Browsed by
Month: August 2020

Meningkatkan Kesejahteraan Petani dengan Program Bango Pangan Lestari

Meningkatkan Kesejahteraan Petani dengan Program Bango Pangan Lestari

“Zaman pandemi corona gini.. Perasaan yang kaya tambah kaya.. Yang miskin tambah miskin..”

“Ah, gak juga.. Yang kaya mah ekonominya juga down. Semua ekonomi terkuras kok pas pandemi gini..”

“Tapi kan seenggaknya yang kaya punya tabungan. Coba pikirin nasib buruh dan petani.. “

“Iya ya.. Banyak buruh yang di PHK. Ada yang banting setir pulang kampung jadi petani juga.. “

“Dan jadi petani itu ternyata gak gampang. Hari gini harga pangan banyak yang dibanting. Belum lagi masalah distribusi karena terhambat pandemi.. “

***

Percakapan itu terjadi dua minggu yang lalu. Percakapan yang aku tulis ulang disini hasil diskusi dengan teman masa kecilku yang berada di desa. 

Yup, aku tumbuh kecil di desa yang cenderung jauh dari kota. Jadi, rata-rata teman masa kecilku memiliki orang tua yang bermata pencaharian sebagai petani. Masih segar rasanya di ingatanku, kala aku masih duduk di sekolah dasar kelas 5 SD.. Aku dan teman-temanku bersama-sama memetik lombok di kebun. 

Dan berakhir dengan tangan yang panas hingga mata yang panas. Lalu aku pulang dimarahi mama karena kulit dan wajah yang merah-merah. Hahaha.. 

Orang tuaku sendiri keduanya bermata pencaharian sebagai guru PNS. Namun, memiliki pekerjaan sampingan berupa ternak ayam pedaging. Sehingga sering bekerja sama dengan para petani untuk pupuk tanaman. Tetapi sekarang pekerjaan sampingan itu sudah tidak dilakukan karena mama dan abah sudah sangat kelelahan. Tidak ada pula support sistem dari tenaga kerja yang sesuai di sekeliling mama. Karena rata-rata tidak memiliki skill untuk beternak. Lebih banyak yang menggantungkan hidupnya dengan bertani. 

Akhirnya, beberapa lahan yang dulunya dipakai orang tuaku untuk beternak ayam berubah menjadi kebun jagung dan beberapa sayuran yang lain. Dengan sewa tanah yang sangat kecil, mama berharap dapat membantu mata pencaharian penduduk sekitar. Akan tetapi, apakah berhasil? Ternyata tidak. 

Nasib Petani di Masa Pandemi

Harga sayur di masa pandemi ini tergolong rendah. Sangat rendah. Bahkan petani sendiri mengaku rugi. Permasalahannya ada pada sistem distribusi. Distribusi di masa pandemi terbilang sedikit mandeg. Apalagi, di desaku sendiri sangat banyak petani yang tidak update dengan perkembangan teknologi. 

Pada akhirnya sayur-sayur mereka diborong murah oleh ‘pedagang aji mumpung’. Karena mereka tidak punya pilihan. Mendengar hal ini ada sedikit rasa gemes. Tapi di satu sisi, aku tidak bisa membantu mereka secara langsung di masa pandemi ini. Hiks. 

Untungnya aku mengikuti webinar bersama dengan Bango untuk Program Bango Pangan Lestari. Pada webinar kali ini aku mendapatkan insight baru terkait dengan kondisi pertanian di indonesia.

Webinar kali ini dipandu oleh MC Nirina dan mengundang 4 nara sumber, diantaranya adalah:

-Dr. Ir. Agung Hendriadi, M.Eng (Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian Republik Indonesia) 

-Hernie Raharja (Director of Foods and Beverages PT unilever Indonesia, Tbk

-Rusli Abdullah (Pengamat Pertanian dan Peneliti INDEF, institute for Development of Economics and Finance) 

-Oshin Hernis (Head of Communication Sayurbox) 

-Aria Alifie Nurfikry (Vice President of Marketing TaniHub)

Rusli Abdullah – pengamat pertanian dan peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan bahwa Permasalahan utama sektor pertanian di masa pandemi terletak pada ketidak seimbangan sistem pertanian dan permintaan pangan. Sistem pertanian di indonesia masih berskala kecil dengan praktik yang konvensional. Selain itu para petani mulai menua dan tidak ada regenerasi. Adopsi teknologi rendah hingga inefisiensi usaha petani dalam perbenihan.

Hal ini berbanding terbalik dengan permintaan pangan yang tinggi. Masyarakat di masa pandemi mulai mengalami pola pergeseran konsumsi. Yup pengeluaran per kapita non karbohidrat meningkat. Bisa dilihat dari tingginya persentasi makanan dan minuman jadi. Ini adalah sebagian besar dari efek pandemi yang kemudian akan mengancam terputusnya rantai logistik dari desa ke kota. Seperti kata temanku kemarin, distribusi petani bermasalah. Sehingga harga-harga sayuran dibanting rendah. 

Daya beli masyarakat pada masa pandemi cenderung menurun (terlihat pada gambar dibawah: inflasi rendah). Akhirnya permintaan bahan pangan jua menurun. Padahal, sektor pertanian sendiri merupakan salah satu champion. Sehingga bagaimanapun juga pertanian indonesia harus maju. Begitupun dengan kesejahteraan petani. 

Bango Pangan Lestari, Lindungi Kesejahteraan Petani

Meski pertanian menjadi champion, kesejahteraan petani tergerus. Inilah faktanya. Nilai Tukar Petani (NTP) turun. Pada Januari 2020, NTP gabungan berada pada level 104,16 (Januari) lalu turun menjadi 100, 09 (Juli 2020). NTP Holtikultura turun dari 105,17 (Januari) menjadi 99,77 (Juli 2020) 

Hernie Raharja selaku Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia, Tbk menuturkan, 

“Banyak negara di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, masih menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi ketahanan pangan. Hingga tahun 2050 Unilever secara global berkomitmen untuk berkontribusi terhadap sistem pangan yang lebih baik melalui dua hal penting, yaitu diversifikasi konsumsi pangan dan diversifikasi produksi pangan.” 

Dalam diversifikasi produksi pangan, Unilever berkomitmen untuk membangun fondasi yang kuat bagi Praktek Pertanian Berkelanjutan, sehingga dapat mempersembahkan makanan yang sehat dari planet yang sehat.

Maka pada webinar kemarin, Bango memperkenalkan program ‘Bango Pangan Lestari’ sebagai payung besar bagi keseluruuan inisiatif bango. Secara garis besar, program ini menggarisbawahi tiga pilar penting, yaitu: 

1. Pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan

2. Perlindungan kesejahteraan petani dan keluarganya

3. Penggalakkan regenerasi petani

Bango Pangan Lestari X Sayurbox dan Tani Hub

Yup, untuk mewujudkan 3 pilar tujuan Bango Pangan Lestari maka diperlukan kerja sama dengan Sayurbox dan Tanihub. Kenapa demikian? 

Ditengah pandemi ini ternyata permintaan bahan makanan di rumah tangga cenderung meningkat. Tren memasak di rumah meningkat 49% dari sebelumnya. Hmm..Aku sendiri mengakui sih kalau selama pandemi ini aku lebih sering memasak di rumah. 

Sebagian masyarakat pun lebih memilih go virtual untuk berbelanja demi menghindari kontak fisik. Penggunaan media virtual/digital dalam berbelanja sendiri sudah menjadi trend di era pandemi ini. 

Untuk mendukung sistem distribusi inilah Bango Pangan Lestari juga bekerja sama dengan sayur box. Nah, buat kalian yang belum install sayur box aku rekomendasiin buat install segera aplikasi ini. Aplikasi ini sangat membantu sekali untuk berbelanja sayur secara online. Sudahlah harganya banyak diskon, bisa bantu petani juga setiap pembelian sayur di sayur box. 

Oshin Hernis yang merupakan Head of Communications Sayurbox mengatakan bahwa mereka senang sekali industri seperti Bango yang merupakan bagian dari unilever ikut memiliki komitmen untuk memperbaiki kesejahteraan petani. Dengan adanya persamaan visi dan misi yang sama dengan Sayurbox, diharapkan kerjasama ini dapat lebih menyebarluaskan pentingnya membeli hasil pangan langsung dari petani, sehingga memberikan dampak yang semakin besar terhadap kesejahteraan mereka. Apalagi dengan makin meluasnya jangkauan pengiriman Sayurbox yang saat ini mencakup area: Jabodetabek, Surabaya dan Bali (Semoga suatu saat banjarmasin juga ya..hehe).

Aria Alifie Nurfikry, Vice President of Marketing TaniHub Group memiliki pendapat yang sama dengan Oshin, ia mengatakan bahwa, “Melalui kolaborasi ini, kami akan memperluas jaringan mitra petani yang melakukan transaksi dengan TaniHub maupun yang dibantu pendanaannya oleh TaniFund, sehingga lebih banyak petani di Indonesia yang terbantu kesejahteraannya”

Bersama Bango, Tanihub Group juga akan menggelar berbagai pelatihan kepada lebih dari 500 petani, mulai dari cara pembuatan pupuk organik cair hingga pelatihan analisis usaha tani untuk meningkatkan kapasitas petani Indonesia dalam menerapkan sistem pertanian yang lebih baik dan berkelanjutan. Perkembangan Tanihub sendiri telah menjangkau area pengiriman: Jabodetabek, Bandung-Sumedang,  Yogya-Solo-Semarang,Surabaya-Malang-Pasuruan dan Bali. 

Harapan kedepannya, kolaborasi bango dan sayur box plus TaniHub ini akan memperluas jaringan mitra petani. Jadi akan ada banyak petani di Indonesia yang terbantu kesejahteraannya.

Jadi, hal kecil apa yang bisa kita lakukan dari sekarang?

Kita bisa banget #DukungPetaniIndonesia dengan membeli hasil pangan langsung dari petani di www.bango.co.id/bangopanganlestari. Yup, Website ini menjadi penghubung bagi masyarakat yang ingin menunjukkan dukungan mereka terhadap jerih payah petani dan berkontribusi nyata untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. 

Semoga dengan begini kesejahteraan petani dan ketahanan pangan bukan lagi sekedar mimpi. 

Mengupas Karakter: Siapakah Tokoh Antagonis pada Film Pendek Tilik?

Mengupas Karakter: Siapakah Tokoh Antagonis pada Film Pendek Tilik?

Dunia sosial mediaku heboh dengan sebuah film pendek 3 harian ini. 

Tahukah kalian film apa yang kumaksud? 

Yup, Tilik. 

Aku sendiri jujur awalnya biasa saja ketika satu dua temanku sharing tentang film ini di facebook. Pikiranku cuma berbisik sebentar saja, bisikan biasa seperti ini.. 

“Paling filmnya ebok ebok pada umumnya.. “

Apalagi ketika aku iseng menonton pada 5 menit pertama. Jempolku langsung auto-closed. Sambil berkata dalam hati, “Tuh kan, film ibu-ibu pada ghibah..”

Hari berikutnya, topik sosial media masih sama. Tilik lagi.. Tilik lagi.. Kali ini lengkap dengan pro dan kontra tentang film ini. Ada yang bilang film ini sama sekali gak bagus karena melecehkan perempuan berjilbab lengkap dengan bahasa yang tidak islami dsb. Tapi juga ada yang bilang kalau film ini memuat hal yang lebih luas.

Akhirnya aku pun melanjutkan menonton film pendek tersebut ketika Humaira sudah tertidur. 

“Toh cuma buang waktu 30 menit doang.. ” Pikirku. 

Ya.. 30 menit yang menyenangkan ternyata. 

Ya Allah.. Film ini membuatku rindu pada dunia sosial. Dan film pendek ini mampu membuatku tersenyum di masa pandemi yang melelahkan ini. Setidaknya senyum hingga 5-6x dalam durasi 30 menit. 

Mengupas Karakter Film Pendek Tilik

Film pendek berjudul Tilik yang ngetrend di sosial media emak-emak itu menurutku bukan sekedar film ngasal. Film ini kreatif dan apa adanya. Tidak dibuat-buat. Yang paling membuatku senang adalah karakter-karakter yang bermain dalam film ini. Semuanya natural adanya tanpa framing berlebihan. 

Padahal loh artisnya satupun mamak enggak kenal. Wkwk.. 

Alur ceritanya pun sederhana. Bercerita tentang segerombolan ibu-ibu yang naik truk untuk menjenguk Ibu Lurah yang sedang sakit. 

Terus, ramenya dimana dong? 

Ya diproses perjalanan kesananya. 

Ada yang ghibah gak berhenti-berhenti, ada adegan truk mogok, mau pipis di tengah sawah, sampai kena razia pak polisi dan adegan mom war. Ya ampun hidup banget sih ceritanya. Mamak life banget gitu. 

E.. Tapi serius. 

Diantara Film tersebut, karakter mana yang paling kalian senangi? Atau nih, kalian mirip siapa kalau di dunia sosial ibu-ibu begitu? 

Bentar, aku angkat tangan. Aku ngaku mirip yang muntah di truk itu ya. Gak jarang aku juga sering banget senasib sama Yu Nah lho.. Hahaha

Oke, mari kita ulas 4 karakter yang ada di film Tilik ini. Karena menurutku karakter-karakter film ini nih yang bikin filmnya hidup. 

Bu Tejo, Tukang Ghibah aka Influencer Deso

Keyword google sedang ramai dengan sosok Bu Tejo. Pun segala sosial media. Mulai dari twitter, fb, hingga meme Bu Tejo di instagram. Ulala.. Film pendek Tilik bikin sosok pemeran Bu Tejo jadi viral sekali. 

Apa sih asiknya karakter Bu Tejo? 

Ya.. Bu Tejo ini yang bikin filmnya jadi punya konflik ringan. Mulai dari ghibahnya tentang Dian, hingga kelakuannya yang aduhai.. Bikin gemes awal-awal nonton.. Sampe mikir Ih kok ada ya orang begini? Eh, kan emang banyak? Hahaha.. 

Kenyataannya ada kok orang begini. Banyak. Cari aja di berbagai kelompok dunia sosialita. Pasti ada deh sosok Ibu-ibu yang suka berbicara luwes dan menjadi perhatian semuanya. Dan lucunya sosok begini selalu punya banyak teman loh. Bahkan tidak jarang punya jiwa influencer yang luar biasa. Influencer? Iya jiwa mempengaruhi. Influencer bukan cuma di sosial media saja kok. Dunia nyata juga. Duh, gak kebayang sih kalo sosok Bu Tejo bakal jadi influencer sosmed beneran. Pasti banyak followernya. Kalah lambe turah mungkin..😆

Diberbagai info yang aku browsing, bahkan dikatakan bahwa sosok Bu Tejo ini tidak benar-benar menghafal naskah loh. Tuh kan, menjiwai banget sih ya. Karena topik pembicaraannya itu terlihat sekali perbincangan naturalnya. Sudah lah dengan mimik muka yang juga pas judesnya. Bikin tokoh Bu Tejo langsung di judge sebagai pemeran antagonis for the first sight. 

Eh, apa iya tapi beliau pemeran antagonisnya? Atau…  hmm.. 

Yu Ning si Positif Thinking namun Terpinggirkan

Ini dia nih, karakter yang selalu mamak manggutin ‘ceramahnya’. 

Jujur aku gak ngerti dengan bahasa jawa sih. Kalau film ini gak ada translatenya mungkin aku cuma ternganga-nganga bingung saja. 

Tapi dari medok-medoknya bahasanya. Terlihat kok kalau yang ini kasar, yang ini halus. Dan sosok Yu Ning ini bagaikan Ustadzah yang selalu remind dan remind.. “Eh, ga bole loh begini.. Nanti begini.. Astaghfirullah.. Bla bla.. “

Saat Bu Tejo sedang asyik berghibah ria dengan Yu Sam dan yang lain. Sosok Yu Ning selalu mengingatkan di belakangnya. Jujur sih, kupikir nanti si Yu Ning ini bakal dibenarkan kata-katanya. Kemudian berujung pada Bu Tejo yang kena akibatnya gara-gara ghibahnya enggak bener atau apa. 

Etapi semakin kesini, sosok karakter Yu Ning makin terbongkar. Biarpun selalu remind tentang kebaikan, ternyata orangnya baperan juga. Dan suka berbalas-balasan judge juga kalo diserang. Duh ya.. Namanya juga manusia.. Lucu juga kalau melihat Bu Tejo dan Yu Ning bertengkar. 

Seakan melihat pro dan kontra marshanda dan rina nose yang tetiba buka hijab. Bukan urusan kita tapi dibuat war sama netizen di kolom komentar.. *mamak-mamak selucu itu kalau berkaitan tentang mempertahankan argumen masing-masing.. 😌😅

Yu Tri si Pendukung Bu Tejo

Tukang ghibah selalu punya pasangan telinga dan mulut untuk diajak mendengar dan berpendapat. Dan disitulah sosok Yu Tri ada. 

Sosok Yu Tri sendiri bukanlah karakter yang penting-penting amat di film ini. Ya.. Pemeran tambahan lah ya. Tapi bagi Bu Tejo sosok Yu Tri sih penting banget. Paling enggak saat dia sedang adu mulut dengan Yu Ning, ada Yu Tri disampingnya yang turut membelanya (lebih tepatnya ngomporin ya?). Sementara Yu Sam disampingnya terlalu labil untuk memihak siapa yang patut dibela.

Dalam dunia influencer, sosok Yu Tri ini sejenis ‘Top Fans’.. 😅

Dalam dunia nyata sosok begini nyata adanya. Orang yang senang mendengar berita dan memperbincangkannya bersama itu nyata. Dan percayalah sosok begini pun berperan besar dalam komunitas emak-emak. Wkwk

Mbak Dian Si Kembang Desa

Feeling emak-emak yang sering nonton sinetron ikan terbang pasti pada setuju kalau sosok Dian ini pasti sejenis pemeran bawang putih. Di injek-injek, digunjing-gunjing.. Padahal dia baik. Begitu? 

Itu sih feeling aku waktu mendengar sosok Dian dighibahin. Pasti deh yang dighibahin ini orangnya baik sebenarnya. Orang-orang mah bisanya cuma gosip ria saja, kataku. Eh, mana sih sosok Dian nya kok gak muncul-muncul? 

Hingga menit ke 20, sosok Dian yang di ghibahkan belum juga muncul. Padahal, mamak-mamak sepertiku mulai menebak nebak endingnya yang bakal bikin Bu Tejo malu. 

Hingga akhirnya, di menit-menit terakhir.. Sosok Dian akhirnya muncul bersama Fikri. Anak Bu lurah yang katanya sedang berpacaran dengan Dian. 

Dan endingnya… aku langsung ber hmmm… 

“Oh begini toh sosok Dian.. ” Pikirku. 

Jadi, Siapa Pemeran Antagonis dalam Film Tilik? 

Hmm.. Siapa ya? Menurut kalian siapa? 

Apakah Bu Tejo bisa dikategorikan sebagai pemeran antagonis karena mulutnya yang lambe turah? Apakah ghibahnya merupakan sejenis informasi positif atau negatif? 

Apakah Yu Ning bisa dikategorikan sebagai pemeran antagonis ketika sifat aslinya keluar saat bertengkar dengan Bu Tejo? 

Apakah sosok Dian yang hanya muncul di menit-menit terakhir juga bisa dikategorikan antagonis? Padahal kalau kita jeli menyimak percakapan Yu Ning dan Bu Tejo, ada sisi lain dari Dian yang perlu kita pertimbangkan. 

Menurutku sendiri, hampir tidak ada pemeran antagonis di film ini. Dan inilah yang membuat film pendek ini masuk dalam kategori sukses dan berhasil. 

Salut. Semua karakternya manusiawi. Jarang loh film indonesia ada yang begini. Atau mungkin cuma aku yang kurang tau?

Jujur salah satu alasanku suka dengan drama korea adalah karena karakter tokoh dalam drama korea itu tidak ada yang ‘jahat banget’. I mean, Jahat secara lahiriah. Di sela-sela film pasti dijelaskan kenapa karakter ini menjadi jahat. Dan itu membuat aku sebagai penonton selalu punya insight berbeda terhadap pemeran antagonis. Drama korea membuatku sadar akan warna warni karakter dalam kehidupan itu tidak sesederhana hitam dan putih. 

Dan inilah yang aku lihat pada karakter di film pendek Tilik. Enggak ada kok karakter yang jahat banget dan baik banget.

Coba lihat sosok Bu Tejo. Sungguh di dalam kehidupanku.. Aku memiliki 3-4 orang dengan sifat serupa. Tapi aku tidak pernah kesal dengan gaya ghibahnya. Dibalik itu semua, telingaku selalu melebar setiap kali tukang ghibah berbicara. Aku selalu mengumpulkan informasi dari tukang ghibah (sambil berpura-pura main hape di pojokan). Dan percayalah informasi itu sungguh berguna. Paling tidak aku bisa berhati-hati dalam memutuskan sesuatu. Informasi-informasi demikian bahkan tidak jarang aku jadikan topik dalam menulis blog. I mean, untuk ide ceritanya. Bukan tentang topik ghibahannya yang belum di crosscheck. 

Coba bayangkan, Bagaimana dunia sosialita bisa hidup tanpa adanya orang-orang seperti Bu Tejo? Bukankah terasa hampa? Orang seperti Bu Tejo memang kadang terasa menyebalkan. Tapi percayalah, penebar ghibah begini patut dijadikan pertimbangan dalam mencari sumber informasi..

Yah.. Seperti lyric lagu taylor swift yang berjudul new romantics.. 

“The rumors

Are terrible and cruel

But, honey most of them are true”

Taylor Swift

Aku sendiri tidak mau dekat dengan orang yang berkarakter seperti Bu Tejo. Karena aku sedikit baper. Haha.. Tapi kalau dilihat lagi, ternyata masih banyak sisi menyenangkannya. Terutama soal solutip.. Dari solutip minta empati dengan pak polisi dan solutip mengalihkan rasa kecewa dengan jalan-jalan ke pasar… 😀

Dan untuk sosok Yu Ning? Sadarkah kita bahwa tidak semua orang yang berpikiran positif itu bagus? Kadangkala, kita harus berpikir sedikit realistis dan menengah antara pikiran positif dan negatif tanpa memandang kepentingan yang lain.

Sosok Yu Ning sendiri selalu membela Dian karena ia masih merupakan keluarga jauh dari Dian. Yu Ning ini seperti tokoh yang menggunakan bahasa positif untuk melindungi keluarganya. Hatinya juga sedikit sensitif dan suka baper. Dan kurasa, dia juga tidak pantas dikategorikan pemeran antagonis karena topeng positif yang ia gunakan. Perannya manusiawi banget kok. 

Nah, bagaimana dengan sosok Dian. Yang emm.. Ternyata pada endingnya Dian adalah ‘wanita kedua’ Ayahnya Fikri atau Pak Lurah, bukan pacarnya Fikri. Besar kemungkinan Dian lah yang menyebabkan Bu Lurah sakit. Bisakah kita men-capnya sebagai pemeran Antagonis? 

“Iya dong win.. Gak ada asap kalau gak ada api.. Pantesan aja pada digosipin ibu-ibu.. Ternyata kelakuannya Dian tuh bla bla.. “

Coba deh tonton ulang filmnya. Ada loh pembicaraan yang menceritakan bahwa Dian ini ditinggal Ayahnya sejak kecil. I mean.. Seee? Dian ini kehilangan sosok ayah di masa kecilnya. 

Sudah dapet sisi manusiawinya? Belum? 

Ehm, jadi begini. Pernah gak kalian nemu kasus ada beberapa orang cewek yang suka banget pacaran sama ‘bapak-bapak’. Selalu jatuh cinta dengan yang umurnya 10, 15, 20 hingga 30 tahun lebih tua darinya? Kenapa sih ada orang begitu? 

Besar kemungkinan karena ia bukan mencari pasangan. Akan tetapi mencari sosok ayah yang hilang pada masa kecilnya. 

Aku punya banyak cerita kehidupan yang demikian. Dan itu nyata. Orang yang suka menjadi pelakor karena beneran butuh sosok ayah itu nyata adanya. Dan ya.. Walaupun itu jahat. Tapi sisi kehidupan Dian yang kehilangan Ayah sejak kecil membuatku berpikir ulang.. Pantaskah dia disebut pemeran antagonis? 

Ah, siapapun pemeran antagonisnya.. Menurutku.. Film singkat ini layak diacungi jempol. 

Karena saat penonton tidak bisa menebak siapa pemeran antagonis dan dapat merasakan karakter warna warni dalam film.. Disitulah sebuah film dikatakan sukses. Bagaimana menurut kalian? 

Untold Story Tale yang Sangat Bermakna di Film Its Okay To Not Be Okay

Untold Story Tale yang Sangat Bermakna di Film Its Okay To Not Be Okay

Siapa yang belum bisa move on sehabis menonton film ‘Its Okay To Not Be Okay’ yang diperankan oleh Seo Ye Ji dan Kim Soo-Hyun? Mungkin aku bisa dikatakan salah satunya. 

Bukan, bukan karena kegantengan Kim Soo-Hyun dan penampilan Seo Ye Ji yang sangat elegan di film tersebut. Melainkan karena film ini mengangkat tema psikologis sebagai brandingnya. Well, dari judulnya saja sudah kelihatan sekali bukan?

Nah, Uniknya setiap episode film ini diberi judul dengan nama-nama dongeng. Sebagian besar diberi judul dengan dongeng yang universal. Namun ada juga dongeng lokal dari korea selain itu juga ada cerita anak-anak yang ditulis oleh Ko Moon Young. Setiap episode sungguh diulas dengan sangat bermakna dan unik. Film ini diperankan oleh 3 tokoh utama yang sedang mencari jati dirinya masing-masing dengan background masa lalu masing-masing yang kelam.

Oh well, apa perlu aku menuliskan secara lengkap tentang tokoh dan sedikit alur ceritanya?

Kurasa tidak perlu, karena teman ngeblogku Mba Antung Apriana sudah menjelaskan tentang itu dalam tulisannya tentang review drama Its okay to not be okay

Apa aku perlu menjelaskan tentang dongeng-dongeng Ko Moon Young yang penuh makna? Hmm.. Kurasa juga tidak. Karena Mba Lendy Agashi juga sudah membahas tentang makna dan cerita dongeng-dongeng Ko Moon Young dengan sangat apik di blognya. 

Dongeng dan Pesan Moral didalamnya versi Drama Its Okay To Not Be Okay

Apa itu dongeng?

“Dongeng adalah Fantasi kejam yang menggambarkan kebrutalan dan kekerasan dunia ini dalam bentuk paradoks.”

Ko Moon Young

Yup, Blogpost kali ini khusus aku tulis untuk menceritakan sudut pandang aka ‘fantasi kejam’ lain tentang dongeng-dongeng yang pernah kita dengar. Dan sudut pandang penulis Ko Moon Young dalam drama Its Okay To Not Be Okay ini sedikit membuka pemahamanku tentang cerita dongeng yang pernah aku dengar serta pesan moral didalamnya. Dongeng apa saja itu? Yuk, kita bahas bersama.

The Ugly Duck

Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor bebek. Bebek ini sangat berbeda diantara saudaranya. Tubuhnya besar dan kulitnya berwarna putih keabuan. Paruhnya juga sedikit berbeda.

Karena itu Ibu bebek dan saudara-saudaranya sering tidak menghiraukan bebek tersebut. Mereka meninggalkannya ketika berenang bersama. Pun ketika makan bersama. Mereka menjuluki bebek itu ‘Bebek yang Jelek’.

Waktu berlalu. Anak bebek sering melihat perubahannya di bayangan air. Ia merasa bahwa ia bukanlah seperti saudara-saudaranya. Akhirnya, anak bebek memutuskan untuk pergi menjauhi Ibu dan saudaranya. 

Dua musim berlalu. Anak Bebek bertemu dengan gerombolan kawanan Angsa. Salah satu dari Angsa mendekatinya dan berkata, “Kamu cantik sekali..”

Bebek itupun sadar bahwa selama ini dia bukanlah seekor bebek. Melainkan seekor Angsa. Ibunya telah kehilangannya sejak ia masih berwujud telur. Kini, setelah menyadari siapa sebenarnya dirinya.. Ia pun bisa hidup bahagia bersama kawanan angsa lainnya. 

Tamat

Sejak kecil, aku dihadapkan pada moral story yang sangat bijak dalam memandang dongeng ini. Bahwa kita harus mencari sebuah komunitas yang bisa menerima kita dengan baik. Bukan hanya itu, cerita ini adalah cerita terbaik untuk memberikan semangat pada diri kita yang mungkin sedang mengalami fase down karena tidak adanya penerimaan dari lingkungan. Cerita ini juga yang mengajarkan padaku pentingnya merasa percaya diri dalam wujud yang berbeda. 

Tapi dalam sudut pandang Ko Moon Young, cerita ini memiliki pesan moral yang berbeda. 

Ko Moon Young menegaskan bahwa segala drama dalam kehidupan anak Angsa tidak akan terjadi andai saja Ibunya tidak ceroboh dalam memelihara dan menyimpan telurnya. Andai saja Ibu Angsa tidak meninggalkan telurnya di sarang Ibu Bebek mungkin anak itu akan tumbuh besar dan mengenali jati dirinya dengan baik sejak kecil. Anak Angsa tidak perlu mengalami ‘bully’ hingga mengalami perjalanan panjang untuk mencari jati diri. 

Untold story dalam drama ini adalah Kecerobohan Ibu Angsa yang tidak bisa menjaga anaknya sendiri.

Well, sesungguhnya dalam kehidupan kita hal ini sangat sering terjadi. Bagaimana contohnya? 

Betapa sering kita mendidik anak kita dengan bercermin pada kehidupan keluarga lain? Betapa sering kita kadang tidak sengaja membandingkan anak kita dengan anak orang lain sehingga anak kita kehilangan hobi dan passionnya sendiri? 

Kadang, kita juga membuatnya berkawan dengan kelompok yang tidak disenanginya. Untuk apa? Untuk sekedar mendapatkan penerimaan dalam masyarakat. 

Sudut pandang Ko Moon Young dalam mengambil moral story sungguh membuatku belajar bahwa jati diri seorang anak terbentuk dari melihat punggung orang tuanya. Ketika orang tuanya ceroboh dalam mengambil sikap. Maka, anak pun akan kehilangan hal baik yang seharusnya ada padanya sejak kecil.

Raja Bertelinga Keledai

Dahulu kala, hiduplah seorang pangeran yang akan menjadi penerus tahta di kerajaan Silla. Setelah dinobatkan menjadi raja, hal aneh terjadi. Telinga pangeran berubah menjadi telinga keledai. Tidak ada yang mengetahui tentang hal ini termasuk orangtua sang raja.

Raja menutup rapat-rapat rahasianya.

Masalah terjadi saat pesta rakyat akan diadakan. Raja membutuhkan mahkota baru. Maka ia pun mengundang pembuat mahkota untuk mengukur kepalanya. Dan betapa terkejutnya pembuat mahkota ketika melihat kepala sang raja. Lihatlah Raja Bertelinga Keledai. 

Raja yang malu akan kondisinya mengancam pembuat mahkota untuk tidak menceritakan kondisi itu pada siapapun. Pembuat mahkota itupun patuh pada titah Raja. 

Pembuat mahkota pun semakin ia menua. Ternyata, rahasia itu semakin membebaninya setiap hari. Maka ia berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Dalam perjalanan, ia menemukan hutan bambu yang sunyi.

Ia pun hanyut dalam keheningan hutan bambu lantas kemudian berteriak “RAJAKU BERTELINGA KELEDAI!!” Dan setelah meneriakkan rahasia itu, ia pun meninggal dengan tenang.

Sepeninggal pembuat mahkota, angin bertiup di sekitar hutan bambu dan membawa kabar tersebut ke desa-desa tempat raja memerintah. Angin tersebut seolah meneriakkan “Rajaku bertelinga keledai!!”

Desa yang awalnya penuh ketenangan, menjadi semakin ribut karenanya. Hingga berita itu akhirnya terdengar oleh raja.

Akhirnya, Raja pun jujur kepada rakyatnya. Bahwa ia memiliki telinga keledai. Ia menyimpan rahasia karena takut dan malu. Rakyat yang mendengar kejujuran Rajanya menjadi bersimpati dan kagum. Mereka pun sepakat untuk menghargai privasi Sang Raja dengan menebang hutan bambu. 

Ajaibnya, setelah hutan bambu di tebang. Telinga Sang Raja kembali normal. Ia pun senang karena itu. Raja dan rakyatnya pun hidup penuh dengan kesejahteraan. 

Tamat….

Jujur aku baru kali ini mendengar dongeng ini. Setelah aku telusuri, dongeng ini berasal dari negeri korea. Oh.. Pantas saja tidak familiar bukan? Ada yang baru membaca ceritanya sama sepertiku? Aku pernah membaca sayup-sayup saja sih di perpustakaan daerah. Dan cerita lengkapnya aku sudah lupa. Cerita diatas kutulis ulang setelah mendapatkannya dari berbagai sumber. 

Moral story dalam cerita ini adalah tentang keterbukaan antara Raja dan Rakyatnya. Bahwa jika antara Raja dan Rakyat tidak memiliki rahasia maka rakyat akan hidup sejahtera. Adapula yang mengambil moral story bahwa kejelekan fisik seorang raja tidak bisa dijadikan patokan dalam menilai baiknya seorang raja. 

Cerita ini sendiri memiliki berbagai versi berbeda dengan ending yang berbeda. Namun, aku fokus untuk membahas pesan moral dari Ko Moon Young untuk cerita ini. Bahwa sesungguhnya, sebuah rahasia itu harus diceritakan. Karena kalau tidak, rahasia itu akan meledak dengan cara yang memalukan.

Didalam dunia ini kita memerlukan tempat untuk berbagi cerita. Entah itu dengan teman, orang tua hingga sahabat atau suami sendiri. 

Ketika kita merasakan hal yang tidak nyaman, maka rahasia itu harus dikeluarkan untuk dipecahkan solusinya bersama-sama. Ungkapkanlah rahasia tersebut pada orang yang paling bisa dipercaya. Karena jika tidak, rahasia itu akan membebani hidup kita. Cepat atau lambat, sebuah rahasia pasti terbongkar. Rahasia yang terlambat menemukan solusinya akan keluar dengan cara yang tidak menyenangkan.

Beauty And The Beast

Ehm, haruskah aku menulis dongeng ini juga? 

Mengingat dongeng ini sudah sangat mendunia hingga ada beberapa versi filmnya di disney maka aku akan skip cerita versi lengkapnya ya. 

Dongeng yang bercerita tentang seorang gadis cantik dan lelaki yang buruk rupa ini memiliki ending bahagia. Lelaki Jelek yang terkena kutukan berubah menjadi pangeran tampan setelah mendapatkan cinta sejati dari seorang wanita. Tapi tahukah untold story versi Ko Moon Young dalam cerita ini? 

Bahwa sesungguhnya, Beauty And The Beast adalah cerita tentang Stockholm Sindrom. Ya, katanya.. Si Cantik mengalami Stockholm Sindrom. 

Apa itu Stockholm Sindrom? 

Stockholm sindrom adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. 

Wikipedia

Well? Bagaimana bisa dongeng Beauty and The Beast dikaitkan dengan stockholm sindrom? 

Besar kemungkinan, ketika Si Cantik ditawan di kastil oleh si Buruk Rupa ia mengalami over empati pada si Buruk Rupa. Padahal, bisa saja si Buruk Rupa ini memperlakukannya dengan tidak baik. Namun, karena Si Cantik terkena stockholm sindrom maka ia jadi membenarkan segala tindakan tercela dari Si Buruk Rupa. Karena over-reframing, si Cantik akhirnya bisa memahami jalan pikiran Si Buruk Rupa. Empatinya menjadi berlebihan sehingga benih cinta itu muncul begitu saja. Dan rasa cinta itulah yang pada akhirnya mengubah sikap si Buruk Rupa.

Mendapati pengandaian bahwa mungkin saja dongeng Beauty and The Beast adalah kasus stockholm sindrom, aku jadi ingat pada dua tokoh di film The World Of Marriage yaitu Hyun Seo dan In Gyu. Aku baru tersadar bahwa mungkin saja Hyun Seo adalah salah seorang wanita yang terkena stockholm sindrom. Ia mencintai pacarnya In Gyu yang suka memukul dan menyiksanya. Bahkan saat In Gyu meninggal, Hyun Seo sangat sedih dan berharap dokter Ji menerima karma. 

Loh, kok jadi nyasar ke baper di film TWOM? Ah sudahlah. Hahaha.. 

Anak Laki-Laki dan Serigala

Dahulu kala..di sebuah desa.. Tinggallah seorang anak laki-laki dan orang tuanya. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Namun setiap hari mereka juga memelihara Domba. Domba-domba itu adalah milik keluarga mereka. 

Suatu hari sang anak laki-laki ditinggal oleh orang tuanya ke kota. Sang anak dititipkan beberapa domba. Mereka menyuruh sang anak agar menjaga dan memberi makan domba-domba tersebut. 

Sang anak menjaga domba itu dengan tekun.

Tapi, hingga hari ke tiga.. Orang tuanya tak kunjung datang. Maka, ia mulai merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Ketika menjaga domba, pikiran anakpun mulai jahil. Ia kemudian berteriak, “Serigalaaa… serigala.. Tolooong!”

Penduduk desa pun datang berlarian. Mereka langsung mencari keberadaan serigala disekitar anak tersebut. Sang anak senang sekali melihat respon para penduduk. Ia pun tersenyum dan berkata, “Haha.. Tidak ada serigala kok!” 

Para penduduk pun kesal. Mereka langsung pulang kerumah. 

Besoknya, Anak lelaki itu mengulangi hal yang sama, ia berteriak dengan lebih nyaring, “Serigala.. Serigala..! Astagaa tolong akuu!”

Penduduk desa awalnya tidak mau datang. Tapi karena teriakan anak itu begitu nyaring dan serius. Akhirnya mereka tiga tega. Mereka pun segera lari kearah suara anak tersebut. 

Dan betapa kesalnya mereka ketika melihat sang anak tertawa terbahak-bahak. 

Besok harinya, anak lelaki tersebut duduk tenang sambil menjaga dombanya yang sedang makan. Betapa terkejutnya ia ketika tiba-tiba melihat serigala datang ke arah domba tersebut. Sang anak pun berteriak panik, “Toloong.. Serigala.. Toloong.. Domba saya dimakan.. Tolong!”

Tapi tidak ada satupun yang datang. 

Penduduk desa sudah tidak percaya lagi dengan teriakan anak tersebut. Dan akhirnya, domba-domba pun habis dimakan serigala. 

Tamat. 

Ini adalah salah satu cerita anak-anak yang cukup familiar di sekitar kita. Namun aku tulis ulang karena mungkin saja ada yang tidak tau. Dongeng ini cukup sering aku ceritakan pada Pica. Bahkan, ada salah satu episode upin dan ipin yang menceritakan tentang dongeng ini. 

Pembelajaran berharga dari dongeng ini yang sering aku ceritakan pada Pica adalah begitu besarnya dampak kebohongan. Satu kebohongan akan membuat orang kesal. Dua kebohongan akan membuat orang menyesal. Tiga kebohongan akan menghilangkan kepercayaan dari semua orang pada kita. Karena itu, aku selalu menekankan pada Pica untuk jangan pernah berbohong. 

Tapi sudut pandang Ko Moon Young dalam memaparkan moral story dari dongeng ini berbeda. 

“Pernahkah kau memikirkan kenapa anak itu berbohong?” Kata Ko Moon Young

“Tidak.. Berbohong tidak baik. Berbohong anak nakal.. ” Kata Gang Tae

“Anak itu berbohong karena kesepian.. Dia kesepian tinggal sendirian di gunung.. “

Waw, mendengar kata dari Ko Moon Young aku lantas langsung memperhatikan lebih jeli tentang alur cerita anak ini. 

Ya, anak ini kesepian. Ia ditinggalkan sendirian oleh orang tuanya untuk menjaga Domba. Ia bosan dan sangat kesepian. Karena itu ia berbohong untuk menarik perhatian. Supaya ada teman yang duduk disampingnya dan mengajaknya bicara. Itulah sebenarnya yang ia butuhkan. Itulah sebabnya kebohongan itu ia ulangi di hari yang berikutnya. 

Sebenarnya, masih ada beberapa dongeng lagi dari episode-episode Its Okay to Not Be Okay ini. Ada dongeng The Father of Two Sisters yang jujur saja aku tidak tahu cerita komplitnya. Dongeng yang lainnya ceritanya juga sudah jelas dan tidak memiliki untold story seperti dongeng diatas. Yaa, jujur hanya dongeng-dongeng diatas saja yang pesan moralnya berasa banget diingatan aku. Mungkin karena saking ‘bapernya’ dengan beberapa kuote dan pesan moralnya. Haha.. 

Kalau kalian bagaimana? Sudah nonton Its Okay to Not Be Okay juga? Sharing denganku dong dongeng dari episode yang mana yang kalian senangi? Dan kuote apa yang paling berkesan? 

Apapun itulah ya.. Yang jelas mari move on ke drakor selanjutnya agar pikiran bisa rileks menghadapi pandemi ini.. #dasarmamakdrakor 😀

Belajar Berempati Dengan Guru di Masa Belajar Online 

Belajar Berempati Dengan Guru di Masa Belajar Online 

“Kok kamu nulis beginian sih di blog? Cerita tentang Sekolah Online ditulis. Udah gitu kritik Guru pula.. “

Kata-kata itu sontak dilontarkan begitu saja ketika suamiku membaca tulisan curhat di blog tentang sekolah online.

Mau baca? Ini dia : “Sekolah Negeri Masa Pandemi, Gini Amat?”

Sertakan juga kritikan kalian ya. Kalau memang aku julid disana jujur saja dan berkomentar.. 🙂 

Lalu, berulang-ulang aku membaca tulisan di blog tersebut. Berpikir keras. Apakah aku ‘mengeluh banget?’ , Apakah aku julid hanya karena menuliskan proses pembelajaran di sekolah negeri masa pandemi? Apakah aku lupa menuliskan ‘sisi baiknya?’ 

Iya, memang sejak awal blog ini berdiri rata-rata tulisannya adalah tentang curhat dan curcol ringan. Dan ciri khas aku memang selalu mengangkat masalah diawal tulisan. Biasa diawali dengan bumbu sedikit mengeluh bla bla.. Yaa.. Aku melakukan itu supaya aku bisa menulis dengan mengalir ringan. Tidak dibuat-buat dan bisa menjadi diriku sendiri. Karena tujuanku membuat blog adalah agar suaraku dapat didengar. 

Tapi, biasanya aku selalu menuliskan hal positif disela-sela dan akhir curhatanku tersebut. 

Dan suamiku hanya melihat sisi negatif dari tulisanku tersebut, yaitu.. Aku kecewa dengan sistem belajar online. Kecewa dengan gurunya. Itu saja.

Well, jujur aku sedikit kecewa sih dengan sudut pandangnya dalam membaca tulisan. Hiks.. 

Karena sungguh disana aku juga menulis sedikit tentang betapa guru tidak punya pilihan dan juga sisi positif belajar online versi sekolah negeri di masa pandemi. Tapi hanya secara singkat. Aku juga sedikit menyarankan tentang inovasi belajar online disana. 

Dan baiqlah. Kali ini aku akan menuliskan empati versi terpanjangnya. Sebagai penyeimbang tulisan sebelumnya

I Feel You Teacher.. 

FYI, orang tuaku adalah seorang Guru. Keduanya adalah Guru. Begitupun Suamiku. 

Secara keseluruhan tentu aku sudah sangat mengerti tentang siklus hidup Guru. Berapa banyak gajihnya, betapa berat pekerjaannya, dan risiko kena ‘omelan’ dari orang tua murid karena mengajar yang tidak becus. Apalagi Mamaku sendiri adalah guru TK, uh.. Sudah sering aku mendengar cerita dari Mama tentang kasus bully anak sekolah yang berlanjut jadi pertengkaran guru dan orang tua. 

Dan situasi pandemi ini sungguh sangat menyulitkan posisi guru. Apalagi guru yang bukan termasuk dalam kalangan generasi milenial. Kebanyakan tidak begitu mengerti dengan smartphone. Sehingga ya ampun, bahkan ada loh guru yang baru saja berkenalan dengan Whatsapp.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Karena generasi boomers lebih senang dengan dunia nyata dibandingkan dunia maya. Tak pernah terpikir situasi belajar akan beralih ke online. 

Di tulisan sebelumnya aku mengungkapkan bahwa pembelajaran hanya berlangsung via WA. Dan pesan di WA pun hanya berbentuk tugas saja. Sontak banyak orang tua murid yang sering bertanya dan mengusulkan perubahan metode pembelajaran. Ada yang meminta untuk dikirimnya materi lebih jelas dengan video. Ada pula yang meminta untuk dibuatkan kelompok belajar dan dapat bergantian masuk sekolah secara social distancing. Tapi sungguh, keduanya sangat sulit dilakukan. 

“Sebenarnya Ibu sangat ingin belajar normal seperti biasanya.. “

Kalimat itu aku putar berulang-ulang. Ya, kalimat dari potongan video perkenalan dengan murid di kenaikan kelas kemarin. Aku pandangi wajah beliau bersama Pica. Aku yakinkan pada Pica bahwa inilah wali kelasnya sekarang. Dan memang itulah hal maksimal yang bisa beliau lakukan. Apalagi saat melihat beliau yang mungkin seusia dengan Mamaku. Mungkin saja beliau merasa kesulitan bahkan untuk membuat video perkenalan. 

But who knows? Mungkin saja bukan beliau adalah Guru terbaik pada zamannya? 

“Tidak ada satupun guru yang senang dengan sistem pembelajaran online yang demikian. Tapi, situasi pandemi ini memaksa Guru untuk berubah. Termasuk merubah cara mengajarnya.”

Ketika Guru Harus Belajar Berinovasi dalam Mengajar di Masa Pandemi

Tapi bagaimanapun juga, dia adalah Guru. Orang yang berkewajiban menyampaikan ilmu kepada murid. Tolonglah bagaimanapun caranya.. Apalagi Aku tidak punya waktu untuk mengajari anak. Aku harus bekerja siang malam lalu… bla bla bla.. “

Inilah salah satu percakapan di grup orang tua murid. Inilah kenyataannya. Bahwa banyak orang tua yang kesulitan di masa pandemi ini. Bahkan ada juga yang terang-terangan berkata jujur bahwa tugas dari Guru dikerjakan olehnya, bukan oleh anaknya. Kenapa? Karena tidak ada waktu untuk mengajari. 

Hal inilah yang membuatku secara singkat menulis di tulisan sebelumnya bahwa:

“Ah, kuharap setidaknya Guru juga mengirim video pembelajaran sesekali. Sebulan sekali juga tidak apa-apa. Memang kelas zoom atau google meet masih tidak bisa diaplikasikan. Tapi tidak ada salahnya bukan Guru mencoba belajar memiliki channel youtube? Supaya murid dan Guru juga memiliki sedikit keterikatan emosi. Dan memiliki video belajar begini mungkin saja bisa dijadikan ladang adsense suatu hari nanti. Wah, emejing banget kalau peluang ini bisa dimanfaatkan oleh guru honorer.”

Sungguh kata-kata itu dikritik. Dan aku sadar sekali bahwa tentu membuat channel youtube bukanlah hal yang gampang. Tapi tentu bisa dipelajari. Apalagi, setahuku di setiap kelas Guru senior selalu memiliki guru pendamping yang rata-rata adalah generasi milenial. Tentu sangat bisa jika guru belajar untuk membuat video dan dikirimkan ke grup WA di kelas. Tidak perlu berpanjang lebar dan hanya untuk menenangkan hati para orang tua murid saja.

Kenyataannya, guru memang dituntut untuk berinovasi di masa pandemi ini. Aku hanya menulis untuk mengungkapkan isi hati para Orang Tua murid. Menulis untuk berkembang, bukan hanya sekedar nyinyir. Bukankah orang tua dan murid adalah partner dimasa pandemi?

Guru, Bekerja samalah dengan Kami.

Jujur, aku sangat berempati dengan keadaan guru. Apalagi di masa pandemi ini. Apalagi jika Guru tersebut juga Perempuan yang mana juga merupakan seorang Ibu dari anak-anak. Tentu tidak mudah membagi peran. Apalagi kan yaa.. Nah diputar lagi deh.. Misalnya anak Guru tersebut juga memiliki keadaan yang sama dengan anakku. Banyak pula. Kan pusing juga. 

Karena itu aku sangat mengapresiasi jika ada guru yang dengan aktif bertanya dan menjawab pertanyaan dari orang tua di WA. Karena sungguh ketika tugas diberikan, banyak para orang tua murid yang bertanya di grup. Bahkan, pernah suatu hari ada murid yang bertanya berkali-kali. Ia mengeluh tidak paham dengan tugasnya, sementara mamanya tidak ada di rumah. 

Aku harap para guru bisa lebih aktif memantau grup WA. Tidak meninggalkannya begitu saja setelah memberi tugas. Karena di masa pandemi ini.. Sangat dibutuhkan kerja sama yang kompak antara orang tua dan guru. 

Aku tau, selain tugas mengajar guru juga diberikan tugas administratif dari sekolah yang berjibun banyaknya. Aku tau. Aku tau sekali. Karena diam-diam aku juga sering memantau status WA dari para Guru.. Hehehehe..

Dan sepertinya di masa pandemi ini tugas administratif malah bertambah banyak. Oleh karena itu, sepertinya ini bisa menjadi perhatian pemerintah. Setidaknya berilah keringanan tugas guru ‘disisi yang ini’. Karena selain bekerja sama dengan pemerintah, guru juga punya peranan yang lebih penting di masa pandemi ini. 

Yaitu bekerja sama dengan orang tua murid. 

Mari menjadi partner terbaik dalam memajukan generasi bangsa.. Duhai Guru..! 

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

“Duh, jam berapa ini? Mesti nyiapin laptop buat anak belajar..”

“Hapalan kamu gimana sayang? Coba mama tes dulu.. “

“Dengerin Bu Gurunya baik-baik ya.. Jangan ribut protes sama mama muluk..

“Ribet ya sekolah online gini. Darting deh lama-lama emaknya..”

Ewww… begitulah respon teman-teman yang memiliki anak sepertiku. Selama masa pandemi ini, semuanya memiliki cerita suka dan duka sendiri dalam menghadapi sekolah online. Ada yang bilang rame aja, ada pula yang bilang udah gak tahan karena berasa pengen marah-marah melulu. Maklum, rata-rata teman-temanku menyekolahkan anaknya di SD swasta dan SD Islam. Jadi memang mereka selalu sekolah online dengan sangat terstruktur. 

“Lantas, anak kamu gimana win? Si Pica enjoy aja gak..?”

Uhuk.. Berasa pengen batuk. 

Si Pica? Kataku sambil melihat anakku yang belajar sepatu roda di halaman rumah. 

Ya begitulah.. 

Anakku kan hanya sekolah di SD Negeri. Dan meski judul artikel ini terlihat ‘begitu amat’. Percayalah tulisan ini bukan dibuat untuk memojokkan sekolah negeri, apalagi Gurunya. Melainkan untuk sedikit evaluasi dan menumbuhkan rasa syukur ditengah pembelajaran online kala pandemi ini.

Pengalaman Anak SDN Sekolah Online di Masa Pandemi 

“Jadi, gimana Pica? Seneng gak belajar sama Mama doang begini?”

“Seneeeeng.. Karena cepet selesai.. “

“Masa?”

“Enggak juga sih. Mama galak. Apalagi pas ngajarin Matematika. Pica kan gak bisa langsung paham sama pengurangan mode begini.. “

“Kalau Bu Guru Pica enggak galak ya?”

“Enggak.. Bu Guru Pica gak pernah marah-marah kayak Mama.. Bu Guru Pica baiiiik banget.. “

“Jadi lebih senang sekolah beneran ya Pica.. “

“Enggak juga sih. Pica cuma kangen sama teman-teman aja..”

Dan obrolan malam itu pun berhenti. Ah, tidak terasa sudah 5 bulan lebih ya Farisha belajar di rumah. Ada perasaan sedih mengingat sosial time Pica terpaksa menjadi sangat menipis karena efek pandemi. Walaupun Pica sering bervideo call dengan teman satu genk di sekolahnya. Namun tetap saja rasanya tidak sama kalau tidak bertatap muka langsung. Pun soal belajar, rasanya tentu beda sekali dengan belajar di kelas bersama Guru dan teman-teman. Tapi, yaa.. Mau bagaimana lagi? 

Tapi serius, aku baru berani menulis pengalaman tentang sekolah online di SD Negeri sekarang. Karena aku baru saja mendapatkan mood untuk menulisnya. Ada pancingan juga sih. Mengingat pertanyaan dari salah seorang temanku yang anaknya sekolah di SD swasta. Dia yang mulai ‘stress’ lalu bertanya tentang apa solusi dariku. Ketika aku bertanya bagaimana metode pembelajaran disana.. Aku langsung cengengesan. Yup, seperti kubilang diatas.. Sekolah online SD swasta dan Negeri? Enggak apple to apple. Hahaha. 

I mean.. Jelas secara struktur dan sistem SD swasta lebih bagus. Jujur saja, SD Negeri Pica sangat tidak ada apa-apanya dibanding SD swasta. 

Yang mana jam 8 pagi siswa sudah harus hadir di kelas zoom. Mengisi absen, menyetor hafalan, mengerjakan tugas tepat waktu dsb. 

Apa yang Pica lakukan jam 8 Pagi? 

Ya ampun, Pica baru selesai makan dan sedang mengaji jam segitu. Dan aku masih sibuk berberes dapur serta mengurus bayi. Pica bahkan tidak memakai baju seragam layaknya sekolah online. Hanya sebuah pesan WA yang masuk setiap jam 8 pagi di grup kumpulan wali kelas 2A. Mau tau pesannya? 

Ya seperti ini.. 

Sudah. Hanya begitu saja. Setiap hari. Begitu saja. 

Tidak ada petunjuk. Tidak ada video tutorial dari Ibu Guru. Tidak ada materi selain dari buku Tematik.

Tapi mau bagaimana lagi? Ya jalani saja. Keputusan memasukkan anak di Sekolah Negeri kan memang keputusan aku dan suami. Tentang risiko dsb harus dijalani dengan lapang. Apalagi tentang sekolah online yang tentu harus mempertimbangkan banyak pihak dalam membuat aturannya. Dan aku sangat yakin, cara mengajar ini sudah dipertimbangkan baik-baik oleh para dewan guru. Jadi mah, kita tidak punya pilihan lain selain banyak-banyak stok sabaaaar. hihi..

Yup, meski SD Pica tergolong SDN unggulan di kotaku.. Akan tetapi keadaan ekonomi dari siswa sangat beragam. Tidak semuanya merupakan golongan ekonomi menengah keatas. Dan, tidak semua orang tua siswa adalah golongan milenial. Kebanyakan masih berpikiran layaknya generasi Boomers. Tidak paham fungsi aplikasi smartphone.. Selain WhatsApp..😅

Lima bulan lebih belajar online di masa pandemi menciptakan kesan tersendiri antara aku dan Pica. Awalnya memang sungguh jenuh. Bahkan pernah menyesal tidak memasukkan anak ke SD swasta layaknya teman-teman. Tapi ketika aku evaluasi lebih jauh.. 

Hey, ternyata selain banyak kurangnya.. Ada sisi lebihnya juga..! 

Kekurangan Belajar Online Di SD Negeri

Oke, aku akan urutkan kekurangan belajar online di SD Negeri terlebih dahulu. Tapi jangan salah. Setelah ini aku juga akan tulis kelebihannya juga. 

1. Mama berperan 100% Menjadi Guru

Bayangkan, setiap hari Guru di sekolah hanya mengirim pesan ‘demikian’ saja. Tentu saja aku harus berperan menjadi Guru hampir 100% untuk menjelaskan materi. Kadang saat begini, aku sangat bersyukur memilih peran menjadi IRT tulen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku mengatur waktu jika aku bekerja. 

Banyak beberapa orang tua murid yang protes. Meminta Guru mengirim tutorial atau setidaknya video mengajar. Ada pula yang meminta Guru untuk datang private ke rumah. Selain itu, ada pula yang menyarankan agar sekolah kembali dibuka dengan murid yang masuk bergantian seminggu 2x. Apakah dikabulkan? Tentunya tidak. 

Karena itu, beberapa Ibu yang bekerja terpaksa memasukkan anaknya dalam kelompok belajar offline. Mungkin ada sekitar 3 atau 5 orang yang demikian. Apakah aku ikut? Tentu tidak. Aku terlalu takut dan lebih memilih mengajar mandiri di rumah. Walau risikonya.. Mamak bakal sedikit Galak. 

Pica: “Sedikit? Begini sih banyak Ma!”

2. Materi yang Tidak Meluas

“Buku pelajarannya Pica apa aja Win?”

“Hmmm.. ” Ucapku bingung sambil memegang buku Tematik tema 1.

‘Ini doang’ 😅😅

Iya.. Sementara SD swasta punya buku bermacam-macam untuk belajar.. Aku dan Pica cuma memegang 1 buku saja setiap belajar. Tak lupa didampingi dengan google dan youtube. Ulala.. Ini doang. Hahaha. 

Dan karena saking sempitnya materi dan tugas, aku dan Pica kadang hanya meluangkan waktu kurang dari 1 jam untuk membaca dan mengerjakan tugas. Selebihnya? Pica menjadi asisten rumah tangga di rumah. Wkwk

3. Tidak Adanya Komunikasi Online antara Anak dan Guru

“Ustazah aku kemarin bilang bla bla.. ” Kata salah seorang teman TK Pica di chat. 

“Kalau ustazah kamu asik gak ngomongnya Pica?”

Dan pica pun diam. Dia bahkan tidak pernah melihat Gurunya mengajar selain video perkenalan diri di awal pembelajaran. Jadi, bagaimana Pica bisa tau sebenarnya Guru kelasnya seperti apa? Dia sungguh tak pernah melihat gurunya berkomunikasi dengan benar. I mean.. Mengajar dengan normal dengan kelas zoom, google meet dsb. 

“Bisa jadi mama lebih ramah dibanding Guru Pica yang baru.. Bisa jadi Mama lebih bagus penjelasannya.. ” Ketusku iseng. 

“Guru Pica yang kelas 1 aja gak galak. Masa yang kelas 2 galak.. “

“Seiring bertambahnya tingkat kelas.. Gurupun bertambah kegalakannya.. ” Jawabku iseng. 

Hmm.. Tapi serius. Dulu Pica sering sekali bercerita tentang tingkah polah guru dan teman-temannya di sekolah. Sekarang? Ah, moment itu hilang. Bahkan, Pica selalu lupa dengan nama Gurunya di kelas 2 ini. Ia selalu menyebut nama Gurunya yang di kelas 1. 

Ah, kuharap setidaknya Guru juga mengirim video pembelajaran sesekali. Sebulan sekali juga tidak apa-apa. Memang kelas zoom atau google meet masih tidak bisa diaplikasikan. Tapi tidak ada salahnya bukan Guru mencoba belajar memiliki channel youtube? Supaya murid dan Guru juga memiliki sedikit keterikatan emosi. Dan memiliki video belajar begini mungkin saja bisa dijadikan ladang adsense suatu hari nanti. Wah, emejing banget kalau peluang ini bisa dimanfaatkan oleh guru honorer. 🙂

Kelebihan Belajar Online di Sekolah Negeri

Eits jangan salah. Walau kadang banyak mengeluh. Tapi sesungguhnya aku juga banyak bersyukur loh dengan sekolah online di masa pandemi sekolah negeri ini. Iya, ada kok sisi kelebihannya. Nih ya aku jabarkan.. 

1. Waktu Belajar Lebih Fleksibel

Sungguh, Pica itu aslinya anaknya pemalas berolah raga. Tapi semenjak Pandemi corona.. Anak itu kulitnya malah tambah gosong. Wkwkwk.. Terbalik ya? 

Karena dia sedang asik-asiknya belajar sepatu roda. Sehabis bangun tidur, dia langsung bermain di halaman rumah. Begitupun di siang hari sehabis belajar. Aku no worry ya. Karena lingkungan aku termasuk kategori sunyi. Sehingga bisa banget social distancing. Aku selalu tekankan ke Pica bahwa hal yang harus dihindari di masa pandemi ini bukannya keluar rumah. Tapi hindarilah setiap orang. Jaga jarak adalah yang utama. Bukan perihal memakai masker saja. Eh, kok jadi kampanye protokol kesehatan disini? Haha

Tapi serius, habis berolah raga.. Pica baru mandi dan makan. Kadang lewat jam 8, kadang juga ngepas jam 8. Dan belum tentu langsung belajar. Kadang menunggu mamaknya selesai nginem dulu. Kadang jam 9 atau jam 10 baru bisa mengajari anak dengan khusyu. Maklum, punya bayi yang kudu di’genjutsuin’ supaya bisa tenang. 

Dan beberapa emak pekerja juga kadang bersyukur dengan menyekolahkan anaknya di SD Negeri saja. Karena saat jam istirahat atau ketika pulang mereka bisa mengajari anak atau ikut membantu tugas anak. 

Yup, tugas anak setiap hari itu No Deadline. Memang ada sih peraturan awal bahwa tugasnya harus dikumpul paling lambat jam 4 sore. Tapi kadang masih bisa didiskusikan lagi. Apalagi untuk Ibu Pekerja. Masih bisa kok ditoleransi. 

2. Tidak Ada Target Hapalan

Entahlah. Kurasa aku harus bersyukur soal ini. 

Saat melihat ibu-ibu lain berusaha sangat keras mengajari anaknya menghapal aku kadang merasa bersyukur karena Pica tidak memiliki target hapalan sedemikian keras. Karena dari dulu aku paling benci dengan hapalan. Apapun jenisnya. Walaupun memang menghafal Qur’an tentu sangat baik. Tapi jujur saja aku tidak ada bakat disini. Bahkan sewaktu Pica TK dulu aku sempat marah-marah hanya karena Pica bolak balik salah mengurutkan lafal Ayat Al-Kafirun. Sungguh aku sepayah ini dalam mengajarkan hafalan. Huft. 

Dan aku melihat, anakku juga tidak memiliki bakat dalam segi menghafal. Sehingga aku memang tidak perlu banyak stress untuk mengangkat hal yang bukan bakatnya bukan? 

3. Anak Bisa Fokus dengan Hobi dan Passionnya

Yup, bicara soal bakat.. Aku lebih mengarahkan Pica untuk mengeluarkan ekspresi dengan menggambar dan mewarnai. Karena itu adalah kesukaannya sejak kecil. Dari TK Farisha sudah memenangkan banyak piala untuk lomba mewarnai. Dan saat SD ini, dia sangat senang menggambar.

Karena waktu belajar untuk sekolah setiap hari tergolong singkat, bahkan kadang memakan waktu kurang dari 1 jam jika tidak ada matematika.. Maka kegiatan Pica lebih banyak teralihkan dengan berkreasi dan menggambar. Bahkan ia juga memiliki akar-akar hobi yang baru. 

Dan yang paling penting. Ia senang dengan hobi barunya. Ini merupakan berkah untukku. Dan ini kadang tidak bisa didapatkan begitu saja di sekolah bukan? 

4. Anak Bisa Belajar Empati dengan Ibunya

Siapa yang semenjak sekolah online ini anaknya jadi suka memasak di dapur? 

Ada juga yang anaknya punya tugas baru? Yaitu membersihkan halaman dan mengepel lantai? 

Atau menjaga adiknya yang sedang rewel saat emaknya memasak di dapur? Atau membantu emaknya melipat pakaian?

Itulah Pica sekarang. Hahaha. 

Semenjak pandemi, dia jadi punya berbagai skill baru. Salah satunya adalah membersihkan halaman rumah, melipat baju dan mengajak adiknya bermain. 

“Kasian ternyata kerjaan Mama di rumah banyaaaak bangeeet.. “

“Dulu Pica kira kerjaan Mama kalau pagi ngapain?”

“Kirain masak sambil nonton drakor plus menyusui bayi aja Ma.. “

“Ternyata?”

“Ternyata Mama bisa masak sambil nyuci, sambil bersih-bersih rumah, sambil gendong Humaira, sambil nyiapin cemilan buat pegawainya abah.. Duh.. Capek ternyata jadi Mama itu.. “

“Jadi..?”

“Jadi Pica harus bantu-bantu Mama. Karena kalau Mama capek Mama bisa meledak. Marah-marah. Terus pas ngajarin Pica bisa meledak-ledak marahnya kayak bom. Apalagi kalau matematika.”

“Yah.. Memang seperti itulah Mamamu aslinya Pica. Makanya seisi rumah harus berempati pada Mama. Sering-seringlah mengajak Mama Piknik kalau pandemi sudah berakhir ya..!” *Speaker mode ON. Berharap suami mendengar dengan baik. 🤣

Yup.. Inilah cerita sekolah di Masa Pandemi. Iya.. Sekolah Negeri emang gini amat. Bahkan aku sempat cekikikan melihat video tik tok dari seorang Guru SD yang dikatakan makan gajih buta. Wah, memang dimasa pandemi ini serba susah ya. Tapi kalau direnungkan lagi.. Duh, banyak sisi positifnya ternyata dibanding negatifnya ya. Jadi ya sudahlah. Syukuri saja. 

Semoga Pandemi ini segera berakhir ya! Bagiku, sekolah normal memang tak tergantikan sampai kapanpun! 

*Tulisan ini dibuat setelah bercurcol ria dengan para wali murid di grup.. Sehingga isinya sedikit mewakilkan perasaan para emak. Tapi, bukan berarti penulis tidak berempati pada Para Guru.. Khususnya Guru Sekolah Negeri.. 🙂

Baca Tulisan yang berikutnya ya..

“Belajar Berempati dengan Guru di Masa Pandemi”

IBX598B146B8E64A