Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

Pernahkah merasa bahwa kehidupan itu sejatinya tidaklah lurus?

Ia selalu menghadapkan kita pada pilihan.

Pilihan itu tidak cukup sekali.

Ia bercabang.

Lagi, lagi dan lagi.

Tiada habisnya.

Dan terkadang. Pilihan itu membuat pola tujuan kita berubah. Cita-cita yang berbelok dan terus berbelok. Sehingga kadang kita bertanya-tanya, “Masihkah aku dijalan yang benar? Sudah seberapa jauh aku dari tujuan awalku?”

“Apakah Passionku sudah sedemikian terdepresiasi?”

Ya, Pertanyaan tidak asing bagi seseorang yang telah membagikan seluruh hidupnya untuk mengabdi menjadi Ibu Rumah Tangga ‘Sejati’

Sebenarnya, Apa Passion Itu?

Seseorang berkata padaku, “Jika kau mengerjakan sesuatu selama berulang-ulang. Tiada bosannya. Bahkan ingin selalu meningkatkan kualitas dari pekerjaan itu. Kemudian, kamu senang melakukannya. Kamu bahagia untuk itu. Maka hal yang telah kau lakukan adalah Passion. Senjata yang membuatmu dapat menghadapi dunia.”

Passion adalah salah satu makanan batin untuk bertahan hidup. Passion adalah skill menyenangkan untuk menghadapi dunia.

Maka, bohong besar kalau selama manusia hidup ia tak pernah memiliki kesenangan hal yang dilakukan. Tidak punya hoby. Tidak punya bakat. Tidak punya tujuan. Bohong besar.

Seseorang yang telah kehilangan passionnya berarti ia tidak punya makanan batin untuk dirinya sendiri. Hei, benarkah itu?

Bagaimana Jika Passion kita Terkubur?

source: dream dictionary

Kadang, pilihan itu sulit. Bercabang. Membuat masalah-masalah baru. Memaksa kita untuk beradaptasi. Berubah. Berubah dan terus berubah. Syukurlah jika dari ulat menjadi kupu-kupu. Tapi bagaimana jika perubahan ulat menjadi kepompong telah memakan waktu terlalu lama? Tidur lama yang membuat kita lupa. Untuk apa sebenarnya kulit kepompong ini menyelimuti kita?

Masa Kepompong adalah Masa yang tidak bisa dihindari..

Terkuburnya Passion bagi seorang Ibu adalah masa kepompong. Masa yang bagi mereka ‘kita telah hilang’ tapi sebenarnya kita tidaklah hilang, kita hanya mengubur passion yang biasanya. Mengubah passion dan mendalami makna baru fase kehidupan bagi seorang ibu.

Yaitu, mengerti arti dari pengorbanan.

Bagaimana bisa seseorang yang dulunya ketika remaja begitu lincah kesana kemari, mengejar ini dan itu lantas kemudian menjadi ‘upik abu’ di rumahnya sendiri?

Karena ia memiliki si mungil yang membutuhkannya. Makhluk kecil yang selalu mengikutinya kemana saja. Memanggil dan menangis menyebut nama kita yang tak lagi berupa ‘nick name’ tapi…

“Mama..”

Ya, kita memang bukan diri kita yang dulu. Bukan seorang gadis yang memiliki kebebasan. Tapi kita lebih dari itu. Kepompong yang berdiam diri dalam selimutnya. Membentuk dirinya yang baru.

Karena untuk mengerti arti ‘pengorbanan’ itu tidaklah mudah.

Ya, kadang kita harus mengganti passion menjadi hal yang lebih terlihat berguna.

Menyapu, menyusui, memasak, mengepel, mencuci, lantas berbolak-balik lagi. Siklus rutinitas yang tiada habisnya. Bukan tidak mungkin passion dan kesenangan yang dulu tidak terdepresiasi.

Lalu, merugikah kita akan hal itu? Menyesalkah?

Percayalah, Perempuan adalah Makhluk Multitalenta. Hilang Satu Passion.. Tumbuh Seribu

Mama pernah berkata padaku, “Nanti kalau kamu udah jadi Mama juga baru ‘merasa’..”

Kalimat sama yang berulang-ulang bagai kaset rusak yang selalu aku abaikan maknanya ketika remaja dulu. Mama adalah penceramah nomor satu dalam hidupku. Siapa sangka kata-kata cerewetnya kini menjadi panduan dalam kehidupan rumah tanggaku.

Tidak pernah ada cerita bahwa seorang Ibu kehilangan Passion. Yang ada, seorang Ibu kehilangan dan lupa ‘tujuan yang benar’

Merasakan passion yang sedikit demi sedikit mulai terdepresiasi itu tentu pernah aku rasakan. Beberapa bulan lalu aku bahkan kesulitan untuk memasukkan pos neraca dalam CV kami. Woi, bukannya aku dulu gampang sekali membuat basic kerjaan akuntansi ini?

Aku bahkan blank saat mengurus pajak dan menyadari melupakan segala teorinya. Hei, bukannya dulu aku hapal pph sekian sekian?

Otak ’emak-emak’ ku mulai tak sengaja membuang memory akuntansi dan memasukkan memory baru. File parenting, resep masakan, metode baking, jejalan virus drama korea yang tak sengaja aku jadikan ‘me time’ dikala melipat baju dan menyetrika. Mana mungkin aku mengingat-ngingat kembali pelajaran dahulu?

Apakah akuntansi berguna untuk kebahagiaan kehidupan rumah tanggaku? Tidak sepenuhnya. Ia hanya berguna sebagai catatan pertanggungjawaban keuangan rumah tangga. Untuk memanajemen keuangan rumah tangga? Aku sang manajer bukanlah berkostum rapi bak sekretaris perusahaan. Tapi menjadi ‘Upik Abu’. Ya, profesi yang konon merupakan profesi ‘Emak Maha Benar’. 😂

Dan tanpa sengaja, profesi itu telah membuatku menjadi makhluk multitalenta.

Tidak mengapa passionku yang dulu telah menghilang, ucapkan selamat tinggal pada impian menjadi bintang kelas di kelas selama-lamanya. Itu sudah berlalu. Tidak perlu disesali, tidak perlu dikejar berlebihan. Seperlunya saja.

Passion Ada Dimana-mana. Ia Berkembang Sesuai Kebutuhan Orang yang Kita Sayangi

Jika kalian bertanya siapa orang paling ‘labil’ di dunia maka mungkin jawabannya adalah aku.

Aku tidak punya cita-cita ‘spesial’..

Dulu, ketika mama bertanya padaku apa cita-citaku aku tak bisa menjawab secara pasti apa itu sebenarnya.

Ketika mama menginginkan Anaknya berstatus sosial diatasnya maka aku memimpikan diri menjadi hal itu. Apapun itu dengan seragam yang lebih keren dibanding Guru TK. Entah itu Polwan, Dokter, ataupun yah artis mungkin. Haha

Cita-citaku selalu berubah. Suatu hari aku memutuskan memasuki jurusan akuntansi karena alasan yang simple. Ingin kaya. Ingin membahagiakan mama dengan high status dan kekayaan. Simple.

Namun suatu ketika cita-cita itu berubah (lagi) ketika aku bertemu teladan yang baru. Ya, jatuh cinta dengan salah seorang pengajar di kampusku mengingatkan dan menyadarkanku akan keinginan sejak kecil dahulu yang terkubur oleh sisi materialisme. Sejatinya cita-citaku sejak kecil ingin menjadi panutan. Ingin menjadi role mode bagi siapapun. Ingin menjadi bintang kelas selama-lamanya. Ingin menjadi Guru.

Terlalu banyak cerita tentang hal ini. Kalian bisa membaca banyak cerita tentang perjalanan hidupku pada catatan cengeng dibawah ini:

“Mama, maafkan Anakmu hanya bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga saja”

“Mengapa aku harus membenci mertuaku?”

“Sepenggal cerita tentang seorang Ibu yang mencari kebahagiaan”

Sudah dibaca? Belum?

Jika sudah, maka tentu kalian mengerti mengapa akhirnya aku memutuskan untuk ‘Hanya Menjadi Ibu Rumah Tangga’

Bagi perempuan pilihan itu sulit, pilihan berkembang sesuai dengan keinginan untuk membahagiakan orang yang ia cintai. Seorang Ibu tidak akan memilih pilihan yang hanya membahagiakan dirinya sendiri (saja).

“I dont have Any Passion, I’m Divergent”

Aku tidak punya passion khusus. Tapi aku punya tujuan. Tujuanku adalah Membahagiakan Keluargaku. Menjadi kebanggaan mereka dan mewariskan kebaikan. Karena semuanya akan hilang. Yang tetinggal hanyalah kebaikan.

Belajar Menjadi Air, Arti Penerimaan yang Benar

Akan tiba suatu hari kau belajar arti penerimaan tertinggi dalam kehidupan. Diam jika terbawa arus, mengalir, namun tetap tenang.

Sebagian akan meremehkan hal ini. Tapi kau tetap menerima. Dipakai, dicemari, tak dianggap. Namun kau tetap diam.

Membiarkan rasa panas itu. Menguapkan semuanya. Kemudian menurunkan rasa sakit itu dalam tetes-tetes hujan.

Saat itu, kau dalam level tertinggi sebuah kebijakan. Memilih menjadi Air.

source: redbuble.com

Tentu aku belum sampai kedalam tahap itu. Namun, tidak pernah ada salahnya terus belajar. Kau tidak akan percaya dengan betapa mengerikannya egoku dahulu. Namun beberapa dari hal itu telah terkikis. Kupikir pengorbanan dan cinta seorang ibu telah merubah beberapa sifat buruk itu.

Baca juga: “Hal yang telah berubah sejak aku menjadi Ibu”

Jangan Pernah Menggenggam Dunia Dihatimu, Cukup Ditanganmu saja

Bukan sekali-dua kali aku mendengar kata-kata ini. Sering, cukup sering. Bahkan setiap kali ke pengajian Guru Juhdi pada malam jum’at di Mesjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin_beliau berkali-kali mengingatkan hal ini.

Ganggam ditangan haja. Jangan di hati. Amun ikam sampai meandak ke hati segala urusan dunia ngini, lalu ngalih.

Tidak ada hal yang lebih tidak nyaman dibanding menjadi tawanan hasrat sendiri. Mungkin, antara rasa semangat, ambisi dan kerja keras itu merupakan hal yang baik tapi jika ketiganya telah melawan arti pengorbanan dan cinta.. Masihkah ketiga rasa itu bisa disebut dengan hal positif? Mungkin, penawanan oleh hasrat ini yang dimaksud Ibnu Taimiyah.

Orang yang benar-benar terpenjara adalah yang terpenjara hatinya oleh Tuhan. Orang yang tertawan adalah tertawan hawa nafsunya. (Ibnu Qayyim, al-Wabil) – Yasmin Mogahed “Reclaim Your Heart”

Ah, jika kalian pernah membaca buku Yasmin Mogahed yang satu ini kalian pasti paham apa maksud dari kata-kataku ini. Ini adalah kutipan yang aku ambil dari salah satu bab yang sangat aku sukai. Aku menyebutnya “Tentang Burung dalam Sangkar Emas” walau judul chapter aslinya berjudul “Lolos dari Penjara Terburuk”

Aku punya cita-cita kecil yang kuharap suatu saat bisa mewujudkannya.

Disuatu hari nanti, entah kapan pun itu. Aku ingin berjalan menyusuri dunia. Bukan sekedar berfoto dan mendokumentasi perjalanan. Tapi belajar. Tak berharap kuliah untuk gelar lebih tinggi. Hanya berharap bertemu banyak orang bijak. Berguru pada semuanya.

Siapapun.. Siapapun Guru yang mungkin bisa membuatku benar-benar lolos dari Penjara Terburuk.

Komentari dong sista
11 Shares

27 thoughts on “Tentang Sebuah Penerimaan yang Benar dari Seorang Ibu

  1. Mbaaakk, peluuukkk! Aku pernah berada di posisi itu dulu, malah lebih parah. Jadi bahan pertengkaran yang sepertinya enggak selesai sama suamiku. But now, i moved on already. Lembaran itu sudah berlalu, malu kalau diingat. Hahahaha

    Btw, orang banjarkah? Aku lebaran kemarin 9 hari di banjarmasin, mamam ketupat kandangan

  2. Tulisannya bikin makjleb2 gtu. Saya tu sering kepikiran emang yg namanya ibu2 kudu milih mau keluarga apa passion (sebut aja karier), soalnya sangat jarang yg bisa sukses di dua hal tersebut. Namun, saat memutuskan jadi ibu, ya berti perempuan itu mestinya tahu lha ya konsekuensi dll-nya. Yg penting bersyukur dan jalani hidup dgn bahagia ya mbak. Nice sharing 😀 TFS

  3. tulisan yang dalem banget ya.. memang kadang kita baru menemukan passion kita setelah sekian tahun. dan aku yakin setiap orang ada momentumnya masing-masing

  4. Haloo Kak, tulisannya bagus, aku setuju bahwa perempuan adalah makhluk multitalenta. Masukan dari aku mengenai penulisan “di” sebagai imbuhan atau kata depan, karena tadi ada kata “dihatimu” atau “ditanganmu” harusnya ditulis terpisah menjadi di hatimu, di tanganmu.

  5. Semangat ..dan berpikiran positif…, Adakalanya harapan dan cita2 tergusur oleh waktu…, Karena satu dan lain hal…

    Yakin Allah tahu yg terbaik yg kita jalani…, Jangan letakkan terlalu didalam hati…

  6. Dulu sebelum menikah dan punya anak, punya banyak passion dan mimpi yang ingin diwujudkan. Begitu punya 3 anak, kecepatan melakukan passion melambat, tapi insya allah tetap menikmati semuanya. Karena ya itu, berusaha meletakkan dunia di tangan, bukan di hati

  7. Belakangan ini sejak ngeblog dan belajar menulis. Membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa menulis ini adalah passionkukah? Masih bingung sampai sekarang karena niat awal menulis ya cuma sekedar berbagi aja. Nggak nyangka bakal dapet penghasilan

  8. Penerimaan itu level yang masih saya usahakan mba. Masih belum stabil, kadang masih suka nyesek kalau orang lain membandingkan pencapaian teman seangkatan dengan pencapaian saya.
    Maap komen yg sebelumnya, blm sempet isi data.

  9. Penerimaan itu level yang masih saya usahakan mba. Masih belum stabil, kadang masih suka nyesek kalau orang lain membandingkan pencapaian teman seangkatan dengan pencapaian saya.

  10. Saya merasakan juga seperti ini kuliah di dua tempat , kerja dan akhirnya ketika sudah bersuami dan hamil kayaknya harus memilih. Dan saya memilih menjadi Full Time Mother saat itu sampai sekarang. Walau tetap terkadang saya masih ingin bekerja memanfaatkan ilmu saya. Tapi saat ini Insyaallah saya ikhlas menjalaninya.

  11. Yg jomblo Belajar ngerti gimana nanti jadi Ibu
    rumah tangga dari tulisan mbak.. apa bedanya saat melajang dan akhirnya memangku jabatan sebagai Ibu Rumah Tangga. 🙂

  12. Iyaa bangett ini mba .. Ketika idah menikah pun juga udah mengalami yg namanya pengorbanan . Jadi ga pas udah punya anak aja.. Sgala yg kita senangi wajar brubah dan trpisah dari kita. . Makanya kita harus bnyk2 berbuat baikk agar hidup menjadi hikmah.. 🙂

  13. Mba Winda, aku terharu membaca postingan ini. Dan tahu benar rasanya bagaimana tidak melakukan apa2 setelah terbiasa melakukan hal2 yang disukai. Tapi selama pilihan yg diambil jg bukan hal yg buruk, tentu akan ada hikmahnya. Di satu titik nanti, mba Winda pasti akan bersyukur prnah mmbuat keputusan sperti itu.

  14. Mbaaa.. Aku kok baper. Kalimatmu sangat memotivasi aku, kalo di pikir2 bener banget, hilang satu kesempatan berkarya, muncul kesempatan lain. Mungkin kalo tidak di hadapkan berbagai pilihan, aku belom ketemu passion sbg blogger dan gak ketemu kamu. Keep inspiring ya

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A