Browsed by
Category: Psikologi

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

Membedakan Kritik Positif dan Mom Shaming

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

“Anaknya umur berapa Bu? Kok masih gak mau manggil Mama.. Kalau sudah 2 tahun begini perlu dikonsultasikan loh Bu..”

“Anak jangan digendong memakai gendongan begitu Bu, melihatnya gak nyaman. Coba saya coba gendong sebentar memakai kain ini..”

Dst dst

Apakah Itu Mom Shaming? 

Apa yang terlintas dipikiran Anda saat membaca kata-kata diatas? 

Apakah langsung merasa baper? Lalu menjauh dan lantas marah karena tersinggung.. 

Atau senang karena merasa dipedulikan? 

Jujur, aku tipe yang agak ‘labil’ kalau disuruh menjawab soal ini. Karena aku sih tak memungkirinya, bahwa aku pernah marah dan tersinggung dengan salah satu kata-kata diatas. Tapi, aku juga pernah merasa senang karena merasa dipedulikan.

Ya.. Kadang juga berpikir sih, kok wanita se-complicated itu? Kadang baper, kadang marah tersinggung tidak jelas. Hah! 

Belakangan sering berpikir dan melamun dengan orang-orang yang sudah tidak bertegur sapa lagi denganku karena kemarahanku itu. Semakin berpikir dan berpikir.. Lalu semakin reframing lagi dan lagi.. Kok ya aku jadi sadar bahwa aku ini kadang tidak bisa membedakan antara sebuah kritik yang membangun dan mom shaming

Mom shaming adalah perilaku di mana terjadi pemberian kritik atau komentar kepada seorang ibu, yang justru membuatnya tertekan karena diucapkan dengan nada negatif. Bentuk nada negatif itu biasanya disertai dengan perilaku mempermalukan ibu lainnya, seakan dirinya sendiri lebih baik.

Contohnya adalah.. 

“Wah, kok anaknya minum sufor. Jadi kayak anak sapi dong. Kita kan manusia ya masa minum susu sapi. Aku nih kemarin ASI nya juga gak bisa keluar. Tapi aku terus berusaha nih gak menyerah. Kalau langsung menyerah kayak kamu bla bla.. “

“Duh, anaknya kok digendong gitu sih. Gendong tuh yang support M-Shape. Masa gendongan gini dipake. Kasian anaknya. Ngilu deh liatnya. Coba nih pake kayak punyaku. Belajar dulu bla bla.. “

Dua kalimat diatas bernada negatif juga sedikit membanggakan diri sendiri. Kalimat diatas bisa dikategorikan sebagai bentuk mom shaming. Walaupun maksudnya baik, namun cara penyampaiannya menyinggung hati. Sehingga maksud positif dari sebuah pesan menjadi tertutupi. 

Nah, kalau kalimat-kalimat seperti.. 

“Wah, sudah dicoba untuk disusui terus Bu? Karena kalau terus-terusan dikasih sufor takutnya ASI gak bisa keluar lagi..”

Bukanlah jenis kalimat yang bernada negatif. Karena didalamnya tidak ada kata ‘merendahkan, menekan hingga mempermalukan’. Tidak ada pula kata-kata yang memperbandingkan diri sendiri dengan orang yang dikritik. Maka, sebenarnya ini bukan termasuk jenis mom shaming. Tapi sebuah kritik positif. 

Pentingnya Kritik Positif untuk Perkembangan Hidup

“Sejak menjadi Ibu, perasaanku sensitif. Sedikit-sedikit tersinggung.. Aku jadi tidak bisa membedakan antara kritik dan nyinyir.. “

Perasaan itu pernah aku lewati setidaknya selama 3 fase kehidupanku. Yang pertama, ketika aku terkena baby blues. Kedua ketika aku tinggal di rumah mertua dan terkena PPD. Dan ketiga, ketika keuangan rumah tanggaku dalam kondisi down sekali. 

Banyak kritik positif yang singgah seakan mencoba menerangi pikiran gelapku. Namun, sebagian besar kritik positif itu tidak aku hiraukan. Aku malah ingin berbalik mencaci maki orang-orang yang mengkritikku itu. Rasanya ingin sekali aku berkata pada mereka, “Coba kamu jadi aku!”

Seiring berjalan waktu, beberapa kritik positif yang pernah singgah itu mulai aku renungi. Lalu perlahan aku aplikasikan dalam kehidupanku. 

Ternyata, kritik positif tersebut benar-benar membantu. Meski awalnya menyakitkan menghadapinya, tetapi sebuah kebenaran memang harus diaplikasikan. Kalau tidak, ya kita tidak bisa move on dalam hidup. Itulah kenapa kita kadang perlu menghadapi kepahitan untuk sebuah rasa manis. 

“Sejatinya, kritik positif bagaikan clue dalam permainan hidup. Mau naik level atau tidak? Itu adalah pilihanmu sendiri.. “

Mom shaming pun tidak selalu salah

Dulu, aku pernah menulis di blog ini bahwa sesungguhnya orang yang melakukan mom shaming adalah korban dari lingkungan yang salah. Circle hitam yang terus menerus ada sehingga tanpa sengaja bisa melukai orang lain. 

Baca juga: Tentang Memaafkan Mom Shaming

Satu hal yang aku garis bawahi adalah..

Orang yang melakukan mom shaming bukan berarti jahat. Ia hanya terperangkap dalam circle yang salah dan tidak bisa berkomunikasi. 

Yup, coba deh lihat. Kadang orang yang melakukan mom shaming itu bukanlah orang jahat kok. Tapi memang ‘gaya komunikasi’ yang ia miliki semacam itu. Baginya sih biasa saja, tapi bagi kita.. Emmmm… 

Jujur, aku hidup dikelilingi oleh lingkungan yang sopan santun sekali sejak kecil. Kalau ada kritik maupun saran pasti disampaikan dengan komunikasi yang nyaman. Kalau ada sedikit saja konflik saat komunikasi, pasti ada yang mengoreksi lebih awal. 

Saat menikah, lingkunganku jauh berubah. Aku tidak terbiasa dengan gaya bahasa yang sedikit kasar. Aku juga tidak terbiasa dengan kritik yang blak-blakan. Langsung hamil dan memiliki anak diusia tergolong muda membuatku sedikit kaget dengan suasana baru. Akhirnya, aku memutuskan menutup diriku sendiri dari komunikasi luar. 

Seiring berjalan waktu, aku sadar bahwa mom shaming yang sering singgah dikehidupanku merupakan sebuah kritik positif yang berbeda gaya bahasanya. 

Mungkin benar adanya sebuah nasehat lama itu.. 

“Jika orang tua berbicara, IYA kan saja. Sesalah apapun itu.. Suatu saat kamu akan mengerti arti kebenarannya.”

Teknik komunikasi: Dahulukan mengenal dan membaca situasi sebelum mengkritik

Dari belajar tentang menoleransi mom shaming hingga memahami dan mengaplikasikan kritik positif aku menjadi paham bahwa ada satu garis merah yang harus ditarik untuk menjadikannya pembelajaran yang berarti. 

Bahwa sebelum mengkritik seseorang, dahulukanlah mengenalnya..

Setelah sudah mengenalnya, bacalah situasi hatinya..

Pahami dan peluk hatinya..

Jika diminta bantuan, barulah beri pendapat dan kritik. 


Yup, begitulah kiranya. Setidaknya, menurutku inilah teknik komunikasi terbaik yang dapat aku simpulkan setelah sekian tahun belajar. Karena sebagus apapun kritik positif.. Kalau dilakukan tanpa membaca perasaan dan situasi maka kritik tersebut akan berakhir pada sebuah trigger permusuhan. 

Pernah mendengar istilah ‘Toxic Positivity’?

Istilah toxic positivity sendiri pernah ngetrend belakangan ini. Yaitu kondisi dimana seseorang secara terus menerus mendorong orang yang sedang tertimpa kemalangan untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan kenalannya itu atau tanpa memberi kesempatan kenalannya untuk meluapkan perasaannya.

Mungkin jenis toxic seperti inilah yang menjadikanku dulu sangat pemarah dan menutup diri. Ketika fase awal menjadi ibu baru, aku hanya ingin dimengerti oleh lingkunganku. Bahwa aku juga ingin merasa dihargai, diberikan ruang untuk berkeluh kesah dsb. Bahwa sesungguhnya, yang aku butuhkan hanya telinga. Bukan mulut untuk dikritik. 

Itulah kenapa akhir-akhir ini jika aku bertemu dengan keluhan new mom di sosial media, aku sangat amat jarang ikut berkomentar disana. Aku bahkan sangat jarang memberikan like dsb. Kecuali, dia adalah teman dekatku. Sesekali aku memberikan feel care di status tersebut. Atau malah mengomentari dengan tidak nyambung demi membuatnya tersenyum. Karena aku pernah berada di posisi tersebut. Aku tidak butuh kritik, aku hanya butuh teman pendengar. 

Tentang timing memberikan pendapat positif dan cara menyalurkan ekspresi

Berikanlah kritik positif ketika diminta. Itulah cara aman menghindari label mom shaming. 

Nah, jikapun mungkin kita sangat ingin memberikan edukasi positif terkait tentang ASI, cara menggendong, perkembangan anak, motivasi diri dsb maka akan lebih baik jika itu disharing melalui status sendiri saja dengan aturan yang bisa dibaca publik. Ets, tunggu sharing hal positif bukannya rentan jadi toxic positivity?

Manusia normal adalah manusia yang bisa berekspresi dengan bebas. Sedih punya ruang, senang punya ruang, norak punya ruang. 

Namun saranku, biasakanlah hidup memiliki privasi. Itulah inti dari sebuah ekspresi. Sejak menjadi ibu, aku akhirnya paham bahwa tidak semua orang bisa paham tentang rasa sedih, norak, positif dsb. 

Karena itu, aku mengatur privasi segala media sosialku. 

Blog adalah tempatku bercerita ketika segala pengalaman pahit dan manis telah menemukan hikmahnya. 

Facebook adalah tempatku bisa melihat perasaan teman-temanku. Tempatku mencari inspirasi. Tempatku bisa melihat video bermanfaat dari nas dkk. Ah, sereceh itu. 

Instagram adalah tempat dimana aku menebar hal positif saja. Sebuah citra singkat yang mungkin akan membuat orang berpikir kalau hidupku bahagia sekali. 

Dan WA story adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa sedih, norak, bingung, labil, alay, nyinyir dsb. Hanya kurang dari 10 orang yang bisa melihatnya. 

Wah, sepertinya tulisannya sudah sedemikian melenceng dari topik awal? 

Ah tidak juga. Karena sebenarnya ini berkaitan. Dan percayalah, segalanya akan teratur dengan baik jika kita bisa mengatur privasi. Karena awal mula dari mom shaming adalah ketika kita tidak bisa menempatkan ekspresi pada tempatnya. 🙂 

So.. kalian sendiri bagaimana moms? Lebih sering bertemu kritik positif atau mom shaming?

Untold Story Tale yang Sangat Bermakna di Film Its Okay To Not Be Okay

Untold Story Tale yang Sangat Bermakna di Film Its Okay To Not Be Okay

Siapa yang belum bisa move on sehabis menonton film ‘Its Okay To Not Be Okay’ yang diperankan oleh Seo Ye Ji dan Kim Soo-Hyun? Mungkin aku bisa dikatakan salah satunya. 

Bukan, bukan karena kegantengan Kim Soo-Hyun dan penampilan Seo Ye Ji yang sangat elegan di film tersebut. Melainkan karena film ini mengangkat tema psikologis sebagai brandingnya. Well, dari judulnya saja sudah kelihatan sekali bukan?

Nah, Uniknya setiap episode film ini diberi judul dengan nama-nama dongeng. Sebagian besar diberi judul dengan dongeng yang universal. Namun ada juga dongeng lokal dari korea selain itu juga ada cerita anak-anak yang ditulis oleh Ko Moon Young. Setiap episode sungguh diulas dengan sangat bermakna dan unik. Film ini diperankan oleh 3 tokoh utama yang sedang mencari jati dirinya masing-masing dengan background masa lalu masing-masing yang kelam.

Oh well, apa perlu aku menuliskan secara lengkap tentang tokoh dan sedikit alur ceritanya?

Kurasa tidak perlu, karena teman ngeblogku Mba Antung Apriana sudah menjelaskan tentang itu dalam tulisannya tentang review drama Its okay to not be okay

Apa aku perlu menjelaskan tentang dongeng-dongeng Ko Moon Young yang penuh makna? Hmm.. Kurasa juga tidak. Karena Mba Lendy Agashi juga sudah membahas tentang makna dan cerita dongeng-dongeng Ko Moon Young dengan sangat apik di blognya. 

Dongeng dan Pesan Moral didalamnya versi Drama Its Okay To Not Be Okay

Apa itu dongeng?

“Dongeng adalah Fantasi kejam yang menggambarkan kebrutalan dan kekerasan dunia ini dalam bentuk paradoks.”

Ko Moon Young

Yup, Blogpost kali ini khusus aku tulis untuk menceritakan sudut pandang aka ‘fantasi kejam’ lain tentang dongeng-dongeng yang pernah kita dengar. Dan sudut pandang penulis Ko Moon Young dalam drama Its Okay To Not Be Okay ini sedikit membuka pemahamanku tentang cerita dongeng yang pernah aku dengar serta pesan moral didalamnya. Dongeng apa saja itu? Yuk, kita bahas bersama.

The Ugly Duck

Pada zaman dahulu kala hiduplah seekor bebek. Bebek ini sangat berbeda diantara saudaranya. Tubuhnya besar dan kulitnya berwarna putih keabuan. Paruhnya juga sedikit berbeda.

Karena itu Ibu bebek dan saudara-saudaranya sering tidak menghiraukan bebek tersebut. Mereka meninggalkannya ketika berenang bersama. Pun ketika makan bersama. Mereka menjuluki bebek itu ‘Bebek yang Jelek’.

Waktu berlalu. Anak bebek sering melihat perubahannya di bayangan air. Ia merasa bahwa ia bukanlah seperti saudara-saudaranya. Akhirnya, anak bebek memutuskan untuk pergi menjauhi Ibu dan saudaranya. 

Dua musim berlalu. Anak Bebek bertemu dengan gerombolan kawanan Angsa. Salah satu dari Angsa mendekatinya dan berkata, “Kamu cantik sekali..”

Bebek itupun sadar bahwa selama ini dia bukanlah seekor bebek. Melainkan seekor Angsa. Ibunya telah kehilangannya sejak ia masih berwujud telur. Kini, setelah menyadari siapa sebenarnya dirinya.. Ia pun bisa hidup bahagia bersama kawanan angsa lainnya. 

Tamat

Sejak kecil, aku dihadapkan pada moral story yang sangat bijak dalam memandang dongeng ini. Bahwa kita harus mencari sebuah komunitas yang bisa menerima kita dengan baik. Bukan hanya itu, cerita ini adalah cerita terbaik untuk memberikan semangat pada diri kita yang mungkin sedang mengalami fase down karena tidak adanya penerimaan dari lingkungan. Cerita ini juga yang mengajarkan padaku pentingnya merasa percaya diri dalam wujud yang berbeda. 

Tapi dalam sudut pandang Ko Moon Young, cerita ini memiliki pesan moral yang berbeda. 

Ko Moon Young menegaskan bahwa segala drama dalam kehidupan anak Angsa tidak akan terjadi andai saja Ibunya tidak ceroboh dalam memelihara dan menyimpan telurnya. Andai saja Ibu Angsa tidak meninggalkan telurnya di sarang Ibu Bebek mungkin anak itu akan tumbuh besar dan mengenali jati dirinya dengan baik sejak kecil. Anak Angsa tidak perlu mengalami ‘bully’ hingga mengalami perjalanan panjang untuk mencari jati diri. 

Untold story dalam drama ini adalah Kecerobohan Ibu Angsa yang tidak bisa menjaga anaknya sendiri.

Well, sesungguhnya dalam kehidupan kita hal ini sangat sering terjadi. Bagaimana contohnya? 

Betapa sering kita mendidik anak kita dengan bercermin pada kehidupan keluarga lain? Betapa sering kita kadang tidak sengaja membandingkan anak kita dengan anak orang lain sehingga anak kita kehilangan hobi dan passionnya sendiri? 

Kadang, kita juga membuatnya berkawan dengan kelompok yang tidak disenanginya. Untuk apa? Untuk sekedar mendapatkan penerimaan dalam masyarakat. 

Sudut pandang Ko Moon Young dalam mengambil moral story sungguh membuatku belajar bahwa jati diri seorang anak terbentuk dari melihat punggung orang tuanya. Ketika orang tuanya ceroboh dalam mengambil sikap. Maka, anak pun akan kehilangan hal baik yang seharusnya ada padanya sejak kecil.

Raja Bertelinga Keledai

Dahulu kala, hiduplah seorang pangeran yang akan menjadi penerus tahta di kerajaan Silla. Setelah dinobatkan menjadi raja, hal aneh terjadi. Telinga pangeran berubah menjadi telinga keledai. Tidak ada yang mengetahui tentang hal ini termasuk orangtua sang raja.

Raja menutup rapat-rapat rahasianya.

Masalah terjadi saat pesta rakyat akan diadakan. Raja membutuhkan mahkota baru. Maka ia pun mengundang pembuat mahkota untuk mengukur kepalanya. Dan betapa terkejutnya pembuat mahkota ketika melihat kepala sang raja. Lihatlah Raja Bertelinga Keledai. 

Raja yang malu akan kondisinya mengancam pembuat mahkota untuk tidak menceritakan kondisi itu pada siapapun. Pembuat mahkota itupun patuh pada titah Raja. 

Pembuat mahkota pun semakin ia menua. Ternyata, rahasia itu semakin membebaninya setiap hari. Maka ia berjalan-jalan untuk menenangkan pikirannya. Dalam perjalanan, ia menemukan hutan bambu yang sunyi.

Ia pun hanyut dalam keheningan hutan bambu lantas kemudian berteriak “RAJAKU BERTELINGA KELEDAI!!” Dan setelah meneriakkan rahasia itu, ia pun meninggal dengan tenang.

Sepeninggal pembuat mahkota, angin bertiup di sekitar hutan bambu dan membawa kabar tersebut ke desa-desa tempat raja memerintah. Angin tersebut seolah meneriakkan “Rajaku bertelinga keledai!!”

Desa yang awalnya penuh ketenangan, menjadi semakin ribut karenanya. Hingga berita itu akhirnya terdengar oleh raja.

Akhirnya, Raja pun jujur kepada rakyatnya. Bahwa ia memiliki telinga keledai. Ia menyimpan rahasia karena takut dan malu. Rakyat yang mendengar kejujuran Rajanya menjadi bersimpati dan kagum. Mereka pun sepakat untuk menghargai privasi Sang Raja dengan menebang hutan bambu. 

Ajaibnya, setelah hutan bambu di tebang. Telinga Sang Raja kembali normal. Ia pun senang karena itu. Raja dan rakyatnya pun hidup penuh dengan kesejahteraan. 

Tamat….

Jujur aku baru kali ini mendengar dongeng ini. Setelah aku telusuri, dongeng ini berasal dari negeri korea. Oh.. Pantas saja tidak familiar bukan? Ada yang baru membaca ceritanya sama sepertiku? Aku pernah membaca sayup-sayup saja sih di perpustakaan daerah. Dan cerita lengkapnya aku sudah lupa. Cerita diatas kutulis ulang setelah mendapatkannya dari berbagai sumber. 

Moral story dalam cerita ini adalah tentang keterbukaan antara Raja dan Rakyatnya. Bahwa jika antara Raja dan Rakyat tidak memiliki rahasia maka rakyat akan hidup sejahtera. Adapula yang mengambil moral story bahwa kejelekan fisik seorang raja tidak bisa dijadikan patokan dalam menilai baiknya seorang raja. 

Cerita ini sendiri memiliki berbagai versi berbeda dengan ending yang berbeda. Namun, aku fokus untuk membahas pesan moral dari Ko Moon Young untuk cerita ini. Bahwa sesungguhnya, sebuah rahasia itu harus diceritakan. Karena kalau tidak, rahasia itu akan meledak dengan cara yang memalukan.

Didalam dunia ini kita memerlukan tempat untuk berbagi cerita. Entah itu dengan teman, orang tua hingga sahabat atau suami sendiri. 

Ketika kita merasakan hal yang tidak nyaman, maka rahasia itu harus dikeluarkan untuk dipecahkan solusinya bersama-sama. Ungkapkanlah rahasia tersebut pada orang yang paling bisa dipercaya. Karena jika tidak, rahasia itu akan membebani hidup kita. Cepat atau lambat, sebuah rahasia pasti terbongkar. Rahasia yang terlambat menemukan solusinya akan keluar dengan cara yang tidak menyenangkan.

Beauty And The Beast

Ehm, haruskah aku menulis dongeng ini juga? 

Mengingat dongeng ini sudah sangat mendunia hingga ada beberapa versi filmnya di disney maka aku akan skip cerita versi lengkapnya ya. 

Dongeng yang bercerita tentang seorang gadis cantik dan lelaki yang buruk rupa ini memiliki ending bahagia. Lelaki Jelek yang terkena kutukan berubah menjadi pangeran tampan setelah mendapatkan cinta sejati dari seorang wanita. Tapi tahukah untold story versi Ko Moon Young dalam cerita ini? 

Bahwa sesungguhnya, Beauty And The Beast adalah cerita tentang Stockholm Sindrom. Ya, katanya.. Si Cantik mengalami Stockholm Sindrom. 

Apa itu Stockholm Sindrom? 

Stockholm sindrom adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. 

Wikipedia

Well? Bagaimana bisa dongeng Beauty and The Beast dikaitkan dengan stockholm sindrom? 

Besar kemungkinan, ketika Si Cantik ditawan di kastil oleh si Buruk Rupa ia mengalami over empati pada si Buruk Rupa. Padahal, bisa saja si Buruk Rupa ini memperlakukannya dengan tidak baik. Namun, karena Si Cantik terkena stockholm sindrom maka ia jadi membenarkan segala tindakan tercela dari Si Buruk Rupa. Karena over-reframing, si Cantik akhirnya bisa memahami jalan pikiran Si Buruk Rupa. Empatinya menjadi berlebihan sehingga benih cinta itu muncul begitu saja. Dan rasa cinta itulah yang pada akhirnya mengubah sikap si Buruk Rupa.

Mendapati pengandaian bahwa mungkin saja dongeng Beauty and The Beast adalah kasus stockholm sindrom, aku jadi ingat pada dua tokoh di film The World Of Marriage yaitu Hyun Seo dan In Gyu. Aku baru tersadar bahwa mungkin saja Hyun Seo adalah salah seorang wanita yang terkena stockholm sindrom. Ia mencintai pacarnya In Gyu yang suka memukul dan menyiksanya. Bahkan saat In Gyu meninggal, Hyun Seo sangat sedih dan berharap dokter Ji menerima karma. 

Loh, kok jadi nyasar ke baper di film TWOM? Ah sudahlah. Hahaha.. 

Anak Laki-Laki dan Serigala

Dahulu kala..di sebuah desa.. Tinggallah seorang anak laki-laki dan orang tuanya. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Namun setiap hari mereka juga memelihara Domba. Domba-domba itu adalah milik keluarga mereka. 

Suatu hari sang anak laki-laki ditinggal oleh orang tuanya ke kota. Sang anak dititipkan beberapa domba. Mereka menyuruh sang anak agar menjaga dan memberi makan domba-domba tersebut. 

Sang anak menjaga domba itu dengan tekun.

Tapi, hingga hari ke tiga.. Orang tuanya tak kunjung datang. Maka, ia mulai merasa bosan dengan rutinitasnya sehari-hari. 

Ketika menjaga domba, pikiran anakpun mulai jahil. Ia kemudian berteriak, “Serigalaaa… serigala.. Tolooong!”

Penduduk desa pun datang berlarian. Mereka langsung mencari keberadaan serigala disekitar anak tersebut. Sang anak senang sekali melihat respon para penduduk. Ia pun tersenyum dan berkata, “Haha.. Tidak ada serigala kok!” 

Para penduduk pun kesal. Mereka langsung pulang kerumah. 

Besoknya, Anak lelaki itu mengulangi hal yang sama, ia berteriak dengan lebih nyaring, “Serigala.. Serigala..! Astagaa tolong akuu!”

Penduduk desa awalnya tidak mau datang. Tapi karena teriakan anak itu begitu nyaring dan serius. Akhirnya mereka tiga tega. Mereka pun segera lari kearah suara anak tersebut. 

Dan betapa kesalnya mereka ketika melihat sang anak tertawa terbahak-bahak. 

Besok harinya, anak lelaki tersebut duduk tenang sambil menjaga dombanya yang sedang makan. Betapa terkejutnya ia ketika tiba-tiba melihat serigala datang ke arah domba tersebut. Sang anak pun berteriak panik, “Toloong.. Serigala.. Toloong.. Domba saya dimakan.. Tolong!”

Tapi tidak ada satupun yang datang. 

Penduduk desa sudah tidak percaya lagi dengan teriakan anak tersebut. Dan akhirnya, domba-domba pun habis dimakan serigala. 

Tamat. 

Ini adalah salah satu cerita anak-anak yang cukup familiar di sekitar kita. Namun aku tulis ulang karena mungkin saja ada yang tidak tau. Dongeng ini cukup sering aku ceritakan pada Pica. Bahkan, ada salah satu episode upin dan ipin yang menceritakan tentang dongeng ini. 

Pembelajaran berharga dari dongeng ini yang sering aku ceritakan pada Pica adalah begitu besarnya dampak kebohongan. Satu kebohongan akan membuat orang kesal. Dua kebohongan akan membuat orang menyesal. Tiga kebohongan akan menghilangkan kepercayaan dari semua orang pada kita. Karena itu, aku selalu menekankan pada Pica untuk jangan pernah berbohong. 

Tapi sudut pandang Ko Moon Young dalam memaparkan moral story dari dongeng ini berbeda. 

“Pernahkah kau memikirkan kenapa anak itu berbohong?” Kata Ko Moon Young

“Tidak.. Berbohong tidak baik. Berbohong anak nakal.. ” Kata Gang Tae

“Anak itu berbohong karena kesepian.. Dia kesepian tinggal sendirian di gunung.. “

Waw, mendengar kata dari Ko Moon Young aku lantas langsung memperhatikan lebih jeli tentang alur cerita anak ini. 

Ya, anak ini kesepian. Ia ditinggalkan sendirian oleh orang tuanya untuk menjaga Domba. Ia bosan dan sangat kesepian. Karena itu ia berbohong untuk menarik perhatian. Supaya ada teman yang duduk disampingnya dan mengajaknya bicara. Itulah sebenarnya yang ia butuhkan. Itulah sebabnya kebohongan itu ia ulangi di hari yang berikutnya. 

Sebenarnya, masih ada beberapa dongeng lagi dari episode-episode Its Okay to Not Be Okay ini. Ada dongeng The Father of Two Sisters yang jujur saja aku tidak tahu cerita komplitnya. Dongeng yang lainnya ceritanya juga sudah jelas dan tidak memiliki untold story seperti dongeng diatas. Yaa, jujur hanya dongeng-dongeng diatas saja yang pesan moralnya berasa banget diingatan aku. Mungkin karena saking ‘bapernya’ dengan beberapa kuote dan pesan moralnya. Haha.. 

Kalau kalian bagaimana? Sudah nonton Its Okay to Not Be Okay juga? Sharing denganku dong dongeng dari episode yang mana yang kalian senangi? Dan kuote apa yang paling berkesan? 

Apapun itulah ya.. Yang jelas mari move on ke drakor selanjutnya agar pikiran bisa rileks menghadapi pandemi ini.. #dasarmamakdrakor 😀

Kenapa Teori Konspirasi Covid 19 Bisa Tumbuh Subur di Indonesia?

Kenapa Teori Konspirasi Covid 19 Bisa Tumbuh Subur di Indonesia?

“Covid? Bull*hit lah.. Semua yang masuk rumah sakit dibilang covid semua..”

“Udah 3 bulan ini aku aktivitas normal. No masker. No jaga jarak. No cuci tangan. Liat deh, aku sehat-sehat aja.. “

“Masker adalah simbol berbudakan”

“F*ck WHO.. Jangan mau dibodohin Elite Global.. “

“Target utama covid 19 ini adalah melumpuhkan ekonomi negara-negara di dunia. Kita jangan terpengaruh. Harus dilawan!”

Ya ya.. Kalimat-kalimat diatas adalah hal yang paling sering aku dengar di media sosial akhir-akhir ini. 

Ada rasa gatal ingin ikut berkomentar dan adu argumentasi. Tapi kalau dipikir ulang dan membaca komentar-komentar yang kontra aku kembali menahan jempolku. Kemudian berpikir, “Percuma..”

Yah, setidaknya aku masih bisa menghindari pengaruh negatif dari media sosial dengan melakukan 4 hal: unfriend, unfollow, hide atau block sekalian. 

Tapi, jika teori konspirasi ini mulai berkembang kedunia nyata disekitarku.. Bahkan meracuni pemikiran orang-orang disekitarku hingga yang berkontak erat denganku.. Maka, aku tidak bisa diam saja. 

Yaaa.. Aku tidak bisa diam saja ketika melihat orang-orang dengan cueknya masuk ke rumahku tanpa memperdulikan protokol kesehatan. Aku juga tidak bisa diam saja ketika melihat salah seorang keluarga bersikeras berpendapat bahwa dokter dan tenaga medis lain menjadikan covid 19 sebagai lahan bisnis. Yah, semua orang punya bom waktu masing-masing bukan? 

Dan hari ini, aku akan belajar menuliskan covid 19 dari 2 sisi. Yaitu dari pandangan yang mempercayai teori konspirasi dan teori kesehatan. 

Benarkah Teori Konspirasi Covid 19? 

Pertama kali aku mengenal teori konspirasi adalah pada grup WAG. Pesan itu tersebar luas dibeberapa grup dan banyak yang mendukungnya. Sebagai ‘anak baik’, aku hanya bisa membaca sambil berdiam diri membaca komentar orang-orang di grup tersebut. Dan yaa.. Sekitar 30% teman-temanku sedikit mempercayai teori konspirasi. 

Jujur, akupun termasuk yang pernah mempertanyakan kebenaran teori ini. 

Tentang benarkah covid ini hanyalah penyakit flu yang diperparah dengan kecemasan berlebihan? 

Apakah benar tes PCR ini tidak akurat? 

Apakah benar ada sesuatu dibalik ini? Ada yang ditutup-tutupi? 

Dan bagaimana bisa Bill Gates hingga Om Mark ikut dikait-kaitkan sebagai ‘Elite Global’ yang menggunakan Covid 19 sebagai lahan bisnis? Bukankah mereka sudah cukup kaya? 

Apakah mereka punya tujuan “Controlling the World?”

Begitu? 

Aku juga pernah dengan seksama memperhatikan video viral dari youtube tentang teori konspirasi tersebut. Dan yaa.. Harus aku akui, narasinya tergolong HEBAT. Saking hebatnya, aku langsung sadar bahwa ini sangat mirip dengan narasi Teori Bumi Datar aka Flat Earth yang pernah booming dahulu. 

Dari situlah aku langsung melupakan racun konspirasi covid. Ayolah, ini konyol. Pikirku. Rakyat indonesia yang peka tidak mungkin langsung menelan mentah-mentah hal seperti ini. 

Dan ternyata, aku salah. 

Sudah sekitar 3 bulan ini aku mengikuti instagram Jrxsid. Hanya sekedar memantau ig storynya. Satu sisi, aku sedikit mengerti pola pikir drummer SID ini. Tapi sisi lainnya.. Ya ampun aku gemes sekali. Bahkan pernah rasanya aku ingin menyumpah-nyumpah. Tapi sudahlah, itu sosial media punya dia. Hak dia mau ngapain. Kalau tidak suka tinggal unfollow. Begitukan aturan bersosial media? 

Eh tapi kok ya enggak aku unfollow?

Simple. Aku pengen reframing lebih jauh tentang pikirannya. Kalau kata seorang Guru, baik jahatnya seseorang itu tergantung dari cara kita memandang. Dan sesungguhnya, kalau kita mau melihat dari berbagai sudut.. Tidak ada orang yang jahat banget atau baik banget. Tapi kalau ada orang yang tidak paham, bukannya harus diluruskan? 

Ya.. Harus diluruskan. 

Karena banyak sekali ternyata orang-orang yang sepemahanan dengan Jerinx ini. BANYAK BANGET. Setuju? 

Tapi semakin aku sering kepo dengan story jrx dsb ini.. Semakin aku sadar bahwa mereka memiliki alasan kenapa bersikeras berpendapat covid hanya konspirasi. Kenapa banyak follower yang mendukung mereka. Itu semua masuk akal jika dijabarkan alasannya. 

8 Hal Penyebab Teori Konspirasi Menyebar Luas Di Indonesia

Yup, setidaknya aku menyimpulkan ada 8 penyebab meluasnya teori konspirasi di indonesia, hal itu antara lain adalah:

1. Terdesaknya Situasi Ekonomi

“Lo sih enak ya bilang DI RUMAH AJA.. DI RUMAH AJA.. Lo kaya. Duit lo segudang. Pikirin nih masyarakat misquen yang duitnya sehari abis dan bingung besok masih bisa makan apa enggak!”

Jleb. Kata-kata itu langsung menusuk hatiku. 

Dan sejak itu, aku tidak pernah lagi mengkampanyekan #dirumahAja di sosial mediaku. Aku lebih sering berfokus pada menggaungkan protokol kesehatan. Terutama untuk mereka yang masih terpaksa bekerja di luar sana. Kupikir, tidak semua orang bernasib beruntung. Dan setidaknya dengan era new normal ini ekonomi akan sedikit memulihkan diri.

Kuharap, dengan menggaungkan protokol kesehatan yang ketat.. Setidaknya aspek kesehatan dan aspek ekonomi jadi seimbang.. 

Akan tetapi.. Tidak lama kemudian setelah New Normal diberlakukan..

“Masker simbol perbudakan.. “

“Maskerlah yang bikin sesak nafas. Bukan virus corona..”

Dan beberapa kafe dibuka. Masyarakatpun mulai tidak peduli lagi dengan social distancing dan memakai masker. Mereka mulai percaya teori konspirasi. Kemudian, muncullah kata-kata ini..

“Lo sih enak di rumah aja gak pake masker. Kami yang harus bekerja diluar.. Sesak kalau harus selalu memakai masker. Masker yang bikin corona. Virus corona cuma konspirasi..”

“Lo bayangin dah. Hampir tiap bulan kami para pedagang kena tes masal. Kalau hasilnya reaktif orang sekitar kami pada mengucilkan kami. Dagangan kami gak laku. Bagaimana kami bisa hidup?”

“Tes covid itu sengaja mempositifkan hasilnya. Supaya kami tidak bisa lagi mencari nafkah..”

“Kami lapar. Kami terpuruk. Bukan karena virus corona yang mematikan. Tapi kami dimatikan terlebih dahulu oleh stigma masyarakat. Kami tidak punya pilihan lain selain menganggap corona sebagai konspirasi untuk bisa bertahan hidup”

Masyarakat Kecil

Ekonomi down – Segala Teori Akhirnya Dibenarkan..

Ketika manusia kelaparan. Maka daging tikus yang sudah dimasakpun dianggap enak sekali. Bukankah begitu?

2. Aspek Psikologis Manusia

Well, bukan hanya faktor terpuruknya ekonomi yang menyebabkan teori konspirasi berkembang luas tapi juga faktor psikologis manusia. 

Iya, Banyak kok yang ekonominya menengah keatas tapi juga percaya teori konspirasi. Beberapa teman dan keluargaku mungkin bisa dijadikan contohnya. Mereka tidak dalam kondisi terhimpit ekonomi karena corona. Tapi, suka sekali bersikeras kalau corona hanya ‘mainan tenaga medis’

“Halah, semua yang masuk Rumah Sakit sekarang dibilang covid kok..”

“Konspirasi aja tuh. Alat tes nya memang bikin semuanya positif..”

“Yang meninggal kecelakaan aja dimakamkan gaya covid..”

“Kan tenaga medis dapet insentif lebih kalau ada pasien covid.. “

(Tahan tahan.. Yang punya keluarga tenaga medis pasti panas sekali mendengarnya bukan?) 

Yup, covid seakan dianggap remeh keberadaannya. Seiring meningkat tajam kasusnya, malah semakin sedikit yang takut dengan covid. Dan justru sudah dianggap hampir tidak ada. 

Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa ada 2 tipe manusia ketika dihadapkan pada suatu masalah. Yang pertama, adalah ia yang menganggap masalah itu nyata. Kemudian memecahkan masalahnya dengan langkah yang realistis. 

Tipe yang kedua adalah ia yang mengubah bentuk masalah itu dalam perspektif yang berbeda. Kenapa begitu? Untuk mengurangi kadar kecemasan. Karena setiap manusia itu unik, ada yang memiliki tingkat kecemasan yang berlebihan dan berbahaya jika tidak dikurangi. Maka, ia lebih memilih untuk melupakan bahkan membenarkan teori yang lebih nyaman di pikirannya. 

Dan teori konspirasi membuat pikiran ‘beberapa’ manusia lebih rileks dalam menghadapi pandemi. 

Hal ini baik jika tidak merugikan orang lain tentunya. Masalahhya, teori konspirasi sangat merugikan beberapa pihak. Bukankah begitu? 

3. Rumitnya Mengenali Tingkah Polah ‘Si Virus Baru’

Jujur, baru kali ini sepertinya dalam sejarah hidupku sekolah dibubarkan sedemikian lamanya. 

Dan baru kali ini dunia dibuat pusing dengan peraturan WHO yang berubah-ubah. 

Masih ingat ketika awal pandemi terjadi? Sekitar bulan Februari di negara tetangga dan resmi di indonesia ketika bulan Maret. Banyak peraturan dan prosedur baru yang berubah-ubah. 

Awalnya, Para Dokter dan Pakar Kesehatan serta tentunya juga WHO menganjurkan hanya yang sakit saja yang memakai masker. Beberapa waktu kemudian, semua orang diwajibkan memakai masker karena dikhawatirkan carrier tanpa gejala bisa menularkan dropletnya hanya dari bernafas dan berbicara. 

Peraturan kesembuhan untuk pasien covid pun berubah-ubah. Dari yang awalnya harus melalui 2x tes negatif hingga akhirnya pasien dinyatakan sembuh jika sudah tanpa gejala dalam waktu 14 hari. Karena virus Covid 19 diyakini tidak infeksius jika sudah 14 hari walaupun tesnya masih positif. 

Saat membaca peraturan baru tersebut, jujur saja pikiran luguku mulai bermain. 

Jadi, apakah OTG selama ini bukan carrier yang infeksius? Bukankah pasien dinyatakan sembuh walau masih terdiagnosa positif? Bagaimana kalau ternyata aku sendiri pernah terpapar dan virusnya masih ada namun tidak infeksius? Ah entahlah.. 

Yang jelas INI VIRUS BARU dan sebagai masyarakat awam, patuhi saja protokol kesehatan yang ada. 

Tapi tidak semua orang berpikir sama sepertiku. Ada yang sudah mulai melonggarkan kewaspadaan mereka, lalu berpikir apakah virus ini sejatinya memang tidak ada? 

Karena virus ini memiliki seribu wajah. Kan aneh sekali? Ada yang diare saja, ternyata positif covid. Ada pula yang tidak demam dan sesak nafas, hanya tidak selera makan.. Ternyata positif covid. 

Sifat virus baru yang sungguh rumit ini akhirnya membuat beberapa orang percaya dengan teori konspirasi. 

4. Prosedur Kewaspadaan Rumah Sakit yang Tidak Bisa Dipahami Semua Orang

“Ya ampun masa menolong orang kecelakaan aja tim medis pakai hazmat suit.. Pasti dianggap corona tuh.. “

“Pokoknya jangan berani-berani ke Rumah Sakit pas masa pandemi gini. Nanti kamu di diagnosa corona.. “

Well, padahal kenyataannya.. Prosedur pelayanan masyarakat saat pandemi ini memang harus demikian. 

Tenaga medis harus selalu waspada. Karena setiap pasien bergejala maupun tidak akan berpotensi menularkannya kepada tenaga medis. Bukankah mereka adalah pahlawan garda terdepan dalam pandemi ini?

Sudah tau bahwa korban Tenaga Medis yang meninggal karena Covid 19 di Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia? Kenapa sampai terjadi hal ini? 

Karena pada awal pandemi, tenaga medis kekurangan APD.

Pada awal pandemi corona, tenaga medis juga tidak sewaspada sekarang. Sehingga banyak dari mereka yang terpapar hingga meninggal dunia. Karena itu, mereka belajar dari kejadian terdahulu bahwa dalam masa pandemi ini APD lengkap adalah hal yang wajib. 

Sayangnya banyak masyarakat yang takut dengan tenaga medis yang memberlakukan mereka seperti pasien covid. Takut mengeluh bergejala kalau saja langsung didiagnosa covid 19. Apalagi kalau tiba-tiba meninggal dan harus melalui prosedur pemakaman covid. Banyak masyarakat yang tidak terima kemudian membenarkan teori konspirasi. 

Sepertinya, aku sudah sangat sering membahas hal ini di ig story hingga status WA. Banyak sekali masyarakat yang gagal paham dengan prosedur kewaspadaan yang diterapkan di rumah sakit. Dimulai dengan segala prosedur harus melalui tes hingga kebijakan tes masal dimana-mana.

Hal ini juga menciptakan konflik serius antara masyarakat dan tenaga medis. Tidak jarang aku melihat berita tentang tenaga medis yang dipukul oleh orang yang anggota keluarganya berstatus PDP sehingga terpaksa dimakamkan secara covid, hal ini karena hasil tes yang belum keluar. 

Aku harap, banyak masyarakat yang mengedukasi dirinya sebelum menghakimi para tenaga medis. Belajar dan terus belajar dengan reframing. Jika tenaga medis sedemikian jahatnya.. Mengapa banyak dokter dan perawat yang berguguran ditengah pandemi ini?

5. Dorongan Bersosialisasi secara Normal

Manusia itu makhluk sosial. Seintrovert apapun manusia, mereka butuh berinteraksi secara nyata dengan orang lain. 

Yah, akhirnya aku menyadari hal ini selama di rumah saja. Seintrovert apapun diriku, aku butuh berkumpul dengan teman yang satu passion denganku. Berkumpul secara nyata. Bukan hanya lewat online. 

Tapi aku tetap sabar menahan semuanya. Walaupun sudah era new normal. Terkadang merasa sangat bersyukur karena sudah memiliki keluarga dimana masih bisa tertawa bersama. Terbayang kalau aku sendiri masih single, bekerja diperantauan dan ngekos atau ngontrak rumah sendirian? How lonely! 

*eh kok jadi curhat. 

Yah, serius. Faktor dorongan bersosialisasi secara normal ini juga sangat mempengaruhi seseorang untuk percaya pada teori konspirasi. Apalagi jika kita berada di lingkungan sosial yang cuek bebek pada protokol kesehatan. Cepat atau lambat akhirnya dorongan sosial itu mempengaruhi pola pikir kita. 

6. Kurangnya Literasi

Well, ini related banget sama nomor 4. 

Yup, masyarakat kita itu banyak yang malas baca. Hobi nonton youtube dengan tayangan yang oke sama nalarnya aja. Makanya teori konspirasi sukses besar dalam penyebarannya di grup WA keluarga. Masyarakat indonesia lebih suka scroll sosial media dibanding baca. Lebih suka melihat aktivitas artis panutannya dibanding berguru yang benar. Laaah.. Yang diliat cuma sekelas jerinx doang.. 😅

Padahal kunci untuk melawan teori konspirasi itu simple loh. Banyakin baca. Berguru pada YANG AHLI. 

Covid 19 ini nyata, bukan halusinasi. Nyata secara penelitian, sudah jelas banyak yang tertular. Yang mati random. Gak cuma yang punya penyakit bawaan tapi juga yang sehat bugar. Tapi selalu saja ditolak kenyataannya hanya berdasarkan teori yang tidak jelas kebenarannya. 

Banyaklah belajar. Percayailah teori dari orang-orang yang valid keilmuannya. 

Dari Covid 19 aku banyak belajar, bahwa yang kita lawan bukan hanya virus.. Tapi kebodohan. 

7. Aturan Pemerintah yang Labil

Boleh gak ya nulis beginian? 

Boleh aja deh ya. Ini kan blog aku. Opini aku. Suka-suka. Haha

Jujur ya aku sedikit kecewa dengan lambatnya penanganan covid 19 di indonesia. Bahkan, pemerintah sempat menganggap remeh virus ini dengan membiarkan semua negara memiliki akses masuk ke Indonesia ditengah pandemi corona. Alasannya, covid 19 tidak mengerikan dan cuaca indonesia yang tropis bisa menangkalnya. Apalagi penduduk indonesia rajin minum jamu.. *eh.

Akibatnya, banyak sekali yang masih menggaris bawahi pernyataan pemerintah ini sampai sekarang. Menganggap bahwa covid 19 ini penyakit biasa saja. Bahkan, aku sepertinya sudah hampir 5x menonton video menkes di igs jrx tentang memakai masker untuk yang sakit saja. Padahal, video itu masa ketika awal covid melanda. Dan masih banyak pernyataan petinggi lainnya yang dijadikan acuan bagi masyarakat untuk menggampangkan virus ini. 

Belum lagi cerita tentang mudik vs pulang kampung. 😅

PSBB dilonggarkan, era new normal. Kupikir akan membuat masyarakat sedikit semangat untuk memperbaiki ekonomi dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Ternyata? Aku salah. Himbauan pemerintah seakan diabaikan. Sebagian dari mereka masih saja percaya dengan statement awal pemerintah.

8. Berita Media yang Terlalu Banyak Menebar Ketakutan

Apakah dengan banyaknya berita ketakutan masyarakat akan lebih mentaati protokol kesehatan? 

Ternyata tidak, menurutku yang selama ini selalu kepo dengan ig story Jrx.. Media yang menebar ketakutan ini justru menjadi senjata bagi kaum pemercaya konspirasi untuk menggaungkan betapa hoax nya WHO dsb. 

Bahkan, akhir-akhir ini aku kembali kepo dengan akun @duniamanji atau anji yang sedang ramai diperbincangkan karena sempat mengunggah foto pasien covid meninggal yang dibungkus plastik lengkap dengan captionnya. 

Pada caption akhir Anji mengungkapkan

 “Saya percaya cvd (Covid-19) itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil.”

Sontak Anji langsung diserang oleh para netizen karena dianggap menyepelekan covid dan mempercayai teori konspirasi. 

Well, aku lalu memperhatikan feed ig duniamanji. Menurutku sendiri, Anji ini bukan orang yang percaya teori konspirasi layaknya Jrx. Anji bahkan masih taat pada protokol kesehatan.

Adapun soal kata-kata Anji yang berkata bahwa Covid tidak semengerikan itu.. Kurasa kata-kata ini masih bisa ditoleransi. Apalagi Anji bukanlah tenaga ahli dalam hal ini. I mean.. Masih ingatkah kalian bahwa pada awal pandemi covid 19 ini.. Banyak para dokter yang juga mengatakan hal serupa dengan Anji. Itu Dokter loh. Dan tentu saja sekarang hampir tidak ada lagi dokter yang berkata demikian saat melihat kenyataannya.

Kepo dengan akun ig @duniamanji dan membandingkannya dengan akun @jrxsid.. Aku merasa si Anji ini tidak ada apa-apanya dibanding jerinx. Anji hanya menekankan pada media yang selalu membawa berita ketakutan. Aku tidak menemukan Anji yang bilang, “Jangan pakai masker, masker simbol perbudakan, covid konspirasi dsb.. ”

Apakah ada? Cmiiw ya.. Soalnya akupun baru-baru saja kepo dengan akun ig Anji ini. 

Kulihat Anji hanya tidak memakai masker dalam keadaan sunyi. Ia tidak menganjurkan memakai masker ketika berolah raga. Well, apa sih salahnya? Aku sendiri juga tidak pakai masker ketika berolah raga di depan rumah. Asal dalam keadaan sunyi. 

Dalam inti caption pada feed @duniamanji, Anji hanya menegaskan bahwa media terlalu ekstrem dalam menghujani masyarakat dengan berita ketakutan (cmiiw yaa). Dan terus terang, aku setuju. Berita ketakutan hanya akan membuat sebagian masyarakat melawan, bukan semakin takut dan taat pada protokol kesehatan. 

Oke, covid ini penyakit mengerikan. Aku setuju. Tapi please jangan terus menghujani masyarakat dengan berita negatif saja wahai media. Aku sangat setuju hal ini. Sejak melihat video dari Project Nighfall dan Prince Ea, aku sudah meredam sedikit ketakutanku dan menyisakannya untuk kewaspadaan. Tidak lagi bersikap paranoid berlebihan. 

Well, masyarakat pun perlu KESEIMBANGAN. 

Please tolong juga sampaikan bahwa banyak pasien covid 19 yang sembuh. 

Please tolong juga sampaikan tentang perkembangan vaksin dunia. Tentang inovasi obat untuk covid 19 yang telah dicoba dan berhasil. 

Please tolong juga beritakan tentang banyaknya pasien dengan penyakit bawaan yang sembuh. 

Masyarakat butuh itu untuk menyeimbangkan diri dengan berita negatif. Agar jiwanya tidak merasa takut berlebihan lalu mencari pelarian dengan membenarkan teori konspirasi. 

Dan please, untuk teman-teman yang memiliki pengaruh di sosial media. Yang memiliki ratusan like hingga engagement yang tinggi.. Mari mulai seimbangkan berita positif dan negatif. Tunjukkan fakta pahit dan manis. Agar covid 19 tak lagi dianggap main-main. Agar masyarakat waspada dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Tidak cemas dan stress lalu berhalu-halu ria dengan teori konspirasi.

Yuk, Tidak Pernah Ada Salahnya Waspada dengan Memakai Masker dan Terus Mentaati Protokol Kesehatan

Kepo dengan ig jrx hingga duniamanji mengajarkanku untuk bisa reframing dengan sudut pola pikir manusia lainnya. Mereka membuatku sadar untuk bisa mengerti keadaan sudut dunia yang lain. Untuk itu, walau sedikit merasa gemes.. Tentu aku berterima kasih. Paling tidak aku bisa menulis dari tuangan ekspresi mereka. 

Dan yaa.. Bagaimanapun juga kita tidak bisa memaksakan pendapat semua orang untuk sesuai denganku. Tulisanku ini hanya sekedar sebuah insight berbeda dari diriku yang awalnya selalu berkata #dirumahsaja.

Didunia ini, setidaknya ada 4 golongan berbeda dalam memahami covid 19.

Dan penganut teori konspirasi adalah mereka yang berada pada golongan 3 dan 4. Entah tekanan psikologis, kurangnya literasi atau ekonomi yang membuat mereka membenarkan teori itu. Tapi bagaimanapun juga.. Please, tidak ada salahnya kok waspada dengan memakai masker. 

Aku tahu daya tahan tubuh kalian yang menganut teori konspirasi mungkin diatas rata-rata. Mungkin juga beberapa dari kalian adalah manusia super saiya. Sehingga para dokter pun tak berani menerima tantangan Jrx. 

Tapi, virus ini nyatanya bukanlah sebuah konspirasi. Korbannya sudah banyak. Bahkan orang sehat sekalipun bisa meninggal dibuatnya. Tolong, berempatikah sedikit. Aku tau kalian tidak punya rasa takut. Kalian kuat. Bersinar. Tapi tolong.. Berempatilah. 

Aku tau kalian sudah banyak menyumbang untuk masyarakat miskin. Kalian menciptakan semangat dan produktivitas dengan cara yang lain. Tapi tolong, berempatilah pada sudut yang lain. 

Terakhir, izin memuat kuotenya ya Bang Tere Liye. 

Tentang Belajar Memaafkan Tragedi Mom Shaming

Tentang Belajar Memaafkan Tragedi Mom Shaming

“Bukan emak-emak namanya kalau belum pernah berhadapan dengan tragedi mom shaming.. “

Kalimat itu sontak langsung aku tertawakan sendiri. Lucu. Dan memang benar sih sesungguhnya. Obrolan renyah dengan teman masa kecilku itu membuka sudut pandang baru tentang tragedi mom shaming yang selama ini tentu saja sering terjadi di kalangan ’emak-emak’

Yaaa… Aku sendiri sebenarnya sudah sering mengalaminya. Bahkan aku juga pernah menulis solusi menghadapi mom shaming. Disisi lain, aku juga pernah menulis tentang mengapa ada ibu-ibu yang gampang sekali baper?

Dan hari ini, aku ingin fokus menulis tentang hal yang lebih sulit. Yaitu.. Memaafkan.

Memaafkan itu Sungguh Sulit

Sulit banget. Memaafkan itu sulit banget genks.

Bahkan ada yang bilang begini, “Aku mungkin memaafkan, tapi aku tidak akan pernah melupakannya.. “

Duh, kalau sudah nemu kalimat begini itu artinya lukanya dalem banget. Bahkan besar kemungkinan kalau ini hanya fase ‘pura-pura memaafkan’. Sesungguhnya, akupun pernah berada dalam fase itu. Berpikir, “Ih kok jahat banget sih ya bilang begitu? Kok memojokkan aku ya? Padahal kita kan sama-sama Ibu?”

Penyebabnya sepele sih sebenarnya. Biasalah, basa basi curhat kehidupan emak-emak malah ujung-ujungnya jadi mom war. Yang satu curhat di sosial medianya, yang satu malah merasa curhatan temannya receh dan menyerang begitu saja. Something like mak emak yang ngeluh kerjaan di rumah gak ada apresiasi.. Lalu di judge sama emak pekerja, “Kamu harusnya bersyukur.. Di rumah aja..bla bla.. Coba aku nih, cape tau seharian bla bla.. “

Ini cuma contoh ya. Banyak sih penyebab mom war dan mom shaming itu. Tapi penyebab paling utama ya karena Emak-emak ini merasa paling benar dan emak yang satunya.. Merasa tidak dihargai ketika berbicara keluhan.

Dan banyak hal lain penyebabnya sebenarnya. Berhadapan dengan mom shaming berkali-kali membuatku belajar untuk selalu bisa berempati dengan kehidupan ibu lainnya. Tapi untuk hal memaafkan mom shaming.. Sungguh itu sangat sulit. Haha..

Memaafkan orang yang melakukan mom shaming pada diri kita, bahkan dia merasa tidak bersalah dan malah melabeli kita ‘mamak baperan’ itu sangat sulit. Apalagi, doi mah.. menyesal pun tidak. Tapi, bukan aku namanya kalau membiarkan perasaan hitam bersemi dalam diri. Aku harus belajar memaafkan, sekalipun orang tersebut tidak menyesal dan tidak pernah meminta maaf bahkan terus saja mengulangi hal yang sama.

Karena aku yakin, hal ini tuh receh. Dan ini akan terus terjadi. Akan selalu ada orang-orang yang ‘judge’ sama kehidupan kita. Maka, sebelum orang tersebut menyesal dan minta maaf. Maafkan saja terlebih dahulu.

Lingkaran Setan Terus Berlanjut Jika Aku Tidak Memaafkan

Hal yang membuatku bertekad untuk memaafkan segala tragedi mom shaming adalah karena mom shaming itu menular. Ini serius.

Hati yang gelap itu, membuatku terus berpikir negatif.

Aku bukan tipikal penyerang balik jika direndahkan oleh orang lain. Aku adalah tipikal yang ‘pura-pura baik-baik saja’. Tapi dibelakang orang tersebut aku meredakan rasa kesal dengan melampiaskannya kepada yang lain.

Aku pernah melampiaskan rasa kesal tersebut pada anakku. Aku juga pernah melampiaskan rasa kesal tersebut dengan memecahkan piring. Puncaknya, aku juga pernah melampiaskan rasa kesal tersebut dengan ‘menghargai dan meninggikan’ diriku sendiri di status sosial media. Semua itu aku lakukan demi menutup lubang menganga yang pernah diserang oleh sosok yang bernama ibu sempurna.

Ini tidak benar. Lingkaran setan ini harus berakhir. Jika tidak…

Yaa.. Aku Merasakan Menjadi Pelaku Mom Shaming

Akhirnya aku merasakan berada diposisi ini juga. Tanpa disadari, aku menjadi pelaku mom shaming.

Ketika aku meninggikan diriku sendiri untuk terlihat ‘sempurna juga’, tanpa aku sadari.. Mulutku mulai melakukan hal yang sama..

.. Aku tidak sengaja telah merendahkan Ibu yang lain.

Dan Ibu tersebut sontak memarahiku. Melabeliku dengan berkata bahwa aku selalu merasa diriku yang paling baik.

Ah, beruntunglah aku karena berhadapan dengan tipe penyerang balik yang kemudian mencaci segala kekuranganku. Akupun otomatis segera meminta maaf, berusaha menjelaskan bahwa ‘bukan itu maksudku’ dan berusaha menjelaskan penyesalanku. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Ternyata, aku berhadapan dengan Ibu yang keras sekali hatinya. Bahkan sudah meminta maaf berkali-kali pun dia malah mengorek-ngorek seluruh keburukanku.

Tapi tidak apa-apa. Semua salahku. Aku yang awalnya sulit memaafkan orang lain. Aku yang kemudian melepaskannya dengan membuat diriku terlihat sempurna. Aku yang kemudian merasa bahwa kesempurnaanku telah menyakiti orang lain.

Its okay. Thats life.

Semua orang pernah berbuat salah bukan?

Memaafkan, Karena Apa yang Mereka Lakukan Adalah Bentuk Pertahanan Diri

Karena pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming.. Kini aku sedikit mengerti dengan para pelaku mom shaming. Dan bergumam dalam hati, “Oh beginikah rasanya?”

Beginikah rasanya ingin menunjukkan kesempurnaan karena merasa ‘diserang’?

Beginikah rasanya ‘geregetan’ ketika melihat orang yang bersedih karena hal sepele?

Beginikah rasanya mempertahankan diri dengan melakukan hal yang salah?

Dan aku kemudian belajar berdamai dengannya, kemudian berkata.. “I feel u now.. “

Yah, ada hikmahnya pernah menjadi pelaku mom shaming ternyata. Aku jadi dapat reframing perasaan mereka yang suka merendahkan Ibu lainnya. Mereka itu ternyata lebih menderita. Mereka ingin berekspresi tapi tidak keluar dengan baik. Mereka punya banyak sampah tapi membuang sampah tersebut di tempat yang tidak benar.

Maka, sebenarnya pelaku mom shaming pun perlu pelukan. Mereka terkurung dalam perfeksionis sindrom dan lingkungan yang memaksa mereka untuk sempurna. Mereka tertular oleh para pelaku mom shaming lainnya. Mereka ini.. Sangat kasihan sebenarnya.

Jadilah Orang Baik yang Selalu Menjaga Mulut dan Jarinya

Ah, sungguh rasa bersalah ini membuatku banyak belajar.

“Hei diriku sendiri.. Jadilah orang baik yang selalu bisa menjaga mulut dan jari.. “

Jika merasa diri lebih baik, hanya buktikan dengan tindakan. Jangan merendahkan orang yang masih tidak baik. Tidak ada gunanya.

Jika merasa ingin mengeluh, mengeluhlah di tempat yang benar. Jangan terlihat oleh orang yang keadaannya bertolak belakang denganmu. Bukan empati yang akan kau dapatkan nanti. Jaga hati orang lain dari rasa ingin merendahkan.

Jika ingin menasehati orang lain, pergunakanlah kata-kata yang sesuai dengan karakter orang tersebut. Jika tidak mengenal orang tersebut secara dekat, lebih baik diam saja.

Jika ingin menulis di sosial media, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Menulis itu terapi. Dan toh masih banyak yang bilang tulisanmu bagus. Jika ada yang sepertinya tidak suka dengan gaya tulisanmu.. Maka, blok saja mereka. Demi menjaga hati.

Hidup itu simple.

Jangan gengsi meminta tolong.

Jangan gengsi bilang terima kasih.

Jangan gengsi meminta maaf.

Jangan memberi makan ego dengan sesuatu yang tidak benar.

Dan.. Berusahalah reframing dan memaafkan.

Berdamai dan memaafkan adalah kunci dari penerimaan. Agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik esok harinya.

Bukankah begitu?

Pembelajaran Berharga dari Film Kim Ji Young dan Joker

Pembelajaran Berharga dari Film Kim Ji Young dan Joker

Please jangan bilang basi..

Emang ya film ini udah basi sih buat dibahas. Tapi gimana ya.. Mamak baru nonton karena baru aja dapet download’annya. Jadi, jangan bilang basi dulu ya. Karena banyak yang bersileweran di otak emak ketika baru nonton film ini.

Konon, film ini banyak kontroversinya. Apalagi Joker, banyak para psikolog kondang yang bilang, “Jangan nonton Joker.. Nanti tambah sakitnya.. Bla bla.. “

Lah.. Aku ketika denger begitu.. Bukannya tambah takut nonton film joker.. Malah tambah penasaran.. Hahaha

Atau film Kim Ji Young yang konon banyak emak-emak pada baper nonton filmnya. Dan disisi lain banyak juga yang bilang, “Jangan nonton Kim Ji Young.. Nanti ikutan gak merasa bersyukur bla bla.. “

Kan kan.. Aku malah makin penasaran. Gimana bapernya sih kehidupan Kim Ji Young.. Haha

Terus, kenapa aku bikin satu blog post untuk membahas dua film sekaligus? Karena eh karena.. Tulisan ini bukan untuk ngereview film, tapi untuk pengingat diri aja. Bahwa banyak pembelajaran berharga setelah nonton film nyesek begini dua hari berturut-turut.

Jadi buat yang pada protes karena nyari review filmnya disini.. Silahkan back halaman ini dan scrool lagi kebawah plus jangan salahin om google. (Gaya si emak, kek tulisan dia bakal page 1 aja.. Biasanya juga jaoooh.. Hahaha)

Nah, ada beberapa hal yang aku pelajari setelah nonton 2 film ini. Dan hal itu diantaranya adalah..

1. Kim Ji Young: Post Partum Depresion dapat terjadi pada Siapa saja..

Sebagai mantan penderita PPD, yang dulu sempat ngamuk-ngamuk plus nangis-nangis sendiri saat membesarkan anak sendirian dibawah ekonomi rumah tangga yang dalam fase pembangunan plus di bawah mamak-mamak perfeksionis yang suka nyinyir sama kehidupan aku.. aku penasaran dengan penyebab PPD yang diderita oleh Kim Ji Young.

Apakah kehidupan ekonominya separah aku?

Apakah komunikasinya dengan suami separah aku? Cobaan pernikahannya separah aku?

Apakah innerchildnya separah aku?

Apakah Lingkungannya separah aku?

Ternyataaaa… Zonk semua. Hahaha..

Bahkan, aku jujur saja bahwa diawal-awal aku nonton Kim Ji Young ini.. Aku sempat julid dengannya. Julid banget malah. Tapi kutahan-tahan sambil berusaha berempati.

Bagaimana tidak? Jujur kehidupan rumput hijau Kim Ji Young itu sempat membuatku merasa iri.

Pertama, dia punya suami yang super pengertian. Kedua, dia bisa menitipkan anaknya di day care. Ketiga, please.. Dia punya sosial life yang berempati sama kondisinya. Keempat, mamaknya buk.. Subhanallah.. Menolong banget sama dia. Kelima, kehidupan ekonominya baik-baik saja.. Sudah punya rumah sendiri dan bahkan mobil sendiri. Sungguh, ingin ku julid dan iri hati saat melihat itu semua. Tapi kutahan-tahan.. Saat melihat orang seperti ini, hati kotorku kadang ingin berteriak, “Hei.. Kamu kurang bersyukur Kim Ji Young..”

Tapi, aku masih berusaha berempati. Bahkan saat mamak-mamak lain pada nangis nonton film ini.. Aku masih berusaha reframing dengan keadaan Kim Ji Young. Dan aku berhasil reframing saat adegan Kim Ji Young  ingin bekerja dan ditelpon marah-marah sama mertuanya. Sungguh, saat adegan itu.. Luka lamaku terasa terbuka lagi. Aku teringat dengan kisah lamaku dengan mertua dahulu. Bagaimana sulit ketika lingkungan patriarki bertentangan dengan ideologiku dan bagaimana aku berdamai dengan semua itu.

Baca juga: “Kenapa aku harus membenci mertuaku?”

Baca juga: “Tentang Penerimaan menjadi Ibu Rumah Tangga”

Pada adegan itu.. Disitulah mamak akhirnya ikutan nangis gaes.. 

Bedanya, mamak gak ada yang melukin waktu itu gaes.. Malah kiri kanan pada menghakimi. Ya ya ya.. Mamak sudah terbiasa dengan kata-kata “kamu kurang bersyukur.. ” Sehingga.. Saat mamak ingin mengatakan itu kepada rumput hijau tetangga.. Mamak selalu menahannya karena berpikir ulang, “Siapalah aku yang hanya tahu sepersekian persen dari kehidupan seseorang.. “

Dan saat melihat Kim Ji Young plus Support System yang dia miliki.. Aku akhirnya bisa berdamai melihat Rumput Hijau itu. Kemudian berkata, “Ternyata, Post Partum Depresion bisa terjadi pada siapa saja..”

Enggak peduli seberapa banyak support system yang seseorang miliki..

Enggak peduli seberapa sayangnya suami plus Ibu Kim Ji Young..

Kalau orang sudah terkena Post Partum Depresion. Maka yang harus kita lakukan adalah menerima bahwa PPD is Real.

Bukan masalah kurang bersyukur atau tidak. Ini lebih daripada itu saja.

Bahwa, kondisi psikologis orang itu tidak sama. Begitu pula biologisnya.

Ibaratnya, orang berkulit tebal yang terjatuh.. Akan berbeda dengan orang berkulit tipis yang terjatuh. Dalamnya luka mereka sangat berbeda.

Post Partum Depression, dapat diderita oleh siapa saja. Bahkan, oleh Ibu yang terlihat baik-baik saja di sekitar kita. Ibu yang tersenyum saat melihat anaknya di luar sana. Ibu yang terlihat cantik dan biasa-biasa saja. Kita tidak tahu apa yang mereka lalui didalam kehidupannya. So.. Stop bilang bahwa Post Partum Depresion itu diawali oleh “kurang bersyukur” Apalagi “kurang beriman”

2. Joker: Don’t Judge People.. Just Emphaty

Sulit memang untuk tidak men-judge orang-orang spesial ini.

Joker yang selalu tertawa..

Kim Ji Young yang selalu menangis..

Mereka dengan kondisi spesialnya. Yang bukanlah cacat secara biologis. Tapi cacat secara psikologis. Dan itu sulit.. Karena semua sakit itu tidak terlihat secara fisik.

Beda cerita ketika kita melihat orang yang tidak punya tangan, orang yang tidak bisa melihat.. Orang yang tidak bisa berjalan. Maka, Emphaty kita akan tumbuh tanpa bertanya.

Bahkan, saat ramai-ramainya film joker.. Ramai pula sebuah meme bahwa ‘Nabi Muhammad disakiti berkali-kali tapi tetap berbuat baik..’ seolah-olah meme itu diciptakan untuk menyangkal perbuatan joker. But.. Menurutku Itu adalah Toxic Positively. Terutama, untuk penderita mental Illness.

Sesungguhnya, aku pernah bertanya didalam hati. Siapakah tokoh yang diciptakan oleh penulis Batman terlebih dahulu? Apakah Batman? Atau Joker? Apakah penulis membuat pahlawan terlebih dahulu? Atau ‘masalah’ terlebih dahulu? Ah, entahlah..

Dari film joker, aku sungguh banyak belajar tentang Mental Illness. Bahwa penyebab dari mental illness ada 3, yaitu secara Biologis, Psikologis dan Lingkungan. Joker? Dia menerima 3 faktor itu dengan sempurna. Jika aku sulit reframing dengan keadaan Kim Ji Young.. Maka, saat menonton film joker.. Aku tidaklah menangis lagi.. Tapi nyesek, sambil mikir.. Kok ada orang yang hidupnya sebegitu ngenes? Oh, syukurlah ini hanya fiksi.

Tapi, serius..

Dari nonton film joker ini aku belajar untuk memahami kondisi para mental illness.

Tentang Narsistic Disorder yang diderita Penny.

Tentang Skizofrenia.. Dsb..

Para penderita Mental illness membutuhkan obat spesial untuk mengobati penyakitnya. Dan ia membutuhkan lingkungan yang support dengan keadaannya.

Terus, apa yang harus kita lakukan saat bertemu dengan para penderita mental illness? Yang suka ketawa-ketawa melulu.. Yang dikit-dikit nangis melulu.. Yang kalau mereka curhat.. Malah bikin toxic.

Jawabannya.. PURA-PURA SAJA BEREMPATI.

Jujur ya, andai makhluk kayak Kim Ji Young ini berada di lingkunganku.. Pasti dia akan terkena penghakiman demi penghakiman yang tiada habisnya.

Something like, “Eh please deh.. Suami lo tuh udah mapan.. Lo kerjaan nangis-nangis gak jelas. Mau kerja apa? Gajih lo juga gak bakal cukup.. Bla bla.. “

Or something like, “Lo tuh kurang apa sih? Tuh anak juga bisa dititipin. Lo juga bisa ketemu sama temen-temen.. Coba nih guweeh.. Gue jadi upik abu aja di rumah sepanjang hari sama 5 anak gue yang kecil-kecil.. “

Please.. Jangan teruskan penghakiman demi penghakiman diatas. Itu menular. Serius. Aku pernah mengalaminya. Aku bahkan juga pernah tidak sengaja menjadi pelaku mom shaming gara-gara rantai ‘judge’ yang tidak ada habisnya ini.

DENGARKAN SAJA keluhan demi keluhan yang disampaikan oleh orang yang jiwanya tersakiti ini. Jika tidak bisa mendengarkan dengan baik maka PURA-PURA MENDENGARKAN SAJA. Sungguh, itu sangatlah cukup.

Syukur-syukur kalau emphati kita yang berawal dari pura-pura saja itu dapat berbuah senyuman dari mereka. Bagi penderita mental illness.. Lingkungan yang tidak Toxic Positively itu menentramkan jiwa mereka. Mereka membutuhkan Emphaty dan obat.

3. Berekspresilah secara baik, karena ekspresi yang ditahan dan meledak itu sangat tidak baik

Jujur, aku telah menghadapi orang dengan Mental illness berkali-kali.

Aku punya salah seorang keluarga yang terkena skizofrenia. Dan aku sendiri adalah mantan penderita PPD. So, i know Mental illness so well.

Ada satu hal yang aku garis bawahi sebagai penyebab mental illness yang utama. Dan hal itu adalah selalu menahan ekspresi.

Sedih.. Ditahan..

Marah.. Ditahan..

Sabar katanya.. Sabar katanya..

Kenyataannya, sabar itu tidak bisa restok begitu saja. Ada proses cinta dalam menciptakan kesabaran. Apabila proses cinta itu zonk.. Maka sabar itu mencapai batasnya. Dan akan keluar ekspresi yang berbeda untuk pertahanan psikologis seseorang.. Something like.. Sedih.. Marah.. Bahkan benci.

Ekspresi itu.. Tidak bisa selalu ditahan jika tidak diimbangi dengan cinta. Jika selalu ditahan plus ditambah dengan lingkungan yang negatif maka ia akan menjadi bom yang dapat meledak kapan saja. Maka, jika stok cinta sedang sekarat.. Sangat perlu untuk menyalurkan ekspresi negatif itu.

Sebagian orang ‘normal’ akan menyalurkannya dengan elegan. Salah satu hal yang paling efektif adalah dengan melakukan hal yang paling disenangi. Itu sih ya.. Orang normal yang punya penyaluran  yang tepat.

Bagi orang dengan kondisi ‘spesial’ maka sangat penting untuk menuangkan ekspresi ini dengan cara yang spesial pula.

Aku punya beberapa teman yang menuangkan ekspresi negatifnya dengan berolah raga. Berlari, meninju, hingga yoga. Dan itu memang efektif. Aku juga punya teman yang suka berteriak-teriak dilapangan lepas dan sunyi jika emosi, ada pula yang berkaraoke ria. Tapi, tidak semua orang punya waktu spesial untuk itu. Terutama, untuk emak-emak rempong yang tidak punya support system.

(Eh, jangan ditanya kenapa aku punya banyak teman yang aneh-aneh. Itu karena aku punya kepribadian melankolis plegmatis yang dapat berempati plus baper berlebihan sehingga memang kadang virus negatif suka hinggap dari teman.. )

Dalam kasus Kim Ji Young, ia menemukan solusi dalam berekspresi dengan menulis. Aku rasa, inilah hal paling simple dan elegan yang bisa dilakukan oleh para Ibu Rumah Tangga ketika dalam keadaan stress. So.. Jangan judge Para Ibu-ibu yang hobi update status dan menulis. Walau tulisannya jelek sekalipun. Bisa saja.. Itu adalah healing version miliknya.

Dalam kasus Joker, ia mencoba mencari kesenangan dengan menjadi pelawak. Ya.. Semua orang perlu berekspresi. Termasuk penderita Mental Illness. Biarkan saja mereka. Jangan ganggu kehidupan mereka. Karena, ekspresi yang ditahan dan meledak itu justru berbahaya. Seperti halnya yang dilakukan joker dengan membunuh.. Kim Ji Young yang tidak diobati segera pun mungkin saja berakhir demikian jika ia tidak menemukan solusi dengan menulis.

So.. Mak emak narsis dengan selfie-selfie..

Mak emak nulis status sesuka hati..

Mak emak tetiba pakai lipstik gonjreng..

Biarin aja mah.. Hidup ya hidup diaa..

Bukan cuma mak emak.. Semua orang juga.. Single juga.. Just enjoy your life dan berekspresilah secara baik. Selama itu tidak menyakiti hati orang lain.. Kenapa tidak?

Ekspresi itu menyembuhkan hati yang terluka. Kita tidak tau, dengan ekspresi itu.. Orang-orang ini akan berbuat kebaikan untuk orang yang disayanginya.

Biarkan saja ekspresi itu, sampai ekspresi itu membuahkan empati dari orang yang disayanginya. Kemudian akan muncul cinta. Saat cinta itu muncul.. Maka ekspresi akan berubah menjadi positif. Dan itu semua perlu proses.

Orang-orang dengan Mental Illness ini memang toxic sekali ekspresinya. Dikit-dikit ngeluh.. Dikit-dikit nangis. Kita? Kalau tidak suka dengan semua itu gampang sekali solusinya. Tinggal unfollow, mute, hide. Toh, kita juga bukan psikolog yang bisa selalu menjadi tempat sampah bukan?

Biarkan saja orang berekspresi. Karena ekspresi yang ditahan itu tidak baik. Trust me.. Selama ekspresi itu tidak berbahaya.. Maka biarkan saja.. Biarkan hingga orang yang ia sayangi menyadarkan dan memeluknya.

4. Pertahanan Spiritual itu Penting Banget

Well, jika ada yang bertanya.. Apa yang menyembuhkanku dari PPD dahulu? Maka pertahanan spiritual adalah salah satunya.

Selain dengan membebaskan ekspresi, pertahanan spiritual dengan berdoa dan menangis sesuka hatiku adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan.

Aku memang bukan orang verbal. Yang bisa merangkai kata dalam berdoa. Suaraku bahkan punya 5 versi berbeda. Karena itu aku lebih suka menangis dan menulis.

Curhat dengan Sang Pencipta adalah solusi terbaik.

Jangan ditanya kapan waktunya. Kadang aku bahkan tidak meluangkan waktu khusus. Ada panggilan di malam hari tapi malah aku abaikan karena kelelahan mengasuh bayi. Tapi, percaya saja.. Allah ada di mana-mana.

Saat memeluk bayi dan meminta maaf padanya maka ucapkanlah kata itu.

Astaghfirullah hal aziiim.. Menangislah sejadi-jadinya. Sesungguhnya, itu adalah doa.

Allah memahami bahwa itu adalah rintihan untuknya. Maka, ucapkanlah doa itu di dalam hati. Tulislah di selembar kertas barang sejenak.

Itu tidak instan mengobati memang. Tidak seampuh obat. Tapi itu.. Cukup menenangkan..

Dan pertahanan tipe ini.. Tidak dimiliki oleh Kim Ji Young maupun Joker.. Juga oleh April dalam Film Revolutionary Road.

Kita punya modal dalam menciptakan kesembuhan Mental Illness. Dan salah satunya adalah Iman. Konon, iman memang tidak dapat menggantikan cinta.

Tapi, iman dapat memanggil cinta.

Begitulah pergerakan syukur yang benar. Penderita mental illness bukanlah orang yang kurang bersyukur. Mereka hanya orang biasa yang butuh ruang untuk mengeluh.. Dan mereka sedang belajar untuk mengeluarkannya dengan cara yang benar. Bukankah mengeluh adalah tahap awal cara kita belajar arti syukur?

Yah, demikian curcol emak tentang 2 film ini. Banyak bukan pelajaran yang bisa diambil? Setiap film punya pesan positif tersendiri, tergantung dari mana sudut pandang kita memahaminya.

Tapi, memang betul kata psikolog kondang itu. Jika sedang terkena mental illness atau baru sembuh dari mental illness atau yaaa.. Kondisi spesial lainnya.. Lebih baik untuk tidak menonton film ini. Karena luka lama akan teriris pada bagian yang tidak kita sadari. So, berani nonton 2 film ini? Yakinkan dulu bahwa Anda benar-benar dalam kondisi positif dan nyaman. 🙂





IBX598B146B8E64A