Cara Sederhana Untuk Mendukung dan Mengembangkan Bakat Pada Anak

Cara Sederhana Untuk Mendukung dan Mengembangkan Bakat Pada Anak

Setiap orang tua tentu setuju bahwa memiliki anak adalah sebuah tantangan baru dalam hidup. Apalagi jika si kecil sudah semakin besar. Pastinya, banyak orang tua yang mulai berpikir dan mulai mengira-ngira, “Apa sebenarnya bakat dari anakku?” atau “Sebaiknya ketika sudah besar ia jadi apa?”

Bahkan, pastinya ada orang tua yang mulai iseng bertanya langsung kepada si kecil, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”

Wah, jika sudah sampai kepertanyaan ini pastinya orang tua juga akan terbayang dengan cita-citanya waktu kecil dulu. Dan, apakah cita-cita itu berhasil?

Lucunya, cita-cita sejak kecil hingga besar itu seringkali berubah-ubah. Hal ini sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun faktor yang paling dominan biasanya adalah karena tidak adanya dukungan pada bakat anak. Hal ini menyebabkan cita-cita anak tidak konsisten dan ia mencoba tujuan hidup baru yang membuatnya diterima di masyarakat. Padahal, bisa jadi loh sejak kecil anak sudah menunjukkan hal yang paling disenanginya kepada orang-orang sekitarnya.

Sebagai orang tua, hal yang bisa kita lakukan dalam melihat potensi dan bakat anak sebenarnya cukup sederhana. Nah, berikut ini adalah hal-hal yang dapat kita lakukan:

1. Perhatikan hal yang paling suka dilakukan oleh anak

Sejak kecil tentu anak memiliki hal yang paling suka dilakukan yang kemudian berakhir menjadi hobynya saat besar. Hal yang perlu kita lakukan adalah memperhatikan hal yang selalu dilakukannya berulang-ulang hingga tiada bosannya.

source: intisarionline

Hah? Apa? Hoby main Gadget? (itu sih.. 😅)

Baca juga: Cara Cerdik mendidik anak generasi milenial dengan gadget

Sedikit curhat, anakku Farisha sudah mencintai aktivitas mewarnai sejak berkenalan dengan pewarna makanan waktu berumur 2 tahun. Awalnya kupikir itu adalah kesenangan biasa yang paling-paling hanya muncul sesaat saja. Namun ketika semakin besar, wujud kecintaannya pada bidang mewarna mulai besar. Tidak perlu banyak media untuk membuatnya diam. Hanya sediakan kertas dan pewarna maka ia sudah betah berjam-jam lamanya dengan kedua media tersebut. Hal lain yang paling disukainya juga tak jauh dari aktivitas campur mencampur warna. Dan untuk sementara, aku menyimpulkan bahwa kesenangannya adalah segala hal yang melibatkan kesenian mewarna.

Memang, anak yang masih berumur 4-5 tahun seperti Farisha lebih menyukai aktivitas yang berhubungan dengan otak kanan sehingga kita masih tidak bisa menilai bahwa itulah bakatnya. Namun, tidak ada salahnya untuk terus memperhatikan dan mendukung kesenangannya sekarang bukan?

2. Membiarkan Anak bereksplorasi sesuka hatinya

Setiap ibu pasti setuju bahwa punya anak itu super rempong. Baju kotor, rumah yang selalu berantakan, dinding rumah yang menjadi tuangan imajinasi, hingga sprei dan lipstik-lipstik pun menjadi korban. Angkat tangan mak yang masih dalam fase ini..🙋

source: wisatasekolah.com

Capek Mak? Capek banget…!

Tapi bisakah kita menghentikan semua itu? Melarang anak untuk bermain dan bereksplorasi sesuka hatinya? Memasukkannya kekamar dan meminjaminya smartphone supaya diam? Menyalakan TV seharian dan membuatnya hanya menonton kartun seharian?

Ini lebih capek lagi ternyata.. Capek Batin melihatnya.. Hihi😅

Ternyata, anak yang dibiarkan bereksplorasi akan lebih terasah potensinya dibanding anak yang sering dilarang begini dan begitu. Sebagai orang tua kadang membiarkan mereka semaunya mungkin lebih bijak dibanding selalu melarang mereka.

3. Membangun Komunikasi Pada si Kecil

Masih capek beres-beres rumah gara-gara saran diatas mak?

Yuk, ajak si kecil ngadem bentar. Buatlah susu lalu minum bersama-sama. Kemudian? Ya, bicaralah.

source: nexttica.com

Berbicara ini penting sekali untuk membangun komunikasi lebih dekat dengan si kecil. Ada loh, emak-emak yang enggak doyan bicara dengan buah hatinya sendiri. Ketika si kecil bertanya, “Ma.. Ini Apa Ma?”

“Ma, kenapa Siput ini punya antena begini?” (ada WA masuk, bentar)

“Ma, kok semutnya berbaris disini ma?” (Eh, Apa nih? Berita semut masuk telinga anak)

“Ma, aku udah gambar siput di dinding ma, coba liat?” (Eh? Siput? Di dinding? What 😱 )

Banyak begini? Hihihi..

Saat kita berbicara dengan si kecil berarti kita sudah memberi apresiasi dan dukungan terhadap apa yang dilakukannya. Akan lebih baik lagi jika setiap kita berbicara selalu kita selipkan pujian pada apapun yang dilakukannya. Hal ini akan membuat rasa percaya dirinya bertambah dan ia tidak sungkan untuk memperlihatkan potensinya pada kita bahkan juga pada orang disekitarnya.

4. Memperhatikan lingkungan sosial dan teman dominan si kecil

source: intisarionline

Setujukah bahwa biasanya anak lebih akrab dengan teman yang satu passion dengannya?

Hmm, bisa iya tapi juga bisa tidak.

Kebanyakan anak kecil akan lebih menyukai berteman dengan yang bisa menerimanya walaupun mereka tidak satu passion dengannya. Akan tetapi seiring berjalan waktu anak yang memiliki kepribadian melankolis biasanya lebih selektif dalam memilih temannya. Ya, ada beberapa anak yang lebih suka berteman dengan yang satu passion dengannya.

Baca juga: Wajarkah Anak Pemilih dalam Berteman?

Memperhatikan lingkungan sosial dan teman dominan anak ini sangat penting. Karena dengan melihat kedua hal tersebut kita bisa mengetahui hal apa yang membuatnya tertarik. Dengan memperhatikan teman akrabnya kita bisa belajar untuk menjadi teman yang lebih akrab dengannya. Dengan begitu, ia akan selalu merasakan dukungan terhadap apa yang disukainya.

5. Memperkenalkan Anak pada Tokoh Dunia Sesuai Bakatnya

Sudah mulai meraba-raba apa potensi si kecil? Yuk, cari tokoh dunia yang mungkin bisa menjadi panutan atau role mode untuknya. Karena setiap anak itu sejatinya adalah peniru ulung.

Anak anda merasa tidak punya bakat? Yuk, ajak baca buku seperti ini

Tidak percaya? Hmm, suatu hari aku pernah bertanya pada anakku ketika usianya masih 3 tahun, “Farisha mau jadi apa kalau sudah besar?”

Dan dia menjawab, “Mau jadi kayak Mama”

Ketika ia sekolah aku menanyakan hal yang sama, “Farisha mau jadi apa kalau sudah besar?”

Dan dia menjawab, “Mau jadi Ibu Guru”

Kedua pertanyaan sama di atas mendapatkan jawaban yang berbeda karena ia mendapatkan tokoh panutan yang baru. Pertama ia ingin menjadi sepertiku, lalu saat ia melihat betapa mulianya tugas Ibu Guru maka ia ingin menjadi Guru.

Saat kita mulai melihat bakat si kecil. Carilah tokoh dunia yang memiliki kesamaan bakat sepertinya, jelaskan berbagai usaha yang dilakukan oleh tokoh itu hingga akhirnya menjadi seseorang yang sukses. Kalau perlu, pajanglah poster tokoh tersebut di kamarnya agar ia termotivasi.

6. Berkonsultasi dengan Guru

source: erabaru.com

Sudah tau apa kesenangan anak dan apa hal yang paling tidak ia sukai? Langkah berikutnya adalah berkonsultasilah dengan Gurunya di sekolah. Katakan bahwa anak kita tidak menyukai model pembelajaran yang seperti apa dan hal apa yang sebenarnya ingin ia kembangkan. Karena anak kita perlu dukungan lain di luar dari dukungan kita.

Dengan berkonsultasi dengan Guru kita dapat bekerja sama untuk mengarahkan bakat pada anak. Selain itu, kita juga akan mendapatkan informasi lebih lanjut tentang bagaimana penyaluran bakatnya. Entah itu dengan mengikuti perlombaan hingga sekolah lanjutan mana yang sebaiknya ia pilih.

7. Mengajak anak berkompetisi

source: orami.co.id

Kadang untuk mengasah bakat itu butuh tantangan, betul?

Karena itu ajaklah anak untuk berkompetisi agar ia bersemangat dalam mengasah bakatnya. Kita dapat memulai kompetisi dengan mengajaknya mengikuti berbagai lomba, baik itu yang ada di sekolahnya maupun di luar sekolah.

Dengan berkompetisi anak akan maksimal dalam mengeksplorasi bakatnya. Selain itu, pengalamannya akan persaingan dunia luar akan bertambah.

Bagaimana jika anak kalah dalam berkompetisi? Jawabannya ada pada point 9.

8. Memberi Kebebasan Anak untuk Memilih

Kadang, tidak setiap orang tua dapat menerima dan mendukung bakat anaknya. Sering kali orang tua mengarahkan anak untuk menjadi begini dan begitu. Betul?

Keadaan demikian memang sangat beralasan. Tuntutan ekonomi, sikap materialisme, lingkungan sosial membuat kita tanpa sadar telah memaksa anak untuk keluar pada jalur yang ia inginkan. Padahal hal itu tidaklah benar karena…

Setiap Anak itu Spesial..

Ya, setiap anak spesial. Tidak semua anak bisa multitalenta. Ada beberapa anak yang diciptakan dengan satu bakat yang mencolok saja sementara kemampuan yang lain dibawah rata-rata. Hal yang bisa kita lakukan adalah selalu mendukungnya dan memberinya kebebasan untuk memilih apa yang benar-benar ia senangi.

9. Memberikan tes dengan kekalahan dan sedikit desakan

source: nova.grid.id

Melanjutkan no. 7 tentang mengajak anak berkompetisi, lalu bagaimana jika anak kalah?

Pastinya anak akan kecewa, iri kepada yang menang, serta merasa bersalah. Tapi, dibalik kekalahan tersebutlah anak akan banyak belajar asalkan kita selalu mendukungnya dan memberinya semangat.

Baca juga: Ajarkan Anak 5 Hal yang Tidak Menyenangkan

Jika anak tidak pernah merasakan kekalahan dan selalu merasa dirinya paling hebat maka sesungguhnya anak tersebut tidak akan berkembang dalam bakatnya. Karena suatu saat, sehebat apapun anak pasti akan ada rintangan yang menghambatnya. Ia perlu merasakan hal-hal tidak menyenangkan itu agar dapat terus belajar, memperbaiki kesalahannya, dan berusaha lebih baik lagi.

10. Mengajarkan pentingnya kerja keras

Nah, terakhir dari semuanya adalah kita harus mengajarkan pada anak pentingnya kerja keras. Terangkan kepadanya bahwa segala hal tidak akan pernah dapat tercapai jika hanya berpangku tangan apalagi sudah merasa paling hebat. Jika anak sudah menemukan dan serius dalam bakat yang ingin ia perdalam maka kita harus mendorongnya untuk terus belajar dan bekerja keras dalam bidang itu.

Nah, itulah 10 Hal yang dapat Orang Tua lakukan dalam mendukung dan mengembangkan bakat anak. Punya hal lain selain uraian diatas? Sharing yuk!

Happy Parenting.. 😊

Komentar disini yuk
5 Shares

Komentari dong sista

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IBX598B146B8E64A