Browsed by
Category: Psikologi

Hal-Hal yang Biasa dilakukan Emak Introvert ditengah-tengah Komunitas Emak Ekstrovert

Hal-Hal yang Biasa dilakukan Emak Introvert ditengah-tengah Komunitas Emak Ekstrovert

source image: www.romper.com

Pernah enggak sih mak, merasa sunyi ditengah-tengah keramaian? Padahal, banyak para emak lain yang sedang asyik bercanda-ria disekitar kita. Tapi, kita malah merasa sendirian saja.

Tenang, jika emak pernah merasakan hal tersebut maka sebenarnya Anda tidak sendirian. Bisa jadi, Anda adalah salah satu emak berkepribadian introvert yang berbeda dari kebanyakan emak yang lain.

Aneh enggak sih hal tersebut?

Hmm.. Aku sih bilang hal itu bukanlah hal yang aneh. Ya, kita kan tidak bisa mengubah kepribadian kita yang sebenarnya merasa nyaman dengan hal itu. Memang, mungkin sebagian emak yang lain akan menganggap kita sedikit antisosial dan pilih-pilih teman. Tapi, ya.. Memang begitukan para emak intovert itu sejatinya? Hihi

Baca juga: Susahnya jadi Cewek Melankolis Akut

Sedikit curhat, sebenarnya aku termasuk golongan emak introvert. Yah, walau di dunia maya sebenarnya kadang tulisanku terbilang sedikit konyol (yang udah pernah baca sebagian pasti tau 😂✌). Tapi, sebenarnya di luar aku sedikit jaim (jaga image) apalagi kalau berkumpul dikomunitas yang tidak terlalu aku senangi (baca: mak-mak hoby ngerumpi).

Aku sih emaknya hoby pakai topeng. Maksudnya, walau aku enggak terlalu senang dengan komunitas tersebut tapi aku tetap berusaha bisa bergabung. Apalagi nih kalau salah satu emak tersebut anaknya akrab dengan anakku. Tapi.. Tetap ya.. sampai kapan kita bisa terus bertahan dengan alur pembicaraan yang tak sesuai dengan kita. Puncaknya, akan ada yang bernama awkward moment. Betul?

source: introvert doodles by maureen ‘marzi’ wilson

Nah, jika sudah mengalami awkward moment ditengah-tengah komunitas emak ekstrovert. Ada beberapa hal yang biasanya aku lakukan supaya tidak BT (bosen terus), hal itu antara lain adalah…

1. Sok Pinter atau Pura-pura Serius Baca Buku

Emak-emak lain pada asyik ngegosip dan pamer ala sosialita? Sementara kita berada ditengah-tengah ledakan tawa yang bagi kita sih enggak lucu-lucu amat (hahahaha). Terus ngapain? Ambil kaca mata.. Cusss.. Baca buku..

Jika pada moment kalangan abegeh. Biasanya cewek cantik lagi baca buku sendirian terlihat lebih berkelas. Nah, kira-kira apa yang terjadi kalau yang membaca buku emak-emak yang sebenarnya enggak cantik-cantik amat plus dasteran plus IRT tulen ini? Image apakah gerangan yang terpancar.. 😅

Ah, apapun image yang terpancar dimata emak-emak ekstrovert biasanya sih emak introvert cuek ajah. Bahkan, aku pernah beberapa kali bertemu dengan emak introvert parah yang dengan juteknya berkata, “Berisik..” 😅

2. Sok Pencet-pencet HP

Siapa begini?

Ngakunya introvert tapi alergi obrolan dunia nyata, lebih suka hidup di dunia maya khususnya sosmed. Di dunia nyata jutek minta ampun tapi di dunia maya kerjaannya ‘haha’ ‘hihi’ dan tidak lupa selalu menampilkan icon tanda ekspresi.. 😀😁😄😆😂

Padahal di dunia nyata mukanya (begini 😑) sambil main hp. Hahahaha

Tapi, solusi ini menjadi musibah mati gaya kalau kuota atau pulsa habis. Ada sih memang emak introvert yang bisa bertahan dengan pura-pura pencet hp, tapi aku tidak bisa begitu. Pokoknya kalau pulsa habis harus beli disini supaya tidak mati gaya.

3. Sok Foto-foto

Siapa yang pernah travelling bareng emak-emak ekstrovert yang satu pun tak ada yang cocok dengan kita?

source:lingvistov.com

Pernah ya, suatu hari aku mati gaya saat travelling bersama dengan emak-emak ekstrovert dalam rangka wisata alam membawa anak di TK. Solusinya? Ambil HP dan mari bernarsis ria foto-foto dan bikin video di alam terbuka. Maksimalkan ekspresi dan gaya untuk di-upload di dunia maya agar emak tetap eksis walaupun aslinya kurang eksis. 😅

Tapi, hiburan dokumentasi foto dan video ala emak introvert ini jadi kendala kalau baterai habis. Ya, traveling memang memakan waktu yang lama bahkan mungkin seharian kita berada diluar. Aku pernah mengalami baterai habis begini dan itu bikin aku super mati gaya dan rencana dokumentasi travellingku hancur berantakan.

Alhamdulillah, akhirnya suami mengerti. Setelah cek harga power bank yang ternyata lumayan bersahabat, akhirnya tercapai juga keinginan punya power bank sendiri. Baterai habis saat travelling bareng emak ekstrovert yang ga asik banget? Tetep menyenangkan.. 😂

4. Sok Nyuekin Anak-Anak padahaaal…

Aku pernah loh denger emak ekstrovert bilang begini, “Ah, Mama Farisha itu kerjaannya kalau di sini pencet HP mulu. Mana pernah merhatikan anaknya.”

Padahal…

Ngapain juga kita memperhatikan anak secara berlebihan? Dia temenan diikutin, dia makan serba disuapin, dia begini-begitu ditegur. Halo? Kapan anak jadi mandiri bu?

Aku tipikal yang suka membiarkan anak memang. Apalagi kalau dia asik berteman, malu dong dia kalau diperhatikan terus. Tapi, bukan berarti cuek bebek banget. Siapa sih yang tau kalau dari kejauhan aku juga sering memperhatikannya? Sesekali memoto momentnya bermain bersama dan menulisnya di sosial media maupun blog. Dan mulai tegas mengajarinya di dalam rumah. Gitu gaya emak introvert didik anak di luar wilayahnya.

Baca juga: Gini gaya emak introvert ngasuh anak, Masalah?

5. Kadang Suka (nguping) Gosip yang Menarik Perhatian

Ssst… Ini cuma aku atau ada yang sama? 😂

Emak Ekstrovert kadang kalau ngerumpi suka menarik perhatian. Bukan hanya karena gelak tawa yang memecahkan gendang telinga tapi bahan bercandanya kadang memang lucu sih. Hmm.. Bukan cuma topik bercanda, topik yang sering menarik perhatian bagiku adalah saat sudah memasuki topik rumah tangga, keuangan, cara mendidik anak di rumah.

Dalam dunia nyata, aku terkesan tidak peduli dengan hal itu. Padahal diam-diam topik perbincangan hangat ibu-ibu itu bisa menjadi bahan inspirasi dalam beberapa tulisan blogku. Ya, cukup banyak sebenarnya segi positif dari mendengarkan rumpi emak-emak.

Contoh tulisan itu antara lain:

Tips Membuat Anak Merasa Senang di sekolah

Anak Jajan itu Boleh Ga Sih?

Ajari Anak 5 Hal yang Tidak Menyenangkan

Bahkan, aku pernah ternganga diam saat menyaksikan beberapa emak sempat perang dingin karena topik-topik tertentu. Yah, karena aku sudah cukup berpengalaman merasakan hal yang sama di dunia maya maka aku juga menuliskan tentang ‘9 Topik Obrolan Sensitif yang Dapat Menyebabkan Mommy War

Jadi, tidak selamanya mendengarkan ngerumpi itu buruk kok. Asalkan kita tidak menyebarkan aib orang lain dan dapat mengambil sari kebaikan. Hehe.

Nah, emak introvert juga? Apa saja yang dilakukan saat berada dikomunitas ekstrovert? Sharing Yuk!

Cerita Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si kecil dan Cara Memperbaikinya

Cerita Tentang Dampak Post Partum Depression pada Si kecil dan Cara Memperbaikinya

Maafkan telah nembuat luka pada hati putihmu. Aku tau itu tidak akan benar-benar sembuh…

Sejatinya.. Aku sudah tau itu..

***

Aku Pernah Menjadi Ibu yang Sangat Buruk

Saat itu, usia Farisha masih 6 bulan. Dia sangat lucu. Ya, aku masih memiliki beberapa video ocehannya yang tidak karuan beserta senyum manis dan kebiasaannya untuk mengemut jempol kaki. Hanya seorang iblis mungkin yang dengan tega memarahi dan membentak mahkluk kecil itu. Dan Iblis itu ternyata adalah Ibunya sendiri.

Saat itu, aku hanyalah seorang Ibu yang terus mengaku tidak siap memiliki anak. Cita-citaku masih panjang, namun anak ini menghambat semuanya. Awalnya, kupikir semua akan baik-baik saja. Kupikir lambat laun aku akan dengan mudah melepas cita-cita dan menerima statusku yang baru sebagai Ibu Rumah Tangga saja. Semua menjadi salah ketika Farisha mengalami GTM parah disertasi dengan omongan-omongan sekitar yang membuat aku menbenci diriku sendiri dan membenci Farisha. Ya, salah dia kan? Dia awal dari semua ini?

source: babygaga.com

Tidak ada yang tau saat itu, betapa sering aku membentaknya yang menangis karena kelaparan. Betapa sering aku menyuapkan makanan secara paksa dan menumpahkan MPASI homemade di hadapannya dan berteriak marah-marah seperti orang gila. Tidak ada yang tau bahwa ASIku mulai sedikit, tangan dan badanku gemetar sementara hidangan makan siang tidak ada karena kesibukan yang tidak jelas. Hanya Farisha, ia yang selalu kumarahi untuk melepas energi itu.

Jangan tanya berapa bulan hal ini berlangsung. Ini cukup lama. Salahku, ya aku tau semua salahku. Salahku yang tidak pernah percaya lagi pada sosial media karena pernah di bully saat curhat. Salahku yang bersikeras memberikan ASI Ekslusif padahal aku tak mampu. Salahku yang tidak mengerti cara pemakaian KB. Salahku yang hamil dini. Salahku yang menikah muda. Salahku yang saat itu tidak bisa move on.

Baca juga: Penyebab Stay At Home Mom Gagal Move On

Namun setelah itu, setelah amarah itu pudar..

Aku selalu memeluknya..

Menangis saat dia tidur..

Tapi kembali mengulangnya lagi di esok harinya..

Ya, Aku sang Mantan terpidana Post Partum Depression.

Jangan kira hal ini tidak berefek negatif pada anakku. Penyakit psikologis ini menyebarkan aura negatif bukan hanya pada penderitanya tapi juga pada suami dan Anaknya sendiri.

Hari ini, aku ingin mengingatkan pada Ibu diluar sana yang mengalami gejala sama sepertiku dulu. Bahwa apa yang telah kau lakukan pada si Kecil sangat berefek negatif padanya dan masa pulihnya tidak pernah diketahui atau mungkin.. Tidak akan pulih.

Berikut adalah efek negatif PPD pada si kecil yang pernah aku hadapi:

1. GTM yang tak Kunjung Reda

Percaya tidak, anakku ASI Ekslusif selama 2 tahun. Ia tidak mau makan. Karena ia trauma pada makanan.

Ia tau bahwa setiap kali mangkuk itu datang, wajah ibunya seketika berubah menjadi kelabu. Ia tau bahwa Ibunya akan memaksanya. Ia tau adegan selanjutnya bahwa mangkuk makanan itulah yang membuatnya dan Ibunya menangis. Ia tau bahwa mangkuk makanan itu.. Sendok itu.. Membuat banyak tragedi tidak menyenangkan dalam hidupnya. Ia tau dan ia tidak akan pernah bersahabat dengan makanan lumat yang di isi pada mangkuk lagi.

Tahukah? Hingga sekarang Farisha tidak suka melihat mangkuk kecil dengan bubur didalamnya. Ia tidak suka makan bubur karena mungkin bubur selalu mengingatkannya pada adegan tidak menyenangkan.

Apa? Kenapa tidak coba BLW?

Ya, aku tau seharusnya saat itu aku melek informasi. Tapi saat itu, sejak aku tidak menyukai sosial media karena pernah di bully saat bertanya di salah satu grup parenting. Saat itu juga aku memutuskan untuk menjauhi dunia maya beserta informasi parenting sok tau dan memutuskan untuk sibuk dengan urusan domestik rumah tangga saja. Alhamdulillah, sekarang grup parenting tidak sekacau dulu. Dulu, para member sibuk membanggakan dirinya sendiri saja sehingga rentan memicu mommy war.

Baca juga: 10 Topik Obrolan Sensitif yang dapat memicu Mommy War

Kapan Farisha bisa makan? Saat aku menerapkan WWL dengan melibatkan peran suami. Akhirnya, Farisha tau dengan rasa lapar dan mulai bersahabat dengan berbagai cemilan. Sebenarnya, petualangan tentang cerita makan Farisha masih panjang. Ia sempat menjadi anak bule yang tidak mau makan nasi.

Mungkin aku akan bercerita lagi nanti..

2. Terganggunya Kelancaran Berbicara (Gagap)

Jika kalian membaca cerita-cerita parenting di blogku mungkin kalian tau bahwa Farisha bukanlah anak gagap. Sebaliknya ia lancar berbicara dan kritis terhadap permasalahan di sekitarnya. Tapi, tahukah kalian bahwa ia pernah gagap hingga beberapa bulan?

Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku sangat khawatir. Awalnya dia lancar berbicara. Tapi (lagi-lagi) karena hari itu dia mogok makan, aku membentaknya lagi dengan kalimat yang jauh lebih nyaring, mata melotot dan ingin rasanya aku mengeluarkannya dari rumah.

Saat itulah.. Dia gagap begitu saja..

“Mmma mmma mma.. Mamma… U.. Uu..uuu…ulun.. Ka.. Ka.. Ka.. Kada.. Bi.. Bi.. Bi.. Tsaaaa..”

Ya, seperti itu. Aku menangis dan tak berhenti menyalahkan diriku sendiri.

Apakah ia masih gagap sekarang?

Alhamdulillah itu sudah berakhir. Ya, pada kasusku untung saja ini berakhir. Bukankah kita sering melihat anak gagap hingga usia dewasa? Pernahkan kita berpikir apa penyebab sebenarnya?

Lobang dihatinya.. Luka itu.. Tidak semua anak punya obat yang sama..

3. Si Kecil Lebih Sering berekspresi dengan Menangis

source: desycomments.com

Saat Farisha kecil, aku sering memarahinya hingga ia menangis. Jangan tanya berapa lama. Aku sering membiarkannya menangis begitu saja di kamar sementara aku sibuk memasak di dapur. Perutku lapar. ASI ku kering. Ekonomi merintis dari bawah.

Sementara di luar sana berhamburan informasi bahwa… Anak kecil tidak boleh terpapar gadget terlalu lama. Ah, bodohnya aku yang tidak bisa membaca situasi saat itu. Bukankah gadget sebenarnya penolong yang baik? Dalam kondisi itu, siapa yang bisa menolongku kecuali TV dan handphone?

Sungguh teori parenting diluar sana kadang terlalu kejam untuk diterapkan pada semua Ibu, apalagi Ibu Muda dengan emosi yang terbilang labil. Pada siang hari aku tidak waras karena menelan prinsip perfeksionis. Pada malam hari, aku menangis memeluknya.

Hingga ia besar, ia hanya dapat menangis untuk mengungkapkan kesedihan. Anakku, tumbuh menjadi anak yang cengeng karena meniru segala kesedihanku. Apakah ini berlangsung lama?

Alhamdulillah tidak. Tangisan itu kini dapat ia ubah menjadi gaya curhat yang ekspresif padaku. Butuh waktu lama membuatnya menyadari bahwa tidak setiap kesedihan dapat diluapkan dengan menangis.

4. Innerchild Negatif

Jika suatu saat anak melakukan hal negatif yang persis sama dengan hal yang kita lakukan dulu percayalah bahwa itu adalah hal yang tidak sadar ia lakukan karena alam bawah sadarnya mengingatkan akan itu.

Baca juga: Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah?

Farisha sempat melakukan hal-hal tidak menyenangkan itu. Ia pernah membentak dan berteriak pada ayahnya. Ya hal terparah selain 3 hal diatas. Ia juga pernah secara tidak langsung meniru bagaimana gaya ‘ngambek’ ala mamanya. Persis sama. Entahlah hal negatif apalagi yang tidak aku ketahui yang mungkin saja timbul gara-gara sifatku dahulu.

5. Tidak Percaya Diri

“Sering membentak anak akan menyebabkan ia tidak percaya diri..”

Ya, ya.. Aku tau. Aku sering membaca teori itu. Tapi aku mengabaikannya karena aku pernah kurang waras. Ah, jangan kemukakan lagi tentang teori hindari berkata ‘Jangan’ pada anak kecil. Aku adalah Mama nomor satu yang sering melanggarnya.

Akhirnya, dia pernah menjadi pribadi yang pemalu dan penakut. Tidak lama untungnya. Aku sangat bersyukur dengan hal ini. Kurasa ia memiliki hati baja yang kebal dengan bentakanku.

***

Luka dan dampak negatif pada anak yang timbul dari PPD diatas mungkin tidak dapat secara total disembuhkan.

Tapi, kita dapat BERUSAHA menyembuhkannya.

Dari potongan cerita diatas, kalian sudah tau bahwa lambat laun luka itu mulai membaik. Farisha bisa makan, Farisha tidak gagap, Farisha suka bercerita, dan siapa sangka ia termasuk pribadi yang percaya diri dan berani ketika sudah besar?

Beruntung, PPD dapat aku sembuhkan perlahan seiring berjalan waktu. Sehingga, tidaklah terlambat untuk mulai memperbaiki semuanya.

Baca juga: Gejala Baby Blues-PPD, Penyebab dan Cara Menyembuhkannya

Ada 5 cara efektif yang telah aku bangun untuk memperbaiki kesalahan yang telah aku buat kepada si kecil, antara lain:

1. Membangun Komunikasi Positif

Aku memang sering memarahinya untuk melampiaskan ketidakwarasanku. Tapi, aku tidak pernah melewati malam hari tanpa bercerita untuknya. Membacakannya buku cerita sebelum tidur serta memeluknya adalah caraku untuk membangun kembali bonding romantis diantara kami seberapapun berat hari yang kami lewati saat itu. Hal itu terus berusaha aku lakukan untuk terus membuatnya percaya padaku. Bahwa sebenarnya, aku adalah Mama yang baik.

source: talktoyourbaby.org

Dari bercerita aku sering menjadi pribadi yang berbeda untuknya. Meniru suara boneka yang sangat menyayanginya. Aku bisa membuat 4 suara berbeda untuk karakter antagonis dan protagonis. Farisha menyukai hal itu. Hal itu membuatnya suka bercerita pada boneka-boneka, juga padaku. Lambat laun, dia menjadikanku sebagai teman komunikasi terbaiknya.

Ya.. Ia pernah takut padaku. Ia pernah diam melihatku. Ia pernah menatapku penuh tanya seakan berkata, “Kapan Mama tersenyum dan mengajakku berbicara lagi?”

Sejatinya, kita adalah teman pertama baginya di dunia. Tersenyum dan berbicara padanya adalah semangat cinta untuknya. Tidak pernah ada yang salah dari terapi komunikasi. Bicaralah padanya, itu adalah solusi nomor satu yang tidak bisa di-skip.

2. Selalu Meminta Maaf

Ah, entahlah sudah seberapa banyak kesalahan yang aku lakukan pada Farisha. Jujur, sebelum menjadi Mama hal tersulit bagiku adalah meminta maaf. Aku gengsi sekali melakukannya sekalipun tau aku salah. Tapi, semenjak ada Farisha.. Semua gengsi itu luntur seketika.

Aku selalu mengingat bahwa semasa aku kecil dulu, mama sering meminta maaf padaku dan memelukku sewaktu tidur. Hal itulah yang membuatku terus mencintai mama, seberapapun sering mama marah padaku.

Mama tidak pernah bercerita tentang kesulitan hidupnya padaku sewaktu kecil. Mama selalu sukses berpura-pura tidak kesulitan tapi tidak sukses dalam menyembunyikan kemarahan. Meminta Maaf adalah cara Mama dalam mengungkapkan rasa sayangnya.

Mama selalu berkata, “Percayalah. Mama yang baik bukanlah Mama yang tidak pernah marah. Mama yang baik akan marah jika anaknya melakukan kesalahan. Karena ia takut terjadi hal yang tidak menyenangkan. Tapi selalu ada pelukan setelah itu. Selalu ada kata maaf. Lantas, Bagaimana bisa Mama tidak menyayangimu?”

3. Ciptakan Kenangan yang Baik

Kenangan buruk memang tidak akan pernah hilang begitupun juga dengan kenangan baik. Lalu, apa salahnya jika kita perbanyak kenangan baik dalam memorinya?

Keluarlah sesekali berdua saja dengan si kecil. Bersuka-rialah. Beli sesuatu yang ia senangi sesekali, ice cream mungkin. Makan berdua saja lalu berfoto bersama. Ini adalah terapi yang menyenangkan untuk Ibu maupun untuk anak yang dapay menciptakan kenangan positif.

Dulu, aku jarang sekali melakukan hal itu. Aku lebih sering mengajak Farisha kedapur untuk membuat dough kue maupun membuat cookies. Dia senang melakukannya. Hingga sekarangpun dia masih senang melakukan itu. Itu adalah salah satu kenangan indah yang dominan dalam ingatannya.

4. Jadilah Pahlawan Pendukung

Dulu, Farisha termasuk pribadi yang cengeng. Aku tau sebenarnya dia tidak cengeng, dia hanya meniruku bagaimana berekspresi tentang kesedihan. Karena ia tau bahwa kesedihan dapat diluapkan dengan menangis, bukan berbicara.

Saat anak menangis, hal yang sebenarnya ia butuhkan adalah figur pendukung yang dapat ia percayai untuk mengadu. Maka, jadilah figur tersebut. Jadilah pahlawan untuk setiap tangisannya.

Dulu pahlawan tangisan Farisha bukanlah aku, tapi ayahnya. Aku adalah figur yang bersifat bunglon dimatanya. Jika ia melihatku dengan warna hijau maka ia berani mendekatiku. Sebaliknya, jika ia melihatku dengan warna merah maka ia lari mendekati ayahnya. Ia takut.

Sebisanya, jangan ciptakan lagi aura negatif padanya. Ketika kita sudah berhasil menghilangkan aura itu, anak akan menjadikan kita sebagai pahlawannya. Ya, orang yang akan menjaga air matanya dan membuatnya berani menghadapi dunia.

5. Sering memberikan Pujian

Sempat khawatir dengan anak yang sangat tidak percaya diri? Mungkin salah satu penyebabnya adalah Innerchild negatif karena bentakan kita yang menjatuhkan mentalnya. Hal kecik yang dapat kita berikan untuk menyembuhkannya adalah pujian.

Anak kecil sangat suka pujian. Beri ia pujian dan apresiasi setiap kali berhasil melakukan sesuatu. Jika ia sedang tidak mood dan uring-uringan karena bersedih maka carilah sesuatu yang membuatnya bersemangat lagi. Setiap anak sejak kecil sejatinya punya hoby spesial. Anakku, sangat mencintai dunia warna. Maka, mengajaknya mewarnai dan memuji segala karyanya merupakan hal kecil yang bisa aku lakukan untuk membuatnya percaya diri lagi.

Baca juga: Cara sederhana untuk mendukung bakat pada anak

***

Setiap Ibu mungkin pernah merasa bersalah dengan masa lalu si kecil sehingga membentuk karakter negatif dan lubang luka yang mungkin tidak akan sembuh.

Tapi sesungguhnya apapun yang terjadi.. Kita tetaplah Ibu Baginya. Orang pertama yang ia percayai. Maka bangunlah harapannya lagi.

Hanya kita yang dapat membantu menyembuhkan luka itu..

Susahnya Jadi Cewek Melankolis Akut

Susahnya Jadi Cewek Melankolis Akut

“Kamu kok jutek amat sih?”

“Hei, kalau ketemu orang tuh tegur dong! Senyum kek!”

“Aduh, omongannya sinis amat”

“Kalau kamu kayak gini terus lama-lama bisa perawan tua loh”

DUAR… 👿

***

Pernah bertemu dengan makhluk aneh yang sering dapat kalimat kritik menohok seperti di atas? Eh, atau jangan-jangan Anda sendiri yang begitu? Hayuk ah, ngaku aja..

Tuh kan, yuk.. Kita kompak dulu.. 😂

Itu artinya kemungkinan Anda memiliki 80 % kepribadian melankolis. Eh, emang melankolis apaan?

Ehm, Melankolis itu… Cari sendiri di google.. 😝 *sumvah, ni blog pengen langsung di-closed pastinya.. Hahaha..

Tunggu-tunggu! Ini bukan sesi sharing informatif. Bukan! Ini Post C.U.R.H.A.T. Curhatan seorang emak-emak yang berkaca pada masa lalunya dulu. *Halah emang sering kok blog ini nulis hal ga jelas gini.. 😂✌

Iya, emak yang ngakunya punya kepribadian melankolis hampir 70% ini mengaku punya banyak dilema dalam menjalani kehidupan dahulu. Karena apa? Karena ga banyak yang ngerti bagaimana orang melankolis itu berekspresi dan bereksplorasi. Konon, penduduk dunia yang memiliki kepribadian ini selalu dijuluki ‘orang aneh’ oleh orang lain. Terutama nih yang punya kepribadian bertolak belakang sama melankolis. Ya, siapa lagi kalau bukan sanguinis.

Padahal ya, orang melankolis ituuuuh……..

Emang aneh sih. Hahaha…

Iya, sampai sekarang saya bahkan suka senyum-senyum sendiri kalau ingat masa lalu saya yang lumayan kelam. *Serius, saya minta ‘Puk Puk nih..

Nah berikut adalah beberapa dilema dari para cewek yang memiliki kepribadian melankolis:

Punya Wajah dengan Ekspresi yang Dominan ‘Flat’

Bersyukurlah anda hei para melankolis dengan wajah imut nan kemayu serta paras yang ‘aduhaiii’ karena jika kalian berada dalam mode flat face pun wajah kalian akan didefinisikan sebagai ‘wajah kalem’ oleh orang-orang pada umumnya.

Tapi ini musibah buat kalian para penyandang penderita melankolis yang punya wajah serem udah dari sononya.. (kayak saya contohnya😂✌)

source: bloglovin.com

Iya.. Serius..

Saya diem dibilang sombong..

Saya jalan biasa tanpa noleh-noleh dibilang ‘sok cool’..

Belum lagi kalau saya ngomong, padahal cuma bilang “Apa?” yang diajak ngomong langsung menciut.

Serius, saya ngerti banget gimana perasaan kepala sekolah di kartun Crayon Sinchan itu.. 😂

Pernah nih, suatu hari ingin mengubah ‘image’ diri. Nyoba ‘gaya senyum’ yang pas di muka cermin. Lalu saat dipraktekkan..

“Nganu win, di gigi kamu ada makanan nyangkut.. ”

😅

Demam Keramaian

Para pemilik kepribadian melankolis rata-rata pasti introvert. Setuju? Tapi apakah semuanya demam keramaian? Ah, entahlah..

Kalau saya dulu? Iya.. Hehe

Saya cinta musik tapi cukup mendengarkannya di headset saja. Nonton konser? Pergi Pesta? Jelas ga doyan. Hihi..

source: boredpanda.com

Kalau kepribadian sanguinis memiliki percaya diri selangit maka kepribadian melankolis punya kadar percaya diri yang sangat sangat sangat rendah. Karena itu ia tidak suka berkumpul di keramaian. Selain itu para melankolis juga sering menganggap bahwa keramaian itu tidak terlalu berguna untuknya. Betul?

Antisosial yang punya Habitat di rumah saja

Apa sih kerjaan cewek melankolis ini? Sukanya kok di rumah melulu?

Ah, mungkin dia baca buku makanya pintar…

Padahaaaal?

  1. Punya buku satu lemari tapi 60% didominasi oleh novel dan komik.. (itulah yang paling sering dibaca)
  2. Punya setumpuk kaset boyband favorite yang sering dipuja-puja sambil di tonton berjam-jam lalu dinyanyikan tidak jelas dikamar mandi (salah satu pekerjaan tidak jelas yang sering menyita waktu.. 😅)
  3. Kalau sedang terkena virus ‘malas gerak’ maka seharian nonton drama korea atau main game pun dia betah..
  4. Punya imajinasi tinggi sehingga sering bereksperiment tidak jelas dengan hasil yang tidak pernah terlihat.. 😂

Apa lagi kerjaan cewek melankolis di rumah? Oooh banyak.. Kami ini ‘tim sok sibuk’ Hahhaha.

Suka mengatakan ‘Kebalikan’

“Cakep ga sih menurutmu si anu itu”

“Ah, biasa aja Cakepan juga Oppa..” (cakep sih sebenernya 😅)

“Kayaknya aku gendutan ya akhir-akhir ini”

“Enggak kok, biasa aja menurutku” (gendutan sih emang.. 😅)

“Muka kamu hari ini kok keliatan cerahan? Wah.. Bagi tips donk”

“Ah enggak? Biasa aja kok ini 😬” (eh, masa? Lebih cantik ya berarti.. 😄)

Jangan pernah meminta pendapat kepada cewek Melankolis, karena dia sebenarnya adalah pembohong besar. Hahahaha.. 😂

Perfeksionis

Siapa sih yang ga kenal sama sifat satu ini. Begini begitu harus rapi, harus pas, harus serba sempurna. Selisih koma? Permasalahkan sampai sedetail-detailnya.

Aku? Alhamdulillah untuk sisi ini aku ga begitu amat. Soalnya dulu aku punya mental cuek bebek sama semuanya. Soal perfeksionis biasa aja lah.. Cincay lah ngatasinnya. Haha

Super Baper

Kekurangan para cewek melankolis pada umumnya yaitu dia selalu bawa-bawa perasaan kesetiap moment apapun. Padahal, bisa jadi hal yang baru saja ia lalui adalah hal biasa saja. Tapi kerjaan baper aja..😅

Anehnya, para melankolis ini punya simpati yang tidak pada umumnya. Misal nih ya, denger cerita sedih-sedih atau teman curhat baru putusan dia paling cuma ‘pura-pura’ sedih atau pasang flat mode. Tapi nih tapiiii…

Kalau punya kucing terus kucingnya meninggal, ya ampun bisa nangis seharian semalaman.. Kalah dah tuh moment putus sama pacar.. 😂

Lebih Suka Hidup di dunia Khayalan dan Dunia Maya

Cewek melankolis itu enggak suka totalitas di dunia nyata karena beberapa faktor diatas. Kebanyakan cewek melankolis lebih suka hidup di dunia khayalan dan dunia maya. Salah satu faktor dominan kenapa cewek melankolis payah banget hidup di dunia nyata adalah dia ga pandai ngomong dan kebanyakan mikir, betul ga sih? 😂

Aduh mak, ini asli ngenes banget.. 😂

Terancam Perawan Tua

Punya kesimpulan apa yang akan terjadi terhadap ending hidup cewek melankolis yang punya sifat-sifat di atas?

Yup, terancam gak punya jodoh. Itu kata orang yah. Bukan kata saya. 😂✌

Padahal yang namanya jodoh, rejeki, dan maut itu kita kan ga bisa nebak-nebak dong yah. Tapi tetep aja adaaa aja yang suka bilang ancaman begitu karena saking unik dan anehnya si melankolis ini.

“Gimana mau dapat jodoh kerjaan di rumah ajah!”

“Gimana mau dapet jodoh kalau muka jutek banget!”

“Gimana mau dapet jodoh kalau ngomong aja plin plan!”

“Gimana mau dapat jodoh kalau suka pilih-pilih. Perfeksionis banget sih!”

“Gimana mau dapat jodoh kalau poster pajangan dan kumpulan kaset boyband korea semua! Otak kamu itu udah dicuci! ”

Dst.. Dst.. Yang pada intinya bilang..

Poor u girl..

But, Jangan pernah dengarkan omongan mereka yang seakan berkata bahwa ‘Cewek melankolis adalah cewek paling tidak laku di dunia..’

Karena kenyataannya, cewek melankolis itu.. Suatu saat laku aja kok.. 😂✌

Ahh, masa? Cowok tidak normal macam apa yang suka dengan cewek begini?

Baca juga: Cowok Introvert vs Ekstrovert, Pilih Mana?

Baca juga: Ketika Introvert Menikahi Introvert

Sebagai cewek melankolis yang lebih suka berteman dengan sesama melankolis saya merasakan sendiri bahwa jalan jodoh para melankolis ini ajaib sekali. So, teruslah percaya pada keajaiban.

Karena kadang Pangeran pujaan itu tak melulu memakai kuda putih, bisa juga hanya memakai motor butut.. Eaa… 😂

Punya pengalaman sama sebagai penderita kepribadian melankolis juga? Sharing yuk!

15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

Anak adalah anugerah terbesar yang diterima. Anak adalah titipan yang dipercayakan kepada seorang ibu dan ayah agar dapat dijaga, dipelihara dan diwariskan kebaikan. Anak adalah sumber kebahagiaan dan arti hidup. Menikah tanpa dikaruniai anak merupakan kebahagiaan yang belum lengkap.

Ya, begitulah sewajarnya kita mendefinisikan pengertian anak dimata orang tua_terlebih dimata Ibu. Tetapi apakah semua Ibu merasakan demikian?

Sayangnya tidak..

Beberapa Ibu sempat mengalami Baby Blues dan Postpartum Depression pasca melahirkan anaknya. Kondisi psikologis yang terganggu ini menyebabkan seorang ibu tidak dapat mencintai anak dan memelihara dengan maksimal. Terkadang, Ibu yang mengalami postpartum depression sering menyalahkan diri sendiri hingga merasa tak pantas menjadi Ibu.

Baca juga: Apa itu Babyblues Syndrome dan Post Partum Depression? Bagaimana gejala serta cara mengatasinya?

Cheryl Meyer, seorang profesor psikologi di Wright State University di Ohio telah menulis dua buku tentang pembunuhan anak yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri. Ia menganalisis bahwa ada sekitar 1.000 kasus pembunuhan oleh Ibu kepada anaknya sendiri selama tahun 1990an. Itu berarti satu kematian setiap tiga hari.

Itu masih tahun 1990an. Sekarang? Sayangnya kasus pembunuhan oleh ibu kandung kian bertambah. Bukan hanya diindonesia, beberapa kasus fenomenal juga terjadi dibeberapa negara lainnya.

Bagaimana bisa?

Ya, itulah yang terjadi ketika postpartum depression terlambat ditangani. Postpartum depression adalah gangguan jiwa yang secara perlahan dapat membentuk karakter Ibu menjadi monster bahkan setan sekalipun.

Berikut beberapa nama Ibu dalam kasus pembunuhan terhadap anaknya karena Postpartum Depression.

1. Andrea Yates

Andrea, Rusty dan keempat anaknya

Andrea Pia Kennedy Yates (lahir 2 Juli 1964) adalah mantan penduduk Houston, Texas. Ia mengaku menenggelamkan kelima anaknya di bak mandi mereka pada tanggal 20 Juni 2001.

Setelah ditelusuri, ternyata Andrea telah menderita Post Partum Depression (depresi pascamelahirkan) yang sangat parah. Selain itu, andrea juga diduga mengidap skizofrenia.

Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah 40 tahun. Putusan tersebut dibatalkan karena naik banding.

2. Lisa Gibson

Lisa Gibson (32 tahun) ditemukan tenggelam di Winnipeg, Kanada. Tubuhnya ditemukan beberapa hari setelah kematian kedua anaknya, yaitu Nicholas yang berusia tiga bulan dan Anna yang berusia dua tahun di bak mandi mereka.

Sebelum itu, Polisi datang kerumah Lisa setelah sebuah panggilan 911 dibuat dan kemudian ditinggalkan. Polisi menemukan kedua anaknya meninggal di bak mandi. Setelah diperiksa, kedua anak tersebut diketahui telah dibunuh.

Setelah ditelusuri, ternyata Lisa Gibson sendiri didiagnosis telah lama menderita Postpartum Depression sebelum membunuh anaknya tersebut.

3. Charlene Ventanilla 

Suatu pagi, Ken Ventanilla kembali kerumah dengan pemandangan mengerikan. Ditempat tidurnya tergeletak Istri dan bayi berusia 8 minggu, keduanya bermandikan darah.

Ken langsung menghubungi 911. Anaknya, Shane diketahui meninggal karena banyak tusukan ditubuhnya. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Charline yang merupakan Ibu dari anaknya sendirilah yang membunuhnya. Charline juga yang menusukkan pisau tersebut pada dirinya sendiri.

Setelah ditelusuri, ternyata perubahan mendadak Charlene dalam kesehatan mental dimulai saat dia mulai mengambil kontrol kelahiran segera setelah kelahiran anaknya. Ken berkata, “Malam terakhir itu, Charlene meyakinkan saya dan ibunya dan semua orang bahwa dia baik-baik saja”

4. Erin Sutherland

Erin Sutherland didiagnosis menderita postpartum depression setelah kelahiran anak pertamanya pada tahun 2006.

Depresi Sutherland menjadi sangat parah saat anaknya berusia delapan bulan. Erin mulai percaya bahwa bayinya lebih baik mati daripada memilikinya sebagai seorang ibu. Untungnya, Sutherland dirawat di rumah sakit dan sembuh setelah perawatan.

Pada tahun 2015 Sutherland menahan dan membunuh anak keduanya, Cloe yang berusia sepuluh bulan.

Erin melakukannya setelah tidak dapat mengakses layanan kesehatan mental yang sesuai di Skotlandia. Ibu berusia 37 tahun itu telah mengunjungi dokter keluarganya, namun dia tidak dapat merujuknya ke layanan kesehatan mental perinatal karena departemen tersebut tidak akan menerima ibu dengan anak di bawah umur enam bulan.

Tidak seorang pun di departemen kesehatan medis menyampaikan informasi bahwa Sutherland mengalami postpartum depression parah yang berputar lepas kendali pada delapan bulan berikutnya.  Penyelidikan berikutnya mengatakan bahwa sistem tersebut bertanggung jawab atas kematian yang sebenarnya bisa dihindari.

5. Deasia Warkins

Deasia Watkins didiagnosis menderita postpartum depression dan kemudian menjadi lebih parah.

Gejala postpartum depression memang bervariasi dan bisa berubah dengan cepat. Kebanyakan penderita mengalami bentuk mania dengan mood labil, pikiran tidak tenang  dan ketidakmampuan untuk beristirahat. Ada gejala lain yang bisa mencakup perubahan suasana hati yang tiba-tiba menjadi depresi, kebingungan berat, hilangnya hambatan, halusinasi dan delusi yang biasa terjadi.

Suami Watkins mengatakan bahwa dia telah “berbicara tentang setan” dan karena keadaan mentalnya yang tidak menentu, bayi mereka dirawat oleh Bibi Deasia. Saat berkunjung ke putrinya, Watkins menunggu sampai bibinya tertidur dan menikam anaknya beberapa kali dengan pisau koki besar. Bayi itu kemudian dipenggal dan ditata di atas meja dapur. Watkins meletakkan pisau di tangan anak itu sehingga “polisi akan mengira dia telah melakukannya sendiri.”

6. Lisette Bemenga

Pada tahun 2014, mantan guru sekolah Lisette Bemenga menghadapi hukuman penjara seumur hidup karena pembunuhan kedua anaknya pada tahun 2012. Dalam persidangannya, dia merasa terlalu terganggu secara emosional karena postpartum depression yang dideritanya. Ia  dijatuhi hukuman karena pembunuhan.

Trevor Noel berusia empat tahun dan adiknya Violet Lily Noel berusia empat bulan diracuni dengan koktail cairan pembersih kaca dan jus anggur. Setelah meracuni mereka, dia membawa mereka ke kamar mandi dan menahan mereka di bawah air di bak mandi untuk memastikan mereka telah meninggal.

Bemenga telah didiagnosis menderita depresi pascamelahirkan dua bulan sebelumnya dan mengklaim bahwa kondisinya diperparah oleh suaminya yang merupakan seorang mantan petugas polisi NYPD yang lari ke Spanyol bersama wanita lain dan membiarkannya memelihara kedua anaknya sendirian.

7. Debra Lynn Gindorf

Debra Lynn Gindorf menghaluskan pil tidur dan mencampuradukkannya dengan makanan anak-anaknya.  Setelah itu, anaknya Christina yang berusia 23 bulan dan Jason yang berusia tiga bulan meninggal tak lama setelah menelan overdosis pil tidur tersebut. Setelah itu, Gindorf berusaha untuk bunuh diri.

Debra sempat dipenjara lebih dari 24 tahun sebelum kemudian hukumannya diringankan.

Ya, Gubernur Illinois Patrick Quinn membebaskannya karena pengakuan bahwa dia sakit jiwa saat itu.

8. Felicia Boots

Perancang perhiasan, Felicia Boots mencekik putrinya yang berusia 14 bulan bernama Lily dan anak laki-lakinya yang baru berumur sepuluh minggu bernama Mason beberapa hari setelah keluarga tersebut pindah rumah.

Pada malam tragedi tersebut, suami Felicia pulang dari tempat kerja dan mendapati Felicia sedang duduk di tangga dalam kegelapan, memeluk dirinya sendiri dan meratap ‘Anakku yang cantik, anak perempuanku yang cantik. Mereka telah pergi. Bantu aku, tolong aku, tolong aku.’

Felicia telah didiagnosa menderita postpartum depression, sebelumnya dia yakin bahwa anak-anaknya akan dibawa jauh darinya oleh petugas perlindungan anak. Hakim di Inggris mengatakan: ‘Meskipun hasil tindakan Nyonya Boots sangat tragis mengingat hilangnya dua nyawa muda, kejadian yang terjadi bukanlah tindakan kriminal. Apa yang dia lakukan adalah hasil dari faktor fisik dan biologis yang tidak terkendali. Dia melakukannya karena cinta”

9. Shwe Hitoo

Shwe Hitoo mencoba bunuh diri setelah membunuh bayi laki-lakinya yang berusia dua minggu diapartemennya. Ia memberi makan bayinya dengan satu botol susu yang dicampur dengan gula, pil tidur dan racun serangga.

Hitoo kemudian meminum campuran yang tersisa agar dapat mati dengan anaknya. Ternyata, racun itu tidak bekerja kepadanya maupun anaknya.  Maka Hitoo mencekik anaknya dengan memegangi tangannya di atas mulut anaknya. Setelah yakin anaknya sudah mati, ia memasukkan mayatnya kedalam mobil suaminya.

Setelah berkeliling dengan mayat anaknya, ia mencari tempat untuk kecelakaan. Dia menabrak tiang lampu agar dapat membunuh dirinya sendiri. Sayangnya ia tidak mati karena kecelakaan tersebut, polisi menahan Hitoo setelahnya.

10. Janet Thies-Keogh

Kejadian berawal ketika suami Janet Thies-Keogh meninggalkannya sendirian dengan bayi mereka Colin selama satu jam. Dia pergi bermain tenis dengan seorang teman lalu menelpon istrinya untuk mengetahui bagaimana keadaannya.

“Tidak baik. Sebaiknya kau pulang saja,” katanya.

Suaminya yang panik langsung menelepon 911 dan mengatakan kepada staf bahwa dia takut istrinya mungkin telah melakukan sesuatu pada bayinya. Dalam panggilan kedua 911, saat melaju ke rumah mereka, dia memberi tahu petugas operator “Istri saya mencekik bayi saya.”

Janet sudah menunjukkan perilaku ingin bunuh diri karena mengalami postpartum depression, ia sempat dirawat karenanya. Tapi saat dia ditinggalkan sendirian dengan anaknya, penyakit psikologisnya menimpa dirinya lagi dan dia dengan tega mencekik anaknya. Suaminya menemukan Thies-Keogh duduk di ruang depan sambil menatap ke luar angkasa, dan dia sama sekali tidak menanggapi saat suaminya menemukan anaknya meninggal di kaki ranjangnya di kamar tidur utama.

***

Diindonesia sendiri sudah banyak kasus pembunuhan anak oleh Ibunya sendiri. Beberapa diantaranya juga disebabkan oleh postpartum depression. Berikut adalah beberapa kasus pembunuhan oleh Ibu yang terjadi di indonesia.

1. Mutmainah

Seorang ibu bernama Mutmainah, 28 tahun, warga Cengkareng, Jakarta Barat, membunuh dan memutilasi anak kandungnya berinisial AJ, yang baru berusia 1 tahun.

“Menurut keterangan, ibu itu menderita depresi,” kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono pada Senin, 3 Oktober 2016.

Awi mengatakan pembunuhan tersebut terjadi hari ini sekitar pukul 01.00. Mutmainah membunuh anaknya di rumahnya di Jalan Jaya Nomor 24, RT 04 RW 10, Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat. Setelah anaknya tewas, perempuan itu memutilasi tubuh bocah malang tersebut.

Meskipun Mutmainah belum tentu mengalami postpartum depression, karena ia belum pernah memeriksanya secara langsung, tapi tetap ada kemungkinan bahwa ia mengalami gangguan ini.

2. Nurlela

Nurlela, tega menganiaya anak kandungnya Nur Qoidatul Zakiyah sampai tewas. Ketika ditetapkan menjadi tersangka, polisi belum mengetahui motif Nurlela menganiaya anaknya karena masih depresi berat.

Nur Qoidatul Zakiyah, bocah berumur 1,5 tahun meninggal setelah menjalani perawatan di RS Waled Cirebon. Pada bagian wajah dan kepalanya ditemukan luka lebam yang diduga akibat dianiaya ibu kandungnya Nurlela.

Penganiayaan terhadap korban yang merupakan anak kandungnya diduga sudah lama dilakukan tersangka. Hal ini karena proses persalinan melalui operasi caesar dinilai terlalu menguras biaya yang mengakibatkan sang Ibu stress dan mengalami postpartum depression.

3. Anik Qoriah Sriwijaya

Anik mengontrak rumah bersama suami, Iman Abdullah, dan 3 anak, Abdullah Faras Elmaky alias Faras (6), Nazhif Aulia Rahmatullah alias Najib (3), dan Muhammad Umar Nasrullah (9 bulan) di Jalan Margahayu Barat Margacinta Kota Bandung. Keluarga ini terlihat hidup damai, tak pernah ada masalah berarti. Anik merupakan ibu rumah tangga, sedangkan sang suami bekerja di sebuah yayasan.

Minggu pertama bulan Juni, kejadian menggemparkan terjadi. Beralasan ingin menenangkan diri, Anik meminta suaminya menginap di kantor. Malam itu, ia membekap satu per satu anaknya hingga kehabisan nafas dan tewas.

Pengacara Anik saat itu, Iwan, menyebut Anik terlalu takut tidak bisa membahagiakan anak-anaknya di masa depan. Ia merasa menjadi ibu yang gagal. “Ia (Anik) merasa bersalah dan menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa (menghidupi anak-anak),” kata Iwan.

Anik mengatakan, “Tidak punya harapan lagi. Ya sudah putus asa saja dengan kehidupan nanti.” Pada 15 Januari 2007, majelis hakim membebaskan Anik dari segala tuntutan dan memasukkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan. Ia diduga mengalami postpartum depression.

4. Dedeh Uum Fatimah

Dedeh Uum Fatimah (38) membunuh anaknya sendiri Aisyah Vani (2) dengan cara menenggelamkannya di dalam tangki air, Selasa subuh (11/3/2014). Dedeh membunuh Aisyah di rumahnya di RT 05 RW 22 Kampung Cijeungjing, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Dedeh menyatakan menyesal karena tidak sekalian membunuh dua kakak Aisyah yang juga anak kandungnya.
Penyebab pembunuhan ini diyakini karena Dedeh punya gangguan kejiwaan atau postpartum depression. Alasan kedua, Dedeh diduga mengikuti aliran sesat.

5. Pretty Hasibuan

MA, balita usia 2 tahun 6 bulan meninggal dunia secara tragis. Dia tewas di tangan ibunya sendiri, Pretty Hasibuan (32). Pelaku diduga tega mengakhiri hidup darah dagingnya tersebut karena depresi.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di kontrakan pelaku, Jalan Dahlia Ujung, Lingkungan V, Desa Suka Makmur, Deli Tua, Minggu (15/1). Pelaku melukai perut korban menggunakan pisau. Bocah itu meninggal dunia dalam pelukan pelaku.

Pelaku juga sempat mengejar dua anak saudaranya sambil menghunus pisau. Beruntung keduanya selamat

Tetangga dan kerabat pelaku menyatakan janda beranak satu itu suka menutup diri, dan tidak nyambung saat berkomunikasi sejak berpisah dengan suaminya. Dia pun tinggal di salah satu kamar bersama saudaranya.

***

Demikian beberapa kasus pembunuhan oleh Ibu kepada anaknya yang disebabkan oleh Postpartum Depression. Tentu masih banyak beberapa kasus yang lain. Kenapa tidak ditulis disini? Karena kurasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa jangan pernah menganggap remeh postpartum depression. Ya, anak anda taruhannya!!!

Mengertilah, menjadi ibu itu sulit. Beberapa Ibu diatas adalah daftar nama tak beruntung yang telah memberikan kita sebuah pembelajaran bahwa manajemen stress pada Ibu adalah awal pondasi dari terciptanya rumah tangga yang sehat.

Ibu yang berbahagia akan membuat sekelilingnya merasakan bahagia. Ibu yang tidak bahagia_akan membuat sekelilingnya menjadi bencana.

Postpartum depression tentu dapat ditanggulangi dan dicegah. Pada artikel sebelumnya saya sudah menjelaskan secara detail tentang penanggulangan awal babyblues dan postpartum depression.

Namun, ada beberapa orang yang memiliki kondisi psikologis yang ‘berat’. Mungkin karena inner child yang buruk, skizofrenia, bipolar, dan berbagai gangguan psikologis lainnya. Maka, pengobatan dengan psikiater lebih dianjurkan.

“Belajarlah Bahagia Ibu”  

Sumber tulisan:

babygagadotcom

detiknewsdotcom

Wajarkah kehadiran Teman Imajinasi pada Anak? 

Wajarkah kehadiran Teman Imajinasi pada Anak? 

Siapa yang waktu kecil punya teman imajinasi? Angkat tangan.. 🙋

(Sepertinya cuma aku.. Hiks) 

Beberapa hari ini aku tertarik untuk sedikit belajar tentang Psikologi. Aku tertarik dengan ilmu ini sejak memiliki anak. Kau tau kenapa? Karena aku ingin memahaminya. 

Ya, anak itu spesial. Melihat caranya tumbuh dengan berbagai polahnya yang membuatku sadar bahwa ilmu memahami seharusnya aku dalami sejak dulu. Dulu aku merasa bahwa memahami anak kecil sejatinya adalah mencoba flashback dengan masa kecil kita sendiri. Yup, inner child. 

Tak semua Ibu memiliki Inner Child yang sempurna. Kadang kala Inner Child membisiki_memaksa kita menghadapi anak kita sendiri untuk sama seperti saat kita kecil. Pertanyaan selanjutnya, Apakah wajar bentuk pemaksaan itu? 

Yup, aku akui. Beberapa hari ini aku sedang mengetes imajinasi anakku sendiri. Aku ingin tau seberapa besar daya khayalnya. Apakah sama sepertiku dahulu? Atau benar-benar berbeda. 

Ini terjadi ketika pertama kali aku membiarkannya bermain sendiri. Aku melihatnya duduk bosan sambil memegangi bonekanya. Termangu. 

Aku ingat sekali bahwa sudah berapa kali aku mengajarinya tentang bagaimana pura-pura berteman dengan boneka. Bagaimana cara menganggap boneka itu adalah benda hidup. Aku mengajari hal ini karena saat itu terlintas ‘rasa bosan’ saat aku harus berjam-jam menjadi teman mainnya. Tapi didalam otak anakku hanya mengerti satu hal “boneka ini tidak hidup, mama yang menghidupkannya” 

Ini bukan anak saya ya, Saya ambil gambar ini karena bagus aja.. 😛

Jadi, ketika aku menghilangkan diri dalam permainan Farisha maka boneka itu adalah benda mati. Benar-benar mati. 

Aku mencoba mengarungi masa laluku dahulu. Aku pikir aku berbeda dengan Farisha. Dulu waktu aku seumur dia aku sudah memiliki teman imajinasi. Bukan hanya satu, tapi banyak. Seingatku ada 4 orang dan semuanya perempuan. Aku cukup ingat betapa konyolnya aku berjalan-jalan sendiri menghampiri pohon rambutan, jambu biji dan mangga sebagai perwakilan dari rumah teman-teman imajinasiku. Aku punya duniaku sendiri. 

Tapi Farisha? Dia tidak betah bermain sendiri tanpaku. Kadang dia main keluar rumah tanpa seizin dariku, lari untuk bermain bersama tetangga. Andai berbicara sendiripun dia pasti punya alasan. Berbicara dengan siput misalnya. Setidaknya bila berbicara dia ingin berbicara dengan sesuatu yang bergerak. Aku menyadari dia tidak punya ‘yang lain’ dalam hidupnya. 

Dalam memahami Tuhan pun Farisha sangat kompleks. Tidak seperti aku yang manggut-manggut saja dulu. Dulu, aku pernah bertanya dengan Mama. 

“Tuhan tu Allah kan Ma? Allah dimana?”

Mama menjawab, “Allah diatas sayang” 

Dan aku selalu mengimajinasikan bahwa Allah ada diatas awan mengawasiku. Aku tak pernah bertanya hal rumit seperti Farisha… 

“Ma, Allah dimana? ”

Aku menjawab,” Dihati Farisha sayang, kemana aja Allah ada sama Farisha”

Farisha “Berarti kalo hati Farisha dibelah keluar Allah lah?” 

Aku menjelaskan kepada Farisha tentang Hati dalam versi yang berarti adalah perasaan yang bergabung dengan ruh. Namun, Farisha tetap memahami bahwa hati adalah salah satu organ yang ada dalam perutnya. Persis seperti saat dia melihat hati dalam perut ayam dan ikan. 

Aku pun sadar bahwa Inner Child ku adalah masa penuh imajinasi, aku mudah memahami hal yang berhubungan dengan perasaan dan punya banyak khayalan. Sedangkan Farisha adalah anak yang sangat realistis. Sampai kapanpun aku mengajarinya berimajinasi_Farisha tetap suka membuka matanya dan melihat fakta. 

Akupun maklum dengan itu semua. Jika aku telaah lebih mendalam tentang inner childku_tentang kenapa aku bisa punya teman imajinasi maka hanya satu jawabannya. Yup, aku kesepian. 

Aku akui, aku memang punya Mama dan Ayah serta Kakak laki-laki dirumah yang hangat. Namun, menginjak usia 4 tahun aku mulai merindukan adanya teman perempuan seusiaku di sore hari. Aku adalah anak yang luar biasa pemalu. Saat TK aku hanya mengetek dengan Mamaku dan tak terlalu banyak punya teman_walau aku ingin sekali. 

Maka aku memutuskan menciptakan imajinasi itu sendiri. Setiap sore aku berbicara sendiri dipepohonan. Lingkunganku adalah lingkungan pedesaan yang lumayan sunyi. Tidak ada teman perempuan nyata untuk anak seumurku saat itu. Itu adalah alasan kuat untuk menciptakan teman imajinasi. 

Sampai kapan teman imajinasi ada? 

Sampai aku mempunyai teman nyata yang ‘asli’. Dan Farisha sudah memiliki teman nyata dan asli sejak seumurku waktu itu. Jelas sudah, dunia Farisha penuh dengan Teman Realistis. Tidak sepertiku. 

Dari pengamatanku, Farisha tumbuh menjadi anak yang ‘memiliki beberapa kepribadian ekstrovert’ walau kedua orang tuanya dominan introvert. Hal ini membuatku merenung bahwa mungkin saja kepribadian introvertku sebenarnya terbentuk karena faktor lingkungan. 

Karena Farisha tidak memiliki Teman Imajinasi sepertiku dulu maka jelas tulisan ini tidak akan membahas tentang perkembangan anakku. Melainkan tentang diriku sendiri dan para ibu yang anaknya sekarang memiliki teman imajinasi. 

Sebenarnya Apakah Wajar kehadiran teman Imajinasi Pada anak? Apa sebenarnya faktor yang menyebabkan hadirnya teman imajinasi?

Menurut psikolog pediatrik Dr. David Erickson, Ph.D. dari Glenrose Rehabilitation Hospital di Edmonton, Canada dan Associate Clinical Professor of Pediatrics di University of Alberta, teman imajinasi pada anak ini sering dialami oleh anak-anak karena keberadaan teman imajinasi memungkinkan mereka untuk keluar dari situasi yang tengah dijalani dan membuat realita yang sebenarnya mereka harapkan terjadi. 

Dengan memiliki teman imajinasi anak menjadi ‘pengontrol’ dalam imajinasinya. Ia dapat berekspresi sesuai kehendaknya. Berpura-pura senang, sedih, tertawa, dan pengandaian lainnya. Dengan berimajinasi anak menjadi bebas melakukan apa saja untuk mengatasi kesendiriannya. 

Bagaimana sebenarnya berbagi tipe wujud dari teman imajinasi yang diciptakan anak kita? Berikut berbagai wujud dan faktor yang melatarbelakangi imajinasi tersebut:

1. Menciptakan Teman Bermain karena merasa sendirian

Sebagian besar teman imajinasi tercipta karena rasa kesepian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak sulung cenderung memiliki teman imajinasi. Hal ini karena ia tak memiliki adik untuk diajak bermain maupun berbagi emosi.

Ini gambar lucu, aku selipin aja.. 😀

Untuk anak yang merasa kesepian wujud teman imajinasi fase pertamanya adalah berupa teman bermain. Namun tidak menutup kemungkinan ia dapat menciptakan wujud lainnya sesuai perkembangan emosi yang dimilikinya. 

Bentuk teman imajinasi berupa teman bermain ini biasanya muncul sangat sering. Karena kebutuhan anak akan teman tergolong tinggi. 


2. Menciptakan Figur Tokoh Sang Pembela karena Persaingan

Kebanyakan anak yang memiliki teman imajinasi adalah si sulung yang tidak punya adik. Namun, tidak menutup kemungkinan di tengah dan si bungsu juga memiliki teman imajinasi. Karena teman imajinasi muncul ketika realitas tidak sesuai dengan kenyataan.

Biasanya anak tengah maupun bungsu mengalami situasi ketidakpuasan karena sibling rivalry. Kemudian mereka berandai-andai memiliki kakak yang ‘begini’ maupun ‘adik’ yang begini. Mereka memunculkan tokoh imajinasi tersebut begitu saja untuk merasa dibela. 

Pada kebanyakan anak perempuan sosok Imajinasi Pembela ini sering muncul dengan sebutan ‘Ibu Peri’. Mereka mengkhayal bahwa apapun yang terjadi Ibu Peri selalu melindunginya dan mendukungnya. 

Bentuk teman imajinasi jenis ini muncul ‘saat terdesak’ karena anak membutuhkan sosok pembela agar membenarkan hatinya

3. Menciptakan Figur Jahat sebagai tantangan

Anak dengan kehidupan sempurna yang tidak kesepian dan banyak teman pun tak luput dari kebutuhan akan teman imajinasi. Hal ini dikarenakan kebutuhan emosi anak tergolong kompleks. Ia butuh tantangan.. 

Karena itu ia mengkhayal ada tokoh jahat yang sedang mengincarnya. Dan pahlawannya? Adalah dia sendiri. 

Bentuk imajinasi jenis ini biasanya tidak bertahan lama. Kemunculannya hanya sesekali saja. Kadang kala, saat anak melakukan kesalahan ia dapat menciptakan figur jahat ini sebagai pelaku sebenarnya dari kesalahannya. 

Dari beberapa alasan dan jenis Teman Imajinasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Teman Imajinasi adalah bentuk adaptasi psikologis dari rasa tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh Anak agar dapat diubah menjadi situasi yang menyenangkan.

Lalu anehkah jika anak memiliki Teman Imajinasi? 

Tentu saja Tidak! Teman Imajinasi adalah hal yang wajar. Kita harus mengakuinya. Aku_sudah mengakuinya bahwa pernah memiliki teman imajinasi dahulu. Lalu apakah aku gila karena saat kecil pernah berbicara dan tertawa dengan pohon? Haha.. Mari kita lihat faktanya.. 

Penelitian baru-baru ini memberikan jawaban bahwa teman khayalan adalah bagian yang umum terjadi dalam perkembangan pada masa anak-anak. Di Amerika Serikat pada tahun 2004 anak-anak usia pra sekolah dan orang tua mereka mengikuti sebuah penelitian yang meneliti aspek-aspek perkembangan anak, termasuk teman khayalan.

Anak-anak yang mengikuti penelitian itu dipantau kembali setelah mereka bersekolah yaitu ketika usia mereka tujuh tahun. Para peneliti terkejut mengatahui bahwa 65% anak-anak hingga usia tujuh memiliki atau pernah memiliki teman khayalan.

Seperti pada penelitian lain di Inggris dimana teman khayalan berupa mainan khusus diikut sertakan, 1800 anak mengisi kuesioner mengenai teman khayalan. 46% dari mereka mengungkapkan teman khayalan yang mereka miliki sekarang atau pernah mereka miliki, termasuk 9% yang berusia 12 tahun. 

Aku jadi ingat ketika aku membahas tentang teman khayalan ini dengan salah satu temanku. Dia berkata bahwa aku aneh karena pernah memilikinya. Dan kemudian dia berkata ‘Jangan’ ketika aku bercerita bahwa ingin mengajarkan Farisha untuk memiliki Teman Khayalan. Katanya itu akan menghambat fasenya dalam berteman. 

Kenyataannya aku merasa tidak aneh. Bagiku memiliki daya imajinasi berlebih bahkan bisa menciptakan teman khayalan semasa kecil juga bermanfaat. 

Dr. Karen Majors mewawancara anak-anak usia lima hingga sebelas tahun dan orang tua dari anak-anak yang lebih kecil. Semua anak-anak itu mengatakan bahwa teman khayalan penting bagi mereka dan mengapa mereka bergaul dengan teman khayalan.

Kesimpulan yang diambil adalah teman khayalan umumnya merupakan bagian yang sangat positif dalam kehidupan anak. Teman khayalan memberikan rasa senang, menghibur dan menemani bermain. Mereka juga baik hati dan senang menolong, pendengar yang baik dan selalu ada bila dibutuhkan. 

Perlukah anda khawatir jika anak anda memiliki teman khayalan? Jawabanku, Tidak, No Problem. 

Sebaliknya orang tua perlu tau seperti apa wujud teman khayalan si kecil. Jika berbentuk teman bermain mungkin karena dia kesepian. Jika berbentuk sang pembela berjenis Ibu Peri mungkin dia perlu dibela. Jika berbentuk musuh mungkin dia perlu tantangan. Anda harus mencoba untuk menjadi seperti teman imajinasinya sesekali. Mungkin, yang dia butuhkan sebenarnya adalah anda yang pintar berakting. 

Farisha anakku tak memiliki teman imajinasi sepertiku karena kupikir hidupnya sudah terlalu sempurna secara psikologis. Farisha memiliki teman bermain baik dilingkungan maupun disekolah. Dia anak tunggal yang tidak memiliki saingan dan memiliki Ayah yang bisa berakting sebagai musuhnya dirumah. 

Aku sewaktu kecil? Jujur saja aku memiliki semua jenis teman imajinasi diatas. 😂

Kapan kita harus khawatir? 

Keberadaan teman imajinasi adalah sesuatu yang tidak mengkhawatirkan. Namun, akan patut dikhawatirkan jika anak tetap asik dengan imajinasinya sendiri ketika berada dilingkungan sosial. Berarti teman imajinasinya berperan terlalu kuat dalam pikirannya sehingga dia tidak tertarik berteman dengan teman nyata. Kehidupan sosial anak bisa jadi bermasalah karena anak selalu menggunakan imajinasinya untuk melindungi dirinya. 

Kapan teman imajinasi hilang? 

Biasanya teman imajinasi akan hilang dengan sendirinya dalam waktu paling cepat selama enam bulan, teman imajinasi akan hilang jika anak sudah berhasil mengatasi masalah yang menjadi pemicu hadirnya teman imajinasinya ini. 

Seiring berkembang waktu anak akan mengenal sosial emosi dengan berteman secara nyata. Ia juga akan belajar kemampuan bahasa hingga kognitif sehingga secara perlahan akan menghapus kehadiran teman imajinasi karena menyadarinya bahwa itu hanya sebatas khayalannya saja.  

Bagaimana jika teman Imajinasi terus dan selalu ada? 

Jika teman imajinasi anak selalu ada bahkan hingga berumur 7 tahun maka orang tua perlu mengkhawatirkan hal ini dan mungkin perlu berkonsultasi dengan psikolog anak.

Sumber kutipan:

resourceful-parenting

meetdoctordotcom

Sumber Gambar

IBX598B146B8E64A