Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

“Duh, jam berapa ini? Mesti nyiapin laptop buat anak belajar..”

“Hapalan kamu gimana sayang? Coba mama tes dulu.. “

“Dengerin Bu Gurunya baik-baik ya.. Jangan ribut protes sama mama muluk..

“Ribet ya sekolah online gini. Darting deh lama-lama emaknya..”

Ewww… begitulah respon teman-teman yang memiliki anak sepertiku. Selama masa pandemi ini, semuanya memiliki cerita suka dan duka sendiri dalam menghadapi sekolah online. Ada yang bilang rame aja, ada pula yang bilang udah gak tahan karena berasa pengen marah-marah melulu. Maklum, rata-rata teman-temanku menyekolahkan anaknya di SD swasta dan SD Islam. Jadi memang mereka selalu sekolah online dengan sangat terstruktur. 

“Lantas, anak kamu gimana win? Si Pica enjoy aja gak..?”

Uhuk.. Berasa pengen batuk. 

Si Pica? Kataku sambil melihat anakku yang belajar sepatu roda di halaman rumah. 

Ya begitulah.. 

Anakku kan hanya sekolah di SD Negeri. Dan meski judul artikel ini terlihat ‘begitu amat’. Percayalah tulisan ini bukan dibuat untuk memojokkan sekolah negeri, apalagi Gurunya. Melainkan untuk sedikit evaluasi dan menumbuhkan rasa syukur ditengah pembelajaran online kala pandemi ini.

Pengalaman Anak SDN Sekolah Online di Masa Pandemi 

“Jadi, gimana Pica? Seneng gak belajar sama Mama doang begini?”

“Seneeeeng.. Karena cepet selesai.. “

“Masa?”

“Enggak juga sih. Mama galak. Apalagi pas ngajarin Matematika. Pica kan gak bisa langsung paham sama pengurangan mode begini.. “

“Kalau Bu Guru Pica enggak galak ya?”

“Enggak.. Bu Guru Pica gak pernah marah-marah kayak Mama.. Bu Guru Pica baiiiik banget.. “

“Jadi lebih senang sekolah beneran ya Pica.. “

“Enggak juga sih. Pica cuma kangen sama teman-teman aja..”

Dan obrolan malam itu pun berhenti. Ah, tidak terasa sudah 5 bulan lebih ya Farisha belajar di rumah. Ada perasaan sedih mengingat sosial time Pica terpaksa menjadi sangat menipis karena efek pandemi. Walaupun Pica sering bervideo call dengan teman satu genk di sekolahnya. Namun tetap saja rasanya tidak sama kalau tidak bertatap muka langsung. Pun soal belajar, rasanya tentu beda sekali dengan belajar di kelas bersama Guru dan teman-teman. Tapi, yaa.. Mau bagaimana lagi? 

Tapi serius, aku baru berani menulis pengalaman tentang sekolah online di SD Negeri sekarang. Karena aku baru saja mendapatkan mood untuk menulisnya. Ada pancingan juga sih. Mengingat pertanyaan dari salah seorang temanku yang anaknya sekolah di SD swasta. Dia yang mulai ‘stress’ lalu bertanya tentang apa solusi dariku. Ketika aku bertanya bagaimana metode pembelajaran disana.. Aku langsung cengengesan. Yup, seperti kubilang diatas.. Sekolah online SD swasta dan Negeri? Enggak apple to apple. Hahaha. 

I mean.. Jelas secara struktur dan sistem SD swasta lebih bagus. Jujur saja, SD Negeri Pica sangat tidak ada apa-apanya dibanding SD swasta. 

Yang mana jam 8 pagi siswa sudah harus hadir di kelas zoom. Mengisi absen, menyetor hafalan, mengerjakan tugas tepat waktu dsb. 

Apa yang Pica lakukan jam 8 Pagi? 

Ya ampun, Pica baru selesai makan dan sedang mengaji jam segitu. Dan aku masih sibuk berberes dapur serta mengurus bayi. Pica bahkan tidak memakai baju seragam layaknya sekolah online. Hanya sebuah pesan WA yang masuk setiap jam 8 pagi di grup kumpulan wali kelas 2A. Mau tau pesannya? 

Ya seperti ini.. 

Sudah. Hanya begitu saja. Setiap hari. Begitu saja. 

Tidak ada petunjuk. Tidak ada video tutorial dari Ibu Guru. Tidak ada materi selain dari buku Tematik.

Tapi mau bagaimana lagi? Ya jalani saja. Keputusan memasukkan anak di Sekolah Negeri kan memang keputusan aku dan suami. Tentang risiko dsb harus dijalani dengan lapang. Apalagi tentang sekolah online yang tentu harus mempertimbangkan banyak pihak dalam membuat aturannya. Dan aku sangat yakin, cara mengajar ini sudah dipertimbangkan baik-baik oleh para dewan guru. Jadi mah, kita tidak punya pilihan lain selain banyak-banyak stok sabaaaar. hihi..

Yup, meski SD Pica tergolong SDN unggulan di kotaku.. Akan tetapi keadaan ekonomi dari siswa sangat beragam. Tidak semuanya merupakan golongan ekonomi menengah keatas. Dan, tidak semua orang tua siswa adalah golongan milenial. Kebanyakan masih berpikiran layaknya generasi Boomers. Tidak paham fungsi aplikasi smartphone.. Selain WhatsApp..😅

Lima bulan lebih belajar online di masa pandemi menciptakan kesan tersendiri antara aku dan Pica. Awalnya memang sungguh jenuh. Bahkan pernah menyesal tidak memasukkan anak ke SD swasta layaknya teman-teman. Tapi ketika aku evaluasi lebih jauh.. 

Hey, ternyata selain banyak kurangnya.. Ada sisi lebihnya juga..! 

Kekurangan Belajar Online Di SD Negeri

Oke, aku akan urutkan kekurangan belajar online di SD Negeri terlebih dahulu. Tapi jangan salah. Setelah ini aku juga akan tulis kelebihannya juga. 

1. Mama berperan 100% Menjadi Guru

Bayangkan, setiap hari Guru di sekolah hanya mengirim pesan ‘demikian’ saja. Tentu saja aku harus berperan menjadi Guru hampir 100% untuk menjelaskan materi. Kadang saat begini, aku sangat bersyukur memilih peran menjadi IRT tulen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku mengatur waktu jika aku bekerja. 

Banyak beberapa orang tua murid yang protes. Meminta Guru mengirim tutorial atau setidaknya video mengajar. Ada pula yang meminta Guru untuk datang private ke rumah. Selain itu, ada pula yang menyarankan agar sekolah kembali dibuka dengan murid yang masuk bergantian seminggu 2x. Apakah dikabulkan? Tentunya tidak. 

Karena itu, beberapa Ibu yang bekerja terpaksa memasukkan anaknya dalam kelompok belajar offline. Mungkin ada sekitar 3 atau 5 orang yang demikian. Apakah aku ikut? Tentu tidak. Aku terlalu takut dan lebih memilih mengajar mandiri di rumah. Walau risikonya.. Mamak bakal sedikit Galak. 

Pica: “Sedikit? Begini sih banyak Ma!”

2. Materi yang Tidak Meluas

“Buku pelajarannya Pica apa aja Win?”

“Hmmm.. ” Ucapku bingung sambil memegang buku Tematik tema 1.

‘Ini doang’ 😅😅

Iya.. Sementara SD swasta punya buku bermacam-macam untuk belajar.. Aku dan Pica cuma memegang 1 buku saja setiap belajar. Tak lupa didampingi dengan google dan youtube. Ulala.. Ini doang. Hahaha. 

Dan karena saking sempitnya materi dan tugas, aku dan Pica kadang hanya meluangkan waktu kurang dari 1 jam untuk membaca dan mengerjakan tugas. Selebihnya? Pica menjadi asisten rumah tangga di rumah. Wkwk

3. Tidak Adanya Komunikasi Online antara Anak dan Guru

“Ustazah aku kemarin bilang bla bla.. ” Kata salah seorang teman TK Pica di chat. 

“Kalau ustazah kamu asik gak ngomongnya Pica?”

Dan pica pun diam. Dia bahkan tidak pernah melihat Gurunya mengajar selain video perkenalan diri di awal pembelajaran. Jadi, bagaimana Pica bisa tau sebenarnya Guru kelasnya seperti apa? Dia sungguh tak pernah melihat gurunya berkomunikasi dengan benar. I mean.. Mengajar dengan normal dengan kelas zoom, google meet dsb. 

“Bisa jadi mama lebih ramah dibanding Guru Pica yang baru.. Bisa jadi Mama lebih bagus penjelasannya.. ” Ketusku iseng. 

“Guru Pica yang kelas 1 aja gak galak. Masa yang kelas 2 galak.. “

“Seiring bertambahnya tingkat kelas.. Gurupun bertambah kegalakannya.. ” Jawabku iseng. 

Hmm.. Tapi serius. Dulu Pica sering sekali bercerita tentang tingkah polah guru dan teman-temannya di sekolah. Sekarang? Ah, moment itu hilang. Bahkan, Pica selalu lupa dengan nama Gurunya di kelas 2 ini. Ia selalu menyebut nama Gurunya yang di kelas 1. 

Ah, kuharap setidaknya Guru juga mengirim video pembelajaran sesekali. Sebulan sekali juga tidak apa-apa. Memang kelas zoom atau google meet masih tidak bisa diaplikasikan. Tapi tidak ada salahnya bukan Guru mencoba belajar memiliki channel youtube? Supaya murid dan Guru juga memiliki sedikit keterikatan emosi. Dan memiliki video belajar begini mungkin saja bisa dijadikan ladang adsense suatu hari nanti. Wah, emejing banget kalau peluang ini bisa dimanfaatkan oleh guru honorer. 🙂

Kelebihan Belajar Online di Sekolah Negeri

Eits jangan salah. Walau kadang banyak mengeluh. Tapi sesungguhnya aku juga banyak bersyukur loh dengan sekolah online di masa pandemi sekolah negeri ini. Iya, ada kok sisi kelebihannya. Nih ya aku jabarkan.. 

1. Waktu Belajar Lebih Fleksibel

Sungguh, Pica itu aslinya anaknya pemalas berolah raga. Tapi semenjak Pandemi corona.. Anak itu kulitnya malah tambah gosong. Wkwkwk.. Terbalik ya? 

Karena dia sedang asik-asiknya belajar sepatu roda. Sehabis bangun tidur, dia langsung bermain di halaman rumah. Begitupun di siang hari sehabis belajar. Aku no worry ya. Karena lingkungan aku termasuk kategori sunyi. Sehingga bisa banget social distancing. Aku selalu tekankan ke Pica bahwa hal yang harus dihindari di masa pandemi ini bukannya keluar rumah. Tapi hindarilah setiap orang. Jaga jarak adalah yang utama. Bukan perihal memakai masker saja. Eh, kok jadi kampanye protokol kesehatan disini? Haha

Tapi serius, habis berolah raga.. Pica baru mandi dan makan. Kadang lewat jam 8, kadang juga ngepas jam 8. Dan belum tentu langsung belajar. Kadang menunggu mamaknya selesai nginem dulu. Kadang jam 9 atau jam 10 baru bisa mengajari anak dengan khusyu. Maklum, punya bayi yang kudu di’genjutsuin’ supaya bisa tenang. 

Dan beberapa emak pekerja juga kadang bersyukur dengan menyekolahkan anaknya di SD Negeri saja. Karena saat jam istirahat atau ketika pulang mereka bisa mengajari anak atau ikut membantu tugas anak. 

Yup, tugas anak setiap hari itu No Deadline. Memang ada sih peraturan awal bahwa tugasnya harus dikumpul paling lambat jam 4 sore. Tapi kadang masih bisa didiskusikan lagi. Apalagi untuk Ibu Pekerja. Masih bisa kok ditoleransi. 

2. Tidak Ada Target Hapalan

Entahlah. Kurasa aku harus bersyukur soal ini. 

Saat melihat ibu-ibu lain berusaha sangat keras mengajari anaknya menghapal aku kadang merasa bersyukur karena Pica tidak memiliki target hapalan sedemikian keras. Karena dari dulu aku paling benci dengan hapalan. Apapun jenisnya. Walaupun memang menghafal Qur’an tentu sangat baik. Tapi jujur saja aku tidak ada bakat disini. Bahkan sewaktu Pica TK dulu aku sempat marah-marah hanya karena Pica bolak balik salah mengurutkan lafal Ayat Al-Kafirun. Sungguh aku sepayah ini dalam mengajarkan hafalan. Huft. 

Dan aku melihat, anakku juga tidak memiliki bakat dalam segi menghafal. Sehingga aku memang tidak perlu banyak stress untuk mengangkat hal yang bukan bakatnya bukan? 

3. Anak Bisa Fokus dengan Hobi dan Passionnya

Yup, bicara soal bakat.. Aku lebih mengarahkan Pica untuk mengeluarkan ekspresi dengan menggambar dan mewarnai. Karena itu adalah kesukaannya sejak kecil. Dari TK Farisha sudah memenangkan banyak piala untuk lomba mewarnai. Dan saat SD ini, dia sangat senang menggambar.

Karena waktu belajar untuk sekolah setiap hari tergolong singkat, bahkan kadang memakan waktu kurang dari 1 jam jika tidak ada matematika.. Maka kegiatan Pica lebih banyak teralihkan dengan berkreasi dan menggambar. Bahkan ia juga memiliki akar-akar hobi yang baru. 

Dan yang paling penting. Ia senang dengan hobi barunya. Ini merupakan berkah untukku. Dan ini kadang tidak bisa didapatkan begitu saja di sekolah bukan? 

4. Anak Bisa Belajar Empati dengan Ibunya

Siapa yang semenjak sekolah online ini anaknya jadi suka memasak di dapur? 

Ada juga yang anaknya punya tugas baru? Yaitu membersihkan halaman dan mengepel lantai? 

Atau menjaga adiknya yang sedang rewel saat emaknya memasak di dapur? Atau membantu emaknya melipat pakaian?

Itulah Pica sekarang. Hahaha. 

Semenjak pandemi, dia jadi punya berbagai skill baru. Salah satunya adalah membersihkan halaman rumah, melipat baju dan mengajak adiknya bermain. 

“Kasian ternyata kerjaan Mama di rumah banyaaaak bangeeet.. “

“Dulu Pica kira kerjaan Mama kalau pagi ngapain?”

“Kirain masak sambil nonton drakor plus menyusui bayi aja Ma.. “

“Ternyata?”

“Ternyata Mama bisa masak sambil nyuci, sambil bersih-bersih rumah, sambil gendong Humaira, sambil nyiapin cemilan buat pegawainya abah.. Duh.. Capek ternyata jadi Mama itu.. “

“Jadi..?”

“Jadi Pica harus bantu-bantu Mama. Karena kalau Mama capek Mama bisa meledak. Marah-marah. Terus pas ngajarin Pica bisa meledak-ledak marahnya kayak bom. Apalagi kalau matematika.”

“Yah.. Memang seperti itulah Mamamu aslinya Pica. Makanya seisi rumah harus berempati pada Mama. Sering-seringlah mengajak Mama Piknik kalau pandemi sudah berakhir ya..!” *Speaker mode ON. Berharap suami mendengar dengan baik. 🤣

Yup.. Inilah cerita sekolah di Masa Pandemi. Iya.. Sekolah Negeri emang gini amat. Bahkan aku sempat cekikikan melihat video tik tok dari seorang Guru SD yang dikatakan makan gajih buta. Wah, memang dimasa pandemi ini serba susah ya. Tapi kalau direnungkan lagi.. Duh, banyak sisi positifnya ternyata dibanding negatifnya ya. Jadi ya sudahlah. Syukuri saja. 

Semoga Pandemi ini segera berakhir ya! Bagiku, sekolah normal memang tak tergantikan sampai kapanpun! 

*Tulisan ini dibuat setelah bercurcol ria dengan para wali murid di grup.. Sehingga isinya sedikit mewakilkan perasaan para emak. Tapi, bukan berarti penulis tidak berempati pada Para Guru.. Khususnya Guru Sekolah Negeri.. 🙂

Baca Tulisan yang berikutnya ya..

“Belajar Berempati dengan Guru di Masa Pandemi”

Komentari dong sista
10 Shares

16 thoughts on “Sekolah Negeri Masa Pandemi Gini Amat Yak?

  1. Perjuangan banget ya Mba, selama anak-anak di rumah dan belajarnya jadi nnggak maksimal
    Semoga pandemi lekas musnah biar anak-anak kembali bisa belajar. Salut ama dek Pica membantu bundanya ehehhe

  2. MashaAllah~
    Pica sholihaa…hehehe…anak-anak itu sebenarnya nyaman bareng orangtuanya kok..
    **apa ini perasaanku aja yaa…hihi~

    Yang pasti, pandemi bikin aku makin kenal sama anak-anakku lagi.
    Cara mereka belajar, menghapal, dan lain-lain.

    Semoga sehat-sehat selalu, Mama Pejuang!

  3. Aku suka baca yang akhir-akhir. Empatinya Pica tumbuh bagus banget ya, Mbak. Anakku yang kedua (cewek) juga mirip kayak gitu sih, tapi masih sering bandel kalo disuruh shalat, hahaha..

  4. Iya banget, anak keduaku juga gitu. Malah lebih parah. Jam 7, form absen sudah disebar. Ditungguin 15 menit, katanya nanti ditutup. Duh, emak-emak langsung pada keder. Padahal belom beres apa-apa jam segitu. Sementara kakaknya, anak SMA, absen baru jam 8. Dan iya, tugasnya pasti dari buku tematik. Aku jadinya yang nerangin ini-itu.
    Btw, Pics keren deh gambarnya. 😍

  5. Di kampung saya SD-SD Negeri malah lebih ringan lagi. Tidak ada PJJ karena tidak semua orang tua punya HP adapun yang punya HP belum tentu punya kuota. Jadi, anak seminggu sekali ke sekolah dapat tugas dan minggu depannya dikumpulkan.

  6. hmmm, i think every parents feel the same with you mom, but should we can do what, nothing choosee. So make it easy, simple and follow by your heart. Sure is not be long, all of can be end now. Pray it always

  7. iyaaa mba… pandemi mengguratkan cerita yang begitu berhagra buat kita dan anak-anak kelak ya.. Mereka akan menjadi generasi yang luar biasa karena bisa melewati masa sulit ini. Bagaimana pun metode pembelajarannya yang penting anak-anak happy. Bintang tahun ini SD, sedang Zizi yang seharusnya TK A kami postpone dulu sampai tahun depan. Smeoga pandemi berlalu. Meski swasta dan sudah banyak pertemuan lewat zoom bersama guru, tetap saja masih berasa kurng mba… tapi ya begitu.. mari kita jalani dengan happy…

  8. Anak-anak saya waktu SD semuanya di swasta. Ketika mereka SMP, baru deh mulai masuk negeri. Jangankan saat pandemi, di saat kondisi normal pun kultur negeri dan swasta jelas beda.

    Ketika pertama kali masuk negeri, gak cuma anak yang stress. Saya pun stress hahaha. Tapi, setelah banyak cerita ke teman dan keluarga, ternyata saya gak sendirian. Banyak yang mengalami hal sama. Biasanya yang pernah merasakan swasta trus ke negeri memang akan ada fase stressnya. Ada yang tetap bertahan, ada juga yang balik ke swasta 😀

    Sekarang sih udah biasa aja. Termasuk saat pandemi, saya udha banyak maklum. Apalagi di SMA kayaknya lebih asik kulturnya. Entah sekolah anak saya aja yang begitu atau memang SMA negeri lebih bagus sistem belajarnya dibandingkan level SD dan SMP.

  9. Obrolan yang selalu hangat dibicarakan tiap ketemu teman ya seperti hal di atas. Mau ga mau, suka ga suka tetep belajar beradaptasi, sekolah negeri dan swasta jelas beda banget, dari segi biaya juga mungkin jauh. Tapi tetep daring peranan ortu ikut andil.
    Semangat Picaaa, dan emaknya..
    Semangat buat kita semuaa.

  10. I feel you mbak..anak sulungku SMA Negeri dan adiknya SD swasta dan sungguh berbeda
    meski si kakak pukul 7 sudah harus absen di Google Classroom tapi materi ga semua tersedia. Kadang hanya baca halaman ini dan kerjakan tugas ini. Atau sesekali baru guru adakan zoom meeting itupun ga ada tiap hari/tiap matpel. Padahal aku di Jakarta ya..kebayang di daerah gimana
    Jadi banyakan belajar sendiri memang. syukur aku dah bagi tugas sama suami, dia handle si Kakak, aku pegang adiknya…karena kalau adiknya zoom meeting full dari jam 7.30-12.00 diselingi istirahat.
    Apapun itu balik lagi, semangat menjalani peran utama sebagai pendidik utama anak-anak kita:)

  11. Untuk waktu sekolah online di rumah memang lebih fleksibel ya mengaturnya, karena memang jam pengajaran tidak full seperti di sekolah

  12. Sekolah negeri dan sekolah swasta policynya agak beda dikit kelihatannya Mbak. Namun di manapun anak-anak sekolah, entah swasta atau negeri, orang tua sekarang terlibat dalam pendidikan belajar anak ya. Terbayang gimana repotnya mengambil alih tugas guru sekolah sementara pekerjaan rumah tangga juga menuntut perhatian 🙂

  13. Wahh, Pica pinter bangeett

    Semenjak pandemi, dia jadi punya berbagai skill baru. Salah satunya adalah membersihkan halaman rumah, melipat baju dan mengajak adiknya bermain.

    Ini warbiyasaak lho Mba 😀 Keren!

  14. Pembicaraan seperti ini pun sering banget mampir di grup beberapa yang aku ikuti, tapi aku pun mempunyai pandangan yang sama. Kalau membandingkan sekolah swasta dan negeri itu jadi gak apple to apple.

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A