya. Carilah zona aman yang produktif. Yang membuat dirimu senang dan bisa menyenangkan.”

“Kita terlalu lelah mengejar hari esok. Merancang rencana-rencana masa depan. Hidup seakan menerka nerka sebuah kemungkinan, mencegah hal buruk terjadi di masa depan. Tapi kemudian kita lupa, lupa akan hal yang paling penting. Yaitu menikmati masa sekarang.”

Kalau pada teori ekonomi islam ada istilah, “Kebutuhan manusia terbatas, keinginan manusia yang tidak terbatas..”

Maka, mungkin dalam teori psikologis mungkin ada istilah, “Impian manusia sebaik-baiknya adalah yang merasa cukup akan apa yang sudah ia gapai. Melupakan sejenak tentang ambisi di masa depan dengan memberikan yang terbaik saat ini, waktu ini, hari ini.”

Terdengar seakan menyerah, tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Zona aman itu tidak selamanya jelek. Sejauh dalam zona aman, kita selalu bisa membahagiakan orang lain. Kadang, mimpi yang tiada batasnya itulah yang tidak baik. Saat kita tidak bisa menikmati saat ini karena terlalu berpikir untuk masa depan. 

“Ketika manusia terlalu banyak bermimpi, berambisi.. Ia menjadi egois. Ia abaikan kasih sayang dihadapannya. Ia tak kenal ‘rasa cukup’. Ketika manusia kehilangan jiwa sosialnya, lalu kehilangan kasih sayang karena mengejar mimpi maka ia tak lagi menjadi seorang manusia yang hangat. Ia layaknya seekor ikan yang tak kunjung puas dengan perairan di terumbu karang. Terus berjalan mencari laut hingga tersesat di palung hitam.”

Ya, mimpi itu harus memiliki batas. Sudah mengerti bukan tentang batas yang aku maksud? I mean, berhentilah hidup untuk perencanaan demi perencanaan yang tiada habisnya. Hidup harus seimbang. Hiduplah dengan maksimal di hari ini. Maka, di hari-hari berikutnya akan ada mimpi tak terduga. 

Aku, selalu percaya akan hal itu. 

Dan apalah yang kita kejar di dunia ini? 

Bukankah kita lahir untuk belajar, lantas berbagi kasih sayang. Lalu ‘mewariskan kebaikan’. Jika mimpi kita berlebihan dan membunuh semuanya. Cukupkan sampai disini. 

Hiduplah dengan Maksimal Hari ini Kemudian Mimpi Itu akan Datang. 

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Mengejar mimpiku dan meninggalkan hal yang seharusnya aku jalani?” Aku bertanya padanya. 

“Bukan meninggalkan. Tapi mencoba memilih opsi yang lain. Kamu mengagumkan win. Hidupmu tak seharusnya berputar antara dapur, sumur dan kasur saja..” Temanku berkata. 

“Kamu tahu? Seorang wanita ketika menikah dihadapkan pada 2 pilihan dalam membangun mimpi. Tidak ada yang salah. Yang satu membangun mimpinya sendiri. Sedangkan yang lainnya mencoba menguatkan mimpi suaminya, mendukungnya, ikut bersamanya. Meraih dahaga yang berbeda untuk menyegarkan dirinya sendiri. Kamu sungguh sangat beruntung memiliki opsi untuk mimpimu sendiri. Tapi aku? Aku berbeda. Aku tidak bisa sepertimu. Aku adalah seorang partner. Bukan lagi winda yang individualis. Apa boleh buat. Aku sudah berkenalan dengan cinta. Tetaplah hidup dengan mencintai versimu sendiri, aku hidup dengan cinta versiku sendiri. Tidak ada yang salah dalam langkah kita. Keduanya mengagumkan.”

Dan setelah bertahun kemudian. Aku bertemu dengannya lagi. Masih dalam mata yang sama. Kasus yang sama. Tapi, status yang berbeda. 🙂

Dan akhirnya, aku membenarkan kata-kata ini:

“Tidak ada yang namanya pilihan yang salah jika didasari oleh Cinta..” – 

Anne Of the Green Gables

Aku, seorang Ibu biasa. Delapan tahun aku menjalani hari-hari ‘biasa’ layaknya Ibu Rumah Tangga. Awalnya membosankan, lalu aku sempat depresi, kehilangan mimpi. Kehilangan diriku sendiri. 

Tapi, segalanya berubah sejak aku menemukan ‘jalan ninjaku’ sendiri. Menikmati hari-hariku sendiri. Tidak selalu bertumpu pada masa depan. Selalu berkata ‘tidak apa-apa’ ketika target hidupku lepas. Setidaknya, aku selalu memiliki orang yang bisa kupeluk dan aku semangati. Orang itu, telah membawaku menjadi aku yang sekarang. Dan aku tidak pernah menyesal mendukungnya dari awal. 

Ya, aku tidak menyesal. 

Jika saja dulu aku bersikeras untuk bisa mengambil beasiswa dan terikat di kampus yang memiliki jarak berbeda dengan suami. Maka besar kemungkinan aku dan dia akan LDR. Meski status ekonomi pasti sangat baik dari awal pernikahan, tetapi aku tidak bisa menjamin pernikahanku akan baik-baik saja. Atau suamiku akan baik-baik saja. Dan entahlah bagaimana dengan anakku. Aku bukanlah seseorang yang multitasking. Jika aku mengejar ambisiku, maka mungkin aku tidak akan berada di titik yang sekarang. Begitupun suamiku, tidak akan sesukses sekarang. 

Aku memilih langkah berbeda. Menjalani hidup dengan maksimal ‘di masa sekarang’. Melupakan tentang masa depan. Menekuni hobi yang abstrak. Memasak, berdandan, menulis, bercerita, belajar, mengikuti komunitas, belajar lagi. Tidak menghasilkan uang tentu. Dipandang biasa saja? Tentu saja. Hal biasa itulah yang mengubah masa depanku. 

Kini, aku bersyukur. Semua mimpiku sudah hilang. Tapi digantikan oleh mimpi yang baru. Tanggung jawab yang baru. 

Aku bersyukur mendedikasikan hidupku untuk keluargaku. Karena keluargaku telah membantuku menemukan jati diriku. Kalian tau? Aku tidak pernah berhasil menemukannya sendirian. Ketika single dulu selama 22 tahun.. Tidak pernah berhasil. 

Jadi, Haruskah seorang Ibu mengejar Mimpinya? 

Jawabannya bukan padaku, tapi pada dirimu sendiri. 

Cara kita tak selalu sama. Tapi satu hal yang sama.. 

“Hiduplah dengan maksimal hari ini”

NB: Please jangan cuma baca judul, headline, dan secuil-cuil kalimat saja lantas ehm.. komentarnya seperti menghakimi penulis seakan ‘menyerah’. Sungguh ini jauh sekali bukan tentang itu..:)

IBX598B146B8E64A