Browsed by
Category: Renungan Hidup

Tulisan-tulisan yang berisi pengingat tentang kebaikan terinspirasi dari berbagai hal

Untold Story Dibalik Kisah Anak Durhaka

Untold Story Dibalik Kisah Anak Durhaka

“Dasar Anak Durhaka! Kamu gak tau ya kesakitan Mama ngelahirin kamu! Sudah tua Mama dibeginikan! Menyesal aku melahirkan kamu!”

Masih ingat aku omelan demikian. Saat itu, usiaku masih 17 tahun. Kulihat air matanya, kulihat amarah di wajahnya. Kurasakan getaran pada tangan dan kakinya. Namun, air mata orang yang memelukku.. 

Jauh lebih deras.. 

Ini bukan cerita tentangku. Bukan tentang aku sebagai anak durhaka. Tapi, cerita ini layak untuk kalian baca dan renungkan. 

Asal Usul Anak Yang Durhaka

Ini bukan cerita tentang Malin Kundang. Mungkin jauh setelah Malin Kundang lahir, bertahun kemudian di negeri antah berantah. Lahirlah seorang anak perempuan dari dua insan yang tak lagi saling mencintai. 

Sebut saja namanya adalah Meri. Ia lahir satu bulan pasca perceraian kedua orang tuanya. Sang Ibu bersikeras tak mau memeliharanya. Sementara Sang Ayah jatuh miskin. Tak ada satupun harta digenggamannya. 

Meri hidup dari satu tangan ke tangan yang lain. Dari tangan tante pertama, ia pindah ke tangan tante kedua. Lalu saat usianya menginjak 5 tahun ia mencoba untuk menghambakan diri. Belajar pekerjaan rumah tangga hingga belajar berjualan diluar sana. Pada usia sekecil itu, Meri sudah paham akan arti kerasnya hidup. Bahwa untuk makan sebutir nasi, ia harus berusaha. Ia tak kenal akan kasih sayang. Apalagi sentuhan seorang Ibu. Yang ia ketahui hanyalah satu hal. 

“Aku harus berjuang untuk hidup..”

Hingga usianya beranjak 13 tahun, Meri hidup dengan keras. Untuk sekolah saja ia tak pernah memakai sepatu. Hanya sepasang sandal jepit hasil pinjaman sepupu yang ia pakai. Pun soal uang jajan, jika jualannya tidak mencapai batas laku yang seharusnya. Maka ia tidak jajan. Akan tetapi Meri anak yang tangguh. Dijemur guru beberapa kali karena datang terlambat hingga memakai sandal jepit.. Ia tetap sekolah lagi dan lagi. Sehingga ia menjadi anak yang terkenal di sekolah. Semua guru senang mengandalkannya. Menyuruhnya membeli sayur, mencuci piring dll. Meri mengerjakannya dengan ikhlas. Jika diberi Alhamdulillah, jika tidak ya tidak apa-apa. 

Meri tak pernah sekalipun menanyakan kehadiran orang tuanya. Ia cukup tau diri, sepertinya Mamanya bukanlah orang yang menginginkannya. Pun juga Ayahnya. Apa yang bisa ia harapkan dari penjahit yang kala itu tidak sanggup menopang finansial. Tapi, keinginan Meri untuk mengetahui keberadaan orang tuanya selalu ada. Hari itu, ia putuskan untuk mengunjungi Ayahnya. 

Ternyata, Ayah kandungnya telah menikah lagi. Baru saja ketika usia Meri 13 tahun. Meri pun memutuskan tinggal sebentar dengan Ayah dan Ibu Tirinya. Ia berharap keduanya baik. Keesokan paginya, Meri bersekolah dan memakai sandal jepit yang ada di teras rumah. Dan sepulang sekolah Ibu Tirinya langsung meneriakinya, “Dasar Maling Sandal!”

Ia akhirnya tau, bahwa tak ada satupun yang menginginkannya untuk tinggal. Tapi Meri tau satu hal bahwa Ia harus bertahan dan membuktikan bahwa Ia bisa mendapatkan penerimaan itu suatu hari nanti. 

Ia yakin suatu hari akan ada yang berkata padanya.. “Ini adalah Meri, Anakku yang membanggakan..”

Meri terus berjuang untuk hidup. Ia berhasil sekolah di SMP hingga SMA dengan keadaan jatuh payah sedemikian. Beruntung parasnya tergolong cantik sehingga di sekolah ia mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk menerimanya. Selama 17 tahun hidupnya, ia tak pernah mengenal apa arti kata ‘Mama’. Yang ia tau, ia harus bisa hidup lebih baik. Keluar dari lingkungan yang membuatnya bekerja siang malam. Sekolah akan membuat hidupnya lebih baik. Itulah yang ia yakini. 

Tapi, keinginan itu muncul juga. 

Kira-kira bagaimana reaksi Ibu kandungku jika melihatku sekarang? Akankah ia menyambutku dan menyebutku cantik? Akankah ia memberikanku uang? Sepatu mungkin? Ah, aku coba saja berkunjung. Kata tante, Ibu kandungku adalah seorang PNS. Bukankah seorang PNS setidaknya memiliki tunjangan anak? Berapa banyak tunjangan anak jika dikali 17 tahun? Ah, satu buah sepatu cukup. Ah tidak, satu pujian mungkin. Imajinasi Meri melayang membayangkannya. 

Saat liburan sekolah, Meri mengumpulkan tabungannya untuk mengunjungi Ibunya. Ia tau, Ibunya telah menikah lagi dan memiliki 2 orang anak. Suami barunya juga seorang PNS. Setidaknya, mungkin ia akan lebih sejahtera liburan disana. 

Meri senang saat sudah sampai di rumah Ibu kandungnya. Ada sebuah harapan. Pelukan dan tangisan tanda rasa rindu. Rumah itu dipenuhi dengan keriangan anak-anak. Sementara Ibunya sedang asik berhitung di warung. Dan tersenyum menyambut Meri. 

Aku tau Ibuku orang baik. 

Sayangnya, senyuman itu hanya sebentar. Meri masuk dan tak disambut oleh siapa-siapa. Ia mencoba mengerjakan pekerjaan rumah untuk mendapatkan apresiasi. Namun, tak ada satupun yang memujinya. Terlalu dini untuk kecewa. Ia memutuskan untuk ke warung dan menemui Ibunya. 

“Ma, bolehkah Meri minta pembalut ini? Meri ternyata Mens. Dan lupa bawa kain mens” 

“Jangan! Ini jualanku. Kalau kamu minta ya aku gak dapat untung. Di dapur banyak kain-kain bekas. Pakai itu aja.”

Meri melangkah ke dapur dengan menundukkan kepala. Menahan tangis. 17 tahun tak bertemu dengan Ibu Kandungnya. Namun ia merasa sangat asing. Bahkan merasa tak sedikitpun dipedulikan. Meri bertahan selama 3 hari di rumah itu. Berharap ada sedikit keajaiban. 

Hari ketiga, Meri memutuskan untuk pergi ke barabai. Tempat tinggal julak yang terkenal akan kebaikannya. Kemudian, sekali lagi Meri mencoba memancing-mancing Ibunya.. 

“Ma, Meri mau ke barabai. Bolehkah Meri minta uang untuk naik taksi? 1000 rupiah aja.. “

Sang Ibu memberinya uang 500 rupiah. Dan berbalik begitu saja. Meri mengucapkan terima kasih dengan tertahan.

Inilah uang satu-satunya pemberian ibunya selama 17 tahun. 

Sejak itu, tak pernah sekalipun Meri menjejakkan kaki di rumah itu lagi. Tangisnya membasahi tanah. Hatinya kesal. Tapi ia tau. Konon seorang anak tak boleh durhaka pada Ibunya. Malin Kundang adalah dongeng yang selalu menjadi pembelajaran untuk anak kala itu. Jika ia menangis sekarang lantas Sang Ibu melihat dan mengutuknya. Bukankah masih mungkin ia akan berubah menjadi batu? Karena merasa kesal? 

Meri kemudian bertanya-tanya. Bagaimana masa kecil Malin Kundang? Apakah ketika Ibunya Malin ditinggal oleh Ayahnya berubah menjadi Ibu yang berbeda? Apakah demikian? Sehingga Malin memilih untuk merantau ke negeri seberang? Lantas pulang dan berpura-pura tak kenal dengan Ibunya? 

Entahlah. Hari itu, Meri memutuskan hal yang sama. Merantau lalu menikah. Pergi sejauh-jauhnya.

Jika Saja Malin Kundang Memilih Jalan Yang Berbeda

Meri hidup dengan sejahtera. Ia berprofesi sebagai guru TK dan sudah PNS. Ia juga memiliki suami PNS. Dan ia dianugerahi 2 orang anak. Laki-laki bernama Wanda, juga perempuan bernama Winda. 

Dari kecil, Meri sangat suka bernyanyi dan membaca buku cerita. Karena itu ia merasa cocok bekerja sebagai guru TK. Walau ia memiliki inner child yang kelam, namun ia berusaha untuk tidak membalas semuanya. 

“Apakah Batu Menangis itu benar-benar ada Ma?” Anaknya Winda yang baru berumur 5 tahun bertanya polos. 

“Ia, batunya menangis. Menyesal karena durhaka dengan Ibunya.”

“Nangisnya kedengeran? Atau cuma keluar air mata aja? Batunya sujud gitu? Kok serem banget?”

“Iya.. Winda gak boleh kalau sudah besar durhaka sama Mama ya. Nanti kalau mama kesal bahaya..”

“Mama gak bakal berani ngutuk Winda jadi batu. Kan mama sayang.”

Meri tersenyum melihat Winda. Anak perempuan memang lebih emosional. Sementara Wanda sibuk bertanya-tanya apa itu beda legenda dan dongeng. Mengapa bisa ceritanya ada dll dsb. 

Winda dan Wanda tidak tau bahwa selama ini, ia tidak kenal dengan sosok nenek selain dari pihak ayahnya. Mereka tak pernah sekalipun menanyakannya. Seiring waktu, mereka sering mendengar ibunya terisak saat berbicara dengan ayahnya. Pun beberapa waktu belakangan, sering mereka ditemui oleh wanita tua yang datang kerumah membawa serpihan-serpihan snack murah. Mereka baru saja tau kalau itu adalah nenek. 

Ya, Meri memutuskan hal berbeda dari langkah Malin Kundang. Meski sering kesal, Meri memutuskan untuk menerima Ibunya kembali di masa tuanya. Membiarkannya bercengkrama dengan cucu-cucunya. Ikut senang ketika Wanda dan Winda begitu receh bahagianya. Snack murah dengan harga 100 rupiah sudah membuat mereka berdua senang. Berkata bahwa nenek membelikan oleh-oleh. Untuk sesaat, akhirnya kehidupan normal dengan adanya nenek itu pernah ada. 

Namun, itu tidak lama. 

Wanda dan Winda tumbuh menjadi sosok remaja yang sudah mulai mengerti akan masalah kehidupan. Mereka lambat laun paham akan kehidupan masa lalu Ibunya. Empati itu pun tumbuh. Sehingga jika melihat neneknya ke rumah maka reaksi mereka ‘Beh’ saja. Pun saat mereka tau bahwa neneknya ternyata ingin menghabiskan masa tuanya di rumah Meri. Mereka pura-pura biasa saja padahal ikut geram. 

“Aku mau makan pepuyu sekarang. Gak mau nanti.” Teriak sang Nenek di dapur. 

Meri kerepotan mengurus pagi rutin yang luar biasa. Ditambah dengan request spesial setiap pagi plus ‘ceramah’ dari sosok yang seumur hidup hanya memberinya 500 rupiah. Hati bergemuruh ingin marah. Tapi konon, bukankah seorang anak tidak boleh demikian pada Ibunya? 

Winda melihat air mata menetes di mata Mamanya. Ikut geram saat neneknya duduk santai dan mengobrol dengan pengasuh adik kembarnya.

“Kamu digajih berapa disini sebulan?” Tanya neneknya pada pengasuh itu. 

“Lima ratus ribu enggeh..” Jawab pengasuh polos. 

“Wah, banyak juga. Mana Meri ini anaknya pakai susu formula keduanya si kembar ini. Banyak banget pengeluarannya.”

Kuping Meri memanas mendengarnya. Ia berkata didalam hati, “Kalau memang merasa banyak, kenapa tidak dibantu? Bukannya Ibu tinggal disini juga? Ikut makan dengan pelayanan spesial? Bukannya uang pensiun ibu ada? Uang pensiun janda juga ada? Masa mau ditabung semua?”

Tapi kata-kata itu tertahan. Berganti dengan suara ‘PLAK PLAK’ keras saat memukul ikan pepuyu. 

“Eh, Meri.. Kamu ini ngasih gajih pembantu 500ribu sebulan. Pembantu kamu kasih gajih ya tiap bulan. Mamamu gak pernah dikasih duit.” Ibu Meri berkata demikian dengan santainya. 

Dan saat itu juga. Meri memutuskan melepaskan semua rasa itu. 

Tidak ada lagi kata sabar. 

Sabar itu ada batasnya. 

Selalu Ada Cerita Anak Durhaka, Tapi tak Pernah ada Cerita Ibu yang Durhaka

Mana yang lebih dulu diciptakan? Telur ayam atau Induk Ayam? 

Sebab dan akibat. Selama ini, kita terbiasa dikenalkan pada akibat. Lalu abai akan sebab. Padahal, sebab adalah awal dari semuanya. 

Kisah Meri sudah bisa ditebak endingnya bukan? Ia kehilangan kontrol dan melepaskan semua amarahnya. Ia mengusir ibunya dari rumah dan berakhir dengan sumpah serapah dari mulut ibunya yang berkepanjangan sepanjang hidupnya. 

Meri tak pernah dianggap sebagai anak baik di masa hidup Ibunya. Ia hanyalah seonggok anak celaka yang tidak diharapkan diawal kehidupannya. Namun diperas erat diakhir cerita. 

Apakah Ibunya mengutuknya menjadi batu? 

Ya.. Winda sering mendengarnya. Satu dua.. Mungkin sepuluh kali. Namun kiranya Tuhan lebih tau siapa sebenarnya sosok yang durhaka pertama kalinya. 

Akhir cerita Meri bukanlah menjadi sebuah batu yang menangis layaknya batu Malin Kundang. Namun menjadi anak dengan hati yang membatu. Menangis melihat perilaku Ibunya padanya. Menyesal dilahirkan oleh Ibu yang sedemikian.

Kenyataan demikian membuat Winda berpikir akan pertanyaan masa lalunya, “Bagaimana sebenarnya sosok batu menangis yang sebenarnya?”

Apakah cerita Malin Kundang benar dimulai dari kasih sayang yang dibalas dengan kedurhakaan? Apakah mungkin ‘global story’ dibalik kisah Batu Malin Kundang sebagai pengingat bahwa seburuk apapun perilaku seorang Ibu, seorang anak haruslah menjadi baik. Agar ‘rantai sifat durhaka itu putus’? Yah, mungkin itu kiranya.

Seusai diusir, Ibunya Meri pulang ke rumah anak kandung keduanya. Anak laki-laki dari pernikahan keduanya. Namun sayang, ia tak bisa diurus dengan baik. Ia ditinggalkan begitu saja di dapur rumah. Tanpa mandi, tanpa ganti popok, dan tanpa dilayani sandang pangannya. Ia hidup panjang umur. Dengan pelayanan sedemikian. Apakah itu hukuman dari Tuhan? 

Meri menyaksikan hal itu saat tidak sengaja berkunjung. Hatinya pilu sesaat. Winda dan Wanda tak pernah sekalipun mengunjungi neneknya. Uang 5000 rupiah adalah satu-satunya hal termahal yang pernah diberikan oleh neneknya yang bergelimang harta. 

Tapi Winda sadar. Bukan hanya uang 5000 rupiah yang telah diberikan nenek. Namun sebuah pembelajaran berharga bahwa.. 

Jangan pernah menjadi orang tua yang durhaka.. 

Anak tak pernah meminta dilahirkan.. 

Ia lahir untuk disayangi. Diwariskan rasa-rasa yang baik agar ia menjadi orang baik. 

NB: Ya, aku menulis ini seminggu pasca menonton film Cruella. Kisahnya mengingatkanku pada sepotong cerita. 

Tulisan ini bukan untuk membenarkan perilaku durhaka. Tapi untuk mengunggah hati kembali. Mencari sudut yang berbeda agar kita.. khususnya para Ibu.. 

Belajarlah untuk mencintai anak dengan tulus.. ❤

Jadi kalian tau Winda dan Wanda itu siapa? 🙃

Another galau story: Mama, Maafkan Aku Hanya Bisa Menjadi Ibu Rumah Tangga

Dilema Penulis Buku VS Pembajak Buku

Dilema Penulis Buku VS Pembajak Buku

“Bukannya apa sih, sebagai seorang penulis yang sudah punya banyak fans. Harusnya bahasanya lebih ‘sopan’.. “ -Netizen

Ramai para netizen membully ‘omelan’ Tere Liye pada tulisannya di page facebook akhir-akhir ini. Kubaca satu per satu komentarnya. Lalu melamun sesaat.

Komentar itu.. Ada yang berempati, ada yang menyemangati, ada pula yang menertawakan. Sebagai silent reader di fanspage Tere Liye, aku hanya bisa diam. Nyaliku tak begitu bagus untuk ikut nimbrung sekedar berbagi komentar. Tapi, aku mencoba memberanikan diri menulis opiniku pada tulisan blog kali ini. Toh, blog ini adalah milikku. Suka-suka aku bukan beropini disini? 

Ketika Pembajakan Sudah Menjadi Hal Biasa Dalam Kehidupan

“Wind, kamu ngebela Tere Liye. Bukannya kamu juga langganan beli CD bajakan ketika SMA dulu?”

Eh iya, siapa bilang aku orang yang suci? Gak pernah ngomong begitu bukan? Bahkan, dosaku dibidang membeli barang bajakan mungkin jauh lebih juara dibanding kalian semua. 

Aku pernah beli CD murah, beli baju murah, tas murah, sepatu murah. Bahkan aku juga tukang ‘influence’ temen-temen aku ketika kuliah dimana membeli barang-barang murah nan bagus. Bangga sekali rasanya kalau diingat masa-masa itu. 

“Winda, cewek yang tau list harga barang-barang murah dan bagus..”

Aku tidak peduli kalau ada salah seorang menegurku seperti ini, “Eh, ini tas Channel ya? Berapa harganya? Kok murah? Oh, barang kw..”

Hatiku pasti mendengus kesal, “Kan gak semua orang financialnya kayak elo.. “

“Bergayalah sesuai isi dompetmu.. “

Itu adalah prinsip kesekian dalam hidupku. Dan aku sangat bangga dengan prinsip itu. Karena prinsip itu ditularkan oleh mamaku. Bahkan, jujur saja.. Sebelum aku lahirpun mungkin saja aku sudah mengonsumsi barang-barang bajakan. Jauh lebih banyak dibanding kalian. Tapi kenapa aku begitu? 

Ketika aku kecil, aku tidak mengerti apa itu barang bajakan. 

Ketika aku sudah besar, aku mengerti barang bajakan. Tapi aku sudah memaklumi industrinya. Dan mendukung perkembangannya karena lebih ramah pada golongan ekonomi kebawah. 

Lalu, atas alasan ‘murah, murah, murah’ aku membenarkan pembelian barang bajakan dalam hidupku. Biarkan saja barang ORI punya kelas dan pasarnya. Barang bajakan juga sebuah industri yang punya pasar dan kelas sendiri. 

Itulah pembenaranku. Dan ya, aku mengakui bahwa diriku adalah sarjana akuntansi dan tentu sudah memahami ekonomi. Tapi aku menyangkal kesalahanku dan membenarkannya. Karena aku memang punya sifat keras kepala sejak dahulu. 

Pembajakan adalah hal biasa dalam kehidupanku. Ngapain repot-repot diurusin? 

Dan kalian tau? Aku pernah membeli buku Tere Liye 1 bundling. Dan itu barang bajakan. Judge me. Itulah aku dahulu. Winda dengan mental sok miskin dan iya.. Goblok. 

Apakah Tere Liye Itu Memang Penulis yang Tidak Sopan dalam Berbahasa? 

Aku mengenal Tere Liye sejak kuliah. Buku pertama karyanya yang aku baca adalah Negeri Para Bedebah. Ops sorry, buku itu ORI karena itu bukan milikku melainkan punya adikku. Bermodal ‘pinjem’ dari adik, aku mulai menyukai buku-buku Tere Liye. Jangan salah, buku-buku Tere Liye saat itu dibeli di gramedia dengan harga yang menurutku mahal.

Saat aku menikah, ekonomi keluargaku dalam kondisi down. Selain itu, aku sempat mengalami PPD. Untuk mewaraskan diri, aku mulai menekuni dunia blogging dan membaca buku. Kulirik lagi karya-karya terbaru dari Tere Liye. Tak lantas menabung demi membeli bukunya. Tapi aku hanya membaca-baca review buku tere liye yang berseliweran di internet. Lumayan mengenyangkan. 

Hari berganti tahun demi tahun. Marketplace mulai ramai. Saat itu, aku tidak menginstall aplikasi online store apapun di HP. Aku hanya kepo dengan berbagai marketplace itu melalui HP suami. Lalu, saat iseng membuka buka*apak di HP suami. Aku melihat buku Tere Liye. Harganya, omo.. Murah sekali. Itu adalah kali pertama aku tau ada yang namanya buku murah di marketplace. Dulu, kukira buku itu ORI. Lalu, saat bukunya datang aku terkejut dengan kualitas kertasnya. Kan, memang aslinya goblok. 😆

Saking gobloknya, aku membeli lagi buku itu 3 bulan kemudian di toko yang sama. Saat itu, aku sudah melakukan tombol ‘like’ di fanspage Tere Liye. Kuperhatikan kuote dan tulisannya. Bagus. Dan toh Tere Liye tak pernah menyinggung tentang buku bajakan dsb. Itulah letak kegoblokan hakiki milikku. Kenapa aku beli lagi ya? Apakah karena kupikir tidak apa-apa? Toh, penulisnya saja santuy dan tidak marah. 

Bulan berganti tahun. Keadaan ekonomi keluargaku membaik. Aku sudah mulai bisa menabung dan memiliki penghasilan sendiri dari blog. Aku mulai mengubah polaku dalam membeli buku. Mulai berani menginstall sh*pee dan tokop*dia di HP lalu mencari buku ORI yang sedang diskon. Separuh buku Tere Liye milikku adalah buku ORI. Senang rasanya, kualitas kertasnya saja sudah beda sekali dengan yang bajakan. 

Tahun 2018, Tere Liye datang ke Gramedia Banjarmasin. Dia berbagi ilmu disana. Aku memperhatikan dan sempat mengangkat tangan untuk bertanya. Ia menjawab dengan lugas dan nyaman. Aku juga ikut mengantri tanda tangan di buku ORI yang aku miliki. Dari awal pertemuan hingga akhir, tak sekalipun ia pernah protes tentang buku bajakan. Tak pernah ia nyinyir dan sebagainya. Padahal saat itu, buku bajakannya ramai sekali dijual dimana-mana. Karena sifatnya yang terkesan legowo demikianlah aku memutuskan untuk tidak lagi membeli buku bajakannya. 

Setahun terakhir ramai tulisan Tere Liye di fanspagenya membahas tentang buku bajakan. Dimulai dari tulisan yang ‘biasa saja’ untuk sekedar menghimbau pembacanya hingga semakin hari semakin naik levelnya. Dari biasa saja, medium hingga seperti tulisan diatas. Apakah itu wajar? 

Hei, Apakah marah itu wajar? 

Tentu saja wajar.. Kok bisa-bisanya kalian yang mungkin tidak mengenalnya bahkan mungkin tidak pernah membaca karyanya menertawakannya dan ikut menggunjingnya. Ironisnya, sebagian dari mereka juga para penulis. Disitulah hatiku nyeri. 

Kenapa dunia selucu ini? 

Gaes.. Aku pernah diposisi sama dengan Tere Liye sewaktu sekolah. Tugas dan PR milikku dicontek oleh teman-teman sekelasku. Aku yang capek, teman-temanku yang tertawa. Saat aku iseng ‘menyalahkan’ jawabanku supaya nilai kami tak seragam, teman-temanku mencela tindakanku. Berkata ingin menang sendiri. Saat aku tidak mau menyerahkan tugas dan PR milikku mereka ramai menggunjingku ‘pelit’. Sudah jutek, pelit pula. 

Begitulah kiranya konflik penulis dengan pembajak.. 

Penulis capek sekali untuk menemukan ide, melakukan riset, edit sana sini, bolak balik, kerja dan kerja. Pembajak punya jalan yang lebih instan. Cukup copy paste. Saat penulis mogok dan merajuk, orang-orang disekelilingnya ramai mengatakannya penulis pamrih, matre dsb. Sementara pembajak ramai dipuji murah hati karena ia memang lebih ‘murahan’. Disitulah letak menyebalkannya. Kenapa dunia ini selucu itu? 

Perlu kalian ingat bahwa.. 

“Marah dan tidak sopan itu wajar terjadi. Saat bahasa komunikasi lembut dan sopan tak kunjung diapresiasi..”

Karena apa? Karena komunikasi hanyalah alat untuk penyampaian. Hal yang lebih penting adalah Apakah sudah dirasakan? Bagaimana caranya agar lebih berasa? Kapan jurus marah dan tidak sopan akan efektif? 

Ingin Belajar Berempati dengan Kehidupan Penulis? Bacalah Novel Selamat Tinggal

Setiap Tere Liye mengulas tentang betapa b*engseknya industri buku bajakan ia selalu menuliskan kalimat akhir dalam tulisannya. 

“Tere Liye, Penulis Novel Selamat Tinggal”

Itulah ciri khas miliknya. Setiap menulis status, ia mencantumkan judul novel yang mewakili statusnya. 

Dan novel yang mewakili konflik Penulis vs Pembajak adalah novel berjudul Selamat Tinggal. 

Aku sudah pernah mereview novel selamat tinggal. Dan novel itu luar biasa. Ia mengubah diriku yang selalu membenarkan pembajakan. Ia juga membuka pola pikirku untuk memahami makna keberkahan dalam hidup. 

Berhentilah menilai seseorang hanya dari status-statusnya di facebook. Tidak lantas 1-2 kalimat terlihat rese lalu kalian berhak mengklaim kalau orang ini jelek. Pertanyaanku, pernahkah kalian membaca buku Tere Liye sehingga berhak sekali menghakimi status-statusnya? Sudah berapa lama sih kalian kenal dengan Tere Liye? 

Eh, memangnya kamu kenal banget win?

Enggak, ada ⅕ bukunya yang belum aku baca.

Aku tidak pernah mengobrol dengan Tere Liye, atau bahkan tinggal 1 kelas dengannya. Lantas kenapa? Itulah alasan kenapa aku tidak menghakiminya. Toh, aku belum kenal 100% dengan Tere Liye bukan? Justru karena belum kenal aku tidak berani menghakimi orang yang sudah membuka pola pikirku dengan buku-bukunya yang mengandung banyak hikmah kehidupan. 

Novel selamat tinggal ini luar biasa loh. Kalau kalian membaca dengan seksama. Penulis menempatkan dirinya pada posisi penjual buku bajakan. Mencoba berempati dari posisi mereka. Mengubah karakternya perlahan-lahan melalui berbagai peristiwa. Dan memaklumi bahwa di dunia ini selalu ada makhluk yang bebal dan tidak sadar akan kesalahannya. Begitulah dunia. Untuk seorang penulis yang karyanya sudah sedemikian dicuri oleh pembajak. Novel Selamat Tinggal ini cenderung sopan dalam menegur. 

Tapi, untuk apa penulis terus menulis? Bukan untuk pembajak. Bukan pula untuk menghancurkan industrinya. 

Tujuannya adalah mengubah pola pikir generasi selanjutnya menjadi lebih baik. Lantas, bagaimana generasi menjadi lebih baik jika ‘kalian’ terus meneriaki dan mentertawakan omelannya? Menyindirnya di status hingga ramai menertawakan beberapa hal tidak baik miliknya. 

Sedihnya, mengapa hal ini juga turut dijadikan ajang aji mumpung bagi penulis lain? Berlagak cara mereka lebih sopan dan baik. Kenapa demikian? 

“Aku heran kenapa manusia suka bergosip? Bukankah kita semua memiliki cela pada diri masing-masing?” -Fey: Nebula-Tere Liye. 

Pertanyaannya, apakah industri buku bajakan akan mati? Jawabannya tentu tidak. 

Tapi, Mungkinkah generasi selanjutnya akan lebih baik? 

Jawabannya ada pada diri kalian sendiri. 🙂

Nb: Aku bukanlah fans mati Tere Liye. Banyak beberapa penulis indonesia yang juga aku sukai. Akan tetapi, aku selalu berusaha untuk mengapresiasi langkah keberanian. Sejauh itu benar, Kenapa tidak? 

Kalian juga boleh saja menghakimiku karena pernah membeli buku dan barang bajakan. Kalian tau? Semua manusia pernah melalui masa ‘goblok’nya masing2. Dan iya, aku pernah ‘goblok’. Tapi satu hal yang penting. Apakah lantas kita membenarkan kegoblokan itu? Dalam hidupku ada 3 orang yang pernah memakiku ‘bodoh’ dan ‘goblok’. Tiga orang itu, adalah orang yang paling aku sayangi sekarang. Kalimat kemarahan adalah sebuah batas merah yang tanpa sadar menciptakan tombol ‘warning’ dalam hati kita. Maka, peluklah rasa marah itu. 

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Mana Pilihanmu: Menikahi Cowok yang punya Banyak Mimpi atau Realistis?

Pernahkah dalam hidupmu, tangan kiri dan kananmu seakan ditarik oleh dua orang cowok berbeda? 

Yang satu adalah sahabatmu, sedangkan yang satunya adalah orang yang membuatmu terpesona dalam pandangan pertama. 

Ini bukan tulisan ‘sok laku’. Tapi, ini tentang cerita sebuah pilihan. 

Dimana pilihan itu, akan mengubah jalan hidupmu. 

Tentang Petuah Mamak dalam Memilih Pasangan

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, kalau pilih pasangan carilah yang agamanya bagus. Dan derajatnya diatas kita. Supaya kelak enggak direndahkan orang..”

Tapi seiring berjalan waktu, petuah itu berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang agamanya bagus. Dan pekerjaannya tetap. Supaya kelak hidupmu enggak susah..”

Melihat gelagat anaknya tak kunjung memiliki pacar di usia semester 5 kuliah, bahkan malah jingkrak-jingkrak tidak karuan dengan berbagai boyband. Maka petuah mamak pun berubah lagi.. 

“Kamu anak perempuan satu-satunya win, carilah pasangan yang umurnya enggak seumur sama kamu. Perempuan itu cepat tua. Kalau kamu naksir cowok kayak di TV itu. Ketika sudah punya anak kalian bakal kayak Mamak sama anaknya.. Carilah minimal yang beda umurnya 5 tahun..”

“Tapi Oppa Yunho umurnya 7 tahun diatas aku Ma.. ” Sahutku iseng.

Dan akupun ditimpluk. 

Ah, Mama saat itu belum tau saja. Biarpun keranjingan dengan boyband korea hingga tergabung dalam komunitas game. Serta terlihat sebagai anak rumahan banget. Tetapi, aku ada yang naksir kok. Uhuk. 

“Siapa yang sering ngantar kamu pulang win? Itu temen SMA kamu dulu ya?”

“Iya ma, cuma temen.”

“Lain kali ajaklah makan di rumah..”

Aku mengiyakan sambil ber ‘hehe’. Entahlah feeling Mama tajam sekali. Baru juga sekian kali temanku itu mengantarku pulang. Tapi sudah yakin dan kepedean sekali kalau temanku itu naksir aku. Heh, siapa lelaki yang berani naksir cewek yang sepanjang perjalanan banjarmasin-pelaihari topik pembicaraannya hanya tentang naruto, ninja saga, hingga boyband. Hanya lelaki sangat bodoh yang naksir dengan cewek demikian. Mama riang sekali mengira teman lelakiku itu naksir denganku. Padahal, yang kelihatannya positif naksir denganku itu adalah.. 

Asisten dosen di kampusku. Huahahha.. 

Akupun langsung mengingat petuah-petuah Mama. 

-Agamanya bagus ✅

-Pekerjaan tetap ✅

-Lebih tua 5 tahun ✅

-Bukan personil boyband ✅

Oke ma, kelak kalau suatu hari dia ‘nembak’ aku maka akan aku ceritakan bahwa dia adalah kriteria mama. 

Cinta dan Impian Lalu Kenyataan

Aku tidak tau seperti apa persisnya rasa cinta itu. Hingga kuliah, aku hanya memiliki satu sahabat lelaki yang cukup dekat denganku. Aku tidak malu menjadi ‘apa adanya’ diriku saat di depannya. Bercerita tentang game terbaru, film terbaru, album boyband terbaru, curhat bombay saat memiliki drama dengan teman. Perasaan saat itu.. Tidak ada rasa ‘berdebar’ dan gugup. Layaknya aku membicarakan sasuke atau yunho. *halah

Tapi, aku merasa sangat nyaman bersahabat dengannya. Aku toh tidak perlu merasa tidak nyaman. Berpikir kalau-kalau dia naksir aku misalnya. Hanya cowok tidak waras yang bisa naksir diriku apa adanya. Terutama kalau sudah tau tentang gilanya aku dengan boyband. Lalu betapa konyolnya wajahku ketika dijenguk saat terkena DBD dan tanpa make up satu pun. Belum mandi pula. Sungguh image itu hancur sekali. 

Tapi, dugaanku salah. Persis saat aku bilang kepada temanku bahwa aku sedang ‘kesenangan’ karena chatting dengan asisten dosen di kelasku tentang sebuah kasus di kelas dengan (mungkin) wajah bersemu dan bersemangat. Maka, malam itu dia mengatakan perasaan yang sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya. 

Aku sungguh tidak tau kalau dia memendam perasaan padaku sedemikian lama. 

Dengan pernyataan semendadak itu. Mungkin aku bagaikan ‘Princess Anna’ yang sepersekian lama baru sadar kalau Kristoff ternyata suka padanya. Tapi bedanya, aku benar-benar hanya menganggapnya teman curhat, sahabat baik, atau entahlah apa itu. Tidak ada feeling yang lebih. Hanya perasaan nyaman. Dan aku meyakinkan diriku bahwa itu.. Bukan cinta. 

Berbeda dengan saat aku bertemu dengan asisten dosenku. Penuh semangat, penuh kata-kata motivasi, penuh rasa ingin tahu.. Dan, dia membimbingku kearah jalan yang tidak pernah aku telusuri sebelumnya. 

“Aku tidak tau persis apakah orang yang bisa membuatmu bersemangat itu adalah perasaan cinta? Atau itu hanya sesaat saja..”

Tapi jalan-jalan yang ia nampakkan padaku adalah sesuatu yang realistis. Segala yang ia katakan kepadaku adalah kejujuran, tidak ada bawang di dalamnya. Dia.. Tidak menjanjikan apa-apa padaku.

Entahlah, aku hanya suka saja dengan lelaki yang berpandangan seperti Han Ji Pyong. Bukan berlayar tanpa peta. Tetapi berlayar dengan mempelajari peta, mencari peta. 

Jika Dal Mi bersemangat ketika berlayar tanpa peta.. Maka mungkin aku sebaliknya. 

Mungkin, karena sahabatku itu seumur denganku maka tujuan hidup kami sama-sama abstrak. Mimpi kami sama-sama tidak jelas. Kami masih sama-sama memiliki sisi kekanakan. Dan impian coret tulis coret tulis. Tetapi sahabatku itu selalu memiliki mimpi yang baru. Setiap dia memiliki project, dia memberitahuku seakan minta aku semangati. Dan kami selalu menyemangati satu sama lain. Menghibur satu sama lain. Ketahuilah, punya sahabat cowok itu sangat nyaman. Tidak banyak drama layaknya memiliki sahabat cewek. Setidaknya, sebelum aku tau kalau perasaan itu ternyata ada kemudian menimbulkan ketidaknyamanan. 

Apa yang aku lakukan ketika diriku yang ternyata tak laku-laku tetiba ditaksir cowok secara bersamaan?

Aku langsung merenungi perkataan Ayahku. 

Memilih Berlayar Tanpa Peta Atau Mencari Peta

I’m a Realistic Person

Banyak sahabat yang bergunjing dibelakangku bahwa aku memilih lelaki yang sekarang karena dia memiliki pekerjaan tetap. Tapi, tidak banyak yang tau hal ini bukan?

Bahwa orang yang aku pilih memiliki banyak adik, seorang sandwich generation, seorang anak yatim. PNS dengan gajih yang 50 persen bahkan lebih dipotong untuk hal-hal demikian bukanlah orang yang kokoh secara finansial. Bahkan rentan bangkrut jika suatu hari adik-adiknya juga ikut bertumpu. Terancam tidak memiliki rumah sendiri seumur hidup. Orang mengira aku memilih karena sebuah kepastian masa depan. Padahal, bukan karena itu. 

FYI, kalau boleh jujur mungkin nasib sahabatku jauh lebih baik. Dia anak tunggal, tidak ada tanggungan. Punya banyak space untuk meneruskan mimpi. Tinggal satu daerah denganku sehingga aku mungkin tak perlu berpisah dengan Mama. Bahkan aku bisa meneruskan cita-citaku. Tapi segala mimpinya mungkin tak sejalan denganku. 

Aku memutuskan untuk menjawab ‘Yes’ pada hadiah buku yang dikirimkan oleh Asisten Dosenku.. 

Buku yang surat pembuka didalamnya telah mengunggah hatiku:

…Honestly

I can not commit any promises that every letters that we engraved together are about fulled with good story. 

There can be some chapters that narate sorrow and sadness. Also, I can not promise that the end of our story that we will make it through will be has beautiful ending because.. 

.. I  realize there’s no one who is driving their own fate.. 

Akupun mengetahui latar belakang, masalah hidupnya. Mulai dari masalah finansial hingga masalah psikologis. Tapi, dia jujur padaku bahwa.. 

Dia tidak bisa menjanjikan apapun. 

Entahlah, itu adalah ‘versi bucin’ tergila yang pernah aku rasakan. Ketidakpastian.. Tantangan.. Kegilaan.. Bagiku itu adalah kejujuran yang membangun sebuah komitmen. 

Aku pun langsung teringat petuah Ayahku. 

“Win, kalau milih pasangan itu jangan yang gombal. Banyak menjanjikan macam-macam. Atau, jangan memilih yang tidak punya arah yang jelas dalam hidup. Pilihlah yang dewasa, yang realistis. Yang bisa menunjukkan padamu kalau dunia ini gak selamanya indah. Yang mengajakmu untuk berjuang bersama bukan menjanjikan padamu untuk berstatus layaknya putri raja..”

-Ayah

Aku, memilih seseorang yang tak menjanjikan sebuah kebahagiaan untukku. Tapi mengajakku untuk sadar, bahwa hidup ini bukan tentang mencari bahagia saja. Tetapi juga menghadapi ketidakbahagiaan.. Bersama. 

Win? Bukannya memilih berlayar mencari peta? 

Bukankah aku bilang mencari? Bukan tanpa peta? 

Menghadapi ketidakbahagiaan lantas mencari titik-titik perhentian adalah definisi dari mencari peta untukku.. 🙂

NB: Aku menulis tulisan ini ketika sedang bertengkar dengan suamiku. Lantas membaca lagi kata-katanya dalam buku pertama. Aku menulis ini bukan sedang untuk bernarsis ria dengan masa mudaku. Tapi untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa.. Akulah yang memilih menghadapi risiko bersama. 

Iya, bersama.. 🙂 

Mengintip Cara Setan Menggoda Manusia: Tontonlah Girl From Nowhere

Mengintip Cara Setan Menggoda Manusia: Tontonlah Girl From Nowhere

“Ma, bagaimana cara setan menggoda manusia?” Pica bertanya dengan lugu padaku. 

“Tidak ada yang tahu persis caranya. Tapi setan selalu memanfaatkan celah hitam dari hati manusia..”

“Celah hitam?”

“Rasa iri, benci, ingin lebih baik, obsesi tak terkendali, setan suka sekali memanfaatkan hal itu..”

“Bagaimana persisnya Ma?”

“Entahlah..”

Bagaimana Jika Iblis dan Setan Menyamar Menjadi Manusia? 

Adalah Nanno. Karakter perempuan utama dalam film Girl From Nowhere. Tidak ada yang tau persis dari mana asalnya dia. Tapi, dia selalu berpindah sekolah. Menyamar menjadi murid perempuan lantas mencari jiwa-jiwa gelap di sekolah. Mencoba bergaul dan berteman dengan mereka. 

Uniknya, jiwa gelap itu bukan terpasang dari karakter yang jahat dari luar. Tapi, most of them adalah karakter yang ‘terlihat baik’. Nanno menggali jiwa gelap itu dengan masuk kedalam kehidupannya. Tidak lantas langsung membisikinya tetapi hanya masuk kedalam kehidupannya. Kemudian, memberikan jiwa itu sebuah pilihan. 

Aku selalu terngiang dengan pertanyaan Pica. Bagaimana tepatnya cara setan menggoda manusia? Apakah dengan membisiki agar kita tidak sholat? Tidak mengaji? Lupa membaca doa? Lalu kemudian masuk menguasai separuh diri kita? Atau sebenarnya, kitalah yang membiarkan aura hitam itu masuk. Karena kita tak bisa mengontrol setitik sifat jahat yang muncul pada diri kita. 

Setan, memanfaatkan hal itu. Rasa iri, dengki, nafsu, haus penerimaan, obsesi, rasa benci. Setitik saja. Itu sudah sangat cukup untuk dikembangkan. 

Nanno bukanlah setan, bukan pula Iblis. She just Girl From Nowhere. Dia seperti iblis peneliti yang sedang mencari tau..

“Betapa lucunya sifat manusia sebenarnya”

“Betapa akalnya terlihat seakan sangat hebat. Tetapi nafsunya menggebu-gebu di dalamnya.”

“Inikah makhluk yang diciptakan Tuhan? Yang katanya bisa lebih mulia dibandingkan Malaikat, tetapi bisa lebih rendah dibanding binatang?”

Mengintip Karakter Jahat Manusia yang Terpendam dalam Episode Serial Girl From No Where

Cerita Girl From Nowhere ini menurutku cukup unik. Ada 13 episode dalam season 1. Ceritanya selalu dimulai dengan karakter Nanno yang berpindah-pindah sekolah dalam setiap episodenya. Berikut adalah beberapa ringkasan judul episode yang sangat aku ingat:

1. The Ugly Truth

Apakah kau yakin bahwa orang yang selama ini kau kagumi adalah orang yang baik? Atau sebenarnya hanya berpura-pura baik agar mendapatkan ‘mangsa yang lezat’

Seorang Guru di sekolah sekaligus mentor Yoga merupakan Guru yang disukai oleh murid-muridnya, khususnya murid perempuan. Karena wajahnya yang tampan dan perawakannya yang gentle. Nanno pun bereksplorasi di sekolah tersebut. Mengikuti kelas Yoga seperti murid biasa. Tanpa menggoda sang Guru, Nanno mencoba mengungkapkan topeng jahat sang Guru yang sebenarnya. Lantas tertawa saat semua orang mengetahuinya. Yup, Guru itu memperkosa beberapa anak muridnya lantas merekam adegannya sebagai pemerasan. 

“Tak semua manusia baik itu baik, sebagian hanya berpura-pura baik agar bisa lebih jahat”

2. Apologies

Nanno menjadi murid baru paling cantik di sekolah kedua yang ia datangi. Kecantikannya mengundang ketertarikan dari 3 personil tim basket. Namun, membuat iri 2 teman perempuannya. Nanno tidak menggoda keduanya. Tapi keduanya larut dalam rasa iri dan benci. Sementara 3 lelaki yang menyukainya memanfaatkan itu. 

Dalam sebuah pesta minuman, Nanno dimanfaatkan. Lantas ada kejadian tak terduga yang membuat Nanno meninggal_di mata para manusia itu. 

“Manusia membuat kesalahan, lalu meminta maaf. Lalu berbuat kesalahan lagi. Sungguh lucu..”

3. Social Love

Kali ini Nanno masuk ke dalam sekolah dimana dia memacari seorang lelaki yang populer disana. Hubungan mereka menjadi sorotan di sosial media. Mereka memiliki fans dengan ribuan follower. Tetapi, sang lelaki hanya memanfaatkan Nanno untuk popularitasnya. 

Nanno memanfaatkan kebohongan lelaki itu. Lewat berbagai tragedi, dia meyakinkan lelaki itu bahwa kebohongannya akan terjadi selamanya. 

“Manusia senang sekali dengan popularitas. Tidak peduli itu bohong atau palsu yang penting adalah citranya tidak hilang”

4. Hi-So

Nanno masuk kedalam sekolah elite. Dimana didalamnya hanya ada murid-murid kaya. Sebagai murid terkaya ia bisa membeli sebuah kelas dan menjalankan usaha didalamnya. 

Usaha yang simple bagi setan. “Aku akan mengabulkan APAPUN keinginanmu asalkan ada bayarannya.”

Nanno memanfaatkan rasa penasaran dari teman-temannya akan kehidupan Dino yang konon merupakan anak terkaya. Dino yang selama ini berbohong terjebak dalam realita ketika ia harus mengambil uang kedua orang tuanya yang miskin. 

“Kupikir, orang miskin memiliki hal yang tidak bisa kubeli. Ternyata, segalanya bisa dibeli dengan uang di dunia manusia. Termasuk sebuah jati diri.”

5. Trap

Apa jadinya kalau ada narapidana yang kabur dan memasuki sekolah kemudian membunuh siapapun disana? 

Sekelompok siswa dan guru pun terjebak didalam satu kelas. Nanno termasuk didalamnya. Ia memperhatikan hal menarik.. 

“Bahwa manusia akan memperlihatkan sisi asli dirinya ketika ia merasa terancam..”

Lucunya.. “Manusia-manusia ini, menurunkan sifat asli itu pada keturunannya. Termasuk sifat jeleknya.”

6. WonderWall

Nanno menjadi partner manager tim sepak bola di sekolah kali ini. Ia berusaha berteman dengan Bam. Namun, karena rasa iri Bam membenci Nanno. 

Karena kesal, Bam lalu menulis hal iseng di dalam dinding toilet sekolahnya. 

Dasar Nanno Wajah Bau

Ternyata segala hal yang ia tulis di dinding toilet tersebut menjadi kenyataan. Anehnya, tulisan impian yang indah tak pernah terwujud. Hanya tulisan kebencian saja yang akan terwujud. Ia menjadi ketagihan untuk mengutuk orang yang ia benci. 

“Ketika manusia lemah diberikan sebuah kekuatan.. Ternyata ia sama menyebalkannya dengan manusia lainnya. Kebencian memang luar biasa.”

7. The Rank

Episode yg sangat related dengan kehidupan. Bahwa kita kadang terobsesi pada sebuah persaingan. Keinginan untuk menang. 

Kali ini Nanno menjadi murid baru di sekolah khusus perempuan yang menilai muridnya dari kecantikannya. Bahkan setiap hari ada aplikasi khusus yang bisa mengurutkan kadar kecantikan siswinya. Siswi yang masuk dalam 10 besar tercantik akan mendapatkan pelayanan khusus. 

Nanno memanfaatkan obsesi dari putri kesepuluh untuk menjadi putri nomor 1. Mencoba menerka-nerka hati putri yang terlihat baik hati namun penuh kepalsuan, lantas berbisik

“Ada dua cara untuk bisa menjadi nomor 1 didunia ini. Pertama, berusaha menjadi yang terbaik. Kedua, jatuhkan orang lain.”

8. Best Friends Forever

Nanno tidak hanya bisa menjadi murid baru di masa sekarang. Namun juga di setiap masa. 

Saat reuni sekolah diadakan, Nanno hadir masih dalam seragam sekolahnya. Menyiapkan hidangan untuk para teman reuni. Siapa sangka Nanno juga merupakan teman satu angkatan mereka? 

Nanno adalah Teman yang mereka bully habis-habisan. 

Nanno menjadi objek kebencian bagi semua teman di kelasnya hingga dipukul dan dikeroyok. Yah, setidaknya dalam kasus penutupnya ini. Nanno tau satu hal bahwa.. 

“Untuk menjadi best friends forever, kadang sekelompok orang membutuhkan satu hal yang sama. Sekalipun persamaan itu adalah kesenangan dalam membenci hingga membully seseorang. Membenci seseorang bersama-sama itu menyenangkan bukan?”

Lantas, Benarkah Musuh Kita Selama Ini adalah Setan? 

“Manusia selalu berdoa agar setan menjauh dari kehidupannya. Agar ia bisa beribadah dengan khusyuk. Agar ia bisa menjadi orang baik. Tetapi ia lupa.. Bahwa sifat jahat itu, berasal dari nafsu. Nafsu adalah hal yang Tuhan ciptakan. Tugas manusia, adalah mengontrol nafsu. Bukan menyalahkan setan atas sifat jahatnya.”

Bahkan dalam suatu cerita, setan pernah ditanya.. “Kenapa kau selalu menggoda manusia?”

Setan menjawab, “Aku tidak menggodanya. Dia yang memilihnya sendiri. Apakah kau punya bukti bahwa aku benar-benar menggodanya? Aku hanya memberikannya pilihan. Memakan buah atau tidak. Taat atau tidak..”

Manusia lahir, membawa genetik sifat ibu dan ayahnya. Mewarisi akar budaya kakek dan neneknya. Terdampar pada suatu lingkungan. Bercampur, berbaur. Itulah yang membuat sifat manusia berubah. Akal dan nafsu, berlomba-lomba memperlihatkan eksistensinya. Tapi pada dasarnya manusia lupa hal itu. Mereka hanya tau bahwa didunia ini mereka harus survive. Mereka harus berlomba. Dan mereka dituntut untuk menang, senang, bahagia. Segala hal itu telah mengikis sebuah perasaan penting. Yang paling penting. Kalian tau apa itu? 

Itu adalah Empati. 

Pembelajaran dalam Film Girl From No Where ke-1: Manusia Harus Punya Empati

Segala karakter manusia yang ‘digoda’ oleh Nanno selalu berusaha ia hadapkan pada pilihan untuk ‘memedulikan manusia yang lain’ tapi obyek manusia yang ia eksplorasi tak pernah memilih hal itu. Padahal, Nanno selalu menggoda untuk memilihnya.

Dunia ini, miskin rasa toleransi dan empati. Padahal, Tuhan sudah merancang rasa sosial dalam diri manusia. Tapi seiring berjalan waktu, rasa itu berubah wujud menjadi kesenjangan. 

Entah sejak kapan manusia senang mengelompokkan diri, lantas hanya peduli pada circle yang itu-itu saja. Tidak jarang menjatuhkan yang lain untuk bertahan. Bahkan, menjatuhkan yang lain hanya untuk kesenangan. 

I tell u.. Kalau tidak paham inti dari film serial ini pastinya kita akan berpikir bahwa film ini toxic. Kayak, ehm apa sih mencari-cari sisi gelap manusia. Tapi, sesungguhnya film ini lebih dari itu. Film ini memberikan gambaran kepada kita bahwa kita harus waspada dengan sekeliling kita. Bukan dengan orang jahat. Apalagi dengan orang yang terlihat jahat. Mungkin bahasa lainnya adalah membongkar kemunafikan sifat asli manusia. 

Pembelajaran dalam Film Girl From No Where ke-2: Manusia Harus Waspada dengan Manusia Lainnya

Jujur, saat SMA dulu aku sangat kebingungan dengan istilah ‘homo homini lupus’ atau dalam terjemahannya yaitu:

“Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”

Dijelaskan guru berbolak balik pun aku masih bingung. Terasa aneh. Bahkan saat ulangan, jujur saja aku sangat text book. Demi tidak memahami dan menjiwai apa artinya. Seperti apa sih contohnya pikirku. Peperangan begitu? Perebutan tahta begitu? 

Ternyata tidak serumit itu. 

“Diantara sesama manusia, ada serigala yang kejam.”

Aku memahami arti serigala itu ketika duduk di bangku kuliah. Aku semakin memahaminya ketika sudah menjadi ibu. Betapa sesungguhnya, siapapun berpotensi menjadi serigala itu. Bahkan, tidak dipungkiri bahwa diri sendiripun bisa saja menjadi serigala tersebut. 

Terjebak dalam momwar, aku pernah sekali melakukan kesalahan. Menerkam perasaan yang lain. Hanya untuk memuaskan dahaga rasa kesalku. Membiarkan rasa iri dan merasa ketidakadilan memimpin atas tindakanku. Padahal, tidak ada Nanno disana. 

Well, pada akhirnya sebagai manusia kita hanya bisa menjaga satu hal. Jagalah hati kita sendiri. 

Jagalah hati, jangan kau kotori

Jagalah hati, lentera hidup ini

Jagalah hati, jangan kau nodai

Jagalah hati, cahaya ilahi

*dari ngereview film serial sampai menyanyi.. Sungguh artikel yang tidak jelas.. Semoga tidak dibaca setengah-setengah lalu misunderstanding.. 😂🤣

Iyakan, manusia itu makhluk yang lucu ~ Nanno. 

Jadi, 2020 Ngapain Aja?

Jadi, 2020 Ngapain Aja?

Kalau ditanya sepanjang perjalanan ngeblog kayaknya tahun 2020 adalah tahun terpasif aku dalam ngeblog. 

I mean, see.. Dalam satu bulan bahkan ada saja yang cuma nulis 1-2 tulisan. Bulan desember bahkan hampir zonk. Bukan, ini bukan semata-mata karena pandemi. Ada hal lain disamping itu yang butuh perhatian lagi. 

Kadang bertanya lagi pada diri sendiri, kok gini amat ya? Pemalas kah diriku? Tapi, saat aku melihat seisi rumahku.. Suami dan 2 anakku sendiri hingga kantor kecil kami. Aku tersenyum dan berkata. Its okay. Mereka mungkin tidak melihat perkembanganmu dari blog. Tapi sebenarnya, aku berkembang dengan cara yang lain di tahun ini. 

Couse this year.. 2020 is so special. 

Guilty Feeling di Tahun 2020

Entah kenapa aku sering merasa bersalah dengan tahun ini. Sering sekali. Dan maaf aku menuliskannya disini. Bukan apa-apa. Ini semata-mata untuk mengingatkan kepada diriku sendiri. Bahwa, “Win, kamu jangan begini lagi ya. Setidaknya berubahlah sedikit.. “

Tahun ini aku membuat amat banyak kesalahan. Dari mulai parno berlebihan kepada si virus, ngomel-ngomel nyampah dan khilaf sendiri, lalu kemudian terjatuh hingga menyebabkan jahitan di bibir hingga gigi seri yang patah dibagian ujung. Dan terakhir, gigi Humaira mengikuti nasib yang sama. Bahkan hampir nyaris ompong sekarang. 

Semuanya terjadi karena 2 sifatku yang tidak bisa move on. Sifat jelek pertama adalah panik, sedang yang kedua adalah takut dan meledak-ledak. Dua sifat ini berkembang hampir dua kali lipat sejak pandemi menyerang. Aku jadi sulit untuk multitasking seperti pada hari-hari normal. Akibatnya sungguh banyak hal yang terbengkalai. Untukku sendiri aku masih bisa memaafkannya. Tapi ketika sifat jelek itu sudah berimbas ke anakku. Entah kenapa sulit sekali menghilangkan rasa bersalah itu. 

Perkembangan Positif di tahun 2020

Ditengah musibah kecil namun menyisakan perasaan bersalah yang besar itu, jujur aku dan keluarga sangat bersyukur di tahun 2020 ini ternyata kami bisa sedemikian survive. Bahkan lebih. 

Aku sempat memenangkan beberapa lomba blog. Beberapa job dan hadiah dari lomba blog bisa untuk membeli HP dan sepeda sendiri. Mungkin ini receh buat kalian. Tapi buatku ini luar biasa. 

Dan hal yang membuatku sangat bersyukur lagi adalah perkembangan bisnis keluarga kami. Dari yang awalnya hanya berupa CV kecil, namun kini sudah bisa mempekerjakan 4 pegawai tetap dan berkembang menjadi sebuah PT. Ditengah pandemi, kami bersyukur bisa membantu ‘anak-anak berbakat’ yang telah kehilangan pekerjaannya. 

Aku pun memiliki status baru selain menjadi blogger, yaitu belajar menjadi CEO. Itulah kenapa kemarin aku bersemangat sekali menulis review drama start up kemarin. Setidaknya aku merasa terwakili dengan keadaan Dal Mi. Tapi sungguh duhai Dal Mi.. Menjadi CEO dengan status emak-emak itu melelahkan. Aku bahkan masih sering bertanya-tanya. Apa aku ini hanyalah emak-emak yang bersembunyi dalam status CEO atau sebaliknya. 🤧 

Sungguh untuk kembali menulis dan menjadi blogger normal adalah Peer untukku. Karena yah.. Seseorang pernah berkata padaku, “Untuk bisa mencapai tujuan dalam mimpimu, kadang kamu harus menurunkan standar mimpi yang lain.”

Efeknya, shezahome.com sedikit berdebu. Sangat disayangkan. Tapi entah kenapa, aku ingin memulai sesuatu yang baru. Bukan tentang shezahome dan rutinitas emak-emak saja. Aku ingin aktivitas baru. Yang lebih membuatku bersemangat. 

Welcome 2021

Dan tahun 2021 pun tiba. Malam ini, petasan bersahut-sahutan di telingaku. Menggerakkan jempolku untuk merunut ceklis. Namun, aku masih tidak tau apa tepatnya hal yang harus kutulis. Lamunanku jatuh pada berita yang tak sengaja muncul di beranda sosial mediaku. Mutasi virus jenis baru katanya. Dan sungguh aku semakin stuck jika memikirkan kapan ini akan berakhir, kapan anakku bisa berteman dengan normal, kapan hidupku bisa kembali kurengkuh, dan kapan inspirasi seperti dulu tak sungkan untuk berteman dengan jari-jariku.

Aku masuk ke dalam kantor kecil di rumahku. Berdiskusi hangat dengan suami. Merangkai mimpi-mimpi baru kami. Bukan untuk sekedar mengumpulkan hal receh yang dulu sering kami tengkarkan. Kami melihat ke kursi-kursi itu. Ada beban disana. 

“Dulu, kupikir pekerjaan paling gampang di dunia itu adalah menjadi bos. Ternyata, itu adalah pekerjaan paling susah di dunia. Rejeki orang lain bergantung pada kita. Semangat orang lain bergantung pada kita. Ketika kita terjatuh maka mereka ikut terjatuh pula.”

Mimpi itu pun perlahan kami ulas. Kami sudah tidak peduli dengan pandemi. I mean, apa yang bisa kami pedulikan saat ini? Memupuk rasa takut? Atau mulai move on dan memajukan ekonomi sekitar kami agar kami waras dan sehat bersama? 

Kami memilih yang terakhir. Untuk berpikir luas dengan cara kami. Bahwa ini bukan sekedar mimpi kami saja. Ini adalah mimpi semuanya. Mimpi orang terdekat kami, hingga mimpi sebuah obsesi yang dulu sering kami sundul mundur keinginannya untuk eksis. Obsesi itu dulu sangatlah mustahil, tapi tahun 2020 membuka semuanya. Dan 2021 adalah tahun awal perjalanannya. 

2020, 2021. Aku bukan lagi seorang blogger yang bersemangat menulis apa saja. Writing is not a healing anymore.

Aku mencoba move on dengan cara yang lain. Itulah langkah abstrack-ku di awal 2021.

IBX598B146B8E64A