Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

“Sayang banget ya kalau udah tinggi-tinggi sekolah, eh ujung-ujungnya cuma jadi IRT..”

“Iya… Bukannya apa ya. Dulu kamu kan punya cita-cita jadi bla bla. Sayanglah. Kan kamu pinter..”

“Kalau punya mimpi kejarlah mimpi itu. Jangan jadikan anak sebagai alasan. Itu terlalu klise..”

Perkataan-perkataan itu, sering sekali kadang mengelilingi kehidupanku. Lalu aku bertanya pada makhluk-makhluk yang mengeluarkan statement tersebut didalam hati. 

“Memangnya.. Kalian sendiri sudah menggapai mimpi kalian yang dulu?”

Dear Diriku: Masihkah ada Mimpi yang dulu? 

Jika ditanya sebuah mimpi atau itu cita-cita atau itu rancangan masa depan maka bisa dibilang aku adalah makhluk ‘terlabil’ dalam merancang sebuah mimpi. 

Aku pernah bercita-cita menjadi Guru TK yang cantik, menjadi model yang cantik, menjadi sailor moon, menjadi detektif, hingga kemudian aku masuk kedalam lubang materialisme saat remaja. Lalu tujuan hidupku mulai abstrak. 

Saat melihat kakakku sukses kuliah di kedokteran dan dipastikan masa depannya secerah intan berlian, aku si anak biasa-biasa saja cuma punya satu mimpi saat itu. 

“Apapun yang terjadi, aku ingin lebih sukses dibanding kakakku..”

Terjunlah aku kedunia ekonomi di kampus karena berharap menjadi orang kaya dimasa depan. Tapi, bukan jurusan ekonomi akuntansi di universitas ternama, melainkan di D4 Ekonomi syariah lebih tepatnya. Aku terjatuh mental 2 kali untuk masuk di jurusan akuntansi yang kuinginkan. Mungkin keberuntunganku sudah habis, mungkin juga stoknya masih bersisa untuk dua hal..Jodoh dan rejeki. Saat itu, aku percaya pada opsi terakhir. Keberuntunganku hanya tertunda. 

Saat lulus aku bermimpi untuk sekolah lagi. Entahlah kurasa dunia kampus itu menyenangkan sehingga aku berkeinginan untuk bekerja di kampus. Apapun, asal itu di dunia pendidikan. Tapi, jodoh memanggilku dengan cepat. Ia adalah asisten dosen dikampusku sendiri. 

Orang bilang, hidup ini bukan ditentukan tentang bagaimana kita memilih sebuah pilihan. Tapi, tentang bagaimana kita melihat sebuah kesempatan. 

Aku, melihat jodohku bukanlah sebuah pilihan. Melainkan kesempatan. Aku, memilih menjadi ‘bucin’ dibanding mengejar cita-citaku. Dan aku? Menikah. 

Impianku pun labil lagi. Aku sangat puas bisa menikah layaknya putri di negeri dongeng. Pernah berperan layaknya menjadi cinderella, lalu putri salju, lalu aladin. Setidaknya, adegan disetiap dongeng itu pernah aku alami. *tentunya adegan yang biasa saja, namun imajinasiku melebih-lebihkannya. Haha. 

Aku sempat ingat dengan mimpiku dikala remaja. Sempat bersemangat lagi. Tapi kemudian, aku hamil dan harus LDR dengan suami. Tidak adanya support sistem membuat mimpi itu tertunda. Lantas, seiring berjalan waktu.. Coba tebak apakah mimpi itu masih ada? 

Masihkah aku seambisius dulu? Setelah beberapa tahun berlalu? 

I’m a realistic person.

Pernahkah kalian menonton film start up? Apakah kalian bisa paham perasaan Dal Mi? Kenapa dia lebih memilih tidak kuliah dan memakai uang neneknya untuk membuat toko baru untuk neneknya?

 

Karena itulah langkah yang bijak dimatanya. 

Dan itulah aku yang sekarang. Kuliah? Bekerja di bidang pendidikan? Its not me anymore. 

Apa boleh buat, ternyata berkorban itu candu. Termasuk mengorbankan impian. Dan tahukah? Ternyata candu itu tidak jelek. 

Ketika Mimpi Itu Menemukan Cabangnya

“Aku percaya, setiap pilihan seorang Ibu itu baik. Mau bekerja atau hanya menjadi IRT. Semuanya baik. Asalkan.. Ambisi dan Semangatnya selalu terisi. Bukan sekedar terisi karena bahagia. Tetapi terisi karena mimpi itu masih ada.” -Shezahome

Krisis pencarian jati diriku memiliki nasib seperti Do San. Segalanya abstrak. Tapi, ketika bertemu dengan jodohku maka segalanya terasa jelas jalannya. 

“Mimpiku dulu selalu sendirian. Tapi, sejak tangan itu ada. Mimpiku jadi bercabang. Dan aku menjadi bersemangat.”

Delapan tahun aku berumah tangga dari ekonomi yang down hingga bisa membantu ekonomi orang lain. Dari mendukung suami menjadi dosen, hingga mendukung suami mendirikan perusahaannya. Dan yang terpenting, aku menikmati proses itu. Tanpa kusadari, aku pun sedang membangun mimpiku sendiri. 

“Ketika manusia kehilangan impian, maka segala semangat itu hilang. Manusia harus punya mimpi untuk bersemangat hari ini.”-My Hubby. 

Aku percaya, bahwa setiap perempuan memiliki mimpinya masing-masing. Adalah tidak apa-apa jika ia bermimpi karirnya harus sedemikian. Juga tidak apa-apa jika ia merasa cukup dengan apa yang ia dapatkan. Selama ‘impian rumah tangga’ selalu mendapatkan tangga teratas, kenapa tidak? Selama ibu tidak ambisius menurunkan mimpi gagalnya pada anaknya.. Kenapa tidak? Jangan takut untuk meneruskan mimpi. Dan ya, hidup harus punya mimpi. Bukan sekedar mimpi membahagiakan orang yang disayang. Tapi juga mimpi untuk merawat keinginan diri sendiri dan mengontrol batasannya. 

Mengejar Mimpi, Adakah Batasnya? 

Mengontrol batasannya? Apa maksudnya? 

Sesungguhnya, aku menulis ini terinspirasi dari film Soul. Ada yang pernah nonton? Sungguh, film ini menarik sekali. Apalagi untukmu yang sedang mengejar mimpi. 

“Ketika kecil kita memimpikan sungai, ketika remaja kita memimpikan laut, lantas.. Ketika sudah semakin tua, Laut mana lagi yang kau cari? Itu tidak ada batasnya. Carilah zona aman yang produktif. Yang membuat dirimu senang dan bisa menyenangkan.”

“Kita terlalu lelah mengejar hari esok. Merancang rencana-rencana masa depan. Hidup seakan menerka nerka sebuah kemungkinan, mencegah hal buruk terjadi di masa depan. Tapi kemudian kita lupa, lupa akan hal yang paling penting. Yaitu menikmati masa sekarang.”

Kalau pada teori ekonomi islam ada istilah, “Kebutuhan manusia terbatas, keinginan manusia yang tidak terbatas..”

Maka, mungkin dalam teori psikologis mungkin ada istilah, “Impian manusia sebaik-baiknya adalah yang merasa cukup akan apa yang sudah ia gapai. Melupakan sejenak tentang ambisi di masa depan dengan memberikan yang terbaik saat ini, waktu ini, hari ini.”

Terdengar seakan menyerah, tapi sesungguhnya tidak seperti itu. Zona aman itu tidak selamanya jelek. Sejauh dalam zona aman, kita selalu bisa membahagiakan orang lain. Kadang, mimpi yang tiada batasnya itulah yang tidak baik. Saat kita tidak bisa menikmati saat ini karena terlalu berpikir untuk masa depan. 

“Ketika manusia terlalu banyak bermimpi, berambisi.. Ia menjadi egois. Ia abaikan kasih sayang dihadapannya. Ia tak kenal ‘rasa cukup’. Ketika manusia kehilangan jiwa sosialnya, lalu kehilangan kasih sayang karena mengejar mimpi maka ia tak lagi menjadi seorang manusia yang hangat. Ia layaknya seekor ikan yang tak kunjung puas dengan perairan di terumbu karang. Terus berjalan mencari laut hingga tersesat di palung hitam.”

Ya, mimpi itu harus memiliki batas. Sudah mengerti bukan tentang batas yang aku maksud? I mean, berhentilah hidup untuk perencanaan demi perencanaan yang tiada habisnya. Hidup harus seimbang. Hiduplah dengan maksimal di hari ini. Maka, di hari-hari berikutnya akan ada mimpi tak terduga. 

Aku, selalu percaya akan hal itu. 

Dan apalah yang kita kejar di dunia ini? 

Bukankah kita lahir untuk belajar, lantas berbagi kasih sayang. Lalu ‘mewariskan kebaikan’. Jika mimpi kita berlebihan dan membunuh semuanya. Cukupkan sampai disini. 

Hiduplah dengan Maksimal Hari ini Kemudian Mimpi Itu akan Datang. 

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Mengejar mimpiku dan meninggalkan hal yang seharusnya aku jalani?” Aku bertanya padanya. 

“Bukan meninggalkan. Tapi mencoba memilih opsi yang lain. Kamu mengagumkan win. Hidupmu tak seharusnya berputar antara dapur, sumur dan kasur saja..” Temanku berkata. 

“Kamu tahu? Seorang wanita ketika menikah dihadapkan pada 2 pilihan dalam membangun mimpi. Tidak ada yang salah. Yang satu membangun mimpinya sendiri. Sedangkan yang lainnya mencoba menguatkan mimpi suaminya, mendukungnya, ikut bersamanya. Meraih dahaga yang berbeda untuk menyegarkan dirinya sendiri. Kamu sungguh sangat beruntung memiliki opsi untuk mimpimu sendiri. Tapi aku? Aku berbeda. Aku tidak bisa sepertimu. Aku adalah seorang partner. Bukan lagi winda yang individualis. Apa boleh buat. Aku sudah berkenalan dengan cinta. Tetaplah hidup dengan mencintai versimu sendiri, aku hidup dengan cinta versiku sendiri. Tidak ada yang salah dalam langkah kita. Keduanya mengagumkan.”

Dan setelah bertahun kemudian. Aku bertemu dengannya lagi. Masih dalam mata yang sama. Kasus yang sama. Tapi, status yang berbeda. 🙂

Dan akhirnya, aku membenarkan kata-kata ini:

“Tidak ada yang namanya pilihan yang salah jika didasari oleh Cinta..” – 

Anne Of the Green Gables

Aku, seorang Ibu biasa. Delapan tahun aku menjalani hari-hari ‘biasa’ layaknya Ibu Rumah Tangga. Awalnya membosankan, lalu aku sempat depresi, kehilangan mimpi. Kehilangan diriku sendiri. 

Tapi, segalanya berubah sejak aku menemukan ‘jalan ninjaku’ sendiri. Menikmati hari-hariku sendiri. Tidak selalu bertumpu pada masa depan. Selalu berkata ‘tidak apa-apa’ ketika target hidupku lepas. Setidaknya, aku selalu memiliki orang yang bisa kupeluk dan aku semangati. Orang itu, telah membawaku menjadi aku yang sekarang. Dan aku tidak pernah menyesal mendukungnya dari awal. 

Ya, aku tidak menyesal. 

Jika saja dulu aku bersikeras untuk bisa mengambil beasiswa dan terikat di kampus yang memiliki jarak berbeda dengan suami. Maka besar kemungkinan aku dan dia akan LDR. Meski status ekonomi pasti sangat baik dari awal pernikahan, tetapi aku tidak bisa menjamin pernikahanku akan baik-baik saja. Atau suamiku akan baik-baik saja. Dan entahlah bagaimana dengan anakku. Aku bukanlah seseorang yang multitasking. Jika aku mengejar ambisiku, maka mungkin aku tidak akan berada di titik yang sekarang. Begitupun suamiku, tidak akan sesukses sekarang. 

Aku memilih langkah berbeda. Menjalani hidup dengan maksimal ‘di masa sekarang’. Melupakan tentang masa depan. Menekuni hobi yang abstrak. Memasak, berdandan, menulis, bercerita, belajar, mengikuti komunitas, belajar lagi. Tidak menghasilkan uang tentu. Dipandang biasa saja? Tentu saja. Hal biasa itulah yang mengubah masa depanku. 

Kini, aku bersyukur. Semua mimpiku sudah hilang. Tapi digantikan oleh mimpi yang baru. Tanggung jawab yang baru. 

Aku bersyukur mendedikasikan hidupku untuk keluargaku. Karena keluargaku telah membantuku menemukan jati diriku. Kalian tau? Aku tidak pernah berhasil menemukannya sendirian. Ketika single dulu selama 22 tahun.. Tidak pernah berhasil. 

Jadi, Haruskah seorang Ibu mengejar Mimpinya? 

Jawabannya bukan padaku, tapi pada dirimu sendiri. 

Cara kita tak selalu sama. Tapi satu hal yang sama.. 

“Hiduplah dengan maksimal hari ini”

NB: Please jangan cuma baca judul, headline, dan secuil-cuil kalimat saja lantas ehm.. komentarnya seperti menghakimi penulis seakan ‘menyerah’. Sungguh ini jauh sekali bukan tentang itu..:)

Komentar disini yuk
0 Shares

20 thoughts on “Haruskah seorang Ibu Mengejar Mimpinya?

  1. Saya jadi ingat mimpi-mimpi saya waktu kecil, banyak banget ternyata, tetapi akhirnya saya menjalani kehidupan yang jauh dari impian-impian masa kecil itu. Saya setuju dengan pendapat mbak, bahwa kita harus menurunkan ego kita demi keadaan yang telah ditakdirkan.

  2. Aku mungkin salah satu orang yang ngga punya cita-cita, tapi seiring waktu jadi seorang ibu, entah aku hanya ingin anak-anak bahagia. Tapi semakin ke sini, ternyata target/cita-cita itu perlu, supaya kita terus semangat untuk mencapainya, tentunya tanpa ngorbanin anak dan keluarga, setidaknya itu menurutku mbak.

  3. Sebenarnya mimpi-mimpi kita itu terkoneksi loo…
    Maksudku, jika kak Aswinda bermimpi menjadi guru TK, sekaranglah impian itu terwujud. Bisa menjadi guru bagi si kecil yang cantik jelita di rumah.

    Aku juga dulu punya cita-cita menjadi putri ((hahhaa…cita-cita setiap anak perempuan)) dan Allah memberiku 2 putri yang harus aku besarkan dengan sepenuh hati. Jadilah, kita bertiga bisa role play sebagai putri-putri di rumah sendiri.

    Hhiihi…gak kebayang cita-cita yang gimana-gimana siih…

  4. aku percaya kita semua punya mimpi dan berhak untuk mewujudkan. Mimpi aku juga kerap berubah mba… akhirnya disesuaikan dengan apa yang bisa kita capai

  5. Seneng bacanya mbak, aku tu punya mimpi tertunda yang sedang ku kejar tapi kadang aku jatuh bangun up down sama perasaanku sendiri haha
    Soalnya emang saat udah jd ibu tuh prioritas utama wajib anak.
    Tapi msh berharap akan tiba waktunya nanti dapat mewujudkan apa yang diinginkan. Dan ku rasa gk akan terlambat. Wong mbah2 aja bisa jd wapres di Indonesia dan bisa presiden di amerika hehe

  6. Pada akhirnya perjalanan akan membawa kita selalu pada persimpangan ya mba. Dan di setiap jalan yang dipilih selalu ada destinasi, ke sanalah kita akan menuju. Dan menurut saya, ini bukan lagi tentang bermimpi atau tidak, tetapi tentang membangun masa depan mencapai tujuan dari jalan dan pilihan yang sudah kita ambil… Be happy, dan buat setiap pilihan kita menjadi berarti,,,

    Big huge mba… we are in the same boat but of course we are going to deferent destination….

  7. Aku pun cita-cita hidupku berubah-ubah mbak.
    Aku pun punya mimpi yang sampai sekarang belum tercapai. Pada suami pun aku bicarakan mimpi itu, dan dia mendukung 100%. Tapi akhirnya aku memilih untuk tak mengejarnya, aku memilih untuk tetap berada di sisi suami dan anak-anak.

    Pada akhirnya pilihan itu memang ada di pribadi masing-masing mbak. Orang lain mau komentar jelek, menyalahkan atau menghakimi ya cuekin aja. Emangnya dia mau bantu kalau kita “jatuh tertimpa tangga pula”

  8. Hidup kita, kita yang tsntukam targetnya karena kita yang jalani.
    Saya pun resign dari pekerjaan biar bisa mengurus keluarga, itu pun sebuah cita-cita. Bisa tetap dekat keluarga tapi berpenghasilan secara online.

  9. Hiduplah dengan maksimal dan lakukan yang terbaik dan jangan menyesalinya

    Kalau sudah jadi Ibu, pasti gak mudah buat ngejar mimpi. Jadi pilih opsi lain, atau cari mimpi lain sesuai dengan kita, yang membuat kita bahagia

  10. Hiduplah dengan maksimal dan lakukan yang terbaik

    Kalau sudah jadi Ibu, pasti gak mudah buat ngejar mimpi. Jadi pilih opsi lain, atau cari mimpi lain sesuai dengan kita, yang membuat kita bahagia

  11. tiap orang pastinya punya mimpinya masing-masing namun tiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menggapai mimpinya. ada yang konsisten untuk terus menggapai mimpi, ada yang selow ada juga yang menggantinya dengan yang lain

  12. Berbicara mimpi, rasanya sampai detik ini aku kehilangan semangat untuk mimpi itu setelah sekian banyak hal yg aku lalui, malahan kek ikuti arusnya saja dan tidak memaksakan diri ketimbang setress, entah jalan yg dipilih benar ga nya sih ini tp kehilangan selera aja rasanya. ๐Ÿ™

  13. Whuah, mimpi seorang perempuan terkadang bias karena kewajiban-kewajibannya setelah bersuami. Menurutku, mimpi seorang perempuan bisa dibicarakan dengan suami. Dicari jalan tengah agar tidak berbenturan dengan urusan keluarga.

  14. Baca cerita ini jadi ingat kata kata di anime one piece, “impian manusia memang tidak pernah berakhir” .
    Sampai sekarang Nisa juga sering labil dalam pengejaran mimpi. Tapi akhir akhir ini, lebih sering menikmati apa yang terjadi hari ini haha

  15. Aku membaca detail tulisanmu nih win.intinya menurutku si,jangan mengukur sepatu kita dengan sepatu orang lain.tak pernah sama kok..ketika menjadi ibu mungkin banyak mimpi yang terkubur lalu berganti dengan mimpi baru.buatku si gpp dikejar asal restu suami dan keluarga.inshaAllah mimpi apapun buat keluarga juga

  16. Seorang ibu pasti punya mimpi. Aku pribadi sebagai orang yang cepat berpuas diri, untuk sekarang nggak muluk-muluk, punya mimpi ‘my son bisa jadi orang yang sukses dunia akhirat’. Jadi bekal ilmu yang kudapat selama di bangku sekolah & kuliah bisa kupraktikkan untuk membantu my son reach the goal.

  17. Related banget dengan artikel ini Mba ๐Ÿ˜€ *sending virtual hugs*
    Kadang daku juga dilanda kebingungan bin clueless, ini mana nih yang mau aku gapai? heheh.
    But, it’s okay, memang tidak semua hal bisa kita dapatkan di dunia ini ya.
    You win some, you lose some ๐Ÿ˜€

Komentari dong sista

Your email address will not be published.

IBX598B146B8E64A