Browsed by
Category: Psikologi

Dear Perempuan: Manakah Karakter yang sesuai dengan Jalan Ninjamu?

Dear Perempuan: Manakah Karakter yang sesuai dengan Jalan Ninjamu?

Stigma perempuan yang sering beredar di circle aku:

“Percuma perempuan kalo sekolah tinggi-tinggi. Toh bakal ke dapur juga..”

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya di rumah aja?”

“Umur segini kok belum nikah? Keasikan kerja sih!”

“Kok anaknya baru 2? Kok perempuan semua? Tambahin dong laki satu..”

“Perasaan paket dateng terus tuh ke rumah dia. Heran juga padahal suaminya kan cuma PNS. Dasar istri boros.”

“Suaminya kok ngerjain kerjaan rumah. Jangan-jangan pake kajian kuyang nih.”

Dsb dsb.. Eh, panjang juga ya? Kalian mau nambahin lagi stigma perempuan yang kadang suka aneh-aneh dimulut-mulut tetangga? Aku yakin dah pada banyak banget. 

Perempuan Itu Gak Melulu Punya Karakter plus Jalan Hidup yang Sama

Bisa dimaklumi sih stigma perempuan yang sering kali ‘sedemikian’ di masyarakat. Sungguh bisa dimaklumi andai saja memang yang berkata kalangan generasi babyboomer yang memiliki pola pikir belum meluas ditambah dengan budaya patriarki yang turun temurun. Sungguh, tidak apa-apa. Aku toh maklum. 

Tapi, akan menjadi masalah jika generasi di atasnya tak kunjung move on oleh stigma itu. Merasa bahwa jalan hidup perempuan harus begitu. Harus menuruti apa kata mereka. Padahal, perempuan sekarang sudah terpapar oleh literasi dan tanggung jawab sosial. Pola pikirnya tak lagi sempit. Tanggung jawabnya pun berbeda. 

Jalan hidup seorang perempuan sesungguhnya tak melulu soal mengabdikan diri, mengorbankan apa yang ia punya. Tapi, jalan hidup perempuan sudah meluas. Ia bisa memilih dan berkembang sesuai dengan karakter yang cocok untuk dirinya. 

4 Karakter Perempuan, Manakah Karaktermu? 

Aku terhenyak ketika melihat salah satu feed instagram @cerita_parapuan. Betapa benar bahwa disekelilingku sendiri perempuan itu punya karakter beragam. Setidaknya ada 4 karakter perempuan yang aku simak di ig cerita parapuan, yaitu:

  1. Pengembara

Karakter ini sangat mirip dengan vlogger kesukaanku. Kalian tau Dear Alyne? Nah, menurutku karakter ini benar-benar mewakili dirinya. Ia adalah seorang travel vlogger yang terbilang sukses. Bersama dengan pacarnya Nas dalam Nas Daily ia mengelilingi dunia. Ia bahkan punya prinsip yang unik. Ia berkata bahwa ia tidak ingin memiliki seorang anak_seumur hidup. 

Well, aku sendiri saat menonton persepsinya tentang itu sedikit bingung. Tapi, seketika aku langsung paham jalan pikirannya. Bahwa ia tidak ingin ya karena memang itulah jalan yang ia inginkan. Ia adalah karakter pengembara yang bersemangat dan bebas menentukan pilihannya. 

2. Pengampu

Karakter ini mirip dengan salah satu keluargaku. Ia memiliki mimpi dan keinginan sendiri. Namun memiliki empati yang tinggi pada lingkungannya. Ia lebih memprioritaskan keinginan orang yang ia cintai dibanding keinginannya sendiri. Meski itu mengorbankan mimpinya untuk melangkah ke satu tangga lebih tinggi ia bahagia. Karena prioritasnya adalah ingin merasa dihargai. 

3. Pengelola

Karakter ini sangat cocok pada salah seorang temanku. Ia cenderung perfeksionis dan ulet dalam mewujudkan mimpinya sendiri. Ia mengaku tidak siap menikah jika mimpinya belum tercapai. Ia juga seseorang yang realistis, tipe yang tidak percaya bahwa setelah menikah rejeki akan mengalir. Baginya itu tidak realistis. 

Well, aku tidak menyalahkan pola pikirnya. Memang ada beberapa perempuan yang seperti ini. Sangat sempurna dan cenderung sering mengoreksi dirinya sendiri. Dan yang paling penting, ia bersemangat dengan jalan hidupnya. Itulah karakter pengelola yang mandiri dan hebat. 

4. Pengabdi

Diantara keempat karakter, karakter pengabdi adalah karakter yang 70% sedang aku jalankan. Well, 8 tahun berumah tangga aku baru menyadari bahwa karakterku dominan ke pengabdi. 

Aku senang ketika semua mengatakan masakanku enak. Aku juga senang ketika keluargaku berpreatasi. Sangat senang ketika usaha suami berkembang karena aku turut mensupport dari belakang. Walau yah.. Aku akui aku cenderung overthingking dan mudah sedih jika menghadapi kegagalan. Tapi sungguh, dulu aku tidak begitu kok. Kalian tau? Sesungguhnya dulu aku tipe pengembara ketika awal menikah. Lantas, bagaimana aku bisa sedemikian berubah? 

Bagaimana jika Jalan Hidup Bertolak Belakang dengan Karakter? 

Melihat video Dear Alyne di beranda facebook milikku, kadang aku merasa dia sedikit mirip denganku. Alyne adalah winda masa depan yang pernah aku impikan. Yah, aku punya mimpi bisa melihat seluruh dunia. 

Tapi disinilah aku. Aku menikah muda dan langsung hamil. Sebuah rencana yang benar-benar diluar dari ekspektasi. Hingga aku sulit menerima kenyataan dan terkena ppd. Lalu aku sembuh dan karakterku berubah seketika menjadi seorang pengampu. Aku masih ingat dengan impianku, tapi aku lebih sayang dengan keluargaku. 

Sampai kemudian aku lari melalui media blog. Menumpahkan segala perasaanku. Mulai menerima kenyataan bahwa hidupku memang demikian maka aku harus move on dengan caraku. Tapi sebuah keikhlasan yang aku jalani selama beberapa tahun telah membawa prestasi untuk suami dan anakku. Ekonomi kami melejit dari down hingga bisa membantu orang lain. Itu membuatku senang. 

Aku baru menyadari bahwa jalan hidupku sekarang seperti air. Lebih legowo dengan takdir. Tidak menolak ketika turun kebawah. Mengalir melewati bebatuan. Tidak merasa sakit dan aku hanya berpikir bagaimana caranya agar orang disekelilingku bisa terus hidup dengan baik. Barulah aku sadar kini aku sudah 70% berubah menjadi karakter pengabdi. Aku sudah lupa dengan cita-citaku untuk bisa mengelilingi dunia. Aku hanya ingin kelak kami bisa berangkat kebelahan dunia yang lain bersama-sama. 

Baca juga: Haruskah seorang ibu mengejar mimpinya?

Ketika jalan hidup bertentangan dengan karaktermu maka hadapilah dengan dirimu sendiri. Jangan lupa untuk membawa cinta bersamamu. Itu adalah kekuatan yang efeknya tidak bisa diremehkan. 

Perempuan Harus Memiliki Jalan Ninjanya Sendiri

Satu hal yang aku yakini tentang hidup seorang perempuan. Yaitu perempuan harus memiliki jalan ninjanya sendiri. Bukan terpengaruh dengan omongan orang lain lantas menjalani apa yang tidak ia inginkan. 

Belakangan, ramai siuran angin mulut-mulut itu berkata padaku, “Tambah lagi dong anaknya. Yang laki satu.”

Tapi toh aku tak peduli. Dua anak perempuan sudah cukup membuatku bahagia. Jika aku ingin hamil lagi, maka itu adalah keinginanku. Bukan karena orang lain. Aku punya ceklist sendiri. Dan aku punya target sendiri. Bukan sekedar memajang anak-anak berjalan seakan mereka adalah aksesoris hidup untuk dinikmati mata orang lain. 

Hidupku adalah hidupku. 

Pun dengan pekerjaanku. Ramai netizen berkata begitu sayangnya sudah sarjana tetap di rumah saja. Tapi, sangat jarang yang kepo tentang hal positif yang aku lakukan. Dan begitulah adanya mulut orang. Kita tidak pernah bisa mengontrol hal tersebut. 

Aku adalah emak-emak ninja rumahan. Elemen yang aku miliki adalah psikologis elemen air. Ninjutsu yang aku miliki adalah healing water, water resisten, shark attack. Taijutsu yang aku miliki adalah skill melobangi kalsiboard memakai tangan kosong. Dan kalian jangan bertanya tentang jurus genjutsu milikku. Aku tidak punya jurus seribu bayangan tapi 5-6 pekerjaan bisa aku kerjakan dalam satu waktu. Dan genjutsu itu berhasil, karena tidak ada yang tau. 

Itulah jalan ninjaku.

Yakin Pengen Jadi Stay At Home Mom? Pertimbangkan Faktor ini Dulu ya!

Yakin Pengen Jadi Stay At Home Mom? Pertimbangkan Faktor ini Dulu ya!

“Win, kalo aku nikah nanti aku mau jadi kek kamu juga ah. Di rumah aja didik anak dengan bener.. “

“Jadi setelah nikah rencananya mau resign nih.. Kamu serius?” Ucapku memancing

“Iya, aku mau jadi kek kamu aja win. Kerja tuh capek. Gak kebayang kalo kerja sambil ngurus anak.”

“Sebaiknya pikirkan matang-matang say. Begini, keadaan kita tuh gak sama loh. Support system kita juga gak sama.”

“Maksud kamu gimana win?”

Yakin Pengen Jadi Stay At Home Mom? Pikirkan Matang-Matang Dulu

“Win, susah loh kalo perempuan itu gak kerja. Coba lihat mama. Gimana kira-kira nasib kamu kalo mama gak kerja?” Ucap Mamaku ketika aku memutuskan menjadi IRT tulen. 

“Suamiku beda Ma.. Dia ngerti. Dia support aku.” Tekanku untuk meyakinkan Mama. 

Realitanya, dalam up and down kehidupanku.. Kadang aku sering membenarkan kata-kata Mama. Lantas menyesal kemudian. Lalu aku akan berusaha menjadi seperti mama. Lantas merasa berbeda. 

Ya, aku menatap Mamaku. Sosok wanita karir yang sukses menyeimbangkan hidupnya. Punya pekerjaan tetap, memiliki lingkup sosial disana sini, hingga anak-anak yang mayoritas masuk jurusan kedokteran (kecuali aku). Ingin rasanya hidupku seperti Mama. Sukses luar dalam. Tapi ketika aku menatap lingkunganku. Aku sadar, aku tidaklah sama. 

Mama tidaklah bisa menolongku untuk mengurus anak selama kutinggal bekerja. Begitupun mertuaku. Jangan tanya soal ART, masa sekarang dan dulu jauh berbeda. Jujur, awalnya aku menjadi IRT tulen bukan karena aku yakin dengan support suami. Tapi.. Karena aku tidak punya pilihan. 

Hingga aku harus memperkuat pilihanku dan berusaha agar hidup kami baik-baik saja. 

Ya, hidup kami sekarang memang jauh berbeda dibanding kehidupan awal menikah. Banyak yang menilai bahwa itu mungkin sebagian disebabkan oleh pilihanku untuk fokus menjadi Ibu Rumah Tangga. Sehingga suamiku bisa seperti sekarang. Kehidupan ekonomi kami bisa melejit seperti sekarang. Tapi, bukankah keadaan semua orang tidaklah sama? 

Tidak lantas dengan melihatku sukses maka jalan semua orang harus sepertiku bukan? 

Maka aku hanya berpikir heran dengan keputusan temanku yang kupikir instan dan tidak matang. Hei, tidak semudah itu loh memilih menjadi Ibu Rumah Tangga.. 

Faktor-faktor yang Harus dipertimbangkan Sebelum Memutuskan Menjadi Stay At Home Mom

Setidaknya, ada 3 faktor penting yang harus dipikirkan sebelum memilih untuk menjadi Stay At Home Mom. Jangan cuma mikir nih faktor sedikit ya. Baca penjabarannya. Gak sesedikit itu gaes.. 

Faktor Psikologis

Percaya enggak percaya aja, jadi Full Time Mom itu rentan stress hingga depresi. Saat semua orang bilang “Duh, enaknya gak kerja.. Enaknya cuma ngurusin anak dsb..” 

Realitanya jadi IRT enggak seenak itu. Penderita babyblues dan PPD kebanyakan adalah seorang Full Time Mom yang tidak bisa menyeimbangkan waktunya karena terdorong oleh keadaan. 

Maksudnya? 

Seorang manusia normal setidaknya memiliki 3 pembagian waktu yang baik dalam kehidupannya. Tiga waktu itu adalah Me Time, Family Time dan Social Time. Nah, saat sudah berumah tangga pembagian waktu itu berubah lagi. Seorang Ibu dituntut untuk memiliki waktu bersama bayinya. Dituntut untuk bisa mencukupkan ekonomi serta dituntut untuk bisa melayani suami hingga bisa diterima dilingkungannya. 

Itu tuh enggak mudah ketika Ibu memilih menjadi Stay at Home Mom. Apalagi jika sedang memiliki anak yang masih bayi dan belum bisa ditinggalkan. Tidak ada lagi keseimbangan 3 waktu seperti masa single. Sebagian besar waktu tersita untuk Parent Time. Tidak ada me time hingga social time. Belum lagi lingkungan yang kadang mencibir, “Kan di rumah aja.. Kok gak bisa ngapa-ngapain..”

Saranku, jika ingin menjadi Stay At Home Mom maka jangan bayangkan sisi ‘enak’nya saja. Bayangkan juga sisi enggak enaknya. Berubahnya faktor kebiasaan yang berubah hingga 180 derajat. Itu adalah adaptasi yang harus diterima. Kalau tidak, psikologis Anda bisa terganggu. Aku bercerita demikian karena pernah mengalami PPD saat memiliki anak pertama. 

Dan yang paling penting.. Sebelum menjadi Full Time Mother ubahlah sebuah persepsi bahwa seorang Ibu harus 100% mengabdi pada anaknya. 

Kenapa diubah win? Bukannya Ibu itu memang harus berkorban bla bla bla.. 

Hei, Anda gak akan ngerti sebelum merasakan mengalaminya. Dalam durasi 1 bulan hingga 6 bulan mungkin Anda akan merasa perfect dan baik-baik saja. Lama-kelamaan akan ada something missed dalam kehidupan Anda. Percaya deh. 

Apa itu? Yaitu kehilangan dirimu yang dulu. 

Maka, berdayakanlah diri selagi masih muda. Pelihara hal itu hingga memiliki anak. Hiduplah dengan keseimbangan dari passion dan cinta. Milikilah hobi yang bermanfaat untuk bisa menemukan diri sendiri dan menyalurkannya untuk lingkungan sosial. 

Dengan kehidupan seimbang maka seorang ibu akan waras dan menemukan kebahagiaan. Ia menjadi seseorang yang berarti untuk dirinya hingga anaknya. 

Ingin menjadi Ibu rumah tangga sejati? Yakinkan passionmu bisa berkembang di rumah. Kenali dirimu sendiri. Apakah kamu introvert atau ekstrovert. Bisakah kamu berkembang jika kamu di rumah? Itu adalah hal yang harus dijawab sendiri olehmu. Jangan remehkan faktor psikologis ini 

Faktor Ekonomi

“Kamu enak win. Suamimu PNS. Setidaknya jadi punya pegangan hidup.”

Hmm.. Gak ada yang tau dengan keadaan ekonomi orang lain selain orang itu sendiri. Gak ada yang ngerti sama ujian pernikahan selain yang mengalaminya.

Jujur, meski suamiku adalah seorang PNS. Tapi, banyak faktor tambahan yang tidak diketahui orang lain. Seperti berapa banyak potongan dalam gaji? Apakah semua gajih 100% untukku sehabis dipotong? Apakah suami bukan seorang sandwich generation? Nah, kalian tidak tau kan? Dan tidak usah tau. Hihi. 

Yang jelas, aku pernah berada diposisi hanya mendapatkan jatah 300rb sebulan. Seiring waktu naik menjadi 1,3 juta sebulan. Eh? Banyak kata kalian? Kami hidup mandiri dan memiliki satu orang anak kala itu. Aku bahkan sempat bakulan berjualan kue, tidak pernah memberikan anakku diapers hingga susu untuk menghemat pengeluaran. Hanya tidak semua orang tau bukan? Bagaimana dari gajih yang dipotong-potong tersebut kami sekarang sudah mendirikan perusahaan dengan 4 orang pegawai tetap. Hmm, kalian gak usah tau susahnya. Biar lihat enaknya saja. (Ini kenapa jadi curhat sarkas disini.. 🤣) 

Intinya, dari jatuh bangun kehidupan ekonomi yang demikian merupakan salah satu faktor dominan kenapa dulu aku sering depresi dan aku enggak mau kalian asal pilih jadi full time mom tanpa mempertimbangkan faktor begini.  Dalam keadaan ekonomi yang masih berjuang serta memiliki anak itu bukanlah hal yang mudah. Aku sendiri tidak mandiri secara finansial saat itu. Lingkungan banyak yang mencercaku kenapa tidak bekerja tanpa tahu apa yang aku alami. 

Ada pula yang percaya begini.. 

“Suami bekerja, istri bekerja.. Rejeki 100%. Suami bekerja, istri tidak bekerja.. Rejeki 100%..”

Sungguh, statement itu tidak salah. Asalkan tidak gagal paham memahaminya. Karena begini, ada yang bahkan ‘maksa banget’ suaminya harus bisa mendapatkan rejeki yang sama meski ia tidak bekerja dan membanding-bandingkan dirinya dengan yang lain. 

Jika memiliki suami dengan gajih pas-pasan hingga kurang maka mau tidak mau kita sebagai istri harus bisa support dia. Bukan mengeluh. Itu bukan yang benar? Tapi bagaimana bisa support jika keadaan ekonomi menghantam psikis istri? Bagaimana bisa mencapai kata Qona’ah? Maka, tidak ada pilihan selain memberdayakan diri di rumah. Dan hal ini, tidak dipahami oleh sebagian yang percaya statement kenapa rejeki bisa tetap 100% walau istri tidak bekerja. 

Rejeki itu luas by the way.. Maksud dari memberdayakan diri tidak melulu tentang bisa mencari uang. Tapi, tentang mencari peluang untuk bisa mencintai diri sendiri hingga membantu orang lain. Disinilah akan terjadi yang namanya keajaiban. Rejeki yang tidak disangka-sangka. Dan menemukan hingga ke titik ini perlu didasari oleh adanya rasa ikhlas. 

Nah, bisakah Anda ikhlas dengan rejeki apa adanya hingga memberdayakan diri di rumah? Atau, Anda lebih nyaman berkembang di luar dan merasa seimbang jika bekerja di luar? Merasa senang ketika dapat membantu keluarga ketika bekerja diluar? 

Itu, adalah pilihan yang harus Anda buat sendiri. Bukan dengan meniru hidup orang lain. 🙂

Faktor Sosial

Memutuskan menjadi stay at home mom itu gak bisa diputuskan oleh diri sendiri saja. Carilah kesepakatan bersama keluarga besar dan bicarakan terus dengan suami. Dan yang paling penting, tanyakan pada diri sendiri.. Apakah benar hal ini adalah hal yang kamu inginkan? 

Aku memiliki teman yang punya passion mengajar. Menjadi guru adalah hidupnya. Tidak masuk sehari saja dia sudah kangen luar biasa dengan muridnya. Kalian tau apa yang dia suka? Ikut upacara bendera. Coba telaah, makhluk sedemikian apakah akan merasa nyaman jika di rumah saja? 

Aku sendiri dari SD hingga SMA lebih menyukai guru perempuan. Karena entah kenapa, guru-guru favoritku semuanya perempuan. Mereka lebih friendly dan nyaman dalam menjelaskan. Bahkan ada yang masih berteman di sosial media denganku hingga sekarang. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka tidak ada di sekolah. Pekerjaan sedemikian memiliki keterikatan sosial yang tinggi. 

Aku juga memiliki seorang teman yang bekerja pada sebuah perusahaan besar. Diantara 4 saudaranya, hanya ia yang terbilang sukses. Ya, ia adalah seorang ibu pekerja dan juga seorang sandwich generation. Orang tuanya tidak memiliki pekerjaan tetap untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Ia juga masih memiliki seorang adik kecil yang masih sekolah. Ia bisa saja memilih untuk tidak bekerja. Karena toh suaminya juga seorang PNS seperti suamiku. Tapi bagaimana dengan kehidupan keluarganya? Pilihan yang sulit bukan? 

Jika keterikatan sosial ini dapat dituntaskan solusinya dengan di rumah saja maka bisa saja seseorang memilih menjadi stay at home mom. Tapi sekali lagi.. Keadaan kita tidak sama bukan?

Hidup Kita Gak Sama, Pilihanku adalah yang terbaik untukku

Seperti yang sudah aku ceritakan diawal, bahwa sesungguhnya pilihanku untuk menjadi stay at home mom bukanlah pilihanku sendiri. Tapi, aku tidak punya pilihan.

But.. Time flies.. 

Aku mulai menyukai profesiku. Aku mulai menemukan passion yang bisa aku optimalkan di rumah saja. Aku mulai menemukan sebuah keseimbangan. Dan rasa ikhlas serta syukur mulai menggiringi kehidupanku. 

Aku mungkin terlihat seperti stay at home mom yang sukses mengelola ekonomi. Tapi aku sadar, bahwa tidak semua orang harus memilih pilihan yang sama sepertiku. Pun jika kamu, kalian, dsb melihatku.. Bukan berarti harus mencontoh apa yang aku lakukan. 

Karena diri kita tidak sama.. Lingkungan kita tidak sama.. 

Jadi, pilihlah sebuah pilihan yang terbaik untukmu.. 

NB: Kalian tau? Segala yang dilakukan karena cinta tidak akan ada penyesalan.. Pilihlah dengan cinta. Tapi tidak bergantung pada cinta. Kalian mengerti maksudku? Cinta itu dimulai dari dirimu sendiri. 

Pengalaman Seru Menjadi Nara Sumber Webinar CIMSA Mercy

Pengalaman Seru Menjadi Nara Sumber Webinar CIMSA Mercy

“Kamu tau hal paling menakutkan dalam hidup itu apa?”

“Apa? Hantu? Kiamat?”

“Mengetahui bahwa kita hidup di dunia hanyalah melaluinya begitu saja. Tanpa menggali potensi. Tanpa apa-apa. Meaningless..”

“Ah, kan kita hidup didunia memang hanya layaknya kapal. Asalkan kita beribadah… .. “

“Omonganmu terdengar familiar sekali.”

“Iya, kan memang sering kita mendengar bla bla..”

“.. Seperti pikiran lainnya yg memandang hidup hanya perlu iman dan islam. Lantas pergi dan memandang yang kurang bersyukur seperti tidak paham dengan arti iman dan islam. Padahal.. Bukankan arti syukur dan ikhlas perlu sebuah perjalanan yang luas?”

***

Obrolan itu kembali terngiang ditelingaku. Obrolan lama, mungkin waktu itu aku masih sekolah SMA dan sedang memasuki salah satu kegiatan ekstra di sekolah. Jangan tanya apakah aku menjadi si A atau si B dalam obrolan tersebut. 

Aku, pernah menjadi keduanya.. 🙂

Pembicaraan yang terasa biasa. Namun artinya baru aku pahami ketika sudah memiliki anak. Bahwa hidupku ternyata begitu sederhana. Begitu banyak hal yang belum sempat aku gali sendiri. Aku belum memaksimalkan diriku sendiri namun kehadiran buah hatiku yang pertama telah mengubahku menjadi orang lain. 

Ya, pernahkah kamu merasa dirimu berangsur menghilang? Seperti digantikan sosoknya oleh sebuah topeng cantik. Layaknya seekor siput. Memiliki rumah dengan corak indah dan pola yang unik. Namun ternyata, makhluk mungil yang ada di dalamnya sudah hilang. 

Aku pernah menjadi cangkang kosong. Kehilangan diriku. Kehilangan arti hidupku. Jangankan menanyakan semangat yang dulu. Diriku yang dulu saja sudah hampir hilang. 

Saat itu, aku tidak menyadari bahwa diriku terkena Post Partum Depression. 

Ceritanya sudah sering aku tulis di blog. Dan tidak ku sangka, karena cerita-cerita receh itu aku mendapat sebuah undangan. 

Aku? Menjadi seorang nara sumber untuk acara webinar? Dengan tema sedemikian? Apakah ini tidak salah? 

Jantungku berdegup kencang. Kubaca ulang undangan tersebut. Rasa minderku masih tersisa rupanya. Dan aku meninggalkan pesan itu begitu saja. Berusaha untuk tidur siang dan mendamaikan diri. Berbicara kepada diri sendiri, “Hei, kamu siapa? Tau diri dong. Sudah, masuk keong saja sana!”

Kali Pertama Aku ‘Curhat’ dengan CIMSA

Undangan tersebut hadir bukan tidak ada sebab. Sebelumnya aku pernah mengisi narasi cerita untuk microblog instagram CIMSA dengan tema cerita Post Partum Depression. Aku dengan senang hati membagikan pengalamanku untuk barangkali bisa bermanfaat bagi para pembaca atau yang sedang mengalami gejala hingga memperjuangkan diri untuk sembuh dari PPD

FYI, CIMSA sendiri adalah kepanjangan dari Center for Indonesian Medical Students Activities. CIMSA merupakan organisasi non profit, non politik, dan non pemerintah yang mewadahi mahasiswa kedokteran di indonesia dalam memberikan dampak bagi kesehatan Indonesia melalui berbagai aktivitas.  CIMSA dibuat sebagai wadah untuk memberdayakan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa kedokteran indonesia yang siap ikut andil dalam meningkatkan kesehatan indonesia. 

Sebagai saudara perempuan dari kakak yang kebetulan merupakan seorang dokter dan adikku sendiri yang keduanya merupakan mahasiswa kedokteran tentu ada sedikit rasa minder mengingat ilmu yang aku miliki sangat tidak sebanding untuk memberikan cerita pada mereka. Ya, aku pernah bercerita bukan bahwa aku mungkin merupakan satu-satunya anak mama yang memiliki kapasitas keenceran otak paling sedikit. Tapi, aku tak menyangka curhatan receh itu sedikit berdampak. 

Memutuskan untuk ‘Berani’ Menampilkan Diri

Tidak kusangka, curhat kecil berujung seperti ini. Aku toh sudah terbiasa untuk menulis. Tapi, jujur aku merasa skill verbalku tidak sebagus skill ku dalam menulis. Temanku sewaktu SMA pernah berkata padaku bahwa aku ini sangat pendiam layaknya seekor siput yang sedang dipepes. Bayangkan, siput saja sudah sebegitu unpotential. Dipepes pula. Seakan mengejek bahwa skill verbalku sama sekali tidak bisa diandalkan. 

But, Time flies.. 

Siapa sangka aku yang dulu begitu pendiam berubah menjadi sedikit periang ketika kuliah. Persentasi di depan kelas adalah moment favoritku. Bahkan, aku ingat sekali suatu hari ketika ada pelajaran Komunikasi Bisnis.. Aku diberikan penghargaan karena telah menjadi MC terbaik di kelas. Aku berubah total dalam jangka waktu 2 tahun setelah SMA. Aku sangat ingat moment itu. 

Meski sudah hampir 10 tahun berlalu, aku masih ingat penghargaan itu. Dan itulah yang memberanikanku untuk menjawab ‘bersedia’ pasca 3 jam undangan itu datang. Meski mungkin skill itu sudah hampir terkubur tapi bukankah itu hal yang menarik dalam kehidupan? 

Ketika kita berani menjawab sebuah tantangan dan kita merasa berdebar akan semangat yang baru. Itulah rasa nikmat syukur kehidupan. 

Andai hormon adrenalinku bisa bicara, mungkin selama 8 tahun ini ia akan protes memukulku karena tak pernah berani mengeluarkan skill verbalku lagi. PPD yang pernah aku alami memang sedikit memberikan rasa trauma. Takut ini, takut itu. Padahal toh, bukannya aku sudah mendapatkan pelajarannya? Bahwa segalanya akan sembuh dengan ‘keberanian berekspresi’. 

Serunya Webinar Bersama CIMSA

Aku tidak menyangka hari itu banyak peserta yang hadir. Aku mengira peserta webinar hanya berkisar pada angka 50an. Ternyata ada lebih dari 100 orang. Dan kebanyakan adalah para mahasiswa kedokteran. Sekilas, rasa minder itu datang apalagi ketika melihat CV dari narasumber pematerinya. Hmm? Siapa aku kok berani sekali nyemplung disini? 😌

Jujur, ada sebuah perasaan lucu hari itu. 

Bagaimana kalau aku closed saja semuanya. Matikan wifinya. Biarkan selama 5 jam. Nanti kalau mereka menghubungi, bilang saja mendadak ada gangguan. Bla bla.. 

Syukurlah aku tak melakukan hal itu, karena sungguh jika aku melakukannya. Aku sudah kalah oleh diriku sendiri. Dan, kalian tau? Ada satu hal yang membuatku tertegun menyimak materi dari awal sampai waktuku tampil. Karena aku, seperti merasa kembali ke masa lalu. 

Ya, masa dimana aku tidak mengerti apa itu depresi dan menolak pernah mengalaminya. Materi yang dipaparkan oleh dr Natalia begitu mengunggah diriku. Sampai ingin rasanya aku mengeluarkan air mata. Merasa beruntung bahwa diriku sudah melalui masa-masa suram itu. Begitu banyak kasus menyeramkan terkait ppd dan pembunuhan anak hingga dampak lainnya adalah mengakibatkan luka disana sini. Innerchild yang memutar dan tak kunjung berakhir.

Baca juga: Dampak Negatif dari Post Partum Depresion Pada Anak dan Caraku Memperbaikinya

Menariknya, saat sesi pertanyaan dibuka aku baru menyadari bahwa mungkin sekitar 30% peserta adalah ibu-ibu. Ada pula yang merupakan masyarakat umum yang ingin tau tentang babyblues. Antusias mereka luar biasa. Dan dr Natalia menjawab dengan sangat lengkap tanpa jeda sama sekali. Aku sampai tercengang dibuatnya. 

Pikiran itu kembali datang, 

“15 menit lagi win, sebelum terlambat dan malu-maluin. Closed semua tab dan matikan wifi. Masuk ke dalam selimut”

Humaira pun menangis masuk ke dalam kamarku. Disusul oleh kakaknya si Pica yang kesal karena bingung menerjemahkan apa kemauan adiknya. Makin mantap bisikan itu menemukan eksistensinya. 

Tapi, tepat 5 menit sebelum aku tampil. Suamiku sudah dengan sigap mengambil Humaira dan membawanya ke kamar. Dia tersenyum licik padaku dan berkata, “Anggap saja ujian skripsi.”

😂

Dan 5 menit pun berlalu.. 

Ternyata, Bercerita Verbal Itu Melegakan

Aku tidak tau persis apa yang harus aku ungkapkan. Awalnya, aku bahkan membuat slide tayangan untuk memperjelas sebuah cerita. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku hanya mengisi talkshow. Bukan pemberi materi atau nara sumber ahli. Tugasku hanya bercerita dan memberikan solusi nyata dari apa yang sudah aku alami. 

Jujur, moment itu adalah kali pertama aku bercerita secara verbal tentang PPD yang sempat aku alami. Sebelumnya, aku hanya menulis rintihan receh di blog maupun instagram. Itupun sebagian kecil telah aku hapus karena aku sendiri merasa tulisanku tidak menginspirasi dan sedikit toxic. Maklum saja, saat itu aku menulis untuk menyembuhkan diriku  bukan untuk menginspirasi dengan pengalaman. 

Ternyata, bercerita itu melegakan. Aku tidak menyangka ceritaku akan lancar mengalir begitu saja. Seakan aku menemukan seorang teman curhat sambil meminum kopi di sebuah cafe. Kurasa, dr Salma sang moderator memiliki aura friendly untuk berbagi cerita. Maklum, jika ingat fase dimana aku mencari teman cerita saat terkena PPD dulu maka aku akan ingat dengan sebuah grup di facebook dimana saat aku menanyakan tentang pumping ASI yang tak mau keluar.. Anggotanya begitu fanatik ketika aku menceritakan depresinya aku ketika terpaksa meminumkan anakku susu formula. Judge demi judge aku terima di kolom komentar. Itu adalah kali pertama aku takut bersosial media dengan grup yang kebanyakan memiliki member emak-emak perfect. *loh kok jadi curhat lagi?🤣

Yah, begitulah. Intinya aku tidak akan menceritakan ulang bagaimana proses sembuhnya aku dari PPD. Bagaimana efek yang sempat aku alami karena meremehkan gejala babyblues. Microblog singkat yang aku tulis di CIMSA dan tulisan receh di blog sudah pernah mewakilinya. Hanya saja, ternyata bercerita verbal menjadi sensasi baru yang nyaman untukku mengerti apa arti kata berarti dan berada. Dalam durasi satu jam aku merasa menemukan diriku di kampus yang dulu. Berpegangan pada microphone dan menatap seisi kelas dengan penuh makna. 

Aku, kangen dengan cita-citaku dahulu. Mungkinkah aku bisa menjadi seorang guru atau dosen? Aku rindu suasana kelas. Aku rindu menjadi Winda yang seimbang dalam dunia nyata dan maya. Winda yang dahulu. 

Tapi kemudian, aku kembali menatap Pica dan Humaira. Mereka memelukku dan ingin berbaring denganku untuk tidur siang. Ku usap kedua kepala mereka berdua. Lantas tersenyum. 

Aku lebih menyukai diriku yang sekarang. Semenjak jadi Ibu dan menemukan arti ikhlas serta syukur..

Aku merasa bisa meraih semuanya.. 

Namun sabar memang harus menggiringinya.. 

Tentang Elemen Air, Ninjutsu, dan Psikologis Emak

Tentang Elemen Air, Ninjutsu, dan Psikologis Emak

Wah, judulnya win.. Semacam sebuah pengakuan. Apakah selama ini penulis blog ini adalah seorang Otaku.. 😂

Bukan otaku sih. Sungguh sangat banyak anime yang belum aku tonton. Hanya saja, ada 2 anime yang begitu lengket di kehidupanku. Kalian tau apa itu? 

Yaitu Avatar dan Naruto. 

Dua anime ini, secara luas telah membuka ruas-ruas baru dalam kehidupanku. Dan ajaibnya, aku mengaitkannya dalam kehidupan psikologisku sehari-hari. 

Bukan sekedar ‘dikait-kaitkan’ tapi dijadikan sebuah pola kehidupan. Dan aku sendiri menyebutnya sebagai pola keseimbangan psikologis mak emak. 

Lantas, apa hubungannya dengan Air? Apa hubungannya dengan hari air sedunia bulan ini? 

Ada kok. 

Ada aja. Baca dulu dah.. 

Elemen Air dan Psikologis Manusia

Legenda China Kuno menggambarkan dunia dan seluruh alam semesta seperti ikatan lima unsur yakni air, logam, bumi, api, dan kayu. Begitu juga dengan kepribadian manusia yang harus memperlakukan dirinya dengan cara yang sama seperti lima elemen membangun dunia ini. Tapi, manusia hanya memiliki satu atau dua unsur yang lebih menonjol. Dan setiap elemen dapat menguraikan rincian tertentu tentang tipe kepribadian seseorang.

Well, sebagai mantan pemain ninja saga (entahlah kalian tau ini atau tidak.. Whahaha), aku sangat bisa mengerti dengan kalimat diatas. Permainan ini mengadaptasi anime naruto dan menempatkan karakter pemain untuk bisa memilih elemen yang sesuai dengannya. Setiap karakter dapat memilih 2 elemen. Entah itu elemen api, air, tanah, udara atau petir. Tidak sesederhana pola pada avatar, permainan ini juga membuat kita memilih elemen mana yang paling dominan hingga jurus  ninjutsu, taijutsu hingga genjutsu yang pas untuk setiap karakter. 

Adalah Hikari, nama karakter yang aku mainkan pada game ninja saga dahulu. Hikari artinya adalah cahaya. Aku memilih menggunakan elemen api dan air pada jurus ninjutsunya. Seiring berjalan waktu, aku dihadapkan pada 2 pilihan untuk membuatnya berkembang. Apakah aku harus membuatnya dominan menjadi ninja berelemen api atau ninja berelemen air. 

Sampai sini pembaca dibuat geleng-geleng.. 😂 Lalu bertanya-tanya apa hubungannya game ninja saga sama elemen air dan psikologi? 😆

Percayalah, game ini membuatku berimajinasi dalam kehidupan nyata. Bahwa sebenarnya, bukankah kehidupan juga dibuat seperti game? Ada kebijakan dalam memilih jalan setiap levelnya? 

Kalau dalam legenda cina kuno kepribadian manusia dipisahkan seakan menjadi 5 elemen, maka dalam kehidupanku akulah yang memilih elemen mana yang sebaiknya mendominasi kepribadianku. 

Dan aku memilih elemen air. Kalian tau artinya? 

Elemen air adalah orang yang memilih untuk mengisi kebahagiaan. Karena ia cinta dengan perdamaian. Lebih mengisi harinya dengan kekuatan spiritual dan mengurangi ambisi

Ambisi aku artikan sebagai elemen api. Yang dalam kehidupanku aku kaitkan pada pentingnya arti kekuatan. Dulu aku membanggakan elemen api yang ada pada diriku. Simple sekali alasannya, damage-nya besar. Semua orang menyukai orang yang memiliki kekuatan. Bisa dimanfaatkan, bisa menciptakan sesuatu. Tapi, juga bisa menghancurkan. 

Well, tapi mengurangi elemen api atau ambisi dan kekuatan. Bukan berarti aku menyerah. Tetapi lebih memilih untuk mencari kekuatan yang lain dari elemen air. 

Kekuatan elemen air dalam kepribadian sering dianggap tidak berarti. Padahal, tanpa disadari airlah yang paling berperan dalam charging happiness dalam diri manusia. Layaknya seorang Ibu yang mengisi cakra untuk orang-orang disekelilingnya. 

Skill Ninjutsu Psikologis dalam Elemen Air

Setiap elemen memiliki kelebihannya masing-masing. Api memiliki kelebihan pada kekuatannya untuk mendapat penerimaan dari orang lain, tanah memiliki kelebihan pada kuatnya pikirannya sehingga tidak gampang baper, petir memiliki kelebihan pada kekuatannya untuk bisa mengubah orang lain, sementara angin si jiwa bebas yang memiliki jalan hidupnya sendiri bisa diterima dimana saja, serta air yang konon bisa menyembuhkan dan mengisi kedamaian serta ketenangan. 

Jika elemen lain melibatkan persentasi passion yang dominan untuk bisa berkembang, maka air memiliki jalan ninjanya sendiri. Orang yang memilih untuk mendominasi cakranya dengan elemen air berarti sudah menyadari bahwa skill basic untuk mengeluarkan ninjutsunya adalah dengan adanya rasa ikhlas dan rela berkorban. Sungguh, ini adalah pilihan yang pernah sekali menimbulkan perasaan labil. Bahkan sampai sekarang. Makanya, ninjutsuku tidak pernah benar-benar sukses keluar. *sudah ngayal kek ninja bener dah.. 🤣

Orang yang memilih untuk mendalami air dan menambah point eksperience ke elemen air maka memiliki kelebihan bar cakra yang sangat besar, bisa menyembuhkan diri sendiri, hingga memiliki skill bertahan bahkan melumpuhkan. Tetapi ia memiliki kelemahan terbesar yaitu memiliki damage yang rendah serta memiliki bar kekuatan yang rendah sehingga gampang lelah yang kemudian berefek pada lemahnya kesabaran.

Tapi, segalanya dapat teratasi jika sudah menguasai skill ninjutsu air, yaitu:

-Water Healing: Skill ini memungkinkan berpindahnya bar cakra untuk meningkatkan kekuatan agar tidak kelelahan dan tidak mudah baper. Akhirnya stok kesabaran terus ada. 

-Water Protector: Skill ini memungkinkan berpindahnya bar cakra untuk terus memikirkan hal positif dibalik adanya kejadian negatif atau serangan negatif dari orang-orang. Sehingga hati tetap terjaga dan tidak berburuk sangka. Something like dinyinyirin orang bisa tetep move on dan gak nyinyir balik justru malah mendoakan kebaikan untuk orang demikian. Haha

-Water Attack: Skill ini memungkinkan pengguna untuk memiliki kekuatan. Walau damage pengguna elemen air itu sangat kecil tetapi akan efektif jika digunakan untuk hal-hal yang baik. *membersihkan rumah sambil leyeh-leyeh misalnya. Whahahaha.. Becanda dink🤣

-Water Control: Percaya gak percaya, walau kekuatan elemen air itu lemah tapi jika semua cakra tidak pernah digunakan dengan baik maka segalanya akan lose control. Jika tidak pernah bisa menggunakan skill healing maka cakra akan meledak ke hal yang tidak diinginkan ketika kesabaran sudah hilang. Layaknya stunami, orang yang memutuskan untuk mendalami elemen air akan meledak tak terkendali. Karena itu, sangat penting untuk mengeluarkan cakra ke skill yang lain.

Cakra: Mengisi Elemen Air dengan Jiwa yang Bahagia

Dari tadi kamu ngomong cakra.. Cakra.. 

Emang cakra apaan sih win? 

Wah, kalian belum pernah nonton naruto? 😂🤣

Sini ya aku ceritain, cakra itu adalah..

Cakra adalah kata yang berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti roda atau lingkaran, yang menggambarkan sebuah tempat berisi energi yang letaknya di pusat tubuh kita. 

Sesungguhnya, banyak ilmu tentang cakra ini. Ada yang menyebutnya menjadi 7 elemen dsb. Bahasanya sedikit rumit tapi sepemahaman sederhanaku bahwa banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memperoleh cakra. Salah satu hal yang sederhana adalah dengan terus membahagiakan diri sendiri dan melanjutkan arusnya dengan membahagiakan orang lain. 

Cakra tidak terisi otomatis begitu saja, seperti sehabis tidur langsung terisi.. Bukan begitu. Cakra beda dengan tenaga luar atau energi. Cakra terisi oleh hal-hal yang tidak kita sangka. Pengalaman baru misalnya, berhasil melakukan sesuatu juga, sebuah pujian pun bisa mengisi cakra. Bahkan, hal receh seperti menonton drama korea bisa pula mengisi cakra. Untukku, hal receh seperti menulis pun bisa mengisi cakra dengan maksimal. Jangan salah, bahkan orang yang mengupdate status di sosmed pun bisa saja mengisi cakra. 

Hal receh seperti selfie dan menggunakan filter instagram bisa saja otomatis mengisi cakra. Hanya saja, warna cakra setiap orang berbeda-beda. 

Orang yang memutuskan untuk menguasai elemen air dengan dominan maka harus memiliki cakra yang banyak. Makanya, jangan salah kalau ketika seseorang sudah mendedikasikan dirinya untuk berkorban maka dia juga punya sesuatu untuk mengisi dirinya sendiri. 

Well, segala hal tentang cara ibu bahagia dan passion pernah emak tulis di blog ini. 

Arti Keseimbangan Psikologis dalam Jalan Ninja Dominan Elemen Air

Apakah memilih jalan ninja dengan elemen air berarti mengabaikan elemen lainnya? 

Oh tidak.. 

Kehidupan itu harus seimbang ferguso.. 

Dalam setiap kenaikan level, seorang ninja dihadapkan pilihan untuk mengisi exp kearah yang mana. Ninja yang memilih untuk mengisinya pada satu elemen saja bukanlah seorang ninja yang bijak. 

Sisakan minimal 2 point untuk setiap elemen, agar kehidupan berjalan seimbang. 

Ada sebuah artikel yang mengatakan bahwa zodiak Capricorn, Virgo dan Taurus termasuk lebih cocok menggunakan elemen tanah. *mamak zodiaknya virgo btw.. Haha

Dan setiap orang yang memiliki elemen tanah bawaan (layaknya hokage pertama 🤣) biasanya hebat dalam skill taijutsu. Jadi mari imajinasikan saja demikian, bahwa memang bar energi fisik orang jenis begini lebih panjang dan kekuatan taijutsunya emejing. 

*Baca ulang dan artikel ini makin ngawur aja jalannya ya.. 😅

Artinya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dominan air boleh tapi jangan lupa untuk mengisi point ke elemen yang lain. Agar kehidupan berjalan seimbang. 

Itulah jalan ninjaku.. 😊

***

Artikel ini ditulis untuk FBB kolaborasi dalam rangka hari air dunia. Entah kenapa memorable tentang game online ninja saga yang emak mainkan 10 tahun yang lalu menginspirasi untuk membuat tulisan ‘ngaco’ ini. Karakter Hikari pada game itu telah mempertemukanku pada pembelajaran kehidupan sebenarnya. 

Bahwa hidup kadang membuat kita seperti air. Terus mengalir tanpa malu dari tempat tinggi ke tempat rendah.

Berjalan dengan caranya sendiri. Mengisi kehidupan yang lain bahkan tanpa diapresiasi keberadaannya.

Jangan larut dengan hal itu. Bangkit dengan cara sendiri. Temukan jalan ninjamu sendiri. 

Temukan ‘Cahaya’ dalam jalan itu. 

Selamat hari air dunia. Air adalah penyembuh. Air adalah pelindung. Maka, hargailah keberadaannya. ❤

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

“Sayang banget ya kalau udah tinggi-tinggi sekolah, eh ujung-ujungnya cuma jadi IRT..”

“Iya… Bukannya apa ya. Dulu kamu kan punya cita-cita jadi bla bla. Sayanglah. Kan kamu pinter..”

“Kalau punya mimpi kejarlah mimpi itu. Jangan jadikan anak sebagai alasan. Itu terlalu klise..”

Perkataan-perkataan itu, sering sekali kadang mengelilingi kehidupanku. Lalu aku bertanya pada makhluk-makhluk yang mengeluarkan statement tersebut didalam hati. 

“Memangnya.. Kalian sendiri sudah menggapai mimpi kalian yang dulu?”

Dear Diriku: Masihkah ada Mimpi yang dulu? 

Jika ditanya sebuah mimpi atau itu cita-cita atau itu rancangan masa depan maka bisa dibilang aku adalah makhluk ‘terlabil’ dalam merancang sebuah mimpi. 

Aku pernah bercita-cita menjadi Guru TK yang cantik, menjadi model yang cantik, menjadi sailor moon, menjadi detektif, hingga kemudian aku masuk kedalam lubang materialisme saat remaja. Lalu tujuan hidupku mulai abstrak. 

Saat melihat kakakku sukses kuliah di kedokteran dan dipastikan masa depannya secerah intan berlian, aku si anak biasa-biasa saja cuma punya satu mimpi saat itu. 

“Apapun yang terjadi, aku ingin lebih sukses dibanding kakakku..”

Terjunlah aku kedunia ekonomi di kampus karena berharap menjadi orang kaya dimasa depan. Tapi, bukan jurusan ekonomi akuntansi di universitas ternama, melainkan di D4 Ekonomi syariah lebih tepatnya. Aku terjatuh mental 2 kali untuk masuk di jurusan akuntansi yang kuinginkan. Mungkin keberuntunganku sudah habis, mungkin juga stoknya masih bersisa untuk dua hal..Jodoh dan rejeki. Saat itu, aku percaya pada opsi terakhir. Keberuntunganku hanya tertunda. 

Saat lulus aku bermimpi untuk sekolah lagi. Entahlah kurasa dunia kampus itu menyenangkan sehingga aku berkeinginan untuk bekerja di kampus. Apapun, asal itu di dunia pendidikan. Tapi, jodoh memanggilku dengan cepat. Ia adalah asisten dosen dikampusku sendiri. 

Orang bilang, hidup ini bukan ditentukan tentang bagaimana kita memilih sebuah pilihan. Tapi, tentang bagaimana kita melihat sebuah kesempatan. 

Aku, melihat jodohku bukanlah sebuah pilihan. Melainkan kesempatan. Aku, memilih menjadi ‘bucin’ dibanding mengejar cita-citaku. Dan aku? Menikah. 

Impianku pun labil lagi. Aku sangat puas bisa menikah layaknya putri di negeri dongeng. Pernah berperan layaknya menjadi cinderella, lalu putri salju, lalu aladin. Setidaknya, adegan disetiap dongeng itu pernah aku alami. *tentunya adegan yang biasa saja, namun imajinasiku melebih-lebihkannya. Haha. 

Aku sempat ingat dengan mimpiku dikala remaja. Sempat bersemangat lagi. Tapi kemudian, aku hamil dan harus LDR dengan suami. Tidak adanya support sistem membuat mimpi itu tertunda. Lantas, seiring berjalan waktu.. Coba tebak apakah mimpi itu masih ada? 

Masihkah aku seambisius dulu? Setelah beberapa tahun berlalu? 

I’m a realistic person.

Pernahkah kalian menonton film start up? Apakah kalian bisa paham perasaan Dal Mi? Kenapa dia lebih memilih tidak kuliah dan memakai uang neneknya untuk membuat toko baru untuk neneknya?

 

Karena itulah langkah yang bijak dimatanya. 

Dan itulah aku yang sekarang. Kuliah? Bekerja di bidang pendidikan? Its not me anymore. 

Apa boleh buat, ternyata berkorban itu candu. Termasuk mengorbankan impian. Dan tahukah? Ternyata candu itu tidak jelek. 

Ketika Mimpi Itu Menemukan Cabangnya

“Aku percaya, setiap pilihan seorang Ibu itu baik. Mau bekerja atau hanya menjadi IRT. Semuanya baik. Asalkan.. Ambisi dan Semangatnya selalu terisi. Bukan sekedar terisi karena bahagia. Tetapi terisi karena mimpi itu masih ada.” -Shezahome

Krisis pencarian jati diriku memiliki nasib seperti Do San. Segalanya abstrak. Tapi, ketika bertemu dengan jodohku maka segalanya terasa jelas jalannya. 

“Mimpiku dulu selalu sendirian. Tapi, sejak tangan itu ada. Mimpiku jadi bercabang. Dan aku menjadi bersemangat.”

Delapan tahun aku berumah tangga dari ekonomi yang down hingga bisa membantu ekonomi orang lain. Dari mendukung suami menjadi dosen, hingga mendukung suami mendirikan perusahaannya. Dan yang terpenting, aku menikmati proses itu. Tanpa kusadari, aku pun sedang membangun mimpiku sendiri. 

“Ketika manusia kehilangan impian, maka segala semangat itu hilang. Manusia harus punya mimpi untuk bersemangat hari ini.”-My Hubby. 

Aku percaya, bahwa setiap perempuan memiliki mimpinya masing-masing. Adalah tidak apa-apa jika ia bermimpi karirnya harus sedemikian. Juga tidak apa-apa jika ia merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan. Selama ‘impian rumah tangga’ selalu mendapatkan tangga teratas, kenapa tidak? Selama ibu tidak ambisius menurunkan mimpi gagalnya pada anaknya.. Kenapa tidak? Jangan takut untuk meneruskan mimpi. Dan ya, hidup harus punya mimpi. Bukan sekedar mimpi membahagiakan orang yang disayang. Tapi juga mimpi untuk merawat keinginan diri sendiri dan mengontrol batasannya. 

Mengejar Mimpi, Adakah Batasnya? 

Mengontrol batasannya? Apa maksudnya? 

Sesungguhnya, aku menulis ini terinspirasi dari film Soul. Ada yang pernah nonton? Sungguh, film ini menarik sekali. Apalagi untukmu yang sedang mengejar mimpi. 

“Ketika kecil kita memimpikan sungai, ketika remaja kita memimpikan laut, lantas.. Ketika sudah semakin tua, Laut mana lagi yang kau cari? Itu tidak ada batasnya. Carilah zona aman yang produktif. Yang membuat dirimu senang dan bisa menyenangkan.”

“Kita terlalu lelah mengejar hari esok. Merancang rencana-rencana masa depan. Hidup seakan menerka nerka sebuah kemungkinan, mencegah hal buruk terjadi di masa depan. Tapi kemudian kita lupa, lupa akan hal yang paling penting. Yaitu menikmati masa sekarang.”

Kalau pada teori ekonomi islam ada istilah, “Kebutuhan manusia terbatas, keinginan manusia yang tidak terbatas..”

Maka, mungkin dalam teori psikologis mungkin ada istilah, “Impian manusia sebaik-baiknya adalah yang merasa cukup akan apa yang sudah ia gapai. Melupakan sejenak tentang ambisi di masa depan dengan memberikan yang terbaik saat ini, waktu ini, hari ini.”

Terdengar seakan menyerah, tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Zona aman itu tidak selamanya jelek. Sejauh dalam zona aman, kita selalu bisa membahagiakan orang lain. Kadang, mimpi yang tiada batasnya itulah yang tidak baik. Saat kita tidak bisa menikmati saat ini karena terlalu berpikir untuk masa depan. 

“Ketika manusia terlalu banyak bermimpi, berambisi.. Ia menjadi egois. Ia abaikan kasih sayang dihadapannya. Ia tak kenal ‘rasa cukup’. Ketika manusia kehilangan jiwa sosialnya, lalu kehilangan kasih sayang karena mengejar mimpi maka ia tak lagi menjadi seorang manusia yang hangat. Ia layaknya seekor ikan yang tak kunjung puas dengan perairan di terumbu karang. Terus berjalan mencari laut hingga tersesat di palung hitam.”

Ya, mimpi itu harus memiliki batas. Sudah mengerti bukan tentang batas yang aku maksud? I mean, berhentilah hidup untuk perencanaan demi perencanaan yang tiada habisnya. Hidup harus seimbang. Hiduplah dengan maksimal di hari ini. Maka, di hari-hari berikutnya akan ada mimpi tak terduga. 

Aku, selalu percaya akan hal itu. 

Dan apalah yang kita kejar di dunia ini? 

Bukankah kita lahir untuk belajar, lantas berbagi kasih sayang. Lalu ‘mewariskan kebaikan’. Jika mimpi kita berlebihan dan membunuh semuanya. Cukupkan sampai disini. 

Hiduplah dengan Maksimal Hari ini Kemudian Mimpi Itu akan Datang. 

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Mengejar mimpiku dan meninggalkan hal yang seharusnya aku jalani?” Aku bertanya padanya. 

“Bukan meninggalkan. Tapi mencoba memilih opsi yang lain. Kamu mengagumkan win. Hidupmu tak seharusnya berputar antara dapur, sumur dan kasur saja..” Temanku berkata. 

“Kamu tahu? Seorang wanita ketika menikah dihadapkan pada 2 pilihan dalam membangun mimpi. Tidak ada yang salah. Yang satu membangun mimpinya sendiri. Sedangkan yang lainnya mencoba menguatkan mimpi suaminya, mendukungnya, ikut bersamanya. Meraih dahaga yang berbeda untuk menyegarkan dirinya sendiri. Kamu sungguh sangat beruntung memiliki opsi untuk mimpimu sendiri. Tapi aku? Aku berbeda. Aku tidak bisa sepertimu. Aku adalah seorang partner. Bukan lagi winda yang individualis. Apa boleh buat. Aku sudah berkenalan dengan cinta. Tetaplah hidup dengan mencintai versimu sendiri, aku hidup dengan cinta versiku sendiri. Tidak ada yang salah dalam langkah kita. Keduanya mengagumkan.”

Dan setelah bertahun kemudian. Aku bertemu dengannya lagi. Masih dalam mata yang sama. Kasus yang sama. Tapi, status yang berbeda. 🙂

Dan akhirnya, aku membenarkan kata-kata ini:

“Tidak ada yang namanya pilihan yang salah jika didasari oleh Cinta..” – 

Anne Of the Green Gables

Aku, seorang Ibu biasa. Delapan tahun aku menjalani hari-hari ‘biasa’ layaknya Ibu Rumah Tangga. Awalnya membosankan, lalu aku sempat depresi, kehilangan mimpi. Kehilangan diriku sendiri. 

Tapi, segalanya berubah sejak aku menemukan ‘jalan ninjaku’ sendiri. Menikmati hari-hariku sendiri. Tidak selalu bertumpu pada masa depan. Selalu berkata ‘tidak apa-apa’ ketika target hidupku lepas. Setidaknya, aku selalu memiliki orang yang bisa kupeluk dan aku semangati. Orang itu, telah membawaku menjadi aku yang sekarang. Dan aku tidak pernah menyesal mendukungnya dari awal. 

Ya, aku tidak menyesal. 

Jika saja dulu aku bersikeras untuk bisa mengambil beasiswa dan terikat di kampus yang memiliki jarak berbeda dengan suami. Maka besar kemungkinan aku dan dia akan LDR. Meski status ekonomi pasti sangat baik dari awal pernikahan, tetapi aku tidak bisa menjamin pernikahanku akan baik-baik saja. Atau suamiku akan baik-baik saja. Dan entahlah bagaimana dengan anakku. Aku bukanlah seseorang yang multitasking. Jika aku mengejar ambisiku, maka mungkin aku tidak akan berada di titik yang sekarang. Begitupun suamiku, tidak akan sesukses sekarang. 

Aku memilih langkah berbeda. Menjalani hidup dengan maksimal ‘di masa sekarang’. Melupakan tentang masa depan. Menekuni hobi yang abstrak. Memasak, berdandan, menulis, bercerita, belajar, mengikuti komunitas, belajar lagi. Tidak menghasilkan uang tentu. Dipandang biasa saja? Tentu saja. Hal biasa itulah yang mengubah masa depanku. 

Kini, aku bersyukur. Semua mimpiku sudah hilang. Tapi digantikan oleh mimpi yang baru. Tanggung jawab yang baru. 

Aku bersyukur mendedikasikan hidupku untuk keluargaku. Karena keluargaku telah membantuku menemukan jati diriku. Kalian tau? Aku tidak pernah berhasil menemukannya sendirian. Ketika single dulu selama 22 tahun.. Tidak pernah berhasil. 

Jadi, Haruskah seorang Ibu mengejar Mimpinya? 

Jawabannya bukan padaku, tapi pada dirimu sendiri. 

Cara kita tak selalu sama. Tapi satu hal yang sama.. 

“Hiduplah dengan maksimal hari ini”

NB: Please jangan cuma baca judul, headline, dan secuil-cuil kalimat saja lantas ehm.. komentarnya seperti menghakimi penulis seakan ‘menyerah’. Sungguh ini jauh sekali bukan tentang itu..:)

IBX598B146B8E64A