Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

source image: parentsmagazine.com

Tidak terasa umur kandunganku kini sudah 5 bulan saja. Perasaanku mulai girang jika mengingat awal bulan februari nanti akan lahir bayi baru sebagai pengisi kelengkapan kebahagiaan bagiku, suamiku, dan tentunya anak pertamaku Farisha. Kini, Bayi mungil didalam rahimku mulai bergerak, menendang-nendang bahkan sesekali berdenyut-denyut.. Menumbuhkan seribu rasa cinta di hatiku sebagai Ibunya.

“Tak sabar rasanya ingin melihat kehadiranmu didunia..”

Tapi..

Tapi aku mengakui, mimpi buruk itu kadang selalu datang. Mimpi dimana aku menangis di tempat tidur sambil menyusui anakku. Mimpi dimana aku meneriaki Farisha kecil dulu. Mimpi dimana aku menjadi monster, membuat seluruh keluargaku ketakutan. Mimpi dimana aku membuat Farisha menangis, menjadi gagap, dan gemetar.

Mimpi dimana aku benar-benar berada dalam posisi tersudut. Merasa tidak pantas menjadi ibu. Merasa berdosa menikah muda. Merasa berdosa langsung hamil.

Akankah aku menjadi seperti dahulu lagi jika memiliki bayi kecil_lagi?

Sungguh, aku berharap itu tidak lagi terjadi padaku.

Aku Berharap Baby Blues dan PPD Tak Pernah Singgah Pada Diriku Lagi

Memiliki bayi pernah membuatku tidak bahagia.

Saat itu Aku adalah Ibu Muda yang baru berumur 22 tahun. Aku menikah saat kuliah semester akhir dan langsung hamil. Kuakui, dulu aku tidak menginginkan bayi ini begitu dini singgah dikehidupanku. Cita-citaku masih panjang. Aku ingin bekerja, ingin mengoptimalkan passion, ingin membahagiakan orang tua.. Seperti remaja fresh graduate pada umumnya.

Tinggal di rumah Mama dengan status LDR dengan suami, merasakan betapa tidak nyamannya hidup dengan bantuan orang tua padahal dengan status menikah. Ditambah beberapa bulan kemudian membesarkan anak di pondok mertua indah dengan berbagai hal yang berkebalikan dari kehidupan remaja.. Mumbuatku stress, shock, dan ingin kembali memutar waktu. Saat itu, hal yang kuharapkan adalah ‘Menunda Waktu untuk Menjadi Ibu’

Suami yang merasa bahwa tinggal di rumah mertua tidak membuatku bahagia akhirnya memutuskan untuk membeli rumah secara kredit. Kupikir itu bagus. Namun, aku harus berhadapan dengan rintisan ekonomi yang terbilang tidak mudah. Suamiku hanyalah PNS biasa dengan gajih yang terbagi untuk Ibunya dan Saudaranya. Ditambah dengan kreditan rumah? Bisa dibayangkan berapa uang sakuku tiap bulan.

Awalnya aku berusaha sabar. Sebisa mungkin mengatur keuangan rumah tangga dengan pemasukan seadanya. Bahkan seingatku dulu, dalam sebulan aku hanya satu kali membeli pospak. Selebihnya aku memakaikan clodi untuk anakku. Aku juga tak pernah jajan diluar, aku selalu memasak. Aku tak pernah membeli perawatan berlebihan kecuali bedak mars dan pelembab serta 1 batang lipstik untuk 1 tahun. Aku mencoba bertahan. Sampai suatu hari aku mendengar ‘ceramah’ dari salah seorang anggota keluarga. Ceramah yang intinya mengklaim bahwa aku termasuk boros. Ya, hanya karena ia melihat penampilanku ‘mungkin’ terlihat bagus dibanding ’emak sudah punya anak pada umumnya’.

Mungkin sejak itu aku suka meledak-ledak. Mulai suka membentak keluargaku. Mulai suka menangis sendiri. Mulai merasa bukan Ibu yang sempurna. Ditambah menu masakanku selalu kalah dibanding masakan cicipan klasik di lidah suamiku dulu. Aku tak tahan dengan ‘nyinyiran’. Ditambah sikapku yang tak bisa membela diri dan selalu diam. Ditambah sosial mediaku yang selalu diadukan.. Membuatku tak bisa membuka diri dan mengadu dengan benar.

Semuanya meledak-ledak begitu saja.

Baca juga: Mom War dan Perfectionis Sindrom adalah Penyebab Stress pada Ibu

Suamiku kemana?

Ingat, ekonomi kami sedang merintis. Artinya, suamiku sibuk berkerja siang-malam. Ketika datang kerumah ia kelelahan dan tertidur. Tak ada lagi ruang yang benar untukku mengadu. Hanya satu ruang itu. Yaitu memarahi anakku.

Its Okay, Itu Hanya Masa Lalu

Alhamdulillah sekarang kondisi keluarga kami sudah jauh lebih baik. Farisha sudah besar dan pintar. Suamiku telah diangkat menjadi Dosen Tetap, pekerjaan sampingannya tetap berjalan, dan aku telah menyalurkan passion gado-gado yang kumiliki ke dalam blog ini. Segalanya terasa lengkap.

Aku juga telah memperbaiki kesalahan masa laluku kepada Farisha. Sejatinya, aku tau bahwa lubang itu tak akan benar-benar sembuh. Tapi aku telah membuatnya tertawa lagi dan menjadi anak ceria pada umumnya. Ia berkembang jauh lebih baik dibanding harapanku. Ia memiliki bakat spesial dan ocehan yang sangat lucu.

Baca juga: Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si Kecil dan Caraku memperbaikinya

Masa lalu telah mengajariku segalanya, bahwa untuk mencegah terjadinya Baby Blues dan Post Partum Depression maka sangat diperlukan pemahaman dari keluarga dan lingkungan sekitar. Berikut ini adalah cara-cara agar Ibu tidak stress pasca melahirkan:

1. Ajak Suami untuk Berperan dalam Membantu Kegiatan Rumah Tangga

Suami adalah Raja.

“Layani laki bujur-bujur mun handak parajakian..”

Artinya: Layani suami dengan sebenar-benarnya agar hidup penuh rejeki.

Banyak para emak yang masih tidak mengerti dalam arti pelayanan yang benar dan menguras dirinya terlalu dalam untuk serba bisa dan sempurna dalam rumah tangga. Termasuk mengerjakan segalanya serba sendiri dan meng’haram’kan suami ikut campur. Walau memiliki bayi kecil yang selalu menangis.

Aku bahkan pernah disindir saat memiliki anak pertama dulu, “jangan sampai laki membasuhi anak *ah*ra kena bini harat lawan laki.”

Artinya: Jangan sampai suami ikut membersihkan ‘pup’ anak, nanti jadi istri durhaka.

Ya, aku tinggal dilingkungan dengan omongan ketus seperti itu. Hingga anakku berumur 2 tahun, tak pernah sekalipun aku menyuruh suamiku untuk berperan dalam hal ini. Termasuk saat aku kepasar, tidak ada yg mau menggantikan popok si kecil yang basah dan bau.

Aku terlalu takut untuk terlihat minta tolong.

Hingga suatu hari aku pun tak tahan dan menumpahkan segala kekesalanku. Bagaimana tidak sukanya aku dengan pola pikir ’emak zaman old’ yang kaku. Tentang bagaimana seharusnya suami ikut membantuku, bagaimana seharusnya ia maklum dengan hasil masakanku dan bagaimana seharusnya kami membagi tugas bersama. Cukup satu malam untuk membuatnya mengerti dengan hal itu. Dan aku berpikir, “Andai sejak dulu aku curhat dan terbuka mungkin tidak akan seperti ini..”

Jangan pernah sungkan meminta bantuan kepada suami. Please, bikin anak berdua. Masa yang membesarkan cuma sendiri?

2. Jika memiliki Anak Pertama, Sedini Mungkin Ajari Ia untuk Menyayangi dan Memperhatikan Adiknya untuk menghindari Sibling Rivalry

source image: drgailgross.com

Konon, jika kita memiliki anak kedua maka anak pertama akan senang awalnya namun pada suatu moment ia akan merasakan perasaan iri dan tidak diperhatikan. Pada saat inilah anak pertama akan mulai mencari sensasi pada Ibunya agar diperhatikan kembali. Moment ini bernama Sibling Rivalry.

Sibling Rivalry akan membuat emak stress jika anak pertama tidak bisa diajak bekerja sama dalam ikut menyayangi adiknya. Biasanya pemicu utamanya adalah lingkungan sekitar juga yang membanding-bandingkan anak pertama dan kedua di depan anak pertama sendiri. Contoh:
“Wah, adek kamu putih cakep.. Kok kamu item?”
“Kayaknya adeknya mirip mamanya nih, kalo kamu mirip bapak ya.. Cantik deh adeknya..”
“Nanti kamu gak disayangi lagi deh.. Hahahaha..”

Memang, sekilas kalimat diatas mungkin maksudnya adalah ‘bercanda’. Tapi bagi anak kecil, kalimat itu cukup menyakiti hatinya dan sudah sangat cukup untuk menumbuhkan bunga-bunga rasa iri. Ah, entahlah bagaimana cara mencegah orang-orang untuk bercanda seperti ini. Ini sering terjadi dan yang repot pada akhirnya adalah emaknya sendiri. 😑

Bayangkan bagaimana repotnya kalau anak kedua menangis tapi anak pertama malah ikut menangis meminta perhatian juga? Jujur saja, ini lebih horor dari pada baby blues dengan satu anak. Untuk menghindari fase horror ini pula aku memberi jarak 5 tahun dalam kehamilan kedua. Dengan begitu aku dapat memberi pemahaman kepada anak pertama karena ia sudah sedikit besar dan bisa mengerti.

3. Hindari berteman dengan orang-orang yang ‘suka nyinyir’

Mommy War saat punya anak masih bayi? Bisa saja.

Walau disini masih terikat dengan adat kental bahwa Ibu dan bayi tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, namun adaaa saja emak-emak yang hoby menengok dan nyinyir. Haha. Bener gak?

Contoh:

“Ih, payudaranya kok kecil. Ada gak susunya tuh?”

“Kok anaknya gak diayun? Kamu kerjanya gimana? Masa disamping bayi aja?”

“Loh, gak masak kah?”

“Rumah kok berantakan, cucian aja masih berendam kamu malah tidur..”

Dst.. Dst..

Punya tetangga kepo begini? Gak usah dibukain pintu.. 😂

Punya mertua begini? Tinggal ditempat mertua? Kaburr.. 😂

Yah kok solusinya gitu amat?

Ya bagaimana lagi? Perasaan wanita itu sudah terlahir sensitif dari zaman megantropuspaleojavanikus (nama macam apa ini.. 😂) Ditambah baru melahirkan, ditambah kecapean, ditambah kelaparan.. Perasaannya itu sedang dalam mood krisis sensitif.

Pas ditengok orang sih maunya tuh orang muji-muji si bayi kek.. Malah nyinyirin emaknya.. Noh.. Kelaut aja sono kalo mau nyinyir.. 😂

Sumvah, blog macam apa ini.. Haha

4. Penuhi ‘Hak Me Time’ milik Ibu

Semua Ibu berhak bahagiaa..
Semua Ibu berhak punya pilihan. Termasuk itu menggeluti passion yang disenanginya. Betul?

Tidak sedikit para Ibu yang terkuras passionnya karena kegiatan rumah tangga, merelakan cita-citanya begitu saja demi lengkapnya kebutuhan jasmani dan rohani anggota keluarga. Hal ini sudah seharusnya? Begitulah pekerjaan wanita? Iyes, itu emak zaman old.

Emak zaman old enggak punya passion warna warni seperti emak zaman now yang terawat dengan status pendidikan tinggi. Emak zaman now akan sangat merasa berdosa jika ilmu yang telah ia miliki tidak tersalur dengan baik. Ilmu tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya dan penyaluran passion dari ilmu tersebut adalah hal yang sangat penting.

Jadi, biarpun kita sebagai ibu sudah memiliki anak bayi dan mengorbankan 90% hidupnya untuk itu.. Paling tidak, sisakan 10% hidup untuk diri kita sendiri. Sisakan kebebasan untuk memilih dan berekspresi. Itulah sederhananya makna me time produktif ala Emak Zaman Now.

Baca juga: “The Power Of Emak-emak zaman now itu BEDA”

5. Isi Sebagian Me Time dengan Menguatkan Spiritual Ibu

Jangan pernah lupa untuk menguatkan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sempatkan berdoa dan bersujud sedikit saja. Karena sudah fitrah manusia untuk menyerahkan diri dan bersujud kepada-Nya dalam bersyukur dan meminta pertolongan.

Berwudhu, beribadah dan melantunkan ayat suci adalah cara manjur untuk mengisi kesejukan dalam hati kita. Isilah sebagian me time yang kita miliki dengan hubungan kepada Sang Pencipta. Karena itu adalah kebutuhan rohani kita yang tidak bisa ditinggalkan.

6. Hindari Menjadi Ibu yang Serba Sempurna

source: the average mommy

Menjadi sempurna memang suatu kebanggaan. Rumah bersih dan rapi, makanan selalu homemade, anak tidak rewel, baju sistem setrika semua, rajin membuat bahan DIY untuk kecantikan. Tapi, saat kita memutuskan untuk menjadi serba sempurna.. Tanyakan kembali pada diri kita, sudah benarkah hal yang kita lakukan?

Ya, sudah menjadi sifat alami seorang Ibu dan Istri, jika ia sudah mencintai maka ia terbiasa untuk kebablasan melayani dan mengabaikan kewarasannya sendiri. Ditambah dengan lingkungan yang menuntut segalanya serba sempurna maka stress pada Ibu sangat rentan terjadi. Solusinya, lepas salah satu standar kesempurnaan dan lakukan ‘me time’ dengan waktu luang yang jarang ada tersebut.

Bagiku, melepas standar kesempurnaan ini sangat manjur untuk meredakan stress. Dulu, aku penganut homemade garis keras. Disamping karena faktor ekonomi, hal ini juga faktor kebiasaan dari lidah suami. Apalagi, jika berkunjung ke tempay mertua aku selalu ditanya, “Makan apa hari ini?” atau “Masak apa di rumah?”

Rasanya itu… Eeeeng…

Baca juga : Tentang Pengalaman Jatuh Bangun Belajar Memasak

Tapi sekarang? Aku masih homemade memang. Tapi aku sudah termasuk cuek saat ditanya hal-hal seperti itu. Kalau sedang malas atau tidak sempat masak karena jadwal yang tiba-tiba padat, jawab saja sejujurnya. Haha.

Karena memberi standar kesempurnaan pada setiap pekerjaan Ibu itu menyakitkan.

7. Jangan Biarkan Perut dalam Keadaan Kosong saat Menyusui

Siapa yang gampang marah saat dalam keadaan lapar?

Kurasa semua juga gampang marah ya, kecuali sedang berpuasa.. Hihi.. Tapi, jangan pernah biarkan Ibu Menyusui dalam keadaan kelaparan dan harus mengerjakan setumpuk pekerjaan tanpa adanya pasokan makanan yang ‘ready’ di rumah. Apalagi, saat sedang kelaparan begitu anggota keluarga malah meminta request makanan homemade yang susah di buat. Yaaa.. Something like.. Ikan Panggang yang dipanggang memakai kayu bakar maupun ayam geprek krispi dalam durasi setengah jam.

Rasanya itu…. Eeeeeggggh…!!!

Mengertilah Ibu Menyusui itu sangat kelaparan, ia tidak berpikir lagi untuk menyempatkan diri memasak dalam waktu yang lama. Ia bahkan senang jika mie instan saja sudah dapat hadir walau tanpa telur di kamarnya. Ya, tidak perlu yang mahal-mahal. Hanya meminta perhatian, Yes?

Syukur-syukur kalau dibawakan pizza sepulang kerja…

Rasanya itu.. Meleleh… Klepek klepek dan langsung jatuh cinta lagi..

Hahaha

8. Jangan Menutup Diri dari Komunitas

Setiap Ibu butuh ruang sosial untuk dapat tetap eksis dan merasa ‘tidak menghilang’. Karena itu, adanya komunitas sangat diperlukan buat Ibu.

Tidak perlu komunitas ngumpul-ngumpuk secara nyata. Zaman now, apalagi buat Ibu-ibu yang tinggal di komplek perkotaan sangat sulit untuk menemukan teman nyata yang ‘sreg’, betul? Ya, zaman sekarang menjadi salah satu member di Grup WA saja sudah menyenangkan loh. Apalagi jika member dari grup tersebut menyenangkan dan saling mendukung. Komunitas seperti ini sangat diperlukan untuk mengisi ruang sosial.

Kadang, saking sibuknya Ibu. Ia sampai lupa dengan kebutuhan sosialnya. Tau-tau rasanya menghilang saja. Aku pernah merasakan hal ini, rasanya sangat sulit untuk dapat bergabung kembali. Maka, sebisa mungkin sesekali bertegur sapalah walau sebatas like dan say ‘Hi’.

9. Mengeluhlah Jika itu Membuat Ibu Merasa Lega

Well, point ini masih menjadi pro dan kontra.

Konon, katanya seorang Ibu harus dapat menjaga aib keluarga. Tidak boleh mengeluh dan mengadu. Apalagi di sosial media.

Terus, kalau si Ibu ini kerjaannya di rumah saja tanpa teman curhat gimana dong? Suaminya gak ada gimana dong? Orang tuanya bukan pendengar yang baik gimana? Mertuanya suka nyinyir gimana? Lari kemana tuh Ibu? Curhat sama kucing? Gak suka kucing gimana dong?

Banyak loh, Ibu-ibu stress yang terancam bunuh diri bahkan membunuh anaknya karena menumpuk-numpuk beban kesedihan tanpa pernah curhat sekalipun.

Baca juga: Kasus-kasus Pembunuhan Anak Oleh Ibunya Sendiri karena Post Partum Depression

Curhat itu perlu. Berekspresi itu perlu. Jika kita tidak dapat menjadi pemberi solusi terbaik, setidaknya.. Jadilah pendengar yang baik. Karena pada titik jenuh dan stress seorang ibu, ia hanya butuh pelampiasan untuk mendengarkan ‘sampah’ yang wajib ia buang.

***

Aku pernah amat sangat menyesal telah membuat anakku menjadi pelampiasan ketidak-warasanku dahulu. Karena itu, semoga cara-cara yang telah kutulis ini mengingatkanku bahwa, “Jadilah seorang Ibu yang bahagia. Karena Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaannya untuk orang-orang yang ia sayangi..”

Tidak Sabar menunggumu, Anakku yang Kedua. Mama tidak menjanjikan apa-apa untuk membuatmu lebih baik nantinya.

Tapi mama berjanji akan menjadi Bahagia karena Kelahiranmu.

Komentari dong sista
30 Shares

38 thoughts on “Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

  1. Luar biasa Mba Winda perjuangannya. Smg selalu bahagia.

    Kalo saya, mertua malah pengertian super. Malah emak sendiri yang sering bikin baper. Mungkin karena beliau juga kurang paham.

    Yg plg pntg adalah kerjasama dan perhatian suami.

  2. Wahhh, pengetahuan banget nihhh ya buat calon ibu-ibu diluar sana dan tentunya aku sendiri juga dong. Terima kasih ya mba winda sudah berbagi.

    Oh iya, bener banget, poin ke 6 itu. Terkadang kalau kita ingin terlalu sempurna itu malah bikin menyiksa diri dan jatuhnya malah stress ya. Gak baik juga sih, yaudah lakukan semampu kita aja. Hihihi

  3. Mbak windah hebaatttt salut deh sama perjuangan mbak winda dimulai dari menghadapi tetangga yang rempong, sampai super duper kepo. Memang ya jadi mamak itu gak susah, gak kaya omongan mamak zaman dulu, harus ini itu.

    Tips nya oke buat nisa nanti jadi calon mamak

  4. Aku sempat juga kena baby blues ringan saat nggak berhasil menyusui anakku dulu. Alhamdulillah untuk urusab rumah tangga suami nggak sungkan turun tangan nggak tahu nih gimana nanti kalau anak kedua secara kami sudah tinggal terpisah sama orang tua

  5. Aku juga sempat baby blues. Dan rasanya itu gak karuan banget. Apalagi PPD ya, semoga persalinan yang kedua ini lancar ya Mba Winda… Semoga tulisan ini banyak menyadarkan pembaca. Aamiin. 🙂

  6. Kebayang sih kalau jadi mbak, pasti kesel banget. Kalau dulu saya dan suami selalu bahu membahu mengurus anak, jadi saya berusaha meminimalisir hal-hal yang tidak perlu. Tapi beberapa teman di komunitas ternyata banyak yang mengalami baby blues sampai parah banget. Yang penting sekarang kita memberikan yang terbaik untuk sang buah hati dan keluarga

  7. Aku terharuu bacanya mbaa.. Salut ama mba winda, dri nikah muda yg merasa blm mau hamil, segala cerita dari jaman mrintis hingga sekarang.. Jadi ibu memang tidak mudah, tapi stidaknya mba winda udh belajar menjadi ibu yg baik.. Kadang aku gini jg mba, apalg bru menikah msh btuh pnyesuaian.. Pelajaran nih buat melisa tuk ke depannya agar lbh dewasa lagi dan mnyiapkan mental utk menjadi ibu..

  8. Wah, terimakasih mbak seringnya.
    Semoga kita dijauhkan ya dari hal-hal seperti itu 🙂

    salam,
    simatakodok.blogspot.com

  9. Dukungan suami sangat diperlukan banget oleh iatri yang terkena PPD. Memang sebaiknya disampaikan dan diceritakan permasalahannya agar keduanya bisa melalui masa-masa sulit istri secara bersama-sama.

  10. saya suka banget klo lagi dapat artikel tentang hamil, lahiran n baby blues. Cz lgi sering baca2 info itu, sekrng lagi program hamil soalnya.

    Mksh mbk artikelnya

  11. Aku baru aja kemaren ketemu teman di kelas terapi yang ternyata dia baby blues, mendengar ceritanya aku jadi paham baby blues sampai membuat ada ganjalan di hatinya.

  12. Menjadi ibu tuh adalah perjalanan yang penuh dengan pembelajaran. Ada berbagai ilmu yang selalu bisa kita tambahkan. Bahkan dari orang2 yg mungkin menurut kita tidak baik kepada kita. Dari merekalah kita belajar untuk bersabar.
    Semoga lancar ya mba untuk proses persalinan anak kedua ini.

  13. Mengeluh gpp ya mbak.
    Alhamdulillah asal kanan kiri support. Yg kasian kalau keluarga mengabaikan dan gak support. Thanks udah berbagi, moga banyak ibu2 lain yg baca tulisan ini…

  14. sehat2 ya mba…
    semua tipsnya ini berlaku bahkan untuk semua ibu yaa
    terlebih yg baru saja melahirkan
    intinya saat hamil hak wanita itu berbahagia, bersenang-senang supaya bahagia hingga si kecil hadir dans eterusnya

  15. Betul, untuk ibu yang baru melahirkan, perlu mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Terutama suami. Suami harus siap siaga menemani ibu merawat anak dan berbagi tugas rumah tangga lainnya setelah melahirkan.

  16. Subhanallah. Aku yakin, ada banyak ibu atau calon ibu yang terbantu dg tulisan Mbak Winda ini. Bukan apa2, karena Mbak winda pernah mengalaminya langsung, berproses, hingga dapat melewati hal2 tersebut. Tetap semangat menjadi emak setrong, Mbak.

  17. Aku ngalamin juga PPD, Mbak. Sepanjang usia anakku. Hampir dua tabun belum juga hilang. Bingung cara ngatasinnya. Tadinya gak kepikiran kesana, pas curhat ke teman, ternyata pada bilang bahwa saya terkena PPD.

  18. Alhamdulillah, sejak kecil terbiasa kalau soal home care dan pernik-pernik urusan domestik dibiasakan sebagai tanggung jawab bersama, tdk pilah pilih gender. Mana yangperlu dikerjakan secara bergotong-royong ya dikerjain bersama. Sehingga saudara laki-laki saya tdk ada yg merasa “haram’ masuk ke dapur utk bantu2 memasak dll.

    Pun demikian dengan suami saya, tdk mempermasalahkan jk hrs sparing partner ngerjian urusan domestik. Semoga semakin banyak para suami yg aware utk berbagi pekerjaan domestik dengan istrinya.

  19. Intinya memang menjadi seorang perempuan itu butuh ruang untuk sharing apapun dan dalam hal ini, yang paling benar untuk berbagi adalah suami. Insya Allah kalau sudah sharing dengan suami, semua hal yang terasa berat menjadi ringan. .

  20. hindari orang yang suka nyinyir, iya begitu. itu akan lebih baik. terima kasih sharingnya, Mbak. Saya juga baru menikah dan ya, suka ada drama meskipun kami belum memiliki anak. semoga untuk kelahiran anak yang kedua Mbak sehat, bayinya juga sehat, serta bisa menjalani sebagai ibu yang bahagia. Semangat..

  21. semoga kehamilan dan persalinannya lancar ya, Mbak… anak kedua, Insya Allah sudah lebih siap…

    ceritamu, Mbak.. stress dan belum siap di masa lalu, lupakan dan cukup jadikan pembelajaran. ke depannya Insya Allah akan lebih baik… aamiin

  22. Alhamdulillah masa2 itu udah berlalu ya mbak. Aku dulu sempet jg kyk depresi krn kesusahan menyusui. Bkn krn keluarga tak mendukung, namun lbh krn anakku lahir kecil jd menyusuinya susah. Untung sih suami dan keluarga kasi dukungan. Emang sebaiknya sblm jd ibu bekali dulu diri dgn pengetahuan gizi jg cara merawat anak yaaa… Btw tengkyu dah sharing

  23. aku jd inget kasus adik sahabatku yg alami PPD namun tak mendapt support dr ligkungan sekitar yg akhirnya memutuskan bunuh diri kusedih banget. lingkungan dekatbmemang terkadang yg bisa membunuh secara perlahan dan berhenti komen spt tidak punya iman saja sampe begini n begitu.

    semoga sehat sll y mb

  24. Alhamdulillah aku belum pernah tinggal di rumah mertua aih. Tinggal ya, kalau berkunjung saat liburan trus nginep beberapa harj di sana sih pastinya selalu dilakukan. Soalnya habis menikah aku dibawa pergi suami ke tempat dia tugas.

    Sebenernya simpel sih triknya, turunkan standar. Udah gitu aja, kewarasan kita lebih penting nilainya.

    Semangat ya, sehat2 terus ibu dan bayi

  25. Baby blues dan PPD itu yang sering aku denger emang terjadi pada ibu muda ya, Mbak? Semoga nanti dilancarkan saat proses melahirkan anak yang kedua ya, Mbak.

  26. Ya Allah mbaaa aku ikut larut saat membacanya.. j know how it feels mba.. pernah ngerasain juga. Tiap kali ngerasa sedih, frustated etc aku skeakublihat wajah bayiku. :”

  27. Aku kalau baca tentang ibu penderita baby bloes atau PPd suka nggak berani Bun. Aku ga tega bun. Tapi kasus ini bener2 kita perlu aware agar para ibu bisa terhindar dari baby blus dan PPD ini. Peran orang terdekatnya sangat penting di sini

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A