Browsed by
Month: August 2021

Sebuah Pembelajaran dari Ramainya Isu Childfree

Sebuah Pembelajaran dari Ramainya Isu Childfree

Pagi itu, aku membuka instagramku. Sekedar kepo ada kabar baru apa yang mungkin terjadi. Dan aku memutuskan untuk membuka DM yang masuk. 

Betapa terkejutnya aku. Aku mendapat sebuah kritik tentang konten yang aku publish di instagram. 

“Jangan ikut-ikutan mendukung childfree dong mba. Mba winda tuh brandingnya Ibu dengan 2 anak.”

Aku termangu sebentar. Kubuka ulang cuitan twitter yang aku publish di instagram tersebut. Kemudian, aku bertanya-tanya pada diri sendiri. 

https://www.instagram.com/p/CS0h51RprRk/?utm_source=ig_web_copy_link

“Memangnya, di cuitan aku ini terasa seperti mendukung childfree?”

Lalu, aku bertanya lagi di dalam hati..

“Adakah batasan nyata antara rasa toleransi, menghargai hingga mendukung?”

Kenapa kita tidak boleh terkesan menghargai? Kenapa menghargai kental dengan rasa mendukung? Bukankah keduanya hal yang berbeda? 

Padahal, di cuitan tersebut jelas-jelas aku mengarahkan ending soal pilihan dan takdir. 

Ah netizen, ada aja kelakuannya.. 😅

Childfree memang sebuah pilihan tapi tetap memiliki batasan

Ramai isue childfree karena statement Gitasav akhir-akhir ini. Jujur, aku bukanlah follower gitasav. Bisa dibilang tidak tau apa-apa tentang hidupnya. Aku hanya mengenalnya baru-baru saja dalam kontennya di youtube. So far, aku berkesimpulan bahwa Gitasav adalah sosok perempuan yang open minded, pintar dan berbeda dengan kebanyakan. Apalagi jika dibandingkan denganku saat seumur dengannya. Ah, benar-benar tidak ada apa-apanya. 

Oke itu tentang Gitasav dimataku. 

Sekarang, kenapa aku ikut-ikutan terbawa dengan keramaian opini tentang childfree? 

FYI, aku bukan jenis makhluk yang suka berkicau dengan hal yang sedang trending. Hanya saja, hatiku tergerak untuk ikut ‘join curcol’ ketika sosmedku mulai dipenuhi dengan ‘war’. Ada yang pro childfree, ada yang kontra. Lalu saling sindir. Hatiku seperti mengganjal. Kok orang sebegininya? 

Iya, kok sebegitunya. Dan aku menonton ulang statement Gitasav. Entah kenapa, di mataku.. Dia biasa aja tuh. Gak ada mengajak begini begitu. Gak juga menjelek-jelekkan yang lain. Kenapa di sosmed begitu ramai berkelahi? 

Aku jadi merasa ‘gimana’. Karena aku pun pernah share di sosmed aku konten dear aline yang berjudul ‘I don’t want kids’. Aku share konten tersebut hanya sebagai pengingatku bahwa setiap wanita punya pilihan. Dan video Aline tersebut bagus menurutku. Bukan tentang childfree yang digemborkan. Takut juga sih gegara share video begitu dikira penganut childfree. Atau yang buruk lagi, dikira termasuk kaum yang menyesal karena punya anak. 😅

Lalu, aku membaca tulisan AFI. Tau kan ya? Gak perlu aku share sepertinya. 

Wah, semakin ramailah sosmed penuh dengan kemarahan demi kemarahan. Padahal, menurutku sendiri pernyataan Afi ada sisi benarnya. Walau iya, memang ada sisi nganu. Tapi ya.. Aduh, dia kan umurnya masih segitu. Wajar sangat lah menurutku dia mengemukakan pendapat dengan bahasa sedemikian. 

Kenapa sih, pernyataan Afi perlu dibela? 

Gak, aku gak ngebela. Cuma aku bilang sedikit banyak memang benar. 

Kenapa? 

Kalian pernah nonton film Mind Hunter? Film yang diangkat dari kisah ini punya banyak pembelajaran loh. Bahwa para psikopat-psikopat yang lahir di dunia ini.. Muncul dari keluarga yang tidak beres. Dari seorang Ibu yang depresi, Ayah yang punya kelainan. Lingkungan yang toxic dll dsb. Film berbau hal yang sama pun banyak yang terinspirasi dari kisah nyata demikian. Sebutlah mungkin Joker, walau fiksi.

Dunia itu, gak sebulat yang kalian kira. Gak selurus dan senyaman yang dipahami. Dunia itu, ruwet. Kayak benang kusut. 

Sepemahamanku, sebagian dunia ini dihuni oleh orang-orang yang mentalnya bermasalah. Dari masalah kecil, hingga besar atau besar banget. 

Orang-orang yang sadar akan ‘ketidakberesan’ ini. Memutuskan untuk memutus rantai masalah dari hal yang menurut mereka basic. Yaitu childfree. Nah, dalam perkembangannya childfree ini sendiri menjadi sebuah lifestyle. Gak hanya orang-orang yang memiliki masalah mental yang menganutnya. Banyak yang ikut-ikutan childfree karena merasa tak mapan secara ekonomi. Banyak pula yang menjadikannya sebagai upaya untuk mengenal diri sendiri hingga mewujudkan kebahagiaan pasangan yang ideal. 

Bagiku, memilih childfree itu boleh. Tapi, tetap HARUS memiliki batasan. 

Karena childfree itu pilihan manusia. Bukanlah takdir mutlak. 

Aku dulu adalah orang yang sepemahaman dengan Gitasav. Bahwa, memiliki anak harus didahului oleh kesiapan mental dan fisik. Anak bukan investasi. Anak adalah buah cinta. Tempat kita mewariskan hal-hal baik. Bukan tong sampah emosi. Bukan pula aksesoris hidup. Memiliki anak harus didahului oleh hati yang bahagia, didahului oleh ekonomi yang menunjang. Anak.. Bukanlah barang undian yang bisa membawa rejeki ketika kita dalam kesusahan. 

Aku menikah. Bertemu dengan cinta hidupku. Sekaligus menemui titik balik hidupku. Tinggal di tempat mertua, sumber ekonomi terbatas. Mental sedang diuji. Lantas langsung hamil. 

Shock. 

Akupun berpikir. Jika aku bersikeras dengan pilihan childfree, maka sungguh berdosalah aku. 

Oke, katakanlah aku anak liberal karena memang memiliki pemikiran menunda anak adalah yang terbaik. Memahami penganut childfree dll. Tapi, aku tetaplah orang yang memiliki setitik Iman di hati. 

Jika Allah berkata ‘Jadilah’.. Maka Jadilah.. 

Itulah yang kami pahami sebagai pasangan muda yang tak siap dengan status Ibu atau Ayah. Kami boleh jadi berencana untuk menunda anak hingga tak punya anak. Tapi, Allah berkata hal yang berbeda. 

9 bulan kemudian anak itu lahir.

Seperti para penganut childfree yakini, bahwa ibu yang belum selesai dengan dirinya sendiri akan mengidap depresi saat memiliki anak. Ya, aku mengalaminya. Aku terkena babyblues. Lantas tak ditanggulangi dengan baik. Lalu berlanjut hingga PPD. 

Tapi mau bagaimana? Allah berkata itulah misi hidup yang harus dijalani pertama kali. Bukan mimpiku, bukan pula membangun citraku. 

Setahun dilalui dengan susah payah. Tumbuh bersama anak dalam mental yang tidak baik. Tapi anak itu sungguh ajaib. Ia benar-benar membuka pintu rejeki. Ia juga menyembuhkanku. Membersamai proses hidupku untuk bertumbuh. 

Aku tak mau menganggapnya tong sampah emosi, ataupun undian hidup pembawa rejeki. Tapi ia menyembuhkanku dan membawa rejeki. Mungkin, karena kami memutuskan hal yang benar. Percaya pada takdir. 

Tanpa Anak, mungkin aku tak bisa menjadi Winda yang sekarang. 

Ya, childfree itu pilihan yang harus dihargai. Karena hidup kita tak sama. Tapi, manusia hanya bisa memilih. Takdirlah yang membawa hidupnya. Pemahamanku tentang pandangan ‘kebolehan’ childfree hanya sampai disitu. Berbatas pada takdir dan menjauhi hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama. 

Antara Feminisme dan Kodrat Perempuan

Isu childfree berbuntut panjang. Dari women war lantas berujung pada kentalnya bau paham feminis. Lalu, apakah childfree telah melakukan penolakan terhadap kodrat perempuan? 

Ya, menurutku sendiri.. jika sudah mencapai ranah ideologi hingga kodrat. Sungguh pembahasannya mulai berat dan sensitif. 

Aku sendiri, mengaku bukanlah wanita yang menjunjung paham feminisme. Hanya saja, aku memiliki batasan antara hal yang bisa diterima dan hal yang ditolak. Jika, pada headline awal aku bercerita bahwa wanita memiliki pilihan tapi tak bisa denial dengan takdir. Maka, mungkin kali ini aku akan bercerita tentang pandanganku tentang feminisme. 

Jadi, apa itu feminisme

Feminisme adalah serangkaian gerakan sosial, gerakan politik, dan ideologi yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mendefinisikan, membangun, dan mencapai kesetaraan gender di lingkup politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Feminisme menggabungkan posisi bahwa masyarakat memprioritaskan sudut pandang laki-laki, dan bahwa perempuan diperlakukan secara tidak adil di dalam masyarakat tersebut. Upaya untuk mengubahnya termasuk dalam memerangi stereotip gender serta berusaha membangun peluang pendidikan dan profesional yang setara dengan laki-laki.

-Wikipedia

Well, secara sadar aku membenarkan bahwa derajat laki-laki memang lebih tinggi dibanding wanita. Aku lahir pada lingkungan yang ‘menghormati’ laki-laki. Sadar bahwa dalam keluarga, sosial hingga organisasi.. Laki-laki selalu memimpin. Dan aku menghormati hal demikian. Karena memang secara genetik hingga psikis, laki-laki lebih pantas untuk itu. 

Kebetulan, lingkunganku dipenuhi oleh laki-laki yang berkomitmen dan memiliki tanggung jawab. Sehingga, secara sadar aku membenarkan paham patriarki menjalar dalam pola pikirku. Dan aku tidak apa-apa oleh hal itu. Karena aku dikelilingi oleh laki-laki yang hebat. Laki-laki yang bisa memberikan kasih sayang hingga apresiasi pada wanita yang melayaninya. Demikianlah. 

Time flies.. Aku mulai berkenalan dengan berbagai sudut pandang kehidupan yang berbeda. Aku berteman dengan berbagai perempuan dengan latar belakang berbeda. 

Perempuan yang keluarganya broken home. Perempuan yang tak bisa melanjutkan cita-citanya. Hingga perempuan-perempuan yang depresi karena kehidupannya yang carut marut. 

Perempuan-perempuan diatas. Tak bisa berkembang dengan baik. Ada yang stuck di tempat. Ada pula yang berkembang namun memiliki ego yang tinggi dan labil. Dan ada pula yang bolak balik ke psikolog karena masalah dengan masa lalunya. Juga ada pula yang dijajah ekonominya, dituntut serba bisa. Tak pernah menjadi perempuan utuh. Yang bisa berjalan dengan bahagia. Bahagia dengan pilihan yang ia pilih sendiri. 

Banyaknya problematika demikian. Menyebabkan gerakan feminisme bangkit. Perempuan harus berdaya. Begitulah semboyan mereka. Cobalah pikirkan, kenapa perempuan-perempuan begini bisa muncul ‘taring’nya? 

Ya, karena dalam circle hidupnya.. Mereka dikelilingi oleh orang-orang toxic. Tidak dilengkapi dengan restocknya tangki cinta. Karena laki-laki dalam hidupnya sama-sama toxic. 

Sesungguhnya, aku sangat yakin bahwa perempuan ‘mungkin’ kebanyakan terlahir dengan hati yang lembut dan penurut. Ia memang makhluk yang diciptakan untuk mendampingi laki-laki. Tapi, jika laki-lakinya tidak baik. Maka, perempuan akan mulai kehilangan daya yang benar. Aku sangat yakin, awal gerakan feminis dipicu oleh hal demikian. 

So, kembali ke persoalan mengenai childfree.. 

Bisakah kita ‘menyalahkan’ perempuan yang memilih tidak punya anak. Ketika mentalnya tidak baik-baik saja. Ketika laki-laki dalam hidupnya tak bisa diandalkan untuk support. Hingga adanya trauma masa lalu yang merupakan buah dari nenek moyangnya. Trauma ketika anak dijadikan beban untuk masa tua. Sumpah serapah anak durhaka yang tak pada tempatnya. 

Child free adalah buah pemikiran solusi instan atas kesalahan yang telah dilakukan oleh generasi sebelumnya. 

Pemikiran instan seperti, “Aku gak mau hal demikian terulang. Stop di aku. Cukup!”

Awalnya, mungkin itulah akar dari childfree. Lantas kemudian dijadikan gaya hidup oleh beberapa negara. Dibenarkan opininya oleh beberapa orang. Dan diadopsi pemikirannya. Menjadi hal wajar dan biasa saja. 

Hal wajar yang biasa saja. 

Ketika hal sedemikian dijadikan wajar dan biasa saja maka kemungkinan bisa saja hal buruk terjadi di masa depan. 

Pembenaran tindakan aborsi, hingga peningkatan gaya feminis yang mulai melenceng. 

Hari ini kita memandang aneh penganut childfree. Dan besok besok, bisa saja.. Kita punya anak satu saja. Repot satu kampung membully. Dunia mungkin bisa saja seterbalik itu. 

Bukan tidak mungkin kan hal itu bisa terjadi? Apalagi ketika kita tak punya batasan dalam mengadopsi suatu pemahaman. 

So, menghargai childfree boleh. Tapi, turut mendukung hingga mengkampanyekan. Itu Nay dilakukan… menurutku. 

Dibanding ramai saling judge, yuk.. Ambil pembelajarannya saja

Well, pembahasannya jadi sedemikian panjang ya. 

Semoga sudah mengerti dengan inti cerita yang ingin aku sampaikan. 

Bahwa mungkin beberapa penganut childfree punya alasan yang bisa diterima. Maka, kenapa sih kita sebagai emak-emak yang sudah beranak tak melihat sisi positifnya saja? Alih-alih sibuk war di sosmed? 

Apa sisi positif yang bisa kita pelajari? 

Kalau kita tak ingin paham childfree ini meluas dan menyebabkan depolulasi hingga terputusnya generasi baik maka.. 

Buatlah kenangan baik antara orang tua dan anak

Dan jika anak sudah ‘terlanjur’ terpapar dengan rasa depresi dari ibu.. Maka perbaiki hubungan kita.

Jangan sampai dalam kehidupan anak merasa masa lalunya suram. Lalu merasa bahwa dirinya hanyalah alat investasi yang dimanfaatkan di masa depan. Hal demikian, bukan tidak mungkin menyebabkan anak kita takut memiliki anak di masa depan. 

Yuk, jadikan anak-anak kita #anakbaik mulai sekarang. Ciptakan kenangan indah yang membuatnya selalu terkenang. Membuatnya semangat dalam menjalani hari-harinya. Penuhi cinta di hatinya. 

Agar suatu hari ia bisa bertemu pasangan yang baik tanpa terburu-buru karena kekurangan rasa cinta. 

Agar suatu hari ia bisa menyayangi anaknya. Memberikan nilai-nilai kehidupan yang baik dalam merawat dan membesarkannya. 

Ya, hidup bahagia itu.. Tangki cintanya harus selalu ada. Maka, jika dalam hidup selalu memendam benci karena beda opini.. Alangkah meruginya bukan? 

Review Kampus J Universitas Gunadarma di Bekasi, Yuk Kepoin Bersama

Review Kampus J Universitas Gunadarma di Bekasi, Yuk Kepoin Bersama

            Masih ingat gak, pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai seluruh isi kampus gunadarma yang terletak di Karawaci. Maka, kali ini akan dibahas mengenai kampus J Universitas Gunadarma yang berada di Bekasi.

            Sekali lagi, kampus Universitas Gunadarma memanglah memiliki keunikan tersendiri, yakni beberapa area kampusnya yang tersebar di beberapa wilayah. Namun, dari kesemua kampusnya memiliki fasilitas dan sarana penunjang kegiatan yang sama baiknya. Maka, tak mengherankan bila kita bisa membahas tentang kampus universitas gunadarma dari berbagai sis dan hal dengan sangat menarik.

            Namun, bisa dibilang bahwa kampus J Universitas Gunadarma Bekasi merupakan bagian dari kampus UG yang paling unik. Bagaimana tidak, lokasinya bahkan terbagi hingga ke beberapa alamat disekitar Bekasi. Tercatat ada 5 bagian dari kampus J Gunadarma, yakni kampus J1, kampus J2, Kampus J3, Kampus J4, hingga kampus J5.

            Adapun alamat rinciannya adalah sebagaimana berikut, kampus J1 terletak di Jl. KH. Noer Ali yang letaknya berada di daerah Kalimalang yang dulunya merupakan lokasi Mall Duta Plaza. Sedangkan kampus J2 lokasinya berada di dekat spot wisata kolam renang Jakasampurna.

            Lokasi kampus J3 sendiri berada daerah Kalimas, tepatnya berada di Plaza Kalimas Blok D Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang, Bekasi Timur. Kampus J4 berlokasi di daerah Kemang Pratama, tepatnya di jalan raya Kemang Pratama blok MM no 21, Bekasi. Terakhir, yakni kampus J5 universitas gunadarma agak sedikit berbeda lokasinya, yakni terletak di daerah Cakung, tepatnya berada di jalan sisi barat tol Cakung, Jakarta Timur.

            Kampus J yang terletak di Bekasi ini digunakan oleh beberapa jurusan S1 di Universitas Gunadarma untuk menggelar kegiatan perkuliahan. Adapun jurusan yang menggelar perkuliahan di kampus J yakni antara lain, jurusan psikologi, jurusan sastra inggris, jurusan teknik industri, dan teknik informatika.

            Selain itu, masih ada jurusan manajemen, jurusan akuntansi dan juga jurusan teknik sipil dan jurusan arsitektur. Kesemua jurusan tersebut menggelar rutinitas perkulihannya secara rutin di beberapa gedung kampus J universitas gunadarma yang tersebar di beberapa wilayah Bekasi dan Jakarta Timur.

            Bila pembahasan mengenai kampus J universitas gunadarma Bekasi ditarik ke aspek sarana dan fasilitas yang ada. Maka, jawabannya kurang lebih sama dengan kampus universitas gunadarma yang terletak di beberapa wilayah lainnya. Keberadaan fasilitas penunjang seperti sambungan WiFi dan AC, toilet, ruang komputer dan ruang laboratorium.

            Sedangkan untuk menunjang kegiatan perkuliahan menjadi sebuah iklim pembelajaran yang kompetitif, maka juga disediakan beberapa sarana penunjang yang ada di dalam ruang kelas perkuliahan. Sebut saja sound system, tape recorder, OHP serta komputer proyektor dan juga slide proyektor.

            Agar menunjang kepentingan hidup mahasiswa diluar kegiatan perkuliahan, maka tentu saja kampus J di Bekasi jug menyediakan beberapa fasilitas pendukung seperti kantin, musholla serta koperasi dan halaman parkir. Namun, sedikit perbedaannya hanya terletak pada area parkir di kampus J1 yang luasnya tak sebanding dengan jumlah volume kendaraan mahasiwa yang memasuki kampus setiap harinya.

            Sehingga, cara agar menyiasati agar tidak kehabisan ruang parkir adalah dengan datang lebih awal sebelum jam perkuliahan dimulai. Namun, satu hal yang jelas, kampus J di Bekasi diperkirakan masih akan terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan dari beberapa hal sarana dan fasilitas yang masih kurang representatif.

            Satu hal yang terpenting, yakni kampus J Universitas Gunadarma di Bekasi ini juga terletak di lokasi yang mudah diakses oleh berbagai kendaraan, tak hanya kendaraan pribadi namun juga kendaraan umum.

            Hal itu tentu menjadi kabar baik bagi para mahasiswa yang datang dari luar kota Bekasi, dikarenakan kampus J lokasinya terbilang dekat dengan stasiun Jalan Mahoni, yakni hanya 2369 meter. Sedangkan beberapa jalur Bus yang berhenti di dekat kampus J Universitas Gunadarma yakni diantaranya adalah Bus AC05 dan AC29.

            Kemudahan akses lokasi menuju kampus J Gunadarma Bekasi tersebut sekali lagi merupakan suatu keuntungan yang sangat memudahkan bagi mahasiswa yang datang dari luar Bekasi. Dilain sisi, kemudahan akses lokasi tersebut juga akan semakin memungkinkan Universitas Gunadarma untuk terus mendapatkan input mahasiswa yang berkualitas dari berbagai daerah di Indonesia.

            Maka, dengan segala penjelasan yang sudah dipaparkan mengenai kampus J Universitas Gunadarma di Bekasi, sekali lagi tak salah lagi bila menyebut kampus ini sebagai salah satu destinasi tujuan kuliah yang direkomendasikan bagi siswa-siswi SMA maupun SMK yang hendak mencari sebuah kampus yang berkualitas baik dari segi pendidikan dan sarana fasilitasnya.

Curcol Tentang Drama Love ft. Marriage And Divorce

Curcol Tentang Drama Love ft. Marriage And Divorce

Pernah gak kalian nonton drama berbau perselingkuhan tapi bawaannya slow aja? Gak mau ngegass, gak mau sumpah serapah.. Tapi rasanya kok penasaran.. XD

Hal begini yang aku rasain setelah coba icip-icip nonton drama Love ft Marriage and Divorce. Drama ini udah 2 season loh berjalan dan season 2 sudah berakhir minggu kemarin. 

Jujurly, pas nonton drama ini dari season 1 tuh agak-agak ngantuk sih. Karena dari episode 1-2 itu terlalu banyak komunikasi. Ada sih kejut-kejutnya tapi tidak membuatku penasaran sampai ingin terus menonton. 

Waktu berlalu, eh tetau udah season 2 aja. Rame banget yang ngebahas drama ini di sosmed aku. Merasa terinfluence, akhirnya aku malah ikut menonton lagi. Loncat langsung ke season 2. 🤣

Trus, ngerasa rame.. Dan lanjott. Dibarengi mengejar season 1 yang ketinggalan. Dasar aku, nonton drama suka loncat-loncat. (Kalian ada yang gini juga? ) 

Eh, tapi seru loh. Karena banyak banget pembelajaran yang aku dapet dari drama ini. Tapi, kali ini aku gak mau nulis point pembelajarannya. Gak mau sok bijak karena drama ini gak mengajak buat bijak, tapi mengajak buat belajar dari sisi-sisi yang lain.  So, aku putuskan buat curcol ringan aja deh ya mengenai drama  ini. 

Mengupas Karakter Kehidupan Suami-Istri di Love ft Marriage and Divorce

Mari dimulai dengan pengupasan karakter dan bertanya-tanya, “Sebenarnya, kehidupan pernikahan macam apa yang sedang dijalani jadi suami memilih selingkuh?”

Drama ini diawali dengan pertemanan antara Boo Hae Ryoung, Sa Pi Young dan Lee Si Eun. Mereka bertiga bekerja pada tempat yang sama. Mereka saling akrab dan senang berbagi cerita. Ketiganya punya karakter berbeda-beda pun juga suami yang berbeda profesi dan karakter. Tapi, mereka punya satu kesamaan yaitu.. 

Sama-sama mencintai pasangannya. Lantas, apa sih yang terjadi? 

Park Hae-ryoon dan Lee Si-eun

“Suamimu masih sangat gagah dan tampan. Kamu tidak khawatir ada yang menggodanya di kampus?” – Boo Hye Ryoung

“Ah, suamiku tidak seperti laki-laki kebanyakan. Dia bahkan sangat jarang minum. Apalagi ikut bermain golf seperti laki-laki pada umumnya” -Lee Si eun

“Tapi sebagai perempuan kita tidak boleh lengah. Paling tidak, kita harus merawat diri. Nanti rasa cinta pasangan bisa hilang. Aku tipe yang sekuat tenaga mempertahankan perasaan cinta itu” – Pi Young

“Kalian bisa bilang demikian karena memiliki ART di rumah. Sedangkan aku tidak seperti kalian, aku punya 2 anak dengan kondisi ekonomi berbeda. Sehingga harus menghemat uang dengan mengerjakan semua pekerjaan..” -Lee Si Eun

“Tapi Si Eun.. Kamu memang tidak pernah berdandan sejak masih muda” – Boo Hae Ryoung

“Ya, benar.. Kami tak pernah melihatmu berdandan dan berpakaian layak.. “

Lee Si Eun diam sejenak. Lalu memaksa tersenyum sambil berkata.. 

“Semakin tua usia pernikahan, rasa cinta berubah menjadi sebuah ikatan dan tanggung jawab. Kalian akan paham hal itu suatu hari nanti” -Lee Si Eun

Aku masih mengingat samar-samar percakapan 3 sahabat ini diawal drama. Saat itu, aku sudah punya hard feeling bahwa karakter Lee Si Eun pasti akan jadi karakter istri teraniaya layaknya sinetron ikan terbang. Karena biasanya, drama perselingkuhan pasti diawali oleh penyebab rata-rata begini. Yaitu, istri yang tidak bisa merawat diri. 

Tapi, dalam lubuk hatiku yang digali-gali. Aku membenarkan ucapan Lee Si Eun. 

“Semakin tua usia pernikahan, rasa cinta berubah menjadi sebuah ikatan dan tanggung jawab”

Aku selalu membenarkan hal itu. Dan aku percaya, bahwa memang ada kok tipikal lelaki yang memegang teguh komitmennya. Seberapapun memudarnya pesona kecantikan si istri. 

Tapi, lelaki memang makhluk yang didesain berbeda. Begitupun dengan Park Hae-ryoon. 

Selama puluhan tahun menikah, Park Hae Ryoon selalu berusaha menerima keadaan istrinya. Bagaimana tidak? Soalnya istrinya sempurna kok. Mandiri Finansial, pintar memasak, seorang ibu yang baik. Kekurangannya hanya satu. 

Tidak bisa merawat diri. Karena terlalu memiliki banyak kesibukan di rumah. 

Lee Si Eun merasa bahwa itu bukanlah kekurangan yang fatal. Namun sebaliknya, bagi Park Hae Ryoon.. Ia merasa sudah cukup bersabar untuk menerima hal tersebut. Masalah ‘ranjang’ bagi perempuan bukanlah hal besar. Bagi lelaki, ini penting. Apalagi jika puber kedua menyerang. Itulah awal mula petaka terjadi. 

Khilaf, Park Hae ryoon lupa dengan statusnya yang dulu. Lupa bahwa ia adalah seorang ayah dari anak-anak yang sudah besar. Ia memutuskan bercerai begitu saja. Lari mengejar perempuan yang lain. 

Pan Sa-hyeon dan Boo Hae-Ryoung

Sa hyeon lahir dari keluarga kaya. Dia anak baik-baik dari keluarga yang juga baik-baik karakternya. Ia berprofesi sebagai pengacara dan menikahi Boo Hye ryoung, seorang penyiar radio yang hits dengan program acara Cinta dan memiliki banyak penggemar. Sekilas, tidak ada kekurangan dari pasangan ini. 

Apalagi, pasangan ini memulai pernikahan dengan rasa cinta. Namun berjalan tidak semestinya. Kenapa? 

Hmm, kenapa ya? Padahal Hye ryoung sudah cantik dan bisa merawat diri. Mandiri finansial pula dan sosok yang tangguh pendiriannya. Sangat berbeda dengan Lee Si Eun. 

Konon Hye ryoung tidak mau memasak dan menyiapkan makanan. Bahkan semua masakan hasil pemberian mertuanya pernah hampir dibuang semuanya. Tidak hanya itu, Hye ryoung juga tidak mau memiliki anak. Tapi apa iya karakter begini pantas untuk dijadikan alasan selingkuh

Setelah menonton sekian season, aku baru merasa bahwa Boo Hye ryoung memiliki sifat leadership yang tidak bisa diimbangi dengan Sa hyeon. 

Hye ryoung adalah wanita cantik yang penuh dengan citra. Sa hyeon tidak menyangka bahwa dibalik citra Hye ryoung, banyak kekurangan baru yang tidak bisa diterimanya. Hye ryoung bukanlah tipe perempuan manis yang bisa dengan nyaman diajak berkomunikasi. Rasa cinta itu kian memudar dalam waktu yang terbilang cukup singkat. 

Shin Yoo-shin dan Sa Pi-Young

Bagaimana bisa pasangan yang sama-sama mencintai dan sama-sama sempurna bisa masuk dalam tragedi perselingkuhan? 

Kenapa? 

Kenapa? Why oh whaaaay? 

Sekian episode sering merasa ‘iri hati’ setiap melihat pasangan Yoo-shin dan Pi-Young. Berimajinasi kapan suamiku bisa seromantis itu. Main peluk-peluk kejutan, dikit-dikit kasih hadiah, sebelum tidur makan es krim, tak gendong kemana-mana dan mandi bareng di bak mandi.. Rasanya kok saya dan suami gak ada apa-apanya.. 😭😂 *PLAK.. Ditoyor suami.. 

Yang Laki profesinya dokter jiwa, dan yang Bini profesinya produser. Punya anak satu perempuan dan manis banget. Hidupnya super sempurnaaaaa. 

Yang Laki tanpa cela. Yang bini luar biasa. Hebat keduanya. Bukan hanya bisa berperan sebagai suami istri yang baik. Tapi juga ibu dan ayah yang baik. 

Lantas kenapa suaminya bisa selingkuh??? 

“Aku bisa maklum jika suamiku selingkuh karena aku yang tak bisa merawat diri, aku juga bisa paham dengan hye ryoung yang tidak mau punya anak. Tapi Pi Young.. Aku tidak bjsa mengerti kenapa suamimu bisa berselingkuh?” Si Eun

“Kalian tau? Laki-laki selingkuh tanpa alasan” -Pi Young

Tapi, sungguh tak ada akibat tanpa sebab. Percayakah kalian akan hukum karma? Kupikir, perselingkuhan yang terjadi dalam keluarga ini adalah teguran keras bagi Pi Young atas perlakuannya pada Ibunya selama ini. Ibu yang tidak pernah ia maafkan karena telah memisahkannya dari Ayah kandungnya. Ibu yang bersikeras bercerai karena tragedi selingkuh. Ia tak pernah memaafkan ibunya karena ia belum ‘merasakan’. Mungkin benar kiranya bahwa ‘rasa’ adalah sebuah bahasa komunikasi yang efektif. Rasa itu berbuah penyesalan yang menyakitkan.

Mengupas Karakter Para Pelakor, Apakah Pelakor Itu Jahad? 

Aku sebelum nonton LOVE Marriage vs Divorce, “Pokoknya semua pelakor tuh jahat. Ya logika aja sih, udah tau laki-lakinya dah bekeluarga masih aja gatel.”

Aku sesudah nonton LOVE Marriage vs Divorce, “Kok kagak ada sih kelakuan pelakornya yang jahat? Kok aku jadi ikutan berempati sih? Duh, konslet nih otak.” 🤣

Jadi kalau ada perselingkuhan, yang salah itu siapa? Apa iya semua salah pelakornya? Coba deh kita kupas tuntas karakter masing-masing pelakor disini:

Nam Ga Bin

Kok bisa sih artis musikal yang masih cantik diusia 40an, tergoda sama Hae ryoon. Si dosen yang sudah punya 2 anak gede? Ini yang kegatelan duluan siapa? 

Perselingkuhan terjadi ketika ada kesempatan. Sungguh hati seorang wanita dan pria itu lemah. Makanya, kalau sudah bekeluarga kagak usah deh sok-sok temenan dekat sama lawan jenis. Apalagi pake acara curhat. Yang ada nanti berempati, pelukan bilang hush hush gak papa, saling melihat mata, berbinar-binar, lalu pengen kiss. Ena ena deh.. Lanjott lanjottt… 😌

Karakter Nam Ga Bin ini sebenarnya gak jahat kok. Dia cuma kelewat polos aja gak ngerti sama dunia. Gak ngerti bahwa di dunia ini ada yang namanya anak broken home. *ini kok jadi julidin orang.. 🤣

Tapi serius, awal hubungan Nam Ga Bin sama Park Hae Ryoon itu kan karena tetiba bertemu dalam profesi. Lalu dekat, dekat dan curhat. Nam Ga Bin overall baik. Tapi, dia memutuskan lari ke Park Hae Ryoon ketika ia sedang sedih. Mana Park Hae Ryoon juga lagi ‘sedih’ melihat istri tak terawat di rumah. Jadi deh selingkuh.. 

Entah kelewat polos atau bagaimana ya si Nam Ga Bin ini, sempat emosi juga melihat cara dia ingin berbaikan dengan Lee Si Eun dengan insight polosnya. Seolah-olah menikah dengan Park Hae Ryoon tidak melukai yang lain. Gak bisa paham dengan posisi anak broken home. 

Dan aku sangat menantikan adegan Nam Ga Bin yang sadar bahwa sikapnya yang kelewat polos itu salah. Aku sangat puas dengan ending karakter Nam Ga Bin yang tersadarkan insightnya ketika kedua orang tuanya meninggal. Bagaimana cara ia meminta maaf pada Lee Si Eun. Seketika… kok jadi pengen ikut nangis.. 😭

“Aku tidak tahu kenapa aku bisa begini.. Padahal kedua orang tuaku baik dan mereka membesarkanku dengan penuh cinta.. Bagaimana bisa aku merenggut kebahagiaan keluarga lain” – Nam Ga Bin

A Mi

Gadis muda, cantik, belia, polos, lugu, ceria, baik.. 

Kok mau-maunya nekat maksa nikah sama Yoo Shin yang umurnya berbeda puluhan tahun? Kok bisa merusak kesempurnaan pernikahan orang? Nyuruh cerai segala? Kok egois banget? Kok manja banget. *Kok minta toyor.. Haha 🤣

Kalau enggak kenal sama karakter A Mi, aku yakin didunia nyata sosok begini bakal dibully dan ramai jadi bahan ghibah. 

Tapiii… Apa iya aslinya memang sejahat itu? 

Kalau aku pribadi, menilai sosok A Mi sebagai gadis lugu yang kehilangan sosok ayah di masa kecilnya. Ia merupakan anak diluar nikah yang dibesarkan ibunya tanpa sosok ayah kandungnya. Ia dibesarkan tanpa pelindung dan dipaksa untuk serba mandiri dan kuat. 

Awalnya ia tinggal di amerika, lalu datang ke korea seorang diri. Dengan pribadi yang masih lugu dan rapuh di dalam. Kemudian, bertemu dengan Yoo Shin. Sosok yang ‘tidak tegaan’ karena mungkin berkaitan dengan profesinya sebagai dokter jiwa. Keadaan yang demikian memunculkan benih-benih cinta pada A Mi. Ia pun mulai aktif mendekati Yoo Shin. 

Aku pribadi sih yakin ya.. Sebenarnya, yang dirasakan oleh A Mi bukanlah rasa cinta. Tapi rasa haus akan kasih sayang dan sosok ayah. Yoo Shin menjawab lobang kosong yang ada pada hidupnya. Dan ya.. Namanya juga lelaki.. Lelaki mana sih yang tidak tergoda dengan sosok sepolos dan secantik A Mi? Yoo Shin yang memiliki istri dan keluarga yang sempurna pun lengah dibuatnya. 

Song Won

“Heran deh aku, gemes tuh sama mertuanya Hye Ryoung. Masa anaknya selingkuh tapi mertuanya malah lebih suka sama selingkuhannya dibanding sama Hye Ryoung istri sahnya?”

Aku membaca salah satu komentar netizen di sosmed temanku. Kok aku jadi cengengesan ya. 

Kalian tau apa yang aku pikirkan? 

“Mungkin, kalau aku jadi orang tua Sa Hyeon.. Aku bakal ngelakuin hal yang sama.. ” XD

Hanya di drama korea ada adegan mertua sayang dengan pelakor. Ya, aku sih baru nonton. Entahlah kalian.. Haha. 

Ya gimana gak sayang. Kelakuan palakornya jauh lebih baik dibanding istri sahnya. *lalu aku ikut dibully netizen.. 😂

Song Won ini di mata aku baik banget. Lemah lembut, bisa berkomunikasi dengan nyaman, penyayang, bisa membawa diri. Jauh banget sama karakter Hye Ryoung. Mungkin di mata Sa Hyeon, Song Won dan Hye Ryoung itu bagai langit dan bumi. Kagak ada mirip-miripnya. Haha. 

Ih, kamu kok ngebela karakter pelakor win? Ingat loh dia pelakor! 

Iya, kenapa ya di drakor pelakornya baek banget gini.. Aku jadi kebawa empati.. 😭

Song Won bukanlah gadis muda, bahkan usianya jauh diatas Sa Hyeon. Bukan pula gadis cantik, ia tidak ada bandingannya dengan kecantikan Hye Ryoung. Bahkan dia bukan gadis lagi kok. Melainkan seorang janda. Tuh, cowok mana mana sih yang matanya keseleo mau selingkuh sama Song Won? 

Tapi, Sa Hyeon melihat Song Won tidak hanya dari luar. Tapi dari hati. 

Song Won adalah sosok wanita yang menjawabnya saat berkonsultasi tentang masalah pernikahannya. Song Won yang menyuruhnya untuk terus mengalah dengan Hye Ryoung. Kebaikan Song Won membuat Sa Hyeon jatuh hati daaan.. Selingkuh.. 

Aku : “Lagian kenapa juga sih nyari konsultan pernikahan yang cewek? Kan sudah kubilang laki-laki dan perempuan itu gak bisa saling curhat. Entar saling berempati, pelukan, kisssin lalu ena ena.. Udah lah gitu aja rumusnya pasti gak jauh-jauh” 😂

Intinya, dalam ketiga kasus perselingkuhan. Kasus Sa Hyeon dan Song Won adalah satu-satunya cerita yang bisa membuatku maklum dan mendukung perceraiannya dengan Hye Ryoung. Aku berharap sih, ending drama ini ditutup dengan kelahiran anak Song Won lalu mereka hidup bahagia. 

Tapii.. 

Ending Drama Love ft Marriage and Divorce yang bikin Bengong

Loh loh loh.. 

Ending Drama Love ft Marriage and Divorce kok gini amat?

Kenapa Sa Hyeon nikah sama A Mi sih? Mereka kenalan dimana? Kejar jodoh? Tabrakan dijalan? 

Waduh, kacau.. Kenapa Song Won malah nikah sama Pak Seo? 

Ini lagi kenapa? Kenapa Pi Young kagak balikan sama Yoo Shin? Kok malah nikah sama pacar Nam Ga Bin? 

Terus Ga Bin gimana? Bunuh diri? Mutusin gak akan pernah nikah? Atau jadi ‘gabin barandam’? *hanya rakyat banjar yang paham ini mungkin.. 🤣

Mana nih si Hye Ryoung? Lee Si Eun? Prof Park? Mereka ngapain ya? Main kelereng? 

Apa drama ini akan berlanjut ke season 3? Apakah menjadi semakin seru? Atau jadi unrasional layaknya penthouse? XD

Entahlah apa yang terjadi, tapi aku setuju dengan kata-kata Lee Si Eun.. 

“Kemarin kita bertiga duduk disini. Saling membanggakan suami kita. Tak sampai setahun, kita duduk bersama lagi.. Saling mengeluhkan masalah yang sama. Kita tidak tau bukan apa yang akan terjadi tahun berikutnya? Bisa jadi kalian berdua menikah lagi. Hidup memang penuh dengan kejutan..”

Ya.. Hidup penuh kejutan. 

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha sebisa mungkin. Tak perlu terlalu bangga dengan kehidupan sendiri. Tak perlu pula terlalu rendah diri. 

Perselingkuhan terjadi bukan karena kita yang tak bisa merawat diri, bukan pula melulu karena ketidaksempurnaan lainnya. Adanya celah dan kesempatan adalah sesuatu yang tidak bisa kita perhitungkan, sebaik apapun pasangan yang kita miliki.

-shezahome

Jadi, hal kecil apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal buruk terjadi pada pernikahan kita? 

Hal kecil versi aku: Sering-seringlah bercerita horor kepada suami. Bukan tentang hantu tentu. Tapi tentang cerita horor yang terjadi akibat perselingkuhan.. Dari anak broken home, munculnya bibit-bibit depresi, hingga kendala ekonomi. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang terjadi di masa depan. Tapi setidaknya, andai hal buruk ingin terjadi. Kita bisa berpikir dua kali untuk mencegahnya. Bukankah begitu?

Intinya, kalian yang belum nonton drama ini.. Aku sangat merekomendasikan buat ditonton bareng suami.. Haha

Kalian ada yang udah nonton juga? Curcol sini juga yuks!

Petualangan Membangun Bisnis IT, dari Recehan Rengginang, Bertikai, hingga Mirip Alur Drakor Start Up

Petualangan Membangun Bisnis IT, dari Recehan Rengginang, Bertikai, hingga Mirip Alur Drakor Start Up

“Bisnis itu bukan tentang bagaimana menjadi kaya. Tapi petualangan untuk membangun circle produktif.” -Shezahome

Apakah aku pernah bercerita tentang bisnis yang dibangun oleh keluarga kami? Hmm, sepertinya iya. Walau termasuk sangat jarang diceritakan di blog. Karena sesungguhnya pemeran utama dalam bisnis ini adalah suami.

Aku? Hanyalah aktor bayangan yang mendukung di belakang. 

Tapi, kali ini rasanya aku sangat gatal ingin bercerita bagaimana awal mula hingga proses bisnis ini dibangun. Karena, kalau diputar ulang sepertinya ceritanya sedikit menarik. 

Iseng dan Ingin Berdaya adalah Awal Mimpi

Aku menikah pada tahun 2012. Sebuah tahun yang merupakan saksi dalam perjuangan ekonomi keluarga shezahome. Awal kehidupan pernikahan, aku dan suami bukanlah anak yang memiliki privilege untuk sukses. Aku masih kuliah sedangkan suami baru saja lulus PNS setahun yang lalu. Untuk awal hidup, kami memutuskan hidup menumpang di tempat mertua. 

Keluargaku mungkin terbilang berada. Tetapi, bukanlah tipikal keluarga yang serba menolong. Apalagi, sudah tradisi kiranya bahwa jika anak perempuan menikah maka hilanglah sudah tanggung jawab orang tua. Sedangkan keluarga suami serba kekurangan. Ibunya janda dan adiknya terbilang banyak. Gajih PNS biasa tidaklah cukup untuk mengcover biaya kehidupan. Apalagi untuk membeli rumah. Untuk mengontrak saja kami harus berpikir puluhan kali. Keadaan menjadi mengejutkan kala aku hamil, padahal kala itu masih banyak impian hidup yang harus dibangun. Karena sungguh sebenarnya aku sangat ingin membantu ekonomi keluarga hingga benar-benar berdaya. Hingga suami memutuskan kuliah S2 di UGM, aku di seberang pulau malah terdampar antara rumah mama dan mama mertua. Demi apa? Demi menabung untuk bisa membeli rumah. 

Setahun kemudian anakku lahir dan suami pulang. Kami memutuskan membangun CV. Awalnya, CV ini dibangun karena iseng saja. Suami punya kemampuan di bidang pembangunan program aplikasi. Dan kebetulan, kakak iparku bekerja di dinas provinsi. Yang mana saat itu memiliki sedikit proyek dari pemerintah, khususnya dalam pembangunan web dan berbagai aplikasi. Pekerjaan pertama pun datang. 

Aku masih ingat kala itu, suami sering begadang untuk membuat aplikasi tersebut. Aku tidak begitu paham sebenarnya apa yang ia kerjakan saat itu.. 😂 Hal receh yang bisa aku lakukan hanyalah support receh. Menyemangati, membuatkan cemilan disertai dengan suara bayi Farisha yang menangis kencang. Saat itu, aku berdoa dalam hati. Setiap anak lahir dengan membawa rejekinya. Maka, semoga kelahiran Farisha (Pica) membuka rejeki keluarga kami. 

Pekerjaan pertama itu sukses. Dan kami memutuskan untuk mencari rumah. Entah beruntung atau kami memang sedang sangat dirahmati Allah.. Tetiba kami menemukan rumah tua yang harganya murah. Simsalabim, rumah itu berubah dengan uang proyek pertama. Pekerjaan pun berlanjut. Sebenarnya, tak selalu pekerjaan suami berujung sukses. Kami sempat mencari tenaga kerja programming tambahan. Hingga memicu konflik antar anggota. Berakhir dengan suamilah yang membangun segalanya hingga selesai. Proyek pekerjaan kami memang tak selalu punya imbal balik yang besar. Kadang kala, 50% dari total pendapatan jatuh ke pos pos anggaran yang tidak seharusnya. Kami? Mungkin hanya dapat 30% dari anggaran. Dan itupun harus dibagi-bagi. Layaknya rengginang yang gurih tapi membuat ketagihan, kami berharap pekerjaan ini terus berkelanjutan. Walau nyatanya kadang masih jarang. 

Tapi, kami tetap menekuni usaha tersebut. 

Usaha itupun sempat mengalami kekosongan. Tidak ada proyek dan hanya menyisakan biaya bulanan. Kami sempat hidup hanya mengandalkan gajih saja (yang juga dibagi-bagi). Suami sempat menghilang dalam bisnis ini dan berfokus untuk mengurus sertifikasi dosen. Namun sepertinya, stuck di satu posisi bukanlah jalan ninja kami. Apalagi, aku terkadang juga sering ‘membatin’ kala uang bulanan dibagi-bagi. Wkwk. Ya aku juga sempat kok berjualan kue untuk bisa membantu ekonomi rumah tangga. Akan tetapi, sepertinya berjualan kue sambil mengurus anak tidak cocok untukku. Usaha itu hanya berjalan setahun dan mandeg. 😅

Kami juga sempat memutuskan untuk belajar berinvestasi. Bukan, bukan reksadana. Tapi saham. Saat itu sedang ramai dengan bitcoin. Kami juga tercebur sebentar. Lantas keluar kemudian. Tidak karena rugi sebenarnya, tapi ROI nya terbilang lamban. Apa memang kami yang tak cekatan? Wkwk

Then, start up pun menjamur di indonesia. Suami tergabung dalam salah satu komunitasnya. Kalian tau? Jika kita menjalani sebuah jalan yang buntu maka solusi terbaik adalah kembali dan mencari kawan senasib. Disitulah awal mula suami bertemu dengan salah satu founder start up di Jakarta dan mengobrol tentang bisnis IT. 

Suami pun memutuskan untuk ‘create project’. Aku tidak tau tepatnya saat itu, apa sih yang dikerjakannya sendirian malam-malam. Oh ternyata, suami sedang mencoba membuat thema untuk jurnal. 

Saat itu, aku sedang hamil anak kedua. Kehidupan kehamilan kedua dipenuhi baper-baper tidak jelas karena ya.. memang setiap hamil aku berubah jadi sensitif sekali entah kenapa. 😂 Sehingga saat melihat suami sibuk sendiri di komputernya tanpa ngelus-ngelus istrinya atau mengobrol renyah tuh kok gemes. Belum lagi kadang kok tidak ada surprise cemilan yang datang. Pekerjaan domestik hingga sekian nganu pun tidak mendapatkan pengertian. Otak suuzhon pun mulai kesana kemari. 😌

Tapi, biar sedemikian baper. Aku selalu berdoa semoga apapun yang suami lakukan diberikan keberkahan. 

Usaha itu Mencapai Titik Kejayaan Saat Pandemi

Kelahiran Humaira adalah sejarah yang tak terlupakan dalam cerita shezahome. Layaknya, Pica yang sukses karena kelahirannya. Humaira pun tidak kalah. 

Tak disangka usaha thema itu sukses. Laba dari penjualan kami modalkan untuk pembangunan ruangan kantor di rumah. Kami juga memutuskan untuk mempekerjakan 2 pegawai. 

Setahun berlalu dan pandemi covid 19 pun tiba di indonesia. Sekeliling kami mengalami dampak krisis ekonomi. Kebijakan WFH pun diadakan. Suami tak lagi pergi ke kampus untuk mengajar. Tapi full time di rumah saja. Kami sempat mengalami kegalauan karena takut jika pandemi mempengaruhi tingkat penjualan. Sempat beberapa hari kosong orderan. Dan kami memutuskan untuk mengisinya dengan membuat artikel promosi hingga memberdayakan google ads. Belajar SEO untuk bersaing dengan page-page luar yang memiliki usaha sama dengan kami. 

Eh, kami? Gak, aku pendukung di belakang layar. Haha. Lebih tepatnya mungkin ‘mereka’..🤣

Pandemi membuat 2 orang anggota keluarga kami tidak bekerja. Dan suami harus support. Tak hanya itu, salah seorang tetangga janda yang berjualan di SD pun terkena dampak. Mana beliau dirongrong oleh hutang. Keadaan yang demikian membuat empati diawal pandemi menjadi-jadi. Sehingga biaya juga terkuras kesana. 

Namun keadaan berlangsung tidak lama. Usaha kami kembali laris. Klien berdatangan dari luar negeri. Pandemi tak membuat usaha kami merosot. Justru keadaan berbalik kemudian. 

Tapi, dimana ada titik kesuksesan biasanya selalu diiringi dengan cobaan yang tak kalah menggoyangkan. 

Dan cobaan pertama itu terjadi… 

Bertikai dengan Perusahaan Pesaing di Luar Negeri

“Email dari nganu masih ada bah?”

“Buat apa?”

“Mamak mau bikin tulisan di blog..”

“Udah lama diapus..”

“Yaah.. ~”

Iya, tadinya mau melampirkan email ‘teror’ dari perusahaan sebelah di blog post ini. Tapi ternyata emailnya sudah dihapus. Wkwk. 

Intinya, kami pernah mengalami fase horor dan terancam dipenjarakan hingga didenda. Dan jumlahnya.. Banyak banget.. Horor gak tuh? 

Bukan, bukan oleh perusahaan di indonesia. Tapi perusahaan di amerika sonoh.. 

Kenapa bisa kejadian demikian? 

Oke, aku akan menuliskan ceritanya supaya bisa jadi pembelajaran juga buat kalian yang membaca ya. 

Awal mula membangun usaha open journal theme. Kami membangun rangking di google terlebih dahulu. Sehingga, salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan memposting artikel. Baik itu tentang perkenalan, hingga cara mengaplikasikan dll dsb. 

Nah, saat itu jujur aku saja tidak terlalu paham dengan usaha suami ini. Terus, aku juga rempong dengan urusan domestik di rumah. Humaira kan masih bayi banget juga. Sehingga untuk menulis artikel tentang ojt bukan masuk ranah aku meski aku suka nulis. Kan hobinya nulis curhat deng. Wkkw. 

Suami saat itu menyuruh salah seorang pegawainya buat menulis about us plus lain-lainnya. Dan tentu pakai bahasa inggris. Kan pasar kami global, bukan cuma indonesia. 

Ternyata, pegawai ini mencari artikel di google juga buat menulis. Daan, dia copas dong dari website yang lain.. Website yang usahanya sama dengan kami pula.. 😭

Seminggu, dua minggu sih tidak ada yang terjadi. Pas sudah sebulan, email teror itu datang. Dan suami baru ngeh kalo ternyata pegawainya copas salah satu konten perusahaan lain ini sama persis plek ketiplek. Bukan perusahaan sembarangan pula. Perusahaan maju di amerika yang mana bergerak dibidang sama dengan kami. Dan tuntutannya gak main-main. Horor banget gais. Auto gak tidur 2 hari 2 malam. 😭

Aku pun juga bertanya-tanya dengan para bloger yang pernah kena kasus plagiarisme. Juga aktif bertanya pada bloger senior. Jawabannya bermuara pada hal yang sama yaitu minta maaf dan hapus. 

Of course ya itu sudah dilakukan. Bahkan sejak email dibaca pun suami langsung menghapus tulisan copas tersebut dan meminta maaf. Tapi sepertinya, bukan hal itu saja yang menjadi tujuan perusahaan sebelah. 

Mereka mengganggap kami pesaing. Sehingga menyuruh kami mengganti web dan membangun bisnis dari 0 lagi dengan web yang berbeda. Kenapa? 

Karena ranking web kami di google ada diurutan tepat dibawah mereka. Dan harga yang kami tawarkan untuk satu thema jauh dibawah harga mereka. 

Kami bersikeras tidak mau mengganti nama web dan membangun ulang karena pelanggan kami sudah ‘lumayan’. Dan ternyata, mereka mulai mencari-cari masalah yang lain untuk menjatuhkan kami. Huhu.. 

Email demi email berdatangan dan kali ini bukan membahas artikel plagiarisme. Melainkan membahas bahwa salah satu coding thema suami juga mengcopas coding thema produk mereka. Mereka mengklaim bahwa kami telah melakukan peniruan produk. Dan sedang on process dituntut. Haduh, membaca emailnya saja sudah auto mual. Apalagi membaca dendanya. 😭

Lalu, aku balik bertanya pada suami, “Emang beneran sama ya? Beneran copas ya?”

“Gak ada tuh. Aku bikin capek banget euy designnya masa dibilang niru?”

Semalaman suami tak nyenyak tidur. Melihat bolak balik produk thema miliknya dan milik perusahaan tsb. Dan entah bagaimana ceritanya.. Esok paginya dia tersenyum sumringah. 

“Kenapa bah? Kok kayak happy gitu?”

“Mereka ketauan curang.. Aku dapet bukti bahwa mereka yang copas coding thema kita. Ini buktinya.”

*dan terlampirlah kode-kode yang tidak mamak mengerti. Kiri kanan persis sama.. 

Disini tercantum tanggal create nya. Dan aku yang bikin pertama kali. Mereka ketahuan cari perkara sama aku. 

“Oh ya.. Kenapa mereka gitu ya?”

“Ya namanya bisnis, ada aja masalahnya. Mungkin mereka merasa kita ancaman karena beberapa pelanggan mereka pindah ke kita. Dan kita agak keterlaluan juga sih. Naroh harga murah.”

Kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? 

Email masuk kembali dan itu dari lembaga hukum yang mempertengahi perkara antara kami. Email tersebut menjelaskan kepada suami bahwa kasus plagiarismenya serius. Dan jika suami tidak mau mengurus dengan hukum maka akan ada tindakan serius. 

Suami pun kembali melakukan tuntutan hal yang sama. Yaitu, menuntut perusahaan tsb yang juga melakukan plagiarisme produk. Ia melampirkan bukti-buktinya. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? 

Perusahaan tersebut mengajak berdamai.. 😂

Case closed. 

Sebagai endingnya, kami menaikan harga thema menjadi rata-rata. Kami sadar bahwa kami juga salah. Memiliki usaha dengan pasar global di mana standar harganya adalah standar lokal. Sehingga membuat usaha yang lain menjadi timpang. Pelajaran yang sangat berharga bagi kami. 

Sekarang, Keadaan Kami bagaikan Nam Do San – SamsanTech

Bisa dibilang dari bulan kemarin perusahaan kami mengalami penurunan. Padahal, kami sudah semangat membangun bisnis ini dengan mendirikan kantor baru. 

Masih on process sih. Tapi, semangat kami sedang menggebu-gebu untuk maju. Walau realitanya, dalam bulan ini saja tidak ada orderan masuk. 😂

Kami sadar bahwa untuk maju,tidak bisa mengharapkan penjualan thema saja. Setidaknya kami berharap ada proyek tambahan lagi. Seperti tahun sebelumnya. 

Sampai suatu hari suami ‘curhat’ bahwa ingin memberdayakan uang yang ada untuk belajar saham (lagi) bahkan ingin mempekerjakan karyawan khusus untuk investasi. Dan kalian tau kabar lucunya? Karyawan yang dipercayai untuk menghandlenya adalah fresh graduate yang belum berpengalaman. Sontak bikin mamak jantungan. Kok bisa suami punya pikiran begitu. Layaknya Nam Do San lugu yang sedang mencari investor tapi gak jelas yang datang.. 🤣

Layaknya Drama Itaewon Class yang mempercayakan kemajuan produk masakan oleh chef yang bahkan so far memasaknya masih belajar. Suamiku ternyata karakternya sedemikian.. Unrealistis. 😅

Kemudian, email itu datang. Email dari perusahaan yang bertikai dengan kami dulu. 

Tapi isi email kali ini.. Adalah penawaran kerja sama.. 

Posisi kami sekarang bagaikan Samsan Tech yang sudah berkembang brandingnya di Sand Box bersama Dal Mi. Akan tetapi karena stuck, maka kami ditawarkan kerja sama oleh ‘Alex’. Bukan, bukan akuisisi bakat sih. Tapi mirip. Kami seakan dibuatkan pilihan. Ingin stuck di perusahaan sekarang. Atau mengembangkan perusahaan mereka? Lalu melepaskan perkembangan usaha yang ada sekarang. 

Aku gak tau kenapa alur cerita usaha ini jadi mirip-mirip drakor ujungnya.. 😭

Lalu aku bertanya pada suami, “Jadi kalian bakal disuruh kerja di amerika sono?”

Dan suami bilang, “Kerjaannya remote kok”

Lalu angan-angan dramanya jadi gedubrak.. 🤣

Gak, gak ada cerita ke Dal Mi ditinggal-tinggal Nam Do San. Syukurlah. *sudah mau baper2 dandan dan nangis kayak film.. 😌😂

Hanya saja ya begitulah. 7 tahun membangun bisnis IT, dimulai dari benar-benar 0 sampai bisa mempekerjakan 5 pegawai. Dan diantara pegawai ini juga ada yang bekerja dengan kami di garis ekonomi yang 0. Berangkat naik sepeda, yatim piatu gak punya apa-apa. Sampai sekarang bisa membeli handphone dan kendaraan baru. Bagi kami, ini pencapaian yang gak terkira harganya. 

Dan kami ingin agar bisa membangun anak-anak begitu lebih banyak lagi. Membangun banua sendiri, membangun indonesia. 

Karena bisnis bukan sekedar tentang uang. Bisnis adalah petualangan untuk berkembang. Membangun yang awalnya 0 menjadi luar biasa. 

Impian Membeli Apartemen di Jakarta untuk Masa Depan, Why Not?

Impian Membeli Apartemen di Jakarta untuk Masa Depan, Why Not?

“Sudah berapa banyak uang habis untuk membuat kantor ini pah?”

“Sudah 500 juta lebih sama tanahnya. Dan belum selesai.. 😂”

Kami berpandangan dan saling tertawa bersama. Sambil menatap kantor kecil yang kami dirikan tersebut. Melayang-layang pikiran memikirkan bagaimana design selanjutnya untuk di dalamnya. Dan tentunya, masih memikirkan kira-kira berapa banyak biaya lagi yang harus kami keluarkan. 😭

Membangun Rumah Sendiri itu Mahal!

Aku dan suami sudah 2x berpengalaman dalam membangun rumah. Yang pertama saat merenovasi tempat tinggal. Dimana kami juga membangun mulai nol sebagian dari rumah tersebut. Yang kedua saat membangun kantor sekarang. Banyak biaya dan waktu terbuang untuk itu. Apalagi, tanah Banjarmasin terbilang spesial dibanding tanah lainnya.

Banjarmasin memiliki lahan gambut. Dimana untuk pondasi rumah saja kami menghabiskan uang yang tidak sedikit. Tanah Banjarmasin harus dipasang kayu galam di bawahnya. Dan butuh beberapa teknik dalam membangun pondasinya. Jika melakukan kesalahan bisa saja terjadi kesalahan fatal. Rumah akan merosot kebawah. Dalam istilah bahasa Banjar, namanya adalah ‘tahantak’.

Untuk pondasi saja, membangun rumah di Banjarmasin memakan banyak biaya. Hampir sama dengan biaya separuh dari membangun rumah biasa. Ajaibnya, kami tak kunjung jera membangun bangunan di Banjarmasin. Seperti sekarang ini, kami sedang on progress dalam membangun kantor share system. Bisnis IT yang sudah kami tekuni selama 7 tahun terakhir. Dalam perkembangannya, kami sudah memiliki 5 orang pegawai tetap dan Insya Allah semoga bertambah lagi. Sehingga, rumah yang sekaligus jadi kantor sekarang tidaklah cukup untuk pegawai yang ada. Membangun kantor adalah prioritas yang harus kami kerjakan sekarang.

Dalam proses pembangunannya, kami sadar sekali bahwa.. Membangun kantor itu mahal sekali. Hiks.

Bahan bangunan semakin hari semakin mahal. Belum lagi dilema tanah dan biaya tenaga kerja (tukang). Makin ke sini, kami sedikit menyesal membangun kantor di sini. Karena, dalam jangka panjang suami pernah berkata bahwa..

“Suatu hari semoga Share System akan berkembang dan memiliki kantor pusat di Jakarta”

Hmm.. Kenapa kami ngotot sekali pengen membangun kantor sekarang? Bukannya bisa saja jika kami memutuskan menyewa ruko saja? Jauh lebih hemat biaya dan simpel. Tapi, yah namanya juga usaha berproses. Kadang kala masih sedikit denial dengan mimpi. Padahal, gak ada yang gak mungkin bukan?

Membeli Apartemen di Jakarta untuk Masa Depan, Why Not?

Masih terngiang kata-kata suami yang entahlah benar atau tidak. Yang jelas, aku sih yay aja kalau disuruh tinggal di Jakarta.

I will follow you everywhere.. XD (Bucin mode on)

Tapi, berapakah gerangan harga tanah di sana? Apa iya kami harus membangun rumah dari 0 lagi? Oh tidak, rasanya sudah lelah kalau mengingat prosesnya. Terlebih lagi biayanya. Entahlah, kadang niat ingin membangun rumah sendiri itu supaya hemat. Tapi entah kenapa kalau dihitung-hitung ulang kok jadi boros ya. Hiks.

Lalu, aku kepo dengan mencari harga-harga apartemen di Jakarta. Harganya beragam. Rata-rata sih diatas 1M. Sangat wajar sih  mengingat lokasi yang strategis dan Jakarta kan memang beda pasarnya. Tapi tentunya kalau bisa sih tetap mencari yang harganya lebih murah dengan tempat yang bagus.

Namanya juga mengkhayal. Hihi..

Hasil pencarian minggu ini, ternyata pilihannya jadi membingungkan. Ada yang harganya terjangkau, tapi lokasinya tidak strategis. Ada pula yang lokasinya strategis, tapi harganya mahal sekali.

Tapi, kemudian aku terpaku membaca salah satu halaman. Padina Soho And Residence namanya. Aku melihat harga dan lokasinya. Wah, pas sekali untuk diimpikan.

Padina Soho And Residence, Pilihan Tepat Untuk Investasi Masa Depan

Jadi, di mana persisnya lokasinya?

Apartemen Padina ini adalah apartemen dan SOHO paling dekat dari Bandara Soekarno Hatta yang bisa secara mudah kita capai melalui kereta api bandara dan jaringan Tol JORR 1. Kalau dihitung-hitung, hanya 20 menit ke bandara, 5 menit ke stasiun KA bandara dan 10 menit ke Tol JORR 1. Waw banget bukan?

Kenapa tertarik untuk investasi masa depan di sini?

Karena, Apartemen Padina SOHO and Residence adalah unit hunian dengan material terbaik serta mutu beton yang lebih kuat dan kokoh, Ssst.. di atas Standar Nasional Indonesia (SNI) loh. Didukung juga dengan back up suplai listrik jika ada pemadaman besar sehingga AC tetap menyala, menjamin kenyamanan tanpa gangguan. Coba deh kalau bikin rumah sendiri, gak bisa detail sampai back up suplai listrik juga. Iya kan? 😆

Selain itu, Apartemen Padina SOHO juga punya banyak fasilitas penunjang di dalam kompleksnya. Fasilitas dan kenyamanan gaya hidup hingga keamanan ini menurutku penting. FYI nih, Apartemen Padina SOHO dilengkapi fitur-fitur keamanan seperti smart fire alarm, sprinkles system dan CCTV juga loh.

Terus design di dalamnya kira-kira bagaimana?

(Foto: padinasohoandresidence.co)

Apartemen ini punya desain arsitektur modern. Gak hanya itu, apartemen ini juga dilengkapi fitur keamanan seperti double lock pada pintu utama hunian (ini penting banget). FYI, Semua unit sudah smart home ready.

Harganya berapa?

Harga Padina SOHO and Residence mulai dari Rp 587 juta-Rp 3 miliar.

Hmm, menurutku sendiri harganya sebanding sekali dengan apa yang didapatkan. Daripada membangun rumah dari 0, sungguh lokasi strategis, lingkungan nyaman dan aman itu sangat mahal harganya. So, investasi masa depan di Padina SOHO and Residence? Why Not? Mengkhayal dulu untuk masa depan. 😆

Nah, teman-teman yang mungkin berencana untuk stay di Jakarta bisa banget coba ke Padina SOHO and Residence ini. Harganya worth it dengan apa yang ditawarkan bukan?

IBX598B146B8E64A