Browsed by
Month: October 2018

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

Curhat Mantan Emak Penderita PPD: Begini Caranya agar Ibu Tidak Stress Pasca Melahirkan

source image: parentsmagazine.com

Tidak terasa umur kandunganku kini sudah 5 bulan saja. Perasaanku mulai girang jika mengingat awal bulan februari nanti akan lahir bayi baru sebagai pengisi kelengkapan kebahagiaan bagiku, suamiku, dan tentunya anak pertamaku Farisha. Kini, Bayi mungil didalam rahimku mulai bergerak, menendang-nendang bahkan sesekali berdenyut-denyut.. Menumbuhkan seribu rasa cinta di hatiku sebagai Ibunya.

“Tak sabar rasanya ingin melihat kehadiranmu didunia..”

Tapi..

Tapi aku mengakui, mimpi buruk itu kadang selalu datang. Mimpi dimana aku menangis di tempat tidur sambil menyusui anakku. Mimpi dimana aku meneriaki Farisha kecil dulu. Mimpi dimana aku menjadi monster, membuat seluruh keluargaku ketakutan. Mimpi dimana aku membuat Farisha menangis, menjadi gagap, dan gemetar.

Mimpi dimana aku benar-benar berada dalam posisi tersudut. Merasa tidak pantas menjadi ibu. Merasa berdosa menikah muda. Merasa berdosa langsung hamil.

Akankah aku menjadi seperti dahulu lagi jika memiliki bayi kecil_lagi?

Sungguh, aku berharap itu tidak lagi terjadi padaku.

Aku Berharap Baby Blues dan PPD Tak Pernah Singgah Pada Diriku Lagi

Memiliki bayi pernah membuatku tidak bahagia.

Saat itu Aku adalah Ibu Muda yang baru berumur 22 tahun. Aku menikah saat kuliah semester akhir dan langsung hamil. Kuakui, dulu aku tidak menginginkan bayi ini begitu dini singgah dikehidupanku. Cita-citaku masih panjang. Aku ingin bekerja, ingin mengoptimalkan passion, ingin membahagiakan orang tua.. Seperti remaja fresh graduate pada umumnya.

Tinggal di rumah Mama dengan status LDR dengan suami, merasakan betapa tidak nyamannya hidup dengan bantuan orang tua padahal dengan status menikah. Ditambah beberapa bulan kemudian membesarkan anak di pondok mertua indah dengan berbagai hal yang berkebalikan dari kehidupan remaja.. Mumbuatku stress, shock, dan ingin kembali memutar waktu. Saat itu, hal yang kuharapkan adalah ‘Menunda Waktu untuk Menjadi Ibu’

Suami yang merasa bahwa tinggal di rumah mertua tidak membuatku bahagia akhirnya memutuskan untuk membeli rumah secara kredit. Kupikir itu bagus. Namun, aku harus berhadapan dengan rintisan ekonomi yang terbilang tidak mudah. Suamiku hanyalah PNS biasa dengan gajih yang terbagi untuk Ibunya dan Saudaranya. Ditambah dengan kreditan rumah? Bisa dibayangkan berapa uang sakuku tiap bulan.

Awalnya aku berusaha sabar. Sebisa mungkin mengatur keuangan rumah tangga dengan pemasukan seadanya. Bahkan seingatku dulu, dalam sebulan aku hanya satu kali membeli pospak. Selebihnya aku memakaikan clodi untuk anakku. Aku juga tak pernah jajan diluar, aku selalu memasak. Aku tak pernah membeli perawatan berlebihan kecuali bedak mars dan pelembab serta 1 batang lipstik untuk 1 tahun. Aku mencoba bertahan. Sampai suatu hari aku mendengar ‘ceramah’ dari salah seorang anggota keluarga. Ceramah yang intinya mengklaim bahwa aku termasuk boros. Ya, hanya karena ia melihat penampilanku ‘mungkin’ terlihat bagus dibanding ’emak sudah punya anak pada umumnya’.

Mungkin sejak itu aku suka meledak-ledak. Mulai suka membentak keluargaku. Mulai suka menangis sendiri. Mulai merasa bukan Ibu yang sempurna. Ditambah menu masakanku selalu kalah dibanding masakan cicipan klasik di lidah suamiku dulu. Aku tak tahan dengan ‘nyinyiran’. Ditambah sikapku yang tak bisa membela diri dan selalu diam. Ditambah sosial mediaku yang selalu diadukan.. Membuatku tak bisa membuka diri dan mengadu dengan benar.

Semuanya meledak-ledak begitu saja.

Baca juga: Mom War dan Perfectionis Sindrom adalah Penyebab Stress pada Ibu

Suamiku kemana?

Ingat, ekonomi kami sedang merintis. Artinya, suamiku sibuk berkerja siang-malam. Ketika datang kerumah ia kelelahan dan tertidur. Tak ada lagi ruang yang benar untukku mengadu. Hanya satu ruang itu. Yaitu memarahi anakku.

Its Okay, Itu Hanya Masa Lalu

Alhamdulillah sekarang kondisi keluarga kami sudah jauh lebih baik. Farisha sudah besar dan pintar. Suamiku telah diangkat menjadi Dosen Tetap, pekerjaan sampingannya tetap berjalan, dan aku telah menyalurkan passion gado-gado yang kumiliki ke dalam blog ini. Segalanya terasa lengkap.

Aku juga telah memperbaiki kesalahan masa laluku kepada Farisha. Sejatinya, aku tau bahwa lubang itu tak akan benar-benar sembuh. Tapi aku telah membuatnya tertawa lagi dan menjadi anak ceria pada umumnya. Ia berkembang jauh lebih baik dibanding harapanku. Ia memiliki bakat spesial dan ocehan yang sangat lucu.

Baca juga: Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si Kecil dan Caraku memperbaikinya

Masa lalu telah mengajariku segalanya, bahwa untuk mencegah terjadinya Baby Blues dan Post Partum Depression maka sangat diperlukan pemahaman dari keluarga dan lingkungan sekitar. Berikut ini adalah cara-cara agar Ibu tidak stress pasca melahirkan:

1. Ajak Suami untuk Berperan dalam Membantu Kegiatan Rumah Tangga

Suami adalah Raja.

“Layani laki bujur-bujur mun handak parajakian..”

Artinya: Layani suami dengan sebenar-benarnya agar hidup penuh rejeki.

Banyak para emak yang masih tidak mengerti dalam arti pelayanan yang benar dan menguras dirinya terlalu dalam untuk serba bisa dan sempurna dalam rumah tangga. Termasuk mengerjakan segalanya serba sendiri dan meng’haram’kan suami ikut campur. Walau memiliki bayi kecil yang selalu menangis.

Aku bahkan pernah disindir saat memiliki anak pertama dulu, “jangan sampai laki membasuhi anak *ah*ra kena bini harat lawan laki.”

Artinya: Jangan sampai suami ikut membersihkan ‘pup’ anak, nanti jadi istri durhaka.

Ya, aku tinggal dilingkungan dengan omongan ketus seperti itu. Hingga anakku berumur 2 tahun, tak pernah sekalipun aku menyuruh suamiku untuk berperan dalam hal ini. Termasuk saat aku kepasar, tidak ada yg mau menggantikan popok si kecil yang basah dan bau.

Aku terlalu takut untuk terlihat minta tolong.

Hingga suatu hari aku pun tak tahan dan menumpahkan segala kekesalanku. Bagaimana tidak sukanya aku dengan pola pikir ’emak zaman old’ yang kaku. Tentang bagaimana seharusnya suami ikut membantuku, bagaimana seharusnya ia maklum dengan hasil masakanku dan bagaimana seharusnya kami membagi tugas bersama. Cukup satu malam untuk membuatnya mengerti dengan hal itu. Dan aku berpikir, “Andai sejak dulu aku curhat dan terbuka mungkin tidak akan seperti ini..”

Jangan pernah sungkan meminta bantuan kepada suami. Please, bikin anak berdua. Masa yang membesarkan cuma sendiri?

2. Jika memiliki Anak Pertama, Sedini Mungkin Ajari Ia untuk Menyayangi dan Memperhatikan Adiknya untuk menghindari Sibling Rivalry

source image: drgailgross.com

Konon, jika kita memiliki anak kedua maka anak pertama akan senang awalnya namun pada suatu moment ia akan merasakan perasaan iri dan tidak diperhatikan. Pada saat inilah anak pertama akan mulai mencari sensasi pada Ibunya agar diperhatikan kembali. Moment ini bernama Sibling Rivalry.

Sibling Rivalry akan membuat emak stress jika anak pertama tidak bisa diajak bekerja sama dalam ikut menyayangi adiknya. Biasanya pemicu utamanya adalah lingkungan sekitar juga yang membanding-bandingkan anak pertama dan kedua di depan anak pertama sendiri. Contoh:
“Wah, adek kamu putih cakep.. Kok kamu item?”
“Kayaknya adeknya mirip mamanya nih, kalo kamu mirip bapak ya.. Cantik deh adeknya..”
“Nanti kamu gak disayangi lagi deh.. Hahahaha..”

Memang, sekilas kalimat diatas mungkin maksudnya adalah ‘bercanda’. Tapi bagi anak kecil, kalimat itu cukup menyakiti hatinya dan sudah sangat cukup untuk menumbuhkan bunga-bunga rasa iri. Ah, entahlah bagaimana cara mencegah orang-orang untuk bercanda seperti ini. Ini sering terjadi dan yang repot pada akhirnya adalah emaknya sendiri. 😑

Bayangkan bagaimana repotnya kalau anak kedua menangis tapi anak pertama malah ikut menangis meminta perhatian juga? Jujur saja, ini lebih horor dari pada baby blues dengan satu anak. Untuk menghindari fase horror ini pula aku memberi jarak 5 tahun dalam kehamilan kedua. Dengan begitu aku dapat memberi pemahaman kepada anak pertama karena ia sudah sedikit besar dan bisa mengerti.

3. Hindari berteman dengan orang-orang yang ‘suka nyinyir’

Mommy War saat punya anak masih bayi? Bisa saja.

Walau disini masih terikat dengan adat kental bahwa Ibu dan bayi tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari, namun adaaa saja emak-emak yang hoby menengok dan nyinyir. Haha. Bener gak?

Contoh:

“Ih, payudaranya kok kecil. Ada gak susunya tuh?”

“Kok anaknya gak diayun? Kamu kerjanya gimana? Masa disamping bayi aja?”

“Loh, gak masak kah?”

“Rumah kok berantakan, cucian aja masih berendam kamu malah tidur..”

Dst.. Dst..

Punya tetangga kepo begini? Gak usah dibukain pintu.. 😂

Punya mertua begini? Tinggal ditempat mertua? Kaburr.. 😂

Yah kok solusinya gitu amat?

Ya bagaimana lagi? Perasaan wanita itu sudah terlahir sensitif dari zaman megantropuspaleojavanikus (nama macam apa ini.. 😂) Ditambah baru melahirkan, ditambah kecapean, ditambah kelaparan.. Perasaannya itu sedang dalam mood krisis sensitif.

Pas ditengok orang sih maunya tuh orang muji-muji si bayi kek.. Malah nyinyirin emaknya.. Noh.. Kelaut aja sono kalo mau nyinyir.. 😂

Sumvah, blog macam apa ini.. Haha

4. Penuhi ‘Hak Me Time’ milik Ibu

Semua Ibu berhak bahagiaa..
Semua Ibu berhak punya pilihan. Termasuk itu menggeluti passion yang disenanginya. Betul?

Tidak sedikit para Ibu yang terkuras passionnya karena kegiatan rumah tangga, merelakan cita-citanya begitu saja demi lengkapnya kebutuhan jasmani dan rohani anggota keluarga. Hal ini sudah seharusnya? Begitulah pekerjaan wanita? Iyes, itu emak zaman old.

Emak zaman old enggak punya passion warna warni seperti emak zaman now yang terawat dengan status pendidikan tinggi. Emak zaman now akan sangat merasa berdosa jika ilmu yang telah ia miliki tidak tersalur dengan baik. Ilmu tersebut telah menjadi bagian dari hidupnya dan penyaluran passion dari ilmu tersebut adalah hal yang sangat penting.

Jadi, biarpun kita sebagai ibu sudah memiliki anak bayi dan mengorbankan 90% hidupnya untuk itu.. Paling tidak, sisakan 10% hidup untuk diri kita sendiri. Sisakan kebebasan untuk memilih dan berekspresi. Itulah sederhananya makna me time produktif ala Emak Zaman Now.

Baca juga: “The Power Of Emak-emak zaman now itu BEDA”

5. Isi Sebagian Me Time dengan Menguatkan Spiritual Ibu

Jangan pernah lupa untuk menguatkan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sempatkan berdoa dan bersujud sedikit saja. Karena sudah fitrah manusia untuk menyerahkan diri dan bersujud kepada-Nya dalam bersyukur dan meminta pertolongan.

Berwudhu, beribadah dan melantunkan ayat suci adalah cara manjur untuk mengisi kesejukan dalam hati kita. Isilah sebagian me time yang kita miliki dengan hubungan kepada Sang Pencipta. Karena itu adalah kebutuhan rohani kita yang tidak bisa ditinggalkan.

6. Hindari Menjadi Ibu yang Serba Sempurna

source: the average mommy

Menjadi sempurna memang suatu kebanggaan. Rumah bersih dan rapi, makanan selalu homemade, anak tidak rewel, baju sistem setrika semua, rajin membuat bahan DIY untuk kecantikan. Tapi, saat kita memutuskan untuk menjadi serba sempurna.. Tanyakan kembali pada diri kita, sudah benarkah hal yang kita lakukan?

Ya, sudah menjadi sifat alami seorang Ibu dan Istri, jika ia sudah mencintai maka ia terbiasa untuk kebablasan melayani dan mengabaikan kewarasannya sendiri. Ditambah dengan lingkungan yang menuntut segalanya serba sempurna maka stress pada Ibu sangat rentan terjadi. Solusinya, lepas salah satu standar kesempurnaan dan lakukan ‘me time’ dengan waktu luang yang jarang ada tersebut.

Bagiku, melepas standar kesempurnaan ini sangat manjur untuk meredakan stress. Dulu, aku penganut homemade garis keras. Disamping karena faktor ekonomi, hal ini juga faktor kebiasaan dari lidah suami. Apalagi, jika berkunjung ke tempay mertua aku selalu ditanya, “Makan apa hari ini?” atau “Masak apa di rumah?”

Rasanya itu… Eeeeng…

Baca juga : Tentang Pengalaman Jatuh Bangun Belajar Memasak

Tapi sekarang? Aku masih homemade memang. Tapi aku sudah termasuk cuek saat ditanya hal-hal seperti itu. Kalau sedang malas atau tidak sempat masak karena jadwal yang tiba-tiba padat, jawab saja sejujurnya. Haha.

Karena memberi standar kesempurnaan pada setiap pekerjaan Ibu itu menyakitkan.

7. Jangan Biarkan Perut dalam Keadaan Kosong saat Menyusui

Siapa yang gampang marah saat dalam keadaan lapar?

Kurasa semua juga gampang marah ya, kecuali sedang berpuasa.. Hihi.. Tapi, jangan pernah biarkan Ibu Menyusui dalam keadaan kelaparan dan harus mengerjakan setumpuk pekerjaan tanpa adanya pasokan makanan yang ‘ready’ di rumah. Apalagi, saat sedang kelaparan begitu anggota keluarga malah meminta request makanan homemade yang susah di buat. Yaaa.. Something like.. Ikan Panggang yang dipanggang memakai kayu bakar maupun ayam geprek krispi dalam durasi setengah jam.

Rasanya itu…. Eeeeeggggh…!!!

Mengertilah Ibu Menyusui itu sangat kelaparan, ia tidak berpikir lagi untuk menyempatkan diri memasak dalam waktu yang lama. Ia bahkan senang jika mie instan saja sudah dapat hadir walau tanpa telur di kamarnya. Ya, tidak perlu yang mahal-mahal. Hanya meminta perhatian, Yes?

Syukur-syukur kalau dibawakan pizza sepulang kerja…

Rasanya itu.. Meleleh… Klepek klepek dan langsung jatuh cinta lagi..

Hahaha

8. Jangan Menutup Diri dari Komunitas

Setiap Ibu butuh ruang sosial untuk dapat tetap eksis dan merasa ‘tidak menghilang’. Karena itu, adanya komunitas sangat diperlukan buat Ibu.

Tidak perlu komunitas ngumpul-ngumpuk secara nyata. Zaman now, apalagi buat Ibu-ibu yang tinggal di komplek perkotaan sangat sulit untuk menemukan teman nyata yang ‘sreg’, betul? Ya, zaman sekarang menjadi salah satu member di Grup WA saja sudah menyenangkan loh. Apalagi jika member dari grup tersebut menyenangkan dan saling mendukung. Komunitas seperti ini sangat diperlukan untuk mengisi ruang sosial.

Kadang, saking sibuknya Ibu. Ia sampai lupa dengan kebutuhan sosialnya. Tau-tau rasanya menghilang saja. Aku pernah merasakan hal ini, rasanya sangat sulit untuk dapat bergabung kembali. Maka, sebisa mungkin sesekali bertegur sapalah walau sebatas like dan say ‘Hi’.

9. Mengeluhlah Jika itu Membuat Ibu Merasa Lega

Well, point ini masih menjadi pro dan kontra.

Konon, katanya seorang Ibu harus dapat menjaga aib keluarga. Tidak boleh mengeluh dan mengadu. Apalagi di sosial media.

Terus, kalau si Ibu ini kerjaannya di rumah saja tanpa teman curhat gimana dong? Suaminya gak ada gimana dong? Orang tuanya bukan pendengar yang baik gimana? Mertuanya suka nyinyir gimana? Lari kemana tuh Ibu? Curhat sama kucing? Gak suka kucing gimana dong?

Banyak loh, Ibu-ibu stress yang terancam bunuh diri bahkan membunuh anaknya karena menumpuk-numpuk beban kesedihan tanpa pernah curhat sekalipun.

Baca juga: Kasus-kasus Pembunuhan Anak Oleh Ibunya Sendiri karena Post Partum Depression

Curhat itu perlu. Berekspresi itu perlu. Jika kita tidak dapat menjadi pemberi solusi terbaik, setidaknya.. Jadilah pendengar yang baik. Karena pada titik jenuh dan stress seorang ibu, ia hanya butuh pelampiasan untuk mendengarkan ‘sampah’ yang wajib ia buang.

***

Aku pernah amat sangat menyesal telah membuat anakku menjadi pelampiasan ketidak-warasanku dahulu. Karena itu, semoga cara-cara yang telah kutulis ini mengingatkanku bahwa, “Jadilah seorang Ibu yang bahagia. Karena Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaannya untuk orang-orang yang ia sayangi..”

Tidak Sabar menunggumu, Anakku yang Kedua. Mama tidak menjanjikan apa-apa untuk membuatmu lebih baik nantinya.

Tapi mama berjanji akan menjadi Bahagia karena Kelahiranmu.

The Power of Emak-emak Zaman Now itu Beda

The Power of Emak-emak Zaman Now itu Beda

“Emak-emak zaman sekarang ya.. Punya anak satu aja kerjaan rumah enggak beres. Padahal kalau dibandingkan emak zaman dulu, mereka punya kerjaan lebih banyak, anak lebih banyak, tapi semua beres.. Mungkin, emak zaman sekarang kerjaannya main gadget melulu.”

Tidak sekali-dua kali aku pernah mendengarkan pernyataan ini. Dimana saja, jika ada emak yang cukup berumur disuatu ruang sosialita tentu bahan percakapan seperti ini sering melintas begitu saja. Sebagian besar membenarkan fenomena ini, namun adapula sebagian yang lain memiliki pendapatnya sendiri dan tetap berpandangan positif dengan tingkah perilaku generasi emak modern.

Tentang Perubahan Zaman dan Generasi

Aku pernah berdiskusi dengan salah satu emak modern yang membela fenomena ’emak gadget’ zaman now. Seperti dugaanku, emak yang kesehariannya tak pernah lepas dari HP tersebut mengemukakan bahwa inilah kesehariannya. Hampir 50% waktu dalam kesehariannya tak pernah lepas dari gadget dan media sosial. Jika dilihat sekilas, kita mungkin hanya bisa berkata, “Pemalas sekali, kerjaan sehari-hari ‘cuma’ megang HP.”

Baca juga: “Kenapa sih Emak Zaman Dulu Selalu Bisa”

Siapa sangka dibalik itu semua, ia adalah pembisnis online yang memiliki keuntungan besar? Bahkan melebihi keuntungan para pekerja keras diluar sana?

Ya, zaman sekarang memang berbeda dengan zaman dahulu. Sehingga kita tidak bisa membandingkan perilaku produktif emak zaman dulu dan sekarang. Dari pergantian generasi ke generasi, pandangan sosok perempuan dalam masyarakat tidak seperti dahulu lagi.

Dunia emak zaman now sudah berbeda.. Tidak melulu tentang “Dapur, Sumur, dan Kasur..”

“Kami dapat menjadi generasi berbeda yang dapat membawa perubahan positif tentang peran perempuan dan meningkatkan produktifitasnya
dengan memanfaatkan perkembangan IT dalam kehidupan sehari-hari”

Siapa yang berkata demikian? Merekalah emak-emak zaman now. Emak yang terlahir pada generasi milenial. Emak yang berpendidikan, mengerti teknologi dan pemanfaatannya dengan optimal.

Mereka tidak lagi dibumbui dengan pemikiran kolot generasi sebelumnya. Dunia mereka tidak lagi dibatasi oleh sudut-sudut kubus pemikiran yang sempit. Dunia mereka jauh lebih luas, wawasan mereka jauh lebih terbuka dan siapa sangka walau terlihat pemalas, mereka juga produktif dan punya peran lebih dalam masyarakat?

Emak harus produktif

Sejauh ini, aku terus berpikir tentang Apa sebenarnya arti produktif bagi perempuan? Apakah harus melulu tentang menghasilkan uang? Apakah harus melulu tentang terlihat menjadi pemimpin dalam komunitas sosial? Apakah harus melulu tentang pekerjaan rumah yang serba sempurna?

Ternyata tidak. Arti Produktif itu sangat sederhana.. Yaitu dapat menghasilkan. Tidak melulu tentang uang, tapi arti produktif yang sebenarnya adalah ketika potensi seorang perempuan dapat dioptimalkan untuk orang sekitarnya hingga menyebar kedunia yang luas. Tentang feedback yang dihasilkan dari itu adalah nomor 2. Ya, tentang menghasilkan uang, pengakuan, tingkat sosial dalam masyarakat akan menggiringi seiring dengan potensi yang telah dimaksimalkannya.

Baca juga: “Menjadi Generasi Perempuan yang Lebih Produktif”

Bagiku, menjadi emak produktif itu adalah keharusan. Karena aku sangat yakin bahwa setiap perempuan pasti memiliki bidang passion yang disenanginya. Passion perempuan yang tidak tersalur akan menyebabkan depresi, kehilangan tujuan hidup dan kehilangan semangat hidup. Menyalurkan passion dengan cara yang menyenangkan adalah salah satu kegiatan produktif yang dapat dilakukan.

Jika sudah menjadi emak-emak, kehilangan passion karena kegiatan rumah tangga akan menyebabkan kondisi psikologis Ibu terganggu. Aku pernah mengalaminya, aku terkena Post Partum Depression karena mengabaikan passion dan mengutamakan keluarga. Dampak penyakit psikologis ini sangat berbahaya, selain mengurangi produktifitasku penyakit ini juga berefek negatif terhadap kesehatan jiwa anakku.

Baca juga: Cerita tentang Post Partum Depression dan Mengatasi Dampak Negatifnya pada Anak

Jadi, penyaluran passion itu wajib. Produktif bagi perempuan itu wajib, apalagi yang sudah menjadi emak-emak. Karena Emak-emak yang membiarkan passionnya terbengkalai begitu saja akan terancam depresi.

Tapi, bagaimana emak dapat menyalurkan passionnya walau di rumah saja?

Emak Harus ‘Melek’ Teknologi

Zaman now, masih adakah para emak yang gaptek? Memiliki hp jadul, tidak mengerti dengan sosial media, tidak terbuka wawasannya, gampang di pengaruhi oleh informasi hoax? Dan menganggap hp adalah candu yang menyesatkan?

Tentu ada. Bahkan tidak menutup emak yang lahir pada generasi milenial juga.

Bagaimana pandanganku saat melihat hal ini? Ya, miris. Sayang sekali. Padahal, banyak kegiatan produktif yang dapat menghasilkan sesuatu dengan memanfaatkan perkembangan IT.

Aku pernah berhadapan dengan emak-emak yang memiliki pandangan kolot seperti ini. Ingin rasanya aku bangun dan menyadarkan pandangan mereka. Tapi bagaimana? Aku tidak memiliki kekuatan yang berarti selain merangkai tulisan di dunia literasi melalui blog. Sayangnya, kebanyakan emak seperti ini malas memperdalam literasi. Bahkan, membacakan buku cerita pada anak pun hanya terfokus pada cerita nabi saja.

Bagaimana caranya agar para emak zaman now bisa melek teknologi?

Lalu, aku berkenalan dengan IWITA pada event roadshow serempak di Banjarmasin. IWITA adalah singkatan dari Indonesia Women Information Technology Awareness. IWITA merupakan Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi Informasi sebagai organisasi berbadan hukum yang memiliki ‘positioning’ mencerdaskan Perempuan Indonesia melalui Teknologi Informasi.

IWITA memiliki misi penting dalam memajukan produktivitas perempuan yaitu dengan menciptakan kesadaran perempuan Indonesia akan manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Dengan berbagai roadshow serempak yang telah diadakan IWITA fi berbagai kota, IWITA memberikan banyak pengetahuan dan wawasan penting untuk pengembangan produktivitas perempuan di bidang TI dan peningkatan ekonomi keluarga bagi para emak-emak zaman now.

IWITA telah berpengalaman mengadakan kegiatan sejak tahun 2009. IWITA telah banyak bekerja sama dengan berbagai stakeholders. IWITA juga didukung oleh lembaga IT terkemuka untuk peningkatan, pembelajaran, implementasi dan sosialisasi di bidang teknologi informasi bagi perempuan Indonesia.

Organisasi seperti IWITA adalah salah satu organisasi yang dapat memberikan harapan pada emak-emak zaman now. Karena, the power of emak-emak zaman now itu berbeda bukan?

Arti Produktif yang Sebenarnya

Sepemahaman dengan IWITA, sebagai perempuan yang sudah berstatus emak-emak, aku juga merasa bahwa arti produktif itu sangatlah luas. Tidak sesederhana menghasilkan uang semata. Tapi, bermula dari pengoptimalisasian passion dengan memanfaatkan teknologi kekinian.

Jujur saja, Aku mulai melek dengan teknologi sejak memiliki suami yang merupakan konsultan IT sekaligus owner dari CV share system. Aku mulai mengenal teknologi kekinian dan pemanfaatannya sejak sudah berstatus ’emak-emak’. Tiada kata terlambat untuk sebuah ilmu bukan? Karena sejak berkenalan dengan dunia IT yang lebih luas kini aku dapat menjadi emak-emak yang lebih hidup dan bersemangat.

Aku mulai bersemangat sejak suamiku membuatkanku sebuah blog. Ia berkata bahwa tulisanku dapat menjadi inspirasi bagi semua emak-emak diluar sana. Ia membantuku untuk mengoptimalisasi blog shezahome. Sehingga akhirnya, karena ketekunan ini pula akhirnya aku dapat memperoleh penghasilan tambahan dari blog. Masih tidak banyak memang, tapi ini menyenangkan.

Kegiatan nge-blogku juga didukung oleh komunitas blogger perempuan di daerahku. Namanya adalah Female Blogger of Banjarmasin (FBB). Aku memasuki komunitas ini sejak member FBB masih beranggotakan dibawah 10 orang. Seiring berjalan waktu komunitas kami mulai serius dan membentuk kepengurusan. Siapa sangka aku yang awalnya tidak pernah berorganisasi kini telah merasakan menjadi pengurus di komunitas FBB? Ya, aku pernah menjadi sekretaris FBB. Dan sekarang, aku adalah wakil ketua dari FBB.

Tidak terasa, sudah 2 tahun lamanya komunitas FBB berdiri. Para member FBB mulai bertambah banyak, tidak sesunyi dahulu lagi. Beberapa job blogger mulai datang dan membangun semangat baru bagi para membernya. Suka dan duka kami lewati. Kami juga saling bantu membantu dalam sharing pengetahuan tentang IT. Beberapa blogger senior di komunitas FBB tidak sungkan dalam membagi ilmunya.

Dalam ulang tahun FBB yang kedua, kami memiliki harapan besar pada komunitas ini. Kami ingin dunia literasi digital dapat berkembang luas. Seperti IWITA, kami ingin turut berperan dalam mengembangkan kesadaran kaum perempuan tentang pentingnya melek IT untuk produktivitasnya.

Untuk itu, IWITA memberikan dukungan penuh kepada visi dan misi FBB. Pada acara syukuran ulang tahun FBB yang ke-2, IWITA memberikan support dukungan sebagai apresiasi atas semangat FBB dalam mengembangkan literasi digital dan membangun kesadaran perempuan akan pentingnya IT.

Jadi, siapa bilang Perempuan tidak bisa Produktif walau hanya di rumah saja?

Mari mulai tunjukkan the power of Emak-emak zaman now.

Karena The Power of Emak-emak zaman now itu BEDA.

Tips Memilih Dress Wanita Buat Kamu yang Punya Badan Kurus dan Tinggi

Tips Memilih Dress Wanita Buat Kamu yang Punya Badan Kurus dan Tinggi

“Kalo badan kayak kamu sih, apa aja pasti masuk. Kamu kan kurus, tinggi plus langsing.”

Aku selalu nyengir kaku setiap kali kata-kata itu diucapkan oleh temanku. Memang, jika berkaca tubuhku tergolong tinggi diatas rata-rata. Namun, kadang kala aku juga sering merasa tidak terlalu percaya diri dengan badanku yang tergolong kurus dan tidak terlalu ‘berisi’. Terkadang, aku merasa seperti angka 1 yang tidak punya kelebihan menonjol jika berfoto bersama teman-temanku.

Ya, Aku merasa sangat ‘flat’ dibanding yang lainnya.

Tapi itu dulu. Kini sejak aku menikah, aku akhirnya memiliki konsultan dalam hal berpenampilan. Ia adalah suamiku sendiri. Ia tak pernah berbohong berlebihan untuk membuatku merasa percaya diri. Jika ada baju yang tidak cocok denganku, ia pasti langsung menegurku. Bahkan, aku selalu membawa suamiku jika berbelanja baju loh. Soalnya, sepertinya dia lebih bisa memilih baju dibandingkan denganku. Haha.

Setelah 6 tahun menikah dengannya. Aku akhirnya sadar bahwa dia suka sekali dengan gaya baju dress wanita. Menurutnya, wanita dengan memakai dress itu terlihat anggun dan cantik. Padahal, waktu remaja dulu aku sangat amat jarang memakai baju model dress. Aku lebih menyukai baju-baju kaos ketat dengan celana jeans. Menurutku, baju kaos ketat dan celana jeans akan membuat tubuhku lebih terlihat berisi. Dan lagi, dulu aku itu sangat anti memakai dress karena terkesan makin terlihat kurus kalau memakai dress. Hmm, ternyata itu salah pemirsa.

Dress untuk wanita adalah pakaian yang sangat anggun. Para lelaki suka dengan wanita yang memakai dress. Memang, untuk bentuk tubuh yang kurus memakai dress akan menjadi PR yang berat. Nah, berikut ada beberapa tips memilih dress wanita buat kamu yang punya badan kurus tapi pengen pakai dress:

1.Pilih Dress Bermotif

Kenapa harus bermotif? Kan motif terkadang ‘norak’ ya?

Eits, jangan bilang norak dulu. Dress dengan motif ini sangat menolong sekali buat kamu yang punya badan kurus. Motif-motif tersebut bisa membuat tubuh kamu terlihat berisi dan cerah.

Kamu bisa menggunakan dress dengan motif horizontal untuk terkesan elegan. Sementara untuk kamu yang punya aura ceria, bisa banget mencoba berbagai motif bunga kekinian.

Kalau aku? Aku suka motif bunga karena lebih terlihat blooming dan ceria. Aura mukaku kan sudah sedikit jutek ya, jadi motif begini menolong sekali. Hihi

source image: mataharimall.com

2. Memakai sabuk

“Aduh, dress yang ini kok cakep banget. Tapi cocok gak ya buat aku yang kurus begini?”

Sering jatuh cinta dengan dress yang memiliki warna dan motif yang menawan? Itu aku banget. Kadang kala dress yang kita inginkan saat mencoba dipakai akan membuat tubuh terlihat biasa sekali atau malah semakin ‘flat’. Terus, gimana ya?

Pakai sabuk aja. Iya, ini work banget. Asal perut kamu benar-benar langsing ya. Kalau buncit di bagian perut PR juga sih (huhu).

Nah, buat kamu yang punya perut langsing banget.. Gak ada salahnya mencoba solusi dengan memakai sabuk seperti ini agar tubuh terkesan lebih berisi.

source image: mataharimall.com

3. Memakai Outer

Kurus tapi punya perut buncit? Tapi senang pakai dress?

Yuk, perbaiki penampilan supaya makin cantik dengan memakai outer baik berupa jaket atau cardigan. Memakai outer begini work banget buat perut yang gak langsing amat tapi badan kurus. Seperti aku yang lagi hamil ini contohnya. Hihi.

Selain itu, memakai outer juga merupakan solusi yang pas ketika kita sudah naksir berat dengan dress wanita tanpa lengan. Sering dong pastinya mengalami ini?

source image: mataharimall.com

4. Hindari memakai Dress ketat, Pakailah Dress yang longgar

Terkadang kita sebagai ‘makhluk kurus’ suka sekali memakai pakaian ketat. Niatnya sih supaya terlihat berisi, padahal dress ketat itu tidak cocok buat wanita kurus loh. Apalagi jika kita salah memilih warna.

Dress wanita yang ketat akan membuat penampilan kita terlihat sangat flat dan tidak menawan. Apalagi jika dress tersebut berwarna gelap. Apalagi nih ditambah dengan kulit yang gelap juga. Nah, jadi apa coba? Hihi.

Buat kamu yang punya badan kurus dan tinggi, akan lebih baik jika memakai dress yang longgar dan memiliki design cantik. Seperti dress dibawah ini.

source image: mataharimall.com

5. Jangan terbawa trend, kamu harus punya style sendiri dalam memilih dress

Terakhir yang merupakan solusi terpenting diatas semua solusi diatas adalah kamu tetap harus menjadi dirimu sendiri dalam memilih dress. Kan gak asik banget ya kalau mode pakaian kita selalu berganti sesuai dengan trend yang ada?

Jadilah seseorang yang stylish bukan terbawa trend.

Bagaimana kita tahu bahwa itu merupakan style kita? Yaitu dengan melihat kenyamanan kita dalam memakai dress tersebut. Kalau kita sudah merasa nyaman dan percaya diri maka aura cantik akan terpancar dalam diri kita. Aura positif ini akan membuat orang lain merasa senang saat melihat kita.

Jadi, punya badan kurus tinggi dan flat?

Pede Aja!

IBX598B146B8E64A