Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah? 

Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah? 

source: berkoztrukdeviantart.com

Mereka menyebutnya dejavu, tapi tidak_ itu terlalu keren. Mimpi buruk dimasa kecil yang saat kita lakukan sekarang seakan-akan terasa pernah mengalaminya bukanlah dejavu yang keren.

Akhirnya aku tau, itu adalah bisikan trauma Inner Child.. 

***

Masa lalu adalah Pembentuk 50% karakter manusia. Jika ingin tau bagaimana karakter manusia itu maka lihatlah masa lalunya. *Kata-nya

Sebagian besar manusia menganggap masa lalunya adalah sebuah pembelajaran. Mereka berkata jika melakukan kesalahan maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah bangkit dari kesalahan tersebut. Namun, bagaimana jika kesalahan itu terjadi pada masa kecilnya yang masih ‘putih’? 

Mereka menyebutnya Inner Child. Inner Child adalah  Ego Personality. Secara sederhana inner child adalah sosok anak kecil yang berada di dalam diri kita. Inner Child merupakan suatu entitas besar yang membentuk kita sejak kecil terhitung dari dalam kandungan hingga semakin bertambahnya usia. Usia yang dimaksud terdiri dari Inner Child- Adult- Parent. Inner Child terbagi menjadi dua kondisi yaitu baik dan bermasalah.

Ya, tidak semua anak memiliki masa kecil yang bahagia. Sebagian mungkin saja melewati masa kecilnya dengan trauma. Anak kecil sejatinya adalah pribadi putih yang polos. Bagaikan kertas fotocopy yang menurut dengan apa dan bagaimana tingkah polah Ibu, keluarga dan sekitarnya. Ia dengan segala keluguannya belajar bagaimana hal yang seharusnya dilakukan dan hal yang salah. Lingkungannya seharusnya membentuk kebaikan untuknya bukan sebaliknya. 

Hentakan..

Teriakan..

Kurungan..

Tangisan..

Benturan..

Perasaan sendirian.. 

Kejadian menyakitkan ini terjadi di masa kecil anak yang masih putih dan polos. Tahu apa dia? 

Jika kalian pikir segala hal diatas akan hilang dengan sendirinya ketika sudah besar.. Itu salah. Hal diatas akan tertanam. Terus, terus dan terus.. Inner Child adalah sebuah pondasi dalam membentuk Inner Adult hingga Inner Parent. Tak peduli bagaimana lingkungan berusaha merubahnya. Parahnya, hal yang ia lakukan selanjutnya adalah hal yang lebih jahat. Yaitu menularkan masa kecilnya dengan anaknya sendiri. 

***

Berdamai dengan Inner Child Mungkinkah? 

Katakan tidak untuk ‘Bentakan’ namun kenyataannya itu terulang.. 

Katakan tidak untuk ‘Teriakan’ namun kenyataannya itu terulang.. 

Katakan tidak untuk ‘membuatnya kesepian’ namun kenyataannya itu terulang.. 

Katakan tidak untuk ‘membuatnya menangis’ namun kenyataannya itulah yang terjadi. Ia menangis bukan karena jatuh, sakit, atau karena keusilan temannya. Ia menangis karenamu. Ya, karenamu. Kau bilang itu tidak apa-apa. Tapi kau salah, pada akhirnya dia hanya akan menjadi makhluk yang tidak jauh berbeda denganmu kelak. 

Dampak buruk dari trauma inner child yang terus dibiarkan bukan hanya pada psikologis anak. Tapi juga tidak terkontrolnya emosi Ibu. Sudah tau bahwa penyakit psikologis itu menurun? Sudah tau bahwa Post Partum Depression bisa saja terjadi karena trauma inner child? Sudah tau bahwa Post Partum Depression yang dibiarkan telah mengakibatkan berbagai kasus pembunuhan anak oleh Ibunya sendiri

Harus diakui berdamai dengan Innerchild itu sulit. Benar-benar sulit. Kita tidak bisa menjadi makhluk suci dihadapan anak kita karena kenyataannya sejak kecil saja kita sudah dinodai perasaannya. Kita telah membuat lubang-lubang dihatinya yang sejatinya kita sendiri tidak tau, “Apakah itu bisa disembuhkan?” 

Namun, sejak menjadi Ibu aku mulai belajar. Mengulang dan terus mengulang kesalahan dari inner child hanya akan memperburuk keadaan. Menghapus trauma Inner Child dan berdamai dengan semua perasaan sedih masa kecil itu sulit. Tapi mungkinkah? 

Sekali lagi.. Mungkinkah? 

Berikut adalah beberapa cara untuk berdamai dengan innerchild yang telah aku rangkum. 

1. Marah? Berwudhulah

Trauma Inner Child biasanya terjadi jika anak kita mengalami kejadian yang hampir serupa dengan masa kecil kita saat mengalami trauma. Kemarahan, bentakan, hingga hentakan itu dapat muncul begitu saja ketika kondisi ibu sedang tidak stabil. 

Akhirnya hanya bisa berkata, “Menjadi Ibu itu harus sabar” Ya, enak sekali ya kata sabar itu. Seolah-olah hanya dengan mengatakannya praktiknya akan gampang dilakukan. Kenyataannya sudah berapa kali kebobolan sabar bu? 😂

Sudah di Riwayatkan oleh Hadist Nabi Muhammad SAW, bahwa wudhu adalah salah satu cara untuk meredam kemarahan. Jika diingat-ingat memang benar, jika terlepas dari wudhu rata-rata marah jadi tidak terkontrol. Bayangan godaan untuk berteriak dan mencaci anak langsung muncul jika pikiran lelah dan rumah berantakan. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah Istighfar dan menjaga wudhu. 

Apah? Takut make up luntur? *kurangi standar kecantikan dirumah bu.. 😂

2. ‎Jangan salahkan figur utama masa lalu kita  

Lupakan segala kesalahan tokoh utama masa lalu kita. Bagaimanapun juga, mereka yang telah membuat kita tumbuh. Jika kita terus menyalahkan figur masa lalu maka tanyakan kepada diri kita, apakah sebenarnya kita sudah dewasa? Kita tidak bisa meniru kelakuan masa kecil kita terus menerus yang menunjuk nyamuk atas dasar kesalahan rasa gatal tanpa berpikir bagaimana mengobatinya. 

Sadarlah bahwa orang tua kita bukanlah datang dari kalangan yang sempurna. Kepahitan yang kita rasakan dahulu mungkin saja sudah dikurangi kadar rasa pahitnya dibanding dengan kepahitan masa kecil mereka. Kita tidak tau usaha apa yang mereka lakukan untuk berusaha membesarkan kita dengan sempurna. Sadarlah, mereka juga telah berusaha. 

Hidup itu bagai sinetron. Tokoh baik dan buruk datang bergantian. Mereka tidak memilih untuk menjadi buruk. Mereka telah dibentuk sejak dulu dan mereka akan berubah seiring berjalan waktu.  Selalu ada rasa manis dibalik kepahitan. 

Dan kadang, rasa sayang berada dibalik rasa pahit itu. 

3. ‎Ingatlah segala kebaikan masa lalu, syukuri semuanya 

Ingatlah kebaikan kami dan buang keburukannya” 

Itu adalah kata-kata sederhana dari Mama. Aku selalu mengingatnya. Sederhananya, semua orang tua ingin agar anaknya mewarisi segala kebaikannya dan membuang keburukannya. Itu berarti, melupakannya. Ya, lupakan segala keburukannya.

Ingatlah bahwa banyak masa menyenangkan yang lebih indah untuk diingat. Masa ketika ia memelukmu disaat tidur, memasak untukmu, menyanyi untukmu, ia bahkan berbisik meminta maaf dan mencium pipimu sehabis memarahimu. Ingatlah itu.. 

Menjadi orang tua adalah seni untuk selalu terlihat baik didepannya. Perlihatkanlah segala hal baik dan ia akan meniru segalanya. 

source: favim.com

4. ‎Berkaca dengan kondisi anak kita 

Inner Child tidak sepenuhnya dapat dilupakan. Karena inner child sejatinya adalah pembelajaran. Inner child baik maupun buruk adalah sebuah pembelajaran. Ia adalah tahap pertama dari pembelajaran kita tentang kehidupan. Maka, mengingat inner child merupakan anugerah. 

Karena dari situ kita dapat ‘berkaca’ 

Ingatlah perasaan sedih saat kita dibentak dahulu. Jangan tularkan perasaan sedih itu pada anak kita. Ingatlah bahwa itu akan menimbulkan luka yang membuat kita takut bersuara. Selagi ia masih kecil, bebaskan pendapatnya. Kita tak perlu membentaknya, ingatlah bahwa saat itu kita hanya butuh pelukan dan pembicaraan. 

5. ‎Buatlah pikiran menyenangkan dengan me time 

Tidak diragukan lagi, me time adalah solusi dari segala masalah psikologis Ibu. Pikiran menyenangkan akan menghapus segala kepedihan kenangan masa lalu. Maka, jangan lupa membuat dirimu merasa senang. 

Baca juga: “baby blues dan postpartum hingga cara menghindarinya” 

6. ‎Bulatkan tekat “Akhiri Disini”

Rantai trauma harus berakhir. Ingatlah bahwa jika kita tidak mengakhirinya, maka rantai itu akan terus berlanjut. Belajarlah untuk merangkul inner child kita. Belajar dari trauma dan kebaikannya. Setiap kita ingin melakukan hal negatif yang sama dengan inner child kita, ingatlah dampak negatif yang akan ditimbulkannya.

Orang tua yang baik kadang bukanlah orang tua yang over ekspresif. Orang tua yang baik adalah ia yang dapat berpura-pura baik, bagaimanapun perasaannya yang sebenarnya. 

Semoga kita semua dapat berdamai dengan Innerchild kita…😊

Komentari dong sista

15 thoughts on “Berdamai dengan Innerchild? Mungkinkah? 

  1. saat BW artikel ini yang aku baca dengan penuh tarik napas. Sharingnya keren. Semoga kita bisa membantu orang di sekitar kita untuk berdamai dengan Innerchild ya

  2. Kadang masa lalu jadi acuan orang tua dalam mendidik anak. Padahal lain zaman lain pula caranya ya.

    Banyak ilmu baru yang saya dapat. Terimakasih banyak…

    Salam
    Okti Li

  3. Aku mengenal beberapa orang yang tak bisa moveon dari innerchild, mereka terlihat bahagia dan bebas tapi di sisi lain mereka juga selalu menghindari hal2 yang mengingatkan mereka pada masa lalu. Semoga ya, mereka bisa berdamai dengan innerchild dan menata masa depan dengan lebih baik.

  4. Aku pernah trauma dgn masa kecil klo nilai jelek slalu di kurung.. Antar bngung dgn cra didik org tua yg dlu entah sayang dengan cara keras atau gmna.. But skarang untungnya sdh brdamai dan rasanya jauh lebih enjoy 🙂

  5. Aku sempat beberapa kali marah sama anakku karena dia nggak mau makan. Huhu merasa bersalah banget padahal dia nggak ngerti apa-apa. Semoga aja nanti bisa lebih sabar menghadapi anak seiring pertambahan umurnya

  6. Aku sukaaa baca yg beginian, bikin merenung dan introspeksi diri… Btw selamat ya mba sudah bisa berdamai dg inner child, semoga aku bisa secepatnya juga

  7. Wah berat neh pembahasan kali ini 😀 tapi emang bener sih sebagian kejadian masa kecil memang tersimpan rapi di memori kita, contoh saja yg masih paling aku ingat adalah ketika dihukum karena suatu kesalahan dan menangis sendirian.

    Suka sama tulisan ini mbak Winda :*

  8. Masa kecilku bisa dibilang lebih keras daripada anakku saat ini, Mbak Winda. Sabetan rotan atau tali pinggang beberapa kali aku rasakan. Penyebabnya siy karena kenakalan aku sendiri saat itu. Kerasnya orangtuaku, Papa terutama karena beliau orang Makassar. Salah satunya adalah menempelkan tulisan di kertas yang isinya perintah tidur siang. Kalau melanggar, siap-siaplah disabet. Sempat gak suka sama figur Papa yang sangat keras sama aku saat itu. Terutama di masa SD. Tapi manfaatnya aku rasakan saat ini

    Gimana caraku mendidik anak? Prinsipku siy kayak menggenggam pasir di tangan aja. Jangan terlalu keras, nanti jatuh semua. Hal paling keras yang pernah aku lakukan ke anak adalah mencubit Kakak ketika itu. Berapa kali? 2-3 kali aja kalo gak salah

    Mungkin karena aku gak mau, mereka mengalami yang aku rasakan. Tapi aku juga selalu menceritakan bahwa masa kecilku keras, supaya mereka paham bahwa mamanya marah karena sayang

  9. Dan aku masih belajar berdamai karena inner child hasil dari masa kecilku buruk sekali. Yang aku tahu, anakku tidak boleh merasakan hal yang sama.
    Pemahaman ini membuatku kadang berpikir bahwa lebih baik menampar diri sendiri daripada meneriaki anak yang tidak tahu apa-apa. Kita sudah bisa berkompromi dengan sakit, mereka belum. Agak-agak militan ya? Hihi…
    Thanks for reminder anyway.

  10. Rantai trauma harus berakhir, ini benar sekali, Mbak. Inner child kadang muncul tanpa disadari ya. Semoga para orangtua terus belajar agar bisa lepas dari trauma masa lalu..

Komentari dong sista

IBX598B146B8E64A