Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

“Wadai Untuk Apaan? Untukmu? Untukku”

“Namanya ‘Untuk’ bukan untukmu-untukku”

“Itu serius namanya ‘Untuk’ ? Siapa yang kasih nama sih?”

“Ya siapa lagi kalo bukan ‘Urang Banjar'” 😅

“Emangnya gimana sih rasanya Wadai Untuk itu?”

(Ngeliatin Wadai Untuk)

“Oalaaaah.. Ini sih namanya Roti Goreng Mbak Yuuu…”

“Coba deh rasain dulu.. Ada yang beda loh dari Roti Goreng”

????

***

Ya, itu dia kilasan cerita saat pertama kali aku memperkenalkan ‘Wadai Untuk’ dengan salah satu temanku yang bukan orang banjar. Secara spontan dia langsung bilang, “Ini sih namanya Roti Goreng”

Memang penampakan dan tekstur dari ‘Wadai Untuk’ ini mirip sekali dengan Roti Goreng hampir tidak ada bedanya. Tapi jika kalian jeli maka sebenarnya keduanya berbeda loh teman.

Untuk klasik ala urang banjar diolah dengan bahan biang yang berbeda. Rasanya lebih manis dibanding dengan roti goreng pada umumnya. Selain itu bahan yang tidak ketinggalan adalah Santan yang membuat rasanya gurih. Hmm, sepertinya hampir semua Wadai Khas Banjarmasin mengandung santan ya.

Karena rasanya lebih manis dan teksturnya lebih padat dibanding roti goreng pada umumnya maka dipastikan dalam pembuatannya memakai lebih banyak gula. Ya, urang banjar itu suka manis. Lihat saja kue khas Banjarmasin pasti mengandung banyak gula dan tidak ketinggalan si untuk ini.

Nah, karena pemakaian gula yang lebih banyak pula lah maka proses fermentasi dari untuk sedikit berbeda dibanding roti goreng. Skill baking pada umumnya sudah mengajarkan padaku bahwa fungsi gula dalam proses fermentasi adalah sebagai sumber energi bagi ragi. Gula dapat memberikan rasa manis dan warna kecoklatan (golden brown) pada roti. Jumlah gula untuk fermentasi roti normalnya adalah ± 2%. Sementara bagi pembuatan ‘Wadai Untuk’ jumlah gula diberikan 2x lipat lebih banyak.

Apa efeknya? Efek dari penambahan gula dengan kadar ragi yang sedikit adalah terganggunya proses fermentasi. Nah, masalah? Tidak, inilah yang menyebabkan ‘Wadai Untuk’ berbeda dengan Roti Goreng pada umumnya. Efek dari lebihnya penambahan gula ini adalah proses fermentasi roti berjalan lebih lama dan tekstur dari roti lebih padat dan kokoh. Berbeda dengan roti goreng umum yang empuk, maka ‘Wadai Untuk’ mempunyai tekstur lebih padat dengan daya tahan melebihi Roti Goreng pada umumnya. Warna dari wadai untuk juga lebih coklat karena banyaknya kadar gula menyebabkan proses penggorengan membuatnya cepat coklat.

Karena proses fermentasi dari ‘Wadai Untuk’ cukup lama maka biasanya Urang Banjar membuat adonan untuk di malam hari dan menggorengnya dipagi hari. Kue ini sudah umum sekali dijual dipinggiran kota Banjarmasin. Sangat sedap dimakan saat dalam keadaan panas.

Ingin tahu Resep dan Cara membuatnya? Yuk, Intip..

Wadai Untuk Khas Banjarmasin

Bahan dough:

250 gr tepung terigu protein sedang

1 btr kuning telur

1/2 sdt garam

4 sdm gula pasir

1 sdt fermipan

Santan kental secukupnya (saya pakai 20 ml kara+ sedikit air)

2 sdm margarine

Bahan Isian

Sebenarnya Wadai Untuk Klasik ala Urang Banjarmasin zaman dulu memiliki isian berupa Inti (campuran kelapa parut dan gula merah), Pisang Talas, Kacang Hijau Manis dan Kacang Tanah Manis yang dihaluskan. Tapi, karena perkembangan zaman selera orang pun mulai berubah. Untuk Banjarmasin kini telah memiliki varian isi yang lebih banyak. Nah, keluargaku sendiri lebih suka jika bahan isiannya berupa Coklat Batang, Keju Mozzarella, dan Sosis.

Cara membuat:

Pertama-tama kita harus membuat ‘anakan’ adonan untuk ini. Yah, begitulah orang bahari menyebutnya. Kalau versi emak modern sih hal ini dilakukan untuk tes ragi. Apakah ragi masih berfungsi atau tidak?

Caranya dengan mencampur 1 sdt ragi dengan 1 sdt gula dan sedikit air hangat. Kalau 10 menit kemudian raginya berbusa, berarti ini dapat dipakai. Kalau tidak? Berarti ragi sudah tak dapat dipakai. 😊

Campurkan 1 kuning telur dan gula aduk hingga gula menjadi halus. Setelah itu masukkan tepung sedikit saja. Aduk hingga rata dan masukkan larutan ragi yang diolah tadi. Aduk-aduk dan masukkan santan kental sedikit demi sedikit bergantian dengan tepung sambil terus diuleni. Lakukan hingga adonan sedikit kalis.

Terakhir, masukkan garam dan mentega. Banting-banting dengan lembut adonan hingga tidak lengket ditangan, elastis dan luwes. Terakhir, tutup adonan dengan kain dan biarkan kurang lebih 5-6 jam.

Bentuk adonan sesuai selera dan beri isian. Lumuri kembali dengan tepung lalu Biarkan 30 menit.

Goreng adonan untuk hingga coklat atau sedikit kecoklatan. Berhubung anakku tidak suka dengan penampakan kue yang terlalu coklat maka aku hanya menggorengnya hingga setengah coklat. Nah, jika sudah angkat, tiriskan dan sajikan selagi panas.

Selamat mencoba!

Happy Baking!

Komentari dong sista
3 Shares

8 thoughts on “Resep ‘Wadai Untuk’ : Rotinya Urang Banjarmasin

  1. Halo mb lala.. Orang banjar ya.. Udah tau Banjarmasin punya komunitas blogger khusus perempuan? Join us yuk!

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A