Hiatus Ngeblog, Terus Ngapain?

Hiatus Ngeblog, Terus Ngapain?

“Blogmu 2022 ini kenapa jarang update Win?”

“Aku kayaknya mau berhenti ngeblog dulu deh.” Jawabku asal saat itu

Dan itu benar. Aku memang berhenti ngeblog karena sesuatu hal. Akhir tahun kemarin jika bersentuhan dengan media tulis. Entah kenapa keinginan hati hanyalah untuk mencurahkan beberapa hal yang tak kunjung usai.  Sampai aku berpikir, ya sudahlah untuk apa juga terus ditulis atau dijelaskan. Toh, orang tak akan paham aku. Orang juga tak akan mengerti jalan pikiranku. Orang hanya paham apa akar jeleknya tanpa paham mengapa hal demikian muncul.

Saat itu, otakku hanya berpikir bahwa berhenti menulis dan mengalihkan kegiatan dalam setahun penuh mungkin akan membuatku membaik.

Kuharap begitu.

Ketika Media Untuk Healing Beralih Tempat

Kuputuskan untuk lebih menghargai posisiku yang sekarang. Aku sudah lama menempati posisi ini sebenarnya. Tapi tak banyak yang tau kalau direktur perusahaan ini dalam hitam diatas putih adalah atas namaku sendiri. Memang ini adalah usaha suami, usaha IT yang sudah lama ia bangun dan berpindah badan hukum menjadi PT sejak aku melahirkan Humaira. Karena beberapa hal, CV kami tak lagi kami kelola. Lebih tepatnya kami pindahtangankan. Karena, yah begitulah.

Aku memutuskan untuk menjadi direktur yang tak sekedar hitam diatas putih saja. Aku putuskan untuk benar-benar masuk ke dalamnya. Humaira, anakku yang masih berusia 3 tahun saat itu.. Aku masukkan di daycare hingga jam 4 sore. Jadi, aku bisa lebih fokus untuk belajar mengelola perusahaan ini. Meski aku tak paham tentang IT. Tapi basic knowledgeku adalah keuangan dan ekonomi. Aku putuskan untuk handle keuangan perusahaan. Hal sensitif yang dulu memicu konflik antar anu anu. Aku putuskan untuk berdaya disini. Dimulai dari membuka rekening perusahaan atas nama PT kami. Mengatur ulang laporan dan buku besar. Hingga mengalihkan beberapa dana dingin pada instrumen lain agar lebih berdaya.

Yup, aku sudah menuliskannya bukan? Aku belajar investasi. Mulai dari reksadana Pasar Uang, hingga perlahan memulai melek kembali ke dunia saham. Mulai menyibukkan diri membaca-baca isue ekonomi. Menghabiskan pagi hari dengan menonton beberapa konten tentang ekonomi dan investasi.

Selama hampir setahun dunia menulisku teralihkan. Pada laporan perusahaan, administrasi, ekonomi dan investasi. Aku mulai meninggalkan dan melalukan muted pada beberapa grup blogger. Hingga aku juga dikeluarkan dari beberapa komunitas. Aku juga tak pernah mengisi form job untuk blogger dan influencer dalam beberapa bulan. Tak membalas email dan WA tawaran apapun. I’m totally quit.

Ternyata Media Menulis itu Teralihkan pada Topik yang lain

Setiap seminggu sekali, aku rutin mengajak anakku untuk ke perpustakaan daerah. Disana, biasanya aku menyewa 4 buku untuk kami baca di rumah. Aku tak pernah meminjam buku bertema ekonomi, parenting atau apapun untuk diriku sendiri. Sebaliknya, aku malah ikut meminjam buku anak-anak untuk kartu peminjamku sendiri.

Aku mulai menyadari bahwa buku cerita anak-anak adalah bacaan ringan yang penuh makna. Yang bahkan, tidaklah kekanakan untuk orang dewasa sepertiku mencoba membacanya hingga berulang-ulang. Kusadari, mengarang buku anak-anak itu adalah kegiatan yang cukup menarik. Bahwa buku anak adalah salah satu pondasi dalam kehidupan anak. Dan aku memperhatikan setiap gaya penulis buku anak-anak itu… unik.

Iseng, setiap malam aku mencoba menulis cerita anak-anak. Kutulis dan kubacakan sendiri untuk anak-anakku. Mungkin, Humaira masih tidak memahaminya. Tapi Pica begitu mudahnya mencerna makna dari cerita-cerita yang aku tulis. Entah kapan terealisasi.. Aku ingin sekali kelak Pica bisa menjadi ilustrator untuk buku anak karanganku sendiri.

Banyak Hal yang Mengobatiku untuk Meninggalkan Dunia Blog, Tapi..

Tapi aku merasa sendirian ketika suatu hari aku mengikuti perkumpulan bersama teman-teman bloggerku. Tak lagi ada topik seru untuk didiskusikan. Tak lagi ada pertanyaan, “Kamu dapet job ini enggak?”

Ah, aku saja tak mendaftar. Aku saja tak tau itu apa. 

Ada pengetahuan dan rutinitas baru yang mengisi kehidupanku. Tapi dunia sosialku yang dulu terasa hilang. Dunia bersama teman-teman blogger itu seakan kubuang begitu saja. Percayalah, ada rasa rindu yang tak bisa dideskripsikan disitu. Tentang bagaimana rasanya mendapatkan job endorse free produk tanpa fee. Atau fee kecil dengan banyak tuntutan. Atau job dadakan dengan fee yang sangat lumayan. Rasanya kok rindu mengeluhkan dan mengobrolkan hal demikian bersama teman-temanku. Belum lagi melihat beberapa temanku menang lomba. Ehm sebenarnya aku ingin kok mengucapkan selamat dengan sangat excited dan tulus. Tapi mirisnya aku bahkan malas untuk sekedar membaca tulisannya. Demikianlah. Aku sadar aku ingin meninggalkan dunia blog karena ingin mengobati trauma. Tapi disisi lain, aku rindu uang-uang receh itu. Aku rindu mendapatkan kejutan. Rindu dengan job dan sesekali menang lomba receh.

Akhirnya Mencoba Menulis lagi

Sore itu ada whatsapp dengan nomor yang tak kusimpan masuk. Dan bertanya apa aku bersedia ikut dalam job blogger? Awalnya aku tentu ingin menolak. Tapi setelah tau itu tentang apa maka aku tertarik masuk. 

Aku sadar ada hal yang sangat aku senangi di dunia blogger ini. Yaitu saat anakku bisa mendapatkan keterampilan baru dengan free. Saat aku mendapatkan uang dengan tulisan recehku. Dan saat aku bebas membeli apapun dengan uangku sendiri tanpa meminta pada suamiku.

Meski aku adalah direktur di kantor ini. Aku pula yang mengelola keuangan dan mentransfer gajih pegawai puluhan juta setiap awal bulan. Tapi percayalah aku tak berani mengambil sepeser pun uang dari perusahaan untuk keperluan pribadiku. Bagiku, biaya penitipan humaira yang sudah dihandle diluar dari uang bulanan sudah lebih dari cukup. Terserah orang diluar sana ingin berkata apa tapi aku punya bukti atas itu. 🙂

Pada akhirnya aku mulai percaya pada perkataan salah seorang teman di sosial mediaku. Bahwa seorang perempuan perlu banget memiliki skill untuk mandiri finansial. Tanpa meminta apapun dan berharap apapun pada orang lain. Termasuk itu pada orang yang paling disayang dan disupport selama ini. Kita tak tau perasaan orang lain. Kita tak bisa mengontrol hal itu. Yang bisa kita kontrol, percayai dan berdayakan adalah diri sendiri.

Komentari dong sista
0 Shares

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A