Browsed by
Category: Psikologi

15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

15 Kasus Pembunuhan Anak oleh Ibu Kandungnya yang disebabkan Post Partum Depression 

Anak adalah anugerah terbesar yang diterima. Anak adalah titipan yang dipercayakan kepada seorang ibu dan ayah agar dapat dijaga, dipelihara dan diwariskan kebaikan. Anak adalah sumber kebahagiaan dan arti hidup. Menikah tanpa dikaruniai anak merupakan kebahagiaan yang belum lengkap.

Ya, begitulah sewajarnya kita mendefinisikan pengertian anak dimata orang tua_terlebih dimata Ibu. Tetapi apakah semua Ibu merasakan demikian?

Sayangnya tidak..

Beberapa Ibu sempat mengalami Baby Blues dan Postpartum Depression pasca melahirkan anaknya. Kondisi psikologis yang terganggu ini menyebabkan seorang ibu tidak dapat mencintai anak dan memelihara dengan maksimal. Terkadang, Ibu yang mengalami postpartum depression sering menyalahkan diri sendiri hingga merasa tak pantas menjadi Ibu.

Baca juga: Apa itu Babyblues Syndrome dan Post Partum Depression? Bagaimana gejala serta cara mengatasinya?

Cheryl Meyer, seorang profesor psikologi di Wright State University di Ohio telah menulis dua buku tentang pembunuhan anak yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri. Ia menganalisis bahwa ada sekitar 1.000 kasus pembunuhan oleh Ibu kepada anaknya sendiri selama tahun 1990an. Itu berarti satu kematian setiap tiga hari.

Itu masih tahun 1990an. Sekarang? Sayangnya kasus pembunuhan oleh ibu kandung kian bertambah. Bukan hanya diindonesia, beberapa kasus fenomenal juga terjadi dibeberapa negara lainnya.

Bagaimana bisa?

Ya, itulah yang terjadi ketika postpartum depression terlambat ditangani. Postpartum depression adalah gangguan jiwa yang secara perlahan dapat membentuk karakter Ibu menjadi monster bahkan setan sekalipun.

Berikut beberapa nama Ibu dalam kasus pembunuhan terhadap anaknya karena Postpartum Depression.

1. Andrea Yates

Andrea, Rusty dan keempat anaknya

Andrea Pia Kennedy Yates (lahir 2 Juli 1964) adalah mantan penduduk Houston, Texas. Ia mengaku menenggelamkan kelima anaknya di bak mandi mereka pada tanggal 20 Juni 2001.

Setelah ditelusuri, ternyata Andrea telah menderita Post Partum Depression (depresi pascamelahirkan) yang sangat parah. Selain itu, andrea juga diduga mengidap skizofrenia.

Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan kemungkinan pembebasan bersyarat setelah 40 tahun. Putusan tersebut dibatalkan karena naik banding.

2. Lisa Gibson

Lisa Gibson (32 tahun) ditemukan tenggelam di Winnipeg, Kanada. Tubuhnya ditemukan beberapa hari setelah kematian kedua anaknya, yaitu Nicholas yang berusia tiga bulan dan Anna yang berusia dua tahun di bak mandi mereka.

Sebelum itu, Polisi datang kerumah Lisa setelah sebuah panggilan 911 dibuat dan kemudian ditinggalkan. Polisi menemukan kedua anaknya meninggal di bak mandi. Setelah diperiksa, kedua anak tersebut diketahui telah dibunuh.

Setelah ditelusuri, ternyata Lisa Gibson sendiri didiagnosis telah lama menderita Postpartum Depression sebelum membunuh anaknya tersebut.

3. Charlene Ventanilla 

Suatu pagi, Ken Ventanilla kembali kerumah dengan pemandangan mengerikan. Ditempat tidurnya tergeletak Istri dan bayi berusia 8 minggu, keduanya bermandikan darah.

Ken langsung menghubungi 911. Anaknya, Shane diketahui meninggal karena banyak tusukan ditubuhnya. Yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa Charline yang merupakan Ibu dari anaknya sendirilah yang membunuhnya. Charline juga yang menusukkan pisau tersebut pada dirinya sendiri.

Setelah ditelusuri, ternyata perubahan mendadak Charlene dalam kesehatan mental dimulai saat dia mulai mengambil kontrol kelahiran segera setelah kelahiran anaknya. Ken berkata, “Malam terakhir itu, Charlene meyakinkan saya dan ibunya dan semua orang bahwa dia baik-baik saja”

4. Erin Sutherland

Erin Sutherland didiagnosis menderita postpartum depression setelah kelahiran anak pertamanya pada tahun 2006.

Depresi Sutherland menjadi sangat parah saat anaknya berusia delapan bulan. Erin mulai percaya bahwa bayinya lebih baik mati daripada memilikinya sebagai seorang ibu. Untungnya, Sutherland dirawat di rumah sakit dan sembuh setelah perawatan.

Pada tahun 2015 Sutherland menahan dan membunuh anak keduanya, Cloe yang berusia sepuluh bulan.

Erin melakukannya setelah tidak dapat mengakses layanan kesehatan mental yang sesuai di Skotlandia. Ibu berusia 37 tahun itu telah mengunjungi dokter keluarganya, namun dia tidak dapat merujuknya ke layanan kesehatan mental perinatal karena departemen tersebut tidak akan menerima ibu dengan anak di bawah umur enam bulan.

Tidak seorang pun di departemen kesehatan medis menyampaikan informasi bahwa Sutherland mengalami postpartum depression parah yang berputar lepas kendali pada delapan bulan berikutnya.  Penyelidikan berikutnya mengatakan bahwa sistem tersebut bertanggung jawab atas kematian yang sebenarnya bisa dihindari.

5. Deasia Warkins

Deasia Watkins didiagnosis menderita postpartum depression dan kemudian menjadi lebih parah.

Gejala postpartum depression memang bervariasi dan bisa berubah dengan cepat. Kebanyakan penderita mengalami bentuk mania dengan mood labil, pikiran tidak tenang  dan ketidakmampuan untuk beristirahat. Ada gejala lain yang bisa mencakup perubahan suasana hati yang tiba-tiba menjadi depresi, kebingungan berat, hilangnya hambatan, halusinasi dan delusi yang biasa terjadi.

Suami Watkins mengatakan bahwa dia telah “berbicara tentang setan” dan karena keadaan mentalnya yang tidak menentu, bayi mereka dirawat oleh Bibi Deasia. Saat berkunjung ke putrinya, Watkins menunggu sampai bibinya tertidur dan menikam anaknya beberapa kali dengan pisau koki besar. Bayi itu kemudian dipenggal dan ditata di atas meja dapur. Watkins meletakkan pisau di tangan anak itu sehingga “polisi akan mengira dia telah melakukannya sendiri.”

6. Lisette Bemenga

Pada tahun 2014, mantan guru sekolah Lisette Bemenga menghadapi hukuman penjara seumur hidup karena pembunuhan kedua anaknya pada tahun 2012. Dalam persidangannya, dia merasa terlalu terganggu secara emosional karena postpartum depression yang dideritanya. Ia  dijatuhi hukuman karena pembunuhan.

Trevor Noel berusia empat tahun dan adiknya Violet Lily Noel berusia empat bulan diracuni dengan koktail cairan pembersih kaca dan jus anggur. Setelah meracuni mereka, dia membawa mereka ke kamar mandi dan menahan mereka di bawah air di bak mandi untuk memastikan mereka telah meninggal.

Bemenga telah didiagnosis menderita depresi pascamelahirkan dua bulan sebelumnya dan mengklaim bahwa kondisinya diperparah oleh suaminya yang merupakan seorang mantan petugas polisi NYPD yang lari ke Spanyol bersama wanita lain dan membiarkannya memelihara kedua anaknya sendirian.

7. Debra Lynn Gindorf

Debra Lynn Gindorf menghaluskan pil tidur dan mencampuradukkannya dengan makanan anak-anaknya.  Setelah itu, anaknya Christina yang berusia 23 bulan dan Jason yang berusia tiga bulan meninggal tak lama setelah menelan overdosis pil tidur tersebut. Setelah itu, Gindorf berusaha untuk bunuh diri.

Debra sempat dipenjara lebih dari 24 tahun sebelum kemudian hukumannya diringankan.

Ya, Gubernur Illinois Patrick Quinn membebaskannya karena pengakuan bahwa dia sakit jiwa saat itu.

8. Felicia Boots

Perancang perhiasan, Felicia Boots mencekik putrinya yang berusia 14 bulan bernama Lily dan anak laki-lakinya yang baru berumur sepuluh minggu bernama Mason beberapa hari setelah keluarga tersebut pindah rumah.

Pada malam tragedi tersebut, suami Felicia pulang dari tempat kerja dan mendapati Felicia sedang duduk di tangga dalam kegelapan, memeluk dirinya sendiri dan meratap ‘Anakku yang cantik, anak perempuanku yang cantik. Mereka telah pergi. Bantu aku, tolong aku, tolong aku.’

Felicia telah didiagnosa menderita postpartum depression, sebelumnya dia yakin bahwa anak-anaknya akan dibawa jauh darinya oleh petugas perlindungan anak. Hakim di Inggris mengatakan: ‘Meskipun hasil tindakan Nyonya Boots sangat tragis mengingat hilangnya dua nyawa muda, kejadian yang terjadi bukanlah tindakan kriminal. Apa yang dia lakukan adalah hasil dari faktor fisik dan biologis yang tidak terkendali. Dia melakukannya karena cinta”

9. Shwe Hitoo

Shwe Hitoo mencoba bunuh diri setelah membunuh bayi laki-lakinya yang berusia dua minggu diapartemennya. Ia memberi makan bayinya dengan satu botol susu yang dicampur dengan gula, pil tidur dan racun serangga.

Hitoo kemudian meminum campuran yang tersisa agar dapat mati dengan anaknya. Ternyata, racun itu tidak bekerja kepadanya maupun anaknya.  Maka Hitoo mencekik anaknya dengan memegangi tangannya di atas mulut anaknya. Setelah yakin anaknya sudah mati, ia memasukkan mayatnya kedalam mobil suaminya.

Setelah berkeliling dengan mayat anaknya, ia mencari tempat untuk kecelakaan. Dia menabrak tiang lampu agar dapat membunuh dirinya sendiri. Sayangnya ia tidak mati karena kecelakaan tersebut, polisi menahan Hitoo setelahnya.

10. Janet Thies-Keogh

Kejadian berawal ketika suami Janet Thies-Keogh meninggalkannya sendirian dengan bayi mereka Colin selama satu jam. Dia pergi bermain tenis dengan seorang teman lalu menelpon istrinya untuk mengetahui bagaimana keadaannya.

“Tidak baik. Sebaiknya kau pulang saja,” katanya.

Suaminya yang panik langsung menelepon 911 dan mengatakan kepada staf bahwa dia takut istrinya mungkin telah melakukan sesuatu pada bayinya. Dalam panggilan kedua 911, saat melaju ke rumah mereka, dia memberi tahu petugas operator “Istri saya mencekik bayi saya.”

Janet sudah menunjukkan perilaku ingin bunuh diri karena mengalami postpartum depression, ia sempat dirawat karenanya. Tapi saat dia ditinggalkan sendirian dengan anaknya, penyakit psikologisnya menimpa dirinya lagi dan dia dengan tega mencekik anaknya. Suaminya menemukan Thies-Keogh duduk di ruang depan sambil menatap ke luar angkasa, dan dia sama sekali tidak menanggapi saat suaminya menemukan anaknya meninggal di kaki ranjangnya di kamar tidur utama.

***

Diindonesia sendiri sudah banyak kasus pembunuhan anak oleh Ibunya sendiri. Beberapa diantaranya juga disebabkan oleh postpartum depression. Berikut adalah beberapa kasus pembunuhan oleh Ibu yang terjadi di indonesia.

1. Mutmainah

Seorang ibu bernama Mutmainah, 28 tahun, warga Cengkareng, Jakarta Barat, membunuh dan memutilasi anak kandungnya berinisial AJ, yang baru berusia 1 tahun.

“Menurut keterangan, ibu itu menderita depresi,” kata Kepala Divisi Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono pada Senin, 3 Oktober 2016.

Awi mengatakan pembunuhan tersebut terjadi hari ini sekitar pukul 01.00. Mutmainah membunuh anaknya di rumahnya di Jalan Jaya Nomor 24, RT 04 RW 10, Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat. Setelah anaknya tewas, perempuan itu memutilasi tubuh bocah malang tersebut.

Meskipun Mutmainah belum tentu mengalami postpartum depression, karena ia belum pernah memeriksanya secara langsung, tapi tetap ada kemungkinan bahwa ia mengalami gangguan ini.

2. Nurlela

Nurlela, tega menganiaya anak kandungnya Nur Qoidatul Zakiyah sampai tewas. Ketika ditetapkan menjadi tersangka, polisi belum mengetahui motif Nurlela menganiaya anaknya karena masih depresi berat.

Nur Qoidatul Zakiyah, bocah berumur 1,5 tahun meninggal setelah menjalani perawatan di RS Waled Cirebon. Pada bagian wajah dan kepalanya ditemukan luka lebam yang diduga akibat dianiaya ibu kandungnya Nurlela.

Penganiayaan terhadap korban yang merupakan anak kandungnya diduga sudah lama dilakukan tersangka. Hal ini karena proses persalinan melalui operasi caesar dinilai terlalu menguras biaya yang mengakibatkan sang Ibu stress dan mengalami postpartum depression.

3. Anik Qoriah Sriwijaya

Anik mengontrak rumah bersama suami, Iman Abdullah, dan 3 anak, Abdullah Faras Elmaky alias Faras (6), Nazhif Aulia Rahmatullah alias Najib (3), dan Muhammad Umar Nasrullah (9 bulan) di Jalan Margahayu Barat Margacinta Kota Bandung. Keluarga ini terlihat hidup damai, tak pernah ada masalah berarti. Anik merupakan ibu rumah tangga, sedangkan sang suami bekerja di sebuah yayasan.

Minggu pertama bulan Juni, kejadian menggemparkan terjadi. Beralasan ingin menenangkan diri, Anik meminta suaminya menginap di kantor. Malam itu, ia membekap satu per satu anaknya hingga kehabisan nafas dan tewas.

Pengacara Anik saat itu, Iwan, menyebut Anik terlalu takut tidak bisa membahagiakan anak-anaknya di masa depan. Ia merasa menjadi ibu yang gagal. “Ia (Anik) merasa bersalah dan menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan apa-apa (menghidupi anak-anak),” kata Iwan.

Anik mengatakan, “Tidak punya harapan lagi. Ya sudah putus asa saja dengan kehidupan nanti.” Pada 15 Januari 2007, majelis hakim membebaskan Anik dari segala tuntutan dan memasukkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan. Ia diduga mengalami postpartum depression.

4. Dedeh Uum Fatimah

Dedeh Uum Fatimah (38) membunuh anaknya sendiri Aisyah Vani (2) dengan cara menenggelamkannya di dalam tangki air, Selasa subuh (11/3/2014). Dedeh membunuh Aisyah di rumahnya di RT 05 RW 22 Kampung Cijeungjing, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Dedeh menyatakan menyesal karena tidak sekalian membunuh dua kakak Aisyah yang juga anak kandungnya.
Penyebab pembunuhan ini diyakini karena Dedeh punya gangguan kejiwaan atau postpartum depression. Alasan kedua, Dedeh diduga mengikuti aliran sesat.

5. Pretty Hasibuan

MA, balita usia 2 tahun 6 bulan meninggal dunia secara tragis. Dia tewas di tangan ibunya sendiri, Pretty Hasibuan (32). Pelaku diduga tega mengakhiri hidup darah dagingnya tersebut karena depresi.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di kontrakan pelaku, Jalan Dahlia Ujung, Lingkungan V, Desa Suka Makmur, Deli Tua, Minggu (15/1). Pelaku melukai perut korban menggunakan pisau. Bocah itu meninggal dunia dalam pelukan pelaku.

Pelaku juga sempat mengejar dua anak saudaranya sambil menghunus pisau. Beruntung keduanya selamat

Tetangga dan kerabat pelaku menyatakan janda beranak satu itu suka menutup diri, dan tidak nyambung saat berkomunikasi sejak berpisah dengan suaminya. Dia pun tinggal di salah satu kamar bersama saudaranya.

***

Demikian beberapa kasus pembunuhan oleh Ibu kepada anaknya yang disebabkan oleh Postpartum Depression. Tentu masih banyak beberapa kasus yang lain. Kenapa tidak ditulis disini? Karena kurasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa jangan pernah menganggap remeh postpartum depression. Ya, anak anda taruhannya!!!

Mengertilah, menjadi ibu itu sulit. Beberapa Ibu diatas adalah daftar nama tak beruntung yang telah memberikan kita sebuah pembelajaran bahwa manajemen stress pada Ibu adalah awal pondasi dari terciptanya rumah tangga yang sehat.

Ibu yang berbahagia akan membuat sekelilingnya merasakan bahagia. Ibu yang tidak bahagia_akan membuat sekelilingnya menjadi bencana.

Postpartum depression tentu dapat ditanggulangi dan dicegah. Pada artikel sebelumnya saya sudah menjelaskan secara detail tentang penanggulangan awal babyblues dan postpartum depression.

Namun, ada beberapa orang yang memiliki kondisi psikologis yang ‘berat’. Mungkin karena inner child yang buruk, skizofrenia, bipolar, dan berbagai gangguan psikologis lainnya. Maka, pengobatan dengan psikiater lebih dianjurkan.

“Belajarlah Bahagia Ibu”  

Sumber tulisan:

babygagadotcom

detiknewsdotcom

Wajarkah kehadiran Teman Imajinasi pada Anak? 

Wajarkah kehadiran Teman Imajinasi pada Anak? 

Siapa yang waktu kecil punya teman imajinasi? Angkat tangan.. 🙋

(Sepertinya cuma aku.. Hiks) 

Beberapa hari ini aku tertarik untuk sedikit belajar tentang Psikologi. Aku tertarik dengan ilmu ini sejak memiliki anak. Kau tau kenapa? Karena aku ingin memahaminya. 

Ya, anak itu spesial. Melihat caranya tumbuh dengan berbagai polahnya yang membuatku sadar bahwa ilmu memahami seharusnya aku dalami sejak dulu. Dulu aku merasa bahwa memahami anak kecil sejatinya adalah mencoba flashback dengan masa kecil kita sendiri. Yup, inner child. 

Tak semua Ibu memiliki Inner Child yang sempurna. Kadang kala Inner Child membisiki_memaksa kita menghadapi anak kita sendiri untuk sama seperti saat kita kecil. Pertanyaan selanjutnya, Apakah wajar bentuk pemaksaan itu? 

Yup, aku akui. Beberapa hari ini aku sedang mengetes imajinasi anakku sendiri. Aku ingin tau seberapa besar daya khayalnya. Apakah sama sepertiku dahulu? Atau benar-benar berbeda. 

Ini terjadi ketika pertama kali aku membiarkannya bermain sendiri. Aku melihatnya duduk bosan sambil memegangi bonekanya. Termangu. 

Aku ingat sekali bahwa sudah berapa kali aku mengajarinya tentang bagaimana pura-pura berteman dengan boneka. Bagaimana cara menganggap boneka itu adalah benda hidup. Aku mengajari hal ini karena saat itu terlintas ‘rasa bosan’ saat aku harus berjam-jam menjadi teman mainnya. Tapi didalam otak anakku hanya mengerti satu hal “boneka ini tidak hidup, mama yang menghidupkannya” 

Ini bukan anak saya ya, Saya ambil gambar ini karena bagus aja.. 😛

Jadi, ketika aku menghilangkan diri dalam permainan Farisha maka boneka itu adalah benda mati. Benar-benar mati. 

Aku mencoba mengarungi masa laluku dahulu. Aku pikir aku berbeda dengan Farisha. Dulu waktu aku seumur dia aku sudah memiliki teman imajinasi. Bukan hanya satu, tapi banyak. Seingatku ada 4 orang dan semuanya perempuan. Aku cukup ingat betapa konyolnya aku berjalan-jalan sendiri menghampiri pohon rambutan, jambu biji dan mangga sebagai perwakilan dari rumah teman-teman imajinasiku. Aku punya duniaku sendiri. 

Tapi Farisha? Dia tidak betah bermain sendiri tanpaku. Kadang dia main keluar rumah tanpa seizin dariku, lari untuk bermain bersama tetangga. Andai berbicara sendiripun dia pasti punya alasan. Berbicara dengan siput misalnya. Setidaknya bila berbicara dia ingin berbicara dengan sesuatu yang bergerak. Aku menyadari dia tidak punya ‘yang lain’ dalam hidupnya. 

Dalam memahami Tuhan pun Farisha sangat kompleks. Tidak seperti aku yang manggut-manggut saja dulu. Dulu, aku pernah bertanya dengan Mama. 

“Tuhan tu Allah kan Ma? Allah dimana?”

Mama menjawab, “Allah diatas sayang” 

Dan aku selalu mengimajinasikan bahwa Allah ada diatas awan mengawasiku. Aku tak pernah bertanya hal rumit seperti Farisha… 

“Ma, Allah dimana? ”

Aku menjawab,” Dihati Farisha sayang, kemana aja Allah ada sama Farisha”

Farisha “Berarti kalo hati Farisha dibelah keluar Allah lah?” 

Aku menjelaskan kepada Farisha tentang Hati dalam versi yang berarti adalah perasaan yang bergabung dengan ruh. Namun, Farisha tetap memahami bahwa hati adalah salah satu organ yang ada dalam perutnya. Persis seperti saat dia melihat hati dalam perut ayam dan ikan. 

Aku pun sadar bahwa Inner Child ku adalah masa penuh imajinasi, aku mudah memahami hal yang berhubungan dengan perasaan dan punya banyak khayalan. Sedangkan Farisha adalah anak yang sangat realistis. Sampai kapanpun aku mengajarinya berimajinasi_Farisha tetap suka membuka matanya dan melihat fakta. 

Akupun maklum dengan itu semua. Jika aku telaah lebih mendalam tentang inner childku_tentang kenapa aku bisa punya teman imajinasi maka hanya satu jawabannya. Yup, aku kesepian. 

Aku akui, aku memang punya Mama dan Ayah serta Kakak laki-laki dirumah yang hangat. Namun, menginjak usia 4 tahun aku mulai merindukan adanya teman perempuan seusiaku di sore hari. Aku adalah anak yang luar biasa pemalu. Saat TK aku hanya mengetek dengan Mamaku dan tak terlalu banyak punya teman_walau aku ingin sekali. 

Maka aku memutuskan menciptakan imajinasi itu sendiri. Setiap sore aku berbicara sendiri dipepohonan. Lingkunganku adalah lingkungan pedesaan yang lumayan sunyi. Tidak ada teman perempuan nyata untuk anak seumurku saat itu. Itu adalah alasan kuat untuk menciptakan teman imajinasi. 

Sampai kapan teman imajinasi ada? 

Sampai aku mempunyai teman nyata yang ‘asli’. Dan Farisha sudah memiliki teman nyata dan asli sejak seumurku waktu itu. Jelas sudah, dunia Farisha penuh dengan Teman Realistis. Tidak sepertiku. 

Dari pengamatanku, Farisha tumbuh menjadi anak yang ‘memiliki beberapa kepribadian ekstrovert’ walau kedua orang tuanya dominan introvert. Hal ini membuatku merenung bahwa mungkin saja kepribadian introvertku sebenarnya terbentuk karena faktor lingkungan. 

Karena Farisha tidak memiliki Teman Imajinasi sepertiku dulu maka jelas tulisan ini tidak akan membahas tentang perkembangan anakku. Melainkan tentang diriku sendiri dan para ibu yang anaknya sekarang memiliki teman imajinasi. 

Sebenarnya Apakah Wajar kehadiran teman Imajinasi Pada anak? Apa sebenarnya faktor yang menyebabkan hadirnya teman imajinasi?

Menurut psikolog pediatrik Dr. David Erickson, Ph.D. dari Glenrose Rehabilitation Hospital di Edmonton, Canada dan Associate Clinical Professor of Pediatrics di University of Alberta, teman imajinasi pada anak ini sering dialami oleh anak-anak karena keberadaan teman imajinasi memungkinkan mereka untuk keluar dari situasi yang tengah dijalani dan membuat realita yang sebenarnya mereka harapkan terjadi. 

Dengan memiliki teman imajinasi anak menjadi ‘pengontrol’ dalam imajinasinya. Ia dapat berekspresi sesuai kehendaknya. Berpura-pura senang, sedih, tertawa, dan pengandaian lainnya. Dengan berimajinasi anak menjadi bebas melakukan apa saja untuk mengatasi kesendiriannya. 

Bagaimana sebenarnya berbagi tipe wujud dari teman imajinasi yang diciptakan anak kita? Berikut berbagai wujud dan faktor yang melatarbelakangi imajinasi tersebut:

1. Menciptakan Teman Bermain karena merasa sendirian

Sebagian besar teman imajinasi tercipta karena rasa kesepian. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak sulung cenderung memiliki teman imajinasi. Hal ini karena ia tak memiliki adik untuk diajak bermain maupun berbagi emosi.

Ini gambar lucu, aku selipin aja.. 😀

Untuk anak yang merasa kesepian wujud teman imajinasi fase pertamanya adalah berupa teman bermain. Namun tidak menutup kemungkinan ia dapat menciptakan wujud lainnya sesuai perkembangan emosi yang dimilikinya. 

Bentuk teman imajinasi berupa teman bermain ini biasanya muncul sangat sering. Karena kebutuhan anak akan teman tergolong tinggi. 


2. Menciptakan Figur Tokoh Sang Pembela karena Persaingan

Kebanyakan anak yang memiliki teman imajinasi adalah si sulung yang tidak punya adik. Namun, tidak menutup kemungkinan di tengah dan si bungsu juga memiliki teman imajinasi. Karena teman imajinasi muncul ketika realitas tidak sesuai dengan kenyataan.

Biasanya anak tengah maupun bungsu mengalami situasi ketidakpuasan karena sibling rivalry. Kemudian mereka berandai-andai memiliki kakak yang ‘begini’ maupun ‘adik’ yang begini. Mereka memunculkan tokoh imajinasi tersebut begitu saja untuk merasa dibela. 

Pada kebanyakan anak perempuan sosok Imajinasi Pembela ini sering muncul dengan sebutan ‘Ibu Peri’. Mereka mengkhayal bahwa apapun yang terjadi Ibu Peri selalu melindunginya dan mendukungnya. 

Bentuk teman imajinasi jenis ini muncul ‘saat terdesak’ karena anak membutuhkan sosok pembela agar membenarkan hatinya

3. Menciptakan Figur Jahat sebagai tantangan

Anak dengan kehidupan sempurna yang tidak kesepian dan banyak teman pun tak luput dari kebutuhan akan teman imajinasi. Hal ini dikarenakan kebutuhan emosi anak tergolong kompleks. Ia butuh tantangan.. 

Karena itu ia mengkhayal ada tokoh jahat yang sedang mengincarnya. Dan pahlawannya? Adalah dia sendiri. 

Bentuk imajinasi jenis ini biasanya tidak bertahan lama. Kemunculannya hanya sesekali saja. Kadang kala, saat anak melakukan kesalahan ia dapat menciptakan figur jahat ini sebagai pelaku sebenarnya dari kesalahannya. 

Dari beberapa alasan dan jenis Teman Imajinasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Teman Imajinasi adalah bentuk adaptasi psikologis dari rasa tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh Anak agar dapat diubah menjadi situasi yang menyenangkan.

Lalu anehkah jika anak memiliki Teman Imajinasi? 

Tentu saja Tidak! Teman Imajinasi adalah hal yang wajar. Kita harus mengakuinya. Aku_sudah mengakuinya bahwa pernah memiliki teman imajinasi dahulu. Lalu apakah aku gila karena saat kecil pernah berbicara dan tertawa dengan pohon? Haha.. Mari kita lihat faktanya.. 

Penelitian baru-baru ini memberikan jawaban bahwa teman khayalan adalah bagian yang umum terjadi dalam perkembangan pada masa anak-anak. Di Amerika Serikat pada tahun 2004 anak-anak usia pra sekolah dan orang tua mereka mengikuti sebuah penelitian yang meneliti aspek-aspek perkembangan anak, termasuk teman khayalan.

Anak-anak yang mengikuti penelitian itu dipantau kembali setelah mereka bersekolah yaitu ketika usia mereka tujuh tahun. Para peneliti terkejut mengatahui bahwa 65% anak-anak hingga usia tujuh memiliki atau pernah memiliki teman khayalan.

Seperti pada penelitian lain di Inggris dimana teman khayalan berupa mainan khusus diikut sertakan, 1800 anak mengisi kuesioner mengenai teman khayalan. 46% dari mereka mengungkapkan teman khayalan yang mereka miliki sekarang atau pernah mereka miliki, termasuk 9% yang berusia 12 tahun. 

Aku jadi ingat ketika aku membahas tentang teman khayalan ini dengan salah satu temanku. Dia berkata bahwa aku aneh karena pernah memilikinya. Dan kemudian dia berkata ‘Jangan’ ketika aku bercerita bahwa ingin mengajarkan Farisha untuk memiliki Teman Khayalan. Katanya itu akan menghambat fasenya dalam berteman. 

Kenyataannya aku merasa tidak aneh. Bagiku memiliki daya imajinasi berlebih bahkan bisa menciptakan teman khayalan semasa kecil juga bermanfaat. 

Dr. Karen Majors mewawancara anak-anak usia lima hingga sebelas tahun dan orang tua dari anak-anak yang lebih kecil. Semua anak-anak itu mengatakan bahwa teman khayalan penting bagi mereka dan mengapa mereka bergaul dengan teman khayalan.

Kesimpulan yang diambil adalah teman khayalan umumnya merupakan bagian yang sangat positif dalam kehidupan anak. Teman khayalan memberikan rasa senang, menghibur dan menemani bermain. Mereka juga baik hati dan senang menolong, pendengar yang baik dan selalu ada bila dibutuhkan. 

Perlukah anda khawatir jika anak anda memiliki teman khayalan? Jawabanku, Tidak, No Problem. 

Sebaliknya orang tua perlu tau seperti apa wujud teman khayalan si kecil. Jika berbentuk teman bermain mungkin karena dia kesepian. Jika berbentuk sang pembela berjenis Ibu Peri mungkin dia perlu dibela. Jika berbentuk musuh mungkin dia perlu tantangan. Anda harus mencoba untuk menjadi seperti teman imajinasinya sesekali. Mungkin, yang dia butuhkan sebenarnya adalah anda yang pintar berakting. 

Farisha anakku tak memiliki teman imajinasi sepertiku karena kupikir hidupnya sudah terlalu sempurna secara psikologis. Farisha memiliki teman bermain baik dilingkungan maupun disekolah. Dia anak tunggal yang tidak memiliki saingan dan memiliki Ayah yang bisa berakting sebagai musuhnya dirumah. 

Aku sewaktu kecil? Jujur saja aku memiliki semua jenis teman imajinasi diatas. 😂

Kapan kita harus khawatir? 

Keberadaan teman imajinasi adalah sesuatu yang tidak mengkhawatirkan. Namun, akan patut dikhawatirkan jika anak tetap asik dengan imajinasinya sendiri ketika berada dilingkungan sosial. Berarti teman imajinasinya berperan terlalu kuat dalam pikirannya sehingga dia tidak tertarik berteman dengan teman nyata. Kehidupan sosial anak bisa jadi bermasalah karena anak selalu menggunakan imajinasinya untuk melindungi dirinya. 

Kapan teman imajinasi hilang? 

Biasanya teman imajinasi akan hilang dengan sendirinya dalam waktu paling cepat selama enam bulan, teman imajinasi akan hilang jika anak sudah berhasil mengatasi masalah yang menjadi pemicu hadirnya teman imajinasinya ini. 

Seiring berkembang waktu anak akan mengenal sosial emosi dengan berteman secara nyata. Ia juga akan belajar kemampuan bahasa hingga kognitif sehingga secara perlahan akan menghapus kehadiran teman imajinasi karena menyadarinya bahwa itu hanya sebatas khayalannya saja.  

Bagaimana jika teman Imajinasi terus dan selalu ada? 

Jika teman imajinasi anak selalu ada bahkan hingga berumur 7 tahun maka orang tua perlu mengkhawatirkan hal ini dan mungkin perlu berkonsultasi dengan psikolog anak.

Sumber kutipan:

resourceful-parenting

meetdoctordotcom

Sumber Gambar

Ketika Introvert Menikahi Introvert (Pula) 

Ketika Introvert Menikahi Introvert (Pula) 

Apa yang terjadi jika introvert bertemu introvert win? Apakah benar itu hubungan yang ideal? 

Begitu kiranya pertanyaan yang akan muncul ketika mereka membaca kesimpulan tulisan saya disini

Ya, aku hanya bisa tertawa cengengesan. Sambil berpikir “Memang kami sedemikian aneh?” 

Sebagian tetangga didekat rumahku mungkin sudah hapal betul dengan rutinitas ‘rumah hening’ disebelah rumahnya. Aku tau mereka pernah berkata dibelakangku, “Kok bisa mama Farisha itu jarang sekali keluar rumah?” 

Itu hanya soal aku. Belum lagi suamiku. 

Seharian waktu siangnya dihabiskan untuk 3 hal: Komputer, Game, dan Mengajar. Malamnya? Percayalah Buku dan Aku itu adalah saingan. 

Itulah sekilas gambaran kehidupan pasangan introvert.

Tidak seru?

Tidak menantang?

Tidak Asik?

Tidak Romantis? 

Setidaknya begitulah ‘kelihatannya’ 😂

Mari kita ulas beberapa hoax tentang dunia pasangan introvert yang terjadi di ‘shezahome’ 

1. Pasangan yang tidak romantis

Sejak menikah suamiku bertanya padaku Ingin dipanggil apa nanti? 

Aku? Sebagai wanita berperasaan sensitif tentu ingin di panggil dengan sebutan yang menyenangkan.. Entah itu ‘Sayang atau Ading (sebutan adik bagi orang banjar). Tapi kenyataannya? 

Dia memanggilku dengan sebutan “winda” diluar. Bukan pula “Mama Pica”. Sungguh tidak ada sisi romantis maupun penghormatan pada sisi keibuan. 😂

Tapi itulah kenyataannya. Orang Introvert tidak suka mengakui ‘merasa cinta’ dihadapan banyak orang. Mereka tidak suka mengumbar rasa romantis. Sebagian bersikap biasa saja, sebagian lain menunjukkan sikap berlawanan untuk terlihat_entahlah.. 

Bukan hanya tentang nama panggilan. Kami bahkan sangat jarang terlihat bergandengan tangan diluar. Bahkan dikendaraan saja kami tidak berpelukan. Bagi kami? Itu konyol.. Hahaha.. 

Apa dirumah begitu? Ahh.. Tentu saja tidak.. Hahaha.. 

2. Kebersamaan yang aneh

Jadi? Apa yang terjadi ketika hari libur tiba? 

Rekreasi kepantai? Jalan-jalan di mall? 

Tidak😂

Dulu jujur saja saya sempat stress karena passion saya tidak tersalur. Saat itu saya terobsesi untuk bekerja ataupun kuliah. Namun, keadaan tidak memungkinkan. Akhirnya saya sempat merengek ingin jalan-jalan diluar sesering mungkin. 

Dua kali seminggu.. Sekali seminggu.. 2 minggu sekali.. Sebulan sekali.. 

Apa yang saya dapatkan dari jalan-jalan? Tidak ada. Hanya senyum-senyum memandang foto jalan-jalan dikala stress melanda. Akhirnya lambat laun saya sadar saya perlu hoby ‘yang benar’. 

Dan buku adalah jawabannya. 

Dia selalu menyuruhku membaca buku dan aku menolaknya karena kupikir duniaku sudah terlalu kotak untuk menjadi lebih kotak. 

Aku akhirnya mengakui bahwa aku adalah pribadi yang Introvert sejak lahir. Karena itulah aku tidak pernah cocok bergaul dengan para ekstrovert. Tuhan sudah mempertemukanku dengan jodoh yang benar. Dan waktu bersama bagi kami? 

Adalah membaca buku bersama. 

Jika kamu pikir keadaannya seromantis gambar diatas kamu salah. 😂

Kenapa? Karena genre buku kami tidak sama.. 😅

Kami punya dunia yang berbeda dalam memahami kesenangan membaca. Suamiku tidak punya daya imajinasi sepertiku. Buku yang dia baca kebanyakan adalah tentang sufisme, programing hingga berbagai jurnal. Jika bosan? Dia bermain game. 

Aku bukanlah sosok pembelajar yang tekun sepertinya. Dan satu lagi, aku sudah pensiun bermain game online. Buku yang aku baca kebanyakan fiksi. Namun aku sudah membuang jauh-jauh imajinasiku yang tidak realistis dulu. Sejak menjadi Ibu lambat laun buku yang aku baca berubah-ubah sesuai rasa ingin tahu yang ingin aku cari. Cukuplah imajinasiku dahulu tersalurkan melalui mendongeng. Hihi

Jadi, bukumu bukan bukuku.. 

We have our own world.. 

3. Arti ‘Anniversary’ Bagi Kami

Keluarga kami sudah berjalan selama 5 tahun. Dan banyak ‘hari spesial’ didalamnya yang kami lewati. 

Apa kami antusias menyambutnya? 

Hanya aku yang antusias. Setiap kali moment Anniversary dan ulang tahun aku selalu membuat kue yang bermakna. Menyambut kedatangan suami dengan nyanyian dan lilin yang menyala. Dan kau tau bagaimana responnya ketika aku bilang “Tiup dan yuk kita foto” 

Dia hanya tertawa dan bilang konyol. 

Awalnya itu menyakitkan, aku bahkan pernah menangis karena ketidakpekaannya. Maksudku, bukankah aku membuat kue itu dengan penuh kasih sayang? 

Para Introvert punya ciri khas masing-masing dalam memberikan ‘kejutan’. Suamiku tidak suka dengan hal yang dia rasa ‘kekanakan’. Dan aku? Tidak suka dengan hal yang tidak ada unsur romantis. 

Kami sempat berdebat tentang perlunya sebuah perayaan pada hari spesial. Perlunya kado dan berbagai hal lainnya. Kenyataannya walau dia begitu menolak arti perayaan tapi dia selalu punya kado spesial dihari ulang tahunku.. 😊

4. Komunikasi bagi kami

Apa yang anda bayangkan ketika melihat gambar diatas? Konyol? Hahaha.. 

Tidak, itu tidak terjadi pada keluarga kami. Tapi sometimes its really happen, When? 

Ketika kami bertengkar.. 😂

Tentu saja keluarga normal perlu bertengkar sesekali. Dikeluarga kami itu sudah sering terjadi. Apa yang dilakukan jika kami bertengkar? Saya update status? Haha.. 😂

Kebanyakan aksi yang terjadi ketika kita bertengkar adalah saling diam. Berapa hari? Tergantung tingkat kesadaran dan kepekaan masing-masing. Saya sendiri merasa jauh lebih normal dibanding suami. Mengekspresikan kesedihan dengan menangis dan sesekali update status. Tapi suami? Diam dan selalu diam.. 

Kemudian dia yang meminta maaf.. 😂

Komunikasi bagi pasangan introvert itu unik. Kami punya 2 bahasa komunikasi. Yang pertama dengan bahasa rumit dan panjang. Yang kedua adalah telepathy. 😅

5. Pasangan yang suka Sok Sibuk padahal ‘Pemalas’ 

Entahlah sudah berapa undangan yang kami decline dengan alasan konyol. Sibuk yang konyol. 

Sebenarnya kadar Introvert dariku hanya 60% dan aku yakin kadar introvert suamiku hampir 90%. Karena itu dalam hal ini kami tidak cocok. 

Ketika menerima undangan silaturahmi entah apapun itu aku sangat excited. Aku senang ketika berkumpul dengan orang sejenis denganku. Tapi suamiku? Tidak suka. 😑

Bahkan untuk pergi ke acara pernikahan teman saja dia selalu memiliki seribu alasan untuk menolak. Bagiku, kebanyakan alasannya konyol. Sebenarnya bukan hanya ajakanku saja. Hampir semua ajakan temannya pun begitu. Haha.. 

So.. Jika para ekstrovert sibuk berbisnis, bersilaturahmi dan bereksplorasi diluar. Kami para introvert kebanyakan melakukan kesibukan sendiri diruangan kotak. Sudah sering kami dibilang pemalas karena pekarangan rumah yang terbilang berantakan. Tapi kami tak menyebut dan tak merasa bahwa diri kami pemalas. 

6. Pasangan Pelit atau Hemat? 

Apa yang terjadi ketika dua pendalam ilmu ekonomi bertemu? Terjadilah Double SE (Sarjana Engken Kuadrat). Begitu kiranya orang-orang melihat kami. 

Secara kehidupan ekonomi kami sekarang memang kelihatan ‘sejahtera’. Punya Rumah, Kendaraan, dan berbagai peralatan didalamnya. Tapi apakah kami tergolong keluarga kaya? 

Tidak. 

Aku memang mantan orang berada. Tapi suamiku adalah orang yang jatuh bangun dalam kehidupan ekonomi keluarganya. Namun, aku tak pernah dimanjakan dalam hal uang. Jadi untuk berhemat bukanlah hal sulit bagiku. 

Awal pernikahan kami hingga hampir 2 tahun berjalan aku hanya diberi nafkah 300ribu sebulan. Saat itu, aku tinggal hampir setahun dirumah mama dan hampir setahun dirumah mertua. 

Bisa apa 300rb dengan kondisi hamil hingga kemudian melahirkan lalu punya anak? Bisa saja. 50ribu untuk kuota, sisanya untuk keperluan sehari-hari (dengan catatan masih tinggal dan makan ‘menumpang’). Bagaimana dengan pampers? Aku memakai popok kain untuk anakku. 

Bukannya suamimu PNS? Ya, tapi kami punya banyak rencana didepan. Kami perlu menabung dan tidak menyusahkan orang tua. Akhirnya berkat bakat pelit yang menurut kami adalah hemat itu kami bisa memiliki rumah dan merenovasinya. Bagi kami, rumah adalah investasi. 

Keajaiban diatas tidak akan terjadi jika kami ‘tidak sama’. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan beberapa pasangan yang memiliki passion yang tidak serupa dengan kami. Pasangan ekstrovert contohnya dalam awal masa pernikahan memutuskan untuk berdagang agar mencukupi ekonominya sehingga bisa memiliki rumah. 

Oke, itulah sekilas tentang bagaimana kehidupan rumah tangga kami, para Introvert. Anda memiliki calon ‘pasangan’ yang introvert pula? Kira-kira beginilah gambaran kehidupan Rumah Tangga yang akan terjadi. Hihihi… 

Tertarik menjalin hubungan dengan introvert? Baiklah, saya ingin anda memiliki gambaran bagaimana sebenarnya cara introvert melakukan ‘pedekate’ 😂

Awalnya, aku sendirian. Introvert yang sendirian dan tak menyukai hal yang terlalu ramai dan aku hanya butuh 2-3 teman yang mengerti diriku. 

Namun, teman tak selamanya disampingku. Dia berkata bahwa “teman hanyalah lembaran demi lembaran cerita penghias hidup kita, berteman menyenangkan namun sangat jarang yang benar-benar menimbulkan ‘ikatan’. Ikatan yang akan selalu ada di ‘dunia’ hanyalah keluarga” 

Dan carilah teman yang mengerti tentangmu, memperbaiki kekuranganmu dengan benar. Jadikanlah dia pendamping hidup selamanya. 

Sumber Gambar

Lelaki Introvert vs Ekstrovert.. Pilih Mana? 

Lelaki Introvert vs Ekstrovert.. Pilih Mana? 

Halo para jomblowati? Apakabar? Masih ingat postingan saya dulu tentang 8 Syarat Lelaki yang Patut dijadikan Suami?

Aku rasa tulisan itu masih banyak kurangnya ya. Karena aku pikir-pikir lagi tiap kondisi wanita itu unik. Passionnya unik. Hidupnya unik. Tipenya juga unik-unik. Makanya jangan heran kalo tipe lelaki yang dipilihnya jadi pasangan hidup malah out dari perkiraan kita. 

Apapun itu asal happy ending.. Its okey!!! Its your Choice! 

Tapi sebuah pilihan memang wajib untuk dipertimbangkan terlebih dahulu. Karena menikah adalah pilihan yang tak akan bisa diulang-ulang. 

Memilih karakter dan kepribadian pasangan yang pas adalah salah satu hal yang harus dipertimbangkan dalam mencari pasangan hidup. 

Dalam hal ini aku hanya mengambil lingkup kepribadian pada introvert dan ekstrovert saja. Aku rasa ini adalah basic dari sebuah kepribadian. Jadi tidak perlu lah ya aku menjabarkan menjadi sanguinis, koleris, melankolis dan plegmatis. 

Sebelum berbicara lebih spesifik tentang pilihan dua kepribadian ini terlebih dulu aku mau opening dulu. Kuharap bukan nyurcol ga jelas lagi deh ya.. Haha.. 

Apa itu Ekstrovert? 

Ekstrovert adalah kepribadian yang menyukai dunia luar dan berinteraksi didunia luar. Kalau dalam bahasaku, Ekstrovert itu memiliki dunia bulat. 

Ciri-ciri kepribadian Ekstrovert bagi lelaki adalah:

1. Mudah Bergaul

Lelaki Ekstrovert biasanya mudah dalam bergaul. Hal ini karena pada umumnya orang ekstrovert memiliki aura positif sehingga wajahnya lebih bersinar dan suka tersenyum. Dia tidak sungkan untuk menyapa terlebih dahulu lawan bicaranya. 

Jika didalam lingkup sekolah lelaki ekstrovert banyak dijumpai pada lingkup OSIS hingga anak band. Biasanya lelaki ekstrovert cenderung populer dilingkungannya. Disukai banyak wanita serta memiliki banyak teman dilingkup manapun. 

2. Memiliki Kepercayaan diri yang tinggi

Lelaki ekstrovert biasanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Lihat saja, tipikal pemimpin pada masyarakat biasanya berkepribadian ekstrovert. Lelaki ekstrovert tidak sungkan untuk mengacungkan tangan tanda siap untuk memimpin. 

Lelaki ekstrovert suka menarik perhatian. Dia suka menjadi pusat perhatian karena itulah dia haus akan pujian. Karena kepercayaan dirinya yang tinggi lelaki ekstrovert sangat ambisius dan tak takut dalam mengambil keputusan. 

3. Suka berpetualang 

Lelaki ekstrovert tak betah berlama-lama duduk diam disuatu tempat. Dia menyukai petualangan. Karena itu aku pernah berkata bahwa dunia ekstrovert adalah bulat. 

Lelaki ekstrovert lebih senang menghabiskan waktu luangnya untuk berteman dan berpetualang. Dia sangat jarang berada dirumah. Lelaki ekstrovert senang dengan dunia baru dan belajar dari orang-orang baru dengan media petualang. 

4. Suka berbicara 

Lelaki ekstrovert itu biasanya suka menggombal.. Haha.. Becanda ding..

lah emang bener loh.. 😂

Kenapa ya? Karena biasanya kekuatan lelaki ekstrovert ada pada verbal. Bukan pada kekuatan nalar. Mereka cenderung berbicara sebelum berpikir karena lelaki ekstrovert lebih mengandalkan skill komunikasi. 

Pernah punya teman selalu menang debat padahal kemampuan tertulisnya biasa aja? Ya, dialah ekstrovert. Mereka sih jagonya ngomong! 

Aku bahkan yakin bahwa gombal versi “Bapak Kamu… Bla.. Bla..” pasti dimulai dari ide lelaki ekstrovert. 😅

Oke,itu Lelaki Ekstrovert.. Gimana dengan Introvert? 

Introvert adalah kepribadian yang menyukai dunianya sendiri. Dalam istilahku introvert itu punya dunia kotak. 

Ciri-cirinya? Kebalikan Ekstrovert lah yang pasti. How? 

1. Sulit bergaul

Kebanyakan lelaki introvert lebih sulit bergaul dibanding lelaki ekstrovert. Penyebabnya yaitu aura kepribadian introvert adalah aura negatif yang memiliki flat face dan tidak bisa berekspresi. 

Dalam lingkup sekolah biasanya lelaki introvert terkenal sebagai kutu buku, pecinta anime, juara kelas, hingga penulis mading. 

Lelaki Introvert lebih senang bergaul dengan komunitas yang sealiran dengannya. Biasanya, lelaki Introvert tidak populer dan tidak punya pacar. Hahahha.. 😂

2. Kepercayaan diri Rendah 

Biasanya lelaki introvert memiliki jiwa tampil yang rendah. Dia lebih senang menjadi pejuang dibelakang layar dibanding ‘unjuk gigi’. Biasanya hal ini karena sudah dari sononya mereka jelek 😂

*becanda euy.. 😅

Lelaki introvert tidak suka menarik perhatian. Tetapi dia juga butuh pujian. Bedanya, satu pujian bagi introvert tahan untuk ‘pengisi kebahagiaan’ dalam beberapa bulan hingga tahun. Sementara satu pujian bagi ekstrovert akan expired beberapa hari kemudian. Mari kita ibaratkan pujian sebagai kadar dopamine. 😂


3. Tidak suka banyak bicara

Lelaki introvert tidak suka banyak bicara. Lebih tepatnya apa yang ada pikiran dan yang keluar pada mulutnya tidak sama. 

Tau pribahasa diam itu emas?  

Pribahasa itu berlaku untuk para introvert. Karena ketika berbicara terkadang maksudnya menjadi ‘tidak jelas’ dan membawa pemahaman berbeda. Nalar introvert biasanya lebih meluas dibanding Ekstrovert. Karena itu media yang dia butuhkan untuk berekspresi dengan benar adalah dengan media tulisan. 

4. Punya Dunia Kotak 

Lelaki Introvert adalah tipe rumahan sejati. Aktivitasnya? Dimulai dari membaca buku, baca anime, nonton TV, tidur, main game. Sudah sangat membahagiakan. 

Lelaki Introvert tidak suka dengan dunia luar yang ramai. Dia tidak bisa ‘hidup lama’ didalamnya. Dunianya kotak. 

Well, aku sudah menjelaskan perbedaan antara lelaki ekstrovert dan introvert. Sekarang, yuk kita lihat kelebihan dan kekurangannya:

Lelaki Ekstrovert 

(+) 

Semangat dan Percaya diri tinggi

Punya banyak relasi

Populer

Suka memuji

(-) 

Memiliki kecenderungan selingkuh

Cenderung tidak hemat

Lelaki Introvert 

(+) 

Cenderung Setia

Cenderung Hemat

Jujur dan Polos

Biasanya Pintar

(-) 

Tidak suka jalan-jalan

Jarang memuji

Kaku dan tidak populer


Setiap kepribadian memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah kepribadian mana yang dirasa ‘cocok’ untuk kita? 

Banyak yang berkata padaku “jika kita memiliki kepribadian introvert, maka tutupi kekurangan kita dengan mencari pasangan yang ekstrovert, pun sebaliknya” 

Apa aku percaya begitu saja dengan perkataan itu? Ya, tentu saja.. Masuk akal sekali.. Aku percaya! 

Tapi keinginan tidak selalu berjalan sesuai kenyataan. Sejak remaja hingga kuliah aku tidak pernah sekalipun dekat dengan lelaki yang memiliki kepribadian ekstrovert. Jikapun dekat, tak pernah bertahan lama. Sebagian ‘kupikir’ hanya sekedar iseng atau bermain-main. 

Kenapa? Karena tidak nyambung! 

Kepribadian ekstrovert dan introvert jelas berlawanan. Dari segi manapun kepribadian ekstrovert dan introvert saling mengkritik satu sama lain. Dan jarang sekali mendapati saling pengertian antar keduanya. 

Apa itu pendapat pribadi?

Sejauh ini pendapat itu berdasarkan pengalamanku saja. Memang ada sebagian yang betah tetap bersama dengan kepribadian yang berlawanan dengan alasan “saling menutupi kekurangan masing-masing” 

Namun, izinkan aku untuk membuka sedikit pemikiran.. 

Berapa 3-3? 0

Berapa 3×3?9

Terus? Apa hubungan matematika dasar diatas? Hehe.. 

Oke, Saling menutupi kekurangan adalah hal yang baik. Tapi dalam realita rumah tangga saling menutupi kekurangan sebenarnya adalah hubungan yang tidak produktif. 

Tidak produktif? 

Ya, suatu hubungan butuh kerjasama dari dua orang yang berkomitmen dan solid. Bagaimana bisa hubungan akan berjalan baik jika masing-masing sibuk menutupi kekurangan satu sama lain saja? 

Menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing individu, bukan tanggung jawab orang lain. 

Terus?

“Find Someone who Complimentary not Supplementary” (Opprah Winfrey) 

Kesimpulannya? Jika anda ekstrovert, cari pasangan ekstrovert. Anda akan bahagia menemukan satu pasangan yang satu hoby dengan anda. Hoby yang sama akan membangun rasa cinta yang besar terhadap pasangan masing-masing. Anda bisa menghabiskan hidup dengan mencintai petualangan tanpa harus repot dikritik oleh pasangan masing-masing. 

Jika anda introvert, cari pasangan introvert pula. Akan sangat lucu jika suami menyukai dunia bulat sementara anda menyukai dunia kotak. Hoby introvert jika berkembang dan didukung oleh pasangannya akan menghasilkan hal yang produktif pula. 

Apa jadinya jika kita memilih seseorang yang berkepribadian bersebrangan dengan kita?

Ya, pribadi yang dominan akan ‘mendominasi peraturan rumah tangga’. Apa efeknya? Efeknya kita tidak bisa menjadi diri sendiri karena identitas asli dan bakat kita tertutup. 

Oke, sekian tulisan edisi ‘mencari cinta’ part 2 yang saya tulis. Memang, tulisan ini tidak aplikable untuk setiap orang. Tapi, paling tidak mungkin anda dapat sedikit pencerahan.. 🙂 

Sumber Gambar

8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

8 Hal yang membuat Stay at Home Mom Gagal Move On

Setiap wanita didunia diciptakan dengan rahim yang berbeda serta lingkungan yang berbeda pula. Hal itulah yang membuatnya unik antara satu dengan yang lain. Keunikan dari setiap karakter dan passion wanita terkadang membuatnya memilih jalan yang berbeda pula ketika dewasa. Ada yang memilih untuk mengutamakan perkembangan diri dengan menunda-nunda pernikahan. Ada yang merasa menikah akan meningkatkan kualitas hidupnya dibanding menyandang status single sehingga memutuskan menikah dini. Ada pula yang beruntung, bisa menikah serta sekaligus dapat mengembangkan diri dalam rutinitas rumah tangga_mengurus anak dan suami.

Tentu setiap pilihan dari wanita setelah menikah adalah pilihan yang berharga. Stay at Home dan Working Mom itu adalah Super Mom. Tidak ada yang melebihi status spesial dari pada yang lain. Status Ibu_apapun plihannya adalah status mulia.

Ya, status mulia dengan tanggung jawab besar. Hanya saja dalam mengelola tanggung jawabnya sang Ibu diharuskan selalu bahagia. Ibu yang tidak bahagia akan menghasilkan output yang tidak sempurna_tidak bahagia pula.

Siapa yang tidak bahagia? Working Mom? Stay at Home Mom?

Yeah.. Kata siapa Ibu yang fokus mengurus rumah tangganya dirumah saja akan selalu bahagia? Ya, Belakangan ini aku sering melihat beberapa keluhan, terutama dari Full time Mother. Keluhan itu awalnya adalah keluhan kecil_kemudian membesar dan merembet pada hal-hal yang besar. Ledakan dari keluhan Full time Mother tidak jarang menjadi sorotan disosial media. Apa yang salah dengan selalu berada dirumah sehingga membuat Ibu tidak bahagia?

Apa sebenarnya yang membuat para Ibu (Pepes) ini begitu depresi dirumah?

Ya.. Ya.. Aku tau.. Mereka mempunyai seribu alasan dibalik itu. Aku juga pernah merasakannya selama 2 tahun. Padahal, pilihan menjadi Full Time Mother adalah pilihanku sendiri. Lantas, bagaimana bisa aku tidak bersemangat menjalaninya?

Yup, itulah yang dinamakan IRT gagal Move On. Jadi, ngapain jadi IRT tulen kalo ujung-ujungnya dia kerjaannya depresi dikamar dan mengurus suami dan anak dengan tidak ikhlas? There’s something Wrong Mom. U know it.

Apa saja sih yang membuat IRT ini gagal Move On? Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Memesan Menu yang ‘SALAH’ 

Menu? Salah? Eh, kau pikir ini makanan?

Iya, rumah tangga itu adalah sebuah pilihan mom. Pilihan menu, begitu sederhananya.

Bayangkan aja, anda berada disebuah restoran. Anda ‘buta’ dengan nama menu yang ada direstoran tersebut. Kemudian memesan makanan secara asal. Ketika makanan datang, anda malah mau mun*ah dengan rasa makanannya.

Anda punya dua opsi saat itu. Yang pertama adalah memaksa tetap makan dan munt*h setelahnya. Yang kedua adalah mengganti menu yang lain.

Kebanyakan Rumah Tangga berjalan dan baru sadar 2-3 bulan hingga beberapa tahun bahwa dia menjalani pilihan hidup yang salah. Pilihan yang salah ini seharusnya dapat didiskusikan dan direnungkan bersama dengan suami. Katakan apa yang sebenarnya anda inginkan. Pilihlah menu yang benar yang sesuai dengan Passion anda.

2. Tidak memiliki Tujuan Hidup yang jelas

Kebanyakan Full Time Mother melupakan inti tujuan hidupnya. Selama berjam-jam lamanya setiap hari mereka lebih memilih menghabiskan waktu hidupnya sebagai Inem Tulen dirumah.

Lah? Emang salah? Nyapu, masak, nyuci itu pahala. Kamu kan ga tau bla bla bla..

Iya, iya Momm.. Saya tau. Tau banget malah.. 😅

Masalahnya disini adalah terkadang Ibu dirumah itu terkena sejenis ‘Genjutsu’ (kumat bahasa naruto saya) ketika berada dirumah. Terlena dengan kegiatan dirumah sehingga lupa dengan list list wajib yang seharusnya lebih dia utamakan. List Visible Job yang membuatnya seharusnya bahagia.

Setiap Ibu dengan Passion berbeda tentu memiliki tujuan berbeda pula. Maka, disini saya tidak akan menggurui kira-kira apa patutnya tujuan yang membuat hidup Ibu lebih bersemangat. Kan aneh ya kalo saya bilang

“Gimana kalo nyusun kegiatan belajar anak seminggu?”

“Gimana kalo nyusun daftar kue n masakan yang belum pernah dicoba? ”

“Gimana kalo minggu depan diadakan pertemuan antar Ibu-Ibu… Dan ini kegiatan yang akan dilaksanakan”

“Gimana kalo Besok Beli Ini, dibikin ini trus digini.. Digini”

Ya.. Itu contoh ya Ibu-ibu.. Jangan dibawa baper.. Sebagai saran akhir saya cuma bisa bilang pilih tujuan hidup yang bermakna Investasi masa depan dan minimal sesuatu yang Visible. Jangan ngerjain sesuatu yang invisible aja (nginem). Itu pahala emang bu.. Pahala.. Tapi kita butuh sesuatu yang visible supaya hidup kita makin semangaat.

Mulailah membuat list tujuan hidup baru. Tuliskan pada secarik kertas dan ditempel pada dinding kamar. Trus? Gimana kalo semuanya tidak kesampaian? Jangan mikir kesitu dulu buu.. Yang penting anda sudah menulis sebuah tujuan. Itu adalah sebuah niat yang mulia apapun hasilnya nanti.

3. Berada didunia yang salah

Ada beberapa Stay At Home Mom yang menikmati pekerjaannya dirumah. Cukup puas dengan melatih skill memasak, mendokumentasikan kegiatan dengan anak, berjualan online, ataupun menulis. Ialah Ibu yang Introvert. Ibu yang cukup senang berada didunia kotak.

Tapi ada beberapa Ibu yang bagaimanapun usaha dan kegiatannya dirumah maka perasaannya tetap saja bosan. Ibu jenis ini adalah Ibu yang ekstrovert. Ibu yang butuh piknik, kuliner, kerja diluar dan Silaturahmi. Ibu yang butuh dunia bulat, bukan kotak.

Apa jadinya jika si Ibu Ekstrovert berada didunia kotak? Dan apa jadinya Ibu Introvert yang berada didunia Bulat?

Ya, mereka tidak bisa berkembang. Karena setiap Ibu punya dunia masing-masing yang membuatnya merasa hidup.

4. Tidak memiliki Komunitas yang Mendukung

Aku sering mendengar Working Mom nyinyir  “Ibu anu tu kerjaan tiap sore pasti deh ngerumpi di rumah ibu anu, ngumpul sampe jam 5 sore. Ngapain aja sih ga ada kerjaan aja”

Hihi, iya.. Syukur aja ya ngomong sama aku yang cenderung suka dirumah dan punya komunitas onlineku sendiri. Tapi gimana dengan Ibu yang disebutnya tadi?

Ya, Ibu tersebut adalah jenis Ibu yang haus akan Silaturahmi. Jika menulis adalah wujud dari cara mengatasi kewarasanku maka bicara adalah alat pemuas kebutuhan bagi Ibu tersebut. Lagi pula, tau apa Ibu bekerja tentang pentingnya ngerumpi? Toh mereka juga punya teman dan komunitas sendiri dikantor.

Komunitas adalah kumpulan dari beberapa orang dimana didalamnya terdapat berbagai jenis orang yang memiliki tujuan yang sama. Komunitas ini penting bagi Ibu Introvert maupun Ekstrovert. Karena walau bagaimanapun juga tidak ada Ibu yang hobi ngomong sendirian kecuali dia gila. Bagi Ibu Ekstrovert ngerumpi dengan tetangga adalah jenis terapi melalui komunitas. Bagi Ibu Introvert, wujud komunitas dengan menulis dimedia Online seperti WA, Bbm, Fb, Twitter dan Instagram adalah jenis terapinya.

5. Tergila-gila dengan Kesempurnaan

Ada yang begini? Suka menyempurnakan segala sesuatu hal terkait suami anak dan rumah? Ya, itu aku.

Dulu sejak memutuskan menjadi Full Time Mother aku sering membaca artikel berkaitan dengan Parenting hingga tentang Masakan dan Baking. Aku ingin seperti Mama-mama kece yang sebegitu gampangnya menulis hal-hal ini.

Anak tak boleh lama-lama didepan TV, tidak boleh mainan gadget. Anak it seharusnya bla bla bla.. 

Istri yang disayang suami adalah istri yang jago ini.. Ini.. Ini.. 

…dan bagaimana pun beratnya tugasmu Rumah harus RAPI DAN BERSIH. 

Aku melakukan semuanya selama setahun dan menyadari bahwa diriku hanya terkikis habis untuk mengejar sebuah kesempurnaan tanpa mengasihani diriku sendiri. Ya, aku perlu aktualisasi diri dan mengurangi kadar sempurna.

Bagaimanapun juga hidup wanita harus seimbang. Ia tidak bisa menjadi sempurna dimata anak dan suami saja. Ia butuh menjadi pribadi yang sehat pula.

Mengejar kesempurnaan juga patut berlaku pada Working Mom. Ya, jika Full time Mother mengejar kesempurnaan untuk suami dan anaknya maka biasanya tidak jarang ada pula working mom yang mengejar kesempurnaan untuk aktualisasi dirinya saja sehingga melupakan kewajibannya dirumah.

6. Memiliki Suami yang Mendominasi

Memiliki tipe suami yang otoriter adalah salah satu hal yang membuat Full Time Mother tidak bisa Move On. Suami yang egois, merasa statusnya sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah menjadikannya alasan untuk mendominasi segala peraturan dirumah.

Type suami seperti ini akan sulit sekali membuat sang Ibu Move On. Karena gerakan sang Ibu seperti terbatasi oleh tali tak terlihat yang dlilitkan ditubuhnya.

Jika memiliki type suami seperti ini maka ada baiknya anda mengajaknya berbicara. Kemukakan segala keinginan anda. Karena biarpun anda adalah Guru dirumah anda_bagaimanapun juga suami adalah kepala sekolahnya.

Dan buat para suami, jadilah suami yang demokratis. Suami yang bisa melihat, mendengar dan menyejukkan jiwa istri dirumah. Bukan hanya menuntutnya menjadi serba sempurna dalam segala kegiatannya.

7. Kurangnya dorongan Semangat dari Suami

Dibalik suami yang luar biasa selalu ada istri luar biasa dibelakangnya.

Dibalik istri luar biasa selalu ada suami luar biasa yang mendukungnya.

Ya.. Ya.. Istri perlu dukungan dan semangat darimu wahai suami…!!!

Aku pernah bertemu dan melihat berbagai tipe lelaki. Ada yang ekspresif, jutek namun perhatian, hingga lebay tingkat tinggi. Tapi dari semuanya yang paling menyebalkan adalah tipe lelaki flat face dan robot feeling.

Apa itu Flat Face and Robot Feeling? Yup suami yang jarang tersenyum. Suami yang tidak ekspresif hanya menjawab segala pertanyaan sang istri hanya dengan “Iya” atau “terserah” dengan muka flat seakan akan tidak perduli. Keadaan ini diperparah dengan sibuknya jam kerja dari suami diluar. Aku berani bertaruh, Full Time Mother yang memiliki suami tipe begini lama kelamaan akan stress tingkat tinggi.

Jangankan memberi semangat untuk maju kepada sang istri. Menjadi pendengar yang baikpun suami tipe begini tidak bisa. Jika kebetulan suami anda seperti ini ada baiknya anda menulis surat padanya. Kemukakan segala perasaan anda. Biasanya suami tipe seperti ini lebih ekspresif pada media tulisan. Ya, bisa jadi dia introvert robot yang benar-benar tulen. Tidak ada salahnya dicoba bukan? 🙂


8. Menyalah-artikan kata ‘Syukur’ 

Menyalah-artikan makna syukur adalah hal yang paling sering aku jumpai pada Full Time Mother.

Apa itu syukur? Syukur adalah sebuah rasa berterima kasih yang tinggi atas segala karunia yang diterima dalam kehidupan yang diperoleh dari usaha. 

Ya, usaha Ibu-ibu.. Bukan hanya bersyukur karena Gajih Suami cukup kemudian kita bisa memasak enak lalu segala urusan rumah tangga selesai.

Memasak usaha juga kok.. 

Iya, memasak juga usaha. Namun, pastikan anda senang mengerjakannya. Menganggapnya adalah bukan hanya sebagai media untuk menyenangkan suami tapi juga merupakan passion anda. Karena percuma jika kita mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai. Perasaan itu akan menimbulkan rasa tidak ikhlas kemudian mencemari rasa syukur itu sendiri.

Aku percaya kadar tingkatan usaha dalam rasa syukur setiap Ibu berbeda-beda. Ya, setiap ibu punya ladang pahalanya sendiri. Tapi pastikan anda melakukannya sesuai dengan passion yang sesuai dan dilandasi rasa ikhlas.

IBX598B146B8E64A